P. 1
Identifikasi Masalah Dan Kebutuhan Implementasi

Identifikasi Masalah Dan Kebutuhan Implementasi

|Views: 1,415|Likes:
Published by Vidjo (Peewee) ©

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Vidjo (Peewee) © on May 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

Identifikasi Masalah dan Kebutuhan Implementasi Kurikulum 2006 Matematika SMA, Pengembangan Kurikulum dan Buku Ajar yang

Mengimplementasikan Pendekatan Konstruktivistik, Kontekstual dan Kolaboratif

Oleh M. Andy Rudhito dan Susento email: arudhito@yahoo.co.id dan susento@staff.usd.ac.id

Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sanata Dharma Kampus III USD Paingan Maguwoharjo Yogyakarta

Diajukan pada: Simposium Tahunan Penelitian Pendidikan Jakarta, 11-14 Agustus 2008
i

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk (i) mengidentifikasi masalah dan kebutuhan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum 2006 terkait dengan pendekatan konstruktivistik, kontekstual dan kolaboratif. (ii) menghasilkan draft buku pedoman pengembangan kurikulum dan rancangan pengembangan buku ajar sebagai solusinya, yang mengintegrasikan ketiga pendekatan tersebut melalui model pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’. Masalah-masalah yang teridentifikasi adalah: (i) tindakan dan sikap guru cenderung menjelaskan langkah-langkah cara menyelesaikan soal, (ii) siswa kurang dapat melihat hubungan antar konsep. (iii) metode pembelajaran guru cenderung dari penjelasan bentuk umum dilanjutkan dengan menjelaskan contoh soal formal, (iv) guru cenderung menjadi sumber utama dan belum menggunakan media yang bervariasi, (v) penilaian kurang bervariasi dan cenderung berupa pengerjaan soal matematis formal secara tertulis. Kebutuhan-kebutuhan guru yang teridentifikasi adalah (i) memberi kesempatan siswa untuk bereksplorasi dalam pemecahan masalah, (ii) mengembangkan pemahaman relasional siswa dalam mencapai kompetensi matematik. (iii) mengawali pembelajaran dengan kegiatan pemecahan masalah kontekstual, (iv) alternatif sumber belajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang konstruktivistik, kontekstual dan kolaboratif, (v) penilaian dengan cara yang bervariasi. Buku Pedoman Pengembangan Kurikulum disusun sebagai penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi program pembelajaran yang meliputi materi pokok pembelajaran, urutan pembelajaran, dan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran matematika diwujudkan dalam bentuk model pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’. Buku siswa dirancang sebagai buku pegangan siswa untuk sumber belajar mereka agar mereka dapat memperoleh bahan dan sekaligus arahan dan motivasi agar mengalami proses matematisasi secara terbimbing oleh guru. Buku guru dirancang sebagai suplemen buku siswa, sebagai buku pegangan guru berisi petunjuk dalam memfasilitasi proses pembelajaran matematika. Kata-kata kunci: Kurikulum Matematika SMA, Pembelajaran Matematika, Konstruktivistik, Kontekstual, Kooperatif.

ii

Daftar Isi

Judul ..........................................................................................................................

i

Abstrak ...................................................................................................................... ii Daftar Isi .................................................................................................................... iii 1. Pendahuluan ........................................................................................................ 1.1 1.2 1.3 1.4 Masalah dan Kegunaan Penelitian ........................................................... Tujuan Penelitian ..................................................................................... Lingkup Penelitian ................................................................................... Metode Penelitian .................................................................................... 1 1 3 3 3 5

2. Kajian Teori .........................................................................................................

2.1. Pendekatan Pembelajaran Konstruktivistik ............................................. 5 2.2. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual ............................................. ...... 6 2.3. Pendekatan Pembelajaran Kolaboratif ..................................................... 7

2.4. Pembelajaran Matematika melalui Proses Matematisasi Berjenjang ...... 8 3. Hasil dan Pembahasan ......................................................................................... 9

3.1 Subyek Penelitian ....................................................................................... 9 3.2 Waktu Pelaksanaan .................................................................................... 9 3.3 Hasil Analisis Data .................................................................................... 9 3.4 Pembahasan ............................................................................................... 24 3.5 Pengembangan Kurikulum dan Buku Ajar ............................................... 27 4. Simpulan dan Saran ............................................................................................ 37 4.1 Simpulan ................................................................................................... 37 4.2 Saran ......................................................................................................... 39 Daftar Pustaka .......................................................................................................... 39

iii

1. Pendahuluan
1.1 Masalah dan Arti Kegunaan Penelitian Kurikulum 2004 (sekarang Kurikulum 2006) untuk mata pelajaran matematika SMA menganut prinsip-prinsip pendekatan konstruktivistik,

kontekstual dan kooperatif, yang di antaranya: reinvensi terbimbing, masalah kontekstual sebagai ‘starting point’, dan pendayagunaan kelas kooperatif (Depdiknas, 2003). Dalam penelitian Rudhito (2005) ditemukan bahwa guru masih mengalami banyak kesulitan dalam pelaksanaan prinsip-prinsip di atas. Beberapa kesulitan yang dialami guru di antaranya sebagai berikut: 1) Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan prinsip-prinsip pendekatan tersebut membutuhkan waktu yang lebih banyak, sementara materi yang harus disampaikan cukup banyak. 2) Mengajukan masalah kontektual yang sesuai tidak mudah. Hal ini dirasakan karena belum cukup tersedianya sumber dan cara mengemas dalam pembelajaran yang tidak mudah. 3) Mengelola kegiatan belajar dalam kelas kooperatif tidaklah mudah. Kelas dapat menjadi tidak terkendali dan suasanya menjadi gaduh. Upaya untuk mengakomodasi ketiga prinsip-prinsip pendekatan di atas dalam suatu model pembelajaran telah diupayakan dalam penelitian Rudhito (2006). Dalam penelitian tersebut telah dirancang dan diujicobakan model pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’. Model ini mengakomodasi ketiga prinsip pendekatan di atas, dengan merealisasikan pendekatan kooperatif menjadi pendekatan kolaboratif. Guru mengakui ketiga prinsip-prinsip pendekatan dalam model pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’ memang bagus dan penting. Masalah lain yang selalu dikemukakan guru adalah bahwa pendekatan ini memerlukan waktu yang lebih banyak. Sementara materi dalam kurikulum sangat padat. Timbul pemikiran dengan guru untuk mengorganisasikan kembali materimateri dalam kurikulum. Guru juga masih mengalami kesulitan jika harus mencari masalah kontektual yang ideal. Sumber-sumber buku yang ada juga belum banyak mendukung model pembelajaran ini.

1

Dalam Rudhito (2005) dan (2005) di atas, penelitian baru dilaksanakan dalam lingkup yang masih sangat terbatas, yaitu untuk satu sekolah, satu guru dan satu topik pembelajaran. Untuk mendapatkan identifikasi masalah dan kebutuhan dalam lingkup yang lebih luas dan upaya untuk mengatasi maslah yang biasa muncul dalam implementasi Kurikulum 2006 Matematika SMA, penelitian ini dirancang untuk menjawab masalah sebagai berikut: i) Bagaimanakah masalah dan kebutuhan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum 2006 terkait dengan pendekatan konstruktivistik, kontekstual dan kooperatif ? ii) Bagaimanakah menyusun pedoman pengembangan kurikulum dan rancangan pengembangan buku ajar, yang mengintegrasikan ketiga pendekatan tersebut melalui model pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’ Secara umum penelitian ini mempunyai kegunaan yang lebih bersifat operasional di kelas. Adapun secara lebih khusus, penelitian ini mempunyai kegunaan sebagai berikut: i) Memberikan deskripsi yang nyata di kelas mengenai identifikasi masalah dan kebutuhan pelaksanaan KTSP di kelas untuk bidang studi Matematika. Dari identifikasi masalah dan kebutuhan ini diharapkan dapat ditentukan langkahlangkah yang tepat untuk menuju yang diidealkan. ii) Penelitian ini dapat memberikan suatu alternatif model pembelajaran matematika di kelas seperti yang diharapkan dalam KTSP, di mana pendekatan konstruktivistik, kontekstual dan kolaboratif diintegrasikan dalam suatu model pembelajaran yang terpadu, sehingga diharapkan dapat mengoptimalkan waktu pembelajaran di kelas yang tersedia . iii) Memberikan suatu rancangan pedoman pengembangan kurikulum dan buku ajar, yang meliputi buku siswa dan buku guru. Rancangan-rancangan ini selanjutnya dapat dikembangkan dan dapat digunakan untuk memfasilitasi guru dan siswa dalam pelaksanaan model pembelajaran di atas, yang dilaksanakan di kelas.

2

1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk (i) Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum 2006 terkait dengan pendekatan konstruktivistik, kontekstual dan kooperatif, (ii) Menghasilkan draft buku pedoman pengembangan kurikulum dan rancangan pengembangan buku ajar yang mengintegrasikan ketiga pendekatan tersebut melalui model pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’.

1.3 Lingkup Penelitian Lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut: i) Matematika SMA yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Matematika SMA untuk kelas X. ii) Pengembangan kurikulum adalah penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi program pembelajaran yang meliputi materi pokok pembelajaran, urutan pembelajaran, dan strategi pembelajaran. iii) Buku Ajar yang dimaksud adalah meliputi buku siswa yaitu buku pegangan siswa yang disusun sebagai salah satu sumber belajar, dan buku guru

merupakan suplemen bagi buku siswa yang dimaksudkan sebagai buku pegangan guru berisi petunjuk dalam memfasilitasi proses pembelajaran matematika.

1.4 Metode Penelitian 1.4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian kualitatif diskriptif. Penelitian berusaha mendeskripsi fenomena dalam keadaan yang seadanya (natural setting). Fenomena yang dimaksud adalah situasi pembelajaran yang dilaksanakan guru di kelas. Situasi pembelajaran akan ditinjau dari 6 aspek yaitu (i) Tindakan dan sikap guru dalam pembelajaran matematika, (ii) Cara siswa belajar matematika, (iii) Metode pembelajaran matematika, (iv) Sumber dan 3

media pembelajaran matematika, (v) Penilaian dan hasil belajar matematika, (vi) Interaksi sosial guru-siswa dan antar siswa dalam kelas. 1.4.2. Metode Pengumpulan Data Data bersifat kualitatif, yaitu berupa hasil deskripsi Silabus dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), deskripsi kegiatan pembelajaran di kelas, jawaban kuesioner dan hasil diskusi kelompok fokus. Data berturut-turut dikumpulkan melalui pengumpulan contoh silabus dan RPP yang digunakan guru untuk pembelajaran di kelas, perekaman video pembelajaran di kelas, pengisian kuesioner dan pelaksanaan kegiatan diskusi kelompok fokus. 1.4.3. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen penelitian ini berupa: (i) Dokumen silabus dan RPP; (ii) Perangkat perekaman video pembelajaran di kelas; (iii) Kuesioner untuk guru matematika; (iv) Diskusi kelompok fokus (peneliti dan guru matematika). 1.4.3 Metode Analisis Data Berbagai data yang dikumpulkan melalui metode dan instrumen di atas akan di analisis menjadi definisi masalah dan kebutuhan dalam implementasi kurikulum 2006 khususnya yang terkait dengan pendekatan konstruktivistik, kontekstual dan kooperatif. Untuk masing-masing metode dan instrumen akan dianalisis menjadi: (i) Deskripsi silabus dan RPP; (ii) Deskripsi kegiatan pembelajaran di kelas; (iii) Rangkuman jawaban kuesioner guru; (iv) deskripsi masalah dan kebuthan hasil diskusi kelompok fokus. Selanjutnya dari hasil masing-masing analisis data di atas akan dirangkum dan disintesakan menjadi identifikasi masalah dan kebutuhan yang meliputi 6 aspek, ditinjau dari pendekatan konstruktivistik, kontekstual dan kooperatif, sehubungan dengan rencana pelaksanaan metode ’Matematisasi Berjenjang’. 1.4.5 Penyusunan Draft Buku Pedoman Pengembangan Kurikulum dan Perancangan Bahan Ajar Dalam tahap ini terlebih dulu dilakukan penyusunan draft buku pedoman pengembangan kurikulum kemudian dilanjutkan menyusun rancangan buku siswa dan buku guru. Dari draft yang diharapkan sudah cukup jelas ini selanjutnya akan digunakan untuk merancang buku siswa dan buku guru. Draft buku pedoman 4

pengembangan kurikulum berisi kerangka adaptasi model pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’ dan struktur program kurikulum berdasarkan adaptasi model tersebut. Draft akan disusun dengan memperhatikan landasan teori, Kurikulum 2006 (KTSP) bidang studi Matematika untuk SMA, identifikasi masalah dan kebutuhan di sekolah, dan model ’Matematisasi Berjenjang’ yang diajukan.

