P. 1
Kumpulan Cerpen Kompas Macem2

Kumpulan Cerpen Kompas Macem2

|Views: 361|Likes:
Published by teguhafandi
Kumpulan Cerpen Kompas macam2
Kumpulan Cerpen Kompas macam2

More info:

Published by: teguhafandi on May 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2015

pdf

text

original

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfgh jklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvb nmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwer tyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas Kumpulan Cerpen Dari berbagai media dan penulis

dfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuio pasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghj klzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbn mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrty uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
di kumpulkan olehTeguh Afandi

Rumah Kawin
Zen Hae Sumber: Kompas, Edisi 04/06/2003 LAGU Cente Manis baru saja berakhir dari mulut Gwat Nio. Para wayang cokek sudah mengosongkan kalangan. Para panjak mulai membereskan alat musiknya masingmasing. Tetapi Mamat Jago masih saja berdiri sambil memeluk Sarti di tengah kalangan. Tangannya terus meremasi pantat Sarti dan menyorongkan mulut monyongnya ke mulut wayang bermata burung hantu itu. Sarti melengos dan berusaha mendorong tubuh Mamat Jago sekuat tenaga, tetapi dengan cepat Mamat Jago meraih tangan Sarti dan melipatkannya ke pinggangnya. Kali ini Mamat Jago menggoyanggoyangkan pinggangnya sambil terus menekan pantat Sarti. "Aih, jangan tinggalkan abang, manis. Jangan pampat kawah yang mau meledak ini. Ooohh ….Heh, panjak, gesekin gua lagu Ayam Jago. Gua mau ngibing lagi." TUKANG teh yan celingukan, juga pemain musik lainnya. Ini sudah jam dua pagi. Sudah waktunya rombongan Gambang Kromong Mustika Tanjung pimpinan Tan Eng Djin dari Teluk Naga berhenti main. Izin keramaian yang mereka dapatkan dari keamanan setempat hanya sampai pukul satu. Sudah lewat satu jam. "Heh, budek lu. Gua masih banyak duit. Gua mau nyawer lagi," teriak Mamat Jago sambil menuding-nuding para panjak yang masih saling bersambut pandang. Sarti kembali mengibaskan tangannya. Menarik tubuhnya dari pelukan Mamat Jago yang kian sempoyongan. Terlepas. Sebagai gantinya satu tamparan Mamat Jago mendarat di pipinya. "Sundal lu!" maki Mamat Jago sambil melempar cukin merah hati ke wajah Sarti. Sambil meringis dan memePEGANGI pipinya Sarti berlari ke arah wayang lain yang sejak tadi hanya bisa memandanginya dengan cemas. Ini sudah kelewatan, pikir Eng Djin. Anak buahnya memang boleh dipeluk, dicium, atau dibawa ke mana saja, tetapi pantang disakiti. Ia pun keluar dari sela-sela gong dan menghampiri pengibing mabuk itu. Merendengnya. "Maaf, kami harus berhenti, Bang.

Kalau tidak cokek ini bisa digerebek polisi." "Jangan takut, Koh. Mereka semua teman saya. Ayo, main lagi. Saya akan mati kalau gambang berhenti. Ayo, panjak…" Bang Minan mulai menggesek teh yan-nya, tetapi segera Eng Djin menggoyanggoyangkan tangan kirinya. Sepi. "Mendingan abang pulang saja. Jangan bikin perkara…" "Sial dangkalan lu," maki Mamat Jago. Dengan sisa tenaganya disodoknya perut Eng Djin, tetapi ia menepiskan tangan itu. Mamat Jago balas menyerang dengan pukulan siku yang diruncingkan-gentus tubruk. Eng Djin jatuh terduduk. "Engkoh jangan melecehkan saya. Saya juwara kampung. Jago berantem. Semua orang bisa saya bikin takluk." Eng Djin bangkit dan mundur selangkah. Dipandanginya kepalan tangan Mamat Jago yang padat berisi. Empat belas jurus ilmu pukul memang masih dikuasainya, tetapi ia sadar, tidak mungkin menandingi kemahiran pukulan jawara kampung Rawa Lingi ini. Namun, ia akan melawan sebisanya kalau Mamat Jago melancarkan pukulan lagi. Itulah cara ia mempertahankan harga dirinya di depan anak buahnya. Ternyata, tidak. Mamat Jago hanya memasang jurus. Kuda-kudanya kelihatan goyah. Tubuhnya sedikit goyang. Tiba-tiba, dua orang berjaket kulit hitam, si gondrong dan si cepak, masuk ke kalangan. Eit, Mamat Jago mengalihkan kuda-kudanya ke arah dua orang asing itu. Mencoba lebih awas, ia kibas-kibaskan kepalanya. Si gondrong lantas mencabut revolver dari balik jaketnya dan mengacungkannya ke udara. Orang-orang terkesiap. "Bapak-ibu saya minta berhenti. Bubar!" perintahnya. Dengan sigap si cepak mencekal tangan Mamat Jago, memitingnya, memborgolnya, dan menyeretnya seperti sekarung tahi ayam. Entah sudah berapa Lebaran lewat setelah penangkapan itu. Sudah lama sekali, gumam Mamat Jago. Saat itu dengan mudah ia masuk-keluar sel. Ditangkap malam keluar pagi, ditangkap pagi keluar sore, ditangkap sore keluar malam. Anak-anak

buahnya akan mengantarkan uang tebusan, tak lama setelah ia digelandang polisi. "Polisi teman abang," katanya berkali-kali kepada anak buahnya. Setelah itu ia akan dengan leluasa datang lagi ke rumah kawin, ngibing dan minum, membuat keributan bila perlu. Tetapi, itu dulu. Ketika kekayaan dan kehormatan didekapnya dengan dua tangan. Ketika bisnis penjualan kebun dan sawah di kampungnya sedang ramai-ramainya. Setiap saat orang datang dan pergi dari rumahnya. Membawa dan mengambil uang. Pekerjaannya sebagai calo tanah sangat sibuk kala itu. Pernah suatu ketika anak buahnya harus memanggul berkarung-karung uang ke rumahnya untuk membebaskan berhektar-hektar sawah yang kini menjadi bandar udara itu. Orang-orang kampungnya pernah berkata, ia tidur bukan di atas kasur kapuk, tetapi di atas kasur uang. Sekarang ini semuanya sudah lain. Kekayaan dan kehormatannya rontok sudah, seperti pohon kelapa disambar petir. Meranggas dan mati. Tanahnya yang dulu hektaran kini hanya tinggal sepekarangan saja, menciut bagai kelaras terbakar. Di atasnya berdiri rumah yang dulu pernah menjadi rumah termegah dan termahal di kampungnya-kini sudah menjadi sarang kumbang, ngengat, dan laba-laba. Kosong, kusam, sepi. Mobil, motor, dan kerbaunya sirna tak berbekas. Anak buahnya yang berjumlah puluhan sudah pergi meninggalkannya, entah ke mana. Masroh, istri yang tak pernah lagi disentuhnya sejak terkena TBC, wafat dua tahun lalu. Tiga anak perempuannya sudah dibawa suami mereka ke kota lain. Menjadi orang rantau. Satu anak lelakinya menjadi pengojek untuk menghidupi istri dan empat anaknya. Hanya ia dan si bungsu yang tinggal di situ. Ah, betapa perihnya kehilangan ini, keluhnya. "Apa ada obatnya?" Pekerjaan sebagai calo tanah sudah tidak dilakoninya lagi. Tidak ada lagi orang yang mau menjual kebun dan sawahnya. Tanah warisan mereka sudah habis terjual, tinggal yang kini mereka tempati. Dan itu tak mungkin mereka jual, kecuali kalau mereka mau menjadi gelandangan di kampung sendiri. Lahan-lahan yang tadinya menjadi sumber penghidupan mereka kini sudah berubah fungsi. Ratusan hektar sawah itu sudah dibikin rata tanpa pematang dan diberi pagar besi setinggi dua meter di tepinya. Di

tengahnya membujur dua jalur landasan beton, dari barat ke timur. Ia dan orang kampungnya hanya bisa memandangi pesawat terbang yang lepas landas dan mendarat, hanya mereka yang pernah naik haji mampu menaikinya. Di malam hari pesawat-pesawat itu berubah menjadi kunang-kunang raksasa yang tubuhnya tetap berkelap-kelip meski melayang di batas langit terjauh. Pabrik-pabrik juga sudah beroperasi, siang dan malam. Siapa pun orang terkaya di kampungnya tidak mungkin membangun dan memiliki pabrik-pabrik itu. Mereka hanya petani penggarap dan pedagang kecil, tidak mungkin menguasai bisnis dan teknologi perpabrik- an secanggih itu. Tapi, anak-anak mereka, lelaki dan perempuan, si bungsu juga, senantiasa berbondong-bondong, keluar masuk pabrik, dengan seragam yang sama. Mereka sudah menjadi manusia pabrik yang mau tidak mau dibayar murah oleh tauke-tauke dari Korea, Jepang, dan Taiwan. Rumah-rumah mewah juga sudah dibangun dan ditempati orang-orang yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya. Mereka memang tidak mampu membeli dan menempati rumah mahal itu, tetapi mereka masih bisa menjadi pengojek di perumahan itu dengan motor yang dibeli dari hasil menjual tanah warisan mereka. Mereka masih bisa menikmati jalan aspalnya yang lurus-menyiku, sungai kecil yang jernih dan dibeton tepinya, taman yang indah, sambil memandangi rumah-rumah besar dengan pintu dan jendela yang melengkung. Ya, gonggong anjing, tentu saja. Ah, betapa menyesakkan kekalahan ini, keluhnya. "Aku butuh obat." Ia menarik napas dalam-dalam. Aroma tanah basah dibawa angin selatan melintasi padang ilalang setinggi pinggang. Hujan akan segera turun. Musim penghujan sudah tiba dan akan makin tinggi curahnya menjelang Tahun Baru Imlek! Ya, musim kawin orang Cina akan tiba juga. Rumah-rumah kawin di Kampung Melayu, Kosambi, Salembaran, dan Sewan akan ramai lagi. Ia rindukan semua itu. Ia datangi lagi rumah kawin "Teratai Putih". Semuanya masih seperti dulu. Orang-orang menyingkir begitu ia melintas. Dipasangnya langkap tegap seorang jawara kampung. Hanya di sinilah aku bisa menikmati lagi seluruh kesenangan dan kehormatan hidupku, pikirnya. Bukankah sudah bertahun-tahun belakangan ini ia tidak menikmati dua hal itu

lagi. Ya, di sinilah orang akan memuji kelihaiannya ngibing yang dipadu dengan keindahan jurus-jurus pukulnya, kekuatannya menenggak berbotol-botol bir campur anggur, keroyalannya nyawer. Dan tubuh wayang yang panas dan memabukkan! Liukan dan goyangan yang membangkitkan syahwat! Aih, lelaki mana yang bisa tahan. Cukin merah hati sudah dikalungkan tukang cukin ke lehernya, tanda ia harus turun ke kalangan, memilih wayang mana yang ia suka. Ditatapnya Sarti yang sejak tadi duduk di pojok. Kali ini ia memakai kaus biru bergambar matahari di dadanya dan celana capri krem. Dengan pakaian itu ia tampak lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Sedikit gemuk membuat lekukan-lekukan tubuhnya tampak nyata dibalut pakaian yang serba ketat itu. Darahnya berdesir. Ditariknya tangan wayang langganannya itu. Pengibing dan wayang lain sengaja hanya menonton, memberi penghormatan atas kembalinya si raja ngibing dari Rawa Lingi itu. Mamat Jago tersenyum bangga. "Ayo, panjak, gesekin gua lagu Ayam Jago. Gua mau ngibing lagi."

Teh yang digesek, disusul gambang, kecrek, gong, suling, dan kempul. Susul-menyusul. Jalin-menjalin. Gwat Nio sudah melantunkan suaranya yang garing-melengking seperti suara burung titutit. Tapi Sarti tidak juga menggoyangkan tubuhnya. Tangannya dibiarkan terkulai. Mamat Jago meraihnya, melipatkannya ke pinggangnya, merapatkan pelukannya. Tubuh perempuan itu terasa dingin, seperti daun dadap pengusir demam anak-anak. Wajahnya membiru, bibirnya terkatup, matanya terpejam. Ayo, Sarti, jangan kaugoda aku seperti malam-malam dulu! Digoyang-goyangkannya tubuh Sarti, tetap dingin dan biru. Ditepuk-tepuknya pipinya, tak ada reaksi sedikit pun. Dipandanginya para panjak. Sepi. Tak ada yang bergerak. Semua dingin dan biru. Seperti keramik Cina. Rumah kawin ini sudah menjadi rumah mayat, pikirnya. Ia bopong Sarti keluar. Ia tinggalkan rumah kawin itu. Menerobos hujan senja yang turun bagaikan lapis-lapis kelambu. Sepanjang jalan tak ada orang. Pohon-pohon meliuk-mabuk, rumah-rumah bisu-merunduk. Ia susuri jalan aspal, memotong sungai, membelah padang ilalang. "Kau tidak boleh mati, sayang. Hiduplah bersama abang. Di rumahku kau akan hangat."

Dikecupnya bibir Sarti. Air liurnya yang bercampur air hujan masuk ke mulut Sarti. Si mata burung hantu itu tersedak. Tubuhnya menggeliat. Tangannya meraih leher Mamat Jago. Ia tersenyum dan mempercepat langkahnya. Malam dan hujan pertama benar-benar telah mengepung kampungnya. Dari kejauhan rumahnya yang terletak di tepi sawah bera dengan pematang yang lurus memanjang tampak bagaikan lukisan yang luntur. Namun, satu dua lampunya membangkitkan keriangan masa mudanya. Bukankah dulu ketika masih berpacaran ia dan Masroh selalu berlarian di atas pematang sawah begitu hujan pertama turun. Setelah basah kuyup oleh air hujan barulah mereka mandi di sumur senggot yang airnya terasa lebih hangat daripada air hujan. Buatnya, laku itu semacam perayaan untuk datangnya musim penghujan. Sesampainya di rumah dibaringkannya Sarti di ranjang. Di situlah dulu istrinya mengembuskan napas terakhirnya dengan tubuh kurus kering. Mamat Jago melucuti seluruh pakaian basah dari tubuh Sarti dan menyelimutinya dengan kain batik yang dulu pernah dipakai untuk menyelimuti mayat istrinya. Dipandangi wajah Sarti yang tertidur pulas. Dalam keremangan wajah itu berganti-ganti dengan wajah istrinya. "Pacarku, biniku…." Dikecupnya bibir Sarti. Bibir itu terasa bergerak. Balas melumat. Tangannya perlahan mendekap. Napasnya mulai satu-dua. Hangat, panas, gemuruh. Mamat Jago mendekapnya lebih erat lagi. Kini kehangatan menjalari tubuh mereka berdua. Dalam sekejap mereka telahh bergumul. Memagut-mematuk-mengecup-merenggutmencakar-mengular…terbakar. Tiba-tiba, brak! Mamat Jago kaget dan melepaskan pelukannya. Eng Djin, si gondrong, dan si cepak sudah berdiri di pelangkahan pintu. Buru-buru Mamat Jago meraih dan mengenakan celana kolornya. "Sadarlah, Bang. Sarti sudah mati," kata Eng Djin. Mamat Jago menoleh. Sarti terbaring telanjang kaku dengan sisa-sisa keringat yang meleleh di sela-sela payudaranya. Tak percaya Mamat Jago menepuk-nepuk pipi Sarti. "Ayo, manis…bangun. Ada Koh Eng Djin dan teman abang datang," bisiknya ke telinga

Sarti. "Relakan kepergiannya… Nyebut, Bang." Mamat Jago masih tak percaya. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Sarti. Kaku, dingin, biru seperti keramik Cina. Tangisan pilu meledak dari mulutnya. Eng Djin tertegun menyaksikan lelaki malang itu. Tanpa buang waktu si gondrong dan si cepak langsung membekuk Mamat Jago. Dengan mudah mereka menggelandang Mamat Jago dan memasukkannya ke mobil jip. Sepanjang jalan kedua polisi yang diakui sebagai temannya itu tak mencoba mengajaknya bicara. Semuanya membisu. Pikiran Mamat Jago kembali pada Sarti. Benarkan Sarti sudah mati? Mungkinkah aku menyenggamai mayat, ia membatin. Bukankah barusan Sarti membalas kecupan dan pelukannya dan mereka bergumul hebat seperti di malam-malam dulu? "Keluar lu!" Bentakan si gondrong membuatnya ternganga. Mamat Jago tak punya lagi kuasa untuk menolak. Si gondrong dan si cepak menggiringnya ke sebuah tempat gelap. Kakinya menjejak pasir. Ada debur ombak. Kersik daun. Serbuk garam yang menempeli bibirnya. Ia menduga-duga pantai apa ini. Mungkin Tanjung Kait, Rawa Saban, Kamal, atau pantai yang belum pernah ia kunjungi. Dorongan keras membuatnya tersandung akar bakau dan tersungkur. Butiran pasir asin memenuhi mulutnya. "Sejujurnya, Mat, kami tidak pernah benar-benar berteman denganmu. Tugas kami adalah membasmi orang-orang yang meresahkan masyarakat semacam kau. Dan kau sudah terlalu sering melakukannya. Malam ini kami akan membuat hidupmu tamat," suara si cepak mengalahkan deru ombak. Dor! Dor! Dor! Mamat Jago mengusap kepalanya. Tak ada darah. Hanya air hujan! "Mimpi apa lagi ini?" katanya, heran. Ia bangkit dan duduk di tepi balai bambu. Ditajamkan pendengarannya, rentetan tembakan itu masih terdengar. Ah, ia tersenyum, rupanya

hanya suara petasan dari rumah kawin! Ia keluar. Hujan sudah mulai berhenti, tetapi air masih menggenang di pelataran rumahnya. Begitu juga kenangannya pada Sarti, Eng Djin, si cepak, dan si gondrong yang barusan hadir dalam mimpinya. Dan Sarti! Mengapa kau muncul dalam mimpiku dengan cara seaneh itu, ia membatin lagi. Lama ia menafsir-nafsir makna mimpinya itu. "Ya, aku harus kembali ke rumah kawin itu." Ia pun mengetuk-ngetukkan tumit kanannya ke lantai teraso, tiga kali. Hatinya mantap. "Aku harus dapatkan lagi Sartiku, kesenangan, dan kehormatanku. *** Kembangan Selatan, Desember 2002

CATATAN: COKEK: Tari pergaulan masyarakat Betawi peranakan Cina. WAYANG (Cokek): penari Cokek PANJAK: pemain musik Gambang Kromong, pengiring Cokek. CUKIN: selendang untuk menarik para pengibing NGIBING: menari KALANGAN: tempat ngibing TEH yan Betawi: instrumen gesek tradisional berdawai dua.

Suatu Hari di Bulan Desember 2002
Sapardi Djoko Damono Sumber: Kompas, Edisi 03/30/2003 Di rumah pemasyarakatan itu sempat timbul ribut-ribut kecil ketika Marsiyam melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan, menurut penilaian teman-teman di situ, sangat tampan. Sebelumnya tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa ada perempuan bunting di situ. Dan mungkin tidak ada yang benar-benar yakin bahwa Marsiyam memang bunting sebelum melahirkan. Berbagai jenis pikiran baik dan buruk beredar di bangunan yang berdasarkan perhitungan akal sehat sudah tidak bisa menampung pesakitan lagi itu. Tidak ada seorang laki-laki pun di situ, kecuali kepala penjara. Tapi, apa ada alasan untuk mencurigainya sebagai bapak bayi itu? Rasanya tidak. Tampang lelaki yang tak pernah tersenyum itu jauh dari selera perempuan mana pun. "Tampangnya nyebelin," kata mereka. Dan tampang bayi laki-laki itu minta ampun cantiknya. Marsiyam dikenai hukuman dua tahun penjara sebab dituduh telah menganiaya suaminya, seorang lelaki yang bekerja sebagai guru, yang-menurut sementara tetangga-"sudah sepantasnya dianiaya," entah sebab apa. Mereka kawin sekitar tiga tahun dan belum dikaruniai anak. Guru itu selalu menyalahkannya dan malah sering menuduhnya telah berbuat serong dengan laki-laki lain. Marsiyam mula-mula menerima tuduhan itu dengan tenang, bahkan dia yakin kecemburuan suaminya itu muncul justru karena lelaki itu sangat mencintainya. Ia sadar dirinya cantik, dan tentunya ada alasan juga bagi suaminya untuk memelihara rasa curiganya. Sampai pada suatu sore ketika ia sedang memasak untuk makan malam, ketika suaminya mendekatinya dan mendesakkan pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan, yang menuduhnya telah berselingkuh dengan seorang pemuda pengangguran yang suka membantu keluarga itu membetulkan atap bocor atau kabel listrik yang korslet. Anak muda itu memang lumayan tampangnya, dan sering berada di rumahnya ketika guru itu sedang mengajar. Marsiyam meladeni rentetan pertanyaan suaminya dengan sabar, tetapi semakin lama lelaki yang pendapatannya tak cukup untuk hidup layak itu

menunjukkan

tampang

yang

semakin

menyebalkan.

Marsiyam

menyekam

kesabarannya, dan mendadak bagaikan api kemarahannya berkobar. Ia ambil barang sekenanya di dapur itu, dipukulkannya ke kepala suaminya yang langsung terkapar di lantai. Diinjaknya tubuh yang tengkurap itu berkali-kali sambil menjerit-jerit, "Aku memang tak bisa punya anak, mau apa kau. Aku memang gabuk, mau apa kau." Tetangga pun berdatangan dan beberapa bulan kemudian ia harus duduk di kursi terdakwa untuk mendengarkan keputusan hakim. Suaminya telah melaporkannya ke polisi sehabis peristiwa di dapur itu. TENTU saja penjara bukanlah tempat yang diidam-idamkannya, tetapi di luar dugaan Marsiyam dengan cepat bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat yang aneh hubungan-hubungan antarmanusianya itu. Seperti kampung saja, di situ ada ibu muda yang konon menganiaya madunya, ada tukang copet yang suka beroperasi di ka-er-el, ada organisator berbagai arisan yang menggelapkan uang puluhan juta, ada dokter yang kerja sambilannya menjual narkoba, ada pengacara yang ketahuan menyogok jaksa, dan ratusan perempuan lain yang entah profesinya. Marsiyam yang pendiam dan tidak banyak cingcong itu diterima di kalangan mereka, bahkan oleh grup-grup yang biasanya bermusuhan. Tidak ada yang mau percaya bahwa perempuan semacam itu telah tega memukuli dan menginjak-injak suaminya, guru yang konon juga dikenal tidak banyak ulah. Marsiyam tidak tahu alasan apa yang menyebabkan perempuan-perempuan itu lebih suka memanggilnya Marsinah atau Mariyam. Menurut mereka, nama Marsiyam susah diingat-suatu alasan yang menurutnya pasti sekenanya saja. Dan selama ia di sana tidak pernah ada orang yang menengoknya. Ia hanya menggelengkan kepala atau menunduk kalau ditanya, "Kau tak ada keluarga, ya?" Atau, "Kau sudah dibuang keluargamu, ya?" Ia menjalankan tugas rutinnya dengan tekun, tidak pernah membantah sipir yang mana pun, yang beberapa di antaranya dianggap ganas oleh rekan-rekannya. Sampai malam itu, ketika ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Tidak ada yang bisa yakin bahwa perempuan muda itu pernah bunting. Tak pernah ngidam, tak pernah muntah-muntah. Perutnya rata saja. Tapi tiba-tiba saja ada bayi

keluar dari rahimnya. Tak ada seorang pun di sana yang percaya pada mukjizat; mana ada orang jahat percaya akan hal semacam itu? Tetapi pertanyaan yang beredar tetap sama, siapa gerangan yang telah membuntinginya kalau bukan kepala penjara, satusatunya lelaki di bangunan itu yang boleh berhubungan dengan mereka? Tapi mereka tak percaya juga akan hal itu. Sipir-sipir perempuan yang ganas itu pasti mengetahui perselingkuhan semacam itu dan akan menggunduli lelaki yang rambutnya tinggal beberapa lembar itu-tidak peduli ia atasan mereka atau bukan. Marsiyam diberi kesempatan mendapatkan kamar khusus untuk mendampingi bayinya sebab toh beberapa hari lagi masa hukumannya akan habis. Tanpa dirasa, sudah dua tahun ia berada di dalam bangunan itu, tanpa sama sekali pernah berhubungan dengan dunia luar. Dokter penjual narkoba itu dengan bangga membantunya, juga tukang copet dan dedengkot arisan. Mereka merasa mendapatkan kebahagiaan dengan membantu ibu muda itu. Sore itu akhirnya tiba juga. Marsiyam harus meninggalkan rumah pemasyarakatan karena masa hukumannya sudah habis, meskipun ia tak merasa sudah

dimasyarakatkan. Ia gendong bayinya sambil menenteng barang bawaannya. "Kau pulang ke mana Marsinah?" tanya si gembong arisan. "Entahlah." "Kapan-kapan nanti aku boleh menjengukmu, Mariyam? Kalau aku keluar nanti, tentu bayimu sudah besar, sudah sekolah," kata dokter yang harus meringkuk di bangunan itu bertahun-tahun lagi. Marsiyam hanya tersenyum. Tidak memedulikan penyebutan namanya yang selalu keliru itu. Ditatapnya bayi yang digendongnya dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa wajahnya mirip lelaki muda yang dulu suka membetulkan atap bocor dan kabel listrik yang korslet di rumahnya. Perempuan itu menyimpan saja perasaannya, yang ia sendiri tidak tahu apa. Selama dalam masa hukuman, ia memang pernah beberapa kali bermimpi bertemu lelaki muda itu, yang katanya menjenguknya untuk meminta maaf lantaran telah menyebabkannya masuk penjara. Ia selalu merasa bahagia setiap kali

pemuda itu muncul dalam mimpinya. Sejak semula ia tahu bahwa sebenarnya suaminyalah yang mandul, tetapi ia tidak pernah mengatakan itu karena pasti akan menyinggung perasaan dan menyebabkan guru itu semakin tidak masuk akal tuduhan dan tindakannya. Ia menoleh untuk terakhir kalinya kepada rekan-rekannya ketika diiringkan oleh beberapa sipir keluar dari bangunan itu. "KAU mau pulang ke mana, Marsiyam?" tanya salah seorang sipir. Ia kaget mendengar namanya disebut dengan benar untuk pertama kali sejak dua tahun yang lalu. "Pulang." "Ke mana?" "Ke rumah." "Rumah siapa?" "Rumah suamiku. Ia pasti senang aku bisa mendapatkan anak. Ini anaknya. Aku yakin ia akan menerima kami. Ini anaknya." ***

Taman Perdamaian Hiroshima
Ganda Pekasih Sumber: Kompas, Edisi 03/23/2003 HIROSHIMA, di ambang musim dingin, pukul 3 sore, aku tiba di Tobu Hateru, atau Tobo Hotel untuk beristirahat, mungkin tidur beberapa jam di penginapan sederhana yang murah dan terjepit di antara bangunan bangunan jangkung di tengah Hiroshima ini, bisa memulihkan tenagaku. "Jangan lewatkan Hiroshima Peace Memorial Museum kalau kau masih punya waktu di Hiroshima!" terngiang ucapan rekan sekantorku Akbar sebelum aku meninggalkan Jakarta minggu lalu, kawan baikku itu pernah kuliah di Universitas Hiroshima beberapa tahun yang lampau. Aku ingin kembali secepatnya ke Indonesia, tapi sangat sayang kalau aku tidak menyempatkan diri menjenguk sisa-sisa korban bom atom dan mengunjungi taman perdamaian, tempat di mana bom atom meledak, bom yang kedahsyatannya merenggut hampir 250.000 jiwa penduduk Hiroshima.Aku hanya tertidur beberapa jam, dan terbangun ketika di ambang jendela hotel tampak langit Hiroshima berwarna kelabu menjelang malam. Aku segera menuju kamar mandi. Selesai mandi, aku keluar dari kamar dan turun ke lobi, di kafe yang ada di lobi, aku memesan Cha, teh hijau khas Jepang dan hamaagu, atau

hamburger.Setelah menghabiskan teh dan hamburger, aku keluar dari hotel, tapi ada seorang pria Jepang yang kulihat tadi duduk sendirian di pojok kafe ikut keluar dan mengikutiku."Aku akan mengantarkanmu ke Gedung Promosi Industri Hiroshima," katanya dengan ramah setelah dekat denganku, dia tersenyum menampakkan gigigiginya yang kuning dan sebagian tampak hitam.Aku agak heran dengan ucapannya, untuk apa aku ke gedung yang tadi diucapkannya itu? Aku tidak punya urusan dengan promosi industri."Gedung itu satu-satunya gedung yang dibiarkan hancur sebagai saksi keganasan bom atom, berada di Taman Perdamaian, kita bisa melihatnya ke sana sekarang, tapi sebelum sampai di sana, ada baiknya kita singgah lebih dulu di Rumah Sakit Bom Atom Hiroshima, tempatnya lebih dekat dari sini," tegasnya, dan kembali tersenyum.Dari mana pula orang ini tahu rencanaku...? Dia pasti hanya menebaknebak saja tadi, mungkin juga karena hotel ini banyak disinggahi oleh turis yang mau pergi ataupun pulang dari Taman Perdamaian, jadi dia sudah familiar. Mungkin juga...

karena dia memang mampu membaca pikiran orang. Usianya kutaksir 50 hingga 55 tahun."Mari ikuti saya," katanya ramah dan kembali tersenyum."Baiklah," kataku.Aku pun segera mengikutinya. Dia melangkah cepat melewati para pejalan kaki lainnya. Tanpa mencurigainya aku hanya berkata dalam hati, beginilah manusia Jepang, serba cepat, fokus, dan... menjadi raksasa dunia.Setelah melewati beberapa blok bangunan, si pria yang belum sempat kutanyakan siapa namanya itu, tiba-tiba berbelok dan berhenti di depan... Rumah Sakit Bom Atom Hiroshima, dia menoleh ke arahku, wajahnya terlihat samar, karena dia membelakangi lampu jalanan yang baru saja menyala.Kami berjalan masuk."Rumah sakit ini dibuka bulan September 1956, sebagai pusat penyembuhan orang- orang yang terkena radiasi bom atom, pengaruh radiasi radioaktif menyebabkan leukimia, kanker, dan kebutaan," katanya.Di dalam rumah sakit, aku agak tercengang dan merasa aneh. Suasana di dalam sangat muram, asing. Berbeda dengan di luar yang modern dan terang- benderang. Di salah satu dinding yang kulewati tergantung kalender bahasa internasional disertai huruf kanji, 27 September 1956. Aku bertambah heran. Bagaimana mungkin kalender dinding itu masih dipasang sekarang.Aku dan laki-laki itu masuk ke sebuah bangsal, orang-orang jompo, laki-laki dan perempuan tampak sedang bercakap-cakap dan membentuk kelompok, tapi ada juga yang sedang membaca dan berbaring di tempat tidur."Sewaktu bom atom meledak, radiasi radioaktif telah menjangkau sampai lima ribu meter dari pusat ledakan, ciri utama korban, rambutnya gugur."Aku memperhatikan rambut orangorang jompo yang tampak memang sangat jarang itu, kesemuanya dibiarkan tidak terurus apalagi dipotong, begitupun yang laki laki, panjangnya sudah sampai ke punggung. Dengan wajah mereka yang tirus dan pucat, penampilan mereka jadi lebih menyeramkan."Tapi penduduk yang berada dalam radius 1000 meter dari pusat ledakan mengalami luka yang sangat berat dan seluruhnya meninggal dalam beberapa hari."Laki-laki itu berbalik dan membawaku ke bangsal yang lain, aku mengikutinya saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya."Sementara Hiroshima masih terbakar waktu itu, dua hari kemudian, hujan turun. Hujan itu berwarna kuning pekat kehitam-hitaman, seperti teh susu. Seluruh penduduk Hiroshima kembali terkena radiasi, setiap orang yang meminum air dari sumur sakit parut sampai berhari-hari."Aku mencoba mengangguk-anggukkan kepala, tapi lidahku terasa kelu.Laki-laki itu kembali

membawaku melihat ke bangsal yang lain, kini kulihat bangsal yang berisi orang-orang yang usianya sama denganku. Ya, sama denganku!? sebagian mereka terbaring dengan mata memandang hampa ke langit-langit ruangan, sebagian lagi ada yang duduk dengan menundukkan wajahnya, aku tercenung memperhatikan mereka, mereka masih muda.Guide dadakanku kembali mengajakku ke bangsal lainnya lagi. Di sini banyak wanita yang sedang hamil tua terbaring di tempat tidur, dan beberapa wanita hamil yang lain duduk duduk di lantai sambil memunguti rambut mereka yang gugur dan mengumpulkannya di tangan mereka. Dan di sebelah bangsal ini, yang dipisahkan dengan dinding kaca, tampak puluhan anak kecil dan bayi-bayi dalam inkubator sedang dirawat oleh beberapa orang suster.Aku nelangsa, trenyuh."Mereka terdiri dari beberapa golongan, yang menderita langsung radiasi radioaktif ketika bom dijatuhkan, disusul mereka yang kena seminggu kemudian, dan anak-anak kecil, serta bayi dari ibu-ibu hamil."Aku masih memandangi bangsal berisi ibu-ibu hamil yang sedang memunguti rambut mereka yang berguguran, ketika tiba-tiba laki-laki itu bergerak meninggalkanku. Aku pun seperti tersadar dan cepatcepat mengikutinya. Ternyata dia mengajakku ke luar dari rumah sakit ini lewat lorong yang membelok ke samping. Tanpa berkata-kata, dia terus bergegas meninggalkanku.Setiba di luar aku merasa lega."Hei... tunggu. Ada yang aneh, sekarang tanggal 6 Januari 2003, bom atom jatuh di Hiroshima 6 Agustus 1945, bayi bayi di dalam rumah sakit itu mestinya sekarang sudah berusia 57 tahun, dan anak anak kecil itu sekitar enam puluh tahun, kenapa mereka masih terus ada sampai sekarang?"Kudengar laki-laki itu tertawa, tapi dia tidak menghentikan jalannya yang cepat itu."Seperti yang kukatakan di hotel tadi, tidak jauh dari sini kita akan sampai di Taman Perdamaian, ada bangunan yang masih dibiarkan tetap seperti ketika diterjang bom atom, dulu gedung itu sebagai pusat Promosi Industri Kota Hiroshima," kilahnya malah berpromosi.Aku akhirnya tetap mengikuti langkahnya, bahkan aku setengah berlari untuk menyusulnya."Aku Hartoko. Anda!?""Oh... Harutoku, Harutoku, nama yang baguuusss. Aku Siode Sadamitsu, aku lahir di Hokkaido." Lengking suaranya."Tuan Siode..., siapa Anda yang sebenarnya?""Aku hanya ingin mengantarmu, tapi waktuku tidak banyak.""Aku tahu, tapi kau baik sekali.""Aku seorang pendeta Buddha.""Oh... pendeta Buddha...."Dia terus berjalan lincah, di antara kaki-kaki manusia pejalan cepat lainnya. Entah berapa lama, setelah melewati beberapa

bangunan, lorong dan beberapa pintu, dia membiarkanku menyusulnya. Nafasku sedikit tersengal.Dia, Siode San, membukakan pintu belakang sebuah gedung yang sekelilingnya agak gelap, kotor, dan berdebu. Rasa penasaranku tentang apa yang akan ditunjukkan pendeta Buddha ini, seperti yang diakuinya barusan kalau dia adalah seorang pendeta, membuat langkahku jadi berani.Tapi, begitu tiba di dalam, aku terhenyak. Aku berdiri di tengah ruangan yang hancur berantakan, beberapa mayat tertimpa reruntuhan gedung bergelimpangan di sana-sini, tersiram cahaya remang lampu berwarna merah di langit-langit ruangan, lantai penuh oleh simbahan darah kering berwarma hitam, beberapa mayat yang lain ada yang hangus dengan kulit mengelupas. Siode San tampak buru-buru menyalakan hio di ujung ruangan, seketika ruangan mulai berasap dan tercium aroma wangi yang mengusir busuknya bau mayat dan amis darah.Aku masih mencoba memperhatikan mayat-mayat yang

bergelimpangan ketika tiba-tiba terdengar suara perempuan merintih dari salah satu arah tak jauh dari tempatku berdiri, aku mendatangi arah suara perempuan itu, sesampainya di sana kulihat separuh tubuh perempuan itu tertindih puing bangunan, aku mencoba menolongnya sambil aku memanggil Siode San."Siode San, kemari!"Tapi tak ada jawaban, teriakanku malah membuat perempuan itu berhenti merintih. Dari arah pintu lain di sampingku, tiba-tiba Siode San muncul dengan kedua tangannya menjepit beberapa tangkai Hio yang ujungnya menyala dan berasap melingkar-lingkar mengikuti gerakan tangan Siode, aku segera menunjuk-nunjuk mayat perempuan itu kepada Siode. Dengan kedua tangan disatukan di dadanya, Siode lalu menjalankan ritual keagamaannya di dekat mayat itu.Aku harus segera keluar dari tempat ini, pikirku. Aku ngeri, aku seperti berada di terowongan kematian. Diam-diam kutinggalkan Siode San, aku melangkah mundur ke belakang. Aku harus kembali ke pintu masuk kami tadi, tapi aku tidak bisa secepat yang kuduga menemukan pintu itu, aku bergerak lagi ke balik reruntuhan tembok dan dalam remang lampu berwarna merah, aku menemukan sebuah pintu yang tersiram cahaya terang benderang yang dipancarkan dari arah luar. Aku bergerak cepat keluar pintu cahaya itu. Setelah aku keluar dari pintu itu, aku tercengang. Aku sudah berada di taman yang indah dan terang benderang, lalu kutunggu Siode keluar menyusulku dari gedung yang rusak parah itu. Tak lama kemudian Siode San muncul di pintu cahaya itu sambil tersenyum ke arahku.Kami

sampai di Tobo Hotel setengah jam kemudian dengan menumpang Densha, atau bis umum. Densha yang rutenya melewati subway itu banyak berputar sebelum kami sampai di tujuan. Di tengah perjalanan, aku tidak banyak bertanya tentang Rumah Sakit Bom Atom Hiroshima atau Gedung Promosi Industri Hiroshima kepada Siode, aku membiarkan dia menceritakan tempat tempat bersejarah yang kami lewati.Sampai di hotel, Siode mengajakku duduk di tempatnya di pojok hotel tempat pertama kali dia kulihat. Dia menawariku rokok yang ada di mejanya, dan aku mengambilnya sebatang, dan menyalakannya."Harutoko... senang berkenalan dengan Anda, temui kapan saja aku di sini. Masih banyak tempat yang belum Anda lihat. Aku tinggal di hotel ini, aku suka mengantarkan orang- orang ke Taman Perdamaian atau ke mana saja di Hiroshima ini," katanya sambil tersenyum.Aku membalas senyumnya dan seperti lazimnya pemilik perusahaan di Hiroshima atau Jepang pada umumnya, mereka biasanya memajang foto-foto mereka di setiap ruangan. Di depanku duduk, aku baru tegas memperhatikan wajah Siode dalam bingkai foto ukuran poster yang di bawahnya terdapat pedupaan, dengan hio yang menyala dan wangi. Di bawah foto itu tertera tahun dan tanggal kelahiran. 6 Februari 1895-6 Agustus 1945.6 Agustus 1945... sekarang 6 Januari 2003.... Tiba-tiba aku ragu untuk memandang Siode yang duduk di sebelahku, pandanganku terhalang oleh asap rokok yang mengepul di udara, ketika asap rokok berkurang, aku melihat sosok Siode lewat ekor mataku, bergerak ke arah bar. Diam-diam aku bergerak meninggalkannya.PAGI hari, mentari bersinar cerah. Aku berada di taman perdamaian, memandang ke satu-satunya bangunan yang tak karuan lagi bentuknya, yang dibiarkan berdiri sampai sekarang sejak dihantam bom atom. Di bagian depan bangunan itu, ada pintu cahaya. Nama bangunan itu dulu, betul seperti apa yang dikatakan Siode San, Gedung Promosi Industri Hiroshima. Taman ini sungguh indah, pohon-pohon tumbuh subur, berbunga, berbisik dengan angin dari segenap cuaca dari musim yang datang. Ratusan ekor burung merpati beterbangan dengan bebas, turis turis asing berjalan di sekitar, anak-anak, remaja, dan orang dewasa, mereka memotret sambil bercakap-cakap. Dari Taman Perdamaian ini, seharusnya aku ke Hiroshima Peace Memorial Museum seperti yang diingatkan rekan sekantorku, Akbar. Di sana kita akan bisa melihat lebih lengkap dan lebih mengerikan apa yang terjadi ketika itu, tapi aku sudah tidak ada waktu lagi ke sana, aku harus

kembali ke Jakarta, lagipula Siode Sansudah mengajakkujalan-jalan. ***

Lelaki Beraroma Kebun
Linda Christanty Sumber: Kompas, Edisi 03/16/2003 HALIFA masih ingat wajah lelaki itu. Sepasang mata yang sipit, hidung pesek, dan bibir hitam terbenam di kepala yang kecil. Saat ia tertawa terlihat gigi-gigi yang tak rata, ompong, dan kerak nikotin menempel di celah-celah gusinya. Tapi, ia jarang tertawa. Hanya matanya yang sering berbinar melihat orang datang. Hidup sendirian di tengah kebun tentu sebuah pengorbanan. Ia senang dikunjungi dancepat-cepat

menyuguhkanair putih serta bijur rebus atau buah keremunting yang hitam-manis pada tamunya, atau lebih tepat lagi, keluarga pemilik kebun.SUDAH LAMA p dan tersisa yang penting bagian menjadi itu lelaki lalunya, masa dari hilang telah banyak melihat pulang ketika Namun, kebun. penjaga si diingatnya saja sesekali rantau tanah Di pulang. tak Halifa < berharga.> Barangkali, rambut lelaki itu sudah memutih dan kerutmerut usia tua makin nyata. Daya ingatnya pun mungkin sudah menumpul. Itu galibnya perkembangan manusia, dari bayi merah, belajar beranak-pinak, lalu renta dan pikun. Apakah masih juga dikenakannya topi kebun dari kain belacu lusuh itu? Mata sabitnya yang berkilau saat terayun ke batang lalang dan semak-belukar seakan hadir di depan mata. Kadangkala lelaki itu mengeluarkan suling dari tas resam dan memainkan lagulagu berirama Melayu. Ia punya radio transistor yang bisa menangkap siaran dari Malaysia. Radio model lama berbentuk roti bantal itu warisan kakek Halifa. Mungkin, bisa jadi obat sepinya. Halifa kecil tak urung bersiul-siul senang menimpali tiap nada yang berasal dari lubang-lubang suling si penjaga kebun.Apa pendapat lelaki itu saat melihatnya sekarang? Ia bukan lagi Halifa cengeng dan manja dulu. Ia kini tumbuh jangkung dan manis. Tanah rantau telah membesarkan otot-ototnya lewat kerja, meluaskan pikiran penghuni pulau kecil itu dengan pahit-getir pengalaman. Halifa tersenyum-senyum bangga.Sesungguhnya, ia lebih hafal pada aroma lelaki itu. Ya, ia seperti membaui aromanya lagi. Di belakang gazebo yang sudah berlumut, bayangan seseorang berkelebat dalam gerimis dan menghilang dibalik tapekong.Lelaki itu mengabdi hidupnya untuk gugur dan semi bunga pepohonan, melihat tunas tumbuh dan dahan tua tumbang. Ia menyiangi lalang dari tanah kebun, menabur kotoran ayam

dan kambing di atasnya. "Biar gembur, tanah perlu makan," katanya kepada Halifa kecil.Pohon-pohon yang dirawatnya setiap hari pun membalas budi, menyerahkan aroma khas mereka kepadanya, sehingga si perawat tak bisa sembunyi dari siapa pun. Nasibnya seperti musang yang mengeluarkan wangi pandan. Embusan angin membawa aroma tubuh penjaga kebun ke rongga penciuman orang-orang yang berjalan di kejauhan, semacam pengumuman. Bila ada yang ingin menemuinya, ikuti saja aroma itu. Kalian akan sampai di hadapan lelaki yang menenteng sabit atau parang. Matanya tak pernah menyorot garang, mata orang yang mau menolong. Bila kalian ingin bertemu tuannya, yang punya kebun, ia akan berjanji menyampaikan pesan. Bila ada yang tersesat, ia akan tunjukkan jalan."Ke mana dia?" pikir Halifa, melajukan pandangan ke sudut-sudut kebun. Ia baru ingin melangkah ke pondok kecil beratap rumbia yang tersamar pohon-pohon lada tua ketika gerimis berganti hujan deras.Di balik awan gelap yang bergumpal, jari-jari petir putih bersinar. Halifa merapatkan jaketnya ke badan sambil berlari mencari tempat berlindung, kembali ke gazebo tadi.Kayu-kayu pelawan yang menyanggah bangunan itu telah lapuk. Warna coklat cat berubah kehitaman, mengelupas di sana-sini. Tembok yang dulu kokoh dan putih kini retak dan berlumut. Ia duduk di bangku batu yang lembab, mengusap wajahnya yang kena tempias hujan. "Kenapa dia lari?" batinnya. Mungkin, lelaki itu sudah tak ingat kepadanya lagi.Hampir lima belas tahun Halifa meninggalkan pulau ini, tempat kelahirannya. Lima belas tahun ia tak pernah pulang. Tapi, dua jam lalu, pesawat Fokker 100 milik sebuah maskapai lokal baru saja mengantarnya ke bandar udara yang makin kusam tak terawat, mengantarnya pulang. Hujan deras sudah menyambutnya di landasan. Sebelum mendarat, dua kali pesawat mengalami guncangan hebat yang membuat dinding-dindingnya berderak. Ia sempat berpikir betapa aneh dijemput maut dengan cara ini; berpulang saat kembali. Halifa sudah siap menarik rompi pelampung dari bawah kursi begitu keadaan darurat diumumkan. Ia tak mau mati. Ia belum bertemu ayah dan ibunya, belum ziarah ke makam kakek dan neneknya. Di seberang jendela, laut berwarna hijau tua terlihat tenang bagai obyek dalam lukisan. Pesawat malang ini berada di atas ketinggian 24 ribu kaki, pikirnya, gelisah. Barangkali, ia akan dimakan hiu, atau menjadi buih di samudra nanti. Tapi, perlahan-lahan tepi daratan mulai tampak, pesawat kembali stabil, dan rasa gusar Halifa berangsur lenyap.Semula

ia ingin menyeberang ke pulau itu dengan kapal laut. Ongkosnya lebih murah dengan jarak tempuh cukup sehari semalam ke pelabuhan tujuan dan dari situ satu jam menumpang otokongsi ke rumah. Tapi, banyak teman menyarankan ia naik pesawat terbang. "Sekarang tengah musim angin kencang dan gelombang besar," kata mereka. Jadi, ia terpaksa mengubah rencana. Naik pesawat memang lebih mahal, juga lebih cepat. Huh, ternyata risikonya sama saja. Di laut terancam tenggelam, di udara terancam jatuh!Ia punya banyak ingatan tentang pulau ini, terutama debur ombaknya di malam hari. Dulu keluarganya tinggal dekat pantai. Bagi Halifa, debur ombak seperti nyanyian. Ia tidur nyenyak dalam buai bunyinya. Seringkali sepulang sekolah, setelah bertukar pakaian dan makan siang, ia dan adiknya, Malida, berlari ke pantai untuk mencari kulit-kulit lokan dan siput. Mereka biasa menemukan umang-umang yang menghuni bekas rumah-rumah siput, mengeluarkan binatang-binatang tadi dari dalamnya, mengikat kaki-kaki tajam-lancip tersebut dengan benang, lalu memacu mereka berlomba lari. Nenek selalu mengomel panjang-pendek melihat kelakuan cucucucunya yang nakal, "Jangan kau siksa binatang, nanti di neraka kau dibuat begitu pula oleh mereka." Apa iya? Mereka kan begitu imut.Di tengah malam ia kerap mendengar suara orang ribut di jalan muka rumah dan esok harinya nenek pasti bercerita, "Semalam itu ada orang ditangkap karena smokel. Makanya, kalau ke pantai harus ditemani Yu Sur atau Mang Cali. Kalau ada orang jahat, siapa yang tahu." Yu Sur, perempuan muda yang membantu memasak dan membereskan rumah. Mang Cali bekerja merawat taman dan mencuci mobil-mobil. Keduanya digaji bulanan oleh ayah Halifa.Nenek berpulang ketika Halifa kuliah semester pertama. Kakek sudah lebih dulu mangkat saat Halifa di taman kanak-kanak. Ia tak ingat lagi suasana pemakaman kakek di hutan dekat pantai itu, tapi ia pun tak bisa menyaksikan pemakaman neneknya. Keuangan ayah sedang menipis waktu itu. Biaya pulang perlu dihemat untuk biaya kuliah. Perusahaan pertambangan tempat ayah bekerja sedang terguncang. Harga timah dunia merosot dan korupsi besar di kalangan eselon atas mempercepat kebangkrutan perusahaan tersebut. Ribuan buruh mogok menuntut pesangon yang layak. "Sebagian besar hak pesangon mereka dimakan orang-orang itu," kisah ayah, di telepon. Ayah ikut mogok? Oh, tidak, Nak. Kenapa? Ayah bagian yang menunggu saja. Ah, ayah curang sekali. Jabatan ayah memang jabatan tanggung. Korupsi pun tak bisa

besar. Berpanas-panas di terik matahari untuk meminta hak bersama buruh-buruh rasanya tak pantas. Makanya ayah harus punya prinsip, jangan menginjak ke bawah, menjilat ke atas macam pejabat bumiputra zaman kolonial. Ha-ha-ha …. Suara tawa ayah yang masih nyaring lumayan melegakan hati Halifa.Ayah mengirim Halifa merantau setamat sekolah menengah pertama. "Biar kau temukan nasibmu sendiri dengan berjuang di rantau," kata ayah. "Pulau kecil membuat pikiran juga tak seberapa luas," lanjut ayah, lagi. Ibu juga tak menangis, hanya memintanya menulis surat tiap minggu kalau tak punya uang menelepon ke rumah. Nenek memberi nasihat tentang menjaga diri, "Kau yang punya lubang kunci dan jangan biarkan anak kunci masuk ke situ." Halifa sempat terbahak, tapi perlahan-lahan ia paham. Malida kemudian menyusul Halifa. Mereka, perempuan kakak-beradik, berbagi nasib, jauh dari orangtua. Malida sempat pulang beberapa kali, tapi ia tidak. Entah kenapa, ia terus terseret dalam irama kota dan arus kerja yang mengikis rasa rindunya pada tanah kelahiran. Ia tak lagi merasa punya ikatan apa-apa dengan pulau ini, kecuali kenangan dan sejarah keluarga. Ayah dan ibulah yang lebih sering mengunjungi anak-anaknya kemudian.Kini rumah di tepi pantai sudah tak ada. Di atas puing-puing perumahan pejabat menengah itu telah berdiri kampus politeknik. Pantai yang berombak telah dipagari tembok-tembok tinggi. Perusahaan pertambangan tempat ayah bekerja ditutup dan sebagai gantinya, penduduk pulau membuka tambang-tambang liar, merusak sungai-sungai. "Ayah rasa buaya pun sudah tak ada di pulau ini. Semua sungai terpolusi," kisah ayah.Ayah dan ibu telah memutuskan pindah ke pedalaman, mendirikan rumah di kebun pusaka kakek, dekat perkampungan orang-orang Tionghoa. Penjaga kebun itulah yang selalu menarik perhatian Halifa sejak kanak-kanak, terutama hidupnya yang sendiri. Kata ayah, "Dia turut menyaksikan jatuh-bangun keluarga kita. Ayah sudah menganggapnya keluarga. Dia sudah ayah minta istirahat dan kembali pada sanak-saudaranya, tapi katanya dia tak punya keluarga lagi. Ayah suruh tinggal di rumah ini, dia memilih tinggal di rumah kebun." Lelaki itu mulai sakit-sakitan lantaran usia tua, tapi tetap bertahan dalam kebun mereka.Ayah telah menjalankan wasiat kakek. Sebelum meninggal, kakek berpesan agar ayah memperhatikan nasib penjaga kebun dan tak boleh menyia-

nyiakannya.Hujan makin menderas. Pikiran Halifa mulai bercabang, antara berlari ke rumah atau ke pondok beratap rumbia. Tapi, ia ingin menuruti kata hati saja.Pintu

pondok tertutup rapat, begitu pula tingkap-tingkapnya. Halifa mengetuk daun pintu yang basah. Tak ada sahutan. Permukaan kayu yang kasar tak bersugu terasa menusukbuku-buku jarinya.Ia mengetuksekali lagidan disertaisuara,"Atur ini Halifa." Aroma kebun dari dalam mengalahkan wangi tanah dan daun-daun di luar. Ia percaya si penjaga kebun ada di dalam. Tiba-tiba terdengar batuk kering dan suara orang bangkit dari ranjang kayu yang berkeriyut.Palang pintu ditarik, kemudian di ambang pintu muncul wajah yang lama dikenalnya. Lelaki itu kelihatan amat tua, dengan uban memenuhi kepala dan tubuh makin mengecil. Sepasang mata yang kuyu menatap Halifa bimbang."Ini Halifa, tuk. Atuk masih ingat Halifa kan? Halifa dengar atuk sakit," kata Halifa, lalu meraih dan menciumi punggung tangannya.Mata lelaki itu mulai berair. Ia meraih pundak Halifa dan mengajak si perempuan muda masuk ke rumah tanpa berkata-kata. Keadaan kamar tersebut belum berubah. Ranjang dan meja kayu, kompor minyak tanah, lemari pakaian dari plastik, dan panci-panci tergantung di dinding. Kini mereka berhadapan, orang upahan dan anak majikan."Sekarang belum musim keremunting," kata lelaki itu, seraya menuang segelas air untuk Halifa."Oh, dak ape-ape, tuk. Halifa cume nak mampir sebentar.Lame dak pulang. Semue lah berubah kata Halifa, seraya duduk di tepi ranjang."Benar. Banyak yang berubah. Nyai la dak ade. Yai kau ape agik. Papa kau pun la pensiun. Kebenaran kau pulang. Ade yang nak atuk cerite. Atuk ni la sakit-sakit terus, sebentar agik nak pulang ke tanah. Macam-macam sakit pun ade, dari pening, mengas sampai … mate ni la dak keliat agik la.Kau disitu pun,atuk dak bise nampak jelas,kabur lanjut lelaki tua itu, tertatih-tatih mendekati Halifa, membawa gelas air.Lelaki itu akhirnya mengungkap kisah yang mengguncang Halifa. Tentang sebuah keluarga yang tercerai-berai. Sepasang suami-istri merelakan bayi mereka yang baru berumur dua hari untuk diangkat anak oleh keluarga lain. Mereka tak sanggup membesarkan bayi itu lantaran kehidupan yang sulit di masa Jepang. Lima anak yang lahir sebelumnya harus menanggung penderitaan. Untunglah ada orang yang lebih mampu bersedia mengurus bayi mereka yang baru lahir. Selang beberapa minggu setelah putra bungsu mereka diserahkan, sang suami meninggal dunia akibat tuberculosa dan sang istri meninggalkan gubuk kecil mereka dengan lima anak kurus meringkuk lapar di dalamnya.Berminggu-minggu anak-anak tersebut ditinggalkan ibunya yang berharap ada orang kampung datang dan menyelamatkan mereka. Suatu

hari ketika perempuan itu kembali untuk memastikan anak-anaknya telah diambil orang, ia menemukan lima mayat tergeletak di lantai tanah dan telah membusuk. Ternyata, pikiran yang kalut membuat si perempuan telah mengunci gubuk dari luar. Anak-anak itu terkurung di sana, tanpa mampu berteriak minta tolong. Perempuan itu tak sadarkan diri dan saat siuman ia sudah lupa pada siapa pun. Orang-orang kampung melihatnya berlari kencang ke dalam hutan sambil melolong. Setelah itu ia benar-benar senyap dari muka bumi. Barangkali, ia mati dimangsa ular atau buaya yang menghuni sungai.Putra bungsu suami istri yang malang tadi adalah ayah Halifa. Lelaki tua yang bercerita ini adik kandung dari pihak istri. Halifa terdiam, begitu pula si penjaga kebun. Mereka larut pada kegetiran masing-masing.Ketika si penjaga kebun meninggal dan jenazahnya dimakamkan, Halifa telah kembali ke tanah rantau. Ia cuma mengirim doa. Namun, aroma segar dari pohon-pohon tropis yang terbawa angin masih menyertainya di jalanan, di bus, di kantor, di kamar kontrakan, dan di tempat-tempat baru yang pertama kali dikunjunginya. Ia merasa ikatan hidupnya dengan pulau itu berangsur-angsur punah.Desember 2002 Ketela rambatTempat bersembahyang pemeluk Kong Hu Cu Angkutan kota Menyelundupkan barang-barang dari luar negeri. Salah satu panggilan untuk kakek berasal dari kata 'datuk'BelumOh, tidak apa-apa, kek. Halifa cuma mau mampir sebentar. Lama tidak pulang. Semua sudah berubah.Nenek sudah tak ada. Kakekmu apalagi. Papamu sudah pensiun. Kebetulan kamu pulang. Ada yang ingin kakek ceritakan. Kakek ini sudah sakit-sakitan, sebentar lagi pulang ke tanah. Macammacam sakit ada, dari pusing, sesak napas, sampai mata ini sudah tak bisa melihat lagi. Kamu di situ pun, kakek tak bisa tampak jelas, kabur.***

Teluk Wengkay
Korrie Layun Rampan Sumber: Kompas, Edisi 03/09/2003 Nyala api bekelip di bawah kerdipan bintang-bintang yang bertaburan di langit tinggi. Unggun dengan bara yang memerah kadang meletikkan bunga api yang naik ke sawang yang diterangi cahaya bulan. Entah bulan berusia sepuluh atau dua belas, namun sinarnya yang kemilau memantul di daun-daun pohon tinggi hingga jauhan selepas pandangan mata.Jauh larut senja aku sudah ada di sini bersama Sopa yang sudah menanti.Di depan hampir samar sisik danau. Bayangan bulan bersama bintangbintang seakan dapat diraih di air yang jernih. Ada sedikit desis bakaran umbut kotok bersama tya di api yang menyala, dan di dalam pasir yang panas di bawah bara ditenggelamkan umbi singkong dan talas merah yang gembur. Ada juga bakaran ubi jalar dan jagung muda yang barusan saja diambil dari huma.Unggun terus menyala.Entah suara pungguk, entah suara rusa atau burung hantu seperti bersaing dengan desauan daun yang ditempuh angin lalu. Geriut rumpun bambu kewayam dan bambu betung yang merimbun di arah utara seperti petikan kecapi tua yang kehilangan satu senar utama. Bersamaan dengan letupan bakaran jagung, terdengar suara Sopa."Ingin kukatakan yang baik, Wey. Tapi berita yang kudapatkan sepahit empedu.""Berita apa?" suaraku dirangsang keingintahuan yang tinggi.Ada kelepak malam yang dikibaskan kelelawar dengan sayapnya yang lebar. Ada lagu dedahanan yang menyanyikan angin musim pancaroba. Ada jerit pepohonan dengan akar-akar yang haus mengharapkan dahaga akan segera berakhir."Berita tentang hidup dan masa depan.""Tentang kita?""Tentang kita, tentu saja. Dan itu sebabnya Sopa minta waktumu agar kita bisa bertemu yang dilengkapi dengan unggun malam yang hangat di tepi danau ini. Iwey tak menyesali?""Menyesali apa?""Waktumu terbuang percuma. Terutama berita yang menyakitkan.""Kau belum katakan berita apa. Sementara waktu telah kita sepakati bersama, So. Tak ada waktu terbuang percuma untuk orang bercinta seperti kita.""Justru berita inilah yang menghapus segala cita-cita, Wey.""Kau jadi berteka-teki, So. Sesungguhnya berita apa yang ingin kau sampaikan?"Sopa tampak menarik napas berat bersamaan dengan helaan angin yang bertiup dari arah pohon

beringin yang tinggi. Malam masih menyungkup dengan lengkungan langit yang berhiaskan bulan dan bintang yang terang."Aku tak sembunyikan apa pun, Wey. Justru pintaku kita menerimanya dengan sabar.""Tentang pernikahan? Ada perubahan tentang pernikahan kita?""Memang menyangkut soal pernikahan. Tapi lebih dari itu,

sebenarnya....""Lalu tentang apa?""Tentang kita berdua.""Tentang cinta kita? Sopa masih ragu tentang cintaku?"Tak ada keraguan tentang itu. Keraguan justru karena semuanya segera berakhir...."Tampak gadis itu sekali lagi menarik napas sepenuh dada di ujung kalimatnya yang tak selesai. Seperti ada sesuatu yang berat sekali untuk dikatakan."Kau belum katakan apa kesulitanmu. Mungkin dapat kita atasi bersama, So.""Mungkin bisa, mungkin juga tidak. Tapi akhirnya pasti dapat diatasi, Wey.""Belum kutahu apa yang ingin kau sampaikan. Bagaimana mungkin dapat aku berikan saran dan cara pemecahannya."Napasnya makin ditarik seperti ingin menghimpun tenaga dan kekuatan."Sebenarnya sederhana apa yang ingin kukata, Wey. Tapi dampaknya sangat tidak sederhana.""Dampak bagaimana?""Nasib kau dan aku selanjutnya.""Biaya pernikahan, maksudmu?""Bukan. Kutahu kau sudah siap-sedia. Bahkan, jika kau belum siap, Ayah sudah akan menutup semuanya. Hingga biaya resepsi di gedung mewah di Jakarta.""Lalu kau panggil aku kemari? Bisakah kau sampaikan tidak di dalam tekateki?""Justru kau ada di sini agar semuanya jadi jelas, Wey. Kau dapat mengikuti suatu proses berlelap yang penuh kerahasiaan!"Angin yang datang dari sisik danau berembus ke arah hutan yang melipat malam di dalam terang cahaya bulan. Kesejukan yang khas memberi rasa nyaman di tengah hutan berdanau yang seakan memeluk teluk."Katakan apa adanya, So. Kau telah kenal aku sampai ke lekuk liku. Aku kenal kau.... Tapi katakatamu yang terakhir begitu aneh.""Aku ingin kau menerimaku seperti seorang bocah yang lugu.""Aku telah terima kau penuh seluruh. Maksudmu apa dengan kalimat seperti tadi?""Maksudku tentang diriku. Tiba-tiba aku ingat kakakku pernah memancing buaya di teluk danau ini. Kulihat mata buaya seperti meminta belas kasihan. Apakah mataku mirip mata buaya yang meminta hidup dari algojo kematian?""Kalimatmu jadi makin aneh. Apa hubungan matamu dengan mata buaya?""Itu yang kurasa sampai aku minta kau datang ke tepi danau ini. Ada gamang yang aneh, seperti seekor ayam yang sedang dalam lilitan ular pemangsa.""Kalimatmu makin tak membuatku tambah mengerti, So.""Bisakah aku meminta sesuatu, Wey?""Tentang apa?""Suami.""Aku akan

jadi suamimu.""Maksudku lelaki sebagai suami saat ini."Lelaki muda itu seperti meneliti wajah gadisnya. Seakan ia tak percaya pada pendengarannya sendiri. Itukah maksud Sopa memanggilnya ke rumah di tepi teluk danau? Apakah ada sesuatu yang mengguncang jiwanya sehingga membuat gadis itu seperti kehilangan diri? Bukankah jika mau melakukan hal serupa itu tak halangan apa- apa di Jakarta? Mengapa harus dilakukan penyerahan di malam hari di hutan tepi danau? Memangkah wanita tetap suatu rahasia tak tergali?"Saat ini?" aku sendiri hampir terperanjat oleh gema suaraku di dalam terang cahaya bulan. "Maksudmu apa sebenarnya dengan penyerahan seperti tak mampu menunggu waktu dan kepatuhan akan kekuatan kesucian?""Karena aku sedang berburu dengan waktu, Wey.""Kau membuat aku makin tak mengerti, So. Adakah lelaki lain yang ingin merampasmu dariku? Atau kau sedang bertarung dengan pilihan orang tuamu?"Letikan api seperti bersaing dengan kunang-kunang di bawah pepohonan yang rimbun. Bau ampas tebu yang baru digiling meruap dari arah samping rumah pondok danau. Bau itu seperti bersaing dengan aroma air danau yang ikut naik bersama cahaya bulan."Sebentar nanti kau akan mengerti, Wey. Kuingin memberi kenang-kenangan manis untuk akhir yang paling sempurna. Semua yang kau tanyakan itu tak ada sangkut pautnya dengan permintaanku padamu."Matanya hampir memantulkan kesayuan waktu. Dalam cahaya unggun yang marak berbauran dengan cahaya bulan, wajahnya tampak lebih tirus, seperti mengandung sauatu kenyerian yang dalam. Rautan yang ayu, seakan-akan kehilangan pancaran masa depan."Kau sakit, So?"Tak kudengar suaranya. Hanya ruapan bau merang dan tongkol jagung yang dibawa angin dari rangkiang di sebelah rumah danau seakan tak mau kalah menerpa hidung dan penciuman."Saat ini aku sehat, Wey. Semuanya sehat. Tubuh dan akal pikiran. Jadi tak perlu kau ragu atas pintaku. Kau menolak?""Tak aku menolak. Tapi rasanya saatnya belum tiba, So. Aku khawatir kau dan aku akan menyesal jika terjadi sesuatu di luar rencana. Bukankah kita telah berikrar untuk setia kepada segala yang baik dan benar?""Demi ikrar itulah aku minta kau datang, Wey. Demi ikrar itu aku minta..."Kurasa gemetar tanganku saat aku rengkuh ia di depan perapian yang menyala. Kampung jauhnya lebih sekilometer, dan jalan sunyi yang gelap di dalam malam karena rimbunan pepohonan. Hanya berdua di rumah danau di teluk yang indah di malam penuh bulan. Setahun yang lalu aku juga diajak Sopa ke sini, dan kami menikmati

pepes belida yang kujala di dalam teluk danau. Bakaran ikan kapar membuat kami berdua sama tertawa memandang senja mencium sisik danau. Namun, saat kubopong, kurasa tubuhnya lebih ringan. Kehangatan perapian seperti dikalahkan oleh suhu udara dari danau dan hutan membuat tubuhnya terasa lebih dingin.Di Jakarta, selama kuliah, kehangatan kasih memadukan kami berdua dalam ikatan yang indah. Bukan karena kami puritan dan takut memanggul neraka, namun kesetiaan kami diuji oleh kepujian yang indah yang kami buhul secara bersama di dalam janji masa depan. Bukankah segalanya memiliki waktunya sendiri-sendiri?Selepas kuliah, oleh kerjanya di Sendawar dan aku tetap di Jakarta, janji setia itu makin diperhangat oleh jarak dan waktu. Apalagi setelah ditetapkannya tanggal yang pasti untuk pernikahan, kesetiaan adalah azimat yang ampuh dalam memelihara diri dari sandungan perfum kerak-kerak dunia."Tapi untuk permintaanmu, bisakah kita bersabar hingga tanggal lima, dua bulan lagi?" suaraku seperti bergema di dalam nadi.Kurasa pagutannya penuh penyerahan."Jika kau cinta, Wey, kau kuminta dengan sangat untuk yang paling berharga ini. Waktuku terlalu singkat untuk menunggu lebih lama."Kepalaku seperti diputar oleh turbin listrik di air terjun yang deras. Kekasihku wanita yang ayu dan aku lelaki yang sehat. Adakah yang kurang untuk pekerjaan bersuami-istri? Selain saat dan waktunya yang baik dan tepat? Dan kinikah waktunya yang paling baik dan paling tepat? Meskipun sebelum ijab kabul? Bukankah kami akan segera naik ke pelaminan?Gigil yang perih dan aneh berbaur dengan rengkuhan yang hangat penyerahan. Dalam detik-detik indah tak kuingat bahwa aku belumlah suami, tetapi aku telah menjadi suami. Kurasa Sopa merengkuhku seperti rengkuhan seorang istri. Sebuah pengalaman indah aneh kami terima dengan kepolosan calon pengantin."Terima kasih," suaranya yang lembut semasih dalam rengkuhan. "Wanita kami selalu memberikan yang terbaik untuk satu kekasihnya, Wey....""Terima kasih," kukecup ia sekali lagi. Kurasa suhu badannya lebih dingin. "Selebihnya kita tunggu tanggal lima.""Satu rahasia yang belum pernah kuceritakan padamu, Wey, bahwa wanita kami dari daerah ini, jika terjadi hal-hal khusus akan tetap menunggu kekasihnya, sebelum napasnya seluruhnya di angkat dari badannya. Sebelum ia mati.""Sebelum mati?""Jika ia belum menikah dan masih bertunangan. Jika ia sudah bersuami dan suaminya sedang bepergian. Ia akan menunggu orang yang dicintainya pulang, dan mereka bercinta, barulah ia mati.""Tapi

Sopa tidak mati?""Seminggu yang lalu aku periksakan diri di dokter di Sendawar. Seharusnya tiga hari lalu aku sudah mati. Terkena leukemia...!""Tapi Sopa belum mati?""Tiga hari aku menunggu di sini dalam mati. Terima kasih untuk pemberianmu, Wey. Biarlah aku mati dengan tenang dan damai."Kengerian segera naik ke ubun-ubun. Bagaimana mungkin aku bercintaan dengan orang mati, meskipun itu kekasihku sendiri, calon istriku. Adakah memang orang mati mampu mempertahankan kehidupan demi kekasih dan orang yang dicintainya?Kubaringkan Sopa dengan perlahan di tilam dan kepalanya kutaruh di bantal yang hangat. Napasnya masih ada, nadinya masih ada. Tetapi matanya terkatup rapat, sementara bibirnya terus mengulum senyum. Kudengar napasnya masih tersisa di tenggorokan.Malam inikah ia mati? Beberapa detik lagi?Malam berbulan di teluk dengan rumah danau tanpa penghuni lain. Hanya aku dan Sopa. Angin mendedas dari arah hutan rotan terus menyapu permukaan danau. Suara burung hantu dan suara sayap-sayap malam makin mempertegas sebuah kematian. Tengkukku makin merinding dan bulu romaku sudah berdiri. Haruskah aku berjalan kaki pulang ke kampung dan meninggalkan mayat Sopa sendiri dalam malam?Siapa saksiku kalau aku tak memperkosa dan tak membunuh Sopa? *** Sendawar, 13 Desember 2002

Tanpa Nasib
Imre Kertész Sumber: Kompas, Edisi 03/02/2003 SETELAH beberapa langkah maju ke depan, tampak bangunan yang sangat kukenal. Di situ kami tinggal. Masih berdiri utuh seluruhnya dalam bentuk yang bagus. Begitu melewati gerbang depan, aroma lama itu tak berubah. Lift ringkih dengan pintu berkisikisi dan bekas jejak kaki kekuningan menyambutku. Berjalan sedikit ke atas sempat kubalas sapa seorang penghuni apartemen yang sedang turun. Itu kebiasaan bertetangga yang menghangatkan. Sampai di lantai tempat tinggal kami, aku pencet bel. Cepat sekali pintu itu dibuka tapi hanya sedikit, terganjal oleh kunci rantai. Itu agak mengherankanku. Seingatku dulu tak ada rantai pencegah di pintu. Wajah tak kukenal muncul di celah itu. Seorang perempuan dengan tulang pipi menonjol, kuning, setengah baya, menatapku. Ia tanya aku cari siapa, dan kujawab, "Aku tinggal di sini." "Tidak mungkin," jawabnya, "kamilah yang tinggal di sini." Dia sudah hampir menutup pintu tapi tak bisa, karena kutahan dengan kakiku. Kucoba menjelaskan padanya, "Pasti ada salah pengertian. Terakhir kali dulu saya pergi meninggalkan tempat ini, dan saya yakin kami sungguh-sungguh tinggal di sini." Dia sebaliknya terus mendesak bahwa justru akulah yang keliru. Sebab, sudah sangat jelas mereka memang tinggal di situ. Dengan gerak kepala yang sopan dan simpatik, melembutkan otot muka, ia berusaha menutup pintu. Aku masih berusaha mencegahnya. Lalu, aku coba melongok nomor rumah untuk memastikan bahwa memang bukan aku yang keliru. Tapi, dia berhasil menutup pintu. Pasti kakiku tadi terselip lepas dari celah itu. Ia menutup pintu dengan keras dan menguncinya dua kali.AKU kembali ke tangga, perhatianku terserap pada pintu rumah yang kukenal betul bentuknya. Kupencet bel. Perempuan gemuk, berdaging, muncul. Ia juga hendak menutup pintu-aku mulai terbiasa dengan perlakuan seperti ini-tapi sepasang kacamata membersit dan wajah kelabu Paman Fleischmann muncul dari temaram. Di sampingnya berdiri laki-laki tua perut buncit, dengan sandal kain, jenggotnya merah lebat, potongan rambut kekanakan dan cerutu padam menggantung di bibirnya. Ini Tuan Steiner tua yang dulu datang persis ketika aku hendak meninggalkan rumah pada malam terakhir sebelum hari aku diangkut dari kantor

pabean. Mereka berdiri memelototiku, lalu mengujarkan namaku. Dan, Tuan Steiner tua itu memelukku, sementara aku masih mengenakan topi, baju narapidana bergaris-garis, dan tubuhku berkeringat. Mereka menarikku masuk ruang tamu, dan Bibi Fleischmann buru-buru ke dapur menyiapkan "segigit makanan", begitu katanya. Aku harus menjawab pertanyaan yang itu itu juga: dari mana, bagaimana, kapan. Lalu, aku bertanya dan kudengarkan jawaban mereka, orang lain sekarang memang sudah menempati apartemen kami. "Lalu kami sendiri, bagaimana?"Karena mereka tampak sulit menjawab, aku tanyakan lagi, "Ayahku?" Tanggapannya, semua diam. Sejurus kemudian sebuah tangan-aku yakin ini pasti tangan Paman Steiner- pelan-pelan terangkat dan seperti seekor kelelawar hinggap pelan-pelan di lenganku. Aku hanya ingat mereka mengatakan bahwa "kebenaran kabar sedih itu, sayangnya, tidak dapat diragukan", karena didasarkan "pada kesaksian seorang mantan narapidana." Menurutnya ayah telah meninggal "setelah sejurus waktu derita yang sebentar saja" di sebuah kam Jerman, meski terletak di wilayah Austria. Apa nama kam itu? Manthaussen? Bukan, Mauthaussen. Mereka tampak senang bisa mengingat nama itu, tapi kemudian berubah serius lagi. Ya, begitu.Lalu, kutanyakan tentang ibuku. Apa mereka tahu kabarnya? Mereka serentak menjawab ya, memang mereka punya suatu kabar baik. Dia hidup, dia sehat, beberapa bulan yang lalu dia datang ke sini, dan bahwa mereka telah berbicara dengannya. "Lalu ibu tiriku?" kutanya dan jawabnya, "Dia sudah kawin lagi." Dengan siapa? Salah satu menjawab, "Kovacs, kukira." Yang lain, "Bukan, bukan Kovacs. Tapi Futo. Maksudku Suto." Lalu, mereka menganggukangguk senang. Ya, tentu, begitulah yang terjadi: Suto tak berubah seperti yang sudahsudah. Ibumu harus banyak berterima kasih padanya, "sebenarnya dalam segala hal", itu kata mereka padaku. Suto adalah orang yang "menyelamatkan keberuntungan keluarga." Ia menyembunyikan ibumu "selama masa yang paling sulit". Begitu rupanya mereka memahami masalah. "Tapi, barangkali," Paman Fleischmann merenung, "ia agak terlalu cepat." Dan, Tuan Steiner tua setuju. "Tapi, kalau kita timbang-timbang seluruhnya," Tuan Steiner menambahkan, "semuanya dapat dipahami," dan Tuan Steiner tua setuju lagi.Aku masih di situ beberapa saat lagi. Rasanya lama aku duduk di sofa agak tinggi, empuk, warna merah anggur itu. Sementara itu, Bibi Fleischmann muncul lagi dan membawakanku sepotong roti dengan lemak, paprika, dan beberapa

irisan tipis bawang merah di atas piring tembikar berhias pinggirnya. Ia katakan, ia ingat makanan ini adalah kesukaanku, dan cepat kutanggapi bahwa aku tetap suka. Ketika aku makan, di antaranya kedua orang tua itu berkata padaku, "Kehidupan di rumah juga tak mudah." Berbagai peristiwa mereka ceriterakan. Tapi, kalau diingat lagi semuanya, aku hanya menangkap lukisan kabur tentang kejadian-kejadian yang membingungkan, mengusik hati. Pada hakikatnya,semua itutak dapatkulukiskan merekaternyata ataukupahami. mengulang-

Justrusebaliknya,kalau

kuperhatikanbaik-baik,

ulangungkapan singkat yang hampir-hampir sudah usang darimulut mereka,setiap kaliada perubahanatau kejadianbaru.Misalnya, bintang-bintang kuning itu "akhirnya kejadian", pembebasan "akhirnya terjadi".Aku perhatikan mereka membuat kesalahan yang terus diulang-ulang. Seolah-olah semua peristiwa itu tak jelas, sulit dibayangkan, hampir-hampir tak dapat direkonstruksikan lagi, atau tak terjadi dalam batas-batas waktu, menit, jam, hari, minggu, dan bulan, tapi, begitulah mereka berujar dan berujar, semuanya seakan-akan terjadi seketika. Barangkali, seperti dalam sekali putaran kejadian kekacauan yang membingungkan, seolah-olah kejadian itu berlangsung begitu saja di suatu pertemuan di sore hari yang aneh dan tiba-tiba secara tak terduga kemudian berubah jadi pahit karena para pesertanya -hanya Tuhan yang tahu, bagaimana persisnya-tiba-tiba kehilangan kepalanya dan akhirnya bahkan mereka tak tahu apa yang mereka lakukan. Pada saat tertentu, kedua orang tua itu terdiam, dan setelah beberapa saat, Tuan Fleischmann tua tiba-tiba bertanya padaku, "Apa rencanamu ke depan?" Aku agak terkejut dan kukatakan padanya aku belum banyak berpikir tentang itu. Kemudian orang tua yang lain memutar posisi duduknya di sofa dan mengarahkan perhatian padaku. Kelelawar itu bangkit lagi dan tampak ringan, kali ini tak hanya di lenganku tapi juga di lututku. "Yang paling penting," katanya, "kamu harus melupakan semua teror itu." Aku bertanya, bahkan agak lebih terheran lagi, "Kenapa begitu?" "Supaya kamu bisa hidup." Dan, Paman Fleischmann mengangguk setuju. Lalu ujarnya, "Dengan beban seberat itu orang tak akan dapat mulai kehidupan baru." Memang harus kubilang, ada benarnya kata-katanya itu.Aku hanya tak mengerti bagaimana mereka bisa berharap pada sesuatu yang tak mungkin. Kukatakan bahwa apa yang terjadi sungguh-sungguh telah terjadi. Dan, meskipun semua telah berlalu, sulit buatku untuk membuat agar ingatanku tunduk pada perintahku. Aku hanya dapat

memulai hidup baru, kataku, seandainya aku dilahirkan lagi atau jika suatu penyakit menyerang atau kecelakaan mencederai otakku. Tentu saja aku tak berharap. Di samping itu, kutambahkan, tak dapat kuingat telah kulihat ada hal-hal yang menakutkan. Tapi, kuperhatikan, mereka jadi agak terheran-heran. Entah bagaimana mereka memahami ungkapanku "tak dapat kuingat telah kulihat". Ganti kutanya mereka, apa yang mereka lakukan selama "masa-masa sulit" itu. "Ya begitulah, kami tetap hidup," salah seorang tua itu merenung. "Kami berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya bisa selamat." Yang lain menyambung. Itu berarti, kataku, bahwa Paman juga menjejak selangkah demi selangkah. Apa itu artinya, mereka balik bertanya. Kemudian kuceriterakan pada mereka bagaimana kam konsentrasi berfungsi, misalnya, yang di Auschwitz. Paman harus membayangkan ada sekitar tiga ribu orang dalam satu kereta api. Mungkin tak selalu begitu dan barangkali tak sepersis itu, karena aku tak tahu secara pasti. Tapi, setidaknya itulah yang menimpaku. Ambil saja misalnya kaum lakilakinya. Jumlahnya sekitar seribu. Mari kita bayangkan satu atau dua detik dokter membutuhkan waktu untuk memeriksa. Padahal, setiap orang biasanya lebih dari dua detik. Baiklah, tak usah dihitung urutan pertama dan yang terakhir, sebab biasanya mereka memang tak dihitung. Tapi, yang di tengah-tengah, di mana aku berdiri dalam antrean, kami dipaksa menunggu sepuluh sampai dua puluh menit. Lalu, ketika kami sampai pada titik penentuan keputusan, masih tak jelas apakah kami akan langsung dimasukkan kamar gas sekarang juga, atau kami masih dapat waktu penangguhan hukuman mati barang sebentar? Padahal, selama waktu itu antrean terus bergerak, terus maju. Setiap orang melangkah maju, langkah lebar atau langkah pendek semuanya tergantung dari kecepatan operasi itu.Suasana hening, hanya disela oleh suara Bibi Fleischmann mengangkat piring kosong dari depanku lalu membawanya pergi. Tak kulihat dia balik. Kedua orang tua itu bertanya, "Apakah semua ini memang baik, dan apa maksudmu mengatakan ini semua?" Aku menjawab, "Tak ada yang istimewa. Tapi mengatakan bahwa semua itu begitu saja terjadi tidaklah seluruhnya tepat," sebab kami menjalaninya selangkah demi selangkah. Hanya sekarang ini semuanya tampak sudah berakhir, tak ada perubahan lagi, final, begitu cepat dan sulit dipercaya, dan begitu kabur, sehingga tampaknya semua terjadi begitu saja. Hanya sekarang, dengan laku surut, kami melihatnya kembali ke belakang. Tentu saja,

seandainya kami tahu nasib kami sebelumnya, apa yang dapat kami lakukan hanyalah mengurutkan dan menjalani bagaimana waktu berjalan. Sebuah ciuman perpisahan yang tolol tentu sulit dihindari, misalnya, seperti halnya satu hari tanpa kegiatan di kantor pabean atau di kamar gas itu. Tapi, selama kami memandang ke depan atau ke belakang, kami sama-sama tak bergerak, kataku. Karena nyatanya dua puluh menit pada dasarnya adalah rentang waktu yang cukup panjang. Setiap menit berdetak, berlalu, dan akhirnya berhenti sebelum menit kedua bergerak lanjut.Lalu, kuminta mereka mempertimbangkan hal ini, "Setiap menit sebenarnya dapat menyebabkan timbulnya urusan baru." Memang, tidaklah selalu begitu, tapi harus diakui bahwa tentu saja bisa terjadi. Maka, kalau dilihat secara keseluruhan, sesuatu entah apa pun itu mungkin saja telah terjadi selama menit-menit berlangsung, sesuatu lain yang akhirnya sungguh-sungguh terjadi di Auschwitz, seperti halnya juga di rumah ini, katakanlah begitu, ketika kita semua sedang mengucapkan kata perpisahan pada ayah.Pada katakataku yang terakhir, Tuan Steiner tua mulai gerah, berdiri dan bergerak memutar. "Lalu, menurutmu, apa yang seharusnya kita lakukan?" tanyanya, setengah kesal hatinya, setengah mengeluh. Kukatakan padanya, "Tak ada, tentu saja, atau ...," kutambahkan, "sesuatu yang sama-sama tak bermakna seperti halnya kita tak pernah melakukan apa pun. Sudah tentu. Tapi, bukan itu yang penting," aku mencoba menjelaskan. "Lalu apa?" mereka tanya balik, karena mereka juga tampak hilang kesabaran, seperti aku sendiri juga semakin merasa kesal. "Yang paling penting terletak pada langkah-langkah itu sendiri. Setiap orang melangkah maju sejauh dia mampu. Aku pun melangkahkan kakiku-tidak hanya selama berada di antrean di Auschwitz tapi juga sebelumnya ketika aku masih di rumah. Aku bergerak maju bersama dengan ayahku, dengan ibuku, dengan Anne-Marie, dan-barangkali ini yang paling sulit-dengan kakak perempuanku yang paling tua. Sekarang, aku bisa bilang kepadanya, apa artinya jadi "orang Yahudi". Sebelumnya itu tak berarti apa-apa sebelum langkah-langkah itu mulai dijejakkan. Sekarang, tak ada darah lain, dan memang tak ada apa-apa sama sekali, kecuali ...," di sini aku macet bicara, tapi kemudian aku ingat kata-kata wartawan itu, "kecuali situasi yang ada dan apa pun yang ada bersamaan dengan semua itu."Aku juga menghidupi nasib yang menimpaku. Sebetulnya itu bukan nasibku, tapi akulah yang menghayati nasib itu sampai akhir. Aku sungguh-sunguh tak mengerti mengapa sulit sekali

membuat kedua orang tua itu mengerti. Kupikir, lebih baik aku pergi dan melakukan sesuatu, sementara sekarang aku tak dapat memuaskan diri dengan mengandaikan bahwa semuanya adalah kesalahan, penyimpangan, sejenis kecelakaan atau bahwa semua itu tak pernah terjadi, entah bagaimanapun caranya. Dapat kulihat, dapat kulihat dengan jelas bahwa mereka tak memahamiku dan malah mereka tidak suka dengan kata-kataku. Bahkan, beberapa kataku membuat hati mereka kesal. Kuperhatikan beberapa kali Paman Steiner sudah hendak menyela bicaraku. Ia ingin melompat bangkit. Dan, juga kuperhatikan orang tua yang lain menahannya, dan kudengar apa yang diucapkannya, "Biar saja. Apakah tak kaulihat bahwa dia hanya ingin berbicara? Biarkan dia berbicara. Biarkan."Dan, memang aku berbicara, barangkali sia-sia dan sulit dipahami. Aku pun masih ingin menyampaikan sesuatu pada mereka, "Kita tidak akan pernah dapat memulai suatu hidup baru. Kita hanya dapat melanjutkan hidup kita yang lama. Aku menjangkahkan langkah hidupku sendiri. Itu tak akan dapat dilakukan oleh orang lain. Dan, pada akhirnya aku tetap jujur terhadap nasib yang digariskan untukku. Satu-satunya keburukan atau keindahan, barangkali dapat kukatakan, satu-satunya ketidaktepatan, yang dapat dituduhkan kepadaku oleh siapa pun adalah bahwa kita sekarang ini saling berbicara. Tapi, jelas bukan itu yang kukerjakan. Apakah Paman berdua ingin semua kekerasan yang menakutkan itu dan semua langkahku sebelum ini kemudian hilang maknanya sama sekali begitu saja? Mengapa harus ada perubahan sikap ini, mengapa kita harus melawannya? Mengapa tidak bisa Paman sadari bahwa jika ada suatu hal yang disebut nasib, sebagai akibatnya tak akan ada kebebasan? Di sisi lain, jika ...," terus kulanjutkan, aku semakin heran juga pada diriku sendiri, dan semakin merasa kesal, "jika di sisi lain tak ada kebebasan, maka tak akan ada nasib." Tiba-tiba aku jadi memahaminya dengan begitu jelas, sesuatu yang tak pernah kusadari sebelumnya. Aku menyesal mengapa hanya bertemu dengan kedua orang ini dan bukan dengan seseorang yang lebih pintar, katakanlah, lawan bicara yang lebih layak. Tapi, hanya merekalah yang ada di sini, saat ini, dan bagaimana pun mereka adalah orang-orang yang waktu itu berada di sini pula ketika kami semua menyampaikan kata perpisahan dengan ayah.Mereka pun sudah melangkahkan kaki dalam hidup. Mereka juga menyadarinya. Mereka sudah tahu itu sebelumnya. Mereka juga menyampaikan ucapan perpisahan pada ayah seolah-olah kami sudah harus buru-buru keluar rumah.

Lalu, mereka ganti bahan pembicaraan. Sekarang, mereka membicarakan apakah aku harus naik tram atau bus untuk menuju ke Auschwitz. Saat itulah Paman Steiner dan juga Paman Fleischmann melompat bangkit dari tempat duduknya. Paman

Fleischmann mencoba mencegah Paman Steiner, tapi sudah tak mungkin lagi. "Apa?" ia berteriak padaku, mukanya merah dan memukulkan kepalan tangannya ke dada. "Apa? Apakah sekarang justru kami yang salah-kami para korban ini?" Aku berupaya menjelaskan, "Ini bukan berarti dosa. Dengan rendah hati kita wajib mengakuinya demi kehormatan kita, begitu mungkin bisa dikatakan." Mereka mencoba mengerti bahwa mereka tak bisa mengambil semuanya dariku. Perkaranya pasti bukan apakah aku ini korban ataukah orang yang kalah, bahwa aku tak dapat dibenarkan dan tidak dapat bersalah, bahwa aku ini bukanlah sebab atau akibat dari suatu tindakan tertentu, apa pun itu wujudnya. Aku hampir-hampir meminta-minta mereka untuk memahami hal ini. Aku tak mampu menelan begitu saja kepahitan tolol ini hanya karena ingin dipandang tidak bersalah. Kulihat mereka tak mau mengerti apa pun. Begitulah, lalu segera kuambil topi dan tasku dan pergi dari situ, sementara masih ada kata-kata yang menggantung dan kalimat-kalimat yang tak selesai.Turun dari tangga, jalanan menyambutku. Aku harus naik kendaraan umum untuk menuju ke ibu. Tapi, kemudian aku ingat. Tentu saja, aku tak punya uang, lalu kuputuskan untuk jalan kaki. Namun, untuk mendapatkan kekuatan, aku berhenti istirahat sebentar di alun-alun lama di bangku yang sama seperti dulu. Di sana, menghadap ke depan, ke arah aku hendak pergi, jalan tampak melebar, memanjang dan hilang di kejauhan, bukit-bukit kebiruan dimahkotai awan kemerahan, dan langit bersaput jingga. Di sekelilingku, rasanya sesuatu sedang berubah. Lalu lintas lebih sepi, langkah orang lalu lalang tampak lebih tenang, suara mereka lebih rendah, ekspresi wajah mereka lebih lembut. Wajah mereka tampak seolah-olah tertukar satu sama lain. Ini adalah saat-saat yang paling istimewaaku ingat benar sekarang, dan aku merasakannya di sini-ini saat-saat favoritku selama dalam kam, dan muncul keinginan yang pasti jadi sia-sia, menyakitkan dan memang tajam menusuk ke dalam dada: aku rindu rumah. Mendadak semuanya jadi hidup, semuanya kembali lagi, semuanya menggenangi kesadaranku. Aku kaget dengan perasaan yang aneh ini, bergetar rasaku mengingat kenangan sampai ke perkaraperkara kecil. Ya, benar, dalam arti tertentu, hidup jadi lebih murni, lebih sederhana,

berada di situ. Aku jadi ingat semuanya, satu demi satu, ahwal dan orang, bahkan mereka yang tak menarik perhatianku, tetapi terutama mereka yang keberadaannya dapat kunilai saat ini: Pjetyka, Bohus, dokter itu, dan semua yang lain. Dan, untuk pertama kalinya sekarang aku berpikir tentang mereka dengan sedikit sesal sekaligus rasa sayang.Baiklah, tak perlulah melebih-lebihkan persoalan, karena kesulitan yang kuhadapi sekarang persis ada di hadapanku: bahwa aku berada di sini, dan aku tahu sepenuhnya bahwa aku harus membayar harga mengapa aku diizinkan hidup. Ya, ketika kurasakan petang yang lembut di alun-alun ini, di atas jalan yang sudah diempas badai, tapi sekaligus penuh seribu janji, rasa siapku sedang tumbuh, mulai bertumpuk dalam diri. Aku harus melanjutkan hidup yang tak dapat lagi kulanjutkan ini. Ibu menantikanku. Tentu ia akan bahagia melihatku. Kasihan dia. Aku ingat bagaimana dia dulu ingin aku jadi insinyur atau dokter atau sesuatu seperti itu. Tentu saja itu yang diinginkannya. Tak ada kemustahilan yang tak dapat ditembus (lolos selamat?), tentu saja, dan semakin turun ke jalan, sekarang aku tahu, kebahagiaan menantikanku seperti perangkap yang menjebak. Juga di belakang sana, di bawah bayang cerobongcerobong pembakaran itu, ketika sebentar saja rasa sakit itu berhenti menusuk, ada sesuatu yang mirip dengan yang disebut kebahagiaan. Setiap orang akan bertanya padaku tentang penderitaan, "teror dari kam-kam konsentrasi", tapi bagiku,

kebahagiaan justru selalu jadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Barangkali. Ya, itu yang akan kuceriterakan pada mereka, nanti kalau mereka bertanya padaku: kebahagiaan di kam-kam pembantaian itu.Jika memang mereka sampai hati bertanya.Dan jika aku belum lupa.*** (Diterjemahkan oleh PRASETYOHADI)

CATATAN: Bintang segi tiga sama sisi bertumpuk warna kuning, bintang Nabi Dawud, menjadi lambang pengejaran dan pembunuhan terhadap orang Yahudi di Jerman. Setelah Perang Dunia II mulai, para penguasa fasis memaksakan penyematan lencana Bintang Kuning pada lengan kanan orang Yahudi, mulai yang berumur 10 tahun, yang sedianya hendak dipekerjakan secara paksa atau dibunuh.Tanggal itu warga Yahudi Jerman dan Austria mulai dideportasikan ke dalam berbagai ghetto di Eropa Timur.Panah Bersilang adalah lambang partai fasis Hungaria yang melaksanakan

keputusan Nazi Jerman melakukan holocaust.Catatan sejarah menyebutkan, Januari 1942, polisi Hungaria membantai sekitar 3.500 orang; 800-an di antaranya orang Yahudi. Mereka membuang ribuan mayat begitu saja di sungai Danube di bagian H

Untuk Keluarga di Gondangdia
Soeprijadi Tomodihardjo Sumber: Kompas, Edisi 02/23/2003 BARU kemarin saya melihat lelaki itu di kedai Nam Khe, duduk di kursi yang sama menghadap meja yang sama pula. Pas buat dua orang. Wajahnya nampak selalu gelisah, berkali-kali melempar pandang ke Zeedijk--sebuah jalan kecil di depan kedai yang selalu ramai dilewati orang-orang yang lalu-lalang datang dari atau ke arah Damrak. Saya dan Hargo teman sekamar saya di hotel, baru saja jalan-jalan keluarmasuk toko souvenir yang banyak terdapat di pusat pertokoan Kota Amsterdam. Sampai kaki terasa capek belum juga sahabat saya itu tertarik buat membeli souvenir yang agak pantas untuk Nunik, adik kandungnya, yang sudah seminggu di Belanda dan besok pagi akan terbang pulang ke Jakarta. Nunik dan suaminya hari itu ingin jalanjalan sendirian, tanpa saya maupun kangmasnya. Kami mengerti maksud Nunik. Suaminya ingin beli arloji yang kemarin dilihatnya di etalase sebuah toko mewah, dan dia merasa sungkan jika kami ikut mengantarnya, karena harga arloji itu memang tak terbayangkan. ”SEMBILAN ribu US-Dolar, Pri! Bayangkan, sepuluh bulan gaji saya!" kata sahabat saya. "Jangan ukur gaji sampean atau gaji saya. Tak ada amput-amputnya!" sahut saya. "Titipan Ibu Gubernur," kata Nunik.Titipan jendral kek, presiden kek, itu urusan ipar sampean, batin saya. Hargo tidak terlalu percaya pada adiknya. Dia lebih percaya, arloji itu akan dibeli buat upeti, bukan titipan biasa seperti kata Nunik. Sebab, menurut sahabat saya, hierarki dan kepangkatan dalam tatanan feodal yang kian disemarakkan di Tanah Air, nampaknya telah menjadi lestari dilengkapi adat asok upeti. Tetapi itu bukan urusan saya saat sekarang. Urusan saya yang mendesak cuma segera mengisi perut. Sudah waktunya injeksi insulin, lantas makan siang di Nam Khe, kedai murah di ujung Zeedijk. Beberapa kali kami pernah makan di sana. Kali ini kami menghindari lorong-lorong kumuh yang membuat bulu kuduk kontan berdiri bila berpapasan dengan kaum gelandangan pengisap ganja di kanan-kiri etalase yang dipenuhi benda-benda

erotika. Selain itu kami tak sampai hati melihat wanita-wanita yang terang-terangan dijajakan di balik kaca dalam pakaian mini sekali, seolah mereka tak lebih berharga dari barang dagangan. Kami memilih jalan yang lebih sopan dari arah stasiun sentral, melangkah cepat-cepat karena tidak boleh terlambat. Sahabat saya tak punya pilihan lain kecuali ikut memenuhi disiplin jam makan saya. Di Nam Khe, saya segera membeset meja yang baru saja kosong. Belum lagi kami selesai membaca daftar menu, tiba-tiba saya melihat wajah itu lagi, duduk sendirian menghadap meja yang itu juga: pas buat dua orang. Dengan aling-aling selembar koran yang agaknya hanya pura-pura dia baca, dia berkali- kali mencuri pandang ke arah sahabat saya dan kadang juga ke arah saya. Agaknya pun berpikir, kemarin telah melihat kami berdua di Nam Khe.Wajah lelaki itu nampak gelisah seperti sedang menanti seseorang yang sewaktu-waktu melintas di depan kedai. Saya yakin dia memang sedang menunggu seseorang, sebab beberapa kali saya lihat dia menolak orang yang bermaksud duduk semeja dengannya. Dugaan saya benar. Beberapa menit kemudian orang yang ditunggunya nampak memasuki pintu kedai, langsung duduk di depannya. Seorang perempuan berbaju ungu dengan gambar kembang teratai potongan gaya Shanghai, berkerah tutup, kancingkancing dadanya berbentuk pilin-pilin kain yang melintang seperti anak-tangga. Dengan rok ketat biru tua yang nampak agak mengkilat dan terbelah di dua sisi lututnya, perempuan itu mengingatkan saya pada Han Shu Yin-pengarang Birdless Summer yang bukunya hampir selesai saya baca di hotel. Saya sangat berminat membacanya karena terkenang filmnya: Love Is A Many Splendoured Thing yang dibintangi Jenniver Jones dan William Holden tahun-tahun 60-an.Di tengah-tengah denting suara wajan juru masak di dapur serta lagu-lagu musik Tionghoa yang nadanya tinggi sekali, kami tak bisa menangkap kalimat-kalimat mereka. Saya ingin mendengarnya, apakah mereka ngomong Belanda atau Indonesia. Sahabat saya melirik ke wajah itu sambil berlatih menjepit shomai yang sedang dipesannya. "Sekarang dia menengok ke sini, Pri. Beberapa kali sudah." "Yang mana? Laki-laki itu atau temannya?" "Dua-duanya. Mereka berkali-kali menatap ke sini lantas bercakap-cakap, mungkin sedang ngrasani kita.”

"Saya tidak peduli. Saya perlu makan sekarang sebelum gula saya melorot dihanyut insulin yang baru saja saya suntikkan ke perut di ruang toilet. Nasi goreng dan khulaoro ikan yang saya pesan sudah tersaji di meja. Tinggal menyantapnya. Namun sialan, tibatiba si Baju Shanghai sudah berdiri di dekat sahabat saya.” "Maafkan, Bapak dari Kedutaan, ya?" kalimatnya sangat sopan.Nah, ini baru kehormatan namanya, pikir saya. Kehormatan besar buat Hargo. Mungkin sahabat saya itu dikira Pak Duta dan saya Atase Militernya. Tapi mana ada orang Kedutaan nongkrong di kedai Nam Khe, kalau bukan jongosnya! Hargo terkejut, perempuan yang semula disangkanya Tionghoa tulen, tiba-tiba menyapa dalam bahasa Indonesia. Ia belum menjawabnya ketika si Baju Shanghai berkata lagi."Saya melihat Bapak di Kedutaan di Den Haag kemarin. Saya mengurus visa di sana." "Oh, ya? Tapi saya bukan orang Kedutaan. Saya cuma mengantar saudara saya ke sana, bertemu dengan Pak Duta, tapi tak melihat Anda." "Pakaian saya tidak begini, Pak. Mana Bapak bisa mengenal saya lagi? Waktu itu saya bersama adik saya. Itu dia," kata si Baju Shanghai sambil menunjuk lelaki yang semeja dengannya.Lelaki yang dia tunjuk dengan sendirinya mengangguk, lalu berdiri dan buru-buru melangkah menuju ke meja kami. Jarang saya temui orang-orang setanah air di Belanda, punya hasrat saling menyapa kalau tidak saling kenal. Saya pun selalu bersikap begitu, kecuali sangat perlu. Dan itu sering keliru, yang saya sapa ternyata orang Filipina atau Kamboja, mereka sering belanja di toko Makro beli bumbu dan penganan Asia seperti kebanyakan warga komunitas kami. Dan sekarang mereka ini, lelaki dan perempuan berbaju Shanghai ini, tidak keliru. Kami adalah orang-orang setanah airnya. Layak ditegur-sapa."Bapak besok pagi naik Garuda ya?" pertanyaan lelaki itu tertuju kepada Hargo "O, tidak," jawab sahabat saya. "Yang akan pulang naik Garuda itu adik saya dan suaminya. Tapi dari mana Anda tahu?"

"Saya tanya sekretaris Kedutaan. Bapak menginap di mana?" "Kami mengantar mereka, nginap di Hotel Dorin." "Wuah, mahal, Pak. Semua hotel di Damrak mahal. Lain kali silakan singgah di rumah saya, tidak jauh dari sini. Jangan di hotel."Lelaki itu dengan sangat antusias memberi kami kartu nama. Saya kurang selera buat ganti memberi dia kartu nama. Bukan karena sombong dan tidak bersahabat, tapi karena kebiasaan untuk sangat berhati-hati terhadap siapa saja yang bukan teman. Saya lalu menuliskan nama dan alamat palsu rumah saya di notes dia. Hargo lain lagi. Dia tak pernah punya kartu nama, lantas menulis address dan nomor kamar kami di Hotel Dorin. Habis itu asyik sendiri ngobrol ini-itu dengan si Baju Shanghai. Sahabat saya memang jejaka, sukar menemukan pasangan. Saya bisa mengerti bila tiba-tiba jadi ramah di depan wanita secantik Han Shu-Yin yang sedang berdiri di sisi kursinya."Ayolah Zus," kata dia tiba-tiba. "Mari duduk bersama kami di sini." Mau bangkrut lu, batin saya. Kalau mereka benarbenar mau duduk bersama kami lantas makan bersama, siapa mesti bayar? Saya tahu Hargo hidupnya cukupan saja seperti saya, tak banyak punya duit, kerjanya juru kontrol kualitas kertas di pabrik kertas Zanders. Tapi mungkin kali ini dia sudah disangoni Nunik-adik kandungnya yang lebih mujur dan hidup makmur sebagai istri seorang wali kota di Tanah Air. Saya dan dia sekadar dompleng di Hotel Dorin atas tanggungan suami Nunik.Si Baju Shanghai dengan adiknya ternyata dengan gembira memenuhi harapan Hargo, pindah semeja bersama kami. Sahabat saya terpaksa menunda makan, menunggu pesanan mereka. Saya sendiri tak bisa menunggu. Kaki dan tangan saya sudah mulai semutan, merasa gula di darah saya kelewat rendah. Saya jadi kurang sopan, terus makan saja apa yang sudah saya pesan tanpa peduli percakapan mereka. Jika saya nekat menunda makan, saya akan pingsan. Itu Hargo tahu. Ketika saya selesai, mereka justru baru mulai. Nampaknya Hargo berlagak kaya, menawarkan iniitu yang selamanya tak pernah ditujukan kepada saya. Saya diamkan saja jejaka itu yang kini jadi overacting ."Selamat makan. Maafkan, saya keluar sebentar," kata saya. "Beli prangko...." Sebenarnya saya tidak memerlukan prangko. Terus terang harus saya akui, saya menghindari rekening Nam Khe. Jadi saya jalan-jalan sepanjang Zeedijk.

Sekadar menghabiskan waktu, saya pun singgah di Wan Nam Hong, beli terasi dan bumbu pecal titipan istri. Baru balik ke Nam Khe ketika mereka selesai makan. Hargo bilang, saya harus berterima kasih kepada si Baju Shanghai, karena dia yang bayar rekeningnya. Saya tentu saja mengucap terima kasih, tapi dengan kecurigaan: apa kiranya yang tersembunyi di balik keramahan mereka itu. MALAM itu di Hotel Dorin si nona jaga ngebel telpon kamar kami. Hargo ketamuan. Si Baju Shanghai dengan adiknya! Sahabat saya cepat-cepat berdiri di depan cermin, menyisir rambut lalu keluar menuju lift. Lama sekali saya menunggu jejaka itu dengan penuh pengertian. Ketika balik ke kamar dia bawa sebuah titipan berbungkus karton. "Untuk keluarganya di Gondangdia," katanya. "Sembrono sampean Har!" saya menegurnya. "Kenapa?" "Sampean janji di Nam Khe tadi?" "Alaaah, Priiii. Tak sampai setengah kilo. Nunik bisa bawa." "Sampean tahu isinya?" Hargo diam. Nampak bengong. Tentu tak tahu apa isinya. Semudah itu seorang jejaka memercayai wanita yang belum lagi sehari dikenalnya. Kebodohan yang kini sulit saya pahami. "Kalau isinya ekstasi bagaimana!" gertak saya. "Hukuman berat jika ketahuan. Di Malaysia malah hukuman mati." "Jangan menakut-nakuti! Saya percaya dia. Dia beri kita kartu nama dan addressnya." "Sampean ini, Haaar! Itu bisa palsu!" Sungguh mati saya tidak menakut-nakuti. Saya ingat, di Kualalumpur tahun itu seorang turis Inggris divonis mati hanya karena kejebak bawa 250 gram ekstasi. Jika sial, karena sesuatu hal mungkin saja Garuda terpaksa mendarat di sana. Jangan nyesal jika Nunik dan suaminya lantas kena perkara. Sahabat saya nampak makin kebingungan. Saya pun tiba-tiba khawatir, jangan-jangan ada reserse Belanda yang tadi menguntit si Baju Shanghai lantas mendobrak pintu kamar kami.

