P. 1
Pengaruh Jarak Sengkang Terhadap Kekuatan Kolom

Pengaruh Jarak Sengkang Terhadap Kekuatan Kolom

|Views: 3,594|Likes:
Published by nuralam arifin

More info:

Published by: nuralam arifin on Apr 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/04/2013

pdf

text

original

Sections

TUGAS AKHIR

PENGARUH JARAK SENGKANG TERHADAP KEKUATAN KOLOM
Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Derajat Sarjana Strata Satu (S1) Teknik Sipil

Disusun Oleh : Nama No. Mhs : Kristiadi : 02 511 025

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

i

LEMBAR PENGESAHAN

TUGAS AKHIR PENGARUH JARAK SENGKANG TERHADAP KEKUATAN KOLOM

Disusun Oleh : Nama No. Mhs : Kristiadi : 02 511 025

Mengetahui : Ketua Jurusan Teknik Sipil

Telah diperiksa dan disetujui oleh Dosen Pembimbing :

Ir. H. Faisol A M, MS. Tanggal :

H. Ir. A Kadir Aboe, MS Tanggal :

ii

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb. Alhamdulillah dengan ini penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tuagas Akhir tentang Pengaruh Jarak Sengkang Terhadap Kekuatan Kolom. Penulisan laporan Tugas Akhir merupakan salah satu mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa untuk memperoleh derajat Sarjana Teknik Sipil. Laporan ini masih jauh untuk disebut sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan sebagai referensi untuk laporan-laporan selanjutnya. Dalam penyusunan laporan ini penulis tidak lepas dari bantuan, pengarahan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. Bapak Dr. Ir. H. Ruzardi, MS, selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. 2. Bapak Ir. H. Faisol A.M, MS, selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. 3. Bapak Ir. H. A Kadir Aboe, MS, selaku Dosen Pembimbing. 4. Bapak Ir. Tri Fajar Budiyono, MT, selaku Dosen Penguji. 5. Bapak Ir. H. Sustrawan, MS, selaku Dosen Penguji. 6. Kedua orang tuaku yang selalu menyanyangiku, yang tidak hentihentinya selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya. 7. Satu-satunya adik saya (Heny) yang selalu mendukung,’the only one my sister’. 8. Terima kasih buat my girl (Agnes) atas pengertiannya, dukungan dan kesabarannya, ‘U Are The Best my Girl’.

iii

9. Sahabat-sahabatku sepermainan (Gembong, Adi, Andis, Reza, Eko, Deni,Tituk, Galih, Oon, dsb) terima kasih atas dukungan dan maaf waktu berkumpul kita berkurang. 10. Thanks a lot to Hendra, Cici and pur (Cepet nyusul airsoft ya), kapan kita jalan ber-4 lagi. 11. Temen-temen kampus, u are my friend bro( Dedi, Kodok, Fian, KT, Hadi, Memet/Yogi, Arief, TG, All Class A) dan Teknik Sipil 2002. 12. Temen-temen kosku,terikasih membukakan pintu dimalam hari. 13. Temen-temen selama di lab. serta Pak Warno dan Mas Aris yang telah banyak membantu, memberikan pengertian dan arahan. 14. Terima kasih untuk temen-temen Airsoft Gun : Mas Feros,GSG-11 (Dimas, Agung, Odon, dsb), tenang sebentar lagi ‘i will back’. 15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah memberikan bantuan dan motivasi selama kuliah maupun dalam penyusunan tugas akhir. Semoga semua ilmu dan amal baik yang mereka berikan kepada penulis mendapat imbalan pahala yang setimpal dari Allah SWT. Akhir kata penulis juga mengharapkan agar semua ilmu yang telah penulis peroleh dapat berguna bagi penulis khususnya dan masyarakat pada umumnya. Wassalamu’alaikum Wr.Wb. Yogyakarta, Februari 2008 Penulis

Kristiadi

iv

ABSTRAKSI
Beton adalah salah satu bahan struktur bangunan yang saat ini banyak digunakan sebagai komponen struktur pada bangunan sipil seperti gedung, jembatan dan dermaga. Bahkan semakin berkembangnya teknologi dibidang konstruksi semakin banyak juga upaya-upaya untuk memperbaiki mutu beton dalam hal ini bagian komponen struktur yaitu kolom. Semakin langsing atau semakin panjang suatu kolom, kekuatan penampangnya akan berkurang bersamaan dengan timbulnya masalah tekuk yang dihadapi. Kolom umumnya mengalami pembebanan sentris dan eksentris tertentu (yaitu beban yang tidak bekerja pada pusat berat penampang melintang). Dalam suatu kolom terdapat pengekang yang disebut sengkang. Sengkang pada kolom berpengaruh pada kekuatan penampangnya sehingga akan berkurang bersamaan dengan timbulnya masalah tekuk yang dihadapi. Penelitian yang dilakukan dalam hal ini yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh jarak sengkang terhadap kekuatan kolom dengan variasi sengkang 10 cm dan 15 cm. Dengan memberikan pembebanan sentris dan eksentris 5 cm dan 7,5 cm pada kolom, dengan penampang persegi berdimensi b = 10 cm, h = 10 cm dan tinggi 80 cm. Tulangan memanjang yang digunakan polos diameter 8 mm dengan jumlah tulangan 4 buah sedangkan sengkang yang digunakan polos diameter 6 mm. Pada kolom tersebut dibebani beban aksial pada ujungnya untuk mengetahui seberapa besar pengaruh beban sentris dan eksentris terhadap kekuatan kolom pada umur 28 hari dengan kuat tekan beton rencana 25 MPa. Maka didapat hasil yaitu semakin pendek jarak sengkang pada kolom semakin besar kekuatan kolom tersebut, semakin besar beban yang diterima kolom semakin besar lendutan yang terjadi pada kolom tersebut, semakin besar eksentrisitas yang terdapat pada kolom, akan semakin besar pula pengurangan kuat aksial yang dapat ditahan kolom tersebut.

v

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR ABSTRAKSI DAFTAR ISI ………………………………………. .................................................................... i ii iii v vi ix x xii xiii

LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………. ………………………………………………. …………………………………………………….

DAFTAR TABEL ............................................................................ DAFTAR GAMBAR ....................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................... DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN ................. BAB I. PENDAHULUAN ……………………………. 1.1. Latar Belakang .........................…………… 1.2. Tujuan Penelitian 1.3. Rumusan Masalah ………………………. ……………………….

1 2 2 2 3 5

1.4. Manfaat Penelitian ....……………………. 1.5. Batasan Masalah ............………………….. BAB. II. TINJAUAN PUSTAKA …….............................. BAB. III. LANDASAN TEORI 3.1. Beton 3.2. Material Penyusun ...……………………….

..................................………………. ……………………….

7 7 8 11 12 14 15 15 16

3.2.1. Semen ..................…………..………. 3.2.2. Air ......................................…………. 3.2.3. Agregat ..................................……… ………………………. 3.3. Faktor Air Semen

3.4. Slump ................................................………. 3.5. Workability ………………………………. 3.6. Metode Perencanaan Adukan Beton .......….

vi

3.7. Baja Tulangan

…………………………

27 28 29 30 31 31 33 37 37 38 39

3.8. Kuat Tekan Beton ………………………. 3.9. Modulus Elastisitas ……………………….. 3.10. Momen Kelengkungan.................................. 3.11. Kolom .........................…………………… 3.10.1. Angka Kelangsingan......................... 3.10.2. Grafik Mn & Pn................................. 3.11. Sengkang .................................................... 3.11.1 Fungsi Sengkang ............................. 3.11.2 Syarat-syarat Sengkang .................... 3.11.3 Pengaruh Jarak Sengkang ................ BAB. IV. METODELOGI ...............................……………. 4.1. Bahan-bahan 4.2. Peralatan ........………………………..

40 40 43 44 44 45

.................…………………….

4.3. Pengujian Kuat Tarik Baja .............……… 4.4. Pengujian Tekan Kolom ……………….... 4.5. Pengolahan Data ........………………….... 4.6. Langkah-langkah Penelitian ..…………….. BAB. V. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................... 5.1 Hasil Penelitian ……………………....

46 46 47 48 50

5.1.1. Hasil Uji Kuat Desak Beton …….... 5.1.2. Hasil Uji Kuat Tarik Baja Tulangan 5.1.3. Hasil Uji Desak Kolom Sengkang 15 cm ………………………….... 5.2 Pembahasan ........................................... 5.2.1. Kapasitas Kolom Sentris Ditinjau dari Hubungan Beban dengan Lendutan .........…………………...

50

vii

5.2.2. Kapasitas Kolom Eksentris Ditinjau dari Hubungan Beban dengan Lendutan ...………………………. 5.2.3. Kapasitas Kolom Eksentris Ditinjau dari Hubungan Beban dengan Kelengkungan ...…………………. 5.2.4. Perbandingan Kekuatan Kolom Sentris Antara Sengkang 10 cm dengan Sengkang 15 cm Ditinjau dari Beban dengan Lendutan ….... 5.2.5. Perbandingan Kekuatan Kolom Eksentris 5 cm Antara Sengkang 10 cm dengan Sengkang 15 cm Ditinjau dari Beban dengan Lendutan .........................…......... 55 5.2.6. Perbandingan Kekuatan Kolom Eksentris 7,5 cm Antara Sengkang 10 cm dengan Sengkang 15 cm Ditinjau dari Beban dengan Lendutan .........................…......... …………….. 59 60 61 62 56 53 52 51

BAB. VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan ……………………………… 6.2. Saran ……………………………………… DAFTAR PUSTAKA …………………………………………....

