P. 1
DISERTASI

DISERTASI

3.0

|Views: 5,911|Likes:
Published by Hariyadihamid

More info:

Published by: Hariyadihamid on May 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2013

pdf

text

original

Sections

11-12 Desember 2009
Auditorium Gedung M.Si dan Doktor
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Narasumber:

Prof. Dr. Jogiyanto H.M.,M.B.A.

Prof. Dr. Suwardjono, M.Sc

Dr. Hani. Handoko, M.B.A.

Dr. B. M. Purwanto, M. B.A.

Dr. Rimawan Pradiptyo, M.Sc

Dr. Tri Widodo, Mec. Dev.

(Kand.) Dr. Kuntari Erimurti, Dra, M.M.

(Kand.) Dr. Gancar Candra Premananto, S.E., M.Si

(Kand.) Dr. MeinarniAsnawi, S.E., M.Si

(Kand.) Dr. Margani Pinasti, S.E., M.Si

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

i

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr.wb.

Kata syukur pada Tuhan Yang Maha Esa adalah pertama kali kami ucapkan atas
terlaksananya acara kolokium nasional yang mengangkat tema tentang
pengukuran. Tak lupa kami atas nama seluruh panitia juga mengucapkan terima
kasih kepada Pengelola Program Doktor Ilmu-Ilmu Ekonomika dan Bisnis
UGM yang telah mempercayakan kepada kami untuk melaksanakan acara yang
sangat penting bagi pengembangan keilmuan ini.

Pengukuran adalah sebuah mata rantai penting dalam proses pelaksanaan
sebuah riset. Tidak sedikit bias dalam hasil riset yang disebabkan oleh
kegagalan dalam pengukuran variable-variabel yang diteliti. Banyak pertanyaan
yang belum terjawab seputar isu tentang pengukuran. Semoga upaya kami
dengan mengadakan kegiatan kolokium nasional ini mampu memberikan
wadah untuk mendiskusikan berbagai permasalahan pengukuran dalam riset.
Pada akhirnya harapan kami adalah tercipta dinamika dan diskusi untuk
mendorong upaya peningkatkan kontribusi dari riset-riset, khususnya disertasi,
untuk masa mendatang. Tidak kalah penting adalah terjalinnya silaturahmi antar
mahasiswa doktoral maupun diantara seluruh insan akademika sehingga dapat
tercipta atmosphere yang baik untuk bersama memperbaiki kualitas penelitian
di tanah air tercinta.

Tidak ada gading yang tak retak, jika ada kekurangan dalam pelaksanaan acara
Kolokium Program Doktor tentang isu pengukuran ini, kami segenap panitia
memohon maaf dan semoga kegiatan ke depan lebih baik dan bermanfaat.
Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada seluruh peserta dan pendukung
acara ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan karunia rahmat
kebijaksanaan pada kita semua. Amin

Wassalamualaikum Wr.wb.

Yogyakarta, 4 Desember 2009

Panitia Kolokium

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

ii

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Daftar Isi

Ilmu Akuntansi

Analisis Keputusan Kepatuhan Pajak: Strategi Audit, Level Audit,
Perceived Probability of Audit dan Pemahaman Etika Pajak (Studi
Eksperimen Laboratorium)

1

Meinarni Asnawi

Pengaruh Pertimbangan Identitas terhadap Kekenduran Anggaran:
Peran Akurasi dan Pengurangan Bias

30

Monika Palupi Murniati

Ilmu Manajemen

Anteseden dan Konsekwensi Etika Kerja Islam

54

Siti Djamilah

Aplikasi Model Risiko Kredit untuk Mengestimasi Harga Premi
Penjaminan Simpanan Wajar (fair) dan Pengujian Moral Hazard

90

Firman Pribadi

Event-Time Approach dan Calendar-Time Approach dalam Mengukur
Kinerja Jangka Panjang IPO

