P. 1
TUJUAN INSTRUKSIONAL

TUJUAN INSTRUKSIONAL

4.84

|Views: 20,811|Likes:
Published by ur42nate

More info:

Published by: ur42nate on May 22, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2013

pdf

text

original

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL 1.1.

HIRARKI TUJUAN INSTRUKSIONAL DALAM TUJUAN PENDIDIKAN Tujuan instruksional merupakan “deployment” atau penjabaran dari tujuan pendidikan. Dalam sistem pendidikan, secara nasional tujuan pendidikan tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari tujuan pendidikan nasional ini kemudian dijabarkan ke dalam tujuan pendidikan institusional, tujuan pendidikan kurikuler dan tujuan instruksional dengan memperhatikan aspek pengelolaan pendidikan (Organisasi makro, Organisasi meso, dan Organisasi mikro) dan taraf pengelolaan. Penjabaran ini dapat dilihat pada Gambar 1. Hirarki Tujuan Pendidikan Tujuan Pendidikan Nasional ⇓ Tujuan pendidikan Institusional ⇓ Tujuan Pendidikan Kurikuler ⇓ Tujuan Instruksional Umum ⇓ Tujuan Instruksional Khusus Mikro Mikro Meso Meso Taraf Organisasi Makro Taraf Pengelolaan Keseluruhan usaha pendidikan masyarakat di negara Indonesia Jenjang pendidikan sekolah teetentu dan jenis pendidikan tertentu Kesatuan kurikulum tertentu yang mencakup sejumlah bidnag studi Kesatuan Bidang Studi tertentu yang mencakup sejumlah pokok bahasan Satuan pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu.

Gambar 1. Hirarki tujuan instruksional dalam tujuan pendidikan. 1.2. TUJUAN INSTRUKSIONAL DALAM MODEL PENGAJARAN. Dalam pengelolaan dan pengembangan pengajaran diperlukan seuatu model yang dipakai sebagai pegangan yang mencakup semua komponen pokok yang harus dipertimbangkan, dibuat, diatur dan dilaksanakan oleh pengajar. 1.2.1. Model “Basic Teaching” Basic Teaching Model merupakan metode didaktik yang dikembangkan oleh Gasler. Model ini terdiri atas komponen Tujuan instruksional, kemampuan untuk mencapai tujuan instruksional, prosedur instrusional, assesment dan feedback. Keterkaitan model ini speeti yang terdapat dalam Gambar 2.

1

INSTRUCTIONAL OBJECTIVE (1)

ENTERING BEHAVIOUR (2)

INSTRUCTIONAL PROCEDURES (3)

PERFORMANCE ASSESMENT (4)

FEED BACK (5)

Gambar 2. “Basic Teaching Model” menurut konsep Glaser Penjelasan : 1. Intructional objective adalah kemapuan yang harus dicapai siswa. 2. Entering behaviour adalah kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional (prasyarat) 3. Instructional procedures adalah kegiatan mengajar yang memberikan struktur dan arah pada kegiatan belajar siswa. 4. Performance Asessment adalah sampai berapa jauh tujuan tercapai, uyang dapat dilihat dari prestasi siswa 5. Feedback adalah umpan balik dari komponen satu ke yang lain. 1.2.2. Model “Didactische Analyse” Model “Didactiche Analyse’ dikembangkan oleh van Gelder. Komponen komponen yang terkait dalam model ini dapat dilihat pada Gambar 3.
TUJUAN INSTRUKSIONAL (1) KEMAMPUAN SISWA PADA AWAL PELAJARAN (2)

MATERI PELAJARAN (3)

PROSEDUR DIDAKTIS (4)

KEGIATAN BELAJAR (5)

PERALATAN MENGAJAR DAN PERALATAN BELAJAR (6)

EVALUASI HASIL BELAJAR (7)

