P. 1
AGAMA DAN KEMISKINAN edit

AGAMA DAN KEMISKINAN edit

4.75

|Views: 4,311|Likes:
Published by Agn Mul

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Agn Mul on May 22, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

AGAMA DAN KEMISKINAN Usaha Memahami Kemiskinan Secara Multidimensional 1 A.

Pendahuluan Agama secara inheren memiliki nilai-nilai emansipasi, karena itu dalam sejarah agama telah menempatkan dirinya sebagai penggerak perubahan. Dalam konteks Indonesia, ketertinggalan yang berarti kemiskinan merupakan tantangan yang harus diatasi dengan partisipasi dan keberpihakan agama, karena dari komposisi masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang religius. Namun potensinya belum tergali secara signifikan guna membebaskan masyarakat dari berbagai masalah. Sebagai bangsa yang religius, kita perlu berpikir serius tentang tanggung jawab moral-sosial terkait apa yang dihadapi bangsa ini. Agama dengan iman dan kepercayaannya diharapkan ada pada garda terdepan perubahan sosial dan perbaikan derajat hidup dan kehidupan umatnya. Mungkin tidak berlebihan menempatkan nilai-nilai iman yang emansipatif menjadi obor penerang ritual sosial yang membangkitkan bangsa. Pada batasnya, tugas mulia hadirnya agama adalah untuk membangkitkan umat dari ketertinggalan. Ketertinggalan yang berarti kemiskinan dalam Islam dianggap sebagai persoalan serius sekaligus berbahaya, karena kemiskinan terkadang menjadikan tingkat keimanan menjadi terganggu dan justru dikhawatirkan hilang atau dengan kata lain menjadi kafir.2 Kemiskinan adalah fenomena yang begitu mudah dijumpai di mana-mana. Tidak hanya di desa-desa, namun juga di kota-kota. Di balik kemewahan gedunggedung pencakar langit di kota, misalnya, tidak terlalu sulit dijumpai rumahrumah kumuh berderet di bantaran sungai, atau para pengemis yang berkeliaran di perempatan-perempatan jalan. Berbagai program sudah dilakukan untuk mengatasi persoalan sosial tersebut, tetapi anehnya, secara statistik jumlah mereka bukan berkurang, tetapi justru semakin bertambah. Terlebih lagi setelah krisis ekonomi melanda Indonesia.3
Makalah HA MUHTADI RIDWAN Disampaikan Pada Diskusi Rutin Dosen Fakultas Ekonomi UIN Malang - 22 Juli 2005
1
2 Dalam hadis Nabi SAW. riwayat Anas dinyatakan :" ‫, " آﺎد اﻟﻔﻘﺮ أن ﻳﻜﻮن آﻔﺮا‬Lihat Abu al-U’la Muhammad Abdurrahman ibn Abdurrahim al-Mubarakfuriy, Tuhafah al-Ahwadziy (Syarakh Jami’ alTurmudzi, Juz kesepuluh (Bairut Lebanon: Dar al-Fikri, 1424 H/2003 M), 50.. 3 Data tentang kemiskinan di Indonesia dapat disampaikan sebagai berikut : Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2006, sebagian besar (63,41 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Terjadi pergeseran posisi penduduk miskin dan hampir miskin selama periode Februari 2005Maret 2006. Sekitar 56,51 persen penduduk miskin pada bulan Februari 2005 tetap tergolong sebagai penduduk miskin pada Maret 2006, sisanya berpindah posisi menjadi tidak miskin. Sebaliknya, 30,29 persen

penduduk hampir miskin di bulan Februari 2005 jatuh menjadi miskin pada bulan Maret 2006. Pada saat yang sama, 11,82 persen penduduk hampir tidak miskin di bulan Februari 2005 juga jatuh menjadi miskin pada bulan Maret 2006. Bahkan 2,29 persen penduduk tidak miskin juga terjatuh menjadi miskin di bulan Maret 2006. Perpindahan posisi penduduk ini menunjukkan jumlah kemiskinan sementara (transient poverty) cukup besar. Berita Resmi Statistik No. 47 / IX / 1 September 2006, Tingkat Kemiskinan Di Indonesia Tahun 2005-2006, 1. Adapun program pengentasan kemiskinan, baik program Pemerintah maupun non Pemerintah dapat disampaikan sebagai berikut : 1) Untuk program Pemerintah antara lain Program Inpres Desa Tertinggal (IDT), Jaringan Pengaman Sosial (JPS), Program Pengentasan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), Program Kompensasi Kenaikan BBM berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Tidak Langsung (BTL) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Program Beras Miskin (Raskin), Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit Ketahanan

1

Pada dekade terakhir ini, kemiskinan menjadi topik yang dibahas dan diperdebatkan di berbagai forum nasional dan internasional, walaupun kemiskinan itu sendiri telah muncul ratusan tahun yang lalu. Fakta menunjukkan pembangunan yang telah dilakukan belum mampu meredam meningkatnya jumlah penduduk miskin di dunia, khususnya negara-negara berkembang. Diperkirakan ada yang kurang tepat dalam mamahami dan merumuskan serta implementasi kebijakan untuk memberantas kemiskinan dan memberdayakan penduduk miskin. Selama ini kemiskinan lebih sering dikaitkan dengan dimensi ekonomi karena dimensi inilah yang paling mudah diamati, diukur, dan diperbandingkan. Padahal kemiskinan berkaitan juga dengan berbagai dimensi lainnya, antara lain dimensi sosial, budaya, sosial politik, lingkungan (alam dan geografis), kesehatan, pendidikan, agama, dan budi pekerti. Menelaah kemiskinan secara multidimensional sangat diperlukan untuk memahami secara komprehensip sebagai pertimbangan perumusan kebijakan pengentasan kemiskinan. Naskah ini mencoba menelaah kemiskinan dari segi normatif tekstual, baik menurut konsep agama (Islam) maupun teori yang dikembangkan para pakar, dan dari segi empiris kontektual, yaitu mencoba memahami hasil-hali penelitian yang dilakukan oleh berbagai pihak. B. Kemiskinan dari Segi Normatif Tekstual Konsep tentang kemiskinan sangat beragam, mulai dari sekadar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan, kurangnya kesempatan berusaha, hingga pengertian yang lebih luas yang memasukkan aspek sosial dan moral. Misalnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan terkait dengan sikap, budaya hidup, dan lingkungan dalam suatu masyarakat atau yang mengatakan bahwa kemiskinan merupakan ketakberdayaan sekelompok masyarakat terhadap sistem yang diterapkan oleh suatu pemerintahan sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi (kemiskinan struktural). Tetapi pada umumnya, ketika orang berbicara tentang kemiskinan, yang dimaksud adalah kemiskinan material. Dengan pengertian ini, maka seseorang masuk dalam kategori miskin apabila tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan pokok untuk dapat hidup secara layak. Ini yang sering disebut dengan kemiskinan konsumsitif. Memang definisi ini sangat bermanfaat untuk mempermudah membuat indikator orang miskin, tetapi defenisi ini sangat kurang memadai karena; (1) tidak cukup untuk memahami realitas kemiskinan; (2) dapat menjerumuskan ke kesimpulan yang salah bahwa menanggulangi kemiskinan cukup hanya dengan menyediakan bahan makanan yang memadai; (3) tidak bermanfaat bagi pengambil keputusan ketika harus merumuskan kebijakan lintas sektor, bahkan bisa kontraproduktif. Kajian tentang pemahaman kemiskinan yang hakiki dan komprehensip sangat diperlukan untuk memahami dan mencari penjelasan agar tidak terjadi salah urus ketika berusaha menanggulanginya. Dalam bab ini penulis mencoba mengkaji konsep tersebut, baik yang berkaitan dengan hakikat pengertian kemiskinan, faktor dan indikatornya, dan bagaimana konsep pemberdayaan dan pengentasannya dalam perspektif agama (Islam) maupun bagaimana realitas yang
Pangan (KKP), Program Pengembangn Kecamatan (PPK), Proyek Padat Karya, Program Kesehatan keluarga Miskin (Gakin) dan lain-lain. 2) Untuk program non Pemerintah, antara lain ; Program Cepat Tanggap, Siaga Gizi Nusantara, Layanan Kesehatan Masyarakat (Dompet Dlu’afa’), Program Tali Kasih, Bedah Rumah, Uang Kaget, Lunas (Media Televisi), dan lain-lain.

2

terjadi di masyarakat. Untuk yang terakhir ini penulis mencoba mengurai hasilhasil penelitian yang pernah lakukan. 1. Konsep Kemiskinan Perspektif Agama a. Pengertian Kemiskinan Kemiskinan adalah akar kata dari miskin dengan awalan ke dan akhiran an yang menurut kamus bahasa Indonesia mempunyai persamaan arti dengan kefakiran yang berasal dari asal kata fakir dengan awalan ke dan akhiran an. Dua kata tersebut seringkali juga disebutkan secara bergandengan; fakir miskin dengan pengertian orang yang sangat kekurangan.4 Al-Qur’an memakai beberapa kata dalam menggambarkan kemiskinan, yaitu faqir, miskin, al-sail, dan al-mahrum, tetapi dua kata yang pertama paling banyak disebutkan dalam ayat al-Qur’an. Kata fakir dijumpa dalam al-Qur’an sebanyak 12 kali dan kata miskin disebut sebanyak 25 kali,5 yang masing-masing digunakan untuk pengertian yang bermacam-macam. Tentang dua golongan yang pertama; fakir dan iskin para ahli berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa dua golongan tersebut pada hakikatnya adalah sama. Demikian pendapat Abu Yusuf, pengikut Imam Abu Hanifah dan Ibnu Qasim pengikut Imam Malik.6 Berbeda dengan pendapat sebagian besar ulama, sebenarnya keduanya adalah dua golongan tetapi satu macam, yakni dalam hal kondisi kekurangan dan dalam kebutuhan. Para ahli tafsir dan ahli fikih juga berbeda pendapat dalam memberi definisi kedua kata tersebut. Yusuf Qardawi memberikan perumpamaan bahwa kedua kata tersebut seperti Islam dan Iman, kalau dikumpulkan terpisah, yakni masing-masing mempunyai arti tersendiri, dan jika dipisah terkumpul, yakni bila salah satu disebutkan sendirisendiri, masing-masing mempunyai arti buat kata lain yang sejajar.7
4 Dua kata : “fakir dan miskin” menurut kamus bahasa Indonesia sebenarnya mempunyai arti yang berbeda, fakir mempunyai dua pengetian; yaitu 1) orang yang sangat kekurangan; orang yang terlalu miskin. 2) orang yang sengaja membuat dirinya menderita kekurangan untuk mencapai kesempurnaan batin. Sedangkan miskin juga mempunyai pengertian; 1) tidak berharta benda, serba kekurangan, berpenghasilan rendah. Lihat Lukman Ali et.all., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Cetakan Ketujuh (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), 273 dan 660. 5 Ayat-ayat tentang fakir terdapat pada Qs. Faathir; 35: 15, al-Qashash; 28 : 24 , al-Baqarah ; 2 : 271, alBaqarah ; 2 : 273, al-Baqarah ; 2 : 268, Ali ‘Imran; 3 : ,al-Nisa’; 4 : 6 , al-Nisa’; 4 : 135, al-Taubah; 9 :, al-Hajj; 22 :, al-Nur; 24 : 12. Muhammad; 47 : , al-Hasyr; 59 : . Sedangkan ayat-ayat miskin terdapat pada Qs. al-Baqarah ; 2 : 184, al-Kahfi; 18 :, al-Rum; 30 :, al-Haqqah; 69 :, al-Mudatstsir; 74 :, al-Fajr; 89 :, al-Balad; 90 :, al-Ma’un; 107 :, alBaqarah; 2 :, Ali ’Imran; 3 :, al-Nisa’; 4 : 8, al-Nisa’; 4 : 36, al-Ma’idah; 5 : 89, al-Ma’idah; 5 : 95, al-Anfal; 8 :, alTaubah; 9 :, al-Isra’; 17 :, al-Nur; 24 :, al-Mujadalah; 58 :, al-Hasyr; 59 :, al-Qalam; 68 :, al-Insan; 76 : 6 Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, Cetakan keenam (Jakarta: Litera AntarNusa, 2002), 511. 7 Orientalis Josef Schacht dalam Ensiklopedi Islam mengatakan : “Perbedaan antara kata “fakir dan miskin” ialah perbedaan yang dipaksa-paksa dalam segala seginya. Para ulama fikih biasanya suku menafsirkan suatu definisi dan sering memasukkan diri mereka sendiri ke dalam salah satu kelompok itu.” Selanjutnya Yusuf Qardawi mengatakan sebagai umpan balik pernyataan Josef Schacht; kalau orang mempunyai sedikit saja etika kesarjanaan tidak akan mengeluarkan pernyataan kosong semacam itu. Orangorang semacam Sarkhasi dari kalangan Hanafi, Ibnu al-Arabi dari Maliki, Nawawi dari kalangan Syafi’i, Ibnu Qudamah dari Hambali atau Ibnu Hazm dari kalangan Zahiri dan ulama-ulama fikih yang lain dari kalangan mazhab –akan punya ambisi demikian supaya mereka memperoleh zakat atas nama kaum fakir atau orang miskin, dengan jalan mengubah pengertian-pengertian dan definisi itu dan supaya dengan demikian mereka memperoleh keuntungan materi. Ulama-ulama fikih itu sendiri dari kalangan berada yang malah mau berkorban, atau golongan miskin yang memang sudah tidak menginginkan harta (zakat). Jelas sekali ini dapat diketahui oleh mereka yang sudah mengenal riwayat hidup para ulama itu. Mengenai anggapannya tentang perbedaan yang dipaksa-paksakan, nampaknya dia tidak menyadari adanya perbedaan-perbedaan yang begitu mendetail antara istilah-istilah yang tergabung dalam satu ungkapan itu, Masalahnya adalah masalah linguistik, sebelum ia menjadi masalah hukum (fikih). Oleh karena itu, baik ahli bahasa dan ahli tafsir maupun

3

Raqib al-Isfahani (w. 502 H/1108 M)8, ahli fikih dan ahli tafsir, menyebutkan empat macam pengertian fakir. Pertama, fakir dalam arti orang yang memerlukan kebutuhan hidup yang primer, yaitu makanan, minuman, tempat tinggal, dan keamanan. Kedua, fakir dalam arti orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya yang primer, tetapi ia dapat menjaga dirinya dari meminta-minta. Ketiga, fakir dalam arti fakir jiwanya. Ini termasuk golongan fakir yang paling buruk karena dapat mendorong orang itu kepada kekafiran. Keempat, fakir dalam arti orang yang selalu merasa butuh kepada petunjuk dan bimbingan Tuhan, sehingga orang tersebut tidak merasa sombong. Pengertian fakir selanjutnya dibahas dalam ilmu fikih. Sayid Sabiq9, ahli fikih dari Mesir, mengatakan bahwa yang tergolong orang fakir adalah orang yang tidak memiliki harta sebanyak satu nisab (sejumlah minimal harta kekayaan yang harus dikeluarkan zakatnya dalam waktu tertentu). Ketentuan ini dapat dipahami dari hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Mu’az bin Jabal : ”Diambil dari harta orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir.”10 Dari hadis ini ulama fikih memahami bahwa orang-orang yang memiliki harta sebanyak satu nisab zakat telah dinamakan kaya, sedangkan yang memiliki harta kurang dari satu nisab zakat dinamakan fakir. Menurut Imam Abu Hanifah11, fakir adalah orang yang mempunyai harta kurang dari satu nisab atau mempunyai harta satu nisab atau lebih tetapi habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Adapun Imam Malik12 mengatakan bahwa fakir adalah orang yang mempunyai harta yang jumlahnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam masa satu tahun. Imam asy-Syafi’i13 mengatakan bahwa fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta dan usaha atau mempunyai harta dan usaha tetapi kurang dari setengah kebutuhan hidupnya dan tidak ada orang yang berkewajiban menanggung biaya hidupnya. Imam Ahmad bin Hanbal14 mengatakan bahwa fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta atau mempunyai harta tetapi kurang dari setengah keperluannya. Sebagaimana kata fakir, kata miskin pun mengalami pengertian yang bermacam-macam. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik mengatakan bahwa orang miskin adalah orang yang memiliki harta setengah dari kebutuhan hidupnya atau lebih tetapi tidak mencukupi.

ahli fikih sudah sama-sama mengadakan studi yang cukup mendalam mengenai masalah ini. Mereka sudah sepakat bahwa perbedaan pendapat dalam hal ini tak ada gunanya dalam arti zakat. Lihat Yusuf Qardawi, Ibid. 512. 8Al-Raghib al-Ashfahaniy, Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an (Beirut: Dar al-Fkr, tanpa tahun), 397-398. 9 Sayid Sabiq, Fikih Sunnah, Jilid I, Cetakan keempat (Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1983 M/1403 H), 324325. 10 Hadis tersebut merupakan tugas dari Rasulullah SAW yang diberikan kepada sahabat Mu’az bin Jabbal ketika menjadi gubernur di Yaman. Adapun naskah hadisnya berbunyi sebagai berikut : "‫"أﻋﻠﻤﻬﻢ أن ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺻﺪﻗﺔ ﺗﺆﺧﺬ ﻣﻦ أﻏﻨﻴﺎﺋﻬﻢ وﺗﺮد ﻋﻠﻰ ﻓﻘﺮﺋﻬﻢ‬ 11 Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Cetakan keempat (Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1997 M/1418 H), 1953. dan Abd. Rahman bin Muhammad ‘Awadl al-Jaziriy, al-Fiqh ‘ala Madzahib al-‘Arba’ah (Mesir: Dar Ibn al-Haitsam, tanpa tahun), 349. 12 Wahbah al-Zuhayli, Ibid. dan Abd. Rahman bin Muhammad ‘Awadl al-Jaziriy, Ibid, , 350. 13 Wahbah al-Zuhayli, Ibid, 1952. dan Abd. Rahman bin Muhammad ‘Awadl al-Jaziriy, Ibid, , 351. 14 Wahbah al-Zuhayli, Ibid. dan Abd. Rahman bin Muhammad ‘Awadl al-Jaziriy, Ibid.

