P. 1
Accelerated

Accelerated

|Views: 291|Likes:
Published by Mtamim Hidayatullah

More info:

Published by: Mtamim Hidayatullah on May 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/27/2013

pdf

text

original

Accelerated learning Abstrak: Accelerated Learning (AL) adalah salah satu cara belajar alamiah yang d iyakini mampu menghasilkan

tokoh orisinil dalam menghadapi era kesemrawutan. Karen a AL pada intinya adalah filosofi pembelajaran dan kehidupan yang mengupayakan d emekanisasi dan memanusiakan kembali proses belajar, serta menjadikan pengalaman bagi seluruh tubuh, pikiran, dan pribadi (Meier,2000). Accelerated Learning mem iliki ciri cenderung: luwes, gembira, banyak jalan, mementingkan tujuan bekerjas ama, manusiawi, multi indrawi, bersifat mengasuh, mementingkan aktivitas, meliba tkan mental, emosional dan fisik serta lebih mengutamakan hasil, bukan sarana at au metode tertentu. Metode apapun yang dapat mempercepat dan meningkatkan pembel ajaran, bisa dimasukkan dalam metode Accelerated Learning Memasuki abad 21 ini masalah mutu pendidikan Indonesia merupakan masalah nasiona l. ndokator yang menunjukkan betapa rendahnya mutu pendidikan di Indonesia menur ut UNESCO tahun 2000 tentang indeks Pengembangan Manusia (Human Developmen Index ) terbukti komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan dan penghas ilan per-kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia mak in menurun. Menurut data dari UNESCO, diantara 174 negara di dunia, peringkat In donesia mengalami penurunan. Penurunan mutu pendidikan di Indonesia terlihat dar i peringkat negara-negara yang di survey tersebut dari tahun ke tahun yaitu: pad a tahun 1996 peringkat ke 102, 1997 peringkat 99, tahun 1998 peringkat 105, tahu n 1999 peringkat 109, dan tahun 2000 peringkat 112. Keadaan tersebut diperkuat j uga dari hasil survei Political and Economic Risk Consultantn (PERC), tentang ku alitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia ( Rosyada:2004:4). Terkait dengan kenyataan dan persoalan mutu pendidikan di atas sangat mendesak u ntuk dipikirkan penyempurnaan dan perbaikan pendidikan di Indonesia. Masalah ren dahnya mutu pendidikan tersebut dipengaruhi banyak hal. Pemerintah, Sekolah, dan masyarakat perlu mengadakan koreksi terhadap langkah pendidikan yang selama ini dilakukan. Sekolah sebagai tempat formal pelaksanaan pendidikan memiliki tanggu ng jawab yang besar untuk peningkatan hasil pendidikan. Salah satu langkah perba ikan pendidikan tersebut adalah mencari bentuk pembelajaran yang dapat meningkat kan mutu pendidikan. Bentuk pembelajaran yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal siswa dalam merangsang strategi pembelajaran ataupun melaksanakan pemb elajaran sehingga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran semaksimal mungkin. D alam kegiatan pembelajaran perlu dipilih strategi yang tepat agar tujuan pembela jaran dapat dicapai.Pembaharuan pendidikan, dengan perubahan proses belajar meng ajar, menawarkan sejumlah pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran yang ditawark an tersebut sebagai koreksi terhadap pembelajaran tradisional yang konvensional yang selama ini digunakan. Salah satunya adalah accelerated learning (pembelajar an dipercepat). Accelerated Learning (AL) adalah salah satu cara belajar alamiah yang diyakini m ampu menghasilkan tokoh orisinil dalam menghadapi era sekarang ini.. Karena AL pad a intinya adalah filosofis pembelajaran dan kehidupan yang mengupayakan demekani sasi dan memanusiakan kembali proses belajar, serta menjadikan pengalaman bagi s eluruh tubuh, pikiran, dan pribadi (Meier,2003) Accelerated learning memiliki beberapa ciri khas yang membedakan dengan pembelaj aran tradisional (konvensional). Ciri khas dari accelerated learning itu adalah: cenderung luwes, gembira, banyak jalan, mementingkan tujuan, bekerja sama, mult i indrawi, bersifat mengasuh, mementingkan aktivitas, melibatkan mental, emosion al, dan fisik serta lebih mengutamakan hasil, bukan sarana atau metode tertentu. Metode apapun yang digunakan asal dapat meningkatkan dan mempercepat pembelajar an dapat diterapkan dalam accelerated learning. Accelerated Learning (AL) adalah salah satu cara belajar alamiah yang diyakini m ampu menghasilkan tokoh orisinil dalam menghadapi era kesemrawutan. Karena AL pada intinya adalah filosofi pembelajaran dan kehidupan yang mengupayakan demekanisa si dan memanusiakan kembali proses belajar, serta menjadikan pengalaman bagi sel uruh tubuh, pikiran, dan pribadi (Meier,2000). Accelerated Learning memiliki cir i cenderung: luwes, gembira, banyak jalan, mementingkan tujuan bekerjasama, manu siawi, multi indrawi, bersifat mengasuh, mementingkan aktivitas, melibatkan ment

