Pengetahuan tentang sebuah Rahasia Umum

:
Penghilangan Massal 1965–66 di Indonesia
JOHN ROOSA
Dalam sebuah adegan film dokumenter lintas-genre The Act of Killing (Jagal) (2012), seorang
wartawan, Soaduon Siregar, ketika ia berdiri dalam studio film, mengaku tiba-tiba mendapat
suatu pemahaman baru. Setelah ia menonton dua algojo memerankan kembali di depan kamera
perbuatan mereka pada 1965-66, ia menyadari mengapa ia tidak pernah mengetahui bahwa
mereka telah mencekik ratusan tahanan ketika ia bekerja dengan mereka di gedung yang sama.
Teman-teman lamanya begitu “smooth” (ia memakai kata bahasa Inggris ini), sehingga kegiatan
menjagal manusia yang mereka lakukan di lantai atas lolos dari perhatiannya. Salah seorang
algojo dengan rias kasar di wajahnya, Adi Zulkardy, tidak habis pikir dan bersikeras bahwa
Siregar mestinya tahu karena bahkan para tetangga mendengar jeritan para korban. “Itu sudah
rahasia umum.” Juga ketika sutradara film, Joshua Oppenheimer, menyela, dan mengatakan
bahwa atasan lama Siregar di surat kabar lokal tempat ia bekerja sudah mengakui telah menjadi
interogator yang menentukan tahanan mana yang harus dibunuh, Siregar tetap dan semakin
bersikeras mengatakan bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu.
Percakapan yang berakhir dengan rasa jengah pada diri Siregar ini memberi contoh yang
tepat betapa membingungkannya dinamika sebuah rahasia umum. Algojo-algojo di Medan ini
tahu pada saat itu bahwa pekerjaan mereka sebagian harus bersifat rahasia. Mereka menerima
dari tentara tumpukan-tumpukan tawanan yang diikat-ikat, membunuh mereka di gedung bagian
belakang, memasukkan mayat-mayat itu ke dalam kantong, membawa kantong-kantong ini
dengan truk ke sebuah jembatan di dekat gedung, dan membuangnya ke sungai. Korban-korban
ini hilang begitu saja. Tidak ada tontonan eksekusi tengah hari bagi warga di alun-alun kota.
Tidak ada informasi yang diberikan kepada keluarga korban tentang apa yang terjadi pada
saudara mereka yang tercinta. Namun demikian, pelaku-pelaku kejahatan ini juga tidak
seluruhnya menyembunyikan perbuatan mereka. Gedung mereka terletak di jalan yang ramai di
tengah kota. Tetangga dan pejalan kaki dapat melihat para tahanan dibawa ke gedung tersebut,
dapat mendengar jeritan mereka, dan sekilas melihat kantong-kantong dikeluarkan dari gedung.
Para pelaku itu ingin bekerja diam-diam, tetapi tidak merasa perlu untuk sepenuhnya
merahasiakan perbuatan mereka. Betapapun juga, mereka ingin menunjukkan kekuasaan mereka
dan meneror warga. Sebagai anggota sayap pemuda dari partai politik tentara, mereka
membanggakan diri sebagai preman (atau dalam bahasa Inggris “free men”), yang bisa bertindak
semau mereka. Namun, film ini juga menunjukkan terbatasnya kebebasan mereka dalam
menceritakan pembunuhan-pembunuhan yang mereka lakukan. Siregar yang menyedihkan itu,
dalam keteguhannya menjaga rahasia tentang pembunuhan, hanya melakukan yang dia pikir
pantas dilakukan seorang yang terlibat dalam pembunuhan massal di depan seorang pembuat
film, khususnya bila pembuat filmnya orang asing. Ia terperangah menyaksikan Zulkardy dan
algojo seorang lagi, Anwar Congo, si bintang film yang flamboyan, melanggar kebiasaan umum
untuk tutup mulut tentang peristiwa pembantaian tersebut. Di satu pihak film itu adalah narasi
Anwar Congo, si preman, bos mafia kelas teri yang bercita-cita untuk meraih kejayaan abadi di
dunia film, yang merasa berhak untuk dengan leluasa menceritakan kejadian-kejadian yang
sebetulnya tidak pernah dimaksudkan untuk dibeberkan di depan kamera. Ia akhirnya menyesal
telah mencoba melakukan hal itu.

Artikel asli dalam bahasa Inggris dengan judul “The State of Knowledge about an Open Secret: Indonesia's Mass
Disappearances of 1965–66” dimuat di The Journal of Asian Studies, April 2016. http://journals.cambridge.org/JAS

John Roosa (jroosa@mail.ubc.ca) adalah Associate Professor di Departemen Sejarah di University of British
Columbia, Vancouver, Kanada.

2

Sebagai sebuah rahasia umum, pembantaian 1965–66 merupakan kejadian yang sulit
dimengerti. Banyak informasi tetap tersembunyi sehingga pertanyaan-pertanyaan dasar tidak
berhasil dijawab dengan akurat dan teguh. Ambillah pertanyaan: siapakah pelakunya? Film The
Act of Killing dengan jelas memperlihatkan bahwa, dalam kasus Medan, kelompok milisi sipillah
pelakunya. Tetapi kata-kata pembukaan film tersebut menyebutkan bahwa tentaralah yang
bertanggung jawab atas pembantaian antikomunis tersebut. Namun film itu, yang lebih berfokus
kepada ingatan kelompok milisi sipil daripada kejadian itu sendiri, tidak menjelaskan apa
tepatnya hubungan mereka dengan tentara. Setelah menonton film itu, beberapa pemirsa
mendapat kesan yang keliru bahwa tentara tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, Oppenheimer
berpikir bahwa rujukan-rujukan ke tentara dalam film tersebut sudah cukup untuk
menyampaikan pesan bahwa tentara telah ‘mengkontrakkan’ kerja pembunuhan kepada
kelompok milisi (Melvin 2013).
Literatur ilmiah tentang masalah ini penuh dengan ketidakpastian tentang identitas para
pelaku pembunuhan. Banyak pakar sejarah mengalami kesulitan untuk memahami peranan
tentara dan organisasi sipil dalam kekerasan antikomunis. Apakah tentara memutuskan untuk
meluncurkan aksi pembantaian dan kemudian mengatur-atur kelompok milisi ibarat pion
ataukah tentara menyerah kepada tekanan dan desakan dari bawah? Sebagaimana dikemukakan
oleh Robert Cribb (2001, 235), “kesulitan yang paling sukar ditangani dalam memahami
pembantaian itu adalah menentukan seberapa pentingnya inisiatif tentara dan seberapa
pentingnya peran ketegangan lokal.” Jawaban atas pertanyaan ini penting karena akan
menentukan apakah kejadian itu merupakan kasus kekerasan yang spontan dan horizontal, yakni
“tetangga membunuh tetangga,” ataukah merupakan kasus kekerasan birokratik yang vertikal,
yaitu, negara membantai warganya sendiri. Dengan kata lain, apakah pembunuhan itu
merupakan kekerasan khaotis ketika rakyat mengamuk, ataukah sebuah kasus genosida politik
yang terorganisir dengan baik, ataukah campuran keduanya? Para pakar sejarah cenderung
menyimpulkan bahwa kekerasan tersebut dilaksanakan oleh gabungan personalia tentara dengan
milisi sipil, dengan peran yang berbeda-beda dari daerah ke daerah; di beberapa daerah
nusantara, tentara yang memimpin; di daerah lain, milisi yang memimpin. Argumen seperti ini,
yang bisa disebut tesis dualistik, tidak mengakui adanya sebuah pola nasional yang melingkupi
pembunuhan itu dan menolak pemikiran bahwa pembunuhan yang terjadi adalah tanggung
jawab seorang saja, atau sekelompok orang, atau sebuah lembaga.
Sejak tumbangnya pemerintah diktator Suharto pada 1998 setelah tiga puluh dua tahun
berkuasa, pembunuhan masal mulai lebih banyak dibahas secara luas. Juga lebih banyak rahasia
yang terungkap. Walaupun tidak ada persidangan para pelaku dan juga tidak terbentuk komisi
kebenaran dan rekonsiliasi, terdapat banyak investigasi dan forum publik, seperti misalnya,
peluncuran buku, film, konperensi akademik, kuliah umum, acara bincang di televisi, dan
sejumlah penggalian dan identifikasi kuburan massal. Tambahan lagi, peneliti di berbagai
propinsi berhasil memperoleh informasi baru. Begitu juga, wartawan menerbitkan banyak
tulisan mengenai pembunuhan itu. Para editor Tempo, mingguan terkemuka di Indonesia, setelah
menonton The Act of Killing, membentuk sebuah tim wartawan untuk mewawancarai sejumlah
pelaku sipil mirip Anwar Congo, di seluruh negeri. Tempo edisi khusus yang terbit Oktober 2012
segera terjual habis, dan fotokopinya dijual dengan harga lebih tinggi dari harga pasar (Tempo
2012). Ini untuk pertama kali cerita tentang para algojo muncul di majalah itu sejak terbit
empatpuluh satu tahun yang lalu.
Penelitian-penelitian baru ini hanya menyentuh permukaan dari serangkaian kejadian
rumit yang berlangsung selama berbulan-bulan di seantero negeri kepulauan dengan penduduk
sekitar 100 juta jiwa pada pertengahan 1960-an. Dibandingkan dengan literatur tentang kasuskasus genosida yang lain di abad ke duapuluh, literatur mengenai genosida politik di Indonesia
masih jarang dan kurang berkembang (Cribb 2009). Namun demikian, penelitian-penelitian yang
baru ini memungkinkan beberapa pola muncul dengan lebih jelas, misalnya, pola cara pelaku
menyembunyikan jejak-jejak pembantaian. Sekarang juga diperoleh lebih banyak bukti yang

