P. 1
29843970 Penggunaan Bahasa Dalam Karya Ilmiah

29843970 Penggunaan Bahasa Dalam Karya Ilmiah

|Views: 468|Likes:
Published by Dwix Puji Hastanto
karya
karya

More info:

Published by: Dwix Puji Hastanto on May 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

PENGGUNAAN BAHASA DALAM KARYA ILMIAH

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas akhir semester ganjil dari mata kuliah Bahasa Indonesia untuk Karya Ilmiah Dosen Pembimbing : H. Didin Sahidin, Drs., M.Pd.

Disusun Oleh : Nama NIM Kelas : Teguh Panji Lestari : 09512013 : 1-C

Semester I

PENDIDIKAN MATEMATIKA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) GARUT
Februari 2010

ABSTRAK
Bahasa indonesia sebagai bahasa nasional tentu saja digunakan dalam berbagai betuk jenis penulisan, mulai dari penulisan ilmiah dan yang lainnya, yang pada kenyataannya tidak terlepas dari kesalahpahaman dalam penggunaan kalimatnya dikarenakan tidak tepatnya penggunaan kalimat tersebut. Semestinya sebuah karya ilmiah hendaknya menggunakan bahasa yang jelas, tepat dan formal dan lugas. Kegiatan dan ketepatan isi dapat diwujudkan dengan menggunakan kata dan istilah yang jelas dan tepat, kalimat yang tidak berbelit-belit, dan struktur paragraf yang runtut, sehingga pembaca dapat memahami isi yang dimaksudkan oleh penulis. Kesalahan penggunaan bahasa dalam karya ilmiah menyebabkan inti yang disampaikan penulis tidak dapat diterima oleh pembaca. Kemungkinan, pemakaian bahasa yang salah menyebabkan pemahaman pembaca bertolak belakang dangan gagasan penulis. Metode pengumpulan data pada makalah ini adalah studi pustaka. Metode ini dilakukan sebab penulis membutuhkan data yang lebih banyak dan akurat dalam mengetahui dan memecahkan permasalahan.

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin, penulis bersyukur kepada Allah SWT karena atas berkat rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Pemakaian bahasa pada karya ilmiah menjadi topik permasalahan dikarenakan penulis hanya memperhatikan aspek isi saja sedangkan sering ditemukannya pemakaian bahasa yang tidak sesuai dengan ejaan yang baik dan benar. Hal ini mengakibatkan pembaca tidak memahami isi dan terjadi kekeliruan. Penulis mengangkat “Penggunaan Bahasa dalam Karya Ilmiah” sebagai judul makalah ini untuk dipahami penulis mencoba meneliti hal-hal apa saja yang sering diabaikan para penulis dalam menulis karya ilmiah. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak H. Didin Sahidin selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia untuk Karya Ilmiah, kepada rekan-rekan kelas 1C yang telah membantu penulis dan menghimpun data-data serta saran yang membangun bagi penulis dan kepada semua pihak yang telah membantu pmbuatan makalah ini dari awal sampai akhir. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan, maka penulis mengharapkan kritik atau saran yang membangun dari pembaca untuk diarahkan kepada yang lebih baik.

Garut, Februari 2010,

Penulis

DAFTAR ISI
ABSTRAK………………………………………………………………….. KATA PENGANTAR ……………………………………………………… DAFTAR ISI………………………………………………………………... i ii iii

BAB I

PENDAHULUAN…………………………………………….. 1 1 2 2 2 3 3 3 3 6 7 8 8 8

1.1. Latar belakang…………………………………………………………. 1.2. Pembatasan Masalah…………………………………………………… 1.3. Perumusan Masalah……………………………………………………. 1.4. Tujuan Penelitian………………………………………………………. 1.5. Manfaat Penelitian …………………………………………………….. 1.5.1. Manfaat teoritis ……………………………………………..... 1.5.2. Manfaat praktis……………………………………………….. 1.6. Sistematika Penulisan …………………………………………………. BAB II BAB III BAB IV KAJIAN PUSTAKA …………………………………………. METODE PENELITIAN …………………………………….. PEMBAHASAN………………………………………………

4.1.Ragam Bahasa …………………………………………………………. 4.1.1. Media pengantarnya atau sarananya …………………………. 4.2.Bahasa Tulis ilmiah ……………………………………………………..

