P. 1
dasar-dasar asuransi jiwa dan asuransi kesehatan

dasar-dasar asuransi jiwa dan asuransi kesehatan

1.0

|Views: 15,069|Likes:
Published by mamangdani

More info:

Published by: mamangdani on May 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/26/2015

pdf

text

original

Sections

IHTISAR BAB

TUJUAN

Industri Asuransi Jiwa dan Kesehatan

Asuransi Jiwa Individu/Perorangan
(Individual Life Insurance)
Asuransi Jiwa Kumpulan (group life
insurance)

BentukBentuk Organisasi Bisnis

Perseroan atau PT (Stock Insurance
Companies)
Usaha Bersama (Mutual Insurance
Companies)
Fraternal Benefit Society

Distribusi bancassurance

Regulasi bancassurance dalam UU
Usaha Perasuransian.
Regulasi bancassurance dalam
peraturan perbankan

Setelah membaca bab atau bagian ini
diharapkan dapat:

o Mengenal Jenis‐jenis asuransi jiwa
perorangan;

o Mengenal Jenis‐jenis asuransi jiwa
kumpulan;

o Menjelaskan bentuk‐bentuk organisasi
bisnis dalam perusahaan Asuransi jiwa
berbentuk perseroan terbatas;

o Menjelaskan bentuk‐bentuk organisasi
bisnis dalam perusahaan Asuransi jiwa
berbentuk usaha bersama;

o Menjelaskan bentuk‐bentuk organisasi
bisnis dalam perusahaan Asuransi jiwa
berbentuk fraternal;

o Mengenal bancassurance merupakan
salah satu bentuk distribusi produk
asuransi melalui jasa perbankan.

A. Industri Asuransi Jiwa dan Kesehatan

Industri asuransi jiwa merupakan salah satu industri yang berhasil guna dan tepat
guna dalam mendukung pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Operasional dan cara kerja industri ini harus dilakukan sesuai perundang‐
undangan yang berlaku di masing‐masing Negara. Sebuah usaha yang memproduki
barang atau jasa yang dibutuhkan konsumen/masyarakat, kemudian menjualnya ke pasar,
pada umumnya bertujuan untuk menghasilkan keuntungan atau Profit. Profit adalah
pendapatan berupa sejumlah uang yang diterima dari hasil penjualan barang atau jasa
setelah dikurangi dengan biaya‐biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan dan
memasarkan barang atau jasa tersebut. Profit adalah hasil penjualan barang atau jasa
setelah dikurangi dengan biaya‐biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan dan

Mengenal Asuransi Jiwa

1

memasarkan barang atau jasa tersebut. Asuransi jiwa dan kesehatan, dimana di dalamnya
termasuk bisnis annuitas  dan asuransi syariah, juga mempunyai tujuan yang sama yaitu
memperoleh keuntungan dari produk‐produk yang dipasarkan. Asuransi kesehatan,
sebenarnya dapat dimasukkan dalam kelompok asuransi jiwa, karena produk‐produknya
memberikan proteksi atas aspek‐aspek yang berkaitan dengan kesehatan seseorang,
misalnya Asuransi Rawat Inap yang memberikan jaminan perawatan tertentu apabila
seorang tertanggung mengalami atau menderita suatu penyakit dan harus dilakukan
opname di rumah sakit. Khusus mengenai annuitas dan asuransi syariah, akan dibahas
secara khusus dalam bagian tersendiri.

Ditinjau dari pasar dan produknya, asuransi jiwa dan kesehatan dipasarkan kepada
konsumennya berdasarkan pada segmentasi pasar (market segmentation) atau
berdasarkan pada hasil pemetaan pasar (market mapping).

Berdasarkan pada hasil segmentasi pasar atau pemetaan pasar, asuransi jiwa
dipasarkan melalui 2 (dua) jalur bisnis sebagai berikut:

1.

Asuransi Jiwa Individu/Perorangan (Individual Life Insurance) meliputi:
Asuransi Jiwa Biasa (ordinary life insurance)
Asuransi Jiwa Industrial (industrial life insurance)

2.

Asuransi Jiwa Kumpulan (group life insurance)

1.  Asuransi Jiwa Perorangan

Asuransi jiwa perorangan atau individual life insurance  adalah produk asuransi
jiwa yang dipasarkan secara individual (orang per orang). Oleh karena sifatnya yang
demikian maka proses underwriting (seleksi) terhadap calon tertanggung juga
dilakukan secara orang per orang (person by person), sehingga sangat
memungkinkan tarif preminya menjadi lebih mahal dikarenakan oleh biaya proses
seleksi tersebut. Selain itu, premi asuransi perorangan juga sangat bervariasi
dikarenakan oleh perbedaan kondisi dan karakteristik masing‐masing individu calon
tertanggung. Dalam hal penetapan tarif premi, terkadang ditetapkan berdasarkan
pada visi, misi dan strategi pemasaran yang diaplikasikan oleh perusahaan. Faktor
yang seringkali juga digunakan dalam menentukan besaran premi adalah biaya
(loading atau expenses) dan keuntungan atau profit. Semua strategi tersebut
bertujuan untuk memenangkan persaingan dalam industri. Cost reduction concept
atau effisiensi biaya sering dilakukan untuk menentukan tarif yang murah, sehingga
dapat bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar.

Misalnya saja sebuah produk asuransi jiwa (life insurance plan) yang di dalamnya
mengandung unsur proteksi dan tabungan (protection and saving) oleh sebuah
perusahaan asuransi jiwa dinamakan “dwiguna“, dirancang untuk memberikan
manfaat (benefit) sebagai berikut :
“Apabila tertanggung meninggal dunia dalam jangka waktu atau kontrak
asuransinya, maka kepada ahli waris (beneficiary) yang ditunjuk akan
dibayarkan manfaat (santunan) sebagaimana ditetapkan di dalam polis
asuransinya, dan apabila tertanggung masih hidup (survive) pada saat

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

2

berakhirnya kontrak asuransi, maka kepadanya juga akan dibayarkan manfaat
atau santunan yang diperjanjikan dalam polis“.

Di Indonesia istilah yang juga sering dipergunakan untuk menyebutkan santunan
atau benefit adalah uang pertanggungan.

Dalam asuransi perorangan, setiap polis diterbitkan atas dasar pertimbangan
karakteristik orang per orang, sehingga meskipun beberapa polis diterbitkan untuk
individu yang usianya relatif sama, uang pertanggungannya persis sama besarnya,
jangka waktu asuransinya juga sama, sangat dimungkinkan besaran preminya
berbeda, misalnya karena kondisi kesehatan atau hobinya yang berbeda. Misalnya
saja, bagi seorang tertanggung yang mengidap suatu penyakit tertentu yang sangat
berpengaruh terhadap harapan hidupnya (life expectancy) akan dikenakan tarif premi
yang lebih tinggi dibandingkan dengan premi yang dikenakan bagi tertanggung yang
sehat. Bahkan bagi orang‐orang yang termasuk dalam golongan yang sangat sehat
(super sehat), dikenakan tarif premi yang jauh lebih murah. Mereka yang digolongkan
super sehat adalah mereka yang memiliki tingkat kesehatan yang prima, dan memiliki
kebiasaan berolahraga dengan teratur, kebiasaan makan yang sehat dan pola tidur
yang baik, dan juga tidak merokok (no smoker).

Pada dasarnya, besarnya premi itu sama untuk orang‐orang yang berada dalam
kelompok usia tertentu, akan tetapi kondisi spesifik dari masing‐masing individu
dapat menyebabkan besarnya premi yang harus dibayar menjadi berbeda. Bagi orang‐
orang yang dinilai mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi, dikenakan premi
tambahan (extra premium atau additional premium). Sedangkan bagi orang‐orang
yang memiliki risiko yang lebih rendah, dapat diberikan pengurangan premi (premium
deduction atau premium reduction), sehingga premi yang harus dibayarnya menjadi
lebih murah.

Faktor lain yang mempengaruhi besarnya premi adalah strategi pemasaran dan
kebijakan harga (pricing policy) yang diterapkan oleh perusahaan, misalnya
penerapan strategi pengenaan harga tinggi (premium pricing strategy). Dengan
kebijakan tersebut, tarif premi menjadi sangat tinggi, karena faktor biaya (loading)
untuk mendanai pelayanan (service expenses) juga tinggi. Perusahaan seperti ini
memiliki komitmen yang tinggi terhadap kinerja pelayanan, dikarenakan antara lain
oleh pemilihan target pasarnya, misalnya orang‐orang yang termasuk dalam
kelompok berpenghasilan tinggi (upper class society).

Hobi seorang tertanggung dapat mempengaruhi tarif premi yang dikenakan
dalam asuransi perorangan. Contoh : seseorang yang memiliki hobi terjun payung
(sky diving) dan masih sering melakukan aktifitas hobinya, akan dikenakan ekstra
premi, sehingga tarif premi yang dikenakan menjadi lebih tinggi.

Pelayanan untuk produk‐produk asuransi jiwa perorangan seperti ini, dilakukan
secara langsung kepada Pemegang Polis (Policyholder) atau Tertanggung (The

Mengenal Asuransi Jiwa

3

Insured Person). Sesuai dengan sifatnya, maka dalam asuransi jiwa perorangan, setiap
customer atau prospek akan diperlakukan secara individual (treated personally).

Sebuah perusahaan asuransi jiwa, dapat memasarkan produk‐produk asuransi
perorangan yang mempunyai manfaat (benefit) yang sama. Misalnya sebuah produk
asuransi jiwa yang memberikan manfaat sebagai berikut :

Jika Tertanggung meninggal dunia, maka kepada ahli waris (beneficiaries) yang
ditunjuk akan diberikan santunan/uang pertanggungan sebesar US.$. 100,000
(seratus ribu US Dollar)

Apabila sampai dengan akhir masa kontrak asuransinya, Tertanggung masih
tetap hidup (survived), maka Perusahaan sebagai Penanggung akan
membayarkan uang pertanggungan sebesar US.$. 100,000 kepada Pemegang
Polis yang bersangkutan.

Produk seperti tersebut di atas itu banyak dipasarkan oleh berbagai perusahaan
asuransi jiwa dengan nama produk atau “brand name“ yang berbeda‐beda. Ada yang
memberi nama Asuransi Dwiguna, Asuransi Ganda Guna, Proteksi Ganda, dan
sebagainya. Kalau dikaitkan dengan produk‐produk dasar asuransi jiwa, maka produk
tersebut dapat dikelompokkan ke dalam produk yang disebut dengan nama
“endowment“ yang mengandung unsur “pure endowment“ dan “term insurance“.

Ada juga produk asuransi jiwa yang hanya memberikan santunan jika
Tertanggung meninggal dalam masa asuransinya, dan tidak membayarkan apapun
jika Tertanggung masih tetap hidup pada saat masa asuransinya berakhir. Produk
yang kita kelompokkan ke dalam golongan “term insurance“ ini, juga dipasarkan
dengan berbagai nama produk oleh perusahaan. Nama produk (plan name) memang
diberikan oleh perusahaan dengan maksud agar terdapat ciri yang khas atau spesifik,
sehingga mudah dikenal dan diingat oleh masyarakat khususnya prospek dan
Pemegang Polis. Pemberian nama tersebut dimaksudkan untuk mempermudah dan
memperlancar proses pemasaran dan promosi. Contoh untuk nama produk asuransi
jiwa beasiswa di Indonesia, ada yang memberi nama Asuransi Dana Beasiswa, ada
pula yang menamakannya Fulnadi, yang dimaksudkan sebagai singkatan dari Takaful
Dana Pendidikan, dan ada pula yang memberi nama Mitra Beasiswa Prima, dan masih
banyak lagi. Komponen manfaat yang terkandung di dalam produk‐produk tersebut
pada dasarnya sama yaitu untuk menyiapkan dana kelangsungan belajar bagi
seseorang (anak), sehingga biaya sekolah anak tersebut tidak lagi tergantung pada
hidup Tertanggung, artinya jika Tertanggung meninggal dunia, anak yang
bersangkutan akan tetap memperoleh dana untuk kelangsungan belajarnya di masa
yang akan datang.