3

menjelaskan mengapa hampir tidak ada bukti. Banyak korban, dari Aceh di Indonesia bagian
barat sampai Flores di Indonesia bagian timur dihilangkan dengan pola yang sungguh serupa.
Penelitian-penelitian yang baru ini juga menyiratkan bahwa pandangan konvensional tesis
dualistik perlu dipikirkan kembali. Mulai terungkap bahwa satu faksi komando tertinggi ABRI
di Jakarta, Suharto bersama klik perwiranya, tampaknya jauh lebih banyak berperan dalam
mengatur pembunuhan daripada yang diduga semula.
PERNYATAAN RESMI: KEKERASAN SPONTAN
Sumber primer mengenai pembunuhan itu sedikit sekali jumlahnya, dan peneliti-peneliti
harus menyaring bukti-bukti dan petunjuk yang anekdotal, terpisah-pisah dan tidak dapat
dipercaya, bahkan ada yang curang (Roosa 2013). Surat-surat kabar berbahasa Indonesia,
sumber utama yang biasanya dipergunakan untuk membangun rancangan awal sejarah, tidak
membuat laporan tentang eksekusi-eksekusi, walaupun terkuak dari kasus Medan bahwa
beberapa wartawan, bertugas sebagai eksekutor dan memiliki informasi tangan pertama.
Mestinya beribu-ribu pembantaian terjadi di seluruh negeri, namun tidak ada satupun foto
tentang peristiwa itu (Strassler 2005). Begitu pula jejak dokumentasi resmi sangat sedikit; hanya
beberapa dokumen pemerintah Indonesia yang berkaitan dengan pembantaian muncul ke
permukaan (Indonesia 1986). Sebagian besar sumber-sumber primer adalah laporan wartawan
asing dan diplomat asing yang pada saat itu berada di Indonesia (Schaefer and Wardaya 2013;
Simpson 2008).
Rezim Jenderal Suharto, dari 1966 sampai 1998, memilih tetap diam dan tidak
membicarakan pembunuhan dengan semangat anti-komunis. Pemerintah tidak pernah
menugaskan siapapun untuk menulis buku yang menjelaskan, membenarkan, atau mengingkari
peristiwa itu; malah peristiwa itu diperlakukan sebagai bukan-peristiwa, seakan-akan tidak
pernah terjadi atau tidak bermanfaat untuk dibicarakan. Buku Sejarah Nasional Indonesia
berjumlah 6 jilid, yang disponsori negara dan ditulis oleh pakar sejarah negeri ini pada 19701980 hanya memuat satu kalimat tentang pembunuhan massal—sebuah kalimat yang tidak
faktual dan sangat ambigu: “Hanya di daerah Jawa Timur dan Bali timbul kekacauan culikmenculik dan pembunuhan-pembunuhan, yang dalam waktu yang singkat berhasil ditertibkan
kembali” (Poesponegoro dan Notosusanto 1990, 6:403–4). Kalimat tersebut menghindari untuk
menyebut para korban maupun para pelaku dan menyiratkan seakan-akan warga sipil dengan
spontan saling menyerang sehingga negara akhirnya ikut campur dan menghentikan pertikaian
mereka. Semua narasi sejarah yang dibuat rezim Suharto merayakan penumpasan Partai
Komunis Indonesia atau PKI tetapi dengan hati-hati menghindari menyebut pertumpahan darah
yang terjadi (Roosa 2012). Sampai hari ini buku-buku pelajaran sejarah yang digunakan di
sekolah-sekolah, bahkan tidak menyebut terjadinya penculikan dan pembunuhan, apa lagi
menyebut pembantaian yang dilakukan waktu menumpas PKI (Leksana 2009).
Sejak akhir 1965 propaganda negara memusatkan diri pada satu peristiwa tunggal:
Gerakan 30 September. Menurut dugaan, PKI mendalangi gerakan militer yang menculik dan
mengeksekusi enam jenderal Angkatan Darat di Jakarta di awal bulan Oktober 1965. Tentara
Suharto menganggap setiap anggota PKI, dan setiap anggota organisai yang berafilisi dengan
PKI, bertanggung jawab atas pemberontakan terhadap komando tertinggi ABRI yang singkat
dan cepat dipadamkan itu (Roosa 2006). Satu pelajaran sejarah yang harus dikuasai setiap murid
Indonesia ialah bahwa PKI harus ditumpas karena bertanggung jawab atas tindakan pengkhianatan yang mengerikan dan biadab. Gerakan 30 September (G30S) membunuh dua belas
orang (empat di antaranya salah sasaran) dan hanya berlangsung selama dua puluh empat jam di
Jakarta. Namun, seni naratif gaib yang dimiliki ahli-ahli perang urat saraf telah berhasil
mengubah G30S menjadi pemberontakan nasional yang masif dan menyebutnya sebagai
kejahatan terburuk yang terjadi terhadap Indonesia. Alhasil, murid-murid sekolah telah belajar
banyak tentang G30S, tetapi tidak belajar apa-apa tentang ratusan ribu orang yang dibunuh atas
nama penumpasan gerakan itu.

4

Kalau melihat propaganda antikomunis yang diedarkan oleh tentara setiap hari melalui
pers setelah 1 Oktober 1965, jelaslah bahwa tentara menghasut rakyat untuk mengambil
tindakan terhadap PKI. Tentara mengendalikan surat kabar dan radio dan tetap menyebarkan
cerita karangan tentang kekejaman dan pengkhianatan PKI. Tentara mendorong rakyat untuk
bergabung dengan kampanye menumpas, mengganyang, membasmi PKI. Tetapi propaganda itu
tidak secara eksplisit menyuruh rakyat membunuh komunis. Jadi, propaganda itu sendiri tidak
membuktikan bahwa tentara bertanggung jawab atas pembunuhan massal yang terjadi. Bisa
diperdebatkan bahwa tentara Suharto hanya berniat untuk menangkap dan menahan sejumlah
besar pendukung PKI, namun kehilangan kendali; warga sipil yang berada di luar kendali
tentara, mengambil keuntungan dari masa krisis itu, dan membunuh orang-orang yang
mengancam keselamatan harta kekayaan mereka dan menantang kewibawaan mereka.
Pada saat terjadinya pembunuhan, para jenderal ABRI cenderung mengingkari tanggung
jawab atas kejadian itu. Bahkan ketika mereka memberikan laporan ke Presiden Sukarno,
panglima tertinggi mereka, mereka mengatakan bahwa mereka telah berusaha keras untuk
menghentikan pembunuhan, dan bukannya melakukan pembunuhan. Tentara memastikan bahwa
Fact Finding Commission (FFC) yang dibentuk Sukarno pada akhir Desember 1965 untuk
menginvestigasi pembunuhan, tidak bekerja dengan serius dan membuat permakluman atas
perlunya pembunuhan. Duta besar Amerika Marshall Green melaporkan ke State Department
bahwa tentara akan mengatur agar FFC “mati secara alamiah” (Green 1965). FFC tidak mati,
tetapi bisa dikatakan mati juga: sedikit sekali fakta yang termuat dalam laporan singkat terakhir
yang dibuatnya pada 10 Januari 1966. Laporan tersebut menyajikan sebuah narasi besar sejarah
yang dengan struktur tiga bagian: prolog-peristiwa-epilog. Menurut narasi ini, selama bertahuntahun kelompok komunis telah memusuhi warga Indonesia yang taqwa dan patriotik (prolog),
dan kemudian dengan meluncurkan sebuah pemberontakan yang disebut Gerakan 30 September
(peristiwa) telah memprovokasi kemarahan warga (epilog). Jadi, pembunuhan massal adalah
respon alami terhadap pemberontakan PKI yang tidak bisa dihindarkan. Menurut FFC, tentara
berusaha menghentikan pembunuhan tetapi tidak berhasil mengendalikan massa yang bertekad
untuk melepaskan kemarahan mereka yang terpendam dan ingin membalas dendam.1
Selain mempersalahkan warga sipil atas pembunuhan yang terjadi karena bereaksi terlalu
emosional, laporan FFC sebetulnya juga memasukkan sebuah fakta yang signifikan. FFC
mengaku, tanpa menyebut kasus-kasus yang spesifik, bahwa beberapa pejabat negara telah
melakukan penghilangan paksa: “adanya execusi-execusi oleh instansi-instansi terhadap oknumoknum G.30.S. jang tidak diumumkan setjara resmi kepada keluarganja.” Laporan itu kemudian
membenarkan taktik menghilangkan tahanan: “Execusi-execusi jang dianggap wadjar pada
operasi-operasi keamanan dalam rangka penekanan pemberontakan.” Namun laporan itu
menambahkan sebuah keberatan, yakni, dengan “tidak diumumkan setjara resmi kepada
keluarganja,” tersirat seolah-olah eksekusi-eksekusi itu merupakan tindakan liar yang tidak di
bawah kendali negara (Oei Tjoe Tat 1995, 355). Tampaknya keberatan ini tidak cukup serius
untuk meyakinkan tentara agar menghentikan kegiatannya.
Dengan tidak memecat panglima Angkatan Darat, Mayor Jenderal Suharto (yang
kemudian menjadi Letnan Jenderal), yang jelas-jelas telah gagal dalam tugas memulihkan
ketertiban, Sukarno secara implisit mendukung narasi Suharto – bahwa tentara telah melakukan
yang terbaik untuk menghentikan gelombang besar kekerasan yang terjadi. Sukarno tidak
mencela narasi itu, pun juga tidak mengutarakan narasi alternatifnya sendiri. Sejak awal
pemerintahan tunggal Sukarno, Demokrasi Terpimpin pada 1959, Sukarno merupakan sumber
segala kebenaran dalam kancah politik Indonesia. Para politisi bersaing untuk membuktikan
1

