P. 1
Buku Puisi Jalan Pulang

Buku Puisi Jalan Pulang

3.0

|Views: 1,278|Likes:
Published by Agung Dwi Ertato
Kumpulan Puisi MarkasSastra dan PSA-MABIM FIB UI 2009
Kumpulan Puisi MarkasSastra dan PSA-MABIM FIB UI 2009

More info:

Published by: Agung Dwi Ertato on May 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2013

pdf

text

original

dan PSA-MABIM FIB UI 2009

JALAN PULANG
Buku Puisi

MarkasSastra
Diterbitkan oleh

Jalan Margonda 28w Depok, Jawa Barat. (021) 98363462 duadelapanwartlab@rocketmail.com ©2010 Bekerja sama dengan Panitia PSA-MABIM FIB UI 2009

dan Komunitas MarkasSastra

Editor: Tim MarkasSastra Catatan Penutup: Frendy Kurniawan, Perayaan Zaman ini² kegelisahan menemukan diri dan sebuah petunjuk Jalan (untuk) Pulang, 2010 Desain Sampul: Agung Dwi Ertato Gambar Sampul: Agung Dwi Ertato, Lampu Taman Kota, 2010 Tata Letak: Agung Dwi Ertato Cetakan Pertama: Mei 2010 Dicetak oleh Saga Biru

2 | Jalan Pulang

Isi Buku

Isi Buku Catatan Editor Kata Pengantar

3 7 8

Buku SATU: Ku Katakan dengan Tulisan Adlia Nazila, Sastra Jerman 2008 Jalan Pulang Agrita Widiasari, Filsafat 2008 Kau Hawa dan Saya Pria Agrita Widiasari, Filsafat 2008 Dia, Manusia di Balik Telepon yang Kau Genggam Itu Agrita Widiasari, Filsafat 2008 Perjumpaan Agrita Widiasari, Filsafat 2008 Fragmen Tak Berima Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2008 Ode untuk Kapal Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2008 Delapan Sonnet yang Terserak di antara Kertas Lusuh Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2008 Aku Rahwana dan Kau Sinta Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2010 Keluarlah, Ada Hujan Berdansa dengan Malam Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2008 Subuh Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2008 Terserang Wabah Majnun Agung Setiawan, Filsafat 2008 Sesaat Sebelum Agung Setiawan, Filsafat 2008

9 10 10 11 11 12 12 13 13 14 14 15 15 16 25 26 33 34 36 37 37 38 38 39 39 40 41

Jalan Pulang | 3

Ketahuilah Amri M. A., Sastra Jawa 2008 Setangkai Mawar Putih Amri M. A., Sastra Jawa 2008 Jarak Al-Muhtadi Asa Areispine Dymussaga Miraviori., Sastra Indonesia 2008 Tentang Seseorang yang Datang Kemarin Malam (I) Areispine Dymussaga Miraviori, Sastra Indonesia 2008 Tentang Seseorang yang Datang Kemarin Malam (II) Areispine Dymussaga Miraviori, Sastra Indonesia 2008 Kumbang Bachtiar Agung Nugraha, Arkeologi 2007 Tuhan Brambram Dan Jika Saja Menjadi Nyata Brambram Air Inez Kriya Janitra, Sastra Cina 2008 Angin Inez Kriya Janitra, Sastra Cina 2008 Api Inez Kriya Janitra, Sastra Cina 2008 Tanah Inez Kriya Janitra, Sastra Cina 2008 Sampai Jumpa, Ian Inung Imtihani, Sastra Indonesia 2009 Yang Menutup Telingaku Inung Imtihani, Sastra Indonesia 2009 Terbungkam Jenni Anggita, Sastra Indonesia 2008 Pagi adalah Pedih Berulang Kinanti Munggareni, Sastra Indonesia 2007 Empat Sayap Mendung (1) Meidy Kautsar, Sastra Indonesia 2008 Empat Sayap Mendung (2) Meidy Kautsar, Sastra Indonesia 2008

42 42 43 43 44 44 45 45 46 46 47 48 49 49 50 50 51 51 52 52 53 53 54 54 55 55 56 56 57 57 58 58 59 59 60 60 61 61

4 | Jalan Pulang

Empat Sayap Mendung (3) Meidy Kautsar, Sastra Indonesia 2008 Empat Sayap Mendung (4) Meidy Kautsar, Sastra Indonesia 2008 Konsemuya Meidy Kautsar, Sastra Indonesia 2008 ? Maharddhika, Sastra Indonesia 2008 Kemudian Berkemuka Maharddhika, Sastra Indonesia 2008 Bagaimana Jika Begini Saja Maharddhika, Sastra Indonesia 2008 Penjara Sungguh Tak Berguna Muhammad Abdinho Ableh, Sejarah 2009 Aku : Kepada Gerimis dan Hujan Mursyidatul Umamah, Sastra Indonesia 2008 Kau : Kepada Angin dan Awan Mursyidatul Umamah, Sastra Indonesia 2008 Apa Sebab Sulung Siti Hanum, Sastra Indonesia 2006 Di antaranya Yesy Wahyuning Tyas, Sastra Jawa 2005

62 63 64 64 65 65 66 66 67 67 68 68 69 70 71 71 72 72 73 73 74 74

Buku DUA: Kelam Akbar Rizky Fithrawan, Sastra Rusia 2009, PSA-MABIM 2009 Jakarta..!! Dimas Arif Primanda Aji, Arkeologi 2009, PSA-MABIM 2009 Melodi FIB Dinny Wulandari,Sastra Perancis 2009, PSA-MABIM 2009 Ketika Itu Dinny Wulandari,Sastra Perancis 2009, PSA-MABIM 2009 Elegi Satu Eki Kusumadewi, Sastra Indonesia 2009, PSA-MABIM 2009 Tidak Farah Fitriana, Sastra Belanda 2009, PSA-MABIM 2009

75 76 76 77 77 78 78 79 79 80 80 81 81

Jalan Pulang | 5

Sepertiga Indra Eka Widya Jaya, Arkeologi 2009, PSA-MABIM 2009 Terlalu Lama Aku Bermimpi Kartika Putri, Sastra Inggris 2009, PSA-MABIM 2009 Enam Puluh Hari Laila Anggita Nurcahyani, Sastra Inggris 2009, PSA-MABIM 2009 Kesendirian Mayang Gentra A.P., Sastra Perancis 2009, PSA-MABIM 2009 Bodoh Meidine Primalia Putri, Sastra Jerman 2009, PSA-MABIM 2009 Bisa Mati Niken Prameswari, Sastra Jepang 2009, PSA-MABIM 2009 Ibu... Bolehkah Aku Bertanya Nisma Dewi Karimah, Sastra Jepang 2009, PSA-MABIM 2009 Perjuangan Seorang Jongos Pinka Almira Kusuma,SastraJerman 2009, PSA-MABIM 2009 Kisah Sinta Puspa Ayu, Sastra Jawa 2009,Tugas PSA-MABIM 2009 Bimbang Puteri Risdayani, Sastra Belanda 2009, PSA-MABIM 2009 Titik Putih Qory Sandioriva, Sastra Perancis 2009, PSA-MABIM 2009 Malam Resha Ardliyan Nur Kibtiyah, Sastra Rusia 2009, PSA-MABIM 2009 Hampa Sahla Salima, Sastra Jerman 2009, PSA-MABIM 2009

82 82 83 83 84 84 85 85 86 86 87 87 88 88 89 89 90 91 92 92 93 93 94 94 95 95

Catatan Penutup Tentang MarkasSastra Tentang PSA-MABIM FIB UI 2009

96 107 109

6 | Jalan Pulang

Catatan Editor

Dengan senang hati kami menerima tawaran Panitia PSAMABIM FIB UI 2009 untuk menerbitkan beberapa puisi dari temanteman sejawat dan teman-teman mahasiswa baru FIB UI (tugas PSA-MABIM). Kami masih ingat tahun lalu dengan susah payah kami menerbitkan kumpulan puisi MarkasSastra yang pertama. Di tahun kedua, kami masih diberi keberuntungan untuk melanjutkan penerbitan kumpulan puisi tersebut. Tidak mudah tentunya memilih beratus-ratus puisi yang masuk ke kotak masuk MarkasSastra. Beratus-ratus puisi tersebut mencoba melampui batas-batas yang meretas, yang membentang, yang memenuhi semesta. Melalui puisi pula mereka mengabadikan beragam peristiwa puitik dan melampaui batas-batas atau terbentur batas-batas yang sengaja atau tidak sengaja dibuat oleh sistem yang melingkari kehidupan manusia. Penerbitan buku ini sekiranya dapat memberikan ruang bagi teman-teman untuk berkreativitas di bidang seni sastra dan dapat memberikan beberapa faedah bagi berbagai pihak. Tentu saja, kami tidak ingin berhenti sampai di sini, kami ingin terus menjadi ruang kreativitas bagi seni dan sastra. Semoga kami bisa melampaui batas-batas kemampuan kami. Atas terselenggaranya penerbitan buku puisi ini, kami ucapkan banyak terimakasih kepada Tuhan YME, Panitia PSA-MABIM FIB UI 2009, 28wArtlab, teman-teman yang berpartisipasi dalam buku puisi ini, dan tentunya teman-teman pembaca, yang dengan cara masing-masing memposisikan puisi melebihi batas-batas. Depok, 19 April 2010 MarkasSastra

Jalan Pulang | 7

Kata Pengantar

Ucapan puji dan syukur saya panjatkan kepada kehadirat Allah swt atas segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan sehingga buku antologi puisi ini dapat diterbitkan dan hadir di tengah-tengah kita semua. Layaknya sebuah ruang, buku antologi puisi ini adalah ruang bagi aktualitas dan kreatifitas kebebasan berekspresi. Membiarkan adanya pemberontakan pikiran setidaknya boleh dilakukan untuk sekadar memandang berbeda paradigma berpikir masyarakat pada umumnya. Melalui terbitnya buku antologi puisi ini membuktikan bahwa pemberontakan pikiran dapat dilakukan. Semoga pemberontakan pikiran ini dapat terus tercipta sehingga dapat membuka ruang kreatif dalam untaian kata dan makna pada perkembangan kreatifitas seni dan sastra. Terimakasih kepada teman-teman Panitia PSA-MABIM FIB UI 2009, Mahasiswa FIB UI angkatan 2009, rekan-rekan Komunitas MarkasSastra, 28wArtlab, Serta seluruh pihak yang telah membantu terbitnya buku antologi ini. Ucapan terimakasih secara khusus saya sampaikan kepada Ketua DPM FIB UI 2009, Wannihaq Yuhamrithama atas waktu tambahan yang diberikan sehingga buku antologi puisi ini dapat terbit. Ketua Pelaksana PSA-MABIM FIB UI 2009

