P. 1
Pengaruh Kemasan Dan Merk

Pengaruh Kemasan Dan Merk

|Views: 806|Likes:
Published by Shie Sheil Haskara

More info:

Published by: Shie Sheil Haskara on May 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2013

pdf

text

original

PENGARUH KEMASAN DAN MERK DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN

INTRODUCTION Perkembangan ekonomi yang semakin pesat membuat semakin banyaknya perusahaan yang bermunculan baik perusahaan kecil maupun besar. Hal tersebut akan membuat konsumen semakin banyak pilihan dengan berbagai merek dan kemasan dalam melaksanakan keputusan pembeliannya dengan harga yang bervariasi di .pasaran yang tersebar diberbagai daerah

Dengan keadaan tersebut perusahaan tidak dapat hanya memusatkan perhatiannya pada produk yang telah dihasilkan. Namun sebaliknya juga memikirkan bagaimana cara yang akan ditempuh agar produk yang dihasilkan dapat menarik perhatian konsumen dari berbagai macam yang tersedia dipasaran, sehingga akhirnya konsumen mau membeli produknya dan menjadi langganan yang loyal. Hal tersebut yang akan membuat perusahaan dapat mempertahankan siklus hidupnya dan berkembang dengan .baik dalam menghadapi para pesaingnya dari produk-produk sejenis

Untuk meningkatkan penjualan, perusahaan harus memberikan keunikan atau ciri khas dari produk. Salah satunya yaitu kemasan dan merk produk yang mempunyai peranan penting dalam penjualan. Dimana kemasan dan merk bukan hanya sebagai pembungkus dan nama saja, tetapi juga bisa dijadikan sebagai salah satu alat promosi efektif yang dapat memberikan informasi kepada konsumen mengenai produk .perusahaan. Untuk itu dalam membuat kemasan harus dibuat sebagus mungkin

Salah satu alasan konsumen tertarik membeli produk dikarenakan kemasan yang .menarik

THE POWER OF MERK Menurut pakar pemasaran Philip Kotler, semua produk pada dasarnya adalah sebuah merk. Kedaulatan Rakyat, Kompas, Jogja, Aqua, Sprite, Kris Dayanti dll, adalah merk sekaligus produk itu sendiri. Maka dapat dikatakan bahwa suatu merk (brand) adalah label yang mengandung arti dan asosiasi. Bagaimana kekuatan merk? Roberto Goizueta, mantan Presiden Direktur Coca-Cola berpendapat : “Seluruh bangunan pabrik dan fasilitas Coca-Cola bisa saja terbakar besok pagi, tapi anda akan sulit menyentuh nilai perusahaan; sebenarnya, semua terletak pada goodwill yang dimiliki franchise merk kami dan pengetahuan kolektif yang dimiliki oleh perusahaan kami”. Salah satu merk hebat adalah banyak orang (konsumen) yang tetap memilihnya dan tetap setia pada merk tersebut, walaupun mungkin ada pilihan lain lain yang lebih baik. Harley Davidson dan Apple Macintosh adalah salah satu contoh merk yang hebat. Merk yang hebat adalah satu-satunya jalan untuk mempertahankan laba di atas rata-rata secara terus menerus dan menghasilkan keuntungan yang bersifat emosional, bukan hanya yang bersifat rasional. Merk dapat menghemat waktu penggunaannya, karena melalui merk pengguna dapat langsung mengetahui kualitas produk, fitur yang diharapkan, dan jasa yang dapat

diperoleh. Neil Fitzgerald, Komisaris Unilever Amerika, berpendapat bahwa :”Merk adalah gudang menyimpan kepercayaan yang semakin penting peranannya seiring dengan meningkatnya jumlah pilihan yang dihadapi masyarakat. Pada dasarnya masyarakat hanyalah ingin membuat hidup mereka semakin mudah dan sederhana.” Tantangan sebenarnya bagi manajemen bisnis dalam membangun kekuatan merk bukanlah bagaimana mengiklankan suatu merk, tetapi bagaimana membuat media massa ramai membicarakan merk kita. Begitu mereka membicarakan dan memuatnya, masyarakat akan segera mengetahui dan membagi cerita tersebut dengan teman-teman mereka. Mengenal merk melalui orang lain akan menciptakan kredibilitas, sedangkan mengenal merk hanya dari iklan komersial akan mudah sekali terkikis karena sifat dari iklan komersial itu sendiri yang bias.

