P. 1
PANDUAN PRAKTIS KTSP

PANDUAN PRAKTIS KTSP

|Views: 3,538|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Apr 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/21/2015

pdf

text

original

Panduan Praktis KTSP

PANDUAN PRAKTIS PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

Disusun oleh: Tim Expert Pemberdayaan Seribu Guru Kerjasama Pertamina - UM

Panduan Praktis KTSP

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 bahwa setiap sekolah wajib mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sesuai kebutuhannya dengan memperhatikan standar minimal yang telah disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sesusai dengan peraturan tersebut, semua satuan pendidikan diharapkan sudah menyusun dan melaksanaan KTSP secara utuh paling lambat pada tahun 2009/2010. Melalui program pemberdayaan seribu guru kemitraan Pertamina-Universitas Negeri Malang (UM) disusun buku Panduan Praktis Penyusunan Kurikulum Sekolah ini. Buku ini disusun dalam rangka memberikan bimbingan langkah demi langkah dalam mengoperasionalkan panduan yang disusun oleh BSNP sekaligus dengan contoh-contoh konkrit Buku panduan praktis ini juga dapat digunakan sebagai bahan: (1) Kepala Sekolah dalam menyusun dokumen 1 KTSP, (2) Guru mata pelajaran dalam menyusun silabus dan RPP, (3) Pengawas sekolah dalam memfasilitasi penyusunan dan mensupervisi pelaksanaan KTSP, dan (4) tim Pengembang Kurikulum di setiap Sekolah untuk pelatihan berbasis sekolah. Ucapan terima kasih disampaikan kepada: (1) Tim Pengembang Kurikulum, Tim Reviewer, dan Tim Konsultan yang telah bekerja sungguh-sungguh sehingga Buku Panduan Praktis ini dapat terselesaikan; dan (2) PT Pertamina yang telah men-support pembiayaan penyusunan buku ini. Kami menyadari bahwa buku pedoman praktis penyusunan KTSP ini masih banyak kekurangan, karena itu kritik dan saran senantiasa kami harapkan untuk penyempurnaan. Mudah-mudahan buku ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam menyusun KTSP sehingga target agar setiap Sekolah telah memiliki KTSP sendiri dapat tercapai. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Malang 20 Peb 2010

Tim Penyusun

Panduan Praktis KTSP

DAFTAR ISI

Kata Pengatar Daftar Isi Daftar Tabel Daftara Lampiran I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan C. Sistematika Penyajian

Halaman i ii iii iv ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined. 1 1 1 3 4 12 12 17 21 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49 49

II.

PENYUSUNAN KTSP A. Pengertian KTSP B. Siklus Umum Pengembangan Kurikulum C. Langkah Kegiatan Pengembangan KTSP D. Pengembang KTSP PENYUSUNAN KTSP DOKUMEN I A. Pendekatan, Prinsip-Prinsip, dan Acuan Operasional B. Langkah-Langkah Teknis Dalam Penyusunan KTSP C. Komponen KTSP Dokumen I Dan Cara Menyusunnya PENYUSUNAN SILABUS DAN RPP A. Pengertian Silabus B. Perbedaan Antara Silabus Dengan Kurikulum C. Cara Mengembangkan Silabus D. Langkah Penyusunan Silabus E. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) IMPLEMENTASI KURIKULUM A. Pengertian Implementasi Kurikulum B. Prinsip Implementasi Kurikulum C. Langkah- Langkah Dalam Implementasi Kurikulum D. Peran Masing-Masing Pihak Dalam Pengembangan KTSP E. Kiat-Kiat Agar Implementasi Kurikulum Berhasil F. Pengendalian sebagai Langkah Pendukung Pelaksanaan Kurikulum MONITORING DAN EVALUASI A. Monitoring Pelaksanaan Kurikulum B. Evaluasi

III.

IV.

V.

VI.

Panduan Praktis KTSP

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 01: Lima langkah dalam mengembangkan KTSP ........................................ Tabel 02: Peran dan tanggung jawab kepala Sekolah....................................... Tabel 03: Peran dan tanggung jawab tim pengembang kurikulum ....................... Tabel 04: Peran dan tanggung-jawab guru ............................................................. Tabel 05: Peran dan tanggung-jawab pengawas .................................................... Tabel 06: Peran dan tanggung jawab komite Sekolah........................................ Tabel 07: Contoh penentuan aspek khusus dan implikasinya pada penyusunan komponen KTSP ............................................................... Tabel 08: Struktur kurikulum SMP/MTs menurut standar nasional ........................ Tabel 09: Struktur kurikulum MTs PSA (contoh ke 1) ............................................ Tabel 10: Struktur kurikulum MTs PSA (contoh ke 2) ............................................ Tabel 11: Contoh analisis konteks daerah dan muatan lokal ................................ Tabel 12: Contoh alokasi waktu mulok ................................................................... Tabel 13: Kategori penilian hasil belajar pengembangan diri ……………………… Tabel 15: Contoh 1 perhitungan beban belajar ……………………………………… Tabel 16: Contoh 2 perhitungan beban belajar ……………………………………… Tabel 17: Indikator dan rentang nilai komponen KKM ……………………………… Tabel 18: Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran ........................................... Tabel 19: Kriteria kenaikan dan kelulusan pada Sekolah................................... Tabel 20: Contoh perhitungan yang menunjukkan tidak tuntas ............................. Tabel 21: Contoh Perhitungan yang Menunjukkan Tuntas .................................... Tabel 22: Kata kerja operasional kegiatan pembelajaran/ pengalaman Belajar .... Tabel 23: Rumusan indikastor ................................................................................ Tabel 24: Rambu-rambu indikator keberhasilan pengembangan kurikulum .......... 6 8 9 11 12 13 21 30 31 32 36 37 41 43 43 49 50 53 54 54 65 67 116

Panduan Praktis KTSP

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 01 : Halaman sampul yang memuat Judul KTSP, nama madrasah, logo madrasah, nama desa, kecamatan, dan kabupaten, serta tahun penyusunan .............................................................................

122

Lampiran 02 : Halaman penetapan dan pengesahan memuat judul KTSP, nama madrasah, lokasi madrasah, tanggal penetapan dan pengesahan, dan orang-orang yang menetapkan dan mengesahkan KTSP ........................................................................... Lampiran 03 : Kata pengantar berisi prakata dari kepala Sekolahmengenai penyusunan KTSP di Sekolah......................................................... Lampiran 04 Lampiran 05 : Format dan contoh program tahunan pengawas ................................. : Format instrumen perencanaan kurikulum ...........................................

123

124 126 128 130 131 133 134

Lampiran 06 : Format instrumen pengamatan silabus .................................................. Lampiran 07 : Format instrumen pengamatan penyusunan RPP ................................ Lampiran 08 : Format instrumen penilaian kinerja kepala Sekolah........................... Lampiran 09 : Format panduan pertanyaan untuk guru ..............................................

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

BAB I PENYUSUNAN KTSP A. Pengertian KTSP

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dalam pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ini berarti bahwa kurikulum harus berupa rencana yang berisi visi, misi, dan tujuan yang menjadi arah suatu sekolah, stuktur kurikulum yang lengkap sampai kepada rencana pelaksanaan pembelajaran, serta memuat aturan-aturan penyelenggaran suatu sekolah. Kurikulum tersebut harus disusun di tingkat satuan pendidikan sehingga disebut dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh satuan pendidikan dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan tersebut. KTSP memberi ruang yang luas bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri sesuai dengan kebutuhannya. Setiap satuan pendidikan diberi kewenangan untuk mengembangkan kurikulum sendiri-sendiri, sehingga kurikulum antara satuan pendidikan yang satu dengan yang lain tidak harus sama, artinya boleh berbeda. Penyusunan kurikulum merupakan kegiatan yang dinamis dan berkesinambungan yang dilakukan secara berkala. Bagi Pemerintah Pusat, penyusunan Standar Isi dan kompetensi lulusan merupakan langkah lanjutan dari hasil evaluasi terhadap kurikulum yang lama, sebagai salah satu tahap dalam siklus pengembangan kurikulum. Walaupun bagi Sekolah penyusunan KTSP ini merupakan kegiatan baru, tetapi sebenarnya tidak lepas dari siklus pengembangan kurikulum secara nasional.

B.

Siklus Umum Pengembangan Kurikulum

Ada delapan langkah dalam siklus pengembangan kurikulum pada umumnya, yaitu meliputi: (a) analisis situasi dan kebutuhan, (b) merumuskan arah dan sasaran kurikulum, (c) menetapkan standar kompetensi dan hasil belajar, (d) memilih kegiatan pembelajaran, (e) menyeleksi dan mengorganisasikan isi pembelajaran, (f) menyusun metode asesmen dan evaluasi hasil pembelajaran, (g) mengimplementasikan dan memonitor pelaksanaan kurikulum, (h) mengevaluasi kurikulum, dan kembali ke analisis situasi dan kebutuhan. Siklus pengembangan kurikulum tersebut disajikan dalam Gambar 1.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

1. Analisis situasi dan

penilaian kebutuhan
8. . Evaluasi 2. Tujuan kurikulum (arah,

kurikulum

dan sasaran dari kurikulum)

7. . Pelaksanaan dan

3. Tujuan, kompetensi

pengawasan

standar dan hasil pembelajaran

6. Pengukuran dan

4. Pemilihan pengalaman

penilaian instruksi

belajar dan kegiatan pembelajaran

5. . Pemilihan dan penyusunan Gambar 01: Siklus umum pengembangan kurikulum (SARAN) isi/muatan

Gambar 1: Siklus Pengembangan Kurikulum Di Indonesia, siklus pengembangan kurikulum membutuhkan waktu sekitar sepuluh tahun, sehingga perubahan kurikulum secara periodik terjadi dalam sepuluh tahunan. Sebagai hasilnya kita mengenal kurikulum 1974, kurikulum 1984, dan kurikulum 1994. Pengembangan kurikulum berikutnya dilakukan pada tahun 2004 dengan dirumuskannya kurikulum berbasis kompetensi, yang sempat diujicobakan di beberapa daerah. Kemudian, pada tahun 2006 dilakukan penyempurnaan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Berdasarkan standar isi dan standar kompetensi lulusan serta petunjuk pelaksanaannya, setiap satuan pendidikan mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (yang dikenal dengan singkatan KTSP). KTSP inilah yang merupakan kurikulum lengkap dan dipergunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan di tingkat tiap-tiap satuan pendidikan . Kedalaman muatan kurikulum pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi pada setiap tingkat dan/atau semester didasarkan pada standar isi dan standar kompetensi lulusan yang ditetapkan secara nasional dan telah dikembangkan sesuai dengan kebutuhan kontekstual spesifik masing-masing satuan pendidikan. Langkah penyusun KTSP tahap demi tahap akan diuraikan lebih detail di Bab III.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

C.

Langkah Kegiatan Pengembangan KTSP

KTSP terdiri atas KTSP dokumen I dan KTSP dokumen II. KTSP dokumen I berisi : Pendahuluan, Visi dan Misi Madrasah, tujuan Madrasah, Struktur dan muatan Kurikulum dan kalender pendidikan. KTSP dokumen II berisi silabus dan RPP semua mata pelajaran yang telah ditetapkan pada struktur kurikulum di KTSP dokumen I . Kepala madrasah, guru, pengawas, komite madrasah, dan Dinas/Depag diharapkan berperan aktif dalam mengembangkan KTSP, baik dokumen I maupun II. Perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi kurikulum (KTSP) melibatkan semua unsur tersebut secara simultan. Hal ini penting karena tanggung jawab mengembangkan kurikulum sepenuhnya diberikan kepada madrasah-madrasah. Tabel 1 berikut menunjukkan rincian siklus pengembangan KTSP yang meliputi tahapan: (1) analisis kebijakan dan konteks, (2) perencanaan, (3) implementasi, (4) monitoring-supervisi, dan (5) evaluasi serta peran dan tanggung jawab kepala Sekolah, tim pengembang kurikulum, guru, komite madrasah, pengawas, dan Kantor Departemen Agama Kabupten/Kota. Tabel 1: Lima langkah dalam mengembangkan KTSP

Langkah Pertama

Kegiatan Pembentukan Tim: Analisis Kebijakan dan Analisis Konteks

Rincian kegiatan • Kepala Sekolah membentuk tim pengembang kurikulum madrasah. • Tim pengembang kurikulum, kepala madrasah, guru, dengan didampingi pengawas, mendalami kerangka dasar SI, SKL sebagai bahan menyusun KTSP, silabus, dan RPP • Tim pengembang, kepala madrasah, guru, komite, stakeholder melakukan analisis potensi siswa, madrasah, daerah, unggulan lokal, unggulan global didampingi pengawas • Kepala Sekolahbersama guru dan komite Sekolahmenyusun KTSP Dokumen I yang meliputi: visi,misi, tujuan madrasah,struktur dan muatan kurikulum serta kalender pendidikan. • Guru difasilitasi tim pengembang kurikulum mengembangkan KTSP dokumen II (menyusun silabus dan RPP, SK/ KD MULOK ). • Depag/ dinas memfasilitasi Kepala Madrasah, Guru, Komite dan Pengawas dalam mengembangkan KTSP. • KM membentuk tim pengembang kurikulum madrasah.

Kedua

Perencanaan Kurikulum: Merencanakan KTSP Dokumen I dan II

Ketiga

Implementasi kurikulum: Mengelola penerapan

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Hasil kajian pada penyusunan dokumen 1 dan II

• Tim pengembang kurikulum mensosialisasikan KTSP dokumen I dan II. • Kepala Sekolahmemfasilitasi sarana, lingkungan kondusif, • Guru melaksanakan silabus dan RPP ( KTSP dokumen II ) • Komite memfasilitasi sarana. • Pengawas membimbing pelaksanaan/tempat konsultasi • Mengarahkan dan menggerakkan sumber daya • Kepala Madrasah, pengawas, komite Sekolahmengawasi pelaksanaan (kesesuaian dengan rencana, kendala-kendala dalam pelaksanaan, dan solusinya) • Kepala Sekolahmengadakan pertemuan untuk memantau/ merefleksikan pelaksanaan • Kepala Madrasah, pengawas, komite Sekolahmengadakan kunjungan kelas, wawancara dengan siswa, untuk mencari data pelaksaan kurikulum • Kepala Madrasah, pengawas, komite madrasah, mengumpulkan dan menganalisis hasil serta membandingkan dengan indikator keberhasilan yang telah disusun • Melaksanakan evaluasi menyeluruh terhadap pencapaian hasil, proses, dan pengelolaan • Kepala Sekolahmerefleksikan proses manajemen yang telah dilakukan • Menentukan tindak lanjut untuk perbaikan

Keempat

Monitoring dan supervisi (pengawasan)

Kelima

Evaluasi kurikulum: Pengumpulan data, pengukuran, dan penilaian

D.

Pengembang KTSP

Terjadi perubahan kebijakan dalam pengembangan kurikulum di Indonesia. Kurikulum yang selama ini diatur terpusat kini diserahkan pengembangannya pada satuan pendidikan (madrasah). Sebagaimana diatur dalam PP no.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pengembangan kurikulum diserahkan pada tingkat satuan pendidikan. Pemerintah menetapkan standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas: standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Empat dari delapan standar nasional pendidikan , yaitu Standar Isi (SI), Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan Standar Penilaian merupakan acuan utama dalam mengembangkan KTSP. Pada dasarnya, KTSP ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan setelah mempertimbangkan masukan dari rapat dewan pendidik dan komite madrasah. Sekolahdan komite Sekolahmengembangkan KTSP dan silabusnya berdasarkan

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan di bawah koordinasi dan supervisi dari kantor Departemen Agama kabupaten/kota. Tim penyusun KTSP terdiri dari guru, pengawas, dan kepala Sekolahsebagai ketua merangkap anggota. Dalam kegiatan penyusunan melibatkan komite Sekolahdan nara sumber (pihak lain) yang terkait. Pemantauan dilakukan oleh pimpinan satuan pendidikan, komite Sekolahatau pihak-pihak lain (lembaga perwakilan yang berkepentingan). Pemantauan dilakukan secara teratur dan berkesinambungan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas satuan pendidikan. Untuk pendidikan dasar dan menengah, laporan oleh pimpinan satuan pendidikan ditujukan kepada komite madrasah, orang tua (wali murid), dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Laporan berisi hasil evaluasi yang dilakukan sekurang-kurangnya setiap akhir semester. Selanjutnya, laporan oleh pengawas satuan pendidikan ditujukan kepada Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota dan satuan pendidikan yang bersangkutan. Setiap pihak yang menerima laporan wajib menindaklanjuti laporan tersebut untuk meningkatkan mutu satuan pendidikan, termasuk memberikan sanksi atas pelanggaran yang ditemukannya. Deskripsi peran dan tanggung-jawab dari Tim Pengembang Kurikulum di tingkat satuan pendidikan disajikan pada Tabel 2 sampai dengan Tabel 6. Tabel 2: Peran dan Tanggung Jawab Kepala Madrasah

Tahap Perencanaan

Peran dan Tanggung Jawab Memimpin penyusunan Rencana Pengembangan Sekolahdalam bidang akademik dan non akademik Membentuk tim pengkaji dan pengembang kurikulum tingkat Sekolah Memfasilitasi analisis konteks Menyusun dan mengembangkan KTSP (menetapkan visi, misi, tujuanmadrasah, struktur dan muatan kurikulum, silabus dan RPP). Memfinalkan, menetapkan KTSP, dan dokumen pendukung dalam Rapat kerja awal tahun ajaran Memfasilitasi guru dalam melakukan analisis standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar penilaian, dan mengembangkannya menjadi silabus dan RPP. Menentukan indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Mengadakan pertemuan persiapan dan menetapkan tugas guru dan tenaga kependidikan lainnya (menginformasikan deskripsi tugas dalam pelaksanaan kurikulum secara tegas). Memfasilitasi pengembangan bahan ajar yang sesuai agar kurikulum mudah dilaksanakan. Memfasilitasi sarana, media, sumber belajar serta pendukung lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan kurikulum Melakukan kerja sama dengan stakeholder dan instansi terkait untuk memperlancar pelaksanaan kurikulum. Mengadakan pertemuan untuk membahas pelaksanaan kurikulum Mensosialisasikan KTSP dan memberikan motivasi guru dalam

Pelaksanaan

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

pelaksanaan KTSP Menciptakan iklim yang kondusif dan inovatif dalam pelaksanaan KTSP Monitoring Merancang kegiatan supervisi kelas dan guru. Melakukan supervisi kelas/kunjungan kelas, supervisi klinis dan observasi kegiatan belajar peserta didik Pengamatan kinerja guru dalam implementasi kurikulum Melakukan pertemuan rutin dengan guru dan siswa untuk mengecek pelaksanaan kurikulum Pertemuan rutin dengan dewan guru sebulan sekali untuk membahas hasil monitoring. Memfasilitasi dalam pelaksanaan penelitian tindakan (action research) dalam pengembangan manajemen kurikulum Membuka dialog /pertemuan agar guru dapat berkonsultasi jika mengalami kesulitan dalam pelaksanaan kurikulum Melakukan penilaian pencapaian kompetensi Melakukan penilaian terhadap proses pelaksanaan kurikulum, pembelajaran, dan guru dengan melibatkan peserta didik Menganalisis keberhasilan/kegagalan pelaksanaan kurikulum Menilai penggunaan sarana, prasarana, dan media pembelajaran Menilai proses manajemen yang dilakukan kepala madrasah Melakukan pembinaan dan dialog dalam rangka memecahkan problem yang dihadapi guru. Memberikan reward dan punishment Melakukan perbaikan dan pengembangan kurikulum serta tindak lanjutnya
Tabel 3: Peran dan Tanggung Jawab Tim Pengembang Kurikulum

Evaluasi

Tahap Perencanaan

Peran dan tanggung-jawab Membantu kepala Sekolah menganalisis dan mengkaji kebijakankebijakan yang berkaitan dengan kurikulum dan implikasinya pada tugas Sekolah. Membantu Kepala Sekolahmemfasilitasi pengembangan instrumen dan pelaksanaan analisis konteks (analisis kondisi siswa, kondisi Sekolah(analisis SWOT), kondisi masyarakat/ harapan masyarakat sekitar, harapan orangtua terhadap anak-anaknya, kebutuhan daerah, dan sebagainya) sebagai dasar penyusunan KTSP dan indikator keberhasilannya Membantu kepala Sekolahmemfasilitasi penyusunan KTSP dan lampirannya (merancang workshop dan instrumen-instrumen yang dibutuhkan dalam penyusunan KTSP, menjalin kerja sama dengan komite/ stakeholder lainnya )

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Pelaksanaan

Monitoring

Menyiapkan panduan-panduan untuk menyusun dan mengembangkan KTSP menetapkan visi dan misi, tujuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum, (termasuk muatan lokal, pengembangan diri, kecakapan hidup, beban belajar, ketuntasan belajar, kalender pendidikan). Memfasilitasi Kepala Madrasah, guru dalam melakukan analisis standar isi dan standar kompetensi lulusan, bedah SK/KD dalam upaya penyusunan lampiran dokumen KTSP dokumen II. Membantu finalisasi penyusunan KTSP dan lampirannya untuk disahkan oleh kepala Sekolahdan Kepala Kantor Depag Kabupaten/Kota Memberi masukan dan merancang deskripsi tugas berkaitan dengan kurikulum bagi pelaksanaan pembelajaran, kegiatan pengembangan diri (layanan bimbingan, kegiatan spontan, rutin, dan ekstra kurikuler), evaluasi guru, pembagian tugas, mengajar, wali kelas, piket, pembina siswa Membantu Kepala Sekolahmemfasilitasi pelaksanaan sosialisasi KTSP dan prinsip-prinsip pelaksanaannya sebelum tahun ajaran baru Mensosialisasikan model-model pembelajaran yang sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum dengan berbagai cara. Membantu Kepala Sekolahuntuk memfasilitasi guru dalam mengembangkan kompetensinya, melalui pelatihan, workshop, buletin, jurnal, dan media lain agar guru dapat mengimplementasikan kurikulum Memfasilitasi koordinasi pelaksanaan dengan mengadakan pertemuanpertemuan dan sistem pelaksanaan kurikulum . Merancang jadwal/ teknik pelaksanaan monitoring (baik oleh Kepala Madrasah, Pengawas, maupun Komite Madrasah. Membantu menyediakan/ mengadministrasikan format-format monitoring dan pengawasan bagi Kepala Madrasah, Pengawas, maupun Komite Madrasah Merancang jadwal kunjungan kelas, kunjungan BK, dan kunjungan ekstra kurikuler Merancang penilaian kolega (antar-teman) untuk meningkatkan saling koreksi untuk perbaikan Pengamatan kinerja guru dalam mengimplementasikan kurikulum Memfasilitasi pertemuan rutin dengan guru, komite, dan pengawas untuk memaksimalkan monitoring Pertemuan rutin dengan dewan pendidik sebulan sekali untuk membahas hasil monitoring. Menyediakan format catatan hasil dan analisis kunjungan kelas, wawancara dengan siswa, observasi kegiatan pengembangan diri Memfasilitasi analisis hasil monitoring untuk dilakukan tindak-lanjut yang sesuai (semacam penelitian dan pengembangan /litbang). Mendorong sistem reflektif (baik melalui penelitian, kajian mendalam untuk memperbaiki Menyediakan format-format penilaian pencapaian hasil, proses, dan dampak pelaksanaan kurikulum

Evaluasi

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Tindak Lanjut

Merancang jadwal pelaksanaan evaluasi secara efektif (baik oleh Kepala Madrasah, Pengawas, maupun Komite Madrasah) . Menganalisis keberhasilan pelaksanaan Kurikulum berdasarkan indikatorindikator yang telah disusun Membantu mengadministrasikan hasil evaluasi Kepala Madrasah, Pengawas, dan Komite Sekolah. Memfasilitasi penyebarluasan hasil evaluasi dan untuk dapat ditindaklanjuti Melakukan pembinaan tindak lanjut dan dialog dalam rangka memecahkan problem yang dihadapi guru. Melakukan perbaikan dan pengembangan kurikulum serta tindak lanjutnya
Tabel 4: Peran dan Tanggungjawab Guru

Tahap Perencanaan

Pelaksanaan

Monitoring

Evaluasi

Uraian Kegiatan Mengikuti in house training tentang pengembangan kurikulum, pengembangan silabus, dan RPP Berperan aktif dalam tim pengembang kurikulum Sekolahsesuai dengan kelompok bidang studi Melakukan analisis standar isi dan SKL Melakukan analisis SK/KD dan pemetaan KD Mengembangkan silabus Menyiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan kondisi madrasah Merencanakan jenis dan teknik penilaian hasil belajar Menyusun RPP dan perangkat operasional yang mendukung RPP (LKS, bahan ajar, media yang sesuai) Melaksanakan Proses Pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan Mengembangkan interaksi berpikir siswa melalui strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang tepat Mengelola kelas dengan baik dan sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia Memahami indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum Merefleksikan pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan Berkonsultasi dengan kepala Madrasah/Pengawas untuk mengatasi kendala Berdiskusi dengan teman sejawat, Kepala Madrasah, dan Pengawas untuk membahas masalah-masalah berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran/ penilaian Mengumpulkan data dampak pembelajaran terhadap proses dan hasil belajar Mengumpulkan data kelancaran proses pembelajaran dan kriteria

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Tindak Lanjut

keberhasilan Melaksanakan penilaian hasil belajar. Melakukan analisis penilaian Melakukan penelitian tindakan kelas untuk menilai keefektifan pembelajaran Membantu mengumpulkan data-data untuk evaluasi pencapaian hasil. Memilah hasil analisis penilaian Melakukan remedial terhadap siswa yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) Memberikan pengayaan kepada siswa yang telah mencapai atau melebihi KKM Menyusun laporan hasil pembelajaran

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Tabel 5: Peran dan Tanggung-jawab Pengawas Tahap Perencanaan Uraian Kegiatan Mendampingi kepala madrasah, guru, dan komite madrasah dalam menyusun KTSP Dokumen 1 (KKM, Mulok, Struktur Kurikulum, kalender pendidikan, pengembangan diri, dsb.) Membimbing guru dalam menyusun KTSP dokumen 2 (silabus dan RPP) Membimbing kepala Sekolahdalam menyusun kriteria keberhasilan kurikulum Membimbing Kepala Sekolahdalam pelaksanaan KTSP. Membimbing guru dalam proses pembelajaran. Melakukan kunjungan kelas, observasi kegiatan siswa. Memotivasi dan membimbing guru dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas. Monitoring Membuat rencana pelaksanaan supervisi kurikulum. Memfasilitasi kepala Sekolahdalam membuat rencana supervisi dan monitoring pelaksanaan kurikulum. Melakukan kunjungan Sekolahdalam rangka memantau pelaksanaan kurikulum secara periodik (minimal per triwulan) Mendiskusikan hasil temuan kunjungan kelas dan saran tindak-lanjutnya dengan kepala Sekolahdan atau guru. Menyusun laporan hasil kunjungan kelas. Mengecek kelengkapan dokumen KTSP. Memantau pelaksanaan kurikulum dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala Sekolahdalam mempersiapkan akreditasi madrasah. Evaluasi Menyusun instrumen evaluasi kinerja kepala Sekolahdan atau guru dalam melaksanakan kurikulum. Melakukan evaluasi terhadap kinerja kepala Sekolahdan guru dalam melaksanakan tugas kurikulum. Memonitor perkembangan hasil belajar siswa. Memantau hasil belajar siswa di Sekolahbinaannya. Memetakan hasil belajar siswa di Sekolahbinaannya Menyusun laporan pelaksanaan supervisi kurikulum.

Pelaksanaan

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Tabel 6: Peran dan Tanggung Jawab Komite Madrasah Tahap Perencanaan Uraian Kegiatan Menyusun program kerja komite M Melakukan identifikasi kebutuhan madrasah Memberikan masukan dalam penyusunan Rencana Anggaran dan Belanja Sekolah. Mengidentifikasikan orang-orang yang perlu diikutsertakan dalam pengesahan RAPBM M Melaksanakan program yang telah ditetapkan M Mengundang tokoh untuk menjadi pembicara dalam kegiatan Sekolah(seminar, diskusi) sepengetahuan kepala madrasah. M Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana madrasah Memberikan layanan informasi melalui bulletin atau open house Memberikan penghargaan kepada orang yang berjasa dalam pengembangan madrasah Memonitor proses pengambilan keputusan di madrasah Memonitor kualitas kebijakan di madrasah Memonitor program dan perencanaan madrasah Memonitor hasil ujian atau out -put Memantau kondisi keuangan madrasah Memobilisasi guru sukarelawan untuk memenuhi kekurangan guru Memonitor kondisi sarana dan prasarana madrasah Mengevaluasi pelaksanaan program Mengevaluasi pelaksanaan dukungan anggaran Mengevaluasi dukungan sarana dan pra sarana madrasah Mengevaluasi kebijakan di madarasah Mengevaluasi output madrasah Memberikan masukan atau pertimbangan pada saat revisi anggaran Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana madrasah Menyampaikan hasil pelaksanaan program kepada stakeholder secara periodik Menyampaikan laporan pertanggung-jawaban kepada masyarakat dan pemerintah.

Pelaksanaan

Monitoring

Evaluasi

Tindak Lanjut

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

BAB II

PENYUSUNAN KTSP DOKUMEN I A. Pendekatan, Prinsip-Prinsip, dan Acuan Operasional

KTSP disusun dengan menggunakan pendekatan kompetensi. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ada pada dokumen terpisah. Namun demikian, Sekolahyang mempunyai ciri khas agama dapat mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran keagamaan dan mata pelajaran selain yang terdapat didalam SI, sesuai dengan arahan dan panduan dari Departemen Agama dan yayasan, selama tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi Dinas Pendidikan atau Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan Dinas Pendidikan Provinsi/Departemen Agama Provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI, SKL, standar proses,, standar penilaian, dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP . Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan KTSP diuraikan berikut.

1.

Berpusat Pada Potensi, Perkembangan, Kepentingan Peserta Didik Dan Lingkungannya

Kebutuhan,

Dan

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut, pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Oleh karena peserta didik memiliki posisi sentral, maka kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah: kurikulum disusun untuk melayani kebutuhan siswa dan tidak boleh memberatkan siswa. Kurikulum dirancang semata-mata untuk kepentingan memaksimalkan potensi siswa. Menambah jam pelajaran tidak boleh terlalu banyak sehingga memberatkan siswa yang dampaknya siswa tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan kegiatan lain. Kurikulum juga harus merencanakan layanan konseling untuk membantu perkembangan siswa secara terprogram agar siswa dapat tumbuh kembang secara maksimal sesuai dengan perkembangan kejiwaannya.

2.

Beragam Dan Terpadu

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum disusun agar memungkinkan pengembangan

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spritual, dan kinestetik peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya. Keragaman berimplikasi pada keluwesan kurikulum. Analisis keragaman siswa dari segi kemampuan, minat, dan bakat, perlu dilakukan untuk merancang model pembelajaran yang sesuai, jenis pengembangan diri yang beragam, serta program remedial yang sesuai. Selain itu, keragaman juga berkaitan dengan kekhasan dan kebutuhan yang berbeda tiap daerah sehingga kurikulum perlu disesuaikan dengan hasil analisis potensi kawasan. Ciri khas karakteristik jenis pendidikan perlu dipertimbangkan dalam merancang struktur dan muatan kurikulum. Demikian juga karakteristik satuan pendidikan yang berbeda perlu menyusun struktur dan muatan kurikulum yang sesuai dengan karakteristiknya. Selanjutnya, makna terpadu berkaitan dengan rancangan kurikulum harus meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna. Selain itu, keterpaduan juga berkaitan dengan keterpaduan program yang mendukung pelaksanaan kurikulum. Misalnya, pada Sekolahyang berasrama perlu dirancang kegiatan suplemen secara terpadu untuk mendukung pelaksanaan kurikulum di madrasah.

3.

Tanggap Terhadap Teknologi Dan Seni

Perkembangan

Ilmu

Pengetahuan,

Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis. Artinya, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Isi/muatan kurikulum dapat dipertanggungjawabkan dan relevan dengan perkembangan iptek dan seni. Rancangan pembelajaran mengacu pada perkembangan ilmu belajar yang mutakhir. Bimbingan konseling dimaksimalkan dengan mengacu pada perkembangan ilmu yang relevan. Isi kurikulum juga harus berkaitan dengan perkembangan teknologi. Misalnya, memasukkan mata pelajaran TIK dalam struktur dan muatan kurikulum. Menggunakan internet sebagai sumber belajar. Menggunakan model belajar dengan membiasakan siswa mengenal teknologi sehingga siswa siap bersentuhan dengan teknologi. Implikasinya, terus diupayakan perbaikan isi dan cara implementasi kurikulum dengan perkembangan iptek dan seni. Kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

4.

Relevan Dengan Kebutuhan Kehidupan (Dunia Kerja Dan Masa Depan)

Kurikulum harus memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan dunia kerja, khususnya bagi mereka yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan. Pada tataran perencanaan, prinsip ini berkaitan dengan pelibatan pemangku kebijakan dalam penyusunan kurikulum, analisis konteks kebutuhan daerah,

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

dan analisis life skill untuk dimasukkan pada rancangan kurikulum. Pengintegrasian kecakapan hidup perlu dirancang karena akan diperlukan siswa dalam kehidupan mereka. Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh-kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewira usahaan dan mempunyai kecakapan hidup, oleh sebab itu kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal ini sangat penting untuk membekali peserta didik yang tidak dapat melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.

5.

Menyeluruh Dan Berkesinambungan

Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan. Aplikasi prinsip ini pada tataran pengembangan KTSP (dokumen 1), mencerminkan kesinambungan antar-kelas dan cakupan secara menyeluruh muatan wajib, muatan lokal, maupun pengembangan diri. Pada tataran pengembangan silabus, pemetaan KD mencerminkan kesinambungan dan kekomprehensifan cakupan kompetensi. Misalnya, perlu dirancang pemetaan yang dapat menunjukkan bahwa isi kompetensi dasar yang dikembangkan berisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditekankan pada tiap-tiap KD. Menyeluruh juga berarti isi kurikulum menyiapkan manusia Indonesia secara utuh. 6.

Belajar Sepanjang Hayat

Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya. Keterkaitan unsur pendidikan formal di Sekolahdan informal di asrama. Semuanya dilakukan untuk membentuk manusia seutuhnya. Berbagai kegiatan perlu dirancang agar siswa senang belajar dan termotivasi untuk beajar sepanjang hayat. Isi kurikulum merancang kegiatan yang menyiapkan siswa akan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Misalnya, merangsang budaya baca siswa, merangsang motivasi untuk terus belajar dengan cara merancang model-model pembelajaran yang bisa membuat siswa senang belajar sehingga dia akan punya keinginan belajar terus sepanjang hayatnya, Muatan khusus yang bisa berdampak untuk membetuk pembelajar sepanjang hayat, misalnya muatan khusus wajib baca.

7.

Seimbang Antara Kepentingan Nasional Dan Kepentingan Daerah

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan. Oleh karena itu, kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang dapat memberikan

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

kontribusi bagi pengembangan daerah. Kondisi tersebut harus diimbangi dengan isi kurikulum yang membentuk kesadaran siswa sebagai warga negara dalam kerangka NKRI. Kepentingan pusat diwakili oleh struktur kurikulum minimal, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar minimal yang telah diatur pusat. Untuk itu, pengembangan yang berorientasi pada karakteristik daerah dan kekhasan satuan pendidikan tidak boleh mengorbankan standar minimal yang telah ditetapkan oleh pusat. Sekolahbisa menambahkan hal lain secara seimbang untuk kepentingan daerah/ kekhasan karakteristik jenis pendidikan. Misalnya, penambahan jam pelajaran agama di Sekolahyang berbasis agama tidak boleh mengorbankan jam minimal yang telah ditetapkan.

8.