121

Suherman

Karakteristik Inovasi, Pengetahuan, Komunikasi Pemasaran, Persepsi
Risiko Dan Stockout Dalam Keputusan Penundaan Adopsi Inovasi

135

Dyah Sugandini

Model Sikap Konsumen pada Kegiatan Causes-Brand Alliances

170

Singgih Santoso

Measuring the Behavior of individual and Group Performance:
Hierarchical Linier Modelling Approach

204

Setyabudi Indartono

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

iii

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Pengembangan dan Validasi Ukuran Iklim Keadilan Organisasional
pada Setting Kelompok Kerja

214

J. Eko Nugroho

Studi Integrasi Pasar Modal Indonesia Dengan Modifikasi Asset
Pricing Cheung & Lee (1993)

243

Ignatius roni setyawan

Ilmu Ekonomi

Dampak Kebijakan Energi Terhadap Perekonomian di Indonesia: Model
Komputasi Keseimbangan Umum

268

Agus Sugiyono

Estimasi Pengaruh Kewirausahaan terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Daerah: Pendekatan Teori Modal Kewirausahaan (Studi Kasus
Subosukasraten 1993-2005)

297

Hery Sulistio Jati Nugroho Sriwiyanto

Ketegaran Upah Nominal Pekerja Produksi dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhi (Studi Kasus: Industri Kimia di Indonesia 1997-2005)

327

Joko Susanto

Permintaan Energi Listrik Rumah Tangga (Studi Kasus pada Pengguna
Kelompok Rumah Tangga Listrik PT PLN (Persero) di Kota Medan)

362

Tongam Sihol Nababan

Makalah Seminar

Social Desirability Bias: Apa, Penyebab, Konsekuensi dan Solusi?

410

Gancar Candra Premananto

Spesifikasi Model Pengukuran Formatif vs Reflektif untuk Konstruk
Laten Need for Closure

423

Kuntari Erimurti

Pengukuran Konstruk Kualitas Laba dan Isu Pengukuran Fair Value
Dalam Akuntansi

460

Margani Pinasti dan Meinarni Asnawi

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

1

ANALISIS KEPUTUSAN KEPATUHAN PAJAK: STRATEGI AUDIT,
LEVEL AUDIT, PERCEIVED PROBABILITY OF AUDIT
DAN PEMAHAMAN ETIKA PAJAK
(Studi Eksperimen Laboratorium)

Meinarni Asnawi
Prof.Dr. Zaki Baridwan, Dr. Supriyadi .M.Sc, Dr. Ertambang.M.Sc.∗∗

Abstract
This paper will examine what experiments on tax compliance decisions have
revealed about compliance behavior. The development of tax decision models has
focused on economic factors (audit strategy, audit level and perceived probability of
audit) and the personality or behavioral factors (tax ethical beliefs) traits of taxpayer
affecting tax compliance.

We will use experiment laboratory method for this research. We plan 150
respondents participation in this experiment from the magister sains and doctoral
program and accounting magister of FEB UGM Yogyakarta. Experiment will use
standard of fieldwork media for software and tax film. The six times experiment
implementable in the computer laboratory magister sains and doctoral program FEB
UGM.

We beliefs that proposed model provides an important contribution by
providing a framework that outlines the routes which audit strategy, audit level
perceived probability of audit and tax ethical beliefs impacts to tax compliance
decisions.

Keywords: audit strategy, audit level, perceived probability of audit, tax ethical beliefs
and tax compliance decisions

Mahasiswa Program Doktor Ilmu-ilmu Ekonomi Program Studi Akuntansi FEB UGM
Yogyakarta dan Dosen pada Fakultas Ekonomi , Jurusan Akuntansi Univ.
Cenderawasih Jayapura Papua

∗∗

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

2

PENDAHULUAN

Latar belakang

Ide riset ini muncul sebagai akibat adanya peningkatan kebutuhan
pelayanan publik yang memadai serta peningkatan kesejahteraan masyarakat
melalui penyediaan sarana dan prasarana yang layak. Konsekuensi logis dari
kondisi di atas adalah pemerintah harus meningkatkan pendapatan negara. Salah
satu medianya adalah melalui peningkatan penerimaan pajak, karena
pembiayaan melalui utang akan menimbulkan biaya baru yang harus
ditanggung pemerintah.Potensi pajak di Indonesia yang dapat dipungut dari
masyarakat masih memiliki peluang yang sangat besar, karena dari 222 juta
penduduk Indonesia, jumlah wajib pajak (WP) pribadi masih belum mencapai
13% WP.