LAMPIRAN ………………………………………………………

viii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 3.1 Tabel susunan unsur semen biasa........................................................ .9 Tabel 3.2 Tabel gradasi pasir............................................................................... 13 Tabel 3.3 Tabel gradasi kerikil............................................................................ 14 Tabel 3.4 Tabel tingkat pengendalian pekerjaan................................................. 17 Tabel 3.5 Tabel faktor pengali deviasi standar.................................................... 17 Tabel 3.6 Tabel nilai kuat tekan beton................................................................. 20 Tabel 3.7 Tabel penetapan nilai slump................................................................ 22 Tabel 3.8 Tabel kebutuhan air per meter kubik beton......................................... 23 Tabel 3.9 Tabel kebutuhan semen minimum....................................................... 24 Tabel 5.1 Hasil uji kuat tarik baja tulangan......................................................... 47 Tabel 5.2 Perbandingan Kekuatan Kolom Ditinjau dari Lendutan......................57 Tabel 5.3 Perbandingan Kekuatan Kolom Pada Beban 10 Ton (Dial 2).............58

ix

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1.2 Pembebanan Kolom........................................................................ 4 Gambar 3.1 Grafik faktor air semen.................................................................... 19 Gambar 3.2 Grafik mencari faktor air semen...................................................... 21 Gambar 3.3 Grafik persentase agregat halus terhadap agregat keseluruhan untuk butir maksimal 20mm................................................................................ 25 Gambar 3.4 Grafik hubungan kandungan air dan, berat jenis agregat campuran dan berat beton....................................................................... 26 Gambar 3.5 Diagram Tegang Regangan............................................................. 33 Gambar 3.6 Grafik hubungan Mn dan Pn........................................................... 36 Gambar 4.1 Universal Testing Material Shimatsu UMH30................................ 41 Gambar 4.2 Dukungan Sendi............................................................................... 41 Gambar 4.3 Loading Frame................................................................................. 42 Gambar 4.4 Dial Gauge....................................................................................... 43 Gambar 4.5 Hidrulc Jack......................................................................................43 Gambar 4.6 Benda Uji Kuat Tarik Baja.............................................................. 44 Gambar 4.7 Gambar flowchart pelaksanaan penelitian...................................... 45 Gambar 5.1 Grafik hubungan beban dengan lendutan maksimum kolom sentries sengkang 15 ........................................................................................ 48 Gambar 5.2 Grafik hubungan beban dengan lendutan maksimum kolom eksentrisitas 5 cm pada jarak sengkang 15 cm...……………........................... 49

x

Gambar 5.3 Grafik hubungan beban dengan lendutan maksimum kolom eksentrisitas 7,5 cm pada jarak sengkang 15 cm………………........................ 49 Gambar 5.4 Grafik pengaruh eksentrisitas terhadap lendutan pada dial 2. (Pada kolom sentris beban belum maksimum).....................................................51 Gambar 5.5 Grafik hubungan beban dengan kelengkungan kolom eksentris..... 53 Gambar 5.6 Grafik perbandingan kolom sentris sengkang 10 cm dengan sengkang 15 cm ................................................................................................. 54 Gambar 5.7 Grafik perbandingan kolom eksentris 5 cm sengkang 10 cm Dengan sengkang 15 cm .................................................................................... 55 Gambar 5.8 Grafik perbandingan kolom eksentris 7,5 cm sengkang 10 cm Dengan sengkang 15 cm .................................................................................... 56

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 Data pemeriksaan berat jenis dan kadar air pasir..................................1 Data pemeriksaan berat jenis dan kadar air kerikil...............................2 Data pemeriksaan butiran yang lewat ayakan no.200 ...........................3 Data pemeriksaan berat isi pada agregat kasar..................................... 4 Data pemeriksaan MHB / analisa saringan agregat halus..................... 5 Data pemeriksaan MHB / analisa saringan agregat kasar..................... 6 Lampiran 2 Data hasil uji tekan silinder 28 hari...................................................... 7 Data hasil uji tarik baja tulangan.......................................................... 8 Lampiran 3 Data hasil uji desak kolom.................................................................... 9 Lampiran 4 Perhitungan campuran beton ( Mix Design ) Metode DOE ( Department of Environment )...........................................................21 Perhitungan Teoritis Perencanaan Awal.............................................25 Lampiran 5 Dokumentasi.......................................................................................30

xii

DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN

A As As’ b Bj DOE E f’c f’cr fs fy h I L Mn Pn Sd atau s Ф

= Luas (m2) = Luas Tulangan (m2) = Luas tulangan tarik (m2) = Lebar kolom (m) = Berat jenis (gram/cm3) = Departement Of Environment = Modulus elastis beton (MPa) = Kuat tekan benda uji ( MPa ) = Kuat tekan rata-rata pada perencanaan campuran beton ( MPa ) = Tegangan dalam (MPa) = Tegangan baja leleh (MPa) = Tinggi kolom (m) = Momen inersia (cm4) = Panjang (m) = Momen nominal (kN m) = Beban nominal (kN) = Standar deviasi (MPa) = Kelengkungan

xiii

xiv

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Beton adalah salah satu bahan struktur bangunan yang saat ini banyak digunakan sebagai komponen struktur pada bangunan sipil seperti gedung, jembatan dan dermaga. Bahkan semakin berkembangnya teknologi dibidang konstruksi semakin banyak juga upaya-upaya untuk memperbaiki mutu beton dalam hal ini bagian komponen struktur yaitu kolom. Kolom dari suatu bangunan merupakan salah satu elemen dari struktur rangka yang mengalami desak dan lentur serta pemakaiannya selalu dihubungkan dengan elemen struktur yang lain yaitu balok sebagai satu kesatuan. Kolom berfungsi menahan gaya-gaya yang berkerja pada balok dan meneruskannya ke pondasi. Sebagai bagian dari suatu kerangka banguna dengan fungsi tersebut maka kolom menempati posisi penting di dalam sistem struktur bangunan. Semakin langsing atau semakin panjang suatu kolom, kekuatan penampangnya akan berkurang bersamaan dengan timbulnya masalah tekuk yang dihadapi. Kolom umumnya mengalami pembebanan eksentris tertentu (yaitu beban yang tidak bekerja pada pusat berat penampang melintang). Oleh karena itu, dalam merencanakan struktur kolom harus diperhitungkan secara cermat dengan memberikan kekuatan cadangan kekuatan lebih tinggi daripada untuk komponen struktur lainnya. Hal ini dikarenakan tuntutan arsitektural sekarang ini menuntut bangunan yang tidak selalu simetris. Pembebanan eksentris tersebut

2

mengakibatkan momen yang menimbulkan terjadinya tegangan tarik, dengan demikian penampang kolom akan menjadi daerah tekan dan tarik. Sengkang pada kolom berpengaruh pada kekuatan penampangnya sehingga akan berkurang bersamaan dengan timbulnya masalah tekuk yang dihadapi. Semakin pendek jarak sengkang pada kolom semakin besar kekutan kolom tersebut.

1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan kolom dalam menerima beban sentris dan eksentris dengan variasi jarak sengkang pada umur 28 hari dengan kuat tekan rencana 25 MPa.

1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan diatas maka dapat diambil rumusan masalah, yaitu : Seberapa besar pengaruh jarak sengkang terhadap kekuatan kolom dengan variasi sengkang 10 cm dan 15 cm.

1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain : 1. Dengan diadakan penelitian ini diharapkan dapat mengetahui kekuatan kolom dalam menerima baban sentris dan beban eksentris. 2. Dengan diadakan penelitian ini diharapkan dapat mengetahui perilaku kolom dalam menerima beban sentris dan beban eksentris.

3

1.5 Batasan Masalah Bertolak dari latar belakang, pokok masalah dan tujuan penelitian serta untuk memperjelas dan memudahkan dalam penelitian, maka dibuat batasanbatasan terhadap penelitian ini, yang meliputi : 1. Rencana campuran beton menggunakan metode DOE. 2. Kuat tekan beton ( fc = 25 Mpa ). 3. Portland cement yang dipergunakan adalah semen Gresik Tipe I, yang memiliki kuat tekan ( σc ) = 500 kg/cm2. 4. Agregat halus dan agregat kasar yang digunakan berasal dari sungai Boyong, Jogjakarta. Air yang digunakan berasal dari laboratorium Bahan Kontruksi Teknik Universitas Islam Indonesia. 5. Nilai slump yang direncanakan minimal 100 mm. 6. Tulangan yang digunakan polos diameter 8 mm dengan jumlah tulangan memanjang = 4 buah. 7. Sengkang yang digunakan polos diameter 6 mm dengan jarak antar sengkang 10 cm dan 15 cm. 8. Kolom Uniaksial. 10 cm

6 cm 10 cm

4

9. Pembebanan yang digunakan adalah : Beban sentris dan beban eksentris dengan eksentrisitas 5 cm dan 7,5 cm pada salah satu arah (X atau Y). a bc

a = Pembebanan sentris b = Pembebanan eksentris 5 cm (1/2 h) c = Pembebanan eksentris 7,5 cm (3/4 h)

Gambar 1.2 Pembebanan kolom 10. Jumlah benda uji masing - masing : a. 3 buah benda uji pembebanan sentris dengan kolom (10x10) cm dan tinggi 80 cm. b. 9 buah benda uji pembebanan eksentris dengan kolom (10x10) cm dan tinggi 80 cm. c. 3 buah benda uji kuat tekan dengan selinder diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. 11. Penelitian dilakukan di Laboratorium BKT, FTSP UII.

5

Bab II
TINJAUAN PUSTAKA

Kolom adalah komponen struktur bangunan yang menerima beban aksial tekan (Salmon Johnson, 1994). Beban kritis yang ditemukakan oleh Euler adalah bahwa kapasitas pikulbeban suatu kolom selalu berbanding terbalik dengan kuadrat panjang elemen, sebanding dengan modulus elastis material, dan sebanding dengan momen inersia penampang melintang (Schodek,1991). Pengaruh geser terhadap pengurangan kekuatan kolom sebanding dengan besarnya deformasi yang ditimbulkan oleh gaya geser. Penampang berbadan solid memiliki deformasi geser yang lebih kecil. Pengruh gaya geser yang kecil pada kolom berbadan solid dapat diabaikan dengan aman. (Salmon dan Johnson, 1990) Sengkang pada kolom berpengaruh pada kekuatan penampangnya sehingga akan berkurang bersamaan dengan timbulnya masalah tekuk yang dihadapi. Semakin pendek jarak sengkang pada kolom semakin besar kekutan kolom tersebut. (Istimawan Dipohusodo,1994) Apabila Tulangan baja leleh maka baja akan terjadi keruntuhan yang di sebabkan karena adanya gaya tarik atau terjadinya kehancuran pada beton yang tertekan.

6

Berdasarkan besarnya regangan pada tulangan baja yang tertarik, penampang kolom dapat dibagi menjadi dua kondisi awal keruntuhan 1.Keruntuhan tarik yang diawali dengan lelehnya tulangan yang tertarik. 2.Keruntuhan tekan yang diawali dengan runtuhnya beton yang tertekan. Kondisi balanced terjadi apabila keruntuhan diawali dengan lelehnya tulangan yang tertarik sekaligus juga hancurnya beton yang tertekan. (Nawy,1990)

7

BAB III LANDASAN TEORI

3.1 Beton Beton merupakan suatu komposit dari beberapa bahan batu-batuan yang direkatkan dengan bahan ikat. Beton berasal dari campuran agregat halus dan kasar dan ditambahkan dengan pasta semen. Dengan gradasi butiran yang baik akan terjadi saling mengunci diantara butiran. Proses awal terjadinya beton pasta semen yaitu proses hidrasi air dan semen, selanjutnya jika ditambahkan dengan agregat halus menjadi mortar dan jika ditambahkan agregat kasar menjadi beton (SK.SNI-T-15-1990-03). Beton normal adalah beton yang mempunyai berat satuan 2200 kg/m3 sampai 2500 kg/m3 dan dibuat menggunakan agregat alam yang dipecah maupun tidak dipecah (SK SNI-03-2847-2002, 2002).