Gambar 3. Model “Didactische Analyse” menurut Van Gelder Penjelasan : 1. Tujuan Instruksional adalah kemampuan yang harus diperoleh siswa 2. Kemampuan siswa pada awal pelajaran adalah kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional (prasyarat) 3. Materi Pelajaran adalah bahan pelajaran 4. Prosedur didaktis adalah metode didaktis yang digunakan oleh guru, misalnya ceramah, demostrasi dll. 5. Kegiatan belajar adalah aktivitas belajar yang dijalankan oleh siswa sendiri, misalnya diskusi kelompok, membaca referensi. 6. Peralatan mengajar dan belajar adalah berbagai media pengajaran dan alat-alat bantu untuk belajar. 7. Evaluasi Belajar adalah peniliaian terhadap kemampuan siswa.

2

1.2.3. Model Kegiatan Didaktis Model kegiatan didaktis dikembangkan oleh E. De. Corte yang merupakan pengembangan lebih anjut dari model Van Gelder. Keterkaitan komponen pada model ini seperti yang terdapat pada Gambar 4.
TUJUAN ISTRUKSIONAL (1)

PE

PR D OS ID E A D (5 KT UR ) IS

N IA RA ED A M AJ ) G N (8

PROSES BELAJAR

S

PE

A
G

L

A

J A R -

M

E

N

KEADAAN AWAL (2)

Gambar 4. Model Kegiatan Didaktis menurut De Corte Penjelasan: 1. Tujuan Instruksional adalah apa yang menjadi tujuan belajar-mengajar 2. Keadaan awal diarikan dengan dua cara : a. Dalam arti luas: keadaan siswa, guru, jaringan sosial di sekolah dan di kelas sebagai instutusi pendidijan, faktor-faktor situasional. b. Alam arti sempit : kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional (prasyarat) 3. Evaluasi diartikan dalam dua hal: a. Penilaian terhadap hasil belajar siswa yang telah dicapai sesuai dengan tujuan istruksional (evaluasi produk), baik dalam aspek isi maupuj aspek jenis perilaku. b. Penilaian terhadap proses belajar-mengajar yang mengacu pada tujuan instruksional dan keadaan awal siswa (evaluasi proses0 4. Proses belajar adalah kegiatan mental yang dilakukan siswa menurut urutan fase tertentu dan sesuai dengan jalur belajar tertentu. 5. Prosesdur didaktis adalah cara-cara mengatur kegiatan siswa. 6. Materi Pelajaran adalah hal yang menyangkut aspekisi dan tujuan instruksional dan pokok bahasan 7. Pengelompokan siswa adalah tata cara mebentuk kelompok-kelompok siswa di dalam kelas. 8. Media pengakjaran adalah alat-alat bantu yang digunakan oleh guru sendiri atau ditawarkan kepada siswa untuk digunakan. 3

J

A

R

O
S E

N A N GE L S I OM (7 SW PO ) A K

EVALUASI: *) HASIL *) PROSES (3)

P R

(9)