4

Dari segi kekurangan harta yang dimilikinya dan kedudukannya sebagai salah satu penerima zakat tampak ada perbedaan. Sayid Sabiq15 mengatakan bahwa fakir miskin disebut secara bersamaan dengan menggunakan huruf waw al’ataf (kata sambung), sebagaimana dijumpai dalam surat at-Taubah (9) ayat 60, menunjukkan bahwa miskin adalah bagian dari fakir, atau orang miskin itu pada hakekatnya adalah orang fakir juga, tetapi ia memiliki ciri-ciri yang khusus. Dalam hadis Nabi SAW dijelaskan bahwa di antara ciri-ciri orang miskin itu adalah orang fakir yang enggan meminta-minta kepada orang lain: ”Orang miskin itu bukanlah orang yang engkau berikan sebutir atau dua butir kurma, sesuap atau dua suap makanan, melainkan orang miskin itu adalah orang yang memilihara dirinya dari meminta-minta” (HR. Abu Dawud)16. Dalam kaitan ini terdapat pula istilah as-sa’il dan al-mahrum, sebagaimana terdapat dalam surat az-Zariyat (51) ayat 19 yang artinya : ”Dan dari pada harta mereka ada hak orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” Kata as-sa’il pada ayat tersebut, menurut Syekh Muhammad Mustafa al-Maragi (1881-1945), ahli tafsir dari Mesir), adalah orang miskin yang meminta-minta, sedangkan kata al-mahrum adalah orang miskin yang tidak memiliki harta, tetapi ia tidak meminta-minta sehingga tidak diketahui di mana ia berada, dan karenanya ia tidak pula mendapat bagian dari zakat. Dari 12 kata ”fakir” yang terdapat dalam al-Qur’an, terdapat 7 kategori yang terkait dengan hukum. 1) Fakir yang tergolong sebagai orang yang berhak memperoleh bagian dari daging kurban yang dilakukan oleh orang yang mengerjakan beribadah haji (QS.22:28). 2) Fakir yang tergolong sebagai orang yang boleh memakan harta anak yatim yang diurusnya, dengan cara yang baik dan tidak melampaui batas (QS,4:6). 3) Fakir yang termasuk orang yang boleh menerima sedekah secara terang-terangan agar menjadi contoh bagi yang lain (QS,2:271). 4) Fakir yang tergolong sebagai orang yang berhak memperoleh santunan atau bantuan (QS,2:273). 5) Fakir yang termasuk salah seorang yang berhak menerima zakat (QS,9:60). 6) Fakir yang berhak mendapat bagian dari harta rampasan perang atau ganimah (QS,59:6). 7) Fakir yang berhak memperoleh pembelaan yang adil ketika ia melakukan pelanggaran yang tidak disengaja (QS,4:135). Adapun orang miskin memperoleh hak-hak sebagai berikut. Pertama, orang miskin yang termasuk salah seorang yang berhak memperoleh harta dari fidyah atau denda orang yang tidak dapat melaksanakan kewajiban agama karena uzur (QS,2:184). Kedua, orang miskin yang berhak mendapatkan perlindungan atas hak-haknya (QS,17:26). Ketiga, orang miskin yang berhak mendapatkan dana yang diperoleh dari kafarat yang dibayar oleh orang yang melakukan zihar (perkataan suami terhadap isterinya yang mengandung maksud menyamakan isterinya dengan ibunya sendiri) (QS,58:3-4). Keempat,
Sayid Sabiq, Loc. Cit. Hadis diriwayatkan oleh beberapa Imam Hadis sebagaimana terdapat pada beberapa koleksi hadisnya, antara lain Shahih al-Bukhari; 1382, Shahih Muslim; 1722, 1723, Sunan Abu Dawud; 1390, Sunan alNasa’i; 2524, 2525, 2526, Musnad Ahmad; 7225, 7840, 8748, 8777, 9370, 9422, 9510, 9687, 10165, Al-Muwaththo’; 1217, Sunan al-Darimi; 1564. Lihat Masu’ah al-Hadis al-Syarif, Cetakan kedua, 2000 (Jami’ al-Huquq Mahfudlah li Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah (Global IslamicSoftware Company), 1991-1997).
15 16

5

orang miskin yang mendapatkan dana yang diperoleh dari kafarat yang dibayar oleh orang yang melanggar sumpahnya secara sengaja (QS,5:58). Kelima orang miskin yang mendapatkan dana dari orang yang melanggar larangan pada waktu melakukan ihram (QS,5:95). Keenam, orang miskin yang termasuk salah seorang yang boleh menerima harta dari rampasan perang (QS,8:41). Ketujuh, orang miskin yang boleh menerima harta dari zakat (QS,9:60). b. Faktor dan Indikator Kemiskinan Menurut KH. Ali Yafie17 terdapat petunjuk dari salah satu hadis yang mengungkapkan sebab-sebab kemiskinan, yang berbunyi: ” ... aku mohon supaya Engkau (Tuhan) melindungi aku dari kelemahan (al-’ajz), kemalasan, ketakutan, kepelitan, terlilit hutang dan diperas atau dikuasai sesama manusia.” Di dalamnya tercantum hal-hal pokok yang menimbulkan kemiskinan yang memelaratkan, yaitu: Pertama : Kelemahan. Apakah itu kelemahan hati dan semangat, atau kelemahan akal dan ilmu, ataukah kelemahan fisik. Semua itu mengurangi daya pilih dan daya upaya manusia sehingga tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai pencipta dan pembangun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kedua : Kemalasan. Tidak diragukan lagi bahwa sifat ini merupakan pangkal utama dari kemiskinan. Penataan hidup sehari-hari yang diajarkan oleh Islam sangat bertolak belakang dengan sifat ini. Ketiga : Ketakutan. Hal ini pun jelas merupakan penghambat utama untuk mencapai suatu sukses dalam pekerjaan dan usaha. Keberhasilan seseorang dalam merintis ataupun melanjutkan sesuatu atau tugas banyak tergantung dari keberanian yang ada pada dirinya. Keempat : Kepelitan. Hal ini banyak bersangkutan dengan pihak si kaya, karena dengan sifat ini tanpa disadari kepelitannya itu membantu untuk tidak mengurangi kemiskinan, dan menempatkan dirinya menjadi sasaran untuk dibenci oleh si miskin. Kelima : Terlilit hutang. Terdapat banyak peringatan dari ajaran Islam untuk berhati-hati jangan sampai terjerat hutang-utang, karena hutang itu adalah sangat membelenggu kebebasan, baik di dunia maupun di akhirat. Apalagi orang yang sudah terbiasa dengan membiayai hidupnya dari hutang-hutang sulit sekali mengangkat dirinya dari lumpur kemiskinan. Keenam: Diperas atau dikuasai sesama manusia. Hal ini merupakan penyebab bagi timbulnya banyak penderitaan dan kemelaratan, baik pada tingkat perorangan maupun pada tingkat masyarakat, bangsa dan negara. Pemerasan manusia kuat menimbulkan sistem perbudakan, dan pemerasan manusia kaya menimbulkan sistem riba. Dan pemerasan pada tingkat masyarakat bangsa/negara menimbulkan sistem kapitalisme yang berkembang menjadi imperialisme. Kenyataan yang ada di negeri-negeri jajahan atau setengah jajahan membuktikan dengan jelas betapa besar kemiskinan yang memelaratkan

17

Ali Yafie, “Islam Dan Problema Kemiskinan ,“ Majalah Pesantren, No.2/VolIII/1986, 3.

6

masyarakat, berabad-abad lamanya sebagai akibat langsung dari sistem imperialisme itu. Menurut Dr. Saad IH,18 sebab-sebab terjadinya kemiskinan terkait dengan model interaksi antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya, dengan alam dan dengan masyarakatnya. Sebab-sebab kemiskinan yang berkaitan dengan kondisi alam terjadi bila dilakukan pola destruktif antara manusia dan alam seperti eksploitasi alam tanpa melakukan analisa dampak lingkungan, kecenderungan untuk menghabiskan seluruh potensi alam, keengganan mengadakan peremajaan demi kelanjutan alam, dan sebagainya. Akibat lebih lanjut dari pola interaksi demikian ialah terjadinya kemiskinan, baik secara langsung maupun tidak, baik generasi yang sedang eksis maupun generasi selanjutnya. Di sisi lain kondisi alam yang gersang dan tidak memiliki potensi yang bisa dikembangkan juga merupakan cobaan yang diberikan Tuhan kepada umat manusia sebagaimana yang dilukiskan al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 155. Sedang sebab-sebab kemiskinan yang berkaitan dengan kondisi manusia itu sendiri adalah kurangnya percaya pada kemampuannya, keengganan mengaktualisasikan potensi yang ada dalam bentuk kerja nyata yang serius, serta keengganan memberikan respek optimal terhadap perputaran waktu. Sedang salah satu sebab kemiskinan yang berkaitan dengan kondisi sosial, ialah terkonsentrasinya modal di tangan orang-orang kaya (konglomerat). Terkonsentrasinya modal di tangan mereka menyebabkan orang-orang fakir tidak memiliki kesempatan untuk mengaktualisasikan potensi-potensinya demi meraih prestasi di bidang ekonomi. Loekman Soetrisno19 mengutip pendapat Robert Chambers seorang ahli pembangunan pedesaan berkebangsaan Inggris, menyatakan bahwa kemiskinan yang dialami oleh rakyat negara sedang berkembang, khususnya rakyat pedesaan, disebabkan oleh beberapa faktor yang disebut sebagai ketidakberuntungan atau disadvantages yang saling terkait satu sama lain. Menurut Robert Chambers ada lima “ketidakberuntungan” yang melingkari kehidupan orang atau keluarga miskin, yaitu: Pertama, kemiskinan (poverty), situasi orang miskin mempunyai tanda-tanda sebagai berikut; Pertama, rumah mereka reot dan dibuat dari bahan bangunan yang bermutu rendah, perlengkapan yang sangat minim, tidak memiliki MCK sendiri. Ekonomi keluarga bercirikan gali lubang tutup lubang. Kedua, pendapatan mereka tidak menentu dan sangat rendah. Kedua, fisik yang lemah (physical weakness); kelemahan fisik keluarga miskin disebabkan oleh beberapa hal seperti tidak adanya seorang laki-laki sehat yang menjadi kepala keluarga, sehingga keluarga terpaksa dikepalai seorang perempuan yang di samping bekerja mengurusi pekerjaan rumah sehari-hari, juga harus bekerja untuk menghidupi keluarga. Akibatnya keluarga miskin lemah secara fisik akibat rendahnya
18 19

Dr. Saad IH (1997), Op.Cit., 75. Loekman Sutrisno, Kemiskinan, Perempuan, dan Pemberdayaan (Yogyakarta: Kanisius, 1997), 18.

7

gizi, beban kerja terlalu berat dan interaksi berbagai bibit macam penyakit akibat kemiskinan. Ketiga, keterasingan (isolation). Kelompok miskin dapat terasing karena tempat tinggalnya yang secara geografis terasing, atau karena mereka tidak memiliki akses terhadap sumber-sumber informasi. Keempat, kerentanan (vulnerability). Dalam menghadapi paceklik keluarga miskin mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka dengan menjual barang-barang yang dimiliki dan laku dijual, utang pada tetangga yang lebih mampu, atau mengurangi makan mereka baik dari segi jenis atau frekuensinya. Keadaan darurat membuat tidak hanya keluarga miskin menjadi lebih miskin, tetapi juga rawan dari berbagai macam penyakit, yang tidak jarang dapat membawa kematian. Kelima, ketidakberdayaan (powerlessness). Orang miskin tidak berdaya menghadapi rentenir atau orang-orang lain yang sering mengeksploitasi mereka. Mereka juga tidak berdaya menghadapi polisi atau aparat negara lain yang sering tidak ramah terhadap mereka. Oscar Lewis20 menyebutkan dalam kumpulan makalahnya bahwa kebudayaan kemiskinan dapat terwujud dalam berbagai konteks sejarah. Namun, lebih cenderung untuk tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat-masyarakat yang mempunyai seperangkat kondisikondisi seperti berikut: (1) sistem ekonomi uang, buruh upahan dan sistem produksi untuk keuntungan; (2) tetap tingginya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran bagi tenaga tak terampil; (3) rendahnya upah buruh; (4) tidak berhasilnya golongan berpenghasilan rendah, meningkatkan organisasi sosial, ekonomi dan politik secara sukarela maupun atas prakarsa pemerintah; (5) sistem keluarga bilateral lebih menonjol daripada sistem unilateral; dan akhirnya (6) kuatnya seperangkat nilai-nilai pada kelas yang berkuasa yang menekankan penumpukan harta kekayaan dan adanya kemungkinan mobilitas vertikal, dan sikap hemat, serta adanya anggapan bahwa rendahnya status ekonomi sebagai hasil ketidaksanggupan pribadi atau memang pada dasarnya sudah rendah kedudukannya. Menurut teori development of underdevelopment21 atau teori ketergantungan-dominasi (dominance-dependency) bahwa sebab-sebab kemiskinan dan keterbelakangan bukanlah sekedar faktor-faktor yang terdapat pada masyarakat yang bersangkutan seperti kurangnya modal, pendidikan yang rendah, kepadatan penduduk, kekurangan gizi dan lain sebagainya. Lebih dari itu faktor-faktor tersebut hanyalah merupakan atribut kemiskinan saja, tetapi kemiskinan itu sendiri berakar dari sejarah eksploitasi, terutama yang dilakukan oleh kekuatan kapitalis asing atau internasional yang melakukan penetrasi, dominasi dan pengerukan keuntungan dari daerah pinggiran ke pusat-pusat metropolis. c. Pemberdayaan dan Pengentasan Kemiskinan Allah SWT sesungguhnya telah menciptakan manusia, sekaligus menyediakan sarana-sarana untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan tidak hanya manusia; seluruh makhluk yang telah, sedang, dan akan diciptakan,
20 21

Parsudi Suparlan, Op. Cit., 5 M. Dawam Rahardjo, Esei-esei Ekonomi Politik (Jakarta: LP3ES, 1985), 8.