3.2

Material Penyusun Menurut SK.SNI-S-15-1991-03. Beton terbuat dari bahan semen Portland,

air, agregat (agregat kasar dan halus) dalam proporsi perbandingan tertentu dengan atau tanpa bahan tambah pembentuk massa padat. Bahan-bahan tersebut memiliki sifat dan karakteristik yang bervariasi. Berikut adalah penjelasan karakteristik bahan-bahan penyusun beton tersebut.

8

3.2.1 Semen Semen Portland merupakan bahan ikat yang penting dan banyak dipakai dalam pembangunan fisik. Penggunaan jenis semen disesuaikan dangan kondisikondisi tertentu sesuai sifat-sifat khususnya. Semen Portland merupakan semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis dengan gips sebagai bahan tambahan (PUBI – 1982). Semen Portland yang digunakan di Indonesia harus memenuhi syarat SII.0013-81 atau Standar Uji Bahan Bangunan Indonesia 1986, dan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam standar tersebut (PB.1982:3.2-8). Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus disesuaikan dengan rencana kekuatan dan spesifikasi teknik yang diberikan (Tri Mulyono, 2003). Menurut Triono Budi Astanto (2001), fungsi semen adalah mengikat butirbutir agregat menjadi satu padat. Semen bila dicampur dengan air membentuk adukan pasta, dicampur dengan pasir dan air menjadi mortar semen. Semen tersusun oleh unsur kimia seperti yang terlihat dalam tabel 3.1. Masih ditambah sedikit unsur-unsur lain : 1. Trikalsium Silikat (C3S) atau 3CaO.SiO2 2. Dikalsium Silikat (C2S) atau 2CaO.SiO2 3. Trikalsium Aluminat (C3A) atau 3CaO.Al2O3 4. Tetrakalsium Aluminiferit (C4AF) atau 4CaO.Al2O3.Fe2O3

9

Tabel 3.1. Susunan Unsur Semen Biasa Oksida Kapur (CaO) Silika (SiO2) Alumina (Al2O3) Besi (Fe2O3) Magnesia (MgO) Sulfur (SO3) Soda/Potas (Na2O + K2O) Persen 60 – 65 17 – 25 3–8 0,5 – 6 0,5 – 4 1–2 0,5 – 1

Menurut SNI 15-2049-1994, (1994). Semen Portland diklasifikasikan dalam lima jenis, yaitu : 1. Jenis I : Semen Portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan-persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain, 2. Jenis II : Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat atau kalori hidrasi sedang, 3. Jenis III : Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan kekuatan tinggi pada tahap permulaan setelah pengikatan terjadi, 4. Jenis VI : Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan kalori hidrasi rendah, dan 5. Jenis V : Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan tinggi terhadap sulfat.

10

Menurut Tjokrodimuljo (1992), sifat-sifat fisik semen yang penting terdiri dari : 1. Kehalusan butir : Butir-butir semen yang halus akan menjadi kuat dan menghasilkan panas hidrasi yang lebih cepat daripada semen dengan butir-butir yang lebih kasar. Semen berbutir halus meningkatkan kohesi pada beton segar dan dapat pula mengurangi bleeding, akan tetapi menambah kecenderungan untuk menyusut lebih banyak dan mempermudah terjadinya retak susut. 2. Waktu ikatan : Semen jika dicampur dengan air membentuk bubur yang secara bertahap menjadi kurang plastis dan akhirnya menjadi keras. Waktu ikatan terjadi saat pasta semen cukup kaku untuk menahan suatu tekanan. Waktu ikatan awal yang cukup lama diperlukan untuk pekerjaan beton yaitu waktu transportasi, penuangan, pemadatan, dan perataan permukaan. 3. Panas hidrasi : Untuk semen dengan panas hidrasi rendah harus tidak lebih dari 66 kalori/gram sampai pada tujuh hari pertama, dan 75 kalori/gram sampai pada 28 hari. Laju hidrasi dan penambahan panas bertambah besar sejalan dengan semakain halusnya semen, walaupun kuantitas total panas yang dibebaskan tidak dipengaruhi oleh kehalusan tersebut.

11

4. Berat jenis

: Berat jenis bukan merupakan petunjuk kualitas semen, nilai ini hanya digunakan dalam perhitungan campuran saja.

3.2.2

Air Di dalam campuran beton, air mempunyai dua buah fungsi yang pertama

yaitu untuk memungkinkan reaksi kimiawi yang menyebabkan pengikatan dan berlangsungnya pengerasan, yang kedua sebagai bahan pelumas antara butir-butir agregat agar dapat mudah dikerjakan dan dipadatkan. Air yang diperlukan untuk melakukan hidrasi hanya sekitar 30 % dari berat semen, kandungan air tidak boleh terlalu banyak karena kekuatan beton akan rendah. Selain itu, kelebihan akan air akan bersama-sama dengan semen bergerak ke permukaan adukan beton segar yang baru saja dituang (bleeding). Selaput tipis akibat dari bleeding ini akan mengurangi lekatan antara lapis-lapis beton dan merupakan bidang sambung yang lemah. (Kardiyono Tjokrodimulyjo, 1992) Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak, asam, alkali, garam-garaman, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusakan beton dan baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum (PBI-1971). Dalam pemakai air untuk beton itu sebaiknya air memenuhi syarat sebagai berikut : (Kardiono Tjokrodimulyjo,1992). 1. Tidak mengandung Lumpur (benda melayang lainnya) lebih dari 2 gram/liter.

12

2. Tidak mengandung garam-garam yang dapat merusak beton (asam, zat organik, dan sebagainya) lebih dari 15 gram/liter. 3. Tidak mengandung clorida (Cl) lebih dari 0,5 gram/liter. 4. Tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gram/liter.

3.2.3 Agregat Agregat adalah salah satu bahan pengisi beton. Hal ini disebabkan karena agregat mengisi sekitar 60% sampai 80% volume mortar atau beton. Agregat sangat berpengaruh pada kualitas beton, sehingga pemilihan agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan beton. Agregat dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu agregat kasar secara (alami atau buatan) dan agregat halus. Dalam pelaksanaan pekerjaan beton, besar butir agregat selalu ditentukan oleh ketentuan maksimum agregat, antara lain : a. Ukuran maksimum butiran agregat tidak boleh lebih dari bersih antar baja tulangan atau antara tulangan dua cetakan. b. Ukuran maksimum butir agregat tidak boleh lebih besar dari pelat. c. Ukuran maksimum butir agregat tidak boleh lebih besar dari jarak terkecil antar samping cetakan. Untuk beton dengan kekompakan yang baik, diperlukan gradasi agregat yang baik. Gradasi agregat adalah distribusi ukuran kekasaran butiran agregat.
1 kali 5 1 kali tebal 3
3 kali jarak 4

13

Gradasi diambil dari hasil pengayakan dengan lubang ayakan 10 mm, 20 mm, 30 mm, 40 mm untuk kerikil. Dan untuk pasir lubang ayakan 4,8 mm, 2,4 mm, 1,2 mm, 0,6 mm, 0,3 mm, dan 0,15 mm. Menurut SK-SNI-T-15-1990-03, kekasaran pasir dibagi menjadi empat kelompok menurut gradasinya, yaitu pasir halus, agak halus, agak kasar, kasar. Batas-batas jenis pasir tercantum pada tabel 3.2 ; Tabel 3.2 Gradasi Pasir Lubang ayakan (mm) 10 4,8 2,4 1,2 0,6 0,3 0,15 Persen butiran yang lewat ayakan Daerah I 100 90-100 65-95 30-70 15-34 5-20 0-10 Daerah II 100 90-100 75-100 55-90 35-59 8-30 0-10 Daerah III 100 90-100 85-100 75-100 60-79 12-40 0-10 Daerah IV 100 95-100 95-100 90-100 80-100 15-50 0-15

Sumber : Triono Budi Astanto ( 2001 ) Keterangan : Daerah I : Pasir kasar Daerah II : Pasir agak kasar Daerah III : Pasir agak halus Daerah IV : Pasir halus Adapun Agregat kerikil ditetapkan dalam table 3.3

14

Tabel 3.3 Gradasi Kerikil Persen berat butir lewat ayakan Lubang Berat butir maksimum ayakan (mm) 40 mm 40 20 10 4,8 95-100 30-70 10-35 0-5 20 mm 100 95-100 25-55 0-10

Sumber : Triono Budi Astanto ( 2001 ) Indek yang dipakai untuk kehalusan dan kekasaran butir agregat ditetapkan dengan modulus halus butir. Pada umumnya pasir yang mempunyai modulus halus campuran 1,5 sampai 3,8 dan kerikil antara 5 sampai 8 modulus halus butir dihitung dengan rumus: W=
K −C x100% C−P

( 3.1 )

Dengan

W = Presentase berat pasir terhadap berat kerikil K = Modulus halus butir kerikil P = Modulus halus butir pasir C = Modulus halus butir campuran

3.3 Faktor Air Semen Faktor air semen (fas) sangat mempengaruhi kekuatan beton. Faktor air semen merupakan perbandingan antara berat air dengan semen dalam adukan

15

beton. Karena fas mempunyai pengaruh terhadap sifat-sifat beton seperti permeabilitas, ketahanan terhadap gaya dan pengaruh cuaca, ketahanan terhadap abrasi, kekuatan tarik, rayapan, penyusutan dan terutama kuat tekan.(L.J Murdock dan K.M Brook,1991).

3.4 Slump Slump digunakan sebagai parameter untuk mengetahui tingkat kelecakan suatu adukan beton, sebab hal ini akan sangat berpengaruh pada tingkat pengerjaan beton. Nilai slump lebih ditentukan oleh jumlah air yang ditambahkan ke dalam adukan, sehingga variasi hanya terjadi pada jumlah semen dan agregat saja, bila nilai slump sama akan tetapi nilai fas nya berubah maka akan berpengaruh terhadap kekuatan beton..

3.5 Workability Istilah workability sulit untuk didefinisikan dengan tepat, dan Newman

mengusulkan agar didefinisikan pada sekurang-kurangnya tiga buah sifat yang terpisah : 1. Kompaktibilitas, atau kemudahan dimana beton dapat dipadatkan dan rongga udaranya diambil. 2. Mobilitas, atau kemudahan dimana beton dapat mengalir kedalam cetakan disekitar baja dan dituang kembali.

