P. 1
GELOMBANG MIKRO

GELOMBANG MIKRO

4.79

|Views: 17,081|Likes:
Published by ibutsmart
gelombang mikro, tanya jawab tentang gelombang mikro UNIVERSITAS 17 AGUSTUS JAKARTA
gelombang mikro, tanya jawab tentang gelombang mikro UNIVERSITAS 17 AGUSTUS JAKARTA

More info:

Published by: ibutsmart on May 27, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2013

pdf

text

original

Sections

•Apa yang anda ketahui tentang hubungan tegangan dengan arus serta implementasinya dalam pembentukan rangkaian ?
Jawab : Persamaan-persamaan umum yang menghubungkan tegangan dan arus pada saluran transmisi memperhitungkan juga fakta bahwa
keempat parameter saluran transmisi tersebar merata disepanjang saluran. Persamaan umum yang dipakai menggunakan parameter yang
disatukan (lumped) yang menghasilkan ketelitian yang cukup tinggi untuk saluran pendek, saluran menengah. Jika saluran atas tiang
dimasukan ke dalam kelas saluran pendek, kapasitansi paralel (shunt) adalah demikian kecilnya sehingga seluruhnya dapat diabaikan, dan
hanya memperhitungkan nilai R seri dan L seri untuk seluruh panjang saluran.
Generator yang digambarkan sebagai suatu impedansi yang dihubungkan seri dengan emf yang dibangkitkan pada masing-masing fasanya.
Saluran menengah (medium length) dapat dipresentaikan dengan R dan L sebagai parameter terpusat dengan setengah kapasitansi ke netral
dari saluran terpusat pada masing-masing ujung rangkaian ekivalen. Konduktansi paralel (shunt conductance) G, biasanya diabaikan dalam
perhitungan tegangan dan arus pada saluran transmisi daya atas tiang.
Sehubungan dengan perlu atau tidaknya penanganan kapasitansi, Saluran kawat terbuka 60 Hz yang kurang dari 80 km (50 mil) adalah
termasuk saluran pendek. Saluran menengah anatara 80 km (50 mil) dan 240 km (150 mil). Saluran yang lebih panjang dari 240 km (150 mil)
memerlukan perhitungan yang menggunakan konstanta tersebar (distribured).
Biasanya saluran transmisi dioperasikan dengan beban tiga fasa seimbang. Meskipun saluran tidak dipisahkan dengan jarak yang sama dan
tidak ditransposisikan, ketidaksimetrisan yang dihasilkan biasanya kecil saja, sehingga fasanya dapat dianggap seimbang.
Untuk membedakan antara impedansi seri keseluruhan saluran dengan impedansi per satuan panjang dipakai tatanama berikut ini:
z = impedansi seri per satuan panjang per fasa
y = admitansi paralel / satuan pajang / fasa ke netral
l = panjang saluran
Z = zl = impedasi seri total per fasa
Y = yl = admitansi paralel total per fasa

Ibut suryanto
NIM : 0470020026
Teknik Elektro Untag Jakarta

1. Saluran Transmisi Pendek

Rangkaian ekivalen suatu saluran transmisi pendek, dimana Is dan IR merupakan arus pada ujung pengirim dan ujung penerima.
Rangkaian itu dapat diselesaikan dengan rangkaian ac seri yang sederhana. Karena tidak terdapat cabang paralel (shunt), arus pada ujung
pengirim dan penerima akan sama besarnya, sehingga

R

s

I

I =

(4.1)

tegangan pada ujung pengirim adalah

Z

I

V

V

R

R

s

.

+

=

(4.2)

dimana Z adalah zl, yaitu impedansi seri keselurhan saluran.
Pengaruh perobahan faktor daya dari beban terhadap regulasi tegangan (voltage regulation) saluran adalah paling mudah dimengerti untuk
saluran pendek. Regulasi tegangan pada saluran transmisi adalah kenaikan tegangan pada ujung penerima yang dinyatakan dalam
persentase tegangan beban penuh jika beban penuh dengan faktor daya tertentu dilepaskan sedangkan tegangan pada ujung pengirim
dibuat

tetap.

Dalam

bentuk

persamaan

100

,

,

,

×

=

FL

R

FL

R

NL

R

VV

V

reglasi

Persen

(4.3)

Dimana

NL

R

V,

adalah besarnya tegangan pada ujung penerima dalam keadaan tanpa beban dan

FL

R

V,

adalah besarnya tegangan pada

ujung penerima dengan beban penuh dan s

V konstan.

