P. 1
IAD_Perkembangan Pola Pikir Manusia

IAD_Perkembangan Pola Pikir Manusia

|Views: 13,051|Likes:
Published by Rhazes Avicenna
tanpa referensi
tanpa referensi

More info:

Published by: Rhazes Avicenna on May 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/29/2013

pdf

text

original

PROSES PERKEMBANGAN POLA PIKIR MANUSIA

K URIOSITAS M ANUSIA , M ITOS , LAHIRNYA I LMU P ENGETAHUAN , S IKAP I LMIAH , M ETODE I LMIAH , LANGKAH - LANGKAH I LMIAH

Penyusun : M. F. Rhazes Avicenna Bayu Asmoro Panji Amin

FAKULTAS AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH ILMU ALAMIAH DASAR 2009

Sistematika pembahasan
1. Pendahuluan a. Nilai penting b. kata kunci 2. Definisi judul a. Proses perkembangan, beda dengan pertumbuhan b. Pola pikir manusia, perbandingan dengan hewan c. Kesatuan makna: ruang lingkup pembahasan 3. Pembahasan a. Alasan awal lahirnya peradaban: Kuriositas b. Batu loncatan peradaban maju: Mitos c. Lahirnya Ilmu Pengetahuan d. Metode dan Langkah-langkah Ilmiah e. Sikap Ilmiah sebagai moral positif 4. Kesimpulan

1. PENDAHULUAN
A. NILAI PENTING PEMBAHASAN
Dalam alquran Surah an Nur ayat 55, dinyatakan bahwa orang yang beriman dan beramal sholeh akan dipilih sebagai khalifah:

(

)

dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalamal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, . . . dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa . . . Dan juga Surat Al Baqarah: 30 tentang penunjukan manusia sebagai khalifah fil ard

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. . . . Tidak hanya ayat dalam Al-qur an yang menyinggung kehebatan manusia membangun peradaban di muka bumi, namun juga di berbagai referensi agama, dan filsuf, mengakui hal tersebut. Manusia kerap menganggap dirinya sebagai spesies dominan di Bumi, dan yang paling maju dalam kepandaian dan kemampuannya mengelola alam lingkungan. Kepercayaan ini juga sangat kuat dalam kebudayaan barat, dan berasal dari bagian dalam cerita penciptaan di Alkitab yang mana Adam secara khusus diberikan kekuasaan atas Bumi dan semua makhluk sehingga saling berdampingan dengan anggapan manusia yang berkuasa. Kita sering menganggap ini agak berlebihan karena tetap ada berbagai kelemahan dan singkatnya umur manusia. Dalam Kitab Suci Yahudi, misalnya, kekuasaan manusia dijanjikan dalam Kejadian 1:28, tetapi pengarang kitab

Pengkhotbah meratapi kesia-siaan semua usaha manusia, tetapi tentu saja tidak merubah fakta
sejarah berkuasanya manusia. Ahli filsafat Yahudi, Pythagoras telah membuat pernyataan terkenal bahwa "Manusia adalah ukuran dari segalanya; apa yang benar, benarlah itu; apa yang tidak, tidaklah itu". Aristoteles mendeskripsikan manusia sebagai "Hewan Komunal", yaitu menekankan pembangunan masyarakat sebagai pusat pembawaan alam manusia. Secara umum, manusia memiliki sifat:
y y y

Dapat berfikir ( Homo Sapiens ), Manusia adalah makhluk cerdas dan bijaksana. Dapat membuat alat ( Homo Fiber ), Manusia bisa membuat alat & menggunakannya. Dapat Berbicara ( Homo Language ), Apa yang menjadi pemikiran dalam otaknya dapat disampaikan melalui bahasa kepada manusia lain.

y

Dapat hidup bermasyarakat ( Homo Socius ), Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa memerlukan selainnya.

y y

Dapat mengadakan usaha atas dasar perhitungan ekonomi ( Homo economicus ). Memiliki kepercayaan ( Homo Religius ). Dari sinilah keunggulan manusia yang sebegitu rupa pasti memiliki proses yang lama dan bertahap. Peradaban manusia yang memiliki sistem hukum dan pemerintahan mapan seperti sekarang dipelopori sejak ribuan tahun yang lalu. Berkembang oleh berbagai latar belakang pola pikir dan hasil pikir para ilmuan yang lahir di tiap masa. Sehingga pembahasan ini ditujukan untuk memuaskan rasa ingin tahu atau sebagai wawasan akan proses perkembangan pola pikir umat manusia pada umumnya. Dan pada akhirnya akan membentuk suatu sikap atas pemahaman akhir kita sehingga memiliki determinasi saat kita terjun di masyarakat kelak.