16

3. Stabilitas, atau kemampuan beton untuk tetap sebagai massa yang homogen; koheren dan stabil selama dikerjakan dan digetarkan tanpa terjadi segregasi/pemisahan butiran dari bahan-bahan utamanya. (L.J Murdock dan K.M Brook, 1991)

3.6 Metode Perencanaan Adukan Beton Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode “ The British Mix Design Method ” atau lebih dikenal di Indonesia dengan cara DOE (Department Of Environment). Langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Menetapkan kuat tekan beton yang disyaratkan pada 28 hari (fc’) Kuat tekan beton ditetapkan sesuai dengan persyaratan perencanaan strukturnya dan kondisi setempat di lapangan. Kuat beton yang disyaratkan adalah kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah hanya 5% saja dari nilai tersebut. 2 Menetapkan nilai deviasi standar (Sd) Standar deviasi ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaan pencampuran betonnya, makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilainya. a. Jika pelaksana tidak mempunyai data pengalaman atau mempunyai pengalaman kurang dari 15 buah benda uji, maka nilai deviasi standar diambil dari tingkat pengendalian mutu pekerjaan seperti tabel 3.4 :

17

Tabel 3.4 Tingkat pengendalian pekerjaan Tingkat pengendalian mutu pekerjaan Memuaskan Sangat baik Baik Cukup Jelek Tanpa kendali 2,8 3,5 4,2 5,6 7,0 8,4 Sd ( MPa )

b. Jika pelaksana mempunyai data pengalaman pembuatan beton serupa minimal 30 buah silinder yang diuji kuat tekan rata-ratanya pada umur 28 hari, maka jumlah data dikoreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu faktor pengali pada tabel 3.5 :

Tabel 3.5 Faktor Pengali deviasi standar Jumlah data Faktor pengali 30 1,0 25 1,03 20 1,08 15 1,16 <15 Tidak boleh

3

Menghitung nilai tambah margin (M) M = k. Sd Keterangan : M = nilai tambah

18

K = 1,64 Sd = standar deviasi Rumus di atas berlaku jika pelaksana mempunyai data pengalaman pembuatan beton yang diuji kuat tekannya pada umur 28 hari. Jika tidak mempunyai data pengalaman pembuatan beton atau mempunyai pengalaman kurang dari 15 benda uji, nilai M langsung diambil 12 MPa. 4 Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan. Rumusnya : f’cr = f’c +M Keterangan : f’cr = kuat tekan rata-rata f’c = kuat tekan yang disyaratkan M = nilai tambah 5 6 7 Menetapkan jenis semen Menetapkan jenis agregat (pasir dan kerikil) Menetapkan faktor air semen Cara menetapkan faktor air semen diperoleh dari nilai terendah ketiga cara.

19

a) Cara Pertama:

Gambar 3.1 Grafik faktor air semen Misal, kuat tekan selinder (f’cr = 32 MPa) pada saat umur beton 28 hari. Jenis semen tipe I atau garis utuh. Caranya tarik garis lurus dan memotong 28 hari didapatkan faktor air semen (Gambar 3.1) b) Cara Kedua Diketahui jenis semen I, jenis agregat kasar batu pecah. Kuat tekan rata-ratanya pada umur 28 hari, maka gunakan tabel 3.6 :

20

Tabel 3.6 Nilai kuat tekan beton Jenis semen I, II, III Jenis agregat kasar (kerikil) Alami Batu pecah IV Alami Batu pecah 3 17 19 21 25 Umur Beton 7 23 27 28 33 28 33 37 38 44 91 40 45 44 48

Dari tabel di atas diperoleh nilai kuat tekan = 37 MPa, yaitu jenis semen I, kerikil batu pecah dan umur beton 28 hari. Kemudian, dengan faktor air semen 0,5 dan f’cr = 37 MPa, digunakan grafik penentuan faktor air semen dibawah ini. Caranya, tarik garis ke kanan mendatar 37, tarik garis ke atas 0,5 dan berpotongan pada titik A. Buat garis putus-putus dimulai dari titik A ke atas dan ke bawah melengkung seperti garis yang di atas dan di bawahnya.

21

Gambar 3.2 Grafik mencari faktor air semen c) Cara Ketiga : Dengan melihat persyaratan untuk berbagai pembetonan dan lingkungan khusus, beton yang berhubungan dengan air tanah mengandung sulfat dan untuk beton bertulang terendam air. Dengan cara ini diperoleh : 1. Untuk pembetonan di dalam ruang bangunan dan keadaan keliling non korosif = 0,60. 2. Untuk beton yang berhubungan dengan air tanah, dengan jenis semen tipe I tanpa pozzolan untuk tanah mengandung SO3 antara 0,3 – 1,2 maka fas yang diperoleh = 0,50.

22

3. Untuk beton bertulang dalam air tawar dan tipe semen I yaitu faktor air semennya = 0,50. Dari ketiga cara di atas ambil nilai yang terendah. 8. Menetapkan faktor air semen maksimum Cara ini didapat dari ketiga cara di atas ambil nilai faktor air semen yang terkecil. 9. Menetapkan nilai slump Nilai slump didapat sesuai dari pemakaian beton, hal ini dapat diketahui dari tabel 3.7 Tabel 3.7 Penetapan Nilai Slump (cm) Pemakaian Beton Dinding, pelat pondasi dan pondasi telapak bertulang Pondasi telapak tidak bertulang koison, struktur dibawah tanah Pelat, balok, kolom dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan masal 15,0 7,5 7,5 7,5 5,0 2,5 9,0 2,5 Maks 12,5 Min 5,0

10. Menetapkan ukuran besar butir agregat maksimum (kerikil). 11. Menetapkan jumlah kebutuhan air Untuk menetapkan kebutuhan air per meter kubik beton digunakan tabel 3.8 :

23

Tabel 3.8 Tabel Kebutuhan air per meter kubik beton (liter) Besar ukuran maks kerikil ( mm ) 10 Alami Batu pecah 20 Alami Batu pecah 40 Alami Batu pecah 150 180 135 170 115 155 180 205 160 190 140 175 205 230 180 210 160 190 225 250 195 225 175 205 Jenis Batuan 0-10 Slump ( mm ) 10-30 30-60 60-180

Dalam tabel di atas, bila agregat halus dan agregat kasar yang dipakai memiliki jenis yang berbeda (alami dan pecahan), maka jumlah air yang diperkirakan diperbaiki dengan rumus : A = 0,67 Ah + 0,33 Ak Dengan : A = jumlah air yang dibutuhkan, liter/m3 Ah = jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat halusnya Ak = jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat kasarnya 12. Menetapkan kebutuhan semen Berat semen per meter kubik =
Jumlahairy angdibutuh kan Faktorairs emenmaksimum

13. Menetapkan kebutuhan semen minimum Kebutuhan semen minimum ditetapkan berdasar tabel 3.9 :

24

Tabel 3.9 Kebutuhan semen minimum Berhubungan dengan Tipe semen Kandungan semen min. Ukuran maks agregat (mm) 40 Air tawar Air payau Semua tipe I-V Tipe + pozolan ( 1540% ) atau S.P pozolan Tipe II atau V Air laut Tipe II atau V 290 330 330 370 280 340 20 300 380

14. Menetapkan kebutuhan semen yang sesuai Untuk menetapkan kebutuhan semen, lihat langkah l (kebutuhan semen dan kebutuhan semen minimumnya), maka yang dipakai harga terbesar diantara keduanya. 15. Penyesuaian jumlah air atau faktor air semen Jika jumlah semen pada langkah l dan m berubah, maka faktor air semen berubah yang ditetapkan dengan : a) Jika akan menurunkan faktor air semen, maka faktor air semen dihitung lagi dengan cara jumlah air dibagi jumlah semen minimum. b) Jika akan menaikan jumlah air lakukan dengan cara jumlah semen minimum dikalikan faktor air semen.

25

16. Menentukan golongan pasir Golongan pasir ditentukan dengan cara menghitung hasil ayakan hingga dapat ditemukan golongannya. 17. Menentukan perbandingan pasir dan kerikil. Untuk menentukan perbandingan antara pasir dan kerikil dapat dicari dengan bantuan grafik dibawah ini. Dengan melihat nilai slump yang direncanakan, ukuran butir maksimum, zona pasir, dan faktor air semen

Gambar 3.3. Grafik persentase agregat halus terhadap agregat keseluruhan untuk ukuran butir maksimal 20 mm 18. Menentukan berat jenis campuran pasir dan kerikil a) Jika tidak ada data, maka agregat alami (pasir) diambil 2,7 dan untuk kerikil (pecahan) diambil 2,7. b) Jika mempunyai data, dihitung dengan rumus :

26

Bj campuran = (P/100) x Bj pasir + (K/100) x Bj kerikil Diketahui : Bj campuran = berat jenis campuran P = persentase pasir terhadap agregat campuran K = persentase kerikil terhadap agregat campuran 19. Menentukan berat beton Untuk menentukan berat beton digunakan data berat jenis campuran dan kebutuhan air tiap meter kubik, setelah ada data, kemudian dimasukan kedalam gambar 3.4 :

Gambar 3.4. Grafik hubungan kandungan air, berat jenis agregat campuran dan berat beton

27

Misalnya, jika berat jenis campuran 2,6 Kebutuhan air tiap meter kubik = 219 Caranya, tentukan angka 219 dan tarik garis keatas memotong garis berat jenis 2,6 dan tarik garis ke kiri, dan temukan berat jenis betonnya 2325 kg/m3. 20. Menentukan kebutuhan pasir dan kerikil Berat pasir + berat kerikil = berat beton – kebutuhan air – kebutuhan semen. 21. Menentukan kebutuhan pasir Kebutuhan pasir = kebutuhan pasir dan kerikil x persentase berat pasir. 22. Menentukan kebutuhan kerikil Kebutuhan kerikil = kebutuhan pasir dan kerikil – kebutuhan pasir.

3.7 Baja Tulangan Besi baja atau sering disebut dengan baja saja merupakan paduan antara besi dan karbon, dengan kandungan karbon yang lebih sedikit dibandingkan pada besi tuang dan besi tempa. Berdasarkan kadar karbonnya, baja terbagi dalam : • • • • Baja sangat lunak (deed steel) Baja lunak (Low carbon steel) Kandungan karbonnya ≤ 0,10% Kandungan karbonnya 0,10% - 0.25%

Baja sedang (medium carbon steel) Kandungan karbonnya 0,25% - 0,70% Baja keras (high carbon steel) Kandungan karbonnya 0,70% - 1,50%

28

Akan tetapi dalam bidang konstruksi secara umum baja dibagi dalam dua kelompok yaitu sebagai baja keras dan baja lunak. Saat ini symbol yang digunakan untuk baja tulangan polos adalah BJTP dan untuk baja tulangan ulir adalah BJTD.