Adanya tuntutan pada APBN yang membebani penerimaan dari sektor
pajak hingga mencapai ± 90 % bukan hal yang mudah bagi Dirjen Pajak sebagai
lembaga yang berwenang dalam penagihan pajak, apalagi pertumbuhan
ekonomi hanya mencapai sekitar 5%. Walaupun ada peningkatan target
penerimaan dari sektor pajak namun pemerintah tidak berencana menaikkan
tarif pajak. Sebaliknya pemerintah menurunkan tarif pajak serta berupaya
melakukan peningkatan penerimaan pajak dengan meningkatkan kepatuhan
wajib pajak dari 30% menjadi 40% dan pemberlakuan ekstensifikasi pajak
(Gunadi, 2006).

Kepatuhan wajib pajak dapat ditingkatkan melalui beberapa aspek
psikologis dan ekonomi. Beberapa riset yang menggunakan indikator psikologis
seperti sikap, etika, moral yang berkaitan dengan kepatuhan pajak telah diteliti
oleh Hanno dan Violette, (1996), Milliron (1985), Milliron dkk, (1988). Alm
(1998) mengklasifikasi kepatuhan pajak dalam dua katagori yaitu berdasarkan
pendekatan internal norm (moral behavior) dan external norm (government
decision)
.

Berbagai uraian di atas mengungkapkan bahwa upaya peningkatan
kepatuhan pajak merupakan salah satu alternatif peningkatan pendapatan
negara. Isu perilaku kepatuhan pajak tidak dapat dilakukan hanya dengan
menggunakan data sekunder, karena tidak dapat mengamati secara langsung
perilaku wajib pajak. Untuk itu riset ini menggunakan pendekatan eksperimen
untuk melihat perubahan perilaku setelah adanya perlakuan yang diberikan

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

3

dengan mengacu pada 4 masalah utama yaitu: (1) Apakah Strategi audit, level
audit dan pemahaman etika pajak individu berpengaruh dalam peningkatan
keputusan kepatuhan pajak? (2) Apakah strategi audit dan perceived probability
of audit
mempengaruhi keputusan kepatuhan pajak? (3)Apakah level audit dan
perceived probability of audit mempengaruhi keputusan kepatuhan pajak? (4)
Apakah pemahaman etika pajak individu memoderasi hubungan antara
perceived probability of audit dan keputusan kepatuhan pajak ?
Riset ini ingin menunjukkan bahwa isu perilaku individual dari sudut
pandang psikologi (etika) dan variabel ekonomi seperti strategi audit, level audit
dan perceived probability of audit tidak dapat diabaikan dalam upaya
peningkatan kepatuhan wajib pajak. Dari uraian di atas, dapat dikemukakan
bahwa tujuan khusus dari riset ini adalah: (1) Menginvestigasi apakah strategi
audit, level audit (audit rate) dan pemahaman etika pajak individu berpengaruh
dalam peningkatan keputusan kepatuhan pajak. (2) Menginvestigasi apakah
strategi audit dan perceived probability of audit mempengaruhi keputusan
kepatuhan pajak. (3) Membuktikan bahwa tingkat/level audit dan perceived
probability of audit
mempengaruhi keputusan kepatuhan pajak. (4)
Membuktikan apakah pemahaman etika pajak memoderasi hubungan antara
perceived probability of audit dan keputusan kepatuhan pajak.
Hasil riset ini diharapkan memberikan kontribusi bagi pemerintah
dalam proses pembuatan peraturan pajak agar tidak hanya dilandaskan pada
faktor ekonomi semata tetapi juga perlu mempertimbangkan faktor psikologis
wajib pajak. Selain itu software pajak yang dibuat untuk tritmen dapat
digunakan untuk simulasi dalam proses pembelajaran pajak. Video Etika
Pemahaman Pajak juga dapat digunakan untuk meningkatkan keputusan
kepatuhan pajak dari wajib pajak.

Kerangka Pemikiran

Fokus riset ini adalah mencoba menguji efek perilaku kepatuhan pajak.
Riset sebelumnya (Asnawi, 2006) hanya menyimpulkan berbagai faktor yang
diprediksi dapat meningkatkan kepatuhan pajak. Hasilnya menyimpulkan
bahwa terdapat 7 faktor yang dapat membuat wajib pajak mau membayar pajak
atau sebaliknya tidak mau membayar yaitu strategi audit, probabilitas audit,
motivasi (harapan dan keadilan), kompleksitas peraturan, norma-norma sosial,
dan etika pajak.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

4

Tingkat kepatuhan wajib pajak di Indonesia masih rendah. Data
menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pajak individu/perorangan di Indonesia
masih jauh tertinggal dari negara-negara Asia lainnya seperti India. Walaupun
pendapatan perkapita India lebih rendah (US $390) dibandingkan dengan
Indonesia (US$1,110) tetapi India ternyata mampu mencapai tingkat kepatuhan
2,5% dari populasi yang terdaftar sebagai wajib pajak sedangkan di Indonesia
hanya sekitar 0.392 % (Uppal, 2005).
Data di atas menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pajak masih perlu
ditingkatkan. Selama ini penghindaran pajak diduga lebih banyak berasal dari
para pedagang kecil dan sekelompok masyarakat berpendapatan menengah,
namun kenyataannya terdapat juga orang kaya dalam hal ini legislator, para
menteri dan pejabat tinggi pemerintahan juga melakukan ketidakpatuhan yang
disengaja melalui penghindaran pajak (Direktur Jenderal Pajak, 2000).
Mengapa ketidakpatuhan terjadi? ketidakpatuhan dapat disebabkan
tidak adanya manfaat langsung yang diterima wajib pajak atas pajak yang
dibayarkan. Sehingga harapan dari para wajib pajak atas apa yang telah
mereka bayarkan tidak dapat dirasakan dalam bentuk pelayanan publik yang
memadai. Selain itu ketidakpatuhan pajak juga bisa terjadi karena kompleksnya
peraturan pajak serta terjadi negosiasi yang dapat dilakukan antara Wajib Pajak
dan petugas pajak.

Proses individu untuk memilih patuh atau tidak patuh merupakan suatu
perilaku kognitif yang dikontrol dalam individu itu sendiri. Pada saat membuat
keputusan kepatuhan, wajib pajak akan memilih patuh jika mereka memperoleh
kepercayaan tentang hasil dan evaluasi yang diperoleh dari kepatuhan yang
mereka lakukan. Sebaliknya akan menunjukkan ketidakpatuhan jika serta
merasa pesimis karena tidak adanya sistem kontrol yang baik dari sistem pajak
yang berlaku (Alm, 1998).