2. Saluran Transmisi menengah

Admitansi shunt yang biasanya merupakan kapasitansi murni, dimasukan dalam perhitungan untuk saluran jarak menengah. Jika keseluruhan
admitansi shunt saluran dibagi dua sama besar dan ditempatkan pada masing-masing ujung pengirim dan ujung penerima rangkaian yang
terbentuk dinamakan dengan nominal phi. Sehingga tegangan dan arus pada ujung pengirim adalalah;

R

R

s

I

Z

V

ZY

V

.

1

2

+



+

=

(4.4)

R

R

s

I

ZY

ZY

Y

V

I



+

+



+

=

1

2

4

1

(4.5)

sedangkan persamaan ini dapat juga diturunkan menjadi persamaan pada nomial T, dimana seluruh admitansi shunt saluran terpusat pada
cabang shunt T dan impedansi serinya terbagi dua sama besar pada kedua cabang serinya. Sehingga tegangan dan arus pada ujung pengirim
adalah:

Ibut suryanto
NIM : 0470020026
Teknik Elektro Untag Jakarta

R

R

s

I

Y

Z

Z

V

ZY

V



+

+



+

=

4

2

1

2

(4.6)

R

s

I

ZY

YVR

I



+

+

=

2

1

(4.7)

3. Saluran Panjang

Saluran panjang dapat diselesaikan dengan beberapa persamaan diantaranya;

a.Persamaan Diferensial

Untuk penyelesaian yang teliti dari setiap saluran transmisi dengan frekuensi 60 Hz yang panjangnya kira-kira 150 mil, diperlukan ketelitian
yang tinggi dengan memperhitungkan parameter yang tidak terpusat menjadi satu, melainkan tersebar merata diseluruh panjang saluran.

Gambar 4.1 Diagram Saluran Transmisi

Gambar 4.1 memperlihatkan satu fasa dan hubungan netral saluran tiga fasa. Disini tidak terlihat parameter terpusat, karena memang kita
sudah siap untuk membahas penyelesaian saluran dengan impedansi dan admitansi yang tersebar secara merata dan seragam (uniformly
distributed)
. Diagram yang sama jugsa mempresentasikan saluran fasa-tunggal, jika impedansi seri saluran itu adalah impedansi seri
keseluruhan (loop series impedance) dari saluran fasa tunggal teersebut dan bukannya seri per fasa untuk saluran tiga fasa, sedangkan
admitansi shunt adalah admitansi shunt antar saluran untuk saluran fasa tunggal itu dan bukannya amitansi shunt ke netral pada saluran tiga
fasa.
Dalam gambar 4.1 kita akan meninjau suatu unsure yang sangat kecil dalam saluran dan kita hitung beda tegangan dan beda arus diantara
kedua ujung unsur tersebut. Kita misalkan x adalah jarak yang diukur dari ujung penerima saluran ke unsur kecil saluran itu, sedangkan x

panjang unsur itu. Maka

x

z∆adalah impedansi seri sepanjang unsur saluran itu, dan

x

y∆ adalah amitansi shunt. Tegangan terhadap netral
pada ujung unsur pada sisi beban adalah V, dan V aadalah rumus kompleks tegangan rms, yang besar dan fasanya berubah dengan jarak
sepanjang saluran. Tegangan pada ujung unsur pada sisi generator adalah

V

V
+

. Kenaikan tegangan di sepanjang saluran u8nsur saluran

dengan arah x yang meningkat adalah V

∆, yang merupakan tegangan pada sisi generator dikurangi dengan tegangan pada sisi beban.
Kenaikan tegangan pada arah x yang meningkat adalah juga merupakan hasil kali arus dalam unsure yang mengalir berlawanan dengan arah

Ibut suryanto
NIM : 0470020026
Teknik Elektro Untag Jakarta

x yang menigkat adalah juga merupakan hasil kali arus dalam unsur yang mengalir berlawanan dengan arah x yang meningkat dan
impedansu unsur, atau

x
Iz
∆, sehingga

x

Iz
V

=

4.8)

atau

Iz

xV

=

(4.9)

dan untuk

,
0

x

limit perbandingan di atas menjadi

Iz

dx

dV

=

(4.10)

demikian juga, arus yang mengalir ke luar dari unsur menuju beban adalah I. Besar dan fasa I ini berubah dengan jarak sepanjang saluran
karena admitansi shunt yang tersebat di sepanjang saluran itu. Arus yang mengalir menuju unsur dari arah generator adalah

I
I

+. Arus
yang memasuki unsur dari arah generator adalah lebih besar dari pada arus yang meninggalkan unsur ke arah beban, dan selisih besarnya
arus tersebut adalah I

∆. Selisih arus ini adalah arus

x

Vy∆ yang mengalir di dalam admitansi shunt unsur, maka

x

Vy
I

=

dan dengan mengikuti langkah-langkah seperti pada persamaan (4.8) dan (4.9) kita dapatkan

Vy

dxdI

=

(4.11)

dengan mendeferensiasikan persamaan (4.10) dan (4.11) kita peroleh

dx

dI

z

dxV

d

=

2

2

(4.12)

dan

dx

dV

y

dxI

d

=

2

2

(4.13)

Jika kita masukan nilai

dx
dI
/ dan

dx

dV/dari persamaan (4.10) dan (4.11) barturut-turut ke dalam persamaan (4.12) dan (4.13), kita

dapatkan

Ibut suryanto
NIM : 0470020026
Teknik Elektro Untag Jakarta

yzV

dxV

d

=

2

2

(4.14)

dan

yzI

dxI

d

2

2

(4.15)

Sekarang kita mempunyai suatu persamaan (4.14) dimana variable-variabelnya hanyalah V dan x, dan suatu persamaan lain (4.15) yang
variabelnya adalah I dan x. Penyelesaian persamaan (4.14) dan (4.15) berturut-turut V dan I harus merupakan rumusan yang bila
dideferensiasikan dua kali terhadap x yang menghasilkan rumusan aslinya dengan konstanta yz. Misalnya, penyelesaian untuk V bila
dideferensiasikan dua kali terhadap x harus menghasilkan yzV. Ini berarti bahwa penyelesaiannya akan berbentuk eksponensial. Karena itu
kita misalkan bahwA penyelesaian persamaan (4.14) adalah

(

)

(

)

x

yz

eksp

A

x

yz

eksp

A

V

.

.

2

1

+

=

(4.16)

dengan dua kali mendiferensiasikan persamaan (4.16) terhadap x

(

)

(

)

[

]

x

yz

eksp

A

x

yz

eksp

A

yz

dxV

d

.

.

2

1

2

2

+

=

(4.17)

Oleh karena itu, persamaan (4.16) adalah penyelesaian dari persamaan (4.14). Jika kita masukan nilai V yang diberikan persamaan (4.16) ke
dalam persamaan (4.10), kita dapatkan

( )

(

)

x

yz

eksp

A

y

z

x

yz

eksp

A

y

z

I

.

/1

.

/1

2

1

=

(4.18)

Konstanta 1

Adan 2

A dapat dihitung dengan menggunakan keadaan pada ujung penerima saluran, yaitu jika

R

V

V
x
=
=,
0

dan

R

I
I
=.

Dengan mensubsitusikan nilai-nilai ini dalam persamaan (4.16) dan (4.18) diperoleh

2

1

A

A

VR

+

=

dan

(

)

2

1

/1

A

A

y

z

IR

=

Penggantian

y

z

Zc

/

=

dan penyelesaian 1

Amemberikan

2

1

c

R

R

Z

I

V
A
+
=

dan

2

2

Zc

I

V

A

R

R

=

Kemudian, dengan memasukan nilai-nilai yang telah diperoleh untuk 1

Adan 2

Ake dalam persamaan (4.16) dan (4.18) dan memisalkan

Ibut suryanto
NIM : 0470020026
Teknik Elektro Untag Jakarta

yz

=

γ

, kita dapatkan

x

R

R

x

R

R

Zc

I

V

Zc

I

V

V

γ

γ

ε

ε

+

+

=

2

2.

(4.19)

x

R

R

x

R

R

Zc

I

V

I

Zc

V

I

γ

γ

ε

ε

+

=

2

2

/

(4.20)

dimana

y

z

Zc

/

=

yang disebut impedansi karakteristik saluran, dan

yz

=

γ

yang disebut konstanta rambatan (propagation constant).

Persamaan (4.19) dan (4.20) memberikan nilai-nilai rms dari V dan I dengan sudut-sudut fasanya pada setiap titik di sepanjang saluran
sebagai fungsi jarak x dari ujung penerima ke titik tersebut, asal saja

R

RI

V,

dan parameter saluran diketahui.

b.

Interpretasi Persamaan Saluran Transmisi Panjang

Baik γ maupun c

Z kedua-duanya merupakan besarana kompleks. Bagian nyata konstanta rambatan γ disebut konstanta redaman
(attenuation constant)
α dan diukur dalam neper per satuan Panjang. Bagian khayal dari γdinamakan konstanta fasa (phase constant) β
dan diukur dalam radian per satuan Panjang, maka;

β

α

γ

j

+

=

(4.21)
dan persamaan (4.19) dan (4.20) menjadi

x

j

x

c

R

R

x

j

x

c

R

R

Z

I

V

Z

I

V

V

β

α

β

α

ε

ε

ε

ε

+

+

=

2

(4.22)

x

j

x

R

c

R

x

j

x

R

c

R

I

Z

V

I

Z

V

I

β

α

β

α

ε

ε

ε

ε

+

=

2

/

2

/

(4.23)

Sifat-sifat dari xα

ε dan

x
j
β

εmembantu kita menjelaskan perubahan fasor tegangan dan arus sebagai fungsi dari jarak di sepanjang saluran.

Suku xα

ε berubah-rubah besarnya jika x berubah, tetapi suku

x
j
β

ε, yang identik dengan

x

j
x
β
βsin

cos +

, besarnya selalu sama dengan 1

dan memyebabkan pergeseran fasa sebesar βrad per satuan Panjang saluran.

Suku pertama dalam persamaan (4.22), (

)

[

]

x

j

x

c

R

R

Z

I

V

β

α

ε

ε

2

/

+

, bertambah besarnya dengan maju fasanya seiring dengan jarak dari ujung
penerima. Sebaliknya jika ditinjau gerakan disepanjang saluran dari ujung pengirim kearah ujung penerima, suku itu akan berkurang besarnya
dan diperlambat fasanya. Ini adalah karakteristik suatu gelombang berjalan (traveling wave) dan sama dengan prilaku suatu gelombang
dalam air, yang berubah besarnya dengan waktu di setiap titik, sedangkan fasanya diperlambat dan nilai maksimumnya menyusut dengan

Ibut suryanto
NIM : 0470020026
Teknik Elektro Untag Jakarta

jarak dari titik asalnya. Perubahan pada nilai sesaat tidak dinyatakan dalam suku tersebut, tetapi telah dapat mengerti karena R

V dan R

I

adalah fasor. Suku pertama dalam persamaan (4.22) disebut tegangan datang (incident voltage).

Suku kedua persamaan (4.22), (

)

[

]

x

j

x

c
RZ

I

VR

β

α

ε
ε −

2

/

, berkurang besarnya dan mundur fasanya dari ujung penerima menuju ujung
pengirim. Suku ini dinamakan tegangan pantul (reflected voltage). Pada setiap titik di sepanjang saluran, tegangannya adalah jumlah
komponen tegangan dating dan tegangan pantul pada titik itu.
Karena persamaan untuk arus sama dengan persamaan untuk tegangan, arus dapat dipandang sebagai terdiri dari arus dating dan arus
pantul.
Jika saluran ditutup dengan impedansi karakteristiknya c

Z, tegangan ujung penerima R

V sama dengan

c
RZ

I

dan tidak ada timbul

gelombang pantul baik berupa sebagai pengganti R

Vdalam persamaam (4.22) dan (4.23). Saluran yang ditutup dengan impedansi
karakteristiknya sendiri dinamakan saluran datar (flat line) atau saluran tak terhingga (infinite line). Istilah ini timbul dari kenyataan bahwa
saluran yang tak berhingga panjangnya tidak akan mungkin mempunyai gelombang pantul. Biasanya saluran daya tidak ditutup dengan
impedansi karakteristiknya, tetapi saluran komunikasi sering ditutup demikian untuk menghilangkan gelombang pantul. Suatu nilai khas
untuk c

Z adalah 400Ω untuk saluran rangkaian tunggal atas tiang 200 Ω untuk dua rangkaian paralel.

c. Saluran Transmisi Panjang dalam persamaan Hiperbolis

Gelombang datang dan gelombang pantul suatu tegangan jarang didapat dalam perhitungan tegangan saluran daya. Alasan untuk
membicarakan tegangan dan arus saluran dalam komponen datang dan komponen pantulnya ialah karena analisis semacam itu sangat
membantu dan mendapatkan pengertian yang lebih mendalam mengenai beberapa gejala yang ditimbulkan pada saluran transmisi. Bentuk
persamaan yang lebih mudah untuk menghitung arus dan tegangan suatu saluran tenaga diperoleh dengan memperkenalkan fungsi
hiperbolis. Fungsi hiperbolis didefinisikan dalam bentuk eksponensial sebagai berikut:

θ

ε

ε

θ

=

snh

(4.24)

2

cosh

θ

θ

ε

ε

θ

+

=

=

(4.25)

dengan mengatur kembali persamaan (4.19) dan (4.20) dan memasukan fungsi hiperbolis untuk suku eksponensialnya, didapatkan suatu
himpunan persamaan baru. Persamaan-persamaan baru yang memberikan tegangan dan arus di mana saja di sepanjang saluran adalah

x

Z

I

x

V

V

c

R

R

γ

γ

sinh

cosh +

=

(4.26)

Ibut suryanto
NIM : 0470020026
Teknik Elektro Untag Jakarta

x

ZV

x

I

I

c

R

R

γ

γ

sinh

cosh +

=

(4.27)

Dengan memisalkan

l

x =untuk mendapatkan tegangan dan arus pada ujung pengirim, maka kita dapatkan

l

Z

I

l

V

V

c

R

R

S

γ

γ

sinh

cosh +

=

(4.28)

dan

l

ZV

l

I

I

c

R

R

γ

γ

sinh

cosh +

=

(4.29)

dengan meneliti persamaan-persamaan ini kita lihat bahwa konstanta rangkaian umum untuk saluran yang panjang adalah

l

A

γ

cosh

=

c

Zl

C

γ

sinh

=

(4.30)

l

Z

B

c γ

sinh

=

l

D

γ

cosh

=

(4.31)

Persamaan (4.30) dan (4.31) dapat diselesaikan untuk R

V dan R

Idengan S

V dan S

I sebagai suku-sukunya, didapatkan

l

Z

I

l

V

V

c

S

S

R

γ

γ

sinh

cosh −

=

(4.32)

l

ZV

l

I

I

c

s

S

R

γ

γ

sinh

cosh −

=

(4.33)

Untuk saluran tiga fasa seimbang, arus dalam persamaan-persamaan diatas adalah arus saluran, dan tegangan adalah tegangan dari saluran
ke netral, yaitu tegangan dibagi dengan 3. Untuk menyelesaikan persamaan-persamaan itu, hiperbolis harus kita hitung dulu. Karena l

γ

biasanya kompleks, fungsi hiperbolis itu juga rumit dan tidak dapat ditemukan langsung dari tabel biasa atau dengan kalkulator elektronik.
Sebelum pemakaian komputer digital meluas bermacam-macam grafik, beberapa diantaranya dirancang khusus untuk nilai-nilai yang biasa
dijumpai dalam perhitunga saluran transmisi, sering digunakan untuk menghitung fungsi hiperbolis dengan argumen kompleks. Pada masa
kini komputer digital menyediakan cara-cara yang bisa untuk memasukan fungsi-fungsi semacam itu ke dalam perhitungan kita.
Persamaan diferensial berikut memberikan uraian sinus dan cosines hiperbolis dari bentuk fungsi lingkaran :

(

)

l

l

j

l

l

l

j

l

Cosh

β

α

β

α

β

α

sin
.

sinh

cos
.

cosh

+

=

+

(4.34)

(

)

l

l

j

l

l

l

j

l

Sinh

β

α

β

α

β

α

sin
.

cosh

cos
.

sinh

+

=

+

(4.35)

Ibut suryanto
NIM : 0470020026
Teknik Elektro Untag Jakarta

•Rancanglah rangkaian dengan daya dan energi sesuai yang dikehendaki ?
•Jawab :

•Apa yang anda ketahui tentang tipe one port circuit dalam rangkaian ?

•Hitunglah rugi-rugi untuk one port junction ?

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->