PE
B

I AN ER AR AT AJ M EL ) B (6 M

E

9. Proses belajar-mengajar adalah interaksi antara guru dan kegiatan siswa selama periode tertentu. 1.3. DEFINISI TUJUAN INSTRUKSIONAL Tujuan Istruksional merupakan bagian dari pembelajaran. Berbagai definisi tujuan instruksional disampaikan oleh beberapa tokoh diantaranya : 1. Robert F. Mager (1962). Tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi tingkat kompetensi tertentu. 2. Eduard L. Dejnozka dan David E. Kavel (1981). Tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Perilaku ini dapat berupa fakta yang tersamar (covert). 3. Fred Percival dan Henry Ellington (1984). Tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang jelas menunjukkan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Dalam proses belajar-mengajar, Tujuan Istruksional terbagi menjadi dua yaitu: 1. Tujuan Instruksional Umum yang menggariskan hasil-hasil di aneka bidang studi yang harus dicapai oleh siswa. 2. Tujuan Istruksional Khusus (TIK) yang merupakan penjabaran dari Tujuan Instruksional Umum yang menyangkut satu pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu sebagai tujuan pengajaran yang kongkrit dan spesifik, yang dianggap cukup berharga, wajar dan pantas yang dapat direalisasikan dan bertahan lama untuk tercapainya tujuan instruksional umum. Tujuan Instruksional Khusus (TIK) dapat dibedakan menjadi dua aspek yakni: a. Aspek jenis perilaku yang dituntut dari siswa b. Aspek isi (content) yakni aspek terhadap hal yang harus dilaksanakan Adapaun cara merumuskan tujuan instruksional khusus: a. Menyebutkan siapa yang mencapai tujuan dan bagaimana cara mencapainya. Dengan cara ini siswa diharapkan melakukan sesuatu yang dapat dilihat, didengar (observable behaviour) dan menampakkan hasil belajarnya dengan menunjukkan perilaku (behavioral aspect) yang diharapkan. b. Menjelaskan sasaran siswa melakukan sesuatu (isi). c. Menjelaskan persyaratan yang berlaku bila siswa melaksanakan tugas sesuai dengan instruksional khusus. d. Menentukan target prestasi minimal yang harus dicapai. 1.4. MANFAAT TUJUAN INSTRUKSIONAL Ø Ø Ø Ø Ø Ø Manfaat tujuan instruksional adalah sebagai dasar dalam : Menentukan tujuan (objective) proses belajar mengajar Menentukan persyaratan awal instruksional. Merancang strategi instruksional Memilih media pembelajaran. Menyusun instrumen tes pada proses evaluasi (pretes dan post tes). Melakukan tindakan perbaikan atau improvement pembelajaran.

4

1.5. TAKSONOMI TUJUAN INSTRUKSIONAL 1.5.1. Menurut Jenis Perilaku Taksonomi di sini diartikan sebagai salah satu metode klasifikasi tujuan instruksional secara berjenjang dan progresif ke tingkat yang lebih tinggi. Masingmasing isi kawasan Taksonomi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : Dalam proses belajar-mengajar, guru harus menempatkan tujuan instruksional menurut aspek perilaku pada kawasan menurut sitematika Bloom Gagne dan Simpson yakni: Ragam Kognitif Bloom Gagne
1. Pengetahuan à a.Informasi verbal b. Kemahiran intelektual à (dibentuk konsep, kaedah) c. Pengaturan kegiatan à kognitif(digun akan informasi konsep dan kaedah)

Ragam Afektif Bloom Gagne
1. Penerimaan 2. Partisipasi 3. Penilaian/Penentuan sikap 4. Organisasi 5. Pembentukan pola hidup

Ragam Psikomotorik Simpson Gagne KETRAMPILAN MOTORIK
1. Persepsi 2. Kesiapan 3. Gerak terbimbing 4. Gerakan terbiasa 5. Gerakan kompleks 6. Penyesuaian pola gerak 7. Kreatifitas

2. Pemahaman

S I d. K A P

e.

3. Penerapan

4. Analisis 5. Sintesis 6. Evaluasi

A. Kawasan Kognitif (Pemahaman) Kawasan kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat “pengetahuan” sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu “evaluasi”. Kawasan kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkat tersebut; 1. Tingkat pengetahuan (knowledge) Tujuan intruksional pada level ini menuntut siswa untuk mampu mengingat (recall) informasiyang telah diterima sebelumnya, seperti misalnya : fakta, terminology, rumus, strategi pemecahan masalah, dan sebagainya. 2. Tingkat pemahaman (comprehension) Kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, dan informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. 3. Tingkat penerapan (application) Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru, serta memecahkan berbagai maslaah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. 4. Tingkatan analisis (analysis) Analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada tidaknya kontradiksi.

