P. 1
makalah tarpen kelompok 3

makalah tarpen kelompok 3

5.0

|Views: 6,356|Likes:
Published by ahmad shulhany
ini makalah pengantar pendidikan yang telah di buat oleh saya dan teman teman untuk memenuhi tugas pengantar pendidikan , dengan dosennya adalah ibu ana
ini makalah pengantar pendidikan yang telah di buat oleh saya dan teman teman untuk memenuhi tugas pengantar pendidikan , dengan dosennya adalah ibu ana

More info:

Published by: ahmad shulhany on Apr 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2014

pdf

text

original

LANDASAN-LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN SERTA PENERAPANNYA

MAKALAH Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pengantar Pendidikan

oleh : AHMAD SHULHANY (2225090437) MELDA MELISA (2225091742) MUHAMMAD FAKIH (2225091388) NOVA NURHANIFAH (2225091743) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA 2010

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Alhamdulillahi robbil 'alamin, kami mengucapkan puji syukur kehadirat Allah S.A.W atas berkat Rahmat dan Inayah-Nya kami bisa menyelesaikan Makalah Pengantar Pendidikan tentang ³Landasan-Landasan dan Asas-Asas Pendidikan serta Penerapannya´ Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Pendidikan dengan Ibu Ana Nurhasanah sebagai dosen pengantar pendidikan. Dalam menyelesaikan Makalah ini, banyak sekali yang memberi bantuan terlebih kepada para penulis yang bukunya kami jadikan rujukan (Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, Drs. S. L.La Sulo, Prof. Dr. Made Pidarta, Prof. Dr. Chaedar Alwasilah, Dr. Sutari Imam Barnadib, dll), kepada para blogger yang bersedia mentransfer ilmunya melalui dunia ³maya´, serta tidak ketinggalan pula teman-teman yang rela hari minggunya hilang demi mengetik, dan semua yang tidak dapat disebutkan secara rinci. Kritik, teguran, serta saran sangat kami harapkan sebab ³no body's perfect´ tidak ada yang sempurna. Dan kami minta maaf yang sebesar-besarnya jika kami lalai dalam menulis katakata yang di kutip dari buku, atau blog dan kami tidak mencantumkan asalnya.

³Tak ada gading yang tak retak Retaknya jadi kiasan Tak ada laut yang tak berombak Ombaknya jadi lukisan´ (Pepatah Jambi)

Kelompok III

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah hal real yang telah ada sejak kita dilahirkan, sebab sebagai umat beragama kita tidak hanya diberi perintah-perintah yang jelas (tidak meragukan) tentang itu, tapi diberikan fasilitas-fasilitas fantastis dari tuhan, diantaranya: 1. Otak sebagai komponen utama untuk berfikir. Otak pun di bagi lagi, yaitu: A. Otak kiri untuk kemampuan verbal, dan matematis. B. Otak kanan untuk kemampuan estetika. C. Otak kecil untuk kemampuan mengingat masa lampau.

2. Hati sebagai filter, dimana untuk memisahkan antara hal yang berguna dan tidak berguna. Sebab dunia akan hancur bila terjadi ³Teknologi tanpa Kemanusiaan´ (Mahatma Ghandi). 3. Nafsu dan emosi sebagaipenggerak utama sumber dari kemauan keras untuk berusaha sebaik mungkin. Nafsu dibagi 3, yaitu: A. Nafsu muthmainnah. B. Nafsu amarah. C. Nafsu lawamah. 4. Modalitas untuk belajar, ada 3 macam, yaitu: A. Visual. B. Auditorial. C. Kinestetik. Fasilitas-fasilitas di atas merupakan modal utama dalam proses pembelajaran dan pengajaran, sehingga mengukuhkan pendapat yang mengatakan asas belajar sepanjang hayat, atau yang telah kita ketahui dari hadits Rosullullah bahwa belajar mulai buaian orang tua hingga masuk ke liang lahat. Arti pentingnya pendidikan dapat dilihat dari dimensi pendidikan yang telah menembus berbagai agama, dan bangsa. Mulai dari kawasan bulan sabit Irak, menuju lorong-lorong sempit Alhambra, melewati kesombongan Nyonya Eiffel, hingga dibawah kaki Patung Liberty di penuhi sinar pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistematik selalu bertolak dari sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengebangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu. 1 Pendidikan diharapkan mengusahakan 2 hal, yaitu :
1

1. Pembentukan manusia pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri. 2. Pemberian dukungan bagi perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. 2 Adapun tujuan pendidikan nasional yang tertulis dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 adalah berupaya untuk dapat berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: 1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa. 2. Berakhlak mulia. 3. Sehat. 4. Berilmu. 5. Cakap. 6. Kreatif. 7. Mandiri. 8. Menjadi warga Negara demokratis serta bertanggung jawab. 3 Landasan-landasan pendidikan tersebut akan memberikan pijakan dan arah terhadap pembentukan manusia Indonesia, dan serentak dengan itu, mendukung perkembangan masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan asas-asas pokok pendidikan akan memberi corak khusus dalam penyelenggaraan pendidikan itu, dan pada gilirannya, memberi corak pada hasil-hasil pendidikan itu yakni manusia dan masyarakat Indonesia. 4 Beberapa landasan pendidikan yang akan dijelaskan dalam makalah ini adalah landasan hukum, agama, filosofis (filsafat), sosiologis (sosial), kultural (budaya), psikologis (kejiwaan), IPTEK (ilmiah dan teknologis), historis (sejarah) atau geografis, ekonomis, dan profesionalisasi pendidik. Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan be rpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusus di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan Asas Kemandirian dalam Belajar. 5

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, kami mengemukakan permasalahan berikut: 1. Landasan-landasan apa saja yang mempengaruhi pendidikan di Indonesia? 2. Asas-asas apa saja yang mempengaruhi pendididikan di Indonesia? 3. Bagaimana penerapan dari landasan-landasan dan asas-asas pendidikan yang ada di Indonesia?

C. Metode Penyusunan

Metode yang dilakukan dalam membuat makalah ini adalah Library Research, dimana kami mencari buku-buku dan tulisan yang terkait dengan judul dari perpustakaan pusat universitas, perpustakaan fakultas, kamus online (contoh:wikipedia), dan e-book.

D. Sistematika Pembahasan
Makalah ini, di susun dalam 3 bab, dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I :PENDAHULUAN, yang pembahasannya meliputi: Latar belakang, perumusan masalah, metode penyusunan, dan sistematika pembahasan Bab II :PEMBAHASAN, yang pembahasannya meliputi:

Landasan-landasan pendidikan dan implikasinya pada pendidikan, yaitu landasan hukum, landasan agama, landasan filosofis (filsafat), landasan sosiologis (sosial), landasan kultural (budaya), landasan psikologis (kejiwaan), landasan IPTEK (ilmiah dan teknologis), landasan historis (sejarah) atau landasan geografis, landasan ekonomis, dan profesionalisasi pendidik Asas-asas pendidikan dan implikasinya pada pendidikan, yaitu Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar. Bab III :PENUTUP, yang meliputi: Kesimpulan, dan daftar pustaka.

BAB II PEMBAHASAN

A. Landasan-landasan Pendidikan dan Penerapannya
Landasan-landasan pendidikan tersebut akan memberikan pijakan dan arah terhadap pembentukan manusia Indonesia, dan serentak dengan itu, mendukung perkembangan masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan asas-asas pokok pendidikan akan memberi corak khusus dalam penyelenggaraan pendidikan itu, dan pada gilirannya, memberi corak pada hasil-hasil pendidikan itu yakni manusia dan masyarakat Indonesia. 1 Beberapa landasan pendidikan yang akan dijelaskan dalam makalah ini adalah landasan hukum, agama, filosofis (filsafat), sosiologis (sosial), kultural (budaya), psikologis (kejiwaan), IPTEK (ilmiah dan teknologis), historis (sejarah) atau geografis, ekonomis, dan profesionalisasi pendidik.

1. Landasan Hukum
Kata landasan dalam hukum berarti melandasi atau mendasari atau titik tolak. Landasan hukum seorang guru boleh mengajar misalnya, adalah surat keputusan tentang pengangkatannya sebagai guru. Yang melandasi atau mendasari ia menjadi guru adalah surat keputusan itu beserta hak-haknya. Surat keputusan itu merupakan titik tolak untuk ia bisa melaksanakan tugas guru. Begitu pula halnya mengapa anak-anak sekarang diwajibkan belajar paling sedikit sampai dengan tingkat SLTP, adalah dilandasi atau didasari atau bertitik tolak dari Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Dasar dan ketentuan tentang wajib belajar. 2 3 Landasan hukum dapat diartikan peraturan baku sebagai tempat berpijak atau titik tolak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu, dalam hal ini kegiatan pendidikan. Tetapi tidak semua kegiatan pendidikan dilandasi oleh aturan-aturan baku ini. Cukup banyak kegiatan pendidikan yang dilandasi oleh aturan lain, seperti aturan kurikulum, aturan cara
1

mengajar, cara membuat persiapan, supervisi, dan sebagainya. Apalagi bila dikaitkan dengan kiat mengajar atau seni mendidik, sangat banyak kegiatan pendidikan yang dikembangkan sendiri oleh para pendidik. 4 5 Negara Republik Indonesia mempunyai berbagai peraturan perundang-undangan yang bertingkat, dan hukum yang paling tinggi adalah Undang-Undang. Dalam subbab ini akan membahas secara berturut-turut pengertian landasan hukum pendidikan menurut UndangUndang Dasar 1945, Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1989 tentang Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UndangUndang RI No. 14 Tahun 2005, dan Implikasi Konsep Pendidikan. 1 2

A. Pendidikan Menurut Undang -Undang Dasar 1945 Undang-Undang Dasar 1945 adalah merupakan hukum tertinggi di Indonesia. Adapun pasalpasal yang bertalian dengan pendidikan dalam Undang-Undang Dasar 1945 hanya 2 pasal, yaitu Pasal 31 dan Pasal 32. Yang satu menceritakan tentang pendidikan dan yang satu menceritakan tentang kebudayaan. Pasal 31 ayat 1 berbunyi: Tiap-tiap warga negara berhak

mendapat pengajaran .3 4 Ayat 2 pasal ini berbunyi: Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Ayat ini berkaitan dengan wajib belajar 9 tahun di SD dan SMP yang sedang dilaksanakan. Agar wajib belajar ini berjalan lancar, maka biayanya harus ditanggung negara. Kewajiban negara ini berkaitan erat dengan ayat 4 pasal yang sama yang mengharuskan negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD Kata landasan dalam hukum berarti melandasi atau mendasari atau titik tolak. Landasan hukum seorang guru boleh mengajar misalnya, adalah surat keputusan tentang pengangkatannya sebagai guru. Yang melandasi atau mendasari ia menjadi guru adalah surat keputusan itu beserta hak-haknya. Surat keputusan itu merupakan titik tolak untuk ia bisa melaksanakan tugas guru. Begitu pula halnya mengapa anak-anak sekarang diwajibkan belajar paling sedikit sampai dengan tingkat SLTP, adalah dilandasi atau didasari atau bertitik tolak dari Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Dasar dan ketentuan tentang wajib belajar. 5 6 Landasan hukum dapat diartikan peraturan baku sebagai tempat berpijak atau titik tolak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu, dalam hal ini kegiatan pendidikan. Tetapi tidak semua kegiatan pendidikan dilandasi oleh aturan-aturan baku ini. Cukup banyak kegiatan pendidikan yang dilandasi oleh aturan lain, seperti aturan kurikulum, aturan cara mengajar, cara membuat persiapan, supervisi, dan sebagainya. Apalagi bila dikaitkan dengan kiat mengajar atau seni mendidik, sangat banyak kegiatan pendidikan yang dikembangkan sendiri oleh para pendidik . 7 8
1

Ayat 3 pasal ini berbunyi: Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem

1

pendidikan nasional. Ayat ini mengharuskan pemerintah mengadakan satu sistem pendidikan nasional, untuk memberi kesempatan kepada setiap warga negara mendapatkan pendidikan. Kalau karena suatu hal seseorang atau sekelompok masyarakat tidak bisa mendapatkan kesempatan belajar, maka mereka bisa menuntut hak itu kepada pemerintah. 1 2 Pasal 32 Undang-Undang Dasar itu pada Ayat 1 bermaksud memejukan budaya nasional serta memberi kebebasan kepada masyarakat untuk mengembangkannya dan Ayat 2 menyatakan negara menghormati dan memelihara bahasa daerahsebagai bagian dari budaya nasional. Mengapa pasal ini juga berhubungan dengan pendidikan? Sebab pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Seperti kita telah ketahui bahwa kebudayaan adalah hasil dari budi daya manusia. Kebudayaan akan berkembang bila budi daya manusia ditingkatkan. Sementara itu sebagian besar budi daya bisa dikembangkan kemampuannya melalui

pendidikan. Jadi bila pendidikan maju, maka kebudayaan pun akan maju pula. Begitu pula halnya dengan bila kebudayaan maju berarti pendidikan ikut maju. Karena kebudayaan yang banyak aspeknya akan mendukung program dan pelaksanaan pendidikan. Dengan demikian upaya memajukan kebudayaan berarti juga sebagai upaya memajukan pendidikan. Kebudayaan dan pendidikan adalah dua unsur yang saling mendukung satu sama lain. 3 4

B. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional 5

Di antara peraturan perundang-undangan RI yang paling banyak dibicarakan hingga tahun 1997 adalah Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989. sebab Undang-Undang ini mengatur pendidikan pada umumnya, artinya segala sesuatu bertalian dengan pendidikan, mulai dari prasekolah sampai dengan pendidikan tinggi ditrntukan dalam undang-undang ini. 6 Secara garis besar Undang-Undang tersebut menerangkan hal-hal diantaranya: 1. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan Indonesia dan yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Pasal 1 Ayat 2). 2. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan (Pasal 1 Ayat 7). 3. Tenaga Kependidikan mencakup tenaga pendidik, pengelola/kepala lembaga pendidikan, penilik/pengawas, peneliti, dan pengembang pendidikan, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar (Pasal 27 Ayat 2). 4. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluaraga, masyarakat, dan pemerintah, yang berlaku juga dalam hal biaya penyelenggaraan pendidikan (Pasal 25 ayat 1 Butir 1). 5. Setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar memperoleh pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan yang sekurang-kurangnya setara dengan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan tamatan pendidikan dasar (Pasal 6). 6. Pendidikan dasar adalah SD, dan SLTP (Pasal 1).

7. Kesempatan belajar tersebut di atas berlaku bagi semua anak dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi (Pasal 7). 8. Jalur pendidikan sekolah adalah berbeda dengan jalur pendidikan luar sekolah (Pasal 10 Ayat 1). 9. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang siselenggarakan di sekolah secara berjenjang dan berkesinambungan, sedangkan jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan (Pasal 10 Ayat 2 dan Ayat 3). 10. Mereka yang belajar di jalur pendidikan sekolah disebut peserta didik yang terdiri dari siswa atau murid atau pelajar dan mahasiswa. Sedangkan yang masuk pada jalur pendidikan luar sekolah disebut warga belajar (Pasal 23 Ayat 1). 11. Jalur pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, pendidikan profesional (Pasal 11 Ayat 1). 12. Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan pada perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik serta otonom keilmuan. Ketiga ketentuan itu berlaku bagi civitas akademik, yaitu para dosen, dan mahasiswa (Pasal 22 Ayat 1). 13. Pendidikan bersifat terbuka dan memberikan keleluasaan gerak kepada peserta didik (Pasal 23 Ayat 1). 14. Dalam Pasal 24, memperbolehkan peserta didik pindah ke lembaga pendidik lain yang sejajar atau yang tingkatnya lebih tinggi, para peserta didik juga diperbolehkan menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan. 15. Dalam Pasal 26, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dirinya sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan dirinya. 16. Kewajiban tenaga kependidikan (Pasal 31). 17. Dalam pasal 33, peraturan pemerintah menyangkut pengadaan, pendayagunaan sumberdaya pendidikan yang harus dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan keluarga peserta didik. 18. Pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam satuan pendidikan didasarkan atas kurikulum yang berlaku secara nasional dan kurikulun yang disesuaikan dengan keadaan, serta kebutuhan lingkungan dan ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan (Pasal 38 Ayat 1).

19. Pemerintah dapat menyelenggarakan penilaian hasil belajar suatu jenis dan atau jenjang pendidikan secara nasional (Pasal 44).

C. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 1

Di antara peraturan perundang-undangan RI yang paling banyak dibicarakan hingga tahun 2010 adalah Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003. sebab Undang-Undang ini mengatur pendidikan pada umumnya, artinya segala sesuatu bertalian dengan pendidikan, mulai dari prasekolah sampai dengan pendidikan tinggi ditrntukan dalam undang-undang ini. 2 Secara garis besar Undang-Undang tersebut menerangkan hal-hal diantaranya: 1. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 45yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman (Pasal 1 Ayat 2). 2. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan (Pasal 1 Ayat 5). 3. Tenaga Kependidikan mencakup tenaga administrasi, pengelola/kepala lembaga pendidikan, penilik/pengawas, peneliti, dan pengembang pendidikan, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar (Pasal 39 Ayat 1).
y
1

Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.

y

Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

4. Setiap warga negara berhak atas kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, baik bagi mereka yang berlainan fisik, di daerah terpencil,

maupun yang cerdas atau yang berbakat khusus, yang bisa berlangsung sepanjang hayat (Pasal 5). 5. Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. (Pasal 6). 6. Pendidikan dasar adalah SD atau MI, dan SLTP atau Mts (Pasal 17). 7. Jalur pendidikan nonformal adalah berbeda dengan jalur pendidikan informal (Pasal 13). 8. Jalur pendidikan formal merupakan pendidikan yang siselenggarakan di sekolah secara berjenjang dan berkesinambungan, sedangkan jalur pendidikan nonformal dan informal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan. Dalam jalur pendidikan formal terbatas pada suatau rentang umur tertentu, sedangkan jalur pendidikan nonformal dan informal tidak memiliki batas usia tertentu dan tidakharus mengikutinya (Pasal 13, Pasal 26, dan Pasal 27). 9. Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Pendidikan ini bisa berupa pendidikan formal atau nonformal (Pasal 29). 10. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dapat terjadi pada jalur formal, nonformal, dan informal. Taman kanak-kanak termasuk pendidikan formal (Pasal 28). 11. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (Pasal 1 Ayat 4). 12. Jalur pendidikan terdiri dari pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan akademik, pendidikan profesi, pendidikan vokasi, pendidikan keagamaan, pendidikan khusus (Pasal 11 Ayat 1). 13. Dana pendidikan selain gajin pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20 % dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20 % dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) (Pasal 49). 14. Kewajiban tenaga kependidikan (Pasal 39). 15. Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, pada perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik serta otonomi keilmuan. Ketiga ketentuan itu berlaku bagi civitas akademik, yaitu para dosen, dan mahasiswa (Pasal 24).

16. Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak (a) mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama (b) mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (c) mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya (d) mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya (e) pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masingmasing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan (Pasal 12). 17. Dalam Pasal 12, memperbolehkan peserta didik pindah ke lembaga pendidik lain yang sejajar, para peserta didik juga diperbolehkan menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan. 18. Dalam Pasal 26, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dirinya sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan dirinya. 19. Kewajiban tenaga kependidikan (Pasal 31). 20. Dalam pasal 45, peraturan pemerintah menyangkut pengadaan, pendayagunaan sumberdaya pendidikan yang harus dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan keluarga peserta didik. 21. Pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam satuan pendidikan didasarkan atas kurikulum yang mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Pasal 36 Ayat 1). 22. Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan (Pasal 58).

D. Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen 1

Ada beberapa hal yang akan diuraikan bersangkutan dengan Undang-Undang Guru dan Dosen ini, terutama yang belum banyak disosialisasikan kepada mahasiswa. Contoh klasifikasi misalnya dalam wujud ijazah, sementara itu sertifikasi adalah sebagai bukti tenaga profesional. 2
1

Adapun dibawah ini hanya akan di terangkan secara garis besarnya saja, yaitu: 1. Ketentuan umum (Pasal 1). 2. Kedudukan, fungsi, dan tujuan (Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6). 3. Prinsip profesionalitas (Pasal 7). 4. Kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi bagi guru (Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, dan Pasal 13). 5. Hak, dan kewajiban bagi guru (Pasal 14, Pasal 15, Pasal 16, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, dan Pasal 20). 6. Wajib kerja dan ikatan dinas bagi guru (Pasal 21, Pasal 22, dan Pasal 23). 7. Pengangkatan, penempatan, pemindahan, dan pemberhentian bagi guru (Pasal 24, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, dan Pasal 31). 8. Pembinaan, dan pengembangan bagi guru (Pasal 32, Pasal 33, Pasal 34, dan Pasal 35). 9. Penghargaan bagi guru (Pasal 36, Pasal 37, dan Pasal 38). 10. Perlindungan bagi guru (Pasal 39). 11. Cuti bagi guru (Pasal 40). 12. Organisasi profesi, dan kode etik bagi guru (Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, dan Pasal 44). 13. Kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi bagi dosen (Pasal 45, Pasal 46, Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49, dan Pasal 50). 14. Hak, dan kewajiban bagi dosen (Pasal 51, Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, Pasal 59, dan Pasal 60). 15. Wajib kerja dan ikatan dinas bagi guru (Pasal 61, dan Pasal 62). 16. Pengangkatan, penempatan, pemindahan, dan pemberhentian bagi guru (Pasal 63, Pasal 64, Pasal 65, Pasal 66, Pasal 67,dan Pasal 68). 17. Pembinaan, dan pengembangan bagi guru (Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71, dan Pasal 72). 18. Penghargaan bagi guru (Pasal 73,dan Pasal 74). 19. Perlindungan bagi guru (Pasal 75). 20. Cuti bagi guru (Pasal 76). 21. Sanksi bagi guru, dan dosen (Pasal 77, Pasal 78, dan Pasal 79). 22. Ketentuan Peralihan (Pasal 80, Pasal 81, Pasal 82, Pasal 83, dan Pasal 84).

E. Implikasi Konsep Pendidikan 1
1

Sesudah membahas landasan hukum dalam pendidikan yang telah dijabarkan, maka sebagai implikasinya dalam konsep pendidikan adalah seperti uraian berikut: 1. Ada perbedaan yang jelas antara pendidikan akademik dengan pendidikan profesional 2. Pendidikan profesional memiliki tugas, diantaranya: A. Menyiapkan ahli dalam menerapkan suatu teori. B. Mempelajari cara membina para tenaga pembantu. C. Menciptakan lingkungan, dan iklim kerja yang kondusif. D. Membiasakan diri agar memiliki komitmen untuk berupaya selalu memuaskan orang-orang yang berkepentingan. 3. Sebagai konsekuensi dari beragamnya bakat, dan kemampuan para siswa serta dibutuhkannya tenaga kerja menengah yang banyak, maka perlu diciptakan berbagai ragam sekolah kejuruan. 4. Dibutuhkan kurikulum perguruan tinggi yang dapat mendorong kemauan, atau sikap tertarik untuk mengembangkan ilmu yang bersumber dari tanah aur sendiri. 5. Lebih memperhatikan pengembangan afeksi, kognisi, dan psikomotorik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: A. Tidak menganaktirikan materi pendidikan humaniora. B. Mengaitkan pendidikan afeksi pada setiap bidang studi, dan pada setiap kesempatan saat mengajar. C. Aspek afeksi pun harus diberi nilai dan diberi skor, sama halnya dengan aspek kognisi, dan psikomotorik. Dan ditulis di raport dan transkip hasil studi. 6. Adanya penekanan pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari dalam pendidikan humaniora. 7. Isi kurikulum muatan lokal dapat dipilih satu atau beberapa dari hal-hal berikut:

A. Memperkenalkan dan membiasakan melaksanakan norma-norma daerah setempat. B. Memakai alat-alat belajar yang terdapat di daerah itu. C. Mengambil contoh-contoh pelajaran yang ada atau sesuai dengan keadaan daerah itu. D. Menerapkan teori-teori yang cocok di daerah itu. E. Para peserta didik diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam usaha-usaha di daerah itu F. Pengembangan keterampilan sesuai kebutuhan daerah tersebut. G. mengikutsertakan peserta didik dalam memecahkan masalah yang terjadi didaerah tersebut. H. Bidang studi baru yang cocok dengan kebutuhan daerah tersebut.

2. Landasan Agama 1
1

A. Pengertian Landasan Agama

Landasan Agama yang dimaksudkan adalah pembenaran dari agama atas proses pendidikan yang di tuangkan dalam kitab suci berupa ayat-ayat, ataupun hadits nabi. Dalam konteks ini kami akan lebih condong ke agama islam. Firman Allah S.W.T yang berkaitan tentang pendidikan diantaranya dalam surat Ali Imron ayat 104, yang artinya: ³Hendaklah ada diantara kamu suatu golongan yang menyeru manusia kepada yang ma'ruf dan melarangnya dari yang munkar. Mereka adalah orangorang yang beruntung´. Jelas diterangkan pada Ayat di atas bahwa yang boleh diajarkan adalah suatu ³yang ma'ruf´, yaitu suatu yang baik, benar, membawa manfaat, dan tidak bertentangan dengan nash -nash syar'i. Adapun hadits-hadits Rosulullah S.A.W yang berkenaan tentang pendidikan sangat banyak jumlahnya. Di antaranya adalahyang artinya: ³Tuntutlah (kalian) ilmu walau sampai ke negeri China´, ³Tuntutlah (kalian) ilmu dari buaian ibu hingga liang kubur´, ³Sebaik -baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an´. Dan ´Satu orang yang 'alim (berilmu) lebih baik daripada seribu orang yang rajin beribadah (namun bodoh)´.

B. Implikasi Konsep Pendidikan

Sesudah membahas landasan agama dalam pendidikan yang telah dijabarkan, maka sebagai implikasinya dalam konsep pendidikan adalah seperti uraian berikut: 1. Kewajiban pendidikan adalah kewajiban perindividu, menurut hukum awalnya. 2. Adanya penekanan di konsep 'amaliyah (aplikasi). 3. Pendidikan diartikan sebagai suatu yang agung. 4. Asas belajar sepanjang hayat. 5. Belajar suatu yang ma'ruf bernilai pahala. 6. Orang yang berilmu mempunyai kedudukan yang tinggi di mata Allah, dan di mata manusia yang lain.

3. Landasan Filosofis (Filsafat)
A. Pengertian Landasan Filosofis (Filsafat) Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok seperti: apakah pendidikan itu?, mengapa pendidikan itu diperlukan?, apa yang seharusnya menjadi tujuannya?, dan sebagainya. 1
1

Kajian-kajian yang dilakukan oleh berbagai cabang filsafat (logika, epistemologi, etika, estetika, metafisika, yang lain-lain) akan besra pengaruhnya terhadap pendidikan, karena prinsip-prinsip dan kebenaran-kebenaran hasil kajian tersebut pada umumnya diterapkan dalam bidang pendidikan. 2

Wayan Ardhana, dan kawan-kawan (1986: Modul 1/12-18), mengemukakan bahwa aliranaliran filsafat itu bukan hanya mempengaruhi pendidikan, tetapi juga telah melahirkan aliran filsafat pendidikan, seperti: 1. Idealisme. 2. Realisme. 3. Perenialisme. 4. Esensialisme. 5. Pragmatisme dan progresivisme. 6. eksistensialisme. Realitas dalam abad ke-20, pendidikan seolah terjerembab dalam ketersesatan lembaga penyelenggara pendidikan yang menggunakan pola pikir linier dan arogansi dalam memetakan masa depan (Harefa, 2000). Pendidikan terutama diorientasikan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan dalam menjalankan tugas professional dan tugas-tugas lain dalam kehidupan. Namun, Seiring gencarnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia pendidikan pun mengalami perkembangan yang pesat. Sebagaimana adanya, perkembangan dalam dunia pendidikan terinspirasi melalui semakin meningkatnya kesadaran eksistensial praktisi dan pemikir pendidikan yakni hakekat diri sebagai manusia. 3 Berbicara tentang landasan filosofis pendidikan berarti berkenaan dengan tujuan filosofis suatu praktik pendidikan sebagai sebuah ilmu. Oleh karena itu, kajian yang dapat dilakukan untuk memahami landasan filosofis pendidikan adalah dengan menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang meliputi tiga bidang kajian yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Menurut Umar Tirtarahardja dan La Sulo (2005), landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandangan dalam filsafat pendidikan, menyangkut keyakinan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. 4 B. Filsafat Pendidikan

Selanjutnya akan diterangkan beberapa mazhab filsafat pedidikan secara ringkas, yaitu: 1. Esensialisme Mungkin deskripsi yang paling mengena bagi mazhab ini adalah ³tradisional´, kembali ke khittah, atau back to basics. Tatkala kita ini sudah bosan, atau bahkan muak, dengan kehidupan serba modern dan mekanistik, kita sering bertanya pada diri sendiri, Apa sih yang kita cari? Mazhab ini diberi label demikian karena upayanya dalam menanamkan pada para siswa apa yang menjadi esensi dari ilmu pengetahuan dan pembangunan para siswa. 1
1

Kebenaran yang esensial itu adalah kebudayaan klasik yang muncul pada zaman Romawi yang menggunakan buku-buku klasik yang ditulis dengan bahasa Latin yang dikenal dengan nama Great Book. Buku inisudah berabad-abad lamanya mampu membentuk manusiamanusia berkaliber internasional. Inilah bukti bahwa kebudayaan ini merupakan suatu kebenaran yang esensial. Tokohnya antara lain Brameld. Sementara itu kebudayaan klasik yang esensial itu di dunia timur adalah Mahabrata, dan Ramayana. 2 3 Menurut mazhab esensialisme, yang termasuk The Liberal Arts, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Penguasaan bahasa termasuk retorika. Gramatika. Kesusatraan. Filsafat. Ilmu kealaman. Matematika Sejarah. Seni keindahan (fine arts). 4

Dan untuk Sekolah Dasar (SD) kurikulumnya berintikan ketiga keterampilan dasar (basic skill) atau the threer's yakni membaca (reading), menulis (writing), dan berhitung (arichmatic)5

2. Perrenialisme Perrenial berarti everlasting, tahan lama, atau abadi. Dalam sejarah peradaban manusia dikenal sejumlah gagasan besar (great ideas) yang tetap menjadi rujukan sampai kapanpun juga. Aliran ini mengikuti paham realisme, yang sejalan dengan Aristoteles bahwa manusia

itu rasional. Akar filsafat ini tentunya datang dari gagasan besar Plato dan Aristotelesdan kemudian dari St. Thomas Aquinas yang sangat berpengaruh pada model-model sekolah Katolik. 1 Kebenaran menurut aliran ini adalah wahyu Tuhan. Proses pendidikannya sangat mirip dengan aliran esensionalisme, yaitu bersifat tradisional. Demikian kita lihat di Indonesia banyak sekolah di warnaioleh keagamaanseperti Muhammadiyah, NU, Persis, dan PUI di samping sekolah-sekolah Katolik, dan Kristen. 2 3 Ada persamaan antara perrenialisme dan esensialisme, yakni keduanya membela kurikulum tradisional yang berpusat pada mata pelajaran yang pokok-pokok (subject centered). Perbedaannya, ialah perrenialisme menekankan keabadian teori kehikmatan, yaitu: 1. Pengetahuan yang benar (truth). 2. Keindahan (beauty). 3. Kecintaan kepada kebaikan (goodness).4 Oleh karena itu, dinamakan perrenialisme karena kurikulumnya berisi materi yang konstan dan perenial. Prinsip pendidikan antara lain: 1. Bahasa. 2. Matematika. 3. Logika. 4. Ilmu pengetahuan alam. 5. Sejarah. 5
1

3. Pragmatisme dan Progresivisme Aliran ini lengket dengan nama besar John Dewey (1859-1952) yang mengembangkan sekolah laboratorium di Chicago. Aliran ini menghormati perorangan, sains, dan menerima perubahan sesuai dengan perkembangan. Aliran ini menstimulasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan minat siswa. Pengaruh Dewey sangat terasa sekali pada era 1950an saat Soviet berhasil meluncurkan Sputnik. 1
1

Demikianlah Progresivisme mempunyai jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Tujuan dan kebenaran itu bersifat relatif. Kurikulumnya adalah kehidupan itu sendiri, artinya kurikulum tidak dibatasi pada hal-hal yang bersifat akademik saja. Semua pengetahuan adalah merupakan produk berfikir melalui pengalaman. 2 3 Progresivisme atau gerakan pendidikan progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasarkan diri pada beberapa prinsip, antara lain sebagai berikut: 1. Anak harus bebas untuk dapat berkenbang secara wajar. 2. Pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar. 3. Guru harus menjadi peneliti dan pembimbing kegiatan belajar. 4. Sekolah progresif harus merupakan suatu laboratorium untuk melakukan reformasi pedagogis dan eksperimentasi. 4 4. Rekontruksi Aliran rekontruksi atau social reconstruction memiliki akar-akar filsafat eksistensialisme, namun terutama berlandaskan pada pemikiran aliran progresif. Persamaan antara dua aliran filsafat ini adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat relatif dan semua manusia mengelola dunia ini untuk memahaminya dan mengubahnya. 5 Filsafat pendidikan rekonstruksionis merupakan variasi dari progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki (Callahan, 1983). Mereka bercita-cita mengkonstruksi kembali kehidupan manusia secara total. Semua bidang kehidupan harus diubah dan dibuat baru. Aliran yang ekstrim ini berupaya merombak tata susunan masyarakat lama dan membangun tata susunan hidup yang baru sama sekali, melalui lembaga dan proses pendidikan. Proses belajar dan segala sesuatu yang bertalian dengan pendidikan tidak banyak berbeda dengan aliran progresivis. 1 2
1

Oleh karena itu, sekolah perlu mengembangkan suatu ideologi kemasyarakatan, yang demokratis. Keunikan mazhab ini ialah teorinya mengenai peranan guru, yakni sebagai pemimpin dalam metode proyek yang memberi peranan kepada murid cukup besar dalam proses pendidikan, guru di tuntut supaya menguasai sejumlah pengetahuan dan ilmu esensial demi keterarahan pertumbuhan muridnya. 3 5. Eksistensialisme

Gerakan eksistensialis dalam pendidikan berangkat dari aliran filsafat yang menamakan dirinya eksistensialisme, yang para tokohnya antara lain Kieerkegaard (1813-1815), Nietzsche (1811-1900), yang mengatakan bahwa Tuhan telah mati, dan Jean Paul Sartre, yang mengatakan, ³Man is nothing else but what he makes of him self´. Inti ajaran filsafat ini adalah respek terhadap individu yang unik pada setiap orang. Eksistensi mendahului esensi. 4 Dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan memberikan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum eksistensionalis menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangunan nalar. 5 Filsafat pendidikan eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya manusia di dunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas. Akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan dan komitmennya sendiri (Callahan, 1983). 6 6. Idealisme Memandang bahwa relitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melalui pancaindra adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamentaltidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah Plato, Elea, dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, dan Imam Al Ghozali. 7 7. Realisme Merupakan filsafat yang memandang realitis secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme adalah Aristoteles, Johan Amos, Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Lock, Galileo, David Hume, dan John Stuart Mill.
1