8 | Jalan Pulang

Buku SATU: MarkasSastra

Jalan Pulang | 9

Ku Katakan dengan Tulisan

Dalam detik aku melangkah, bagai semut merah di atas ranting yang percaya pada hasil terbaik tanpa takut terjatuh. Dalam gelap aku menatap, bagai bintang di malam berawan, nyata dan bersinar, mengacuhkan kesamaran sepi. Dalam keindahan aku bergerak, bagai sepasang tangan kasih terus menari di genggaman meluapkan keanggunan damai. Dalam mata mu aku membaca, bagai raja para bacaan, tertulis semua perasaan hati yang bermakna dalam diam.
Adlia Nazila, Sastra Jerman 2008

10 | Jalan Pulang

Jalan Pulang

Malam dan detik waktu tidak pernah mau mengerti tentang kegelisahan kita yang terpaksa merana menelan keadaan. Bagaimana aku bisa pulang jika tanganku terus melingkar pada nada yang kita senandungkan seiring perjalanan. Napasmu sesak, napasku sesak. Malam semakin mendesak kita yang nyaris ramping dihimpit kabut. Membutakan mata kita saat kita harus kembali pulang karena malam sudah kian larut. Dan kita tak akan mau pulang. Kembali pada nada-nada kita yang sumbang. Peraduan tamu dan ruang-seperti berulang kali kubilang. Akhirnya kita menyerah pada malam dan waktu yang tak akan pernah mau mengerti tentang kegelisahan kita yang kita harap dapat terus menerus membunuh ingatan kita tentang jalan pulang. Hingga akhirnya kulepaskan pelukanku pada cerita yang belum juga rampung, kutitipkan wajah murung pada saat kita berharap mimpi pada otak dapat selamanya tertampung. Sungguh mati aku tidak mau pulang dan meninggalkan kau menyusuri hunianmu seorang diri. Aku ingin bertamu untuk terus bertemu dengan kau! Aku diam, kau diam. Malam semakin mendesak kita yang nyaris ramping dihimpit kabut. Lentera biru sudah menunggu untuk ditiupkan ruh pada nyawanya yang lama mengeluh Menemaniku bermimpi, memeluk lekuk bibirmu menunggu ucapan selamat pagi.
Agrita Widiasari, Filsafat 2008

Jalan Pulang | 11

Kau Hawa dan Saya Pria
Jangan ingatkan saya dengan kaca piring yang dia giring ke dahiku semalam. Karena saya tak mau lagi mengingat kau atau salah satu di antara kami yang kau gilir dari hulu ke hilir. Dari bibirmu yang mengilir lidahku hingga mampu tunduk dan diam. Dalam sekam yang kau rajut seharian. Mengunciku. Jangan pergi, katamu. Setelah baju hijau yang menguliti keperjakaanku kandas dari pergelangan tangan. Melayang ringan dan kau tak memberiku sedikit bonus perlawanan. Dan kau mulai lagi mengilir lidahku semilir hingga turun ke pelir. Mengunciku. Saya hanya tetesan air yang tak mampu merangkak menuju ujung pipa. Kau yang memulai untuk menghabisiku tanpa sisa dan saya tak mampu menolak daya. Bukan karena cinta yang hangus dimakan nelangsa. Tapi karena kau hawa dan saya hanya pria. Jangan ingatkan lagi dengan wangi bunga kenanga yang menggoda birahiku semalam. Ketika kakiku merajuk untuk menguntit jejakmu dari binatang besi yang merajalela. Mengerang dan haus karena kehilangan pompa, hingga akhirnya naluri yang menggerakkanku untuk memelukmu dari punggung. Saya hanya ingat bahwa saya adalah hilir yang tak melampaui hulu. Yang tidak bisa menunggangimu karena cinta tak mengikatkan tali pusar kita di depan penghulu. Saya hanya tetesan air yang tak mampu merangkak menuju ujung pipa. Bukan karena cinta yang menyadarkan bahwa ternyata saya terpaksa rela menjadi sia yang terlunta. Tapi karena kau hawa dan saya hanya pria.
Agrita Widiasari, Filsafat 2008

12 | Jalan Pulang

Dia, Manusia di Balik Telepon yang Kau Genggam Itu

Dia, manusia di balik telepon yang kau genggam itu, diam. Memeluk erat bulir mata yang mencair. Setengah mati. Setengah memaksa. Malam menjadi kian asing saat dia, manusia di balik telepon yang kau genggam itu, mulai bertanya: Mengapa? Kamu, penyiksa yang meniduri hati juga pintu rahimnya, berusaha pergi dengan piyama barumu. Piyama yang baru kau kenakan saat meracapi peluh pelacur bau kencur usia dua puluh. Dan sisa-sisa cinta semakin meneror dia, manusia di balik telepon yang kau genggam itu. Hingga akhirnya kau pergi separuh berlari, setelah kemarin kau memaksanya menelan laju sperma tanpa kendali. Dia, manusia di balik telepon yang kau genggam itu, memandangku setelah kau berkata : tak akan sudi aku kembali. Kabar baik untukmu, penyiksa yang mengobrak abrik hati juga pintu rahimnya, karena dia kini pergi bersamaku. Menegak nanah didih sembari menungguiku menjemput dan melemparmu ke mari.
Agrita Widiasari, Filsafat 2008

Jalan Pulang | 13

Perjumpaan

Aku tidak akan pernah tahu, bagaimana cara kita berjumpa dan bertukar sapa. Di dalam keramaian otak yang menyerang pikiran, kita hanya berangkat bersama jumpa. Tanpa kita mengerti. aku dan kamu tak pernah saling mengikat hati akan bertemu dalam substansi. Senja ini. Kamu datang memaksa pagi untuk muncul lebih dini. Tak terkecuali Aether yang tidur terlampau nyenyak dalam malam yang kau kebiri. Semua terjadi lebih pagi . Akhirnya, kita hanya bergantung pada pengalaman yang mengikatkan kaki kita menuju satu pijakan. Hingga akhirnya kau melihat pesona dan pesona berlari untuk mengabarkannya padaku. Pesan hanya berpesan, Sampaikan salamku pada jumpa dan jangan biarkan malam memberimu selamat pada tinggal karena aku akan berteriak pada perjumpaan yang akan memberimu doa tanpa henti, sampai bertemu lagi.
Agrita Widiasari, Filsafat 2008

14 | Jalan Pulang

Fragmen Tak Berima

Setelah beberapa kali kubalik lembarlembar kiasan yang kau tulis, kau tetap saja menjadi fragmen yang tak berima. Setiap kata tak lagi kau sihir sempurna, bahkan hanya jadi santapan di minggupagi. Bukan sebagai pemuas dahaga, menjadikan aku sedikit orgasme pun tak mampu. Lalu untuk apa kau sulut api sedang aku tak terbakar. Lebih baik kau pagari saja atau kau kotakki kiasanmu itu, lalu kau simpan di kolong kasurmu. 2009
Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2008

Jalan Pulang | 15

Ode untuk Kapal

/1/

Tidak ada yang bisa menjelaskan tentang sendu yang kurasakan. Tidak ada yang bisa menjelaskan mengapa kopi berasa pahit dan gula berasa manis? Senja masih bersembunyi di balik abuabu langit yang sembilu entah apa yang dirasakan langit atau langit serasa sendiri. Di kamar yang kecil, aku memandang jauh ke arah cakrawala. Ke arah pelabuhan kecil di seberang rumahku. Tak ada kapal yang bersandar padanya, tak ada tali yang ditambatkan pada tiangtiang dermaga. : Mengapa pelabuhan kecil tak pernah bersedih ketika tak ada kapal lagi yang bersandar padanya?

16 | Jalan Pulang

/2/

Aku tidak pernah meminta atau mengharapkan burung kertas datang padaku, aku tidak pernah tahu rasa sesak ini tibatiba datang. Aku bukan seorang barista yang bisa meracik kopi kaya akan rasa. Aku tidak bisa memotong senja untukmu atau menghadirkan hujan bulan juni. Kadang aku hanya ingin menjadi malaikat yang menjagamu siang dan malam.

Jalan Pulang | 17

/3/

Apakah malaikat merasa? Ah, tentu saja malaikat tak merasa, aku tidak bisa menjadi malaikat karena aku merasa. Mengapa rasa menjadikanku manusia? Aku hanya ingin di dekatmu, berdua denganmu tanpa sekalipun terlihat olehmu. Aku hanya memikirkan betapa mayanya perasaan yang kurasakan. Sembilu seperti langitlangit abuabu ataukah merona merah seperti senja yang cerah. Kedua rasa bercampur aduk memenuhi sesak dada. : Bagaimanapun aku adalah manusia bukan malaikat.

18 | Jalan Pulang

/4/

Mungkin aku seperti pelabuhan kecil di seberang rumahku, yang tahu kapan bersikap lembut dan tegar. Namun, aku masih belajar bersikap tegar. Aku belum setegar pelabuhan kecil yang tak pernah menangis ketika kapal pergi meninggalkannya.

Jalan Pulang | 19

/5/

Tibatiba aku ingat ketika kau mengajakku ke kedai kopi kecil. Sekadar melepas lelah katamu, namun bagiku melepaskan dahaga. Aku memesan kopi pahit tanpa gula. Kau memesan kopi yang telah dicampur susu dan coklat. Barista membawakan kopi pesananku dan pesananmu, di meja kecil paling ujung kedai kopi. Aku meminum pelanpelan, sambil memandangmu yang dengan lugunya meniupniup kopi panas. Barista ternyata tak membuatkan kopi sesuai yang kupesan. : Kopiku berasa manis atau aku sudah tidak bisa membedakan pahit dan manis.

20 | Jalan Pulang

/6/

Aku merasa dekat dengan surga. Entah surga seperti apa, bahkan aku tidak pernah melihat surga. Surgaku dan surga Tuhan mungkin berbeda. Di Surgaku, hanya ada satu bidadari, pantai senja yang merah disertai camarcamar yang mengalun rindu. Nyanyian ombak yang menderuderu. : Namun, surgaku tak abadi bahkan akan cepat luruh. Aku hanya ingin sejenak berada di surgaku.

Jalan Pulang | 21

/7/

Aku masih mendengarkan lagulagu yang sering kita putar di tamankota. Duduk di taman sambil meracau tentang: aku, kamu, dia, kita, kami, kalian, dan mereka. Waktu seakan berhenti. Burung gereja iri melihat kita berdua. Entah sudah berapa kali lagu mengalun barangkali sudah seribu jika ditambahkan yang kudengarkan sendiri. Aku sempat beberapa kali terlelap dan memimpikan kembali suasana tamankota. : Rasanya aku ingin abadi di sini.

22 | Jalan Pulang

/8/

Kau masih ingat sepotong sajak yang kubacakan untukmu: yang fana adalah waktu. Kita abadi. Kau dan aku abadi setidaknya dalam kotakku. Aku masih menyimpan kotak tersebut dalam ruang dan waktu yang aku sendiri bingung menjelaskannya.