Setelah 1966, fotokopi laporan FFC beredar antara peneliti. Sepanjang pengetahuan saya, laporan itu pertama kali
diterbitkan pada 1995 sebagai lampiran pada otobiografi Oei Tjoe Tat, seorang menteri dalam kabinet Soekarno
yang bertugas dalam komisi tersebut (Oei Tjoe Tat 1995, 348–66).

5

loyalitas mereka ke padanya. Sukarno adalah ”penyambung lidah rakjat”; pidato-pidatonya di
Hari Kemerdekaan mengartikulasikan makna eksistensial bangsa Indonesia – dari mana asal
bangsa Indonesia, di mana posisi bangsa Indonesia, dan ke mana arah langkah bangsa Indonesia.
Tetapi dalam menghadapi pembantaian yang terjadi, anehnya Sukarno bisu; ia tidak
menawarkan cara kepada rakyat untuk dapat memahami teror yang terjadi di sekitar mereka.
Sukarno tidak pernah mengumumkan laporan FFC kepada rakyat. Dalam pidatonya di
depan kabinet dan di depan pers lima hari setelah menerima laporan FFC, ia hanya
mengumumkan jumlah orang yang dibunuh menurut perkiraan FFC. Ia berpaling kepada korps
wartawan dan mengatakan: “Hei wartawan, kalau sekarang kau tulis awas....yang diketahui oleh
Fact Finding Commission saja 87,000 orang, ya laki, ya perempuan sudah dibunuh!” (Setiyono
and Triyana 2003, 362). Inilah angka yang dilaporkan surat kabar di seluruh dunia (New York
Times 1966). Tidak menjadi soal bahwa Sukarno ceroboh dan salah membaca angkanya. Angka
FFC yang sebenarnya, 78.500, sama sekali tidak dapat dipercaya karena tidak berdasarkan
penghitungan yang rinci. Sukarno mungkin ceroboh dalam menyebut angka korban karena ia
tahu angka itu tidak akurat; ia telah diberi tahu oleh salah seorang loyalisnya di FFC bahwa
angka sebenarnya mungkin enam kali lebih tinggi (Oei Tjoe Tat 1995, 192).
Di pertemuan yang sama pada 15 Januari 1966, Sukarno mengaku bahwa dalam mingguminggu terakhir ia sering menangis dan mengintrospeksi diri sambil bertanya apakah ia telah
berbuat kesalahan. Ia mengajukan pertanyaan yang retoris: “Kita semuanya harus menebus
pembunuhan ini dengan sekian puluh ribu, mungkin ratusan ribu daripada jiwanya bangsa kita
sendiri?” (Setiyono and Triyana 2003, 362). Satu-satunya cara ia dapat memahami pembunuhan
massal adalah bila tindakan tersebut dilihat sebagai bagian dari rencana perang sipil yang
diprovokasi oleh kekuasaan asing yang ingin menumbangkannya. Namun, ia tidak
mengidentifikasi orang Indonesia yang berkolaborasi dengan kekuatan asing. Ia juga tidak
menuduh Suharto atau jenderal-jenderal ABRI yang lain telah mengorganisir pembantaian itu.
Dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1966, ia tidak menyebut
peristiwa pembunuhan itu – agak aneh karena judul pidatonya adalah “Jangan Sekali-kali
Meninggalkan Sejarah” (Sukarno 1966). Pada saat itu Suharto sudah menjadikan Sukarno
seorang presiden boneka setelah ia tidak dapat mengendalikan pengangkatan menteri-menteri
kabinetnya.
Pejabat-pejabat rezim baru Suharto tidak mengumumkan laporan FFC ataupun laporan
yang lain tentang pembunuhan, namun mereka di tahun-tahun kemudian, sekali-sekali
menyinggung peristiwa pembunuhan itu begitu saja tanpa persiapan. Meskipun tidak pernah
diumumkan, informasi resmi mengenai pembunuhan yang terjadi adalah bahwa peristiwa itu
merupakan kekerasan spontan untuk memadamkan pemberontakan PKI. Sejak 1998, organisasiorganisasi hak asasi dan organisasi-organisasi korban telah menuntut dibentuknya komisi
kebenaran dan rekonsiliasi dan permintaan maaf yang resmi (Komnas Perempuan 2007). Komisi
Hak-hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang dibentuk pemerintah menuntut agar para pelaku
diusut (Komnas HAM 2012). Sebagian besar pejabat negara menjawab tuntutan itu dengan
kembali mengacu kepada cerita yang lama, dan bersikeras dengan pendirian bahwa kekerasan
yang terjadi dapat dibenarkan, baik sebagai ungkapan kebencian yang tidak bisa dihentikan
terhadap PKI, maupun sebagai kampanye militer yang perlu dilakukan untuk memadamkan
pemberontakan PKI. PKI lah yang memulai dengan kekerasan, sehingga rakyat dan tentara perlu
menggunakan kekerasan untuk menghentikan PKI. Para pejabat tidak mengakui bahwa telah
terjadi pelanggaran hak asasi manusia yang perlu disikapi dengan permintaan maaf oleh
pemerintah dewasa ini. Sebagaimana dinyatakan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, “Jadi, yang
pertama kali korban itu adalah jenderal kita. Mestinya, mereka [pembunuh jenderal] minta maaf
karena sudah melakukan itu kepada negara.” (Kompas 2015).