1

8. Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual, atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme adalah Demokritos, Ludwig Feurbach.2 9. Fragmatisme Dipandang sebagai filsafat amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusiadapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang beraliran fragmantisme adalah Charles Sandre Pierce, Wiliam James, John Dewey, dan Heracleitos. 3 C. Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Untuk bisa membentuk teori pendidikan Indonesia yang valid, terlebih dahulu dibutuhkan filsafat pendidikan yang bercorak Indonesia yang memadai, dimana filasafat ini menguraikan tentang: 1. Pengertian yang jelas, yang satu, dan berlaku di seluruh tanah air. 2. Tujuan pendidikan yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang diwarnai oleh sila sila Pancasila. 3. Model pendidikan, yang membahas tentang model pendidikan Indonesia yang tepat. 4. Cara mencapai tujuan, yaitu segi teknik dan pendidikan itu sendiri. 4 Bangsa Indonesia baru memiliki filsafat umum atau filsafat negara ialah pancasila. Sebagai filsafat negara, pancasila patut menjadi jiwa bangsa Indonesia, menjadi semangat dalam berkarya pada segala bidang, dan mewarnai segala segi kehidupan dari hari ke hari. 1 2
1

4. Landasan Sosiologis (Sosial)
Sosial mengacu kepada hubungan antarindividu, antarmasyarakat, dan antara individu dengan masyarakat. Unsur sosial adalah unsur individu secara alami, artinya aspek itu telah ada sejak manusia dilahirkan. Karena itu, aspek sosial melekat pada diri individu yang perlu dikembangkan dalam perjalanan hidup peserta didik agar menjadi matang. Disamping tugas pendidikan mengembangkanaspek sosial, aspek itu sendiri sangat berperan dalam membantu

anak dalam upaya mengembangkan dirinya. Maka segi sosial ini perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. 3 4 A. Sosiologi dan Pendidikan Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial masyarakat dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku, bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi sosial, serta agama. 5 Sosiologi mempunyai ciri-cirisebagai uraian berikut: 1. Empiris, adalah ciri utama sosiologi sebagai ilmu. Sebab ia bersumber dan diciptakan dari kenyataan yang terjadi dilapangan. 2. Teoretis, adalah peningkatan fase penciptaan tadi yang menjadi salah satu bentuk budaya yang bisa disimpan dalam waktu yang lama. 3. Komulatif, sebagai akibat dari penciptaan terus-menerus sebagai konsekuensi dari terjadinya perubahan di masyarakat, yang membuet teori-teori itu berkomulasi mengarah kepada teori yang lebih baik. 4. Nonetis, karena teori itu menceritakan apa adanya tentang masyarakat beserta individu-individu didalamnya, tidak menilai apakah hal itu baik atau buruk. 6 7 Dasar sosiologis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat. Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan meliputi empat bidang: 1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain. 2. Hubunan kemanusiaan. 3. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya. 4.Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya. 1

Pendidikan yang diinginkan oleh aliran kemasyarakatan ini ialah proses pendidkan yang bisa mempertahankan dan meningkatkan keselarasan hidup dan pergaulan manusia. Untuk mewujudkan cita-cita, pendidikan sangat membutuhkan sosiologi. Konsep atau teori sosiologi memberi petunjuk kepada guru-guru tentang bagaimana seharusnyamereka membina para siswa agar mereka bisa memiliki kebiasaan hidup yang harmonis, bersahabat, dan akrab sesama teman. Para guru dan para pendidik lainnya akan menerapakan konsep sosiologi di lembaga pendidikannya masing-masing. 2 3

B. Masyarakat dan Sekolah Asal mulamunculnya sekolah adalah atas dasar anggapan dan kenyataan bahwa pada umumnya para orang tua tidak mampu mendidik anak mereka secara sempurna dan lengkap. Karena itu mereka membutuhkan bantuan kepada pihak lain, dalam hal ini lembaga pendidikan, untuk mengembangkan anak-anak mereka secara reletif sempurna, walaupun cita-cita ini tidak otomatis tercapai. Warga masyarakat dan para personalia sekolah masih memerlukan perjuangan keras untuk mencapai cita-cita itu, yang sampai sekarang belum pernah berhenti. Sebab sejalan dengan perkembangan sosial, makin banyak yang perlu dipelajari dan diperjuangkan di sekolah. 4 5 C. Masyarakat Indonesia dan Pendidikan Sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan hidup dan kehidupan. Dimana-mana tampak anak-anak muda mereka tersebut untuk mendapatkan sekolah, walaupun ada sejumlah kasus orang tua menolak menyekolahkan anak dengan dalih untuk membantu mencari nafkah. Mereka sudah mulai memilih perguruan tinggi yang bermutu atau cukup bermutu, sehingga perguruan tinggi ini di banjiri oleh peminat, sementara ada sejumlah perguruan tinggi yang kurang calon mahasiswa. 6 7
1

D. Implikasi Konsep Pendidikan 1 2
1

Sesudah membahas tentang sosiologi, masyarakat, serta kondisi masyarakat Indonesia dikaitkan dengan pendidikan, maka ditemukan sejumlah konsep pendidikan sebagai berikuta:

1. Keadaan sekolah tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat disekitarnya. 2. Perlu dibentuk badan kerja sama antara sekolah dengan tokoh-tokoh masyarakat. 3. Proses sosialisasi anank-anak perlu ditingkatkan. 4. Dinamika kelompok dimanfaatkan untuk belajar. 5. Akreditasi ditingkatkan untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikan. 6. Materi pelajaran banyak di kaitkan dengan keadaan dan masalah masyarakat setempat. 7. Metode belajar ditekankan pada kegiatan anak baik individual maupun kelompok. 8. Ujian negara lambat laun diubah menjadi ujian sekolah, sehingga memungkinkan memberi ujian bersifat komprehensif untuk mendukung perkembangan manusia seutuhnya.

5. Landasan Kultural (Budaya)
Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedang setiap manusia selalu menjadi anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu. Oleh karena itu, dalam UU-RI No. 2 Tahun 1989 Pasal 1 Ayat 2 ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan Sistem Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/dikembangkan dengan jalan mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerusdengan jalan pendidikan, baik secara informal maupun secara formal. Sebaliknya bentuk, cirri-ciri, dan pelaksanaan pendidikan itu ikut ditentukan oleh kebudayaan masyarakat di mana proses pendidikan itu berlangsung. Dimaksudkan dengan kebudayaan adalah hasil cipta dan karya manusia berupa norma-norma, nalai-nalai, kepercayaan, tingkah laku, dan teknologi yang dipelajari dan dimiliki oleh semua anggota masyarakat tertentu.3 A. Pengertian tentang Landasan Kultural Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan, utamanya belajar. Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud:

1) Ideal seperti ide, gagasan, nilai, dan sebagainya. 2) Kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan 3) Fisik yakni benda hasil karya manusia. 1 2
1

Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan, atau dikembangkan karena dan melalui pendidikan. Baik kebudayaan yang berwujud ideal, atau kelakuan dan teknologi, dapat diwujudkan melalui proses pendidikan. Sebagai contoh dalam penggunaan bahasa, setiap masyarakat dapat dikatakan mengajarkan kepada anak-anak untuk mengatakan sesuatu, kapan hal itu dapat dikatakan, bagaimana mengatakannya, dan kepada siapa mengatakannya. Oleh sebab itu, anak-anak harus diajarkan pola-pola tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dengan kata lain, fungsi pokok setiap system pendidikan adalah untuk mengajarkan anak-anak pola-pola tingkah laku yang esensial tersebut. 3 4 Pada dasarnya ada tiga cara umum yang dapat didefinisikan, yaitu informal, nonformal, dan formal. Cara informal terjadi di dalam keluarga, dan nonformal dalam masyarakat yang berkelanjutan dan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan cara formal melibatkan lembaga khusus yang dibentuk untuk tujuan pendidikan. Pendidikan formal tersebut dirancang untuk mengarahkan perkembangan tingkah laku anak didik. Usaha-usaha menuju polatingkah laku, norma-norma, dan nilai-nilai baru ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga social yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.5 Pada masyarakat primitive, transmisi kebudayaan dilakukan secara informal dan nonforma, sedangkan pada masyarakat yang telah maju transmisi kebudayaan dilakukan secara informal, nonformal, dan formal. Sekolah secara seimbang melaksanakan fungsi ganda pendidikan, yakni sebagai proses sosialisasi dan sebagai agen pembaruan. Hal itu semakin penting apabila diingat bahwa kemajuan teknologi komunikasi telah menyebabkan datangnya pengaruh kebudayaan dari luar semakin deras.6 B. Kebudayaan Nasional sebagai Landasan Sistem Pendidikan N asional (Sisdiknas)
1

Seperti telah dikemukakan, yang dimaksud dengan sisdiknas adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia. (UU-RI No.2/1989) Pasal 1 Ayat 2. Karena masyarakat Indonesia sebagai pendukung kebudayaan itu adalah masyarakat yg majemuk, maka

kebudayaan bangsa Indonesia tersebut lebih tepat disebut sebagai kebudayaan Nusantara yang beragam. Puncak-puncak kebudayaan Nusantara itu dan yang diterima secara nasional disebut kebudayaan nasional. Oleh karena itu, kebudayaan nasional haruslah dipandang dalam latar perkembangan yang dinamis seiring dengan semakinkukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa indonesia sesuai dengan asas bhineka tunggal ika.1 Pada awal perkembangannya, suatu kebudayaan terbenyuk berkat kemampuan manusia mengatasi kehidupan alamiahnya dan kesengajaan manusia menciptakan lingkungan yang cocok bagi kehidupannya. Individu dalam masyarakat modern sangat dipengaruhi oleh besar dan kompleksnya kehidupan masyarakat modern dan kecanggihan kebudayaannya. Ini berrarti bahwa individu hanya dapat hidup dalam masyarakat atau kebudayaan modern, apabila ia mau dan mampu belajar terus menerus.2 Salah satu upaya penyesuaian pendidikan jalur sekolah dengan keragaman latar belakang sosial budaya di Indonesia adalah dengan memberlakukan muatan lokal di dalam kurikulum sekolah, utamanya di sekolah dasar (SD). Umpamanya dengan pengajaran bahasa daerah dan atau penggunaan bahasa daerah di dalam proses belajar mengajar. Keragaman sosial budaya tersebut terwujud dalam keragaman adat istiadat, tata cara, dan tatakrama pergaulan, kesenian, bahasa, dan sastra daerah, maupun kemahiran dan keterampilan yang tumbuh dan teroelihara di suatu daerah tertentu. Muatan lokal dalam kurikulum tidak hanya sekedar meneruskan minat akan kemahiran yang ada di daerah tertentu, te tapi juga serentak memperbaiki/meningkatkan sesuai dengan perkembangan iptek/seni, dan atau kebutuhan, masyarakat. Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik dari setiap daerah itu melalui upeya pendidikan sebagai wujud dari kebhinekaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harusnya dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia sebagai sisi ketunggal ikaan.3 C. Implikasi Konsep Pendidikan Setelah mempelajari tentang kebudayaan, maka ditemukan sejumlah konsep pendidikan sebagai berikut: A. Kebudayaan menyangkut seluruh cara hidup dan kehidupdn manusia ikut mempengaruhi pendidikan dan perkembangan anak. Sebaliknya pendidikan juga dapat mengubah kebudayaan.

B. Akibat kebudayaan masa kini, ada kemungkinan pergeseran paradigma pendidikan, yaitu dari sekolah ke masyarakat luas dengan berbagai pengalaman yang luas. C. Untuk itu perlu kebudayaan ditertibkan antara lain dengan cara: 1. Tayangan ditelevisi, terutama televisi swasta:
y y y y y

Maksimal 50 % menayangkan lagu-lagu luar negeri. Minimal 50 % menayangkan kesenian-kesenian daerah. Hanya menayangkan film action yang tidak berbau kekerasan. Tidak menayangkan film-film yang berbau erotis. Tidak menayangkan film-film yang bersifat sadis atau ketus. 2. Memberantas kebudayaan yang merusak remaja seperti minuman keras, narkotika, mengurangi, dan mengawasi tindakan klub malam, dan menangkal perkelahian. 1 2
1

6. Landasan Psikologis (Kejiwaan)
pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam pendidikan. Terdapat beberapa pandangan tentang hakikat manusia ditinjau dari segi psikologis dalam kaitannya dengan pendidikan, yakni strategi disposisional, strategi behavioral, dan strategi phenomenologis/humanistik. Perbedaan pandangan tentang hakikat manusia ditinjau dari segi psikoedukatif tersebut antara lain tampak dalam perbedaan pandangan tentang teori-teori belajar, faktor-faktor penetu perkembangan manusia dan sebagainya. Perbedaan pandangan tersebut dapat berdampak pula dalam pandangan tentang pendidikan.3 A. pengertian tentang landasan psikologis hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan, umpamanya pengetahuan tentang aspek-aspek pribadi, urutan, dan ciri-ciri pertumbuhan setiap aspek, dan konsep tentang cara-cara paling tepat untuk mengembangkannya. Untuk maksud itu psikologi menyediakan sejumlah informasi tentang kehidupan pribadi manusia pada

umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi . Individu memiliki bakat, kemampuan, minat, kekuatan serta tempo, dan irama perkembangan yang berbeda satu dengan yang lain. 1
1

Perlu ditekankan bahwa kepribadian itu unik. Keunikan itu bukan hanya karena perbedaan potensial, tetapi juga perbedaan dalam perkembangannya karena pengaruh sekitarnya. Oleh karena itu, pemahaman perkembangan kepribadian akan sangat bermanfaat untuk pendidikan, utamanya dalam membantu setiap peserta didik mngembangkan kepribadiannya. Sepeerti telah dikemukakan oleh salah satu tujuan pendidikan adalah terbentuknya kepribadian yang mantap dan mandiri.2 Manusia dilahirkan dengan sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi dan potensi yang harus dikembangkan. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya itu maka manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi dengan lingkungannya itu akan menyebabkan manusia mengembangkan kemampuannya melalui proses belajar. Semakin kuat motif sebagai upaya pemenuhan kebutuhan itu, semakin kuat pula proses belajar yang terjadi, dan pada gilirannya, akan semakin tinggi hasil belajar yang dapat dicapainya.3 A. maslow mengemukakan kategorisasi kebutuhan-kebutuhan menjadi 6 kelompok, mulai dari yang sederhana dan mendasar meliputi: 1)kebutuhan fisiologi. 2)kebutuhan rasa aman. 3)kebutuhan akan cinta dan pengakuan. 4)kebutuhan harga diri. 5)kebutuhan untuk aktualisasi diri. 6)kebutuhan untuk mengetahui dan memahami.4 pemuasan kebutuhan tingkat terendah hingga ke empat sangat dipengaruhi oleh orang lain, yang terakhir sangat di tentukan oleh diri sendiri (Wayan Ardhana, 1986: Modul 1/45).

Dewey (1910, dari Wayan Ardhana, 1986: Modul 1/47) mengajukan lima langkah pokok untuk memecahkan masalah: 1. menyadari dan merumuskan suatu kesulitan. 2. mengumpulkan informasi yang relevan. 3. merakit dan mengklasifikasi data serta merumuskan hipotesishipotesis. 4. menerima atau menolak hipotesis tentatif. 5. merumuskan kesimpulan dan mengadakan evaluasi. 1
1

b. perkembangan peserta didik sebagai landasan psikologis peserta didik selalu berada dalam proses perubahan baik karena pertumbuhan maupun karena perkembangan. Pertumbuhan terutama karena pengaruhfaktor internal sebagai akibat kematangan dan proses pendewasaan, sedangkan perkembangan terutama karena pengaruh lingkungan.2 Perkembangan maanusia

berlangsung sejak konsepsi (pertemuan ovum dan seperma) sampai saat kematian, sebagai perubahan maju ataupun kemunduran.3 Meskipun terdapat variasi pendapat, dapat dikemukakan beberapa prinsip umum perkembangan kepribadian. Disebut sebagai prinsip umum karena: 1. Dirumuskan dengan variasi tertentu dalam berbgai teori kepribadian. 2. Tampak bervariasi pada kepribadian manusia tertentu.4 Perkembangan kepribadian

haruslah dipandang sebagai perkembangan sistem psikofisik. Oleh karena itu, cara menyikapi dan memperlakukan siswa haruslah sebagai manusia dalam proses perkembangan kepribadiannya. Wawasan tersebut berpangkal pada pandangan bahwa kepribadian itu memiliki suatu struktur yang utuh dan dinamis.5 Freud mengemukakan bahwa struktur kepribadian telah terbentuk pada akhir tahun kelima, bahkan Lewin berpendapat bahwa tiga tahun pertama merupakanmasa perkembangan

kepribadian yang cepat dan penting, sadang Hsu menunjuk betapa pentingnya masa ini (BALITA) dalam penentuan lingkungan hubungan karib(intim) yang penting artinya bagi kehidupan manusia (Sulo Lipu La Sulo, 1981:39) hal ini membuktikan pentingnya pendidikan informal di keluarga serta pendidikan prasekolah. 1
1

Alexander dengan tegas mengemukakan tiga faktor utama yang bekerja dalam menentukan pola kepriabadian seseorang yakni: 1. bekal hereditas individu.