al, emosional dan fisik serta lebih mengutamakan hasil, bukan sarana atau metode tertentu. Metode apapun yang dapat mempercepat dan meningkatkan pembelajaran, b isa dimasukkan dalam metode Accelerated Learning. Sedangkan pelaksanaan di Indonesia banyak macam ragamnya. Penafsiran terhadap Ac celerated Learning berbeda-beda, sehingga implementasinya dalam praktek di sekol ah-sekolah di Indonesia juga ada bermacam-macam, ada yang dalam bentuk percepata n belajar, kelas unggulan, maupun sekolah seharian (full Day School). yang menja di pertanyaan benarkah mereka telah melaksanakan Accelerated Learning? . Hal inilah yang perlu dikaji antara konsep dan pelaksanaannya. PEMBAHASAN A. Makna Accelereted Learning Kita telah memasuki era abad ke-21 yang ditandai dengan ketidakpastian/ kesemraw utan. Orang-orang yang memiliki kreativitas tinggilah yang akan mampu menghadapi ketidakpastian itu. Untuk itu kita tidak ingin menghasilkan manusia fotocopy sepe rti pada abad ke-19, yakni pendekatan pembelajaran yang menciptakan penumpulan d iri seseorang sepenuhnya. Tugas pendidikan pada saat itu adalah mempersiapkan or ang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana, statis, dan dapat diramalkan. Pembelajaran sudah dipatok standar, begitu pula dengan hasilnya. Sehingga manus ia sebagai sebuah mesin atau robot yang sudah distandarkan. Sedangkan abad ke-21 ini kita harus menghasilkan tokoh orisinil yang dapat mengerahkan sepenuhnya kece rdasan setiap orang yang unik dan bukannya menindasnya atas nama standarisasi. K ita semua harus mampu menjadi innovator dalam pembelajaran. Accelerated Learning (AL) adalah salah satu cara belajar alamiah yang diyakini m ampu menghasilkan tokoh orisinil dalam menghadapi era kesemrawutan. Karena AL pada intinya adalah filosofi pembelajaran dan kehidupan yang mengupayakan demekanisa si dan memanusiakan kembali proses belajar, serta menjadikan pengalaman bagi sel uruh tubuh, pikiran, dan pribadi (Meier,2000). Sejarah singkat Accelerated Learning didasarkan pada metode Lazanov dalam menena ngkan pasienpsikiatri dengan memberikan musik dan sugesti positif mengenai kesem buhan mereka. Metode ini kemudian dicobakan dalam pembelajaran, didapatkan bahwa kombinasi musik dan sugesti positif serta permainan anak-anak, memungkinkan pel ajar untuk belajar jauh, lebih cepat dan jauh lebih efektif. Accelerated Learning memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dengan ciri belajar yang tradisional (konvensional). AL memiliki ciri cenderung: luwes, gemb ira, banyak jalan, mementingkan tujuan bekerjasama, manusiawi, multi indrawi, be rsifat mengasuh, mementingkan aktivitas, melibatkan mental, emosional dan fisik serta lebih mengutamakan hasil, bukan sarana atau metode tertentu.Metode apapun yang dapat mempercepat dan meningkatkan pembelajaran, bisa dimasukkan dalam meto de Accelerated Learning. Sedangkan untuk belajar tradisional pada umumnya memili kikecenderungan belajar dengan ciri yakni : kaku, muram, dan serius, satu jalan (cara), mementingkan sarana, bersaing, behavioritas, verbal, mengontrol, hanya m elibatkan mental (kognitif saja), dan pembelajaran berdasarkan waktu. B. Perkembangan Accelerated learning Accelerated learning berkembang pesat sekitar tahun 1970. Perkembangan itu dimot ori oleh Schroeder dan Orstrander ketika itu menerbitkan sebuah buku berjudul Su perlearning. Isi buku ini memuat ide pembelajaran dengan suggestology hasil kerj a seorang psikiater dan psikoterapi dari Bulgaria yang bernama Lozanov. Pada sek itar tahun 1950 Lozanov sedang menangani seorang pasien yang mengalami gangguan psikologis. Dengan teknik-teknik sugesti akan kesembuhan mereka dan menenangkan mereka dengan musik barok (musik abad 17). Hasilnya ternyata pasien tersebut men galami kesembuhan. Lozanov menyebutkan ini sebagai suggestology dengan berasumsi bahwa setiap manusia memiliki cadangan pikiran yang tersembunyi dan hal ini dap at diaktifkan kembali dengan sugesti dan musik dalam keadaan rileksasi (http://d r-lozanov. Dir-bg/page2). Kenyataan tersebut diterapkan di dunia pembelajaran. L ozanov mengadakan studi penelitian dalam ilmu jiwa untuk memberi sugesti positif dan pengaruh musik terhadap siswa-siswa dalam pembelajaran. Lozanov merasa yaki n bahwa metode ini juga dapat diterapkan pada dunia pendidikan, dengan mengaktif kan cadangan gelombang otak pada siswa. Keberadaan jiwa dalam memimpin pribadi, membuat konsentrasi mental, disiplin diri, perenungan dengan musik dalam keadaan yang rilek untuk meningkatkan memori. Beliau mendapatkan hasil penelitiannya, s