Jalan Pulang | 23

/9/

Kapal yang dulu datang pada pelabuhan kecil, berangkat tepat pukul 5 sore. Kapal sudah sempurna, lukaluka sudah sembuh. Badai sudah reda. Lautan akan menyambut kapal lagi dan menghantarkannya ke pelabuhan akhir tempat yang menjadi tumpukan impian kapal dan bukan di pelabuhan kecil.

24 | Jalan Pulang

/10/

: Sepotong roti yang kau titipkan padaku masih utuh, aku tidak ingin memakannya karena aku tidak bisa memakannya. Aku sudah tidak bisa membedakan manis dan pahit. Sepotong roti kuletakkan di atas meja yang menghadap jendela tepat menghadap cakrawala. Di atasnya, burungburungkertas merah, hijau, kuning, dan biru yang juga kautitipkan padaku kubiarkan terbang di jendela. Aku ingin meluruhkan segala rasa. Aku ingin menjadi malaikat seutuhnya,

2009
Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2008

Jalan Pulang | 25

Delapan Sonnet yang Terserak di antara Kertas Lusuh

Sonnet 1, Taman kota 1
Sore itu langit menjelma abu-abu. Angin berjalan mondar-mandir di celah-celah akasia. Sebuah taman kota yang sering ramai setiap sore sekarang seakan sunyi, bangku taman dan lampunya hanya berdiam sembil menunggu tik-tok jam. Barangkali akan ada hujan. Di taman kota ada sepasang ayunan. Biasanya sepasang burung dara bermain di atap ayunan sambil meracau. Sepasang ayunan bergoyang terbelai oleh angin yang sedari tadi bersinjingkat entah apa yang ia cari. Sepasang burung dara tak datang sore ini. Jam taman berdentang, kali ini menandakan waktu sudah menjelang petang. Matahari senja yang tadi memancarkan cahaya merah, redup perlahan-lahan. Ada bulan yang remang tertutup mendung. Lampu taman mulai bangun dari kantuk sesiang. Ia mulai menerangi taman kota yang sesore tadi sepi. 2010

26 | Jalan Pulang

Sonnet 2, Taman Kota 2

Biasanya akan ada gadis kecil berambut panjang duduk di sini. Langit yang sedari tadi dilanda murung mulai menandakan keceriaannya. Dari jauh sepasang bayangan mendekat. Mungkin itu gadis yang sering membaca buku dan membuat sajak.Ada yang hingar ketika mereka tiba di bangku taman. Lampu yang redup menjadi ceria, bangku taman menjadi lebih hangat. Petang menjelang malam kembali sedikit hangat. Aku suka taman kota ini, jika menjelang malam, aku selalu menghabiskan berlembar-lembar buku. Kau suka kan? Bangku taman seperti mengenali bau parfum dan suara lembutnya. Aku yakin, dia adalah gadis yang biasa duduk di sini.Tapi dia tak lagi sendiri.Ronanya tak lagi sendu. Langit pun tak lagi mendung. Bulan sudah tak lagi tertutup. Cahayanya perak memancar hingga membentuk bayangbayang akasia. Angin tak lagi bertingkah seperti sore tadi. Kita sudah tua ternyata, sudah lama kita tidak menemani sepasang bayangan yang duduk di sini. 2010

Jalan Pulang | 27

Sonnet 3: Lalu Desember

Lalu desember, ketika kau titipkan pesan, tiba-tiba aku ingin sendiri. Kubiarkan kau sendiri tapi tak benar-benar sendiri. Di bagian lain, aku menyihir daun-daun di sekitarmu untuk menemanimu selama sendiri, juga angin juga burung-burung gereja. Lalu Januari, aku ingin ke kota yang jauh. Kusihir saja kereta untuk menemani pergi ke kota yang berjarak ribuan kata. Aku ingin kau ikut malam ini. Baru saja kusihir diriku tuk menemanimu. Lalu februari, tiba-tiba kau pergi, selamat tinggal, terimakasih. Lalu kusihir saja diriku jadi tiada dan berlalu.

2010

28 | Jalan Pulang

Sonnet 4: Tiba-tiba saja

Tiba-tiba saja kau menjelma angin yang hingar ke sana ke mari. Menerobos celah ruang-ruang. Takterlihat namun selalu kurasakan. Tiba-tiba kau menjelma menjadi detik waktu. Mengingatkanku pada pertemuan yang lalu. Lalu kau menjadi hujan yang tiba-tiba mengetuk jendela dan mengajakku bermain. Lalu kau dingin di sudut stasiun yang kurasakan tempo lalu sambil menunggu.Aku tiba-tiba membayangkan kau ada di setiap dinding yang ku lihat di sepanjang jalan atau lampu jalan yang menerangi jalan: Ah, tiba-tiba saja kuingat kau yang tiba-tiba hilang.

2010

Jalan Pulang | 29

Sonnet 5: Stasiun Tua

Hanya angin yang mendesir di antara pekat peron stasiun tua. Kereta sudah jarang lewat stasiun. Hanya ada beberapa kereta tua yang bersandar di beberapa baris rel atau kereta yang sedikit lusuh yang butuh istirahat beberapa saat. Ada penjaga stasiun yang sangat setia padanya. Penjaga stasiun memang kelihatan lebih muda dari stasiun. Jarak mereka mungkin 2o atau 30 tahun. Tapi ia sangat suka dengan stasiun tua ini. Semua yang ada di dalam stasiun masih utuh, masih sama ketika stasiun lahir. Tidak ada yang berubah mungkin hanya beberapa kulit stasiun yang lebih cerah karena setiap ulangan hari lahirnya selalu diperbaharui. Penjaga stasiun selalu duduk memandangi jam yang memang sedari dulu berada di situ sambil mendengarkan tik-tok waktu. Sudah berapa kali kau berputar? Mungkin kau sudah lelah. Hanya angin yang mendesir sore itu, ketika stasiun tua melepas penjaga stasiun. Mungkin kau sudah lelah. 2010

30 | Jalan Pulang

Sonnet 6: Selamat Tinggal

Tidak kah kau dengar helaan nafas burung yang berjingkat di pohon mranggas. Tidakkah kau dengar riuh angin menderai dahan pohon itu. Tidakkah kau dengar sayup-sayup mesin lokomotif yang akan menjemputmu kelak. Aku dengar jejak langkah yang seru tertinggal di antara deru pasir dan ombak. Aku dengar kelopak bunga kamboja yang jatuh pada tanah basah. Aku dengar rimis hujan pelan-pelan di atap rumah. Nada itu. Aku dengar suara lirihmu pelan-pelan. : Selamat tinggal. 2010

Jalan Pulang | 31

Sonnet 7: Masih Saja Kau Melamun

Di teras rumahku, masih saja kau melamun, diam-diam aku memikirkan lampu remang-remang di seberang. Kerdipnya pelan-pelan seirama denyut nadi menghanyutkan darah yang mengalir pada aorta. Kenapa kau masih saja melamun. Ada burung yang tiba-tiba singgah di atap lampu, memandangku, sejenak ia pejamkan mata. Tiba-tiba saja lampu sepanjang jalan mati dan hanya lampu itu saja pelan remangnya mengirama pada malam yang pekat. Masih saja kau melamun di dunia yang fana sambil menghisap asap dan menyerap kopi pekat lalu mengawang tentang keabadian pada ihwal yang fana.

2010

32 | Jalan Pulang

Sonnet 8: Rindu yang Kekal
Kepada ibu

Kutuliskan padamu, ibuku, rindu-rindu yang abadi. Aku masih ingat dongeng-dongeng yang mengantarku ke negeri penuh pelangi. Pelangi tak pernah memudar di antara bukit-bukit yang menghimpitnya. Senja merah cerah tak pernah luntur oleh abu-abu sembilu. Air terjun yang mericik riang memenuhi danau bening, riciknya membentuk pelangi abadi. Pinus-pinus berpelukan meneduhkan ilalang dan burung-burung. Tak ada lagi denyut waktu atau rintihan pasir yang jatuh di antara kaca. Aku rindu dongeng-dongeng itu. Aku rindu suara lirih yang mengantarku ke tempat itu. aku rindu helai derai rambutmu. Aku rindu ronamu. Suatu saat akan kuceritakan dongeng-dongeng itu pada anakku. Suatu saat aku akan menemuimu di tempat itu. Kita akan berbagi dongeng-dongeng dan denyut waktu benarbenar punah. 2010
Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2008

Jalan Pulang | 33

Aku Rahwana dan Kau Sinta

/1/ ada hujan yang tibatiba datang tanah membusungkan dadanya menangkap satupersatu hujan

di antara hujan ada kau aku berada pada sekian tanah kau datang mengetukngetuk rumahku dengan tibatiba kau buka pintu --hujan semakin menderuderu tubuhmu basah peluh "bolehkah aku berteduh?" "tentu saja, kau bisa memakai perapian itu untuk menghangatkan tubuhmu"

34 | Jalan Pulang

/2/

kau sinta aku rahwana

dua senja telah berlalu hujan sudah reda -- hanya serintik yang kadang turun "kembalilah pada rama hujan tak lagi turun aku takut kelak...." "dua senja di sini aku telah menemukan rasa sebelumnya aku tak merasakan apapun" senja telah datang untuk ketujuh kalinya merah dan menyemburat merasuk ke dalam celahcelah rumahku ada aku dan sinta --dalam semestaku menghabiskan tujuh senja : aku masih takut pada kelak

Jalan Pulang | 35

/3/

langit yang tertidur dengan pulasnya tibatiba bangun ada cahaya merah dan menyemburat namun bukan senja "kembalilah, sebentar lagi senja palsu datang" dengan lagu berat kau melangkah ragu menuju pintu "di luar sudah ada yang mengantarmu kembali" senja palsu mulai melahapmelalap sekatsekat tak ada lagi hujan yang mengantarkan mu pada ku rama telah menunggu se-tujuh senja dia menciptakan senja palsu untukmu "aku rahwana, kau sinta biarlah aku dilalap senja palsu kembalilah pada rama-mu" bisikku lirih pada sinta 2010
Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2010

36 | Jalan Pulang

Keluarlah, Ada Hujan Berdansa dengan Malam
: d.r.

Keluarlah, hujan telah berdansa dengan malam Tik tik nya menyerukan isyarat yang mungkin akan kau reka-reka jendela rumahmu akan diketuknya memanggilmu untuk ikut berdansa malam akan lambat beku serupa batu dan waktu takkan terjepit lagi : Keluarlah sebentar, aku ingin berdansa denganmu Mungkin esok akan tiada 2010
Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2008

Jalan Pulang | 37

Subuh

Di subuh, aku duduk di antara batu dan tegalan Memandang batas di atas subuh setengah biru. Ada juga yang meretas biru itu dengan sejuta doa Tapi tak juga bertemu dengannya Di subuh; tak sampai padamu juga aku Dengan beribu bisu yang tak terucap : kau Lalu kuterjemahkan sepi subuh untuk sejenak. Melepas rindu, ada juga sepi itu menjelma kau 2010
Agung Dwi Ertato, Sastra Indonesia 2008

38 | Jalan Pulang

Terserang Wabah Majnun

,terserang wabah majnun sitar-sitar melayangkan sihir nada yang menjari nadi paradoks bunyi tertawa, menangis, tertidur tanpa penyangga, begitulah lidah kehilangan asin kehilangan banyak garam karena keringat kehilangan banyak kemurnian karena ketidakmurnian. terserang wabah majnun pandai besi akan kehilangan pekerjaannya, karena banyak pedang tercipta percuma tanpa adanya darah yang akan tercurah. semua sudah terluka seperti majnun semua butuh terluka agar darah mendidih karena pujaan ini tidak membeku berkarat membunuh pembulu membunuh jantung, membunuh nafas. untuk itu semua harus pernah terluka sekali terluka untuk berkali-kali hidup terserang wabah majnun
Agung Setiawan, Filsafat 2008

Jalan Pulang | 39

Sesaat Sebelum

bukanlah rangkaian tangan ledakan mencengkram yang patut ditakuti, tapi perasaan menunggu yang sangat lama itu bukanlah percikan kembang api yang akan habis, yang ditangisi anak kecil tapi rasa bahagia yang percuma mereka dapatkan untuk sekedar sesaat saja bukanlah lampion yang terus padam jadi kelam yang menggelapkan seisi rumah tapi itu perasaan yang kecanduan akan terang bukanlah parang yang mencumbu urat leher yang ditakutkan sapi ketika kurban tapi itu merupakan rerumputan hijau terakhir yang mencapai tenggorokan bukanlah sedikit kerusakan pada patung yang dicemaskan para pemahat tapi semangat bahagia di awal yang memulai memudar bukanlah rasa malas dan lupa yang ditakuti ilmuan tapi saat ketika mereka pernah mengingat dan memimpikan banyak misteri bukanlah tubuh indahmu yang mulai mengerut yang kuhindari tapi mata ini yang pernah mengenalmu

40 | Jalan Pulang

bukanlah akhir dunia yang ditakuti manusia tapi jantung manusia yang tak bisa tenang karena cerita tentang itu bukanlah menjadi jahat yang ditakuti orang baik tapi perasaan tak bisa menjaga hal tersebut agar tetap sama bukanlah saat ketika semua hal terjadi tapi saat menunggu hal itu terjadi kita hanya diberi waktu sesaat untuk bisa merasakan ilusi itu, terkadang kita tidak menginginkan kebahagiaan itu karena ia hanya sesaat sebelum kesedihan...... lebih baik ia tak pernah ada, kalau hanya sesaat... karena memang ia tak pernah ada, semua peraasaan itu hanya efek dari sesuatu yang berbanding terbalik.... sebuah cermin besar........ tapi uniknya kita berjuang untuk bayangan dalam cermin kita hidup untuk sesaat sebelum, sesuatu yang beda.
Agung Setiawan, Filsafat 2008

Jalan Pulang | 41

Ketahuilah

Jika suatu hari, entah sekarang, besok atau kapan, aku tak bernafas lagi, ketahuilah, hadiah terindah yang pernah kudapat adalah mengenalMu, 2009
Amri M. A., Sastra Jawa 2008

42 | Jalan Pulang

Setangkai Mawar Putih

setangkai mawar putih tertanam di antara bunga-bunga bakung di seberang sana, terdapat kata menguntai bahasa batu; bahasa sunyi, tanpa swara-swara, matanya menaklukan waktu yang berlari, 2010
Amri M. A., Sastra Jawa 2008

Jalan Pulang | 43

Jarak

Jika jarak adalah musuh sejawat Maka biarkan tatap meregang rindu yang terawat Karena darah dan nafas perlahan-lahan merambat Dari kaki hingga hati segala menggumpal, segala melambat Karena selalu jarak yang menimbang sesak Maka akan kulempar senja pada batas yang terserak Kubungkus dengan senyum dan kecup, agar di sana rona wajahmu semarak
Al-Muhtadi

44 | Jalan Pulang

Asa

kita tidak pernah tahu apakah kita akan terbang ke Nirwana atau terperosok ke Hades kita merasa bebas dan tertawa di dunia kita yang sempit sambil melihat dari balik kaca ke sisi kaca yang lain, yang muram dan awan-awan kelabu kita kadang tersenyum, dan beberapa pernah menitikkan air mata namun kita sendiri tidak tahu apa arti semua itu yang ada di hadapan kita hanyalah sebuah jalan kecil di mana kita naik, turun, berbelok, lurus, pergi, dan kembali

Areispine Dymussaga Miraviori., Sastra Indonesia 2008

Jalan Pulang | 45

Tentang Seseorang yang Datang Kemarin Malam (I)

Apa yang ingin kau sampaikan? Cinta yang kelabu? Oh, cinta telah mati sore tadi Ada burung gagak di atas nisannya (2009)
Areispine Dymussaga Miraviori, Sastra Indonesia 2008

46 | Jalan Pulang

Tentang Seseorang yang Datang Kemarin Malam (II)

setelah empat tahun yang panjang akhirnya aku menemukanmu kembali seseorang yang pernah ada di hatiku namun selalu tak sempat aku mengakui dan mencoba merasakannya. maka hari ini aku dapat melihat senyummu lagi yang mencintaiku masih tetap seperti empat tahun lalu. terkadang aku ingin mencoba mencari celah-celah di hati yang dulu sempat menyimpan cinta itu yang kemudian tertimbun seiring berjalannya waktu dengan cinta-cinta yang lain yang tak pernah aku sesali kehadirannya namun di mana celah itu aku masih ingin menemukannya. mungkin sebenarnya kau tak punya kesempatan lagi pikirku karena saat ini aku sudah memiliki seseorang yang sangat aku cintai dan tidak mau melepaskannya karena aku sendiri tidak tahu apa jadinya aku jika tanpanya. namun aku tak kuasa melihatmu menangis lagi sama seperti waktu empat tahun lalu yang menyisakan perasaan bersalah padaku yang terlalu mementingkan egoku daripada mengakui cintaku padamu yang meski hanya secuil namun pernah benar-benar aku rasakan. tapi tak akan ada cerita bila kita tidak berpisah dan aku tidak akan merelakan hidupku hanya tertuju padamu tanpa kisah-kisah lain yang indah terutama dengan seseorang yang aku cintai saat ini. sesungguhnya aku sangat ingin mengatakan bahwa aku sungguh menyayangimu dan secuil perasaan dari empat tahun lalu itu masih ada namun aku tak pernah bisa karena hidup memang harus memilih.

Jalan Pulang | 47

benar katamu bahwa terkadang kenyataan yang ada tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan yang bisa kita lakukan hanyalah pasrah dengan skenario yang telah dipersiapkan untuk kita dan menjalaninya dengan seikhlas hati karena apa yang kita terima pastilah yang paling baik dari yang pernah ada. maka cincin yang aku kenakan di tangan kiriku ini tak sepatutnya aku sesali karena waktu terus berjalan meskipun kau tetap mengintaiku dari belakang memastikan aku baik-baik saja dan bersiap mengulurkan tanganmu dan pundakmu di saat aku bersedih. alangkah sempurnanya dirimu yang sangat ingin aku miliki namun tak pernah bisa. tapi aku juga tak sanggup membayangkan diriku tanpamu lagi seperti masa empat tahun yang penuh penyesalan di tengah suka-duka cinta yang aku ukir di masa mudaku. kedatanganmu malam ini kuakui bagaikan seberkas cahaya di ruang hatiku yang terang namun ada redup di salah satu sudutnya. kupikir kau juga tak akan sudi menerangi sudut hatiku yang redup itu selamanya tanpa ada balasan cinta dariku yang sesuai dengan apa yang telah kau lakukan padaku selama ini. maka yang dapat kukatakan hanyalah jangan menyesal dan meratapi empat tahun itu, karena aku pun sebenarnya telah memaksakan diriku untuk tidak terjebak ke dalam dua lingkaran itu. Hidup adalah sebuah pilihan, sayang.. (2010)
Areispine Dymussaga Miraviori, Sastra Indonesia 2008

48 | Jalan Pulang

Kumbang
:k.a.p

Musim yang belum mau berganti Dan udara masih menyisakan aroma dingin Tak ada suara yang menyeru dari ujung desa Tak ada gerak yang terlintas pada pandang dua mata Semuanya masih bersembunyi Dalam gelap dan ketakutan Hanya kumbang yang bergerak perlahan Kepakkan sayap-sayapnya yang tak juga kuat Akan kesunyian, akan kebekuan Semua yang ada
Bachtiar Agung Nugraha, Arkeologi 2007

Jalan Pulang | 49

Tuhan

sudah lama aku tidak datang menyembah rindu
Brambram

50 | Jalan Pulang

Dan Jika Saja Menjadi Nyata

Akan puaskah kita dengan hidup yang biasa-biasa saja
Brambram

Jalan Pulang | 51

Air

Air mengalun Menggeliat dan mengayun Luapkan kehidupan Meredam pertanyaan. Ayolah, Apalagi yang membuat resah? Kita diam dan bertaut Simpan bayang dalam kalut. Ini takdir, Kata bintang di balik tabir Di antara suara takbir Kita tertawa getir. Manusia, katamu Tak mau mengakui batasan dirinya Bersikeras memburu Penuh naif tentang menjadi Satu Yang Sempurna. Kau menghela nafas Di sisi fana yang menebas Bahkan kita tetap terbatas Saat nyawa telah terbebas.
Inez Kriya Janitra, Sastra Cina 2008

52 | Jalan Pulang

Angin

Entah apa yang membisik duri Saat menapak pada jalan yang suci Tak terlihat kerlap-kerlip baiduri Karena hanya ada lirih Sang Mentari. Kuasalah jiwa yang merekah Tak perlu ragu tergelung basah Merebah Tanpa takut untuk membantah. Kita berteriak Bersorak Menyalak dan tersentak. Angin berbelok dan semua membisu Terharu deru Kemudian tersapu. Ada ikatan dalam kata Tapi dengan kata aku bebas dan terlepas Menyanyi menderas Tanpa batas.
Inez Kriya Janitra, Sastra Cina 2008

Jalan Pulang | 53

Api

Kapan terakhir kali kau menari di bawah hujan? Merasakan kabut yang selimuti angan Ada harapan dalam kepingan Yang merapat menembus khayalan. Menyilau aku akan kemilau Ketika ada yang menepikan galau Bukan aku atau engkau Tapi mereka yang menangis dalam gurau. Menjadi terkungkung dan terbelenggu Mengapa pula kita harus menjadi tersedu? Bukan kita yang tertindas Tapi kita memang menindas. Tak kita lepas jati diri Namun tak pernah ada harga diri Meski jelas berlaku harga mati Yang tak berasal dari hati.
Inez Kriya Janitra, Sastra Cina 2008

54 | Jalan Pulang

Tanah

Mereka menapaki jalan, Sayang Sedang kita merangkak di sela bebatuan Dia nyanyikan kidung, meremang Sementara aku merintihkan lembayung, tersedan. Kita dan mereka Entah apa bedanya Hanya saja kita tahu Mereka selalu membisu Kita meraba untuk mengerti Belajar dan memberi arti Dan meraka tertawa untuk menikmati Dimanja dan tak pernah berarti Ketika tanah bergoyang Kitalah yang menopang Berdendang serta melayang Mampu berjuang dan menang Ketika batas bercermin Hanya kita yang mampu menjawab Tak perlu keabadian untuk menjadi yakin Bahwa mereka memang biadab
Inez Kriya Janitra, Sastra Cina 2008

Jalan Pulang | 55

Sampai Jumpa, Ian

Ardian tidak mengamen hari ini.dia ingin istirahat saja di tanah.menikmati lalulalang orang sambil jadi selebriti siapa yang tak kenal.di TV ada gambarnya di koran ada fotonya.di kitab Tuhan melukisnya sekarang sedang kita baca: Ardian lompat ke bulan menjemput receh yang sempat jatuh sepanjang cakungpulogadung
Inung Imtihani, Sastra Indonesia 2009

56 | Jalan Pulang

Yang Menutup Telingaku

doa itu menjadi jembatan menjumpaimu dari sini saja tercium harum yang kau lekatkan pada darahdarahku. tapi angin sering datang terlalu banyak menggelindingkan surat kaleng ke batas laut sampai aku tuli.mendengar ketukanmu di pintu malam tadi
Inung Imtihani, Sastra Indonesia 2009

Jalan Pulang | 57

Terbungkam

sendiri. memeluk sepi dan hampir mati. memekik dalam diam terbungkam.
Jenni Anggita, Sastra Indonesia 2008

58 | Jalan Pulang

Pagi adalah Pedih Berulang

pagi adalah pedih berulang dan kita selalu berbagi hidup yang cuma sebentar selanjutnya kau tak mau mengalah, aku tak mau mengalah akhirnya kita selalu salah sasaran marah pada orang yang tak dikenal berurai air mata pada dada yang tak mengenal apalah guna pagi yang seperti ini angan di makan jalan raya bersisa perih mimpi yang hilang apalah pagi yang seperti ini kata-kata muntah tak punya makna kita cuma buang-buang waktu saja
Kinanti Munggareni, Sastra Indonesia 2007

Jalan Pulang | 59

Empat Sayap Mendung (1)

Manusia menghanyutkan serambi jantungnya Di jalanan Mesir. Larut bersama api. Mengerti bersama kelinci Kemudian manusia bersuara Aku ini berasal dari tanah, dan aku ini makhluk berbeda, bukan lumut, bukan semut. Suaranya seperti tak didengar. Manusia memainkan gitarnya dan lamat-lamat menggores penanya Tangannya berdarah-darah, bercucuran di teras Uranus Ia memejamkan matanya kuat-kuat Oh ya, aku mengerti, aku paham. Aku berusaha paham. Begitu kata manusia. Dalam kejapan tadi, ia memutuskan Bahwa hidup memang perlu dicari Bahwa hidup memang butuh mati
Meidy Kautsar, Sastra Indonesia 2008

60 | Jalan Pulang

Empat Sayap Mendung (2)

Impian manusia Tertanam di halaman rumah Descartes Di pot bunga William Shakespeare Di janggut Rabindranath Tagore Tapi tentu saja itu belum semua Bersama kelu, bersama sendok dan garpu Yang menyala-nyala di pinggir piring Manusia makan dari Tuhan Dan mengecup kening orang yang ia sayang Juga dari Tuhan Terima kasih, Tuhan.
Meidy Kautsar, Sastra Indonesia 2008

Jalan Pulang | 61

Empat Sayap Mendung (3)

Terlalu rimba perasan manusia, sampai kering ringkai termakan lafal Yang tak sengaja. Manusia mengadu kepada Tuhannya, dan pohon Malaka tertegun mengamati. Tuhan Apa arti peringatan kicau burung dan dedaunan yang bergerisik Atau apa arti aku mempertanyakan tentang peringatan itu? Di sudut tanah ini Aku rebah di bawah pohon malaka Yang buahnya ranum, dan menyala-nyala Apa artinya itu, Tuhan? Suaranya seperti tak didengar. Aku tak bisa memalingkan mataku Dari langit yang serba abu-abu Badanku kaku Tuhan, tanah ini Begitu Beku. Namun hanya hening yang menjawabnya Kedua tangan manusia terbuka. Telapaknya dibiarkan melihat langit Tetes air mata manusia

62 | Jalan Pulang

Tumpah melewati pipi dengan perlahan-lahan Jatuh Dan Pecah di akar pohon malaka Yang tiba-tiba menyembul Bersamaan dengan itu Buah yang tadinya menyala-nyala redup seketika
Meidy Kautsar, Sastra Indonesia 2008

Jalan Pulang | 63

Empat Sayap Mendung (4)

Penantian di ujung tanduk rusa, pengharapan tersembunyi Di punuk unta Mesir Sementara haus Tak lagi menyerang di padang gersang. Meski panas Justru semakin memanggang Yang mesti dilakukan manusia sekarang adalah menempuh jalan unta Menghapus peluh di kening kelinci. Lahirlah anak manusia Yang disayang, yang dibelai. Dan di atas unta Mesir, mereka duduk tertawa, mengamati kawanan Unta lain. Begitulah, Embusan angin menyontek ibu Cakrawala membentang di mata ayah Dan mendung belum mencapai cerahnya Sampai langit menemukan sayapnya Sampai biji-bijian lain menemukan tanahnya

(2008-2010)
Meidy Kautsar, Sastra Indonesia 2008

64 | Jalan Pulang

Konsemuya

Dan api memiliki bekunya Sebeku langit terjauh Kaulah Gunung jatuh Di paruh merpati Tanpa garis Tanpa gores Kaulah Sepucuk surat Di tanah tandus Mars Dan es memiliki panasnya Di inti bumi
Meidy Kautsar, Sastra Indonesia 2008

Jalan Pulang | 65

?

Bukankah kita pernah berada pada titik yang sama di bawah garis lengkung? dan kita menjadi akhir pada tanya, bingung, misteri, rahasia, dan semua hal yang kita pun tak pernah tahu.

Maharddhika, Sastra Indonesia 2008

66 | Jalan Pulang

Kemudian Berkemuka

entah berapa waktu lagi aku diam di senja yang bergulir dengan mesra, dengan lara. sampai matahari membenamkan dirinya hingga tenggelam dan malam kini bergumam, aku masih diam. jika menurut mereka menunggu adalah hal yang paling menggangu dan akan ragu-ragu melakukannya, aku akan dengan senang hati melakukannya hingga matahari itu berhasil muncul kembali dari timurnya yang timur. sementara kau, tetap berlalu tanpa mau tahu hujan telah menggenangi dan warna-warni pelangi tiba menemani setelah hujan pergi. sementara kau, tetap tak mau tahu aku telah terbang beberapa kaki bersama malaikat-malaikat yang selalu aku salami dan selalu juga (tiba-tiba) menghilang begitu saja. tetap saja tak mau peduli ketika aku berada tepat di hadapanmu dan menegur sapa. Hanya ada gerimis yang tak kunjung reda. cinta agaknya harus selalu berputus-asa, kedangkalan itu kemudian berkemuka.
Maharddhika, Sastra Indonesia 2008

Jalan Pulang | 67

Bagaimana Jika Begini Saja

Bagaimana jika begini saja: aku tandai tulisan itu dengan tanda petik (agar terkesan seperti berbicara)? aku juga akan cantumkan aku setelah tanda petik (agar terkesan seperti aku yang memiliki). Tapi sebentar, apakah perlu juga aku beri tanda seru (agar terkesan serius dan tidak main-main)? satu tanda seru cukup? jadi begini lah kira-kira: Aku mencintaimu! aku berkata. Ah, kurasa tak perlu. dia tak akan pernah mengerti. Aku masih butuh waktu lama untuk menyederhanakan kata cinta.
Maharddhika, Sastra Indonesia 2008

68 | Jalan Pulang

Penjara Sungguh Tak Berguna

Nah, Kurasa kita tak perlu merajut kelambu untuk tidur malam ini Rasakan saja semilir angin Sepoi-sepoi berhembus menghempas ujung-ujung jemari Pejamkan mata Dan kelamaan kamu akan terlelap Tanpa khawatir nyamuk akan menghisapmu Nah, Kurasa kita tak perlu dongeng untuk tidur malam ini Pikirkan saja kisahmu hari ini Dukanya akan buatmu menangis Dan senangnya akan buatmu tersenyum lebar Pejamkan mata Dan kelamaan kamu akan terlelap Tanpa khawatir pikiranmu direngut gelisah dan sepi Nah, Kurasa kita tak perlu mencuci kaki untuk tidur malam ini Lihat saja keringat yang mengepul di sela bulu-bulu kakimu Lap saja ia, dan kakimu akan bersih Pejamkan mata Dan kelamaan kamu akan terlelap Tanpa khawatir alas tilammu akan kotor Nah, Kurasa kita tak perlu menyikat gigi untuk tidur malam ini Hari ini kamu tak mengisi perutmu Menggunakan gigi-gigimu untuk menguyah

Jalan Pulang | 69

Atau lidahmu tak dipoles rasa Jadi tak ada yang membusuk di sela-sela gigimu Pejamkan mata Dan kelamaan kamu akan terlelap Tanpa khawatir gigi-gigimu akan dilahap kuman Nah, Inilah penjara Terlelap adalah saat-saat paling kita nantikan disini Saat-saat menuju surga Karena kita bisa bebas dari jeruji-jeruji besi dan borgol yang menyekap kita dalam masa lalu Selalu meratapi yang telah lalu Memutus usia seketika Memisahkan antara kita dan 20 tahun yang akan datang Dengan dalih penghapusan dosa atau akibat dosa Kita tak akan lebih baik disini Penjara sungguh tak berguna
Muhammad Abdinho Ableh, Sejarah 2009

70 | Jalan Pulang

Aku : Kepada Gerimis dan Hujan

:Kepada Gerimis. Kapan-kapan aku akan berlalu lalang tanpa kaki ini kujelang. Aku salut pada elang-elang yang melenggang tanpa aral melintang. Oh! Aku mengerti sekarang, mengapa gerimis tak jua datang. Sepertinya aku luput pada seseorang yang pernah hilang. Pun itu, aku yang menggantang arang. :Kepada Hujan. Kadang-kadang aku seperti diajari oleh butir-butirmu. Kau sangat tau kapan kau mendung sendu, juga kapan kau turun pilu. Memang, menunggu kelabu bukan hal baru bagimu sehingga tak mudah kau layu kuyu. Pun itu, laiknya hatiku.
Mursyidatul Umamah, Sastra Indonesia 2008

Jalan Pulang | 71

Kau : Kepada Angin dan Awan

:Kepada Angin. Sibak saja rambutku bila kau mau. Kalau tak sampai sembilu, aku tak tau. Kadang mata memberi warna, jiwa memberi rasa, hati memberi kasih. Namun, tetap jua ruang ini sunyi tanpa bunyi. Bolehkah kita sekadar rindu? Karna, aku hanya ingin kita bertemu. :Kepada Awan. Jangan sampai aku melawan nadiku yang selama ini kusimpan. Bisa-bisa yang ada hanya rasa bosan. Terlalu jauh bila kurengkuh, karna aku kadang rapuh. Langit-langit jiwa yang berkeluh, butuh bernaung di tempat yang tak lusuh. Karna, aku hanya ingin kita tak jauh.
Mursyidatul Umamah, Sastra Indonesia 2008

72 | Jalan Pulang

Apa Sebab

Berbicara pada pohon Tumbuhan tumbuh tak memaksa waktu Kami bertanya, Apa sebab? Tugas kami memberi kesejahteraan Pada semesta. Burung pun menimpali Siulku juga takkan sirna dan karatan Kami bertanya lagi, Apa sebab? Tugas kami membisiki mata kalian hingga terjaga. Meniupkan angin semilir Menghembuskan segar pada jiwa yang pilu Menyeka tetesan dari penglihatan. Lalu kami pun tahu Belajarlah pada tumbuhan Bergurulah pada hewan Apa sebab? Bahkan kematian pun Diserahkannya bagi kehidupan mendatang
Sulung Siti Hanum, Sastra Indonesia 2006

Jalan Pulang | 73

Di antaranya

Jeda Sampai Jarak Antara Dan Jika Itulah antara dari antara untaian-untaian perihal adalah tepian.

Yesy Wahyuning Tyas, Sastra Jawa 2005

74 | Jalan Pulang

Buku DUA:
Puisi-Puisi PSA-MABIM FIB UI 2009

Jalan Pulang | 75

Kelam

kering tak bernyawa gersang tak bersahaja jiwa mendekam dalam kepiluan hati terpaku dalam kesendirian tak melihat ke belakang tak memandang masa depan hati yang kelam tak dapat ditaklukkan
Akbar Rizky Fithrawan, Sastra Rusia 2009, PSA-MABIM 2009

76 | Jalan Pulang

Jakarta..!!

Jakarta ibukota negara Jakarta kota kejayaan Jakarta kota yang terik Jakarta tak punya jangkrik Jakarta menantang aku menerjang Jakarta melawan aku berkawan Jakarta...panase ra umum!!!!

Dimas Arif Primanda Aji, Arkeologi 2009, PSA-MABIM 2009

Jalan Pulang | 77

Melodi FIB

Dalam pagi buta dengan janji baru kepada dunia Mencipta tauladan kaya akan sastra Melantunkan syair mencipta sang karsa Membangunkan Ibu Pertiwi dari tidur panjangnya Melantunkan melodi indah dengan ragam bahasanya Menyatukan penjuru dunia tentang makna besar yang terkandung di dalamnya Anggun.. Mencipta senyum orang yang memandangnya Dengan tatanan apik ragam budaya Menyatukan bangsa menjadi satu padu dalam ikrar perdamaian Menyadarkan lamunan jutaan anak bangsa Akan keindahan budaya Hingga raga membeku oleh sang kala yang memanggil
Dinny Wulandari,Sastra Perancis 2009, PSA-MABIM 2009

78 | Jalan Pulang

Ketika Itu

Songsong hari ku rajut indah cerita bersamamu Untai indah mutiara kehidupan menghias langkahmu Damai hati melihat senyummu,apakah kau tau ? Tutur nasihat teduh,tenangkan gemuruh hatiku Karenamu.. Tapi aku ragu Mulut terkunci membisu olehmu Aku tersenyum kala kau berkata, kau mencintainya Aku terdiam kala kau bercerita perjalanan panjangmu dengannya aku terpaku dengan segala yang terjadi dalam sekejap waktu, tentangmu ,tentangnya jawabku berkata,apakah aku tertipu bualmu? Tapi aku tak merasa kau seperti itu Aku bertanya.. Apa sebenarnya rasa yang kau ubah dalam hidupku ? Cinta.. Hal apakah kiranya dalam perjalanan panjang hidupku Semoga sang kala mampu menjawab itu .
Dinny Wulandari,Sastra Perancis 2009, PSA-MABIM 2009

Jalan Pulang | 79

Elegi Satu

Kalau saja ada petir yang terjepit.. Pasti aku berani mengempit.. Tak ada yang berani cerita padaku Tentang serangga atau seruni di ilalang pagi.. Terjebak dalam kesempurnaan elegi tanpa harus benar-benar mati.. Ada yang bilang hukum alam terletak diantara angka satu.. Bagiku ada kegenapan dalam dirimu yang tak bisa kunilai walau dengan seribu.. Aku tak berani kata sumpah Tapi kelabu dirimu selalu membuatnya menyumpah... Setan kecil hanya tertawa Aku diam tak berani... Hanya mengintip takut berkedip... Tidak.. Kata yang lebih baik daripada tunggu... Jadi katakan tidak padaku Atau aku akan menunggu...
Eki Kusumadewi, Sastra Indonesia 2009, PSA-MABIM 2009

80 | Jalan Pulang

Tidak

aku tidak begitu yakin Bagaimana seharusnya merasakan Atau apa yang harusnya kukatakan Tapi Aku tidak Tidak yakin Tidak begitu yakin Bagaimana mengatasi hari
Farah Fitriana, Sastra Belanda 2009, PSA-MABIM 2009

Jalan Pulang | 81

Sepertiga

katakan kepada hampa dan mimpi agar aku tidak terjerat bersamanya katakan pada maut, tunggu dulu aku ingin sepertiga katakan kepada kantuk lepas dulu ia dari mataku katakan kepada malaikat tunggu dulu aku ingin sepertiga Dia menunggu dan tersenyum aku bilang aku mau sepertiga biar kepalaku dapat menunduk aku mau sepertiga masih terjerat dalam mimpi setan tertawa dan menari mengencingi kuping dan mata menyelimuti dengan kantuk di mata aku mau sepertiga Dia membelai semua terasa damai aku bangkit dan menyuci diri aku dapat sepertiga!
Indra Eka Widya Jaya, Arkeologi 2009, PSA-MABIM 2009

82 | Jalan Pulang

Terlalu Lama Aku Bermimpi

Terlalu lama aku bermimpi, Melupakan waktu yang kekal abadi Terhanyut dalam kisi-kisi beton mimpi Berusaha merajut asa yang terkikis oleh duka Mungkin, bagi kebanyakan orang, harapan adalah semangat sang pemimpi Tapi bagiku, harapan sungguh merobekku hingga luka menganga. Kau adalah kumpulan harapan yang dulu kuangankan Namun, kini kau hanya kumpulan dari sisi batas senyuman yang terbuang. Ku sudah menyisakan satu satu ruang, untuk menjauhkan sisa-sisa dari mimpi dan harapan yang tak pernah menjadi nyata Menjadi sesuatu yang pantas dan logika untuk ku analisa
Kartika Putri, Sastra Inggris 2009, PSA-MABIM 2009

Jalan Pulang | 83

Enam Puluh Hari

kembali ku telan air kepedihan yang mengucur deras dari ronaku di tengah gurun sahara enam puluh hari yang lalu terik panas tak lagi terasa kini mendung datang mengiba hujan datang menghujam asa membuat lubang di dalam jiwa tanganku tak lagi dapat meraihnya pergi sudah ia ke lembah tak berujung terperosok ia ke jurang tak bermuara ingin kukejar apa dayaku setan mulai bermain denganku hawa dingin menusuk kalbu selimut tebal tak lagi menghangatkan hati sudah tak berasa kembali kutelan air kepedihan yang membeku seiring jalan di tengah kutub utara enam puluh hari yang lalu
Laila Anggita Nurcahyani, Sastra Inggris 2009, PSA-MABIM 2009

84 | Jalan Pulang

Kesendirian

Rasa jiwa mati terbelenggu asa.. Makna hati yang letih bak hancur terbelah dua Dingin, rintihan kata yang menusuk kalbu serasa hidup dalam buaian laut nan hampa.. Walau biasa, ikan-ikan pun mati tanpa sisa.. di dunia yang penuh jiwa nan angkuh satu pernyataan, hidup tanpa kawan, bagai mati tanpa tujuan..
Mayang Gentra A.P., Sastra Perancis 2009, PSA-MABIM 2009

Jalan Pulang | 85

Bodoh
Apa? Apa yang salah? Apa aku yang salah? Kenapa ? Kenapa selalu begini ? Kenapa lewat sini lagi ? Selalu.. Selalu saja terjadi Tersungkur lalu terjatuh lagi Terjebak dalam jurang yang sama Ah! Bodoh! Tidak bisa berfikir? Ah! Bodoh! Dimana akal sehat? Sudah berkali-kali begini Masih saja bodoh! Pikir sendiri! Cari jalannya! Sakit pun tak apa... Nanti sembuh juga... Dustai saja bila harus dustai! Toh, kena dusta sendiri Biar cepat keluar! biar bebas! Sekarang kan sudah tahu Jalan itu cuma keindahan semu Orang bodoh yang mau lewat Ah, sudah! Tinggalkan saja! Tahu itu sakit. Cukup sudah! Bagaimana bisa bodoh begitu? Cari saja bebas! Cari saja bahagia! Jangan lagi bodoh!
Meidine Primalia Putri, Sastra Jerman 2009, PSA-MABIM 2009

86 | Jalan Pulang

Bisa Mati

Kala terasing Beku menikam Lari! Nanti bisa mati!_ Tikam, cabik semua Biar rasa! Kala terasing Pilu terasa Siksa tersisa Bunuh! Nanti bisa mati! Luap, keluar semua Biar rasa! Kala terasing Terus ingat Bak peluru berlari tak peduli Kejar! Nanti bisa mati! Rebut, menang dari segala Biar rasa!
Niken Prameswari, Sastra Jepang 2009, PSA-MABIM 2009

Jalan Pulang | 87

Ibu... Bolehkah Aku Bertanya

Ibu... bolehkah aku bertanya... Kenapa aku ada di sini? Di tempat berkumpulnya anak-anak sepertiku Bermain bersama tanpa bimbinganmu Ibu... bolehkah aku bertanya... Kenapa ibu tidak pernah menemuiku? Aku hanya dapat melihat senyummu Tanpa mendengar satu patah darimu Ibu... bolehkah aku bertanya... Teman-teman di sekolah bercerita tentang ayah Betapa bangga mereka memiliki ayah yang hebat Apakah aku mempunyai ayah yang hebat juga? Ibu... bolehkah aku bertanya... Di sekolah, ibu guru memberi tugas bercerita tentang keluarga Apa yang harus kuceritakan, Ibu? Aku tidak punya keluarga seperti teman-temanku yang lain Ibu... aku selalu penasaran Siapa sebenarnya ibu? Siapa sebenarnya ayah? Kenapa kalian tidak bersamaku? Aku kesepian, Ibu...
Nisma Dewi Karimah, Sastra Jepang 2009, PSA-MABIM 2009

88 | Jalan Pulang

Perjuangan Seorang Jongos

Pagi masih perawan Aku sudah terengah-engah mengejarmu, Kakek Hei, ini bukan urusanku! Ini urusan majikanku! Tak apalah, aku yang menemukanmu lebih dulu Detik berlalu, menit berlalu Tanganmu tak bergeming, hanya mulut saja Aku butuh tanganmu yang bekerja, bukan mulutmu! Oh tidak! Sebesar itukah sakit hatimu? Sampai-sampai kau tega menyuruh kami mencari penggantimu? Aakh!! Matahari makin tinggi Tidak mungkin merobek, mengganti, dan menjahit dalam satu detik! Air mata ingin keluar, tapi sumber telah kering Capek!! Sudahlah aku tak mau tahu
Pinka Almira Kusuma,SastraJerman 2009, PSA-MABIM 2009

Jalan Pulang | 89

Kisah Sinta

Sinta seorang gadis sederhana Berusaha menggapai impiannya yang mulia Menjadi guru yang mampu membuat muridnya Berbahasa Indonesia Yang mulai dilupakan bahkan oleh teman sebayanya Sinta Berasal dari desa yang terpinggirkan Keras belajar menempuh pendidikan Di tengah kemelaratan kehidupan Melihat namanya di pengunguman kelulusan, Sinta girang Berhasil menjadi mahasiswa di universitas idaman Telah terbayang dalam pikiran, berkhayal impian kan jadi kenyataan Namun apa daya, Menuju ibu kota, hartanya hilang begitu saja Uang hasil gadai rumah bapaknya untuk membayar kuliah Dirampok saat menjejakan kaki di kota, dan orang-orang malah berkata: Selamat datang di Jakarta! Pihak Universitas pun tak mau tahu, bagi mereka, Masih banyak mahasiswa yang menunggu bangku, silahkan pulang ke kampung mu

90 | Jalan Pulang

Sinta tak mampu menghadapi kenyataan, tak ada yang mau memberi bantuan Tak tahan melihat pengharapan orang tua kini musnah di depan mata, padahal semua barang sudah digadaikan, untuk meniti masa depan yang kini hilang di tengah jalan. Sinta malu, terpukul, kecewa Ia sudah tak punya muka untuk kembali ke desa Namun, Sinta tak cukup berani untuk menghabisi nyawa sendiri Untung ada si Joni, mucikari Ia beri Sinta makan, minum, tempat tidur dan mandi Malamnya ia dipaksa jual diri Tak ada yang gratis di dunia ini! Di kampung, Bapak dan ibu cemas menanti kabar Sinta Doa terucap selalu dalam sholatnya Agar sinta jadi orang berguna, seperti yang sinta tuliskan penuh dusta Dalam suratnya Sebulan, setahun, dua tahun, Sinta tak kunjung pulang Surat pun kini tak pernah datang Bapak dan ibu yang malang, Andai mereka bisa belajar baca Koran Yang dipajang di tembok kelurahan Perempuan mati yang dimutilasi di cileungsi Itu anak mereka sendiri
Puspa Ayu, Sastra Jawa 2009,Tugas PSA-MABIM 2009

Jalan Pulang | 91

Bimbang

Aku bersandar di alam mati Menanti hari silih berganti Tak bisa kudengar lagi Suara kicau camar yang cemar menyiulkan senandung samar-samar sejak kau pergi dan tak lagi terdengar apakah aku ini? Apakah aku itu? Tak bisa ku gambarkan lagi lukisan hati yang kian menjadi Dalam tidurku aku melihatmu Membawakan setangkai mawar kelabu berdebu Mengucap salam pada raja siang lalu lari dan menghilang Apakah aku ini? Apakah aku itu? Batinku hanya bisa menjawab kau adalah kau
Puteri Risdayani, Sastra Belanda 2009, PSA-MABIM 2009

92 | Jalan Pulang

Titik Putih

Hitam bercak cokelat Terasa kotor lengket risih terlihat Orange campur kuning Terasa segar tetapi silau Hijau kebiruan Terasa syahdu tetapi berlendir licin Merah keunguan Terasa cinta tetapi berduri tajam Mencari ketenangan dan kedamaian Mencari cinta dan kasih sayang Warna yang indah menjadi muram tak bermakna Adakah warna yang sesungguhnya? Titik putih kutemukan Di selembar kain kotor di beragam warna indah. Putih bersih suci bersinar Apakah aku menemukan cinta kasih di sana? Apakah aku menemukan kedamaian nan syahdu? Tak berpura pura, tak bernoda Titik putih penuh harapan Tidak berwarna tetapi bersahaja
Qory Sandioriva, Sastra Perancis 2009, PSA-MABIM 2009

Jalan Pulang | 93

Malam

Kulit hitam digelar Ditaburi bumbu bersinar Detik-detik itu tidak mau diam Bergeser kemudian berlalu Kaki-kaki kasar jangkrik menari Mereka bergoyang mencari mimpi Mencerca hingga malam menjerit Angin-angin lucu berlari mengejar daun mati Anak panah bola mata kutangguhkan ke atas Lalu terpejam Menikmati tiupan sampah dunia Pohon-pohon besar tunduk dan rapuh Jangkrik mulai terkekek Menertawaiku yang dibodohi malam Dengan sekitarku yang kian membusuk Malam tersipu lalu jatuh
Resha Ardliyan Nur Kibtiyah, Sastra Rusia 2009, PSA-MABIM 2009

94 | Jalan Pulang

Hampa

Hembusan angin malam membelai nadiku Terasa dingin dan kaku Aku tak ada siapa pun di sini Hanya ditemani suara rintik hujan Dan tawa ringan di setiap sudut rumah Ada apa dengan hatiku? Terasa hampa di tengah kebisingan kota Tak tahan lagi untuk berteriak Namun bibir ini terkunci sangat rapat Mungkin saat ini bulan sedang tertawa Menyaksikan tingkah laku ku Seperti kumbang tersedak duku
Sahla Salima, Sastra Jerman 2009, PSA-MABIM 2009

Jalan Pulang | 95

Catatan Penutup

Perayaan Zaman ini kegelisahan menemukan diri dan sebuah petunjuk Jalan (untuk) Pulang
Oleh Frendy Kurniawan1

Menulis puisi bagi kebanyakan orang adalah sebuah janji pelepasan. Pelepasan dari diri sendiri sebagai sebuah subjek yang rumit dan terkadang memilukan. Puisi kerapkali membantu melepas segala sesak di dalam dada, membakar segala yang menyeruak di ujung kepala dan menunjuk segala rupa yang ingin di kutuk. Puisi telah menjadi ruang penampung segala kegelisahan terutama anak-anak muda pada derap zamannya. Bagi penyair Nobel sekelas Pablo Neruda, puisi diumpamakan layaknya roti yang dibagi-bagi setiap harinya santapan bagi rasa dan cecap kemanusiaan peradaban manusia. Itulah mengapa Neruda menyakini bahwa puisi lahir jauh hari sebelum tulisan ditemukan dan mesin cetak menjadi alat dan bagian dari kehidupan sehari-hari manusia.

Mahasiswa Sosiologi FISIP UI 2006, seorang penggiat komunitas Bale Sastra Kecapi dan salah satu pendiri 28wArtLab.

1

96 | Jalan Pulang

Karenanya mengikuti Neruda, puisi adalah bahasa bagi kemanusiaan kita, menghubungkan dunia yang satu dengan dunia yang lain, mempertemukan jiwa yang satu dengan yang lain. Hingga semuanya akan menjadi begitu jelas terbaca. Puisi menjadi ruh sakral yang membuat mitos menara Babel seakan hidup kembali lagi manusia hendak memerikan misteri semesta, dari segala yang ada dan tersembunyi hingga semuanya dapat termengerti. Lalu adakah kegelisahan anak-anak muda yang menuliskan puisi dalam hidup sehari-harinya adalah sebuah upaya membaca dunia dan semesta itu? Memerikannya? Dan kelak menghidupkan kembali bahasa kemanusiaan kita, pada zaman ini pada zaman anak-anak muda itu hidup? Hendaknya proses itu selalu menambatkan impian ke sana. Tulisan Perasaan : Kegelisahan Menemukan Diri
tertulis semua perasaan hati yang bermakna dalam diam. (Petikan dari Ku Katakan Dengan Tulisan Adlia Nazila)

Anak-anak muda tak pernah tak menggelisahkan dunia perasaannya dunia yang kerap tak mudah dimengerti ataupun dipahami. Selalu saja ada yang tersisa dan mengganjal untuk dijelaskan pada semua yang ada di sekitarnya. Menulislah dalam kata anak-anak muda itu, dalam langkah kisah yang kerap tak mudah terkatakan menulis sebuah cerita curahan hati yang panjang tentang dirinya yang terus saja dipertanyakan dan ingin diperjelas selalu setiap waktu.

Jalan Pulang | 97

Nuansa pencarian diri dalam seluruh proses penulisan puisi pada kumpulan puisi di buku ini jelas sangatlah terlihat. Ini adalah proses kreatif khas dari anak-anak muda. Eksistensi diri kerapkali menjadi pusat dari seluruh rupa ketegangan dan pencariannya di dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Segala tulisan (puisi) lalu menjadi sebuah pelepasan perasaan hati. Inilah sebuah wujud upaya penyelamatan kegelisahan agar segera mereda membeku dalam makna-makna yang terukirkan melalui rupa asing metafora. Dalam proses itu memang tak selamanya mampu memberikan nuansa yang dapat dikatakan baik, sekalipun batas-batas mengenai baik dan buruk itu sendiri tidak selamanya dapat diberikan. Perlu sebuah ruang apresiasi yang mampu menyelamatkan seluruh curahan perasaan hati itu agar tak mengendap menjadi luka, yang nantinya menghilang pada kesunyian laju sejarah hingga tak berarti. Anak-anak muda itu berhak mendapatkan ruang kegelisahannya hanya agar proses kemanusiaan bagi diri mereka sendiri dapat juga terjadi. Paling tidak mereka tak pernah merasakan sepi sendiri sunyi dalam kebisuan rupa dunia yang tetap asing tak terperikan hanya karena tak ada puisi yang sempat tertuliskan. Puisi hendak menjadi penyelamat bagi jiwa-jiwa anakanak muda.
jiwa mendekam dalam kepiluan hati terpaku dalam kesendirian (Petikan dari Kelam Akbar Rizky Fithrawan)

98 | Jalan Pulang

Walaupun begitu, dunia dengan segala rupa kisahnya memang selalu tampak tak mudah untuk dimengerti secara mudah. Apalagi untuk sekadar menuliskannya. Selalu ada sendu di balik setiap tawa dan keriangan gerak. Selalu ada kata tanya di balik setiap wujud hadir yang mendekat. Mengapa semua ini menjadi seperti ini?
Tidak ada yang bisa menjelaskan tentang sendu yang kurasakan (Petikan pertama dari Ode untuk Kapal Agung Dwi Ertato)

Tidak mudah memang untuk menjelaskan semua yang menjadi gelisah rasa, semua yang menjadi sendu pada dada bahkan melalui puisi itu sendiri. Karenanya, proses menunjuk pada medium puisi sebagai sebuah pelepasan perasaan pun jelas harus mempunyai langkah yang berbeda seperti misal menulis coratcoret pada buku harian sekali pun puisi dapat menjadi buku harian dari waktu kehidupan dan kisah-kisah . Perayaan Sastra Zaman Ini Estetika seni hari ini memang telah berbeda dari zaman-zaman sebelumnya. Konvensi bukanlah menjadi panutan utama dari sebuah model berkarya sekalipun pada setiap karya selalu ada warna jejak dari karya yang lain (terutama dari seniman bernama besar). Tetapi apalah arti dari semua itu? Pemikir yang hari ini selalu didengungkan suaranya semisal Derrida, telah menyatakan tidak dapat usaha untuk mencari dari keaslian sebuah karya. Toh memang tidak ada sebuah gagasan yang memang benar-benar pertama ataupun dapat dikatakan absolut asli. Karenanya, pembelaan terhadap gagasan Derrida maupun dari dunia pascamodern yang lain telah memberikan kesempatan yang luas

Jalan Pulang | 99

pada estetika sastra zaman ini. Semua orang berhak untuk berkarya apapun itu. Akhirnya memang sebuah perayaan besar mengenai diri ataupun gerak saling mengikuti dan menunjuk-nunjuk pada diri sendiri memang sedang menjadi sebuah tren. Dan sastra menjadi sebuah ruang yang kurang lebih mampu untuk menampungnya. Puisi sebagai sebuah medium sastra juga telah menjadi perayaan sehari-hari. Orang per orang dapat mengungkap dan bercerita setiap saat setiap waktu melalui sebuah perangkat teknologi informasi semisal jejaring sosial Facebook. Selain dari perangkat teknologi itu, ruang perayaan sastra terutama puisi juga dapat dilakukan melalui media koran. Beberapa orang menyebutnya sebagai sebuah kategori sastra koran. Tidak dapat dipungkiri memang, ruang sastra dalam koran juga yang telah memberikan kesempatan pada media sastra puisi hingga tetap bertahan hari ini. Dalam dua ruang itulah perayaan sastra zaman ini tetap dapat berlangsung dan sekaligus menjadi tolak ukur bagaimana kondisi dan perkembangan karya-karya puisi bertahan. Puisi pendek dan puisi narasi, itulah yang mungkin menjadi tren perayaan sastra zaman ini. Melalui kedua bentuk puisi itu, karyakarya dari kegelisahan anak-anak muda tertampung dalam kumpulan puisi pada buku ini. Sebut saja beberapa karya seperti Kemudian Berkemuka; Empat Sayap Mendung; Delapan Sonet yang Terserak di antara Kertas Lusuh; Jalang Pulang telah mengambil tren puisi narasi yang berkembang di dalam ruang sastra koran kita hari ini. Pola romantika dan melankolia seringkali menjadi rupa

100 | Jalan Pulang

pembentuknya. Ini akan mengingatkan kita pada ragam karya pendahulu mereka seperti Gunawan Mohamad ataupun Sapardi Djoko Damono. Ragam puisi pendek pun juga tampak menjadi bentuk tren. Lihatlah karya dengan judul Ketahuilah; Tentang Seseorang yang Datang Kemarin Malam (I); Jika Saya Menjadi Nyata; Terbungkam adalah beberapa puisi yang dapat dikatakan sebagai puisi pendek ataupun mendekati bentuk puisi pendek. Puisi narasi dan puisi pendek selalu berusaha menemukan kegenitan suasana ataupun permainan liris bunyi pada pengucapannya. Proses membangunnya membantu untuk menghantar pada kisah ataupun cerita yang sedang disampaikan. Dapat diduga wajah kreatif seperti ini merupakan jejak dari kuatnya tradisi lisan pada budaya kita atau mungkin tradisi kepenyairan era 70-an yang membawa model romantik Barat. Aturan bentuk konvensi pembentukan dua jenis puisi tersebut pun juga tidak lagi terasa tegas. Estetika perayaan kreasi diri sebebas mungkin telah memberikan semacam legalitas untuk berkarya tanpa aturan yang kaku. Hal lain yang dapat dilihat dari karya-karya dalam buku ini adalah tema yang dicoba untuk digarap ataupun didekati oleh masing-masing penyair tersebut. Hampir semua yang digarap adalah tema terkait dengan psikologi eksistensial. Luapan maupun endapan berdetak yang terus saja menggetar dalam perasaan masing-masing. Itulah yang sedang digarap oleh puisi-puisi dalam buku ini. Walaupun juga terdapat puisi yang ditujukan untuk hal-hal

Jalan Pulang | 101

lain seperti untuk kampusnya ataupun untuk kota dan beberapa wajah sosial. Mungkin inilah bentuk ataupun juga pesan dan sekaligus makna-makna yang diam dan hendak meluap dari tulisan (puisi) di buku ini. Kegelisahan pada diri ditengah perayaan terhadap tren sejarah dan dunia yang terus menerus bercerita sekalipun terlihat omong kosong (rupa dunia pascamodern) yang menghisap apa saja. Para anak-anak muda ini dengan proses menirukan generasi sebelumnya, hendak melakukan pencarian penyelamatan diri, dari semua luka dan beban yang mendebar dalam sesak dada dan penat pikiran. Seperti yang terkatakan pada petikan ini:
Malam dan detik waktu tidak pernah mau mengerti tentang kegelisahan kita yang terpaksa merana menelan keadaan. Bagaimana aku bisa pulang jika tanganku terus melingkar pada nada yang kita senandungkan seiring perjalanan. (Petikan dari Jalan Pulang Agrita Widiasari)

Puisi : Jalan (untuk) Pulang?

Kita mungkin memang hidup dalam keriuhan. Dalam sejarah yang selalu ingin kita percepat melaju tak henti kepada masa depan yang terlalu kita buat sangat meyakinkan. Jalanan kita penuh jejalkan dengan alat-alat buatan kita, rumah telah kita isi dengan kotak ajaib penuh warna penuh cerita pertunjukan. Dan percakapan mengenai si ini dan si itu telah menjadi perbincangan serius pada meja-meja makan siang kita. Membual, mengkhayal dan juga menyampah (bahasa anak-anak muda untuk merujuk kegiatan yang tidak jelas tapi dilakukan untuk membunuh waktu)

102 | Jalan Pulang

mungkin telah menjadi bagian dari diri kita saat ini. Apa yang dapat diharapkan dari semua itu? Ada jarak antara yang mungkin sedang menganga pada diri kita saat ini setiap harinya. Ada rasa kehampaan ataupun kekosongan dalam jiwa kita, yang terkadang membuat kita kesal dan kemudian berlaku tak jelas dan penuh emosi, amarah. Sejarah hidup kita saat ini adalah sebuah panggung perayaan hura-hura dari narasi omong kosong (pasacamodern) tentang ini ataupun tentang itu. Seolaholah semuanya tampak begitu wah dan kita kagumi, tapi ternyata itu mengasingkan diri kita dari diri kita sendiri. Dan anak-anak muda jelas akan terasa bergelisah karena eksistensi diri mereka saja mungkin sedang mereka pergulatkan mati-matian, dan sekarang harus ditambah menelan semua wajah kepalsuan dunia. Apa yang terjadi? Inilah kepenatan dalam langkah-langkah hidup. Pertanyaanpertanyaan yang terus saja menggema dalam dada dan mungkin malah mengganjal tidak karuan. Manusia sedang membutuhkan sebuah ruang spiritualitas agar selamat. Agar tak hilang diri tercuri tren ikut-ikutan. Walaupun semua kerja kita memang ikut-ikutan. Manusia membutuhkan ruh itu kembali: roti bagi santapan seharihari, bahasa bagi kemanusiaan kita, dan itu adalah puisi. Inilah sebuah penunjuk Jalan (untuk) Pulang kepada diri sendiri kepada yang kita tinggalkan karena keriuhan ikut-ikutan kita. Sebuah jalan pulang menuju rupa kegelisahan kita sebagai manusia. Inilah buku curahan perasaan khas manusia yang di dalamnya penuh rupa, penuh wajah, penuh harapan:

Jalan Pulang | 103

Menemaniku bermimpi, memeluk lekuk bibirmu menunggu ucapan selamat pagi. (Petikan dari Jalan Pulang Agrita Widiasari)

hanya agar esok tetap terjadi mungkin sama seperti catatancatatan ini, atau mungkin saja berbeda. Kalaupun itu terjadi kita masih akan mengingatnya, pada seluruh debar rasa tak karuan ini, pada seluruh puisi yang telah tertorehkan ini.

104 | Jalan Pulang

Jalan Pulang | 105

106 | Jalan Pulang

Tentang MarkasSastra

Komunitas MarkasSastra adalah komunitas penggiat kajian dan apresiasi sastra yang didirikan oleh mahasiswa FIB-UI. Buku kumpulan puisi pertama bersama MarkasSastra terbit pada tahun 2009 bersamaan dengan resital puisi yang ketiga Sebelum Binasa (Rangkaian FIB Nyeni 2009). Buku kumpulan puisi Jalan Pulang (2010) merupakan buku kumpulan puisi MarkasSastra yang kedua bekerja sama dengan Panitia PSA-MABIM FIB-UI 2009. Pada tahun yang sama MarkasSastra bersama FIB Nyeni 2010 mengadakan resital puisi yang keempat A Tribute to Sapardi Djoko Damono. Kegiatan lain yang telah dikerjakan MarkasSastra adalah pameran instalasi puisi bekerja sama dengan 28w Artlab pada tahun 2010, Pameran Rupa dan Kata.

Jalan Pulang | 107

108 | Jalan Pulang

Tentang PSA-MABIM FIB UI 2009

PSA-MABIM FIB UI 2009 adalah rangkaian alur kaderisasi dalam penyambutan mahasiswa baru di FIB tahun 2009. PSAMABIM FIB UI 2009 dengan visi Menggenggam Beragam Makna bertujuan untuk memperkenalkan kepada mahasiswa baru angkatan 2009 kehidupan mahasiswa yang berorientasi kepada Tridharma Perguruan Tinggi. Buku antologi puisi ini adalah salah satu program rangkaian PSA-MABIM FIB UI 2009. Kami ingin membukukan beberapa tugas puisi yang dibuat oleh mahasiswa angkatan 2009 ketika mengikuti kegiatan PSAMABIM FIB UI 2009. Antologi puisi ini merupakan kerjasama kami dengan rekan-rekan pecinta puisi Komunitas MarkasSastra, kami berharap agar karya ini dapat memberikan rangsangan bagi tumbuh-kembangnya kreatifitas seni dan sastra.

Jalan Pulang | 109

110 | Jalan Pulang

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->