8

pasti Allah menyediakan rizki baginya. Tidaklah mungkin, Allah menciptakan berbagai makhluk, lalu membiarkan begitu saja tanpa menyediakan rizki bagi mereka (Qs. ar-Rûm [30]: 40) dan (Qs. Hûd [11]: 6). Jika demikian halnya, mengapa terjadi kemiskinan? Seolah-olah kekayaan alam yang ada, tidak mencukupi kebutuhan manusia yang populasinya terus bertambah. Dalam pandangan ekonomi kapitalis, problem ekonomi disebabkan oleh adanya kelangkaan barang dan jasa, sementara populasi dan kebutuhan manusia terus bertambah. Akibatnya, sebagian orang terpaksa tidak mendapat bagian, sehingga terjadilah kemiskinan. Pandangan ini jelas keliru, bathil, dan bertentangan dengan fakta. Secara i’tiqadiy, jumlah kekayaan alam yang disediakan oleh Allah SWT untuk manusia pasti mencukupi. Hanya saja, apabila kekayaan alam ini tidak dikelola dengan benar, tentu akan terjadi ketimpangan dalam distribusinya. Jadi, faktor utama penyebab kemiskinan adalah buruknya distribusi kekayaan. Di sinilah pentingnya keberadaan sebuah sistem hidup yang shahih dan keberadaan negara yang menjalankan sistem tersebut. Islam adalah sistem hidup yang shahih. Islam memiliki cara yang khas dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. Syariat Islam memiliki banyak hukum yang berkaitan dengan pemecahan masalah kemiskinan; baik kemiskinan alamiyah, kultural, maupun sruktural. Hanya saja, hukum-hukum itu tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki hubungan sinergis dengan hukum-hukum lainnya. Jadi, dalam menyelesaikan setiap masalah, termasuk kemiskinan, Islam menggunakan pendekatan yang bersifat terpadu. Bagaimana Islam mengatasi kemiskinan, dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Jaminan Pemenuhan Kebutuhan Primer Islam telah menetapkan kebutuhan primer manusia terdiri dari pangan, sandang, dan papan. Terpenuhi-tidaknya ketiga kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi penentu miskin-tidaknya seseorang. Sebagai kebutuhan primer, tentu pemenuhannya atas setiap individu, tidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu, Islam memberikan jaminan atas pemenuhan kebutuhan ini. Adanya jaminan pemenuhan kebutuhan primer bagi setiap individu, tidak berarti negara akan membagi-bagikan makanan, pakaian, dan perumahan kepada siapa saja, setiap saat. Sehingga terbayang, rakyat bisa bermalas-malasan karena kebutuhannya sudah dipenuhi. Ini anggapan yang keliru. Jaminan pemenuhan kebutuhan primer dalam Islam diwujudkan dalam bentuk pengaturan mekanisme-mekanisme yang dapat menyelesaikan masalah kemiskinan. Mekanisme tersebut adalah: a) Mewajibkan Laki-laki Memberi Nafkah Kepada Diri dan

Keluarganya.

Islam mewajibkan laki-laki yang mampu dan membutuhkan nafkah, untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhannya (Qs. al-Mulk[67]: 15). Dan banyak hadis Nabi SAW yang

9

b) Mewajibkan Kerabat Dekat untuk Membantu Saudaranya

menaruh perhatian dalam anjuran bekerja untuk memenuhi kebutuha rumah tangganya.22 Ayat dan hadits di atas menunjukan adanya kewajiban bagi lakilaki untuk bekerja mencari nafkah. Bagi para suami, syara’ juga mewajibkan mereka untuk memberi nafkah kepada anak dan istrinya (Qs. al-Baqarah [2]: 233) Dan (Qs. ath-Thalâq [65]: 6). Jadi jelas, kepada setiap laki-laki yang mampu bekerja, pertama kali Islam mewajibkan untuk berusaha sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Adapun terhadap wanita, Islam tidak mewajibkan mereka untuk bekerja, tetapi Islam mewajibkan pemberian nafkah kepada mereka. Realitas menunjukkan bahwa tidak semua laki-laki punya kemampuan untuk bekerja mencari nafkah. Mereka kadang ada yang cacat mental atau fisik, sakit-sakitan, usianya sudah lanjut, dan lain-lain. Semua ini termasuk ke dalam orang-orang yang tidak mampu bekerja. Jika demikian keadaannya lalu siapa yang akan menanggung kebutuhan nafkahnya? Dalam kasus semacam ini, Islam mewajibkan kepada kerabat dekat yang memiliki hubungan darah, untuk membantu mereka (Qs. alBaqarah [2]: 233). Maksudnya, seorang waris berkewajiban sama seperti seorang ayah, dari segi nafkan dan pakaian. Yang dimaksud waris di sini, bukan berarti orang yang secara langsung bisa mewarisi. Melainkan, yang dimaksud adalah siapa saja yang berhak mendapatkan waris.23 Jadi jelas, jika seseorang secara pribadi tidak mampu memenuhi kebutuhannya, karena alasan-alasan di atas, maka kewajiban memenuhi nafkah, beralih ke kerabat dekatnya. Jika kerabat dekat diberi kewajiban untuk membantu saudaranya yang tidak mampu, bukankah hal ini akan menyebabkan kemiskinan para keluarganya dan dapat berdampak pada menurunnya taraf kehidupan mereka? Tidak dapat dikatakan demikian! Sebab, nafkah tidak diwajibkan oleh syara’ kepada keluarga, kecuali apabila terdapat kelebihan harta. Orang yang tidak memiliki kelebihan, tidak wajib baginya memberi nafkah. Sebab, memberi nafkah tidak wajib kecuali atas orang yang mampu memberinya. Orang yang mampu menurut syara’ adalah orang yang memiliki harta lebih dari kebutuhan-kebutuhuan primer (al-hajat

22 Hadis diriwayatkan oleh beberapa Imam Hadis sebagaimana terdapat pada beberapa koleksi hadisnya, antara lain Shahih al-Bukhari; 1377, Shahih Muslim; 1727, 1728, Sunan al-Turmudzi; 616, Sunan alNasa’i; 2524, Musnad Ahmad; 7016, 7177, 7646, 8771, 9053, 9490, 9766, 10033, 1588. Lihat Masu’ah al-Hadis alSyarif, Cetakan kedua, 2000 (Jami’ al-Huquq Mahfudlah li Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah (Global IslamicSoftware Company), 1991-1997). 23Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzamul Iqtishadi fil Islam,. (Beirut Lebanon: Daarul Ummah, 1990) Cetakan keempat , 210.

10

c) Mewajibkan Negara untuk Membantu Rakyat Miskin

al-asasiyah), dan kebutuhan pelengkap (al-hajat al-kamaliyah), menurut standart masyarakat sekitarnya. 24 Yang dimaksud al-Ghina (selebihnya keperluan) di sini adalah harta di mana manusia (dengan keadaan yang dimilkinya) sudah tidak butuh lagi apa-apa buat mencukupi level pemenuhan kebutuhan primer (al-hajat al-asasiyah), dan kebutuhan pelengkap (al-hajat al-kamaliyah), menurut standart masyarakat sekitarnya.25

d) Mewajibkan Kaum Muslim untuk Membantu Rakyat Miskin Apabila di dalam Baitul Mal tidak ada harta sama sekali, maka kewajiban menafkahi orang miskin beralih ke kaum Muslim secara kolektif (Qs. adz-Dzariyat [51]: 19). Rasulullah Saw juga bersabda: “Siapa saja yang menjadi penduduk suatu daerah, di mana di antara mereka terdapat seseorang yang kelaparan, maka perlindungan Allah Tabaraka Wata’ala terlepas dari mereka.” [HR. Imam Ahmad]. “Tidaklah beriman kepada-Ku, siapa saja yang tidur kekenyangan, sedangkan tetangganya kelaparan, sementara dia mengetahuinya.” [HR. alBazzar]. Secara teknis, hal ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, kaum Muslim secara individu membantu orang-orang yang miskin. Kedua, negara mewajibkan dharibah (pajak) kepada orang-orang kaya, hingga mencukupi kebutuhan untuk membantu orang miskin. Jika, dalam jangka waktu tertentu, pajak tersebut tidak diperlukan lagi, maka pemungutannya oleh negara harus dihentikan. Demikianlah mekanisme bagaimana Islam mengatasi masalah kemiskinan secara langsung. Pertama, orang yang
24 Ada beberapa Hadis yang dapat dipakai sebagai dasar, antara lain; hadis tentang “Sedekah yang baik adalah harta yang berasal dari selebihnya keperluan” : Shahih al-Bukhari; 1338, Shahih Muslim; 1716, 1717, Sunan al-Turmudzi; 2389, Sunan al-Nasa’i; 2484, 2487, 2496, 2497, 2554, 2555, 2556, Musnad Ahmad; 2858, 7044, 7120, 7414, 8348, 8388, 8759, 8855, 9240, 9784, 9833, 10107. Lihat Masu’ah al-Hadis al-Syarif, Cetakan kedua, 2000 (Jami’ al-Huquq Mahfudlah li Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah (Global IslamicSoftware Company), 1991-1997). 25Al-Maliki, Abdurahman., as-Siyasatu al-Iqtishadiyahtu al-Mutsla, hal. 176. 1963. 26 Ada beberapa Hadis yang dapat dipakai sebagai dasar, antara lain; Shahih al-Bukhari; 2133, 2223, 2224, 4408, 4952, 6234, 6248, 6266 Shahih Muslim; 3040, 4041, 4042, 4043 Sunan al-Turmudzi; 990, 2016, Sunan al-Nasa’i; 1937, Sunan Abu Dawud; 2566, Sunan Ibn Majah; 2406, Musnad Ahmad; 7523, 7558, 7888, 8066, 8319, 8593, 8819, 9438, 9471, 9497, 9604, 10396, Sunan al-Darimi; 2481. Lihat Masu’ah al-Hadis al-Syarif, Cetakan kedua, 2000 (Jami’ al-Huquq Mahfudlah li Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah (Global IslamicSoftware Company), 1991-1997).

Bagaimana jika seseorang yang tidak mampu tersebut tidak memiliki kerabat? Atau dia memiliki kerabat, akan tetapi hidupnya pas-pasan? Dalam kondisi semacam ini, kewajiban memberi nafkah beralih ke Baitul Mal (kas negara). Dengan kata lain, negara melalui Baitul Mal, berkewajiban untuk memenuhi kebutuhannya. 26 Yang dimaksud kalla adalah oang yang lemah, tidak mempunyai anak, dan tidak mempunyai orang tua. Anggaran yang digunakan negara untuk membantu individu yang tidak mampu, pertamatama diambilkan dari kas zakat (Qs. at-Taubah [9]: 60). Apabila harta zakat tidak mencukupi, maka negara wajib mencarinya dari kas lain, dari Baitul Mal.

11

bersangkutan diwajibkan untuk mengusahakan nafkahnya sendiri. Apabila tidak mampu, maka kerabat dekat yang memiliki kelebihan harta wajib membantu. Apabila kerabat dekatnya tidak mampu, atau tidak mempunyai kerabat dekat, maka kewajiban beralih ke Baitul Mal dari kas zakat. Apabila tidak ada, wajib diambil dari Baitul Mal, dari kas lainnya. Apabila tidak ada juga, maka kewajiban beralih ke seluruh kaum Muslim. Secara teknis, hal ini dapat dilakukan dengan cara kaum Muslim secara individu membantu orang yang miskin; dan negara memungut dharibah (pajak) dari orang-orang kaya, hingga mencukupi. 2) Pengaturan Kepemilikan Pengaturan kepemikikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan masalah kemiskinan dan upaya untuk mengatasinya. Syariat Islam telah mengatur masalah kepemilikan ini, sedemikian rupa sehingga dapat mencegah munculnya masalah kemiskinan. Bahkan, pengaturan kepemilikan dalam Islam, memungkinkan masalah kemiskinan dapat diatasi dengan sangat mudah. Pengaturan kepemilikan yang dimaksud mencakup tiga aspek, yaitu jenis-jenis kepemilikan, pengelolaan kepemilikan, dan pendistribusian kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana pengaturan kepemilikan ini dapat mengatasi masalah kemiskinan, dapat dijelaskan secara ringkas sebagai merikut.

a) Jenis-jenis Kepemilikan

Syariat Islam mendefinisikan kepemilikan sebagai izin dari as-Syari’ (Pembuat Hukum) untuk memanfaatkan suatu zat atau benda. Terdapat tiga macam kepemilikan dalam Islam, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Kepemilikan individu adalah izin dari Allah SWT kepada individu untuk memanfaatkan sesuatu. Allah SWT telah memberi hak kepada individu untuk memiliki harta baik yang bergerak maupun tidak bergerak. Tentu sepanjang harta tersebut diperoleh melalui sebab-sebab yang dibolehkan, misalnya: hasil kerja, warisan, pemberian negara, hadiah, dan lain-lain. Adanya kepemilikan individu ini, menjadikan seseorang termotivasi untuk berusaha mencari harta, guna mencukupi kebutuhannya. Sebab, secara naluriah, manusia memang memiliki keinginan untuk memiliki harta. Dengan demikian, seseorang akan berusaha agar kebutuhannya tercukupi. Dengan kata lain, dia akan berusaha untuk tidak hidup miskin. Kepemilikan Umum adalah izin dari Allah SWT kepada jamaah (masyarakat) untuk secara bersama-sama memanfaatkan sesuatu. Aset yang tergolong kepemilikan umum ini, tidak boleh sama sekali dimiliki secara individu, atau dimonopoli oleh sekelompok orang. Aset yang termasuk jenis ini adalah: pertama, segala sesuatu yang menjadi kebutuhan vital masyarakat, dan akan

12

b) Pengelolaan Kepemilikan

menyebabkan persengkataan jika ia lenyap,27 misalnya: padang rumput, air, pembangkit listrik, dan lain-lain; kedua, segala sesuatu yang secara alami tidak bisa dimanfaatkan hanya oleh individu,28 misalnya: sungai, danau, laut, jalan umum, dan lain-lain; ketiga, barang tambang yang depositnya sangat besar, misalnya: emas, perak, minyak, batu bara, dan lain-lain. Dalam prakteknya, kepemilikan umum ini dikelola oleh negara, dan hasilnya (keuntungannya) dikembalikan kepada masyarakat. Bisa dalam bentuk harga yang murah, atau bahkan gratis, dan lain-lain. Adanya pengaturan kepemilikan umum semacam ini, jelas menjadikan aset-aset startegis masyakat dapat dinikmati bersama-sama. Tidak dimonopoli oleh seseorang atau sekelompok orang, sehingga yang lain tidak memperoleh apa-apa; sebagaimana yang tejadi dalam sistem kapitalis. Dengan demikian masalah kemiskinan dapat dikurangi, bahkan diatasi dengan adanya pengaturan kepemilikan umum semacam ini. Kepemilikan Negara adalah setiap harta yang menjadi hak kaum Muslim, tetapi hak pengelolaannya diwakilkan pada Khalifah (sesuai ijtihadnya) sebagai kepala negara Aset yang termasuk jenis kepemilikan ini di antaranya adalah: fa’i, kharaj, jizyah, atau pabrik-pabrik yang dibuat negara, misalnya, pabrik mobil, mesin-mesin, dan lain-lain. Adanya kepemilikan negara dalam Islam, jelas menjadikan negara memiliki sumber-sumber pemasukan, dan aset-aset yang cukup banyak. Dengan demikian negara akan mampu menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pengatur urusan rakyat. Termasuk di dalamnya adalah memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan rakyat miskin.

Pengelolaan kepemilikan dalam Islam mencakup dua aspek, yaitu pengembangan harta (tanmiyatul Mal) dan penginfaqkan harta (infaqul Mal). Baik pengembangan harta maupun penginfaqkan harta, Islam telah mengatur dengan berbagai hukum. Islam, misalnya, melarang seseorang untuk mengembangkan hartanya dengan cara ribawi, atau melarang seseorang bersifat kikir, dan sebagainya. Atau misalnya, Islam mewajibkan seseorang untuk menginfaqkan (menafkahkan) hartanya untuk anak dan istrinya, untuk membayar zakat, dan lain-lain. Jelaslah, bahwa dengan adanya pengaturan pengelolaan kepemilikan, akan menjadikan harta itu beredar, perekonomian menjadi berkembang, dan kemiskinan bisa diatasi.

Rasulullah bersabda: “Manusia berserikat dalam tiga perkara, yaitu air, padang rumput, dan api”. Hadis Rasulullah: ‫( ﻻ ﺣﻤﻰ إﻻ اﷲ وﻟﺮﺳﻮﻟﻪ‬Tidak ada pagar pembatas kecuali bagi Allah dan Rasul-Nya) Artinya tidak ada hak bagi seorang pun untuk membuat batas atau pagar atas segala sesuatu yang diperuntukkan bagi masyarakat. Hadis tersebut dapat dilihat di Shahih al-Bukhari; 991, Shahih Muslim; 3281, 3282, 3283 Sunan al-Turmudzi; 1495, Sunan Abu Dawud; 2298, 2679, 2680, Sunan Ibn Majah; 2829, Musnad Ahmad; 15827, 16061, 16085. Lihat Masu’ah al-Hadis al-Syarif, Cetakan kedua, 2000 (Jami’ al-Huquq Mahfudlah li Syirkah alBaramij al-Islamiyah al-Dauliyah (Global IslamicSoftware Company), 1991-1997).
27 28

13

Buruknya distribusi kekayaan di tengah-tengah masyarakat telah menjadi faktor terpenting penyebab terjadinya kemiskinan. Oleh karena itu, masalah pengaturan distribusi kekayaan ini, menjadi kunci utama penyelesaian masalah kemiskinan. Dengan mengamati hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan masalah ekonomi, akan kita jumpai secara umum hukum-hukum tersebut senatiasa mengarah pada terwujudnya distribusi kekayaan secara adil dalam masyarakat. Apa yang telah diuraikan sebelumnya tentang jenis-jenis kepemilikan dan pengelolaan kepemilikan, jelas sekali, secara langsung atau tidak langsung mengarah kepada terciptanya distribusi kekayaan. Kita juga dapat melihat, misalnya, dalam hukum waris. Secara rinci syariat mengatur kepada siapa harta warisan harus dibagikan. Jadi seseorang tidak bisa dengan bebas mewariskan hartanya kepada siapa saja yang dikehendaki. Sebab, bisa berpotensi pada distribusi yang tidak adil. Lebih dari itu, negara berkewajiban secara langsung melakukan pendistribusian harta kepada individu rakyat yang membutuhkan. Misalnya, negara memberikan sebidang tanah kepada soseorang yang mampu untuk mengelolanya. Bahkan setiap individu berhak menghidupkan tanah mati, dengan menggarapnya; yang dengan cara itu dia berhak memilikinya. Sebaliknya, negara berhak mengambil tanah pertanian yang ditelantarkan pemiliknya selama tiga tahun berturut-turut. Semua itu menggambarkan, bagaimana syariat Islam menciptakan distribusi kekayaan, sekaligus menciptakan produktivitas sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, yang dengan sendirinya dapat mengatasi masalah kemiskinan. 3) Penyediaan Lapangan Kerja Menyediakan lapangan pekerjaan merupakan kewajiban negara. Hal ini menyandar pada keumuman hadits Rasululah Saw.29 Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah memberikan dua dirham kepada seseorang. Kemudian Beliau Saw bersabda: “Makanlah dengan satu dirham, sisanya belikan kapak, lalu gunakan ia untuk bekerja.” Demikianlah, ketika syariat Islam mewajibkan seseorang untuk memberi nafkah kepada diri dan keluarganya, maka syariat Islam pun mewajibkan negara untuk menyediakan lapangan pekerjaan. Dengan cara ini, setiap orang akan produktif, sehingga kemiskinan dapat teratasi.

c) Distribusi Kekayaan di Tengah-tengah Masyarakat

29 Hadis tersebut dapat dilihat di Shahih al-Bukhari; 844, Shahih Muslim; 3408 Sunan al-Turmudzi; 1627, Sunan Abu Dawud; 2539, Sunan Ibn Majah; 2829, Musnad Ahmad; 4266, 4920, 5603, 5635, 5753. Lihat Masu’ah alHadis al-Syarif, Cetakan kedua, 2000 (Jami’ al-Huquq Mahfudlah li Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah (Global IslamicSoftware Company), 1991-1997).

14

4) Penyediaan Layanan Pendidikan Masalah kemiskinan sering muncul akibat rendahnya kualitas sumberdaya manusia, baik dari sisi kepribadian maupun ketrampilan. Inilah yang disebut dengan kemiskinan kultural. Masalah ini dapat diatasi melalui penyediaan layana pendidikan oleh negara. Hal ini dimungkinkan, karena pendidikan dalam Islam mengarah pada dua kualifikasi penting, yaitu terbentuknya berkepribadian Islam yang kuat, sekaligus memiliki ketrampilan untuk berkarya. Syariat Islam telah mewajibkan negara untuk menyediakan layanan pendidikan secara cuma-cuma kepada rakyat. Sebab, pendidikan memang merupakan kebutuhan dasar bagi setiap individu rakyat. Layanan pendidikan ini akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, dan selanjutnya akan mewujudkan individuindividu yang kreatif, onovatif, dan produktif. Dengan demkian kemiskinan kultural akan dapat teratasi. Keberhasilan Islam Dalam Mengatasi Kemiskinan Solusi yang ditawarkan Islam dalam mengatasi kemiskinan, sebagimana yang telah diuraikan di atas, bukanlah sesuatu yang menarik sebatas dalam tataran konsep semata. Perjalanan panjang sejarah kaum Muslim, membuktikan bahwa solusi tersebut benarbenar dapat realisasikan. Yaitu ketika kaum Muslim hidup di bawah naungan Negara Khilafah yang menerapkan Islam secara kaffah. Dalam kitab al-Amwaal karangan Abu Ubaidah, diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khathab pernah berkata kepada pegawainya yang bertugas membagikan shadaqah: “Jika kamu meberikan, maka cukupkanlah”, selanjutnya berkata lagi: “Berilah mereka itu sedekah berulangkali sekalipun salah seorang diantara mereka memiliki seratus onta.”30 Beliau menerapkan politik ekonomi yang memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan primer rakyat. Beliau mengawinkan kaum Muslim yang tidak mampu; membayar hutang-hutang mereka, dan memberikan biaya kepada para petani agar mereka menanami tanahnya. Kodisi politik seperti ini terus berlangsung hingga masa Daulah Umayah di bawah pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada saat itu rakyat sudah sampai pada taraf hidup dimana mereka tidak memerlukan bantuan harta lagi. Pada tahun kedua masa kepemimpinannya, Umar bin Abdul Aziz menerima kelebihan uang Baitul Mal secara berlimpah dari gubernur Irak. Beliau lalu mengirim surat kepada gubernur tersebut: “Telitilah, barang siapa berhutang, tidak berlebih-lebihan dan foya-foya, maka bayarlah hutangnya.” Kemudian gubernur itu mengirim jawaban kepada beliau: “Sesungguhnya aku telah melunasi hutang orang-orang yang mempunyai tanggungan hutang, sehingga tidak ada seorang pun di Irak yang masih mempunyai hutang, maka apa yang harus aku perbuat terhadap sisa harta ini?” Umar bin Abdul Aziz mengirimkan jawaban: “Lihatlah setiap jejaka yang belum menikah, sedangkan dia menginginkan menikah, kawinkanlah dia dan bayar mas kawinnya”
30 Abdurrahman al-Bagdadi, Ulama dan Penguasa di Masa Kejayaan dan Kemunduran, (Jakarta: Gema Insani Press, 1988), 38.

15

Gubernur itu mengirimkan berita lagi bahwa dia sudah melaksanakan semua perinahnya, tetapi harta masih juga tersisa. Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz mengirimkan surat lagi kepadanya: “Lihatlah orangorang Ahlu adz-Dzimmah31 yang tidak mempunyai biaya untuk menanami tanahnya, berilah dia apa-apa yang dapat mensejahterakannya.” Dalam kesempatan lain, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pegawainya untuk berseru setiap hari di kerumunan khalayak ramai, untuk mencukupi kebutuhannya masing-masing. “Wahai manusia! Adakah diantara kalian orang-orang yang miskin? Siapakah yang ingin kawin? Kemanakah anak-anak yatim?” Ternyata, tidak seorang pun datang memenuhi seruan tersebut.32 Jaminan pemenuhan kebutuhan hidup ini, tidak hanya diberikan kepada kaum Muslim, tetapi juga kepada orang nonMuslim. Dalam hal ini, orang-orang non-Muslim yang menjadi warga negara Daulah Khilafah, mempunyai hak yang sama dengan orang Muslim, tanpa ada perbedaan. Sebagai contoh, dalam aqad dzimmah yang ditulis oleh Khalid bin Walid untuk menduduk Hirah di Irak yang beragama Nasrani, disebutkan: “Saya tetapkan bagi mereka, orang yang lanjut usia yang sudah tidak mampu bekerja atau ditimpa suatu penyakit, atau tadinya kaya kemudian jatuh miskin, sehingga teman-temannya dan para penganut agamanya memberi sedekah; maka saya membebaskannya dari kewajiban membayar jizyah. Dan untuk selajutnya dia beserta keluarga yang menjadi tanggungannya, menjadi tanggungan Baitul Mal kaum Muslim .”33 Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq ra. Umar bin Khatab ra. pernah menjumpai seorang Yahudi tua yang sedang mengemis. Ketika ditanyakan kepadanya, ternyata usia tua dan kebutuhan telah mendesaknya untuk berbuat demikian. Umar segera membawanya kepada bendahara Baitul Mal dan memerintahkan agar detapkan bagi orang itu, dan orang-orang seperti dia, sejumlah uang dari Baitul Mal yang cukup baginya dan dapat memperbaiki keadaanya. Umar berkata: “Kita telah bertindak tidak adil terhadapnya, menerima pembayaran jizyah darinya kala dia masih muda, kemudian menelantarkannya kala dia sudah lajut usia.”34 Demikianlah beberapa gambaran sejarah kaum Muslim, yang menunjukkan betapa Islam yang mereka terapkan ketika itu benar-benar membawa keberkahan dan kesejahteraan hidup. Bukan hanya bagi umat Muslim tapi juga bagi umat non-Muslim yang hidup di bawah naungan Islam. Islam bukanlah agama ritual semata, melainkan sebuah ideologi. Sebagai sebuah ideologi yang shahih, tentu Islam memiliki cara-cara yang lengkap untuk mengatasi berbagai problematika manusia, termasuk problem kemiskinan. Dari pebahasan ini, tampak bagaimana kehandalan Islam dalam mengatasi problem kemiskinan. Apabila saat ini kita menyaksikan banyak kemiskinan yang justru
Orang non-Muslim yang hidup di bawah naungan Negara Khilafah. Op.Cit. hal. 39. 33 Abu Yusuf , al-Kharaj, (Bairut Lebanon: Dar al-Ma’rifah, t.t.) 144. 34 Ibid, hal. 126.
31 32

16

melanda umat Islam, hal itu disebabkan karena mereka tidak hidup secara Islam. Sistem hidup selain Islam-lah (Kapitalis, Sosialis/Komunis) yang mereka terapkan saat ini, sehingga meskipun kekayaan alamnya melimpah, tetap saja hidup dalam kemiskinan (Qs. Thahâ [20]: 124). Para mufasir menyatakan banyak sebab yang membawa orang jadi miskin. Pertama, sikap mental yang malas dan tidak ada gairah kerja. Cara mengatasinya dengan mendorong mereka agar bekerja keras untuk mengubah nasibnya (QS,13:11). Kedua, kurangnya perhatian orang kaya terhadap orang miskin. Cara mengatasinya dengan menyadarkan orang kaya agar membantu orang miskin, misalnya dengan mengeluarkan zakat (QS,9:60). Selain itu, cara mengatasinya dengan memberlakukan denda kepada setiap orang yang melakukan pelanggaran syariat, seperti orang yang berayt menjalankan puasa di bulan Ramadan, orang yang melanggar sumpah secara sengaja, orang yang membunuh bunatang buruan pada waktu ihram, dan orang yang melakukan zihar. Hasilnya digunakan untuk mengatasi kemiskinan. Ketiga, ketamakan orang kaya terhadap harta tanpa memperhatikan nasib orang yang kurang mampu. Untuk mengatasinya perlu dianjurkan agar mereka berlaku adil dan berbuat baik, sebagaimana dianjurkan dalam surat al-Qasas (28) ayat 77. Menurut Imam al-Gazali (tokoh fikih Mazhab Syafi’i), yang dimaksud dengan berbuat adil dalam ayat tersebut adalah perlakuan yang baik dari orang kaya terhadap orang miskin. Untuk ini al-Gazali menawarkan tiga hal. Pertama, berkaitan dengan sikap baik dari tengkulak ketika membeli barang orang miskin: tengkulak tidak terlalu mempersiulit orang miskin itu dengan menuntut kualitas yang terlalu tinggi untuk merendahkan komoditas dagangannya. Kedua, dalam berjualan dan bermuamalah dengan orang miskin sebaiknya diniatkan untuk membantu mereka. Misalnya, apabila mereka berutang dan belum dapat membayar, maka hendaknya diberikan kelonggaran sampai ia dpat membayarnya. Ketiga, hendaknya didasarkan pada kerja sama yang saling menguntungkan. Cara lain yang dapat digunakan untuk mengatasi kemiskinan, sebagaimana dikemukakan S. Waqar Husaini (ahli sosiologi hukum Islam dari Mesir), adalah dengan memanfaatkan dana sosial yang diperoleh dari pajak yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup kaum yang lemah, kurang mampu, cacat fisik dan mental, para penganggur, para pelajar yang kekurangan biaya, dan sebagainya. Selain itu dapat pula dilakukandengan membatasi perputaran harta agar tidak hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja. Dapat pula dengan cara pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan yang menguntungkan semua pihak, misalnya para pemilik modal mempekerjakan masyarakat untuk mengolah modalnya.

17

2. Konsep Kemiskinan Perspektif Para Pakar a. Pengertian Kemiskinan Dalam arti proper kemiskinan dipahami sebagai keadaan kekurangan uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup. Dalam arti luas, kemiskinan merupakan suatu fenomena multi face atau multidimensional.35 Chambers (dalam Nasikun)36 mengatakan bahwa kemiskinan adalah suatu integrated concept yang memiliki lima dimensi, yaitu: 1) kemiskinan ( proper), 2) ketidakberdayaan ( powerless), 3) kerentanan menghadapi situasi darurat ( state of emergency), 4) ketergantungan ( dependence), dan 5) keterasingan ( isolation) baik secara geografis maupun sosiologis. Hidup dalam kemiskinan bukan hanya hidup dalam kekurangan uang dan tingkat pendapatan rendah, tetapi juga banyak hal lain, seperti: tingkat kesehatan, pendidikan rendah, perlakuan tidak adil dalam hukum, kerentanan terhadap ancaman tindak kriminal, ketidakberdayaan menghadapi kekuasaan, dan ketidakberdayaan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri.37 Kemiskinan dapat dibagi dalam empat bentuk, yaitu:38 1) Kemiskinan absolut: bila pendapatannya di bawah garis kemiskinan atau tidak cukup untuk memenuhi pangan, sandang, kesehatan, perumahan, dan pendidikan yang diperlukan untuk bisa hidup dan bekerja. 2) Kemiskinan relatif: kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat, sehingga menyebabkan ketimpangan pada pendapatan. 3) Kemiskinan kultural: mengacu pada persoalan sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya, seperti tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupan, malas, pemboros, tidak kreatif meskipun ada bantuan dari pihak luar. 4) Kemiskinan struktural: situasi miskin yang disebabkan karena rendahnya akses terhadap sumber daya yang terjadi dalam suatu sistem sosial budaya dan sosial politik yang tidak mendukung pembebasan kemiskinan, tetapi seringkali menyebabkan suburnya kemiskinan. Perkembangan terakhir, menurut Jarnasy39 kemiskinan struktural lebih banyak menjadi sorotan sebagai penyebab tumbuh dan berkembangnya ketiga kemiskinan yang lain. Kemiskinan juga dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kemiskinan alamiah dan kemiskinan buatan ( artificial).40 a. Kemiskinan alamiah berkaitan dengan kelangkaan sumber daya alam dan prasarana umum, serta keadaan tanah yang tandus.