iswa-siswa tersebut dapat menyerap lebih cepat materi belajarnya. Saat itu yang digunakan sebagai penelitian adalah pembelajaran bahasa asing. Dia mendapatkan hasil penelitiannya bahwa: musik, sugesti positif, mainan anak-a nak memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat dan jauh lebih efektif. Kabar m engenai temuan ini menyulut imajinasi guru bahasa dan guru-guru matapelajaran ya ng lain untuk mencoba menerapkan. Terapi dengan sugesti ini dinamakan sebagai su ggestology, didefinisikan sebagai ilmu (studi ilmiah) untuk memberi kesan. Kesan yang diberikan adalah bahwa setiap siswa akan mampu mengikuti setiap pembelajar an dengan berhasil, pelajaran tidak ada yang sulit, dan situasi belajar yang men yenangkan. Sedangkan aplikasinya dalam proses belajar mengajar diberinama sugges topedia. Pada tanggal 6 Oktober 1966 didirikan Institut Riset Suggestology yang pertama s ebagai wadah untuk meneliti potensi manusia. Tujuannya dengan teknik sugesti dap at membebaskan pemikiran, kemudian tidak hanya merangsang memori, tetapi meningk atkan memori dan fungsi mental yang lain dan seluruh kepribadian. Sasarannya ada lah mengambil cadangan gelombang otak, berupa cadangan memori, cadangan intelekt ual, cadangan kreatifitas, dan cadangan keseluruan pribadi untuk menghindari kel elahan, dengan menciptakan suasana yang menyenangkan dalam proses belajar. Sedan gkan efek positip dari sugestopedia adalah membantu siswa menyesuaikan diri deng an masyarakat. Menurut Lozanov (http://dr-lozanov. Dir-bg/page2. htm) prinsip-pr insip sugestopedia adalah: (1) menghadirkan kegembiraan dan rileksasi dalam bela jar dengan menghilangkan ketegangan sampai ke seluruh kelas, (2) menggunakan dua program otak, otak sadar dan bawah sadar secara simultan, dan (3) mata rantai s uggestive pada tingkat cadangan yang komplek, meliputi arti-arti psikologika ber dasarkan intuisi, mental professional, dalam segala waktu. Dalam kelas suggestopedia, belajar dalam kelas merupakan proses perjalanan belaj ar yang menyenangkan. Proses belajar mengajar diibaratkan sebagai konser aktif d engan bermain peran, game, nyayian/musik, serta aktifitas yang lain. Penciptaan yang menyenangkan dalam situasi rilek tersebut akan meningkatkan gelombang otak sehingga energi informasi mengalir dengan muda antara guru dan para siswa, dan a ntara siswa satu dengan yang lainnya. Perkembangan pembelajaran suggestopedia diterima dengan antusias oleh ahli-ahli pendidikan. Pada tahun 1970, Don Schuster dari Iowa State University, dan Ray Bo rdon dan Charles Gritton, mulai menerapkan metode ini dalam pengajaran di SMU da n Universitas, dan hasilnya positip. Pada tahun 1975 mereka bersama-sama tokoh y ang lainnya mendirikan The Society for Accelerative Learning and Teaching (SALT) dan mulai mensponsori konferensi-konferensi internasional. Suggestopedia telah membangkitkan minat professor di perguruan tinggi, pendidik sekolah menengah umu m, dan pelatih perusahaan di dunia untuk menerapkan suggestopedia dalam proses p embelajarannya. Pada tanggal 11 sampai dengan 16 Desember 1978 diadakan konperen si Internasional suggestologi di Sofia, negara Bulgaria. Sponsor pertemuan ini a dalah kelompok kerja tenaga ahli suggestology internasional, bersama-sama UNESCO dan Kementerian Pendidikan Bulgaria. Peserta pertemuan yang diundang mempresent asikan penemuan mereka tentang pembelajaran suggestopedia, dan membicarakan impl ementasi ke depannya. Mereka sepakat untuk mendirikan pusat suggestopedia serta akan melatih guru-guru dalam suggestopedia. Hasil konverensi tersebut memberikan rekomendasi kepada UNESCO tentang suggestop odia, yaitu: (1) kesepakatan bahwa suggestopedia adalah metode mengajar yang ung gul untuk setiap orang dengan berbagai tipe siswa, (2) meningkatkan kemampuan me ngajar untuk mendapatkan sertifikasi, (3) pelatihan guru suggestopedia harus dim ulai secepat mungkin, dan (4) UNESCO harus mempersatukan perkumpulan suggestolog y dan suggestopedia internasional, dan perlu memberi bantuan dan bimbingan Lozan ov untuk mengadakan pelatihan, penelitian, koordinasi, dan mengumumkan hasilnya SALT kini sudah mengembangkan pembelajaran dengan beberapa teknik dan metode unt uk mengefektifkan belajar. SALT sekarang berganti nama The International Allianc e for Learnin (IAN) dan masih mensponsori konferensi-konferensi Internasional di Amerika Serikat bagi peserta internasional. Konferensi-konferensi yang dilakuka n berkaitan dengan peningkatan mutu pembelajaran, dan mutu pendidikan. Kini di b eberapa negara sudah memiliki asosiasi serupa itu, seperti di Inggris Society fo r Effektive Learning (S.E.A.L) , di Jerman The German Society for Sugestopedic T

