P. 1
Pengaruh Musik Mozart pada anak autisme

Pengaruh Musik Mozart pada anak autisme

|Views: 2,280|Likes:
Published by K'Say The One
berpengaruh atau tidak musik mozart terhadap perkembangan anak Autis
berpengaruh atau tidak musik mozart terhadap perkembangan anak Autis

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: K'Say The One on May 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2013

pdf

text

original

MEMORI

Jay Dowling dalam Campbell (2000) percaya bahwa pengaruh-pengaruh

positif pada bermacam-macam pelajaran sangat berkaitan dengan kombinasi dua

bentuk proses mental. Menurutnya kita mempunyai dua macam memori, yaitu

memori deklaratif yang lebih terkait dengan pikiran dan memori prosedural yang

26

terhubung dengan tubuh. Musik memiliki kemampuan untuk menggabungkan

proses pikiran dan tubuh menjadi satu pengalaman yang selanjutnya memudahkan

dan meningkatkan proses belajar.

Merritt (1996) menjelaskan, musik memfasilitasi belahan otak dengan

beberapa cara. Para ilmuwan syaraf menemukan mahwa musik mengaktifkan

aliran impuls syaraf ke Corpus Collomus, yaitu jaringan serabut otak yang

menghubungkan kedua bagian otak itu. Karena ritme tubuh akan menyelaraskan

diri dengan tempo musik yang kita dengarkan, kita bisa melakukan banyak

pekerjaan mental sambil tetap merasa santai, dan kalau kedua bagian otak itu

berfungsi secara independen bisa bekerjasama dan berintegrasi, maka ingatan kita

akan jauh meningkat.

Campbell dalam bukunya Affect Mozart (1997) menjelaskan musk dapat

memperlambat dan menyeimbangkan gelombang otak. Gelombang otak dapat

dimodifikasi baik oleh suara musik maupun oleh suara yang ditimbulkan sendiri.

Kesadaran biasa terdiri dari gelombang beta yang bergetar dari 14 hingga 20

heart. Gelombang beta terjadi bila kita memusatkan perhatian dan kegiatan-

kegiatan sehari-hari di dunia luar, maupun apabila kita mengalami perasaan

negatif yang kuat. Kesenangan dan kesadaran yang meningkat dicirikan oleh

gelombang alfa yang daurnya mulai 8 hingga 13 heart. Periode-periode puncak

kreatifitas, mediasi dan tidur dicirikan oleh gelombang theta, dari 4 hingga 7

heart. Dan tidur nyenyak, meditasi yang mendalam serta keadaan tak sadar

menghasilkan gelombang delta yang berkisar dari 0.5 hingga 3 heart, semakin

lambat gelombang semakin santai dalam melakukan aktfitas mental.

27

Menurut Webb dalam Dryden & Vos (1999) dalam kondisi alfa dan

betalah keadaan super memori, bersama dengan menguatnya konsentrasi dan

kreatifitas dan itu semua dapat diraih dengan musik jenis tertentu yang bisa

mencapai hasil yang lebih cepat dan mudah. Jenis musik tertentu membantu

merileks-kan tubuh, melambatkan nafas, meredahkan gelombang betha dan

menimbulkan kondisi kesadaran rileks yang sangat reseptif dalam mempelajari

informasi baru. Kebayakan para ahli percaya bahwa dalam kondisi inilah otak

menata informasi baru dan menyimpannya dalam memori.

Menurut Haydn & Mozart dalam Campbell (1997) musik klasik mampu

memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial. Diukuatkan oleh penelitian

Gardiner (1996) dalam Arini (2006) yang mengatakan seni dan musik dapat

membuat para siswa lebih pintar, karena musik dapat membantu otak berfokus

pada hal yang dipelajari.

Rose (1999) dalam Dryden & Vos (1999) memberikan pendapat tentang

aspek-aspek otak yang berbeda dapat bekerja sama secara terpadu: ketika

mendengarkan musik otak kiri akan memproses syairnya dan otak kanan akan

memproses musiknya jadi kita dapat memahami kata-kata dan dapat

menghafalnya dengan cepat, karena otak kiri dan kanan keduanya terlibat begitu

pula dengan emosi otak pada sistem limbik. Diperjelas oleh Dryden & Vos (1999)

yang mengatakan pusat emosi otak berhubungan erat dengan sistem penyimpanan

memori jangka panjang, itulah sebabnya kita dapat mengingat dengan mudah

informasi apapun yang memiliki muatan emosi tinggi. Musik dan syair lagu

28

memiliki kenangan yang mendalam jika musik tersebut dihubungkan dengan

kegembiraan pribadi atau pengalaman yang menyenangkan.

Campbell (1997) menjelaskan musik dapat memperkuat ingatan pelajaran.

Mendengarkan musik dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk

mengingat ejaan, puisi dan kata-kata asing. Ortiz (tanpa tahun) mengatakan

aktifitas mendengarkan musik mampu meningkatkan keterampilan mendengarkan

secara umum, meningkatkan perhatian, dan mengungkapkan pandangan dan

perasaan.

Musik sebagai terapi dapat diaplikasikan pada berbagai populasi klinis

(Davis 1996 dalam Kuwanto & Natalia 2001). Selain itu musik juga terbukti dapat

menunjang proses recall dan retention (Colwell, 1994 dalam Kuwanto & Natalia

2001). Sebagai terapi musik dapat diaplikasikan sebagai intervensi untuk

pengembangan kognitif, pengembangan motorik, komunikasi dan integrasi sosial

(Humpall, 1990 dalam Kuwanto & Natalia 2001).

I.

HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan asumsi-asumsi dan kajian teoretik diatas, diajukan hipotesis

bahwa ada pengaruh penggunaan musik klasik terhadap memori anak Autistik.

J.

METODOLOGI PENELITIAN

1.

Identifikasi Variabel Penelitian

Terdapat dua variabel dalam penelitian ini, yaitu:

a.

Dependent Variable disimbulkan dengan (Y)

29

Memori

b.

Independent Variable disimbulkan dengan (X)

Musik Klasik (Mozart)

2.

Definisi Operasional Variabel Penelitian

a.Memori

: Kemampuan untuk mengingat apa yang telah

diketahui. Pengukuran ingatan dapat dilakukan dengan cara recall,

yaitu subjek diminta menghasilkan kembali stimulus-stimulus yang

telah disajikan dalam tahap belajar (Suharnan, 2005). Kecepatan

pengulangan merupakan alat ukur yang akurat atas rentang ingatan

(Santrock, 1995). Kemampuan me-recall kembali stimulus-stimulus

yang telah disajikan dalam tahap belajar ini diungkap melalui

observasi dan tes dengan menggunakan kartu bergambar (flash cards).

b.Musik Klasik : Adalah musik yang memiliki nilai seni dan

ilmiahnya tinggi, berkadar keindahan dan tak luntur sepanjang masa,

yaitu gubahan dari aransemen karya Wolfgang Amadus Mozart (1756-

1791) yang terdapat pada kaset The Mozart Effect (Music For

Children). Vol. 1 yang berisi Rondo (K.525), Allergo Mederato

(K.211), Variations (K.2976), Andente No. 17 (K.129).

3.

Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini ditentukan dengan cara Purposive Sampling.

Adapun subjek dalam penelitian ini adalah anak-anak autistik dengan ciri-ciri:

a.Berusia antara 4-6 tahun.

30

b.Sudah lebih dari satu tahun berada di Cakra Autisme Terapi dan

belum ada perkembangan yang berarti pada aspek akademik

(pemilihan subjek berdasar pada lamanya terapi dan tidak adanya

perkembangan yang berarti, dilakukan untuk melakukan kontrol

terhadap variabel IQ yang dapat mempengaruhi validitas hasil

penelitian).

c.Belum konsisten mengidentifikasi dengan acak (hanya mampu

mengidentifikasi kartu bergambar dengan menggunakan distraksi).

d.Terdaftar di Cakra Autisme Terapi.

4.

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Cakra Autisme Terapi Jl. Sri Ikana 57

Surabaya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->