2. pengalaman awal dikeluarga 3. peristiwa penting dalam hidupnya di luar lingkungan keluarga (Hurlock, 1974:19)2 ada dua hal yang penting ditinjau dari konteks perkembangan kepribadian, yakni: 1. terintegrasinya seluruh komponen kepribadian ke dalam struktur yang terorganisir secara sistemik 2. terjadinya polapola tingkah laku yang konsisten dalam menghadapi lingkungannya.3 Harapan-harapan orang tua perlu ditekankan bahwa sesudah

keluarga, sekolah merupakan lembaga yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian; bahkan sesudah orang tua, gurulah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadia anak, termasuk pembentukan konsep diri. Hal ini menunjukan perlunya guru memahami pribadi anak yang telah diletakkan di keluarga, serta perlunya hubungan dan kerjasama yang erat antara sekolah dan keluarga. Hurlock (1974:322) secara tepat menggambarkan hal itu: ³terdapat

reaksi berantai antara kepribadian anak dan sekolahnya, yakni kepribadiannya sangat menentukan penyesuaian di sekolah, dan penyesuaiannya di sekolah berpengaruh besar terhadap konsep diri. 4 B. Implikasi Konsep Pendidikan Setelah mempelajari tentang psikologis, maka ditemukan sejumlah konsep pendidikan sebagai berikut: 1. Psikologi perkembangan yang bersifat umum, semuanya memberi petunjuk pada pendidik bagaimana seharusnya ia menyiapkan dan mengorganisasi materi pendidikan serta bagaimana membina anakanak agar mereka mau belajar dengan sukarela. 2. Psikologi belajar dan psikologi sosial dapat dimanfaatkan untuk belajar. 3. Kesiapan belajar yang bersifat afektif dan kognitif perlu diperhatikan oleh pendidik agar materi yang dipelajari anak-anak dapat di pahami dan di internalisasidengan baik.

4. Wujud perkembangan total atau berkembang seutuhnya memenuhi tiga kriteria, yaitu: a. Semua potensi berkembang secara proporsional atau berimbang dan harmonis. b. Potensi-potensi itu berkembang secara optimal. c. Potensi-potensi berkembang secara integratif. 1 2
1

7. Landasan IPTEK (Ilmiah dan Teknologis)
A. Pengertian tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mempunyai kaitan yang sangat erat. Seperti diketehui, iptek menjadin bagian utama dalam isi pengajaran; dengan kata lain, pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek. Dari sisi lain, setiap perkembangan iptek harus segera diakomodasi oleh pendidikan yakni dengan segera memasukkan hasil pengembangan iptek ituke dalam isi bahan ajaran. Sebaliknya, pendidikan sangat dipengaruhi oleh sejumlah cabang-cabang iptek, utamanya ilmu-ilmu perilaku (psikologi, sosiologi, antropologi). 3 Suatu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang memenuhi tiga landasan, yaitu landasan antologis, landasan epistomologi, dan landasan aksiologis Landasan antologis dari ilmu berkaitan dengan objek yang ditelaah oleh ilmu adalah: ³Apa yang ingin diketahui oleh ilmu?, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut?, dan bagaimana hubungannya dengan daya tangkap manusia?´. Seperti diketahui, ilmu membatasi objeknya pada fakta atau kejadian yang bersifat empiris, yang dapat ditangkap oleh panca indra, baik secara langsung maupun dengan bantuan alat lain (mikroskop, teleskop, dan sebagainya). 4 Landasan epistemologi dari ilmu berkaitan dengan segenap proses untuk memperoleh pengetahuan ilmiah, yakni: ³Bagaimana prosedurnya, apakah yang harus diperhatikan agar diperoleh kebenaran, cara/teknik/sarana apa yang membantu untuk mendapatkannya?´ Ilmu

merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang disebut metode keilmuan. 1
1

Landasan aksiologi dari ilmu yang berkaitan dengan manfaat atau kegunaan pengetahuan ilmiah itu, yaitu: ³Untuk apa pengetahuan ilmiah itu dipergunakan, bagaimana kaitannya dengan nilai-nilai moral?´. Ilmu telah berjasa mengubah wajah dunia dalam berbagai bidang serta memajukan kesejahteraan manusia. Oleh karena itu, ilmu sering dianggap netral, ilmu bebas dari nilai baik atau buruk, dan sangat tergantung dari nilai moral si empunya ilmu (ilmuwan).2 B. Perkembangan Iptek sebagai Landasan Ilmiah Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat.3 4

8. Landasan Historis (Sejarah) atau Landasan Geografis
Sejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang dapat didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah mencakup segala kejadian dalam alam ini, termasuk hal-hal yang dikembangkan oleh budi daya manusia. Demikianlah ada sejarah candi, sejarah fosil, sejarah batu-batuan, sejarah perkembangan benua dan pulau, sejarah politik, sejarah ilmu, sejarah pendidikan, dan sebagainya. 5 6 A. Sejarah Pendidikan Dunia (dari Diklat Pribadi Made Pidarta) Umur pendidikan dunia sangat panjang sekali, jadi kami meringkasnya (sesuai buku Prof. Dr. Made Pidarta), yaitu: 1. Zaman Hellenisme (150 SM-500 M). 2. Zaman Humanisme atau Renaissance (500 M-1500 M). 3. Zaman Kontra Reformasi (1500 M-1600an M).

4. Zaman Realisme (abad ke-17) tokohnya adalah Francis Bacon, dan Johann Amos Comenius. 5. Zaman Rasionalisme atau Disiplinarianisme (abad ke-18) tokohnya adalah John Locke. 6. Zaman Naturalisme (abad ke-18) tokohnya adalah J.J. Rousseau. 7. Zaman Developmentalisme (abad ke-19) tokohnya adalah Pestalozzi, Johann Fredrich Herbart, dan Friedrich Wilhelm Frobel. 8. Zaman Nasionalisme (abad ke-19) tokohnya adalah La Chalotais (Perancis), Fichte (Jerman), dan Jefferson (Amerika Serikat). 9. Zaman Liberalisme, Positivisme, dan Individualisme (abad ke-19) tokohnya adalah August Comte. 10. Zaman Sosialisme (abad ke 20) tokohnya Paul Natorp (Jerman), George Kerschensteiner (Jerman), dan John Dewey (Amerika Serikat). B. Sejarah Pendidikan Indonesia Pendidikan di Indonesia sudah ada sebelum negara Indonesia berdiri. Namun dapat dirangkum sistem pendidikan Indonesia sebagai berikut: A. Pendidikan Zaman Hindu Budha. B. Pendidikan Zaman Islam. C. Pendidikan Zaman Pendudukan Asing. D.Pendidikan Nasional Indonesia Tahun 1945-1950 (dari Proklamasi sampai RIS). E. Pendidikan Indonesia Tahun 1950-1959 (Demokrasi Liberal). F. Pendidikan Indonesia Merdeka Tahun 1959-1965 (Demokrasi Terpimpin). G. Pendidikan Nasional Indonesia Merdeka: Zaman Perkembangan Orde Baru. 1
1

Pada waktu bangsa Indonesia berjuang merintis kemerdekaan, ada tiga tokoh pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan. Tokoh-tokoh pendidik itu adalah Mohammad Syafei, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan (TIM MKDK, 1990).

Mohammad Syafei mendirikan sekolah INS atau Indonesische Nederlandse School di Sumatera Barat pada tahun 1926. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kayutaman sebab sekolah ini didirikan di Kayutaman. Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta pada tahun 1922. Sifat, sistem, dan metode pendidikannya diringkas kedalam empat kemasan, yaitu Asas Taman Siswa (Asas Perjuangan), Panca Darma (Kemanusiaan, Kebangsaan, Kebudayaan, Kodrat Alam, dan Konvergensi), Adat Istiadat (Ki, Ni, Nyi, Penghapusan budak, dan sebutan bapak dan ibu pada guru, sebagai lambang kekeluargaan yang harmonis), dan Semboyan atau Perlambang (mengabdi pada anak, lebih baik mati terhormat daripada hidup nista, dan dari nature ke arah kultur). Kyai Haji Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi agama Islam pada tahun 1912 di Yogyakarta, yang kemudian berkembang menjadi pendidikan agama Islam. Pendidikan Muhammadiyah ini sebagian besar memusatkan diri pada pengembangan agama Islam. 1 2 C. Masa Perjuangan Bangsa Perjuangan yang bersifat daerah itu berubah menjadi perjuangan bangsa sejak didirikannya Budi Utomo pada tahun 1908. 3 4 D. Masa Pembangunan Setelah indonesia merdeka, terutama ketika gangguan dan masalah dalam negeri sudah mulai reda, pembangunan untuk mengisi kemerdekaan mulai digerakkan. Pembangunan dilaksanakan serentak pada berbagai bidang, baik spiritual maupun material. Termasuk pada bidang pendidikan.5 6 E. Implikasi Konsep Pendidikan Pembahasan tentang landasan sejarah, dari sejarah pendidikan dunia, sejarah pendidikan Indonesia, masa perjuangan, sampai dengan masa pembangunan, memberi dampak konsepkonsep pendidikan seperti tersebut di bawah ini: 1. Melaksanakan pendidikan yang bertujuan. 2. Proses belajar-mengajar dan materi pelajaran diharapkan optimal. 3. Melaksanakan metode global untuk pelajaran bahasa. 4. Penugasan bila selesai mengajarkan suatu pelajaran. 5. Seimbangnya aspek spiritual dan aspek materiil.
1

6. Demokratisasi dalam pendidikan. 7. Inovasi dalam pembelajaran. 8. Tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

9. Landasan Ekonomis
Pada zaman pasca modern atau globalisasi sekarang ini, yang sebagai besar manusianya cenderung mengutamakan kesejahteraan materi dibanding kesejahteraan rohani, membuat ekonomi mendapat perhatian yang sangat besar. Tidak banyak orang mementingkan peningkatan spiritual. Sebagian terbesar dari mereka ingin hidup enak dalam arti jasmaniah. 1 2 3
1

A. Peran Ekonomi dalam Pendidikan Dunia sekarang tidak hanya disibukkan oleh masalah-masalah politik yang membuat banyak pertentangan, melainkan juga masalah ekonomi dan perdagangan. Malah ada yang mengatakan sesudah perang dingin berakhir, kini diikuti oleh perang ekonomi. Perkembangan ekonomi makro berpengaruh pula dalam bidang pendidikan. Cukup banyak orang kaya yang sudah mau secara sukarela menjadi bapak angkat agar anak -anak dari orang tidak mampu bisa bersekolah, terlepas dari apakah karena doronngan hati sendiri atau berkat himbauan pemerintah yang tidak pernah berhenti. Perkembangan lain yang menggembirakan di bidang pendidikan adalah terlaksananyasistem ganda dalam pendidikan, yaitu kerjasama antara pihak sekolah dengan pihak usahawan. 4 5 B. Fungsi Produksi dalam Pendidikan Fungsi produksi dalam pendidikan ini bersumber dari buku Thomas (tt.), yang membagi fungsi produksi menjadi tiga macam, yaitu: 1. Fungsi produksi administrator. 2. Fungsi produksi psikologi. 3. Fungsi produksi ekonomi.6 7 Pada fungsi produksi administrator, yang dimaksud input adalah segala sesuatu yang menjadi wahana dan proses pendidikan. Input yang dimaksud adalah:

1. Prasarana dan sarana belajar conohnya: ruangan kelas. Berlaku ketentuan sebagai barang modal selama 25 tahun. Dan tiap tahun terkena depresi 1,5 % sampai 2 % (terjadi penurunan harga tiap tahun). 2. Perlengkapan belajar contohnya: alat peraga di laboratorium. 3. Buku-buku dan bentuk material lainnya. 4. Barang-barang habis pakai contohnya: kapur, dan tinta spidol. 5. Waktu guru bekerja dan personalia lainnya yang dinilai dengan uang. 1 2
1

Sementara itu yang dimaksud output dalam fungsi produksi administrator adalah berbagai bentuk layanan dalam memproses peserta didik. Layanan-layanan ini di hitung lewat Sistem Kredit Semester (SKS) dan lama peserta didik belajar yang dinilai dengan uang.3 4 Pada fungsi produksi psikologi, input adalah sama halnya dengan input fungsi produksi administrasi. Sedangkan outputnya adalah semua hasil belajar siswa yang mencakup: 1. Peningkatan kepribadian. 2. Pengarahan dan pembentukan sifat. 3. Penguatan kemauan. 4. Peningkatan estetika. 5. Penambahan pengetahuan, ilmu, dan teknologi. 6. Penajaman pikiran. 7. Peningkatan keterampilan.5 6 Pada fungsi produksi ekonomi adalah sebagai berikut: 1. Semua biaya pendidikan seperti pada input fungsi produksi administrator. 2. Semua uang yang dikeluarkan secara pribadi untuk keperluan pendidikan seperti uang saku, transportasi, membeli buku, alat-alat tulis, dan sebagainya selama masa belajar atau kuliah. 3. Uang yang mungkin diperoleh lewat bekerja selama belajar atau kuliah, tetapi tidak dapat sebab waktu tersebut dipakai untuk belajar atau kuliah. Uang seperti ini disebut Opportunity cost. 1 2
1

Sementara outputnya adalah tambahan penghasilan peserta didik kalau sudah tamat atau bekerja, manakala orang ini sudah bekerja sebelum belajar atau kuliah. Dan apabila ia belum pernah bekerja yang jadi outputnya adalah gaji yang di terima setelah tamat dan bekerja.3 4 Cara menghitung harga input dan output fungsi produksi ekonomi ini memakai dua rumus, yaitu: 1. Analisis nilai sekarang (Present value analysis) dengan rumus (Thomas, tt.): a. Untuk input: Vo (X) = b. Untuk output: Vo (Y) = (Xt/(1+i)^t) (Yt/(1+i)^t)

Sehingga suatu investasi dalam pendidikan akan bermanfaat bila: Vo (Y) ± Vo (X) > 0 t = lama waktu dalam tahun i= besar bunga uang dalam setahun X= biaya pendidikan Y= penghasilan rumus-rumus di pakai apabila yang di ketahui adalah harga pada t tahun atau sekian tahun setelah lulus.5 6 2. Analisia nilai yang akan datang (future value analysis) di gunakan bila yang di ketahui penghasilan sekarang untuk dihargakan pada sekian tahun mendatang atau t tahun. Rumusnya adalah: Pt = Po (1+i)^t Pt = harga pada t tahun mendatang Po = harga sekarang i = bunga uang tiap-tiap tahun

t = lama waktu yang diperhitungkan Dengan mengaplikasikan rumus-rumus di atas, kita akan dapat mengaplikasikan fungsi produksi ekonomi pada dunia pendidikan. 1 2 C. Implikasi Konsep Pendidikan Konsep-konsep pendidikan yang mungkin dikembangkan dari pembahasan mengenai adalah bertalian dengan hal-hal berikut: 1. Dalam dunia pendidikan, faktor ekonomi bukan sebagai pemegang peran yang utama, melainkan sebagai pemeran yang cukup menentukan keberhasilan pendidikan. 2. Faktor yang paling menentukan kehidupan dan kemajuan pendidikan adalah dedikasi, keahlian, dan keterampilan pengelola dan guru-guru atau dosen-dosen lembaga pendidikan. 3. Pembentukan manusia-manusia ekonomi yang memiliki etos kerja, biasa bekerja dengan sempurna, tidak setengah-setengah, bersifat produktif, biasa hidup hemat, tidak bermewah-mewah, dan biasa hidup efisien. 4. Tiap-tiap lembaga pendidikan diupayakan mampu menghidupi diri sendiri, dengan mencari sumber-sumber dana tambahan sebanyak mungkin. 5. Efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan dana. 6. Pengembangan konsep fungsi produksi dalam pendidikan adalah untuk memudahkan menentukan efisiensi pendidikan. 7. Faktor-faktor utama yang diperhatikan dalam menentukan tingkat efisiensi pendidikan adalah: a. Penggunaan uang. c. Hasil kegiatan. 1 2
1 1

b. Proses kegiatan.

10. profesionalisasi Pendidik
Pendidik mempunyai dua arti, ialah arti yang luas dan arti yang sempit. Pendidik dalam arti luas adalah semua orang yang berkewajiban membina anak-anak. Dalam hal ini, orang-orang yang berkewajiban membina anak secara alamiah adalah orang tua mereka masing -masing,

warga masyarakat, dan tokoh-tokohnya. Sementara itu pendidik dalam arti sempit adalah orang-orang yang disiapkan dengan sengaja untuk menjadi guru dan dosen.3 4 A. Profesi Pendidik Adapun ciri-ciri profesi adalah sebagai berikut: 1. Pilihan terhadap jabatan itu didasari oleh motivasi yang kuat dan merupakan panggilan hidup orang yang bersangkutan. 2. Telah memiliki ilmu, pengetahuan, dan keterampilan khusus, yang bersifat dinamis, dan terus berkembang. 3. Ilmu, pengetahuan, dan keterampilan khusus tersebut diatas diperoleh melalui studi dalam jangka waktu lama di perguruan tinggi. 4. Punya otonomi dalam bertindak ketika melayani klien. 5. Mengabdi kepada masyarakat atau berorientasi kepada layanan sosial, bukan untuk mendapatkan keuntungan finansial 6. Tidak mengadvertensikan keahliannya untuk mendapatkan klien. 7. Menjadi anggota organisasi profesi 8. Organisasi profesi tersebut menentukan persyaratan penerimaan para anggota, memberi sanksi, dan memperjuangkan kesejahteraan anggota 9. Memiliki kode etik profesi 10. Punya kekuatan dan status yang tinggi sebagai eksper yang diakui oleh masyarakat. 11. Berhak mendapat imbalan yang layak. 1 2
1

B. Kode Etik Pendidik Adapun kode etik pendidik adalah sebagai berikut: 1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2. Setia kepada Pancasila, UUD 45, dan negara. 3. Menjunjung tinggi harkat dan martabat peserta didik. 4. Berbakti kepada peserta didik dalam membantu mereka mengembangkan diri. 5. Bersikap ilmiah, dan menjunjung tinggi pengetahuan, ilmu, teknologi, dan seni sebagai wahana dalam pengembangan peserta didik.