eaching and Learning (D.S.G.L). C. Prinsip-Prinsip Pokok Accelerated Learning Beberapa prinsip pokok sehingga proses pembelajaran itu dikatakan sebagai Accele reted Learning, yaitu : 1. Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh. Belajar tidak hanya menggunakan otak (sadar, rasional, memakai otak kiri dan verbal). Tetapi juga melibatkan seluru h tubuh/pikiran dengan segala emosi, indra, dan sarafnya. 2. Belajar adalah berkreasi, bukan mengkonsumsi. Pengetahuan bukanlah sesuatu ya ng diserap oleh siswa, melainkan sesuatu yang diciptakan siswz, dalam hal ini si swa memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya yang te lah ada. Jadi belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru, jaringan sar af baru, dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. 3. Kerjasama membantu proses belajar. Bekerja sama dengan kawan-kawan akan mempe rcepat pembelajaran pembelajaran dan hasil belajar, dibandingkan dengan persaing an di antara siswa (individu) akan memperlambat pembelajaran dan hasil belajar. 4. Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkat secara simultan. Pembelajaran ya ng melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (saar dan bawah sadar, mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor, indra, dan jalan dal am sistem total/tubuh seseorang. Otak bukanlah prosesor berurutan melainkan pros esor pararel, otak akan berkembang pesat jika ditantang untuk melakukan banyak h al sekaligus. 5. Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik). Belajar paling baik adalah belajar dalam konteks (pembelajaran kontektual) Hal y ang dipelajari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Pengalaman nyata (konkrit) dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hi potesis dan abstrak, asalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total, mendapatkan umpan balik, merenung, dan menerjunkan diri kembali. 6. Emosi positip sangat membantu pembelajaran. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuntitatas belajar seseorang. Perasaan negatif menghalangi belajar. Perasaa n positip terhadap pembelajaran akan mempercepat dan memperlancar proses belajar mengajar. Belajar yang penuh tekanan, menyakitkan dan bersuasana muram tidak da pat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan, santai, dan menarik hati. 7. Otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis. Sistem saraf manu sia lebih merupakan prosesor citra daripada prosesor kata. Gambar yang kongkrit jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan daripada abstraksi verbal. D. Tujuan dan Langkah-Langkah Cara Belajar Cepat (CBC) Dijelaskan dalam buku Accelerated Learning For The 21 Century (2003:8) cara bela jar Cepat atau (CBC) adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan membuat cetak biru praktis bagi : Setiap orang untuk meningkatkan kemampuan belajarnya sehingga bisa belajar lebih cepat dan mengingat lebih banyak. Setiap orang tua untuk memberikan dorongan kepada anak anak mereka agar menjadi pe lajar atau pembelajar sukses dalam tahun-tahun penting perkembangan dirinya. Setiap organisasi atau perusahaan untuk menciptakan budaya yang memungkinkan par a anggota dan pekerjanya secara otomastis terfokus pada kesuksesan. Cara Belajar Cepat merupakan kemampuan menyerap dan memahami informasi baru deng an cepat dan menguasai informasi tersebut. Untuk hal itu dibutuhkan dua (2) ketr ampilan yaitu : (1) belajar cepar, dan (2) berpikir jernih. Tujuan Cara Belajar Cepat antara lain adalah untuk: Melibatkan secara aktif otak emosional, yang berarti membuat segala sesuatu muda h diingat. Mensinkronkan aktivitas otak kiri dan otak kanan. Menggerakkan kedelapan kecerdasan sedemikian sehingga pembelajaran dapat diakses oleh setiap orang dan sumber daya segenap kemampuan otak digunakan.(8 kecerdasa n menurut Howard Gardner : Kecerdasan Linguistik, Logis-Matematic, Visual-Spasia l, Musical, Kinestetik, Interpersonal, dan Intrapersonal, serta tahun 1996 ditam bah dengan kecerdasan Naturalis. Cara belajar Cepat memperlihatkan kepada semua pebelajar tentang cara-cara belaj ar yang sesuai dengan gabungan unik dari kapasitas-kapasitas tersebut.