3.8 Kuat Tekan Beton Kuat tekan beton adalah besarnya beban per satuan luas, yang menyebabkan benda uji beton hancur apabila dibebani dengan gaya desak tertentu. Pada umumnya beton yang baik adalah beton yang mempunyai kuat desak yang tinggi. Karena mutu beton hanya ditinjau dari kuat desaknya saja. Umur beton berpengaruh pada kuat desak beton (Kardiyono Tjokrodimulyjo, 1992). Pengukuran kuat tekan beton dilakukan dengan membuat benda uji pada saat pengadukan beton berlangsung. Benda uji berupa selinder beton dengan ukuran diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, benda uji ini kemudian ditekan dengan mesin penekan sampai pecah. Beban tekan maksimum yang memecahkan itu dibagi dengan luas penampang selinder maka diperoleh nilai kuat tekan. Nilai kuat tekan dinyatakan dalam MPa atau kg/cm2 dihitung dengan rumus sebagai berikut (Kardiyono, 1992) : Kuat desak beton Dengan :
fc' = P A

( 3.2 )

fc’ = kuat tekan masing-masing benda uji (MPa) P = beban maksimum (N) A = Luas penampang benda uji (mm2)

29

Nilai uji yang diperoleh dari setiap benda uji akan berbeda, karena beton merupakan material yang heterogen, yang kekuatannya dipengaruhi oleh proporsi campuran, bentuk dan ukuran, kecepatan pembebanan, dan oleh kondisi lingkungan pada saat pengujian. Dari kuat tekan masing-masing benda uji kemudian dihitung kuat tekan beton rata-rata (f cr ’) dengan persamaan (Ari Novrizaldi, 2006).
N =1

f cr ’ =

i =1

∑ fc(i ) N

( 3.3 )

dengan : f cr ’ = kuat tekan beton rata-rata fc N = kuat tekan masing-masing benda uji (MPa) = jumlah semua benda uji yang diperiksa

3.9 Modulus Elastisitas Menurut perkembangan SK.SNI sesuai dengan perkembangan teknologi beton diberbagai negara penggunaan beton ringan semakin meluas. Sehingga penetapan nilai Modulus Elastisitas Beton (Ec), digunakan rumus empiris yang menyertakan kerapatan (density) atau berat beton (Kadir Aboe, 2000). Ec = 0.043Wc1.50 .

fc'

( 3.4 )

Dimana Ec = Modulus Elastisitas Beton tekan (MPa) Wc = Berat isi beton (kg/m3) – (1500 – 2500 kg/m3) Fc’ = kuat tekan beton (MPa) Untuk beton kepadatan normal dengan berat isi ± 23 kN/m3, maka :

30

Ec = 4700

fc'

( 3.5 )

Modulus elastis beton normal merupakan fungsi dari kuat desak beton : Ec =

σ ε

( 3.6 )

Dimana : Ec= Modulus Elastisitas Beton tekan (MPa) ε = Regangan yang dihasikan dari tegangan 0,4 σ σ = Tegangan pada 0,4 kuat tekan uji

3.10

Momen kelengkungan Dasar untuk perencanaan limit terletak pada kekakuan dari material yang

tidak elastis pada tegangan-tegangan yang tinggi, yaitu kemampuan untuk menahan suatu momen luluh tertentu sementara suatu kenaikan pada kelengkungan setempat yang banyak sekali terjadi. Suatu perencanaan limit harus mulai dengan mempertimbangkan hubungan antara momen lentur dengan kelengkungan yang dihasilkan suatu bagian konstruksi. Peningkatan

kelengkungan yang digunakan untuk menentukan kuat lentur beban kolom beton bertulang yang mengalami kerusakan. Lokasi kerusakan dalam penelitian ini dideteksi dengan peningkatan rangkaian kelengkungan. Hubungan momen, kelengkungan dan faktor kekakuan lentur dinyatakan dengan persamaan : Φ= Φ M E
M E.I

( 3.7 ) I = Inersia

= Kelengkungan = Momen = Modulus Elastisitas Beton

31

3.11 Kolom Kolom merupakan batang desak karena beban yang bekerja adalah aksial desak sepanjang sumbu bahan. Kolom merupakan elemen struktur yang harus direncanakan dan dihitung secara cermat mengenai kekuatan terhadap beban yang bekerja, karena elemen struktur ini berhubungan erat dengan kestabilan bangunan. Ada beberapa hal yang menyebabkan kehancuran pada kolom diantaranya adalah sifat kolom yang mengalami tekuk elastik atau tekuk inelastik. Sifat kolom yang mengalami suatu tekuk tertentu dipengaruhi oleh angka kelangsingan (slenderness ratio). Berdasarkan kelangsingannya, batang tekan atau kolom dapat digolongkan dalam 3 macam, yaitu kolom langsing (slenderness column), kolom sedang (medium column), dan kolom gemuk (stocky column).

3.11.1 Angka kelangsingan Untuk memperhitungkan momen rencana yang diperbesar akibat dari kelangsingan, sudah barang temtu harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kelangsingan suatu komponen struktur tekan harus diperhitungkan atau diabaikan. SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.11 ayat 4 memberikan ketentuan bahwa untuk komponen struktur tekan dengan pengaku lateral dan disokong untuk tertahan kearah samping, efek kelangsingan dapat diabaikan apabila rasio kelangsingan memenuhi:
k .lu < 34-12(M1b/M2b) r

32

Sedangkan untuk komponen struktur kelangsingan kolom tekan tanpa pengaku lateral, atau tidak disokong untuk tertahan kearah samping, efek kelangsingan dapat diabaikan apabila memenuhi:
k .lu < 22 r

untuk kolom langsing:
k .lu > 22 r

Untuk perhitungan angka kelangsingan menggunakan rumus sebagai berikut: Angka kelangsingan = Dimana : k = factor panjang efektif lu = panjang bersih kolom r = radius girasi r= Dimana : I = inersia tampang kolom A = luas tampang kolom
k .lu r

( 3.8 )

I A

( 3.9 )

33

3.10.2 Grafik Mn & Pn Grafik Mn & Pn adalah yang terdiri dari beban, momen, dan dibatasi oleh garis-garis yaitu daerah hancur tekan, keadaan seimbang, daerah hancur tarik. Kekuatan kolom dipengaruhi oleh ukuran kolom, fc’, dan fy. Eksentrisitas kecil akan memberikan keadaan dimana kegagalan kolom ditentukan oleh kegagalan tekan, sedangkan sebaliknya untuk eksentrisitas besar akan memberikan keadaan dimana kegagalan kolom ditentukan oleh kegagalan tarik. Untuk mendapatkan grafik Mn & Pn maka diperlukan perhitungan yang terdiri dari beban sentris (Pn) dan beban eksentris yang menyebabkan momen (Mn) untuk ukuran kolom tertentu. Kekuatan tarik baja tulangan Ts = As . fs Kekuatan beton desak Cc = 0,85 fc’ . b . h ( 3.11 ) ( 3.10 )

Kekuatan desak baja tulangan Cs = As’ . ( fs’ – ( 0,85 . fc’ )) ( 3.12 )

d’ d

x

a

Cs Cc

Ts Gambar 3.5 Diagram tegangan regangan

34

⎛d − x⎞ fs = Es . єs . ⎜ ⎟ ⎝ x ⎠

⎛d −x⎞ fs = 200000 . 0.003 . ⎜ ⎟ ⎝ x ⎠ ⎛d −x⎞ fs = 600 . ⎜ ⎟ ⎝ x ⎠ ⎛ x − d'⎞ fs’ = Es . єs . ⎜ ⎟ ⎝ x ⎠ ⎛ x − d'⎞ fs = 200000 . 0.003 . ⎜ ⎟ ⎝ x ⎠ ⎛ x − d'⎞ fs’ = 600 . ⎜ ⎟ ⎝ x ⎠

( 3.13 )

( 3.14 )

Dimana :

x > xb Runtuh desak x < xb Runtuh tarik

⎛ 600 ⎞ xb = ⎜ ⎜ 600 + fy ⎟ . d ⎟ ⎝ ⎠ ab = β1 . xb

( 3.15 ) ( 3.16 )

Bila

fs > fy digunakan fy fs < fy digunakan fs

Bila

fs’ > fy digunakan fy fs’ < fy digunakan fs’

Kekuatan nominal kolom beban sentris Pn = 0,85 . fc’ ( Ag – Ast ) + Ast . fy Mn = 0 ( 3.17 )

35

Kekuatan nominal kolom beban eksentris Pn = Cc + Cs – Ts
h⎞ ⎛ h ab ⎞ ⎛h ⎞ ⎛ Mn = Cc ⎜ − ⎟ + Cs ⎜ − d ' ⎟ + Ts ⎜ d − ⎟ 2⎠ ⎝2 2 ⎠ ⎝2 ⎠ ⎝

( 3.18 ) ( 3.19 )

Kekuatan kolom pada saat Pn = 0 a= As. fy 0,85. fc '.b ( 3.20 )

a⎞ ⎛ Mn = As . fy ⎜ d − ⎟ 2⎠ ⎝

( 3.21 )

Eksentrisitas

e=

Mn Pn

( 3.22 )

Dari perhitungan teoritis dengan dimensi kolom 10 cm x 10 cm x 80 cm, kekuatan tekan beton 25 MPa dan jumlah tulangan 4 diameter 8 mm polos dengan kekuatan tarik baja tulangan 240 Mpa, jarak antar sengkang 10 cm dan 15 cm menggunakan tulangan diameter 6 mm polos. Diperoleh gambar grafik MN & Pn seperti dibawah ini.

36

Gambar 3.6 Grafik hubungan Mn dan Pn.

37

3.10.3

Sengkang

a. Fungsi Sengkang 1. Sengkang sebagai penahan gaya geser Sebagaimana pada balok, kolom juga terdapat gaya geser. Keduaduanya hampir sama. Kalau pada balok gaya geser terjadi akibat adanya beban gravitasi dan momen ujung. Sedangkan pada kolom gaya geser hanya terjadi akibat momen ujung saja. 2. Sengkang sebagai “Confinement” Confinement yang dimaksud adalah sebagai “pengekang” agar akibat gaya aksial suatu kolom tetap menyatu tidak pecah. Sebagaimana diketahui bahwa akibat gaya aksial, kolom disatu sisi akan mengalami pemendekan tetapi disisi lain kolom akan mengembang kearah samping. Maka dari itu tugas sengkang adalah mengikat kolom agar kolom betonnya tidak pecah. 3. Sengkang sebagai penahan Buckling Pada saat beton mengalupas/sapalling maka baja tulangan berkemungkinan lepas dengan betonnya. Pada kondisi tersebut baja tulangan akan berfungsi sebagai batang desak yang rawan terhadap bahaya tekuk/buckling. Menurut teori kestabilan, bahaya tekuk akan dipengaruhi oleh kelangsingan. Sedangkan pada sengkang kolom kelangsingan tulangan pokok akan bergantung pada: 1.Diameter tulangan pokok 2.Jarak sengkang S

38

Maka dengan demikian selain diameter sengkang dan tegangan lelehnya, jarak sengkang S memegang peranan penting. 4. Sengkang sebagai pengikat tulangan pokok Pada fungsi ini merupakan fungsi teknis yang paling praktis yaitu untuk mengikat tulangan pokok agar tempat, jarak atau posisinya dalam kondisi yang benar. Selain itu dengan adanya pengikat dari sengkang, pemasangan tulangan menjadi rapi. Sehingga tempat, jarak dan posisi tulangan harus dalam kondisi benar baik selama perangkaian tulangan maupun selama cor beton dilakukan. (Widodo Prof, Ir)

b.