2. Kajian Teori
2. 1. Pendekatan Pembelajaran Konstruktivistik Konsepsi objektivis berasumsi bahwa pengetahuan dapat ditransfer dari guru atau ditransmisikan melalui teknologi. Menurut konsepsi ini, desain pembelajaran harus melibatkan kegiatan analisis, representasi, dan pengurutan bahan dan tugas agar dapat ditransmisikan ke siswa. Sebaliknya, konsepsi konstruktivis memandang bahwa pengetahuan tidak dapat sekadar ditransfer atau ditransmisikan. Konsepsi konstruktivis berasumsi bahwa pengetahuan

dikonstruksi secara individual dan dikonstruksi bersama secara sosial oleh siswa berdasarkan interpretasi terhadap pengalaman. Oleh karena itu, pembelajaran harus berisi pengalaman-pengalaman yang memfasilitasi terjadinya konstruksi pengetahuan. Jonassen (1999) mengusulkan sebuah model untuk mendesain lingkungan pembelajaran konstruktivis (Gambar 1). Model ini menggunakan masalah, pertanyaan, atau proyek sebagai fokus lingkungan pembelajaran. Sasarannya adalah siswa menginterpretasikan dan memecahkan masalah, menjawab pertanyaan, atau menyelesaikan proyek. Kegiatan ini didukung dengan sistem pendukung yang meliputi kasus-kasus terkait, sumber informasi, sarana kognitif, komunikasi atau kolaborasi, dan dukungan sosial atau kontekstual. Kasus-kasus terkait dan sumber informasi mendukung pemahaman masalah dan memberikan gagasan akan solusi yang mungkin. Sarana kognitif membantu siswa menginterpretasi dan menangani aspek-aspek masalah. Komunikasi dan kolaborasi memungkinkan komunitas siswa bernegosiasi dan mengkonstruksi

5

bersama makna-makna yang terkait dengan masalah. Dukungan sosial dan kontekstual membantu siswa dan guru dalam mengimplementasikan lingkungan pembelajaran.

A. Pemodelan

6. Dukungan sosial dan kontekstual 5. Komunikasi dan kolaborasi 4. Sarana kognitif 3. Sumber informasi 2. Kasus-kasus terkait 1. Masalah/ pertanyaan/ proyek

C. Topangan

B. Bimbingan

Gambar 1. Model Jonassen untuk mendesain lingkungan pembelajaran

2.2 Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Menurut Johnson (2002) pembelajaran harus bersifat kontekstual, karena makna bahan pelajaran bagi siswa lahir dari hubungan antara isi pelajaran dan konteks yang dikenal siswa dalam situasi kehidupan sehari-hari. Konteks dimengerti sebagai pola hubungan-hubungan dalam lingkungan terdekat siswa. Semakin luas konteks yang di dalamnya siswa dapat membuat hubunganhubungan, semakin banyak makna bahan pelajaran yang ditangkap siswa. Hal ini senada dengan yang dimaksud Jonassen (1999) mengenai perlunya dukungan kontekstual bagi implementasi lingkungan pembelajaran konstruktivis. Salah satu karakteristik proses konstruksi pengetahuan adalah bahwa proses ini terkendala (Hatano, 1996). Kendala merujuk pada kondisi atau faktor, baik yang memfasilitasi (kendala positif) ataupun yang membatasi (kendala negatif), jangkauan proses konstruksi pengetahuan. Kendala dapat dibedakan menjadi kendala dari dalam (meliputi kondisi kognitif bawaan dan pengetahuan sebelumnya) dan kendala dari luar (meliputi faktor kultural dan faktor budaya). Karakteristik proses konstruksi pengetahuan ini berimplikasi pada kegiatan 6

pembelajaran. Kegiatan pembelajaran harus didesain dengan mempertimbangkan kendala-kendala yang ada. Kendala positif dapat dimanfaatkan sebagai konteks bagi pembelajaran, sedangkan kendala negatif harus dikontrol.

2.3 Pendekatan Pembelajaran Kolaboratif Teori interaksional memandang belajar sebagai suatu proses membangun makna melalui interaksi sosial. Proses membangun makna ini dijelaskan melalui dua cara yang berbeda. Pertama, menurut teori interaksional dari Vygotsky, proses itu berlangsung dalam dua tahap, yaitu interaksi sosial dan internalisasi (Voigt, 1996). Kedua, teori interaksional dengan pendekatan interaksionisme simbolik menjelaskan proses membangun makna dengan menekankan proses pemaknaan dalam diri pelaku. Masing-masing pelaku interaksi sosial mengalami proses pemaknaan pribadi, dan dalam interaksi sosial terjadi saling-pengaruh di antara proses-proses pribadi itu, sehingga terbentuk makna yang diterima bersama. Yackel & Cobb (1996) menyebut proses ini sebagai pembentukan makna secara interaktif (interactive constitution of meaning). Proses pembentukan makna yang diterima bersama melibatkan negosiasi. Negosiasi adalah proses saling penyesuaian diri di antara individu-individu yang berinteraksi sosial. Negosiasi diperlukan karena setiap objek atau kejadian dalam interaksi antar manusia bersifat jamak-makna (plurisemantic). Agar dapat memahami objek atau kejadian, tiap-tiap orang menggunakan pengetahuan latarbelakang masing-masing dan membentuk konteks makna guna menafsirkan objek atau kejadian itu (Voigt, 1996). Dalam lingkungan pembelajaran, proses pembentukan makna dalam diri siswa membutuhkan dukungan guru berupa topangan (scaffolding). Topangan adalah bantuan yang diberikan dalam wilayah perkembangan terdekat (zone of proximal development) siswa (Wood et al., dalam Confrey, 1995). Topangan diberikan berdasarkan apa yang sudah bermakna bagi siswa, sehingga apa yang sebelumnya belum dapat dimaknai sendiri oleh siswa sekarang dapat bermakna berkat topangan itu. Dengan demikian, topangan diberikan kepada siswa dalam

7

situasi yang interaktif, dalam arti guru memberikan topangan berdasarkan interpretasi akan apa yang sudah bermakna bagi siswa, dan siswa mengalami perkembangan dalam proses pembentukan makna berkat topangan itu.

2.4 Pembelajaran Matematika melalui Proses Matematisasi Berjenjang Pendidikan matematika realistik pertama kali dikembangkan di Negeri Belanda sejak tahun 1970-an. Sejak tahun 1990-an, pendidikan matematika realistik telah diadaptasikan di beberapa sekolah di Amerika Serikat, dan beberapa negara lain. Pendekatan ini menekankan pentingnya konteks nyata yang dikenal siswa dan proses konstruksi pengetahuan matematika oleh siswa sendiri. Masalah berkonteks nyata dijadikan titik pangkal dalam pembelajaran matematika, sedangkan konstruksi pengetahuan melalui proses reinvensi terbimbing (guided reinvention) merupakan inti proses pembelajaran matematika (Gravemeijer, 1994). Dalam proses reinvensi terbimbing siswa diberi kesempatan untuk mengalami proses matematisasi yaitu membangun sendiri alat dan gagasan matematik, menemukan sendiri hasil, serta memformalkan pemahaman dan strategi informal. Siswa didukung untuk mencipta-ulang (to reinvent) matematika di bawah panduan guru dan bahan pelajaran. Untuk mencipta-ulang matematika formal dan abstrak, siswa diarahkan bergerak secara bertahap dari penggunaan pengetahuan dan strategi penyelesaian informal, intuitif, dan konkret menuju ke yang lebih formal, abstrak dan baku (van Reeuwijk, 2001: 613). Kegiatan penciptaan-ulang berlangsung dalam interaksi sosial yang memungkinkan terjadinya negosiasi makna matematik antar siswa dan antara siswa dan guru, serta pemberian bantuan berupa topangan (Susento, 2004). Proses matematisasi dilaksanakan secara berjenjang, yang mencakup jenjang-jenjang sebagai berikut (Gravemeijer, 1994; Susento, 2004):
a. Jenjang

situasional: Dengan topangan guru, siswa menggunakan

pengetahuan dan strategi sendiri yang bersifat situasional dan terbatas dalam pemecahan masalah kontekstual.

8

b. Jenjang referensial: Dengan topangan guru, siswa membangun model

situasi masalah untuk memecahkan masalah kontekstual.
c. Jenjang umum: Dengan topangan guru, siswa membangun model

penalaran

matematik

untuk

memecahkan

masalah-masalah

yang

konteksnya berbeda-beda.
d. Jenjang formal: Dengan topangan guru, siswa melakukan penalaran

matematik formal, yaitu memakai model matematik formal dan baku untuk memecahkan masalah matematik.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1. Subyek Penelitian Subjek penelitian adalah enam guru matematika SMA dan salah satu kelas X yang diajarnya. Guru tersebut berasal dari enam SMA (1 SMA Negeri dan 1 SMA Swasta masing-masing dari Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta,). Subyek penelitian dipilih dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan tenaga peneliti, dana penelitian dan kesediaan sekolah dan guru. Untuk menyamarkan identitas subyek penelitian untuk selanjutnya secara acak disamarkan dengan menyebut dengan SMA A, SMA B, SMA C, SMA D, SMA E dan SMA F 3.2. Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan pengambilan data dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2007. 3.3. Hasil Analisis Data 3.3.1. Deskripsi silabus dan RPP Dari silabus dan RPP yang akan digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran, diperoleh deskripsi seperti pada Tabel 1. berikut.