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

4

Asuransi jiwa perorangan ini dapat dikelompokkan ke dalam 2 (dua) golongan

sebagai berikut:

a. Asuransi Jiwa Biasa

Asuransi Jiwa Biasa atau Asuransi Jiwa Besar merupakan terjemahan dari
Ordinary Life Insurance, dipasarkan kepada masyarakat secara luas dan
pengertian inilah yang berkembang di masyarakat kita pada saat ini. Artinya kalau
orang bicara tentang asuransi maka asuransi kelompok inilah yang dimaksudkan.
Karakteristik asuransi jiwa biasa adalah sebagai berikut:
Jumlah Uang Pertanggungan (sum insured atau benefit) minimumnya
dibatasi, tetapi manfaat maksimumnya justru tidak dibatasi sepanjang
Pemegang Polisnya mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk
membayar premi. Di Indonesia, beberapa perusahaan asuransi jiwa
menentukan batas uang pertanggungan minimum untuk produk‐produk
yang dijualnya sebesar Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah), dan ada pula
yang menetapkan besarnya uang pertanggungan minimum itu sebesar Rp.
50.000.000 (lima puluh juta rupiah). Penentuan batas nilai pertanggungan
minimum ini biasanya didasarkan pada kebijakan pemilihan target pasar dari
masing‐masing perusahaan, apakah perusahaan memilih pasar kelas
menengah atau medium income bracket, pasar kelas atas atau high income
bracket, atau bisa juga sebuah perusahaan memilih pasar ceruk tertentu
yang disebut dengan istilah niche market.
Pembayaran premi untuk kelompok asuransi ini dapat dilakukan secara
sekaligus (lump sum) atau yang disebut dengan terminologi premi tunggal
(single premium), secara tahunan (annual premium), premi setengah
tahunan (semi‐annual premium), pembayaran triwulanan (quarterly premium
payment), atau bahkan pembayaran dilakukan secara bulanan (monthly
premium payment).

b. Asuransi Jiwa Industrial

Asuransi Jiwa Industrial atau Industrial Life Insurance yang dalam bahasa
sehari‐hari sering disebut sebagai asuransi industri, yang juga dikenal dengan
terminologi “Debit Life Insurance“ dipasarkan kepada masyarakat industri atau
orang‐orang dalam kelompok industri tertentu yang memiliki kemampuan
finansial yang relatif masih rendah, misalnya kelompok nelayan atau kelompok
petani yang berpenghasilan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar
hidup keluarganya. Menurut Dr. Abraham H. Maslow kelompok ini termasuk
dalam tingkatan “Psychological Needs“ yaitu kelompok masyarakat yang berada
pada tingkatan memliliki kebutuhan fisik saja (sandang, pangan, sex, dan
“papan“ atau tempat tinggal).

Uang pertanggungan maksimum untuk kelompok asuransi industrial ini pada
umumnya sangat terbatas, misalnya saja Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah), di
Indonesia berdasarkan data beberapa perusahaan asuransi tahun 2007, nyaris
tidak mengalami peningkatan dalam 3 tahun terakhir. Di beberapa negara
asuransi ini hanya dipasarkan untuk dapat memenuhi kebutuhan dana

Mengenal Asuransi Jiwa

5

penguburan (burial expense) saja. Premi asuransi jiwa industrial biasanya
dikumpulkan dan ditagih secara mingguan (weekly premium collection) atau
bulanan dan ditagih ke rumah Pemegang Polis masing‐masing, sehingga metode
pengumpulan preminya disebut dengan istilah “Home Service System“.

Dengan perkembangan masyarakat yang secara finansial menjadi semakin
baik, berangsur‐angsur asuransi industrial mulai ditinggalkan oleh para pelaku
bisnis, karena secara bisnis, asuransi jenis ini memerlukan biaya operasional yang
cukup tinggi, seperti biaya administrasi dan biaya pengumpulan preminya,
sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi sangat kecil. Hal ini juga
mengakibatkan asuransi ini tidak menarik lagi, baik bagi perusahaan asuransi
yang memasarkan maupun bagi masyarakat itu sendiri. Pada saat buku ini
diterbitkan, mungkin sudah tidak ada lagi perusahaan asuransi yang menjual
produk‐produk asuransi industrial ini.

2.  Asuransi Jiwa Kumpulan

Asuransi Jiwa Kumpulan atau group life insurance, ada juga yang menyebutnya
dengan istilah asuransi jiwa kolektif, adalah produk‐produk asuransi jiwa yang
dipasarkan secara kolektif (bukan orang per orang). Oleh karena sifatnya yang
demikian itu, maka proses underwriting atau proses seleksi risiko terhadap calon
tertanggungnya juga dilakukan secara kolektif, misalnya dalam menghitung usia calon
tertanggung, didasarkan pada usia rata‐rata dari seluruh usia orang‐orang yang
dirinya akan dipertanggungkan. Misalnya dalam sebuah kelompok calon tertanggung
dari sebuah perusahaan kecil yang anggotanya 25 orang dan berusia :  20, 20, 23, 24,
25, 25, 25, 27, 27, 28, 30, 30, 30, 31, 32, 32, 32, 34, 35, 36, 38, 38, 39, 44, dan 48, maka
usia yang dipakai dalam perhitungan premi adalah :

20(2)+23+24+25(3)+27(2)+28+30(3)+31+32(3)+34+35+36+38(2)+39+46+48
25 =  775 / 25  =  31 ……. dan usia rerata yang dipergunakan dalam
menghitung premi untuk kelompok ini adalah 31 tahun.

Dalam prakteknya, ada pula perusahaan asuransi jiwa yang mempergunakan nilai
median sebagai dasar perhitungannya. Dalam kasus asuransi di atas, maka nilai yang
dipergunakan adalah = 30 tahun, karena nilai median dari 25 orang dalam kelompok
tersebut adalah usia orang yang ke13, yaitu 30 tahun. Tetapi jika nilai median itu
terletak pada orang yang berusia 35 tahun, maka 35 tahun inilah yang akan dijadikan
sebagai dasar perhitungan preminya.

Penggunaan metode perhitungan tersebut tergantung pada kebijakan
Manajemen Perusahaan, biasanya ditetapkan berdasarkan pada pengalaman yang
telah dilaluinya secara empirik dalam kegiatan operasionalnya.

Dikarenakan metode yang dipergunakan dalam menghitung mortalita, maka
dalam perhitungan premi asuransi kumpulan terjadi subsidi silang atau cross sub
sidization antara mereka yang berusia muda dengan mereka yang berusia lebih tua,
dan juga antara mereka yang lebih sehat dengan mereka yang kurang sehat, sehingga

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

6

proses underwriting lebih sederhana. Meskipun demikian, seorang Aktuaris yang
telah berpengalaman akan mampu menentukan tarif yang mendekati ketepatan
perhitungan premi, sehingga tidak merugikan atau menguntungkan perusahaan
terlalu tinggi, sehingga tarif premi yang dihitung dan ditetapkannya menjadi tidak
kompetitif lagi, dan berdampak pada daya saing perusahaannya.

Kalau asuransi jiwa perorangan merupakan “retail business“, maka asuransi jiwa
kumpulan dikelompokkan dalam golongan “corporate business“ yang dipasarkan
kepada kelompok‐kelompok orang atau perusahaan, lembaga, institusi, atau
organisasi, seperti asuransi‐asuransi kumpulan di bawah ini :
Asuransi bagi Guru‐Guru di sebuah SMA di Jakarta
Asuransi bagi Para Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Kutai
Asuransi bagi Para Tenaga Honorer di Pemerintahan Kota Pontianak
Asuransi bagi Para Pemegang KTP di Kabupaten Bengkayang
Asuransi bagi Anggota Credit Union Sejahtera Bersama di Pontianak
Asuransi bagi Anggota TNI yang akan ditugaskan ke PBB
Asuransi bagi Para Petugas Honorer Kebersihan Kota
Asuransi bagi Para Anggota Tim Kampanye Nasional Partai tertentu
Dan lain sebagainya.

Dalam jajaran bisnis asuransi kumpulan, hanya diterbitkan satu polis untuk setiap
produk yang disebut Polis Induk (Master Policy) atas nama pimpinan atau pejabat
yang ditunjuk sebagai Pemegang Polis, biasanya Direktur Utama Perusahaan,
Pimpinan Lembaga atau Yayasan, Pimpinan Organisasi, dan sejenisnya. Akan tetapi
ada juga yang menunjuk pejabat lain dalam organisasi yang bersangkutan, misalnya
Bupati menetapkan Sekretaris Daerahnya sebagai pemegang polisnya. Sedangkan
orang‐orang yang atas dirinya dipertanggungkan disebut sebagai Peserta Asuransi
(Participant). Bagi peserta tersebut akan diterbitkan sertifikat atau Insurance
Certificate atas nama masing‐masing, jika jumlah pesertanya masih dalam jumlah yang
layak menurut perusahaan yang menjual produk tersebut.

Untuk Asuransi Kumpulan yang jumlah Pesertanya sulit untuk diinventarisir, atau
hanya didasarkan pada angka perkiraan, biasanya diterbitkan “no name“ atau “un‐
named certificate“. Misalnya saja dalam kasus asuransi masyarakat di salah satu
Kabupaten di Indonesia, baik yang telah mempunyai KTP maupun yang belum,
jumlahnya didasarkan pada angka perkiraan mencapai 1,5 juta orang, Jumlah populasi
yang diperkirakan itulah yang dijadikan sebagai landasan dalam menghitung premi
yang harus dibayar kepada Penanggung (perusahaan asuransi). Sudah tentu dalam
hal diterbitkan “no name certificate“ tetap dibutuhkan selembar surat yang
menunjukkan identitas bahwa seseorang yang dinyatakan sebagai peserta dalam
perjanjian asuransi kumpulan adalah benar‐benar anggota atau warga masyarakat
tersebut. Hal ini diperlukan pada saat mengajukan klaim atas asuransinya.

Produk‐produk asuransi jiwa perorangan (individual life insurance) maupun
asuransi jiwa kumpulan (group life insurance), keduanya dapat dipasarkan dalam
berbagai bentuk asuransi jiwa (life insurance products/plans) maupun produk asuransi

Mengenal Asuransi Jiwa

7

kesehatan (health insurance products/plans). Khusus mengenai asuransi kesehatan ini
akan kita bahas secara mendalam dalam bab tersendiri.

Dalam perkembangan industri perasuransian akhir‐akhir ini, asuransi jiwa dan
kesehatan dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) golongan besar sebagai berikut:
Asuransi jiwa  (Life Insurance)
Kontrak annuitas (Annuity Contract)
Asuransi kesehatan (Health Insurance)

a. Asuransi Jiwa

Asuransi Jiwa akan memberikan benefit (manfaat) apabila orang yang
ditunjuk sebagai tertanggung dalam kontrak asuransinya atau dalam polisnya,
meninggal dunia. Dalam kelompok ini terdapat 3 jenis produk (insurance plan),
yaitu:
Term Life Insurance, yaitu asuransi jiwa yang memberikan manfaat atau
santunan jika tertanggung meninggal dunia dalam masa asuransinya atau di
dalam periode kontrak asuransinya.
Cash Value Life Insurance yang juga dikenal sebagai Permanent Life
Insurance, merupakan asuransi jiwa yang memberikan santunan selama
hidup tertanggung dan juga mengandung unsur tabungan/savings element.
Sejak premi dibayar, maka polis ini mengakumulasikan nilai yang dikenal
dengan istilah cash value (nilai tunai) yang secara bertahap akan menjadi
semakin besar seiring dengan besarnya premi yang telah dikumpulkan. Nilai
tunai ini merupakan kekayaan (assets) yang oleh Pemegang Polis dapat
dipergunakan untuk berbagai kebutuhan.
Endowment Insurance, merupakan asuransi jiwa yang memberikan santunan
kepada ahli waris yang ditunjuk jika tertanggung meninggal dunia dalam
masa kontrak asuransinya, atau memberikan sejumlah uang pertanggungan
pada saat tertentu apabila tertanggung masih tetap hidup (survive).

b. Kontrak Annuitas (Annuity Contract)

Produk asuransi ini merupakan kontrak di mana perusahaan asuransi sebagai
pihak penanggung menjanjikan untuk melakukan pembayaran secara periodik
kepada orang yang namanya ditunjuk dalam kontrak, sebagai imbalan atas premi
yang telah diterima oleh perusahaan, baik secara sekaligus ataupun secara
angsuran (installment).

c. Asuransi Kesehatan (Health Insurance)

Kelompok ini merupakan produk asuransi yang memberikan perlindungan
atau proteksi atas risiko hilangnya sumber finansial dikarenakan oleh kondisi
tertanggung yang mengalami suatu penyakit (illness), kecelakaan (accidental
injury) atau karena ketidakmampuan (disability). Dalam kelompok ini terdapat 2
jenis produk, yaitu:
Medical Expense Coverage, yaitu jenis produk yang memberikan santunan
guna membayar biaya perawatan tertanggung yang mengalami suatu
penyakit atau karena kecelakaan.

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

8

Disability Income Coverage, merupakan produk yang memberikan santunan
sebagai pengganti atas hilangnya penghasilan bagi tertanggung sebagai
dampak dari ketidakmampuannya dalam bekerja.

Berdasarkan pada penggolongan asuransi tersebut, kalau kita gambarkan dalam
matriks akan nampak sebagai berikut:

Figure 1.1.

