P. 1
PELUMASAN (Lubrications)

PELUMASAN (Lubrications)

|Views: 354|Likes:
Published by Wenty Eka Septia
Another paper about lubrications from machine design subjectu
Another paper about lubrications from machine design subjectu

More info:

Published by: Wenty Eka Septia on May 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/31/2013

pdf

text

original

Oleh: WENTY EKA SEPTIA 0806338134

DEPARTEMEN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK, 2010

SISTEM PELUMASAN

Apabila terjadi gerakan relatif antara dua benda yang bersentuhan, terjadilah gesekan antara kedua benda . Gesekan (mekanik) tersebut terutama disebabkan oleh permukaan benda yang kasar tetapi mungkin juga oleh adhesi antara kedua permukaan atau oleh reaksi k imia yang terjadi pada permukaan itu. Gesekan tejadi pada motor bakar, misalnya antara poros dan bantalan, antara (cincin) torak dan dinding silinder, antara roda gigi dan sebagainya. Untuk mengatasi gesekan itu, agar benda yang bersentuhan bisa digerakkan, diperlukan gaya. Karena itu besarnya gesekan harus dibatasi agar daya mesin tidak banyak yang hilang pada bantalan, roda gigi, dan seb againya. Selain itu gesekan mengauskan permukaan sedangkan kerusakan selanjutnya dipercepat oleh panas yang terjadi karena gesekan itu. Besarnya gesekan dapat dikurangi dengan menggunakan pelumas yang fungsinya memisahkan dua permukaan yang bersentuhan. Akan tetapi di dalam kenyataaan tidak ada gerakan tanpa gesekan karena tidaklah mudah untuk memperoleh pemisahan yang sempurna. Lagi pula gesekan terjadi juga pada permukaan yang dilumasi itu yang disebabkan oleh adanya tegangan geser pada pelumas sendiri. Pada umumnya motor bakar torak menggunakan pelumas cair yang dinamai minyak pelumas . Selain mudah disalurkan Minyak pelumas juga berfungsi mencegah keausan akibat gesekan, juga dapat membantu mendinginkan mesin, memperbaiki kerapatan antara ring piston dengan dinding silinder, mencegah karat dan membersihkan bagianp-bagian mesin.

SISTEM PELUMASAN 1. Sistem Tekanan penuh 2. Sistem Cebur 3. Sistem gabungan atau semi cebur, yaitu gabungan sistem tekanan penuh dan sistem cebur

Minyak pelumas harus dapat mencapai seluruh bagian yang hendak dilumasi serta harus dapat memnuhi tugasnya dengan baik. Sistem pelumasan yang mana yang akan dicapai bergantung pada ko nstruksi mesin dan keutuhan akan pelumasan.

¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡   ¤   ¤© ¢ ¢   ¤¨ ¥ ¢ ¦ ¥   ¦ ¨ § § ¢ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¨§ ©¤¦¨¢¨ £¤¦  ©¨£ §¤§ ¢ § ¢ ¥ § © ¨ ¨ § © ¨ ©¨ ¦ ¢ £ ¦ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡   ¤¨ § ¢ ¤¨ § ¢ ¨§   £¨  § ¢ § § § ¢ § ¦ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡  ¡ ¡ ¢   ¤¨ ¢   ¤¨  ¨ ©   ©¤ § ¢ ¦   ¦ ¨  ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¤¨ ¢ ¥©¨ ¨  ¢   ¢¢ £ ¤¦ ¨   ¨  © ¢   §¤©£  ¢§ ¢¨© § ¨£    ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡  ¡ ¡ ¡ ¡ ¤¨ ©¨ ¦ ¢ ©¤¦¨  ¨§ ¢   ¨ ¨  ¤ £ ©¤¦¨ ¢   ¥ ¢¨© §   ¡ ¡ ¡ ¡  ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ ¢ © ¢   ¤¨ ¨ £  £¢ ©   §©¨¦   § ¦  § ¢ §¨ § ©¨ ¢¨ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ £ ¦   © ¢ ©¨¦¨¦ ¨§ ¢ ©¤   ¢ §© £¢ ¦ ¦©¨¦ ¤ ¨ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¤£   ¤¨ § ¢ ¢¢ ¢  ¨ ¢ © ¢ ¢ ¨§ ¦ ¥ ¦¨ ¢ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ©¨ ¤¨ ¢ ¢ ¨£    £¢ ¦ ¢¨© § ¥¤¢¨ ¢ ¢ §¨£ ¦   § ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ § ¢¤ ©¨   £©  ¢ ©£ £ ©   ¨¦ ¢   ¨ ¢ ¤ ¤ ¨ §¤£¢¤ ¢   ¨ ¢ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¢ ¢ ¢ ©¨ ©¨ ¨  ¥¨  ¥¤© ¢¨ ¤ § ¢ ¦¢ ¥ ¤£ ¢  