PACKAGING Konsumen kini lebih banyak membutuhkan waktu untuk memilih produk yang dicari, karena merek produk semakin banyak untuk satu jenis produk tertentu saja. Seperti, produk sabun mandi di rak-rak toko / swalayan sudah puluhan jenisnya. Minyak goreng branded ada lebih 30 merek dapat dijumpai konsumen di rak-rak supermarket. Belum lagi merek air minum sudah lebih 50 merek dapat dijumpai konsumen di pasar. Begitu pula untuk sabun cuci deterjen ada puluhan merek yang dipajang di swalayan untuk menarik minat konsumen. Apa yang membedakan produk satu dengan produk yang lain? Tidak lain adalah merk, dan kemasannya! Memang kemasan kini disadari oleh produsen bukan lagi hanya memiliki fungsi melindungi dan membungkus produk. Persaingan produk yang semakin ketat di pasar

mengharuskan produsen untuk berfikir keras meningkatkan fungsi kemasan untuk dapat memberikan daya tarik kepada konsumen melalui aspek artistik, warna, grafis, bentuk maupun desainnya. Banyak konsumen yang membeli secara sadar akan suatu produk karena tertarik pada suatu produk karena alasan warna, bentuk dari kemasan. Belum lagi konsumen yang membeli karena impulse buying, gara-gara menariknya desain, atau bentuk kemasan suatu produk. Sehingga kemasan menjadi sangat efektif untuk mendorong konsumen membeli suatu produk. Melalui kemasan produk tersebut kesan (image) produk juga dapat dibentuk misalnya image sebagai produk yang kokoh, awet, mewah atau tahan lama. Sehingga konsumen akan memilih produk tersebut karena sesuai dengan syarat yang akan dibeli misalnya produk yang tahan lama, tidak mudah rusak dan terjaga kualitasnya. Konsumen seringkali membeli suatu produk tidak untuk segera dikonsumsi tetapi untuk persediaan, sehingga ia membutuhkan produk yang terlindungi secara baik isinya, dari kerusakan, berkurangnya isi dan pengaruh cuaca. Dari sisi distribusi, kemasan juga memegang peranan penting karena dengan kemasan produk akan mudah disusun, dihitung, ditangani dan disalurkan secara lebih baik dan cepat. Kemudahan dalam distribusi menjadikan kemasan didesain tertentu dan dengan ukuran yang mudah untuk dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lainnya.

AREA OF CONSIDERATION INTERNAL Faktor – faktor dalam yang mempengaruhi peningkatan penjualan suatu produk :

- Brand Management Brand management atau manajemen merk adalah salah satu praktik pemasaran yang spesifik menangani produk. memiliki implikasi penting terhadap citra kualitas produk yang ingin ditampilkan ke konsumen dengan harapan bahwa dengan adanya jaminan standart kualitas melalui merk, konsumen akan terus membeli produk dari lini produk yang sama. Merk juga dapat meningkatkan penjualan dan membuat satu poduk lebih mudah bersaing. Dengan merk, maka harga bisa dinaikkan sehingga berimplikasi pada naiknya omset dan keuntungan penjualan. - Media Relation : Komunikasi terpadu melalui media massa yang bersifat baik nasional maupun regional/lokal seperti TV, print-ad, radio, dan kegiatan off air. - Public Relation : Membangun dan menjaga citra serta kredibilitas perusahaan. - inovasi : Inovasi terhadap produk untuk mencegah kebosanan terhadap konsumen.

EKSTERNAL Faktor – faktor luar yang mempengaruhi peningkatan penjualan suatu produk : - Social Effect : Pengaruh terhadap konsumen bisa melalui iklan, rekomendasi, dll - Brand Loyalty : Kesetian atau fanatisme konsumen terhadap suatu produk - Competitor : Menjadi tolak ukur dan pemicu kompetisi yang sehat dalam menjaring konsumen sebanyak – banyaknya.