5

Dalam hal ini siswa diharapkan menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur yang telah dipelajari. 5. Tingkat sintesis (synthesis) Sintesis di sini diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. 6. Tingkat evaluasi (evaluation) Evaluasi merupakan level tertinggi, yang mengharapkan siswa mampu membuat penilaian dankeputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu. Jadi evaluasi di sini lebih condong ke bentuk penilaian biasa daripada sistem evaluasi. B. Kawasan Afektif (sikap dan perilaku). Untuk memperoleh gambaran tentang kawasan tujuan instruksional afektif secara utuh, berikut ini akan dijelaskan setiap tingkat secara berurutan berikut ini : 1. Tingkat menerima (receiving) Menerima di sini diartikan sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku dengan cara membangkitkan kesadaran tentang adanya stimulus tertentu yang mengandung estetika. 2. Tingkat tanggapan (responding) Tanggapan atau jawaban (responding) mempunyai beberapa pengertian, antara lain : v Tanggapan dilihat dari segi pendidikan diartikan sebagai perilaku baru dari sasaran didik (siswa) sebagai manifestasi dari pendapatnya yang timbul karena adanya perangsang pada saat ia belajar. v Tanggapan dilihat dari segi psikologi perilaku (behavior psychology) adalah segala perubahan perilaku organisme yang terjadi atau yang timbul karena adanya rangsangan 3. Tingkat menilai (valuing) Menilai dapat diartikan sebagai : v Pengakuan secara obyektif (jujur) bahwa siswa itu obyektif, sistem atau benda tertentu mempunyai kadar manfaat. v Kemauan untuk menerima suatu obyek atau kenyataan setelah seseorang itu sadar bahwa obyek tersebut mempunyai nilai atau kekuatan, dengan cara menyatakan dalam bentuk sikap atau perilaku positif atau negatif. 4. Tingkat organisasi (organization) Organisasi dapat diartikan sebagai : v Proses konseptualisasi nilai-nilai dan menyusun hubungan antar nilai-nilai tersebut, kemudian memilih nilai-nilai yang terbaik untuk diterapkan. v Kemungkinan untuk mengorganisasikan nilai-nilai, menentukan hubungan antar nilai dan menerima bahwa suatu nilai itu lebih dominan dibanding nilai yang lain apabila kepadanya diberikan berbagai nilai. 5. Tingkat karakterisasi/Pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex) Karakterisasi adalah sikap dan perbuatan yang secara konsisten dilakukan oleh seseorang selaras dengan nilai-nilai yang dapat diterimanya, sehingga sikap dan perbuatan itu seolah-olah telah menjadi ciri-ciri pelakunya.

6

Berdasarkan pada kelima tingkatan yang dirumuskan oleh Bloom dan Kratwohl tersebut di atas, maka Romiszowski dalam bukunya Producing Instruction System (1984), mengelompokkan aspek afektif tersebut menjadi dua tipe perilaku yang berbeda. 1. Reflek yang terkondisi, yaitu reaksi kepada stimuli khusus tertentu yang dilakukan secara spontan tanpa direncanakan lebih dahulu tujuan reaksinya. 2. Sukarela (voluntary) adalah aksi dan reaksi yang terencana untuk mengarahkan ke tujuan tertentu dengan cara membiasakan dengan latihan-latihan untuk mengontrol diri. C. Kawasan Psikomotor (psychomotor domain) Kawasan psikomotor adalah kawasan yang berorientasi kepada keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh, atau tindakan (action) yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otot. Dengan demikian maka kawasan psikomotor adalah kawasan yang berhubungan dengan seluk beluk yang terjadi karena adanya koordinasi otot-otot oleh fikiran sehingga diperoleh tingkat keterampilan fisik tertentu. Kawasan psikomotor meliputi sebagai berikut : 1. Persepsi (perception) Mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih berdasarkan perbedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada masing-masing rangsangan. 2. Kesiapan (set) Mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakan. 3. Gerakan terbimbing (Guided response) Mencakup kemampuan untuk melakukan rangkaian geral sesuai dengan contoh yang diberikan (imitasi). 4. Gerakan yang terbiasa (mechanical response) Mencakup kemampuan untuk melakukan suatu gerakan dengan lancar karena sudah dilatih secukupnya tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan. 5. Gerakan Kompleks (Complex response) Mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu ketrampilan yang terdiri atas beberapa komponen dengan lancar tepat dan efisien. 6. Penyesuaian pola gerakan (adjusment) Mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak dengan kondisi setempat atau dengan menunjukkan taraf ketrampilan yang telah mencapai kemahiran. 7. Kreativitas (creativity) Mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak yang baru atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri. Taksonomi Bloom ini mendapat berbagai tanggapan di kawasan kognitif. E. De. Corte mengusulkan sebuah kalisifikasi dengan mengacu pada model intelegensia yang dikembangkan oleh Guilford dengan mengelompokkan kawasan kognitif menjadi : 7

