P. 1
EKONOMI KREATIF

EKONOMI KREATIF

|Views: 736|Likes:
Published by kurnais
karakter kegiatan ekonomi kreatif yang dapat membangun bangsa
karakter kegiatan ekonomi kreatif yang dapat membangun bangsa

More info:

Published by: kurnais on Apr 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/05/2013

pdf

text

original

EKONOMI KREATIF A.

Pendahuluann Ekonomi Kreatif secara sederhana adalah ekonomi yang memperpadukan kegiatan ekonomi dari berbagai macam aspek antara lain ide, ketrampilan, serta perpaduan teknologi, hal ini merupakan tuntutan perkembangan paradigma internasional yang tidak boleh kita abaikan, justru menjadi acuan ktia untuk senantiasa menggali dan mempelajari serta mempraktekan perkembangan ekonomi secara linier. sehingga mampu menjadi sumbangan yang berdambapk positif kepada sirkulasi ekonomi nasional. Alvin Toffler mengemukakan bahwaada empat gelombang dalam pembagian kegiatan ekonomi manusia modern, yaitu gelombang pertama bertumpu pada sector pertanian, ekonomi gelombang kedua pada sector industri, ekonomi gelombang ketiga pada sector informasi dan ekonomi kreatif termasuk pada ekonomi gelombang keempat. Menurut John Howkins dalam The Creative Economy How People Make Money From Ideas, ekonomi kreatif diartikan sebagai segala kegiatan ekonomi yang menjadikan kreativitas (kekayaan intelektual), budaya dan warisan budaya maupun lingkungan sebagai tumpuan masa depan. statmen ini merupakan sebuah kapasitas pendukung bagi sang-Regulator pada sebuah kepemerintahan yang harus selalu diperhataikan secara maksimal dan paten hingga karya-karya bangsa dan rakyat yang memiliki kemampuan secara kreatif merasa dilindungi dan merasa aman bahwa karya-karya yang diciptakannya terjaga secara paying hukum. Krisis memang telah memukul sendi-sendi kehidupan masyarakat. Yang paling terkena dampaknya, tentu saja masyarakat miskin yang sejauh ini tidak memiliki akses memadai, baik dari segi pendidikan, kesehatan, maupun akses ekonomi. Jumlah mereka yang miskin masih 34,96 juta jiwa, atau 15,42% dari total jumlah penduduk Indonesia. Selain itu, jumlah pengangguran juga relatif masih besar, yakni 9,4 juta jiwa. Jumlah itu setara dengan 8,46% dari total angkatan kerja di Indonesia (data BPS Februari 2008). Sebagian besar mereka menempati wilayah tertinggal di Republik ini. Mereka merupakan bagian dari 199 kabupaten daerah tertinggal di Indonesia. Secara kuantitatif jumlah daerah tertinggal tersebut setara dengan 44% dari total 457 kabupaten/kota di Indonesia. Karena ketidakberdayaan itulah, secara ekonomi peranan daerah tertinggal terhadap ekonomi nasional menjadi sangat kecil.