"Buka saja bungkusnya," usul saya. "Terlalu riskan buat adik sampean. Kalau ternyata bukan barang larangan, kan bisa dibungkus lagi." Karena keraguan Hargo yang sangat menjengkelkan itu maka saya ambil pisau saku dan menoreh kertas bungkusnya. Karton itu saya buka. "Isinya apa?" dia tak sabar. "Alhamdulillah, Haaar. Ini bungkusan cocoknya buat saya!" "Ah! Jangan mbanyol!" "Bener lho. Insulin! Ada suratnya buat bapaknya." Huahaha! Huaha! Meledak-ledak ketawa sahabat saya. Saya tidak bisa ketawa. Malah ngenas, obat sepenting itu mesti didatangkan dari Belanda. Seolah semua pengidap diabetes seperti ayah si Baju Shanghai itu mesti tersungkur ke liang kubur bila impor obat-obatan terhalang kurs USDollar yang ketika itu melonjak hingga 15.000 rupiah.Titipan itu diserahkan pada Nunik waktu makan. Dia dan Pak wali kota suaminya tertawa saja mendengar cerita kangmasnya. "Tak perlu khawatir," kata suami Nunik. "Saya tak pernah digeledah di bandara Jakarta." "Service Paspor, Mas!" kata istrinya.Makan bersama di Hotel Dorin malam itu sangat mewah. Saya sungkan pada suami Nunik, tapi tak bisa menahan selera. Husaren Sla, bumbu mirip semur, baunya saja pun sangat nyaman. Saya melahapnya. Selama hidup saya tak pernah menyantap makanan itu. Namanya pun baru dengar

sekarang.Menjelang tidur saya ukur gula darah saya: 270 skala Akutren! Lebih dari dua kali ukuran normal. Memang terasa melonjak tinggi sekali. *** Paran, medio Desember 2002

Hujan yang Sebentar
Puthut EA Sumber: Kompas, Edisi 02/16/2003 AKU masih berbicara tentang ingatan, juga hujan yang hanya sebentar dan kenapa ia kekal dalam ingatan. Aku rasa karena ada keping peristiwa yang menyertainya, yang mungkin layak tercatat dalam ingatan. Atau mungkin sebaliknya, hujanlah yang menyertai peristiwa. Mungkin semua berjalan seperti catatan orang akan sejarah. Tidak semua peristiwa tercatat dalam lembarannya. Ada sesuatu yang tidak sekadar peristiwa di dalam sejarah, juga dalam hal ingatan. Tidak semua gugur daun, nyanyian, matahari yang tenggelam, khotbah, desir angin, percakapan. Dan ini tentang hujan yang sebentar, yang kekal dalam ingatan. dan hujan yang sebentar. Seperti percakapanpercakapan yang terusir, lalu mencari tempat berdiamnya sendiri, mungkin meratap diam-diam. Dan di pojok entah mana, aku dan kamu, dibuntal oleh hujan yang sebentar, di senja hari.Setiap kali aku mengenangmu-yang diantar oleh hujan yang sebentar-rasa sedih pecah menjalarkan sunyi yang temaram. Dari kaca jendela kamar itu, kupandangi lama cuaca, dan percik air yang masuk lewat lubang ventilasi mengajak kita untuk menghambur dalam dingin hujan, membasuh sedih di luar sana. Setelah sebelumnya, himpitan beban seperti tak tertanggungkan, bahkan bila kita mau. Apalagi, jauh-jauh hari kamu sudah enggan, tak kuasa menanggungnya. Aku tahu, kamu ingin hidup yang tenteram saja.Aku coba lagi untuk memastikan kepadamu, meyakinkan lebih tepatnya. Di luar sana, selain hujan dan waktu yang bergulung, kesedihan-kesedihan banyak menimpa manusia, juga yang berpasangan. Tak semua selamat, memang. Tapi beberapa, ya. Selamat. Setelah himpitan yang menyesakkan itu terlewatkan, bukankah napas menjadi begitu lega?Tapi itu hanya cerita?Tidak. Tetanggaku, sahabatku, beberapa mengalaminya. Lebih berpuing dari ini, lebih nyeri dari ini, aku kira.Beberapa selamat?Beberapa selamat. Tapi lebih banyak yang tidak. Karena itu bukan sesuatu yang gampang ditanggung dan dilewatkan begitu saja. Dan kita, aku pikir akan selamat. Ah... ...Tengadahlah, Sayang... tatap aku baik-baik. Sudah tidak-kah?Ia menggeleng pelan. Sebentar ditatapnya wajahku, mataku, seperti yang dulu-dulu. Dan ia menggeleng pelan. Ia sudah tidak mendapatkan apa-apa pada diriku, bahkan untuk

sedikit kepastian. Semua selesai, semenjak gelengan itu LALU aku bertemu dengannya lagi, juga pada senja dan hujan yang sebentar. Di stasiun kereta api. Ia rindu. Sangat rindu. Aku tahu itu.Kami minum kopi, sembari menunggu hujan reda. Ia masih seperti setahun yang lalu, hanya agak kurus. Senja ini tak ada kepastian, tapi aku yakin, ada yang sengaja dibuka oleh setiap pertemuan, walau aku tak yakin benar.Aku kurus ya... ..Aku mengangguk. Percakapan ini tidak sebagaimana lazimnya. Ia agak kikuk, dan aku ingin segera mengatakan-seperti yang dulu-dulu: aku mencintaimu. Tapi tidak mungkin, segalanya butuh perhitungan, juga untuk kata-kata yang harusnya kuucapkan dengan kejujuran.Hujan reda. Kami berpisah. Benar, tidak ada kepastian. Tapi aku masih tetap percaya pada potensi pertemuan, dan aku percaya potensi dibalik pertemuan.INI juga pada senja, dan rintik hujan. Kali kedua aku bertemu dengannya, di kotanya. Ia tidak secerah dulu, begitu sendu. Aku ingin merapatkan tubuhku padanya, dan berbisik: sesedih apakah kamu?Tiba-tiba dua anak muncul dan berteriak girang menyerbumu. Lucu-lucu. Dan kamu berubah sekejap, tertawa girang dan menyambut mereka dengan pelukan hangat dan ciuman. Seorang laki-laki juga menghampirimu.Aku panik. Tidak mungkin. Baru setahun yang lalu, bukan?! Tapi bisa jadi. Suamimu duda, misalnya...Ini Dede dan Kahfi, keponakanku, dan ini kakakku...Uhf........ TAPI kepastian itu datang juga, akhirnya. Telah aku terima undangan pernikahan dengan namamu di sana, beberapa bulan yang lalu. Aku memandang ke jendela, senja, dan hujan. Pertemuan itu tidak membuka apa-apa, pertemuan itu telah menutup segalanya.Dan sekarang, senja dibekap cuaca yang murung. Hujan akan segera turun. Bayanganmu lebih cepat datang dari hujan. Kamu di mana, dan seperti apa? Kamu tidak akan bahagia, sebagaimana aku juga tidak. Tapi aku tidak rela jika kamu sedih, sesedih aku. Aku mengambil kertas, dan mulai menulis. Ah, kebiasaan buruk. Selalu menulis puisi jika terlalu bersedih. Aku merobek kertas yang di atasnya, baru kutulis nama sayangku untukmu. Aku tidak mau menulis puisi lagi seperti tekadku dulu, begitu kamu akhiri dengan gelengan kepala: tak ada kepastian di mana-mana, bahkan di diriku.Seseorang mengetuk pintu. Aku beranjak dengan malas.Kamu!Di luar, hujan mengguyur deras. Sangat deras.Aku tidak begitu peduli waktu itu, tapi kuseduhkan

secangkir teh, jenis minuman yang tidak seberapa kamu suka. Hujan dengan cepat reda. Begitu singkat, mungkin hanya untuk mengekalkan saat-saat pertemuan kita yang tak pernah bisa lepas dari hujan.Di hadapanku kini, kamu, dalam tubuh yang agak basah, juga secangkir teh yang kuseduh untukmu. Mataku menatap perutmu. Belum ada tanda-tanda, mungkin karena baru beberapa bulan.Kamu menunduk. Adakah yang sengaja kamu hindari selain tatap mata ini?Kamu tahu, dari dulu, aku tak kuasa menatap matamu.Tapi kamu tahu, aku selalu ingin kamu menatap mataku, sebab itu syarat utama dua orang hendak saling bersitatap, bukan? Dan aku menginginkan saatsaat kita beradu pandang. Sebelum banyak bicara, sebelum banyak dusta.Bisa minta tolong......Aku mengangguk.Jangan tanya tentang pernikahanku.Tidak. Sebab

jawabanmu tak akan menyelamatkan apa pun. Apa pun.Kamu menangis sesunggukan. Ah, air mata itu. Pernah kau kuyupi aku dengan air matamu. Juga luka dan getir itu.Aku sedang ada urusan di sini, dan ingin juga bertemu. Kangen.Kamu menyeka hidung dengan tisu. Mengingatkan dulu, tentang pertanyaan-pertanyaanku padamu. Mengapa jika kamu menangis, yang selalu kamu seka hidungmu, sepertinya bukan matamu yang menangis tapi hidungmu? Dan juga mengapa setiap kali kita makan, kedua tanganmu pasti kotor, sedangkan kamu selalu memakai sendok dan garpu. Makan yang begitu tertib, tidak sepertiku.Dari jendela, sepintas kulihat. Senja mulai mengetuk malam, lampu-lampu mulai menyala.Kamu mengedarkan pandangan, menatap buku-buku, pigura-pigura, almari pakaian, televisi yang mati, dan berhenti pada komputerku yang screen saver-nya masih tertulis namamu. Kamu bergetar, dan lagilagi sesunggukan menangis.Harusnya aku mendekatimu, dan memelukmu. Seperti dulu-dulu. Tapi kali ini tidak, bahkan aku membatin: dihajar kenangan, ya?Aku mengalaminya, sampai sekarang. Babak-belur dihajar kenangan dan tercabik-cabik. Terutama jika senja lewat disertai dengan hujan. Apalagi hujan yang sebentar, seperti sekarang ini.Kamu masih belum banyak berubah dalam menata ruangan.Aduh, kamu mulai basa-basi. Aku bangkit, hendak membuat kopi. Tapi kamu juga bangkit, menghampiriku, mengambil gelas yang kusentuh. Aku kembali ke tempatku semula, menunggumu menyeduhkan kopiku.Kamu duduk lagi. Mengambil kertas dan menulis. Aku hanya memandangmu. Memandang caramu menulis, sebab itu salah satu yang kusuka darimu. Cara menulis yang tenang dan sepertinya sangat tidak peduli. Kamu sodorkan kertas itu. Kubaca.Aku

tidak bisa melupakan saat terakhir kamu memintaku untuk mau menerimamu. Sangat indah. Tak pernah aku bisa mendapatkan lagi saat indah itu. Bahkan kamu pun tidak bisa mengulangnya, atau karena tidak mau? Sebab kamu tahu, itu adalah saat terindah yang akan menghuni ingatanku.Aku sedih. Dan mungkin menangis.Kamu masih gampang terharu, ya... ...Kamu tersenyum. Sialan. Aku tidak jadi menangis.Aku harus pergi, ada janji makan malam.Aku mengangguk. Tak menahanmu. Kuantar kamu sampai taksimu meninggalkanku. Kututup pintu, minum kopi hasil seduhanmu. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hilang dari ruanganku. Bukan, bukan kamu. Sebab kalau kamu, sudah terasa hilang sejak lama. Sebuah potret! Sialan! Potret dan pigura kecilnya, hasil hadiah dari seorang kawan yang mengambil gambarku ketika sedang mendayung perahu. Lalu aku ingat, kamu tak pernah bisa mendapatkan potretku, dan pernah bersumpah akan mencurinya. Tapi apa yang akan kamu curi? Aku tak pernah punya potret diriku sendiri. Ini kisah cinta apa-apaan? Kisah cinta yang mulai kurang ajar. Tapi aku mencintaimu, sungguh.Malam ini aku menghabiskan diri dengan beberapa film, dan kamu sesekali main di sana, di dalamnya. Selebihnya, film itu bermain sendiri dan aku juga bermain sendiri, bersamamu dalam bayanganku. Pagi ini aku tidur, tak lelap. Lalu kudengar ketukan pintu lagi.Aku bangkit dengan badan sakitsakit dan mata yang panas. Pintu terbuka, kamu sudah berdiri dengan senyum tanpa dosa.Aku masuk, ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Balik-balik, sudah sebuah pesta kecil terhidang di meja.Aku bawakan makanan kesukaanmu. Kamu belum makan, kan?Aku menggeleng. Kuambil nasi dan makan. Kamu juga, lalu kulihat kedua tanganmu yang pasti kotor jika makan. Membuatku tertawa sendiri.Kenapa?Aku menggeleng.Kenapaaaa...Aduh, mampus. Nada suara tinggi yang merajuk itu. Lalu kutunjuk kepingan VCD: teringat film lucu.Kamu bangkit, menuju komputer. Aku hendak menahanmu. Tapi urung. Musik mengalun. Lagu-lagu sedih. Brengsek. Kamu duduk lagi, masih dengan dua tangan yang pasti kotor jika makan. Masih meneruskan makanmu yang menyita waktu. Aku menjilati sisa makanan di jariku. Menatapmu. Aku tahu, kamu tahu kalau aku menatapmu. Dan seperti tidak peduli, padahal sangat peduli, aku yakin.Sore nanti, aku balik. Mau nggak, mengantarku ke bandara?Aku diam tak menjawab. Harusnya kamu tahu jawabanku: aku malas mengantar siapa pun bepergian. Perpisahan itu tidak enak. Menjelang kepergian adalah saat-saat sedih, dan aku tak

mau melewatkan yang seperti itu.Kamu bisa menangkap jawabku lewat diamku.Lalu perpisahan ini berlangsung dalam diam juga. Seperti kemarin, aku hanya mengantarmu sampai taksi meninggalkanku seorang diri.Pintu kututup pelan. Pasti ada yang hilang lagi. Apa ya? Belum sempat kucari-cari, telepon berdering. Kuangkat. Di seberang, istriku, mengingatkan bahwa besok anak tunggal kami ulang tahun, tepat yang kelima.Di luar, cuaca cerah.***

Iklan
Pamusuk Eneste Sumber: Kompas, Edisi 02/02/2003 Fuhlsbuettel, Hamburg Inilah perjalanan Berbi yang ketiga kalinya ke Tanah Air setelah tiga tahun bermukim dan memperdalam pengetahuan di negeri Goethe itu. Sebetulnya, Berbi merasa sayang juga dengan biaya yang dikeluarkan orangtuanya guna membeli tiket pesawat terbang Hamburg-Frankfurt-Jakarta-Frankfurt-Hamburg seharga 2.000 dollar AS lebih. Namun, kalau sudah ada keinginan orangtuanya, biasanya biaya menjadi tak relevan dipersoalkan. Berawal dari sepucuk surat yang hinggap ke apartemennya beberapa hari yang lalu. "Pulanglah segera begitu kamu menerima surat ini," tulis ayah Berbi. "Ada hal penting yang hendak kubicarakan denganmu." Dalam surat tercatat dan pos udara itu juga disebutkan, "Ayah sudah membayar tiketmu pulang pergi dengan Lufthansa. Kontak saja agen Lufthansa di Moenckebergstrasse." Seperti biasa, ayah Berbi tak pernah menyebutkan hal penting apa. Kalau disebutkan dalam surat, barangkali Berbi akan menimbang-nimbang apakah ia akan pulang atau tidak. Jadi, ada kemungkinan ayah Berbi sengaja tak menyebutkan apa hal penting itu. Bukan untuk membuat Berbi penasaran, tetapi agar Berbi betul-betul pulang ke Jakarta. Agar Berbi menyempatkan diri pulang ke Graha Taman, ke rumah orangtuanya. Lagi pula, kalau tiket sudah dilunasi, tentu akan jadi masalah jika Berbi tidak mudik. Jadi, Berbi memutuskan akan pulang saja ke Jakarta. Apa pun masalah penting yang akan dibicarakan sang ayah! Apa boleh buat meski Berbi merasa di-fait accompli ayahnya. Meskipun salju belum turun, suhu udara di Hamburg terasa kian menggigit kulit. Apalagi ditambah dengan angin kencang. Pohon-pohon sudah mulai meranggas, pertanda musim gugur telah tiba. Daun-daun kuning bercampur coklat beterbangan ke mana-

mana ditiup angin dan mendarat di trotoar dan jalan raya. Dalam satu-dua bulan, pohon-pohon di seluruh kota tentu akan gundul-gerundul. Pada bulan Maret tahun depannya, secara alamiah daun-daun pepohonan itu akan muncul kembali dan lamalama kian merimbun pada musim panas. Berbi mengancingkan jaketnya sembari menunggu panggilan keberangkatan untuk naik ke pesawat Lufthansa yang akan menerbangkannya ke Frankfurt. Di Frankfurt, Berbi akan berganti dengan pesawat Lufthansa berbadan besar yang akan melontarkannya dalam tempo 14 jam ke Cengkareng, Jakarta. Rothenbaumchaussee, Hamburg 1 "Pulanglah segera...." Begitu bunyi surat itu. Berbi tahu betul bahwa itu tulisan tangan ayahnya. Berbi masih tidak habis pikir, meski teknologi sudah maju pesat, ayahnya masih saja menulis surat dengan tulisan tangan. Tidak dengan mesin tik, apalagi dengan komputer. Tidak juga mengirim e-mail atau faksimile atau menelepon. Ayah Berbi memang tergolong konservatif bin kuno dalam hal teknologi modern. Entah kenapa, ayahnya tidak mau menggunakan hasil peradaban modern itu. Ketika Berbi bertanya suatu ketika mengapa begitu, sang ayah hanya mengatakan, "Dengan tulisan tangan rasanya lebih otentik dan lebih personal." Surat ini mirip telegram saja. Kalimatnya bisa dihitung dengan jari satu tangan. Berbi tahu, ayahnya tergolong paling malas menulis surat. Kalau toh terpaksa menulis surat, pastilah surat itu tidak akan panjang-panjang. Ayah Berbi agaknya ditakdirkan tidak punya bakat menjadi pengarang. Apalagi pengarang cerpen atau novel. Palingpaling hanya akan menjadi penyair, si hemat kata. Di apartemennya, di Rothenbaumchaussee, Berbi masih berpikir-pikir apa gerangan yang akan dibicarakan ayahnya. Kenapa Ayah tidak mengangkat telepon saja? Kenapa

harus bicara langsung dan harus tatap muka? Kenapa harus buang-buang uang sekian ribu dollar Amerika untuk tiket pesawat terbang Lufthansa bolak-bolik JermanIndonesia? Seberapa penting urusan yang akan diomongkan Ayah itu? Soal warisankah? Soal pasangan hidup Berbi-kah? Rothenbaumchaussee, Hamburg 2 Memang, biaya penerbangan Hamburg-Frankfurt-Jakarta pulang pergi bukanlah masalah besar bagi ayah Berbi. Sebagai direktur sebuah perusahaan nasional, uang 2.000-an dollar Amerika untuk pulang pergi Jerman-Indonesia bukanlah jumlah besar bagi orangtua Berbi. Namun, uang tetaplah uang bagi Berbi, seberapa pun kecil atau besarnya. Apalagi ia sudah terbiasa hidup hemat di negeri orang. Dua ribuan dollar tentu sangat besar, cukup untuk membayar apartemennya selama beberapa bulan. Oleh karena itu, ia masih berpikir-pikir apakah ia akan pulang atau tidak. Kalau pulang, untungnya apa? Kalau tetap di Hamburg, risikonya apa? Di pihak lain, Berbi kasihan juga kepada ayahnya kalau ia tak pulang ke Tanah Air. Sebagai putri tunggal, ia mengerti perasaan ayahnya. Dengan siapa lagi ayahnya bicara kalau bukan dengan dia? Berbi menduga, pasti ada hal penting yang hendak disampaikan ayahnya. Kalau tidak, untuk apa ayahnya menyuruhnya pulang dan membelikan tiket pulang pergi segala? Mudik 1 Sejak kuliah tiga tahun lalu di kota pelabuhan terbesar Jerman itu, Berbi sudah dua kali menerima surat serupa, yakni memintanya pulang dengan segera, "karena ada yang akan kubicarakan denganmu" (begitu selalu ayahnya). Ketika Berbi belum lagi setahun di Hamburg, tahu-tahu dia menerima surat dari sang ayah. "Pulanglah segera, ada yang akan kubicarakan denganmu." Hanya itu isi suratnya.

Persoalan yang ingin disampaikan kepada Berbi waktu itu adalah mengenai pengganti ibu Berbi. "Teman-teman Ayah menyarankan agar Ayah menikah lagi," kata sang ayah to the point ketika Berbi sudah tiba di Jakarta. "Oh, ya." Hanya itu komentar Berbi. "Ayah ingin tahu, bagaimana pendapatmu." Berbi menatap mata ayahnya dalam-dalam. Berbi agak bingung juga harus berkomentar apa dan bagaimana. Ia tidak siap menjawab. Ia tidak menyangka, pada usia yang berkepala lima ayahnya masih memikirkan pernikahan. Oleh karena itu, ia menjawab sekenanya, "Terserah Ayah sajalah...." "Maksudmu bagaimana?" "Maksudku, kalau Ayah memerlukan orang yang akan mengopeni Ayah, ya, apa salahnya menikah lagi. Sebaliknya, kalau Ayah merasa tidak membutuhkan pendamping lagi, ya, tentu tak perlu menikah lagi. Itu kan cuma akan menambah persoalan baru." Ayah Berbi terdiam sejenak. Oleh karena itu, Berbi menyambung, "Omong-omong, apa Ayah sudah punya calon...?" Sebetulnya, Berbi merasa agak lancang juga mengucapkan kata-kata seperti itu. Cuma karena ayahnya sudah to the point, ia pun tak sungkan bertanya langsung. Ayah Berbi menggeleng. Berbi menjadi heran karena ia pikir ayahnya sudah memiliki calon istri baru atau istri kedua. "Lho, bagaimana sih Ayah ini?" "Teman-teman Ayah di kantor, katanya, siap mencarikan kalau Ayah setuju menikah

lagi." "Saya pikir, Ayah sudah punya calon...." "Belum." Sejak kematian istrinya sepuluh tahun silam, Berbi-lah yang menjadi teman bicara dan teman diskusi ayahnya. Apa boleh buat, peran hati harus diterima Berbi-suka atau tidak suka. Mudik 2 Surat semacam itu ("Pulanglah segera" atau "Segeralah pulang") bukan kali ini diterima Berbi. Pernah sekali Berbi disuruh pulang oleh ayahnya. Setiba di Jakarta, Berbi hanya dilapori bahwa sang ayah baru saja diperiksa dokter. "Memangnya Ayah sakit?" tanya Berbi. "Kok periksa dokter segala?" "Aku pikir, aku mengidap penyakit." "Lantas?" "Setelah diperiksa dokter, ternyata aku dinyatakan sehat." "Lho, memangnya Ayah merasakan apa?" "Rasanya Ayah enggak enak badan terus. Makan tak enak. Baca tak enak. Tidur tak enak, tak nyenyak. Badan serasa meriang sepanjang hari. Pada saat lain, badanku serasa gatal seluruhnya." "Tensi Ayah, bagaimana?" "130/90." "Normal dong." Graha Taman 1

Kepulangannya kali ini ke Indonesia adalah yang ketiga kalinya. Pastilah ada hal penting yang akan dibicarakan Ayah, pikir Berbi. Kalau tidak, tentulah ia tidak akan memanggilku pulang. "Aku punya firasat bahwa aku tidak lama lagi hidup," kata sang ayah setelah Berbi tiba di rumahnya yang bernuansa Bali di Graha Taman, Jakarta. "Maksud Ayah?" "Maksudku, aku merasa sebentar lagi aku akan dipanggil-Nya." "Lho, memangnya Ayah sakit?" Sang ayah membisu. "Ayah mengidap penyakit berat?" Sang ayah menggeleng. "Ayah sakit jantung?" Sang ayah menggeleng lagi. Setelah tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan, Berbi mengubah cara bertanyanya. "Kenapa Ayah merasa akan mati?" Dengan enteng ayah Berbi menjawab, "Aku dapat firasat...." Graha Taman 2 Keesokan harinya, ayah Berbi mengajak Berbi ke ruang kerjanya. "Begini," kata sang ayah. "Aku ingin, kalau aku mati nanti, kamu pasang iklan kematian untuk aku." Berbi agak heran dengan kata-kata ayahnya itu. Namun, agar tidak mengecewakan sang ayah, Berbi mengajukan pertanyaan, "Lho, Ayah ini bagaimana sih? Masih sehat

begini kok sudah bicara iklan duka cita?" "Tak apa-apa toh. Kita kan perlu bersiap-siap. Kata peribahasa, ‟Sedia payung sebelum hujan‟." Mereka terdiam sejenak. Kemudian Berbi melanjutkan, "Rencana Ayah bagaimana?" Ayah Berbi membuka sebuah map yang ada di mejanya. "Aku ingin kamu ikut memilih judul iklan duka cita yang bagus," kata ayah Berbi seraya mengeluarkan guntingan-guntingan iklan duka cita dari map. Guntingan-guntingan itu diambil dari berbagai koran. “Turut Berduka Cita". "Kabar Duka Cita". "Telah Dipanggil ke Rumah Bapak". "Telah Beristirahat dengan Tenang". "Telah Mendahului Kita". "Rest in peace". "R.I.P". Ayah Berbi meneruskan, "Aku ingin kamu memilih salah satu di antara bunyi iklan ini." "Kalau aku sudah pilih?" "Nanti, kalau aku sudah mati, iklan seperti itulah yang kamu pasang di koran." Berbi terdiam. "Kok Ayah ingin diiklankan, sih, kalau meninggal?" "Aku ingin semua orang tahu bahwa aku sudah mati. Teman-teman, kerabat, tetangga,

dan bekas karyawanku tahu bahwa aku sudah mendahului mereka." Berbi manggut-manggut meski ia tak mengerti betul keinginan ayahnya itu. Soekarno-Hatta, Cengkareng Berbi masih terus bertanya-tanya kenapa ayahnya merasa akan mati dalam waktu dekat meski sang ayah tidak menderita penyakit apa pun. Firasat, kata ayahnya. Akan tetapi, apakah firasat itu harus dipercaya? Apakah firasat dapat dijadikan acuan kematian seseorang? Apakah firasat selalu benar? Berbi juga masih bingung dengan permintaan ayahnya mengenai bunyi iklan duka cita seandainya ayahnya betul-betul meninggal dunia. Berbi tidak tahu persis mana yang bagus di antara judul iklan duka cita yang disodorkan sang ayah padanya: "Turut Berduka Cita", "Berita Duka Cita", "Kabar Duka Cita", "Rest in Peace", "Telah Beristirahat dengan Tenang", "Telah Mendahului Kita", "Telah Dipanggil ke Rumah Bapak", atau "R.I.P". Mana yang paling bagus? Berbi tidak tahu. Berbi hanya berjanji, "Kalau aku sudah sampai di Hamburg, aku segera kabari Ayah" Dengan kata-kata itu, Berbi sebetulnya hanya mengulur waktu. Di pihak lain, dan ini sebetulnya yang tidak mengenakkan, Berbi merasa rikuh membicarakan iklan duka cita, sementara orang yang akan diiklankan masih sehat walafiat. Apalagi orang yang meminta iklan itu adalah orangtua Berbi sendiri. Bagaimana mungkin membicarakan iklan duka cita kalau orang yang bersangkutan masih segar bugar? Gendheng apa? Ruang tunggu Keberangkatan Luar Negeri makin disesaki calon penumpang yang akan terbang ke Frankfurt dengan pesawat Lufthansa LH-747. Ketika dari pengeras suara terdengar suara empuk wanita, "Para calon penumpang dengan tujuan Frankfurt dengan nomor penerbangan LH-747 dipersilakan naik ke pesawat terbang melalui Gate 1", Berbi pun beranjak dari tempat duduknya. Dengan langkah berat, Berbi menuju Gate 1. Masih terngiang-ngiang kata-kata ayahnya, "Pilihlah judul iklan yang paling bagus...." Ketika Berbi sudah berada di langit Jakarta, ia belum bisa memilih salah satu di antara

judul iklan yang disodorkan ayahnya. "Nanti aku kabari Ayah lewat telepon, atau surat, atau e-mail, atau telegram, atau faksimile, iklan mana yang kupilih," katanya kepada sang ayah. "Pokoknya, kalau sudah sampai waktunya, tentu akan aku pasang iklan di semua koran." Ayah Berbi senang mendengar kata-kata putri kesayangannya itu. Graha Taman 3 Seminggu setelah kepulangan Berbi ke Hamburg, pada suatu malam ayah Berbi terpaku di tempat duduknya menyaksikan siaran CNN. Menurut berita CNN, sebuah kecelakaan mengerikan telah menimpa rombongan mahasiswa Universitas Hamburg yang mengadakan karyawisata ke Roma. Bus yang ditumpangi oleh para mahasiswa itu masuk jurang dalam perjalanan menuju Milan, Italia. Semua penumpang bus meninggal dunia, termasuk sopir bus. Salah seorang mahasiswi yang meninggal itu berasal dari Indonesia, Berbi namanya. ***

Jakarta, Oktober 2002

Dua Wanita Cantik
Jujur Prananto Sumber: Kompas, Edisi 01/26/2003 MENEMUKAN sebatang lipstik di laci meja, mestinya merupakan kejadian biasa-biasa saja. Apalagi meja itu ada di kamar seorang gadis remaja cantik berusia enam-belas tahun. Makin tak ada yang pantas dianggap istimewa. Tapi tidak demikian bagi Yustin. Waktu ia kehilangan gunting kuku dan mencari-carinya di segala penjuru rumah, sampai akhirnya membuka laci meja kamar anaknya dan secara kebetulan menemukan lipstik di situ, Yustin merasakan desir tajam mengusik perasaannya. Sebuah desir yang nyaris sama dirasakannya empat tahun lalu ketika suatu siang Meta pulang sekolah sebelum waktunya, saat anak itu masih kelas enam sekolah dasar. Dengan nafas terengah-engah, mata sembab dan isak tertahan, Meta lari kencang memasuki halaman rumah, dan menghambur ke dalam sambil berteriak-teriak memanggil. "Bunda! Bunda! Perutku luka!" Yustin terperanjat dan dengan penuh kepanikan bergegas membuka baju anaknya, tapi tak dijumpainya setitik pun luka. "Bukan di situ, bunda. Tapi luka dalam. Ada darah keluar membasahi celanaku!" Saat itu Yustin menghembuskan nafas lega, dan menjelaskan pada Meta bahwa anaknya itu mengalami haid untuk yang pertama. Namun, pada saat yang sama Yustin merasakan pula desir tajam yang merisaukan perasaannya. Dan kerisauan ini kian menjadi-jadi sejalan dengan terus berjalannya waktu, justru karena Meta tumbuh begitu pesat menjadi gadis remaja, jauh mendahului kawan-kawan seusianya. Di antara wajahwajah kekanak-kanakan dan badan-badan mungil siswi kelas satu SMP, Meta tampil amat menonjol oleh tubuhnya yang begitu semampai, anggun dan mempesona. Sementara teman-teman wanita sekelasnya masih berkaus singlet untuk menutupi dadanya yang baru mulai tumbuh, Meta sudah harus mengenakan beha layaknya wanita dewasa. Sementara yang lain masih menebar "bau matahari" saat berpanaspanas berjalan kaki pulang sekolah, Meta sudah menebar wangi tubuh yang bisa menggetarkan birahi lelaki.Bagi Yustin, hari demi hari berlalu tanpa pernah sama-sekali terbebas dari rasa cemas. Bayangan-bayangan buruk senantiasa melintas di benaknya

meski cuma sekilas, justru karena ia tahu persis, betapa sejenis malapetaka bisa setiap saat menerpa anaknya. Untuk sementara, bayangan-bayangan buruk itu memang tinggal bayangan. Sebab nyatanya, dalam kematangan tubuhnya Meta tetap tampil sebagai gadis lugu berwajah polos. Yang bisa tertawa dan menangis sebagaimana layaknya remaja seusianya. Sampai ia lulus SMP. Sampai ia masuk SMU. Sampai ia berusia enam-belas tahun. Sampai ibunya menemukan sebatang lipstik di laci meja di kamarnya. Ialah sebuah benda yang sang bunda tak pernah membelikan untuknya. Yang berarti untuk pertama kali ia mempunyai inisiatif sendiri untuk memiliki sesuatu di luar segala macam kebutuhan pribadi yang selama ini selalu disediakan atau dipilihkan oleh bundanya: baju - yang tak pernah berlengan pendek, rok - yang panjangnya selalu di bawah lutut, sepatu, pakaian dalam, bedak, shampo....... Dan lipstik tak pernah ada daftar itu! “DARIMANA kau dapatkan lipstik ini, Meta?" "Aku beli sendiri, bunda." "Kenapa? Untuk apa?" "Kenapa bunda tanya begitu?" Giliran Yustin terdiam. Ditatapnya anaknya dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu dirangkulnya. "Bunda mau bicara sebentar." "Tapi Meta sudah mau berangkat sekolah." "Sepagi ini? Bukankah kau masuk jam setengah satu siang?" "Rosanti sakit. Ia tak bisa datang menjemput. Aku harus berangkat naik bis kota." "Biar bunda nanti antar kau naik taksi." "Tak usah, bunda. Ongkos taksi ke sekolah tak kurang dari tigapuluh ribu." "Omongan bunda kali ini akan jauh lebih berharga dibanding uang tigapuluh juta sekali pun." Meta terdiam. Ia tak kuasa menolak saat ibunya membimbingnya masuk kamar. Dan membawanya menghadap cermin besar yang menempel di pintu almari. Hingga

nampaklah di sana dua wajah wanita cantik yang berbeda usia dan gaya. Yang satu begitu remaja dengan tata-rambut yang mencitrakan kemasa-kinian yang begitu dinamis, satu lagi adalah wajah penuh kematangan dan tempaan pengalaman hidup, yang sebagian rapat terlindung di balik kerudung berbordir putih bersih. "Perhatikan bibirmu secara saksama, Meta." "Bibir saya kenapa, bunda?" "Kaulihat kulitnya yang cokelat tua kemerahan? Kaulihat bentuk tepiannya yang melengkung indah itu? Lalu coba sentuh dengan tanganmu. Bisa kaurasakan kelembutan kulitnya? Bisa kaurasakan kekenyalan daging di dalamnya?" "Lalu kenapa, bunda?" "Kau dikaruniai bibir yang sangat indah, Meta. Sedemiki-an indah hingga kau tak perlu menambah apa pun untuk memperindahnya." "Tapi..." "Kau pasti ingin mengatakan bahwa memperindah yang sudah indah itu bukan tindakan yang salah."Meta mengiyakan dengan cara terdiam. "Mungkin kau benar. Tapi sekarang cobalah buka pakaianmu." "Apa, bunda...??" "Jangan bertanya dulu buat apa. Buka saja dulu pakaianmu. Semuanya." Dengan perasaan berdebar dan bertanya-tanya Meta membuka seluruh pakaiannya. Yustin pun mengamatinya tanpa berkedip. Lalu menghela nafas panjang serta menggumamkan nama Tuhan. "Kenapa, bunda?" "Mestinya kau patut bersyukur atas karunia keindahan ini..." "Kenapa 'mestinya' ?"

"Karena keindahan ini sekaligus bisa jadi beban berat buat kamu." "Meta tak tahu apa maksud bunda." "Kau pasti pernah merasakan, atau sering merasakan, atau senantiasa merasakan, betapa setiap pria yang kaujumpai akan menyempatkan diri untuk-paling tidak-sekedar memandangmu. Lewat pandangan itu dia bisa mengagumimu, memujimu, atau lebih dari itu : berhasrat ingin menyayangimu, menyentuhmu, membelaimu,

memelukmu...atau..." "Jangan berpikir sejauh itu, bunda!" "Bunda tidak berpikir terlalu jauh, Meta. Ini bisa begitu saja terjadi atas diri kamu. Kapan pun." "Lalu menurut bunda aku harus bagaimana?" Yustin terdiam beberapa saat. Dipeluknya anaknya erat-erat sambil matanya tetap memandang ke cermin. Mengamati anaknya sekaligus dirinya. Membandingkan dua wajah cantik itu dengan berbagai macam perasaan. Dengan berbagai kecemasan. "Waktu kecil bunda pernah punya tetangga bernama Amsar. Badannya besar dan kekar. Penampilan fisiknya ini membuat orang-orang jadi takut padanya, hingga yang pada mulanya ia hidup biasa-biasa saja sebagai layaknya pemuda desa, oleh sikap orangorang di sekitarnya ini ia justru berubah, setelah ia berangsur-angsur sadar dirinya ditakuti orang. Lama-lama ia mulai menikmati rasa takut orang-orang ini. Dan ini membuatnya jumawa." "Lalu......maksud bunda?" "Kau pasti tahu maksudku, Meta." "Bunda khawatir....aku dimanjakan oleh kecantikanku sendiri?"Yustin makin erat memeluk anaknya. Matanya terpejam. Pipinya membasah. "Kenapa bunda menangis?" "Bunda cuma khawatir, nak. Bunda cuma khawatir...." MEMANG cuma sejauh itu yang bisa terucap dari mulut Yustin. Tak mungkin ia

menjelaskan kenapa kekhawatiran itu senantiasa muncul dalam dirinya. Tak mungkin ia bercerita, bahwa saat melihat tubuh telanjang anaknya, ia melihat sosok dirinya duapuluh lima tahun yang lalu: Yustin yang cantik, yang setiap hari mendengar decak kagum, siutan panjang, panggilan mesra, pujian, serta rayuan dari para pria yang berlomba-lomba mendapatkannya. Dan Yustina tak kuat bertahan, sebab segala rupa sanjungan itu lama-lama sangat dinikmatinya. Sangat disadarinya memiliki kekuatan luar-biasa yang tidak selalu dimiliki oleh wanita lain. Ialah kekuatan untuk mendapatkan sesuatu dengan cara sangat gampang. Sampai suatu saat seorang lelaki berucap padanya, "Wanita secantik kamu tak perlu bekerja. Tinggalah di rumah yang kau boleh pilih sendiri yang kau suka. Bepergianlah ke mana pun ingin kautuju, dengan mobil yang boleh kau pilih sesukamu pula. Berbelanjalah apa pun yang ingin kau miliki, dan gunakanlah kartu debet atas-namamu yang tak perlu kau pikirkan pengisian dananya. Yang penting kau senantiasa ada di rumah untuk menyambutku setiap aku datang ke rumahmu". Dan Yustin tak kuat untuk menolak. "Cuma ada satu syarat yang harus kau taati : Jangan ganggu istri dan anak-anakku”. Dan Yustin tak kuasa untuk menggugat.Juga ketika lelaki itu sekian tahun kemudian menghilang tanpa kabar. Ketika tiba-tiba kartu debetnya ditolak kasir. Ketika tiba-tiba datang sekelompok orang yang mengaku rumah tempat-tinggalnya sebagai milik mereka. Ketika tiba-tiba ia sadar bahwa bayi dalam kandungannya kelak secara hukum tak akan pernah berayah. Dan Yustin tak mungkin bercerita, bahwa bayi itu kelak diberinya nama Meta. META sesaat mengamati lipstik yang ditemukan ibunya dan menghela nafas panjang. "Kenapa aku begitu ceroboh menaruhnya di sini?" pikirnya. Ia pun buru-buru membuka almari, mengambil sebuah tas yang tersimpan di bawah tumpukan baju, dan memasukkan lipstik itu ke dalamnya, menyatukannya dengan kelengkapan rias berikut asesori lainnya: lipgloss, eyeshadow, eyeliner, blush-on, maskara, giwang, anting, kalung, gelang, stiker tattoo dan pernik-pernik lainnya. Lalu Meta cepat-cepat memasukkan tas kulit itu ke dalam ransel berbahan parasit yang biasa dipakainya ke sekolah. Ketukan pintu membuatnya kaget. "Ya, bunda?" "Sudah siap kau berangkat?"Wajah Meta seketika menegang. "Tapi bunda tidak jadi

mengantarku ke sekolah naik taksi, kan?" "Kenapa? Hilang limapuluh ribu pun kali ini bunda tak merasa rugi" Sekonyong-konyong terdengar suara getar di permukaan meja kaca. Meta bergegas mengambil handphone yang tersembunyi di balik tumpukan bukunya. Ada nama seorang pria tertayang di layar. Dengan tangan gemetar Meta memencet tombol terima, dan bicara dengan suara selirih-lirihnya. "Halo...?" "Meta??? Kamu di mana sih dari tadi aku nelpon nggak diangkat-angkat? Tadi hampir sejam aku tunggu di lobby kamunya nggak datang-datang. Sekarang aku sudah di kamar. Kamar 501. Kalau nanti kamu datang aku pas keluar, minta aja kunci ke resepsionis. Entar aku bilang ke resepsionis kalau kamu mau datang. Oke, ya?" "Sebentar, oom...!" Tapi telepon di seberang sana sudah terputus. Dan yang terdengar kemudian ialah suara ibunya yang nampaknya berdiri persis di depan pintu di luar kamar. "Kau bicara sama siapa, Meta?" ***

Jakarta, 11 Desember 2002

Jaring Laba-Laba
Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas, Edisi 01/19/2003

LABA-laba di sudut kamarnya membuat jaring berwarna putih. Di pusat sarangnya yang berbentuk bulat lonjong: laba-laba itu menelan seekor nyamuk yang nyasar!Ibu masuk ke kamarnya membawa sapu panjang, "Non, bersihkan sarang laba-laba itu. Kamar Masmu memang jorok. Tapi, Masmu kan laki-laki! Seharusnya kamar perempuan bersih, lebih-lebih, kalau kau punya suami."Dina menganggap omongan Ibu sangat benar. JALAN-jalan, setelah capek belajar (Dina mendapat beasiswa untuk mengambil S-2 nya di mancanegara), di halte sambil menunggu bus, Dina membawa sebuah buku. Kala mendongakkan kepalanya, seorang lelaki Indonesia, Bram, berdiri di

mukanya!Jaring-jaring cinta Bram kah? (Tidak pernah jelas apa warnanya) nyatanya beberapa bulan kemudian, Dina menikah dengan Bram. Sama-sama hidup di apartemennya Bram: mimpi, ketakutan, harapan, dan kesedihan adalah milik mereka.Dina dan Bram kalau capek bisa berbicara dalam satu bahasa. "Pagi ini kita akan masak spaghetti yang enak, besok ke toko Cina bikin capcai yang enak. Besok lagi aku ingin jalan-jalan dan beli es krim yang enak, setelah itu aku akan mengetik makalah-makalah dari para dosen." Setiap hari di lantai kesepuluh apartemen mereka, Dina mendongakkan kepalanya melihat langit yang bersih, dan berucap, "Kubisikkan pada mereka, aku cinta Bram, aku cinta Bram, aku cinta Bram, langit menulis kata-kata itu. "Lantas mereka belajar sekeras-kerasnya agar bisa segera balik ke Indonesia (Ibu selalu takut kalau Dina akan gagal sekolah bila menikah). Itu rasanya tidak mungkin, kalau Dina melek sampai malam dan membuat makalah ini, Dina tahu Bram ada di sisinya. PADA saat itu, kami tahu bahwa anakku yang pertama sudah berada di dalam

kandanganku." Cerita Dina kepada Wiwin (sahabatnya) dalam salah satu e-mailnya.Anaknya lahir dengan sehat, tiba-tiba Dina tidak tahu, apakah dia masih mencintai Bram. "Kuberikan diriku, waktuku, cintaku kepada sulungku dan Bram," cerita Dina dalam salah satu e-mail-nya lagi kepada Wiwin.Kemudian dengan bayinya, setamat sekolah pulang ke Indonesia. Mereka sama-sama bekerja keras. Namun, ketika anaknya berusia empat tahun Ibu menelepon, "Baby sitter itu hampir membunuh anakmu. Ia menampar habis-habisan sulungmu, untungnya aku datang". Dina berhenti dari pekerjaannya (Bram memintanya dengan sangat untuk berhenti dari pekerjaannya). Sekarang, Bram dan sulungnya adalah pusat dari kehidupannya. Dina menyanyi, menari, mengantar anak ke sekolah dan tidak perlu melihat lagi dunia luar!Pada suatu hari, ketika selesai menyetrika, Dina merasa melihat nyamuk yang sedang dilahap laba-laba, hal itu diomongkan kepada Bram. Lelaki itu tertawa dan tenggelam ke dalam pekerjaannya.Malam itu, Dina menangis dan mengatakan kepada Bram, "Saya seperti nyamuk yang dilahap oleh laba-laba dan laba-laba itu adalah kau dan anakmu." Bram melihatnya dengan heran dan kemudian tidur dengan nyenyak. Dina duduk di ruang tamu, dia ingat kala pertama kali bertemu Bram, sebenarnya Dina merasa, Bram laba-laba yang menyamar sebagai laki-laki, yang kemudian menjadi suaminya. Gila! Ia masuk ke sarang laba-laba itu. Tiba-tiba di ruang ini terdengar, "Bersihkanlah sarang laba-laba itu!" Suara itu mengalir ke seluruh urat nadinya. Dia naik ke lantai dua, meneriakkan kata-kata cintanya kepada Bram.Langit di sana diamdiam saja. DINA ingin liburan sendiri ke rumah dan ketika sampai, ia membersihkan sarang labalaba di rumah Ibu. Kala Dina sibuk membersihkan sarang laba-laba itu Ibunya masuk, "Nduk, apa yang terjadi dengan dirimu?" "Saya tidak ingin mengatakan, Bram sendirilah laba-laba yang setiap saat melumatku". Ibu memeluknya,

"Ketika aku dan bapakmu tidak saling mencintai lagi, kami bersabar!"Dina tidak sepakat. APA yang dilakukan oleh Bram dan anaknya seperti bukan lagi bagian hidupnya. Mereka seperti berada di tempat yang berseberangan. Hal ini dibicarakan dengan Bram, "Din, kita ini orang biasa dan aku sibuk dengan pekerjaan, bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk keluarga. Kita tidak perlu menyoalkan jaring laba-laba atau Spiderman, kalau kau jenuh di rumah kau bisa keluar dengan teman-temanmu, aku tidak pernah mengurungmu." Dina menganggap ini adalah alasan yang dibuat oleh Bram agar dia tidak berontak terhadap jaring laba-laba mereka. Dia merasa, baik Bram maupun anaknya menambah jaring laba-laba, sehingga dia seperti seekor nyamuk yang tidak bisa pergi dari perangkap laba-laba tersebut.Dina menjerit-jerit (kepalanya terasa sakit) dan Bram cuma bilang, Dina mungkin capek, sebaiknya minum susu dan aspirin.Dina melihat itu seperti sebuah bujukan, agar dia bisa lebih terperangkap ke dalam jaring laba-laba itu, sehingga dia tidak bisa berbuat apa pun. DINA menyusun rencananya. Langkah satu, perceraian, langkah dua pergi

meninggalkan Bram dan anaknya, langkah ketiga membabat habis apa saja yang menjadi jaring-jaring dalam rumah ini. Jaring-jaring itu: semua kebutuhan Bram dan anaknya yang harus dilayani. Semua perabot rumah, baju-baju dan makanan yang harus disiapkan setiap hari. Bram suatu senja mengajaknya ngomong, "Saya tidak tahu mengapa kau depresi! Apakah saya suami yang tidak baik? Saya tidak berselingkuh dengan siapapun, sebisa-bisanya, saya ingin menjadi suami dan bapak yang baik. Karena semua orang bilang, kamu depresi, maka dari itu aku tidak bekerja hari ini, tapi mengantarkan kamu ke psikolog, ceritakanlah apa yang menjadi permasalahanmu."Dina menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan tiba-tiba, dia melihat wajah Bram yang sudah menjadi laba-laba.Dina menjerit-jerit. SUNGGUH, dia melihat dengan jelas sekarang Bram dan anaknya adalah laba-laba. Celakanya mereka bukan laba-laba yang seperti Spiderman yang suka menolong dan baik hati, mereka adalah laba-laba ganas, yang sampai pada saat ini, masih menjerat

seluruh tubuh, perasaan dan pikirannya. Satu-satunya jalan adalah memotong jaring laba-laba itu. Dina mengatakan kepada Ibunya, "Ibu, saya akan memotong jaring laba-laba yang ada di seluruh tubuhku. Jaring itu dibuat oleh Bram dan anakku."Ibu memeluknya, "Nduk, sejak kau ada di rumah Ibu Bram dan anakmu sering meneleponku menanyakan kabarmu, mengirim cintanya lewat telepon. Tentu saja mereka tidak bisa setiap kali ke rumah Ibu, Bram kan harus ngantor dan anakmu harus sekolah."Dina diam saja. Dia merasa setiap orang menindas (termasuk juga ibunya). Dina ingin sekali pergi ke kota tempat Bram dan anaknya tinggal (beberapa minggu yang lampau mereka berdua pindah ke kota lain, alasan mereka: Bram mendapat promosi jabatan di kota lain). Sebetulnya, Dina tidak ingin peduli, asal jaring laba-laba itu tidak melingkarinya. Bayangkan mereka berdua mempergunakan cintanya dengan menyuruh

menyelesaikan seluruh pekerjaan rumahnya. Tak jarang baik Bram maupun anaknya kesal karena masakannya terlampau asin atau hambar. Mereka juga tidak bersedia sekali-kali membereskan rumah. Memang ada ekspresi cinta dari Bram, namun ujungujungnya menjadi kebutuhan seks belaka. Dina jijik dan sekarang, ketika Dina merasa pusing yang hebat, mereka berdua melenggang ke kota lain, membiarkan Ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan mengurus dirinya. Padahal, kalau dia merasa sangat sakit dan hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur, Bram yang seharusnya merawat.Dina menangis.Akhirnya, dengan alasan yang tidak jelas dokter mengatakan, dia sembuh dan menyuruhnya kembali ke rumah Bram dan anaknya.Sampai di rumah ini, Bram dan anaknya memang tidak menyuruhnya mengerjakan apa pun. Ada pembantu yang mengerjakan itu semua. Mereka memperlakukan Dina seperti perempuan jompo (yang kehadirannya tidak dikehendaki, tapi harus dihormati).Kesedihan, kemarahan semakin meledak-ledak di hatinya. Dina mengatakan kepada Bram akan mengerjakan semua tugas-tugasnya seperti dulu, karena tanpa tugas-tugas itu, Dina merasa tidak punya arti sebagai seorang istri dan ibu. Bram berkata pelan-pelan, "Din, Kamu masih dalam proses penyembuhan, turuti sajalah apa kata dokter, kasihan anakmu."

"Kau tidak mencintaiku lagi, padahal kuberikan semua cintaku untukmu, ketika kita baru saja bertemu di halte bus."Bram melihatnya lekat-lekat, "Sudahlah, Din, kasihan anakmu dan sebetulnya ini berat bagi kita semua, aku harus bekerja lebih keras untuk kesembuhanmu, harga obatmu sangat mahal," "Jadi, aku adalah bebanmu sekarang?"Bram mengangkat bahunya dan sebelum mengucapkan satu kata pun anaknya memegang tangan bapaknya, "Pa, ayo tidur, saya takut tidur sendirian kalau ada Mama" (mereka memang sekutusekutu yang tercinta), sedangkan Dina adalah nyamuk yang bisa dilahap setiap saat.Dina mengusir mereka berdua dan dilihatnya anaknya dengan penuh sayang memeluk bapaknya. SUATU kali dia membersihkan rumah ini dari sarang laba-laba, anaknya yang baru pulang dari sekolah mendekatinya, "Ma, dari tadi Papa kok belum pulang?" Dina tidak menjawab dan ketika anaknya bertanya lagi, Dina berkata pelan-pelan, "Seperti sarang laba-laba yang harus saya bersihkan, Papamu saya bersihkan dengan pisau itu." Anaknya menjerit-jerit di rumah ini. Beberapa tetangga berdatangan. Bram berdiri di antara tetangganya. Mereka bersama melihat Dina yang sedang memotong jaring laba-laba yang ada di setiap sudut rumah ini.Dina selesai membersihkan sarang laba-laba. Dilihatnya Bram dan anaknya. Dina secepatnya menyusun bajunya dalam kopor, "Jaring laba-laba itu akan selalu kau buat lagi kan? Oleh karena itu, selamat tinggal."Bram, anaknya, dan para tetangga menyeretnya ke rumah sakit jiwa!Beberapa tahun kemudian dokter Wayan bilang kepadanya, "Saya harap, kamu bisa bersosialisasi lagi dengan Mas Bram dan anakmu, kamu sudah sembuh, mereka akan datang menjemputmu." Dina melihat Bram dan anaknya (anaknya sudah berangkat remaja. Dina menganggap, dia harus memisahkan anaknya dari Bram, agar tidak menjadi laba-laba yang jahat). Namun, kesembuhan ini tidak membuatnya bisa melihat lagi jaring laba-laba yang pasti masih dibuat oleh Bram dan anaknya!Dina kemudian berlari ke sembarang arah. Dan jaring laba-laba itu, mengejarngejarnya. ***

Malang, 18 November 2002

Ranah Berkabut
Raudal Tanjung Banua Sumber: Kompas, Edisi 01/12/2003 SI Upik punya dua pusar-pusar1 di kepala. Rambut ikalnya berpusing pada satu pumpunan di ubun-ubun, kanan dan kiri. Tanpa harus menguak dan meraba, cukup angin saja yang menyibak, maka rambut berpusing itu akan segera terlihat, dan orangorang membacanya sebagai pusar-pusar ternak paling baik. Tanda seperti itu-jarang orang yang beruntung memilikinya sepasang-dipercaya membawa berkah bagi ternak yang digembalakan. Konon, setiap ternak yang diperuntukkan buat si Upik, bakal cepat berkembang, terhindar dari segala penyakit dan kematian.Demikianlah, orang-orang percaya pada pertanda. Boleh jadi ungkapan yang menyelubunginya semacam doa yang dipanjatkan. Dan kenyataannya memang demikian. Ketika si Upik masih kecil, pusar-pusar ternak di kepalanya sudah cukup teruji. Bila ayahnya membeli sepasang ayam, cukup dengan berkata, "Ayam ini untuk si Upik," maka, ajaib, ayam itu menghasilkan telur yang banyak, semuanya selamat dierami, dan turun dari kandang berkembang-biak, lalu tumbuh berpasang-pasang.Akan tetapi, bila Ayah

memperuntukkan ayam itu buat si Kandik-kakak laki-laki Upik-maka tak kalah ajaibnya, ayam-ayam itu seperti tak berdaya menghadapi alam. Merimuk saja di sudut kandang, dikungkung penyakit dan dijemput kematian. Atau ada yang sempat bertelur, tapi telurnya berserak-serak dalam belukar, dua-tiga butir yang dierami, itu pun tak menetes!Bagaimana mungkin kita tidak percaya pada pertanda dan isyarat? Kandik memang tak punya pusar-pusar baik di kepala. Rambutnya kasar seperti ijuk, berdiri tegak umpama dari landak, menampakkan wataknya yang keras. Ia bercita-cita menjadi tentara, dan Ayah merestuinya. Karenanya, sekolah si Kandik harus terus disambung; tamat SMP ke SMA, nanti mendaftar jadi tentara. Berbeda sekali dengan si Upik. Semenjak kecil di telinga gadis itu telah didengungkan isyarat baik yang ia punya; pusar-pusar ternak itulah, tiada dua. Sering Mak mengajaknya duduk di tubir jenjang, mencari kutu, sambil menyibak pusaran rambut itu, Mak akan berkata tentang keberuntungannya, semacam doa yang memang tak putus-putusnya dipanjatkan. Upik merasa tersanjung, dan segera membayangkan ternak berkembang-biak; ayam-ayam

berkotek di kandang, sapi-kerbau dan kambing-kambing merumput riang di padang hijau. Alangkah indah dan menyenangkan.Silau oleh semacam keindahan ajaib yang meruah direlung hati masa kecilnya, yang dihembus-hembuskan orang sekeliling, tanpa sadar si Upik telah bercita-cita saja ingin menjadi pengembala. Dan, ya, Ayah tentu merestui. Bahkan kalau si Upik tak bercita-cita demikian, Ayah pasti memaksa dan mengarahkannya. Tak perlu menunggu lama, tak perlu menunggu tamat sekolah, baru akan naik ke kelas enam saja, Ayah telah memberinya sejumlah kambing-kambing orang dengan sistem paroan2. Maka, di usia sehijau itu, si Upik sudah bergulat dengan cita-cita sederhananya dulu.Pagi-pagi sekali, saat kawan-kawan seusia berdayung sepeda ke sekolah, si Upik dengan caping di kepala dan pakaian lusuh (bukan seragam putih-biru!) juga bersegera menggiring kambing-kambingnya ke padang gembala. Padang itu terletak cukup jauh dari perkampungan, melewati sehamparan sawah dengan pematangnya yang kurus, dan di sebalik semak-semak akan nampak dataran menghijau lengang. Di sanalah si Upik menghabiskan hari tanpa merasa berkecil hati. Bukankah ia beroleh berkah dan anugerah yang tertuntung dari langit, langsung ke ubun-ubun yang meriap bagai rumput atau alang-alang yang tunduk, berpusar pada kehendak alam? Meriap dalam satu pumpunan yang menjanjikan kesuburan? SEPERTI diduga, ternak si Upik memang berkembang-biak. Siapakah yang bisa mengelak dari pertanda? Tak ada. Orang di ranah itu sudah sejak dahulu berguru kepada alam. Setiap tanda jadi tanya, setiap isyarat jadi sebab. Dan leluhur telah mempersiapkan jawab yang layak diterima sebagai berkah warisan, turun-temurun, bagai air pada cucuran atap jatuh di pelimbahan yang sama. Menjadi adat orang seranah. Lihatlah si Upik: Pergi pagi pulang petang telah menjadi irama kesehariannya, berkah dari adat yang bertuah; berkat tetua yang pandai membaca. Segala tanda dan isyarat!Begitulah. Rasanya belum lama berselang si Upik masih menghapal puisi "Gembala" karangan Muhammad Yamin di buku pelajaran Sekolah Dasar yang keburu ia tinggalkan. "Anak gembala, seorang sahaja di tengah padang, tidak berbaju buka kepala..." Kata itu serasa masih bergema di relung hatinya.Seorang sahaja di tengah padang (tentu tak buka baju karena ia perempuan!), begitulah keadaan diri si Upik. Sendiri memintal hari, bagai tangannya yang bosan memintal bunga rumput jadi mainan. Berhujan-berpanas sudah biasa. Berubah legam kulitnya yang kuning langsat, dan di

kampung ia dipanggil "Upik Itam", bukannya "Upik Kambing Banyak"-sebagaimana yang ia inginkan, tentu sambil membayangkan perempuan sanjungan dalam cerita "Puti Gelang Banyak". Tidak. Si Upik tidak pernah mendapat penghargaan semacam itu, dan ia tak peduli. Ia hanya tahu bahwa bebannya kian bertambah, tukuk-bertukuk tiada habis akibat pusar-pusar ternak di kepala. Kian banyak orang tertarik menyerahkan hewan ternak-termasuk kepala kampung-dengan sistem paroan yang lazim berlaku di situ. Tak hanya kambing, tapi bermacam-macam, dari ayam, sapi dan kini kerbau. Sungguh menambah beban, sebaliknya menambah silau hati Ayah akan harta. Dan semua ternak diterima Ayah, tanpa pernah berunding dengan dirinya.Siapa berani menantang Ayah? Berani menantangnya-apalagi anak perempuan-sungguh dianggap keterlaluan; berarti menantang adat dan kebiasaan. Maka, begitulah, dengan kumis melintang, badan berdegap dan wajah selalu berhias amarah, sudah lama Ayah menjelma hantu yang menakutkan Mak, kakak-adik, apalagi si Upik, tak ketinggalan ternak di kandang atau di tengah padang. Selalu, selalu saja Ayah menjelma hantu (tapi lebih sering srigala) yang datang tiba-tiba dari balik semak-semak, dan berseru di tengah padang. "Upik, ayah butuh seekor kambing!" Maka, dengan sekali sentak, kambing yang ia minta telah membebek dibawa pergi-demi hasratnya berjudi!Dan petang itu si Upik teramat sedih. Soalnya kambing kesayangan (tanduknya melengkung seperti tanduk rusa) dicegat Ayah di pintu kandang, dan segera beralih ke tangan seorang juragan (ah, mungkin juga seorang bandar!). Si Upik tak kuasa menahan tangis, tapi bukan penghiburan yang didapat, melainkan dampratan dan umpatan. "Anak tak tahu diuntung!" itu jenis makian yang menghambur berulang-ulang. Membuat si Upik tak nafsu makan. Ia merajuk, dan Mak tak kuasa membujuk. Akhirnya Ayah bertindak lebih jauh, tak sekadar membentak tapi menggampar. Dilecut pakai sabuk atau cambuk ekor pari memang telah menjadi langganan si Upik. Tak jarang ia direndam ke dalam sumur berjam-jam bila Ayah marah. Dan petang itu, dengan hidung dan telinga disumbat kapas, Ayah menyeretnya ke belakang. Dengan satu sentakan, terikatlah si Upik di batang jambu yang dipenuhi semut rangrang!Upik membenturkan kepalanya ke batang pohon. Dibentur-kan kepalanya sepuas-puasnya, seolah dengan itu pusar-pusar di rambutnya akan segera sirna!BESOKNYA Upik demam, tapi ia tak mungkin meninggalkan tugas. "Kamu mesti berangkat, Pik. Apa kata orang yang

ternaknya kita gembalakan kalau seharian dibiarkan di kandang," kata Mak kelu.Terhuyung Upik meniti pematang. Perutnya mual, ingin muntah. Di kubangan, ia lihat wajahnya, kurus dan menderita, juga rambutnya yang kusut. rasa sakit dan putus asa menggerakkan tangannya menarik rambut itu, dijambak dan diacak-acak. Dicakarnya pusar-pusar itu seperti mencakar bara dendam. Beberapa bangau putih terbang rendah mengitarinya seolah membawa kabar yang mesti tersampaikan. O, kawanan bangau yang putih yang suci, patuklah pusar-pusar di rambutnya, dan kembalikan kepada langit yang dipuja!Tapi, bangau-bangau itu lantas menjauh, ketika seseorang datang berseru, "Kamu sakit, Upik, istirahatlah!" Ternyata Pak Kudun, lakilaki tetangga rumah yang sebaya dengan Ayah. Segera dibimbingnya Upik ke bawah pohon ketapang. Dipijatnya kepala Upik di sana, dan ketika menyentuh pusar-pusar itu tangannya bergetar, entah kenapa. Mata Upik sebak menahan semacam keharuan; rasa diperhatikan dan penghiburan. Hal yang tak pernah ia dapatkan dari seorang pun, kecuali dari Pak Kudun!Ah, Pak Kudun! Hampir tiap hari ia lewat di sini, mencari jalan pintas ke ladang di lereng bukit, yang menjadi latar perkampungan. Isi ladangnya tak pernah jelas. Kalau ada yang bertanya bagaimana keadaan tanamannya, ia dengan nyentrik bilang, "Hampir panen..." Tapi bila besoknya ada yang bertanya lagi ia jawab enteng, "Panen gagal, diserbu belalang dalam semalam..." Lama-lama, orang mahfum, aktivitasnya berladang sebenarnya lebih untuk mengimbangi kehidupan istrinya yang sibuk keliling kampung menawarkan barang kreditan. Semacam kompensasi yang dapat dimaklumi semua orang, apalagi mereka tak punya anak.Tapi Upik menyukainya. Wajahnya bersih, menyejukkan. Tak tergurat tanda amarah. Dan penuh perhatian, itulah yang utama. Sebenarnya, bukan sekali ini saja mereka duduk berdekat-dekat, tapi sudah cukup akrab-bercakap. Upik merasa tak sendiri bila Pak Kudun melintas, mampir sebentar dan bercakap. Dan merasa lengang bila laki-laki itu melanjutkan perjalanan.Dan kini Pak Kudun ada di hadapan. Mengobati sakit dan lelahnya. Entah perasaan macam apa yang pantas tumbuh dan berkecambah di dada Upik yang remaja. Apakah sekadar mendapat teman bercakap, orang tua penuh perhatian, atau sesuatu yang sukar terucap? Entah. Yang jelas, kehadiran Pak Kudun di padang gembalaanwalau sebagai seorang pelintas-membuat hari-hari Upik terasa lebih berwarna. Meski di sisi hidup yang lain ia tak bisa menghindar dari satu-satunya warna yang kelam: melulu

hitam.Tabiat buruk Ayah kian menjadi; berjudi di rumah-rumah kosong dan mengganggu istri orang, kabarnya juga mengganggu istri Pak Kudun! Begitu pula kakaknya, si Kandik yang mempunyai cita-cita tinggi, pernah Upik dapatkan sedang berjudi di dalam semak-semak. Membuat semacam rongga dari rerimbun belukar, dialasi tikar. Ketika hendak mencari kambingnya yang kesasar, tak terduga Upik lewat di tepi sebuah "rongga" yang ternyata ditempati kakaknya. Cepat Upik berlalu, dan Kandik segera mengejar, mengancam, "Awas, jangan bilang siapa-siapa!" Lama Upik terdiam membayangkan itu semua. Sampai kemudian Pak Kudun selesai memijat kepala dan urat-urat di tangannya. "Bagaimana rasanya?" tanya Pak Kudun dengan nada penuh perhatian.Upik menggerakkan kedua lengannya, menggeleng-gelengkan kepalanya kiri-kanan, dan merasa agak enak sekarang. "Sudah lumayan enak, Pak. Terima kasih," katanya dengan suara bergetar. Pak Kudun memandangnya, dengan tatapan orang yang minta diri. Sebelum pergi, sebuah kecupan melintas di tengkuk Upik. Gadis itu terpana diam. Dan Pak Kudun segera melanjutkan perjalanan. Begitulah kehadiran Pak Kudun di tengah padang gembalaan itu. Datang dan perginya alangkah ajaib dan menggetarkan. Pernah sehabis hujan ia datang bagai kijang yang melangkah lincah di padang basah. Lantas, dari arah berbeda Ayah pun tiba bagai srigala mencari mangsa, dan berteriak seperti biasa, "Upik, ayah butuh seekor kambing!" Pak Kudun tersentak mendengarnya. Ayah pun tak kalah terkejut saat menyadari ada orang lain di hadapannya. Keduanya bersitatap. "Jangan coba-coba mengganggu anakku! Sebab, jangan sampai nanti berkecil hati kalau karena ini kubakar rumahmu!" kata Ayah geram. "Dan kau, tidakkah juga...," Pak Kudun tak melanjutkan, seperti tersadar. Tapi, dengan ucapan yang tak selesai itu, Ayah lalu berbalik langkah. Batal ia mengambil mangsa. Dan Upik, untuk kali itu, merasa sebagai pihak yang menang menghadapi Ayah. Berkat Pak Kudun! Meski setelah itu Pak Kudun pun mengayun langkah ke pematang yang sama: pulang. Upik merasa lengang tiba-tiba. Hati kosong bagai padang ditinggalkan

gembala. Seperti sekarang! LENGKING serunai batang padilah yang mengisi kekosongan hati Upik kemudian. Sejenak ia teringat Mak yang sepagi tadi memohon-mohon kepadanya agar tetap menggembala. Ah, Mak, perempuan yang sesungguhnya juga menderita kekosongan yang sama dengan dirinya. Dan karenanya, Upik sungguh tak bisa berbuat apa-apa saat mendapatkan Mak dan Abang Juaro (seorang pemuda alim di kampungnya) bertindihan di balik kandang! Mungkinkah itu pelampiasan dari hati yang kosong? Entah. Upik ingin tak mengenang. Sepenuhnya kini ia ingin berlagu-dendang, meniup puputserunai batang padi, iramanya melengking tinggi!Tapi, irama itu terputus tiba-tiba, ketika mendengar suara ribut kawanan kambing lari berpencar. Dilemparkannya saja serunai atau puput batang padinya, lantas si Upik berlari menuju ke sana. Astaga! Seekor kambing terdengar seperti tercekik dalam semak, "Mbheeeeekk...!!" Binatang apakah gerangan yang memangsa? Apakah harimau kumbang, atau Ayah yang berubah srigala dengan cara diam-diam-setelah merasa malu berhadapan dengan Pak Kudun dalam peristiwa kemarin? Upik takut membayangkan, tapi ketakutan terhadap hukuman yang harus ia terima dari Ayah-bila kambing itu sampai hilang atau tinggal tulang-mampu mengalahkan semua ketakutan yang sedang mengaduk dirinya. Maka, secepatnya ia terobos semak-semak yang penuh duri dan onak, mengikuti suara yang sayup dan menjauh itu. Barulah sesampai di tempat yang sedikit terbuka, ia melihat sesuatu yang di luar dugaan: kambing itu dihela paksa kakaknya Kandik, beserta kawanan seperjudiannya!Kaget oleh

pemandangan serupa, si Upik melepaskan jerit. Lengkingnya memaksa Kandik berbalik langkah, bukan mengembalikan mangsa, melainkan datang dengan ancaman yang sama. "Jangan kau bilang siapa-siapa! Hanya satu ekor. Awas, kalau Ayah sampai tahu, berarti kau yang memberi tahu. Kuberi tahu juga bahwa kau pacaran sama Pak Kudun. Iya 'kan?"Begitulah, Kandik segera berlalu menyusul kawan-kawannya yang kian jauh. Tinggallah Upik dengan hati senyap. Puput-serunai batang padi yang menjadi irama nyanyiannya terhenti dan lenyap.

PETANG itu, Upik menggiring kambing-kambingnya hanya sampai ujung pematang. Untunglah binatang ternak itu telah mengerti jalan Pulang. Kemudian sapi dan kerbau ia tambatkan pada pancang di kandang. Senja mulai turun. Tapi Upik memutuskan kembali ke padang gembalaan. Ia ingin menyelinap ke semak-semak, dan kalau nanti Ayah datang mencari, ia akan berpura-pura sedang mencari seekor kambing yang kesasar. Cara itu pasti tak meloloskannya dari hukuman, tapi setidaknya, dengan cara itulah sang kakak terselamatkan....Upik beranjak ke arah semak-semak, bersiap menembusnya seperti menembus gelap yang mulai turun. Tetapi, baru beberapa langkah, tiba-tiba cahaya senter menerap wajahnya. Upik terteror! Dihadapannya berdiri sesosok tubuh tak dikenal, berpulun kain sarung. Ayahkah, hantu, atau... Ia ingin menjerit. Namun, sesuara lebih dulu menyentaknya, "Upik, mengapa masih di sini? Orang-orang di kampung ribut mencari!" Itu suara Pak Kudun, meski sulit dipercaya. Upik memaksakan diri menatap sosok yang baru saja mempertanyakan dan menyuarakan nasibnya. Upik tak bisa menjawab kecuali menghambur ke hadapan laki-laki itu. "Tenanglah, Upik, tenanglah... Kita ke ladang saja sekarang...," bisik Pak Kudun, sambil meremas rambut Upik dengan tangan bergetar, persis di pusar-pusar! Dan mereka pun melangkah dalam kelam. Menembus pekatnya ranah yang berkabut. Semakin tebal, semakin bebal. *** Rumahlebah, Yogyakarta, 2002 Catatan: 1. Pusar-pusar, pusaran rambut di kepala yang oleh masyarakat tertentu dapat dibaca sedemikian rupa sebagai isyarat atau pertanda. Disebut juga uyeng-uyeng atau pusapusa, dan sejumlah istilah lain yang lebih kurang bermakna sama. 2. Sistem paroan, suatu sistem bagi hasil yang diterapkan dalam sejumlah bidang usaha seperti pertanian dan peternakan, dimana antara penggarap dan pemilik mendapat hasil yang sama, namum modal (tanah untuk pertanian dan induk untuk peternakan) tetap milik tuan atau yang punya.

Kupu-kupu Hinggap di Tangkai
Arie MP Tamba Sumber: Kompas, Edisi 01/05/2003 "KAI, ada apa ramai-ramai. Kelihatannya pakai tangis-tangisan juga," kata Kupu-kupu setelah menjejakkan kakinya di bahu tangkai pepohonan itu. "Ceritakan dong. Aku telat datang!" pintanya kemudian. “Aku juga tidak bisa cerita banyak," beritahu Tangkai. "Ya, ceritakan apa adanya saja, asal aku tahu!" Tangkai menarik nafas. "Bukannya aku nggak mau cerita sama kamu, Pu," katanya. "Cuma, apa kamu nggak bisa menahan diri sehari dua hari tanpa berita? Biar kamu bisa tenang-tenang, terbang ke sana kemari tanpa beban?" "Mana bisa begitu, Kai. Hidupku sudah digariskan untuk mendengar dari sana-sini!" tegas Kupu-kupu. "Sudah risiko. Harus mendengar sekalipun tidak ingin. Bahkan dalam tidur pun, telingaku dapat mendengar apa yang diteriakkan manusia dan unggas-unggas itu dalam mimpinya!" Tangkai bergoyang menggeleng-gelengkan kepala. Beberapa daun di pucuknya terbelai angin. "Kamu mau kan cerita yang kamu ketahui?" pinta Kupu-kupu lagi. Tangkai akhirnya mengangguk. "Demi persahabatan, aku akan cerita apa yang aku ketahui!" "Eh, tenang dulu, ada angin kencang!" tegur Tangkai yang segera berkelit dari sebuah gelombang angin kencang yang tiba-tiba menerjang. "Lho, kamu kok terbang?" teriak Tangkai. "Nanti, nanti saja ceritanya, aku pergiii!..." kata Kupu-kupu yang tak bisa menghindari

terjangan angin yang kemudian menerbangkannya itu. Tangkai segera kehilangan Kupu-kupu. Sementara Kupu-kupu sedang menyeimbangkan terbangnya, di antara hembusan angin yang membawanya mendekati serumpun bunga yang kelihatan kepanasan oleh sorot matahari. "Eh apa kabar?" tanya Kupu-kupu kepada Kelompok Bunga yang kini dihinggapinya. "Baik saja!" kata si Kelompok Bunga. Kupu-kupu tampak berpikir. Kemudian memandang ke arah sekitar yang masih ramai oleh manusia. "Ada apa sih? Kok ramai sekali? Ada yang teriak-teriak lagi!" tanya Kupu-kupu. "Kau dari mana? Masa' tak tahu kejadiannya? Wah, tadi lebih pikuk. Seru sekalii..." Kelompok Bunga bergoyang-goyang gembira tertiup angin. "Wah wah, tumben kamu ketinggalan berita!" "Itulah. Aku baru terbang dari luar kampung sana," kata Kupu-kupu. "Jadi ketinggalan berita. Ah, ada angin lagi, Sampai nantiiii..." Kupu-kupu terpaksa melayang lagi, ketika segulungan angin cukup kencang datang dari arah berlawanan. Di antara tiupan angin yang membawanya, Kupu-kupu berusaha mengatur

keseimbangan; hingga kemudian, dapat mengapung tenang ke arah Tangkai yang tadi dihinggapinya. Melihat Kupu-kupu datang lagi, entah kenapa Tangkai tiba-tiba memandang jemu dan serba salah! "Ada apa? Kelihatannya kau terganggu aku kembali," kata Kupu-kupu. "Kau pasti datang untuk peristiwa itu kan?" Tangkai bergoyang. "Wah, karena tadi terbawa angin, aku malah hampir lupa," kata Kupu-kupu. "Bukannya kamu sekarang mencari bandingan, setelah mendengar dari Kelompok Bunga?" "Ooh? Tidak, tidak begitu. Aku belum mendengar apa-apa. Kelompok Bunga belum sempat bercerita."

"Begitu?" "Ya. Hm. Oya, peristiwa apa sih sebenarnya, yang tadi itu? Kok ramai? Tapi, sekarang, ke mana orang-orangnya?" "Mereka sudah bubar. Kelihatannya ada jalan keluar," kata Tangkai. "Nanti dulu, nanti dulu. Aku hanya bertanya apa yang tadi terjadi. Bukan ingin tahu pendapatmu," kata Kupu-kupu. "Cerewet. Mau dengar nggak?" "Maaf, maaf. Ceritakanlah." "Terus terang aku agak enggan menceritakannya. Masalahnya, aku masih agak terganggu sampai sekarang. Agak sedih malah." "Kok berkomentar lagi..." "Mau dengar nggak?" "Maaf, maaf, teruskan ceritamu." "Mulanya dua lelaki datang dan berteduh di bawah halte sana..." "Menunggu bus? Taksi?" "Mau dengar nggak?" "Maaf." "Dua orang kataku. Dua lelaki. Ayah dan anak." "Kok kamu tahu mereka ayah anak?" Kupu-kupu tak sabar lagi. "Jadi tidak mau mendengar kelanjutannya?" Tangkai jual mahal. "Nanti dulu. Kok kamu tahu mereka ayah anak." "Karena mereka saling memanggil begitu," kata Tangkai mengangkat wajah gembira.

"Oohhh..." Kupu-kupu mengibaskan sayapnya dengan tampilan apa boleh buat. "Sudah, teruskan," lanjut Kupu-kupu, ketika menampak Tangkai sesaat mengalihkan perhatiannya kepada Capung yang ingin hinggap di samping Kupu-kupu. "Jangan di sini," kata Tangkai bergoyang. "Ya, jangan di sini!" kata Kupu-kupu menghentakkan sayap. Capung kemudian terbang dengan tak acuh. "Pergi juga tak apa-apa. Di sini nggak ada enaknya," kata Capung. "Sudah, teruskan ceritamu. Jangan pikirkan si Capung," kata Kupu-kupu. "Kuringkas saja," kata Tangkai. "Terserah," kata Kupu-kupu. "Begitulah. Begitulah. Ayah dan anak berteduh di halte sana. Lalu keduanya bertengkar tentang pacar dan ibu tiri. Keduanya tidak saja ribut tapi juga pukul-pukulan. Beberapa pejalan kaki yang berusaha melerai malah ikut terpukul. Akhirnya tak jelas lagi. Ayah dan anak dikeroyok. Bus-bus berhenti. Para penumpang menontoni, tak tak puas, kemudian ikut berkelahi. Polisi datang dan melerai. Tapi kemudian ikut dalam perkelahian. Jalanan benar-benar macet. Para pengasong berubah profesi dari penjaja barang dagangan menjadi penodong. Para penumpang yang ditodong melawan. Para pemilik kendaraan yang mau dirampok melawan. Terjadi baku hantam antarsesama manusia yang berkerubung di depan halte. Polisi semakin banyak berdatangan. Pukulmemukul, lempar-melempar, teriak-meneriak, maki-memaki, tikam-menikam, hingga tembak-menembak, semua berbaur dengan kebuasan manusia-manusia yang

sepertinya tadi sengaja meledak atau diledakkan oleh sesuatu. Sementara angin tak henti-hentinya bertiup kencang. Semua tangkai dan ranting-ranting pepohonan bergoyang-goyang gelisah, karena terkena beberapa batu dan peluru nyasar. Bisa kau bayangkan. Bisa kau bayangkan. Sebentar saja korban demi korban berjatuhan. Darah berceceran di mana-mana. Bus dan mobil-mobil remuk terbakar dan ditinggalkan. Mobil ambulans berdatangan dan membawa korban ke rumah sakit. Tapi perkelahian masih

berlanjut. Lalu tentara datang. Sebagian peserta keributan berharap segalanya akan diselesaikan dan berakhir tenang. Tapi ternyata semuanya tak bisa menahan diri. Segera bergabung dan mengambil peran sebagai pemukul, penembak, peneriak, penginjak, yang diinjak, yang diteriaki, yang ditembaki. Hinggaaaaa.... Hinggaaa... Hing..." "Hussh! Hussh! Kau... tahan dulu, tahan dulu... Nafasmu nanti habis," kata Kupu-kupu ke arah Tangkai yang kini bergoyang-goyang kepayahan di antara tiupan angin kencang yang tiba-tiba muncul. "Itulah. Itulah ringkasannya... Kejadiannya berjam-jam... Sebelum sesuatu

menghentikan semuanya!" kata Tangkai. "Wah, apa dia? Siapa dia? Begitu hebat, mampu menghentikan kekacauan dahsyat itu?" kata Kupu-kupu. "Itulah. Dia tidak begitu hebat. Tak ada yang mengejutkan. Cuma kejadian sederhana," kata Tangkai. "Kejadian sederhana?" Kupu-kupu memandang tak percaya. "Ya." "Apa itu?" "Kedua lelaki, ayah dan anak yang menjadi pangkal keributan itu, sama-sama meninggalkan kerumuman, lalu menaiki sebuah angkot, dan menghilang ke ujung jalan sana..." Kupu-kupu memandang terkesima ke arah ujung jalan sana. "Begitu saja?" tanyanya menoleh ke arah Tangkai. "Iya. Begitu saja. Lalu kau datang, dan masih sempat melihat orang-orang itu sedang bubar," kata Tangkai. "Kukira ada hal yang luar biasa..." kata Kupu-kupu. "Itu masih kurang luar biasa?" tanya Tangkai.

"Maksudku, akhir dari kejadiannya, kok biasa saja," kata Kupu-kupu. "Ah, apa aku terbang saja ke tangkai yang lain ya?” "Kenapa? Mau mengetahui versi lain?" tanya Tangkai. "Ya dong. Biar informasiku lengkap," kata Kupu-kupu. "Untuk apa? Toh yang kau dengar nantinya akan sama saja. Atau malah kurang seru." "Itu dia. Setiap mata, setiap kepala, setiap hati, setiap penilaian, masing-masing akan terdengar khas, karena bergantung pada situasi dan kondisi yang dialami si pencerita pada saat kejadian tadi..." "Wah, kau seserius." "Aku kan Kupu-kupu pintar." "Terserah kalau begitu." "Yuk. Daaag." "Daag." Tangkai bergoyang. Membiarkan Kupu-kupu menjauh ke arah tangkai sebatang pohon besar lainnya di pinggir jalan itu. Masih cukup dekat dari halte, yang tadi dikatakan Tangkai sebagai tempat kejadian yang baru diceritakannya. Sementara si Tangkai kembali bergoyang. Tak percaya oleh kenyataan, bahwa dia mampu tak menceritakan yang sesungguhnya kepada si Kupu-kupu. Ya, si Kupu-kupu hanya menyukai cerita yang heboh. Padahal terlalu pahit rasanya bagi Tangkai, menceritakan hal sederhana, bagaimana kedua orang itu, ayah dan anak, saling bertengkar dan kemudian berbunuhan di depan orang-orang lalu-lalang yang sebagian tertarik, menonton sejenak, namun sebagian lainnya tak perduli. Sampai ketika kedua orang itu, sudah pingsan berdarah-darah, atau memang sudah mati percuma, seorang pemulung memasukkan keduanya ke dalam gerobak sampahnya. Mungkin pemulung itu akan membuang kedua ayah anak itu, ke pegunungan sampah di ujung jalan sana. Tentu saja, si pemulung akan mengambil dulu barang-barang kedua ayah anak itu, yang masih dapat

dimanfaatkannya. Kalau tidak, apa gunanya si pemulung memasukkannya ke gerobak sampahnya, membawanya, dan berbaik hati membuangnya sebagai sampah yang tak berguna lagi? Tapi, apakah si pemulung nanti akan benar-benar akan membuang kedua orang ayah anak itu ke timbunan sampah sana? Mengingat itu, entah kenapa Tangkai merasa sedih dan bergidik. Lunglai.***

Jangan Melawan Rembulan
Eka Budianta Sumber: Kompas, Edisi 12/29/2002 “AKHIRNYA tahun 2003 itu datang juga. Tahun yang sangat ditakuti, dan sekaligus dibanggakan. Tahun yang sering disitir Ayah untuk memulai ceramah. Atau menutup berbagai lokakarya. Tahun ketika perdagangan bersinar bebas di seantero Asia Tenggara.Pada tahun 2003," kata Ayah, "orang yang tidak bisa berbahasa Inggris akan mati." Pada tahun 2003, katanya lagi, dokter gigi Filipina akan datang ke desa-desa di seluruh pelosok negeri. Tukang-tukang kayu dari Jepara, Rembang, dan Pati akan panen order dari Thailand, Singapura, dan Brunei Darussalam. Pada tahun 2003, katanya lagi dan lagi, karier Anda sekalian bisa lebih suram, tapi bisa juga lebih cemerlang seperti sinar rembulan. "Makanya jangan melawan Rembulan. Turuti saja panggilan sinarnya, meskipun mungkin ia mengantarmu ke lorong-lorong yang paling tidak engkau sukai," nasihat Ayah seperti berpuisi. Aneh banget Ayah itu. Sepeninggal pohon siwalan yang dulu menaungi rumah kami, pandangannya melulu terpancang pada Bulan. Bukan hanya Bulan, tapi juga tahun 2003 itu. "Lontar telah pergi. Kini komputer menggantikan perannya," ujarnya kembali berpuisi. Ayah percaya bahwa tanpa pohon siwalan yang menghasilkan daun tal atau lontar, seluruh Asia Tenggara akan gelap gulita.Bukan hanya gelap gulita, tapi hitam legam di panggung sejarah. Hitam seperti masa lalu penjahat tak dikenal. Kelam seperti masa depan pengebom bunuh diri. Pendeknya, hidup ini perlu penerangan. Dan yang paling terbukti mampu menerangi jalan hidup kita, adalah tulisan. Dulu tulisan dititipkan pada daun lontar. Sekarang pada layar monitor, pada hard disk, pada disket, pada cluster informasi dan memori dalam sistem komputer.Makanya, cintamu juga harus lebih canggih. Cinta pada pohon, cinta pada anak-anak, cinta pada keindahan, cinta pada kebenaran, cinta pada Tanah Air, cinta pada Ibu, dan cinta pada pengetahuan. Begitu nasihat Ayah terus nyerocos dalam mobil sepulang dari pidato di Gedung Joang. Kesehatannya tampak terganggu. Maklum sudah tua dan mengidap darah tinggi.Aku sengaja mendampinginya. Sepeninggal lontar, semangat hidupnya seperti menggelegak. Apakah gara-gara rumah kami jadi

tersiram sinar Bulan lebih sempurna? Dulu, ada kalanya rumah kami ternaungi bayangbayang pohon tua itu. Dulu, hari-hari kami seperti lebih teduh. Matahari tidak langsung memancar dari langit. Pohon lontar kami menyambut panasnya lebih dulu.Namun, pohon lontar itu, seperti pohon-pohon lain di seluruh muka Bumi, akan mati. Pohon yang bersejarah maupun tidak bersejarah, berbuah maupun tidak berbuah, semua akan pergi meninggalkan manusia yang menanamnya atau tidak menanamnya. Termasuk pohon lontar kebanggaan keluarga kami.Borassus flabellifer. Itulah nama Latinnya. Ayah mengajarkan nama-nama Latin untuk setiap hewan dan tumbuhan yang diperkenalkan pada kami. Bukan karena beliau guru biologi atau ahli botani. Bukan. Semata-mata karena beliau ingin kami punya wawasan dunia. Setiap benda itu, katanya, punya karakter lokal dan manfaat lokal. Tapi, juga punya karakter universal. Universalitas ini yang penting, kata Ayah. Makanya kami diperkenalkan dengan Borassus flabellifer, pohon tal yang tumbuh 20 meter di depan rumah kami. Yang daunnya berbentuk kipas, yang buahnya segar, yang bunganya bisa jadi obat sekaligus bisa disadap menjadi tuak beralkohol. Ya, seperti yang semua sudah tahu, itulah pohon tal, siwalan alias lontar, kebanggaan keluarga kami. *** SEPULANG pidato, Ayah biasanya menatap pohon itu dari jendela. Seolah-olah bersyukur. Seolah-olah hendak berterima kasih bahwa pohon lontar telah menjadi inspirasinya. Tetapi, sekarang pohon itu tak ada lagi. Tinggal sinar rembulan dengan leluasa masuk ke kamar utama, melalui jendela yang terbuka. Ayah tidak berdiri di sana. Ayah berbaring dengan napas tersengal-sengal.Anak-anaknya berkumpul. Mungkin malam ini adalah malam terakhir buat Ayah. Kami tak mau mengecewakan hatinya. Tiga anaknya berkumpul. Ya, tiga anak-anak lontar yang setia. Kini menunggui Ayah, seolah-olah akan mendengarkan pidatonya yang terakhir.Sepeninggal pohon lontar, Ayah memang lebih sering bicara sendiri. Tahun 2003 sudah datang. Ayah bergumam. Seolah-olah begitu pentingnya tahun itu. Seolah-olah tahun itu akan mengubah segalanya. Pasar bebas di seantero Asia Tenggara. Padahal, banyak orang belum siap. Banyak yang belum bisa berbahasa Inggris. Belum mengerti pasar modal, fluktuasi harga, maupun indeks gabungan harga saham.Pak Haji Sidik yang paling paham harga beras dan sejarah produksi padi di kabupaten Klaten pun, belum pernah bicara. Ia tidak mengajukan rancang tindak apa-apa. Tak ada action plan. Tak ada cetak biru, blue print,

maupun sekadar resep untuk mengantisipasi AFTA. Ia cuma melayani dan melayani. Ia menggiling beras untuk petani setempat. Ia mentraktir tamu-tamu yang datang ke rumahnya, baik sipil maupun militer, pribumi maupun Tionghoa.Ayah berteman dengan Pak Haji Sidik. Ayah berteman dengan Insinyur Sulistio. Apakah mereka harus dikabari, bahwa ada kemungkinan Ayah berangkat malam ini? Berangkat dalam tanda petik, tentunya. Napasnya semakin jarang. Ia tidak mungkin menghabiskan tahun 2003 dan seterusnya. Ia akan menyusul pohon lontar, yang telah duluan meninggalkan kami."Jangan melawan sinar rembulan," Ayah mengigau lagi. Malam itu bulan bersinar sangat terang. Bukan hanya di jalan tempat Ayah bersepeda pulang dari rapat di kecamatan. Tapi, juga di jendela kamar Tante Yetti, guru sekolah dasar luar-biasa. Tante Yetti adalah seorang pengagum Ayah. Matanya bersinar-sinar setiap kali melihat ayah kami. Semua anak Ibu tahu hal itu.Dan entah kenapa malam itu Ayah pulang larut sekali. Anak-anak sudah tidur. Begitu juga pohon lontar di muka pintu yang kerjanya menampung sinar rembulan dan matahari. Semua sudah terlelap dalam pangkuan alam semesta. Dini hari betul, aku terbangun, mendengar Ayah memasukkan sepeda, lalu sunyi lagi. Seperti ada peristiwa besar yang harus dikuburkan di sini."Ibumu tahu, ibumu tahu...," Ayah mengigau lagi. Tante Yetti itu seperti bunga tapak dara. Ia bisa tumbuh di mana saja. Meskipun jalanan berbatu, bahkan di semen sekalipun. Ia bisa tumbuh dan berbunga di celah-celahnya. Dalam perjalanan panjang hidup ini, Ayah tak bisa menolak tumbuhnya. Ya, selembar tapak dara yang tumbuh di jalan panjang, di bawah naungan pohon siwalan yang terlalu tinggi, dan terlalu merdeka.*** MALAM sudah larut. Ayah tampak sedikit tenang. Napasnya normal. Air mukanya tidak pucat lagi. Tadi mungkin hanya terlalu bersemangat, atau mungkin juga kecapaian. Aliran darah dan pernapasannya terganggu. Atau gara-gara melihat tapak dara yang lain. Begitu banyak tapak dara di Bumi ini. Bukan hanya tapak dara, juga tapak liman dan tempuyung. Semua tumbuh-tumbuhan cantik yang tiba-tiba suka menghadang jalan kita.Tapak dara (Vinca rosea) adalah tumbuhan penumpas kanker payudara. Masyarakat Bali memanggilnya kembang sari cina. Akarnya bisa dijadikan obat pembersih darah dan penawar racun. Tidak mengherankan Ayah jatuh cinta pada obat kanker itu. Moralnya: jangan pandang enteng tanaman liar di sepanjang hidup kita. Sekali dilirik, bisa teringat selamanya.Begitu juga tapak liman (Elephantopus scaber).

Daun tanaman liar ini bisa dijadikan tonik atau penguat, obat batuk, dan nyeri perut. Aku teringat perempuan tinggi, elegan, anggun, yang pada suatu hari datang ke kantor Ayah. Katanya mau mengembalikan buku Ayah yang terbawa olehnya. Tapi, aku curiga, mengapa harum parfumnya sama seperti yang tercium pada Ayah sepulang dari sebuah seminar?Tapak liman, itulah ingatanku pada Tante Lestari dari Cibodas. Ayah memperkenalkan tante itu sebagai istri seorang mandor perkebunan kopi, yang sudah punya tiga orang anak, semua laki-laki. Tapi malam ini, Ayah seperti sedang bermimpi ketika menyebut-nyebut nama Lestari. Ia seperti minta maaf karena tidak menerangkan apa saja manfaat tumbuhan di pinggir lapangan ini.Hidup ini seperti sebuah lapangan, taman, kebun, atau mungkin hutan bagi Ayah. Setiap orang punya perlambang sendiri. Aku sering dipanggilnya sebagai pohon manggis. Garcinia porecta! Manggis hitam, katanya. Memang ada banyak macam manggis. Ada Garcinia mangostana, ada Garcinia dulcis. Tapi, yang terakhir itu bukan manggis biasa, orang Pasar Minggu memanggilnya mundu.Aku bangga menjadi pohon manggis bagi ayahku. Batangnya kuat. Daunnya tebal, kukuh, berkilat-kilat. Ramah pada Matahari dan tidak takut pada sinar Rembulan. Ayah mengajari kami hidup tekun, tumbuh rajin, berkembang, dan berbuah. Semua dilakukan dengan senang hati, dan seindah-indahnya. Lewat tengah malam, sepertinya semua baik. Satu per satu, kami tidur di sekeliling Ayah.Namun, kirakira pukul empat pagi, aku terbangun. Ayah seperti batuk keras sekali. Napasnya kembali tersengal-sengal. Wajahnya pucat. Aku membangunkan adik-adikku. Ayah harus dibawa ke unit gawat darurat. Rumah sakit mana saja. Sekarang juga. Kerongkongnya mengeluarkan suara nyeri. Bukan nyeri, tapi menyeramkan. Pencipta alam, lindungilah Ayah kami.*** AYAH adalah sebatang palem yang lain. Mungkin juga lontar, mungkin juga kurma. Atau kelapa. Terserah pada kami. Ia bisa jadi palem raja, sadeng, kelapa sawit, atau palem puteri. Yang terang batangnya lurus ke angkasa. Buahnya banyak, kami panggil suka-suka kami. Kalau sedang pelit, ia mirip palem raja. Kalau sedang pemurah, ia adalah nyiur yang amat lebat buahnya.Sayangnya, sepeninggal lontar ia banyak pidato. Ia mengingatkan orang pada AFTA. Entah itu Asean Free Trade Agreement. Entah pula Association of Temperate Agroforestry. Begitu banyak hal disingkat AFTA. Termasuk di antaranya Australian Federation of Travel Agents, dan American Family Therapy

Academy. Yang terakhir ini sebuah lembaga nirlaba, berpusat di Miami Florida, sejak 1977. Tujuannya mengembangkan pemikiran sistematis dalam membangun hidup berkeluarga, terkait dengan pemahaman ekologi.Aku senang Ayah banyak membaca. Sejak ada komputer, kegemarannya makin berkobar-kobar. Komputer adalah perpustakaan paling praktis baginya. Melalui Internet, Ayah bisa mengunjungi berbagai pusat kajian ilmiah, membaca berbagai koran dan majalah, bahkan mencari kutipan dari bermacam buku. Tidak mengherankan ia menjadi semakin kaya dan bernas pada akhir hidupnya.Memang begitulah yang kami rindukan pada setiap manusia Indonesia. Makin tua makin rajin belajar, makin ingin tahu. Makin bersungguh-sungguh dalam memahami dan menggali makna kehidupan. Ayah telah memberi contoh dengan sebaik-baiknya. "Yang tidak bisa berbahasa Inggris, sebaiknya mati saja pada tahun 2003," katanya pada suatu ceramah kepada anak-anak muda.Ayah kecewa pada minat belajar bahasa asing yang rapuh, dan nyaris tak berkobar di antara para remaja. Bahasa itu, menurut ayahku, tidak bisa diajarkan. Bahasa itu harus dipelajari. Meskipun sepuluh tahun tinggal di Bandung, kalau tidak mau belajar bahasa Sunda, tetap saja tidak bisa. Sebaliknya, meskipun tinggal di dusun terpencil, bila rajin buka kamus, kita bisa tahu nama Latin semua satwa dan tanaman.*** PUKUL setengah enam, ketika matahari terbit, Ayah menghembuskan napas terakhirnya. Kalimatnya yang penghabisan kami catat, persis seperti tertulis di sini, "Jangan melawan Rembulan." Ayah seolah-olah ingin berpesan agar kami tidak memusuhi Ibu. Kami harus selalu mendengarkan Ibu. Kami tidak boleh berargumen apa pun, bila Rembulan bicara.Aneh, sekali! Ibu bukan Rembulan, tapi siwalan, Borassus flabellifer yang kuat, cantik dan setia. Mungkin Ayah lupa. Pohon lontar yang sangat dicintainya itu sudah pergi dulu. Atau ada "rembulan" beneran, barangkali. Mengapa Ayah memanggil rembulan sebagai Ibu? Ibu Presiden Megawati? Ah, siapa pun Rrembulan, siapa yang mau melawan?Yang terang, aku, kakak dan adikku, anak-anak siwalan ini, kini menjadi yatim piatu. Tetapi, itu tidak menghalangi kami tumbuh dan terus berkembang. Termasuk kalau kami ingin menjadi pohon-pohon yang lain. Aku pohon manggis hitam, kakak memilih jadi asam jawa, dan si kecil, yang bungsu adalah pohon salam. Ia pohon

asli Indonesia. Nama latinnya Syzygium pollyanthum, tingginya bisa 25 meter, teguh dalam badai, seperti ibunya.Si pohon asam jawa, Tamarindus indica, mirip seperti Ayah. Ia sibuk dengan dunianya sendiri. Dunia ilmu pengetahuan dan kemerdekaan. Ia tidak takut cahaya Rembulan. Ia terus tumbuh ke langit, ada atau tidak ada AFTA, perdagangan bebas di seantero Asia Tenggara. Ia mendengar sisi lain pesan Ayah. Katanya juga jelas dan tegas, "Jangan takut pada hutan, ada atau tidak ada Rembulan."(Sebagai ziarah abadi, untuk Muhammad Saleh Kismadi, yang gugur sebelum tahun 2003)

Perempuan Semua Orang
Teguh Winarsho AS Sumber: Kompas, Edisi 12/22/2002 IA datang saat senja sekarat di ambang malam. Langit bergetar, meremang, bagai habis terbakar. Ada bau ilalang garing diembus angin menggerus lambungnya saat menaiki undakan teras. Juga sayup jerit, entah dari mana, begitu miris, terdengar berulang-ulang. Ia tampak takut, tapi niatnya tak surut. Ia terus melangkah. Gaunnya sesekali terkibar dihantam angin. Membuat bagian-bagian tertentu tubuhnya kadang menyembul teramat menggairahkan.Namun, baru beberapa jengkal tiba-tiba ia berhenti. Berdiri gamang di depan pintu. Menyeka titik-titik keringat di sekitar dahi seperti angin menghapus keraguan dalam hati. Ia terus berdiri. Menunggu seseorang membuka pintu. Dalam hati ia berharap seseorang lari tergopoh-gopoh dari dalam rumah

menyambutnya dengan senyum ramah lalu mendekap tubuhnya dengan hangat. Mungkin juga sedikit kata-kata yang bisa membuat perasaannya bahagia. "Bagaimana kuliahmu hari ini, Mai? Kau tampak capai sekali. Mandilah dengan air hangat." Atau kecupan mesra di pipi. Di dahi. Tetapi, itu sia-sia. Lama ia menunggu hingga sekilas dari jauh tubuhnya tampak mengeras seperti patung batu.Malam merayap. Di langit bintang-bintang berkerlip seperti sinyal satelit. Dingin menembus tulang. Tetapi, ia masih berdiri di depan pintu. Masih menunggu seseorang. Tetapi, pintu itu belum juga terbuka. Dan ia masih mencoba menunggu. Lama. Lama... Hingga seperti ada sesuatu yang mengingatkan, serta-merta pipinya melesung diikuti senyum tipis merekah di bibir mungilnya yang merah. Cepat ia ulurkan tangan memutar gagang pintu. Terdengar bunyi engsel berkerit memecah sunyi. Lalu, remang lampu 25 watt menyergap kedua belah matanya. Sesaat kelopak matanya mengelepak bagai sayap burung luka. Lalu lengang.Gemetar ia melangkah. Mengedarkan pandang. Menahan jantungnya yang tiba-tiba berdebar. Tetapi, sepi. Ruang tamu itu kosong. Tampak kotor, menjijikkan. Meja, kursi, almari, berjumpalitan ditingkah pecahan guci, vas bunga, cermin asbak, dan akuarium. Sulur laba-laba menghiasi tembok. Juga sedikit bercak darah pada gerutan kasar di tembok,-ah, ia ingat, gerutan itu tentu bekas benturan kepala Papa, sebelum kepalanya rekah dibacok golok. Papa tak sempat menjerit sebab lehernya

dicekik. Dan bercak darah itu? Benarkah bercak darah itu milik Mama?Pelan ia melangkah mendekat. Mengulurkan tangannya yang putih bagai menguar cahaya kristal. Hingga pendar lampu di atasnya layu terhisap. Ah, lampu itu rupanya masih menyala meski tak cukup terang. Ia lupa, tetapi boleh jadi dulu ia yang menyalakan lampu itu. Hati-hati ia letakkan telapak tangannya pada bercak darah dan gerutan kasar di tembok. Jantungnya kembali berdesir seperti dipenuhi debu pasir. Seperti kembali diliputi kenangan buruk yang tak kunjung berakhir. Ia jongkok, merunduk, ingin mencium bercak darah di tembok. Tetapi, urung. Di lorong jauh, dua ekor tikus sebesar lengan bercericit berkejaran lalu lenyap di ruang makan. Mengejutkan!Susah payah ia mencoba berdiri tegak. Mengatur napas yang mendadak sengal. Lama ia berdiri menatap gerutan kasar dan bercak darah pada tembok itu. Hingga bulu kuduknya meremang. Lututnya bergetar hebat. Dan di kepalanya berkelebat bayangan puluhan orang bersenjata tajam. Mengkilat. Wajah-wajah beringas. Mata-mata merah. Melotot. Berteriak serupa kesurupan. Ya, ya, ia kembali bisa melihat kelebat pedang dan golok itu, saat ini, dalam remang cahaya lampu terasa menyilaukan. Juga suara orang-orang itu, berteriak, memaki, mengumpat penuh kebencian. Lalu tawa mereka,

mengingatkannya pada kawanan serigala liar. Tetapi, mereka bukan binatang sebab bisa bicara dan tertawa.*** BAYANGAN itu begitu kental. Membuat ia kian gemetar, menggigil ketakutan. Sekian detik kakinya terpahat di lantai tak bisa bergerak. Wajahnya memucat bagai tak teraliri darah. Ia sangat tersiksa. Ia ingin berontak, berteriak, namun tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Tenggorokannya seperti tercekik. Ia ingin menangis, namun air matanya enggan tumpah. Malam kian mencekam. Keringat di dahinya kembali berleleran. Tidak lama kemudian, lagi-lagi seperti ada sesuatu yang mengingatkan, tiba-tiba ia tersenyum tipis, menepiskan tangan, menggeleng pelan. "Tidak! Itu masa lalu. Sudah lewat!" Seketika bayangan puluhan orang berwajah beringas itu lenyap. Malam kembali senyap.Ia kembali meneruskan langkah masuk ke ruang tengah, hati-hati menghindari pecahan kaca atau binatang semacam kecoa. Juga suara langkah kakinya sendiri yang boleh jadi akan menimbulkan kecurigaan. Di ruang tengah matanya nanar menatap foto keluarga. Foto itu buram tertutup debu. Ia masih

ingat, foto itu diambil hanya beberapa jam usai acara wisuda yang melelahkan. Ia mengenakan toga, diapit Papa dan Mama tersenyum bangga. Di bawah foto tertera namanya dalam huruf Cina: Zhao Mai Ling.Ia melangkah menghampiri foto itu, meniup debu yang menebal pada kaca pigura, mengusap-usap dengan jemarinya, hingga wajah Papa, Mama, dan dirinya tampak semakin nyata. Tetapi, belum puas ia menatap foto itu tiba-tiba seperti ada badai yang mengempas keras tubuhnya. Membuat tenaganya sesaat lesap, tubuhnya huyung seperti mau roboh. Bayangan puluhan orang berwajah beringas kembali berkelebat di batok kepalanya seperti kelebat cahaya di malam buta. Kilatan golok saat membacok kepala Papa hingga rekah, juga kilatan pedang saat menebas perut Mama hingga ususnya terburai. Dan darah. Darah yang muncrat dari perut Mama kala itu membuat warna udara memar seperti

tertampar.Cukup lama ia menghimpun kekuatan sebelum kembali berhasil menjejakkan kedua kakinya masuk ke ruang makan. Di situ ia kembali terpaku lama. Terbayang kesibukan saat pagi hari menyiapkan sarapan untuk Papa dan Mama: teriakan Papa minta disiapkan kopi. Atau jerit Mama dari kamar mandi sebab handuknya ketinggalan. Semua itu begitu jelas terbayang. Malamnya ia nyalakan lilin, duduk mencangkung menghadap meja makan menunggu Papa dan Mama pulang. Meski sesekali kedua orangtuanya tidak pulang lantaran pergi ke luar kota sehingga larut malam ia harus makan sendiri lalu meniup lilin-lilin itu dengan perasaan sepi.Tempat lilin itu hingga kini posisinya masih belum berubah. Juga gelas, piring, mangkok, sendok, dan botol-botol kecil yang berjajar rapi di rak samping. Ia ingin sekali memegang benda-benda itu, mengusap-usapnya, mengelus-elusnya, merasakan kembali geliat kerja setiap pagi yang menggairahkan. Mungkin bisa membuat dirinya sedikit tenang. Tetapi, mendadak seperti ada sesuatu yang menahan tangannya. Begitu kuat. Entah apa. Pelan ia merapat tembok. Gamang. Sekali lagi ia merasakan tenaganya raib, seperti ada kekuatan gaib menyedotnya.Namun, ketika tanpa sengaja sepasang matanya menangkap selarik cahaya membersit dari sebuah pintu kamar, perlahan-lahan tenaganya pulih. Jantungnya berkeretap kuat. Tergesa-gesa ia masuk ke kamar itu. Sebuah kamar luas bercahaya lampu muram. Itu adalah kamar miliknya. Di kamar itu ia sering menghabiskan waktunya untuk belajar. Membaca buku pelajaran atau sekadar buku-buku cerita ringan. Nyaris tidak ada yang berubah di kamar itu, selain tampak

kotor berdebu. Meja, kursi, almari, rak buku, kipas angin masih sama seperti empat tahun lalu.Akan tetapi... Ah, ranjang itu? Ranjang itu telah bergeser jauh dari posisi sebenarnya. Juga sprei di atasnya yang acak, kusut. Dan noda darah yang menempel di sprei itu? Milik siapakah? Bukan milik siapa-siapa. Tetapi, miliknya, kala puluhan orang berwajah beringas puas membantai Papa dan Mama, seperti kesetanan mereka mendobrak pintu kamar dan memperkosanya. Bergiliran. Hingga ia pingsan. Berjamjam. Ketika siuman ia sangat kecewa kenapa malaikat maut tidak mencabut nyawanya sekalian. Ia ingin mati saja. Menyusul Papa dan Mama. Berkali-kali ia mencoba bunuh diri, namun selalu gagal. Ia terus hidup. Perutnya kian membesar menyimpan orok bayi. Terus tumbuh, tumbuh, dan tumbuh hingga suatu kali entah kenapa ia merasa sangat bodoh jika harus bunuh diri.*** ADA banyak ruangan yang sebenarnya ingin ia lihat, sebanyak kenangan yang terus mendesak di batok kepalanya. Tetapi, ia takut. Waktu beringsut cepat. Sebentar lagi pagi tiba. Pagi yang akan membuat wajahnya pucat. Ia harus segera meninggalkan rumah itu sebelum terang menyentuh tanah. Sebelum orang-orang ke luar rumah. Selain itu, ia memang mesti segera kembali ke hotel sebelum anak laki-lakinya bangun lalu menanyakan keberadaannya kepada baby sitter. Ia tak ingin membuat bocah itu sedih dan menangis seharian hanya gara-gara ia tak ada di sampingnya saat bangun tidur.Dingin pagi menyergap tubuhnya saat keluar rumah. Tergesa-gesa ia mendorong pintu pagar depan hingga menimbulkan suara berisik. Sejenak ia menoleh menatap rumah di belakang, lalu kembali melangkah cepat-cepat menyusuri trotoar. Tetapi, ia terlalu letih untuk terus melangkah. Dan seperti tanpa sadar, tangannya melambai menghadang taksi yang kebetulan melintas. Letih, ia jatuhkan pantatnya di jok belakang.Mula-mula taksi meluncur cepat, tetapi tiba-tiba melambat dan berhenti persis di tikungan gelap. Pada saat bersamaan tiga orang laki-laki muncul dari balik semaksemak. Menenteng kapak. Mata mereka menyala, berkilat-kilat. Ia sangat ketakutan, meminta sopir taksi agar terus menjalankan kendaraannya. Tetapi, sopir taksi itu justru tertawa lebar. Tidak lama kemudian ia merasakan tengkuknya sangat nyeri.Lima jam setelah kejadian itu, di sebuah kamar hotel, seorang bocah laki-laki menangis terisakisak saat bangun tidur. Bocah laki-laki itu sejak sore hanya ditemani seorang baby sitter yang pagi ini menghilang usai menguras uang dan perhiasan dari sebuah tas mungil di

laci meja. Beruntung seorang petugas kebersihan hotel memergoki bocah itu, menenangkannya, lalu diam-diam membawa pulang ke rumah. Memberinya makanan enak, juga segelas susu.Ah, bocah laki-laki tampan, harganya pun pasti mahal, batin petugas hotel itu sedikit heran dengan mata sipit yang dimiliki bocah itu lantaran kulitnya gelap seperti orang kebanyakan. ***

Depok - Yogya, 1998-2002

Kepada Tiankong, Langit yang Jauh
Naning Pranoto Sumber: Kompas, Edisi 12/15/2002 OHHHH... wangi! Tiba-tiba tercium wanginya aroma melati. Bisa kupastikan, lebih wangi dari aroma peri dalam dongeng yang pernah dituturkan oleh almar-humah mbah buyut-ku. Tetapi, cerita yang kutulis ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dongeng mbah buyut-ku itu. Melainkan sesuatu yang kujumpai di dalam pesawat, yang menerbangkanku dari Singapura ke Jakarta.Ternyata, aroma melati itu tidak hanya menghentak daya penciumanku, tetapi juga penciuman orang-orang sekitarku. Khususnya mereka yang duduk di VIP-seats, bersumbernya embusan aroma wangi tersebut. "Wowww!" tiba-tiba kudengar bisik-bisik di sekitarku ketika muncul seorang perempuan muda mencari-cari seat. Ia bertubuh tinggi semampai, berkulit warna almond, bergaun panjang, ketat, warna merah darah. Rambutnya hitam legam, panjangnya sebahu diurai lepas. Tangan kirinya menjinjing kopor kecil dan tangan kanannya membawa barang yang dikantungi kain sutera keemasan. Matanya yang dibingkai alis tebal tampak berbinar-binar. Pikirku spontan, rupanya dialah si peri, sumber wangi aroma melati. Ia lalu kunamai Si Peri. "Number ten-bi...! Yes, it's mine. Sorry!" kata Si Peri, suaranya lembut, Inggrisnya beraksen Amerika kental. Perilakunya santun.Ia menghampiriku yang duduk di seat nomor 10-A. Ternyata seat-nya nomor 10-B. Jadi, ia duduk di sampingku? Astaga! Jantungku berdetak cepat. Itu, bukan karena aroma wangi melati segar yang menebar dari tubuhnya, melainkan, karena action Si Peri. Ia menaikkan kopernya ke bagasi yang ada di atas seat, belahan gaun panjangnya membuka dan pahanya yang mulus tampak kemana-mana. Paha itu menjadi perhatian banyak orang. Tetapi ia tampak tenangtenang saja. Dengan kalem ia menutup bagasi, lalu duduk di sampingku sambil menyapaku dengan renyah, "Hello, how are you?"

"Good! Thanks!" sahutku kikuk dalam mengimbangi suara renyahnya. Kata temantemanku, aku memang jenis pria yang suka kikuk dalam menghadapi perempuan, apalagi perempuan asing-yang belum dikenalnya.Tetapi, kekikukan yang kali ini berbeda dengan kekikukan yang biasanya kurasakan. Biasanya, aku merasa kikuk menghadapi perempuan karena aku merasa tidak punya bahan menarik, yang bisa kusajikan sebagai bahan pembicaraan. Sedangkan kekikukanku kali ini, karena aku terheran-heran oleh penampilan Si Peri yang superwangi dan keberaniannya dalam berbusana. Apa sih profesinya?. Apakah ia seorang foto-model? Atau ia seorang semacam call-girl? Ahh, otakku jadi kotor menuduhnya yang tidak-tidak. "Maaf. Boleh tahu? Anda mau ke Jakarta atau ke Bali?" tanyanya, beberapa menit setelah pesawat take-off menuju Jakarta. Sungguh, pertanyaannya mengejutkanku, karena aku sedang memikirkan profesinya. "E... saya mau ke Jakarta. Anda? Anda mau kemana?" sahutku agak gugup, karena tidak menyangka sama sekali kalau ia mau menegurku. "Saya mau ke Tian-Tiangkong untuk melaksanakan li, yaitu berbakti kepada keluarga!" sahutnya cepat. "Anda mau ke Tian-Tiankong untuk berbakti kepada keluarga? Sungguh mulia niat Anda. Tetapi, di mana Tiankong itu?" tanggapku spontan, karena merasa asing terhadap tempat yang disebutnya. "O, sorry, saya berbahasa Mandarin," ralatnya, "...ee.. maksud saya, Tian-Tiankong itu artinya Langit. Tapi, bisa juga dimaknakan Surga. Ya, saya mau ke Langit. Langit Yang Jauh...! Ke Surga!" "Maksud Anda?" keningku spontan berkerut. "Nah...nah... Anda bingung kan? Anda tidak tahu di mana letak Langit Yang Jauh?" ia tersenyum,

"Itu, negeri yang kata waipo-ya, ya kata nenek saya, Tiankong itu sebuah negeri yang sangat indah, seindah Surga. Puluhan tahun ia merindukannya!" senyumnya tiba-tiba menghilang, tergantikan kerut-kerut bibir gemetar, menahan tangis. "...tapi, kerinduannya tidak pernah terwujud secara nyata." Ia mengusap butir-butir airmatanya yang meleleh di kedua pipinya.Aku bingung. Aku tidak memahami alur pembicaraannya. Maka, aku lalu memberanikan diri untuk minta penjelasan. "Hem...Miss...," "Nama saya Peony. Maksud saya Peony Wu...," ia memenggal kalimatku. "Ya, Miss Peony, maafkan saya. Saya tidak memahami apa yang Anda bicarakan. Maukah Anda memperjelasnya?" pintaku, karena penasaran. "Tentu saja Anda tidak memahaminya, karena alur pembicaraan saya rancu. Itu, karena saya tidak tahu, dari mana saya harus memulainya. Materinya terlalu panjang dan rumit. Ini menyangkut sejarah." "Menyangkut sejarah? Sejarah apa?" aku semakin tidak mengerti. "Sejarah perjalanan hidup orang-orang Tionghoa di Indonesia paska Perang Kemerdekaan Indonesia sampai dengan detik-detik meletusnya G 30 S PKI. Nah, nenek saya termasuk di dalamnya..." "E, nenek Anda, pernah tinggal di Indonesia?" tiba-tiba aku menemukan clue kemana arah pembicaraan Si Peri yang mengaku bernama Peony Wu. "Yes! Anda cerdas. Saya suka," mata Peony yang semula redup, kembali berbinar. "Jadi, Anda paham apa yang saya maksud dengan Langit Yang Jauh?" "Indonesia?" aku menebak dengan ragu-ragu. "Yes, absolutely correct! Thanks!" ia bersorak, sambil mengguncang-guncang tanganku, "Anda cerdas!" pujinya berkali-kali. Pujiannya membuatku jadi merasa akrab dan dekat dengannya.

Maka, kulanjutkan dialogku dengannya, "Jadi, Anda mau ke Indonesia? Ke kota mana?" tanyaku kemudian. "Ke Batu-Malang. Di kota itu nenek saya lahir, dibesarkan dan menikah serta punya tiga anak. Setelah menikah, ia dagang palawija, di Surabaya. Waktu perang kemederkaan ia menyumbangkan dagangannya untuk dapur umum, memberi makan para pejuang. Itu, karena kecintaannya terhadap Indonesia. Ironisnya, tahun '62, ia dipulangkan oleh pemerintah Indonesia ke Tiongkok, karena nenek saya tidak mau ganti nama Indonesia. Nenek saya bilang, ia terkena PP-10. Anda tahu peraturan itu?" ia memandangiku. "Maaf, saya tidak tahu!" aku berterus terang. "Sama. Yang saya tahu, karena PP-10 itu nenek saya kembali ke Tiongkok. Karena ia lahir dan besar di Indonesia, maka ia merasa asing terhadap Tiongkok.

Keterasingannya itu membuatnya gamang dalam menjalani hidup,di Tiongkok, apalagi ketika Mao Zedong memproklamirkan Revolusi Kebudayaan. Nenek saya sempat gila karena disiksa oleh student yang menjadi Red Guard Mao. Itu, gara-gara nenek saya penganut Kong Hu Chu yang taat. Untung, ia bersama sepupunya berhasil melarikan diri ke Macao. Tetapi kedua anaknya hilang. Yang hidup tinggal ibu saya yang kemudian menikah dengan orang Portugis...!" "O, jadi Anda berdarah Portugis?" selaku, sambil mengamati wajahnya yang memang tidak mirip Tionghoa. "Ya, saya ini blasteran Tionghoa-Portugis, lahir di Macao, besar di Amerika. Kemudian, saya sekarang punya usaha di Singapura, buka butik!" "O, makanya Anda modis." Komentarku tentang dirinya. "Oiya, nenek Anda sekarang di mana?" tanyaku, karena aku ingin tahu keberadaan neneknya. "Nenek saya sekarang di sini! Di pesawat ini!" ia memandangiku, "...karena dia sedang menuju ke Langit Yang Jauh. Suatu tempat yang ia rindu-kan..."

"Ah, Anda jangan bercanda," tanggapku serius. "Saya tidak bercanda. Nenek saya sekarang memang sedang berada di pesawat bersama saya, bersama Anda dan bersama semua penumpang pesawat ini," lagi-lagi ia memandangiku. Kemudian, ia mengambil sesuatu dari kantung sutera warna keemasan yang tadi kulihat dibawanya, "Nenek saya ada di sini. Di dalam botol perak ini!" ia menunjukkan ujung botol yang ada di kantung sutera. "Ohhh...," aku tidak bisa berkata apa-apa selain menarik nafas. "Nenek saya meninggal dua bulan yang lalu, usianya 78 tahun. Ketika ia dipulangkan ke Tiongkok, usianya 38 tahun. Jadi, selama 40 tahun ia merindukan Indonesia yang disebutnya sebagai Langit Yang Jauh. Ia menyebut demikian karena untuk ke Indonesia baginya tidak mudah. Ia takut, kedatangannya ditolak pemerintah Indonesia. Maka, ia lalu berpesan, ketika meninggal minta dikremasi dan abunya ditaburkan di Gunung Sriti-Batu. Katanya, tempat itu sangat indah bak surga. Di Gunung Sriti ia punya kenangan manis, bertemu dengan seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya. Sayangnya, suaminya itu tidak mau menyertainya kembali ke Tiongkok. Ia memilih tinggal di Indonesia, mengganti namanya dengan nama Indonesia dan kemudian ia menikahi perempuan Boyolali. Kabarnya, ketika meletus G 30 S PKI, suami nenek saya itu dibunuh dengan cara yang keji oleh penduduk setempat, karena ia dituduh PKI!" mata Peony membasah lagi, "tapi, bagaimanapun nenek saya tetap menganggap Indonesia adalah Tiankong, sebuah Surga dan ia ingin menjadi salah satu penghuninya," sambung Peony tersenyum getir. Ia lalu mengajakku ke Batu- Malang, untuk melaksanakan li bagi neneknya.***

Jakarta, akhir Oktober 2002

Lebaran, Jangan, Jangan...
Gus tf Sakai Sumber: Kompas, Edisi 12/01/2002 AIR. Gelombang. Tolong. Openg megap-megap ketika empasan kuat

membenamkannya ke perut laut. Tangan kecilnya menggapai-gapai, mengepak-ngepak, tetapi semua sia-sia. Setiap gerakan, setiap tenaga yang ia keluarkan, membuat bocah itu merasa bagai tambah tak berdaya. Gelombang membalik, mengangkat,

melambungkannya ke permukaan. Udara! Ditariknya napas-argkkhh! Cekuk-cekuk, terbatuk-batuk. Openg terus terbatuk, masih terbatuk-batuk, saat tiba-tiba menyadari tak ada air, tak ada gelombang. Ada gerakan di tempat mana tangannya terpegang. Dibukanya mata. Kesadarannya sempurna: Tuas penggiling. "Ayo giling!" Perintah yang sangat Openg kenal. Dengan napas masih sesak, dengan pandangan masih nanar, dilihatnya Ucok, Amri, Pulu, dan Kabir (teman-temannya) telah menarik tuas penggiling. Di hadapan mereka, Bang Tohar (si sumber perintah) tegak berkacak pinggang, menatap ke arah Openg. Tatapan itu. Mata itu... "Jangan tidur! Ayo giling!" Kembali, telah tiba saat menggiling. Betapa cepat. Bagai tak ada antara. *** MENGGILING, artinya menarik jaring. Disebut demikian karena jaring ditarik dengan tali menggunakan kumparan besar yang mesti mereka putar. Bagi Openg, bukan persoalan memutar atau menggilingnya. Tetapi, jarak waktu antara menarik dan menurunkan itu: tak sampai dua jam. Membuat ia tak bisa betul-betul tertidur. Tak sampai dua jam, dan setiap malam! Siang juga bukan berarti istirahat karena, kalau kebetulan tak menggiling, mereka harus menjemur ikan tangkapan malam kemarin. Betapa melelahkan, betapa meletihkan. Dan mimpi diempas dan dibenamkan gelombang itu, sungguh membuat Openg tambah letih lagi. Dan, itu bukan mimpi pertama. Sudah berkali-kali. Kenapa bisa datang berkali-kali, dan tak berganti dengan mimpi lain yang lebih biak? Atau, tak usah mimpi. Lelap saja. Dua jam itu, alangkah baik kalau digunakan menghimpun tenaga. Dulu, di hari-hari pertama di malam-malam pertama, dua-dua jam pertama itu digunakan Openg untuk mengenang. Wajah Mak. Wajah Atin. Sedang mengapa

mereka sekarang? Ah. Selalu, Openg ingat dialog itu: "Firasat Mak tak enak. Sebaiknya kau tak pergi." "Aduh... Mak ini bagaimana. Begitu aku pulang, bawa uang, Mak bisa ke Malaysia." "Tapi ... Mak ragu. Jermal, apa itu? Di tengah laut, tak pulang-pulang." "Ah, hanya dua bulan. Dua bulan, Mak! Dan ketika aku pulang, nanti, itu tepat jelang Lebaran. Kita bisa...." "Ya," Atin menyela, "lebaran! Kita bisa buat kue. Beli baju. Belikan Atin baju ya Bang?" "Ya-ya." "Tapi...," Mak masih ragu. "Sudah, Mak. Tenang saja." "Tapi...." "Dah, Mak. Jangan khawatir." Tapi...ternyata Mak benar. Orang-orang itu...telah menipu. Orang-orang dewasa itu... telah menipuku. Segalanya. *** SEGALANYA? Entah. Tetapi, yang jelas, soal upah ternyata tak seperti dikatakan Bang Sulam. Lelaki 40-an yang mengajaknya itu -dan kini entah berada di mana! mengatakan uang yang bakal diterima Openg adalah Rp 400.000 per bulan. Bohong. Bang Tohar, mandor itu, bilang hanya Rp 200.000. Dan itu Openg ketahui setelah berada di sini, di jermal, yang kata Ucok jaraknya delapan mil dari pantai. Jadi, kalau Rp 200.000, uang yang bisa Openg bawa pulang hanya dua kali lipatnya. Empat ratus ribu rupiah, itu tak cukup untuk biaya kerja Mak ke Malaysia. Untuk toke atau cukong saja, kata Mak, butuh Rp 500.000. Ah-ah, bagaimana caranya? Menambah kerja jadi tiga atau empat bulan? Berarti melewatkan lebaran. Openg terbayang Atin. Janjinya. Kue dan baju. Tentu adik perempuannya-yang tahun depan bersikeras ingin sekolah itu-akan sangat kecewa. Lagi pula, tidakkah Mak akan sangat cemas? Dua bulan saja

Mak telah sangat keberatan. Apalagi tiga atau empat! Ah-ah... kenapa mereka, orangorang kampungnya, tak lagi boleh menggali pasir di sungai itu? Padahal, kata Mak, itulah pekerjaan orang-orang kampungnya sejak lama- sampai-sampai desa mereka bernama Kampung Pasir. Apakah salah mereka? Apakah salahnya dengan sungai yang jadi lebih dalam? Openg tak mengerti. Bocah itu tak mengerti akan kehidupan kampungnya yang tiba-tiba berubah. Yang membuat orang-orang kampungnya harus mencari kerja ke mana-mana. Yang membuat kepalanya... kemudian dipenuhi pikiran. Tentang begitu pentingnya uang. Tentang uang yang, kata orang-orang, di negeri Malaysia begitu gampang. Tentang Bapak yang pergi entah ke mana, entah sebab apa, tak pulang-pulang. Tentang Atin yang ingin sekolah. Tentang Nenek, yang tak berhenti sakit. Tentang Mak.... Ah Mak, Mak benar. Mereka telah menipuku. Soal upah mungkin satu hal. Hal lain, lihatlah. Bang Sulam mengatakan pekerjaannya hanya menggiling. Tetapi, ternyata tidak. Dan, kalaupun cuma menggiling, siapa menyangka bahwa menggiling itu bakal siang dan malam? Dan, bila malam, aduh! Dua-dua jam itu, sungguh membuat Openg sangat capek. Ia hanya bisa tidur-tidur ayam. Kepalanya jadi sering pusing. Puasa? Ah! Di sini, tak ada yang namanya puasa. Ramadhan atau tidak bagai tak ada bedanya. Dan, satu lagi. Bang Tohar (tatapan itu, mata itu... Openg takut), kata kabir, kata Pulu, suka... "menindih" malam-malam. Betulkah? *** HARI ini, lima hari menjelang lebaran, Openg mendapat cerita lain. Kata Amri, mereka tak dibolehkan pulang sebelum bekerja tiga bulan. Ha?! Sungguh Openg sangat terkejut. Kerja dua bulannya tinggal dua hari lagi! Malah, bocah itu telah membayangkan bagaimana akan bahagianya bertemu Mak, bertemu Atin, Nenek. Tak tahan-dan tak percaya- akan ucapan Amri, Openg meninggalkan pekerjaannya menjemur ikan, bergegas mencari Bang Tohar. Lelaki besar, gempal, dan kasar itu ia temukan tengah bersama Bang Jamil, si juru masak. Dua lelaki dewasa itu menatapnya. "Apa?!" Suara Bang Tohar bagai menggeledek, mengalahkan deru angin dan desau ombak. Tatapan itu. Mata itu.... Kembali, Openg tiba-tiba takut. "Kata Amri...." "Kata Amri apa?!"