p

P d

p l m

p l m

dil i

i

d

gg

mi y

m

, p mp p l m

g

m m y

Di

d

l

.T

m l l i

g

p l m

mpi g i

i

d l mm

di gi

m i

p

id

m

mi y

, pili

Gambar 1. Sistem Pelumasan dengan tekanan Penuh

p

d l mm

g

d

i

mi

g i

ip d

p l m

m m

p m

y p mp

d

d l m m

l

dip

g

y

m i

gi

p l dip

l

i

mi y

i p d m i

i

d gigi m m mp mi y

y

m i

d

y

g

gi

d

p l m

mi y

g

l

y

l i

Gambar 2 Sistem Pelumasan Cebur p i g i l y . .D l m i .P d p l m il y , m m l i y l dil m g i m mp g 7 g/ m . i , p i p p i l mp l m p l m d y i. p l m d li p , mi y g d d l m g y . d i m g l

' %! %!%!#"! ' ' ' ( ( %"

%!%!#"

"!

' ' ' '' ' ' ( ! #" ( & #" #" $ ( $ 1' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ( %" ) %7" % (" ( & !%$" #"! "%( !(0& # 3" $ ' '' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ( #" ( ( ( %" ( ( ( # % (" ! ! ( (" & )%!%$"& ' 1 ' ' ' ' ' '' ' ' 4 ( & (% ( ! #" #" $" &%!(% ! & ( $ " ! (% ! (% ' 65 (0 ! 3 #$% %0( !(0 ' ' ' ' ' ' ' ' ' ( % " ( (% & ( & % $ (" ! )" ) !" (" ! % ! & ' ' ' '' ' '' ' ' 4 ' % " ( ( #%&"& (" ( ! #" & ! " & % % ! " ( # 03 0 $ " & ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ( & % $ (" ! ( )" ( % ( ) $" "& ( ( &( & (% " ' ' ' ' ' '' ' ' ' ( %" ( ( ( ! " 0# !(0 (" ! % !& ) &% ' ' ' '' ' ' ' %" ( (" ( ( ( #%&"2 !%$" #"! ( & (%!(% (" "! ' ' ' 1' ' ' ' ' ' ' ' '' ' ' ' ( ("# & !( ! ( & ) ) ) "! ( (% (" ( & ( $"& ' ' ' ' ' ' ' '' ( (% (" ! & ( $ " ! (% ! $#"! ( &%!(% ( " 0!" ( ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' (% %" %!#"! ( ( )#" " ( ( ( ! ( (" ( " ' ' ' ' '' ' ' ' ' ' ' ( %" ( ( ! ( (" ( %" "! &%$#"! ( ) ' ' ' ' ' ( ( ( (" ( %"

' ' ' ( %$ ( & (% ' ' ' ' %" " & %# $

&%$#"

"!

4.

' ' ' ' ' '' ' % " ( ) "! ( & #" #"$ ( ( &% #" ' ' ' ' '  #" % " ! ! % & ( $ " &%$#"! ( 

i

mT

%" '

5. i

' ' ' ' 1 ' ' ' ( %" (" ( % ( %# " $ # 3 " " ! 7 % ' ' ' '  ( & (% (" %!%!#"! ( %" "! 

4.

4.1 P l m

p

p li g

p m

m

m m

m

i

gi

mT

g

gg

i

g

g

y

li m

i

p

g i

i

P l m

d

L

gi

.

d l

m p l m d g l y p p y p g gi g m i g , p gg g y d i

mp l m

Gambar 3 Sistem Pelumasan Sistem Semi Cebur-Gabungan

p l

T

d

d

i

g

i y ,

l

g

pl i

y

g

g

.

g

,d

i

li

dig

l

l

p d

i gg d p

ml

i

p

. P l m

g

m

.

p l m

dig

p m l g g

p l m

m m

p l m

d l

i p m

i

p d

p

gg y

d l m i

m

m

l

i mi y

i

g

p m

g l mi

d

im

d

g i d

mp l m

i gg

i

l

d

g

g

p l m l dig y i

i p m

m p l m

p l m

d p

m

g

l

p l m

g

m

g

p d

l y

d i i

. P

m mp

g i

di

y

.

im

p l m

,

g id

g d l

' '

l

g l

g. D

i

i

mp l m

p, y i

:

y

y

gi

p d

g.

l

g

y i

m

g

g

,

FLUIDA PE DINGIN, PE

BERSIH DAN PENYEKA
B

elama mesin
I

ekerja,

agian mesin akan memanas.

pel mas lebi rendah temperaturnya, di samping melumasi juga berfungsi sebagai fluida pendingin; menyerap panaa dan bagian mesin tadi sehingga temperaturnya naik.
H

aren itu setelah masuk kemali ke dalam minyak pelumas, m inyak pelumas

tersebut harus didinginkan dahulu sebelum dialirkan ke seluruh b agian mesin; maksudnya agar sifat pelumasnya teta baik. Pada mesin yang besar seringkali p disediakan alat pendingin yang khusus untuk keperluan tersebut air coo r). inyak pelumas juga berfungsi membersihkan kotoran yang timbul
S C R QP

selama mesin itu bekerja.

erak yang terjadi karena sebagian minyak pelumas

yang terbakar serat serpih logam dan bantalan yang aus dapat mengakibatkan keausan dan kerusakan lebih lanjut atau menyumbat saluran minyak pelumas. ambil membawa kotoran tersebut, miyak pelumas juga mengalir kembali ke etelah melalui penyaringan, dalam keadaan bersih
T T

dalam bak minyak pelumas.

minyak pelumas dialirkan kembali ke bagian mesin yang harus dilumasi.

Gambar 4 Sistem Pelumasan dengan Penyaringan Penuh

ebagian dari minyak pelumas yang mengalir dari pompa disalurkan ke

dalam saringan tersebut kemudian dialirkan kembali ke dalam bak minyak pelumas. elain penyaringan simpangan, ada juga sistem penyaringan penuh yang
U

banyak dipergunakan pada mesin kendaraan, Pembersihan minyak pelumas pada sistem ini dapat berjalan baik jika saringan mempunyai lubang yang lebih besar daripada biasanya atau sering diganti. Dengan demikian tidak diperlukan pompa

H

F

C

y
D

Forced L

rication Pel masan dengan tekanan)

A

@

y

Nonforced l
BA

rication Pel masan tanpa tekanan)

8

98

E

B

arena minyak

G U A

yang bertekanan terlalu tnggi. Bahan saringan biasanya kain katun, kertas, atau selulosa. Minyak pelumas juga membantu cincin torak mencegah merembesnya gas pembakaran keluar.
V

alam praktek, misalnya kita melihat mesin yang

dinding silindernya sudah aus atau tua diberi minyak pelumas yang lebih kental. Namun harus dicegah agar minyak pelumas jangan masuk ke dalam ruang bakar. Oleh karena itu hendaknya dijaga jangan sampai minyak pelumas membasahi dinding silinder secara berlebih-lebihan. Terlalu banyak minyak pelumas yang masuk ke dalam ruang bakar merupkan suatu kerugian karena minyak elumas bukanlah bahan bakar.
V

i samping itu pelumas yang terbakar akan meninggalkan

kerak, terutama pada alur cincin torak yang bisa mengakibatkan cincin torak melekat pada alurnya. Untuk membatasi masuknya minyak pelumas ke dalam ruang bakar, torak itu dilengkapi dngan cincin minyak. Minyak pelumas yang
W

hilang karena terbakar atau menguap kira -kira 0,

gram/PS jam. Mengingat

minyak pelumas itu penting peranannya, haruslah dijaga agar selalu dalam keadaan baik. Secara periodik minyak pelumas harus diganti karena setelah beberapa lama dipakai akan kehilangan sifatnya yang diperlukan. Cepat lambatnya penggantian itu sendiri tergantung pada jenis

pemakaian mesin dan kualitas minyak pelumas itu sendiri. Secara umum dapat dikatakan, minyak pelumas perlu diganti setiap 3060 hari tidak lebih dari jarak 3000 km, u ntuk mencegah keausan mesin terlalu cepat.

Beberapa sifat minyak pelumas di bawah ini perlu diperhatikan jika diinginkan minyak pelumas memenuhi fungsinya, khusus pada motor bakar torak. 1. Kekentalan. Kekentalan minyak pelumas harus sesuai dengan fungsi minyak itu untuk mencegah keausan permukaan bagian yang bergesekkan, terutama pada beban yang besar dan pada putaran rendah. Minyak pelumas yang terlalu kental sukar mengalir melalui salurannya, di samping menyeabkan kerugian daya mesin yang terlalu besar. Biasanya kekentalan minyak pelumas diuji pada temperatur 210 o F dan dinyatakan dengan bilangan SAE misalnya SAE30, SAE 0, SAE 0, dan seterusnya. Makin kental makin tinggi bilangan itu. Ada kalanya pengujian tersebut dilakukan pada temperatur 0 oF; untuk membedakannya; di belakang bilangan SAE tadi ditambahkan huruf w, misalnya SAE20 w.
a `

Y

BEBE APA SIFAT PENTING MINYA
X

PELUMAS

2. Indeks Kekentalan. Kekentalan minyak pelumas itu berubah -ubah

menurut perubahan temoeratur. Dengan sendirinya minyak pelumas yang baik tidak terlalu peka terhadap perubahan tempertatur, sehingga da at p berfungsi sebagaiman mestinya, baik dalam keadaan dingin. Pada waktu
b c

mesin mulai berputar

star) maupun pada temeratur kerja.
d

ntuk

mengukur perubahan kekntalan tersebut dipakai indeks kekentalan yang diperoleh dengan cara sebagai berikut.
ff

inyak pelumas didinginkan dari ebagai bahan
g

1 oF sampai 1

oF

lalu perubahan kekentalannya dicatat.
b

perbandingan diambil perubahan dalam proses yang sama) yang terjadi pada minyak pelumas dasar-parafin yang kekentalannya tidak peka terhadap perubahan temperatur dan minyak pelumas dasar-naftenik yang kekentalannya peka terhadap perubahan temperatur.
h

kekentalannya sama seperti pada minyak pelumas dasar² parafin, indeks
ff

kekentalannya adalah 1

dalam minyak pelumas, dapatlah diperoleh indeks kekentalan yan lebih
ff

besar dari 1
3.
i

.

itik Tuang. Pada temperatur tertentu yang disebut titik luang, miyak

pelumas akan membentuk jaringan kristal yang meyebabkan minyak itu sukar mengalir. Karena itu, sebaiknya dipergunakan kristal yang menyebabkan minyak itu sukar mengalir. Karena itu, sebaiknya

dipergunakan minyak pelumas dengan titik tuang yang se rendahrendahnya untuk menjamin agar minyak pelumas dapat mengalir dengan lancar ke dalam pompa dan salurannya pada setiap keadaan operasi.
4. Stabilitas. Beberapa minyak pelumas pada temperatur tinggi akan

berubah

susunan

kimianya

mengakibatkan cicin torak melekat pada alurnya. Dalam beberapa hal minyak pelumas dapat membentuk lumpur apabila bercampur dengan air
p

dan beberapa komponen hasil pembakaran.

akan mengubah kekentalan dan menutup saluran min yak. Karena itu bak

f

naftenik, indeks kekentalannya

f e

pabila perubahan

; jika sama seperti minyak pelumas dasar . Dengan memasukkan zat tambahan ke

sehingga

terjadilah

endapan

yang

elain itu, lumpur tersebut

minyak pelumas haruslah mendapat ventilasi yang cukup baik agar minyak pelumas atau gas pembakaran dapat keluar dengan leluasa dari minyak pelumas.
5. Kelumasan. Minyak pelumas harus memiliki kelumasan, atau sifat

melumasi yang cukup baik, yaitu dapat membasahi permukaan logam. Hal ini berarti bahwa dalam segala keadaan selalu akan terdapat lapidan minyak pelumas pada permukaan bagian mesin yang bersentuhan. ifat ini sangat penting untuk melindungi permukaan bagian terseut, misalnya pada waktu start, yaitu pada saat minyak pelumas belum cukup banyak atau pompa minyak pelumas belum bekerja sebagaimana mestinya.
r r r q

KO

PONEN ² KO

PONEN SISTE

PELUMASAN

a) Pompa Oli

Pompa oli berfungsi mengisap oli dan menyalurkannya kebagian -bagian mesin yang perlu dilumasi. ompa oli biasanya ditempatkan pada tutup peti engkol untuk mensuplai oli dalam panci oli digerakkan dari poros engkol atau poros kam melalui perantaraan roda gigi atau sebuah poros penggerak, tergantung dari lokasi dan lay out mesin. Pompa jenis roda gigi dan pompa pemindah positif yang lain juga digunakan pada sistem pelumasan.
b) Saringan Oli

Saringan oli berfungsi menyaring kotoran yang terdapat dalam oli. Saringan oIi dipasang di luar mesin, agar mudah melakukan pertiannya
c) Katup Pengatur Tekanan Oli

Katup pengatur tekanan oli oil pressure relief valve) berfungsi mengatur tekanan oli yang disalurkan ke sistem pelumasan. Pada tekanan minyak yang tinggi rpm tinggi), katup akan membuka dan kelebihan oli akan disalurkan ke bak oIi melalui lubang by pass sehingga tekanan oli yang masuk ke sistem pelumasan dapat dibatasi besarnya.
s s

1 ompa li 2. atup
v

ngatur

kanan li

u

wx

t w

u

t

d) Indikator Tekanan

Adalah suatu sakelar tekanan atau unit sender/pengukur dipasang pada saluran utama oli, menutup ke saluran pengeluaran outlet) pompa yang dioperasikan dengan sebuah lampu peringatan pada panel instrumen jika ada tekanan oli.
e) Sistem Distribusi Oli
y

Merupakan hubungan seri dari saluran oli utama yang dialiri oli ke berbagai mesin guna mensuplai pelumasan dan pendinginan.
f) Panci Oli

Berupa tangki untuk menyimpan oli yang diperlukan pada sistem pelumasan dan diletakkan pada dasar mesin.
€

ntuk memompanya

diperlukan suatu pompa oli yang dipasang pada panci oli.