35 Nasikun. Diktat Mata Kuliah. Isu dan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan. Magister Administrasi Publik. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 2001. 36 Ibid 37 Ibid 38 Ibid. 39 Jarnasy, Owin. Keadilan, Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan, (Jakarta: Belantika, 2004), 40Mas’oed, M., Politik, Birokrasi dan Pembangunan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 1997),

18

b. Kemiskinan buatan lebih banyak diakibatkan oleh sistem modernisasi atau pembangunan yang membuat masyarakat tidak dapat menguasai sumber daya, sarana, dan fasilitas ekonomi yang ada secara merata. Ciri-ciri kelompok (penduduk) miskin yaitu: 1) rata-rata tidak mempunyai faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, peralatan kerja, dan keterampilan, 2) mempunyai tingkat pendidikan yang rendah, 3) kebanyakan bekerja atau berusaha sendiri dan bersifat usaha kecil (sektor informal), setengah menganggur atau menganggur (tidak bekerja), 4) kebanyakan berada di pedesaan atau daerah tertentu perkotaan ( slum area), dan 5) kurangnya kesempatan untuk memperoleh (dalam jumlah yang cukup): bahan kebutuhan pokok, pakaian, perumahan, fasilitas kesehatan, air minum, pendidikan, angkutan, fasilitas komunikasi, dan kesejahteraan sosial lainnya.41 Strategi untuk mengatasi kemiskinan tidak lepas dari strategi pembangunan yang dianut suatu negara. Program-program yang telah dilakukan untuk memerangi kemiskinan seringkali tidak memberikan hasil yang menggembirakan karena adanya perangkap kemiskinan ( poverty trap) yang tidak berujung pangkal, seperti tercantum pada skema 1 (modifikasi).42 Skema 1. Perangkap Kemiskinan (Poverty Trap) 43
Penduduk miskin (Sosial ekonomi rendah) à pendapatan rendah Daya beli barang dan jasa umum serta (termasuk gizi dan pelayanan kesehatan) rendah Pangan Kesehatan Perumahan (Lingkungan) Pendidikan (rendah / tidak layak)

Produktivitas masyarakat dan negara (rendah) Hasil ( output) Prestasi sekolah

Status kesehatan dan status gizi rendah

Partisipasi (rendah) Absensi (meningkat) Kecerdasan dan Keterampilan (rendah)

Morbiditas Mortalitas (tinggi)

Berikut penulis mencoba memahami kemiskinan dari berbagai dimensi; dimensi ekonomi, dimensi kesehatan, dimensi sosial budaya, dimensi pendidikan, agama dan budi pekerti, dan terakhir dimensi perdamaian dunia.

Salim, E. Pembangunan Ekonomi dan Pemerataan, (Jakarta: Idayu,1980), Ibid 43 Ibid
41 42

19

1) Kemiskinan Dalam Dimensi Ekonomi Dimensi ekonomi dari kemiskinan diartikan sebagai kekurangan sumber daya yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang, baik secara finansial maupun semua jenis kekayaan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dikategorikan miskin bilamana seseorang atau keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok minimnya, seperti: sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan. Dimensi ekonomi dapat diukur dengan nilai rupiah meskipun harganya selalu berubahubah setiap tahunnya tergantung pada tingkat inflasi rupiah.44 Kemelaratan dan batas ini ditentukan oleh kebutuhan hidup yang minimal perlu dipenuhi bagi kehidupan yang sederhana. Kemiskinan dalam dimensi ekonomi paling mudah untuk diamati, diukur, dan diperbandingkan. Ada beberapa metode pengukuran tingkat kemiskinan yang dikembangkan di Indonesia, yaitu: a) Biro Pusat Statistik (BPS)45 : tingkat kemiskinan didasarkan pada jumlah rupiah konsumsi berupa makanan yaitu kurang dari 2100 kalori per orang per hari (dari 52 jenis komoditi yang dianggap mewakili pola konsumsi penduduk yang berada di lapisan bawah), dan konsumsi nonmakanan (dari 45 jenis komoditi makanan sesuai kesepakatan nasional dan tidak dibedakan antara wilayah pedesaan dan perkotaan). Patokan kecukupan 2100 kalori ini berlaku untuk susunan umur, jenis kelamin, dan perkiraan tingkat kegiatan fisik, berat badan, serta perkiraan status fisiologis penduduk. b) Sayogyo46: tingkat kemiskinan didasarkan jumlah rupiah pengeluaran rumah tangga yang disetarakan dengan jumlah kilogram konsumsi beras per orang per tahun dan dibagi wilayah pedesaan dan perkotaan; (1) Daerah pedesaan: (a) Miskin: bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 320 kg nilai tukar beras per orang per tahun. (b) Miskin sekali: bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 240 kg nilai tukar beras per orang per tahun. (c) Paling miskin: bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 180 kg nilai tukar beras per orang per tahun. (2) Daerah perkotaan: (a) Miskin: bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 480 kg nilai tukar beras per orang per tahun. (b) Miskin sekali: bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 380 kg nilai tukar beras per orang per tahun. (c) Paling miskin: bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 270 kg nilai tukar beras per orang per tahun. (d) Bank Dunia:47 Bank Dunia mengukur garis kemiskinan berdasarkan pada pendapatan seseorang kurang dari US$1 per hari (setara Rp8.500,00 per hari)

Ellies, S. The Dimension of Poverty. Kumarian Press. 1994. Salim, E. Pembangunan Ekonomi dan Pemerataan. Idayu. Jakarta.1980. 46 Ibid. 47 Surat Kabar Suara Pembaharuan. 24 April 2004.
44 45

20

(e) Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN):48 mengukur kemiskinan berdasarkan kriteria Keluarga Pra Sejahtera (Pra KS) dan Keluarga Sejahterara I (KS 1). Kriteria Keluarga Pra KS yaitu keluarga yang tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan perintah agama dengan baik, minimum makan dua kali sehari, membeli lebih dari satu stel pakaian per orang per tahun, lantai rumah bersemen lebih dari 80%, dan berobat ke Puskesmas bila sakit. Kriteria Keluarga Sejahtera 1 (KS 1) yaitu keluarga yang tidak berkemampuan untuk melaksanakan perintah agama dengan baik, minimal satu kali per minggu makan daging/telor/ikan, membeli pakaian satu stel per tahun, rata-rata luas lantai rumah 8 m2 per anggota keluarga, tidak ada anggota keluarga umur 10 sampai 60 tahun yang buta huruf, semua anak berumur antara 5 sampai 15 tahun bersekolah, satu dari anggota keluarga mempunyai penghasilan rutin atau tetap, dan tidak ada yang sakit selama tiga bulan. Penetapan pengukuran dan kriteria kemiskinan secara nasional sangat sulit. Masih diperlukan kajian yang dapat mengakomodasikan permasalahan kemiskinan yang kompleks baik dari segi ekonomi, budaya, sosial, psikologik, dan geografik yang sangat bervariasi di Indonesia. Hampir semua pendekatan dalam mengkaji kemiskinan masih berporos pada paradigma modernisasi ( modernisation paradigm) yang dimotori oleh Bank Dunia. Paradigma ini bersandar pada teori-teori pertumbuhan ekonomi neo klasik ( orthodox neoclassical economics) dan model yang berpusat pada produksi ( productioncentred model). Sejak pendapatan nasional (GNP) mulai dijadikan indikator pembangunan tahun 1950-an, para ilmuwan sosial selalu merujuk pada pendekatan tersebut manakala berbicara masalah kemiskinan satu negara. Pengukuran kemiskinan kemudian sangat dipengaruhi oleh perspektif income poverty yang menggunakan pendapatan sebagai satusatunya indikator garis kemiskinan.49 Di bawah kepemimpinan ekonom asal Pakistan, Mahbub Ul Haq, pada tahun 1990- an UNDP memperkenalkan pendekatan Human Development yang diformulasikan dalam bentuk Indeks Pembangunan Manusia ( Human Development Index) dan Indeks Kemiskinan Manusia ( Human Poverty Index). Dibandingkan dengan pendekatan yang dipakai Bank Dunia, pendekatan UNDP relative lebih komprehensif karena bukan hanya mencakup dimensi ekonomi (pendapatan), melainkan juga pendidikan (angka melek huruf), dan kesehatan (angka harapan hidup). Pendekatan kemiskinan versi UNDP berporos pada paradigma pembangunan populis atau kerakyatan ( popular development paradigm) yang memadukan konsep pemenuhan kebutuhan dasar dari Paul Streeten

48 Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pelaksanaan Program Jaring Perlindungan Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK). 1999. 49 Suharto, E. Paradigma Baru Studi Kemiskinan, diakses dari CVDEDEMnew.htm

21

dan teori kapabilitas yang dikembangkan peraih Nobel ekonomi 1998, Amartya Sen.50 (2) Kemiskinan Dalam Dimensi Kesehatan Banyak data dan hasil penelitian yang membuktikan bahwa kemiskinan sangat berhubungan dengan tingginya angka kesakitan dan kematian. Tingkat pendapatan di bawah garis kemiskinan dan rendahnya kesempatan memperoleh berbagai fasilitas kesejahteraan sosial akan mempersulit terpenuhinya berbagai keperluan pangan bergizi atau kemampuan untuk menangkis penyakit, sehingga tidak mengherankan apabila di lingkungan mereka tingkat kematian bayi tinggi. Berbagai macam penyakit mengancam mereka, seperti: malaria, tuberkulosis, penyakit mata, kwasioskor, dan lainnya sebagai akibat lemahnya daya resistensi. Hal ini menyebabkan usia harapan hidup mereka pendek dan tingkat kematian mereka tinggi.51 Dari Skema 2 dapat diketahui bahwa apabila pembangunan kesehatan dan gizi berhasil, maka status kesehatan dan status gizi akan meningkat yang kemudian berakibat pada peningkatan kondisi fisik, mental, dan kecerdasan, sehingga output dan partisipasi lebih baik yang ditunjukkan dengan rendahnya absensi kerja dan sekolah. Hal tersebut menyebabkan peningkatan kemampuan, keterampilan, dan kecerdasan, sehingga pendapatan individu, masyarakat, dan negara meningkat. Pendapatan ini menjadi salah satu sumber daya pembangunan kesehatan dan gizi. Tentu saja sebaliknya, hal tersebut tidak akan terjadi jika pembangunan kesehatan dan gizi tidak berhasil.52 Dalam hal kesehatan, ketika berhadapan dengan kemiskinan seperti yang terjadi pada masa krisis ekonomi, reaksi masyarakat bermacammacam, seperti: orang miskin cenderung menghindari fasilitas rawat jalan, menunda pelayanan RS, menghindari penggunaan jasa spesialis yang mahal, cenderung memperpendek rawat inap, membeli separo atau bahkan sepertiga obat yang diresepkan sehingga tidak menjalani pengobatan total, mencari pengobatan lokal yang kadangkadang dapat menimbulkan efek berbahaya, para ibu cenderung melahirkan di rumah dengan bantuan dukun yang memperbesar risiko persalinan, penyakit menjadi kronis karena menghindari pengobatan yang mahal. Pasien gagal ginjal cenderung menunda, membatalkan atau dibatalkan dari pengobatan, pasien cenderung mengobati sendiri yang berakibat terjadi komplikasi, tingkat pengguguran kandungan meningkat karena biaya dan implikasi sosial ekonomi, pasien menolak atau menunda prosedur operasi karena ketiadaan biaya.53

Ibid Salim, E. Pembangunan Ekonomi dan Pemerataan. Idayu. Jakarta.1980. 52 Karjadi, D. Makalah pada Lokakarya Ekonomi Kesehatan, Perumusan dan Aplikasi Ilmu Ekonomi Kesehatan di Indonesia. Cimacan 9– 11 Oktober 1989. 53 Soendoro, T. Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan: Tindakan Strategis untuk Mengurangi Dampak Krisis di Sektor Kesehatan. Medika. Edisi Khusus September 1999.
50 51

22

Skema 2. Keterkaitan antara Pembangunan Kesehatan dan Ekonomi54
Pembangunan gizi (berhasil) Status gizi (meningkat) Kondisi fisik, mental dan kecerdasan (lebih baik) Output partisipasi (meningkat) Absensi kerja dan sekolah (turun)

Pembangunan kesehatan (berhasil)

Morbiditas, mortalitas (turun)

Status kesehatan (meningkat)

Kemampuan, keterampilan kecerdasan, SDM. (meningkat)

Pembangunan nasional semua bidang (meningkat)

Kemampuan masyarakat dan pemerintah (pendapatan, SDM) (meningkat)

Krisis ekonomi yang telah melanda Indonesia pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2000 memberikan dampak yang tidak kecil pada status gizi. Di beberapa daerah kejadian ini diperburuk dengan adanya bencana kekeringan (El Nino) dan kebakaran hutan, sehingga berkurangnya persediaan bahan pangan. Kesemuanya mengakibatkan seluruh harga bahan makanan termasuk bahan makanan pokok naik. Hasil penelitian di beberapa wilayah di Indonesia memperlihatkan penurunan daya beli dan ketersediaan bahan makanan di tingkat keluarga, terutama mereka yang tinggal di daerah perkotaan.55 Masalah gizi utama yang telah menurun dalam tahun-tahun terakhir Repelita IV, mulai meningkat kembali. Survei nasional tahun 1995 telah memperlihatkan prevalensi KEP total (<80% BB/U) yang turun dari 47,8% pada tahun 1989 menjadi 35% pada tahun 1995.56 Pada kasus yang sama di salah satu provinsi yaitu Sulawesi Selatan, berdasarkan hasil pemantauan status gizi anak balita di Posyandu, prevalensi KEP nyata (<70% BB/U) sebesar 5,3% pada tahun 1997 menjadi 14,7% pada tahun 1998.57 Hasil penelitian senada juga ditemukan oleh Thaha, dkk.,58 di provinsi yang sama, persentase anak balita yang menderita malnutrisi akut (berdasarkan berat badan per tinggi badan) sebesar 9,9% pada tahun 1997 menjadi 14,4% pada tahun 1999. Hasil penelitian Helen Keller International (HKI), Depkes, dan Universitas Diponegoro di Provinsi
54 Karjadi, D. Makalah pada Lokakarya Ekonomi Kesehatan, Perumusan dan Aplikasi Ilmu Ekonomi Kesehatan di Indonesia. Cimacan 9– 11 Oktober 1989. 55Hadju, V., Razak Thaha,A., Djunaidi, M., Dahlan, dan Ramli. Status Gizi Anak Balita pada Keluarga Miskin di Provinsi Sulawesi Selatan, Majalah Medika. Edisi Khusus September 1999. 56 Ibid 57 Ibid 58 Ibid

23

Jawa Tengah tahun 1998 untuk masalah micronutrien seperti defisiensi zat besi dan vitamin A setelah krisis ekonomi terjadi (Juni-Agustus 1998) menunjukkan kenaikan yang berarti di berbagai daerah penelitian di Jawa Tengah dibandingkan sebelum krisis (Juni–Agustus 1996). 59 Berikut ini beberapa hasil penelitian tentang keterkaitan kesehatan dengan kemiskinan di negara maju. Hubungan antara beberapa outcome kesehatan dengan pemerataan distribusi pendapatan di antara 50 negara bagian di Amerika Serikat pada data tahun 1980 dan 1990 menunjukkan bahwa pendapatan di negara bagian semakin tidak merata. Hal ini menyebabkan tingkat kematian per kelompok umur, jumlah bayi Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), angka bunuh diri, angka kriminalitas, ketidakmampuan bekerja, jumlah pengeluaran untuk pelayanan medis dan perlindungan keamanan oleh polisi, serta angka merokok semakin besar. Tingkat pengangguran, jumlah orang terhukum (narapidana), penerima bantuan pendapatan dan pangan gratis, angka penduduk yang tidak terasuransi kesehatannya, serta outcome pendidikan lebih tinggi seiring meningkatnya angka ketimpangan distribusi pendapatan.60 Kemiskinan yang ditandai dengan pengangguran mempunyai banyak dimensi yang akan berkaitan dengan masalah kesehatan. Review terhadap beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh Bartley61 menyimpulkan bahwa untuk memahami keterkaitan sosial, psikologi, dan biologi antara pengangguran dengan kesakitan dan kematian perlu ditelaah dengan empat mekanisme yaitu peran dari kemiskinan relatif, isolasi sosial, hilangnya rasa percaya diri, serta perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. Studi case control pada 293 keluarga dari kelompok miskin yang tidak mempunyai rumah tinggal (kelompok pertama) dan 334 orang dengan pendapatan rendah tetapi mempunyai rumah tinggal (kelompok kedua), keduanya mempunyai anak usia 3 bulan sampai dengan 17 tahun dan ibunya di Worchester negara bagian Massachussets Amerika Serikat menunjukkan bahwa kelompok pertama mempunyai jumlah gejala penyakit akut yang lebih tinggi termasuk demam, infeksi telinga, diare, dan asma, sehingga kelompok ini memakai pelayanan gawat darurat dan pelayanan rawat jalan lebih tinggi dibandingkan kelompok kedua. Kelompok pertama mempunyai status kesehatan lebih buruk 2,83 kali dibandingkan kelompok kedua dan mempunyai 1,71 kali lebih banyak mempergunakan pelayanan rawat jalan, serta mempunyai 1,21 kali lebih banyak dalam memanfaatkan pelayanan gawat darurat. Stres emosi pada ibu berhubungan dengan gejala sakit yang akut, serta frekuensi penggunaan pelayanan rawat jalan dan gawat darurat. Pentingnya intervensi untuk meningkatkan akses ke pelayanan primer bagi anak-anak dari keluarga miskin yang tidak bertempat tinggal.62
59 Hellen Keller International (HKI), Reemerging of the Threat of Vitamin A Deficiency. Crisis Bulletin. 1998;1(2/October). dan Hellen Keller International (HKI). Alarming Rise of Iron Deficiency Anemia may Herald “Lost Generation”. Crisis Bulletin. 1998;1 (3/October). 60 Kaplan, G.A., Pamuk, E.R., Lynch, J.W., Coden, R.D., Balfour, J.L., Inequity in Income and Mortality in the United States: Analysis of Mortality and Potential Pathways. British Medical Journal. 1996;312(7041):1253. 61Bartley. M, Unemployment and Ill Health: Understanding the Relationship. Journal of Epidemiology and Community Health.1994; 48 (4):333–37. 62 Weinreb, L., Goldberg, R., Bassuk, E., Perloff,L, Determinants of Health and Services Use Patterns in Homeless and Low Income Housed Children. Journal of Pediatrics.1998;102(3): 554–62.