Memperkenalkan saat relaksasi untuk memungkinkan konsolidasi seluruh potensi ota k berlangsung. Semua pembelajaran perlu disimpan dalam memori. Pada bagian awal makalah ini dijelaskan Accelerated learning yang memiliki salah satu ciri belajar gembira dan menyenangkan . Ketika kita senang dan menikmati bela jar, kita akan belajar lebih baik. Bagaimana kita menjadikan belajar itu menyena ngkan dan berhasil ? caranya antara lain : Menciptakan lingkungan tanpa stes (releks), lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan , namun harapan untuk sukses tinggi. Menjamin bahwa subyek pelajaran adalah relevan. Belajar ketika melihat manfaat d an pentingnya pelajaran. Belajar secara emosional adalah positif Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan. Menantang otak agar dapat berpikir jauh ke depan dan mengekplorasi apa yang seda ng dipelajari dengan sebanyak mungkin mengikutsertakan kecerdasan yang relevan u ntuk memahami subyek pelajaran. Mengkonsolidasi bahan yang dipelajari, dengan meninjau ulang periode-periode was pada yang relaks. Semua langkah di atas untuk menimbulkan rangsangan yang menyenangkan dimasukkan dalam program CBC, namun yang penting dilakukan adalah rencana yang padu, langka h demi langkah. Dalam Accelerated Learning, struktur metode CBC dibagi menjadi enam langkah dasa r. Keenam langkah itu dapat diingat dengan mudah, menggunakan singkatan M-A-S-TE-R. Sebuah kata yang yang diciptakan oleh pelatih terkemuka CBC Joyne Nicholl, penulis Open Sesame. 1. Motivating Your Mind (Memotivasi Pikiran) Punya keinginan untuk memperoleh ketrampilan/pengetahuan baru, dan yakin bahwa i nformasi yang anda dapatkan mempunyai dampak bermakna badi kehidupan anda. 2. Acquiring The Information (Memperoleh I nformasi) Mengidentifikasi diri pada kekuatan Visual, Auditori, dan Kinestetis, anda mampu memainkan berbagai strategi yang menjadikan pemerolehan informasi lebih muda da ripada sebelumnya. 3. Searching Out The Meaning (Menyelidiki Makna) Mengubah fakta ke dalam makna pribadi, dimana kedelapan kecerdasan kita berperan aktif. Setiap jenis kecedasan adalah sumber daya yang bisa diterapkan ketika me ngekplorasi dan menginterpretasi fakta-fakta dari subyek pelajaran. 4. Trigering The Memory (Memicu Memori) Pastikan bahwa pelajaran terpatri dalam memori jangka panjang, sehingga dapat me mbuka dan mengambilnya saat diperlukan. Adapun beberapa strategi yang dapat dipa kai sangat efektif menurut para ahli memori, antara lain : pemakaian asosiasi, k ategorisasi, mendongeng, akronim, kartu pengingat, peta konsep, musik, dan penin jauan. 5. Exhibiting What You Know (Memamerkan Apa yang Diketahui) Coba siapkanlah dan latihkan pengetahuan yang telah anda peroleh dengan rekan an da. Jika dapat mengajarkan kerpada orang lain berarti anda betul-betul telah pah am dengan pelajaran tersebut. 6. Reflecting How You ve learned (Merefleksikan Bagaimana Anda Belajar) Anda perlu merefleksikan pengalaman belajar anda. Bukan hanya pada apa yang tela h anda pelajari, melainkan bagaimana anda mempelajari. Ini adalah langkah terakh ir, dengan manfaat menganalisa diri dapat dimulai cara belajar yang lainnya. E. Sarana Prasana dan Media dalam Accelerated Learning Pembelajaran accelerated learning di butuhkan elemen-elemen khusus, sebagai sara na prasarana dan media dalam pembelajarannya. Hal itu diadakan agar dapat memper cepat dan mengefektifkan pembelajaran. Menurut Deporter dibutuhkan elemen-elemen khusus pada AL yaitu: lingkungan fisik, musik, gambar-gambar(hiasan) bermakna, guru, keadaan positip, seni dan drama. Lingkungan fisik, setiap usaha dibuat untuk menciptakan sebuah lingkungan pembel ajaran yang nyaman. Komponen yang harus diperhatikan antara lain: lampu, suhu, w arna, tanaman, dan dekorasi dibuat sebagai pendukung pembelajaran dengan pertimb angan yang hati-hati. Susunan tempat duduk terbuka dan fleksibel. Menggunakan musik yang sesuai dan efektif mempertinggi lingkungan pembelajaran.