B. KATA KUNCI

Manusia, Kuriositas, Perkembangan, Mitos, Indera, Ilmu, Pengetahuan, Sikap, Ilmiah.

2. DEFINISI JUDUL
A. PROSES PERKEMBANGAN, BEDA DENGAN PERTUMBUHAN
Proses yang dimaksud disini adalah urutan kejadian yang terjadi hingga menghasilkan perubahan sifat di bawah pengaruhnya. Pertumbuhan selalu berhubungan erat dengan perkembangan. Yang di bahas disini adalah pengertian secara umum:

1. TUMBUH
Tumbuh bisa diukur oleh alat ukur atau bersifat kuantitatif. Perubahan ukuran dari kecil menjadi besar.

2. BERKEMBANG
Berkembang bersifat kualitatif. Bersifat tidak terukur, namun bisa di kenali. Berhubungan dengan kematangan, kedewasaan. Dalam makalah ini akan dibahas perubahan mendasar dari pola pikir manusia itu sendiri. Sedangkan proses, merujuk pada stimulus apa yang menjadikan pola pikir manusia semakin matang dan dewasa bila distandarkan pada masa sebelumnya, sehingga menghasilkan perbedaan di tiap masa.

B. POLA PIKIR MANUSIA, PERBANDINGAN DENGAN HEWAN
CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP:
a. Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otaknya b. Mengadakan metabolisme atau pertukaran zat, (ada yang masuk dan keluar) c. Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar d. Memiliki potensi untuk berkembang biak e. Tumbuh dan bergerak f. Berinteraksi dengan lingkungannnya

g. Sampai pada saatnya mengalami kematian

Diantara ciri-ciri tersebut, ciri khas dari umat manusia adalah yang pertama, sedangkan sisanya walaupun sama dimiliki oleh makhluk lainnya, tetapi tidak membuat manusia setara dengan makhluk lainnya. Apakah otak kita berbahan dasar khusus sehingga kita beradab? Bukan seperti itu yang dimaksud. Tetapi yang di maksud khusus adalah kemampuan otak manusia untuk berfikir mendalam . Contohnya sebatang pohon menunjukkan aktivitas pertumbuhan atau gerakan, namun gerakan itu hanya untuk mempertahankan kelestarian hidupnya yang bersifat tetap. Akar bergerak mencari sumber makanan dan air, daun bergerak menuju arah cahaya. Tentu saja kecenderungan itu berlangsung sepanjang zaman. Tidak berkembang. Binatang seperti ikan, burung, harimau dan binatang lain yang mempunyai tingkat eksplorasi yang lebih tinggi dari tumbuhan misalnya, mereka semua melakukan aktivitas. Namun tentu saja hanya terbatas bertujuan untuk mencari sumber makanan, menghindari sumber bahaya atau untuk melestarikan kehidupannya. Hal semacam itu bisa dikategorikan kepada pengetahuan, namun sekedar pengetahuan yang tidak akan bisa berkembang. Dengan kata lain tidak berubah dari masa ke masa. Hal seperti itu oleh Asimov (1972) disebut dengan instink atau idle curiousity. Kemampuan ini hanya bekerja untuk tiga hal, mencari makan, melindungi diri, dan berkembang biak. Berbeda dengan umat manusia yang tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi di kelola, dicari persamaan dan perbedaan antara yang umum dan khusus, membentuk suatu hal baru sama sekali, kesimpulannya berkembang di tiap masanya. Bahkan setelah ditemukannya metode ilmiah, manusia mampu mengolah dari yang sekedar pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan.