"Kata Amri... kerja harus tiga bulan." "Memang tiga bulan. Kenapa!" "Aku tidak bisa... harus pulang...." "O, pulang?" Bang Tohar berdiri, berjalan menghampiri bocah itu. Jadi, kau mau pulang ya?" Lelaki besar itu membungkuk, menyodorkan wajahnya ke muka Openg. Napasnya mengoar. Busuk. "Boleh! Kau boleh pulang! Tapi, dengan berenang!" Openg tertegun. Tertunduk. Tertunduk. Lututnya... menggigil. "Bagaimana! Kau Bisa?!" Openg tak bersuara. "Hua ha-ha...! Bisa?" Openg membalikkan tubuh. "Jika pun bisa, kau hanya boleh bawa seratus ribu. Untuk sisanya, kau harus kembali ke sini! Bekerja lagi!" Openg melangkah. Dengan marah, benci, dan takut. Mak... mereka benar-benar telah menipuku. Openg ingin berteriak, ingin memekik, ingin menangis. Hahhh.... "Bagaimana?" Ada sentuhan lembut di pundaknya. Amri. Openg tak menjawab. Matanya menatap ke sana, ke bayangan pantai yang antara tampak dan tidak. Delapan mil. Betapa jauh. Kenapa, waktu itu, ia tak percaya pada firasat Mak? Kenapa... kenapa Lebaran tak datang sebulan lagi? Kenapa.... Delapan mil. Delapan mil! Kenapa tak ia coba? *** TOLONG. Openg megap-megap ketika empasan kuat membenamkannya ke perut laut. Tangan kecilnya menggapai-gapai, mengepak-ngepak, tetapi semua sia-sia. Setiap gerakan, setiap tenaga yang ia keluarkan, membuat bocah itu sungguh merasa tambah tak berdaya. Gelombang membalik, mengangkat, melambungkannya ke permukaan. Udara! Ditariknya napas -argkkhh! Cekuk-cekuk, terbatuk-batuk. Openg terus terbatuk, masih terbatuk-batuk, saat tiba-tiba menyadari tak ada air, tak ada gelombangnya. Ada tangan besar, kasar, membungkam mulutnya. Dibukanya mata. Kesadarannya sempurna: Bang Tohar! Bang Tohar...tengah menindihnya. Dengan tangan lain, Bang

Tohar juga tengah berusaha melorotkan celananya! O tidak! Ia berontak. Melawan. Menendang-nendang. Tetapi, tenaga Bang Tohar bagai kepiting baja! Oh, tidak! Jangan! Kenapa... siang tadi ia batalkan rencananya? Kenapa ia tak berani terjun berenang menempuh delapan mil itu? Kenapa? Padahal ia bocah Kampung Pasir! Padahal ia orang sungai! Padahal... okh! Jangan, jangan.... ***

Payakumbuh, 2002

Lukisan Kaligrafi
A Mustofa Bisri Sumber: Kompas, Edisi 11/24/2002

Bermula dari kunjungan seorang kawan lamanya Hardi. Pelukis yang capai mengikuti idealismenya sendiri lalu mengikuti jejak banyak seniman yang lain: berbisnis; meski bisnisnya masih dalam lingkup bidang yang dikuasainya. Seperti kebanyakan bangsanya, Hardi sangat peka terhadap kehendak pasar. Dia kini melukis apa saja asal laku mahal. Mungkin karena kecerdasannya, dia segera bisa menangkap kela-kuan zaman dan mengikutinya. Dia melukis mulai perempuan cantik, pembesar negeri, hingga kaligrafi. Menurut Hardi, kedatangannya di samping silaturrahmi, ingin berbincang-bincang dengan Ustadz Bachri soal kaligrafi. Ustadz Bachri sendiri yang sedikit banyak mengerti soal kaligrafi Arab, segera menyambutnya antusias. Namun, ternyata tamunya itu lebih banyak berbicara tentang aliran-aliran seni mulai dari naturalis, surealis, ekpresionis, dadais, dan entah apa lagi. Tentang teknik melukis, tentang komposisi, tentang perspektif, dan istilah-istilah lain yang dia sendiri baru dengar kali itu. Sepertinya memang sengaja menguliahi Ustadz Bachri soal seni dan khususnya seni rupa. Yang membuat Ustadz Bachri agak kaget, ternyata, meskipun sudah sering pameran kaligrafi, Hardi sama sekali tak mengenal aturan-aturan penulisan khath Arab. Tak tahu bedanya Naskh dan Tsuluts, Diewany dan Faarisy, atau Riq'ah dan Kufi. Apalagi falsafahnya. Katanya dia asal “menggambar” tulisan, mencontoh kitab Quran atau kitab-kitab bertulisan Arab lainnya. Dia hanya tertarik dengan makna ayat yang ia ketahui lewat Terjemahan Quran Departemen Agama, lalu dia tuangkan ayat itu ke dalam kertas atau kanvas. Bila ayat itu berbicara tentang penciptaan langit dan bumi, maka dia pun melukis pemandangan, lalu di atasnya dituliskan ayat yang bersangkutan. Kalau tidak begitu, dia tulis ayat yang dipilihnya dalam bentuk-bentuk tertentu yang menurutnya sesuai dengan makna ayat. Ada hurufnya yang ia bentuk seperti mega, burung, macan, tokoh wayang, dan sebagainya. Ustadz Bachri bersyukur atas kedatangan kawannya yang-meskipun agak sok- telah

memberinya wawasan mengenai kesenian, terutama seni rupa. *** RINGKAS cerita, begitu si tamu berpamitan seperti biasa Ustadz Bachri

mengiringkannya sampai pintu. Nah, sebelum keluar melintasi pintu rumahnya itulah si tamu tiba-tiba berhenti seperti terkejut. Matanya memandang kertas bertulisan Arab yang tertempel di atas pintu, lalu katanya, “Itu tulisan apa? Siapa yang menulis?” Ustadz Bachri tersenyum, “Itu rajah. Saya yang menulisnya sendiri.” “Rajah?” “Ya, kata Kiai yang memberi ijazah, itu rajah penangkal jin.” “Itu kok warnanya aneh; sampeyan menulis pakai apa?” Matanya tanpa berkedip terus memandang ke atas pintu. “Pakai kalam biasa dan tinta cina dicampur sedikit dengan minyak za'faran. Katanya minyak itu termasuk syarat penulisan rajah.” “Wah,” kata tamunya masih belum melepas pandangannya ke tulisan di atas pintu, “sampeyan mesti melukis kaligrafi.” “Saya? Saya melukis kaligrafi?” katanya sambil tertawa spontan. “Tidak. Saya serius ini,” tukas tamunya, “sampeyan mesti melukis kaligrafi. Goresan-goresan sampeyan berkarakter. (“Ini apa pula maksudnya?” Ustadz Bachri membatin, tak paham). Kalau bisa di atas kanvas. Tahu kanvas kan?! Betul ya. Tiga bulan lagi, kawan-kawan pelukis kaligrafi kebetulan akan pameran; Nanti sampeyan ikut. Ya, ya!” Ustadz Bachri tidak bisa berkata-kata, tapi rasa tertantang muncul dalam dirinya. Kenapa tidak, pikirnya. Orang yang tak tahu khath saja berani memamerkan kaligrafinya, mengapa dia tidak? Namun, ketika didesak tamunya, dia hanya mengangguk asal mengangguk. Setelah tamunya itu pergi, dia benar-benar terobsesi untuk melukis kaligrafi. Setiap kali duduk-duduk sendirian, dia

oret-oret kertas, menuliskan ayat-ayat yang ia hapal. Dia buka kitab-kitab tentang khath dan sejarah perkembangan tulisan Arab. Bahkan dia memerlukan datang ke kota untuk sekadar melihat lukisan-lukisan yang dipajang di galeri dan toko-toko, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk membeli kanvas, cat, dan kuas. Anak-anak dan istrinya agak bingung juga melihat dia datang dari kota dengan membawa oleh-oleh peralatan melukis. Lebih heran lagi ketika dia jelaskan bahwa dialah yang akan melukis. Meski mula-mula istri dan anak-anaknya mentertawakan, namun melihat keseriusannya, ramai-ramai juga mereka menyemangati. Mereka dengan riang ikut membantu membereskan dan membersihkan gudang yang akan dia pergunakan untuk “sanggar melukis”. Mungkin tidak ingin diganggu atau malu dilihat orang, Ustadz Bachri memilih tengah malam untuk melukis. Istri dan anak-anaknya pun biasanya sudah lelap tidur, saat dia mulai masuk ke gudang berkutat dengan cat dan kanvas-kanvasnya. Kadangkadang sampai subuh, dia baru keluar. Di gudangnya yang sekarang merangkap sanggar itu, berserakan beberapa kanvas yang sudah belepotan cat tanpa bentuk. Di antaranya sudah ada yang sedemikian tebal lapisan catnya, karena sering ditindas. Karena begitu dia merasa tidak sreg dengan lukisannya yang hampir jadi, langsung ia tindas dengan cat lain dan memulai lagi dari awal. Hal itu terjadi berulang kali. “Ternyata sulit juga melukis itu,” katanya suatu ketika dalam hati, “enakan menulis pakai kalam di atas kertas.” Hampir saja Ustadz Bachri putus asa. Tapi, istri dan anak-anaknya selalu melemparkan pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar yang kedengaran di telinganya seperti menyindir nyalinya. Maka, dia pun bertekad, apa pun yang terjadi harus ada lukisannya yang jadi untuk diikutkan pameran. Sampai akhirnya, ketika seorang kurir yang dikirim oleh Hardi kawannya itu, datang mengambil lukisannya untuk pameran yang dijanjikan, dia hanya-atau, alhamdulillah, sudah berhasil-menyerahkan sebuah “lukisan”. Ketika sang kurir menanyakan judul lukisan dan harga yang diinginkan, seketika dia merasa seperti diejek. Tapi kemudian dia hanya mengatakan terserah. “Bilang saja kepada Mas Hardi, terserah dia!” katanya. Dia sama sekali tidak menyangka. ***

MESKIPUN ada rasa malu dan rendah diri, dia datang juga pada waktu pembukaan pameran untuk menyenangkan kawannya Hardi, yang berkali-kali menelepon memaksanya datang. Ternyata pameran-di mana “lukisan” tunggalnya diikutsertakan-itu diselenggarakan di sebuah hotel berbintang. Wah, rasa malu dan rendah dirinya pun semakin memuncak. Dengan kikuk dan sembunyi-sembunyi dia menyelinap di antara pengunjung. Dari kejauhan dilihatnya Hardi berkali-kali menoleh ke kanan ke kiri. Mungkin mencari-cari dirinya. Ada pidato-pidato pendek dan sambutan tokoh kesenian terkenal, tapi dia sama sekali tidak bisa tenang mendengarkan, apalagi menikmatinya. Dia sibuk mencari-cari “lukisan”-nya di antara deretan lukisan-lukisan kaligrafi yang di pajang yang rata-rata tampak indah dan mempesona. Apalagi dipasang sedemikian rupa dengan pencahayaan yang diatur apik untuk mendukung tampilan setiap lukisan. “Apakah lukisanku juga tampak indah di sini?” pikirnya, “di mana gerangan lukisanku itu dipasang?” Sampai akhirnya, ketika acara pidatopidato usai dan para pengunjung beramai-ramai mengamati lukisan-lukisan yang dipamerkan, dia yang mengalirkan diri di antara jejalan pengunjung, belum juga menemukan lukisannya. Tiba-tiba terbentik dalam kepalanya “Jangan-jangan lukisanku diapkir, tidak diikutkan pameran, karena tidak memenuhi standar.” Aneh, mendapat pikiran begitu, dia tiba-tiba justru menjadi tenang. Dia pun tidak lagi menyembunyikan diri di balik punggung para pengunjung. Bahkan, dia sengaja mendekati sang Hardi yang tampak sedang menerang-nerangkan kepada sekerumunan pengunjung yang menggerombol di depan salah satu lukisan. Lukisan itu sendiri hampir tak tampak olehnya tertutup banyak kepala yang sedang memperhatikannya. “Lha ini dia!” tiba-tiba Hardi berteriak ketika melihatnya. Dia jadi salah tingkah dilihat oleh begitu banyak orang, “Ini pelukisnya!” kata Hardi lagi, lalu ditujukan kepada dirinya, “Kemana saja sampeyan. Sudah dari tadi ya datangnya? Sini, sini. Ini, bapak ini seorang kolektor dari Jakarta, ingin membeli lukisan sampeyan.” Astaga, ternyata

lukisan yang dirubung itu lukisannya. Dia lirik tulisan yang terpampang di bawah lukisan yang menerangkan data lukisan. Di samping namanya, dia tertarik dengan judul (yang tentu Hardi yang membuatkan): Alifku Tegak di Mana-mana. Wah, Hardi ternyata tidak hanya pandai melukis, tapi pandai juga mengarang judul yang hebat-hebat, pikirnya. Di kanvasnya itu memang hanya ada satu huruf, huruf alif. Lebih kaget lagi ketika dia membaca angka dalam keterangan harga. Dia hampir tidak mempercayai matanya: 10.000 dollar AS, sepuluh ribu dollar AS! Gila! “Begitu melihat lukisan Anda, saya langsung tertarik;” tiba-tiba si bapak kolektor berkata sambil menepuk bahunya, “apalagi setelah kawan Anda ini menjelaskan makna dan falsafahnya. Luar biasa!” Dia tersipu-sipu. Hardi membisikinya, “Selamat, lukisan sampeyan dibeli beliau ini!” “Katanya, Anda baru kali ini ikut pameran,” kata si bapak kolektor lagi tanpa memperhatikan air mukanya yang merah padam, “teruskanlah melukis dari dalam seperti ini.” (“Melukis dari dalam? Apa pula ini?” pikirnya) Wartawan-wartawan menyuruhnya berdiri di dekat lukisan alifnya itu untuk diambil gambar. Dia benar-benar salah tingkah. Pertanyaan-pertanyaan para wartawan dijawabnya sekenanya. Mau bilang apa? Besoknya hampir semua media massa memuat berita tentang pameran yang isinya hampir didominasi oleh liputan tentang dirinya dan lukisannya. Hampir semua koran, baik ibu kota maupun daerah, melengkapi pemberitaan itu dengan menampilkan fotonya. Sayang dalam semua foto itu sama sekali tidak tampak lukisan alifnya. Yang terlihat hanya dia sedang berdiri di samping kanvas kosong! Beberapa hari kemudian, beberapa wartawan datang ke rumah Ustadz Bachri. Bertanya macam-macam tentang lukisan alifnya yang menggemparkan. Tentang proses kreatifnya, tentang bagaimana dia menemukan ide melukis alif itu, tentang prinsip keseniannya, dlsb. Seperti ketika pameran dia asal menjawab saja. Ketika makan siang, istri dan anak-anaknya ganti mengerubutinya dengan berbagai pertanyaan tentang lukisan alifnya itu pula.

“Kalian ini kenapa, kok ikut-ikutan seperti wartawan?!” teriaknya kesal. “Tidak pak, sebenarnya apa sih menariknya lukisan Bapak? Kok sampai dibeli sekian mahalnya?” tanya anak sulungnya. “Kenapa sih Bapak hanya menulis alif?” tanya si bungsu sebelum dia sempat menjawab pertanyaan kakaknya, “mengapa tidak sekalian Bismillah, Allahu Akbar, atau setidaknya Allah, seperti umumnya kaligrafi yang ada?” Istrinya juga tidak mau kalah rupanya. Tidak sabar menunggu dia menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anaknya. “Terus terang saja, Mas, sampeyan menggunakan ilmu apa, kok lukisanmu sampai tidak bisa difoto?” Ustadz Bachri geleng-geleng kepala. Kepada para wartawan dan orang lain, dia bisa tidak terus terang, tapi kepada keluarganya sendiri bagaimana mungkin dia akan menyembunyikan sesuatu. Bukankah dia sendiri yang mengajarkan dan memulai tradisi keterbukaan di rumah. “Begini,” katanya sambil menyantaikan duduknya; sementara semuanya menunggu penuh perhatian, “terus terang saja; saya sendiri sama sekali tidak menyangka. Kalian tahu sendiri, saya melukis karena dipaksa Hardi, tamu kita yang pelukis itu. Saya merasa tertantang.” “Saya sendiri baru menyadari bahwa meskipun saya menguasai kaidah-kaidah khath, ternyata melukis kaligrafi tidak semudah yang saya duga. Apalagi, kalian tahu sendiri, sebelumnya saya tidak pernah melukis. Lihatlah, di gudang kita, sekian banyak kanvas yang gagal saya lukisi. Bahkan, saya hampir putus-asa dan akan memutuskan membatalkan keikutsertaan saya dalam pameran. Tapi, Hardi ngotot mendorongdorong saya terus.” “Lalu, ketika cat-cat yang saya beli hampir habis, saya baru teringat pernah melihat dalam pameran kaligrafi dalam rangka MTQ belasan tahun yang lalu, seorang pelukis besar memamerkan kaligrafinya yang menggambarkan dirinya sedang sembahyang dan di atas kepalanya ada lafal Allah. Saya pun berpikir mengapa saya tidak menulis

Allah saja?” Ustadz Bachri berhenti lagi, memperbaiki letak duduknya, baru kemudian lanjutnya, “Ketika saya sudah siap akan melukis, ternyata cat yang tersisa hanya ada dua warna: warna putih dan silver. Tetapi, tekad saya sudah bulat, biar hanya dengan dua warna ini, lukisan kaligrafi saya harus jadi. Mulailah saya menulis alif. Saya merasa huruf yang saya tulis bagus sekali, sesuai dengan standar huruf Tsuluts Jaliy. Namun, ketika saya pandang-pandang letak tulisan alif saya itu persis di tengah-tengah kanvas. Kalau saya lanjutkan menulis Allah, menurut selera saya waktu itu, akan jadi wagu, tidak pas. Maka, ya sudah, tak usah saya lanjutkan. Cukup alif itu saja.” “Jadi, tadinya Bapak hendak menulis Allah?” sela si bungsu. “Ya, niat semula begitu. Yang saya sendiri kemudian bingung, mengapa perhatian orang begitu besar terhadap lukisan alif saya itu. Saya juga tidak tahu apa yang dikatakan Hardi kepada kolektor dari Jakarta itu, tetapi dugaan saya dialah yang membuat lukisan saya bernilai begitu besar. Termasuk idenya memberi judul yang sedemikian gagah itu.” “Tetapi, sampeyan belum menjawab pertanyaan saya,” tukas istrinya, “sampeyan menggunakan ilmu apa, sehingga lukisan sampeyan itu ketika difoto tidak jadi dan yang tampak hanya kanvas kosong yang diberi pigura?” “Wah, kamu ini ikut-ikutan mempercayai mistik ya?! Ilmu apa lagi? Saya tadi kan sudah bilang, alif itu saya lukis hanya dengan dua warna yang tersisa. Sedikit putih untuk latar dan sedikit silver untuk huruf alifnya. Mungkin, ya karena silver di atas putih itu yang membuatnya tak tampak ketika difoto.” Istri dan anak-anaknya tak bertanya-tanya lagi; tetapi Ustadz Bachri tak tahu apa mereka percaya penjelasannya atau tidak. ***

Kebakaran di Koto
Ismet Fanany Sumber: Kompas, Edisi 11/17/2002 "APA itu yang akan dibangun di situ?" tanya Udin kepada beberapa temannya sambil menunjuk ke seberang jalan dari warung kopi tempat mereka sedang duduk.Kabarnya toko," jawab Dirun. "Toko keperluan sehari-hari."..... ...... "Aku dengar warung kopi. Tapi moderen. Tidak seperti ini," Maman ikut bicara dan memandang sekeliling warung itu. "Menurut kabar yang aku dengar," kata Nurmi, perempuan setengah baya pemilik warung itu, "kedua-duanya. Toko merangkap warung kopi." Cemburu nada suaranya. Anak-anak muda itu mengerti perasaan Nurmi. Sejak peletakan batu pertama bangunan di Simpang, di ujung Desa Koto itu, banyak kabar selentingan tersebar di Koto.Dari kabar selentingan itu dapat diketahui bahwa hampir tidak ada orang Koto yang menyenangi usaha yang akan dibuka di situ, apalagi di Simpang. Seperti tersirat dalam namanya, jalan desa Kota satu-satunya yang membujur dari timur ke barat berujung di situ, berakhir di jalan utama utara-selatan dari Batusangkar ke Sungayang. Karena itu, banyak orang Koto membuka usaha di situ: warung kopi, restoran, toko kelontong, salon, dan lain-lain. Di Simpang orang Koto menghabiskan waktu senggang, duduk-duduk di pinggir jalan, minum kopi, belanja. Di Simpang anak-anak muda yang menganggur berkumpul dan bermain. Simpang merupakan kebanggaan orang Koto. Warung kopi Nurmi punya keunikan sendiri. Di situlah tempat anak-anak muda Koto berkumpul. Warung kopi lainnya dikunjungi penduduk Koto yang lain, tempat mereka makan ketan dan goreng pisang sebelum ke sawah atau sekadar duduk-duduk.Akan tetapi, sejak listrik masuk desa dan penduduk semakin banyak mempunyai televisi, orang Koto lebih senang di rumah menonton, terutama anak-anak dan yang tua-tua. Berangsur-angsur, duduk-duduk atau berkeliaran di Simpang punya makna sendiri: dianggap tidak baik dan tidak berguna. Kesempatan ini diambil oleh preman dan anak muda Koto. Denyut kehidupan Simpang ditentukan oleh mereka. Banyak penduduk

merasa tidak senang dan menganggap kelakuan mereka memburukkan nama Koto. Banyak gunjingan tentang mereka: konon ada yang mencuri untuk mengisi saku. Atau minum minuman keras dan berjudi, sesuatu yang membuat marah orang tua dan pemuka agama desa itu. Tetapi, pemuda Koto pandai menyimpan rahasia mereka. Tidak ada yang mereka lakukan secara terang-terangan. Pemuka masyarakat Koto mendiamkannya saja asal semua itu tetap hanya berbentuk kabar selentingan.Pusat operasi mereka adalah warung kopi Nurmi. Ini menambah jengkel orang Koto. Sudah lama mereka menganggap Nurmi anggota masyarakat yang tidak baik. Tingkah lakunya tidak sopan, pikir mereka. Dia tertawa terbahak-bahak di tempat umum. Selalu bicara dan suaranya keras. Dia berpakaian dengan tidak sopan menurut ukuran Koto. Kalau tidak ketat, bahannya jarang. Atau dipotong sedemikian rupa sehingga bagian atas buah dadanya kelihatan. Dia dari muda menjadi buah mulut orang kampung. "Ah, mereka iri saja," kata Nurmi sambil tertawa bila gunjingan orang tentang dirinya sampai ke telinganya.Nurmi tidak seratus persen salah. Ada unsur iri di dalam masyarakat. Nurmi orangnya menarik, kalau tidak boleh dikatakan cantik. Penuh gairah hidup. Yang jelas, pemuda desa menyukainya. Dia pintar. Bicaranya lancar dan masuk akal. Dia bersekolah sampai tamat SD saja. Orang tuanya berpikir sekolah tidak berguna.Kegemparan pertama di Koto sehubungan dengan Nurmi terjadi waktu tibatiba Datuak Khaidir mengambilnya jadi isteri kedua. Waktu itu Nurmi baru berumur 21 tahun. "Astaga!" kata seseorang yang sedang minum kopi di Simpang. "Si Nurmi itu!" "Apa benar?" kata yang lain. "Benar apanya?" kata yang pertama. "Mereka tertangkap basah. Waktu isteri Datuak sedang bekerja di sawah?" "Mungkin," kata yang ketiga. "Coba lihat genitnya anak itu."

"Padahal umur Datuak hampir tiga kali lipat!" sela yang lain pula. "Kalau kau sekaya dia," kata yang pertama tadi, "kau juga bisa begitu." "Jadi, Si Nurmi itu lihat kayanya aja," pembicaraan makin ramai. "Apalagi," kata yang lain. "Kalau dia nyari yang hebat di ranjang, tentu aku yang dapat," katanya sambil tertawa keras. Yang lain ikut tertawa. "Bagaimana kautahu Datuak itu sudah tak berfungsi di ranjang?" sela seseorang."Siapa tahu, mungkin Datuak itu yang gatal," jawab seseorang. "Jangan Nurmi saja yang disalahkan. "Ya," sahut yang memulai tadi, "berapa, ya, anaknya dengan isteri pertamanya? Delapan kalau tak salah." Dia menjawab pertanyaannya sendiri. "Dan lahan pertama itu sudah gersang, jadi perlu lahan subur yang baru," kata yang duduk di sudut. Semua tertawa lagi. "Dan Nurmi pasti subur. Lihat badannya." Datuak dan Nurmi punya lima anak. Kini sudah besar-besar, paling tinggi tamat SMU, dan semuanya sudah merantau. Di awal perkawinan mereka itulah Datuak membuatkan warung kopi di Simpang itu untuknya. Sekalipun terbuat dari kayu, tempat itu bagus dan menyenangkan. Dibangun bertingkat dua, di bawah warung kopi dan di atas tempat Nurmi tinggal. Sumur gali dengan pompa Sanyo, kamar mandi dan dapur terdapat di lantai bawah, di belakang.Datuak sering di rumah isteri tuanya. Nurmi mengurus usahanya dengan rajin dan berhasil. Datuak senang punya dua isteri yang sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Nurmi gembira punya suami kaya dan memberinya kebebasan. Mulai saat itulah Nurmi mengakrabi preman di Simpang dan belajar

memanfaatkan mereka. Dia memerlukan mereka. Nurmi tahu kalau dia mampu menjinakkan ketuanya, yang lain akan jinak juga. Simpang yang terbuka pada arus jalan raya dan orang yang mondar-mandir tidak jadi soal baginya. Sesekali tempat usaha di situ dimasuki maling, tetapi warung Nurmi tetap aman. "Apa Kak Nurmi tidak keberatan kalau orang menggunjingkan kita?" bisik Amran, ketua preman Simpang saat itu, suatu malam setelah pengunjung warung lainnya pulang. Dia menolong Nurmi menutup dan membersihkan warungnya. "Gunjingan begitu sudah biasa bagiku," kata Nurmi. "Kalau se-mua gunjingan dimasukkan ke dalam hati, hidup kita tidak akan tenteram." "Apa benar," tanya Amran yang 10 tahun lebih muda dari Nurmi, sementara pandangan matanya menggentayangi tubuh Nurmi di bawah sinar listerik 10 Watt di warung itu, "bahwa Kak Nurmi menggoda Datuak seperti berita yang tersebar itu?" "Bagaimana kaupikir?" tanya Nurmi sambil meletakkan tangannya di atas paha Amran. Dia terkejut dan gemetar. Nurmi tahu Amran berada di bawah kekuasaannya. "Kak Nurmi pin... pintar merayu, kan?" kata Amran gagap. "Pintar sekali," kata Nurmi lembut. Amran kelabakan. "Jadi benar? Jadi benar bahwa Kak Nurmi yang merayu Datuak?" "Tidak," kata Nurmi. Pasti suaranya. Didekatkannya badannya pada lelaki itu. Amran kaget, tapi mulai berani. Diremasnya lengan Nurmi. Dia membiarkannya. "Tidak?" "Dia yang menggodaku." "Menggoda?" "Keluargaku sering memburuh di tempat Datuak. Ya, di sawah dan ladang, ya pekerjaan rumah. Aku bekerja dengan dia juga. Terus terang, ada yang kami perlukan

dari dia. Dia kaya, kami miskin. Suatu hari, aku ditidurinya. Di rumahnya. Di tempat tidurnya. Separoh hatiku enggan. Separoh lagi menerima." "O," kata Amran, tak tahu harus mengatakan apa. "Lalu?" "Dia katakan kalau aku hamil, tentu aku dan keluargaku akan malu. Hamil tanpa suami. Begitulah. Akhirnya aku setuju jadi isteri mudanya." "Kok gampang sekali kedengarannya bagi Kak Nurmi?" "Hidup bisa dibuat rumit. Tapi bisa pula dibuat gampang." "Menyesal?" "Penyesalan racun kebahagiaan. Aku ingin hidup bahagia". Diciumnya Amran yang menggigil, bukan karena kedinginan. "Kenapa gunjingan di kampung lain?" tanya Amran di ujung ciuman itu. "Orang percaya Kak Nurmi yang salah. Mencuri suami orang. Merusakkan keluarga orang lain." "Jangan lupa, Amran. Yang kuat menentukan berita, menulis kisah kehidupan Desa. Yang lemah tak kuasa melawannya. Kebenaran tidak penting, Amran. Yang penting apa yang dipercayai orang. Ingat itu." "Seperti sekarang?" kata Amran. "Maksudmu?" "Apa yang terjadi di antara kita tidak penting. Yang penting apa yang dipikirkan orang, kalau mereka tahu." "Ya. Kalau mereka tahu. Ingat, apa yang mereka ketahui tergantung pada penyebar berita. Bukan pembuat berita?"Amran mengangguk. Apa pun yang mereka kerjakan malam itu tidak mengganggu dia lagi. Dia menikmatinya. Dia tahu di antara mereka,

Nurmi lebih berkuasa, lebih mampu melukiskan dan menyebarkan kisah keluar warung itu. Sejak itu, Amran melakukan apa yang diinginkan Nurmi. Dia bisa menggunakan kawan-kawannya kalau perlu. Dia meneguk kenikmatan yang tak diketahui temantemannya sebagai imbalan. *** WAKTU bangunan di seberang jalan itu dimulai, Datuak Khaidir sudah beberapa tahun meninggal. Nurmi sudah lama sendirian ditinggal merantau oleh anak-anaknya. Dia sudah lupa dengan persis berapa orang Amran-Amran yang sudah ditaklukkannya, mengabdi kepadanya, dan meninggalkan masa remaja dan memasuki dunia dewasa di warungnya. Nurmi pintar mengatur siasat. Di luar warung hanya ada bisik-bisik. Tidak ada yang tahu pasti setiap yang terjadi di situ bilamana pintu warung sudah ditutup.Toko seberang jalan itu akhirnya selesai. Peresmiannya meriah. Pemiliknya mengadakan pesta besar, mengundang semua penduduk Koto dan desa tetangga. Nurmi tahu pemiliknya adalah kepala desa Koto dan seorang perantau yang kaya. Mereka ingin membuat toko moderen di Koto, biar Koto tidak tertinggal oleh dunia lain. Toko itu ternyata lebih hebat dari bayangan orang Koto sebelumnya. Mereka membangun Plaza Koto yang menjual segalanya: keperluan sehari-hari, pakaian, alatalat sekolah, dan lain-lain. Tidak lupa, di bagian bangunan di sebelah jalan, ada warung kopi tempat orang yang belanja bisa istirahat sambil minum-minum. Warung itu kelihatan dari warung Nurmi.Plaza Koto menarik pembeli dari semua penjuru. Penuh siang malam. Warung Nurmi kehilangan banyak langganan. Tetapi dia masih untung. Beberapa toko dan warung di Simpang itu sudah gulung tikar. Orang Koto banyak tergoda oleh Plaza Koto itu. Ruangannya pakai AC. Pelayannya muda-muda dan cantik, tidak seperti Nurmi yang usianya sudah mulai dengan angka empat. Hanya beberapa anak muda yang masih berhasil dipikatnya yang kadang-kadang singgah di warungnya. Termasuk ketuanya."Api! Api!" Simpang gempar. "Tolong! Api!"Penduduk berhamburan keluar. Jam dua dini hari itu, Simpang terang benderang seperti siang oleh nyala api. Plaza Koto dilalap api. Waktu Pemadam Kebakaran dari Batusangkar datang, Plaza itu sudah tidak tertolong lagi!*** SEPERTI biasa, setiap kejadian di Koto menjadi bahan gunjingan penduduk desa. Berita tentang kebakaran itu bergalau seperti berita lainnya.

"Kabarnya Plaza Koto itu dibakar orang," kata seorang pengunjung warung Nurmi. "Masa!" protes yang lain. "Dibakar siapa?" "Yang iri hati." "Siapa yang iri?" pembicaraan menjadi ramai. "Banyak. Dengar saja ocehan orang." "Ini kan memajukan Koto," sela yang lain. "Kalau pun ada yang iri, pasti tidak sampai mau membakar begitu? ""Kau pasti?" tanya yang lain lagi. "Ya, aku pikir begitu," kata yang menyela tadi. "Tapi siapa tahu, ya." "Mungkin Setan Api marah," kata pemuda yang duduk dekat Nurmi. "Setan Api? Jangan katakan yang bukan-bukan, ah," kata yang lain. "Bisa saja," pemuda tadi bela diri. "Sok, kan, orang yang punya itu. Mentang-mentang kaya di rantau. Membuat usaha di sini. Dia bersenang-senang entah di mana." "Iya, ya." Ada rupanya yang memakan umpan itu. "Tidak peduli usaha penduduk di sini jadi bangkrut!" katanya berapi-api.Nurmi tersenyum-senyum mendengarkan perdebatan yang semakin hangat itu. Direbusnya air seperiuk lagi. Dia tahu kopinya akan lebih laris malam itu. Dia tidak sabar menunggu para langganannya pulang ke rumah masing-masing. Maman, pemuda yang duduk dekatnya itu, ketua preman Simpang, sore tadi sudah setuju menolongnya menutup dan membersihkan warungnya malam itu seperti dulu sering dilakukan Amran dan

beberapa preman Simpang lainnya!*** Melbourne, Musim bunga 2002

Permata Bernstein
Soeprijadi Tomodihardjo Sumber: Kompas, Edisi 11/10/2002 BARU pertama kali aku dan sahabatku, Alex, menginjakkan kaki di Irkutzsch-malam hari menjelang Natal tahun itu. Ilyushin tua yang mendaratkan kami di Siberia Timur ini landing-nya gentayangan, bikin punggung berdenyutan seperti kena mesin pijat yang disetel buat menggarap otot-urat yang nyeri-nyeri kena lumbalgi. Sejak turun dari pesawat RRC itu, Alex nampak sudah lemas dan capek. Belum lagi lima menit kami duduk di ruang-tunggu, seorang petugas sekuriti bandara itu mendatangi kami berdua yang baru saja meletakkan pantat di sebuah bangku sekadar istirahat duduk sambil menunggu jam berangkat Aerovlot jurusan Moskwa. Follow me please...," kata petugas itu kepadaku. WWW WAku spontan berdiri, memesan pada sahabatku agar menjaga mantel dan handbag besar bawaanku. "Take it with you," perintahnya tegas. Dia ngomong Inggris dengan perfek-bahasa rutin personal sekuriti bandara transit negara mana saja. Mendegup juga jantungku ketika itu. Bukan karena tas dan mantel mesti dibawa (dia tentu merasa perlu memeriksa barangbarang penumpang), tapi karena cuma aku yang disasar, Alex tidak, pasasir lain pun tidak. Tentu ada sebabnya. Barangkali pakaianku, tampangku, atau gerak-gerikku mirip bajingan atau spion barat yang kasak-kusuk masuk ke daerah wewenangnya. Beberapa penumpang Jerman yang tadi kulihat berangkat sepesawat dari Beijing bersama kami nampak santai saja, duduk main kartu mengelilingi sebuah meja di bawah temaram neon ruangan yang agaknya dilanda tindakan penghematan. Ketika melewati kelompok itu, tiba-tiba kulihat di antara mereka seorang lelaki yang pernah beberapa kali melayani kami di kedutaan RDJ1. Spontan saja aku menyapa: "Gutenmorgen,...... Sind Sie auch hier?2" Dia tak menyahut, padahal kami saling pandang. Di luar dugaanku dia bersikap begitu. Wajahnya datar seperti tak punya minat menjawab tegur-sapaku. Tersenyum saja pun tidak. Pandangnya cepat kembali tertuju ke main kartu. Karena malu, aku pun agak klincutan menghindar dari mata si Jerman. Tapi, aku yakin benar lelaki itu mengenalku, malah

beberapa hari sebelumnya telah menjamu kami, Alex dan aku, minum teh dan makan kue di kantor kedutaannya ketika kami mengurus visa. Sebuah layanan berlebihan, namun bukan tanpa alasan. Ketika itu dia memancing-mancing, mengapa kami pergi ke barat, tak ingin tinggal di Jerman. Jerman Timur maksudnya. Bisa studi di sana jurusan apa saja, bahkan bisa minta Stipendium3. Dia juga tak lupa melampiaskan sindiran terhadap RRC: "Mereka dijangkiti ambisi negara besar." Alex menjawab dengan gaya jurnalisnya: "Belum sampai ke taraf Amerika. Tapi syarat mereka punya: tanahnya luas, industri galak, minyak banyak, ahli tak kurang, penduduk melimpah, tinggal satu rintangan saja...." "Rintangan apa menurut kalian?" tiba-tiba dia tertarik pada celoteh Alex, ingin mengorek informasi tangan pertama. "Pertentangan intern partai! Perjuangan klas dalam pimpinan tingkat atas...," jawab sahabatku agak menggebu. Terang saja jawaban itu memancing pembicaraan berkepanjangan diseling jamuan teh dan makan kue. Jadi, tak mungkin si Jerman itu tak kenal aku. Dia tentu cuma pura-pura. Tapi, apa sebabnya? "Follow me sir, be hurry...," tegur pejabat yang menggiringku, nampak tak senang bahwa mataku meleng. "Sorry," kataku dengan sedikit tersipu sambil mempercepat langkah menuruti perintahnya. "Tuan tentu keliru. Rupanya dia bukan orang yang tuan sangka," terkanya. "Tidak," bantahku. "Tak mungkin keliru. Saya ketemu dia di Kedutaan Jerman di Beijing, lebih dari tiga kali. Yang terakhir baru minggu lalu ketika kami mengambil paspor dan visa RDJ." Pejabat itu diam, tapi mengangguk-angguk. Dibawanya aku melewati sebuah gerbang masuk ke ruangan besar. Di sana kami menuju ke deretan kabin yang masing-masing punya pintu-angin, lalu memasuki satu di antara kabin-kabin itu. Tanpa menunggu perintah

kutaruh handbag-ku di meja segitiga berkaki satu yang terpancang menyudut ke tembok. Ketika mantel kusangkutkan ke cantolan, dia mencegah. "Keluarkan semua isinya," tangannya merenggut mantel itu, menaruhnya di atas meja. Sehelai sapu tangan, segenggam permen kecut, sebungkus Lucky Strike dengan sahabatnya: korek Ronson. Itu saja isi saku mantelku. Semua kuletakkan di meja. "Nothing more?" "That's all," jawabku. "Saku-dalam, saku-dada kiri-kanan, keluarkan semua isinya, please." Dompet dan pasporku! Aku memang lupa mengeluarkan isi saku-dalam mantel itu. "Sorry," sesalku, "...I've just forgot it, this ugly me...." Aku harap mulutnya sedikit tersenyum oleh pengakuan kepikunanku. Tapi, tidak. Dia menggerakkan alis yang setebal jari jempol: merengut dengan serius. "Keluarkan isinya, please," telunjuk jarinya menuding dompetku sambil meneliti pasporku. Isi dompetku dua ratus US-dollar. Aku dapat itu dari pegawai konsulat sebuah negeri Skandinavia di kantornya di Beijing, juga ketika mengurus visa bersama Alex. Itu sebuah transaksi pribadi yang terjadi karena pejabat konsulat itu bersedia menukar US-dollarnya dengan Hongkong-dollar milik Alex plus milikku. Kami butuh USdollar buat berangkat ke Eropa, dia butuh Hongkong-dollar buat melancong ke Hongkong, padahal valas barang langka di sana. Meski kami bukan diplomat, toh tahu kebiasaan transaksi demikian di kalangan CD4 ibu kota RRC. Tak ada hitungan untungrugi antara kami. Pas-pasan saja seperti kursnya. Tapi, tiba-tiba aku khawatir, janganjangan asal-usul dollarku dipersoalkan, padahal hidup di perjalanan ke Barat mau tak mau tergantung dollar. Ternyata, aman saja. Dia tidak menaruh selera. "Tuan singgah di Moskwa?" urus pejabat itu ketika meneliti transit-visaku. "Tidak. Cuma stopover," jawabku ringkas.

"Sebaiknya Tuan melihat Moskwa. Indah bukan main. Tuan mesti nonton Bolshoi. What a wonderful journey you have..." "Just a sentimental journey. Lain tidak." Dia tergelak, tapi lantas melanjutkan penggeledahan, memeriksa lipatan-lipatan kertas berisi catatan nama dari beberapa kenalanku di Berlin, Paris, Amsterdam, Stockholm. Sekali lagi alisnya mengkerut. Mungkin dia mengira aku punya jaringan rahasia skala dunia. Dengan jlimet dia juga tak lupa memeriksa isi handbag-ku. Jelas mengesankan seorang pejabat yang jujur, berdisiplin, teliti, pengabdi setia tanah airnya: Uni Soviet. "Permata Bernstein murah di Moskwa, Sir...," katanya tiba-tiba, suaranya sedikit berbisik. Aku mendadak khawatir, orang ini barangkali pura-pura saja pejabat douane biasa, tapi siapa tahu dia petugas dinas KGB5. Bila aku tak hati-hati, bisa celaka seperti ikan kena pancing. "Sayang, saya tak punya cukup uang," jawabku. "Dua ratus dollar, Sir, bayangkan! Di Barat bisa naik lipat empat jika tuan jual di sana. Bernstein Siberia itu top quality, the best in the world. Mereka suka!" "Saya percaya, tapi sayang saya tak punya bakat dagang...," aku pun makin berhatihati. "Bakat itu tak perlu," bantahnya. "Don't worry, Sir. Aman. Nothing to do with customs. Gunakan kesempatan, Sir, singgah di Moskwa. Tak dua kali Anda hidup di dunia ini!" bujuknya. "Kalau saja ada waktu...," elakku, sekadar ingin mengakhiri percakapan. Tapi, dia mendesak lagi: "Anyway, kalau Anda tak ada waktu di Moskwa, di Irkutzsch sini Bernstein lebih murah lagi. Jangan ragu Sir. Bisa beli dari saya. Okey?" Dan dia mengeluarkan sekantung benda yang ditimang-timangnya di telapak tangan. Dikendorinya tali kantung itu. Nampak olehku selingkar permata Bernstein berbentuk kalung atau gelang, coklat muda menyorotkan keindahan cahayanya. Jantungku kembali mendenyut lebih cepat.

Aku mulai yakin akan kejujurannya. Maksudku kejujuran terhadapku untuk nyeleweng dari tugasnya. Batu permata memang kegemaran kakek-nenekku turun-temurun. Aku pun sudah menyimpan beberapa butir batu Giok dari Tiongkok dalam kopor bagase: sekadar persiapan menghadapi hari depan yang tak berketentuan. Akan lengkap pula jika aku menerima tawarannya. Dan dia terus mendesak: "Tinggal setengah jam, Sir. Aerovlot siap berangkat." "Maafkan ya," kataku, "... lima belas dollar?" Dia tak mengangguk. Menggeleng juga tidak. Wajahnya nampak riang. Aku yakin dia setuju menerima tawaranku. Kulekatkan lembar-lembar US-dollar di telapak tangannya. Dia pun menyodorkan kantung itu ke tanganku. "Fine, thank you, sir.... Have a beautiful journey." Disalaminya aku. Lucky Strike dan korek Ronson sengaja kutinggalkan di meja. Dia pun nampak sengaja tak mengingatkannya sebagai barangku yang ketinggalan. Dibiarkannya aku keluar sendirian. *** RISKAN atau tidak transaksi itu terjadi. Ketika aku keluar dari ruang pemeriksaan, kulihat Alex masih berada di tempat semula. Apa yang tadi kualami kubisikkan. Komentar Alex: "Gila kau," matanya membelalak. "Lima belas dollar? Itu bisa buat makan sebulan di Yogya!" "Mimpi kau, Lex! Kau pikir kita di Tanah Air?" sengolku. "Tapi, lima belas dollar! Itu kelewat mahal!" "Mahal? Aku kenal harga permata...." "Aku bayar lima dollar dua kantung. Percaya enggak? Pejabatnya perempuan." "Ha...?" aku ganti membelalak. "Tadi kukira kau tidak diperiksa. Ternyata digaet juga?"

"He-eh..." "Jangan-jangan di Moskwa nanti kita diperiksa lagi," kataku. "Pasti tidak," kata Alex. "Mata seluruh dunia tertuju ke sana. Kalaupun ada penggeledahan, tentu tidak terangterangan. Moskwa perlu terkesan aman di mata semua bangsa." Alex ketawa-tawa dan tak henti-hentinya mengejek kekalahanku. Untung tak lama kami menunggu keberangkatan Aerovlot jurusan Moskwa. Dalam bus menuju ke tangga pesawat itu kulihat kembali si Jerman berdiri agak di tengah. Aku sengaja mendekatinya, berdiri di sisinya. Dia pasti tahu, tapi tetap saja pura-pura tak melihatku. Tak kusangka dari mulutnya kudengar suaranya pelan: "Es ist hier besser when wir nicht miteinander sprechen...." 6 Aku pun bungkam, menyadari kenaifanku sendiri, ada kala manusia merasa takut membuka mulut. Stopover di Omsk berlangsung dini hari. Di bandara Siberia Tengah ini pasasir mondarmandir nampak lebih banyak dari yang kami duga. Malah mirip pasar loak. Orang-orang berdesakan sibuk dengan macam-macam urusan. Nampak pemuda-pemuda Rusia menawar jaket atau mantel winter yang melekat di badan orang. Juga kudengar di kanan-kiri pasasir menawar Bernstein. Arloji Shanghai-ku ditawar rubel, tapi itu benda kenangan, takkan kulepaskan. Hebat juga manusia di Siberia ini berjuang di dini hari sekadar merebut sedikit rezeki. Urusan Alex lain lagi. Sangat mendesak. Perutnya mulas, tapi kian-kemari tak juga ketemu WC. Perut itu tak berkenan bersentuhan dengan yoghurt kecut yang dia makan sebelum Aerovlot mendarat. Dia buru-buru lari meninggalkan "pasar loak" itu ketika berhasil menampak tulisan "WC". Tas dan mantelnya dia tumpuk begitu saja di lenganku, lalu lari. Tapi, sial, dia dikejar seorang petugas wanita yang tentu saja mencurigainya. "Hallo! Stop!" cegah si petugas. Alex terkejut dan berhenti dengan melintir-lintir perut. "Follow me, Sir!" perintah si petugas. "No, no...," tolak Alex. "Impossible!"

"I say... follow me!" "Sorry...., kebelet nih...," sahut Alex, mendadak lupa Inggris-nya. "What?" bentak si petugas. "I must go quickly right there.... My stomack, oooh...," dia menjelaskan dengan menekan-nekan perutnya. Si pejabat ternyata toleran. Alex dibiarkannya lari masuk ke WC, parkir di sana hampir setengah jam lamanya. *** BENAR juga dugaan Alex: Moskwa aman. Kami tak mengalami penggeledahan. Gema musik Rusia mengalun di ruang-ruang tunggu dan restoran. Beberapa pelayan dan pengepel lantai restoran laki-perempuan nampak giat bekerja sambil menggerakgerakkan badan mengikuti irama balalaika. Hampir-hampir kami tak percaya, di negeri angker ini kegenitan anak-anak manusia masih bisa dipertontonkan. Satu-satunya yang menjengkelkan kami cuma pengumuman lewat loudspeaker: Interflug7 jurusan Berlin berangkatnya tertunda lima jam. Tanpa keterangan apa sebabnya. Kami pun memasuki ruang-tunggu khusus bagi pasasir Interflug. Selera masuk restoran masih harus ditekan karena jam sarapan belum dibuka. "You are coming from Beijing?" tiba-tiba kami dengar suara seorang perempuan mendekati kami, dari pakaiannya jelas petugas sekuriti bandara Moskwa. "Yes," hampir bersamaan kami menjawabnya. "Follow me, please...," perintah yang itu-itu lagi. "Modiar!" bisik Alex ke telingaku. "Mau apa kita sekarang?" Kali ini kami berdua bersama-sama digiring keluar dari grup Interflug menuju pintu sebelah kiri restoran. Kami melewati juga deretan kabin-kabin mirip bilik-bilik pemeriksaan, tapi kami tidak dibawa masuk ke sana. Kali ini pasti urusan gawat, pikirku. Orang-orang Rusia tidak akan sebodoh yang kami duga. Aku kini yakin sekali. Barangkali Alex juga berpikir begitu, tapi kami bungkam, tak berani berbicara. Akhirnya kami disilakan masuk ke sebuah ruangan berdinding kaca tertutup gorden kelabu. Si petugas begitu saja lantas meninggalkan kami.

"Selamat datang di Moskwa!" suara dua orang setanah airku yang tak pernah kami kenal. Mereka menunjukkan wajah gembira menyalami kami. "Jangan kaget, Bung. Selama ini selalu menjadi kewajiban kami membantu orang setanah air. Kiranya bantuan apa yang kalian butuhkan?" Saking kagetnya kami pun terdiam, menyambut salam mereka tanpa ingat nama. Siapa pun yang mengalami peristiwa demikian, perlu mengerti reaksi pertama di hati kami: curiga. Lepas dari misi kemanusiaan seperti yang mereka ucapkan, hanya kecurigaan saja yang mengganggu benakku. Segera pula aku sadar, transit-visa lewat Moskwa tidak begitu sederhana lekuk-likunya. Lebih tak masuk akal lagi, mereka juga menawari kami untuk tinggal di Moskwa. Seolah kekuasaan negeri ini sudah pindah ke tangan mereka. Kenaifan apa pula yang kini perlu kami akui? "Begini, Bung," jawab Alex, "Kami mau ke Jerman Barat, di sana ada kenalan, buat sementara segalanya telah tersedia. Harap jangan repotlah. Terima kasih atas perhatian kalian." Pembicaraan itu berlangsung hampir satu jam dan berakhir dengan penyesalan. Ada kala rotasi bumi memang mengguncang kepala semua orang untuk berpikir dan berpikir, mengapa penyesalan seperti itu perlu terjadi. Dan permata Bernstein itu! Bettina-mahasiswi kenalan kami di Bonn-gagal mencoba menjualnya. Beberapa toko permata menolak membelinya. Menawar pun tidak. Semuanya permata palsu dari plastik. "Modiar lu!" kutuk Alex padaku, juga pada diri sendiri.*** Paran, Agustus 2002

Catatan: 1) Republik Demokrasi Jerman 2) Selamat pagi. Tuan juga di sini? 3) Beasiswa 4) Corps Diplomatic 5) Dinas Rahasia Uni Soviet 6) Di sini lebih baik kita tak saling bicara 7) Perusahaan Penerbangan RDJ

Kembalinya Pangeran Kelelawar
Cerpen: Bre Redana Sumber: Kompas, Edisi 11/03/2002 MALAM kelam memun caki sensasi kembalinya Pangeran Kelelawar mengaduk-aduk imajinasi dalam alam gelap yang memeliharanya. Sayapnya terbentang tiada terkatakan lebarnya disangga tulang-tulang yang kuat, mengepak pelan tanpa suara menembus gelap. Tak ada yang bisa melihatnya, namun siapa saja diam-diam menangkap tanda-tanda kehadirannya. Sungguh ketiadaan yang menggetarkan.... Semua orang kemudian berkasak-kusuk dan berbisik-bisik: wanita itu harus diselamatkan!Angin bersiut. Nosferatu... Kain putih korden jendela bergerak-gerak. Siapa mampu menahan Pangeran Kelelawar? Kegelapan menyembunyikan segala misteri mengenai Pangeran Kelelawar dan wanita yang antara rindu, ingin tahu, dan gentar, terus menunggunya. Kegelapan menyembunyikan sesuatu yang dengan sebenarnya dan senyatanya-maksudnya senyatanya adalah nyata sebatas alam khayal dunia kegelapan Pangeran Kelelawar dan dalam cerita ini-wanita itu telah

disetubuhinya. "Katakan pada saya tanya bagaimana mereka kamu melihatnya? Bagaimana atau kamu bisa

mengenalnya?"

yang

ingin

menyelamatkan

berpretensi

menyelamatkan si wanita. Kita sudah tidak bisa lagi mempercayai niat mulia. Pangeran Kelelawar telah menyebarkan benih ketidakpercayaan, kecemburuan, kegentaran, ketidakberdayaan. "Saya telah mendengar tentang dia berkali-kali. Lalu di puncak purnama tanggal lima belas bulan kesepuluh yang tahun ini jatuh pada awal September, ia benar-benar datang. Kehadirannya mula-mula hanya berupa suara, menggema dari dinding-dinding rumahku berupa suara yang serba tahu tentang aku, tentang ayahku yang telah tiada yang dia ketahui semua riwayat kesenimanannya, serta semua celah mengenai diriku yang belum digarap oleh ayahku, yang dengan tegasnya dia katakan itu harus dikembangkan...," wanita ini bercerita dengan suara bergetar, dengan tatapan mata bercampur antara harapan dan ketakutan.Si pretensius mendengarkan dengan

sungguh-sungguh. Diperhatikannya dengan saksama wanita itu. Pantas, dia kelihatan begitu cantik belakangan ini, meski agak pucat.... Begitu pikirnya. Rupanya ini karena campur tangan Pangeran Kelelawar....Lukisan cat minyak dengan tarikh tahun 1957 tergantung di dinding. Itu lukisan ayahnya yang sering diceritakannya. Apa yang tergambar di rumah ini sebenarnya melukiskan keseluruhan wanita ini yang serba apa adanya. Dia tampak tak risau dengan beberapa bagian rumah yang belum selesai pembangunannya. Belum selesai. Atau memang tak pernah terselesaikan. Langit-langit rumah dibiarkan telanjang tanpa plafon, menampakkan semen cor dari lantai di atasnya, berikut kabel listrik menyilang di sana-sini. Ruang atas katanya memang belum diapaapakan, gelap, dijadikan gudang, yang katanya dalam setahun pun belum tentu ia menginjakkan kakinya. Ini suasana Gothic...Wanita itu menghisap rokok tanpa henti. Ketika korek api habis dan tak satu pun pemantik ditemukan, ia bolak-balik menuju dapur, menyalakan kompor listrik hanya untuk mendapatkan letikan api untuk menyalakan rokok. "Rahmat, jawaban atas doaku, ataukah semata-mata gangguan dan cobaankah sebenarnya makna kehadirannya?" wanita ini bicara sendiri. Asap rokok mengepul dari bibirnya.Tiba-tiba angin malam seperti pukulan terpendam yang dia curigai berasal dari kepak sayap di kegelapan berhembus masuk ruangan. Mata wanita ini melihat kirikanan dengan kecemasan. Jantungnya berdegup-degup. Pangeran Kelelawar? Itukah kau? Di mana kau? *** TIDAK, tidak... Anugerah atau kutukan aku sama-sama tak bisa mengelakkannya. Demi segala roh kegelapan aku berani bersaksi matanya begitu sendu menatapku. Rambutnya panjang, terlihat kusut-masai, namun aku terperanjat luar biasa ketika tangannya membawa tanganku untuk menyentuhnya. Rambut itu begitu lembut, tidak kering tidak lembab, seperti benang sutera mengurai satu-satu tidak ada yang kusut apalagi gimbal. "Pejamkan, pejamkan matamu kekasihku...," kata Pangeran Kelelawar lembut mengandung sihir. "Tutup matamu..."Aku-maksud saya wanita kita ini-memejamkan matanya.

Pangeran Kelelawar melanjutkan bisikannya, "Tutup, tutup matamu, karena matamu hanya akan melihat kenyataan. ...dan kenyataan bukanlah sesuatu yang ingin kita lihat. Dalam kegelapan, lebih mudah bagi kita untuk berpura-pura melihat kenyataan sesuai yang kita impikan. Mari, masuk dalam dunia kegelapanku." Wanita ini merasa seperti dibawa bersampan, mengapung di atas sungai yang tenang. Dengan mata terpejam, ia serahkan dirinya bulat-bulat kepada pangerannya. Sesekali ia mendesah sembari menggigit-gigit jari-tetap dengan mata terpejam-ketika himpitan Pangeran Kelelawar makin menyesakkan dadanya.Aaaaaahhhh..... Wanita kita menjerit, tersadar dari mimpinya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dadanya turun naik. Setelah agak tenang, baru dia menyalakan rokok, menyandarkan diri di sandaran tempat tidur, sambil menutupi tubuhnya yang telanjang bulat dengan seprei putih.Pengalaman macam apakah ini? Dunia macam apakah ini? Pikirannya makin dihantui kecemasan. Sesuatu yang nyata atau tidak nyatakah sebenarnya kau, Pangeran Kelelawar?*** "KAMU bermimpi," komentar mereka yang ingin menyelamatkan atau berpretensi menyelamatkan wanita itu. Akan tetapi, apa daya mereka?Kegelapan menyimpan misteri yang tak pernah terpecahkan. Datang setiap kali, seribu kali, sejuta kali, semua disertai sejuta kali tipu daya yang mengecoh siapa saja yang coba mengotak-atik misteri tersebut. Jangankan menangkap dan mengadilinya, bahkan sekadar

memergokinya saja tak ada yang bisa. Tak jelas, adakah yang tengah kita bicarakan ini figur yang begitu penuh cinta dan bersahabat seperti diceritakan wanita itu-yang seolah bisa diajak minum kopi sore-sore atau minum bir dan wine malam-malam-ataukah anak kandung kejahatan yang menyandang kutuk sejak lahir. "Kau perlu pastor," yang lain lagi memberi nasihat, demi memperhatikan bahwa wanita itu mengenakan anting berbentuk salib. "Dia berada di dimensi yang berbeda dari yang serba formal," jawabnya. "Kalau begitu kau perlu dukun, paranormal, atau..." "Dia suka menertawakan mereka..."Belum selesai wanita itu berkata-kata, tiba-tiba

dinding rumah seperti bergetar. Siapa pun kali ini bisa menangkap getaran itu. Suara tawa meledak.Hua-ha-ha-ha....*** DEMIKIANLAH, begitu sulit bagi wanita itu untuk bisa membedakan mana nyata dan mana tidak nyata. Kadang kehadiran Pangeran Kelelawar begitu nyata, seperti ledakan tawanya tadi. Pada kali lain, keberadaan Pangeran Kelelawar sangat pantas diragukan. Dia tak lebih seperti bayang-bayang malam.Adakah Pangeran Kelelawar hanya ada dalam benaknya, benak saya, benak Anda? Kehadiran Pangeran Kelelawar telah membikin persoalan bagi-nya bukan saja dalam teka-teki mana nyata mana tidak nyata, tetapi juga keraguan akan rahmat atau kutukan tadi, kebahagiaan atau kecemasan, kepastian atau ketidak-pastian, senyum atau tangis, dan seterusnya.Diakui berkali-kali oleh wanita itu, setiap kali dia bercengkerama dengan Pangeran Kelelawar, muncul kebahagiaan luar biasa. Hatinya berbuncah-buncah, bahkan bisa tak terkontrol. Hanya saja, ketika ia melambung tinggi dalam tawa yang belum pernah selepas itu sepanjang hidupnya, ia akui ia tiba-tiba ingin menangis. "Aku takut ditinggalkannya," katanya.Aneh, kamu mengaku takut atas kedatangannya, pada saat sama kamu takut atas kepergiannya?Wanita itu diam seribu bahasa. Menunduk. Rambutnya yang hitam dalam potongan shaggy, sebagian menutupi kening. Mukanya-dengan bulu-bulu halus di depan daun telinga-kelihatan kecil dengan potongan rambut semacam itu. Adakah aku harus menerima saja sebagai nasib, sebagai sesuatu yang apa adanya saja, mengenai cerita tentang Pangeran Kelelawar itu? Sepanjang waktu, sepanjang sejarah, selalu hidup cerita semacam itu. Diperlukankah resah yang berlebihan?*** LAMA-lama, wanita ini bisa berdamai dengan segala kesimpulannya sendiri yang serba sederhana. Dengan itu pula, bayangan Pangeran Kelelawar-nya tidaklah

semenggetarkan masa-masa sebelumnya.Lalu, tibalah sesuatu yang nyata-setidaknya nyata bagi wanita itu. Dia menemukan pasangan hidupnya. Bukan pangeran dari alam kegelapan yang membingungkan otaknya dan sempat membuat dirinya ragu atas kewarasannya sendiri, melainkan pria biasa, berdarah-daging, warga negara Australia, buruh tambang di Wollongong. Wanita ini kemudian dibawa pindah ke Wollongong, kawasan yang sepi yang menjadi bagian dari New South Wales, Australia. Tak banyak

yang bisa diceritakan di situ, selain hidup yang rutin, memasak, menjaga rumah, menunggu suami pulang. Pada waktu-waktu tertentu, dia bisa pulang ke Indonesia, berlibur ke Bali. Di pulau yang selalu cantik itu sesekali bayangan Pangeran Kelelawar berkelebat, tapi dia tak takut lagi.***

Taman Ayu, Dps, 2002

Ilmuwan, Kota, Laut, dan Gunung
Wilson Nadeak Sumber: Kompas, Edisi 10/27/2002 Aminudin TH Siregar SEPERTI ombak yang terus memukul pantai, baris sajak Chairil Anwar itu bertalu-talu dalam benaknya. "Hidup hanya menunda kekalahan," gemanya bergaung terus. Sejak muda baris sajak itu telah dihapalnya. Ia tidak tahu apakah itu sebuah lirik kehidupan ataukah sekadar getar intuisi, senandung sendu ataukah relung kehidupan yang muram, semacam katarsis yang telah mengalami proses yang berlapis-lapis, ataukah sebuah lukisan pelangi saat gerimis menjelang petang kehidupan tiba.Kadangkala potongan sajak itu diselingi larik sajak Sanusi Pane... "Alun membawa bidukku pelahan, entah ke mana aku tak tahu." Bernard Rumbai sebenarnya berusaha mencoba menghalau baris-baris sajak itu dari benaknya. Semakin dihalaunya, semakin jauh meresap. Hal itu berkaitan dengan kariernya di departemen statistik, saat-saat yang amat genting ketika dirjen meminta supaya data statistik diubahnya, sesuai dengan permintaan menteri. Misalnya saja, yang sangat sederhana, ia diminta mengubah jumlah penduduk dan memberi proyeksi jumlah penduduk mendatang satu dekade di depan, bahwa jumlah penduduk akan menjadi dua ratus lima puluh juta jiwa bila Keluarga Berencana tidak berhasil. Menurut dirjen atau yang lazim disebut di kantornya, Sang Bos, angka itu terlalu rendah. "Kau harus mengubahnya. Ini berkaitan dengan nasib bangsa! Semakin banyak penduduk, semakin berat beban bangsa dan negara. Laporanmu ini kurang menggugah donor internasional. Kita memerlukan bantuan keuangan yang lebih besar untuk merangsang pengusaha menengah dan kecil. Ubah juga data tingkat inflasi, rasio penghasilan rata-rata, perbaikan ekonomi yang mulai terasa, dan perlunya tekanan pada sektor subsidi publik!" Bernard mengeluh dan menyampaikan keberatannya, namun bentakan yang didapatnya. "Saudara bodoh! Mengubah statistik tidaklah sulit! Laporanmu harus disesuaikan dengan kepentingan politik bangsa! Kau harus memikirkan nasib bangsa ini! Bukan statistik untuk statistik!" Ia menjawab dengan suara pelahan, menahan emosi yang

bergolak di dalam dadanya. "Ini kenyataan, Pak. Ini realitas!" Sang Bos, "Realitas, katamu? Realitas adalah masa depanmu! Masa depanmu ada pada laporan itu! Sejauh itu sesuai dengan realitas politik, masa depanmu cerah! Masa depan bangsa ini pun cerah. Kita telah memasuki era persaingan yang ketat, persaingan sejagat. Kalau negeri ini tidak bangkit, entah itu dengan utang, entah itu dengan menggadaikan apa yang ada di bumi kita ini, tidak menjadi soal. Apa susahnya mengubah data statistik? Ingat, laporanmu yang harus sesuai dengan irama pemimpin. Harus masuk minggu depan. Jangan bicara soal kejujuran. Itu soal lain, soal moral dan segala macam tetek-bengek pejuang hak asasi manusia dan LSM itu!" Bernard terpojok di sudut. Dengan komputer, data itu mudah sekali diubah. Alat modern itu telah memungkinkan proses kemudahan. Di depan alat canggih itu ia semakin bodoh. Benar apa yang dikatakan bosnya bahwa ia orang bodoh. Waktu masih anakanak ia pernah berenang di Pantai Cermin, Sumatera Utara. Ia tanyakan kepada ayahnya mengapa ikan dari laut asin mesti digarami supaya asin? Bukankah ikan asin dengan sendirinya menjadi asin karena setiap saat minum air asin? "Ah, kau masih kecil. Belum tahu apa-apa! Nelayan itu lebih tahu. Kau tanya saja kepada mereka!" Bernard bertanya kepada nelayan mengapa mereka menjemur ikan dan menggaraminya. "Ah, kau masih kecil, Nak! Tanyakan saja kepada laut, kepada burung camar..." Bernard bingung. Apa harus tanya kepada laut dan burung? Mana mungkin? Apa semua orang tidak tahu sebab terjadinya proses pengasinan itu? Apakah benar alam menyediakan segala sesuatu begitu saja? Sekarang, ketika usianya sudah semakin lanjut, dan ia memakan lebih banyak garam kehidupan, bosnya menganggapnya sudah terlalu tua untuk memahami politik kehidupan. Ia bodoh. Waktu muda ia terlalu muda untuk mengerti sesuatu, setelah ia tua ia terlalu tua untuk memahami realitas. Agak gugup ia menghadapi bos ketika deadline pemasukan laporan sudah mendekat. "Datamu belum lengkap. Kulihat di komputer angka yang sama masih ngendon di situ.

Ingat, nasib kita ada di tangan kita sendiri apakah kita mau menyesuaikan diri atau tenggelam dalam arus. Sebegitu jauh, kita telah berenang di samudera kehidupan. Sebentar lagi kita akan sampai ke tujuan. Tetapi jangan lupa, setiap kali kita menggerakkan tangan, ombak besar mungkin menggulung kita. Kita harus mengikuti alun gelombang jika kita tidak mau terempas ke batu karang kebodohan. Camkan! Regulasi terjadi sewaktu-waktu. Tidak seorang pun dapat menduganya." Bernard merasa itu ancaman halus. Lebih lanujut ia melihat tulisan bos di layar komputernya. "Apakah aku yang harus mengubahnya, atas namamu? Jawabanmu kutunggu sore ini." Sampai sore tiba, ketika Bernard Rumbai menyaksikan langit jingga, ia tidak berhasil menaklukkan hati nuraninya. Ubah? Tidak. Ubah? Tidak. Ubah? Ia melarikan diri ke Ancol, menyaksikan nelayan, ombak, hotel berbintang yang menjulang. Seorang diri ia berdiri di tepi pantai, di atas tanah bekas kuburan. Ia berteriak seorang diri, "Tiiiidaaaak. Tiiiiidaaaaak!" Menjelang senja ia balik ke kantornya. Ditulisnya di komputer: Data tetap data. Pagi hari ketika ia bangun dari tidur yang singkat, ia membuka komputernya. Sebuah pesan dari bosnya: Anda terlalu tegang. Datamu kuubah atas namamu. Ambillah cutimu ke luar negeri. Biaya? Hubungi bagian keuangan. Kini realitas baru muncul di depannya. Sebuah kenyataan yang tidak dapat diingkari. Telah lama ia terperangkap dalam lingkaran birokrasi yang tidak mungkin diubahnya. Justru ia diminta untuk berubah sesuai dengan suasana zaman yang canggih. Hati nurani? Ah, sungguh ia telah dikalahkan oleh hati nurani. Ia harus pergi, seperti kata bosnya, menghilangkan ketegangan. Di Pantai Ancol ia telah mengadu kepada awan yang jingga, kepada angin, kepada gelombang. Ia merasa lega sekalipun sepanjang malam matanya terpejam hanya beberapa jam saja. Tiba di kantor, ia menemukan ketegangan baru. Ia baru sadar bahwa sejak tujuh tahun belakangan ini ia tidak pernah mengambil cuti. Ia terlalu setia mengerjakan tugas yang memang dinikmatinya. SAAT Bernard berkunjung kepada temannya di Melbourne, kawan itu membawanya ke sebuah pulau kecil yang terpencil di bagian selatan, Philips Island. Malam terang bulan yang cerah, menjelang pukul sepuluh malam, mereka menyaksikan burung pinguin yang berombongan pulang dari tengah lautan. Burung-burung itu

merayap di pantai, membawa makanan untuk anak-anaknya di rumput-rumput sekitar pantai. Burung-burung itu berkelana puluhan kilometer ke tengah laut, menghadang gelombang dan ikan-ikan besar, hanya sekadar mempertahankan hidupnya. Bernard teringat kepada nelayan di Pangandaran, pantainya juga penuh tetapi bukan dengan camar laut yang mencari makan, melainkan penuh dengan perahu nelayan, para nelayan yang pulang subuh dan mendarat di pantai. Perahu-perahu mereka menutupi pasir di pantai. Jadinya, pantai sarat dengan perahu! Para nelayan yang mencari nafkah di tengah lautan menyerahkan hasil tangkapannya kepada petugas balai lelang dengan harga yang ditentukan mereka. Nelayan menerima apa adanya daripada tidak membawa apa-apa untuk keluarganya! Dari Melbourne, Bernard Rumbai terbang menuju Los Angeles. Ia menginap di rumah teman sekelas dahulu, yang meninggalkan Jakarta yang sesak walaupun ia sesungguhnya mempunyai jabatan sebagai kepala keuangan di sebuah hotel berbintang. Kini ia hidup di tengah kota besar dunia ini apa adanya-bekerja kasar tetapi halal-yang kemudian membawanya rekreasi ke San Diego. Atas kemurahan kawan itu, ia dapat menyaksikan laut dengan teluk yang tenang, dan nyaman. Sebuah atraksi dipegelarkan, konon kisah seorang bajak laut yang berumah di pulau kecil di teluk, setting-nya pada abad kelima belas. Ia beraksi menunggang seekor ikan lumba-lumba mengelilingi pulaunya. Lumba-lumba yang lincah melintas dekat penonton, airnya berpencaran membasahi orang yang duduk dekat pantai. Tepuk tangan yang riuh menggema, dan "bajak laut" yang berikat kepala biru itu membalas dengan lambaian. Bernard melupakan statistik. Yang muncul dalam benaknya ialah para bajak laut di Selat Malaka yang rajin menjarah kapal-kapal nelayan atau kapal barang yang lewat, dan tentu saja memeras kapal penyelundup. Sulit menangkap mereka karena sukar membedakan mana yang asli nelayan dengan bajingan-bajingan laut itu. Pembajak kadang-kadang menggunakan kapal berbendera negara asing yang jauh di benua lain. Di selat itu, setahu dia menurut data statistik, berbaur bajak laut, penyelundup, dan kapal-kapal resmi yang menjual bahan bakar "muatan lebih" atas nama instansi. Ia tahu tentang berbagai departemen dengan sumber dana yang konvensional, tradisional, dan ekstra-konvensional. Alasan yang klasik, bagaimana mereka dapat mengembangkan lembaga mereka tanpa penghasilan ekstra? Lagi pula, pembelinya menyambut dengan antusias, demi kemajuan ekonomi negerinya, dengan

sistem perdagangan bebas. "Kita ke tempat lain, Bung!" kata kawan sambil menepuk bahunya. "Ingat kampung halaman?" "Oh ya," jawabnya sambil berdiri. "Ke mana?" Sang kawan tersenyum. "Ingat Tanah Air?" Bernard tersenyum tersipu-sipu. "Tidak juga," jawabnya. Mereka berjalan menuju sebuah kolam yang agak besar, dalam dan airnya bening. Beberapa orang gadis yang mengenakan baju renang duduk-duduk di tepi kolam. Kaki mereka berjuntai ke air, mengais-ngais permukaan air sehingga menimbulkan riak-riak kecil. Bernard menerima kertas kecil, membayar beberapa dollar, dan kemudian menyerahkannya kepada salah seorang gadis yang menerimanya dengan ramah dan tersenyum. "Anda mau kerang yang mana?" tanya gadis itu kepadanya. Ia memperhatikan dasar kolam dan melihat benda yang bergerak perlahan. "Itu," katanya menunjuk. Gadis itu menyelam ke dasar kolam, bergerak di bawah, menangkap kerang itu. Ia muncul ke permukaan beberapa detik kemudian. Gadis itu naik dan menyerahkan kerang kepadanya sambil menunjuk kepada seseorang yang duduk di pojok. "Bawa ke sana," katanya. Bernard melangkah dan menyerahkan kerang itu kepadanya. Lelaki itu dengan cekatan membalik kerang itu dan mengiris dagingnya. Ia mengeluarkan butir permata dan membersihkannya. Ia masukkan ke dalam sebuah kotak yang indah, lalu diserahkan kepada Bernard. Ia merasa kagum menyaksikan peternakan kerang itu. Pikirannya melayang kepada penyelam tradisional di teluk Tual, Maluku Tenggara. Para penyelam tradisional itu harus menyelam ke laut yang dalam untuk memburu kerang yang memiliki mutiara, hanya untuk memperoleh beberapa puluh ribu rupiah. Penyelam tradisional mencoba mengeruk kekayaan alam, tetapi gadis Amerika ini mengejar permata di kolam, dari tubuh kerang yang diternakkan dan

disuntik pasir, membiarkannya tumbuh dan membesar, menghasilkan "mutiara" yang berkilau. Dua peristiwa alam yang berbeda. Di Jakarta, orang menggali mutiara dari belakang meja, atau dari balik kaca, atau dari ATM, dari leher penumpang taksi, dari lengan-lengan TKI yang pulang dari luar negeri, seperti pelancong di Roma di stasiun kereta, harus membayar beberapa dollar untuk sebotol Fanta, atau sebuah cendera mata di Yerusalem dengan harga berlipat ganda betapa pun kau bersimpati kepada Palestina. Sebulan Bernard menghabiskan cutinya di luar negeri. Suasana yang amat berbeda itu tidak menggodanya tinggal di sana. Kawannya mengajaknya tinggal di Los Angeles, kota besar yang menjanjikan itu. "Dengan keahlianmu, kau dapat pekerjaan yang baik di sini," ajaknya. "Wah, di sini aku mengabdi untuk siapa?" jawab Bernard. Kawannya tersenyum. "Sudahlah. Kau memang cinta negerimu, melebihi masa depanmu!" Bernard kembali teringat pekerjaan yang harus dilakukannya. Ia tidak dapat meninggalkannya. Ia amat menyukainya. Kawan-kawan sekantor menyebutnya "gila kerja". Sepulang ke Tanah Air, ia merasa seperti baru bangun dari tidur. Dari pesawat ia menyaksikan Kota Jakarta yang padat perumahan. Jalan-jalan raya yang padat amat kontras dengan pemandangan dari atas Benua Australia. Kepalanya menjadi pening ketika roda pesawat menyentuh landasan. Sayap pesawat yang seperti daun yang mengatup menahan laju di landasan pacu. Di bawah tiupan angin bandara yang kencang dan panas, ia bergegas ke jalur pemeriksaan. Taksi membawanya ke rumah, melewati jalan tol, kemudian barisan rumah kumuh, kondominium, perumahan mewah, hotel berbintang, dan toko yang hangus tinggal tiang-tiang yang menghitam, bekas korban kerusuhan beberapa waktu yang lalu. Keesokan harinya ia masuk kantor. Kawankawan sekantor menyapanya dengan "selamat datang". Basa-basi mana oleh-oleh, membuatnya tersenyum. Memang sebelum pulang ia pernah mampir di toko charity dan membeli beberapa lusin dasi dengan harga miring. Ia membagi-baginya. Rapat dewan pimpinan minggu berikutnya membuat ia resah. Ia tidak tahu agenda apa, dan bosnya tidak seperti biasanya memberitahukan lebih dahulu items rapat. Bos hanya mengingatkannya supaya ia menyiapkan data statistik yang fleksibel, dengan pilihan alternatif yang mungkin. Setelah ia menyampaikan laporan dan rapat menyelesaikan

semua mata agenda, bos memintanya datang ke kantornya setelah jam kerja usai. Sore itu, Bernard agak was was. Perasaan enggan yang muncul sebelum rapat mencuat kembali ke permukaan. Dengan langkah berat ia berjalan ke kantor bos, mengetuk pintu. Ia dipersilakan masuk dan duduk. Bos menceriterakan keadaan departemen secara panjang lebar, dan kemudian, seperti burung elang yang menukik dengan tibatiba dari ketinggian karena melihat seekor tikus, demikianlah bos berkata, "Laporan Anda ditolak pimpinan karena masih jauh dari harapan mereka. Mereka telah mengambil keputusan yang amat bijaksana untuk Anda. Mulai bulan depan, Anda dipersilakan mengurus pensiun muda. Masa depan Anda masih terbuka...." Bernard memperhatikan mulut bos sampai kalimat terakhir. Ia diam. Langit jingga seolah-olah runtuh menimpa kepalanya. Bosnya berdiri dan menepuk bahunya, "Masa depan Anda masih terbuka lebar. Usia Anda masih relatif muda, penuh cita-cita. Silakan!" katanya sambil membuka pintu lebar-lebar. Ia berjalan gontai menuju kantornya, membereskan beberapa barang milik pribadinya, dan kemudian duduk menghadap meja, menulis surat untuk sekretarisnya. Dalam surat itu ia menulis mohon maaf apabila melakukan kesalahan dan memberitahukan bahwa mulai esok ia tidak akan masuk kantor lagi. Ia memasukkannya ke dalam amplop, menaruhnya di atas meja sekretaris. Ia menatap sekelilingnya, menatap kantor yang ditempatinya sejak dua dekade lalu. Minggu berikutnya, di kaki sebuah bukit di jajaran Bukit Barisan, seorang lelaki membaringkan tubuhnya di bawah pohon kopi yang rindang dan sedang berbunga. Ia mengenangkan kembali masa kecilnya, lima puluh tahun silam. Ia merasa sia-sia, menghabiskan hidupnya di kota, tidak memikirkan keluarga demi karier, tidak memikirkan orang lain. Lelaki itu memejamkan mata sambil memikirkan masa lalunya yang sia-sia. Ia merasa dirinya seperti lukisan yang tidak pernah jadi, di tangan seorang pelukis yang gamang, dengan kanvas yang masih separo kosong. ****

Kacapiring
Danarto Sumber: Kompas, Edisi 10/20/2002 RUMAH sakit ini rasanya menebarkan arus kematian. Terasa pada tengkuk dan telapak tangan yang dingin. Lorong-lorong yang lengang mengantarkan kereta jenazah yang bergulir sendirian. Bau obat pengepel lantai yang menelan nasi bungkus pada kemasan air minum yang kempis. Barangkali di ranjang sebelah seorang pasien sedang bergulat memperebutkan nyawanya dengan Malaikat Izrail.Ketika adzan subuh terdengar, saya masih malas bangun dalam tidur duduk dengan kepala terkulai di ranjang Astri, anak saya yang berumur 12 tahun. Astri telah tiga hari pingsan, belum juga ada tanda-tanda mau siuman. Para dokter tidak tahu kenapa lama sekali Astri pingsan.Anak-anak yang sehat, energetik, dan periang, yang mewarisi watak saya yang selalu dalam keadaan senang, sebenarnya tidak mungkin begitu mudah jatuh pingsan. Dunia memang penuh penderitaan, tetapi lupakanlah itu dan rebutlah kegembiraan hidup untuk selamalamanya. Itulah yang pokok, saya pikir, yang saya ajarkan kepada anak-anak dalam mengarungi hidup sehari-hari. Saya ajak mereka menyanyi, menari, dan berdoa, dan kelima anak saya itu - Astri (12), Ajeng (10), Antok (8), Agra (6), dan Ayu (4) - pun menari, menyanyi, dan berdoa. Anak-anak yang baik adalah jendela dengan kaca yang jernih. Kami adalah keluarga yang tidak bersedih. Jika mau bersedih, kita tidak akan sempat bersedih karena hidup kita ini adalah kesedihan.Kami bertujuh hidup dalam kebahagiaan dalam arti yang sempit maupun yang luas. Selalu bertemu setiap hari, dalam waktu yang sempit maupun waktu yang longgar. Kami berbelanja beramai-ramai ke Hero atau Carrefour. Kami makan di Sizzler atau di Lembur Kuring. Kami keluarga yang sibuk sehingga membutuhkan tiga sopir, paling tidak, satu untuk anak-anak, satu untuk istri, dan satu untuk saya, sepertinya kami masing-masing sudah bisa mandiri.Seminggu sekali kami mengitari toko buku selama tiga jam untuk memborong buku dan DVD apa saja yang mendatangkan kesenangan. Kami juga nonton di gedung bioskop dan gedung kesenian, juga di gedung-gedung kebudayaan kedutaan besar. Kami mengisi teka-teki silang dari Harian Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, maupun Republika, sambil menikmati pizza atau hamburger dan es teler. Kami juga

pura-pura tahu tentang gerakan reformasi yang melanda di seluruh Tanah Air.Itulah sebabnya kami merasa digoncang gempa bumi ketika mobil kami ngebut melarikan Astri ke rumah sakit. Menderu dan melakukan zig-zag. Masih dalam keadaan pingsan, Astri saya peluk erat-erat. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan Astri yang menjerit dan jus mentimun yang mestinya ia berikan kepada Mamanya, jatuh ke lantai dengan bunyi gelas yang pecah berderai. Saya berlari ke arah jeritan Astri dan

mendapatkannya terkapar. Saya berteriak memanggil sopir dan membopong Astri ke dalam mobil. Di sisinya, Ajeng dan Antok, adik-adik Astri, gemetar dan menangis memegangi kaki dan tangan kakaknya. Apakah Astri tadi terpeleset atau dia kena serangan jantung? Yang saya heran, ibunya anak-anak tidak memberikan reaksi sedikit pun dan tetap berada di dalam kamarnya. Bahkan sekadar menjenguk pun tidak. "Karena kaget, siapa pun bisa pingsan," kata dokter setelah memeriksa Astri beberapa saat yang membuat kami lega. "Bagaimana dengan jantungnya, Dok?" tanya saya. "Sehat," jawab dokter, "Nanti kalau sudah siuman, Astri bisa dibawa pulang."Saya mengucapkan terima kasih kepada dokter yang kemudian berlalu meninggalkan Astri yang menggeletak di ranjang. Sambil memegangi tangan Astri, saya bengong menatap Ajeng dan Antok yang cemas ketika tiba-tiba hand-phone berdering. "Agra dan Ayu nangis memanggil-manggil Ibu, Pak!" teriak pembantu dari rumah sambil menangis.Saya kaget lalu berteriak, "Bilang sama Agra dan Ayu jangan kolokan. Bawa keduanya ke mamanya." "Pintu kamar Ibu digedor-gedor Agra dan Ayu, tetapi enggak ada sahutan, Pak," teriak pembantu dari rumah. "Dobrak pintunya." "Enggak berani, Pak."

"Dobrak! ""Enggak berani, Pak." "Suruh Totok mendobrak." "Totok enggak berani, Pak." "Mana Totok, saya mau bicara." "Ya, Pak," sahut Totok, sopir anak-anak, yang agaknya berada di samping pembantu. "Tok! Kamu dobrak pintu kamar Ibu." "Mohon maaf, Pak. Saya tidak berani." MULA-mula Laksmi, mamanya anak-anak, memberi tahu kami bahwa dia

membutuhkan kamar sendiri. Saya pikir dia mau menggunakan kamar yang sudah ada. Ternyata dia membangun kamar baru di sebelah perpustakaan. Bagi kami-saya dan anak-anak- tak menjadi soal amat. Kami semua sangat mencintainya. Bahkan anakanak sanggup menunggunya sampai pukul 9 malam untuk bisa makan bareng dengan mamanya.Sebagai seorang ibu yang perfeksionis bagi anak-anaknya, dia mengatur seluruh kehidupan sehari-hari kami dengan seluruh segi-seginya, begitu cermat dan cekatan. Dari jus apel-tomat-wortel yang wajib kami minum setiap hari, dari hobi sampai jenis permainan, dan dari olahraga sampai piknik kami setiap empat bulan sekali, anakanak dan saya, terima beres. Dari sini dia mendapat imbalan yang elok dari langit: anak-anak dan suaminya tumbuh sehat dan mendatangkan kebahagiaan.Dengan kamar barunya itu, Laksmi keluar-masuk kamarnya dengan kunci di tangan. Tentang sikapnya ini, saya pernah secara sambil lalu bertanya kepadanya, "Ada rahasia apa, kok pakai dikunci segala." Dia hanya menjawab dengan senyum. Meski tetap ramah dan murah senyum sambil menyanyi dan menari, tetapi kami, keluarga dekat dan teman-temannya, tak boleh menjenguk kamarnya. Pernah Ayu yang berumur empat tahun, bungsu kami, menangis sejadi-jadinya karena mau ikut, tetapi tetap tak diizinkan masuk ke kamarnya. Laksmi tak peduli Ayu menangis seharian di depan pintu kamarnya. Dari peristiwa ini saya mulai merasakan Laksmi ingin mengucilkan

diri.Laksmi yang kutu buku dan mengenal dengan baik seluruh restoran di Jakarta, jauh lebih keras bekerja daripada saya meski saya sering pulang larut malam. Tidak pernah mengeluh. Selalu tersenyum lebih dulu bahkan dari para tetangganya yang jauh lebih ramah sekalipun. Kesukaannya memasak dan membagikannya kepada satu dua tetangganya meski hanya beberapa potong lumpia, dicatat sebagai sifat

keramahtamahannya. Ketika membangun kamar pribadinya itu usianya tiga puluh tahun dan sedang ayu-ayunya.Di kamar Astri, sekarang berkumpul separuh keluarga. Air mata saya terus berlelehan. Ajeng dan Antok menangis sambil memeluk kaki Astri yang terkulai seperti mati. Beberapa dokter hilir-mudik memeriksa Astri lagi. Mereka berdiskusi secara bisik-bisik dan tidak memberi keterangan apa-apa kepada saya. Karena tak tahan menunggu lalu saya bertanya kepada dokter pertama yang memeriksa Astri. Tetapi, dokter itu memberi isyarat supaya saya bersabar.Seorang dokter lain menyarankan supaya saya memeriksa kamar-kamar di rumah. Lalu saya menelepon Eyang Putri Niniek, neneknya anak-anak, ibu Laksmi, yang sering meluangkan waktu bermain dengan cucu-cucunya. "Sebelum ke rumah sakit, Ibu mampir dan mohon periksa seluruh kamar dan pojok rumah," desak saya. "Istrimu ke mana?" tanya Nenek. "Itulah..." "Itulah apa?” "Tak tahu ke mana.” "Kamu bertengkar dengannya?" "Tidak." "Ayolah, kamu bertengkar." "Sungguh tidak, Bu." Akhirnya Ajeng dan Antok tertidur di tepi-tepi ranjang Astri. Saya merenung tentang hal-

hal kecil yang mungkin sekali terlewatkan dalam urusan rumah tangga. Beberapa orang keluarga dan teman-teman sekelas Astri di SLTP berdatangan menjenguk. Kami mengobrol di kamar keluarga di sebelah kamar perawatan Astri. Teman-temannya menciumi kening dan pipi Astri yang pingsan pulas. Mereka menanyakan mamanya anak-anak. Saya jawab, Laksmi sedang bepergian keluar kota yang tak bisa dihubungi.Telepon genggam berciluit. Rupanya dari nenek yang lalu nerocos. "Laksmi bilang belum bisa menjenguk ke rumah sakit. Dia tak mau membuka pintu kamarnya.” "Cobalah Ibu minta dia menelepon saya." "Sudah saya suruh, tetapi dia tidak mau." "Dia omong apa saja?" "Dia tak omong apa-apa” "Ibu merahasiakan omongan dia, ya?" "Buat apa?" "Jadi Ibu cuma mendengar suaranya dari dalam kamarnya?" "Ya." "Aneh." "Apa?" "Aneh, Laksmi tidak mau ketemu Ibu." "Apa kamu memarahinya?" "Tidak pernah." "Ada apa sebenarnya?" "Saya tidak tahu."

"Kamu suaminya kok enggak tahu." "Benar, Bu." SEORANG dokter masuk memeriksa Astri. Tiba-tiba Astri berteriak, "Mama!" lalu dia terkulai kembali, diam, pingsan lagi.Melihat gejala itu kemudian beberapa dokter dan jururawat berdatangan. Astri lalu diperiksa oleh tiga orang dokter. Lalu para dokter itu memberitahu bahwa tidak ada hal-hal yang mengkhawatirkan.Akhirnya Astri siuman dalam keadaan sehat-walafiat. Seorang kiai dan beberapa orang jamaahnya yang mengaji sepanjang malam di sisi tempat tidurnya, berhasil membangunkannya. Subuh itu Astri terduduk kaget dan berteriak-teriak memanggil ibunya, "Mama! Mama!" lalu turun dari tempat tidur menghambur ke pelukan saya sambil menangis sejadijadinya.Lalu kami meninggalkan rumah sakit beramai-ramai seperti mau menyambut pesta. Kami tidak pulang ke rumah. Kami pulang ke rumah Nenek. Kami menyelenggarakan selamatan untuk Astri. Mirip reuni keluarga, saudara-saudara dekat dan jauh berdatangan. Juga teman-teman Astri di sekolah. Selamatan berlangsung dalam doa yang dipimpin oleh kiai dari kelompok pengajian kami. Malam yang khusyuk. Malam yang berbeda. Malam yang menjadikan kami memperoleh keyakinan kembali. Sampan yang menjauh ke tengah danau, telah kembali merapat ke tepi. Angin malam yang berembus pelan, mengusir malam yang panas menyuruh dapur menghidangkan makanan yang lezat-lezat.Tak terduga, anak-anak senang tinggal di rumah neneknya. Begitu pula Eyang Niniek yang setelah ditinggal lima tahun oleh Eyang Sadewa, suaminya, merasa mendapatkan hidupnya kembali dengan kehadiran cucu-cucunya di rumah. Tentu ada yang hilang. Laksmi tidak kelihatan. Dia tidak ditemui di rumah atau di rumah teman-temannya. Saudara-saudara kami di Bandung, Yogya, Solo, dan Surabaya, juga tidak disinggahi Laksmi selama dua tiga bulan belakangan ini. Saya katakan kepada anak-anak kenapa kita belum dapat menemui mamanya karena mamanya sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan yang harus tepat waktu karena ditunggu pemesannya. Untung Ayu, si bungsu, tidak meronta-ronta.Pada waktu malam cerah penuh bintang ketika Astri sudah berada di dalam keadaan yang ceria, di taman belakang rumah Eyang, di tepi kolam ikan koi, diam-diam saya coba desak dia bercerita tentang peristiwa sore itu ketika dia terjatuh waktu mengantarkan jus mentimun untuk

mamanya. Astri mengingat sejenak lalu bercerita. "Ada kereta api lewat, kencang sekali, berderak-derak, angin menderu, Mama dari atas kereta menyambar gelas jus itu, meminumnya lalu melemparkan gelasnya. Astri terempas, terguling ke samping, lalu mendengar teriakan Mama yang semakin menjauh, 'Mama cuma beli tiket sekali jalan‟" Seperti tersadarkan, mendengar cerita Astri ini saya tersentak dari duduk, menggayut tangan Astri dan mengajaknya buru-buru menengok rumah.Ajeng, Antok, Agra, Ayu, dan Eyang Niniek saya bawa serta. Sopir saya perintahkan ngebut. Saya mendengar suara Laksmi yang menjauh, "Mama cuma beli tiket sekali jalan."Bisakah saya mengejar suara itu. Melayang sobekan kain dari empasan angin kereta api, menderu menyibak tanaman, geliat rel pada tikungan, dengan peluitnya yang panjang, kereta itu lenyap ditelan cakrawala.Sesampai di rumah, para pembantu kaget menyambut kami. Saya dobrak pintu kamar Laksmi dengan linggis. Kami beramai-ramai memasukinya. Ternyata kamar itu kosong-melompong. Tak ada sepotong pun perabotan. Hanya karpet yang memenuhi kamar dengan bau harum pewangi kegemarannya.

Menyaksikan keadaan itu, tiba-tiba anak-anak berteriak-teriak sambil menangis. "Mama! Mama!"Ayu berguling-guling di karpet sambil menjerit-jerit. Kakak-kakaknya menangis memanggili mamanya sambil menyusuri empat dinding kamar kosong itu. Saya tak peduli. Saya minta sopir untuk membongkar plafon, barangkali pikiran saya yang bodoh bisa menemukan persembunyian Laksmi.Akhirnya anak-anak jatuh tertidur kelelahan. Mereka melingkar di tengah-tengah kamar yang sebenarnya tidak luas itu. Saya terduduk di pojok. Ada yang terputus dalam alur perjalanan rumah tangga kami. Sebuah jalan raya yang tiba-tiba lenyap dirakus hutan. Lalu tercipta jalan setapak, menyanyi Tuhan dengan gelang Saturnus, api tiba-tiba terhunus. Konser yang belum dimainkan oleh dirigen yang menunggu pesinden. Saya menatap tubuh anak-anak yang pulas itu seperti gundukan-gundukan pasir di tempat mereka bermain di Pantai Carita, suatu hari yang cerah empat bulan yang lalu. SAYA minta sopir ngebut ke bilangan Senayan, di depan kompleks TVRI, untuk membeli bunga kacapiring kesukaan Laksmi. Saya memilih kembang-kembang itu

sendiri. Pada pukul delapan sehabis makan malam, saya minta anak-anak menaruh bunga kacapiring itu di dalam vas kesukaan mamanya di tengah-tengah kamar. Lalu kami berkumpul di pojok kamar. Kami persis anak yatim piatu. Anak-anak ayam yang kehilangan induknya.Seorang pembantu masuk menaruhkan segelas jus mentimun kesukaan Laksmi di dekat vas bunga itu. Seketika saya terkesiap. Di dapur, pembantu itu saya suruh mengambil kembali jus mentimun itu dan saya membantingnya sampai gelas itu pecah berkeping-keping. Pembantu itu menangis sambil berlari masuk ke kamarnya. "Apa maksudmu menaruh jus mentimun itu di dalam kamar ibu!" bentak saya. "Setiap hari jus mentimun dihidangkan di kamar ibu, pak," jawab pembantu. "Kamu gila!" bentak saya. "Jus itu selalu habis diminum ibu, pak." "Kenapa kamu baru cerita sekarang?" "Kira bapak sudah tahu." "Apa kamu pernah lihat ibu minum jus itu, he!" "Ibu tidak ada tapi ada, pak" Pembantu itu menangis sambil menunduk. Para pembantu lainnya bersembunyi di kamarnya. Saya terduduk di lantai dapur. Barangkali yang gila itu saya. Air mata saya berlelehan. Laksmi tidak ada, tetapi ada. Ini sudah keterlaluan dan sangat jauh menyimpang dari pengalaman perjalanan karier saya. Iman yang begitu tinggi dari orang-orang sederhana seperti para pembantu dan para sopir memberi pelajaran betapa perjalanan hidup itu tidak lurus bahkan perjalanan hidup orang-orang saleh sekalipun. Setiap perahu menyimpan gelombang. Setiap hasrat menyimpan nafsu, dendam, dan tindakan yang tidak masuk akal. APA papa punya salah sama mama?" tanya Astri pada suatu sore ketika kami minum teh berdua di beranda."Kamu pikir, papa punya salah sama mama?" "Menurut papa bagaimana?"

"Menurut Astri bagaimana?" "Mana tahu...?" "Cobalah berterus terang Astri, apa kata hatimu." "Cobalah Papa mendengar kata hati Papa, bagaimana." "Orang lain lebih tahu. Bagaimana menurut Astri." "Papa malu, ya, berterus terang." "Nah, kamu curiga. Nada bicaramu seolah Papa memang punya salah sama Mama." "Nah, Papa yang curiga." "Kamu." "Papa." "Kamu." "Papa."Apakah saya cukup waras untuk mengalami semua peristiwa yang tak terbayangkan ini? Saya yang ingin hidup secara sederhana, penuh kegembiraan, tidak begitu saja bisa mulus melaksanakannya meski syarat-syarat untuk itu semua terpenuhi. Saya merasa diperlakukan tidak adil. Saya harus mencari sebab-sebabnya.Malammalam selanjutnya kami tidur di kamar semedi Laksmi itu. Di atas karpet, kami berbaring berderet-deret seperti pengungsi. Saya berbahagia karena anak-anak sudah mulai kerasan. Bunga kacapiring itu boleh jadi memberi oksigen kepada kami. Mungkin karena jasa Eyang Niniek yang begitu penuh kasih sayang mengasuh anak-anak. Memang, harus ada orang tua yang setia tinggal di rumah untuk mengayomi rumahtangga. Orang tua yang selalu mondar-mandir antara dapur dan ruang keluarga. Orang tua yang membersihkan udara di dalam rumah. PADA suatu malam ketika saya tiba dari kantor, terdengar dari dalam kamar Laksmi, anak-anak tertawa dan bersorak-sorai ramai sekali."Mama curang. Mama curang," teriak anak-anak tertawa penuh canda.

"Tentu saja Mama selalu menang, habis Mama enggak kelihatan, sih."Saya intip dari pintu, anak-anak tertawa, berteriak, berlarian memutari kamar sambil menggenggam apel dan melemparkannya ke udara.Saya terkulai di depan pintu dengan berurai airmata. Ini gila. Saya tak bisa menerima ini semua. Ini keterlaluan. Saya harus merebut kembali kebahagiaan itu. Saya harus merebut kembali Laksmi.Ketika malam telah hening, ketika anak-anak sudah berada di dunia lain, barangkali, pelan saya masuk. Setelah shalat istikharah, saya berdoa di pojok. Mencoba memusatkan pikiran. Kamar itu temaram, menunggu sesuatu yang baru dari kehidupan kami. Perjanjian baru perlu ditandatangani, dengan keyakinan penuh, dengan kedisiplinan, dengan kesetiaan."Laksmi," bisik saya. "Maafkan saya. Saya telah mengacaukan segalanya. Saya telah merusak rumah tanga kita. Ketika Astri bertanya, apakah saya punya salah padamu, saya sadar, inilah sumber dari segala yang mengerikan itu. Laksmi, saya minta maaf. Benar, saya bersalah kepadamu. Di depanmu ini, saya mengakui, saya berselingkuh. Berkali-kali. Secara sadar saya melakukannya. Itu kesalahan besar. Suatu dosa besar. Barangkali di kantor kami semua sudah gila. Kami dicengkeram oleh situasi yang sangat sulit untuk kami hindari. Kami terkepung tembok. Beban pekerjaan terlalu berat. Hiburan memang bermacam-macam bentuknya untuk memunggah semua beban itu. Saya tak mampu melakukan pilihan. Maafkan saya. Sekarang saya memohon dengan sangat kepadamu, maafkanlah saya. Kembalilah. Saya minta Laksmi kembali ke dalam keluarga. Kamu tahu, anak-anak sangat membutuhkanmu. Laksmi, mereka tidak mungkin bisa hidup tanpa kamu. Mereka sangat mungkin akan gagal dalam hidup karena tanpa kamu. Lebih-lebih saya. Dengan ini saya berjanji, juga bersumpah, saya tak akan mengulangi perbuatan itu. Kasih kesempatan kepada saya. Laksmi. Kasih kesempatan. Saya paham sekali sekarang, tak ada wanita lain yang bisa saya cintai. Laksmi, engkaulah satu-satunya yang saya cintai sampai akhir zaman. Engkau suci, Laksmi sedang saya profan." Tangerang, 11 Juni 2002

Sebilah Pisau dari Tokyo
Naning Pranoto Sumber: Kompas, Edisi 10/13/2002 SEBILAH pisau? O, besar sekali dan panjangnya sekitar 30 cm! Ya, ya, malam itu kulihat sebilah pisau besar, bentuknya cukup aneh, paduan antara golok dan celurit. Jelasnya begini: gagangnya terbuat dari kayu eboni, pangkal mata pisau berbentuk mirip golok Betawi, tetapi ujungnya seperti celurit Madura. Penampilannya berkilat-kilat, pancaran ketajamannya.Ini pisau dari Tokyo. “Pisau kesayangan Taro, ya, suamiku. Maksudku, Taro gemar memasak dan pisau ini alat utamanya untuk memasak. Lebih baik Taro tidak memasak, bila pisau ini terselip atau sedang tidak ada di dapur...." "O, tapi... ee... pisau itu menakutkan. Eee... maksudku, terlalu besar dan terlalu tajam sebagai pisau dapur. Lebih cocok digunakan di rumah jagal saja," selaku, sebelum penjelasan pisau dari Tokyo itu selesai. Yang menjelaskan mengenai pisau dari Tokyo itu adalah Naomi Nerusa, share-mate-ku (teman serumahku), ketika aku belajar di Benua Kangguru. Ya, aku dan Naomi menyewa rumah secara patungan, untuk kami tempati bersama selama dua tahun. Aku mengenal Naomi ketika kami sama-sama tinggal di apartemen kampus yang sewanya relatif mahal. Maka, aku dan Naomi lalu mencari rumah yang sewanya lebih murah daripada apartemen kampus tersebut. Aku memilih Naomi sebagai share-mate-ku karena dia kunilai cukup komunikatif, lincah, dan pernah berkunjung ke Jakarta, Yogya, dan Bali. Sehingga kalau kuajak bicara mengenai ketiga tempat itu bisa nyambung. Oya, Naomi juga suka masakan Indonesia, khususnya sate ayam Madura. Malam itu, aku dan Naomi siap membuat sate ayam Madura untuk makan malam kami. Maka ia mengeluarkan pisau dari Tokyo, untuk memotong-motong daging ayam yang akan kami buat sate. "Nah, you saja yang memotong-motong daging ini, aku yang mengupas rempahrempahnya. Oke?" kata Naomi, ketika aku mengambil pisau kecil untuk mengupas bawang merah untuk lalap.

"Lho kok aku yang mesti memotong-motong daging, memangnya kenapa?" tanyaku heran, karena kulihat tiba-tiba wajah Naomi yang semula ceria berubah menjadi kecut mengkerut. "Eee... aku takut sama pisau itu. Sejak pertama kali melihatnya, aku memang takut. Heehhhh... maafkan aku!" mata Naomi memejam, lalu membalikkan diri ke arah lain, memunggungi pisau yang berkilauan itu. "Naaah... kalau kau takut, mengapa pisau itu kau keluarkan?" tanyaku, sambil mengikuti arah muka Naomi. "Kupikir kita perlu pisau tajam untuk memotong-motong daging ayam. Tapi, eee... maaf," tiba-tiba ia tertawa, tetapi tawanya sumbang. "Lho... kok tertawa. Katamu.... kau takut, tapi tertawa!" aku ikut tertawa, karena melihat mimik Naomi yang lucu: diliputi rasa takut, tetapi berusaha sok kalem. "Ya, aku tertawa karena ingat sejarah pisau itu," Naomi masih tertawa, "Lucu, kisahnya! Ya, lucu-lucu seram," sambungnya, sambil membalikkan tubuhnya dan menunjuk pisau yang katanya ditakutinya. "Lucu, kisahnya. Lucu-lucu seram, bagaimana itu?" aku penasaran. "Pisau itu, pemberian Paman Tsuda-pamannya Taro," Naomi mulai bercerita, "Kedua orangtua Taro meninggal ketika Taro masih kecil. Maka, ia lalu diasuh Paman Tsuda. Nah, Paman Tsuda itu pembuat pisau ulung di desanya, di pinggiran Tokyo. Taro juga dilatih membuat pisau. Tetapi, ketika lulus SMP ia tidak berminat melanjutkan usaha pamannya memproduksi pisau. Ia tertarik bidang elektronik dan pamannya merestui. Maka, ketika aku berkenalan dengan Taro, ia telah bekerja di perusahaan elektronik di Tokyo. Kami pacaran tiga bulan, lalu menikah...." "Apa hubungannya ceritamu dengan pisau dari Tokyo ini?" selaku tak sabar karena cerita Naomi kuanggap berbelit-belit. "Nanti dulu. Ceritaku belum sampai ke pisau...," Naomi memintaku bersabar.

"Okay. Lalu, bagaimana?" desakku. "Nah, setelah aku jadi istri Taro, aku tinggal bersama Paman Tsuda. Waktu aku akan berangkat ke Australia-ya, untuk belajar yang sekarang sedang saya jalani ini, Paman Tsuda menyuruhku membawa pisau ini. Aku menolak, karena aku merasa tidak memerlukannya. Yang memerlukan pisau itu Taro, karena Taro selalu

menggunakannya untuk memotong bahan makanan yang dimasaknya. Tapi, Paman Tsuda mendesakku. Katanya, pisau itu bisa kujadikan senjata...." "Kau jadikan senjata? Senjata untuk apa?" aku terheran-heran. "Ini dia yang lucu. Tapi, lucu yang sekaligus seram," Naomi menggeleng-geleng, "E... sungguh menyeramkan. Kata Paman Tsuda, pisau ini bisa kugunakan untuk membunuh Taro, kalau Taro menyeleweng...." "Heehhh... menyeleweng? Selingkuh maksudmu?" tegasku. "Ya, kalau Taro punya love affair dengan perempuan ketiga...," jelas Naomi. "Apa Taro... ee... maaf, suamimu itu suka selingkuh atau semacam itu?" aku ingin tahu. "Kok sampai pamannya bilang begitu..." "No, no... Taro bukan laki-laki tipe itu. Dia laki-laki yang baik dan aku tahu, dia sangat mencintaiku, suka membangga-banggakanku...." "Ya, ya, jelas, karena kau cantik dan pintar...," komentarku. "Ya, mungkin," Naomi mengerlingkan matanya dan ada bias-bias kebanggaan terpancar dari mata itu. "Sayangnya, ia sering memukul dan menggigitku bila ia berhubungan intim denganku...! Ya, dia punya kelainan. Itu, yang kubenci... itu yang kutakuti. Maka, sering terlintas dalam benakku, aku ingin meninggalkannya untuk mencari kelembutan dan belaian dari laki-laki lain. Atau, paling tidak ...jauh darinya, agar aku bebas dari...." matanya yang semula berbinar-binar itu lalu meredup dan suaranya serak.

"Ohhh, Naomi!" desisku dengan bingung, karena aku tidak tahu harus berbicara apa untuk menanggapi penuturannya itu. "Maka, aku senang, ketika Taro mengirimku belajar kemari ya... di Australia ini. Jadi, aku bebas dari pukulan-pukulannya dan gigitan mautnya. Gila! Kalau dalam seminggu ia mengajakku berhubungan intim dua atau sampai tiga kali, maka tubuhku hancur, babak belur. Pangkal pahaku, perutku, leherku, dan payudaraku akan biru-biru lebam. Aku biasanya jadi malas keluar rumah, Selain sakit, aku juga malu karena jalanku jadi engkang-engkang-jelek. Belum lagi leherku yang penuh bekas gigitannya, payudaraku juga nyeri, apalagi lubang vaginaku... seperti disodok-sodok tombak!" Naomi meringis. "Sampai begitu? Ohhh... Naomi!" aku mendesis lagi dan jadi ngeri membayangkan kelainan Taro, suami Naomi. "Makanya, aku sebetulnya tidak happy, kalau suamiku nyusul aku kemari," suara Naomi tiba-tiba merendah, seperti berbisik. "Lho, tapi, bukankah suamimu telah memutuskan akan menyusulmu kemari? Bahkan kau bilang, dia mau melamar jadi PiAr- permanent resident di sini, bukan?" aku mengingatkan apa yang pernah diceritakan Naomi kepadaku, sebelum ia jadi sharemate-ku. "Ya, mau dia memang begitu. Dia ingin tinggal di Australia, karena ingin menginjak tanah. Maksudku, ia ingin tinggal di rumah besar, berhalaman luas dan bisa mengendarai mobil pribadi. Maklum, hidup di Tokyo menginjak tanah adalah barang luks. Maksudku, hidup di Tokyo tidak mungkin tinggal di rumah besar, berhalaman luas dan bisa mengendarai mobil pribadi. Biaya hidup di Tokyo sangat mahal. Yang bisa kami bayar hanyalah tinggal di apartemen ukuran 3 x 3 meter, untuk keperluan segalanya. Kalau punya mobil harus menyewa garasi yang sewanya sama dengan untuk menyewa apartemen...," Naomi memandangiku, sebagai penegasan, "Makanya, bagi Taro, tinggal di Australia adalah impiannya dan itu harus diwujudkannya!" "Jadi, kapan dia kemari?" aku ingin tahu. "Ya, tiga bulan lagi, setelah ia menjual barang-barang kami dan mengurus surat-surat

pindah. Aku dan Taro akan memulai hidup baru di sini...." "Oh... indah sekali. Kalian bakal menemukan surga di Australia. Orang Jepang uangnya banyak. Kulihat, banyak orang Jepang yang membeli rumah dan mobil-mobil mewah di sini...." "O... tidak semua orang Jepang begitu," Naomi cepat-cepat meralat kalimatku. "Walau Taro sudah manager, tetapi gajinya tidak besar. Jadi, ya... kalau cuma membeli rumah keong dan mobil seconds mungkin bisa...," Naomi merendah. "Apalagi kalau kau sudah kerja di sini," seruku, karena kuliah Naomi, yang ambil Master Fakultas IT akan selesai tahun depan. "Master lulusan IT banyak diperlukan di Australia." "Mudah-mudahan," mata Naomi sedikit berbinar. "Yuk, sekarang kita bikin sate ayam. You yang memotong-motong dagingnya!" sambung Naomi. Aku pun lalu menggunakan pisau dari Tokyo untuk memotong-motong daging ayam yang akan kami buat sate. Bukan main, pisaunya tajam sekali. Maka, Naomi lalu memperingatkanku agar aku berhati-hati ketika menggunakannya, agar tanganku tidak teriris olehnya. TARO sudah datang dari Tokyo dan tinggal bersama kami. Benar kata Naomi, Taro memang gemar memasak dan selalu menggunakan pisau dari Tokyo, untuk memotong bahan-bahan yang dimasaknya. Sungguh terampil tangannya ketika menggunakan pisau itu, saat memotong apa saja: dari bawang putih, seledri, daun bawang, hingga ikan dan daging yang diolahnya. Aku sering menyaksikannya bila ia masak untuk makan malam mereka dan kadang aku diberinya. Karena, aku juga sering memberi mereka apa yang kumasak pada pagi hari. Sejak ada Taro, aku memang sering tukarmenukar makanan. Sebelum Taro datang, Noami sering minta tolong aku untuk memasak. Naomi memang tidak suka memasak! Jadi, kalau ia memasak, artinya terpaksa! Sejak Taro di Australia, Naomi tidak pernah ke dapur. Jadi, pisau dari Tokyo itu sama sekali tidak dipegangnya. Aku juga tidak memegangnya, karena aku lebih

suka menggunakan pisauku yang kubawa dari Jakarta, untuk mengupas bumbu-bumbu atau memotong bahan-bahan yang kumasak. Taro selalu mendesakku agar aku menggunakan pisau dari Tokyo, dengan alasan, lebih tajam dari pisauku. Bahkan suatu pagi Taro bilang padaku, "Bila aku berpisah denganmu, pisau ini akan kuberikan padamu, untuk kenangkenangan." Aku tertawa mendengar apa yang dikatakan Taro. Di balik tawaku, sebetulnya aku ngeri dan kemudian berkata, "Taro, apa indahnya kenang-kenangan sebilah pisau... pisau yang sangat tajam dan bentuknya aneh. Terus terang, aku takut pada pisau itu! Naomi juga takut." "Ah, jangan takut. Pisau ini jadi menakutkan bila digunakan untuk membunuh. Bila digunakan untuk tujuan positif seperti untuk memotong-motong bahan yang akan kita masak atau berkebun, membabat ilalang dan rumput ya tidak apa-apa...," sahut Taro dengan sikap tenang. Bersikap tenang, adalah pembawaan Taro yang paling menonjol. Maka, aku jadi heran dan bertanya-tanya: apakah mungkin laki-laki berpembawaan setenang Taro punya kelainan buas, suka memukul dan menggigit pasangannya, ketika melakukan hubungan seksual seperti yang diceritakan Naomi? Kupandangi Taro, yang malam itu sedang duduk sendirian di ruang makan, sambil memandangi sajian masakan yang telah dimasaknya sejak sore, untuk makan malamnya bersama Naomi. Jam telah menunjukkan pukul 21.30. "Taro, Naomi belum pulang?" tanyaku, merasa kasihan pada Taro yang kuhitung hampir dua minggu selalu menanti kedatangan Naomi yang terlambat. "Ya, Naomi belum pulang. Akhir-akhir ini ia selalu pulang terlambat...," sahut Taro, suaranya berat dan patah-patah. Aku tahu, ia ingin mengeluh kepadaku, tetapi ditahannya. Maka ia lalu kuhibur sebisaku, "Taro, mungkin Naomi masih belajar di perpustakaan. Atau, barangkali ada meetingkerja grup. Maklum, student IT memang banyak tugas, bikin program yang aneh-aneh dan rumit...." "Ya, barangkali," Taro memandangiku dengan mata kosong.

"Tapi, apakah sistem belajar di Australia harus sampai larut begini? Lebih dari pukul sembilan malam belum selesai?" "Tergantung fakultasnya, Taro. Kalau aku, yang ambil ilmu sosial ya... tidak sampai malam kalau belajar bersama. Tapi, kami dituntut banyak membaca. Aku lebih senang membaca di rumah daripada di perpustakaan," tuturku. "Ya, kupikir, merancang program juga bisa di rumah. Aku kan juga pernah belajar komputer-IT. Memang sih... otodidak...! Tapi, kupikir, Naomi tidak perlu sampai pulang terlambat terus. Iya, kan, begitu?" Aku diam saja. Aku tidak ingin masuk ke dalam lingkar masalah yang sedang dihadapi Taro yang tampak unhappy karena istrinya, ya... Naomi, selalu pulang terlambat. Hari berikutnya, Naomi pulang terlambat lagi. Terus, terlambat lagi. Begitu, hingga pada suatu senja aku melihat Naomi bergandeng tangan mesra dengan student dari Kolombia, teman sekelasnya. Setahuku, di kampus, student Kolombia itu dipanggil: Banderas! Padahal, nama sebenarnya Ferdinand. Ia dipanggil Banderas karena wajah dan tubuhnya memang mirip Antonio Banderas-aktor Hollywood asal Spanyol, yang pernah dinobatkan oleh sebuah majalah wanita terbitan Amerika, sebagai salah satu pria terseksi di dunia. Maka dapat dibayangkan, betapa tampannya Ferdinand, yang menggandeng Naomi. Taro yang tingginya kuperkirakan tidak sampai 160 cm, tentu bukan bandingan Ferdinand. Diam-diam kuikuti arah jalan Naomi dan Banderas. Mereka dari perpustakaan menuju ke utara, ke apartemen kampus Blok A. Aku jadi ingat, Ferdinand memang tinggal di Blok A, lantai 6-yang dikenal sebagai markas student dari Kolombia. Kuperhatikan, Naomi dan Ferdinand naik lift. Pikirku, jadi selama ini, Naomi selalu pulang malam karena bersama Banderas? Aku lalu ke perpustakaan, ada meeting, dan pulang ke rumah pukul 21.00. Sampai di rumah, kulihat Taro sedang memasak dengan wajah murung. Padahal biasanya, kalau memasak pukul 18.00 dan wajahnya ceria. Meskipun demikian, ia berusaha tersenyum semanis mungkin begitu melihatku masuk ke rumah. Seperti biasanya, ia menanyakan keadaanku. Seperti biasanya juga, aku menjawab: fine, thank you! "Ohhh... very good! Very good!" Taro menanggapiku, lalu menghentikan langkahku yang mau naik ke loteng, menuju ke kamarku.