Musik membantu siswa rileks dan fokus. Pemilihan musik harus sesuai dengan pembe lajaran yang sedang dilaksanakan. Misalkan musik keras untuk menimbulkan semanga t siswa. Gambar-gambar (hiasan) yang bermakna. Poster-poster yang terletak dikelas mampu memberikan uraian-uraian pendukung pembelajaran. Informasi, sugesti yang diberik an oleh gambar-gambar dikelas mampu memberikan uraian yang sesuai dengan topik d ari guru atau kegiatan sekolah yang lain. Guru harus mendirikan kredibilitas dengan siswa, guru harus sudah terlatih dalam pembelajaran. Kemampuan suara (tekanan, informasi, tempo, keras, atau lembut) a dalah teknik yang digunakan untuk menangkap perhatian siswa dan menekankan poin utama. Selain itu guru harus membangun hubungan yang kuat dengan siswa. Keadaan positip, ketenangan emosi, sapaan dengan suara yang ramah dan menyenangk an. Penggunaan bahasa yang hati-hati menekankan pernyataan positip, dan menghind ari pernyataan yang negatip. Menimbulkan dampak emosi positip pada siswa, hal in i akan memberi nilai tersendiri pada pembelajaran sehingga proses pembelajaran l ancar, efektif, hasilnya menambah daya ingat siswa. Seni dan Drama, guru memilih lagu-lagu, wayang atau drama agar dengan pemilihan kostum yang sesuai dengan topik, untuk mengilustrasikan pembelajaran, Tujuannya adalah pembelajaran lebih hidup. Kelas diatur dengan hati-hati, penerangan, tanaman, tempat duduk, musik, poster yang mendukung pelajaran dan sarana lain yang telah dikenal, dibuat untuk dapat mengkontribusikan terhadap lingkungan pembelajaran. Ringkasnya dalam kelas AL, g uru mulai menyapa dengan nada positip, hidup, ramah menyapa tiap-tiap siswa, mas uk pintu dengan komentar yang hangat. Misalkan guru menyapa siswa yang datang, d engan ramah dan kontak mata berkata halo! senang kamu dapat disini, hari ini kita punya hari yang besar. . Sapaan guru dan elemen-elemen ini akan membantu siswa menghilangkan perasaan neg atif, memberi saran dengan halus, guru menghidupkan musik dari tape, untuk menci ptakan atmosfir yang positip, siswa mulai menyiapkan buku dan perlengkapan belaj ar lainnya. Musik berhenti, siswa mengambil tempat duduk dan guru berlanjut memp ersiapkan mereka untuk belajar dengan uraian dan pertanyaan. Misal pada pelajara n geografi guru akan memulai dengan pertanyaan atau penyataan. Jika tiba-tiba kam u berada di lingkungan terisolasi, bagaimana kamu dapat bertahan hidup? Guru kemu dian menjelaskan tentang keadaan tanah dan daerah, iklim, flora, dan fauna, kemu dian guru mensugesti kemudahan dalam mata pelajaran ini. Siswa menjadi aktip, me ncoba mengungkapkan bagaimana mereka bertahan hidup di daerah terisolasi dengan teknik simulasi, permainan atau kegiatan lain. Sebagai fasilitator guru memimpin sebuah uraian apa yang sedang mereka pelajari, diikuti dengan penjelasan dari p engalaman atau cerita yang ada, tentang bagaimana mereka bertahan hidup. Pelajaran berlanjut dengan review dan refleksi dengan guru yang sudah siap denga n jawaban. Siswa mengungkapkan jawaban-jawabannya. Pelajaran di tutup dengan sis wa bercerita tentang sesuatu yang telah dipelajari. Akhirnya mereka merayakan ke berhasilan pembelajaran hari itu. Musik Sangat penting dalam Accelerated Learning Keberadaan musik dalam pembelajaran akselerasi baik dari Deporter maupun Lozanov adalah faktor yang penting mengapa demikian? Unsur-unsur pembelajaran AL menggu nakan musik secara sistematis dalam proses pembelajarannya. Menurut Lozanov ada dua alasan mengapa musik digunakan dalam pembelajaran akselerasi. Pertama, musik sangat potensial menciptakan keadaan siap belajar dengan situasi longgar pada d iri siswa, yang disebut psychoreleksasi. Pada penelitiannya Lozanov menemukan ke tika siswa menyesuaikan diri dengan musik ia merekam peningkatan gelombang alfa pada otak, dan penurunan gelombang beta otak, dan juga penurunan tekanan darah, dan lembutnya denyut nadi. Dengan ketertarikan dan rileksasi sangat berguna untu k menciptakan keadaan yang lebih baik. Alasan kedua, dengan adanya musik, kedua belahan otak (kanan-kiri) akan digunaka n secara utuh. Musik dalam pembelajaran merupakan penghantar untuk merangsang pe ngaktifan cadangan otak (kemampuan berpikir), digunakan untuk meningkatkan menta l dan pembelajaran. Dengan musik akan tercipta keadaan rileksasi dan meningkatka n perhatian siswa, serta meningkatkan daya ingat siswa. Pemilihan jenis musik, dan gaya musik untuk mengefektifkan belajar juga penting,