Padahal, potensi di daerah tertinggal akan mendatangkan stimulus bagi ekonomi nasional jika digarap secara cermat. Mayoritas mereka tinggal dan menetap di desa. Mereka miskin bukannya karena malas, melainkan menjadi tidak berdaya karena akses mereka yang terbatas dan sengaja dibatasi pada era pembangunan sentralistik di masa lampau. Dengan permasalahan yang kompleks seperti itu, ditambah dengan ancaman imbas krisis finansial yang sudah kian kentara di depan mata, upaya terpadu, terencana, dan berkesinambungan, dibutuhkan untuk pemberdayaan masyarakat. Program itu harus mampu merangsang dan menumbuhkan kreativitas masyarakat miskin, khususnya di perdesaan. Ekonomi kreatif akan muncul jika proses-proses pelibatan masyarakat dibuka seluas-luasnya (kamis, 25 Maret 2010 00:00 WIB, Media Indonesia Online, oleh Oleh Ujang Iskandar Kandidat Doktor Antarbidang UGM; Bupati Kotawaringin Barat). Pemerintah sendiri akhir-akhir ini terlihat getol menyuarakan pentingnya mengembangkan sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu upaya untuk keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Dalam Pekan Produk Budaya Indonesia, Presiden Yudhoyono sempat menyatakan kalau ekonomi kreatif merupakan modal utama pembangunan ekonomi di gelombang empat peradaban. Hal ini tentu saja dapat kita artikan sebagai angin segar. Tindak lanjut dari ajakan Kepala Negara itu ialah menumbuhkembangkan partisipasi, pembukaan akses seluas-luasnya hingga ke desa, serta permodalan bergulir yang tepat sasaran. Desa, sebagai wilayah penyangga ekonomi di Republik ini, perlahan tapi pasti telah memperoleh kesempatan untuk mengembangkan ekonomi kreatif itu melalui pemberdayaan nasional. Ekonomi kreatif mulai populer di tanah air ini terutama sejak Presiden Usilo Bambang Yudhoyono menyebutkan pentingnya ekonomi kreatif bagi masa depan ekonomi Indonesia yang menggabungkan ide, seni dan teknologi memang cukup beralasan, mengingat ekonomi kreatif merupakan tuntutan perkembangan dunia di abad ke-21 ini. Di beberapa negara, ekonomi kreatif memainkan peran signifikan. Di Inggris, yang pelopor pengembangan ekonomi kreatif, industri itu tumbuh rata-rata 9% per tahun, dan jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara itu yang 2%-3%. Sumbangannya terhadap pendapatan nasional mencapai 8,2% atau US$ 12,6 miliar dan merupakan sumber kedua terbesar setelah sektor finansial. Ini melampaui pendapatan dari industri manufaktur serta migas. Di Korea Selatan, industri kreatif sejak 2005 menyumbang

lebih besar daripada manufaktur. Di Singapura ekonomi kreatif menyumbang 5% terhadap PDB atau US$ 5,2 miliar. Ekonomi kreatif termasuk ekonomi gelombang keempat. Alvin Toffler menyebut, ekonomi gelombang pertama bertumpu pada sektor pertanian, ekonomi gelombang kedua pada sektor industri, dan ekonomi gelombang ketiga pada sektor informasi. Definisi Menurut John Howkins dalam The Creative Economy: How People Make Money From Ideas, ekonomi kreatif diartikan sebagai segala kegiatan ekonomi yang menjadikan kreativitas (kekayaan intelektual), budaya dan warisan budaya maupun lingkungan sebagai tumpuan masa depan. Sementara itu, industri kreatif adalah berbasis kreativitas, keterampilan, dan talenta yang memiliki potensi peningkatan kesejahteraan serta penciptaan lapangan kerja dengan menciptakan dan mengeksploitasi Hak Kekayaan Inteletual (HKI). Analoginya, ekonomi kreatif adalah kandangnya, industri kreatif adalah binatangnya. Ekonomi kreatif punyai 14 subsektor industri, yaitu periklanan (advertising), arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, video/film/animasi/fotografi, game, musik, seni pertunjukan (showbiz), penerbitan/percetakan, software, televisi/radio (broadcasting), dan riset & pengembangan (R&D). Saat ini industri kreatif di dunia tumbuh pesat. Ekonomi kreatif global diperkirakan tumbuh 5% per tahun, akan berkembang dari US$ 2,2 triliun pada Januari 2000 menjadi US$ 6,1 triliun tahun 2020. Di Indonesia, ekonomi kreatif cukup berperan dalam pembangunan ekonomi nasional. Hanya, ia belum banyak tersentuh oleh campur tangan pemerintah. Ini karena pemerintah belum menjadikannya sebagai sumber pendapatan negara yang penting. Pemerintah masih fokus pada sektor manufaktur, fiskal, dan agrobisnis. Menurut data Departemen Perdagangan, industri kreatif pada 2006 menyumbang Rp 104,4 triliun, atau rata-rata 4,75% terhadap PDB nasional selama 2002-2006. Jumlah ini melebihi sumbangan sektor listrik, gas dan air bersih. Tiga subsektor yang memberikan kontribusi paling besar nasional adalah fashion (30%), kerajinan (23%) dan periklanan (18%). Selain itu, sektor ini mampu menyerap 4,5 juta tenaga kerja dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17,6% pada 2006. Ini jauh melebihi

tingkat pertumbuhan tenaga kerja nasional yang hanya sebesar 0,54%. Namun, ia baru memberikan kontribusi ekspor sebesar 7%, padahal di negara-negara lain, seperti Korsel, Inggris dan Singapura, rata-rata di atas 30%.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->