C. KESATUAN MAKNA: RUANG LINGKUP PEMBAHASAN
Pada prinsipnya, kita akan membahas tahapan perubahan pada tataran kualitas cara berfikir umat manusia mulai peradaban awal sampai hari ini. Jalan-jalan apa sajakah yang pernah ditempuh manusia seiring

perkembangan jamannya untuk memuaskan alam pikirannya akan ketidaktahuan pada hal fisik (fenomena alam, materi penyusun dunia, flora fauna, langit dan bumi, luar angkasa, bahkan dirinya sendiri )?

3. PEMBAHASAN
A. TITIK AWAL LAHIRNYA PERADABAN: KURIOSITAS
Pada dasarnya manusia yang tidak mengetahui penjelasan akan suatu fenomena atau gejolak baru akan merasakan ketidaknyamanan, bahkan ketakutan. Sehingga menjadi alamiah bila manusia ingin menghilangkan ketakutan tersebut. Dengan jalan apa sehingga pikiran manusia dapat terhindar dari ketidakpuasan tersebut? Dengan jalan memuaskan diri mencari penjelasan dari berbagai data-data materi yang sudah terkumpul selama hidupnya tersimpan di ingatannya. Dari data-data materi tersebut diolah oleh pikiran menjadi ide-ide. Sehingga ide atau pandangan inilah yang mengamankan kegelisahan pikiran manusia dari ketidaktahuan. Setelah menjawab pertanyaan apa? Akan dilanjutkan oleh pertanyaan mengapa? Dan Bagaimana? Dan seterusnya sampai kepuasan akan pengetahuannya mencapai titik klimaks. Pengetahuan titik awal dari ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan melahirkan teknologi, teknologi melahirkan peradaban.

B. BATU LONCATAN PERADABAN MAJU: MITOS
Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang tokohnya para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sejenisnya. Berikut ini dibahas mengenai asal mula mitos. Pada awalnya manusia yang mempunyai rasa ingin tahu terhadap rahasia fenomena alam mencoba menjawab dengan menggunakan akumulasi data-data materi di ingatannya hingga merumuskan sendiri ide-idenya. Untuk memuaskan dirinya, para manusia kuno yang pada zaman dahulu mempercayai mitos. Salah satunya disebabkan oleh

keterbatasan indera manusia, seperti:

1. Penglihatan, terutama terhadap cepat atau lambatnya benda bergerak (riak air atau kecepatan cahaya, atau penglihatan kita sewaktu naik kereta api yang disampingnya terdapat pohon) 2. Pendengaran, manusia mempunyai kemampuan pendengaran dengan kisaran frekuensinya range 30 - 30.000 Hertz 3. Pengecapan dan pembauan, manusia selain mempunyai kemampuan tersebut juga mempunyai keterbatasan pembauan dan pengecapan terhadap benda yang spesifik. 4. Indra kulit, manusia mampu membedakan antara panas dan dingin secara kasar, namun manusia mempunyai keterbatasan sehingga penginderaan sering menimbulkan salah kesan dan informasi, seperti perpindahan seseorang dari ruang panas ke dingin dibanding dengan orang yang berada diruangan yang tidak begitu panas. Aka ada perbedaan tipis yang tidak terdeteksi. Hal ini berpotensi menimbulkan salah tafsir informasi dan kesesatan berfikir. Usahausaha yang telah dilakukan manusia adalah dengan menciptakan alat bantu dalam mengamati fenomena alam ini. Sekalipun itu terbatas, namun tetap saja manusia tak akan berhenti hingga mereka telah menduduki puncak kepuasan. Sejalan dengan kemajuan zaman, dengan ditemukannya berbagai alat bantu untuk mengungkap fenomena alam itu, maka manusia sedikit demi sedikit beranjak untuk mempotensikan lebih jauh akal mereka. Jika kita hubungkan antara mitos yang ditafsirkan manusia, hal itu diperoleh karena keterbatasan pengalaman dan penalaran, sehingga apa saja yang tidak dapat mereka temukan jawabannya, itu adalah hal yang diluar kuasa mereka. Yaitu apa saja yang dikuasai oleh kekuatan ghaib di luar daya mereka. Contohnya fenomena pelangi, manusia pada mulanya mengangap pelangi adalah selendang bidadari. Fenomena gunung meletus dipercaya sebagai kemarahan penunggu gunung tersebut. Walaupun tidak ilmiah, tetapi hal ini melahirkan hikmah pengetahuan baru tentang keindahan dan kekuasaan yang sebelumnya belum ada dalam pikiran manusia. Sehingga mitos merupakan batu loncatan pengetahuan manusia untuk masuk ke fase pola pikir yang berikutnya. Perkembangan pola pikir yang sedemikian pesat hari ini dimulai dari mitos-mitos manusia kuno pendahulu kita.