karena antara orang satu dan yang lain berbeda selera dan mencakup suasana hati . Ada beberapa gaya musik yang sering digunakan yaitu gaya musik abad 17, musik klasik, dan musik jazz. Menurut hasil penelitian Lehman dan Gassner, pemilihan j enis musik bukan hal yang ketat, tetapi lebih baik musik yang cocok untuk anak-a nak dan siswa dewasa. Rileksasi dalam pembelajaran Penelitian yang dilakukan di kelas dengan perlakuan rileksasi dan tanpa rileksas i oleh beberapa orang ahli tersebut kadang-kadang mendapatkan hasil yang tidak s ignifikan, tetapi beberapa ahli lebih banyak yang mendapatkan hasil yang signifi kan. Pertama rileksasi kalau dilakukan sendiri kurang mendapatkan hasil, tetapi bila. dikombinasi dengan musik akan lebih efektif untuk meningkatkan pencapaian belajar. Kedua adalah hubungan ketertarikan rileksasi dengan siswa yang memiliki ketertar ikan pembelajaran yang tinggi akan menghasilkan tugas yang baik, tetapi siswa me miliki ketertarikan rendah akan menghasilkan tugas dengan baik dalam keadaan ril eksasi. Jadi rileksasi menguntungkan hanya beberapa siswa tertentu yang tidak te rtarik pembelajaran atau tugas yang diberikan. Ketiga adalah hubungan rileksasi dengan sulit atau mudahnya tugas. Untuk soal-so al yang muda rileksasi tidak seberapa dibutuhkan, tetapi untuk soal/tugas yang s ulit efek rileksasi sangat terasa, akan menyelesaikankan soal/tugas dengan baik. Pelaksanaan dengan teknik rileksasi yang progresif, akan meningkatkan memori ja ngka pendek dan lebih efektif dibanding teknik yang lain. Kesimpulannya pembelajaran dengan rileksasi lebih unggul dibanding dengan pembel ajaran konvensional yang penuh tekanan dan melelahkan. Siswa banyak tertarik den gan pembelajaran accelerated dengan rileksasi dari pada pembelajaran tradisional . Banyak ahli mendukung rileksasi sebagai unsur penting digunakan dalam metode p embelajaran, karena efeknya dapat meningkatkan kreatifitas baik fisik maupun psi kologis. F. Implementasi Accelereted Learning di Indonesia Di Indonesia konsep Accelereted Learning ditafsirkan dan diimplementasikan dalam program pembelajaran di beberapa sekolah baik swasta maupun negeri. Mari kita a nalisa antara konsep asli Accelerated Learning asli seperti terpapar di atas, de ngan implementasinya di lapangan yang dapat kita ketahui dari beberapa sekolah y ang mencoba untuk menerapkannya. Penulis mengkaji implementasi accelerated learning ini dengan melakukan observas i di beberapa sekolah, yang kebetulan berkaitan dengan pelaksanaan dan pengemban gan kurikulum. Untuk mengetahui pelaksanaan di sekolah, kami mengobservasi pelak sanaan kurikulum dibeberapa SD, kebetulan secara formal mengobservasi MIN Malang I dan SD Percobaan. Sedangkan untuk SD /MI Sabbillillah observasi yang dilakuka n masih non formal berdasarkan informasi yang diperoleh dari orang tua siswa dan siswa. 1. Kelas Percepatan di SD Lab Universitas Negeri Malang (UM) Berdasarkan observasi yang dilakukan di SD Lab, ternyata SD ini mencoba melakuka n program percepatan dengan menggunakan modul. Sejak awal berdirinya pada tahun 1968 dengan nama SD LABORATORIUM IKIP Malanng, di bawah pimpinan Prof. DR. Supar tinah Pakasih sebagai kepala sekolah I sekaligus beliau meneliti tentang percepa tan belajar siswa SD. Sejak awal berdirinya (1968) sampai tahun 1987 menerapkan bentuk kurikulum yang berada dibawah naungan Badan Pengembangan Depdikbud Pusat. Hal itu berbedah dengan SD yang lainnya yang di bawah naungan Kanwil Propinsi. Dikatakan mereka menerapkan system pembelajaran maju berkelanjutan (system Aksel erasi) per- semester. Program ini diperuntukkan untuk kelas tiga ke atas, sedang kan untuk kelas di bawahnya belum. Asumsinya adalah kemampuan membaca dan berhit ung untuk kelas tiga ke bawah belum cukup. Dalam program percepatan modul ini, siswa dapat untuk menyelesaikan modul satu k e modul berikutnya. Jika siswa dapat menyelesaikan modul dengan baik maka asumsi nya siswa tersebut telah menguasai pokok bahasan yang ada di kelas yang lebih ti nggi, maka siswa dapat mengikuti ujian kelas yang lebih tinggi tersebut. Misalka n anak kelas IV namun mampu menyelesaikan modul kelas V dengan sangat baik, maka ia berhak mengikuti ujian kelas V. Sehingga seorang siswa SD dapat lulus hanya dalam waktu 5 tahun atau 5,5 tahun, hal ini lebih cepat dari anak SD yang lainny

a yang harus menyelesaikan /lulus dalam waktu 6 tahun. Semenjak tahun 1987 sistem telah dirubah dengan turunnya SK No. 0707 /P/1986 ten tang Penegerian Sekolah Dasar Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Ma lang menjadi Sekolah Dasar Negeri Malang dalam binaan Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Timur. Kemudian keluar Keputusan Mendikbud No. 0326/O/1978, maka SD Negeri Malang berubah nama lagi menjadi SD Negeri Percobaan Malang di dalam binaan Kanw il Depdikbud Jatim. Selanjutnya setelah otonomi daerah SD Percobaan di bawah nau ngan Dinas Pendidikan Kota Malang. Pada tahun 1987 tersebut juga system percepatan telah ditinggalkan, dengan alasa n banyak kendala terutama para lulusannya dalam hal administrasi. 2. Program Kelas Unggulan. Program kelas unggulan yang akhir-akhir ini semakin marak perkembangannya, yakni mengumpulkan siswa-siswa yang berprestasi akademik dalam satu kelas tertentu. B erdasarkan hasil observasi kami pada salah satu sekolah di Malang yang menerapka n kelas unggulan ini yaitu MIN Malang I, Para pengelola, mereka beralasan di gun akan sistem ini adalah sebagai pelayanan individual, sehingga siswa yang cepat d alam belajarnya akan dilayani dengan cepat dan siswa tersebut tidak akan dirugik an dengan pelayanan gurunya terhadap siswa yang lambat. Begitu pula siswa yang l ambat akan memperoleh pelayanan sampai dapat menuntaskan pembelajaran dengan dip ilih guru-guru yang biasa menangani siswa yang lambat. Kenyataan demikian ini menurut saya dapat dibenarkan, jika memang murid-murid da lam kelas unggulan ini belajar dengan memenuhi konsep accelerated learning, mema nfaatkan baik fisik maupun emosional dan dalam suasana yang menyenangkan tanpa t ekanan, sehingga mereka dapat berprestasi akademik, hal ini dapat dikategorikan sebagai accelerated learning. Tetapi jika pembelajaran yang terjadi pada kelas u nggulan ini dalam suasana penuh tekanan dan persaingan diantara siswa, maka perl u dikoreksi pelaksaannya. 3. Program Belajar Sehari Penuh (Full Days School) Program ini juga sudah menjadi salah satu pilihan di sekolah swasta maupun neger i. Program yang menambah jam belajar siswa hampir seharian. Jika pelaksaan full days ini dengan memperhatikan konsep accelerated learning, dengan memperhatikan psikologi belajar dan psikologi perkembangan anak, mempertimbangkan kebutuhan ya ng alami dari siswa, bukannya belajar terus menerus dari pagi sampai sore. Denga n situasi belajar yang menyenangkan dengan melibatkan fisik dan psikis anak, mak a dapat dikategorikan sebagai Accelerated Learning. Dalam penelitian non formal yang dilakukan oleh penulis terhadap salah satu seko lah swasta di Malang yaitu Madrasah Sabililah, dimana Madrasah (SD) ini telah me nggunakan full Day School, dalam proses pembelajaran sehari-harinya memang telah ditetapkan, setelah siswa belajar dalam waktu yang telah ditentukan wakni sampa i jam 13.00. maka siswa istirahat makan siang, bermain dalam lingkungan sekolah, setelah siswa mandi sore dilanjutkan dengan kegiatan agama dan mengaji. 4. Program Percepatan Versi Pendidikan Nasional (Diknas) Program percepatan versi Diknas adalah program yang memperbolehkan atau memfasil itasi anak yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata, bisa melompat kelas yang lebih tinggi tanpa perlu belajar materi kelas di bawahnya. Program ini sedikit b erbeda dengan program di SD Lab UM, yang mengharuskn siswa menyelesaikan materin ya. Menurut penulis program ini tidak sesuai dengan konsep percepatan dari Accel erated Learning, yakni mempercepat dan mengoptimalkan pembelajaran seseoranng. D alam Accelerated Learning tetap harus menghabiskan materi yang seharusnya siswa terima, bukannya melewati atau melompati yang seharusnya mereka dapatkan. Sehing ga disini ada kerancuan, walaupun sama-sama menunjukkan percepatan, namun kalau hal itu dilaksanakan dengan meniadakan atau melompati materi yang seharusnya did apat siswa, penulis anggap itu tidak alami. PENUTUP A. Kesimpulan Secara garis besar Accelerated learning adalah pembelajaran yang alamiah, yang d idasarkan pada cara orang belajar secara alamiah dengan memperhatikan prinsip da sar Accelerated Learning dan tidak memisahkan individu dari alam dan dari pengal aman holistiknya. Cara belajar cepat (CBC) merubah ruang kelas secara total. Ketika para pengajar

menggunakan aneka permainan dan aktivitas, emosi dan musik, relaksasi, visualisa si, permainan peran, warna, peta konsep, proses belajar menjadi hal yang menyena ngkan dan bebas tekanan. Makalah sederhana ini masih perlu penyempurnaan, untuk itu kritik dan saran perb aikan, kami harapkan demi penyempurnaannya, sekaligus menambah wawasan bagi kita semua. Implementasinya di Indonesia dilakukan beberapa sekolah dengan beberapa sebutan (kelas percepatan, kelas unggulan, atau full days) pada dasarnya kalau mereka in i menerapkan dengan situasi belajar yang alamiah, luwes, gembira, menyenangkan, dengan mementingkan aktifitas mental, maka dapat di sebut sebagai accelerated le arning. Tetapi penulis melihat ada ketidak sesuaian antara konsep accelerated le arning yang asli dengan implementasinya di sekolah-sekolah. B. Saran Bagi sekolah-sekolah yang telah menetapkan system pembelajarannya dengan kelas p ercepatan, kelas unggulan maupun full days School, disarankan untuk tetap berpeg ang pada prinsip prinsip Accelereted Learning. Ciri-ciri kelas accelerated learn ingpun harus tampak antara lain: luwes, gembira, banyak cara, mementingkan tujua n, bekerjasama, manusiawi, multi indrawi, bersifat mengasuh, melibatkan mental e mosional dan fisik, serta mengutamakan hasil bukan sarana atau metode tertentu. DAFTAR PUSTAKA Deporter, Bobbi. 2003. Quantum Teaching Memperaktekkan Quantum di Ruang Ruang Ke las. Saduran. Bandung:Kaifa. _________. 1999. Quantum Teaching, Allyn and Baccon, Bandung: Kaifa. _________, & Mike Hernacki. 1999. Quantum Learning, Bandung: Kaifa. Dryden, Gordon & Jeanette Vos. 1999. The Learning Revolution. The Learning Web. Meir, Dave. 2002. The Accelerated Learning Handbook: Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan Pelatihan . Saduran. Bandung :Kaifa. Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl. 2003. Accelerated Learning for 21st Century (Cara Belajar Cepat Abad XXI). Saduran. Bandung: Nuansa

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->