P. 1
Doc

Doc

1.0

|Views: 4,370|Likes:
Published by Kirk Hammett Wanz

More info:

Published by: Kirk Hammett Wanz on May 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2013

pdf

text

original

8

Hal-hal yang mempengaruhi sifat-sifat paduan aluminium antara lain

adalah unsur-unsur sebagai berikut :

a. Silisium (Si)

Unsur Si dalam paduan aluminium mempunyai pengaruh positif :

• Mempermudah proses pengecoran

• Meningkatkan daya tahan terhadap korosi

• Memperbaiki sifat-sifat atau karakteristik coran

• Menurunkan penyusutan dalam hasil cor

Pengaruh negatif yang ditimbulkan unsur Si berupa :

• Penurunan keuletan bahan terhadap beban kejut dan

• Hasil cor akan rapuh jika kandungan silikon terlalu tinggi.

b. Tembaga (Cu)

Pengaruh baik yang dapat timbul oleh unsur Cu dalam paduan aluminium

akan:

• Meningkatkan kekerasan bahan

• Memperbaiki kekuatan tarik

• Mempermudah proses pengerjaan dengan mesin.

Pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan oleh unsur Cu akan :

• Menurunkan daya tahan terhadap korosi

• Mengurangi keuletan bahan dan

• Menurunkan kemampuan dibentuk dan dirol

9

c. Unsur Magnesium (Mg)

Magnesium memberikan pengaruh baik yaitu :

• Mempermudah proses penuangan

• Meningkatkan kemampuan pengerjaan mesin

• Meningkatkan daya tahan terhadap korosi

• Meningkatkan kekuatan mekanis

• Menghaluskan butiran kristal secara efektif

• Meningkatkan ketahanan beban kejut/impak.

Pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh unsur Mg :

• Meningkatkan kemungkinan timbulnya cacat pada hasil pengecoran

d. Unsur besi (Fe)

Pengaruh baik yang dapat ditimbulkan oleh unsur Fe ada1ah :

• mencegah terjadinya penempelan logam cair pada cetakan selama proses

penuangan.

Pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan unsur paduan ini adalah :

• Penurunan sifat mekanis

• Penurunan kekuatan tarik

• Timbulnya bintik keras pada hasil coran

• Peningkatan cacat porositas.

Paduan aluminium utama adalah :

a. Al-Cu

Sebagai paduan coran dipergunakan paduan yang mengandung 4-5%

Cu. Ternyata dari fasanya ini mempunyai daerah luas dari pembekuannya,

10

penyusutan yang besar, risiko besar pada kegetasan panas dan mudah

terjadi retakan pada coran. Adanya Si 4-5%sangat berguna untuk

mengurangi keadaan itu dan penambahan Ti sangat efektif untuk

memperhalus butir. Paduan dalam system ini terutama dipakai sebagai

bagian-bagian motor mobil, meteran dan rangka utama dari katup-katup.

b. Al-Si

Paduan Al-Si sangat baik kecairannya, yang mempunyai permukaan

bagus sekali, tanpa kegetasan panas, dan sangat baik untuk paduan coran,

sebagai tambahan, ia mempunyai ketahanan korosi yang baik, sangat

ringan, koefisien pemuaian yang kecil dan sebagai penghantar yang baik

untuk listrik dan panas. Karena mempunyai kelebihan yang mencolok,

paduan ini sangat banyak dipakai. Paduan Al-12%-Si sangat banyak

dipakai untuk paduan cor cetak. Paduan yang memerlukan perlakuan panas

ditambah dengan Mg juga Cu serta Ni untuk memberikan kekerasan pada

saat panas, bahan ini biasa dipakai untuk torak motor.

Peleburan aluminium-silium

Gambar 2 menunjukkan diagram fasa dari sistim ini. Ini adalah tipe

eutektik yang sederhana yang mempunyai titik eutektik pada 577 o

C,

11,7%Si, larutan padat terjadi pada sisi Aluminium, karena batas kelarutan

padat sangat kecil maka pengerasan penuaan sukar diharapkan.

Kalau paduan ini didinginkan pada cetakan logam, setelah cairan

logam diberi natrium flourida kira-kira 0,05-1,1% kadar logam natrium,

tampaknya temperatur eutektik meningkat kira-kira pada 14%. Hal ini

11

biasa terjadi pada paduan hipereuektik seperti 11,7-14% Si, Si mengkristal

sebagai kristal primer, tetapi karena perlakuan yang disebut di atas

Aluminium mengkristal sebagai kristal primer dan struktur eutektiknya

menjai sangat halus. Ini dinamakan struktur yang idmodifikasi. Sifat-sifat

mekaniknya sangat diper-baiki yang ditunjukkan pada gambar 2.

Fenomena ini ditemukan oleh A. Pacz tahun 1921 dan paduan yang telah

diadakan perlakuan tersebut dina-makan silumin.

Gambar 2. Diagram fasa Al-Si dan perbaikan sifat-sifat mekanik oleh modifikasi Al-

Si

c. Al-Mg

Paduan Al-Mg mempunyai ketahanan korosi yang sangat baik, sejak

lama disebut hidronalium dan dikenal sebagai paduan yang tahan korosi.

Cu dan Fe sangat berbahaya bagi ketahanan korosi, terutama Cu sangat

memberikan pengaruhnya. Maka perlu perhatian khusus terhadap

tercampurnya unsur pengotor. Paduan aluminium yang mengandung

magnesium 4% sampai 10% mempunyai kekuatan tarik diatas 30

12

kgf/mm2

dan perpanjangan diatas 12%. Paduan ini biasanya dipakai untuk

alat-alat industri kimia, kapal laut dan pesawat terbang.

d. Paduan aluminium tahan panas

Paduan ini terdiri dari Al-Cu-Ni-Mg yang kekuatannya tidak

berubah sampai 3000

C, sehingga paduan ini dipakai untuk torak dan tutup

silinder.

Paduan Al diklasifikasikan dalam berbagai standar oleh berbagai

standar oleh berbagai negara di dunia. Saat ini klasifikasi yang sangat

terkenal dan sempurna adalah standar Aluminium Association di Amerika

(AA) yang didasarkan atas standar terdahulu dari Alcoa (Aluminium

Company of America). Paduan tempaan dinyatakan dengan satu atau dua

angka “S”, sedangkan paduan coran dinyatakan dengan 3 angka. Standar

AA menggunakan penandaan dengan 4 angka sbb: Angka pertama

menyatakan sistim paduan dengan unsur-unsur yang ditambahkan, yaitu:1.

Al murni, 2. Al-Cu,3: Al-Mn, 4. AL-Si, 5. Al-Mg, 6. Al-Mg-Si dan 7: Al-

Zn, sebagai contoh, paduan Al-Cu. Dinyatakan dengan angka 2000. Angka

pada tempat kedua menyatakan kemurnian dalam paduan yang

dimodifikasi dan Al murni sedangkan angka ketiga dan keempat

dimaksudkan untuk tanda Alocoa terdahulu kecuali S, sebagai contoh, 3 S

sebagai 3003 dan 63S sebagai 6063. Al dengan kemurnian 99,05% atau di

atasnya dengan ketakmurnian terbatas (2S) dinyatakan sebagai 1100. Tabel

2 menunjukkan hubungan tersebut.

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->