6. Lebih mengutamakan tugas pokok dan atau tugas negara lainnya dari pada tugas sampingan. 7. Bertanggung jawab, jujur, berprestasi, dan akuntabel dalam bekerja. 8. Dalam bekerja berpegang teguh kepada kebudayaan nasional dan ilmu pendidikan. 9. Menjadi teladan dalam berprilaku. 10. Berprakarsa. 11. Memiliki sifat kepemimpinan. 12. Menciptakan suasana belajar atau studi yang kondusif. 13. Memiliki keharmonisan pergaulan dan komunikasi serta bekerja sama dengan baik dalam pendidikan. 14. Mengadakan kerja sama dengan orang tua siswa dan tokoh-tokoh masyarakat. 15. Taat kepada peraturan perundang-undangan dan kedinasan. 16. Mengembangkan profesi secara kontinu. 17. Secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi profesi. 1 2
1

B. Asas-Asas Pendidikan dan Penerapannya
Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar. 1
1

Menurut Ki Hadjar Dewantara ada lima asas dalam pendidikan yaitu : Asas kemerdekaan ; Memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka (semau gue), melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat. 1. Asas Kodrat Alam ; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya. 2. Asas Kebudayaan ; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri). 3. Asas Kebangsaan ; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain. 4. Asas kemanusiaan ; Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan. 5. Asas konvergensi.2

Sebelum kita membicarakan tentang asas-asas pendidikan yang berlaku di Indonesia, terlebih dahulu kita memiliki kesatuan pendapat tentang arti asas pendidikan. Asas pendidikan memiliki arti hukum atau kaidah yang menjadi acuan kita dalam melaksanakan kegiatan pendidikan.3 Dalam masalah ini, berturut-turut akan kita bicarakan tiga asas pendidikan yang berlaku di Indonesia:

1. Asas Belajar Tut Wuri Handayani
Asas Tut Wuri Handayani merupakan gagasan yang mula-mula dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara seorang perintis kemerdekaan dan pendidikan nasional. Tut Wuri Handayani mengandung arti pendidik dengan kewibawaan yang dimiliki mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh, tidak menarik-narik dari depan, membiarkan anak mencari jalan sendiri, dan bila anak melakukan kesalahan baru pendidik membantunya (Hamzah, 1991:90). Gagasan tersebut dikembangkan Ki Hajar Dewantara pada masa penjajahan dan masa perjuangan kemerdekaan. Dalam era kemerdekaan gagasan tersebut serta merta diterima sebagai salah satu asas pendidikan. nasional Indonesia (Jurnal Pendidikan, No. 2:24). 1
1

Asas Tut Wuri Handayani memberi kesempatan anak didik untuk melakukan usaha sendiri, dan ada kemungkinan mengalami berbuat kesalahan, tanpa ada tindakan (hukuman) pendidik (Karya Ki Hajar Dewantara, 1962:59). Hal itu tidak menjadikan masalah, karena menurut Ki Hajar Dewantara, setiap kesalahan yang dilakukan anak didik akan membawa pidananya sendiri, kalau tidak ada pendidik sebagai pemimpin yang mendorong datangnya hukuman tersebut.2 Dengan demikian, setiap kesalahan yang dialami anak tersebut bersifat mendidik. Menurut asas tut wuri handayani, yaitu: 1. pendidikan dilaksanakan tidak menggunakan syarat paksaan. 2. pendidikan adalah penggulowenthah yang mengandung makna: momong, among, ngemong (Karya Ki Hajar Dewantara, hal. 13). Among mengandung arti mengembangkan kodrat alam anak dengan tuntutan agar anak didik dapat mengembangkan hidup batin menjadi subur dan selamat. Momong mempunyai arti mengamat-amati anak agar dapat tumbuh menurut kodratnya. Ngemong berarti kita

harus mengikuti apa yang ingin diusahakan anak sendiri dan memberi bantuan pada saat anak membutuhkan. 3. pendidikan menciptakan tertib dan damai (orde en vrede). 4. pendidikan tidak ngujo (memanjakan anak), dan 5. pendidikan menciptakan iklim, tidak terperintah, memerintah diri sendiri dan berdiri di atas kaki sendiri (mandiri dalam diri anak didik. 3

2. Asas Belajar sepanjang Hayat
Konsep belajar sepanjang hayat telah di definisikan oleh UNESCO Institute for Education, Belajar sepanjang hayat merupakan pendidikan yang harus: (1) meliputi seluruh hidup setiap individu. (2) mengarah kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis. (3) tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri setiap individu. (4) Meningakatkan kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri, dan (5) mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi. 1 2
1

Jika diterapkan dalam sistem pendidikan yang berlaku saat ini, maka pendekatan yang sangat mungkin digunakan untuk mencapai tujuan ini adalah melalui pendekatan ³Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual.´ Sedang dalam konteks pendidikan di Indonesia, konsep ³Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual´.sedikit banyak telah termanifestasi ke dalam sistem Kurikulim Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Selain KTSP ± yang notabene merupakan bagian dari pendidikan formal, maka Asas Belajar sepanjang Hayat juga termanifestasi dalam program pendidikan non-formal, seperti program pemberantasa buta aksara untuk warga Indonesia yang telah berusia lanjut, dan juga program pendidikan informal, seperti hubungan sosial dalam masyarakat dan keluarga tentunya. 3 Dalam latar pendidikan seumur hidup pendidikan di sekolah seyogyanya mengemban sekurang-kurangnya dua misi, yakni membelajarkan peserta didik dengan efisien dan efektif, dan meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar mandiri sebagai basisi dari belajar sepanjang hayat.4

Kurikulum yang dapat mendukung terwujudnya belajar sepanjang hayat harus dirancang dengan memperhatikan dua dimensi, yaitu:

A. Dimensi vertical. Termasuk dalam dimensi vertical itu antara lain: 1) keterkaitan antara kurikulum dengan masa depan peserta didik. 2) Kurikulum dan perubahan social kebudayaan 3) ³The forecasting curriculum´ yakni perancangan kurikulum berdasarkan suatu prognosis. 4) Keterpaduan bahan ajaran dan pengorganisasian pengetahuan 5) Penyiapan untuk memikul tanggung jawab 6) Pengintegrasian dengan pengalaman yang telah dimiliki 7) Peserta didik harus dapat melihat kemanfaatan yang akan didapatnya

B. Dimensi horizontal. Termasuk dalam dimensi horizontal antara lain: 1) kurikulum sekolah merefleksi kehidupan di luar sekolah 2) memperluas kegiatan belajar ke luar sekolah 3) melibatkan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan belajar mengajar.1
1

Dengan perancangan kurikulum tersebut peserta didik akan lebih akrab dengan sumbersumber belajar di sekitarnya, sehingga akan memberi peluang terwujudnya belajar sepanjang hayat dan akan menjadikan warga yang gemar belajar.

3. Asas Kemandirian dalam Belajar

Keberadaan Asas Kemandirian dalam Belajar memang satu jalur dengan apa yang menjadi agenda besar dari Asas Tut Wuri Handayani, yakni memberikan para peserta didik kesempatan untuk ³berjalan sendiri´.Inti dari istilah ³berjalan sendiri´ tentunya sama dengan konsep dari ³mandiri´ yang dalam Asas Kemandirian dalam Belajar bermakna ³menghindari campur tangan guru namun (guru juga harus) selalu siap untuk ulur tangan apabila diperlukan´.2 Dalam Asas Kemandirian dalam Belajar, guru tidak hanya sebagai pemberi dorongan, namun juga fasilitator, penyampai informasi, dan organisator. Oleh karena itu, wujud manifestasi Asas Kemandirian dalam Belajar bukan hanya dalam berbentuk kurikulum KTSP, namun juga dalam bentuk ko-kurikuler dan ekstra kurikuler ± sedang dalam lingkup perguruan tinggi terwujud dalam kegiatan tatap muka dan kegiatan terstruktur dan mandiri. 3 Dalam bukunya ³Contextual Teaching and Learning´ Elanie B. Johnson (2009) berpendapat bahwa dalam Pembelajaran Mandiri, seorang guru yang berfaham ³Pembalajaran dan Pengajaran Kontekstual´ dituntut untuk mampu menjadi mentor dan guru µprivat¶ (Johnson, 2009: 177). S ebagai mentor, guru yang hendak mewujudkan kemandirian peserta didik diharapkan mampu memberikan pengalaman yang membantu kepada siswa mandiri untuk menemukan cara menghubungkan sekolah dengan pengalaman dan pengetahuan mereka sebelumnya. Sebagai seorang guru µprivat,¶ seorang guru biasanya akan memantau siswa dalam belajar dan sesekali menyela proses belajar mereka untuk membenarkan, menuntun, dan member instruksi mendalam (Johnson, 2009).4 Lebih lanjut Johnson mengungkapkan bahwa kelak jika proses belajar mandiri berjalan dengan baik, maka para peserta didik akan mampu membuat pilihan-pilihan positif tentang bagaimana mereka akan mengatasi kegelisahan dan kekacauan dalam kehidupan sehari hari (Johnson, 2009: 179). Dengan kata lain, proses belajar mandiri atau Asas Kemandirian dalam Belajar akan mampu menggiring manusia untuk tetap ³Belajar sepanjang Hayatnya.´1 Beberapa strategi belajar mengajar yang dapat memberi peluang prngembangan kemandirian dlam belajar, antara lain Cara Belajar Siswa Aktif, belajar melalui modul, paket belajar dan lain sebagainya.

4. Penerapan Asas-Asas Pendidikan 2
1

Sebagaimana telah dibicarakan dalam bahasan terdahulu ada dua asas-asas utama yang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan, yakni: Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan Asas Tut Wuri Handayani. Untuk memberi gambaran bagaimana penerapan asas-asas tersebut di atas berturut-turut akan dibicarakan: keadaan yang ditemui sekarang, permasalahan yang ada, dan pengembangan penerapan asas-asas pendidikan. 1. Keadaan yang Ditemui Sekarang Dalam kaitan asas belajar sepanjang hayat, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang: 1. usaha pemerintah memperluas kesempatan belajar telah mengalami peningkatan. Terbukti dengan semakin banyaknya peserta didik dari tahun ke tahun yang dapat ditampung baik dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal; berbagai jenis pendidikan; dan berbagai jenjang pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi. 2. usaha pemerintah dalam pengadaan dan pembinaan guru dan tenaga kependidikan pada semua jalur, jenis, dan jenjang agar mereka dapat melaksanakan tugsnya secara proporsional. Dan pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil pendidikan di seluruh tanah air. Pembinaan guru dan tenaga guru dilaksanakan baik didalam negeri maupun diluar negeri. 3. usaha pembaharuan kurikulum dan pengembangan kurikulum dan isi pendidikan agar mampu memenuhi tantangan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas melalui pendidikan. 4. usaha pengadaan dan pengembangan sarana dan prasarana yang semakin meningkat: ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, bengkel kerja, sarana pelatihan dan ketrampilan, sarana pendidikan jasmani. 5. pengadaan buku ajar yang diperuntukan bagi berbagai program pendidikan masyarakat yang bertujuan untuk: meningkatkan sumber penghasilan keluarga secara

layak dan hidup bermasyarakat secara berbudaya melalui berbagai cara belajar, dan menunjang tercapainya tujuan pendidikan manusia seutuhnya. 6. usaha pengadaan berbagai program pembinaan generasi muda: kepemimpinan dan ketrampilan, kesegaran jasmani dan daya kreasi, sikap patriotisme dan idealisme, kesadaran berbangsa dan bernegara, kepribadian dan budi luhur. 7. usaha pengadaan berbagai program pembinaan keolahragaan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anggota masyarakat untuk melakukan berbagai macam kegiatanolahraga untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran serta prestasi di bidang olahraga. 8. usaha pengadaan berbagai program peningkatan peran wanita dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan keluarga sehat, sejahtera dan bahagia; peningkatan ilmu pngetahuan dan teknologi, ketrampilan serta ketahanan mental. Sesuai dengan uraian di atas, maka secara singkat pemerintah secara lintas sektoral telah mengupayakan usaha-usaha untuk menjawab tantangan asas pendidikan sepanjang hayat dengan cara pengadaan sarana dan prasarana, kesempatan serta sumber daya manusia yang menunjang. Dalam kaitan penerapan asas Tut Wuri Handayani, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang, yakni: (1) peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan yang diminatinya di sema jenis, jalur, dan jenjang pendidikan yang disediakan oleh pemerintah sesuai peran dan profesinya dalam masyarakat. Peserta didik bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri, (2) peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan kejuruan yang diminatinya agar dapat mempersiapkan diri untuk memasuki lapangan kerja bidang tertentu yang diinginkannya,

(3) peserta didik memiliki kecerdasan yang luar biasa diberikan kesempatan untuk memasuki program pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan gaya dan irama belajarnya, (4) peserta didik yang memiliki kelainan atau cacat fisik atau mental memperoleh kesempatan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan cacat yang disandang agar dapat bertumbuh menjadi manusia yang mandiri, (5) peserta didik di daerah terpencil mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan ketrampilan agar dapat berkembang menjadi manusia yang memiliki kemampuan dasar yang memadai sebagai manusia yang mandiri, yang beragam dari potensi dibawah normal sampai jauh diatas normal (Jurnal Pendidikan,1989) 2. Masalah Peningkatan Mutu Pendidikan Kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak harus dipertimbangkan dengan kebijaksanaan pemerataan pendidikan. Karena peningkatan kualitas pendidikan harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan bertujuan membangun sumber daya manusia yang mutunya sejajar dengan mutu sumber daya manusia negara lain. Pemerintah mengusahakan berbagai cara dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, antara lain: (1) Pembinaan guru dan tenaga pendidikan di semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan, (2) Pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi,

(3) Pengembangan kurikulum dan isi pendidikan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta pengembangan nilai-nilai budaya bangsa, (4) Pengembangan buku ajar sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan budaya bangsa. Sesuai dengan uraian diatas secara singkat dapat dikemukakan: dalam menghadapi masalah peningkatan sumber daya manusia sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pemerintah telah dan sedang mengupayakan peningkatan: mutu guru dan tenaga kependidikan, mutu sarana dan prasarana pendidikan, mutu kurikulum dan isi kurikulum sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan nilai-nilai budaya bangsa. 3. Masalah Peningkatan Relevansi Pendidikan Kebijaksanaan peningkatan relevansi pendidikan mengacu pada keterkaitannya dengan: ke-bhineka tunggal ika-an masyarakat, letak geografi Indonesia yang luas, dan pembangunan manusia Indonesia yang multidimensional. Pemerintah telah dan sedang mengusahakan peningkatan relevansi

penyelenggaraan pendidikan yang efektif dan efisien (1) meningkatkan kemudahan dalam komunikasi informasi antara pusat± daerah, daerah±daerah, agar arus komunikasi informasi pembaharuan pendidikan berjalan lancar, (2) desiminasi± inovasi pendidikan: kelembagaan¶ sumber daya manusia, sarana dan prasarana, proses belajar mengajar yang dilaksanakan secara terpadu, dan (3) peningkatan kegiatan penelitian untuk memberi masukan dalam upaya meningkatkan relevansi pendidikan. Sesuai dengan uraian diatas secara singkat dapat dikemukakan: dalam upaya meningkatkan relevansi pendidikan, pemerintah melakukan berbagai upaya (1) usaha menemukan cara baru dan pemanfaatan teknologi pendidikan untuk

memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam, (2) usaha pemanfaatan hasil penelitian pendidikan bagi peningkatan kualitas kegiatan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan (3) usaha pengadaan ruang belajar, ruang khusus (bengkel kerja, konseling, pertemuan, dan sebagainya) yang menunjang kegiatan pembelajaran.