9

Tabel 1. Deskripsi Silabus dan RPP Skl A Strategi Kegiatan Pembelajaran • Metode menerangkan ekspositori • Metode Permainan • Metode Diskusi • • • • Pemberian informasi/penjelasan Diskusi kelompok Diskusi kelas Tugas pribadi maupun kelompok Sumber/Media Belajar • Buku-buku Belajar Matematika & LKS. • Komputer, laptop. LCD • Alat Peraga dan Alat Permainan Mat • • • • LKS Chart Perangkat audio-visual Media cetak (buku pelajaran, majalah, koran) Penilaian • Mengisi Lembar LKS • Pretest • Diskusi, Posttest, Ulangan • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Pengamatan pada siswa. Tugas-tugas individu Tugas kelompok Uji kompetensi (ulangan harian dan ulangan semester) Mengamati kegiatan siswa Ulangan harian Ulangan mid semester Ulangan akhir semester Pengamatan keterlibatan & keaktifan siswa saat proses pembelajaran. Pretest Postest. Ulangan Harian Ulangan Blok responsi untuk rumus-rumus dasar. Tugas individu dan kelompok. Ulangan Harian Ulangan Blok Mengamati proses pengerjaan suatu soal Kuiz Ulangan Harian Ulangan Blok

B

C

• Ceramah ekspositori. • Diskusi • Memanfaatkan internet / ICT • • • • • • • • • • • • • • Penjelasan konsep dasar Pembahasan latihan soal secara klasikal Tanya jawab Diskusi Penemuan terbimbing Tugas kelompok Ceramah Tanya Jawab Metode permainan misalnya dengan jigsaw. Memberikan illustrasi sebelum menurunkan rumus Ceramah Tanya Jawab dan pengarahan Diskusi Pemberian Tugas

• Buku-buku yang relevan • Internet • Buku referensi yang sesuai • Modul belajar yang dibuat oleh guru • Alat peraga yang dibuat oleh guru sendiri

D

E

• Buku catatan siswa yang diringkas dari penjelasan guru. • Buku cetak khususnya untuk mengambil latihan soal. • Buku Paket Matematika X • Handout untuk panduan mengerjakan soalsoal • Catatan dari guru di papan tulis

F

10

3.3.2. Deskripsi kegiatan pembelajaran di kelas Dari hasil perekaman video dilakukan transkripsi. Kemudian dari transkrip yang dihasilkan dilakukan deskripsi, yaitu uraian singkat tentang 6 aspek pembelajaran untuk masing-masing sekolah untuk masing-masing pertemuan. Dari tabel deskripsi tiap pertemuan ini, selanjutnya diperoleh deskripsi secara umum untuk masing-masing sekolah seperti dalam Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Deskripsi kegiatan pembelajaran di kelas 1. Tindakan dan sikap guru dalam pembelajaran matematika Skl Tindakan Guru A • Menjelaskan mengenai cara mengerjakan tugas yang diberikan. • Memberikan pertanyaan yang menuntun kepada siswa dalam upaya menjelaskan pengertian • Mendektekan jawaban tiap nomor dengan langkah-langkah pengerjaannya. • Menuliskan beberapa jawaban di papan tulis, dengan sedikit menjelaskan bagaimana menentukan jawaban tersebut dengan sesekali mengingatkan rumus yang harus digunakan. • Meminta siswa untuk mengoreksi tugas milik temannya. B • Sering memberi informasi (penjelasan) • Menggali pengetahuan siswa dengan cara bertanya kepada siswa • Membagi siswa dalam kelompok kecil untuk mengerjakan soal • Berkeliling kelas mengamati bagaimana cara siswa mengerjakan soal tersebut dan menjelaskan bila ada kelompok yang kurang jelas • Meminta siswa mempresentasikan jawabannya di depan kelas C • Menjelaskan cara menyelesaikan suatu masalah • Memberikan dan membahas contoh soal yang berkaitan dengan konsep tertentu • Mengarahkan dan memberi petunjuk dalam menyelesaikan soal yang dirasa sulit kepada seluruh siswa • Menerangkan kepada siswa bahwa soal harus dikerjakan dengan cara tertentu • Menerangkan dengan detail Sikap Guru • Memberi kepercayaan pada siswa untuk mengoreksi jawaban tugas milik temannya. • Menyebutkan kesalahan yang sering dilakukan siswa,

• Memperhatikan kemampuan masing-masing siswa untuk dapat memberikan bantuan pada saat menghadapi kesulitan.

• Segera mengoreksi kesalahan siswa • Tanggap akan kesulitan yang dihadapi siswa dalam mengerjakan tugas • Membimbing siswa dalam pembahasan tugas sehingga kesulitankesulitan siswa dalam mengerjakan tugas dapat teratasi

11

D

E

F

• Memberi orientasi kepada siswa tentang tujuan pembelajaran dan target yang akan dicapai. • Memberi penjelasan materi secara klasikal. • Menjelaskan cara mengerjakan soal. • Menuntun dan membimbing siswa yang sedang mengerjakan soal. • Meminta siswa untuk memberi penjelasan mengenai apa yang mereka tulis di papan tulis. • Menjelaskan cara menentukan suatu tugas tertentu. • Memancing siswa dengan pertanyaan bagaimana • Memberitahu siswa bahwa suatu soal dapat diselesaikan seperti soal yang lain. • Menanyakan & melihat kesulitan yang dialami siswa dengan berkeliling kelas. • Membantu dan mengarahkan kesulitan siswa. • Menjelaskan suatu masalah yang memotivasi munculnya konsep. • Bertanya dan mengarahkan siswa pada suatu pengertian. • Menjelaskan secara umum suatu pengertian. • Memberi tuntunan kepada siswa yang salah dalam mengerjakan soal. • Mempersilahkan siswa untuk berpendapat dan mengemukakan jawabannya yang berbeda dengan jawaban temannya

• Ketika mendengar ada murid yang mengeluh tidak bisa mengerjakan, langsung menghampiri dan menanyakan serta menjelaskan. • Saat siswa ingin bertanya kepada kelompok lain dan mengetahuinya, langsung memperingatkan dan berkata jika mau bertanya langsung tanya saja kepada saya • Langsung memberikan penjelasan bila ada siswa yang bertanya • Menghargai pendapat dan komentar dari siswa • Mencoba membentuk pengetahuan dan pemahaman siswa sendiri. • Memandang siswa memiliki kemampuan matematika meski berbeda tingkatannya satu sama lain. • Ketika berkeliling kelas dan melihat ada siswa yang mengalami kesalahan atau kesulitan guru langsung memberikan penjelasan. • Menyuruh siswa untuk ikut berpartisipasi saat guru sedang menjelaskan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru setelah itu baru siswa diberi kesempatan untuk mencatat • Merasa heran karena kebanyakan siswa saat dijelaskan materi dapat memahami dan bisa menjawab saat guru membahas soal dengan bertanya jawab dengan siswa tetapi saat siswa diberi soal dan disuruh mengerjakan sendiri, siswa merasa kesulitan

2. Cara siswa belajar matematika dan 3. Metode pembelajaran matematika Sek A • • • • Cara siswa belajar Memperhatikan penjelasan guru, kemudian mencatat. Melihat jawaban, bertanya kepada guru. Membuka buku, membaca, mencoba memahami yang dijelaskan buku. Bertanya kepada teman bagaimana menemukan hasil seperti itu. • • • • Metode pembelajaran Menjelaskan bentuk umum. Memberikan contoh soal Menjelaskan langkah-langkah pengerjaan. Membahas tugas, menjelaskan, meminta siswa untuk melengkapi

12

• Pada saat diberi contoh siswa merasa mengerti tetapi jika diberi soal, siswa sulit mengerjakannya. • Siswa ingin penjelasan yang lama tetapi waktu terbatas • Siswa cenderung senang dengan cara yang instant dibanding harus berproses B • • • • • Mendengarkan penjelasan dari guru tentang materi yang diajarkan Bertanya kepada guru jika kurang memahami materi Menggunakan buku paket matematika dalam mengerjakan soal Berani mengungkapkan pendapatnya Berdiskusi dengan kelompok dalam mengerjakan soal yang diberikan oleh guru

C

D

• • • • • • • • • • • • • •

Mendengarkan penjelasan guru Berpartisipasi saat membahas contoh soal dengan guru Memperhatikan dan memahami contoh soal di papan tulis Bertanya kepada guru Bertanya kepada teman Mengerjakan soal Mencocokkan dengan jawaban teman Mendengarkan penjelasan guru Berpartisipasi saat membahas contoh soal dengan guru Memperhatikan dan memahami contoh soal di papan tulis Bertanya kepada guru Bertanya kepada teman Mengerjakan soal Mencocokkan dengan jawaban teman

rangkuman. • Membahas soal latihan dengan menuliskan yang diketahui dan yang ditanya dari soal tersebut. • Mengulangi menjelaskan bagaimana mencari • Mengingatkan rumus untuk mencari • Menjelaskan konsep tertentu • Memberikan contoh konsep tertentu • Mengingatkan kembali konsep yang digunakan • Memberikan lembar kerja siswa agar siswa berdiskusi tentang soal yang diberikan • Membahas jawaban soal yang telah dikerjakan berkelompok • Mengomentari tentang pekerjaan siswa • Menjelaskan tentang kembali langkah-langkah suatu pengerjaan • Menyampaikan tujuan pembelajaran • Memberikan contoh soal • Menjelaskan cara menyelesaikan contoh soal • Membahas pekerjaan rumah • Bersama siswa mencocokkan hasil pekerjaan siswa dengan jawaban yang benar • Menjelaskan materi • Memberikan contoh pengerjaan • Memberikan soal-siswa diminta untuk mencoba mengerjakansiswa berdiskusi dengan teman • Berkeliling untuk mengamati pekerjaan siswa-siswa • Menjelaskan kepada siswa. • Bersama-sama siswa membahas pekerjaan siswa tersebut • Membagi siswa dalam kelompok-kelompok --memberikan soal latihan yang dikerjakan dalam kelompok • Membahas hasil pekerjaan kelompok sambil memberi sedikit tambahan jika ada penjelasan dari siswa yang kurang. • Menulis contoh.

E

Memperhatikan penjelasan guru

13

Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan guru Mencatat penjelasan guru Mencatat penyelesaian dari contoh soal yang diberikan Melihat penyelesaian soal sebelumnya pada buku catatan Mendiskusikan dengan teman sebangku

F

Mendengarkan penjelasan guru Menjawab pertanyaan dari guru Mencatat apa yang diajarkan guru Memahami soal dengan menanyakan ke guru apa maksud dari soal Mengerjakan soal dengan serius Mencocokkan dengan teman yang lain Masih mempunyai kecenderungan menghafal rumus

• Memberikan soal yang bentuknya mirip dengan contoh soal yang diberikan • Siswa mencoba mengerjakan • Membahas bersama dengan siswa • Memancing siswa dengan pertanyaan untuk memeriksa pekerjaan siswa • Membuat rangkuman dari seluruh materi • Memberikan illustrasi sebelum menurunkan rumus, bukan rumus dulu kemudian dibuktikan. • Mengulangi pelajaran yang lalu • Bersama siswa menyelesaikan soal • Menjelaskan pengerjaan soal • Memberikan soal latihan • Memberikan bimbingan pada siswa yang belum jelas • Membahas soal bersama siswa

4. Sumber dan Media pembelajaran matematika Sek A Sumber Pembelajaran • Materi dari Buku Matematika kelas I. • Alat peraga sederhana terbuat dari sterofoam untuk menunjukkan relasi yang bukan fungsi dan relasi yang merupakan fungsi. • Latihan soal pada buku Matematika kelas I • Contoh soal latihan dari buku Matematika untuk SMA kelas I • Jawaban tugas milik teman, melihat apakah jawaban tersebut benar atau tidak • Pekerjaan rumah dari buku Matematika untuk SMA kelas I. • Diagram pohon untuk membantu pemahaman • Buku LKS • Penjelasan guru • Buku Matematika untuk SMA Kelas X karangan Sartono Wirodikromo • • • • Media Pembelajaran Alat peraga sederhana terbuat dari sterofoam. Papan tulis. Kertas berpetak untuk menggambarkan grafik. Diagram pohon

B

• Laptop • Sterofom

14

terbitan Erlangga • Presentasi jawaban kelompok

Penjelasan Guru LKS ‘TUNTAS’ Buku paket untuk pejelasan materi dan latihan soal Soal diskusi, Latihan Uji Kompetensi dari buku paket Siswa : ide dan pekerjaannya D Hand out / modul yang dibuat oleh guru Penjelasan dari guru Siswa yang memberikan ide, gagasan, dan komentar pada saat siswa sedang menjawab pertanyaan dan memberikan penjelasan saat menyelesaikan soal. E • Penjelasan Guru • Buku Matematika SMA untuk soal latihan • Buku catatan siswa. F • Guru dengan memberikan penjelasan kepada siswa • Buku handout yang digunakan untuk panduan mengerjakan soal-soal ( soalsoal ada yang diambil dari buku handout ) • Siswa bisa sebagai sumber belajar karena siswa mampu mengkoreksi dan cepat tanggap dengan jawaban guru yang kurang tepat saat mengerjakan soal. 5. Penilaian proses dan hasil belajar matematika Sek Penilaian proses belajar A • Menanyakan kepada siswa apakah siswa masih ingat atau tidak sebagai apaersepsi materi sekarang. • Menanyakan kepada siswa apakah siswa bisa atau tidak mengerjakan soal yang diberikan. • Sesekali meminta pendapat siswa dari apa yang sedang dijelaskannya. • Menanyakan kepada siswa apakah tugas yang diberikan kepada siswa bisa atau tidak.

