P. 1
Materi Kuliah 1

Materi Kuliah 1

|Views: 1,917|Likes:
Published by allfredoem

More info:

Published by: allfredoem on Apr 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2014

pdf

text

original

MATERI KULIAH PROSES PERUMUSAN KEBIJAKAN PUBLIK • Kebijakan publik dalam sebuah negara merupakan produk dari berbagai

aktivitas yang melewati berbagai tahapan, dan diantara tahapan-tahapan tersebut saling terkait satu sama lain • Pembuatan kebijakan publik merupakan fungsi penting dari sebuah pemerintahan. Karenanya, kemampuan dan pemahaman yang memadai dari pembuat kebijakan terhadap proses pembuatan kebijakan menjadi sangat penting bagi terwujudnya kebijakan publik yang cepat, tepat dan memadai. PENGERTIAN PERUMUSAN KEBIJAKAN • Charles Lindblom menyatakan bahwa proses perumusan kebijakan publik merupakan proses politik yang sangat kompleks, analitis, dan tidak mengenal saat dimulai dan diakhirinya, dan batas-batas dari proses tersebut sangat tidak pasti. • Raymond Bouer: proses transformasi atau pengubahan input politik menjadi output politik. Pandangan ini sangat dipengaruhi oleh Teori Analisis Sistem David Easton. • Austin Ranney, mengemukakan bahwa proses kebijakan itu mencakup apa yang disebut sebagai tindakan-tindakan dan interaksi yang menghasilkan pilihan akhir yang sah mengenai suatu kebijakan tertentu setelah diperbandingkan dengan pilihan-pilihan lainnya. • Don K. Price: proses yang melibatkan interaksi antara kelompok ilmuwan, pemimpin organisasi profesional, administrator dan para politisi. • Amitai Etzioni : proses penerjemahan oleh para aktor politik mengenai komitmen masyarakat yang masih kabur dan abstrak kedalam komitmen yang lebih spesifik, kemudian menjadi tindakan dan tujuan yang konkrit. • Chief Jo. Udoji : keseluruhan proses yang menyangkut: pendefinisian masalah, perumusan kemungkinan pemecahan masalah, penyaluran tuntutan/aspirasi, pengesahan dan pelaksanaan/implementasi, monitoring dan peninjauan kembali (umpan balik) • Fremont J. Lyden, George Shipman dan Robert Wilkinson, menyatakan bahwa istilah proses pembuatan kebijakan publik biasanya mengacu pada langkah-langkah yang teratur mengenai interaksi antara pihak pemerintah dan pihak swasta yang memperbicangkan atau berdebat, serta usaha-usaha untuk mencapai kesepakatan bersama tentang ruang lingkup dan jenis-jenis tindakan pemerintah yang dirasa tepat untuk menangani masalah sosial tertentu. Proses kebijakan publik tersebut meliputi, pencarian informasi yang tepat untuk merumuskan masalah sosial tersebut; mengembangkan alternatif pemecahan masalah; dan mencapai kesepakatan pendapat mengenai alternatif yang terbaik untuk mencapai masalah tersebut. • Yehezkiel Dror menjelaskan bahwa pembuatan kebijakan publik adalah suatu proses yang sangat kompleks dan dinamis yang terdiri dari berbagai unsur yang
1

satu sama lain kontribusinya berbeda-beda terhadap pembuatan kebijakan publik tersebut. Pedoman-pedoman umum tersebut dimaksudkan untuk mencapai kepentingan umum dengan cara sebaik mungkin. • Anderson menyatakan bahwa perumusan kebijakan berhubungan dengan upaya-upaya menjawab pertanyaan bagaimana berbagai alternatif disepakati untuk masalah-masalah yang dikembangkan dan siapa yang berpartisipasi. Perumusan kebijakan merupaka proses yang secara spesifik ditujukan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan. ANTARA PEMBUATAN KEPUTUSAN dan PEMBUATAN KEBIJAKAN (DECISION MAKING Vs POLICY MAKING) • Tri W. Utomo, memberikan pendapat bahwa keputusan dapat diartikan sebagai suatu pengakhiran atau pemutusan dari suatu proses pemikiran untuk menjawab suatu pertanyaan, khususnya mengenai suatu masalah atau problema. Sedangkan pengambilan keputusan adalah proses pendekatan yang sistematis terhadap suatu masalah, mulai dari identifikasi dan perumusan masalah, pengumpulan dan penganalisaan data dan informasi, pengembangan dan pemilihan alternatif, serta pelaksanaan tindakan yang tujuannya untuk memperbaiki keadaan yang belum memuaskan. Dari pengertian tersebut nampak bahwa pengambilan keputusan bukanlah merupakan kegiatan yang sepele atau mudah. Artinya, suatu keputusan mestilah lahir dari suatu proses panjang yang rumit, dimana di dalamnya terjadi diskusi-diskusi intensif, saling tukar pemikiran dan brain storming yang mendalam dengan analisis-analisis yang tajam dan interdisipliner • William R. Dill (Islamy:22) bahwa keputusan adalah suatu pilihan terhadap berbagai macam alternatif • Glosary of Public Administration (Islamy:23), pembuatan keputusan adalah suatu proses dimana pilihan-pilihan dibuat untuk mengubah (atau tidak mengubah) suatu kondisi yang ada, memilih serangkaian tindakan yang paling tepat untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan, dan untuk mengurangi resiko-resiko, ketidakpastian dan pengeluaran sumber-sumber dalam rangka mencapai tujuan. • Dill lebih lanjut menyatakan bahwa pembuatan keputusan administrasi biasanya sulit diartikan sebagai suatu pilihan tunggal di antara alternatif-alternatif. Kebanyakan keputusan-keputusan seperti itu sebenarnya terdiri dari serangkaian pilihan-pilihan dan ikatan-ikatan yang telah ditetapkan secara berurutan. (ISLAMY:23) • Nigro dan Nigro, juga tidak membedakan antara pembuatan keputusan dan pembuatan (perumusan) kebijakan. Menurut mereka, tidak ada perbedaan yang mutlak dapat dibuat antara pembuatan keputusan (decision making) dan pembuatan kebijakan (policy making), karena setiap penentuan kebijakan adalah merupakan suatu keputusan. Tetapi kebijakan-kebijakan membentuk rangkaianrangkaian tindakan yang mengarahkan banyak macam keputusan yang dibuat dalam rangka melaksanakan tujuan-tujuan yang telah dipilih. (ISLAMY 24) • Tjokroamidjojo mengikuti pendapat Anderson (ISLAMY 24), membedakan pengertian pembuatan keputusan dan pembuatan kebijakan, dengan menyatakan
2

bahwa pembentukan kebijakan (policy formulation) atau policy making berbeda dengan pengambilan keputusan (decision making). Karena pengambilan keputusan adalah pengambilan pilihan sesuatu alterntaif dari berbagai alternatif yang bersaing mengenai sesuatu hal dan selesai. Sedangkan pembuatan keputusan meliputi banyak tindakan pengambilan keputusan. Jadi, jika pemilihan alternatif dilakukan dan selesai, maka kegiatan itu disebut pembuatan keputusan; sebaliknya bila pemilihan alternatif itu terus menerus dilakukan, maka kegiatan tersebut dinamakan perumusan kebijakan. • Utomo membedakan pembuatan keputusan dan perumusan kebijakan. Pembuatan keputusan merupakan suatu tindakan untuk menentukan pilihan dari berbagai alternatif mengenai suatu hal dan selesai, sedangkan perumusan kebijakan merupakan rangkaian tindakan yang meliputi banyak pengambilan keputusan dan dilakukan dengan memilih alternatif secara terus menerus.