6

TESIS DUALISTIK AHLI-AHLI SEJARAH
Sumber primer yang paling sering dikutip, Indonesian Upheaval, sebuah buku yang
ditulis oleh wartawan Inggris-Amerika, John Hughes, yang membuat laporan dari Jakarta pada
1965–66, memulai gagasan tesis dualistik ini. Hughes berpendapat bahwa di beberapa daerah
tentara yang bertanggung jawab atas pembunuhan yang terjadi sedangkan di daerah-daerah lain
milisi sipil yang bertanggung jawab. Tentara di Jawa Tengah “tampaknya memegang kendali
besar atas pertumpahan darah yang terjadi, walaupun banyak warga sipil yang juga direkrut
untuk membunuh komunis” (Hughes [1967] 2002, 165–66). Di Jawa Timur, perintah eksekusi
diberi oleh tentara tetapi pelaksanaannya “sebagian besar diserahkan kepada warga sipil” (166).
Di daerah sekitar Medan, Sumatra Utara, komandan Angkatan Darat, Brigjen Kemal Idris,
mendapat perintah dari atasannya di Jakarta untuk “membersihkan” komunis: “Tidak seorang
pun perlu diberi penjelasan apa artinya ‘membersihkan’” (154). Bali merupakan pengecualian
atas pola pengendalian oleh tentara terhadap kekerasan anti PKI. Hughes berpendapat bahwa di
Bali, warga sipil memulai suatu luapan pembunuhan tanpa pandang bulu sehingga akhirnya
tentara campur tangan dan memaksa mereka untuk lebih selektif dalam menentukan sasaran
mereka. Tentara “terpaksa menghentikan rakyat” di Bali (197).
Sejarahwan sering menggunakan bentuk pasif dan bentuk gabungan aktif-pasif untuk
menghindari menetapkan si-pelaku. Merle Ricklefs (1993, 287) menulis dalam bukunya A
History of Modern Indonesia Since c. 1300: “Dalam bulan Oktober 1965 pembunuhan mulai
terjadi. Kekerasan terhadap warga yang diasosiasikan dengan PKI terjadi di seluruh negeri,
tetapi pembantaian yang paling buruk terjadi di Jawa dan Bali.” Pembunuhan mulai, kekerasan
terjadi, pembantaian terjadi. Ricklefs memang berusaha memakai dua kalimat dengan kata kerja
aktif: di Jawa Tengah, tentara “membantu anak muda mencari komunis” tetapi di Bali tentara
sekadar menonton saja ketika “tuan tanah kasta atas PNI memimpin mendesak agar anggota PKI
dimusnahkan” (288). Perhatikan bahwa tidak ada kata kerja aktif yang mengungkapkan tindakan
membunuh; tentara “memicu” dan “membantu” pembunuhan; warga sipil Bali sekadar
“mendesak” agar PKI dibunuh. Pembaca mestinya bertanya-tanya siapa yang sebetulnya
melakukan pembunuhan dan bagaimana mereka melakukannya. Korban-korban tampaknya mati
dengan sendirinya: “Pendukung PKI gugur” (288). Uraian Ricklefs memang mengidentifikasi
peran tentara dan warga sipil, namun ia menggambarkan tentara sebagai sekadar memprovokasi
dan membantu warga sipil yang antikomunis untuk melakukan pembunuhan yang sudah lama
ingin mereka lakukan. Di Jawa pada umumnya, pembunuhan diduga merupakan akibat dari
sebuah konflik lama antara santri dan abangan. Tentara “mendukung dan mendorong santri Jawa
yang fanatik untuk mencari sasaran PKI di antara saudara abangan mereka” (288).
Pemikiran bahwa di beberapa daerah, tentara yang memimpin pembunuhan dan di daerah
lain, warga sipil yang memimpin diterima oleh berbagai ilmuwan. Analisis awal di akhir 1970an oleh Harold Crouch, seorang ahli dalam menganalisis naiknya tentara Indonesia ke jenjang
kekuasaan, mengatakan pembunuhan di Jawa Tengah “tetap di bawah kendali tentara” (Crouch
[1978] 1988, 151). Tetapi di Jawa Timur, Crouch, berlawanan dengan Hughes, berpendapat
bahwa bukan tentara tetapi warga sipil, “yang memimpin serangan ke PKI” (147). Juga di Bali,
“perwira ABRI paling tidak secara diam-diam menyetujui rencana warga sipil yang anti-PKI,
tetapi pembantaian itu cepat lepas kendali” (152). Di Aceh, warga sipil yang antikomunis, dan
sepertinya disemangati oleh gairah religius anti-atheisme, bergerak melawan PKI sebelum
tentara mulai mengambil tindakan (142–43). Tambahan lagi, dari beberapa kajian lokal yang
ditulis pada 1990-an Robert Cribb menyimpulkan bahwa kejadiannya sangat bervariasi: di
beberapa daerah, “militer yang paling banyak melakukan pembunuhan,” sedangkan di daerahdaerah lain “warga lokal yang ganas yang melakukannya”(Cribb 2001, 237). Ia berpendapat
bahwa di beberapa distrik, partisipasi warga sipil begitu ekstensif sehingga “pembunuhan betulbetul kolektif” (Cribb 2010, 452–53). Ahli anthropologi yang melaksanakan kerja lapangan di
tempat-tempat tertentu agaknya menemukan kasus-kasus pembantaian dan penghilangan paksa
yang diorganisir oleh tentara (Beatty 2009, 50–53; Bowen 1991, 119–22; Hefner 1990, 209–15)

7

tetapi studi-studi kasus seperti itu mudah dijelaskan oleh tesis dualistik. Adrian Vickers, dalam
bukunya yang sangat bagus mengenai sejarah Indonesia, telah menyimpulkan pandangan umum
berikut: “Di banyak daerah tentara membimbing kelompok-kelompok sipil dalam memilih siapa
yang harus menjadi sasaran, atau mendukung milisi lokal, Tetapi di tempat lain tindakan main
hakim sendiri mendahului tindakan tentara” (Vickers 2005, 157–58).
Sebuah kajian baru oleh seorang yang bukan ahli sejarah Indonesia yang sangat
mendalami literatur dalam bahasa Eropa, sampai pada simpulan yang sama: pembunuhan massal
dilakukan oleh “koalisi” personalia tentara dan sipil; pentingnya peran kedua pihak bervariasi
menurut daerah. Christian Gerlach, seorang peneliti Jerman, menulis sebuah analisis penuh
dengan catatan kaki; ia berpendapat peran tentara sangat dibutuhkan tetapi terbatas. Ia
menekankan pada “ciri partisipatoris” yang ada pada kekerasan yang terjadi, sambil menyebut
Aceh, Jawa Timur, dan Bali sebagai daerah yang warga sipilnya yang antikomunis maju sendiri
menyerang warga sipil yang komunis. Tesisnya yang utama ialah bahwa kekerasan itu sebagian
besar timbul dari konflik yang ada di dalam masyarakat Indonesia, dan bukan sesuatu yang
dipaksakan dari atas oleh tentara (Gerlach 2010, 30–31). Sejalan dengan judul buku Gerlach,
masyarakat Indonesia adalah salah satu dari sejumlah “masyarakat yang sangat ganas.”
Para sejarahwan Indonesia yang terkemuka membenarkan tesis dualistik ini. Taufik
Abdullah, misalnya, dengan dana dari Kementerian Pendidikan di 2005, melaksanakan proyek
penelitian yang besar tentang peristiwa-peristiwa 1965–66 dan menerbitkan tiga jilid buku tebal
yang memuat kontribusi berbagai pakar sejarah. Abdullah dan rekan editornya berpendapat
bahwa pembunuhan yang terjadi tidak menunjukkan adanya pola nasional; waktu dan intensitas
kekerasan beragam dari propinsi ke propinsi. Satu-satunya konflik yang mereka anggap layak
dikaji adalah “konflik lokal,” dan konflik-konflik itu sebagian besar didorong oleh pergumulan
antara kelompok-kelompok sipil memperebutkan kekuasaan dan sumber kekayaan. Peran tentara
hanya sekunder: tentara memberikan dukungan logistik kepada kelompok sipil anti-PKI dan
memberikan ijin untuk membunuh; jarang sekali tentara mengorganisir dan melaksanakan
pembunuhan itu sendiri (Abdullah, Abdurrachman, and Gunawan 2012, xii–xxix).
Di tahun-tahun kemudian, milisi sipil cenderung bingung menentukan seberapa besar
tanggung jawab yang harus mereka pikul untuk eksekusi-eksekusi itu. Pimpinan Nahdlatul
Ulama (NU), sebuah organisasi Islam yang sangat terlibat dalam pembantaian di Jawa Timur,
secara bergantian membawakan dirinya sebagai abdi negara yang setia, mengikuti dengan patuh
perintah tentara, dan sebagai pejuang yang heroik dan seorang diri mengalahkan PKI yang jahat
itu. Salah satu narasi NU mengenai perannya, dan yang untuk pertama kali di dalam isi buku,
bermaksud untuk membuktikan bahwa kelompok milisinya, Banser, telah menempatkan dirinya
sebagai abdi tentara: “aksi-aksi penumpasan yang melibatkan Banser selalu berada pada garis
komando alias perintah dari pihak tentara” (Sunyoto 1996, i). Itu terjadi pada 1996 ketika partai
sayap kiri yang baru dibentuk, Partai Rakyat Demokratik (PRD), menyalahkan rezim Suharto
atas pembantaian 1965–66. Pemimpin-pemimpin NU lalu menjadi cemas kalau para perwira
militer akan cuci tangan dan meletakkan kesalahannya kepada NU. Informasi resmi NU berubah
pada 2013, ketika film The Act of Killing dan edisi khusus Tempo dibahas secara luas. Kemudian
para pemimpin NU khawatir kalau cerita yang diungkapkan oleh mereka yang melakukan atau
menyaksikan eksekusi di Jawa Timur akan menggambarkan anggota Banser sebagai preman
yang tidak berperasaan dan yang siap diperintah tentara. Pada 2013, pimpinan NU ingin
menekankan bahwa NU bertindak sendiri dan tidak diperalat tentara: “tanpa disuruh TNI pun,
NU dengan sendirinya berhadapan dan berbenturan dengan PKI, karena PKI merupakan musuh
yang sudah berkonflik selama beberapa dasawarasa” (Mun’im DZ 2013, 20).
Dari dua buku NU ini, 1996 dan 2013, sulit untuk menggambarkan hubungan antara NU
dan tentara. Tidak seperti buku kedua, buku yang pertama paling tidak berusaha untuk
memberikan informasi faktual tentang kekerasan yang terjadi, lengkap dengan tanggal, nama
tempat dan nama individu yang memberikan informasi. Buku tersebut mengakui bahwa anggota
kelompok militer NU, Banser, menyerang kantor-kantor dan rumah-rumah PKI dan membunuh

8

anggota PKI yang berada di dalamnya (Sunyoto 1996, 110–36). Buku itu juga mendeskripsikan
bagaimana anggota Banser menerima kumpulan-kumpulan tahanan dari tentara untuk
dieksekusi. Misalnya, satu anggota Banser dari sebuah distrik dekat Kediri, menyatakan bahwa
kelompoknya terlibat dalam penangkapan kurang lebih 6.000 orang (angka ini sepertinya
berlebihan), menggiring mereka ke suatu lapangan terbuka dan menyuruh mereka membuat
perkemahan sementara, mengambil kumpulan tiga puluh sampai empat puluh tahanan setiap
malam dan membawanya ke hutan, kemudian mengeksekusi mereka serta mengubur mayatmayatnya di sebuah kuburan massal (155–56). Ke lima anggota Banser yang ceritanya tentang
eksekusi muncul dalam buku, menyebutkan bahwa perintah untuk mengeksekusi tahanan datang
dari perwira tentara (153–60). Buku itu tidak sepenuhnya dapat dipercaya karena pernyataannya
banyak yang tidak masuk akal, antara lain: pembantaian-pembantaian ini baru terjadi sesudah
Maret 1966 ketika Suharto melarang dan membubarkan PKI, seolah-olah pelarangan PKI
memberi pembenaran legal kepada pembunuhan di luar hukum.
Dua ilmiawan Australia yang berusaha menentukan peran NU menyimpulkan bahwa NU
tidak memainkan peran yang serba patuh dan sekunder dalam peristiwa pembunuhan itu (Fealy
dan McGregor 2012, 129). Namun pola pembunuhan yang mereka deskripsikan adalah pola
yang digunakan tentara untuk menentukan apakah tahanan perlu dibantai atau tidak (120, 124–
25). Walaupun anggota NU dengan semangat mendukung tindakan represif terhadap PKI
(penangkapan besar-besaran, serangan terhadap kantor-kantor dan rumah-rumah, pemukulan dan
pembunuhan), belum jelas apakah mereka yang memulai dan mengorganisir penghilangan paksa
para tahanan.
Peran tentara dan milisi sipil masing-masing dibahas dalam film Joshua Oppenheimer
kedua tentang ingatan sosial mengenai pembantaian di Sumatra Utara, The Look of Silence
(Senyap) (2014). Dalam satu adegan, penonton melihat dua warga sipil dalam sebuah
perkebunan sekitar Medan memerankan kembali pembunuhan kejam yang mereka lakukan di
pinggir sungai. Seorang dari mereka, Amir Hasan, adalah guru dan seniman amatir. Dia dan
temannya, Inong, menggambarkan bagaimana tentara menyerahkan satu truk tahanan yang diikat
dan ditutup matanya dan menyuruh mereka mencincangnya dengan golok dan membuangnya ke
dalam Sungai Ular. Mereka mengerti bahwa mereka digunakan oleh tentara sebagai alat untuk
menutup kesalahan tentara: “kalau nanti dikatakan perjuangan pemerintah, ini dunia jadi marah,
ya kan ... kalau pemerintah membasmi PKI,” begitu mereka jelaskan ke pada Oppenheimer.
Mereka mengakui peran mereka ialah untuk membuat narasi tentara masuk akal, yakni bahwa
terjadi kekerasan yang dilakukan secara spontan oleh massa yang bergerak dengan sigap. Tetapi
mereka juga tetap tampak bangga atas perbuatan mereka, seakan-akan melalui kekerasan itu
mereka telah membuktikan kejantanan mereka dan menambah kekuasaan mereka di masyarakat
lokal. Film itu berakhir dengan perjumpaan janda dan putra-putra Hasan dengan kerabat salah
seorang korban Hasan; mereka mati-matian menyangkal bahwa mereka mengetahui pekerjaan
Hasan sebagai algojo, meskipun mereka sebelumnya sudah membahasnya dengan Oppenheimer.
Di suatu saat dan tempat itu lah, mereka memahami bahwa sebuah rahasia umum harus tetap
dirahasiakan, walaupun mereka tahu bahwa semua orang sudah tahu.
STUDI-STUDI KASUS: ACEH DAN BALI
Dalam literatur mengenai peristiwa pembunuhan 1965–66, tercapai konsensus atas tesis
dualistik: di beberapa daerah tentara yang memimpin, di daerah lain milisi sipil yang memimpin.
Konsensus ini bukan berarti tesis dualistik itu benar. Konsensus itu mungkin tercapai sematamata karena bukti-bukti peristiwa itu masih terlalu sedikit dan tak meyakinkan sehingga tidak
memungkinkan adanya analisis yang lebih baik dan lebih akurat. Satu cara untuk menguji
validitas tesis itu ialah dengan memeriksa peristiwa pembunuhan itu di dua propinsi yang,
menurut hampir semua penulis, pembunuhannya sebagian besar dilakukan oleh warga sipil,
yaitu: Aceh dan Bali. Kaum Muslim di Aceh dan kaum Hindu di Bali dikatakan begitu marah
atas kurangnya rasa hormat PKI terhadap tradisi agama yang dianggap sakral, dan tidak bisa

9

mengendalikan kemarahan mereka. Kajian-kajian yang lebih baru tentang Aceh and Bali
memperlihatkan bahwa karakterisasi ini tentang pembunuhan sama sekali tidak tepat.
Penelitian Jessica Melvin di Aceh menunjukkan dengan meyakinkan bahwa komandan
tentara untuk Aceh Brigjen Ishak Djuarsa, memulai pembunuhan dengan berkeliling propinsi di
awal Oktober 1965 dan memberi perintah kepada bawahannya untuk mengatur pembunuhan
orang-orang yang berafiliasi dengan PKI.2 Melvin menemukan dokumen-dokumen militer yang
disimpan dalam arsip pemerintahan propinsi dan mewawancarai lebih dari tujuh puluh orang.
Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa komandan-komandan militer
menekan organisasi-organisasi nonkomunis di propinsi untuk bergabung dengan kampanye
untuk membunuh mereka yang diduga komunis (Melvin 2015). Djuarsa mungkin tidak
menerima perintah langsung dari atasannya di Jakarta untuk mengadakan kampanye ini, tetapi ia
dengan jelas berkolaborasi dengan atasan langsungnya, Letnan Jenderal Ahmad Mokoginta,
yang merupakan komandan seluruh pulau Sumatra dan sering berkomunikasi dengan temantemannya, jendral-jendral senior di Jakarta.
Satu kontribusi penting penelitian Melvin adalah fokusnya kepada apa yang dia sebut
“mekanisme pembunuhan massal”— yakni, bentuk-bentuk kekerasan. Dia membedakan dua
fase pembunuhan. Fase pertama ialah ketika milisi sipil, setelah dimobilisasi tentara, merangsek,
melintasi kota dan desa, membunuh mereka yang dikaitkan dengan PKI dan meninggalkan
mayat-mayat di jalan-jalan.Tentara di Aceh melacak dan merekam jumlah orang yang meninggal
dalam apa yang disebut “pembunuhan di muka umum”; angka terakhir yang tercatat ialah 1,941.
Namun fase ke dua, menghasilkan jumlah korban tewas yang lebih besar: tentara memerintahkan
agar tahanan dibantai. Dalam fase ini, bertruk-truk kelompok tahanan diambil dari penjara dan
kamp tahanan dan dieksekusi di daerah terpencil yang tidak ada atau sedikit sekali saksinya.
Korban-korban hilang tanpa jejak. Pembunuhan semacam inilah yang didramatisasi dalam film
Garin Nugroho, Puisi tak Terkuburkan, 2000, tentang seorang penyair Aceh yang ditahan,
Ibrahim Kadir; ia menyaksikan teman-temannya sesama tahanan pada malam hari dibawa untuk
dieksekusi.
Seperti di Aceh, pembunuhan di Bali juga merupakan sebuah operasi militer. Dari
penelitian Geoffrey Robinson pada 1990an terungkap peran krusial Resimen Para Komando
Angkatan Darat (RPKAD) dalam memulai pembantaian di Bali pada awal Desember 1965
(Robinson 1995, 273–303). Ia menunjukkan bagaimana gubernur Bali, A.A.B. Sutedja, dan
komandan militer di Bali, Brigjen Sjafiuddin, yang keduanya setia kepada Presiden Sukarno,
mencegah kampanye pembunuhan oleh kelompok antikomunis di bulan Oktober dan November.
Mereka sementara melarang PKI dan memerintahkan anggota PKI untuk melapor secara teratur
kepada penguasa setempat. Tetapi mereka tidak mengijinkan jenis pembunuhan massal yang
sudah terjadi di propinsi lain, seperti di Aceh, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Mereka melakukan
yang juga dilakukan komandan Jawa Barat, seorang Sukarnois, Mayor Jenderal Ibrahim Adjie,
pada saat itu (Herlina 2012). Namun, berbeda dengan Adjie, mereka tidak berhasil menangkis
intervensi dari Jakarta. Setelah terjadi pembunuhan seorang perwira polisi dan dua orang milisi
di sebuah desa, Tegalbadeng, pada 30 November, pasukan antikomunis lokal, termasuk mereka
di dalam korps perwira yang ditempatkan di Bali, menyatakan bahwa PKI memulai sebuah
serangan dan perlu ditindas lebih tuntas. Komando militer pusat di Jakarta mengirim pasukan
RPKAD ke Bali pada 7-9 Desember untuk menopang pasukan di Bali dan menyerukan agar
tindakan lebih keras dilancarkan terhadap PKI (Kammen and Jenkins 2012).

2

Buku Melvin, Mechanics of Mass Murder: How the Indonesian Military Initiated and Implemented the Indonesian
Genocide, the Case of Aceh, berdasarkan disertasi PhD di Melbourne University, akan terbit.

10

Penelitian saya sendiri mengenai Bali bertumpu pada penelitian Robinson dengan
menginvestigasi pembantaian-pembantaian tertentu.3 Pembantaian yang paling terkenal adalah
yang dilakukan terhadap pimpinan tertinggi komite PKI di propinsi dan tokoh Bali terkemuka
yang telah mendukung PKI. Pembantaian itu terjadi di Kapal, sebuah desa kira-kira 12 kilometer
dari Denpasar. Saya belum bisa menemukan satu pun dokumen tentang peristiwa ini. Sedikitsedikit saya kumpulkan fakta-fakta dari wawancara dengan tujuh saksi mata (lima di antaranya
dulu merupakan anggota milisi antikomunis) dan lima orang kerabat korban. Korban-korban
pembantaian Kapal merupakan beberapa di antara tokoh publik yang paling terkemuka, karena
itu berita tentang pembantaian ini beredar di seluruh Bali, sampai-sampai menjadi bahan rumor
dan legenda. Setelah saya mengambil sari dari berbagai cerita yang berbeda, saya akhirnya
menentukan bahwa pembantaian itu terjadi pada malam 16 Desember dan menghilangkan jiwa
tiga puluh lima orang.
Ini berarti di pertengahan Desember pemimpin-pemimpin PKI masih hidup. Banyak dari
tokoh-tokoh yang dibunuh di Kapal sebelumnya berada di bawah perlindungan polisi Denpasar.
Namun, pasukan RPKAD merebut mereka dari tempat penahanan mereka, mengikat dan
menutup mata mereka dan membawa mereka dengan truk ke lapangan kremasi (setra) di Kapal,
dan kemudian merobohkan mereka dengan senapan mesin. Dalam aksi ini, atas desakan
RPKAD, peran milisi antikomunis lokal di Kapal ialah menyiapkan tempat eksekusi, menggali
kuburan massal, dan membunuh seorang korban, orang yang dianggap sebagai pemimpin PKI di
Bali. Tidak satu pun keluarga para korban menerima pemberitahuan resmi mengenai kematian
mereka. Keluarga hanya mendengar desas-desus. Salah seorang di Kapal yang menggali kuburan
massal di siang hari dan pada malam harinya menyekop kembali tanah galian untuk menutup
tubuh para korban, ingat bahwa perwira militer yang mengawasi operasi tersebut mengatakan
kepada mereka setelah pekerjaan yang melelahkan itu selesai, “Bila ada yang ke sini
menanyakan kejadian di sini, bilang saja ‘saya tidak tahu.’”4
Di Bali tidak ada pemilahan fase yang jelas tentang “pembunuhan di muka umum”
seperti di Aceh. Hampir semua pembunuhan merupakan pembantaian tahanan. Kelompok
antikomunis memang membunuh beberapa orang dalam minggu antara insiden Tegalbadeng dan
saat tibanya RPKAD, namun sebagian besar pembantaian terjadi setelah RPKAD datang. Satu
dokumen yang saya temukan adalah laporan tentang pertemuan antara partai politik antikomunis
yang utama di Bali, Partai Nasional Indonesia (PNI), dengan tentara di Desember 1965.5
Laporan itu disusun oleh notulis PNI. Menurut catatan itu, seorang komandan Kodim
mengumpulkan pimpinan PNI dan dua partai antikomunis yang lain di Kodim daerah Denpasar
pada tanggal 10 Desember, segera setelah pasukan RPKAD tiba, untuk membahas bagaimana
“menumpas Gerakan 30 September.” Dalam rapat itu mereka sepakat agar pembunuhan
berlangsung meluas – setiap anggota PKI merupakan sasaran – tetapi harus dilakukan dengan
hati-hati. “Djangan demonstratif. Tidak dilihat oleh anak, perempuan dan orang2 jang tidak
perlu tahu.”
Pembantaian di Bali adalah hasil sebuah operasi militer, yang dimulai oleh seorang
perwira RPKAD, Mayor Djasmin; dia yang menciptakan dan mengendalikan sebuah jaringan
warga sipil yang anti-PKI, yakni Badan Koordinasi Kesatuan Aksi Pengganjangan Kontrev
Gestapu, yang oleh anggota-anggotanya dikenal sebagai KOKAP, yang dibentuk pada tanggal 9
3

Hasil pertama penelitian ini akan diterbitkan pada akhir 2016 dalam sebuah biografi berbahasa Indonesia tentang
seorang pengusaha, anggota parlemen dan veteran dalam perjuangan antipenjajahan, yaitu I Gede Puger. Ia salah
satu orang yang dieksekusi dalam pembantaian di Kapal.
4

Komunikasi pribadi dengan Wayan (pseudonym), Kapal, 2 Agustus, 2013.

Dokumen tersebut berjudul “Catatan dari Rapat Dewan Daerah, PNI” tertanggal 22December, 1965. Direproduksi
dalam Hidayat (1999, 115–18).
5

11

December atas perintahnya.6 Pasukan RPKAD di bawah pimpinan Djasmin bukan dikirim
karena Bali kekurangan personil militer; jumlah prajurit yang ditempatkan di Bali lebih dari
cukup untuk melaksanakan operasi pembunuhan warga sipil yang tidak bersenjata. Tujuan
RPKAD adalah untuk menimbulkan rasa takut di kalangan perwira militer, polisi, dan pejabat
negara di Bali yang tidak setuju dengan operasi yang demikian. Tidak mengherankan bahwa di
tahun-tahun kemudian, Djasmin menolak memikul tanggung jawab atas pembantaian yang
terjadi. Ia mengatakan kepada salah seorang peneliti bahwa perannya di Bali ialah untuk
menghentikan pembunuhan yang dilakukan oleh warga sipil Bali (Conboy 2003, 149).
SIMPULAN
Bahwa pembunuhan di Aceh dan Bali dicatat dalam buku-buku sejarah sebagai pekerjaan
massa yang mengamuk dan haus darah menggambarkan keberhasilan militer dalam
menyembunyikan dan mengaburkan peran mereka yang sebenarnya. Militer waktu itu tidak
ingin berada di garis terdepan dan dianggap berjasa melakukan pembantaian. Masuk akal mereka yang bertanggung jawab atas perbuatan kejam dan keji jarang ingin tindakan dan
perbuatan mereka didokumentasi dengan rinci dan diterbitkan secara luas. Di Aceh dan Bali
dapat diamati pola pembunuhan yang sama yang juga menjadi pola pembunuhan di tempat lain
di Indonesia. Peneliti-peneliti yang mengkaji pembantaian di Sumatra Utara, Jawa Tengah, dan
Flores menemukan bahwa tentara memimpin operasi-operasi untuk menghilangkan sejumlah
besar warga yang dituduh komunis (Elsam 2012, 2013; McGregor 2012 Oppenheimer and
Uwemedimo 2009; Prior 2011; Tri Hasworo 2004; van Klinken 2013). Wawancara Tempo
dengan pelaku-pelaku sipil dari Jawa Timur, Palembang, dan Palu juga mengungkapkan pola
penghilangan paksa yang sama (Tempo 2012, 56–72, 100, 106–7). Tesis dualistik tidak
menangkap keseragaman yang mencolok yang ada dalam deskripsi kejadian di daerah-daerah
yang demikian terpencar. Walaupun terdapat perbedaan dalam aksi kekerasan oleh antikomunis,
namun, lintas propinsi, tampak cara menghilangkan orang-orang yang sudah ditahan
berlangsung dengan sangat ajeg. Teramati bahwa personalia militer mengorganisir warga sipil,
mengelola kamp-kamp tahanan, dan mengatur truk-truk untuk mengangkut para tahanan ke
tempat eksekusi.
Sulit dipercaya bahwa di daerah-daerah yang tersebar luas ini, personalia militer dan
kelompok milisi secara sendiri-sendiri/independen menggunakan metode yang sama dalam
menghilangkan tahanan. Pasti ada instruksi dari Suharto dan jenderal-jenderal sekutunya di
Jakarta ke bawahan mereka untuk mengorganisir pembunuhan dengan cara khas seperti itu.
Berdasarkan kajian-kajian lokal yang telah dilakukan sampai saat ini, peneliti-peneliti sekarang
sanggup menelusuri kembali rantai komando dan memeriksa pembuatan keputusan sampai ke
komando tertinggi di Jakarta. Seandainya dokumen militer internal dapat dibuka ke publik,
sebagaimana dokumen pemerintah Amerika tentang Indonesia pada 1965-66 juga telah
tersingkap, dapat diharapkan peneliti dapat memperoleh bukti lebih banyak untuk mematahkan
pendekatan dualistik.
Sebetulnya represi PKI dapat dicapai, seperti di Jawa Barat, tanpa pembantaian besarbesaran. Pertanyaan-pertanyaan kita sekarang: kapan dan mengapa komando tertinggi tentara di
bawah Suharto memutuskan untuk melaksanakan penghilangan paksa secara massal? Bagaimana
mereka mengatasi perlawanan dari dalam militer, polisi, dan pemerintahan sipil untuk
memastikan rencana mereka dapat dijalankan? Banyak cerita saat itu, yang tidak tertulis,
mengatakan bahwa kelompok nonkomunis, dari tingkat desa sampai istana, berusaha mencegah
militer melakukan pembantaian. Mungkin sekali perlawanan inilah yang menyebabkan adanya
keragaman dalam pola nasional. Di propinsi-propinsi yang pimpinan militer dan pemerintahan
sipilnya bersatu mendukung kebijakan Suharto, seperti di Aceh, pembantaian terjadi lebih awal;
6

Formasi milisi diumumkan dalam surat kabar lokal Denpasar (Suara Indonesia 1965).

12

daerah-daerah yang pimpinan militer dan sipilnya tidak bersatu untuk mendukung rencana
pembantaian, seperti di Bali, pembantaian baru terjadi setelah perlawanan militer dan sipil
teratasi. Presiden Sukarno tidak memecat Suharto atau mengungkap rencana pembantaiannya; ia
mengimbau semua pihak tetap tenang dan mendesak semua pejabat negara untuk mencegah
pembunuhan. Pada akhir Oktober 1965, semua Pangdam memahami bahwa mereka menghadapi
dua perintah berbeda: satu dari komandan tentara, Suharto, yang mengatakan bahwa mereka
harus membunuh, dan satu dari presiden, Sukarno, yang memerintahkan bahwa mereka tidak
boleh membunuh. Dalam situasi demikian mereka harus menebak pemimpin yang mana yang
lebih kuat dan akan bertahan. Beberapa pembantaian, seperti yang terjadi antara Februari dan
April 1966 di Flores, yang jumlah anggota PKInya kecil dan tidak merupakan ancaman (Prior
2011; van Klinken 2013), tampaknya diorganisir oleh perwira militer untuk memajukan karir
mereka sendiri. Mereka ingin membuktikan kepada atasan mereka bahwa mereka pejuang yang
heroik dalam usaha pemberantasan PKI, dan tidak menaruh simpati kepada Sukarno.
Dengan menganalisis bentuk-bentuk kekerasan yang telah membunuh begitu banyak
orang, penelitian-penelitian baru mulai menyingkap betapa mengerikan pembantaianpembantaian itu. Juga, sekarang bisa diungkapkan cerita-cerita pelaku yang berupa pembenaran
diri, seperti “PKI yang menyerang”, “PKI menciptakan situasi ‘membunuh atau dibunuh,’”
“saat itu keadaan perang,” dan sebagainya. Namun, eksekusi diam-diam, dan berdarah dingin
terhadap sejumlah besar tahanan yang diikat, tidak mungkin bisa dibenarkan.7 Bila para pelaku
bersikeras menyatakan bahwa saat itu memang keadaan perang, maka mereka harus mengakui
bahwa tindakan mereka harus digolongkan sebagai kejahatan perang, sama dengan pembunuhan
tawanan perang. Dengan mendokumentasikan penghilangan paksa, peneliti-peneliti sekarang
bisa menulis tentang penderitaan sunyi keluarga korban yang dibiarkan bertanya-tanya apakah
manusia yang mereka cintai masih hidup; di antara mereka ada yang bertahun-tahun sia-sia
mencari (Wiludiharto 2004).
Saat ini lebih banyak orang Indonesia yang menganut perspektif kemanusiaan mengenai
pembunuhan massal 1965–66, dan mengakui bahwa apapun yang telah dilakukan korban
sebelum 1965, jenis kekerasan yang mereka terima sama sekali tidak dapat dibenarkan.
Kekerasan semacam itu harus ditolak, tidak hanya karena sering dilakukan tanpa pandang bulu,
tetapi karena yang menjadi sasaran adalah orang-orang tidak bersenjata yang sudah ditahan.
Ilmiawan Jesuit di Jakarta yang tersohor, Franz Magnis-Suseno, yang mengambil bagian dalam
kegiatan kelompok pemuda Katolik yang sangat antikomunis di Jawa Tengah pada 1965–66,
telah menyokong perspektif ini: “Bahwa PKI merupakan musuh yang dibenci dan ditakuti tidak
dapat membenarkan pembunuhan dan penghancuran berjuta-juta orang yang tertarik kepada
PKI” (Magnis-Suseno 2015). Beberapa anggota NU yang lebih muda, seperti mereka yang
tergabung dalam Syarikat Indonesia, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), juga
menyetujui pendapat ini (Budiawan 2004). Akan terjadi revolusi di wacana publik Indonesia bila
lebih banyak warga negara membagi keberangan moral yang dirasakan almarhum Firman Lubis,
seorang dokter yang menulis otobiografinya sebanyak tiga jilid mengenai kehidupan sehariharinya dari 1950an sampai 1970an. Karena ia hidup di Jakarta, ia tidak mendengar tentang
pembantaian yang terjadi. Ia baru mendengarnya ketika ia berkunjung ke Jawa Tengah pada
1966: “Meskipun saya tidak senang dengan faham komunis, tindakan semena-mena di luar
hukum yang direstui oleh penguasa militer waktu itu sangat memuakkan saya. Barangkali naluri
doktrin perang mereka ‘kill or be killed’ [membunuh atau dibunuh] turut berpengaruh. Meski
7

Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Semua Orang dari Tindakan Penghilangan secara Paksa
tahun 2010, yang telah ditanda tangani pemerintah Indonesia tetapi belum diratifikasi, meniadakan segala alasan
untuk melakukan tindakan kekerasan: “Tidak ada pengecualian apapun, apakah dalam keadaan perang atau
ancaman perang, situasi politik dalam negeri yang tidak stabil, atau situasi darurat lain, yang dapat diterima sebagai
alasan pembenar terhadap tindakan penghilangan secara paksa.”

13

demikian, tindakan mereka tetap tidak bisa dibenarkan. PKI yang mereka lawan itu bukanlah
satuan kekuatan militer, hanya sebuah partai politik sipil yang sah. Jadi tidak bisa disamakan
seperti dalam keadaan perang” (Lubis 2008).
Penghilangan paksa di Indonesia terjadi dalam skala yang lebih besar daripada yang di
Chile. Peristiwa Chile terjadi lebih kemudian dan memakan korban penghilangan paksa sekitar
2000 orang di bawah pemerintahan Pinochet, 1973–89 (Stern 2006, 392–94); juga di Argentina,
sekitar 10,000 orang dihilangkan oleh junta militer di tahun-tahun 1976–83 (Robben 2005, 323).
Dapat dikatakan bahwa penelitian tentang kasus Chile dan Argentina dilakukan dengan lebih
seksama. Suharto berhasil berkuasa untuk waktu yang lebih lama daripada Pinochet dan
jenderal-jenderal Argentina. Ia meninggalkan lembaga-lembaga yang merasa berkewajiban
untuk memaksa agar kejahatan-kejahatan 1965–66 tetap didiamkan. Para peneliti masih harus
menghadapi pelecehan dan intimidasi dari lembaga-lembaga negara dan organisasi masyarakat
sipil yang bersikeras agar genosida politik itu diperlakukan sebagai peritiwa yang tidak terjadi.
Misalnya, seorang eksil Indonesia yang sudah berumur, pulang ke Indonesia pada 2015, sesudah
berpuluh tahun hidup sebagai eksil di Swedia. Setelah mengambil foto-foto kuburan massal yang
dia duga tempat ayahnya dikubur, ia segera dideportasi. Orang-orang di desa yang terlibat dalam
pembantaian itu melaporkan bapak itu kepada petugas militer setempat (Tempo 2015). Sudah
jelas dalam upaya seperti yang dideskripsikan dalam esai ini, yaitu upaya membuka sebuah
rahasia umum, para peneliti harus berhadapan dengan jaringan rapat para pelaku yang berafiliasi
dengan institusi-institusi negara, kuasi-negara, dan bukan-negara yang ingin sejarah 1965–66
menjadi siluman, seperti korban-korban yang dipendam di dalam kuburan massal tak bernisan.

UCAPAN TERIMA KASIH
Saya mengucapkan terima kasih kepada Joseph Nevins, Gerry van Klinken, Douglas Kammen,
Ayu Ratih, dan tiga pengulas anonim lainnya atas tanggapan mereka yang tajam.

DAFTAR RUJUKAN
ABDULLAH, TAUFIK, SUKRI ABDURRACHMAN, dan RESTU GUNAWAN, peny. 2012.
Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional, bagian II: Konflik Lokal. Jakarta:
Obor.
BEATTY, ANDREW. 2009. A Shadow Falls in the Heart of Java. London: Faber and Faber.
BOWEN, JOHN. 1991. Sumatran Politics and Poetics: Gayo History, 1900–1989. New Haven,
Conn.: Yale University Press.
BUDIAWAN. 2004. Mematahkan Pewarisan Ingatan: Wacana Anti-Komunis dan Politik
Rekonsiliasi Pasca-Suharto. Jakarta: Elsam.
CONBOY, KEN. 2003. Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces. Jakarta: Equinox
Publishing.
CRIBB, ROBERT. 2001. “Genocide in Indonesia, 1965–66.” Journal of Genocide Research 3
(2):219–39.
——. 2009. “The Indonesian Massacres.” In Century of Genocide: Critical Essays and
Eyewitness Accounts, eds. Samuel Totten dan William Parsons. New York: Routledge.
——. 2010. “Political Genocides in Postcolonial Asia.” In The Oxford Handbook of
Genocide Studies, eds. Donald Bloxham dan A. Dirk Moses. Oxford: Oxford University
Press.
CROUCH, HAROLD. [1978] 1988. The Army and Politics in Indonesia. Rev. ed. Ithaca, N.Y.:
Cornell University Press.

14

ELSAM. 2012. Pulangkan Mereka! Merangkai Ingatan Penghilangan Paksa di Indonesia.
Jakarta: Elsam.
——. 2013. Jembatan Bacem. Jakarta: Elsam. Film on DVD.
FEALY, GREG, dan KATHERINE MCGREGOR. 2012. “East Java and the Role of the
Nahdlatul Ulama in the 1965–66 Anti-Communist Violence.” In The Contours of Mass
Violence in Indonesia, 1965–68, eds. Douglas Kammen dan Katherine McGregor.
Singapore: NUS Press.
GERLACH, CHRISTIAN. 2010. Extremely Violent Societies: Mass Violence in the Twentieth Century World. Cambridge: Cambridge University Press.
GREEN, MARSHALL. 1965. Telegram from US Embassy in Jakarta to Secretary of State,
“Joint Sitep no. 70,” December 29. National Security Archive, Indonesia and EastTimor
Documentation Project, File 16, p. 16
HEFNER, ROBERT. 1990. The Political Economy of Mountain Java: An Interpretative History.
Berkeley: University of California Press.
HERLINA, NINA. 2012. “‘Tatar Sunda’ Digoncang Konflik Sosial Politik.” Dalam Malam
Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional, bagian II: Konflik Lokal., peny. Taufik
Abdullah, Sukri Abdurrachman, dan Restu Gunawan. Jakarta: Obor.
HIDAYAT, MANSUR. 1999. “Biografi Politik I Gusti Putu Merta (1913–1992).” Tesis Sarjana,
Universitas Udayana, Fakultas Sastra.
HUGHES, JOHN. [1967] 2002. The End of Sukarno: A Coup that Misfired: A Purge that Ran
Wild. Singapore: Archipelago Press. Pertama kali diterbitkan dengan judul Indonesian
Upheaval.
INDONESIA. 1986. “Report from East Java.” Diterjemahkan oleh Benedict Anderson. 41.
KAMMEN, DOUGLAS, dan DAVID JENKINS. 2012. “The Army Para-commando Regiment
and the Reign of Terror in Central Java and Bali.” In The Contours of Mass Violence in
Indonesia, 1965–68, peny. Douglas Kammen dan Katherine McGregor. Singapore: NUS
Press.
KOMNAS HAM. 2012. “Pernyataan Komnas HAM tentang Hasil Penyelidikan Pelanggaran
HAM yang Berat Peristiwa 1965–1966.” Jakarta: Komnas HAM.
KOMNAS PEREMPUAN. 2007. Mendengarkan Suara Korban Perempuan Peristiwa 1965.
Jakarta: Komnas Perempuan.
KOMPAS. 2015. “Kalla: Pemerintah tidak akan minta maaf untuk kasus HAM 1965.”
November 11.
http://nasional.kompas.com/read/2015/11/11/19201271/Kalla.Pemerintah.Tidak
Akan.Minta.Maaf.untuk.Kasus.HAM.1965 (diakses 12 Maret 12, 2016).
LEKSANA, GRACE. 2009. “Reconciliation through History Education: Reconstructing the
Social Memory of the 1965–66 Violence in Indonesia.” In Reconciling Indonesia:
Grassroots Agency for Peace, ed. Birgit Bräuchler. New York: Routledge.
LUBIS, FIRMAN. 2008. Jakarta 1960an: Kenangan Semasa Mahasiswa. Jakarta: Musup
Jakarta.
MAGNIS-SUSENO, FRANZ. 2015. “Membersihkan dosa kolektif G30S” Kompas. September
29.
http://nasional.kompas.com/read/2015/09/29/16000001/Membersihkan.Dosa.Kolektif.G3
0S? page=all (diakses 12 Maret, 2016).
MCGREGOR, KATE. 2012. “Mass Graves dan the Memories of the 1965 Indonesian Killings.”
In The Contours of Mass Violence in Indonesia, 1965–68, peny. Douglas Kammen dan
Katherine McGregor. Singapore: NUS Press.
MELVIN, JESSICA. 2013. “Interview with Joshua Oppenheimer.” Inside Indonesia 112.
http://www.insideindonesia.org/an-interview-with-joshua-oppenheimer (diakses 13
Maret, 2016).

15

——. 2015. “Documenting Genocide.” Inside Indonesia 122.
http://www.insideindonesia.org/documenting-genocide (diakses 13 Maret, 2016).
——. Akan terbit. Mechanics of Mass Murder: How the Indonesian Military Initiated and
Implemented the Indonesian Genocide, the Case of Aceh. Honolulu: University of
Hawai‘i Press.
MUN’IM DZ, H. ABDUL. 2013. Benturan NU-PKI, 1948–1965. Depok: Langgar Swadaya
Nusantara.
NEW YORK TIMES. 1966. “Sukarno Reports Killing of 87,000.” January 16.
OEI TJOE TAT. 1995. Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno. Jakarta: Hasta
Mitra.
OPPENHEIMER, JOSHUA, dan MICHAEL UWEMEDIMO. 2009. “Show of Force: A
Cinema-Séance of Power dan Violence in Sumatra’s Plantation Belt.” Critical Quarterly
51(1):84–110.
POESPONEGORO, MARWATI DJOENED, dan NUGROHO NOTOSUSANTO. 1990.
Sejarah Nasional Indonesia. Jilid ke-6. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Pustaka.
PRIOR, JOHN MANSFORD. 2011. “The Silent Scream of a Silenced History: Part One: The
Maumere Massacre of 1966.” Exchange 40:117–43.
RICKLEFS, MERLE. 1993. A History of Modern Indonesia since c. 1300. Edisi ke-2. Stanford:
Stanford University Press.
ROBBEN, ANTONIUS C. G. M. 2005. Political Violence and Trauma in Argentina.
Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
ROBINSON, GEOFFREY. 1995. The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali.
Ithaca,N.Y.: Cornell University Press.
ROOSA, JOHN. 2006. Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s
Coup d’État in Indonesia. Madison: University of Wisconsin Press.
——. 2012. “The September 30th Movement: The Aporias of the Official Narratives.” Dalam
The Contours of Mass Violence in Indonesia, 1965–68, peny. Douglas Kammen dan
Katherine McGregor. Singapore: NUS Press.
——. 2013. “Who Knows? Oral History Methods in the Study of the Massacres of 1965–66 in
Indonesia.” Oral History Forum d’histoire orale 33:1–29.
SCHAEFER, BERND, dan BASKARA T. WARDAYA, peny. 2013. 1965: Indonesia and the
World. Jakarta: Gramedia.
SETIYONO, BUDI, dan BONNIE TRIYANA, peny. 2003. Revolusi Belum Selesai: Kumpulan
Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965—Pelengkap Nawaksara. Semarang:
Mesiass.
SIMPSON, BRADLEY. 2008. Economists with Guns: Authoritarian Development and USIndonesian Relations, 1960–1968. Stanford, Calif.: Stanford University Press.
STERN, STEVE. 2006. Battling for Hearts and Minds: Memory Struggles in Pinochet’s Chile,
1973–1988. Durham, N.C.: Duke University Press.
STRASSLER, KAREN. 2005. “Material Witnesses: Photographs and the Making of Reformasi
Memory.” Dalam Beginning to Remember: The Past in the Indonesian Present, peny.
Mary Zurbuchen. Singapore: NUS Press.
SUARA INDONESIA (Denpasar, Bali). 1965. “Badan Koordinasi Kesatuan Aksi
Pengganjangan Kontrev Gestapu.” December 10.
SUKARNO. 1966. Djangan Sekali-Kali Meninggalkan Sedjarah. Jakarta: Prapantja.
SUNYOTO, AGUS dkk. 1996. Banser Berjihad Menumpas PKI. Tulungagung: Pesulukan
Thoriqoh Agung.
TEMPO. 2012. “Liputan Khusus: Pengakuan Algojo” October 1–7, 50–125.
——. 2015. “Kisah Tom Iljas, diusir dari Indonesia karena ziarah ke makam orang tua” 18
October. http://nasional.tempo.co/read/news/2015/10/18/ 078710584/kisah-tom-iljasdiusir-dari-indonesia-karena-ziarah-ke-makam-orang-tua (diakses 13 Maret,2016).

16

TRI HASWORO, RINTO. 2004. “Penangkapan dan Pembunuhan di Jawa Tengah Setelah G-30S.” Dalam Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban ‘65:
Esai-Esai Sejarah Lisan, peny. John Roosa, Ayu Ratih, dan Hilmar Farid. Jakarta:
Elsam.
VAN KLINKEN, GERRY. 2013. Murder in Maumere: Postcolonial Citizenship. Inaugural
lecture 477. Amsterdam: University of Amsterdam.
VICKERS, ADRIAN. 2005. A History of Modern Indonesia. Cambridge: Cambridge University
Press.
WILUDIHARTO, YAYAN. 2004. “Penantian Panjang di Jalan Penuh Batas.” Dalam Tahun
yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban ‘65: Esai-Esai Sejarah
Lisan, peny. John Roosa, Ayu Ratih, dan Hilmar Farid. Jakarta: Elsam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful