P. 1
pengembangan kurikulum

pengembangan kurikulum

|Views: 2,630|Likes:
Published by Cholid Zamzami

More info:

Published by: Cholid Zamzami on Apr 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2013

pdf

text

original

Makalah Pembanding

PENGEMBANGAN KURIKULUM LPTK (Penyiapan Calon Guru PAI)
Diajukan dalam memenuhi tugas matakuliah Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam Team teaching : 1. Prof. Dr. Muhaimin Sulhan, M.A. 2. Dr. Hj. Suti’ah, M.Pd

Oleh : M. Cholid Zamzami NIM : 09770009 / S2

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROGRAM MAGISTER PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2009 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang Globalisasi sebagai sebuah arus modernisasi menempati posisi sentral dalam setiap pembangunan di seluruh bangsa. Oleh karenanya setiap Negara di seluruh dunia berupaya untuk menjadi pioneer dalam era tersebut. Sebagai sebuah era globalisasi membawa dampak signifikan terhadap kemajuan dan pola perkembangan suatu bangsa. Di negara-negara yang relatif mapan di mana pengaruh globalisasi sangat kuat, institusi pendidikan tinggi sudah berubah menjadi lembaga internasional. Dalam kontek seperti itu, di mana selain adanya standar bagi penyelenggaraan international education, dalam rangka perbaikan mutu, manajemen mutu sangat berorientasi pada konsumen baik di pasar lokal maupun dunia yang terdesentralisir dan sangat kompetitif. Sehubungan dengan pendekatan strategi tentang mutu, universitas menjadi lebih serius menangani hal-hal yang berhubungan dengan pengukuran unjuk kerja dan market share serta isu value for money. Perbaikan mutu yang berorientasi pada konsumen sangat penting demi kelangsungan universitas tersebut dalam kondisi yang dinamis. Selain itu, kebijakan mengenai strategi manajemen mutu dari suatu universitas dapat merupakan cermin bagi pihak luar terutama mahasiswa dan calon mahasiswa bahwa mutu pendidikan merupakan prioritas utama dari universitas. LPTK sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi juga memiliki kewajiban yang sama dalam hal penjaminan mutu pendidikan, sehingga mutu lulusan dapat terjamin dan mampu menciptakan lulusan yang profesional dalam bidang pelayanan pendidikan. Namun demikian, tak jarang LPTK nakal yang dengan sengaja menyelenggarakan pendidikannya dengan main – main.

2

Out put yang dihasilkan LPTK nakal seringkali adalah out put asal-asalan, sehingga ketika terjun ke lembaga pendidikan sebagai tenaga pengajar tidak memiliki kualifikasi sebagai tenaga pendidikan profesional. Sikap tidak profesional tenaga pendidikan akan menjadi efek domino dalam penyelenggaraan pendidikan yang baik, sehingga mempengaruhi kualitas pembelajaran. Penyelenggaraan pendidikan oleh LPTK merupakan kegiatan pendidikan dan pengajaran dengan sistem dan kurikulum baku sebagai bagian dalam usaha menciptakan out put lulusan yang menguasai tekhnik dasar dalam pendidikan dan pengajaran. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas dapat diambil beberapak rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah konsep pengembangan kurikulum PAI ? 2. Bagaimanakah LPTK menyiapkan guru PAI?

3

BAB II TELAAH HASIL KAJIAN TEORI/ EMPIRIS
A.

Pola Lembaga Pendidikan Tinggi Bermutu

Pada tanggal 1 April 2003 Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi telah menetapkan Higher Education Long Term Strategy 2003 - 2010 (disingkat menjadi HELTS 2003 –2010). Di dalam Part I Chapter II HELTS 2003 –2010 dicantumkan Vision 2010, atau Visi 2010 Pendidikan Tinggi di Indonesia, sebagai berikut : In order to ontribute to the nation’s competitiveness, the national higher education has to be organizationally healthy, and the same requirement also applies to institutions. A structural adjustment in the existing system is, however, needed to meet this challenge.The structural adjustment aims, by the year of 2010,of having a healthy higher education system1, effectively coordinated and demonstrated by the following features : Quality; Access and equity; Autonomy (Cetak tebal oleh Penyusun).1 Dengan demikian, pada saat ini perlu dilakukan penyesuaian secara struktural sistem pendidikan tinggi nasional, agar pada tahun 2010 terdapat sistem pendidikan tinggi yang sehat, yang secara efektif 1 A system is defined as the entire higher education system in Indonesia, whilst each individual university (with various names and types) is defined as an institution. dikoordinasikan dan ditunjukkan oleh ciri-ciri kualitas, akses dan keadilan, serta otonomi. Selanjutnya khusus mengenai ciri kualitas pendidikan tinggi nasional, di dalam Part II Chapter III Point E HELTS 2003 – 2010 dinyatakan secara khusus tentang Quality Assurance (Penjaminan Mutu) sebagai berikut : In a healthy organization, a continuous quality improvement should become its primary concern. Quality assurance should be internally driven, institutionalized within each organization’s standard procedure, and could also involve external parties. However, since quality is also a concern of all stakeholders, quality improvement should aim at producing quality outputs and outcomes as part of public accountability. (Cetak tebal oleh Penyusun).2
1

Departemen Pendidikan Nasional - Dirjen Dikti. 2003. Pedoman Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. www.diknas.go.id 2 Ibid

4

Proses penjaminan mutu pendidikan tinggi di suatu perguruan tinggi merupakan kegiatan mandiri dari perguruan tinggi yang bersangkutan, sehingga proses tersebut dirancang, dijalankan, dan dikendalikan sendiri oleh perguruan tinggi yang bersangkutan tanpa campur tangan dari Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas. Dengan demikian, penyusunan Pedoman ini tidak bertujuan ‘mendikte’ perguruan tinggi agar menjalankan proses penjaminan mutu seperti diuraikan di dalam Pedoman ini, melainkan Pedoman ini bertujuan memberikan inspirasi tentang faktor-faktor yang pada umumnya terkandung di dalam proses penjaminan mutu pendidikan tinggi di suatu perguruan tinggi. Kebijakan ini diambil karena disadari bahwa setiap perguruan tinggi memiliki spesifikasi yang berlainan, antara lain dalam hal ukuran, struktur, sumber daya, visi dan misi, sejarah, dan kepemimpinan. Mengenai posisi dan arti penting penjaminan mutu pendidikan tinggi di suatu perguruan tinggi, dapat dikemukakan bahwa di masa mendatang eksistensi suatu perguruan tinggi tidak semata-mata tergantung pada pemerintah, melainkan terutama tergantung pada penilaian stakeholders (mahasiswa, orang tua, dunia kerja, pemerintah, dosen, tenaga penunjang, serta pihak-pihak lain yang berkepentingan) tentang mutu pendidikan tinggi yang diselenggarakannya. Agar eksistensinya terjamin, maka perguruan tinggi mau tidak mau harus menjalankan penjaminan mutu pendidikan tinggi yang diselenggarakannya. Perlu dikemukakan bahwa karena penilaian stakeholders senantiasa berkembang, maka penjaminan mutu juga harus selalu disesuaikan pada perkembangan itu secara berkelanjutan (continuous improvement).3 Menurut Human Development Index (HDI, 2001, 2004), hasil survai the Political and Economic Risk Consultancy (PERC, 2001), dan hasil studi the Third International Mathematics and Science Study-Repeat (TIMSS-R 1999), Asia Week (2000), dan Educational Performance (PERC: 2001), hasil survey internasional tentang perguruan tinggi terbaik di dunia (tahun 2006), bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Tiada satu pun UIN/IAIN/STAIN yang
3

Ibid

5

masuk dalam perguruan tinggi terbaik di dunia, bahkan tidak satupun PTAI yang tercatat dan terdaftar dalam PT yang ikut dikompetisikan. Dari PT-PT Umum yang ikut berkompetisi pun baru UGM, ITB, UI dan UNDIP yang termasuk dalam 500 besar PT terbaik di dunia. Angka pengangguran lulusan Perguruan Tinggi (PT) semakin meningkat; Tenaga asing meningkat, sedangkan tenaga Indonesia yang dikirim ke luar negeri pada umumnya non-profesional; Menghadapi berbagai tantangan tersebut, maka PTAI harus mampu: pertama, menghasilkan lulusan yang bermutu, karena hanya lulusan bermutu yang akan mampu menciptakan pekerjaan sendiri dan/atau mampu bersaing di pasar kerja lokal, nasional dan internasional. Lulusan yang bermutu adalah lulusan yang memiliki: (a) kompetensi yang memadai, termasuk di dalamnya adalah kemampuan penguasaan bahasa global, teknologi informasi dan daya saing, di samping kompeten di bidang keahliannya, sebab tanpa ini tidak mungkin seseorang bisa membuat prestasi dalam tugas yang dibebankan kepadanya dan mampu bersaing dengan lainnya. (b) integritas, dalam arti kompetensi tanpa dukungan moral atau integritas, maka seseorang akan mudah terjatuh pada tindakan yang merendahkan martabat dirinya, yang pada gilirannya ditinggalkan oleh para pelanggannya. (c) visi, sebab tanpa visi ke depan, akan jatuh pada pragmatisme sesaat dan menjadikan dirinya akan termarginalisasikan dalam persaingan. Kedua, PTAI harus menghasilkan hasil-hasil penelitian yang bermutu dan bermanfaat bagi pemecahan masalah di masyarakat dan/atau bagi pengembangan ipteks. Ketiga, PTAI harus mulai mengembangkan dirinya ke arah RIQ (Research, Internationalisation and Quality Assurance), dalam arti kita harus mulai merancang PTAI sebagai perguruan tinggi riset, perguruan tinggi yang selalu ikut berpartisipasi dalam percaturan akademik secara internasional, dan mengedepankan quality assurance sehingga kualitasnya diakui secara eksternal bahkan internasional.

6

Hal ini sejalan dengan visinya sebagai PTAI/Jurusan/Program Studi terdepan, untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut diperlukan organizational health (kesehatan organisasi), yakni kemampuan organisasi (PTAI) untuk mengembangkan kebebasan akademik, inovasi, kreativitas dan knowledge sharing. Salah satu komponen organisasi yang sehat ialah adanya Quality assurance (jaminan mutu). Atas dasar itulah, maka pengembangan kurikulum juga perlu diorientasikan pada upaya pencapaian berbagai kemampuan PTAI dalam menyiapkan lulusan yang diharapkan tersebut. B. Guru Sebagai Tenaga Profesional dalam Strategi

Penyelenggara Pendidikan agama Islam Berbicara mengenai kedudukan guru sebagai tenaga profisional akan lebih tepat mengena secara implisit apabila diketahui terlebih dahulu tentang maksud kata “profesi “ yang merupakan kata dasar dari professional tersebut. Secara umum profesi diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan sebagai perangkat dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat. Dalam aplikasinya menyangkut aspek-aspek yang lebih bersifat mental daripada yang bersifat manual work. Pekerjaan profesioanal akan senantiasa menggunakan teknik dan prosedur yang berpijak pada landasan intelektual yang harus dipelajari secara sengaja, terencana dan kemudian dipergunakan demi kemaslahatan orang lain secara menyreluruh. Seorang pekerja professional khususnya guru dapat dibedakan dari seorang teknisi karena disamping menguasai sejumlah teknik serta prosedur kerja tertentu, seorang pekerja profesioanal juga ditandai dengan adanya dengan respon informasi yang kuat terhadap implikasi kemasyarakatan dari obyek kerjanya. Hal ini berarti bahwa seorang guru harus memiliki persepsi filisofis dan tanggapan yang bijaksana dalam menyikapi dan melaksanakan pekerjaannya. Jika kompetensi seorang teknisi lebih bersifat mekanik dalam arti sangat mementingkan kecermatan sedangkan kompetensi seorang sebagai profesioanal

7

kependidikan ditandai dengan serentetan diagnosis dan penyesuaian yang sifatnya terus menerus. Dalam hal ini disamping kecermatan untuk menentukan langkah . guru harus bersabar, ulet dan telaten sertatanggap terhadap setiap kondisi, sehingga di akhir pekerjaannya akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Pengertian profesi secara khusus denagn segala cirinya akan membawa konsekuensi yang fundamental terhadap program pendidikan terutama yang berkenaan dengan komponen tenaga kependidikan dalam kaitannya dengan pelayanan masyarakat. Oleh karena itu, guru dituntut adanya kualifikasi kemampuan yang lebih memadai.

C.

Pengembangan Kurikulum LPTK Sebagai Ruh Penyiapan

Tenaga Kependidikan Perkataan kurikulum telah dikenal dalam dunia pendidikan, sebagai sebuah istilah yang tidak asing lagi. Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Jadi istilah, kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman romawi kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.4 Secara terminologi, definisi-definisi kurikulum juga telah banyak dirumuskan oleh para ahli pendidikan. Diantaranya definisi yng dikemukakan oleh Knezevic dalam Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang yang memandang kurikulum sebagai seluruh pengalaman belajar siswa di bawah tanggungjawab lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah.5 Definisi lain tentang kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Selain itu, pengertian kurikulum tersebut senantiasa berkembang terus sejalan dengan perkembangan teori dan praktek pendidikan. Sementara ini, untuk
4

Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan suatu Analisa Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pustaka al- Husna, 1986), hlm. 176 5 TIM Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, Administrasi Pendidikan, (Malang: IKIP Malang,1989), hal. 65

8

mengatasi masalah tersebut, ada usaha-usaha yang dilakukan dengan jalan mengklasifikasikan konsep-konsep kurikulum ke dalam bebarapa segi atau dimensi. Misalnya, ada yang mengklasifikasikan berdasarkan pandangan lama yang menganggap kurikulum itu sebagai kumpulan dari mata pelajaran atau bahan ajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa, sedangkan pengertian yang lebih menekankan pada pengelaman belajar. Kemudian, ada yang mengklasifikasikan konsep-konsep kurikulum berdasarkan pandangan tradisional dan pandangan modern. Pandangan tradisional menganggap kurikulum tidak lebih dari sekedar rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran apa yang harus ditempuh oleh siswa di suatu sekolah, itulah kuikulum. Sedangkan pandangan modern menganggap kurikulum lebih dari sekedar rencana pengajaran. Kurikulum dianggap sebagai sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Kurikulum sifatnya dinamis dan terbuka untuk perubahan-perubahan dan pembaharuan, serta pengembagan. Sebabnya adalah karena masyarakat itu sendiri dinamis, maka sudah barang tentu akan terbuka perubahan-perubahan. Ada beberapa hal yang mendorong terjadinya perubahan dan pengembangan kurikulum. Pertama; kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, akibat kemajuan tersebut banyak hal-hal baru yang ditemukan di dunia ilmu pengetahuan, maka tidak boleh tidak sekolah harus merespon hal tersebut. Kedua; perubahan masyarakat (social change), banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan masyarakat. Perubahan masyarakat ini menuntut pula terhadap perubahan kebutuhan dan orientasi masyarakat, dan ini berpengaruh pula bagi timbulnya perubahan kurikulum karena kurikulum itu sifatnya dinamis berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan kemajuan zaman, maka perubahan dan pengembangan kurikulum bukanlah sesuatu yang tabu.6

6

Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 94

9

BAB III TANGGAPAN PEMBANDING

Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di bawah Departemen Agama (Depag) RI yang sampai sekarang mencapai jumlah 577 buah (53 Negeri dan 524 Swasta) sebagian besar atau sekitar 90 % menyelenggarakan jurusan/Program Studi PAI. Lulusan PTAI sebagian besar dari jurusan/Prodi PAI. Kebutuhan lembaga pendidikan di tanah air baik sekolah, madrasah maupun pesantren barangkali tidak sebanyak lulusan PAI itu. Akan tetapi jurusan PAI sudah terlanjur diketahui oleh masyarakat memiliki kepastian/menjanjikan masa depannya daripada jurusan-jurusan lain di PTAI. Disamping itu, menjamurnya jurusan PAI di seluruh PTAI di Indonesia sulit dapat dipertanggungjawabkan mutu lulusannya. Sekalipun lulusannya dipersiapkan menjadi guru PAI di Sekolah dan rumpun mapel PAI di Madrasah, namun belum sepenuhnya dapat memenuhi tuntutan Sekolah dan Madrasah. Pada sisi lain, UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, serta PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mempersyaratkan guru professional yang ditempuh melalui pendidikan profesi guru.

Contoh: kurikulum Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang tahun 2003-2004
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 MATA KULIAH PANCASILA DAN KEWIRAAN ILMU ALAMIAH DASAR BAHASA INDONESIA/PEN. KARYA TULIS ILMIAH BAHASA INGGRIS I BAHASA INGGRIS II BAHASA ARAB (KITABAH I) BAHASA ARAB (KITABAH II) BAHASA ARAB (QIRO'AH I) KODE 11101 11102 11103 11104 11105 11106 11107 11108 SKS 3 2 2 3 3 2 2 2

10

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 59

BAHASA ARAB (QIRO'AH II) BAHASA ARAB ( KALAM I) BAHASA ARAB (KALAM II) BAHASA ARAB (ISTIMA' I) BAHASA ARAB (ISTIMA' II) METODOLOGI STUDY ISLAM USHUL FIQH ILMU KALAM AKHLAK / TASAWUF TAFSIR HADITS FIQH SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM FILSAFAT UMUM METODE PENLT. PENDIDIKAN PENGANTAR PENDIDIKAN STUDI QUR'AN / ULUMUL QUR'AN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM ILMU PENDIDIKAN ISLAM SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN MANAJEMEN PENDIDIKAN KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN PENGEMBANGAN KURILKULUM (PAI) METODE PENELITIAN TARIKH TASYRI' PSIKOLOGI AGAMA MASAIL FIQH SOSIOLOGI AGAMA PERBANDINGAN AGAMA HIKMATUT TASYRI' QIROATUL KUTUB STRATEGI BELAJAR MENGAJAR PAI STATISTIK PENDIDIKAN PERENCANAAN PENDIDIKAN MATERI PENDIDIKAN ISLAM I MATERI PENDIDIKAN ISLAM II EVALUASI PENDIDIKAN AGAMA PEMBAHARUAN PEMIKIRAN ISLAM SEMINAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM I PPL I PKLI SKRIPSI KEWIRAUSAHAAN APLIKASI KOMPUTER MANAJEMEN TERAPAN METODE DAKWAH PENGATAR ILMU HUKUM PENGATAR ILMU EKONOMI

11109 11110 11111 11112 11113 11114 11203 11204 11205 11206 11207 11208 11209 11210 11211 11212 11213 11301 11302 11303 11304 11305 11306 11307 11308 11309 11310 11311 11312 11313 11314 11315 11316 11317 11318 11319 11320 11321 11322 11323 11324 11325 11326 11327 11401 11402 11403 11404 11405 11406

2 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 6 6 2 2 2 2 2 2

11

Pada dasarnnya apabila mengacu pada kurikulum diatas, UIN Maliki Malang sebagai LPTK penyedia Guru bidang PAI telah memberikan muatan materi yang berisikan kemampuan dasar dalam keprofesian bidang keguruan. Aspek dasar yang berkaitan dengan kemampuan mengajar di berikan dalam bentuk mata kuliah yang diberikan dengan system kredit semester (SKS). Isi kurikulum di perguruan tinggi pada dasarnya berisikan beberapa kelompok mata kuliah. Pengelompokan tersebut di lakukan dalam beberapa kelompok mata kuliah antara lain, Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), Matakuliah Keilmuan dan Ketrampilan (MKK), Matakuliah Keahlian Berkarya(MKB), Matakuliah Perilaku Berkarya (MPB), Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).7 Dengan melihat isi kurikulum pada jurusan PAI diatas, ketrampilan dasar yang diperlukan sebagai seorang tenaga pendidik telah di bekalkan dengan memberikan matakuliah keilmuan dan ketrampilan dan matakuliah keahlian berkarya. Dengan memberikan kelompok matakuliah tersebut, diharapkan ketrampilan dasar sebagai pendidik bias dikuasai.

7

Pedoman Pendidikan UIN Malang tahun 2007/2008 hal.32

12

BAB IV PENUTUP/SIMPULAN

Dari pemaparan diatas dapat diperoleh kesimpulan antara lain : 1. Proses pengembangan kurikulum pada LPTK senantiasa selalu mengikuti perkembangan zaman dan permintaan konsumen. penyiapan guru PAI, aspek pemberian matakuliah dasar keahlian telah diberikan dengan system kredit semester (sks) dengan harapan kemampuan dasar dalam bidang pendidik mampu dikuasai mahasiswa.

2. Melihat pengembangan kurikulum PAI pada LPTK sebagai lembaga

13

DAFTAR PUSTAKA
Daulay, Haidar Putra, 2007. Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional Indonesia, Jakarta: Kencana. Feisal, Yusuf Emir. 1995. Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta : Gema Insane Press. Langgulung, Hasan. 1986. Manusia dan Pendidikan suatu Analisa Psikologi Pendidikan, Jakarta: Pustaka al- Husna, Muhaimin, 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam; Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum Hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan, Bandung : Nuansa. ,2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikn Agama Islam: di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Rajawali Pers. Pedoman Pendidikan UIN Malang tahun 2007/2008. TIM Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang. 1989. Administrasi Pendidikan, Malang: IKIP Malang.

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->