WANT AND MUST WANT Setiap perusahaan pasti menginginkan peningkatan penjualan yang signifikan dalam setiap tahunnya. Untuk itu, sangat diperlukan strategy yang handal untuk meningkatkan penjualan. MUST Dalam pembahasan kami, begitu banyak aspek yang harus diperhatikan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan volume penjualan suatu produk. Langkah –langkah yang harus diambil diantaranya adalah dengan menjaga kualitas produk dan citra perusahaan, inovasi produk, iklan, hubungan baik dengan konsumen maupun mitra kerja serta karyawan. Point terakhir yang kami sebutkan bertujuan agar terciptanya lingkungan kerja yang sehat.

ALTERNATIVE COURSE OF ACTION Iklan dapat menciptakan minat publik terhadap suatu merk (brand interest) atau meningkatkan kemampuan suatu merk untuk menjadi berarti dimata publik (brand talk) Produsen secara bertahap melakukan inovasi terhadap kemasan produknya. Semangat melakukan efisiensi dan alasan turunnya daya beli masyarakat, membuat produsen mendesain kemasannya untuk dapat diisi kembali (refill). Sehingga

konsumen memiliki pilihan ekonomis membeli suatu produk yang dapat dilakukan refill, karena akan menghemat pengeluaran belanja mereka. Disamping itu, kemasan produk juga dapat memberikan kemudahan bagi pemakainya, agar tidak banyak isinya yang terbuang. Selain perubahan pada bentuk kemasan, perubahan pada design kemasan juga sangat dibutuhkan untuk lebih menarik konsumen. Dalam pemasaran, positioning adalah cara untuk membangun citra atau identitas di benak konsumen untuk produk, merk atau lembaga tertentu. Positioning adalah membangun persepsi relatif satu produk dibanding produk lain. Karena penikmat produk adalah pasar, maka yang perlu dibangun adalah persepsi pasar. Reposisi produk sangat ditentukan dari sudut pandang mana konsumen melihat citra produk kita, apabila kita menerapkan family branding dalam mengembangkan produk, maka keseluruhan citra perusahaan akan sangat mempengaruhi citra produk. Re-positioning merupakan kegiatan yang melibatkan penggantian identitas produk , jalinan kompetitor yang ada dan mengubah citra yang ada di benak konsumen. De-positioning merupakan kegiatan untuk mengganti jalinan kompetitor, tujuannya adalah untuk mengganti segmen pasar dan kegiatan ini mengharuskan pemilik merk untuk mengubah citra produk yang ada di benak konsumen.

STUDI KASUS

Pengaruh Perubahan Desain Kemasan Obat Sakit Kepala Paramex Terhadap Perilaku Konsumen
Siapa tak kenal Paramex? Obat yang dikampanyekan untuk sakit kepala yang membandel itu, dengan mudahnya ditemukan tak hanya di warung kelas sandal jepit tapi juga apotek kelas Mercedes-Benz. Bahkan, seorang eksekutif yang begitu sibuk menyatakan bahwa ia selalu menyimpannya dalam tas. Tepatnya pada bulan Maret tahun 2003 yang lalu, manajemen PT Konimex Pharmeceutical Laboratories melakukan perubahan desain kemasan terhadap salah satu produk unggulannya yakni obat sakit kepala Paramex. Sebelum dirubah, kemasan lama Paramex telah beredar di masyarakat dalam kurun waktu 14 tahun terhitung sejak tahun 1989. Dalam perjalanannya, kemasan lama Paramex mampu menjalankan fungsinya dengan baik, terbukti dengan didapatkannya beberapa penghargaan antara lain Indonesian Customer Satisfaction Award 2002 dan Indonesian Best Brand Award 2002. Bisa jadi, gambar orang dalam lingkaran sakit kepala dan berwarna biru itu memberi hoki yang besar sehingga ketika Mei 2003 Konimex melakukan pembaruan kemasan, lingkaran dan warna biru tetap dipertahankan Penghargaan tersebut menunjukkan tingkat benefisitas yang baik dari produk tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa Paramex mendapatkan loyalitas dari para konsumennya. Tetapi, selang beberapa bulan setelah mendapatkan penghargaan, desain kemasan dari obat tersebut dirubah. Terlepas dari tujuan perusahaan untuk melakukan perubahan tersebut, perubahan yang dilakukan ini tentunya memberikan suatu dampak bagi konsumen penggunanya. Berkaitan dengan pengaruh perubahan desain kemasan suatu produk terhadap perilaku konsumennya, penulis bermaksud