a. Kemampuan reproduktif meliputi: Kemampuan ini meliputi resepsi berdasarkan pengamatan, mengenal kembali (recognition) dan mengingal (recall) b. Kemampuan produktif Kemampuan ini meliputi kemampuan menciptakan sendiri jawaban atas suatu pertanyaan dan menemukan pemecahan atas sebuah permasalahan. Hasil kemampuan ini tampak dalam 3 hal: i. Hasil proses berfikir konvergen yakni hasil atau jawaban yang sudah pasti dengan langkah pemecahan yang sudah ditentukan. ii. Hasil proses berfikir divergen yaitu hasil atau jawaban yang belum pasti dengan langkah pemecahan yang belum pasti pula. iii. Hasil proses berfikir evaluatif yaitu mengolah dan menilai berdasarkan kriteria tertentu. Sistematika Guilford dan E. De Donte tentang pemahaman pada kawaan kognitif dapat dilihat pada Gambar 5. Guilford 1. Mengetahui 2. Mengingat 3. Produksi divergen E. De Conte a. Apersepsi Informasi b. Mengenal kembali informasi c. Mengingat kembali informasi d. Produksi informasi secara nterpretatif e. Produksi informasi secara konvergen Produksi f. Produksi informasi secara evaluatif g. Produksi informasi secara divergen

Reproduksi

4. Produksi konvergen

5. Evaluasi

Gambar 5. Perbandingan antara sistemarika Guilford dan E. De. Conte. 1.5.2. Menurut Isi Tujuan Instruksional harus mencantumkan aspek isi (content) yang menunjuk pada learning content. Isi dalam Tujuan Instruksional tidak sama dengan materi, karena materi menunjuk pada subject matter. Content dalam tujuan instruksional dibuat menurut urutan tertentu dengan suatu pola yang berurut dari awal sampai akhir yang terangkai dalam satu kesatuan. Jika siswa tidak menguasai salah saru rangkaian maka siswa akan mengalami kesulitan. Hal ini umumnya berlaku pada pembelajaran matematika dan bahasa asing. Dapat juga tujuan instruksional tanpa mengikuti pola yang berurut (sequence), sehingga tujuan istruksional dapat disusun menurut keperluan dan siswa tidak mengalami kesulitan jika tidak mengkuti salah saru rangkaian pembelajaran. Umumnya berlaku pada bidang Ilmu sosial.

8

II. KLASIFIKASI DAN ANALISIS TUGAS BELAJAR Dalam menentukan Tujuan Instruksional Khusus berdasarkan aspek perilaku, Gagne menggunakan pengklasifikasian “Tugas belajar” (Task classification) dan dilengkapi dengan “Analisis tugas belajar” (Learning task analysis ) dengan menggunakan “Hirarki dalam belajar” (Learning Hierarchy ) yang berupa instructional sequence. Setiap TIK yang hendak dicapai menuntut persyaratan kemampuan internal yang harus dimiliki yang berupa salah satu dari lima hasil belajar (informasi verbal, kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, ketrampilan motorik dan sikap). Pengklasifikasian tugas belajar dan penerapan analisis tugas belajar ini seperti yang diilustrasikan pada Gambar 6 dan Gambar 7.