Syarat-Syarat Sengkang Tulangan memanjang kolom senantiasa harus diikat oleh

sengkang-sengkang dengan jarak maksimum sebesar ukuran terkecil penampang, 15 kali diameter (diameter pengenal) batang tulangan memanjang terkecil atau 30 cm. Apabila oleh alasan-alasan praktis sengkang-sengkang tidak dapat dipasang (misalnya pada persilangan-persilangan), maka pengikatan tulangan memanjang harus dilakukan dengan cara-cara yang lain. Diameter batang sengkang tidak boleh diambil kurang dari ¼ diameter (diameter pengenal) batang tulangan memanjang yang terbesar dengan minimum 6 mm pada jenis baja lunak dan baja sedang dan 5 mm pada baja jenis keras. (PBI-1971)

39

c. Pengaruh Jarak Sengkang Sengkang pada kolom berpengaruh pada kekuatan penampangnya sehingga akan berkurang bersamaan dengan timbulnya masalah tekuk (buckling) yang dihadapi. Pada Eksentrisitas dapat terjadi akibat timbulnya momen yang antara lain disebabkan oleh kekangan pada ujung-ujung kolom yang dicetak secara monolit dengan komponen lain, pelaksanaan pemasangan yang kurang sempurna, ataupun penggunaan mutu bahan yang tidak merata. Maka untuk itu diperlukan kekuatan nominal kolom dengan pengikat sengkang direduksi 20% dengan jarak sengkang yang ditentukan sebagai pengaruh kekuatan kolom. Semakin pendek jarak sengkang pada kolom semakin besar kekutan kolom tersebut. Maka faktor keamanan yang lebih tinggi diberikan untuk kolom berpengikat sengkang dalam hal ini penggunaan jarak sengkang dalam rangka penting juga dapat memperhitungkan kecenderungan runtuh secara mendadak serta berpengaruh pada terbatasnya kemampuan menyerap energi dengan jarak sengkang yang pendek pada kolom.

40

BAB IV METODELOGI PENELITIAN

Metodelogi yang kami lakukan adalah dengan cara membuat benda uji di Laboraturium Bahan Konstruksi Teknik Universitas Islam Indonesia, kemudian kami mengujinya dengan cara : tekan dengan umur beton : 28 hari.

4.1

Bahan – bahan Bahan yang digunakan dalam proses pembuatan kolom adalah : 1. Semen Portland merek Gresik. 2. Agregat halus (pasir) diambil dari lereng Gunung Merapi. 3. Agregat kasar (kerikil) diambil dari Kali Clereng Kaliurang. 4. Air dari laboraturium Bahan Konstruksi Teknik Universitas Islam Indonesia. 5. Tulangan besi baja polos diameter 8mm dan 6mm.

4.2

Peralatan Alat – alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : a. Alat Pengukur Alat ukur yang digunakan untuk mengukur dimensi kolom benda uji.

41

b. Mesin Uji Tarik Digunakan untuk mengetahui kuat tarik baja. Pada penelitian ini digunakan Universal Testing Material (UTM) merk Shimtsu, type UMH330, kapasitas 30 ton (Gambar 4.1).

Gambar 4.1 Universal Testing Material Shimatsu UMH30

c. Dukungan Sendi Dukungan sendi dipasang pada kedua dukungan kolom (Gambar 4.2).

Gambar 4.2 Dukungan Sendi

42

d. Loading Frame Untuk menempatkan benda uji pada pengujian tekan dalam penelitian ini digunakan Loading Frame. Seperti pada (Gambar 4.3).

Gambar 4.3 Loading Frame

e. Dial Gauge Alat ini digunakan untuk mengukur besar lendutan yang terjadi. Untuk penelitian skala penuh digunakan dial gauge dengan kapasitas lendutan maksimumm 50 mm dan ketelitian 0,01 mm. Pada pengujian kolom kecil dipakai dial gauge dengan kapasitas lendutan maksimum 30 mm ketelitian 0,01 (Gambar 4.4).

43

Gambar 4.4 Dial Gauge

f. Hidraulic Jack Alat ini dipakai untuk memberikan pembebanan pada pengujian kolom dengan kapasitas maksimum 30 ton dan ketelitian pembacaan 0,5 ton (Gambar 4.5).

Gambar 4.5 Hidrulc Jack

4.3

Pengujian Kuat Tarik Baja Benda uji kuat tarik baja yang digunakan sebanyak dua buah, adapun

bentuk dari benda uji seperti gambar berikut:

44

Gambar 4.6 Benda Uji Kuat Tarik Baja Pengujian dilakukan untuk mengetahui tegangan leleh baja (Fy), tegangan ultimit baja (Fu).

4.4

Pengujian Tekan Kolom Pengujian kuat tekan baja ini dilakukan di laboratorium. Data yang

diambil dari pengujian ini adalah beban maksimum dan lendutan yang terjadi. Untuk melaksanakan pengujian kuat desak beton harus diikuti beberapa tahapan sebagai berikut : 1. Letakkan benda uji pada mesin tekan. 2. Jalankan mesin tekan dengan penambahan beban yang konstan berkisar antara 2 – 4 kg/cm2 per detik. 3. Lakukan pembebanan sampai benda uji menjadi hancur dan catatlah beban maksimum yang terjadi selama pemeriksaan benda uji. 4. Gambar bentuk pecah dan catatlah keadaan benda uji.

4.5

Pengolahan data Setelah bahan dan alat uji siap serta sampel uji telah dibuat, maka siap

untuk di uji sesuai prosedur penelitian. Hasil dari pengujian berupa data-data kasar yang masih perlu diolah lebih lanjut untuk mengetahui hubungan/korelasi

45

antar satu pengujian dengan pengujian lainnya. Secara umum dari pengujianpengujian yang akan dilakukan nantinya akan menghasilkan pengaruh jarak pembebanan eksentris terhadap kekuatan kolom beton.

4.6

Langkah-langkah penelitian

Langkah-langkah penelitian tergambarkan dalam flow chart dibawah ini :

Mulai

Persiapan Material dan Alat Uji

Pembuatan Benda Uji Perawatan Benda Uji

Pengujian Benda Uji Data Pengujian

Analisis

Kesimpulan Selesai

Gambar 4.7 Flowchart Pelaksanaan Penelitian

46

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian Hasil pengujian yang telah dilakukan pada benda uji silinder dan kolom bertujuan untuk mendapatkan data primer dari kuat desak silinder, kuat tarik baja tulangan, dan kuat desak kolom dengan variasi jarak sengkang. Dari pengujian tersebut juga dapat mengetahui perubahan fisik dan mengetahui kekuatan kolom dengan variasi jarak sengkang. Pembebanan dilakukan dengan memberikan beban sentris dan eksentris.

5.1.1

Hasil Uji Kuat Desak Beton Kekuatan desak beton rencana dapat direncanakan pada jenis campuran,

sifat-sifat agregat serta kualitas rawatan. Kuat desak beton diketahui dari uji desak 6 buah silinder beton ukuran diameter 15 cm, tinggi 30 cm. silinder beton dilakukan pengujian setelah umur 28 hari. Kuat desak beton yang disyaratkan pada umur 28 hari adalah 25 MPa dari hasil uji desak beton didapat kuat desak 31,404 MPa, sehingga memenuhi kuat desak beton rencana yang disyaratkan. Uji kuat desak 6 buah silinder beton bertujuan mengetahui kuat desak beton pada model, hasil uji disajikan pada lampiran, sedangkan rangkuman hasil uji sebagai berikut : Kuat tekan rata-rata (f’cr) Standart deviasi (Sd) = 40,588 MPa = 5,6 MPa

47

Jika penyimpangan maksimum 5% kuat desak silinder beton dapat dihitung dengan persamaan : f’c didapat f’c = f’cr – 1,64 . Sd = 40,588 – 1,64 . (5,6) = 31,404 MPa Berdasarkan hasil uji ini, kuat desak beton adalah 31,5 MPa

5.1.2

Hasil Uji Kuat Tarik Baja Tulangan Uji kuat tarik baja tulangan dilakukan dengan maksud untuk mengetahui

kualitas baja tulangan yang terpasang dalam benda uji. Sedangkan hasilnya ditunjukkan pada lampiran, rangkuman hasil uji kuat tarik baja tulangan ditunjukkan pada tabel 5.1 Tabel 5.1 Pengujian tarik baja tulangan
Benda uji 1 2 3 4 5 6 Diameter (mm) 6 6 6 8 8 8 Kuat leleh (fy) (MPa) 269,1 283,9 252,4 208,7 228,2 216,5 Kuat Tarik (MPa) 358,2 365,6 365,6 306,3 308,2 314,1 Putus (MPa) 244,9 248,7 252,4 234,1 230,3 238,1

48

5.1.3

Hasil Uji Desak Kolom Sengkang 15 cm Pada uji desak kolom sentris dengan variasi jarak sengkang 15 cm ini

pelaksanaan pengujian kuat desak kolom juga diberikan pembebanan secara bertahab dengan kenaikan sebesar 1 Ton, kemudian setiap tahap pembebanan lendutan yang terjadi dicatat. Berdasarkan dari hasil pengujian kuat desak kolom dapat digambarkan grafik hubungan beban dengan lendutan pada gambar berikut ini.
20 Beban (ton) 15 10 5 0 0 0,0005 0,001 0,0015 0,002 0,0025 0,003 0,0035 0,004 Lendutan (m) Arah X Arah Y Poly. (Arah X)

Gambar 5.1 Grafik hubungan beban dengan lendutan maksimum kolom sentries sengkang 15 cm

Pada beban sentris tersebut pengujian dihentikan pada beban 18 Ton dikarenakan keterbatasan alat (Kekuatan alat hanya mencapai ± 30 Ton) maka pengujian tersebut tidak dapat dilakukan secara maksimal. Selanjutnya dilakukan uji desak kolom eksentris dengan variasi eksentrisitas 5 cm dan 7,5 cm dengan sengkang 15 cm. Pada pengujian kuat desak kolom eksentrisitas ini, kolom juga diberikan pembebanan secara bertahab dengan

49

kenaikan sebesar 1 Ton, kemudian setiap tahap pembebanan lendutan yang terjadi dicatat. Maka berdasarkan dari hasil pengujian kuat desak kolom tersebut dapat digambarkan grafik hubungan beban dengan lendutan pada gambar berikut ini.
20 Beban (ton) 15 10 5 0 0 0,001 0,002 0,003 Lendutan (m) Dial 1 Poly. (Dial 1) Dial 2 Poly. (Dial 2) Dial 3 Poly. (Dial 3) Poly. (Dial 1) 0,004 0,005 0,006

Gambar 5.2 Grafik hubungan beban dengan lendutan maksimum kolom eksentrisitas 5 cm jarak sengkang 15 cm

14 12 Beban (ton) 10 8 6 4 2 0 0 0,002 0,004 0,006 0,008 0,01

Dial 1 Poly. (Dial 1)

Lendutan (m) Dial 2
Poly. (Dial 2)

Dial 3 Poly. (Dial 3)

Gambar 5.3 Grafik hubungan beban dengan lendutan maksimum kolom eksentrisitas 7,5 cm jarak sengkang 15 cm

50

Data beban dan lendutan uji kuat desak kolom sentris dan eksentris dengan eksentrisitas 5 cm dan 7,5 cm pada variasi jarak sengkang 10 cm diambil dari data pengujian yang dilakukan oleh Hendra Mudana (2007) ditunjukkan dalam lampiran 3, sehingga dari data tersebut dapat dibuat grafik hubungan beban dan lendutan kolom.