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN
Landasan pendidikan diperlukan dalam dunia pendidikan khususnya di negara kita Indonesia, agar pendidikan yang sedang berlangsungdi negara kita ini mempunyai pondasi atau pijakan yang sangat kuat karena pendidikan di setiap negara tidak sama. Untuk negara kita diperlukan landasan pendidikan berupa landasan hukum, landasan agama, landasan filosofis (filsafat), landasan sosiologis (sosial), landasan kultural (budaya), landasan psikologis (kejiwaan),

landasan IPTEK (ilmiah dan teknologis), landasan historis (sejarah) atau landasan geografis, landasan ekonomis, dan profesionalisasi pendidik. Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusus di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan Asas Kemandirian dalam Belajar. 1 Dengan adanya landasan-landasan dan asas-asas pendidikan diharapkan berimplikasi sehingga menuju tujuan utama pendidikan yaitu membentuk manusia seutuhnya yang pancasilais, dimotori oleh pembangunan afeksi. Tujuan khusus ini hanya bisa ditangani dengan ilmu pendidikan bercorak Indonesia sesuai dengan kondisi Indonesia, dan dengan penyelenggaraan pendidikan yang memakai konsep system. 2
1

DAFTAR PUSTAKA

------Tim Penerjemah/pentafsir Al Qur'an. 1971. Al Qur'an dan terjemahnya. Medinah Munawwaroh: Mujamma' Al Malik Fahd Li Thiba'at Al Mush-haf Asy-Syarif

Alwasilah, Chaedar. 2008. Filsafat BAHASA dan PENDIDIKAN. Bandung: Remaja Rosdakarya. Barnadib, Sutari Imam. 1976. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan ³stimulus ilmu pengetahuan bercorak Indonesia´. Jakarta: Rineka Cipta. Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan ³stimulus ilmu pengetahuan bercorak Indonesia´. Jakarta: Rineka Cipta. Tirtarahardja, Umar. dan La Sulo S. L. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Warimba, Ahmad D. 1962. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Ma'arif

http://www.thejaev.co.cc/2009/02/landasan-historis-pendidikan-laporan.html http://www.wikipedia.com http://sucipto.guru.fkip.uns.ac.id/2010/01/06/landasan-dan-asas-asas-pendidikan/ http://mahmuddin.wordpress.com/.../landasan-filosofi-pendidikan-pengantar/ http://fatamorghana.wordpress.com/.../bab-iii-landasan-dan-asas-asas-pendidikan-sertapenerapannya/ http://www.wikipedia.co.id/wiki/sosiologi http://syamsulberau.wordpress.com/2007/11/16/landasan-pendidikan/

http://meilanikasim.wordpress.com/2008/12/01/makalah-landasan-pendidikan/ http://qym7882.blogspot.com/2009/03/asas -asas-pendidikan-dan-penerapannya.html http://melodic-4.blogspot.com/2009/10/asas-asas-pendidikan-indonesia-dan.html

LAMPIRAN-LAMPIRAN DARI http://sucipto.guru.fkip.uns.ac.id/2010/01/06/landasan-dan-asas-asas-pendidikan/ Landasan dan Asas-Asas Pendidikan Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak darisejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk mnjemput masa depan. Bab III ini akan memusatkan paparan dalam berbagai landasan dan asas pendidikan, serta beberapa hal yang berkaitan dengan penerapannya. Landasan-landasan pendidikan tersebut adalah filosofis, kultural, psikologis, serta ilmiah dan teknologi. Sedangkan asas yang dikalia adalah asas Tut Wuri Handayani, belajar sepanjang hayat, kemandirian dalam belajar. A. LANDASAN PENDIDIKAN 1. Landasan Filososfis a. Pengertian Landasan Filosofis Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita kenal sampai saat ini adalah Idealisme, Realisme, Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme dan Progresivisme dan Ekstensialisme 1. Esensialisme

Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial. 2. Perenialisme Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal. 3. Pragmatisme dan Progresifme Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional. 4. Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat. b. Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia. 2. Landasan Sosiolagis a. Pengertian Landasan Sosiologis Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan meliputi empat bidang: 1. 2. 3. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain. hubunan kemanusiaan. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.

4. Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya. b. Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4 nonpenataran) 3. Landasan Kultural a. Pengertian Landasan Kultural

Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baiksecara formal maupun informal. Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai denga perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga. b. Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan. 4. Landasan Psikologis a. Pengertian Landasan Filosofis Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak. Pemahaman etrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan. Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan. b. Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien. 5. Landasan Ilmiah dan Teknologis a. Pengertian Landasan IPTEK Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut. b. Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat Sumber Bacaan: Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

DARI http://mahmuddin.wordpress.com/.../landasan-filosofi-pendidikan-pengantar/ Landasan Filosofi Pendidikan (1) Ditulis oleh Mahmuddin di/pada Oktober 19, 2009 Pendidikan merupakan topik yang senantiasa menarik untuk dikaji dan dikembangkan, baik secara teoritis dan praktis maupun secara filosofis. Teori dan praktik dalam dunia pendidikan mengalami perkembangan seiring dengan semakin meningkatnya peradaban manusia. Kalau dahulu pendidikan dapat berlangsung melalui interaksi antara manusia, di zaman modern ini pendidikan dapat berlangsung melalui interaksi dengan teknologi. Dalam hal ini, ruang dan waktu seolah tidak lagi menjadi pembatas dalam interaksi antara manusia termasuk dalam dunia pendidikan. Realitas dalam abad ke-20, pendidikan seolah terjerembab dalam ketersesatan lembaga penyelenggara pendidikan yang menggunakan pola pikir linier dan arogansi dalam memetakan masa depan (Harefa, 2000). Pendidikan terutama diorientasikan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan dalam menjalankan tugas professional dan tugas-tugas lain dalam kehidupan. Namun, Seiring gencarnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia pendidikan pun mengalami perkembangan yang pesat. Sebagaimana adanya, perkembangan dalam dunia pendidikan terinspirasi melalui semakin meningkatnya kesadaran eksistensial praktisi dan pemikir pendidikan yakni hakekat diri sebagai manusia. Pendidikan sebagai ilmu bersifat multidimensional baik dari segi filsafat (epistemologis, aksiologis, dan ontologis) maupun secara ilmiah. Teori yang dianut dalam sebuah praktek pendidikan sangat penting, karena pendidikan menyangkut pembentukan generasi dan semestinya harus dapat dipertanggungjawabkan. Proses pendidikan merupakan upaya mewujudkan nilai bagi peserta didik dan pendidik, sehingga unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan dapat menghayati nilai-nilai agar mampu menata perilaku serta pribadi sebagaimana mestinya. Sebagai contoh, dalam wacana keindonesiaan pendidikan semestinya berakar dari konteks budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia, dan untuk kebutuhan masyarakat Indonesia yang terus berubah. Menurut Kusuma (2007), hal ini berarti bahwa sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mampu bertanggung jawab secara rasional, sosial dan moral. Menurut Wen (2003), di zaman yang berbeda-beda tuntutan terhadap talenta dan spesialisasi individu juga berbeda-berbeda. Zaman agrikulutur menuntut orang bekerja keras dan mencari nafkah lewat kerja fisik, zaman industri menuntut standarisasi dan tidak menekankan kualitas dan talenta individual, dan zaman internet adalah zamannya untuk membebaskan kualitas-kualitas khusus individual yang seringkali tertindas di zaman industri. Oleh karena itu, seharusnya sifat dan kualitas pendidikanpun berubah sesuai zaman dan harus diletakkan landasan bagi pendidikan beraspek multi. Berbicara tentang landasan filosofis pendidikan berarti berkenaan dengan tujuan filosofis suatu praktik pendidikan sebagai sebuah ilmu. Oleh karena itu, kajian yang dapat dilakukan untuk memahami landasan filosofis pendidikan adalah dengan menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang meliputi tiga bidang kajian yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Menurut Tirtarahardja dan La Sulo (2005), landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandangan dalam filsafat pendidikan, menyangkut keyakinan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Pembahasan tentang landasan filosofi pendidikan dalam tulisan ini, disajikan dalam 4 seri tulisan, yaitu:

1. 2. 3. 4.

Landasan Filosofi Pendidikan (1) Perspektif Epistimologi Penyelenggaraan Pendidikan (2) Perspektif Ontologi Penyelenggaraan Pendidikan (3) Perspektif Aksiologi Penyelenggaraan Pendidikan (4)

DARI http://fatamorghana.wordpress.com/.../bab-iii-landasan-dan-asas-asas-pendidikan-serta-penerapannya/ Bab III Landasan dan Asas-Asas Pendidikan serta Penerapannya July 12, 2008 ² Hartoto B. ASAS-ASAS POKOK PENDIDIKAN Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar. 1. Asas Tut Wuri Handayani Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso. Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu: Ø Ø Ø 2. Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh) Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat) Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)

Asas Belajar Sepanjang Hayat Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal. Ø Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan. Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.

Ø

3.

Asas Kemandirian dalam Belajar Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap untuk ulur tangan bila diperlukan. Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).

Sumber Bacaan: Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

DARI http://www.wikipedia.co.id/wiki/sosiologi 'Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial. Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comtetahun 1842. Sehingga Comte dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Selanjutnya Émile Durkheim ² ilmuwan sosial Perancis ² yang kemudian berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology pada tahun 1876. Di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum

DARI http://syamsulberau.wordpress.com/2007/11/16/landasan-pendidikan/ LANDASAN PENDIDIKAN November 16, 2007 oleh syamsulberau PENDAHULUANPendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga ³belajar´ tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen. Pandangan klasik tentang pendidikan, pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungi sekaligus. Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk untuk memegang peranan-peranan tertentu pada masa mendatang. Kedua, mentransfer pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan peradaban. Butir kedua dan ketiga di atas memberikan pengerian bahwa pandidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi umat manusia. Landasan Pendidikan marupakan salah satu kajian yang dikembangkan dalam berkaitannya dengan dunia pendidikan. Pada makalah ini berusaha memuat tentang : landasan hukum,landasan filsafat,landasan sejarah,landasan sosial budaya,landasan psikologi,dan landasan ekonomi . 1. Landasan HukumKata landasan dalam hukum berarti melandasi atau mendasari atau titik tolak.Sementara itu kata hukum dapat dipandang sebagai aturan baku yang patut ditaati. Aturan baku yang sudah disahkan oleh pemerintah ini , bila dilanggar akan mendapatkan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku pula. Landasan hukum dapat diartikan peraturan baku sebagai tempat terpijak atau titik tolak dalam melaksanakan kegiatan ± kegiatan tertentu, dalam hal ini kegiatan pendidikan.a. Pendidikan menurut Undang-Undang 1945Undang ± Undang Dasar 1945 adalah merupakan hokum tertinggi di Indonesia.Pasal ± pasal yang bertalian dengan pendidikan dalam Undang ± Undang Dasar 1945 hanya 2 pasal, yaitu pasal 31 dan Pasal 32. Yang satu menceritakan tentang pendidikan dan yang satu menceritakan tentang kebudayaan. Pasal 31 Ayat 1 berbunyi : Tiap ± tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran. Dan ayat 2 pasal ini berbunyi : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pengajar Pasal 32 pada Undang ± Undang Dasar berbunyi : Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.an nasional, yang diatur dengan Undang ± Undang.b. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989

tentang Pendidikan NasionalTidak semua pasal akan dibahas dalam buku ini. Yang dibahas adalah pasal ± pasal penting terutama yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam serta sebagai acuan untuk mengembangkan pendidikan. Pertama ± tama adalah Pasal 1 Ayat 2 dan Ayat 7. Ayat 2 berbunyi sebagai berikut : Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan nasional yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang ± Undang Dasar 45. Undang ± undang ini mengharuskan pendidikan berakar pada kebudayaan nasional yang berdasarkan pada pancasila dan Undang ± Undang dasar 1945, yang selanjutnya disebut kebudayaan Indonesia saja. Ini berarti teori ± teori pendidikan dan praktek ± praktek pendidikan yang diterapkan di Indonesia, tidak boleh tidak haruslah berakar pada kebudayaan Indonesia.³Selanjutnya Pasal 1 Ayat 7 berbunyi : Tenaga Pendidik adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurut ayat ini yang berhak menjadi tenaga kependidikan adalah setiap anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya dalam penyelenggaraan pendidikan. Sedang yang dimaksud dengan Tenaga Kependidikan tertera dalam pasal 27 ayat 2, yang mengatakan tenaga kependidikan mencakup tenaga pendidik, pengelola/kepala lembaga pendidikan, penilik/pengawas, peneliti, dan pengembang pendidikan, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.´ 2. Landasan FilsafatFilsafat pendidikan ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar ± akarnya mengenai pendidikanAgar uraian tentang filsafat pendidikan ini menjadi lebih lengkap, berikut akan dipaparkan tentang beberapa aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia ini. Aliran itu ialah :1. Esensialis2. Parenialis3. Progresivis4. Rekonstruksionis5. EksistensialisFilsafat pendidikan Esensialis bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad ± abad lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial, yang lain adalah suatu kebenaran secara kebetulan saja. Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukan intelektual dan logika.Filsafat pendidikan Parenialis tidak jauh berbeda dengan filsafat pendidikan Esensialis. Kalau kebenaran yang esensial pada esensialis ada pada kebudayaan klasik dengan Great Booknya, maka kebenaran Parenialis ada pada wahyu Tuhan. Tokoh filsafat ini ialah Agustinus dan Thomas Aquino.Demikianlah Filsafat Progresivisme mempunyai jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Menurut filsafat ini, tidak ada tujuan yang pasti. Tujuan dan kebenaran itu bersifat relative. Apa yang sekarang dipandang benar karena dituju dalam kehidupan, tahun depan belum tentu masih tetap benar. Ukuran kebenaran ialah yang berguna bagi kehidupan manusia hari ini. Tokoh filsafat pendidikan Progresivis ini adalah John Dewey.Filsafat pendidikan Rekonstruksionis merupakan variasi dari Progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki (Callahan, 1983). Mereka bercita ± cita mengkonstruksi kembali kehidupan manusia secara total.Filsafat pendidikan Eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya manusia di dunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas. Akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan dan komitmennya sendiri. 3. Landasan SejarahSejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang dapat didasari oleh konsep ± konsep tertentu. Sejarah pendidikan di Indonesia.Pendidikan di Indonesia sudah ada sebelum Negara Indonesia berdiri. Sebab itu sejarah pendidikan di Indonesia juga cukup panjang. Pendidikan itu telah ada sejak zaman kuno, kemudian diteruskan dengan zaman pengaruh agama Hindu dan Budha, zaman pengaruh agama Islam, pendidikan pada zaman kemerdekaan. Pada waktu bangsa Indonesia berjuang merintis kemerdekaan ada tiga tokoh pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan, yang berjuang melalui pendidikan. Merka membina anak-anak dan para pemuda melalui lembaganya masing-masing untuk mengembalikan harga diri dan martabatnya yang hilang akibat penjajahan Belanda. Tokoh-tokoh pendidik itu adalah Mohamad Safei, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan (TIM MKDK, 1990). Mohamad Syafei mendirikan sekolah INS atau Indonesisch Nederlandse School di Sumatera Barat pada Tahun 1926. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kayutanam, sebab sekolah ini didirikan di Kayutanam. Maksud ulama Syafei adalah mendidik anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan jiwa yang merdeka. Tokoh pendidik nasional berikutnya yang akan dibahas adalah Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Sifat, system, dan metode pendidikannya diringkas ke dalam empat keemasan, yaitu asas Taman Siswa, Panca Darma, Adat Istiadat, dan semboyan atau perlambang.Asas Taman Siswa dirumuskan pada Tahun 1922, yang sebagian besar merupakan asas perjuangan untuk menentang penjajah Belanda pada waktu itu. Tokoh ketiga adalah Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi Agama Islam pada tahun 1912 di Yogyakarta, yang kemudian berkembang menjadi pendidikan Agama Islam. Pendidikan Muhammadiyah ini sebagian besar memusatkan diri pada pengembangan agama Islam, dengan beberapa cirri seperti berikut (TIM MKDK, 1990).Asas pendidikannya adalah Islam dengan tujuan mewujudkan orang-orang muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya kepada diri sendiri, dan berguna bagi masyarakat serta Negara.Ada lima butir yang dijadikan dasar pendidikan yaitu :

1. 2. 3. 4.