24

Keterkaitan kemiskinan dengan status gizi yang rendah dibuktikan oleh Gelberg63 yang meneliti 457 orang dewasa dari kelompok miskin yang tidak bertempat tinggal dan menunjukkan hasil sebanyak 33,3% mempunyai status gizi rendah (diukur dari berat, lingkar bahu atas, dan triceps skinfold). Status gizi rendah berkaitan dengan penggunaan obat yang lebih besar, tingginya subsidi pangan (gratis), pendapatan yang rendah, dan berjenis kelamin pria. Dari penelitian ini direkomendasikan pentingnya peningkatan program bantuan pangan secara gratis, program perawatan kecanduan obat, dan peningkatan pendapatan bagi kelompok ini. (3) Kemiskinan Dalam Dimensi Sosial Dan Budaya Dimensi sosial dari kemiskinan diartikan sebagai kekurangan jaringan sosial dan struktur yang mendukung untuk mendapatkan kesempatan agar produktivitas seseorang meningkat. Kekurangan jaringan tersebut disebabkan oleh dua faktor penghambat yaitu dari diri seseorang atau kelompok (misalnya karena tingkat pendidikan atau hambatan budaya), dan hambatan dari luar kemampuan seseorang (misalnya karena birokrasi atau peraturan resmi yang dapat mencegah mereka memanfaatkan kesempatan yang ada).64 Pada masyarakat di negara maju, proses peralihan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern berhasil dilakukan. Tetapi pada masyarakat di negara sedang berkembang (dunia ketiga), ketika menuju modernitas mereka menghadapi hambatan sosial budaya berupa nilainilai tradisional yang sangat kuat dalam segala aspek kehidupan. Hal tersebut menyebabkan mereka hidup dalam keterbelakangan, tidak maju,dan miskin.65 Kuatnya nilai-nilai budaya tradisional menyebabkan kondisi kehidupan masyarakat menjadi statis, belum mengalami deferensiasi struktural sehingga perkembangan politik, sosial, ekonomi, dan budaya tidak mengalami kemajuan yang berarti.66 Pada masyarakat tradisional ditandai dengan struktur keluarga yang rumit dan tidak teratur, terdiri dari berbagai generasi, dan jumlah anggota keluarga sangat banyak. Keluarga bertanggung jawab pada kelangsungan keturunan, ekonomi rumah tangga, pendidikan, dan kesejahteraan. Pada keluarga modern biasanya dicirikan dengan anggota keluarga sedikit dan lebih produktif karena lembaga masyarakat yang ada telah berperan pada penyelenggaraan fungsi-fungsi dalam keluarga, seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, ekonomi, dan keagamaan. Mc. Cleland67 dalam studinya menyimpulkan bahwa nilai-nilai budaya tradisional turut membentuk sikap mental masyarakat di negara sedang berkembang. Nilai budaya tradisonal tersebut adalah mentalitas masyarakat yang belum siap membangun (tidak memiliki sikap mental need for achievement) dalam segala aspek.

63 Gelberg, L., Stein, J.A., Neumann, C.G. Determinants of Undernutrition Among Homeless Adults. Public Health Report. 1995;110(4):448–54. 64 Ellies, S. The Dimension of Poverty. Kumarian Press. 1994. 65 Smelser, Neil. Toward Theory of Modernization dalam Amitai Etzioni dan Eva Etzioni (Ed), Social Change. Basic Books. New York.1964:268–84. 66 Ibid 67 Mc. Clelland, The Achieving Society. Van Nostrandt Reinhald Co. New York. 1961.

25

Kemiskinan muncul sebagai akibat nilai budaya yang dianut kaum miskin itu sendiri, yang berakar dari kondisi lingkungan yang serba miskin dan diturunkan dari generasi ke generasi ( cultural of poverty).68 Kaum miskin telah memasyarakatkan nilai dan perilaku kemiskinan secara turuntemurun. Akibatnya, perilaku tersebut melanggengkan kemiskinan mereka, sehingga masyarakat yang hidup dalam kebudayaan kemiskinannya sulit untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa aspek budaya dan etnik juga berpengaruh memelihara kemiskinan.4 Pola hidup konsumtif pada petani dan nelayan ketika panen raya, adat istiadat yang konsumtif juga banyak mewarnai masyarakat pedesaan seperti berbagai pesta rakyat atau upacara perkawinan, kelahiran, dan bahkan kematian yang dibiayai di luar kemampuan karena prestise dan keharusan budaya. Hal ini seringkali mengakibatkan suatu keluarga terlibat rentenir atau menjual harta bendanya untuk mendapatkan dana penyelenggaraan pesta. (4) Kemiskinan Dalam Dimensi Sosial Politik Dimensi sosial politik dari kemiskinan lebih menekankan pada derajat akses terhadap kekuatan yang mencakup tatanan sistem sosial politik yang dapat menentukan alokasi sumber daya untuk kepentingan sekelompok orang atau tatanan sistem sosial yang menentukan alokasi penggunaan sumber daya. Kemiskinan politik merupakan gejala yang secara tidak langsung berpengaruh pada pengembangan kreativitas manusia dan masyarakat, yang pada gilirannya berpengaruh pada kualitas manusia.69 Kebijakan pemerintah dalam kerangka sosial politik disengaja atau tidak, sebagian di antaranya justru menyebabkan kemiskinan. Hal ini sesuai dengan pendapat para teoritisi bahwa masyarakat atau negara miskin itu bukan karena mereka miskin ( a country is a poor because it is poor), tetapi karena kebijakan pemerintah yang salah ( a country is poor because of poor policies). Beberapa kebijakan ekonomi yang memberi andil menciptakan kemiskinan di Indonesia, antara lain: kebijakan penetapan harga dasar gabah yang rendah, pemberian subsidi impor beras dan bahan makanan lain, mengakibatkan gairah petani untuk menanam padi menjadi turun. Strategi industrialisasi yang tidak terarah dengan mengabaikan sektor pertanian atau kebijakan ekonomi yang tidak memperhatikan keterkaitan antara pertumbuhan sektor pertanian dan industri, pembangunan lebih berkonsentrasi pada perkotaan, subsidi modal untuk sektor modern dan pengusaha papan atas padahal sektor ini bukan tempat usaha orang miskin, dan lain-lain.70 Di sisi lain, banyak negara sedang berkembang menggunakan isu kemiskinan dan pengentasan kemiskinan sebagai kartu kemenangan pemilihan umum (pemilu), walaupun pada kenyataannya setelah menang, isu tersebut belum tentu diwujudkan dalam program kerjanya.
68 Lewis, Oscar. Kebudayaan Kemiskinan dalam Parsudi Suparlan. Kemiskinan di Perkotaan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 1996:7-11. 69Ellies, S. The Dimension of Poverty. Kumarian Press. 1994. 70 Nasikun. Diktat Mata Kuliah. Isu dan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan. Magister Administrasi Publik. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 2001. dan Jarnasy, Owin. Keadilan, Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan. Belantika. Jakarta. 2004.

26

(5) Kemiskinan Dalam Dimensi Pendidikan, Agama, Dan Budi Pekerti Keterkaitan kemiskinan dengan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan. Pendidikan juga 128 Memahami Kemiskinan secara Multidimensional menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan berarti menggapai masa depan. Hal tersebut seharusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa. Tidak terkecuali, keadilan dalam memperoleh pendidikan harus diperjuangkan dan seharusnya pemerintah berada di garda terdepan untuk mewujudkannya. Penduduk miskin dalam konteks pendidikan sosial mempunyai kaitan terhadap upaya pemberdayaan, partisipasi, demokratisasi, dan kepercayaan diri, maupun kemandirian. Pendidikan nonformal perlu mendapatkan prioritas utama dalam mengatasi kebodohan, keterbelakangan, dan ketertinggalan sosial ekonominya. Pendidikan informal dalam rangka pendidikan sosial dengan sasaran orang miskin selaku kepala keluarga (individu) dan anggota masyarakat tidak lepas dari konsep learning society adult education experience learning yang berupa pendidikan luar sekolah, kursus keterampilan, penyuluhan, pendidikan dan latihan, penataran atau bimbingan, dan latihan.71 Pendidikan agama dan budi pekerti sangat penting untuk penanaman nilai-nilai agamawi dan budi pekerti terutama bagi anak-anak dan pemuda. Strategi pengentasan kemiskinan seharusnya tidak terpaku pada aspek ekonomi dan fisik saja, tetapi aspek nonfisik (rohaniah) juga perlu mendapatkan porsi yang cukup dalam kebijakan ini. (6) Kemiskinan Dalam Dimensi Perdamaian Dunia Millenium Development Goals on Development and Eradication of Poverty in 2015 telah dideklarasikan oleh para pemimpin negaranegara di dunia pada tahun 2000. Para pemimpin dunia berjanji bekerja sama untuk mencapai target dalam pembangunan dan mengurangi kemiskinan di tahun 2015. Komitmen global tersebut mengamanatkan semua negara anggota PBB agar berusaha lebih keras untuk meningkatkan pendapatan yang selama ini tidak layak, kelaparan, ketimpangan jender, kerusakan lingkungan, hambatan untuk mendapatkan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan air bersih. Termasuk di dalam kesepakatan global tersebut adalah mengurangi beban hutang, meningkatkan bantuan, perdagangan, dan transfer teknologi kepada negara-negara miskin.72 Delapan tujuan dan 18 target telah dicanangkan dalam Kesepakatan Global Untuk Pembangunan dan Memerangi Kemiskinan. Delapan tujuan tersebut yaitu: 1) memerangi kemiskinan dan kelaparan ( eradicate poverty and hunger), 2) mencapai pendidikan dasar bagi seluruh dunia ( achieve universal primary education), 3) meningkatkan kesetaraan
71 Supriatna, Tjahya. Birokrasi Pemberdayaan dan Pengentasan Kemiskinan. Humaniora Utama Press. Bandung.1997. 72 United Nations Declaration. Millenium Development Goals: a Compact among Nations to End Human Poverty in 2015. 2000.

27

gender dan memberdayakan perempuan ( promote gender equality and empower women), 4) menurunkan angka kematian anak ( reduce child mortality), 5) meningkatkan kesehatan ibu ( improve maternal health), 6) memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit-penyakit lainnya ( combat HIV/AIDS, malaria and other diseases), 7) mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan ( ensure environmental sustainability), 8) mengembangkan kemitraan dunia untuk pembangunan ( develop a global partnership for development).73 Pada bulan Maret 2002 Deklarasi Johannesburg untuk pembangunan berkelanjutan dan Deklarasi Johannesburg untuk rencana implementasi berhasil menyusun kerangka kerja untuk meningkatkan kemitraaan antara negaranegara kaya dan miskin. Memerangi kemiskinan seharusnya tidak bertentangan dengan upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia walaupun ancaman perang dan konflik, serta terorisme sedang berlangsung di berbagai kawasan dunia. Sebaliknya memerangi kemiskinan akan menyumbang terwujudnya perdamaian dunia.74 Direktur Millennium Project Jeffrey D. Sachs menyatakan dalam paparannya kepada peserta pertemuan regional tingkat menteri se-Asia Pasifik di Jakarta tanggal 4 Agustus 2005 yang membahas Millennium Development Goals (MDGs) bahwa perdamaian dunia tidak akan tercapai tanpa dibarengi pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, harus ada gerakan internasional untuk memerangi kemiskinan dalam rangka menciptakan perdamaian dunia. “Tanpa global development, kita tidak mungkin mencapai global security, karena tidak ada perang terhadap teroris tanpa memerangi kemiskinan”.75 b. Faktor dan Indikator Kemiskinan BAPPENAS (2004)76 mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar masyarakat desa antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Untuk mewujudkan hak-hak dasar masyarakat miskin ini, BAPPENAS menggunakan beberapa pendekatan utama antara lain; pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach), pendekatan pendapatan (income approach), pendekatan kemampuan dasar (human capability approach) dan pendekatan objective and subjective. Pendekatan kebutuhan dasar, melihat kemiskinan sebagai suatu ketidakmampuan (lack of capabilities) seseorang, keluarga dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan minimum, antara lain pangan, sandang, papan, pelayanan kesehatan, pendidikan, penyediaan air bersih dan sanitasi. Menurut pendekatan pendapatan, kemiskinan disebabkan oleh
73 United Nations Declaration. Millenium Development Goals: a Compact among Nations to End Human Poverty in 2015. 2000. 74 Ellies, S. The Dimension of Poverty. Kumarian Press. 1994. 75 Tempo. Jeffrey Sachs: Perangi Kemiskinan untuk Perdamaian Dunia. 4 Agustus 2005. 76 Gregorius Sahdan, Menanggulangi Kemiskinan Desa, www.ekonomirakyat.org, Jurnal Ekonomi Rakyat.