Karakteristik Satuan Pendidikan

Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan. Karakteristik satuan pendidikan memiliki harapan, kondisi madrasah, kondisi siswa, dan ciri khas yang membedakan dengan satuan pendidikan satu dengan yang lain. Sesuai dengan prinsip ini, Sekolahdengan visi tertentu dapat mengembangkan struktur dan muatan kurikulum yang sesuai. Misalnya, Sekolahmerupakan lembaga pendidikan Islam yang juga berfungsi sebagai lembaga pengembangan dakwah dan lembaga pemberdayaan masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan Islam, Sekolahtidak hanya diarahkan pada kegiatan penggalian ilmu pengetahuan semata, tetapi juga menjadi wahana “pelatihan” untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan pada tataran realitas. Selain itu, pendidikan di Sekolahtidak hanya mengarah pada keunggulan akademis (academic excellence), tetapi justru menegaskan pada orientasi pembentukan karakter (character building) yang berasaskan pada prinsip akhlaq al-karimah. Sebagai lembaga pengembangan dakwah, Sekolahdengan sendirinya menjadi salah satu guru syiar agama dan penyebaran ajaran agama sekaligus tampil sebagai komponen penting dari gerakan amar ma’ruf nahi munkar. Sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat, Sekolahberperan dalam pengembangan masyarakat sekitar terutama terkait dengan masalah keagamaan maupun pemberdayaan sektor non-keagamaan. Ini justru menjadi ciri Sekolahkarena ia lebih merupakan pendidikan berbasis masyarakat (community based education). Dengan demikian salah satu komponen penting dari sistem Sekolahadalah peran aktifnya dalam pemberdayaan masyarakat sekitar dan sebaliknya peran aktif masyarakat dalam pengembangan Sekolahsangat penting juga (mutual support).

9.

Peningkatan Iman dan Takwa serta Akhlak Mulia

Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum yang disusun memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia. Demikian juga program pengembangan diri di Sekolahdapat diisi dengan kegiatan peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

10.

Mengembangkan Toleransi terhadap Perbedaan

Isi dan muatan kurikulum harus bisa mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan yang ada. Perbedaan itu dapat berupa perbedaan agama, ras, suku/budaya, aliran, jenis kelamin dan sebagainya. Muatan kurikulum harus dirancang agar dapat mengembangkan toleransi dan kerukunan umat beragama, toleran terhadap perbedaan ras, suku/budaya, aliran, jenis kelamin, dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan kondisi Indonesia yang memang majemuk dalam berbagai hal. Rancangan pengembangan nilai-nilai tersebut dapat melalui pengintegrasian kecakapan hidup terutama keterampilan sosial ke dalam mata pelajaran. Pengembangan diri juga dapat dirancang untuk melahirkan pribadi-pribadi yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap perbedaan serta dapat hidup bersama dalam berbagai perbedaan.

11.

Dinamika Perkembangan Global

Kurikulum harus dikembangkan agar peserta didik mampu bersaing secara global dan dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain. Kurikulum perlu merancang struktur dan isi yang membekali peserta didik dapat bersaing di dunia internasional dan mampu berdampingan dengan bangsa lain. Kurikulum harus terus dievaluasi untuk selalu disesuaikan dengan perkembangan global.

12.

Persatuan Nasional dan Nilai-nilai Kebangsaan

Meskipun daerah diberi kewenangan mengatur, semua muatan kurikulum hendaknya dirancang agar berdampak pada terwujudnya persatuan nasional dan nilai kebangsaan. Sekolahdi bawah yayasan keagamaan tidak boleh merancang muatan kurikulum yang menanamkan fanatisme daerah atau fanatisme aliran sehingga merusak nilai-nilai kebangsaan. Pengembangan diri yang dirancang juga mengacu pada nilainilai kebangsaan dan patriotisme. Misalnya: upacara, PASKIBRA, peringatan hari-hari besar Nasional, dan sebagainya

13.

Kondisi Sosial Budaya Masyarakat

Kurikulum dimulai dari yang paling dekat. Analisis konteks sosial budaya masyarakat penting dilakukan agar Sekolahmengetahui harapan masyarakat sekitar, nilai-nilai yang dianut dan juga keadaan sosial ekonomi. Dengan diketahuinya konteks sosial, Sekolahdapat merancang kurikulum yang tepat. Misalnya, jika rata-rata siswa berasal dari keluarga miskin, perlu dibekali pembelajaran yang membuat dia mandiri dengan keterampilan yang relevan.

14.

Kesetaraan Jender

Kurikulum yang dikembangkan memberi akses dan peluang yang setara bagi siswa laki-laki maupun siswa perempuan. Dalam hal ini diharapkan struktur dan muatan isi kurikulum tidak stereotipe (memberi label-label khusus). Misalnya, mulok perempuan menjahit, mulok laki- laki elektronika). Demikian juga bahan ajar yang dikembangkan dari tiap-tiap mata pelajaran hendaknya dapat menanamkan persepsi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, tidak menanamkan persepsi bahwa yang pergi ke kantor itu hanya ayah saja dan ibu hanya cocok bekerja di dapur. Kurikulum dianggap memiliki kesetaraan jender jika tidak memberi stereotipe

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

perempuan atau laki-laki. Pengelolaan mulok perlu membuka akses bahwa semua jenis mulok dapat dipilih oleh siswa laki-laki dan perempuan.

B.

Langkah-Langkah Teknis Dalam Penyusunan KTSP

Penyusunan KTSP Sekolah yang baik perlu mengikuti langkah-langkah yang logis dan sistematis. Langkah-langkah tersebut meliputi kegiatan berikut. (i) Membentuk Tim Pengembang kurikulum (anggotanya terdiri atas: komite madrasah, guru, kepala madrasah, dan stakeholder (stakeholders)) (ii) Analisis konteks/pemetaan kondisi peserta didik, madrasah, kondisi/harapan masyarakat terhadap madrasah (iii) Penentuan aspek khusus hasil analisis yang akan dimasukkan pada komponen KTSP (penentuan visi, penambahan pada struktur dan muatan kurikulum yang meliputi mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri, beban belajar, penilaian/kelulusan, serta kalender pendidikan ) (iv). Penyusunan dokumen I KTSP memuat: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan Pengembangan C. Landasan Hukum D. Prinsip Pengembangan BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN MADRASAH A. Visi Madrasah B. Misi Madrasah C. Tujuan Madrasah BAB III ACUAN STANDAR A. Standar Isi B. Standar Kompetensi Lulusan C. Standar Proses D. Standar Penilaian BAB IV KERANGKA DASAR, STRUKTUR, DAN MUATAN KURIKULUM A. Kerangka Dasar Kurikulum 1. Kelompok Mata Pelajaran 2. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum B. Struktur Kurikulum C. Muatan Kurikulum 1. Komponen Muatan Lokal 2. Komponen Pengembangan Diri 3. Muatan Pendidikan Kecakapan Hidup 4. Muatan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global D. Beban Belajar BAB V KRITERIA A. Kriteria Ketuntasan Belajar B. Kriteria Kenaikan Kelas dan Kelulusan C. Kriteria Mutasi

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

BAB VI KALENDER PENDIDIKAN (v) Menyusun dokumen II KTSP yang berisi: A. Pemetaan KD B. Silabus (Termasuk penetapan SK dan KD, dan silabus untuk muatan lokal) C. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Melengkapi dokumen pendukung KTSP.

(vi)

1.

Membentuk Tim Pengembang KTSP

Tahap awal yang harus dilakukan Sekolahdalam pengembangan kurikulum adalah membentuk tim pengembang kurikulum madrasah. Tim ini yang akan menjadi penggerak penyusunan, implementasi, monitoring dan pengendalian, serta evaluasi kurikulum. Tim ini terdiri dari kepala madrasah, komite, beberapa guru (termasuk waka kurikulum, kesiswaan, sarana-prasarana), tokoh masyarakat/ nara sumber. Setelah tim terbentuk dimulailah pertemuan-pertemuan untuk mengkaji kebijakan-kebijakan dalam pengembangan kurikulum di Indonesia, peraturan-peraturan yang terkait, dan implikasinya pada peran dan tanggung jawab Kepala Madrasah, Komite, Guru, Pengawas, Dinas/Depag, dan Nara Sumber. Tim pengembang kurikulum bertugas membantu Kepala Sekolahuntuk mengkaji berbagai kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan penyusunan kurikulum di tingkat satuan pendidikan. Dari hasil analisis kebijakan akan diketahui standar minimal apa yang wajib dipenuhi Sekolahdan aspek apa yang bisa ditambahkan/dikreasikan oleh madrasah.

2.

Analisis Konteks Dan Kebutuhan

Dalam istilah yang sederhana, analisis situasi dan penilaian kebutuhan berarti menentukan kebutuhan para siswa dan masyarakat untuk suatu program pendidikan. Pada dasarnya hal ini melibatkan pelaksanaan pengujian secara terinci dan analisis situasi/konteks di mana kurikulum akan dilaksanakan. Pada akhirnya analisis konteks akan melibatkan penentuan tentang kondisi/siapa siswa yang kita hadapi, kondisi guru yang dimiliki, dan lingkungan Sekolahtempat suatu kurikulum akan diberlakukan. Pada dasarnya analisis situasi juga melibatkan penilaian kebutuhan untuk menentukan perbedaan antara situasi yang nyata/sekarang dengan situasi yang diharapkan. Analisis kebutuhan dilakukan dengan cara bertanya pada berbagai kelompok yang berbeda dalam masyarakat seperti komunitas masyarakat, para pemberi kerja, pengelola pendidikan, guru, orang tua, dan siswa. Mereka akan ditanya tentang apa yang sekarang dibutuhkan dalam kurikulum untuk membantu siswa belajar menyesuaikan diri dalam masyarakat modern secara lebih baik. Analisis kebutuhan mencakup penentuan akan pengetahuan, keahlian, sikap dan nilai yang dibutuhkan oleh para siswa ketika mereka menyelesaikan suatu program pendidikan. Selain itu, analisis konteks juga diperlukan untuk penjaringan/ analisis terhadap: (a) harapan masyarakat/ orangtua terhadap masa depan anak-anaknya, (b) potensi siswa yang masuk ke madrasah, (c) karakteristik daerah, dan (d) karakteristik satuan pendidikan.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Setelah melengkapi analisis konteks situasi, para penyusun kurikulum memutuskan bagaimana karakteristik kurikulum yang akan dikembangkan. Berdasarkan analisis kebutuhan, para penyusun kurikulum kemudian harus memutuskan prioritas dan aspek-aspek khusus yang akan dimasukkan ke dalam kurikulum. Setiap kebutuhan akan memungkinkan mereka menentukan maksud kurikulum tersebut. Pada tahap kedua, tim pengembang kurikulum Sekolah(Kepala Sekolah, guru, komite, stakeholder) melakukan analisis potensi siswa, madrasah, daerah, unggulan lokal, dan unggulan global. Tahap ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kepala Sekolahsebagai ujung tombak akan memfasilitasi dan mengarahkan tahap analisis ini bersamaan dengan penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah(RPM) secara keseluruhan. Analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang telah dilakukan terhadap Sekolahdalam Pengembangan RPM dapat disumbangkan sebagai salah satu pertimbangan analisis kondisi madrasah. Komite Sekolahmendukung analisis kondisi sosial ekonomi dan kebutuhan, serta harapan orangtua/ masyarakat. Hasil analisis konteks (keadaan siswa, madrasah, kebutuhan/ kondisi masyarakat/ unggulan lokal maupun global) digunakan sebagai dasar penyusunan kurikulum yang akan dibuat.

3.

Penentuan Aspek Khusus dalam Rancangan Kurikulum

Dari hasil analisis konteks dapat ditentukan aspek-aspek khusus yang dapat digunakan untuk menjawab tantangan lokal dan global serta dapat dikembangkan sebagai “icon keunggulan” dari suatu madrasah. Contoh hasil analisis konteks dan penentuan hal-hal khusus disajikan seperti pada Tabel 7 berikut. Tabel 7: Contoh Penentuan Aspek Khusus dan Implikasinya pada Penyusunan Komponen KTSP

Analisis konteks
Konteks masyarakat

Aspek khusus hasil analisis
Harapan masyarakat siswa bisa menghadapi tantangan global

Implikasi pada penyusunan KTSP
Bahasa Arab dan Inggris Ditambah jam formalnya dan di asrama disusun program peningkatan kemampuan berbahasa Inggris dan Arab Unggulan lokal dalam muatan kurikulum akan mengaitkan dengan kondisi masyarakat sebagai produsen makanan olahan dari ikan pengembangan diri untuk mengembangkan kepemimpinan kader Program Mubalig hijrah Wajib memimpin di organisasi sekecil apa pun

Masyarakat sekitar merupakan produsen krupuk ikan dan makanan olahan dari ikan Harapan Kondisi Sekolah/yayasan Kepeloporan kader organisasi Menyiapkan calon pendidik, ulama, zu’ama yang mampu mengembangkan ilmu

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Mulok kemuhamadiyahan/ aswaja Kajian kitab kuning Harapan orangtua/masyarakat/ komite Sekolah di tengah keterpurukan akhlak Konteks daerah Akhlakul karimah dan mampu beribadah dengan baik (menjadi anak sholeh) Pengembangan diri rutin untuk meningkatkan kemandirian dan kesalehan dalam asrama (puasa sunnah, sholat sunnah, baca Al-Quran) Ada program hunting tourist untuk memperkuat kemampuan berbahasa Bahasa Inggris Wisata, Memasukkan masalah gempa dan penyelamatannya secara khusus dalam berbagai mata plajaran yang relevan KKM disesuaikan ( tidak terlalu tinggi) Ada program remedial yang lebih intensif untuk siswa Mulok keputrian Melaksanakan pakem Kecakapan hidup diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran Mulok TIK/ muatan global dengan menggunakan internet

Kota wisata (banyak turis berdatangan)

rawan gempa

Kondisi siswa

Rata-rata kemampuan siswa kurang (intake rendah)

Perempuan semua Kebutuhan masa kini dan masa depan (perkembangan ilmu pembelajaran) dan perkembangan teknologi Pembelajaran PAKEM/ CTL dan model pembelajaran bermakna Kecakapan hidup diintegrasikan Belajar terampil menggunakan tekonologi

Karakteristik Sekolah sebagai kepesantrenan lembaga dakwah/syiar, pendidikan watak/ akhlak penggerak masyarakat, membentuk kader dakwah pembentuk akhlakul karimah

Struktur dan muatan kurikulum menambah muatan keagamaan/ kepesantrenan

4.

Dokumen KTSP

Setelah analisis konteks dan penentuan aspek khusus dilakukan, Tim Pengembang Kurikulum menyelenggarakan pertemuan/workshop untuk menyusun KTSP . Kepala madrasah, guru, komite, dengan bimbingan pengawas, Depag/Dinas, dan nara sumber menyusun KTSP dokumen I yang memuat arah/tujuan, cara mencapai, isi/muatan yang akan dituliskan dalam dokumen kurikulum. Secara teknis komponen yang akan dirancang dalam KTSP dokumen I adalah visi, misi, tujuan madrasah, struktur dan muatan kurikulum (mata pelajaran, muatan lokal,

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

pengembangan diri, beban belajar, ketuntasan belajar, kenaikan/kelulusan, unggulan lokal/global) dan kalender pendidikan. KTSP dokumen I perlu dilengkapi KTSP dokumen II yang berisi silabus dan RPP seluruh mata pelajaran. Dalam kegiatan ini guru difasilitasi untuk mengembangkan silabus dan RPP semua mata pelajaran. Pada tahap ini guru dengan bimbingan Kepala Madrasah, Pengawas, Kantor Depag/ Dinas dan Nara Sumber mengembangkan silabus/RPP mapel, SK/KD Muatan Lokal atau Muatan Khusus yang akan dilaksanakan dalam praktik di madrasah. Kantor Depag/Dinas memfasilitasi pengembangan KTSP (termasuk pengembangan SK/KD muatan lokal) dan dilanjutkan dengan pengesahannya. Penyusunan silabus dan RPP akan dibahas pada bab selanjutnya.

5.

Melengkapi Dokumen Pendukung Implementasi KTSP

Setelah dokumen KTSP jadi, setiap satuan pendidikan perlu menyiapkan berbagai pendukung untuk menunjang agar pelaksanaan KTSP dapat berjalan optimal seperti yang telah direncanakan. Dokumen pendukung itu setidak-tidaknya mencakup berbagai pedoman sebagai berikut. (i) (ii) Program Pengembangan diri dan teknis pelaksanaan Kalender pendidikan/akademik, yang menunjukkan seluruh kategori aktivitas satuan pendidikan selama satu tahun dan dirinci secara semesteran, bulanan, dan mingguan; Pembagian tugas di antara pendidik; Pembagian tugas di antara tenaga kependidikan; Peraturan akademik; Tata tertib satuan pendidikan, yang minimal meliputi tata tertib pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik, serta penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana;

(iii) (iv) (v) (vi)

C.

Komponen KTSP Dokumen I Dan Cara Menyusunnya
Dokumen-dokumen utama yang diperlukan dalam penyusunan KTSP adalah (1) PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (2) Permen Diknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, (3) Permen Diknas 23 tentang SKL dan Permen Diknas No. 24 tahun 2006 tentang Pelakasanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, (4) Permen Diknas No. 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian, (5) Permen Diknas No. 41 tahun 2007 tentang standar proses, dan (6) Panduan/pedoman penyusunan KTSP. Berdasarkan Panduan penyusunan KTSP dari BSNP, komponen-komponen KTSP dokumen I minimal memuat hal-hal berikut :

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Box 1: Komponen Dokumen 1 KTSP ISI DOKUMEN 1 KTSP • • • • Halaman sampul Halamam penetapan dan pengesahan Kata Pengantar Daftar Isi Bab I Pendahuluan • Latar Belakang (dasar pemikiran penyusunan KTSP) • Tujuan Pengembangan KTSP • Prinsip Pengembangan KTSP Bab II Tujuan • Visi • Misi • Tujuan Satuan Pendidikan (umum) • Tujuan Sekolah(khusus) Bab III Struktur dan Muatan Kurikulum • Kelompok Mata Pelajaran dan Cakupannya • Mata Pelajaran dan Alokasi Waktu • Mata Pelajaran,tujuan,SK,dan KD • Muatan lokal • Pengembangan diri • Pengaturan Beban Belajar • Ketuntasan Belajar • Kenaikan Kelas dan Kelulusan • Pendidikan Kecakapan Hidup • Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Bab IV Kalender Pendidikan • Minggu efektif • Jam efektif • Hari Libur Keagamaan • Hari Libur Nasional • Mid Semester • Ulangan Akhir Semester • Ujian Madrasah • Ujian Nasional • Kalender Kegiatan Madrasah

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Komponen-komponen KTSP dokumen 1 yang dicontohkan oleh BSNP bisa dijadikan acuan, tetapi juga bisa disesuaikan dengan perkembangan standar yang sudah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasioanl. Karena telah dikeluarkannya standar penilaian (Permendiknas No 20 tahun 2007) dan standar proses (Permendiknas No 41), maka dalam penyusunan KTSP perlu mempertimbangkan kedua standar tersebut, disamping standar isi dan standar kompetensi lulusan yang sudah dikeluarkan sebelumnya. Inti dari komponen KTSP yang disajikan dalam panduan ini mencakup hal-hal: (1) Pendahuluan; (2) Visi, Misi, dan Tujuan Madrasah; (3) Acuan Standar; (4) Kerangka Dasar, Struktur, dan Muatan Kurikulum; (5) Kriteria, dan (6) Kalender Pendidikan. Di bagian akhir komponen KTSP disajikan lampiran silabus dan RPP. Adapun alur logis penetapan komponen KTSP tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Bagian pendahuluan, menjelaskan: (1) latar belakang dan rasional penyusunan KTSP, (2) tujuan penyusunan KTSP, (3) landasan hukum, dan (4) prinsip pengembangan KTSP. Landasan hukum diperlukan untuk memberikan justifikasi dan penguatan terhadap kurikulum yang sedang disusun oleh suatu madrasah. Bagian kedua, meliputi visi, misi, dan tujuan madrasah. Bagian ini dimaksudkan untuk menyajikan arah pengembangan dan cita-cita yang jelas dari suatu madrasah. Sehingga bisa digunakan sebagai acuan untuk menetapkan program kerja dan standar operasional prosedur (SOP) dan keterlaksanaannya bisa terukur. Bagian ketiga, memuat acuan standar yang ditetapkan secara nasional, yang meliputi standar isi, standar kompetensi lulusan, standar penilaian, dan standar proses. Acuan standar dimaksudkan sebagai pedoman dalam menyusun: isi kurikulum, kompetensi lulusan yang akan dihasilkan, prosedur penilaian yang harus dilakukan, dan proses pembelajaran yang harus dilakukan agar tercapainya kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan. Dengan acuan standar yang jelas, selanjutnya dapat disusun kerangka dasar, struktur dan muatan kurikulum. Kerangka dasar dan struktur kurikulum bisa disesuaikan dengan standar isi (Permendiknas No 22 tahun 2006). Muatan kurikulum dimaksudkan untuk memberikan aspek-aspek yang dapat menumbuhkan kekuatan pada diri siswa dalam menghadapi tantangan perubahan jaman. Karena itu perlu dimunculkan komponen pengembangan diri, kecakapan hidup, dan keunggulan lokal/global. Bagian kelima, kriteria yang berisi aturan-aturan tentang penentuan kriteria ketuntasan belajar, kriteria kenaikan kelas dan kelulusan, serta ketentuan mutasi. Penetapan kriteria dimaksudkan sebagai landasan/aturan untuk menentukan ketercapaian suatu KD, aturan kenaikan kelas, aturan kelulusan, dan aturan mutasi. Bagian keenam, kalender pendidikan digunakan untuk mengatur kegiatan pendidikan selama per tahun dan per semester. Kalender pendidikan juga memuat pekan efektif dan pekan tidak efektif, sedemikian hingga dapat dijadikan acuan untuk mendistribusikan KD-KD dalam setahun dan dalam semeter. Akhirnya kalender pendidikan dapat digunakan untuk membantu mempermudah menyusun silabus dan RPP, terutama berkaitan dengan penentuan alokasi waktu. Secara lengkap, format KTSP yang disajikan dalam panduan ini disajikan seperti berikut. • • • • Halaman sampul Halamam penetapan dan pengesahan Kata Pengantar Daftar Isi

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan Pengembangan C. Landasan Hukum D. Prinsip Pengembangan BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN MADRASAH A. Visi Madrasah B. Misi Madrasah C. Tujuan Madrasah BAB III ACUAN STANDAR A. Standar Isi B. Standar Kompetensi Lulusan C. Standar Proses D. Standar Penilaian BAB IV KERANGKA DASAR, STRUKTUR, DAN MUATAN KURIKULUM A. Kerangka Dasar Kurikulum 1. Kelompok Mata Pelajaran 2. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum B. Struktur Kurikulum C. Muatan Kurikulum 1. Komponen Muatan Lokal 2. Komponen Pengembangan Diri 3. Muatan Pendidikan Kecakapan Hidup 4. Muatan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global D. Beban Belajar BAB V KRITERIA A. Kriteria Ketuntasan Belajar B. Kriteria Kenaikan Kelas dan Kelulusan C. Kriteria Mutasi BAB VI KALENDER PENDIDIKAN • Minggu efektif • Jam efektif • Hari Libur Keagamaan • Hari Libur Nasional • Mid Semester • Ulangan Akhir Semester • Ujian Madrasah • Ujian Nasional • Kalender Kegiatan Madrasah

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

1.

Halaman-halaman Pemula

Halaman-halaman pemula KTSP dokumen I mencakup halaman sampul, halaman penetapan dan pengesahan, kata pengantar, dan daftar isi. Rincian isi masing-masing halaman dapat dijelaskan sebagai berikut: (i) Halaman sampul memuat Judul KTSP, nama madrasah, logo madrasah, nama desa, kecamatan, dan kabupaten, serta tahun penyusunan. Contohnya lihat Lampiran 1. Halaman penetapan dan pengesahan memuat judul KTSP, nama madrasah, lokasi madrasah, tanggal penetapan dan pengesahan, dan orang-orang yang menetapkan dan mengesahkan KTSP. Contohnya lihat lampiran 2. Kata pengantar berisi prakata dari kepala Sekolahmengenai penyusunan KTSP di Sekolahyang contohnya ada pada lampiran 3. Daftar isi menjelaskan susunan bab dan sub-bab dari dokumen KTSP, termasuk lampiran yang diperlukan

(ii)

(iii) (iv)

2.

BAB I Pendahuluan

Bab I berisi pendahuluan yang memuat: latar belakang, tujuan penyusunan KTSP, dan prinsip pengembangan KTSP yang sudah diadopsi oleh satuan pendidikan, serta konteks masyarakat dan konteks Sekolahtempat kurikulum akan diberlakukan. Latar belakang memuat dasar-dasar pemikiran yang dipergunakan dalam penyusunan KTSP yang spesifik sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan. Latar belakang berisi dasar hukum perubahan kebijakan pegembangan kurikulum di Indonesia dan alasan-alasan lain yang logis berkaitan dengan perlunya pengembangan KTSP. Tujuan pengembangan KTSP menjelaskan maksud dan manfaat dari KTSP ini disusun baik yang besifat langsung maupun tidak langsung. Prinsip Pengembangan KTSP merupakan gambaran prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dipegang oleh satuan pendidikan dan menjiwai isi materi KTSP yang disusun. Prinsip-prinsip tersebut dapat mengadopsi dari prinsip-prinsip umum yang ditetapkan secara nasional yang sudah disesuaikan dengan kekhususan analisis konteks satuan pendidikan masing-masing. Konteks menjelaskan secara garis besar kondisi sosial budaya dan geografis serta kondisi madrasah/ Sekolahuntuk memberi gambaran kekhasan yang dimiliki Sekolahdan perlu dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum.

3.

BAB II Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan merupakan isi dari Bab II, yang memuat secara rinci visi, misi, tujuan umum satuan pendidikan, dan tujuan khusus program pendidikan sesuai dengan jejang pendidikannya.

a.

Visi Dan Misi

Visi dan misi satuan pendidikan dirumuskan untuk memenuhi harapan pihak pemangku kepentingan (stakeholders) dari Sekolahyang kita kelola. Visi adalah imajinasi moral yang menggambarkan profil Sekolahyang diinginkan di masa datang. Ciri-ciri rumusan visi yang baik adalah:

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

(i)

(ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) (ix)

Menggambarkan kita mau jadi apa, dan dari bersifat menantang, yaitu rumusan visi mengandung pernyataan yang menantang dan ideal, tetapi bukan berarti tidak bisa dicapai; Jelas, sehingga tidak menimbulkan pada interprestasi yang bertentangan; Mudah diingat, oleh sebab itu dirumuskan dengan beberapa kata saja dan tidak boleh lebih dari 20-25 kata; Memuat pernyataan yang menyatakan kemampuan dan memberdayakan; Memuat nilai Sekolahatau yayasan; Akan lebih baik apabila bisa digambarkan secara visual; Menuntut respon semua orang; Mampu menjadi petunjuk yang melibatkan semua orang yang tindakannya bisa diukur setiap hari; dan Memperhatikan kebutuhan peserta didik yang hasilnya dapat diukur dari tindakan dan prestasi siswa.

Contoh Visi Sekolah1: Menjadi Sekolahberstandar nasional yang mampu mencetak insan mandiri, berprestasi, dan berkepribadian Islami Contoh Visi 2: Generasi mandiri, berprestasi, dan berkepribadian Islami Misi adalah pernyataan yang menggabarkan kegiatan utama untuk mencapai atau mewujudkan/merealisasikan visi tersebut. Karena visi harus mengakomodasi semua kelompok kepentingan yang terkait dengan madrasah, maka misi dapat juga diartikan sebagai tindakan untuk memenuhi kepentingan masing-masing kelompok yang terkait dengan madrasah. Dalam merumuskan misi, harus mempertimbangkan tugas pokok Sekolahdan kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dengan madrasah. Dengan kata lain, misi adalah bentuk layanan untuk memenuhi tuntutan yang dituangkan dalam visi dengan berbagai indikatornya. Contoh visi dan misi yang dikembangkan oleh salah satu Sekolahtertera pada Box 2. Box 2: Contoh pengembangan visi ke misi Visi Sekolah1: Menjadi Sekolah berstandar nasional yang mampu mencetak insan mandiri, berprestasi, dan berkepribadian Islami

Misi Sekolah1:
• • • • Mengembangkan proses penyelenggaraan pendidikan sesuai standar isi, standar proses, dan standar ketenagaan Menyelenggarakan pembelajaran yang mendorong siswa berprestasi, disiplin, berakhlak mulia, memiliki etos kerja tinggi, kreatif, kritis, dan bertanggung jawab dan materi Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan keagamaan melalui berbagai kegiatan di Sekolahmaupun di asrama Menumbuhkan potensi siswa dalam berbagai kegiatan pengembangan diri

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Contoh Visi dengan indkator visi Visi Unggul dalam prestasi, tangguh dalam kompetisi dan santun dalam pekerti Indikator visi 1. Mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi 2. Mampu berpola pikir akademis dan empiris dalam menghadapi tantangan hidup 3. Mampu menerapkan / mengaplikasikan pengetahuan akademis ke dalam kehidupan di masyarakat 4. Memiliki Keterampilan/keahlian/kecakapan khusus yang dapat dikembangkan secara profesional 5. Memiliki dan mampu mengamalkan ajaran agama secara benar dan konsekuen 6. Bisa menjadi teladan bagi teman dan masyarakat Misi 1. Menyelenggarakan pendidikan secara efektif sehingga siswa berkembang secara maksimal. 2. Menyelenggarakan pendidikan dengan menumbuhkembangkan aplikasi praktis dalam kehidupan 3. Menyelenggarakan pengembangan diri sehngga siswa dapat berkembnag sesuai dengan minat dan bakatnya 4. Menumbuh kembangkan lingkungan dan perilaku religius sehingga siswa dapat mengamalkan dan mengahayati agamanya secara nyata. 5. Menumubuhkembangkan perilaku terpuji dan praktik nyata sehigga siswa dapat menjadi teladan bagi teman dan masyarakatnya. b. Tujuan Pendidikan Dasar

Tujuan dari suatu kurikulum pada dasarnya adalah suatu panduan menuju arah yang diinginkan oleh para penyusunnya untuk bisa dicapai oleh siswa ketika menggunakan kurikulum tersebut. Tujuan merupakan suatu garis besar pernyataan akan harapan masyarakat dan keinginan untuk membelajarkan para siswa. Biasanya, pernyataan ini adalah mengenai harapan masyarakat terhadap apa yang dapat diberikan oleh sistim pendidikan untuk para siswa. Oleh karenanya, tujuan umum menjelaskan profil siswa yang dicapai setelah mengikuti program pendidikan di Sekolahpada jenjang waktu tertentu. Tujuan di sini mencakup tujuan pendidikan dasar yang dalam standar nasional sudah dirumuskan, yaitu: ”Meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut”. Berdasarkan rumusan tersebut, setiap satuan pendidikan dapat mengembangkan rumusan yang lebih spesifik yang sesuai dengan karakteristik masingmasing. Berdasarkan rumusan tujuan nasional tersebut, standar kompetensi lulusan satuan pendidikan MTs dirumuskan sbb.:

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja (ii) Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri (iii) Menunjukkan sikap percaya diri (iv) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas (v) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional (vi) Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumbersumber lain secara logis, kritis, dan kreatif (vii) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif (viii) Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya (ix) Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (x) Mendeskripsi gejala alam dan sosial (xi) Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab (xii) Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (xiii) Menghargai karya seni dan budaya nasional (xiv) Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya (xv) Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang (xvi) Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun (xvii) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat (xviii) Menghargai adanya perbedaan pendapat (xix) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana (xx) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana (xxi) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah Satuan pendidikan harus mengejar standar kompetensi tersebut sebagai pedoman dalam menyusun kurikulumnya. Namun demikian satuan pendidikan juga diperbolehkan untuk merumuskan standar kompetensi lulusannya di atas standar nasional tersebut. Secara khusus, langkah yang disarankan dalam menyusun KTSP mengganakan langkah teknis yang sudah disesuaikan dengan setting penyusunan kurikulum berdasarkan standar di Indonesia.

(i)

c.

Tujuan Sekolah

Tujuan Sekolahmenggambarkan apa yang akan dicapai Sekolahdalam jangka waktu 3-5 tahun mendatang. Contohnya adalah sebagai berikut. Dalam waktu empat tahun: (i) Sekolahdapat memenuhi standar isi dan standar proses

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

(ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii)

Sekolahmengembangkan PAKEM/CTL 100% untuk semua matapelajaran Sekolahmencapai nilai rata-rata UN 8,5 Sekolahdapat meningkatkan jumlah siswa 50 % Sekolahmemiliki sarana dan prasarana berstandar nasional Sekolahmemiliki tenaga pendidik dan kependidikan berstandar nasional Sekolahmemiliki Tim Lomba Olimpiade matematika dan Fisika yag menjadi juara I tingkat propinsi Sekolahmengembangkan berbagai wadah/program penghayatan dan pengamalan agama.

4.

BAB III Acuan Standar

Acuan standar yang dimaksudkan adalah standar minimal yang harus dimiliki, dilakukan, dan dicapai oleh satuan pendidikan (madrasah). Acuan standar memuat: (1) standar isi, (2) standar kompetensi lulusan, (3) standar penilaian, dan (4) standar proses. Selanjutnya acuan standar digunakan sebagai pedoman dalam menyusun isi kurikulum, menentukan kompetensi yang harus dimiliki siswa setelah menempuh di suatu jenjang pendidikan, menentukan prosedur penilaian, dan menentukan proses pembelajaran yang dapat mengoptimalkan potensi siswa. 5. BAB IV Kerangka Dasar, Struktur, Dan Muatan Kurikulum

Bab 4 pada dokumen KTSP berisi kerangka dasar, struktur, dan muatan kurikulum. Kerangka dasar menyajikan kelompok bidang studi dan cakupannya, serta prinsip-prinsip pelaksanaan kurikulum. Kerangka dasar dikembangkan dengan mengacu pada standar ini. Struktur kurikulum adalah pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Rambu-rambu penyusunan struktur dan muatan kurikulum dalam dokumen KTSP adalah sbb.: (i) Struktur kurikulum disusun dengan mengacu pada struktur kurikulum yang terdapat dalam Standar Isi. (ii) Kurikulum MTS memuat 10 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri (seperti Tabel 8) (iii) Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana dalam struktur kurikulum (iv) Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 40 menit (v) Minggu efekif dalam satu tahun pelajaran adalah 34 -38 minggu (vi) Dalam dokumen struktur kurikulum disajikan dengan sedikit pengantar tentang struktur kurikulum kemudian dideskripsikan tabel berisi pola dan susunan substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satuan jenjang pendidikan selama 3 (tiga) tahun, mulai kelas VII sampai dengan kelas IX. (vii) Dilengkapi rasional penambahan jam (viii) Dokumen muatan kurikulum mencakup mata pelajaran (tujuan dan SKL) , muatan lokal (jenis, tujuan, dan pengelolaannya), pengembangan diri

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

(ix) (x)

(jenis, tujuan, dan pengelolaanya), beban belajar, ketuntasan belajar, kenaikan kelas/ kelulusan, pendidikan kecakapan hidup, dan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. Penyusunan struktur kurikulum dilakukan dengan mengadaptasi struktur kurikulum standar isi. Jam boleh ditambah maksimal 4 jam mata pelajaran.

Tabel 8: Struktur kurikulum SMP/MTs menurut standar nasional Kelas dan Alokasi Waktu Komponen VII A. Mata Pelajaran 1. Pendidikan Agama 2. Pendidikan Kewarganegaraan 3. Bahasa Indonesia 4. Bahasa Inggris 5. Matematika 6. Ilmu Pengetahuan Alam 7. Ilmu Pengetahuan Sosial 8. Seni Budaya dan Ketrampilan 9. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 10. Keterampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi B. Muatan Lokal C. Pengembangan Diri Jumlah 2 2 4 4 4 4 4 2 2 2 2 2*) 32 2 2 4 4 4 4 4 2 2 2 2 2*) 32 2 2 4 4 4 4 4 2 2 2 2 2*) 32 VIII IX

Khusus untuk madrasah, mata pelajaran pendidikan agama, disesuaikan dengan struktur kurikulum Sekolahyang dikeluarkan oleh Departemen Agama, yaitu Al-Qur’an Hadits (2 jp), Aqidah Akhlaq (2 jp, Fiqh (2 jp), Sejarah Kebudayaan Islam (1 jp), dan Bahasa Arab (2 jp). Contoh penulisan dokumen Struktur dan Muatan Kurikulum pada BAB 3. Struktur kurikulum MTS X adalah merupakan pola dan susunan matapelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik pada satuan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran. Struktur kurikulum MTS X disusun berdasarkan PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 7. Struktur kurikulum disesuaikan dengan

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

karakteristik satuan pendidikan yang berupa madrasah. Struktur kurikulum MTS X dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 9: Struktur Kurikulum MTs PSA (contoh ke 1) (Adaptasi dari struktur kurikulum nasional dengan memperhatikan aspek-aspek khusus) Kelas dan Alokasi Waktu VII 1. A. Mata Pelajaran Pendidikan Agama 1. Al-Quran Hadits 2. Aqidah Akhlaq 3. Fiqih Syariah 4. Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) 5. Bahasa Arab B. Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2 1 3 2 4 4 4 4 4 2 2 2 2 2 2 1 3 2 4 4 4 4 4 2 2 2 VIII IX

Komponen

C. Bahasa Indonesia D. Bahasa Inggris E. F. Matematika Ilmu Pengetahuan Alam

G. Ilmu Pengetahuan Sosial H. Seni Budaya dan Ketrampilan I. K. 2. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Muatan Lokal * A. B. Bahasa Sunda BTQ

1 1 2*) 40

1 1 2*) 40

-

C. Keterampilan Anyaman Tikar 3. Pengembangan Diri Jumlah 2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

* ) Muatan lokal dapat memilih sesuai kepentingan dan kebutuhan Sekolahmasingmasing.

Tabel 10: Struktur Kurikulum MTs PSA (contoh ke 2) (Adaptasi dari struktur kurikulum nasional dengan memperhatikan aspek-aspek khusus) Kelas dan Alokasi Waktu Komponen A. Mata Pelajaran 1. Fiqih 2. Al Qur’an-Hadits 3. Aqidah-Akhlaq 4. Sejarah Kebudayaan Islam 5. Bahasa Arab 6. Pendidikan Kewarganegaraan 7. Bahasa Indonesia 8. Bahasa Inggris 9. Matematika 10. Ilmu Pengetahuan Alam 11. Ilmu Pengetahuan Sosial 12. Seni Budaya dan Ketrampilan 13. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 14. Teknologi Informasi dan Komunikasi B. Muatan Lokal 1. Bimbingan Membaca Kitab 2. Agro Industri Jumlah Komponen Mata Pelajaran dan Muatan Lokal C. Pengembangan Diri Terprogram : 1. Bimbingan dan Konseling 2. Kegiatan Ekstrakurikuler: English Conversation Arabic Conversation Computer Course Tidak Terprogram: 1. Kegiatan Rutin 2. Kegiatan Spontan 3. Kegiatan Keteladanan Jumlah 40 jam pelajaran VII 2 2 2 1 2 2 4 4 4 4 4 2 2 2 VIII IX

1 2 40 2*)

Keterangan:

(i)

Alokasi waktu tiap 1 (satu) jam pembelajaran adalah 40 menit

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

(ii)

(iii)

Peserta didik memilih salah satu kegiatan ekstra kurikuler dan akan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler tersebut selama 1 tahun pelajaran ( kelas VII). Alokasi waktu untuk pengembangan diri adalah ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran dalam satu minggu.
a.

Mata Pelajaran

Struktur kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah tertuang dalam Standar Isi, yang dikembangkan dari kelompok mata pelajaran. Mata pelajaran merupakan materi bahan ajar berdasarkan lgurusan keilmuan yang akan dibelajarkan kepada peserta didik sebagai bahan belajar melalui metode dan pendekatan tertentu. Kelompok mata pelajaran meliputi sebagai berikut:

(i) (ii) (iii) (iv) (v)

Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelompok mata pelajaran estetika Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan

Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 7. Muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum. Penulisan di dalam dokumen KTSP mencakup uraian mata pelajaran ditambah tujuan dan SKL tiap-tiap pelajaran.

b.

Muatan Lokal

Seperti telah diuraikan terdahulu bahwa salah satu yang penting harus dikembangkan oleh satuan pendidikan adalah muatan lokal (mulok). Muatan lokal merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum yang terdapat pada kurikulum tingkat satuan pendidikan. Keberadaan mata pelajaran muatan lokal merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang tidak terpusat, sebagai upaya agar penyelenggaraan pendidikan di masing-masing daerah lebih meningkat relevansinya terhadap keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional sehingga keberadaan kurikulum muatan lokal mendukung dan melengkapi kurikulum nasional. Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal, seperti Kaligrafi, Marawis, Bertani, Kemampuan Berpidato dengan berbagai macam bahasa, Berternak, dsb.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Muatan lokal juga dapat dikembangkan dari hasil “analisis situasi dan kebutuhan” dan ”penentuan aspek khusus” dalam tahapan penyusunan KTSP. Hasil telaah tentang keadaan daerah, segala sesuatu yang terdapat di daerah tertentu yang pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan sosial budaya, yang menjadi kebutuhan daerah untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, dan disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan dapat menjadi bahan untuk menyusun muatan lokal. Kebutuhan daerah tersebut misalnya kebutuhan untuk: (i) Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah (ii) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang tertentu, sesuai dengan keadaan perekonomian daerah (iii) Meningkatkan penguasaan bahasa Arab dan Inggris untuk keperluan sehari-hari, dan menunjang pemberdayaan individu dalam melakukan belajar lebih lanjut (belajar sepanjang hayat) (iv) Meningkatkan kemampuan berwirausaha. Selain itu, muatan lokal juga bisa dimunculkan sebagai kekhasan satuan pendidikan. Misalnya, kekhasan satuan pendidikan di lingkungan pesantren. Kekhasan pesantren sebagai sumber pengembangan muatan lokal berkaitan dengan karakteristik pesantren. Dalam hal ini muatan lokal dapat berupa kajian kitab kuning atau ciri khas organisasi (Kemuhammadiyahan atau Aswaja). Rambu-rambu penyusunan muatan lokal adalah sbb.; (i) Lingkup muatan lokal dapat berupa : bahasa daerah, bahasa Inggris, kesenian daerah, keterampilan dan kerajinan daerah, adat-istiadat, serta hal-hal yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan (ii) Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan (iii) Mata pelajaran muatan lokal perlu dilengkapi SK dan KD (dilampirkan pada dokumen KTSP). Provinsi menyusun Standar Kompetensi muatan lokal wajib dan disahkan gubernur. Satuan pendidikan menyusun standar kompetensi dan kompetensi dasar muatan lokal pilihan. (iv) Alokasi waktu muatan lokal yang diizinkan minimal 2 jam dan maksimal 6 jam (v) Pembelajaran beberapa muatan lokal setiap semester bisa berbedabeda. (vi) Sekolahminimal harus menyelenggarakan satu muatan lokal. Jika Sekolahmenwarkan lebih dari satu muatan lokal, setiap peserta didik tidak harus mengikuti semua muatan lokal yang ditawarkan. Namun demikian semua peserta didik wajib mengambil muatan lokal wajib. (vii) Struktur kurikulum disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran (viii) Penyusunan dalam dokumen KTSP mencakup jenis mulok dan mekanisme pelaksanaannya. Sekolahdan komite Sekolahmempunyai wewenang penuh dalam mengembangkan program muatan lokal. Bila dirasa tidak mempunyai SDM dalam mengembangkan Sekolahdan komite Sekolahdapat bekerjasama dengan dengan unsurunsur Depdiknas seperti Tim Pengembang Kurikulum (TPK) di daerah, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Perguruan Tinggi dan instansi/lembaga di luar Depdiknas, misalnya pemerintah Daerah/Bapeda, Departemen lain terkait, dunia usaha/industri, tokoh masyarakat.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Peran, tugas, dan tanggung jawab TPK secara umum adalah sebagai berikut (i) Mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan daerah masing-masing; (ii) Menentukan komposisi atau susunan jenis muatan lokal; (iii) Mengidentifikasi bahan kajian muatan lokal sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah masing-masing; (iv) Menentukan prioritas bahan kajian muatan lokal yang akan dilaksanakan; (v) Mengembangkan silabus muatan lokal dan perangkat kurikulum muatan lokal lainnya, yang dilakukan bersama madrasah, mengacu pada Standar Isi yang ditetapkan oleh BSNP Rambu-rambu untuk diperhatikan dalam penyusunan muatan lokal mencakup: (i) Sekolahyang mampu mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar beserta silabusnya dapat melaksanakan mata pelajaran muatan lokal. Apabila Sekolahbelum mampu mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar beserta silabusnya Sekolahdapat melaksanakan muatan lokal berdasarkan kegiatankegiatan yang direncanakan oleh madrasah, atau dapat meminta bantuan kepada Sekolahyang terdekat yang masih dalam satu daerahnya. Bila beberapa Sekolahdalam satu daerah belum mampu mengembangkan dapat meminta bantuan TPK daerah, atau meminta bantuan dari LPMP di propinsinya. Bahan kajian muatan lokal perlu dilengkapi SK, KD, dan silabus serta RPP ( dilampirkan pada dokumen KTSP). Sekolahyang mampu mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar beserta silabus dan RPP dapat melaksanakan mata pelajaran muatan lokal. Apabila Sekolahbelum mampu mengembagkan SK dan KD beserta silabus dan RPPnya maka Sekolahdapat meminta bantuan kepada Sekolahyang terdekat yang masih dalam satu daerahnya. Bila beberapa Sekolahdalam satu daerah belum mampu mengembangkan dapat meminta bantuan TPK daerah,atau meminta bantuan dari LPMP di Provinsi. Alokasi waktu muatan lokal yang diizinkan minimal 2 jam dan maksimal 6 jam. Penentuan bahan kajian muatan lokal yang diajarkan dan alokasi waktu untuk bahan kajian/pelajaran muatan lokal perlu memperhatikan jumlah minggu efektif untuk mata pelajaran muatan lokal pada setiap semester. Mata pelajaran muatan lokal pada setiap semester dapat berbeda-beda . Sekolahminimal harus menyelenggarakan satu muatan lokal . Jika sekolah menawarkan lebih dari satu muatan lokal, setiap peserta didik tidak harus mengikuti semua muatan lokal yang ditawarkan. Namun demikian semua peserta didik wajib mengambil muatan lokal wajib. Penyusunan dalam dokumen KTSP mencakup jenis dan mekanisme pelaksanaannya.

(ii)

(iii)

(iv) (v)

(vi)

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Tabel 11: Contoh analisis konteks daerah dan muatan lokal No 1 Konteks Di lingkungan Pesantren • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Muatan lokal Pendalaman kitab kuning Kepemimpinan pondok yang modern Kewirausahaan Kemandirian Kebahasaan Pendalaman bahasa asing Kewirausahaan Tatakrama ketimuran Kewirausahaan Kepemimpinan Tehnik Manufacturing Bercocok tanam Pembibitan Pengolahan lahan,pengairan Pemberantasan Pemupukan Pemahaman Sumberdaya Wil Pesisir Budidaya perikanan Jasa- jasa lingkungan pesisir Kebahasaan Wisata Pengolahan hasil Kehutanan (Pelestarian) Konservasi alam Pertanian Komputer Internet Elektronik Home Industri Bahasa asing Pengembangan tanaman kebun Teknik penanaman perkebunan Marketing / pemasaran

2

Di lingkungan Daerah Wisata

3

Di lingkungan Industri

4

Di lingkungan Pertanian

5

Di lingkungan Pesisir

6

Di lingkungan Pengembangan Daerah Mandiri

7

Di lingkungan Perkotaan

8

Di lingkungan Perkebunan

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah yang materinya tidak dapat dikelompokkan kedalam mata pelajaran yang ada. Sesuai dengan ciri khas , potensi daerah dan

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

keunggulan daerah dengan keragaman budaya dan kesenian khas daerah dan kondisi Sekolahyang ada di daerah perkotaan, maka Sekolahmenganggap perlunya memberikan muatan lokal khas. Mulok untuk MTs “X” yang diberikan berupa :

(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) (ix)

Jurumiyah Safinah Amtsilati Tafsiriyah. Bahasa Inggris Bahasa Daerah Agro Industri Bahasa Arab Keterampilan Menjahit Mebelair dll.
Tabel 12: Contoh alokasi waktu Mulok

No.

Mata Pelajaran Muatan Lokal

Alokasi Waktu (JP) VII VIII 1 2 1 4 1 2 1 4 IX

1 2 3 4.

Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta (PLKJ) Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) (spesialisasi Tata Boga) Pendidikan Keterampilan Jasa dan Perniagaan (PKJP) Praktikum Bahasa Inggris Jumlah

1 2 1 4

c.

Pengembangan Diri

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuia dengan kondisi madrasah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan. Pengembangan diri juga diarahkan untuk pengembangan karakter peserta didik yang ditujukan untuk mengatasi persoalan dirinya, persoalan masyarakat di lingkungan sekitarnya, dan persoalan kebangsaan. Satuan pendidikan bisa menyediakan beberapa wadah pengembangan diri seperti kegiatan ekstrakurikuler, bimbingan konseling, program program kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan. Pengembangan diri ditujukan untuk menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan bakat, minat, kreativitas, kompetensi dan kebiasaan dalam hidup, kemampuan kehidupan keagamaan, kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karier, kemampuan pemecahan masalah, dan kemandirian. Bentuk pelaksanaan pengembangan diri secara terprogram dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual, kelompok, dan atau klasikal melalui: layanan dan komponen

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

pendukung bimbingan konseling, kegiatan ekstra kurikuler, dan kegiatan lain dalam bentuk kurikulum tersembunyi. Pelayanan bimbingan konseling merupakan pelayanan bimbingan individual yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik. Rambu-rambu dalam penyusunan program Pengembangan Diri: (i) Pengembangan diri merupakan kegiatan di luar mata pelajaran tetapi merupakan bagian integral dari kurikulum madrasah. (ii) Pemilihan pengembangan diri disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan madrasah (iii) Tujuan khusus pengembangan diri adalah untuk menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan bakat, minat, kreativitas, kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan kehidupan beragama, kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karir, kemampuan memecahkan masalah, dan kemandirian. (iv) Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram diikuti siswa sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Yang termasuk kegiatan terprogram adalah pelayanan konseling dan ekstrakurikuler (v) Kegiatan tidak terprogram dilakukan langsung oleh pendidik yang diikuti oleh semua siswa (vi) Pemilihan pengembangan diri oleh Sekolahditentukan berdasarkan bakat dan minat siswa. Penyebaran angket bisa dilakukan untuk mengethui bakat dan minat siswa. (vii) Mekanisme pelaksanaan pengembangan diri dapat dilakukan di lingkungan Sekolahmaupun di luar lingkungan madrasah. (viii) Bentuk penyelenggaraan pengembangan diri terprogram dilaksanakan dengan perecanaan khusus dalam kurun waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan individual, kelompok, maupun klasikal. (ix) Alokasi waktu pengembangan diri setara dengan 2 jam pelajaran (x) Penilaian pengembangan diri dilakukan secara observasi dan bentuk penilaiannya kualitatif deskriptif. Penilai pengembangn diri dlakukan oleh pembimbing di bawah koordinasi konselor (xi) Pada KTSP dokumen I ditulis jenis-jenis pengembangan diri yang dilaksanakan dan pada lampiran secara lengkap ditulis program pengembangan diri ( jenis,tujuan dan pelaksanaannya). Dalam program pengembangan diri yang diwujudkan dalam kegiatan ekstra kurikuler berfungsi untuk: (i) Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka. (ii) Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik. (iii) Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, menggembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan. (iv) Persiapan karir, yaitu untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler dikembangkan dengan berdasarkan prinsip-prinsip:

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi)

Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang disukai dan menggembirakan peserta didik. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.

Kegiatan program pengembangan diri dalam bentuk kurikulum tersembunyi biasanya dipergunakan untuk membiasakan dan membudayakan sikap, nilai, norma, tata krama, dan ketrampilan lunak (soft skills) lainnya. Bentuknya seperti:

(i)

(ii) (iii)

kegiatan rutin seperti: upacara, sholat Dhuha, baca Al-Quran sebelum pembelajaran, semutlis / sepuluh menit untuk lingkungan sekitar, mendoakan para guru sebelum belajar; kegiatan spontan seperti: mengatasi perbedaan pendapat, melakukan gotong royong mengatasi masalah yang terjadi, dsb.; kegiatan keteladanan yang berupa perilaku dan hal baik yang diamalkan warga Sekolahdan dapat diteladani para siswa, seperti: datang tepat waktu, berpakaian rapi, tersenyum dan memberi salam pada semua orang yang datang ke madrasah, dan sebagainya.

Selain itu, Sekolahdapat juga menyusun program dan kegiatan pengembangan diri melalui pembiasaan, seperti: melaksanakan Shalat Dhuha, Shalat Jumat di Masjid Madrasah, menyelenggarakan Shalat Dhuhur berjamaah dan Kuliah Tujuh Menit (Kultum), kegiatan Pembinaan Keputrian, dan atau menjadwalkan kegitan tadarus Alqur’an yang dilaksanakan 15 menit sebelum jam pelajaran mulai. Bagi Sekolahberasrama, pengembangan diri ini dapat dirancang lebih lama dan komprehensif untuk memaksimalkan pendidikan watak siswa agar menjadi manusia seperti yang dicita-citakan pada visi madrasah.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Pengembangan Diri Box 3: Contoh penulisan pengembangan diri pada dokumen KTSP Berdasarkan kondisi objektif madrasah, kegiatan pengembangan diri yang dipilih dan ditetapkan adalah sebagai berikut. 1) Layanan Konseling, yang ditujukan untuk mengembangkan : • Kehidupan pribadi. • Kemampuan sosial • Kemampuan belajar,wawasan dan perencanaan karier. 2) Kepramukaan, ditujukan untuk mengembangkan : • Kemampuan berorganisasi • Ketrampilan sosial dan kemandirian. • Kemampuan mempertahankan hidup. • Jiwa sosial dan kepedulian kepada orang lain • Sikap kerjasama dan tolong-menolong melatih peserta didik untuk berpikir dan menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat. 3) Pendidikan Teknologi Dasar (PTD), ditujukan untuk mengembangkan : • Kemampuan teknologi dasar • Trampil dan mandiri. • Jiwa wirausaha 4) Olah raga Meliputi :Sepak Bola,Voly, Basket, ditujukan untuk mengembangkan : • Jiwa sportifitas pada diri siswa • Potensi siswa dalam bidang olah raga secara optimal • Mempersiapkan regu olah raga yang siap tampil dan mampu diperhitungkan ditingkat kecamatan,kabupaten,propinsi,nasional. 5) Pengembangan Seni Budaya Islam yang mencakup Seni membaca Al-Qur’an (Qira’ah), Seni Nasyid, Seni Kaligrafi, ditujukan untuk mengembangkan : • Potensi siswa dalam seni baca Al-Qur’an • Iman, ketaqwaan, serta akhlak mulia • Kemampuan siap tampil dan menjadi Juara MTQ tingkat kabupaten dan propinsi • Grup nasyid yang dapat diperhitungkan di tingkat MTs dan di tingkat kabupaten • Apresiasi siswa dalam kesenian Islam 6) Ketertiban-kedisiplinan Umum dan Tata Upacara serta Hidup Bersih melalui kegiatan rutin, spontan, dan keteladanan, ditujukan untuk: • Menanamkan perilaku tertib peraturan yang berlaku kepada semua warga madrasah • Mengembangkan sikap disiplin diri • Menjadikan upacara sebagai wahana untuk berlatih kedisiplinan, tanggung-jawab dan mampu menempatkan diri • Meningkatkan kesadaran siswa untuk menjaga kebersihan, kesehatan dan kerapihan diri masingmasing. • Meningkatkan kesadaran siswa untuk menciptakan lingkungan kelas khususnya, dan Sekolahpada umumnya yang bersih, sehat, rapi, indah dan nyaman untuk belajar.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Box 4: Contoh rincian alokasi waktu program pengembangan diri di Sekolahberasrama dan penjelasannya D. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pengembangan Diri Muhaddatsah English Conversation Seni nasyid Pramuka Kaligrafi Layanan konseling Olah Raga Prestasi Pendidikan Teknologi Dasar Tahfidz Qur’an dan Hadist Jam Pelajaran 2 2 2 2 2 2 2 2 2

Keterangan : • Alokasi per jam pelajaran adalah 40 menit • Semua siswa wajib mengikuti kegiatan layanan konseling • Kegiatan ekstra wajib meliputi: Muhaddatsah, English Conversation, Pramuka, Tahfidz Qur’an dan Hadits • Kegiatan ekstra kurikuler pilihan adalah jenis pengembangan diri yang lain. • Khusus untuk siswa kelas IX, diwajibkan mengikuti semua program ekstra kurkuler wajib kecuali Pramuka. • Kegiatan pengembangan diri dibina oleh praktisi Sekolahyang kompeten dibidangnya. • Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif, serta perlu diberi keterangan untuk para siswa yang memiliki kemampuan, prestasi, dan predikat yang telah di capai. Kegiatan Pengembangan Diri dilaksanakan di dalam dan di luar jam pembelajaran (ekstrakurikuler). Kegiatan ini dibina oleh guru, praktisi, atau alumni yang memiliki kualifikasi yang baik berdasarkan Surat Keputusan Kepala Madrasah. Alokasi waktu di dalam jam pembelajaran (intra kurikuler) sebanyak 2 jam pelajaran (ekuivalen 2 x 40 menit), yang pelaksanaannya dapat digabung dalam satu hari, misalnya pada hari Kamis dengan menyelenggarakan “Creative Day”. Kegiatan pengembangan diri dinilai dan dilaporkan secara berkala kepada madrasah, Komite Madrasah, orang tua dalam bentuk huruf untuk menggambarkan tingkat ketercapaian, dengan menggunakan pedoman kategorisasi sebagai berikut. Tabel 13: Kategori penilian hasil belajar Pengembangan Diri Kategori Nilai A B C D Keterangan Sangat Baik Baik Cukup Kurang

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Beban belajar program Pengembangan Diri dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah pendalaman materi pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai standar kompetensi dan waktu penyelesaian penugasan terstruktur yang diatur oleh siswa sendiri. Banyaknya tugas terstruktur dan tidak tertruktur yang dapat diberikan kepada peserta didik harus dapat diselesaikan dengan waktu maksimal 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. Contoh penulisan beban belajar pada dokumen KTSP MTS X menggunakan sistem paket dalam penentuan beban belajar program Pengembangan Diri dengan pengaturan beban belajar sebagai berikut.

(i)

(ii)

(iii)

(iv) (v)

Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam sruktur kurikulum, pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam system paket untuk MTs adalah antara 0%-50% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Alokasi waktu untuk praktik, dua jam kegiatan praktik di Sekolahsetara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktik di luar Sekolahsetara dengan satu jam tatap muka. Untuk kegiatan praktik di madrasah, misalnya pada kegiatan praktikum Bahasa Inggris yang berlangsung selama dua jam pelajaran setara dengan 1 jam pelajaran tatap muka, sesuai dengan yang tertulis pada Struktur Kurikulum MTs. Kegiatan tatap muka per jam pembelajaran berlangsung selama 40 menit. Jumlah jam pembelajaran tatap muka per minggu adalah 42 jam pembelajaran.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Tabel 15: Contoh 1 perhitungan beban belajar Kelas 1 2 3 1 jam Pembelajaran (menit) 40 40 40 Jumlah Jam pmbljrn/minggu 44 44 44 Minggu Efektif/tahun (jam pmbljran) 32 34 36 Waktu Pmbljran/Thn 1408 1496 1584

Tabel 16: Contoh 2 perhitungan beban belajar Satuan Pendidikan Kelas Satuan Jam Pemb. Tatapmuka (Menit) 40 Jumlah Jam pembelajaran perminggu Minggu Efektif per tahun pelajaran 41 Waktu Pembelajaran pertahun 1927 Jam Pembljrn(77.080 Menit) Jumlah jam pertahun @ 60 Menit

MTs-PSA AlAzhariyyah

VII

47

1.178

d.

Pendidikan Kecakapan Hidup

Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi siswa dalam menghadapi perannya di masa mendatang secara menyeluruh. Tujuan khusus pendidikan kecakapan hidup adalah (1) mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah, (2) memberikan wawasan yang luas mengenai pengembangan karir peserta didik, dan (3) memberikan bekal dengan latihan dasar tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, (4) memberikan kesempatan kepada Sekolahuntuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan (5) mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di lingkungan Sekolahdan di masyarakat. Pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup dilaksanakan untuk memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik memperoleh bekal keterampilan dan keahlian yang dapat dijadikan sebagai sumber penghidupannya. Pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup dirancang dengan mengakomodasi berbagai kepentingan dan kebutuhan masyarakat serta mengimplementasikannya ke dalam program pendidikan di madrasah, kurikulum yang merefleksikan kebutuhan masyarakat dan pembelajaran yang khas dan terukur sehingga kompetensi lulusannya dapat memenuhi standard yang dapat dipertanggung-jawabkan. Implementasi pendidikan kecakapan hidup dilakukan dengan mengintegrasikan kecapakan personal, sosial dan akademik ke dalam mata pelajaran, muatan lokal, atau pengembangan diri. Rincian dari kecakapan hidup tersebut dapat dilihat pada Box 5.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Sedangkan contoh penulisan Pendidikan Kecakapan Hidup dalam KTSP dapat dilihat pada Box 6. Box 5: Rincian Kecapakan Hidup yang dapat dintergrasikan ke dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kecakapan Hidup Strategi : Mengintegrasikan aspek kecakapan hidup berikut ke dalam seluruh mata pelajaran Pendidikan kecakapan hidup meliputi : Kecakapan Personal • Berfikir Kritis • Berfikir Logis • Komitmen • Mandiri • Percaya Diri • Tanggung Jawab • Menghargai dan Menilai Diri • Menggali dan Mengolah Informasi • Mengambil Keputusan • Disiplin • Membudayakan hidup sehat Kecakapan Sosial Bekerja sama Mengendalikan emosi Interaksi dalam kelompok • Mengelola konflik • Berpartisipasi • Membudayakan sikap sportif • Mendengar • Berbicara • Membaca • Kecakapan menuliskan pendapat/gagasan • Bekerjasama dengan teman sekerja • Kecakapan memimpin • • • Kecakapan Akademik • Menguasai pengetahuan • Bersikap Ilmiah • Berfikir strategis • Berkomunikasi Ilmiah • Merancang penelitian ilmiah • Melaksanakan penelitian • Menggunakan teknologi • Bersikap kritis rasional

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Box: 6: Contoh Penulisan Pendidikan Kecakapan Hidup dalam KTSP Pendidikan Kecakapan Hidup (life skills)
Pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup dilaksanakan untuk memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik memperoleh bekal keterampilan dan keahlian yang dapat dijadikan sebagai sumber penghidupannya. Pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup dirancang dengan mengakomodasi berbagai kepentingan dan kebutuhan masyarakat serta mengimplementasikannya ke dalam program pendidikan di madrasah, kurikulum yang merefleksikan kebutuhan masyarakat dan pembelajaran yang khas dan terukur sehingga kompetensi lulusannya dapat memenuhi standard yang dapat dipertanggung-jawabkan. Dalam Mata Pelajaran Matematika Dari daftar kecakapan hidup di atas guru Matematika dapat merancang RPP dengan memasukkan aspek kecakapan hidup personal (tanggung jawab dan berpikir kritis) dengan menyisipkan pertanyaanpertanyaan kritis dan profokatif pada soal-soal dan bahan ajar matematika yang dikembangkan. Kecakapan hidup sosial (bekerja sama dan keterbukaan terhadap kritik) diintegrasikan dengan cara memilih metode pembelajaran diskusi atau metode kooperatif dalam kegiatan pembelajarannya. Dengan diskusi diharapkan kemampuan bekerjasamanya berkembang. Dalam proses diskusi diharapkan kemauan menerima kritik juga dilatihkan sehingga siswa lebih terlatih dalam menerima sebuah kritik. Dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia/ Bahasa Inggris/ Bahasa Arab Pembentukan aspek kecakapan personal seperti tanggung jawab, kemandirian, kepercayaan diri diintegrasikan dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia/ Bahasa Inggris/ Bahasa Arab dengan cara memilih bahan bacaan dan contoh-contoh teks yang menggambarkan pentingnya kemandirian, tanggung jawab, dan kepercayaan diri. Mata pelajaran bahasa cukup fleksibel untuk memilih topik-topik teks/ cerita/ drama yang berguna untuk membentuk kemandirian, tanggung jawab, dan kepercayaan diri. Selain itu, kepercayaan diri juga dapat dibentuk melalui pemilihan kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan siswa untuk presentasi di depan teman-temannya (berpidato di depan teman, berwawancara, bermain peran, dan sebagainya). Kecakapan bekerjasama dan menghargai orang lain, juga dapat diintegrasikan dengan memilih kegiatan pembelajaran berupa diskusi kelompok, diskusi berpasangan atau JIGSAW untuk membelajarkan keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan mendengar. Dalam Mata Pelajaran Sains Keterampilan berpikir kritis dapat dikembangkan dengan memilih model pembelajaran yang bersifat investigasi/ penyelidikan terhadap fenomena-fenomena di sekitar yang terkait dengan kompetensi dasar. Tanggung jawab diintegrasikan dengan memilih materi- materi berkaitan dengan tanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri maupun keselamatan orang lain. Misalnya, pada waktu membelajarkan KD Zat Aditif guru memilih peristiwa-peristiwa menakutkan yang berkaitan dengan dampak zat-zat kimia pada makanan atau obat-obatan terhadap jiwa manusia, peristiwa yang menggambarkan dampak penggunaan zat kimia terhadap lingkungan, peristiwa-peristiwa dampak rokok/ narkoba terhadap remaja. Dengan pemilihan materi-materi yang kontekstual tersebut diharapkan secara tidak langsung menyadarkan siswa untuk memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan dirinya dan orang lain. Keterampilan bekerja sama dan kemampuan berpikir logis diintegrasikan guru pada kegiatan pembelajaran yang berupa tugas melakukan percobaan secara berkelompok Dalam Mata Pelajaran IPS Kemampuan personal untuk dapat berempati dan menghargai orang lain dapat diintegrasikan dengan pemilihan metode pembelajaran bermain peran atau langsung mengamati/ berwawancara dengan orangorang yang berkaitan dengan pembahasan pada kompetensi dasar. Misalnya, pada pembahasan ekonomi yang bermoral siswa dapat ditugasi untuk mewawancarai penjual sayur, tukang sol sepatu, pengemis, dan sebagainya. Tanggung jawab terhadap keselamatan diri dan orang lain juga dapat dintegrasikan dengan cara memilih metode pembelajaran simulasi untuk menyelamatkan diri dari berbagai bencana yang sering terjadi di daerahnya. Misalnya, guru IPS di Jogya dan Bengkulu memperdalam materi tentang gempa dan memilih berbagai metode simulasi untuk menyelamatkan diri dari gempa; guru IPS di Aceh, Banyuwangi, NTT memperdalam materi tentang tsunami dan menggunakan metode simulasi mempraktikkan cara menyelamatkan diri dari bencana tsunami.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

e.

Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global

Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi, ekologi, dan lain-lain yang bemanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik agar mampu bersaing di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. Satuan pendidikan dapat memasukkan potensi lokal untuk diintegrasikan ke dalam mata pelajaran tertentu sebagai sumber belajar. Misalnya, potensi daerah Lampung sebagai produsen Tapis dapat dijadikan sumber belajar pada mata pelajaran seni budaya (seni rupa), IPS (kegiatan ekonomi), keterampilan pada aspek kerajinan berbasis keunggulan lokal. Begitu juga industri krupuk di Gresik dapat digunakan sebagai sumber belajar bagi pelajaran ketrampilan pengolahan pangan dan mata pelajaran ekonomi yasng berbasis keunggulan lokal. Sementara itu, perkembangan teknologi dengan tersedianya internet yang dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran, penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pembelajaran, program penguasaan aktif bahasa Inggris dan Bahasa Arab yang berbasis keunggulan global. Penulisan dalam KTSP dapat diujudkan seperti contoh Box 7 berikut. Box 7: Contoh penulisan Pendidikan Keungulan Lokal dan Global di KTSP Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global di laksanakan dengan memperhatikan kecenderungan perkembangan yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, informasi dan komunikasi serta tantangan yang dihadapi para peserta didik di masa yang akan datang. Salah satu kegiatan yang merupakan bentuk implementasi dari pendidikan ini adalah melalui pembelajaran Trilingual yakni bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa Inggris, dan bahasa Arab khusus pada mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Proses pembelajaran pada ketiga mata pelajaran tersebut akan lebih diperkaya pada segi materi dengan menggunakan bahasa inggris dan bahasa Arab sebagai pengantarnya secara bertahap. Adapun tahapan penggunaan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut . • Tahun pertama : 25 % bahasa Inggris dan bahasa Arab, 75 bahasa Indonesia • Tahun kedua : 50 % bahasa Inggris dan bahasa Arab, 50 % bahasa Indonesia • Tahun Ketiga : 90 % bahasa Inggris dan bahasa Arab, 10 % bahasa Indonesia

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

f.

Pengaturan Beban Belajar

Beban belajar ditentukan berdasarkan penggunaan sistem pengelolaan program pendidikan yang berlaku di Sekolahpada umumnya yaitu menggunakan sistem paket. Adapun pengaturan beban belajar pada sistem tersebut adalah sebagai berikut : a. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah jam belajar yan tetap. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksmum 4 jam pelajaran setiap minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi disamping untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum dalam standar isi. b. Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk MTs adalah antara 0% - 50% dari waktu kegiatan tatap muka pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapaii kompetensi. c. Alokasi waktu untuk praktek, dua jam kegiatan praktek di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktek di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Untuk kegiatan praktek di sekolah A misalnya, pada kegiatan praktikum bahasa Inggris yang berlangsung selama dua jam pelajaran setara dengan satu jam pelajaran tatap muka, sesuai yang berlaku pada struktur kurikulum MTs.

g.

Kalender Pendidikan

Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama 1 tahun ajaran. Komponen kalender pendidikan adalah (1) permulaan tahun pelajaran, (2) minggu efektif belajar, (3) waktu pembelajaran efektif, dan (4) waktu libur. Permulaan tahun ajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun ajaran baru pada setiap satuan pendidikan. Minggu belajar efektif adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan yaitu 34 -38 minggu. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu meliputi jumlah jam pelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal yaitu 32- 36 jam pelajaran. Waktu libur adalah waktu yan ditetapkan tidak ada pembelajaran terjadwal. Waktu libur berbentuk jeda tengah semester, jeda antarsemester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus. Langkah-langkah dalam penyusunan kalender pendidikan adalah sbb.: (i) Cermati Kalender Nasional, Kalender Dinas Pendidikan, dan pedoman Kalender Pendidikan Depag (ii) Sesuaikan antara Kalender Diknas dan Depag (iii) Tentukan kegiatan-kegiatan Sekolahdan komponen utama kalender pendidikan yaitu (1) permulaan tahun pelajaran, (2) minggu efektif belajar, (3) waktu pembelajaran efektif, dan (4) waktu libur. (iv) Masukkan kegiatan Sekolahitu pada kalender Sekolahterlebih dahulu (v) Berilah warna yang berbeda antara kegiatan satu dengan lainnya

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

(vi) (vii)

Hitunglah hari-hari efektifnya Tulislah kegiatan-kegiatan Sekolahbaik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus.

Dalam menyusun kalender pendidikan perlu diperhatikan rambu-rambu berikut. (i) Kalender pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tercakup pada dokumen Standar Isi dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah. (ii) Alokasi untuk belajar efektif minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu (iii) Kegiatan jeda tengah semester maksimum 2 minggu untuk satu tahun pelajaran (satu minggu untuk satu semester) (iv) Alokasi waktu untuk jeda antar semester maksimum 2 minggu antara semester 1 dan semester 2 (v) Libur akhir tahun pelajaran maksimum 3 minggu, digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran. (vi) Libur khusus maksimum 1 minggu. Satuan pendidikan dengan ciri khusus dapat menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing (vii) Kegiatan khusus Sekolah maksimum 3 minggu digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh Sekolahtanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif.

6.

BAB V Kriteria

Bab 5 menyajikan kriteria yang berisi aturan-aturan yang digunakan untuk menentukan kriteria ketuntasan, kriteria kenaikan kelas, kriteria kelulusan, dan ketentuan mutasi.

1. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar adalah tingkat ketercapaian kompetensi setelah peserta didik mengikuti kegiatan pembelajaran yang diukur dengan menggunakan kriteria ketuntasan minimal (KKM). KKM merupakan kriteria ketuntasan minimal yang harus dicapai siswa pada setiap mata pelajaran. Menyusun KKM
Panduan dalam menyusun KKM adalah sebagai berikut. (i) KKM ditentukan oleh kesepakatan guru mata pelajaran berdasarkan hasil analisis SWOT tentang kondisi siswa dan kondisi daya dukung madrasah. (ii) Nilai ketuntasan maksimal adalah 100 (iii) KKM dapat ditentukan di bawah 75% tetapi perlu terus dinaikkan dari waktu ke waktu. (iv) Jika siswa tidak tuntas perlu diberi layanan remedial sedangkan yang sudah tuntas diberi pengayaan. (v) Kegiatan remedial adalah kgiatan pembelajaran yang diberikan untuk membantu siswa yang belum mencapai KKM yng ditetapkan.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

(vi)

(vii) (viii)

Remedial dilaksanakan setiap saat baik pada jam efektif maupun jam tidak efektif. Penilaian kegiatan remedial dapat melalui tes maupun penugasan. Nilai KKM dinyatakan dalam bilangan bulat 0 -100 Nilai KKM harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar Siswa (LHBS)

c. Cara Menghitung KKM
KKM merupakan target ketuntasan minimal untuk setiap aspek penilaian mata pelajaran, yang telah ditetapkan oleh masing-masing Madrasah. Untuk menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dihitung berdasarkan empat komponen yaitu: essensial, kompleksitas, daya dukung, intake. Karena semua kompetensi dasar itu adalah esensial, maka pertimbangan yang perlu diperhatikan hanyalah ketiga komponen yang lain. Suatu mata pelajaran (atau KD) memiliki tingkat kompleksitas tinggi, bila dalam pelaksanaannya menuntut: (i) SDM yang kompeten dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran, (ii) waktu cukup lama karena perlu pengulangan, dan (iii) perlu penalaran dan kecermatan yang tinggi dari siswa. Yang dimaksud dengan kemampuan sumber daya pendukung yaitu ketersediaan tenaga, sarana dan prasarana pendidikan yang sangat dibutuhkan, BOP, manajemen madrasah, dan kepedulian stakeholders madrasah. KKM dapat dihitung dengan dua cara, yaitu dengan perhitungan kasar menggunakan rentang nilai 1 sampai 3 atau secara lebih halus dengan rentangan nilai dari 1 sampai 100 untuk setiap komponen yang dinilai dengan menggunakan tabel penilaian sebagai berikut. Tabel 17: Indikator dan rentang nilai komponen KKM No. 1. Komponen Kompleksitas Katergori penilaian Tinggi Sedang Rendah Tinggi Sedang Rendah Tinggi Sedang Rendah Rentang kasar 1 2 3 3 2 1 3 2 1 Rentang halus 50 – 60 61 – 80 81 - 100 81 - 100 61 – 80 50 - 60 81 - 100 61 – 80 50 - 60

2.

Daya dukung

3.

Tingkat kemampuan ratarat siswa (intake)

Misalnya dengan menggunakan nilai rentang kasar, untuk pelajaran Matematika kompleksitasnya ”tinggi” berarti nilainya 1; ”daya dukung” untuk melaksanakan

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

pembelajaran matematika ”sedang” berarti nilainya 2; dan intake dari nilai rata-rata siswa ”sedang” berarti nilainya 2. Karena maksimum skor rentang kasar adalah 3+3+3 = 9, maka nilai KKM matematika (berdasarkan rentang kasar) adalah (1+2+2) : 9 x 100 = 55,6. Sementara itu apabila menggunakan nilai rentang halus untuk kompleksitas 5060, daya dukung 61-80, dan tingkat kemampuan 61-80, maka rentang KKM untuk mata pelajaran matematika menjadi: (50 + 61 + 61)/3 = 57,33 ≤ KKM ≤ (60+80+80)/3 = 73,3. Contoh lain, jika KD di dalam mata pelajaran memiliki kriteria : kompleksitas tinggi, daya dukung tinggi dan intake siswa sedang, maka nilai KKM dari KD tersebut adalah: (1 + 3 + 2) : 9 x 100 = 66,7. Apabila kesulitan dalam menentukan kriteria penilaian pada setiap komponen itu, maka penentuan nilai tersebut dapat didiskusikan dalam forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

d. Cara Menuliskan KKM pada Dokumen KTSP
Berikut disampaikan contoh cara penulisan KKM dalam dokumen KTSP. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, semua mata pelajaran yang diajarkan di MTs-PSA Al-Azhariyyah ditentukan KKM sesuai kondisi obyektif Sekolahsebagaimana tertera pada Tabel 18. Kemudian, siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal dari masing-masing mata pelajaran, harus mengikuti program perbaikan (remedial ) sampai mencapai ketuntasan minimal.

Tabel 18: Kriteria Ketuntasan Minimal Mata Pelajaran KKM KELAS VII KKM KELAS VIII KKM KELAS IX

No. 1

Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam a. Quran-Hadis

b. Fiqih

c. Aqidah Akhlaq

d. Sejarah Kebudayaan Islam e. Bahasa Arab

2.

Pendidikan kewarganegaraan

Penguasaan konsep Membaca dan menulis Sikap beragama Penguasaan konsep Keterampilan beribadah Sikap beragama Penguasaan konsep Keterapilan Sikap beragama Penguasaan konsep Sikap beragama Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis Penguasaan konsep Praktek

70

70

75

70

70

70

70 70

70 70

75 75

65

70

70

70

70

70

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

3.

Bahasa dan Sastra Indonesia

4.

Bahasa Inggris

5.

Matematika

6. 7. 8. 9.

Pengetahuan Alam (Sains) Pengetahuan Sosial Kesenian Pendidikan Jasmani

10. 11.

Keterampilan (TIK) Mulok : Bahasa Daerah

Mulok : Aswaja

Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis Bilangan Aljabar Geometri dan pengukuran Peluang dan statistik Penguasaan konsep Keterampilan Sains Penguasaan konsep Keterampilan sosial Apresiasi Kreasi Permainan dan Olahraga Pengembangn Uji diri dan senam Pilihan Pengetahuan Praktik Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis Penguasaan konsep Keterapilan Sikap beragama Penilaian secara kualitatif Penilaian secara kualitatif

65

70

70

62

63

65

62

63

64

65 65 70

68 68 70

70 70 75

70

73

75

70

70

75

65

70

70

70

70

70

12.

Pengembangan diri a. BTQ b. Konseling

70 70

70 70

70 70

2. Kriteria Kenaikan Kelas dan Kelulusan Rata-rata KKM juga dijadikan bahan pertimbangan siswa untuk naik kelas, jika rata-rata nilai KKM dari semester 1 dan semester 2 di bawah rata-rata ketuntasan, maka siswa dinyatakan tidak naik kelas. Kenaikan kelas diartikan sebagai proses pengambilan keputusan bagi peserta didik untuk naik atau tidak naik dari suatu tingkat kelas ke tingkat kelas berikutnya, yang didasarkan pada perolehan kualifikasi dan kompetensi tertentu sesuai dengan jenjang yang dipersyaratkan dan melalui suatu proses penilaian atau evaluasi yang komprehensif. Penentuan kriteria kenaikan kelas diatur dengan mengikuti aturan dari pusat dan juga ditambahkan sendiri oleh madrasah.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Rambu-rambu dalam menentukan kenaikan kelas adalah sebagai berikut: (i) Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas dan harus mengulang apabila (a) tidak menuntaskan standar kompetensi dan kompetensi dasar lebih dari empat mata pelajaran sampai pada batas akhir tahun pelajaran, (b) karena alasan yang kuat misal karena gangguan kesehatan fisik, emosi, atau mental sehingga tidak mungkin berhasil dibantu mencapai kompetensi yang ditargetkan. (ii) Ketika mengulang di kelas yang sama nilai peserta didik untuk semua indikator, kompetensi dasar, dan standar kompetensi yang ketuntasan belajar minimnya sudah dicapai, minimal sama dengan yang dicapai pada tahun sebelumnya. Kriteria umum kelulusan didasarkan pada ketentuan PP No. 19 Tahun 2005 pasal 72 ayat (1) yakni bahwa peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah dengan aturan berikut.

(i) (ii)

(iii) (iv) (v)

Menyelesaikan seluruh program pembelajaran Memperoleh minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan Lulus ujian madrasah/Sekolahuntuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi Lulus ujian nasional Ketentuan formal lain yang dikeluarkan oleh pihak terkait berkenaan dengan pelaksanaan ujian nasional akan menjadi acuan tambahan dalam menentukan kriteria kelulusan.

Berdasarkan kriteria umum tersebut, Sekolahmenetapkan kriteria kenaikan kelas/ kelulusan dengan cara mengambil semua peraturan pusat dan menambahkan hal-hal khusus dari madrasah. Dalam Box 5 berikut disajikan contoh peraturan kenaikan dan kelulusan pada dokumen KTSP setelah ditambahkan hal-hal khusus sesuai dengan konteks madrasah.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Tabel 19: Kriteria Kenaikan dan Kelulusan pada SekolahX Kriteria Kenaikan dan Kelulusan pada SekolahX

Peserta didik dinyatakan naik kelas apabila memenuhi syarat: • • • • • • • •

Menyelesaikan seluruh program pembelajaran pada dua semester di kelas yang diikuti; Tidak terdapat nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada lebih dari 4 ( empat ) mata pelajaran pada semester yang diikuti; Nilai minimal rata – rata 6,00 untuk mulok kepesantrenan Tidak ada ada nilai kurang dari 50,00 untuk salah satu atau lebih dari aspek penilaian mata pelajaran Nilai rata-rata seluruh mata pelajaran pada semester itu lebih dari atau sama dengan 6,00 Memiliki nilai kepribadian minimal cukup untuk aspek kelakuan, kerajinan, kerapian dan kebersihan pada semester yang diikuti; Memiliki nilai minimal cukup untuk aspek pengembangan diri yang diikuti. Ketidakhadiran tanpa izin (alpa) maksimal 5% dari jumlah hari efektif.

Peserta didik dinyatakan mengulang di jenjang kelas yang sama apabila • Memiliki nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (KKM) pada lebih dari 3 (tiga) mata pelajaran • Ada nilai kurang dari 50,00 untuk salah satu atau lebih dari aspek penilaian mata pelajaran. • Nilai rata-rata seluruh mata pelajaran pada semester itu lebih dari atau sama dengan 6,00 • Kepribadian dan pengembangan diri kurang dari cukup • Karena alasan yang kuat, misalnya karena gangguan kesehatan fisik, emosi, dan mental sehingga tidak mungkin berhasil dibantu mencapai kompetensi yang ditargetkan; • ketidakhadiran tanpa izin (alpa) lebih dari 5% dari jumlah hari efektif.

Penetapan kenaikan kelas dihitung berdasarkan pencapaian hasil belajar semester ganjil dan genap pada satu tahun ajaran, dengan ketentuan sebagai berikut : (i) Jika capaian hasil belajar pada semester ganjil dan genap nilai suatu pelajaran tuntas, maka untuk mata pelajaran tersebut dinyatakan tuntas. (ii) Jika capaian hasil belajar pada semester ganjil dan genap nilai suatu pelajaran tidak tuntas, maka untuk mata pelajaran tersebut dinyatakan tidak tuntas. (iii) Jika capaian hasil belajar mata pelajaran pada salah satu dari semester ganjil dan genap tidak tuntas, maka ketuntasan mata pelajaran tersebut harus dilakukan penghitungan pada mata pelajaran sbb.:

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

• • •

Hitunglah nilai rata-rata capaian hasil belajar semester ganjil dan genap pada mata pelajaran tersebut. Hitunglah rata-rata KKM semester genap dan ganjil mata pelajaran tersebut. Jika nilai rata-rata capaian semester genap dan ganjil mata pelajaran tersebut sama atau lebih besar dari rata-rata KKM, maka pelajaran tersebut dinyatakan tuntas dan sebaliknya apabila di bawahnya dinyatakan tidak tuntas, seperti cosntoh di bawah ini. Tabel 20: Contoh Perhitungan yang MenunjukkanTidak Tuntas

: Semester Ganjil Genap Rata-Rata KKM 70 70 70 Nilai capaian hasil belajar 65 70 67,5

Tabel 21: Contoh Perhitungan yang Menunjukkan Tuntas Semester Ganjil Genap Rata-Rata KKM 70 70 70 Nilai capaian hasil belajar 65 85 75

(iv)

Penetapan kenaikan kelas:

• • • (v)

Jika lebih dari 4 mata pelajaran tidak tuntas, peserta didik dinyatakan tidak naik kelas Memiliki nilai minimal baik untuk aspek kepribadian, kelakuan dan kerajinan. Jumlah ketidakhadiran (absen) dalam 1 (satu) tahun maksimal 24 hari dan ijin 24 hari dalam satu tahun

Penentuan kelulusan
Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada satuan pendidikan dasar dan menengah setelah : • • menyelesaikan seluruh program pembelajaran ; memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlaq mulia, kelompok mata pelajaran dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan. lulus ujian/Sekolahuntuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. lulus ujian nasional memenuhi standar kelulusan UN, yaitu:

• • •

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

o

o o o

Memiliki niali rata-rata minimal 5,00 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan tidak ada nilai dibawah 4,25, atau Memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran dengan nilai dua mta pelajaran lain minimal 6,00 Standar nilai minimal tersebut setiap tahun bisa mengalami perubahan (peningkatan) Nilai rata-rata kelulusan dihitung dengan menggunakan formula berikut : Box 8: Formula untuk menetapkan kelulusan Formula kelulusan NK= A+B+C 3

Dengan keterangan sbb : • • • • • • • • NK = Nilai rata-rata kelulusan A = Rata-rata nilai rapor semester 1 sampai IV B =Rata-rata nilai ujian tingkat Madrasah C = Rata rata nilai ujian nasional Predikat kelulusan berdasarkan kategori sebagai berikut. NK Lebih besar atau sama dengan 8,5 : Sangat baik NK Lebih besar atau sama dengan 7,5 dan kurang dari 8,5 : Baik NK Kurang dari 7,5 : Cukup

3. Ketentuan Mutasi
Ketentuan mutasi memuat aturan-aturan yang berkaitan dengan tatacara dan syarat untuk bisa menerima murid pindahan serta layanan yang perlu diberikan kepada siswa yang akan pendah ke Sekolahlain.

7.

BAB VI Kalender Pendidikan

Bab 6 kalender pendidikan digunakan untuk mengatur kegiatan pendidikan selama per tahun dan per semester. Kalender pendidikan juga memuat pekan efektif dan pekan tidak efektif, sedemikian hingga dapat dijadikan acuan untuk mendistribusikan KD-KD dalam setahun dan dalam semeter. Pekan efektif dihitung dari jumlah pekan (total) dikurangi jumlah pekan tidak efektif. Dalam kalender akademik memuat: pekan efektif dan jam efektif; hari libur keagamaan, hari libur nasional, mid semester, ulangan akhir semester, Ujian Madrasah, Ujian Nasional, Kalender Kegiatan Madrasah. Akhirnya kalender pendidikan dapat digunakan untuk membantu mempermudah menyusun silabus dan RPP, terutama berkaitan dengan penentuan alokasi waktu.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

BAB IV PENYUSUNAN SILABUS DAN RPP a. Pengertian Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi dan kompetensi dasar, kegiatan pembelajaran, materi pokok/pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi,, penilaian, sumber, dan alokasi waktu belajar. Di Indonesia, silabus merupakan pengaturan dan penjabaran seluruh kompetensi dasar suatu mata pelajaran sehingga relevan dengan konteks madrasahnya dan siap digunakan sebagai panduan pembelajaran setiap mata pelajaran. Standar Isi merupakan standar minimal yang berisi Standar Kompetensi dan kompetensi dasar. Silabus berisi standar kompetensi dan kompetensi dasar, kegiatan pembelajaran, materi pokok/pembelajaran indikator pencapaian kompetensi, penilaian, sumber, dan alokasi waktu belajar. Silabus berisikan komponen pokok yang dapat menjawab permasalahan (a) kompetensi apa yang akan dikembangkan pada siswa (terkait dengan tujuan dan materi yang akan diajarkan), (b) cara mengembangkannya (terkait dengan metode dan alat yang akan digunakan dalam pembelajaran), dan (c) cara mengetahui bahwa kompetensi itu sudah dicapai oleh siswa (terkait dengan cara mengevaluasi terhadap penguasaan materi yang telah diajarkan).

b. Perbedaan Antara Silabus Dengan Kurikulum
Silabus adalah satu bagian dari kurikulum dan silabus mengacu pada deskripsi dari satu mata pelajaran tertentu, misalnya Matematika atau Bahasa Indonesia. Silabus merupakan pedoman yang dipakai guru dalam merencanakan program pembelajaran bagi peserta didik. Pada umumnya silabus mengandung rincian hasil belajar yang diharapkan, kegiatan belajar-mengajar, metode yang digunakan menilai siswa, isi pelajaran yang harus dibahas, sumber atau materi pelajaran yang bisa dipakai dalam proses belajar-mengajar, dan alokasi waktu. Kurikulum merupakan konsep yang lebih luas dibandingkan silabus karena kurikulum mencakup latar belakang dan filosofi di belakang penyusunan berbagai silabus.

c. Cara Mengembangkan Silabus
Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau kelompok dalam sebuah madarsah atau beberapa madrasah/madrasah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan. Silabus disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi Sekolahdan lingkungannya. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak Sekolahdapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh Sekolahtersebut.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam menyusun silabus, yaitu: (i) konsisten, yaitu adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, kegiatan belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian. (ii) memadai, yaitu cakupan indikator, materi pokok, kegiatan belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. (iii) ilmiah, yaitu keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggung-jawabkan secara keilmuan. (iv) relevan, yaitu cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik. (v) sistematis, yaitu komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. (vi) aktual dan kontekstual, yaitu cakupan indikator, materi pokok, kegiatan belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. (vii) fleksibel, yaitu keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di Sekolahdan tuntutan masyarakat. Pemilihan media, bahan ajar, dan kegiatan pembelajaran dapat mengakomodasi (viii) menyeluruh, yaitu komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotor)

d. Langkah Penyusunan Silabus
Langkah penyusunan silabus mencakup mengkaji SK dan KD, mengembangkan kegiatan pembelajaran, mengidentifikasi materi pokok, merumuskan indikator pencapaian kompetensi, penentuan jenis penilaian, menentukan sumber belajar, dan menentukan alokasi waktu. Adapun langkah-langkah penyusunan silabus seperti disajikan pada Diagram 2.

i. Mengkaji Silabus

Komponen KTSP Yang Berkaitan Dengan

Sebelum menyusun silabus, perlu dilakukan pengkajian komponen KTSP yang berkaitan dengan penyusunan silabus yaitu struktur dan muatan kurikulum serta kalender pendidikan. Dari pengkajian KTSP diperoleh gambaran berapa alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran tertentu. Alokasi waktu ini akan didistribusikan pada pemetaan. Dari kajian tersebut juga dapat diketahui secara pasti tujuan/arah mata pelajaran serta kecakapan hidup yang akan dintegrasikan dalam suatu mata pelajaran.

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

ii. Pendalaman Karakteristik Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) serta Pemetaan Kompetensi Dasar 1. Pendalaman Karakteristik SKKD dan Penentuan Alokasi Waktu
Langkah kedua dalam menyusun silabus adalah pendalaman karakteristik kompetensi dasar dan pemetaan kompetensi dasar. Langkah ini membantu guru untuk memahami secara mendalam karakteristik kompetensi dasar dalam satu semester atau satu tahun sehingga mampu melihat kaitan antar KD, mendalami karakteristik dan cakupan kompetensi. Dengan pemahaman tersebut guru dapat mengelompokkan dan mengurutkan kompetensi dasar sesuai herarki kesulitan KD, menambah pengetahuan prasarat yang diperlukan, atau mengatur alokasi waktu yang sesuai dengan cakupan kompetensi. Box 9: Contoh Format untuk Pendalaman SKKD Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pendalaman mata pelajaran : Pendidikan Agama Islam (PAI) Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Jabaran kompetensi Pemahaman Penerapan Konsep

Alokasi Waktu

Keterangan : • Jabaran pemahaman konsep diisi ruang lingkup konsep yang diperlukan untuk mencapai suatu Kompetensi Dasar • Jabaran penerapan diisi keterampilan dan penerapan perilaku yang perlu dilatihkan untuk mencapai suatu Kompetensi Dasar • Alokasi waktu diisi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan setelah mempertimbangkan cakupan isi dan keterampilan yang harus dilatihkan dari suatu Kompetensi Dasar

Panduan Praktis Penyusunan KTSP

Box 10: Contoh Format untuk Pendalaman SKKD Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan alam (IPA)

Pendalaman mata pelajaran : Ilmu Pengetahuan alam (IPA) Jabaran kompetensi Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Pemahaman konsep Penerapan Konsep Kinerja Ilmiah Alokasi Waktu

Box 11: Contoh Format untuk Pendalaman SKKD Mata Pelajaran Bahasa Indonesia/ Bahasa Inggris Pendalaman mata pelajaran : Mata Pelajaran Bahasa Indonesia/ Bahasa Inggris Standar Kompe tensi Kompetensi Dasar

Karakteristik Keterampilan

Aspek kebahasaan

Karakteristik keterampilan diisi dengan fokus keterampilan yang termuat dalam KD. Misalnya, termasuk membaca pemahaman, membaca bersuara, mendengar, berbicara, atau menulis. Dalam mata pelajaran Bahasa Inggris juga bisa ditambahkan jenis teks yang terkandung dalam KD. Aspek kebahasaan merupakan penafsiran penyusun silabus untuk menambahkan aspek kebahasaan (kosakata, struktur kalimat, tata bentukan, penggunaan tguru baca/ ejaan) yang dibutuhkan siswanya untuk mencapai suatu KD.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 60 dari 141

8. Menentukan sumber belajar

9. Menentukan alokasi waktu

1. Mengkaji struktur dan
muatan kurikulum dalam KTSP

7. Menentukan penilaian (tes/non-tes)

Langkah – langkah Penyusunan Silabus

2. Pendalaman SK/ KD dan pemetaan

6. Merumuskan indikator

3. Menentukan kompetensi dasar

5. Mengembangkan kegiatan pembelajaran

4. Identifikasi materi /bahan ajar

Diagram 2: Langkah-langkah penyusunan silabus

2. Cara Membuat Pemetaan
Dalam melakukan pemetaan SK/KD setiap mata pelajaran perlu diperhatikan prinsipprinsip berikut. (i) Semua KD dalam Standar Isi sebagai standar minimal harus tercakup pada pemetaan. Guru boleh menambahkan KD sebagai pengetahuan prasarat jika menganggap kondisi siswa masih memerlukan pengetahuan prasarat untuk mencapai kompetensi dasar tertentu. Memetakan dengan tujuan memudahkan siswa untuk mencapai KD dan kebermaknaan penyajian KD dengan konteks siswa Mengaitkan atau mendekatkan KD yang mempunyai hubungan fungsional Pemetaan mempertimbangkan kondisi siswa dan kondisi prasarana madrasah Apabila urutan KD yang terdapat dalam standar isi sudah dikaji dan dianalisis ternyata sudah sesuai urutannya dengan kondisi siswa dan kondisi madrasah, guru dapat menggunakan urutan yang terdapat pada Standar Isi SKKD dapat dilakukan dengan

(ii) (iii) (iv) (v)

Dengan menggunakan prinsip-prinsip tersebut, pemetaan empat cara berikut.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 61 dari 141

(i)

(ii)

(iii)

Pemetaan berdasarkan pengaturan hirarkhi/ jenjang tingkat kesulitan kompetensi dasar. Pemetaan dilakukan dengan cara mengatur kembali urutan kompetensi dasar dalam Standar Isi dengan cara mendahulukan kompetensi dasar yang menjadi prasarat bagi kompetensi dasar berikutnya. Dari hasil pendalaman kompetensi dasar yang telah dilakukan penyusun silabus mengatur kembali urutan kompetensi dasar berdasarkan hirarkhi. Di sini penyusun silabus juga dapat menambahkan kompetensi prasarat yang belum ada pada Standar Isi tetapi diperlukan bagi peserta didik. Pemetaan berdasarkan Kevariasian dan Keterkaitan. Dengan cara ini pemetaan dilakukan dengan cara memvariasikan dan mengaitkan berbagai keterampilan yang masih terpisah-pisah dalam Standar Isi. Misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dilakukan pemetaan dengan membuat unit-unit yang berisi variasi keempat keterampilan (membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara baik sastra maupun nonsastra) dengan memperhatikan keterpaduannya. Pada Standar Isi kometensi-kompetensi tersebut masih terpisah-pisah berdasarkan klasifikasi keempat keterampilan berbahasa/ bersastra. Pemetaan bisa menggunakan format seperti pada box 13. Pemetaan berdasarkan kepaduan Standar Kompetensi. Pemetaan dengan cara ini dilakukan dengan cara memadukan Standar Kompetensi yang bervariasi dan kompetensi dasar yang terkait. Pemetaan jenis ini berkaitan dengan pemetaan IPS terpadu dan IPA terpadu. Pemetaan bisa dilakukan dengan mengaitkan KD Ekonomi, Geografi, Sejarah, dan Sosiologi yang berkaitan. Pemetaan juga dapat dilakukan dengan cara membuat unit-unit silabus yang berisi KD Ekonomi, Geografi, Sejarah, dan Sosiologi. Pemetaan bisa diberi tema atau tanpa tema. Demikian juga pemetaan IPA terpadu bisa dilakukan dengan mengaitkan antara KD Biologi, Fisika, dan Kimia yang terkait.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 62 dari 141

Box 12: Contoh Format untuk Pemetahaan Mata Pelajaran Bahasa

Pemetaan Mata Pelajaran Bahasa Unit bahasan (Tema) Keterampilan Mende ngarkan BerbiCara MemBaca Menu Lis Aspek kebahasaan

Alokasi Waktu

(iv)

Pemetaan berdasarkan kebermaknaan /kontekstual. Pemetaan dilakukan dengan memtimbangkan waktu penyajian dengan konteks yang akan dialami siswa. Misalnya, dalam silabus Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) KD tentang perjuangan dan pengorbanan pahlawan diprogramkan pada urutan yang berdekatan dengan peristiwa ulang tahun kemerdekaaan, KD tentang persatuan berdekatan dengan waktu sumpah pemuda (28 Oktober 2007). Dalam pelajaran Fiqh, KD tentang zakat dirancang urutannya sekitar Ramadhan/ Hari Raya Idul Fitri. Demikian juga dalam mata pelajaran lain dirancang pemetaan dengan cara mendekatkan penyajian KD dengan peristiwa nyata yang dihadapi siswa.

iii. Menjabarkan Komponen Silabus
Langkah ketiga penyusunan silabus adalah menjabarkan komponen-komponen silabus yang mencakup standar kompetensi dan kompetensi dasar (KD), materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, sumber, dan alokasi waktu belajar. Salah satu format penjabaran silabus dicontohkan berikut.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 63 dari 141

Box: 13: Contoh Format Silabus SILABUS Mata Pelajaran : Kelas : Semester : Standar Kompetensi ............. ............................................................... Alokasi Waktu

Komptensi dasar

Materi pokok

Kegiatan pembelajaran

Indikator

Penilaian

Sumber Belajar

Ditetapkannya format urutan penyusunan silabus seperti box 13, didasari oleh alasan logis bahwa rumusan setiap KD adalah kata kerja dan obyek. Obyek KD dijadikan bahan untuk mengembangkan materi pokok, karena itu materi pokok ditampilkan pada kolom kedua. Kata kerja digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran, karena itu kegiatan pembelajaran ditampilkan pada kolom ketiga. Selanjutnya untuk mengetahui apakah kegiatan pembelajaran sudah berhasil atau belum, terutama dalam menuntaskan KD, maka perlu dirumuskan indikator pencapaian KD. Untuk mengukur ketercapaian indikator, diperlukan instrumen penilaian, karena itu kolom berikutnya adalah penilaian. Berikutnya, untuk menunjang keberhasilan pembelajaran, diperlukan sumber/media belajar dan untuk menuntaskan satu KD diperlukan berapa lama, karena itu kolom berikutnya adalah sumber belajar dan alokasi waktu.

1. Menentukan Urutan Kompetensi Dasar
Urutan penentuan KD yang akan dijabarkan dalam silabus disesuaikan dengan pemetaan. Urutan KD dalam silabus akan mencerminkan urutan RPP yang akan dibuat dan urutan penyajiannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi dasar pertama yang akan dijabarkan juga disesuaikan dengan pemetaan.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 64 dari 141

2. Mengidentifikasi Materi Pokok
Dalam rumusan kompetensi dasar (KD) selalu memuat kata kerja dan obyek. Materi pokok dikembangkan berdasarkan pada obyek dari rumusan KD. Yang selanjutnya dapat ditentukan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan materi pokok tersebut. Materi dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu: (i) (ii) pengetahuan seperti fakta, definisi, prinsip-prinsip, konsep, generalisasi, penjelasan dan sebagainya. proses atau keahlian yang berkaitan dengan prosedur dan prinsip dasar pengetahuan seperti membaca, menulis, menghitung, bicara, berpikir kritis, memanfaatkan peralatan, pengambilan keputusan, pemetaan, penulisan laporan, mencari informasi, berolahraga, menari, dan masih banyak lagi. nilai dan sikap yang berhubungan dengan apa yang tengah dipelajari seperti keyakinan tentang hal yang baik dan buruk, cantik atau jelek, nilai pribadi dan sikap terhadap sesama.

(iii)

Pada saat memilih muatan mana yang akan dimasukkan dalam silabus, sebagian besar penulis cenderung untuk lebih menyukai pendekatan pengetahuan untuk memilih materi yang artinya bahwa mereka berkonsentrasi pada pengumpulan pengetahuan, keahlian dan nilai dari mata pelajaran tersebut secara bertahap, sedangkan penulis yang lain lebih menyukai pendekatan proses yang berarti bahwa mereka percaya bahwa yang terpenting adalah kemampuan untuk memperoleh dan memproses pengetahuan—mereka menyatakan bahwa guru tidak akan pernah bisa mengetahui semua pengetahuan yang ada dan yang dipelajari guru pelajari hari ini tak lama lagi bisa menjadi tidak relevan. Ketika akan menulis silabus, kita akan merinci beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan ketika menentukan materi /isi apa yang akan dimasukkan. Sebelum bergerak menuju ke tahap berikutnya, kita harus mengingatkan bahwa banyak kurikulum dan silabus telah menjadi terlalu sarat beban. Seringkali materi terlalu banyak yang kan dimasukkan dalam silabus. Penulis silabus hendaknya menyadari dan hanya memasukkan apa yang sesuai dengan dengan kompetensi yang akan dicapai dan paling layak untuk para siswa dalam tahap perkembangannya tersebut. Prinsip pemilihan materi pokok duraikan berikut. (i) (ii) (iii) (iv) Materi cukup memadai (kedalaman/ keluasannya) untuk memfasilitasi siswa mencapai kompetensi dasar Materi sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik; Materi harus bermakna dan bermanfaat bagi peserta didik; Kesesuaian materi dengan karakteristik kompetensi dasar • kompetensi dasar dengan karakteristik keterampilan berarti materi berupa prosedur dan praktik/ latihan-latihan • kompetensi dasar yang berfokus pada pemahaman konsep materi berupa jabaran konsep, prinsip, dan contoh penerapan konsep • kompetensi dasar yang berfokus pada pembentukan sikap berupa jabaran contoh-contoh penerapan sikap, manfaat / kerugian/ dampak suatu sikap, latihan menerapkan sikap

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 65 dari 141

3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Setelah ditetapkan materi pokok yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai (KD), selanjutnya dirumuskan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pokok tersebut, sedemikian hingga KD mudah dicapai. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar juga mencakup kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran, penting bagi para penyusun silabus untuk memfokuskan pada jenis-jenis pengalaman belajar yang sesuai dan aktivitas pembelajaran yang akan membantu siswa mencapai hasil pembelajaran atau standar kompetensi yang telah ditetapkan. Pada pengembangan kegiatan pembelajaran ini perhatian penyusun silabus harus ditekankan pada bagaimana mengkondisikan siswa untuk belajar dan bukan pada bagaimana guru mengajar. Dengan memfokuskan pada pengalaman belajar, kita akan lebih jelas menentukan cara terbaik untuk merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai untuk para siswa kita. Guru yang kemudian akan lebih kenal dengan ‘pembelajaran berbasis siswa’ melihat bahwa cara ini akan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan ‘pendekatan berpusat pada guru’. Pada saat kita memfokuskan pada pengalaman belajar, kita mencoba berpikir lebih luas tentang pengalaman belajar yang sesuai untuk tujuan atau standar kompetensi tertentu sehingga istilah yang lebih luas dibandingkan kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran mencakup semua aktivitas yang disediakan untuk para pelajar dalam situasi belajar mengajar yang memungkinkan para siswa untuk memperoleh isi yang telah dipelajari dan mencapai kompetensi belajar, hasil, sasaran dan tujuan dari kurikulum. Kegiatan pembelajaran mencakup segala hal yang direncanakan dan disampaikan oleh guru termasuk juga pembelajaran mandiri dari para siswa. Banyak penyusun kurikulum yang sekarang menggunakan istilah strategi belajar mengajar dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran. Box 14: Contoh Pengembangan Kegiatan Pembelajaran Pengembangan Kegiatan Pembelajaran • • • Kompetensi dasar Materi pokok Kegiatan pembelajaran : Siswa mampu mempergunakan proses ilmiah secara runtun. : proses dan prosedur ilmiah : melakukan percobaan ilmiah, membaca buku pelajaran, berdiskusi dengan cara ilmuwan, menonton video tentang prosedur yang benar dari percobaan ilmiah, dan sebagainya.

Agar para siswa menjadi pelajar yang lebih baik, para guru membutuhkan bekal pengetahuan tentang:

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 66 dari 141

(i)

(ii) (iii)

bagaimana para siswa belajar [beberapa diantara siswa mampu berpikir secara verbal dengan lebih baik dan lainnya lebih suka menggunakan gambar, beberapa orang siswa belajar lebih baik dengan melakukan sesuatu, yang lain dengan menonon, meraba dan merasakan atau dengan berpikir, dan sebagainya. berbagai strategi belajar seperti interaktif, kelompok kecil dan pengajaran dengan penelitian/ investigasi. metode pembelajaran yang ‘berpusat pada siswa’.

Selain itu, ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut. (i) Kegiatan pembelajaran disusun berpusat pada siswa. Hal ini sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum yang memusatkan kegiatan pembelajaran kepada siswa. (ii) Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar. (iii) Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran. (iv) Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi. Contoh rumusan kegiatan pembelajaran yang benar “Mendiskusikan contoh karya ilmiah dari segi isinya”. daftar kata kerja operasional untuk Di bawah ini dicontohkan (sebagian) merumuskan kegiatan pembelajaran/ pengalaman belajar. Tabel 22: Kata Kerja Operasional Kegiatan Pembelajaran/ Pengalaman Belajar Kata Kerja Operasional kegiatan pembelajaran/ Pengalaman Belajar • • • • • • • • • • • • • Membaca bermakna Mengubah syair Bernyanyi Bermain peran Berpidato Menulis prosa, puisi, pantun, gurindan Berdiskusi Menyimak dalam menangkap gagasan pokok Mengisi teka-teki Mengajukan pertanyaan penelitian Menjawab dengan alasan logis Mengomentari Mengamati persamaan dan perbedaan untuk mencari ciri benda/ konsep • • • • • • • • • • • • • • • Membuat rangkuman Demonstrasi hasil temuan Mencari pemecahan soal Mipa Membuat soal ceritera (media kreatifitas) Merencanakan dan melakukan percobaan/penelitian Mengoperasikan komputer Mengelompokkan/mengidentifikasi Mengumpulkan dan negoleksi benda sesuai karakteristiknya Meramal Membuat grafik/diagram/charta, jurnal Membuat alat Praktik ibadah/menjadi habib, pendeta Mengukur besaran fisika Mendengar dengan seksama Bercerita

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 67 dari 141

4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan bentuk operasional pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah, dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

Contoh KD dan rumusan indikator: KD : menulis surat resmi dengan isi dan bahasa yang sesuai Indikator • • Dapat menyusun pokok-pokok surat resmi sesuai konteks surat Dapat menulis surat resmi dengan menggunakan bahasa baku

Di bawah ini dicontohkan (sebagian) kata kerja operasional untuk merumuskan indikator. Tabel 23: Rumusan Indikastor Pengetahuan Keterampilan Perilaku

Siswa sudah mampu Siswa mampu : Siswa mampu : • Menghargai hasil pengukuran orang lain • Menjelaskan • Membaca dan menulis • Kebijaksanaan memecahkan masalah • Menyebutkan • Berbicara dan mendengar • Berfikir positif • Membedakan • Mendemostrasikan • Menghargai pendapat orang lain • Menemukan • Menyusun kerangka hubungan antara dua • Toleransi terhadap masalah lingkungan • Mengukur variabel • —Menerapkan perduli kebersihan • Menganalisis • Menerapkan konsep lingkunganSopan santun dalam berbicara • Menerapkan konsep dan bertindak • Menganalisis data • Mengambil kesimpulan yang tepat • Beriman dan bertaqwa • —Menarik kesimpulan dari suatu masalah dari suatu • Ketelitian pengamatan • Keterampilan mengolah data peristiwa—Menghitung • Menginformasikan masalah • Keterampilan menyajikan data nilai dari suatu laporan kerja • Kejujuran empati besaran • Keterampilan manajemen keuangan • Toleransi • Menemukan rumus • Sikap ingin tahu • Menentukan untung / rugi berdasarkan suatu • Keterampilan berdebat positif disertai • Sikap terbuka data sikap ilmiah • Kerja keras • Mengambil • Keterampilan membaca buku atau • Berfikir kritis kesimpulan berita media • Berani mengambil resiko • Menghitung nilai dari • Keterampilan mendengar • Memiliki keuletan berpikir / bertindak suatu konsep • Keterampilan membaca gambar, • Memiliki ide/karya/kreasi • Membaca diagram diagram, grafik • Mampu bekerja sama, suka bertanya • Menganalisis • Keterampilan membaca pesan • Menampilkan disiplin diri dan loyal kegiatan • Mengidentifikasi masalah • Aktif, kreatif, inovatif, proaktif, percaya diri • Mendefinisikan suatu • Merancang percobaan, merancang konsep suatu alat • Membuat gambar, diagram, grafik

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 68 dari 141

Membuat karya tul;is, sinopsis, rangkuman

5. Menentukan Jenis Penilaian
Penyusunan dan pelaksanaan penilaian terhadap pencapaian kompetensi dasar dapat dilakukan dengan mengacu pada standar penilaian yang tertuang dalam Permendiknas No 20 tahun 2007. Penilaian digunakan dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio. Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Hal penting dalam penilaian adalah penyusunan instrumen. Dalam menyusun instrumen harus mengacu pada indikator yang sudah ditetapkan. Indikator merupakan representasi pencapaian kompetensi dasar. Karena itu, apabila siswa bisa menjawab/menyelesaikan soal (instrumen), berarti siswa tersebut dapat menyelesaikan indikator dan secara otomatis KD sudah dapat tercapai. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian: (i) (ii) penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. penilaian harus disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dasar Keterampilan Pengetahuan Sikap --- unjuk kerja, tes produk, proyek --- tes tertulis ---- lembar observasi

Tips untuk menguji ketepatan alat Penilaian dalam silabus (i) Apakah alat asesmen sesuai dengan indikator suatu kompetensi dasar?

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 69 dari 141

(ii)

Apakah metode pengukuran/Penilaiant merupakan metode yang terbaik untuk mengukur indikator dari kompetensi dasar ini? Apakah Ada cara yang paling relevan untuk mengukur ketercapaian indikator?

Guru perlu memutuskan cara yang paling tepat untuk mengukur kompetensi dan indikator yang sebenarnya untuk menunjukkan bahwa apa yang diharapkan telah berhasil dicapai. Dalam penulisan silabus yang berhubungan dengan pengukuran kompetensi siswa, terdapat dua prinsip penting yang harus dipertimbangkan oleh penyusun silabus. (i) Menggunakan berbagai alat penilaian • • • Guru membuat tes (pilihan ganda, jawaban singkat, benar/salah, mencocokkan dan karangan). Produk / contoh pekerjaan siswa (kerja praktek, karangan, bagan, model, proyek, tugas, melengkapi pekerjaan rumah, buku tugas, dan sebagainya. Pengamatan yang sistematis terhadap pekerjaan siswa di kelas (melaksanakan kerja praktek untuk IPA dan IPS, menyelesaikan soalsoal matematika, mengamati pekerjaan dan performa mereka dalam kelas drama). Skala penilaian dan daftar check-list (misalnya performa murid dalam debat atau drama, partisipasi dan kerja sama dalam diskusi kelompok dengan siswa lain, performa lisan dalam diskusi kelas dan penyelesaian tugas praktik). Ujian lisan Kinerja/ unjuk kerja atau kerja praktik yang berisi demonstrasi agar siswa menunjukkan pemahaman dan keterampilannya berkaiatan dengan kompetensi dasar.

• •

(ii)

Penilaian harus berhubungan dengan kompetensi dan indikator yang telah ditetapkan. Secara garis besar, kompetensi atau hasil yang tidak dapat diukur tidaklah perlu diukur.

.

6. Menentukan Alokasi Waktu dan Sumber Belajar
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentinggan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. Untuk itu, perlu dilhat kembali pemetaan hasil bedah KD yang telah dilakukan pada kegiatan sebelumnya.. Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum yang ditetapkan sumber belajar yang dipilih diharapkan banyak memanfaatkan lingkungan sekitar.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 70 dari 141

iv. Kiat-kiat dalam Penyusunan Silabus
Untuk melengkapi uraian tentang langkah dalam menyusun silabus, berikut disampaikan kiat-kiat tambahan agar silabus yang disusun menjadi lebih baik. (i) (ii) Kumpulkan sumber-sumber belajar yang tersedia dan terkait (sebelum mulai menulis silabus). Buatlah semaksimal penggunaan sumber belajar lokal, termasuk sumber belajar dari rumah dan masyarakat/lingkungan Lakukan pemetaan Kompetensi Dasar sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Kegiatan pemetaan mencakup mengurutkan kompetensi-kompetensi dasar sesuai dengan urutan pembelajarannya dan menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan kompetensi dasar tersebut. Guru tidak harus mengikuti urutan kompetensi (1.1, 1.2, 1.3 dll) seperti yang dinyatakan dalam dokumen standar kompetensi dan kompetensi dasar (Permendiknas No 22 tahun 2006). Dalam beberapa mata pelajaran seperti bahasa, guru bisa menggabungkan KD dan mengemasnya dalam bentuk tema. Dalam satu tema pembelajaran memungkinkan bisa mewakili pencapaian beberapa KD. Perhatikan dengan cermat mengenai pembagian waktu. Dalam hal ini, pembagian waktu didasarkan pada distribusi alokasi waktu pada program tahunan, dan program semester. Fokuskan kegiatan pembelajaran pada kegiatan siswa dan pertimbangkan pengetahuan awal yang sudah dimiliki oleh siswa. Cobalah untuk memulai setiap kompetensi dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka ketahui. Pastikan bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan bervariasi dan penekannya pengembangan berpikir siswa. Tekankan kegiatan pembelajaran pada ”membelajarkan siswa” dan bukan mengajar siswa. Karena itu guru harus mengajarkan kepada siswa untuk belajar. Periksa kesesuaian urutan kegiatan pembelajaran dengan karakteristik siswa dan kompetensi yang ingin dicapai. Pilihlah bermacam-macam sumber belajaryang dapat mengoptimalkan pembelajaran baik yang berasal dari rumah maupun masyarakat/lingkungan. Pastikan bahwa materi sesuai dengan mayoritas tingkatan berpikir siswa. Konsep yang dipelajari tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sulit. Pastikan bahwa materi disusun dengan urutan yang masuk akal, tergantung dari karakteristik mata pelajaran, seperti : • • • • Merancang konsep dari yang lebih mudah ke yang lebih sulit dalam langkah-langkah sederhana Dari topik yang menjadi prasyarat menuju topik yang ahli/mahir (advanced) Dari konsep yang umum ke yang khusus Dari contoh/kasus personal/individu ke konsep umum

(iii)

(iv)

(v)

(vi) (vii)

(viii)

(ix)

(x)

(xi)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 71 dari 141

(xii)

(xiii)

(xiv)

Indikator ketercapaian KD harus dinyatakan dengan jelas, apa yang telah dicapai siswa sebagai bukti bahwa siswa telah menguasai suatu kompetensi dasar. Indikator berkaitan erat dengan penilaian karena indikator tersebut akan diukur diharapkan bisa dilakukan setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran. Perjelas keterkaitan antara KD – materi pokok – kegiatan pembelajaran – indikator. Bahwa materi pokok adalah apa yang harus dipelajari oleh siswa supaya bisa mencapai kompetensi yang ditetapkan. Kegiatan pembelajaran menggambarkan apa yang seharusnya terjadi di kelas dan indikator merujuk pada apa yang harus dicapai. Sediakan alat pengukuran penilaian yang bervariasi, agar dapat mengukur potensi dan kemampuan siswa secara komprehensif. Penilaian yang bervariasi juga dapat menghasilkan data kemampuan siswa secara utuh (dari berbagai aspek, sesuai bidang studi). Pastikan bahwa alat penilaian untuk kegiatan pembelajaran adalah sesuai dan realistis untuk dapat dilakukan. Pilihlah sumber belajar yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai dan materi yang akan dipelajari. Sumber belajar dapat berupa: buku cetak/wajib (text books), peta, peralatan, pembicara tamu, masyarakat lokal, kaset, radio, dan TV merupakan sumber-sumber yang memungkinkan. Dalam menuliskan sumber belajar harus jelas dan eksplisit. Misalnya, kalau mencantumkan buku cetak sebagai sumber belajar, maka harus jelas judul buku, penulis, penerbit, dan tahun terbitnya.

(xv)

(xvi)

v. Mengecek Ketepatan Silabus yang Telah Ditulis
Setelah silabus disusun, perlu dilihat lagi apakah silabus tersebut sudah meenuhi syarat atau belum. Berikut ini adalah rambu-rambu memvalidasi silabus. (i) Rambu-rambu umum • • Kajilah kembali apakah terdapat kesesuaian antar komponen dalam silabus. Kajilah kembali apakah seluruh komponen silabus dikembangkan dengan memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi (apakah menggunakan berbagai sumber yang bervariasi dan aktual), apakah media kontekstual (sesuai dengan kompetensi dasar yang mau dicapai dan kontekstual) Apakah keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di Sekolahdan tuntutan masyarakat. Apakah komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotor) dapat dilakukan dengan

• • (i)

Rambu-rambu khusus untuk validasi silabus menggunakan rubrik penilaian pada Box 15.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 72 dari 141

Box 15: Contoh Rubrik Penilaian Kemampuan Menyusun Silabus

Rubrik Penilaian Kemampuan Menyusun Silabus Nama Guru Mata pelajaran No. 1. Aspek Penilaian Ketepatan dan keajegan SK/ KD :: ........................................ : ........................................ Deskriptor • • Rumusan standar kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) sesuai dengan standar Isi Ada kesesuaian antara KD dengan komponen-komponennya (indikator, materi, kegiatan belajar, media/sumber, evaluasi) Kegiatan pembelajaran memuat aktivitas belajar yang berpusat pada siswa Tahapan kegiatan pembelajaran mendukung tercapainya KD Kegiatan pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kecakapan hidup (personal, sosial) Materi pembelajaran benar secara teoritis Materi pembelajaran cukup memadai mendukung pencapaian KD (Selaras dengan KD) Rumusan indikator berisi jabaran perilaku untuk mengukur tercapainya KD Rumusan indikator berupa kata kerja operasional Alat penilaian sesuai dan mencakup seluruh indikator Wujud/contoh alat penilaian jelas dan sesuai dengan indikator Sumber belajar sesuai untuk mendukung tercapainya KD Sumber belajar bervariasi dan memanfaatkan lingkungan sekitar Komentar

2.

Kegiatan Pembelajar an

• • •

3.

Keakuratan Materi Pembelajar an

• •

4.

Indikator

• •

5.

Penilaian

• •

6.

Sumber Belajar

• •

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 73 dari 141

e. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) i. Pengertian RPP
RPP merupakan perangkat pembelajaran yang harus dibuat oleh seorang guru ketika akan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan di dalam silabus. Lingkup RPP sebaiknya dibuat dengan mengacu “satu RPP untuk satu KD”. Tetapi untuk mata pelajaran tertentu yang berbasis pada tema, satu RPP bisa mencakup beberapa KD. Hal ini sangat fleksibel. Adapun dibuat satu RPP untuk satu KD dengan alasan bahwa dalam kurikulum yang berbasis kompetensi yang “terpenting” dalam proses pembelajaran adalah pencapaian KD. Dan dalam satu RPP diakhiri dengan penilaian, sehingga penilaian tersebut “benar-benar” sebagai ukuran ketercapaian KD. Dalam satu KD bisa terdiri atas 1 (satu) atau beberapa indikator. Karena itu dalam merancang kegiatan pembelajaran juga bisa mempertimbangkan ketercapaian indikator tersebut. Alur penyusunan RPP

SK dan KD

SILABUS

RPP

ii. Langkah Yang Harus Ditempuh Dalam Menyusun RPP
Langkah dalam menyusun RPP adalah sbb.: (i) (ii) Menuliskan kembali KD dan indikator yang telah ditentukan pada silabus Menentukan tujuan pembelajaran Tujuan pembelajaran adalah hal yang akan dicapai dalam pembelajaran. Tujuan pembelajaran harus mencerminkan ketercapaian KD. Tujuan pembelajaran dirumuskan dan dijabarkan sesuai dengan karakteristik dan cakupan kompetensi dasar. Tujuan bisa berupa jabaran tahapan logis dari KD (satu KD beberapa tujuan ) atau bisa juga sama dengan KD (satu KD satu tujuan pembelajaran). Kedalaman tujuan disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Misalnya dicontohkan berikut. KD : menyusun karya tulis dengan sistematika dan bahasa yang efektif Tujuan Pembelajaran: • Siswa mampu menentukan masalah penulisan • Siswa mampu menyusun kerangka karya tulis • Siswa mampu mengembangkan kerangka karya tulis dengan bahasa yang efektif dan penggunaan tguru baca/ejaan secara tepat • Siswa mampu menyunting karya tulis yang dibuat dari segi keutuhan paragraf, penggunaan bahasa, dan tguru baca/ejaan

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 74 dari 141

(iii)

Menentukan Metode dan Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran Metode yang dipilih harus bertumpu pada prinsip pelaksanaan kurikulum yaitu penggunaan multistrategi sehingga siswa belajar dalam suasana aktif, kreatif, dan menyenangkan serta belajar hidup bersama/bekerja sama. Metode yang dapat dipilih bisa bermacam-macam, antara lain: metode inkuiri, pemodelan, jigsaw, tanya- jawab, TGT (Tournament Game Team), simulasi, out door activity, diskusi kelompok, dan sebagainya. Beberapa contoh metode pembelajaran akan dibahas lebih lanjut pada bagian lain. Sebelum mengembangkan kegiatan pembelajaran di RPP, guru perlu menelaah kembali kegiatan pembelajaran pada silabus. Kegiatan pembelajaran di RPP merupakan jabaran operasional dari kegiatan pembelajaran di silabus. Dalam hal ini, kegiatan pembelajaran dijabarkan lebih rinci ke dalam kegiatan pendahuluan, inti, penutup atau pola yang lain. Selain itu kegiatan sudah diatur per pertemuan dan sudah diorganisasikan waktunya lebih rinci (berapa menit pendahuluan, berapa menit kegiatan pada inti, dan berapa menit pada penutup). Sebaiknya kegiatan pendahuluan dan kegiatan penutup, masing-masing tidak lebih dari 10 menit, dan sisanya digunakan untuk kegiatan inti. Adapun kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup dapat dijabarkan seperti berikut.

1. Kegiatan Pendahuluan Kegiatan pendahuluan diarahkan, antara lain untuk memberikan: (1) pemanasan berpikir, (2) apersepsi, dan (3) motivasi. Pemanasan berpikir digunakan untuk menumbuhkan terjadinya disequlibrasi, sedemikian hingga proses adaptasi (asimilasi dan akomodasi) mudah berlangsung. Dengan pemanasan berpikir juga dapat meningkatkan kesiapan siswa untuk belajar. Beberapa kegiatan pemanasan berpikir, antara lain: memberikan pertanyaan menantang yang terkait dengan pelajaran yang akan berlangsung. Pertanyaan menantang tidak harus langsung dijawab di awal, jawaban bisa diberikan ketika kegiatan inti akan selesai. Apersepsi digunakan untuk mendorong terjadinya proses pembelajaran bermakna. Dalam hal ini, pembelajaran akan menjadi bermakna apabila materi yang akan dipelajari “terkait” dengan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh anak. Sehingga terjadi kesinambungan yang kuat dalam proses berpikir. Sebaliknya, apabila materi yang diberikan dalam proses pembelajaran “lepas” (tidak terkait dengan struktur pengetahuan yang diberikan), maka konstruksi pengetahuan yang terjadi akan sangat lemah. Karena itu apersepsi sangat penting dalam proses pembelajaran. Kegiatan apersepsi diarahkan untuk mengetahui “struktur pengetahuan” yang sudah dimiliki oleh anak. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan yang mengarah pada penguasaan materi prasyarat. Dengan mengetahui struktur pengetahuan awal siswa, maka dapat ditentukan kesiapan siswa, sehingga guru dapat menentukan “harus dimulai dari materi apa”. Memberikan motivasi kepada siswa merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Dengan adanya motivasi, siswa akan cenderung

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 75 dari 141

semangat mengikuti kegiatan pembelajaran. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dalam memberi motivasi adalah menjelaskan kegunaan materi yang akan dipelajari untuk kehidupan. Catatan (penting): Dalam RPP, kegiatan pendahuluan (pemanasan berpikir, apersepsi, dan motivasi) harus dinyatakan secara eksplisit. Kalau kegiatan pendahuluan dilakukan dengan memberikan pertanyaan, maka pertanyaan tersebut juga harus dituliskan. Karena itu dalam kegiatan pendahuluan, guru: a. Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran. b. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. c. Memberikan pertanyaan yang menantang d. Memberikan motivasi terkait dengan pentingnya materi yang akan dipelajari e. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai. f. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. 2. Kegiatan Inti Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
3. Kegiatan Penutup Dalam kegiatan penutup, guru: a. Bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman/simpulan pelajaran. b. Melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram. c. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran. d. Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik. e. Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Dalam penyusunan kegiatan pembelajaran di RPP perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut. • Kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa. Kegiatan yang dirancang memberi kesempatan siswa untuk aktif mengamati model, menemukan ciri berdasarkan pengamatan, menggali informasi dari objek sekitar/nara

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 76 dari 141

• •

sumber, berdiskusi, bermain peran, melakukan percobaan, melakukan keterampilan tertentu (mendengarkan berita, menulis, berbicara, membaca), aktif menilai karya teman/ karya sendiri, aktif saling bertanya, bermain game yang sesuai KD, aktif membuat produk/karya secara berpasangan/berkelompok/ individu, latihan menerapkan konsep. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar (lihat pemetaan). Jika bersifat pemahaman konsep berarti kegiatan pembelajaran bersifat penemuan konsep dengan mengamati berbagai contoh, jika berupa penerapan konsep berarti harus banyak mencoba/ berlatih, jika berupa sikap berarti ke arah penghayatan dan pengamalan) Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

Berikut disampaikan tiga contoh skenario pembelajaran/ kegiatan pembelajaran penerapan metode-metode pembelajaran aktif yang bervariasi. Box 16: Contoh KD yang Berfokus pada Keterampilan (Melakukan Sesuatu) KD yang berfokus pada keterampilan (melakukan sesuatu) Pendahuluan Bertanya jawab tentang pengetahuan/ keterampilan yang terkait dengan KD Memotivasi siswa dengan menyampaikan tujuan atau mengaitkan KD dengan dunia nyata Kegiatan Inti Melakukan modelling/simulasi untuk menemukan konsep Bertanya jawab/ berdiskusi tentang model/ simulasi yang telah dilakukan Menyimpulkan langkah yang benar untuk melakukan Praktik melakukan secara bergantian/ dalam kelompok Saling mengomentari praktik yang dilakukan Kegiatan penutup Merefleksi apa yang telah dilakukan dan manfaatnya dalam kehidupan Mengambil hikmah dari kegiatan yang dilakukan Memberi tugas lanjutan

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 77 dari 141

Box 17: Contoh KD yang Berfokus pada Pemahaman Konsep

KD yang Berfokus pada Pemahaman Konsep Pendahuluan Menunjukkan gambar peristiwa dan bertanya jawab tentang hal yang terkait dengan kompetensi dasar Bertanya jawab tentang apa yang akan dipelajari dan manfaatnya Kegiatan Inti (alternatif 1) Mendemonstrasikan peristiwa yang berkaitan dengan suatu konsep Bertanya jawab untuk menemukan suatu konsep Berdiskusi untuk menerapkan suatu konsep untuk peristiwa yang lain Secara individu antara lain mengerjakan LKS untk menerapkan konsep Kegiatan inti (alternatif 2) Mengamati peristiwa alam sekitar yang berkaitan dengan suatu konsep Bertanya jawab untuk menemukan suatu konsep Berdiskusi untuk menerapkan suatu konsep untuk peristiwa yang lain Secara individu mengerjakan LKS untk menerapkan konsep Berwawancara dengan nara sumber berkaitan dengan suatu konsep Diskusi tentang hasil wawancara dan kaitannya dengan suatu konsep Secara individu antara lain mengerjakan LKS untuk menerapkan konsep Kegiatan Akhir Menyimpulkan konsep yang ditemukan Merancang tugas pengayaan untuk penerapan konsep

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 78 dari 141

Box 18: Contoh KD yang Fokus pada Keterampilan (Melakukan Sesuatu)

KD Berfokus pada Keterampilan dan Menghasilkan Produk/ Karya Pendahuluan Bertanya jawab tentang produk yang terkait dengan KD Memotivasi siswa dengan menyampaikan tujuan atau dan manfaat mengaitkan KD dengan dunia nyata Kegiatan Inti Mengamati model teks (struktur isi dan bentuk) Bermain mengurutkan bagian teks Bertanya jawab tentang aspek teks yang terkait dengan indikator Menulis draf Menulis sesuai dengan indikator Belanja dan saling mengoreksi dengan rubrik yang telah disiapkan guru Revisi berdasarkan masukan teman /guru Kegiatan Penutup Menyimpulkan langkah yang ditemukan dalam menghasilkan produk Merancang tugas pengayaan untuk merevisi karya yang dihasilkan

(iv)

Mengembangkan materi Mengembangkan materi dalam RPP ditempuh melalui • Menjabarkan materi pokok pada silabus secara lebih rinci (operasional) • Dalam materi pokok dituliskan point-point pokoknya saja • Disesuaikan dengan dengan karakteristik daerah; • Disesuaikan dengan aktualitas dan tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik; • Kebermanfaatan bagi peserta didik; • Struktur keilmuan; • Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran; • relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; • alokasi waktu

(v)

Mengembangkan Alat Penilaian Pada RPP, wujud alat Penilaian dan penilaiannya sudah dirancang secara operasional (siap pakai). Kalau di silabus disebut tes tulis berarti di RPP dikembangkan wujud tes tersebut. Jika pada silabus disebut tes unjuk kerja berpidato berarti pada RPP dikembangkan perintah untuk berpidato dan illustrasinya dengan rubrik/pedoman penilaiannya.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 79 dari 141

(vi)

Melengkapi RPP dengan alat operasional lain yang dirujuk pada kegiatan pembelajaran Cermati kegiatan pembelajaran pada RPP dan kembangkan alat/ media/ bahan yang diperlukan untuk mendukung operasional RPP. Misalnya, LKS untuk mendukung percobaan, kegiatan membaca, CD yang yang harus diamati, contoh surat yang harus diamati, bahan yang harus didiskusikan, panduan pertanyaan untuk menggali informasi/ merangsang pertanyaan siswa, dan sebagainya

(vii)

Menuangkan rumusan RPP ke dalam format baku dengan contoh sbb.: Box 19: Contoh format RPP

Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata pelajaran Kelas/Semster Unit* Kompetensi Dasar Alokasi Waktu I. Indikator : ...................................................................................................... : ...................................................................................................... : ...................................................................................................... : ...................................................................................................... : ......................................................................................................

: ...................................................................................................... ...................................................................................................... ...................................................................................................... II. Tujuan pembelajaran : ...................................................................................................... ...................................................................................................... ...................................................................................................... III. Materi pembelajaran : ...................................................................................................... ...................................................................................................... IV. Metode pembelajaran: ...................................................................................................... ...................................................................................................... V. Langkah-langkah pembelajaran 1. Kegiatan awal: ........................................................................................... ........................................................................................... 2. Kegiatan inti: ........................................................................................... ........................................................................................... 3. Kegiatan akhir: ........................................................................................... ........................................................................................... metode ............. ............. ............. ............. ............. ............. waktu .......... .......... .......... .......... .......... ..........

VI. Alat/bahan/sumber belajar: .............................................................................................. VII. Penilaian : ....................................................................................................................

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 80 dari 141

iii. Bekal Tambahan untuk Menyusun RPP
Untuk membuat para siswa menjadi pebelajar yang lebih baik, para guru membutuhkan pengetahuan tentang bagaimana para siswa belajar. Perbedaan gaya belajar dan gaya berpikir siswa perlu menjadi pertimbangan dalam menyusun kegiatan pembelajaran. Ada siswa yang lebih baik dalam berpikir verbal dan ada siswa yang lebih suka menggunakan gambar, serta ada siswa yang lebih suka dalam belajar dengan aktifitas. Karena itu rancangan kegiatan pembelajaran harus benar-benar memberikan kesempatan bagi semua siswa untuk mengembangkan diri secara optimal.

1. Memahami Gaya Belajar Peserta Didik
Sebelum berlanjut untuk mendiskusikan isi, nampaknya ada gunanya kita mengingat fakta bahwa karena setiap siswa punya cara belajar yang mereka sukai sendiri, para guru harus mencoba menerapkan berbagai strategi pembelajaran jika mereka ingin parasiswa mendapatkan kesempatan yang maksimal untuk belajar. Kita akan secara singkat mengulas kembali cara bagaimana siswa belajar. (i) Ada siswa yang belajar dengan cara melakukan, ada yang dengan melihat, ada juga yang dengan merasa, yang lainnya mungkin dengan berpikir. Meskipun seorang siswa mungkin menggunakan keempat metode ini dalam belajar, pasti ada satu ang mereka lebih sukai. Bagaimana dengan Guru, metode apa yang lebih disukai Guru Berikut adalah sejumlah cara lain untuk melihat preferensi belajar. Ada yang lebih suka dengan cara verbal (verbaliser) sementara lainnya lebih suka dengan melihat (imager). Ada yang suka memproses informasi sebagai keseluruhan (wholist). Sementara yang lainnya lebih suka memproses suatu informasi sebagai bagian-bagian (analytick). Sekali lagi, kita menggunakan berbagai metode ini dalam belajar, tetapi kita pasti punya semacam kesukaan terhadap 1 metode. Metode mana yang lebih disukai Guru

(ii)

Banyak riset yang dilakukan untuk mengetahui cara-cara orang belajar. Berdasarkan penelitian-penelitian ini, para ahli pendidikan telah mengembangkan sejumlah teori mengenai cara-cara orang belajar yang dari situ kemudian strategi pengajaranpun disesuaikan untuk tiap gaya belajar yang berbeda. Intinya adalah tidak ada satupun strategi pengajaran/pembelajaran yang cocok untuk semua siswa. Untuk itu, para guru harus menggunakan banyak strategi pengajaran/pembelajaran jika mereka ingin para siswa mendapatkan kesempatan belajar yang maksimal. Bagaimana mungkin pembelajaran akan efektif jika banyak guru hanya menggunakan metode ceramah sementara lebih dari 70% siswanya tidak menyukai cara itu. Bagaimana pengalaman Guru di Indonesia? Untuk menambah pengetahuan Guru mengenai konsep ini, gambar 03 dan 04 dibawah memperjelas informasi yang tadi didiskusikan di butir (a )dan (b) untuk mengembangkan suatu konsep yang menggambarkan satu dari sekian banyak cara dalam hal gaya belajar yang berbeda. Diagram itu juga mendeskripsikan tiap gaya pembelajar. Diagram 2 menggunakan informasi pada diagram 1 untuk mendeskripsikan gaya belajar yang cocok untuk setiap jenis pembelajar. Meskipun Guru kurang kenal dengan hal ini, tidak ada salahnya kita mempelajari hal ini untuk kemudian dicobakan dalam pengajaran Guru. Mudahmudahan hal ini bisa memotivasi Guru untuk selalu mencoba berbagai strategi pengajaran, pembelajaran yang lain untuk membantu siswa belajar.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 81 dari 141

2. Memahami Jenis-jenis Metode Pembelajaran
Berikut adalah jenis-jenis metode pembelajaran dikembangkan dalam menyusun RPP sebagai berikut: (i) yang dapat digunakan dan

Diskusi terbuka: Ajukan pertanyaan pada seluruh siswa atau kelompok. Untuk menghindari pemborosan waktu, guru dapat menyatakan sebelumnya bahwa hanya meminta 4 atau 5 siswa untuk mengajukan pendapat dengan mengacungkan tangan. Kartu respon: Guru meminta siswa untuk menjawab pertanyaan pada kartu atau potongan kertas dengan tidak menuliskan nama atau identitas lain. Poling: Guru melakukan survey singkat untuk memperoleh data secara cepat. Hal ini dapat dilakukan dengan survey verbal misalnya dengan meminta siswa mengangkat tangan atau mengangkat kartu jawaban Diskusi kelompok: Guru meminta siswa berkelompok dengan anggota tiga atau lebih untuk berbagi informasi, mendiskusikan Belajar berpasangan: Guru meminta siswa untuk mengerjakan tugas atau berdiskusi dengan teman di dekatnya secara berpasangan. Belajar berpasangan cocok untuk mengerjakan tugas yang rumit. Beberapa tugas yang dapat diberikan pada kegiatan belajar berpasangan: • Mendiskusikan bacaan singkat • Saling bertanya terkait dengan reaksi pasangan terhadap tugas membaca, materi pelajaran atau yang lainnya • Saling mengritik pekerjaan pasangan • Saling bertanya tentang hasil membaca • Merangkum pelajaran yang baru diberikan • Mengembangkan pertanyaan yang akan diajukan pada guru • Mengalisis masalah tertentu, latihan atau percobaan • Saling menguji pasangan • Merespon pertanyaan yang diajukan guru • Membandingkan catatan pelajaran yang dibuat di kelas Panel: Guru meminta beberapa siswa untuk mengemukakan pendapatnya di depan kelas seperti dalam bentuk diskusi panel. Siswa-siswa yang duduk di depan menghadap ke teman-teman lain berperan sebagai panelis. Kemudian secara bergiliran siswa-siswa lain menjadi panelis. Fishbowl (diskusi melingkar): Guru meminta beberapa siswa untuk melakukan diskusi secara melingkar dan siswa yang lain mendengarkan dalam format melingkar di luar nya. Kemudian buat lingkaran kecil di dalamnya untuk melanjutkan diskusi Permainan: Guru menggunakan permainan dalam pembelajaran. Berbagai jenis kuis di TV dapat diterapkan di kelas dengan beberapa modifikasi (misalnya who wants to millioner, gamezone, permainan kata, dll)

(ii)

(iii)

(iv)

(v)

(vi)

(vii)

(viii)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 82 dari 141

KONKRET Pembelajar Dinamis MELAKUKAN MELIHAT Pembelajar Logis Analitis Pembelajar Pembelajar Inovatif

ABSTRAK Gambar 03: Gaya belajar

KONKRET 4. Intuitif/Menyeluruh Pembelajaran yang bersifat penemuan Diskusi MELAKUKAN MELIHAT 3. Pengalaman Indera Proyek Mandiri Coaching/Fasilitator Simulasi 2. Bersifat informasi/fakta Ceramah Sesi Berpikir 1. Arti Sosial/Pribadi Tanya Jawab Belajar Kelompok

ABSTRAK Gambar 04: Gaya Pengajaran yang cocok

(ix)

Pemanggilan pembicara selanjutnya: Guru meminta siswa untuk mengacungkan tangan jika mereka ingin menyampaikan pendapatnya dan memanggil seorang siswa untuk mengemukakan pendapatnya. Setelah selesai giliranya, siswa ini diminta menunjuk siswa lain menyampaikan pendapatnya.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 83 dari 141

3. Kiat-kiat Menentukan Kegiatan Pendahuluan, Inti, Penutup dalam Penyusunan RPP
Pendahuluan dilakukan untuk membangun ketertarikan/ motivasi atau pengaitan dengan pemahaman terdahulu (apersepsi). Pendahuluan bisa dilakukan dengan contoh kegiatan berikut. (i) (ii) (iii) (iv) (v) Guru membuat kaitan dengan cara bertanya jawab tentang apa yang telah dipelajari dan hubungannya dengan apa yang akan dipelajari Mengaitkan apa yang akan dipelajari dengan peristiwa di sekitar/ yang dialami siswa Menunjukkan peristiwa aktual dan bertanya jawab kaitannya dengan apa yang akan dipelajari Melakukan gerakan atau bernyanyi yang sesuai dengan apa yang akan dipelajari Cerita atau visualisasi yang menarik: Guru menyediakan cerita fiksi, gambar, grafik atau alat visual lain yang relevan untuk menarik perhatian siswa terhadap apa yang akan dipelajari. Permasalahan: Guru mengajukan permasalahan yang terkait dengan pelajaran yang akan disampaikan Pertanyaan: Guru mengajukan pertanyaan pada siswa sehingga mereka termotivasi untuk mengikuti pelajaran

(vi) (vii)

Kegiatan inti untuk mengoptimalkan pelibatan siswa dalam mencapai pemahaman, penemuan konsep, latihan keterampilan tertentu yang berkaitan dengan pencapaian kompetensi tertentu. (i) Mengamati contoh dan ilustrasi: Guru menyediakan contoh dan ilustarsi dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan pelajaran. Guru juga dapat membuat perbandingan antara materi pelajaran dengan pengalaman siswa. Melakukan demonstrasi dengan alat peraga tertentu. Guru menggunakan alat peraga untuk mendemostrasikan suatu peristiwa/ konsep/ cara kerja ketika menjelaskan sesuatu. Misalnya ketika menjelaskan warna-warna dalam pelangi guru dapat menggunakan gelas yang berisi air untuk percobaan pelangi. Siswa mendiskusikan demonstrasi yang dilakukan guru dipandu pertanyaanpertanyaan yang relevan Melibatkan siswa dalam melakukan pengamatan, investigasi, wawancara dengan nara sumber, berdiskusi, bermain, mencoba/ berlatih keterampilan tertentu Menantang: Hentikan pelajaran secara periodik dan ajukan pertanyaan yang menantang pada siswa, misalnya memberikan contoh dari pelajaran yang disampaikan atau menjawab kuis.

(ii)

(iii)

(iv)

Penutup pelajaran untuk penguatan yang dapat berupa: (i) Peyimpulan dan refleksi (ii) Aplikasi: Hadapkan suatu masalah atau pertanyaan pada siswa-siswa untuk menyelesaikannya berdasarkan penjelasan dalam pembelajaran. (iii) Reviu: Minta siswa-siswa untuk mereviu isi pelajaran dengan yang lain atau memberi mereka tes skor reviu.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 84 dari 141

iv. Memahami Prinsip dan Jenis Alat Penilaian 1. Prinsip-Prinsip Penilaian
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan asesmen dan penilaian, yaitu: (i) Berorientasi pada kompetensi, yaitu harus mampu menentukan apakah siswa telah mencapai kompetensi yang dimaksudkan dalam kurikulum (ii) Menyeluruh, penilaian hendaknya menilai siswa secara menyeluruh, mencakup semua aspek perilaku yakni kognitif, afektif dan psikomotor. (iii) Valid, penilaian harus dapat memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa. (iv) Adil dan terbuka, penilaian harus adil terhadap semua siswa dan semua kriteria dan pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak. (v) Mendidik, penilaian merupakan penghargaan bagi siswa yang berhasil dan sebagai pemicu bagi siswa yang kurang berhasil. (vi) Menyeluruh, penilaian dilakukan dengan memanfaatkan berbagai teknik dan prosedur untuk mengumpulkan berbagai bukti hasil belajar siswa yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. (vii) Berkesinambungan, penilaian hendaknya dilakukan secara terencana dan terusmenerus, dan (viii) Bermakna, penilaian yang dihasilkan diharapkan benar-benar menggambarkan perilaku yang sesungguhnya dari siswa. Karena tidak ada satupun bentuk penilaian yang dapat menghadirkan gambaran yang otentik, maka diharapkan guru menggunakan berbagai bentuk penilaian.

2. Aspek-aspek Pembelajaran yang Dapat Dinilai dari Siswa
Beberapa hal yang bisa menjadi perhatian penilaian diantaranya adalah: (i) Aspek akademis, meliputi apa yang diketahui, dipahami dan tersimpan dalam otak siswa. (ii) Aspek pemikiran, meliputi kualitas penalaran, kerangka kerja konseptual, penggunaan metode ilmiah dan pemecahan masalah serta kemampuan menyusun argumentasi. (iii) Aspek keterampilan, meliputi ketrampilan komunikasi tulis dan lesan, ketrampilan meneliti, ketrampilan dalam mengorganisasi dan menganalisis informasi dan ketrampilan teknik. (iv) Aspek sikap, meliputi sikap suka belajar, komitmen untuk menjadi warga negara yang baik, kegemaran membaca, kegemaran bepikir ilmiah dan sebagainya (v) Aspek Kebiasaan kerja, meliputi menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, menggunakan waktu dengan bijaksana, bekerja sebaik mungkin dan sebagainya.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 85 dari 141

3. Cara melakukan Penilaian
Penilaian dapat dilakukan dalam bentuk penilaian kerja (performance Penilaian), melalui portofolio, penilaian afektif, dan rubrik. Penilaian Kinerja Penilaian kinerja dapat didefinisikan sebagai bentuk penilaian yang meminta siswa untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan, ketrampilan dan kelakuan kerjanya ke dalam berbagai tugas yang bermakna dan melibatkan siswa sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Karakteristik dari tes kinerja ada dua: 1) peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan kemampuannya dalam mengkreasikan suatu produk atau terlibat dalam suatu aktivitas (perbuatan) seperti melakukan eksperimen, praktek dan sebagainya. 2) Produk dari tes kinerja lebih penting dari pada perbuatan atau kinerjanya. Langkah-langkah menyusun penilaian kinerja adalah sebagai berikut. Pertama, persiapan penilaian kinerja dilakukan dalam beberapa tahapan. Pertama dilakukan identifikasi tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan penilaian kinerja. Kita dapat menentukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan: (i) Konsep, ketrampilan atau pengetahuan apa yang akan dinilai (ii) Apa yang seharusnya diketahui oleh siswa (iii) Bagaimana kinerja siswa yang diharapkan? (iv) Tipe pengetahuan apa yang akan dinilai: rasional, memori ataukah proses. Kedua, memilih kegiatan yang cocok untuk menilai siswa. Selain berdasarkan tujuan penilaian hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kegiatan untuk penilaian kinerja antara lain adalah:

(i) (ii) (iii)

Batasan waktu yang tersedia Ketersediaan sumber daya alat di kelas. Seberapa banyak data yang diperlukan untuk mengetahui kualitas kinerja siswa.

Kegiatan dalam penilaian kinerja dapat dibedakan menjadi informal dan formal. Kegiatan informal dilakukan jika guru menilai kinerja siswa tanpa sepengetahuan siswa misalnya menilai siswa berinteraksi dan bekerja dengan teman-temannya. Penilaian kinerja formal adala penilaian kinerja dimana siswa mengetahui bahwa dirinya dinilai dengan melalui kegiatan yang menunjukkan kinerjanya maupun menyelesaikan suatu proyek. Ketiga, menentukan criteria kualitas kinerja siswa. Dalam kurikulum berbasis kompetensi kriteria dapat kita temukan pada indikator kompetensi. Penyusunan kriteria dapat pula dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal di bawah ini:

(i) (ii) (iii) (iv) (v)

Mengidentifikasi secara keseluruhan kinerja yang akan dinilai Mendaftar aspek-aspek penting dari kinerja atau produk Membatasi jumlah kriteria yang dapat diamati Menyatakan kriteria dalam bentuk karakteristik produk atau kelakuan siswa yang dapat diamati. Menyusun kriteria agar dapat diamati dengan efektif.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 86 dari 141

Keempat, menyusun rubrik kinerja. Penilaian kinerja tidak memiliki kriteria benar salah melainkan ingin mengetahui derajat kesuksesan atau kualitas. Untuk itu diperlukan sebuah rubrik yang sederhana dan jujur yang mencerminkan kriteria kinerja. Kelima, menilai kinerja. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam menilai kinerja antara lain adalah:

(i) (ii)

(iii) (iv)

Teknik ceklis, dalam pendekatan ini guru mengindikasi apakah elemen tertentu kinerja terdapat dalam ceklis. Teknik naratif, pada pendekatan ini guru menuliskan narasi apa yang terjadi pada saat pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan ini guru dapat menentukan seberapa dekat kinerja siswa dengan standar yang ada. Teknik skala rating, dalam pendekatan ini guru mengidentifikasi seberapa besar derajad kinerja mendekati standar. Metode hapalan, dalam hal ini guru menggurulkan memorinya untuk menentukan apakah siswa sukses atau tidak.

Penilaian kinerja dapat dimanfaatkan misalnya untuk mengukur kemampuan anak membaca, kegiatan fisik atau olahraga, praktikum. Idealnya guru harus dapat mengamati keseluruhan kinerja siswa, namun jika jumlah siswa terlalu banyak perlu dicarikan alternatif dengan membuat tabel-tabel pengamatan yang praktis. Penilaian Portofolio Portofolio adalah pengumpulan secara sistematis hasil kerja seseorang. Penilaian portofolio merupakan strategi penilaian dengan cara mengumpulkan dan menilai hasil kerja dan tugas siswa secara berkelanjutan sebagai acuan bagi guru untuk melihat apakah telah terjadi kemajuan belajar pada diri siswa. Sebagai gambaran sebutlah Bu Nindi seorang guru SD kelas awal meminta siswa setiap minggu untuk mengumpulkan hasil kerja berupa gambar dan cerita tentang gambar itu. Jika minggu lalu siswa mengumpulkan hasil pertamanya, pada minggu berikutnya siswa diminta untuk memperbaiki hasil kerjanya pada kertas yang lain, baik gambar maupun tulisannya. Demikian selanjutnya pada minggu-minggu berikutnya sehingga masingmasing siswa memiliki kumpulan hasil kerja (portofolio). Dua atau tiga kali dalam satu semester Bu Nindi mengajak siswa untuk berdiskusi tentang hasil-hasil kerja masing-masing. Pada akhir semester karya-karya terbaik masing-masing siswa dipamerkan kepada orang tua sekaligus untuk acara pengambilan rapot. Apa yang dilakukan Bu Nindi merupakan salah satu bentuk penilaian portofolio. Melalui penilaian portofolio itu, berbagai hal didapatkan oleh Bu Nindi misalnya apakah seseorang mengalami kemajuan dalam menggambar dan menulis dalam semester ini. Siapa yang memiliki potensi menulis yang besar, dan siapa siswa yang mengalami kesulitan. Bu Nindi juga bisa menunjukkan kepada orang tua tentang perkembangan atau ketidakberkembangan siswa. Secara umum Bu Nindi juga dapat mengevaluasi pembelajarannya. Penilaian Afektif Penilaian afektif adalah penilaian terhadap aspek-aspek non intelektual seperti sikap, minat, motivasi dan sebagainya. Penilaian afektif diperlukan mengingat afektif berpengaruh terhadap perilaku siswa di masa depan. Alasan mengapa kita perlu mempromosikan pentingnya sikap positif siswa terhadap belajar karena siswa yang memiliki sikap positif

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 87 dari 141

terhadap belajar akan menjadi pembelajar di masa depan. Banyak studi juga menunjukkan bahwa sikap dan minat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Fokus Penilaian Afektif Beberapa hal yang dapat menjadi fokus penilaian afektif adalah sikap, antara lain:

(i)

(ii)

(iii)

(iv)

(v)

Sikap terhadap mata pelajaran. Siswa seharusnya memiliki sikap yang lebih baik pada suatu mata pelajaran (misalnya matematika) pada akhir semester dari pada ketika mata pelajaran tersebut diberikan pertama kali. Setidaknya siswa tidak memiliki sikap negatif terhadap mata pelajaran setelah pembelajaran berlangsung. Sikap positif terhadap belajar. Siswa diharapkan memiliki sikap yang baik terhadap belajar. Siswa yang memiliki sikap positif terhadap belajar cenderung menjadi pembelajar pada masa depan. Sikap positif terhadap diri sendiri. Meskipun harga diri siswa dipengaruhi oleh keluarga dan kejadian di luar madrasah, hal-hal yang terjadi di kelas diharapkan dapat meningkatkan harga diri siswa. Sikap positif terhadap perbedaan. Siswa perlu mengembangkan sikap yang lebih toleran dan menerima perbedaan seperti etnik, jender, kebangsaan dan keagamaan. Selain itu penilaian afektif juga dapat melihat fokus nilai semacam kejujuran, integritas, keadilan dan nilai kebebasan

Pelaksanaan penilaian afektif dilaksanakan Dalam penilaian afektif guru melakukannya dengan observasi atau mengadministrasikan instrumen atau quiesioner yang menggunakan skala Likert. Box 20: Contoh Lembar Observasi Penilaian Afektif Lembar penilaian beberapa hasil belajar afektif kecakapan hidup Kelompok siswa …………….. Kesediaan Bekerja Sama Kesediaan dikritik Keaktifan .Tanggung jawab

No.

Nama Siswa

Ketekunan

1. Aisah 2. Ahmad 3. Bahruddin 4. Burhanuddin 5. Cut Yanit 6. Dahlan 7. Fatimah 8. Rubrik Fahriyah

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 88 dari 141

Rubrik penskoran (scoring rubric) yang sering dikenal dengan rubrik merupakan gambaran skema penskoran yang dibuat oleh guru atau evaluator sebagai panduan dalam menganalisis/menskor produk yang dihasilkan siswa atau proses yang dilakukan oleh siswa. Rubrik umumnya diterapkan ketika kita harus melakukan justifikasi kualitas atau mengevaluasi permasalahan dan aktivitas-aktivitas yang luas. Contoh sederhana rubrik adalah pedoman penskoran yang kita buat untuk menskor hasil tes esay siswa. Tanpa adanya rubrik mungkin penskoran kita akan bias dan dipengaruhi ole perasan sesaat kita atau dengan kata lain tidak obyektif. Cara Menyusun Rubrik Tahap-tahap menyusun rubrik adalah:

(i) (ii) (iii) (iv)

Menentukan kriteria penampilan terbaik dari produk atau proses yang diskor Menentukan kriteria penampilan terburuk. Menentukan banyaknya tingkat skor. Menambahkan kriteria skor.

Dalam menentukan kriteria rubrik dianjurkan menggunakan kata kerja operasional. Sebagai contoh dalam matematika, kriteria ” siswa dapat menghitung tanpa kesalahan ” lebih operasional dari pada ” siswa dapat menghitung dengan baik”. Waktu rubrik diperlukan Rubrik diperlukan atau tidak diperlukan tidak bergantung pada mata pelajaran atau tingkat kelas, tetapi lebih kepada tujuan Penilaiant. Rubrik sering digunakan dalam portofolio, kinerja, aktivitas kelompok dan tes essay. Rubrik ini juga dapat digunakan untuk mengechek dan memvalidasi apakah RPP yang telah dibuat sudah memadai sesuai dengan rambu-rambu dan panduan yang diberikan atau belum.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 89 dari 141

Box 21: Contoh Rubrik Penilaian Kemampuan Menyusun RPP RUBRIK PENILAIAN KEMAMPUAN MENYUSUN RPP Nama penyusun : ....................................... Mata pelajaran : ....................................... KD/Unit/tema : ....................................... No. 1. Aspek Penilaian Kesesuaian SK, KD, indikator, dan alokasi waktu Deskripsi • • • • 2. 3. Tujuan Pembelajaran Pengembangan materi dan bahan ajar • • • • 4. Metode Pembelajaran Langkahlangkah Pembelajaran • • • • • • • • 6. Sumber Belajar • • • • Rumusan standar kompetensi (SK) dan KD sesuai dengan standar Isi Rumusan indikator berisi perilaku untuk mengukur tercapainya KD Rumusan indikator berupa kata kerja operasional Alokasi waktu sesuai dengan cakupan kompetensi dan alokasi yang tersedia di silabus Rumusan tujuan pembelajaran selaras dengan KD Materi pembelajaran benar secara teoritis Materi pembelajaran mendukung pencapaian KD (Selaras dengan KD) Materi pembelajaran dijabarkan dalam bahan ajar secara memadai dan kontekstual Metode pembelajaran bervariasi Tiap-tiap metode yang dicantumkan benar-benar tercermin dalam langkah-langkah pembelajaran Pendahuluan berisi pengaitan kompetensi yang akan diajarkan dibelajarkan dengan konteks kehidupan siswa atau kompetensi sebelumnya. Kegiatan inti dituliskan secara rinci untuk menjabarkan tahapan pencapaian KD disertai alokasi waktu Inti pembelajaran yang dirancang berfokus pada siswa Inti pembelajaran memberi kesempatan siswa bekerja sama dengan teman atau berinteraksi dengan lingkungan/masyarakat sekitar Penutup pembelajaran berisi penyimpulan/ refleksi/ atau tindak lanjut (tugas pengayaan/pemantapan) Rumusan langkah-langkah pembelajaran menggambarkan kegiatan dan materi yang akan dicapai. Sumber belajar sesuai untuk mendukung tercapainya KD Sumber belajar bervariasi Alat penilaian sesuai dan mencakup seluruh indikator Rubrik/pedoman penyekoran/kunci jawaban dicantumkan secara jelas dan tepat Hasil chek/ validasi

5.

7.

Penilaian

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 90 dari 141

BAB V IMPLEMENTASI KURIKULUM f. Pengertian Implementasi Kurikulum
Secara umum implementasi kurikulum adalah kegiatan untuk melaksanakan semua rancangan kurikulum yang telah disusun pada tahap penyusunan kurikulum. Masalah strategis pada implementasi kurikulum di Sekolahberkaitan dengan pertanyaan bagaimana agar kurikulum yang telah disusun dapat dilaksanakan dengan baik? Secara khusus implementasi kurikulum akan berkaitan dengan masalah berikut. (i) Bagaimana agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan/ dilaksanakan secara efektif? (ii) Bagaimana agar kegiatan pengembangan diri yang berupa bimbingan konseling dapat dilaksanakan secara efektif? (iii) Bagaimana agar kegiatan pengembangan diri berupa ekstrakurikuler berjalan dengan efektif? (iv) Dukungan apa yang perlu diintegrasikan agar implementasi kurikulum berjalan lancar dan mencapai tujuan?

g. Prinsip Implementasi Kurikulum
Dalam implementasi kurikulum perlu diperhatikan prinsip-prinsip pelaksanaan berikut. (i) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral. (ii) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri hguruyani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan). (iii) Dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan). (iv) Dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal. (v) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan,

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 91 dari 141

(vi)

keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan.

Dengan prinsip-prinsip tersebut pelaksanaan pembelajaran perlu menerapkan berbagai strategi dan media. Metode pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan perlu diterapkan sehingga siswa belajar dalam situasi bebas, dinamis, dan menyenangkan. Demikian juga dengan pemilihan media/sumber pembelajaran harus memaksimalkan penggunaan lingkungan sekitar dan juga mempertimbangkan perkembangan IPTEK. Pelaksanaan kegiatan pengembangan diri secara terpadu antara kompetensi mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri dilaksanakan secara seimbang, terpadu, dan saling mendukung. Dengan demikian, Sekolahyang mengadakan asrama bisa memadukan program yang saling mendukung antara kurikulum formal di Sekolahdan program di asrama.

h. Langkah- Langkah Dalam Implementasi Kurikulum
Salah satu penyebab ketidakpuasan orang lain terhadap pemimpin adalah ia tidak menindaklanjuti rencana-rencana atau kesepakatan-kesepakatan. Semua keputusan membutuhkan tindak lanjut, tidak sebatas keputusan. Oleh karenanya sangat penting melihat apakah kemajuan sudah tercapai. Setelah menguji pemecahan, mungkin perlu meneruskannya atau sebaliknya mencari pemecahan baru sebagai alternatif. Karena pemimpin sudah tahu benar apa yang diinginkan terjadi, maka perlu membuat langkah-langkah untuk mencapainya. Langkah-langkah ini disebut keputusan. Jika, misalnya, pemimpin menginginkan untuk menerapkan program pendidikan agama lebih banyak, ia bisa mengumpulkan data dari siswa, guru, orang tua, dan masyarakat tentang hal ini. Informasi dari mereka sangat berguna untuk membuat keputusan jadi-tidaknya pemberian jam lebih untuk pendidikan agama. Kalau pemecahan ini tidak berhasil, tidak perlu dianggap sebagai hal yang tidak mungkin. Tetapi diperlukan untuk mendefinisikan ulang masalah apa yang menyebabkan tidak mungkinnya atau mencari pemecahan lainnya. Komponen-komponen tersebut di atas merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dan berinteraksi satu dengan yang lain. Seorang kepala Sekolahharus mampu memahami interaksi antara komponen yang satu dengan yang lain, dengan langkah-langkah sebagai berikut. (i) Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, kepala Sekolahharus mampu menetapkan fungsi-fungsi yang didalamnya mengandung berbagai jenis kegiatan. Suatu fungsi harus mengandung kegiatan-kegiatan sejenis sehingga terwujud satuan-satuan kerja yang menjadi bagian di dalam suatu struktur. Berdasarkan satuan kerja itu, kepala Sekolahharus menetapkan wewenang dan tanggung-jawab sesuai dengan jenis kegiatan-kegiatan yang selanjutnya dijabarkan dalam bentuk tugas-tugas. Dengan demikian berarti struktur harus

(ii)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 92 dari 141

(iii)

(iv)

(v)

(vi)

(vii)

(viii)

(ix)

disusun dengan memperhatikan semua fungsi agar memungkinkan terlaksananya pencapaian tujuan. Dengan memperhatikan jenis, sifat, volume dan beban kerja dapat dibentuk unitunit kerja yang merupakan pembagian kerja. Pembagian kerja itu tidak boleh mengakibatkan pengkotakan kerja. Oleh karena itu diperlukan hubungan kerja dan prosedur kerja yang serasi, agar setiap unit kerja saling isi-mengisi dan saling menunjang serta memungkinkan terwujudnya kerjasama antar personel dan antar unit kerja. Setiap unit kerja harus jelas kedudukannya di dalam struktur organisasi, sehingga jelas pula wewenang dan tanggung-jawabnya dalam mewujudkan fungsi-fungsi organisasi, yang secara keseluruhan merupakan total sistem. Berdasarkan beban tugas yang telah dijabarkan di dalam unit-unit kerja selanjutnya ditetapkan jumlah personel dan keahlian atau ketrampilannya yang diperlukan beserta persyaratan lainnya, seperti: sifat-sifat kepribadian, kesehatan jasmani dan semacamnya. Dengan demikian dapat ditetapkan juga peralatan dan material yang diperlukan untuk mewujudkan kerja yang efisien yang selanjutnya akan berpengaruh dalam menetapkan anggaran biaya yang diatur menurut pentahapan waktu yang tersedia. Sebaliknya berdasarkan waktu yang tersedia dapat ditetapkan prioritas kegiatan dengan pentahapan penyediaan anggaran yang diperlukan. Kepala Sekolahharus mampu memilih dan menetapkan prosedur kerja antar unit kerja agar terwujud efisiensi kerja dalam usaha mencapai tujuan. Prosedur itu menyangkut pula cara atau metode kerja yang tidak bersifat statis dan harus terus dikembangkan dan disempurnakan guna mencapai efisiensi kerja yang semakin tinggi. Prosedur kerja formal yang ditetapkan tidak boleh menutup kemungkinan dikembangkannya hubungan kerja informal antar personal dalam satu unit kerja atau antar unit kerja yang ada. Di samping hubungan kerja ke dalam, kepala Sekolahharus menetapkan juga batas-batas wewenang dalam melakukan hubungan kerja ke luar sebagai usaha meningkatkan efisiensi kerja. Apabila kerja sudah diwujudkan dengan mempergunakan prosedur yang tepat, maka harus dijaga agar berlangsung secara kontinyu dan tetap terarah pada pencapaian tujuan. Untuk itu diperlukan kontrol dan pengendalian yang efektif. Kontrol tidak saja dimaksudkan membimbing dan menghindari terjadinya penyimpangan kerja, akan tetapi juga untuk memelihara keserasian kerja antar komponen yang satu dengan komponen yang lain agar sebagai satu kesatuan (totalitas) bergerak secara serempak ke arah tujuan yang sama. keseluruhan komponen yang berinteraksi itu merupakan in-put yang sangat besar pengaruhnya terhadap out-put atau hasil yang dicapai. Kualitas dan kuantitas hasil itu secara bertahap akan menjadi sumbangan yang tidak sedikit artinya bagi pencapaian tujuan atau sasaran organisasi. Kepala Sekolahharus berusaha agar interaksi antar komponen di dalam organisasi merupakan in-put yang minimal untuk memperoleh hasil atau out put yang maksimal

Kepala Sekolahmemiliki peran sentral/utama dalam merealisasikan kurikulum di madrasah. Sebagaimana tugas pokoknya bahwa kepala Sekolahkedudukannya sebagai pimpinan pada lembaga pendidikan bersangkutan. Kepala Sekolah harus mampu menggerakkan seluruh sumber daya madrasah, baik sumber daya intern (guru dan tenaga kependidikan) maupun ekstern (orang tua siswa dan masyarakat luas lainnya) agar kurikulum dapat dilaksanakan. Kepala Sekolahharus mampu menggerakkan dan menumbuhkan fanatisme institusi pada seluruh sumber daya intern untuk sama-sama merealisasikan visi dan

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 93 dari 141

misi menjadi kenyataan. Kemudian memadukan secara transparan dengan kekuatan ekstern, yakni seluruh orang tua siswa dan masyarakat luas lainnya. Sebelum kurikulum dilaksanakan kepala Sekolahharus mengupayakan tiap-tiap orang tahu apa yang harus dikerjakan dan tahu apa yang terjadi dan kemana arah yang akan dituju. Oleh karena itu, langkah awal kepala Sekolahadalah mengadakan sosialisasi KTSP yang telah disusun dan menjelaskan arah yang akan dituju dan dukungan apa yang diharapkan dari seluruh guru, staf, komite, orangtua, dan stakeholder yang lain. Selain itu, kepala Sekolahjuga telah mengidentifikasi sejumlah fasilitas yang diperlukan dalam pelaksanaan dan memasukkan pada RAPBM. Hal yang paling penting dari implementasi kurikulum adalah setiap orang tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Oleh karena itu, pada saat menjelang tahun ajaran baru waktu implementasi kurikulum kepala Sekolahharus menentukan deskripsi tugas yang jelas bagi semua guru, staf, dan tim pengembang kurikulumnya. Menjelang implementasi kurikulum kepala Sekolahperlu memastikan: (i) (ii) (iii) Apakah jadwal pelaksanaan pembelajaran sudah ada dan dipahami semua guru yang terlibat, Apakah guru sudah memiliki silabus dan RPP serta bagaimana supaya guru memahami cara melaksanakannya, Apakah telah tersedia jadwal pelaksanaan program kegiatan pengembangan diri yang berupa layanan bimbingan konseling dan semua petugas jelas dengan tugasnya, Apakah telah tersedia jadwal pelaksanaan program kegiatan pengembangan diri yang berupa ekstrakurikuler dan semua petugas jelas dengan tugasnya, Apakah ruang/ fasilitas pembelajaran yang kondusif sudah tercipta, apakah media/ bahan ajar/ sumber yang diperlukan guru untuk melaksanakan RPP sudah tersedia (bisa diupayakan oleh kepala Sekolahatau guru sendiri), Apakah format-format penilaian sudah tersedia, dan Apakah orang-orang yang terlibat sudah termotivasi untuk melakukan tugasnya.

(iv) (v) (vi) (vii) (viii)

i. Peran Masing-Masing Pihak Dalam Pengembangan KTSP
Ada berbagai pihak yang mengambil peran aktif dalam pengembangan KTSP, yaitu Tim Kurikulum dan Kepala madrasah, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, pembimbing program ekstrakurikuler, pengawas, dan komite madrasah. Kepala Sekolahdan Tim Kurikulum berperan: (i) (ii) (iii) Mensosialisasikan KTSP kepada seluruh warga Sekolah(mengeksplisitkan dukungan yang diminta untuk ketercapaian kurikulum yang telah dirancang) Membuat deskripsi tugas yang jelas (siapa harus melakukan apa) Membuat petunjuk teknis pelaksanaan pembelajaran, konseling, Ekskul, kegiatan pengembangan diri tidak terprogram (kegiatan rutin, keteladanan), kegiatan remedial, pengayaan, dan kegiatan penilaian Menyusun jadwal pembelajaran, konseling, ekskul, program-program khusus yang akan dilakukan Menyiapkan format-format yang diperlukan (format presensi, format penilaian, format monitoring, dsb)

(iv) (v)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 94 dari 141

(vi)

(vii) (viii) (ix) (x)

(xi)

(xii) (xiii)

Rapat koordinasi untuk memastikan pelaksanaan kurikulum (menanyakan dan memastikan apakah guru dan petugas lain sudah tahu tugasnya dan bagaimana cara melaksanakan tugasnya dengan baik) Mensosialisasikan kegiatan pengembangan diri yang akan dilaksanakan dalam bentuk keteladanan, Menetapkan dan mensosialisasikan prinsip-prinsip pelaksanaan kurikulum (dijadikan poster/ slogan yang selalu dapat dilihat bersama) Memotivasi semua guru dan pelaksana kurikulum Tim kurikulum mendaftar media/ sarana yang diperlukan dan membantu guru mengadakan media atau memfasilitasi guru untuk dapat membuat media sederhana yang kontekstual untuk melaksanakan pembelajaran Kepala Sekolahsudah menganalisis silabus dan RPP untuk memasukkan dalam Recana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah(RAPBM) dan segera merelisasikan untu mendukung pelaksanaan. Mengadakan pertemuan awal tahun ajaran/ awal semester untuk memantapkan dukungan dan pekerjaan yang harus dilakukan tiap-tiap orang. Menjelaskan mekanisme pelaksanaan dan siapa yang harus diubungi jika mengalami hambatan dalam pelaksanaan

Guru mata pelajaran berperan dalam hal berikut. (i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) Mengidentifikasi cara melaksanaan RPP secara efektif Memastikan jadwal pelaksanaan Mengidentifikasi media, bahan ajar yang diperlukan Memiliki, mengembangkan media, bahan yang diperlukan dalam RPP Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan Merefleksi pelaksanaan yang telah dilakukan

Guru bimbingan dan konseling berperan dalam hal berikut. (i) (ii) (iii) Memastikan jadwal pelaksanaan kegiatan bimbingan yang akan dilakukan Mengecek ketersediaan instrumen program bimbingan yang telah disusun Melaksanakan sesuai dengan jadwal dan deskripsi tugas yang telah disusun bersama

Pembimbing program ekstrakurikuler berperan: (i) (ii) Memastikan jadwal pelaksanaan ekstrakurikuler Mengidentifikasi dan menyiapkan instrumen dan sarana yang diperlukan dalam pelaksanaan pengembangan diri yang berupa kegiatan ekstra-kurikuler (Ekskul) yang telah dirancang Melaksanakan sesuai dengan jadwal dan deskripsi tugas yang telah disusun bersama (contoh jadwal pelaksanaan dan penguruan chek list)

(iii)

Peran pengawasan adalah melakukan observasi kelas, wawancara dengan siswa atau petugas pelaksana pengembangan diri untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan atau strategi yang telah ditempuh dalam pelaksanaan kurikulum. Berdasarkan hasil observasi inilah pengawas memberikan bantuan yang diperlukan untuk memperlancar pelaksanaan kurikulum.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 95 dari 141

Sementara itu, komite Sekolahadalah badan mandiri yang mewakili peran serta dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di Sekolahberfungsi sebagai badan pendukung, badan pengontrol, badan mediator, dan badan pemberi pertimbangan. Pada tahap pelaksanaan kurikulum komite harus memberikan dukungan untuk melengkapi sarana pelaksanaan, menjadi mediator Sekolahdengan orangtua/masyarakat untuk membantu pelaksanaan ekstrakurikuler/pengembangan diri yang lain, mengontrol pelaksanaan kurikulum, mencatat kendala yang muncul dan sumber-sumber masalahnya.

j. Kiat-Kiat Agar Implementasi Kurikulum Berhasil
Berikut disampaikan beberapa kiat dalam implementasi kurikulum agar yasng dicapai maksimal (i) Menyusun Deskripsi Tugas Yang Jelas Dan Memilih Orang Yang Tepat. Strategi penting dalam melaksanakan kurikulum adalah menyusun deskripsi tugas. Pemilihan orang yang tepat dengan deskripsi tugas yang jelas merupakan kunci kesuksesan dalam pelaksanaan. Kepala Sekolahpada awal tahun ajaran baru sudah menyusun dan mengesahkan surat keputusan yang berisi deskripsi tugas tiap-tiap guru, pembina konseling, dan pengampu pengembangan diri yang lain. Menyusun Program Operasional Kegiatan Dalam Muatan Kurikulum. Agar kurikulum dapat diimplementasikan dengan baik perlu disusun program operasional dari muatan kurikulum yang telah disusun beserta perangkat yang dibutuhkan dalam pelaksanaan. Program apa saja yang berkaitan dengan muatan kurikulum dan perlu dioperasionalkan? • Pengelolaan program layanan konseling dan instrumen yang diperlukan • Pengelolaan pogram remedial/pengayaan dan instrumen yan diperlukan • Pengelolaan muatan khusus ( pengelolaan kegiatan unggulan lokal /global Menyusun Jadwal Dan Pelaksanaan Teknis Secara Jelas.Untuk mengoperasionalkan kurikulum perlu disusun petunjuk teknis maupun jadwal secara rinci. Kesiapan implementasi kurikulum sangat dipengaruhi oleh kejelasan petunjuk teknis pelaksanaan dan jadwal yang disusun. Petunjuk teknis yang perlu dikembangkan misalnya bagaimana pelaksanaan kegiatan pengembangan diri yang berupa kegiatan pembiasaan (bagaimana petunjukteknis kegiatan sepuluh menit untuk lingkungan, sholat Dhuha, pembacaan AlQuran sebelum pembelajara, dan sebagainya. Selain itu, juga perlu segera dibuat jadwal pelajaran dan sekaligus mencakup kegiatan pengembangan diri rutin. Jadwal dikembangkan berdasarkan analisis minggu efektif /jam efektif dari kalender pendidikan. Memotivasi Seluruh Stakeholder Yang Terlibat Sekolahharus menciptakan sistem yang menyebabkan semua orang tahu tujuan bersama dan semua orang merasa penting. Kepala Sekolahharus mengupayakan tujuan bersama dipahami semua stakeholder dan melibatkan semua stakeholder untuk mencapai tujuan.

(ii)

(iii)

(iv)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 96 dari 141

(v)

Menyiapkan Kompetensi Guru/Pelaksana Untuk Melaksanakan Kurikulum.Pengelolaan kurikulum di Sekolahdapat dilakukan jika Sekolahsudah mampu mengelola kurikulum sendiri, yakni mampu menyusun, mengembangkan dan mengoperasionalkan kurikulum tingkat satuan pendidikan, yang berpedoman pada Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan dan Panduan BSNP, yang kemudian dijabarkan menjadi perangkat program kerja guru (Program Tahunan, Program Semester, Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Bahan ajar) yang siap pakai di kelas, dengan melibatkan semua sumber dayanya (kepala madrasah, guru-guru, tenaga kependidikan dan sarana/prasarana). Pengertian siap pakai meliputi penguasaan metode mengajar, kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, pemilihan dan penggunaan alat bantu dan sumber belajar, jenis-jenis penilaian yang sesuai dengan kompetensi yang dilatihkan, serta mampu memberikan kegiatan perbaikan dan pengayaan kepada siswa sesuai dengan kebutuhan masingmasing siswa. Komunikasi Dan Koordinasi Secara Efektif. Kepala Sekolahmengembangkan berbagai bentuk komunikasi agar semua orang tahu apa yang telah dan sedang terjadi dalam pelaksanaan kurikulum. Setiap komponen tahu apa yang sedang dilakukan komponen lain. Komunikasi dapat dilakukan melalui berbagai bentuk (pertemuan rutin, jurnal pelaksanaan kurikulum. Sekolahperlu sistem yang menjamin adanya koordinasi masingmasing komponen. Misalnya, ada forum Sabtu-an (setiap hari sabtu guru menganalisis pelaksanaan kurikulum yang terjadi dan ditindak-lanjuti oleh berbagai komponen yang terlibat). Memaksimalkan Dukungan Eksternal. Selain sumber daya manusia intern Sekolah(kepala madrasah, guru-guru, tenaga kependidikan), yang juga tidak kalah pentingnya dalam melaksanakan kurikulum adalah adanya dukungan maksimal dari Komite madrasah, Pengawas, Kandepag, Kanwil Depag propinsi dan partisipasi tokoh masyarakat. Sekolahmemiliki sistem komunikasi dan kerjasama untuk melibatkan dukungan mereka dalam pelaksanaan kurikulum. Misalnya, meminta dukungan pengawas untuk menjadi tempat konsultasi jika mengalami kesulitan dalam pelaksanaan, meminta dukungan komite Sekolahuntuk berkunjung ke kelas dan membentuk paguyupan kelas terdiri dari wali murid pada kelas tertentu yang bertugas mengidentifikasi dan mendukung kebutuhan-kebutuhan pembelajaran. Mengembangkan Sistem Agar Tim Kompak. Semangat kerja tim harus ditumbuhkan oleh kepala madrasah. Keberhasilan yang ditanamkan adalah keberhasilan bersama. Tim yang bagus semakin lama semangat untuk saling membantu akan semakin tinggi. Mengembangkan Sistem Konsultasi Terbuka. Sistem yang diciptakan menjamin semua orang yang mengalami kesulitan dalam pelaksanaan kurikulum tahu harus kemana mengadu. Sekolahperlu menunjuk tim kurikulum atau nara sumber lain yang sewaktu-waktu dapat dimintai tolong jika guru atau staf lain mengalami kesulitan dalam pelaksanaan. Menciptakan Lingkungan Kondusif dan Bebas Berkreasi.

(vi)

(vii)

(viii)

(ix)

(x)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 97 dari 141

Sistem yang dikembangkan menjamin kebebasan guru untuk melakukan inovasi dan kreativitas dalam pelaksanaan kurikulum. Semua harus merasa bebas untuk melakukan inovasi dan kreativitas dalam pelaksanaan kurikulum (fleksibel asal tidak menyimpang dari prinsip pelaksanaan kurikulum). (xi) Mensinergikan Seluruh Sumber Daya. Keberhasilan proses pembelajaran di Sekolahdipengaruhi oleh beberapa faktor, di antara faktor tersebut adalah tersedianya sumber daya pada madrasah. Sumber daya meliputi sumber daya manusia, sumber daya sarana dan prasarana serta sumber daya pendanaan. Faktor-faktor tersebut perlu dikendalikan untuk membantu pencapaian tujuan. Untuk itu, kepala Sekolahmencari strategi yang efektif untuk menggerakkan seluruh sumber daya untuk mencapai tujuan. Semua komponen yang berkaitan secara bersama-sama dirancang untuk dapat saling mendkung. Dalam hal ini kepala Sekolahberpikir integratif dalam mencapai tujuan. Misalnya, untuk mendukung pelaksanaan kurikulum kepala Sekolahmengidentifikasi media/sumber yang diperlukan guru dalam RPP-nya kemudian memasukkan pada RAPM. Demikian juga kepala Sekolahbisa mengidentifikasi orangtua murid yang kompeten untuk dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran/ekstrakurikuler di madrasah. Kepala Sekolahbisa menggerakkan berbagai sumber daya yang berkaitan untuk saling mendukung ketercapaian. Menciptakan Sistem Reflektif untuk Peningkatan Mutu Pelaksanaan Kurikulum. Sekolahmerancang sistem yang membuat orang saling belajar dalam pelaksanaan kurikulum. Misalnya, dengan cara guru yang sudah sangat menguasai pembelajaran diamati oleh teman lain sehingga bisa saling meningkatkan mutu pelaksanaan pembelajaran. Guru dan staf yang lain diberi kesempatan mendiskusikan pekerjaan mereka.

(xii)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 98 dari 141

k. Pengendalian sebagai Langkah Pendukung Pelaksanaan Kurikulum Salah satu kegiatan dalam pelaksanaan kurikulum adalah kegiatan pengendalian untuk memastikan bahwa kurikulum yang direncanakan akan dilaksanakan sesuai dengan rencana. i. Pengertian Pengendalian Pengendalian merupakan proses yang mengarahkan setiap orang di Sekolahbekerja dan melakukan kegiatan yang terarah untuk menjamin agar kurikulum yang dirancang dilaksanakan sesuai dengan rencana sehingga target yang ditetapkan dapat dicapai secara efektif. ii. Pihak-Pihak Yang Melakukan Pengendalian Pengendalian pelaksanaan kurikulum dapat dilakukan secara internal oleh kepala Sekolahsendiri dan secara eksternal oleh komite madrasah, pengawas madrasah, dan kantor Departemen Agama kabupaten/kota. Dalam sistem manajemen pendidikan berbasis madrasah, peran pengendalian internal yang dilakukan oleh kepala Sekolahjauh lebih besar dampaknya bagi peningkatan mutu layanan pendidikan. Oleh sebab itu, panduan ini lebih difokuskan kepada pengendalian internal yang dilakukan oleh Kepala Sekolahdalam perannya sebagai manager. Berbeda dengan pelaku pengendalian yang lain, kegiatan pengendalian oleh kepala Sekolahmerupakan bagian dari pelaksanaan manajemen yang dilakukan sehari-hari sehingga frekuensinya jauh lebih banyak. iii. Sasaran Pengendalian Sasaran utama pengendalian adalah kinerja staf. Kurikulum yang dibuat mencakup KTSP dokumen 1 dan dokumen 2 (silabus, RPP, program pengembangan, dan sebagainya). Karena itu, kegiatan pengendalian yang dilakukan juga mencakup kinerja staf pada pelaksanaan kedua hal tersebut. Setiap kegiatan pengendalian yang baik dilakukan sejak perencanaan, pelaksanaan, dan diakhiri dengan pembinaan dalam bentuk pemberian umpan balik. Sasaran pengendalian adalah pelaksanaan dokumen 1 dan dokumen 2. (i) Progres dari pelaksanaan pembelajaran untuk semua mata pelajaran , muatan lokal, pengembangan diri (konseling, keteladanan, ekstrakurikuler) (ii) Penanggungjawab dan pelaksana kegiatan; (iii) Dukungan sarana, prasarana, dan sistem dukungan lainnya yang diperlukan; (iv) Dana yang diberikan untuk mendukung pelaksanaan setiap program dan kegiatan. iv. Cara Melakukan Pengendalian Agar program dapat dikendalikan dengan baik pada tahap penyusunan kurikulum perlu dirumuskan hasil akhir yang diharapkan, indikator keberhasilan, peran dan tanggung jawab masing-masing, serta dukungan biaya dan sarana yang diperlukan. Rumusan-rumusan tersebut diperoleh dari hasil diskusi/ pertemuan yang melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan sehingga masing-masing mempunyai persepsi dan pemahaman yang sama, serta memberikan komitmen yang tinggi dalam pelaksanaannya.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 99 dari 141

Pengendalian dilakukan dengan membangun komitmen akan jauh lebih baik dan efektif dibandingkan dengan pengendalian yang dilakukan karena tekanan dari luar. Di madrasah, pengendalian berbasis norma, nilai dan kebiasaan hubungan yang dilgurusi nilai-nilai agama merupakan sistem yang dapat mendukung secara efektif pengendalian program-program madrasah. Dalam setiap sistem pengendalian ada empat siklus yang harus dilalui, yaitu: merumuskan strgurur kinerja setiap orang, mengukur kinerja, membandingkan kinerja seseorang dengan standar yang ditetapkan dan menetapkan penyimpangannya, serta melakukan perbaikan. Secara keseluruhan, siklus proses pengendalian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Menetap kan standar kinerja

Mengukur kinerja

Membandingkan

Menetap Penyim pangan

Standar kinerja

Batas toleransi

Menetap kan standar kinerja

Tidak

Ya

Melanjut kan progres kerja

Gambar: 05 Siklus Pengendalian Yang Efektif

Setiap orang di Sekolahharus ditetapkan standar kinerjanya masing-masing dan standar ini digunakan sebagai kriteria melihat kinerjanya. Standar itu meliputi seluruh kegiatan yang menjadi tanggung-jawabnya baik dalam melaksanakan kegiatan, memenuhi ketentuan dan peraturan, serta peran sosial yang harus dilakukan. Standar ini disusun bersama dengan staf yang bersangkutan sehingga didukung dengan komitmen yang tinggi untuk dicapai. Siklus kedua adalah mengukur tingkat pencapaian kinerja dengan data yang dapat diperoleh dari tingkat kehadiran, laporan, produk kerja yang dihasilkan, dan dari pengamatan sehari-hari. Selanjutnya, hasil pengukuran kenerja tersebut dibandingkan dengan standar yang telah dibuat sehingga diperoleh seberapa besar tingkat penyimpangan tersebut. Siklus yang terakhir adalah melakukan koreksi terhadap penyimpangan yang terjadi. Koreksi ini dilakukan melalui dialog dengan staf dan diarahkan untuk memperbaiki sistem kerjanya agar strgurur yang telah direncanakan akan dapat dicapai.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 100 dari 141

v. Pendekatan Dalam Pengendalian Pengendalian program yang komprehensif dilakukan dengan tiga pendekatan sekaligus, yaitu melalui pengendalian dini, konkuren, dan umpan balik. Pengendalian dini dilakukan sebelum program dilaksanakan dengan cara menetapkan kebijakan, peraturan, tata tertib, dan berbagai keputusan yang mempunyai ketetapan hukum mengikat bagi semua personel di madrasah. Pengendalian konkuren dilakukan pada saat rencana program dilaksanakan, yang dilakukan oleh kepala Sekolahdalam bentuk observasi langsung terhadap pelaksanaan program sehari-hari. Pemeriksanaan terhadap rencana program pembelajaran (RPP), kunjungan kelas saat guru mengajar, memeriksa kelengkapan dan kesiapan sarana pendukung ( kondisi kelas, kondisi media pembelajaran, buku pelajaran, bahan ajar), mengecek presensi guru/siswa, dan mengawasi pelaksanaan konseling, kegiatan keteladanan di madrasah, mengawasi pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler merupakan contoh-contoh pengendalian dengan pendekatan konkuren yang seharusnya dilakukan oleh seorang kepala madrasah. Pengendalian umpan balik adalah pengendalian yang dilakukan setelah evaluasi terhadap kinerja dilakukan dan hasilnya serta umpan balik perbaikannya disampaikan kepada yang bersangkutan. Faktor penting dalam menyampaikan umpan balik ini adalah ketepatan waktu. Umpan balik yang terlambat tidak dapat memberikan perbaikan yang memadai atau bahkan dapat menimbulkan persoalan lain yang lebih serius.

vi. Peran Komite Sekolah dalam Proses Pengendalian Kurikulum
Sebagai mitra kepala madrasah, komite Sekolahjuga mempunyai tugas melakukan pengendalian terhadap kepala Sekolahdalam rangka melaksanakan fungsi kontrolnya. Pengendalian dilakukan terhadap pelaksanaan program-program pengembangan yang bersifat non-akademis. Pengendalian ini dilakukan melalui pertemuan bersama antara komite Sekolahdengan kepala Sekolahyang biasanya dilakukan secara berkala, membahas laporan semesteran dan tahunan kepala madrasah, membahas rencana program pengembangan dan program pendidikan tahunan dan jangka panjang, dan rapat-rapat bersama lainnya yang ditetapkan dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga komite madrasah. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia sebagai Upaya Pendukung Pelaksanaan Kurikulum dillakukan bagi: (i) Kepala Sekolah Kepala Sekolahmerupakan orang yang paling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan proses pendidikan yang terjadi pada madrasah. Kepala Sekolahmempunyai peranan sebagai edukator, motivator, administrator, leader, inovator dan sebagai manajer. Peningkatan kualitas Kepala Sekolahdapat dilakukan melalui kegiatan supervisi yang dilakukan oleh pengawas secara periodik, Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) yang dilaksanakan oleh instansi terkait, seminar dan lokakarya pendidikan yang dilaksanakan oleh instansi terkait, seminar dan lokakarya pendidikan, tes manajerial dan psikotes kepala madrasah, penilaian kinerja kepala madrasah, serta pembuatan laporan kinerja kepala Sekolahbaik laporan bulanan, semester dan tahunan. Guru

(ii)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 101 dari 141

Dalam sistem dan proses pendidikan manapun, guru tetap memegang peranan penting yaitu sebagai model, perencana, pendiaognosa kesulitan belajar siswa, pemimpin, pembimbing arah ke pusat-pusat belajar. Untuk menjamin proses terlaksananya peranan tersebut dengan baik maka dibutuhkan pelaksanaan pengendalian diantaranya : • Kesesuaian antara pendidikan dengan bidang studi yang diampunya, • Kesesuaian antara pendidikan dengan jenjang Sekolahtempat bertugas. • Rasio antara kebutuhan guru dengan jumlah jam mengajar • Jika terjadi kekurangan guru maka dapat diangkat guru bantu atau guru kontrak • Meningkatkan kualitas guru dengan berbagai pelatihan dan pendidikan lanjutan • Melakukan kunjungan kelas baik yang dilakukan oleh kepala kadrasah, guru senior, atau oleh pengawas meliputi, perencanaan pengajaran, pelaksanaan pengajaran dan evaluasi serta tindak lanjutnya untuk meningkatkan kemampuan profesional guru.

(iii)

Karyawan
Unsur yang lain dalam proses kegiatan pembelajaran adalah kegiatan administrasi, baik administras tenaga kependidikan maupun administrasi kesiswaan. Kegiatan administrasi tersebut dilakuakan oleh karyawan yang dikenal istilah tata usaha madrasah. Kegiatan pengendalian yang dapat dilakukan antara lain : • Mempertimbangkan jenjang pendidikan • Pembagian tugas • Status (pegawai tetap/tidak tetap) • Administrasi ketenagaan • Keseimbangan jumlah pegawai dengan rombongan belajar

(iv)

Komite Madrasah
Komite Sekolahadalah badan mandiri yang mewakili peran serta dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan dan effisiensi pengelolaan pendidikan di madrasah. Komite Sekolahmempunyai peranan penting sebagai badan pertimbangan, badan pendukung, badan pengontrol, dan mediator.

(v)

Sumber Daya Sarana dan Prasarana Sumber daya sarana dan prasarana di Sekolahdiantaranya : • Sarana Pokok diantaranya: ruang Belajar, ruang perpustakaan, ruang keterampilan, ruang media pembelajaran, alat peraga, lapangan olah raga, ruang olah raga, alat praktik, ruang laboratorium (IPA, Komputer, Bahasa) • Sarana/ruang penunjang meliputi : ruang kepala Madarsah, ruang guru, ruang tata usaha, ruang osisi, ruang UKS, ruang koperasi, kantin, toilet/WC

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 102 dari 141

vii. Contoh Strategi Pelaksanaan Kurikulum Pada Tingkat Satuan Pendidikan
Pada tataran pelaksanaan kurikulum pada akhirnya gurulah yang paling berperan. Karena itu profesionalisme guru harus menjadi skala prioritas untuk dikembangkan kualitasnya. Beberapa langkah yang mungkin dianggap sesuai untuk mengembangkan profesionalisme guru. (i) Membangun komitmen yang tinggi pada guru, sampai menyadari bahwa mendidik dan mengajar yang mereka lakukan merupakan pengabdian pada profesi sebagai wujud syukur pada Allah SWT. Komitmen yang tinggi akan dibarengi dengan munculnya semangat belajar tinggi, kreatif, inovatif dan senang menghadapi tantangan, mengajar bukan rutinitas, yang pada akhirnya dapat menikmati pekerjaannya sebagai guru. Kemampuan kepala Sekolahsangat menentukan dalam membangun komitmen para guru. Bersamaan dengan membangun komitmen guru, juga pada awal tahun pelajaran, siswa baru bersama guru yang mengajar melalui Masa Orientasi Siswa atau out bond, mendeklarasikan Komitmen Pembelajaran (building learning commitment). Hal ini untuk menciptakan suasana/lingkungan belajar yang kondusif, sehingga guru akan relatif mudah dalam pengelolaan kelas. Karena pada diri siswa telah muncul kesadaran bahwa yang belajar adalah dirinya. Pembentukan MGMP rumpun intern. Jadikan MGMP sebagai wadah yang strategis bagi pengembangan profesi guru, tentunya harus dikelola secara profesional. Termasuk di dalam program MGMP yaitu kegiatan Lesson Study. Lesson Study merupakan strategi bagi pimpinan Sekolahdalam pembinaan profesi guru, terutama sekali dalam hal proses pembelajaran di kelas. Dengan langkah-langkah sebagai berikut.

(ii)

(iii)

(iv)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 103 dari 141

Perencanaan

Implementasi dalam kelas

Refleksi/ Diskusi

-Eksplorasi materi -Mempersiapkan
teaching materials (Renpel/skenario, LKS, Media dan uji coba media)

-Pelaksanaan
pembelajaran di kelas

-Diskusi dan
tukar pikiran dengan guru-guru lain Diskusi ditekankan Pada bagaiamana siswa belajar bukan pada bagaimana guru mengajar

-Guru lain sbg.
observer

Gambar 06: Tahapan pelaksanaan Lesson Study
Keterangan: • Pengadaan sarana pendukung pembelajaran perlakukan agar guru lebih mudah merealisasikan kurikulum sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan. Kalaupun kondisi Sekolahsangat minim, maka menjadi kewajiban guru untuk membuat alat peraga sesederhana mungkin, murah, dan terjangkau, yang penting proses pembelajaran tetap bermakna bagi siswa. Melakukan pelatihan/work shop sesuai kebutuhan. Melakukan monitoring secara terjadwal. Hasil monitoring dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan lebih lanjut.

• •

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 104 dari 141

BAB VI MONITORING DAN EVALUASI l. Monitoring Pelaksanaan Kurikulum
Monitoring merupakan kegiatan pemantauan terhadap pelaksanaan kurikulum dengan berbagai cara agar pelaksanaan tidak menyimpang dari yang direncanakan dan dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan. Monitoring ditujukan untuk melihat sejauh mana progres yang telah dicapai dalam pelaksanaan kurikulum, apa kendalanya, dan faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhinya.

i. Pelaksana Monitoring Kurikulum
Monitoring merupakan tanggung jawab yang berkesinambungan dari kepala madrasah, guru, pengawas, dan komite madrasah/madrasah. Kepala Sekolahharus merancang suatu sistim pengawasan yang rutin untuk seluruh guru dan semua mata pelajaran. Hal ini akan bisa dicapai bila kepala Sekolahmengatur jadwal kunjungan kelas secara teratur. Kepala Sekolahperlu membuat rencana kegiatan dalam mengawasi kurikulum. Rencana tersebut berisi rencana kunjungan ke kelas dan konsultasi dengan guru secara teratur. Rencana ini juga memiliki metodologi untuk mencatat kesan tindakan lebih lanjut yang berhubungan dengan kunjungan ini serta konsultasi dengan para staf. Dengan kata lain, kepala Sekolahharus merancang suatu sistem untuk monitoring pembelajaran di madrasah. Selain kepala Sekolah monitoring kurikulum juga dilakukan oleh pengawas. Pengawas melakukan monitoring untuk mengarahkan agar pelaksanaan berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Selain itu, monitoring juga dilakukan untuk membantu jika dalam pelaksanaan mengalami kesulitan-kesulitan. Monitoring dapat dilakukan antar guru untuk saling memberi masukan dan memecahkan masalah yang menjadi kendala dalam pelaksanaan. Misalnya, dengan cara saling memonitor dalam guru tim, lesson study ( sekelompok guru mengamati guru lain yang mengajar kemudian mendiskusikan kelemahan dan kekurangannya), guru anggota tim pengembang kurikulum secara terjadwal memonitor pelaksanaan kurikulum. Monitoring juga dilakukan oleh komite madrasah/Sekolahatau bentuk lain dari lembaga perwakilan pihak-pihak yang berkepentingan secara teratur dan berkesinambungan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas satuan pendidikan. Selain pelaksanaan monitoring oleh pihak-pihak di atas, akan lebih efektif dan lebih sehat bagi madrasah/Sekolahapabila evaluasi program yang dilaksanakan bertumpu kepada self monitoring dari setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh pelaksana masingmasing. Dalam pelaksanaan program pengembangan misalnya, guru yang diberi tugas untuk melaksanakan pengembangan bahan ajar juga menyiapkan indikator keberhasilan dan instrumen untuk memonitor pekerjaannya. Demikian pula guru bidang studi juga dapat menyiapkan program monitoring terhadap pelaksanaan proses pembelajaran yang melibatkan siswa untuk dapat memperoleh umpan balik secara langsung dari efektivitas pembelajarannya. Walaupun monitoring dilakukan oleh masing-masing penanggungjawab dan pelaksana program, kepala Sekolahmasih mempunyai tanggung-jawab untuk monitoring pelaksanaan program, walaupun frekuensinya tidak sesering pelaksana program. Untuk menjamin agar

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 105 dari 141

kegiatan monitoring ini dilakukan dalam kesibukan tugas lain sebagai seorang manajer, kepala Sekolahperlu menyusun rencana kegiatan monitoring yang akan dilakukan dalam satu tahun ajaran.

ii. Waktu Pelaksanaan Monitoring
Monitoring perlu dilakukan secara berkala agar diperoleh data dan informasi yang akurat dan tepat. Untuk itu, perencanaan program dan dukungan waktu yang disediakan untuk monitoring perlu direncanakan dan ditetapkan sebagai bagian dari rencana kegiatan kerja madrasah.

iii. Sasaran Monitoring Kurikulum
Hal yang perlu dimonitor dari pelaksanaan kurikulum berkaitan dengan masalah berikut. (i) Bagaimana kesesuaian pelaksanaan pembelajaran untuk semua mata pelajaran dan muatan lokal dengan struktur dan muatan kurikulum yang telah ditetapkan pada dokumen 1 KTSP? (ii) Bagaimana kesesuaian pelaksanaan program pengembangan diri (keteladanan, ekstrakurikuler, dan konseling) dengan program yang telah ditetapkan pada dokumen 1 KTSP? (iii) Apakah semua personal sudah mengerjakan tugas sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya? (iv) Apakah ketersediaan format/ sarana pendukung untuk memudahkan pelaksanaan kurikulum memadai? (v) Apa saja kendala dan kesulitan yang muncul dalam pelaksanaan/ implementasi? Sasaran monitoring dapat dilihat dari sisi ruang lingkup, komponen, dan aspek. Kegiatan monitoring yang dilakukan perlu juga mencakup inputs, proses, manajemen, dan lingkungan pembelajaran yang mempengaruhinya agar dapat diperoleh data dan informasi yang dapat menjelaskan kendala yang dihadapi serta cara mengatasinya. Dalam hal program pendidikan termasuk kurikulum, cakupan monitoring itu setidak-tidaknya meliputi hal-hal berikut. (i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) tingkat kehadiran peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan; intensitas penggunaan buku pelajaran dan media pembelajaran intensitas kegiatan praktikum di laboratorium; intensitas penggunaan buku perpustakaan; waktu efektif guru mengajar di kelas dalam setiap semester; pelaksanaan proses pembelajaran, baik yang bersifat kurikuler, ektrakurikuler, maupun program pembelajaran yang lain; hasil belajar yang diperoleh peserta didik; dan faktor-faktor pendukung dan penghambat.

Dilihat dari segi komponennya, sasaran monitoring berfokus pada hal berikut.

(i) (ii) (iii) (iv)

Tingkat pencapaian yang diperoleh berdasarkan indikator keberhasilan yang diharapkan; Konsistensi pelaksanaan dengan perencanaan ditinjau dari prosedur, tahapan, input, strategi, dan teknik; Diagnosis kendala dan upaya perbaikan; Ketepatan waktu pelaksanaan;

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 106 dari 141

(v) (vi) (vii) (viii)

Ketepatan metode, teknik dan penyesuaiannya; Manajemen dalam pelaksanaannya; Kualitas pendukung yang terdiri dari: personal, fasilitas, sistem kerja, organisasi; Penyimpangan yang terjadi. iv. Pelaksanaan Monitoring Kurikulum Oleh Kepala Sekolah

Sebagaimana diuraikan dalam Bab II, tugas Kepala Sekolahdalam monitoring kurikulum meliputi kegiatan sebagai berikut: (i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) Merancang kegiatan supervisi kelas dan guru. Melakukan supervisi kelas/kunjungan kelas, supervisi klinis dan observasi kegiatan belajar peserta didik Pengamatan kinerja guru dalam implementasi kurikulum Melakukan pertemuan rutin dengan guru dan siswa untuk mengecek pelaksanaan kurikulum Pertemuan rutin dengan dewan pendidik sebulan sekali untuk membahas hasil monitoring. Membuat catatan hasil kunjungan kelas Memfasilitasi dalam pelaksanaan penelitian tindakan (action research) dalam pengembangan manajemen kurikulum Membuka dialog /pertemuan agar guru dapat berkonsultasi jika mengalami kesulitan dalam pelaksanaan kurikulum

Rencana kegiatan yang diajukan untuk setiap kepala Sekolahakan dirinci di bawah ini. (i) Setiap dua minggu, para guru harus diamati oleh kepala Sekolahketika mengajar dan ini harus ditindak-lanjuti dengan diskusi perorangan dengan guru yang bersangkutan mengenai cara memperbaiki pengajaran dan proses pembelajaran siswa. Semua guru harus bertemu secara perorangan dengan kepala Sekolahseteiap dua minggu dengan membawa rincian tentang sejauh mana mereka berada bila dikaitkan dengan silabus yang telah direncanakan dan memberikan bukti kemajuan siswa. Kepala Sekolahjuga akan meminta guru mengatakan hal-hal apa saja yang mereka butuhkan untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Kepala madrasah, berdasarkan bukti-bukti ini, akan memberikan nasehat lebih lanjut dan mengatur pengadaan sumber-sumber lain yang mungkin bisa disediakan dan akan mencatat apa saja yang telah dia nasehatkan sehingga bisa ditindak-lanjuti pada pertemuan berikutnya. Secara rutin setiap dua minggu, diadakan pertemuan bagi seluruh staf dan kepala Sekolahharus memikirkan hal-hal yang bisa dipelajari dari hasil pengamatan yang berkaitan dengan kemajuan pelaksanaan kurikulum di madrasah. Ini bisa dituangkan dalam bentuk komentar secara umum yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh staf untuk memperbaiki proses belajar mengajar.

(ii)

(iii)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 107 dari 141

(iv)

Kepala Sekolahakan menyimpan catatan perorangan tiap pegawai yang dapat dipergunakan nantinya untuk membahas kemajuan mereka dan membantu pengembangan diri. Ketika mengadakan kunjungan ke kelas-kelas, kepala Sekolahbisa mengamati para siswa bekerja dan melihat keterlibatan mereka dalam kegiatan di kelas. Sekali lagi hal ini bisa dipergunakan sebagai pedoman ketika melakukan konsultasi dengan para guru. Kepala Sekolahakan bertemu dengan sekelompok siswa dari waktu ke waktu untuk menanyakan pada mereka kalau mereka memiliki kesulitan dengan pelajaran mereka dan apakah mereka membutuhkan bantuan lebih lanjut seperti misalnya fasilitas tertentu untuk membantu mereka belajar. Kepala Sekolahakan bertemu dengan penyelia tingkat kecamatan di setiap kunjungan dan membahas apa saja yang telah dipelajari berkaitan dengan kemajuan pelaksanaan kurikulum. Sangat disarankan bahwa dari waktu ke waktu, kepala Sekolahjuga menemani penyelia datang berkunjung ke kelas sehingga mereka bisa mengambil kesimpulan yang sama mengenai kemajuan di madrasah. Kepala Sekolahjuga harus secara teratur berkonsultasi dengan warga Sekolahdan masyarakat setempat tentang cara memperbaiki dan mendorong proses pembelajaran di madrasah. Kepala Sekolahyang telah membina hubungan baik dengan masyarakat setempat akam menyadari bahwa angka pendaftaran Sekolahmeningka dan lebih banyak gagasan yang muncul untuk meningkatkan proses pembelajaran. Peran pengawasan bisa dilakukan dengan mengatur satu hari penuh untuk membuat masyarakat berperan serta.

(v)

(vi)

(vii)

(viii)

v. Monitoring Kurikulum oleh Pengawas
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007, tugas pengawas dalam memonitor kurikulum mencakup hal-hal sebagai berikut. (i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) Membuat rencana pelaksanaan supervisi kurikulum. Memfasilitasi kepala Sekolahdalam membuat rencana supervisi dan monitoring pelaksanaan kurikulum. Melakukan kunjungan Sekolahdalam rangka memantau pelaksanaan kurikulum secara periodik (minimal per triwulan). Mendiskusikan hasil temuan kunjungan kelas dan saran tindak-lanjutnya dengan kepala Sekolahdan atau guru. Menyusun laporan hasil kunjungan kelas. Mengecek kelengkapan dokumen KTSP. Memantau pelaksanaan kurikulum dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala Sekolahdalam mempersiapkan akreditasi madrasah.

Untuk merealisasikan peran dan tanggung jawab pengawas dalam pengembangan kurikulum, pengawas perlu menyusun program-program kepengawasan untuk membimbing dan membina kepala Sekolahdan guru dalam mengembangkan kurikulum di madrasah, yaitu membuat rencana kepengawasan dalam pengembangan kurikulum selama satu tahun.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 108 dari 141

Rencana kepengawasan dalam pengembangan kurikulum meliputi: (i) Program Tahunan Program tahunan adalah rancangan kegiatan pengawasan secara garis besar yang dibuat dalam jangka waktu satu tahun dengan memperhatikan peran dan tanggung jawab pengawas. Peran dan tanggung jawab pengawas dalam pengembangan kurikulum dapat dibedakan menjadi empat hal, yaitu: • Program tahunan pengawas dibuat oleh pengawas di awal tahun pelajaran sebagai pedoman kerja kepengawasannya. Pengawas berkewajiban melakukan kunjungan supervisi sekurang-kurangnya tiga kali dalam satu semester. Pengawas dimungkinkan untuk datang melakukan supervisi ke sebuah madarasah lebih dari tiga kali apabila dipgurung perlu. Untuk supervisi kelas (KBM), pengawas dapat meminta satu atau dua orang guru lain baik yang sejenis ataupun satu rumpun untuk bersama-sama pengawas melakukan pemantuan KBM sehingga supervisi KBM dapat lebih efektif. • Adapun format dan contoh program tahunan pengawas terlampir pada lampiran 04. (ii) Program Semester Program Semester adalah rancangan kegiatan pengawasan secara garis besar yang dibuat dalam jangka waktu satu semester dengan memperhatikan program tahunan dan sudah dialokasikan dalam tiap minggu. Ada dua macam program semester, yaitu program semester untuk setiap Sekolahdan program semester untuk seluruh Sekolahbinaan, yang berisi tentang distribusi jam kunjungan pengawas. (iii) Rencana Kunjungan Madrasah Rencana kunjungan Sekolahadalah rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh pengawas dalam setiap kali kunjungan. Komponen rencana kunjungan Sekolahantara lain: tujuan, sasaran, kegiatan, alokasi waktu, dan teknik supervisi. • • • • • Tujuan supervisi, berisi jawaban dari pertanyaan tentang apa yang diharapkan oleh seorang pengawas dalam program pembinaan dan peningkatan profesionalisme sumber daya manusia di madrasah. Sasaran supervisi berisi jawaban dari pertanyaan tentang apa dan atau siapa yang akan disupervisi oleh seorang pengawas. Kegiatan supervisi, berisi langkah-langkah yang ditempuh oleh pengawas dalam melakukan supervisi di madrasah. Alokasi waktu berisi tentang berapa waktu yang digunakan oleh pengawas dalam melaksanakan masing-masing kegiatan supervisi. Teknik kunjungan madrasah, berisi tentang cara yang digunakan oleh pengawas dalam melaksanakan supervisi. Ada beberapa teknik supervisi yang dapat digunakan oleh seorang pengawas dalam meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki oleh madrasah, baik teknik yang bersifat individual maupun yang bersifat kelompok. Teknik yang bersifat individual

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 109 dari 141

dilakukan oleh pengawas untuk mensupervisi masing-masing guru, kepala Sekolahatau staf madrasah, misalnya dengan menggunakan teknik kunjungan kelas, percakapan pribadi, kunjungan antar kelas, atau menilai diri sendiri. Teknik yang bersifat kelompok ialah teknik yang dilaksanakan bersama-sama oleh pengawas dengan sejumlah guru dalam satu kelompok kerja (unit kerja). Teknik ini dapat berbentuk diskusi maupun pertemuan ilmiah. Diskusi dapat dilakukan antar guru bidang studi, guru serumpun, atau antar warga madrasah. Sedangkan pertemuan ilmiah dapat berbentuk workshop, seminar, dan lokakarya. (iv) Melakukan Kunjungan ke Madrasah Pengawas perlu melakukan kunjungan ke Sekolahuntuk membantu kepala Sekolahdan guru dalam pengembangan kurikulum. Pada saat kunjungan Sekolahpengawas menggunakan instrument Rencana Kunjungan Sekolahdengan rincian kegiatan dalam beberapa jam dalam sehari sehingga pengawas memiliki program yang rinci dan jelas. (v) Melakukan Observasi Kelas Tujuan observasi kelas adalah untuk memantau bagaimana pelaksaaan kurikulum di madrasah. Observasi kelas merupakan tugas penting bagi pengawas untuk membantu dan membina guru dalam mengimplementasikan rencana kurikulum yang ada pada dokumen KTSP. Ada beberapa rambu-rambu tugas pengawas dalam melakukan observasi kelas, yaitu: • Tahap sebelum observasi kelas: o Mengamati Prota dan Promes o Mengamati Silabus o Mengamati RPP ( memahami kompetensi apa yang akan diajarkan, kegaiatan belajar yang akan dilakukan untuk mencapai KD, metode yang dipakai oleh guru, materi yang diajarkan, indikator yang diharapkan tercapai, sistem penilaian yang digunakan, sumber belajar yang akan digunakan, dan alokasi waktu yang dirancang dalam pembelajaran) o Mengamati media atau alat bantu yang dibutuhkan dan dipersiapkan guru o Mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi guru dalam pengembangan RPP Pada tahap ini pengawas melakukan: o observasi kelas sekitar 30-40 menit o Duduk di bangku paling belakang o mengamati aktivitas guru o Mengamati apa yang dilakukan oleh siswa o Mengamati lingkungan kelas, seperti pajangan kelas dan media pembelajaran yang ada di kelas Tahap sesudah Observasi Kelas

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 110 dari 141

o o o o

o o o o •

Setelah melakukan observasi kelas, pengawas melakukan diskusi dengan guru Menanyakan bagaimana perasaan guru dalam proses pembelajaran Menayakan apakah ada kesulitan yang ditemukan dalam proses pembelajaran Membahas hasil pengamatan dan cara mengatasinya, contoh pengawas menanyakan mengapa guru hanya menulis di papan tulis dengan membelakangi siswa; atau mengapa guru hanya jalan-alan di kelas. Menanyakan kepada guru bagaimana cara mengatasi kesulitan yang ditemui dalam pembelajaran Menanyakan kesesuaian antara perencanaan pembelajaran dengan pelaksanaannya Menanyakan bantuan yang dibutuhkan guru dalam pelaksanaan pembelajaran Memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan pertanyaan

Tahap pasca observasi kelas Setelah melakukan observasi kelas, pengawas perlu melakukan wawancara dengan guru. Tujuan wawancara ini adalah: o Menggali pengalaman-pengalaman positif dari guru dalam pembelajaran yang dapat didesiminasikan ke Sekolahlain o Mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran dan pelaksanaan kurikulum Selain itu, pengawas harus mempersiapkan instrumen observasi untuk memantau sejauh mana guru dapat mengimplementasikan perencanaan kurikulum yang telah dipersiapkan di Sekolahdan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri guru sehingga pengawas dapat memberikan umpan balik untuk peningkatan kualitas pembelajaran dan pelaksanaan kurikulum di madrasah. Adapun format instrumen observasi kelas dan wawancara dapat dilihat pada lampiran 09.

(vi)

Memonitor Dokumen Kurikulum Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan monitoring terhadap dokumen kurikulum, yaitu: • Tahap Sebelum Pengamatan Dokumen o Pengawas melakukan wawancara dengan kepala Sekolahtentang perlunya melakukan review kurikulum dan perangkat kurikulum apa yang telah dikembangkan o Bersama-sama kepala Sekolahmembahas hal-hal yang akan diamati dalam mereview KTSP dokumen 1, silabus, dan RPP Tahap Pengamatan Dokumen o Pengawas melakukan pengamatan kelengkapan dokumen dan kesesuaian antar komponen dalam dokumen yang dimiliki Sekolahdengan menggunakan instrument monitoring model A o Pengawas melakukan pengamatan terhadap ketepatan komponen silabus dan RPP (bisa secara sampel diamati sendiri oleh pengawas

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 111 dari 141

o •

atau pengawas membinan guru/kepala Sekolahuntuk menilai sendiri, penilaian sejawat). Pengawas menambahkan komentar-komentar terhadap KTSP, silabus, dan RPP yang diamati.

Tahap Diskusi Hasil Temuan o Pengawas bertemu dengan kepala Sekolahdan para guru untuk membahas temuan dalam dokumen kurikulum yang dikembangkan o Secara bersama-sama menentukan tindak lanjut dan mendiskusikan strategi atau cara untuk melengkapi dokumen yang kurang atau memperbaiki yang kurang tepat. o Pengawas memotivasi guru dan kepala Sekolahdalam memperbaiki dokumen kurikulum

Adapun format instrumen pengamatan dokumen kurikulum dapat dilihat pada lampiran 05, 06, dan 07 panduan ini. (vii) Melakukan penilaian terhadap kinerja kepala madrasah Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui hal-hal berikut. • Sejauh mana kepala Sekolahmelakukan pengelolaan kurikulum di madrasah • Sejauh mana kepala Sekolahmelakukan pembinaan dan fasilitasi dalam pengembangan kurikulum di madrasah • Bagaimana kemampuan kepala Sekolahuntuk membantu guru dalam memecahkan masalah yang dihadapi guru dalam implementasi kurikulum. Adapun format instrumen penilaian kinerja kepala Sekolahdapat dilihat pada lampiran 08 panduan ini.

vi. Monitoring Kurikulum Oleh Komite Madrasah
Sebagai mitra kepala madrasah, komite Sekolahjuga mempunyai tugas melakukan pengendalian terhadap kepala Sekolahdalam rangka melaksanakan fungsi kontrolnya. Pengendalian dilakukan terhadap pelaksanaan program-program pengembangan yang bersifat nonakademis. Pengendalian ini dilakukan melalui pertemuan bersama antara komite Sekolahdengan kepala Sekolahyang biasanya dilakukan secara berkala, membahas laporan semesteran dan tahunan kepala madrasah, membahas rencana program pengembangan dan program pendidikan tahunan dan jangka panjang, dan rapat-rapat bersama lainnya yang ditetapkan dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga komite madrasah.

vii. Kiat Melakukan Monitoring Kurikulum yang Efektif 1. Saling Membantu Sesama Guru
Pelaksanaan KTSP berdasarkan standar nasional memerlukan kerjasama yang baik diantara guru agar guru dapat saling belajar, saling membantu, dan saling membagi pengalaman. Salah satu peran monitoring adalah memberikan fasilitasi agar kondisi seperti itu terjadi, dengan cara:

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 112 dari 141

(i)

(ii)

(iii)

(iv)

Guru yang sudah menguasai/memahami silabus perlu membagikan kemampuannya kepada guru lain yang belum memahami dengan memberikan contoh-contoh pembelajaran. Guru yang belum mampu/menguasai perlu secara proaktif minta penjelasan beserta contoh-contoh pembelajaran yang sesuai/benar kepada guru yang telah menguasai/mampu. Mencari contoh kongkrit pembelajaran yang sesuai dengan cara mengunjungi/mengobservasi kegiatan pembelajaran di kelas yang diselenggarakan oleh guru yang telah menguasai/mampu. Selain itu, saat istirahat juga merupakan waktu yang tepat bagi guru yang belum menguasai untuk bertanya atau minta penjelasan kepada guru yang telah menguasai/mampu tentang suatu hal yang belum dikuasainya.

2. Cara Guru Melakukan Koreksi Diri Sendiri
Guru dapat melakukan koreksi diri sendiri melalui penelitian sendiri tentang pelaksanaan pengajarannya. Tujuan melakukan penelitian sendiri ini untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Dalam bahasa ilmiah kegiatan penelitian semacam ini disebut “action research” (penelitian tindakan) yaitu kegiatan penelitian yang meneliti kegiatan belajar mengajarnya sendiri untuk melihat kekurangan dan kekuatan yang ada. Kekurangan dan kekuatan tersebut selanjutnya dijadikan umpan balik (feed-back), dan diolah untuk menentukan tindakan belajar mengajar selanjutnya yang lebih baik. Misalnya, dalam mengajarkan konsep atau pokok bahasan tertentu hasilnya kurang baik, ini perlu dianalisis: apakah metodenya kurang tepat, apakah pengorganisasian kelasnya tidak tepat, apakah alat bantunya kurang atau tidak memadai atau tidak tepat. Sebagai tindak lanjutnya, dalam mengajar berikutnya, aspek-aspek tersebut diperbaiki atau dilengkapi dan hasil belajarnya dicatat pula.

3. Cara Memperoleh Umpan Balik dari Siswa
Dalam rangka memperoleh umpan balik terhadap kegiatan pembelajaran, siswa merupakan sumber informasi yang sangat penting, karena siswa sendiri berperan sebagai obyek sekaligus subyek dalam pembelajaran. Umpan balik ini dapat diperoleh melalui tanya jawab secara lisan dan tertulis (angket). Dalam hal ini, secara lisan guru dapat bertanya kepada siswa tentang sesuatu hal yang diperlukan guru misalnya apa kamu senang mengikuti pelajaran tadi, bagian mana yang menyenangkan, bagian mana yang tidak menyenangkan, bagian mana yang masih belum jelas, topik-topik apa yang kamu sukai, apa kamu senang berdiskusi? dsb. Sedangkan umpan balik yang diperoleh melalui angket pada prinsipnya sama dengan tanya jawab tersebut, bedanya dalam angket pertanyaan-pertanyaan ditulis dan jawaban siswa ditulis pula.

4. Cara Memonitor/Memantau Kelas
Pemandu perlu memonitor kegiatan pembelajaran di kelas untuk mengontrol tercapainya standar kompetensi yang telah ditentukan sehingga mutu Sekolahdapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Yang juga perlu diketahui bahwa tujuan monitoring bukan untuk mencari kesalahan guru, melainkan untuk memperbaiki program mengajar guru sehingga dapat dilaksanakan KBM yang efektif yaitu siswa menguasai kompetensi melalui kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 113 dari 141

5. Menyusun Program Tindak Lanjut
Dari hasil butir 1-5 di atas sebaiknya segera disusun program tindak lanjut yang tujuannya untuk memperbaiki atau meningkatkan kegiatan-kegiatan pembelajaran dan program lainnya yang tengah berjalan. Dari butir 1-5 di atas, masing-masing dirumuskan masalahnya. Berdasarkan masalah-masalah yang telah teridentifikasi tersebut, selanjutnya dapat disusun program perbaikannya. Program tindak lanjut ini sebaiknya disusun oleh suatu tim yang terdiri dari kepala madrasah, komite, pengawas, pihak Kandepag/dinas pendidikan, dan guru.

m. Evaluasi
Evaluasi kurikulum merupakan kegiatan yang ditujukan untuk memberikan nilai seberapa baik kurikulum telah direncanakan, dilaksanakan, dikendalikan, dimonitor, dan dievaluasi. Evaluasi kurikulum juga berarti proses mengumpulkan informasi tentang perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi kuriklum, dan menganalisisnya untuk pengambilan keputusan.

i. Pihak-Pihak Kurikulum

Yang

Bertanggung-jawab

Mengevaluasi

Kepala Sekolahmemiliki tanggung jawab untuk menilai hasil kurikulum di madrasahnya setiap tahun. Ini bukan merupakan akhir dari kegiatan setiap tahun, namun merupakan tanggung jawab yang berkesinambungan dari setiap kepala madrasah. Pengujian yang terus menerus dari kegiatan dan hasil kurikulum di Sekolahadalah penting, karena setiap masalah yang muncul harus ditangani segera sebelum menjadi lebih parah. Evaluasi merupakan tanggung jawab yang berkesinambungan dari kepala madrasah, guru, pengawas, dan komite madrasah/madrasah. Kepala Sekolahharus merancang suatu sistem evaluasi untuk seluruh guru dan semua mata pelajaran. Selain kepala Sekolah evaluasi kurikulum juga dilakukan oleh pengawas. Pengawas melakukan evaluasi untuk melihat dan menilai seberapa baik kurikulum telah direncanakan, dilaksanakan, dikendalikan, dimonitor, dan dievaluasi. Evaluasi juga dilakukan oleh komite madrasah/Sekolahatau bentuk lain dari lembaga perwakilan pihak-pihak yang berkepentingan secara teratur dan berkesinambungan untuk menilai efisiensi dan efektivitas kurikulum yang telah direncanakan, dilaksanakan, dikendalikan, dimonitor, dan dievaluasi. Selain pelaksanaan evaluasi oleh pihak-pihak di atas, akan lebih efektif dan lebih sehat bagi madrasah/Sekolahapabila evalusi program yang dilaksanakan bertumpu kepada evaluasi diri dari setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh pelaksana masing-masing. Setiap orang menilai peran dan tanggung jawabnya pada perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, monitoring, dan evaluasi. Secara keseluruhan madrasah/ Sekolahjuga melakukan evaluasi diri terhadap keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, monitoring, dan evaluasi. Walaupun monitoring dilakukan oleh masing-masing penanggungjawab dan pelaksana program, kepala Sekolahmasih mempunyai tanggung-jawab untuk melaksanakan program monitoring pelaksanaan program, walaupun frekuensinya tidak sesering pelaksana program. Untuk menjamin agar kegiatan monitoring ini dilakukan dalam kesibukan tugas lain sebagai seorang manajer, kepala Sekolahperlu menyusun rencana kegiatan monitoring yang akan dilakukan dalam satu tahun ajaran.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 114 dari 141

Pembagian peran masing-masing dapat dilihat dalam Box 22 berikut.

Box 22: Peran Kepala Madrasah, Pengawas dan Kandep dalam Evaluasi KTSP

Peran kepala madrasah, pengawas dan Kandep Kepala Madrasah • Merumuskan indikator kebehasilan perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi kurikulum • Mengumpulkan data perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi kurikulum • Melakukan penilaian seberapa baik perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi kurikulum • Menentukan tindak lanjut • Menyusun laporan Pengawas • Mendampingi kepala Sekolahdalam menyusun kriteria keberhasilan kurikulum dengan cara memberikan saran-saran dan/ atau petunjuk. • Memantau perkembangan hasil belajar peserta didik dan melakukan pemetaan terhadap hasil tersebut di seluruh madasah binaannya Kandep • Mengumpulkan laporan dari para kepala madrasah, dapat melalui pengawas, tentang pelaksanaan KTSP di madrasah. melaksanakan atau memfasilitasi pelatihanpelatihan lanjutan baik untuk para guru, kepala madrasah, maupun pengawas tentang pendalaman materi KTSP. menindaklanjuti hasil evaluasi para pengawas dalam bentuk pelatihan lanjutan, seminar-seminar, atau in-house training yang dilakukan oleh masingmasing madrasah.

ii. Waktu Evaluasi Kurikulum
Evaluasi dilakukan setiap tahun pada akhir tahun ajaran dan setiap semester pada saat liburan semesteran. Evaluasi yang dilakukan pada libur panjang akhir tahun ajaran, sekaligus dilakukan sebagai dasar bagi penyusunan program tahun berikutnya. Evaluasi yang dilakukan harus komprehensif, menyangkut program-program pengembangan maupun program

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 115 dari 141

pendidikan. Untuk menjaga akuntabilitas, penting sekali dalam pelaksanaan evaluasi ini melibatkan komite Sekolahdan stakeholders lain yang dianggap perlu.

iii. Tujuan Kegiatan Evaluasi Kurikulum
Tujuan utama dalam melaksanakan penilaian kurikulum adalah untuk melihat seberapa baik kurikulum dalam praktik telah mencapai tujuan, sasaran dan arah yang tercantum dalam dokumen kurikulum (baik dokumen 1 maupun dokumen 2). Beberapa pertanyaan yang harus dijawab adalah sebagai berikut. (i) (ii) (i) Seberapa baik para peserta didik telah belajar di Sekolahini? Bagaimana hasil tersebut dibandingkan dengan Sekolahlain di kecamatan/ kabupaten ini ? Masalah khusus apa yang kita punya pada saat melaksanakan kurikulum tahun ini? Apakah masalah kurangnya buku pelajaran, fasilitas yang tidak memadai, tidak sesuainya latar belakang pendidikan guru sehingga sulit mengembangkan bahan agar? Masalah apa yang kita temui pada saat melakukan pengawasan? Guru tidak menyerahkan catatan yang lengkap mengenai silabus/ RPP, guru tidak muncul pada saat diskusi, terlalu banyak guru yang absen, sistim pencatatan saya tidak memadai, prosedur pengukuran kurang memadai, gagal merawat fasilitas yang ada, kurangnya kegiatan pengembangan diri di madrasah, terlalu banyak muatan/isi dalam silabus, kualitas buku pelajaran yang jelek dan sebagainya.

(ii)

Beberapa kegiatan yang harus dilakukan dalam penilaian kurikulum adalah: (i) (ii) (iii) (iv) (v) Pengumpulan informasi tentang perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi kurikulum yang telah dilakukan. Penganalisisan data yang terkumpul Pembuatan penilaian seberapa baik perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi kurikulum telah dilakukan. Mengarahkan pengambilan keputusan tentang perubahan yang mungkin bisa dilakukan untuk mengubah kurikulum yang sudah ada. Menentukan tindak lanjut.

iv. Sasaran Evaluasi Kurikulum
Sasaran evaluasi berkaitan hal berikut. (i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) Seberapa baik kegiatan perencanaan kurikulum dilakukan? Seberapa baik hasil penyusunan dokumen 1 KTSP? Seberapa baik hasil penyusunan dokumen 2 ( silabus, RPP, SK/KD Muatan Lokal)? Seberapa baik pelaksanaan kurikulum? Seberapa baik hasil pelaksanaan pembelajaran dan kegiatan pengembangan diri siswa? Seberapa baik sistem monitoring kurikulum dirancang dan dilaksanakan? Seberapa baik sistem evaluasi dirancang dan dilaksanakan? Apakah para guru memiliki cukup pelatihan untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran?

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 116 dari 141

(ix)

(x)

(xi)

Seberapa baik penilaian/pengukuran dari para siswa telah dilaksanakan? Apakah hasil pengukuran dan penilaian di akhir tahun itu bisa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya? Atau apakah ada penurunan dari standar? Apakah buku pelajaran dan sumber daya lain untuk kegiatan belajar mengajar disediakan oleh Sekolahdengan kualitas yang cukup? Apakah sumber daya ini bisa ditingkatkan? Apakah pengawas di tingkat propinsi dan kabupaten telah melaksanakan tugas, peran dan tanggung jawab mereka dengan baik dalam membantu Sekolahmelaksanakan kurikulum baru? Apakah standar pengawasan mereka memenuhi standar?

Secara ringkas, dalam evaluasi kurikulum perlu dirancang suatu sistem untuk mengumpulkan informasi yang relevan dari berbagai sumber berikut. (i) Sumber daya manusia (kepala madrasah, guru, peserta didik dan dinas pendidikan kecamatan/Kasi Mependa Kota/Kabupaten dan wakil masyarakat termasuk calon pemberi kerja, dimana informasi tersebut dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, diskusi kelompok, skala penilaian dan pengamatan) dan Sumber daya berupa materi (seperti dokumen silabus, buku pelajaran dan materi belajar, hasi kerja para siswa dan hasil pengukuran dan evaluasi)

(ii)

v. Cara Melakukan Evaluasi Kurikulum 1. Teknik Evaluasi Kurikulum
Evaluasi KTSP dapat dilakukan dengan beberapa teknik, di antaranya adalah dengan angket, wawancara, penggalian dokumen, dan supervisi kelas. (i) Angket: pertanyaan-pertanyaan tertulis mengenai pemahaman KTSP oleh guruguru dan keterlaksanaannya di madrasah-madrasah. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berhubungan dengan pernah tidaknya mengikuti sosialisasi KTSP, persentase pemahaman guru-guru akan KTSP, daya dukung madrasah, ketersediaan sarana pembelajaran, keterlaksanaannya di dalam kelas, dsb. Wawancara: pertanyaan-pertanyaan lisan yang dilakukan oleh tim evaluasi yang dibentuk di tingkat Kantor Depag Kabupaten/Kota tentang pemahaman KTSP oleh guru-guru dan keterlaksanaannya di madrasah-madrasah. Contoh pertanyaan: • Apakah guru sudah pernah mengikuti program sosialisasi KTSP? • Apakah Guru sudah memahami bagaimana cara membuat silabus dan RPP? • Apakah Guru sudah membuat KKM? Bagaimana cara membuatnya? • Bagaimana Guru melakukan penilaian terhadap peserta didik? (iii) Penggalian dokumen: berupa pemeriksaan ketersediaan dokumen KTSP oleh tim yang ditunjuk baik yang dikeluarkan oleh BSNP maupun yang dibuat oleh Sekolah(Dokumen I dan Dokumen II). Supervisi Kelas: kunjungan kelas untuk memantau kesesuaian proses belajar mengajar dengan tuntutan KTSP. Yang dijadikan obyek pemantauan adalah

(ii)

(iv)

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 117 dari 141

kesesuaian silabus dan RPP dengan KBM yang dilakukan oleh guru di dalam kelas. Supervisi kelas ini dapat dilakukan oleh guru Inti, kepala madrasah, atau oleh pengawas dengan tujuan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh guru untuk dilakukan tindakan selanjutnya seperti dikirimkan ke forum MGMP, pelatihan, penataran, seminar, dsb.

2. Pemanfaatan Hasil Evaluasi
Hasil evaluasi yang telah dilakukan oleh tim evaluasi KTSP perlu ditindak-lanjuti dan dimanfaatkan untuk lebih meningkatkan pelaksanaan KTSP di madrasah-madrasah. Pemanfaatan lain yang tidak kalah pentingnya hasil evaluasi KTSP adalah: (i) (ii) (iii) Terkumpulnya data di Kandepag Kota/Kabupaten Pemetaan pelaksanaan KTSP di madrasah. Berdasarkan data yang ada Kandepag Kota/Kabupaten dapat menyusun program kegiatan untuk masa yang akan datang baik untuk peningkatan mutu SDM maupun penambahan dan peningkatan mutu sarana prasaran pendidikan di madrasah, Sekolahsadar akan kekurangan yang ada sehingga diharapkan munculnya program-program perbaikan, Pengawas dapat menentukan fokus supervisi madrasah Kepala madrasah, komite Sekolahdan stakeholder lainnya diharapkan akan lebih peduli dalam meningkatkan mutu pendidikan di madrasahnya.

(iv) (v) (vi)

3. Indikator Keberhasilan KTSP
Berikut adalah rambu-rambu indikator yang dapat dipergunakan untuk mengevaluasi keberhasilan pengembangan kurikulum mulai dari tahap perencanaan sampai dengan evaluasi sebagai berikut. Tabel 24: Rambu-rambu Indikator Keberhasilan Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan No. 01. Tahap Perencanaan Indikator Ketepatan kegiatan perencanaan kurikulum • Membentuk tim kurikulum madrasah/ Sekolah • Melakukan analisis konteks untuk menentukan karakteristik muatan kurikulum • Kegiatan pengembangan kurikulum dilakukan secara bersama antara kepala madrasah, guru, komite, wakil masyarakat/ stakeholder Ketepatan KTSP dokumen 1 • Kurikulum/KTSP dokumen 1 yang disusun mengandung komponen yang lengkap (visi, misi, tujuan, struktur dan muatan kurikulum, kalender pendidikan) • Komponen kurikulum dalam dokumen 1 sesuai dengan konteks madrasah, konteks daerah, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik • Visi, misi, tujuan sesuai dengan konteks Sekolahdan

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 118 dari 141

• •

• • •

• •

• • • 02. Pelaksanaan • • • •

rumusannya tepat Struktur dan muatan kurikulum mengandung muatan wajib struktur kurikulum nasional dan menambahkan muatan yang sesuai dengan konteks madrasah Semua komponen struktur dan muatan kurikulum lengkap dan sesuai dengan Standar Isi/ SKL dan konteks madrasah/ daerah (struktur kurikulum, komposisi mata pelajaran dengan tujuan/ SKL-nya, muatan lokal dengan jenis, tujuan, dan aturan pelaksanaannya, pengembangan diri dengan jenis, tujuan, dan aturan pelaksanaannya, beban belajar, ketuntasan minimal, penilaian dan kelulusan, unggulan lokal, unggulan global) Terdapat kalender pendidikan yang sesuai dengan konteks Sekolah Adanya kelengkapan komponen dokumen 2 KTSP yang minimal berupa silabus dan RPP seluruh mata pelajaran, Standar Kompetensi/ Kompetensi Dasar Muatan Lokal, Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi. Semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan dunia usaha dan dunia kerja. Isi kurikulum mengatur pengembangan kecakapan hidup (keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional) Apakah hasil tahap perencanaan cukup memadai Apakah kendala yang dialami dan seberapa efektif solusi yang dilakukan? Apakah terdapat motivasi yang tinggi untuk melaksanakan tugas masing-masing pelaksana kurikulum? Apakah terdapat deskripsi tugas dan petunjuk teknis yang jelas sehingga setiap orang tahu apa yang harus dilakukan dalam pelaksanaan kurikulum? Apakah telah ada jadwal yang sesuai dan dipahami oleh orang-orang yang harus melakukannya? Kegiatan pembelajaran sudah berorientasi pada melayani siswa belajar, bagaimana seharusnya siswa belajar. Guru sebagai motivator, fasilitator dan mengorganisir pengalaman belajar siswa. Apakah proses pelaksanaan kurikulum berjalan lancar dan tepat waktu? Apakah terdapat dukungan kebijakan, panduan dan tata tertib untuk mengatur terselenggaranya pelaksanaan

• •

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 119 dari 141

• •

• • • • • •

• • • • • •

kurikulum? Apakah proses pelaksanaan kurikukulm tepat waktu? Bagaimana kesesuaian pelaksanaan pembelajaran untuk semua mata pelajaran dan muatan lokal dengan struktur dan muatan kurikulum yang telah ditetapkan pada dokumen 1 KTSP? Bagaimana kesesuaian pelaksanaan program pengembangan diri (keteladanan, ekstrakurikuler, dan konseling) dengan program yang telah ditetapkan pada dokumen 1 KTSP? Apakah pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan silabus/ RPP yang direncanakan? Apakah semua personal sudah mengerjakan tugas sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya ? Apakah ketersediaan format/sarana pendukung untuk memudahkan pelaksanaan kurikulum memadai? Apa saja kendala dan kesulitan yang muncul dalam pelaksanaan/implementasi? Apakah kepala Sekolahmengendalikan proses pelaksanaan dengan menyusun panduan /aturan yang sesuai? Apakah kepala Sekolahmelakukan pengendalian secara maksimal untuk melaksanakan kurikulum (pengerahan sumber daya dan sumber-sumber yang lain untuk melaksanakan kurikulum)? Apakah Komite Sekolahmendukung pelaksanaan/ memberi fasilitas / dukungan yang sesuai? Apakah terdapat koordinasi yang baik sehingga pelaksanaan kurikulum berjalan efektif? Apakah pelaksanaan kurikulum dapat mencapai tujuan yang diharapkan? Apakah hasil tahap pelaksanaan kurikulum memadai untuk mencapai tujuan? Apakah kendala yang dialami dalam pelaksanaan kurikulum dan seberapa efektif solusi yang telah dilakukan? Adakah upaya memberi solusi yang efektif untuk mengatasi kendala dalam pelaksanaan kurikulum?

03.

Monitoring

• •

Apakah telah dikembangkan sistem pengawasan yang efektif untuk melaksanakan monitoring kurikulum? Apakah Kepala Sekolahmelaksanakan perannya dengan baik untuk mengobservasi pelaksanaan, memfasilitasi konsultasi dengan para guru, memberikan masukan/ pengarahan agar pelaksanaan berjalan sesuai yang diharapkan, mengadakan pertemuan untuk membahas pelaksanaan dan mengatasi masalah yang timbul, memfasilitasi media/ sumber pembelajaran? Apakah Pengawas melaksanakan perannya dengan baik

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 120 dari 141

• • • 04. Evaluasi • • •

untuk mengobservasi pelaksanaan pembelajaran, berwawancara dengan siswa pelaksanaan pelayanan konseling, ekstrakurikuler, mengobservasi penggunaan media pembelajaran, memfasilitasi konsultasi dengan para guru, memberikan masukan/ pengarahan agar pelaksanaan berjalan sesuai yang diharapkan, memberikan masukan untuk memperbaiki pelaksanaan yang kurang tepat? Apakah Komite melakukan peran pengawasan dalam pelaksanaan kurikulum, mengobservasi pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pelayanan konseling, ekstrakurikuler, penggunaan media pembelajaran? Apakah waktu pelaksanaan monitoring dilakukan secara tepat (terintegrasi dengan proses pelaksanaan) bukan pada akhir? Apakah terdapat koordinasi yang kompak untuk pelaksanaan monitoring? Seberapa efektif solusi yang telah dilakukan? Apakah sudah dikembangkan sistem evaluasi yang efektif dalam evaluasi kurikulum ? Apakah telah dilaksanakan sistem evaluasi secara komprehensif? Apakah kepala Sekolahmelaksanakan perannya dengan baik untuk mengumpulkan data pelaksanaan sebagai bahan evaluasi, menganalisisnya dan melakukan evaluasi terhadap hasil, proses, dan dampak secara menyeluruh? Apakah proses evaluasi terkoordinasikan dengan baik? Apakah guru, dan warga Sekolahdilibatkan dalam proses evaluasi? Apakah komite Sekolah melaksanakan perannya dengan baik untuk mengumpulkan data dan melakukan evaluasi hasil, proses, dan dampak secara menyeluruh? Apakah Kandepag dan Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten terlibat secara sinergis mendukung perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi kurikulum?

• • • •

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 121 dari 141

Daftar Bacaan

Peraturan perundangan: Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI. No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI. No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI. No. 12 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Pengawas Sekolah/Madrasah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI. No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI. No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Buku dan dokumen lain: Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (2006). Panduan Menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: BSNP. Departemen Agama. 2007. Pedoman Penyelenggaraan SekolahSatu Atap. Houston, R.T., Clifft, H.J., Freiberg, J. & Warner, A.R. (1988). Touch the Future: Teach! St. Paul: West Publishing Co.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 122 dari 141

Kebijakan dan Program, Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional (2004) Kneller, George, F. (1985). Movements of Though in Modern Education, New York: John Willey and Sons. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2006 – 2009

--------

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 123 dari 141

Lampiran 01 : Halaman sampul yang memuat Judul KTSP, nama madrasah, logo madrasah, nama desa, kecamatan, dan kabupaten, serta tahun penyusunan.

KURIKULUM SEKOLAHALIYAH NEGERI CIPAYUNG

SEKOLAHALIYAH NEGERI LOKAKARYA CIPAYUNG Jl. Raya Puncak Wisma Bahtera III/40 Cipayung Bogor 250375 2007

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 124 dari 141

Lampiran 02 : Halaman penetapan dan pengesahan memuat judul KTSP, nama madrasah, lokasi madrasah, tanggal penetapan dan pengesahan, dan orangorang yang menetapkan dan mengesahkan KTSP.

SEKOLAHALIYAH NEGERI ……………………………….
PENGESAHAN
Nomor : ....................................... Setelah mempertimbangkan masukan Komite Madrasah, Kurikulum SekolahAliyah Negeri (MAN) Lokakarya CipayungTahuan Pelajaran 2006/2007ditetapkan berlaku terhitung mulai tanggal 01 Januari 2007 Pada akhir tahun pelajaran, pelaksanaan kurikulum ini akan dievaluasi dan/atau ditinjau ulang yang hasilnya akan digunakan sebagai dasar dalam melakukan penyusunan dan penetapan KTSP untuk tahun pelajaran berikutnya. Ditetapkan di : Cipayung Pada Tanggal : 20 Desember 2007 Mengetahui Kepala Ketua Komite Madrasah, ........................................ NIP/NPP .......................... ............................................ NIP. : 150 ........ Mengetahui, Kepala Bidang Mapenda Islam Propinsi ........ ................................................. ,

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 125 dari 141

Lampiran 03 : Kata pengantar berisi prakata dari kepala Sekolahmengenai penyusunan KTSP di madrasah.

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadlirat Allah SWT dan bersholawat untuk Rosulullah Muhammad SAW, Tim Penyusun Kurikulum Cipayung SekolahAliyah Negeri Lokakarya

dapat menyelesaikan penyusunan kurikulum untuk digunakan sebagai pedoman dalam menentukan berbagai kebijakan dan kegiatan belajar

penyelenggaraan pendidikan

mengajar, agar terencana, terarah, dan tepat tujuan yang akan dicapai khususnya dalam mengantarkan perserta didik menjadi insan yang Tekun Ibadah, Berakhlak karimah dan Unggul Berprestasi sebagai bekal hidup dan bekal membangun negeri tercinta Indonesia. Dalam penyusunan Kurikulum SekolahAliyah Negeri Lokakarya Cipayung ini kami

berupaya semaksimal mungkin menyajikan konsep, perangkat, serta strategi yang ideal, namun karena berbagai keterbatasan yang ada pada kami kekurangan dan kesalahan tidak bisa kami hindari. Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan serta bimbingan demi terselesaikannya KTSP ini, kami ucapkan terimakasih.

Cipayung, 20 Februari 2007 Kepala,

.............................. NIP. ..........................

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 126 dari 141

Daftar Isi
Halaman Pengesahan Prakata Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN A. Rasional B. Landasan Hukum C. Pengertian-Pengertian BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN MADRASAH A. Visi Madrasah B. Misi Madrasah C. Tujuan Madrasah BAB III ACUAN STANDAR A. Standar Isi B. Standar Kompetensi Lulusan C. Standar Proses D. Standar Penilaian ……………… BAB IV STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM A. Struktur Kurikulum 1. Kerangka Dasar Kurikulum a. Komponen Mata Pelajaran b. Komponen Muatan Lokal c. Komponen Pengembangan Diri 2. Struktur Kurikulum B. Muatan Kurikulum 1. Komponen Mata Pelajaran 2. Komponen Muatan Lokal 3. Komponen Pengembangan Diri C. Beban Belajar BAB V KRITERIA A. Kriteria Ketuntasan Minimal B. Kriteria Kenaikan Kelas C. Kriteria Kelulusan D. Penjurusan BAB VI KALENDER PENDIDIKAN ……………… LAMPIRAN-LAMPIRAN 1. Silabus 2. RPP ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ………………

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 127 dari 141

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 128 dari 141

Lampiran 04 : Format dan contoh program thunan pengawas PROGRAM TAHUNAN PENGAWAS Nama Madrasah Tahun Pelajaran SEME STER : : PROGRAM Satuan Pendidikan : MTs

ALOKASI WAKTU Membuat rencana pelaksanaan supervisi kurikulum 180 menit Mendampingi kepala madrasah, guru, dan komite sekolah dalam 90 menit menyusun KTSP (Dokumen 1 KKM, Mulok, Struktur Kurikulum, kalender akademik, pengembangan diri, dsb.) Mendampingi guru dalam menyusun silabus dan RPP (Dok 2) 90 menit Mengecek kelengkapan dokumen KTSP 30 menit Memfasilitasi kepala Sekolahdalam membuat rencana supervisi 60 menit dan monitoring pelaksanaan kurikulum Melakukan kunjungan kelas dan observasi kegiatan siswa 180 menit sebanyak 2 kali kunjungan Menyusun instrumen evaluasi kinerja kepala Sekolahdan guru 120 menit dalam melaksanakan pengembangan kurikulum 300 menit kerja di kantor 480 menit di lapangan Melakukan kunjungan kelas dan observasi kegiatan siswa Memotivasi dan membimbing guru dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas Memantau pelaksanaan kurikulum dan memanfaatkan hasilhasilnya untuk membantu kepala Sekolahdalam mempersiapkan akreditasi sekolah Mendampingi kepala Sekolahdalam menyusun kriteria keberhasilan pelaksanaan kurikulum Melakukan evaluasi terhadap kinerja kepala Sekolahdan guru dalam melaksanakan tugas kurikulum Memonitor perkembangan hasil belajar siswa Memetakan hasil belajar siswa di Sekolahbinaannya Menyusun laporan pelaksanaan supervisi kurikulum. 450 menit di lapangan 180 menit 90 Menit 30 menit

Kunjungan -

1 kali kunjungan 1 kali kunjungan 1 kali kunjungan 3 kali kunju ngan 1 kali kunjungan

I

Jumlah

II

1 kali kunjungan

30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 1 kali kunjungan 3 kali kunjung an

Jumlah

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 129 dari 141

……………….., …………………………. Mengetahui Kepala Kandepag, Pengawas,

……………………………………….. NIP.

……………………………………….. NIP.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 130 dari 141

Lampiran 05 : Format instrumen perencanaan kurikulum INSTRUMEN PERENCANAAN KURIKULUM Pilihlah skor sesuai dengan kondisi yang diamati!Tuliskan komentar yang diperlukan pada kolom di sampingnya. Tuliskan juga komentar lain yang belum terungkap dalam tabel ini pada bagian akhir instrumen ini. Nama Sekolah : ............................................... Komponen Kelengkapan dokumen kurikulum Indikator a. Tersedia KTSP yang mengacu pada standar isi dan konteks sekolah b. Ketersediaan program semester/program tahunan untuk seluruh mata pelajaran c. Tersedia silabus untuk seluruh mata pelajaran d. Tersedia RPP untuk seluruh mata pelajaran ya tidak Komentar

Ketepatan dokumen 1 KTSP

A.Visi, misi, dan Tujuan dirumuskan secara tepat b. Berisi pengaturan struktur kurikulum yang memadai c. Terdapat kesesuaian muatan lokal dengan konteks sekolah d. Terdapat kesesuaian program pengembangan diri dengan konteks masyarakat dan sumber daya sekolah e.Terdapat pengaturan ketuntasan belajar, kenaikan kelas, dan kelulusan secara tepat f.Terdapat pengaturan pendidikan kecakapan hidup g. Terdapat perencanaan pendidikan lokal dan global Kelengkapan a. Telah terdapat Standar Lampiran dokumen Kompetensi dan 2 (selain silabus Kompetensi Dasar Muatan dan RPP) Lokal b. Telah disusun kalender akademik yang sesuai Upaya Ada upaya pengembangan silabus pengembangan secara mandiri dan ada upaya

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 131 dari 141

dokumen silabus penyesuaian secara mandiri dan sekolah kontekstual Upaya pengembangan RPP secara mandiri dan kontekstual

dengan

kondisi

Ada upaya pengembangan RPP secara mandiri dan ada upaya penyesuaian dengan kondisi sekolah/ kondisi siswa

Upaya Ada upaya pengembangan bahan pengembangan ajar (LKS, handout , bahan diskusi, bahan ajar dan dsb)dan media yang sesuai RPP s media Komentar lain ............................................................................................................................... ......................................... ......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... ............................................................................................................................... ......................................... ......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... ............................................................................................................................... .........................................

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 132 dari 141

Lampiran 06 : Format instrumen pengamatan silabus INSTRUMEN PENGAMATAN SILABUS Nama Guru: …………………………… Mata Pelajaran : ............................... No. 1. Aspek Penilaian Kegiatan Pembelajaran Deskriptor • • • Kegiatan pembelajaran memuat aktivitas belajar yang berpusat pada siswa Tahapan kegiatan pembelajaran mendukung tercapainya KD Kegiatan pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kecakapan hidup (personal, sosial) Materi pembelajaran benar secara teoritis Materi pembelajaran mendukung pencapaian KD (Selaras dengan KD) Rumusan indikator berisi jabaran perilaku untuk mengukur tercapainya KD Rumusan indikator berupa kata kerja operasional Alokasi waktu sesuai dengan cakupan kompetensi Alokasi waktu sesuai dengan program semester yang telah disusun Alat penilaian sesuai dan mencakup seluruh indikator Wujud/contoh alat penilaian jelas dan sesuai dengan indikator Sumber belajar sesuai untuk mendukung tercapainya KD Sumber belajar bervariasi Ya Tidak Komentar

2..

Keakuratan Materi Pembelajaran Indikator

• • • •

3..

4..

Alokasi Waktu

• •

5..

Penilaian

• •

6.

Sumber Belajar

• •

Kesimpulan : ………………………………………………………………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………………………………………………………………. Saran : ……………………………………………………………………………………………………………………………. Mengetahui Kepala Sekolah................................... Pengawas

....................................... NIP.

.......................... NIP.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 133 dari 141

Lampiran 07 : Format instrumen pengamatan penyusunan RPP INSTRUMEN PENGAMATAN PENYUSUNAN RPP Nama Guru : …………………………. Mata Pelajaran: .................................. No. Aspek Deskriptor Penilaian 1. Tujuan • Rumusan tujuan pembelajaran selaras Pembelajaran dengan KD 2.. Metode • Metode pembelajaran bervariasi Pembelajaran • Tiap-tiap metode yang dicantumkan benarbenar tercermin dalam langkah-langkah pembelajaran 3.. Langkah• Pendahuluan berisi pengaitan kompetensi langkah yang akan dibelajarkan dengan konteks Pembelajaran kehidupan siswa/apersepsi/ memotivasi dengan berbagai rangsang • Kegiatan inti dituliskan secara rinci untuk menjabarkan tahapan pencapaian KD disertai alokasi waktu • Inti pembelajaran yang dirancang berfokus pada siswa • Inti pembelajaran memberi kesempatan siswa bekerja sama dengan teman atau berinteraksi dengan lingkungan/masyarakat sekitar • Penutup pembelajaran berisi penyimpulan/ refleksi/ atau tindak lanjut (tugas pengayaan/pemantapan) • Rumusan langkah-langkah pembelajaran menggambarkan kegiatan dan materi yang akan dicapai. 4. Pengembangan • Materi pembelajaran benar secara teoritis materi dan • Materi pembelajaran mendukung bahan ajar pencapaian KD (Selaras dengan KD) • Materi pembelajaran dijabarkan dalam bahan ajar secara memadai sehingga mudah digunakan sebagai bahan mengajar 5. Sumber Belajar • • • • Sumber belajar sesuai untuk mendukung tercapainya KD Sumber belajar bervariasi Alat penilaian sesuai dan mencakup seluruh indikator Rubrik/pedoman penyekoran/kunci jawaban dicantumkan secara jelas dan tepat

Ya

Tidak

Komentar

6.

Penilaian

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 134 dari 141

Kesimpulan : ……………………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………………. Saran : ……………………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………………… Mengetahui Kepala Sekolah................................... ....................................... NIP. Pengawas .......................... NIP.

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 135 dari 141

Lampiran 08 : Format instrumen penilaian kinerja kepala madrasah. PANDUAN PERTANYAAN UNTUK KEPALA SEKOLAH Nama Madrasah: Pengawas : 1. PENGEMBANGAN KURIKULUM a. Masalah apa saja yang dihadapi dalam perencanaan kurikulum (penyusunan KTSP dokumen 1, silabus, RPP, dan SK/ KD Mulok)?

b. Masalah apa saja yang dihadapi sekolah dalam pelaksanaan kurikulum?

c. Masalah apa saja yang dihadapi sekolah dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kurikulum?

d. Apa yang bisa dibantu dari masalah-masalah yang dihadapi?

2. ALTERNATIF PEMECAHAN YANG DIRENCANAKAN a. Masalah 1

b. Masalah 2

c. Masalah 3

d. Masalah 4

Draft ketiga panduan KTSP 07092007, hal 136 dari 141

Lampiran 09 : Format panduan pertanyaan untuk guru PANDUAN PERTANYAAN UNTUK GURU Nama Madrasah: Nama Guru : Pengawas : 1. PENGEMBANGAN KURIKULUM a. Masalah apa saja yang dihadapi guru dalam pembuatan silabus dan RPP?

b. Masalah apa saja yang dihadapi guru dalam implementasi RPP (proses pembelajaran)?

c. Masalah apa saja yang dihadapi sekolah dalam menyiapkan media dan sumber belajar?

d. Masalah apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan assessment dan penilaian?

e. Apa yang bisa dibantu dari masalah-masalah yang dihadapi?

2. ALTERNATIF PEMECAHAN YANG DIRENCANAKAN a. Masalah 1

b. Masalah 2

c. Masalah 3

d. Masalah 4

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->