C

• • • • • • • •

• • • • • •

Papan tulis Millimeter blok untuk menggambar grafik Kertas yang menggambarkan/menunjukkan relasi fungsi Papan kecil yang berbentuk bidang kartesius Gambar grafik dalam millimeter blok milik siswa Papan tulis untuk menuliskan penjelasan guru dan pekerjaan siswa

• Papan tulis untuk menuliskan penjelasan guru dan pekerjaan siswa • Papan tulis untuk menuliskan penjelasan guru dan pekerjaan siswa • Papan tulis untuk menuliskan penjelasan guru dan pekerjaan siswa

Penilaian hasil belajar • Mencatat siswa yang mengerjakan sebagian atau tidak mengerjakan tugas. • Memberikan tugas • Mengadakan posttest

15

• Berkeliling melihat pekerjaan siswa, menjawab pertanyaan siswa dengan uraian singkat. B • Memberikan latihan soal untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa • Mengamati siswa dalam mengerjakan soal • Melakukan tanya jawab C • Memperhatikan cara siswa mencari himpunan penyelesaian dari soal yang diberikan • Melihat dan memeriksa pekerjaan siswa • Bertanya-jawab dengan siswa tentang jawaban dari soal • Berkeliling melihat proses diskusi siswa • Bertanya-jawab dengan siswa tantang contoh soal D • Melakukan tanya jawab dan diskusi dengan siswa untuk mengecek pemahaman siswa tentang materi. • Berkeliling dan membimbing siswa saat siswa sedang mengerjakan soalsoal. E • Berkeliling kelas saat siswa mengerjakan soal. • Melakukan tanya-jawab dengan siswa, baik saat menjelaskan maupun membahas soal. • Memeriksa kemudian membahas pekerjaan rumah yang diberikan pada pertemuan sebelumnya. F • Memperhatikan siswa yang mengerjakan soal satu persatu. • Memonitor dengan bertanya kepada siswa bagaimana siswa mengerjakan soal • Memperhatikan dan membantu juga siswa yang belum bisa mengerjakan soal tersebut. 6. Interaksi sosial hubungan guru-siswa dan antar siswa dalam kelas: Sek A Hubungan Guru dan Siswa • Keterlibatan siswa dalam pembelajaran di mana siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru yang dijawab secara bersama-sama atau sendiri. • Guru menjawab pertanyaan siswa yang bertanya. • Bersama-sama membahas tugas.

• Memberikan soal yang dikerjakan oleh siswa dalam kelompok kemudian dikumpulkan sebagai nilai tugas • Memberi tambahan nilai untuk siswa yang maju kedepan • Memberikan ulangan harian • Memberikan ulangan remidi

• Ulangan Harian • Ulangan Blok • Ulangan harian.

• Penilaian hasil dilaksanakan ketika diadakan evaluasi baik tertulis maupun lisan lewat kuis

Hubungan Antar Siswa • Bertanya hal yang kurang jelas pada apa yang telah diterangkan guru kepada teman yang duduknya berdekatan. • Beberapa siswa berdiskusi dalam mengerjakan latihan.

16

B

• Guru memfasilitasi siswa pada saat menyampaikan materi dengan bimbingan bertahap • Ketika guru bertanya siswa selalu berusaha menjawab pertanyaan tersebut • Guru selalu berusaha memberikan penjelasan yang mudah dipahami oleh siswa apabila siswa bertanya • Guru berinteraksi dengan siswa dalam pembahasan tugas.

C

• Siswa aktif dalam menjawab pertanyaan guru • Bila siswa kurang mengerti dan bertanya kepada guru segera memberikan penjelasan • Dalam menjawab pertanyaan siswa berdiskusi terlebih dahulu dengan teman • Apabila ada siswa yang kurang memahami dan kurang mengerti dalam mengerjakan soal–soal guru selalu membimbing siswa. • Guru selalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya dengan cara melakukan tanya jawab. • Guru meminta beberapa siswa untuk memberi alasan atas jawaban yang mereka berikan. • Saat guru mengajukan pertanyaan, siswa selalu berusaha untuk menjawab. • Bila ada siswa yang bertanya, guru segera berusaha memberikan penjelasan. • Siswa mendengarkan penjelasan dari guru. • Siswa menjawab pertanyaan guru • Diskusi antara guru dan siswa ketika siswa bertanya bagaimana cara mengerjakan soal tersebut.

• Antar siswa saling berdiskusi dalam proses pembelajaran ini untuk saling bertukar pikiran ketika mengalami kesulitan • anggota kelompok yang lainnya ikut membantu menjelaskan apabila ada anggota kelompok lain yang kurang jelas saat presentasi. • Saling berdiskusi baik dengan kelompoknya masing-masing maupun dengan kelompok lain apabila mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal • Dalam mengerjakan soal siswa berdiskusi dengan teman sekelompoknya maupun dengan teman kelompok yang lainnya • Siswa bertanya kepada temannya jika ada yang kurang dimengerti • Dalam menjawab soal ulangan siswa ada yang bekerja sama dengan temannya • saling bekerja sama/ berdiskusi dalam mengerjakan soal–soal latihan yang diberikan oleh guru. • Siswa satu dengan siswa lainnya juga terlihat saling menghargai pendapat teman lainnya. • Melakukan diskusi saat menemukan kesulitan dalam mengerjakan soal latihan. • Menyerahkan hasil pekerjaan kepada teman untuk diperiksa. • Sebelum pekerjaan rumah dibahas bersama, beberapa siswa melakukan diskusi untuk saling mencocokkan. • Terlihat ketika siswa selalu berdiskusi dengan temannya dalam menyelesaikan soal-soal. • Ketika ada teman yang tidak mengerti, siswa yang mengerti berusaha mengajari teman yang tidak mengerti tadi. • Mengkoreksi jawaban teman yang salah ketika temannya maju kedepan mengerjakan.

D

E

F

17

3.3.3. Jawaban kuesioner guru matematika Dari jawaban yang telah diisikan pada form kuesioner, diperoleh rangkuman jawaban kuesioner seperti pada Tabel 3. berikut.
Tabel 3. Rangkuman Jawaban Kuesioner Guru Matematika 1.a. Tindakan guru • Mengadakan pretest. • Memberikan tugas individu dengan pengawasan guru. • Sering memberi informasi (penjelasan) • Menerangkan dengan detail • Memberi orientasi kepada siswa tentang tujuan pembelajaran dan target yang akan dicapai. • Memberi penjelasan materi secara klasikal. • Memberi contoh untuk membantu pemahaman konsep secara klasikal. • Membimbing siswa secara personal untuk pemahaman konsep, membantu kesulitan dalam latihan soal, dsb. • Menanyakan & melihat kesulitan yang dialami siswa dengan berkeliling kelas. 1. b. Sikap guru • Sabar tetapi selalu harus mengatur waktu. • Memperhatikan kemampuan masingmasing siswa untuk dapat memberikan bantuan pada saat menghadapi kesulitan. • Memandang siswa memiliki kemampuan matematika meski berbeda tingkatannya satu sama lain. • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang • Mengusahakan dan mengurangi peran guru sebagai instruktur 2. Kesulitan / hambatan • Banyak siswa yang malas mencari sendiri penyelesaian permasalahan-nya. • Penguasaan Teknologi informasi kurang memadahi sehingga menghambat tindakan guru sebagai fasilitator. • Jumlah siswa dalam kelas yang cukup banyak. • Siswa tidak tertarik dengan mata pelajaran matematika. • Kemampuan siswa untuk matematika memang kurang.. • Beban mengajar guru yang terlalu berat. • Materi yang cukup banyak untuk diselesaikan. • Menghadapi beberapa anak yang kurang optimal, malas, pasif dalam pembelajaran matematika. • Pembuatan LKS memerlukan waktu, tenaga dan pikiran yang banyak. • Membutuhkan waktu untuk menerapkan guru sebagai fasilitator. 3. Hal yang dibutuhkan • Media Pembelajaran yang memadahi, Alat Peraga, LKS. • Guru perlu diberi waktu / kesempatan belajar menggunakan media pembelajaran • LCD, dll, untuk variasi pembelajaran • Kesabaran guru • Kebebasan mengelola pembelajaran tanpa harus dihantui materi pembelajaran • Karena satu kelas cukup besar dirasa diperlukan pembantu / asisten. • Perlu Lembar Kerja Siswa (LKS) yang membantu siswa.

18

4. Cara siswa belajar • Suka sesuatu yang instan, malas untuk berproses lama-lama. • Mau belajar jika ada PR saja atau jika mau ulangan. • Kebanyakan siswa “menunggu” informasi guru atau hasil diskusi kelas. • Jika menemukan soal yang kurang bisa dipahami, terus menyerah. • Sebagian besar tidak tertarik dengan matematika sehingga bersikap apatis. • Memahami konsep dari penjelasan buku atau buku referensi masing-masing siswa. • Memahami contoh untuk memperkuat konsep. • Mengerjakan latihan soal dan berdiskusi dengan teman jika mengalami kesulitan. • Masih mempunyai kecenderungan menghafal rumus

• • • • • • • •

7. Metode Pembelajaran yang cocok Metode menerangkan ekspositori Metode Permainan Metode Diskusi Memanfaatkan internet / ICT Penjelasan konsep dasar Tanya jawab Penemuan terbimbing Tugas mandiri

5. Kesulitan / hambatan • Pada saat diberi contoh siswa merasa mengerti tetapi jika diberi soal, siswa sulit mengerjakannya. • Siswa ingin penjelasan yang lama tetapi waktu terbatas • Masih ada Kesalahan-kesalahan konsep • Kurang percaya diri • Malas berpikir dan kurang tekun. • Kurang bisa memahami soal cerita. • Mungkin adanya faktor guru yang membosankan • Buku referensi kadang tidak memiliki • Materinya abstrak • Ketrampilan mengolah angka yang minim, sehingga sering gagal menyelesaikan soal sampai akhir secara tuntas. • Perhatian orangtua dalam mendukung anak belajar kurang. • Membuat hubungan antar materi yang saling berhubungan. • Menerapkan rumus yang pernah dipelajari dalam materi yang berbeda 8. Kesulitan / hambatan • Untuk permainan dan diskusi memerlukan banyak waktu. • Membuat LKS yang cocok untuk siswa • Yang paling menghambat adalah tersedianya waktu mengingat input siswa yang rendah. • Perlu waktu yang lebih banyak untuk diskusi (dalam proses pembelajaran) • Media pembelajaran yang tepat sulit didapat. • Kurangnya fasilitas