JenisJenis Asuransi Jiwa dan Kesehatan

1

2

3

Term Life Insurance, atau Asuransi Jiwa Berjangka merupakan asuransi
yang akan memberikan santunan jika Tertangung meninggal dalam
masa asuransinya.

Cash Value Life Insurance atau Asuransi Jiwa Nilai Tunai, yang juga
dikenal dengan istilah Permanent Life Insurance, merupakan asuransi
jiwa yang akan memberikan santunan seumur hidup Tertanggung dan
juga mengandung unsur tabungan (saving element), yang nilainya akan
semakin membesar seiring dengan semakin besarnya premi yang
diterima oleh perusahaan / Penanggung.

Endowment Insurance atau dikenal dengan istilah Asuransi Jiwa
Dwiguna,
merupakan asuransi jiwa yang akan memberikan santunan kepada ahli
waris yang ditunjuk jika Tertanggung meninggal dalam masa kontrak
asuransinya, dan jika Tertanggung tetap hidup (survive) pada saat
kontrak asuransinya berakhir, maka kepadanya akan dibayarkan
benefit sebesar uang pertanggungan yang diperjanjikan dalam
polisnya.

Merupakan sebuah perjanjian di mana perusahaan asuransi sebagai
Penanggung menjanjikan untuk membayarkan sejumlah
dana/santunan secara angsuran (installment) dan periodik kepada
orang yang namanya disebutkan di dalam kontrak, selama jangka
waktu tertentu sebagai imbalan
atas premi yang telah diterimanya.

1

2

Medical Expense Coverage, atau Asuransi Cakupan Biaya Kesehatan
merupakan jenis produk asuransi yang akan memberikan santunan
untuk mengganti biaya perawatan atau pengobatan bagi Tertanggung
yang mengalami suatu penyakit atau karena kecelakaan.

Disability Income Coverage merupakan jenis produk asuransi yang akan
memberikan santunan sebagai pengganti penghasilan bagi
Tertanggung yang mengalami ketidak‐mampuan (disability)

Life Insurance

Annuity Contract

Health Insurance

Mengenal Asuransi Jiwa

9

Ketiga jenis produk asuransi dalam matriks itu dapat dipasarkan dalam bentuk
Asuransi Jiwa Perorangan (Individual Insurance Policy) maupun Asuransi Jiwa
Kumpulan (Group Insurance Policy).

B. BentukBentuk Organisasi Bisnis

Di banyak negara di dunia, termasuk di Amerika Serikat dan juga di Indonesia, sebuah
usaha dapat didirikan dalam bentuk sebagai berikut:
a. Sole proprietorship
b. Partnership
c. Corporation

Yang dimaksud dengan sole proprietorship, adalah sebuah usaha yang dimiliki dan
dioperasikan oleh seorang individu (sendirian), misalnya sebuah kios rokok, kios sembako,
warung kopi, warung nasi Tegal, dan sebagainya. Jika usaha ini memperoleh sejumlah
keuntungan, maka pemilik usaha yang bersangkutan berhak atas seluruh keuntungan
yang diperoleh. Demikian pula, jika usaha itu gagal atau memiliki hutang pada pihak lain,
maka pemiliknya bertanggung‐jawab penuh atas kegagalan atau hutang‐hutang yang ada.

Partnership, merupakan usaha yang dimiliki oleh dua orang atau lebih yang
menjalankan usaha secara bersama‐sama sebagai mitra bisnis. Mereka itu secara bersama‐
sama mengoperasikan usaha, berdasarkan sebuah perjanjian yang antara lain mengatur
tentang porsi‐porsi permodalan yang dipergunakan dalam usaha, pembagian keuntungan
yang diperoleh, cara‐cara pengalihan hak kepemilikan usaha, dan sebagainya. Jika salah
seorang diantara mitra usaha tersebut meninggal dunia, maka usaha tersebut dapat terus
dijalankan oleh mitra usaha yang masih hidup, dan selanjutnya kemitraan usaha dapat
dilakukan dengan mitra‐mitra usaha yang baru.

Bentuk yang ke tiga, adalah Corporation, atau kita sebut sebagai Korporasi yang akan
menjadi fokus dalam bahasan kita selanjutnya. Korporasi merupakan sebuah badan
hukum (legal entity) yang didirikan berdasarkan undang‐undang suatu negara, yang
kekayaannya (assets) dipisahkan dari kepemilikan pribadi, atau kepemilikan seseorang
hanya terbatas pada saham yang disertakannya dalam usaha tersebut. Korporasi ini
memiliki karakteristik yang sangat spesifik, berbeda dengan 2 bentuk usaha sebelumnya,
yaitu:

a. Korporasi merupakan badan hukum yang kepemilikannya terpisah jelas dari
pemiliknya (owner), oleh karenanya Korporasi dapat menuntut atau dituntut,
dapat mengadakan kontrak atau perjanjian, dan dapat pula memiliki property.

b. Korporasi tetap dapat terus berjalan meskipun salah seorang atau seluruh
Pemegang Sahamnya meninggal dunia.

Hutang‐hutang yang menjadi tanggung jawab sebuah korporasi, benar‐benar terpisah
dari tanggung jawab pribadi para pemiliknya. Artinya bahwa urusan hutang piutang
korporasi terpisah dari tanggung jawab pribadi orang‐orang yang menjadi owners dari
perusahaan tersebut. Dikarenakan karakteristiknya yang demikian, dan perusahaan
perasuransian membutuhkan jaminan stabilitas yang berjangka panjang, maka beberapa

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

10

negara mempersyaratkan agar perusahaan perasuransian didirikan dalam bentuk
korporasi ini.

1. Bentuk Organisasi Perusahaan Asuransi Jiwa

Meskipun perusahaan‐perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan pada umumnya
berbentuk korporasi (corporation), namun perusahaan‐perusahaan tersebut dapat
secara luwes dalam menjalankan bisnisnya. Di berbagai negara, bentuk perusahan
asuransi jiwa dan kesehatan dapat berupa:
a. Perseroan atau PT (Stock Insurance Companies)
b. Usaha Bersama (Mutual Insurance Companies)
c. Fraternal Benefit Society

Perusahaan Perseroan atau Perseroan Terbatas

Perusahaan Perseroan atau Perseroan Terbatas Asuransi Jiwa atau bentuk‐
bentuk badan hukum yang setara dengan itu, secara teoritis juga disebut Stock
Insurance Companies. Bentuk ini merupakan bentuk yang paling banyak didirikan,
dan dimiliki oleh beberapa orang dan organisasi yang memiliki saham di
dalamnya. Para investor yang membeli/memiliki saham perusahaan itu disebut
sebagai stockholders. Dari waktu ke waktu, bagian/porsi dari keuntungan
perusahaan itu dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividend.

Perusahaan Asuransi Bersama

Perusahaan asuransi bersama yang juga kita kenal sebagai Mutual Insurance
Companies, contohnya di Indonesia adalah Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera
1912 yang merupakan satu‐satunya perusahaan asuransi jiwa bersama yang telah
didirikan sejak tanggal 12 Februari 1912 di Magelang, Jawa Tengah sekaligus
merupakan perusahaan asuransi jiwa dalam negeri (domestik) yang pertama kali
didirikan. Perusahaan asuransi seperti ini dimiliki oleh seluruh Pemegang Polisnya
(Policyholders) sehingga keuntungan perusahaan tersebut dibagikan kepada
para Pemegang Polis dalam bentuk dividend polis (policy dividends).

Sebelum perusahaan bersama ini didirikan, sejumlah polis dipasarkan untuk
mendapatkan dana operasi awal. Dikarenakan masyarakat pada umumnya tidak
percaya pada perusahaan yang belum jelas eksistensinya (keberadaannya) maka
perusahaan asuransi jiwa pada awalnya didirikan dalam bentuk PT yang secara
legal telah diakui, baru kemudian setelah menjadi besar dikonversikan ke bentuk
usaha bersama (mutual company). Proses konversi dari stock company ke mutual
company ini disebut dengan istilah mutualization. Sedangkan proses sebaliknya
yaitu dari mutual company ke stock company disebut demutualization, yang
akhir‐akhir ini banyak dilakukan, dikarenakan untuk memperbesar modal usaha
akan lebih mudah dilakukan dengan menjual saham ke masyarakat (publik).
Demikian pula, sebuah perusahaan perseroan atau PT akan lebih mudah untuk
membeli perusahaan lainnya, misalnya sebuah perusahaan asuransi jiwa ingin
melakukan diversifikasi usaha (business diversification), dalam rangka
memperbesar kelompoknya atau konglomerasinya dengan membuka bisnis‐
bisnis yang lain, misalnya membuka bisnis dalam bidang otomotive, agribisnis,

Mengenal Asuransi Jiwa

11

property, dan lain sebagainya. Tentang hal ini, banyak yang bisa kita lihat contoh‐
contoh nyata di Indonesia. Misalnya: Perusahaan Asuransi Jiwa Bersama (AJB)
Bumiputera 1912, yang telah berkembang sangat pesat menjadi perusahaan
konglomerat, yang memiliki banyak anak perusahaan, antara lain Perusahaan di
bidang Percetakan dan Penerbitan, Perusahaan yang bergerak dalam bidang
Sekuritas, Perkantoran, Teknologi Informasi, Perhotelan, dan Perusahaan
Konstruksi.

Figure 1.2.

Mutualization dan Demutualization

Merupakan proses konversi dari perusahaan yang
semula berbentuk badan hukum stock company
(Perseroan) menjadi mutual company (Perusahaan
Bersama)

Merupakan proses konversi dari perusahaan yang
semula berbebtuk badan hukum/legal sebagai mutual
company         (Perusahaan Bersama) menjadi stock
company (Perseroan)

Fraternal Benefit Societies

Bentuk usaha asuransi jiwa yang satu ini, memang sulit kita terjemahkan
secara harfiah, akan tetapi merupakan organisasi masyarakat yang dibentuk
untuk memberikan santunan kepada para anggotanya seperti layaknya asuransi
jiwa. Para anggota dalam organisasi seperti ini, pada umumnya memiliki etnik,
agama atau kepercayaan, dan latar belakang keahlian yang sama serta kesamaan
karakter yang lain. Namun ada pula organisasi seperti ini yang terbuka untuk
masyarakat umum. Organisasi seperti ini harus dikelola sebagaimana layaknya
sebuah rumah di mana hanya para anggota‐anggota organisasi dan keluarganya
saja yang dapat memiliki “fraternal society’s insurance“. Namun demikian,
dengan semakin tumbuh dan berkembangnya manajemen, maka ada beberapa
organisasi semacam itu yang kemudian membuka pintu bagi masyarakat yang

Mutualization

Stock Company

Mutualization

Mutual Company

Demutualization

Stock Company

Demutualization

Mutual Company

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

12

lebih luas, sehingga memungkinkan orang yang tertarik menjadi anggota menjadi
lebih terbuka.

Dikarenakan oleh berbagai pertimbangan yang stratejik, maka banyak
perusahaan asuransi yang didirikan atau dijalankan dengan mempergunakan
bentuk sebagai perusahaan Perseroan Terbatas (stock insurance companies).
Misalnya saja di Amerika Serikat pada tahun 2003 (berdasarkan data yang
disajikan oleh ACLI, American Council of Life Insurers, tahun 2004) adalah sebagai
berikut:

Bentuk

Portofolio Aktif

Pendapatan Premi

Kekayaan

Perusahaan

(Life Insurance In
force)

(Premium Income)

( Assets )

Mutual Companies

1,852,574.00

69,838.00

634,365.00

Stock Companies

14,910,932.00

416,043.00

3,159,215.00

Fraternal Benefit

280,155.00

7,603.00

82,391.00

Sumber  :  Washington, DC : American Council of Life Insurance, 2004

Semua data keuangan ini adalah dalam hitungan jutaan US.$., dan jika kita
hitung akan tampak bahwa untuk Stock Companies besarnya 82% atau bahkan
lebih, baik ditinjau dari besar portofolio aktifnya, pendapatan premi, maupun dari
segi kekayaan atau assetnya. Sedangkan Fraternal Benefit Society, hanya memiliki
pangsa pasar kurang lebih 2%, dan pangsa pasar selebihnya antara 11% sampai
dengan 16% adalah pasar yang diraih oleh Mutual Companies.

Demikian pula di Indonesia, sejak didirikannya AJB Bumiputera 1912 pada
tahun 1912, tidak pernah ada lagi perusahaan asuransi yang berbentuk mutual
companies meskipun dalam Undang‐Undang Usaha Perasuransian, yaitu Undang‐
Undang Nomor 2 Tahun 1992, bentuk usaha bersama tersebut diperkenankan.