Perubahan cara berfikir Kemasyarakatan Aktivitas Kreativitas

5. Optimisme
4. Landasan Sosial BudayaSosial mengacu kepada hubungan antar individu, antarmasyarakat, dan individu secara alami, artinya aspek itu telah ada sejak manusia dilahirkan.Sama halnya dengan social, aspek budaya inipun sangat berperan dalam proses pendidikan. Malah dapat dikatakan tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsure budaya. Materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-kegiatan mereka dan bentuk-bentuk yang dikerjakan juga budaya. Sosiologi dan PendidikanSosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya.Proses sosial dimulai dari interaksi sosial dan dalam proses sosial itu selalu terjadi interaksi sosial. Interaksi dan proses social didasari oleh factor-faktor berikut :1. Imitasi2. Sugesti3. Identifikasi4. Simpati Kebudayaan dan PendidikanKebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, huku, moral, adapt, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaankebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Imran Manan, 1989)Hassan (1983) misalnya mengatakan kebudayaan berisi (1) norma-norma, (2) folkways yang mencakup kebiasaan, adapt, dan tradisi, dan (3) mores, sementara itu Imran Manan (1989) menunjukkan lima komponen kebudayaan sebagai berikut :1. Gagasan2. Ideologi3. Norma4. Teknologi5. BendaAgar menjadi lengkap, perlu ditambah beberapa komponen lagi yaitu :1. Kesenian2. Ilmu3. KepandaianKebudayaan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :1. Kebudayaan umum, misalnya kebudayaan Indonesia2. Kebudayaan daerah, misalnya kebudayaan Jawa, Bali, Sunda, Nusa Tenggara Timur dan sebagainya3. Kebudayaan popular, suatu kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih pendek daripada kedua macam kebudayaan terdahulu. 5. Landasan PsikologiPsikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Karena itu jiwa atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia, yang berada dan melekat dalam manusia itu sendiri.a. Psikologi Perkembangan Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan. Pendekatan-pendekatan yang dimaksud adalah : (Nana Syaodih, 1988)1. Pendekatan pentahapan. Perkembangan individu berjalan melalui tahapan-tahapan tertentu. Pada setiap tahap memiliki ciri-ciri pada tahap-tahap yang lain.2. Pendekatan diferensial. Pendekatan ini memandang individu-individu itu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan. Atas dasar ini lalu orang-orang membuat kelompok-kelompok3. Pendekatan ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan individual. Melihat perkembangan seseorang secara individual. Sementara itu Stanley Hall penganut teori Evolusi dan teori Rekapitulasi membagi masa perkembangan anak sebagai berikut (Nana Syaodih, 1988)1. Masa kanak-kanak ialah umur 0 ± 4 tahun sebagai masa kehidupan binatang.2. Masa anak ialah umur 4 ± 8 tahun merupakan masa sebagai manusia pemburu3. Masa muda ialah umur 8 ± 12 tahun sebagai manusia belum berbudaya4. Masa adolesen ialah umur 12 ± dewasa merupakan manusi berbudaya b. Psikologi BelajarBelajar adalah perubahan perilaku yang relative permanent sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat, atau kecelakaan) dan bias melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikan kepada orang lain. Ada sejumlah prinsip belajar menurut Gagne (1979) sebagai berikut :1. Kontiguitas, memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidik tentang respon anak yang diharapkan, beberapa kali secara berturutturut.2. Pengulangan, situasi dan respon anak diulang-ulang atau dipraktekkan agar belajar lebih sempurna dan lebih lama diingat.3. Penguatan, respon yang benar misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan dan menguatkan respon itu.4. Motivasi positif dan percaya diri dalam belajar.5. Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas anak-anak6. Ada upaya membangkitkan keterampilan intelektual untuk belajar, seperti apersepsi dalam mengajar7. Ada strategi yang tepat untuk mengaktifkan anak-anak dalam belajar8. Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh factor-faktor dalam pengajaran. 6. Landasan EkonomiPada zaman pasca modern atau globalisasi sekarang ini, yang sebagian besar manusianya cenderung mengutamakan kesejahteraan materi disbanding kesejahteraan rohani, membuat ekonomi mendapat perhatian yang sangat besar. Tidak banyak orang mementingkan peningkatan spiritual. Sebagian besar dari mereka ingin hidup enak dalam arti jasmaniah. Seperti diketahui dana pendidikan di Indonesia sangat terbatas. Oleh sebab itu ada kewajiban suatu lembaga pendidikan untuk memperbanyak sumber-sumber dana yang mungkin bias digali adalah sebagai berikut :

1. Dari pemerintah dalam bentuk proyek-proyek pembangunan, penelitian-penelitian bersaing,
pertandingan karya ilmiah anak-anak, dan perlombaan-perlombaan lainnya.

2. Dari kerjasama dengan instansi lain, baik pemerintah, swasta, maupun dunia usaha. Kerjasama ini bias
dalam bentuk proyek penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan proyek pengembangan bersama.

3. Membentuk pajak pendidikan, dapat dimulai dari satu desa yang sudah mapan, satu daerah kecil, dan
sebagainya. Program ini dirancang bersama antara lembaga pendidikan dengan pemerintah setempat dan masyarakat. Dengan cara ini bukan orang tua siswa saja yang akan membayar dana pendidikan, melainkan semua masyarakat.

4. Usaha-usaha lain, misalnya :
a. Mengadakan seni pentas keliling atau dipentaskan di masyarakatb. Menjual hasil karya nyata anakanakc. Membuat bazaard. Mendirikan kafetariae. Mendirikan took keperluan personalia pendidikan dan anak-anakf. Mencari donator tetapg. Mengumpulkan sumbanganh. Mengaktifkan BP 3 khusus dalam meningkatkan dana pendidikan.Seperti diketahui setiap lembaga pendidikan mengelola sejumlah dana pendidikan yang bersumber dari pemerintah (untuk lembaga pendidikan negeri), masyarakat, dan usaha lembaga itu sendiri. Menurut jenisnya pembiayaan pendidikan dijadikan tiga kelompok yaitu :

1. Dana rutin, ialah dana yang dipakai membiayai kegiatan rutin, seperti gaji, pendidikan, penelitian,
pengabdian masyarakat, perkantoran, biaya pemeliharaan, dan sebagainya.

2. Dana pembangunan, ialah dana yang dipakai membiayai pembangunan-pembangunan dalam berbagai 3. 4.
bidang. Yang dimaksudkan dengan pembangunan disini adalah membangun yang belum ada, seperti prasarana dan sarana, alat-alat belajar, media, pembentukan kurikulum baru, dan sebagainya. Dana bantuan masyarakat, termasuk SPP, yang digunakan untuk membiayai hal-hal yang belum dibiayai oleh dana rutin dan dana pembangunan atau untuk memperbesar dana itu. Dana usaha lembaga sendiri, yang penggunaannya sama dengan butir 3 di atas

Simpulan :Landasan Pendidikan diperlukan dalam dunia pendidikan khususnya di negara kita Indonesia,agar pendidikan yang sedang berlangsung dinegara kita ini mempunyai pondasi atau pijakan yang sangat kuat karena pendidikan di setiap negara tidak sama.Untuk negara kita diperlukan landasan pendidikan berupa landasan hukum,landasan filsafat,landasan sejarah,landasan sosial budaya,landasan psikologi,dan landasan ekonomi . DAFTAR PUSTAKA Pidarta Made, Landasan Kependidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 1997 Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Edisi Revisi 5, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2006 Indira Permanasari, Pendidikan Dasar Gratis Sudah Saatnya Diberlakukan , www.kompas.com/ Ditulis oleh : SYAMSUL BAHRIProgram Studi : S-2 Teknologi Pendidikan UNMUL Samarinda DARI http://meilanikasim.wordpress.com/2008/12/01/makalah-landasan-pendidikan/ D. P E N U T U P Ø Kesimpulan Kualitas sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh pendidikan. Dengan demikian, bidang/dunia pendidikan adalah bidang menjadi tulang punggung pelaksanaan pembangunan nasional. Tujuan pendidikan, khususnya di Indonesia adalah membentuk manusia seutuhnya yang pancasilais, dimotori oleh pembangunan afeksi. Tujuan khusus ini hanya bisa ditangani dengan ilmu pendidikan bercorak Indonesia sesuai dengan kondisi Indonesia, dan dengan penyelenggaraan pendidikan yang memakai konsep system. System pendidikan di Indonesia diselenggarakan dengan mengandalkan empat kompetensi yang harus dikuasai/dimiliki oleh tenaga pengajar. Empat kompetensi itu adalah kompetensi profesional, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi pedagogic. Oleh sebab itu, keempat kompetensi ini merupakan hal yang paling utama untuk dikuasai oleh tenaga pengajar demi mencapai tujuan pendidikan di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Siswoyo, Dwi, dkk. 2007. Ilmu Pendidikan. UNY Press. Yogyakarta UU Sikdiknas. 2006. Pustaka Pelajar. Yogyakarta UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. UU Guru dan Dosen. 2005. Pustaka Pelajar. Yogyakarta Peraturan Menteri Nomor 18 Tahun 2007, tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan

Peraturan Menteri Nomor 11 Tahun 2005, tentang Buku Teks Pelajaran Pidarta, Dr. Made. 2000. Landasan Kependidikan. Rineka Cipta. Jakarta Peraturan Menteri No. 16 / 18. www.google.com DARI http://qym7882.blogspot.com/2009/03/asas-asas-pendidikan-dan-penerapannya.html ASAS-ASAS PENDIDIKAN Dan PENERAPANNYA Rabu, 04 Maret 2009 , Posted by Qym at 3/04/2009 07:20:00 AM ASAS-ASAS PENDIDIKAN Sebelum kita membicarakan tentang asas-asas pendidikan yang berlaku di Indonesia, terlebih dahulu kita memiliki kesatuan pendapat tentang arti asas pendidikan. Asas pendidikan memiliki arti hukum atau kaidah yang menjadi acuan kita dalam melaksanakan kegiatan pendidikan. Dalam masalah ini, berturut-turut akan kita bicarakan dua asas pendidikan yang berlaku di Indonesia: (1) asas Tut Wuri Handayani, dan (2) asas Belajar Sepanjang Hayat. Asas Tut Wuri Handayani Asas Tut Wuri Handayani merupakan gagasan yang mula-mula dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara seorang perintis kemerdekaan dan pendidikan nasional. Tut Wuri Handayani mengandung arti pendidik dengan kewibawaan yang dimiliki mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh, tidak menarik-narik dari depan, membiarkan anak mencari jalan sendiri, dan bila anak melakukan kesalahan baru pendidik membantunya (Hamzah, 1991:90). Gagasan tersebut dikembangkan Ki Hajar Dewantara pada masa penjajahan dan masa perjuangan kemerdekaan. Dalam era kemerdekaan gagasan tersebut serta merta diterima sebagai salah satu asas pendidikan nasional Indonesia (Jurnal Pendidikan, No. 2:24). Asas Tut Wuri Handayani memberi kesempatan anak didik untuk melakukan usaha sendiri, dan ada kemungkinan mengalami berbuat kesalahan, tanpa ada tindakan (hukuman) pendidik (Karya Ki Hajar Dewantara, 1962:59). Hal itu tidak menjadikan masalah, karena menurut Ki Hajar Dewantara, setiap kesalahan yang dilakukan anak didik akan membawa pidananya sendiri, kalau tidak ada pendidik sebagai pemimpin yang mendorong datangnya hukuman tersebut. Dengan demikian, setiap kesalahan yang dialami anak tersebut bersifat mendidik. Menurut asas tut wuri handayani (1) pendidikan dilaksanakan tidak menggunakan syarat paksaan, (2) pendidikan adalah penggulowenthah yang mengandung makna: momong, among, ngemong (Karya Ki Hajar Dewantara, hal. 13). Among mengandung arti mengembangkan kodrat alam anak dengan tuntutan agar anak didik dapat mengembangkan hidup batin menjadi subur dan selamat. Momong mempunyai arti mengamatamati anak agar dapat tumbuh menurut kodratnya. Ngemong berarti kita harus mengikuti apa yang ingin diusahakan anak sendiri dan memberi bantuan pada saat anak membutuhkan, (3) pendidikan menciptakan tertib dan damai (orde en vrede), (4) pendidikan tidak ngujo (memanjakan anak), dan (5) pendidikan menciptakan iklim, tidak terperintah, memerintah diri sendiri dan berdiri di atas kaki sendiri (mandiri dalam diri anak didik. Asas Belajar Sepanjang Hayat Pendidikan Indonesia bertujuan meningkatkan kecerdasan, harkat, dan martabat bangsa, mewujudkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri hingga mampu membangun diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, memenuhi kebutuhan pembangunan dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa (GBHN, 1993:94). Gambaran tentang manusia Indonesia itu dilandasi pandangan yang menganggap manusia sebagai suatu keseluruhan yang utuh, atau manusia Indonesia seutuhnya, keseluruhan segi-segi kepribadiannya merupakan bagian-bagian yang tak terpisahkan satu dengan yang lain atau merupakan suatu kebulatan. Oleh karena itu, pengembangan segi-segi kepribadian melalui pendidikan dilaksanakan secara selaras, serasi, dan seimbang. Untuk mencapai integritas pribadi yang utuh harus ada keseimbangan dan keterpaduan dalam pengembangannya. Keseimbangan dan keterpaduan dapat dilihat dari segi: (1) jasmani dan rohani; jasmani meliputi: badan, indera, dan organ tubuh yang lain; sedangkan rohani meliputi: potensi pikiran, perasaan, daya cipta, karya, dan budi nurani, (2) material dan spiritual; material berkaitan dengan kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang memadai; sedangkan spiritual berkaitan dengan kebutuhan kesejahteraan dan kebahagiaan yang sedalamdalamnya dalam kehidupan batiniah, (3) individual dan sosial; manusia mempunyai kebutuhan untuk memenuhi keinginan pribadi dan memenuhi tuntutan masyarakatnya, (4) dunia dan akhirat; manusia selalu mendambakan

kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sesuai dengan keyakinan agam masing-masing, dan (5) spesialisasi dan generalisasi; manusia selalu mendambakan untuk memiliki kemampuan-kemampuan yang umumnya dimiliki orang lain, tetapi juga menginginkan kemampuan khusus bagi dirinya sendiri. Untuk mencapai integritas pribadi yang utuh sebagaimana gambaran manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan nilai-niai Pancasila, Indonesia menganut asas pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan sepanjang hayat memungkinkan tiap warga negara Indonesia: (1) mendapat kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri dan kemandirian sepanjang hidupnya, (2) mendapat kesempatan untuk memanfaatkan layanan lembaga-lembaga pendidikan yang ada di masyarakat. Lembaga pendidikan yang ditawarkan dapat bersifat formal, informal, non formal, (3) mendapat kesempatan mengikuti program-program pendidikan sesuai bakat, minat, dan kemampuan dalam rangka pengembasngan pribadi secara utuh menuju profil Manusia Indonesia Seutuhnya (MIS) berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; dan (4) mendpaat kesempatan mengembangkan diri melalui proses pendidikan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu sebagaimana tersurat dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989. PENERAPAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN Sebagaimana telah dibicarakan dalam bahasan terdahulu ada dua asas-asas utama yang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan, yakni: (1) Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan (2) Asas Tut Wuri Handayani. Untuk memberi gambaran bagaimana penerapan asas-asas tersebut di atas berturut-turut akan dibicarakan: (1) keadaan yang ditemui sekarang, (2) permasalahan yang ada, dan (3) pengembangan penerapan asas-asas pendidikan. Keadaan yang Ditemui Sekarang Dalam kaitan asas belajar sepanjang hayat, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang: (1) usaha pemerintah memperluas kesempatan belajar telah mengalami peningkatan. Terbukti dengan semakin banyaknya peserta didik dari tahun ke tahun yang dapat ditampung baik dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal; berbagai jenis pendidikan; dan berbagai jenjang pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi, (2) usaha pemerintah dalam pengadaan dan pembinaan guru dan tenaga kependidikan pada semua jalur, jenis, dan jenjang agar mereka dapat melaksanakan tugsnya secara proporsional. Dan pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil pendidikan di seluruh tanah air. Pembinaan guru dan tenaga guru dilaksanakan baik didalam negeri maupun diluar negeri , (3) usaha pembaharuan kurikulum dan pengembangan kurikulum dan isi pendidikan agar mampu memenuhi tantangan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas melalui pendidikan, (4) usaha pengadaan dan pengembangan sarana dan prasarana yang semakin meningkat: ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, bengkel kerja, sarana pelatihan dan ketrampilan, sarana pendidikan jasmani, (5) pengadaan buku ajar yang diperuntukan bagi berbagai program pendidikan masyarakat yang bertujuan untuk: (a) meningkatkan sumber penghasilan keluarga secara layak dan hidup bermasyarakat secara berbudaya melalui berbagai cara belajar, (b) menunjang tercapainya tujuan pendidikan manusia seutuhnya, (7) usaha pengadaan berbagai program pembinaan generasi muda: kepemimpinan dan ketrampilan, kesegaran jasmani dan daya kreasi, sikap patriotisme dan idealisme, kesadaran berbangsa dan bernegara, kepribadian dan budi luhur, (8) usaha pengadaan berbagai program pembinaan keolahragaan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anggota masyarakat untuk melakukan berbagai macam kegiatanolahraga untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran serta prestasi di bidang olahraga, (9) usaha pengadaan berbagai program peningkatan peran wanita dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan keluarga sehat, sejahtera dan bahagia; peningkatan ilmu pngetahuan dan teknologi, ketrampilan serta ketahanan mental. Sesuai dengan uraian di atas, maka secara singkat pemerintah secara lintas sektoral telah mengupayakan usahausaha untuk menjawab tantangan asas pendidikan sepanjang hayat dengan cara pengadaan sarana dan prasarana, kesempatan serta sumber daya manusia yang menunjang. Dalam kaitan penerapan asas Tut Wuri Handayani, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang, yakni (1) peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan yang diminatinya di sema jenis, jalur, dan jenjang pendidikan yang disediakan oleh pemerintah sesuai peran dan profesinya dalam masyarakat. Peserta didik bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri, (2) peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan kejuruan yang diminatinya agar dapat mempersiapkan diri untuk memasuki lapangan kerja bidang tertentu yang diinginkannya, (3) peserta didik memiliki kecerdasan yang luar biasa diberikan kesempatan untuk memasuki program pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan gaya dan irama belajarnya, (4) peserta didik yang memiliki kelainan atau cacat fisik a tau mental memperoleh kesempatan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan cacat yang disandang agar dapat bertumbuh menjadi manusia yang mandiri, (5) peserta didik di daerah terpencil mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan ketrampilan agar dapat berkembang menjadi manusia yang memiliki kemampuan dasar yang memadai sebagai manusia yang mandiri, yang beragam dari potensi dibawah normal sampai jauh diatas normal (Jurnal Pendidikan,1989)

Masalah Peningkatan Mutu Pendidikan Kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak harus dipertimbangkan dengan kebijaksanaan pemerataan pendidikan. Karena peningkatan kualitas pendidikan harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan bertujuan membangun sumber daya manusia yang mutunya sejajar dengan mutu sumber daya manusia negara lain. Pemerintah mengusahakan berbagai cara dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, antara lain: (1) Pembinaan guru dan tenaga pendidikan di semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan, (2) Pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi, (3) Pengembangan kurikulum dan isi pendidikan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta pengembangan nilai-nilai budaya bangsa, (4) Pengembangan buku ajar sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan budaya bangsa. Sesuai dengan uraian diatas secara singkat dapat dikemukakan: dalam menghadapi masalah peningkatan sumber daya manusia sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pemerintah telah dan sedang mengupayakan peningkatan: mutu guru dan tenaga kependidikan, mutu sarana dan prasarana pendidikan, mutu kurikulum dan isi kurikulum sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan nilainilai budaya bangsa. Masalah Peningkatan Relevansi Pendidikan Kebijaksanaan peningkatan relevansi pendidikan mengacu pada keterkaitannya dengan: ke-bhineka tunggal ikaan masyarakat, letak geografi Indonesia yang luas, dan pembangunan manusia Indonesia yang multidimensional. Pemerintah telah dan sedang mengusahakan peningkatan relevansi penyelenggaraan pendidikan yang efektif dan efisien (1) meningkatkan kemudahan dalam komunikasi informasi antara pusat±daerah, daerah±daerah, agar arus komunikasi informasi pembaharuan pendidikan berjalan lancar, (2) desiminasi±inovasi pendidikan: kelembagaan¶ sumber daya manusia, sarana dan prasarana, proses belajar mengajar yang dilaksanakan secara terpadu, dan (3) peningkatan kegiatan penelitian untuk memberi masukan dalam upaya meningkatkan relevansi pendidikan. Sesuai dengan uraian diatas secara singkat dapat dikemukakan: dalam upaya meningkatkan relevansi pendidikan, pemerintah melakukan berbagai upaya (1) usaha menemukan cara baru dan pemanfaatan teknologi pendidikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam, (2) usaha pemanfaatan hasil penelitian pendidikan bagi peningkatan kualitas kegiatan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan (3) usaha pengadaan ruang belajar, ruang khusus (bengkel kerja, konseling, pertemuan, dan sebagainya) yang menunjang kegiatan pembelajaran.