g) Batang Pemerik a Suatu alat yang berbentuk batang dari baja untuk mengetahui ketinggian atau kedalaman cadangan oli di dalam panci. Batang pemeriksa dipasang pada suatu pipa semacam tabung yang dilekatka n pada peti engkol atau panci oli.
‚ 

h) Tutup Saringan

li

Dipasang untuk memungkinkan pengisian oli dari atas mesin. Terletak pada tube/pipa yang terdapat pada peti engkol atau penci oli, umumnya pada bagian atas pengangkat katup.
ƒ

i) Saringan

li

Digunakan untuk melepaskan debu, kotoran, karbon, dan partikel lain di luar bahan oli dan menjaga kebersihan elemen.
„

j) Klep Bypa

Dipasang pada sistem saringan aliran penuh. Klep bypas dibuka jika saringan diblok/tertutup kotoran atau tersumbat sehingga oli dapat mengalir dan melumasi bagian-bagian mesin. k) Sistem Ventilasi Peti Engkol Beberapa mesin termasuk diesel menggunakan sistem ventilasi dimana tabung kecil dialirkan ke bawah mesin dengan aliran tekanan udara yang dimasukkan melalui tutup saringan pengisi oli.
…

l) Pendingin Pada

li kendaraan, menggunakan pendingin oli untuk

beberapa

mengedarkan udara yang mengalir melalui permukaan panci oli ke penyerap panas sederhana yang berfungsi seperti radiator pendingin mesin.

Sistem Pelumasan Sepeda Motor Dua Langkah

Sistem pelumasan pada sepeda motor dua langkah tidak sama dengan dengan sepeda motor empat langkah. Pada sepeda motor dua langkah transmisi
†

nya diberi pelumasan tersendiri terpisah dengan poros engkol.

al ini

dikarenakan terpisahnya ruang transmisi dengan ruang engkol, makanya mesin dua langkah harus menggunakan dua macam minyak pelumas. Seperti kita ketahui bahwa kontruksi bak engkol motor dua langkah terbagi ke dalam dua bagian antara lain bak engkol untuk perangkat motor bakar dan bak engkol untuk perangkat kopling, dan gigi transmisi.

Sistem pelumasan sepeda motor dua langkah dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Sistem Pelumasan Campur. Pada sistem ini oli dicampurkan dengan bahan bakar (bensin) pada tangki.Contohnya adalah pada sepeda motor vespa.Sistem campur langsung banyak digunakan pada sepeda motor lama seperti Vespa. Pada sistem ini oli sebagai pelumas dicampurkan langsung ke dalam tangki bensin.
‡

Perbandingan antara oli dengan bensin antara 1: 20 sampai dengan 1: 0, tergantung pada keperluannya.Besarnya oli yang dicampur ke dalam bensin tersebut didasarkan pada kebutuhan pelumasan pada putaran tinggi, agar mutu pelumas dan perbandingannya memenuhi syarat sebaiknya

pencampuran dilakukan sendiri dengan memperhatikan mutu oli pelumas dan prosentase perbandingannya. Oli yang digunakan untuk mesin tidak sama dengan oli yang digunakan untuk transmisi. Oli mesin lebih encer.Kekentalan oli tersebut ditandai dengan bilangan SAE (The Society Of Automotive Engineer). Semakin besar SAE-nya semakin kental minyak pelumas tersebut.Cara mencampur oli dengan bensin adalah sebagai berikut: Siapkan satu tempat bensin dalam ukuran liter yang sudah diketahui dengan pasti volumenya.Isikan bensin ke dalam tempat penampungan tersebut sampai penuh atau sesuai dengan kebutuhan. Ingat volume bensin yang diisikan harus diketahui.Isikan oli ke dalam bensin dengan

perbandingan sesuai dengan ketentuannya.Aduk dengan batang yang bersih atau kocok agar bensin dan oli benar -benar bercampur.Isikan campuran bensin dan oli tersebut ke dalam tangki bensin kendaraan. 2. Pelumasan sistem terpisah (untuk produk Yamaha dinamakan dengan Auto lube). Pada sistem ini oli ditampung pada tempat tersendiri. Oleh karena itu digunakan dua jenis minyak pelumas, yaitu pelumasan untuk bak engkol dan pelumasan untuk motornya. Untuk menjalankan tugas tersebut, sistem ini dilengkapi dengan pompa oli.Contoh lainnya adalah Sistem pelumasan CCI yang digunakan pada sepeda motor Su uki. CCI itu sendiri singkatan dari Crankshaft,Cylinder oil Injection yang artinya oli pelumas disuntikkan pada bagian poros engkol dan silinder.Cara kerja sistem CCI adalah sebagai berikut, oli pelumas ditempatkan pada tangki khusus dan biasanya
ˆ