TAHAPAN PERUMUSAN KEBIJAKAN PUBLIK • Proses pembuatan sebuah kebijakan publik melibatkan berbagai aktivitas yang kompleks. Pemahaman terhadap proses pembuatan kebijakan oleh para ahli dipandang penting dalam upaya melakukan penilaian terhadap sebuah kebijakan publik. Untuk membantu melakukan hal ini, para ahli kemudian mengembangkan sejumlah kerangka untuk memahami proses kebijakan (policy process) atau seringkali disebut juga sebagai siklus kebijakan (policy cycles) • Kemampuan dan pemahaman terhadap prosedur pembuatan kebijakan tersebut juga harus diimbangi dengan pemahaman dari pembuat kebijakan publik terhadap kewenangan yang dimilikinya. Hal ini terkait dengan kenyataan sebagaimana diungkapkan oleh Gerston (2002) bahwa kebijakan publik dibuat dan dilaksanakan pada semua tingkatan pemerintahan, karenanya tanggungjawab para pembuat kebijakan akan berbeda pada setiap tingkatan sesuai dengan kewenangannya (Gerston, 2002, 14). • Dalam pandangan Sidney (2007, 79 dalam Fischer, Miller and Sidney, 2007), tahapan perumusan kebijakan merupakan tahap kritis dari sebuah proses kebijakan. Hal ini terkait dengan proses pemilihan alternatif kebijakan oleh pembuat kebijakan yang biasanya mempertimbangkan besaran pengaruh langsung yang dapat dihasilkan dari pilihan alternatif utama tersebut. Proses ini biasanya akan mengekspresikan dan mengalokasikan kekuatan dan tarik menarik diantara berbagai kepentingan sosial, politik dan ekonomi. • Tahap perumusan kebijakan melibatkan aktivitas identifikasi dan atau merajut seperangkat alternatif kebijakan untuk mengatasi sebuah permasalahan; serta mempersempit seperangkat solusi tersebut sebagai persiapan dalam penentuan kebijakan akhir. • Sidney (2007, 79 dalam Fischer, Miller and Sidney, 2007), perumusan kebijakan mencoba menjawab terhadap sejumlah pertanyaan “apa”, yakni: apa rencana untuk menyelesaikan masalah? Apa yang menjadi tujuan dan prioritas? Pilihan apa yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut? Apa saja keuntungan dan kerugian dari setiap pilihan? Eksternalitas apa, baik positif maupun negatif yang terkait dengan setiap alternatif?

3

Beberapa Tahapan: 1. THOMAS R. DYE • Menurut Dye (2005, 31), bagaimana sebuah kebijakan dibuat dapat diketahui dengan mempertimbangkan sejumlah aktivitas atau proses yang terjadi didalam sistem politik. • Thomas R. Dye (Widodo, 2007) memberikan pendapat tentang Proses Kebijakan Publik yang terdiri atas: 1. Identifikasi masalah kebijakan (Identification of policy problem) → dilakukan melalui identifikasi apa yang menjadi tuntutan (demands) atas tindakan pemerintah. 2. Penyusunan Agenda (Agenda Setting) → merupakan aktivitas memfokuskan perhatian pada pejabat publik dan media masa atas keputusan apa yang akan diputuskan terhadap masalah publik tertentu. 3. Perumusan Kebijakan (policy formulation) → tahapan pengusulan rumusan kebijakan melalui inisiasi dan penyusunan usulan kebijakan melalui organisasi perencanaan kebijakan, kelompok kepentingan, birokrasi pemerintah, presiden dan lembaga legislatif 4. Pengesahan Kebijakan (legitimating of policies) → melalui tindakan politik oleh partai politik, kelompok penekan, presiden dan kongres; 5. Implementasi Kebijakan (Policy implementation) → dilakukan melalui birokrasi, anggaran publik dan aktivitas agen eksekutif yang terorganisasi; 6. Evaluasi kebijakan (poliy evaluation) → dilakukan oleh lembaga pemerintah sendiri, konsultan dari luar pemerintah, pers, dan masyarakat (publik) • Terkait hal ini, dalam pandangan Dye (2005, 31-32), pembuatan kebijakan sebagai sebuah proses akan meliputi sejumlah proses, aktivitas, dan keterlibatan peserta sebagaimana dapat dilihat dalam tabel 1 berikut. Tabel 1 Pembuatan Kebijakan sebagai sebuah Proses
Proses Identifikasi Masalah Penetapan Agenda Aktivitas Publikasi masalah sosial; mengekspresikan tuntutan akan tindakan dari pemerintah Menentukan mengenai masalahmasalah apa yang akan diputuskan; masalah apa yang akan dibahas/ditangani oleh pemerintah Pengembangan proposal kebijakan untuk menyelesaikan dan memperbaiki masalah Memilih proposal; mengembangkan dukungan untuk proposal terpilih; menetapkannya menjadi peraturan hukum; memutuskan Peserta Media massa; kelompok kepentingan; inisiatif masyarakat; opini publik Elit, termasuk presiden dan kongres; kandidat untuk jabatan publik tertentu; media massa Pemikir; Presiden dan lembaga eksekutif; komite kongres; kelompok kepentingan Kelompok kepentingan; presiden; kongres; pengadilan