6. Hal yang dibutuhkan • Perlu diberi lembaran-lembaran LKS yang sesuai. • Perlu diberikan tugas secara kelompok atau individu. • Perlu diupayakan kesadaran bahwa matematika dibutuhkan untuk setiap jurusan maupun manfaat matematika dalam hidup. • Perlu media pembelajaran yang tepat untuk membantu proses berpikir dan penanaman konsep • Perlu adanya inovasi pembelajaran • Perhatian dan sapaan secara pribadi (cura personalis) • Buku referensi yang memadahi. • Lebih mendekatkan materi yang abstrak itu dengan hal-hal kongkrit sehari-hari. • Alat peraga / media belajar yang dapat menuntun siswa tanpa harus banyak menghapal. • Sumber belajar yang membantu siswa mudah menerapkan hubungan antar materi 9. Hal yang dibutuhkan • Perlu dibuat persiapan-persiapan: LKS, Kuis. • Perlu dibuat bahan diskusi. • Mengajak siswa membuat dan menjalankan permainan yang sesuai dengan Pokok Materi yang diajarkan. • Penambahan jam pelajaran • Media pembelajaran yang tepat • Memilih metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan

19

• Tugas kelompok • Pembahasan latihan soal secara klasikal • Memberikan illustrasi sebelum menurunkan rumus, • Bermain menggunakan alat peraga untuk menemukan / menerapkan suatu rumus atau konsep 10. Sumber / Media yang cocok • Buku-buku Belajar Matematika & LKS. • Komputer, laptop. LCD • Alat Peraga dan Alat Permainan Mat • Chart • Buku-buku yang relevan • Internet • Modul belajar yang dibuat oleh guru • Buku catatan siswa yang diringkas dari penjelasan guru.

• Kekurangan waktu, tenaga dan pikiran untuk mempersiapkan pembelajaran. • Membuat / menemukan alat peraga yang cocok untuk setiap bab.

• Perlu beberapa macam cara alternatif penyampaian untuk satu pokok bahasan, bisa dengan permainan, bisa dengan contoh-contoh kongkrit. • Peralatan/fasilitas untuk menjelaskan seperti laboratorium matematika

13.a. Penilaian proses belajar Mengisi Lembar LKS Latihan soal Pretest Diskusi Pengamatan keterlibatan & keaktifan siswa saat proses pembelajaran. • Postest:. • Melihat langkah-langkah saat pengerjaan suatu soal oleh siswa • • • • •

• • • • • • •

11. Kesulitan / hambatan 12. Hal yang dibutuhkan • Guru belum pandai menggunakan program- • Perlu pelatihan untuk guru Matematika tentang program komputer & LCD. program pada komputer dan cara menggunakannya. • Pembuatan materi pelajaran dengan media • Guru harus mau belajar. elektronik • Alat Peraga yang sangat terbatas • Ketersediaan CD pembelajaran • Software untuk pembelajaran matematika • Fasilitas yang memadahi dengan multimedia tidak ada. • Alat peraga matematika • Proses mencatat sangat menyita waktu • Software untuk pembelajaran matematika • Guru harus mengambil dari buku-buku yang dengan multimedia cocok kemudian diringkas, tapi hal ini sangat • Journal Matematika menyita waktu. • Buku-buku referensi matematika yang bagus. • Kesulitan menemukan / membuat sumber / media tersebut yang benar-benar cocok 13. b. Penilaian hasil belajar 14. Kesulitan / hambatan 15. Hal yang dibutuhkan Ulangan • Kelas cukup besar sehingga • Perangkat/administrasi penilaian pengamatan tidak optimal. yang sederhana sehingga tidak tugas-tugas individu menyita waktu dan tenaga.. • Koreksi yang butuh waktu yang tugas kelompok cukup lama untuk mengoreksi • Bagaimana membuat kriteria / Kuis acuan / patokan yang bisa pekerjaan siswa sehingga tidak uji kompetensi (ulangan harian dipertanggung-jawabkan untuk bisa memberikan feed back secara dan ulangan semester) penilaian proses yang baik. cepat. Ulangan mid semester • Tidak adanya patokan / kriteria Ulangan akhir semester yang cukup jelas untuk penilaian proses. • Pada penilaian proses, tidak setiap

20

tatap muka dapat dilaksanakan untuk semua siswa. 16.a. Hubungan guru-siswa • Guru memfasilitasi siswa pada saat menyampaikan materi dengan bimbingan bertahap • Terbuka, saling menghargai & menghormati, • Saling memahami kesulitan masing-masing, jujur dan komunikatif, • Masing-masing bisa mengungkapkan ide / gagasan secara bebas tapi bertanggungjawab. • Menempatkan guru sebagai pendamping/ fasilitator sehingga membuat murid tidak segan untuk bertanya. 16. b. Hubungan antar siswa • Siswa berdiskusi tentang suatu materi/soal dan memberikan laporan hasil diskusi. • Saling mendukung dalam memahami materi pelajaran • Terbuka, saling mendukung satu sama lain, • bersaing secara sehat, • saling membantu kesulitan teman lain. 17. Kesulitan / hambatan • sifat tertutup, malu, tidak percaya diri. • dominasi siswa tertentu • Siswa masih dalam proses adaptasi dengan situasi kelas mereka yang baru • Membuat suasana selalu cair, fresh, menyenangkan itu diperlukan ide-ide dan wawasan, serta pengalaman. • Mengubah kebiasaaan sebagai besar siswa untuk tidak segan bertanya baik kepada guru maupun kepada temannya. • Mengubah wawasan sebagian besar siswa takut salah. 18. Hal yang dibutuhkan • Perlu training atau pelatihan. • Keterbukaan, Keteladanan untuk jujur dengan realitas sesungguhnya. • guru perlu memahami siswa dalam proses belajar, untuk itu guru perlu mendapat support dan training. • Kondisi / suasana yang memungkinkan siswa tidak takut salah dan berani mengemukakan pendapat.

3.3.4. Diskusi kelompok fokus Dalam diskusi kelompok fokus terlebih dulu dipresentasikan model ’Matematisasi Berjenjang’ oleh peneliti. Dari pemutaran ulang rekaman video dan notulensi, diperoleh rumusan masalah dan kebutuhan rencana pelaksanaan metode ’Matematisasi Berjenjang’ seperti dalam Tabel 4. berikut.

21

Tabel 4. Masalah Dan Kebutuhan Hasil Diskusi Kelompok Fokus No 1 Masalah Jam pelajaran yang digunakan untuk satu pokok bahasan dengan metode ‘matematisasi berjenjang’ cukup banyak Pembelajaran Matematika, khususnya di kelas XII berorientasi pada UN, sehingga pembelajaran cenderung drill soal UN. Apakah semua materi akan dilaksanakan dengan metode ‘matematisasi berjenjang’ ? Bagaimana dengan materi yang sebenarnya lebih mudah diajarkan dengan metode konvensial ? Beban mengajar guru sudah tinggi, sehingga tidak sempat melakukan persiapan untuk inovasi pembelajaran. Metode ‘Matematisasi Berjenjang’ memerlukan persiapan yang ekstra, guru tidak memiliki cukup materi dan waktu. Buku Ajar dengan metode seperti itu apakah sudah ada ? Kebutuhan Guru perlu difasilitasi agar dapat mengelola pembelajaran dengan metode ini dengan waktu yang lebih efisien Pembelajaran dengan metode ini akan dirancang khususnya di kelas XI dan kelas X, sedangkan kelas XII lebih disesuaikan dengan persiapan UN Diharapkan jangka panjang dapat untuk semua materi. Akan tetap diupayakan dengan metode ini, karena dengan metode ini diyakini akan berdampak lebih kuat dalam pemahaman konsep dan pemecahan masalah. Dalam ujicoba nanti, Kurikulum dan Bahan Ajar akan dirancang peneliti yang akan divaliadasi oleh guru dan ahli sebelum ujicoba. Beberapa materi untuk inspirasi dari luar negeri (dari internet sudah ada), tetapi buku ajar dengan metode ini akan dirancang dan direalisasi dalam penelitian ini. Siswa tetap harus diajak untuk berproses lewat pemecahan masalah dan pemahaman Kemapuan numerik yang lemah juga akan diperhatikan dan akan dikembangkan bersama dengan kemampuan logika dan pemecahan masalah. Perlu diupayakan pemangkasan jenjangjenjang dalam metode ini dengan tanpa mengurangi esesnsinya. Konteks dalam metode ini tidak selalu konteks dalam kehidupan sehari-hari, dapat juga dalam konteks matematika, asal dapat dipahami oleh pengetahuan siswa sama dengan no 5, 6. Pengantar tetap diperlukan dalam orientasi, tetapi hanya untuk mengantar dan memastikan bahwa siswa memahami apa yang harus dikerjakan. Tidak masalah, bahkan dapat melatih siswa belajar mandiri Guru perlu difasilitasi agar dapat mengelola diskusi dengan waktu lebih efisien

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Siswa cenderung senang dengan cara yang instant dibanding harus berproses Siswa kadang masih lemah dalam numerik, sementara model yang akan dikembangkan banyak unsur logika, apakah siswa siap? Jenjang-jenjang dalam model yang ditawarkan nampaknya terlalu panjang Bagaimana dengan konsep matematika yang tidak ada konteknya?

11

12

13

Guru terus terang kesulitan kalau harus mencari konteks sendiri. Dalam pengantar apakah guru boleh menjelaskan tujuan pembelajaran, apakah tidak seperti sudah diberitahu? Apakah dalam proses mengkonstruksi, anak boleh membuka buku paket? Diskusi dengan menampilkan pekerjaan siswa biasanya juga akan memerlukan waktu yang lama

14 15

22

3.3.5 Hasil Identifikasi Masalah dan Kebutuhan Dari masing-masing hasil analisis data di atas dilakukan identifikasi masalah dan kebutuhan yang meliputi 6 aspek, ditinjau dari pendekatan konstruktivistik, kontekstual dan kooperatif, sehubungan dengan rencana pelaksanaan metode ’Matematisasi Berjenjang’. Hasil identifikasi secara umum seperti dalam Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Identifikasi Masalah Dan Kebutuhan

1. a. Tindakan dan sikap guru dalam pembelajaran matematika Masalah Kebutuhan • Guru masih cenderung menjelaskan secara • Guru perlu mengawali pembelajaran dengan umum suatu pengertian di awal masalah kontekstual pembelajaran. • Guru perlu memberikan siswa untuk • Guru masih cenderung menjelaskan langkahbereksplorasi dalam pemecahan masalah dengan langkah cara menyelesaikan soal caranya sendiri dan bernegosiasi 1. b. Sikap guru dalam pembelajaran matematika Masalah • Guru memposisikan dirinya sebagai sebagai • satu-satunya sumber • Guru meyakini bahwa kompetensi matematik • dapat dicapai secara efektif dan praktis secara mekanistik yang cenderung mengembangan pemahaman instrumental 2. Cara siswa belajar matematika Masalah • Siswa masih kurang dapat melihat hubungan antar konsep ketika menyelesaikan persoalan. • Siswa kurang bisa memahami soal cerita. 3. Metode pembelajaran matematika Masalah • Guru cenderung memulai pembelajaran dari penjelasan bentuk umum, dilanjutkan dengan contoh soal formal dengan langkah-langkah pengerjaannya. • Metode diskusi dirasa guru akan memerlukan banyak waktu. 4. 1. Sumber pembelajaran matematika Masalah • Guru masih menjadi sumber utama • Materi pada buku sumber , LKS dan handout langsung bersifat formal, belum diawali dengan masalah kontekstual dan mendorong Kebutuhan • Guru perlu mengawali pembelajaran dengan kegiatan pemecahan masalah kontekstual dan secara bertahap masuk ke tingkat matematika formal • Guru perlu difasilitasi agar dapat mengelola diskusi dengan waktu lebih efisien Kebutuhan • Guru perlu difasilitasi agar dirinya bukanlah sumber utama dalam pembelaran. • Perlu ditawarkan alternatif sumber belajar yang cocok dan sesuai dengan prinsip-prinsip pemb

Kebutuhan Guru perlu bersikap bahwa dirinya bukanlah satu-satunya sumber informasi Guru perlu mengembangkan pemahaman relasional dalam mencapai kompetensi

Kebutuhan • Guru perlu mengembangkan pemahaman relasional dalam mencapai kompetensi • Pembelajaran perlu diawali dengan masalah kontekstual yang sesuai dan menarik siswa

23

siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya Mat dlm KTSP, yaitu konstruktivistik, sendiri kontekstual dan kolaboratif. 4. 2. Media pembelajaran matematika Masalah Kebutuhan • Media yang digunakan belum memanfaatkan • Perlu difasilitasi pengunaan media yang media yang bervariasi untuk memfasilitasi bervariasi dan sesuai untuk memfasilitasi masalah kontekstual dan proses konstruksi masalah kontekstual dan proses konstruksi pengetahuan siswa pemahaman siswa 5. 1. Penilaian proses dan hasil belajar matematika Masalah Kebutuhan • Guru cenderung melihat kesalahan/kesulitan • Guru perlu memahami ide/cara yang dilakukan siswa dari cara-cara pengerjaan yang sudah siswa dalam proses mengerjakan soal diberikan guru. 5. 2. Penilaian hasil belajar matematika Masalah Kebutuhan • Bentuk dan instrumen penilaian masih • Penilaian perlu dilakukan dengan cara yang kurang bervariasi, masih cenderung bervariasi, yaitu tes tulis, penugasan proyek, pengerjaan soal formal secara tertulis portopolio, dll 6. 1. Interaksi sosial Guru-Siswa dalam kelas Masalah • Guru masih cenderung menjelaskan materi , cara mengerjakan soal dan menjawab pertanyaan siswa dengan penjelasan detail 6. 2. Interaksi sosial Antar Siswa dalam kelas Masalah • Adanya sifat siswa yang tertutup, malu dan tidak percaya diri. Kebutuhan • Guru perlu mengurangi dominasi pemberian penjelasan dalam pembelajaran di kelas dan memfasilitasi proses konstruksi pengetahian siswa sendiri. Kebutuhan • Guru perlu mendorong siswa untuk berani mencoba menyelesaikan masalah, tidak takut salah dan berani mengemukakan pendapat.

3.4. Pembahasan 3.4.1. Implementasi pendekatan konstruktivistik Menurut Jonassen (1999), konsepsi konstruktivistik berasumsi bahwa pengetahuan dikonstruksi secara individual dan dikonstruksi bersama secara sosial oleh siswa berdasarkan interpretasi terhadap pengalaman. Konsepsi konstruktivis memandang bahwa pengetahuan tidak dapat sekadar ditransfer atau

ditransmisikan. Dari data deskripsi pembelajaran di kelas ada guru yang merasa heran manakala siswa saat dijelaskan nampaknya sudah mengerti tetapi saat mengerjakan latihan soal mengalami kesulitan. Di sini nampak bahwa guru tidak mudah begitu saja mentransfer pengetahuannya ke siswa. Dari data tindakan guru juga nampak guru cenderung untuk menjelaskan materi dengan detail dan siswa diharapkan akan sudah memahami konsep dengan jelas.

24

Lingkungan pembelajaran konstruktivis yang diusulkan Jonassen (1999) memfasilitasi proses konstruksi pengetahuan dengan bertitik tolak dari kegiatan penyelesaian masalah/pertanyaan/proyek. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua guru belum memulai pembelajaran kegiatan penyelesaian masalah. Guru memulai pelajaran dari konsep yang umum, yang merupakan konsep matematika pada tingkat formal. Beberapa guru ada yang memulai pelajaran dengan memberikan contoh pengerjaan soal formal dengan langkahlangkah yang detail, yang diharapkan siswa dapat mengerjakan soal latihan serupa yang nantinya diberikan. Di sisi lain dari data (kuesioner guru) ada yang mengatakan siswa banyak mengalami kesulitan saat mengerjakan soal cerita. Metode pembelajaran matematika yang sekarang ada kebanyakan memberikan konsep-konsep matematika yang formal terlebih dulu untuk sebagai ’alat’ untuk diterapkan dalam menyelesaikan soal cerita. Di sini nampaknya guru cenderung mengajarkan matematika secara mekanistik, yaitu cenderung menekankan pada pemahaman instrumental. Data penelitian juga menunjukkan ada masalah ada siswa yang kesulitan menghubungkan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah. Hal ini nampaknya terkait dengan kecenderungan guru yang menekankan pemahaman instrumental. Sementara kemampuan

menghubungkan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah tidak sekedar pemahaman instrumental tetapi memerlukan pemahaman relasional. 3.4.2. Implementasi pendekatan kontekstual Menurut Johnson (2002) pembelajaran harus bersifat kontekstual, karena makna bahan pelajaran bagi siswa lahir dari hubungan antara isi pelajaran dan konteks yang dikenal siswa dalam situasi kehidupan sehari-hari. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua guru belum memulai pembelajaran dengan masalah kontekstual. Dalam KTSP juga ditekankan bahwa kegiatan pembelajaran hendaknya diawali dengan masalah kontekstual. Dari pertemuan dalam diskusi kelompok fokus guru pada umumnya setuju pendapat ini, akan tetapi banyak guru mengalami kesulitan. Kesulitan tersebut diantaranya: membuat masalah kontekstual yang sesuai tidaklah mudah, sumber pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan kontekstual belum ada. 25

Menurut teori kognitif, proses pengolahan informasi dalam pikiran orang diawali dengan persepsi, yakni penangkapan dan interpretasi rangsang indera. Menurut Bruning et al. (1995), penyajian konteks bagi persepsi merupakan unsur kritis pembelajaran yang efektif. Dari hasil penelitian menunjukkan guru cenderung langsung masuk tingkat formal. Hal ini kadang tidak dapat ditangkap secara bermakna dalam pengetahuan siswa. Dengan kata lain materi yang disajikan tidak selalu kontekstual bagi siswa atau materi awal pembelajaran berada di luar jangkauan konstruksi siswa. Hal ini diduga berakibat pada minat siswa yang kurang terhadap matematika, matematika tidak menarik dan menjadi momok. Sumber dan media pembelajaran yang digunakan guru juga masih belum kontekstual dan cenderung langsung ke tingkat formal. Semua guru merasakan dan membutuhkan adanya sumber dan media yang kontekstual. Media audio visual yang sudah dimiliki sekolah juga belum dimanfaatkan dengan optimal. Hal ini kiranya menjadi tantangan dalam pengembangan pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual. 3.4.3. Implementasi pendekatan kolaboratif Teori interaksional memandang belajar sebagai suatu proses membangun makna melalui interaksi sosial. Menurut Yackel & Cobb (1996), masing-masing pelaku interaksi sosial mengalami proses pemaknaan pribadi, dan dalam interaksi sosial terjadi saling-pengaruh di antara proses-proses pribadi itu, sehingga terbentuk makna yang diterima bersama. Dari data penelitian nampak interaksi sosial dalam membangun pengetahuan. Dalam penjelasan guru masih diperlukan tanya-jawab dengan siswa dan antar siswa juga bertanya-jawab dalam memahami penjelasan dari guru. Demikian juga terjadi saat memahami materi dari buku sumber. Makna yang diterima bersama juga nampak pada data di mana guru dan siswa saling mengemukakan ide maupun saling mengkoreksi yang dianggap masih salah. Dari hasil penelitian nampaknya secara umum dalam hal interaksi sosial sudah cukup positip, di mana guru sudah biasa memfasilitasi dalam hal berinteraksi seperti: tanya jawab, diskusi kelompok, saling menampilkan dan menanggapi pekerjaan siswa. Interaksi sosial antar siswa juga sudah cukup positip 26

untuk mendukung pendekatan kolaboratif, di mana siswa sudah terbiasa diskusi dengan teman sebelah, diskusi di kelompoknya maupun berdiskusi secara umum di kelas. Masalah yang masih harus dihadapi adalah mengurangi porsi guru dalam langsung memberikan penjelasan pengerjaan suatu masalah, yang mana seharusnya siswa diberi kesempatan untuk bereksplorasi. Dalam lingkungan pembelajaran, proses pembentukan makna dalam diri siswa membutuhkan dukungan guru berupa topangan (scaffolding), yaitu bantuan yang diberikan dalam wilayah perkembangan terdekat (zone of proximal development) siswa (Wood et al., dalam Confrey, 1995). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan guru cenderung mengulang penjelasan guru, misalnya mengingatkan rumus, menunjukkan cara yang salah. Topangan adalah bantuan yang diberikan dalam ’wilayah perkembangan terdekat’ siswa. Dalam hal mengenali ’wilayah perkembangan terdekat’ siswa memang tidaklah mudah. Guru harus mau dan mampu menyelami serta mamahami tingkat berpikir siswa. Hal ini dapat diupayakan misalnya lewat tanya jawab dengan siswa sebelum memberikan bantuan yang diharapkan dekat dengan ’wilayah perkembangan terdekat’-nya.