28

rendahnya penguasaan asset, dan alat-alat produktif seperti tanah dan lahan pertanian atau perkebunan, sehingga secara langsung mempengaruhi pendapatan seseorang dalam masyarakat. Pendekatan ini, menentukan secara rigid standar pendapatan seseorang di dalam masyarakat untuk membedakan kelas sosialnya. Pendekatan kemampuan dasar menilai kemiskinan sebagai keterbatasan kemampuan dasar seperti kemampuan membaca dan menulis untuk menjalankan fungsi minimal dalam masyarakat. Keterbatasan kemampuan ini menyebabkan tertutupnya kemungkinan bagi orang miskin terlibat dalam pengambilan keputusan. Pendekatan obyektif atau sering juga disebut sebagai pendekatan kesejahteraan (the welfare approach) menekankan pada penilaian normatif dan syarat yang harus dipenuhi agar keluar dari kemiskinan. Pendekatan subyektif menilai kemiskinan berdasarkan pendapat atau pandangan orang miskin sendiri (Joseph F. Stepanek, (ed), 1985). Dari pendekatan-pendekatan tersebut, indikator utama kemiskinan dapat dilihat dari; (1) kurangnya pangan, sandang dan perumahan yang tidak layak; (2) terbatasnya kepemilikan tanah dan alatalat produktif; (3) kuranya kemampuan membaca dan menulis; (4) kurangnya jaminan dan kesejahteraan hidup; (5) kerentanan dan keterpurukan dalam bidang sosial dan ekonomi; (6) ketakberdayaan atau daya tawar yang rendah; (7) akses terhadap ilmu pengetahuan yang terbatas; (8) dan sebagainya. Indikator-indikator tersebut dipertegas dengan rumusan yang konkrit yang dibuat oleh BAPPENAS berikut ini; terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, dilihat dari stok pangan yang terbatas, rendahnya asupan kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi, anak balita dan ibu. Sekitar 20 persen penduduk dengan tingkat pendapatan terendah hanya mengkonsumsi 1.571 kkal per hari. Kekurangan asupan kalori, yaitu kurang dari 2.100 kkal per hari, masih dialami oleh 60 persen penduduk berpenghasilan terendah (BPS, 2004); terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan kesehatan disebabkan oleh kesulitan mandapatkan layanan kesehatan dasar, rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat, dan kurangnya layanan kesehatan reproduksi; jarak fasilitas layanan kesehatan yang jauh, biaya perawatan dan pengobatan yang mahal. Di sisi lain, utilisasi rumah sakit masih didominasi oleh golongan mampu, sedang masyarakat miskin cenderung memanfaatkan pelayanan di PUSKESMAS. Demikian juga persalinan oleh tenaga kesehatan pada penduduk miskin, hanya sebesar 39,1 persen dibanding 82,3 persen pada penduduk kaya. Asuransi kesehatan sebagai suatu bentuk sistem jaminan sosial hanya menjangkau 18,74 persen (2001) penduduk, dan hanya sebagian kecil di antaranya penduduk miskin; terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan pendidikan yang disebabkan oleh kesenjangan biaya pendidikan, fasilitas pendidikan yang terbatas, biaya pendidikan yang mahal, kesempatan memperoleh pendidikan yang terbatas, tingginya beban biaya pendidikan baik biaya langsung maupun tidak langsung;

29

terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha, lemahnya perlindungan terhadap aset usaha, dan perbedaan upah serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumahtangga; terbatasnya akses layanan perumahan dan sanitasi. Masyarakat miskin yang tinggal di kawasan nelayan, pinggiran hutan, dan pertanian lahan kering kesulitan memperoleh perumahan dan lingkungan permukiman yang sehat dan layak. Dalam satu rumah seringkali dijumpai lebih dari satu keluarga dengan fasilitas sanitasi yang kurang memadai; terbatasnya akses terhadap air bersih. Kesulitan untuk mendapatkan air bersih terutama disebabkan oleh terbatasnya penguasaan sumber air dan menurunnya mutu sumber air; lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah. Masyarakat miskin menghadapi masalah ketimpangan struktur penguasaan dan pemilikan tanah, serta ketidakpastian dalam penguasaan dan pemilikan lahan pertanian. Kehidupan rumah tangga petani sangat dipengaruhi oleh aksesnya terhadap tanah dan kemampuan mobilisasi anggota keluargannya untuk bekerja di atas tanah pertanian; memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumberdaya alam, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam. Masyarakat miskin yang tinggal di daerah perdesaan, kawasan pesisir, daerah pertambangan dan daerah pinggiran hutan sangat tergantung pada sumberdaya alam sebagai sumber penghasilan; lemahnya jaminan rasa aman. Data yang dihimpun UNSFIR menggambarkan bahwa dalam waktu 3 tahun (1997-2000) telah terjadi 3.600 konflik dengan korban 10.700 orang, dan lebih dari 1 juta jiwa menjadi pengungsi. Meskipun jumlah pengungsi cenderung menurun, tetapi pada tahun 2001 diperkirakan masih ada lebih dari 850.000 pengungsi di berbagai daerah konflik; lemahnya partisipasi. Berbagai kasus penggusuran perkotaan, pemutusan hubungan kerja secara sepihak, dan pengusiran petani dari wilayah garapan menunjukkan kurangnya dialog dan lemahnya pertisipasi mereka dalam pengambilan keputusan. Rendahnya partisipasi masyarakat miskin dalam perumusan kebijakan juga disebabkan oleh kurangnya informasi baik mengenai kebijakan yang akan dirumuskan maupun mekanisme perumusan yang memungkinkan keterlibatan mereka; besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga dan adanya tekanan hidup yang mendorong terjadinya migrasi. Menurut data BPS, rumahtangga miskin mempunyai rata-rata anggota keluarga lebih besar daripada rumahtangga tidak miskin. Rumahtangga miskin di perkotaan rata-rata mempunyai anggota 5,1 orang, sedangkan rata-rata anggota rumahtangga miskin di perdesaan adalah 4,8 orang. Dari berbagai definisi tersebut di atas, maka indikator utama kemiiskinan adalah; (1) terbatasnya kecukupan dan mutu pangan; (2) terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan kesehatan; (3) terbatasnya

30

akses dan rendahnya mutu layanan pendidikan; (4) terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha; (5) lemahnya perlindungan terhadap aset usaha, dan perbedaan upah; (6) terbatasnya akses layanan perumahan dan sanitasi; (7) terbatasnya akses terhadap air bersih; (8) lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah; (9) memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumberdaya alam, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam; (10) lemahnya jaminan rasa aman; (11) lemahnya partisipasi; (12) besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga; (13) tata kelola pemerintahan yang buruk yang menyebabkan inefisiensi dan inefektivitas dalam pelayanan publik, meluasnya korupsi dan rendahnya jaminan sosial terhadap masyarakat. Kenyataan menunjukkan bahwa kemiskinan tidak bisa didefinisikan dengan sangat sederhana, karena tidak hanya berhubungan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan material, tetapi juga sangat berkaitan dengan dimensi kehidupan manusia yang lain. Karenanya, kemiskinan hanya dapat ditanggulangi apabila dimensi-dimensi lain itu diperhitungkan. Menurut Bank Dunia (2003), penyebab dasar kemiskinan adalah: (1) kegagalan kepemilikan terutama tanah dan modal; (2) terbatasnya ketersediaan bahan kebutuhan dasar, sarana dan prasarana; (3) kebijakan pembangunan yang bias perkotaan dan bias sektor; (4) adanya perbedaan kesempatan di antara anggota masyarakat dan sistem yang kurang mendukung; (5) adanya perbedaan sumber daya manusia dan perbedaan antara sektor ekonomi (ekonomi tradisional versus ekonomi modern); (6) rendahnya produktivitas dan tingkat pembentukan modal dalam masyarakat; (7) budaya hidup yang dikaitkan dengan kemampuan seseorang mengelola sumber daya alam dan lingkunganya; (8) tidak adanya tata pemerintahan yang bersih dan baik (good governance); (9) pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan. Indikator utama kemiskinan menurut Bank Dunia adalah kepemilikan tanah dan modal yang terbatas, terbatasnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan, pembangunan yang bias kota, perbedaan kesempatan di antara anggota masyarakat, perbedaan sumber daya manusia dan sektor ekonomi, rendahnya produktivitas, budaya hidup yang jelek, tata pemerintahan yang buruk, dan pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan. Nasikun77 menyoroti beberapa sumber dan proses penyebab terjadinya kemiskinan, yaitu: a. Policy induces processes: proses pemiskinan yang dilestarikan, direproduksi melalui pelaksanaan suatu kebijakan (induced of policy) diantaranya adalah kebijakan antikemiskinan, tetapi realitanya justru melestarikan. b. Socio-economic dualism: negara ekskoloni mengalami kemiskinan karena pola produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal karena tanah yang paling subur dikuasai petani skala besar dan berorientasi ekspor. c. Population growth: perspektif yang didasari pada teori Malthus bahwa pertambahan penduduk seperti deret ukur sedang pertambahan pangan seperti deret hitung.
77 Nasikun. Diktat Mata Kuliah. Isu dan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan. Magister Administrasi Publik. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 2001.

31

d. Recources management and the environment: adanya unsur mismanagement sumber daya alam dan lingkungan, seperti manajemen pertanian yang asal tebang akan menurunkan produktivitas. e. Natural cycles and processes: kemiskinan terjadi karena siklus alam. Misalnya tinggal di lahan kritis, di mana lahan ini jika turun hujan akan terjadi banjir tetapi jika musim kemarau akan kekurangan air, sehingga tidak memungkinkan produktivitas yang maksimal dan terus-menerus. f. The marginalization of woman: peminggiran kaum perempuan karena perempuan masih dianggap sebagai golongan kelas kedua, sehingga akses dan penghargaan hasil kerja yang diberikan lebih rendah dari laki-laki. g. Cultural and ethnic factors: bekerjanya factor budaya dan etnik yang memelihara kemiskinan. Misalnya, pola hidup konsumtif pada petani dan nelayan ketika panen raya, serta adat istiadat yang konsumtif saat upacara adat atau keagamaan. h. Explotative intermediation: keberadaan penolong yang menjadi penodong, seperti rentenir (lintah darat). i. Internal political fragmentation and civil stratfe: suatu kebijakan yang diterapkan pada suatu daerah yang fragmentasi politiknya kuat, dapat menjadi penyebab kemiskinan. j. International processes: bekerjanya sistemsistem internasional (kolonialisme dan kapitalisme) membuat banyak negara menjadi semakin miskin. Selain beberapa faktor di atas, penyebab kemiskinan di masyarakat khususnya di pedesaan disebabkan oleh keterbatasan aset yang dimiliki, yaitu:78 a. Natural assets: seperti tanah dan air, karena sebagian besar masyarakat desa hanya menguasai lahan yang kurang memadai untuk mata pencahariannya. b. Human assets: menyangkut kualitas sumber daya manusia yang relatif masih rendah dibandingkan masyarakat perkotaan (tingkat pendidikan, pengetahuan, keterampilan maupun tingkat kesehatan dan penguasaan teknologi). c. Physical assets: minimnya akses ke infrastruktur dan fasilitas umum seperti jaringan jalan, listrik, dan komunikasi di pedesaan. d. Financial assets: berupa tabungan ( saving), serta akses untuk memperoleh modal usaha. e. Social assets: berupa jaringan, kontak dan pengaruh politik, dalam hal ini kekuatan bargaining position dalam pengambilan keputusankeputusan politik.

c. Pemberdayaan dan Pengentasan Kemiskinan

Menurut Gregorius Sahdan79, selama ini kebijakan penanggulangan kemiskinan, didesain secara sentralistik oleh pemerintah pusat yang diwakili BAPPENAS. BAPPENAS merancang program penangulangan kemiskinan dengan dukungan alokasi dan distribusi

78 79

ibid Gregorius Sahdan, Menanggulangi Kemiskinan Desa, www.ekonomirakyat.org, Jurnal Ekonomi Rakyat.

32

anggaran dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan utang kepada Bank Dunia serta lembaga keuangan mmultinasional lainnya. Berkat alokasi anggaran yang memadai, pemerintah pusat menjalankan kebijakan sentralistik dengan program-program yang bersifat karitatif. Sejak tahun 1970-an di bawah kebijakan economic growth sampai dengan sekarang, pemerintah pusat menjadikan desa sebagai obyek dari seluruh proyek yang dijalankan untuk menanggulangi kemiskinan. Berdasarkan kebijakan tersebut, pemerintah pusat menjalankan program-programnya dalam bentuk: (1) menurunkan jumlah persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan melalui bantuan kredit, jaminan usaha dan pengadaan sarana dan prasarana di desa seperti PUSKESMAS, INPRES, KUD, dan sebagainya; (2) mengusahakan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat miskin melalui distribusi sembako yang dibagikan secara gratis kepada penduduk miskin; (3) mengusahakan pelayanan kesehatan yang memadai dengan menyebarkan tenaga-tenaga kesehatan ke desa dan pengadaan obat-obatan melalui PUSKESMAS; (4) mengusahakan penyediaan fasilitas pendidikan dasar dengan memperbanyak pendirian sekolah-sekolah INPRES; (5) menyediakan kesempatan bekerja dan berusaha melalui proyek-proyek perbaikan sarana dan prasarana milik pemerintah, penyediaan kredit dan modal usaha yang diberikan dalam bentuk pinjaman kepada masyarakat miskin; (6) memenuhi kebutuhan perumahan dan sanitasi dengan memperbanyak penyediaan rumah-rumah sederhana untuk orang miskin; (7) mengusahakan pemenuhan air bersih dengan pengadaan PAM; (8) menyediakan sarana listrik masuk desa, sarana telekomunikasi dan sejenisnya; dan sebagainya. Berbagai program yang dijalankan oleh pemerintah tersebut, lebih banyak menuai kegagalan dibandingkan dengan keberhasilannya. Program Kredit Usaha Tani (KUT) misalnya, merupakan salah satu di antara serangkaian program pemerintah yang terbaru, yang menuai kegagalan. Program ini menempatkan Bank, Koprasi, LSM dan kelompok tani hanya sebagai mesin penyalur kredit, sedangkan tanggungjawab kredit terletak di tangan Departemen Koprasi. Pada tahun 1998, platfon KUT mencapai 8,4 triliun rupiah naik 13 kali lipat dari sebelumnya. Para petani menyebut program ini sebagai “kesalahan bertingkat enam” karena; (1) pelaksanaan KUT tidak benar-benar memberdayakan petani; (2) mesin penyalur KUT (LSM, Bank, Koprasi), ditunjuk tidak diseleksi secara ketat; (3) Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dibuat secara serampangan, banyak fiktifnya; (4) kredit diberikan kepada siapa saja termasuk nonpetani, sehingga kurang tepat sasaran; (5) tidak ada pengawasan dalam penyaluran, penerimaan dan penggunaan kredit; (6) dana penyaluran banyak bocornya, mulai dari Departemen Koprasi, hingga ke KUD. Akibatnya per September 2000, tunggakan KUT mencapai 6,169 triliun rupiah atau 73,69% dari realisasi kredit. Sejak tahun 2000, program KUT yang dianggap gagal total diganti pemerintah dengan program baru yakni Program Kredit Ketahanan Pangan (KKP) yang pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada bank, pemerintah hanya bertindak sebagai pemberi subsidi pada tahap awal. Berdasarkan target pemerintah, program ini menuai sukses

33

tahun 2004, tetapi lagi-lagi mengalami kegagalan karena kesulitan bank menyalurkan kredit kepada petani dan kesulitan petani membayar bunga kredit. Dari platfon sebesar 2,3 triliun rupiah, sampai Maret 2001 baru terrealisasi 3,85 miliar rupiah atau 1,57%. Akibatnya, terjadi kelangkaan kredit usaha tani di desa. Di samping program KUT dan KKP juga ada Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Program ini bertujuan mengurangi kemiskinan di tingkat pedesaan, sekaligus memperbaiki kinerja pemerintah daerah dengan cara memberi bantuan modal dan pengadaan infrastruktur. Inti dari program ini adalah perencanaan yang melibatkan masyarakat, laki-laki dan perempuan, termasuk masyarakat miskin. Program ini dirancang melalui mekanisme musyawarah mulai dari tingkat dusun hingga ke tingkat kecamatan. Pelaksanaan program didampingi oleh seorang fasilitator kecamatan, dua orang fasilitator desa, satu laki-laki, satu perempuan di tiap desa, juga dibantu lembaga pengelola yaitu Unit Pengelola Keuangan (UPK) di kecamatan yang melibatkan LMD. Program ini di beberapa daerah mengalami kegagalan, karena tidak adanya perencanaan yang matang dan juga kuranya transparansi penggunaan dan alokasi anggaran kepada masyarakat desa. Kisah kegagalan program yang dirancang dan didanai oleh pemerintah dan Bank Dunia, juga terjadi dalam Program Padat Karya Desa-Pengembangan Wilayah Terpadu (PKD-PWT) di NTT , Sulawesi Selatan, NTB dan Sulawesi Utara serta program PDMDEK di Jawa Barat. Program PKD-PWT membagikan uang bantuan sebesar 50 juta rupiah kepada setiap desa dan langsung disalurkan ke rekening Tim Pelaksana Desa (TPD). Jumlah desa yang dibantu dengan program ini mencapai 1.957 desa. Program ini mengalami kegagalan, karena proses perencanaan, pelaksanaan dan penyaluran bantuan kepada desa, sangat tergantung kepada TPD. Sementara PDMDEK di Jawa Barat, mengalami kegagalan karena dana bergulir yang diberikan kepada masing-masing desa sebanyak 14 juta rupiah per desa, digunakan masyarakat untuk tujuan konsumtif. Dilihat dari kegagalan program penanggulangan kemiskinan selama ini, strategi dan kebijakan alternatif yang berpihak kepada rakyat miskin, option for the poor menjadi kebutuhan mutlak menanggulangi kemiskinan. Untuk membuat sebuah strategi dan kebijakan alternatif, diperlukan pengetahuan yang memadai tentang penyebab utama kemiskinan masyarakat desa. Dari serangkaian penyebab kemiskinan masyarakat desa yang telah disebutkan di depan, maka strategi dan kebijakan alternatif menanggulangi kemiskinan desa dapat dilakukan dengan cara; (1) memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat desa untuk memperoleh layanan pendidikan yang memadai, secara gratis dan cuma-cuma. Pemerintah perlu mengembangkan sistem pendidikan nasional yang berorentasi keberpihakan kepada orang miskin (pendidikan untuk orang miskin). (2) redistribusi lahan dan modal pertanian yang seimbang. Ketimpangan kepemilikan lahan pertanian, memperlebar jurang kemiskinan antara masyarakat yang tinggal di pedesaan. Sebagian