Pendekatan ekpektasi utilitas juga dapat menjelaskan bahwa seseorang
yang memiliki sejumlah pendapatan tetap dan diperhadapkan dengan
kesempatan untuk melakukan self assessment akan memiliki kemungkinan
untuk membuat under report (laporan pendapatan lebih rendah dari yang
seharusnya) sehingga terdapat kemungkinan terjadinya ketidakpatuhan pajak
(Allingham, 1972). Dengan demikian prinsip self-assesment system yang
diterapkan memiliki potensi untuk terjadinya ketidakpatuhan pajak. Prinsip ini
selain memiliki kelebihan juga memiliki kelemahan karena dengan memberikan

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

5

kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan
kewajiban pajaknya memungkinkan potensi timbulnya perilaku ketidakpatuhan.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang diberi
kesempatan untuk melaporkan sendiri jumlah pendapatannya akan memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk menyembunyikan informasi mengenai
jumlah pendapatan yang seharusnya disampaikan dalam laporan pendapatan
kena pajaknya. Tujuannya adalah ingin memaksimisasi utilitas dirinya dan
menghindar dari pembayaran pajak yang seharusnya. Untuk itu seorang
individu memerlukan suatu sistem pemeriksaan yang memadai dan tidak
bersifat interograsi atas apa yang dilaporkan (self assesment) dari pendapatan
yang diterimanya.

Dengan demikian asumsi perilaku bounded rationality dan perilaku
opportunistik yang dikemukakan oleh Williamson (2000) bukanlah tanpa
alasan, self assesment system yang diterapkan dapat memicu terjadinya
asimetris informasi di antara wajib pajak dan prinsipal (Direkorat Jenderal
Pajak) karena dapat memicu terjadinya moral hazard dan adverse selection.
Berbagai temuan di atas menunjukkan bahwa isu perilaku individual
dari sudut pandang psikologi (etika dan norma sosial) maupun variabel ekonomi
yang berkaitan dengan berbagai peraturan pajak seperti strategi audit, level
audit dan perceived probability of audit tidak dapat diabaikan dalam upaya
peningkatan kepatuhan wajib pajak. Pentingnya riset ini adalah untuk
menunjukkan bahwa berbagai peraturan perpajakan yang diberlakukan
sebaiknya mempertimbangkan aspek psikologis wajib pajak, mengingat
kepatuhan pajak dapat digunakan untuk mengestimasi determinan moral wajib
pajak.

Selain itu desain eksperimen yang dipilih dalam studi ini merupakan
suatu pendekatan yang didesain khusus dengan memungkinkan peneliti untuk
memanipulasi variabel-variabel tertentu, dan mengisolasi hubungan kausalitas
tersebut dari berbagai pengaruh variabel penganggu, yang pada dasarnya tidak
mungkin dapat dicapai dengan observasi terhadap data masa lalu atau
penggunaan metode survei. Studi eksperimental terhadap topik ini belum pernah
dilakukan di Indonesia, sehingga menjadi daya tarik yang lebih besar untuk
dilakukan, karena riset ini mencoba mngidentifikasi perubahan perilaku
individu dalam proses pembuatan keputusan kepatuhan pajak.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

6

Gambar. 1 Model Keputusan Kepatuhan Pajak

LANDASAN TEORI

Berbagai teori yang menjelaskan tentang keputusan kepatuhan pajak
banyak dihubungkan dengan pendekatan ekonomi tradisional dan didasarkan
pada teori utilitas telah valid. Walaupun terdapat berbagai penjelasan tentang
mengapa para pembayar pajak patuh atau tidak patuh terhadap peraturan-
peraturan pajak, namun penjelasan secara ekonomis tidaklah cukup dan lengkap
dalam menjelaskan keputusan kepatuhan pajak.
Riset ini mencoba untuk mengkombinasikan berbagai faktor ekonomi
seperti strategi audit, level audit, perceived probability of audit (probabilitas
audit cerapan) dan faktor psikologi yaitu pemahaman etika pajak dalam suatu
pengujian rasionalitas keputusan kepatuhan pajak. Berikut ini penjelasan dari
setiap variabel yang digunakan dan yang dihipotesiskan akan dijelaskan dengan
terperinci.