Perumusan Kebijakan

Legitimasi Kebijakan

4

konstitusionalnya Implementasi Kebijakan Mengorganisasikan departemen dan badan; menyediakan pembiayaan atau jasa pelayanan; menetapkan pajak Melaporkan output dari program pemerintah; mengevaluasi dampak kebijakan kepada kelompok sasaran dan bukan sasaran; mengusulkan perubahan dan reformasi Presiden dan staf kepresidenan; departemen dan badan Departemen dan badan; komite pengawasan kongres; media massa; pemikir

Evaluasi Kebijakan

2. JAMES ANDERSON • Menurut Anderson (2006, 3-5), proses kebijakan terdiri atas lima tahapan sebagaimana dapat dilihat dalam tabel 2 berikut. Tabel 2 Proses Kebijakan
Terminologi Kebijakan Definisi Tahap 1: Agenda Kebijakan Sejumlah permasalahan diantara banyak permasalahan lainnya yang mendapat perhatian serius dari pejabat publik Tahap 2: Perumusan Kebijakan Pengembangan usulan akan tindakan yang terkait dan dapat diterima untuk menangani permasalahan publik Tahap 3: Adopsi Kebijakan Pengembanga n dukungan terhadap sebuah proposal tertentu sehingga sebuah kebijakan dapat dilegitimasi atau disahkan Membuat pemerintah untuk menerima solusi tertentu terhadap masalah Tahap 4: Implementa si Kebijakan Aplikasi kebijakan oleh mesin administrasi pemerintah Tahap 5: Evaluasi Kebijakan Upaya pemerintah untuk menentuka n apakah kebijakan efektif, serta mengapa efektif atau tidak efektif Apakah kebijakan bekerja baik?

Common sense

Membuat pemerintah untuk mempertimbang kan tindakan terhadap masalah

Apa yang diusulkan untuk dilakukan terhadap masalah

Aplikasi kebijakan pemerintah terhadap masalah

• Berdasarkan tabel 1 dan 2 tersebut, dapat dilihat bahwa perbedaan pandangan dari Dye dan Anderson mengenai proses kebijakan hanya terletak pada masalah identifikasi kebijakan saja. Dye membedakan tahapan antara aktivitas identifikasi masalah dengan penetapan agenda, sementara Anderson menganggap kedua hal tersebut sebagai tahap agenda kebijakan. Tahapan lainnya cenderung sama antara pendapat Dye dan Anderson, yang berbeda hanya istilah penyebutannya saja. • Baik Dye dan Anderson juga cenderung sepakat bahwa tahapan perumusan kebijakan merupakan tahap dimana dikembangkan proposal yang berisikan sejumlah alternatif untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa tahap perumusan kebijakan merupakan tahap yang penting dalam menentukan sebuah kebijakan publik. Pada tahapan ini akan

5

dihasilkan sejumlah usulan kebijakan yang akan diputuskan untuk diambil oleh pemerintah. 3. CHARLES O. JONES • Charles O.Jones sebagai salah satu ilmuan yang banyak mengkaji teori kebijakan publik, bahkan membagi tahap-tahap yang dilalui sebagai sebuah proses yang sangat panjang, yaitu tidak kurang dari 11 tahap yang akan ditempuh. Hal yang sangat menarik dari Jones adalah 1) mengidentifikasi masalah apa yang menyangkut kepentingan siapa, 2) mengapa masalah dalam masyarakat muncul, 3) bagaimana tumbuh dan berkembangnya masalah tersebut dan 4) kapan dan bilamana masalah itu muncul. • Untuk lebih jelas mari kita ikuti pendapat Jones ketika kita mengamati munculnya sebuah kebijakan publik dalam sebuah negara ataupun pemerintah
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Aktivitas Persepsi Aggregasi Organisasi Representasi Pembentukan Agenda Formulasi Pertanyaan-pertanyaan Apakah menjadi masalah sehingga muncul beberapa usulan dari masyarakat. Berapa banyak orang yang merasa bahwa masalah yang diajukan itu penting sekali. Bagaimanakah orang-orang mengorganisasikan diri mereka? tersebut

Bagaimana akses mereka terhadap lembaga perwakilan yang ada. Bagaimana status agenda diperoleh? Apa usul penyelesaian masalah, siapa yang mengembangkannya dan bagaimana rumusannya. Siapa yang mendukungnya, apakah dukungan tersebut bersifat mayoritas. Apakah ada dana yang disediakan? Berapa banyak? Apakah itu dianggap cukup? Siapa yang mengimplementasikannya, bagaimana mereka memperoleh dukungan Siapa yang melakukan evaluasi, metode apa untuk melakukan evaluasi? Penyesuaian apa yang Bagaimana hasilnya. telah dilakukan?

7. 8. 9. 10 11

Legitimasi Anggaran/Budgeting Implementasi Evaluasi Penyesuaian/ penghapusan

• •

Menurut Charles O. Jones proses kegiatan pembuatan kebijakan publik dapat dikelompokan kedalam beberapa sekwens. Lima aktivitas pertama merupakan kegiatan yang berkaitan dengan bagaimana masyarakat menyampaikan persoalan mereka kepada pemerintah. Ke lima kegiatan tersebut antara lain persepsi/defenisi, agregasi, organisasi, representasi dan pembentukan agenda. Sementara itu kegiatan yang berhubungan dengan formulasi, legitimasi, dan budgeting merupakan kegiatan yang berada dalam cakupan pemerintahan, Ketiga bidang kegiatan yang lainnya merupakan langkah-langkah yang ditempuh oleh pemerintah
6

yang secara konkrit mewujudkan kebijakan tersebut dalam kehidupan seharihari dan bagaimana pemerintah kemudian mengambil sikap terhadap kebijakan tersebut, apakah akan diteruskan karena membawa hasil yang positif, ataukah perlu diadakan penyesuaian-penyesuaian untuk meningkatkan kapasitas kebijakan tersebut, dan ataukah sudah waktunya kebijakan itu dihapuskan dan diganti dengan kebijakan yang baru sama sekali karena tidak ada manfaatnya bagi masyarakat. • Ada baiknya kita merujuk apa yang dikemukakan oleh Charles O Jones seperti yang terlihat dalam tabel berikut ini:
Aktivitas Fungsional Persepsi Defenisi Agregasi Organisasi Representasi Formulasi Legitimasi Budgeting Implementasi Evaluasi Penyesuaian/ Terminasi Kegiatan dalam Lingkungan Pemerintahan Pengembangan/ program kebijakan Proposal Program Penyediaan dana. Dana, sumber daya manusia, dan lainnya Kategori dalam Pemerintahan Sebagai Sistem Potensi Produk (Output) Masalah Tuntutan Akses dan Prioritas

Masalah yang Identifikasi disampaikan permasalahan kepada pemerintah.

Penganganan Implementasi terhadap masalah program Program diajukan kepada Pemerintah

yang Evaluasi Program Bervariasi (mis: Kegiatan rekomendasi, solusi atau perubahan)

Sumber: Charles O.Jones, An Introduction to The Study of Public Policy (Motery, California, Brooks Publ. Company, 1984, p.29) 4. RANDAL B. RIPLEY (1985). • Ripley membagi tahap pembentukan kebijakan publik ke dalam lima tahap yang utama dan diantara tahap-tahap tersebut saling terkait satu sama lain karena kebijakan publik tersebut merupakan sebuah kegiatan yang menyatu atau merupakan satu kesatuan. Pada tahap pertama merupakan tahap pembentukan persepsi terhadap masalah yang berkembang dalam masyarakat, dan bagaimana masyarakat memahami masalah tersebut, kemudian selanjutnya bagaimana masyarakat memobilisasi dukungan agar masalah tersebut dibawakan kepada pemerintah sehingga menjadi sebuah agenda pemerintah. Tahap ini disebut sebagai Agenda Building. Pada tahap yang kedua adalah dimana masalah tersebut sudah menjadi agenda pemerintah dan kemudian pemerintah mengambil langkah-langkah tertentu, terutama dalam memformulasikan dan melegitimasikan kebijakan yang akan ditempuh sehingga mendapat dukungan yang kuat dari
7

masyarakat. Pada tahap ini tentu saja kegiatan pemerintah sangat luas, termasuk mengumpulkan informasi, mengadakan lobbying dengan lembaga legislatif, dengan kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dalam masyarakat. Dari hasil kegiatan pada tahap ini maka lahirlah apa itu sebuah Undang-Undang, Peraturan pemerintah, SK Presiden, Peraturan Daerah ataupun lainnya. Kebijakan tersebut menentukan arah dan tujuan dari langkah yang ditempuh pemerintah, serta bagaimana program-program lanjutan diputuskan. • Setelah melewati tahap seperti yang dikemukakan di atas, maka sampailah pada tahap yang ketiga, yaitu apa yang disebut sebagai tahap implementasi. Pada tahap ini diadakan interpretasi lebih lanjut dari kebijakan yang dibuat, apakah diperlukan Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis sehingga program dapat dihantarkan kepada masyarakat, kemudian bagaimana dana dikerahkan, sarana dan prasarana disediakan, serta ditentukan siapa yang paling bertanggung jawab melaksanakannya. Pada tahap ini kemudian lahirlah sejumlah kegiatan, dan pada akhirnya adalah hasil yang nyata dari kebijakan tersebut dirasakan atau tidak oleh masyarakat. Tahap yang keempat adalah tahap untuk mengadakan evaluasi terhadap kebijakan yang sudah dijalankan. Tahap ini merupakan tahap untuk melakukan penilaian terhadap kinerja sebuah kebijakan. Apakah kebijakan tersebut sudah dijalankan sebagaimana mestinya, apakah membawa hasil seperti yang diharapkan atau tidak, apakah hasil yang dicapai sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah?. Evaluasi dapat dilakukan mencakup dua hal yaitu evaluasi terhadap proses muncul dan penyelenggaraan dari kebijakan tersebut, serta evaluasi yang menyangkut dampak dari kebiajakan tersebut. Setelah evaluasi dilakukan maka sampailah pada tahap yang terakhir atau tahap yang kelima yaitu menentukan bagaimana nasib dari kebijakan tersebut selanjutnya, apakah akan diteruskan ataukah dihapuskan saja, ataukah diteruskan dengan penyesuaian seperlunya. Kalau kebijakan tersebut membawa hasil yang sangat memuaskan maka dapat diteruskan, akan tetapi kalau kebijakan itu tidak membawa hasil seperti yang diharapkan dan bahkan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi bagi pemerintah dan masyarakat maka sudah sewajarnya untuk dihapuskan. Tentu saja keputusan itu dibuat atas dasar hasil penilaian yang dilakukan dengan serius. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram berikut ini;
Tahap Kegiatan Pembentukan Agenda Persepsi masalah Defenisi Masalah Mobilisasi dukungan Formulasi,Legitimasi Perolehan Informasi Advokasi Dukungan Statmen Kebijakan Rumusan Tujuan Dll Hasilnya. Agenda Pemerintah

8

Lobbying Implementasi Program Interpretasi Pendanaan Organisasi sarana, dll Evaluasi Kebijakan Decision, Adaptation Termination Dampak kebijakan Aktivitas kebijakan.

Sumber: Randal B. Ripley, Policy Analysis in Political Science (Chicago, Nelson-Hall Publishing, 1985, P.49) • Proses kebijakan yang telah disebutkan sebelumnya, pada umumnya merupakan aktivitas yang berkaitan dengan bagaimana masalah dirumuskan, agenda kebijakan ditentukan, kebijakan dirumuskan, keputusan kebijakan diambil, kebijakan dilaksanakan dan kebijakan dievaluasi. • 1. Beberapa pertanyaan berhubungan dengan proses kebijakan public: Problem identification • Apa yang dimaksud dengan masalah kebijakan • Apa yang menyebabkan masalah menjadi masalah kebijakan Formulation • Bagaimana alternatif kebijakan dikembangkan? • Siapa yang berpartisipasi dalam perumusan kebijakan? Adopsi • Bagaimana alternatif kebijakan diadopsi dan diundangka? • Persyaratan apa yang harus dipenuhi? • Siapa saja yang mengadopsi kebijakan? • Proses apa yang dilakukan? • Apa saja muatan kebijakan yang telah di adopsi Implementasi • Siapa yang terlibat dalam pelaksanaan? • Apa yang dilakukan agar suatu kebijakan publik dapat menimbulkan efek? • Apa dampaknya terhadap uatan kebijakan? Evaluasi • Bagaimana efektivitas atau dampak suatu kebijakan diukur? • Siapa yang melakukan kebijakan? • Apa konsekuensi yang ditimbulkan oleh evaluasi kebijakan? • Apa ada tuntutan (demands) untuk mengubah atau mencabut kebijakan?

2.

3.

4.

5.

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->