P. 1
Model Pemeriksaan Kinerja Aplikasi E-Government

Model Pemeriksaan Kinerja Aplikasi E-Government

|Views: 3,856|Likes:
Published by Arie Purwanto
Penelitian ini menggambarkan proses pengembangan model kriteria evaluasi untuk mendukung Badan Pemeriksa Keuangan dalam menguji aspek efektivitas pemeriksaan kinerja atas aplikasi e-government di pemerintah daerah. Model ini didasarkan pada model kesuksesan sistem informasi DeLone dan McLean. Reliabilitas dan validitas model diuji menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan teknik Partial Least Square (PLS). Model ini diterapkan untuk menguji efektivitas aplikasi e-government Pemerintah Kabupaten Sragen.
Penelitian ini menggambarkan proses pengembangan model kriteria evaluasi untuk mendukung Badan Pemeriksa Keuangan dalam menguji aspek efektivitas pemeriksaan kinerja atas aplikasi e-government di pemerintah daerah. Model ini didasarkan pada model kesuksesan sistem informasi DeLone dan McLean. Reliabilitas dan validitas model diuji menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan teknik Partial Least Square (PLS). Model ini diterapkan untuk menguji efektivitas aplikasi e-government Pemerintah Kabupaten Sragen.

More info:

Published by: Arie Purwanto on May 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2014

pdf

text

original

Ada beberapa hambatan yang secara umum dihadapi ketika akan

mengembangkan dan menerapkan e-government (Enoksen, 2004) yaitu:

- Tenaga kerja yang tidak memiliki ketrampilan

E-government menyediakan peluang untuk pegawai pemerintah untuk

mengembangkan ketrampilan baru, tetapi, dengan pendapatan di bawah pasar,

dan ketidakmampuan untuk memberikan keuntungan tertentu dapat

menghalangi kemampuan pemerintah untuk menarik dan mempertahankan

pegawai yang trampil, dan memaksa pemerintah untuk meng-outsource

proyek-proyek tertentu atau menunda penerapannya.

- Digital divide

Tantangan lain e-government adalah kesenjangan dalam hal akses komputer.

Tantangan ini termasuk dua isu kebijakan:

• digital divide

• aksesibilitas untuk masyarakat dengan disabilitas

Tidak semua masyarakat memiliki akses yang setara ke komputer, baik karena

kurangnya sumber daya finansial atau pun ketrampilan yang dibutuhkan.

Meskipun penempatan komputer-komputer yang tersambung internet di

sekolah-sekolah dan perpustakaan-perpustakaan umum membantu menghadapi

isu ini, usaha ini masih harus ditingkatkan. Dan yang penting adalah menyadari

34

bagaimana pemerintah berinteraksi dengan masyarakat yang paling rendah

akses internetnya: masyarakat miskin, masyarakat lanjut usia, masyarakat yang

kemampuan bahasanya terbatas, dan masyarakat yang tingkat pendidikannya

rendah.

Komputer juga dapat menimbulkan halangan bagi masyarakat yang tuna netra

atau yang secara fisik tidak mampu, yang membutuhkan perangkat keras dan

lunak yang mahal untuk komputer mereka, seperti pembaca layar atau

pengendali suara, untuk memampukan akses informasi dan layanan on-line. Ini

juga mensyaratkan bahwa layanan dan informasi dirancang sedemikian rupa

sehingga memudahkan akses.

- Privasi

Terkait erat dengan keamanan, privasi juga menimbulkan tantangan terhadap

penerapan dan penerimaan e-government. Privasi terkait dengan pertimbangan

mengenai sharing informasi antar instansi pemerintah dan penyalahgunaan

informasi pribadi. Bila pelanggaran privasi terjadi, maka akan timbul pengaruh

negatif terhadap kepercayaan masyarakat atas situs web pemerintah dan

penggunaan layanan berbasis web.

- Keamanan

Salah satu tantangan signifikan dalam penerapan e-government adalah

keamanan. Beberapa bidang yang lemah telah banyak diketahui: manajemen

program keamanan, pengendalian akses, pengendalian pengembangan

perangkat lunak dan pengubahan, pemisahan tugas, pengendalian sistem

operasi, dan lain-lain.

35

Menurut Soendjojo (2005) ada beberapa hambatan operasional yang dihadapi

oleh pemerintah daerah ketika mengembangkan dan menerapkan e-government

antara lain:

- kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia pada instansi pemerintah yang

terbatas (belum siap menerima perubahan kultur ke TIK);

- belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai (belum adanya rencana

induk TI dan strategi prinsip e-government);

- struktur organisasi pengelolaan e-government yang belum memadai;

- belum tersedianya anggaran operasional yang memadai (akibat kurangnya

pemahaman tentang pentingnya pembangunan TIK);

- kurang adanya perhatian atau kepedulian pejabat pemerintah di dalam

pembangunan dan pengembangan e-government (diperlukan manajemen

perubahan dan e-leadership).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->