3.5. Pengembangan Kurikulum dan Buku Ajar 3.5.1. Draft Buku Pedoman Pengembangan Kurikulum Pengembangan kurikulum adalah penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi program pembelajaran yang meliputi materi pokok pembelajaran, urutan pembelajaran, dan strategi pembelajaran. Dalam draft buku pedoman pengembangan kurikulum ini, strategi pembelajaran matematika diwujudkan dalam bentuk model pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’ Dalam draft buku pedoman pengembangan kurikulum ini meliputi uraian: 1. Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika kelas X SMA Standar kompetensi dan kompetensi dasar mengacu KTSP (Depdiknas, 2006). 2. Sistematika kompetensi dasar matematika kelas X SMA Sistematika kompetensi dasar mengungkapkan hubungan antar kompetensi dasar beserta urutan pencapaiannya, seperti diberikan dalam gambar berikut. 27

Aljabar 1

1.1 Menggunakan aturan pangkat, akar, dan logaritma

1.2 Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan yang melibatkan pangkat, akar, dan logaritma
B

2.1 Memahami konsep fungsi Aljabar 2

2.2 Menggambar grafik fungsi aljabar sederhana dan fungsi kuadrat 2.5 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan dan/atau fungsi kuadrat

2.3 Menggunakan sifat dan aturan tentang persamaan dan pertidaksamaan kuadrat 2.6 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan dan/atau fungsi kuadrat dan penafsirannya

2.4 Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan yang berkaitan dengan persamaan dan pertidaksamaan kuadrat

3.1 Menyelesaikan sistem persamaan linear dan sistem persamaan campuran linear dan kuadrat dalam 2 variabel Aljabar 3 3.4 Menyelesaikan pertidaksamaan satu variabel yang melibatkan bentuk pecahan aljabar

3.2 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear 3.5 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan pertidaksamaan satu variabel

3.3 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dan penafsirannya 3.6 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan pertidaksamaan satu variabel dan penafsirannya

Gambar 2. Sistematika Kompetensi Dasar Matematika SMA Kelas X Semester 1

4.1 Memahami pernyataan dalam matematika dan ingkaran atau negasinya Logika 4.3 Merumuskan pernyataan yang setara dengan pernyataan majemuk atau pernyataan berkuantor yang diberikan 5.1 Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan teknis yang berkaitan dengan perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri

4.2 Menentukan nilai kebenaran dari suatu pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor 4.4 Menggunakan prinsip logika matematika yang berkaitan dengan pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor dalam penarikan kesimpulan dan pemecahan masalah

Trigonomeri

5.2 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri

5.3 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri, dan penafsirannya

6.2 Menentukan jarak dari titik ke garis dan dari titik ke bidang dalam ruang dimensi tiga Geometri 6.1 Menentukan kedudukan titik, garis, dan bidang dalam ruang dimensi tiga 6.3 Menentukan besar sudut antara garis dan bidang dan antara dua bidang dalam ruang dimensi tiga

Gambar 3. Sistematika Kompetensi Dasar Matematika SMA Kelas X Semester 2

28

3. Materi pokok pembelajaran matematika kelas X SMA Berdasarkan ketentuan Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP), materi pembelajaran dipilih dan dikembangkan sendiri oleh guru untuk memfasilitasi siswa dalam mencapai kompatensi dasar matematika. 4. Model Pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’ Model pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’ dikembangkan dengan memadukan beberapa pendekatan pembelajaran, yaitu pendekatan

konstruktivistik,

pendekatan

kontekstual, pendekatan kolaboratif, dan

pendekatan pendidikan matematika realistik. Berdasarkan pendekatanpendekatan tersebut, maka secara umum model pembelajaran Matematisasi Berjenjang memiliki karakteristik sebagai berikut: i.) Proses pembelajaran berintikan kegiatan siswa membangun pengetahuan baru berdasarkan interaksi antara pengetahuan sebelumnya dan rangsang dari lingkungan. ii.) Proses pembelajaran bertolak dari kegiatan pemecahan masalah

kontekstual, yaitu masalah yang dapat dipahami siswa berdasarkan pengalaman masing-masing. iii.) Proses pembelajaran berlangsung dalam suasana kerjasama yang bercirikan adanya negosiasi makna matematik antar siswa dan topangan (= bantuan yang disesuaikan dengan situasi perkembangan individu siswa) dari guru. iv.) Setiap kompetensi matematik dikuasai siswa melalui proses matematisasi berjenjang, yang mencakup jenjang-jenjang sebagai berikut: a. Jenjang situasional: engan topangan guru, siswa menggunakan pengetahuan dan strategi sendiri yang bersifat situasional dan terbatas dalam pemecahan masalah kontekstual. b. Jenjang referensial: Dengan topangan guru, siswa membangun model situasi masalah untuk memecahkan masalah kontekstual.

29

c. Jenjang umum: Dengan topangan guru, siswa membangun model penalaran matematik untuk memecahkan masalah-masalah yang konteksnya berbeda-beda. d. Jenjang formal: Dengan topangan guru, siswa melakukan penalaran matematik formal, yaitu memakai model matematik formal dan baku untuk memecahkan masalah matematik. v.) Setiap pertemuan pembelajaran di kelas berintikan 4 langkah kegiatan sebagai berikut: a. Orientasi: Siswa memahami situasi masalah yang disajikan guru. b. Eksplorasi: Siswa mencari pemecahan masalah dengan strategi yang diciptakan sendiri. c. Negosiasi: Siswa mengkomunikasikan hasil eksplorasi untuk

membangun makna matematik yang diterima bersama d. Integrasi: Siswa mengkaitkan makna matematik yang diterima bersama dengan pengetahuan sebelumnya untuk memperoleh pemahaman relasional mengenai konsep-konsep atau prosedur-prosedur pengerjaan matematik. 5. Titik Tolak Pembelajaran. Salah satu karakteristik model pembelajaran Matematisasi Berjenjang adalah bahwa proses pembelajaran bertolak dari kegiatan pemecahan masalah kontekstual, yaitu masalah yang dapat dipahami siswa berdasarkan pengalaman masing-masing. Masalah kontekstual dapat berupa masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari atau masalah matematika yang pemecahannya melibatkan atau menumbuhkan gagasan akan konsep, prinsip, aturan, atau algoritma matematika. Masalah itu dipilih yang dapat dipecahkan oleh siswa berdasarkan pengetahuan umum atau pengetahuan matematika yang pernah dipelajari sebelumnya. Untuk tiap-tiap kompetensi dasar, masalah konstekstual yang dijadikan titik tolak pembelajaran disajikan dalam Tabel 6 dan Tabel 7 di bawah ini.

30

No. 1.1 1.2

2.1 2.2 2.5.a 2.6.a

2.3.a 2.4.a

2.5.b 2.6.b

2.3.b 2.4.b

3.1

3.2 3.3

3.4 3.5

3.6

Tabel 6. Titik Tolak Pembelajaran untuk Tiap-tiap Kompetensi Dasar Matematika SMA Kelas X Semester 1 Kompetensi Dasar Masalah Kontekstual Menggunakan aturan pangkat, akar, dan 1. Pembelahan Sel 2. Menggunting Pita Secara logaritma Terus-menerus Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan yang melibatkan pangkat, akar, 3. Menaksir Nilai 5 Secara dan logaritma Grafik 4. Menaksir Penyelesaian a3 = 30 Secara Grafik 5. Menaksir Penyelesaian 2a = 40 Secara Grafik 6. Menaksir Penyelesaian 10x = 0,5 Secara Grafik Memahami konsep fungsi 1. Lempar Lembing 2. Gerak Peluru Menggambar grafik fungsi aljabar sederhana dan fungsi kuadrat Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan fungsi kuadrat Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan fungsi kuadrat dan penafsirannya Menggunakan sifat dan aturan tentang 1. Merancang Kotak Tanpa Tutup 2. Merancang Kolam persamaan kuadrat Pemancingan Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan yang berkaitan dengan persamaan kuadrat Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan kuadrat Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan kuadrat dan penafsirannya Menggunakan sifat dan aturan tentang 1. Mencari Nilai Fungsi Kuadrat pertidaksamaan kuadrat Positif 2. Mencari Nilai Fungsi Kuadrat Melakukan manipulasi aljabar dalam Negatif perhitungan yang berkaitan dengan pertidaksamaan kuadrat Menyelesaikan sistem persamaan linear dan 1. Menghitung Harga Barang sistem persamaan campuran linear dan kuadrat Belanjaan 2. Manajemen Kendaraan Kantor dalam dua variabel 3. Titik Pertemuan Lintasan (1) Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear 4. Titik Pertemuan Lintasan (2) Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dan penafsirannya Menyelesaikan pertidaksamaan satu variabel 1. Sifat-sifat Ketidaksamaan 2. Pertidaksamaan Linear yang melibatkan bentuk pecahan aljabar Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan pertidaksamaan satu variabel Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan pertidaksamaan satu variabel dan penafsirannya

31

No. 4.1 4.2 4.3

4.4

5.1.a

5.2.a 5.3.a

5.1.b 5.2.b 5.3.b

5.1.c

5.2.c 5.3.c

5.1.d

5.2.d 5.3.d

6.1 6.2 6.3

Tabel 7. Titik Tolak Pembelajaran untuk Tiap-tiap Kompetensi Dasar Matematika SMA Kelas X Semester 2 Kompetensi Dasar Masalah Kontekstual Memahami pernyataan dalam matematika dan 1. Pernyataan Majemuk dalam ingkaran atau negasinya Kehidupan Sehari-hari (1) 2. Pernyataan Majemuk dalam Menentukan nilai kebenaran dari suatu Kehidupan Sehari-hari (2) pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor 3. Pernyataan Berkuantor dalam Merumuskan pernyataan yang setara dengan Kehidupan Sehari-hari (1) pernyataan majemuk atau pernyataan berkuantor 4. Pernyataan Berkuantor dalam yang diberikan Kehidupan Sehari-hari (2) Menggunakan prinsip logika matematika yang 1. Penarikan Kesimpulan dalam berkaitan dengan pernyataan majemuk dan Kehidupan Sehari-hari (1) 2. Penarikan Kesimpulan dalam pernyataan berkuantor dalam penarikan Kehidupan Sehari-hari (2) kesimpulan dan pemecahan masalah Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan 1. Perbandingan Sisi Segitiga teknis yang berkaitan dengan perbandingan Siku-siku 2. Hubungan Sisi dan Sudut trigonometri Segitiga Siku-siku Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan perbandingan trigonometri Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan perbandingan trigonometri, dan penafsirannya Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan 1. Tegangan Listrik AC teknis yang berkaitan dengan fungsi trigonometri 2. Gelombang Transversal Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan fungsi trigonometri Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan fungsi trigonometri, dan penafsirannya Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan 1. Perpotongan Grafik Fungsi teknis yang berkaitan dengan persamaan Sinus dan Fungsi Kosinus 2. Perpotongan Grafik y = sinx trigonometri dan y = sin(2x) Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan trigonometri Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan trigonometri, dan penafsirannya Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan 1. Menyelesaian persamaan teknis yang berkaitan dengan identitas sinx/cosx = tgx 2. Menyelesaikan persamaan trigonometri sin2x + cos2x = 1 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan identitas trigonometri Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan identitas trigonometri, dan penafsirannya Menentukan kedudukan titik, garis, dan bidang 1. Model Kubus 2. Globe dalam ruang dimensi tiga Menentukan jarak dari titik ke garis dan dari titik 1. Mengukur Jarak (1) 2. Mengukur Jarak (2) ke bidang dalam ruang dimensi tiga Menentukan besar sudut antara garis dan bidang 1. Mengukur Sudut (1) 2. Mengukur Sudut (2) dan antara dua bidang dalam ruang dimensi tiga

32

3.5.2. Rancangan Buku Siswa Buku siswa dimaksudkan sebagai buku pegangan siswa yang disusun sebagai salah satu sumber belajar bagi mereka. Sebagai suatu sumber belajar, buku siswa ini dirancang agar mereka dapat memperoleh bahan dan sekaligus arahan dan motivasi yang membuat mereka dapat mengalami proses matematisasi secara terbimbing oleh guru. Struktur pembahasan buku dikemas dengan mengikuti model pembelajaran Matematisasi Berjenjang. Model ini

mengintegrasikan pendekatan-pendekatan konstruktivistik, kontekstual dan kolaboratif dalam proses pembelajaran matematika. Rancangan ini meliputi uraian tentang: 1. Sistematika buku siswa, yang menampilkan garis besar isi dan urutan materi matematika dalam buku siswa. Buku Siswa terdiri dari 2 jilid, yaitu Buku Siswa: Matematika SMA Kelas X Semester 1 dan Buku Siswa: Matematika SMA Kelas X Semester 2. 2. Struktur pembahasan buku siswa, yang menampilkan rincian isi materi pelajaran dan fitur-fitur yang mendukung implementasi model pembelajaran Matematisasi Berjenjang. Struktur pembahasan untuk Bab I diberikan dalam Gambar 4 berikut:

Gambar 4. Rancangan Struktur Pembahasan Bab I Buku Siswa BAB I. BENTUK PANGKAT, AKAR DAN LOGARITMA Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Motivasi: Sejarah Bentuk Pangkat, Akar dan Logaritma Sistematika Materi Pelajaran Cara Belajar A. BENTUK PANGKAT Masalah I : Pembelahan Sel Masalah II : Menggunting Pita Secara Terus-menerus Aneka Ragam Masalah 1. Pangkat Bulat Positif Sajian Materi Ringkasan Latihan Tes Formatif 2. Pangkat Nol dan Bulat Negatif Sajian Materi Ringkasan

33

Latihan Tes Formatif B. BENTUK AKAR Masalah I : Menaksir Nilai 5 Secara Grafik Masalah II : Menaksir Penyelesaian a3 = 30 Secara Grafik Aneka Ragam Masalah 1. Bentuk Akar dan Pangkat Rasional Sajian Materi Ringkasan Latihan Tes Formatif 2. Operasi Bentuk Akar Sajian Materi Ringkasan Latihan Tes Formatif C. BENTUK LOGARITMA Masalah I : Menaksir Penyelesaian 2a = 40 Secara Grafik Masalah II : Menaksir Penyelesaian 10x = 0,5 Secara Grafik Aneka Ragam Masalah 1. Logaritma Sajian Materi Ringkasan Latihan Tes Formatif 2. Operasi Bentuk Logaritma Sajian Materi Ringkasan Latihan Tes Formatif TUGAS (Proyek/Produk/Portofolio) LATIHAN ULANGAN

3.5.3. Rancangan Buku Guru Buku guru merupakan suplemen bagi buku siswa yang dimaksudkan sebagai buku pegangan guru berisi petunjuk dalam memfasilitasi proses pembelajaran matematika. Buku guru ini dirancang agar mereka dapat membimbing siswa agar mengalami proses matematisasi. Struktur pembahasan buku dikemas dengan mengikuti model pembelajaran Matematisasi Berjenjang.

34

Model ini mengintegrasikan pendekatan-pendekatan konstruktivistik, kontekstual dan kolaboratif dalam proses pembelajaran matematika. Rancangan ini meliputi uraian tentang: 1. Sistematika buku guru, yang menampilkan garis besar isi buku guru. Buku Guru terdiri dari 2 jilid, yaitu Buku Guru: Matematika SMA Kelas X Semester 1 dan Buku Siswa: Matematika SMA Kelas X Semester 2. 2. Struktur pembahasan buku guru, yang menampilkan rincian isi buku guru berupa petunjuk guru memfasilitasi pembelajaran matematika dengan model pembelajaran Matematisasi Berjenjang. Struktur pembahasan untuk Bab I diberikan dalam Gambar 5 berikut:

Gambar 5. Rancangan Struktur Pembahasan Bab I Buku Guru BAB I. PEMBELAJARAN BENTUK PANGKAT, AKAR DAN LOGARITMA Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa: - Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar - Motivasi: Sejarah Bentuk Pangkat, Akar dan Logaritma - Sistematika Materi Pelajaran - Cara Belajar A. PEMBELAJARAN BENTUK PANGKAT Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa: - Jenjang Situasional - Jenjang Referensial - Jenjang Umum - Jenjang Formal 1. Pembelajaran Pangkat Bulat Positif Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa: - Kegiatan Orientasi - Kegiatan Eksplorasi - Kegiatan Negosiasi - Kegiatan Integrasi 2. Pembelajaran Pangkat Nol dan Bulat Negatif Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa: - Kegiatan Orientasi - Kegiatan Eksplorasi - Kegiatan Negosiasi - Kegiatan Integrasi B. PEMBELAJARAN BENTUK AKAR Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa: - Jenjang Situasional - Jenjang Referensial - Jenjang Umum

35

- Jenjang Formal

1. Pembelajaran Bentuk Akar dan Pangkat Rasional Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa: - Kegiatan Orientasi - Kegiatan Eksplorasi - Kegiatan Negosiasi - Kegiatan Integrasi 2. Pembelajaran Operasi Bentuk Akar Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa: - Kegiatan Orientasi - Kegiatan Eksplorasi - Kegiatan Negosiasi - Kegiatan Integrasi C. PEMBELAJARAN BENTUK LOGARITMA Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa: - Jenjang Situasional - Jenjang Referensial - Jenjang Umum - Jenjang Formal 1. Pembelajaran Logaritma Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa: - Kegiatan Orientasi - Kegiatan Eksplorasi - Kegiatan Negosiasi - Kegiatan Integrasi 2. Pembelajaran Operasi Bentuk Logaritma Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa: - Kegiatan Orientasi - Kegiatan Eksplorasi - Kegiatan Negosiasi - Kegiatan Integrasi TUGAS (Proyek/Produk/Portofolio) Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa dalam Pelaksanaan Tugas LATIHAN ULANGAN Petunjuk untuk Memfasilitasi Siswa dalam Latihan Ulangan

36

4. Simpulan Dan Saran
4.1. Simpulan Dari pembahasan pada bab-bab di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1) Masalah-masalah yang ditemukan sehubungan dengan pelaksanaan prinsipprinsip dalam kurikulum 2006 adalah sebagai berikut: a. Tindakan dan sikap guru masih cenderung menjelaskan langkah-langkah cara menyelesaikan soal dan meyakini bahwa kompetensi matematik dapat dicapai efektif dengan mengembangan pemahaman instrumental. b. Siswa masih kurang dapat melihat hubungan antar konsep ketika menyelesaikan persoalan. c. Metode pembelajaran dari yang dilakukan bentuk guru umum cenderung dilanjutkan memulai dengan

pembelajaran

penjelasan

menjelaskan contoh soal formal dengan langkah-langkah pengerjaannya dan siswa menirukan. d. Guru masih cenderung menjadi sumber utama dan belum memanfaatkan media yang bervariasi untuk memfasilitasi proses konstruksi pengetahuan siswa e. Penilaian yang dilakukan guru masih kurang bervariasi dan cenderung berupa pengerjaan soal matematis formal secara tertulis 2) Kebutuhan yang dipandang perlu dilakukan sebagai solusi dari masalahmasalah di atas adalah sebagai berikut: a. Guru perlu memberi kesempatan siswa untuk bereksplorasi dalam pemecahan masalah dengan caranya sendiri dan bernegosiasi. b. Guru perlu mengembangkan pemahaman relasional siswa dalam mencapai kompetensi matematik. c. Guru perlu mengawali pembelajaran dengan kegiatan pemecahan masalah kontekstual dan secara bertahap masuk ke tingkat matematik formal. 37

d. Perlu ditawarkan alternatif sumber belajar yang cocok dan sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang konstruktivistik, kontekstual dan kolaboratif. e. Perlu diupayakan penilaian dengan cara yang bervariasi, seperti tes tulis, penugasan proyek , produk dan portofolio. 3) Draft Buku Pedoman Pengembangan Kurikulum disusun sebagai penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi program pembelajaran yang meliputi materi pokok pembelajaran, urutan pembelajaran, dan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran matematika diwujudkan dalam bentuk model pembelajaran ’Matematisasi Berjenjang’. 4) Buku siswa dirancang dengan maksud sebagai buku pegangan siswa untuk sumber belajar mereka agar mereka dapat memperoleh bahan dan sekaligus arahan dan motivasi yang membuat mereka dapat mengalami proses matematisasi secara terbimbing oleh guru. Struktur pembahasan buku dikemas dengan mengikuti model pembelajaran Matematisasi Berjenjang. 5) Buku guru dirancang sebagai suplemen bagi buku siswa yang dimaksudkan sebagai buku pegangan guru, berisi petunjuk dalam memfasilitasi proses pembelajaran matematika. Buku guru ini dirancang agar guru dapat membimbing pembahasan siswa buku agar dikemas mengalami dengan proses mengikuti matematisasi. model Struktur

pembelajaran

Matematisasi Berjenjang.

5.2. Saran Dari pembahasan dalam penelitian ini dapat diberikan beberapa saran kebijakan mengenai pelaksanaan KTSP bidang studi Matematika dalam pembelajarannya di kelas: 1) Dari identifikasi masalah dan kebutuhan nampak bahwa guru belum sepenuhnya dapat melaksanakan prinsip-prinsip pembelajaran seperti yang diinginkan dalam KTSP. Kami menyarankan perlu dilakukan upaya-upaya yang bertahap dan konsisten untuk mewujudkan pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut dalam pelaksanaannya di kelas. 38

2) Model pembelajaran ”Matematisasi Berjenjang” seperti yang diuraikan di depan, dapat dikembangkan dan dilaksanakan sebagai suatu alternatif model pembelajan matematika yang dapat mewujudkan prinsip-prinsip pembelajaran dalam KTSP. 3) Draf Pedoman Pengembangan Kurikulum, Rancangan Buku Siswa dan Buku Guru yang telah dihasilkan dalam penelitian ini dapat dikembangkan, diujicobakan di kelas dan terus-menerus diperbaiki oleh ahli dan guru agar semakin sesuai dengan tujuan dan terlaksana dalam pembelajarannya di kelas.

Daftar Pustaka

Bruning, R.H., Schraw, G.J., & Ronning, R.R. Cognitive Psychology and Instruction. Edisi ke-2. Englewood Cliff, NJ.: Prentice Hall. Confrey, J. 1995. “A Theory of Intelectual Development”. For the Learning of Mathematics. Vol. 15, No. 3, pp. 8-48. Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta. Depdiknas. 2006. Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional R I No. 22 tahun 2006: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta. Gravemeijer, K. 1994. Developing Realistic Mathematics Education. Uttrech: Freudenthal Institute. Hatano, G. 1996. “A Conception of Knowledge Acquisition and Its Implications to Mathematics Education. In L.P. Steffe, and P. Nesher (Eds.), Theories of Mathematical Learning. Mahwah, NJ.: Lawrence Erlbaum. Jonassen, D. 1999. “Designing Constructivist Learning Environment”. In C.M. Reigeluth (Ed.), Instructional-Design Theories and Models, Volume II: A New Paradigm of Instructional Theory. Mahwah, NJ.: Lawrence Erlbaum. Johnson, E.B. 2002. Contextual Teaching and Learning: What It Is and Why It’s Here to Stay. Thousand Oaks, Calif.: Corwin Press.

39

Rudhito, M. A. 2005. ”Perancangan dan Pelaksanaan Model Pembelajaran Persamaan Kuadrat untuk Kelas X SMA dengan Pendekatan ’Matematisasi Berjenjang’”. Widya Dharma, Vol. 16. No. 1, pp. 67-76. Rudhito, M. A. 2006. ”Perancangan dan Pelaksanaan Model Pembelajaran Matematika yang Konstruktivistik, Kontekstual, dan Kolaboratif pada Materi Pokok Trigonometri di Kelas X SMA” (Penelitian sedang dilaksanakan, dengan biaya dari LPPM USD) Susento. 2004. “Matematika Berbasis Realitas Anak”. Basis, Vol. 53, No. 07-08, pp. 21-28. van Reeuwijk, M. 2001. “From Informal to Formal, Progressive Formalization: An Example on Solving Systems of Equations”. In Chick, H., et al. (Eds.), Proceedings of The 12-th ICMI Study Conference: The Future of The Teaching and Learning of Algebra. Melbourne: The University of Melbourne. Voigt, J. 1996. “Negotiation of Mathematical Meaning in Classroom Process: Social Interaction and Learning Mathematics”. In L.P. Steffe, et al. (Eds.), Theories of Mathematical Learning. Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum. Yackel, E., & Cobb, P. 1996. “Sociomathematical Norms, Argumentation, and Autonomy in Mathematics”. Journal for Research in Mathematics Education, Vol. 27, No. 4, pp. 458-477.

40

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->