2. Perusahaan Asuransi Jiwa sebagai Organisasi Bisnis Jasa Keuangan

Perusahaan Asuransi Jiwa pada dasarnya juga merupakan lembaga keuangan,
yang dalam sistem perekonomian negara merupakan bagian dari industri jasa
keuangan (financial services industry). Sebagai sebuah lembaga keuangan,
perusahaan asuransi jiwa memiliki kekayaan utamanya dalam bentuk “financial
assets“ misalnya saja saham dan obligasi, ketimbang kekayaan dalam bentuk aktiva
tetap seperti mesin‐mesin (machinery and equipments). Akan tetapi juga tidak dapat
dihindari bahwa sebagai lembaga keuangan yang semakin lama semakin besar dan
modern, perusahaan asuransi jiwa dapat memiliki kekayaan dalam bentuk mesin‐
mesin dan peralatan canggih (sophisticated equipments) yang dipergunakan sebagai

Mengenal Asuransi Jiwa

13

sarana pendukung dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, misalnya komputer,
mobil‐mobil, motor, dan bahkan mungkin sekali pesawat terbang untuk menangani
pemasaran dan kegiatan operasional lainnya seperti investigasi dan pengendalian
daerah operasional yang semakin luas.

Industri jasa keuangan terdiri dari berbagai lembaga keuangan, yang bertujuan
untuk membantu masyarakat, perusahaan/bisnis, dan juga pemerintah, dalam hal
menyimpan, meminjam, menginvestasikan dana, atau kebijakan pengelolaan uang
dalam bentuk yang lain. Singkatnya, lembaga jasa keuangan itu sangat penting bagi
kehidupan masyarakat, misalnya saja untuk menyediakan dana pensiun, memproteksi
kehilangan sumber mata pencaharian dikarenakan oleh ketidak‐mampuan (disability),
meninggal karena kecelakaan, karena wabah penyakit, seperti dikarenakan oleh Flu
Babi (Virus H1N1) yang saat ini sedang menjadi pembicaran masyarakat kedokteran
bahkan juga masyarakat secara global, dan sebagainya.

Lembaga‐lembaga keuangan itu terdiri dari beberapa kelompok, yaitu:

a. Perusahaan Perasuransian yang menyediakan proteksi atas risiko hilangnya
sumber keuangan karena suatu kejadian. Dalam hal ini terdapat 2 (dua) bentuk
utama Perusahaan Asuransi, yaitu :
Perusahaan Asuransi Jiwa dan Kesehatan (Life and Health Insurance
Companies) yang menyediakan serta menjual produk‐produk yang
memproteksi risiko‐risiko personal dari kematian, ketidakmampuan,
penyakit, kecelakaan, dan sejenisnya.
Perusahaan Asuransi Harta Benda (Property or Casualty Insurance
Companies) yang menyediakan proteksi atas rusaknya harta benda dan risiko
dari pihak lain (liability risk), misalnya secara tidak disengaja, seseorang yang
sedang mengendarai mobil menabrak kendaraan orang lain, sehingga ia
harus memberikan ganti rugi.

b. Lembaga Depositori (Depository Institutions) yang merupakan lembaga
penerima tabungan dari masyarakat, perusahaan, dan juga pemerintah serta
menyalurkannya kembali ke masyarakat, bisnis, dan ke lembaga pemerintah.
Lembaga‐lembaga di sini antara lain : bank komersial, lembaga penerima dan
penyalur pinjaman, bank‐bank tabungan, dan juga credit unions, seperti Credit
Union Sejahtera Bersama di Pontianak, Kalimantan Barat yang mulai didirikan
pada pertengahan tahun 2007, dan pada saat ini anggotanya telah berjumlah
sekitar 200 orang.

c. Perusahaan Jasa Keuangan (Finance Companies) yang merupakan suatu lembaga
khusus penyedia dana pinjaman berjangka pendek dan berjangka menengah bagi
masyarakat dan perusahaan saja (tidak menyediakan dana untuk lembaga‐
lembaga pemerintah).

d. Perusahaan Reksadana (Mutual Fund Companies) yang di Indonesia kita kenal
dengan istilah Perusahaan Reksadana, merupakan sebuah sarana bagi para

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

14

Investors untuk mengumpulkan dana investasinya kemudian menggunakan dana
tersebut untuk membeli surat berharga, saham, obligasi atau instrumen
keuangan lainnya untuk menciptakan beragam portofolio investasi yang
diprediksikan akan dapat memberikan hasil yang optimal.
e. Perusahaan Sekuritas (Securities Firms) merupakan perusahaan yang
menjalankan fungsinya untuk memasarkan surat‐surat berharga, baik berupa
saham, obligasi maupun surat berharga dalam bentuk yang lain. Sekuritas ini
merupakan instrumen investasi yang diharapkan akan dapat menghasilkan
yield/interest atau tingkat bunga (dalam istilah syariah dikenal dengan sebutan
“al‐mudharabah“) yang berarti bagi hasil (profit sharing), yang pada dasarnya
baru akan diperhitungkan setelah hasil usahanya diketahui atau direalisir secara
nyata dan jelas.
Lembaga keuangan termasuk Perusahaan Asuransi yang membantu
pemerantaraan transaksi keuangan. Financial intermediaries/Pemerantara Transaksi
Keuangan  merupakan organisasi yang menjembatani transaksi antara masyarakat,
bisnis atau lembaga‐lembaga pemerintah yang memiliki dana berlebih dan tak
tergunakan      (idle funds) untuk disalurkan sebagai pinjaman kepada pihak‐pihak lain
yang memerlukan dana atau pihak peminjam. Dalam proses penyaluran dana
tersebut, pihak Pemerantara Transaksi Keuangannya akan memperoleh transaction
fee.

Perusahaan Asuransi Jiwa juga merupakan Perusahaan Pemerantara
Transaksi Keuangan, karena perusahaan tersebut memperoleh keuntungan dari dana
yang dikumpulkan dari para Pemegang Polis dan kemudian dana tersebut
diinvestasikan dalam bisnis dan industri. Investasi‐investasi yang dilakukan dalam
bisnis ini akan menghasilkan pendapatan untuk pengembangan perusahaannya.

Perusahaan‐perusahaan perasuransian (termasuk asuransi jiwa, asuransi
harta benda, dana pensiun), merupakan lembaga‐lembaga keuangan yang signifikan
bagi sebuah negara. Misalnya di Amerika Serikat pada tahun 2002 menunjukkan data
sebagai berikut :

Figure 1.3

Sumber Dana
di
 Pasar Keuangan Amerika Serikat
Tahun
 2002

Commercial Banks

7,357.00

Private Pension Funds

3,686.00

Mutual Funds

3,635.00

Life Insurance Companies

3,380.00

Money Market Mutual Funds

2,224.00

State & Local Retirement  Funds

1,968.00

Securities Firms

1,359.00

Property / Casual Insurance

912.00

Mengenal Asuransi Jiwa

15

Sumber :  Washington, DC : American Council of Life Insurance, 2003

Kalau kita melihat Figure 1.3, di negara Amerika Serikat yang sudah sedemikian
maju, nampak bahwa bisnis jasa keuangan tidak dapat dilepaskan dari peran usaha
yang tergolong dalam bisnis perasuransian, antara lain Asuransi Jiwa, Asuransi Harta
Benda, dan Dana Pensiun, baik swasta maupun pemerintah. Pension Funds dan
Retirement Funds, merupakan terminologi yang sama dan dapat digunakan secara
bergantian (interchangable).

Industri jasa keuangan mengalami kemajuan yang cukup signifikan dikarenakan
oleh berbagai perubahan lingkungan terutama lingkungan perekonomian yang begitu
dinamis. Secara garis besar, kemajuan industri jasa keuangan ini ditandai oleh
terjadinya konvergensi, konsolidasi dan globalisasi, yang secara singkat dapat
diuraikan sebagai berikut:
Konvergensi. Konvergensi ini merupakan perubahan di mana satu lembaga
keuangan dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat seperti jasa
perbankan, asuransi, dan surat berharga. Perusahaan‐perusahaan jasa keuangan
tersebut dapat memberikan berbagai pelayanan jasa, sehingga boleh dikatakan
perusahaan‐perusahaan tersebut saling melengkapi kebutuhan masyarakat
secara simultan dan memberikan kemudahan bagi kehidupan masyarakat.
Misalnya saja, dahulu perusahaan perbankan hanya diperkenankan menjual
produk perbankan. Oleh karena itu, nasabah dari bank tersebut apabila
menginginkan produk asuransi, harus membeli dari perusahaan asuransi. Dengan
konvergensi tersebut maka kebutuhan masyarakat dapat terlayani secara
sekaligus melalui “one stop shoping system“, di mana nasabah bank juga dapat
membeli produk asuransi di bank tersebut, dengan kata lain perusahaan
perbankan dapat sekaligus menjual produk‐produk asuransi. Dalam hal seperti ini,
sudah barang tentu dilakukan kerjasama atau afiliasi terlebih dahulu diantara
perusahaan‐perusahaan yang melakukan bisnis.

Dengan demikian perbedaan antara satu perusahaan jasa keuangan dengan
jenis perusahaan jasa keuangan lainnya ( misalnya antara sebuah bank dan

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

16

perusahaan asuransi jiwa ) menjadi sangat tipis atau menjadi kabur, dan untuk
bersaing perusahaan‐perusahaan tersebut berusaha dengan sangat kreatif dan
innovatif, dengan mengaplikasikan konsep Q‐C‐F‐I‐D yang secara ringkas dapat
diuraikan sebagai berikut :
Q = Quality. Kulaitas produk dan jasa yang dipasarkan dijadikan sebagai faktor
utama dalam bersaing. Kualitas barang yang dihasilkan ditinjau dari
berbagai aspek diupayakan lebih baik atau bahkan jauh lebih baik dari yang
dihasilkan oleh pesaing. Demikian halnya dengan kualitas pelayanan,
promosi, distribusi, purna jual, dan sebagainya.

C = Cost Efficiency. Efisiensi biaya dilakukan secara menyeluruh dalam berbagai
aspek misalnya dalam biaya perolehan bahan baku (material), biaya tenaga
kerja, biaya proses produksi, dan lain sebagainya. Dalam hal efisiensi biaya
tenaga kerja, bukan berarti harus pelit, akan tetapi secara keseluruhan
diupayakan tetap efisien dan wajar. Dengan demikian diharapkan
perusahaan dapat membuat pricing strategy yang menarik.

F = Flexibility. Dimaksudkan bahwa produk yang dihasilkan oleh perusahaan
dapat dikombinasikan secara luwes dengan produk atau suku cadang yang
lain sehingga produk dapat fleksibel dalam penggunaannya. Contoh yang
nyata dapat kita lihat dalam industri otomotive, misalnya jika kita memiliki
sebuah mobil Toyota Avanza, kita dapat mengganti suku cadangnya
dengan suku cadang Daihatsu Xenia jika kita tidak dapat menemukan suku
cadang Toyota Avanza. Demikian juga sebaliknya, jika kita memiliki Daihatsu
Xenia dan kebetulan sulit menemukan suku cadang Daihatsu Xenia, kita
dapat menggantinya dengan suku cadang Toyota Avanza. Begitu pula
antara mobil Toyota Rush dengan Daihatsu Terios.

I = Innovativeness. Upaya‐upaya perusahaan untuk menemukan jenis‐jenis
produk baru secara lebih inovativif menjadikan perusahaan tersebut dinilai
lebih maju dari pada pesaing‐pesaingnya. Langkah ini dapat menaikkan citra
perusahaan dalam bersaing.

D = Delivery. Ini dimaksudkan agar kualitas penyampaian dan penyerahan
produk (barang dan jasa) menjadi salah satu faktor keberhasilan kunci (key
success factor). Misalnya sebuah Perusahaan Asuransi Jiwa pesaing dapat
menyelesaikan polisnya dalam waktu 5 (lima) hari, maka untuk dapat
memenangkan persaingan, kita harus mampu menyelesaikan dan
menyerahkan polis dalam waktu lebih singkat andaikan saja hanya dalam
waktu 3 (tiga) hari. Sudah barang tentu ketepatan serta kecermatan dalam
proses penyerahan juga harus dipertimbangkan.

Konvergensi seperti ini di Akerika Serikat diformalkan melalui Undang‐
Undang tahun 1999 yaitu undang‐undang yang dinamakan Gramm‐Leach‐Bliley
(GLB) Act atau dikenal sebagai Financial Services Modernization Act. yang
menghilangkan hambatan (barriers) diantara jenis‐jenis usaha tersebut dalam

Mengenal Asuransi Jiwa

17

menjalankan kegiatan operasinya, sehingga perusahaan‐perusahaan itu menjadi
terbuka untuk membentuk sebuah perusahaan induk (holding companies) untuk
jasa‐jasa keuangan. Masing‐masing bisnis tetap berfokus pada satu jenis usaha,
akan tetapi mereka dapat melayani masyarakat secara terintegrasi.

Perusahaan‐perusahaan yang berafiliasi dalam sebuah holding company
dapat saling memasarkan produk‐produk dari perusahaan rekan seinduknya.

Konvergensi ini dapat dilakukan melalui cara : ekspansi usaha, merger atau
melalui akuisisi. Holding companies merupakan suatu bentuk usaha yang memiliki
kendali terhadap beberapa perusahaan lain yang merupakan anak perusahaan
(subsidiary companies). Untuk mempermudah para pembaca memahami
bagaimana hubungan antara perusahaan induk (holding company) dengan anak
perusahaan (subsidiary company), kiranya dapat dilihat dalam diagram berikut:

Figure 1.4.

Skema Perusahaan Induk dan Anak Perusahaan

Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, bahwa faktor kunci keberhasilan
bisnis yang perlu diperhatikan oleh setiap perusahaan untuk memenangkan
persaingan, dapat dilihat dalam matriks sebagai berikut :

Figure 1.5.

Faktor Kunci Keberhasilan Bisnis

Quality

Kualitas produksi barang dan jasa menjadi faktor yang
uatma dalam memenangkan persaingan dalam berbisnis.

Cost Efficency

Efisiensi biaya di setiap langkah, baik dalam pengadaan
bahan baku, perisapan proses produksi, proses produksinya,
biaya tenaga kerja, proses distribsi, promosi, penjualan dsb.

Perusahaan Induk Jasa Keuangan DEF
( DEF Financial Service Holding Company )

Perusahaan Leasing DEF

Perusahaan Sekuritas MNO

Bank GHI

Reksa Dana DEF

Perusahaan Asuransi

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

18

Flexibility

Produk yang dihasilkan termasuk suku cadangnya
diupayakan dapat dikombinasikan dengan produk-produk
lain, baik yang berasal dari satu perusahaan maupun dari
perusahaan lain.

Innovativeness

Innovasi-innovasi untuk menemukan variasi baru merupakan
salah satu faktor yang signifikan dalam berbisnis.

Delivery

Proses penyampaian produk, baik ditinjau dari sudut pandang
waktu maupun ketepatan produknya merupakan faktor yang
tidak dapat dikesampingkan.

Dalam perkembangan bisnis dewasa ini, konvergensi di lembaga keuangan
semakin tumbuh dan berkembang, misalnya saja di Indonesia, Bank BNI yang
semula hanya menyediakan jasa perbankan, kini dapat memasarkan asuransi
kepada para nasabahnya. Contohnya produk Tapenas (Tabungan Pendidikan
Nasional) dipasarkan oleh Bank BNI, dan setiap nasabahnya akan secara otomatis
mendapatkan proteksi (asuransi) yang diberikan oleh PT. Cigna Life Insurance. Ini
berarti bahwa Bank BNI berafiliasi dengan PT. Cigna Life Insurance, sehingga
produk dari perusahaan asuransi PT. Cigna Life Insurance tersebut dapat
dipasarkan oleh Bank BNI. Selain dengan PT. Cigna Life Insurance, Bank BNI juga
bekerjasama dengan PT. Sun Life Financial dan AIG Life, sehingga perusahaan‐
perusahan tersebut dapat saling memperkuat jaringan pemasaran produknya
secara sinergi. Kasus seperti ini pada saat ini semakin banyak terjadi, misalnya
saja sebuah perusahaan leasing, yang semula hanya memasarkan produknya
berupa kendaraan bermotor, kemudian perusahaan leasing itu bekerjasama
dengan perusahaan asuransi kendaraan bermotor, yang selanjutnya perusahaan
itu selain memasarkan produk motor, sekaligus dapat memasarkan produk
asuransi kendaraan bermotor kepada para nasabah yang membeli motor secara
leasing dari perusahaan tersebut. Demikian pula, bank yang semula menyedikan
produk KPR (Kredit Pemilikan Rumah), kini sekaligus dapat memasarkan produk
Asuransi Kreditnya kepada nasabah‐nasabah yang mendapatkan KPR tersebut.

Konsolidasi

Konsolidasi merupakan terminologi yang sering digunakan di lingkungan
industri jasa keuangan, di mana dua atau lebih perusahaan bergabung dan
bekerjasama dalam menjalankan bisnisnya. Wujud dari kerjasama ini bisa merger
ataupun akuisisi. Dalam merger, kekayaan (assets) dan hutang‐hutang (liabilities)

Mengenal Asuransi Jiwa

19

dari masing‐masing perusahaan digabungkan menjadi satu dan terbentuklah satu
perusahaan.

Sedangkan dalam akuisisi, satu perusahaan membeli sebagian dari saham
perusahaan lain, sehingga perusahaan yang membeli saham tersebut akan
memiliki otoritas dan hak untuk mengendalikan (mempunyai controlling
authority) pada perusahaan‐perusahaan yang sahamnya telah dibeli, dan
keberadaan perusahaan tersebut tetap ada (eksis).

Dengan konsolidasi tersebut jumlah perusahaan yang beroperasi akan
menurun, tetapi ukuran perusahaannya akan semakin besar. Di tahun 2008 yang
lalu, di Indonesia juga diterbitkan Peraturan Pemerintah R.I. Nomor 39 yang
mengatur kembali tentang besarnya modal yang harus dipenuhi oleh setiap
perusahaan perasuransian, di mana pada akhir tahun 2008 yang baru lalu, modal
perusahaan harus telah menjadi Rp. 40 milyard, kemudian disusul menjadi Rp. 70
milyard yang harus dicapai pada akhir tahun 2009 mendatang, kemudian di akhir
tahun 2010 harus menjadi Rp. 100 milyard. Ternyata berdasarkan data dari
Lembaga Riset Media Asuransi, terhitung pada tanggal 31 Desember 2007, masih
terdapat 11 perusahaan asuransi jiwa dan 36 perusahaan asuransi kerugian yang
modalnya masih kurang dari Rp. 40 milyar. Hal itu sungguh sangat berat untuk
dipenuhi, apalagi kondisi perekonomian di masa kini yang sangat sulit bagi dunia
bisnis untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, karena untuk tetap
survive pun sudah harus kita syukuri.

Dikarenakan kondisi yang demikian, dan masukan‐masukan yang diberikan
oleh para pelaku dan pakar perasuransian di Indonesia kepada pemerintah, maka
akhirnya Pemerintah R.I. melakukan revisi atas Peraturan tersebut, dengan
memberikan perpanjangan waktu untuk pemenuhan kewajiban modal tersebut
selama 5 tahun. Apakah hal tersebut akan dapat dipenuhi, tergantung dari situasi
perekonomian negara dan juga pertumbuhan bisnis perasuransian.

Globalisasi

Dewasa ini lembaga‐lembaga/perusahaan‐perusahaan jasa keuangan telah
banyak yang beroperasi secara global/internasional, bahkan perusahaan‐
perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan yang besar, baik dari Eropa Timur dan
Amerika Utara seperti Canadian Life and Health Insurer, pada tahun 2002 saja
telah mendapatkan preminya sebesar 58% dari nasabah‐nasabah di luar negerinya
sendiri. Di tahun 1996, perusahaan asuransi jiwa asing yang beroperasi di Amerika
Serikat hanya 4%, dan di tahun 2003 telah mengalami peningkatan yang cukup
signifikan menjadi 11%. Di Indonesia hal ini juga terjadi dalam bidang
perasuransian, baik di bidang asuransi jiwa maupun di bidang asuransi kerugian.
Misalnya saja, perusahaan‐perusahaan asuransi asing yang telah beroperasi di
Indonesia, antara lain Prudential Life Assurance, AXA Life Indonesia, Manulife
Financial, Great Eastern Life Indonesia, Asuransi Allianz Life Indonesia, dan masih
banyak lagi yang lain. Demikian juga di lingkungan perbankan dan usaha lain,
misalnya RBS (Royal Bank of Scotland), HSBC (Hongkong and Shanghai Bank),

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

20

Citibank, American Express, Fed‐Ex (Federal Express) yang bergerak dalam bidang
pengiriman barang dan dokumen (forwarder), J.W. Marriott dan Ritz Carlton
yang bergerak di bidang perhotelan, beberapa perusahaan asing yang menjual
franchise kepada para investor dalam negeri antara lain KFC (Kentucky Fried
Chicken), CFC (California Fried Chicken) dan A.W. Root Beer yang merupakan
pengusaha makanan, seperti ayam dan kentang goreng, dan softdrink, dan lain
sebagainya.

Dengan berdirinya usaha‐usaha asing tersebut, sebenarnya merupakan
keuntungan bagi kedua negara, baik Indonesia maupun negara Investornya. Bagi
Indonesia, antara lain terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat. Dan bagi para
Investornya sudah barang tentu keuntungan yang cukup besar, karena
terbukanya pasar bagi produknya yang semakin luas, terlebih lagi sejak
disepakatinya perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement), yang
memberikan kesempatan kepada negara‐negara yang telah siap untuk
melakukan perdagangan lintas batas (Cross Border Supply). Sedangkan bagi
negara‐negara di mana para investor itu berasal, keuntungannya adalah
diperolehnya pajak penghasilan dari usaha‐usaha yang dijalankan di negara lain.
Selain itu, masyarakat di Indonesia terutama yang berpendidikan dan
berpenghasilan cukup tinggi lebih percaya kepada lembaga‐lembaga asing,
meskipun lembaga‐lembaga di dalam negeri kita sudah banyak yang telah
dikelola secara professional dan dapat dipercaya.

3. Peran Pemerintah dalam Bidang Perasuransian

Perusahaan Perasuransian berfungsi untuk memberikan perlindungan kepada
masyarakat luas terhadap hilangnya sumber penghasilan (economic loss) serta
menawarkan kesempatan untuk menabung dan menginvestasikan uangnya. Oleh
karena itu, kesehatan keuangan perusahaan perasuransian sangatlah penting dan
kredibilitasnya sangat dipertaruhkan. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka
pemerintah mempunyai peran yang sangat penting untuk mengatur usaha‐usaha
perasuransian.

Tujuan utama diaturnya usaha perasuransian itu adalah:
a. Untuk memelihara tingkat solvency perusahaan, yaitu kemampuan finansial
perusahaan agar tetap mampu memenuhi kewajiban finansialnya, membayar
hutang serta membayar manfaat asuransi pada saat jatuh temponya.
b. Agar perusahaan mampu melaksanakan kegiatan bisnisnya secara adil dan
santun (fair and etical).

Di beberapa negara seperti di Kanada dan Amerika Serikat, Peraturan‐peraturan
yang mengatur tentang usaha perasuransian dibuat secara desentralisasi, ada Aturan
Nasional (Federal Regulation) dan ada Aturan Lokal (State Regulation/ Provincial
Regulation). Jika digambarkan di Indonesia, hal ini seolah‐olah dibuat sebagai
Peraturan Negara, misalnya dalam bentuk Undang‐Undang, dan setiap  provinsi juga
membuat peraturan masing‐masing seperti Peraturan Daerah atau PERDA atau

Mengenal Asuransi Jiwa

21

Peraturan Provinsi, di mana masing‐masing daerah itu mempunyai kepentingan yang
berbeda‐beda.

Di India, usaha perasuransian ini diatur melalui peraturan yang diterbitkan oleh
Insurance Regulatory and Development Authority (IRDA). Sedangkan di negara kita,
usaha perasuransian ini diatur melalui perundang‐undangan dan peraturan
pelaksanaannya. Pada saat ini, Undang‐undang yang diberlakukan untuk mengatur
usaha perasuransian adalah Undang‐Undang Nomor 2 Tahun 1992, yang mengatur
tentang Usaha Perasuransian. Selain Undang‐Undang Usaha Perasuransian yang
mengatur tentang usaha yang berorientasi bisnis ini, juga diterbitkan Undang‐Undang
Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) dan Undang‐
Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Khusus mengenai substansi dari
Undang‐Undang ini akan dibahas tersendiri dalam bab khusus, termasuk membahas
berbagai Peraturan Menteri Keuangan yang terkait dengan Undang‐Undang tersebut.

Dalam kontrak asuransi jiwa, disebutkan bahwa kontrak yang dilakukannya yaitu
antara Penanggung (Perusahaan asuransi) dengan Pemegang Polis. Pemegang polis
adalah orang atau badan hukum yang mengadakan penjanjian tersebut. Sedangkan
Tertanggung adalah orang atas jiwanya diadakan pertanggungan, artinya secara
individu Tertanggung dapat menjadi atau dalam kedudukan sebagai Pemegang polis.
Adapun yang dimaksud Penanggung adalah Badan usaha perusahaan asuransi itu
sendiri, jadi bukan dalam bentuk perorangan atau individu.

Berdasarkan pasal 20 dari Ordonantie op het Levenvensverzekerings bedrijf
tanggal 15 April 1941 yang diundangkan di dalam Stb. 1941 – 101 mulai berlaku pada
tanggal 1 Mei 1941, ditetapkan bahwa perusahaan asuransi jiwa harus berbentuk
badan usaha sebagai berikut;
1. Perseroan Terbatas (PT);
2. Maskapai Saling Menanggung (orderlingen‐maatschappij);
3. Maskapai Indonesia Atas Saham (Indonesche Maatschappij op Aandeelen).

Dengan keluarnya surat keputusan Menteri Keuangan RI No: Kep.‐
168/MK/IV/2/1974 tanggal 8 Februari 1974 tentang perizinan usaha perusahaan
asuransi di Indonesia, pada pasal 2, menyebutkan “Perusahaan‐perusahaan asuransi
jiwa yang didirikan setelah SK ini ditetapkan,  hanya diizinkan dengan bentuk badan
hukum Perseroan Terbatas”.

Berdasarkan UU No. 2 tahun 1992 tanggal 11 Februari 1992 pasal 7 ayat 1 Bab VI
tentang Bentuk Hukum Usaha Perasuransian, menyebutkan bahwa usaha
perasuransian hanya dapat dilakukan oleh badan hukum yang berbentuk:
a. Perusahaan Perseroan (Persero);
b. Koperasi;
c. Perseroan Terbatas (PT); dan
d. Usaha Bersama (Mutual).

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

22

Khusus badan hukum atau perusahaan asuransi yang didirikan dalam bentuk
badan hukum usaha bersama (mutual), akan diatur lebih lanjut dalam undang‐undang
tersendiri.

Agar operasional usaha perasuransi berjalan dengan benar, maka Menteri RI
memiliki kewajiban untuk membina dan pengawasinya, sesuai yang diatur dalam Bab‐
IX pasal 10‐19 antara lain: Pembinaan dan pengawasan usaha perasuransian meliputi:
(a) Kesehatan keuangan yang terdiri dari: Batas tingkat solvabilitas; Retensi
sendiri; Reasuransi; Investasi; Cadangan teknis; dan Ketentuan‐ketentuan lain
yang berhubungan dengan kesehatan keuangan;
(b) Penyelenggaraan usaha, yang terdiri dari: Syarat‐syarat polis asuransi; Tingkat
premi; Penyelesaian klaim; Persyaratan keahlian di bidang perasuransian; dan
Ketentuan‐ketentuan lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan
usaha.

Adapun kewenangan Menteri adalah diatur dalam Bab‐X tentang Kepailitan dan
Likuidasi serta Bab‐XI tentang ketentuan Pidana, yaitu dengan tidak mengurangi
berlakunya ketentuan dalam Peraturan Kepailitan, dalam hal terdapat pencabutan
izin usaha, maka Menteri berdasarkan kepentingan umum dapat memintakan kepada
Pengadilan agar perusahaan yang bersangkutan dinyatakan pailit. Pasal 18 Bab‐IX
menyatakan dengan tegas Menteri memiliki kewenangan untuk mencabut izin usaha
perusahaan.

1. Peraturan Pemerinatah (PP) No. 81 tahun 2008
PP Nomor: 81 Tahun 2008 tanggal 31 Desember 2008 sebagai perubahan ke
tiga atas PP No. 73 Tahun 1992 tanggal 30 Oktober 1992, sedangkan perubahan
pertama diubah dengan PP No. 63 Tahun 1999 tanggal 2 Juli 1999 dan  perubahan
kedua dengan PP Nomor: 39 Tahun 2008 tanggal 19 Mei 2008.

PP ini lebih banyak mengatur tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian
yaitu mengatur tentang: Ketentuan umumnya; Penutupan obyek asuransi,
Perizinan usaha perasuransian; Kepemilikan perusahaan perasuransian;
Kesehatan keuangan; Penyelenggaraan usaha; Penyelenggaraan program
asuransi sosial; Merger dan konsolidasi; Saksi; Ketentuan peralihan; dan
Ketentuan penutup.

Perubahan pertama dengan PP No. 63 hanya menegaskan perubahan pada
persyaratan modal disetor bagi pendirian perusahaan asuransi atau reasuransi.
Penambahan bab tersendiri tentang Kepemilikan perusahaan perasuransian serta
menegaskan masalah ketentuan sanksi termasuk sanksi administratif.

Perubahan kedua dengan PP No. 38 tidak ada penambahan bab tersendiri,
akan tetapi lebih banyak menambahkan ketentuan baru seperti pembukaan
Perusahaan Asuransi Syariah dan atau dalam bentuk Cabang atau Unit;
Ketentuan modal disetor untuk perusahaan penunjang serta adanya pentahapan
kepemilikan modal sendiri sampai dengan tahun 2010; Masalah dana jaminan

Mengenal Asuransi Jiwa

23

yang merupakan jaminan terakhir dalam rangka melindungi kepentingan
pemegang polis; Masalah sanksi administratif bukan saja dikenakan terhadap
perusahaan asuransi dan reasuransi akan tetapi termasuk perusahaan penunjang.

2. Keputusan Menteri Keuangan (KMK) atau Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
o Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 78/PMK.05/2007 tangal, 31 Juli 2007
merupakan penyempurnaan dan mengganti Keputusan Menteri No.
421/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003. PMK ini mengatur tentang
Penilaian Kemampuan dan Kepatuhan bagi Direksi dan Komisaris Perusahaan
Perasuransian, yang mengatur tentang: Maksud dari PMK ini yang diatur
dalam Ketentuan umum; Kewajiban memenuhi persyaratan kemampuan dan
kepatuhan; faktor penilaian; Tahapan penilaian; Komite evaluasi; Prosedur
penilaian; Hasil penilaian dan tindak lanjut; Kerahasiaan; Ketentuan peralihan;
dan Ketentuan penutup.

Adapun Pedoman penilaian kemampuan dan kepatuhan bagi direksi dan
komisaris perusahaan perasuransian diatur dalam peraturan Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam‐LK) No: PER‐
04/BL/2009 tanggal 24 April 2009. Peraturan ini merupakan perbaikan dari
peraturan sebelumnya yaitu No: PER‐03/BL/2009.

o Kepmen No. 422/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003, tentang
Penyelenggaraan usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.
Kepmen ini sebagai penyesuaian secara menyeluruh terhadap Kepmen No.
225/KMK.017/1993 tanggal 26 Pebruari 1993. Adapun Kepmen ini mengatur
tentang: Maksud dari Kepmen ini yang diatur dalam Ketentuan umum;
Produk asuransi baru; Polis; Premi; Penghentian pertanggungan; Reasuransi;
Pengalihan portofolio pertanggungan; Penyelesaian klaim; Pelaporan; Denda
administratif; Ketentuan peralihan; dan Ketentuan penutup.

Khusus tentang produk Unit‐link diatur berdasarkan Keputusan Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. Kep‐104/BL/2006
tanggal, 31 Oktober 2006.

o Kepmen No. 423/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003, tentang
Pemeriksaan Perusahaan Perasuransian, yang mengatur tentang: Maksud
dari Kepmen ini yang diatur dalam Ketentuan umum; Fungsi, dasar dan
rencana pemeriksaan; Tata cara pemeriksaan; Tahapan pemeriksaan;
Pembahasan laporan hasil pemeriksaan; Sanksi; dan Penutup.

o Kepmen No. 424/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003, tentang
Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.
Kepmen ini sebagai penyesuaian secara menyeluruh terhadap Kepmen No.
481/KMK.017/1993 tanggal 7 Oktober 1999. Khusus tentang peraturan
pelaksanaan dari kepmen No. 481 tetap berlaku sepanjang tidak
bertentangan dengan kepmen No. 424 (baru).

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

24

Ketentuan Kepmen ini mengatur tentang: Maksud dari Kepmen ini yang
diatur dalam Ketentuan umum; Tingkat solvabilitas; Kekayaan yang
diperkenankan; Kewajiban; Perimbangan kekayaan dan kewajiban; Retensi
sendiri; Deposito jaminan; Larangan; Ketentuan peralihan dan Ketentuan
penutup.

Kepmen ini sangat menekankan mengenai batas tingkat solvabilitas yang
wajib dipenuhi sampai tenggat waktu akhir tahun 2004 sebesar 120% dari
batas tingkat solvabilitas minimum.

Kepmen No. 424 ini dilakukan perubahan beberapa pasal menjadi kelompok
pasal‐I yaitu pasal 11, 13,14, 16,17, dan 21 dan pasal‐II yang diatur dengan PMK
No. 135/PMK.05/2005 tanggal 27 Desember 2005.

Kepmen ini telah ditindaklanjuti dengan beberapa keputusan‐keputusan
antara lain:
Keputusan DLK No. 6096/LK/2001 tanggal 28 Desember 2001 sebagai
perubahan atas Keputusan DLK No. 5314/LK/1999 tanggal 31 Desember
1999, tentang Pedoman Perhitungan Batas Tingkat Solvabilitas (BTS)
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

Ketentuan tentang pedoman perhitungan BTS minimum bagi
perusahaan asuransi dan reasuransi yang baru dan diberlakukan saat ini
adalah ketentuan yang diatur dalam Keputusan Dirjen LK No: Kep‐
3607/LK/2004 tanggal 19 Agustus 2004.

Keputusan DLK No. 6097/DL/2001, tanggal 28 Desember 2001 tentang
Perubahan atas Keputusan DLK No. 1297/LK/2000 tanggal 23 Maret 2000,
tentang Retensi Sendiri Perusahaan Asuransi dan Perusahaan
Reasuransi.

Mengenai dukungan reasuransi otomatis dalam negeri dan retensi
sendiri mengacu pada keputusan Dirjen LK No: Kep‐5443/LK/2004
tanggal 25 Oktober 2004, Keputusan ini adalah penyempurnaan dari
keputusan Dirjen LK No: Kep‐2149/LK/2004.

Keputusan DLK No. 6098/LK/2001 tanggal 28 Desember 2001 tentang
perubahan kedua atas keputusan DLK No. 5289/LK/1993 tentang Bentuk
dan Susunan Laporan serta Pengumuman Laporan Keuangan
Perusahaan Perasuransian.

o Kepmen No. 425/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003, tentang
Perizinan dan Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Perusahaan Penunjang
Usaha Asuransi. Kepmen ini sebagai penyesuaian secara menyeluruh
terhadap Kepmen No. 226/KMK.017/1993 tanggal 26 Pebruari 1993. Adapun

Mengenal Asuransi Jiwa

25

hal‐hal yang diatur dalam kepmen ini adalah: Maksud dari Kepmen ini yang
diatur dalam Ketentuan umum; Izin usaha; Persyaratan umum; Laporan
perubahan; Penggabungan badan usaha; Penyelenggaraan usaha; Laporan
operasional dan keuangan; Ketentuan lain; Ketentuan peralihan; dan
Ketentuan penutup.

o Kepmen No. 426/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003, tentang
Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan
Rasuransi. Kepmen ini sebagai penyesuaian secara menyeluruh terhadap
Kepmen No. 223/KMK.017/1993 tanggal 26 Pebruari 1993. Adapun hal‐hal
yang diatur dalam kepmen ini adalah: Maksud dari Kepmen ini yang diatur
dalam Ketentuan umum; Izin usaha; Kelembagaan; Kantor Cabang dan
Kantor pemasaran; Pemasaran melalui jasa Agen dan melalui kerjasama
dengan pihak Bank; Laporan perubahan; Merger, konsolidasi, dan akuisisi;
Ketentuan lain‐lain; Ketentuan peralihan; dan Ketentuan penutup.

o Kepmen No. 45/KMK.06/2003 tanggal 30 Januari 2003 tentang Penerapan
Prinsip Mengenal Nasabah bagi Lembaga Keuangan Non‐Bank (LKNB). Untuk
Perbankan sesuai Peraturan BI No. 3/10/PBI 2001 tanggal 18 Juni 2001 yang
selanjutnya diperbaiki dengan No. 3/23/PBI/2001 tanggal 13 Desember 2001.
Demikian juga pada Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) sesuai
Keputusan Ketua Bapepam No. Kep‐02/PM/2003 tanggal 15 Januari 2003.

Sebagai penyempurnaan dari Kepmen No’ 45 diatas, terbitlah
Peraturan Menkeu No: 74/PMK.012/2006 tanggal, 31 Agustus 2006, yang
mengatur tentang: Maksud dari PMK ini yang diatur dalam Ketentuan umum;
Prinsip mengenal nasabah; Pelaksana dan fasilitas pendukung; Pemeriksaan
ketaatan; Sanksi; Ketentuan peralihan; dan Ketentuan penutup.

Diterbitkannya berbagai peraturan negara tersebut, terutama adalah bertujuan
agar perusahaan‐perusahaan asuransi di Indonesia dapat memelihara solvency‐nya
serta mampu menjalankan bisnisnya secara adil dan santun, serta dapat
dipertanggung‐jawabkan secara legal.

4. PerusahaanPeruahaan Asuransi Jiwa Di Indonesia

Perusahaan Asuransi Jiwa di Indonesia, berdasarkan data tahun 2008, terdapat 2
kelompok, yaitu perusahaan lokal atau domestik, dan perusahan patungan (joint
venture company). Menyimak banyaknya perusahaan asing yang beroperasi di negeri
kita, dapat disimpulkan bahwa pangsa pasar di Indonesia ini masih cukup luas karena
tidak mungkin ada perusahaan asing yang bersedia masuk ke Indonesia kalau pangsa
pasarnya tidak ada, atau ada tetapi dinilai tidak signifikan untuk digeluti. Sebelum
masuk ke negara kita, sudah pasti mereka melakukan studi kelayakan (feasibility
study) terlebih dahulu.

Perusahaan‐Perusahaan Asuransi Jiwa yang telah beroperasi di Indonesia pada
akhir tahun 2009, berdasarkan laporan dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia adalah:

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

26

1. Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912
2. PT. ACE Life Insurance (d/h Bumiarta Reksatama Jiwa)
3. PT. AIA Financial
4. PT. Anugrah Life Insurance
5. PT. Avrist Assurance (d/h PT. Asuransi AIA Indonesia)
6. PT. Asuransi Allianz Life Indonesia
7. PT. Asuransi Cigna
8. PT. Asuransi CIMB Sun Life (d/h John Hancock)
9. PT. Asuransi Mayapada Life (d/h Century Indoperdana Life)
10. PT. Asuransi Multicor Life (d/h Indatamporok Life)
11. PT. Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha
12. PT. Asuransi Jiwa Bakrie
13. PT. Asuransi Jiwa Bringin Jiwa Sejahtera
14. PT. Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya
15. PT. Asuransi Jiwa Central Asia Raya
16. PT. Asuransi Jiwa Generali Indonesia ( d/h AMP Life)
17. PT. Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia
18. PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
19. PT. Asuransi Jiwa Mega Life
20. PT. Asuransi Jiwa Kresnalife (d/h Mira Life)
21. PT. Asuransi Jiwa Nusantara (d/h Askrida Jiwa)
22. PT. Asuransi Jiwa Recapital (d/h Indrapura Jiwa)
23. PT. Asuransi Jiwa Sequis Financial (d/h MetLife)
24. PT. Asuransi Jiwa Sequis Life
25. PT. Asuransi Jiwa Sinarmas (d/h Eka Life)
26. PT. Asuransi Jiwa Tugu Mandiri
27. PT. Asuransi Jiwasraya (Persero)
28. PT. Asuransi Syari’ah Mubarokah
29. PT. Asuransi Takaful Keluarga
30. PT. Asuransi Winterthur Life Indonesia (d/h Credit Suisse Life)
31. PT. Axa Financial Indonesia (d/h MLC Life)
32. PT. AXA Life Indonesia
33. PT. Axa Mandiri Financial Services
34. PT. BNI Life Insurance
35. PT. Commerce Internsional
36. PT. Commonwealth Life (d/h Astra CMG Life)
37. PT. Equity Life Indonesia
38. PT. Great Eastern Life Indonesia
39. PT. Heksa Eka Life Insurance
40. PT. Indolife Pensiontama
41. PT. MAA Life Assurance
42. PT. Panin Life Tbk.
43. PT. Pasaraya Life Insurance
44. PT. Prudential Life Assurance
45. PT. Sun Life Financial Indonesia
46. PT. UOB Life ‐ Sun Assurance

Mengenal Asuransi Jiwa

27

Berdasarkan daftar Perusahaan‐Perusahaan Asuransi Jiwa di Indonesia tersebut
di atas, terdapat 47 perusahaan Asuransi Jiwa, 46 perusahaan diantaranya berbentuk
badan hukum Perseroan Terbatas, sedangkan 1 perusahaan berbentuk “Usaha
Bersama“ atau “Mutual Company“ yaitu Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 yang
biasanya disebut AJB Bumiputera 1912.

C. Distribusi bancassurance

Dalam buku Bancassurance=Bank+Asuransi (Ketut Sendra, 2007:1‐20) menyebutkan
bahwa bancassurance merupakan aktivitas kemitraan antara perusahaan asuransi dengan
bank untuk mendistribusikan produk‐produk asuransi melalui jasa bank. Bancassurance
bukan merupakan kegiatan usaha perusahaan penunjang usaha asuransi atau suatu unit
usaha perasuransian, maka pengadaan produk‐produk asuransi yang dipasarkan melalui
bank harus mengacu pada ketentuan atau regulasi yang mengatur tentang produk dan
saluran distribusi, artinya harus memenuhi kesehatan sesuai ketentuan regulasi yang
mengaturnya dan kesehatan perusahaan secara internal.

Secara umum terdapat pada pengaturan jenis kegiatan usaha yang dapat dilakukan
oleh pihak bank sesuai Undang‐undang (UU) No. 10 tahun 1998 tentang perbankan, yaitu
pasal 10‐b: Bank umum dilarang melakukan usaha perasuransian, sedangkan pada UU no. 2
tahun 1992 tentang usaha perasuransian, pasal 3: a. Usaha asuransi (asuransi kerugian,
asuransi jiwa dan reasuransi), b. Usaha penunjang asuransi (pialang asuransi, pialang
reasuransi, peniali kerugian asuransi, konsultan aktuaria dan agen asuransi). Pasal 5: Usaha
penunjang usaha asuransi sebagaimana dimaksud dalam pasal 3‐b hanya dapat dilakukan
oleh perusahaan perasuransian.

1. Regulasi bancassurance dalam UU Usaha Perasuransian

Kesehatan berdasarkan regulasi, artinya perusahaan asuransi yang memasarkan
produk asuransi melalui saluran distribusi bank harus memenuhi regulasi yang
mengatur tentang produk asuransi untuk disalurkan melalui distribusi perbankan,
yaitu:

a. Peraturan Pemerintah (PP) No. 63 tahun 1999, pasal 18 yang mengatur tentang:
1. Perusahaan asuransi yang akan memasarkan program asuransi baru harus
terlebih dahulu memberitahukan rencana tersebut kepada Menteri Keuangan
2. Pemberitahuan mengenai rencana memasarkan program asuransi baru
sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 harus dilengkapi dengan spesifikasi
program asuransi yang akan dipasarkan berikut program reasuransinya serta
bukti‐bukti pendukungnya.
3. Apabila dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak pemberitahuan diterima
secara lengkap Menteri tidak memberikan tanggapan, Perusahaan asuransi
dapat memasarkan program asuransi dimaksud.
4. Program asuransi sebagaimana dimaksud dalam rencana ayat 2 harus
memenuhi ketentuan dalam pasal 19 dan pasal 20 peraturan pemerintah
nomor 73 tahun 1992

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

28

5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberitahuan rencana memasarkan
program asuransi baru sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 diatur dengan
keputusan menteri.

b. PP No. 73 tahun 1992, yang mengatur tentang Penyelenggaraan Usaha
Perasuransian, Pasal 19  menyebutkan:
1. Polis atau bentuk perjanjian asuransi dengan nama apapun, berikut
lampiran yang merupakan satu kesatuan dengannya, tidak boleh
mengandung kata, kata‐kata atau kalimat yang dapat  menimbulkan
penafsiran yang berbeda mengenai risiko yang ditutup asuransinya,
kewajiban penanggung dan kewajiban tertanggung, atau mempersulit
tertanggung mengurus haknya.
2. Dalam polis atau dokumen yang merupakan kesatuan dengannya, harus
dimuat rincian mengenai bagian premi yang diteruskan kepada perusahaan
asuransi dan bagian premi yang dibayarkan kepada perusahaan pialang
asuransi.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai ayat 1 ditetapkan oleh Menteri.

c. Menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 426/KMK. 06/2003, tertanggal
30 September 2003 tentang Perizinan usaha dan kelembagaan perusahaan
asuransi dan perusahaan reasuransi, Bab‐V:
Bagian Pertama tentang Pemasaran melalui jasa agen, ayat (3) menyebutkan
bahwa: dalam hal perusahaan asuransi menggunakan jasa pemasaran selain
agen asuransi sebagimana dimaksud dalam ayat (1) yaitu perusahaan asuransi
wajib memiliki perjanjian keagenan dengan agen asuransi yang memasarkan
produk asuransinya, maka perusahaan asuransi tersebut bertanggung jawab
penuh terhadap konsekuensi yang timbul dari penutupan asuransi dimaksud.

Bagian Kedua tentang Pemasaran Melalui Kerjasama dengan Bank, KMK 426,
antara lain:

1. Pasal 39:

(1). Perusahaan Asuransi dapat melakukan pemasaran melalui kerjasama
dengan bank (bancassurance).

(2). Perusahaan asuransi dapat melakukan pemasaran melalui kerjasama
dengan bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertanggung
jawab atas semua tindakan bank yang berkaitan dengan transaksi
asuransi yang dipasarkan melalui kerjasama dengan bank dimaksud.

2. Pasal 40:

(1). Perusahaan asuransi yang akan melakukan pemasaran melalui
kerjasama dengan bank harus memperoleh persetujuan Menteri.

(2). Untuk memperoleh persetujuan Menteri, Perusahaan asuransi yang
akan melakukan pemasaran melalui kerjasama dengan bank harus

Mengenal Asuransi Jiwa

29

mengajukan permohonan kepada Menteri dengan menyampaikan: a.
produk yang akan dipasarkan; b. prosedur penutupan dan
pembayaran premi; c. prosedur penyelesaian klaim; dan d. konsep
perjanjian kerjasama dengan bank yang telah diparaf oleh para pihak.

(3). Perugas bank yang akan melakukan pemasaran produk asuransi harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. memiliki sertifikasi keagenan
asuransi yang dikeluarkan oleh asosiasi terkait; dan b. telah
memperoleh pelatihan mengenai produk asuransi yang akan
dipasarkan.

(4). Perusahaan asuransi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib
menyampaikan perjanjian kerjasama dengan pihak bank yang telah
ditandatangani, paling lambat 14 (empat belas) hari sejak memperoleh
persetujuan Menteri.

Selain perusahaan asuransi dapat memenuhi persyaratan tersebut di
atas, perusahaan asuransi harus sehat secara korporat, artinya sehat secara
internal dalam arti korporat atau perusahaan, minimal sebagai perusahaan
dapat memenuhi atau memiliki tingkat sovabilitas yang memadai, artinya
tingkat risk based capital (RBC) telah dipenuhi sesuai ketentuan tentang
Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang
diatur dalam KMK No. 424/KMK.06/2003.

2. Regulasi bancassurance dalam UU atau peraturan perbankan

Peran dari dunia perbankan untuk turut serta dalam memasarkan produk
asuransi bukanlah merupakan praktek baru. Bermula dari kesuksesan penerapan
bancassurance di Prancis, Kolaborasi komersial antara perusahaan asuransi dengan
bank dalam menjual produk asuransi ini menjadi sangat berkembang di Eropa dan
juga di banyak negara di Asia. Artinya, berdasarkan alasan komersial bancassurance
sangat membantu perusahaan asuransi dan bank dalam meningkatkan
penghasilannya masing‐masing.

Sama seperti praktek sebelumnya di beberapa negara, keterlibatan bank dalam
memasarkan produk non perbankan ini, tidak diperbolehkan, karena produk
pertanggungan memang telah dialokasikan sebagai produk usaha perasuransian.
Akan tetapi, ketika masyarakat internasional semakin menyadari jangkauan pasar
yang begitu kuat setelah menggabungkan kekuatan pasar asuransi dan bank, maka
ramai‐ramailah perusahaan asuransi mencari mitra bank termasuk juga melakukan
akusisi pada bank‐bank yang akan dibuat menjadi saluran distribusi produk
bancassurance tersebut.

Menyadari fakta positif dari bancassurance tersebut banyak negara yang
kemudian mencabut larangan tersebut diatas. Contohnya di Amerika  Serikat, telah di
berlakukan Billey Act of 1999  seperti juga India yang memberlakuan IRDA Bill tahun

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

30

2000 yang telah memperbolehkan kolaborasi pemasaran antara bank dan perusahaan
asuransi ini.

Memang, di Indonesia sampai saat ini keberadaan bancassurance masih belum
diatur secara hukum. Dalam pasal 10 (b) UU. Perbankan memang dengan tegas diatur
bahwa bank tidak diperbolehkan melakukan usaha perasuransian. Akan tetapi dalam
Bancassurance pihak bank bukanlah sebagai pihak yang memproduksi jasa
pertanggungan tersebut dan kemudian menjualnya kepada para konsumen atau
nasabahnya, akan tetapi hanya sebagai alat ataupun agen yang merupakan
perpanjangan tangan dari perusahaan asuransi kepada calon tertanggung potensi
yang memang  ada dalam  jangkauan pasar bank tersebut, dan terhadap konsekuensi
produk yang dijual tersebut bukanlah merupakan kewajiban dari bank untuk
memenuhinya, akan tetapi perusahaan asuransi yang menjadi mitra bank dalam
perjanjian bancassurance tersebut.

Sebenarnya, aktivitas “mengageni” produk untuk dijual kepada nasabah bank,
bukan hanya terlihat dalam bancassurance, akan tetapi juga dalam penggunaan Bank
sebagai alat penjualan produk‐produk yang dikemas bersamaan dengan peluncuran
produk‐produk perbankan tersebut, seperti misalnya reksa dana, dan lain‐lain. Oleh
karena itu, langkah Bank untuk menjadi saluran distribusi (channel distribution)
produk asuransi seharusnya tidak mendapat larangan, karena secara komersial
mampu meningkatkan kinerja dan pencapaian keuntungan dari kedua pelaku
lembaga keuangan tersebut.

Akan tetapi, walaupun secara komersial keberadaan bancassurance tersebut
memang dibutuhkan dan juga tidak dilarang, sebaiknya peraturan yang mengatur
tata cara pelaksanaan bancassurance tersebut dalam UU Pokok perbankan dan UU
Usaha perasuransian haruslah merupakan agenda yang mutlak dan segera agar hak
dan kewajiban dari seluruh pihak yang terlibat dalam bancassurance ini dapat secara
jelas dan tegas terlindungi.

Dengan kondisi di atas, Pemerintah melalui Bank Indonesia sebagai pengawas
dan pembina perbankan telah menerbitkan perangkat regulasinya yaitu melalui Surat
Edaran No: 6/43/DPNP tertanggal, 7 Oktober 2004 perihal: “Penerapan Manajemen
Risiko pada Bank yang Melakukan Kerjasama Pemasaran dengan Perusahaan Asuransi
(Bancassurance)”, yang ditujukan kepada Semua Bank Umum di Indonesia. SE ini
dikeluarkan oleh BI agar sejalan dengan Keputusan Menteri Keuangan No.
426/KMK.06/2003 tertanggal 30 September 2003 tentang Perizinan Usaha dan
Kelembagaan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi serta sebagai
pelaksanaan lebih lanjut dari Peraturan BI No. 5/8/PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003
tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum (Lembaran Negara RI tahun
2003 No. 56, Tambahan Lembaran Negara RI No. 4292). Ketentuan ini diterbitkan
dalam rangka mendukung perkembangan pasar keuangan, meningkatkan penerapan
manajemen risiko oleh bank dan melindungi kepentingan nasabah bank. Demikian
juga sehubungan dengan semakin berkembangnya kegiatan pemasaran perusahaan
asuransi melalui kerjasama dengan bank (bancassurance), maka disadari bahwa

Mengenal Asuransi Jiwa

31

kegiatan tersebut selain memberikan manfaat juga berpotensi menimbulkan berbagai
risiko bagi bank, terutama risiko hukum dan risiko reputasi.

Bagian I (Umum) point 1, menyebutkan bahwa kerjasama pemasaran antara Bank
dengan perusahaan asuransi (bancassurance) dapat dilakukan melalui:
a. Perjanjian pemasaran (distribution agreement) yaitu kesepakatan Bank
dengan perusahaan asuransi untuk memasarkan asuransi kepada nasabah
yang dapat dilakukan oleh Bank melalui penawaran secara tatap muka (direct
marketing), mengunakan sarana komunikasi (telemarketing), atau melalui
pengiriman surat kepada nasabah (direct mailing).
b. Perjanjian aliansi strategis (strategic alliance agreement) yaitu kesepakatan
Bank dengan perusahaan asuransi untuk memasarkan asuransi dengan cara:
(i) memodifikasi asuransi dengan produk Bank untuk memenuhi kebutuhan
nasabah atau (ii) melalui penggunaan saluran pemasaran termasuk
penggunaan sebagian ruang bank oleh perusahaan asuransi (channel
management).
c. Kepemilikan bersama (joint venture) yaitu Bank dan perusahaan asuransi
mendirikan bersama suatu perusahaan untuk memasarkan asuransi;
d. Kelompok jasa keuangan (financial services group) yaitu bentuk kerjasama
yang lebih terintegrasi antara Bank dengan perusahaan asuransi dimana
perusahaan asuransi dapat mendirikan atau membeli Bank atau sebaliknya.

Sedangkan point 3, menyebutkan bahwa: dalam melakukan aktivitas
bancassurance, Bank dilarang menanggung atau turut menanggung risiko yang
timbul dari asuransi.

SE ini juga mempertegas tentang bagaimana Bank menerapkan manajemen risiko
secara efektif dalam penyelenggaraan aktivitas bancassurance sesuai dengan
Peraturan BI No. 5/8/PBI/2003 tentang: Penerapan Manajemen risiko bagi Bank
Umum mengingat Bank menghadapi risiko hukum dan risiko reputasi.

Penerapan manajemen risiko tersebut antara lain meliputi namun tidak

terbatas pada:

1. Penetapan perusahaan asuransi yang menjadi mitra Bank, maksudnya adalah
Bank wajib melakukan seleksi terhadap perusahaan asuransi yang akan
menjadi mitra Bank dalam aktivitas bancassurance dengan memperhatikan
hal‐hal sebagai berikut:
b. Perusahaan asuransi yang dapat dijadikan mitra adalah perusahaan
asuransi yang memenuhi tingkat solvabilitas minimal sesuai ketentuan
yang berlaku;
c. Bank wajib memastikan bahwa perusahaan asuransi mitra telah
memperoleh izin dari Menteri Keuangan untuk melakukan aktivitas
bancassurance sesuai ketentuan yang berlaku;

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

32

d. Bank wajib memantau, menganalisis dan mengevaluasi kinerja dan
reputasi perusahaan asuransi mitra secara berkala sekurang‐kurangnya
sekali dalam 1 (satu) tahun;
e. Bank wajib mengakhiri kerjasama sebelum berakhirnya perjanjian atau
tidak memperpanjang kerjasama apabila: 1) kinerja perusahaan asuransi
mitra tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a di atas; atau 2) menurunnya reputasi perusahaan asuransi mitra
yang secara signifikan mempengaruhi profil risiko Bank.
f. Dalam hal asuransi yang dipasarkan terkait dengan investasi (investment
link/unit link), Bank wajib memastikan bahwa perusahaan asuransi mitra
telah memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan antara
lain: 1) memiliki tenaga ahli dengan kualifikasi wakil manajer investasi
dan berpengalaman dibidangnya sekurang‐kurangnya 3 (tiga) tahun; 2)
memisahkan kekayaan dan kewajiban perusahaan asuransi yang
bersumber dari asuransi yang terkait dengan investasi dengan kekayaan
dan kewajiban yang bersumber dari asuransi jiwa lainnya; dan 3)
melaksanakan hal‐hal lain yang diperlukan untuk pengelolaan dana
investasi yang dipercayakan oleh nasabah secara optimal, professional
dan independent.

2. Penyusunan perjanjian kerjasama, maksudnya dalam penyusunan perjanjian
kerjasama dengan perusahaan asuransi mitra, Bank wajib memperhatikan
hal‐hal sebagai berikut:
a. Kejelasan hak dan kewajiban masing‐masing pihak (Bank dan
perusahaan asuransi, termasuk nasabah tertanggung);
b. Setiap perjanjian hanya memuat satu kerjasama sebagaimana dimaksud
dalam SE No. 6/43/DPNP bagian‐I point‐1 dengan menyebutkan secara
spesifik jenis‐jenis asuransi yang dipasarkan;
c. Penetapan secara jelas jangka waktu perjanjian kerjasama;
d. Penetapan klausula yang memuat kondisi batalnya perjanjian kerjasama
termasuk kausula yang memungkinkan Bank menghentikan kerjasama
sebelum berakhirnya jangka waktu perjanjian antara lain sebagaimana
dimaksud dalam poin (2‐d) di atas;
e. Kejelasan penyelesaian hak dan kewajiban masing‐masing pihak (Bank
dan perusahaan asuransi, termasuk nasabah tertanggung) apabila
perjanjian kerjasama berakhir.

3.  Penerapan ketentuan rahasia Bank, maksudnya Bank wajib memastikan
bahwa penggunaan data nasabah tidak melanggar ketentuan mengenai
rahasia bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal‐1 butir 28 dan Pasal‐ 40 UU
No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU
No. 10 tahun 1998 dan peraturan perundang‐undangan terkait lainnya.
Adapun langkah‐langkah yang perlu diperhatikan oleh Bank antara lain
sebagai berikut:
a. Memenuhi ketentuan yang berlaku mengenai persyaratan dan tata cara
pemberian perintah atau izin tertulis membuka rahasia Bank, antara lain

Mengenal Asuransi Jiwa

33

berdasarkan permintaan, persetujuan atau kuasa yang dibuat secara
tertulis dari nasabah untuk menggunakan data nasabah dengan
menyebutkan secara spesifik tujuan, jenis data nasabah dan asuransi
yang diminati;
b. Memberitahukan kepada perusahaan asuransi mitra agar tidak
menggunakan data nasabah sebagaimana dimaksud dalam poin 3‐a di
atas, selain untuk tujuan yang telah disetujui oleh nasabah;
c. Mewajibkan perusahaan asuransi mitra untuk tetap merahasiakan data
nasabah sebagaimana dimaksud dalam poin 3‐a di atas, walaupun
perjanjian kerjasama dihentikan atau telah berakhir; dan
d. Tidak memberikan data nasabah kepada pihak ketiga (outsourcing)
dalam hal Bank menggunakan jasa pihak ketiga dalam rangka kerjasama
pemasaran asuransi.

4. Penerapan prinsip perlindungan nasabah, maksudnya Bank wajib menerapkan
prinsip‐prinsip pokok transparansi berkaitan dengan asuransi yang
dipasarkan, antara lain:
a. Menjelaskan secara lisan dan tertulis kepada nasabah antara lain sebagai
berikut: 1) asuransi yang dipasarkan bukan merupakan pokok Bank dan
tidak termasuk dalam cakupan program penjaminan pemerintah; 2)
penggunaan logo dan atau atribut Bank lainnya dalam brosur atau
dokumen pemasaran (marketing) lainnya tidak dapat diartikan bahwa
asuransi tersebut merupakan produk Bank; 3) karakteristik asuransi
seperti fitur, persyaratan, risiko, manfaat, biaya‐biaya asuransi serta
prosedur klaim oleh nasabah;
b. Dalam hal asuransi yang dipasarkan merupakan hasil pengembangan
dengan produk Bank (bundling product), maka: 1) Bank wajib
menjelaskan kepada nasabah secara lisan dan tulisan bagian yang
menjadi hak dan kewajiban masing‐masing pihak; 2) nasabah secara
individual harus mendapatkan polis asuransi atau tanda bukti
kepesertaan dalam hal nasabah diikutsertakan dalam produk asuransi
kumpulan/kolektif;
c. Dalam hal yang dipasarkan merupakan asuransi yang terkait dengan
investasi (investment link/unit link), maka: 1) Bank wajib menjelaskan
secara lisan dan tulisan kepada nasabah karakteristik investasi tersebut
yang sekurang‐kurangnya mencakup portofolio asset investasi, prosedur
dan pihak yang melakukan valuasi nilai unit, manajer investasi, bank
custodian, risiko investasi yang dihadapi, persyaratan dan tata cara
untuk penjualan kembali (redeem) serta pihak yang bertanggung jawab
untuk menyampaikan laporan valuasi nilai unit kepada nasabah; 2) Bank
dilarang memberikan jaminan atau turut memberikan jaminan baik
secara langsung maupun tidak langsung, apabila asuransi yang terkait
investasi tersebut menawarkan jaminan tingkat penghasilan atau
pengembalian tertentu.
d. Penjelasan oleh Bank sebagaimana dimaksud dalam poin (4‐a) sampai
dengan poin (4‐c) di atas, wajib dilakukan oleh petugas Bank yang

Dasar-dasar Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan

34

memenuhi kualifikasi sesuai ketentuan yang berlaku antara lain: 1)
memiliki sertifikasi keagenan yang dikeluarkan oleh asosiasi terkait; dan
2) telah memperoleh pelatihan mengenai asuransi yang akan dipasarkan.
e. Bank wajib pula meminta petugas asuransi yang melakukan pemasaran
asuransi di kantor‐kantor bank (in‐branch sales) untuk memenuhi hal‐hal
sebagaimana diatur dalam poin (4‐a) sampai dengan poin (4‐c) di atas;
f. Dalam hal Bank memutuskan untuk menghentikan atau mengakhiri
perjanjian kerjasama, maka Bank wajib segera memberitahukan
keputusan tersebut secara tertulis kepada seluruh nasabah, termasuk
kelanjutan penyelesaian hak dan kewajiban sehubungan dengan asuransi
yang telah dipasarkan.

Mengenal Asuransi Jiwa

35

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->