DARI http://melodic-4.blogspot.com/2009/10/asas-asas-pendidikan-indonesia-dan.html Pengantar Ketika kita dihadapkan pada suatu tata kelola pendidikan, maka di titik itu pulalah kita akan sering bersinggungan dengan apa yang disebut asas-asas ± dalam hal ini asas-asas pendidikan. Hal ini karena asas-asas pendidikan telah disepakati sebagai µsuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan (Tirtarahardja, 1994). Sistem pendidikan Indonesia mengenal adanya tiga asas-asas pendidikan. Asas yang pertama adalah asas Tut Wuri Handayani (berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti µJika di belakang mengawasi dengan awas¶). Asas pendidikan yang kedua adalah asas µBelajar Sepanjang Hayat;¶ sedang asas yang terakhir adalah asas µKemandirian dalam Belajar.¶ Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan secara singkat konsep dasar ketiga asas pendidikan di Indonesia tersebut. Selain itu, penulis juga bermaksud untuk ikut menjelaskan apa saja manifestasi ketiga asas pendidikan tersebut dalam dunia pendidikan Indonesia modern.

Asas Tut Wuri Handayani

Pertama kali dicetuskan oleh tokoh sentral pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantoro, pada medio 1922, semboyan Tut Wuri Handayani merupakan satu dari tujuh asas Perguruan Nasional Taman Siswa. Dalam asas Perguruan Nasional Taman Siswa, semboyan Tut Wuri Handayani termaktub dalam butir pertama yang berbunyi, ³Setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam peri kehidupan.´ Dari kutipan tersebut kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwasanya tujuan dari pembelajaran ala Taman Siswa ± dan pendidikan di Indonesia pada umumnya ± adalah menciptakan ³kehidupan yang tertib dan damai (Tata dan Tenteram, Orde on Vrede)´ (Tirharahardja, 1994: 119). Dalam perkembangan selanjutnya, Perguruan Taman Siswa menggunakan asas tersebut untuk melegitimasi tekad mereka untuk mengubah sistem pendidikan model lama ± yang cenderung bersifat paksaan, perintah, dan hukuman ± dengan ³Sistem Among´ khas ala Perguruan Taman Siswa. Sistem Among berkeyakinan bahwa guru adalah ³pamong.´ Sesuai dengan semboyan Tut Wuri Handayani di atas, maka pamong atau guru di sini lebih cenderung menjadi navigator peserta didik yang ³diberi kesempatan untuk berjalan sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri, diperintah atau dipaksa´ (Tirtarahardja, 1994: 120). Jika menilik Sistem Pendidikan Nasional Indonesia, seperti apa yang tercantum dalam Undang-undang Nomer 23 Tahun 2003, maka konsep Tut Wuri Handayani termanifestasi ke dalam sistem KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Peran guru dalam sistem KTSP lebih cenderung sebagai pemberi dorongan karena adanya pergeseran paradigma pengajaran dan pembelajaran, dari ³teacher oriented´ kepada ³student oriented.´ Dalam KTSP, guru bukan lagi sekedar ³penceramah´ melainkan pemberi dorongan, pengawas, dan pengarah kinerja para peserta didik. Dengan sistem kurikulum yang terbaru ini, para pendidik (guru) diharapkan mampu melejitkan semangat atau motivasi peserta didiknya. Hal ini lantaran proses pengajaran dan pembelajaran hanya akan berjalan lancar, efektif dan efisien manakala ada semangat yang kuat dari para peserta didik untuk mengembangkan dirinya melalui pendidikan. Maka bukan tidak mungkin, jika KTSP juga merupakan wujud manifestasi dari asas pendidikan Indonesia ³Kemandirian dalam Belajar.´

Asas Kemandirian dalam Belajar Keberadaan Asas Kemandirian dalam Belajar memang satu jalur dengan apa yang menjadi agenda besar dari Asas Tut Wuri Handayani, yakni memberikan para peserta didik kesempatan untuk ³berjalan sendiri.´ Inti dari istilah ³berjalan sendiri´ tentunya sama dengan konsep dari ³mandiri´ yang dalam Asas Kemandirian dalam Belajar bermakna ³menghindari campur tangan guru namun (guru juga harus) selalu siap untuk ulur tangan apabila diperlukan´ (Tirtarahardja, 1994: 123). Kurikulum KTSP tentunya sangat membantu dalam agenda mewujudkan Asas Kemandirian dalam Belajar. Prof. Dr. Umar Tirtarahardja (1994) lebih lanjut mengemukakan bahwa dalam Asas Kemandirian dalam Belajar, guru tidak hanya sebagai pemberi dorongan, namun juga fasilitator, penyampai informasi, dan organisator (Tirtarahardja, 1994: 123). Oleh karena itu, wujud manifestasi Asas Kemandirian dalam Belajar bukan hanya dalam berbentuk kurikulum KTSP, namun juga dalam bentuk ko-kurikuler dan ekstra kurikuler ± sedang dalam lingkup perguruan tinggi terwujud dalam kegiatan tatap muka dan kegiatan terstruktur dan mandiri. Dalam bukunya ³Contextual Teaching and Learning´ Elanie B. Johnson (2009) berpendapat bahwa dalam Pembelajaran Mandiri, seorang guru yang berfaham ³Pembalajaran dan Pengajaran Kontekstual´ dituntut untuk mampu menjadi mentor dan guru µprivat¶ (Johnson, 2009: 177). Sebagai mentor, guru yang hendak mewujudkan kemandirian peserta didik diharapkan mampu memberikan pengalaman yang membantu kepada siswa mandiri untuk menemukan cara menghubungkan sekolah dengan pengalaman dan pengetahuan mereka sebelumnya. Sebagai seorang guru µprivat,¶ seorang guru biasanya akan memantau siswa dalam belajar dan sesekali menyela proses belajar mereka untuk membenarkan, menuntun, dan member instruksi mendalam (Johnson,2009). Lebih lanjut Johnson mengungkapkan bahwa kelak jika proses belajar mandiri berjalan dengan baik, maka para peserta didik akan mampu membuat pilihan-pilihan positif tentang bagaimana mereka akan mengatasi kegelisahan dan kekacauan dalam kehidupan sehari-hari (Johnson, 2009: 179). Dengan kata lain, proses belajar mandiri atau Asas Kemandirian dalam Belajar akan mampu menggiring manusia untuk tetap ³Belajar sepanjang Hayatnya.´

Asas Belajar sepanjang Hayat Mungkin inilah agenda besar pendidikan di Indonesia, yakni manusia Indonesia yang belajar sepanjang hayat. Konsep belajar sepanjang hayat sendiri telah didefinisikan dengan sangat baik oleh UNESCO Institute for Education, lembaga di bawah naungan PBB yang terkonsentrasi dengan urusan pendidikan. Belajar sepanjang hayat merupakan pendidikan yang harus (1) meliputi seluruh hidup setiap individu, (2) mengarah kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis, (3) tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri setiap indiviu, dan (5) mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi (Cropley, 1970: 2-3, Sulo Lipu La Sulo, 1990: 25-26, dalam Tirtarahardja, 1994: 121). Jika diterapkan dalam sistem pendidikan yang berlaku saat ini, maka pendekatan yang sangat mungkin digunakan untuk mencapai tujuan ini adalah melalui pendekatan ³Pembalajaran dan Pengajaran Kontekstual.´ Sedang dalam konteks pendidikan di Indonesia, konsep ³Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual´ sedikit banyak telah termanifestasi ke dalam sistem Kurikulim Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Selain KTSP ± yang notabene merupakan bagian dari pendidikan formal, maka Asas Belajar sepanjang Hayat juga termanifestasi dalam program pendidikan non-formal, seperti program pemberantasa buta aksara untuk warga Indonesia yang telah berusia lanjut, dan juga program pendidikan informal, seperti hubungan sosial dalam masyarakat dan keluarga tentunya.

Daftar Pustaka: y y Johnson, Elanie B. PH. D., (2009): Contextual Teaching and Learning; Mizan Media Utama, Bandung. Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. (2005): Pengantar Pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta.

DARI : http://www.thejaev.co.cc/2009/02/landasan-historis-pendidikan-laporan.html LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN A. Pendidikan Zaman Hindu/Budha B. Pendidikan Zaman Islam C. Pendidikan Zaman Pendudukan Asing D.Pendidikan Nasional Indonesia Tahun 1945-1950 (dari Proklamasi sampai RIS) E. Pendidikan Indonesia Tahun 1950-1959 (Demokrasi Liberal) F. Pendidikan Indonesia Merdeka Tahun 1959-1965 (Demokrasi Terpimpin) G. Pendidikan Nasional Indonesia Merdeka: Zaman Perkembangan Orde Baru 1. Umar TR,2005:81 3. Undang-Undang, 2003 5.http://fatamorghana.wordpress.com
2. Undang-Undang, 1992: 24 4. Umar TR, 2005: 81

1.Umar TR, 2005: 81
2. Made Pidarta, 1997: 40 3. Made Pidarta, 2007: 42 4. Made Pidarta, 1997: 41 5. Made Pidarta, 2007: 43

1. Made Pidarta, 1997: 39 5. Made Pidarta, 1997: 40

2.Made Pidarta, 2007: 41 6. Made Pidarta, 2007: 42 3. Made Pidarta, 1997: 41 7. Made Pidarta, 2007: 43 -44 4.Made Pidarta, 1997: 43 8. Made Pidarta, 1997: 41

1.Made Pidarta, 1997:42 4.Made Pidarta, 2007: 44-45
2.Made Pidarta, 2007: 44 5.Made Pidarta, 1997: 42 -65 3.Made Pidarta, 1997: 42 6.Made Pidarta, 1997: 42 -43

1.Made Pidarta, 2007: 45-68 2.Made Pidarta, 2007: 45 1. Made Pidarta, 2007: 68-71 2.Made Pidarta, 2007: 69 1.Made Pidarta, 2007: 71-74 1.Ahmad Warimba, 1962 1. Umar TR, 2005: 84 2. Umar TR, 2005: 84
3 & 4. .http://fatamorghana.wordpress.com/.../bab -iii-landasan-dan-asas-asas-pendidikan-serta-penerapannya/

1.Chaedar, 2008: 102 2.Made Pidarta, 2007: 90-91 3.Made Pidarta, 1997: 89-90 4.Umar TR, 2005: 88-89 5.Chaidar Alwshilah, 2008

1.Chaidar, 2008: 103 2. Made Pidarta, 2007: 92 3. Made Pidarta, 1997: 90 4.Chaidar Al Washilah,2008 5. Umar TR, 2005:
89-90

1Chaidar, 2008: 104 2.Made Pidarta, 2007: 92-93 3.Made Pidarta, 1997: 91-92 4.Umar TR, 2005: 90 5.Chaidar, 2007: 107 1Made Pidarta, 2007: 93 2. Made pidarta, 1997: 92 3. Umar TR, 2005: 91 4. Chaidar, 2008: 106 5.Chaidar, 2008: 106 6.Made pidarta, 2007: 94 7. http://intl.feedfury.com/content/16333546-filsafat-pendidikan.html

1 2 & 3http://intl.feedfury.com/content/16333546 -filsafat-pendidikan.html 4.http://mahmuddin.wordpress.com/.../ landasanfilosofi-pendidikan-pengantar/

1.Made Piranta, 2007: 94 2.Made Piranta, 1997: 93 3.Made Pidarta, 2007: 150-151 4.Made Pidarta, 1997: 144 5. www.wikipedia.co.id/wiki/sosiologi 6.Made Pidarta, 2007: 151-152 7. Made Pidarta, 1997: 145-146 1. http://mahmuddin.wordpress.com/.../ landasan-filosofi-pendidikan-pengantar/ 2.Made Pidarta, 2007: 152 3.Made Pidarta,
1997:146 4.(Made Pidarta, 2007: 176 5.Made Pidarta, 1997: 168 6.Made Pidarta, 2007: 183 -184 7.Made Pidarta, 1997: 175

1.Made Pidarta, 1997: 182-184 2.Made Pidarta, 2007: 192-193 3.Umar TR, 2005: 100

1.Koentjaraningrat, 1975: 15-22 2.Umar TR, 2005:100 3.Redja Mudyaharjo, 1992: 45 4.Umar TR, 2005:101 5.Umar TR, 2005: 101 6.Umar TR, 2005: 101-102 1. Umar TR 2005:102 2. Umar TR 2005:102-103 3. Umar TR 2005:103 1.Made Pidarta, 2007: 192 2.Made Pidarta, 1997: 180 3. Umar TR 2005:103-104 1.Umar TR, 2005:104-105 2. Umar TR, 2005:105 3. Umar TR, 2005:105 4. Umar TR, 2005:106 1.Umar TR, 2005:106 2.Umar TR, 2005:108 3.Umar TR, 2005:108 4.Umar TR, 2005:108 5.Umar TR, 2005:109 1. Umar TR, 2005:109 2.Umar TR, 2005:109-110 3.Umar TR, 2005:110 4.Umar TR, 2005:111-112 1.Made Pidarta, 2007: 237-238 2.Made Pidarta, 1997: 224-226 3.Umar TR, 2005: 112-113 4.Umar TR, 2005: 114 1Umar TR, 2005: 114-115 2.Umar TR, 2005: 115 3.Umar TR, 2005:115-116 4.http://sucipto.guru.fkip.uns.ac.id 5.Made Pidarta, 1997: 108 6.Made pidarta, 2007: 109 1.http://www.thejaev.co.cc/2009/02/landasan-historis-pendidikan-laporan.html 1.Made Pidarta, 1997: 123-127 (2)..Made Pidarta, 2007: 125-131 (3).Made Pidarta, 1997: 129 (4)..Made Pidarta, 2007: 132 5.Made Pidarta, 1997:134-135 6.Made Pidarta, 2007: 137 1Made Pidarta, 1997: 228 2.Made Pidarta, 2007: 239 3.http://syamsulberau.wordpress.com 4.Made Pidarta, 2007: 240-242 (5).Made Pidarta, 1997: 229-231 6.Made Pidarta, 1997:235 7.Made Pidarta, 2007:246 1.Made Pidarta, 1997: 235 2.Made Pidarta, 2007: 246-247 3.Made Pidarta, 1997: 235 4.Made Pidarta, 2007: 236 5.Made Pidarta, 1997: 236 6.Made Pidarta, 2007: 247-248 1.Made Pidarta, 1997: 238 2.Made Pidarta, 2007: 24-250 3.Made Pidarta, 1997: 238 4.Made Pidarta, 2007: 250 5.Made Pidarta, 1997: 238-239 (6)..Made Pidarta, 2007: 250-251 1.Made Pidarta, 1997: 235-242 2.Made Pidarta, 2007: 246-251 1.Made Pidarta, 1997:260-262 2.Made Pidarta, 2007: 273-275 3.Made Pidarta, 1997:264 4.Made Pidarta, 2007:276 1.Made Pidarta, 1997:267-268 2.Made Pidarta, 2007:279-280 1. Made Pidarta, 1997:273 2.Made Pidarta,2007:285-286 1. http://fatamorghana.wordpress.com 2.http://syamsulberau.wordpress. com 3.http://qym7882.blogspot.com 1. http://qym7882.blogspot.com
2. http://qym7882.blogspot.com 3. http://qym7882.blogspot.com

1. http:melodic-4.blogspot.com 2.Umar TR, 2005:120 3. http://melodic-4.blogspot.com
4.Umar TR, 2005: 120

1.Umar TR, 2005: 120-122 2.Umar TR,2005:123 3.Umar TR, 2005:123 4.http://melodic-4.blogspot.com 1.http://melodic-4.blogspot.com 2.http://qym7882.blogspot.com 1.http://fatamorghana.wordpress.com 2.meilanikasim.wordpress.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->