4.1.2. Situasi dan Pemakaian………………………………………… 9 10

4.2.1. Cendikia………………………………………………………… 10 4.2.2. Lugas……………………………………………………………. 10 4.2.3. Jelas…………………………………………………………….. 4.2.4. Bertolak dari gagasan ………………………………………….. 4.2.5. Formal ………………………………………………………….. 4.2.6. Obyektif………………………………………………………… 10 10 11 11

4.2.7. Ringkas dan padat………………………………………………. 11 4.2.8. Konsisten……………………………………………………….. 4.3.Penggunaan Bahasa …………………………………………………….. 4.4.1. Kegunaan Paragraf …………………………………………… 4.4.3. Syarat-syarat Pembentukan dan Pengembangan Paragraf …… 4.4.3.1.Kesatuan………………………………………………. 4.4.3.3.Kelengkapan ………………………………………….. 4.4.3.4.Letak Kalimat Topik dalam Sebuah Paragraf ……….. 11 11

4.4.Paragraf …………………………………………………………………. 14 15 4.4.2. Macam-Macam Paragraf ……………………………………… 15 16 16

4.4.3.2.Kepaduan……………………………………………… 16 17 18

4.4.3.5.Pengembangan Paragraf. ……………………………… 18 4.4.3.5.1. Secara Alamiah…………………………….. 4.4.3.5.2. Klimaks dan Antiklimaks …………………. 4.4.3.5.3. Umum-Khusus & Khusus-Umum ………… 4.4.3.5.4. Perbandingan dan Pertentangan …………… 4.4.3.5.5. Analogi…………………………………….. 4.4.3.5.6. Contoh-contoh …………………………….. 4.4.3.5.7. Sebab-Akibat………………………………. 4.4.3.5.8. Definisi Luas ……………………………… 4.4.3.5.9. Klasifikasi………………………………….. BAB V 18 19 19 19 19 20 20 20 20

PENUTUP…………………………………………………….. 21

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….. 22

BAB I PENDAHULUAN
1.7. Latar belakang Di dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berbahasa. Bahasa begitu besar peranannya dalam kehidupan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, mengidentifikasi diri dan sebagai sarana komunikasi. Karya ilmiah adalah suatu karya dalam bentuk tulisan yang berisikan tetang ilmu pengetahuan yang disusun atas dasar penggalian pegetahuan-pengatahuan lebih dalam untuk menyatakan kebenaran tulisan tersebut. Dalam menulis karya ilmiah dibutuhkan bahasa yang baik dan benar yang sesuai dengan EYD, karena karya ilmiah merupakan sumber ilmu yang akan dipakai sebagai referensi bagi karya lain. Jika sebuah karya ilmiah menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, ditakutkan akan terjadi kesalahan atau banyak penafsiran pada tiap-tiap orang. Untuk mengantisipasi hal tersebut dibutuhkan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku. Berdasarkan paparan di atas dapat ditentukan suatu permasalahan tentang penggunaan bahasa yang bisa berfungsi sebagai alat komunikasi antara penulis dan pembaca. Permasalahan tersebut dapat ditentukan tentang penggunaan bahasa yang dipakai dalam karya ilmiah masih belum tepat, dan masih banyak yang tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar yang sesuai dengan EYD. Penulis melakukan penelitian terhadap karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa. Ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Edi Subroto (1992:42) bahwa sumber-sumber tertulis untuk sumber penelitian dapat berwujud majalah, surat kabar, karya sastra, buku bacaan umum, karya ilmiah, dan buku perundang- undangan.

1.8. Pembatasan Masalah Untuk mencegah kekaburan masalah dan untuk mengarahkan penelitian ini agar lebih intensif dan efisien sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, sangat diperlukan pembatasan masalah. Oleh karena itu penulis membatasi masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini. Dalam makalah ini penulis membatasi kajian pada Penggunaan Bahasa dalam Karya Ilmiah.

1.9. Perumusan Masalah Bahasa dalam penulisan karya tulis ilmiah merupakan perpaduan ragam bahasa yaitu ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah. Dalam hal ini masih banyak penulis yang tidak memperhatikan bahasa yang digunakannya dalam menyusun karya ilmiah. Kesalahan penggunaan bahasa tersebut dapat disebabkan oleh kesalahan dalam penggunaan atau pengembangan paragraf. Oleh karena itu, permasalahan dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:  Bagaimana bahasa dalam penulisan karya tulis yang baik dan benar?  Bagaimana cara pengembangan paragraf yang benar?

1.10.

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini secara umum adalah ingin mengetahui penggunaan bahasa

dalam karya ilmiah, sehingga dapat diketahui penggunaan bahasa yang benar. Bahasa dalam penulisan karya tulis ilmiah merupakan perpaduan ragam bahasa, apakah bahasa yang digunakan sudah memenuhi ejaan yang baik dan benar atau belum? Disamping itu, penulis memiliki tujuan lain dari penelitian ini. Tujuan lainnya yaitu untuk memenuhi tugas akhir semester ganjil dari mata kuliah Bahasa Indonesia Untuk Karya Ilmiah, Pendidikan Matematika, STKIP Garut.

1.11.

Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan makalah ini dapat dimanfaat baik secara teoritis

(manfaat teoritis) dan dapat pula dimanfaatkan secara praktis (manfaat praktis). Kedua manfaat penelitian itu dapat dirinci sebagai berikut : 1.11.1. Manfaat teoritis diantaranya :  Memperkaya hasil penelitian dalam kebahasaan terutama tentang bahasa dalam karya ilmiah  Sebagai kerangka berfikir bagi penegasan teori yang telah ada terutama dalam bidang analisis bahasa mengenai ejaan yang baik dan benar dalam karya tulis 1.11.2. Manfaat praktis diantaranya :  Memberikan sumbangan informasi bagi penulis dalam membuat sebuah tulisan khususnya tulisan pada media massa cetak  Sebagai salah satu tinjauan pustaka bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian sejenis.

1.12.

Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang 1.2. Pembatasan Masalah 1.3. Perumusan Masalah 1.4. Tujuan Penelitian 1.5. Manfaat Penelitian 1.5.1. Manfaat teoritis 1.5.2. Manfaat praktis BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB III BAB IV METODE PENELITIAN PEMBAHASAN

4.5. Ragam Bahasa

4.5.1. Media pengantarnya atau sarananya, terdiri atas : 4.5.2. Situasi dan Pemakaian, terdiri atas : 4.6.Bahasa Tulis ilmiah 4.6.1. Cendikia 4.6.2. Lugas 4.6.3. Jelas 4.6.4. Bertolak dari gagasan 4.6.5. Formal 4.6.6. Obyektif 4.6.7. Ringkas dan padat 4.6.8. Konsisten 4.7.Penggunaan Bahasa 4.8.Paragraf 4.8.1. Kegunaan Paragraf 4.8.2. Macam-Macam Paragraf 4.8.3. Syarat-syarat Pembentukan dan Pengembangan Paragraf 4.8.3.1.Kesatuan 4.8.3.2.Kepaduan 4.8.3.3.Kelengkapan 4.8.3.4.Letak Kalimat Topik dalam Sebuah Paragraf 4.8.3.5.Pengembangan Paragraf. 4.8.3.5.1. Secara Alamiah 4.8.3.5.2. Klimaks dan Antiklimaks 4.8.3.5.3. Umum-Khusus induktif) 4.8.3.5.4. Perbandingan dan Pertentangan 4.8.3.5.5. Analogi 4.8.3.5.6. Contoh-contoh 4.8.3.5.7. Sebab-Akibat & Khusus-Umum (deduktif &

4.8.3.5.8. Definisi Luas 4.8.3.5.9. Klasifikasi BAB V PENUTUP

BAB II KAJIAN PUSTAKA
Bahasa indonesia sebagai bahasa nasional tentu saja digunakan dalam berbagai betuk jenis penulisan, mulai dari penulisan ilmiah dan non-ilmiah, yang pada kenyataannya tidak terlepas dari kesalahpahaman dalam penggunaan kalimatnya. Berdasarkan situasinya, bahasa dapat dibagi atas dua jenis, yaitu bahasa formal dan bahasa non formal. Bahasa formal adalah bahasa yang digunakan dalam situasi resmi, sedangkan bahasa non formal adalah bahasa yang digunakan dalam dituasi tidak resmi. Sedangkan berdasarkan penyampaiannya, bahasa dapat dibagi atas dua jenis, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa lisan adalah bahasa yang yang dipakai dalam berkomunikasi secara langsung, sedangkan bahasa tulisan digunakan dalam berkomunikasi secara tidak langsung. Kedua jenis bahasa tersebut memiliki aturan-aturan yang harus diikuti untuk berbahasa yang baik dan benar. Dalam bahasa indonesia istilah tersebut dikenal dengan nama Ejaan yang disempurnakan (EYD). EYD adalah sistem ejaan bahasa indonesia yang menjadi ejaan resmi bahasa indonesia untuk berbahasa indonesia yang baik dan benar. Semestinya sebuah karya ilmiah hendaknya menggunakan bahasa yang jelas, tepat dan formal dan lugas. Kegiatan dan ketepatan isi dapat diwujudkan dengan menggunakan kata dan istilah yang jelas dan tepat, kalimat yang tidak berbelit-belit, dan struktur paragraf yang runtut. Kesalahan penggunaan bahasa dalam artikel ilmiah menyebabkan gagasan yang disampaikan penulis tidak dapat diterima oleh pembaca. Kemungkinan, pemakaian bahasa yang salah menyebabkan pemahaman pembaca bertolak belakang dangan gagasan penulis.

BAB III METODE PENELITIAN
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode studi kasus dalam hal pengumpulan informasi yang diamati, penulis juga menggunakan metode deskriptif, maksudnya adalah pengamatan yang

menggambarkan keadaaan sebenarnya mengenai pancasila Penggunaan Bahasa. Sedangkan untuk mendukung ketersediaan data, penulis melakukannya dengan cara studi kepustakaan yaitu suatu cara memperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan teori-teori yang terkait pada permasalahan yang dibahas. Untuk penelitian ini penulis menggunakan beberapa sumber buku kepustakaan yang diperlukan serta literatur lainnya yang ada relevansinya dengan masalah-masalah yang sedang dibahas.