"Jangan masuk ke kamar dulu. Aku mengundangmu makan malam. Aku buat sushi dan sup sirip ikan...," kata Taro, "Itu, mangkuk dan piringmu sudah kusiapkan," sambungnya, sambil menunjuk dua set piring dan mangkuk di atas meja makan. "Naomi belum pulang?" tanyaku kemudian, sambil berusaha keras mengerem diri untuk tidak menceritakan Naomi yang kulihat bergandengan tangan bersama Ferdinand alias Benderas. Lalu, Naomi ke Blok A, ke kamar Ferdinand. Bisa ditebak, apa yang mereka lakukan berdua di kamar? Kusingkirkan pikiran keruhku mengenai Naomi-Ferdinand. Perhatianku kufokuskan kepada Taro yang mengajakku bicara mengenai Naomi. Ia berkata, "Malam ini Naomi tidak pulang. Dan, ia memang tidak pernah akan pulang lagi di rumah ini. Dia pulang ke tempat lain bersama kekasihnya...!" sahut Taro, nadanya tenang, tapi membuatku terkejut. "Apa maksudmu, Naomi pulang ke tempat lain bersama kekasihnya, Taro?" tanyaku spontan. Taro tidak menjawab. Tapi, ia memperlihatkan pisau dari Tokyo yang berlumuran darah yang mulai mengering dan beratus-ratus helai rambut menempel di permukaannya. Aku mengenali rambut itu, rambut Naomi. Ohhh...! Tubuhku langsung gemetar dan butir-butir keringat dingin bermunculan di keningku. Sebilah pisau dari Tokyo yang ada di tangan Taro itu di mataku tampak menyeringai dipenuhi ribuan pasang taring Rahwana yang tengah mencabik-cabik leher Naomi yang kuning mulus dan jenjang. Lalu, darah segar pun mengalir deras dari leher Naomi yang terkoyakkoyak dan terpatah itu.... "Mari, makan malam bersamaku, sebelum polisi menangkapku. Atau, sebelum aku menyerahkan diri ke polisi...," kudengar lamat-lamat suara Taro mengajakku makan, dengan suara tenang. Aku tidak mau dan memang tidak bisa memenuhi ajakannya, karena kepalaku tiba-tiba pusing, perutku mual, mataku berkunang-kunang, lalu lupa segalanya, kecuali kilatan pisau itu: sebilah pisau dari Tokyo. Pisau jagal...! ***

Kenanganku di Gold Coast,Oktober 2001

Kaki-Kaki Air
Afrizal Malna Sumber: Kompas, Edisi 10/06/2002 SETELAH banjir sebulan yang lalu, yang menghanyutkan seorang gubernur dan mayatnya lenyap di Sungai Ciliwung, banyak jalan yang berlubang. Sejak itu warga kota sering bermimpi buruk tentang lubang-lubang di jalan raya itu, juga tentang kematian gubernur. Rakyat merayakan kematiannya sebagai kematian sebuah monster kota.Ruwatan kota dilakukan di Sunda Kelapa. Rakyat melakukan doa di atas perahu, mensucikan kembali jiwa-jiwa yang pernah tersiksa sepanjang hidupnya. Kampungkampung juga melakukan selamatan bersama untuk mengembalikan arti kehidupan bersama.Tetapi kota ini memang seperti sebuah baskom yang buas. Ruko-ruko berjejer seperti pagar kota, namun juga sebagai kayu api yang mudah dibakar setiap kerusuhan terjadi.Seorang ibu yang mengantar anaknya sekolah, harus melompati atap-atap mobil untuk bisa menyeberangi jalan yang macet. Seorang pengendara sepeda berlari tanpa hambatan, melompati atap bis satu dengan atap bis lainnya. Anak-anak sekolah bermain basket di atas atap kereta jurusan Depok-Kota. Aih, Jakarta, kau seperti seorang nyonya dengan betis bengkak, dipenuhi dengan sardencis, sosis, dan mentega.Aku membeli koran pagi itu. Kota ini selalu ramai dengan berita. Ada wakil presiden yang istrinya tujuh. Ada seorang presiden yang disandera dalam video. Uang beredar trilyunan dalam sehari. Harga kurs dan saham. Ada pesta putauw di rumah wakil gubernur Jawa Barat. Kedubes Amerika ditutup, kenaikan terigu. Ada pencuri pete yang mati digebuki massa yang menangkapnya. Ada anggota partai yang dikarantina agar suara mereka tetap bulat dalam pemilihan gubernur. Padahal gubernur yang akan dipilih itu telah mati dalam banjir yang lalu. Ada bandar heroin yang tertangkap. Tibatiba sebuah bis keluar dari koran yang sedang aku baca. Kondekturnya berteriakteriak:"Grogol!" "Grogol!"

"Di jalan raya mesti sopan, dong" Buset, bagaimana orang bisa membangun kualitas hidupnya di kota seperti ini. Warga kota hanya soal hitungan pajak, bukan? Dan bagian-bagian mana saja dari kota ini yang bisa diperas.Tidak usah khawatir, kualitas itu tidak penting, yang penting adalah bagaimana seluruh transaksi harian bisa dilunasi, bukan? Dan mimpi buruk, jiwa-jiwa yang memaknai hidupnya sendiri lewat kegelapan, adalah cara negatif untuk mengisi kekosongan berbagai proses kualitas kehidupan setiap warga agar tetap

berlangsung.Lebih baik aku meralat dusta pagi ini. Sebenarnya aku tidak membeli dan membaca koran. Sebenarnya berita-berita itu juga tidak pernah ada. Pagi itu aku sedang menyapu di halaman. Membersihkan tanaman yang kering dan menyiramnya. Tanaman perdu ramai sekali bercerita tentang akarnya yang terasa perih karena kekurangan air. Pohon mangga gatal-gatal, badannya dijangkiti jamur berwarna putih. Tetapi apa bedanya, sebuah bis tiba-tiba muncul dari bongkahan tanah. Kondekturnya berteriak-teriak:"Grogol!" "Grogol!" "Di jalan raya mesti sopan, dong." MATAHARI baru saja melepaskan diri dari sebuah tembok tinggi yang atasnya dikelilingi kawat berduri pagi ini. Kota terasa lebih sepi dari biasanya. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Orang-orang juga lebih banyak tinggal di rumah. Sebagian besar kantor dan daerah perdagangan tutup. Sesuatu sedang terjadi di kota ini.Dua hari yang lalu beberapa lubang di jalan raya tiba-tiba berubah menjadi sumur yang dalam. Airnya jernih. Dalam sumur itu hidup ikan-ikan yang tidak pernah dikenal sebelumnya.Jilan, anakku, sering melihat ke sumur-sumur itu. Dan setiap ia pulang, setelah melihat sumur-sumur itu, aku melihat matanya telah berubah menjadi sepasang sumur yang dalam, yang airnya jernih, dan ada ikan-ikan yang belum pernah ada sebelumnya. Wabah sumur ini bergerak begitu cepat, jutaan warga dalam waktu cepat, matanya berubah menjadi sumur yang dalam, airnya jernih, dan ada ikan-ikan yang belum pernah ada sebelumnya.Makhluk dengan mata seperti sumur itu kini mewarnai kehidupan kota sehari-harinya. Gejala lain kemudian muncul, sumur itu ternyata mulai

memiliki kekuatan yang tak terduga. Setiap kendaraan bermotor yang melewati sumursumur itu, mesinnya seketika mati. Hanya kendaraan tak bermotor yang terus bisa berjalan. Begitu pula setiap warga kota yang matanya berubah menjadi sumur, seluruh alat-alat elektronik mati manakala mata mereka menatapnya.Banyak peralatan elektronik atau bermesin yang mendadak mati di kota ini. Orang-orang yang matanya belum menjadi sumur mendadak nilainya menjadi sangat mahal dan dilindungi. Merekalah kini yang dikerahkan bekerja menjalankan kehidupan kota. Mereka mendapat pengawalan super ketat. Bila ada yang mengganggu warga kota yang mendadak menjadi istimewa ini, akan ditembak di tempat. Berbagai cara digunakan untuk melindungi mereka.Pemerintahan kota kini sibuk memikirkan bagaimana caranya menutup sumur-sumur yang tumbuh di seluruh jalan di kota ini. Masalahnya tidak sederhana, karena orang yang berusaha menutupnya, dari matanya akan mengalir air mata terus-menerus, tak henti-henti. Tangisan yang tidak bisa dihentikan oleh apa pun. Tangisan yang sedih dan pedih. Tangisan yang membuat setiap orang yang mendengarnya, seperti menyaksikan sebuah duka cita yang teramat sedih dan teramat panjang.Orang-orang kini tidak lagi membicarakan apa saja yang dilakukan dan telah terjadi sepanjang hari-hari mereka. Sejak kejadian itu, warga kota lebih banyak membicarakan apa artinya cinta dan apa artinya waktu. Entah kenapa kedua topik ini kini menguasai benak warga kota.Orang-orang yang matanya selamat untuk tidak menjadi sumur tidak terlepas dari perubahan topik pembicaraan ini. Mereka juga ikut membicarakan soal apakah cinta dan apakah waktu. Pekerjaan mereka untuk menjalankan mesin kota mulai ditinggalkan, karena mereka lebih banyak ngobrol soal dua topik itu. Para pengawal yang menjaga mereka tidak berkutik. Mereka tidak bisa melarang orang-orang itu untuk tidak membicarakan dua topik itu. Belum ada peraturan untuk melarang orang membicarakan soal cinta dan soal waktu. Bahkan para pengawal itu sering terpaku mendengarkan bagaimana mereka membicarakan cinta dan waktu. Nyanyian itu membuat langit seperti mengeluarkan cahaya biru di malam hari. Orangorang terharu dengan perubahan ini. Mereka mulai merasa memiliki hubungan baru dengan langit. Melihat langit di malam hari seperti melihat kesibukan makhluk-makhluk yang tugasnya hanya merajut waktu dan merajut cinta.Nyanyian cinta dan nyanyian waktu terdengar di mana-mana. Banyak orang yang menciptakan lagu berdasarkan dua

topik itu. Kota ini seketika berubah menjadi sangat romantis dengan nyanyian-nyanyian itu dan sumur-sumur itu. Orang kini lebih banyak menanam bunga dan menjahit pakaiannya sendiri, seakan-akan mereka juga sedang merajut waktu untuk hari esok mereka. "Lihat, aku baru percaya sekarang, aku baru bisa merasakan sekarang, bahwa aku hidup!" "Lihat, aku hidup, bukan?" teriak mereka.Tubuh mereka seperti dialiri oleh darah yang baru. Darah yang lama, yang kotor dan hitam pekat telah menguap entah ke mana. Kulit mereka, yang sebelumnya tampak mati oleh polusi yang biadab di kota ini, juga seperti berganti dengan kulit yang baru, segar, dan terasa halus. Bibir mereka tidak lagi kering dan kebiru-biruan. Tapi berwarna merah seperti tomat. Mereka hidup seperti tanam-tanaman. "Aduh... lihat... ada tomat, ada wortel, ada cabai, ada... Semuanya, deh, tanaman ada di sini," kata Princess. "Morgen, Princess, sayang."Kota ini, kini, tidak pontang-panting lagi mengikuti mesin yang memproduksi kecepatan berlipat ganda. Gerak menjadi normal, natural. Waktu juga berjalan normal, tidak berada jauh di luar akal sehat manusia. Gestur tubuh tidak lagi tampak tegang dan kaku. Orang berjalan seperti tarian. Bibir mereka seperti menyimpan banyak kata untuk keramahan. Pakaian mereka, aih, seperti ada rumah ibadah dalam tubuh mereka, rumah untuk bercinta. SUATU hari, entah siapa yang memulai, rakyat di kota ini mulai menanami pohon di jalan-jalan berlubang itu. Pohon yang berbuah. Bukan pohon yang tidak menghasilkan buah.Seluruh jalan raya di kota ini kini berubah menjadi hutan kota. Hutan yang dibesarkan oleh sumur-sumur itu dan oleh tangan-tangan rakyat. Uang pajak untuk pemerintahan kota, juga digunakan sendiri oleh rakyat untuk membangun kota mereka yang kini menjadi kota baru itu. "Ayah, aku ingin menjadi tukang sapu di kota ini," kata Jilan. Dan kau tertawa mendengarnya, tawa yang dibanjiri oleh cara membaca dari mana hidup ini mesti

dijalani. Dan cinta, tidak perlu lagi menggenggam sebilah pisau di tangannya, Cinta adalah janji pada setiap butir nasi yang kumakan, pada setiap air yang kuminum, pada setiap udara yang kuhirup. Cinta adalah ... sumur-sumur itu sedang menciptakan waktu dari kaki-kaki air.***

Kalimalang, 2002

Kyoto monogatari
Seno Gumira Ajidarma Sumber: Kompas, Edisi 09/29/2002 TERBUAT dari apakah kenangan? Aku tidak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan itu selalu kembali dan kembali lagi: suatu pemandangan yang kudapatkan ketika kereta api shinkansen itu tiba-tiba menembus daerah salju dan kulihat seorang perempuan berjalan di luar rumah sendirian dalam badai. Apakah yang dikerjakan seorang perempuan dalam badai yang menggebu seperti itu? Tidak banyak rumah di dataran salju yang kulihat itu, dan hanya perempuan itu yang tampak dalam keluasan serba putih dan memutih sampai di batas cakrawala. Udara penuh dengan salju yang beterbangan karena tiupan badai sehingga perempuan yang berjalan dengan lambat itu tampak menapak dengan begitu berat. Apakah yang dilakukannya dalam badai bersalju seperti itu? Aku tidak bisa memperkirakan apapun dan aku harus menerima kenyataan betapa aku tidak akan pernah tahu. Pemandangan itu bagiku memilukan, bukan hanya karena merasakan kembali dingin yang merasuk dan membekukan, tapi karena gagasan akan kesendirian dalam keluasan padang memutih itu. Berja-lan sendirian di tengah padang salju dalam badai yang dingin dengan suaranya yang menggiriskan tidaklah terlalu menyenangkan. Dari balik jendela kereta api suara itu sudah teredam, tapi aku pernah mengalami badai bersalju dengan suaranya yang menggiriskan di Mongolia, sehingga aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi sampai perempuan itu harus berjalan susah payah dengan sepatu yang setiap kali harus diangkat tinggi karena melesak ke dalam tumpukan salju dalam badai yang kencang dan begitu dingin seperti itu. Semuanya sudah kulupakan, termasuk jurusan kereta api itu: menuju Kyoto dari Tokyo, ataukah menuju Osaka dari Kyoto, aku tidak bisa ingat lagi-tinggal kenangan akan seorang perempuan yang melangkah dengan berat dalam badai dan hujan salju. Namun di Kyoto aku mengenal seorang perempuan. Tapi aku tidak bisa menceritakan apapun tentang perempuan itu. TERBUAT dari apakah kenangan? Dari saat ke saat aku masih bertanya-tanya, apakah kiranya yang dilakukan perempuan yang kulihat berjalan sendirian di padang salju itu? Waktu kereta api lewat dan aku menengok dari balik jendela, tampak ia baru saja keluar

rumah. Jejak-jejaknya terlihat menapak dari sebuah pintu. Masih selalu mengganggu ingatanku dari waktu ke waktu, apakah ada seseorang yang ditinggalkan di dalam rumah itu, atau memang kosong saja di dalamnya sehingga barangkali ia pergi begitu saja tanpa mengunci pintu? Tentu saja aku tidak melihat perempuan itu keluar dari rumahnya, sehingga aku juga tidak tahu apakah ia mengunci atau tidak mengunci pintu itu sama sekali. Kereta api itu lewat begitu cepat, seperti angan-angan melintas, tapi pemandangan yang kulihat kemudian seperti tidak akan pernah pergi lagi untuk selama-lamanya. Mengherankan bahwa kenangan seringkali terpendam begitu lama dan muncul begitu saja tanpa ada sebab yang harus menghubungkannya. Aku masih selalu penasaran dan bertanya-tanya, mengapa suatu kenangan bisa terpendam begitu lama sampai muncul tiba-tiba pada waktu dan tempat yang tiada pernah akan terduga. Kenangan itu kadang-kadang bisa muncul kembali sekali saja dalam seumur hidup, terkenang sekali lantas tiada pernah datang kembali. Bagaimanakah caranya suatu peristiwa berubah menjadi kenangan, tapi yang terpendam begitu lama sampai suatu ketika mengingatkan dirinya pernah terjadi, sekali, lantas tak pernah muncul lagi? Bukankah ajaib untuk membayangkan bagaimana caranya kenangan tersimpan dan muncul kembali atau sama sekali tidak pernah muncul kembali meskipun tetap ada entah di mana di sebuah dunia yang tiada akan pernah kita ketahui seperti apa? Ada kalanya suatu peristiwa juga ingin kita lupakan karena kepahitan yang menyertainya. Selalu ada peristiwa dalam hidup ini yang ingin kita hapus saja dari kenangan, seperti tidak pernah terjadi, meski tetap saja teringat sampai mati - rupanya selalu ada alasan untuk mengenangkan kembali semua peristiwa yang sungguh mati ingin kita lupakan saja sampai habis tanpa sisa. Hmm. Terbuat dari apakah kenangan? Bagaimanakah caranya melepaskan diri dari kenangan, dari masa lalu yang tiada pernah sudi melepaskan cengkeraman kepahitannya pada masa kini? Kenangan barangkali saja tidak selalu utuh: sepotong jalan, daun berguguran, ombak menghempas, senyuman yang manis, langit yang merah dengan mega-mega berarak dalam cahaya keemasan; tapi bisa juga begitu utuh ketika menikam langsung ke dalam hati seperti sembilu. Tidak mungkinkah kenangan yang pahit kembali sebagai sesuatu yang manis? Kenangan seperti diciptakan kembali oleh waktu, membuat masa lalu tak pernah berlalu, bahkan mempunyai masa depan untuk menjadi bermakna baru. Mungkinkah kenangan itu

seperti suatu dunia, tempat kita bisa selalu mengembara di dalamnya? Aku mempunyai kenangan yang lain di Kyoto, yang selalu menjadi nyata karena sebuah genta. Kenanganku adalah bunyi genta itu, genta kecil yang manis dan selalu berdenting oleh angin yang berhembus pelahan, yang bisa kubawa pulang dan mengingatkan kembali segalanya. Angin itu harus berhembus dengan kepelahanan yang sama dengan ketika aku pertama kali mendengarnya, dan dengan demikian bunyi genta itu mengembalikan suatu masa yang telah berlalu. Bagaimanakah suatu masa yang telah berlalu bisa kembali lagi dan mengembalikan perasaan dan suasana yang sama seperti ketika aku mengalaminya, aku sama sekali tidak pernah bisa mengerti. Kenanganku tentang pemandangan di luar jendela kereta api shinkansen itu selalu kembali bukan karena bunyi denting genta kecil itu. Kenangan itu selalu kembali seolah-olah tanpa penyebab apapun, atau setidaknya aku tidak pernah tahu pasti apa yang selalu mengembalikan kenangan itu kepadaku. Apakah karena aku berta-nya-tanya apa yang terjadi di dalam rumahnya? Apakah ada seorang anak yang tergeletak dan sakit parah di sana, sehingga perempuan itu harus keluar rumah mencari obat dalam badai seperti itu? Perempuan itu menapaki salju dengan langkah yang berat, dan tetap akan berat meski sepanjang hidupnya ia tinggal di sana sehingga tentunya juga terbiasa dengan alam dan iklim seperti itu. Langkahnya berat dan udara begitu dingin, apakah kiranya yang begitu mendesak? Kereta api itu memasuki daerah salju dengan begitu tiba-tiba seperti pesawat antariksa menembus batas luar angkasa. Dalam kenanganku seperti terjadi sebuah ledakan, dan hanya daerah salju itu saja yang menjadi kenanganku seterusnya. Bukan di luar daerah itu, bukan pula ketika di dalam kereta api itu. Dalam kenangan itu aku tidak pernah melihat diriku sendiri sedang memandang dari balik jendela. Namun di Kyoto aku mengenal seorang perempuan. Tapi aku tidak bisa menceritakan apapun tentang perempuan itu. TERBUAT dari apakah kenangan? Aku tidak ingin mengingat sesuatu, tapi ada suatu kenangan yang selalu kembali. Aku ingin sekali mengingat-ingat sesuatu, tapi barangkali aku akan lupa untuk selama-lamanya. Aku juga selalu teringat sesuatu yang tidak pernah kuceritakan kembali, tidak pernah kukatakan, tidak pernah kuapa-apakan, karena kenangan itu memang hanya bertengger saja dalam kepala. Tapi mungkin saja peristiwa ini terjadi. Perempuan itu berjalan di dataran salju meninggalkan jejak yang

panjang. Tidak ada seorangpun yang tahu ke mana perempuan itu pergi. Di dalam rumah seorang lelaki menunggu perempuan itu kembali. Dunia memutih dan kelabu, lampu-lampu menyala menjelang gelap. Lelaki di dalam rumah itu menunggu dalam gelap, bertanya-tanya tentang kenapa perempuan itu pergi begitu lama dan tidak juga kembali. Kemudian ia juga ke luar, mencari ke mana kiranya perempuan itu pergi. Ia mengikuti jejaknya. Ia mengikuti jejaknya sepanjang jalan, sepanjang padang, sepanjang kepahitan yang meruyak di dalam hatinya. "Kamu mau ke mana?" "Tidak ke mana-mana." "Cuaca seperti ini dan kamu keluar dan kamu bilang tidak ke mana-mana." "Aku memang tidak ke mana-mana." Ia mengikutinya, dan ia tidak tahu perempuan itu pergi ke mana. Mungkinkah jejak ini mencapai suatu tempat, mungkinkah jejak ini mencapai suatu tempat yang tidak pernah ingin diketahuinya? Kalau kereta api itu lewat sedetik lebih cepat atau sedetik lebih lambat, tentunya aku akan melihat pemandangan yang berbeda, dan kenanganku akan menjadi lain. Aku akan selalu teringat sesuatu yang lain, tapi yang tidak mungkin kuketahui dengan pasti kiranya seperti apa. Mungkin sebelumnya ada lelaki lain di luar rumah, dan perempuan itu melihat lewat jendela. Mungkin itu beberapa menit sebelumnya, bukan hanya sedetik sebelumnya. Bagaimana kalau kereta api itu lewat beberapa menit lebih lambat? Barangkali akan kulihat seorang lelaki berjalan di tengah padang salju, mengikuti bekas jejaknya kembali, berjalan lambat menuju rumah itu. Dari kejauhan, dari dalam kereta api yang meluncur begitu cepat, pasti tidak akan kulihat pisau berdarah yang masih digenggamnya. Masih ada kepahitan di wajah lelaki yang muram itu. Peristiwa ini tentu tidak pernah terjadi. Kereta api melewati tempat itu beberapa menit sebelum atau sesudahnya tidak akan mengubah apa-apa. Tidak ada satu kemungkinan yang memberi peluang kepada pengetahuan yang utuh. Sebetulnya aku selalu membayangkan seandainya kereta api itu lewat ketika perempuan itu sudah menjadi mayat dan terkapar di depan rumahnya. Aku selalu membayangkan ada bekas-bekas darah di atas salju. Barangkali lebih baik mayat itu tidak ada, dan hanya ada bekas da-rahnya. Ada bekas seretan yang panjang

dan berdarah. Tapi sebetulnya aku hanya melihat seorang perempuan melangkah keluar dari rumahnya dalam hujan dan badai salju-aku bahkan tak tahu itu memang rumahnya atau bukan, dan aku tidak melihatnya membuka pintu, menutupnya kembali, dan melang-kah ke padang salju. Aku hanya melihatnya sedang berjalan dengan susah payah sehingga terbentuk jejak dari sebuah rumah ke tempatnya sedang melangkah. Tapi mungkinkah bisa dipastikan peristiwa itu tidak pernah terjadi? Apakah ada sesuatu di dunia ini yang bisa kita ketahui dari segala kemungkinan, serentak, dan seutuhutuhnya? Di kereta api shinkansen yang meluncur dengan kecepatan peluru, aku hanya tahu perasaanku menjadi rawan. Memasuki daerah itu bola-bola salju berhamburan dan pecah di jendela. Semua itu mestinya tidak mungkin terjadi, tapi aku tidak pernah tahu apa yang telah dan akan terjadi. Betapa sedikit yang bisa kita ketahui dalam hidup yang begitu singkat. Namun di Kyoto aku mengenal seorang perempuan. Sayang sekali, aku tidak bisa menceritakan apapun tentang perempuan itu. ***

Durban - Cape Town, Maret 2002.

Kurir
Gus tf Sakai Sumber: Kompas, Edisi 09/22/2002 SIAL benar. Seharusnya ia tak membiarkan Parto langsung pergi. Lihatlah tingkah si satpam: menahan tubuhnya dengan ujung pentungan, memasang wajah mengancam meski tahu ia tak mungkin bakal memaksa masuk. Pikiran apakah yang ada di kepala si satpam, memperlakukan dirinya begitu rupa, tak ubahnya bagai seorang

bandit?Menarik napas, tak putus asa, ia ngangakan tas yang dikepitnya. "Lihat, Pak." Disodorkannya ke hadapan si satpam. "Hanya brosur. Lembar-lembar promosi.""Tetap tidak bisa. Atau, tinggalkan di sini. Biar kami yang memasukkan."Tinggalkan di sini? Dilayangkannya pandang, ke sana; jauh ke dalam gerbang, ke jalan menuju kompleks perumahan yang dipagari jeruji besi dan kawat berduri. Samar-samar tampak pagar tembok, menjulang, berjenjang-jenjang. Dan atap, mencuat bertingkat-tingkat. Dan... kotak pos. Di manakah kotak pos mereka? Ke dalam kotak pos itulah ia mesti memasukkan brosur dan lembar-lembar promosi ini."Sini!" Si satpam menjulurkan tangan yang sebelah lagi, yang kiri. Bulat, pejal, dan gempal. Jauh lebih berotot dari yang kanan -yang mengacungkan pentungan. Hmm, pastilah satpam ini seoran kidal."Sini!"Tidak. Jika brosur ini ia serahkan, siapa bisa menjamin si satpam memang akan memasukkannya ke kotak-kotak pos itu? Jika si satpam tak memasukkan, itu artinya sama dengan mencampakkan brosur ini di jalanan. Dan jika hal itu terjadi, justru dengan demikianlah ia bisa disebut si penipu. Bandit. Menerima imbalan untuk apa yang tak pernah ia lakukan.Menghela napas, mengucapkan terima kasih, ia membalikkan tubuh. Sekilas, ditolehkannya kepala ke arah mana Parto tadi melesat. Benar-benar tak tampak lagi sosok tandem-nya itu. Kepul motornya pun tidak. Padahal, di sebelah sana - ah, jauhnya - ada kompleks perumahan lain yang, siapa tahu, satpamnya bersedia dan membolehkannya masuk.Perlahan, tapi pasti, diayunkannya langkah ke kompleks itu. Lebih ia benamkan topi. Disaputnya peluh. Panas. Debu. Di permukaan aspal, bayang atmosfer bagai menggigil. Dan di bagian punggung, bajunya, seperti biasa, mulai melengket... SEBENARNYA, sangat sering ini terjadi. Ditolak satpam. Tapi, kenapa ia selalu lupa

mengatakan pada Parto agar menunggunya sejenak, memastikan satpam mengizinkan, sebelum men-drop-nya di perumahan bersangkutan? Ah, kadang, ia merasa pekerjaan rutin dan menjemukan ini membuat benaknya lumpuh. Courier, begitulah yang tercantum di kartu namanya. Berkesan gagah - karena tertulis dalam bahasa asing padahal pada kenyataannya cuma "kurir kelas kaki" yang mengantarkan barang (lebih sering surat) atau dokumen (lebih sering brosur atau lembaran lepas promosi) ke berbagai alamat. Dan karena barang atau dokumen bagiannya melulu brosur dan lembar promosi, kotak pos-kotak pos kompleks perumahan adalah "alamat" tugasnya.Kadang, terpikir juga olehnya, kapankah ia tidak lagi di-tandem dan naik tingkat ke "kelas motor"? Duduk di boncengan Parto, sering ia bayangkan, dirinyalah yang ada di depan, membonceng kurir tandem-annya di belakang, dan kemudian mendrop-nya di sebuah kompleks perumahan pada suatu tempat entah di mana. Sungguh menyenangkan. Bukan hanya karena ia terhindar dari deraan lelah jalan kaki dan hunjaman terik Matahari, tapi lebih dari itu: karena barang antarannya adalah dari jenis yang lebih berharga.Dan, satpam - pikirannya kembali ke tadi, kenapa satpam-satpam itu begitu arogannya? Kepada orang seperti dirinya kurir kelas kaki, terasa sekali satpam-satpam itu bagai sengaja menunjukkan kekuasaan. Tetapi... ah, mungkin tidak. Satpam-satpam itu mungkin tengah berusaha menjalankan tugas. Harus waspada. Hati-hati. Siapa tahu ia memang seorang bandit, rampok, yang menyamar jadi kurir. Atau mungkin lebih tepat ia seorang "tukang gambar", memetakan lokasi, untuk kemudian muncul bersama gembongnya suatu hari, atau mungkin suatu malam, menggasak habis seluruh isi kompleks! Ah, memang mengerikan. Atau lebih gila, mungkin ia adalah seorang pengacau yang membawa dan kemudian meledakkan bom pada suatu tempat entah di mana tanpa alasan!Memang, memang mengerikan. Jadi, wajarlah kalau satpam-satpam itu bersikap begitu. Jadi wajarlah kalau komplekskompleks perumahan dibangun dengan "sistem pengaman" yang begitu ketat. Jeruji besi, kawat berduri, tembok tinggi, ah, sebenarnya... sebenarnya, alangkah kasihan mereka. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah merasa aman. Di jalan, dalam mobil, apakah benak mereka juga dipenuhi bayang perampokan? Penodongan, di perempatan - aduh, Kapak Merah, pemerasan, "Pak Ogah", macet, macet yang panjang... betapa ia tiba-tiba bisa maklumi. Dan... lihatlah rumah mereka, betapa jauh di

pinggir

kota,

tentu

semata

buat

mendapatkan

sedikit

kelegaan,

luput

dari

kebisingan.Kembali, disaputnya peluh. Memang alangkah jauh. Bahkan jarak masingmasing perumahan. Seperti ini, di sini. Mungkin ada sekilometer. Mungkin lebih. Dipisahkan tanah-tanah bekas sawah yang membotak, kerontang. Ada beberapa pohon yang tampaknya berusaha ditanam, tapi kurus. Bahkan di sana, arah ke mana samarsamar tampak jalan tol, sama sekali ranggas. Ah, atmosfer seperti apakah yang telah dengan begitu ganas menggasak kehijauan?Tiba-tiba, ia ingat kampung.Kampung yang jauh nun di luar pulau.Hamparan hijau. Kaki Gunung Lokon. Minahasa, Minahasa... betapa kadang ia tak percaya ia telah meninggalkannya. Apakah sebenarnya yang membuat ia pergi dan kemudian datang ke kota ini? Dan kota ini, kekuatan gaib apakah yang dipunyainya, yang membuat orang merelakan diri jadi apa pun, hanya demi untuk tetap bisa bertahan di dalamnya? Dan ia sendiri... jadi courier. Kurir, kelas kaki. Hanya itu yang ia dapat, yang ia bisa. Ah.Kadang, ia gembira-gembirakan diri. Seraya mengenang kampung, ia bayangkan legenda itu: legenda para dotu. Ia senang pada bagian yang mengisahkan saat kesembilan dotu diutus oleh Toar Lumimuut, nenek moyangnya, pergi ke sembilan daerah untuk membentuk sembilan suku di Minahasa. Salah seorang dotu konon kembali pulang menghadap Toar Lumimuut dan mengatakan ia tak berhasil membentuk suku di daerah yang ia tuju dan mohon diutus ke daerah lain. Ketika Toar Lumimuut menanyakan kenapa ia tak berhasil, si dotu menceritakan penduduk di daerah bersangkutan adalah kelompok manusia yang tak bisa diselamatkan. Mereka terdiri dari orang-orang kejam, buas, tak berhati nurani seperti binatang.Toar Lumimuut mengabulkan keinginan si dotu. Tapi sebelum si dotu diutus ke daerah lain, ia ditugaskan untuk kembali ke daerah bersangkutan dengan kotak tembikar. Isi kotak - yang rupanya semacam serbuk - harus ia tebarkan ke udara. Saat si dotu sampai dan menebarkan serbuk itu, terjadilah hal yang mencengangkan. Penduduk daerah bersangkutan, berubah jadi binatang.Ya, ia senang bagian itu. Kotak tembikar, itu seperti paket. Dotu, itu seperti kurir. Dan binatang? Ah! Harimau, serigala, buaya, ular, badak, kerbau.... HARI ini, aih, siapa sangka ia naik tingkat ke kelas motor? Tapi tidak, tentu tak dapat dikatakan naik tingkat. Pagi tadi, ia muncul di kantor agak terlambat. Tak ada lagi siapasiapa, tak ada Parto yang menunggunya, kecuali Nina yang tugas rangkap-rangkap - ya

sekretaris ya personalia ya entah apa. Juga tak ada si bos, yang telah mengantarkan entah barang apa entah ke mana. (Si bos, seorang lelaki 40-an dengan van tua, adalah juga seorang kurir. Kantor courier service itu pun hanya berupa ruang kecil dengan tiga petak mirip lorong ke belakang, terjepit di sebuah gang.)Parto bukannya tak menunggunya. Melainkan seperti kata Nina, memang berhalangan. Dan si bos menugaskan dirinya menggantikan Parto. Menggantikan Parto - meski cuma sehari! Betapa ia tak percaya. Saat menerima kunci motor dan sebuah paket dari gadis yang sekretaris yang personalia yang entah apa lagi yang pendiam tapi cekatan itu, dadanya berdebar.Sesuatu yang lebih berharga. Bukan brosur. Bukan lembaran lepas promosi.Dibacanya alamat paket, sebuah kawasan di pusat kota. Noon express, artinya harus sampai sebelum pukul 12 siang. Hmm, masih banyak waktu.Maka, di atas motorlah ia kini, sendiri, seperti pernah dibayangkannya. Betapa ia sangat gembira. Bahagia. Seraya tancap gas, diluruskannya punggung ditegakkannya kepala, menikmati terpaan angin ke tubuhnya. Menyelip. Jalan raya dan kecepatan, betapa mengasyikkan. Lagi, ia menyelip. Menyalip. Terdengar teriakan, "Babi!"Babi? Ia menoleh ke bus kota, ke supir yang meneriakinya. Sedetik, ada ketertusukan dalam dada, tapi lalu ia lupakan. Itu sepele. Sudah biasa. Lagi pula, ini hari bahagia. Seluruh detik mestinya berharga, dan ia tidaklah terlalu tolol untuk merusaknya.... TETAPI, betulkah hari bahagia? Berjam-jam ia berkeliling berputar-putar mencari alamat itu, tapi tak bertemu. Benaknya pun lalu diserbu tanya: Apakah paket ini salah menuliskan nama? Atau salah menuliskan alamat? Ada sesuatu yang

janggal.Sebenarnya, sudah beberapa jam lalu ia sampai ke alamat yang dituju. Sebuah rumah besar, berarsitektur gaya Belanda, megah. Berpagar tembok, dengan jeruji besi setinggi tiga meteran, ujung-ujungnya runcing mirip mata kail. Dan tak lupa, pos penjaga. Dan dua orang satpam.Saat paket itu ia serahkan ke salah seorang satpam dan si satpam memeriksa, satpam itu mengernyitkan dahi. Salah alamat, begitu katanya. Salah alamat yang aneh. Ganjil. Alamatnya betul, tetapi nama yang tertulis di paket bukan nama si pemilik rumah. Kenapa bisa?Mungkin bukan nomor 9, tapi 4. Maka ia pun pergi ke rumah nomor 4 tetapi ternyata juga tidak. Mungkin 8, bukan 9, maka ia pun pergi ke rumah nomor 8 tapi juga tidak. Ataukah salah nama jalan? Maka jalan-jalan di seputar situ, di kawasan berkode pos sama bernomor 9 atau 4 atau 8 - ia

datangi. Ternyata juga tidak. Sementara waktu telah menunjuk hampir pukul 12 (aduh, noon express)!Putus asa, ia kembali ke alamat semula. Mungkin paket ini memang bukan untuk tuan si satpam, tetapi seseorang lain di rumah itu. Siapa tahu satpamsatpam itu orang baru, tak tahu semua anggota atau kerabat dekat pemilik rumah. Tetapi, ketika ia mengemukakan kemungkinan itu kepada si satpam, wajah kedua satpam itu berubah. Bengis. Seorang mendorongnya ke luar seraya berkata, "Badak!" Satpam lain menimpal, "Kerbau!"Maka terpaksa ia kembali pergi. Sudah lewat pukul 12. Mulai ada rasa cemas. Mungkin bukan satu angka, tetapi dua (si pengirim paket mungkin alpa angka lainnya). Maka, semua nomor bersatuan atau berpuluhan 9, ia cek. Tapi... tetap tidak. Beratusan 9. Tetap juga tidak. Dan akhirnya, senja. Ia memarkir motor, terhenyak, di seberang jalan tak jauh dari rumah megah berarsitektur Belanda itu.Sungguh alangkah lelah. Fisik. Psikis.Ternyata bukan hari bahagia. Melainkan hari sial, sesial-sialnya.Di matanya, membayang wajah si bos, yang nanti tentu marah atau kecewa. Siapa tahu, tugas menggantikan Parto ini sengaja dipakai si bos untuk menguji apakah ia pantas naik ke kelas motor atau tidak. Sungguh memang sial. Dan satu lagi, dalam satu hari ini saja, tiga kali ia dimaki sebagai binatang. Babi, badak, kerbau. Ah.Dihelanya napas, dalam, lalu melayangkan pandang ke sekitar. Ia tahu hari telah senja, tetapi baru sadar senja kali ini begitu buramnya. Tembok pejal, pagar tinggi, jeruji. Ah, bukan hanya kompleks perumahan saja yang memakai sistem pengaman seperti itu. Di sini juga, banyak sekali. Ini jugakah yang menyebabkan senja, meski lampu bernyalaan di mana-mana, jadi terkesan kaku dan tak berjiwa? Dilayangkannya pandang, sekelebat, ke rumah berarsitektur Belanda itu. Ia telah akan mengalihkan pandang ketika sesuatu bagai menahannya. Apa?Ada yang berubah. Dibanding yang lain, rumah itu tampak lebih suram. Dilihat penampilannya ketika siang, mestinya kini lebih menonjol. Ataukah, karena jumlah lampu yang tak begitu banyak? Beberapa sengaja dibiarkan mati? Ah, bukan hanya itu. Diperhatikannya lebih cermat. Pos satpam! Pos satpam... tak lagi ada! Juga jeruji besi bermata kail itu! Apakah ia salah lihat?Penasaran, dihidupkannya motor. Dikendarainya pelan-pelan ke rumah bernomor 9 itu. Memang tak ada. Pos satpam itu lenyap! Dan, bukan pula hanya pagar yang berubah. Ada yang lain - mungkin juga

arsitekturnya, tapi ia tak begitu ingat.Dibelokkannya motor, ke dalam pagar, yang kini rendah saja. Ia bingung. Takjub. Adakah rumah yang bisa disetel, sedemikian rupa, sehingga bentuknya di saat siang dan ketika malam jadi berbeda? Satpam itu, sudah tak ada. Jadi ia bebas. Dimatikannya mesin. Diparkirnya motor, lalu berjalan menuju teras.Ternyata, ia tak perlu mengebel atau mengetuk. Begitu tubuhnya ada di teras, sesosok lelaki besar, tinggi, berkumis dan berjenggot tebal, muncul bagai menyambut. Sedetik, ia tertegun. "Paket...." "Ya, saya tahu. Telah lama saya menunggu." "Noon express. Maaf. Sejak pagi saya mencari, tapi...." "Ya, saya tahu. Andalah orangnya. Kurir mana yang bisa sabar mencari sampai senja?"Lelaki ini... tahu? Apakah ia sengaja dipermainkan? Tapi ia tak peduli. Kenyataan bahwa akhirnya paket ini sampai, telah membuatnya sangat

lega.Disodorkannya tanda terima. Lelaki tinggi besar itu menandatangani, bergumam, "Sembilan ratus tahun."Walau telah tak peduli, ia mendengarnya. Tak yakin. Lelaki itu seperti tahu keheranannya, mengulang, "Sembilan ratus tahun, saya menunggu. Apakah itu tak lama?" SUNGGUH lega. Hari yang tiba-tiba panjang ini, akhirnya selesai tak seperti yang ia cemaskan. Dipacunya motor. Kencang.Ia telah keluar dari jalan perumahan dan menikung ke jalan utama. Tetapi, saat itulah ia tiba-tiba terkejut. Pengendara motor yang melintas di depannya, sosoknya begitu besar. Bengkak! Dipacunya motor, mendahului. Dan... astaga! Benar, seekor badak!Ia terlongong. Akan diteriakinya siapa pun memberitahu. Tapi, ketika matanya terbentur ke sebuah sedan yang lampu dalamnya menyala, jelas sekali ia lihat si pengemudi... seekor buaya! Dialihkannya pandang ke mobil lain. Pengemudinya, seekor babi! Diamatinya angkot, metromini. Dan penumpangnya: Orangutan, singa, kera, harimau, serigala.... Barulah ia sadar, para pejalan kaki, di bawah terang-lindap pendar lampu-lampu, ternyata juga adalah para binatang. Oh!Dihentikannya motor. Terengah.Mendadak, berkelebat di kepalanya: Lelaki tinggi besar itu, paket itu. Sembilan ratus tahun! Kiranya, lelaki itu tak berkelakar,

tak bercanda. Toar Lumimuut. Dotu. Kotak tembikar. Ah, mungkinkah?Paket... serbuk itu... manusia yang tak bisa diselamatkan. Sembilan ratus tahun... orang-orang kejam, buas, tak berhenti nurani. Binatang? Ah! harimau, serigala, buaya, ular, badak, kerbau.... *** Payakumbuh, Agustus 2002

Cermin Pasir Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas, Edisi 09/08/2002 TAK ada robot di lereng Merapi. Hanya puluhan truk bergerak lamban: membelah dusun dengan deru memekakkan telinga. Kadang-kadang ketika gerimis mendera, binatang-binatang besi itu melata dan meliuk-liuk seperti ular. Kadang-kadang merayap seperti kadal saat sarat muatan. Tetapi, tak jarang mereka melesat seperti anjing ketika langit di atas gunung memerah dan udara kehilangan embun atau kristal-kristal air. Tak ada yang berani menjelaskan mengapa setiap hari kian banyak truk menyisir hampir setiap sudut desa. Tak ada yang berani mempertanyakan mengapa bukit-bukit makin gugruk, berlubang, atau sama sekali hilang.Dan, truk-truk terus datang dan pergi serupa siluman, serupa mambang. Larut malam mereka selalu mengusung pria-pria kekar—sebagian besar berseragam, kemudian menghilang setelah beberapa bagian bukit krowak dan sungai-sungai kian dalam.Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali. Batu, koral, pasir, dan puluhan perempuan. Bukan hanya itu! Bukan hanya itu! Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali. Keheningan sehabis hujan. Sabetan-sabetan wayang Ki Dalang. Dan, celoteh anak-anak kala rembulan jatuh di genting atau di kesunyian tegalan.Baiklah, kuperkenalkan kepadamu: mereka menyebutku penggoda, tetapi sebenarnya aku penari.Lihatlah, bahkan di bak truk yang tersengal-sengal mendaki jalanan menuju ke lereng gunung itu pun aku masih bisa memesona para penambang pasir dengan gerak trisik menyamping dan mangenjali yang tegak lurus dengan langit. 1Malah saat para pria bertelanjang dada itu mendesiskan bunyi-bunyi aneh serupa doa, aku berusaha mencuri perhatian dengan keajaiban ngigel dan kerling mata Ken Dedes atau Drupadi.”Mungkin hujan akan segera turun, mengapa sampean tak berhenti menari?” seseorang tiba-tiba mendesah.”Aku punya firasat buruk, berhentilah menggoda kami,” salah seorang penambang sepuh ikut-ikutan mendesis sambil melihat punggungku.”Malam nanti saya harus menari untuk Kiai Petruk. Izinkan saya berlatih barang sejenak. Setelah bertemu dengan Romo Sentanu dan Ayat, saya akan berhenti.””Malam nanti kami hanya slametan. Kami cuma berkumpul di gereja dan mensyukuri panen. Kami tak akan

menari,” penambang sepuh mendesah lagi.”Tetapi Ayat dan Romo Sentanu meminta saya menari,” lenguhku sambil melakukan gerakan pacak gulu.Sejenak sunyi. Tak ada yang berani menghentikan tarianku. Ya, menyebut nama Kiai Petruk, Romo Sentanu, dan Ayat di desa itu sama saja dengan memanterakan kedigdayaan para dewa.Kiai Petruk, kau tahu, adalah kedahsyatan yang indah2. Kalau marah, dari mulutnya yang gaib ia bisa memuntahkan wedhus gembel. Tak perlu berbelit-belit, baiklah kubocorkan kepadamu: pada mulanya aku tak mau menggunakan ungkapan Kiai Petruk untuk menyebut Gunung Merapi. Namun, sejak menyusup ke desa ini aku terpaksa berurusan dengan segala pantangan dan eufimisme aneh terhadap gunung yang berkacak pinggang di pusat Pulau Jawa itu. Maka, aku pun menyebut awan panas yang bergulung-gulung dan menyemburkan debu-debu kejam itu sebagai wedhus gembel. Aku jadi sering menggumamkan kata-kata aneh saat kilau lahar meleleh ke lerenglereng.Tentang Romo Sentanu: ah, dia hanyalah pastor desa. Aku terpaksa berurusan dengan pria santun itu karena dia terlalu mencampuri urusan para pengusaha penambang pasir dengan penduduk. Dia malah kerap berperan sebagai penggerak demonstrasi ketimbang sebagai paderi. Dan, salah satu tugasku ke desa ini, kau tahu, adalah penggoda. Kalau perlu merontokkan namanya.Karena itu aku akan menari telanjang di kamarnya. Akan kurobohkan seluruh pemahaman dia tentang kerling mata perempuan, desah manja wanita sehabis senja, dan pagutan indah singa betina di leher pria kencana.Kadang-kadang saat suara-suara cenggeret dan garengpung membelah desa, aku sudah membayangkan para lelaki kekar berseragam, teman-temanku yang tak banyak cakap itu, membentangkan kedua tangan Romo di tubuh bukit, memaku kedua telapak tangan, dan menancapkan linggis ke lambungnya. Dan, selalu pada saat dia mengerang kesakitan, aku membuka seluruh pakaian dan menarikan tarian paling erotis dan menghunjamkan pemandangan menyiksa itu ke matanya yang telah dibutakan.Jadi, dia bukan lawan yang harus terlalu diperhitungkan. Kapan pun tangantangan kami yang perkasa bisa dengan mudah menghilangkan nyawa paderi yang santun itu.Ah, kau tentu telah mengenal Ayat lebih dari aku mengenal batu-batu, koral, lumut, dan keheningan desa ini. Kau tentu pernah melihat pria bersarung yang sering memainkan lakon Kunjarakarna itu untuk membeberkan kebusukan pengusaha penambangan pasir.Kau tentu sering melihat mulutnya yang nyinyir saat meledakkan

kata-kata, ”Dewa ora adil! Dewa ora adil!” 3 di hadapan orang-orang asing yang berkunjung ke desa itu.Ya, di mata dalang ceking itu dewa memang tidak adil. Dewa memakmurkan para pria kekar yang tak habis-habis menambang pasir dan tak pernah menggubris penderitaan petani-petani miskin. Dewa hanya memberi Kiai Petruk dan wedhus gembel, tetapi lupa membelai rambut para perempuan yang kehilangan suami saat lahar meluluhlantakkan desa.Dan kalau sudah mendalang, Ayat bisa berubah menjadi dewa. Dengan lembut dia bisa mengajak siapa pun melawan kesewenangwenangan. Suatu hari ketika dia bilang, ”Mari menari semalam suntuk di sepanjang jalan!” orang-orang sedesa berjoget dari mulut desa hingga ke lereng Merapi.Keruan saja tak ada truk berani menembus kerumunan penari. Tak ada yang bersikeras melindas kepala anak-anak kecil yang sengaja menonton gerak indah para tetua kampung sambil tiduran di sepanjang jalan.Ayat juga mahir menari. Melihat Ayat menari, orang sedesa seperti berjumpa dengan Petruk yang ramah. Petruk yang tak pernah menghukum orang-orang sederhana dengan lahar, awan panas, dan hujan batu yang tak kunjung henti. Petruk yang tak pernah menebarkan kedengkian, pertikaian, dan kebencian.Tetapi Ayat bukan Romo Sentanu. Dalam keindahan gerak tariannya bersemayam malaikat sekaligus iblis. Dia, aku dengar dari para penari lain, gampang bertekuk lutut di hadapan perempuan yang lebih mahir menari. Ibarat Samson, dia sangat mudah ditaklukkan oleh Delilah.Kini kau mulai tahu mengapa diperlukan penggoda untuk menyingkirkan Ayat dan Romo Sentanu. Maka, baiklah kuperkenalkan kepadamu: Mereka menyebutku sebagai penggoda, tetapi sebenarnya aku

penari.Lihatlah, bahkan di bak truk yang tersengal-sengal mendaki jalanan menuju ke lereng gunung itu pun aku masih bisa memesona para penambang pasir dengan gerak trisik menyamping dan mangenjali 4 yang tegak lurus dengan langit.Malah saat para pria bertelanjang dada itu mendesiskan bunyi-bunyi aneh serupa doa, aku berusaha mencuri perhatian dengan keajaiban ngigel dan kerling mata Ken Dedes atau Drupadi. ”Mungkin hujan akan segera turun, mengapa sampean tak berhenti menari?”Tak lama kemudian hujan memang turun. Dan, aku menghentikan tarianku tepat ketika truk mengonggok di depan gereja. Mungkin Romo Sentanu dan Ayat akan tergopoh-gopoh menyambutku. Mungkin sambil membungkuk-bungkukkan badan, Ayat akan bilang,

”Mangga Den Ayu, Putri Keratonku, mari menari bersamaku.”Ya, dia boleh bilang begitu. ”Tetapi, aku datang untuk menggodamu, meruntuhkan, dan meluluhlantakkanmu.”DI lereng Merapi kilau cahaya mata Romo Sentanu lebih gaib ketimbang pijar lahar. Karena itu begitu bersitatap dengan Nagreg, segala rencana jahat perempuan kencana dari kota itu membentuk semacam adegan film tragis di keheningan jiwanya yang senantiasa memancarkan kesabaran.Tak aneh jika Romo Sentanu yakin suatu saat Nagreg akan mencampurkan racun di dalam minuman Ayat sehingga Ki Dalang kehilangan suara: tak bisa lagi memainkan wayang dan menebarkan kritik kepada para pengusaha penambangan pasir liar yang jumlahnya kian tak bisa dihitung dengan ketajaman ingatan.Romo Sentanu juga tahu Ayat tak bakal bisa menari lagi karena saat menari bersama Nagreg dalam ritual Larung Sengkala yang chaos, puluhan pria kekar berseragam membabat kaki penari yang setiap tariannya merefleksikan pemberontakan pemilik bukit yang dicekik orang-orang serakah dari kota itu. ”Saya hanya ingin menari bersama Ayat, Romo. Saya ingin menghentikan amarah Kiai Petruk dengan tarian-tarian cinta yang belum pernah ditarikan siapa pun,” Nagreg yang tak berani memandang kilau mata Romo Sentanu tiba-tiba merajuk. ”Ya, biarkan dia menari dan jadi pesinden saya, Romo,” desis Ayat seraya meredam berahi yang tak tertahankan.Tak ada jawaban. Dan, ketika dari arah puncak Merapi terlontar sinar merah ke beringin putih di ujung desa, ketika lolongan suara serupa gajah yang terluka merintih-rintih mendera seantero kampung, Romo Sentanu menggigit bibir sampai cairan darah segar menggelincir dari mulutnya. ”Nagreg akan menyelamatkan kampung ini, Romo. Biarkan dia menari bersama saya,” desah Ayat lagi sambil bersimpuh dan hendak mencium kaki pria kencana yang sangat dimuliakan itu.Belum ada jawaban. Nagreg mengumbar senyum dalam jiwa. Dan, di luar dugaan Ayat, Romo Sentanu meninggalkan gereja. Ayat tak tahu jika Romo Sentanu bertahan dan tak kembali ke kamar pribadi di sebelah gereja, bisa-bisa Nagreg merajuk dengan membuka seluruh pakaian di hadapan patung Bunda Maria yang teduh atau menarikan gerakan tak senonoh di bawah wajah Isa yang menyeringai karena luka di lambung dan tancapan mahkota duri yang menghunjam kepala.Ayat juga tak tahu di

kesunyian dan dingin Merapi yang ganjil, Romo Sentanu melihat Isa menangis sesunggukan di bawah pohon beringin putih di ujung desa. Suaranya melengkinglengking bagai puluhan gajah terluka. 5 ARAK-arakan itu lebih mirip karnaval ketimbang ritual persembahan kepada Kiai Petruk. Dan, malam itu di antara ratusan obor yang diacung-acungkan ke langit, di antara hujan awan panas dan lahar yang terus meleleh pada November yang perih, Romo Sentanu diapit beberapa misdinar memimpin upacara Larung Sengkala yang bakal dihanyutkan di dam yang kehabisan air.Di belakang Romo Sentanu menjalar ratusan penduduk kampung yang mengikuti gerakan tari Ayat dan Nagreg. Ada yang mengenakan topengtopeng menyerupai kepala gajah. Ada yang mencoreng-coreng wajah mereka agar tampak sebagai harimau.”Gusti, firmanMu akan jadi kasunyatan”, Romo Sentanu mendesah.Ya. Dan, Aku tahu siapa yang akan jadi korban.”Mereka akan memukul kepala saya di tengah-tengah tarian yang chaos, Gusti.”Ya. Mereka akan

membentangkan tanganmu di antara kedua bantaran sungai dengan tali teramat kuat. Setelah itu, lambungmu akan dihujami puluhan peluru. ”Mengapa harus saya, Gusti? Mengapa bukan yang lain?”O, bukan hanya kau, Sentanu. Ayat dan Nagreg juga disalib bersamamu. SUNGGUH tak ada robot di lereng Merapi. Hanya puluhan truk bergerak lamban: membelah dusun dengan deru yang memekakkan telinga. Kadang-kadang saat gerimis mendera, binatang-binatang besi itu melata dan meliuk-liuk seperti ular. Kadangkadang merayap seperti kadal saat sarat muatan. Tetapi, tak jarang mereka melesat seperti anjing ketika langit di atas gunung memerah dan udara kehilangan embun atau kristal-kristal air.Tak ada yang berani menjelaskan mengapa setiap hari kian banyak truk yang menyisir hampir setiap sudut desa. Tak ada yang berani mempertanyakan mengapa bukit-bukit makin gugruk, berlubang, atau sama sekali hilang.Dan, truk-truk terus datang dan pergi serupa siluman serupa mambang.Larut malam mereka selalu mengusung pria-pria kekar—sebagian besar berseragam, kemudian menghilang setelah beberapa bagian bukit krowak dan sungai-sungai kian dalam.Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali. Batu, koral, pasir, dan puluhan perempuan. Bukan hanya itu! Bukan hanya itu! Selalu ada yang hilang. Selalu ada yang tak kembali.Dan,

malam itu mereka datang lagi. Tidak! Tidak! Mungkin sudah beberapa bulan lalu mereka menyusup dan hidup bersama penduduk. Sebagaimana aku, (o, kau tahu namaku Nagreg bukan?), mereka telah menghirup udara, cahaya, tradisi, kebodohankebodohan, tarian-tarian aneh, mitologi Kiai Petruk, wedhus gembel yang prek kethek, dan segala tingkah Romo Sentanu serta Ayat.Maka, mereka sangat tahu bagaimana cara terbaik menghilangkan Ayat atau Romo Sentanu. Di tengah kegelapan malam, mereka menggiring pria-pria kencana itu ke tengah-tengah dam dan di keriuhan tarian yang chaos untuk menghormati Kiai Petruk, membabat kaki, kepala, atau menembak lambung tanpa suara.Ayat dan Romo Sentanu tentu tak menyangka bakal diperlakukan semacam itu. Sebab, mereka tak pernah menebar kecurigaan ke penduduk. Sebab, mereka tak pernah bersengketa dengan orang-orang miskin itu. Tetapi, bukankah priapria berseragam—di belahan dunia mana pun—mahir menjadi bunglon, pandai mengubah diri menjadi trengiling atau ular sawah? Jadi, jangan heran jika mereka bisa menusuk dari belakang.Baiklah, sekali lagi kuperkenalkan kepadamu: mereka menyebutku sebagai penggoda, tetapi sebenarnya aku penari. Tidak! Tidak! Aku pun sebenarnya hanya korban. Mereka menyuruhku memperdaya Romo Sentanu dan Ayat. Namun, setelah segala persiapan penjagalan di tengah dam rampung, kudengar dari salah seorang pria kekar pujaan yang melakukan disersi, mereka juga akan menghabisiku. Tak boleh ada saksi. Tak ada boleh ada yang menawarkan peristiwa ini.Kini, di keriuhan segala bunyi, obor, cahaya mata Romo Sentanu, dan keliaran Ayat menerjemahkan mimpi-mimpi tentang awan panas, lelehan lahar di Puncak Merapi, dan jerit tangis dalam tari, aku hanya berharap sunyi segera menghentikan segala kekacauan ini. Ah, haruskah kuhadapi kematian dengan menari serimpi?Tak ada jawaban. Hanya jerit gamelan. Hanya jerit kesakitan. *** Semarang, 2002

Catatan: 1) ”Tegak lurus dengan langit” adalah ungkapan khas Iwan Simatupang. 2) Dikutip dari ungkapan Sindhunata dalam Cikar Bobrok.

3) Kata-kata yang diungkapkan Ki Sitras Anjilin, dalang dari Desa Tutup Ngisor, saat memainkan lakon Kunjarakarna. 4) Trisik, mangenjali, ngigel adalah nama dalam gerakan tari Jawa. 5) Mitologi gajah dan beringin putih pernah digarap Elizabeth D Prasetyo dalam The White Banyan.

Dua Tangisan pada Satu Malam
Puthut EA Sumber: Kompas, Edisi 09/01/2002 Ia seorang perempuan yang tidak pernah benar-benar kucintai, juga aku yakin ia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Kami saling membutuhkan dalam sebuah rentang waktu tertentu. Sebab begitulah pada dasarnya manusia, salah seorang bisa menggantikan yang lain, tapi bukan dan tidak pernah seutuhnya. Dan ada saat-saat seseorang dipaksa menemukan yang lain, untuk menggantikan keseluruhan atas kepergian orang yang berbeda. Aku membutuhkannya, ia membutuhkanku, hanya untuk rentang waktu tertentu.Hidup ini mungkin disusun oleh bukan hanya tingkat kerumitan tertentu, tapi juga atas ketidaktepatan tertentu.Aku membutuhkan seorang perempuan yang bawel, punya daya ingat tinggi, renyah, hangat, dan selalu bisa mengingatkanku di mana aku meninggalkan pena serta buku yang barusan kubaca, tentu sekalian mengingatkanku bahwa baru tadi pagi aku membeli kertas tisu sehingga tidak perlu beli lagi ketika aku harus keluar untuk mencari sebungkus rokok. Kutemui ia dalam diam yang cukup, tidak bawel, serta sering lupa menaruh jepit rambut dan kacamata.Tapi, kami memang harus bertemu dan harus menjalin hubungan, sebab bukankah dunia memang disusun oleh tingkat ketidaktepatan tertentu?Pada saat kami makan, ia memesan apa-apa yang aku pesan. Coba bandingkan dengan perempuanperempuan terdahuluku yang semua nyaris sama dalam memperlakukanku, mereka tidak pernah memesan makanan yang aku pesan. Aku memesan daging berlemak, mereka, perempuan-perempuan yang pernah berhubungan denganku, memesan sayur-mayur. Aku memesan teh hangat, mereka memesan kalau tidak air putih pastilah air jeruk. Berbeda dengan perempuan yang satu ini, ia memesan makanan dan minuman yang sama dengan yang aku pesan. Bahkan, ketika aku membuat kopi di pagi dan malam hari, ia membuat juga dalam porsi yang lebih besar.Lalu ia berubah fungsi sebagai teman biasa saja, walau pada saat-saat tertentu, kami masih saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan biologis. Ia sama seperti kawan laki-lakiku yang lain. Berbicara tentang sepak bola, merokok bersama sambil menonton acara televisi, berebut cepat ke kamar mandi karena sama-sama begadang hampir di tiap

malam, berebut memakai sepeda motor sebab tidak suka naik bus atau taksi, rebutan membaca koran pagi yang dibaca pada sore hari. Kamar mandi kotor, cucian menggunung, dapur berantak-an, ruang makan sekaligus ruang nonton televisi berceceran sampah.Tapi, aku tidak pernah menggerutu dan kesal. Dia juga. Kami menjalani hari-hari seperti itu dengan biasa. Ia hadir sama pentingnya dengan televisi, ia hadir sama tidak pentingnya dengan televisi.Hingga aku memang benar-benar menangis pada hari keenam setelah kepergiannya. Sedangkan pada saat ia pergi sama seperti ketika aku melipat koran seusai dibaca. Sama seperti ketika aku harus melepas sepatu ketika pulang. Pada saat ia pergi kami masih sama-sama saling membagi senyum dan aku masih sempat menemukan kacamatanya yang tertinggal di atas monitor komputer. Membantu dan mengumpati barang-barang bawaannya yang tidak bisa masuk ke dalam tas besarnya.Kami sempat bertemu dengan suasana mirip salah satu lampu di ujung gang lengang pada waktu lewat tengah malam tapi kami melewati hari-hari dengan biasa, tak penting amat. Dan kami menutup bersama sebuah perpisahan yang juga biasa dan tak penting amat.Tapi ingatan-ingatanku atasnya, pada hari keenam setelah kepergiannya benar-benar membuatku menangis. Tangis yang tidak lagi biasa, tangis yang tidak bisa kupungkiri lagi, bahwa ada yang lenyap dalam hidupku. Dan, aku tidak menyesal menangis, aku merasa tumpahnya air mataku cukup membangun alasannya sendiri, bahwa memang ada yang penting dalam hidupku yang lenyap dan aku pantas menebusnya dengan air mata yang tumpah. Mungkin bahkan pada lain waktu akan kutebus lebih dari sekadar air mataku.Tapi, aku masih mencoba meyakini bahwa aku memang tidak pernah benar-benar mencintainya. Atau memang terkadang tidak ada hubungan antara cinta dan rasa sedih yang tidak masuk akal dan tiba-tiba? Pertanyaan itu tidak penting, tapi tiga hal ini penting bagiku. Pertama, apakah dia juga menangis pada malam keenam setelah dia pergi? Kedua, apakah tangisannya—jika ia menangis—juga tidak membutuhkan alasan-alasan penguat bahwa aku merupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya? Ketiga, apakah ia sudah menemukan laki-laki lain?Aku harus menemukan jawabannya.Aku menangis pada hari keenam setelah kepergianku meninggalkannya. Meninggalkan? Ah, mungkin itu bukan kata yang tepat. Aku teramat sulit untuk menemukan kata yang tepat, tapi begini, aku menyukainya semenjak pertama bertemu dengannya. Apa yang aku sukai? Aku juga

tidak tahu. Tapi laki-laki itu membuatku bergetar dan merasakan sesuatu yang aneh menjalar di sekujur tubuhku. Melapisi kulitku dengan radar-radar peka akan kehadirannya. Menjalin sampai nadi dan pikiranku. Beri maklumlah pada diriku. Aku seorang selebriti terkenal, muda, cantik, di mana-mana selalu mendapat perhatian besar. Tapi, laki-laki itu membuatku kembali ke masa lampau, empat lima tahun yang lalu, ketika aku masih seorang mahasiswi semester awal yang sibuk casting peran ini dan peran itu. Dia melihatku dengan tatap mata biasa. Bahwa, ia mengagumi kecantikanku, aku bisa merasakannya, itu pun dengan samar, tidak seperti orang lain. Tapi di hadapannya, segala ketenaranku mendadak seperti tak ada artinya, bahkan ketika aku hendak mengambil gelas berisi minuman di dekatnya. Ia hanya memberiku tempat, tersenyum lalu melenggang pergi dengan meninggalkan aroma tubuh tanpa parfum.Aku adalah perempuan yang dicari-cari. Perempuan yang selalu ditunggutunggu kemunculannya dalam hal apa saja, dalam acara apa saja. Dan ia hadir, tanpa wajah yang menunggu kedatanganku, menunggu kemunculanku. Tidak menyambut segala kedatanganku dengan wajah berbinar. Laki-laki itu tidak seharusnya begitu, sebab ketika aku tidak bisa membuatnya butuh, maka aku harus bersiap, aku membutuhkannya. Tapi sejujurnya, perasaanku kepadanya begitu kuat pada kali pertama aku menatapnya.Beruntunglah aku. Terbiasa memainkan berbagai peran dan menyembunyikan perasaan. Semua kusimpan dengan rapi, bahkan ketika aku bisa mengorek keterangan tentang laki-laki itu.Aku berhasil mengenalnya lewat cara yang sengaja kurancang. Biasa. Aku ingin rancangan adegan yang dia bisa tahu, aku tidak sengaja untuk berkenalan dengannya. Lalu kami saling berbicara. Terlalu memukau! Suaranya yang tenang membuatku terayun-ayun di antara jeda kata yang diucapkannya. Ia seperti berbicara pada sekujur tubuhku. Dan memaksaku untuk terusmenerus mengais kesadaranku yang hampir lenyap ketika menghadapinya, mendengar suaranya, bersitatap dengannya. Aku harus memaksanya untuk duduk, sebab aku percaya ketenangan orang berdiri gampang dilumpuhkan. Menggenggam gelas minum erat-erat, tapi jelas itu tak bisa me-mungkiri apa yang kurasakan, sebab aku berkali-kali minta tambah air minum. Ia merayapi kesadaranku dengan selimut rasa tak tentu.Kami semakin akrab. Tentu kami juga bercinta.Aku membanjiri hidupnya dengan rasa yang bergelora. Menumpahkan apa yang kurasakan dengan segala cara yang aku bisa.

Mencoba meyakinkan terus-menerus bahwa ia adalah laki-laki yang kudamba, dan aku adalah perempuan yang dia tunggu. Begitu kulakukan saban waktu. Tapi aku tahu, sangat tahu, laki-laki itu melakukan segalanya bersamaku dengan perasaan biasa. Ia tidak tenggelam dalam banjir rasaku.Ia seorang aktris. Dia pikir aku bisa hanyut oleh sandiwara sialnya—yang mungkin sudah dimainkan dengan sungguh-sungguh pada banyak kekasihnya yang dulu. Aku pikir begitulah cara banyak perempuan untuk membuat seorang laki-laki bertekuk lutut dan menjadi gila. Ia akan memberimu perhatian yang tumpah-ruah. Seakan ikut menahan beban yang menimpa—awas, kadang-kadang beban itu sengaja diciptakan agar ia bisa membantu mengangkatnya. Diciptakannya dalam dada, keyakinan yang sempurna. Ruang-ruang ragu dimampatkan. Segala hal dipenuhi oleh kehadirannya.Hingga suatu saat. Saat yang sangat tepat. Semua dicabutnya, semua ditinggalkan berlubang, rapuh, dan segalanya menjadi tidak terkendali. Kebutuhan atas dirinya jauh melampaui udara, air, dan makanan. Ter-sengal dan merasakan tiba-tiba langit menjadi atap besar yang siap menimpa. Kehilangan dia adalah malapetaka terkutuk yang tidak sanggup untuk diterima.Serangan balik yang maha dahsyat. Tidak ada yang bisa lebih menjerumuskan lagi jika datang saat-saat seperti itu. Aku sangat tahu, sehingga sepandai-pandai ia menimbuni hidupku dengan segala rasa, aku sangat tahu di balik itu semua aku yakin ia tidak pernah benar-benar mencintaiku.Aku sangat mencintainya. Tapi benar kata orang, cinta saja tidak cukup. Ada hal-hal lain selain segala yang kita rasakan terhadap seorang laki-laki. Bukan, sungguh bukan karena ia kurasakan tidak mau membalas segala yang kurasa-kan. Tapi aku pikir ada saat ketika kita memberi perhatian terus-menerus —bahkan semakin hari kita rasa semakin meningkat—maka memang ada kecewa yang akan menikam ketika itu semua dirasa biasa saja. Ia merasakannya dengan biasa, seolah aku dan perhatian yang kuberikan padanya adalah sepenggal kisah yang biasa ia tonton di televisi. Tak ada kekagetan, rasa bahagia, dan terima kasih.Maaf, aku pada banyak hal bukan orang hebat. Aku memberi untuk mendapatkan sesuatu, paling tidak orang merasa bahagia karena pemberianku.Lalu kuputuskan untuk pergi. Paling tidak aku berpijak pada alasan yang mungkin tepat. Jika aku tidak bisa membahagiakannya, maka aku memang harus pergi. Sebab kebahagiaanku dimulai dari sebuah kebahagiaan kecil di wajahnya.Tapi aku menangis pada hari keenam setelah

kepergiannya. Benar-benar menangis. Sendirian di kamarku yang menyimpan hampir seluruh bayangannya. Ku-pandangi benda-benda yang akrab dengan kehadirannya, lalu aku me-nangis lagi. Segala hal tiba-tiba menjadi setengah hilang, setengah melenyap, menjadi tidak seperti beberapa saat yang lalu, ketika ia hadir dalam segala tumpah-ruah peristiwa dan keping benda-benda.Dan tiba-tiba aku terserang penyakit yang sangat kubenci: cemburu! Aku merasa ia pergi dan menghabiskan waktu bersama laki-laki lain, dan ia membanjiri laki-laki itu dengan perhatiannya yang luar biasa. Dadaku sesak dan panas, napasku seperti terbakar. Aku menangis, menjerit, otakku ikut terbakar. Ruang berganti warna merah dan hitam. Aku meraung, telah benar-benar kehilangan dia.Aku bangkit minum air dingin sebanyak-banyaknya, sebagian kupakai untuk mengguyur kepalaku. Lalu aku duduk, menyalakan rokok. Aku harus berpikir dengan tenang.Aku petakan lagi sejarahku dengannya. Melacak dan meletakkan apaapa yang bisa kuingat ketika bersamanya. Sejak pertemuan yang cukup membuatku kagum. Lalu bisa kuingat bagaimana ia memperlaku-kanku dengan baik, merawat dan melewati proses itu dengan riang dan rapi, mencoba memberiku kejutan-kejutan setiap saat. Tapi aku tahu di belakang semua itu—dan jangan-jangan ini semua karena tinggalan perhatiannya di kepalaku. Aku harus menanggapinya dengan dingin dan biasa saja. Tak peduli, tak mau peduli, sebab aku tidak mau sakit hati. Lalu aku terobos segala permainannya dengan permainanku. Aku berpikir tentang segala hal yang bisa membuatku bertahan dari serbuan perhatiannya. Hal-hal yang menurutku tidak kusukai, memesan makanan dan minuman yang sama denganku, berperilaku pelupa dan teledor seperti diriku, ruang-ruang yang berantakan. Aku harus menghadang dengan bayangan dan pikiranku, sebab jika melihat kenyataannya, aku pasti akan larut, pasti akan tenggelam dalam kepungan perhatiannya yang luar biasa. Bahkan, untuk hal-hal tertentu sudah sangat keterlaluan. Aku selalu pergi dengan taksi atau mobil jemputan. Aku selalu berpikir bahwa ia suka begadang, merokok, dan nonton sepak bola. Hal-hal yang mustahil dilakukan olehnya. Aku harus berpikir bahwa ia tidak pernah benar-benar mencintaiku.Tapi sekarang aku nyaris gila. Apa yang kutakutkan dan berusaha kutanggulangi sedini mungkin telah terjadi. Aku telah benar-benar jatuh cinta kepadanya, dan ia pergi meninggalkanku. Tubuhku dibakar cemburu, sedang aku hanya punya air dingin untuk menghalaunya.Tubuhku demam. Aku tidak bisa menerima

kepergiannya.Aku

menangis

pada

malam

ke-enam

setelah

kepergianku

meninggalkannya. Sebab sore tadi, aku bertemu dengan laki-laki yang luar biasa pada acara pesta. Lalu aku teringat dia malam ini, dan menangis. Tangisan yang sewajarnya. Tangis perpisahan atas segala ingatanku kepadanya. Sebab besok malam aku akan kencan dengan laki-laki luar biasa yang kutemui sore tadi. ***

Dua Kidung Malam
Herlino Soleman Sumber: Kompas, Edisi 08/11/2002 SUDAH sangat biasa jika malam-malam begini ada yang mengetuk pintu, pastilah itu Mayumi, tetangga saya. Bukan saja karena hal ini sudah berulang kali terjadi, melainkan karena awal dini hari seperti ini hampir tak mungkin seseorang yang bukan keluarga akan mengetuk pintu rumah orang, selain yang biasa dilakukan Mayumi terhadap pintu apaato saya. Begitulah, karena saya sendiri masih belum tidur, segera saya membukakan pintu, dan memang Mayumi tengah berdiri menunggu pintu dibuka. Wajahnya yang cantik tampak rusuh, tapi menurut saya ini hal biasa. Ia selalu menampakkan wajah rusuh agar saya bersedia melakukan yang diinginkannya. Akan tetapi, kali ini saya sudah siap dengan alasan yang membuatnya merasa sulit untuk memaksakan keinginannya. Karenanya sebelum mengatakan apa yang diinginkannya, saya segera mengatakan bahwa malam ini, meskipun telah ngantuk sekali, saya harus tetap terjaga untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus dilaporkan besok pagi-pagi kepada atasan saya. Alasan yang saya buat-buat ini jelas tak masuk akal menurut pemikirannya, tetapi sudah berulang kali saya katakan kepadanya bahwa pekerjaan saya memungkinkan dibawa dan dikerjakan di rumah. Dengan mengemukakan alasan seperti ini saya berharap Mayumi mengurungkan keinginannya dengan menemui saya pada awal dini hari begini meskipun wajahnya sudah terlanjur menampakan kerusuhan hatinya. Usaha saya berhasil. Tanpa mengucapkan maksudnya menemui saya, setelah mengucapkan maaf dengan sikap yang menunjukkan kebingungannya, segera ia kembali ke rumahnya yang berbentuk ikkodate, yang berhadapan dengan apaato saya yang sederhana. Akan tetapi, setelah membalikkan badan ternyata ia tak segera melangkah. Ia berdiri saja seperti orang linglung, sehingga bagaimanapun saya merasa penasaran. Meskipun demikian, karena saya sudah terlanjur mengemukakan alasan yang sulit dibantahnya sebelum ia mengatakan maksudnya, saya tidak menunjukkan apalagi menyatakan sikap penasaran saya. Biarlah kali ini saya menguatkan hati untuk tak memenuhi keinginannya. Biarlah ia segera berlalu dari hadapan saya karena malam ini saya ingin sendiri dan tak mau diganggu oleh siapa pun. Dan memang dengan

langkah gontai dan tampak lesu sekali, perlahan-lahan Mayumi meninggalkan halaman apaato saya, sementara saya segera menutupkan pintu. MALAM awal musim panas yang nyaman sering mempercepat kantuk karena udara sudah hangat tapi belum terlalu panas menggerahkan. Akan tetapi malam ini, sejak sebelum Mayumi mengetuk pintu, ada perasaan aneh yang menggelibat saya begitu kuatnya, sehingga menjauhkan kantuk dari mata saya. Entah gelisah, gundah, atau sekedar dilanda kebosanan tinggal di perantauan, saya tak tahu pasti. Yang jelas, malam ini begitu kuatnya kenangan saya kepada ibu di kampung. Banyak hal yang saya pikirkan tentang Ibu: kerentaannya, kesendiriannya karena ayah sudah lama meninggal, harapan atas kepulangan saya sebagai anak satu-satunya untuk menemani hidupnya pada masa tuanya, juga harapan yang sering dikatakannya setiap kali saya menelpon bahwa beliau ingin segera punya menantu dan momong cucu yang telah lama ia tunggu-tunggu. Ketika kenangan tentang Ibu buyar oleh ketukan pintu Mayumi, setelah ia pergi dan saya menutupkan pintu, lamunan saya beralih memikirkan sikap Nakamura. Tak dapat saya pungkiri bahwa akhir-akhir ini saya memang jadi banyak berpikir tentang Nakamura dan hubungan saya dengan Mayumi, anaknya, yang jadi hambar. Ah, lebih baik kalau dulu kami tetap saling tak acuh sebagai tetangga; cukup hanya saling menyapa dengan salam keseharian ala kadarnya jika bersitatap di depan pintu masing-masing atau berpapasan di gang atau di mana pun. Akan tetapi jalan hidup telah menuntun kami pada kenyataan yang mengharuskan kami menjadi lebih akrab. Hal itu terjadi tiga tahun lalu sejak kami, saya dan Nakamura, sama-sama dirawat di ruangan yang sama di Kyoseibyoin. Waktu itu Nakamura dirawat karena levernya kambuh akibat terlalu banyak minum sake saat pesta perayaan osyogatsu, sedang saya dirawat karena menderita kanjonooyo. Dari situlah saya mengetahui lebih jelas, hal ini sebelumnya sering menjadi pertanyaan dan dugaan saya, bahwa Nakamura hanya hidup berdua dengan satu-satunya anaknya, sementara istrinya telah diceraikannya karena minggat dengan laki-laki lain yang lebih muda darinya. Dari situ pula saya mengetahui bahwa Mayumi sangat membenci ibunya dan sebaliknya ia sangat menyayangi ayahnya. "Tak diragukan bagaimana Mayumi menyayangi dan mengurusku dengan baik selama

ini, dan bagaimana seharusnya kelak ia menyayangi dan mengurus suaminya dengan baik pula!" Kata Nakamura ketika suatu kali ia mengundang saya makan malam lama setelah kami sama-sama pulang dari rumah sakit. Ia lalu melanjutkan, "Andai saja kau merasa betah tinggal di negeri ini, dan tidak berniat kembali dan menetap di negerimu lagi, mungkin aku tidak ragu-ragu menyetujui atau bahkan menyarankan agar kalian menikah saja." "Saya betah tinggal di negeri ini, Nakamura-san, tetapi saya pasti akan dan harus kembali ke negeri saya suatu saat!" Kata saya segera untuk mengurangi suasana kikuk saya dan Mayumi akibat kata-kata Nakamura yang begitu terus terang. "Ya, sayang... sayang!" Katanya dengan nada jumawa. Meskipun demikian saya tidak memperdulikan sikapnya yang didasari penilaian atas keberadaan negeri saya yang selalu dikatakannya sebagai negeri yang suram, penuh KKN, dan pelaksanaan hukum yang amburadul. Di lain pihak harus saya akui pula bahwa jika suatu saat Nakamura berubah sikap, saya pun akan dengan senang hati menikah dengan Mayumi karena sesungguhnya kami telah saling mencintai, meskipun masih dengan sikap yang penuh keragu-raguan. Telah beberapa lama, meskipun dengan sikap ragu-ragu, kami memang menjadi semakin akrab dan saling memberikan perhatian yang istimewa, meskipun di depan ayahnya kami menampakkan sikap yang biasa-biasa saja. Sering kami ngobrol berdua, jalan berdua untuk sekedar cari angin atau makan di luar, bahkan sering pula malam-malam Mayumi mengetuk pintu untuk mengantarkan makanan bikinannya dan kemudian berlama-lama di apaato saya untuk belajar bahasa dan masakan negeri saya. Atas pertanyaan saya, suatu kali, Mayumi mengatakan bahwa semua keberduaan kami diketahui ayahnya belaka. "Tetapi ayahmu tak menyetujui hubungan kita jadi lebih dari sekadar persahabatan kan?" Kata saya waktu itu. "Ya, memang! Ayah tak pernah membayangkan hubungan kita akan lebih dari sekedar persahabatan!" "Hmm...!"

"Kenapa?" "Jadi kita nggak serius?" "Kenapa nggak serius? Saya ...saya..."Waktu itu Mayumi tak melanjutkan kata-katanya. Saya diam saja dan tak menuntutnya melanjutkan apa yang ingin dikatakannya. Adalah sangat wajar jika saya tak mengerti apa yang sesungguhnya dipikirkan dan direncanakannya, sebab apa yang saya pikir dan rencanakan atas hubungan kami pun saya tak tahu pasti. Apakah Mayumi mengira bahwa suatu saat saya akan menyatakan bahwa akhirnya saya bersedia menetap di negerinya atau ia yang bersedia mengikuti jika suatu saat saya kembali ke negeri saya. Toh ia sudah tahu bahwa saya hanya memiliki seorang ibu yang harus saya urus kehidupan masa tuanya. Sama dengan keberadaannya yang harus mengurus ayahnya karena ia tak rela memasukkan ayahnya ke panti jompo. Bedanya, ibu saya masih memiliki dua orang adik yang penuh pengertian, dan tentu juga dengan beberapa keponakan yang menemani dan tinggal di rumah kami, sehingga meskipun saya meninggalkannya, masih ada yang menemani ibu. Sedangkan Mayumi, jika ia meninggalkan ayahnya, tentu ayahnya yang semakin kurus itu akan benar-benar sendiri karena ayahnya adalah anak tunggal. Demikian juga ibunya yang kini entah di mana. Kakek dan nenek Mayumi dari ayah dan ibunya juga anak-anak tunggal dari buyut-buyutnya. Pendeknya, semua keluarga di atas ayah dan ibunya itu sudah habis.Menyadari kenyataan itu, karena saya juga harus segera mempersiapkan diri untuk pulang dan kembali menetap di kampung halaman, sejak itu saya mengatur diri sendiri secara lebih tertib, terutama menata perasaan saya bahwa jika suatu saat saya pulang, Mayumi hanya sekedar menjadi kenangan. Meskipun demikian, saya tidak menampakkan perubahan sikap yang drastis. Kami tetap bergaul seperti biasa; menerima kedatangan Mayumi di apaato saya dan memenuhi undangan makan malam Nakamura jika ia sedang agak sehat dan sudah kangen ingin ngobrol dengan saya. Akan tetapi, hal ini pun semakin jarang karena kesehatan Nakamura akhir-akhir ini semakin memburuk. KEGELISAHAN saya ternyata beralasan. Melalui telepon, Haji Mahmud Soeharto, paman saya, mengabarkan bahwa Ibu baru saja meninggal. Saya terdiam sementara paman saya terus bicara. Menyadari saya diam saja, paman memanggil-manggil saya

dengan berteriak-teriak. Ia baru berhenti berteriak-teriak setelah saya menyahutinya. Setelah itu, dengan suara dingin saya mengatakan bahwa sebaiknya Ibu segera dikuburkan tanpa harus menunggu saya tiba di rumah. Nampaknya paman merasa puas dan begitu hubungan terputus, saat itu juga saya menelpon pimpinan perusahaan penerbangan negeriku untuk ikut menumpang pada penerbangan hari ini. Pimpinan yang baik itu melayani telepon saya dengan baik meskipun dibangunkan awal subuh musim panas yang sesungguhnya baru pukul setengah tiga dini hari. Dan tentu saja saya mendapatkan tempat duduk dalam penerbangan hari ini juga.Mau tidur jelas sudah tak mungkin sementara saya baru akan berangkat ke bandara Narita pada pukul tujuh nanti. Saya lalu berniat keluar untuk menghirup udara segar. Aneh benar, setelah berjam-jam diganggu perasaan yang ternyata sesungguhnya sedang diajak dialog oleh ibu pada saat-saat terakhirnya, ketika hendak membuka pintu tiba-tiba perasaan saya mengatakan bahwa Mayumi tengah berdiri di balik pintu. Mungkin ia ragu-ragu untuk mengetuk pintu meskipun ia tahu bahwa saya belum tidur karena lampu ruang tengah apaato saya masih menyala yang berarti saya masih belum tidur; kebiasaan saya yang diketahui benar oleh Mayumi. Segera saya membuka pintu dan benar saja Mayumi tengah berdiri di depan pintu. Sebelum saya menanyakan apa pun karena kaget oleh kenyataan ini, Mayumi yang tampak telah sedikit menguasai dirinya segera bertanya apakah kerja lembur saya sudah selesai. Tanpa menunggu jawaban saya, ia lantas mengatakan, "Sejak tadi saya belum masuk rumah karena merasa takut dan bingung. Mungkin saya harus segera menelpon polisi dan ambulance begitu mengetahui bahwa ayah tidak bangun-bangun sejak tidur sore dan memang tak akan bangun lagi karena sudah meninggal. Tetapi sejak menyadari kenyataan ini saya selalu berpikir bahwa saya harus memberi tahu dan minta tolong kepadamu. Mungkin juga saya linglung, saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Tolonglah saya!"Sampai di situ Mayumi tercekat keharuan dan berhenti bicara. Sampai di situ pula pikiran saya mampat. Dua kidung malam mengalun bersamaan. Lagunya pedih mengiris-iris. Burung-burung gagak mulai terdengar mengaok-ngaok di pepohonan. ***Tokyo, 2002 Catatan:

Ikkodate : rumah yang berdiri sendiri Kyoseibyoin : nama rumah sakit Osyogatsu : tahun baru Kanjonooyo : bisul di hati Apaato : apartemen

Rumah Baru
Pamusuk Eneste Sumber: Kompas, Edisi 08/04/2002 PUKUL 16.30, telepon berdering di rumah baru dan asri di Gang Tenang dan Sejuk Nomor 60, Jalan Kaliurang Km 6,60 Yogyakarta. ”Nah, itu telepon dari Bapak.” ”Bapak sudah tiba, Bu.” ”Tolong diangkat teleponnya.” ”Mudah-mudahan Bapakmu selamat.” Anak-anak yang berkumpul berteriak-teriak, ”Eyang datang!” ”Eyang datang!” Seisi rumah tiba-tiba menjadi sunyi ketika seseorang menuju tempat telepon dan mengangkat telepon. Semua orang memusatkan perhatian pada siapa yang menelepon dan apa berita yang disampaikan si penelepon. ”Apakah ini rumah Pak Jek?” tanya seseorang di ujung telepon. ”Betul.” ”Ini Kepala Stasiun Lempuyangan. Dimohon keluarga Pak Jek datang ke UGD Rumah Sakit Sardjito.” ”Ada apa, Pak?”Si penelepon tidak mengatakan apa-apa kecuali kata emergency, lalu menutup pembicaraan.Penerima telepon yang masih memegangi gagang telepon itu hanya terpana dan tak tahu harus berbuat apa. Sesaat, ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. ”Dari Bapak, ya?” ”Bagaimana Bapak?” ”Bapak sudah nyampe di Tugu ya?” ”Bapak selamat ya?”Namun, istri Pak Jek dapat membaca wajah anaknya yang

menerima telepon itu. Wajah anak itu tahu-tahu menjadi pucat pasi. Seumur-umur, istri Pak Jek tak pernah menyaksikan wajah anaknya sepucat itu. Duh Gusti! Pertanda apakah ini? “JANGAN masuk rumah baru pada usia 60 tahun,” kata seorang rekan Pak Jek. Namun, Pak Jek menganggap omongan itu hanya guyonan. Angin lalu saja! Menurut Pak Jek, itu hanya omong kosong. Takhyul. Mitos. Tak bisa dipercaya dan belum pernah dibuktikan secara ilmiah.Itulah sebabnya, satu tahun menjelang pensiun, Pak Jek sudah membangun rumah di Yogyakarta, tepatnya di jalan menuju Kaliurang. ”Rumah buat hari tua” menurut istilah Pak Jek.Pak Jek memilih Yogyakarta karena menurut dia Yogya cocok untuk orang pensiunan. ”Kotanya tenang dan tidak terlalu besar. Dari ujung ke ujung bisa dicapai dalam tempo satu jam atau malah kurang. Harga barang kebutuhan, terutama makanan, tidak semahal di Jakarta. Orangorangnya tidak sehiruk-pikuk orang Jakarta.”Pak Jek membeli tanah di jalan tak jauh dari jalan raya menuju Kaliurang. Selama dibangun, sengaja Pak Jek tidak pernah melihat rumah itu. Dia hanya memberikan gambar dan rancangannya pada tukang yang dipercayainya. Ia baru akan melihat rumah itu dan menginjaknya pertama kali dalam keadaan sudah jadi pada saat hari pertama pensiun nanti.” ”Tidak diawasi?” pembaca tentu bertanya.Pembangunan rumah hanya diawasi anak Pak Jek yang tinggal di Yogya. Itu pun hanya sekali seminggu, hari Sabtu atau hari Minggu. ”Biar ada kejutan,” kata Pak Jek memberi alasan. ”Semacam surprise-lah. Jadi, betul-betul rumah baru bagi saya. Baru saya lihat dan baru pertama kali saya injak dan masuki.”Lalu, kita tentu bertanya, mengapa Pak Jek memilih daerah Kaliurang. Mengapa tidak memilih Bantul, Sentolo, Gunungkidul, Magelang, Prambanan, atau Klaten? Mengapa pula bukan daerah Parangtritis sekalian biar dekat dengan laut? ”Saya suka daerah sejuk dan tenang. Masih banyak pepohonan hijau. Belum terpolusi udaranya. Lagi pula, gampang kalau mau naar boven ke Kaliurang. Gampang pula

kalau mau bepergian melalui Stasiun Tugu atau Stasiun Lempuyangan.” Memang sudah agak mahal ketika Pak Jek membeli tanah di situ lima tahun silam. ”Tapi tak apa. Cuma sekali kok dalam hidup saya. Toh akan kutinggali buat selamanya sepanjang Tuhan memberiku umur.” Menurut Pak Jek, mahalnya harga tanah di daerah Kaliurang karena ulah orang Jakarta juga.”Orang Jakarta itu banyak duit dan rakus. Berapa pun harga tanah, mereka bisa beli. Pokoknya, apa pun mereka bisa beli. Kalau ada binatang pemakan segala maka orang Jakarta itu pembeli segala. Tak percaya? Coba saja tawari orang Jakarta apa saja. Pasti mereka beli. Termasuk sampah dari luar negeri...” RUMAH itu dibangun Pak Jek di atas tanah seluas 120 meter, dengan bangunan 60 meter persegi. Bukan karena Pak Jek tak mampu membeli tanah 500 meter, atau 1.000 meter, atau bahkan 1.200 meter. Pak Jek mempunyai pertimbangan sendiri mengapa luas tanahnya hanya 120 meter persegi.”Makin luas tanahnya, tentu makin repot pemeliharaannya. Makin luas pagarnya. Makin banyak tanamannya; makin banyak sampahnya. Makin banyak rumputnya; makin lama memotongnya. Pokoknya, makin banyak segala-galanya... termasuk biayanya.” Mengenai bangunan yang hanya 60 meter persegi, Pak Jek juga punya pendirian.”Aku hanya berdua dengan istri. Buat apa rumah besar? Makin besar rumah, tentu makin banyak ruangannya. Makin banyak kebutuhan listriknya. Makin banyak air yang diperlukan untuk mengepelnya. Makin capek menyapunya. Padahal, aku dan istriku makin renta. Jadi, cukuplah 60 meter persegi.” Anak Pak Jek yang di Surabaya pernah berkomentar,”Kayak rumah BTN saja, Pak.”Namun, Pak Jek tidak tersinggung dengan kata-kata itu. ”Mbok, yang lebih besaran Pak rumahnya,” kata anaknya yang di Semarang. ”Lho, memangnya kamu mau ngurus rumah gede? Yang ngurus rumah itu kan aku nanti. Rumahmu „kan di Semarang.” Anak Pak Jek yang di Bandung pun pernah protes.”Kalau kita sekeluarga datang nanti

tidur di mana, Pak?” ”Ah, itu soal gampang. Di Yogya kan banyak hotel. Mulai dari hotel melati hingga bintang lima. Kamu dan keluargamu ‟kan bisa tidur di sana. Setelah main-main seharian di rumah Bapak, atau setelah keliling ke Borobudur, Prambanan, Parangtritis, Keraton Yogya, kamu dan keluargamu kembali ke hotel. Enak, kan? Lagi pula, di rumah Bapak kan tidak ada AC, ibumu tidak suka. Di hotel „kan ada AC-nya.” ”Lho, bukannya anak Bapak, menantu Bapak, cucu Bapak harus menginap di rumah Bapak? Bagaimana sih Bapak ini?” ”Lho, yang mengharuskan itu siapa toh, Nak?” ”Lagi pula,” lanjut Pak Jek, ”kalau kamu dan suamimu serta anak-anakmu tidur di rumah Bapak pasti akan merepotkan ibumu yang sudah tua. Harus masak ini dan itu untuk anakmu, padahal mereka belum tentu suka. Ibumu juga akan repot menyiapkan ini dan itu. Bukankah lebih praktis kalian tidur di salah satu hotel di Yogya? Lagi pula, lebih dekat ke Malioboro. Dari rumah Bapak kan jauh ke Malioboro? Nanti uangmu habis disedot sopir taksi Yogya yang nakal-nakal itu.” Angka 60 itu pun ada artinya bagi Pak Jek. Pada usia 60-lah Pak Jek pertama kali akan menginjakkan kaki di rumah itu, memasukinya, dan mulai tinggal di situ.Acara melepas seseorang yang akan pensiun biasanya diadakan di aula perusahaan. Memang ada juga yang diadakan di restoran yang kesohor. Bahkan ada pula yang diadakan di hotel berbintang. Untuk orang berjabatan tinggi seperti Pak Jek, seorang direktur perusahaan MNC, sebetulnya pelepasan seperti itu patut dilakukan di hotel bintang lima. Namun, sudah jauh-jauh hari, Pak Jek mengingatkan para karyawannya, ”Kalian melepasku nanti tak usah di restoran atau di hotel yang mahal. Lebih baik sewa restoran dan sewa ruangan hotel dibagi-bagikan pada karyawan saja, atau dijadikan modal usaha perusahaan kita.” Karena sudah di-wanti-wanti seperti itu, karyawan dan anak buah Pak Jek tidak

memikirkan macam-macam lagi. Mereka tahu, Pak Jek itu orangnya saklek bin tegas. Sekali berkata A, berarti tak ada tafsiran lain di luar A.Oleh karena itu, panitia pelepasan Pak Jek penasaran ”Kalau begitu, di mana dong Pak?” ”Nanti saya beri tahu,” ujar Pak Jek dengan kalem. ”Nanti kapan, Pak?” ”Sehari sebelum saya pensiun.” ”Lho, bagaimana mungkin, Pak, panitia bekerja sehari sebelumnya?”Pak Jek diam sebentar, lalu, ”Ya, tak usah pakai panitia-panitia segalalah... Santai saja.” ”Bagaimana mungkin santai, Pak? ””Mungkin saja. Jadi, kalian tak perlu buang-buang waktu untuk panitia-panitiaan. Mendingan kalian bekerja saja daripada sibuk dengan kepanitiaan. Lagi pula, perusahaan kita bisa menghemat banyak waktu dan biaya.” SEHARI sebelum berusia 60 tahun, Pak Jek menepati janjinya. Pak Jek menentukan tempat pelepasannya di Stasiun Gambir, bertepatan dengan hari keberangkatan Pak Jek menuju Yogyakarta.Para karyawan Pak Jek yang mendengarnya terperangah. Ada di antara mereka yang nyaris tertawa terbahak-bahak mendengar kata ”Gambir”. Hanya karena kesopanan sajalah karyawan itu menahan rasa gelinya mendengar kata itu. Mereka hanya berkomentar yang lain dengan sesamanya. ”Bagaimana mungkin melepas seorang direktur perusahaan MNC di stasiun?” ”Di stasiun kereta kan berisik dengan orang-orang yang mau naik kereta api?” ”Tidak cocok, ah, di Gambir.” ”Lantas duduknya bagaimana?

””Acaranya bagaimana?”Meskipun karyawan Pak Jek tidak mengerti jalan pikiran bos mereka yang akan pensiun itu, para karyawan toh berdatangan ke Gambir pada jam yang ditentukan.Pak Jek akan naik kereta api Yogya Ekspres pukul 08.00 pagi. Pukul 07.00 Pak Jek sudah ada di Stasiun Gambir.Soal naik kereta ini pun sudah menimbulkan bisik-bisik di kalangan karyawan.”Bos kita kok naik kereta sih? Apa nggak salah tuh?””Naik kereta „kan tidak pernah tepat waktu. Selalu molor!””Kenapa tidak naik pesawat terbang saja? Satu jam sudah nyampe.””Makanan di kereta ‟kan tidak enak.””Kereta api kita kan ada tikusnya!”Rupanya, Pak Jek tahu suara batin para karyawannya itu. Oleh karena itu, ia memberi penjelasan berikut.”Selama ini „kan saya naik pesawat terbang terus ke mana-mana dengan biaya perusahaan karena peraturan perusahaan mensyaratkan demikian. Seorang direktur harus naik pesawat terbang ke mana-mana demi efisiensi. Sekarang, boleh dong saya naik kereta api atas kemauan sendiri... dan juga atas biaya sendiri.”Para karyawan pun manggut-manggut. Entah pertanda mengerti, entah pertanda bingung mendengar penjelasan Pak Jek.Acara perpisahan itu hanya berlangsung beberapa menit. Setelah pihak perusahaan membeberkan jasa Pak Jek selama 30 tahun bekerja, Pak Jek pun mengucapkan satu dua patah kata.”Terima kasih atas kerja sama kalian selama ini,” kata Pak Jek mengakhiri kata-katanya.Tidak ada acara penyerahan kado kepada Pak Jek karena Pak Jek sebelumnya sudah mengatakan,”Pada acara di Gambir, tak usah ada acara penyerahan kado kepada saya. Toh saya sudah dapat banyak dari perusahaan selama ini. Lebih baik uang untuk kado itu digunakan untuk kepentingan perusahaan saja. Lagi pula, rumahku yang baru cuma enam puluh meter persegi, kok. Jadi, tidak bisa muat banyak barang, termasuk kado dari kalian.”Secara bergiliran, para karyawan pun menyalami Pak Jek. Ada yang memeluk Pak Jek. Ada yang hanya memegang kedua bahunya. Ada yang menyalami dengan dua tangan. Ada yang hanya menyalami dengan satu tangan. Ada pula yang mencium tangan Pak Jek. Beberapa wanita hampir menitikkan air mata. Bahkan bekas sekretaris Pak Jek tak sanggup menahan air matanya. Mungkin dia punya kesan dan kenangan tersendiri terhadap Pak Jek. Siapa tahu.Beberapa saat kemudian, dari mikrofon terdengar pengumuman.”Para penumpang kereta api Jogja Ekspres dipersilakan naik ke kereta api. Terima kasih.”Beberapa detik kemudian, terjadilah hiruk-pikuk di peron antara calon penumpang, pengantar, dan kuli

angkut. Calon penumpang berdesakan di pintu gerbong kereta api, sedangkan pengantar yang berada di atas juga berdesakan hendak turun.”Hati-hati copet, Pak,” ujar seseorang.PAK Jek menempati gerbong 6 nomor 6A di dekat jendela. Kursi di sebelahnya, nomor 6B, masih kosong. Namun, Pak Jek tidak mau ambil pusing.Dari mikrofon di langit-langit kereta api terdengar suara wanita.”Selamat pagi para penumpang kereta api eksekutif Jogja Ekspres yang terhormat. Terima kasih atas kepercayaan Anda menggunakan kereta api Jogja Ekspres. Perjalanan kita ke Yogyakarta memakan waktu delapan jam. Kereta hanya berhenti di Stasiun Cikampek, Stasiun Cirebon, dan Stasiun Purwokerto. Kami akan menyediakan makan siang untuk Anda selepas Stasiun Cirebon dan menyediakan makan kecil serta secangkir teh selepas Stasiun Jatinegara.”Begitu kereta api meninggalkan Stasiun Gambir, hal pertama yang dilakukan Pak Jek adalah mengeluarkan Ericsson T39 dari kantong jaketnya. Lalu, Pak Jek mengirim SMS ke keluarganya di Yogya. ”Saya sudah berangkat dari Gambir pukul 08.00. Tiba di Tugu pukul 16.00. Tak usah dijemput.”Istri Pak Jek memang sudah berangkat lebih dahulu ke Yogya, menunggu di rumah baru. Begitu pula empat orang anak Pak Jek (dari Surabaya, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta) lengkap dengan anak-anak mereka. Pak Jek ingin, keluarga besarnya menyambutnya di rumah baru saja. Tidak di Stasiun Tugu!Setelah memasukkan HP-nya kembali ke kantong jaket bagian dalam, mata Pak Jek pelanpelan mulai meredup. Pak Jek baru terbangun ketika petugas kereta api memeriksa tiket.Pak Jek tidak tahu persis sudah melewati stasiun mana pemeriksaan itu dilakukan. Pak Jek juga tidak tahu, kapan pramugari kereta menaruh secangkir teh dan makanan kecil di meja kecil di depannya.Pak Jek memang gampang tertidur. Kapan saja, di mana saja, ia gampang terlelap. Di rumah pun selalu begitu. Begitu bertemu dengan bantal, Pak Jek langsung pulas. Bertemu sofa empuk, jika ditinggal sendirian, Pak Jek juga bisa terlena. Bagusnya, Pak Jek tidak mengorok.Pak Jek pulas lagi setelah menyeruput teh di meja kecil sampai habis. Itu berlangsung hingga tiba saat makan siang selepas Stasiun Cirebon. ”Pak, makan siang Pak,” kata pramugari.Pak Jek membuka mata, lantas menerima baki yang disodorkan pramugari kereta api.Makanan di kereta api Jogja Ekspres itu memang

tidak mengundang selera Pak Jek. Secuil nasi putih. Sepotong paha ayam goreng yang keras. Secuil kol putih yang dioseng-oseng dan sebuah pisang raja. Ada pula sendok garpu, tusuk gigi, dan sepotong tisu. Namun, tetap saja Pak Jek menghabiskan isi baki itu. Menurut Pak Jek, setiap makanan harus disyukuri meski makanannya tidak mengundang selera.Pak Jek sudah sering mendengar keluhan mengenai makanan itu dari para karyawannya. Namun, Pak Jek tetap saja memilih naik KA Jogja Ekspres. Ada beberapa dugaan Pak Jek mengenai makanan di KA Jogja Ekspres itu. Barangkali alokasi dana untuk makanan para penumpang memang terbatas. Atau selera petinggi kereta api, khususnya Jogja Ekspres, yang kurang baik sehingga tega membagikan makanan yang kurang membangkitkan selera bagi para penumpang. Boleh jadi, anggaran untuk konsumsi penumpang disunat para pemimpin perusahaan kereta api. Siapa nyana. PAK Jek tidak tahu bahwa Jogja Ekspres sudah melewati Stasiun Purwokerto, Stasiun Kebumen, Stasiun Kutoarjo, dan Stasiun Sentolo. Berarti Yogya sudah hampir tiba. Tinggal beberapa kilometer lagi.Sambil meluncur ke arah timur, dari mikrofon kereta api terdengar suara pramugari. ”Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan memasuki Stasiun Tugu. Dimohon Anda mempersiapkan barang-barang bawaan. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Terima kasih atas kepercayaan Anda memilih kereta api Jogja Ekspres. Kami mohon maaf bila ada pelayanan yang kurang memuaskan Anda. Sampai bertemu lagi pada kesempatan lain.”Penumpang-penumpang mulai bergegas meraih barangbarang yang ada di tempat bagasi atas. Para wanita mulai menata rambut mereka dan memoles bibir. Bapak-bapak menyempatkan diri ke toilet. Anak-anak pun mulai ribut.Hanya Pak Jek yang tetap di tempatnya. Bantal kecil masih tetap menutup mukanya. Ia seperti tidak ambil pusing dengan orang-orang yang hiruk-pikuk menyongsong Stasiun Tugu. Tas kecilnya masih tetap megogok di atas kepala Pak Jek.Begitu kereta melewati jembatan di atas Jalan Tentara Pelajar, kuli-kuli angkut—tak ubahnya Tarzan dalam film kartun—mulai berloncatan ke dalam gerbong kereta. ”Barangnya, Pak.”

”Angkat barang, Bu.” ”Bisa saya bantu, Pak.” ”Barangnya saya bawa, Bu.” ”Mari Bu saya bantu.” ”Kopernya saya bawa, Pak.” KERETA api Jogja Ekspres yang baru datang dari di Stasiun Tugu sedang dilangsir di Stasiun Lempuyangan. Di sana kereta dibersihkan dan nanti malam akan berangkat kembali ke Jakarta.Namun, seorang tukang sapu kaget masih ada penumpang yang tetap duduk di gerbong 6 nomor 6A persis dekat jendela. Bantal menutupi mukanya. ”Pak, bangun, Pak!”Orang yang dibangunkan tak bereaksi. ”Sudah sampai, Pak!”Tukang sapu itu pun memanggil temannya. ”Coba kamu yang bangunkan.”Tukang sapu kedua coba membangunkan. ”Pak sudah sampai Yogya, Pak. Bangun, Pak!” Orang yang dibangunkan tetap bergeming.Lantas, tukang sapu itu mengambil bantal dari muka penumpang itu.Tak ada respons.Tukang sapu satunya memegang tangan dan kemudian menggoyang tubuh laki-laki berusia 60 tahun itu.Laki-laki itu tak juga bangun. Bereaksi sedikit pun tidak.”Keasyikan mungkin tidurnya.” ”Terlalu capek mungkin dari Jakarta.” ”Mungkin baru kali ini dia naik sepur eksekutif.”Karena tak bereaksi sedikit pun, kedua tukang sapu itu memanggil tukang-tukang sapu yang lain.Setelah dicoba berulang kali, penumpang itu tetap saja tak mau bangun.Karena tak bereaksi juga, para tukang sapu menghubungi petugas stasiun.Petugas stasiun pun naik ke gerbong 6.Petugas itu mencoba memegang tangan penumpang di nomor 6A. Dipegangnya lagi dan dirasarasakannya lebih cermat (seperti dokter memeriksa pasien). Lalu tiba pada kesimpulan.”Lha, tangannya sudah dingin ‟gitu kok...”Petugas itu kemudian meraba dada penumpang itu.

”Napasnya kok tidak terasa lagi...” ”Jangan-jangan sakit jantung...” ”Jangan-jangan sudah seda...” ***Jakarta, 2002

Asmoro
Djenar Maesa Ayu Sumber: Kompas, Edisi 07/28/2002 ASMORO, waktu kita hampir habis. LANGKAH Asmoro mencipta gaung di sepanjang lorong kosong itu. Kekosongan yang sama menyita hati Asmoro. Kekosongan itu mengirimkan hanya satu gema yang terus bergaung di telinganya, Adjani bersimbah peluh.Adjani bersimbah peluh. Pelupuk matanya merapat. Tampak guratan-guratan halus di bawah matanya ketika kulit wajahnya menegang dan mulutnya terkatup. Adjani menahan luka. Orang-orang di sekeliling Adjani membisu. Semua menahan napas. Semua tidak berani bergerak. Ruangan itu begitu sunyi. Sangat sunyi hingga suara sehelai rambut yang jatuh bisa membuat siapa pun yang berada di dalam ruangan itu terlunjak dari kursi. Tetapi, mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain menyaksikan Adjani menahan luka. Tidak ada yang berani bertanya di mana persisnya Adjani terluka. Atau mengapa Adjani bisa terluka. Mereka hanya tahu Adjani luka. Luka yang begitu dalam. Luka yang begitu perih. Luka dari segala maha luka. Adjani bersimbah peluh. Pipinya merah terbakar matahari. Kuncir rambutnya bergerak-gerak setiap kali kakinya mengentak tanah. Sesekali ia mengusap peluh di dahi yang menetes ke matanya dengan handuk yang ia selendangkan di bahunya. Tetapi, tidak sekalipun ia menghentikan larinya. Kadangkadang ia biarkan saja peluh itu menetes hingga mulutnya. Setiap kali Adjani membuka mulut untuk membuang napas, maka masuklah tetesan keringat itu dan menyebabkan rasa asin di lidahnya.Ketika Adjani berlari, tidak akan ada yang dapat menghentikannya. Waktu ia menyeberang jalan, mobil-mobil langsung berhenti. Bahkan, lampu lalu lintas yang tadinya berwarna merah, berubah hijau dan membiarkan Adjani lewat. Kalaupun ada Metro Mini ngebut yang tidak sempat menginjak rem ketika Adjani melintas secara mendadak, yang terjadi hanyalah Metro Mini itu menembus tubuh Adjani bagai menembus udara. Jika ada mobil yang kebetulan posisinya menyamping di depan Adjani, langsung terbelah dua. Jembatan rubuh berdiri kembali seperti adegan ulang dalam kamera. Sungai terbelah. Tembok tinggi merendah. Tidak ada satu pun yang dapat menghentikan Adjani.Cerita tentang Adjani segera tersebar dari mulut ke mulut.

Menyeberang dari satu telinga ke telinga, rumah ke rumah, sungai ke sungai, laut ke laut dan benua ke benua. Berbagai media massa baik koran maupun televisi meliput berita tentang Adjani. Para fotografer, kuli tinta, reporter lengkap dengan helikopter menunggu Adjani di setiap sudut jalan. Yang tidak kuat mengimbangi lari Adjani terpaksa mewawancarai di atas mobil, motor, bahkan bajaj. Selain wawancara dan melihat keajaiban yang disebabkan Adjani, mereka berharap menjadi orang pertama yang dapat mengabadikan saat-saat Adjani menyerah dan berhenti berlari. Maka, pada setiap headline koran-koran, majalah-majalah, siaran radio, talk show, siaran berita televisi, semua memuat, menceritakan dan membahas Adjani.Di dalam sebuah kamar apartemen ukuran studio, sebuah televisi berukuran 24 inci juga sedang menayangkan talk show tentang Adjani. Bintang tamunya seorang produser besar Hollywood sedang diwawancara, apakah ia tertarik membuat film tentang Adjani. Tetapi, di dalam ruangan itu tidak ada penonton. Pesawat televisi yang panas, kursi ruang tamu dari rotan yang berdebu, asbak keramik berisi putung-putung rokok yang tidak pernah dibersihkan, pendingin ruangan yang tidak dinyalakan, onggokan baju-baju kotor yang berbau tidak sedap di dalam laundry room sebelah ruang tamu, menjadi bukti bahwa si pemilik apartemen mungil itu sudah lama tidak pernah keluar kamar.Sudah hampir sebulan Asmoro mengunci diri di dalam kamar dan putus hubungan dengan dunia luar maupun berita-berita lokal dan mancanegara. Asmoro hanya mau menulis. Sudah lama Asmoro tidak dapat menulis. Tetapi, sebulan menyepi tidak juga membuat Asmoro dapat menulis. Di tengah-tengah rasa putus asa, Asmoro mendengar jendela kamarnya diketuk dari luar. Awalnya ia tidak mempedulikan. Tetapi, ketukan itu tidak juga berhenti, walaupun terkesan tidak memaksa. Ketukan itu begitu halus dan begitu menggoda. Hati Asmoro yang tergoda akhirnya memutuskan untuk melirik ke jendela. Tetapi, tidak ada apa-apa di sana, sementara ketukan itu terus membahana. Barulah Asmoro sadar, ia berada di lantai ketujuh. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengetuk jendelanya? Asmoro berjalan mendekati jendela lalu membukanya. Saat itu angin dingin sepoi menampar mukanya. Tangan-tangan angin dengan lembut menarik wajah Asmoro dan mendekatkan bibirnya di dekat telinga Asmoro. "Adjani bersimbah peluh," bisik angin, lalu pergi meninggalkan Asmoro sendiri di kamarnya. Mendadak perut Asmoro keroncongan. Sudah tidak pernah ia bernafsu makan, padahal sudah sebulan ia hanya

minum air mineral dan penganan ringan. Asmoro ingin segera memesan makanan dari brosur-brosur yang ditaruhnya di bawah meja ruang tamu. Pada saat itulah ia melihat pesawat televisi yang masih menayangkan talk show. Di sela-sela talk show itu terkadang ditampilkan insert gambar Adjani yang berlari. Adjani yang bersimbah peluh. ADJANI bersimbah peluh. Lalu ada dua Adjani bersimbah peluh. Lalu empat Adjani bersimbah peluh. Lalu delapan Adjani bersimbah peluh. Penggandaan Adjani bersimbah peluh terus tumbuh hingga kepala Asmoro sudah tidak lagi punya ruang bagi hal lain, kecuali Adjani bersimbah peluh. Peluh yang membungkus tubuh Adjani bersinar keemasan tertimpa matahari. Dari sinar keemasan itu beterbangan ratusan kupu-kupu, kumbang, dan burung-burung gereja. Sinar keemasan itu menyerbak wangi bunga. Kadang mawar. Kadang melati. Kadang sedap malam. Kadang lili. Dari sinar keemasan itu juga keluar nada lagu. Irama musik sendu mendayu-dayu. Menyerang segenap jiwa Asmoro. Menyekap pikirannya untuk hanya terpaku pada Adjani yang bersimbah peluh.Duduk di bawah temaram lampu sorot di atas meja, Asmoro menumpahkan segenap pikirannya itu ke dalam tulisannya. Adjani yang berlari dengan kupu-kupu. Adjani yang menyeka peluh di hidungnya dengan handuk. Derap kaki Adjani yang teratur. Mata Adjani yang menyipit ketika sinar matahari menyeruak dari sela-sela dedaunan pohon gundul. Naik-turun dada Adjani mengatur napas. Tangan Adjani yang mengepal ke depan dan bergerak kiri-kanan. Dan setiap kali Asmoro mengetik huruf per huruf demi melukiskan Adjani, ia mendengar suara musik nan indah menerpa telinganya. Ia mencium semerbak bunga yang mewangi dari tubuh Adjani. Asmoro mabuk kepayang. Ia tidak dapat berhenti menulis. Dan semakin ia menulis, gambaran Adjani bersimbah peluh makin lama makin mendekat ke dirinya. Asmoro dapat mendengar sayup-sayup derap kaki Adjani dari kejauhan, lalu makin lama semakin jelas tertangkap pendengaran. Dan bau wangi yang samar-samar, lama kelamaan makin tajam. Suara lembut denting piano tunggal, berubah menjadi kesatuan orkestra besar. Asmoro menunggu Adjani.Adjani bersimbah peluh, terus berlari di bawah samudera. Di kiri kanan dan depan Adjani air laut menjulang tinggi sementara di belakangnya air laut runtuh kembali. Oleh sebab itu tidak ada lagi yang mengikuti di belakang Adjani kecuali helikopter yang terbang rendah di atasnya. Air laut yang menjulang tinggi itu bagai akuarium bawah laut raksasa. Ada gurita, paus, ikan pari,

dan berbagai jenis hewan laut menontonnya. Kadang-kadang kaki telanjang Adjani menginjak bangkai ikan juga bangkai bekas kapal karam. Peluh yang membungkus tubuh Adjani kini berwarna jingga kemerah-merahan tertimpa matahari senja. Dari sinar kemerahan itu, burung-burung senja berkepakan terbang dan sebagian yang tertinggal di belakang mau tidak mau tertelan air laut yang siap luruh bagai pohon tumbang. Walaupun matahari tidak lagi bersinar dengan garang, tubuh Adjani masih bersimbah peluh. Asin keringatnya bertambah ketika bercampur dengan percikan air laut. Ketika Adjani hampir sampai di mulut pantai, angkasa sudah menyulap senja menjadi malam. Bulan bersinar temaram. Bintang-bintang bercengkerama dan ada dua bintang yang asyik bercanda sambil berdorong-dorongan, hingga bintang yang satunya jatuh dari cakrawala. "Bintang jatuh," bisik Adjani dalam hati sambil terus berlari. Adjani tahu, seharusnya ia memohon satu permintaan yang konon akan terkabul jika melihat bintang jatuh. Tapi Adjani tidak punya keinginan apa-apa selain berlari tanpa henti. Dan ia pun sangat tahu, ia tidak akan berhenti. Tidak akan ada yang dapat menghentikannya berlari. Pada saat itu juga melintas angin yang sama dengan angin yang baru saja mengetuk jendela apartemen Asmoro. Angin itu membuka hidung Adjani dan mengantarkan aroma segar tubuh laki-laki. Dan Adjani terkaget ketika menjilat peluhnya sendiri. Peluh itu tidak hanya asin, tetapi juga ada sedikit rasa manis madu menggoda lidahnya. Bintang yang jatuh hampir saja tenggelam hilang dari penglihatan Adjani ketika Adjani memohon, "Antarkan saya kepada aroma segar ini. Antarkan saya kepada rasa manis di lidah ini." ASMORO, waktu kita hampir habis.Adjani bersimbah peluh. Sudah hampir dua ratus halaman yang diketik Asmoro demi menggambarkan pujaan hatinya Adjani yang berlari dan bersimbah peluh. Sementara derap kaki Adjani makin jelas. Dengus napasnya semakin dekat. Suara orkestra semakin keras. Dan wangi bunga memenuhi seluruh ruangan apartemen Asmoro. Namun, Asmoro tidak bisa berhenti menulis. Bahkan ia tidak dapat memperlambat laju tangannya sendiri. Asmoro tahu, sebentar lagi tulisannya selesai. Asmoro tahu sebentar lagi ia akan bertemu Adjani sekaligus berpisah dengan Adjani.Adjani bersimbah peluh. Ia berlari menyusuri jalan raya yang padat. Lautan manusia berdiri di sisi kiri dan kanannya. Jalanan macet total. Lampulampu lalu lintas tidak bekerja. Indeks harga saham berhenti karena tidak ada transaksi.