Jadi, mitos sempat terpakai oleh manusia kuno pada waktu itu karena: ‡ Keterbatasan pengetahuan akibat keterbatasan kemampuan indera maupun alat bantunya. ‡ Keterbatasan lingkup pengalaman manusia pada masa itu. ‡Hasrat ingin tahu sudah terpenuhi.

Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman Babilonia yaitu kira-kira 700600 SM. Orang Babilonia berpendapat bahwa alam semesta itu sebagai ruangan setengah bola dengan bumi yang datar sebagai lantainya dan langit dan bintang-bintang sebagai atapnya. Namun yang menakjubkan mereka telah mengenal bidang ekleptika sebagai bidang edar matahari dan menetapkan perhitungan satu tahun yaitu satu kali matahari beredar

ketempat semula, yaitu 365,25 hari. Pengetahuan dan ajaran tentang orang Babilonia setengahnya merupakan dugaan, imajinasi, kepercayaan atau mitos pengetahuan semacam ini disebut Pseudo science (sains palsu)Tokohtokoh Yunani dan lainnya yang memberikan sumbangan perubahan pemikiran pada waktu itu adalah : Anaximander, langit yang kita lihat adalah setengah saja, langit dan isinya beredar mengelilingi bumi ia juga mengajarkan membuat jam dengan tongkat. Anaximenes, (560-520) mengatakan unsur-unsur pembentukan semua benda adalah air, seperti pendapat Thales. Air merupakan salah satu bentuk benda bila merenggang menjadi api dan bila memadat menjadi tanah. Herakleitos, (560-470) pengkoreksi pendapat Anaximenes, justru apilah yang menyebabkan transmutasi, tanpa ada api benda-benda akan seperti apa adanya. Pythagoras (500 SM) mengatakan unsur semua benda adalah empat : yaitu tanah, api, udara dan air. Ia juga mengungkapkan dalil Pythagoras C2 = A2 + B2, sehubungan dengan alam semesta ia mengatakan bahwa bumi adalah bulat dan seolah-olah benda lain mengitari bumi termasuk matahari. Demokritos (460-370) bila benda dibagi terus, maka pada suatu saat akan sampai pada bagian terkecil yang disebut Atomos atau atom, istilah atom tetap dipakai sampai saat ini namun ada perubahan konsep. Empedokles (480-430 SM) menyempurnakan pendapat Pythagoras, ia memperkenalkan tentang tenaga penyekat atau daya tarik-menarik dan

data tolak-menolak. Kedua tenaga ini dapat mempersatukan atau memisahkan unsur-unsur. Plato (427-345) yang mempunyai pemikiran yang berbeda dengan orang sebelumnya, ia mengatakan bahwa keanekaragaman yang tampak ini sebenarnya hanya suatu duplikat saja dari semua yang kekal dan immatrial. Seperti serangga yang beranekaragam itu merupakan duplikat yang tidak sempurna, yang benar adalah idea serangga. Aristoteles (348-322 SM) merupakan ahli pikir, ia membuat intisari dari ajaran orang sebelumnya ia membuang ajaran yang tidak masuk akal dan memasukkan pendapatnya sendiri. Ia mengajarkan unsur dasar alam yang disebut Hule. Zat ini tergantung kondisi sehingga dapat berwujud tanah, air, udara atau api. Terjadi transmutasi disebabkan oleh kondisi, dingin, lembah, panas dan kering. Dalam kondisi lembab hule akan berwujud sebagai api, sedang dalam kondisi kering ia berwujud tanah. Ia juga mengajarkan bahwa tidak ada ruang yang hampa, jika ruang itu tidak terisi suatu benda maka ruang itu diisi oleh ether. Aristoteles juga mengajarkan tentang klasifikasi hewan yang ada dimuka bumi ini. Ptolomeus (127-151) SM, mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya (geosentris), berbentuk bulat diam seimbang tanpa tiang penyangga. Menurut august comte (1798-1857) M, dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, baik sebagai individu maupun keseluruhan,

berlangsung dalam tiga tahap: 1. Tahap teologi/fiktif, dalam tahap ini manusia berusaha untuk mencari dan menemukan sebab yang pertama dan tujuan akhir dari segala sesuatu. Tentu saja semua itu dihubungkan kepada kekuatan ghaib diluar kemampuan mereka sendiri. Mereka meyakini adanya kekuatan yang maha hebat yang menguasai semua fenomena alam entah itu dewa atau kekuatan ghaib lainya. 2. Tahap filsafat/fisik/abstrak, tahap ini hampir sama dengan tahap sebelumnya. Hanya saja mereka mendasarkan semua itu pada kemampuan

akalnya sendiri, akal yang mampu untuk melakukan abstraksi untuk menemukan hakikat sesuatu. 3. Tahap positif/ilmiah riil, merupakan tahap di mana manusia mampu untuk melakukan aktivitas berfikir secara positif atau riil. Kemampuan ini didapatkan melalui uasaha pengamatan, percobaan, dan juga

perbandingan.

C. LAHIRNYA ILMU PENGETAHUAN
Dari mana asal usul ilmu pengetahuan? Awal mulanya evolusi pengetahuan didorong oleh 2 faktor: pertama untuk memuaskan diri, yang bersifat non praktis atau teoritis guna memenuhi kuriositas dan memahami hakekat alam dan isinya (fenomena alam). Kedua, dorongan praktis yang memanfaatkan pengetahuan itu untuk menyelesaikan masalah keterbatasan sumber daya alam dan persaingan. Faktor pertama melahirkan Ilmu Pengetahuan Murni (Pure Science) sedang faktor kedua melahirkan Ilmu Pengetahuan Terapan (Aplied Science). Pengalaman dapat diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Berlangsungnya perkembangan pengetahuan tersebut lebih mendapatkan momentumnya karena ditunjang akan kemampuan bertukar informasi dengan melakukan aktivitas komunikasi dengan sesama. Dorongan seperti apakah yang melahirkan Ilmu Pengetahuan Murni (Pure Science) ? Panca indera akan memberikan tanggapan terhadap semua stimulus (fenomena alam), dimana tanggapan itu menjadi suatu pengalaman (sensasi). Pengalaman yang diperoleh terakumulasi oleh karena adanya kuriositas manusia. Karena manusia berkemampuan mengembangkan

pengetahuannya. Dengan kemampuan inilah manusia dapat mendayagunakan pengetahuannya yang terdahulu dan kemudian menggabungkan dengan pengetahuannya yang diperoleh sekarang hingga menghasilkan pengetahuan yang baru. Pengalaman baru tersebut merupakan salah satu bentuk pengetahuan, yakni berupa kumpulan fakta-fakta. Pada titik klimaksnya, manusia akan membuat dugaan-dugaan hingga mampu berteori. Fenomena petir dapat dijelaskan dengan teori fisika, fenomena bernafas dapat dijelaskan dengan teori biologi, fenomena energi dapat dijelaskan dengan teori kimia, dst.

Lantas dorongan yang bagaimanakah yang melahirkan Ilmu Pengetahuan Terapan (Aplied Science)? Faktanya, kurositas manusia tidak terbatas pada sekedar fenomena alam, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dan keinginan. Manusia memiliki kebutuhan dan keinginan yang tak terbatas bila dibandingkan dengan sumber daya alam yang ada. Sumber daya alam yang terbatas ini akan diperebutkan oleh berbagai peradaban yang menjamur di muka bumi ini hingga melahirkan persaingan. Persaingan dalam mencari dan mengelola sumber daya yang terbatas itulah sebuah masalah utama untuk bertahan hidup atau lebih jauh lagi menguasai peradaban lainnya (dominate). Sejarah membuktikan bahwa peradaban yang kalah dalam persaingan adalah yang tidak menguasai ilmu pengetahuan atau tidak cukup daya upaya untuk mengimplementasikannya dalam pembangunan. Sebaliknya, peradaban yang menang yang dapat bertahan sampai sekarang bahkan mendominasi peradaban yang selainnya adalah peradaban dengan kebudayaan ilmu pengetahuan yang maju. Masalah pangan diselesaikan dengan ilmu biologi terapan, masalah pertambangan diselesaikan dengan ilmu kimia terapan, masalah pelayaran diselesaikan dengan ilmu fisika terapan. Setelah menyelesaikan masalah lama, timbul masalah baru menunggu untuk dipecahkan dengan ilmu terapan baru. Pada prinsipnya, Pengetahuan (knowledge) masuk kategori Ilmu Pengetahuan (Science knowledge), bila kriteria berikut dipenuhi yakni :  sistematis  berobyek  Bermetode  berlaku secara universal

D. METODE DAN LANGKAH-LANGKAH ILMIAH
Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses yang dinamakan metode ilmiah. Ada berbagai variasi metode ilmiah yang telah di temukan oleh filsuf pada masa sebelumnya yang masih valid di pakai hingga sekarang. Beberapa metode yang bermunculan sesuai dengan bidang keilmuannya diantaranya phytagoras mengembangkan metode perhitungan matematika, democritus dengan mengajukan konsep mekanisme. Dan metode ilmiah akhirnya

menjadi sebuah tahapan yang bervariasi sesuai dengan disiplin ilmu yang dihadapi. Metode tersebut umum digunakan untuk meneliti fenomena yang muncul pada suatu obyek yang dikaji. Namun pada prinsipnya seperti berikut: 1. Penginderaan, merupakan suatu aktivitas melihat, mendengar, merasakan, mengecap terhadap suatu objek tertentu. Dengan kata lain mengenali masalah atau keadaan yang tidak menentu. 2. Problema, menemukan masalah dengan mengemukakan pertanyaan apa dan bagaimana bisa juga di artikan mengklasifikasi keadaan tak menentu sebagai satu masalah dengan menggunakan definisi sederhana. 3. Hipotesis, Menformulasi solusi yang mungkin dilakukan. 4. Eksperimen, mengumpulkan keterangan-keterangan dan informasi, baik secara teori maupun data-data fakta terkait. 5. Teori, Memverifikasi dan memformulasikan sebagai sesuatu yang penting dilakukan untuk menerima atau menolak hipotesis dan atau penyelesaian masalah tersebut. {contoh fenomena hujan . . .} Dengan metode tersebut, peradaban manusia mulai mendapat pencerahan. Dengan ditemukannya metode ilmiah ini, manusia mulai meninggalkan mitos karena dianggap keliru sehingga tidak memuaskan lagi. Tahu yang memuaskan manusia adalah tahu yang benar. Tahu yang tidak benar disebut keliru atau sesat. Jika suatu pengetahuan yang terdahulu mengalami kekeliruan maka seyogyanya akan di evaluasi suatu kebenaran sesudahnya. Kekeliruan tentunya akan memberikan dampak yang negatif bagi manusia sehingga mereka meninggalkan suatu kekeliruan. Segera setelah metode ilmiah di temukan di bidangnya masing-masing, maka metode ilmiah tersebut akan segera menggantikan mitos-mitos di bidang terkait.

Metode ilmiah seperti apapun juga tetap terbatas, memiliki jangkauan hingga ada tempat dimana ia tidak berlaku lagi. Maksudnya sebagai berikut: 1. Hipotesa tentang keberadaan tuhan merupakan konsep yang tidak bisa menggunakan metode ilmiah dan apabila menggunakan konsep ini bisa menyebabkan orang Atheis atau Agnotis. 2. Tujuan metode ilmiah, untuk membentuk dan menggunakan teori. Ia hanya dapat mengemukakan bukti kebenaran sementara. Dengan kata lain untuk kebenaran sementara adalah "Teori". Karena tidak ada sesuatu Ilmu pengetahuan yang mutlak tetapi terus mengalami perubahan (contoh teori bentuk bumi).

3. Ilmu pengetahuan yang dihasilkan bersifat bebas nilai, tidak menentukan moral atau nilai suatu keputusan. Manusia pemakai ilmu pengetahuanlah yang menilai apakah hasil ilmu tersebut baik atau sebaliknya. Contoh penemuan mesiu atau bom atom.

E. SIKAP ILMIAH SEBAGAI MORAL POSITIF
Sebuah buku prosedur berkebun menyebutkan agar si tukang kebun memiliki sikap keberanian terhadap hal kotor, karena akan berhadapan dengan bermacam tanah, lumpur, dan pupuk. Memiliki ketelatenan karena merawat tanaman membutuhkan waktu yang lama. Memiliki ketilitian dalam memilah-milih agar tidak salah takaran atau memilih kecocokan pupuk. Berfisik mumpuni karena berkebun bukan pekerjaan yang ringan. Walaupun pada akhirnya tidak ada manusia yang sempurna, namun manusia dapat menuju kearah kesempurnaan. Bila salah satu sikap dalam buku berkebun tersebut tidak dipenuhi, maka dampaknya bisa diperkirakan. Hasil dari berkebun yang dilakukan tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan. Semakin banyak sikap penting yang ditanggalkan, semakin jauh dari kesempurnaan hasil yang diharapkan. Kira-kira seperti itulah analogi nilai penting sebuah sikap dalam mendayagunakan sebuah alat. Metode ilmiah yang dibahas sebelumnya tidak lain hanya sekedar alat untuk mencapai kebenaran yang memuaskan. Alat tersebut akan berfungsi maksimal bila yang orang yang menggunakan memiliki kompetensi sikap untuk menggunakan. Alat tersebut tidak akan berfungsi sama sekali bila tidak digunakan dengan sikap yang dibutuhkan, tidak mungkin alat tersebut akan menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan tujuan diciptakannya alat tersebut. Sikap selalu berkaitan dengan suatu obyek dan sikap terhadap obyek ini disertai dengan perasaan positif atau negatif. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu kesiapan yang senantiasa cenderung untuk berprilaku atau bereaksi dengan cara tertentu bilamana diperhadapkan dengan suatu masalah atau obyek. Menurut Baharuddin (1982:34) mengemukakan bahwa : Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan . Pada hakikatnya seseorang yang menggunakan metode ilmiah dalam meneliti sebuah fenomena atau masalah disebut ilmuan (Scientist). Ilmuan menggunakan sikap-sikap tertentu (Scientific attitudes) dalam mendayagunakan alat bernama metode ilmiah supaya hasil yang ada sesuai harapan. Sikap ilmiah yang dimaksud adalah sikap moral positif yang dapat mengaktualkan nilai positif terhadap proses saat menggunakannya, maupun hasil yang nantinya diperoleh.

Ada banyak versi dalam menjabarkan sikap ilmiah sebagai moral positif tersebut. Versi luar negeri dan versi dalam negeri. Yang kami punya kebetulan versi dalam negeri, berikut beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) antara lain :

1. Sikap ingin tahu : Apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya, maka akan beruasaha mengetahuinya, senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa, kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah, memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen. 2. Sikap kritis : Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti bukti pada waktu menarik kesimpulan, tidak merasa

paling benar yang harus diikuti oleh orang lain, bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat. 3. Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan unsur pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri, dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek. 4. Sikap ingin menemukan : Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru, kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif, selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya. 5. Sikap menghargai karya orang lain : Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain. 6. Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan tidak akan berhenti melakukan kegiatan kegiatan apabila belum

selesai terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya, berusaha bekerja dengan teliti. 7. Sikap terbuka : Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya, terbuka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya.

5. KESIMPULAN
Hikmah yang dapat diambil disini, bila dihubungkan dengan nilai penting yang dibahas di bagian sebelumnya menurut pemahaman kami. Bahwa yang dimaksud oleh Allah SWT mengerjakan amal-amal sholeh disini bisa dimaknai sebagai menegakkan sikap-sikap ilmiah sebagai moralitas positif dalam mencapai perintah khalifah fil ard. Mana mungkin bisa menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi, bila tidak menguasai ilmu pengetahuan untuk menundukkan alam semesta supaya dapat dikelola dan diambil manfaatnya. Mana mungkin menguasai ilmu pengetahuan, bila masih percaya mitos. Mana mungkin menguasai ilmu pengetahuan, bila masih menganggap metode ilmiah sebagai racun umat. Mana mungkin menguasai ilmu pengetahuan bila masih bersikap tertutup, acuh tak acuh, malas, subyektif, pasrah, ikut-ikutan berlawanan dengan sikap-sikap ilmiah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->