34

(3)

(4) (5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

besar tanah-tanah pertanian yang subur dimiliki oleh tengkulak lokal dan tuan tanah. mendorong perkembangan investasi pertanian dan pertambangan ke daerah pedesaan. Pembukaan investasi pertanian dan pertambangan dapat memberikan kesempatan kerja kepada masyarakat desa. Dengan begitu, pendapatan mereka akan meningkat dan berpengaruh pada perubahan kesejahteraan hidup; membuka kesempatan yang luas kepada masyarakat desa untuk memperoleh kredit usaha yang mudah. memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan masyarakat desa. Kebutuhan sandang, papan dan pangan perlu dilakukan melalui sebuah mekanisme lumbung desa yang memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat desa, memperoleh sumber-sumber kebutuhan yang disediakan secara terorganisir; memperkenalkan sistem pertanian modern dengan teknologi baru yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menggali sumber-sumber pendapatan yang memadai. Teknologi pertanian diperbanyak dan diberikan secara cuma-cuma kepada petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan mempermudah pemenuhan kebutuhan hidup mereka; memberikan jaminan kesehatan kepada mayarakat dengan sistem layanan kesehatan gratis, memperbanyak PUSKESMAS dan unitunit layanan kesehatan kepada masyarakat desa yang miskin dan terbelakang; memberikan jaminan asuransi dan jaminan sosial terhadap masyarakat desa. Jaminan asuransi dan jaminan sosial dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin dan memberikan semangat hidup yang lebih berarti. Sistem asuransi dan jaminan sosial yang ada saat ini, diberlakukan secara diskriminatif, hanya terbatas kepada mereka yang memiliki uang saja. Untuk itu, pemerintah berkewajiban memberikan jaminan asuransi yang memadai kepada masyarakat miskin; memperkuat komitmen eksekutif dan legislatif untuk memperbaiki tatanan pemerintahan. Tatanan pemerintahan yang ada saat ini, memberikan keleluasaan bagi terjadinya praktik korupsi dalam seluruh level pemerintahan. Perbaikan tatanan pemerintahan, menjadi kata kunci untuk membuat program penanggulangan kemiskinan benar-benar diperuntukkan bagi masyarakat miskin; Mendorong agenda pembangunan daerah memprioritaskan pemberantasan kemiskinan sebagai skala prioritas yang utama, mendorong tekad semua pihak untuk mengakui kegagalan penanggulangan kemiskinan selama ini, membangkitkan kesadaran kolektif agar memahami kemiskinan sebagai musuh bersama, dan meningkatkan partisipasi semua pihak dalam memberantas kemiskinan.

C. Kemiskinan dari Aspek Empiris Konstektual Untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang kemiskinan kiranya tidaklah cukup hanya melalui pemahaman dari segi normative tekstual,

35

namun diperlukan pemahaman dari segi empiris kontekstual, karena acapkali pengertian secara normative (teoritis) sulit ditemukan di lapangan. Untuk itu, pada bab ini penulis mencoba mengurai kembali hasil-hasil penelitian terdahulu, yaitu antara lain :

1. Penelitian dengan judul “Tradisi Mengemis Masyarakat Desa Pragaan Daya Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep Madura”.80

2. Penelitian dengan judul ”Era Baru dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia”81
Laporan penelitian yang dicetak pada 2006 ini adalah merupakan hasil kerja dari staf Bank Dunia (The Word Bank) yang dilakukan sejak 2002

Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo yang beranggotakan 5 orang; Drs. Noer Abijono, M.Ed sebagai ketua tim, dengan anggota yang terdiri; Rahman Riyadi, SE., MM, Dra. Rachma Hasibuan, MS, Drs. Munir Anshori, dan M. Faridy, SH. Penelitian yang mengambil lokasi di desa Pragaan Daya Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep Madura ini mencoba mengungkap tiga persoalan, yaitu 1) bagaimana profil pengemis di desa Pragaan, 2) apa yang mendasari timbulnya pekerjaan mengemis, dan 3) bagaimana persepsi masyarakat Pragaan Daya terhadap tradisi mengemis yang telah berlangsung secara turun menurun. Penelitian ini menurut tim peneliti dilatarbelakangi oleh sebuah pemikiran utama, bahwa tradisi mengemis yang tumbuh dan berkembang di desa Pragaan Daya sudah menjadi cara hidup (way of life) yang melembaga sejak puluhan tahun silam. Hal ini merupakan prilaku yang menyimpang dari norma etika yang berlaku secara umum. Penyimpangan ini berkembang secara sistematik menjadi satu subkultur, yaitu suatu sistem prilaku yang menghasilkan organisasi social, nilai-nilai, rasa kebanggaan, norma dan moral tertentu yang bertentangan dengan situasi umum. Tradisi ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat bersifat multidimensional dan multidirektical. Dari segi agama dan etika social, pekerjaan mengemis merupakan pekerjaan yang tidak etis. Metode pengumpulan datanya adalah semi wawancara dan tidak terstruktur serta observasi partisipatori untuk kelompok-kelompok focus. Sedangkan analisis datanya menggunakan kerangka berpikir induktif. Hasil penelitiannya ada empat, yaitu : a. Terdapat tiga karakteristik pengemis di desa Pragaan Daya; personal, kolektif, dan kolektif-fiktif. b. Faktor yang menjadi penyebab munculnya tradisi mengemis antara lain adalah lahan pertanian yang tidak produktif karena kering dan tandus, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, dan minimnya pengetahuan dan realisasi nilai-nilai agama. c. Terbatasnya potensi SDA, SDM dan ekonomi. d. Ada dua persepsi masyarakat tentang tradisi mengemis; pertama, pekerjaan mengemis dipandang sebagai pekerjaan pada umumnya, dan kedua, pekerjaan ini dipandang sebagai pekerjaan yang menyalahi norma agama dan sosial.

80 Marzuki Wahid, et.all (Ed), Sinopsis dan Indeksasi Hasil Penelitian Kompetitif Dosen PTAI Tahun 1999-2003, (Jakarta: Ditpertais. Ditjen Bagais. Depag. RI, 2004), 117-122 81 www.wordbank.or.id

36

sampai akhir 2005 bekerjasama dengan Kementrian Perekonomian Indonesia, Kementerian Kesejahteraan Rakyat, Bappenas, LPEM-UI Jakarta, Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung, dan Lembaga Penelitian SMERU Jakarta dibawah naungan Program Analisa Kemiskinan di Indonesia (INDOPOV) di kantor Bank Dunia Jakarta. Fakos penelitian ini adalah tentang karakteristik kemiskinan di Indonesia dengan mencoba; 1) mengidentifikasikan apa yang bermanfaat dan tidak bermanfaat dalam upaya pengentasan kemiskinan, 2) memperjelas pilihan-pilihan apa saj yang tersedia untuk Pemerintah dan lembaga-lembaga non pemerintah dalam upaya memberbaiki standar kualitas kehidupan masyarakat miskin. Penelitian ini dilakukan dengan latar belakang; a. Indonesia sedang berada di ambang era yang baru, yaitu sesudah mengalami krisis multi dimensi pada akhir tahun 1990-an, Indonesia dari sisi ekonomi sudah berhasil kembali bangkit dari posisi salah satu negara berkembang berpenghasilan rendah menjadi salah satu negara berkembang berpenghasilan menengah. Sementara dari sisi lain mengalami transformasi besar di bidang sosial politik, berkembang dengan demokrasi yang penuh semangat dengan adanya desentralisasi pemerintahan, serta keterbukaan yang lebih luas dibandingkan dengan masa lalu. b. Pengentasan kemiskinan tetap merupakan salah satu masalah yang paling mendesak di Indonesia. c. Indonesia memiliki peluang emas untuk mengentaskan kemiskinan dengan cepat. d. Tantangannya adalah bagaimana membuat Indonesia bau itu bermanfaat bagi penduduk miskin (work for the poor). e. Indonesia sebenarnya bisa belajar dari pertumbuhan ekonomi, kebijakan dan program kemasyarakatan sendiri. Hasil penelitiannya dapat diungkapkan sebagai berikut : Pertama ; Ada tiga ciri yang menonjol kemiskinan di Indonesia; 1) Banyak penduduk Indonesia rentan kemiskinan, 2) ukuran kemiskinan didasarkan pada pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya, 3) mengingat sangat luas dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan Indonesia. Kedua, Ada tiga cara Indonesia untuk mengentaskan kemiskinan; 1) membuat pertumbuhan ekonomi bermanfaat bagi rakyat miskin, 2) membuat layanan sosial bermanfaat bagi rakyat miskin, 3) membuat pengeluaran (anggaran) pemerintah bermanfaat bagi rakyat miskin.

37

DAFTAR BACAAN Abu al-U’la Muhammad Abdurrahman ibn Abdurrahim al-Mubarakfuriy, Tuhafah al-Ahwadziy (Syarakh Jami’ al-Turmudzi, Juz kesepuluh (Bairut Lebanon: Dar al-Fikri, 1424 H/2003 M). Abu Yusuf , al-Kharaj, (Bairut Lebanon: Dar al-Ma’rifah, t.t.). Ali Yafie, “Islam Dan Problema Kemiskinan ,“ Majalah Pesantren, No.2/VolIII/1986. Abdurrahman al-Bagdadi, Ulama dan Penguasa di Masa Kejayaan dan Kemunduran, (Jakarta: Gema Insani Press, 1988). Berita Resmi Statistik No. 47 / IX / 1 September 2006, Tingkat Kemiskinan Di Indonesia Tahun 2005-2006. Bartley. M, Unemployment and Ill Health: Understanding the Relationship. Journal of Epidemiology and Community Health.1994; 48 (4). Dawam Rahardjo, Esei-esei Ekonomi Politik (Jakarta: LP3ES, 1985). Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pelaksanaan Program Jaring Perlindungan Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK). 1999. Ellies, S. The Dimension of Poverty. Kumarian Press. 1994. Gelberg, L., Stein, J.A., Neumann, C.G. Determinants of Undernutrition Among Homeless Adults. Public Health Report. 1995;110(4). Hadju, V., Razak Thaha,A., Djunaidi, M., Dahlan, dan Ramli. Status Gizi Anak Balita pada Keluarga Miskin di Provinsi Sulawesi Selatan, Majalah Medika. Edisi Khusus September 1999. Hellen Keller International (HKI), Reemerging of the Threat of Vitamin A Deficiency. Crisis Bulletin. 1998;1(2/October). dan Hellen Keller International (HKI). Alarming Rise of Iron Deficiency Anemia may Herald “Lost Generation”. Crisis Bulletin. 1998;1 (3/October). Jarnasy, Owin. Keadilan, Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan, (Jakarta: Belantika, 2004), Karjadi, D. Makalah pada Lokakarya Ekonomi Kesehatan, Perumusan dan Aplikasi Ilmu Ekonomi Kesehatan di Indonesia. Cimacan 9– 11 Oktober 1989. Kaplan, G.A., Pamuk, E.R., Lynch, J.W., Coden, R.D., Balfour, J.L., Inequity in Income and Mortality in the United States: Analysis of Mortality and Potential Pathways. British Medical Journal. 1996;312(7041). Lukman Ali et.all., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Cetakan Ketujuh (Jakarta: Balai Pustaka, 1996). Loekman Sutrisno, Kemiskinan, Perempuan, dan Pemberdayaan Kanisius, 1997). (Yogyakarta:

Lewis, Oscar. Kebudayaan Kemiskinan dalam Parsudi Suparlan. Kemiskinan di Perkotaan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 1996.

38

Al-Maliki, Abdurahman., as-Siyasatu al-Iqtishadiyahtu al-Mutsla, hal. 176. 1963. Mas’oed, M., Politik, Birokrasi dan Pembangunan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 1997), Masu’ah al-Hadis al-Syarif, Cetakan kedua, 2000 (Jami’ al-Huquq Mahfudlah li Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah (Global IslamicSoftware Company), 1991-1997). Mc. Clelland, The Achieving Society. Van Nostrandt Reinhald Co. New York. 1961. Nasikun. Diktat Mata Kuliah. Isu dan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan. Magister Administrasi Publik. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 2001. Nasikun. Diktat Mata Kuliah. Isu dan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan. Magister Administrasi Publik. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 2001. dan Jarnasy, Owin. Keadilan, Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan. Belantika. Jakarta. 2004. Al-Raghib al-Ashfahaniy, Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an (Beirut: Dar alFkr, tanpa tahun). Sayid Sabiq, Fikih Sunnah, Jilid I, Cetakan keempat (Bairut Lebanon: Dar alFikr, 1983 M/1403 H). Salim, E. Pembangunan Ekonomi dan Pemerataan, (Jakarta: Idayu,1980), Surat Kabar Suara Pembaharuan. 24 April 2004. Suharto, E. Paradigma Baru Studi Kemiskinan, diakses dari cvdedemnew.htm Soendoro, T. Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan: Tindakan Strategis untuk Mengurangi Dampak Krisis di Sektor Kesehatan. Medika. Edisi Khusus September 1999. Smelser, Neil. Toward Theory of Modernization dalam Amitai Etzioni dan Eva Etzioni (Ed), Social Change. Basic Books. New York.1964. Supriatna, Tjahya. Birokrasi Pemberdayaan dan Pengentasan Kemiskinan. Humaniora Utama Press. Bandung.1997. Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzamul Iqtishadi fil Islam,. (Beirut Lebanon: Daarul Ummah, 1990) Cetakan keempat . Tempo. Jeffrey Sachs: Perangi Kemiskinan untuk Perdamaian Dunia. 4 Agustus 2005. Gregorius Sahdan, Menanggulangi Kemiskinan Desa, www.ekonomirakyat.org, Jurnal Ekonomi Rakyat. Marzuki Wahid, et.all (Ed), Sinopsis dan Indeksasi Hasil Penelitian Kompetitif Dosen PTAI Tahun 1999-2003, (Jakarta: Ditpertais. Ditjen Bagais. Depag. RI, 2004). Nasikun. Diktat Mata Kuliah. Isu dan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan. Magister Administrasi Publik. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 2001. United Nations Declaration. Millenium Development Goals: a Compact among Nations to End Human Poverty in 2015. 2000.

39

Weinreb, L., Goldberg, R., Bassuk, E., Perloff,L, Determinants of Health and Services Use Patterns in Homeless and Low Income Housed Children. Journal of Pediatrics.1998;102(3). Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Cetakan keempat (Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1997 M/1418 H), 1953. dan Abd. Rahman bin Muhammad ‘Awadl al-Jaziriy, al-Fiqh ‘ala Madzahib al-‘Arba’ah (Mesir: Dar Ibn al-Haitsam, tanpa tahun). www.wordbank.or.id 2002). Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, Cetakan keenam (Jakarta: Litera AntarNusa,

40

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->