Semua orang keluar dari rumah, gedung perkantoran, restoran, hanya untuk menyaksikan Adjani. Aktivitas di kota itu lumpuh. Seorang reporter meliput, "Sudah ada tanda-tanda kelelahan pada Adjani, tetapi Adjani terus berlari tanpa mau menjawab satu pun pertanyaan wartawan. Adjani hanya bergumam... Asmara... Asmara... mungkinkah Adjani sedang jatuh cinta?" Dari liputan itu, stasiun-stasiun televisi lain segera menayangkan gambar-gambar Adjani yang pernah disiarkan. Semua yang berbicara dengan Adjani diperhatikan secara saksama, dengan harapan mereka dapat menjawab teka-teki asmara Adjani. Ada juga yang mendramatisir adegan wawancara Adjani dengan seorang wartawan muda dan langsung dihubungkan dengan pertalian asmara. Semua orang dari seluruh pelosok dunia tinggal di rumah atau menghentikan kegiatan hanya untuk mengikuti kisah asmara Adjani. Segala asumsi pun merebak. Kapan mereka berciuman? Pastilah pacar Adjani pelari, jadi mereka bisa berciuman sambil berlari. Atau orang kaya, sehingga bisa menyewa helikopter supaya setiap saat bisa berdekatan dengan Adjani. Atau jangan-jangan orang kaya itu, salah satu pemilik stasiun televisi? Hanya ada satu perdebatan, satu suara, satu tema di seluruh dunia, yaitu Adjani.Di kota itu, satusatunya orang yang bertahan dalam gedung ketika semua orang turun ke jalanan untuk menyaksikan Adjani lewat adalah Asmoro. Tangan kirinya memegang kencang tangan kanannya, tetapi tangan kanannya melawan dan terus mengetik. Lantas tangan kanannya berubah menghentikan tangan kiri, dan tangan kirinya yang ganti melawan balik dan terus mengetik. Asmoro tidak dapat berhenti. Sama seperti Adjani yang tidak bisa berhenti. Keletihan di muka Adjani yang tertangkap mata-mata penontonnya, tidak lain adalah keletihan yang diakibatkan karena Adjani berusaha keras menghentikan kaki-kakinya seperti Asmoro yang sedang berusaha menghentikan kedua tangannya. Ada pergulatan aneh yang merasuki mereka berdua. Keinginan yang meledak-ledak untuk segera berjumpa dan keinginan untuk lebih lama bersama, bagai satu mata koin dengan sisi yang berbeda. Betapapun besar usaha mereka untuk memperpanjang kebersamaan, sebesar itu pulalah usaha mereka untuk segera menyudahi. Adjani bersimbah peluh. Peluhnya menetes di atas marmer dingin lobi apartemen dan menguap ke atas kamar Asmoro.

ASMORO, waktu kita hampir habis.Asmoro bersimbah peluh. Dihirupnya dalam-dalam aroma peluh Adjani ketika tangannya berhenti pada titik terakhir tulisannya.Adjani bersimbah peluh. Jatuh tersungkur di depan pintu Asmoro. Pelupuk matanya merapat. Tampak guratan-guratan halus di bawah matanya ketika kulit wajahnya menegang dan mulutnya terkatup. Adjani menahan luka. Semua orang yang mengikuti di belakang Adjani terdiam. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Tidak ada yang berani meliput. Tidak ada yang berani bertanya. Mereka hanya dapat iba menatap tubuh Adjani yang tergeletak di atas karpet, hingga akhirnya menjelma menjadi seekor kupukupu.Asmoro membuka pintu kamar apartemennya. Langkah Asmoro mencipta gaung di sepanjang lorong kosong itu. Kekosongan yang sama menyita hati Asmoro. Kekosongan itu mengirimkan hanya satu gema yang terus bergaung di telinganya, Adjani bersimbah peluh. Dan abadi di atas tumpukan kertasnya, yang

mengumandangkan kepak sayap kupu-kupu.... ***Jakarta, 21 April 2002, 14:47:47 Untuk sebulan bersama Asmorodadi

Panikov
Laban 'Nyonyo' Abraham Sumber: Kompas, Edisi 04/14/2002

SUDAH hampir lima tahun ia duduk di beranda izba1, badannya dibungkus mantel yang sebagian lapuk dan terdapat banyak bolong. Orang di seluruh sudut desa memanggilnya Panikov si pemain seruling. Dulu, lima tahun yang lalu, izba itu didiami oleh seorang tua yang kurang lebih berpenampilan sama sepertinya, bermantel lusuh, hanya duduk diam di depan beranda berseberangan dengan danau yang sama, di bawah poster besar bertuliskan: "Hidup Tentara Merah".Yang sedikit berbeda mungkin si Tua tidak meniup seruling seperti Panikov. Di izba yang reyot, peot dan hampir rubuh itulah Panikov berselingkuh dengan alamnya yang penuh nada memuakan. Banyak pembunuhan, penyiksaan disaksikannya waktu masih tinggal di kota, dan semuanya dilegalkan sebagai bingkai peradaban hingga terseret sampai ke desa tempat tinggalnya sekarang. Semuanya terkesan halal di balik sejarah, yang gagal mendefinisikan pengkhianatan dan kebebasan untuk si tua, ayahnya tercinta.Desa tempat Panikov tinggal terletak di dataran tinggi, dikelilingi hutan, berjarak sembilan puluh lima versts (sekitar lima puluh tujuh mil) dari Kota St Petersburg, kota yang sudah dua kali berganti nama. Ia tak pernah mengungkapkan alasan, mengapa sampai kembali ke desa kelahirannya yang terpencil kepada penduduk, yang sebagian besar bekerja sebagai petani. Yang mereka tahu Panikov mulai terlihat di Izba-nya sejak ayahnya mati di tembak serdadu-serdadu dari kota. Pernah suatu kali, Anna seorang gadis remaja enambelas tahun berparas manis, yang kebetulan tinggal di sebelah izba-nya dan hampir setiap sore mengantarkannya makanan berupa bubur gandum, bertanya kepada Panikov tentang keberadaannya di desa itu. Panikov hanya menjawab. "Di kota tak ada lagi ruang untukku, setiap kalimat selalu disambut dengan teriakan 'hidup revolusi', selalu itu yang diungkapkan orang-orang di kota laknat. Dan kau tahu

gadis kecil? Ayah menghendaki diriku tinggal di sini, sampai saatnya tiba!!"Dan ketika si gadis kecil ingin bertanya lebih lanjut dengan rasa penasaran yang menggunung, cepat-cepat ia meniupkan seruling dengan lagu-lagu kebangsaan negaranya, yang ia kenal selama tiga puluh tahun, dengan maksud menghindar.Serta merta Panikov berhenti dan menjauhkan seruling dari bibirnya karena kaget. Ia tak sadar ternyata Anna sudah berada persis di sebelahnya. Ia berpaling memandangi Anna dengan mata yang sangat marah, sehingga memaksa Anna untuk mundur selangkah.Keadaan yang hening di dalam ruangan itu digunakan Anna untuk berbicara. "Tentara-tentara dari kota itu datang lagi."Panikov menaruh serulingnya, lalu mengganti lilin yang sudah hampir mati. Lalu ia angkat bicara. "Kenapa? Biarkan saja mereka datang kemari. Tanpa mereka udara desa ini akan semakin dingin." "Tapi..." Anna yang mencoba melanjutkan kalimatnya langsung dipotong oleh suara seruling Panikov yang menuju ke depan jendela.Sementara itu, orang-orang desa di luar dikagetkan oleh kedatangan segerombolan tentara di kegelapan dari arah timur desa. "Hey, kalian! Cepat! Cepat berkumpul di sana!" salah satu tentara menghardik serta memaksa ke seluruh orang desa yang ada di luar rumah dan menunjuk ke arah alunalun desa. Mereka tiba-tiba saja menjadi patuh, seperti biri-biri yang digiring dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh si tentara.Mereka tak mau lagi ditendangi seperti kejadian lima tahun yang lalu. Beberapa tentara memeriksa ke dalam setiap rumah di desa itu, dan Panikov... yach Panikov masih berada di dalam izba-nya, meniup serulingnya. Sementara Anna sudah sepuluh menit yang lalu berlari ke luar menuju alun-alun desa mengikuti orangtuanya. "Brak...!" Terdengar pintu rumahnya ditendang oleh para tentara dan langsung menggeledah isi rumahnya. Panikov terus meniup serulingnya. Kali ini ia sudah tak memainkan lagu kebangsaan negaranya, hanya keluar nada tak karuan yang terdengar. Panikov diseret, tentara itu menarik kerah bajunya hingga ke jalan berbatu depan izba. Dirampasnya seruling Panikov lalu dilemparkan jauh ke tengah danau.Menjelang pagi

di alun-alun desa sudah banyak orang berbaris menjadi kumpulan orang yang kesepian, diam dan hening. Hampir semuanya hanya memakai baju tidur, tanpa mantel dan menggigil kedinginan. Muka mereka pucat seperti hendak mati. Di depan mereka, terlihat seorang tua tergantung di pohon besar di tengah alun-alun desa, mengikuti dengan tali melilit di leher dan beberapa lubang peluru terdapat di danau depan izba harta peninggalan ayahnya. Ia ikat leher mayat itu dan dikalunginya batu besar lalu dibenamkan ke dalam danau.Saat ini, ia tengah memandang danau tempat ayahnya dibenamkan. Kata orang desa, ayahnya ditembak di tengah alun-alun desa dan sampai sekarang Panikov tak tahu sebab, mengapa ayahnya ditembak.Yach Panikov ingat. "Persetan!" gumamnya. Ia menangis, lalu diam lagi, selanjutnya ia tiup seruling yang sedari tadi ia pegang dengan lagu yang sama saat ia meninggalkan gudang percetakan di kota lima tahun lalu, air matanya membeku akibat udara dingin malam.Malam semakin pekat dan Panikov belum lelah meniup serulingnya. Tiba-tiba Panikov melihat dua mobil truk tentara melintas depan rumahnya dengan sorot lampu yang benderang. Panikov tak peduli. Ia terus meniup dan meniup. Kadang-kadang ia berhenti sebentar untuk berteriak. "Oh... tentara bajingan! Oh... kota laknat! Aku rindu kalian, datanglah kemari! Akan kuberi kalian surga kemerdekaan!" Terus... dan terus ia meniup, berteriak dan meniup seruling-nya lagi. Sampai sekitar setengah jam kemudian di sebelah timur danau terlihat cahaya merah kekuning-kuningan, indah menakjubkan. Panikov tidak peduli. Para tetangganya berhamburan dari dalam rumah dan berteriak. "Api...! Itu api...! Di sebelah timur desa ada api...! Hey, Panikov keluarlah, cepat lihat apa yang terjadi!" Panikov berhenti sejenak. Ia memandang keluar melalui jendela kayu itu. Ia enggan ikut bergabung, lalu berteriak, "Oh... tentara bajingan! Oh... kota laknat! Kau kabulkan permintaanku! Terimakasih!" Panikov kembali memainkan serulingnya, sementara itu lebih banyak dari tetangganya berkerumun di pekarangan rumahnya masing-masing untuk melihat apa yang terjadi di seberang sana. Anna si gadis tetangga mengetuk pintu rumah Panikov sambil berteriak. "Panikov! Panikov! Keluarlah Panikov! Ini aku, Anna".

Tak ada sahutan. Yang terdengar hanya bunyi seruling. Panikov tak bergeming dari tempatnya semula. Tetap di depan jendela dan meniup seruling. Anna berteriak lebih keras, namun tetap tak ada jawaban. Sampai akhirnya Anna mendobrak pintu rumah Panikov. Anna langsung menghampiri Panikov, memandangnya sesaat dan berteriak lagi, kali ini tepat di samping telinganya, "Panikov, sadarlah...!!!" Saat itu musim dingin, angin bergerak lebih lambat. Seperti biasa, jika menginjak musim dingin Panikov lebih banyak diam di ruang tamu dengan sebuah jendela yang menghadap ke utara danau dan menggambarkan siluet sangat indah, serta tak lupa meniup serulingnya. Bila hari menjelang malam, ia hanya menyalakan sebatang lilin sehingga izba itu terlihat lebih gelap dari rumah-rumah yang lain di desa.Tidak seperti malam kemarin yang agak hangat, malam ini terasa dingin lebih menggigit, tak ada bubur gandum yang ia tunggu sejak sore tadi. Ia berpikir mungkin Anna lupa berbagi dengannya. Panikov tidak punya mantel lain untuk dikenakan, dingin mencengkram kuat tubuhnya. Sebatang kayu pun ia tak punya untuk dibakar dalam tungku, tapi toh... ingatan terhadap ayahnya mengubur rasa lapar dan dingin malam itu.Ia menggigil, giginya gemeretak. Sambil mencoba menutupi bagian mantel yang bolong dengan tangan kirinya, sedangkan tangan yang lain tetap menggenggam seruling, Panikov beranjak pindah ke kursi di sebelah sudut yang dekat dengan jendela. Lalu memandang ke arah danau, ia bergumam. "Ayah... malam ini kau harus menjemputku!" Pikirannya merawang teringat mayat ayahnya yang hanya seorang petani bekerja di kolkhoz2 dan pencari peat3 seperti umumnya para penduduk lain di desa, telah mati ditembak para tentara bajingan dari kota. Ketika itu ia ada di St Petersburg bekerja di gudang percetakan negara. Beberapa hari selang kematian ayahnya, ia dipanggil oleh kepala biro tempatnya bekerja dan menyodorkan selembar kertas padanya. Ia terkulai lemas setelah membaca coretan yang tertulis di kertas itu. Saat itu juga, ia mengajukan kepada atasannya untuk berhenti bekerja dan kembali ke desa yang ia tinggalkan selama dua puluh lima tahun.Selagi ia membereskan barangnya, ia dapati seruling yang pernah diberikan ayahnya, lalu meniupnya sampai ia keluar gerbang gudang percetakan dengan lagu kebangsaan negaranya. Sesampainya di desa, ia kembali

melapor ke kepala distrik desa untuk meminta izin penggalian kubur ayahnya.Panikov menangis melihat mayat ayahnya. Terdapat beberapa lubang peluru di tubuh itu, ia memeluknya. Pani-kov tak peduli akan bau busuk yang menempel ke mantelnya dan seterusnya ia menangis di depan tubuh kaku sampai malam tiba. Panikov kembali menggunduk lubang kuburan dalam keadaan kosong. Dengan sadar diseretnya tubuh kaku ia sampai di dadanya, begitupun juga terpampang jelas lubang di keningnya yang sudah terbujur kaku serta terlihat bercak darah di pakaiannya.Para tentara berdiri mengelilingi orang-orang desa. Terlihat ada seorang tentara, Turgeyev namanya, ia berdiri di atas batu dengan kumis tebal serta seragam yang mencolok, dengan tanda pangkat yang berbeda dari tentara lainnya. Sambil menunjuk kepada mayat yang tergantung, 'si kumis tebal' lalu berteriak. "Dia pengkhianat!! Kalian tahu dia pengkhianat negara kita!" suasana tetap tak berubah, masih tetap hening. Ia tatap mata penduduk seperti hendak menerkam mereka, dan meneruskan kalimatnya. "Mencuri peat untuk kepentingan pribadi seperti lima tahun lalu adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Siapa pun itu harus dihukum dan itu sama saja dengan pengkhianatan, karena tidak mempercayai kami! Negara! Kalian semua harus tahu itu." Seketika itu tiba-tiba dari tengah-tengah penduduk yang 'dibariskan' berlarilah seseorang dengan senjata kecil di tangan. Ia langsung menuju pada tentara berkumis tebal itu dan segera diarahkannya senjata itu ke mukanya. Seketika terdengar teriakan seorang gadis kecil memecah kebekuan. "Panikov! Jangan Panikov..."Terdengar enam letusan senapan, serta dua tubuh tergeletak ke tanah. Panikov mati! Juga si Kumis Tebal. Keadaan semakin beku. Anna, gadis kecil itu mendekati mayat Panikov. Dilihatnya selembar kertas dalam genggaman tangan Panikov yang masih hangat itu. Seorang tentara memerintahkan agar kerumunan penduduk desa dibubarkan. Anna mengambil kertas itu dan membawanya pulang bersama orangtuanya.Sesampainya di rumah dibacanya lembaran kertas kusam penuh darah itu. "Kalian TAHU? Aku telah membuktikan bahwa ayahku BUKAN pengkhianat dan aku

hendaknya tidak akan rela untuk mati membela pengkhianat seperti ayahku. Mungkin negara tahu itu dan negara rela kehilangan orang TERBAIK-nya."Tertulis lagi di bawahnya. "untuk petani kecil November 1936" *** Bandung, Oktober 2001 1. pondok petani 2. pertanian kolektif pada zaman revolusi di Uni Sovyet 3. bahan bakar berwarna coklat untuk tungku sebagai penghangat selain kayu.

Mata Sunyi Perempuan Takroni
Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas, Edisi 04/07/2002 JERUJI pembatas makam Al-Baqi dari dunia luar masih jeruji yang itu-itu juga. Melongok dengan mata nanar ke dalam makam, para peziarah akan senantiasa memandang puluhan askar berkacak pinggang dengan angkuh dan waspada, seakanakan musuh dari Kampung Al-Aghwat bakal menyerang tiba-tiba.Tidak! Tidak! Polisipolisi itu hanya menjaga gundukan makam para sahabat dan istri-istri Nabi. Lihatlah, mereka tak berani mengusir ratusan merpati yang mematuki butir-butir habbah1 yang ditebarkan para peziarah. Mereka bahkan tampak seperti robot-robot santun yang tak memiliki pekerjaan lain, kecuali mendengarkan cericit merpati dan ratapan orang-orang yang khusyuk berdoa. "Meski begitu, kalau berani menyusup ke dalam mereka akan memukul pantat dan kepala kita dengan pentungan," kata Zulaikha, perempuan hitam kecil yang tengah mencengkeram jeruji itu kepada perempuan kencur lain.Mereka agaknya sangat terkagum-kagum pada kilau matahari yang menimpa sayap-sayap merpati dan gundukan-gundukan tanah kelabu padat itu. "Kalau sekadar memberi habbah kepada merpati, apakah kita akan diusir juga?" "Bukan hanya diusir. Dihajar, buk! buk! buk, kepalamu akan penyok dan pantat bakal memar tak keruan. Kalau tak percaya, mari kita tanyakan kepada ibuku." Bagai capung, anak-anak itu kemudian membentangkan tangan, melesat ke pelataran makam Al-Baqi yang dipenuhi para peziarah. Sesekali mereka menabrak orang-orang yang khusyuk berdoa. Sesekali terjatuh dan mengagetkan para tetua Madinah yang melakukan jihad fisabilillah2 dengan cara membimbing orang-orang asing

mengungkapkan ucapan selamat dan doa kepada para penghuni makam.Dan, Madinah yang terik masih menguarkan kilau matahari saat Zubaedah binti Musa menjajakan habbah di pelataran makam Al-Baqi. Bila sempat merekam berbagai peristiwa dengan mata hati, kau akan melihat sepasang merpati melintas dari Masjid Nabawi

mencericitkan suara-suara aneh serupa zikir serupa masnawi.Seperti biasa merpatimerpati itu tak langsung meliuk ke pekuburan bertembok indah kukuh itu. Dengan membentangkan sayap yang berkilauan, mereka menukik persis di kedua tangan Zubaedah untuk kemudian mematuk biji-biji habbah yang sengaja ditebarkan di pelataran makam oleh perempuan Takroni 3 bermata buta itu. "Ibu, mengapa kita tak boleh memberikan makanan kepada merpati-merpati yang kemruyuk di makam? Mengapa hanya yang di pelataran yang boleh diberi makanan?" "Karena itu perempuan, Anakku. Dan, telah berkali-kali kukatakan kepadamu, hanya para lelaki yang diperbolehkan menyusup hingga ke pusat makam."Zulaikha, perempuan kencur yang dipungut Zubaedah dari lorong pasar Madinah yang riuh dan tak pernah tidur, tak puas mendengar jawaban itu. Matanya yang jernih mendadak melesat ke kerumunan para peziarah dari berbagai bangsa yang tengah berdoa dan meratapkan berbagai kosa kata aneh di hadapan gundukan tanah tanpa kijing atau nisan-nisan indah itu. "Ayolah, Ibu, kita masuk ke sana. Kita berikan habbah yang tak terjual kepada merpatimerpati itu."Mendengar ajakan yang tak disangka-sangka, Zubaedah langsung berdiri tegak. Sepasang merpati yang mungkin takjub menatap perempuan hitam ber-abaya4 hitam itu terkejut sehingga sayap-sayapnya berkepak dan menimbulkan keriuhan yang mengagetkan para peziarah.Dengan cetakan dia berusaha meraih tangan Zulaikha yang telah meninggalkan teman sepermainan. Tetapi Zulaikha telah meluncur serupa anak panah, berlari menyusup ke retusan peziarah yang memenuhi pelataran makam berasitektur Arab itu. "Jangan, Anakku! Jangan masuk!" teriak Zubaedah sambil berlari, menendang tampah habbah, dan menabrak orang-orang yang bergegas memasuki pintu pekuburan.Para peziarah-yang kebanyakan berjalan menunduk sambil melantunkan zikir-tentu saja kaget melihat perempuan buta terhuyung-huyung meneriakkan ratapan dalam bahasa Arab yang kacau. Mereka tak tahu betapa sesungguhnya Zubaedah sedang berjuang menghentikan lesatan anak panah yang jika berhasil menyusup ke makam bakal melukai keyakinan jutaan orang, ratusan keluarga raja, dan para peziarah yang taklid

kepada adat. "Ampunilah Anakku, ya Allah! Ampunilah anak yang tak mengerti teladanmu, ya Rasul!" Zubaedah berteriak lagi.Sayang sekali, Zulaikha telah jadi anak panah yang diluncurkan dan busur buta. Karena itu dengan gerakan zig-zag menawan, dia meliuk, menyusup, dan terus berlari ke bibir pintu makam. Keinginan perempuan kencur itu hanya satu: memberikan sebanyak-banyak habbah kepada ratusan merpati yang mengepakngepakkan sayap di atas gundukan-gundukan makam. AKU pun sesungguhnya ingin sepertimu, Anakku. Ingin sebanyak mungkin memberikan habbah kepada ratusan merpati yang konon melindungi Nabi saat dikejar-kejar orangorang kafir di Jabal Sur. Bukankah bersama laba-laba yang terus merajut sarang, merpati-merpati itu tafakur dan menyelimuti dinding gua? Bukankah mereka telah menjadi perisai bagi ajal Nabi?Karena itu, Anakku, memberi makan mereka sama saja memberikan cinta tak habis-habis kepada Kanjeng Nabi. Jika hanya ingin berbagi rasa cinta, kau tak perlu memasuki makam keramat. Kau tak perlu menangis dan meratap sepanjang waktu di gundukan-gundukan tanah yang dimuliakan oleh orang-orang Madinah. Apalagi kau perempuan, Anakku. Apalagi kau hanya orang Takroni.Dan, sebagai orang Takroni, wahai Anakku yang malang, ibarat air kita bukanlah zamzam. Sebagaimana Bilal, pria indah yang menyeru-nyeru nama Allah dalam nada paling indah, kau hanyalah dahak yang ditumpahkan dari langit hitam yang sedang batuk. Kau hanyalah gema dari bunyi hoekkk dan plok dari kotoran tenggorokan yang membentur lantai marmer pelapis keindahan pelataran makam Al-Baqi yang kini telah dikepung pasar emas dan puluhan hotel mewah.OHO... tak perlu kau risaukan asal-usulmu, Anakku. Ibarat benda yang senantiasa dinajiskan oleh orang lain, kita adalah tinja yang mengotori keindahan istana para raja," begitu kata Musa bin Zakaria, ayahku, kali pertama aku mempertanyakan perbedaan kulit hitamku dari kemolekan kulit anak-anak pria-pria Madinah yang ingin bermain-main bersamaku di lorong-lorong pasar-yang sayang selalu dilarang oleh orangtua mereka-itu."Bahkan kau akan buta jika berani mempertanyakan mengapa gunung disebut sebagai jabal, raja disebut sebagai tuan, Bilal dilahirkan sebagai budak, engkau dilahirkan sebagai engkau, aku dilahirkan sebagai aku, dan habbah Madinah hanya layak dipatuki merpati-merpati yang tak

pernah berkurang dan bertambah sejak Nabi gesang dan senantiasa menangis sesenggukan di pekuburan para sahabatnya itu," ujar Ayah yang mengaku sebagai putra imigran asal Nigeria.Entah karena bertanya mengapa aku dilahirkan sebagai perempuan Takroni atau disebabkan oleh penyakit keturunan atau hal lain, pada usia yang sedang mekar, aku benar-benar buta.Dan, Ayah, sebagaimana pria Takroni lain, tak meratapi peristiwa duka nestapa itu. "Sudah kubilang... jangan usil. Jangan mempertanyakan apa-apa. Jangan melihat yang tak pantas dilihat. Jangan..."Maryamibuku, perempuan yang seindah dan secantik buah zaitun-selalu memprotes pendapat Ayah. "Engkau hanya tahu Hajar Aswad berwarna hitam. Tetapi kau tak tahu Nabi juga memuliakan Bilal nenek moyang kita yang rupawan. Engkau hanya tahu para peziarah mengenakan ihram putih, tetapi tak tahu betapa Ka'bah diselimuti kain hitam bertabur benang emas."Sebagaimana Nabi, Ayah sangat memuliakan perempuan. Saat berbeda pendapat dengan Ibu, dia tak pernah menampar atau memarahi perempuan molek yang amat dicintai. Meski demikian, Ayah tak menganggap kebutaanku sebagai kutukan. Dia, sebagaimana Ibu, menerima segala peristiwa kehidupan sebagai amanat atau bahkan sebagai cinta Nabi dan Allah kepada umat-Nya.Menjelang aku remaja Ibu bilang, "Engkau memang buta, Anakku. Tetapi engkau akan jadi mawar Madinah." Menjelang Ayah meninggal, dia berdoa, "Tuhan yang Maha Melihat telah Engkau butakan mata anakku, telah Engkau minta kembali segala keindahan cahaya Madinah dari matanya. Aku tak akan marah, ya Allah. Aku tak akan marah. Tetapi Engkau Yang Maha Memberi, berilah anakku cahaya hati yang paling terang di tengah-tengah kegelapan yang senantiasa menguntit kehidupannya." Sejak itu tak seorang pun, termasuk pedagang tasbih, kerudung, dan siwak 5 yang berjejal-jejal di sekujur tubuh pelataran makam mempertanyakan kebutaanku. Hanya engkau, wahai Anakku, yang pada malam sunyi yang menggigilkan lorong-lorong jalan, mempertanyakan asal-usul kebutaanku. "Apakah Ibu pernah merasakan keindahan Masjid Nabawi?" tanyamu polos saat itu. "Ya, Ibu bahkan hapal gradasi warna emas di sekujur pintu. Ibu malah bisa menghitung

berapa lampu yang menebarkan cahaya indah di menara dan berapa ukiran serupa bunga yang menghiasi kubah-kubahnya. Ketahuilah Anakku, Ibu juga paham segala warna yang menghiasi raudah6 Nabi. Dulu aku sering menangis dan berdoa tak kunjung henti di taman surga itu." "Jadi, Ibu pernah melihat segalanya?" "Ya, ibu pernah melihat segalanya, bahkan segala yang tak pantas dilihat oleh manusia." "Mengapa Ibu kemudian buta?" "Mungkin karena Ibu telah melihat sesuatu yang tak pantas dilihat oleh seorang perempuan.Sampai pada kata-kata itu, kau tahu Anakku, sebenarnya aku tak sanggup lagi meneruskan ceritaku. Aku takut kau akan mengikuti jejakku. Tetapi kau terus mencerocos, memberondongku dengan pertanyaan polos yang mendesak dan menikam. Akhirnya kau pun tahu mengapa perempuan seperti aku harus dibutakan.” ZUBAEDAH sesungguhnya tak pernah menceritakan penyebab kebutaannya kepada siapa pun. Tak kepada ayah atau ibunya. Apalagi kepada Zulaikha. Karena terpesona pada cerita Musa bin Zakaria tentang keutamaan mati di Madinah, malam itu dia menyusup ke makam.Sambil berjingkat pelan-pelan, dia mengingat-ingat petuah ayahnya. "Kalau bisa matilah di Madinah, Anakku. Sebagai orang Takroni hidup kita di dunia memang tak segemerlap orang-orang Madinah. Kita tak mungkin jadi warga negara kerajaan sampai kapan pun. Tetapi, kalau kau mati di sini Nabi akan memberikan surga."Waktu itu, karena diserang demam tak berkesudahan, Zubaedah merasa sang ajal sudah mengintip. "Mati di Madinah memang baik, namun akan lebih baik jika aku bisa mati di makam AlBaqi," pikir perempuan yang sedang mekar itu. Alhasil, Zubaedah pun mulai merayap mendekati pintu makam. Malam menyelimuti sekujur tubuh yang dililiti abaya hitam itu sehingga tak seorang pun melihat sesosok

bayangan memanjat jeruji makam. Sial! Belum sampai menginjak bagian dalam makam, mendadak sebuah tangan kekar menarik abaya Zubaedah. Pegangan Zubaedah terlepas. Dia terjengkang. Bagian belakang kepala membentur lantai marmer. Lalu segalanya menggelap. Cahaya lampu-lampu Madinah yang berkilauan hilang dari pelupuk mata.Zubaedah tersadar dari pingsan yang panjang setelah azan subuh dari Masjid Nabawi melengking-lengking. Malaikatlah yang menghalang-halangi? Entahlah! Yang jelas, sebelum pingsan, dia mendengar suara-suara orang-orang kekar menyumpah tak keruan. "Dasar Takroni. Apa yang akan dia curi dari pekuburan!" teriak seseorang. "Ya, apa yang diburu perempuan keturunan budak ini?" ujar seseorang lagi sambil menginjak dada. "Sudah! Sudah! Tinggalkan saja dia di sini!"Lalu suara orang-orang kekar itu lenyap. Hanya bunyi sepatu lars menyusup dari kejauhan. ZULAIKHA masih termangu-mangu di bibir pintu makam. Dia tak bergegas melesat ke dalam makam karena mendadak ingat cerita Zubaedah tentang cahaya mahaterang yang senantiasa menyelimuti makam Al-Baqi. "Cahaya terang yang berkilau dari sayap malaikat akan membutakan matamu, Anakku. Jadi, camkan nasihatku. Jangan pernah masuk ke makam, sekalipun engkau ingin mati dan dikubur di dalamnya." Zulaikha hanya tahu untuk mati di Madinah dia harus setiap hari menjual habbah di pelataran makam, bercanda dengan merpati-merpati, salat di masjid Nabawi, dan sesekali meneriakkan kata-kata fisabilillah kepada para penziarah agar diberi satu atau dua riyal.7 Tetapi, siang itu merpati-merpati di atas gundukan makam tampak kelaparan. Makin sedikit peziarah yang memberikan habbah kepada mereka. Makin sedikit perempuan-yang biasanya mengasihi dan menyayangi binatang-mendekat ke

makam.Dan Zubaedah, masya Allah, perempuan buta itu, terhuyung-huyung menabrak benda apa pun di hadapannya. Dia menyangka Zulaikha akan mengikuti tindakan konyol yang pernah dia lakukan sebelum kebutaan menyergap dan memenjara. Dia

menyangka perempuan kecil itu nekat melawan puluhan askar yang berkacak pinggang di dalam makam.Karena itu, jauh sebelum menggapai pintu makam, dia

membayangkan para polisi menggebuk tubuh mungil Zulaikha. Menyumpah-nyumpah dengan kata-kata kotor dan menganggap para perempuan Takroni sebagai budak yang tak tahu aturan.Tetapi, lihatlah! Zulaikha masih tetap termangu di pintu makam. Puluhan, tidak-tidak, ratusan merpati yang kemruyuk di gundukan tanah kelabu (o jelmaan malaikatkah mereka) tiba-tiba melesat di atas kepala perempuan kecil itu. Mereka menukik ke arah Masjid Nabawi, melambai-lambaikan sayap, seakan-akan mengajak Zulaikha meninggalkan daerah pertempuran. "Ibu! Ibu! Lihat! Mereka tak mau mati kelaparan di makam!" teriak Zulaikha kegirangan. ***

Hotel Sanabel Al Madina, Madinah Munawarrah, 2002 Catatan: 1) Habbah adalah sejenis gabah. Para penziarah makam Al-Baqi dianjurkan memberikan makanan itu kepada ratusan merpati yang senantiasa kemruyuk di kompleks pekuburan tersebut. Saya beruntung tersesat ke makam itu saat melaksanakan ibadah haji belum lama ini. 2) Jihad fisabilillah adalah anjuran berderma. Para tetua Madinah mendoakan orang asing antara lain untuk mendapatkan belas kasih dari penziarah. 3) Takroni merupakan sebutan bagi imigran Afrika yang tak mungkin kembali ke tanah asal, namun juga tak mungkin jadi warga negara Kerajaan Arab Saudi. 4) Abaya: pakaian khas sejenis mukena yang dikenakan para perempuan Arab. 5) Siwak kayu lunak yang difungsikan sebagai pembersih gigi. 6) Raudah disebut juga sebagai salah satu taman surga. Sebuah area antara mihrab dan makam Nabi Muhammad.

7) Riyal:mata uang resmi Arab.

Rumah Makam
Putu Fajar Arcana Sumber: Kompas, Edisi 03/17/2002

KETIKA mendengar kabar ayahnya meninggal Susila tidak kaget. Ia masih sempat mengantar anak-anaknya ke sekolah. Bahkan, siang hari menjemputnya kembali. Susila memang sudah punya rencana untuk pulang kampung besok pagi, sembari menunggu istrinya mendapat cuti dari kantor. Namun, saat sepupunya, Mangku, menelepon lagi, ia benar-benar jadi kehabisan alasan.Sore itu juga Susila berangkat naik bus dari Terminal Pulo Gadung Jakarta ke Denpasar. Meski ia tahu suasana tahun baru akan membuat penyeberangan Ketapang-Gilimanuk padat, tapi ia merasa tak diberi pilihan lain. Kabar dari Mangku benar-benar membuat emosinya campur aduk. Ia hanya berpikir bagaimana secepatnya tiba di Banjar Sari, Gianyar. Kira-kira satu setengah jam perjalanan lagi ke arah timur Kota Denpasar.Sepanjang perjalanan terbayang perlakuan keji dan tidak adil yang harus diterima ayahnya, I Raneh. Bahkan sampai tubuhnya menjadi mayat, warga banjar tetap memperlakukannya secara tidak hormat. "Kasar dan kejam," pikirnya. "Susila!" kata Kelihan Adat Banjar Sari Wayan Kroda, ketika Susila mendatangi rumahnya pagi hari. "Ini sudah hasil dari keputusan paruman banjar. Jadi, jangan salah paham." Wayan Kroda menuturkan keputusan banjar tersebut bukan tanpa alasan. Semasa hidupnya I Raneh dianggap selalu membangkang terhadap kesepakatan-kesepakatan yang diputuskan adat. Meski masih berusia belasan tahun, Wayan Kroda masih ingat ketika I Raneh menentang adat yang telah memutuskan untuk mencoblos Golkar. Waktu itu

tahun 1971, ayah Kroda, I Kleteg yang menjabat sebagai kelihan adat di Banjar Sari. "Kamu tentu masih ingat juga, bagaimana ayahmu menghasut warga hingga Golkar hampir kalah di Banjar kita ini. Meski telah kena sanksi adat, sampai tua ayahmu tak pernah berubah juga...." "Sepanjang hidup, saya tidak pernah menilai ayah saya berbuat salah, hingga membuatnya pantas menerima sanksi berat, bahkan sampai jenazahnya!" potong Susila. Wayan Kroda terdiam. Seekor babi tiba-tiba merobohkan pohon pepaya di halaman rumahnya. Batang pepaya itu menjulur sampai ke teras di mana Kroda dan Susila sedang bicara. "Luh, Luh...!" Wayan Kroda memanggil anak perempuannya dengan suara keras, "Ikat babinya. Jangan dibiarkan liar begitu. Nanti kamu kena denda!" HASIL paruman adat memutuskan melarang penguburan ataupun pembakaran jenazah I Raneh di kuburan milik banjar. Warga menilai dosa I Raneh selama hidupnya sudah terlalu banyak. Selain menghasut warga menentang Golkar, Raneh juga pernah melarang kelompok seni Cak Banjar Sari untuk pentas di hotel-hotel di Nusa Dua kalau tidak dihargai secara pantas. "Jika hotel-hotel itu masih mengangkut kita dengan truk, kita tidak akan mau pentas. Saya juga akan mundur dari kelompok kalau hotel tidak membayar kita dengan harga tinggi," tegas I Raneh sewaktu masih hidup. Sebagai kelihan adat wajah I Kleteg seperti ditampar di depan warganya sendiri. Ia merasa sudah susah payah mencari hubungan ke ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Denpasar agar kelompok Cak Banjar Sari bisa main di hotel. "Bisa pentas di hotel berbintang saja sudah luar biasa. Ongkos tidak penting! Selama ini kita hanya pentas di desa-desa, lain rasanya kalau nanti main di depan turis asing. Itu kebanggaan," ungkap I Kleteg. Tetapi, I Raneh tetap berpendirian bahwa dosen-dosen ASTI itu telah meracuni otak I Kleteg. Padahal, hasil pentas itu sebagian besar dinikmati para brooker seni itu. Perdebatanperdebatan macam itu akhirnya berakibat pada pengucilan keluarga I Raneh. Sampai kini, seluruh keturunannya, termasuk Susila, dianggap tak hirau lagi pada kewajibannya

selaku warga banjar. Kebetulan keempat anak I Raneh pergi merantau ke luar Banjar Sari. Sejak zaman I Kleteg sampai Wayan Kroda menjadi kelihan adat, keluarga I Raneh dianggap perusak tatanan adat yang ada. Sejak tinggal di Jakarta, Susila mau tak mau harus melepaskan keanggotaannya sebagai warga adat Banjar Sari. Tuntutan profesi membuatnya harus pindah. Tetapi, aturan di Banjar Sari mengharuskan ia tetap sebagai warga adat, karena darahnya tumpah di desa pusat kerajinan itu. Karena tinggal jauh, Susila tak mungkin lagi mengikuti kegiatan-kegiatan adat. Ia tahu, Wayan Kroda sejak lama mendiskreditkan keluarganya. Dendam Kroda, dendam turunan. Ia hanya memakai tangan adat untuk membalas rasa dendam ayahnya kepada ayah Susila. "Bagaimana ini bisa terjadi? Adat dibikin begitu kaku, bahkan digunakan untuk menghantam orang-orang yang tidak disukai. Ini hanya dendam pribadi. Apa yang pantas dicemburui dari keluargaku?" Susila terus membatin di sisi jenazah ayahnya. Bagaimana mungkin seorang bekas pejuang melawan Belanda, sampai menjadi mayat pun tetap diperlakukan secara hina. Larangan melakukan upacara jenazah di kuburan adat Banjar Sari, berarti jalan buntu. Banjar adat lain tak mungkin menerima jenazah I Raneh, karena ia bukan anggotanya. Kalau toh diizinkan, itu pasti melalui berbagai prosedur yang rumit dan memakan waktu. Sementara saat yang baik untuk penguburan tinggal tiga hari lagi. Sempat terlintas dalam pikirannya membawa jenazah ayahnya ke Denpasar untuk dikremasi. Ia ingat di Pemakaman Mumbul ada krematorium milik umat Budha. Tetapi, ide itu dipatahkan oleh ketiga adiknya. Ayah mereka harus mendapatkan penguburan dengan upacara yang layak sebagai seseorang yang pernah berjasa. Sikap keras yang ditunjukkan I Raneh selama ini, hanya karena ia tak ingin melihat Banjar Sari dieksploitasi untuk kepentingan politik dan modal. Tetapi, sikap itu dianggap merugikan I Kleteg dan sebagian warga. SANKSI ini terlalu berat. Tak mungkin bisa ditanggungkan oleh sesosok jenazah. Susila tetap menganggap bahwa sanksi adat itu sungguh tidak adil terhadap ayahnya. Perundingan dengan ketiga adiknya tidak menemukan jalan keluar. Kakak beradik itu hanya bisa meratap di sisi jenazah ayah mereka. Sesungguhnya banyak warga

bersimpati pada keluarga Susila. Mereka secara bisik-bisik mencoba mencari jalan keluar dari kebuntuan sanksi adat itu. Namun, tetap saja warga tak berani datang untuk sekadar mengucapkan rasa simpati atau turut berduka cita ke rumah Susila. Mereka juga takut terkena sanksi: turut dikucilkan!Menurut perhitungan dewasa, hari ini hari terakhir untuk melangsungkan upacara penguburan atau pembakaran jenazah. Kendati sudah lama tinggal di kota seperti Jakarta, Susila sangat menghormati perhitungan dewasa itu. Pengetahuan itu satu-satunya warisan ayahnya yang masih ia jalankan. Meski harus mengorbankan harga dirinya, untuk kesekian kalinya Susila mendatangi rumah Wayan Kroda. "Bli, sekarang hari terakhir dalam perhitungan dewasa untuk melaksanakan penguburan. Saya atas nama ayah dan seluruh keluarga tetap meminta agar sanksi adat dicabut, agar kami bisa menguburkan jenazah ayah...." Wayan Kroda tak segera menyahut. Ia melihat babi peliharaan istrinya tetap liar. Bahkan, kali ini hampir merusak seluruh tanaman di halaman rumahnya. Lagi-lagi ia berteriak memanggil anak perempuannya agar segera mengikat babi itu. "Sudah berapa kali pula saya katakan, ini keputusan paruman adat. Saya tidak bisa mengubahnya sekehendak hati. Kalau kamu mau sanksi itu diubah, mintakan kepada seluruh warga. Jangan datang lagi kepada saya. Perkara di mana jenazah itu dikuburkan, bukan lagi urusan adat. Itu mutlak urusan keluargamu," tiba-tiba kata Wayan Kroda dengan tekanan suara keras. Susila merasa percuma berunding dengan orang yang memendam rasa dendam turunan. Bahkan, dendam itu barangkali akan tetap melekat sampai cucu-cucu mereka kelak. Ia me-rasa rasa benci senantiasa mendatangkan pikiran sesat. Wayan Kroda sedang disesatkan rasa bencinya. Sebagai kelihan adat, seseorang yang dituakan dalam adat, tak pantas ia berlaku begitu kepada warganya. Aturan adat disepakati untuk menciptakan harmoni tatanan warga. Bahkan, harmoni warga dengan makhluk lain di sekitarnya. Bukan, dijadikan alat untuk menekan dan menghukum orang-orang yang berseberangan secara pribadi.Pagi itu juga Susila berangkat ke Denpasar dengan maksud menemui Gubernur. Seorang petugas protokol memberitahu bahwa Gubernur sedang sibuk menerima tamu dari Jakarta.

"Tamu itu sangat penting. Jadi, Bapak harus mengajukan surat permohonan dulu. Itu pun belum tentu bisa langsung menghadap. Paling tidak harus menunggu seminggu," ujar petugas lelaki itu. "Barangkali saya bisa dipertemukan dengan pimpinan lain. Wakil atau siapa sajalah. Ini soal penting dan sangat mendesak." "Semua pimpinan juga sedang mendampingi Bapak. Jadi, bikin saja surat dulu." "Ini soal jenazah! Jadi, saya harap bisa bertemu Gubernur." "Lebih baik berurusan dengan polisi, kalau menyangkut penemuan jenazah," kata petugas itu.Sempat terlintas dalam benak Susila untuk mendatangi Pimpinan DPRD. Tapi, niat itu ditepisnya. Ia tahu pasti, seperti yang biasa terjadi wakil rakyat pun akan menampung keluhannya lantas dirundingkan dulu dengan eksekutif. Padahal, ia berharap menemukan jalan keluar hari itu juga, agar jenazah ayahnya tidak terkatungkatung. TEPAT seminggu jenazah I Raneh terbaring. Selama itu tak seorang warga banjar pun yang datang menjenguk. Hanya beberapa kerabat jauh yang turut menyertai Susila menjaga sosok tubuh ayahnya. Tetapi, setiap dimintai pertimbangan rata-rata mereka tak punya jalan keluar. Mereka umumnya mengatakan penyelesaian upacara jenazah sangat tergantung pada banjar adat. "Jadi, kalau banjar adat mengenakan sanksi, bisa berbuat apa kita ini?" kata seorang kerabat Susila. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu makin membuat kusut pikiran Susila. Ia berbaring di dekat ayahnya. Ia tarik napasnya dalam-dalam lalu diembus seperti melenguh. Ada sesak dalam dadanya. Susila sama sekali tak menduga begitu mudahnya warga adat dihasut untuk berbuat keji. Sebagai orang yang lama merantau, Susila berpikir bahwa adatlah yang selama ini menjadi benteng terakhir di banjar dari berbagai gempuran kehidupan modern. Sebelumnya ia begitu yakin bahwa serbuan dunia modern menjadi satu-satunya penghancur tatanan adat di Banjar Sari. Derasnya arus modal yang membawa peradaban baru, akan mengubah kondisi sosial dan ekonomi. Saat itulah secara bersamaan terjadi perubahan dalam cara berpikir dan pola

prilaku masyarakat. "Dan, I Kleteg serta Wayan Kroda merupakan pion-pion pembawa kehancuran di Banjar Sari? Mereka hanya mementingkan keuntungannya sendiri dengan berdalih menjaga keutuhan adat....ah." Susila mengembuskan asap rokoknya jauh-jauh. Ia ingin mengeluarkan seluruh sesak yang memenuhi rongga dadanya. Asap itu berpadu dengan kepulan asap puluhan dupa dari altar di sebelah kiri jenazah. Bergulung-gulung mencucuk langit-langit rumah. Di luar gerimis menghantarkan suasana makin cepat jadi gelap. Dalam peti sosok tubuh I Raneh membeku. Tetesan air di bagian ujung peti menandakan es di dalamnya terus mencair. Tubuh lelaki berusia 78 tahun itu mengeras seperti menjadi satu zat dengan tulang. Seluruh cairan tubuhnya pelan-pelan larut ke dalam tetesan bongkahan es.Saat hendak mengisi kembali bongkahan es ke dalam peti itulah, seorang kerabat tiba-tiba berteriak mengatakan bahwa jenazah I Raneh hilang. Beberapa kerabat lain menuduh bahwa warga adat makin berbuat kejam. Wayan Kroda dituding menjadi otak pencurian jenazah. "Ia keberatan, makin lama jenazah berada di rumah, bau tak sedap makin merayap ke rumah-rumah warga," kata seorang kerabat liannya. "Tapi, bukankah bau tak sedap itu bersumber dari dalam rumahnya sendiri?" kata yang lainnya lagi. Meski jumlahnya tak begitu banyak para kerabat itu sepakat untuk mendatangi rumah Wayan Kroda. Mereka ingin menuntut keadilan. Perbuatan Wayan Kroda dianggap sudah keterlaluan: terhadap jenazah pun ia tak urung berbuat keji.Ketika melewati pintu depan, para kerabat itu dikagetkan dengan ratapan Susila di sebuah rumah kecil di halaman. Di dalam rumah itu terdapat gundukan yang baru saja digali. "Inilah rumah makam yang saya bikin untuk ayah. Sewaktu kalian lelap, aku diam-diam membuatnya. Ayo semua berdoa. Jangan pikirkan lagi soal sanksi adat itu. Penyelesaian cara inilah yang rupanya tengah diinginkan oleh Wayan Kroda...! Ayo duduk dan berdoa, mengapa masih bengong, tidakkah kalian ingin mendoakan agar ayahku tenang? Ayo......" Susila memanggil ketiga adiknya sembari membagi-bagikan

dupa. Pagi hari kegemparan melanda seluruh Banjar Sari. Kabar tentang Susila membuat rumah makam di halaman rumahnya tersebar cepat. Pagi itu juga Wayan Kroda menggelar paruman warga adat. Mereka merembugkan sanksi baru yang harus ditimpakan kepada keluarga Susila. Selain itu warga juga merencanakan menggelar upacara pembersihan desa. Tindakan Susila dianggap telah membuat desa kotor. **** Keterangan: Banjar : Komunitas masyarakat adat. Kelihan Adat : Tetua Adat Paruman : Rapat Dewasa : Hari Bli : Kakak Lelaki.

Sedang Tidak Menunggu Tuan!
Hamsad Rangkuti Sumber: Kompas, Edisi 03/10/2002

MEREKA menggantungkan tabung infus di tiangnya, di sisi tempat tidur. Di bawah tabung, slang pengantar cairan bergantung terayun-ayun seperti tali pada tiang bendera. Air kehidupan yang tak berhenti menetes, masuk ke dalam urat nadi mereka, dari waktu ke waktu, diiring doa sanak keluarga. Perangkat medis itu, tubuh yang terbujur dalam sekat-sekat kain pembatas, tidak ubahnya plasenta dan bayi dalam rahim seorang ibu. Aku sekarang adalah bayi itu, terbaring dalam rahim waktu, ruang bersekat tirai satu setengah kali dua meter.Waktu terus bergeser. Datangnya waktu, datang pula mereka dalam urutan yang sama, setiap hari. Mula-mula langkah dalam muatan kantuk seorang wanita gemuk mendekat bersama suara roda bergelinding melindas celah lantai keramik yang renggang. Langkah dan gelinding roda itu terhenti sesaat, terdengar bunyi panci bersinggungan dan suara air diciduk dari dalam bejana dan dituangkan ke dalam panci. Pintu dibuka, langkah-langkah mendekat masuk ruangan. Pantat panci bergeser di lantai, didorong ke bawah tempat tidur. Dari sebelah menyebelah terdengar bunyi air diperah dari handuk. Pagi tiba juga seperti biasa.Istriku datang saat air di panci itu telah dingin. Ditambahnya air panas dari termos ke dalam panci. Mencelupkan handuk kecil, memerahnya dan mulai melap tubuhku. "Ada telepon? Siapa yang mau datang menjengukku?" "Tiap hari kau bertanya seperti itu. Tiap hari kau menanyakan orang-orang yang kau kira memperhatikanmu. Tiap hari kau selalu bilang mereka adalah sahabat-sahabat dekatmu. Apakah aku harus berbohong?" Aku tak menyalahkannya. Aku maklum kalau akhirnya dia bereaksi seperti itu. Dia lelah. Banyak faktor yang dipikirkannya, yang datang dari luar dirinya. Dia memang benarbenar lelah. Dia yang membangunkan anak-anak ketika mendapatkan aku tersungkur tak sadarkan diri di lantai kamar mandi. Dia menjerit dan berteriak-teriak

membangunkan anak-anak. Menyuruh mengeluarkan mobil. Dan terus menerus menangisiku yang diusung para tetangga ke dalam mobil. Dia duduk memangkuku di bangku tengah dan terus-menerus dalam keadaan tegang menghadapi jalan yang macat. Dia berteriak-teriak menyuruh mobil dipacu lebih cepat supaya bisa lebih awal tiba di rumah sakit. Dia memang tegang. Dia kurang tidur. Dia terus menerus menungguiku. Mengambil pispot. Menampungkannya. Membuangnya ke kamar mandi. Meneteskan madu ke dalam mulutku. Menyuapiku. Menampung muntah. Menjaga jarum infus supaya tidak terlepas dalam mengigauku yang meronta. Dia berulang kali tersentak dari tidurnya karena sentakan liar yang kulakukan. Dan tak pernah lupa menuntunku menyebut Allah. Dia memang lelah. Terlalu banyak yang membebaninya. "Aku datang!" kata suara itu. "Siapa Tuan?" "Yang datang diakhir kehidupan." "Tidak. Tidak sekarang. Harusnya Tuan tak datang, sekarang. Saya sedang tidak menunggu Tuan." "Tak ada waktu untuk menunda. Sekarang adalah saatnya bagimu. Ini takdirmu." "Tolonglah, Tuan. Jangan sekarang. Saya sedang tidak menunggu Tuan." Dia tidak hiraukan aku. Dia buka gerbang ketidak-kekalan, lubang untuk jalan berpindah dari negeri yang fana ke negeri yang baka. Aku dibawanya meninggalkan hangatnya dunia fana. Masuk ke dalam liang cahaya yang dalam. Melayang bagai kapas dalam tiupan angin kencang. Berakhir dengan tiba-tiba di hamparan kebun tembakau. Seluruh mata memandang adalah lautan hijau daun tembakau.Aku tercebur ke dalam lautan hijau pucuk tembakau itu. Kupu-kupu terbang meninggalkan telur di daun-daun yang muda. Ibu datang menyongsong dari kejauhan. Ujung telekungnya terseret menyapu pucuk-pucuk daun. Angin menebarkan wangi yang tak pernah tercium.

Direntangkannya tangan sebagai awal pelepas rindu. Dia muda. Lebih muda dari aku. Kutinggalkan ciuman di keningnya sebelum orang menutupnya. Rentang waktu yang panjang. Empat puluh tujuh tahun.

"Sekarang sudah tiba saatnya kau datang, anakku. Kau lihat itu, adikmu, si Choliq. Abangmu, si Abdullah. Lihat, siapa di sana? Ayahmu, Muhammad Saleh, si penjaga malam itu. Mari. Kami sudah lama menunggu kedatanganmu. Akhirnya tiba juga saat itu. Mendekatlah. Lupakan semuanya. Kau sudah cukup lelah. Sudah cukup waktu dunia menjadikan kau manusia pekerja. Beristirahatlah sekarang. Kau bekerja telah terlalu lama. Sebelum mencapai usia sekolah, kau telah bekerja. Kau dan ibu berjalan berkilo-kilo meter sejak subuh dan ketika matahari sepenggalah kita telah sampai di sana, di kebun tembakau itu. Kita menyibak setiap daun mencari ulat dan telur yang ditinggalkan kupu-kupu. Kita seperti burung pemakan ulat. Terbang dari daun ke daun, menyibaknya, menjepit ulat-ulat itu dengan ujung bambu yang diraut runcing seperti paruh. Ayolah mendekat. Kau sudah lelah, mengurus segala yang remeh temeh dunia." "Tetapi, ibu, saya masih belum menuliskan semua itu. Menulis tentang kita dan ulat daun tembakau dalam sebuah novel. Saya masih ingin menuliskannya dalam sebuah cerita panjang. Jangan ajak saya dulu masuk ke dalam dunia ibu. Biarkan saya dulu di dunia kehidupan. Anakku masih kecil-kecil. Masih banyak yang harus kukerjakan. Masih banyak yang belum kukerjakan." "Tinggalkan segala urusan tetek-bengek dunia. Hentikan omong kosong itu, menciptakan kebohongan-kebohongan yang kau mendapatkan kenikmatan darinya. Tinggalkan semua itu. Jangan cemaskan segala yang kau tinggalkan. Dunia kehidupan akan diurus dunia kehidupan. Ketika aku meninggalkan kalian, kalian masih kecil-kecil. Kau masih kelas enam sekolah rakyat. Tidak ada masalah bukan?" "Ibu seharusnya tidak berakhir begitu cepat kalau mereka memperdulikan ibu. Tetapi ketika itu saya masih kecil. Saya tidak tahu untuk berbuat apa. Setelah saya besar baru saya tahu bahwa saudara-saudara kita yang mampu tidak menghiraukan ibu. Penyakit batuk yang mengeluarkan darah ibu, tidak mereka cegah. Mereka tidak membawa ibu ke dokter. Ibu sama sekali tidak disentuh obat yang bisa menyembuhkan penyakit ibu. Dikemudian hari baru saya menyadari penyebab penyakit ibu. Kemiskinan kita yang pahit. Ibu menjual jeruk di emper gedung bioskop hingga larut malam. Saya yang memikul salak dalam karung sebelum dituang ke atas tikar yang kita bentangkan di emper bioskop. Ibu duduk di atas tikar di bawah lampu neon gedung bioskop,

menunggu para pembeli yang pulang larut malam. Itulah penyebab penyakit ibu. Angin malam yang dingin. Angin malam yang lembab. Dan itu pulalah penyebab ibu menjadi lebih cepat meninggalkan kami. Coba kalau ibu hidup di zaman dimana banyak dokter ahli dan anak-anakmu sudah pada mampu yang tak ibu dapatkan ketika ibu mati muda." "Ketahuilah, anakku, tidak semua yang kita rencanakan bisa kita selesaikan. Kau sudah lelah. Sudah tua. Delapan belas tahun lebih tua dari ibu. Kenangan untuk orang yang berpulang pada usia muda jauh lebih indah dari pada mereka yang berusia tua. Tinggalkan kekacauan dunia. Masuklah ke keabadian. Mari. Selamat datang, anakku." Aku mengelak dari tangkupan tangan ibu yang hendak memelukku. "Tidak. Tidak sekarang. Tidak sekarang saya datang kepada ibu."Aku mundur menjauh. Ibu mendekat. Ujung telekungnya terseret di atas permadani pucuk tembakau. Tepi kain putih itu dikibarkan angin yang datang membawa semerbak wangi yang belum pernah tercium.Ayah menghentikan langkah ibu. "Biarkan dia," kata ayah. "Dia sekarang memang telah melampaui usiamu, lebih tua 18 tahun saat kau meninggalkan kami. Tetapi dia belum sampai mendekati usiaku, 88 tahun. Dia belum boleh menyerah. Bermohonlah kepada Allah agar kau bisa mencapai seusia ayah. Bermohonlah kepadaNya agar kau bisa kembali ke dunia dan hidup 30 tahun lagi. Kau harus seperti aku. Datang kepada kami, dalam usia delapan puluh delapan tahun. Kita memiliki banyak kedekatan anakku. Sejak kecil kau dekat denganku. Menemaniku di malam-malam dingin. Kita suka malam hari. Malam hari adalah milik orang-orang yang terjaga. Terkadang kita seperti berhadapan dengan diri sendiri. Ayah adalah si penjaga malam itu. Penjaga malam di pajak, pusat perbelanjaan yang kumuh dan becek. Setiap malam aku memikul air untuk diisi ke bak-bak penampungan milik para pedagang makanan dan minuman di los itu, kau yang menyuluh gang-gang gelap dengan senter. Jendela, pengalih perhatian. Setiap malam kau dikuasai mimpi-mimpi. Ayah tahu semua itu. Mimpi membuat kehidupan berlanjut. Ayah membiarkanmu seperti itu. Duduk di dalam gelap. Merenungi jendela rumah penambal ban sepeda itu. Kau

menunggu anak gadis penambal ban sepeda itu membuka daun jendela. Ayah senyum setiap malam melihatmu seperti itu. Memandang dari balik kawat jala mengintai anak gadis penambal ban sepeda itu membuka daun jendela, membiarkan rambutnya terjurai dalam cahaya bulan purnama. Kau adalah si penghayal itu. Kau sama seperti aku. Golongan para pendongeng. Aku mendongeng di depan anak-anak tetangga setelah aku mengajarkan agama kepada mereka. Aku menggantikan mesin pendongeng yang belum ada di kampung kita waktu itu. Kita sesungguhnya memiliki banyak kesamaan dalam berbagai hal. Kalau aku mendongeng langsung kepada pendengarku, sementara kau mendongeng di atas kertas. Kau memiliki garis keturunan yang kuat pada diri aku. Dalam banyak hal kau sama seperti aku. Maka kau harus berusia sama seperti aku, setidaknya mendekati usia aku, delapan puluh delapan tahun, saat nanti kau menemui kami. Jadilah manusia seusia aku saat kau nanti mengakhiri hidup, insya Allah. Bermohonlah kepadaNya. Pulanglah. Pergi sana cari kehidupan. Ingat, ayah tak pernah mengajarkan hal-hal yang buruk. Ayah mengajarkan hal-hal yang baik kepadamu. Jauhkan dirimu dari orang-orang yang suka mengambil jalan pintas, yang

membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan. Jauhkan diri dari rasa iri, dengki dan tamak. Jauhi orang-orang yang suka menghasutmu. Jauhi segala yang bisa menghasutmu. Jauhi sumber fitnah. Jangan hidup seperti lilin, mengorbankan damar untuk nyalanya. Orang-orang itu masing-masing ada tempatnya. Jangan dipaksakan. Perkecil risiko kalau tidak bisa menghindar darinya. Kalau kau bisa menuruti semua itu, kau akan mendapatkan ketenangan hidup. Pergi sana, temui istri dan anak-anakmu. Temui sahabat-sahabatmu. Bermohonlah kepada Allah agar kau diberi umur panjang. Hidup bagaikan hadiah. Kalau Tuhan berkenan, kau mendapat kesempatan meneruskan hidup."Seekor anjing berwarna belang: hitam dan putih, datang berlari mendekat kepada ayah. Ayah menghilang ke dalam hutan bersama anjing itu, berburu kancil dengan sebatang tombak. Ibu menyambut hasil buruan ayah, seekor kancil yang terluka. Nasi selalu tak tersedia di rumah. Ibu memanggang buruan itu dan menghidangkan kancil guling. Tak ada nasi kecuali kangkung yang direbus pengganti nasi. Aku mengusir anjing itu setiap kami hendak makan. Aku bersaing sepiring nasi dengannya. Bila ada nasi, ibu membaginya sepuluh piring. Sepiring untuk anjing itu. Aku menghalaunya jauh dari rumah. Aku senang kalau dia tak pulang. Tetapi dia tak

bisa lari dari rasa laparnya. Dia pulang pada jam-jam makan. Kuhadang dia di tengah jalan. Tak kuberi jalan untuk pulang. Kuambil batu. Kulempar kakinya. Itulah kaing terakhirnya yang pernah kudengar. Dia lari membawa kakinya yang pincang, ke seberang jalan. Kadang sesuatu terjadi begitu saja. Mobil patroli Belanda melintas dan melindas tubuhnya. Ayah membawa bangkai anjing itu ke rumah. Aku membawa sekop dan menggali lubang. Ayah memasukkan bangkai anjing itu ke dalam lubang, aku menimbunnya.Aku kempeskan ban sepeda dan pergi ke bengkel sepeda itu memompanya. Aku lakukan berlama-lama sampai anak gadis itu keluar untuk keperluan sesuatu yang dia cari-cari, kadang dia membuang sampah dapur. Aku melirik kepadanya, dia melirik kepadaku dan melempar senyum. Jendela, pengalih perhatian. Malam harinya aku menyusuri lorong gelap di dalam pajak, los tempat berjual ikan, sayur, buah, sapu lidi, sapu ijuk, bakul anyaman bambu dan keranjang-keranjang rotan. Di balik rentangan kawat jala-pagar pusat perbelanjaan itu dibuat dari jalinan kawat jaladi seberang jalan, di loteng rumah penambal ban sepeda itu, daun jendela itu terkuak. Anak gadis itu membiarkan cahaya bulan masuk memeluk tubuhnya dengan warna perak. Aku sandarkan ujung tangga pada sisi atas besi pagar, aku naik dan merobah posisi tangga. Aku turun dan meletakkan ujung tangga di bawah bendul jendela. Selangkah demi selangkah aku naik dan, muncul di luar jendela. Dia lihat aku, lalu lari ke pintu, menutupnya, dan menguncinya dari dalam. Dari pintu yang telah terkunci dia lari ke jendela, menolongku masuk dan, mendorong ujung tangga. Terdengar tangga jatuh dan sepi malam. Jendela dia tutup, mengusir cahaya bulan. Bulan tak ikut masuk. Lewat celah kayu rangka jendela dia mengintip melihat aku menggantikannya. "Pergi ambil jeruk di pajak buah dekat pintu." Kata ayah muncul dari balik cahaya bulan. Tak ada atap penghalang langit. Semuanya muncul seperti kelambu yang ditambatkan pada empat tiang. Penuh kristal cahaya. Bulan tergantung di sudutnya. "Pergilah. Besok pagi akan ayah beri tahu pemiliknya, ayah mengambil sebutir jeruk. Pergilah ke lorong-lorong gelap itu. Raba di mana jeruk itu tersimpan. Ambillah sebutir. Jangan lebih dari satu." Malam dengan pancaran bulan penuh. Tak ada gelap di dalam los kecuali terangbenderang yang membungkus. Aku hanyut dalam arus cahaya dalam lorong-lorongnya

yang bercabang melintasi pajak ikan, pajak sayur, pajak barang pecah-belah dan pajak buah dekat pintu. Aku menyelusup ke bawah rak yang ditutup karung goni. Tanganku meraba di bawah karung, menyentuh buah-buah yang berbeda di antara sekat-sekat pemisah. Apel yang dibungkus jaringan lembut, markisah, semangka, dukuh, salak dan mangga. Aku ingin sebutir jeruk. Aku terus meraba. Ada yang terdorong oleh tubuhku. Sesuatu bergeser di atas. Sekeranjang jeruk jatuh menimpaku, tepat di dada. Aku terbatuk.Dia berdiri di samping keranjang jeruk. Diraihnya tanganku. Ditariknya aku dari tumpukan jeruk, masuk ke dalam relung cahaya yang vertikal, melejit di dalamnya, seperti gelembung dalam pipa air, menerobos langit-langit kelambu. Ayah melempar senyum kepadaku sebelum atap bangunan terkatup menyembunyikannya. Kami hanyut dalam arus cahaya melintas di hamparan kebun tembakau meninggalkan ibu yang berlari di atas pucuk-pucuk daun, mengejar kami. Kami semakin jauh meninggalkannya, sampai semuanya lenyap. Akhir semua itu adalah titik awal cahaya. Tuan itu melepas pegangannya, mendorongku ke luar cahaya berpindah ke negeri yang fana. Sebelum menutup gerbang fana, dia senyum kepadaku. "Aku akan menjemputmu nanti."Aku terbatuk mendapatkan kegelapan mata terpejam. Kupaksa membuka mata. Tapi tak kuasa. Aku tak tahu aku berada di mana. "Bangunlah, cerpenis. Kau belum mau mati." Suara itu terdengar selayang dekat daun telinga. Terasa ada sentuhan di bagian atas selimut. "Bangun Bang. Kami masih menunggu cerpen-cerpen Abang." Kupaksa membuka mata tetapi tak berdaya. Semua terasa masih melayang. Tak begitu jelas. "Bangunlah." Suara magis itu mendatangkan kekuatan untuk aku membuka mata. "Bangunlah, coba lihat, siapa yang datang?"Dengan sangat sulit aku membuka mata. Dalam nanar kudapati diriku di ruang yang tak pernah kukenal. Kulihat wanita itu, tapi tak begitu jelas, berada di samping tempat aku terbaring. Wajahnya terbagi dua oleh benda yang terjulai. "Siapa engkau?" "Aku istrimu. Nurwindasari." Disingkirkannya benda yang terjulai, yang menghalangi

pandangannya padaku. Wajah wanita itu sekarang tampak utuh dalam linangan air mata. "Di mana aku?" "Di rumah sakit. Kami telah kau bikin cemas. Grafik detak jantungmu di layar monitor menunjukkan garis lurus. Jantungmu telah berhenti berdetak. Aku terus menerus berdoa kepada Allah, memohon kepada-Nya agar kau diberi umur. Dokter terusmenerus tak bosan-bosannya merangsang jantungmu agar kembali berdenyut. Dia hantamkan berulang-ulang dua alat kejut jantung ke dadamu. Dada kiri dan kanan bersamaan. Dokter itu seperti memegang dua strika listrik yang dihantamkannya ke dadamu. Alhamdulillah. Jantungmu kembali berdetak. Segala puji bagi Allah." "Aku takut. Aku bertemu orang-orang yang telah meninggal. Ibuku, ayahku, abangku, adikku dan orang yang pernah dekat denganku. Aku juga bertemu dengan anjing kami yang telah lama mati. Aku bertemu di tempat kami pernah bersama." "Itu hanya mimpi-mimpi burukmu. Jangan terlampau dipikirkan." "Itu bukan mimpi. Aku datang kepada mereka. Aku bertemu Arida di tempat yang itu-itu juga. Di kamar itu. Di jendela itu." "Selalu itu saja yang kau ceritakan setiap wanita itu datang mengganggu tidurmu." "Dia melompati jendela waktu dia tahu aku lari ke Jakarta." "Itu lagi yang kau ulang-ulang. Penyesalan yang tak pernah habisnya. Lupakan semua itu. Masing-masing ada pada takdirnya." "Aku takut. Dosa-dosaku. Aku belum siap untuk mati." "Suatu hari semua kita akan pulang. Kita semua tahu itu. Tapi semua kita belum siap. Selalu begitu. Belum siap untuk mati. Itulah sebabnya kita berdoa, biar diberi umur oleh Allah. Aku tidak henti-hentinya berdoa supaya kau diberi umur panjang. Kau yakinkan itu, kau sekarang sedang tidak menunggu dia. Kita sekarang sedang tidak menunggu dia. Hilangkan rasa takutmu. Sudah tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Masa kritismu

sudah lewat, kata dokter. Kita sekarang sedang menunggu orang-orang yang mencintaimu. Menunggu orang-orang yang menyayangimu. Para sahabatmu." "Aku tidak ingin lahir dari sini disambut ibu dan ayahku. Aku ingin lahir dari tempat ini disambut istri dan anak-anakku. Disambut orang-orang yang mencintaiku. Disambut sahabat-sahabatku." "Bersyukurlah. Masih ada kesempatan untuk hidup. Lihat di balik dinding kaca itu. Siapa yang berdiri di sana? Mereka tadi sudah diizinkan dokter masuk menjengukmu. Satu per satu mereka masuk bergantian menyalaminya. Mereka memberi semangat hidup kepadamu. Lihatlah. Mereka masih belum mau beranjak dari sana meninggalkanmu. Mereka masih melihat padamu dari balik dinding kaca itu. Lihatlah, mereka memberi senyum kehidupan kepadamu. Coba kau perhatikan dari sisi kirimu. Di sana ada Haji Danarto, Sapardi Djoko Damono, Lukman Setiawan, Galeb Husyen, Kenedi Nurhan, Sori Siregar, Martin Alaida." "Siapa lagi?" "Wiwiek Sipala, Syahnagra Ismail, Wisnu Murti Ardjo, Kak Atie, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, Titik Ws., Elanda Rosi DS, Adri Darmadji Woko, Lazuardi Adi Sage, Remi Novaris, Abrar Siregar, Ibrahim Basalmah." "Siapa lagi mereka?" ***

Legenda Wongasu
Cerpen: Seno Gumira Ajidarma Sumber: Kompas, Edisi 03/03/2002

SUATU ketika kelak, seorang tukang cerita akan menuturkan sebuah legenda, yang terbentuk karena masa krisis ekonomi yang berkepanjangan, di sebuah negeri yang dahulu pernah ada, dan namanya adalah Indonesia. Negeri itu sudah pecah menjadi berpuluh-puluh negara kecil, yang syukurlah semuanya makmur, tetapi mereka masih disatukan oleh bahasa yang sama, yakni Bahasa Indonesia, sebagai warisan masa lalu.Barangkali tukang cerita itu akan duduk di tepi jalan dan dikerumuni orang-orang, atau memasang sebuah tenda dan memasang bangku-bangku di dalamnya di sebuah pasar malam, atau juga menceritakannya melalui sebuah teater boneka, bisa boneka yang digerakkan tali, bisa boneka wayang golek, bisa juga wayang magnit yang digerakkan dari bawah lapisan kaca, dengan panggung yang luar biasa kecilnya. Untuk semua itu, ia akan menuliskan di sebuah papan hitam: Hari ini dan seterusnya "Legenda Wongasu". Berikut inilah legenda tersebut:"Untung masih banyak pemakan anjing di Jakarta," pikir Sukab setiap kali merenungkan kehidupannya. Sukab memang telah berhasil menyambung hidupnya berkat selera para pemakan anjing. Krisis moneter sudah memasuki tahun kelima, itu berarti sudah lima tahun Sukab menjadi pemburu anjing, mengincar anjing-anjing yang tidak terdaftar sebagai peliharaan manusia, memburu anjing-anjing tak berpening yang sedang lengah, dan tiada akan pernah mengira betapa nasibnya berakhir sebagai tongseng.Semenjak di-PHK lima tahun yang lalu, dan menganggur lontang-lantung tanpa punya pekerjaan, Sukab terpaksa menjadi pemburu anjing supaya bisa bertahan hidup. Kemiskinan telah memojokkannya ke sebuah gubuk berlantai tanah di pinggir kali bersama lima anaknya, sementara istrinya terpaksa melacur di bawah jembatan, melayani sopir-sopir bajaj. Dulu ia begitu miskin, sehingga tidak mampu membeli potas, yang biasa diumpankan para pemburu anjing kepada anjing-anjing kurang pikir, sehingga membuat anjinganjing itu menggelepar dengan mulut berbusa.Masih terbayang di depan matanya,

bagaimana ia mengelilingi kota sambil membawa karung kosong. Mengincar anjing yang sedang berkeliaran di jalanan, menerkamnya tiba-tiba seperti harimau menyergap rusa, langsung memasukkannya ke dalam karung dan membunuhnya dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini. Sukab tidak pernah peduli, apakah ia berada di tempat ramai atau tempat sepi. Tidak seorang pun akan menghalangi pekerjaannya, karena anjing yang tidak terdaftar boleh dibilang anjing liar, dan anjing liar seperti juga binatang-binatang di hutan yang tidak dilindungi, boleh diburu, dibinasakan, dan dimakan.Apabila Sukab sudah mendapatkan seekor anjing di dalam karungnya, ia akan berjalan ke sebuah warung kaki lima di tepi rel kereta api, melemparkannya begitu saja ke depan pemilik warung sehingga menimbulkan suara berdebum. Pemilik warung akan memberinya sejumlah uang tanpa berkata-kata, dan Sukab akan menerima uangnya tanpa berkata-kata pula. Begitulah Sukab, yang tidak beralas kaki, bercelana pendek, dan hanya mengenakan kaus singlet yang dekil, menjadi pemburu anjing di Jakarta. Ia tidak menggunakan potas, tidak menggunakan tongkat penjerat berkawat, tapi menerkamnya seperti harimau menyergap rusa di dalam hutan.Ia berjalan begitu saja di tengah kota, berjalan keluar-masuk kompleks perumahan, mengincar anjing-anjing yang lengah. Di kompleks perumahan semacam itu anjing-anjing dipelihara manusia dengan penuh kasih sayang. Bukan hanya anjing-anjing itu diberi makanan yang mahal karena harus diimpor, atau diberi makan daging segar yang jumlahnya cukup untuk kenduri lima keluarga miskin, tapi juga dimandikan, diberi bantal untuk tidur, dan diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan setiap bulan sekali. Sukab sangat tidak bisa mengerti bagaimana anjing-anjing itu bisa begitu beruntung, sedangkan nasibnya tidak seberuntung anjing-anjing itu.Namun, anjing tetaplah anjing. Ia tetap mempunyai naluri untuk mengendus-endus tempat sampah dan kencing di bawah tiang listrik. Apabila kesempatan terbuka, tiba-tiba saja mereka sudah berada di alam belantara dunia manusia. Di alam terbuka mereka terpesona oleh dunia, mondar-mandir ke sana kemari seperti kanak-kanak berlarian di taman bermain, dan di sanalah mereka menemui ajalnya. Diterkam dan dibinasakan oleh Sukab sang pemburu, untuk akhirnya digarap para pemasak tongseng. "Sukab, jangan engkau pulang dengan tangan hampa, anakanak menantimu dengan perut keroncongan, jangan kau buat aku terpaksa melacur lagi di bawah jembatan, hanya supaya mereka tidak mengais makanan dari tempat

sampah," kata istrinya dahulu.Kepahitan karena istrinya melacur itulah yang membuat Sukab menjadi pemburu anjing. Hatinya tersobek-sobek memandang istrinya berdiri di ujung jembatan, tersenyum kepada sopir-sopir bajaj yang mangkal, lantas turun ke bawah jembatan bersama salah seorang yang pasti akan mendekatinya. Di bawah jembatan istrinya melayani para sopir bajaj di bawah tenda plastik, hanya dengan beralaskan kertas koran. Tenda plastik biru itu sebetulnya bukan sebuah tenda, hanya lembaran plastik yang disampirkan pada tali gantungan, dan keempat ujungnya ditindih dengan batu. Sukab yang berbadan tegap lemas tanpa daya setiap kali melihat istrinya turun melewati jalan setapak, menghilang ke bawah tenda."Inilah yang akan terjadi jika engkau tidak bisa mencari makan," kata istrinya, ketika Sukab suatu ketika mempertanyakan kesetiaannya, "pertama, aku tidak sudi anak-anakku mati kelaparan; kedua, kamu toh tahu aku ini sebetulnya bukan istrimu. "Perempuan itu memang ibu anak-anaknya, tapi mereka memang hanya tinggal bersama saja di gubug pinggir kali itu. Tidak ada cerita sehidup semati, surat nikah apalagi. Mereka masih bisa bertahan hidup ketika Sukab menjadi buruh pabrik sandal jepit. Meski tidak mampu menyekolahkan anak dan tidak bisa membelikan perempuan itu cincin kalung intan berlian rajabrana, kehidupan Sukab masih terhormat, pergi dan kembali seperti orang punya pekerjaan tetap. Ketika musim PHK tiba, Sukab tiada mengerti apa yang bisa dibuatnya. Kehidupannya sudah termesinkan sebagai buruh pabrik sandal jepit. Begitu harus cari uang tanpa pemberi tugas, otaknya mampet karena sudah tidak biasa berpikir sendiri, nalurinya hanya mengarah kepada satu hal: berburu anjing. Itulah riwayat singkat Sukab, sampai ia menjadi pemburu anjing. Kini ia mempunyai beberapa warung yang menjadi pelanggannya di Jakarta. Tangkapan Sukab disukai, karena ia piawai berburu di kompleks perumahan gedongan. Konon anjing peliharaan orang kaya lebih gemuk dan lebih enak dari anjing kampung yang berkeliaran. Tapi Sukab tidak pandang bulu. Ia berjalan, ia memperhatikan, dan ia mengincar. Anjing yang nalurinya tajam pun bisa dibuatnya terperdaya. Apa pun jenisnya, dari chihuahua sampai bulldog, dari anjing gembala Jerman sampai anjing kampung, seperti bisa disihirnya untuk mendekat, lantas tinggal dilumpuhkan, lagi-lagi dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.Perburuan anjing itu menolong kehidupan Sukab. Perempuan yang disebut istrinya meski mereka tidak pernah

menikah itu tak pernah pergi lagi ke bawah jembatan, melainkan memasak kepala anjing yang diberikan para pemilik warung kepada Sukab. Seperti juga ia melemparkan karung berisi anjing kepada pemilik warung sehingga menimbulkan bunyi berdebum, begitu pula ia melemparkan kepala anjing itu ke hadapan perempuan itu. Anak-anak mereka yang jumlahnya lima itu menjadi gemuk dan lincah, namun dari sinilah cerita baru dimulai.*** SEPANJANG rel, tempat ia selalu membawa karung berisi anjing, anak-anak berteriak mengejeknya. "Wongasu! Wongasu!" Mula-mula Sukab tidak peduli, tapi kemudian perempuan yang disebut istrinya itu pun berkata kepadanya. "Sukab! Mereka menyebut kita Wongasu!" "Kenapa?" "Katanya wajah kita mirip anjing."Mereka begitu miskin, sehingga tidak punya cermin. Jadi mereka hanya bisa saling memeriksa.Betul juga. Mereka merasa wajah mereka sekarang mirip anjing."Anak-anak tidak lagi bermain dengan anak-anak tetangga, karena mereka semua mengejeknya sebagai Wongasu."Ia perhatikan, anak-anak mereka juga sudah mirip anjing. Perasaan Sukab remuk redam. "Aduhai anak-anakku, kenapa mereka jadi begitu?" Sukab merenung sendirian. Kalaulah ini semacam karmapala karena perbuatannya sebagai pemburu anjing, mengapa hal semacam itu tidak menimpa para pemakan anjing saja? Bukankah perburuan anjing itu bisa berlangsung, hanya karena ada juga warung-warung penjual masakan anjing yang selalu penuh dengan pengunjung? Kenapa hanya dirinya yang menerima

karmapala?Orang-orang itu memakan anjing karena punya uang, begitu pikiran Sukab yang sederhana, sedangkan ia dan keluar-ganya memakan hanya kepalanya saja karena tidak punya uang. Sejumlah uang yang diterimanya dari para pemilik warung, yang mestinya cukup untuk membeli ikan asin dan nasi, biasa habis di lingkaran judi, tempat dahulu ia bertemu dengan perempuan itu-yang telanjur dicintainya setengah

mati. Bukan berarti Sukab seorang penjudi, tapi ia juga punya impian untuk mengubah nasib secepat-cepatnya. Namun kini mereka semua menjadi Wongasu. "Tidak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan hidup," kata Sukab. Perempuan itu menangis. Wajahnya yang cantik lama-lama juga menjadi mirip anjing. Meski sudah tidak melacur, tentu saja ia tetap ingin kelihatan cantik. Begitu juga Sukab. Anak-anak mereka terkucil dan setiap kali berkeliaran menjadi bahan ejekan.Sukab tetap menjalankan pekerjaannya, dan pekerjaannya memang menjadi semakin mudah. Bukan karena anjing-anjing itu melihat kepala Sukab semakin mirip dengan mereka, melainkan karena penciuman mereka yang tajam mencium bau tubuh Sukab yang rupa-rupanya sudah semakin berbau anjing. Mereka datang seperti menyerahkan diri kepada Sukab yang telah sempurna sebagai Wongasu. Kadang-kadang Sukab cukup membuka karung dan anjing itu memasuki karung itu dengan sukarela, seperti upacara pengorbanan diri, meski Sukab tetap akan mengakhiri hidup mereka, tentu saja dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.Ia akan datang dari ujung rel memanggul karung berisi anjing, melemparkannya ke hadapan pemilik warung berdingklik di tepi rel sehingga menimbulkan bunyi berdebum, dan segera pergi lagi setelah menerima sejumlah uang. Di belakangnya anak-anak kecil berteriak. "Wongasu! Wongasu!"Pada suatu hari, ketika ia kembali ke gubugnya di pinggir kali, seseorang berteriak kepadanya."Wongasu! Mereka mengangkut keluargamu!"Rumah gubugnya porak poranda. Seorang tua berkata kepadanya bahwa penduduk mendatangkan petugas yang membawa kerangkeng beroda. Perempuan dan anakanaknya ditangkap. Mereka dibawa pergi. "Ke mana?" "Entahlah, kamu tanyakan sendiri saja sana!"Waktu Sukab berjalan di sepanjang tepi kali, ia mendengar mereka berbisik-bisik dari dalam gubug-gubug kardus. "Awas! Wongasu lewat! Wongasu lewat!" "Heran! Kenapa kepalanya bisa berubah menjadi kepala anjing?" "Itulah karmapala seorang pembunuh anjing."

"Tapi kita semua makan anjing, siapa yang mampu beli daging sapi dalam masa sekarang ini? Bukankah justru...." "Husssss....."Di kantor polisi terdekat Sukab bertanya, apakah mereka tahu akan adanya pengerangkengan tiada semena-mena sebuah keluarga di tepi kali. "Oh, itu. Bukan polisi yang mengangkut, tapi petugas tibum." "Apa mereka melanggar ketertiban umum?"Polisi itu kemudian bercerita, bagaimana salah seorang anak Sukab tidak tahan lagi karena selalu dilempari batu, sehingga mengejar pelempar batu dan menggigitnya. Bapak anak yang digigit sampai berdarahdarah itu tidak bisa menerima, lantas mengerahkan pemukim pinggir kali untuk mengepung gubug mereka. Kejadian itu dilaporkan kepada petugas tibum yang tanpa bertanya ini itu segera mengangkut mereka sambil menggebukinya.Diceritakan oleh polisi itu bagaimana perempuan dan kelima anaknya itu berhasil dimasukkan ke dalam kerangkeng, hanya setelah memberi perlawanan yang luar biasa. "Mereka menyalak-nyalak dan berkaing-kaing seperti anjing," kata polisi itu, seolah-olah tidak peduli bahwa wajah Sukab juga seperti anjing. "Hati-hati lewat sana," katanya lagi, "mereka juga bisa menangkap saudara." "Kenapa Bapak tidak mencegah mereka, perlakuan itu kan tidak manusiawi?"Polisi itu malah membentak ."Apa? Tidak manusiawi? Apa saudara pikir makhluk seperti itu namanya manusia?" "Mereka juga manusia, seperti Bapak!" "Tidak! Saya tidak sudi disamakan! Mereka itu lain! Saudara juga lain! Sebetulnya saya tidak bisa menyebut Anda sebagai Saudara. Huh! Saudara! Saudara dari mana? Lagi pula, Anda bisa bayar berapa?"Sukab berlalu. Nalurinya yang entah datang dari mana serasa ingin menerkam dan merobek-robek polisi itu, tapi hati dan otaknya masih manusia. Ia berjalan di kaki lima tak tahu ke mana harus mencari keluarganya.Setelah malam tiba, ia kembali ke pinggir kali dengan tangan hampa. Ia berjongkok di bekas gubugnya yang hancur, menangis, tapi suara yang keluar adalah lolongan anjing.Hal ini

membuat orang-orang di pinggir kali lagi-lagi gelisah. Lolongan di bawah cahaya bulan itu terasa mengerikan. Ketakutannya membuat mereka mendatangi Sukab yang masih melolong ke arah rembulan dengan memilukan. Mereka membawa segala macam senjata tajam.*** "MEREKA membantai Sukab," ujar tukang cerita itu, dan para pendengar menahan nafas. "Dibantai bagaimana?" "Ya dibantai, kalian pikir bagaimana caranya kalian membantai anjing? ""Terus?" "Mereka pulang membawa daging ke gubug masing-masing." "Terus?" "Terus! Terus! Kalian pikir bagaimana caranya mendapat gizi dalam krisis ekonomi berkepanjangan?"Ada yang menahan muntah, tapi masih penasaran dengan akhir ceritanya. "Yang bener aje, masa' Sukab dimakan?"Tukang cerita itu tersenyum. "Lho, itu tidak penting."Orang-orang yang mau pergi karena mengira cerita berakhir, berbalik lagi. "Apa yang penting?" "Esoknya, ketika matahari terbit, dan orang-orang bangun kesiangan karena makan terlalu kenyang dan mabuk-mabukan, terjadi suatu peristiwa di luar dugaan." "Apa yang terjadi?" "Ketika terbangun mereka semua terkejut ketika saling memandang, mereka bangkit dan menyalak-nyalak, lari kian kemari sambil berkaing-kaing seperti anjing!" "Haaaa?"

"Kepala mereka telah berubah menjadi kepala anjing!" "Aaahhh!!!" "Mereka semua telah berubah menjadi Wongasu!!" Mulut tukang cerita membunyikan gamelan bertalu-talu sebagai tanda cerita berakhir, dan mulut para asistennya membunyikan suara lolongan anjing yang terasa begitu getir sebagai tangis perpisahan yang menyedihkan. Para penonton terlongong dengan lidah terjulur.Di langit masih terlihat rembulan yang sama, dengan cahaya kebiru-biruan menyepuh daun yang masih juga selalu memesona.Pertunjukan akhirnya benar-benar selesai, tukang cerita itu memasukkan kembali wayangnya ke dalam kotak. Para penonton yang semuanya berkepala anjing itu pulang ke rumah, dengan pengertian yang lebih baik tentang asal-usul mereka sendiri. Guk! *

Cirebon-Wangon-Jogja, Januari 2002. * Pesan pengarang: Sayangilah anjing, sayangilah makhluk ciptaan Tuhan.

Ikan Asing dari Weipa-Nappranum
Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas, Edisi 01/27/2002

Aku sedang belajar menjadi iblis, Susan. Aku akan membakar wajahmu.SUSAN masih termenung di undak-undakan Sydney Opera House ketika angin Oktober yang ganjil dan dingin bangkit dari laut bertabur serbuk putih cahaya bulan. Sambil menenggak Red Wine, ia melihat ratusan ikan asing1 berkelebat terbang mengelilingi gedunggedung bergaya Victoria di Darling Harbour yang sejak senja dipenuhi puluhan merpati dan para remaja yang asyik berciuman."Kalau saja bias lampu itu jalin-menjalin jala, ikan-ikan itu pasti terjaring dan akhirnya menggelepar-gelepar ketakutan," lenguh Susan pelan.Teramat pelan, sehingga tak mengganggu Fiona yang merespons desau angin dengan denting kecapi Sunda yang menyayat-nyayat sukma. "Aku selalu memimpikan saat-saat seperti ini, Susan. Hanya berdua. Hanya merasakan gairah laut dan menikmati kesunyian cinta sambil sesekali mencumbumu dengan desah tertahan."Susan, seperti malam-malam penuh pasir, ketam, kerang, dan gelepar angin di Bondi Beach, tak mendengarkan denting kecapi atau lenguh luka Fiona. Selalu, bahkan setelah meninggalkan Surakarta pada tahun 1998 yang perih, ia lebih terpesona oleh berbagai panorama aneh yang timbul tenggelam di tengah lautan.Saat itu, setelah terlalu suntuk latihan nyindhen untuk opera The Theft of Sita karya sutradara kawakan Australia, Nigel Jamieson, ia juga melihat ratusan kera menyembul dari laut dan berusaha memperkosa istri Rama yang tersalib di bawah kesombongan lengkung Harbour Bridge.Dan, karena setiap loncatan kera didera oleh lampu-lampu indah yang melekat di jembatan lengkung kebanggaan Sydney, panorama itu mengingatkan Susan pada kisah lidah-lidah api yang menjilat-jilat tubuh Sita dalam epos Ramayana. Ia tahu petilan keindahan cerita itu saat belajar nyindhen di Kota Bengawan. Waktu itu, sebelum hampir seluruh kota di Indonesia dilahap kobaran api, ia diajak penyair Sosiawan Leak ngelayap ke Karanganyar menonton pertunjukan lakon Rama Tambak Ki Manteb Soedharsono."Dia tak akan bisa lepas dari jerat Rahwana

sebagaimana aku sulit lepas dari jaring cinta ajaib Fiona," lenguh Susan sambil terus menikmati cabikan dawai kecapi sang kekasih.Cabikan itu menimbulkan bunyi ganjil serupa desau ombak, serupa riuh angin yang membelai rambut indah Fiona. Lalu, karena Fiona mendesahkan lengking yang tak lengking, lenguh yang tak lenguh, ngiau yang tak ngiau, malam tiba-tiba seperti dikepung suara-suara hantu.Tidak! Tidak! Di telinga Susan, suara Fiona yang serak tak serak itu ternyata lebih menyerupai desis soul Bertha, penyanyi jazz dari Betawi, saat melantunkan New York New York, Are You Girl Friend, atau Kasih di Kala Remaja secara bersamaan.Suara itu menggelepar bagai ikan-ikan asing dari laut yang juga asing, sehingga membuat bulu kuduk Susan berdiri tak karuan. Dan itu membuat perempuan bertabur manik-manik dari WeipaNappranum2 yang tak henti-henti menenggak Red Wine tersebut punya alasan memeluk sang kekasih. Punya alasan mendekap jiwa yang tak pernah kehilangan cahaya rembulan. "Sudahlah darling, kita toh masih punya banyak acara. Hentikan denting kecapimu." "Acara apa lagi?" "Apa lagi kalau tak merampok pria-pria dungu di King Cross!"Tanpa dikomando dua kali, Fiona mengerti maksud Susan. Sebagaimana malam-malam sebelumnya, bersama Susan, dia akan melesat ke kawasan mesum terbesar di Sydney itu, menyamar sebagai penari bugil, dan akhirnya memperdaya pria-pria pemabuk dan menguras kantung mereka."Ingat, selalu hanya untuk uang mereka. Bukan untuk yang lain-lain." "Ya, selalu hanya untuk kedunguan mereka," bisik Fiona sambil mengulum lembut telinga perempuan Aborigin yang sekalipun agak berkulit gelap, selalu tampil menawan itu.*** Ia adalah bidadari dari Thainakuith. Tetapi ada yang hendak membunuh perempuan seindah keramik Cina itu. Ada yang hendak membakar wajah tembikar bersepuh mawar yang tak pecah-pecah itu.Sesungguhnya saya hanya penari bugil. Selalu jika malam telah melabrak lampu-lampu merkuri, saya akan melesat ke King Cross, menyusup ke salah satu ruang pengap yang senantiasa dikerumuni para lelaki, dan menarikan jiwa liar untuk mengeruk dollar dari pria-pria aneh yang sering saya

andaikan sebagai kerumunan kera itu.Asal tahu, saya tak pernah jatuh cinta pada Subali-Sugriwa yang pencilakan itu. Apalagi terperangkap cinta para Anoman. Aha, memang keliru mengandaikan mereka dengan para jagoan Ramayana yang digambarkan para dalang sebagai pahlawan lurus hati itu. Tetapi, begitulah, saya memang telanjur menganggap mereka sebagai kera-kera-kera serakah. Dan, sebagaimana Ki Manteb, saya memang tak pernah menganggap Sugriwa, Subali, atau Anoman sebagai pahlawan.Jika boleh menyebut jiwa yang mendesis-desis sebagai cinta, rasa kasmaran saya justru senantiasa membelit tubuh Fiona. Dan cinta kami, kalau boleh dua perempuan cantik mengikrarkan cinta, bisa diibaratkan sebagai ularular yang pating kruntel tak terpisahkan."Sejak lama hidupku sudah terpisah dari kehidupan orang-orang Sydney, Fiona. Seperti kepada nenek moyangku, mereka selalu mencoba mendepakku dari pub, gereja, bahkan dari jalanan gelap sekalipun. Dan, jatuh cinta kepadamu akan lebih menyingkirkan aku dari mereka," kata saya kepada Fiona ketika kali pertama perempuan manis dari 27 Kent Road, Rose Bay, New South Wales 2029, itu mencium kening."Dengar, Fiona! Kalau kita tinggal serumah, sangat mungkin saudara-saudaramu akan menuangkan racun ke gelas minumku. Ya, bukankah nenek moyangmu pernah meracun air sungai yang menghidupi orang-orang Aborigin. Dan aku? Aku, sebagaimana anak-anak manis Thainakuith lain, adalah cucu

Thancoupie."3Fiona yang saat itu mabuk hanya tersenyum. Saya tak peduli. Sambil terus menenggak Red Wine, saya berondongkan keluhan-keluhan saya kepada perempuan seindah pelangi itu. "Aku kira, siapa pun dirimu, pasti tahu sepak terjang Thancoupie. Well, sebagaimana dia, aku juga akan jadi pejuang. Akan aku tunjukkan kepada Howard, aku pun bisa melakukan lebih banyak hal ketimbang orang-orang yang merasa sok England."Lagilagi saat bulan hanya tampak seperti bumerang, Fiona hanya mengguratkan senyum indah di wajah yang didera lampu warna-warni di pub itu. Tanpa sungkan-sungkan, dia memeluk saya dan mendesiskan kata-kata mesum yang menggelegakkan birahi. "Sudahlah, Sayang, kamu terlalu banyak minum. Ayo pulang ke rumahku dan aku akan memberimu surga seindah Thainakuith." "Apa? Jangan menganggap aku mabuk, Fiona. Tanah indah itu kini telah jadi Weipa-

Nappranum. Sejak tahun 1958 kawasan itu menjadi areal tambang bauksit yang dikelola orang-orang asing. O, jadi kau akan menyepuhku dengan aluminium? Kau akan menjadikan aku sebagai robot?" Fiona tak menjawab pertanyaan saya. Dengan sigap, dia menyeret saya keluar dari pub dan segera membawa saya ke Kent Road, ke rumah indahnya.Sejak itu, saya tahu Fiona ternyata pemusik yang menyamar sebagai penari bugil. Sejak itu, saya tahu, dia sebenarnya sedang meneliti respons para pria pemabuk terhadap gairah musik dan tari Sunda. Saya pernah melihat dia menarikan tari jaipongan di tengah-tengah pria-pria rakus yang terus-menerus melirik pantatnya. Karena itu, saya paham mengapa dia belajar tari dan kecapi Sunda di Bandung, sebagaimana saya belajar nyindhen di Surakarta dan membuat gerabah di Kawedanan Delanggu.*** OKTOBER yang perih mengguyur King Cross dengan hujan putih. Kristal-kristal tajam itu menampar-nampar lampu warna-warni yang menghias pub dan bar sehingga menimbulkan panorama serupa kembang api di kegelapan malam. Sebelumnya, sesabit bulan liar menebarkan kegaiban. Tetapi cuma sesaat. Cuma sesaat.Meski begitu, tak sedikit orang-orang berlalu-lalang menyisir trotoar. Kadang-kadang mata mereka jelalatan saat berpapasan dengan perempuan-perempuan jalang. Kadangkadang mereka memandang takjub setiap perempuan yang mendesahkan kata-kata mesum di bibir pintu puluhan sex shop, pub, dan bar.Malam itu saya lihat Susan sudah mendapatkan pasangan. Saya tak tahu asal-usul pria yang mendekap perempuan dari Weipa-Nappranum dengan pelukan teramat mesra itu. Yang jelas pria itu berambut cepak. Sorot matanya mengingatkan saya pada pandangan nakal pria-pria Pasundan saat melirik perempuan-perempuan bule yang melintas di Jalan Braga.Aneh! Sama sekali saya tak cemburu menyaksikan percumbuan mereka. Saya sudah tak mencintai Susan? Mungkin. Mungkin karena saya memang sudah tak ingin lagi bertopeng di hadapan perempuan yang mendesahkan kata-kata kotor saat bercinta atau mengkritik perilaku politik Howard itu.Susan seharusnya tahu mengapa beberapa waktu lalu saya menampar wajahnya saat dia memergoki saya mencium Rob, pria England yang tampan itu, di ujung jalan. Dia seharusnya mengerti mengapa saya menyingkirkan keramik-keramik dan lukisan-lukisan kayu Thancoupie dari kamar, tempat kami

bercanda dan menghabiskan malam-malam hampa bersama Red Wine, Kahlua Cream, atau Long Island.Seharusnya dia paham mengapa saya sangat membela Howard. O, kalau saja dia mengerti mengapa saya menguntit dia hingga ke Indonesia, tentu saya tak perlu terus-menerus bersandiwara dan berpura-pura mencintai perempuan lugu itu. Sayang, Susan tak pernah mengerti keterlibatan saya dalam proyek-proyek pemusnahan suku Aborigin. Dia juga tak tahu mengapa saya begitu ngotot membela pendirian berbagai pabrik bauksit di Weipa-Nappranum.Ya, dia sama sekali tak pernah mau mengerti isyarat-isyarat yang saya hunjamkan ke jiwanya yang sekasar hamparan pasir di Bondi Beach itu. Bahkan, saat ditampar, dia malah menantang agar saya mengguyur wajahnya dengan bensin dan membakar kecantikan tak bertara itu dengan cara sekejam mungkin."Kau tak akan pernah berani membunuhku, Fiona. Kau tak akan pernah mampu menghancurkan rasa cinta."Untuk sementara, tak keliru Susan meledek ketakmampuan saya untuk sekadar melukai wajahnya yang seindah lukisan-lukisan Thancoupie yang lugu dan membuncahkan kegaiban tak habis-habis itu.Tetapi, rasa hampa penuh iblis, malam itu, rupa-rupanya bisa mengubah kesucian cinta. Iblis telah mengajari saya untuk mempersetan rasa iba. Dan, saya agaknya memang sedang belajar menjadi iblis. Maka, jangan heran jika kelak saya punya keberanian membakar wajah Susan.Jangan kaget kalau saya bisa melupakan kisah-kisah cinta kami setelah tahu tak mungkin hidup bersama orang yang sangat memengaruhi musik, lukisan, tarian, dan pikiran-pikiran saya.Lalu saya pun melesat meninggalkan King Cross yang makin menebarkan bau anyir. Sudah saatnya kutinggalkan kepura-puraan. Sudah saatnya kutanggalkan penyamaran-penyamaran yang memuakkan ini. Susan, Aborigin, dan Thancoupie bukanlah duniaku. Akhirnya, aku memang harus membunuhmu, Susan! Akhirnya aku harus membakarmu! *** "KAPAN kau akan membunuh dia?" sebuah suara dari seberang berdentang-dentang di gagang telepon.Fiona enggan menjawab pertanyaan itu. "Kau jadi membakarnya?"Fiona masih tak mau menjawab. Meski begitu tangannya menggapai jeriken bensin yang sejak lama teronggok di kamar. "Jangan terlalu menimbang-nimbang. Siapa pun dia tetaplah musuh kita."Musuh? Fiona tak mungkin menganggap Susan sebagai musuh. Sebab, selama menjadi mata-mata,

dia sama sekali tak pernah melihat Susan sebagai penggerak demonstrasi. Dia bahkan tak pernah berhubungan dengan orang-orang Aborigin yang sekali waktu berkeliaran di Darling Harbour atau George Street."Sudahlah. Kami tak mau menunggu lebih lama lagi. Laksanakan tugasmu tanpa bertanya-tanya lagi!"Fiona tak berani menolak perintah. Kini, tangannya gemetar menjinjing jeriken bensin yang seakan-akan siap digunakan untuk membakar dunia itu.*** "SUSAN masih membayangkan diri sebagai Sita yang dipuja oleh Rama, Rahwana, dan ribuan kera sialan itu, Fiona. Kita akan bisa segera pentas bersama. Kau akan mencabik-cabik dawai kecapi, aku bakal melantunkan tembang-tembang asing yang tak pernah didengar oleh Howard atau komposer-komposer advant garde sekalipun," desis Susan sambil memperkeras ketukan.Tentu saja Fiona mendengar suara-suara yang memuakkan itu. "Ketahuilah, Fiona, dalam pentas nanti publik akan tahu betapa kita hanyalah ikan-ikan asing yang berenangan di Sydney Aquarium," Susan melenguh lagi.Tak ada jawaban. Fiona mendekati pintu tanpa menimbulkan suara-suara yang mencurigakan. "Kau boleh boleh menganggap dirimu sebagai ikan atau burung-burung paling indah. Yang jelas, kau akan jadi ikan bakar. Camkan itu!"Tak ada ikan bakar di kepala Susan. Di otaknya yang disusupi alkohol, Sita yang tersalib di Harbour Bridge mulai dibakar ratusan kera. Dan kobaran api itu... kobaran api itu mengingatkan bara cintanya yang tiada tara kepada Fiona. "O, dentingkan kecapi Sundamu, Fiona! Bakar aku! Bakar aku dengan api cintamu!"Lalu segalanya mengabur. Tak ada denting kecapi. Tak ada cericit burungburung malam di Kent Road yang pedih dan sunyi. Hanya ikan asing terbang di atas samodra yang juga asing. Seperti tahun-tahun lalu. Seperti sebelum angin dan lengking musim yang ganjil menidurkanmu. Sydney, 2001

Lecutan Cambuk Mendera
S Prasetyo Utomo Sumber: Kompas, Edisi 01/20/2002

TERGODA ranum buah mangga yang bergelantungan, Bondas meloncati pagar rumah Pak Gendut, mengendap-endap. Dipanjatnya pohon mangga itu, dengan perasaan takut. Pagi masih gelap, masih dingin. Bondas merasa terlindung kegelapan. Dipetikinya buah-buah mangga yang masak, disusupkan ke balik kaosnya.Tapi alangkah senyapnya di luar pagar. Tak seorang pun teman Bondas berkelebat di situ. Kesenyapan yang melayap ini mencurigakan. Bondas menatap ke arah pintu rumah Pak Gendut. Alangkah kaget lelaki kecil itu. Berdiri gagah Pak Gendut di depan pintu, membawa cambuk yang bergetar.Buru-buru Bondas turun. Tar! Tar! Tar! Cambuk itu mendera punggungnya. Ia merasakan kepedihan yang mengelupas kulitnya.

Menggeliat. Meringis. Tersungkur. Buah mangga berceceran dari kaosnya."Anak jahanam!" dengus Pak Gendut. Tar! Lecutan cambuk itu kembali mendera punggung. Bondas berlari, menghindari lecutan cambuk Pak Gendut. Dengan murka Pak Gendut memburunya.Dari lorong gang muncul ibu Bondas, muda, cantik, berdandan menor, agak sayu, turun dari becak. Lengan perempuan itu tampak menawan, dan perutnya yang singset sedikit terbuka, menyembulkan pusarnya. Bondas berlindung di belakang pantat ibunya. Pak Gendut menjadi sangat lembut, ramah, berpapasan dengan ibu Bondas. Tatapan lelaki itu, yang sebelumnya garang, berubah mesum. Senyumnya menggoda. Buah-buah mangga yang terserak di pelataran, dipungutinya, diberikan pada ibu Bondas.*** TENGAH malam, Bondas terbangun dari lelap tidur. Ia mendengar suara cambuk, berkali-kali mendera punggung di kamar ibunya. Ia menandai, itu cambuk Pak Gendut. Dan ia dengar suara ibunya merintih-rintih. Tak cuma sekali ia dengar deraan cambuk itu. Ibunya tak beranjak dari kamar. Ingin sekali Bondas berlari, mendobrak pintu kamar ibunya, dan menghabisi Pak Gendut-yang suka menyelinap malam-malam semenjak

Ayah meninggalkan rumah beberapa bulan silam dan tak pernah kembali.Menggigil di sudut kamar, Bondas tak bisa membebaskan diri dari rasa takutnya. Ia mendekam di sudut kamarnya, merasakan dadanya bergolak, berdebar-debar. Punggungnya, yang pernah kena deraan cambuk Pak Gendut, masih menyisakan kepedihannya. Sesekali ia bangkit, kembali duduk, bangkit lagi. Terdiam. Terpuruk di sudut kamar. Menggigil.Pelan-pelan Bondas mendekati kamar Ira, kakak perempuannya. Dia melihat Ira terjaga. Tapi tergeletak saja di tempat tidurnya. Mendengarkan rintihan ibunya. Ira lebih tenang, cuma bergolek saja di tempat tidurnya."Kita harus menyelamatkan Ibu," bisik Bondas. "Kenapa?" "Pak Gendut menyiksanya dengan cambuk." "Kurasa mereka sedang bersenang-senang."Terheran-heran, Bondas berdiri menganga. Ia berlari ke pintu kamar ibunya. Ditendanginya pintu itu. Digedornya dengan kepalan tangannya. Tetap saja pintu itu tertutup. Kokoh di depan hidungnya. Tangannya terasa sakit. Nyeri. Kakinya seperti patah.Ketika pintu terbentang, alangkah kagetnya Bondas melihat Pak Gendut bertelanjang dada, memburunya dengan cambuk. Dan sekilas, dari celah pintu, ia melihat ibunya dengan punggung telanjang, telungkup, kulit memerahbiru bilur-bilur cambuk.Sebelum cambuk Pak Gendut melecuti tubuhnya, Bondas berlari. Meninggalkan rumah. Terus berlari. Takut, merasa Pak Gendut memburunya, berada di balik kegelapan. Ia pernah merasakan lecutan cambuk itu, dan merasakan betapa pedihnya- nyeri sampai ke dalam dada. Malam itu Bondas menginap di sudut gardu ronda, sesekali tersentak, lantaran bayangan Pak Gendut menyergapnya.*** PADA malam yang menggetarkan, di rumah, Bondas bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Ia tak berani beringsut. Tak berani bergerak. Menahan nafasnya kuat-kuat. Pak Gendut memasuki rumah Bondas, membawa cambuk, dan kali ini datang pada saat ibu tak di rumah.Dari dalam kamar, Bondas mendengar Ira menggoda Pak Gendut. Tertawa-tawa. Bercanda. Suaranya riang. Agak lama mereka berbincang-bincang. Terdiam sejenak. Bondas mempertajam pendengarannya. Suara mereka samar-samar terdengar di dalam kamar Ira.Masih terdengar suara Ira tertawa-tawa dan Pak Gendut

terus menggodanya. Hingga terdengar lecutan cambuk menderu, dan Ira berteriakteriak kesakitan. Pak Gendut terus tertawa-tawa. Ira menjerit-jerit kesakitan. Bondas tak tahan mendengar jeritan Ira-kakak perempuannya yang berangkat remaja. Ia keluar dari kolong tempat tidur dan menghampiri pintu kamar Ira. Digedor-gedornya pintu kamar itu dengan hantaman dan tendangan.Dari pintu kamar Ira yang terbuka, wajah garang Pak Gendut menyeruak, menggeram, menghardik Bondas. Memaki. Cambuk di tangannya diayunkan, melecut wajah lelaki kecil itu. Terasa pedih. Kulit pipinya mengelupas. Bondas belum sempat menghindar, lecutan cambuk kembali menyobek luka baru pada wajahnya-bilur merah kebiru-biruan, teramat pedih.Berlari meninggalkan rumah, Bondas diburu Pak Gendut yang masih terus melecutkan cambuknya, mendera punggung. Lelaki kecil itu menyelinap dalam lorong gelap gang. Tapi terus saja Pak Gendut memburu dengan cambuk yang dilecutkan. "Mau lari ke mana kau, anak laknat!" seru Pak Gendut, mendengus.Meski punggung terasa nyeri, terasa tercabik-cabik, Bondas terus berlari. Sesekali dari mulutnya terdengar lengking kesakitan. Dia menyelinap di antara gang-gang sempit, celah-celah di antara rumah-rumah yang berhimpitan. Pak Gendut kehilangan lacak. Tapi Bondas terus berlari, meski ia sudah jauh meninggalkan rumah.Tanpa menoleh, ia terus berlari, dan sepasang matanya mulai terbiasa menjelajahi kegelapan. Ia tak tahu ke mana, terus saja berlari. Tak berani pulang. Bayangan wajah Pak Gendut sangat menyeramkan.*** LAPAR, tak terurus, tanpa arah, Bondas berada di sebuah pinggir kota yang tak pernah dikunjunginya. Telah sehari-semalam ia berjalan kaki meninggalkan rumahnya, tanpa pernah mengerti akan berakhir di sana. Tatapan matanya mengatur, samar, dan bergoyang. Ia bernaung di bawah pohon berbayang-bayang teduh.Dari kejauhan terdengar gamelan pemain kuda lumping. Rombongan penari kuda lumping-yang bermain berkeliling desa itu-letih dari perjalanan dan terik Matahari. Mereka meletakkan gamelan, kuda lumping dan cambuk. Bondas ketakutan melihat cambuk itu. Tapi dia sudah tak bisa berlari lagi. Tak tersisa tenaga padanya. Dia memilih diam, memandangi penari kuda lumping yang lusuh, dengan telapak kaki retak-retak berdebu, berguratgurat menghitam. Pakaian mereka sudah aus, kusam, dengan warna-warna-terutama

merah-yang memudar.Ada beberapa pemain kuda lumping menenggak minuman dari botol plastik. Yang lain tiduran. Yang lain lagi membuka nasi bungkus. Dan Bondas yang lapar, haus, letih, tak berkedip memandangi penari kuda lumping, perempuan muda, yang lahap menyuap nasi ke dalam mulut dengan tangan.Ketika perempuan itu melempar bungkus nasi, mencampakkannya ke tanah, buru-buru Bondas

memungutnya. Menjilatinya dengan liur berlelehan. Pak Sukra, pemimpin rombongan yang paling tua umurnya, segera menghampiri Bondas, memberikan bungkusan nasinya. Dengan takut, malu-malu, melelehkan air mata, bergetar, Bondas melahap nasi bungkus itu dengan tangannya yang bergetar.*** PERJALANAN rombongan kuda lumping itu mendekati rumah Bondas. Tapi lelaki kecil itu tak menggigil ketakutan sebagaimana dulu ketika meninggalkan rumah. Dadanya mendesir-desir lantaran dendam.Di tanah lapang, seperangkat gamelan diletakkan, dan segera ditabuh. Anak-anak kecil berdatangan, kian lama kian rapat. Seorang penari kuda lumping menari di tengah-tengah tanah lapang itu, membawa cambuk yang sesekali menyentak tanah berumput: tar, tar, tar!Beberapa orang penari mulai meramaikan tarian kuda lumping. Sebuah baskom berisi air kembang diletakkan di tengah tanah lapang. Sesekali penari kuda lumping itu menghirup air kembang dan mengunyah-ngunyah kelopak-kelopak kembang itu. Gamelan bertalu-talu. Gerakan tarian kian cepat. Lecutan cambuk berulang-ulang, menggetarkan udara.Orang-orang terus berdatangan. Pak Gendut menyeruak di antara orang-orang yang berjubel. Pada saat menatap Pak Gendut, seketika Bondas kesurupan. Dia bangkit dari

ketakberdayaannya. Meloncat. Meraih kuda lumping. Menari. Menyusup-nyusup di antara para penari. Melecut cambuk dengan suara tajam menyentak langit: tar, tar, tar!Anak-anak yang mengenal Bondas, bertepuk tangan dan kegirangan melihat lelaki itu kesurupan. Menari dengan gerakan cepat, lentur, dan seirama dengan hentakan gendang. Menghirup air kembang, dan mengunyah-ngunyah kelopak-kelopak bunga. Lecutan cambuknya terdengar paling tajam menggetarkan udara di tanah lapang. Dia menghampiri Pak Gendut yang mendengus-dengus dengan nafas keji. Diayunkan cambuknya merobek muka Pak Gendut. Anak-anak bersorak. Pak Gendut mengerang beringas. Ayunan cambuk Bondas lebih tajam lagi, bertubi-tubi, merobek kulit muka, dada dan punggung yang terbuka. Pak Gendut berguling-guling di tanah lapang itu.