Keputusan Kepatuhan Pajak

Ketidakpatuhan dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya
adalah dengan sengaja mengurangi jumlah kewajiban pajak (Hyman, 1993). Hal
ini dapat dilakukan dengan cara memanipulasi laporan keuangan yang akan
digunakan untuk kepentingan pajak. Atas dasar inilah keputusan kepatuhan
pajak atau ketidakpatuhan dapat dipengaruhi oleh faktor internal individu
(psikologis) dan faktor eksternal individu atau dalam beberapa riset disebut
dengan faktor non-ekonomi dan ekonomi (Alm, 1995).
Beberapa studi yang telah dikemukakan sebelumnya membuktikan
bahwa kepatuhan pajak tidak hanya dapat dilihat dari sudut pandang ekonomi
saja (Allingham, 1972; Yithaki,1974 ;Cowell,1988), melainkan juga faktor non-

STRATEGIA
UDIT

AUDIT RATE

PERCEIVED
PROBABILITY
OF AUDIT

KEPUTUSAN
KEPATUHAN
PAJAK

PEMAHAMAN
ETIKAPAJAK

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

7

ekonomi. Studi yang menginvestagi perilaku individu melalui eksperimen
laboratorium untuk melihat pengaruh non-ekonomi (individu) terhadap
kepatuhan (Alm,1998;1995) (Ghosh dan Terry, 1996), juga membuktikan
bahwa faktor non-ekonomi seperti rasa keadilan dan standar etika merupakan
faktor yang tidak dapat diabaikan dalam pertimbangan kepatuhan pajak.
Sejak ditemukannya bukti-bukti empiris yang terkait dengan faktor-
faktor yang mempengaruhi kepatuhan, maka terdapat banyak riset yang mulai
mendasarkan risetnya pada beberapa model yang dikemukakan sebagai
penjelasan terjadinya ketidakpatuhan pajak, antara lain dilakukan oleh (Milliron
dan Daniel , 1988) yang mengembangkan dua model pengujian kepatuhan yaitu
economic deterence model dan fiscal psychology model dan membuktikan
bahwa fiscal psychology model merupakan kunci untuk meningkatkan
kepatuhan pajak.

Sour (2001) mengembangkan model Allingham dan Sandmo (1972)
dengan menggunakan metode eksperimen untuk melihat perilaku kepatuhan
pajak di tiga negara yaitu meksiko dan kemudian dibandingkan dengan Spanyol
dan Amerika Serikat. Hasil studinya menyimpulkan bahwa keputusan yang
berkaitan dengan kepatuhan membayar pajak adalah kejujuran, rasa malu, dan
keadilan, dan pada sisi lain diasumsikan bahwa pemberian insentif atau reward
terhadap perilaku positif pembayar pajak akan meningkatkan kepatuhan wajib
pajak dalam membayar pajak.

Riset kepatuhan pajak di Indonesia yang mengukur tingkat kepatuhan
dengan rasio dari wajib pajak yang mengisi laporan pajak dengan jumlah wajib
pajak potensial yang terdaftar, menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pajak di
Indonesia hanya sebesar 2.5 % dari populasi yang mendaftarkan diri sebagai
wajib pajak (Uppal, 2005), konsekuensi rendahnya kepatuhan pajak dapat
berdampak pada hilangnya potensi pendapatan, sistem perpajakan menjadi
kurang prospektif dan tidak dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan.
Penelitian lainnya yang berkaitan dengan kepatuhan pajak diteliti oleh
Makhfatih (2005) yang berfokus pada penggelapan pajak membuktikan bahwa
perilaku penggelapan pajak dipengaruhi oleh probabilita terdeteksi, pinalti, tarif
pajak, negosiasi dan insentif, riset ini lebih menekankan faktor ekonomi dalam
kepatuhan pajak.

Dari berbagai hasil riset di atas dapat dikatakan bahwa terdapat banyak
kasus yang berkaitan dengan kepatuhan atau sebaliknya ketidakpatuhan pajak.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

8

ketidakpatuhan pajak dapat dilakukan dengan cara tidak melaporkan atau mela-
porkan namun tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya atas pendapatan yang
bisa dikenai pajak. