P. 1
MODEL2 PEMBELAJARAN INOVATIF

MODEL2 PEMBELAJARAN INOVATIF

|Views: 2,033|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Apr 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2013

pdf

text

original

PROGRAM PENINGKATAN KUALITAS SERIBU GURU SEKOLAH DASAR

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KREATIF DAN INOVATIF

KERJASAMA UM – PERTAMINA
IN-SERVICE TRAINING SERIBU GURU SEKOLAH DASAR

The Learning University

0

BAB I TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Dalam psikologi pendidikan, salah satu masalah penting yang menjadi kajian adalah masalah belajar. Belajar merupakan kegiatan mengonstruksi atau menginterpretasi sesuatu (bisa objek, sumber pengetahuan) sehingga terjadi tambahan jaringan pengetahuan (skema) di dalam diri pebelajar yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku. Kegiatan belajar tidak hanya terjadi di kelas tetapi berlangsung di mana saja, kapan saja, dan pada saat apa saja dalam kehidupan sehari-hari. Belajar tidak hanya melibatkan yang “benar” saja tetapi juga melibatkan yang tidak benar (salah). Apabila siswa salah dalam menyelesaikan masalah, tidak berarti ia tidak belajar tetapi ia belajar dan masih salah, karena itu perlu pengarahan sehingga menjadi benar. Belajar juga tidak harus bersifat disengaja atau secara sadar, tetapi dapat juga terjadi secara tidak disengaja. Demikian pula belajar tidaklah selalu dalam hal pengetahuan atau keterampilan tetapi juga berkenaan dengan sikap dan perasaan. Unsur utama dalam belajar adalah terjadinya perubahan dalam diri pebelajar, dapat

disengaja atau tidak, dapat lebih baik atau lebih buruk. Agar berkualitas sebagai belajar, maka perubahan harus dilahirkan dari pengalaman, oleh interaksi antara orang dan lingkungannya. Perubahan yang semata-mata karena kematangan tidaklah termasuk berkualitas dalam belajar. Perubahan-perubahan sementara yang diakibatkan oleh penyakit, kelelahan, kelaparan bukanlah termasuk dalam belajar. Jadi belajar merupakan suatu perubahan dalam diri seseorang yang terjadi karena pengalaman. Selanjutnya yang menjadi masalah adalah perubahan yang terjadi dalam aspek apa? Bab ini akan menguraikan beberapa pandangan berbeda dalam menyikapi perubahan ini (yang disebut Teori Belajar), yang meliputi: behaviorisme, cognitivisme, humanisme, dan socialcognition.

A.

Pandangan Behaviorisme Pandangan Behaviorisme didasarkan pada hubungan stimulus respon (S-R). Behaviorisme

bersumber dari pandangan John Locke mengenai jiwa anak yang baru lahir, ialah jiwanya dalam keadaan kosong, seperti meja lilin putih bersih yang disebut dengan tabularasa. Dengan demikian pengaruh dari luar jiwa anak sangat menentukan perkembangan jiwa anak dan pengaruh luar itu
1

dapat dimanipulasi (ditreatment secara leluasa). Dalam pandangan behaviorisme belajar merupakan perubahan dalam tingkah laku seseorang dalam berbuat pada situasi tertentu. Perubahan tingkah laku yang dimaksud dalam pandangan behaviorisme adalah tingkah laku yang dapat diamati. Terjadinya perubahan tingkah laku yang dapat diamati sebagai indikasi telah terjadinya kegiatan belajar. Berpikir dan emosi tidak mnjadi perhatian, karena keduanya tidak dapat diamati. Pendangan behaviorisme menganggap jiwa manusia itu pasif, yang dikuasai oleh stimulusstimulus atau perangsang-perangsang dari luar yang ada di lingkungan sekitar. Oleh karena itu tingkah laku manusia itu dapat dimanipulasi, dapat dikontrol atau dikendalikan. Cara

mengendalikan tingkah laku manusia dengan mengontrol perangsang-perangsang yang ada di lingkungannya. Tingkah laku manusia mempunyai hukum-hukum seperti yang berlaku dalam hukum-hukum pada gejala alam, umpamanya hukum sebab akibat. Metode-metode kealaman dapat dipakai dalam tingkah laku manusia, sehingga sifat hubungannya sangat mekanistis. Dalam pendangan behaviorisme, diajukan rumus matematis dari tingkah laku, TL = fLk, yakni tingkah laku itu merupakan fungsi lingkungan. Artinya tingkah laku itu bergantung pada lingkungan. Jika lingkungan itu berubah, maka tingkah laku juga berubah. Jika kita menginginkan tingkah laku tertentu, maka kita dapat mengubah lingkungan sedemikian rupa sehingga membentuk tingkah laku yang diinginkan. Belajar dalam pandangan behaviorisme memiliki beberapa karakteristik yang selanjutnya disebut ciri-ciri teori belajar behaviorisme antara lain sebagai berikut: a. Mementingkan pengaruh lingkungan (enviromentalistis) b. Mementingkah bagian-bagian (elementaris) c. Mementingkan peranan reaksi (respon) d. Mementingkan mekanisme terbentuknya hasil belajar e. Mementingkan hubungan sebab akibat pada waktu yang lalu f. Mementingkan pembentukan kebiasaan g. Ciri khusus dalam pemecahan masalah dengan “trial and error” (mencoba dan gagal”) Tokoh-tokoh yang mengembangkan pandangan behaviorisme antara lain: Watson, Torndike, Skiner, dan Pavlov.

2

1. Teori Watson Menurut Watson, behavior berarti tindakan atau aksi (action) yang dapat dilihat dan diamati dengan cara yang obyektif. Watson merupakan tokoh yang mengembangkan teori belajar

hubungan S-R tanpa persyaratan yang disebut kontiguitas. Teori ini tidak mempertimbangkan pengaruh variable yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Menurut teori kontiguitas, faktor terbentuknya hubungan S-R cukup keadaan kontigu saja. Bilamana S kontigu (dibuat ada bersama) dengan tingkah laku tertentu, maka akan terbentuklah hubungan dalam urat syaraf. Belajar menurut Watson adalah jika S dan R ada bersamaan dan kontigu, maka hubungannya akan diperkuat. Kekuatan hubungan S dan R tergantung pada frekuensi ulangan adanya S-R. Watson mementingkan hukum ulangan atau hukum latihan dalam belajar. Hukum kedua yang dipentingkan Watson adalah the law of recensy (hukum kebaruan). Artinya respon yang baru akan lebih diperkuat dengan ulangan hadirnya dari respon yang lebih awal. Dasar kegiatan belajar adalah dengan konditioning. Belajar adalah memindahkan respon lama terhadap stimuli baru. Sumbangan Watson terhadap perkembangan psikologi pendidikan antara lain: (1) mempopulerkan ajaran behaviorisme, (2) adanya tingkah laku mesti ada hubungan syaraf di otak, (3) untuk menjelaskan belajar perlu mengerti fungsi otak, (4) menggerakkan studi dan tingkah laku secara obyektif, (5) mementingkan faktor lingkungan, dan (6) belajar adalah proses membentuk hubungan S-R. 2. Teori Thorndike Thorndike mengembangkan hukum belajar bahwa belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan. Rasa senang atau puas timbul sebagai akibat anak mendapat pujian atau ganjaran lainnya. Stimulus ini disebut reinforcement. Kesuksesan anak dalam belajar akan dapat menimbulkan kepuasan dan kepuasan pada gilirannya akan mendorong kesuksesan berikutnya. Teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike juga disebut konksionisme, yang

menyatakan bahwa belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Dalam teori ini terdapat 3 dalil atau hukum, yaitu: (1) hukum kesiapan (law of readness), hukum latihan (law of exercise), dan hukum akibat (law of effect). Hukum kesiapan menjelaskan bahwa seorang anak akan lebih berhasil belajarnya apabila ia telah siap untuk melakukan kegiatan belajar. Seorang anak yang memiliki kecenderungan
3

bertindak atau melakukan kegiatan tertentu dan ia melakukannya. Jika anak itu merasa puas dengan tindakannya, maka ia akan cenderung mengulanginya. Sebaliknya bila ia tidak merasa puas dengan tindakannya, maka ia cenderung menghindari tindakan itu. Hukum latihan menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respon sering terjadi, akibatnya hubungan akan semakin kuat, sedangkan semakin jarang hubungan antara stimulus dan respon, maka semakin lemah hubungan yang terjadi. Karena itu pengulangan yang akan memberikan dampak positif adalah pengulangan yang frekuensinya teratur, bentuk

pengulangannya yang tidak membosankan, dan kegiatan disajikan dengan cara menarik. Hukum akibat menyatakan bahwa kepuasan yang lahir dari adanya ganjaran dari guru akan memberikan kepuasan bagi anak, dan anak cenderung untuk berusaha melakukan atau meningkatkan apa yang telah dicapainya. Guru yang memberikan senyuman terhadap jawaban anak, akan semakin menguatkan konsep yang tertanam pada diri anak. Kata-kata “bagus”, “hebat”, dan semacamnya akan merupakan hadiah bagi anak yang kelak akan meningkatkan dirinya dalam menguasai pelajaran. Dalam hukum akibat ini, jika terdapat assosiasi yang kuat antara pertanyaan dan jawaban, maka bahan yang disajikan akan tertanam lebih lama di ingatan anak. Selain itu banyaknya pengulangan akan sangat menentukan lamanya konsep diingat anak. Semakin banyak dilakukan pengulangan, maka konsep akan semakin tertanam secara kuat di benak anak. Thorndike menegaskan bahwa kualitas dan kuantitas hasil belajar tergantung dari kualitas dan kuantitas hubungan S-R. Implikasi dari teori Thorndike dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut. Dalam menjelaskan suatu konsep, guru hendaknya mengambil contoh yang sekiranya sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Metode pemberian tugas dan metode latihan (drill and practice) akan lebih cocok. Dalam kurikulum, materi disusun dari materi yang mudah, sedang, dan sukar sesuai dengan tingkat kelas, dan tingkat sekolah. 3. Teori Skinner Skinner merupakan salah satu pengembang teori dalam pandangan behaviorisme yang terkenal dengan teori operant conditioning. Menurut Skinner tingkah laku tidak hanya respon dari stimulus, tetapi suatu tindakan yang disengaja atau disebut operant. Operant dipengaruhi oleh apa yang terjadi sesudahnya. Operant conditioning atau operant learning melibatkan
4

pengendalian konsekuensi. Tingkah laku merupakan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang pada situasi tertentu. Tingkah laku terletak diantara dua pengaruh yaitu pengaruh yang mendahuluinya (antecedent) dan pengaruh yang mengikutinya (konsekuen) seperti gambar berikut. antecedent tingkah laku konsekuen

Dengan demikian tingkah laku itu dapat diubah dengan mengubah antecedent, konsekuen, atau keduanya. Menurut Skinner konsekuensi sangat menentukan apakah seseorang akan

mengulangi suatu tingkah laku pada kesempatan berikutnya. Selanjutnya yang menjadi masalah adalah bagaimana cara mengendalikan konsekuensi? Konsekuensi yang timbul dari tingkah laku tertentu dapat menyenangkan atau tidak

menyenangkan bagi yang bersangkutan. Terdapat dua hal penting dalam pengendalian konsekuensi, yaitu reinforcement dan punishment (hukuman). a. Reinforcement (Penguatan) Reinforcement merupakan konsekuensi yang memperkuat tingkah laku. Peristiwa yang memperkuat tingkah laku itu bisa menyenangkan atau tidak menyenangkan, sedangkan yang menentukan sesuatu perbuatan itu memberikan reinforcement atau tidak bergantung pada persepsi seseorang terhadap peristiwanya dan arti peristiwa itu baginya. Selanjutnya reinforcement dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu reinforcement positif dan

reinforcement negatif. Reinforcement positif terjadi apabila suatu stimulus tertentu (biasanya menyenangkan) ditunjukkan atau diberikan sesudah suatu perbuatan dilakukan. Misalkan seorang anak diajak makan di MC Donald oleh ayahnya karena mendapatkan nilai 100 dalam ulangan matematika. Reinforcement negatif terjadi apabila suatu stimulus tertentu (yang tidak menyenangkan) ditolak atau dihindari. Jadi reinforcement negatif itu memperkuat tingkah laku dengan cara menghindari stimulus yang tidak menyenangkan. Misalkan seorang anak yang dipanggil khusus oleh gurunya karena membuat kegaduhan di dalam kelas pada saat pelajaran. b. Punishment (Hukuman) Punishment berbeda dengan reinforcement negatif. Reinforcement selalu berupa

memperkuat tingkah laku. Sedangkan hukuman mengandung pengurangan atau penekanan tingkah laku. Suatu perbuatan yang diikuti oleh hukuman, kecil kemungkinannya diulangi lagi

5

dalam situasi-situasi serupa pada saat lain. Dalam hal ini hukuman terbagi menjadi 2 macam, yaitu presentation punishment dan removal punishment. Presentation punishment terjadi apabila stimulus yang tidak menyenangkan ditunjukkan atau diberikan. Misalnya guru memberikan tugas tambahan kepada seorang siswa karena siswa tersebut melakukan kesalahan-kesalahan. Sedangkan removal punisment terjadi apabila stimulus tidak ditunjukkan atau diberikan, artinya menghilangkan sesuatu yang menyenangkan atau diinginkan. Misalkan anak dilarang nonton TV selama seminggu karena tidak mau belajar. Secara ringkas pengendalian konsekuensi dapat digambarkan pada tabel berikut. Stimulus Ditunjukkan Efek Tingkah laku ditingkatkan Reinforcement positif Dihilangkan Reinforcement negatif Tingkah laku ditekan Presentation punishment Removal punishment

Salah satu penerapan reinforcement, misalnya seseorang yang belajar sesuatu hal baru, maka akan lebih cepat kalau setiap responnya yang benar diberi reinforcement. 4. Teori Pavlov Pavlov mengadakan eksperimen pada anjing dengan memberikan makanan dikaitkan dengan bunyi bel dan lampu. Jika pada anjing ditunjukkan makanan, maka air liurnya akan keluar secara refleks. Makanan sebagai stimulus yang bersifat alami, demikian juga refleknya. Timbulnya reflek saliva karena melihat makanan itu disebut refleks sekresi psikis dan sekresi fisiologis. Atas dasar refleks sekresi psikis dan fisiologis inilah sebagai dasar teori belajar dengan kondisi (bersyarat) atau conditioning. Selanjutnya teori Pavlov berkembang dengan teori refleks bersyarat. Prinsip-prinsip teori refleks bersyarat dapat diterapkan pada hewan atau manusia antara lain: (1) untuk membentuk atau mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik pada anakanak, misalnya pembiasaan kebersihan, kerapian, kesehatan, kejujuran, (2) untuk melatih tingkah laku tertentu pada hewan, misalnya ketrampilan dalm sirkus, (3) Untuk mnghapus kebiasaankebiasaan yang buruk dan mengurangi rasa takut pada anak-anak, misalnya anak yang biasanya bangun pagi terlambat dapat dibiasakan bangun lebih pagi, (4) Untuk membentuk sikap-sikap baik terhadap aktifitas belajar pada siswa, dan (5) untuk psikoterapi, misalnya untuk menghilangkan rasa malu, agresif, dan tamak.
6

Jadi dengan model eksperimen refleks bersyarat dapat dipakai dalam pembentukan tingkah laku yang diinginkan dengan pemberian hadiah atau hukuman.

B.

Pandangan Kognitivisme Fokus utama dari pandangan Kognitivisme adalah perilaku mental, pengetahuan, intelegensi,

dan berpikir kritis dengan asumsi bahwa belajar sebagai hasil dari proses/operasi mental. Teoriteori yang berkembang dari pandangan kognitivisme antara lain: teori pemrosesan informasi, herarki berpikir, teori perkembangan mental, dan teori berpikir kritis. Teori Pemrosesan Informasi Menurut Atkinson dan Shiffrin (1968), proses berpikir manusia bisa digambarkan seperti berikut.

Ketika seseorang menghadapi stimulus (informasi), maka akan menangkap informasi tersebut melalui sensory memory. Informasi yang tidak menarik, tidak menjadi perhatian sehingga akan segera terlupakan dan informasi yang menarik perhatian akan diproses ke Short Term Memory (STM). Ada beberapa proses yang terjadi di short term memory: (1) informasi yang dirasakan tidak penting bagi dirinya akan segera terlupakan, (2) informasi yang dirasakan penting akan dielaborasi dan dikodekan untuk disimpan di long term memory, (3) informasi yang masuk di STM secara terulang-ulang juga akan disimpan di long term memory, dan (4) informasi penting yang segera dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu masalah akan segera digunakan untuk merespon penyelesaian masalah. Selanjutnya apabila untuk menyelesaikan

7

suatu masalah tidak cukup dengan informasi yang ada di STM, maka akan memanggil informasi yang ada di long term memory. Herarki Berpikir Bloom membagi kemampuan belajar dalam tiga domain, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Masing-masing domain memiliki herarki yang dikenal dengan Taxonomy Bloom’s Theory (Teori Taksonomi Bloom). Taksonomi Bloom seringkali digunakan sebagai acuan menyusun penilaian hasil belajar siswa Level-level taksonomi Bloom disajikan seperti Tabel 1 berikut. Tabel 1: Leve-level Taksonomi Bloom Level Kognitif 1 2 3 4 5 6 Mengungkap kembali (recall) Pemahaman (komprehensif) Aplikasi Analisis Sintesis Evaluai Domain Afektif Menerima Memberi tanggapan Menghargai Mengorganisasikan Internalisasi Nilai Psikomotorik Imitasi Manipulasi Persisi Artikulasi Naturalisasi

Perkembangan Mental (Kognitif) Salah satu tokoh utama yang mengembangkan Teori Perkembangan Mental adalah Puaget. Menurut Piaget, ketika seseorang berinteraksi dengan lingkungan, maka akan terjadi proses adaptasi. Pada saat beradaptasi, seseorang mengalami dua proses kognitif, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang sudah terbentuk. Menurut Piaget (Brooks and Brooks,1993), assimilation is the incorporation of new events into intelligence as a scheme or concept. Dalam proses asimilasi, stimulus diinterpretasikan berdasarkan skema yang dimiliki oleh seseorang. Dalam hal ini, asimilasi merupakan proses pengintegrasian stimulus ke dalam skema yang sudah dimiliki oleh seseorang. Untuk mempermudah proses asimilasi, maka stimulus/informasi baru perlu dimodifikasi sedemikian hingga sesuai dengan skema yang sudah dimiliki.

8

Akomodasi merupakan proses pengintegrasian stimulus baru melalui pembentukan skema baru untuk menyesuaikan dengan stimulus yang diterima. Piaget (Brooks and Brooks, 1993) menegaskan bahwa dalam accommodation, existing schemes are modified to account for new information. Dalam memecahkan masalah, terdapat proses kognitif yang berkaitan dengan ketidakseimbangan antara asimilasi dan akomodasi yang disebut dengan disequilibrasi. Proses berpikir dalam pemecahan masalah akan berlangsung sampai terjadi keseimbangan yang disebut equilibrium. Meskipun telah mengemukakan tentang asimilasi dan akomodasi, namun Piaget tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana proses asimilasi dan akomodasi itu terjadi. Proses asimilasi dan akomodasi yang terjadi ketika seseorang memecahkan masalah dijelaskan oleh Subanji (2007) seperti Diagram 1 berikut.

Asimilasi
Struktur Masalah Struktur Masalah Skema

Akomodasi
Skema

Asimilasi Akomodasi Integrasi

Diagram1: Terjadinya Proses Asimilasi dan Akomodasi Menyatakan kesesuaian antara struktur masalah dan skema yang dimiliki Menyatakan ketidaksesuaian antara struktur masalah dan skema yang dimiliki Pada proses asimilasi, struktur masalah sudah sesuai dengan struktur berpikir (skema) yang dimiliki oleh seseorang, sehingga stimulus tersebut dapat diinterpretasi secara langsung oleh orang tersebut. Dalam hal ini terjadi pengintegrasian stimulus ke dalam skema yang sudah dimiliki. Ketika struktur masalah belum sesuai dengan skema yang dimiliki, maka akan terjadi proses modifikasi skema lama atau pembentukan skema baru sehingga struktur masalah dapat

9

diintegrasi ke skemanya. Dalam proses pemecahan masalah, kedua proses, asimilasi dan akomodasi bisa terjadi secara bersama-sama. Dalam struktur kognitif setiap individu mesti ada keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Keseimbangan ini dimaksudkan untuk dapat mendeteksi persamaan dan perbedaan yang terdapat pada stimulus-stimulus yang dihadapi. Perkembangan kognitif pada dasarnya adalah perubahan dari keseimbangan yang telah dimiliki ke keseimbangan baru yang diperolehnya. Perkembangan kognitif seseorang juga dipengaruhi oleh lingkungan dan transmisi sosialnya. Selanjutnya efektifitas hubungan antara setiap individu dengan lingkungan dan kehidupan sosialnya, mempengaruhi tahap perkembangan kognitif yang dicapai oleh setiap individu. Karena itu agar perkembangan kognitif seorang anak berjalan maksimal, maka harus diperkaya dengan pengalaman edukatif. Berdasarkan hasil penelitiannya, Peaget menyimpulkan terdapat empat tahap perkembangan kognitif manusia, yaitu: 1. Tahap sensori motor, yaitu dari lahir sampai sekitar umur 2 tahun 2. Tahap pra Operasi, yaitu dari sekitar umur 2 tahun sampai umur 7 tahun 3. Tahap Operasi Konkrit, yaitu dari sekitar umur 7 tahun sampai 11 tahun 4. Tahap operasi formal, yaitu dari sekitar 11 tahun dan seterusnya Tahap-tahap perkembangan kognitif ini didasarkan pada penelitian di Swiss tahun 1950-an, karena itu Piaget menegaskan bahwa perkiraan umur untuk masing-masing tahap mugkin berbeda untuk tiap-tiap wilayah. Bahkan perkembangan kognitif ini mungkin juga berbeda dengan adanya perkembangan teknologi dan informasi saat ini.

C.

Pandangan Humanisme Pandangan Humanisme dipelopori oleh Maslow, Rogers, dan Peale. Dalam pandangan

Humanisme, keberhasilan belajar lebih dipengaruhi oleh sikap, kebutuhan, motivasi, dan tujuan diri sendiri. Humanisme memandang siswa dari sudut siswa sendiri bahwa siswa itu merupakan individu yang “unik”, memiliki potensi menentukan sikap dan tujuan sendiri yang menjadi kunci keberhasilan belajarnya. Untuk mendorong terjadinya berlajar yang efektif, perlu dilakukan beberapa hal berikut. Mengubah dan menciptakan lingkungan yang dapat menyenangkan siswa sedemikian hingga siswa belajar dalam kondisi senang
10

-

Menumbuhkan motivasi instrinsik Membebaskan siswa dari ancaman dan ketersiksaan di kelas Terarah/tujuan sendiri Bermakna bagi diri sendiri

Dalam pandangan Humanisme ini, Maslow membuat herarki motivasi/kebutuhan yang meliputi: Psysiological needs Safety needs Belongingness & love needs Esteem needs Need to know & understand Aestetic need Self-actualization Tran-scendence

Dalam level psysiological need, pembelajaran yang mengacu pada pandangan humanisme antara lain active learning dan kontekstual.

D.

Pandangan Sosio-Kognisi (Social Cognition) Teori sosio-kognisi dipelopori oleh Bandura, Vygotsky, dan Sears. Dalam pandangan ini,

belajar merupakan hasil dari pengaruh lingkungan social berpikir siswa. Pengetahuan dikonstruksi oleh siswa ketika terjadi interaksi berpikir satu dengan yang lain. Karena itu, pembelajaran yang sesuai dengan pandangan sosio-kognisi adalah cooperative learning. Vygotsky mengungkapkan dua konsep penting yang perlu dipertimbangkan dalam proses belajar siswa, yakni Zona Proximal Development (ZPD) dan Scaffollding. Pada dasarnya setiap siswa memiliki potensi untuk bisa mengonstruksi pengetahuan secara individu (tanpa bantuan orang lain) dan mengonstruksi pengetahuan karena adanya bantuan orang lain (minimal adanya interaksi dengan orang lain). Siswa dapat mengonstruksi pengetahuan secara mandiri menunjukkan adanya zona actual. Sebenarnya siswa dapat mengembangkan potensinya sampai kondisi maksimal, bila dibantu oleh orang lain. Zona yang masih bisa dikembangkan secara optimal dengan adanya bantuan orang lain disebut zona proximal development. Lebih jauh Vygotsky menyarankan agar bantuan kepada siswa tidak telalu banyak tetapi secukupnya saja. Bantuan secukupnya kepada siswa untuk bisa mengembangkan kemampuannya secara optimal
11

disebut scaffolding. Konsep Zona Actual, Zona Proximal Development, dan scafolding dapat digambarkan sebagai berikut. Zona Proximal Development Zona Actual Scaffolding

Keempat pandangan tentang belajar dan pembelajaran di atas menjadi dasar pengembangan pembelajaran di kelas. Seringkali keempat pandangan tersebut dikelompokkan menjadi pandangan behaviorisme dan pandangan konstruktivisme (cognitivisme, social-cognition, dan humanisme).

12

BAB II PEMBELAJARAN BERMAKNA Dalam pembelajaran, bagian terpentingnya adalah bagaimana siswa bisa memahami dan mengerti informasi yang disampaikan oleh guru. Untuk bisa mencapai tujuan ini tentunya informasi yang dipelajari bermakna bagi siswa. Sebagai ilustrasi pentingnya kebermaknaan, berikut disajikan beberapa kalimat. (i) Gempa daerah bumi masyarakat bencana trauma terkena itu di mengalami yang (ii) Masyarakat di daerah yang terkena bencana gempa bumi itu mengalami trauma (iii) Di daerah yang terkena bencana gempa bumi itu masyarakat mengalami trauma Ketiga kalimat tersebut memiliki jumlah kata dan huruf yang sama, tetapi kalimat yang mudah dipelajari dan diingat tentunya berbeda. Kalimat pertama mungkin akan sangat sulit untuk dipelajari dan diingat. Kalimat kedua dan ketiga, meskipun susunannya berbeda mungkin masih mudah untuk dipelajari dan diingat. Kenapa demikian? Karena terkait dengan makna yang bisa ditangkap oleh kita. Kalimat pertama sering dikatakan sebagai kalimat yang tidak bermakna, sedangkan kalimat kedua dan ketiga merupakan kalimat yang memiliki makna, sehingga bisa dikaitkan dengan informasi yang sudah dimiliki oleh kita. Dalam pembelajaran di kelas, untuk mempermudah siswa mempelajari suatu konsep, teori, atau informasi tentunya membutuhkan kebermaknaan. Tidak bisa siswa hanya diminta menghafal tanpa makna dari suatu konsep, teori, atau informasi. Ada satu contoh menarik tentang pembelajaran yang hanya menghafal yang ditulis oleh Williams James dalam bukunya yang berjudul Talks to Teacher on Psychology (dalam M. Nur, 2004). Seorang teman guru sedang berkunjung ke sebuah sekolah, diminta mengajukan pertanyaan pada sebuah kelas saat pelajaran geografi. Setelah memperhatikan sejenak buku yang digunakan, ia mengatakan ” Seandainya kamu harus menggali sebuah lubang di tanah beratus-ratsu meter dalamnya, bagaimana seharusnya temperatur yang kamu temukan di dasar lubang – lebih panas atau lebih dingin dari yang di atas?” Tidak satupun siswa menjawab, guru kelas itu mengatakan ” Saya yakin mereka mengetahui jawabannya, namunmenurut saya, Anda tidak menanyakan pertanyaan itu dengan benar. Biarlah saya mencoba menanyakan. ” Kemudian sambil mengambil buku itu, guru bertanya ” Bagaimanakah kondisi di bagian dalam bumi?” dan mendapatkan jawaban segera dari setengah kelas secara serentak . ” bagian dalam bumi berada dalam keadaan cair memijar” (James: 1912, h. 150). Ini menunjukkan bahwa siswa telah menghafal informasi tersebut tanpa memahami maknanya. Informasi yang ada di buku tersebut tidak berguna bagi mereka karena tidak terkait dengan informasi lain yang mereka miliki. Informasi ”cair memijar” yang telah dihafal oleh siswa dalam kasus di atas disebut sebagai pengetahuan inert, yakni merupakan pengetahuan
13

yang dapat dan seharusnya diterapkan ke situasi lebih luas, namun hanya diterapkan pada situasi yang terbatas. Pengetahuan inert ini pada umunya merupakan pengetahuan yang dipelajari di sekolah yang tidak dapat diterapkan dalam kehidupan nyata (sehari-hari). Cara menyajikan informasi dalam pembelajaran di sekolah sangat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar dan menangkap informasi yang seharusnya di konstruksi. Pada kenyataannya masih banyak guru yang menekankan pembelajaran hanya pada hafalan tanpa makna. Seperti dalam pembelajaran matematika kenyataannya masih banyak pengajar matematika (guru) yang menekankan pembelajaran pada prosedur. Pengajar matematika memberikan rumus/cara/prosedur berhitung atau menyelesaikan soal (bukan menurunkan rumus), memberi contoh soal dan menyelesaikannya, memberikan soal yang mirip dengan contoh dan siswa diminta menyelesaikannya seperti yang dicontohkan oleh pengajar, dan dilanjutkan mengerjakan latihan soal di buku atau di LKS. Model pembelajaran tersebut tidak bermakna bagi siswa, karena hanya menekankan pada cara/prosedur dan siswa hanya meniru cara yang sudah dicontohkan. Karena siswa hanya hafal prosedur tanpa mengetahui makna dari prosedur tersebut, maka akan berdampak pada lemahnya penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika dan lemahnya kemampuan problem solving. Hal ini bisa terjadi karena siswa tidak bisa mengaitkan satu konsep ke konsep yang lain. Karena itu sudah saatnya, orientasi pembelajaran berubah dari pemberian doktrin yang biasanya menekankan ”pokoknya” rumus, prosedur, dan cara yang digunakan ”harus itu” menjadi pembelajaran yang mengembangkan proses berpikir siswa dengan menekankan pada mengapa prosedur/cara/rumus itu yang digunakan. Hal ini sesuai dengan anjuran NCTM (2000), Pape (2004), dan Goos (2004). Dalam hal ini Pape (2004), menekankan bahwa pembelajaran perlu menekankan pada Meaning Based Approach (MBA) dan Goos (2004) menyarankan bahwa dalam pembelajaran perlu diciptakan komunitas belajar di kelas melalui pendekatan Inquiry. A. Pembelajaran Bermakna versus Tidak Bermakna Berdasarkan Proses Berpikir Pada dasarnya sebelum proses pembelajaran, seorang siswa pasti sudah memiliki struktur berpikir. Struktur berpikir tersebut sebagai modal dasar siswa untuk mengkonstruksi (termasuk memahami, mempersepsi, membentuk konsepsi dan konsep, serta memecahkan) masalah baru yang akan dipelajari. Dalam proses pembelajaran, seorang siswa dapat mengonstruksi pengetahuan secara baik, apabila modal dasarnya (struktur berpikir siswa) cukup. Dalam hal ini, struktur berpikir siswa terkait dengan sebagian struktur masalah yang sedang dipelajari. Semakin kuat keterkaitan antara struktur masalah dan struktur berpikir siswa, maka akan semakin mudah proses konstruksi yang terjadi.

14

Suatu pembelajaran dikatakan bermakna apabila struktur masalah (apa yang akan dipelajari) terkait dengan struktur berpikir siswa (apa yang sudah diketahui). Dalam hal ini, struktur masalah yang sedang dipelajari bisa dikaitkan dengan struktur berpikir (skema) yang sudah ada di dalam pikiran siswa. Pembelajaran bermakna ditinjau dari proses berpikir siswa dapat diilustrasikan seperti Gambar 1 berikut.
Skema berpikir yang sudah dimiliki siswa Struktur masalah yang akan dipelajari

(a)

(b)

Gambar 1: Skema berpikir yang dimiliki siswa dan struktur masalah yang dipelajari

Misalkan skema berpikir siswa pada awalnya (sebelum pembelajaran) seperti Gambar 1a. Struktur masalah yang akan dipelajari pada pembelajaran seperti pada Gambar 1b. Maka ketika terjadi proses pembelajaran, terjadi konstruksi pengetahuan (skema berpikir) siswa seperti Gambar 2 berikut.

Gambar 2: Skema berpikir setelah pembelajaran

Dari Gambar 2 terlihat bahwa dalam proses pembelajaran terjadi konstruksi pengetahuan oleh siswa secara baik. Hal ini ditandai dengan adanya ikatan yang kuat dalam struktur berpikir siswa yang berhasil dibangun dalam pembelajaran. Konstruksi pengetahuan dapat terjadi karena dalam struktur masalah yang sedang dipelajari ”ada sebagian” yang sama dengan skema yang sudah dimiliki oleh siswa, sehingga dapat membentuk jaringan skema berpikir yang terkait secara kuat. Ini berarti bahwa siswa mampu membangun pengetahuan secara bermakna dan dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan sudah bermakna bagi siswa. Sebaliknya pembelajaran yang dilakukan dengan hanya memberikan prosedur/cara dan rumus hanya memberikan ingatan sementara. Siswa memandang matematika hanya sekedar kumpulan aturan dan rumus yang harus digunakan untuk menyelesaikan soal. Tugas siswa hanya
15

menyelesaikan soal-soal yang ada di buku berdasarkan rumus yang sudah diberikan oleh guru. Dalam hal ini kegiatan pembelajaran yang biasa dilakukan adalah (1) guru memberikan rumusrumus dan siswa menghafalkan -nya; (2) guru medemonstrasikan penggunaan rumus dan siswa memperhatikannya; (3) guru memberikan soal yang mirip dengan contoh yang sudah diberikannya dan siswa diminta untuk mengerjakan; (4) guru menekankan cara menyelesaikan soal menggunakan prosedur yang sudah diberikan; dan (5) memberikan soal-soal pengayaan yang semuanya menggunakan rumus yang sudah diberikan. Dalam pembelajaran semacam ini, akan terjadi konstruksi pengetahuan pada diri siswa, namun konstruksi yang terjadi sangat ”rapuh”. Siswa akan kesulitan mengaitkan pengetahuan yang didapat dengan pengalaman yang sudah diperoleh (termasuk mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari) dan siswa juga akan mengalami kesulitan dalam mentransfer pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan masalah-masalah lain yang masih terkait. Hal ini dapat terjadi karena skema-skema yang dikonstruksi tidak sambung secara utuh, sehingga untuk memanggil skema lama yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah baru menjadi terhambat. Apabila dikaitkan dengan Teaching Contextually (Crawford, 2001), dari 5 (lima) karakteristik pembelajaran kontekstual, yaitu Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, dan Transferring, kesulitan yang akan dialami siswa dalam pembelajaran tidak bermakna adalah Relating, Experiencing, dan Transferring. Siswa akan mengalami kesulitan dalam: (1) menghubungkan satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain, (2) mengaitkan pengalaman sehari-hari dengan pengetahuan yang akan dikonstruksi, dan (3) menstransfer pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan masalah-masalah lain yang terkait. Ditinjau dari lima karakteristik dasar realistic mathematics education (RME) yaitu: (1) phenomenological exploration or the use of contexts; (2) the use of models or bridging by vertical instruments; (3) the use of students own productions and constructions or students contribution; (4) the interactive character of the teaching process or interactivity; dan (4) the intertwining of various learning strands, maka semua krakteristik tersebut tidak terjadi dalam konstruksi pengetahuan siswa. Dalam tinjauan proses berpikir, pembelajaran tidak bermakna dapat diilustrasikan seperti Gambar 3 berikut.
Skema awal yang dimiliki siswa Struktur masalah yang dipelajari

Gambar 3: Skema berpikir setelah pembelajaran 16

Dari Gambar 3 terlihat bahwa struktur masalah yang akan dipelajari tidak ada kaitannya dengan skema berpikir yang sudah dimiliki siswa. Dalam proses pembelajaran, ini biasa dilakukan dengan hanya memberikan ”doktrin” atau ”pengumuman” yang harus diterima dan dihafal oleh siswa. Misalnya ketika membelajarkan siswa tentang luas daerah segitiga, guru secara langsung menuliskan rumus di papan tulis dan siswa harus menerima saja tanpa tahu mengapa rumus luas daerah segitiga seperti itu. Ditinjau dari proses konstruksi, pada diri siswa tersebut juga terjadi proses konstruksi, namun proses konstruksi yang terjadi tidak bermakna sehingga menghasilkan ikatan skema yang tidak permanen (tidak mulus). Ikatan skema berpikir yang ”putus-putus” tersebut, akan menyulitkan siswa untuk mengingat pengetahuan yang sudah diperoleh dan juga menyulitkan siswa untuk memecahkan masalah menggunakan skema-skema yang sudah dimiliki. Semakin banyak ikatan skema berpikir yang putus-putus, maka untuk memanggil skema lama yang akan digunakan untuk memecahkan masalah baru yang melibatkan banyak skema lama akan menjadi sulit. Karena itu sudah sangat wajar kalau siswa yang sudah mengikuti pembelajaran dengan memperoleh rumus-rumus dari guru masih mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah baru (meskipun sebenarnya mirip dengan masalah yang pernah didapatkannya). Ikatan skema berpikir yang putus-putus juga merupakan penyakit berpikir siswa dalam belajar. Siswa akan mengalami kesulitan mengaitkan suatu konsep dengan konsep lain, meskipun suatu konsep tersebut merupakan prasyarat dari konsep yang lain. Hal ini yang menyebabkan lemahnya kemampuan analitik siswa dan pada akhirnya kreatifitas siswa juga tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Oleh karena itu harus disadari bahwa pembelajaran matematika harus dilakukan secara bermakna. Proses konstruksi pengetahuan harus dilakukan dengan mempertimbangkan antara skema yang sudah dibangun siswa dan struktur masalah yang akan dipelajari. Berikut disajikan beberapa contoh pembelajaran bermakna untuk materi matematika.

B. Beberapa Contoh Pembelajaran Bermakna a. Pembelajaran Matematika secara Bermakna Sebagai contohnya berikut disajikan pembelajaran luas daerah lingkaran dan segitiga secara bermakna. Untuk mempelajari luas daerah lingkaran dan segitiga terlebih dahulu siswa
17

harus mengetahui luas persegi panjang. Bahwa luas daerah persegi panjang adalah banyaknya persegi yang dapat menutup daerah persegi panjang. Pada Gambar 1 menunjukkan ada 60 persegi yang dapat menutup persegi panjang ABCD. Banyaknya persegi tersebut juga bisa ditentukan lebih mudah dengan menghitung ada 12 (dua belas) baris persegi panjang yang memuat 5 (lima) persegi. Karena itu, dalam menghitung luas daerah persegi panjang tersebut bisa diperoleh dengan 60 = 12 x 5. Dalam hal ini 12 merupakan panjang dari persegi panjang ABCD dan 5 merupakan lebar dari persegi panjang ABCD. Karena itu, apabila panjang persegi panjang dituliskan p dan lebar persegi panjang dituliskan l, maka luas daerah persegi panjang bisa ditulis L = p x l.
A B

D

Gambar 1: Bangun Persegi Panjang

C

Setelah siswa mengetahui dan memahami tentang luas daerah persegi panjang, maka siswa dapat menurunkan luas daerah lingkaran dari luas persegi panjang. Caranya dengan mengubah daerah lingkaran menjadi daerah persegi panjang. Gambar 2a merupakan daerah lingkaran yang akan ditentukan luasnya. Dengan memecah (memotong) daerah lingkaran menjadi juring-juring kecil yang sama menjadi daerah lingkaran seperti Gambar 2b.
r

r

(a) 18

(b)

Gambar 2: Daerah Lingkaran Potongan-potongan juring yang berasal dari lingkaran tersebut dapat ditata sedemikian hingga menjadi daerah jajar genjang seperti Gambar 3a. Selanjutnya Gambar 3b menyajikan perubahan dari daerah jajar genjang menjadi daerah persegi panjang dengan memotong secara vertikal juring paling kiri dengan tepat menjadi 2 bagian yang sama. Hasil potongan juring bagian kiri digeser ke bagian paling kanan, sehingga menjadi daerah persegi panjang seperti Gambar 3b berikut.
p = πr

r

(a)

(b)

Gambar 3: Daerah yang Terbentuk dari Penyusunan Juring Lingkaran Gambar 3b berupa jajar genjang dengan panjangnya separuh dari keliling lingkaran (warna merah saja) dan lebarnya merupakan jari-jari lingkaran. Karena itu luas daerah lingkaran dapat ditentukan dari luas daerah persegi panjang dengan langkah-langkah sebagai berikut.
Luas daerah lingkaran = luas daerah persegi panjang (Gb 3b) =pxl = πr x r = π r2 Jadi luas daerah lingkaran adalah π r 2

Dalam pembelajaran luas daerah segitiga, misalkan siswa sudah memiliki struktur berpikir yang berkaitan dengan luas daerah persegi panjang. Untuk membelajarkan siswa tentang luas daerah segitiga, dapat dilakukan dengan mengubah bangun segitiga menjadi bangun persegi panjang. Selanjutnya diturunkan rumus luas daerah segitiga dari luas persegi panjang. Adapun proses pembelajaran luas daerah segitiga dapat dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut.

19

Perhatikan bangun segitiga ABC pada Gambar 3 di bawah ini. Misalkan BC sebagai alas (ditulis sebagai a) dan AD sebagai tinggi (ditulis sebagai t), maka akan dikonstruksi rumus luas daerah segitiga ABC berdasarkan luas bersegi panjang.
A

t

B

D

C

Gambar 3: Daerah segitiga ABC Apabila segitiga ABC dipotong pada setengah tingginya dan sejajar dengan alasnya, maka dapat digambarkan seperti Gambar 4 berikut

½t

½t

Gambar 4: Daerah segitiga ABC dipotong setengah tinggi sejajar alasnya Potongan segitiga bagian atas, dipotong lagi searah tingginya dan masing-masing potongannya diputar dan ditutupkan pada sisi trapesium hasil potongan segitiga bagian bawah. Proses tersebut dapat disajikan seperti Gambar 5 berikut.

20

½t

½t

Gambar 5: Proses pemotongan segitiga ABC Dengan proses tersebut, segitiga ABC berubah menjadi bentuk persegi panjang dengan panjangnya sama dengan alas segitiga dan lebarnya setengah tinggi segitiga, seperti Gambar 6 berikut.
½t a

Dengan menggunakan hukum kekekalan luas, bahwa sebuah bangun datar yang diubah bentuknya ke bangun datar yang lain, maka luasnya tidak akan berubah, sehingga dapat diturunkan rumus luas daerah segitiga dari luas daerah persegi panjang, sebagai berikut.
Luas daerah segitiga = luas persegi panjang =pxl =ax½t = ½ axt

21

b. Pembelajaran Bahasa Indonesia secara Bermakna Pembelajaran bermakna untuk bidang studi Bahasa Indonesia yang dicontohkan, antara lain: model membaca satra, model berbicara sastra, model menyimak, model menulis. Model Pembelajaran Membaca Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam pembelajaran membaca cerpen ini. Kali ini akan diberikan tiga alternatif model beserta langkah-langkahnya. Alternatif Model 1
(Pendahuluan) (1) Siswa diajak bertanya jawab tentang satu permasalahan yang ada kaitannya dengan cerpen yang akan diperdengarkan. (Kegiatan Inti) (2) Siswa dengan cara tertentu membentuk kelompok (3) Siswa membaca cerpen (4) Siswa berdiskusi untuk menentukan: o isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen, o menunjukkan relevansi isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen dengan situasi sekarang; o menyimpulkan isi dan nilai-nilai (etika) cerpen dalam bentuk ungkapan. (Penutup) (5) Siswa mengadakan refleksi

Alternatif Model 2
1. (Pendahuluan) Siswa diajak bertanya jawab tentang satu permasalahan yang ada kaitannya dengan cerpen yang akan diperdengarkan. (Kegiatan Inti) Guru membacakan cerpen Siswa menirukan pembacaan cerpen (klasikal atau individual) Siswa berdiskusi untuk menentukan o isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen; o menunjukkan relevansi isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen dengan situasi sekarang; o menyimpulkan isi dan nilai (etika) cerpen dalam bentuk ungkapan. Siswa membuat cerpen (Penutup) Siswa mengadakan refleksi

2. 3. 4.

5. 6.

22

Alternatif Model 3
1. (Pendahuluan) Siswa diajak bertanya jawab tentang satu permasalahan yang ada kaitannya dengan cerpen yang akan diperdengarkan. (Kegiatan Inti) Siswa berdiskusi untuk menentukan o isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen; o menunjukkan relevansi isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen dengan situasi sekarang; o menyimpulkan isi dan nilai etika cerpen. Siswa membuat cerpen Siswa membacakan cerpennya (Penutup) Siswa mengadakan refleksi

2.

3. 4. 5.

Contoh Pembelajaran model membaca sastra disajikan dalam lampiran 2

Model Pembelajaran Berbicara Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam pembelajaran berbicara sastra. Kali ini akan diberikan tiga alternatif model beserta langkah-langkahnya. Alternatif Model 1
1. (Pembukaan) Siswa diajak bertanya jawab tentang satu permasalahan yang ada kaitannya dengan cerpen yang akan didiskusikan 2. (Kegiatan Inti) Siswa membaca cerpen Siswa dengan cara tertentu membentuk kelompok Siswa berdiskusi untuk menentukan: o isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen, o menunjukkan relevansi isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen dengan situasi sekarang; o menyimpulkan isi dan nilai-nilai (etika) cerpen dalam bentuk ungkapan. (Penutup) Siswa dibimbing guru mencoba untuk merefleksikan kegiatan yang telah dilakukan

3. 4. 5.

6.

23

Alternatif Model 2
(Pembukaan) 1. Siswa diajak bertanya jawab tentang satu permasalahan yang ada kaitannya dengan cerpen yang akan didiskusikan. (Kegiatan Inti) 2. Guru membacakan cerpen 3. Siswa menirukan pembacaan cerpen (bisa secara klasikal, bisa individual) 4. Siswa berdiskusi untuk menentukan o isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen; o menunjukkan relevansi isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen dengan situasi sekarang; o menyimpulkan isi dan nilai-nilai (etika) cerpen dalam bentuk ungkapan. 6. Siswa membuat cerpen (Penutup) 7. Siswa dibimbing guru mencoba untuk merefleksikan kegiatan yang telah dilakukan

Alternatif Model 3
(Pembukaan) 1. Siswa diajak bertanya jawab tentang satu permasalahan yang ada kaitannya dengan cerpen yang akan didiskusikan. (Kegiatan Inti) 2. Siswa berdiskusi untuk menentukan o isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen; o menunjukkan relevansi isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam cerpen dengan situasi sekarang; o menyimpulkan isi dan nilai-nilai (etika) cerpen dalam bentuk ungkapan. 3. Siswa membuat cerpen 4. Siswa membacakan cerpennya (Penutup) 5. Siswa dibimbing guru mencoba untuk merefleksikan kegiatan yang telah dilakukan

Contoh Pembelajaran model membaca sastra disajikan dalam lampiran 3

24

Model Pembelajaran Menyimak Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam pembelajaran menyimak. Kali ini akan diberikan dua alternatif model beserta langkah-langkahnya. Alternatif Model 1
(Pendahuluan) (1) Siswa diajak bertanya jawab tentang satu permasalahan yang ada kaitannya dengan tema puisi yang akan diperdengarkan. (Kegiatan Inti) (2) Siswa dengan cara tertentu membentuk kelompok (3) Guru membacakan puisi (4) Siswa berdiskusi untuk menentukan: o isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam puisi, o menunjukkan relevansi isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam puisi dengan situasi sekarang; o menyimpulkan isi dan nilai-nilai (etika) puisi dalam bentuk ungkapan. (5) Siswa membuat puisi (Penutup) (6) Siswa dibimbing guru mencoba untuk merefleksikan kegiatan yang telah dilakukan

Alternatif Model 2
(Pendahuluan) (1) Siswa diajak bertanya jawab tentang satu permasalahan yang ada kaitannya dengan tema puisi yang akan diperdengarkan. (Kegiatan Inti) (2) Guru membacakan puisi (3) Siswa menirukan pembacaan puisi (bisa secara klasikal, bisa individual) (4) Siswa berdiskusi untuk menentukan o isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam puisi; o menunjukkan relevansi isi dan nilai-nilai (etika) yang terdapat di dalam puisi dengan situasi sekarang; o menyimpulkan isi dan nilai-nilai (etika) puisi dalam bentuk ungkapan. (5) Siswa membuat puisi (Penutup) (6) Siswa dibimbing guru mencoba untuk merefleksikan kegiatan yang telah dilakukan

Contoh Pembelajaran model membaca sastra disajikan dalam lampiran 4
25

c. Pembelajaran IPA secara Bermakna Beberapa pembelajaran bermakna untuk bidang studi IPA dan Bahasa Indonesia antara lain: Picture and Picture, Problem Based Instruction (PBI), Conccept Sentence, dan Complete Sentence.

Pembelajaran picture and picture dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai Guru menyajikan materi sebagai pengantar Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi. Guru meminta siswa secara bergantian untuk memasang/mengurutkan gambargambar menjadi urutan yang logis Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut Dari urutan gambar tersebut, guru memulai mengekplorasi, mengelaborasi, mengkonsfirmasi, dan menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi. Guru dan siswa membuat rangkuman item-item penting terkait dengan kompetensi yang sedang dipelajari.

26

BAB III PEMBELAJARAN KREATIF DAN INOVATIF

A.

Model, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran Hubungan antara model, strategi, metode dan teknik pembelajaran dapat digambarkan

sebagai berikut.
Model Strategi Metode Teknik

Model pembelajaran merupakan tingkatan yang paling luas mengenai praktik pembelajaran dan memberikan orientasi filosofis pembelajaran. Model pembelajaran memiliki empat cirri khusus: (1) rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya, (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar, (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model terlaksana dengan baik, dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dari model yang dirancang digunakan untuk memilih dan merancang strategi pembelajaran, metode, teknik, dan kegiatan siswa. Menurut Joyce, Weil, dan Showers, model memiliki makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode atau teknik dan berfungsi seabgai sarana komunikasi yang penting, apa yang akan dibicarakan di kelas dan bagaimana praktik mengawasi siswa di kelas.Lebih jauh Joice dan Weil (1986) menjelaskan ada empat model: pemrosesan informasi, behavioral, interaksi social, dan personal. Dalam setiap model dapat digunakan beberapa strategi, seperti pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran tak langsung (indirect instruction), pembelajaran interaktif, pembelajaran berdasarkan pengalaman, atau pembelajaran mandiri. Dari strategi yang dipilih, selanjutnya menentukan metode pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan. Metode pembelajaran digunakan untuk menciptakan lingkungan
27

pembelajaran dan untuk menggambarkan keterlibatan guru dan siswa dalam berinteraksi di kelas. Dalam praktik pembelajaran sebaiknya menggunakan beberapa metode, sebab masing-masing metode memiliki kelebihan dan kelemahan. Apabila guru mampu mengatur metode sedemikian hingga saling menutupi kelemahan dan saling mendung keunggulan, maka proses pembelajaran akan bisa berlangsung secara maksimal. Contoh metode pembelajaran antara lain: diskusi, simulasi, dan ceramah. Teknik pembelajaran merupakan praktik pembelajaran yang paling khusus, terkait dengan bagaimana bertanya, berdiskusi, member pengarahan, mendemonstrasikan, dan menjelaskan. Dalam praktik pembelajaran juga sering dikenal istilah pendekatan pembelajaran. Seringkali guru memahami pendekatan pembelajaran lebih luas dari model pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang sering digunakan adalah: pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), pendekatan inquiry, pendekatan kooperatif, pendekatan kontekstual, dan sebagainya. Namun demikian pendekatan juga sering disetarakan dengan strategi, seperti pendekatan kooperatif disetarakan dengan strategi kooperatif, pendekatan kontekstual disetarakan dengan strategi kontekstual. Karena itu dalam buku ini memilih pendekatan tidak dijadikan sebagai istilah yang herarki dengan model, strategi, metode, dan teknik, tetapi memandang pendekatan sebagai “cara”. Selanjutnya untuk mencapai tujuan pembelajaran optimal yang bisa mendorong siswa berpikir kreatif, guru harus bisa mengkombinasikan berbagai model, strategi, metode, dan teknik. Guru bisa membuat pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif. Berikut disajikan beberapa contoh pembelajaran kreatif dan inovatif bidang studi matematika dan Bahasa Indonesia.

B.

Pembelajaran dengan Media Pohon Matematika Rekomendasi untuk pembaharuan matematika sekolah, yang saat ini menyarankan

pentingnya peran siswa dalam menghasilkan penyusunan soal. Sebagai contoh ‘the curriculum and Evaluation Standar for School Mathematics (NCTM, 1989) menyatakan secara eksplisit bahwa peserta didik harus mempunyai pengalaman mengenal dan memformulasikan soal-soal mereka sendiri, yang merupakan kegiatan utama dalam pembelajaran matematika. Lebih jauh dalam “the Professional Standars for teaching Mathematics” (NCTM, 1991) disarankan pentingnya bagi guru-guru untuk memberikan kesempatakan kepada siswa mengajukan soal-soal
28

mereka (problem posing): “siswa seharusnya diberi kesempatan untuk merumuskan soal-soal dari situasi yang diberikan dan membuat soal-soal baru dengan cara memodifikasi kondisikondisi dari soal-soal yang diberikan”. Silver (1996) menjelaskan bahwa problem posing biasanya kegiatan kognitif matematika, yaitu: a. Presolution posing, siswa menghasilkan soal-soal awal yang ditimbulkan oleh stimulus. b. Within solution posing, siswa merumuskan soal yang dapat diselesaikan. c. Postsolution posing, siswa memodifikasi kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk menghasilkan soal-soal baru. Dalam penelitian Silver dan Cai (1996) tentang problem posing aritmatika, antara lain diperoleh hasil bahwa (1) siswa sekolah menengah dapat menghasilkan sejumlah pertanyaan matematis (90% dapat dipecahkan), bila kepada mereka disajikan buku pelajaran bentuk cerita sebagai stimulus untuk memancing pertanyaan, (2) terdapat hubungan antara problem posing dan problem solving, terutama kualitas pertanyaan yang disusun siswa dapat memberikan sumbangan sebagai petunuk bagaimana dapat menyelesaikan soal-soal itu dengan baik, (3) siswa pada kelompok atas (pandai) menghasilkan soal-soal yang lebih bersifat matematis dan kompleks dari siswa kelompok bawah. Dalam penelitian lain, Silverman (Silver, 1996) melaporkan bahwa siswa kelas 5, dapat menghasilkan soal cerita yang melampaui dalam tingkat kesukarannya English (1998) mengadakan penelitian problem posing anak dalam konteks formal dan informal. Dalam konteks formal kepada siswa diberikan ransangan berupa kalimat formal “2 – 4 = 8” selanjutnya siswa mengajukan masalah dari konteks formal tersebut. Dalam konteks informal, kepada siswa diberikan gambar foto yang beraneka ragam warnanya, selanjutnya siswa mengajukan permasalahan dari gambar tersebut. Hasil penelitian ini antara lain siswa lebih banyak menghasilkan masalah berbeda untuk konteks informal daripada konteks formal. Dalam pembelajaran matematika, pengajuan soal menempati posisi yang strategis. Pengajuan soal merupakan inti terpenting dalam disiplin matematika dan dalam berpikir matematis. "Problem posing is of central important in the discipline of mathematics and in the nature of mathematical thinking" (Silver, et.al, 1996:293).
29

digunakan pada 3 bentuk

Menurut English (1997), Silver dan Cai (1996), manfaat pengajuan soal antara lain: a. Membantu peserta didik dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan terhadap matematika, sebab ide-ide matematika peserta didik dicobakan untuk memahami masalah yang sedang dikerjakan dan dapat meningkatkan performennya dalam pemecahan masalah. b. Membentuk peserta didik untuk bersikap kritis dan kreatif. c. Mempunyai pengaruh positif terhadap kemampuan memecahkan masalah dan sikap peserta didik terhadap matematika. d. Dapat mempromosikan semangat inkuiri dan membentuk pikiran yang berkembang dan fleksibel. e. Mendorong peserta didik untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya. f. Untuk mengetahui kesalahan atau miskonsepsi peserta didik. g. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik, sebab pengajuan soal

memberi penguatan-penguatan dan memperkaya konsep-konsep dasar. h. Menghilangkan kesan "keseraman" dan "kekunoan" dalam belajar matematika. i. Mempersiapkan pola pikir atau kriteria berpikir matematis. Lebih jauh Silver dan Cai (1996) menjelaskan bahwa problem posing berkorelasi positif dengan kemampuan memecahkan masalah. Meningkatnya kemampuan problem posing dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Padahal kemampuan masalah merupakan kemampuan esensial dalam belajara matematika. Karena itu sangat penting mengajarkan anak untuk belajar dengan problem posing. Selanjutnya pendekatan open ended merupakan pendekatan pembelajaran yang dilakukan dengan menyajikan masalah yang memiliki jawaban tidak tunggal atau cara menyelesaikan tidak tunggal. Karena itu pendekatan open ended dapat dikelompokkan menjadi dua model: (1) masalah dirancang dengan jawaban tidak tunggal dan (2) masalah yang memiliki jawaban tunggal tetapi cara penyelesaiannya tidak tunggal. Ketika masalah dirancang dengan jawaban tidak tunggal, maka proses berpikir siswa akan bebas menentukan bentuk jawabannya, asalkan jawaban tersebut logis dan rasional. Begitupula untuk masalah yang memiliki jawaban tunggal tetapi cara penyelesaiannya tidak tunggal, maka siswa dapat menyelesaikan dengan berbagai

30

bentuk, yang penting proses penyelesaian tersebut logis dan rasional. Dengan jawaban atau proses tidak tunggal tersebut dapat mendorong siswa untuk berpikir kreatif. Media Pohon Matematika Problem posing dan open ended merupakan pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan penalaran siswa. Keduanya memiliki karakteristik memberikan kebebasan berpikir kepada siswa. Problem posing mengarahkan siswa untuk mengajukan masalah, sedangkan open ended mengarahkan kepada siswa untuk menyelesaikan soal yang memiliki jawaban atau cara penyelesaian tidak tunggal. Dalam hal ini siswa ”bebas” untuk menentukan cara penyelesaian atau mendapatkan jawaban, yang penting prosedur penyelesaian atau jawaban yang diperoleh logis dan rasional. Meskipun open ended sangat baik untuk

mengembangkan nalar siswa, namun banyak guru yang masih kesulitan menerapkannya. Hal ini dapat terjadi, karena ”tidak mudah” untuk mengkonstruksi masalah yang memiliki jawaban atau prosedur penyelesaian tidak tunggal. Begitupula dalam menerapkan problem posing, ”tidak mudah” bagi guru untuk memilih stimulus yang dapat digunakan untuk membangkitkan masalah. Karena itu, perlu ada pendekatan pembelajaran yang mampu memadukan open ended dan problem posing serta mudah pelaksanaannya bagi guru. Pembelajaran dengan media pohon matematika merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasinya. Secara umum langkah-langkah pembelajaran matematika seperti berikut: (1) guru menyajikan materi, (2) guru memberikan contoh beserta penyelesaiannya, (3) guru memberikan soal (yang mirip-mirip dengan soal yang contohkan), (4) siswa mengerjakan soal latihan (yang dibuat guru atau dari buku teks), (5) pembahasan. Sebenarnya ada yang perlu ”diwaspadai” dalam langkah-langkah tersebut. Karena pembelajaran tersebut lebih menekankan pada prosedur. Siswa diminta untuk ”meniru” cara mengerjakan gurunya, ditandai dengan memberikan soal-soal latihan yang mirip dengan yang sudah dikerjakan oleh gurunya. Hal ini dapat menjadi tidak bermakna apabila pengajar matematika ”hanya” mengajarkan prosedur dengan tanpa menjelaskan mengapa prosedur tersebut digunakan. Akibatnya siswa beranggapan bahwa dalam menyelesaikan masalah, cukup memilih prosedur penyelesaian yang sesuai dengan masalah yang diberikan. Dalam hal ini fokus pembelajaran tidak pada mengapa prosedur tertentu itu yang digunakan untuk menyelesaikan, tetapi prosedur mana yang dipilih untuk menyelesaikan masalah dan pada bagaimana menyelesaikan dengan prosedur tersebut. Dengan penekanan pembelajaran hanya pada prosedur
31

mengakibatkan penalaran siswa tidak berkembang secara optimal. Bahkan bisa menumbuhkan proses berpikir pseudo (Subanji, 2007). Pohon matematika merupakan suatu media yang dapat digunakan untuk mengembangkan penalaran siswa. Pembelajaran dengan pohon matematika merupakan balikan dari pembelajaran yang biasa dilakukan di kelas, terutama dalam latihan-latihan soal yang diberikan. Selama ini soal-soal yang diberikan kepada peserta didik dapat dikategorikan: (1) menentukan nilai (menghitung), (2) menyederhanakan, (4) menggambar, dan (3) membuktikan (meskipun sangat jarang). Dalam pembelajaran dengan pohon matematika, justru jawaban sudah diberikan dan siswa diminta untuk mengkonstruksi soalnya. Atau soal yang jawabannya tidak tunggal dan siswa diminta untuk mencari semua jawaban yang mungkin. Dalam pembelajaran dengan pohon matematika, guru menyajikan pohon sebagai pokok bahasan, ranting sebagai jawaban atau masalah. Jika ranting berisi jawaban, maka siswa diminta mengkonstruksi soal di daunnya. Jika ranting berisi masalah (syaratnya masalah harus opend ended), maka siswa mencari semua jawaban sebagai daunnya. Sebagai contohnya, ketika membahas materi operasi bilangan bulat (matematika SD), soal yang biasa diberikan oleh guru di kelas adalah menentukan hasil penjumlahan/pengurangan dari beberapa bilangan bulat. Tugas tersebut tidak mendorong siswa untuk berpikir kreatif, karena hanya menuntut penggunaan prosedur yang baku. Untuk mengubah menjadi pembelajaran yang kreatif dan inovatif, maka tugas tersebut bisa diubah dalam bentuk pohon matematika: yang diberikan jawaban dan siswa diminta menyusun masalah yang memiliki jawaban yang telah diberikan. Adapun pohon operasi bilangan bulat bisa dibuat seperti Diagram 2.1. berikut.
Hasil pengurangan dua bilangan bulat adalah -3.

B i l B u l a t

Jumlah tiga bilangan bulat adalah -2. Tentukan sebanyakbanyaknya bentuk penjumlahannya!

32

Diagram 2.1. Pohon Integral Di pohon bilangan bulat tersebut, siswa diminta mengkonstruksi daun, yaitu menyusun penjumlahan tiga bilangan bulat yang hasilnya -2, seperti 3 + (-4) + (-1); -6 + 3 + 1; ( masalah yang jawabannya sudah ditentukan dari dahannya (yakni luas daerah = 12 satuan persegi dan volume = 14 satuan kubik). Untuk mengonstruksi pohon matematika ini, tentunya siswa harus memahami konsep secara utuh dan mendalam. Selain itu siswa harus berpikir lebih keras, untuk mengkaitkan antara konsep, masalah, dan jawaban yang disediakan. Dalam hal ini, siswa tidak cukup jika hanya mengingat prosedur yang dicontohkan oleh guru. Karena itu pembelajaran dengan media pohon matematika ini dapat mengembangkan penalaran siswa. Pada pembelajaran materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) di Sekolah Dasar (SD), soal yang biasa disajikan di sekolah adalah tentukan FPB dan KPK dari beberapa bilangan. Dalam hal ini siswa hanya cukup menerapkan prosedur yang biasa diberikan oleh gurunya. Karena itu siswa menjadi tidak kreatif. Dengan pohon matematika, masalah yang disajikan justru FPB dan KPK sudah diketahui, siswa diminta mencari pasangan-pasangan bilangan yang memenuhi FPB dan KPK yang diketahui. Dalam prakteknya, guru cukup menentukan ranting yang berupa tiga bilangan yang FPBnya 6 dan ranting yang lain, tiga bilangan yang KPKnya 24, siswa diminta mencari daun sebanyak-banyaknya yang berupa pasangan tiga bilangan yang memenuhi FPB = 6 dan KPK = 24. Dengan cara ini siswa akan mampu mengonstruksi masalah (tiga bilangan) sebanyakbanyaknya yang memenuhi syarat tersebut. Kebebasan untuk mengonstruksi masalah tersebut akan mampu membuat siswa menjadi kreatif, yang berarti penalarannya juga akan mencapai tingkat yang tertinggi.

33

Adapun pohon matematika yang berkaitan dengan FPB dan KPK disajikan pada Diagram 4.3 berikut.

Tiga bilangan KPKnya = 24

Tiga bilangan FPBnya = 6

F P B & K P K

Diagram 4.3 Pohon FPB dan KPK Dalam pembelajaran matematika dengan pohon matematika ini, semakin banyak masalah yang dibuat, maka pohon tersebut semakin memiliki banyak daun, berarti semakin “rindang”. Sebaliknya bila daun yang dibuat salah, maka daun tersebut menjadi “benalu” yang mengurangi kesuburan pohon. Dari kerindangan pohon matematika ini, dapat dilihat kretaivitas siswa. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dengan pohon matematika dapat dilakukan dengan: (1) sistem individu dan (2) sistem kelompok. Pada tahap awal guru membuatkan ranting dan

siswa melengkapi daunnya. Pada tahap berikutnya, ranting bisa dibuat oleh siswa. Sehingga dalam proses pembelajaran, guru ”benar-benar” hanya menjadi fasilitator.

C.

Metode Silih Tanya Metode Silih Tanya berbantuan kartu model merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memiliki empat (4) unsur pokok: (1) mendorong anak untuk kreatif melalui proses ”problem posing” (pengajuan masalah); (2) mengkondisikan anak untuk berkompetisi (bisa secara perorangan maupun secara berkelompok); (3) membiasakan anak untuk saling membantu mengajari temannya yang mengalami kesulitan; (4) menciptakan situasi pembelajaran sambil bermain, sehingga dalam proses pembelajaran, anak merasakan situasi yang menyenangkan, asyik belajar sambil bermain.
34

Apa problem posing itu? Rekomendasi untuk pembaharuan matematika sekolah, yang saat ini menyarankan pentingnya peran siswa dalam menghasilkan penyusunan soal. Sebagai contoh ‘the curriculum and Evaluation Standar foe School Mathematics (NCTM, 1989) menyatakan secara eksplisit bahwa siswa-siswa harus mempunyai pengalaman mengenal dan memformulasikan soal-soal mereka sendiri, yang merupakan kegiatan utama dalam pembelajaran matematika. Lebih jauh dalam “the Professional Standars for teaching Mathematics” (NCTM, 1991) disarankan pentingnya bagi guru-guru untuk memberikan kesempatakan kepada siswa mengajukan soal-soal mereka (problem posing): “siswa seharusnya diberi kesempatan untuk merumuskan soal-soal dari situasi yang diberikan dan membuat soal-soal baru dengan cara memodifikasi kondisi-kondisi dari soal-soal yang diberikan”. Dalam pembelajaran matematika, pengajuan soal menempati posisi yang strategis. Pengajuan soal dikatakan sebagai inti terpenting dalam disiplin matematika dan dalam sifat pemikiran penalaran matematika. "Problem posing is of central important in the discipline of mathematics and in the nature of mathematical thinking" (Silver, et.al, 1996:293) Berikut beberapa manfaat pengajuan soal antara lain adalah : 1. membantu peserta didik dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan terhadap matematika, sebab ide-ide matematika peserta didik dicobakan untuk memahami masalah yang sedang dikerjakan dan dapat meningkatkan performennya dalam pemecahan masalah 2. merupakan tugas kegiatan yang mengarah pada sikap kritis dan kreatif, 3. mempunyai pengaruh positif terhadap kemampuan memecahkan masalah dan sikap

peserta didik terhadap matematika, 4. dapat mempromosikan semangat inkuiri dan membentuk pikiran yang berkembang dan fleksibel, 5. mendorong peserta didik untuk dapat lebih bertanggung jawab dalam belajarnya, 6. berguna untuk mengetahui kesalahan atau miskonsepsi peserta didik, 7. mempertinggi kemampuan pemecahan masalah peserta didik, sebab pengajuan soal

memberi penguatan-penguatan dan memperkaya konsep-konsep dasar,
35

8. menghilangkan kesan "keseraman" dan "kekunoan" dalam belajar matematika, 9. mempersiapkan pola pikir atau kriteria berpikir matematis, berkorelasi positif dengan kemampuan memecahkan masalah (Silver & Cai, 1996:522),

Mengapa anak kita HARUS kreatif? Kreatif merupakan kompetensi tertinggi yang ”mestinya” dimiliki oleh anak. Karena dengan kreatif, anak akan mudah untuk menyesuaikan diri dengan dunia yang cepat berubah. Bahkan anak kreatif akan cenderung mampu memberi ”warna” dalam kehidupannya. Dengan kreatif, anak tidak hanya mampu ”menggunakan sesuatu”, tetapi akan mampu ”menciptakan sesuatu”. Karena itu dengan menumbuhkan kreatifitas anak, harapannya ke depan, tidak hanya menjadi pengguna hasil teknologi, tetapi mampu menciptakan teknologi yang berguna bagi khalayak umum. Sehingga anak tidak hanya menjadi insan yang ”konsumtif”, tetapi akan menjadi insan yang produktif.

Mengapa anak kita HARUS kompetitif? Kenyataan hidup adalah kompetitif. Hampir semua lini kehidupan, penuh dengan nuansa kompetisi. Perebutan kekuasaan negara (mulai pemilihan presiden sampai pemilihan ketua RT) penuh dengan kompetisi. Untuk masuk ke suatu jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA, atau Perguruan Tinggi) perlu kompetisi. Untuk mendapatkan suatu pekerjaan, harus berkompetisi. Bahkan ketika belajar di sekolahpun juga perlu kompetisi.Karena itu dalam proses pembelajaran juga perlu dikenalkan adanya kompetisi, dan perlu dilatih berkompetisi yang baik. Kompetisi dikatakan baik apabila setelah selesai berkompetisi: (1) pemenang mau menghargai dan membantu yang kalah; dan (2) yang kalah mau mengakui yang menang dan mau belajar kepada yang menang. Perlunya pembelajaran dengan berkompetisi adalah agar dalam menghadapi dunia nyata anak lebih siap.

Mengapa Kooperatif perlu ditanamkan kepada Anak? Kerjasama (kooperatif) merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di antara sesama manusia saling membutuhkan. Tidak ada seorangpun manusia yang tidak membutuhkan orang lain. Karena itu orang yang tidak mau kerjasama, akan menjadi lemah dan tidak mampu berkompetisi. Sebaliknya orang
36

yang mudah kerjasama, maka dia akan menjadi kuat dan berkembang secara maksimal. Karena itu kemampuan untuk bekerja sama merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa.

Mengapa dalam Belajar Perlu Diciptakan Suasana Bermain? Pembelajaran yang tidak diikuti oleh rasa menyenangkan bagi anak, akan mengakibatkan perasaan ”terpaksa bagi anak” dalam mengikuti pelajaran, sehingga kelas dirasakan sebagai ”penjara” bagi anak. Dalam hal ini siswa harus mengikuti pelajaran, sementara proses tidak menyenangkan. Karena itu belajar dengan suasana bermain merupakan suatu hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Dalam kondisi ini, anak merasakan enjoy di kelas, anak memandang kelas sebagai lingkungan yang mengasyikkan, meskipun sebenarnya mereka dituntut target untuk menyelesaikan suatu materi pelajaran.

SOAL

KARTU KARTU KUNCI

SOAL JAWAB JAWAB NILAI

KARTU KARTU KUNCI
WAKTU

JAWAB JAWAB

METODE SILIH TANYA

WAKTU

NILAI

REKAP

REKAP
KARTU SOAL KARTU JAWAB KUNCI JAWAB WAKTU REKAP NILAI

37

A. Model-Model Pembelajaran Silih Tanya Model Kompetisi Biasa Jenis 1 Model Kompetisi Biasa Jenis 2 Model Kompetisi Berjenjang Model Kompetisi Kelompok Jenis 1 Model Kompetisi Kelompok Jenis 2 Model Kompetisi Gugur Bersemi

B. Langkah-langkah Pembelajaran Silih Tanya 1. Model Kompetisi Biasa Jenis 1 (MKB 1) Siswa diberi tugas ”membuat soal dan pembahasannya sebanyak 6 soal (di

lembaran berbeda) untuk pokok bahasan tertentu”. Dalam hal ini tugas membuat soal dijadikan tugas rumah (PR) pada pertemuan sebelumnya. Siswa dibentuk dalam kelompok masing-masing terdiri 3-4 orang Aktifitas Silih Tanya (*) Guru merekap hasil yang diperoleh oleh masing-masing anak dalam satu kelompok bermain Selanjutnya dilakukan permainan putaran kedua, dst. Sesuai dengan kesepakatan. Di akhir pembelajaran guru mengumumkan hasil dari masing-masing kelompok.

(*) Aktifitas Silih Tanya meliputi: • • • • • • • Dilakukan undian untuk menentukan siapa yang berhak memberikan soal, Siswa yang menang undian memberikan soal, Dilakukan kesepakatan waktu dan dicatat di kartu waktu, Siswa mengerjakan soal dengan pengawasan pembuat soal, pengumpulan lembar jawab, Pembuat soal mengumumkan pembahasannya, Pembuat soal mengoreksi hasil kerja temannya dan memberikan nilai (bila ada siswa yang tidak puas dengan nilai yang diberikan dapat melakukan protes dan bila tidak ada kesepakatan terhadap nilai yang diberikan, maka guru berperan sebagai penengahnya dan sekaligus membenahi kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi),
38

Pembuat soal memberikan penjelasan kepada teman bermainnya, bila ada jawaban temannya masih salah. (proses silih tanya ini berlanjut sampai semua siswa dalam satu kelompok telah memberikan soal, dalam hal ini disebut satu putaran)

2. Model Kompetisi Biasa Jenis 2 (MKB2) Model kedua ini pada dasarnya sama dengan model pertama, hanya pembuatan soalnya tidak menjadi tugas rumah, tetapi dilakukan pada saat pembelajaran. 3. Model Kompetisi Berjenjang Model kompetisi berjenjang merupakan kelanjutan dari kompetisi biasa. Pada model berjenjang, kompetisi biasa disebut jenjang I. Sedangkan jenjang II dimainkan oleh para pemenang dari kompetisi biasa. Jenjang III dimainkan oleh para pemenang jenjang kedua, dan seterusnya sampai diperoleh satu pemenang 4. Model Kompetisi Kelompok Jenis 1 (MKK1) Siswa dalam satu kelas dibentuk kelompok-kelompok dengan jumlah yang sama. Siswa diminta membuat soal dan jawabannya Ditentukan 4 kelompok yang akan bermain.

Aktifitas Silih Tanya (*) Aktifitas silih tanya putaran pertama dilakukan oleh seorang perwakilan masingmasing anggota kelompok (misalnya x1, x2, x3, x4), putaran kedua dilakukan oleh seorang perwakilan masing-masing anggota kelompok tetapi bukan yang telah bermain, misalkan (y1, y2, y3, y4). Putaran permainan dilakukan sebanyak anggota kelompoknya 5. Model Kompetisi Kelompok Jenis 2 (MKK2) • • • Siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok, misalkan A,B,C,D. Kelompok A,B,C,D masing-masing membuat soal dan pembahasannya Dilakukan aktifitas silih tanya seperti aktifitas MKB, namun soal yang diberikan atas nama kelompok dan penyelesaian soal juga dilakukan secara kelompok Catatan: • MKK2 dapat divariasikan, misalkan dengan penunjukkan perwakilan siswa untuk menjelaskan jawabannya dilakukan oleh pemberi soal.

39

Soal yang dibuat dapat berupa tampilan drama, kontekstual, dsb., dan kelompok-kelompok yang menjawab dapat membuat analisa tampilan tersebut

6. Model Kompetisi Gugur Bersemi Siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil. Diadakan aktifitas silih tanya antar kelompok seperti MKK2. Kelompok yang kalah gugur, namun masih dapat menantang kembali kelompok pemenang setelah melakukan persiapan yang lebih matang.

40

BAB IV PEMBELAJARAN KOOPERATIF

A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dikembangkan berdasarkan teori socialcognition, yang selanjutnya menjadi awal dari konstruktivisme social (socio constructivism). Bahwa siswa akan bisa mencapai potensi optimal belajarnya apabila mendapat bantuan “orang dewasa” yang lebih mahir dari dirinya. Orang dewasa yang dimaksudkan bisa guru atau siswa yang memiliki pengalaman lebih banyak. Pembelajaran kooperatif banyak dikembangkan oleh Slavin (1997). Dalam hal ini Slavin mendefinisikan cooperative learning sebagai berikut. Cooperative learning methods share the idea that students work together to learn and are responsible for one another’s learning as well as their own. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu metode di mana siswa belajar bersama-sama dalam kelompok dan anggota dalam kelompok tersebut saling bertanggungjawab satu dengan yang lain. Menurut Artzt dan Newman (1990), cooperative learning didefinisikan sebagai berikut. Cooperative learning is an approach that involves as small group of learners working together as a team to solve a problem, complete a task, or accomplish a common goal. Bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan di mana para siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil untuk memecahkan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mencapai tujuan bersama. Berdasarkan dua pendapat tersebut, dapat dirumuskan ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut. Pertama, siswa dibentuk dalam beberapa kelompok. Kedua, kelompokkelompok tersebut merupakan kelompok kecil. Ketiga, siswa di dalam kelompok melakukan kegiatan belajar bersama (bukan sama-sama belajar). Keempat, masing-masing anggota kelompok bertanggungjawab terhadap keberhasilan anggotanya. Kelima, yang dipelajari dapat berupa masalah, tugas, atau hal-hal lain yang menjadi tujuan bersama (As’ari, 2002).

41

Dalam

pembelajaran

kooperatif,

peranan

guru

adalah

mendorong

dan

atau

mengkondisikan kelas sedemikian hingga siswa bekerja sama dalam suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas bersamanya. Demikian juga guru harus mengkondisikan agar dua atau lebih individu saling bergantung satu sama lain untuk mencapai satu tujuan bersama. Karena itu pembelajaran kooperatif memiliki unsur-unsur dasar sebagai berikut. 1. setiap individu harus beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama” 2. setiap individu bertanggungjawab terhadap segala sesuatu di kelompoknya 3. setiap individu di dalam kelompok harus memiliki tujuan yang sama 4. setiap anggota kelompok membagi tugas dan tanggungjawab yang sama 5. penghargaan menjadi milik bersama 6. adanya berbagi kepemimpinan antar sesama anggota kelompok 7. individu bertanggungjawab kepada kelompoknya terhadap tugas yang diberikan kepadanya Ciri-ciri belajar kooperatif 1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya 2. kelompok dibentuk secara heterogen, berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah 3. kelompok diupayakan terdiri dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda (bila kelas terdiri dari berbagai ras, budaya, suku berbeda) 4. penghargaan berorientasi pada kelompok daripada individu Pada akhirnya pembelajaran kooperatif berkembang menjadi banyak jenis, antara lain:

JIGSAW, Students Team Achievement Division (STAD), Teams Game Tournaments (TGT), Learning Together (LT), One Stay Two Stray. Numbered Heads Together (NHT),dan Think Pair Share (TPS). Selanjutnya akan dibahas beberapa pembelajaran kooperatif.

B. Pembelajaran Kooperatif JIGSAW Setiap model pembelajaran dicirikan oleh: struktur tugas, tujuan, dan penghargaan (Muslimin, dkk, 2000). Struktur tugas meliputi cara pembelajaran diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa di kelas. Pembelajaran biasa dilakukan dengan
42

mengorganisasikan kelas secara klasikal, bangku diatur secara rapi menghadap ke depan, dan meja guru berada di pojok depan. Dalam proses pembelajaran, guru menjelaskan materi dengan menulisnya di papan tulis dan memberikan soal latihan (ditulis di papan tulis atau dari

buku/LKS). Sementara itu yang dilakukan siswa adalah mencatat apa yang diberikan guru dan mengerjakan soal latihan. Dalam hal ini interaksi yang terjadi sangat kecil, terbatas antara siswa dan guru (itupun akan terjadi kalau siswa berani bertanya atau guru bisa mengembangkan pertanyaan kepada siswa). Dalam pembelajaran kooperatif dilakukan pengubahan sistem pengorganisasian kelas, dengan membentuk kelompok-kelompok kecil yang saling berbagi dan saling bertanggungjawab antar anggota kelompok. Salah satu bentuk pengorganisasian pembelajaran kooperatif adalah model JIGSAW. Pengorganisasian pembelajaran model JIGSAW dilakukan seperti diagram berikut.

I A B C D

II A B C D

III A B C D

A A A

B B B

C C C

D D D

I A B C D

II A B C D

III A B C D

TES DAN PENGHARGAAN KELOMPOK
Diagram 1: Pengorganisasian Kegiatan Pembelajaran Model JIGSAW

43

Pembelajaran kooperatif JIGSAW dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut. Tahapan di kelompok asal bagian pertama: 10 menit (i) Siswa dibentuk dalam kelompok 4 orang yang disebut sebagai kelompok asal, (ii) Guru memberikan masalah (soal) kepada siswa (misalnya 8 soal: s1, s2, s3, s4, s5, s6, s7, dan s8) (iii) Siswa berdiskusi menentukan siapa yang menjadi ahli soal nomor ke-i (i = 1,2,3,...8) (iv) Dalam hal ini satu anak menjadi ahli dalam dua soal

Tahapan di kelompok ahli: 20 menit (i) Siswa berkumpul di kelompok ahli berdasarkan pilihan soal masing-masing (misalnya ahli s1 & s2, ahli s3 & s4, dst) (ii) Siswa berdiskusi menyelesaikan 2 soal yang sudah dipilih (iii) Siswa di kelompok ahli saling mengajari sehingga benar-benar menjadi ahli untuk soal tsb.

Tahapan di kelompok asal bagian kedua: 30 menit (i) Siswa kembali ke kelompok asal (ii) Siswa yang ahli di soal tertentu mengajari siswa yang ahli di soal yang lain dan sebaliknya, sehingga semua siswa di kelompok itu mampu menguasai semua masalah yang diberikan

Tahapan Kuis: 15 menit (i) Siswa kembali ke bangkunya masing-masing (ii) Guru memberikan kuis (iii)Siswa mengerjakan kuis secara perorangan (iv) Guru mengoreksi hasil kuis
44

Tahapan Penentuan Pemenang: 10 menit (i) Guru mengumumkan skor peningkatan masing-masing kelompok (ii) Guru mengumumkan nilai akumulatif masing-masing kelompok (iii)Guru mengumumkan siswa yang memperoleh nilai sempurna (iv) Pemberian penghargaan

C. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Jenis Lain Dalam perkembangannya pembelajaran kooperatif menjadi banyak jenisnya, antara lain: Student Teams Achievement Divisions (STAD), Think Pair Share (TPS), Think Pair Square, Group Investigation (GI), Cooperative Integrated Reading ang Composition (CIRC), Two Stay Two Stray, Numbered Head Together,dan Cooperative Script. Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif disajikan sebagai berikut. 1. Student Teams Achievement Divisions (STAD) STAD dikembangkan oleh Slavin (1995) dengan langkah-langkah: a. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan sebagainya) b. Guru menyajikan materi pelajaran c. Guru memberikan tugas kepada kelompok. Anggota yang sudah mengerti diminta untuk menjelaskan kepada anggota yang lain sampai semua anggota mengerti d. Guru memberikan kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa secara individu. e. Guru mengoreksi hasil kuis f. Guru mengumumkan hasil kuis dan pemenangnya g. Kesimpulan 2. Think Pair Share (TPS) TPS dikembangkan oleh Frank Lyman (1985) dengan langkah-langkah sebagai berikut. a. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai b. Siswa diminta berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan oleh guru

45

c. Siswa diminta berpasangan dengan dengan teman sebelahnya (berkelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing. Dalam hal ini siswa saling sharing terhadap apa yang sudah dikerjakan. d. Guru memimpin pleno, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya e. Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum berhasil diungkap oleh siswa f. Guru bersama siswa membuat kesimpulan dari masalah yang dipelajari g. Penutup 3. Think Pair Square Langkah-langkah pembelajaran kooperatif Think Pair Square dimodifikasi dari TPS yaitu memberikan tambahan langkah dengan penggabungan dari kelompok kecil. Adapun langkah-langkah Think Pair Square adalah sebagai berikut. a. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai b. Siswa diminta berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan oleh guru c. Siswa diminta berpasangan dengan dengan teman sebelahnya (berkelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing. Dalam hal ini siswa saling sharing terhadap apa yang sudah dikerjakan. d. Masing-masing kelompok kecil (2 orang) bergabung menjadi kelompok besar (4 orang) untuk mendiskusikan masalah yang belum bisa terselesaikan di kelompok kecil. Apabila masalah belum bisa terpecahkan di kelompok (4 orang), maka kelompok bisa diperbesar lagi (8 orang). Akttifitas yang terjadi di kegiatan kelompok tersebut adalah siswa saling sharing terhadap apa yang sudah dikerjakan. e. Guru memimpin pleno, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya f. Guru bersama siswa membuat kesimpulan dari masalah yang dipelajari g. Penutup

4.

Group Investigation (GI) GI dikembangkan oleh Sharan (1992) dengan langkah-langkah sebagai berikut. a. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen b. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
46

c. Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas yang berbeda dari kelompok lain d. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif yang bersifat penemuan e. Setelah diskusi, siswa memilih juru bicara kelompok untuk menyajikan hasilnya f. Guru mengulas kembali secara singkat dari hasil diskusi sekaligus memberikan kesimpulan g. Guru memberikan kuis h. Pengumuman pemenang i. Penutup 5. Cooperative Integrated Reading ang Composition (CIRC) CIRC dikembangkan oleh Steven & Slavin (1995) dengan langkah-langkah sebagai berikut. a. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen b. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran c. Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan dituliskan di lembar kertas d. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya e. Guru membuat kesimpulan bersama f. Penutup 6. Two Stay Two Stray Langkah-langkah pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) sebagai berikut. a. Siswa dibentuk dalam kelompok yang berjumlah 4 orang b. Guru memberi tugas kepada masing-masing kelompok c. Siswa menyelesaikan tugas di masing-masing kelompok d. Setelah kegiatan diskusi di kelompok sudah selesai, dua orang dari masing-masing menjadi tamu dua kelompok yang lain. e. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan menjelaskan ke tamu mereka

47

f. Tamu mohon diri, kembali ke kelompok dan melaporkan temuannya kepada anggota kelompoknya g. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerjanya.

7. Numbered Head Together Langkah-langkah pembelajaran Numbered Head Together dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) adalah sebagai berikut. a. Siswa terbagi dalam kelompok, setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor b. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat menyelesaikan masalahnya d. Guru memanggil salah satu nomor siswa untuk menjelaskan hasil kerjasamanya e. Tanggapan dari kelompok lain dengan cara guru menunjuk nomor lain f. Kesimpulan

8. Cooperative Script Cooperative Script dikembangkan oleh Dansereau (1985). Dalam kooperatif model ini, siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian materi yang dipelajari. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut. a. Guru membentuk siswa secara berpasangan b. Guru membagikan wacana/materi kepada tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan c. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar d. Siswa yang berperan sebagai pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sedangkan pendengar berperan: (1) menyimak/mengoreksi/menunjukkanide-ide poko yang mungkin kurang lengkap, dan (2) membantu mengingatide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya e. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. f. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan
48

g. Penutup

D.

Penilaian dalam Pembelajaran Kooperatif Dalam belajar kelompok, seringkali terjadi masalah bahwa hanya sebagian siswa yang mau bekerja aktif, sementara siswa lain hanya ”nunut” atau ”numpang” nama saja. Dalam pembelajaran kooperatif siswa juga belajar kelompok. Agar tidak terjadi kondisi ”hanya siswa tertentu yang aktif”, maka perlu membuat strategi penilaian yang dapat mendorong siswa untuk memiliki tanggung jawab bersama dan saling membantu untuk memecahkan masalah secara bersama. Pada dasarnya penilaian dalam pembelajaran kooperatif dapat dilakukan dalam dua bentuk: penilaian individu dan penilaian kelompok. Penilaian individu dilaksanakan dengan mengadakan kuis (di akhir pembelajaran). Sedangkan penilaian kelompok dapat dilakukan dilakukan dengan langkah-langkah: a. Menetapkan skor dasar. Setiap siswa diberi skor dasar berdasarkan skor kuis yang lalu. b. Menghitung skor kuis saat ini. Siswa memperoleh skor kuis berkaitan dengan pelajaran saat ini. c. Menghitung skor perkembangan. Siswa mendapatkan skor perkembangan yang besarnya ditentukan berdasarkan perbandingan skor kuis terkini dengan skor kuis yang lalu (skor dasar), dengan menggunakan aturan seperti berikut.

Posisi skor kuis terkini dibandingkan skor kuis yang lalu Lebih dari 10 point di bawah skor dasar 1 – 10 point di bawah skor dasar 0 – 10 point di atas skor dasar Di atas 10 point dari skor dasar Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar)

Skor perkembangan dari kelompok 0 point 10 point 20 point 30 point 30 point

49

Contoh Perangkat Penilaian Pembelajaran Kooperatif Hasil Penilaian Pembelajaran Kooperatif Mata Pelajaran Kelas/Semester Materi Standar kompetensi Kompetensi dasar : ……………………. : ……………………. : ……………………. : ……………………. : …………………….

No Nama Siswa

Waktu, Kuis: Skor Skor dasar kuis

Waktu, Kuis: Skor Skor Skor perkemb dasar kuis

Waktu, Kuis: Skor Skor Skor peningk dasar kuis

Skor perkemb

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
50

20 Pengumuman Tempel Mingguan
21 Mei 2010 RANKING SATU DITEMPATI KELOMPOK MAHIR Anggota Kelompok MAHIR (Ahmad, Ridho, Salim, dan Ginanjar) menempatkan diri pada posisi pertama minggu ini, dengan mencatat skor sepuluh point di atas skor dasar oleh Ridho, Salim, dan Ginanjar. Skor yang ia peroleh menjadikan rankingnya melompat dari ranking 5 menjadi rangking 2. SELAMAT ya KELOMPOK MAHIR. Kelompok MASTER yang terdiri dari Ogan, Olif, Manda, dan Jaya meskipun perolehan skornya menurun dibanding minggu lalu, namun masih menduduki peringkat pertama, karena skor komulatifnya masih paling tinggi. Ranking minggu ini Pertama: MAHIR Kedua: MAPAN Ketiga: MASTER Keempat: MANTAP Skor minggu ini 38 36 40 37 Skor Keseluruhan 81 78 89 80 Rangking keseluruhan 2 4 1 3

SISWA YANG MENDAPATKAN SKOR SEMPURNA Ridho (MAHIR) Salim (MAHIR) Ginanjar (MAHIR) Manda (MASTER) Jaya (MASTER) Mamad (MAPAN) Sinta (MANTAP)

Penentuan dan Penghargaan skor Tim dan Lembar Rangkuman Tim Lagkah 1: Penentuan skor tim Skor tim dihitung dengan menambahkan skor peningkatan tiap-tiap individu anggota tim dan membagi dengan jumlah anggota tim tersebut Langkah 2: Penghargaan atas keberhasilan tim Tiap-tiap tim menerima sertifikat khusus berdasarkan pada rata-rata poin dengan kriteria Rata-rata tim 15 poin 20 poin Penghargaan Tim baik Tim hebat

51

25 poin

Tim super

Nama Tim: Anggota Tim 1 2 Minggu ke 3 4 5

Skor Tim total Rata-rata Penghargaan

Nama Tim: Anggota Tim 1 2 Minggu ke 3 4 5

Skor Tim total Rata-rata Penghargaan

52

BAB V PEMBELAJARAN DENGAN MULTIPLE INTELLIGENCE

Pembelajaran tidak hanya digunakan untuk mengasah kemampuan berpikir dan berkarya, tetapi juga bisa digunakan untuk mengembangkan kepribadian siswa. Salah satu kepribadian siswa akan tercermin dalam multiple intelligence. Apa yang dimaksud multiple intelligence? Multiple intelligence di sini merujuk pada tujuh komponen kecerdasan manusia, yang meliputi kecerdasan (1) lingusitik-verbal, (2) matematika-logis, (3) visual-spasial, (4) ritmik-musikal, (5) kinestetik, (6) interpersonal, dan (7) intrapersonal. Masing-masing jenis kecerdasan ini harus dikembangkan dalam pembelajaran. Berikut ini akan dijelaskan serba singkat pengertian masingmasing jenis kecerdasan, kegunaannya dalam kehidupan siswa, dan beberapa contoh pembelajarannya. A. Kecerdasan Lingusitik-Verbal Kecerdasan lingusitik-verbal mengacu pada kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu menggunakan kemampuan ini secara kompeten melalui kata-kata untuk mengemukakan pikiran-pikiran ini dalam berbicara, membaca, dan menulis (Amstrong, 1994: 2; Lwin dkk., 2003:11). Seseorang yang dengan kecerdasan verbal yang tinggi tidak hanya akan memperlihatkan suatu penguasaan bahasa yang sesuai, tetapi juga dapat menceritakan kisah, berdebat, berdiskusi, menafsirkan, menyampaikan laporan, dan melaksanakan tugas lain yang berkaitan dengan berbicara dan menulis (Lwin dkk., 2003:11). B. Kecerdasan Matematis-Logis Kecerdasan matematis-logis adalah kemampuan untuk menangani bilangan dan perhitungan, pola dan pemikiran logis dan ilmiah. Hubungan antara matematika dan logika

53

adalah bahwa keduanya secara ketat mengikuti hukum dasar. Ada konsistensi dalam pemikiran logis (Amstrong, 1994: 2; Lwin dkk., 2003:43). Anak yang cerdas secara matematis tertarik dengan bilangan dan pola dari usia yang masih muda. Mereka menikmati berhitung dan dengan cepat belajar menambah, mengurangi, mengalikan, dan membagi. Selain itu, mereka cepat memahami konsep waktu. Mereka senang melihat pola dalam informasi mereka, dan mereka dapat mengingat bilangan dalam pikiran mereka dalam waktu yang panjang. Menjelaskan konsep-konsep secara logis atau menyimpulkan informasi menggunakan matematika dapat meningkatkan pemahaman mereka. Mereka suka membuat kesimpulan ilmiah dari pengamatan mereka (Lwin dkk., 2003:43). Kecerdasan matematis-logis dapat (1) meningkatkan logika dan memperkuat keterampilan berpikir, (2) menemukan cara kerja pola dan hubungan, (3) meningkatkan pengertian bilangan, (4) mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, (5) memperbaiki kemampuan untuk mengklasifikasikan dan mengelompokkan, dan (6) meningkatkan daya ingat (Lwin dkk., 2003:44—48). C. Kecerdasan Visual-Spasial Kecerdasan visual-spasial adalah kecerdasan yang dimiliki oleh arsitek, insinyur mesin, seniman, fotografer, pilot, navigator, pemahat, dan penemu. Apa kesamaan yang dimiliki oleh professional yang kelihatannya berbeda ini? Mereka mempunyai kemampuan untuk melihat dengan tepat gambaran visual di sekita mereka dan memperhatikan rincian kecil yang kebanyakan orang lain mungkin tidak memperhatikan. Anda dapat mengatakan bahwa mereka memiliki kekuatan persepsi yang besar. Apabila seorang seniman memperhatikan sebuah lukisan, dia dapat memperhatikan perbedaan yang takkentara dengan cara penggunaan warna dan perubahan dalam sapuan kuas (Amstrong, 1994: 2; Amstrong, 1994: 2; Lwin dkk., 2003:73). Seseorang yang cerdas dalam bidang ini akan dapat menghasilkan informasi visual dengan menciptakan atau memodifikasi gambaran atau objek fisik yang ada. Hal ini berarti mereka mempunyai kemampuan untuk menerjemahkan gambaran dalam pikiran mereka ke dalam bidang fisik melalui penggambaran pelukisan, pemahatan, pembangunan, atau pembentukan (Lwin dkk., 2003:74).

54

Kecerdasan ini penting untuk (1) meningkatkan kreativitas, (2) meningkatkan daya ingat, (3) mengembangkan pemikiran tingkat tinggi dan keterampilan memecahkan masalah, (4) mencapai puncak kinerja, dan (5) membantu anak mengungkapkan perasaan dan emosi (Lwin dkk., 2003:75—82) D. Kecerdasan Irama Musik Kecerdasan irama musik adalah kemampuan menyimpan nada dalam benak seseorang, untuk mengingat irama itu, dan secara emosional terpengaruh oleh musik. Kecerdasan ini penting untuk (1) meningkatkan kreativitas dan imajinasi, (2) meningkatkan kecerdasan, (3) meningkatkan daya ingat, (4) membantu mengajarkan kecerdasan lainnya, dan (5) mempunyai dampak terapi (Amstrong, 1994: 3; Lwin dkk., 2003:137—142). E. Kecerdasan Kinestetik Kecerdasan Kinestetik memungkinkan manusia membangun hubungan yang penting antara pikiran dan tubuh, dengan demikian memungkinkan tubuh untuk memanipulasi objek dan menciptakan gerakan. Kecerdasan ini merujuk pada kemampuan menggunakan dengan baik pikiran dan tubuh secara serempak untuk mencapai segala tujuan yang diinginkan (Amstrong, 1994: 3; Lwin dkk., 2003:167—168). Kecerdasan ini penting untuk (1) meningkatkan kemampuan psikomotor, (2) meningkatkan keterampilan social, (3) membangun an rasa percaya diri dan harga diri, (4) meletakkan fondasi bagi gaya hidup sporty, d(5) meningkatkan kesehatan (Lwin dkk., 2003:169—174). F. Kecerdasan Interpersonal Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk berhubungan dengan orang-orang di sekitar kita. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain, dan menanggapinya secara layak. Kecerdasan inilah yang memungkinkan kita untuk membangun kedekatan, pengaruh, pimpinan dan membangun hubungan dengan masyarakat (Amstrong, 1994: 3; Lwin dkk., 2003:197). Kecerdasan ini berkembang dari pembinaan dan pengajaran.

55

Kecerdasan interpersonal penting untuk (1) menjadi orang dewasa yang sadar secara sosial dan mudah menyesuaikan diri, (2) menjadi berhasil dalam pekerjaan, dan (3) kesejahteraan emosional dan fisik (Lwin dkk., 2003:198—202). G. Kecerdasan Intrapersonal Kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan mengenai diri sendiri. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Orang yang berkecerdasan interpersonal tinggi cenderung menjadi pemikir yang tercermin pada apa yang mereka lakukan dan terus-menerus membuat penilaian diri. Mereka selalu bersentuhan dengan dengan pemikiran, gagasan dan impian mereka dan mereka juga memiliki kemampuan untuk mengerahkan emosi mereka sendiri sedemikian rupa untuk memperkaya dan membimbing kehidupan mereka sendiri. Mereka adalah individu yang sangat termotivasi dengan keputusan mereka. Akan tetapi, yang paling ekstrim, mereka bisa sangat individualistis dan introvert (Amstrong, 1994: 3; Lwin dkk., 2003:233). Kecerdasan ini penting untuk (1) mengembangkan pemahaman yang kuat mengenai diri yang membimbingnya kepada kestabilan emosi, (2) mengendalikan dan mengarahkan emosi, (3) mengatur dan memotivasi diri, (4) bertanggung jawab atas kehidupan diri sendiri, dan (5) mengembangkan harga diri yang tinggi (Lwin dkk., 2003:234—237). 5. Contoh Model Pembelajaran Kecerdasan Matematis-Logis Melalui Sastra

MODEL MENGINGAT KEMBALI

1. Pengertian

56

Model Mengingat Kembali adalah model pembelajaran kecerdasan matematis-logis melalui pembelajaran dengan cara mengingat semua fakta yang dibaca murid.

2. Langkah

(1) murid diminta untuk membaca materi (2) murid diminta untuk menjawab tugas yang berkenaan dengan kemampuan untuk mengingat fakta yang ada 3. Hal Yang Perlu Diperhatikan

(1) waktu yang diberikan kepada murid untuk membaca hendaknya sesuai dengan kecepatan membaca murid. (2) Tugas yang diberikan kepada murid, bisa dijawab murid dari apa yang telah dibaca murid. (3) Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya menyenangkan, menantang, kalau perlu diselingi atau dalam bentuk permainan. 4. Contoh Pembelajaran dalam Sastra

(1) bacalah karya di bawah ini dengan cermat! Rumah Siput Dahulu kala, Siput tidak pernah membawa-bawa rumahnya. Ia sangat bangga pada rumahnya itu. Suatu hari, ia berjalan-jalan di hutan. Ia ingin tahu, apakah ada rumah yang lebih indah dari rumahnya.ia mengintip rumah semut. “Hihi, rumah semut seperti gudang! Makanan di mana-mana,” tawa siput. “Apa yang lucu?” Tanya tawon dari atas pohon. Siput mendongak dan melihat benda coklat tergantung di atas pohon.
57

“Mari mampir!” ajak tawon . “Ini rumahku.” “Astaga, rumahmu tergantung di sana?” “Iya. Rumahku ini terbuat dari Lumpur dan…” “Lumpur? Aku tak mau mampir di rumah lumpur!” potong siput, lalu tertawa terpingkal-pinkal. “Aduh, lucunya. Perutku sampai sakit!” “Apa yang membuat perutmu sakit?” Tikus muncul dari semak-semak. “Oh, Tikus! Aku ingin tahu, di mana rumahmu?” Tanya siput. Tak lupa ia menceritakan kejelekan rumah semut dan tawon. Tikus menjawab dengan suara pelan, “Rumahku lebih buruk dari rumah mereka. Aku tinggal di dalam got.” “Got?” Siput memekik. Segera ia memencet hidungnya. ”Gelap dan bau! Week!Aduh, sepertinya tak ada rumah yang lebih bagus dari rumahku!” “Nngg-ngng, pergilah ke rumah Kepodang Emas!” Tawon mendengung di udara. “Siapa tahu rumahnya jauh lebih bagus dari rumahmu!” Wajah siput memerah. Ia tak rela bila rumah Kepodang Emas lebih bagus dari rumahnya. Segera ia naik ke atas pohon dan masuk ke rumah Kepodang. Matanya terbelalak Rumah itu sangat indah terbuat dari anyaman rumput. “Rumahku tentu tak seindah rumahmu,” kata Kepodang Emas rendah hati. Siput menjadi malu sekali. Ia cepat-cepat pergi. “Apakah rumah Kepodang seindah rumahmu?” Tanya semut ketika berpapasan. Tawon mendengung dan tikus mencicit. Siput merasa mereka menertawakan kecongkakannya. Sejak itu Siput malu keluar dari rumahnya. Agar tak bertemu siapapun, ia selalu membawa rumahnya kemana pun ia pergi. (BOBO NO. 26/XXXII/2004) (2) Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar! 1. Siapakah yang membangga-banggakan rumahnya? 2. Rumah siapakah yang seperti gudang? 3. Rumah siapakah yang terbuat dari lumpur? 4. Siapakah yang tinggal di got?
5. Rumah siapakah yang lebih indah dari rumah siput?

Bisa juga soalnya berupa pilihan ganda (atau bentuk lainnya) 1. Hewan yang membangga-banggakan rumahnya adalah …. a. semut b. tawon siput d. tikus

2. Rumah yang seperti gudang adalah rumah … a. semut b. tawon siput
58

d. tikus

3. Siput tertawa mendengar rumah dari lumpur milik …. a. semut b. tawon siput d. tikus

4. Hewan yang merasa rumahnya paling buruk adalah … a. tikus b. tawon siput d. kepodang emas

MODEL MENGURUTKAN CERITA

4. Contoh Pembelajaran

Urutkanlah cerita di bawah ini sehingga menjadi sebuah cerita yang utuh dan masuk akal! 1. Bacalah kalimat-kalimat di bawah ini! (1) Dahulu kala, Siput tidak pernah membawa-bawa rumahnya. (2) Ia sangat bangga pada rumahnya itu. (3) Suatu hari, ia berjalan-jalan di hutan. (4) Ia ingin tahu, apakah ada rumah yang lebih indah dari rumahnya.ia mengintip rumah semut. Kalimat-kalimat di atas akan menjadi sebuah penggalan kisah bila diurutkan menjadi urutan …. a. (1), (2), (3), (4) b. (1), (2), (4), (3) c. (2), (1), (3), (4) d. (2), (1), (4), (3)

2. Bacalah kalimat-kalimat di bawah ini! (1) “Oh, Tikus! Aku ingin tahu, di mana rumahmu?” Tanya siput.
59

(2) Tikus menjawab dengan suara pelan, “Rumahku lebih buruk dari rumah mereka. Aku tinggal di dalam got.” (3) “Got?” Siput memekik. (4) Segera ia memencet hidungnya. Kalimat-kalimat di atas akan menjadi penggalan cerita bila diurutkan menjadi urutan …. a. (1), (2), (3), (4) b. (1), (2), (4), (3) c. (2), (1), (3), (4) d. (2), (1), (4), (3)

MODEL MENGHITUNG

4. Contoh Pembelajaran

(1) Bacalah cerita di bawah ini dengan cermat! Siswa diminta untuk membaca cerita “Rumah Siput”

(2) Kerjakanlah tugas di bawah ini! (Guru bisa memilih salah satu bentuk tugas) (1) Ada berapa macam hewan yang diceritakan pada bacaan di atas? (2) (3) Ada berapa rumah yang lebih buruk dari rumah siput? Ada berapa rumah yang lebih bagus dari rumah siput?

60

Lampiran 1: Contoh RPP Kreatif RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester

: SDN ................................... : Matematika : III/II

Standar Kompetensi: Menghitung keliling, luas persegi dan persegi panjang serta penggunaannya dalam pemecahan masalah Kompetensi Dasar : Menghitung luas persegi dan persegi panjang Indikator : - Menemukan rumus luas daerah persegi - Menentukan luas daerah persegi - Menemukan rumus luas daerah persegi panjang - Menentukan luas daerah persegi panjang - Menyelesaikan masalah berkaitan dengan luas daerah persegi dan persegi panjang Alokasi Waktu : 6 x 40 menit (3 pertemuan)

A. TUJUAN PEMBELAJARAN Siswa mampu menghitung luas persegi dan persegi panjang B. MATERI AJAR Luas persegi dan persegi panjang C. METODE PEMBELAJARAN Praktek dan diskusi kelompok D. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN Pertemuan 1

61

Pendahuluan Kegiatan Guru Kegiatan Siswa mengelompokkan Waktu bangun 10

- Guru memberikan kepada siswa - Siswa beberapa bangun persegi dan

mana yang berbentuk mana persegi panjang

persegi dan menit

persegi panjang

- Guru menunjukkan kepada siswa - Siswa daerah persegi dan daerah persegi panjang

mengelompokkan

bangun

mana yang merupakan daerah persegi dan mana yang merupakan daerah persegi panjang

- Guru

memberikan

pertanyaan - Siswa

mengeksplorasi

perbedaan

kepada siswa “menurut kalian, apa perbedaan antara persegi dan daerah persegi; antara persegi panjang dan daerah persegi panjang?” Kegiatan Inti

antara persegi dan daerah persegi, antara persegi panjang dan daerah persegi panjang

- Guru membentuk siswa dalam - Siswa berkelompok 3-4 orang kelompok dan memberikan: (1) LKS I (tiga) - Dalam kelompoknya siswa praktek persegi satuan ke

(kegiatan 1), yaitu 3 menempelkan lembar kecil, karton sedang,

yang persegi 1, persegi 2, dan persegi 3, dan sekaligus menentukan luas daerah persegi 1 adalah .... satuan persegi luas daerah persegi 2 adalah .... satuan persegi luas daerah persegi 3 adalah .... satuan persegi

berukuran

besar, selanjutnya disebut Persegi 1, Persegi 2, dan Persegi 3. Masing-masing berukuran 12 cm x 12 cm, 16 cm x 16 cm, dan 20 cm x 20 cm, dan (2) 54 lembar karton persegi satuan berukuran 4 cm x 4 cm, yang akan digunakan untuk

menentukan luas daerah persegi 1, persegi 2, dan persegi 3 • Guru meminta siswa untuk
62

menghitung banyaknya persegi satuan • yang dapat menutup

daerah persegi 1, 2, dan 3. Guru menegaskan kepada siswa bahwa banyaknya persegi satuan yang dapat menutup persegi tersebut merupakan luas daerah persegi • Guru meminta siswa untuk

menentukan luas daerah persegi 1, 2, dan 3 Guru memberikan pertanyaan: Siswa menjawab pertanyaan guru dan

”darimana kalian bisa mempero- berpikir untuk menemukan bahwa leh luas daerah persegi1 = 9 persegi, luas daerah persegi 2 = 16 persegi, dan luas daerah persegi 3 = 25 persegi Guru memberikan pertanyaan luas daerah persegi 1 = ..... x .... satuan persegi luas daerah persegi 2 = ..... x .... satuan persegi luas daerah persegi 3 = ..... x .... satuan persegi

kepada siswa ”adakah cara lain untuk menghitung luas daerah persegi? Kalau persegi itu sangat besar, bagaimana bisa menghitung luasnya?” Guru membimbing siswa untuk bisa menemukan bahwa luas

daerah persegi dapat dihitung: ”panjang jang sisi” Guru meminta siswa melanjutkan Siswa mengerjakan kegiatan 2 mengerjakan LKS I (kegiatan 2) - Siswa menemukan luas daerah (terlampir) persegi = s x s
63

sisi dikalikan pan-

-

Guru berkeliling mengamati dan membantu siswa yang mengalami kesulitan

-

Guru mengarahkan siswa untuk menemukan luas daerah persegi = sxs

-

Guru meminta siswa melanjutkan Siswa menyelesaikan masalah seharimengerjakan LKS I (kegiatan 3) hari berkaitan dengan luas daerah (terlampir) persegi (kegiatan 3)

-

Guru berkeliling mengamati dan membantu siswa yang mengalami kesulitan

-

Guru mengarahkan siswa untuk bisa menyelesaikan masalah berkaitan dengan luas daerah persegi Penutup

-

Guru

bersama-sama

siswa Siswa menyimpulkan Luas daerah 10 menit

menyimpulkan rumus luas daerah persegi = s x s persegi Guru memberikan PR

Pertemuan 2 Pendahuluan - Guru menunjukkan bangun persegi - Siswa memperhatikan bangun persegi yang ditunjukkan oleh guru dan menjawab pertanyaan guru

- Guru

memberikan

pertanyaan

kepada siswa “berapa luas daerah persegi tersebut?”
64

Kegiatan Inti - Guru membentuk siswa dalam - Siswa berkelompok 3-4 orang kelompok dan memberikan: - Dalam kelompoknya siswa praktek persegi satuan ke

(1) LKS II (kegiatan 1), yaitu 3 menempelkan (tiga) lembar kecil, karton sedang,

yang persegi panjang 1, persegi panjang 2, dan dan persegi panjang 3, sekaligus

berukuran

besar, selanjutnya disebut Persegi menentukan panjang 1, Persegi panjang 2, dan Persegi panjang 3. Masingluas daerah persegi panjang 1 adalah .... satuan persegi luas daerah persegi panjang 2 adalah .... satuan persegi luas daerah persegi panjang 3 adalah .... satuan persegi

masing berukuran 8 cm x 12 cm, 16 cm x 20 cm, dan 20 cm x 28 cm, dan (2) 61 lembar karton persegi satuan berukuran 4 cm x 4 cm, yang akan digunakan untuk

menentukan luas daerah persegi panjang 1, persegi panjang 2, dan persegi panjang 3 • Guru meminta siswa untuk

menghitung banyaknya persegi satuan yang dapat menutup daerah persegi panjang 1, 2, dan 3. • Guru menegaskan kepada siswa bahwa banyaknya persegi satuan yang dapat menutup persegi panjang tersebut merupakan luas daerah persegi panjang • Guru meminta siswa untuk

menentukan luas daerah persegi panjang 1, 2, dan 3 Guru memberikan pertanyaan: Siswa menjawab pertanyaan guru dan
65

”darimana

kalian

bisa berpikir untuk menemukan bahwa luas daerah persegi 1 = ..... x .... satuan persegi luas daerah persegi 2 = ..... x .... satuan persegi pertanyaan luas daerah persegi 3 = ..... x .... satuan persegi

memperoleh luas daerah persegi panjang 1 = 6 persegi, luas daerah persegi panjang 2 = 20 persegi, dan luas daerah persegi panjang 3 = 35 persegi Guru memberikan

kepada siswa ”adakah cara lain untuk menghitung luas daerah persegi? Kalau persegi itu sangat besar, bagaimana bisa

menghitung luasnya? Guru membimbing siswa untuk bisa menemukan bahwa luas

daerah persegi dapat dihitung: ”panjang sisi” Guru meminta siswa melanjutkan Siswa mengerjakan kegiatan 2 mengerjakan LKS II (kegiatan 2) - Siswa menemukan luas daerah (terlampir) Guru berkeliling mengamati dan membantu siswa yang mengalami kesulitan Guru mengarahkan siswa untuk menemukan luas daerah persegi panjang = p x l persegi panjang = p x l sisi dikalikan lebar

-

Guru meminta siswa melanjutkan Siswa menyelesaikan masalah seharimengerjakan LKS II (kegiatan 3) hari berkaitan dengan luas daerah (terlampir) persegi panjang (kegiatan 3)

-

Guru berkeliling mengamati dan
66

membantu siswa yang mengalami kesulitan Guru mengarahkan siswa untuk bisa menyelesaikan masalah

berkaitan dengan luas daerah persegi panjang

Penutup Guru bersama-sama siswa Siswa menyimpulkan bahwa luas

menyimpulkan rumus luas daerah daerah persegi panjang = p x l persegi panjang Guru memberikan PR

Pendahuluan

E. SUMBER BELAJAR Buku pelajaran kelas VI SD, penerbit Erlangga pengarang Sukino, hal 22 - 26

F. PENILAIAN Instrumen penilaian terlampir

Mengetahui Kepala …………………………………

Malang, Mata Pelajaran …………………………….

67

Lembar Kegiatan Siswa (LKS I)

Nama Kel: 1. ………………. 2. ……………… 3. ……………... 4. ..……………. Tujuan: Siswa dapat menemukan rumus luas daerah persegi Siswa dapat menerapkan rumus luas daerah persegi untuk menyelesaikan masalah

Prasyarat: - Siswa mengenal bangun persegi

Kegiatan 1: Perhatikan bahwa masing-masing kelompok mendapatkan: (a) 3 (tiga) lembar karton berbentuk persegi yang berukuran kecil, sedang, dan besar,

selanjutnya disebut Persegi 1, Persegi 2, dan Persegi 3, (b) 54 lembar karton persegi satuan.

Persegi 1 Tutuplah persegi 1 dengan menempelkan persegi satuan secara tepat! Persegi 1 dapat ditutup secara tepat oleh .... persegi satuan Jelaskan bagaimana anda memperoleh jawaban tersebut! ....................................................................................................................................... .......................................................................................................................................
Banyaknya persegi satuan yang dapat menutup persegi 1 disebut luas daerah persegi 1. Luas daerah persegi 1 adalah ......... satuan persegi

Persegi 2 Tutuplah persegi 2 dengan menempelkan persegi satuan secara tepat!
68

Persegi 2 dapat ditutup secara tepat oleh .... persegi satuan Jelaskan bagaimana anda memperoleh jawaban tersebut! ....................................................................................................................................... .......................................................................................................................................
Banyaknya persegi satuan yang dapat menutup persegi 2 disebut luas daerah persegi 2. Luas daerah persegi 2 adalah ......... satuan persegi

Persegi 3 Tutuplah persegi 3 dengan menempelkan persegi satuan secara tepat! Persegi 3 dapat ditutup secara tepat oleh .... persegi satuan Jelaskan bagaimana anda memperoleh jawaban tersebut! ....................................................................................................................................... .......................................................................................................................................
Banyaknya persegi satuan yang dapat menutup persegi 3 disebut luas daerah persegi 3. Luas daerah persegi 3 adalah ......... satuan persegi

Kegiatan 2 Perhatikan Gambar di bawah ini! Misalkan diberikan persegi
1 cm 1 cm

Persegi 1cm x 1cm disebut persegi satuan (a) Diberikan daerah persegi besar berukuran 3 cm x 3 cm yang sudah terbagi dalam persegi kecil berukuran 1 cm x 1 cm

Luas persegi tersebut adalah .....x...... (persegi kecil) = .....x..... (cm2).
69

(b) Diberikan daerah persegi besar berukuran 5 cm x 5 cm yang sudah terbagi dalam persegi kecil berukuran 1 cm x 1 cm

Luas persegi tersebut adalah .....x...... (persegi kecil) = .....x..... (cm2).

Kegiatan 3 Selesaikan soal-soal berikut!

1. Gambarkan persegi satuan pada gambar (a) dan gambar (b) berikut dan tentukan banyaknya persegi satuan yang ada!

(a)

(b)

Berapa luas persegi (a) dan luas persegi (b)? Berikan alasan terhadap jawabanmu!

2. Tentukan luas daerah persegi berikut dengan ukuran-ukuran yang telah diberikan!.

6 cm

9 cm

6 cm 70 9 cm

3. Pak Hamid akan memasang plafon atap rumahnya, yang terdiri dari 3 (tiga) ruangan, yaitu: kamar, ruang tamu dan ruang keluarga. Kamar berbentuk persegi berukuran 3 m x 3 m, ruang tamu berukuran 4 m x 4 m, dan ruang keluarga berukuran 5 m x 5 m. Ukuran plafon yang tersedia di toko adalah 1 m x 1 m. Berapa banyaknya plafon (paling sedikit) yang harus dibeli oleh Pak Hamid, agar cukup untuk dipasang di tiga ruangan tersebut! Beri alasan terhadap jawabanmu, bisa dengan kata-kata atau gambar!

71

Lembar Kegiatan Siswa (LKS II)

Nama Kel: 1. ………………. 2. ……………… 3. ……………... 4. ..…………….

Tujuan: Siswa dapat menemukan rumus luas daerah persegi panjang Siswa dapat menerapkan rumus luas daerah persegi panjang untuk menyelesaikan masalah

Prasyarat: - Siswa mengenal bangun persegi panjang

Kegiatan 1: Perhatikan bahwa masing-masing kelompok mendapatkan: (a) 3 (tiga) lembar karton berbentuk persegi panjang yang berukuran kecil, sedang, dan besar, selanjutnya disebut Persegi 1, Persegi 2, dan Persegi 3, (b) 61 lembar karton persegi satuan.

Persegi panjang 1 Tutuplah persegi panjang 1 dengan menempelkan persegi satuan secara tepat! Persegi panjang 1 dapat ditutup secara tepat oleh .... persegi satuan Jelaskan bagaimana anda memperoleh jawaban tersebut! ....................................................................................................................................... .......................................................................................................................................
Banyaknya persegi satuan yang dapat menutup persegi 1 disebut luas daerah persegi panjang 1. Luas daerah persegi panjang 1 adalah ......... satuan persegi

72

Persegi Panjang 2 Tutuplah persegi panjang 2 dengan menempelkan persegi satuan secara tepat! Persegi panjang 2 dapat ditutup secara tepat oleh .... persegi satuan Jelaskan bagaimana anda memperoleh jawaban tersebut! ....................................................................................................................................... .......................................................................................................................................
Banyaknya persegi satuan yang dapat menutup persegi 2 disebut luas daerah persegi panjang 2. Luas daerah persegi panjang 2 adalah ......... satuan persegi

Persegi panjang 3 Tutuplah persegi panjang 3 dengan menempelkan persegi satuan secara tepat! Persegi panjang 3 dapat ditutup secara tepat oleh .... persegi satuan Jelaskan bagaimana anda memperoleh jawaban tersebut! ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... .......................................................................................................................................
Banyaknya persegi satuan yang dapat menutup persegi panjang 3 disebut luas daerah persegi panjang 3. Luas daerah persegi 3 adalah ......... satuan persegi

Kegiatan 2 Perhatikan Gambar (i) di bawah ini! Misalkan diberikan persegi
1 cm 1 cm Persegi 1 cm x 1 cm disebut persegi satuan (1 cm2)

Diberikan daerah persegi panjang berukuran 5 cm x 3 cm yang sudah terbagi dalam persegi kecil berukuran 1 cm x 1 cm
73

Luas persegi panjang tersebut adalah .....x...... (persegi kecil) = .....x..... (cm2).

(a) Diberikan daerah persegi panjang berukuran 8 cm x 5 cm yang sudah terbagi dalam persegi kecil berukuran 1 cm x 1 cm

Luas persegi tersebut adalah .....x...... (persegi kecil) = .....x..... (cm2).

Kegiatan 3 Selesaikan soal-soal berikut!

1. Gambarkan persegi satuan pada gambar (a) dan gambar (b) berikut dan tentukan banyaknya persegi satuan yang ada!

(a) (b)

Berapa luas persegi (a) dan luas persegi (b)? Berikan alasan terhadap jawabanmu!

74

2. Tentukan luas daerah persegi berikut dengan ukuran-ukuran yang telah diberikan!.

4 cm

8 cm

9 cm 16 cm

3. Pak Tono memiliki sawah berbentuk seperti berikut. Tentukan luas sawah Pak Tono!

5 cm

7 cm

15 cm

8 cm

75

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator

: SDN ................................... : Matematika : VI/I : Menghitung luas segi banyak sederhana, luas lingkaran, dan volume prisma segitiga : Menghitung luas permukaan tabung (pengayaan) :Menemukan rumus permukaan tabung Menggunakan rumus luas tabung untuk

Alokasi Waktu

memecahkan masalah : 2 x 40 menit ( 1 pertemuan )

A. TUJUAN PEMBELAJARAN Siswa mampu menghitung luas permukaan tabung B. MATERI AJAR Luas permukaan tabung C. METODE PEMBELAJARAN Diskusi kelompok D. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN Pertemuan 1 Pendahuluan (10’) - Guru menanyakan kepada siswa: apa rumus luas lingkaran (untuk mengingat kembali luas lingkaran) - Guru menanyakan kepada siswa: apa rumus luas persegi panjang? (untuk mengingat kembali rumus luas persegi panjang) Kegiatan Inti (60’) - Siswa diminta membentuk kelompok, masing-masing kelompok 4 orang - Masing-masing kelompok diberi satu model tabung tertutup - Guru menunjukkan kepada siswa suatu model tabung tertutup dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa: apa nama bangun ruang ini? Mana yang disebut permukaan? Tutupnya berbentuk apa? Kalau kedua tutupnya dilepas, ada berapa
76

lingkaran yang ada? Kalau tabung tanpa tutup ini dibuka, menjadi apa bentuknya? (dalam menjawab pertanyaan guru, siswa mengamati model tabung di kelompoknya masing-masing) - Kepada siswa diberikan lembar kerja siswa (LKS) untuk dikerjakan secara kelompok - Siswa mengerjakan LKS - Guru mengamati kerja kelompok dan memberikan bantuan seperlunya, bila ada kelompok yang mengalami kesulitan - Guru menentukan secara acak 2 kelompok untuk menyajikan hasil pengerjaannya. - Perwakilan kelompok yang terpilih (pertama) menjelaskan masalah penurunan rumus luas permukaan tabung - Perwakilan kelompok yang terpilih (kedua) menjelaskan penerapan rumus luas permukaan tabung untuk memecahkan masalah - Kelompok yang lain menanggapi Penutup Guru bersama-sama siswa menyimpulkan rumus permukaan tabung tertutup Guru memberikan PR

E. SUMBER BELAJAR Buku pelajaran kelas VI SD, penerbit Erlangga pengarang Sukino, hal 22 - 26 F. PENILAIAN Instrumen penilaian terlampir

Mengetahui Kepala …………………………………

Malang, Mata Pelajaran …………………………….

77

Lembar Kegiatan Siswa (LKS 1) Nama Kel: 1. ………………. 2. ……………… 3. ……………... 4. ..……………. Tujuan: Siswa dapat menemukan rumus luas permukaan tabung Siswa dapat menerapkan rumus luas permukaan tabung untuk menyelesaikan masalah

Prasyarat: - Siswa menguasai rumus persegi panjang - Siswa menguasai rumus luas lingkaran Perhatikan Gambar (i) di bawah ini!

1. Bangun ruang Gambar (i) dinamakan .......... 2. Tutup tabung berbentuk ...............

Gambar (i) Kalau tabung tersebut diambil tutupnya, maka akan menjadi ......tabung terbuka dan ..... lingkaran. Bidang yang membentuk tabung terbuka disebut selimut tabung

78

Misalkan tabung tersebut tingginya t dan jari-jari lingkaran r. Jika selimut tabung dibuka (dibelah), maka akan menjadi bangun ........
r K t dibelah t

Gambar (ii) Dari Gambar (ii), dapat diperoleh: Lebar persegi panjang = ................ tabung Panjang persegi panjang = ...................... lingkaran = ...........

Kesimpulan: Permukaan tabung bisa dibentuk dari ....... persegi panjang dan ..... lingkaran

Perhatikan gambar (iiI) di bawah ini!
K

Perhatikan gambar (iv) di bawah ini!

t

r

Gambar (iii) Gambar (iv)

Luas daerah bangun datar Gambar (iii) = pxl = ...... x ......

Luas daerah bangun datar Gambar (iv) = .........

79

Permukaan tabung terdiri dari satu persegi panjang dan ..... lingkaran Luas permukaan tabung = luas selimut tabung + luas tutup tabung = luas persegi panjang + ..... luas lingkaran = .......... + ........... = 2 π (....... + .........) = 2 π r (r + t)
r t

Luas permukaan tabung = 2 π r (r + t)

Contoh Soal: Diberikan sebuah tabung tertutup dengan jari-jari 14 cm dan tingginya 10 cm. Hitung! a. Luas selimut tabung b. Luas tutup tabung! c. Permukaan tabung tersebut! Jawab: a. Luas selimut tabung = 2 π r t = .................. b. Luas tutup tabung = ............ cm2 = 2 x luas lingkaran = 2 x ........... = 2 x ........... = ................cm2 c. Luas permukaan tabung = luas selimut tabung + luas tutup tabung = ............ cm2 + ............ cm2 Latihan 1 Selesaikan soal-soal di bawah ini dengan menuliskan caranya! 1. Tentukan luas permukaan tabung yang tingginya 12 cm dan jari-jarinya 7 cm! 2. Diketahui tinggi tabung dua kali jari-jarinya. Jika jari-jarinya 3,5 cm; maka tentukan: (a) luas selimut tabung; (b) luas tutup tabung; dan (c) luas permukaan tabung 3. Buatkan sebanyak-banyaknya ukuran tabung yang memiliki luas permukaan 7040 cm2!
80

Tugas a. Masing-masing kelompok membuat 4 soal yang berkaitan dengan luas permukaan tabung beserta kunci jawabannya (dipisahkan dari soal) b. Soal dari kelompok 1 diberikan ke kelompok 2, soal dari kelompok 2 diberikan ke kelompok 3, dst. Soal dari kelompok terakhir diberikan ke kelompok 1 c. Pengerjaan soal dari kelompok lain dengan waktu 15 menit d. Setelah selesai jawaban dikembalikan lagi ke kelompok yang memberi soal untuk dinilai e. Nilai direkap dimasing-masing kelompok yang membuat soal SOAL TES Indikator • Menggunakan rumus luas tabung untuk memecahkan masalah Jenis Instrumen Pemahaman konsep (penerapan konsep) Instrumen Diketahui tinggi tabung dua kali jari-jarinya. Jika jarijarinya 3,5 cm; maka tentukan: (a) luas selimut tabung; (b) luas tutup tabung; dan (c) luas permukaan tabung Penalaran dan komunikasi Amir ingin membuat tabung tanpa tutup. Ia memiliki kertas dengan ukuran 16 cm x 34 cm. Berapa macam tabung tanpa tutup yang bisa dibuat oleh Amir? Beri alasan terhadap jawabanmu! Pemecahan masalah Buatkan sebanyakbanyaknya ukuran tabung tanpa tutup (jari-jari dan tinggi tabung) yang memiliki luas permukaan 440 cm2!

81

Lampiran 2: Lembar Aktifitas Kreatif Siswa PERUSAHAAN KOTAK KUE

Selamat Menikmati

(i)

Pak Romli adalah seorang pemimpin perusahaan “MAKMUR” yang memproduksi kotak kue. Pak Romli selalu berpikir, bagaimana bisa memperoleh keuntungan yang besar. Beberapa usaha telah dilakukan: pertama, membuat berbagai model kotak yang mungkin disukai oleh pembeli (seperti Gambar 1) dan kedua melakukan penghematan, yaitu menghasilkan kotak sebanyak-banyaknya dari bahan yang sama. Bangun pada: Gambar 1(i) sering disebut sebagai bangun ……………, memiliki …… bidang sisi dan bentuk sisinya adalah ….

(ii)
Gambar 1: Model-model Kotak Kue

Aktifitas 1: Untuk melakukan penghematan, Pak Romli melakukan percobaan yang difokuskan pada kotak model Gambar 1 (ii) yang berbentuk kubus. Pak Romli mencoba membuat kotak sekaligus membukanya dengan masing-masing bidang sisinya masih saling terkait (tidak saling lepas). Dengan upaya yang cukup keras, Pak Romli baru bisa menemukan dua bentuk kubus terbuka seperti Gambar 2 berikut.
Kotak Bentuk terbukanya

Gambar 2: Jaring-jaring Kubus
82

Bantulah Pak Romli untuk membuat kubus terbuka lain (sebanyak-banyaknya) yang masih mungkin! Gambarkan hasil kerjamu di kertas yang disediakan!
Gambar kubus terbuka yang terdiri dari bidang-bidang sisi yang saling terkait disebut jaring-jaring kubus (Gambar 2)

Aktifitas 2: (Problem solving) Selanjutnya Pak Romli memikirkan bagaimana bisa memanfaatkan selembar kertas untuk membuat kubus sebanyak mungkin (dan kertas yang terbuang sedikit mungkin). Bantulah Pak Romli untuk mendesain jaring-jaring kubus yang bisa memanfaatkan kertas berikut secara maksimal (kubus yang dihasilkan paling banyak dan kertas yang terbuang paling sedikit)! Guntinglah jaring-jaring kubus yang sudah anda buat dan tentukan jumlahnya!

83

Aktifitas 3: Dengan cara sama Pak Romli mencoba membuat jaring-jaring kotak yang berbentuk balok, seperti berikut. Balok

Bantulah Pak Romli untuk menemukan jaring-jaring balok yang lain (yang berbeda dengan yang sudah dibuat oleh Pak Romli)!

Aktifitas 4: (Problem solving) Pak Romli ingin membuat 5 kotak kue dari selembar kertas karton. Pak Romli menginginkan ukuran kotak yang terbesar. Bantulah Pak Romli untuk membuat kotak tersebut dengan terlebih dahulu membuat jaring-jaringnya! 84

Aktifitas Matematika

PEMBANGUNAN RUMAH PAK AHMAD
Pak Ahmad ingin membangun rumah di daerah pegunungan yang asri seperti Gambar 1. Pembangunan Rumah Pak Ahmad dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama, membangun: ruang tamu, ruang keluarga, kamar mandi, dan kamar tidur.

Dari denah rumah Pak Ahmad tersebut, maka sebutkan ruang mana saja yang berbentuk: Gambar 1: Rencana Rumah Pak Ahmad 4m Ruang Tamu 3m Kamar mandi (a) persegi (b) persegi panjang 4m Kamar Tidur 10 m

4m

Ruang Keluarga 6m

Tanah kosong

Gambar 2: Denah Rumah Pak Ahmad

Pembangunan rumah Pak Ahmad sudah dimulai sebulan yang lalu. Pada saat ini, pembangunan tahap pertama sudah hampir selesai. Pekerjaan yang tersisa adalah pemasangan plafon. Bantulah Pak Ahmad untuk menentukan berapa banyak plafon yang dibutuhkan dan plafon seperti apa yang mudah dipasang di masing-masing ruang tersebut.

85

Aktifitas 1 (kelompok): membantu Pak Ahmad memasang plafon Pak Ahmad tipe orang seniman, ingin bentuk plafon yang bermacam-macam, ada tiga persegi, segitiga atau lingkaran. Untuk menyalurkan keinginannya, Pak Ahmad membuat miniatur plafon yang berbentuk persegi, segitiga, dan lingkaran dengan kertas masing-masing berwarna merah, biru, dan hijau. Anda diminta membantu Pak Ahmad untuk memasang plafon di ruang tamu dengan menggunakan: (a) persegi biru, (b) segitiga merah, (c) lingkaran hijau (1) Manakah di antara persegi biru, segitiga merah, dan lingkaran hijau yang dapat menutup ruang tamu dengan mudah dan tepat! Beri alasannya! ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... (2) Sebutkan, banyaknya persegi biru, segitiga merah, dan lingkaran hijau yang dapat menutup ruang tamu! ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... .......................................................................................................................................

Banyaknya persegi, segitiga, dan lingkaran yang dapat menutup secara tepat ruang tamu disebut luas daerah ruang tamu Karena yang paling mudah dan tepat bisa menutup ruang tamu adalah bentuk persegi (merah), maka untuk selanjutnya persegi dijadikan sebagai satuan luas (baku). Sedangkan

86

banyaknya segitiga, lingkaran, atau bangun lainnya yang dapat menutup ruang tamu disebut satuan luas (tidak baku).

Selanjutnya untuk mengukur luas suatu daerah hanya digunakan satuan baku (persegi).

Luas ruang tamu adalah ………. persegi

Persegi yang digunakan untuk menutup secara tepat suatu bangun datar disebut persegi satuan Persegi Biru disebut PERSEGI SATUAN untuk bangun ruang tamu

Aktifitas 2: menentukan luas ruang keluarga, kamar tidur, dan kamar mandi Dengan menyusun plafon (sebagai persegi satuan) pada ruang keluarga dan kamar tidur, maka: Luas ruang keluarga adalah .... persegi Luas kamar tidur adalah ..... persegi Luas kamar mandi adalah ..... persegi Berikan penjelelasan terhadap jawabanmu! ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... Aktiftas 3: Pembangunan Tahap kedua Tahap kedua, Pak Ahmad akan membangun dapur, gudang, dan taman di tanah kosong miliknya. Permintaan Pak Ahmad, dapur dan taman luasnya harus sama. Dapur harus berbentuk persegi dan taman harus berbentuk persegi panjang. Pak Ahmad menghendaki dapur yang seluas mungkin (ukuran paling luas).

87

Bantulah Pak Ahmad untuk merancang pembangunan tahap kedua tersebut. Buatkan beberapa rancangan, sehingga Pak Ahmad bisa memilih! Berikan alasan terhadap rancangan anda terutama kesesuaiannya dengan permintaan Pak Ahmad! Rancangan 1

4m Ruang Tamu

3m Kamar mandi

4m Kamar Tidur

10 m

4m

Ruang Keluarga 6m

Alasan: ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... ....................................................................................................................................... .......................................................................................................................................

88

Lampiran 3: Contoh Langkah-langkah Pembelajaran Membaca Sastra

Contoh Pembelajaran

Kali ini kita akan berlatih membaca cerita pendek. Pelatihan ini untuk memperkaya dan mempertajam kemampuan membaca sastra.

1. Kegiatan Pendahuluan Kegiatan yang dilakukan dalam pendahuluan adalah memberikan pertanyaanpertanyaan yang terkait dengan cerita pendek yang akan dibaca, misalnya:
o o o o o o Apakah kupu-kupu itu? Di manakah kalian bisa menemukan kupu-kupu? Pernahkah kalian mengamati kupu-kupu di pegunungan? Bisakah kalian mengungkapkan perasaan kalian pada saat mengamati kupu-kupu? Bagaimanakah bentuk sebelum menjadi kupu-kupu? Takutkah kalian pada bentuk itu? Bagaimanakah perasaan kalian seandainya kupu-kupu itu merupakan penjelmaan dari orang? Percayakah kalian terhadap hal ini? o Teruskan pertanyaan-pertanyaan tentang imajinasi kalian yang berhubungan dengan kupu-kupu!

2. Kegiatan Inti Membaca Cerpen Sekarang, carilah jawaban atas pertanyaan kalian dengan membaca cerita pendek “Kupu-kupu di Bantimurung” karya Ashary Nurdin di bawah ini! KUPU-KUPU DI BANTIMURUNG Setelah aku yakin semua pintu rumahku sudah terkunci dengan baik, aku masuk ke dalam mobil yang sudah kuhidupkan lima menit lalu. Perjalanan ini akan aku mulai. Dari Tamalanrea, rumahku. menuju Bantimurung. Lima menit kemudian mobilku sudah meluncur pelan. di jalan padat. dalam hawa pagi kota Makassar. Aku mencoba tidak terlalu tegang, kunyalakan radio mobilku. Aku menuju Bantimurung. Dia sedang menungguku di sana. Dia. suamiku.

89

Cukup aneh pasti kedengarannya. Sebab suamiku telah meninggal dua bulan lalu, dalam sebuah kecelakaan. Waktu itu dia sedang berada di Bantimurung. tempat kesukaannya. Kata beberapa saksi mata. dia tergelincir lalu terseret arus dan kepalanya pecah setelah beberapa kali membentur batu-batu kali yang besar di sepanjang sungai. Aku bisa membayangkan. air sungai Bantimurung saat itu pasti memerah, penuh darah. Dan karena tak dapat ditolong lagi, dia ... meninggal setelah beberapa saat diangkat ke darat. Dia meninggal ... Seandainya saja saat itu dia tidak ke tempat itu Seandainya saja waktu itu aku ada di sana untuk mencegahnya mendekati arus …. Mengingat peristiwa itu selalu membuatku terguncang, tegang, dan menyesal. Kumatikan radio dari semua program lagu yang membosankan. Kulemaskan tubuhku sambil menarik napas yang berat dengan teratur, secara perlahan untuk melegakanku. Setelah merasa lebih tenang, kulirik jam tanganku. Sudah ada dua puluh menit aku mengemudi menuju Bantimurung. Kini pukul 09.43. Aku harus tiba secepatnya. Aku sudah berjanji untuk bertemu dengannya pada pukul sepuluh. Aku akan terlambat. Kulajukan mobilku di jalan yang cukup padat tanpa sadar, dengan panik. Sungguh pikiranku menertawai diriku sendiri. Aku menuju Bantimurung dengan sebuah alasan ajaib. Untuk bertemu dengan suamiku yang telah meninggal di sana. Tidak masuk akal. Siapa saja yang mendengarku berkata demikian pasti akan menertawai aku. Tapi aku tak peduli, entah kenapa aku sangat yakin, dia pasti sedang menungguku di sana. Mungkin sebab selama ini dia selalu jujur padaku. Dia amat baik. Bermula sejak tiga hari setelah kematian suamiku, aku selalu bermimpi tentang seekar kupu-kupu. Berkali-kali aku melihat kupu-kupu Mas datang dan selalu menatapku penuh arti. Selalu kupu-kupu yang sama. Kupu-kupu yang gagah dengan sayap lebar yang kuat dan sebening mozaik kristal yang indah. Mungkinkah itu suamiku, yang telah menjelma menjadl kupu-kupu? Mungkin saja, kudengar jawabku sendiri. Aku selalu teringat atas sebuah dialog kami, sekitar tiga bulan yang lalu, di Bantimurung. Ketika kami sedang duduk di atas sebuah batu kali besar dan menatap ke sebuah arah yang sama, seekor kupu-kupu mungil berwarna merah muda cerah sedang hinggap diam di atas sebuah batu, tidak jauh dari kami. "Kau lihat, Ning? Kupu-kupu itu sejak tadi hinggap di sana dan belum beranjak sedikit pun,” kata Mas, suamiku saat Itu. "Ya ... indah sekali!" kataku sambil tertegun. "Aku yakin kupu-kupu itu pasti sedang menunggu seseorang," katanya pasti. "Seseorang?" tanyaku bingung sambil berbalik menghadap padanya. Sementara dia sama sekali ildak mengubah fokus pandangannya. “Ya. Seseorang yang sangat dia cintai. Lihat, Ning! Betapa setianya dia menunggu kehadiran orang itu," Ada nada kagum dan takjub dalam suaranya. “Maksudmu?" tanyaku sambil mengerutkan alis. Masih juga kupandangi wajahnya lekat-lekat. Raut mukanya aneh seperti sedang bermimpi.

90

"Ingatkah kau tentang mitos Yunoni Kuno yang pernah kuberitahu padamu? Bahwa roh orang mati akan menjelma menjadl kupu-kupu," "Oh ya, aku ingat …" Aku berpikir sejenak sebelum menyambung, “Jadi kau pikir …? Aku bisa merasakan suaraku yang bernada skeptis. Mas mengangguk, meyakinkanku, Tapi aku tak percaya, itu tak masuk akal! "Kedengarannya lucu," kataku, aku mencoba tertawa. Tapi, aku malah memaksakan sebuah tawa kosong dan sumbang yang telingaku sendiri merasa aneh mendengarnya, "Nanti kamu akan mengerti, Ning," katanya tersenyum begitu murni padaku, "Maksudmu?" Dia berkata dengan raut wajah yang menerawang, "Jika aku,mati, aku sangat ingin menjadi kupu-kupu di sini. Dan, menantikanmu datang suatu hari nanti…" Segera bisa aku mengerti arti ucapannya, Maka kupotong kalimatnya dengan cepat dan sengit, "Tidak baik berkata begitu" Tapi dia tetap tenang saja, seolah tidak mendengar apa yang aku takutkan. "Suatu hari kamu akan datang menemui seekor kupu-kupu yang juga menunggumu di atas batu. Kupu-kupu itu adalah aku, indah, bukan?" dia melanjutkan sambil berbalik menghadapku. Kutatap matanya, ada sesuatu yang 'hidup' di sana, Aku tak mau kehilangan dia. Aku mencintainya. Meskipun maut merebutnya. Setelah kematiannya barulah aku mengerti semua maksudnya saat itu. Karena semalam, dalam mimpi, kupu-kupu Mas yang sama datang lagi. Dalam mimpiku juga kudengar suaranya menggema di telingaku dan memintaku datang ke Bantimurung, di batu kenangan di mana kami dulu sering duduk bersama. Aku berjanji menyanggupinya. Lalu tiba-tiba aku terentak dan terbangun dengan peluh membanjiri tubuhku. Kupu-kupu Mas hilang dalam mimpiku. Itu alasanku melakukan perjalanan ini. Demi menemui seekor kupukupu yang entah kenapa, aku yakini adalah suamiku. Angin dari jalan menyapaku lembut. Kulirik jam tanganku, pukup 10.04. Sebentar lagi aku akan tiba di tujuanku. Sedikit lagi. Tiba-tiba segala kenanganku bersama Mas terukir jelas dalam benakku, melintas dan membunuh kehampaanku. Aku dulu hanya seorang gadis Jawa biasa, lalu Mas menikahiku lima tahun lalu, saat aku berusia 29 tahun, lebih muda empat tahun daripada Mas. Dan membawaku tinggal di Makassar, kampung halamannya. Lalu Mas mulai mengajakku ke Bantimurung. Waktu itu dia berkata bahwa dia rindu tempat itu setelah empat tahun sibuk di Jakarta. Aku bahagia hidup bersama Mas. Dia bekerja di kantor telekomunikasi dengan gaji besar, Ditambah dengan gajiku sebagai guru, kami bisa hidup nyaman. Kebutuhan hidup kami terpenuhi. Tapi, tentu saja semuanya belum bisa kami miliki. Masih ada yang hampa.

91

Kami sering mengunjungi Bantimurung, terutama untuk berlibur. Tak jarang pula Mas atau aku berangkat sendiri. Aku ke sana biasanya sekali sebulan. Sementara Mas mengunjungi tempat itu lebih sering, paling tidak selalu sekali dalam seminggu. Aku mengerti dia tumbuh di tanah ini dan amat mencintainya. Ya, aku juga mencintai tempat itu. Mencintai alamnya, mencintai udaranya, mencintai kehidupan air terjun dan kupu-kupu di sana. Terutama, mencintai kenangan kami yang hidup di sana. Bantimurung yang indah. Mas terutama amat mengagumi kupu-kupu Bantimurung. Dia sering membawa kamera, dan memotret kupu-kupu yang menarik. Dulu sering kutertawai kebiasaannya itu, dan berkata bahwa dia begitu feminim, melebihi aku. Dia lalu menanggapi, bahwa masih banyak yang belum kumengerti tentang dirinya. Ya, mungkin memang masih banyak. Mobilku baru saja melewati gerbang sebelum memasuki wilayah Bantimurung, Gerbang itu tinggi dan berbentuk seekor kera raksasa dengan pose yang lucu. Lengkap dengan sebuah ucapan 'Selamat Datang di Bantimurung'. Kadang aku tersenyum saat melintas tepat di bawah gerbang itu. Tapi hari ini aku merasa lain, aku sama sekail tidak mampu tersenyum. Aku merasa tegang. Kuhentikan mobilku tepat di bawah bayangan sebuah pohon besar. Belasan mobiI terparkir berderetan di tempat yang lain. tempat ini pasti sedang ramai. Aku berjalan pelan menuju ke loket penjualan tiket masuk setelah mengunci mobilku. Lalu membeli tiket dari penjaga di loket. dan berjalan masuk ke dalam Bantimurung. Kakiku menapak tanah dunia kupu-kupu ini lagi, masih tanah yang sama seperti dulu. Mataku menyimak sekeliling tempat ini, masih tembok tebing-tebing tinggi dan keindahan seperti dulu, Telingaku menangkap sebuah irama yang riuh dan merdu, masih air terjun dan sungai yang dulu. Kulit dan napasku dibuai kedamaian, masih udara yang dulu, Masih bisa kurasakan alur kenangan dulu. kenangan masa lalu. Bantimurung. Ini aku! Kuamati tempat ini. Seperti biasanya. hari Minggu ini. Bantimurung masih ramai dikunjungi, Puluhan orang menikmati Iiburannya di sini. Ratusan kupu-kupu yang beragam juga tampak sibuk terbang ke sana ke mati. Kulirik jam tanganku, pukul 10.19. Aku sudah telat dati janjiku. Mungkinkah dia masih setia menungguku? Aku melangkah sambil menenteng selop yang tadi kupakai, sebab berbahaya memakai alas kaki di tempat selembab dan berbatu-batu di sini. Aku berjalan pelan sambil memegangi perutku, menuju ke batu di sebuah sudut yang agak sepi di sini. Batu kenangan kami. Jantungku berpacu dengan lebih memburu, peluh mengaliriku. Bisa kurasakan urat di pelipisku berdenyut-denyut. Aku lebih tegang. Akhirnya, aku melihat tempat itu. Batu itu masih di sana, diam dan tetap tegar, cukup jauh dari air terjun di tempat ini. Aku melangkah semakin dekat. Aku tiba di depan batu itu. Di atas batu seekor kupu-kupu sedang duduk dengan tenang. Aku langsung bisa tahu, itu kupu-kupu yang sama, yang selalu masuk ke mimpiku. Suamiku? Entah kenapa, aku bisa merasakan bahwa Mas berada di sini. Kupu-kupu itu tidak sendiri. Ada seorang wanita yang juga sedang duduk di batu itu. Dia menatap jauh pada air terjun yang tak hentinya tertumpah dan pada orang-orang dalam sungai. Apakah aku berada di tempat yang salah? Siapa dia? 92

Aku berdiri tidak begitu jauh darinya. Saat menyadari kehadiranku, dia berbalik lalu menatapku. Kini aku bisa melihatnya dengan lelas. Wanita itu memiliki raut wajah yang sederhana, tapi cantik. Dia juga memberi kesan menarik yang kuat. Aku menebak usianya sekitar 30 tahun. Matanya bagus dan teduh. Rambutnya yang panjang dan amat hitam diikat di belakang kepalanya. Kulitnya yang putih dihungkus busana hitam dan agak tua. Aku yakin aku belum pernah bertemu dia sebelumnya. Wanita Itu tersenyum. membuatku ikut pula memaksakan sebuah senyum. "Maaf. aku ada janji di tempat ini, Adik juga?" kataku malu-malu sambil sedikit bersandar di atas batu dan melirik kupu-kupu di atasnya. "Ya. Mbak. Saya juga sedang ada janji." Suaranya lembut. ramah dan merdu, serta memberi kesan terpelajar. Aku sampat tak percaya wanita ini begitu sederhana, "Tapi maaf, aku eh tidak mengganggu Adik, kan?" "Oh, tidak, Mbak. Tidak apa-apa." Mata wanita itu menatapku lekat-lekat. Kutatap kupu-kupu yang sejak tadi duduk di atas batu sambil mengepakkan sayapnya dengan manis. Ya, itu kupu-kupu yang kukenali. Suamiku! Aku yakin itu! Aku masih bisa mengenalinya. meskipun dia kini seperti itu, hanya seekor kupu-kupu! Kucoba mencari alasan logis mengenai janjiku dengan kupu-kupu suamiku pada wanita itu, agar aku tak dianggap gila. “Mmm, ..bisa…eh…aku….?” Lalu berhenti karena merasa bodoh. Aku bingung hendak berkata apa. lebih tepatnya aku malu. Tapl dia tampaknya bisa langsung mengeri maksudku. Dia mengangguk dan berkata. “Oh. silakan Mbak.,saya bisa mengerti. Mbak tidak perlu sampai malu begitu." Dia tersenyum. Wajahku langsung terasa panas karena malu. Dengan hati-hati aku duduk di atas batu, sambil memegang perutku. Kini kupu-kupu itu ada di antara aku dan wanita itu. lalu dengan ragu aku berbalik, agak membungkuk pada kupu-kupu itu. "Aku datang, Mas. Aku rindu kamu, Mas ." Kulirik wanita itu. Dia sedang menatap air terjun lagi. Aku lega dengan sikapnya karena tidak menertawakan aku yang sedang bertingkah begini. Kupu-kupu Mas meliukkan sayapnya yang selalu berkelip beberapa kali sambil tetap duduk di batu. Aku yakin, dia ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi tidak dapat aku mengerti. Entah apa. Sial! Jika saja Mas bisa berbicara langsung . "Oh, Itu artinya dia juga merindukan, Mbak. Katanya, Mbak jangan menjadi sedih dan kecewa," jelas wanita itu tiba-tiba, seakan dia mengerti kesulitanku kini. Aku terkejut dan heran bagaimana dia bisa mengerti arti kepakan sayap itu. Atau mungkin dia mengada-ada saja. Ah, aku tak peduli. Entah kenapa, aku mempercayainya. Kutatap dia dengan rasa terima kasih. Rasanya aku akan butuh bantuannya. Aku berkata lagi, "Mas, aku hamil. Sekarang sedang tiga bulan." kataku penuh senyum pada kupu-kupu Mas. Kupandang dan kuelus perutku dengan kasih sayang.

93

Ya, syukurlahl Akhirnya aku hamil setelah kami melewati lima tahun. Perkawinan yang kosong. Bagaimanapun, dia tak pernah mau mengungkit hal itu. Dia tak ingin berlaku kasar padaku. dia hanya selalu pergi mengunjungi Bantimurung jika kesepian, untuk menenangkan dirinya di sana. Aku mengerti, dia sangat ingin melengkapi napasnya sebagai ayah, sebelum terlambat. Aku pun begitu. Dan syukurlah, kini aku bisa! Tapi, anak ini nanti tidak akan pernah mengenali ayahnya. Ayahnya telah meninggal saat dia masih berusia satu bulan. Aku begitu bodoh, karena merahasiakan pada suamiku tentang kabar itu. saat dia masih hidup. Dulu sengaja kututupi kabar yang luar biasa baik ini, untuk memberinya kejutan pada saat yang kurasa tepat. Seandainya tidak, dia pasti akan merasakan kebahagiaan, sama denganku, paling tidak sebelum dia meninggal. Kelak kukenalkan anak ini pada dunia kenangan ibu dan ayahnya. di Bantimurung. Tiba-tiba dengan lincah kupu-kupu Mas meloncat dan terbang. Aku takut dia akan segera pergi, tapi rupanya dia cuma terbang berputar-putar di atas kepalaku. Indah sekali. Lalu, kupu-kupu Mas membelai, memeluk, dan menciumi perutku erat, setelah puas dia kembali duduk di atas batu. Aku terpana. "Dia amat senang, Mbak," jelasnya. Meski pesan ini bisa sedikit kumengerti, walau mungkin nanti tidak lagi. Tapi, tampaknya dia masih bersedia membantuku, untunglahl "Nanti akan aku bawa anak kita ke sini untuk menemuimu, Mas," kataku lagi. Tapi kali ini dengan penuh rasa haru, mataku basah. Kuseka air mataku dengan jari. Kupu-kupu Mas membahasakan lagi sayapnya yang taklagi kupahami. Aku memandang pada wanita itu dengan tatapan memohon untuk diberi tahu artinya. Gila! Bodoh benar aku ini! Sudah lima tahun aku menikah dengan Mas, tapi rupanya aku belum mengerti dirinya sedikit pun. Bahkan meski sebagai kupu-kupu aku belum bisa memahaminya, apalagi bila dia masih berwujud manusia. Bodoh aku! "Ya, sering-sering saja, Mbak," kata wanita itu menjelaskan lagi artinya padaku. Dia memandangku penuh misteri atau mungkin cuma perasaanku saja. Tiba-tiba pertanyaan itu lahir dan berkecamuk dalam benakku. Meronta kuat-kuat dan akhirnya lepas. "Kenapa bukan Mas saja yang datang mengunjungi aku? Kenapa harus aku yang datang ke sini Mas? Bukankah Mas lebih mudah datang padaku dengan terbang?" Kupu-kupu Mas menjawab pertanyaanku dengan segera. Sayapnya bergerak menarinari. Wanita itu lalu menerjemahkan artinya padaku lagi. "Suatu saat dia akan datang mengunjungi Mbak, sesering mungkin. Tapi, tidak sekarang, nanti, katanya. Pasti saat anaknya lahir dan kapan saja dia rindu pada Mbak. Saat ini, dia butuh Mbak di sini, begitu katanya." Aku menoleh pada wanita itu. Sudah cukup lama dia menemaniku di tempat itu. menjadi operator antara Mas dan aku. Aku tak tahu harus bagaimana aku akan bisa berkomunikasi dengan Mas tanpa dia. Aku bersyukur dia ada di sini membantuku. Tumbuh 94

rasa kasihanku pada wanita itu. Hampir sejam dia menunggu, entah siapa yang ditunggunya, tapi tampaknya belum juga datang. Malah dia harus menemani wanita bunting seperti aku, menghabiskan waktu. Dia pasti sudah bosan padaku karena telah menyedot waktunya. Kubiarkan kupu-kupu Mas diam sendiri. Wanita itu makin menyita perhatianku, rnungkin dia kini sudah hendak beranjak pergi. Kasihan dia! "Nama Adik siapa?" tanyaku padanya. "Diah." jawabnya dengan ramah. "Adik Diah seorang mahasiswi?" "Bukan. Saya perempuan biasa, asli daerah sini. Saya tinggal di dekat sini, sebuah rumah di depan sana," jelasnya menunjuk ke satu arah. Aku ikut menoleh ke sana. Aku tertarik untuk mengetahui wanita itu lebih jauh. Dia memiliki sesuatu yang memikat. Bagiku, dia seperti kupu-kupu. “Adik sudah biasa berbicara dengan kupu-kupu?” Dia manganggukkan senyumnya dengan pasti, “Ya.” "Apa menurut Adik itu wajar?" tanyaku lagi. “Ya, menurut saya itu wajar. Kupu-kupu sekalipun memiliki perasaan dan bahasa. Kupu-kupu tidak menggerakkan sayapnya percuma. Sebenarnya dengan begitu mereka berbicara." Aku senang mendengar jawaban itu. "Oh, Ya, tadi Adik bilang bahwa Adik di sini sedang ada janji, kan?" "Ya." Jawabnya dengan raut wajah yang penuh misteri. "Adik masih akan menunggu orang itu? Tampaknya yang Adik tunggu tidak akan datang." Rupanya aku salah duga, tiada raut kecewa di wajahnya, mendengar kalimatku. Dia menjawab, matanya berbinar. "Tidak perlu lagi, yang kutunggu sudah datang." "Oh, ya?" tanyaku sambil memandang sekeliling, melihat siapa yang datang menuju ke mari. Tapi tidak ada. Aku berbalik padanya dengan raut wajah bingung. "Saya tadi menunggu Mbak." Mukanya bersemu merah malu-malu. Aku tersentak. Lho? Melihat wanita ini saja aku belum pernah. Kenapa dia justru menungguku? Ada apa semua ini? Aku semakin bingung. Oh, atau mungkin dia menungguku di sini sebab dia tahu seseorang akan datang dan berbicara dengan kupu-kupu. Wanita itu orang asli dari tanah ini, dan tidak semua orang mampu berbicara dengan kupu-kupu. Maka setiap ada kupu-kupu duduk menunggu di atas

95

batu, dia tahu bahwa ada yang akan membutuhkan jasanya. sebagai penerjemah. Setelah itu dia akan mendapat upah. Pasti Itu pekerjaannya. Aku bisa mengerti itu. Aku bergegas merogoh dua puluh ribu rupiah di dompetku untuk wanita itu. Dia langsung berkata, Tidak perlu Mbak. Saya tahu apa yang ada di pikiran Mbak. Tapi, saya tidak butuh uang," wajahnya memerah lagi. "Lho, apa ini kurang?" Dia menggeleng. "Lalu?" tanyaku cepat. "Semalam kupu-kupu ini datang di mimpi saya, meminta saya, datang ke sini, menemui Mbak Ning, istrinya." Agaknya dia bingung mencari kata-kata yang tepat. Oh, aku bisa mengerti sekarang. Wanita itu pasti mengenal suamiku, maka suamiku meminta bantuan padanya untuk menjadi penghubung antara ia dan aku, untuk membantuku jika aku kesulitan berkomunikasl dengannya. Dan, memang benar! "Jadi, Adik mengenal suamiku?" '”Ya, Saya kenal, Mas Daeng," jelasnya sambil mengangguk serius. "Bagaimana Adik bisa mengenalnya?" Rasa penasaranku memberontak. "Suami Mbak sering kemari. Karena itu, saya mengenalnya. Kami cukup dekat." "Dekat? Semacam teman?" kucoba menekan kecurigaanku, agar terdengar wajar. “Ya, bisa dibilang begitu. Tapi, tahun lalu Mas meminta saya menjadi kekasihnya," suaranya bergetar dengan nada bahagia. "Kekasih?!" suaraku meninggi, tak percaya. Ini mustahil” Aku terkejut. “Ya, sekarang, saya hamil lima bulan," Dia memandang dan mengelus perutnya dengan tenang. "Mas sangat baik. Dia hebat," katanya lagi, tersenyum. "Astaga!" Aku terperanjat. Baru sekarang kuperhatikan perutnya dengan saksama. Dia hamil, bahkan sudah lebih lama dariku! Oh! Aku beku, tak tahu harus berkata apa. “Pesan Mas, dia harap Mbak bisa menerima saya, sebagai istrinya yang kedua.” Suaranya bergetar dengan nada yang tak kumengerti. Kutatap matanya dalam-dalam. Ada yang berpijar di sana. Aku bisa merasakan, dia sedang tidak berdusta. Kupu-kupu Mas bangkit lalu membelai dan memeluk perut wanita, seperti yang tadi dilakukannya padaku. Setelah puas kupu-kupu Mas mendarat lagi di atas batu. Keteganganku muncul lagi. Di sana, bisik air terjun dan sungai tetap terdengar riuh. Ratusan kupu-kupu lain tetap menjelajahi angkasa ini. Udara menjadi semakin berat. Wanita 96

itu terus sambil tersenyum, tetap bergeming menatapku, dengan tatapan penuh harapan. Aku tak percaya dia bahkan bisa tersenyum padaku! Sementara itu, kupu-kupu Mas yang tadi duduk di antara kami, meloncat lalu terbang berputar-putar di atas kepalaku dan wanita itu.

Memahami Cerita Dari pembacaan cerita di atas, kerjakanlah tugas-tugas di bawah ini! (1) Di manakah tempat yang diceritakan dalam cerpen “Kupu-kupu di Bantimurung”? Jawaban kalian merupakan latar tempat yang ada di dalam cerpen. (2) Kapankah cerita dalam cerpen “Kupu-kupu di Bantimurung”? Jawaban kalian merupakan latar waktu yang ada di dalam cerpen. (3) Siapa sajakah yang diceritakan dalam cerpen tersebut? Jawaban kalian merupakan tokoh yang ada di dalam cerpen. (4) Tokoh manakah yang paling berperanan dalam cerpen tersebut? Jawaban kalian merupakan tokoh utama yang ada di dalam cerpen. (5) Lukiskanlah bagaimana ciri-ciri fisik Mbak Ning! (6) Tuliskan dalam beberapa kalimat perasaan dan pandangan Mbak Ning terhadap suaminya sebelum mengetahui bahwa Diah adalah kekasih Mbak Ning a. Pandangan Mbak Ning terhadap suaminya …. b. Perasaan Mbak Ning terhadap suaminya ….. c. …. d. …. (7) Bagaimana cara bertutur Mbak Ning terhadap Diah (8) Bagaimanakah pandangan Mbak Ning terhadap suaminya setelah mengetahui bahwa Diah adalah kekasih suaminya? Ungkapkan dalam dua kalimat! a. Pandangan Mbak Ning terhadap suaminya …. b. ….. (9) Dari jawaban-jawaban kalian, simpulkanlah bagaimana watak Mbak Ning dalam lima kalimat! a. Mbak Ning adalah orang yang berperasaan …
97

b. Mbak Ning adalah orang yang berpikiran …. c. ….. d. ….. e. ….. (10) Pesan-pesan apa sajakah yang bisa kalian dapatkan setelah membaca cerpen tersebut?

a. …… b. …… c. …… d. ……

Mencari Nilai Etika Tentukanlah nilai etika yang bisa diambil dari kutipan cerpen di bawah ini!

No. 1.

Kutipan Aku tak mau kehilangan dia. Aku mencintainya. Meskipun maut merebutnya. Aku dulu hanya seorang gadis Jawa biasa, lalu Mas menikahiku lima tahun lalu, saat aku berusia 29 tahun, lebih muda empat tahun daripada Mas. Dan membawaku tinggal di Makassar, kampung halamannya. Lalu Mas mulai mengajakku ke Bantimurung. Waktu itu dia berkata bahwa dia rindu tempat itu setelah empat tahun sibuk di Jakarta.

Nilai Etika

2.

3. Mas terutama amat mengagumi kupu-kupu Bantimurung. Dia sering membawa kamera, dan memotret kupu-kupu yang menarik. Dulu sering kutertawai kebiasaannya itu, dan berkata bahwa dia begitu feminim, melebihi aku. Dia lalu menanggapi, bahwa masih banyak yang belum kumengerti tentang dirinya. Ya, mungkin memang masih banyak. 4. Aku berdiri tidak begitu jauh darinya. Saat menyadari kehadiranku, dia berbalik lalu menatapku. Kini aku bisa melihatnya dengan lelas.
98

Wanita itu memiliki raut wajah yang sederhana, tapi cantik. Dia juga memberi kesan menarik yang kuat. Aku menebak usianya sekitar 30 tahun. Matanya bagus dan teduh. Rambutnya yang panjang dan amat hitam diikat di belakang kepalanya. Kulitnya yang putih dihungkus busana hitam dan agak tua. Aku yakin aku belum pernah bertemu dia sebelumnya. Wanita Itu tersenyum. membuatku ikut pula memaksakan sebuah senyum. 5. Kulirik wanita itu. Dia sedang menatap air terjun lagi. Aku lega dengan sikapnya karena tidak menertawakan aku yang sedang bertingkah begini. Ya, syukurlahl Akhirnya aku hamil setelah kami melewati lima tahun. Perkawinan yang kosong. Bagaimanapun, dia tak pernah mau mengungkit hal itu. Dia tak ingin berlaku kasar padaku. dia hanya selalu pergi mengunjungi Bantimurung jika kesepian, untuk menenangkan dirinya di sana. Aku mengerti, dia sangat ingin melengkapi napasnya sebagai ayah, sebelum terlambat. Aku pun begitu. Dan syukurlah, kini aku bisa! Tapi, anak ini nanti tidak akan pernah mengenali ayahnya. Ayahnya telah meninggal saat dia masih berusia satu bulan. Aku begitu bodoh, karena merahasiakan pada suamiku tentang kabar itu. saat dia masih hidup. Dulu sengaja kututupi kabar yang luar biasa baik ini, untuk memberinya kejutan pada saat yang kurasa tepat. Seandainya tidak, dia pasti akan merasakan kebahagiaan, sama denganku, paling tidak sebelum dia meninggal. Bodoh benar aku ini! Sudah lima tahun aku menikah dengan Mas, tapi rupanya aku belum mengerti dirinya sedikit pun.

6.

7.

8.

99

(2) Berilah tanda V (centang) pada pilihan kalian (Setuju atau Tidak) terhadap pernyataan di bawah ini?

No. 1. 2. 3.

Pernyataan Istri setia kepada suami Suami setia kepada istri Istri boleh mempunyai pacar gelap kalau suaminya menyeleweng

Setuju

Tidak

4.

Suami boleh mempunyai pacar gelap kalau istrinya menyeleweng

5. 6. 7.

Istri percaya kepada suaminya Suami percaya kepada istrinya Masalah dalam rumah tangga dibicarakan berdua antara suami dan istri

8. 9.

Suami harus teruka terhadap istrinya Istri harus terbuka terhadap suaminya

Melanjutkan Cerita

Di bawah ini adalah cerita tentang “Kupu-kupu di Bantimurung”. Cerita tersebut sebagian dihilangkan. Untuk melatih kemampuan membaca kalian, tulislah kembali bagian-bagian cerita yang dihilangkan dengan bahasa kalian sendiri!
KUPU-KUPU DI BANTIMURUNG

Setelah aku yakin semua pintu rumahku sudah terkunci dengan baik, aku masuk ke dalam mobil yang sudah kuhidupkan lima menit lalu. Perjalanan ini akan aku mulai. Dari Tamalanrea, rumahku menuju Bantimurung. Lima menit kemudian mobilku sudah meluncur pelan. di jalan padat. dalam hawa pagi kota Makassar. Aku mencoba tidak terlalu tegang, kunyalakan radio mobilku.

100

…………………………………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………..

Kutatap matanya dalam-dalam. Ada yang berpiar disana. Aku bisa merasakan, dia sedang tidak berdusta. Kupu-kupu Mas bangkit lalu membelai dan memeluk perut wanita, seperti yang tadi dilakukannya padaku. Setelah puas kupu-kupu Mas mendarat lagi di atas batu. Keteganganku muncul lagi. Di sana, bisik air terjun dan sungai tetap terdengar riuh. Ratusan kupu-kupu lain tetap menjelajahi angkasa ini. Udara menjadi semakin berat. Wanita itu terus sambil tersenyum, tetap bergeming menatapku, dengan tatapan penuh harapan. Aku tak percaya dia bahkan bisa tersenyum padaku! Sementara itu, kupu-kupu Mas yang tadi duduk di antara kami, meloncat lalu terbang berputar-putar di atas kepalaku dan wanita itu

Mengubah Cerita

Cerita “Kupu-kupu di Bantimurung” di atas akan berbeda jalan ceritanya seandainya salah satu unsur dalam cerita tersebut berubah. Untuk melatih keterampilan menulis kreatif kalian, bagaimana kalau pada kesempatan ini kita mencoba untuk mengubah cerita di atas dengan mengerjakan tugas di bawah ini! 1. Seandainya Mbak Ning tidak menyembunyikan rahasia kepada suaminya bahwa dia hamil, apa yang terjadi pada suaminya?
…………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………

101

2. Seandainya pertemuan Mbak Ning dengan Diah terjadi sebelum suaminya meninggal, apa yang terjadi antara Mbak Ning dan suaminya; juga antara Mbak Ning dengan Diah? …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… 3. Seandainya Mbak Ning tidak percaya bahwa kupu-kupu itu adalah suaminya, apa yang terjadi? …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… 4. Seandainya setelah tiba di Bantimurung, ternyata tidak ia temui kupu-kupu seperti yang ada di dalam mimpi Mbak Ning, apa yang terjadi? …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… 5. Seandainya Diah bukan kekasih suaminya, apa yang terjadi? Kemukakan dalam cerita!

…………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… Penutup Menirukan Dialog Hasil Simakan Ingat-ingatlah kembali bagaimana dialog antara Mbak Ning dengan Diah. Sekarang bentuklah pasangan-pasangan yang berperan sebagai Mbak Ning dengan Diah 1. Rencanakanlah dialog antara Mbak Ning dengan Diah dengan bahasa kalian sendiri! 2. Peragakanlah dialog itu di hadapan teman-teman Kalian! 102

Lampiran 4: Contoh Langkah-langkah Pembelajaran Berbicara Contoh Pembelajaran

1. Pendahuluan Pernahkah kalian menghadiri keluarga yang sedang berduka karena ada salah satu anggotanya meninggal dunia? Bagaimana suasana keluarga tersebut? Bagaimana suasana orang-orang yang melayat? Apa saja yang dibicarakan pelayat pada saat menunggu proses pemakaman?

2. Kegiatan Inti
Membaca Cerpen (1) Bacalah cerpen di bawah ini dengan cermat, maksimal 10 menit! Kecap Nomor Satu di Sekeliling Bayi Mayat bayi-satu-tahun itu tergeletak di atas dipan besar. Penerangan kamar 60 watt. Dikeliling dipan orang-orang duduk bersila. Udara panas, Setiap muka kelihatan sedih. Bintik-bintik keringat menyerang tubuh mereka Orang-orang berdatangan. Mereka tambah memenuhi kamar itu. Udara makin terasa panas. “Jam berapa tadi meninggal?” “Jam tujuh.” “Kenapa sampai meninggal?” Dengan wajah kosong, seseorang menjawab. “Itulah apa yang sudah diramalkan oleh anak saya. Anak saya tertua mahasiswa fakultas kedokteran. Sudah tingkat terakhir. Kalau tidak ada halangan tahun depan dia sudah jadi dokter penuh. Kemudian wajah yang kosong ini sedikit demi sedikit berubah. “Anak saya yang hampir lulus jadi dokter itu kemarin mengatakan,’Wah, anak bayi tetangga kita itu kok begitu pucat mukanya. Saya tahu, kalau tidak cepat-cepat diobati harapan hidupnya tinggal lima puluh persen. Kemungkinan besar sakitnya adalah

103

pendarahan otak bayi. Sedangkan obat itu baru diketemukan tiga tahun yang lalu. Jadi harus cepat-cepat diobati.’ Begitulah ramalan anak saya yang sudah hampir jadi dokter itu.” Banyak yang duduk di situ menganggukkan kepala. Seorang lain lekas menyahutnya. “Kalau anak saya yang sudah jadi dokter ada tiga jumlahnya. Satu, yang tertua, jadi kepala rumah sakit di Medan. Dia sangat disenangi oleh anak buahnya. Dua, jadi dokter militer di Semarang. Pangkatnya mayor. Padahal dia masih muda, tapi pangkatnya sudah mayor. Tiga, berdinas di Biak. Sebentar lagi dia mau pindah dinas ke sini, juga mau jadi kepala rumah sakit. Sayang, dia belum bertugas di sini. Seandainya sudah, pasti bayinya pak Su ini dapat ditolongnya. Anak saya itu terkenal sebagai dokter yang dermawan. Sayang. Banyak orang di situ mengangguk-anggukkan kepala. Mereka datang ke situ untuk menjenguk mayat, tapi rupa-rupanya kedukaan itu sendiri sekarang jadi nomor dua. Seseorang berkumis yang duduk di pojok agaknya senang mendengar percakapan ini. Akan tetapi rasanya lebih senang kalau dia juga ikut turun bicara. Maka bicaralah dia. “0, jadi puteranya pak Danu jadi dokter di Biak? Kalau begitu pasti kenal dengan anak saya. Anak saya jadi kepala jawatan imigrasi di sana. Dia terkenal. Setiap penduduk pasti kenal dengan dia. Dia sarjana tamatan Yale University Amerika. Ketika sekolah dulu dia pandai sekali. Makanya dia dapat scholarship ke Amerika. Tidak sembarangan orang biasa mendapat kesempatan seperti itu kalau tidak betul-betul pandai.” Lagi, banyak orang-orang yang duduk di situ menganggukkan kepala. Seorang berambut putih di kepalanya tampak senang juga akan percakapan itu. Tapi tidak lebih puas agaknya kalau dia pun urun bicara maka urun bicaralah dia. “O, kalau begitu sama dengan anak saya. Anak saya juga pandai sekali. Ketika lulus SMA dulu matematikanya sepuluh. Analitnya sembilan. Kimia sepuluh. Bahasa Inggeris delapan. Dia mendapat hadiah kejuaraan nomor satu. Maka dia juga mendapat tugas belajar ke luar negeri.” “Di luar negeri pun dia lulus dengan hasil baik.” Lagi, orang-orang di situ mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah mereka lupa kedatangan mereka ke situ untuk menyatakan duka. Agak lama percakapan terhenti. Mungkin mereka betul-betul sedang merenungkan kedukaan yang baru saja menimpa oleh keluarga ini, mungkin mereka sedang meramu cerita-cerita yang baik untuk disuguhkan lagi kepada mereka yang hadir. Atau mungkin kedua-duanya. Seorang perempuan tua datang, berdiri dekat pintu. Kepalanya ditongolkan ke dalam kamar, bicara kepada orang-orang yang mengelilingi mayat di situ. “Udara panas. Bayi ini juga kepanasan. Kasur dan guling-guling yang mengepit itu menambah panas. Bayi harus dipindah ke atas meja saja, biar agak dingin.” Secara serentak, orang-orang yang duduk itu berdiri. Mereka akan menawarkan jasa memindah mayat itu. Kalau mereka tidak urun tenaga, nanti merasa malu. 104

Dari luar beberapa orang masuk mengangkat meja. Meja ini ukuran biasa. Satu kali satu tujuh lima. Diangkat oleh seorang saja sebetulnya sudah cukup. Tapi yang menggotong ada lima orang. Dan orang-orang yang berdiri di dalam kamar itu segera mengangkat meja itu. Lebih dari lema belas orang berusaha untuk mengangkat meja. Mereka betul-betul sadar, satu orang saja atau paling banyak dua cukup untuk mengangkat meja. Tapi kalau tidak ikut-ikut mencoba mengangkat, mereka takut disangka kurang sopan. Mereka malu. Meja itu pun sekarang berdiri di sebelah dipan. Mayat segera dipindahkan. Tidak banyak yang berusaha untuk ikut mengangkat mayat itu. Mungkin ngeri. Mayat itu segera ditutup dengan selembar kain indah. Tiba sekarang gifiran dipan akan dipindahkan. Kasur harus diangkat keluar. Gulingguling idem. Baru dipannya. Untuk mengangkat kasur ini sebetulnya cukup dibutuhkan tenaga satu orang. Tapi semua orang serempak mencoba-coba ikut-ikut mengangkat kasur. Sekarang giliran dua batang guling dikeluarkan. Satu orang saja sudah cukup mengerjakan ini. Atau paling banyak dua. Tapi mereka berrebut-rebutan kembali untuk membawa dua bantal ini keluar. Kalau tidak begitu, mereka malu disangka kurang sopan. Takut kalau tidak ikut merasakan duka di situ. Kembali mereka mengelilingi mayat itu lagi. Sekarang mereka telah duduk lagi. Seseorang dengan mengipas-ngipas mukanya berkata, “Wah, panas sekali.” Kemudian dengan nada menyalahkan disambungnya, ”Sebetulnya di bawah bayi itu harus ditaruhkan sedikitnya satu blok es. Apalagi panas begini.” Tapi dia tidak berusaha untuk mencari es. Padahal tadi dia ikut-ikut mengangkat meja, kasur, guling dan dipan yang sama sekali tidak membutuhkan tenaganya. Tapi untuk mencari es yang perlu dikerjakan, dia hanya berkata dengan nada mencela belaka. Seseorang di sampingnya agaknya tidak puas dengan celaan temannya itu. Maka dia pun berkata, “Bukan hanya es saja, tapi sebetulnya pada setiap kaki meja itu juga harus dikasih kobokan isi air. Kalau tidak begitu nanti semut bisa merayap ke atas.” Dia berkata begitu. Tapi dia tidak berusaha mendapatkan kobokan dan air. Tadi dia juga ikut-ikutan mengangkat meja, guling, kasur dan dipan. Seseorang lain segera menyambungnya, “Memang begitu. Anak saya yang menjadi biolog ahli semut pernah mengatakan begitu. Dia sekarang jadi dosen biologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Dia masih muda, tapi sebentar lagi akan diangkat jadi profesor. Teman-temannya ngiri. Tapi saya bilang kepadanya, jangan kecil hati kalau teman-temannya ngiri. Dia pandai dan satusatunya ahli semut di Asia Tenggara ini, sudah sepantasnya jadi profesor, meskipun umurnya masih muda sekali.”

105

Dua orang anak kecil masuk kamar itu. Yang seorang membawa ember kecil berisi air. Satunya membawa empat kobokan. Orang-orang di situ sekali lagi berebutan untuk menawarkan jasanya. Kerja itu ditanggulangi oleh lebih kurang lima belas orang. Setelah selesai, mereka duduk kembali. Wajah-wajah mereka memancarkan kepuasan karena merasa berjasa. Tiap kaki meja sudah terlandas pada kobokan berisi air, sehingga semut tidak mungkin merambat ke atas. Orang yang tadi menyalahkan tidak ada kobokan dan air merasa bangga, meskipun kobokan dan air itu ada di situ bukan karena jasanya. Setidaknya dia merasa itu idenya. Udara makin panas. Bintik-bintik keringat makin banyak pada tubuh mereka. Seorang yang berbadan kekar mengusap-usa[ peluhnya. Kemudian berkata, “Panas benar. Tapi tidak sepanas dulu pada jaman gerilya ketika saya memimpin penyerbuan Belanda di Mojokerto. Waku itu saya pegang pimpinan pasukan. Saya tahu bahwa musuh kita, Belanda, tidak tahan udara panas. Waktu itu belum ada air-conditioning. Saya serbu mereka. Mereka kocar-kacir. Mental mereka turun. Karena itu saya mendapat bintang jasa.” Orang-orang di situ sekali lagi mengangguk-anggukkan kepala. Seolah mereka lupa dating ke situ untuk apa. Seseorang kelihatan merenung. Rupanya dia merenungkan duka yang ada di situ. Tahunya dia sedang meramu pertanyaan dalam otaknya supaya juga dapat bercerita yang lebih hebat. “Maaf, sekarang apa sampeyan masih aktif di Angkatan Darat?” “Oh, masih.” “Kalau boleh tabu, apakah pangkat sampeyan sekarang?” “Mayor.” “O, begitu. Adik saya pangkatnya kolonel. Sekarang dia jadi atase militer di Koln. Sudah tiga tahun dia di sana. Sebetulnya dia ingin pulang ke tanah air. Tapi karena dia cakap, tenaganya tetap dibutuhkan di sana. Suratnya yang terakhir mengatakan, dia sekarang sudah diusulkan naik pangkat jadi brigjen. Seorang laki-laki masuk kamar. Dia duduk menemani mereka. Orang ini ayah si bayi yang mayatnya terlentang di atas meja. Mereka semua menunjukkan muka serius. “Jam berapa tadi?” Tanya seseorang. “Jam tujuh” jawab tuan rumah dengan sayu. “Sudah dibawa ke dokter sebelumnya?” “Sudah. Sudah saya periksakan pada beberapa dokter. Tapi rupanya memang Tuhan tidak mengijinkan saya untuk momong bayi ini.

106

Mereka bercakap-cakap sampai fajar merekah. Tuan rumah kadang-kadang menemui mereka, kadang-kadang meninggalkan mereka karena banyak urusan yang harug diselesaikannya. Setiap tuan rumah meninggalkan mereka, mereka bercerita lagi, seolah lupa uutuk apa mereka datang ke sana. Dan setiap tuan rumah menunggu mereka, mereka berwajah serius, menandakan mereka pun ikut merasakan kedukaan itu.

Mendiskusikan Cerpen

(1) Diskusikanlah masalah-masalah di bawah ini! (a) Bagaimanakah sikap tamu di cerpen “Kecap Nomor Satu di Sekeliling Bayi”? (b) Bagaimanakah tanggapan Anda terhadap sikap tamu tersebut? (c) Bagaimanakah seharusnya sikap tamu pada saat melayat? (2) Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan memilih 3 (selalu), 2 (sering), 1 (kadang-kadang), atau 0 (tidak pernah). Isilah dengan menuliskan angka!
No 1. Daftar Pertanyaan Apakah Anda hadir untuk mengantar pemakaman pada saat ada tetangga yang meninggal? Apakah anda menghibur hati orang yang sedang berduka atau mengalami musibah Apakah Anda mengindarkan diri dari bergurau pada saat menghadiri pemakaman seseorang Apakah Anda menghindarkan diri menceritakan kehebatan Anda atau keluarga Anda? Apakah Anda membantu meringankan orang yang mendapatkan musibah Jawaban

2.

3.

4.

5.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda centang (V) pada kolom setuju atau tidak setuju!

107

No 1.

Daftar Pertanyaan Kita perlu hadir untuk mengantar pemakaman pada saat ada tetangga yang meninggal, kecuali bila kita mempunyai kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan Kita perlu menghibur hati orang yang sedang berduka atau mengalami musibah Kita perlu mengindarkan diri dari bergurau pada saat menghadiri pemakaman seseorang Kita perlu menghindarkan diri menceritakan kehebatan diri sendiri, terutama di hadapan orang yang sedang berduka Kita perlu membantu meringankan orang yang mendapatkan musibah

Setuju

Tidak Setuju

2.

3.

4.

5.

Penutup Dari kegiatan mendengarkan dan merefleksikan pembacaan puisi di atas, apakah yang dapat Anda rasakan dan Anda dapatkan? Tuliskanlah! (1) Yang saya rasakan setelah mengikuti kegiatan ini a. Saya merasakan …. (2) Yang saya dapatkan setelah mengikuti kegiatan ini. a. Saya mendapatkan …. (3) Agar kegiatan ini lebih menarik dan menantang, saya mengusulkan a. ………………………..

108

Lampiran 4: Contoh Langkah-langkah Pembelajaran Menyimak

Pendahuluan Pernahkah kalian mendengar kata Tsunami. Ya, negara kita pernah terkena tsunami. Tsunami yang terhebat adalah yang melanda Aceh. Bagaimakah keadaan Aceh setelah terkena tsunami? (siswa diminta untuk menceritakan keadaan tersebut)

Kegiatan Inti Mendengarkan Pembacaan Puisi Adakah di antara kalian yang bisa membacakan puisi? Saya yakin sebenarnya semuanya bisa membacakan puisi. Kali ini saya akan membaca puisi yang berkaitan dengan keadaan Aceh setelah dilanda tsunami.

SELAGI BISA menangislah selagi bisa sebab saudara kita di Aceh sudah kehabisan air mata makan minumlah selagi bisa sebab saudara kita di Aceh sejenak lupa akan haus laparnya oleh sekadar mencari anak oleh sekadar mencari suami oleh sekadar mencari istri atau ibu bapak itu pun kalau bisa pandangilah setiap jengkal wajah sanak saudara kita selagi bisa sebab saudara kita di Aceh hanya melihat mayat sanak saudaranya, itu pun kalau bisa
(Wahyudi Siswanto)

109

Bermain Puisi Sebelum kita membahas puisi yang telah saya bacakan tadi, bagaimana kalau kita bermainmain dengan puisi yang kita dengar. Sekarang tirukanlah kata, gabungan kata, baris dan bait puisi di bawah ini sepersis mungkin! Setelah saya ucapkan, kalian menirukannya!

1. SELAGI BISA (Tirukan!) 2. menangislah selagi bisa (Tirukan!) 3. sebab saudara kita di Aceh sudah kehabisan air mata (Tirukan!) 4. makan minumlah selagi bisa sebab saudara kita di Aceh sejenak lupa akan haus laparnya (Tirukan!) 5. oleh sekadar mencari anak oleh sekadar mencari suami oleh sekadar mencari istri atau ibu bapak itu pun kalau bisa (Tirukan!) 6. pandangilah setiap jengkal wajah sanak saudara kita selagi bisa (Tirukan!) 7. sebab saudara kita di Aceh hanya melihat mayat sanak saudaranya, itu pun kalau bisa (Tirukan!)
Membaca Puisi

Setelah saya membacakan puisi, kini giliran kalian. Saya minta salah satu dari kalian membacakan puisi “Selagi Bisa” di atas! Bagaimanakah pembacaan puisi “Selagi Bisa” oleh teman Anda? a. Pembacaan puisi tersebut menarik karena ekspresi pembaca ……

110

b. Pembacaan puisi tersebut menarik karena suara pembaca ….

c. Pembacaan puisi tersebut menarik karena irama pembaca ….

Apakah puisi di atas menarik? Kemukakan pendapat Anda tentang hal-hal yang menarik dalam puisi yang diperdengarkan dengan mengemukakan alasan yang logis! (1) Puisi “Selagi Bisa” menarik karena rimanya …. (2) Puisi “Selagi Bisa” menarik karena lambang dan simbol yang digunakan adalah …. (3) Puisi “Selagi Bisa” menarik karena gaya bahasa yang digunakan ….. (4) Puisi “Selagi Bisa” menarik karena berisi …. Menyimpulkan Pesan Etika dalam Puisi Penyair seringkali menyampaikan pesan dan ajaran etika (moral) melalui puisi yang diciptakan. Marilah kita mencoba mencari pesan-pesan yang ingin disampaikan Taufiq Ismail dalam puisi “Selagi Bisa”. Di bawah ini ada beberapa kutipan dari puisi “Selagi Bisa”, dari kutipan tersebut, tentukanlah pesan-pesan yang ada di dalamnya! (1)

menangislah selagi bisa sebab saudara kita di Aceh sudah kehabisan air mata

Dari kutipan di atas, pesan apakah yang bisa kalian dapatkan? Pesan dan nilai apakah yang bisa diambil dari peristiwa tersebut? (2)

makan minumlah selagi bisa sebab saudara kita di Aceh sejenak lupa akan haus laparnya oleh sekadar mencari anak oleh sekadar mencari suami oleh sekadar mencari istri atau ibu bapak itu pun kalau bisa

111

Pesan dan nilai apakah yang bisa diambil dari peristiwa tersebut? (3) pandangilah setiap jengkal wajah sanak saudara kita selagi bisa sebab saudara kita di Aceh hanya melihat mayat sanak saudaranya, itu pun kalau bisa

Pesan dan nilai apakah yang bisa diambil dari peristiwa tersebut?

Menentukan Tema Puisi yang Diperdengarkan Tema puisi adalah gagasan utama atau gagasan pokok yang disampaikan penyair kepada pembacanya. Sebagai pembaca karya sastra, Kalian bisa memahami dan menemukan tema ini. Sesuai dengan hakikat karya sastra yang kaya akan makna, maka tema dalam puisi tidak bersifat tunggal. Tema dalam karya sastra bisa diungkapkan dalam beberapa pernyataan. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah secara mutlak tentang tema suatu karya sastra, asalkan bisa dipertanggungjawabkan dengan kata, baris, bait, tipografi, dan makna yang ada di dalam puisi. Untuk menentukan tema puisi “Selagi Bisa” di atas, kerjakanlah tugas-tugas di bawah ini. (1) Tulislah dua pernyataan kemungkinan tema puisi di atas! (2) Cermatilah, bagaimanakah hubungan keempat pernyataan tema yang telah kalian tentukan! Apakah keempatnya mempunyai (a) hubungan sejajar (sama pentingnya); (b) sebab akibat; (c) akibat sebab; (d) pernyataan dan contoh, atau mempunyai hubungan lainnya. (3) Dari hasil mencermati hubungan tema yang kalian buat tersebut, sekarang tentukanlah satu tema puisi “Selagi Bisa”! (4) Apakah tema itu dinyatakan oleh penyairnya di awal, tengah, atau akhir puisi? Ataukah tema itu baru bisa disimpulkan dari keseluruhan puisi?

112

Seringkali bekerja kelompok hasilnya lebih baik daripada kerja sendirian. Dengan bekerja kelompok, kita bisa mengungkapkan pikiran kita kepada orang lain. Kita bisa saling menghargai pikiran orang lain. Untuk itulah, bentuklah kelompok, masing-masing beranggotakan empat atau lima orang. (1) Tentukan kembali tema puisi di atas! (2) Laporkan hasil diskusi kalian di muka kelas! (3) Untuk kelompok yang tidak sedang melaporkan hasil diskusinya, tanggapilah pendapat kelompok lain!

Menunjukkan Relevansi Tema dengan Situasi Sekarang Tema dalam puisi adalah hasil pemikiran dan perasaan penyair. Ini bisa merupakan hasil tanggapan atau perenungan dari situasi yang dirasakan, dihayati dan dialami penyair. Apakah puisi “Selagi Bisa” juga mencerminkan hal yang sama. Untuk membuktikannya, kerjakanlah tugas-tugas di bawah ini! Saat ini banyak orang yang tidak bisa ikut bersedih melihat penderitaan orang lain. Apakah pernyataan ini benar? Carilah bukti-bukti di sekelilingmu yang mendukung atau bertentangan dengan pernyataan tersebut! Saat ini banyak orang yang tidak akrab dengan sanak saudara sendiri. Bahkan, mereka jarang saling merindukan. Carilah bukti yang mendukung atau bertentangan dengan pernyataan tersebut! Pengayaan Model menyimak itu bisa divariasikan dengan kegiatan atau keterampilan lain seperti membaca sastra atau menulis sastra. Bahan yang digunakan bisa juga diganti dengan puisi lain. Berikut ini disajikan beberapa puisi yang bisa digunakan untuk membelajarkan etika siswa. (1) Ibu kalau aku merantau lalu datang musim kemarau sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting hanya mata air airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir bila aku merantau sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
113

di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar ibu adalah gua pertapaanku dan ibulah yang meletakkan aku di sini saat bunga kembang menyemerbak bau sayang ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi aku mengangguk meskipun kurang mengerti bila kasihmu ibarat samudra sempit lautan teduh tempatku mandi, mencuci lumut pada diri tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu lantaran aku tahu engkau ibu dan aku anakmu bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala sesekali datang padaku menyuruhku menulis langit biru dengan sajakku (D. Zawawi Imron) (2) PENERBANGAN KE SUMBAWA ada kabar pesawat terbang yang sudah lelah berjalan bersama penumpangnya memasuki pintu tanda di sebelah bandara hingga memasuki kuburan di sana
114

aku mendapat tugas ke sumbawa naik pesawat terbang di saat hujan dan angin tunjukkan wibawa bagai menunggu hukuman di depan mata semua kulihat bagai dunia maya orang-orang menjadi sahabat yang sudah lama tidak berjumpa kuingin maaf atas semua dosa :yang terjadi hanya bertegur sapa saat pesawat mengepakkan sayap kuingin sekadar berdoa teman sebelah mengajakku tertawa kulihat ketidakberdayaan sempurna: di tengah mega aku bukan burung perkasa di atas laut aku bukan ikan samudra ketika mendarat terasa lega dari segala prasangka tapi bukankah nanti juga memasuki pintu tanda yang kurang lebih sama dalam cara yang begitu rahasia (Wahyudi Siswanto) Refleksi Kegiatan Dari kegiatan mendengarkan dan merefleksikan pembacaan puisi di atas, apakah yang dapat Anda rasakan dan Anda dapatkan? Tuliskanlah! Yang saya rasakan setelah menyimak puisi ini b. Saya merasakan …. c. ……………………

115

Lampiran 5: Contoh Pembelajaran Menulis Puisi
Cara menulis puisi memang merupakan hak penyair. Masing-masing penyair mempunyai langkah dan cara menulis puisi. Meskipun demikian, dari puisi-puisi yang telah ditulis penyair, ada beberapa pola yang bisa dibelajarkan kepada siswa. Tulisan ini hendak memberikan secara singkat beberapa model pembelajaran menulis puisi. 1. Model Definisi Model definisi adalah model menulis puisi dengan memberi definisi atau arti terahadap sesuatu. Kata kunci yang biasanya digunakan yaitu adalah. Siswa diajak untuk menentukan terlebih dahulu kata yang akan didefinisikan. Langkah berikutnya siswa mendefinisikan kata itu dalam beberapa definisi. Setelah itu, siswa diminta untuk menambah definisinya menjadi definisi yang bisa direnungkan atau mengandung pesan. Terakhir, siswa mencoba untuk memperindah bunyi definisi menjadi puisi.. Berikut ini akan diberikan contoh menulis puisi dengan model ini. Langkah 1 Siswa diminta untuk memilih kata yang akan didefinisikan. Sebagai contoh kata yang didefinisikan adalah putih. Langkah 2 Siswa mendefinisikan kata itu dalam beberapa definisi. Putih Putih adalah bening Putih adalah bersih Putih adalah suci Langkah 3 Siswa diminta untuk menambah definisinya menjadi definisi yang bisa direnungkan atau mengandung pesan Putih Putih adalah bening bola matamu, dengan cara sama menatap manusia Putih adalah bersih hatimu, tak pernah ada dendam walau muka pernah terlempar batu Putih adalah suci pribadimu, selalu menomorsatukan umat Langkah 4 Siswa mencoba untuk memperindah bunyi definisi menjadi puisi.

116

Putih adalah bening bola matamu, dengan cara sama menatap manusia tanpa pandang bulu Putih adalah bersih hatimu, tak pernah ada dendam walau muka pernah terlempar batu Putih adalah suci pribadimu, selalu menomorsatukan umatmu Sekarang cobalah Anda membuat puisi dengan model definisi seperti contoh di atas! …………………….adalah…………. …………………….adalah…………. …………………….adalah………….

2. Model Nama Model nama adalah cara menulis puisi dengan bantuan nama tertentu untuk menulis puisi. Setelah puisi ini jadi, huruf pertama puisi ini bisa dibaca sebagai nama sesuatu. Langkahnya adalah dengan menentukan terlebih dahulu nama yang akan digunakan untuk menulis puisi. Langkah berikutnya, menuliskan nama itu berjajar dari atas ke bawah. Dari awal huruf itu, kita mengembangkan menjadi sebuah puisi. Langkah 1 menentukan terlebih dahulu nama, misalnya ODE Langkah 2 Menuliskan nama berjajar dari atas ke bawah. O D E Langkah 3 mengembangkan menjadi sebuah puisi Oh, siapakah yang berdiri di sana Dengan wajah seakan tanpa dosa Entah dengan cara bagaimana aku dapat mengenalnya Siapa nama Anda atau ingtlah nama orang-orang yang berkesan di hati Anda? Cobalah Anda tulis nama itu menjadi puisi! Misalnya nama Anda Andri A……………………… Anda bisa N......................... menceritakan siapa D……………………… Andri R……………………… I………………………. 117

3. Deskripsi Model deskprisi adalah model menulis puisi dengan menggambarkan atau melukiskan tempat, suasana, warna, bentuk, tingkah laku, waktu, peristiwa, dan watak. Langkahnya adalah sebagai berikut. • Tentukan terlebih dahulu hal yang ingin Anda deskripsikan/gambarkan. Misalnya, suatu tempat wisata! • Buatlah deskripsi tersebut menjadi bahasa yang lebih puitis! Berikut ini diberikan contoh-contoh puisi yang disusun berdasarkan deskripsi RUANG INI (Sapardi Djoko Damono) Kau seolah mengerti: tak ada lubang angin Di ruang terkunci ini Seberkas bunga plastik di atas meja, Asbak yang penuh, dan sebuah buku yang terbuka Pada halaman pertama Kaucari catatan kaki itu, sia-sia

DI DEPAN PINTU (Sapardi Djoko Damono) Di depan pintu: bayang-bayang bulan Terdiam di rumput. Cahaya yang tiba-tiba pasang Mengajaknya pergi Menghitung jarak dengan sunyi

4. Kesan Model kesan adalah model menulis puisi dengan menuliskan kesan terhadap sesuatu. Kesan yang dimaksud adalah menakutkan, bahagia, suka, benci, gemas, dan lain sebagainya. Langkahnya adalah menentukan terlebih dahulu kesan yang ingin diciptakan. Kemudian menentukan suasana yang mendukung kesan tersebut. KAMAR (Sapardi Djoko Damono) Ketika kumasuki kamar ini Pastidikenalnya kembali aku Suara langkahku, nafasku 118

Dan ujung-ujung jari yang dulu menyentuhnya Dan kali ini – pertemuan ini Tanpa jam dinding Bgitu saja di suatu sore hari Sewaktu percakapan tak diperlukan lagi Tanpa engah-engahan pendek Tanpa “malam begitu cepat lalu!” Dan kulihat bibir-bibirnya sembilu Menoreh kenanganku

5, Deskripsi dan Kesan Model deskripsi dan kesan adalah model menulis puisi dengan menggabungkan antara gambaran terhadap sesuatu dengan kesan terhadap apa yang digambarkan itu. Berikut ini akan diberikan contoh gabungan antara deskripsi dan kesan.

SEPASANG SEPATU TUA (Sapardi Djoko Damono) sepasang sepatu tua tergeletak di sudut sebuah gudang, berdebu yang kiri terkenang akan aspal meleleh, yang kanan teringat jalan berlumpur sehabis hujan—keduanya telah jatuh cinta kepada sepasang telapak kaki itu yang kiri menerka mungkin besok mereka dibawa ke tempat sampah dibakar bersama seberkas surat cinta, yang kanan mengira mungkin besok mereka diangkut truk sampah itu dibuang dan dibiarkan membusuk bersama makanan sisa sepasang sepatu tua saling membisikkan sesuatu yang hanya bisa mereka pahami berdua Tanah Air (Muhammad Yamin) Pada batasan, bukit Barisan Memandang aku, ke bawah memandang Tampaklah hutan rimba dan ngarai; Lagipun sawah, sungai yang permai; Serta gerangan, lihatlah pula 119

Langit yang hijau bertukar warna Oleh pucuk, daun kelapa; Itulah tanah, tanah airku Sumatra namanya, tumpah darahku. Sesayup mata, hutan semata, Bergunung bukit, lembah sedikit; Jauh di sana, di sebelah situ, Dipagari gunung satu persatu Adalah gerangan sebuah surga, Bukannya janat bumi kedua —Firadus Melayu, di atas dunia! Itulah tanah yang kusayangi Sumatra namanya, yang kujunjungi Pada batasan, bukit Barisan, Memandang ke pantai, teluk permai; Tampaklah air, air segala, Itulah laut, samudra Hindia. Tampaklah ombak, gelombang pelbagai Memecah ke pasir, lalu berderai, Ia memekik, berandai-randai: “Wahai Andalas, pulau Sumatra, Harumkan nama, selatan utara!” Bogor, Juli 1920 6. Pesan Model pesan adalah model menulis puisi dengan menuliskan pesan penyairnya. Pesan apa yang hnedak disampaikan? Langkahnya adalah dengan menentukan pesan apa yang akan disampaikan. Pesan ini diubah menjadi bahasa puitis. Berikut ini contoh puisi model ini. Kepada Penyair (A. Mustofa Bisri) Berhentilah menyanyi sendu Tak menentu Tentang gunung-gunung dan batu Mega-mega dan awan kelabu Tentang bulan yang gagu Dan wanita yang bernafsu Berhentilah bersembunyi 120

Dalam simbol-simbol banci Berhentilah menganyam-anyam maya Mengindah-indahkan cinta Membesarbesarkan rindu Berhentilah menyia-nyiakan daya Memburu orgasme dengan tangan kelu Berhentilah menjelajah lembah-lembah Degan angan tanpa arah Tengoklah kanan-kirimu Lihatlah kelemahan di mana-mana Membuat lelap dan kalap siapa saja Lihatlah kekalapan dan kelelapan merajalela Membabat segalanya Lihatlah segalanya semena-mena Mengroyok dan membiarkan nurani tak berdaya Bangunlah Asahlah hruf-hurufmu Celupkan baris-baris sajakmu Dalam cahya dzikir dan doa Lalu tembakkan kebenaran Dan biarkan Maha Benar Yang menghajar kepongahan gelap Dengan mahacahyaNya

7. Deskripsi dan pesan Menulis puisi dengan deskripsi dan pesan adalah model menulis puisi dengan terlebih dahulu mendeskripsikan benda, tingkah laku, suasana, atau gejala. Puisi ini ditambah pesan penulisnya. Berikut ini contoh puisi model ini.

Sarang Lebah (Wahyudi Siswanto) sel-sel tempat penyimpanan madu di sarangnya dibangun dari sudut yang berbeda pada akhirnya bertemu di tengah tanpa adanya ketidakserasian atau rasa payah

(manusia takmampu membuat bangunan yang rumit 121

tanpa perhitungan geometris yang bikin dahi mengernyit padahal lebah melakukannya tanpa perdebatan sengit) lebah, lebah kepakkan sayapmu untuk memberitahuku siapa yang memandaikanmu

8. Model Definisi, Deskripsi, Kesan, dan Pesan Model ini merupakan gabungan dari definisi, deskripsi, kesan dan pesan. Berikut ini merupakan contoh puisi yang menggunakan model tersebut.

GELAP (Wahyudi Siswanto) engkaulah tirai malam tutupi terang pencipta bayang-bayang hari-hari terisi dengan nyanyian nina bobok diiringi teriak jangkrik dan konser katak tapi mengapa aku takut padamu tidak bisakah engkau ceritakan tentang indah mimpimu

Dari puisi di atas kita dapat mengetahui langkah-langkah menulis puisi model ini sebagai berikut. a. membuat definisi; (malam) engkaulah tirai malam b. membuat deskripsi; tutupi terang pencipta bayang-bayang hari-hari terisi dengan nyanyian nina bobok diiringi teriak jangkrik dan konser katak

122

c. membuat kesan; dan tapi mengapa aku takut padamu d. membuat pesan. tidak bisakah engkau ceritakan tentang indah mimpimu

9. Copy Master Teknik ini adalah teknik menulis puisi dengan cara meniru sebuah puisi yang sudah jadi (terkenal). Yang perlu diingat, Anda hanya meniru tekniknya. Anda bisa menggunakan model ini dengan memperhatikan langkah-langkah di bawah ini. a. Puisi yang hendak Anda tiru itu Anda ganti kata-katanya atau kalimatnya. b. Setelah Anda ganti beberapa kata atau kalimatnya, puisi itu Anda sesuaikan dengan keinginan Anda. c. Tentu saja hal itu bisa Anda sempurnakan sesuai dengan isi puisi. Sebagai contoh, perhatikan puisi di bawah ini! PANAS (Wahyudi Siswanto) siang ini panas sekali jangan bertanya pada daun mereka sedang parade gugur jangan bertanya kepada akar mereka barangkali sedang sekarat jangan bertanya pada ranting mereka sedang berteriak melengking mungkinkah semua ini karena embun jiwa sudah enggan menyapa ataukah matahari serakah yang terus bertahta A. Puisi ”Panas” di atas bercerita tentang kegelisahan penyairnya pada suasana panas yang sedang melanda daerahnya. Mengapa daerah penyair panas sekali, apakah ini karena ulah manusia atau memang karena gejala alam. Penyair terus bertanya untuk mencari jawab apa gerangan penyebab panas menyengat yang sedang melanda daerahnya. Kita bisa mengubahnya menjadi puisi yang mirip atau menjadi puisi lain. Kita bisa mengubah menjadi puisi yang mirip bila yang kita ganti hanya kata-katanya saja. Isi puisi itu tetap sama. Kata yang ada di dalam puisi itu kita ganti dengan kata yang sama atau hampir sama artinya. Perhatikan contoh di bawah ini! 123

Pengubahan puisi Cahaya Menyengat PANAS cahaya menyengat ubun-ubun siang ini panas sekali aku tak menanyakannya pada dedaun jangan bertanya pada daun kerna mereka sedang berguguran mereka sedang parade gugur aku takkan menanyakannya kepada akar jangan bertanya kepada akar kerna mereka sedang malas menjalar mereka barangkali sedang sekarat aku takkan tanya pada ranting pepohonan jangan bertanya pada ranting kerna mereka sedang berteriak meradang mereka sedang berteriak melengking mungkin semua ini kerna mungkinkah semua ini karena embun jiwa enggan saling berbenah jiwa sudah enggan menyapa atau mentari yang enggan beranjak dari singgasana ataukah matahari serakah yang terus bertahta

Puisi yang sudah jadi Cahaya Menyengat siang ini cahaya menyengat ubun-ubun aku takkan menanyakannya pada dedaun kerna mereka sedang berguguran aku takkan menanyakannya kepada akar kerna mereka sedang malas menjalar aku takkan tanya pada ranting pepohonan kerna mereka sedang berteriak meradang mungkin semua ini kerna jiwa enggan saling berbenah atau mentari yang enggan beranjak dari singgasana

124

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->