Anak-anak bersorak.Lelaki tambun itu pun mengerang-erang. Menggelepar-gelepar. Menggeliat-geliat kesakitan. Lecutan cambuk Bondas terus mencabik-cabik tubuhnya. Pak Sukra menghembuskan mantra ke ubun-ubunnya. Tapi masih saja ia menari, melecutkan cambuk ke tubuh lelaki tambun yang menggelepar-gelepar kesakitan itu.Anak-anak kecil bersorak-sorak kegirangan. Tanpa henti, anak-anak kecil itu-teman sepermainan Bondas dulu- berjingkrak-jingkrak, memekik senang, "Terus, terus, cambuk dia! Cambuk dia! Cambuk!"*** Pandana Merdeka, November 2001

Dokter Isman
Wilson Nadeak Sumber: Kompas, Edisi 01/13/2002

KEPADA kawan-kawan dan pasiennya yang akrab dengannya, dokter Isman selalu memberi resep sebagai berikut.Jangan sekali-sekali menulis pesan penting. Jangan membuat catatan dari rapat yang Anda hadiri. Jangan menuliskan nama di dalam daftar hadir. Jangan membuat surat yang panjang maupun pendek yang isinya mengenai janji, pengalaman hidup dan kesaksian mengenai sesuatu. Jangan memasang telepon di rumahmu jika kau ingin tenang dan tidak diganggu orang. Jangan gunakan handphone karena itu selalu menghambat perjalananmu dan membuat engkau berada di bawah pengaruh orang lain. Rencanamu akan terganggu karena orang lain memberi sugesti kepadamu.Masih ada sejumlah "jangan" lain yang disarankan dokter Isman. Kawankawan karibnya manggut-manggut mendengar "resep" yang tidak lazim itu. Ia bukannya memberikan resep atau obat, tetapi sebuah nasihat. Namun kawan-kawannya senang bergaul dengannya. Pasien-pasiennya banyak. Perawat yang membantunya selalu kewalahan mengatur waktu. Sampai jauh malam, pasien selalu berdatangan, mulai dari golongan atas sampai kepada golongan bawah.Dokter Isman tidak memasang tarif. Ia membiarkan pasien membayar sesuai dengan kemampuannya. Ia memberi resep obat generik, jarang antibiotik. Bahkan, sebagian pasien membayar dengan hasil tanamannya, membuat perawat yang membantunya agak bingung, mau diapakan hasil tanaman itu. Tetapi dokter Isman senyum-senyum saja.Waktu ia mahasiswa kedokteran, kerapkali ia harus menjual minyak tanah keliling Ja-karta, dengan kereta roda. Ia pakai topi agar sengat Matahari Jakarta tidak membuat kulit wajahnya gosong. Ia tidak pulang ke rumah sebelum semua minyak tanahnya laku. Kadang-kadang ia bermalam dekat warung pinggir jalan, dan subuh pulang kemudian kuliah. Waktu tamat dari fakultas kedokteran, ia ditempatkan di sebuah pulau di Indonesia bagian timur sebagai dokter inpres. Bertahun-tahun ia berbakti di pulau terpencil itu. Seorang kawannya, dokter wanita yang masih muda yang penuh antusiasme, meninggal dunia

karena terserang penyakit malaria. Sulit sekali mencari obat di sana. Obat-obat bantuan LSM tertentu banyak yang digunakan untuk mengobati penduduk yang jauh terpencil di pedalaman. Ia harus mengajari penduduk agar menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi penyakit. Honor inpresnya dipakai untuk membeli obat.Kerapkali ia tidur di gubuk petani dan makan seadanya. Malam-malam tanpa lampu itu ia mengenangkan kembali kampung halamannya. Ia tidak bisa menghalau bayangan ayahnya yang pada suatu hari didatangi orang yang tidak dikenal. Ayahnya dijemput dari rumah, dan tidak pernah kembali. Waktu ia masih duduk di SD kelas dua. Ia tidak mengerti mengapa. Tetapi samar-samar ia mendengar penjemput ayahnya membentak ibunya, bahwa ayahnya terdapat dalam daftar nama pengikut organisasi terlarang. Ia tidak mengerti apa itu "organisasi terlarang". Ketika itu banyak orang berbicara atas nama "rakyat". Setahunya, ayahnya hanyalah petani kecil, petani yang hanya mengandalkan hidupnya dari sepetak ladang dan sebidang sawah yang diwarisi dari orang tuanya. Sejak kepergian ayahnya, ibunya sering tengah malam terbangun dan menangis. Ketika ia terbangun, ibunya mengelus-elus kepalanya. "Tidurlah, Nak!" "Mengapa Ibu menangis" "Tidak apa-apa," jawab ibunya sambil menyelimuti tubuhnya dan kedua adiknya perempuan yang masih kecil.Subuh sekali, ibunya sudah menanak nasi, menyiapkan makanan di atas meja-sedikit nasi, ubi jalar, ikan asin dan sayur-lalu berangkat ke sawah. Ia memberi makan adiknya dan kemudian ia pergi berjalan kaki ke sekolah. Ketika tamat dari SMP, seorang adik bapaknya yang bekerja di Jakarta memerlukan orang menjaga rumah dan anak-anaknya. Ia dipanggil dengan janji akan disekolahkan. Di rumah pamannya ini, ia harus bekerja keras, memandikan saudara sepupunya, memberi mereka makan dan menyertai mereka ke sekolah. Petang hari ia sekolah di SMA sampai ia tamat dan diterima di sekolah kedokteran.*** TIGA tahun ia melaksanakan tugas sebagai dokter inpres. Ia bertugas dari sebuah pulau ke pulau lainnya, mengobati orang-orang yang tidak mampu membayar obat. Kebeberangkatannya dari pulau terpencil itu ditangisi penduduk setempat. Ia sendiri

merasa sedih meninggalkan mereka. Namun, ia menyadari bahwa pelayanannya harus ditingkatkan melalui perkembangan ilmu pengobatan. Ia ingin meningkatkan

pengetahuannya di bidang medis. Ia mengambil spesialisasi jantung.Ibunya dari kampung halaman mengirim surat kepadanya, isinya, agar ia segera menikah. Jika ia tidak menemukan jodoh di kota, ibu bersedia mencarikan calon menantunya. Surat itu membuat hatinya agak trenyuh. Selama ini ia kurang memperhatikan calon istri. Di Jakarta ia memang buka praktik sebagai dokter umum sementara kuliah lanjutan. Tapi anehnya, ia membalas surat ibunya dengan singkat: Ibu, aku mengasihimu seperti diriku sendiri. Kalau bisa, biarlah kedua adikku ibu kirimkan ke Jakarta, tinggal dengan aku. Kalau bisa, aku akan menyekolahkan mereka ke sekolah perawat, sekolah itu memberi jaminan pekerjaan hidup dan masa depan mereka...Ibunya datang dengan kedua adiknya. Adiknya yang bungsu masih di SMA dan adiknya yang lebih besar dimasukkannya ke sekolah perawat. Ibunya tinggal bersama-sama dia beberapa bulan, lalu pamit, pulang. Ia selalu berbicara mengenai sawah dan ladang yang ditinggalkan, lagipula Jakarta terlalu panas baginya. Di seberang, kampung halamannya, udara pegunungan agak segar.Dua tahun kemudian, ia mendapat berita dari kampung halaman, surat kilat dari kerabat dekatnya yang memberitahukan bahwa ibunya kerapkali pingsan. Ia pulang sebentar karena spesialisasinya sudah selesai. Ditemukannya ibunya berbaring di atas divan. "Aku datang, Bu," kata dokter Isman. "Dekatlah ke mari, Nak," kata ibunya dengan suara pelahan. "Penyakit jantungku kumat, Nak." "Oh," kata Isman terkejut. "Sejak kapan Ibu merasa sakit jantung?" "Dokter di Puskesmas mengatakannya begitu, Nak. Bila dada sesak, rasanya hampir mau ma-ti, Nak."Ia memegang pergelangan tangan ibunya. Menghitung de-nyut jantungnya. Kemudian ia mencoba mendengar denyut jantung ibunya dengan alat yang ditaruh di atas dada. Ia geleng-geleng kepala. Segera diangkatnya ibunya ke beranda

depan agar udara lebih leluasa. Ia minta bantuan beberapa orang tetangga untuk mencari angkutan untuk membawa ibunya ke rumah sakit terdekat.Setelah sampai di rumah sakit, ibunya dimasukkan ke ICU. Beberapa hari bersama dokter rumah sakit itu mencoba menyelamatkan nyawa ibunya, te-tapi denyut nadi itu dan grafik getaran di layar tv tak lagi beraturan. Getaran itu semakin mendatar dan mendatar. Ia menyadari bahwa ajal ibunya sudah semakin mendekat. Ketika jantungnya sama sekali berhenti berdetak, ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, dan menangis terisakisak. Dokter-dokter, para perawat yang telah turut berjuang berusaha menyelamatkan nyawa ibunya, tertunduk. Mereka melihat jenazah yang sudah tidak bernyawa di depan mereka, ibu rekannya.Setelah beberapa hari pengu-buran, ia kembali dengan pesawat ke Jakarta. Ia pulang dengan murung. Ia merasa amat berdosa, mengapa ia baru tahu bahwa ibunya menderita penyakit jantung, kalau ia tahu, ia akan membawa ibunya ke Jakarta dan merawatnya sebelum parah betul. Sebagai dokter ahli jantung, ia merasa amat terpukul.*** KEDUA adiknya yang perempuan sudah tamat, yang satu dari akademi perawat, yang bungsu dari akademi sekretaris. Perawat bekerja di rumah sakit sedangkan yang sekretaris menikah dengan pedagang. Kakaknya menikah dengan seorang tentara yang berpangkat letnan. Ia merasa bahagia karena kedua adiknya sudah berkeluarga. Gilirannya, entah kapan. Kedua adiknya berusaha menyebut beberapa nama gadis yang dikenal mereka dan abangnya, tetapi ia selalu menghindar. "Abang mau menunggu siapa? Abang telah mengurus kami dan menyekolahkan kami. Mengapa Abang tidak memikirkan diri Abang sendiri?" kata yang perawat. Percakapan seperti ini sering terjadi antara mereka, juga dengan ipar-iparnya. Mereka merasa risau masa depan abang mereka yang sudah berusia di atas tiga puluhan. Jangan-jangan ia terlalu mempedulikan profesinya saja. Yang perawat merasa sedih tiap kali abangnya memberi bantuan kepadanya. Ia memang sering mengeluh karena gaji perawat yang tidak seberapa, dan gaji tentara yang tidak memadai untuk keperluan di ibu kota. Dokter Isman tidak segan-segan memodalinya, yang sewaktu-waktu berjualan berlian.

"Pesanku kepada kalian," kata dokter Isman kepada adiknya dan iparnya yang tentara, "jangan sekali-kali terlibat soal utang-piutang! Jangan bangga dengan kartu kredit kalian!"Iparnya yang letnan berkata kepadanya, "Ya, Bang. Kami ingat itu. Tetapi yang kami rasa, Abang sebaiknya segera menikah agar ada yang mengurus Abang di rumah." "Bukankah hidup dokter susah? Siang-malam harus meninggalkan keluarga?" bantahnya. "Abang melihat dokter lain berkeluarga juga, bukan?" "Tentu!" "Bagaimana kalau kami yang mencarikan calon untuk Abang?"Dokter Isman tersenyum. Ia tidak menjawab.Bulan berikutnya, istri letnan itu datang dengan seorang gadis lincah dan cantik. Gadis itu di-perkenalkan kepadanya. Satu-dua kali ia berkunjung ke rumah abangnya dengan gadis itu, dan sesudah itu, ia membiarkannya bertandang sendirian.Setengah tahun kemudian mereka menikah. Istri dokter Isman agak sulit juga menyesuaikan diri cara hidupnya. Ia tidak mau memasang telepon di rumahnya. Praktik dokter di rumahnya terlalu lama karena pasien yang telah mendaftar beberapa hari sebelumnya. Daripada hidup bengong di rumah, ia mengajukan saran kepada suaminya agar ia membuka salon kecantikan. Dengan hati berat dokter Isman mengizinkan, dengan syarat, tidak boleh pulang sampai petang. Paling lambat pukul empat sore! Beberapa bulan berjalan, salon itu banyak dikunjungi orang. Beberapa pembantu istri dokter Isman sibuk dan merasa senang. Istri dokter tinggal mengawasi saja.Setahun kemudian, sekitar bulan Maret, sebuah surat kabar memuat berita pembunuhan. Seorang wanita telah ditemukan di ruang tengah sebuah rumah. Diduga wanita itu dibunuh secara sadis oleh pemilik rumah karena persoalan hutang piutang. Menurut pihak kepolisian, menurut pengakuan suami korban, istrinya mempunyai tagihan dengan yang mempunyai ru-mah. Rupanya yang empunya rumah

memancingnya datang ke rumah dan kemudian memukulnya di belakang kepala dan menguburkannya di tengah-tengah kamar makan. Tampaknya pemilik rumah sudah

merencanakan pembunuhan itu.Dokter Isman memperhatikan gambar itu. Gambar yang terpampang di samping berita. Ia duduk tersandar di ruang kerjanya. Ia kenal betul gambar itu. Adiknya yang perawat. Jantungnya berdebar-debar. Ia keluar dari ruang kerjanya dan memberitahukan kepada perawat bahwa ia pulang.Sesampainya di pintu gerbang rumahnya, ia membuka pintu gerbang, mendorongnya. Pelahan ia memasukkan mobilnya ke halaman dan kemudian turun hendak menutup pintu. Tetapi ia tiba-tiba lunglai dan jatuh di depan pintu. Seorang tetangga me-lihatnya dan berlari mencoba menolongnya. Ia berteriak sehingga tetangga yang lain ber-datangan. Seorang tetangga berlari ke wartel dan menghubungi istri dokter Isman. Setelah memberitahukan bahwa suaminya sedang pingsan dan dibawa tetangga ke rumah sakit, sang istri segera bergegas menyusul ke rumah sakit.Istri dokter Isman melihat para tetangga di depan, di ruang tunggu. Ia menyapa mereka dan menanyakan di mana suaminya. Semuanya diam tidak mampu berbicara. Ia bertanya pelahan dan airmatanya mulai berlinang-linang. Ia menyadari adanya sesuatu yang terjadi kepada suaminya. ia bergegas ke ruang kerja suaminya. Perawat memapahnya, menyuruhnya duduk."Bagaimana suamiku? Di mana dia?" tanyanya dengan suara terisak-isak. "Tenanglah, Bu. Ia ada di kamar." Nanti dokter kepala yang berbicara kepada Ibu." "Oh. Apa yang terjadi kepadanya?"Dokter kepala datang. Pelahan ia berkata, "Dokter Isman sudah tiada. Ia terkena serangan jantung."Istri dokter Isman jatuh pingsan. Beberapa waktu kemudian iparnya dan adiknya yang bungsu datang. Ketika ia siuman, ia menjerit-jerit. Ia memeluk sua-minya yang terbujur di atas tempat tidur. Dalam teriak dan tangisnya ia berkata:Tuhan, mengapa Kauambil suamiku! Ia begitu baik dan ganteng. Ia tidak pernah berbuat jahat kepada sesama. Tuhan, mengapa Kaucabut nyawanya?(Dan kepada dokter ia berkata)Dok, sembuhkan ia dokter! Tolonglah obati dia! Hidupkan dia, dokter! Ooohhh, toloooong... (Ia jatuh pingsan lagi).Para tetangga mengurut dada. Mereka berkeliling di sekitar jenazah yang kaku. Tak sepatah kata yang keluar dari mulut mereka.Mereka jualah yang bertanya sepulang dari kuburan: Mengapa orang baik cepat meninggal dunia? ****Bandung, 18 November 2001

Seperti Tanesia
Andre Syahreza Sumber: Kompas, Edisi 01/06/2002

MAKA duduklah kami berdua berhadap-hadapan setelah perkenalan yang begitu singkat. Namanya Tanesia. Bibirnya yang dilapisi gincu ungu muda beraroma Vodka menyemburkan kalimat-kalimat itu: "Anthony, tahukah kau bahwa laki-laki selalu berakhir di suatu tempat yang sama? Orang asing, atau orang kita sendiri semua sama saja. Apa lagi yang mereka inginkan dari perempuan seperti saya?". Tentu aku tidak perlu menjawab. Lagi pula ia sudah mulai mabuk. Suara-suara yang keluar dari bibir yang sebenarnya indah itu sudah kurang terjaga. Di kedalaman matanya ada penuh bekas luka yang panjang dan mendalam sehingga selalu nampak sembab. Meski ia tertawa, meski ia tersenyum, meski ia berusaha menahan tangis namun selalu saja nampak misteri sembab pada matanya. Dagunya lunglai, persis seperti nada-nada blues yang merambat ke segala penjuru kafe tempat kami bertemu. Kuta sudah jam satu pagi. Tamu-tamu asing nampak lalu-lalang sambil mencekik botol bir dan menggandeng pacar perempuannya atau pacarnya sesama laki-laki. Tanesia tidak sedikit pun tertarik. Bukankah ia yang mengatakan semua sama saja? Bule atau orang kita sendiri. Dan ia menyebut perempuan seperti saya. Merasa asing dengan maksudnya di awal perkenalan itu, akhirnya aku mengungkapkan ketidakmengertianku. Maka ia bercerita:Tubuhnya didorong tangan-tangan kuat dua orang pria hingga terjerembab di atas kasur mewah berselimut gambar kembang jepun. Pakaiannya dilucuti tanpa sedikit pun pemaksaan dan ia tidak mampu menghalau bahkan dengan sehelai tenaga, bahkan dengan sepatah kata meski jiwanya berontak. Badan dan mulutnya sudah lebih dulu dibungkam lewat suntikan di tengah pergelangan tangannya... Mulanya ia menolak, tapi dua orang pria yang dikenalnya itu merayu dan menjanjikan surga setelah suntikan itu. Maka jarum sudah telanjur ditusuk. Darahnya bolak-balik dipompa sebanyak lima kali. Seketika semua persoalan redup dari mata dan

hatinya. Kemudian gambar-gambar buram menggelayut di matanya. Selebihnya hanya hampa dan tiada daya. Sampai dua pasang tangan itu mendorongnya terjerembab di atas kasur dan melucuti pakaiannya. Surga yang dijanjikan ternyata berwajah maksiat. Tanpa gairah maupun penolakan. "Apa yang terjadi setelah kamu sadar?" tanyaku menggugat. Tanesia menatap tanpa sepenuh tenaga akibat butir-butir alkohol yang melemahkan kesadarannya. Tapi ia berusaha menanggapi pertanyaanku sebelum meneruskan ceritanya dengan alur yang tidak menentu. "Apakah penting apa yang terjadi setelah itu?" ia malah bertanya. Pertanyaan itu tidak sepenuhnya berupa pertanyaan, namun setengahnya malah berupa pernyataan. Ia menunggu respons, tapi aku sengaja diam saja. Beberapa saat ia menunggu respons, tapi aku tetap diam saja. Ia menganggap itu sebagai respons. Sebetulnya ia wanita yang cerdas. Maka ia meneruskan ceritanya:Kira-kira dua tahun sebelum kejadian itu ia terpaksa memutuskan untuk pindah ke Bali. Tidak ada masalah di kota asalnya. Keluarganya baik-baik saja dan juga tidak ada masalah dengan temantemannya. Semuanya berjalan normal dan biasa-biasa saja. Tapi beberapa orang untuk suatu alasan harus pergi meninggalkan kebiasaan yang cenderung monoton dan tanpa gairah. Bukan suatu kebetulan Tanesia memilih Kuta. Ia ingin mencoba sertifikat diploma pariwisatanya yang selama satu tahun belum digunakan. Lalu bertemulah ia dengan seorang pria setengah baya berperilaku santun yang membawanya bekerja di sebuah hotel bintang tiga. Berdasarkan ceritanya, pada pria ini sejuta harapan perempuan bisa ditangguhkan, semua impian perempuan yang terbuat dari hati yang bersuka dapat ditampungnya, dan semua itu dapat tergambar jelas hanya dengan menatap sepasang matanya. Tanesia takluk. Diciuminya setiap malam pria itu seraya menggenangi seluruh isi hatinya dengan suka cita dan harapan dan impian dan ketulusan setiap wanita yang menemukan naungan kasih sayangnya. Jika malam tiba, semakin bersatulah mereka berdua dalam peluk-cium dan gairah yang melayangkan keduanya ke sepanjang zaman. Dengan gairah semacam itu tiada bedanya malam tanpa rembulan, malam dengan rembulan, malam-malam tanpa atau dengan bintangbintang dihampirinya dan dijelajahinya hanya untuk mereka berdua. Hanya untuk

berdua. Sampai suatu hari gugusan malam-malam dan bintang-bintang itu lenyap tanpa jejak dan bekas, luruh ke seluruh hatinya, melongsorkan pedalaman jiwanya dan seketika duka lara menggantikan suka cita ke setiap sudut perasaannya. Setelah lakilaki itu akhirnya pergi ."Kenapa dia pergi?" kembali aku menggugat. Ia tidak menjawab dan nampak kecewa pada pertanyaanku. Ia sengaja menenggelamkan aku pada pertanyaanku sendiri dan seperti mencoba mengingatkan aku pada pertanyaanku sebelumnya. Kali ini semakin nampak sisa-sisa kecerdasannya. Ia mengembuskan asap rokoknya seolah hendak meledek pertanyaanku. Saat itu wajahnya menggambarkan dosa-dosanya yang merefleksikan dosa-dosaku. Hanya dengan begitu ia telah menggubah pertanyaanku menjadi jawabannya sendiri. Saat itu pula musik blues berganti dari satu lagu sendu ke lagu sendu lain yang tiada ampun mematahkan perasaan.Ia terus melanjutkan ceritanya:Sekiranya dua kali kemeriahan malam Tahun Baru telah dilewatinya dalam kebekuan hati setelah peristiwa buram di atas kasur bergambar kembang jepun. Tapi ia seperti mati rasa dan tidak pernah merasa melewati tahun-tahun itu. Sebab hari-hari yang dilaluinya setelah kejadian itu adalah barisan hari-hari yang itu-itu juga. Ia menjadi terbiasa dengan suntikan di pergelangan tangannya dan kehilangan trauma pada gambar kembang jepun. Satu orang laki-laki, dua orang, atau tiga, apa bedanya? Orang asing, orang kita sendiri, semua sama saja. Semua berakhir pada tempat yang sama, lalu pergi. Sampai sepasang mata itu kembali lagi dari sebuah negeri di mana bintangbintang dan rembulan bertaburan. Tanesia seperti terbangun dari mimpi buruknya, dari sekian lama mati. Darahnya kembali mengalir hangat mengitari jantung dan hatinya. Pipinya memerah kembali seperti sediakala. Mata redupnya perlahan hidup kembali dan ada gejolak yang luar biasa hangat di kedalamannya. Pria dari negeri bintangbintang dan rembulan seperti telah mencabut sihir dengan segala maksud jahat yang selama ini menjauhkan dirinya dari segala macam kebaikan.Dipeluknya dan diciuminya pria itu seperti masa sebelumnya dan ditumpahkannya seluruh isak tangis yang menggumpal di dadanya setelah sekian lama kehilangan tempat mengalirnya. Malammalam tanpa atau dengan bintang-bintang dan rembulan kembali menghiasi semesta hatinya. Meski tidak seindah dulu. Tiada ingin ia melepaskan pria itu lagi. Dipeluknya pria itu erat-erat dan ia benamkan wajahnya pada dada pangeran bintang dan rembulan.

Jika ia terbangun di pertengahan dini akibat raungan suara-suara jahat, cepat-cepat diperiksanya kembali dada dan sepasang mata yang dicintainya lalu ia dekatkan ujungujung jari manisnya pada hidung sang pangeran hanya untuk memastikan semuanya masih baik-baik saja. Lalu dilindunginya lagi sang pangeran dari kehendak suara-suara jahat yang entah datang dari alam luar sana atau alam bawah sadarnya sendiri. Setiap pagi dihadapinya dengan suka dan cita. Dilewati hari-harinya yang telah sekian lama padam dengan segenap api jiwa dan raganya. Tanesia sempat kembali seperti sediakala. Hingga di suatu malam yang tiada terduga ia kehilangan untuk kedua kalinya. Suara-suara jahat dari alam yang entah di mana tanpa sepengetahuannya berhasil merenggut sepasang mata itu dari hidupnya yang baru saja hidup kembali. Sampai di sana ia menghentikan ceritanya. Aku tidak mau mencobanya dengan sesuatu pertanyaan yang akan mengusik kecerdasannya. Saat itu aku perhatikan kulitnya yang kuning bersih dihiasi butir-butir halus keringat akibat sorotan lampu kafe yang sebentar lagi tutup. Kasihan, perempuan semacam dia harusnya tidak berada di kafe semacam ini di pagi sepagi ini pula. Seharusnya ia masih duduk menggarap skripsi atau jika pun dunia glamor yang dipilihnya, tentu ia sangat serasi berdiri di atas catwalk atau menjadi model iklan sabun atau lotion pemutih kulit. Aku tidak tahu pasti apakah itu lebih baik baginya. Tapi toh ia duduk di sana sambil menghisap dan menghembuskan asapasapnya, menggantikan aroma parfumnya dengan sengat Russian Vodka. Sudah sejak tadi minuman itu dituangkan lagi setiap kali habis. Persis seperti rangkaian kisah hidupnya yang datang segelas demi segelas, memabukkan, dan setelah habis dituangkan lagi dan dituangkan lagi. "Hidup ini hanya deretan botol-botol minuman keras yang disuguhkan kepada kita tanpa kita tahu bagaimana akhirnya," setelah mengucapkan itu Tanesia mengangkat gelas, sejenak menyelidik ekspresiku, lalu menenggaknya sampai setengah habis. Kali ini pernyataannya mulai cengeng. Mungkin karena sudah terlalu Vodka. Hidup ini hanya deretan minuman keras? Perumpamaan yang kurang menarik, terlalu biasa. Metafornya kurang dalam. Semua cewek cantik yang sedang putus asa bisa saja mengucapkan itu di sebuah kafe yang penuh asap. Tapi bahwa, tanpa kita tahu bagaimana akhirnya, adalah persoalan kenapa aku masih duduk di sana menunggui ceritanya. Tanpa berani bertanya. Lagi pula nampaknya ia sudah mengakhiri ceritanya. Maka sebuah pertanyaan di akhir cerita hanya akan

membuat keseluruhan cerita itu terganggu. Atau justru akan melengkapi keseluruhan cerita. "Kenapa kamu tidak bertanya lagi?" ia malah memancing pertanyaan. "Apa perlu aku bertanya lagi?" aku membalas gaya bahasanya tanpa sepenuhnya mengerti apa yang baru saja kunyatakan. Atau apa saja yang akan kutanyakan. Mungkin aku memang sudah tidak punya pertanyaan lagi. Seluruh pertanyaan melebur ke dalam irama dan nuansa ceritanya. Pertanyaan-pertanyaan yang membuahkan tekateki kubiarkan saja berupa pertanyaan biar bisa menghidupi ceritanya dan mengurangi kecengengannya. Mungkin dia benar, tidak ada perlunya bertanya. Sebab jawaban hanya akan mematikan kegairahan ceritanya.Sudah jam tiga pagi. Blues bubar setengah jam yang lalu. Tanesia menghabiskan setengah tenggakan terakhirnya. Kami beranjak dan pergi ke sebuah hotel, seperti yang telah kami sepakati siang tadi melalui telepon yang aku dapatkan nomornya dari seorang teman. Di telepon kami sepakat untuk bertemu setelah jam dua belas malam di sebuah kafe untuk berkenalan sebelum kencan dengan tarif tertentu. Suaranya sungguh menggoda, membuatku penasaran sehingga ingin cepat-cepat bertemu dengan wujud aslinya. Maka duduklah kami berdua berhadap-hadapan setelah perkenalan yang begitu singkat. Namanya Tanesia. Bibirnya yang dilapisi gincu ungu muda beraroma Vodka menyemburkan kalimat-kalimat itu.***

Perjalanan Burung Gereja
Andrei Platonov Sumber: Kompas, Edisi 02/03/2002

SEORANG pemusik tua biasa bermain biola dekat sebuah patung Pushkin. Patung itu terletak di Moskwa. Patung yang keempat sisinya tertulis puisi dan dilapisi marmer pada tangganya itu bertempat di ujung Tverskoi Bulvar. Dengan menaiki tangga-tangga itu, pengamen tua menghadap ke bulevar ke arah jalan Nikitskie Vorota sambil menyentuh dawai-dawai biolanya. Di sekitar patung telah berkumpul anak-anak, orang-orang yang lewat, penjual-penjual majalah dan kios-kios sekitar, mereka semua terdiam menanti permainan musik.Di musim gugur terakhir Pak Tua memperhatikan tempat biolanya tergeletak di tanah seperti biasa, telah hinggap seekor burung gereja. Ia merasa bahwa burung itu belum tidur padahal sore sudah gelap. Si burung masuk sibuk dengan makanannya. Di sore lain, pemusik tua itu membuka kotak biolanya, dengan harapan jika datang burung yang kemarin, ia dapat memakan roti lunak yang terletak di dalam kotak tersebut. Sang burung tanpa kesulitan bertengger di atas roti di kotak dan dengan sibuknya mulai mematuk makanan yang telah tersedia. Burung itu tampaknya sudah tua, sebagian besar bulunya telah beruban, dari waktu ke waktu ia dengan waspada menengok ke semua sisi, agar dengan pasti melihat musuh dan kawan, sementara pemusik memandanginya dengan penuh keheranan dengan mata hati-hati dan ingin tau. Pasti, burung gereja ini sudah sangat berumur atau menderita, karena ia memiliki otak yang sangat besar.Beberapa hari sang burung tidak kelihatan di bulevar, pada saat-saat ini, salju sudah mulai berguguran. Pak Tua, sebelum berangkat ke bulevar, setiap hari memotong kecil-kecil roti lunak dan hangat di kotak. Sudah lewat lima hari, tapi si burung tak juga hinggap berkunjung ke patung Pushkin. Violis tua, seperti sebelumnya menyediakan roti untuk burung gereja di kotak yang terbuka yang penuh dengan remah-remah roti. Namun perasaan pengamen itu sudah mulai tersiksa oleh menunggu, dan ia mulai melupakan si burung.Pak Tua harus melupakan banyak hal yang tak kembali dalam kehidupannya, ia berhenti meremukkan roti, hanya

diletakkannya sepotong roti untuk di kotak, dan membiarkan tempat biola itu terbuka.Di kedalaman musim dingin mendekati tengah malam terlihat badai akan tiba. Pak Tua memainkan nomor terakhir Jalan Musim Dingin Schubert, dan bersiap pulang untuk beristirahat. Saat itu di antara angin dan salju, muncullah burung ubanan yang telah dikenalnya. Ia hinggap dengan cakarnya yang kurus di salju beku, lalu sedikit berputar sekitar kotak, yang ditiup angin kencang, tapi dengan acuh dan tanpa rasa takut terbang dan masuk ke kotak biola tersebut. Di situ burung gereja itu mulai mematuki roti, nyaris bersembunyi di kehangatan peti kecil yang empuk itu. Lama ia makan, mungkin setengah jam penuh. Badai salju hampir sepenuhnya menimbun sekitar kotak biola dengan salju, tapi sang burung tua masih asyik di dalam salju, sibuk dengan makanannya. Berarti ia mampu memakannya dalam waktu yang lama. Pak Tua mendekat ke kotak tersebut sambil membawa biola dan tangkai penggeseknya dan lama menunggu di antara angin, sampai sang burung keluar dari kotak biolanya itu. Akhirnya si burung gereja keluar, membersihkan diri dalam gundukan salju kecil, sedikit berceloteh sesuatu dan berjalan pergi menuju tempatnya, tanpa keinginan terbang dalam dinginnya angin, agar tidak membuang tenaga sia-sia.Sore berikutnya, burung itu datang lagi ke patung Pushkin. Ia langsung menelusupkan diri ke kotak dan mengembat roti yang tersedia. Pak Tua mengintipnya dari ketinggian bawah patung, sambil memainkan musik dengan biolanya. Dari sana ada perasaan nyaman menelusupi hatinya. Sore itu cuaca tenang, kelihatannya lelah setelah guruh kemarin. Setelah makan, burung melesat tinggi dari boks dan menggumamkan lagu kecil di udara...Fajar tidak segera menyingsing, terjaga di kamarnya, si musisi-pensiunan mendengar nyanyi badai dari balik jendela. Salju beku dan keras telah menyebar cahaya sepanjang gang. Sementara kaca jendela masih malam, dalam kegelapan, berbaring hutan-hutan beku dan suara-suara dari negeri entah berantah.Pak Tua mengagumi permainan alam yang hidup itu, bahwa alam juga dahaga akan kebahagiaan yang lebih baik, seperti manusia, seperti musik.Hari ini terpaksa ia tak pergi bermain musik ke Tverskoi Bulvar, sebab badai akan datang, dan suara biola menjadi terlalu lemah karenanya. Biarpun begitu menjelang sore Pak Tua mengenakan juga mantelnya, membalut kepala dan lehernya dengan syal, meremukkan roti di kantung dan pergi keluar. Dengan susah payah, sesak nafas oleh kerasnya dingin dan

angin, pemusik itu berjalan menyusuri gang menuju Tverskoi Bulvar. Sepi, hanya ranting-ranting pohon yang bergemeretak di Bulvar itu, dan cuma sesosok patung muram bergemerisik oleh salju yang beterbangan menimpanya. Pak Tua ingin menaruh gumpalan-gumpalan kecil roti di tangga patung, namun sadar bahwa itu percuma saja: badai sekejap akan menyapu roti itu dan salju akan menimbunnya. Walau begitu, ditaruhnya juga roti itu dan melihat bagaimana ia hilang di temaram badai.Si burung ubanan ternyata tak takut badai salju. Hanya saja ia tak terbang ke Tverskoi Bulvar. Ia pergi ke sana berjalan kaki, karena di bawah sedikit lebih tenang dan bisa bersembunyi antara timbunan salju dan benda-benda lain sepanjang jalan.Si burung cermat mengamati semua daerah sekitar patung Pushkin dan bahkan sempat mengorekngorek dengan kakinya ke salju, tempat biasanya diletakkan kotak biola terbuka yang berisi roti. Beberapa kali ia mencoba terbang dari arah angin menuju tangga patung, untuk melihat apakah badai mengantar potongan-potongan roti atau biji-biji tua yang bisa ditangkap dan ditelan. Tapi badai langsung menyergap burung itu ketika ia keluar dari salju, dan mengenyahkannya sebelum sempat meraih ranting pohon atau tiang trem, dan seketika burung itu jatuh dan menyusup ke dalam salju untuk menghangatkan diri dan beristirahat. Si burung akhirnya mengurungkan harapannya atas makanan itu. Lebih dalam ia menggali lubang di salju, menyusutkan diri di dalamnya dan mulai mengantuk, hanya saja ia tidak kedinginan dan mati, dan badai satu saat berhenti. Ia tidur dengan tetap waspada dan penuh kepekaan mengamati gerak badai dalam tidurnya. Antara mimpi dan malam yang ia merasai bahwa gundukan salju tempatnya tidur bergerak perlahan membawanya, sampai semua salju di sekitarnya mencair dan hilang, dan burung gereja menjadi sendirian dalam badai.Burung itu jauh terbawa dan terdampar pada ketinggian tertentu. Di sini bahkan salju pun tak ada, cuma angin bersih telanjang, keras oleh kekuatannya yang menyatu. Sang Burung sejenak berpikir lalu membenamkan diri dalam kehangatan tubuhnya dan tertidur...Pak Tua menyadari bahwa burung tua yang dikenalnya itu telah tewas akibat badai. Salju yang jatuh, hari-hari yang dingin dan angin sering kali tak mengizinkan Pak Tua untuk keluar ke Tverskoi Bulvar untuk memainkan biolanya. Hari-hari seperti itu biasanya ia di rumah, dan satu-satunya yang membuat hatinya tenang adalah dengan memandang kaca-kaca jendela yang membeku. Bulan Februari ia membeli seekor

kura-kura kecil di sebuah toko binatang di Arbat. Suatu ketika pernah ia membaca bahwa kura-kura hidup lama, sebab Pak Tua tak ingin makhluk yang telah dekat dengan hatinya pergi mendahuluinya. Memang di usia senja jiwa tak gampang lupa, sering kali ia dibebani kenangan-kenangan. Karenanya biarkan kura-kura yang menderita karena kepergiannya.Hidup bersama seekor kura-kura, membuat pemusik tua ini semakin jarang pergi ke patung Pushkin. Kini setiap sore ia memainkan biolanya di rumah, sementara kura-kura perlahan-lahan keluar ke tengah-tengah kamar, menggerak-gerakkan lehernya yang kurus dan panjang sambil mendengarkan musik. Ia menolehkan kepalanya sedikit ke arah manusia itu supaya bisa mendengarkan dengan lebih baik, sementara satu matanya yang hitam memandang ke arah pemusik itu dengan satu ungkapan yang pendek. Kura-kura itu mungkin saja khawatir kalau-kalau Pak Tua menghentikan permainannya sehingga ia kembali bosan hidup sendirian di lantai kosong. Tetapi kali ini pemusik tua ini memainkan musiknya hingga larut malam, sebelum kura-kura merebahkan kepalanya yang kecil ke lantai karena kelelahan dan tertidur. Setelah menunggu kura-kura benar-benar memejamkan matanya, Pak Tua diam-diam memasukkan biola ke dalam kotaknya dan ia pun merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Namun pemusik itu tak bisa tidur dengan tenang. Sering kali ia terbangun dengan tiba-tiba dan dalam ketakutan akan kematian. Kemudian tampak seperti biasa saja, ia masih hidup, dan di balik jendela, di sebuah jalan kecil di Moskwa, malam yang hening masih berlalu. Pada bulan Maret, setelah terbangun dari kebekuan jiwa, Pak Tua mendengar sebuah gemuruh angin yang dahsyat; dinding kamar bergetar: angin, mungkin, berhembus dari selatan, dari arah musim semi. Dan lelaki tua itu teringat pada burung gereja dan bahwa yang dicintainya itu telah mati: sebentar lagi musim panas tiba dan di Tverskoi Bulvar kembali pepohon bermekaran, seandainya burung itu masih hidup. Dan di musim dingin ia pasti akan membawanya ke biliknya, dan burung itu pasti akan bersahabat dengan kura-kura dan dengan leluasa akan melewati musim dingin dalam kehangatan, seperti kita melewati masa pensiun. Pak Tua kembali terlelap, bertenang diri bahwa setidaknya ia masih punya seekor kura-kura yang hidup, dan itu cukup baginya.Sang burung juga tidur malam itu, walau ia juga melayang bersama angin badai selatan itu. Ia tersentak hanya ketika pukulan badai menghantam, dan ia lagi-lagi menenggelamkan diri dalam kehangatan tubuhnya,

dengan cara mengkeratkan badannya. Ia terbangun ketika keadaan sudah terang; angin dengan kekuatan dahsyatnya telah membawanya ke negeri yang jauh. Burung itu memang tak takut terbang menyusuri ketinggian, ia bahkan bercanda-canda dalam lingkar badai yang keras dan jahat itu, berceloteh dalam dirinya sendiri ketika rasa lapar mulai menyambanginya. Dengan penuh kehati-hatian ia melihat sekitar, mencari bendabenda yang mungkin bisa dimakan. Dipandangnya dengan jeli: kadang-kadang hanya sebuah biji kecil yang ranum yang tampaknya dari suatu tempat yang hangat, kadang biji kacang, dan tak jauh darinya bahkan terbang segepok semak dan ranting. Ini mengisyaratkan bahwa angin tak membawanya sendirian. Sebuah biji kecil terbang dekat sekali, tapi untuk menangkapnya sangatlah sulit: burung itu beberapa kali mematuk, namun meraih biji itu tetap saja ia tak mampu, karena paruhnya seperti menyangga badai, yang keras seperti batu. Karenanya burung itu mulai berkisar ke sana ke mari seputar dirinya. Ia membalikkan diri dengan kaki-kaki kecilnya ke atas, melesat dengan satu sayap, dan angin langsung membawanya mula-mula ke arah biji yang terdekat, lalu dicobanya meraih yang lebih jauh. Tak hanya kenyang, ia juga belajar bagaimana cara melesatkan diri dalam badai. Selesai makan ia memutuskan untuk tidur. Sekarang ia merasakan diri lebih baik: makanan terbang di sekitarnya, sementara hawa dingin ataupun hangat di antara badai tak lagi dirasakannya.Kini setiap sore di musim semi pemain biola keluar untuk bermain musik di patung Pushkin. Ia membawa kura-kura bersama dan membiarkannya berdiam di dekat kakinya. Selama musik dimainkan kura-kura itu sama sekali tak bergeming mendengarkan setiap gesekan biola, dan ketika Pak Tua beristirahat ia dengan sabar menanti kelanjutannya. Kotak biola seperti dulu, diletakkan di atas tanah di hadapan patung Pushkin, tapi tutup kotak itu kini selalu tertutup, karena pemusik tua itu tak lagi berpengharapan burung gereja ubanan datang menemuinya. Satu sore yang cerah angin berhembus disertai salju. Pemusik menyusupkan kura-kura ke rongga bajunya, meletakkan biola ke kotaknya dan bergegas menuju flatnya. Dua anak kecil berdiri di pintu gerbang sebuah rumah tinggal yang sudah tua, salah seorang berkata kepada pemusik itu: "Paman, belilah burung kami ini... Kami perlu untuk tambahan karcis bioskop!"Pemain biola itu berhenti.

"Baiklah," katanya, "darimana kalian mendapatkannya?" "Di atas batu... Jatuh sendiri ia dari langit," jawab anak kecil dan menyerahkan burung itu dalam dua genggam tangannya kepada pemusik.Burung itu mungkin sudah mati. Pak Tua menaruhnya di sakunya, memberi anak itu dua puluh kopek dan pulang.Setibanya di rumah pemusik itu mengeluarkan burung kecil itu dari kantung sakunya. Seekor burung gereja tua ubanan tergolek di tangannya; matanya tertutup, kaki-kaki kecilnya lemah dan satu sayapnya menggantung tanpa daya. Tak tahu, apakah ia mati suri atau mati benar. Untuk berjaga-jaga Pak Tua meletakkannya di rongga dalam kemeja tidurnya, entah esok pagi ia menghangat dan siuman, entah ia takkan terbangun untuk selamanya.Setelah menghabiskan tehnya, pemusik itu dengan hati-hati merebahkan diri tidur miring, supaya tidak menggencet burung itu.Sesaat Pak Tua tertidur, tapi segera terbangun, ketika burung itu bergerak-gerak di balik baju tidurnya dan mematuk tubuh Pak Tua. "Hidup," pikir Pak Tua. "Berarti hatinya telah menjauh dari kematian!" Lalu dikeluarkannya burung gereja itu dari kehangatan di balik baju tidurnya.Pemusik itu meletakkan burung kecil itu di kolong dekat kura-kura. Sementara kura-kura masih pulas di dalam tempurungnya. Di sekitar situ ada kapaskapas yang empuk dan nyaman buat burung itu.Pagi hari Pak Tua terbangun dan melihat apa yang sedang dilakukan si burung di tempat kura-kura.Burung gereja itu tergeletak di atas kapas dengan kaki-kaki kecilnya menjulur ke atas, dan kura-kura mengulurkan lehernya, memandangi sang burung dengan tatapan penuh kasih dan kesabaran. Burung itu telah mati dan melupa untuk selamanya, bahwa pernah ada di dunia.Sore hari pemusik tua tak pergi ke Tverskoi Bulvar. Ia mengeluarkan biola dari kotaknya dan mulai memainkan musik yang lembut penuh cita. Kura-kura keluar ke tengah-tengah kamar dan mendengarkan sendirian. Tapi dalam musik ada sesuatu yang tak tersampaikan untuk membalur kegetiran hatinya yang dalam. Karenanya diletakkannya biola di tempatnya dan menangis, karena tak semua bisa diungkapkan oleh musik, dan pada akhirnya tinggal manusialah yang merasai kehidupan dan penderitaan.** Andrei Platonov (1899-1951) yang nama aslinya Andrei Platonovich Klimentov adalah seorang sastrawan Rusia pada masa Soviet. Dalam karya-karyanya ia banyak

menyoroti kehidupan manusia dan hubungannya dengan alam, kematian, dan keabadian. Karyanya yang termasyhur antara lain Chevengur dan Kotlovan. Sebagian besar karyanya diterbitkan ketika ia telah meninggal dunia. *** Cerpen Perjalanan Burung Gereja dialihbahasakan dari bahasa Rusia oleh A Fahrurodji.

Perempuan di Layar Maya
Fakhrunnas MA Jabbar Sumber: Kompas, Edisi 02/10/2002 + Namaku, Je! Perempuan. 25 tahun. Sekretaris.Cukup?IA terperangah ketika menatap sederetan kata-kata yang muncul di layar komputer itu. Luar biasa. Padahal, ia baru saja secara acak meng-klik sebuah alamat e-mail yang sama sekali tak dikenalnya. Ia hanya iseng. Hanya ingin berkomunikasi. Ingin ngobrol dengan seseorang yang asing. Entah siapa pun dia. Ia ingin melompati tembok kebuntuan setelah berbulan-bulan tak menemukan jalan keluar. Ia ingin keluar dari sergapan kebosanan.Ia kini tiba-tiba jadi bosan politik. Meski kabinet pemerintahan, baru saja diumumkan. Ia merasa lelah menatap layar kaca yang telah mempingpong rakyat. Ia jenuh melihat pergerakan nilai rupiah yang turun-naik begitu tajam bagaikan gelombang tsunamis. Ia juga bosan kriminal. Bosan pembantaian orang-orang tak berdosa. Bosan juga menyaksikan maling yang dibakar massa hidup-hidup. Sementara koruptor besar yang telah memalingi uang rakyat dalam triliunan, dibiarkan bebas berkeliaran. Ia jadi bosan basa-basi yang membelenggu akal-sehat. Segalanya terdedah tanpa batas di layar kaca. Di halaman-halaman suratkabar dan majalah. Di tengah rumah. Di lapangan. Di pasar. Di mana-mana.Bagai kapal kini, ia ingin berlayar meninggalkan derrmaga. Ia ingin mengharungi samudera pengembaraan tak bertepi. Bagai burung, ia ingin terbang sejauh-jauhnya meninggalkan sarang yang dingin. Bagai pertapa ia ingin keluar dari ceruk goa terdalam dan sederetan stalaktit dan stalakmit. Ia ingin bebas dari kekangan kehidupan yang penuh rambu-rambu. Karenanya, ia butuh seseorang. Bukan orang yang selama ini sudah dikenal dekat. Bukan teman kantor. Bukan teman sehobi di lapangan golf. Bukan teman kencan di diskotik. Bukan juga anak, istri, orangtua, saudara. Ya, siapa pun mereka. + Apa kabarmu?Lagi-lagi ia dihardik oleh seseorang yang menyebut dirinya 'Je' di layar maya itu. Matanya jadi berkedip-kedip. Jadi berkaca-kaca. Antara ingin menjawab dan takjub. Ia tak membayangkan kebuntuannya berubah wujud jadi begini. Bila dijawab, sebaiknya ia harus mengatakan apa? Padahal ia ingin lari dari basa-basi yang telah

menimbunnya di kuburan imajinasinya sendiri. Ia khawatir bakal terperangkap lagi dalam kebiasaan dan keseharian. Ia tak inginkan pengulangan-pengulangan yang penuh basa-basi. Ia ingin sesuatu yang lain dan tak biasa. + Sungguh kamu membutuhkanku?Ia terdesak. Pertanyaan Je yang terakhir ini benarbenar membuatnya terkepung di dalam kebingungan. Antara ya dan tiada. Antara keisengan dan kesungguhan. Antara sadar dan bermimpi. Antara realita dan alam maya. Ia masih takut bila obrolan di layar maya itu akan menyeretnya pada kebiasaankebiasaan. + Hai, bajingan! Dengar nggak, lu?Makian yang muncul di layar komputer dengan huruf berukuran besar itu benar-benar menyadarkannya. Ia merasa tertantang. Barangkali inilah sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak pernah ditemukannya di tengah rumah, kantor atau lapangan golf. Sungguh, ia tertantang.Matanya sempat menerawang jauh ke alunan gelombang yang memutih di tengah pergumulan laut. Dari kawasan off-shore, di lokasi pengeboran minyak lepas pantai, di tengah-tengah permainan ombak Selat Melaka itulah ia bergulat dengan kesendirian dan kesepiannya. Lama ia

terperangah.Kemudian ia mulai mematut-matut jemarinya di keyboard yang sejak tadi terbentang. Pikirannya tanpa di bawah kendalinya bisa saja menerawang tiba-tiba, tapi di benaknya sudah terkumpul jutaan jawaban bagaikan laron yang mengelilingi sebuah lampu pijar di kegelapan. Ia benar-benar tertantang untuk mengembara di layar maya itu. Seseorang telah datang begitu tiba-tiba. Tanpa direkayasa. Tanpa direncanakan. Hai...apa kabar? Aku ingin ngobrol aja... + Kenapa tak bilang dari tadi? Aku sangat bosan menunggu. Apa maumu sekarang?Ya, aku sudah bilang... aku mau ngobrol aja. + Aku sudah perkenalkan diri. Tapi kamu?Ya, ya... aku tahu, Aku keliru. Aku sudah mulai... tapi buntu.OK, kamu siapa?Ia langsung memperkenalkan dirinya. Ia bercerita panjang lebar kenapa ia terperangkap dalam chatting dadakan begitu. Sungguh, ia tak menargetkan siapa yang harus melayaninya ngobrol. Kalau kebetulan Je yang menanggapi kegetiran jiwanya yang sudah kerontang sejak lama, barangkali itulah jodohnya. Ia bagaikan membuang keluh-kesahnya bagaikan kupu-kupu yang

berterbangan lepas dari kepompongnya. Ia jadi kupu-kupu yang penuh birahi mencari kupu-kupu yang lain. Sekarang, seekor kupu-kupu itu sudah ada terjepit di antara dua jarinya. Ia ingin kupu-kupu itu tak meronta.Ia ingin melupakan jam kantor di sebuah menara kontrol di tengah areal pertambangan. Selama ini ia hanya berhadapan dengan layar monitor yang mengalirkan angka-angka kuantum yang menyimbolkan proses produksi sebuah pabrik tambang. Sekarang ia mencoba lari dari kejaran angka-angka yang membosankan itu.Tiga jam lebih ngobrol di layar maya itu, ia jadi kelelahan juga. Ia tertidur di depan komputer yang masih menyala. Saat terjaga beberapa saat kemudian, layar komputer itu telah kosong. Tak ada lagi Je di situ. Tak ada lagi katakata baru. Tak ada sesiapa yang menyergap lontaran pertanyaannya.Ia merasa kehilangan momentum emas di dalam hidupnya. Ia kehilangan sebuah keceriaan yang telah dibangkitkan oleh seorang bernama Je. Ia ingin melanjutkan perbincangan yang tak biasa itu. Tapi Je-barangkali-juga telah tertidur pulas di seberang sana. Ia sangat menantikan hardikan dan kata-kata galak dari Je yang tiba-tiba merangkak masuk ke dalam bion-bion otaknya.Hari-harinya jadi kosong seketika. Sepekan menunggu, Je tak membalas e-mailnya. Sebulan berlalu, Je hanya muncul dalam bayang-bayang yang keruh menari-nari dalam benaknya. Je yang semula jadi setrum yang membangkitkan kegairahan batinnya kini berubah jadi monster yang siap menelannya kapan saja. Ia terpojok setelah tersambar kilatan cahaya Je. Sungguh, ia tak tahu siapa Je sebenarnya. Bisa jadi, Je seorang lelaki bersosok besar dengan kumis panjang yang secara iseng menyamar jadi perempuan. Apalagi, sergahan-sergahan Je yang muncul di layar maya itu bagai mengandung semangat maskulin-nya laki-laki. Lebih lagi, nama Je tidak membersitkan sentimen gender. Artinya, siapa pun, lelaki atau perempuan berhak menggunakan nama Je. Ya, ia jadi ragu... jangan-jangan Je itu seorang laki-laki. Dan seketika ia jadi benci Je. Dalam benaknya ia merasa dibohongi Je. Ia merasa telah menghabiskan energi begitu besar untuk menumbuhkan rasa simpati pada Je yang telah menyahuti salamnya. Dalam hatinya, ia hanya bisa memaki-maki Je.Siang benderang. Matahari bagai terbelalak di balik serabut awan. Ia menatap kosong ke layar maya. Ia berharap, Je bisa muncul barang sejenak. Lebih sebulan terakhir ia berkeringat untuk mematut-matut siapa Je. Meski antara ragu dan penuh ingin tahu, kadang-kadang ia masih membayangkan Je benar-benar seorang perempuan cantik,

berlesung pipit, manja dan sedikit centil. Tapi di belahan hatinya yang lain, ia jadi ragu juga. Jangan-jangan Je benar-benar seorang lelaki jantan yang mengaku-aku sebagai perempuan. Namanya juga iseng. Siapa pun bisa berbuat iseng kapan dan di mana saja. Tapi ia begitu sedih bila dirinya menjadi korban keisengan semacam itu.Tit! Saat layar maya itu masih terbuka, sebuah mail muncul di deretan inbox. Darahnya terkesiap. Ia membuka mail itu segera. Benar Je muncul dengan sebuah kalimat : + Bosan? Penasaran menunggu, ya?Ya... kamu kemana aja? + Capek aku. Aku mengembara ke dalam benakmu. Aku bermain-main di pelupuk matamu. Aku tahu, kamu begitu marah. Begitu penasaran. Begitu membenciku. Ya, ya. Aku merasakan getaranmu. Tapi bagai angin, kurasakan ada tapi tak bisa kugapai. Aku jadi rindu kamu.+ Ah, gombal kamu. Lelaki bila ada maunya, bisa macam-macam. Bisa gombal, gitu.Ia terhenyak seketika. Ia tersadar bahwa pelarian batinnya pada akhirnya bakal terperangkap pada kebiasaan dan kesehariaan. Sebagai lelaki, dia digombalkan seorang perempuan-ah, mudah-mudahan tak keliru-merupakan sebuah kelaziman. Tak bakal ada sesuatu yang baru diraihnya bila berdialog begitu.Aku jadi penasaran. Benar kamu seorang perempuan? Jangan-jangan kamu seorang lelaki yang mempermainkanku. + Lha, edan kamu. Sinting. Tak percaya? Lihat aja sendiri. Ah, nggak. Aku hanya ragu. Kamu menantangku untuk memastikan jenis kelaminmu? Aku nantikan suatu saat. + OK deh. Kapan-kapan kukirim potretku.Kalau betul kamu perempuan, pasti kamu cantik dan menggemaskan.Sehari kemudian, apa yang dijanjikan Je jadi kenyataan. Di layar maya itu, ia bisa menemukan wajah Je yang sejak lama bermain-main dalam imajinya. Meski pada mulanya wajah Je begitu samar. Je telah mengirim potretnya dengan resolusi gambar yang berbeda dengan kemampuan CPU-nya. Ia terpaksa melakukan down-load agar pixel gambar itu benar-benar kontras terdedah di layar komputernya. Kiriman gambar itu pun sudah yang kedua kalinya. Yang pertama, gagal karena terserang virus yang hebat. Meski sudah diupayakannya melalui virus scanning tercanggih, tapi tak kunjung berhasil.Hatinya berbunga-bunga ketika menatap wajah Je yang sedang tersenyum. Je tak berbohong. Je memang cantik, manis, dan

menggemaskan sebagaimana dugaannya. Semakin lama ia tatap wajah Je, perempuan di layar maya itu semakin menggairahkan. Senyumannya kian berubah jadi tawa renyah. Tatapan mata Je begitu hidup bagai menggamit dirinya. Ia hanyut menatap wajah Je yang rupawan.Setiap pagi, saat memulai kerja di control room di atas menara yang jauh dari keramaian, ia sempatkan membuka file yang berisi wajah Je. Tapi selalu ada perubahan nyata yang dihadapinya. Je selalu berubah ekspresi. Kadang ia tertawa manis, Kadang marah menyebalkan. Kadang Je tertidur pulas. Hebatnya lagi, ia kini bisa menyaksikan semua aktivitas Je di rumah dan di mana saja. Ia bagaikan menyaksikan sebuah panorama yang dikirim dari hidden camera yang ia sendiri tak tahu di mana dipasangnya. + Selamat pagi...Di layar maya itu, Je mengucapkan sapaan lembut bagaikan berhadapan langsung dengannya. Ia berdebar-debar. Semua peristiwa keseharian Je tiba-tiba muncul begitu nyata di layar komputer itu. Andaikan ia punya layar monitor ukuran dua kali dua meter, tentu sosok Je akan semakin jelas. Bagaikan menonton sebuah filem layar lebar di kepungan deru ombak yang tak pernah lelah. Selat Melaka selalu jadi saksi atas segalanya.Selalu saja ia saksikan bagaimana Je sarapan pagi, mandi dengan shower, berangkat kerja, bercengkerama dengan orangtua dan adikadiknya. Ia juga menyaksikan bagaimana Je mengenakan gaun tidur yang berwarna biru muda. Je ternyata suka tidur miring ke kiri sambil memeluk guling yang empuk. Ia selalu menahan napas bila menyaksikan adegan-adegan sensual begitu.Je, aku rindu kamu. Aku tiba-tiba ingin...Ia membayangkan sesuatu yang sangat pribadi. Ia ingin berpelukan, ciuman dan menyalurkan birahinya. Semua yang berkelabat dalam pikirannya itu tiba-tiba muncul di layar maya itu. Pada mulanya asap mengepul berbaur awan yang komulus. Je tiba-tiba muncul begitu saja dengan gaun kebiruan melayanglayang di angkasa. Rambutnya tergerai diditup angin sakal. Je tersenyum dan melambai-lambai manja.Di atas sosok Je itu, ia menemukan dirinya juga sedang melayang-layang. Ia mengejar Je dan menggapai-gapai. Keduanya terhanyut di sebuah turbulence yang tak membahayakan. Keduanya saling mendekat. Dan... keduanya saling bersentuhan, berpelukan dan berciuman. Angin memukul-mukul punggung keduanya. Keduanya semakin birahi. Keduanya saling menikmati.Ia menyaksikan adegan-adegan itu penuh perhatian. Ia merasa heran dan takjub, bagaimana mungkin

semua itu terjadi begitu saja. Apa yang ia angankan tiba-tiba terdedah dengan mudahnya di layar maya.Ia jadi berkeringat dan kelelahan. Ia coba mencubit lengan kirinya kalau-kalau apa yang disaksikan hanyalah sebuah mimpi. Ia meringis kesakitan. Ia menyaksikan bagaimana lambaian Je saat menghilang di layar maya itu. Senyuman Je benar-benar melekat di sudut pikirannya. Ah, Je, bisiknya lirih.Begitu tersadar, ia cepat-cepat mengetik di keyboard. Ia segera kirim mail buat Je.Je, kamu baik-baik saja? Aku tiba-tiba menyaksikan sesuatu yang sulit kulupa. Antara mimpi dan nyata, aku kok bisa merasakan kehangatan tubuhmu? + Surprise... Busyet..! Aku juga. Kok bisa? Kamu berhalusinasi, kali?Ah, nggak juga. Aku berharap, adegan itu terulang lagi, kapan-kapan.Je tak menjawab. Lama layar komputer itu kosong. Ia terkesima. Ia bagaikan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Ia tak langsung melakukan tugasnya di control room itu. Orang-orang yang berseliweran di kiri kanannya, sedikit pun tak menarik baginya. Ia terbius oleh Je.Ia menanti sapaan Je yang kasar seperti padamula perkenalannya di layar maya itu. Tapi Je kini tak memberikan aba-aba akan muncul. Setiap ia mengirim mail buat Je, jawaban yang diterimanya: undelivery. Mail itu membalik begitu saja seolah-olah ada kesalahan administrasi. Ia jadi penasaran. Ia jadi bodoh berhadapan dengan perempuan maya itu.Ia tiba-tiba ingin mendatangi Je di kotanya. Tapi, sayang, ia tak tahu di mana alamat rumah Je. Ia juga belum sempat menanyakan nomor telepon dan alamat kantor Je. Ia betul-betul miskin data. Padahal berbulan-bulan ia berkomunikasi dengan perempuan itu, tak terpintas dalam pikirannya untuk menanyakan hal-hal sepele begitu. Tunggu dulu, bukan tak terpikirkan, tapi ia sejak mula sudah bertekad untuk tidak berbincang soal yang lazim dari peristiwa keseharian.Ia jadi nekad. Ia bagai kesurupan ketika ia mengirim mail buat Je dengan huruf dengan ukuran 36 font: "Je, jawab aku kapan pun kamu mau." Sesudahnya, ia mematikan komputernya. Dan komputer itu ia banting dan tak pernah berusaha menyalakannya lagi. Ia mengubur pesawat komputer itu bersama bayangan Je.Ombak Selat Melaka yang menggelegar berdegup kencang di jantungnya. ***

Batas Cerpen: Helen Yahya Sumber: Kompas, Edisi 02/24/2002 MAK Kimin menggerutu mendengar laporan kemenakannya. Urat-urat lehernya menegang. Bola matanya mencorong tajam. Wajahnya memerah menahan kemarahan. Bujang Sami-salah seorang kemenakan jauh- otomatis ikut tegang.”Kurang ajar! Dikiranya kita tidak tahu batas ulayat?" hidung Mak Kimin mendengus-dengus bagai kerbau akan berlaga. Bujang Sami hanya tertunduk kaku. Melihat itu Mak Kimin melanjutkan hardik, "Dan kalian takut dengan ancaman mereka?! Padahal sebelumnya, saat aden1 masih di situ, mereka tak berani! Tapi baru sepekan aden tak ke sana..," "Buuuk.., bukan begitu, Mak. Kami hanya segan beradu pendapat. Karena sebagian besar mereka masih pabisan2 dan sumando3 kita," kegugupan Bujang Sami jelas tergurat di matanya yang kuyu. "Alaa, pendek betul pikiran wa'ang4. Berdebat atas kebenaran tak ada salahnya. Mana Pidin? Suruh dia kemari!" perintah Mak Kimin. Tangannya memilin-milin rokok daun nipah. "Dia manakiak5, Mak," jawab Bujang Sami masih sambil menekur. "Kapunduang! Urusan pribadi yang diutamakannya!" Bujang Sami semakin tegang. Dia tahu betul tabiat Mamaknya. Sebagai salah seorang Tungganai Kaum Patopang6, kadang tak sungkan bertindak keras pada anak kemenakan. "Nanti malam kita lanjutkan di Rumah Gadang. Jangan sampai ada kaum Patopang yang tidak hadir. Kapan perlu, suruh Kiri memukul canang!" Bujang Sami hanya sanggup mengangguk. Setelah diteguknya kopi pahit yang diseduh Amainya-istri Mak Kimin-dia bergegas meningkat jenjang rumah semi permanen yang masih bau semen setelah direnovasi hasil menambang emas dua pekan lalu. *** “BAGAIMANA, Da?" tanya Upik Sida pada Bujang Sami-suaminya-sesampainya di rumah mereka yang beratap rumbia. "Gara-gara Pidin tidak bisa menyelesaikan urusan itu, aden yang kena sirengeh7 Mak Kimin. Kapunduang paja tu8!" umpat Bujang Sami ketus.

"Uda tidak usah ikut ribut. Harta dapat dicari. Tapi jika terjadi pertikaian ulah memperkarakan harta, apa jadinya?" "Itu bukan kesalahan orang kampung kita, Pik. Dalam pembagian ulayat, sungai kecil itu adalah batasnya. Kami mendulang emas tepat di tengah sungai itu. Tapi lantaran orang kita lebih dulu mendapat emas, mereka cemburu dan mengeluarkan peraturan sepihak!" geram Bujang Sami sambil menggaruk-garuk kepalanya yang penuh ketombe akibat selalu berpanas matahari saat mendulang emas. "Lalu bagaimana keputusan Mak Kimin?" Upik menghidangkan sepiring nasi lengkap dengan sayur pucuk ubi dan samba lado tanak9. "Beliau mengundang seluruh kaum Patopang nanti malam untuk rapat di Rumah Gadang," Bujang Sami menarik nafas pendek. Upik menarik napas panjang, "Jadi kapan akan kembali ke lokasi pendulangan?" "Menunggu hasil rapat itu." Sehabis Maghrib Kiri mengguguh canang dan berteriak memberikan pengumuman. "Mudah-mudahan rapat dapat memutuskan yang terbaik," ujar Bujang Sami sambil memandang istrinya yang sedang hamil dua bulan-anak pertama mereka. Kemudian meneguk kopi manis. Meraih kupiah yang tergantung di paku tiang utama rumah. Lalu menapaki lantai menuju pintu yang berjenjang tiga. Sambil berharap hasil musim mendulang tahun ini dapat mengganti jenjang kayu dengan jenjang semen. Dapat menukar atap rumbia dengan atap seng. Dapat mengganti dinding anyaman bambu dengan susunan papan. Rumah Gadang yang terletak tak begitu jauh dari rumah Bujang Sami sudah diterangi lampu petromaks. Beberapa laki-laki dari suku Patopang sudah mulai berdatangan. Pergunjingan yang agak meruncing sudah mulai membingar. Mengusik kelengangan Dusun Silokek yang hanya terdiri dari tiga puluh tujuh rumah. Bujang Sami mendehem sebelum menaiki tangga Rumah Gadang. Dilihatnya Mak Kimin dan Pidin sudah mulai bersitegang suara. Sedang janang10 berusaha menguping saat menghidangkan kopi panas dan nasi ketan. Menjelang jam sembilan malam, setelah sedikit basa-basi, Mak Kimin memulai pembicaraan secara resmi. Kemudian dimintanya Pidin, sebagai wakil kepala rombongan pendulang untuk menjelaskan

persoalan yang menjadi perkara. "Penduduk Dusun Seberang Sungai meminta kami membayar pajak," Pidin langsung pada pokok persoalan. "Kenapa?" tanya seorang lelaki berjenggot putih. "Menurut mereka daerah pendulangan kami telah memasuki ulayat mereka," jawab Pidin. "Apa mereka lupa batas ulayat? Sudah ketetapan pemerintah jika sungai kecil itu menjadi batas Dusun kita dengan Dusun Seberang Sungai?!" potong Mak Kimin. "Itu sudah kami jelaskan. Tapi, mereka membantah. Dan bersikeras menyodorkan peraturan..," "Peraturan apa!?" burangsang Mak Kimin. "Kami harus membayar sepuluh persen harga penjualan setiap mendapat satu emas..," "Itu tidak bisa!" rentakan suara hampir memenuhi Rumah Gadang dimandori gelegar bariton ucap Mak Kimin. "Memang tidak bisa! Tentu kita tidak akan menyepakati peraturan sepihak itu!" ulas Patih Sati, yang merupakan guru silat Mak Kimin dan warga Dusun Silokek. "Baiknya bagaimana, Datuk?" sela Mak Kimin. "Sebaliknya, kita tak bisa juga memutuskan sepihak. Harus kita rundingkan dengan Ninik Mamak dan Kepala Dusun mereka," suara paraunya mengandung wibawa. "Untuk apa lagi, Datuk?" sergah Mak Kimin. "Bukankah sudah jelas tempat penambangan itu termasuk ulayat kita?" "Ya, Datuk. Akan kita biarkan mereka meminta pajak di ulayat kita!?" semangat Pidin. "Tenang dulu. Kita baru mendengar pengaduan sepihak dari anak kemenakan kita. Kita wajib meninjau kebenaran dari pihak mereka. Apa salahnya kita melihat bersama-sama

ke lokasi persengketaan itu. Mungkin saja anak kemenakan kita memang telah khilaf?" Patih Sati mengedarkan pandangan ke seantero Rumah Gadang. Suasana mendadak hening. Hanya cericit pipit malam yang melengkapi kelengangan. "Lalu bagaimana selanjutnya?" pancing Mak Kimin. "Begini Tungganai," Patih Sati mencari bola mata Mak Kimin dengan sorot matanya yang tenang bagai air sumur zam-zam. Kemudian beralih pada mata Pidin sambil menebar senyum harum. "Beberapa orang wakil serta Kepala Dusun sebaiknya berkunjung ke Dusun Seberang Sungai. Di sanalah kusut akan diselesaikan. Di situlah keruh akan dijernihkan." *** AKHIRNYA rapat menyepakati usul Patih Sati. Dan, pada hari yang telah ditentukan, rombongan akan berangkat dengan menggunakan perahu dayung, menuju lokasi penambangan yang berdekatan dengan Dusun Seberang Sungai di hilir Batang Kuantan. Bujang Sami termasuk ke dalam anggota rombongan. Sebelum berangkat, dia sibuk mempersiapkan perlengkapan mendulang emas. Peluh mulai membasahi pipi mudanya akibat hangat cahaya mentari pagi. "Apaah rombongan Uda, akan langsung mendulang setelah berunding?" tegur Upik Sida sambil menyodorkan kopi manis. "Belum tentu. Tapi, tak ada salahnya bersiap-siap." "Apa Pidin juga ikut?" pertanyaan itu terlontar karena mantan Kepala Dusun itu pernah singgah ke rumah semasa suaminya tak ada. Tersirat rasa kecut mengingat sorot nakal mata Pidin yang telah pula beristri dua. "Katanya, dia akan menyusul setelah menambal perahunya yang bocor. Kenapa?" sebenarnya tak ada nada curiga, tapi tanya malah membuat Upik Sida bermerah muka. Bujang Sami berdehem. Upik Sida menekur, "Hati-hati, Da, musuh jangan dicari," dialihkan topik pembicaraan. "Bertemu pantang dielakkan," canda Bujang Sami sambil menyongsong rombongan yang dipimpin Patih Sati. Sebenarnya dia merasakan sesuatu yang tak beres, tetapi

panggilan emas lebih menarik perhatian. *** SEBELUM benar-benar senja, rombongan Dusun Silokek telah sampai di lokasi pendulangan. Dan, seperti yang telah disepakati, mereka telah ditunggu oleh Ninik Mamak dan Kepala Dusun Seberang Sungai. "Sebetulnya hanya terjadi salah paham kecil antara warga kita," langsung Kepala Dusun Seberang Sungai mulai bicara mengingat malam akan segera tiba. "Kami mengeluarkan peraturan itu karena ada beberapa anak kemenakan kita yang mendirikan pundun11 di pinggir tebing. Lubang tambang itu mengakibatkan sawah yang ada di atasnya jadi terancam runtuh..," Patih Sati berdehem keras. Mak Kimin menyahut dengan batuk pura-pura, lebih keras. Lalu Patih Sati menggantikan ujar, "Jika itu persoalannya, berarti keterangan Pidin berat sebelah. Makanya, kami minta maaf," dengan sportif lelaki berumur kepala enam itu mengulurkan tangan mendahului Kepala Dusun Silokek-barangkali, karena teringat silsilah Kaum Patopang, dia adalah kemenakan Pidin, walau berumur lebih muda. "Jika tak lagi membangun lubang tambang di pinggir tebing tentu pajak itu tak perlu dibayar. Lagipula antara Dusun Silokek dan Dusun Seberang Sungai adalah daerah yang bertetangga. Bahkan, anak kemenakan kita sudah banyak pula yang saling menikah. Cuma...," Kepala Dusun Seberang Sungai seperti sengaja menggantung ucap. Kedua rombongan tentu saling menunggu. Tapi, bisik-bisik di dalam rombongan Dusun Seberang Sungai, terdengar bernada miring. "Lanjutkanlah," pinta Patih Sati. "Masih ada batas lain yang telah dilanggar oleh salah seorang anak kemenakan kita," lanjut Kepala Dusun Seberang Sungai sambil menggerutapkan geraham. "Maksud Pak Dusun?" potong Mak Kimin. "Piiidin?" gagap Bujang Sami. Ingatannya langsung melayang saat Pidin cigin12 dari lokasi penambangan, pekan lalu. Mengingat perangai kawannya itu, waktu itu dia sengaja mengikuti, ternyata Pidin menyelusup ke pondok sawah Pinah, padahal suami

perempuan sintal itu sedang merantau ke Malaysia. "Kami belum bisa memastikan. Namun, kami berharap, persoalan itu juga bisa diselesaikan dengan baik," tutup Kepala Dusun Seberang Sungai sambil mengajak berwhudu untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Patih Sati gelisah. Mak Kimin lebih gelisah. Matanya yang merah menatap Bujang Sami tanpa berkedip. Bujang Sami lebih gelisah. Sorot tajam mata Mak Kimin seperti mengandung peringatan. Padahal, Bujang Sami tak dapat melupakan: bukan Pidin saja yang pernah menyelinap ke pondok sawah Pinah. Juga Lencun, Lobai, Kiri dan..., termasuk Mak Kimin! Bujang Sami mengendap-endap ke arah mudik Batang Kuantan. Menyusuri jalan setapak sambil mempernyalang mata. Bergegas pulang, mengingat Pidin belum juga datang. @ Diracik di negeri hilir Batang Kuantan, dua tahun lalu Dimasak lagi tahun dua ribu satu

Ode untuk Sebuah KTP
Cerpen: Martin Aleida Sumber: Kompas, Edisi 02/17/2002 IRAMANI namaku. Umurku tujuh-puluh dua. Tak usah terlalu panjang aku menyebutkan siapa aku. Cukup, katakanlah semua kamp konsentrasi atau penjara paling bengis yang pernah kau tahu. Dan itu adalah juga aku.Usiaku habis percuma ditelan tembok-tembok penjara yang dekil dan menyesakkan. Dan ketika aku ditendang keluar dari sel, aku masih harus menanggungkan perlakuan sewenang-wenang dari satu rezim yang didukung oleh manusia yang terus-menerus kupertanyakan dalam hati, dari manakah mereka mewarisi perangai lalim yang telah memencilkan aku selama tiga belas tahun di dalam kurungan, terutama di penjara wanita Pelatungan. Hanya karena aku seorang istri. Ya, seorang istri. Jika inilah kodrat yang harus kuterima sebagai wanita, maka dia telah kujalani dengan sempurna. Tetapi, bagaimanakah aku harus menjelaskan kepada Tatiana, anakku yang terkecil, yang harus mengikuti aku ke sel penjara mana saja aku dicampakkan bagaikan sampah, yang buat kompos pun tak berguna. Rezim juga telah memperkosa naluri Tatiana, yang selalu ingin menyusu di dadaku, sebagai siksa tambahan bagi ibunya. Telah kubaca berpuluh kali catatan harian Anne Frank. Bisa kubayangkan, ketika larsa sepatu pasukan Nazi berdentam mendekati lemari persembunyiannya, tahulah dia bahwa ajalnya sudah sedekat bendul pintu. Terlahir sebagai Yahudi, dia dipaksa menemukan nasib sebagai buruan. Gadis cilik itu masih lebih mujur dari kami. Dia mungkin telah musnah bersama kepulan gas beracun yang disemburkan ke dalam kamar pengasingannya. Sedangkan kami, aku dan anakku, masih terus berbagi degup jantung, menjaga nyawa, sekalipun sebenarnya kami sudah tersingkir dari keberadaan sebagai manusia yang hidup.Sudahlah, katamu melerai perasaanku. Lupakahlah, Ir Penderitaanmu akan larut dibasuh waktu, begitu kau berupaya menawarkan dendamku.Aku belum bisa menerima bujukanmu itu. Tapi, baiklah kudiamkan saja dulu galau penolakan dari dalam hatiku. Belasan tahun dikucilkan di dalam sel penjara bisa kutanggungkan, mengapa memendam rasa aku tak kuasa.Tadi pagi aku bangun dengan perasaan yang lain sama sekali. Dalam empat-

puluh tahun belakangan ini, tak pernah aku memiliki perasaan sebegitu riang. Membanding-banding, aku teringat bagaimana rasanya pada saat aku melahirkan anakku dulu. Ngeden yang mencemaskan berakhir dengan ketenteraman hati begitu melihat Tatiana yang merah rebah di sampingku. Rasa-rasanya seperti itulah kebahagiaan yang membendung perasaanku sekarang.Aku mengenakan pakaian terbaik. Duduk mengiringi naiknya matahari pagi. Bertambah nyaman rasanya di beranda sesempit ini ketika daun-daun kering berlarian menyentuh ujung-ujung kuku kakiku. Kemarin, ketika aku pulang dari kantor kelurahan, mengambil kartu tanda pendudukku, sudah kupuaskan sepuas-puasnya mata dan hatiku dengan KTP yang baru ini. Rasanya, keterangan diri yang mungil, dan dibalut plastik mengkilap itu, telah memberikan kegembiraan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan hari ketika aku digelandang keluar dari Pelatungan, lebih dua puluh tahun yang lampau. Kalau kuingatingat, tahulah aku bagaimana kebahagiaan begitu cepat kehilangan semaraknya dalam perjalanan waktu yang panjang. Ah, senangnya mengamat-amati KTP ini.

Permukaannya yang mengkilap. Membersitkan kebanggaan. Aku seperti telah menemukan harga diriku kembali. Dunia di luar diriku kini telah menempatkan aku kembali sebagai warga biasa. Lihatlah, namaku ditulis dengan ejaan yang benar. Dengan huruf-huruf hitam yang rata. Pastilah dia diketik dengan menggunakan komputer. Mesin kejayaan manusia yang baru. Bukan mesin tik tua. Dia begitu ringkas sebagai pernyataan kehadiran seseorang di dalam masyarakat. Memang, ada yang mengatakan kartu ini adalah salah satu bentuk pelanggaran terhadap hak-hak mendasar manusia. Hak bergerak bebas. Karena KTP merupakan perangkat kekuasaan untuk mengamati gerak-gerik warganya. Orang jadi tak bisa bebas bergerak tanpa ada mata yang mengawasinya. Sama dengan sapi yang harus membawa cacat yang ditinggalkan besi merah yang ditancapkan di punggungnya ke manapun dia merumput dan memamah-biak. Tapi, aku tidak termasuk yang hanyut dalam sikap seperti itu. Karena aku memang seorang wanita yang terbuang bersama ribuan orang lain yang senasib. Kalau KTP ini dianggap sebagai kebejatan penguasa, apalagi yang akan dikatakan begitu melihat simbol yang diterakan di pojok kartu ini? Tiga huruf yang menyengsarakan, mematikan...Besarnya kartu ini hanya tiga jari. Tetapi, betapa sempurna kelegaan hati yang diberikannya. Di pojok kanan atasnya sudah tidak tertera

hukuman yang harus kupikul sampai pun aku berangkat ke liang lahat: ETP, eks tahanan politik. Masih kuingat, tanganku gemetar ketika menyerahkan KTP lama kepada orang kelurahan. Aku merasa noda yang dilekatkan pada diriku seperti sudah ditempatkan di dalam perahu perlambang dosa, dan sudah dilepas ke laut yang dalam. Aku tidak sendiri menjalani nasib seperti ini. Dan tak bisa kau bayangkan betapa tertekannya perasaan dipencilkan seperti itu. Bukan aku saja yang harus melata karena cap itu. Juga anak-anakku. Pintu tertutup buat kami untuk memasuki kehidupan yang normal. Kami semua benar-benar menjadi paria karena cap yang melekat di pojok tanda pengenal itu. Lebih dari dua-puluh tahun aku mengantungi hukuman itu. Hanya karena aku seorang istri.Aku tak tahu apa kesalahan yang dilakukan suamiku menjelang bencana tahun 1965, sehingga dia harus dilenyapkan. Dan istrinya, anakanaknya yang masih merah, harus menderita. Padahal aku hanyalah seorang istri. Dan buatku, suami adalah seseorang kepada siapa aku berbagi. Naluri mengajari aku untuk setia pada kodrat fisikku, untuk mendekatkan anak-anak pada kedewasaan. Aku tidak dengan sengaja menjauhi gelanggang politik. Aku hanya tidak tertarik. Kupikir aku telah memberikan sumbangan yang besar kepada cita-cita suamiku, apabila aku bisa memegangi tangga kalau dia hendak menjangkau buku yang terletak di deretan teratas dari rak bukunya. Bisa membersihkan kaca-matanya sementara dia mandi. Dia sendiri sudah merasa puas kalau aku mau turut diajak ke kantornya. Terkadang, dia mengiming-iming akan mampir membeli masakan Tionghoa kesukaan kami dalam perjalanan pulang dari kantornya. Sesungguhnya, aku malu untuk mengatakan bahwa dia tetaplah seorang yang hangat, walaupun politik telah mengambilnya dari sisiku.Ketika aku ditanyai berbagai interogator militer sejauh mana keterlibatanku dalam kegiatan suamiku itu, aku jawab bahwa aku hanya menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya, menulis editorial di koran yang dia pimpin. Dengan rasa bangga kukatakan bahwa dia tak pernah kehilangan kata-kata ketika berhadapan dengan mesin tiknya. Masih kuingat, beberapa kali aku dipanggilnya supaya mendekat, dan meminjam penitiku untuk mencongkel daki yang melekat di huruf-huruf mesin tik. Cuma meminjamkan peniti, dan aku harus menerima nasib sebagai orang buangan selama tiga-belas tahun. Para penyelidik itu tidak percaya bahwa aku hanya sekadar menemani suamiku mengetik editorial koran. Aku hanya duduk menunggu suamiku yang sedang

menulis. Duduk sambil merenda. Kadang-kadang aku ditemani adik iparku. Tetapi, mereka tidak percaya. Dan mereka berharap aku akan berkhianat terhadap suamiku kalau aku disekap sampai ke ujung zaman. Dengan berbuat begitu, mereka malah telah memberikan pelajaran yang baik bahwa kejujuran tak punya tempat berlabuh dalam kezaliman yang mereka puja.Kembali kutatapi KTP yang baru kuterima ini. Wajahnya yang licin bersih. Lihatlah manisnya coat of arms dengan garis-garis merah di pojok kirinya. Aku merasa memperoleh kebebasan yang kedua kalinya setelah beberapa kali kuyakinkan mataku bahwa tiga huruf kapital yang hitam dan buruk itu sudah disingkirkan dari pojoknya. Sanak famili yang cemas-cemas harap datang merubung ketika aku pulang dari Pelatungan. Kini, aku hanya sendirian merayakan kebebasan ini. Ditemani daun-daun kering yang menggamit-gamit ujung jari kakiku.Tiba-tiba daun pintu berderak di belakangku. Dan sebuah pertanyaan menghentikan monologku dalam diam."Sedang apa, Bu?," tanya Tatiana. Aku tidak hanya kaget, tetapi juga malu. Tanganku tak lepas dari KTP.Berderai kedua tangannya memelukku dari belakang. Memberikan kecupan persis di ubun-ubunku yang disaput uban yang tipis-tipis. Begitulah caranya membujuk hatiku.Perilakunya itu membuat jariku tergerai, dan matanya menangkap apa yang telah membuat perubahan besar dalam diriku pagi ini. Aku sambut tangannya. Mata Tatiana bolak-balik dari mataku ke KTP yang tergeletak membujur di tapak tanganku. Dia berlutut sembari terus melihat kartu yang alit itu. Seperti tak percaya pada apa yang terpantul ke matanya. Mulutnya agak ternganga. Jari-jari tangannya memagari bibirnya. Meskipun tidak dia ucapkan, aku tahu dia terperanjat melihat pojok KTP itu bersih, begitu murni, begitu membebaskan, dan terang sebiru laut. Aku tahu, jauh di dalam hatinya, dia sedang bertarung dengan pertanyaan bagaimana tiga huruf yang jahat itu sudah tidak nongkrong lagi di pojoknya yang buruk. Huruf-huruf yang juga telah membuat dirinya sebagai tidak ada, walaupun ada. Begitu lama dia meletakkan hatinya pada secarik kartu yang membawa keajaiban itu. Dia tetap berlutut, memegangi dengkulku. Dia seperti baru keluar dari terowongan yang gelap dan panjang. Dan dia menikmati pesona cahaya yang mengapung di depan, yang ditebarkan KTP itu. Tapi, dia cuma diam. Tak berkata barang sepenggal. Membisu seribu laut.Kuceritakan kepadanya mengenai keberangkatanku ke Solo beberapa waktu yang lalu. Terakhir kali aku pergi adalah untuk menyelesaikan penjualan sebidang

tanah warisan ayahku. Dan uangnya kugunakan untuk menyingkirkan ETP yang terusmenerus mengepung, membelenggu, hidup kami. Kupikir inilah saatnya untuk menebus pembebasan yang terakhir sebelum aku mati. Aku pergi ke kantor kelurahan beberapa kali, sampai aku menemukan orang yang mau membantu menguruskan sampai aku memperoleh KTP yang bersih, di mana noda ETP yang mengejar-ngejar diriku, diri kami, tersingkir. Dan aku mau membayar dalam jumlah berapa saja."Jadi Ibu menyogok untuk KTP ini?!" Tatiana membelalakkan mata.Aku terpaku."Ibu menghabiskan jutaan rupiah untuk ini?! Perbuatan sia-sia...!"Aku tahu dia menahan amarah ketika mengatakan bahwa sogok-menyogok sudah bukan menjadi milik zaman anak-anak muda sekarang ini. Dan tanda penderita lepra yang berlambang ETP itu sudah dihapuskan pemerintah. Gong sudah ditalu. Siksa itu harus diakhiri. Karena Presiden Republik yang sekarang ini, ketika dia masih seorang kiai yang buta dengan hati yang baik setinggi langit, telah diterangi Tuhan pikirannya untuk meminta maaf atas kejahatan yang dilakukan terhadap orang-orang seperti aku ini."Uang jutaan itu kan bisa dijadikan Mas Jati modal berjualan. Mbak Rin bisa membuka toko obras. Mbak Win bisa melanjutkan sekolahnya. Mas Awang bisa membuka bengkel... Bisa... bisa... Ibu telah melakukan sesuatu yang tidak perlu. Sesuatu yang percuma..." Tatiana seperti meratap. Dia anakku yang paling bungsu. Aku tahu hatinya luka, sangat terluka.Aku cuma diam. Terasa jarinya seperti tak mau melepaskan lututku. Aku tahu, di dalam hati dia meratapi kebodohanku. Tapi, aku tak menyesal. Takkan.Bertahun-tahun aku menanti sejak para penguasa mengumandangkan ETP itu tak diperlukan lagi. Tetapi, hukuman yang batil itu masih saja menghantu di pojoknya. Momok itu tetap berjagajaga di sudut KTP-ku. Sampai tanganku sendiri yang harus mengenyahkannya dari situ. Kalau tidak, berapa dasawarsa lagi aku harus meringkuk di kungkungan? Waktu telah mengajariku bahwa siapa pun tak bisa membuat kata-kata menemukan kenyataan yang dijanjikannya. Aku tak bisa menunggu. Kepercayaanku timpas sudah... * **

Para Ta'ziah
Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas, Edisi 03/24/2002 ISTRIKU menelepon, pukul satu malam. Di antara isak tangisnya, aku tahu Maminya meninggal! Mendengar kabar itu kedua anak gadis kami yang remaja, menangis keras! Mendesakku secepatnya pulang ke Malang agar bisa melihat eyangnya untuk penghabisan kali. (Aku selalu tidak pernah siap menerima tangisan kedua putriku). Malam itu juga dengan mobil bersama putri-putriku, kuputuskan berangkat ke Kota Malang agar sampai sebelum lohor, saat pemakaman eyang, anak-anakku.Eyang Sastrowijoyo (mertuaku), sebetulnya sudah lama sakit-sakitan, berusia 78 tahun. (Kesedihan malam ini milik istri dan kedua anak gadisku). Sementara aku sendiri, tibatiba saja ingat ketika Ninil (teman sekuliah), memperkenalkanku pertama kali di rumah besar dan kuno itu dengan Eyang Sastrowijoyo yang dipanggil Mami oleh anakanaknya. Sejak saat itu, aku selalu merasa dia tidak pernah siap menerimaku sebagai menantunya. Aku pemuda desa yang kebetulan sekuliah dengan Jeng Ninil. Orangtuaku petani tebu di Gondanglegi, Malang. Dari keenam saudaraku, cuma akulah yang sarjana. Kakakku yang pertama lulusan SMP dan sampai sekarang masih menjadi petani tebu di desa kami. Sesungguhnya, aku tahu, Eyang Sastrowijoyo kecewa ketika aku serius dengan Ninil. Di sisi lain, dalam waktu singkat ibuku yang ndeso itu ke rumahnya, memperkenakan diri sebagai calon besan! Sulung memelukku. "Papa, lebaran nanti tidak ada Eyang. Pasti tidak enak ya Pa, Eyang itu baik ya Pa, dia suka memanjakan kita dengan memasakkan ketupat komplet, sup buntut." Bungsu menimpali, "Kita bangga ya Pa, Eyang itu kan tetap cantik sampai tua. Eyang kan turunan putri raja, jadi pasti cantik ya Pa." Aku tidak pernah menyukai anak-anakku memuja eyangnya. Ya, sekalipun aku tahu kalau anak-anakku ke desa (ke rumah embahnya), mereka juga sangat menyukai karena rumah kami di desa, tetap seperti bayangan anak-anak, ada gunung, pohon kelapa, pohon rambutan dan mangga yang begitu tinggi, dapur yang tidak ingin dirobohkan oleh ibu kami (sekalipun kami telah membuatkan dapur kering). Namun, aku masih ingat ketika sulungku berusia enam

tahun dan minta minum, Ibu menuangkan air panas dari teko yang bawahnya hitam. Serta-merta si sulung menolak keras minuman itu. Aku tahu betul perasaan Ibu, sekalipun berulang-ulang Ninil minta maaf dan tetap memaksa putri kami untuk meminum air itu. "San, kamu bisa membelikan anakmu minuman di kecamatan. Ada orang yang menjual minuman di sana. Kasihan kalau dia tidak bisa minum selama liburan di sini. Aku sebetulnya juga tahu teko di rumah eyangnya. Kalau panen tebu kita baik, aku ingin membeli teko di Malang, agar anak-anakmu betah tinggal di rumah embahnya." PADA waktu itulah aku baru ingat omongan ibuku, "Le, sebetulnya aku setuju saja kau menikah dengan Jeng Ninil. Orangnya cantik, pinter, dan turunannya priayi. Sebetulnya aku tidak pernah berani memimpikan mendapat mantu seperti itu. Kita kan wong ndeso. Oleh karena itu, tidak mungkin kan kau menyukai Aminah lagi (pacar semasa SMU) sekalipun sekarang dia juga terpelajar dan bisa bekerja sebagai perawat di Puskesmas desa ini." Ya, pada awal pernikahan sampai sekarang, aku merasa tidak begitu bisa masuk pada keluarga Eyang. Aku tidak suka cara mereka makan di meja makan (aku biasa mengangkat kaki kalau makan), aku tidak suka dan canggung kalau harus mengucapkan selamat pagi, setiap kali bertemu! Dan mengapa mereka harus bertukar baju tidur, piyama, hanya untuk tidur! Sebetulnya banyak hal yang tidak aku sukai yang menjadi kebiasaan keluarga besarnya Ninil. Di rumah kami sendiri, pada awal pernikahan, Ninil memang tidak pernah suka dengan cara-caraku yang dianggap kampungan olehnya. Lama-lama, Ninil membiarkan saja apa yang jadi kebiasaanku. Di sisi lain, aku tahu, Ninil dan anak-anakku selalu bahagia jika bertemu dengan saudarasaudara ibunya. Anakku bisa jadi mengikuti budaya ibunya. Sedang aku sendiri, terlampau tua untuk mengubah tata cara hidupku. Jika aku ceritakan hal ini pada Ninil, aku takut Ninil akan tertawa. LANTAS, kendaraan kami berhenti untuk mengisi bensin. Aku takut anak-anakku jatuh sakit. Oleh karena itu, aku mengajak mereka makan. Perjalanan kami masih separuh lagi. Namun, yang ada di sini cuma warung-warung kecil (aku dulu sudah begitu bahagia, bila Ibu mengajakku makan rawon di warung seperti ini). Sulungku berkata, "Dari tadi kita tidak bertemu restoran, Pa."

Lantas Bungsuku bilang, "Saya lapar, apakah kita tidak bisa makan di warung saja? Guru mengaji berkata, sebaiknya kita tidak makan sebelum jenazah Eyang diberangkatkan. Dan Mama kan sudah bilang tadi, jenazah Eyang akan dimakamkan setelah shalat lohor. Semua sudah datang, mereka tidak menunggu Om Dayat di Amerika, Tante Yus yang di Australia." Kami masih mencari-cari restoran, namun kedua anakku rupanya sudah capai dan tertidur. Aku tidak mendengar tangisannya lagi. Ini sedikit melegakan. Jadi, aku bisa dengan lebih tenang menyetir mobil ini. Aku pasti tidak bisa memakai sopir kantor. Peristiwa ini begitu mendadak. Kabar terakhir dari Ninil, Eyang sudah mulai membaik. Namun, enam jam setelah itu kesehatan Eyang memburuk, kemudian meninggal! Aku lihat wajahku di kaca spion, wajah seorang yang kacau, capai, atas meninggalnya Eyang. Tetapi, aku tidak bisa seperti mas dan adik iparku yang lain, terutama Mas Tomo yang kelihatan sangat berduka atas meninggalnya eyang. (Mbaknya Ninil, menikah dengan Tomo, mereka sama-sama dokter. Dan sekalipun bukan dijodohkan, hubungan kekerabatan mereka dekat). Aku tahu, dengan bangga Eyang sering menceritakan menantunya itu kepada orang lain. Lantas, aku masih ingat pas kami menjadi pengantin. Sekalipun Eyang dan keluarga besarnya tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun mereka tercengang melihat kehadiran keluargaku yang datang dengan tiga mobil, baju-baju kebaya brokat dengan warna meriah, kue-kue desa yang dibuat dengan ukuran sangat besar, sikap mereka yang sangat kikuk ketika mengobrol dengan keluarga besarnya Ninil. Aku juga tahu, tante-tante Ninil tertawa melihat keluargaku. Tetapi waktu itu, dengan semangat cinta, Ninil berbisik padaku, "Santoso, aku sayang kamu, jangan peduli dengan sikap tantetante, om-omku." "Seharusnya kau menikah dengan Herman, dia kan masih ada hubungan kekerabatan denganmu, dia juga mencintaimu." Ninil tertawa mendengarkan itu. RASANYA aku ingin memperlambat jalannya mobil ini. Aku tidak tahu, ketika semua bersedih aku merasa biasa-biasa saja. Ya, baru saja aku terima telepon dari mas-mas dan adik iparku (menantu eyang yang lainnya), mereka kelihatan meredam tangisnya di handphone-ku, bilang kepadaku berulang-ulang, "Dik Santoso, aku kini merasa betul-betul yatim piatu, kedua orangtuaku meninggal,

lima tahun yang lampau Eyanglah yang kuanggap ibuku sendiri. Sekarang sudah meninggal." Lantas Mas Tomo berkata lagi denganku, "Aku merasa kehilangan segala-galanya, karena Ibu yang kita cintai sudah meninggal." Aku ketakutan, kalau suaraku tidak mencerminkan duka cita. Jadinya, aku cuma bisa bilang, "Ya Mas, ya Mas, kita memang kehilangan orang yang kita cintai." Kedua putriku tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan mulai menangis lagi. "Pa, rasanya kok tidak sampai-sampai. Saya kepingin mencium Eyang untuk yang terakhir. Kita suka mencium Eyang, kan? Eyang selalu wangi. Saya masih ingat, tahun yang lewat Papa memberikan kado parfum kepada Eyang pada hari ulang tahunnya. Eyang senang sekali, lantas menyuruhku membuka dan memakaikan. Waktu kecil Eyang-lah yang mengajarkan bagaimana memakai parfum yang benar." Sesungguhnya, aku tidak pernah membelikan ibuku parfum. Dia tidak butuh itu, yang dibutuhkan uang untuk membeli pupuk tebu kami. Tentu saja, ibuku tidak pernah berulang tahun. Beliau tidak pernah tahu tanggal kelahirannya. Sulungku berkata, "Pa, waktu lebaran yang lewat, Eyang bilang, rupa kita mirip tante-tante. Itu kan untung ya Pa, karena wajah saya seperti putri-putri." "Seharusnya mamamu dulu tidak memilih wong ndeso seperti Papa." Kedua putriku melihatku dengan tercengang. "Maaf ya, Nduk, Papa lagi emosional. Tentu saja Mama memilih Papa, kan mantan pacar." Aku merasa lega, ketika kedua putriku tersenyum, "Ya Pa, Mama kan sama Papa pacaran, jatuh cinta ya Pa, tetapi apakah kita bisa memotong jalan agar bisa cepat sampai ke rumah Eyang." "Kita coba saja. Tetapi, ada restoran yang buka di sana, masih mau makan?" Kedua putriku menggeleng kuat-kuat. Dan Bungsu mengusulkan, "Kalau ada roti, air mineral, kita beli sajalah Pa, kita bisa makan di mobil kan. Saya takut kalau service restoran itu lambat. Apakah Papa juga sayang sekali sama Eyang?"

Gusti, aku tidak berani menatap wajah kedua putriku. "Papa memang sayang, tetapi perjalanan ini harus kita tempuh dengan mobil. Kalau dengan pesawat, baru besok kita bisa berangkat. Belum tentu bisa sampai sebelum lohor." Putri sulungku memotong, "Maksudnya begini lho Pa, Papa kan juga sayang sama Eyang." "Ya tentu, Papa sayang sama Eyang. Kamu tahu sendiri kan, kalau kita ke sana pasti dibikinkan makanan kesukaan Papa." Jawaban itu memuaskan putriku. Setelah makan roti, mereka kelihatan tidur kembali. Aku tidak pernah tahu berapa banyak suami yang tidak menyukai keluarga istrinya. Aku juga heran mengapa pada saat meninggalnya Eyang, semua yang seharusnya tidak kupikirkan muncul bertabrakan. Aku dan mertuaku tidak pernah saling mencintai, tetapi kupikir akhir-akhir ini kami mencoba untuk saling menghargai. Aku mungkin bukan mas Tomo yang bisa mencintai mertuanya seperti orangtuanya sendiri. Aku kira Eyang yang sudah berada di alam sana sangat tahu kami berdua mencoba untuk menjadi teman. Sekalipun pertemanan kami tidak selalu berhasil! Mungkin Eyang lebih tahu dari aku bahwa kita sebetulnya hidup di dunia dengan atmosfer berlainan. Bertemu dengan Ninil adalah bertemu dengan atmosfer lain. Selama ini kalau aku bisa jujur, sesungguhnya aku benci dengan tata cara Eyang dan keluarga besar mereka. Malam ini sepertinya aku bisa mengobrol dengan arwah beliau, aku merasa dia berbicara seperti ini, "Le, kita seharusnya saling memaafkan. Sebetulnya kita tidak perlu saling membenci. Pada akhir-akhir tahun perjalananku, aku berpikir, ini kesalahan kita bersama karena kita memang berbeda dan takut pada perbedaan itu! Le, ketika aku berusaha membuatkan makanan kesukaanmu, aku berpikir ingin mencintaimu sekalipun kita berada di dua jagat yang berbeda. Dan mungkin ini tidak akan pernah berhasil. Namun, kita tidak perlu lagi saling membenci, kan? Aku juga tahu ini sulit bagimu Le, tetapi di alamku kini aku baru tahu tidak ada yang terbelah-belah. Yang ada cuma satu, cintaNya kepada kita." Setelah upacara penguburan selesai, kupeluk istri dan anak-anakku. Aku merasa inilah ucapan paling jujur sepanjang usia pernikahanku. "Aku dan Eyang akan terus belajar untuk saling mencintai." Malang, 8 Februari 2002

Waktu Nayla
Djenar Maesa Ayu Sumber: Kompas, Edisi 03/31/2002

NAYLA melirik arloji di tangan kanannya. Baru jam lima petang. Namun, langit begitu hitam. Matahari sudah lama tenggelam. Ia menjadi muram seperti cahaya bulan yang bersinar suram. Hatinya dirundung kecemasan. Apakah jam tangannya mati? Lalu jam berapa sebenarnya sekarang? Nayla memeriksa jam di mobilnya. Juga jam lima petang. Jam pada ponselnya pun menunjukkan jam lima petang. Ia memijit nomor satu nol tiga. Terdengar suara operator dari seberang, "Waktu menunjukkan pukul tujuh belas, nol menit, dan dua puluh tiga detik." Lalu manakah yang lebih benar. Penunjuk waktu atau gejala alam? Nayla menambah kecepatan laju mobilnya. Kemudi di tangannya terasa licin dan lembab akibat telapak tangannya yang mulai basah berkeringat. Ia harus menemukan seseorang untuk memberinya informasi waktu yang tepat. Tapi jika Nayla berhenti dan bertanya, berarti ia akan kehilangan waktu. Sementara masih begitu jauh jarak yang harus dilampaui untuk mencapai tujuan. Nayla sangat tidak ingin kehilangan waktu. Seperti juga ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melakukan banyak hal yang belum sempat ia kerjakan. Namun Nayla pada akhirnya menyerah. Ia menepi dekat segerombolan anak-anak muda yang sedang nongkrong di depan warung rokok dan menanyakan jam kepada mereka. Tapi seperti yang sudah Nayla ramalkan sebelumnya, jawaban dari mereka adalah sama, jam lima petang. Hanya ada sedikit perbedaan pada menit. Ada yang mengatakan jam lima lewat lima, jam lima lewat tiga, dan jam lima lewat tujuh. Nayla semakin menyesal telah membuang waktu untuk sebuah pertanyaan konyol yang sudah ia yakini jawabannya, yaitu jam lima petang. Berarti benar ia masih punya banyak waktu. Sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah menjadi abu. *** ENTAH kapan persisnya Nayla mulai tidak bersahabat dengan waktu. Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintai dalam kegelapan. Siap

menghunuskan pisau ke dadanya yang berdebar. Debaran yang sudah pernah ia lupakan rasanya. Debaran yang satu tahun lalu menyapanya dan mengulurkan persahabatan abadi, hampir abadi, sampai ketika sang pembunuh tiba-tiba muncul dengan sebilah belati. Sebelumnya Nayla begitu akrab dengan waktu. Ketika cincin melingkar agung di jari manisnya. Ketika tendangan halus menghentak dinding perutnya. Menyusui. Memandikan bayi. Bercinta malam hari. Menyiapkan sarapan pagipagi sekali. Rekreasi. Mengantar anak ke sekolah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Memarahi pembantu. Membuka album foto yang berdebu. Mengiris wortel. Pergi ke dokter. Menelepon teman-teman. Berdoa di dalam kegelapan. Doa syukur atas kehidupan yang nyaris sempurna. Kehidupan yang selama ini ia idam-idamkan. Kala itu, waktu adalah pelengkap, sebuah sarana. Mempermudah kegiatannya sehari-hari. Menuntunnya menjadi roda kebahagiaan keluarga. Mengingatkan kapan saatnya menabur bunga di makam orang tua, kakek, nenek dan leluhur. Membeli hadiah Natal, ulang tahun dan hari kasih sayang. Mengirim pesan sms kepada si pencari nafkah supaya tidak terlambat makan. Memperkirakan lauk apa yang lebih mudah dimasak supaya tidak terlambat menjemput anak di tempat les. Bercinta berdasarkan sistem kalender, kapan sperma baik untuk dimasukkan dan kapan lebih baik dikeluarkan di luar. Waktu bukanlah sesuatu yang patut diresahkan. Karena waktu yang berjalan, hanyalah roda yang berputar tiga ribu enam ratus detik kali dua puluh empat jam. Gerakan mekanis rutinitas kehidupan. Menggelinding di atas jalan bebas hambatan. Sementara banyak yang sudah terlupakan. Suara mesin tik membahana dalam kamar yang lengang. Riuh rendah suara karyawan di kafetaria gedung perkantoran. Ngeceng di Plaza Senayan. Mengeluh bersama sahabat tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Menampar pipi laki-laki kurang ajar di diskotek. Menghapus air mata yang menitik. Melamun. Membaca stensilan. Makan nasi goreng kambing ramai-ramai dalam mobil di pinggir jalan. Masak Indomie rebus rasa kari ayam. Menatap matahari terbenam. Nonton Formula One atau Piala Dunia di Sports Bar. Menatap mata kekasih dengan berbinar-binar. Bersentuhan tangan ketika memasangkan celemek di paha kekasih dengan tangan bergetar. Menanti dering telepon dengan hati berdebar. Memilih kartu ucapan rindu yang tidak terlalu norak tanpa lebih dulu menunggu hari besar datang dengan dada berdebar. Memilih baju terbaik setiap ada janji dengan pacar

dengan jantung berdebar. Menanti pujian dengan rasa berdebar. Bercinta dengan rasa, jantung, dada, hati, tangan, kaki, payudara, vagina, leher, punggung, ketiak, mata, hidung, mulut, pipi, raga, berdebar. Yang terlupakan adalah waktu yang mengalir dalam lautan debar, samudera getar, cakrawala harapan. *** MUNGKIN Nayla tidak bermaksud dengan sengaja melupakan, ia hanya tidak sadar. Ia hanya pingsan keletihan dan belum jua siuman. Ia hanya terhipnotis bandul jam yang bergerak kiri kanan dan berdetak dalam keteraturan. Membuat raganya beku. Lidahnya kelu. Hatinya membatu. Imajinasinya buntu. Kadang dalam tidur imajinasinya memberontak terbang. Mengepakkan sayap bersama dengan burung-burung dan kupukupu. Mengendarai ikan paus di samudera lepas. Bungy jumping. Arung jeram. Baca komik Petualangan Tintin. Minum teh di atas awan sambil diskusi tentang cerpen Anton Chekov dengan almarhum ayah dan bertanya mana yang lebih mahal antara berlian dengan Fancy Diamond kepada almarhumah ibu. Menjadi Arnold Schwarzeneger dan menggagalkan aksi teroris yang hendak menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center. Menelan biji durian. Makan rambutan. Nonton Cirque du Soleil. Nonton N'SYNC dan dipanggil ke atas panggung untuk diberi kecupan oleh Justin Timberlake. Bertinju dengan Moehammad Ali. Mengalahkan Michael Jordan. Merebut suami Victoria Beckham. Mengedit karya Gabrielle Garcia Marques. Minum sirup markisa. Baca puisi bareng Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Diculik UFO. Punya toko buku kecil di Taman Ismail Marzuki. Melaju kencang ke pusat getaran yang mendebarkan. Tapi mimpi juga terbatas waktu. Debaran itu mendadak buyar ketika terdengar suara ketukan pembantu di pintu luar kamar. Suara kokok ayam jantan. Kicau burung. Kemilau sinar matahari menerobos jendela. Dan suara alarm jam ketika jarum panjangnya menunjuk angka dua belas dan jarum pendeknya menunjuk angka enam. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang menyampaikan bahwa sudah terdeteksi sejenis kanker ganas pada ovariumnya. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang memvonis umur Nayla hanya akan bertahan maksimal satu tahun ke depan. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk sembuh. Suara alarm itu, adalah suara yang menyadarkannya kembali dari pengaruh hipnotis bandul waktu masa lalu, masa kini dan masa depan. ***

MANUSIA sudah menerima hukuman mati tanpa pernah tahu kapan hukuman ini akan dilaksanakan. Karena itu Nayla tidak tahu mana yang lebih layak, merasa terancam atau bersyukur. Di satu sisi ia sudah tidak perlu lagi bertanya-tanya kapan eksekusi akan dilaksanakan. Tapi apakah setahun yang dokter maksudkan adalah 12 bulan, 52 minggu dan 365 hari dari sekarang? Bagaimana kalau satu tahun dimulai dari ketika kanker itu baru tumbuh. Atau satu minggu sebelum Nayla datang ke dokter. Atau mungkin benar-benar pada detik ketika dokter itu mengatakan satu tahun. Lalu berapa lamakah waktu sudah terbuang? Dari manakah Nayla harus mulai berhitung? Mata Nayla berkunang-kunang. Perutnya mulai terasa sakit seiring dengan bunyi dari segala bunyi jam, berdetak keras memekakkan telinganya. Satu, sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu, seratus ribu, sejuta detik mengejar dan mengepung pendengarannya ke mana pun Nayla melangkah. Memaksa mata Nayla menyaksikan lalu lalang kaki-kaki bergegas, suara klakson dari pengendara yang tak sabaran, lonceng tanda masuk sekolah, jutaan tangan karyawan memasukkan kartu ke dalam mesin absen, aksi dorong mendorong masuk ke dalam bus, tubuh-tubuh meringkuk di atas atap kereta api, semua orang tidak mau ketinggalan. Semua orang harus tepat waktu sampai di tujuan. Semua orang tidak lagi punya kesempatan, untuk sekadar berhenti memandang embun sebelum menitik ke tanah. Matahari yang bersinar tidak terlalu cerah. Awan berbentuk mutiara, semar atau gajah. Kelopak bunga mulai merekah. Kaki anjing pincang sebelah. Semut terinjak-injak hingga lebur dengan tanah. Padi menguning di sawah. Burung bercinta di atas rumah. Semua orang melangkah bagai tidak menjejak tanah. Sejak saat itu, alarm Nayla tidak pernah berhenti berbunyi. *** NAYLA ingin menunda waktu. Nayla ingin mengulur siang hingga tidak kunjung tiba malam. Nayla ingin merampas bulan supaya matahari selalu bersinar. Nayla ingin menghantamkan palu ke arah jam hingga suara alarmnya bungkam. Nayla ingin menunda kematian. Tapi Nayla selalu terlambat. Nayla selalu berada di pihak yang lemah dan kalah akan rutinitas yang tak mau menyerah. Dan ia mulai merasa kewajibannya sebagai beban. Ia mulai cemburu pada orang-orang yang masih dapat berjalan santai sambil berpegangan tangan. Atau orang-orang yang berjemur di tepi kolam renang sambil membaca koran. Ketika, ia tergesa-gesa menyiapkan air hangat, sarapan dan seragam. Berdesakan di antara hiruk pikuk suara dan keringat dalam

pasar. Memastikan pendingin ruangan belum saatnya dibersihkan. Membayar iuran telepon dan listrik bulanan. Memberi makan ikan. Memberi peringatan berkali-kali pada pembantu yang tidak juga mengerjakan perintah yang sudah diinstruksikan. Mengikuti senam seks dan kebugaran. Menjadi pendengar yang baik bagi suami yang berkeluhkesah tentang pekerjaan. Memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan dalam sebulan. Menyimpan kekecewaan ketika anak sudah tidak lagi mau mengikuti nasihat yang seharusnya diindahkan. Dan masih saja ada yang kurang. Masih ada saja yang tidak sempurna. Sarang laba-laba di atas plafon. Terlalu banyak menggunakan jasa telepon. Buah dada yang mulai mengendur. Vagina yang tidak lagi lentur. Terlalu letih hingga tidur mendengkur. Seragam sekolah yang luntur. Kurang becus mengatur keuangan. Terlalu banyak pemborosan. Kurang peka. Kurang perhatian. Kurang waktu.... Waktu... Waktu... Waktu... Waktu...................? Bahkan Nayla merasa sudah tidak punya waktu untuk sekadar memanjakan perasaan. Tidak nongkrong bersama teman-teman. Tidak belanja perhiasan. Tidak pergi ke klab malam. Tidak dalam sehari membaca buku lebih dari dua puluh halaman. Tidak lagi nonton film layar lebar di studio twenty one. Tidak lagi mengerjakan segala sesuatu yang baginya dulu merupakan kesenangan. Nayla mulai merasakan dadanya berdebar. Semangatnya bergetar. Ia ingin menampar suaminya jika membela anaknya yang kurang ajar. Ia ingin ngebut tanpa mengenakan sabuk pengaman. Ia ingin bersendawa keras-keras di depan mertua dan ipar-ipar. Ia ingin berjemur di tepi pantai dengan tubuh telanjang. Ia ingin mengatakan ia senang bercinta dengan posisi dari belakang. Ia ingin mewarnai rambutnya bak Dennis Rodman. Ia ingin berhenti minum jamu susut perut dan sari rapet. Ia ingin memelihara anjing, kucing, babi, penguin, panda dan beruang masingmasing satu pasang. Ia ingin makan soto betawi sekaligus dua mangkok besar. Ia ingin berhenti hanya makan sayur dan buah-buahan waktu malam. *** APA yang sedang mengkhianati dirinya hingga ia merasa sama sekali tidak bersalah atas debaran di dadanya yang begitu memukau? Apa yang sedang memberi pengakuan sehingga ia merasa begitu lama membuang-buang waktu? Apakah hidup diberikan supaya manusia tidak punya pilihan selain berbuat baik? Dan mengapa pertanyaan ini baru datang ketika sang algojo waktu sudah mengulurkan tangan? Mungkin hidup adalah ibarat mobil berisikan satu tanki penuh bahan bakar. Ketika sang

pengendara sadar bahan bakarnya sudah mulai habis, ia baru mengambil keputusan perlu tidaknya pendingin digunakan, untuk memperpanjang perjalanan, untuk sampai ke tujuan yang diinginkan. Nayla memacu laju mobilnya semakin kencang. Memburu kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu...***

Laut seperti Pita Biru
Wildan Yatim Sumber: Kompas, Edisi 04/21/2002

PADA kedua sisi jalan berderet teratur kelapa sawit. Kadang kelapa sawit itu diseling dengan rumah penduduk yang berdinding papan dan beratap seng. Waktu lain mobil lewat pundak bukit yang ditumbuhi semak belukar atau padang lalang. Sebelah kiri jalan, dekat-dekat di atas rimbunan pohon hutan dan di balik unggukan embun, samarsamar tampak membiru Gunung Pasaman. Beberapa kali mobil berpapasan dengan truk besar yang baknya penuh buah sawit atau truk tanki berisi minyak kasar. Sesekali lain kami melewati petani bersepeda. Din membawa mobil menyimpang ke jalan tanah, lalu berhenti di depan sebuah dangau. Sekeliling bertebar kelapa sawit yang batangnya baru beberapa puluh senti dari tanah.Sudah berbuahkah sawitmu ini?" "Yang dekat sini belum. Tapi yang di dalam sana sudah panen pertama bulan lalu." x"Wah, sebentar lagi kau jadi kaya!""Sulit sekali bagi orang macam kita yang hanya punya satu-dua hektar. Buah masuk pabrik dan pemasaran minyak ditentukan oleh toke-toke yang punya kebun ribuan hektar. Banyak petani yang membawa buah sawitnya ke pabrik harus menunggu giliran berhari-hari agar dapat diproses. Alasannya buah sawit mereka sendiri masih bertimbun. Tak sedikit yang membawa truknya kembali lalu membuang isinya ke bawah jembatan.""Kenapa tidak diusulkan kepada pemerintah agar dibangun pabrik baru untuk menampung kebutuhan kalian petani plasma?""Permainan orang kapitalis itu semua, Bang. Yang menyedihkan kapitalisnya itu ada dari negeri jiran. Ayo kita terus." Din melekatkan kaca mata hitam. Tampak matahari menyorot miring dari balik daham belinjo. Mobil bergerak pula. Kini kami lewat jalan yang di masa darurat beberapa kali aku lewati jalan kaki bersama Ayah atau teman untuk sekolah di Talu. Jalan ini disebut "Lebuh Lurus", karena lurus saja sepanjang lima km. Pada kedua sisi jalan berderet kapuk dengan mangkuk isolasi kawat telepon. Di balik deretan kapuk terbentang kebun jeruk yang luas, buahnya yang kekuningan bertebar di celah daunan. Di pinggir jalan antara sebentar tampak dangau beratap lalang, dan pada meja yang

terbikin dari bambu teronggok buah jeruk. Sesewaktu ada mobil berhenti di salah satu dangau itu dan orang berkerumun belanja."Kau coba dulu jeruk sini, dan rasakan manisnya."Din menepikan mobil di depan sebuah dangau. Ia menawar, penjual menimbang dan memasukkannya ke kantung plastik. Lalu kami duduk makan jeruk di bangku panjang yang terbuat dari bambu."Inilah yang disebut jeruk Pasaman. Jeruk sini dipasarkan sampai ke Padang, Bukit Tinggi, Sidempuan, dan Medan."Agak di kedalaman pohonan tampak rumah pemilik kebun yang dikapur putih, bingkai pintu serta jendela dicat merah, dan atap sengnya memantulkan cahaya matahari. Din mengajak berangkat pula sambil kami terus makan jeruk. Kaca mata hitamnya dilekatkan, menunjuk. "Di sana ada jalan ke dalam. Beberapa puluh meter dari situ tinggal Kak Salmah. Ingat siapa dia? Boru Mak Suki 'kan?""Punya kebun jeruk juga dia?""Punya sedikit. Beberapa tahun setelah suami pertama meninggal ia kawin lagi dengan orang sini. Kurang jelas kenapa bisa berkenalan dan tinggal di sini. Suaminya penjahit.""Berapa anaknya sekarang?""Dengan yang pertama dua, dengan yang sekarang juga dua."Teringat ketika masih duduk di kelas 5 di Ujung Gading aku dengar dari Mak Suki bahwa Salmah sudah kawin dengan anak mamak sendiri yang bernama Burhan. Orangtua suaminya berlepau dekat pasar."Mak Suki sendiri di mana sekarang?""Nanti kutunjukkan."Salmah lebih tua dari aku lima tahun. Waktu aku duduk di kelas tiga dan mau menyambung sekolah ke Ujung Gading ia sudah remaja. Aku sering datang ke rumahnya, dan jika ia menyuruh mengambil sesuatu aku senang sekali. Sekali aku pulang kehujanan. Ia berteriak, lalu cepat-cepat melap muka dan kepalaku dengan anduk. Jika ia menumbuk padi dan menampi, tak puas-puasnya aku memperhatikan hidungnya yang bangir, rambut perunggunya yang dijalin dua hingga di pinggang, dan mulutnya yang melengkung indah. Jika ia merasa diperhatikan, ia akan bilang, "Kenapa kau perhatikan terus aku, Tam!" Bagaimanakah tampangnya sekarang? Tentulah tetap cantik. Sayang orang secantik itu jadi istri penjahit!Di suatu simpangan mobil membelok ke jalan lebih kecil. Meski lebih kecil tapi jalan itu diaspal tebal dan rapi. Itulah jalan menuju desaku. Jalan lebih lebar ke kanan menuju Ujung Gading, lalu terus ke perbatasan Tapanuli. Beberapa puluh km dari sana terdapat Kota Natal.Kini mobil berjalan lebih pelan menerobos celah hutan rimba. Dekat-dekat di kanan jalan menjulang bukit barisan dan ketika mobil lewat di persawahan tampak

Gunung Tuleh membiru. Din menepikan mobil di belakang sepasang suami-istri yang mau menyimpang menuju sebuah pondok. Padi di persawahan sini tampaknya sedang berisi. Si suami bertopi pandan, si istri menekukkan kain panjang di kepala sebagai ganti topi. Mereka membalik. Si suami menurunkan pacul dari bahu dan membuka topi."Bo ro ho?" kata si istri dalam bahasa Mandailing. "Ise don?" Mereka menatap aku yang mengikuti Din mendekat."Ini Bang Tamrin," kata Din"Bo! Dot ko? La ilaha illallah!" tukas si suami. Orang Bandung masih ingat rupanya kampung kita!" Kami bersalamsalaman."Berapa hari di sini?" tanya si istri."Besok kembali.""Kenapa sebentar?" kata si istri sambil mengusapi tanganku.Din mengajak ikut pulang ke desa, tapi mereka bilang mau sembahyang lohor dulu di pondok. Kami pun kembali masuk mobil dan melambai. Teringat si suami yang kami salami tadi di masa Jepang pernah agak miring akibat ditempeleng Kempei Jepang. Ia berkeliaran dari desa ke desa sambil menyandang buntil jaring pakaian, persis seperti buntil laskar Gyugun. Persis seperti buntil Gyugun, buntilnya juga berisi sepatu lars, senter, buku notes, dan potlot pendek. Ada anaknya yang sebaya dengan aku yang jadi selapik seketiduran kalau aku pulang libur. Aku pun leluasa membongkar simpanan buku dan majalah bapaknya. Bapaknya seniman. Ia pernah menulis buku roman dan sudah dikirim ke penerbit di Medan. Belum sempat terbit tentara Jepang masuk. Aku respek padanya, dan ketika senewennya kambuh dan anak-anak lain bersembunyi jika ia datang, aku sendiri yang berani menyapanya dan mengajaknya bercakap-cakap. Dia pintar pidato, kata orang ia bakal jadi saingan berat Ir Sukarno kelak jika negeri ini merdeka seperti dijanjikan Jepang. Ketika jadi juga merdeka, sayang ia tidak kemana-mana. Ia hanya jadi pegawai jawatan penerangan di Padang. Mungkin betul akibat tempelengan Kempei dulu ada satu sektor sirkuit sarat dalam otaknya yang korsluit, sehingga ia kurang bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan.Tiba di desa mobil langsung dibawa Din menuju rumah kami di lembah. Ibu rupanya baru mengambil kayu api ke kebun para. Ia mengusapi keringat yang mengucur di kepala dan leher. Kata Ibu, Ayah sedang bekerja di sawah. Din bilang kami akan balik besok pagi, dan habis makan kami akan terus menjenguk Mak Panto di Solo Godang. Mak Panto adalah adik Ibu. Ketika baru diajak makan, tampaknya seperti dapat firasat, Ayah pulang dari sawah. Tampak segar dia habis mandi dan sembahyang lohor. Aku memeluknya rapat-rapat. Terasa kini ia lebih rendah dari aku. Masa kecil dan

tinggal di desa atau di huma dengan dia, menurut perasaanku ia orang berbadan tinggi dan tegap. Sekarang tampak ia jadi kecil dan kurus. Kami makan berempat di meja dapur. Bulu hitam yang lebat masih memenuhi punggung tangannya. Kumis dan berewoknya sudah berhari-hari tak dicukur, dan uban memutih di sana-sini. Ia sudah pensiun sebagai guru SD, tapi masih mengajar satu mata pelajaran di Ibtidaiyah. Teringat masa kecil sekitar rumah kami banyak rumah pondok yang dihuni murid Ayah. Di masa Belanda kudengar ia sudah mengajarkan lagu Indonesia Raya dalam bahasa Arab. Ketika suatu malam Ayah akan membuka rapat organisasi Kepala Negeri datang menyuruh batalkan. Pemerintah takut Ayah dapat mengganggu ketenteraman. Ayah punya banyak buku dan majalah, sebagian besar sudah aku baca. Yang sisa hanya buku dan majalah dalam bahasa Arab dan Belanda. Aku lihat isi lemari-lemarinya kini tinggal yang berbahasa Arab dan sudah pada lapuk. Tentulah semua buku dan majalah yang berbahasa Melayu sudah habis dipinjami dan tidak dikembalikan.Sebelum berangkat aku pergi ke belakang rumah. Cepat-cepat aku coba raup kembali masa kecil ketika tinggal bersama ayah-ibu dan adik-adik di kampung-halaman. Dari bawah pohon kepundung tampak terbentang sawah. Pada berbagai tempat di tengah persawahan itu ada tumpukan pohon dan dangau menyembul dari situ. Gunung Tuleh menjulang dekat-dekat, dan batang pohon menyembul memutih di celah kehijauan. Terdengar suara dendang kawanan siamang, dilatari oleh desah sungai yang kadang keras kadang pelan dibawa angin. Suara itulah dulu tiap hari menemani aku jika sedang berada di sini. Di kebun samping rumah tidak begitu banyak yang berubah. Pohon sirsak, nangka, dan salak, masih yang dulu, dan tidak begitu banyak lebih tinggi dari masa aku kecil.Aku kembali ke depan. Rupanya Ayah ikut ke mudik. Aku persilakan dia duduk di sebelah Din. Tampak kasar jemari ayah. Kukunya tebal dan ujungnya kehitaman karena sering kemasukan lumpur. Kain sarung disampirkan di bahu. Ingat ketika Ayah dan Ibu datang ke Bandung dua tahun lalu Ibu ada menyiratkan alangkah bagus jika bisa naik haji sebelum terlalu tua. Siratan itu tentu untuk mengharapkan bantuanku sebagai anak sulung, sebagai anak yang paling banyak dan paling lama dikirimi uang sekolah ke rantau, dan sebagai anak yang kini sudah jadi pegawai tinggi pula. Mereka tak mengerti kenapa pegawai tinggi di negeri ini selalu bergaji rendah.Tiba di jalan besar ada beberapa orang tua duduk mencangkung mengobrol di bangku

panjang depan rumah, dan ketika melihat Din mereka melambai. Sesewaktu mobil ditepikan, kami turun, dan menyalami orang-orang. "Sedang di sini rupanya beliau, Labai," kata mereka, sambil melihat aku yang berdiri di samping Ayah.Beberapa lama mobil lewat kebun para, pada beberapa tempat merimbun pohon kejai. Kejai adalah sejenis beringin. Sebelum para, kejai ini dikebunkan penduduk sebagai sumber karet. Sebelum kejai sebetulnya ada sumber karet lain, yaitu perca. Bibit ketiga jenis pohon berlateks ini konon dibawa orang Belanda dari Amerika Selatan. Kebun para itu tampak sudah pada tua, karena bendar-bendar sadapan getahnya sudah dekat ke tanah. Rupanya penduduk sedang bimbang untuk meremajakan atau menggantinya dengan kelapa sawit. Kasihan kebun para itu. Mungkin karena sejak kecil aku sudah biasa bergaul dengan mereka, sayang rasanya jika itu digantikan kelapa sawit. Di hilir tadi, sekitar 30 km dari desa sawit itu sudah diperkebunkan sejak masa Belanda, dan pekerjanya didatangkan dari Jawa. Aku juga pernah melihatnya sepanjang pinggir jalan antara Medan dan Prapat. Aku belum pernah dengar ada penduduk Sumatra yang bisa kaya oleh kebun sawit. Beda sekali dengan kebun para, yang di masa Belanda hampir semua membuat rakyat makmur. Apalagi di musim kupon karet dibuka, kebanyakan petani karet dapat uang banyak. Waktu pasar kupon itu banyak mobil mewah datang ke desa, dan para petani saling menraktir membelikan kacang goreng atau kue bagi anakanak yang berkerumun. Tapi kelapa sawit, aku belum pernah dengar ada petani yang jadi hidup senang, apalagi jadi kaya. Dalam hati aku berharap agar kebun para itu tidak akan digantikan kebun sawit, dan pohon kejainya tetaplah menjulang meneduhi alam desa.Sekitar seperempat jam meninggalkan desa Din menunjuk ke kiri. "Nanti pulangnya kita mampir beli durian," katanya. Sepuluh menit kemudian sampailah kami di kampung Mak Panto. Rumahnya bertiang tinggi, lantai dan dinding dari papan, dan atapnya seng. Buru-buru tikar dibentangkan, dan Mamak diberi baju bersih, lalu dibawa duduk di ujung tikar."Ini Tam datang, Mak! Ayah kami juga ikut," kata Din. Kami pun menyalami dia, istri, dan tiga orang anaknya yang sudah pada beristri. Uci, istri mamak, bilang anaknya yang sulung tinggal di kampung lain. Aku mendengar Mak Panto kini jadi rabun ketika aku baru tiba di Padang untuk menghadiri kongres. Sambil pulang menengok orangtua kuajak Din menengok mamak sebentar. Jalan adik yang jadi dokter di kota itu pun meminjamkan mobilnya. Aku ingat Mamak berjasa besar bagiku pribadi,

karena malaikat pernah masuk kedalam tubuhnya untuk menolong aku yang sedang dilanda lapar. Waktu itu kedua orangtua dan saudara-saudara sedang mengungsi ke gunung dengan berhuma. Aku sendiri saja yang tinggal di desa sepanjang bulan, karena sedang sekolah. Meski umurnya enam tahun lebih tua, tapi aku suka dibawanya bepergian ke mana-mana. Jaga durian waktu malam, main domino di lepau, dan mencari buah manggis, duku, atau ringkanang ke hutan. Badannya besar dan tinggi, berkulit kuning seperti Ibu. Waktu Jepang pernah dipanggil masuk tentara Heiho. Entah kenapa baru sekitar dua bulan pergi ia sudah kembali lagi. Kata Jepang matanya kurang bagus untuk dilatih pergi berperang.Kini kuperhatikan matanya yang menatap kosong. Selaput beningnya ditutupi lapisan berlemak, yang dalam bahasa ilmiahnya disebut pterygium. Jika dioperasi di Medan kata mereka matanya bisa melihat lagi. Tapi mereka tidak punya biaya, dan aku yang pernah diselamatkan jiwanya olehnya tidak bisa membantu. Kurangkul dia, matanya berkaca-kaca, lalu kuselitkan selembar sepuluh ribuan ke tangannya. Ketika uci bilang supaya masak nasi dulu, kubilang tak usah. Lalu kami pamit.Di tempat yang ditunjuk Din tadi mobil pun ditepikan. Kami melangkah pada jalan setapak yang kedua sisinya berpagar. Di balik pagar menjulang rumpun jagung yang sedang berbuah muda. Rambut buahnya berjuraian seperti rambut perempuan Belanda. Di balik kebun ada sebatang pohon durian, dan buahnya bergelantungan. Waktu kecil aku ingat pohon itu masih rendah. Kini sudah tinggi sekali dan batangnya besar. Kami disongsong seorang bapak yang umurnya lebih muda beberapa tahun dari Ayah. Ia tidak berbaju, hanya memakai celana sontok yang lusuh. Setelah menyalam Din dan Ayah, ia tertegun menatapku. "Bo ro ho?"Baru ingat bahwa dia tak lain tak bukan adalah Mak Suki, panggilan sehari-hari Mamak Marzuki. Aku terkejut, ia juga terkejut dan agak tersipu. Aku menyalami, badannya kutarik lalu kupeluk. Ia menepuki punggungku. Istrinya datang dan menyalami pula. Segera teringat Salmah yang jadi istri penjahit di kebun jeruk. Mak Suki bergegas naik pondok lalu keluar dengan baju bersih dan bersarung. Gigi mamak dan uci sudah banyak yang tanggal. Aku berharap gigi Salmah belum begitu."Berapa lama di kampung? Besok kembali ke Padang? Lalu terus pulang ke Jawa? Uh, janganlah ikut-ikutan terburu dengan Din. Ia sendiri hampir tiap bulan datang ke sini. Tapi Mamak antara beberapa tahun baru bisa pulang. Sudah ada lima tahun kan? Tinggallah beberapa hari di

sini!"Mak Suki membuka dua durian sekaligus. Kami duduk di bangku panjang di depan pondok. Rupanya di pondok itulah Mak Suki tinggal. Semua anaknya tinggal di hilir, dan hanya berdua dengan uci tinggal di sini. Kami pun makan durian. Inilah jenis durian yang berdaging tebal, kuning, dan lezat. Tiap membuka satu ruang tampak deretan bijinya seperti anak tikus tidur.Di tempat duduk mendadak aku terpana ketika memandang ke barat. Di sana tampak laut seperti pita biru di atas kehijauan hutan. Sesekali angin menderu di pucuk pohon para, dan mendesah lebar di lembah. Ada tekukur berteguran jauh di tengah hutan sana. Aku merenungi laut itu sambil mulutku mengecap-ngecap. Dari sini sampai ke tepi laut berjejer bukit yang makin jauh makan rendah, seolah semua itu bisa ditempuh dengan melangkah panjang-panjang dan beberapa puluh menit akan tibalah di sana. Kini aku pun sadar bahwa itulah pelukisan lanskap ilahi, bahwa perjalanan hidup seseorang kebanyakan tak sesuai dengan harapan. Laut itu sendiri adalah ujung rantau yang mengendapkan onggok hasrat tak sampai.Selesai makan duren kami pun pamit dan kuulurkan uang Rp 5.000. Mak Suki menolak dengan menggeleng-geleng berat. Uang itu aku letakkan di bangku panjang. "Itulah ganjaran orang yang suka judi dan banyak utang," kata Din, lalu melekatkan kaca mata hitam. Ayah diam saja. "Rumah besar di hilir dijual, dari saudagar kain kaya jadi petani jagung miskin."Teringat jika datang berpekan ke Ujung Gading dan menyampaikan uang belanja mingguan dari Ayah, ia selalu menambahnya beberapa rupiah. Sebagai layaknya kaya aku lihat ia selalu muncul dengan sepatu mengkilat, sisiran klemis, dan bicara riang.Dari jendela mobil aku masih sempat melihat sekali lagi laut yang seperti pita biru di barat. Di atas pita biru itu awan kini seperti corat-coretan potlot merah jingga.***

Jl Kembang Setaman, Jl Kembang Boreh Jl Kembang Desa, Jl Kembang Api
Kuntowijoyo Sumber: Kompas, Edisi 04/28/2002 Samuel Indratma AKAN saya ceritakan kasus rumah bertingkat di Perumnas kami supaya Anda dapat mensyukuri nikmat Tuhan. Bagi orang gedongan katakan, "Alhamdulillah, saya tidak tinggal di Perumnas." Bagi orang yang masih menyewa, "Alhamdulillah, jelek-jelek saya tidak tinggal di Perumnas." Bagi penghuni Perumnas yang lain, "Alhamdulillah, saya tidak tinggal di situ." Bagi para tetangga rumah bertingkat, "Alhamdulillah, semoga saya termasuk orang-orang yang beriman." Begitulah, kami tinggal berderet-deret di Perumnas di Jalan Kembang Setaman (bunga warna-warni dalam jambangan). Kami sangat senang mendapat rumah. Daripada menyewa berpindah-pindah, kami dapat hidup tenang dengan rumah tetap. Meskipun, rumah kami sederhana saja. Rumah dan tanah berukuran 36/80. Pada mulanya berdinding kayu lapis, usuk kayu Kalimantan, dan atap asbes gelombang. Jalan di depan kami juga hanya cukup untuk kendaraan roda dua. Tetapi, kami tidak suka apabila teman seperumnas bergurau, "kami tinggal di peternakan manusia", "kami tinggal di kaleng sarden", atau "kami tinggal di kandang ayam". Saya sendiri selalu membanggakan Perumnas kami dengan menyebutnya sebagai "kota satelit terbesar di pinggir Ring Road Utara". Sesudah dua puluh lima tahun ternyata bahwa nasib orang tidak sama. Tetangga sebelah rumah yang anaknya jadi dosen, lalu sekolah teknik pengairan di Negeri Belanda, kemudian kerja di Bappenas sambil menjadi konsultan di beberapa perusahaan reklamasi laut dan pemborong, sangat kaya. Rumahnya ditingkat, dinding bata dan semen sungguhan, lantai keramik, relief kamar tamu bergambar Arjuna naik kereta dengan kusir Krisna, genteng tanah nomor satu dari Gombong, dan pagar merah dari batu laut. Tentu saja jalanan di depannya tak dapat diubah. Hanya soal listrik tetangga itu sangat pelit, di malam hari kamar-kamar

dimatikan, tinggal satu lampu 10 Watt, melik-melik di kamar utama. Itu pun karena istri serasa dicekik jika dalam kegelapan. Kata anaknya, begitulah gaya hidup orang Belanda, tidak suka membuang-buang. Tetangga sekitar, termasuk kami, memang banyak yang bisa membangun-bangun, tetapi tidak bertingkat seperti tetangga dekat kami itu. Lebih dari itu, mereka juga hemat waktu. Artinya, tidak lagi suka bergaul dengan tetangga. Tertutuplah. Suami tidak rapat RT, istri tidak arisan. SETELAH dua tahunan, rumah bertingkat itu membuat masalah. Tingkat atas bagian belakang yang terbuka adalah tempat khusus untuk kandang-kandang anjing. Kata mereka, menurut pembantu, itu adalah kemauan anaknya. Ada delapn ekor anjing kecil yang lucu-lucu dengan bulu yang sangat tebal. Anjing-anjing itu sebenarnya sama sekali tidak membuat gaduh, sebab suaranya hanya kik-kik-kik lirih. Anaknya bilang bahwa salah satu tanda kemakmuran adalah terdapatnya anjing di rumah. Orang Belanda setidaknya punya satu ekor anjing. Kita sebagai bangsa yang besar harus punya lebih dari seekor, kata anaknya menurut pembantu. Mula-mula perkara anjing itu memang tidak jadi soal. Adalah HAM untuk memelihara anjing atau tidak. Lagi pula semula tidak ada keluhan sama sekali. Namun, lama-lama keluhan datang juga. Keluhan itu justru datang dari tetangga dekatnya yang lain yang notabene tidak menabukan anjing. "Bulunya itu, lho. Bikin kulit gatal-gatal," kata istri dalam arisan ibu-ibu. Tetapi tidak ada protes, tidak ada teguran. Seperti diketahui, kami adalah orang Jawa yang suka kerukunan. Walhasil, tetangga suami-istri itu hanya gedumal-gedumel, omong kesanakemari, dan rasanan. Usul untuk dilaporkan ke RT juga tidak mereka setujui. "Kita harus hidup rukun, 'protes, demonstrasi, dan menuntut' itu bahasa politik, bukan bahasa pergaulan. Orang hidup itu harus tenggang rasa, rasa-rumangsa, tanggap sasmita," jelas suami. Ketika anaknya yang nomor dua kena batuk ah-uh sepanjang hari dan tidak kunjung sembuh baru tetangga yang baik itu memikirkan sindiran yang halus, seperti 'wah anjingnya suka menggaruk-garuk bulu, ya'. Sindiran yang agak tegas, seperti 'pelihara anjing boleh, tapi mbok yaa ingat tetangga'. Atau yang lebih thok-leh, seperti 'anjing-anjing itu suruh berhenti menyebarkan bulu'. Semuanya lewat pembantu, tentu, yang entah sampai entah tidak pada yang empunya anjing. Anaknya

terpaksa dibawa ke dokter. Dokter menanyakan, "Ada kucing di rumah?" "Tidak." "Ada anjing?" "Tidak." "Apa dia suka main dengan binatang berbulu itu?" "Tidak." Lalu dilakukan tes suntik. Ketahuanlah kalau anak itu memang alergi bulu. Disuruh dia mengingat-ingat. Ujungnya, keluar juga jujurnya. "Ya. Memang ada tetangga yang-pelihara anjing, dan bulunya suka beterbangan," katanya. "Itulah, itulah." Dokter memberi resep sambil bilang bahwa yang terpenting ialah menghilangkan penyebabnya. Singkatnya, di luar prinsipnya, ia mengadukan perihal anjing ke Ketua RT. Namun, ada perkembangan baru. Belum sempat Ketua RT bertindak, tetangga yang punya anjing itu memutuskan untuk membuang anjinganjingnya. Ia memberi-berikan anjing pada kawan-kawannya. Mereka mau naik haji. Ha? Benar! Menurut mereka, tidak ada seorang haji pun yang memelihara anjing. Maka kami senang. Mereka berangkat naik haji bersama anaknya dengan ONH Plus. Sebelum berangkat mereka menyelenggarakan open house. "Maafkan kesalahan kami, ya Bapak-Ibu. Kami tahu banyak salah," kata suami mewakili keluarga. "Ya, nol-nol," balas Ketua RT. Pada kesempatan itu banyak yang minta didoakan ini-itu. Istri saya minta didoakan punya cucu lagi. Suami mencatat semua pesanan doa pada selembar kertas. "Semoga jadi haji mabrur, semoga...," kami berdoa. "Amin. Amin." "Semoga dapat hidayah." "Amin." Kami mengantar mereka ke airport karena mereka terdaftar di Jakarta. Kami

saling berpelukan. Ibu-ibu sesenggrukan waktu istri sekali lagi minta maaf. Setelah sampai rumah, saya bilang pada istri, "Paling-paling mereka melambai-lambaikan kertas di depan Ka'bah, 'Ini, Tuhan! Baca sendiri'. Mereka tidak akan punya waktu untuk tetangga, seperti waktu di rumah." "Jangan begitu. Siapa tahu mereka lebih diridhai." CERITA ini yang lebih penting, karena praktis melibatkan seluruh RT. Rumah bertingkat itu memulai babak barunya. Ditinggal haji, rumah itu gelap. Rapat RT memutuskan, supaya dari rumah kami dialirkan listrik 10 Watt. Namun, sepulang haji, mereka tidak kembali ke Perumnas. Logikanya begini. Untuk apa tinggal di Perumnas, kalau engkau mampu hidup di tempat lain? Privacy akan lebih terjamin kalau engkau tinggal di tempat mewah. Maka rumah bertingkat itu pun diiklankan sesuai dengan 'martabatnya'. Diulang. Diulang. Harganya diturunkan. Diturunkan. Tidak juga laku. Rupanya orang kecewa setelah melihat kondisi jalan di depan rumah itu. Mesti orang berpikir, membeli rumah dengan harga mahal itu boleh tapi jangan di Perumnas. Maka, selama belum laku rumah itu dibiarkan kosong-song. Ketika rumah kosong itulah masalahnya mulai. Dalam rapat RT para petugas Siskamling mengatakan bahwa mereka mendengar anak-anak bermain dalam rumah itu. Mula-mula mereka heran, kenapa anak-anak belum juga tidur-padahal hampir tengah malam? Ketika mereka menyadari bahwa anak-anak itu pasti jin yang jadwal mainnya berbeda dengan manusia, bulu kuduk mereka berdiri, dan lari tunggang-langgang. Siskamling yang biasanya berkeliling untuk mengambil beras jimpitan setelah pukul 23.00, mengubah jadwalnya menjadi pukul 21.00 sebab mereka ketakutan. Sedini itu anak-anak jin dalam rumah kosong diperkirakan belum mulai bermain. Ketika mereka juga masih mendengar anak-anak bermain, lalu Siskamling diajukan pukul 19.00. Kemudian rapat RT memutuskan untuk meniadakannya sampai waktu yang belum ditentukan. Bagi mereka yang tidak punya anak kecil, cerita tentang anak-anak bermain tidak mengganggu. Lain dengan kami. Anak kami menitipkan anaknya. Ia teriak-teriak ketakutan setiap malam. Sambil menunjuk-nunjuk

dikatakannya bahwa ada anak-anak menempel di tembok. Untung kami punya teman yang dapat mengusir jin. Kawan itu datang dan memagari rumah kami. Disarankannya supaya sebelum tidur kami membaca-baca Al-Ikhlaash, Al-Falaq, dan An-Naas.

Dikatakannya bahwa ada sekeluarga jin tinggal di rumah bertingkat itu. Ketika kami memintanya untuk mengusir keluarga jin itu dia menolak. Alasannya, adalah hak mereka untuk tinggal di rumah kosong. Meskipun demikian, rumah kami jadi aman dari gangguan mereka. Ternyata apa yang kami kerjakan juga dikerjakan para tetangga dengan cara mereka sendiri-sendiri, "Mosok manusia kalah sama jin!" kata mereka. Seorang tetangga pergi kepada orang pintar. Orang pintar itu menyarankan supaya manusia terhindar dari gangguan jin, jin harus disenang-senangkan dengan membakar kemenyan dan memberi bunga setiap malem Jum'at. Tetangga yang lain belajar ilmu tenaga dalam dan pernapasan. Dengan ilmu itu jin akan merasa seperti terbakar. Tetangga yang lain lagi menyiapkan keris keramat yang dhemit ora ndulit, setan ora doyan, digantung di temboknya. Dan, tiba-tiba muncullah bakat-bakat terpendam di RT. Mereka yang punya sensitivitas memantau pergerakan jin di rumah bertingkat itu. Dalam rapat bulanan RT diputuskan bahwa Ketua RT ditugaskan untuk mencari orang pintar yang mampu mengusir jin. Orang pintar itu datang. "Lho, kok keluarga besar. Ada kakek dan nenek dari ibu dan bapak, ada pakde dan bude dari ibu dan bapak, ada paklik dan bulik dari ibu dan bapak, ada adik-adik dari kedua belah pihak." Setelah ckck dia membuat saran. "Nama jalan jangan Kembang Setaman. Bunga Setaman itu makanan jin. Jadi, mereka berkumpul di sini karena mengira di sini banyak makanan. Nama jalan itu terserah, asal jangan menyarankan makanan jin." Maka RT mengadakan rapat. "Bagaimana kalau nama itu dibalik? Pasar Kembang, misalnya." Pasar Kembang adalah nama tempat. "Onde-onde kembang?" "Bagaimana kalau Kembang Brayan?" Artinya, warna-warni bunga sejenis (artikel, karangan, kumpulan cerita). "Bagaimana dengan Kembang Boreh?" Artinya, sejenis lulur. "Kembang Kacang?" Nama lagu keroncong. Pembahasan untuk memilih berlangsung sederhana, tanpa debat berkepanjangan. Tetapi, dasar orang Jawa, sama-sama segannya untuk berkata tidak. Jalan keluarnya adalah voting tertutup. Itu dianggap yang terbaik, yang tidak menyakitkan hati orang. Setelah dihitung, rapat RT menyetujui Kembang Boreh. Maka kami ramai-ramai menurunkan papan nama. Mengecatnya dengan nama baru: Jl Kembang Boreh. Tentu saja, itu semua dengan harapan jin-jin itu menghilang. Keluarga kami juga diharuskan mengganti lampu biasa dengan neon. Tetapi tidak ada perubahan.

Jin itu bertambah nekat. Malam hari banyak jin perempuan yang mejeng (pamer, menggaya). Suatu malam ada penjual ronde lewat. Beberapa gadis duduk-duduk di depan rumah bertingkat mengundang penjual. Mereka memborong ronde. Wedang ronde yang panas itu dilahap. Penjual curiga. Setelah diamati ternyata mereka tidak duduk di bangku atau kursi, tapi menggantung di udara. Tukang ronde yang malang itu kontan lari, meninggalkan gerobak dagangan. Gadis-gadis itu tertawa hiii-hiii-hiii. Pagi hari sambil mengambil gerobaknya, tukang ronde lapor Ketua RT. RT langsung mengadakan rapat darurat. Ketua RT ditugaskan lagi mencari orang pintar yang cespleng. Maka datanglah orang pintar itu. Setelah memeriksa rumah bertingkat dari jarak jauh ia berkata, "Mereka sudah satu suku." Sarannya sama dengan orang pintar sebelumnya, mengganti nama jalan. Nama diserahkan pada RT, pakai kembang boleh tapi jangan berarti bunga. Rapat RT lagi. Ketua RT menyampaikan pesan orang pintar. Kami berpikir keras, kembang yang tidak berarti bunga. "Kita buang saja kata kembang." "Jangan. Di Perumnas kita pakai nama-nama bunga." "Nah, bagaimana kalau dikromokan. Sekar Langit?" Sekar Langit adalah nama motif batik. "Sekar Sinawur?" Artinya bunga rampai. "Kembang desa?" Primadona desa. Prosedur yang dulu dipakai lagi. Terpilih nama Kembang Desa. Keesokan sorenya kami gotong-royong. Kami turunkan papan nama, kita ganti dengan yang baru. Harapan kami sama seperti dulu. Jin-jin tidak betah lagi tinggal di rumah bertingkat. Mereka akan kecelik, sama sekali tidak ada bunga. Tapi kami keliru. Benar jin tua, gadis, dan anak-anak menghilang, demikian menurut pantauan orang-orang sensitif. Mereka digantikan jin-jin muda karena mengira di gang ini banyak primadonanya. Tidak menemukan seorang gadis pun di gang, jin-jin muda mulai mengembara mencari gadis. Ketua RT dilapori bahwa ada jin yang tinggal di tembok kamar mandi. Itu jin voiyeur. Ada jin suka menghadang gadis-gadis pulang pengajian. Ada jin yang hidung belangnya tidak ketulungan: ia mengganggu neneknenek yang pagi sekali membeli gudeg untuk buyutnya. Malu-lah RT kami. Ketua RT

ditugaskan untuk mencari orang pintar yang lebih pandai. Dia dibriefing mengenai keadaan kami yang runyam. Ia pulang bersama orang pintar itu. Setelah melihat papan nama katanya, "Lha, ini biangnya. Jangan Kembang Desa. Jin yang thukmis (suka wanita), yang iseng, dan yang duda akan datang." "Lalu enaknya apa, Mbah? Kami sudah kehabisan akal." "Pakai kembang, ya. Mmm, bagaimana kalau Kembang Api?" Kami semua suka-cita atas usulan itu. Api akan membakar mereka. Mereka akan ketakutan dan lari. Pujianpujian mengalir untuk orang limpad (cerdas) itu. Kata pepatah-petitih itu memang betul: Ada kemauan, ada jalan. Kami pun mengganti papan nama: Jl Kembang Api. Biar jin-jin kepanasan! Biar, mereka kehausan! Tetapi tidak. Menurut mereka yang sensitif, jin-jin malah berdatangan dari mana-mana. Lho! Iya saja. Jin terbuat dari api. Jadi, mereka merasa kembali ke asal. Tidak ada jalan lain. Tertutup sudah. Jalan buntu. Lalu ada usulan dari seorang mahasiswa yang mondok di RT kami untuk mencari advokat yang mumpuni: kuat secara fisik, pintar ilmu hukum, pandai ilmu dalam, dan bijaksana. Tugasnya ialah menjadi juru runding mewakili RT. Kami menemukannya juga. Maka, malam hari advokat itu menerobos ke dalam pagar. Seluruh RT menyaksikan adegan itu dari kejauhan. Ia duduk berdzikir di teras rumah. Kabarnya dia dapat berhubungan dengan dunia gaib. Setelah kami menunggu sekitar dua jam, kami mendapat kabar tentang hasil rundingan. "Inilah hasil maksimalnya," kata advokat itu. Satu, mereka hanya boleh tinggal di dalam rumah. Dua, mereka tidak boleh mengganggu orang. Tiga, mereka tidak boleh menampakkan diri dalam rupa apa pun. Kami lega dengan perjanjian yang menguntungkan itu. Tetapi, Jl Kembang Api tetap saja sepi di malam hari. Tidak ada ronde teng-teng, tidak ada sate te-satte, tidak ada bakmi duk-duk sreng. Dan orang masih dapat mendengar suara keroncong, nyanyi dangdut, suara klenengan, suara air terjun, suara anak-anak bermain, bayi menangis. Semuanya tanpa rupa! Yogyakarta, 13 April 2002

Perempuan yang Jatuh dari Pohon
Raudal Tanjung Banua Sumber: Kompas, Edisi 06/09/2002 ADA perempuan yang jatuh dari pohon! Itulah kabar yang membuat kampung kami gempar. Kabar menyebar begitu cepat bagai diantar kawanan lebah, sehingga dalam waktu singkat tak ada bagian kampung yang terluputkan. Dan setiap telinga yang kena berita, lebam-membiru bagai tersengat, sementara setiap mulut yang melanjutkan berita itu, berubah menjadi sarang lebah, penuh dengung, tanpa bahasa puji-sanjung; tak sedikit pun madu menetes dari situ. Yang ada hanya kepahitan, menetes-netes dari bahasa kutukan.Duh, betapa tidak! Mengingat perempuan yang jatuh dari pohon, bagi warga kampungku-sebuah teratak kecil di lengkung-pinggang Bukit Barisan dalam ranah Nagari Tujuhsuku Kecamatan Marapalam-dipercaya turun-temurun sebagai sesuatu yang sangatlah aib. Konon, perempuan yang jatuh dari pohon, bila sakit, sakitnya tak akan diobati; bila mati, matinya tak akan disembahyangkan! Betapa malang. Ya, betapa malang perempuan yang kini jatuh dari pohon itu. Pohon apa yang ia panjat, dan mengapa harus memanjat? Buah apa yang telah menggoda sehingga terguncang imannya? Dan mengapa harus memanjat, tak cukupkah dijuluk pakai panggalan? Jika panggalan atau pengaitnya patah atau tak sampai, mengapa tak minta bantuan laki-laki saja untuk memanjatnya? Hari apa ia jatuh? Selasa? Siapa gerangan orang tuanya-yang lalai menjaga anak perempuan-dan siapa namanya sendiri? Namanya Hindun, kawan bermainku sejak kecil (mendengar ini, aku tercengang dan merinding; masyaallah!). Ayahnya sudah meninggal menjelang ia remaja, dan makamnya masih terjaga di bawah pohon cengkeh dan pala, di sebidang ladang yang tenang-tempat Hindun tinggal hingga sekarang. Tiga orang kakak Hindun, laki semua, dan entah sejak kapan tepatnya, satu-persatu pergi meninggalkan kampung-pasti bukan di hari Selasa. Merantau, sebagaimana orang di kampung kami berkebiasaan. Bukankah kami memegang filosofi tentang burung bangau yang terbang tinggi? Tapi, ah, anak lelaki, begitu bebas menentukan langkah kaki! Hanya perempuan yang senantiasa bernama penantian. Seperti Hindun dan ibunya, menunggu, mungkin pula

tidak menunggu. Bukankah mereka pun mampu menentukan hidup sendiri? Begitulah. Hindun dan ibunya memutuskan untuk tetap tinggal di ladang, di atas rumah pondok yang sederhana, meski di koto (pusat kampung) mereka masih punya sebuah rumah tua, mereka biarkan lapuk telantar. Hanya pada pekan-pekan tertentu saja Hindun dan ibunya berkunjung ke rumah itu, itupun jarang bermalam. Tampaknya tinggal di ladang bagi mereka berdua sudah menjadi pilihan. Selalu saja ada alasan untuk menjaga makam suami atau ayah, sekaligus merawat ladang kenangan. Meski sesungguhnya pula, tak ada lagi yang terlalu bisa diharapkan dari ladang. Banyak ladang di sekitar situ sengaja ditinggalkan pemiliknya, dan mereka beralih menjadi pekerja sawah, pekerja tambang, atau mencari damar dan rotan ke hutan-rimba. Tak apa. Setidaknya, dengan tinggal di ladang, sayur-mayur tak hendak membeli. Ditanam sendiri sudah cukup untuk makan. Asal ada beras, urusan makan beres. Itulah yang selalu diucapkan Hindun padaku, bila kami bertemu di pasar. Maklum, aku penjual barang kelontong yang berkeliling dari pekan ke pekan, sedang Hindun biasanya membawa sayur-mayur. Kami kerap makan bareng di kedai sate Mak Etek bila pasar usai. Saat-saat seperti itulah aku bisa memandang Hindun yang di mataku tak kepalang cantik. Maklum mata bujangan. Apalagi, ia lumayan cerdik. Matanya yang agak bulat besar akan gampang terlihat berbinar bila sudah bicara tentang banyak hal. Tak jarang ia cekikik, yang di kampung kami tentu saja dapat dianggap kurang baik. Perempuan jangan ketawa cekikik, senyum dikulum pasti lebih manis, itu pesan yang tak boleh diremehkan. Tapi Hindun peduli apa? Ia tetap saja tertawa terpingkal, membuka mulutnya agak lebar, tak peduli sekelilingnya akan melotot tak senang. Anehnya, justru sikap bebas dan maunya sendiri itulah yang kerap memunculkan rasa kagum dan ketakjubanku padanya. Di samping tentu, hidungnya yang bangir, rambutnya berombak-panjang. Dan yang paling sering mencuri perhatianku tak lain betisnya yang ramping, bentukan alam pebukitan yang bergelombang. "Biarlah kami tinggal di ladang, merawat tanaman yang masih tersisa, sekalian menjaga makam ayahku," kata-nya jujur. Kutahu, ia memang sangat mencintai ayahnya, sebab sang ayah juga sangat menyayanginya. Konon, ketika hidup, ayahnya lumayan memberi kebebasan padanya.

"Niatmu sih baik, tapi usiamu, Hindun...," bisikku usil, merujuk pada gadis seusianya yang biasanya sudah dipinang orang. "Tak mengapalah! Kalau memang ada yang tertarik meminang, mengapa harus mempersoalkan aku tinggal di ladang? Berhelat di ladang juga bisa, yang datang malah bisa macam-macam; kera, beruang, celeng..." maka ia pun tertawa sesukanya. Tak terpikirkan, bahwa di kampung kami perempuan baru akan dilamar orang bila sudah tinggal di rumah sendiri, di dalam kampung. Bukan di pondok ladang. Sebaliknya Hindun malah berfikir tentang hidup; tinggal di ladang ada saja yang akan dipetik dan dijual setiap pekan... Meski apa yang diyakini Hindun tidak persis demikian. Semenjak kemarau panjang dan cengkeh mati bujang, harapan itu tidak lagi gampang diwujudkan. Bahkan hampir tak ada lagi yang bisa dipetik. Satu-satunya yang masih bisa menghidupi mereka hanyalah kayu api yang mereka cari di hutan sekitar. Dikeping dan diikat, dan sekali sepekan akan ada tukang kayu yang menjemput ke sana. Itulah yang membuat mereka terus bisa bertahan (sebaliknya, membuat kami jarang bertemu di setiap pekan). Tidak jarang dalam perjalanannya mencari kayu api, melewati ladangladang yang ditinggalkan Hindun dan ibunya bertemu pohon cengkeh, nangka, jengkol atau apa saja yang telah menyatu dengan belukar. Tapi bila musimnya, pohon-pohon telantar itu juga tak ketinggalan berbuah, meski sedikit, dan itu pun harus berebut dengan tupai atau kera. Dibersihkan sedikit belukar yang melilit batangnya. Hindun lalu bisa dengan cukup gesit memanjat pohon itu. Ibunya tak bisa mencegah. Hindun hanya bilang bahwa tak ada yang melihat. Ibunya tahu bahwa dengan itu mereka telah melanggar pantangan, tapi pasti tak tega untuk sekadar membatin, sebab bukankah kata batin seorang ibu cepat makbulnya? Maka, begitulah, ibu dan anak itu diam-diam melanggar pantangan! KAMPUNG kami memang hidup dari sekian banyak pantangan. Begitu banyak ramburambu tanda larangan, meski tak dituliskan. Anehnya, dari sekian banyak larangan, perempuan atau anak gadislah yang menjadi sasaran. Misal, perempuan tak boleh menyisir rambut di halaman, tak boleh duduk di depan pintu, tak boleh memotong dan meraut kuku di malam hari, entah mengapa. Memang akan ada saja alasannya, seperti tak bakal dapat laki, jauh dari rezeki, bahkan bisa gila, tapi juga entah mengapa.

Memang pula larangan-larangan itu baik maksudnya, sebab bukankah tidak enak dipandang mata bila seorang perempuan sampai menyisir rambut di halaman rumah? Dilihat orang banyak, apalagi kalau rambutnya basah. Tampaknya, soal etiket. Tapi mengapa tak langsung dibilang seperti apa adanya? Mengapa tidak dikatakan saja bahwa itu tidak pantas, mengapa harus membawa-bawa soal rezeki dan jodoh segala? Bukankah mereka sudah cukup dewasa dan tidaklah kelewat bodoh? Paling mereka hanya akan tersenyum dikulum, meski tak harus melanggar. Sebab kalau dicari-cari kaitannya ada benarnya juga; kalau seorang perempuan menyisir rambut di halaman, tak seda dipandang, laki-laki mana akan senang? Bila kerja hanya menyisir rambut, sampai-sampai harus ke halaman, kapan sempatnya bekerja dan dari mana rezeki akan datang? Atau, bila perempuan larut berdandan, tidakkah ia bisa menggilai dirinya sendiri di depan kaca atau telaga? Hmmm... Namun, pantangan itu masih lumayan adil. Artinya, tidak hanya buat perempuan. Anak-anak pun tak ketinggalan. Mereka tak diizinkan mandi-mandi di tepian pada saat tengah hari, tentu bukan karena suhu yang panas sementara air sungai begitu dingin yang bakal membuat mereka demam. Bukan, bukan itu alasannya. Tapi, dengarlah; mandi-mandi tengah hari membuat kita demam sebab iblis dan hantu air akan menyapamu, dan sapaannya itu sudah cukup membuatmu jatuh sakit. Begitu. Dan begitu pula halnya untuk laki-laki di kampung kami, tak luput dari rambu-rambu yang digariskan, semisal dalam urusan berpergian. Jangan berjalan di hari Selasa, sebab Selasa hari api. Bila berjalan juga alamat akan sengsara karena banyak gangguan dari iblis yang konon diciptakan pada hari ini. Benarkah? Entah. Yang jelas, bila ada laki-laki di kampung kami hendak pergi jauh, mereka memilih hari selain Selasa. Bisa Rabu yang diyakini hari teduh lagi sejuk, atau Senin yang diselubungi cahaya suci. Sampai-sampai waktu pernikahan diatur waktunya sedemikian rupa, yakni petang Kamis malam Jumat. Inilah hari baik penuh berkat. Kami pun percaya pada sekian banyak isyarat dan bahasa; kupu-kupu pertanda tamu, ayam berkokok tengah hari (dengan kokok berlenggek-lenggek) pertanda ada perawan bunting, elang berkulin seputar kampung pertanda ada yang bakal mati atau kemarau panjang akan datang. Dan begitu pula halnya dengan takwil mimpi, membuat kami begitu berhati-hati. Begitulah. Tentang perempuan yang tak boleh memanjat pohon juga telah menjadi pantangan turun-temurun. Sedari kecil, anak perempuan di kampung

kami dilarang keras memanjat pohon, meski kampung dipenuhi berbagai macam pepohonan, rimbun dan rindang. Panjang-memanjat tak lain urusan laki-laki, begitu adat kami mengajari. Tak seorang anak perempuan pun yang berani melanggar. Mereka cukup puas bermain yang sepantasnya saja; petak umpet atau lompat tali. Meski di tengah keasyikan bermain selalu ada saja goda dari kami anak lelaki yang sedang berada di dahan pohon paling tinggi. Kami akan berteriak dari ketinggian, mengabarkan betapa kami telah melihat laut, laut yang luas! Anak-anak perempuan akan tergoda dan serta-merta membubarkan permainan mereka, dan mereka berkumpul di bawah pokok batang. Ada yang bertanya: ada kapalnya enggak, ada kapalnya enggak... Kami yang di atas pohon lantas mencari-cari sebentar dengan sorot mata berbinar. Lalu menjawab agak kecewa: tidak ada, lautnya lagi sepi! Mungkin lagi tidur, jawab yang lain menghibur. Tentu, karena yang kami lihat sesungguhnya bukan laut, bahkan danau pun tidak, melainkan hanya air persawahan yang tergenang nun di kampung sebelah... Namun, bagaimanapun juga, kami yang laki-laki masih lebih beruntung; menerka-nerka yang tampak. Sementara anak-anak perempuan cukup dibuat penasaran karena tak melihat apa gerangan yang hendak diduga. Atau, mungkin lebih indah sebab bakal menjadi impian yang tak sudah? Entahlah. Yang jelas, tak seorang pun yang di antara mereka yang berani melanggar pantangan. Juga saat musim buah tiba. Anak-anak perempuan cukup jadi pengumpul buah yang kami petik, dan mereka berebutan sambil sesekali tengadah menatap kami di ketinggian dahandahan. Mungkin di antara mereka punya impian atau sekadar keinginan untuk ikut meniti dahan (aku sering melihatnya di mata Hindun), tapi mereka tahu (berkali-kali diingatkan ibu) bahwa mata kutukan mengintai di mana pun: di sela reranting, dedaunan, di semak-semak tepi jalan, di antara batu-batu di tepian... Mengintai siapa pun yang melanggar larangan! KALAU sekarang kabar celaka itu mendengung dan membiru, benarkah karena larangan itu tak membisu? Hindun dan ibunya memang tak lagi patuh pada ramburambu. Setiap kali masuk hutan mencari kayu, dengan melewati ladang-ladang yang ditinggalkan, mata Hindun masih saja penuh keinginan. Dan pasti tak tercegah siapa pun. Tak ada kakaknya yang semasa kecil dulu selalu mengawasinya untuk tidak ikut memanjat meski hanya sebatang pohon rambutan yang dahannya hampir menjejak

tanah. Tak pula ibunya yang dulu mungkin teramat nyinyir menyampaikan larangan. Hindun, perempuan yang mungkin dulu terlalu sesak memendam keinginan, dalam hari-harinya di ladang memutuskan tak lagi memendam keinginan, bahkan untuk sebuah larangan. Maka, begitulah, hampir setiap pohon yang masih menyisakan buah akan ia panjat tanpa takut terlihat mata kutukan yang mengintai. Sang ibu hanya menunggu di bawah tak bisa berkata apa, kecuali mengumpulkan buah-buah nangka yang berdebum, menggelinding di lereng bukit, tersangkut di akar. Tak jarang masuk kali kecil yang penuh belukar. Sementara Hindun sangat lihai meniti setiap dahan. Rambutnya yang berombak-panjang disanggulnya agar tak mengganggu. Kulitnya yang kuning tak ia pedulikan perih, tergores akar atau jelatang. Matanya awas mengamati setiap cabang, mencari buah yang masih menggantung. Sesekali ia menggerutu betapa buah itu sudah tak utuh; dilobangi tupai atau kera. Hati-hati kakinya berpijak, sigap tangannya mencari dahan berpegang, karena ia tahu pohon nangka rapuh dahannya. Saat-saat memuntir sisa buah, seolah saat melepas keinginan masa kecil yang lama tersimpan. Begitulah, buah-buah yang mereka kumpulkan mereka bawa pulang ke pondok. Tentu, saat melewati jalan-jalan setapak yang semak dan membelukar, beberapa ekor babi hutan masih sempat melintas, atau setidaknya mengeluarkan suara aneh. Tapi kedua perempuan itu sudah terbiasa. Bahkan dengan pandangan. Sampai akhirnya tersiar kabar celaka itu: Hindun, perempuan yang jatuh dari pohon! POHON tempat Hindun jatuh adalah sebatang pohon tak bernama. Dikatakan begitu, karena memang tidak ada yang bisa memastikan pohon apa sebenarnya. Dikatakan pohon Barangan, hanya daunnya yang mirip, tapi tak berbuah. Dikatakan pohon damar, hanya batangnya yang serupa, tapi tak bergetah saat ditakik. Kesulitan mengetahui nama mungkin juga lantaran usianya yang tua, mungkin hanya satu-satunya jenis pohon yang masih hidup sehingga tak ada yang serupa. Tapi mungkin pula karena orang kampung kami tak peduli soal nama (ah, mengapa mereka amat peduli namanama hari?). O, ya, mungkin karena itu milik tetua kepala suku (Tujuh suku!) ia dianggap urusan mereka yang terhormat. Kami cukuplah mengetahui bahwa pohon itu lumayan keramat. Pokok pohon itu teramat kukuh, penuh akar dan sulur-sulur menjalar. Pucuknya jauh menjulang hingga tampak dipandang di bagian-bagian tertentu sudut kampung. Bila memandang dari jauh, lereng bukit yang biru tempatnya tumbuh, tampak

seakan terlindung pohon itu. Daunnya yang rimbun dan cabang-cabangnya berlekukbergelombang, membentuk lukisan tersediri di kebiruan perbukitan. Andai saja ia ditebang, tentu akan segera terasakan ada yang hilang; lereng bukit itu bakal kosong, dan orang akan kehilangan sebuah tanda yang sering terbaca; para pencari damar yang tersesat di hutan, para perantau yang lama tak pulang, atau pengembala ternak yang kemalaman. Tapi, tentu tak bakal ada yang berani menebang. Jangankan menebang, mendekat saja tak ada yang berani, kecuali mereka yang dianggap tetua kampung. Mereka ini memang mendapat hak sepenuhnya atas banyaknya lebah madu yang bersarang di setiap dahan. Madu nomor satu yang menetes sepanjang musim! Hanya Hindun, gadis yang terbiasa melanggar pantangan itu, nekad. Tanpa sepengetahuan ibunya, ia datangi pohon itu, dipanjatnya lewat sulur-sulur yang menjuntai menyentuh tanah. Di kedalaman bola matanya terpancar kehidupan ladang yang makin sulit, cengkeh mati bujang, kemarau panjang dan kayu api yang murah harganya. Hanya madu lebah yang masih mahal. Sesarang dua sarang cukuplah baginya melunaskan keinginan, sekaligus melunaskan dendam! Ya, bertahun-tahun ia ingin mencecap manisnya madu dari pohon yang sebenarnya tumbuh di atas ladangnya itu. Tapi selalu terbentur soal hak. Hak tetua suku. Bukan si puak. Hindun tak peduli. Ia mengerti bahwa ia mestinya juga berhak. Pohon itu tumbuh di tepi ladangnya! Maka ia terus memanjat. Pohon keramat. Milik tetua. Dan terjatuh. Hari Selasa. Dan ia, seorang perempuan. Lengkap sudah. UNTUK kedua kalinya kampung kami pastilah kembali gempar. Bahkan mungkin lebih. Kubayangkan, telinga setiap orang mungkin tak lagi seperti disengat lebah (seperti saat pertama kali aku mendengar kabar itu di pasar), namun boleh jadi bagai dipatuk ular berbisa. Bagai mematuk jantung-hatiku juga! Aku yang tidak lagi sekadar mendengar, tapi menyaksikan. Aku yang dulu hanya penerima kabar, kini berubah menjadi aku yang mengabarkan! Ya, Hindun, perempuan yang jatuh dari pohon itu, mati. Ia meninggal setelah cukup lama menanggung penderitaan. Bokongnya remuk, bernanah. Ibunya mengobati pakai dedaunan hutan, sambil menunggu putusnya harapan. Baunya busuk, dan tak seorang pun berani menjenguk. Hanya aku, kawan masa kecilnya yang masih tetap setia. Sebelum hayatnya usai dikandung badan itulah, ia ceritakan segala padaku. Tentang kesehariannya hidup di ladang. Tentang adat dan pandangan yang dilanggar.

Tentang dendam. Semuanya. Kecuali mungkin... hasrat kami untuk saling mencinta! Ia tak mengungkapkannya, dan aku pun tak berkata soal itu, meski dari mataku pasti terbaca isyarat itu. Dan Hindun mengucapkannya dalam igau, di antara bahasa dan kalimat lain yang kacau-balau; tentang lautan, lembah, ayah dan saudara laki-lakinya. Dan namaku ia seru sebelum matanya sempurna terkatub. Aku bergegas turun dari bukit, membawa kabar itu ke tengah kampung. Dan seperti kubayangkan, kampung memang teramat gempar. Sebentar saja, kudengar bedug ditabuh tujuh kali pertanda ada yang mati. Di surau kecil itu, sejumlah laki-laki tampak berkumpul

memperbincangkan langkah apa yang seharusnya ditempuh. Perempuan-perempuan, istri atau anak mereka menunggu harap-harap cemas. Juga aku. Akankah kematian Hindun tidak disembahyangkan? Gerombolan lelaki itu masih terus berbincang. Seakan tak berujung... Rumahlebah Yogyakarta, 2002

Perempuan di Jenjang Rumah
Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas, Edisi 07/07/2002

RUMAH panggung ini, lebar 6 meter dan panjang 12 meter. Beratap genting Palembang berwarna gading, terletak di Lolohan Timur. Konon, yang bermukim di rumah-rumah panggung ini, adalah pelarian dari Armada Bugis, yang datang pada tahun 1653-1655, karena mereka membelot dari Belanda. Pembelotan ini dipimpin langsung oleh Daeng Nahkoda.Nurhayati, yang keturunan ke sepuluh dari orang-orang Bugis itu, akhir-akhir ini, lebih sering bermimpi, melihat nenek-moyangnya, mengarungi lautan dengan perahu-perahu Bugis yang cantik. Perempuan-perempuan dalam perahu (yang salah satu dari mereka adalah nenek-moyangnya), ikut menggulung layar pada saat badai. Memancing ikan-ikan untuk logistik seluruh awak kapal, melantunkan syairsyair, ketika lautan tanpa badai, di mana ikan lumba-lumba berlompat-lompatan di sisi perahu. Sementara itu, dia sekarang setiap harinya cuma duduk di jenjang rumah. Sepertinya, cuma menunggu hari pernikahan dengan pacarnya, Hamdani, teman sekuliah dulu. Nurhayati berpikir, bagaimana, bisa menceritakan pikirannya kepada bapaknya, yang kepala dusun di sini: apakah betul, pernikahan adalah gol terakhir dari seorang perempuan, hanya lewat proses itu sampai pada muara tujuan hidup ini. Sesungguhnya, waktu remaja dulu, dia selalu mengimpikan, akan datang seorang lakilaki, dari tengah lautan, yang membawanya melihat dari satu laut ke laut yang lain. Itu memang mimpi remaja. Namun, soal pernikahan itu sering sekali didiskusikan dengan pacarnya. Hasil diskusi, itu tidak menambah apa pun, kecuali Nurhayati semakin ingin seperti pacarnya: pergi meninggalkan tempat ini! (Yah, pacarnya sudah tiga bulan pergi mencari pekerjaan ke Kalimantan). Nurhayati melihat beberapa anak sedang bermain, tertawa-tawa. Dia tahu, dunia anak adalah dunia di mana kita ingin tinggal selamalamanya di sana. Pikirannya terpotong, tampak dari jauh, Khotijah, yang berjilbab ungu (kelihatan cantik) berkata, "Rapat untuk organisasi sosial kita, kali ini, bertempat di masjid, waktunya selepas sembahyang isya. Jangan lupa kau datang lebiha awal. Kau

sering terlambat. Kita kan pengurus." Nurhayati mengangguk cepat. Sebetulnya, tidak yakin, apakah punya kebutuhan di organisasi sosial itu, sebagai sebuah proses "menjadi", atau hanya untuk membunuh waktunya, ketika berpuluh-puluh surat lamaran kerjanya, tidak ada jawaban! Di musim yang kemarau panjang, di mana udara panas menggulung, dia suka sekali duduk di jenjang rumahnya, untuk mendinginkan tubuh, karena angin melintas-lintas di bawah pohon besar itu. Kembali dilihatnya sebuah undangan berwarna merah dari teman sekampung. Sering sekali Nek Sa'adah (masih bilangan kerabatnya) menasihati, "Kapan kamulah Nur yang jadi pengantin! Dari semua teman seumurmu, tinggal kamu dan Khotijah yang belum menikah. Padahal, kamu sekolahnya paling tinggi." Yah, nasehat ini sering diucapkan, saat dia bertandang ke rumah Nek Sa'adah. Mendengarkan pantun-pantun Nek Sa'adah (dia punya juga menjadi penyair, yang bisa keliling dunia, membacakan puisi-puisinya atau puisi para leluhurnya). Nurhayati, melihat orang yang lalu-lalang di depannya. Mereka semua kelihatan sederhana dan bahagia. Padahal, kemarin malam, seorang laki-laki yang sepertinya datang dari lautan, mengajaknya ngobrol. Dan setelah beberapa kali bertemu, Nurhayati merasa dekat dengan Budiman. (Budiman peneliti rumah-rumah di Lolohan Timur ini). Nurhayati menghapus keringat di dahinya kala Khotijah meghampirinya. "Nur, aku mendengar kabar, sebentar lagi Mbak Mila akan pulang ke Jawa bersama suaminya. Dia butuh guru TK untuk menggantikannya." "Aku bisa menggantikannya." Khotijah melihatnya, "Kau bukan dari jurusan keguruan. Namun, cobalah, mungkin Mbak Mila setuju. Aneh, katanya kau kepingin keluar dari kampung ini dan menjadi penyair! Jadi, mengapa kau akan bekerja di TK perkampungan nelayan itu? Kau kan tahu juga, anak-anak TK di sana sulit diajari mata pelajaran apa pun. Mereka berpikir, tanpa sekolah, bapak dan abang-abangnya bisa dengan mudah mencari uang." "Aku akan mengatakan dengan bahasa anak-anak, menggali ilmu bukan semata untuk

mencari uang, melainkan ibadah setiap manusia." "Nur, aku bisa melihat kegelisahan di matamu. Ada apa sih? Sebagai perempuan, aku mau sederhana saja, yaitu menjadi ibu. Tidak seperti engkau. Benar juga kata temanteman, seharusnya engkau jadi penyair." Nurhayati diam saja. Kadang, dia tak bisa bicara dengan Khotijah (teman dekatnya). Ada kesedihan yang tak bisa dibagi dan harus disimpan. Namun, menjadi guru di perkampungan nelayan itu, bisa jadi bapaknya tidak setuju. Karena, bapaknya lebih suka melihatnya menjadi karyawan bank yang setiap pagi seperti kupu-kupu cantik, bergaji lumayan dengan seragam banknya dan bau parfum yang mengembang. Apalagi, honor guru TK di sana sangat kecil, yang tak pernah cukup untuk ongkos transportasi. Dia melihat ke panggung rumahnya. Kemarin, beberapa turis domestik, terkagumkagum melihat rumah panggungnya, yang punya jendela berjeruji tanpa daun jendela. Beberapa orang menawar rumah panggung ini (dia bersyukur, bapaknya tidak pernah ingin menjual). Di sisi lain, dia tidak tahu mengapa dia ingin menetap di sini selamanya. *** PAGI ini, dia sudah berada di TK perkampungan nelayan. Dia mencoba bersungguh hati untuk sebuah hal yang dia sendiri tidak tahu. Namun, beberapa bulan kemudian dia merasa bisa menghabiskan waktunya dengan senang. Apalagi saat melihat binar mata anak-anak nelayan yang bisa menangkap apa yang diterangkan. (Pacarnya di Kalimatan bilang sudah mendapat pekerjaan. Tapi belum tentu bisa pulang ke rumah dalam tahun ini). Dia membiaskan hal itu dengan mudah. Lebih-lebih ketika TK tempatnya mengajar, semakin kena abrasi dari lautan. Dia mulai belajar menuntut ke kepala dusun, camat dan bupati. Beserta beberapa anak muda, dia memperjuangkan agar sekolahnya mendapat tempat yang lebih tinggi dari pantai. Dia melihat sebuah gudang tempat penyimpanan ikan asin milik pemerintah desa yang disewa oleh para juragan ikan asin. Sementara itu, teman terakhirnya yang masih bujangan, Khotijah, akan menikah dalam bulan ini. Sambil menyusuri tepi laut ini, (yang mungkin akan berubah dalam tahun-tahun mendatang, karena akan dibuat pelabuhan bebas di sini) di mana mereka berdua tidak pernah menyukai perubahan ini. Buat mereka, tempat bermainnya di masa kecil, adalah ketika mereka melihat para nelayan berangkat

menangkap ikan di senja yang bagus. Khotijah bercerita, "Aku tidak tahu hubunganku dengan Sabara, sekalipun aku sudah mengenalnya sejak kecil. Tapi suatu ketika, ketika kami sama-sama mengikuti penataran organisasi kita di Jakarta, kau tahu kan, berada di Jakarta segalanya berbeda dengan kampung kita. Di situ, kami menemukan sesuatu. Aku merasa ada seseorang yang peduli kepadaku. Nur, setelah ini aku berharap kau dengan Hamdani akan segera menyusul." Nurhayati cuma diam saja. Dia mengatupkan bibirnya. Setelah pacaran berjarak jauh hampir satu tahun, dia tidak tahu lagi, apakah itu masih disebut cinta, atau sebetulnya dia cuma butuh seorang yang akan menjadikan dirinya pengantin. Karena begitulah norma. (Sesungguhnya, Nurhayati lebih ingin menjadi seorang penyair dan

membacakan syair-syair yang sering dia dengar dari Nek Sa'adah ke seantero dunia. Seperti nenek-moyangnya, dia akan melihat dari laut satu ke laut yang lain). Khotijah memegang tangannya. "Nur, setelah ini, aku tidak bisa menjadi ketua. Sabara tidak suka aku banyak keluar rumah. Aku ingin kau yang menjadi ketua." Nurhayati membatin. Inikah sebuah penindasan! Namun, yang keluar dari bibirnya, "Tentu saja, kau akan menjadi ibu dan istri, tidak banyak waktu untuk organisasi. Tapi sayang sekali, kalau organisasi kita telantar, sekalipun tak banyak juga waktuku, aku mau menggantikan jabatanmu. Aku sendiri sedang belajar bahasa Inggris di Denpasar. Kau masih ingatkan, aku lebih ingin melihat dunia ini dulu daripada menikah. Dan impian itu ingin kuwujudkan dalam hidup ini. Tentu saja untuk bisa berkomunikasi dengan siapapun, aku harus bisa bahasa Inggris kan?" Khotijah kali ini tidak menjawab. Mereka berdua menyusuri tepi pantai Rening. Perahuperahu nelayan berwarna hijau sedang berlabuh. Baik Nurhayati maupun Khotijah sebenarnya ingin lebih lama berada di tempat ini. *** PERTEMUAN dengan Bupati berjalan alot. Berkali-kali Nurhayati mencoba menghadap, tapi sepertinya Bupati tidak punya waktu untuk menemuinya. Namun, akhirnya

Nurhayati bisa bertemu Pak Bupati. Di luar dugaannya, Pak Bupati mengiyakan dengan cepat. Dan mewujudkan usulannya setelah berkali-kali rapat dengan anggota DPRD. (Nurhayati merasa mekanisme birokrasi ini memperlambat segala-galanya). Rasanya semua sudah hampir selesai. Namun, beberapa juragan ikan asin masih ngotot meletakkan ikan-ikan asinnya di sana, yang pasti akan mengganggu proses belajarmengajar mereka. Sekali lagi, Nurhayati mencoba untuk meyakinkan penyewa gudang, mereka akan mendapat tempat yang lebih representatif dari pemerintah. Di saat-saat seperti itu, dia hampir seperti kehabisan waktu untuk dirinya sendiri. Hal ini sering dikeluhkan oleh bapak dan abangnya. Akhirnya, ketika gedung itu menjadi tempat yang rancak dan sehat untuk anak-anak nelayan. Garam laut terasa di bibir anak-anak itu. Sambil belajar, mereka masih bisa melihat bapak dan abang-abangnya, yang dengan perkasa mencari ikan di laut. Banyak orang memberi selamat. Koran-koran lokal memuat fotonya. Hamdani lewat surat, mengatakan kegembiraannya. *** KALI ini, sepulang dari mengajar, Nurhayati menyusuri pantai. (Dia mencoba tidak melihat pantai yang dirasanya semakin biru lazuardi). Dia mulai berpikir, apakah pernikahan itu perlu, air matanya mengalir. Keluarganya dan keluarga Hamdani, sudah menetapkan kapan mereka akan menikah. Ini berarti, sebagai istri, dia harus meninggalkan TK tempatnya mengajar, rumah panggung yang dikagumi teman-teman senimannya, dan diriset oleh Budiman, yang peneliti, (dengan bahagia, dia ikut mencarikan datanya). Karena ingin sejarah dari rumah panggung ini dibukukan, agar setiap orang di luar Kampung Lolohan Timur ini tahu. Dan penelitian itu, dalam beberapa hari ini, akan selesai. Di pantai ini, Budiman berkata, "Aku tidak tahu, bagaimana mengucapkan terima kasih kepadamu. Buku ini memang harus dipersembahkan untukmu. Karena rumah panggung itu, adalah bagian dari dirimu sendiri." Nurhayati melihat Budiman lekat-lekat. Dan tak seorangpun yang tahu, siapa yang memulai! Mereka saling memberikan dirinya, setelah itu, Nurhayati tak akan risau lagi, kalau bercermin, melihat hidungnya yang tidak mancung dan bibirnya yang sensual. Budiman akan segera pulang ke Jakarta bersama data-datanya tentang rumah panggung ini. Sementara itu, dia sendiri akan menjadi istri yang harus mengikuti suami

bekerja di Kalimantan. Dan rumah tinggal mereka, di sebuah perumahan BTN!

Malang, 29 Maret 2002

Lelaki Pembawa Senapan
S Prasetyo Utomo Sumber: Kompas, Edisi 05/12/2002

DI rumah panggung yang terbuat dari kayu yang sudah mulai kusam, namun masih menampakkan kekokohannya, tinggal nenek, perempuan tua yang tetap menampakkan kesehatannya. Di ambang pintu yang terbentang, di lantai dua, dia duduk menghadapi fajar. Memandangi jalan di depan rumahnya, yang menuju sebuah sungai

besar.Memandangi bocah-bocah yang berlarian ke tepi sungai, Nenek berteriak-teriak dari ambang pintu rumahnya, "Jangan berlarian ke sungai! Nanti dimakan buaya!"Anakanak kecil itu berhenti saat mendengar seruan Nenek. Mereka urung berhamburan mencebur ke sungai. Urung berpercik-percikan air sambil berenangan, menyelam, bermain lumpur dan lumut sampai siang.Belum lagi mencebur ke dalam sungai, anakanak itu termangu-mangu di tebing. Seseorang berseru, "Ada buaya! Ada buaya!"Ketakutan, berteriak-teriak, anak-anak yang masih termangu di tebing sungai itu mencari-cari. "Mana buayanya? Mana buayanya?"Anak-anak yang lebih dekat dengan Nenek, tertawa-tawa. "Kaulah buayanya!"Berlarian, mereka meninggalkan tanggul sungai. Menaiki tangga kayu di rumah Nenek. Berderak-derak. Di lantai dua, di ruang tamu, Nenek duduk di lantai papan. Anak-anak itu mengelilingi Nenek. Meminta perempuan yang masih segar itu untuk bercerita.Nenek, si tukang cerita itu, menuturkan kisah masa gadisnya.*** LELAKI itu masih muda, tampan, gagah dan diam-diam dikagumi gadis-gadis. Dia selalu membawa senapan ke sungai. Berburu buaya. Lama dia menyusuri tanggul sungai, memandang ke arah permukaan air, menanti seekor buaya mengapung, dan melepaskan tembakan. Kadang ia berhari-hari tak melepaskan tembakan. Kadang dalam sehari ia berkali-kali menembak.Saat ia melepaskan tembakan, dan darah

muncrat dari tubuh buaya yang menggelepar, orang-orang bersorak-sorai di tepi sungai. Melihat buaya yang terus berkecipak, menyemburkan darah searus dengan air sungai, gadis-gadis terpekik. Buaya itu tak segera mati. Terus menggelepar. Sungai menjadi amis bau darah buaya.Lelaki pembawa senapan itu tak segera menembak lagi. Dia tak menghendaki buaya itu segera mati. Orang-orang akan kehilangan tontonan. Kehilangan kekaguman. Kehilangan kengerian. Kehilangan keperkasaan seorang pembunuh.Dia cuma membidik, tak pernah menarik pelatuk senapannya hingga meledak, dengan sebutir peluru yang menghujam pada tubuh buaya. Dibiarkannya orang-orang berdebar menanti sebuah tembakan yang merenggut nyawa buaya, dalam penantian yang memualkan.Hingga muncul seorang lelaki berambut ombak memanjang sebahu tak terurus, dengan kaki pengkor, berjalan tertatih-tatih, mendekati lelaki pembawa senapan. "Kenapa kamu bunuh buaya itu?" bentak lelaki pengkor.Lelaki pembawa senapan itu memandang tajam ke arah mata lelaki pengkor, dengan pandangan serupa dua tungku panas yang memberangus. Lelaki pengkor tak melawannya dengan kemarahan. Ia melawannya dengan mata serupa dua buah telaga. Dua tungku panas itu padam. "Apa kamu ingin dimakan buaya itu?" hardik lelaki pembawa senapan. "Aku cuma tak suka caramu membunuh buaya!" "Cuah! Binatang laknat, mesti dibunuh dengan keji!"Lelaki berkaki pengkor itu berpaling. Wajahnya mengeras. Matanya meradang. Ditinggalkannya tepi sungai itu, sambil bergumam, "Kau pun bisa mampus dicabik-cabik buaya!" "Apa katamu?" hardik lelaki pembawa senapan, berang. Ia tak begitu jelas mendengar. Tapi dia menangkap gumam lelaki pengkor itu sebagai umpatan. Hampir saja dia menembak kaki lelaki pengkor itu, kalau saja buaya tidak mengamuk dengan ekor dipukul-pukulkan pada permukaan air sungai.Tembakan yang dilepaskan lelaki pembawa senapan itu menyurutkan amukan buaya itu. Mati. Terapung dengan darah menggenangi arus air sungai.Orang-orang kampung mencebur ke sungai. Menyeret

buaya ke darat. Mengulitinya. Begitu asyiknya mereka. Orang-orang terus berkerumun. Mereka melupakan lelaki pembawa senapan dan lelaki pengkor yang meninggalkan tepi sungai, diam-diam, dan luput dari perhatian.*** DI rumah panggung, seorang gadis dengan rambut tergerai, memandangi tepian sungai lewat jendela yang terbuka. Ia ingin turun dari rumah panggung, membaur di antara orang yang berkerumun, dan ingin bertemu, dari jarak dekat, dengan lelaki pembawa senapan yang gagah dan tampan.Lelaki pengkor, yang berjalan dengan terseok-seok, melintas di bawah jendela kamar perempuan berambut panjang tergerai. Lelaki pengkor itu sengaja berhenti. Memancing perhatian perempuan berambut panjang tergerai. Lelaki pengkor itu ingin disapa. Tapi, perempuan berambut panjang tergerai membuang muka. "Hai, gadis! Apa kamu tak ingin turun dari kamarmu?" tegur lelaki pengkor itu.Si gadis berambut panjang tak menyahut. "Di kamar melulu, membosankan!"Tak ada sahutan. "O, rupanya kau pura-pura bisu-tuli. Kelak, kau akan memperoleh anak bisu-tuli."Dan lelaki pengkor itu masih merajuk, mengajak berbincang-bincang. Gadis berambut panjang itu mengerling, mencibir. "Nah, anakmu yang kedua, akan lahir dengan mata juling, dengan bibir yang jontor."Gadis berambut panjang merasa terhina. Dia murka. Tapi tak bisa meluapkan kemarahannya. Ditutupnya kembali jendela kamar, hingga terasa kegelapan menyekap. Ia merasakan kenyerian yang menyesakkan dada. "He, gadis berambut panjang, kamu begitu sombong!" seru lelaki pengkor. "Kelak kamu akan hidup dalam kesunyian."*** LELAKI pembawa senapan yang mendengar kecantikan gadis berambut panjang, sengaja melintas rumah panggung yang terbuat dari papan kayu. Di bawah jendela kamar gadis berambut panjang, dia berhenti. Tengadah. Mencari-cari wajah gadis itu. Dia melihat wajah yang muncul dari keremangan kamar, melongok ke bawah.

Tercengang. Terpana. Mengembangkan senyumnya, malu-malu, setengah hati. Gadis itu tiba-tiba mencium bau harum tetumbuhan dan hangat Matahari yang menerobos jendela kamarnya-setelah bertahun-tahun ia dalam pingitan.Tangga rumah panggung itu berderak-derak. Suara langkah kaki yang mantap lelaki pembawa senapan itu mengguncang dada perempuan berambut panjang. Terdengar ketukan pintu. Berkalikali. Suara Ayah menyambut lelaki pembawa senapan. Ibu muncul belakangan. Mereka berbincang-bincang di atas hamparan tikar di lantai papan. Lama-kelamaan lelaki pembawa senapan itu yang banyak bicara. Sopan. Hati-hati. Kadang membujuk.Gadis berambut panjang tergerai mencuri dengar semua perbincangan. Berdebar-debar. Tak yakin hatinya, saat ia dengar, lelaki pembawa senapan itu melamarnya.*** ANAK-ANAK kecil yang berdesak di lantai rumah panggung, terpikat pada cerita Nenek. Mereka tak puas saat Nenek menghentikan ceritanya. "Gadis berambut panjang itu jadi menikah, Nek?" tanya seorang anak gadis berponi. "Tentu. Mereka hidup bahagia." "Lintas punya anak bisu dan jontor bibirnya?" desak lelaki kecil berambut kemerahan. "O, tidak," sahut Nenek, agak lamban. "Kutukan lelaki pengkor itu tak terjadi. Gadis berambut panjang itu memiliki dua anak, lelaki dan perempuan, yang gagah dan lucu." "Mereka di mana, Nek?" "Merantau." "Lalu, lelaki pengkor itu ke mana?" "Menghilang dan tak pernah kembali lagi ke desa." "Laki-laki pembawa senapan itu masih hidup?"Terhenyak, berkedip-kedip, Nenek memandangi anak-anak kecil yang menantikan ceritanya. Wajah Nenek tampak sedih. "Laki-laki itu mati di sungai ketika mandi. Dia menyangka, semua buaya sudah

ditembak mati, hingga dia berani mandi di kali. Tak disangkanya, masih ada seekor buaya yang tiba-tiba muncul, mencabik-cabik tubuhnya."Anak-anak terpana, memandangi Nenek, dan merasakan kekecewaan. "Gadis berambut panjang itu masih hidup, Nek?" "Masih." "Di mana ia tinggal?" "Di sini. Neneklah orangnya." "Ooo."Anak-anak itu bersorak. Berjingkat bangkit. Bergerak menuruni anak tangga. Bertabrakan. Berjejalan. Saling dorong. Mereka menghambur ke jalan, berlarian ke sungai. Mencebur ke dalamnya. Berenang. Berkecipak. Bermain-main air. Tertawatawa.Mendadak anak-anak berhenti bermain, berhenti bergurau. Melintas di tanggul sungai itu seorang kakek, tertatih-tatih. Rambutnya panjang, memutih, tak terurus. Matanya kelabu. Kakinya pengkor. Anak-anak bersorak ketakutan, meninggalkan sungai, menyambar pakaian mereka, berlari telanjang menyusuri jalan tanah berbatu, melewati rumah-rumah panggung. -Negara-Pandana Merdeka, Februari 02 -

Kesedihan Chekov, Anton Pavlowich Sumber: Kompas, Edisi 07/21/2002

KERAMAIAN senja. Salju basah yang lebat dengan malas terbang mengitari nyala lentera yang baru saja dinyalakan, dan perlahan-lahan hinggap dengan lembut pada atap, punggung kuda, pundak dan topi-topi. Iona Potapov, sang kusir, telah lama memutih karenanya. Ia bertekuk-sejauh mana badan makhluk hidup bisa

melakukannya- duduk di atas kursi kereta dan tak bergerak. Tumpukan salju telah menimbuninya. Walaupun demikian pada saat itu seakan-akan ia tidak menemukan alasan untuk mengibaskan salju dari dirinya....Kuda betinanya juga memutih dan bergeming. Dengan bentuk-bentuk kaki yang ceking dan kaku, dia mirip permen jahe. Sang kuda barangkali tenggelam dalam pikirannya. Kuda mana pun-yang dipisahkan dari weluku, dari lukisan-lukisan alam nan biru, kemudian terbuang pada jeram yang dipenuhi dengan nyala api yang mengerikan, gemerisik yang bising dan hiruk-pikuk manusia-maka mau tak mau akan berpikir. Iona dan kuda betinanya sudah lama tak beranjak dari tempat. Mereka hanya keluar dari terminal pada waktu makan siang, dan selanjutnya tidak. Sesaat, kegelapan malam datang menghampiri kota. Api lentera yang pucat meredupkan warna-warna cat yang hidup. Kegaduhan jalanan pun mulai ramai. "Kusir, ke Viborskaya," terdengar oleh Iona. "Kusir!" Iona terkejut. Melalui bulu matanya yang dipenuhi oleh salju ia melihat seorang opsir tentara memakai mantel berkudung. "Ke Viborskaya!"-ulang sang opsir. "Ah, kamu tidur ya? Ke Viborskaya!" Sebagai tanda setuju Iona menggerakkan tali kekang. Lapisan salju berhamburan dari punggung kuda. Sang opsir duduk di kursi penumpang. Iona mendecak, menggelengkan kepala, sedikit bangkit dan seterusnya seperti kebiasaan para kusir (bukan karena keperluan), ia mencambuk kudanya. Si

kuda betina menggerakkan leher, menyerongkan kakinya yang kaku dan dengan enggan bergerak dari tempatnya tadi. "Hai, mau kemana kau, bangsat!" terdengar oleh Iona teriakan orang-orang yang berlalu lalang di samping dan di depan dalam kegelapan. "Rupanya setan telah membawamu! Yang benar dong!" "Kamu tak becus mengendalikan kuda rupanya! Ke sebelah kanan!" Sang Opsir marah. Seorang kusir pedati menyumpahi Iona, sedang seorang pejalan kaki yang bahunya terendus moncong kuda, menatap marah sambil menyeka salju dari tangannya. Iona duduk gelisah di pojok tempat duduknya seakan mau jatuh. Ia menyentakkan sikut dan memalingkan mata seolah-olah tidak mengerti mengapa dan buat apa berada di sana. "Mereka bajingan!" kata sang Opsir. "Toh mereka tinggal menghindar bertabrakan dengan keretamu atau mereka jatuh ke bawah kaki kuda. Mereka tentunya tahu hal itu." Iona melirik penumpangnya dan menggerakkan bibirnya... tampaknya dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi dari kerongkongnya tak sepatah katapun keluar, kecuali hanya desisan. "Ada apa?" tanya sang Opsir. Iona berpaling dan dengan senyuman yang pahit ia menegangkan tenggorokannya dan mengerang: "Anak saya... Anak saya meninggal... minggu ini." "Hmmm... mati karena apa?" Iona memalingkan seluruh tubuhnya pada si penumpang seraya berkata: "Siapa yang tahu hal itu! Ia demam.... tiga hari dirawat di rumah sakit dan kemudian meninggal.... Begitulah Kehendak Tuhan!" "Belok goblok!" terdengar dalam kegelapan. "Kamu linglung, anjing tua? Pakai matamu!" Iona kembali menjulurkan leher, sedikit bangkit dan mengibaskan cambuk dengan gemulai dan berat. Beberapa saat kemudian ia menoleh pada penumpang, tetapi kali ini Sang Opsir memejamkan mata dan

tampaknya ia tidak bersimpati untuk mendengarkan. Setelah menurunkan penumpang di Viborsaya, Iona berhenti di depan restoran dan lagi-lagi salju yang basah mengecat putih Iona dan kudanya. Satu jam berlalu, dua jam.... Tiga orang laki-laki, dua di antaranya tinggi dan kurus, seorang lagi kecil dan bungkuk datang menghampiri dengan suara langkah yang keras pada trotoar. "Kusir, ke jembatan Poliskaya!" teriak Si Bungkuk dengan suara yang geram. "Kami bertiga... dua puluh kopek*!" Iona menarik cambuk dan memukulkannya pada kuda. Dua puluh kopek... harga yang tidak seimbang.... Tetapi harga tidak menjadi masalah... satu rubel**, lima kopek... baginya sama saja... Yang penting ada penumpang. Orang-orang muda ini sambil saling dorong dan menyumpah, naik ke kereta. Ketiganya langsung menjatuhkan diri ke kursi kereta. Timbul sebuah pertanyaan: siapa dua orang dari mereka yang harus duduk dan siapa yang harus berdiri? Setelah perang mulut, tingkah polah dan omelan yang panjang, mereka sampai pada keputusan yaitu: karena yang paling kecil adalah Si Bungkuk, maka ia lah yang harus berdiri. "Baik, ayo maju!" Kata Si Bungkuk parau, sambil mencari posisi yang enak dan menghembuskan napas pada leher Iona. "Cambuk! A ha... Kawan topi apa ini? Dicari di seluruh Petersburg pun tak akan ada yang sejelek ini." "Ha... ha... Ha..." Iona tertawa. "Ada kok..." "Ya, ada, ayo cepat! Begini caramu mengendalikan kuda sepanjang jalan? Hai? Mau kupukul lehermu?" "Kepalaku sakit..." kata salah seorang yang jangkung. "Kemarin di rumah Duhmasov, saya dan Vaska minum empat botol brendi." "Aku tak mengerti, buat apa kau berdusta," kata Si Jangkung yang lain dengan marah.

"Dia bohong seperti binatang." "Demi Tuhan, betul kok...." "Ya betul, sebetul kutu batuk!" "He... he... he..." Iona tersenyum lebar. "Tuan-tuan yang berbahagia!" "Cuih, demi setan!" Si Bungkuk menyela. "Kau akan berangkat atau tidak, tua bangka? Begini caramu membawa kereta? Cambuk kudamu! Demi setan! Kendalikan dengan benar!" Iona merasakan badan gelisah dan suara parau Si Bungkuk di balik punggungnya. Dia mendengar pula cacian orang-orang. Sedikit-demi sedikit kesepian yang membanjiri dadanya reda. Si Bungkuk terus menyumpah dengan enam tingkat sumpah serapah sampai tak bisa lagi menyumpah dan batuk. Teman-temannya yang jangkung mulai membicarakan Nadezda Petrovna. Iona menoleh pada mereka. Setelah menunggu sedikit jeda, ia menoleh lagi dan berkomat-kamit: "Anak saya... Anak saya minggu ini... meninggal". "Kita semua akan mati," Si Bungkuk menarik napas, setelah menyeka bibirnya sehabis batuk. "Ayo Cepat! Tuan-tuan, aku tak tahan lagi merayap seperti ini! Kapan dia akan mengantarkan kita ke tujuan?" "Kalau begitu... beri dia sedikit semangat di lehernya?" "Tua bangka! Kau dengar itu? Baik! Kan kusentil lehermu! Pergi ke pesta dengan orang sepertimu, rasanya lebih baik jalan kaki! Kau dengar, ular kadut? Atau kau tak peduli dengan kata-kata kami?" Iona sebenarnya mendengar lebih dari sekadar suara hantaman di kuduknya. "Ha... ha... ha..." Iona tertawa.

"Tuan-tuan yang berbahagia... semoga Tuhan memberkati Anda!" "Kusir, kau telah kawin?" tanya Si Jangkung. "Saya? Ha... ha... ha... satu-satunya istri saya sekarang ada di tanah yang lembab... He... he... he... kuburan! Anak saya pun meninggal... Hal yang aneh. Kematian memasuki pintu yang salah. Seharusnya dia menjemputku, eh malah dia datang pada anak saya..." Dan Iona berpaling untuk menceritakan bagaimana anaknya meninggal, tetapi pada saat itu Si Bungkuk memberi tanda bahwa 'Puji Tuhan', akhirnya mereka sampai. Setelah menerima 20 kopek, Iona menatap hampa pada para tukang pesta itu, yang kemudian menghilang ke balik pintu gerbang yang gelap. Kembali Iona menyendiri dan kembali kesepian menghampirinya. Kesedihan yang beberapa saat lalu mereka muncul lagi dan membanjiri dadanya dengan kekuatan yang lebih besar. Mata Iona menerawang dengan sedih dan penuh harap pada kerumunan yang berlalu lalang di kedua sisi jalan: tak dapatkah ia menemukan satu dari ribuan orang ini yang mau mendengarkannya? Akan tetapi, gerombolan orang ini berlalu tanpa ada yang peduli, baik pada dirinya maupun pada kesedihan itu. Kemasygulan hati Iona tumpah ruah seakan-akan hendak membanjiri dunia, tetapi belum terlihat. Sang kemalangan sanggup bersembunyi pada sel yang sangat kecil, sehingga pada saat terang sekalipun tak ada yang mampu melihatnya.... Iona melihat penjaga rumah yang membawa karung, dan memutuskan untuk bicara dengannya. "Kawan, jam berapa ini?" tanya Iona. "Hampir jam sepuluh... Kenapa kau berhenti di sini? Ayo pergi sana!" Iona maju beberapa langkah, bertekuk dan menyerah pada duka lara. Menunjukkan pada orangorang dia pikir sudah tidak ada gunanya. Belum juga lima menit berlalu, ia sudah meluruskan badan dan menggelengkan kepala seolah ia menderita sakit yang parah. Ia mengibaskan pecutnya.... Dan tak kuasa menahan hal ini lebih lama lagi. "Kembali ke terminal!" pikirnya. "Ya, ke terminal." Dan kuda betina kecilnya seakan-akan mengerti pikiran Iona, ia mulai berlari kecil. Satu setengah jam kemudian Iona sudah duduk di dekat perapian besar yang kotor. Di lantai, di atas bangku-bangku orang-orang mendengkur. Udara pengap dan bau. Iona melihat pada orang-orang ini. Ia menggaruk-garuk kepala dan menyesal

mengapa pulang terlalu cepat.... "Buat dedak saja sudah tak cukup," pikirnya. "Itu sebabnya aku sedih. Manusia yang tahu betul bagaimana seharusnya ia bekerja... yang sanggup mencukupi makanannya, dan makanan kudanya, selalu hidup lebih tenang." Di salah satu sudut, seorang kusir muda terbangun, tenggorokannya mengorok dan ia menjangkau ember air. "Mau minum?" "Begitulah." "Minumlah... demi kesehatanmu.... Anakku.. anakku meninggal minggu ini... kau dengar... di rumah sakit... Begitu ceritanya!" Iona menatap untuk melihat efek apa yang ditimbulkan dari kata-katanya. Tetapi ia tak melihat apa pun. Si pemuda telah menutupi kepalanya dan kembali tertidur. Sebesar rasa haus pemuda itu, sebesar itu pula keinginan Iona untuk berbicara. Seminggu akan segera berlalu sejak kematian anaknya dan dia masih belum dapat membicarakannya dengan siapa pun.... Ia ingin membicarakannya dengan serius, dan tersusun... Iona ingin menceritakan bagaimana anaknya terjangkit penyakit, bagaimana anaknya menderita, apa yang dikatakan sebelum anaknya meninggal, bagaimana anaknya meninggal... Iona ingin memaparkan dengan jelas dan tersusun bagaimana ia harus mendaftarkan penguburan dan bagaimana ia berlari ke rumah sakit untuk mengambil pakaian mendiang. Ia masih mempunyai seorang putri, Anisya, di desa... Ya, timbul hasrat untuk menceritakan hal ini, juga padanya. Sang pendengar akan mengaduh, menarik napas, meratap. Makanya harus bicara pada seorang wanita. Walaupun mereka makhluk yang menyedihkan, tetapi mereka selalu meraung sejak dua kata pertama. "Ah lebih baik melihat kuda," pikir Iona. "Selalu ada waktu untuk tidur... Kau akan tidur nyenyak, tak ada yang perlu ditakuti..." Iona memakai mantelnya dan pergi ke istal tempat kuda betinanya berdiri. Dia berpikir tentang dedak, jerami, cuaca... Dia tak mampu berpikir lagi tentang anaknya, ketika sendirian begini. Membicarakannya dengan seseorang mungkin dia mampu, tetapi

memikirkan

dan

menggambarkan

anaknya..

sungguh

sesuatu

yang

sangat

mengerikan.... "Kamu masih makan?" Iona bertanya pada kuda, sambil menatap matanya yang bercahaya. "Ayo terus kunyah. Sejak kita tak cukup uang untuk membeli dedak, kita hanya makan jerami. Ya... Aku terlalu tua untuk jadi kusir... Mestinya anakku lah yang menjadi kusir, kusirmu sekarang... bukan aku, ... Mestinya dia masih hidup." Iona terdiam sejenak, kemudian melanjutkan: "Begitulah... Kuzma Ionitc telah pergi... dia mengucapkan selamat tinggal padaku. Dia pergi tanpa alasan.... Bayangkan, seandainya kamu punya anak, dan kamu adalah ibu kandungnya... kemudian anakmu mati... Kau juga akan sedih bukan?" Kuda betinanya yang kecil tetap memamah biak, mendengarkan, dan mengendus tangan sang majikan. Iona terhanyut dan menceritakan semua itu padanya. * Diterjemahkan oleh Trisna Gumilar dari bahasa aslinya, 'Toska'. Diambil dari buku kumpulan cerpen: A.P. Chekov-Raskazy I Povesty, hal: 56-60. Terbitan: Izdatelstvo Detskaya Literatura, Moskwa, 1964.

Gus Jakfar
A Mustofa Bisri Sumber: Kompas, Edisi 06/23/2002

“Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu, "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya." "Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian Subuh Kiai Saleh, "Matanya itu lho. Sekilas saja beliau melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini anaknya penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu. Sebelum dilamar orang sabrang, kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?!'. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya." "Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet, "kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?!' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal." "Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar." "Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara, "waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah saku sampeyan kok mondol-mondol, dapat proyek besar ya?!' Padahal saat itu saku saya justru sedang kempes. Dan percaya atau tidak, esok harinya, saya memenangkan tender yang diselenggarakan pemda tingkat propinsi." "Apa yang begitu itu yang disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya

asyik mendengarkan. "Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil, "makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu." *** MAKA ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin, yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mulamula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata dia benar-benar kehilangan keistimewaannya. "Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan, "wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?" "Kemana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu," kata Lik Salamun, "kalau saja kita tahu kemana beliau, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah." "Tapi bagaimana pun, ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil, "paling tidak kini, kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka jika kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini, hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau." Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jumat sehabis wiridan salat Isya, dimana Gus Jakfar prei, tidak mengajar, rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa keseganan, was-was, dan rasa takut. Setelah ngobrol kesana-kemari akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan, "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit

keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan." "Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti, "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah." "Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca bahkan diminta pun tak mau." "O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama, baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan: "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja. "Kalian ingat, ketika saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin dia benar-benar siap untuk bercerita, maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km ke arah selatan. Nama Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiaikiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing." "Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata ketika sampai disana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak kesana-kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk. 'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak disana itu,' katanya, 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil, terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di

tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?' 'Kiai Tawakkal.' 'Ya, kiai Tawakal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.' Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu. Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan katakata hikmah." Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan terganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang, ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar berbunyi 'Ahli neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gamblang. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurat sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila." "Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjilan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal yang mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir, dan sebagainya, mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semisalnya. Kalau pun beliau keluar biasanya untuk memenuhi undangan

hajatan atau-dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata kata mereka." "Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya." "Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati, saya pun membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan kemana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba kiai menoleh ke belakang." "Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong, saya mendekati warung terpencil dengan penerangn petromak itu. Dua orang wanitayang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua-dengan dandanan yang menor, sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit kesana-kemari. Tidak mungkin kiai mampir ke warung ini, pikir saya; ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini. 'Mas Jakfar!' tibatiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masya Allah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuwan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang di sampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini

tempat sedikit!'. Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, kiai memperkenalkan saya. Katanya: 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya.' Mereka yang duduknya dekat, serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh, melambaikan tangan." "Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tibatiba saya dengar kiai menawari, 'Minum kopi ya?' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, yu!' kata kiai kemudian kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggaan warung ini!' Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk." "Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain, bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap pandangan saya terhadap beliau berubah. 'Mas, sudah larut malam," tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya, 'kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebun sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui, 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya." "Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai, 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat

sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian, 'kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.' Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kau cari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kau baca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda, menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan-pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara. 'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda 'Ahli neraka' di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke sorga atau ke neraka. Untuk memasukkan hambaNya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung tadi yang kau pandang sebelah mata itu, pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat denganNya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?' Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya, 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi, kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur, ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan, godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak.' Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui. 'Ayo, kita pulang!' tiba-tiba kiai bangkit, 'Sebentar

lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini." "Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya, 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.' 'Beliau dimana?' tanya saya buru-buru. 'Mana saya tahu?' jawabnya, 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan kemana beliau pergi.' Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil merubah sikap saya itu tetap merupakan misteri." Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi mendengarkan, masih diam tercenung, sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya. *** Rembang, Mei 2002

Kunang-kunang Pelukis Kita
Martin Aleida Sumber: Kompas, Edisi 05/05/2002

PARA pelayan sudah membenahi meja dan kursi yang kosong. Tinggal meja kami yang masih bertahan. Kami, yang menjadi kelompok pelanggan terakhir ini, memperoleh semacam kehormatan tersendiri dari pemilik kafe. Kami dibiarkan nongkrong sampai kantuk dan dinginnya angin malam menyudahi pembicaraan yang bercampur-baur antara serius dan guyon tentang sastra, seni lukis, teater, filsafat, politik, atau agama atau desas-desus yang jalang. Yang menemani di depan kami terkadang cuma kopi atau wedang jahe untuk melawan kantuk menjelang dini hari. Sudah agak lama juga aku bergaul dengan teman-teman, tetapi belum juga bisa beradaptasi secara tuntas dengan gaya bohemian mereka. Rumah selalu lebih menggelitik mengajak pulang. Menjelang pukul sepuluh, aku bangkit dari tempat duduk, dan pamit. Namun, ketika berdiri di depan counter hendak membayar, tiba-tiba bahuku dirangkul dengan hangat. "Bung, tak jadi di lobi United Nations. Lukisan saya akan digelar di United Nations Plaza, di seberang markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York juga," kata pelukis kita mengoreksi berita yang didengungkannya kepadaku kemarin malam. Sengaja dia meninggalkan teman-teman di meja hanya untuk membisikkan kabar itu kepadaku. Aku tertanya-tanya, mengapa dia tidak menceritakan rencana yang jadi idam-idaman banyak seniman itu ketika kami masih utuh di meja yang menjadi gelanggang pertemuan kami tadi. Mengapa dia katakan hanya kepadaku seorang? Berbaik sangka, kupikir aku memperoleh kehormatan dari dia, dan kataku, "Bagus, tidak kalah bergengsi dari tempat yang pertama. Kalau publik yang diharapkan datang termasuk para duta besar, tempat itu kan hanya selangkah dari gerbang markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya kira teman-teman juga akan sangat senang dengan berita ini. Seingat saya, belum ada pelukis Indonesia yang berpameran di situ. Selamat...." Dia belum juga melepaskan rangkulannya dari pundakku. "Sekali lagi, ini hanya untuk Bung. Jangan ceritakan kepada yang lain," pintanya. Dan dia ngeloyor ke luar, bergabung

kembali dengan teman-teman, bersama-sama menghadapi satu-satunya meja yang masih tersisa di pelataran kafe. Kalau itu pertanda hormatnya kepadaku, maka itu bukanlah penghormatan terakhir yang aku peroleh dari sang pelukis. Dan menjadi tanda-tanya besar bagiku, mengapa dia selalu menyampaikan berita eksklusif tentang rencana pamerannya selalu persis pada saat aku sudah berdiri di depan counter. Pernah sekali, tanpa sepengetahuannya, aku membayar pesanannya. Ternyata aku salah sangka. Keesokan harinya uangku kontan dia kembalikan. Dan dia tak pernah merasa sungkan bahwa setiap kali aku hendak membayar dia selalu datang dengan nama tempat atau kota-kota metropolis yang baru, di mana katanya, dia akan berpameran. Setelah United Nations Plaza tempo hari, kemudian dia bisikkan ke kupingku bahwa dia akan tampil di Museum of Modern Art, lantas di Guggenheim Museum, di New York juga. Tak jadi di sana, katanya pada malam berikutnya, National Meseum of Modern Art di Washington DC. siap menyambut kedatangannya. Seraya melirik aku mengeluarkan uang receh untuk membayar teh manis dan kerupuk, dengan tangan terus bergelantungan di bahuku, katanya dia akan segera bertolak untuk memajang lukisan-lukisannya di Paris. Beberapa hari kemudian, di depan counter, katanya dia tak jadi ke ibu kota Prancis itu, tapi akan terbang ke Praha. Kemudian, tak jadi ke sana, tujuan yang benar adalah London, lantas Stockholm, menyusul Pretoria, berikut lagi Kairo dan sesudah itu Tokyo. Kota-kota itu tiap malam mendapat giliran masuk dan keluar dari kupingku. Sebagai seorang pelukis perasaannya tentulah amat peka. Dan aku tak pernah menunjukkan rasa kesal karena merasa dipermainkan oleh rencana besar yang tak pernah kesampaian. Untuk setiap bisikan selalu kusambut dengan kegairahan yang tak pernah luntur sedikit pun. "Selamat, saya bahagia mendengar rencana Anda ini, mudah-mudahan yang ini berhasil. Kalau sudah sampai di sana tulislah surat kepada kami," itulah kata-kata terakhir yang saya ucapkan kepadanya setelah mendengar rencana keberangkatannya ke kota tujuannya paling akhir, dan mudah-mudahan menjadi kenyataan: Moskwa. Ganti aku yang merapatkan mulut ke dekat kupingnya dan kutambahkan lagi dengan berkelakar, "Kuatkan hatimu. Hati-hati, walaupun Uni Soviet sudah rubuh, di kota itu masih banyak propagandis merah." Setelah itu dia benar-benar menghilang. Kalau kafe itu dari jauh bisa dibayangkan sebagai lukisan, maka satu goresan sudah lenyap dari sana. Meja khusus

di pelataran itu tidak pernah menyaksikannya lagi. Sampai pada suatu malam temanteman disentakkan oleh kabar yang disampaikan pemilik kafe bahwa pelukis kita, katanya, telah terbang ke Jerman, mengikuti pameran lukisan di sana. Dia tidak meninggalkan utang barang sepeser pun. Semua bon sudah dia lunasi. Aku diam saja, menyembunyikan perasaan yang sedang terkecoh. Hamburg buatnya tentu lebih baik daripada Moskwa, bisikku membujuk hati sendiri. *** MEJA di pojok kafe yang diteduhi pohon angsana itu tetaplah tempat yang menggairahkan, hidup dengan pembicaraan yang ngalor-ngidul dan tawa berderai. Terkadang ditingkahi harmonika genggam yang dimainkan dengan lincah oleh seorang teman pengarang yang berbakat besar dan berketerampilan majemuk. Membuat meja di pojok khusus itu menjadi semacam suar yang punya daya tarik khusus bagi pengunjung yang lain. Pada suatu malam seorang teman yang sudah agak lama tak muncul di meja itu datang dengan berita yang mengagetkan. Katanya, dia melihat sang pelukis dan anak-istrinya terdampar di pos komando penyelamatan banjir, tak jauh dari rumahnya. Kabar buruk itu membuat orang saling berpandangan di sekeliling meja kafe. Ada yang mengira si-pembawa berita hanya mau bercanda. Tetapi, dia bersungguhsungguh dengan apa yang dia katakan. Demi Tuhan, katanya, dia menyaksikan sipelukis jongkok kedinginan di antara ratusan pengungsi yang ditampung di satu aula gedung sekolah. Katanya, dia enggan untuk menghampiri, karena tak mau membuat penderitaan si-pelukis lebih parah lagi. Tak sampai hati memergoki dia berbohong dengan cerita mau berangkat ke Jerman, tetapi ternyata ngendon di pos penampungan korban banjir. Kami tak percaya. Apalagi si-pembawa berita sudah terkenal sebagai tukang bual, yang acapkali membawa kabar yang mengecoh hanya untuk

membangkitkan tawa. Ceritanya selalu merupakan campuran antara khalayan dan fakta. Tetapi, karena dia bersumpah bahwa dia tidak mungkin main-main dengan nasib sipelukis, akhirnya kami putuskan mengirim seseorang untuk mengecek kebenaran berita tersebut. Keesokan harinya, utusan itu sudah duduk menghadapi meja sejak matahari belum terbenam. Di kalangan teman-teman dia dikenal sebagai orang yang hampir tak mengenal canda, selalu serius, jidat selalu berkerut. Ketika meja sudah penuh terisi, dengan wajah mutung dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke daun meja. Katanya meyakinkan, "Jangan suka guyon dengan dunia ini. Mata kepala saya sendiri melihat

dia terbaring di atas tikar. Lama saya menunggu sampai dia bangun untuk meyakinkan mata saya bahwa yang sedang tergolek itu memang benar-benar pelukis kita. Ya, kenyataan adalah kebenaran yang pahit. Tetapi, apa mau dikata, memang dia..." Gesekan angin pada daun-daun angsana di ubun-ubun kafe itu membuat perasaan mereka yang duduk mengelilingi meja khusus itu jadi seperti tertindih. Ibarat lukisan, malam ini meja itu adalah kanvas yang didominasi warna kelabu. Semua mutung. Semua murung. Dicapai kata sepakat, besok siang semua supaya kumpul kembali di kafe untuk kemudian berangkat menjenguk pelukis kita. *** DARI udara, sebulan yang lalu, Jakarta kelihatan bagai lukisan tiada berpigura, dengan cat coklat keunguan meraup di mana-mana. Tak pernah dalam sejarah Jakarta mengalami nasib seburuk ini. Tak ada yang bisa menghindar dari jilatan air bah. Semuanya kena. Bekas presiden yang pernah berkuasa lebih dari tiga dasawarsa maupun presiden aktif yang baru memerintah seumur kencur sama tak bisa mengelak. Apalagi hanya seorang pelukis yang belum jadi, yang mabuk karena angan-angannya yang liar. Waktu itu, ketika pelukis kita pulang dari kafe di Taman Ismail Marzuki, dia tidak lagi menemukan anak-istrinya di rumah. Air sudah mengangkangi lemari dan seluruh lukisannya terbenam. Ketika rombongan kami tiba di aula sekolah yang menjadi pos penampungan korban banjir di mana pelukis kita dikabarkan berada, kami menemukan dia sedang duduk bersandar ke dinding, sementara anak dan istrinya berbaur dengan orang-orang yang telantar di situ. Perjumpaan itu aneh dan sangat dingin. Kami tidak hanya menyalami dan mencurahkan kata-kata simpati kepadanya, tetapi juga merangkulinya. Anehnya, dia hanya diam membeku. Matanya kosong. Kalau ditanya dia tak menyahut, cuma memakukan matanya ke lantai. Mata kami tertarik pada lukisan dua kali tiga meter yang tergantung di dinding, persis di atas buntalan yang teronggok di lantai. Alat-alat lukis terserak di dekatnya. Lukisan itu kelihatannya baru saja diselesaikan. Bingkainya belum dirapikan benar. Kami kenal betul sapuan-sapuan catnya adalah pernyataan jiwa pelukis kita. Kami tanya, kapan diselesaikan, dia tidak menjawab. Di atas kanvas itu terpampang potret dirinya yang bertelanjang dada sedang jongkok mencangkung, mulut tertutup rapat dengan mata yang liar menatap ke depan. Di belakangnya, dalam warna kelabu berbaur dengan hijau, terhampar ribuan kepala manusia dan pohon-pohon yang hanyut, sementara matahari mengapung berat di

kejauhan. Terasa mata yang menatap liar ke depan itu begitu kuat menyatakan sikap tak mau menyerah, mau menegakkan harga diri, walaupun penderitaan mengelilingi. "Takkan salah, ini lukisannya yang terbaik. Saya belum pernah melihat lukisan realisme Indonesia sekuat ini. Perhatikan matanya, dan juga latar belakang yang menambah aksentuasi akan apa yang ingin diucapkannya," komentar seorang teman. Kami semua terperanjat melihat baskom yang diletakkan di bawah lukisan itu. Beberapa lembar uang ratusan, ribuan, tumpang-tindih di situ. Kami yang datang menjenguk saling pandang. Mata kami saling berkata betapa kuatnya lukisan yang terpampang di tembok itu sehinga bisa menggugah orang untuk meringankan beban pelukis kita, walaupun mereka sendiri barangkali berada dalam kepungan banjir yang membawa kesusahan. Kami kembali saling-pandang dan hati kami sepakat untuk menyumbangkan uang sebanyak yang bisa kami berikan. Ketika kuletakkan beberapa lembar uang kertas, terbayang di kepalaku setelah banjir surut ribuan orang datang berduyun-duyun mengunjungi pos penampungan korban banjir itu untuk menyaksikan lukisan dahsyat yang telah digoreskan oleh seorang pelukis, yang dengan memikat telah memindahkan sikap pantang menyerah ke permukaan kanvas. Sapuan-sapuan kuasnya

menghanyutkan. Ribuan orang datang dan memberikan sumbangan sekuatnya, tanpa ada keinginan sedikit pun memiliki lukisan itu. Mereka telah menjungkirbalikkan sikap mau menguasai dari para kolektor yang sedang menjajah seni lukis. Puncak pencapaian budaya seharusnya memang menjadi milik bersama. Karena dia adalah ungkapan diri kita secara kolektif. Kami melangkah mendekati pelukis kita. Bergantian kami memeluk dan membisikkan kata-kata yang membangkitkan gairah hidup kepadanya, walaupun dia hanya tetap membisu. Kami tahu dia sedang berjuang mengatasi apa yang sedang bergolak di dalam hatinya. Sebelum tiba giliranku berpamitan, begitu hendak memeluknya, tiba-tiba dia melangkah maju merangkul pundakku, menatap mataku, dan katanya, "Maaf Bung, saya telah beratus kali berbohong, sehingga dapat ganjaran seperti ini." Kubalas pelukannya dengan rangkulan yang lebih erat. "Jangan lagi berangan-angan terbang ke mana-mana. Anda akan menjadi besar di sini, dan biarkan dunia yang datang dengan sendirinya menjemput Anda. Sungguh, benar

kata teman tadi, saya juga belum pernah melihat lukisan dengan ekspresi sekuat lukisan Anda yang di dinding itu." Dalam perjalanan pulang, teman-teman menumpahkan iri hati mereka karena hanya kepadaku pelukis kita mau berbicara. "Heran... apa yang dia katakan?" tanya mereka. Aku tersenyum. Sesekali, kupikir, boleh juga mengecoh berseloroh, dan aku meletup, "Kalau dia punya uang suatu ketika, dia ingin membeli aula sekolah itu untuk didedikasikan sebagai museum korban banjir."* ______________________________________________________________________

Tato Naga dan Inisial "SL"
Teguh Winarsho AS Sumber: Kompas, Edisi 06/30/2002

GADIS itu hanya menatap sekilas lalu melenyap menyibak kerumunan. Keluar dari kerumunan dengan kepala tertunduk hingga sebagian rambutnya berjatuhan menutupi wajahnya. Sementara sepasang kakinya melangkah cepat-cepat menyeberang jalan, berhenti di pinggir, menghadang kendaraan umum lewat. Ia tampak cemas, tergesagesa. Sesekali ia mengangkat telapak tangannya di atas alis mata menghalau cahaya matahari. Namun, tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan rona wajahnya yang putihpucat seperti habis ditampar.Belum ada kendaraan umum yang melintas membuat gadis itu kian cemas, menggigit bibir. Berkali-kali ia melirik arloji warna kuning emas di tangannya dengan perasaan kesal. Lalu berjalan mondar-mandir sembari sesekali menyorongkan tubuhnya kebahu jalan menatap arah jalan berlawanan memastikan apakah sudah ada kendaraan umum yang muncul dari tikungan jalan nun di sana. Tapi ia selalu kecewa sebab selain arak-arakkan perempuan dengan punggung terbungkukbungkuk penuh beban menuju pasar, sepeda onthel dengan keranjang sayur, kendaraan umum yang ia tunggu belum juga tampak.Meski sadar bahwa berpikir pagi

ini tak ada kendaraan umum yang melintas di jalan depan itu adalah pikiran sangat tolol, tapi entah kenapa diam-diam pikiran semacam itu melesak juga dalam batok kepalanya. Membuat pori-pori kulit wajahnya meregang merembes cairan bening-menjadikan ia ekstra sibuk harus melap cairan itu dengan perasaan gugup dan tangan gemetar. Membuat degup jantungnya kian berdebar-debar. Ya. Boleh jadi para sopir angkutan itu pagi ini mogok karena jumlah setoran yang semakin lama dirasa semakin mencekik leher, tak sebanding dengan tarif yang dikenakan bagi para penumpang. Atau, siapa tahu juragan armada angkutan itu mendadak bangkrut, menjual semua armadanya lalu beralih profesi sebagai juragan beras atau tembakau? Segalanya bisa mungkin!Hari masih pagi, tapi tidak seperti biasanya sinar matahari terasa menyengat ubun-ubun. Namun, begitu-dari pinggir jalan gadis itu melihat sendiri dengan pandangan mata kian nanar-tak menyurutkan keinginan orang untuk memastikan sesosok tubuh laki-laki yang menggantung di pohon waru seberang jalan. Tidak terlalu tinggi memang, namun kebun yang hanya ditumbuhi rumput ilalang dan semak belukar itu cukup jelas menampakkan sosok laki-laki itu. Tubuhnya sesekali bergoyangan tertiup angin. Matanya mendelik, lidahnya terjulur. Orang-orang yang hendak menuju pasar atau anak-anak yang mau berangkat sekolah kian memadati kebun kosong tempat laki-laki itu menggantung diri.Percakapan mengalir dari mulut orang-orang itu membuat suasana pagi yang panas kian terasa gerah. Beberapa orang yang baru datang dan segera mengenali sosok lakilaki itu, menampakkan keterkejutan luar biasa, menggosok-gosok mata seperti tidak percaya. Mudrika, laki-laki naas itu selama ini dikenal sebagai preman pasar yang cukup ditakuti. Tubuhnya kekar, wajahnya tampan meski sorot matanya sedingin salju. Ada tato di dada kirinya dan bekas jahitan luka di lengan kanannya. Tidak ada orang yang tidak kenal nama Mudrika meski barangkali belum pernah melihat wajahnya. Selain berjudi dan mabuk-mabukan Mudrika suka memalak toko-toko milik warga keturunan yang berderet di sepanjang jalan kawasan pasar. Hanya toko-toko milik warga keturunan saja yang ia palak sedang toko-toko lain tidak.Matahari kian merangkak ke atas. Angin berhembus menggoyang-goyang mayat Mudrika seperti bandol jam. Kadang batang pohon waru itu berkeriut seperti mau patah saat angin keras datang menghempas. Membuat perempuan-perempuan di sekitar itu kerap menahan nafas, menutup mulut dengan telapak tangan, atau memejamkan mata, tak

sanggup membayangkan jika batang pohon waru itu benar-benar patah. Apa jadinya jika batang pohon waru itu benar-benar patah dan mayat Mudrika yang sudah kaku itu terhempas ke tanah? Mungkin kakinya akan patah dan tulang-tulangnya melesak keluar. Betapa mengerikan. Tapi perempuan-perempuan itu seperti terhipnotis, terus tegak di situ, terus bercakap-cakap hingga mulut mereka berbusa seperti rendaman cucian.Di pinggir jalan gadis itu terus didera gelisah sebab kendaraan umum yang ia tunggu belum juga datang. Tubuhnya basah keringat. Kedua lututnya gemetar. Ia ingin segera enyah dari tempat itu tapi kedua kakinya terasa berat untuk melangkah. Ia khawatir tidak lebih sepuluh langkah tubuhnya akan oleng lalu rubuh ke tanah. Kerumunan orang di kebun kosong itu pastilah akan segera berhamburan pindah mengerumuni dirinya. Lalu, ah, bagaimana jika orang-orang itu kemudian menghubung-hubungkan dirinya dengan kematian Mudrika? SEGERA kerumunan orang itu menyingkir memberi jalan pada empat Polisi yang datang sangat terlambat di tempat kejadian. Dua orang polisi tampak sibuk bicara dengan pesawat HT sementara dua lainnya membentangkan garis kuning pengaman. Orang-orang yang ada di sekitar situ terus bercakap-cakap dalam nada yang semakin lama semakin keras. Membuat lokasi kebun itu mirip tempat lelang pegadaian. Tidak berselang lama datang tiga orang polisi yang kemudian bekerja cepat menurunkan mayat Mudrika.Entah digerakkan oleh kekuatan gaib apa, tiba-tiba gadis itu bergegas menyeberang jalan menghampiri kerumunan, merangsek masuk ke dalam. Di atas tanah merah dan rumput ilalang yang patah-patah sebab terlalu banyak kaki yang menginjak, dengan jelas ia bisa melihat mayat Mudrika dibaringkan, kaku seperti gelondong kayu. Seorang polisi dengan sigap melepas tali yang membelit leher Mudrika lalu memaksa mengatupkan kedua belah matanya. Namun, tidak mudah mengatupkan mata yang sekian jam melotot, karenanya Polisi itu kemudian menyobek daun pisang lalu menutupkan di wajahnya.Angin yang tiba-tiba berhembus kencang membuat beberapa kancing baju bagian atas Mudrika lepas, membuka. Sontak pandangan orang-orang tertuju pada dada kiri Mudrika. Tampak gambar tato naga dalam ukuran besar, seperti masih baru--tidak proporsional dengan bidang dadanya. Percakapan kembali membuncah. Orang-orang yang sering melihat Mudrika diam-diam merasa keheranan. Mereka tahu, dulu tak ada gambar tato naga di dada Mudrika, melainkan

gambar tato keris. Mereka bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan Mudrika mengganti gambar tato keris dengan tato naga? Tapi secepat pertanyaan itu melesat dari batok kepala setiap orang, secepat itu pula mereka segera melupakannya. Namun, tidak bagi perempuan itu.Dan perempuan itu, entah karena apa pula tiba-tiba tak bisa menahan debar jantungnya yang berdetak tidak karuan manakala melihat polisi itu mulai menggeledah pakaian Mudrika dan menemukan lipatan kertas warna merah jambu di saku celana Mudrika. Sejenak Polisi itu mengamati lipatan kertas itu, dibolak-balik, dibuka, dibaca, mengerutkan kening, lalu... mengedarkan pandangan pada kerumunan, tajam, seperti tengah menyelidiki wajah demi wajah yang ada di situ. Membuat gadis itu gugup, menggeser sedikit tubuhnya ke samping berlindung di balik tubuh pengunjung yang lebih besar. HINGGA siang hari pihak kepolisian belum mampu menguak misteri kematian Mudrika. Kenapa Mudrika, preman pasar yang ditakuti itu tiba-tiba bunuh diri. Ada indikasi bahwa Mudrika bunuh diri karena patah hati, cintanya ditolak. Tapi tentu saja pihak kepolisian tidak mau gegabah menyiarkan kesimpulan itu karena tak ada bukti-bukti kuat kecuali sepucuk surat yang ditemukan di saku celana Mudrika yang sudah sulit dibaca karena selain lecek, luntur terkena keringat, juga tulisannya jelek persis cakar ayam. Sepucuk surat itu sedianya akan dikirim untuk seorang gadis yang namanya disingkat "SL". Kini pihak Kepolisian justru sedang berusaha keras mencari gadis dengan inisial "SL" seperti tercantum dalam surat itu. Para Polisi itu yakin dengan ditemukannya gadis berisinial "SL", maka misteri kematian Mudrika akan bisa diungkap. Tapi tentu saja ini merupakan pekerjaan rumit dan melelahkan.Sementara itu di sebuah kamar yang sepi siang itu, seorang gadis cantik duduk di kursi menghadap jendela diluluri kesedihan mendalam. Tatapan matanya menerawang kosong menembus batang-batang pohon singkong di pekarangan samping. Di benaknya mengendap bayangan seorang laki-laki bertubuh kekar dan bertato. Teringat pula olehnya pertemuan demi pertemuan dengan laki-laki bertato itu yang sering dilakukan sembunyi-sembunyi. Hingga pertemuan terakhir semalam di tepi jalan yang remang saat laki-laki itu menunjukkan tato gambar naga di dada kirinya sebagai bukti kesungguhan cintanya terhadap dirinya sekaligus niat ingin merubah tabiat buruknya. Ah, andai saja dia mau bersabar, pasti tidak begini kejadiannya. Padahal aku hanya perlu waktu dua atau tiga hari untuk memastikan

bahwa dia benar-benar mencintaiku. Juga untuk membicarakan semua ini pada Papa dan Mama. Atau, memang begitukah tabiat seorang laki-laki, selalu buta setiap kali jatuh cinta? Batin gadis itu melongsorkan nafasnya yang sekian lama tertahan di dada. "Shin Ling, Shin Ling, apakah kau sudah dengar preman pasar itu semalam mati gantung diri? Bergembiralah, toko kita kini aman."Tergeragap, Shin Ling, gadis cantik bermata sipit itu menoleh. Tampak seraut wajah tua berbinar-binar menyembul dari balik pintu. Namun, seperti tidak bergairah, hanya sekilas gadis itu menatap perempuan tua di depannya sebelum bola matanya perlahan bergerak ke atas, berdebar jantungnya saat menatap gambar naga di atas pintu. Pula hatinya kian disesah rindu... "Ada apa Shin Ling? Kenapa kau? Sakit? Segeralah kau telepon Paman Koh Wat. Sampaikan kabar gembira ini!"Malas gadis itu menghampiri kotak telepon di sudut kamar. Tapi ia sudah yakin dengan pilihannya sendiri untuk menghubungi kantor Polisi. * Depok, 2002

Sinar Mata Ibu
Harris Effendi Thahar Sumber: Kompas, Edisi 06/02/2002

Hari Minggu, tidak terlalu pagi. Tiba-tiba istri saya berteriak memanggil nama anak-anak seperti ketakutan. Saya yang sedang sibuk menguras bak di kamar mandi buru-buru keluar, ingin tahu apa gerangan yang terjadi. ”Ibu mana?" tanyanya cemas. "Papi sih, mestinya keluar masuk pekarangan, pintu pagar digembok. Kalau tidak, ibu pasti kabur." Saya belum sempat bereaksi, putri bungsu saya buru-buru mencari sandal, lalu nyerocos menembus pintu pagar, memburu neneknya yang sudah mulai pikun itu. Istri saya menarik napas. Tapi saya curiga, kalau-kalau sepeninggal saya di kamar mandi tadi, istri saya telah berbicara agak kasar dengan ibunya. Padahal, sebelumnya mertua saya itu duduk-duduk di teras sambil membaca-baca koran edisi Minggu yang baru saja saya terima dari loper. Ia masih suka baca koran sambil berdiskusi dengan saya. Sayalah satu-satunya menantu beliau yang mau berdiskusi tentang apa saja, termasuk mendengarkan cerita-cerita nostalgianya di masa lalu. Apalagi kalau sesekali saya bertanya tentang kata-kata Belanda yang diucapkannya di sela-sela percakapan kami, ia tampak bersemangat.Sejak meninggalnya bapak mertua saya beberapa tahun lalu, ibu tinggal bersama anak-anaknya secara bergilir sesuka hatinya, terutama di rumah anak-anak perempuannya yang semua telah memiliki rumah. Itu bukan berarti ibu tidak pernah tinggal di rumah Rudi, satu-satunya anak lelaki beliau dan bungsu, tapi tidak dalam waktu yang lama. Tidak lebih dari seminggu. "Istri Rudi itu tidak bisa masak. Kasihan Rudi. Dia itu sejak bayi hingga jadi mahasiswa tak pernah merasa enak makan, kecuali masakan ibu," kata ibu mertua saya itu kepada saya. Dan, itu sudah yang kesekian kali diucapkannya hampir setiap kembali dari rumah Rudi, begitu ia memulai giliran tinggal di rumah kami. Di waktu yang lain, ia berkata:

"Kasihan Rudi, istrinya tidak telaten merawat suaminya. Anak-anak dibiar manja sama bapaknya. Padahal, bapaknya capek, kan?"Pernah ibu mertua saya itu baru menginap semalam, paginya langsung menelepon saya: minta dijemput. Saya janjikan akan menjemputnya sore hari, sehabis jam kerja saya, tapi beliau bersikeras pagi itu juga. Sudah barang tentu ada apa-apanya. Kami sudah menduga apa yang terjadi, dan saya pun menjemputnya pagi itu dengan mengorbankan jam kerja.Begitu ibu menginjakkan kaki di teras, ia langsung memuntahkan kekesalan hatinya. "Mantuku itu selalu salah terima kalau ibu memberi nasehat." "Memang ibu bilang apa sama dia?" istriku menyambut."Ibu hanya minta dia bikinkan telor mata sapi untuk suaminya ketika ibu lihat lauk untuk makan malam suaminya sudah menipis," keluhnya mengenang. "Apa itu berarti mencampuri? Padahal, ibulah yang paling tahu apa yang disuka Rudi. Bahkan, sejak dari dalam kandungan, ibu tahu apa yang disukai Rudi." TUHAN punya kehendak lain. Tiba-tiba saja Rudi meninggal dalam waktu beberapa menit setelah mobilnya menghantam bus kota sewaktu menuju ke kantornya di pagi Senin yang naas. Agaknya Tuhan juga memperlihatkan kekuasaan-Nya, Rudi yang baru berusia empat puluhan dan paling bungsu dari tujuh bersaudara dipanggil paling awal oleh-Nya. Kami semua terpukul, apalagi ibu. Padahal, seminggu sebelumnya, Rudi telah menyampaikan gagasannya kepada kami semua untuk memberikan hadiah istimewa di hari ulang tahun ibu yang ke-80 beberapa bulan lagi.Sejak kepergian Rudi, ibu sangat berubah. Pandangan matanya terlihat kosong. Ibu jadi pendiam dan amat perasa. Dan, ibu bisa tidak tidur semalaman jika siangnya tidak ada yang bersedia mengantarnya ke kuburan Rudi di bulan pertama setelah kepergian Rudi. Di bulan pertama itu, kalau hari tidak hujan, acara ziarah ke kubur itu menjadi wajib bagi ibu. Kami, mantu-mantu ibu secara bergantian mengantar ibu ke pemakaman umum yang terletak di pinggir kota.Selain menangis dan berdoa di kubur Rudi, ibu bercakap-cakap dengan batu nisan. Gerombolan pengemis, petugas kebersihan pemakaman, dan penjual kembang seperti sudah menjadi langganan ibu. Untuk itu kami selalu membelaki ibu uang receh secukupnya. Soalnya ibu hampir-hampir tidak mengenal lagi nilai mata uang. Ibu akan memberikan lembaran uang berapa pun jika ada pengemis

meminta, tidak peduli lembaran lima puluh ribuan, atau seratus ribuan. "Ah, apakah artinya kertas-kertas itu. Lebih baiklah dikasihkan kepada orang yang lebih membutuhkannya," jawab ibu ketika istri saya menyoal ibu setelah nekat memberikan uang lima puluh ribuan kepada pengemis buta di gerbang pemakaman. "Banyak yang dapat dilakukan dengan uang sebanyak itu, Bu. Uang sebanyak itu bisa untuk jajan si Oni seminggu. Atau untuk membeli keperluan dapur," kata istri saya. "Apa kamu kekurangan uang? Uang pensiun papamu masih banyak di bank. Sudah lama ibu tidak mengambilnya. Kamu mau, atau kamu perlu? Berapa?" "Bukan begitu, Bu. Ibulah yang mengajar kami dulu supaya hidup jangan boros." "Kalau untuk akhirat, ibu mau boros. Itu semua bakal diganti Tuhan dengan imbalan yang berlipat ganda di sorga. Ibu sekarang mau ke sana," ujar orang tua itu dengan mata berlinang.Kalau sudah begitu, saya akan menarik istri saya dan memintanya untuk bersabar dan bersikap baik dan santun pada ibu. Apalagi akhir-akhir ini ibu mulai nyinyir, suka lupa, sekaligus pendiam. "Semua tingkah laku aneh itu harus disikapi dengan kesabaran seorang anak yang berbakti," saya bilang. Tapi, itu bukan berarti istri saya selalu waspada bila giliran ibu berada di rumah kami.Seperti kejadian seminggu lalu, ibu tiap sebentar mengatakan bahwa pembantu Kak Nurma-kakak istri saya-itu pencuri. Gelang emas peninggalan nenek telah dicuri pembantu itu ketika ibu sedang mandi. "Gelang ibu itu sekarang disimpan Kak Nurma. Soalnya, ibu suka menaruhnya di sembarang tempat. Untung pembantu itu jujur, ia serahkan gelang itu pada Kak Nurma ketika ia menemukan gelang itu di kamar mandi," jelas istri saya. "Anak itu memang pencuri. Taroklah gelang itu ia tidak berani mengambilnya. Tapi yang lain-lain?" "Apa misalnya?" "Banyak. Hampir tiap hari Yeni memberi ibu apel atau jeruk. Nanti, ketika ibu ingin

makan buah itu, hilang. Tanya sama dia, selalu bilang tidak tahu. Siapa lagi kalau bukan dia, orang kampung rakus itu? Coba!"Istri saya tertawa ngakak. "Kok, kamu tertawa?" "Habis, saban Kak Nurma menelepon saya, pasti ada saja yang diceritakannya tentang ibu. Nah, di antaranya buah-buah itu sering ditemukan sudah membusuk di dalam almari pakaian ibu. Kadang-kadang kalau pembantu itu membersihkan kolong tempat tidur ibu, juga sering ditemukan apel busuk, jeruk busuk. Jadi, ibu jangan sembarang tuduh orang mencuri. Katanya mau beribadat. Itu kan menambah dosa jadinya. Ya, enggak?"Ibu lama terdiam. Ketika saya keluar ingin menetralisasikan suasana, dengan senyum seramah mungkin kepadanya, ibu menatap saya seperti minta perlindungan dari "ancaman" dosa yang di lontarkan istri saya tanpa kontrol. Saya mengajak ibu makan bersama saya. Saya kode istri saya agar menghidangkan makan siang meski baru pukul sepuluh di hari Minggu itu. Ibu menurut.Melihat tumpukan buah jeruk di atas tempat buah di meja, ibu kembali lagi mengulangi unek-uneknya. "Pembantu Nurma sering mencuri jeruk ibu," katanya ketika mau duduk. Istri saya yang sedang menuang air ke gelas, langsung berhenti dan menatap ibu sambil berkata: "Nah, ibu mulai lagi bikin dosa. Ibu sudah mulai pikun ya? Tadi saya bilang apa?"Ibu kembali memandang saya seperti minta perlindungan dari kata-kata istri saya yang menusuk sanubarinya. Saya melihat sinar mata ibu yang sarat masa lalu. Betapa bahagianya dulu ia, istri seorang ambtenaar, dikaruniai tujuh anak, berpendidikan sekolah khusus anak-anak Belanda dan kaum priyayi. Kini, masa tua yang tak berdaya, telah membuatnya semakin tak berdaya melawan ketuaannya. Sinar matanya mengingatkan saya pada almarhumah ibu saya sendiri, dan mata ibu-ibu lanjut usia pada umumnya. "Ayo, Bu. Kita makan," saya menengahi suasana. "Tidak, ibu masih kenyang." "Ayolah, sedikit saja. Biasanya kalau bersama ibu, makan saya jadi enak."

"Kali ini ibu mendadak kenyang oleh kata-kata istrimu." "Ibu jangan ambil hati. Di rumah ini ibu lebih baik mendengar saya daripada dia." Saya tak berhasil. Ibu berdiri menuju teras kembali. Saya meneruskan makan agak cepat. Begitu mencuci tangan, istri saya kelihatan cemas. Pintu pagar terbuka. Ibu tidak ada. Putri sulung saya-cucunya yang paling disayang ibu di rumah kami-buru-buru mengejarnya. Didapatinya ibu sedang bingung mau menyeberang jalan raya yang lebar dan dua jalur penuh kendaraan.Sejak itu kami waspada dengan pintu pagar kalau ibu tinggal bersama kami. Tentu saja dengan menjaga perasaannya, terutama dari katakata yang kadang-kadang bisa lebih tajam daripada silet. PUTRI bungsu saya, yang tadi mengejar neneknya, kembali terengah-engah dengan air mata berlinang. Saya telah menduga bahwa ia tidak berhasil menemukan neneknya. Saya langsung mengeluarkan mobil, tapi tidak tahu mau mencari ke mana. Istri saya sibuk menelepon saudara-saudaranya, memberi kabar tak sedap itu.Saya mendugaduga kalau ibu pergi ke kuburan Rudi. Tapi, tidak mungkin karena ia tidak bisa naik oplet atau taksi. Lagi pula ia pergi tanpa uang dan tak dapat menentukan ke arah mana ia harus pergi, ia sudah kehilangan kesadaran geografis. Namun, saya arahkan juga mobil ke kompleks pemakaman itu, sambil menyusuri jalan pelahan-lahan, kalau-kalau ibu nekat berjalan kaki.Di kuburan kami bertemu berempat, sesama menantu ibu. Ibu tak ada di sana. Bang Sapar, suami Kak Nurma, berencana melapor ke kantor polisi terdekat. Tapi, saya masih punya harapan. Saya pulang ke rumah. Istri saya cemas ketika melihat saya pulang tanpa ibu. Saya langsung saja menuju kamar putri bungsu saya yang punya tempat tidur besar. Saya mengambil senter dan menyenter ke bawah kolong tempat tidur itu sambil tiarap.Mata ibu berkedip-kedip menahan sinar senter saya. Saya menghadiahi ibu senyuman. Ibu membalasnya. Dan, saya mengulurkan tangan. ** Padang, 10 April 2002

Ikan dalam Kabut
Herlino Soleman Sumber: Kompas, Edisi 05/19/2002

ADA satu hal yang ingin kukatakan secara khusus bahwa selama ini aku selalu terpesona oleh kabut. Setiap kali melewati dataran tinggi berbukit-bukit dan bergununggunung dengan kabut mengambang dekat di atas permukaan tanah, aku selalu terpesona olehnya. Secara sederhana aku pernah menerjemahkan keterpesonaanku atas kabut adalah bahwa kehadirannya selalu identik dengan kesejukan, hijau perbukitan, dan oleh karenanya aku selalu terbawa pada suasana khayali yang membuatku merasa menempati puncak ekstase kesegaran. Mungkin saja hal ini dipengaruhi oleh kenyataan bahwa setiap kali melihat kabut aku selalu teringat pada perkebunan kopi milikku yang kini hanya kunikmati dalam angan-angan. Semerbak wangi kembangnya, bening air pancuran di tengah-tengah perkebunan kopi itu, dengan suara gemericiknya melantunkan nyanyian yang selalu melambaiku pulang,

memberikan nasihat yang baik tentang hidup yang baik. Tak jelas benar apakah itu berarti hidup dengan kicau burung-burung, semilir angin, hijau tumbuhan, dan hamparan kabut yang mengapasi dedaunannya. Hidup yang kuangankan dan selalu hanya ada dalam angan-angan. Entah telah berapa tahun aku tinggal di Jepang sebagai penduduk gelap, namun beruntung menjadi sahabat Yoshida Tua, mantan bosku yang telah pensiun beberapa tahun yang lalu. Apresiasiku atas kabut yang seperti itulah yang hampir setiap akhir pekan membawaku ke sebuah tanjung besar berbukitbukit dan menginap di vila milik Yoshida Tua yang secara aneh memberikan kebebasan kepadaku untuk menginap di vilanya, seperti sekarang ini. Mungkin pula karena dengan demikian vilanya dapat terawat dengan baik karena aku memang suka

membersihkannya. Mulanya kami cuma sekadar kenal biasa, aku kuli dan ia bos yang berhak menghitamputihkan nasibku, tetapi sejak aku datang pada upacara penguburan kotsutsubo istrinya, dan setelah itu sering menemaninya ngobrol, kami menjadi akrab.

"Jadilah kau sahabatku yang baik setelah ini dan aku bukan lagi bos sebagaimana sebutanmu selama ini!" katanya. Saat itu aku cuma diam memandangnya. Juga ia diam memandangku dengan mata tuanya yang mulai rabun. Meskipun dengan tulus ia memintaku menjadi sahabatnya yang baik, aku selalu menghindar jika ia ingin berbicara tentang negeriku. Memang ia selalu mengatakan bahwa cacat negerinya itu tak mungkin sirna, meski pemerintah negerinya berusaha menghilangkan aib dengan mengajarkan beberapa bagian sejarah yang palsu, yang bagiku berarti ia menyesali betul kesalahan negerinya atas negeriku di masa lalu, aku selalu berusaha menghindar jika ia ingin berbicara tentang negeriku. "Sekaruno itu..." "Soekarno, Soeharto, atau makhluk aneh dari jenis apa pun aku tak mau menanggapi pembicaraanmu tentang negeriku, Yoshida Tua! Mari kita bersahabat dengan melepaskan negeri masing-masing. Jika kita bicara juga, paling-paling kau akan menyesali masa lalu sambil memuji-muji indahnya alam negeriku, sementara kau menjadi grogi jika kukatakan negerimu sebagai bekas penjajah yang kemudian berusaha menjadi pahlawan dengan menimbun modal di negeriku lewat orang-orang goblok yang duduk di elite pemerintah negeriku di masa lalu dan te-rus berlanjut sampai sekarang hingga jika bisa membayar secara normal pun utang negeriku baru bisa lunas sete-lah tiga-empat generasi!" Kataku ketika ia memaksaku berbicara tentang negeriku. "Kau terlalu berprasangka! Aku benar-benar terpesona oleh alam negerimu!" "Semua itu sudah berlalu, Yoshida Tua. Mungkin dalam arti harfiah memang alam negeriku masih indah, tapi apakah bisa disebut keindahan jika para penghuninya cuma memahami kalimat-kalimat pendek: Aku benar! Kau salah! Bagaimana aku? Mana bagianku? Kau siapa? Aku besar! Kamu kecil! Kamu sepele! Dan yang membuatku merasa terpuruk, Yoshida Tua, di negeriku hukum menjadi permainan semua orang terutama yang mengerti hukum dan yang punya duit! Juga kekuasaan!" "Aku mengerti yang kamu rasakan. Tapi aku benar-benar menyukai negerimu! Dan secara aneh aku juga merasa simpatik kepadamu!" Waktu itu Yoshida Tua memandangku lekat-lekat. Agak lama setelah itu baru aku sadari bahwa terlalu keras

sikapku untuk tak membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan negeriku. Karenanya, sejak saat itu aku mengendorkan sikapku. Dengan demikian, jika kami menginap di rumahnya yang besar di Tokyo atau di vilanya, kami jadi banyak membicarakan negeriku. *** VILA Yoshida dibangun pada ketinggian deretan bukit yang membentuk tanjung besar di baratdaya Tokyo yang menyambung dengan deretan bukit-bukit di kaki Gunung Fuji. Sering muncul kebingungan dalam pikiranku bahwa ketika berangkat menuju vila melalui jalan berliku sepanjang pantai timur Atami, maka setelah membelok ke kanan dan mendaki jauh sampai ke vila Yoshida Tua, aku juga bisa melihat laut di belakang vila yang berarti membelakangi laut yang tampak ketika berangkat. Jika vila ini berada di ujung tanjung, tentunya pemandangan laut akan tampak dari tiga sisi. Karena secara jelas daerah ini bukan daerah ujung tanjung, secara sederhana aku berpikir bahwa di belakang vila Yoshida ada teluk kecil dalam tanjung. Ke teluk kecil itulah aku biasa mancing jika sedang berada di vila Yoshida Tua. Setiap kali mancing di teluk kecil ini aku biasa mendapatkan ikan sabak, sawara, kadang-kadang juga iwashi. Dan meskipun sangat jarang, pernah pula aku mendapat ikan inada, yang biasa kusebut sebagai ikan ekor kuning. Jika aku mancing sejak lewat tengah hari, sambil duduk di beton-beton penahan ombak selama dua-tiga jam dengan pemandangan yang luas, waktu berikutnya pemandangan menjadi sangat terbatas. Kabut yang awalnya menyungkup perbukitan yang hampir semuanya merupakan perkebunan jeruk, akhirnya merendah sampai ke permukaan laut. Meskipun aku selalu merasakan kesegaran yang berlebih, pada saat ini aku mulai lelah hingga sewajarnya jika kemudian kembali ke vila. Akan tetapi, biasanya aku justru dikejutkan oleh ikan-ikan yang berloncatan seolah menyambut kabut. Pemandangan kabut yang lembut redup dan ikan-ikan yang berloncatan seperti terbang adalah sebuah kenyataan atraktif yang kontradiktif; antara kelembutan yang indah dan kelincahan yang manis-menarik, hingga aku selalu menunda kepulanganku. Anehnya, saat menikmati kenyataan seperti itu aku jadi berpikir bahwa antara kelembutan yang indah dan kelincahan yang manis-menarik, kedua-duanya mampu menyembunyikan kejahatan yang nista. Kalimat ini selalu teringat dan kembali kuucapkan jika aku berpikir tentang Yoshida Tua yang selalu menyesali anak laki-laki tunggalnya yang disebutnya sebagai anak tak berbakti. Aku tak

tahu apakah benar demikian sikap anaknya. Tidakkah justru Yoshida Tua sendiri yang suka mengganggu ketenangan anaknya? Kecurigaanku atas Yoshida Tua yang seperti ini sesungguhnya merupakan premis minor dari premis mayor bahwa seperti juga pembesar-pembesar negeriku yang banyak berdosa, yang telah maupun yang masih berkuasa, pada masa tuanya harus merasakan penderitaan yang hina. Waktu aku menceritakan perihal ikan yang berloncatan dalam kabut, lalu aku terkenang pada pembesar-pembesar negeriku yang korup, Yoshida Tua terdiam beberapa saat. Setelah itu, dalam keadaan aku mengharap ia memberikan tanggapan atas ceritaku, ia justru mengambil sake dan beberapa kali menenggaknya dengan cangkir keramik sambil tetap membisu. "Aku tahu engkau mengerti cerita dan pemikiranku tentang ikan dan kabut, tetapi mengapa kau membisu saja?" kataku setelah tak kuat menghadapi kebisuannya. Karena ia tetap membisu, aku menahan tangannya yang hendak menenggak sake lagi sambil mengatakan bahwa tak semestinya ia membisu atas cerita dan pemikiranku. "Aku lebih menyukai ceritamu tentang kabut yang mengambang di perkebunan kopi milikmu ketimbang kabut yang kau campur dengan segala hal yang semuanya cuma ngo-yoworo!" Katanya mengakhiri kebisuannya. "Aku tidak ngoyoworo!" "Kau bahkan lebih dari sekadar ngoyoworo!" serang Yoshida Tua. Ia lalu melanjutkan, "Aku malah berpikir, jika kau memandang persoalan terlalu dipengaruhi hal yang tak saling berhubungan, maka pemandanganmu akan selalu keliru! Ikan-ikan itu cuma sebentar berloncatan di permukaan teluk, bukan terbang! Yang tampak dalam pandanganmu lebih lama tak lain adalah belibis atau camar yang beterbangan dan siap mematuk ikan-ikan itu!" Karena aku terdiam, Yoshida Tua mengatakan bahwa benarkah setiap pembesar negeriku yang berdosa harus disiksa dan dihinakan begitu kesempatan tiba? Mengapa dulu mereka dibiarkan berbuat dosa? Benar dibiarkan berbuat dosa atau karena merasa takut hingga tak berani memperingatkan mereka? Dan sekarang setelah merasa tidak takut, lantas merasa berhak menjadi galak, bahkan segalak-galaknya?

"Jika para pembesar negerimu yang korup itu berdosa, mengapa mereka yang dulu merasa takut memperingatkannya sekarang tidak merasa berdosa? Pada dua pihak semacam ini, aku sulit mencari sikap dan sifat kesatria. Mengapa aku justru menemukan banyak sikap dan sifat pengecut yang menjijikkan?" Beberapa saat aku terdiam. Dan dalam keadaan masih diam kuambil cangkir keramik di hadapanku dan kemudian menyodorkannya kepada Yoshida Tua yang segera menuangkan sake ke dalamnya. Juga dalam keadaan masih terdiam, kutenggak sake itu sekaligus, untuk kemudian kuulurkan lagi cangkir keramik itu minta dituangi sake lagi sampai beberapa kali. "Waktu muda, sepertimu aku pun menyukai kabut!" Yoshida Tua berkata memecah kesunyian. Kuberikan sedikit perhatian dengan menatapnya. Yoshida Tua lalu melanjutkan bahwa karena kesukaannya atas kabut itulah yang mendorongnya membuat vila ini. "Di vila ini penuh kureguk kesunyian, cinta, dan juga sake! Biarlah kunikmati juga kehidupan lain yang jauh berbeda dengan hiruk-pikuk suasana pabrik tempatku bekerja. Jika di luar sana kabut mulai turun, kaca-kaca jendela mulai mengembun, kesunyian datang dan cinta telah lewat kureguk bersama istri atau sesekali kubeli perempuan lain, giliran sake mulai terasa mengembun di ubun-ubunku, saat itu kurasakan bahwa sesungguhnya hidup tidak sesulit yang kita bayangkan! Mengapa kau nodai kabut dengan khayalan yang memperburuk keindahannya? Mengapa kau rusakkan kesyahduan kabut dengan sesuatu yang membuat pikiran dan perasaan menjadi nyeri?" Waktu itu ambang kesadaran karena sake mulai bereaksi menguasai saraf, membuatku tak bisa menanggapi kata-kata Yoshida Tua.

Kubayangkan, waktu itu mungkin aku terbengong-bengong atau bahkan kepalaku jatuh ke atas meja dan lantas tertidur begitu saja karena mabuk. Aku tak tahu pasti. Sore ini kembali kunikmati kabut di teluk ini. Dua ekor ikan sabak telah berhasil kupancing dan kurencanakan akan kubuat sashimi untuk makan malam bersama Yoshida Tua yang rencananya akan datang pada ambang senja. Bukit-bukit perkebunan jeruk yang semula menampakkan buahnya berupa titik-titik kuning di antara dedaunannya yang lebat, perlahan-lahan menjadi suram, dan akhirnya lenyap. Kabut yang kali ini turun teramat tebal, lebih cepat turun dan mengambang di atas permukaan teluk. Perasaanku harap-harap cemas menanti ikan-ikan berloncatan di atas permukaan teluk. Ingin

kuyakinkan bahwa saat itu tak ada belibis atau camar yang beterbangan dan siap mematuk ikan-ikan itu. Sayang sekali, setelah beberapa lama menunggu,

pemandangan yang kuharapkan kemunculannya ini sama sekali tak menampak. Yang terasa justru yang tak kuduga sama sekali. Ya, saat itu tiba-tiba bumi terasa bergetar, bergerak-gerak. Mula-mula pelan, tapi pada detik-detik berikutnya menjadi kuat. Gempa bumi, pikirku. Bersamaan dengan kesadaranku atas gempa yang baru saja terjadi, seorang penjaga pantai mengumandangkan pengumuman lewat pengeras suara agar para pemilik perahu memeriksa dan mengikat perahunya kuat-kuat sehingga tidak dibawa arus balik tsunami yang pasti datang. Pengumuman itu juga dengan keras mengingatkan agar siapa pun yang berada di pantai segera naik dan berlindung di rumah masing-masing. Bersama langit yang tiba-tiba gelap oleh mendung, aku segera kembali ke vila sambil menjinjing dua ekor ikan sabak yang siap kubuat sashimi. *** Tokyo, April 2002 _____________________________________________________________________

Para Penari
Putu Fajar Arcana Sumber: Kompas, Edisi 08/18/2002

SEPULANG dari Jepang, hati Pusparani berbunga-bunga: sebuah pusat hiburan di Kota Tokyo ingin mengontrak para penari. Bukan sebuah kebetulan ia bertemu dengan Yamasita-san. Selama ini hampir seluruh misi kesenian Bali atas nama pemerintah ditangani oleh Yamasita-san dan Pusparani selalu kebagian peran. Pusparani tak pernah menghitung entah sudah berapa kali ia mengunjungi Negeri Sakura. Ia hanya ingat beberapa jam lalu masih menari di sebuah gedung pertunjukan milik satu universitas di tengah-tengah Kota Tokyo. Ia puas karena sambutan penonton di kota megapolitan seperti Tokyo sangat berbeda dengan penonton Denpasar atau Jakarta sekalipun. Seorang ibu bernama Mariko datang ke belakang panggung bersama anaknya, membungkuk sebagai tanda hormat, sembari tersedu menangis.

"Saya hanya ingat suami saya di Bali," katanya dalam bahasa Indonesia terpatah-patah. Sambil sesegukan Mariko meminta agar Pusparani memeluk anaknya. Puspa gelagapan, tak mengerti. Matanya yang indah mengerjap-ngerjap. Ia sama sekali tak paham: mengapa Mariko mendatangi dirinya. Usai menari keringat masih membasahi sekujur tubuhnya. Bahkan pakaian tari legongnya belum lagi dicopot. "Sampai umurnya empat tahun, ia belum melihat ayahnya," cerita Mariko lagi,"Dia ingin merasakan pelukan orang Bali." Selama bercerita, air mata Mariko tak henti berderai. Bulir-bulir bening itu, ia biarkan melintas perlahan dari pipinya yang putih sampai menyentuh bibir. Terasa asin. Ah, asin sekali. Perempuan bertubuh sedang itu tersedak. Ia ingin menelan tangisnya. Tetapi kerinduannya untuk bertemu Ngurah Anom, suaminya, seperti meledak-ledak. Sungguh perih rasanya hidup berjauhan, begini, keluhnya dalam hati.Sejak beberapa tahun lalu, katanya, ia terpaksa hidup berpisah dengan Ngurah Anom. Mariko memilih kembali ke Jepang untuk melanjutkan kuliah, sementara Ngurah Anom, tetap tinggal di Ubud sebagai pelukis. "Kami tak punya pilihan," keluhnya lagi.Tanpa menunggu cerita Mariko menjadi lebih memilukan lagi, Puspa erat-erat memeluk anaknya. Ia ingat, tentu saja Cempaka, anaknya yang kurang lebih seusia dengan anak Mariko, sudah sangat merindukannya. Gadis kecilnya itu, selalu berlari untuk kemudian memeluk Puspa setiap pulang dari menemui para mahasiswanya di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Denpasar.Ia membayangkan beberapa jam lagi pasti Cempaka berlari-lari di ruang tunggu Bandara Ngurah Rai. Ia ingin melepaskan rindu dengan memeluk anaknya erat-erat. Seerat yang dapat ia lakukan.Noriko, anak Mariko sempat kaget. Mungkin tertusuk beberapa ornamen dari logam yang melekat pada pakaian tari Puspa. Pelukan Puspa justru membuat Mariko makin tersedu. Ia pun melingkarkan kedua tangannya di antara pinggang Puspa dan kepala anaknya. Ia ingat itulah pelukan terakhir di Bandara Ngurah Rai, yang membuatnya tak bisa melupakan Ngurah Anom. Lebih dari empat tahun yang lampau. Sampai kini ia masih menyediakan ruang dalam hatinya bagi lelaki berambut panjang itu.Mereka bertiga berpelukan. Lama sekali. Puspa membayangkan pelukan itu untuk Cempaka. Selama lebih dari dua minggu berada di Jepang, membuat rindunya pada Cempaka seperti membuncah. Beberapa penari lainnya turut terhanyut. Bahkan ada yang kemudian turut serta memeluk Mariko dan anaknya.

"Saya hanya titip salam buat Bali. Belum bisa pergi ke sana, saya masih harus menyelesaikan studi S2," ujar Mariko sesaat sebelum meninggalkan Puspa. Mereka berpelukan sekali lagi. Sambil menghapus air matanya, Mariko bergegas keluar gedung pertunjukan sambil mendekap Noriko. Ibu dan anak itu kemudian menghilang di tikungan dekat stasiun trem bawah tanah.*** PERISTIWA di belakang panggung gedung pertunjukan itu tak pernah lekang dari ingatan Puspa. Diam-diam air matanya menitik. Ia seperti merasakan betapa harubirunya hati Mariko: harus menjalani hidup bersama seorang anak yang selama bertahun-tahun tak mengenal ayahnya. Ah, pedihnya...Selama ini, menurut cerita Mariko, Noriko hanya kenal suara Ngurah Anom lewat telepon. Itu pun kalau Mariko yang menelepon ke Ubud dan kebetulan Ngurah Anom ada di studionya. Ngurah Anom sangat jarang mau menelepon. Puspa merasa menjadi begitu dekat dengan Tokyo. Itu sebabnya ketika Yamasita-san menawarinya untuk kembali ke Tokyo menari, ia tak kuasa menolak. Dalam perjalanan pulang pikirannya sibuk mereka-reka beberapa mahasiswanya yang barangkali bisa diajak serta. Mereka pasti dengan senang hati menerima tawaran menari di Tokyo. Menari di luar negeri selama ini seperti menjadi impian para penari di STSI."Kontrak itu barangkali sudah akan mulai akhir bulan April ini. Jadi mereka minta empat orang penari perempuan lainnya. Anda siap?" tanya Yamasita-san, seminggu kemudian saat menelepon Puspa dari Tokyo. "Akan berapa lama kontrak itu?" Puspa balik bertanya. "Kemungkinan untuk waktu tiga bulan. Anda siap?" Lagi-lagi Yamasita-san mengulangi pertanyaan yang sama. "Sudah saya pastikan untuk berangkat, asal mendapatkan izin dari pimpinan di STSI." "Soal itu biar saya yang mengurusnya," kata Yamasita-san. Ia memang salah satu orang asing yang memiliki hubungan dekat secara pribadi dengan para pimpinan STSI. Selain menjadi penghubung para seniman, Yamasita-san di Bali juga dikenal sebagai seniman. Ia beberapa kali membuat garapan tari bersama para seniman Bali. Terakhir bahkan ia berhasil membuat sebuah kelompok penabuh gamelan dan penari Bali di Jepang. ***

DALAM delapan jam penerbangan Ngurah Rai - Narita, pikiran Puspa dipenuhi kenangan hangatnya sambutan penonton Tokyo. Diam-diam ia berharap kehangatan itu bakal dirasakan pula oleh Dayu Satyawati, Ratnasari, Komang Widiati, dan Gung Dewi, empat mahasiswanya. Mereka penari-penari muda dan rupawan yang baru pertama kali melawat ke luar negeri. "Selama tiga bulan kalian semua akan merasakan betapa hangat dan bersahabatnya orang Jepang. Mereka seperti memiliki hubungan emosi dengan kita, dekat sekali rasanya. Usai menari, kita biasanya diajak jalan-jalan ke Akihabara, sebuah kawasan elektronik yang begitu mengagumkan. Dekat saja dari hotel tempat kita akan menginap," kata Puspa sebelum berangkat kepada para mahasiswanya. "Kita akan ke Shinjuku juga kan Bu? Hihiii..." tanya Ratnasari sembari menutup bibirnya. "Huuss...siapa yang memberitahumu?" kata Puspa. Tiga penari lainnya cekikikan. Puspa tahu Shinjuku yang dimaksud Ratnasari adalah kawasan yang termasuk remang-remang lampu merah di sudut Tokyo. "Udah.. ah. Kita saat ini jangan memikirkan soal uang kontrak. Terpenting dari misi ini, kita memperkenalkan kebudayaan Bali yang adiluhung dan dikagumi banyak bangsa," tambah Puspa. Keempat gadis muda itu hanya mengangguk. Mereka mempercayakan semuanya kepada Puspa. Selain sudah sering ke Jepang, reputasi Puspa sebagai dosen juga tak bisa diragukan. Umumnya mereka tahu Puspa begitu dekat dan seringkali diberi kepercayaan menangani misi kesenian ke luar negeri oleh pimpinan kampusnya. "Kita bergantung semuanya kepada Ibu saja," kata Ratnasari singkat. "Sudah ada Yamasita-san yang akan mengurus kita selama berada di Jepang," jawab Puspa, seolah lebih kepada diri sendiri. Sudah hampir satu jam rombongan penari menunggu jemputan dari Yamasita-san. Wajah Puspa mulai tampak tegang dan merah padam. Ia agak kesal dan malu kepada para mahasiswanya. Puspa merasa sangat teledor. Ia ingin memaki dirinya sendiri: mengapa tidak punya pikiran untuk bertanya kepada Yamasita-san, siapa yang bakal menjemput rombongan. Mungkin ia terlalu

yakin, karena selama ini setiap misi kesenian Bali ke Jepang segala urusan pasti dibereskan oleh Yamasita-san. Lelaki berkaca mata itu bahkan selalu turut menjemput rombongan di Narita.Bandara Narita tampak sibuk. Rombongan-rombongan pelancong tua tampak riuh sekali saat menunggu kopor mereka. Puspa menduga para turis itu berasal dari Taiwan. Ia sering bertemu dengan turis Taiwan di Ngurah Rai. Mereka memang cenderung ribut kalau sedang bersama-sama. Seorang petugas keamanan tampak mendekat. Ia berkata sesuatu dalam bahasa Jepang. Puspa tidak mengerti. Namun ia menduga lelaki berseragam biru itu sedang bertanya: Anda sedang menunggu siapa? Spontan saja Puspa menulis nama Yamasita-san di atas kertas. Lelaki itu tampak beberapa kali membungkuk-bungkuk dan mempersilakan para penari duduk kembali.Setelah menghilang beberapa saat, petugas keamanan tadi kembali diikuti seorang lelaki lainnya. "Nama saya Miki, saya datang menjemput Anda," kata Miki sembari menyodorkan secarik kertas bertuliskan nama Pusparani. "Oh...Miki-san. Apa Anda diminta oleh Yamasita-san untuk menjemput saya?" tanya Puspa. "Ah tidak-tidak. Saya datang atas permintaan Kimura-san, yang akan mengontrak para penari dari Bali. Saya akan mengantar Puspa-san, ke tempat kami."Meski banyak pertanyaan di dalam kepalanya, tapi Puspa bergegas meminta para penari mengambil kopor. Mereka berangkat ke Tokyo dengan menggunakan kereta Narita Express, tak lebih dari satu jam. Seingat Puspa ongkos kereta dari Narita ke Stasiun Tokyo dulu sekitar 2.890 yen. Gedung-gedung ramping seperti melaju sepanjang jalan. Sementara sebuah layar di atas pintu gerbong setiap saat memberi informasi tentang cuaca Kota Tokyo. Puspa tampak sangat gelisah. Keempat penari lainnya juga mencoba meredam kegundahannya. Mereka terdiam, tetapi setiap saat mata-mata penari itu beradu seperti saling bertanya. Ratnasari mencoba menenteramkan hati dengan memandangi pertokoan sepanjang jalan dari jendela kereta. Di sela-sela gedung tampak bunga sakura mulai mekar. Pada bulan April, daratan Jepang sedang memasuki musim semi. Meski lanskap pagi seelok itu, Gung Dewi, Widiati, dan Satyawati tetap terpejam-pejam. Ketiganya tampak mulai lelah setelah melintasi waktu delapan jam. Pagi itu mereka

belum sempat mencuci muka atau sekadar beli roti untuk sarapan. Untung Ratnasari masih menyimpan sisa biskuit yang dibelinya saat transit di Jakarta. Secepat kilat ia membagikan biskuit kepada para penari lainnya. Puspa menolak. Ia memang tidak sedang berselera. ** SAAT turun dari bus, Puspa dan para penari oleh Miki-san langsung diarahkan menuju halaman belakang sebuah kompleks yang rupa-rupanya mirip tempat hiburan. Saat melewati lorong yang terdapat di sisi bangunan besar, Puspa dipersilakan duduk untuk menunggu Kimura-san.Pikiran Puspa mulai tak keruan. Sejak turun dari kereta dan kemudian naik bus, ia ingin mengajukan berbagai pertanyaan kepada Miki-san. Tetapi pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya ia urungkan. Puspa ingin mendapat gambaran lebih utuh ke mana sesungguhnya bus sedang melaju, apa benar Yamasitasan yang menjadi penghubungnya. "Tetapi mengapa ia tak muncul. Lalu mengapa pula kita dibawa ke tempat seperti ini. Bukankah Yamasita-san bilang kita akan menari di sebuah tempat hiburan di pusat kota. Tempat ini tidak tampak seperti itu.... Ah aku juga salah mengapa tidak bertanya sebelum berangkat. Tapi bukankah ia berjanji menelepon sebelum tanggal

keberangkatan disepakati?" Puspa terus membatin. Ia makin tampak gelisah. Sementara empat penari lainnya mulai terkantuk-kantuk di kursi. Gung Dewi bahkan sudah menyandarkan kepalanya ke bahu Ratnasari. Ia tertidur.Semua pertanyaan itu makin membuat Puspa curiga kepada Yamasita-san. Lelaki Jepang itu barangkali telah menipunya. Jangan-jangan tawaran kontrak menari itu hanya kedoknya. "Ia ingin menjerumuskan, bahkan menjual kami. Ini gila!" "Ah, Puspa-san, Kimura-san minta kita semua istirahat dulu. Di sini sudah disiapkan kamar sementara. Ada lima kamar, silakan saya antar..." tiba-tiba kata Miki-san sesaat setelah muncul dari pintu belakang. "Nati malam Kimura-san akan menjamu makan malam di tempat hiburan miliknya. Ini semua untuk menghormati para penari dari Bali," tambah Miki-san. Puspa belum sempat menjawab. Kopornya sudah diangkat oleh beberapa lelaki yang menyertai Mikisan menuju kamar masing-masing. Setelah mandi, Puspa memanggil seluruh penari. Ia

ingin minta pendapat apa yang seharusnya dilakukan, kalau-kalau tawaran kontrak itu tidak benar. Kalau-kalau Yamasita-san yang begitu dikenalnya telah menipu mereka. Gung Dewi mengusulkan sebaiknya menelepon ke Indonesia untuk memberitahu keberadaan mereka. Ratnasari usul sebaiknya menelepon Kedutaan Besar di Tokyo saja. Sementara yang lain berpendapat sebaiknya menunggu apa yang terjadi nanti. Apa benar Kimura-san akan mengundang makan malam.Sampai siang hari, para penari tak berbuat apa-apa. Mereka tampak bengong dan saling pandang di kamar Puspa. Bahkan untuk sekadar makan siang pun tidak terpikirkan lagi. Satu hal yang mereka bisa pastikan bahwa kelimanya telah tertipu: mereka tidak benar-benar sedang dikontrak untuk menari. Sambutan hangat seperti yang dibayangkan Puspa sama sekali tidak terjadi. Kalau benar para penari dikontrak, sudah pasti Yamasita-san akan berada bersama mereka. Setidaknya ada perjanjian kontrak yang harus dibicarakan. Puspa merasa Yamasita-san telah berkomplot dengan orang yang disebut-sebut bernama Kimura-san untuk merencanakan sesuatu yang belum ia ketahui. *** Jakarta, April 2002

Malaikat Kecil
Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 06/16/2002

MESKIPUN tubuhku telah rapat pukulan Bapak, masih saja pukulan demi pukulan itu kuterima. Teriakan dan tangisan minta ampunku pun gagal meredam amarahnya. Dengan wajah beringas menumpahkan sumpah serapah penuh aroma alkohol, Bapak terus menghajarku, serupa petinju kelas berat menghajar sansak. Pukulan bertubi-tubi itu mengantarkan aku ke puncak rasa sakit, hingga akhirnya, aku tak merasakan lagi rasa sakit itu. Sejak saat itu, tangisku pun terhenti. Aku masih menyisakan perlawanan dengan menatap Bapak lekat-lekat.Sekarang pukul aku, bajingan cilik!" Aroma alkohol Bapak membadai di ruang hidungku. "Ayo pukul! Ayooo pukul!!!" Aku tetap berdiri mematung. Pelan-pelan kuraih pisau lipat dari kantung celana, dan beberapa detik kemudian kurasakan tanganku berkelebat. Wajah Bapak tergores. Darah menetes. Bapak tersenyum sambil mengusap pipi dan menjilat darah yang melekat di jari tangannya. "Aku senang kamu mulai berani melawan. Ayo teruskan. Teruskan! Aku ingin kamu jadi bajingan besar. Pembunuh besar! Bukan pengecut!" Bapak terus mendesakku, hingga aku terpojok di sudut ruangan. Mulut Bapak hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Aroma alkohol terus membadai. "Aku ingin kamu jadi bajingan besar. Maling besar. Tak hanya jadi pencopet yang hanya bisa mengutil kerupuk!" Bapak kembali melayangkan pukulan tepat di ulu hatiku. Rasa nyeri menggerayangi sukmaku. Aku terhuyung. Dengan sisa-sisa kekuatanku, kuayunkan pisau lipat. Namun, hanya angin yang bisa kurobek. Tawa Bapak berderai, mengiringi rebah tubuhku. Ibu, yang sejak tadi menangis terisak, langsung menubruk tubuhku. Kurasakan airmatanya yang hangat menetes di pipiku. "Tinggalkan kami bajingan tua!" kutuk Ibu dengan suara gemetar. Bapak tertawa. Sinis.

"Justru kamu yang harus pergi. Aku tidak ingin anakku dididik pelacur malang seperti kamu." "Bagaimanapun dia anakku. Aku yang mengandungnya. Kamu tak lebih dari pejantan...." "Dasar mulut ember! Kamu mestinya merasa bersyukur karena aku mau menitipkan benihku di rahimmu!" Tangis Ibu terhenti. Ia tertawa. Masam. "Sebelum aku kau tiduri, entah berapa lelaki telah menggauliku. Hingga aku hamil. Jadi, tak ada yang bisa menjamin kalau Socra ini anakmu. Bisa saja dia anak cendekiawan, seniman, politikus, pengusaha, birokrat, atau koruptor, manusia sejenis ular, kadal, macan, buaya, setan atau bahkan iblis. Kamu tak berhak mendidiknya menjadi maling atau pembunuh macam kamu, meskipun mungkin saja ia berdarah tukang jagal, garong atau rampok sekalipun. Titisan darah pembunuh tak harus jadi pembunuh! Bukankah ia juga punya hak untuk menjadi semacam malaikat kecil?" Ibu terus memelukku. Melindungiku dari serangan Bapak. "Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai mulut pelacur?" Mendadak handphone Bapak menjerit. "Ya, dengan saya sendiri. Ini siapa ya? Oooo Bapak. Ada apa Pak? Apa yang bisa saya bantu? Eeeeee... bisa-bisa... Soal itu gampang. Bapak bisa langsung kirim ke rekening saya. Tidak mahal Pak. Bapak tahu sendiri, ini risikonya kan besar. Oke. Terima kasih..." Tanpa memandang kami sedetik pun, Bapak langsung bergegas. Beberapa menit kemudian kudengar deru mobil Bapak meninggalkan halaman rumah. ITULAH saat terakhir aku bertemu Bapak. Mungkin dua puluh tahun. Atau mungkin lebih. Yang kuingat, tubuhku masih lekat dengan seragam sekolah menengah umum. Bapak begitu membenci jika kenakalanku hanya sedang-sedang saja: berkelahi dengan kawan, tawuran atau kegiatan remeh lainnya. "Jadi apa saja, kalau hanya tanggung, ya tak menghasilkan apa-apa!" bentaknya. "Aku ingin jadi politisi saja. Saya harap Bapak mau membiayaiku kuliah..."

"Untuk apa? Sudah terlalu banyak orang yang hidup dari kebohongan." "Bapak ingin saya jadi maling atau pembunuh?" "Itu jauh lebih jantan dibanding mereka yang berkedok kemuliaan padahal yang dilakukan sama, mengais-ais rezeki di lumpur comberan. Kalau jadi maling atau pembunuh, hanya tanganmu yang kotor. Tapi tidak mulutmu. Mencuci tangan jauh lebih gampang daripada mencuci lidah. Kamu sama sekali tak berbakat bersilat lidah..." Ketika aku lulus SMU, Bapak meninggalkan ibu. Tak ada yang ditinggalkan, selain sumpah serapah. Ia pergi bagai angin. Entah ke mana. Ibu juga tidak merasa perlu untuk mencari Bapak. Bentakan kemarahannya selalu menumpas kerinduanku pada Bapak. "Tak ada yang perlu disesali. Bahkan harus disyukuri, termasuk jika Bapakmu pergi ke neraka sekalipun!" Dengan susah payah, Ibu membiayai aku kuliah di Kota Besar: sebuah peradaban baru yang melucuti keprimitifanku. Otakku bekerja keras menyerap gagasan-gagasan gemerlap yang mungkin datang dari langit. Tidak serupa "kuliah" rutin Bapak yang mengajarkan kekerasan... darah... darah... dan darah! Aku sangat sedih, ibu tak bisa merasakan kebahagiaan ketika aku berhasil menyelesaikan kuliah. Di tengah pergulatan melawan kanker rahim yang ganas, Ibu pernah mengucap. "Aku ingin kamu jadi malaikat kecil yang dengan sayap-sayap kecil terbang mengawal arwahku kelak..." Akhirnya, Ibu harus menyerah pada maut. Satu-satunya caraku membalas pengorbanan Ibu hanyalah berusaha menjadi malaikat kecil yang terbang mengawal arwah Ibu. Malaikat kecil? Ah aku yakin, Ibu terlalu berlebihan. Harapan Ibu itu seperti sinar matahari yang berupaya menghancurkan kegelapan malam yang muncul dari rongga impian pemabuk seperti Bapak, "Aku lebih bangga kamu jadi maling besar. Pembunuh besar!" Dengan pedih, kata-kata Bapak itu hingga kini terus terngiang. Juga siang itu, ketika aku mengunjunginya di penjara Wallcatraz yang lembab, dingin dan terkenal "angker". Hanya penjahat-penjahat besar yang berhak menginap di penjara tua yang terletak di pulau terpencil itu. Aku memasuki lorong-lorong kompleks penjara itu dengan sedikit gemetar. Di sepanjang lorong berulang kali kutemui laki-laki berwajah sangar

digelandang para sipir dengan ringan cambukan dan pukulan. Langkahku terasa berat menyusuri lorong-lorong panjang itu, hingga sampai di ruang besuk. "Socra ya?" Rupanya ingatan Bapak masih cukup tajam. Ia dengan cepat mengenaliku. Tubuhnya tampak kurus. Kumis dan jenggot tumbuh sangat lebat, selebat sumpah serapahnya yang selalu lekat kukenang. Meskipun tampak sedikit lemah, Bapak masih menatapku dengan nanar. Bola matanya serupa bola api. Keharuan menggenang di kantung batinku. Aku tak kuasa menahan dua anak sungai yang mengalir di pipiku. "Tangisan hanya menunjukkan kelemahan." Aku tersengat. Ada rasa bangga yang diam-diam merayap di rongga jiwaku. Bagaimana mungkin Bapak bisa setegar itu? Bukankah hidupnya di ambang maut? Besok pagi, dia harus menghadapi regu tembak. Belasan timah panas akan merobek jantungnya! "Jantungku telah kuberikan kepada hidup... " Bapak mendesis, seperti ular licik yang tetap tegar menghadapi sayatan belati pemburu. "Tapi kenapa Bapak harus membunuh Hakim Agung Lopez Mannees itu? Bahkan sampai menghabisi keluarganya?" Bapak tersenyum. Sama sekali tak menunjukkan penyesalan. "Ya, kenapa tidak? Itu memang pekerjaanku. Ada orang yang merasa dirugikan oleh keputusan Pak Lopez. Ia berani membayarku dengan mahal. Dan aku sepakat pada aturan permainan. Tidak akan menyebut nama dia." "Tapi kalau Bapak mau mengungkap otak pembunuhan itu, barangkali hukuman Bapak tidak akan seberat ini." "Untuk apa? Sejelek-jeleknya pembunuh adalah yang mengingkari kesepakatan dan bersikap pengecut. Eeeee... kamu sendiri bagaimana? Sudah sangat lama kita tak bertemu, sudah berapa orang yang kau bunuh, anakku." "Maafkan aku. Aku telah mengecewakan Bapak. Aku sudah berusaha keras. Tapi ternyata aku sama sekali tak berbakat menjadi perampok, maling atau pembunuh macam Bapak... Maafkan aku..." Suaraku tertahan. Air mataku hendak tumpah, tapi

cepat kecegah. Aku tak ingin Bapak tertawa geli melihat kecengenganku. "Lantas selama ini kamu jadi apa? Dan apa saja yang kau kerjakan?" Kata-kata Bapak membadai dalam rongga jiwaku. Pertanyaan itu begitu telak, setelak pukulan tinju Bapak yang dulu hinggap di ulu hatiku. Otakku bekerja keras merancang kalimat yang hendak kuucapkan. Tapi, kalimat-kalimat itu justru menjelma gumpalan-gumpalan aneh yang menyumbat tenggorokan. Tarikan demi tarikan napas kulakukan untuk menenangkan jiwaku yang gelisah. Tapi tak juga menolong. Aku tetap saja gagal menguasai diriku. "Bapak telah siap menghadapi maut?" ucapku tiba-tiba, mencoba mengalihkan pembicaraan. Bapak memandangku dengan tatapan yang tetap saja nanar. Bola-bola api itu berpendar-pendar di matanya. "Kapan pun aku siap. Dan sedikit pun aku tak gentar pada maut. Aku mampu mereguk segala kenikmatan dan kemewahan juga atas jasa maut. Jadi kalau kini sang maut itu berbalik meremas jantungku, aku dengan senang hati menerimanya." "Apa yang Bapak inginkan menjelang kematian? Mungkin ada pesan?" "Satu-satunya yang kusesali adalah kegagalanku membinamu menjadi maling besar, atau pembunuh besar..." "Bukan itu. Maksud saya yang lebih berkaitan dengan perjalanan Bapak nanti..." "Aku sama sekali tak takut dengan kematian. Karena selama ini aku hidup dari kematian orang lain. Dan kematian itu sangat indah, anakku. Berulang kali aku membikin orang mengerjat-ngerjat kesakitan, kemudian nyawanya loncat... bersama angin... ah... fantastis..." "Mungkin Bapak perlu bimbingan untuk berdoa?" "Kenapa kamu bilang begitu? Apakah kamu...?" "Ya. Aku ditugaskan untuk membimbing bapak untuk berdoa." "Jadi kamu ini pendoa? Semacam rahib, anakku? Apakah Tuhan sudi menerima doa

pendosa macam aku ini?" Aku mengangguk, pelan. Kulihat mata Bapak berkaca-kaca. Baru kali ini kulihat air mata Bapak menitik. "Ibu mengharapkan aku menjadi semacam malaikat kecil yang terbang mengawal perjalanan arwah Ibu." "Mungkin juga arwah Bapakmu..." Bapak langsung memelukku. Erat. Sangat erat. Baru kali ini kurasakan kasih sayang seorang Bapak mengalir dan menggenangi ceruk-ceruk jiwaku. Pelukan Bapak merenggang, ketika terdengar suara sol sepatu menghajar kesunyian. "Sudah siap Bapa?" ujar seorang petugas dengan sangat santun. "Biarkan kami bicara dulu," ucapku pelan. Petugas itu pelan-pelan meninggalkan kami. Ruang penjara kami rasakan sangat kuat menekan kami. Pelan-pelan, dinding-dinding yang dingin itu terasa menghimpit kami. Kami berpelukan. Erat sekali. Seolah-olah kami tak bisa dipisahkan oleh kekuatan apa pun. Kurasakan pundakku basah. KUTINGGALKAN penjara dengan langkah yan sangat berat. Waktu terasa melaju begitu cepat. Gerimis putih yang menaburi senja membuat hari semakin tua, semakin gelap. Selebihnya adalah detik-detik arloji yang mengiris waktu, menjadi kepingankepingan masa lalu yang muram. Suara ledakan senapan regu tembak itu membentuk dinding rongga jiwaku. Aku melihat wajah Bapak tersenyum. Kematian itu begitu indah. Tapi tidak untuk yang ditinggalkan. Arwah Bapak pun terbang menyusun arwah Ibu. Tapi aku tak pernah tahu, apakah aku bisa menjelma malaikat kecil yang terbang mengawal arwah mereka. ***Jogja, awal Mei 2001

Tugé
Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas, Edisi 07/14/2002 BAGI kami orang-orang Moni, hidup tertinggi tidak dalam daging tak pada tubuh, melainkan pada roh, hantu-hantu punai dan kepu yang marah lalu berkata, "Saya lapar manusia." Bagi kami, orang-orang Moni, bila Anda bertanya kami bersandar pada apa, kami akan menjawab, Torang1 sandar pada kareken, benda adat yang

menghubungkan torang dengan roh abadi dalam gunung dan hutan. Torang sandar pada tugé, benda adat memperingati pembunuhan nenek moyang, karena perang." Perang? Begitulah, entah sejak kapan-selain berburu dan berkebun-perang menjadi bagian. Tetapi bagiku, yang walau seorang dari orang-orang Moni, semua telah tak lebih dari kenangan. Dan, dengan wajah Pak Piet dan Pastor Theo di kepala, aku melangkah mendekati wesa, honai atau rumah adat suku kami; menajamkan telinga. Dan benar. Meski samar, aku mendengarnya. Suara itu seperti desing, bagai menyelusup di kedalaman kabut, meliuk lapat menyentuh telinga. Kalau saja lebih jelas dan teratur tinggi-rendahnya, siapa pun tentu menyangka suara itu tiupan suling. Tetapi tidak. Suara itu berasal dari tugé, si keramat benda peringatan yang benarnya hanya sebuah batu yang salah satu sisinya ditajamkan. Sungguh aku tak habis pikir, kenapa "si batu" bisa bersuara seperti suling? Atau, betulkan kata Wetipo - dan aku harus percaya, suara itu tak lain suara punai, iko kunolepu2 yang menuntut-nuntut menagih nyawa? Bagaimanapun, kumasuki wesa dengan dada sedikit berdebar. Dalam rumah cendawan yang ukurannya lebih besar dari honai itu, di depan benda-benda keramat lain, di atas barisan uwarek3, aku pun melihatnya: Tugé itu, tampak mencolok, kali ini tentu bukan karena desingnya, melainkan karena bentuknya yang ganjil. Betul kata Wetipo, sama sekali berbeda. Tak sama dengan tugé-tugé lain yang diasah dari batu ceper, tugé ini dibuat dari batu bongkah tak beraturan. Kecuali salah satu sisi yang pipih, bagian lain malah berlekuk dan berlubang-lubang. Dan, saat itulah. Ketika aku menjulurkan tangan untuk meraih, angin mengeras bagai menerpa. Dan si batu... tugé itu, tiba-tiba bersuit bagai melengking. Terkejut, kutarik tangan. Kuamati dengan teliti.

Angin, lubang-lubang itu... o, aku tahu! Lubang-lubang di punggung tugé, lubang-lubang di bongkah batu inilah yang, karena tiupan angin, bisa bersuara seperti suling. Sungguh ajaib! Dan, suara itu bakal meninggi bila angin mengeras. Angin yang selalu ada di sini, di punggung gunung di ketinggian 3.000 meter dpl ini. Sebuah karya alam yang aih, sungguh mengagumkan. "Kau kini yakin, Jermias?" Aku menoleh ke sosok yang tibatiba sudah berada di pintu wesa. Wetipo. Ah, bagaimanakah menerangkan pada sahabatku ini, yang seumur-umur hidup di sini? Dibandingkan dunia luas-terbuka di luar atau di bawah sana, kami, orang-orang Moni, ada dalam kesenjangan beribu tahun.... *** KESENJANGAN beribu tahun, hmm, apakah aku berlebihan? Jika Anda melihat kami, orang-orang Moni, Anda akan maklum kenapa aku berkata begitu. Rambut kami hitam keriting kecil-kecil, dengan warna kulit cokelat tua sampai hitam perunggu. Tubuh kami besar, dengan kesan perut buncit karena tulang belakang yang melengkung bagai busur dan tulang pinggul yang melesak ke belakang. Dan, semua itu tak dibungkus oleh apa yang Anda sebut pakaian, kecuali sebentuk cungkup khusus (untuk laki-laki) dan semacam rumbai (bagi perempuan) pelindung organ vital. Walau entah kapan, kami percaya, leluhur kami "lahir" dari rahim gunung, dengan tombak kayu, panah, dan kapak batu. Bersama babi, burung-burung dan binatang lain, kami hidup, tumbuh dan temurun pada sebuah tempat yang dalam pikiranku kini juga sungguh ajaib. Betapa tidak. Di sini, di tanah kami, di punggung gunung yang senantiasa berkabut ini, bagai dibesut lalu dibentangkan sebuah danau. Bukan danau biasa atau danau air tawar, melainkan sebuah danau berair asin. Bayangkan, danau garam-di ketinggian tiga ribu meter dari permukaan laut, apakah itu tidak mencengangkan? Tetapi, seperti yang kukatakan, hidup kami hanya diisi oleh berkebun, berburu, dan berperang, sehingga danau garam itu jadi luput dan bertahun-tahun kemudian telah begitu saja digarap oleh orang-orang asing (kami menyebutnya orang-orang amber atau amberi) yang dengan penuh semangat naik berkilo-kilometer dari sebuah tempat sangat ramai (kelak, aku tahu tempat itu disebut kota) yang entah sejak kapan kami namakan Lembah Besar. Dan, dunia mulai berubah. Tetapi begitulah, kami tidak. Saat orang-orang asing itu sibuk bekerja, kami lebih asyik menggulung tembakau, menenggak sopa4, leha-leha. Dan tentu pula bukan hanya petani-petani garam yang naik dari Lembah Besar, tapi

juga misionaris. Maka... aku pun bertemu Pak Piet, dan Pastor Theo. Dua orang yang tak hanya mengenalkanku kepada apa yang disebut agama, tapi sekaligus membawa dan "mengeluarkan" dari sini. Mengingat Pak Piet dan Pastor Theo, aku kembali bagai disadarkan. Bersama Wetipo (yang sejak dari wesa kiranya melangkah mengikuti di belakangku), ternyata, kini, aku telah berada di sana: di pinggir danau itu. Jadi... inilah semua. Jadi, beginilah semua. Gudang-gudang garam rubuh, porak-poranda, bahkan sebagian hangus menghitam bekas dibakar. Butir-butir garam berhamburan, bertaburan, dengan karung-karung garam berserakan, jauh sampai ke tambak-tambak garam dan pinggir danau. Ah! Terbayang pula mereka, orang-orang asing itu, berlarian turun ke arah Lembah. Di antara mereka ada yang rebah, bergulingan, dengan punggung tertancap panah. Ah! Dan kembali, melintas wajah Pak Piet. Kalimatnya, "Kewajiban itu jatuh padamu, Jermias. Pergilah." Melintas pula wajah Pastor Theo. Katanya, "Kau harus ke sana, segera. Hanya kau yang bisa..." *** BETULKAH, betulkah aku bisa? Walau dunia kami, orang-orang Moni, nyaris tak berubah, bagaimanapun tentu ada yang kini berbeda. Walau aku memang adalah putra kain atau kepala suku, tetapi bagi yang lain - seperti juga keyakinanku, selalu - ada hal yang telah tak lagi sama. Begitu Jermias Gabey, si Gabey terakhir, pergi, siapa tahu itu juga berarti datang atau sahnya tata cara dan kehidupan baru. Seperti kata Wetipo, bukankah semuanya kini bagai ditentukan oleh abgoktek? Abgoktek, itu juga sebuah kata baru bagi orang-orang Moni. Artinya "orang besar" tetapi maksud sebenarnya adalah orang terpandang atau berpengaruh, walau ia bukan keturunan kepala suku. Kata itu berasal dari dialek Warat dan Kiruma, dua suku yang mendiami sebuah lembah kecil di selatan. Sampai kini aku masih heran, bagaimana kata itu-yang notabene berasal dari dua suku "musuh" kami-bisa hadir di sini. Abgoktek, dan itu artinya pula, Sarius Hopogan. Ketika pertama datang, kemarin, orangtua itu menatapku dengan sorot mata tajam, bergeming, tak berkedip, dari depan honai-nya. Selain sejumlah lelaki yang aku sudah lupa-lupa ingat, di belakangnya tergopoh mama-mama5 yang bagiku terkesan dipanggil mendadak. Melintas ingatan masa kecil. Betapa, waktu aku kanakkanak dulu, di mataku, Sarius Hopogan adalah sosok lelaki dewasa besar angker yang menakutkan. "Jadi, pada pikir kau bagaimana, Jermias?" Aku disadarkan oleh suara Wetipo. Pada pikirku? Jelas, ini keliru. Harus dihentikan ini semua. Keangkeran Sarius

Hopogan mungkin masih membekas di kelapaku, tetapi bayangan bencana masa depan juah lebih penting daripada itu. Kataku, "Akan kaulihat." "Apa maksud kau?" Kutepuk pundak Wetipo, memberi isyarat agar ia terus mengikutiku. Cukup. Ya, cukup sudah semua kusaksikan. Menghela napas, menegarkan dada menguak kabut, kulangkahkan kaki meninggalkan danau. Naik, terus naik... "Ke honai Pak Sarius?" Wetipo tertegun. Aku mengangguk. "Tapi ...," suara Wetipo ragu. Tetapi ... ya, memang sungguh di luar dugaanku. Masih 50 atau 60 meter lagi; masih terhalang rerimbun daun dan ambangan kabut, di sana, di ketinggian,di depan honai-nya, kulihat orang tua angker itu telah berdiri bagai menungguku dengan ... hampir semua orang kampungku! Aku tertegun, betulkah semua orang Moni mendukung tindakan itu? Menyetujui "perang" ini? Lama aku terpaku. Bahwa ada yang bakal mendukung Pak Sarius, itu sudah pasti. Bahwa ia sengaja memperlihatkan "kekuatan"-nya dengan memanggil sejumlah lelaki dan mama-mama ketika pertama aku datang, aku juga tahu. Tetapi, bahwa "kekuatan"-nya sebesar ini? Ratusan! Atau mungkin mencapai bilangan ribu! Memenuhi depan honai-nya meluber ke honai lain! Pantas, pantaslah Wetipo tadi tampak seperti ragu. Kuteruskan langkah. Abgoktek itu, diikuti yang lain, bergerak turun menujuku. "Pakaian" mereka: coretan kapur putih, saputan gemuk hitam wam (babi), bulu cenderawasih dan kasuari-atribut perang, kapankah itu mereka ganti? Dalam jarak sepuluhan meter, kami bertatapan. Aku masih mencari-cari kata (ah, apakah tampak gugup?) saat Pak Sarius mulai bicara. "Torang tahu kau punya maksud, Jermias. Tapi tak lagi, semua sudah. Harus perang!" Kulayangkan tatap - berusaha, ke semua mata. Akan sia-sia? "Tetapi, mereka orangorang amber. Perang suku hanya buat kita. Itu pun sudah masa lalu." "Masa lalu? Masa lalu, hah! Kaudengar suara tugé. Iko kunolepu miminta-minta! Waa...! Waaa...!" Orangtua itu menjuntaikan tangan, meloncat-loncat kecil: Tarian perang orang Moni. "Iii... yeeeee...!" Di belakang si tua, lelaki lain mulai mengikuti-gerakan itu. Dan mana-mana, bagai diberi aba-aba, mulai pula mengeluarkan suara: Menyanyi. Nyanyian pemberi semangat! Mulanya pelan, rendah bagai mencecah. Lalu mendaki. Meninggi... *** BAGI kami orang-orang Moni, bila punai "memperlihatkan" diri dan roh bagai meregang

dalam tugé, itulah saat iko kunolepu datang, muncul pulang ke anak-cucu dan berseru, "Perang suku!" Bagi kami, orang-orang Moni, bila Anda bertanya perang suku buat apa, kami akan menjawab, "Torang butuh darah tumpah, untuk kesuburan tanah. Torang mesti pelihara tanah, yang kasih torang, kasih dorang6, semua suku di gunungg ini, hidup, melahirkan anak, dan mendewasakan semua yang lahir." Semua suku di gunung ini? Ya, hanya, hanya suku-suku di gunung ini. Bagaimana itu bisa sampai berlaku bagi orang-orang amber? Bagi orang yang warna kulitnya sawo atau putih dan rambutnya lurus? Orang-orang yang, dengan gigih dan tekun, datang dari jauh, mengolah air asin (betapa akhirnya kami tahu, di kawasan gunung dan Lembah Besar, apa yang disebut garam ternyata sangat dibutuhkan) yang mungkin hanya bakal terabaikan? Ah, Sarius Hopogan. Dan kata itu, abgoktek, sungguh berbahaya. Aku yakin, karena kata itulah karena ingin menjadi abgoktek-Sarius Hopogan sengaja menciptakan perang. Memanfaatkan perang suku, yang sebenarnya sudah tak ada sejak puluhan tahun lalu. Sejak Pak Piet dan Pastor Theo naik dan datang ke tanah kami. Sejak mereka mendamaikan kami dengan "musuh" kami orang-orang Warat dan Kiruma. Tugé itu! Di situlah kuncinya! Tak lain, satu-satunya cara adalah dengan melenyapkan atau menghancurkan. Menghancurkan? O, tidak.... *** IDAK perlu dengan menghancurkan. Lenyap atau hancur bisa saja membuat orangorang kampungku marah, kalap. Dan kekalapan, sangat mungkin bakal mengundang masalah lain sementara persoalan sesungguhnya belum terselesaikan. Tugé ajaib itu, bukankah ia seperti suling? Satu tetakan saja, satu retakan saja, cukup. *** Payakumbuh, 6 Juni 2002 Catatan: 1. Aku, kami. 2. Roh nenek-moyang yang mati karena perang dan telah menjelma jadi roh yang dihormati. 3. Benda keramat yang didapat dari musuh yang berhasil dibunuh. 4. Panggilan hormat untuk perempuan.

5. Dia, mereka. ______________________________________________________________________

Kupu-kupu Kuning
Iyut Fitra Sumber: Kompas, Edisi 06/10/2002 Seekor kupu-kupu kuning beterbangan gelisah sesaat ada ia bertengger di daun pintudi saat lain, ingin pagi cepat datango, embun! peluklah aku....Hari sudah malam. Lampulampu sepanjang jalan kota bertaburan seperti bintang-bintang turun menyerbu kami. Sesekali terdengar sayup suara penjaja. Cuaca tidak mendung, hanya angin memukulmukul daun di taman-taman hingga menimbulkan bunyi desau teratur seperti suara kanak-kanak bermain galah di bawah bulan.Asti berjalan ke arah cermin di kamar itu. Di kaca bayangnya memantul. Ia tidak tahu pasti, apakah wajahnya yang ayu itu sedang berduka atau tengah gelisah. Setelah membuka pita rambut, ia biarkan rambutnya yang panjang lepas tergerai. Tiba-tiba matanya tertuju pada sehelai kertas yang tergeletak di atas meja; lakukanlah apa yang kauanggap perlu, setidaknya perintang kejenuhan, saya akan datang jam sebelas! Begitu bunyi surat tersebut, yang Asti pikir pasti untuknya.Inilah hari pertama Asti menjadi wanita panggilan. Seseorang telah memesannya untuk datang ke hotel ini. Pertama kali ketika kunci kamar hotel diserahkan kepadanya, hatinya berguncang. Ingin rasanya ia mencampakkan kunci tersebut dan segera berlari sekencang-kencangnya. Tetapi pada saat yang lain, ada sesuatu yang seolah-olah menahannya, menuntunnya, dan mengatakan: bagi hidup, tak satu pun yang harus ditakutkan, Asti!Pukul sebelas kurang lima menit. Sebentar lagi orang yang memesannya bakal datang. Asti kembali memperhatikan wajahnya di cermin. Matanya yang bulat di bawah alis yang tebal. Hidungnya yang bagus. Bibirnya. Lehernya yang jenjang. Dadanya. Ya, dadanya.... Ah, betapa sempurnanya! Tiba-tiba hatinya pedih. Asti tak sanggup menahan air mata yang begitu saja menetesi kedua pipinya. Ingin rasanya ia meninju cermin, menghantamnya, agar ia tidak lagi melihat

wajahnya. Agar ia tak melihat lagi dirinya yang seolah-olah akan kehilangan begitu banyak hal yang teramat penting. Tetapi ia mencoba untuk menetralisir perasaannya. Ia mencoba menghibur dirinya sendiri. Pekerjaan itu harus dilakukannya. Harus! Kemudian dari dalam tas kecilnya ia keluarkan sehelai sapu tangan. Ia menghapus air matanya. Mengoleskan sedikit bedak yang tadi terhapus. Mewarnai bibirnya dengan lipstik yang menyala. Ia mencoba untuk tersenyum.Seekor kupu-kupu kuning beterbangan gelisahsesaat ada ia bertengger di daun pintudi saat lain, ingin pagi cepat datango, embun! peluklah aku....Setelah menghidupkan televisi, Asti menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Segalanya begitu saja tiba-tiba menjadi seolah sia-sia dan tidak berharga. Pahanya tersingkap. Dadanya tersembul. Ketika sesuatu telah dimulai, barangkali saat itu pula sesuatu yang lain bakal berakhir, demikian pikir Asti, dan membiarkan segala yang selama ini ia jaga menjadi terbuka.Di televisi, seorang pejabat pemerintah sedang berpidato penuh antusias. Bahwa untuk kehidupan yang lebih layak, mengatasi pengangguran serta gelandangan, lapangan kerja harus dibuka. Bahwa kemiskinan harus dientaskan, dimusuhi, dan akan segera dicari jalan keluarnya dengan berbagai-bagai perencanaan yang segera akan direalisasikan dan

seterusnya....``Taik!`` umpat Asti kesal. Televisi pun mati. Asti menyelai sebatang rokok. Dan jelas, pegangan serta isapannya terkesan masih sangat gagap. Sudah pukul sebelas lewat lima menit.Ada suara ketukan. Kemudian terdengar handel pintu berderit. Jantung Asti berdegup. Dalam perkiraannya telah tergambar seorang laki-laki gendut, sesungguhnya telah tua, buruk, menjemukan tetapi kaya. Laki-laki yang tentunya sudah bosan dengan istrinya yang keriput, apalagi jika sang istri tidak pandai membenahi diri. Laki-laki dengan mata yang penuh nafsu, rakus, dan dari mulutnya akan tercium bau tembakau. Laki-laki yang bagi orang-orang di sekitarnya (apalagi yang suka menjilatjilat) pasti dipanggil Bos. Kalau tidak, mana berani ia membayar harga yang diminta oleh Asti. Harga yang cukup tinggi, karena untuk sesuatu yang pertama.Namun dugaan Asti jauh meleset. Seorang laki-laki muda, paling tinggi sekitar tiga puluh tahun, tersenyum ke arahnya. Asti terkesiap. dasi. Laki-laki Masuk ke itu membuka mandi. jas dan

menggantungkannya.

Menanggalkan

kamar

Mungkin

membersihkan muka. Kemudian keluar lagi dan mengambil dua buah minuman kaleng dari bar mini yang ada di kamar itu. Ia menyodorkan satu di antaranya pada Asti. Asti

menerimanya dengan perasaan berkecamuk. Ia mencoba untuk tenang, meski kegelisahan tidak sanggup dibuangnya. Ternyata laki-laki yang memesannya masih sangat muda! Tetapi apa bedanya? pikir Asti. Bukankah tua atau muda ia harus melakukannya? Bukankah ia kini telah menyandang profesi kupu-kupu malam?Laki-laki itu duduk di tepi ranjang, sangat berdekatan dengan Asti. Asti tidak dapat membohongi dirinya bahwa tubuhnya gemetar. Entah takut, entah cemas, entah apa. Mata laki-laki itu mulai menelusuri seluruh tubuhnya yang tersingkap di sana-sini. Kulit Asti yang putih, yang selama ini dijaganya, seolah-olah mulai terjual.``Sudah lama menunggu?`` tanya laki-laki itu. ``Maaf, saya agak telat karena rapat terlalu sulit menemukan solusi.````Sudah. Dan segalanya mungkin telah bisa dimulai,`` jawab Asti berusaha setenang mungkin. Tetapi nada suaranya jelas bergetar.Laki-laki itu tertawa. Berdiri meletakkan minuman.``Saya tidak serakus yang kaupikirkan!`` ungkapnya. Apakah itu sebenarnya atau hanya basa-basi, Asti barangkali tidak perlu tahu.``Tetapi aku telah siap!`` ucap Asti lagi.Laki-laki itu menyelai sebatang rokok, lalu menawarkan pada Asti. Asti mengambilnya. Laki-laki itu mengembuskan napas panjang, duduk di sebuah kursi.``Benarkah ini kali pertama?`` nakal pertanyaan itu.Asti tidak menjawab. Tapi ia mengangguk.``Mengapa begitu berani melakukannya?``Asti seperti dipojokkan.

Sesuatu seolah-olah menerjang hatinya. Jantungya perih. Dadanya bergemuruh. Ia berusaha melawannya.``Lakukanlah!`` akhirnya Asti berkata seraya membuka bajunya, sehingga sebuah panorama terpampang begitu indah.``Jangan tergesa-gesa, saya tidak suka. Sesuatu yang tergesa tidak akan meninggalkan kesan yang bagus,`` ucap laki-laki itu seraya meminta Asti untuk kembali memasang bajunya. Asti bingung. Tapi, barangkali ini baru permulaan, pikir Asti. Bukankah laki-laki akan selalu tampil untuk merampas simpati seorang wanita pada tahap pertama?``Kau keberatan untuk menceritakannya?`` tanya laki-laki itu seraya membenahi rambut Asti yang berserakan di keningnya. Asti jadi gugup.``Barangkali itu tidak ada dalam perjanjian kita.`` ``Barangkali itu akan dapat menukar apa yang telah menjadi perjanjian kita!``Asti terperangah. Ditatapnya mata laki-laki itu lama-lama. Tapi semakin lama ditatapnya, semakin ia tidak mengerti dengan apa yang tengah dihadapinya. Kupu-kupu malam! Ah, bagaimanapun Asti kini telah masuk ke dalam ragam rahasia yang masih sangat asing baginya.seekor kupu-kupu kuning beterbangan gelisahsesaat ada ia bertengger di daun

pintudi saat lain, ingin pagi cepat datango, embun! peluklah aku.... ``Aku dilahirkan tepat pada hari kematian ayahku. Jelas aku tidak paham, apakah ibuku menangis saat itu untuk kebahagiaan setelah melahirkan aku dengan selamat, atau untuk kesedihan atas kematian ayahku yang telah sepuluh tahun mendampinginya,`` ucap Asti akhirnya memulai, pelan dan ragu-ragu.Waktu terus bergerak. Di luar, gelap mungkin telah semakin jelas. Malam merangkak mengembuskan angin menembus ventilasi. Kehidupan sungguh aneh dan gaib, tapi tentu lebih gaib nasib dan takdir.``Ayahku tidak meninggalkan apa-apa selain sepetak rumah kontrakan yang belum lunas serta derita di pundak ibuku yang tak berdaya. Sebagai seorang buruh pabrik, ayahku ternyata tidak sanggup memberikan kesejahteraan pada apa yang ia cinta. Tapi kami tidak pernah menyesalinya.Semenjak itu ibuku mulai bekerja sebagai tukang cuci di rumah-rumah keluarga berada. Upah cuci ternyata tidak mampu untuk menjelmakan hasratnya menyekolahkanku. Lalu pada malam harinya ibuku mencoba membuat kue-kue kecil yang esok paginya ia antarkan ke warung-warung. Dalam kemorat-maritan itulah aku dimasukkan sekolah. Kadang ada saat aku terkantuk-kantuk di kelas karena membantu ibu sampai larut malam. Segala berlangsung dalam kesederhanaan. Bukan! Bukan kesederhanaan, barangkali lebih tepat kekurangan! Namun segalanya dengan tertatih dapat berjalan.Itu hanya berlangsung sampai aku kelas satu SMP. Saat itu kupikir nasib selalu ingin bermusuh dengan keluarga kami. Karena tiba-tiba ibuku sakit, dan kontan tidak dapat berbuat apa-apa. Tak ada jalan lain, otomatis aku berhenti sekolah, menggantikan peran ibu sebagai pencari nafkah. Kian hari sakit ibuku kian parah, dan itu memerlukan pengobatan yang serius, sedangkan kami tidak punya uang.Kini sudah enam belas tahun usiaku. Aku tidak sanggup lagi rasanya melihat ibuku terus didera penderitaan. Telah cukup lama ia tersiksa. Barangkali sudah sepantasnya ia mengecap kesenangan, kebahagiaan, jauh dari kekurangan. Lama sekali aku dibelit oleh pikiran seperti itu, sementara aku juga tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa,`` ungkap Asti tidak sanggup lagi menahan isaknya.``Maka ketika seseorang datang kepadaku memberikan jalan keluar seperti ini, aku menerimanya. Kupu-kupu malam! Atau lebih kasar lagi, pelacur! Alangkah takutnya aku dulu mendengar kata-kata itu. Tapi kini aku harus menyandang sebutan tersebut. Tidak! Aku tidak akan menyesal. Aku lebih mencintai ibuku daripada kehidupanku. Aku

lebih menyayangi ibuku ketimbang tubuhku,`` urai Asti dalam campuran tangis yang tidak dapat dibendungnya.Malam barangkali telah sampai di ujungnya. Dingin semakin menyergap. Suara penjaja telah sepi. Dan waktu seolah terseret-seret mengikuti detak jarum menuju sebuah siklus yang sesungguhnya selalu berkisar pada tempat yang sama; kehidupan!Pada suatu ketika kita menyaksikan pemandangan yang teramat berlebihan. Di mana segala sesuatu seolah-olah bergerak sangat mudah, tanpa aral, tanpa rintang, dan tidak satu pun yang dapat membendung setiap keinginan.Pada saat yang lain kita terkadang tidak mampu menyurukkan muka melihat kekurangan demi kekurangan yang betapa melahirkan kepedihan, tetapi tak satu jua yang rela menceburkan dirinya untuk memberikan sedikit pertolongan.Alangkah hidup itu sesungguhnya sangat nisbi dan betapa mencengangkan!``Segalanya sudah jelas. Kini, lakukanlah!`` ucap Asti setelah selesai mengusap air matanya, kemudian ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Seluruhnya! Asti telah pasrah. Ia pikir, ia harus bertarung melawan nasib.Laki-laki itu berdiri, dan berjalan ke arah Asti. Asti telah menunggu di ranjang. Gemetar, atau mungkin takut, atau mungkin dengan segunduk harapan akan kebahagiaan ibunya.seekor kupu-kupu kuning beterbangan

gelisahsesaat ada ia bertengger di daun pintudi saat lain, ingin pagi cepat datang o, embun! peluklah aku....Tetapi setelahnya, tidak sesuatu pun yang sempat terjadi selain ucapan laki-laki itu: ``Saat azan subuh telah selesai, tandanya pagi telah datang. Sesuatu akan berubah seirama dengan deru waktu. Dan perubahan itu, terkadang kita tidak pernah sempat menduganya. Bila aku telah tertidur, tinggalkan alamatmu, lalu pulanglah! Katakan pada ibu, bahwa aku akan menikahimu, Asti!`` ucap laki-laki itu lembut tapi pasti.Asti tidak sempat berkata-kata. Namun yang ia pikir, adakah ini hanya sebuah mimpi karena nasib begitu cepat sekali berubah. Tetapi kemudian ia dapatkan dirinya telah berjalan menuju rumahnya dengan bayangan sejuta kupu-kupu beterbangan riang, tanpa sedikit pun kegelisahan.***Payakumbuh, 2000

Percakapan Patung-patung
Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 09/15/2002

BULAN sebesar semangka tersepuh perak, tergantung di langit kota, dini hari. Cahayanya yang lembut, tipis berselaput kabut, menerpa lima sosok patung pahlawan yang berdiri di atas Monumen Joang yang tak terawat dan menjadi sarang gelandangan. Cahaya bulan itu seperti memberi tenaga kepada mereka untuk bergerak-gerak, dari posisi mereka yang berdiri tegak. Mereka seperti mencuri kesempatan dari genggaman warga kota yang terlelap dirajam kantuk dalam ringkus selimut.Lima patung yang terdiri dari tiga lelaki dan dua perempuan itu, menggoyang-goyangkan kaki, menggerakkan tangan, kemudian duduk dan bahkan ada yang tiduran. Mungkin, mereka sangat letih karena selama lebih dari empat puluh tahun berdiri di situ. Wajah mereka yang kaku, dengan lipatan-lipatan cor semen yang beku pun kerap bergerak-gerak seperti orang mengaduh, mengeluh, menjerit dan berteriak. Tentu, hanya telinga setajam kesunyian yang mampu mendengarnya."Dulu, ketika jasad kita terbujur di sini, kota ini sangat sunyi. Hanya beberapa lampu berpendar bagai belasan kunang-kunang yang membangunkan malam. Kini, puluhan bahkan ratusan lampu, bependar-pendar seterang siang. Negeri ini benar-benar megah," ujar patung lelaki yang dikenal dengan nama Wibagso sambil mengayun-ayunkan senapannya."Tapi lihatlah di sana, Bung Wibagso. Kumpulan gelandangan tumpang-tindih bagi jutaan cendol sedang makan bangkai anjing dengan lahap. Dan di sana, lihatlah deretan gubug-gubug reyot menyatu dengan gelandangan yang berjejal bagai benalu menempel di tembok gedung-gedung. Mulut mereka menganga menyemburkan abab bacin serupa aroma mayat,

mengundang jutaan lalat terjebak di dalamnya. Ya, Tuhan, mereka mengunyah lalatlalat itu..." desis patung lelaki bernama Durmo.Ratri, patung perempuan yang dulu dikenal sebagai mata-mata kaum gerilyawan, menukas, "Itu biasa rekan Durmo. Dalam negeri yang gemerlap, selalu dirawat kemiskinan

sebagai ilham bagi kemajuan. Kita mesti bangga, negeri ini sangat kaya. Lihatlah di sana deretan rumah mewah menyimpan jutaan keluarga bahagia. Ada mobil-mobil mewah, ada lapangan golf pribadi, bahkan ada pesawat terbang pribadi... Dan lihatlah di sana, orang-orang berdansa-dansi sampai pagi. Yaaa... ampun malah ada yang orgi..."Patung Sidik, yang sejak tadi menyidik dunia sekitar dengan mata nanar melenguh bagai sapi di ruang jagal, "Ternyata mereka hanya sanggup mengurus perut dan kelamin mereka sendiri. Aku jadi menyesal, kenapa dulu ikut memerdekakan negeri ini." "Aku pun jadi tidak lagi pede sebagai pahlawan," timpal Durmo, "Kita bediri di sini tak lebih dari hantu sawah. Ternyata mereka tak sungkan apalagi hormat kepada kita. Buktinya, mereka menggaruk apa saja." "Kamu jangan terlalu sentimentil. Aku rasa mereka tetap hormat kepada kita. Buktinya, mereka membangunkan kita monumen yang megah," tukas Wibagso. ”Tapi kenapa kita hanya diletakkan di sini, di tempat njepit ini. Mosok monumen pahlawan kok cuma dislempitkan," gugat patung perempuan bernama Cempluk, yang dulu dikenal sebagai pejuang dari dapur umum.Angin bertiup mengabarkan hari sudah pagi. Gelandangan-gelandangan yang tidur melingkar di kaki monumen itu menggeliat. Mulut mereka menguap kompak. Aroma abab bacin yang membadai dari sela gigi-gigi kuning, menguasai udara sekitar. Tercium oleh para patung pahlawan. Sontak mereka serempak berdiri, dan masing-masing kembali pada tempatnya, sebelum keheningan pagi dirajam hiruk-pikuk kota, sebelum udara bersih pagi dicemari deru nafas kota yang keruh.Dalam posisi asal, patung-patung pahlawan itu terus bergumam. Tapi hanya telinga setajam kesunyian yang mampu menangkapnya. YU Seblak, pelacur senior yang dikenal sebagai danyang alias "penunggu" monumen itu, duduk takzim di kaki monumen. Tangannya di angkat di atas kepala. Tergenggam dupa yang mengepulkan asap. Kepulan asap itu menari-nari mengikuti gerak tangan Yu Seblak. Ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Gerakan Yu Seblak diikuti lima-enam orang yang duduk di belakang perempuan berdandan menor itu. Yu Seblak bergumam

meluncurkan kata-kata mantera."Aku mendengar ada banyak orang mendoakan kita. Mereka memberi kita sesaji. Ada bunga-bunga, ada jajan pasar, ada juga rokok klembak menyan," Mata Wibagso terus mengikuti upacara yang dipimpin Yu Seblak. "Kurang ajar! Kita dianggap dhemit! Malah ada yang minta nomer buntut segala! Ini apa-apaan Wibagso!" teriak Durmo "Ssssttt. Tenanglah. Apa susahnya kita membikin mereka sedikit gembira. Anggap saja ini intermezzo dalam perjalanan kita menuju jagat keabadian," ujar Wibagso. "Tapi kalau pahlawan sudah disuruh ngurusi togel itu kebangeten!" protes Cempluk. "Hidup mereka gelap rekan Cempluk. Mereka hanya bisa mengadu kepada kita, karena yang hidup tak pernah mengurusi nasib mereka. Justru menghardik mereka...," tukas Ratri.Yu Seblak terus mengucapkan doa dalam irama cepat, diikuti orang-orang di belakangnya. Selesai memimpin doa, Yu Seblak menerima berbagai keluhan para "pasiennya". "Wah kalau pahlawan disuruh ngurusi garukan pelacur, ya enggak bisa. Punya permintaan itu mbok yang sopan gitu lho..." "Habis, saya selalu kena garuk, Yu. Jadinya 'dagangan' saya sepi. Ehhh siapa tahu, para petugas ketertiban kota itu takut dengan Kanjeng Wibagso dan semua pahlawan di sini. Tolong ya... Yu..." ujar Ajeng, perempuan berparas malam itu, sambil menyerahkan amplop di genggaman Yu Seblak. "Yaahhh akan saya usahaken. Semoga saja Kanjeng Wibagso dan rekan bisa mempertimbangken..."Wibagso tersenyum. Sidik manggut-manggut. Durmo tampak tersinggung. "Mereka ini payah. Garuk-menggaruk itu kan bukan urusan kita. Mestinya mereka mengadu ke anggota dewan..." "Ah anggota dewan kan lebih senang kasak-kusuk untuk saling menjatuhkan...," ujar Sidik.

"Tampung saja keluhan itu," sahut Wibagso. "Tapi urusan kita banyak, Bung! Kita masih harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita selama hidup. Jujur saja, waktu berjuang dulu, aku menembaki musuh tanpa ampun seperti aku membasmi tikus," mata Durmo menerawang jauh. "Perang memungkinkan segalanya, Bung. Kita tidak mungkin bersikap lemah lembut terhadap musuh, yang mengincar nyawa kita. Kita membunuh bukan demi kepuasan melihat mayat-mayat mengerjat-ngerjat karena nyawanya oncat. Kita hanya mempertahankan hak yang harus digenggam," Wibagso mencoba menghibur Durmo "Kita yakin saja, malaikat penghitung pahala pasti mencatat seluruh kebaikan kita," Ratri menimpali.Dari penjual rokok di seberang jalan, sayup-sayup terdengar warna berita dari radio: "Monumen Joang untuk mengenang lima pahlawan yang gugur dalam pertempuran Kota Baru melawan pasukan Belanda akan dipugar. Status mereka pun sedang diusulkan untuk ditingkatkan dari pahlawan kota telah menyiapkan anggaran sebesar tiga milyar." Lima patung itu mendengarkan berita dengan takzim. Wibagso meloncat girang. Ratri menari-nari. Cempluk hanya diam terpekur. Durmo masih dibalut perasaan gelisah. Sidik berdiri mematung, meskipun sudah sangat lama jadi patung. "Kenapa kalian hanya diam? Berita itu mesti kita rayakan!" ujar Wibagso. "Untuk apa? Aku sendiri tak terlalu bangga jadi pahlawan. Ternyata negeri yang kumerdekakan ini, akhirnya hanya menjadi meja prasmanan besar bagi beberapa gelintir orang. Sedang jutaan mulut yang lain, hanya menjadi tong sampah yang mengunyah sisa-sisa pesta," ujar Sidik. "Itu bukan urusan kita, Bung. Tugas kita sudah selesai. Kita tinggal bersyukur melihat anak cucu hidup bahagia," sergah Wibagso. "Tapi jutaan orang-orang bernasib gelap itu terus menjerit. Jeritan mereka memukulmukul rongga batinku." "Ah, sudah jadi arwah kok masih perasa.""Tapi perasaanku masih hidup!"

"Untuk apa memikirkan semua itu. Kalau masih ada yang kurang beruntung, itu biasa. Hidup ini perlombaan. Ada pemenang, ada juga pecundang!" "Jangan-jangan kamu ini kurang ikhlas berjuang, Bung Sidik," timpal Ratri. "Kurang ikhlas bagaimana? Kakiku yang pengkor ini telah kuberikan kepada hidup. Bahkan jantungku telah menjadi sarang peluru-peluru musuh. Mereka

memberondongku tanpa ampun hingga tubuhku luluh latak bagai dendeng." "Ooo kalau soal itu, penderitaanku lebih dahsyat. Kalian tahu, ketika aku merebut kota yang dikuasai musuh, puluhan peluru merajamku. Tapi aku puas, karena berkat keberanianku, nyali kawan-kawan kita terpompa dan akhirnya berhasil memenangkan pertempuran. Ini semua berkat aku!" "Enak saja kau bilang aku," sergah Durmo. "Dalam pertempuran merebut Kota Baru itu, aku dan Sidik yang berdiri paling depan. Menghadapi musuh satu lawan satu. Kamu sendiri, lari terbirit-birit ke hutan dan ke gunung. Dan kamu, tanpa malu, menyebut sedang bergerilya!" "Tapi akulah yang punya ide untuk menyerang. Aku juga yang memimpin serangan fajar itu!" "Siapa yang mengangkatmu jadi pemimpin, Wibagso? Siapa? Waktu itu, kita tak lebih dari pemuda yang hanya bermodal nyali. Tak ada jabatan. Tak ada hierarki. Apalagi pimpinan produksi perang!" hardik Durmo. "Tapi perang tidak hanya pakai otot, Bung! Perang juga pakai otak. Pakai strategi!" Napas Wibagso naik-turun. "Tapi strategi tanpa nyali bagai kepala tanpa kaki!" kilah Durmo. "Bung Wibagso," tukar Sidik, "Kenapa kamu sibuk menghitung-hitung jasa yang sesungguhnya hampa?!"Bulan mengerjap, seperti tersentak. Wajah Wibagso memerah.

"Sidik! Belajarlah kamu menghargai jasa orang lain. Jangan anggap kamu paling pahlawan di antara para pahlawan!" "Kapan aku membangga-banggakan diri? Kapan? Kamu ingat, waktu berjuang dulu, aku justru menghilang ketika ada Panglima Besar mengunjungi kawan-kawan kita yang berhasil menggempur musuh. Kalau aku mau, bisa saja aku mencatatkan diri menjadi prajurit resmi. Dan aku yakin, ketika negeri ini merdeka, aku mampu jadi petinggi yang bisa mborongi proyek. Tapi, puji Tuhan, maut keburu menjemputku," ujar Sidik. "Begitu juga aku," sergah Durmo, "Aku berpesan kepada anak-anakku, kepada seluruh keturunanku, untuk tidak mengungkit-ungkit jasa kepahlawananku, demi uang tunjangan yang tak seberapa banyak. Itu pun masih banyak potongannya!" "Munafik. Kalian ini munafik!" bentak Wibagso.Bulan kembali mengerjap. Angin terasa mati.Napas kota kembali berhembus. Jantung kota kembali berdegup. Gelandangan, pelacur dan copet kembali menggeliat. Mulut mereka kompak menguap menyemburkan abab bacin penuh bakteri."Aku yakin, kalau monumen ini jadi dipugar, kita akan kehilangan tempat," ujar Kalur, pencopet bertubuh tinggi kurus itu. "Kita harus turun ke jalan. Kita kerahkan semua gelandangan di kota ini. Kita demo besar-besaran!" timpal Karep yang dijuluki "gelandangan intelektual" karena gemar mengutip kata-kata gagah.Percakapan mereka dihentikan suara radio milik Yu Seblak yang menyiarkan warta berita: "Drs Ginsir, Kepala Kotapraja yang menggantikan RM Picis, membatalkan rencana pemugaran Monumen Joang. Menurut Drs Gingsir, proyek itu mubazir. Bertenangan dengan azas kemanfaatan bagi publik. Apalagi pengajuan perubahan status menjadi pahlawan nasional, ditolak Tim Pakar Sejarah Nasional. Dana sebesar tiga milyar dialihkan untuk memberikan bantuan pangan kepada masyarakat

prasejahtera."Gelandangan-gelandangan sontak bersorak. Mereka menari. Beberapa orang menenggak minuman oplosan alkohol. Bahkan ada yang mencampurinya dengan spritus. Jantung mereka berdetak cepat. Gerakan tubuh mereka semakin

rancak, semakin panas.Bulan pucat di angkasa berselimut kabut. Kota kembali tidur. Tapi di sebuah gedung pemerintahan kotapraja, tampak lampu masih menyala. "Saya setuju saja, jika Den Bei Taipan mau bikin mall di sini," ujar Drs Ginsir sambil minum anggur ."Terima kasih... terima kasih. Bapak Ginsir ternyata welcome. Eeee soal pembagian keuntungan, itu dinegosiasikan. Biasanya, 30:60." Den Bei menenggak anggur merah. "Tapi tunggu dulu, Den Bei. Saya mesti mengusulkan masalah ini pada Dewan. Dan biasanya itu agak lama. Maklum..." "Eeee bagaimana kalau 35:65. Tidak ada konglomerat gila macam saya." "Tapi masih banyak konglomerat lain yang lebih gila, Den Bei..." "Bagaimana kalau 40:60. Ini peningkatan yang sangat progresif." "Well...well...well... Saya kira Den Bei bisa bikin mall tidak hanya satu. Tanah di sini masih sangat luas." "Bapak ini ternyata cerdas. Setidaknya, mendadak cerdas."Keduanya tertawa berderai. "Den Bei tinggal pilih. Alun-alun, bekas benteng Rotenberg atau di Monumen Joang." "Semuanya akan saya ambil." "Terima kasih. Sulaplah kota kami ini jadi metropolitan."Keduanya berjabat tangan.***" PENGKHIANAT! Culas! Licik dan sombong! Penguasa demi penguasa datang, ternyata hanya bertukar rupa. Mereka tetap saja menikamkan pengkhianatan demi

pengkhianatan di tubuh kita!" Wibagso menggebrak, hingga tubuh monumen bergetar. "Mereka menganggap kita sekadar bongkahan batu yang beku. Mereka hendak menggerus kita menjadi butiran-butiran masa silam yang kelam!" hardik Ratri.Sidik, Durmo, dan Cempluk tersenyum. "Kenapa kalian hanya diam? Kita ini hendak diluluhlantakkan. Lihatlah buldoser-

buldoser itu datang. Berderap-derap. Kita harus bertahan. Bertahan!" teriak Wibagso.Di bawah monumen, Yu Seblak memimpin penghadangan penggusuran. "Kita harus bertahan! Kita lawan buldoser-buldoser itu! Ajeng, Karep, Kalur, di mana kalian?" teriak Yu Seblak. "Kami di sini. Di belakangmu!" jawab mereka kompak. "Kita lawan mereka. Kita pertahankan liang-liang kita. Lebih baik mati daripada selamanya dikutuk jadi kecoa!"Deru buldoser-buldoser mengepung monumen.

Beberapa orang berseragam memberi aba-aba. Buldoser-buldoser terus merangsek. "Lihatlah, mereka yang hanya gelandangan saja membela kita. Mestinya kalian malu!" hardik Wibagso. "Wibagso! Kalau kami akhirnya melawan mereka, itu bukan untuk membela kepongahan kita sebagai pahlawan. Tapi membela mereka yang juga punya hak hidup!" teriak Sidik. "Aku tak butuh penjelasan. Tapi butuh kejelasan sikap kalian untuk melawan mereka Ratri, meloncatlah kamu. Dan masuklah ke ruang kemudi. Cekik leher sopir-sopir itu. Cempluk, tahan moncong buldoser itu. Ganjal dengan tubuhmu. Sidik, dan kamu Durmo hancurkan mesin buldoser-buldoser itu. Cepat!" Wibagso mengatur perlawanan seperti ketika menghadapi tentara-tentara penjajah.Buldoser terus merangsek. Meluluhlantakkan badan monumen. Menerjang orang-orang yang mencoba bertahan. Kalur, Karep, Ajeng, dan orang-orang lainnya lari lintang pukang. "Kalian benar-benar pengecut!" teriak Yu Seblak. "Sia-sia melawan mereka! Mereka ternyata buaanyaakkk sekali!" teriak Kalur. "Kita menyingkir saja. Pahlawan saja mereka gilas, apalagi kecoa makam kita! Menyingkir... Menyingkir saja!!!" Karep mencoba menarik Yu Seblak yang berdiri beberapa sentimeter dari moncong-moncong buldoser. Tapi Yu Seblak tetap bertahan, sambil terus mengibar-ngibarkan kain dan kutangnya. Tak ada yang menahan Yu Seblak untuk telanjang. Buldoser-buldoser itu dengan rakus dan bergairah menggilas

tubuh Yu Seblak. Tubuh kuning langsat itu bagaikan buah semangka yang dilumat blender.Wibagso tersentak. Ratri menjerit histeris. Durmo dan Sidik berteriak-teriak penuh amarah. Mereka mencoba menghadang buldoser-buldoser itu. Tapi mesin penghancur itu terlalu kuat buat dilawan. Patung-patung itu dilabrak dan dihajar hingga lumat.Bulan di angkasa mengerjap, Angin mati. "Kalian telah membunuh kami untuk yang kedua kalinya..." ujar Wibagso lirih. Ucapan itu terus bergema, hingga mall itu selesai dibangun, dan diresmikan Kepala Kotapraja, Drs Gingsir. Hingga kini, suara-suara itu terus mengalun. Tapi hanya telinga setajam kesunyian yang mampu mendengar gugatan itu.* Jogja, awal Juli 2002 (Terima kasih untuk Joko DH dan Menthol Hartoyo) ______________________________________________________________________

Jakarta 3030
Martin Aleida Sumber: Kompas, Edisi 08/25/2002

BONGKAH emas yang menengger di puncak Monumen Nasional sudah lama ditakik dan disingkirkan dari tempat duduknya. Dia digelindingkan begitu saja di daratan. Tak lebih berharga dari segundukan tanah merah. Emas sudah tak bisa mempertahankan kemuliaannya di atas besi atau timah. Anak-anak saja sudah bermain-main dengan lempengan-lempengan emas yang mereka ciptakan dari adonan kimia. Kesemarakan dan lambang kekuasaan sudah berubah makna, paling tidak di kota ini. Yang disanjung orang sekarang adalah gizogasarm, senyawa kimia hasil ekstraksi dari inti api, yang dijadikan bahan mentah untuk memproduksi chip yang bisa menampung data jutaan kali lipat dan dengan kecepatan tak terperikan dibandingkan seribu tahun

sebelumnya.Kata-kata.

Karena sifatnya yang

bisa ditafsirkan dalam berbagai

pengertian, kata-kata sebagai sarana ekspresi sudah ditinggalkan. Sekarang adalah dunia presisi, dengan bahasa ketepatan yang memiliki pengertian tunggal.

Bayangkanlah bagaimana pentingnya presisi sepuluh abad yang akan datang, kalau sekarang saja apabila Anda salah memasukkan angka PIN, maka tak sepeser pun yang bisa Anda tarik dari ATM. Pemujaan pada angka membuat manusia kelu. Dan ketika kata-kata hilang dari percakapan mereka, maka burung-burung

mengambilalihnya. Di mulut burung-burung, yang sudah berkicau sejak jutaan tahun yang silam, kata-kata menemukan melodi yang membuai menghanyutkan. Burungburung berkata-kata dengan ritme yang jauh lebih menawan dibandingkan dengan gelombang percakapan manusia zaman sekarang. Hilanglah sudah kata-kata dari perbendaharaan verbal. Dan bunyi yang tertinggal dalam komunikasi manusia hanyalah ketukan di atas keyboard.Jakarta terkurung dalam kutukan karena kejahatan kemanusiaan yang didewakannya selama lebih dari tiga dasawarsa menjelang akhir abad keduapuluh. Ingatan kolektif penduduknya bisa lenyap. Tetapi, zaman tak pernah akan lupa bahwa pada waktu itu ratusan ribu orang dibunuh seperti tikus comberan.

Anak-anak muda yang ganteng dan manis-manis, yang bercita-cita sangat sederhana, hanya sekedar untuk bisa meludah karena tak tahan mencium bau amis para penguasa yang durjana, diculik dan dilenyapkan rezim bersenjata. Mereka yang membunuh dan menculik tak pernah merasa bersalah. Hukum buat mereka hanyalah angin yang dengan gampang bisa ditepis. Orang yang seharusnya bertanggung jawab dengan lihai menghindar dari hukuman sambil meluncur-luncur di atas kursi roda. Ngelencer kesana-kemari. Aman-aman saja dengan berpura-pura kena encok.Namun, adil ataupun tidak, zaman tak tertahankan. Dia melaksanakan hukumnya sendiri. Kota jadi terpencil dari alam sekitarnya. Daerah sekelilingnya membalas penindasan yang berpusat di kota itu dengan membangun pagar yang lebih dahsyat dari tembok Tiongkok untuk membuat kota ini terisolasi dari sinar Matahari. Kota terkurung dalam tembok. Orang-orang yang menyimpan dendam kesumat terhadap kezaliman kota ini mengharapkan dia lekas saja mati karena kekurangan vitamin D.Berita-berita pembunuhan yang saban hari muncul di media massa dalam seribu tahun belakangan ini menunjukkan betapa murahnya harga nyawa. Seakan tak lebih bernilai dari lalat atau belatung. Teknik-teknik pembantaian lebih keji dari yang mungkin dibayangkan. Dan penduduk kota membaca berita-berita seperti itu sebagai sesuatu yang rutin. Emosi mereka tumpat. Hati mereka lebih tersentuh oleh teka-teki silang. Kepekaan menjadi tumpul. Membuat kemanusiaan berada di titik paling rendah. Kaum budayawan berdiam diri, sementara kaum politisi dan negarawan bermain-main mencari keuntungan dari situasi ini. Seribu tahun dalam pemujaan, maka pragmatisme menemukan dampaknya yang paling mencengangkan.Karet, Tanah Kusir, Jeruk Purut, dan semua lahan pemakaman sudah lama diratakan, dan di atasnya dibangun gedunggedung berbentuk kubis yang menyundul langit dan berdesak-desakan ke laut. Kota ini sudah tidak mengenal sejengkal tanah pun sebagai tempat pemakaman. Orang-orang kaya, yang hidup di atas angin, menguburkan diri di luar negeri, di Australia atau Afrika. Untuk tetap mensakralkan pemakaman, hanya satu perusahaan yang diizinkan beroperasi: www.kubur.com. Situs tersebut hanya dijalankan oleh seorang pebisnis dengan koneksi yang tiada terhingga dengan perusahaan penerbangan internasional. Delapan menit setelah mengklik home page itu, jenazah sudah dikebumikan di benua yang jadi pilihan.Kemanusiaan sama dan sebangun dengan nol besar. Dan dia sudah

tidak lagi memerlukan nama. Untuk menghindari kematian dini, karena kekurangan vitamin D, orang-orang yang tidak beruntung, yang mempertahankan hidup di komunitas yang pernah jaya seribu tahun sebelumnya, seperti Satu Merah Panggung, Utan Kayu, Garuda, Bambu, Lidah Buaya, dan kelompok-kelompok lain, dijadikan tumbal. Kapitalisme memang masih harus membuktikan diri bahwa tatanan masyarakat yang diciptakannya merupakan akhir dari peradaban manusia. Tetapi, yang jelas komunitas-komunitas tadi, yang mencoba melawan arus zaman dengan membangun kelompok kehidupan sendiri yang didirikan di atas kebersamaan dan menentukan sendiri apa yang memang benar-benar mereka butuhkan, menemukan diri mereka tersisih, miskin. Kalau sudah tiba saat harus berhadapan dengan ajal, maka mereka diperlakukan tidak lebih dari sampah. Penaklukan orang-orang di atas angin terhadap mereka menjadi lengkap. Mereka dijadikan sumber vitamin D. Gubernur kota merasa telah menemukan kebijakan yang cemerlang dalam upayanya untuk membuat jasad mereka yang tersisih tidak menyebabkan bau busuk yang menyengat kota. Sepuluh detik setelah meninggal, jasad orang-orang tersisih ini sudah dikerek ke pelataran pemusnahan yang dibangun di puncak Monumen Nasional. Gubernur dan para pembantunya beranggapan sama sekali tidak masuk akal membiarkan mayat berbulanbulan supaya membusuk dan dimakan belatung di puncak monumen. Maka seratus ekor burung Gazgazammut diimpor dari Asia bagian tengah. Burung-burung yang berparuh besar dan tajam, dengan tembolok yang tak pernah kenyang itulah yang dalam lima menit membuat mayat orang-orang tersisih tadi tinggal tulang-belulang. Balung manusia itu kemudian dikerek turun, dimasukkan ke pabrik pemrosesan khusus untuk menghasilkan kalsium sejati. Dengan tablet-tablet kalsium ini penduduk kota Obesar-kemanusiaan memperpanjang harapan hidup mereka.Kepekaan penduduk kota semakin majal, sementara kicau burung-burung yang semakin sarat dengan melodi bertambah memilin gita perasaan binatang itu. Dari atas pepohonan yang dibuat dari campuran besi dan plastik yang lentur dan antikarat, di mana mereka bertengger, apalagi pada saat mereka mematuki bangkai manusia yang tersisihkan di pucak monumen, hati burung-burung Gazgazammut mulai teriris-iris oleh ketidakadilan yang sedang berlangsung di bawah cakar mereka. Di kota bawah. Suatu ketika keseratus burung-burung Gazgazammut terbang serempak dengan ujung-ujung sayap mereka

saling menyentuh. Bayang-bayang mereka membuat kota di bawah jadi kegelapan. Seperti ditangkup gerhana. Sambil melayang-layang, menukik tajam, membubung tinggi menerjang langit, mereka memekik-mekik memprotes kezaliman yang dipelihara oleh kota yang terhampar di bawah. Pada satu situs, seorang penyair memberikan tafsir mengenai apa yang sedang dilakukan oleh burung-burung yang sedang meradang dan menerjang itu. Bahwa, kota ini akan binasa kalau pemusnahan terhadap sesama manusia dalam bentuknya yang paling bengis tidak dihentikan. Tetapi, seperti kode judi hwa-hwe dahulu kala, kata-kata bisa dipahami dalam rupa-rupa pengertian. Makna maupun tafsirnya beragam. Jadi, siapa yang mau mendengar kicau si-penyair. Sementara penguasa kota tak peduli dengan tanda-tanda alam. Keesokan harinya kawanan burung Gazgazammut mengepak-ngepak berbarengan di atas kota. Jeritan mereka menyebarkan ngeri, memekakkan telinga penduduk. Mereka berputar-putar di atas monumen, di mana dua jasad manusia terletak di atas altar menunggu burungburung itu melumatkan daging mereka. Namun, burung-burung itu hanya berputar-putar persis di atas mayat. Memekik-mekik. Lantas mereka terbang beringsut menjauhi mayat, kembali ke sarang mereka di pohon-pohon buatan yang ditancapkan di Teluk Jakarta. "Katakanlah dengan semangat kesetiakawanan, apakah yang kita lakukan ini bisa dimaafkan sejarah," kicau seekor burung Gazgazammut yang ragu dengan perlawanan burung-burung sebangsanya terhadap kebijakan Gubernur kota dan para pembantunya. Suaranya berat dan parau. Menggugah tapi liris. "Dengan menjunjung tinggi dan atas nama langit ketujuh, kita berhak menolak untuk mematuki jenazah," sambut suara di tengah kerumunan burung itu. "Tapi itu hanya akan memperburuk keadaan. Membuat busuk dan meracuni angkasa. Membikin manusia yang tersisihkan di kota ini akan terserang kolera dan semakin sengsara." "Kolera sudah lama dikalahkan manusia." "Ya, sama seperti TBC atau cacar atau malaria, kolera bisa menyebar kembali di kalangan penduduk. Apalagi pembiaknya adalah mayat manusia."Seekor dari seratus burung Gazgazammut itu, sambil tegak di atas cakarnya yang kokoh, dengan sayap

setengah terentang, mengalunkan suara: "Kita telah dibawa ke kota yang sedang tenggelam dan terkurung ini untuk dijadikan perangkat pemisah antara manusia yang beruntung dan yang tersisihkan. Apakah kita tak boleh mempergunakan hak kita untuk tak terlibat dalam kejahatan kemanusiaan ini? Kuat suara hatiku bahwa kita berhak untuk terbang kembali ke tanah air kita. Ke jantung Asia. Jangan terbetik rasa khawatir barang seujung rambut pun bahwa kita akan tersesat dalam penerbangan pulang." Matanya yang bening tajam menaksir-naksir sikap burung yang lain. Burung yang kelihatan paling berwibawa itu lantas membujuk: "Aku tahu arus angin mana yang harus kita ikuti untuk sampai ke pohon-pohon yang murni hijaunya, dari mana kita telah dirampas, diperjualbelikan. Kembangkan sayap! Terjang dan ikuti angin buritan ini," katanya membujuk.Beberapa detik kemudian, rrrruuuuummmm, suara kepak sayap mereka memenuhi angkasa. Taji di kedua kaki mereka yang kokoh bersiung-siung menerjang angin. Kawanan burung itu lenyap ke arah Utara. Tanpa sinar Matahari, mayat di atas monumen membusuk dengan cepat. Kota dicekik bau bangkai.Sebenarnya, para penguasa tidak menemukan kesulitan untuk menyewa ahli dari luar untuk melenyapkan mayat-mayat kaum tersisih di kota itu menjadi setumpuk abu. Tetapi, masalahnya mereka memerlukan simbol kemenangan atas kaum tersisih. Mereka tak mau kehilangan kepuasan dengan menelan tablet-tablet kalsium yang dibuat dari tulang-belulang orang yang mereka kalahkan. Mereka hendak mempertahankan simbol kejayaan itu. Jadi, mereka membiarkan belatung yang mengerubuti mayat-mayat kaum tersisih. Tanpa menghiraukan protes penduduk.Saya sendiri sudah lama menyingkir dari kota ini. Bersama teman-teman kami membangun pulau dari bangkai daun dan akar pohon yang hanyut dari hulu Sungai Siak. Sampah alami dari hutan-hutan yang dibabat ratusan tahun yang lalu cukup untuk membangun sehamparan daratan di mulut Sungai Siak yang selalu ternganga sampai ke tepi laut yang tak tampak. Semut sudah sirna dari kulit bumi, kecuali di wilayah aliran sungai ini. Perut mereka yang rata-rata sangat ramping, ditambah lagi dengan kesukaan mereka bergotongroyong, dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap keserakahan. Ini ejekan permanen. Karena itu harus dibasmi. Beginilah aksioma zaman sekarang: kebajikan justru membawa bencana. Maka, pulau buatan yang sederhana ini kami

namakan Pulau Penyemut, untuk mengabadikan kearifan semut yang mengilhami. * Bengkalis, 14 Mei 2002

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->