untuk melakukan penelitian dari fenomena di atas. Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana dampak yang ditimbulkan dari perubahan desain kemasan tersebut, apakah berdampak positif, atau sebaliknya yakni berdampak negatif. Untuk mencapai tujuan di atas, penulis melakukan penelitian dengan menggunakan metode korelasional yaitu menggambarkan secara sistematis hubungan antara variabel atau beberapa variabel dengan variabel lain. Salah satu metode pengumpulan datanya dengan cara menyebarkan angket. Angket disebarkan di daerah Linggawastu, Bandung. Berdasarkan hasil analisa, diketahui bahwa terjadi hubungan yang tinggi antara perubahan kemasan Paramex baru terhadap tingkat konsumsi produk, dan hubungan tersebut bersifat positif, yang secara langsung mampu meningkatkan angka penjualan produk tersebut. Kemasan baru Paramex mampu menciptakan sebuah pasar baru. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa perubahan kemasan Paramex berhasil dengan baik, dikarenakan tepatnya strategi yang diterapkan yaitu mempertahankan beberapa unsur visual yang terdapat pada kemasan lama yang merupakan brand property kemasan tersebut. Perubahan desain kemasan suatu produk akan membawa pengaruh yang positif, selama perubahan yang dilakukan tersebut tepat dan efektif. Paramex saat ini merupakan market leader di pasar obat sakit kepala dengan penguasaan pasar 30%, dan belanja iklan mencapai Rp 15 miliar. Pesaing yang selalu .menguntitnya dengan ketat adalah Bodrex, Oskadon, Puyer Bintang 7, dan Panadol Bila ditotal, kelima merek papan atas ini menguasai 80% pasar obat sakit kepala

Menurut Retail Audit AC Nielsen di 12 kota besar di Indonesia pada bulan Juni-Juli 2003, produk-produk yang merajai pasar analgesik adalah Paramex dengan pangsa

pasar 28%, Bodrex 19%, Panadol untuk kelompok dewasa (termasuk Panadol Extra) .dengan pangsa pasar 15% dan Oskadon 11% kontribusi Paramex 70%-80% bagi perusahaan dari Solo yang ditengarai di sektor farmasi memiliki omset Rp 400-500 miliar per tahun ini, obat ini menguasai pangsa .pasar sekitar 28% dan mencatat penjualan Rp 160-180 miliar/tahun Dalam hematnya, Paramex sukses karena strategi branding-nya lebih bagus ketimbang pesaing. Tema iklannya dengan slogan: Untuk sakit kepala yang .membandel konsisten terjaga sekalipun penggarapan iklan terus berubah

RISET PENGARUH MERK DAN KEMASAN DALAM KEPUTUSAN MEMBELI KONSUMEN

Untuk mengetahui pendapat masyarakat tentang seberapa besar merk dan kemasan mempengaruhi keputusan membeli produk pada konsumen, kami menyebar 100 quisioner. Dari 100 Responden wanita usia antara 18 – 30 tahun, dengan kelas Ekonomi menengah keatas, diperoleh data : 1. Setujukah anda, merk dan kemasan dapat menarik minat konsumen untuk membeli suatu produk ? Diperoleh data : 89 % setuju, 5 % tidak, 6 % diantaranya 2. Setujukah anda design kemasan dapat membentuk image produk tersebut ? Diperoleh data : 79 % setuju, 6 % tidak, 13 % diantaranya 3. Apa yang membuat anda tertarik begitu melihat produk baru di swalayan ? Diperoleh data : 48 % kemasan, 27 % harga, 25 % merk 4. Pernakah anda tertarik membeli suatu produk karena kemasan dan merk nya ? Diperoleh data : 87 % pernah, 2 % belum, 10 % hampir 5. Menurut anda berapa persen pengaruh kemasan dan merk dalam mempengaruhi orang untuk membeli suatu produk ? Diperoleh data : 10 % menjawab 10 – 30 %, 68 % ( 40 -60 % ), 21 % ( 70 – 100 % )

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->