TIK yang Spesifik A
yang menuntut adanya

B

C

D

E

F

G

dan seterusnya

Kemampuan internal tertentu
yang dapat digolongkan dalam

a

b

c

d

e

f

g

dan seterusnya

Kategori hasil tertentu

Informasi Verbal

Kemahiran Intelektual

Pengaturan Kegiatan Kognitif

Ketrampilan Motorik

Sikap

yang menuntut adanya

Proses Belajar Belajar tertentu informasi verbal

Belajar Kemahiran intelektual

Belajar Pengaturan kegiatan kognitif

Belajar ketrampilan motorik

Belajar sikap

Gambar 6. Skema pengklasifikasian tugas belajar.

9

SKEMA TIK yang spesifik A 1

CONTOH
I. Ketrampilan : “Berenang dengan Komponen motorik gaya katak” II. Sikap : “Menolak penggunaan obat bius” Komponen A1 Gerakkan lengan, kaki A2 Prosedur gerakan A3 Sikap pos. thd OR ini A1 Apa itu “obat bius” A2 Bahaya peng. obat bius A3 Sikap menjaga kesehatan A1 Apa itu “segi tiga” A2 Apa itu “Alas, tinggi, luas” A3 Bagaimana bentuk segitiga A4 Sikap pos. thdp matematika A1 Sejarah dunia th 1918-1939 A2 Kombinasi fakta sejarah A1 Bagaimana cara belajar yang tepat A2 Kombinasi yang cocok untukku a1 Ketrampilan motorik a2 Kaidah a3 Sikap a1 Konsep a2 Informasi verbal A3 Sikap

2 A 3

1

2

3

4

Yang menuntu adanya

III. Kemahiran : “Membuktikan intelektual bahwa luas ∆ = Ѕ alas x tinggi” IV. Informal verbal : “Menyebutkan faktor-faktor penyebab Perang Dunia II”

Komponen

Komponen

V. Pengaturan : “Menentukan jadwal belajar kegiatan saya” kognitif

Komponen

I. Komponen

Kemampuan internal tertentu 1

2 3 3

1 2 4

II. Komponen

Yang menuntu adanya

III. Komponen a1 Konsep a2 Konsep a3 Persep a4 Sikap IV. Komponen a1 Informasi verbal a2 Pengaturan kegiatan kognitif V. Komponen a1 Informasi verbal a2 Pengaturan kegiatan kognitif a1 X Belum dimiliki a2 X Belum dimiliki a3 O Sudah dimiliki a1 X Belum dimiliki a2 X Belum dimiliki a3 O Sudah dimiliki X X X O Belum dimiliki Belum dimiliki Sudah dimiliki Belum dimiliki

I. Komponen
a1 a2 a3 a1 a2 a3 a4

Beberapa sub kemampuan
Mungkin sudah dimiliki

II. Komponen

a1, a2, a3, a4
Mungkin belum dimiliki Yang esensial/mutlak = X

Keterangan ; Contoh “learning hierarchy, yaitu beberapa kemahiran intelektual yang mutlak diperlukan (prasyarat) bertumpuk-tumpuk III. Komponen a1 a2 a3 a4

diantara a1, a2, a3, a4
Yang menunjang = O

IV. Komponen a1 X Belum dimiliki a2 X Belum dimiliki V. Komponen a1 X Sudah dimiliki a2 X Belum dimiliki

Gambar 7. Analisis tugas belajar menurut Gagne.

PUSTAKA. Winkel, W.S., “Psikologi Pembelajaran”, Media Abadi, Cetakan ke IX, tahun 2007.

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->