P. 1
Doc

Doc

|Views: 400|Likes:
Published by devil_nice

More info:

Published by: devil_nice on May 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/26/2011

pdf

text

original

Sections

PEMILIHAN DAN PEMANFAATAN BUKU PENUNJANG BAHAN BELAJAR MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA OLEH SISWA KELAS II SMA

NEGERI 1 JEKULO KUDUS

SKRIPSI Diajukan dalam rangka menyelesaikan studi strata 1 untuk mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh : Nama NIM Program Studi : SAFIUL CHORIAH : 1124000018 : S1 Kurikulum Teknologi Pendidikan

KURIKULUM TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005
1

2

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing dan dapat diajukan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang pada :

Hari Tanggal

: Senin : 18 Juli 2005

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs.Achmad Sugandi, M.Pd NIP. 130 345 756

Drs. Haryanto NIP. 131 404 301

Mengetahui, Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan

Drs. Haryanto NIP. 131 404 301

3

HALAMAN PENGESAHAN

Telah

dipertahankan dihadapan sidang panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu

Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang pada

Hari Tanggal

: Kamis : 4 Agustus 2005

Ketua

Sekretaris

Drs. Siswanto, M.M NIP. 130515769

Drs. Sukirman, M.Si NIP. 131570066

Pembimbing I

Penguji I

Drs. Achmad Sugandi, M. Pd NIP.130345756

Drs. Kustiono NIP.131998682

Pembimbing II

Penguji II

Dr. Haryanto NIP.131404301

Drs. Achmad Sugandi, M. Pd NIP.130345756 Penguji III

Dr. Haryanto NIP.131404301

4

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari temuan orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan oarang lain yag terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Safiul Choriah NIM. 1124000018

5

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto: 1. Hidup ini penuh dengan kesukaran, tetapi jawablah semua kesukaran itu, mungkin salah satu diantaranya merupakan kesempatan. (Penulis) 2. Di dalam kehidupan manusia pengalaman hidup adalah penting, tetapi pengertian tentang hidup lebih utama. (Penulis) 3. Kegagalan tidak akan terjadi pada diri seseorang apabila ia mempunyai kemauan yang kuat dan tangguh serta selalu mendekatkan diri pada Allah. (Rusdi Hambali)

Persembahan Karya ini kupersembahkan kepada : 1. Yang tercinta Bapak-Ibuku sebagai wujud Dharma Baktiku 2. Kakak dan Adikku (Mas Sarif dan adik Mona ) 3. Para guru dan Pendidikku dari TK sampai Perguruan Tinggi 4. Sahabat-sahabatku yang baik 5. Almamaterku

6

PRAKATA

Puji Syukur penulis senantiasa panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyusun skripsi ini dengan judul”Pemilihan dan Pemanfaatan Buku Penunjang Bahan Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Oleh Siswa Kelas II SMA N 1 Jekulo Kudus”. Penulis sangat bersyukur sekali karena dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Dalam Proses penyusunan skripsi ini penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dan memberikan dorongan sehingga pada akhirnya skripsi ini dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat 1. Dr. A. T Soegito, MM. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan belajar dan menimba ilmu di Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Siswanto, MM. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin dan kesempatan belajar sampai terselesaikannya skripsi ini. 3. Drs. Haryanto, Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang dan sebagai dosen pembimbing II yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan ijin untuk penelitian.

7

4. Drs. Achmad Sugandi, M. Pd , sebagai dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dengan sabar dan bijaksana serta memberikan dorongan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini. 5. Segenap Dosen Jurusan KTP FIP UNNES yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis selama belajar di Jurusan KTP. 6. Drs. Agus Nuratman selaku Kepala Sekolah SMA Negeri I Jekulo, yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian. 7. Ibu Rudati dan Junarsih selaku guru pembimbing dan guru-guru kelas I, III yang telah memberikan bantuan dan dorongan untuk menyelesaikan skripsi ini. 8. Keluarga besarku yang ada di Kudus yang selalu memberikan semangat baik material maupun spiritual. 9. Teman-Temanku KTP’ 00, specially Jo, Afri dan Tri. Teman- teman Wisma Putri Adifit, Mbak Lis, Ika, Wati, Uci serta mas Bas terima kasih untuk bantuan dan motivasinya. Dengan segala kerendahan hati, Penulis menyadari bahwa karya ini masih belum sempurna, maka dari itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan.Akhirnya semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi penulis sendiri khususnya dan pembaca pada umumnya.

Semarang,

Penulis

8

ABSTRAK Safiul Choriah, 2005. Pemilihan dan Pemanfaatan Buku Penunjang Bahan Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia oleh Siswa Kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus. Skripsi Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang. Kata Kunci : Pemilihan, Pemanfaatan, Buku Penunjang. Pada proses pembelajaran, guru tidak dapat menyampaikan seluruh bahan pelajaran secara jelas kepada siswa karena keterbatasan waktu dan banyaknya materi yang harus disampaikan. Salah satu usaha untuk memperbaikinya adalah dengan memilih dan memanfaatkan penunjang bahan belajar pendidikan secara lebih optimal dan sistematis. Dari uraian tersebut peneliti tertarik melakukan kajian tentang pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus dengan tujuan : 1) mengetahui kriteria pemilihan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus, 2) mengetahui pemanfaatan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus, 3) mengetahui jenis-jenis buku penunjang yang digunakan siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SMA Negeri 1 JekuloKudus sebanyak 240 siswa. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling dengan besarnya sampel adalah 50% dari populasi. Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 120 siswa. Variabel dalam penelitian ini adalah pemilihan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pemanfaatan penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pengumpulan data penelitian dengan metode dokumentasi dan angket. Analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan bacaan yang paling disenangi siswa adalah buku pelajaran (84,2%), para siswa juga menyenangi buku bacaan lain seperti buku sastra/novel (73,3%), surat kabar (73,3%) dan majalah (70,0%). Kriteria sebagian besar siswa dalam memilih bahan bacaan adalah yang menarik (63,4%). Pemanfaatan buku penunjang sebagian besar siswa (53,3%) adalah baik. Dorongan guru kepada siswa dalam pemanfaaatan bahan bacaan adalah baik (55,8%) dan frekuensi pemanfaatan buku penunjang oleh siswa cukup sering (43,0%). Mengacu dari hasil penelitian tersebut dimana pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang oleh siswa sudah baik, maka peneliti dapat mengajukan beberapa saran sebagai berikut : 1) para siswa hendaknya memprioritaskan pilihannya untuk membaca bahan-bahan penunjang pelajaran yang relevan agar prestasi bejajar meningkat, 2) para siswa hendaknya lebih mengefektifkan waktu luang untuk kegiatan membaca dalam upaya penyelesaian tugas-tugas dari guru maupun untuk mendapatkan berbagai informasi yang aktual dan bermanfaat, 3) guru hendaknya memberikan tugas-tugas yang dapat menunjang siswa untuk lebih banyak membaca berbagai bahan bacaan sebagai sarana penyelesaian tugas-tugas tersebut, dan 4) sekolah hendaknya mengusahakan berbagai referensi buku, surat kabar, majalah,maupun yang lain secara lengkap agar minat baca siswa untuk mendapatkan sumber informasi dari perpustakaan dapat meningkat.

9

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL................................................................................... PERSETUJUAN PEMBIMBING............................................................... HALAMAN PENGESAHAN..................................................................... PERNYATAAN.......................................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN .............................................................. PRAKATA.................................................................................................. SARI............................................................................................................ DAFTAR ISI............................................................................................... DAFTAR TABEL....................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN............................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ....................................................... B. Perumusan Masalah.............................................................. C. Tujuan Penelitian.................................................................. D. Manfaat Penelitian................................................................ E. Pembatasan Istilah ................................................................ F. Sistematika Skripsi ............................................................... BAB II LANDASAN TEORI A. Hakikat Belajar..................................................................... 13 1 8 8 9 9 10 i ii iii iv v vi viii ix xiii xiv xv

10

a. Pengertian Belajar.......................................................... b. Prinsip-prinsip Belajar ................................................... B. Pembelajaran Sebagai Suatu Sistem .................................... a. Pengertian Pembelajaran................................................ b. Hirarki Tujuan Pendidikan............................................. c. Tujuan Pendidikan Nasional .......................................... d. Tujuan Lembaga............................................................. e. Tujuan Kurikuler ............................................................ f. Tujuan Pembelajaran...................................................... g. Komponen-komponen Pembelajaran ............................. C. Sumber Belajar..................................................................... a. Pengertian Sumber Belajar ............................................. b. Macam-macam Sumber Berlajar .................................... c. Sumber Belajar Sebagai Ilmu ......................................... d. Manfaat Sumber Belajar................................................. e. Komponen Sumber Belajar ............................................ D. Teknologi Pendidikan .......................................................... a. Pengertian Teknologi Pendidikan................................... b. Kawasan Teknologi Pendidikan ..................................... c. Kedudukan Teknologi Pendidikan1 ............................... E. Bahan Bacaan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di SMA .. a. Pengertian Bahan Bacaan ............................................... b. Jenis-jenis Bahan Bacaan ...............................................

13 18 21 21 21 22 22 23 23 23 25 25 26 27 30 31 33 33 33 35 36 36 38

11

c. Fungsi Bahan bacaan ...................................................... d. Manfaat Bahan Bacaan................................................... e. Pemilihan Bahan Bacaan ................................................ f. Pelajaran Bahasa Indonesia Di SMA.............................. g. Fungsi Bahasa Indonesia ................................................ h. Tujuan Pengajaran .......................................................... i. Penggunaan Bahasa Indonesia........................................ j. Ruang Lingkup Bahasa Indobesia .................................. k. Rambu-rambu Bahasa Indonesia .................................... l. Prinsip dan strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia ..... m. Materi Sastra................................................................... BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ........................................................... B. Populasi dan Sampel ............................................................ C. Variabel Penelitian ............................................................... D. Metode Pengumpulan Data .................................................. E. Analisis Data Penelitian ....................................................... F. Uji Validitas dan Reliabilitas angket....................................

49 50 53 55 56 56 57 58 58 59 59

61 62 64 65 67 76 78 79

G. Pelaksanaan dan Tempat Penelitian ..................................... H. Paradigma Penelitian............................................................ BAB IV PENYAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN A. B. Gambaran Umum SMA N 1 Jekulo Kudus......................... Pendapat Siswa Tentang Bahan Bacaan..............................

82 84

12

C. D. E.

Pemanfaatan Buku Penunjang............................................. Jenis-Jenis Bahan Bacaan Pilihan Siswa............................. Pembahasan ........................................................................ 1. Pendapat Siswa tentang alasan Pemilihan Buku Penunjang........................................................................ 2. Sikap Siswa Terhadap Bahan Bacaan............................. 3. Pemanfaatan Buku Penunjang Oleh Siswa ..................... 4. Dorongan Guru Terhadap Siswa..................................... 5. Frekuensi Pemanfaatan Bahan bacaan ............................ 6. Jenis-jenis Bahan Bacaan Pilihan Siswa .........................

87 92 98

98 99 99 100 100 101

BAB V PENUTUP A. B. Kesimpulan ......................................................................... Saran.................................................................................... 102 103 105 109

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. LAMPIRAN-LAMPIRAN..........................................................................

13

DAFTAR TABEL Tabel 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 4.7 4.8 4.9 Halaman Deskripsi variabel soal Option Jawaban Ya dan Tidak..................... Kriteria Sikap Siswa Terhadap Bahan Bacaan .................................. Kriteria Pemilihan Bahan Bacaan...................................................... Kriteria Pemanfaatan Bahan bacaan.................................................. Kriteria Dorongan Guru Terhadap siswa........................................... Kriteria Frekuensi Pemanfaatan Bahan Bacaan ................................ Deskripsi Alasan Pemilihan Bahan Bacaan Siswa ............................ Deskripsi Sikap Siswa Terhadap Bahan Bacaan ............................... Deskripsi Pemanfaatan Bahan Bacaan Oleh Siswa ........................... 70 72 73 74 75 76 84 85 87 89 90 92 93 93 94 95 96 96 97

4.10 Deskripsi Dorongan Guru Terhadap Siswa ...................................... 4.11 Deskripsi Frekuensi Pemanfaatan bahan Bacaan Oleh Siswa........... 4.12 Deskripsi Nama Yang Dibaca Siswa................................................. 4.13 Deskripsi Judul Novel/Buku Sastra Yang Dibaca Siswa .................. 4.14 Deskripsi Nama Surat Kabar Yang Dibaca Siswa............................ 4.15 Deskripsi Nama Majalah Yang Dibaca Siswa................................... 4.16 Deskripsi Nama Buku Pelajaran Yang Dibaca Siswa ....................... 4.17 Deskripsi Nama Majalah Yang Dimiliki Siswa ............................... 4.18 Deskripsi Nama Buku Pelajaran Yang Dimiliki Siswa ..................... 4.19 Deskripsi Nama Surat Kabar Yang Dimiliki Siswa ..........................

14

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 2.2 2.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8

Halaman 28 35 81 85 86 88 90 91

Kerucut Pengalaman Dale ................................................................. Kawasan Teknologi Pendidikan ........................................................ Pembelajaran Bahasa Indonesia Sebagai Suatu Sistem..................... Distribusi Kriteria Pemilihan Bahan Bacaan..................................... Distribusi Sikap Siswa Terhadap Bahan Bacaan............................... Distribusi Pemanfaatan Bahan Bacaan.............................................. Distribusi Dorongan Guru Terhadap Siswa....................................... Distribusi Frekuensi Pemanfaatan Bahan Bacaan .............................

15

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. Kisi-kisi Instrumen Penelitian .......................................................... Pernyataan Angket............................................................................. Kuesioner........................................................................................... Hasil Wawancara ............................................................................... Pedoman Observasi ........................................................................... Denah Perpustakaan SMA N 1 Jekulo Kudus ................................... Denah SMA N 1 Jekulo Kudus ......................................................... Grafik Pengunjung Perpustakaan SMA N 1 Jekulo Kudus ............... Grafik Peminjam Perpustakaan ......................................................... Data Keadaan Buku Perpustakaan..................................................... Data Hasil Uji Coba Angket Penelitian............................................. Perhitungan Validitas Angket Penelitian........................................... Perhitungan Reliabilitas Angket Penelitian....................................... Data Hasil Penskoran Angket Penelitian........................................... Deskripsi Frekuensi Data Hasil Penelitian ........................................ Deskripsi Data Hasil Penelitian......................................................... Daftar Nilai Kelas II .......................................................................... Laporan Perpustakaan........................................................................ Surat Ijin Penelitian .......................................................................... Surat Keterangan Penelitian .............................................................. Dokumentasi ...................................................................................... Halaman 109 110 111 125 142 145 146 148 149 150 151 154 156 157 163 171 173 183 191 192 193

16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, Sekolah Menengah Atas memegang peranan yang sangat penting. Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang harus dicapai oleh bangsa Indonesia, seperti tecantum di dalam pembukaan UUD 1945, ialah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam arti meningkatkan kualitas manusia Indonesia pada dasarnya hanya dapat direalisasikan melalui kegiatan pendidikan. Proses kualitas manusia Indonesia, yang diinginkan telah dirumuskan arah kebijakan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN, 1999:73) yaitu mengembangkan kualitas sumber daya

Indonesia sedini mungkin secara terarah, terpadu, dan menyeruluh melalui berbagai upaya proaktif dan reaktif oleh seluruh komponen generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai bangsa agar dengan hak

dukungan dan lindungan sesuai dengan operasinya. Oleh karena itu siswa Sekolah Menegah Atas perlu disiapkan dan dibekali dengan dasar-dasar sains, dan pengelolaan kemampuan untuk memecahkan masalah dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan sekelilingnya. Permasalahan yang ada dalam pendidikan formal senantiasa bertambah dari tahun ketahun. Salah satunya adalah masalah kualitas pada pendidikan

17

dasar. Kualitas pendidikan pada Pendidikan Dasar harus selalu ditingkatkan karena siswa yang telah lulus masih melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sekolah Menengah Atas sebagai lembaga pendidikan formal yang memberikan pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan yang fundanmental harus benar-benar menjalankan tugas dengan baik. Tingkat ini baik, maka pendidikan jenjang berikutnya akan menjadi mantap dan dapat mencapai tujuan yang dicita-citakan. Seperti pendapat Soepartinah (1980:17) sebagai berikut: Kami yakin bahwa pendidikan yang lebih baik akan menjadi dasar yang kokoh bagi usaha siswa dalam mengajar pendidikan yang lebih baik. Di Pendidikan Dasar pada usia muda sekali sudah mulai belajar mendisiplinkan diri, belajar membaca, belajar bagaimana belajar, atau belajar untuk belajar/learning to learn. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak menciptakan peralatan teknologis yang dapat dimanfaatkan oleh dunia pendidikan, baik mulai Pendidikan Tingkat Dasar sampai Pendidikan Tingkat Tinggi. Salah satu hasil dari teknologi yang telah dimanfaatkan dalam dunia pendidikan adalah buku penunjang yang berguna untuk menyumbangkan peran dalam proses belajar mengajar pada Sekolah Menengah Atas. Dari segi pelaksanaan aktivitas pendidikan usaha tersebut terwujud dalam bentuk belajar mengajar. Proses belajar mengajar sebagai aktivitas pendidikan selalu melibatkan guru dengan siswa. Guru dengan siswa dalam proses belajar mengajar saling berkomunikasi dan berinteraksi untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Proses belajar mengajar dalam bentuk tatap

18

muka antara guru dengan siswa, ada beberapa hal yang tidak dapat disampaikan secara sempurna kepada siswa, salah satu usaha untuk memperbaikinya adalah dengan memilih dan memanfaatkan bahan belajar pendidikan secara lebih optimal dan sistematis. Buku penunjang bahan belajar dalam penelitian ini adalah bahan bacaan berupa majalah, koran, roman, novel, resensi, karya tulis, bulletin, komik, dan jurnal. Barangkali, sehubungan dengan masalah sumber bahan pembelajaran, ketersediaan buku pelajaran dengan memperhitungkan jumlah siswa selalu merupakan momok yang sulit diatasi dalam dunia pendidikan di Indonesia selama ini, lebih-lebih dalam konteks pembelajaran bahasa. Buku-buku pelajaran (terutama buku teks wajib) seharusnya tersedia di setiap kelas dan jenjang sekolah dan jumlah yang memadai. Ketika kegiatan pembelajaran harus dan pasti berhadapan dengan teks-teks bacaan yang agak panjang, misalnya wacana lengkap, para siswa tidak mungkin dituntut untuk mencatat teks-teks tersebut di buku tulis mereka masing-masing. Jika keadaan seperti ini yang terjadi, hampir seluruh alokasi waktu yang tersedia akan dihabiskan hanya untuk kegiatan menulis, bukan dalam arti mengarang, tetapi menyalin. Jika hal ini yang terjadi, tidak keliru kalau ada orang secara berkelakar mengatakan bahwa CBSA hanya singkatan dari Catat Buku Sampai Abis (baca:habis). Sementara itu, kemampuan sekolah untuk menyediakan buku-buku pelajaran yang diperlukan rata-rata masih sangat terbatas. Persoalannya sudah tentu terbentur pada masalah klise, ketersediaan yang sangat minim. Selain itu, berharap pada kemampuan siswa untuk membeli sendiri buku-buku pelajaran dan buku

19

penunjang lainnya yang mereka perlukan juga masih terasa sulit, bahkan tidak realistis untuk masa sekarang. Harus diakui bahwa sampai saat ini sekolah-sekolah di Indonesia ratarata belum memiliki sarana dan prasarana belajar yang memadai, apalagi untuk dikatakan lengkap. Masalah kualitas ruang belajar mungkin sudah relatif teratasi, tetapi jika menyangkut fasilitas alat dan bahan pelajaran selalu menjadi keluhan yang tak kunjung tertuntaskan. Dalam konteks ini, persoalan utama yang sering dihadapi guru maupun siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada umumnya berhubungan dengan pengadaan buku pelajaran, baik buku teks maupun buku penunjang. Bagaimanapun, kegiatan

pembelajaran bahasa Indonesia senantiasa akan berhadapan dengan teks-teks sastra. Siswa tidak mungkin dituntut sepenuhnya untuk membeli buku-buku pelajaran yang mereka perlukan, apalagi jika disuruh untuk mencatat semua teks sastra yang dipelajarinya. Sekolah-sekolah di wilayah perkotaan sudah tentu tidak bisa dijadikan rujukan dalam persoalan ini, karena sekolah-sekolah di Indonesia juga meliputi wilayah pedesaan yang tingkat sosial ekonominya cenderung lebih rendah (Jamaluddin, 2003:89). Rendahnya minat baca siswa, ini menyebabkan minimnya pengetahuan yang dimiliki siswa. Siswa hanya mengetahui informasi perkembangan ilmu pengetahuan, riset, dan teknologi hanya dari satu sumber saja yaitu guru. Padahal guru dituntut untuk menyelesaikan materi kurikulum tepat waktunya, sehingga hampir tidak ada waktu bagi guru untuk menyampaikan informasi (Rachman, 1982:28). Untuk itu guru dalam proses belajar mengajar harus mendorong siswa untuk tidak

20

tergantung pada guru saja. Mereka harus aktif mencari dan memanfaatkan buku-buku penunjang yang relevan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan adanya buku penunjang Bahasa Indonesia, seorang anak dalam hal ini siswa akan dapat membekali dirinya dengan beragam pengetahuan. Buku penunjang dapat membangkitkan wawasan berpikir siswa dan mengasah imajinasi serta memperluas cakrawala ilmu pengetahuan. Lantaran keterbatasan fasilitas buku penunjang dan buku pelajaran yang tidak seimbang dengan jumlah siswa per kelas, para guru pun akhirnya terpaksa melaksanakan tugasnya sesuai dengan kondisi sekolah masingmasing. Kecenderungan semacam ini sudah menjadi gambaran umum bagi sekolah-sekolah di Indonesia, lebih-lebih yang berada di luar perkotaan. Sistem fotokopi sebagai salah satu solusinyapun belum dapat dilakukan karena fasilitas tersebut sulit ditemukan di luar perkotaan. Buku-buku bacaan yang ada di perpustakaan sekolah rata-rata juga masih sangat kurang, sementara keberadaan perpustakaan umum juga belum menjangkau hingga ke wilayah pedesaan. Pada akhirnya, hampir seluruh alokasi waktu yang tersedia terpaksa digunakan untuk mencatat bahan pelajaran atau membaca teks sastra secara bergantian. Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan. Belum lagi jika kita menyoal keberadaan buku-buku teks pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, baik buku teks wajib maupun buku-buku terbitan swasta, yang ratarata masih banyak kelemahannya. Melihat kenyataan yang ada, agaknya tujuan ideal pembelajaran sastra yang apresiatif itu merupakan seuatu yang sulit untuk dicapai, masih sebatas

21

hal yang dicita-citakan, kalau bukan hanya sebuah khayalan belaka. Jika maksud kita ingin membawa anak didik untuk memahami dan menghargai karya-karya sastra Indonesia dengan segala ragamnya (puisi, cerpen, novel, drama), seyogianya karya-karya tersebutlah yang dicetak ulang sebanyakbanyaknya dan didistribusikan ke sekolah-sekolah di seluruh wilayah negeri ini. Dengan demikian para siswa dapat membaca karya-karya sastra tersebut, baik yang relevan dengan pokok bahasan yang sedang mereka pelajari maupun hanya sebagai bahan bacaan sampingan, bukan dalam bentuk kutipankutipan fragmen (ringkasan) atau sinopsisnya. Melalui pembacaan langsung semacam itu, ditambah dengan bimbingan guru, kelak dengan sendirinya akan tumbuh penghargaan dan kecintaan mereka terhadap karya-karya sastra milik bangsa sendiri atau bahkan karya-karya sastra dunia. Guru dalam proses belajar mengajar Bahasa Indonesia memanfaatkan buku penunjang. Namun tidak selalu, kadang-kadang ada bahan yang dimodifikasi, guru mengganti dengan materi yang lebih sesuai. Guru mengembangkan teknik dan prosedur pengajaran yang ada di buku penunjang Bahasa Indonesia. Dengan memanfaatkan buku penunjang guru dapat memodifikasi apa yang ia ajarkan atau dipelajari oleh siswa, mengetahui urutan penyajian bahan belajar, memperoleh bahan ajar secara mudah, menghemat waktu dan tenaga, menggunakannya sebagai alat pembelajaran siswa di dalam atau di luar sekolah. Dengan adanya saran guru untuk memanfaatkan dan memilih bukubuku penunjang sebagai referensi dalam pembelajaran maka siswa akan aktif dalam belajar, sehingga siswa akan memperoleh ilmu dan pengetahuan yang lebih luas.

22

Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di semua jenis dan jenjang sekolah mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi, memegang peranan penting dalam pembaharuan dan peningkaatan mutu pendidikan (Depdikbud, 1993:1), perhatian dan kegiatan pendidikan terhadap pengajaran Bahasa Indonesia dikembangkan menjadi pengajaran keterampilan bahasa bukan bagi pengajaran tentang tata bahasa. Secara keseluruhan mata pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas berfungsi untuk

mengembangkan kemampuan bernalar, berkomunikasi dan mengembangkan pikiran, serta membina persatuan dan kesatuan bangsa. Keberhasilan guru Bahasa Indonesia dalam menjalankan tugasnya sangat dipengaruhi oleh pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas. Oleh sebab itu, sebaiknya guru menyiapkan diri dalam menyajikan bahan belajar, menentukan apa saja yang akan dilaksanakan bersama dengan siswa. Untuk menciptakan tradisi agar siswa sekolah dapat mencintai dan menyenangi sumber belajar tentunya menjadi tugas semua pihak, termasuk para siswa itu sendiri. Untuk dapat menjalankan tugas tersebut tentunya perlu dipahami dulu pentingnya pemilihan dan pemanfaatan bahan belajar sebagai pembuka jendela dan pintu seluruh ilmu pengetahuan. Dengan adanya buku penunjang bahan belajar diharapkan tumbuh semangat untuk secara bersungguh-sungguh mengupayakan teerciptanya budaya atau tradisi

mencintai buku penunjang sehingga akan mendorong minat baca dikalangan para siswa. Menyadari pentingnya buku penunjang bagi kehidupan siswa dalam upaya mengingkatkan prestasi siswa dan melihat kenyataan bahwa minat baca

23

dikalangan siswa masih rendah maka perlu kiranya diadakan penelitian dengan mengambil judul “Pemilihan dan Pemanfaatan Buku Penunjang Bahan Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Oleh Siswa Kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus”.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka permasalahan yang akan diteliti adalah : 1. Bagaimana kriteria pemilihan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran bahasa Indonesia oleh siswa Kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus ? 2. Bagaimana pemanfaatan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SMA N 1 Jekulo ? 3. Jenis-jenis buku penunjang apa saja yang digunakan siswa kelas II SMA N 1 Jekulo Kudus ?

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah 1. Mengetahui kriteria pemilihan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. 2. Mengetahui pemanfaatan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Indonesia. 3. Mengetahui jenis-jenis buku penunjang Bahasa Indonesia yang digunakan oleh siswa.

24

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritik Memberi masukan pengetahuan dalam kaitannya dengan pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang bahan belajar sebagai sumber ilmu dan sebagainya yang berguna bagai kehidupannya dimasa mendatang. 2. Manfaat praktis a. Memberi masukan siswa akan pentingnya buku penunjang bahan belajar sebagai sumber ilmu dan teknologi bagi kehidupannya kelak. b. Memberi masukan bagi sekolah dalam upaya mendorong minat baca dikalangan siswa. c. Sekolah atau guru Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran bahasa Indonesia.

E. Pembatasan Istilah Untuk mengantisipasi adanya penafsiran yang berbeda dalam mewujudkan kesatuan pandangan dan pengertian, maka perlu adanya batasan atau penegasan dari istilah-istilah yang digunakan untuk membatasi secara keseluruhan hal-hal yang berhubungan penelitian ini : 1. Pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang Pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang adalah suatu proses, cara, perbuatan (TIM PENYUSUN KBBI, 1996:262). Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang adalah

25

segala bentuk usaha atau cara penggunaan

buku penunjang Bahasa

Indonesia selain buku pelajaran untuk mewujudkan proses kegiatan belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. 2. Bahan Belajar Bahan belajar adalah sesuatu yang dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan tertentu seperti untuk pedoman atau pegangan yang akan dipelajari oleh siswa (Ali, 1991:76) 3. Pelajaran Bahasa Indonesia Menurut kurikulum dan GBPP Bahasa Indonesia tahun 1994 bahasa Indonesia memungkinkan manusia untuk saling berhubungan, saling berbagi pengalaman, saling berbagi dengan yang lain, untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Pelajaran bahasa Indonesia adalah

mengembangkan pengetahuan, keterampilan bahasa dan sikap positif terdapat bahasa Indonesia. 4. Siswa Kelas II SMA Adalah peserta didik yang pada saat penelitian berlangsung duduk di kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Tahun ajaran 2004/2005.

F. Sistematika Penulisan Skripsi Untuk memperoleh gambaran secara jelas mengenai keseluruhan isi deskripsi ini, maka perlu disusun sistematika pembahasannya. Sistematika skripsi yang penulis kemukakan adalah sebagai berikut:

26

1. Bagian awal Berisi tentang judul, persetujuan, pengesahan, pernyataan, motto, dan persembahan, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran. 2. Bagian Pokok BAB I PENDAHULUAN Berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, pembatasan istilah dan sistematika penulisan skripsi. BAB II LANSADAN TEORI Berisi kajian mengenai tinjauan tentang hakekat belajar, prinsipprinsip belajar, pembelajaran sebagai suatu sistem, sumber belajar, teknologi pendidikan, bahan bacaan mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA. BAB III METODE PENELITIAN Berisi tentang rancangan penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, metode pengumpulan data, teknik analisis data, validitas dan reliabilitas instrumen. BAB IV PENYAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN Berisi mengenai hasil penelitian: 1) gambaran umum SMA N I Jekulo Kudus, 2) pendapat siswa tentang alasan pemillihan buku penunjang, 3) pemanfaatan buku penunjang, 4) Jenis-jenis buku penunjang pilihan siswa, 5) pembahasan BAB V SIMPULAN DAN SARAN Berisi simpulan hasil penelitian dan saran-saran.

27

3. Bagian akhir Sebagai penutup bagian ini dilengkapi dengan daftar pustaka serta lampiran-lampiran yang diperlukan dalam penelitian ini.

28

BAB II LANDASAN TEORI

A. Hakikat Belajar 1. Pengertian Belajar Belajar merupakan suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sejak lahir manusia telah mulai melakukan kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan sekaligus mengembangkan dirinya. Oleh karena itu belajar sebagai suatu kebutuhan yang telah dikenal dan bahkan sadar atau tidak sadar telah dilakukan oleh manusia. Aktualisasi potensi ini sangat berguna bagi manusia untuk dapat menyesuaikan diri demi pemenuhan kebutuhannya. Kebutuhan manusia makin lama makin bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tanpa belajar manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Kegiatan belajar dapat berlangsung di mana-mana, misalnya di lingkungan keluarga, di sekolah, dan di masyarakat. Belajar di sekolah sifatnya formal. Semua komponen dalam proses belajar direncanakan secara sistematis. Berdasarkan fakta dan harapan yang dikemukakan di atas sudah cukup kiranya menjadi alasan mengapa guru perlu memahami dan menghayati hakekat belajar secara benar. Pengertian yang lengkap tentang belajar sudah banyak diutarakan oleh para pakar dibidang pendidikan, namun belum baku secara nasional dan masih universal.

13

29

Pada umumnya baik ahli dalam bidang pendidikan maupun psikologi mempunyai pendapat yang sama bahwa hasil suatu aktivitas adalah perubahan. Perubahan itu terjadi akibat pengalaman juga tidak ada perbedaan antara ahli yang satu dengan yang lain. Bigge menyatakan bahwa perubahan itu terjadi pada pemahaman, persepsi, motivasi atau campuran dari semuanya secara sistematis sebagai akibat pengalaman dalam situasi tertentu. Moskowitz dan Orgel menyatakan bahwa perilaku yang dipelajari dapat diramalkan bukan dari apa yang kita ketahui tentang sifat-sifat umum dari syaraf seseorang, melainkan dari apa yang kita ketahui tentang pengalaman-pengalaman yang khusus dan unik dari orang tersebut. Menurut (Darsono, 2000:20) ada empat aliran psikologi yang mendasari pengertian belajar secara khusus yaitu : Behavioristik, Kognitif, Gestal, dan Humanistik. a. Belajar menurut aliran Behavioristik Kaum Behavioris berasumsi bahwa manusia adalah makhluk pasif, tidak mempunyai potensi psikologi yang berhubungan dengan kegiatan belajar, antara lain pikiran, persepsi, motivasi dan emosi. Tetapi penulis berpendapat bahwa apabila anak hanya belajar menghafal, maka seolah-olah anak tidak berfikir, tetapi hanya berjalan secara mekanis, sehingga akan mengakibatkan anak menjadi pasif, akhirnya pengertian dan pengetahuan yang diterimanya bersifat

30

verbalisme. Kemungkinan besar anak tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapi. b. Belajar menurut Gestalt Persoalan penting dalam belajar menurut aliran Gestal adalah bagaimana seseorang memandamg suatu obyek (persepsi) dan kemampuan mengatur atau mengorganisir obyek yang dipersepsi sehingga menjadi suatu bentuk yang bermakna atau mudah dipahami. Kalau orang sudah mampu mempersepsi suatu obyek menjadi suatu gestal, orang itu akan memperoleh pemahaman. Kalau pemahaman sudah terjadi, berarti proses belajar sudah terjadi (Darsono, 2000:15). c. Belajar menurut Humanis Tujuan pendidikan adalah membantu masing-masing individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri masing-masing (Sumanto, 1987:128). Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, menurut Suadirman (1988:38) ialah : 1) Faktor Intern : Faktor yang berada pada diri si pelajar itu sendiri. Faktor ini dapat berupa : a) faktor Psikologis adalah faktor yang berasal dari kondisi phsikis atau mental dalam diri pelajar itu sendiri. Adapun contoh-contoh faktor psikologis dari anak adalah: (1) faktor kematangan. Seseorang anak dapat belajar dengan baik apabila saat kematangan sudah tiba, sebaliknya belajar akan sukar,

31

apabila saat kematangan belum tiba, (2) faktor motivasi belajar. Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Motivasi belajar pada diri siswa dapat menjadi lemah. Lemahnya motivasi, atau tidak adanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya, mutu hasil belajar akan menjadi rendah. Oleh karena itu, motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus-menerus agar siswa memiliki motivasi belajar yang kuat, (3) konsentrasi belajar. Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya, (4) rasa Percaya Diri Siswa. Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan, (5) intelegensi dan Keberhsilan Belajar. Menurut Wechler Intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien, b) keadaan fisiologis adalah faktor yang merupakan jasmani atau fisik si pelajar : (1) keadaan fisik atau jasmani. Keadaan fisik yang sehat menguntungkan perbuatan belajar, sebaliknya fisik yang terganggu akan merugikan perbuatan belajar, (2) alat-alat Indera. Indera dalam hal ini terutama adalah panca indra. Apabila alat-alat panca indra berfungsi dengan baik

32

maka akan membantu pelajaran. Oleh karena itu pemeliharaan alatalat panca indra juga hendaknya mendapat perhatian dari pendidik. Disamping itu penempatan anak di dalam kelas serta penerangan kelas penting sekali. Misalnya : Penerangan yang baik akan membantu kesehatan mata, penempatan anak di depan karena anak tersebut agak kurang pendengarannya dan sebagainya. Kedua faktor ini mungkin saling sendiri tetapi mungkin juga berhubungan satu sama lain. Keadan fisik bagaimana pun juga akan mempengaruhi psikis dari para pelajar. Keduanya saling berkaitan satu sama lain. Namun demikian juga masing-masing faktor berdiri sendiri. 2) Faktor ekstern : Faktor yang berada di luar diri si pelajar. Faktor ini dapat berupa manusia maupun bukan manusia. Faktor ekstern terdiri dari : a) adanya orang lain sewaktu seorang sedang belajar akan mengganggu perbuatan belajar. Misalnya : seorang pelajar sedang belajar, kemudian temannya datang mengajak keluar, b) suatu sekolah dari sekolah yang terletak didekat keramaian. Misalnya : kelas yang dekat dengan tempat pertunjukan atau pasar, c) tersedianya alat pelajaran yaitu semua alat-alat yang membantu penyelenggaraan proses belajar. Misalnya : buku-buku pelajaran, alat-alat tulis menulis, buku-buku bacaan, alat-alat peraga, d)

kondisi ekonomi. Kondisi ekonomi yang baik berbeda dengan anak yang hidupnya serba kekurangan, anak lahir dari kondisi baik tentu

33

terpenuhi segala kebutuhannya. Kebutuhan dalam hal fasilitasnya, e) struktur keluarga. Anak yang hidup dalam keluarga besar berbeda dengan anak yang lahir dari keluarga yang kecil, di dalam belajarnya anak akan mempengaruhinya. Rumah yang berpengaruh banyak akan berbeda dengan rumah yang berpenghuni kecil dari segi ketenangannya, f) keadaan iklim. Iklim yang panas berbeda dengan iklim yang dingin. Pada umumnya panas tidak

menguntungkan proses belajar dan mengajar sebab melelahkan, sebaliknya udara yang dingin akan membantu perbuatan belajar, g) keadaan waktu : pagi, siang, sore dan malam. Kalau anak yang intensif belajar dipagi hari maka agar diusahakan agar jangan sampai tidur terlalu malam supaya dapat bangun pagi-pagi, h) metode mengajar atau mendidik. Metode mengajar yang mengikuti prinsip-prinsip didaktis lebih menguntungkan perbuatan belajar dibandingkan dengan yang mengabaikan prinsi-prinsip didaktis, i) iukuman atau ganjaran. Hukuman atau hadiah mempunyai pengaruh dalam perbuatan belajar. Kalau diberi hadiah anak akan giat belajar. 2. Prinsip-prinsip Belajar Prinsip-prinsip belajar adalah hal-hal yang sangat penting yang harus ada dalam suatu proses belajar dan pembelajaran. Kalau hal-hal tersebut diabaikan, dapat dipastikan pencapaian hasil belajar tidak optimal. Prinsipprinsip menurut (Darsono, 2001:27-30) yaitu :

34

a. Kesiapan belajar Faktor kesiapan, baik fisik maupun psikologis, merupakan kondisi awal suatu kegiatan belajar. Kondisi fisik yang tidak kondusif, misalnya sakit, pasti akan mempengaruhi faktor-faktor lain yang dibutuhkan untuk belajar. b. Perhatian Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu

obyek. Dapat pula dikatakan bahwa perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang dilakukan. Belajar sebagai suatu aktivitas yang kompleks, sangat membutuhkan perhatian dari siswa yang belajar. c. Motivasi Motivasi adalah kekuatan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorong orang tersebut melakukan kegitan tertentu untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif, saat orang melakukan suatu aktivitas. Motif ini tidak selalu aktif pada diri seseorang. Pada suatu ketika aktif sehingga orang bersemangat melakukan suatu aktivitas, atau siswa bersemangat belajar, tetapi pada ketika lain motif tidak aktif, artinya motivasi tidak timbul, sehingga siswa tidak terdorong untuk belajar. d. Keaktifan Siswa Keaktifan dalam kegiatan belajar dilakukan oleh siswa. Oleh karena itu siswa harus aktif, tidak boleh pasif. Dengan bantuan guru

35

siswa harus mampu mencari, menemukan, dan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Siswa harus dipandang sebagai makhluk yang dapat diajar dan mampu belajar. e. Mengalami sendiri Prinsip ini sangat penting dalam belajar dan erat kaitannya dengan prinsip keaktifan. Siswa yang belajar dengan melakukan sendiri akan memberikan hasil belajar yang lebih cepat dan pemahaman yang lebih mendalam. f. Pengulangan Materi pelajaran ada yang mudah, ada pula yang sukar. Untuk mempelajari materi sampai pada taraf insight siswa perlu membaca, berfikir, mengingat dan yang tidak kalah penting adalah latihan. Dengan latihan berarti siswa mengulang-ulang materi yang dipelajari sehingga materi tersebut makin mudah diingat. g. Materi Pelajaran yang Menantang Keberhasilan belajar sangat dipengaruhi pula oleh rasa ingin tahu anak terhadap suatu persoalan. Dengan sikap seperti ini motivasi anak akan meningkat. Materi yang diterima siswa dengan cara “tinggal menelan” biasanya kurang menantang dan membuat anak pasif. Sebaliknya materi yang mengandung permasalahan membuat anak harus “mencerna” yang membuat siswa menjadi aktif.

36

h. Perbedaan Individual Siswa dalam suatu kelas yang dihadapi oleh guru tidak dapat disamakan kondisinya seperti benda mati. Masing-masing siswa mempunyai karakteristik, baik dilihat dari segi fisik maupun psikis. Dengan adanya perbedaan ini tentu kemampuan, minat serta kemampuan belajar mereka tidak persis sama.

B. PEMBELAJARAN SEBAGAI SUATU SISTEM 1. Pengertian Pembelajaran Menurut paham konvensional pendidikan dalam aru sempit diartika sebagai bantuan kepada anak didik terutama pada aspek moral, sedangkan pengajaran dibatasi pada aspek intelektual. Didalam suatu sistem dapat diidentifikasi adanya elemen-elemen yang sekaligus menjadi ciri-ciri suatu sistem. Menurut Ryans (1968) ciriciri itu adalah, (1) elemen-elemen dapat dikenali, (2) saling berkaitan secara teratur, (3) merupakan kesatuan organisasi untuk mencapai tujuan atau fungsi, (4) membuahkan hasil yang dapat dikenali. 2. Hirarki Tujuan Pendidikan Kegiatan pendidikan di sekolah berfungsi membantu pertumbuhan dan perkembangan anak agar tumbuh kearah positif. Maka cara belajar subyek belajar di sekolah diarahkan dan tidak dibiarkan berlangsung sembarangan tanpa tujuan. Berkaitan dengan rumusan tujuan pendidikan Wingkel (1988) membedakan rumusan tujuan pendidikan dari taraf pengelolaan pendidikan, yaitu : tujuan makro, meso, mikro. Hubungan

37

ketiga jenis tujuan pendidikan tersebut selanjutnya disebut hirarki tujuan pendidikan. 3. Tujuan Pendidikan Nasional Tujuan pendidikan dirumuskan dalam dokumen resmi kenegaraan, baik dalam bentuk Undang-undang maupun Peraturan Pemerintah. Misalnya dalam Ketetapan MPR NO IV /MPR/78 tentang GBHN, dinyatakan : “Pendidikan Nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat

menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”. 4. Tujuan Lembaga Tujuan lembaga adalah rumusan secara umum tentang gambaran yang akan dihasilkan oleh suatu lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan sebagai sub sistem Pendidikan Nasional perlu memilki tujuan yang tidak terlepas dari tujuan Pendidikan Nasional. Adapun tujuan pendidikan lembaga adalah berfungsi, (1) memberikan arah, isi, dan jenis usaha pendidikan yang diselenggarakan, (2) memberikan pembatasan tentang siapa yang akan mengikuti pendidikan. Sebagai contoh tujuan SMU, menurut pasal 2 bab II Keputusan Menteri RI NO 0489/U/1992 adalah Pendidikan di SMU bertujuan: a) meningkatkan pengetahuan siswa untuk

38

melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, b) meningklatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar, c) untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat “penyelenggaraan pendidikan di SMU berpedoman pada tujuan Pendidikan Nasional”. 5. Tujuan Kurikuler Dalam memenuhi tugasnya suatu lembaga pendidikan, melalui program pendidikan, dilakukan usaha-usaha pendidikan yang isi pendidikan sesuai tujuan. Isi pendidikan itu berupa bidang pelajaran atau bidang studi yang perlu dipelajar oleh subyek pelajar. Masing-masing bidang pelajaran ini memiliki tujuan yang bekenaan dengan pelajaran itu sendiri. 6. Tujuan Pembelajaran Dalam rangka mencapai tujuan kurikuler lembaga menyelenggarakan serangkaian kegiatan pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Masing-masing kegiatan mengandung tujuan tertentu, yaitu suatu

tuntutan agar subyek belajar setelah mengikuti proses pembelajaran tertentu (Hamid, 1986:32). 7. Komponen-komponen Pembelajaran Pembelajaran pada taraf organisasi mikro mencakup pembelajaran bidang studi tertentu dalam satuan pendidikan tahunan, semesteran, atau

39

catur wulan. Bila pembelajaran tersebut ditinjau dari pendekatan sistem, maka dalam prosesnya akan melibatkan berbagai komponen. Komponenkomponen tersebut adalah : a. Tujuan Tujuan yang secara eksplisit diupayakan pencapaiannya melalui kegiatan pembelajaran adalah “instructional effect” biasanya itu berupa pengetahuan dan keterampilan atau sikap yang dirumuskan secara eksplisit dalam TPK. Makin spesifik dan operasional TPK dirumuskan akan mempermudah dalam menentukan kegiatan pembelajaran yang tepat. b. Strategi pembelajaran Strategi pembelajaran merupakan pola umum mewujudkan proses pembelajaran yang diyakini efektifitasnya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam penerapan strategi pembelajaran guru perlu memilih model-model pembelajaran yang tepat, metode mengajar yang sesuai, dan teknik-teknik pelaksanaan metode mengajar. c. Media pembelajaran Media pembelajaran adalah alat atau wahana yang digunakan guru dalam proses pembelajaran untuk membantu penyampaian pesan pembelajaran. Sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran berfungsi meningkatkan peranan strategi pembelajaran. Sebab media pembelajaran menjadi salah satu komponen pendukung strategi mengajar yang menunjang

40

pembelajaran disamping komponen waktu dan metode mengajar. Media digunakan dalam kegiatan instruksional antara lain karena : (1) media dapat memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata menjadi dapat dilihat dengan jelas, (2) dapat menyajikan benda yang sangat jauh dari subyek belajar, (3) menyajikan peristiwa yang kopmplek, rumit, dan berlangsing cepat menjadi sistematik dan sederhana sehingga mudah diikuti (Atwi, 1995:15). d. Penunjang Komponen penunjang yang dimaksud dalam sistem

pembelajaran adalah fasilitas belajar, buku sumber, alat pelajaran, bahan pelajaran, dan sebagainya. Komponen penunjang berfungsi memperlancar, melengkapi dan mempermudah terjadinya proses pembelajaran.

C. Sumber Belajar 1. Pengertian Sumber Belajar Sumber belajar adalah buku-buku materi pelajaran. Pengertian ini masih banyak dimiliki oleh sebagian para pendidik. Hal ini terbukti ketika menyusun program pengajaran, yakni kolom sumber belajar selalu diisi dengan buku wajib atau buku pendamping. Menurut Dale yang dikutip oleh (Sudjana, 1989:76) dinyatakan bahwa pengalaman itu sumber belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa sumber belajar adalah sarana yang memuat bahan-bahan belajar dan dapat digunakan sebagai acuan dalam

41

mengelola materi pelajaran, sehingga kegiatan belajar mengajar mencapai hasil yang optimal, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. 2. Macam-macam Sumber Belajar Menurut (Sudono, 2000:11-14) dalam bukunya Sumber Belajar dan Alat Permainan Anak macam-macam sumber belajar adalah sebagai berikut: a. Tempat Sumber Belajar Alamiah Sumber belajar dapat berupa tempat yang sebenarnya yakni anak mendapatkan informasi langsung, seperti kantor pos, kantor polisi, pemadam kebakaran, sawah, peternakan, hutan, perkapalan, lapangan udara. Tempat-tempat tersebut mampu memberikan informasi secara langsung dan alamiah. Anak dapat mengajukan berbagai macam

pertanyaan yang berhubungan dengan segala macam disetiap tempat tersebut. b. Perpustakaan Berbagai ensiklopedia, buku-buku dengan beraneka tema dapat dikumpulkan dan ditata rapi di ruang perpustakaan. Perpustakaan memiliki fungsi sebagai “ jantung sekolah”, karena di dalamnya berisi berbagai informasi yang dapat membantu setiap orang yang menggunakannya untuk mengembangkan diri. c. Nara Sumber Para tokoh dan ahli diberbagai bidang merupakan salah satu sumber belajar yang dapat diandalkan karena biasanya mereka

42

memberikan informasi berdasarkan penelitian dan pengalaman mereka. Dengan demikian diharapkan para siswa dapat melatih kemahiran mereka dalam berbahasa melalui wawancara dan dengan para nara sumber. d. Media Cetak Termasuk di dalamnya bahan cetak, buku, majalah atau tabloid. Gambar-gambar yang ekspresif dapat memberi kesempatan anak menggunakan nalar dan mengungkapkan pikirannya dengan berkomunikasi

menggunakan kosa-kata yang semakin hari semakin berkembang. Perkembangan media elektronik khususnya televisi akan menambah pengetahuan anak terutama dari segi visualisasi, misalnya tentang perilaku binatang laut, binatang buas dan lain-lain. e. Alat Peraga Berfungsi untuk menerangkan atau memperagakan suatu mata pelajaran dalam proses belajar dan mengajar. Perlu adanya perbedaan yang jelas antara alat peraga dan alat permainan. Pada alat permainan, anak aktif mengadakan eksplorasi walaupun tidak menutup

kemungkinan mereka akan menggunakannya untuk bermain. Adapun alat peraga tersebut dapat berupa media dua dimensi (charta) dan juga tiga dimensi (bagan). 3. Sumber Belajar Sebagai Ilmu Tinjauan sebagai sumber belajar sebagai ilmu terbagi menjadi empat komponen utama yaitu : klasifikasi, sumber belajar dalam ari luas, media,

43

dan sumber karena didesain dan dimanfaatkan (Setiadji, 1995:84). Agar komponen utama tersebut di atas bisa dipahami maka akan dijelaskan masing-masing komponen tersebut sebagai berikut : a. Klasifikasi Klasifikasi merupakan kebalikan dari sekedar penyusunan data yang sederhana dari berbagai macam sumber belajar yang merupakan konsep dasar bagi penyusunan definisi terdahulu (Setiadji, 1995:85). Konsep tersebut akan semakin jelas bila kita perhatikan kerucut pengalaman Dale sebagai berikut :
Lambang Kata

Lambang Visual

Radio, Rekaman, Gambar Mati Gambar Hidup Televisi Pameran dan Museum Darmawisata Percontohan Pengalaman Dramatisasi Pengalaman Tiruan Pengalaman Langsung dan Bertujuan

Gambar 2.1 : Kerucut Pengalaman Dale

44

Sumber : Teknologi Pengajaran (Sudjana, 1989:76) Keterangan : Pengklasifikasian sumber belajar menurut Dale tersebut mudah untuk dipahami dan dapat menggambarkan berbagai sumber belajar dari tingkat yang paling kongkret ke tingkat yang paling abstrak. Menurut Dale dari model kerucutnya bahwa sumber belajar itu terdiri atas dua macam : 1) sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk membantu kegiatan belajar dan mengajar sebagai contoh : buku, brosur, ensiklopedia, film, video, slides, OHP. Atau dengan kata lain semua perangkat keras yang memang sengaja dirancang untuk kepentingan kegiatan pengajaran, 2) sumber belajar yang dimanfaatkan guna memberikan kemudahan kepada setiap orang dalam belajar yang dapat berupa segala macam sumber belajar di sekelilingnya. Misalnya : pasar, toko, museum, tokoh masyarakat. b. Sumber belajar dalam arti luas Menurut Thorndike dalam Setijadi (1995:87) dijelaskan

pengertian dari sumber belajar dalam arti luas adalah segala sesuatu yang dipergunkan untuk kepentingan pelajaran, yaitu segala sesuatu yang ada di sekolah pada masa lalu, sekarang, maupun masa yang akan datang. c. Media Telah lama ada yang mengatakan bahwa ada hubungan teoritis antara media dan sumber belajar. Meskipun istilah tersebut populer

45

dan jelas, namun demikian mempunyai pengertian yang membatasi diri pada konsep belajar tersebut. Definisi ini menunjukkan bahwa sumber-sumber yang

dimanfaatkan untuk memberikan kemudahan belajar termasuk komponen dari sumber belajar. Adapun sumber belajar yang didesain dapat dilihat dari sebagian kenyataan yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang sering disebut dari dunia yang nyata. 4. Manfaat Sumber Belajar Sumber belajar memiliki manfaat yang sangat besar dalam kegiatan belajar mengajar. Berikut akan penulis uraikan mengenai manfaat sumber belajar tersebut. Dalam Program Akta Mengajar VB (Depdikbud, 1983:15)

dikemukakan bahwa beberapa manfaat dari sumber belajar itu antara lain: a) sumber belajar dapat memberi pengalaman belajar yang kongkret dan langsung kepada pengajarnya, misalnya darmawisata ke pabrik

penggilingan tebu, ke pelabuhan, ke pembangkit tenaga listrik dan sebagainya, b) sumber belajar dapat menyajikan sesuatu yang tidak mungkin diadakan, dikunjungi, maupun dibawa ke kelas, maka diganti dengan model, denah, sketsa, foto, film dan lain-lain, c) sumber belajar dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian yang ada dalam kelas, misalnya : foto, film, nara sumber, majalah, dan sebagainya, d) sumber belajar dapat memberi informasi yang akurat dan yang terbaru : misalnya surat kabar, televisi, radio, majalah, ensiklopedia, dan lain-lain, e) sumber

46

belajar

dapat

membantu

memecahkan

masalah

pendidikan

dan

pembelajaran, misalnya: modul, materi belajar jarak jauh, stimulasi, seminar dan sebagainya, f) sumber belajar dapat merangsang motivasi siswa dalam belajar, contohnya: model, video, dan lain-lain, g) sumber belajar dapat merangsang siswa untuk berfikir, bersikap dan berkembang lebih baik, misalnya : majalah, film, video dan sebagainya. 5. Komponen-komponen Sumber Belajar Komponen sumber belajar adalah bagian-bagian yang selalu ada dalam sumber belajar. Bagian-bagian ini merupakan satu kesatuan yang sulit berdiri sendiri-sendiri. Komponen-komponen tersebut adalah : a. Tujuan, Misi atau Fungsi Sumber belajar Setiap pemakaian sumber belajar selalu mempunyai tujuan dan misi yang akan dicapai. Dalam hal ini biasanya sumber belajar yang dirancang akan tampak lebih eksplisit jika dibandingkan dengan sumber belajar yang tidak dirancang. b. Bentuk, format atau fisik sumber belajar Bentuk, format atau fisik sumber belajar adalah keadaan sebagaimana wujudnya. Misalnya kita akan mengajak siswa

melakukan observasi ke KUD, hasilnya akan berbeda dengan data dari kantor kelurahan walaupun keduanya memberi informasi tentang penduduk. Karena pemakaian sumber belajar juga memperhitungkan masalah fisik ini di dalam pelaksanaannya.

47

c. Pesan Sumber belajar selalu membawa pesan yang akan dimanfaatkan oleh pemakainya. Dalam hal ini setiap pemakai sumber belajar harus memperhatikan bagaimana pesan yang terkandung dan bagaimana menangkapnya. d. Tingkat kesulitan pemakai sumber belajar Tingkat kesulitan adalah apakah sumber belajar itu dapat dipergunakan dengan mudah atau sukar oleh pemakainya. Hal ini perlu diketahui agar pemakainya dapat menggunakan dengan tepat sesui dengan fungsi, pesan, maupun misi yang dimilikinya. Komponen-komponen sumber belajar menurut AECT (1976: 910): a) pesan, yaitu informasi yang akan disampaikan oleh komponen lain; dapat berbentuk ide, fakta, makna dan data, b) orang yaitu orangorang yang bertindak sebagai penyimpan dan atau menyalurkan pesan, c) bahan yaitu barang-barang (lazim disebut media atau perangkat lunak “software”) yang biasanya berisikan pesan untuk disampaikan dengan menggunakan peralatan, kadang-kadang bahan itu sendiri sudah merupakan bentuk penyajian, d) peralatan yaitu barang-barang (lazim disebtu perangkat keras atau hardware) digunakan untuk menyampaikan pesan yang terdapat pada bahan, e) teknik, yaitu prosedur atau langkah-langkah tertentu dalam menggunakan bahan, alat, tata tempat dan orang untuk menyampaikan pesan, f) latar atau lingkungan yaitu lingkungan dimana pesan diterima oleh pelajar.

48

D. Teknologi Pendidikan 1. Pengertian Teknologi Pendidikan Teknologi Pendidikan merupakan suatu proses kompleks dan terpadu yang melibatkan manusia, prosedur, merancang, melaksanakan,

mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia (Hadi, 1981:1). 2. Kawasan Teknologi Pendidikan Kata kawasan dalam kamus umum Bahasa Indonesia (1976:453) mempunyai pengertian “daerah”. Kawasan berarti daerah kerja, sehingga kawasan teknologi pendidikan merupakan daerah kerja atau bidang yang masih dalam lingkup garapan Teknologi Pendidikan. Kawasan Teknologi Pendidikan menurut AECT dalam Seels dan Richey (1994:32-72) adalah sebagai berikut: a) Kawasan Desain Kawasan ini membidangi tentang bagaimana cara teori maupun praktek suatu proses-proses dan sumber-sumber didesain, yaitu dengan menspesifikasikan kondisi tertentu untuk belajar. Kawasan desain mencakup desain sistem pembelajaran, desain sistem pembelajaran, desain pesan, srategi pembelajaran, dan karakteristik siswa. b) Kawasan Pengembangan Kawasan ini membidangi tentang bagaimana secara teori maupun praktek suatu proses dan sumber belajar dikembangkan baik Teknologi Cetak, Teknologi Audio Visual, Teknologi berasas Komputer, dan

49

Teknologi

terpadu.

Pengembangan

adalah

kegiatan

untuk

menterjemahkan suatu desain ke dalam bentuk fisiknya dengan penerapan teknologi. c) Kawasan Pemanfaatan Kawasan ini membidangi tentang bagaimana secara teori dan praktek proses-proses dan sumber-sumber belajar dimanfaatkan untuk kepentingan belajar. Kawasan pemanfaatan meliputi pemanfaatan media, penyebaran dan inovasi, implementasi dan pelembagaan, serta kebijakan dan peraturan. d) Kawasan Pengelolaan Kawasaan ini membidangi tentang bagaimana secara teori maupun praktek suatu proses dan sumber-sumber belajar dikelola, baik pengelolaan proyek, pengelolaan sumber, pengelolaan sistem

penyampaian, serta pengelolaan informasi. e) Kawasan Evaluasi Kawasan ini membidangi tentang bagaimana serta teori maupun praktek suatu proses dan sumber-sumber belajar dievaluasi, yang dimulai dengan analisis masalah, pengukuran beracuan kriteria, evaluasi formatif serta evaluasi sumatif.

50

PENGEMBANGAN -Teknologi Cetak -Teknologi Audio Visual -Teknologi Berasaskan Komputer -Teknologi Terpadu

PEMANFAATAN -Pemanfaatan Media -Penyebaran dan Inovasi -Implementasi dan Pelembagaan -Kebijakan danPeraturan

DESAIN -Desain Sistem Instruksional -Desain Pesan -Strategi Instruksional - Karakteristik Siswa

TEORI DAN PRAKTEK

EVALUASI -Analisis Masalah -Pengukuran Acuan Patokan -Evaluasi Formatif -Evaluasi Sumatif

PENGELOLAAN -Pengeloalan Proyek - Pengelolaan sumber -Pengelolaan Sumber Penyampaian - Pengelolaan Informasi

Gambar 2. 2. Kawasan Teknologi Pendidikan Sumber: (AECT, 1994:32-72)

3. Kedudukan Teknologi Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu sarana terbaik untuk

meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Agar pendidikan

51

dapat berjalan dengan baik dan mampu mencapai tujuannya diperlukan bidang ilmu pendidikan. Definisi tersebut menunjukkan bahwa ilmu pendidikan dengan segala faktor yang mempengaruhiya. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan tersebut antara lain tujuan pendidikan, orang yang terlibat dalam pendidikan, dan fasilitas pendidikan.

E. Bahan Bacaan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMA 1. Bahan Bacaan a. Pengertian Bahan Bacaan Menurut Selel dan Richey (1994:14), yang dimaksud dengan bahan bacaan dalam teknologi pembelajaran adalah sumber pendukung untuk belajar termasuk materi serta lingkungan pembelajaran. Selanjutnya Dakir (1987:105) mengatakan bahwa bahan bacaan adalah segala sesuatu baik berupa majalah, koran, software dan sebagainya yang dapat memungkinkan terjadinya proses interaksi belajarmengajar. Sehubungan dengan penelitian ini, pentingnya bahan bacaan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa diera pesatnya kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sekarang ini, pada dasarnya tidak dapat digantikan oleh media lain. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Kartasasmita (dalam Gema Clipping Service Pendidikan Juni II 1995) bahwa bahan bacaan memiliki keunggulan

52

komperatif terhadap media lain yaitu: a) bahan bacaan relatif murah, biaya pemeliharaannya pun murah dan pemanfaatannya tidak memerlukan alat lain kecuali untuk pencahayaan di malam hari, b) bahan bacaan dapat dijangkau seluruh masyarakat Indonesia khususnya yang sudah mampu membaca, c) bahan bacaan merupakan sarana demokratisasi dan pemerataan ilmu pengetahuan dan teknologi, moral, agama, dan seni, d) ilmu pengetahuan dan informasi dalam bahan bacaan dapat dibaca berkali-kali tanpa alat khusus untuk memantapkan pemahamannya. Lebih jauh Kartasasminta menjelaskan bahwa peran bahan bacaan erat kaitannya dengan amanat UUD 1945 bahwa tujuan dasar negara antara lain mencerdaskan kehidupan bangsa. Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang mandiri karena sumber daya manusianya kuat dan tangguh. Masyarakat yang demikian memilih derajat pendidikan dan taraf pengetahuan yang tinggi yang diperoleh melalui penyerapan, penguasaan, dan penyebaran informasi yang medianya paling efektif adalah bahan bacaan. Sejalan dengan pengertian di atas, bahwa proses belajar mengajar yang berlangsung di sekolah-sekolah maka pengadaan serta

penyediaan bahan bacaan bagi siswa sangat diperlukan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut pendapat Cadman yang dikutip Subi (1996:40)

menyatakan tentang manfaat bahan bacaan dalam sebuah kalimat : ”A man is himself, and the books he reads” yang artinya kepribadian

53

seseorang selain ditentukan oleh dirinya sendiri juga ditentukan oleh bahan bacaan yang dibacanya (Soetrisno dan Sayuti, 1984:32). Menurut Eduard yang dikutip Kholid (dalam Gema Clipping Service, Pendidikan, November II, 1993) dapat dikategorikan aktivitas membaca dikalangan siswa sebagai berikut: a) kelompok siswa yang hanya sekali-sekali saja melakukan aktifitas membaca. Karena frekwensinya tidak pasti, maka jenis bacaan yang mereka bacapun menjadi sulit untuk diidentifikasi, b) kelompok siswa yang melakukan aktifitas membaca semata-mata hanya untuk kesenangan atau hiburan saja. Jenis bahan bacaan yang dibaca pada umumnya terbatas pada buku-buku hiburan seperti novel-novel picisan, komik atau ceritacerita bergambar lainnya, c) kelompok siswa karena hanya ingin mengetahui informasi. Jenis bacaannya terutama surat kabar, majalah berita, jurnal-jurnal berkala, serta buku-buku non fiksi (khususnya buku-buku pelajaran), d) kelompok siswa yang melakukan aktifitas membaca karena membaca telah menjadi bagian dari kebutuhan hidupnya. Jenis bacaannya sangat variatif. b. Jenis-jenis Bahan Bacaan Menurut (Fadli, 2003:8) jenis-jenis bahan bacaan dibagi menjadi : 1) Bahan Pelajaran a) Buku Teks Pengertian buku teks menurut (Tarigan, 1986:13)

mengutip beberapa pengertian buku teks dari pakar. Menurut Buckingham, buku teks adalah suatu sarana belajar yang biasanya digunakan oleh sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran.

54

Fungsi buku teks : (1) bagi guru : a) mengidentifikasi apa yang harus ia ajarkan atau dipelajari oleh siswa, b) mengetahui urutan pengajaran bahan belajar, mengetahui teknik dan metode pengajaran, c) memperoleh bahan ajar secara mudah, menggunakannya sebagai alat pembelajaran siswa didalam atau diluar sekolah, (2) bagi siswa. Buku teks sebagai sarana kepastian tentang apa yang siswa pelajari, alat kontrol untuk mengetahui seberapa banyak dan seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran, alat belajar (diluar kelas buku teks berfungsi sebagai buku) dimana siswa dapat menemukan petunjuk, teori, ataupun konsep dan bahan-bahan latihan atau evaluasi (Tarigan, 1986:85). Macam-macam buku teks bahan Bahasa Indonesia

menurut (Krisanjaya,1997:8.35-8.39) : (1) Buku teks dasar Buku teks dasar adalah buku yang memuat semua materi yang akan diajarkan (materi belajar) yang dibuat oleh guru atau TIM MGMP yang berupa Hand Book, Referensi, Silabus. Buku teks wajib. Alasan pemilihan buku teks wajib karena wajibnya itu sehingga diasumsikan semua sekolah telah memiliki buku ini. Contoh buku teks wajib: Terampil Berbahasa Indonesia, pengarang Gorys Keraf tahun 1994-1995.

55

(2) Buku teks pendamping Lahirnya kurikulum 1994 tidak langsung disertai dengan lahirnya buku teks dari pemerintah (Departemen Pendidikan Dan kebudayaan Republik Indonesia).

Kekosongan buku teks dari pemerintah ini dimanfaatkan oleh guru yang dulunya aktif dalam SPKG (Sanggar Peningkatan Keterampilan Guru) yang pernah ditatar dengan pengajaran bahasa secara komunikatif. Buku teks ini diterbitkan oleh penerbit-penerbit buku swasta yang umumnya dari kelompok IKAPI. Pemilihan buku teks tak wajib atau buku teks pelengkap berdasarkan pada pengembangan pembelajaran bahasanya yang integratis dan menggunakan banyak situasi komunikasi yang mendekati komunikasi nyata. Buku teks pendamping merupakan buku penunjang belajar yang diterbitkan oleh penerbit swasta yang mengacu atau sesuai dengan kurikulum yang ada. Ada beberapa macam buku teks pendamping menurut

(Krisanjaya, 1997: modul 8) : a) Terampil Berbicara Pembelajaran Bahasa dan Sastra Untuk SLTA Kelas 2 Karangan JS. Kamdi Terbitan PT Grasindo Tahun 2003, b) Terampil Berekspresi Pembelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia SLTA Kelas 1 Karangan JS. Kamdi Terbitan PT. Grasindo Tahun 2003, c) Terampil

Beragumen Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

56

Untuk SLTA Kelas 3 Karangan JS. Kamdi Terbitan PT.Grasindo Tahun 2003. (3) Buku teks pelengkap Selain buku teks dasar, buku teks wajib, buku teks pendamping dapat diperlukan pula buku teks pelengkap untuk menambah pengetahuan siswa mengenai materi yang dipelajari. Misalnya: Biografi. b) Ensiklopedia atau bahan rujukan Ensiklopedia adalah buku atu serangkaian buku yang menghimpun uraian tentang berbagai cabang ilmu atau bidang ilmu tertentu dalam arikel-artikel yang terpisah dan yang biasanya tersususun menjadi abjad (Ali, 1991:266 ).

Bahan Rujukan adalah keterangan lanjutan mengenai suatu hal atau bahan sumber yang dipakai untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut, acuan, referensi. c) Nota Nota adalah surat yang berisi peringatan atau petunjuk. (Ali,1991:693) d) Bahan Panduan Buku Panduan adalah buku yang berisi petunjuk

(Ali,1991:723) 2) Bahan Bacaan Umum Pendidikan bukan terhadap kepada buku teks semata-mata. Bidang pelajaran yang dimuatkan dalam buku teks adalah sebagai

57

asas dan panduan. Pelajar pasti melengkapkan pengetahuan dan pengalaman mereka dengan membaca bahan –bahan bacaan umum yang lain. Antara lain bahan bacaan umum ialah : a) Buku Pengetahuan Buku pengrtahuan adalah buku yang berisi tentang segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal mata pelajaran. (Ali,1991:991) b) Buku Fiksi Buku fiksi adalah buku yang berisi cerita rekaan yang terdiri dari : (1) Novel Novel adalah karangan prosa yang panjang

mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang–orang di sekelilingnya yang menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. (Ali,1991:694). (2) Roman Roman adalah karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masingmasing. Macam-macam roman: a) roman cak adalah cerita percintaan, b) Roman berangsur adalah cerita berangsur, c) roman bertendens adalah cerita roman yang memiliki unsur pendidikan (untuk mendidika masyarakaat pembaca), d)

58

roman detektif adalah serita roman yang menjelaskan perbuatan-perbuatan detektif. Roman kodian adalah roman picisan, e) roman masyarakat adalah cerita roman yang melukiskan kehidupan dalam masyarakat, f) roman picisan adalah roman yang rendah mutunya percintaan saja), g) yang disusun (yang berisi cerita

roman sejarah adalah cerita roman peristiwa sejaarah. (Ali,

berdasarkan

1991:845) c) Majalah Majalah adalah media cetak untuk komunikasi masa (Ali, 1991:615) Jenis majalah yang digunakan di sekolah menurut Barung, 1998:24) adalah sebagai berikut: (1) Majalah Dinding Majalah dinding adalah majalah yang penerbitan berlangsung secara berkala, seperti halnya majalah, tidak seperti pada umunya koran atau surat kabar. Fungsi majalah dinding aadaalaaah sebagaai berikut: a) majalah dinding sebagai sarana komunikasi dan penyampai informasi, b) majalah dinding sebagai media hiburan yang murah dan sederhana, meskipun sifat dan isinya tidak harus murahan dan sederhana, c) majalah dinding sebagai sarana untuk menjalin tali persaudaraan dan persahabatan diantara sesama anggota komunitas

59

tertentu, d) majalah dinding sebagai ajang pengembangan kreativitas. Jenis-jenis Majalah Dinding : (a) Majalah Dinding Umum Majalah dinding umum adalah majalah dinding sekolah dengan pengelola wakil-wakil dari sekolah yang biasanya dikoordinasikan melalui kegiatan OSIS. (b) Majalah Dinding Khusus Majalah dinding khusus adalah ditujukan untuk pembaca tertentu, misalnya majalah dinding jurusan fisika ditujukan untuk mahasiswa jurusan fisika (2) Majalah Stopfmap Folio Majalah Stofmap Folio dapat menutup keterbatasan majalah dinding sekolah, majalah dinding kelas, atau majalah lain. (Barung, 1998:32-33). (3) Majalah Sehalaman Majalah sehalaman adalah majalah yang sajian materinya hanya satu halaman. Bisa berukuran folio, bisa kuarto. Ada yang ditik atau tulisan tangan, tergantung dari situasi dan kondisi (Barung,1998:40-41). (4) Majalah Cetak Majalah cetak adalah majalah yang dijilid dan dicetak. Penjilidan dan pencetakannya bermacam-macam, dari yang dicetak secara sederhana sampai dengan yang modern, dari yang ditik manual, kemudian penggandaannya dengan cara

60

fotokopi atau distensil sampai dengan dicetak dan diperbanyak dengan mesin cetak offset atau mesin cetak komputer digital dipercetakan. Fungsi majalah cetak adalah sebagai berikut: a) sebagai sarana dan wahana siswa untuk berlatih

mengungkapkan pikiran dengan bahasa Indonesia baku ragam ilmiah, b) sebagai ajang latihan mengungkapkan dan merumuskan pikiran secara runtut dan teratur, c) sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikikir kritis, analitis, dan argumentatif. (Barung,1998:44) (5) Majalah bergambar Majalah bergambar adalah majalah yang memuat reportase berdasarkan pada gambar-gambar suatu peristiwa atau suatu karangan khusus yang berisi foto. (Ali, 1991:615). (6) Majalah berita Majalah berita adalah majalah berkala ( mingguan) yang menyajikan dengan suatu gaya tulisan yang khas dilengkapi dengan foto dan gambar. (Ali, 1991:615). (7) Majalah ilmiah Majalah ilmiah adalah majalah terbitan secara berkala yang berisi hal mengenai ilmu pengetahuan dn isinya khusus mengenai suatu bidang ilmu. (Ali, 1991:615).

61

(8) Majalah sari tulisan Majalah sari tulisan adalah majalah yang berisi terbitan dengan format khusus yang berisi ringkasan karangan dengan berbagai terbitan. (Ali,1991:615). (9) Majalah sastra Majalah sastra adalah majalah terbitan khas secara berkala dengan isinya khusus membicarakan masalahmasalah kesusastraan, resensi, buku-buku, (novel)

kontemporer atau kegiatan-kegiatan dalam bidang seni sastra. (Ali, 1991:615). d) Buletin Buletin adalah media cetak berupa selebaran atau majalah yang berisi warta singkat atau pernyataan tertulis yagn diterbtikan secara periodik oleh suatu organisasi atau lembaga untuk kelompok tertentu (Ali, 1991:153) e) Cerita Cerita adalah karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang. Cerita terdiri dari : 1) Cerita berantai adalah serangkaian cerita yang membuahkan cerita kedua dan selanjutnya, 2) cerita bersambung adalah cerita rekaan yang dimuat sebagian, secara berturut didalam surat kabat atau majalah, 3) cerita binatang adalah cerita yang menggambarkan watak manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang, biasanya mengandung ibarat, hikmah, atau

62

ajaran budi peketi, 4) cerita bingkai adalah cerita yang berbingakai, 5) cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi, 6) cerita rakyat adalah cerita zaman dahulu yang hidup dikalangan rakyat dan diwariskan secara lisan.(Ali, 1991:186187). f) Artikel Artikel adalah karya tulis lengkap dalam majalah, surat kabar dan sebagainya. Artikel adalah tulisan tentang sesuatu masalah, termasuk pendapat dan pendirian penulis tentang masalah itu. Artikel bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur pembaca, sebagai tulisan nonfiksi artikel dapat kita baca pada koran atau majalah. (sudarmanto, 2003:55). g) Komik Komik adalah cerita bergambar (dalam majalah, surat kabar, atau berbagai bentuk buku )yang umumnya mudah dicerna dan lucu (Ali, 1991:515) h) Koran Koran adalah lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan kabar atau berita terbagi dalam kolom-kolom (8-9 kolom ) terbit setiap hari atau secara periodik. (Ali, 1991:422).

63

i) Resensi Resensi adalah tulisan yang berisi ulasan, pertimbangan atau pembicaraan suatu karya (sastra, nonsastra, drama). Tujuan resensi adalah menyampaikan informasi kepada pembaca apakah sebuah karya patut mendapat sambutan atau tidak. j) Essay Essay adalah sebuah karangan yang berisi kupasan atau tinjauan tentang pokok masalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, pendapat, atau ideologi yang disusun secara populer berdasarkan sudut pandang pribadi penulisnya (bersifat subyektif) (Sudarmanto, 2003:55). k) Karya Tulis Karya Tulis adalah bentuk makalah, karya ilmiah antara lain: laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi. Makalah adalah tulisan resmi tentang pokok masalah yang dimaksudkan untuk dibacakan di tempat umum (dipresentasikan) atau untuk ditrerbitkan (dipublikasikan) (Sudarmanto, 2003:68). l) Jurnal atau kertas kerja Kertas kerja adalah karangan (utama) tertulis yang membahas suatu masalah tertentu yang dikemukakan dalam suatu seminar untuk mendapatkan pembahasan lebih lanjut atau makalah.

64

Jurnal berisi catatan harian, surat kabar harian, atau majalah khusus memuat artikel- artikel dalam satu bidang tertentu. (Ali, 1991:491).

c. Fungsi Bahan Bacaan Fungsi bahan bacaan menurut (Fadli, 2003:8) adalah sebagai: 1) Maklumat (pemberitahuan, pengumuman) Bahan bacaan akan membantu pelajar membina makna melibatkan tugas, membantu mereka menumpukan perhatian terhadap pemberitahuan atau pengetahuan yang terdapat di dalam teks dan menghubungkan pengetahuan yang terdapat di dalam pemikiran mereka. 2) Bahan pendidik Bahan bacaan yang berkualitas akan dapat menumbuh kembangkan jiwa pembaca. Tulisan yang berkualitas akan memberikan dan mendorong timbulnya gagasan baru yang cemerlang. 3) Pemberi hiburan Membaca bahan bacaan tentulah mempunyai tujuan tertentu. Pembaca yang mempunyai strategi akan dapat menyesuaikan pembacaannya dengan teks yang dihadapi. Sebagai contoh, membaca majalah tentu berbeda dengan membaca novel.

65

4) Pemerhati (watchdog) Pengajaran pemahaman bahan bacaan dengan lebih bermakna menunjuk pada cara untuk menjadikan suatu pengajaran tersebut supaya memberikan makna pribadi seorang pelajar. Jika kita beranggapan cara yang paling berkesan bagi seorang pelajar membaca adalah dengan memaksa pelajar tersebut membaca sesuatu yang kita pikirkan penting bagi dirinya. d. Manfaat Bahan Bacaan Manfaat Bahan Bacaan menurut Fadli, 2003 adalah untuk : 1) Memahami perkembangan anak, memberi motivasi dan inspirasi. Membaca bahan bacaan adalah sebagai proses mental atau proses yang didalamnya seorang pembaca diharapkan bisa mengikuti dan merespon terhadap penulis. 2) Latihan membaca cepat Dengan membaca bahan bacaan lewat kata dan ide yang berkualitas, pembaca dapat meneruskan dan menindaklanjuti hasil bacaannya pada tahap menulis dan berbicara kepada orang lain untuk membaca atau mendengarkan apa yang dia tulis dan ucapkan. 3) Peka kepada Persoalan 5W+1H Dengan membaca bahan bacaan, pelajar akan dapat mengetahui apa, mengapa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana isi bahan bacaan tersebut.

66

4) Mempelajari gaya dan laras penulis. Dengan bahan bacaan, pelajar akan dapat belajar gaya bahasa dan laras dari penulis. Strategi pembinaan dalam meningkatkan minat baca menurut (Jamaluddin, 2003:121-126) antara lain : a) Kesesuaian bahan bacaan Sebagaimana kita ketahui bahan bacaan merupakan faktor utama yang mutlak harus ada dalam rangka pembinaan minat baca siswa secara umum. Sesuai dengan subyek baca yang menjadi sasaran, tentu saja bahan-bahan dan jenis-jenis bacaan yang disediakan bagi para siswa harus memenuhi syarat-syarat psikologis dan sosiologis mereka. Misalnya, bagi anak-anak usia 6 - 8 tahun harus disajikan buku cerita bergambar dengan huruf-huruf berukuran relatif besar. Bahan bacaan serupa tentu saja tidak cocok lagi untuk disajikan kepada anak usia 10 - 12 tahun, apalagi kepada para siswa yang sudah menginjak remaja. b) Fasilitas ruang baca Jika ingin minat baca siswa berkembang secara maksimal, masalah keterserdiaan ruang baca yang nyaman tidak mungkin diabaikan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sebuah ruang baca yang nyaman pertama-tama harus memenuhi syarat kesehatan, di- dalamnya ada ventilasi sehingga arus lintas udara relatif dinamis, pilihan warna dinding dan perabot ruang yang cukup cerah disamping juga pengaturan buku-buku dan bahan

67

bacaan lainnya agar enak dipandang dan mudah terjangkau oleh para siswa. c) Pengelolaan waktu membaca Setiap sekolah tentunya sudah memiliki aturan tertentu dalam pemanfaataan fasilitas perpustakaan. Guru-guru atau petugas khusus pengelola perpustakaan sekolah pasti sudah merancangkan segala hal yang menyangkut masalah tersebut. Perlu dipertimbangkan pula agar anak-anak diberi kesempatan untuk meminjam dan membawa pulang buku-buku

perpustakaan sekolah. Dengan demikian, mereka dapat lebih leluasa membacanya di rumah. Simbiosis antara Televisi dan Bahan Bacaan Aneka ragam menu tontonan dihidangkan sampai di ruang keluarga dan kamar tidur, bahkan bisa mencapai 24 jam tanpa henti, mulai dari tayangan sinetron, film kartun, berita, siaran sains, dan teknologi sampai bermacam-macam iklan. Disinilah peran para pendidik untuk mengarahkan dan membimbing anak-anak untuk dapat memilih tayangan yang memang layak mereka konsumsi. Dari sini pula guru dapat mengaitkan dan memanfaatkan fasilitas sebagai media alternatif minat baca siswa. d) Bahan bacaan dan Seni pertunjukan Serupa dengan rangkaian simbiosis antara televisi dan bahan bacaan, pembinaan minat baca siswa sesungguhnya dapat pula ditempuh dengan memanfaatkan seni pertunjukkan drama. Masalah ini relaltif kurang terjangkau oleh sekolah-

68

sekolah yang berada di luar kota karena berbagai seni pertunjukkan itu biasanya lebih banyak digelar di gedunggedung kesenian yang hanya ada di wilayah perkotaan. Dalam kaitan ini, para siswa ( khususnya siswa-siswi SMU) dapat diberi tugas menonton suatu pertunjukkan teater dan

dilanjutkan dengan membuat sinopsis setelah membaca langsung buku-buku drama yang dijadikan bahan pementasan tersebut. e. Pemilihan Bahan Bacaan Pemilihan bahan bacaan menurut (Parera, 1996:137). 1) Kebermaknaan dan Kemenarikan Teks Bacaan Teks bacaan harus berguna, otentik, dan kontekstual. Untuk menentukan teks bacaan yang berguna dan menarik memang agak sulit.Guru kelas bahasa akan lebih mudah menentukan materi teks bacaan mana yang berguna dan menarik untuk pelajaran bahasa. Dengan wawancara, hasil pengisian angket yang diedarkan untuk tujuan tertentu ini, dan mungkin hasil observasi guru kelas bahasa dapat dengan mudah memilih materi teks bacaan yang menarik dan berguna untuk kelasnya. 2) Isi Budaya Di Indonesia isi budaya teks bacaan secara umum dikatan harus sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa, tidak bertentangan dengan Pancasila dan tidak boleh menggambarkan dan

menimbulkan bias SARA (Suku, Agama, Ras, dan Asal keturunan).

69

3) Keterbacaan atau Tingkat Kesulitan Secara umum dapat dikatakan bahwa bacaan yang mudah akan lebih dapat dipahami daripada bacaan yang sulit. Beberapa hasil penelitian dan prosedur penelitian telah dicobakan untuk

mengetahui apakah sebuah teks sulit atau tidak bagi para siswa pelajar bahasa. Secara teoritis diasumsikan bahwa teks bacaan harus dapat memberikan nilai lebih kepada pembaca seperti dirumuskan oleh Krashen “I +1” (Krashen, 1980:168-180). Mengenai bahan yang terkandung di dalam buku teks harus memenuhi beberapa kriteria. Kriteria-kriteria itu antara lain: a) bahan tersusun logis dan sistematis, b) bahan menyediakan latihan yang bervariasi, c) bahan sesuai dengan kemampuan siswa, d) bahan merangsang aktivitas siswa, e) bahan up to date (Husen, 1997:219). Dari segi metode kita lihat buku teks haruslah: a) memperkaya kegiatan kelas, b) berisi latihan bervariasi dan memotivasi, c) pengarahan, instruksi, jelas dan mudah dipahami, d) latihan di samping beraneka ragam harus pula memenuhi segi-segi perbedaan individual. (Husen, 1997:219). Evaluasi yang termuat di dalam buku teks haruslah: a) terbuka untuk dinilai dan diresensi, b) mempunyai cara untuk menilai penguasaan bahan oleh siswa, c) mempunyai cara penilaian yang sederhana, praktis dan indah dihitung dan dikerjakan, d) merangsang pribadi siswa. (Husen, 1997:219).

70

Menurut Hamalik (1982:217-218) kriteria pemilihan bahan bacaan adalah sebagai berikut: 1. Buku itu sesuai dengan filsafat dan tujuan pendidikan. 2. Berisikan cukup bahan untuk mata pelajaran. 3. Memiliki tingkat kebenaran sesuai dengan kenyataan. 4. Bahasa yang digunakan sesuai dengan perkembangan siswa yang akan mempelajarainya. 5. Susunan kalimat dan penjelasannya cukup menarik, sederhaa dan mudah dipahami. 6. Format dan tipografi buku menarik, menarik minat si pembaca. 7. Memiliki alat bantu semi mekanis seperti: tipe halaman, kepala karangan, indeks, daftar isi, footnote. 8. Memiliki bentuk mekanis yang serasi, seperti: bentuk buku, kualitas kertas. 9. Keadaan kualitas dan kuantitas alat belajar dalam buku (tabel gambar, diagram, peta, ikhtisar, pertanyaan, masalah, tugas. 10. Isi buku disesuaikan dengan perbedaan individual, kebutuhan dan kemampuan siswa yang akan membacanya.

2. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di SMU Menurut Kurikulum dan GBPP Bahasa Indonesia tahun 1994

Bahasa Indonesia memungkinkan manusia untuk saling berhubungan, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Pelajaran Bahasa Indonesia adalah

71

program untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan bahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia. a. Fungsi Bahasa Indonesia adalah : (1) sarana pembina persatuan dan kesatuan bangsa, (2) sarana peningkatan pengetahuan dan ketrampilan Berbahasa Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, (3) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan Berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, (4) sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah. b. Tujuan Pengajaran Tujuan Umum : 1) Siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional dan Bahasa Negara, 2) siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makan, dan fungsi, serta

menggunakannya dengan tepat dan untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, 3) siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional dan sosial, 4) siswa mampu menikmati, menghayati, memahami dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan keperibadian, memperluas wawasasn kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.

72

Tujuan Khusus 1) Kebahasaan (a) Siswa menguasai aturan ejaan dan tanda baca, (b) siswa menguasai beberapa kemungkinan intonasi kalimat sesuai dengan tujuanya, (c) siswa memahami ciri-ciri esay dan pengembanganya. (d) siswa memahami ciri-ciri paragraf dan pengembanganya, (e) siswa menguasai bermacam-macam majas, makna ungkapan, dan makna peribahasa, (f) siswa menguasai ciri-ciri bentuk puisi, prosa, drama, kritik dan esay. 2) Penggunaan Bahasa Indonesia (a) siswa mampu mengungkapkan informasi secara jelas, logis, sistematis sesuai dengan konteks dan situasi dalam berbagai bentuk dan ragam bahasa, (b) siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, pengalaman, dan pesan bentuk untuk berbagai keperluan, (c) siswa mampu mengungkapkan perasaan dalam berbagai bentuk, cara, dan gaya bahasa sesuai dengan konteks dan situasi, (d) siswa peka terhadap lingkungan dan mampu mengungkapkan secara kreatif sesuai dengan konteks dan situasi,. (e) siswa memiliki kegemaran dan terbiasa menulis dan berbicara untuk keperluan kehidupan sehari-hari dan meningkatkan ilmu pengetahuan.

73

3) Ruang lingkup Bahasa Indonesia Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia meliputi penguasaan kebahasaan, kemampuan memahami, mengapresiasi sastra, dan kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia. Khusus untuk program bahasa di sekolah menengah umum ditambah dengan dasar-dasar kebahasaan dan kesusastraan. 4) Rambu-Rambu Bahasa Indonesia 1) Pada dasarnya program pengajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Umum pemilihan materi bacaan mencakup masalah-masalah ilmu poengetahuan, teknologi dan seni, 2) Pada hakekatnya belajar bahasa adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis, 3)

Pembelajaran Bahasa Indonesia perlu memperhatikan prinsipprinsip pengajaran, antara lain dari yang mudah ke yang sukar, dari hal-hal yang dekat ke yang jauh, dari yang sederhana ke yang rumit, dari yang diketahui ke yang belum diketahi, dan dari yang kongkrit ke yang abstrak, 4) pembelajaran Bahasa Indonesia mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, 5) bahan pelajaran mencakup lafal, ejaan dan tanda baca, tanda bahasa, kosa kata, dan wacana, 6) penilaian dan proses hasil mencakup pengetahuan,

belajara pelajaran bahasa Indonesia

74

keterampilan, dan sikap berbahasa, (7) sumber belajara siswa dapat berupa buku-buku pelajaran yang diwajibkan, buku pelajaran yang pernah dipakai yang masih sesuai, buku pelengkap, buku bacaan, bunga rampai, kamus, ensiklopedi. Media cetak berupa surat kabar, majalah. Media elektronik berupa radio, kaset, televisi, video. Lingkungan berupa alam, sosial, budaya. 5) Prinsip dan Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia Untuk dapat mengajarkan bahasa Indonesia sesuai dengan tujuannya, maka prinsip-prinsip pengajaran bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : (1) pengajaran bahasa Indonesia adalah pengajaran untuk mencapai kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dengan (2) benar sesuai bahasa dengan Indonesia konteks adalah

pelangsungannya,

pengajaran

pengajaran untuk memahami dan menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan konteks, (3) pengajaran bahasa Indonesia adalah pengajaran untuk berkomunikasi secara bermakna, (4) pengajaran tata bahasa Indonesia sebagai sarana untuk berkomunikasi secara bermakna, baik, dan benar. 6) Materi Sastra dalam GBPP Sekolah Menengah Atas Seperti telah penulis uraikan pada bagian diatas, bahwa pengajaran menyatu dngan penajaran bahasa. Karena itu

pembelajaran sastra menyatu dengan pembelajaran bahasa lainnya yaitu membaca, menyimak dan menulis. Untuk mengetahui materi

75

sastra yang diajarkan pada tingkat Sekolah Menengah Atas berikut ini penulis paparkan materi sastra yang menjadi bahan ajar pada tingkat Sekolah Menengah Atas. Materi sastra kelas II : 1) menulis puisi, cerpen, drama dan mempublikasikannya, 2) membuat tanggapan terhadap karya sastra. Membahas kaitan tema dan amanat dalam puisi atau novel. Membahas kaitan tema dan amanat dalam puisi atau novel, 3) membaca Novel yang akan diresensi dan mencatat hal yang kan dirangkum dalam resensi, 4) menyusun resensi berdasarkan syarat resensi dan mencatat hal-hal yang telah dibuat dan membahasnya. Mengumpulkan cerpen dari berbagai sumber. Menulis karya sastra yang melukiskan keindahan alam. Membaca karya sastra melayu klasik terjemahan sastra asing dan membahas nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.

76

BAB III A. METODE PENELITIAN

Pada bab ini akan diuraikan komponen yang penting berkaitan dengan metode penelitian, yaitu rancangan penelitian, variabel penelitian, sampel dan populasi penelitian, validitas dan reliabilitas instrumen, metode pengumpulan data, teknik analisis data.

A. Rancangan Penelitian Sebelum menentukan rancangan penelitian yang dipakai dalam penelitian terlebih dahulu dikemukakan pengertian rancangan penelitian. Rancangan penelitian adalah sebuah titik tolak pemikiran yang akan membantu pelaksanaan kegiatan lebih efektif yang berguna bagi penelitian kemudian untuk dianalisis serta mencari perannya sehinggga dapat digunakan sebagai kesimpulan yang diharapkan. Rancangan penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yang bertujuan untuk melukiskan atau mendeskripsikan kondisi atau variabel situasi sebagaimana adanya, atau melukiskan fenomena seobyektif mungkin. (Latunsa, 1988:55). Agar penulis dapat menentukan persiapan penelitian secara sistematis dalam usaha menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran dari pokok permasalahan, maka perlu menggunakan metode pendekatan dalam penelitian. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif prosentase. Metode diskriptif prosentase digunakan untuk mengkaji

77

variabel yang ada pada penelitian yaitu pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang.

B. Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 1998:115). Menurut Fraenkel dan Wallen (1990:68) dalam Rianto (1996:51) populasi adalah sekelompok yang menarik peneliti, dimana kelompok tersebut oleh peneliti dijadikan sebagai obyek untuk menggeneralisasikan hasil penelitian. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan obyek yang dijadikan sasaran dalam penelitian. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SMA Negeri 1 Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti Arikunto (1998:117). Menurut Riyanto (1996:52) sampel adalah bagian dari populasi. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti. Sehubungan dengan penetapan besar kecilnya sampel menurut Arikunto (1997:112) mengemukakan pendapat sebagai berikut : “Sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya populasi. Selanjutnya jika jumlah subyek besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih tergantung setidaktidaknya terdiri dari :

78

1. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana 2. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data 3. Besar kecilnya risiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang risikonya besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel 50% dari jumlah populasi sebanyak 240 siswa kelas II. Siswa kelas dua berjumlah tujuh kelas. Kemudian diambil satu kelas untuk uji coba penelitian. Sedangkan enam kelas yang lainnya diambil 20 siswa perkelas untuk dijadikan sampel penelitian. Didapat dari perhitungan sebesar 40 x 6 = 240. Kemudian diambil 50% dari jumlah populasi yaitu 240 ×
50 = 120 . 100

Jadi sampel yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 120 siswa. Menurut (Nasution, 1996:87-94) yang termasuk dalam probability sampling adalah: 1. Sampel random sampling atau sampling acak yang sederhana, yaitu kesempatan yang sama untuk dipilih bagi setiap individu atau unit dalam keseluruhan populasi. 2. Sampling acak secara proporsional. Dalam sampel ini populasi digolongkan menurut ciri tertentu atau stratifikasi untuk keperluan penelitian. 3. Sampling acakan secara tidak proporsional. Sampling ini hampir sama dengan sampling stratifikasi. Bedanya adalah bahwa proporsi subkategori-

79

subkategorinya tidak didasarkan atas proporsi yang sebenarnya dalam populasi. 4. Area atau cluster sampling, yaitu sampling menurut daerah atau pengelompokan. Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling acak, karena dalam pengambilan sampelnya peneliti mencampur subyek-subyek di dalam populasi sehingga semua subyek dianggap sama. Dengan demikian maka peneliti memberi hal yang sama kepada setiap subyek untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel. Langkah-langkah pengambilan sampel acak meliputi : 1) Menetapkan populasi, 2) Membuat daftar semua anggota populasi, 3) Mengambil sampel secara acak, 4) Cara pengambilan sampel secara acak dapat dilakukan melalui undian dan menggunakan tabel bilangan randon. Dalam penelitian ini cara pengambilan sampel dilakukan dengan undian, yaitu diambil sebanyak 20 responden per kelas.

C. Variabel Penelitian
Variabel merupakan komponen yang mutlak dalam melaksanakan suatu penelitian, menurut Arikunto (1993:89) dijelaskan bahwa variabel suatu obyek penelitian sejalan dengan maksud dan tujuan dari penelitian ini, maka variabel yang dijadikan titik perhatian adalah pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia oleh siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo. Dari variabel tersebut selanjutnya diuraikan ke

80

dalam sub-sub variabel sehingga indikator untuk mengetahui cara selanjutnya secara tegas variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Pemilihan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia Indikator : Jenis bahan bacaan yang dimiliki siswa Jenis bahan bacaan yang dibaca siswa Sikap siswa terhadap bahan bacaan Kriteria pemilihan bahan bacaan

2. Pemanfaatan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran bahasa Indonesia Indikator : Pemanfaatan bahan bacaan Dorongan guru terhadap siswa Frekuensi pemanfaatan bahan bacaan

D. Metode Pengumpulan Data
1. Metode Dokumentasi Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barangbarang tertulis. Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mencatat data-data yang sudah ada (Rianto, 1996:83). Dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang daftar nama, jumlah siswa, serta nilai yang diperoleh siswa kelas II SMA Negeri 1 Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.

81

2. Instrumen Penelitian Pengumpulan data menggunakan instrumen yang berupa daftar pertanyaan dan pernyataan. Daftar pertanyaan disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis. Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah, Arikunto (2002:136). Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah angket. Menurut (Nasution,1996:129) angket dapat dibagi tiga menurut sifat jawaban yang diinginkan, yaitu : a. Angket tertutup Angket tertutup terdiri atas pertanyaan atau pernyataan dengan sejumlah jawaban tertentu sebagai pilihan. Responden mencek jawaban yang paling sesuai dengan pendiriannya. b. Angket terbuka Angket terbuka ini memberi kesempatan penuh memberi jawaban menurut apa yang dirasa perlu oleh responden. Peneliti hanya memberikan sejumlah pertanyaan berkenaan dengan masalah

penelitian dan meminta responden menguraikan pendapat atau pendiriannya dengan panjang lebar bila diinginkan. c. Kombinasi angket terbuka dan angket tertutup Angket ini memberi kesempatan kepada responden untuk memberi jawaban sendiri, di samping atau di luar jawaban yang tersedia.

82

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan angket tertutup yang ditujukan kepada siswa dengan maksud untuk mengetahui pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang bahan belajar Bahasa Indonesia.

E. Analisis Data Penelitian
1. Pengertian analisis data Analisis data adalah proses peyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan (Singarimbun, 1987: 263). Berdasarkan data yang diperoleh dari responden akan dilakukan pengkajian lebih lanjut oleh peneliti mengenai maksud dari jawaban yang diberikan oleh responden dari beberapa pertanyaan yang diajukan dalam angket untuk dapat diambil sebuah kesimpulan dari analisis data secara deskriptif kuantitatif. 2. Langkah-langkah analisis data a. Editting : Memeriksa menyusun kelengkapan data yang diperoleh dari kuesioner dan wawancara b. Koding : Memberi kode pada masing-masing jawaban untuk mempermudah pengolahan data c. Entri data : Proses pemindahan data ke dalam media komputer agar diperoleh data masukan yang siap diolah. d. Tabulasi : Mengelompokan data sesuai dengan tujuan penelitian, kemudian dimasukan dalam tabel yang sudah disiapkan. Setelah data tersusun dalam tabulasi selanjutnya dilakukan analisis data dengan analisis deskriptif presentase. Metode ini digunakan untuk

83

mengetahui persentase variabel yang ada pada penelitian ini. Adapun rumus untuk menghitung persentase variabel tersebut adalah : Keterangan :
%V = n × 100% N

n

: Jumlah frekuensi

N : Jumlah responden %V : Jumlah persentase pemilih variabel (Ali, 184) Rumus tersebut di atas digunakan untuk menganalisis variabel yang terdiri dari option jawaban “ya” atau “tidak”, maka data tersebut merupakan data kuantitatif dari variabel- variabel sebagai berikut : a. Jenis bahan bacaan yang dibaca 1) Buku pelajaran 2) Buku sastra atau novel 3) Majalah 4) Surat kabar b. Judul buku sastra atau novel yang dibaca siswa 1) Layar terkembang 2) Salah asuhan 3) Siti nurbaya 4) Ateis 5) Karmila

84

c. Nama surat kabar yang dibaca siswa 1) Kompas 2) Wawasan 3) Suara merdeka 4) Kedaulatan rakyat 5) Jawa pos d. Nama majalah yang dibaca siswa 1) MOP 2) Gadis 3) Bola 4) Halo 5) Kawanku e. Nama buku pelajaran yang dibaca siswa 1) Terampil berbahasa 2) Terampil berbicara 3) Terampil berekspersi 4) Trampil berargumen 5) Lembar kerja siswa f. Nama majalah yang dimiliki siswa 1) MOP 2) Gadis 3) Bola 4) Halo

85

5) Kawanku g. Nama buku pelajaran yang dimiliki siswa 1) Terampil berbahasa 2) Terampil berbicara 3) Terampil berekspersi 4) Trampil berargumen 5) Lembar kerja siswa h. Nama surat kabar yang dimiliki siswa 1) Kompas 2) Wawasan 3) Suara merdeka 4) Kedaulatan rakyat 5) Jawa pos

Dalam mendeskripsikan variabel tersebut digunakan tabel tunggal sebagai berikut: Tabel 3.1 Deskripsi Variabel Option Jawaban Ya dan Tidak No Pendapat siswa tentang bahan bacaan f Ya (%) Tidak (%) 1. 2. Jenis bahan bacaan yang dibaca siswa Jenis bahan bacaan yang dimiliki siswa Rata-rata

86

Variabel dengan 5 option dimaksudkan untuk menggambarkan sikap siswa terhadap bahan bacaan, kriteria pemilihan bahan bacaan, pemanfaatan bahan bacaan, dorongan guru terhadap siswa dan frekuensi pemanfaatan bahan bacaan. Rumusnya adalah sebagai berikut: Jumlah skor maksimal = jumlah item x skor tertinggi. Jumlah skor minimal = jumlah item x skor terendah. Range = jumlah skor maksimal – jumlah skor minimal. Panjang kelas interval = range : banyak kelas. Data tersebut berupa data kuantitatif, maka akan dianalisis dengan kriteria sebagai berikut: 1. Sikap siswa terhadap bahan bacaan Untuk menggambarkan variabel sikap siswa terhadap bahan bacaan diukur dengan 4 item sehingga skor jawaban tertinggi adalah 20 dan skor

jawaban terendah adalah 4 dan rentang skor jawaban adalah 20-4 = 16. Dalam mendeskripsikan sikap siswa terhadap bahan bacaan dibuat dalam 5 kategori sehingga rentang skor tiap-tiap kategori adalah 16 : 5 = 3. Lebih jelasnya berikut ini disajikan langkah-langkah penyusunan kriteria sikap siswa terhadap bahan bacaan. Jumlah skor maksimal = 4 x 5 = 20 Jumlah skor minimal = 4 x 1 = 4 Range = 20 - 4 = 16 Range Panjang kelas Interval = Banyak kelas 16 = 5 =3

87

Tabel 3.2 Kriteria Sikap Siswa Terhadap Bahan Bacaan Rentang Skor 17 – 20 14 – 16 11 – 13 8 – 10 4–7 Sangat suka Suka Cukup suka Kurang suka Tidak suka Kriteria

2. Kriteria pemilihan bahan bacaan Untuk menggambarkan variabel kriteria pemilihan bahan bacaan diukur dengan 8 item sehingga skor jawaban tertinggi adalah 40 dan skor

jawaban terendah adalah 8 dan rentang skor jawaban adalah 40-8 = 36. Dalam mendeskripsikan sikap siswa terhadap bahan bacaan dibuat dalam 5 kategori sehingga rentang skor tiap-tiap kategori adalah 36 : 5 = 6. Lebih jelasnya berikut ini disajikan langkah-langkah penyusunan kriteria pemilihan bahan bacaan. Jumlah skor maksimal = 8 x 5 = 40 Jumlah skor minimal = 8 x 1 = 8 Range = 40 - 8 = 16 Range Panjang kelas Interval = Banyak kelas

36 = 5 =6

88

Tabel 3.3 Kriteria Pemilihan Bahan Bacaan Rentang Skor 35 – 40 28 – 34 22 – 27 15 – 21 8 - 14 Kriteria Sangat menarik Menarik Cukup menarik Kurang menarik Tidak menarik

3. Kriteria pemanfaatan bahan bacaan Untuk menggambarkan variabel pemanfaatan bahan bacaan diukur dengan 10 item sehingga skor jawaban tertinggi adalah 50 dan skor jawaban terendah adalah 10 dan rentang skor jawaban adalah 50-10 = 40. Dalam mendeskripsikan sikap siswa terhadap bahan bacaan dibuat dalam 5 kategori sehingga rentang skor tiap-tiap kategori adalah 40 : 5 = 8. Lebih jelasnya berikut ini disajikan langkah-langkah penyusunan kriteria pemanfaatan bahan bacaan. Jumlah skor maksimal = 10 x 5 = 50 Jumlah skor minimal = 10 x 1 = 10 Range = 50 - 10 = 40 Range Panjang kelas Interval = Banyak kelas 40 = 5 =8

89

Tabel 3.4 Kriteria Pemanfaatan Bahan Bacaan Rentang Skor 42 – 40 35 – 41 27 – 34 19 – 26 10 - 18 Kriteria Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik

4. Kriteria dorongan guru terhadap siswa Untuk menggambarkan variabel dorongan guru terhadap siswa diukur dengan 2 item sehingga skor jawaban tertinggi adalah 10 dan skor

jawaban terendah adalah 2 dan rentang skor jawaban adalah 10-2 = 8. Dalam mendeskripsikan sikap siswa terhadap bahan bacaan dibuat dalam 5 kategori sehingga rentang skor tiap-tiap kategori adalah 8 : 5 = 1,6. Lebih jelasnya berikut ini disajikan langkah-langkah penyusunan kriteria dorongan guru terhadap siswa. Jumlah skor maksimal = 2 x 5 = 10 Jumlah skor minimal = 2 x 1 = 2 Range = 10 - 2 = 8 Range Panjang kelas Interval = Banyak kelas 8 = 5 = 1,6

90

Tabel 3.5 Kriteria Dorongan Guru terhadap siswa Rentang Skor 8,5 – 10,0 6,9 – 8,4 5,3 – 6,8 3,7 – 5,2 2,0 – 3,6 Kriteria Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik

5. Kriteria frekuensi pemanfaatan buku bacaan Untuk menggambarkan variabel frekuensi pemanfaatan buku bacaan diukur dengan 11 item sehingga skor jawaban tertinggi adalah 55 dan skor jawaban terendah adalah 11dan rentang skor jawaban adalah 55-11 = 44. Dalam mendeskripsikan sikap siswa terhadap bahan bacaan dibuat dalam 5 kategori sehingga rentang skor tiap-tiap kategori adalah 44 : 5 = 9. Lebih jelasnya berikut ini disajikan langkah-langkah penyusunan kriteria sikap siswa terhadap bahan bacaan. Jumlah skor maksimal = 11 x 5 = 55 Jumlah skor minimal = 11 x 1 = 11 Range = 55 - 11 = 44 Range Panjang kelas Interval = Banyak kelas

44 = 5 =9

91

Tabel 3.6 Kriteria Frekuensi Pemanfaatan Bahan Bacaan Rentang Skor 47 – 55 38 – 46 29 – 37 20 – 28 11 – 19 Kriteria Sangat sering Sering Cukup sering Jarang Tidak pernah

F. Validitas Dan Reliabilitas Instrumen
1. Validitas Instrumen Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkatantingkatan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2002: 144). Instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan mengungkap data variabel yang diteliti secara tepat. Dalam penelitian ini validitas yang digunakan adalah validitas internal. Validitas internal adalah validitas yang dicapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dikatakan memiliki misi instrumen secara keseluruhan yaitu mengungkap data dari variabel yang dimaksud. Dalam penyajian validitas instrumen pada penelitian ini digunakan analisa butir. Cara pengukuran analisa butir tersebut adalah

mengkorelasikan skor butir dengan skor total dengan rumus Product Moment, Yaitu:

92

rxy =

N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )

{∑ X − (∑ X )}{(N ∑ Y )}
2 2

2

rxy =Validitas instrumen
X =Jumlah skor faktor tertentu Y = Jumlah skor faktor total (Arikunto,1998:160) Butir angket dikatakan valid jika rxy > r tabel = 0,312 untuk x =5% dengan N = 40. Berdasarkan hasil uji coba angket pada 40 responden diperoleh harga rxy untuk seluruh butir soal lebih besar dari r tabel = 0,312. Dengan demikian menunjukkan bahwa seluruh butir angket valid dan dapat digunakan untuk pengambilan data penelitian.

2. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen sudah baik (Arikunto, 2002:154). Instrumen yang sudah dapat dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Untuk menguji reliabilitas, dapat digunakan uji reliabilitas internal yang diperoleh dengan cara menganalisis data dari suatu hasil pengetesan dengan rumus sebagai berikut :
2  k   ∑σ b   r11 =   1 − σ 12   (k − 1)   

93

Keterangan :

r11
k

= Reliabilitas instrumen = Banyaknya pertanyaan
2 b

∑σ
σ 12

= Jumlah varian butir = Varian total

(Arikunto, 2002:171) Untuk mencari varian butir dengan rumus :

σ2 =

∑ (x ) ∑ (x ) − N
2

2

N

Keterangan :

σ
X

= Varian tiap butir = Jumlah skor butir

N =Jumlah responden (Arikunto, 2002:162) Instrumen dikatakan reliabel jika harga r11 > r tabel = 0,312 untuk x = 5% dengan N = 40. Berdasarkan hasil uji reliabilitas angket pada lampiran diperoleh harga r11= 0,857 >r tabel =0,312 untuk =5% dengan

40 responden. Dengan demikian menunjukkan bahwa instrumen tersebut reliabel dan dapat diguinakan untuk penelitian.

G. Pelaksanaan dan Tempat Penelitian

94

Penelitian ini diselenggarakan selama 1 bulan, mulai bulan April sampai Mei yang dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut: 1. Penjajagan ke calon lokasi penelitian sebagai persiapan penyusunan proposal. 2. Memilih dan menetapkan SMA yang akan diteliti 3. Memasuki lapangan yang dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut: a. Melakukan pengenalan diri b. Mengadakan wawancara kepada guru Bahasa Indonesia dan kelas II c. Melakukan observasi di perpustakaan d. Pengisian angket yang dilakukan oleh kelas II Penelitian ini dilaksanakan dengan mengambil lokasi di SMA Negeri 1 jekulo, Kabupaten Kudus. Maksud dilaksanakan penelitian ini karena adanya keterbatasan buku penunjang di sekolah tersebut kurang memadai, kurangnya pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang oleh siswa SMA N 1 Jekulo. siswa

H. Paradigma Penelitian
Menurut Fred N Kerlinger (1993:484) mengatakan bahwa “paradigma penelitian merupakan model relasi antara variabel-variabel dalam suatu kajian penelitian. Paradigma merupakan struktur suatu desain penelitian, yaitu karena pengaturan yang memperlihatkan hubungan-hubungan secara jelas. Dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa maka Pemilihan dan pemanfaatan terhadap baku penunjang perlu ditingkatkan, selain faktor-faktor intrinsik

95

maupun faktor ekstrinsik yang melingkupi atau mempengaruhi hasil belajar siswa tersebut. Tersedianya cukup bahan-bahan belajar akan mendorong dan meningkatkan hasil belajar siswa. Hal itu karena telah ada tanggapan positif baik dalam diri siswa terhadap pemilihan dan pemanfaatan buku penunjang sebagai sumber belajar. Selain itu pemilihan dan pemanfaatan yang baik terhadap buku

penunjang bagi masa depan mereka akan mempengaruhi pula pada minat baca mereka, karena dengan memilih dan memanfaatkan buku penunjang akan mendorong timbulnya motivasi untuk membaca buku penunjang sebagai bahan belajar bagi dirinya sehingga hal tersebut akan menimbulkan minat baca para siswa. Dengan demikian minat baca siswa dapat meningkat, karena memang bukanlah suatau kebiasaan yang secara otomatis tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus ditanam dan dibina sejak dini, sejak awal mulai dapat membaca, sejak mulai merasa mendapat kenikmatan dari hasil membaca. Pembinaan tersebut disamping penguasaan teknis membaca hendaknya siswa sejak dini diberikan pengertian akan pentingnya buku penunjang dan memilih buku penunjang yang baik dan bermanfaat.

96

Instrumental Input - Guru-non guru - Administrasi manajement - Kurikulum, sarana dan prasarana♣ ( buku penunjang)

Raw In Put

Proses

Out put

Environmental Input - Orang tua - Masyarakat - Lingkungan

Feed back

Gambar 3. Pembelajaran Bahasa Indonesia Sebagai Suatu Sistem Sumber: (Sugandi, 2004:19)

Keterangan :

♣ Permasalahan penelitian: Pemilihan dan Pemanfaatan buku penunjang

97

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN

D. Gambaran Umun SMA Negeri 1 Jekulo Kudus
SMA Negeri I Jekulo Kudus berdiri sejak tahun 1998 ditandai dengan diterimanya siswa baru kelas I pertama kali pada tanggal 17 Juli 1998. Awalnya proses pembelajaran masih menginduk di SMA 2 Kudus. Setelah pembangunan gedung dan sarana prasanana yang lain selesai, mulai Januari 1990 siswa kelas I ini pindah di SMA I Jekulo yang beralamat di Jln. Jendral Sudirman desa Klaling Jekulo Kudus. Adapun kepala sekolah pada waktu itu dijabat oleh Bapak Moersodo sebagai kepala sekolah pengampu. Keberadaan guru-guru pada waktu itu sebagian besar berasal dari guru-guru SMA 2 Kudus. Situasi SMA Negeri I Jekulo Kudus sangat nyaman untuk belajar dan ditunjang pula oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang lengkap yaitu dengan 22 ruang kelas, ruang perpustakaan, ruang ketrampilan, ruang guru, ruang TU, ruang kepala sekolah, laboratorium fisika dan kimia. Dengan sarana dan prasarana yang memadai tersebut memungkinkan para siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal di sekolah ini. Misi dan visi dari sekolah yang jelas sangat menjamin kelangsungan sekolah tersebut. Adapun visi dari SMA Negeri I Jekulo Kudus adalah unggul dalam prestasi, terpuji dalam budi pekerti, sedangkan misi dari sekolah adalah menumbuhkan

98

semangat keunggulan secara universal kepada seluruh warga sekolah, mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengembangkan potensi dirinya sehingga dikembangkan secara lebih optimal. Jumlah guru bidang studi yang mengajar di SMA Negeri 1 Jekulo Kudus hingga saat ini mencapai 51 guru sedangkan jumlah tenaga tata usahanya sebanyak 16 orang. Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai populasi adalah seluruh siswa kelas II SMA Negeri I Jekulo Kudus. Siswa kelas II berjumlah 7 kelas. Jumlah populasi seluruhnya ada 280 siswa. Tiap-tiap kelas terdiri dari 40 anak/siswa. Sampel penelitian diambil secara random sampling atau acak dari 6 kelas penelitian dengan jumlah 20 siswa untuk tiap-tiap kelas sehingga diperoleh sampel sebanyak 120 siswa. Sebagai pelengkap peneliti pengumpulan data pendukung diantaranya guru bidang studi Bahasa Indonesia, dan 6 siswa diambil dari masing-masing kelas. Hasil informasi yang terkumpul dari siswa menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua siswa memiliki status sosial ekonomi menengah ke bawah dengan mata pencaharian yang cukup beragam mulai dari buruh, petani, wiraswasta, PNS, sampai TNI dan Polri. Dengan latar belakang anak didik dari keluarga dengan status ekonomi yang kurang tersebut mendapat respon secara baik oleh dari pihak sekolah dengan menyediakan kelengkapan belajar baik buku penunjang maupun bahan bacaan baik itu surat kabar maupun majalah/jurnal secara memadai.

99

E. Pendapat Siswa tentang Alasan Pemilihan Bahan Bacaan
Alasan pemilihan bahan bacaan oleh siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus dapat disajikan sebagai berikut. Tabel 4.7 Deskripsi Alasan Pemilihan Bahan Bacaan Siswa Alasan Sangat menarik Menarik Cukup menarik Kurang menarik Tidak menarik Jumlah Sumber : Data Penelitian 2005 (35 – 40) (28 – 34) (22 – 27) (15 – 21) (8 – 14) f 0 76 37 7 0 120 % 0,0 63,4 30,8 5,8 0,0 100

Berdasarkan tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa, 76 siswa atau 63,4% siswa memilih bahan bacaan karena isinya menarik. Hal ini dapat ditunjukkan bahwa para siswa hanya memilih bahan bacaan yang isinya menarik saja sebagai bahan bacaan yang menunjang pelajaran Bahasa Indonesia, karena dengan membaca buku-buku yang isinya menarik mereka akan mudah dalam memahami materi yang disajikan, semakin kreatif dan dapat meningkatkan prestasi belajarnya, 37 siswa atau 30,8% siswa diantaranya memilih bahan bacaan karena isinya cukup menarik. 7 siswa atau 5,8% siswa diantaranya memilih bahan bacaan karena isinya kurang menarik dan tidak ada 1 siswapun yang memilih bahan bacaan yang isinya sangat menarik atau tidak menarik. Lebih jelasnya mengenai alasan pemilihan bahan bacaan oleh masing-masing siswa dapat disajikan pada gambar berikut :

100

Gambar 4.4 Grafik Distribusi Kriteria Pemilihan Bahan Bacaan Siswa Sumber : Data Penelitian 2005

Sikap siswa terhadap bahan bacaan yang telah dibacanya tersebut dapat dirangkum pada tabel berikut ini. Tabel 4.8 Deskripsi Sikap Siswa Terhadap Bahan Bacaan Kriteria Sangat suka Suka Cukup suka Kurang suka Tidak suka Jumlah Sumber : Data Penelitian 2005 (17 – 20) (14 – 16) (11 – 13) (8 – 10) (4 – 7) f 3 47 61 9 0 120 % 2,5 39,2 50,8 7,5 0,0 100

101

Berdasarkan tabel 4.8 di atas, menunjukkan bahwa dari 120 siswa, diantaranya sebanyak 61 siswa atau 50,8% siswa menyatakan cukup suka membaca buku penunjang seperti membaca buku pelajaran, majalah, novel, dan surat kabar. Sedangkan 41 siswa atau 39,2% siswa menyatakan suka, 9 siswa atau 7,5% siswa yang menyatakan kurang suka, 3 siswa atau 2,5% siswa yang menyatakan sangat suka. Untuk mempermudah dalam memahami kesukaan siswa terhadap bahan bacaan yang telah mereka baca, berikut ini disajikan grafik distribusi kesukaan siswa pada bahan bacaan :

Gambar 4.5 Grafik Distribusi Sikap Siswa Terhadap Bahan Bacaan Sumber : Data Penelitian 2005

102

F. Pemanfaatan Buku Penunjang
Deskripsi tentang pemanfaatan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam penelitian ini menyangkut sub indikator pemanfaatan buku penunjang, dorongan guru terhadap siswa dan frekuensi pemanfaatan. Hasil selengkapnya dari tiap-tiap indikator pemanfaatan buku penunjang tersebut oleh siswa disajikan sebagai berikut : Tabel 4.9 Deskripsi Pemanfaatan Bahan Bacaan Oleh Siswa Kriteria Sangat baik Baik Cukup baik (42 – 40) (35 – 41) (27 – 34) f 2 64 47 6 1 120 % 1,7 53,3 39,2 5,0 0,8 100

Kurang baik (19 – 26) Tidak baik Jumlah Sumber : Data Penelitian 2005 (10 – 18)

Berdasarkan tabel 4.9 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa, 64 siswa atau 53,3% siswa memanfaatkan buku penunjang dengan baik. Sebagian besar dari mereka memanfaatkan bahan bacaan untuk menambah wawasan atau pengetahuan khususnya untuk melengkapi penjelasan materi dari guru yang dirasa masih kurang, sebagai bahan saat mengikuti pelajaran di dalam kelas, dan sebagai media komunikasi dalam penyelesaian tugas belajar. Dalam rangka memperoleh berbagai sumber bahan penunjang tersebut sebagian besar siswa selalu aktif mengunjungi perpustakaan. Selebihnya yaitu 47 siswa atau 39,2% siswa memanfaatkan buku penunjang dalam kategori cukup baik, 6

103

siswa atau 5,0% siswa memanfaatkan buku penunjang dalam kategori kurang baik, 2 siswa atau 1,7% siswa memanfaatkan buku penunjang dalam kategori sangat baik dan 1 siswa atau 0,8% siswa memanfaatkan buku penunjang dalam kategori tidak baik. Untuk lebih memudahkan dalam memahami pemanfaatan buku penunjang oleh siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus yang telah disajikan di atas, berikut ini disajikan grafik tentang distribusi bergolong pemanfaatan buku penunjang oleh siswa tersebut :

Gambar 4.6 Grafik Distribusi Pemanfaatan Bahan Bacaan Oleh Siswa Sumber : Data Penelitian 2005

104

Hasil penelitian tentang dorongan guru dalam memanfaatkan buku penunjang pada siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.10 Deskripsi Dorongan Guru Dalam Membaca Buku Penunjang Kriteria Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik Jumlah Sumber : Data Penelitian 2005 (8,5 – 10,0) (6,9 – 8,4) (5,3 – 6,8) (3,7 – 5,2) (2,0 – 3,6) f 29 67 15 9 0 120 % 24,2 55,8 12,5 7,5 0,0 100

Berdasarkan tabel 4.10 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini, 67 siswa atau 55,8% menyatakan dorongan guru dalam memanfaatan buku penunjang masuk dalam kategori baik. Dorongan guru kepada siswa untuk memanfatkan buku penunjang tersebut ditunjukkan dari seringnya pemberian tugas kepada siswa yang menuntut mereka menggunakan buku penunjang sebagai bahan referensi dalam penyelesaian tugas-tugas, selain sebagai bahan penyelesaian tugas dan meningkatkan prestasi belajar siswa. 29 siswa atau 24,2% dalam kategori sangat baik, 15 siswa atau 12,5% dalam kategori cukup baik, dan 9 siswa atau 7,5% dalam kategori kurang.

105

Untuk lebih memudahkan dalam memahami dorongan guru kepada siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus untuk memanfaatkan buku penunjang, dapat disajikan pada grafik distribusi bergolong berikut ini :

Gambar 4.7 Grafik Distribusi Dorongan Guru Sumber : Data Penelitian 2005

Frekuensi pemanfaatan bahan bacaan oleh masing-masing siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus adalah sebagai berikut : Tabel 4.11 Deskripsi Frekuensi Pemanfaatan Bahan Bacaan Oleh Siswa Kriteria Sangat sering Sering Cukup sering Jarang Tidak pernah Jumlah Sumber : Data Penelitian 2005 (47 – 55) (38 – 46) (29 – 37) (20 – 28) (11 – 19) f 0 16 52 46 6 120 % 0,0 14,0 43,0 38,0 5,0 100

106

Berdasarkan tabel 4.11 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini, 42 siswa atau 43,0% siswa memiliki frekuensi pemanfaatan buku penunjangan yang masuk dalam kategori cukup sering. Frekuensi pemanfaatan bahan bacaan oleh siswa kelas II di SMA Negeri 1 Jekulo Kudus tersebut ditunjukkan dari cukup seringnya mereka membaca bahan bacaan. Selain meluangkan waktu khusus dalam membaca bahan bacaan, mereka juga selalu memanfaatkan waktu-waktu kosong untuk mengunjungi perpustakaan dalam upaya mencari dan membaca buku penunjang dalam upaya menyelesaikan tugas pembuatan sinopsis atau tugas yang lain yang diberikan guru. 46 siswa atau 38,0% siswa masuk dalam kategori jarang, 17 siswa atau 14,0% siswa masuk dalam kategori sering dan 6 siswa atau 5,0% siswa dalam kategori tidak pernah. Lebih jelasnya frekuensi pemanfaatan bahan bacaan oleh siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus disajikan secara grafik berikut ini :

Gambar 4.8 Grafik Distribusi Frekuensi Pemanfaatan Bahan Bacaan Sumber : Data Penelitian 2005

107

G. Jenis-jenis Bahan Bacaan Pilihan Siswa
Deskripsi data hasil penelitian tentang jenis buku penunjang yang disenangi siswa dapat disajikan sebagai berikut : Tabel 4.12 Deskripsi Jenis Bacaan yang Disenangi Siswa Jenis Bahan Bacaan yang Disenangi Buku Pelajaran Buku santra/Novel Majalah Surat kabar Sumber : Data Penelitian 2005 Berdasarkan tabel 4.12 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini, ada 101 siswa atau 84,2% siswa senang membaca buku-buku pelajaran, 88 siswa atau 73,3% siswa senang membaca buku sastra/novel, 88 siswa atau 73,2% siswa senang membaca surat kabar dan 84 siswa atau 70,0% siswa senang membaca majalah. Diantara berbagai jenis bahan bacaan ternyata buku sastra/novel dan surat kabar merupakan salah satu jenis bahan bacaan yang paling dibaca siswa selain buku pelajaran. Dalam rangka memperjelas kesenangan siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus dalam membaca berbagai sumber bacaan, berikut ini disajikan jenis novel, surat kabar, majalah, dan buku pelajaran Bahasa Indonesia yang telah dibaca oleh siswa : f 101 88 84 88 % 84,2 73,3 70,0 73,3

108

Tabel 4.13 Deskripsi Novel/Buku Sastra yang Dibaca Siswa Judul Novel/Buku Sastra yang Dibaca Layar terkembang Salah Asuhan Siti Nurbaya Atheis Karmila Sumber : Data Penelitian 2005 Berdasarkan tabel 4.13 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini, 93 siswa atau 77,5% siswa telah membaca novel salah asuhan, 88 siswa atau 73,3% siswa telah membaca novel siti nurbaya, 62 siswa atau 51,7% siswa telah membaca novel karmila, 52 siswa atau 43,3% siswa telah membaca novel layar terkembang, dan 36 siswa atau 30,0% siswa telah membaca novel atheis. Dengan demikian menunjukkan bahwa judul novel yang paling banyak dibaca siswa adalah novel salah asuhan dan siti nurbaya, sedangkan yang paling sedikit dibaca siswa adalah novel atheis. Tabel 4.14 Deskripsi Surat Kabar yang Dibaca Siswa Nama Surat Kabar yang Dibaca Kompas Wawasan Suara merdeka Kedaulatan rakyat Jawa pos Sumber : Data Penelitian 2005 f 85 106 114 14 24 % 70,6 88,3 95,0 11,7 20,0 f 52 93 88 36 62 % 43,3 77,5 73,3 30,0 51,7

109

Berdasarkan tabel 4.14 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini, 114 siswa atau 95,0% siswa pernah membaca surat kabar suara merdeka, 106 siswa atau 88,3% siswa pernah membaca surat kabar wawasan, 85 siswa atau 70,6% siswa pernah membaca surat kabar kompas, 24 siswa atau 20,0% siswa pernah membaca surat kabar jawa pos dan 14 siswa atau11,7% siswa pernah membaca surat kabar kedaulatan rakyat. Dengan demikian menunjukkan bahwa nama surat kabar yang paling banyak dibaca siswa adalah kompas, wawasan dan suara merdeka. Tabel 4.15 Deskripsi Majalah Yang Dibaca Siswa Nama Majalah yang Dibaca Mop Gadis Bola Halo Kawanku Sumber : Data Penelitian 2005 f 110 57 39 11 10 % 91,7 47,5 32,5 9,2 8,3

Berdasarkan tabel 4.15 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini,110 siswa atau 91,7% siswa pernah membaca majalah mop, 57 siswa atau 47,5% siswa pernah membaca majalah gadis, 39 siswa atau 32,5% siswa pernah membaca majalah bola, 11 siswa atau 9,2% siswa pernah membaca majalah halo dan 10 siswa atau 8,3% siswa pernah membaca majalah kawanku. Dengan demikian menunjukkan bahwa nama majalah yang paling banyak dibaca siswa adalah MOP, gadis dan bola.

110

Tabel 4.16 Deskripsi Nama Buku Pelajaran yang Dibaca Siswa Nama Buku Pelajaran yang Dibaca Terampil berbahasa Terampil berbicara Terampil berekspresi Terampil berargumen Lembar kerja siswa Sumber : Data Penelitian 2005 f 74 40 6 2 111 % 61,7 33,3 5,0 1,7 92,5

Berdasarkan tabel 4.16 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini, 111 siswa atau 92,5% siswa membaca lembar kerja siswa, 74 siswa atau 61,7% siswa membaca buku terampil berbahasa Indonesia, 6 siswa atau 33,3% siswa membaca buku terampil berbicara pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas II SLTA kelas 2, dan 2 siswa atau 5,0% siswa membaca buku terampil berargumen pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dengan demikian menunjukkan bahwa nama buku pelajaran yang paling banyak dibaca siswa adalah buku terampil berbahasa Indonesia dan lembar kerja siswa. Dalam rangka menunjang belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, para siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus berusaha untuk memiliki sendiri berbagai bahan bacaan baik majalah, novel, maupun buku-buku pelajar. Adapun berbagai nama majalah, novel, maupun buku-buku pelajar yang telah dimiliki siswa dapat disajikan pada tabel berikut ini :

111

Tabel 4.17 Deskripsi Majalah yang Dimiliki Siswa Nama Majalah yang Dimiliki Mop Gadis Bola Halo Kawanku Sumber : Data Penelitian 2005 f 100 25 19 6 10 % 63,3 20,8 15,8 5,0 8,3

Berdasarkan tabel 4.17 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini, 100 siswa atau 63,3% siswa memiliki majalah mop, kemudian 25 siswa atau 20,8% siswa memiliki majalah gadis 19 siswa atau 15,8% memiliki majalah bola, 10 siswa atau 8,3% siswa

memiliki majalah kawanku dan 6 siswa atau 5,0% siswa memiliki majalah halo. Tabel 4.18 Deskripsi Buku Pelajaran yang Dimiliki Siswa Nama Buku Pelajaran yang Dimiliki Terampil berbahasa Terampil berbicara Terampil bereksperis Terampil berargumen Lembar kerja siswa Sumber : Data Penelitian 2005 f 51 34 7 4 90 % 42,5 11,7 5,8 3,3 75,0

Berdasarkan tabel 4.18 di atas menunjukkan bahwa dari 120 siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini, 90 siswa atau 75,0% siswa memiliki

112

lembar kerja siswa, 51 siswa atau 42,5% siswa memiliki buku terampil berbahasa Indonesia, 34 siswa atau 11,7% siswa memiliki buku terampil berbicara pembelajaran bahasa dan sastra untuk kelas II SLTA kelas, 7 siswa atau 5,8% siswa memiliki buku terampil berekspersi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, dan 4 siawa atau 3,3% siswa memiliki buku terampil berargumentasi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dengan demikian menunjukkan bahwa jenis buku pelajaran yang paling banyak dimiliki siswa adalah buku terampil berbahasa Indonesia dan lembar kerja siswa. Tabel 4.19 Deskripsi Surat Kabar yang Dimiliki Siswa Nama Surat Kabar yang Dimiliki Kompas Wawasan Suara merdeka Kedaulatan rakyat Jawa pos Sumber : Data Penelitian 2005 f 40 13 93 9 18 % 33,3 10,8 77,5 7,5 15,0

Berdasarkan tabel 4.19 di atas menunjukkan bahwa dari 120 yang menjadi responden dalam penelitian ini, 93 siswa atau 77,5% siswa memiliki surat kabar suara merdeka, 40 siswa atau 33,3% siswa memiliki surat kabar kompas, 18 siswa atau 15,0% siswa memiliki surat kabar jawa pos, 13 siswa atau 10,8% siswa memiliki surat kabar wawasan, dan 9 siswa atau7,5% siswa memiliki surat kabar kedaulatan rakyat. Dengan demikian menunjukkan bahwa nama surat kabar yang paling banyak dimiliki siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus adalah suara merdeka dan kompas.

113

H. Pembahasan
Proses belajar mengajar selalu melibatkan guru dan siswa melalui komunikasi dan interaksi dalam rangka pencapaian tujuan belajar. Proses belajar mengajar dalam bentuk tatap muka sering kali tidak dapat menyampaikan bahan pelajaran secara sempurna kepada siswa karena keterbatasan waktu dan luasnya materi yang harus disampaikan kepada siswa. Oleh karena itu siswa dituntut aktif dalam upaya pengayaan pegetahuan dan pemahamannya terhadap materi yang disampaikan oleh guru melalui belajar mandiri dengan memanfaatkan berbagai sumber yang dapat menunjang keberhasilan proses pembelajarnya tersebut. Dengan membaca berbagai buku penunjang, siswa akan mampu membekali diri dengan beragam pengetahuan, selain itu buku penunjang dapat membangkitkan wawasan pikir dan mengasah imajinasi serta memperluas cakrawala ilmu pengatahuan siswa. Untuk lebih jelasnya akan dibahas persub variabel yaitu sebagai berikut: 1. Pendapat Siswa Tentang Alasan Pemilihan Bahan Bacaan Ditinjau dari alasan dalam pemilihan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo, Kudus menunjukkan bahwa sebagian dari mereka hanya membaca bahan bacaan yang disukai dan berusaha memiliki berbagai sumber bahan penunjang baik itu buku pelajaran, surat kabar, buku sastra/novel, surat kabar, majalah maupun buku pelajaran yang menarik yaitu bermanfaat, dan kontektual. Hal ini diungkapkan oleh ( 63,4%). Taya Paembonan (1990:23) menyatakan bahwa bahan bacaan merupakan salah satu sumber

114

informasi yang semakin lama semakin penting peranannya dalam pendidikan. Dengan bahan bacan yang baik, maka wawasan dan pengalaman siswa akan semakin luas. 2. Sikap Siswa Terhadap Bahan Bacaan Dari kegiatan membaca yang dilakukan siswa tersebut terlihat bahwa mereka tidak hanya gemar membaca buku-buku untuk tujuan hiburan saja seperti buku sastra/novel dan majalah, akan tetapi mereka juga gemar membaca untuk memperoleh berbagai informasi yang bermanfaat seperti membaca surat kabar maupun buku-buku pelajaran. Dilihat dari telah bervariatifnya jenis bahan bacaan yang dibaca siswa tersebut menunjukkan bahwa kegiatan membaca yang mereka lakukan merupakan salah satu aktifitas yang telah menjadi bagian dari kebutuhan hidupnya. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya siswa yang cukup suka (50,8%) untuk membaca berbagai bahan bacaan tersebut. 3. Pemanfaatan Bahan Bacaan Oleh Siswa Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus telah memanfaatkan buku penunjang mata pelajaran Bahasa Indonesia secara baik (53,3%). Penggunaan buku penunjang oleh para siswa tersebut adalah untuk memperdalam pemahamannya terhadap bahan pelajaran yang telah disampaikan guru agar dapat meningkatkan prestasi belajar dan dapat meningkatkan kreativitas belajarnya. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Tarigan (1993:59) yang menyatakan bahwa pemanfaatan bahan bacaan melalui membaca merupakan upaya

115

menambah pengetahuan dan wawasan bagi siswa sebagai suatu jalan untuk mengetahui tentang perubahan atau perkembangan dunia. 4. Dorongan Guru Terhadap Siswa Ditinjau dari dorongan guru pada siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus dalam membaca buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (55,8%) menyatakan dorongan guru sudah baik yaitu dengan pemberian tugas-tugas yang menuntut siswa untuk memanfaatkan berbagai buku penunjang sebagai bahan bacaan untuk saran menyelesaikan tugas-tugas. 5. Frekuensi Pemanfaatan Bahan Bacaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi dalam

memanfaatkan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus termasuk kategori cukup sering. Hal ini dinyatakan oleh sebagian besar siswa

(43,0%). Kegiatan membaca siswa ini biasanya mereka lakukan pada saatsaat waktu kosong, maupun pada saat mendapatkan tugas belajar mandiri dari guru. Dengan seringnya siswa memanfaatkan buku penunjang untuk berbagai kebutuhan, baik untuk hiburan, untuk penyelesaian tugas-tugas belajar maupun untuk menambah cakrawala pandang tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak positif terhadap meningkatnya prestasi belajarnya.

116

6. Jenis-jenis Bahan Bacaan Pilihan Siswa Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus membaca berbagai bahan bacaan sebagai bahan penunjang dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Beberapa bahan bacaan yang disenangi siswa adalah buku pelajaran (84,2%), yang paling banyak dibaca adalah buku sastra/novel (77,5%), surat kabar (95,0%), majalah (91,7%) dan buku pelajaran (92,5%). Kemudian bahan bacaan yang paling banyak dimiliki siswa yaitu majalah MOP (63,3%), dan buku pelajaran Lembar Kerja Siswa (75,0%). Tingginya kesukaan siswa dalam membaca buku penunjang mata pelajaran Bahan Indonesia tersebut ditunjukkan dari banyaknya siswa yang telah membaca novel salah asuhan, siti nurbaya, karmila, layar terkembang dan atheis. Banyak siswa yang gemar membaca surat kabar wawasan, suara merdeka dan kompas. Banyak siswa yang gemar membaca majalah mop, gadis dan bola, serta banyaknya siswa yang gemar membaca lembar kerja siswa, buku terampil berbahasa dan terampil berbicara mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas II SLTA.

117

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berbdasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Ditinjau dari kriteria dalam pemilihan bahan bacaan menunjukan bahwa sebagaian besar siswa hanya memilih bahan bacaan yang menarik saja sebagai bahan yang menunjang pelajaran Bahasa Indonesia, bahan hiburan, dan untuk menambah pengetahuan dan wawasan. 2. Pemanfaatan buku penunjang bahan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia oleh sebagian besar siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus (53,3%) telah baik. Penanfatan buku penunjang tersebut adalah untuk memperdalam pemahamannya terhadap pelajarannya yang telah

dsampaikan guru agar dapat meningkatkan prestasi belajar dan meningkatkan kreativitasnya. Ditinjau dari frekuensi dalam memanfaatkan buku penunjang menunjukkan bahwa frekuensi pemanfatannya juga cukup sering (43,0%). Dengan seringnya siswa memanfaatkan buku penunjang untuk berbagai kebutuhan, baik untuk hiburan, penyelesaan tugas-tugas dari guru maupun menambah cakrawala pandang tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak positif terhadap peningkatkan prestasi belajarnya. Dorongan guru terhadap siswa sudah cukup baik

118

(55,8%), yaitu dengan pemberian tugas-tugas dari guru yang menuntut siswa untuk memanfaatkan berbagai buku penunjang sebagai bahan untuk sarana penyelesaian tugas-tugas. Sikap siswa terhadap bahan bacaan cukup suka (50,8%). Dilihat dari telah bervariatifnya jenis bahan bacaan yang telah dibaca siswa tersebut menunjukkan bahwa kegiatan membaca yang mereka lakukan merupakan salah satu aktivitas yang telah menjadi bagian dari kebutuhan hidupnya. 3. Jenis-jenis buku penunjang pilihan siswa kelas II SMA Negeri 1 Jekulo Kudus telah baik, hal ini ditunjukkan dari sebagian besar siswa yang suka membaca novel/buku sastra (77,5%), buku-buku pelajaran (92,5%), surat kabar (95,0%), majalah (91,7%), berbagai bahan bacaan tersebut. sebagian besar siswa juga memiliki

B. Saran
Beberapa saran yang dapat peneliti ajukan berkaitan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Para siswa hendaknya memprioritaskan pilihannya untuk membaca bahanbahan penunjang pelajaran seperti buku-buku pelajaran, karya-karya sastra, dan surat kabar agar prestasi belajar cakrawala pengetahuannya meningkat. 2. Mengingat dorongan guru dan frekuensi dalam memanfaatkan buku penujang yang baru dalam kategori cukup tersebut, maka para siswa hendaknya lebih mengefektifikan waktu luangnya untuk kegiatan

119

membaca dalam upaya penyelesaian tugas-tugas dari guru maupun sekedar untuk mendapatkan berbagai informasi yang aktual dan bermanfat. 3. Guru hendaknya memberikan tugas-tugas yang dapat menunjang siswa untuk lebih banyak membaca berbagai bahan bacaan sebagai sarana penyelesaian tugas-tugas tersebut. 4. Sekolah hendaknya mengusahakan berbagai reverensi buku, surat kabar, majalah maupun yang lain secara lengkap agar minat siswa untuk

mendapatkan sumber informasi dari perpustakaan dapat meningkat.

120

DAFTAR PUSTAKA

Abdussamad. 2002. Kualitas Buku Pembelajaran Bahasa Indonesia SMU Kajian Tentang Cakupan dan Sajian Bahan Ajar Menulis. Tesis. Universitas Negeri Semarang. Afifah, 2000. Kesesuaian Antara Bahan Ajar Apresiasi Sastra dalam Buku Pintar Berbahasa Indonesia Dan GBPP Kurikulum SLTP 1994. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Ali, Lukman. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Anonim. Buku Panduan Semarang Book Fair & Library Expo 2004. Ikatan Penerbitan Indonesia Cabang Jawa Tengah. Alwi, Hasan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke III. Jakarta: Balai Pustaka. Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Barung, Kanis. 1998. Dasar-Dasar Penerbitan Majalah sekolah. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Dakir. 1987. Dasar-dasar Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta. Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press. Depdikbud. 1993. Kurikulum 1994 SMU: Pengembangan. Jakarta: Depdikbud.
Landasan, Program, dan

Depdikbud. 1994. Kurikulum 1994 SMU: GBPP Mata Pelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia. Jakarta: Depdikbud. Depdikbud. 1994. Program Akta KB Komponen Bidang Studi 1963. Surakarta: UNS Press.

Fadli. Hak Cipta terpelihara 2003 @ Unit Pendidikan, Bhd. http/www. Geogle. com : Hal : 8. Berita Harian Sdn. Guntur, Henry. 1986. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.

121

Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Research I. Yogyakarta: Andi. Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Research II. Yogyakarta : Andi. Hamalki, Oemar. 1982. Media Pendidikan. Bandung: Penerbit Alumni Husen, Akhlan, dkk. 1997. Telaah Kurikulum dan Buku Teks Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud. Jamaludin. 2003. Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: Adi Cita Karya Nusa. Kamdi, JS. 2003. Terampil Berekspresi Pembelajaran Bahasa Dan sastra Indonesia SLTA Kelas 1. Grasindo. Kamdi, JS. 2003. Terampil Berbicara Pembelajaran Bahasa dan Sastra Untuk SLTA Kelas II. Grasindo Kamdi, JS. 2003. Terampil Beragumen Pembelajaran Bahasa dan Sastra Untuk SLTA Kelas III. Grasindo. Kartasasmita, Ginanjar (dalam Clipping Service Pendidikan Juni II 1995). Kholid. 1993. Gema Clipping Service Pendidikan. Krisanjaya. 1997. Telaah Kurikulum 1994 Dan Buku Teks I EPNA 3104/3SKS/MODUL 1-9. Depdikbud Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D- III. Mahmud, Dimyati. 1990. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: BPFE Masrokah, 1990. Kesesuaian Antara Belajar Apresiasi Sastra Dalam Buku-buku Wajib Dengan Bahan Ajar Apresiasi Sastra dalam GBPP Kurikulum SMU 1994. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Nasution, S. 1992. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Parera, Daniel. 1996. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Rahayu, Eny. 2000 Kesesuaian Bahan Pelajaran Kalimat Dalam Buku Pelengkap Penuntun Belajar Bahasa Indonesia Jilid I Dengan Bahan Pelajaran.

122

Rahayu, Sri. 1996. Peranan Majalah Anak Terhadap Minat Baca Peserta Didik SD Kelas V Di Kelurahan Wonosari Gunungkidul Yogyakarta. FIP IKIP: Yogyakarta. Rahmad, Jamaludin. 1999. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Rahman, Abdul. 1982. Minat Baca Murid SD Di Jawa Timur. Malang: Protek Penelitian Dan Sastra. Satmoko, Retno Sriningsih. 1999. Proses Belajar Mengajar. Semarang: IKIP Semarang Press. Seels, Barbara dan Rita. C. Richey. 1994. Teknologi Pembelajaran, Definisi dan Kawasannnya. Jakarta: Unit Percetakan Universitas Negeri Jakarta. Setiadji. 1999. Definisi Teknologi Pendidikan, Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Suara Merdeka. 2 November 2002. Minat Baca Rendah. Halaman XVII. Suardiman. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press. Suardiman, Partini. 1988. Psikologi Pendidikan.Yogyakarta: Studying Subi, Utik. 1996. Studi Eksplorasi Tentang Kebutuhan Bacaan Pada Masyarakat Desa di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. FIP IKIP Yogyakarta. Sudjana, Nana. 1989. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Radar Jaya Offset. Sudjana, Nana. 1989. Media Pengajaran. Bandung: Alumni Sudjana, Nana 1989. Dasar-dasar Proses Mengajar. Bandung: CV. Sinar Baru. Sudono, Anggani. 2000. Sumber Belajar dan Alat Permainan. Jakarta: Grassindo. Sugandi, Achmad. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT UNNES Press Sugiono. 1997. Metode Pembelajaran Administrasi. Bandung : Alfa Beta Sukarno, Thomas. 2001. Strategi Belajar Mengajar I (Didaktik, SBM, CBSA). Universitas Negeri Semarang: FIP Sukarno, Thomas. 2001. Strategi Belajar Mengajar II (Metode dan Model Pembelajaran). Universitas Negeri Semarang.: FIP

123

Sukarno, Thomas. 2001. Strategi Belajar Mengajar III (Manajemen Kelas dan Interaksi Belajar Mengajar). Universitas Negeri Semarang: FIP Tarigan. 1983. Membaca Sebagai Salah Satu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Tarigan, Djago. dkk .1988. Buku Materi Pokok Telaah Buku Teks SMTA PINA A 443/2 SKS/ Modul 1-3. Jakarta: Karunika. Tarigan, Djago. dkk .1988. Buku Materi Pokok Telaah Buku Teks SMTA PINA A 443/2 SKS/ Modul 1-3. Jakarta: Karunika . Taya Paemboman. 1981. Penyediaan buku bacaan anak-anak SD. Analisis Pendidikan. P dan K. Winkel. 1983. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.

124

ANGKET PEMILIHAN DAN PEMANFAATAN BUKU PENUNJANG BAHAN BELAJAR MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA OLEH SISWA KELAS II SMU 1 JEKULO KUDUS

A. Identitas Responden
1. Nama 2. Kelas 3. Nomor Absen 4. Alamat Rumah : : : :

5. Pekerjaan Orang Tua :

B. Pertanyaan Jenis Bahan Bacaan Yang disenangi
1. Buku apa saja yang Anda baca untuk menunjang belajar mata pelajaran bahasa Indonesia Anda ? Jenis buku a. Buku pelajaran b. Buku sastra/Novel c. Majalah d. Surat kabar Ya Tidak

125

2. Novel/Buku Sastra apa saja yang telah Anda baca ? Jenis Novel a. Layar Terkembang b. Salah Asuhan c. Siti Nurbaya d. Atheis e. Karmila Ya Tidak

3. Surat kabar apa saja yang Anda baca ? Jenis Surat Kabar a. Kompas b. Wawasan c. Suara Merdeka d. Kedaulatan rakyat e. Jawa pos Ya Tidak

4. Majalah apa saja yang Anda baca ? Jenis Majalah a. Mop b. Gadis c. Bola d. Helo e. Kawanku Ya Tidak

126

5. Buku pelajaran bahasa Indonesia apa yang Anda baca? Jenis buku pelajaran bahasa Ya Tidak

Indonesia a. Terampil berbahasa Indonesia b. Terampil berbicara pembelajaran bahasa dan sastrauntuk SLTA kelas 2 c. Terampil berekspresi pembelajaran bahasa Indonesia dan sastra Indonesia d. Terampil beragumen pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia e. Lembar Kerja Siswa

6. Bagaimana sikap Anda dalam membaca buku pelajaran ? a. Sangat Suka sekali b. Suka Sekali c. d. e. Suka Kurang Suka Tidak Suka

7. Bagaimana sikap Anda dalam membaca majalah ? a. Sangat Suka sekali b. Suka Sekali c. d. Suka Kurang Suka

127

e. Tidak Suka 8. Bagaimana sikap Anda dalam membaca Novel ? a. Sangat Suka sekali b. Suka Sekali c. d. e. Suka Kurang Suka Tidak Suka

9. Bagaimana sikap Anda dalam membaca surat kabar ? a. Sangat Suka sekali b. Suka Sekali c. Suka d. Kurang Suka e. Tidak suka

Jenis Bahan Bacaan Yang Dimiliki
10. Majalah apa saja yang Anda miliki untuk menunjang belajar mata pelajaran bahasa Indonesia Anda ? Jenis majalah a. Mop b. Gadis c. Bola d. Helo e. kawanku 11. Buku pelajaran / buku pengetahuan yang Anda miliki untuk menunjang belajar mata pelajaran bahasa Indonesia Anda ? Milik sendiri Pinjam

128

Jenis

buku

pelajaran Milik sendiri

Pinjam

Bahasa Indonesia a. Terampil Indonesia b. Terampil pembelajaran berbicara bahasa berbahasa

dan sastrauntuk SLTA kelas 2 c. Terampil berekspresi bahasa sastra

pembelajaran Indonesia Indonesia d. Terampil dan

beragumen bahasa

pembelajaran

dan sastra Indonesia e. Lembar Kerja Siswa

12. Surat kabar yang Anda miliki setiap harinya ? Jenis surat kabar a. Kompas b. Wawasan c. Suara Merdeka d. Kedaulatan rakyat e. Jawa pos Milik sendiri Pinjam

Kriteria Pemilihan Bahan Bacaan
13. Apa kriteria Anda tentang pemilihan buku penunjang (bahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas Anda ? bacaan )

129

a. Sangat menarik b. Menarik c. Cukup menarik d. Kurang menarik e. Tidak Suka 14. Apakah Anda lebih tertarik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan buku penunjang (bahan bacaan) ? a. Sangat Tertarik b. Tertarik c. Cukup tertarik d. Kurang tertarik e. Tidak tertarik 15. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia tanpa menggunakan buku penunjang (bahan bacaan ) apakah Anda dapat memahami materi yang disampaikan atau disajikan ? a. Sangat Faham b. Faham c. Cukup Faham d. Kurang Faham e. Tidak Faham 16. Apakah Anda tidak bosan dengan menggunakan buku penunjang (bahan bacaan) selama pembelajaran bahasa Indonesia berlangsung ? a. Sangat Bosan

130

b. Bosan c. Cukup Bosan d. Biasa Saja e. Tidak Bosan 17. Dengan buku penunjang apakah Anda termotivasi untuk memperhatikan pelajaran? a. Sangat Termotivasi b. Termotivasi c. Cukup Termotivasi d. Kurang Termotivasi e. Tidak Termotivasi 18. Dengan buku penunjang apakah dapat meningkatkan prestasi belajar dan aktivitas di dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia Anda ? a. Sangat Meningkatkan Prestasi Belajar b. Meningkatkan Prestasi Belajar c. Cukup Meningkatkan Prestasi Belajar d. Kurang Meningkatkan Prestasi Belajar e. Tidak Dapat Meningkatkan Prestasi Belajar 19. Apakah penggunaan buku penunjang (bahan bacaan) dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan kreativitas belajar siswa ? a. Sangat Meningkatkan kreativitas belajar siswa b. Meningkatkan kreativitas belajar siswa c. Cukup Meningkatkan kreativitas Belajar siswa

131

d. Kurang Meningkatkan kreativitas Belajar siswa e. Tidak Meningkatkan kreativitas Belajar siswa 20. Apakah buku penunjang yang ada di kelas Anda sudah memadai? a. Sangat Memadai b. Memadai c. Cukup Memadai d. Kurang Memadai e. Tidak Memadai

Pemanfaatan buku penunjang
21. Apakah Anda memanfaatkan buku penunjang sebagai media komunikasi dalam menunjang tugas belajar Anda ? a. Selalu memanfaatkan b. Sering memanfaatkan c. Kadang-kadang memanfaatkan d. Jarang memanfaatkan e. Tidak pernah memanfaatkan 22. Apakah Anda memanfaatkan buku penunjang sebagai sarana pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas ? a. Selalu memanfaatkan b. Sering memanfaatkan c. Kadang-kadang memanfaatkan d. Jarang memanfaatkan e. Tidak pernah memanfaatkan

132

23. Apakah buku penunjang dapat Anda jadikan sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia ? a. Selalu dapat dijadikan sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia b. Sering dijadikan sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia c. Kadang-kadang dijadikan sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia d. Jarang dijadikan sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia e. Tidak pernah dijadikan sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia 24. Apakah Anda memanfaatkan buku penunjang (bahan bacaan) sebagai sarana pembelajaran bahasa Indonesia ? a. Selalu memanfaatkan b. Sering memanfaatkan c. Kadang-kadang memanfaatkan d. Jarang memanfaatkan e. Tidak pernah memanfaatkan 25. Dalam proses pembelajaran selama satu bulan, ada berapa pokok bahasan yang mengharuskan Anda menggunakan buku bacaan yang ada di Perpusakaan ? a. b. c. d. e. > 3 pokok bahasan 3 pokok bahasan 2 pokok bahasan 1 pokok bahasan tidak ada

133

26. Apakah Anda sering mengunjungi Perpustakaan atau Taman baca yang ada di lingkungan tempat tinggal Anda ? a. ya, sering sekali b. ya, sering c. ya, cukup sering d. ya, kadang-kadang e. Tidak pernah 27. Apakah menurut Anda menjadi anggota Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan lainnya itu bermanfaat untuk Anda ? a. ya, sangat bermanfaat b. ya, bermanfaat c. ya, cukup bermanfaat d. ya, kurang bermanfaat e. Tidak bermanfaat 28. Apakah Anda menjadi anggota aktif dalam Perpustakaan Sekolah/ Perpustakaan lainnya? a. ya, sangat aktif b. ya, aktif c. ya, cukup aktif d. ya, kurang aktif e. Tidak aktif 29. Dengan adanya buku penunjang yang diperlukan untuk kegiatan proses belajar mengajar , bagaimana pemanfaatan buku tersebut ?

134

a. Selalu dipakai b. sering dipakai

c. kadang-kadang dipakai d. jarang dipakai e. Tidak pernah dipakai 30. Apakah menurut Anda pemanfaatan buku penunjang di kelas Anda sudah efektif? a. Sangat efektif b. Efektif c. Cukup Efektif d. Kurang Efektif e. Tidak Efektif

Dorongan Guru terhadap siswa
31. Apakah guru Anda memberikan tugas kepada Anda untuk membaca bukubuku cerita yang pernah ditayangkan dari sinetron di TV ? a. b. Selalu memberikan tugas Sering memberikan tugas

c. Kadang-kadang memberikan tugas d. Jarang memberikan tugas e. Tidak pernah memberikan tugas 32. Apakah Anda menyempatkan diri untuk membaca buku-buku penunjang di Perpustakaan ?

135

a.

Selalu menyempatkan diri untuk membaca buku-buku penunjang di perpustakaan

b.

Sering menyempatkan diri untuk membaca buku-buku penunjang di perpustakaan

c. Kadang-kadang

menyempatkan diri untuk membaca buku-buku

penunjang di perpustakaan d. Jarang menyempatkan diri untuk membaca buku-buku penunjang di perpustakaan e. Tidak pernah menyempatkan diri untuk membaca buku-buku penunjang di perpustakaan

Frekuensai Pemanfaatan
33. Berapa jam Anda melakukan kegiatan membaca bahan bacaan dalam sehari ? a. b. c. d. e. > 3 jam 3 jam 2 jam 1 jam <1 jam

34. Sepengetahuan Anda apakah sekolah Anda menetapkan kewajiban untuk mengunjungi perpustakaan sekolah, sesuai dengan pendapat Anda berapa kali dalam sebulan Anda mengunjungi perpustakaan sekolah ? a. > 3 kali

136

b. c.

3 kali 2 kali

d. 1 kali e. Tidak pernah 35. Berapa jam waktu khusus yang diberikan sekola kepada Anda untuk menggunakan perpustakaan baik jam sekolah maupun di luar jam sekolah ? a. b. c. d. e. 1 minggu sekali 2 minggu sekali 3 minggu sekali Sebulan sekali Tidak ada

36. Apakah guru Anda menerapkan belajar mandiri dalm pembelajaran bahasa Indonesia? a. b. c. d. e. ya, >1 minggu sekali ya, 3 minggu seskali ya, 2 minggu sekali ya, 1 minggu sekali Tidak pernah

37. Apakah Anda selalu untuk memanfaatkan bahan bacaan apabila Anda mempunyai waktu luang ? a. b. ya, setiap hari ya, seminggu sekali

137

c. d. e.

ya, sebulan sekali ya, tiga bulan sekali Tidak pernah

38. Apakah guru atau petugas perpustakaan memberitahukan kepada Anda, apabila ada koleksi bahan pustaka yang baru ? a. b. c. d. e. ya, setiap kali ada bahan pustaka ya, setiap akhir tahun ya, apabila anda memintanya ya, kadang-kadang Tidak pernah

39. Berapa kali sekolah Anda menerbitkan buletin atau majalah dinding ?? a. b. c. d. e. > 4 kali setahun 3 kali setahun 2 kali setahun 1 kali setahun Tidak pernah

40. Berapa kali perpustakaan sekolah Anda menerbitkan daftar buku yang lengkap ? a. b. c. d. > 4 kali setahun 3 kali setahun 2 kali setahun 1 kali setahun

138

e.

Tidak pernah

41. Berapa kali dalam sebulan Anda mendapat tugas membuat sinopsis buku yang Anda baca ? a. b. c. d. e. > 4 kali 3 kali 2 kali 1 kali Tidak pernah

42. Berapa kali dalam sebulan Anda mendapat tugas untuk membaca buku di perpustakaan sekolah ? a. b. c. d. e. > 4 kali 3 kali 2 kali 1 kali Tidak pernah Anda mendapat tugas untuk menjawab

43. Berapa kali dalam sebulan

pertanyaan yang jawabannya ada di buku-buku perpustakaan ? a. b. c. d. e. > 4 kali 3 kali 2 kali 1 kali Tidak pernah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->