ditempatkan disebelah bawah jok tempat duduk. Bila mesinnya kita hidupkan berarti pompa oli dapat beker ja dan mengalirlah oli pelumas yang ada pada tangki menuju pompa oli setelah masuk pada pompa oli kemudian disebar dengan bantuan gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh pompa oli tersebut, oli yang disebar ini disalurkan kemasing-masing pipa salurannya. Salah satu dari saluran oli pelumas dihubungkan pada lubang di atas bak engkol, di mana lubang tersebut tembus sampai ke bagian bantalan peluru yang menunjang poros engkol, oli pelumas yang masuk pada lubang ini akan diteruskan sampai ke bagian ujung besar ba tang piston guna melumasi bantalan-peluru yang ada pada ujung besar batang piston tersebut.Sedangkan saluran yang satu lagi dihubungkan dengan sebuah lubang yang ada dibagian atas bak engkol, kemudian lubang ini tembus pada lubang yang terdapat di dalam bl ok silinder, ujung dari saluran oli ini berakhir pada lubang masuk (inlet port).Oli pelumas yang ke luar dari tengah lubang masuk (inlet port) ini akan turut terbawa bersama campuran bensin dan udara ke dalam bak engkol berupa kabut, kabut oli ini akan digunakan untuk melumasi lubang silinder, bantalan peluru pada ujung kecil batang piston dan bantalanbantalan peluru penopang poros

engkol.Perjalanan oli pelumas yang tidak hanya sampai pada bagian bak engkol saja, akan tetapi terus turut terbawa bersama bahan bakar menujuproses pembakaran dan oli pelumas tersebut habis terbakar. Oleh sebab itu sistern pelumasan semacam ini, baik itu yang menggunakan sistem CCI, Autolub atau sistem campur langsung dengan bensin pada

tangki(vespa), kesemuanya itu dapat disebut menggunakan sistem TOTAL LOSS.Untuk melumasi perangkat kopling (clutch) atau gigi-gigi transmisi digunakan oli pelumas tersendiri, yang mana oli pelumas ini tidak boleh turut masuk atau terhisap pada bagian motor bakarnya.Agar oli pelumas ini tidak turut masuk pada bak engkol, maka padabagian poros engkolnya selalu dilengkapi dengan sekat oil (oil seal).

Sistem Pelumasan Sepeda Motor Empat Langkah

engkol. Minyak pelumas diisikan pada bak e ngkol. Dari bak engkol minyak pelumas dipercikan ke dinding silinder untuk melumasi dinding silinder motor.

‰

Sepeda motor

tak pelumasan hanya ada satau macam, yaitu dari bak

Ding oli yang dipasang pada piston bertugas meratakan dan membersihkan oli


pada dinding silinder tersebut. Oleh karena itu sepeda motor dengan ring oli.


tak dilengkapi

Oli untuk sepeda motor

langkah harus memenuhi semua persyaratan anya, ada beberapa hal yang harus
‘

standar seperti pada oli mesin mobil.

diperhatikan pada oli mesin sepeda motor. Volume pelumas pada mesin sepeda motor jauh lebih sedikit. Sepeda motor juga tidak memiliki sistem radiator seperti pada mobil. Artinya, oli pada sepeda motor bekerja pada kondisi yang lebih ekstrim (panas dan sirkulasi yang lebih cepat) dibandingkan dengan mesin mobil. Oleh karena itu, oli mesin sepeda motor harus memiliki ketahanan terhadap oksidasi yang lebih baik daripada oli mesin mobil.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->