5.2

Pembahasan Pada uji desak ini dilakukan dengan menggunakan loading frame dan

hidraulik jack yang digunakan untuk mengetahui beban maksimum yang dapat ditahan oleh benda uji. Data yang diperoleh dari pengujian ini berguna untuk mengetahui perilaku kolom, nilai beban maksimum, dan lendutan yang diharapkan mampu memberikan penjelasan perbandingan mengenai perilaku kolom sentris dan eksentris 5 cm dan 7,5 cm dengan menggunakan variasi jarak sengkang 15 cm.

5.2.1

Kapasitas

kolom sentris ditinjau dari hubungan beban dengan

lendutan. Pada gambar grafik 5.1 lendutan kolom sentris dengan jarak sengkang 15 cm juga diperoleh lendutan arah X dan Y dan diperoleh lendutan maksimal arah X. Didapatkan data lendutan maksimum sebesar 0,00345 m pada beban 18 Ton yang terjadi pada Dial 1. Pada pengujian kolom sentris pada sengkang 15 cm beban yang diperoleh belum maksimal dikarenakan keterbatasan alat (kekuatan alat maksimal 30 Ton)

51

sehingga pada beban tersebut kolom belum mengalami kehancuran yang disebabkan oleh tekuk hanya mengalami keretakan.

5.2.2

Kapasitas kolom eksentris ditinjau dari hubungan beban dengan lendutan. Dari gambar grafik 5.2 untuk kolom eksentris 5 cm dengan jarak sengkang

15 cm. Dari grafik diperoleh lendutan maksimumnya sebesar 0,00501 m pada beban maksimum 16 Ton yang terjadi pada Dial 1. Sedangkan dari gambar grafik 5.3 untuk kolom eksentris 7,5 cm dengan jarak sengkang 15 cm. Dari grafik diperoleh lendutan maksimumnya sebesar 0,0086 m pada beban maksimum 10 Ton yang terjadi pada Dial 3.
Dial 2
20 Beban (Ton) 15 10 5 0 0 Sentris Sentris 0,001 0,002 0,003 0,004 0,005 0,006 0,007 0,008 Lendutan (mm) Eksentris 5 cm Eksentris 5 cm

Eksentris 7,5 cm Eksentris 7,5 cm

Gambar 5.4 Grafik pengaruh eksentrisitas terhadap lendutan pada dial 2. (Pada kolom sentris beban belum maksimum)

Dari gambar 5.4 dapat dilihat pengaruh eksentrisitas terhadap beban dan lendutan. Semakin besar beban yang diterima kolom semakin besar pula lendutan

52

yang terjadi dan semakin besar eksentrisitas, sebaliknya kekuatan kolom menjadi semakin kecil. Ini dapat dilihat pada beban 10 Ton pada eksentrisitas 7,5 cm sengkang 15 cm lendutan yang terjadi mulai ada perbedaan yang siknifikan sehingga antara beban sentris dan eksentris lendutan yang terjadi sudah berbeda jauh. Hal ini terjadi dikarenakan semakin besar eksentrisitas yang diterima oleh kolom maka momen yang terjadi akan semakin besar sejalan dengan penambahan beban, sehingga pada beban maksimum kolom mengalami kerusakan yang disebabkan oleh tekuk yang mengakibatkan besarnya lendutan seiring kerusakan kolom.

5.2.3

Kapasitas kolom eksentris ditinjau dari hubungan beban dengan kelengkungan. Dari hasil pengujian kolom sentris dan eksentris didapatkan data yang

berupa beban dan eksentrisitas, maka dari data tersebut dapat diolah dan dihitung secara teoritis yang kemudian diperoleh besar momen yang terjadi (M = P . e). Kemudian dapat disimpulkan semakin besar momen dengan kekakuan kolom yang sama semakin besar pula kelengkungan yang terjadi (Φ = penelitian kelengkungan yang terjadi searah beban (arah Y).
M ). Dari hasil E .I

53

20 15 Beban (Ton) 10 5 0 0 -5 Kelengkungan Sentris Eksentris 5 cm Eksentris 7,5 cm 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5

Gambar 5.5 Grafik hubungan beban dengan kelengkungan kolom eksentris Dari grafik 5.5 diatas dapat dilihat kelengkungan yang terjadi pada kolom eksentris. Hal ini dikarenakan semakin besar eksentrisitas yang diterima oleh kolom momen yang terjadi akan semakin besar serta kelengkungkungannya juga semakin besar dan beban yang diterima kecil. Maka dengan kekakuan kolom yang sama kelengkungan akan sangat dipengaruhi oleh eksentrisitas tetapi juga tergantung pada momen yang terjadi.

5.2.4

Perbandingan kekuatan kolom sentris antara sengkang 10 cm dengan sengkang 15 cm ditinjau dari beban dengan lendutan. Dari hasil penelitian saudara Hendra Mudana (2007) pada kolom sentris

sengkang 10 cm didapat data lendutan maksimum sebesar 0,0049 m pada beban 24 Ton. Pada pengujian kolom sentris ini beban yang didapatkan belum maksimal dikarenakan kekuatan alat tidak mencukupi (kekuatan alat maksimal 30 Ton) sehingga pada beban tersebut kolom belum mengalami kehancuran yang disebabkan oleh tekuk.

54

Sedangkan dari hasil pengujian pada sengkang 15 cm didapat data lendutan maksimum sebesar 0,00345 m pada beban 18 Ton yang terjadi pada Dial 1. Maka diperoleh grafik perbandingan antara kolom sentris sengkang 10 cm dengan 15 cm. Yang dapat dilihat pada gambar 5.6 .
30 25
Beban (Ton)

20 15 10 5 0 0 0,001 0,002 0,003 Lendutan (mm)
Sengkang 15 cm
Sengkang 10 cm
Sengkang 15 cm
Sengkang 10 cm

0,004

0,005

0,006

Gambar 5.6 perbandingan kolom sentris sengkang 10 cm dengan sengkang 15 cm. Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pada beban sentris baik sengkang 10 cm dan 15 cm sampai beban maksimum yang dapat diberikan oleh mesin uji, kemungkinan jika beban dapat ditingkatkan lagi baru akan terlihat perbedaan lendutan. Lendutan yang terjadi untuk sengkang 15 cm akan lebih besar daripada untuk sengkang 10 cm. Hal ini dikarenakan pada sengkang 10 cm pengekangannya lebih kuat.

55

5.2.5

Perbandingan kekuatan kolom eksentris 5 cm antara sengkang 10 cm dengan sengkang 15 cm ditinjau dari beban dengan lendutan. Dari hasil pengujian saudara Hendra Mudana (2007) kolom eksentris 5 cm

dengan jarak sengkang 10 cm. Maka dari grafik pada lampiran didapat lendutan maksimum sebesar 0,00579 m pada beban maksimum sebesar 17 Ton yang terjadi pada dial 3. Sedangkan dari gambar grafik 5.7 untuk kolom eksentris 5 cm dengan jarak sengkang 15 cm. Dari grafik diperoleh lendutan maksimumnya sebesar 0,00501 m pada beban maksimum 16 Ton yang terjadi pada Dial 1. Dari data-data diatas diperoleh grafik sebagai berikut.
Dial 2
20
Beban (Ton)

15 10 5 0 0
sengkang 15 cm

0,001

0,002

0,003
Sengkang 15 cm

0,004

0,005

lendutan (mm)
Sengkang 10 cm
Sengkang 10 cm

Gambar 5.7 perbandingan kolom eksentris 5 cm sengkang 10 cm dengan sengkang 15 cm. Dari grafik diatas lendutan yang terjadi antara kolom dengan sengkang 10 cm dan 15 cm perbedaannya tidak terlalu jauh, tetapi kekuatan kolom sengkang 10 cm lebih besar daripada sengkang 15 cm. Hal ini disebabkan sengkang yang semakin rapat mengakibatkan suatu kolom semakin terkekang sehingga kekuatan

56

kolom tersebut semakin besar sehingga terjadi perbedaan lendutan. Semakin besar eksentrisitas dengan sengkang yang semakin rapat maka semakin besar lendutan serta momen yang terjadi semakin besar.

5.2.6 Perbandingan kekuatan kolom eksentris 7,5 cm antara sengkang 10 cm dengan sengkang 15 cm ditinjau dari beban dengan lendutan. Dari hasil pengujian saudara Hendra Mudana (2007) kolom eksentris 7,5 cm dengan jarak sengkang 10 cm. Dari grafik tersebut diperoleh lendutan maksimum sebesar 0,00622 m terdapat pada beban maksimum sebesar 14 Ton yang terjadi pada dial 3. Sedangkan dari gambar grafik 5.8 untuk kolom eksentris 7,5 cm dengan jarak sengkang 15 cm. Dari grafik diperoleh lendutan maksimumnya sebesar 0,0086 m pada beban maksimum 10 Ton yang terjadi pada Dial 3. Dari data-data diatas diperoleh grafik sebagai berikut.
Dial 2
15
Beban (Ton)

10 5 0 0 0,001 0,002 0,003 0,004 0,005 0,006 0,007 0,008 Lendutan (mm)
Sengkang 15 cm
Sengkang 10 cm
Sengkang 10 cm
Sengkang 15 cm

Gambar 5.8 perbandingan kolom eksentris 7,5 cm sengkang 10 cm dengan sengkang 15 cm.

57

Dari perbandingan grafik kolom eksentrisitas 7,5 cm dengan jarak sengkang 10 cm dan 15 cm didapat lendutan yang terjadi pada kolom eksentrisitas sengkang 10 cm lebih kecil dari kolom sentris sengkang 15 cm. Hal ini disebabkan sengkang yang semakin rapat mengakibatkan suatu kolom semakin terkekang sehingga kekuatan kolom tersebut semakin besar sehingga terjadi perbedaan lendutan. Semakin besar eksentrisitas dengan sengkang yang semakin lebar maka semakin besar lendutan serta momen yang terjadi semakin besar.

5.2.7

Pengaruh Eksentrisitas dan Jarak Sengkang. Jarak sengkang mempengaruhi besarnya beban maksimum dan besarnya

lendutan yang terjadi. Untuk jarak sengkang yang sama, nilai beban maksimum dan lendutan dipengaruhi oleh besarnya eksentrisitas seperti pada tabel 5.2 dan tabel 5.3.

Tabel 5.2 Perbandingan Kekuatan Kolom Pada Beban Maksimum Eksentrisitas Sentris Sengkang Beban 10 cm 24 Ton Beban 17 Ton Beban 14 Ton Eksentris 5 cm Eksentris 7,5 cm

Lendutan 0,0049 m Lendutan 0,0057 m Lendutan 0,0062 m Beban 18 Ton Beban 16 Ton Beban 10 Ton

15 cm

Lendutan 0,0034 m Lendutan 0,0050 m Lendutan 0,0086 m

58

Tabel 5.3 Perbandingan Lendutan Kolom Pada Beban Sama Besar Eksentrisitas Sentris Sengkang Beban 10 cm Beban 10 Ton Beban 10 Ton Beban 10 Ton Lendutan 0,0020 m Lendutan 0,0022 m Lendutan 0,0040 m Beban 15 cm Beban 10 Ton Beban 10 Ton Beban 10 Ton Lendutan 0,0016 m Lendutan 0,0020 m Lendutan 0,0068 m 18 Ton Beban 16 Ton Beban 10 Ton 18 Ton Beban 16 Ton Beban 10 Ton Eksentris 5 cm Eksentris 7,5 cm

Lendutan 0,0035 m Lendutan 0,0044 m Lendutan 0,0040 m

Lendutan 0,0035 m Lendutan 0,0050 m Lendutan 0,0068 m

Dari tabel 5.3 diatas dapat diketahui bahwa sengkang yang semakin rapat mengakibatkan suatu kolom semakin terkekang sehingga kekuatan kolom tersebut semakin besar sehingga terjadi perbedaan lendutan. Semakin besar eksentrisitas dengan jarak sengkang yang sama lendutan yang terjadi semakin besar.

59

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan Hasil pengujian yang telah dilakukan pada benda uji kolom dapat diambil kesimpulan mengenai perilaku dan kekuatan kolom beton bertulang dengan variasi jarak sengkang dengan memberikan pembebanan sentris dengan sengkang 10 cm dan 15 cm serta eksentris 5 cm dan 7,5 cm sengkang 10 cm dan sengkang 15 cm pada kolom bertulang sebagai berikut: 1. Semakin pendek jarak sengkang semakin besar kekuatan kolom untuk beban sentris. 2. Semakin besar jarak eksentrisitas yang diberikan pada kolom, akan semakin besar pula lendutan dari kolom tersebut meskipun semakin pendek jarak sengkang. 3. Semakin besar eksentrisitas yang terdapat pada kolom, akan semakin besar pula pengurangan beban aksial yang dapat ditahan kolom tersebut. 4. Kerusakan yang terjadi pada kolom eksentris ini adalah kerusakan yang disebabkan oleh tekuk, dikarenakan kolom tersebut termasuk kolom langsing.

60

6.2 Saran Dari hasil penelitian kolom sentris dan eksentris maka disarankan : 1. Alat yang digunakan untuk memberikan pembebanan pada pengujian kolom (Hidraulic Jack) kapasitas ditambahkan sehingga pengujian dapat mencapai beban maksimum. 2. Pada saat pengujian perlu diperhatikan ketelitian dan kecermatan pengamatan dalam membaca dial pembebanan dan munculnya retak sehingga diperoleh data yang valid. 3. Perlu dilakukan penelitian lanjutan antara lain terhadap variabel : (1) variasi eksentris yang lebih besar untuk dapat menggambarkan grafik Mn & Pn yang lebih baik,mengingat semakin besar eksentrisitas yang terjadi momen semakin kecil. (2) Kolom dengan pembebanan biaksial, mengingat hal ini sering dijumpai dalam praktek.

61

DAFTAR PUSTAKA

A, Kadir Aboe, 2000, STRUKTUR BETON 1, FTSP UII, Jogjakarta.

Departement Pekerjaan Umum, 1991, SNI 03-2847-2002, Yayasan LPMB, Bandung.

Departement Pekerjaan Umum, 1991, SK SNI T-15-1991-2003, Yayasan LPMB, Bandung.

Dipohusodo, Istimawan, 2000, STRUKTUR BETON BERTULANG, Erlangga, Jakarta.

Departement Pekerjaan Umum, 1971, PERATURAN BETON BERTULANG INDONESIA, Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung.

Hendra Mudana, 2007, PENGARUH EKSENTRISITAS TERHADAP KEKUATAN KOLOM, FTSP UII, Jogjakarta.

Lab BKT, 2000, Panduan Praktikum Bahan konstruksi Teknik, FTSP UII, Jogjakarta.

Nawy, Edward. G, 1990, BETON BERTULANG : Suatu pendekatan dasar, Erlangga, Jakarta.

Tjokrodimuljo, Kardiyono, 1992, TEKNOLOGI BETON, Biro Penerbit, Jogjakarta.

Widodo, 2006, STRUKTUR BETON 1, FTSP UII, Jogjakarta.

60

60

Perhitungan teoritis perencanaan awal

• f’c b h fy

Diketahui : = 25 MPa = 100 mm = 100 mm = 240 MPa = 100,53 mm = 20 mm

As = As’ d’

• Ag

Beban sentris =b.h = 100 . 100 = 10000 mm2

Ast

= As + As’ = 100,53 + 100,53 = 201,06 mm2

Pn

= 0,85 . fc’ ( Ag – Ast ) + Ast . fy = 0,85 . 25 . (10000 – 2010,06) + 201,06 . 240 = 256,5 kN

25

• xb

Beban eksentris 5 cm ⎛ 600 ⎞ =⎜ ⎜ 600 + fy ⎟ . d ⎟ ⎝ ⎠
⎛ 600 ⎞ =⎜ ⎟ . 80 ⎝ 600 + 240 ⎠

= 57,14 mm

Dengan trial & error didapat x = 44,57 x < xb (Patah tarik) ab = β1 . x = 0,85 . 44,57 = 37,88 mm fs’
⎛ x − d'⎞ = 600 . ⎜ ⎟ ⎝ x ⎠

⎛ 44,57 − 20 ⎞ = 600 ⎜ ⎟ ⎝ 44,57 ⎠ = 330,76 MPa > fy dipakai fy fs
⎛d −x⎞ = 600 . ⎜ ⎟ ⎝ x ⎠

⎛ 80 − 44,57 ⎞ = 600 . ⎜ ⎟ ⎝ 44,57 ⎠ = 476,92 MPa > fy dipakai fy Cc = 0,85 fc’ . b . ab = (0,85 . 25 . 100 . 37,88) /1000 = 80,50 kN Cs = As’ . ( fs’ – ( 0,85 . fc’ ))

26

= 100,53 . ( 240 – ( 0,85 . 25 )) / 1000 = 21,99 kN Ts = As . fs = 100,53 . 240 = 24,12 kN Pn = Cc + Cs – Ts = 80,50 + 21,99 – 24,12 = 78,37 kN Mn
h⎞ ⎛ h ab ⎞ ⎛h ⎞ ⎛ = Cc ⎜ − ⎟ + Cs ⎜ − d ' ⎟ + Ts ⎜ d − ⎟ 2⎠ ⎝2 2 ⎠ ⎝2 ⎠ ⎝

100 ⎞ ⎛ 100 37,88 ⎞ ⎛ 100 ⎞ ⎛ = 80,50 ⎜ − − 20 ⎟ + 24,12 ⎜ 80 − ⎟ + 21,99 ⎜ ⎟ 2 ⎠ 2 ⎠ ⎝ 2 ⎝ 2 ⎠ ⎝

= 3,88 kN m e =
Mn Pn

=

3,88 /1000 78,37

= 49,56 = 50 mm ….. OK !!!

• xb

Beban eksentris 7,5 cm ⎛ 600 ⎞ =⎜ ⎜ 600 + fy ⎟ . d ⎟ ⎝ ⎠
⎛ 600 ⎞ =⎜ ⎟ . 80 ⎝ 600 + 240 ⎠

= 57,14 mm

27

Dengan trial & error didapat x = 28 x < xb (Patah tarik) ab = β1 . x = 0,85 . 28 = 23,8 mm fs’
⎛ x − d'⎞ = 600 . ⎜ ⎟ ⎝ x ⎠ ⎛ 28 − 20 ⎞ = 600 ⎜ ⎟ ⎝ 28 ⎠

= 171,43 MPa < fy dipakai fs’ fs
⎛d −x⎞ = 600 . ⎜ ⎟ ⎝ x ⎠ ⎛ 80 − 28 ⎞ = 600 . ⎜ ⎟ ⎝ 28 ⎠

= 1114,28 MPa > fy dipakai fy Cc = 0,85 fc’ . b . ab = (0,85 . 25 . 100 . 23,8) /1000 = 50,57 kN Cs = As’ . ( fs’ – ( 0,85 . fc’ )) = 100,53 . ( 171,43 – ( 0,85 . 25 )) / 1000 = 15,09 kN Ts = As . fs = 100,53 . 240 = 24,12 kN

28

Pn

= Cc + Cs – Ts = 50,57 + 15,09 – 24,12 = 41,54 kN

Mn

h⎞ ⎛ h ab ⎞ ⎛h ⎞ ⎛ = Cc ⎜ − ⎟ + Cs ⎜ − d ' ⎟ + Ts ⎜ d − ⎟ 2⎠ ⎝2 2 ⎠ ⎝2 ⎠ ⎝

100 ⎞ ⎛ 100 23,8 ⎞ ⎛ 100 ⎞ ⎛ = 50,57 ⎜ − − 20 ⎟ + 24,12 ⎜ 80 − ⎟ + 15,09 ⎜ ⎟ 2 ⎠ 2 ⎠ ⎝ 2 ⎝ 2 ⎠ ⎝

= 3,1 kN m e =
Mn Pn

=

3,1 /1000 41,54

= 74,71 = 75 mm ….. OK !!!

29

Gambar Pembuatan Kolom

Gambar Pengujian Kolom Sentris

30

Gambar Pengujian Kolom Eksentris

Gambar Kerusakan Kolom

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->