BAB IV PEMBAHASAN
4.1.Ragam Bahasa Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang alih-alih disebut sebagai kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata bahasa Indonesia ragam baku atau kosa kata bahasa Indonesia baku adalah kosa kata baku bahasa Indonesia, yang memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolok ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi di dalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian, tidak tertutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan. Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi anutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980). Menurut Felicia (2001 : 8), ragam bahasa dibagi berdasarkan : 4.1.1. Media pengantarnya atau sarananya, terdiri atas :  Ragam lisan. Ragam lisan adalah bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah; dan

ragam lisan yang nonstandar, misalnya dalam percakapan antarteman, di pasar, atau dalam kesempatan nonformal lainnya.  Ragam tulis. Ragam tulis adalah bahasa yang ditulis atau yang tercetak. Ragam tulis pun dapat berupa ragam tulis yang standar maupun nonstandar. Ragam tulis yang standar kita temukan dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis nonstandar dalam majalah remaja, iklan, atau poster. 4.1.2. Situasi dan Pemakaian, terdiri atas :  Ragam bahasa baku tulis Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.  Ragam bahasa baku lisan Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap

disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.

4.2.Bahasa Tulis ilmiah Bahasa tulis ilmiah merupakan perpaduan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah, adapun ciri-ciri dari ragam bahasa ilmiah adalah : 4.2.1. Cendikia Di dalam bahasa cendekia mampu membentuk pernyataan yang tepat dan seksama sehingga gagasan yang disampaikan penulis dapat diterima oleh pembaca secara tepat. Kalimat-kalimat yang digunakan mencerminkan ketelitian yang objektif sehingga suku-suku kalimatnya mirip dengan proposisi logika. Kecendikiaan juga berhubungan dengan kecermataan memilih kata seperti : tidak mubazir, tidak rancu, dan bersifat idiomatis. 4.2.2. Lugas Dengan paparan yang lugas, kesalahpahaman dan kesalahan menafsirkan isi kalimat akan terhindarkan. Penulisan yang bernada sastra cenderung tidak mengungkapkan sesuatu secara langsung (lugas). 4.2.3. Jelas Ketidakjelasan pada umumya akan muncul pada kalimat yang sangat panjang. Dalam kalimat panjang, hubungan antar gagasan menjadi tidak jelas. Oleh sebab itu, dalam artikel ilmiah disarankan tidak digunakan kalimat yang terlalu panjang. Kalimat panjang boleh digunakan asalkan penulis cermat dalam menyusun kalimat sehingga hubungan antar gagasan dapat diikuti secara jelas. 4.2.4. Bertolak dari gagasan Penonjolan diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan, tidak pada penulis/pelaku.

4.2.5. Formal Tingkat keformalan bahasa dalam artikel ilmiah dapat dilihat pada lapis kosakata, bentukan kata, dan kalimat. Kosakata yang digunakan cenderung menggarah pada kosakata ilmiah teknis, yang jarang dipahami oleh masyarakat umum. Perlu kecermataan dalam memilih kosakata untuk artikel ilmiah. Keformalan kalimat dalam artikel ilmiah ditandai oleh : 1. Kelengkapan unsur wajib (subjek dan Predikat) 2. Kebenaran isi 3. Tampilan esai formal 4.2.6. Obyektif Hindari kata-kata yang menunjukan sifat subjektif, seperti : Dari paparan tersebut kiranya dapat disimpulkan. 4.2.7. Ringkas dan padat Contoh : Nilai etis sebagaimana tersebut pada paparan di atas menjadi pedoman dan dasar pegangan hidup dan kehidupan bagi setiap warga Negara Indonesia. 4.2.8. Konsisten Contoh : Untuk mengatasi penumpang yang melimpah menjelang dan usai lebaran, pengusaha angkutan dihimbau mengoprasikan semua telah disiapkan kendaraan ekstra.

4.3.Penggunaan Bahasa Pemilihan atau penggunaan bahasa merupakan hal yang sangat krusial dalam penulisan karya ilmiah. Hal ini bertujuan agar apa yang disampaikan oleh penulis karya ilmiah bisa dipahami oleh pembaca. Oleh karenanya, gunakan bahasa yang baik dan benar. Ketentuan penggunaan bahasa dalam penyusunan karya ilmiah adalah sebagai berikut:

1. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia baku sebagaimana termuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) (lihat Lampiran). 2. Kalimat yang dibuat mesti lengkap, dalam arti ada subyek, predikat, obyek dan/atau keterangan. 3. Satu paragraf terdiri dari minimal dua kalimat, yakni kalimat inti dan kalimat penjelas. 4. Istilah yang digunakan adalah istilah Indonesia atau yang sudah di-Indonesiakan. 5. Istilah (terminologi) asing boleh digunakan jika memang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia atau bila dirasa perlu sekali (sebagai penjelas/konfirmasi istilah, diletakkan dalam kurung), dan diketik dengan menggunakan huruf miring. 6. Kutipan dalam bahasa asing diperkenankan namun harus diterjemahkan atau dijelaskan maksudnya, dan ditulis dengan huruf miring (italic). 7. Hal-hal yang harus dihindari: a. Penggunaan kata ganti orang pertama atau orang kedua (saya, aku, kami, kita, kamu). Pada penyajian ucapan terima kasih di bagian Kata Pengantar, istilah “saya” diganti dengan “penulis”. b. Menonjolkan penulis dalam menguraikan penelitian. c. Pemakaian tanda baca yang tidak tepat. d. Penggunaan awalan di dan ke yang tidak tepat (harus dibedakan dengan fungsi di dan ke sebagai kata depan). e. Memberikan spasi antara tanda hubung atau sebelum koma, titik, titik koma, titik dua, tanda tanya, tanda kurung, dan sejenisnya. f. Penggunaan kata yang kurang tepat pemakaiannya dalam penulisan karya ilmiah. Beberapa contoh kesalahan yang sering dijumpai dalam penyusunan karya ilmiah beserta koreksinya adalah sebagai berikut:

Contoh 1: Hubungan Subyek dan Predikat Salah: Menurut Ichlasul Amal (1994) mengatakan bahwa pemerintah Indonesia menghadapi dilema dalam melakukan desentralisasi dan demokratisasi Benar: Menurut Ichlasul Amal (1994), pemerintah Indonesia menghadapi dilema dalam melakukan desentralisasi dan demokratisasi. Benar: Ichlasul Amal (1994) mengatakan bahwa pemerintah Indonesia menghadapi dilema dalam melakukan desentralisasi dan demokratisasi.

Contoh 2: di dan ke sebagai kata depan dan awalan Salah: Sistem pemerintahan ditingkat desa telah di sempurnakan. Di lihat dari perspektif politik, Kepala Desa yang di pilih langsung memiliki posisi tawar yang lebih di banding Kepala Desa yang di tunjuk. Karenanya, arus aspirasi otonom dari bawah keatas mengalir deras. Benar: Sistem pemerintahan di tingkat desa telah disempurnakan. Dilihat dari perspektif politik, Kepala Desa yang dipilih langsung memiliki posisi tawar yang lebih besar dibanding Kepala Desa yang ditunjuk. Karenanya, arus aspirasi otonom dari bawah ke atas mengalir deras.

Contoh 3: Penggunaan tanda kurung Salah: Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ( ABRI ) telah direorganisasi menjadi Tentara Nasional Indonesia ( TNI ) dan Kepolisian Republik Indonesia ( Polri ). Benar: (kata di dalam kurung tanpa spasi) Angkatan Bersenjata Republik Indones (ABRI) telah direorganisasi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Contoh 4: Penggunaan huruf besar dan kecil Salah: Kecamatan long iram terdiri dari beberapa Desa, yang sebagian di antaranya tidak bisa dijangkau dengan transportasi darat.

Benar: Kecamatan Long Iram terdiri dari beberapa desa, yang sebagian di antaranya tidak bisa dijangkau dengan transportasi darat.

Contoh 5: Penggunaan tanda baca Salah: Bagaimanakah hubungan antara identifikasi partai dengan voting behaviour dalam pemilihan umum ? Salah: Bagaimanakan hubungan antara identifikasi partai dengan voting behaviour dalam pemilihan umum?. Benar: (tanpa spasi sebelum tanda tanya, tanpa titik setelah tanda tanya) Bagaimanakan hubungan antara identifikasi partai dengan voting behaviour dalam pemilihan umum?

Contoh 6: Jika-maka Salah: Jika pemerintah pusat tidak hanya memberi otonomi administrasi tapi juga otonomi polittik. Maka daerah otonom akan lebih leluasa dalam menyelesaikan persolan-persoalan di daerahnya. Benar: (tanda tanya tanpa spasi dan tidak ada titik setelah tanda tanya) Jika pemerintah tidak hanya memberi otonomi administrasi tapi juga otonomi politik, maka daerah otonom akan lebih leluasa dalam penyelesaikan persoalan-persoalan di daerahnya.

4.4.Paragraf Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam sebuah paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut; mulai dari kalimat pengenal, kalimat topik, kalimatkalimat penjelas, sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Paragraf dapat juga dikatakan sebagai sebuah karangan yang paling pendek (singkat). Dengan adanya paragraf, kita dapat membedakan di mana suatu gagasan

mulai dan berakhir. Kita akan kepayahan membaca tulisan atau buku, kalau tidak ada paragraf, karena kita seolah-olah dicambuk untuk membaca terus menerus sampai selesai. Kitapun susah memusatkan pikiran pada satu gagasan ke gagasan lain. Dengan adanya paragraf kita dapat berhenti sebentar sehingga kita dapat memusatkan pikiran tentang gagasan yang terkandung dalam paragraf itu. 4.4.1. Kegunaan Paragraf Kegunaan paragraf yang utama adalah untuk menandai pembukaan topik baru, atau pengembangan lebih lanjut topik sebelumnya (yang baru). Kegunaan lain dari paragraf ialah untuk menambah hal-hal yang penting untuk memerinci apa yang diutarakan dalam paragraf terdahulu. 4.4.2. Macam-Macam Paragraf Berdasarkan tujuannya, paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: paragraf pembuka, paragraf penghubung dan paragraf penutup. Paragraf pembuka memiliki peran sebagai pengantar bagi pembaca untuk sampai pada masalah yang akan diuraikan oleh penulis. Untuk itu, paragraf pembuka harus dapat menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup mempersiapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan. Usahakan paragraf pembuka ini tidak terlalu panjang agar pembaca tidak merasa bosan. Di samping untuk menarik perhatian pembaca, paragraf pembuka juga berfungsi untuk menjelaskan tujuan dari penulisan itu. Paragraf penghubung berfungsi menguraikan masalah yang akan dibahas oleh seorang penulis. Semua inti persoalan yang akan dibahas oleh penulis diuraikan dalam paragraf ini. Oleh sebab itu, secara kuantitatif paragraf ini merupakan paragraf yang paling panjang dalam keseluruhan karangan/tulisan. Uraian dalam paragraf penghubung ini, antar kalimat maupun antar paragraf harus saling berhubungan secara logis. Paragraf penutup bertujuan untuk mengakhiri sebuah karangan/tulisan. Paragraf ini bisa berisi tentang kesimppulan masalah yang telah dibahas dalam paragraf

penghubung, atau bisa juga berupa penegasan kembali hal-hal yang dianggap penting dalam uraian-uraian sebelumnya. 4.4.3. Syarat-syarat Pembentukan dan Pengembangan Paragraf Dalam pembentukan/pengembangan paragraf, perlu diperhatikan persyaratanpersyaratan berikut. 4.4.3.1.Kesatuan Sebagaimana telah dipaparkan di depan, bahwa tiap paragraf hanya mengandung satu gagasan pokok. Fungsi paragraf adalah untuk mengembangkan gagasan pokok tersebut. Untuk itu, di dalam pengembangannya, uraian-uraian dalam sebuah paragraf tidak boleh menyimpang dari gagasan pokok tersebut. Dengan kata lain, uraian-uraian dalam sebuah paragraf diikat oleh satu gagasan pokok dan merupakan satu kesatuan. Semua kalimat yang terdapat dalam sebuah paragraf harus terfokus pada gagasan pokok. 4.4.3.2.Kepaduan Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh suatu paragraf ialah koherensi atau kepaduan. Sebuah paragraf bukanlah sekedar kumpulan atau tumpukan kalimatkalimat yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri, tetapi dibangun oleh kalimatkalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Urutan pikiran yang teratur akan memperlihatkan adanya kepaduan, dan pembaca pun dapat dengan mudah memahami/mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya perloncatan pikiran yang membingungkan. Kata atau frase transisi yang dapat dipakai dalam karangan ilmiah sekaligus sebagai penanda hubungan dapat dirinci sebagai berikut. Hubungan yang menandakan tambahan kepada sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya, misalnya: lebih-lebih lagi, tambahan, selanjutnya, di samping itu, lalu, seperti halnya, juga, lagi pula, berikutnya, kedua, ketiga, akhirnya, tambahan pula, demikian juga

Hubungan yang menyatakan perbandingan, misalnya: lain halnya, seperti, dalam hal yang sama, dalam hal yang demikian, sebaliknya, sama sekali tidak, biarpun, meskipun Hubungan yang menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya; misalnya: tetapi, namun, bagaimanapun,

walaupun demikian, sebaliknya, sama sekali tidak, biarpun, meskipun Hubungan yang menyatakan akibat/hasil; misal: sebab itu, oleh sebab itu, karena itu, jadi, maka, akibatnya Hubungan yang menyatakan tujuan, misalnya: sementara itu, segera, beberapa saat kemudian, sesudah itu, kemudian Hubungan yang menyatakan singkatan, misal: pendeknya, ringkasnya, secara singkat, pada umumnya, seperti sudah dikatakan, dengan kata lain, misalnya, yakni, sesungguhnya Hubungan yang menyatakan tempat, misalnya: di sini, di sana, dekat, di seberang, berdekatan, berdampingan dengan 4.4.3.3.Kelengkapan Syarat ketiga yang harus dipenuhi oleh suatu paragraf adalah kelengkapan. Suatu paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik/gagasan utama. Perlu kiranya ditambahkan di sini bahwa ada jenis wacana khusus/tertentu yang sengaja dibuat satu paragraf hanya terdiri dari satu kalimat saja dan ini merupakan kalimat topik. Wacana tersebut adalah wacana Tajuk Rencana dalam suatu surat kabar. Sesuai dengan ciri wacana jurnalistik dalam sebuah tajuk, bahwa tajuk rencana merupakan gagasan dari redaksi surat kabar tersebut pada suatu masalah tertentu/sikap redaksi, sehingga apa yang diuraikan hanyalah gagasan-gagasan pokoknya saja sementara uraian secara panjang lebar dapat dilihat dan dibaca pada berita-berita utamanya.

4.4.3.4.Letak Kalimat Topik dalam Sebuah Paragraf Sebagaimana telah dipaparkan di depan bahwa sebuah paragraf dibangun dari beberapa kalimat yang saling menunjang dan hanya mengandung satu gagasan pokok saja. Gagasan pokok itu dituangkan ke dalam kalimat topik / kalimat pokok. Kalimat topik/kalimat pokok dalam sebuah paragraf dapat diletakkan, di akhir di awal, di awal dan akhir, atau dalam seluruh paragraf itu. Berikut ini secara urut akan dipaparkan contoh-contoh paragraf dengan kalimat topik yang terletak di awal, di akhir, di awal dan akhir, serta dalam seluruh paragraf. 4.4.3.5.Pengembangan Paragraf. Salah satu cara berlatih mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan membuat kerangka paragraf dahulu sebelum menulis paragraf itu. Secara ringkas, pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan

memperhatikan hal-hal berikut. Pertama, susunlah kalimat topik dengan baik dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit dikembangkan, jangan pula terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang panjang lebar). Kedua, tempatkanlah kalimat topik tersebut dalam posisi yang menyolok dan jelas dalam sebuah paragraf. Ketiga, dukunglah kalimat topik tersebut dengan detail-detail/ perincian-perincian yang tepat. Keempat gunakan kata-kata transisi, frase, dan alat lain di dalam dan di antara paragraf. Ada beberapa teknik (cara) mengembangkan paragraf yang dapat dilakukan. Teknik-teknik tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut. 4.4.3.5.1. Secara Alamiah Dalam teknik ini penulis sekedar menggunakan pola yang sudah ada pada objek/kejadian yang dibicarakan. Susunan logis ini mengenal dua macam urutan, yaitu: (a) urutan ruang (spasial) yang membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya yang berdekatan dalam sebuah ruang. Misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar ke dalam, dari bawah ke atas, dari kanan ke kiri dan sebagainya; (b) urutan waktu (kronologis) yang menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.

4.4.3.5.2. Klimaks dan Antiklimaks Gagasan utama mula-mula dirinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya. Kemudian berangsur-angsur dengan gagasan lain hingga gagasan yang paling tinggi kedudukan/kepentingannya. Variasi dari klimaks ialah antiklimaks. Pengembangan dengan antiklimaks dilakukan dengan cara menguraikan gagasan dari yang paling tinggi kedudukannya, kemudian perlahan-lahan menurun ke gagasan lain yang lebih rendah. 4.4.3.5.3. Umum-Khusus & Khusus-Umum (deduktif & induktif) Cara pengungkapan paragraf yang paling banyak digunakan adalah cara deduktif dan induktif. Berikut ini secara urut akan disajikan contoh paragraf yang dikembangkan dengan cara deduktif dan induktif. Bentuk pengembangan paragraf juga ditentukan oleh fungsi paragraf tersebut dalam sebuah karangan atau wacana. Ada paragraf yang berfungsi untuk menjelaskan, membandingkan, mempertentangkan, menggambarkan, atau

memperdebatkan. Berikut ini akan dipaparkan bentuk-bentuk pengembangan paragraf berdasarkan fungsinya dalam suatu karangan. 4.4.3.5.4. Perbandingan dan Pertentangan Untuk menambah kejelasan sebuah paparan, kadang-kadang penulis berusaha membandingkan atau mempertentangkan. Dalam hal ini penulis berusaha menunjukkan persamaan dan berbedaan antara dua hal. Syarat

perbandingan/pertentangan adalah dua hal yang tingkatannya sama dan kedua hal itu mempunyai persamaan sekaligus perbedaan. 4.4.3.5.5. Analogi Analogi biasanya digunakan untuk membandingkan sesuatu yang sudah dikenal umum dengan hal yang belum dikenal. Analogi ini dimaksudkan untuk menjelaskan hal yang kurang dikenal tersebut. Berikut ini akan disajikan contoh paragraf yang dikembangkan dengan cara analogi.

4.4.3.5.6. Contoh-contoh Sebuah generalisasi yang terlalu umum sifatnya agar dapat memberikan penjelasan kepada pembaca, kadang-kadang memerlukan contoh-contoh yang konkrit. Berikut ini akan disajikan contoh sebuah paragraf yang dikembangkan dengan contoh-contoh 4.4.3.5.7. Sebab-Akibat Hubungan kalimat dalam sebuah paragraf dapat berbentuk sebab akibat. Dalam hal ini sebab dapat berfungsi sebagai pikiran utama, dan akibat sebagai pikiran penjelas; atau sebaliknya 4.4.3.5.8. Definisi Luas Untuk memberikan batasan tentang sesuatu, kadang-kadang penulis terpaksa menguraikan dengan beberapa kalimat atau bahkan beberapa paragraf. 4.4.3.5.9. Klasifikasi Dalam pengembangan paragraf, kadang-kadang kita mengelompokkan hal-hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokan ini biasanya dirinci lebih lanjut ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.

BAB V PENUTUP
Bahasa begitu besar peranannya dalam kehidupan. Dalam menulis karya ilmiah dibutuhkan bahasa yang baik dan benar yang sesuai dengan EYD, karena karya ilmiah merupakan sumber ilmu yang akan dipakai sebagai referensi bagi karya lain. Jika sebuah karya ilmiah menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, ditakutkan akan terjadi kesalahan atau banyak penafsiran pada tiap-tiap orang. Untuk mengantisipasi hal tersebut dibutuhkan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku. Pemilihan atau penggunaan bahasa merupakan hal yang sangat krusial dalam penulisan karya ilmiah. Agar apa yang disampaikan oleh penulis karya ilmiah bisa dipahami oleh pembaca. Oleh karenanya, gunakan bahasa yang baik dan benar. Pengembangan paragraf sangat besar pengaruhnya terhadap pemakaian bahasa yang akan digunakan dalam penyusunan karya ilmiah, karena paragraf dikatakan sebagai sebuah runtuyan kata-kata dalam bentuk kalimat yang paling pendek (singkat). Dengan adanya paragraf, kita dapat membedakan di mana suatu gagasan mulai dan berakhir. Oleh karena itu pengembangan paragraf yang baik akan berpengaruh dalam pembentukan bahasa untuk penyusunan karya tulis ilmiah yang baik. Sehingga penggunaan bahasanya teratur oleh inti dari paragraf yang dikemukakan.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Khemal. 2008. Pemakaian Bahasa Sms di Kalangan Remaja. http://www.scribd.com/doc/23701249/Pemakaian-Bahasa-SMS (diakses 31 januari 2010) Akhadiah, Sabarti. 1990. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga Dosen Teknik. 2009. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Menulis Karya Ilmiah. http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/penggunaan-bahasaindonesia-dalam-menulis-karya-ilmiah-oleh-dosen-tek-0 (diakses 2 Februari 2009) Firman, Harry. 2004. Menulis Karya Ilmiah. http://www.scribd.com/doc/2871445/Tentang-Karya-Tulis-Ilmiah (diakses 31 januari 2010) Perdana, Yandha Jaka. 2009. Pemakaian Bahasa Indonesia dalam Karya Tulis Ilmiah. http://yandhajperdana.wordpress.com/2009/10/28/pemakaianbahasa-indonesia-dalam-karya-tulis-ilmiah/ (diakses 2 Februari 2010) Rais, Jacub. Tata Cara Penulisan Baku Daftar Acuan (References) dan Daftar Pustaka (Bibliography) dalam Makalah Ilmiah, Tesis, Disertasi. http://demosainscreative.wordpress.com/2009/02/23/tata-cara-penulisan-karyailmiah/ (diakses 31 januari 2010) Rahardjo, Budi. 2005. Panduan Menulis dan Mempresentasikan Karya Ilmiah: Thesis, Tugas Akhir, dan Makalah. http://www.cert.or.id/~budi/books/thesis/tulis.pdf (diakses 31 januari 2010) Shopia, Sulastuti . 2002. Petunjuk TeknisPenyusunan Sari Karangan. http://www.pustaka-deptan.go.id/pustakawan/Juknis26.pdf (diakses 31 januari 2010) Universitas Mulawarman. 2008. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah dan Penyusunan Skripsi. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. http://www.pin.or.id/dat/doc/02_bag1_penulisan_ karya_ilmiah.pdf (diakses 31 januari 2010)

http://en.forkus.com/d/contoh-bentuk-karya-ilmiah-remaja-penggunaan-bahasaindonesia.htm (diakses 31 januari 2010) http://goesprih.blogspot.com/2008/02/paragraf-dan-pengembangannya.html (diakses 31 januari 2010) http://t_wahyu.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/8770/kesantunanbhsilmiah.doc (diakses 2 Februari 2010) http://www.scribd.com/doc/9678477/Ragam-Dan-Laras-Bahasa (diakses 31 januari 2010) http://zulmasri.wordpress.com/2008/02/22/pedoman-singkat-karya-ilmiah-makalah/ (diakses 31 januari 2010)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->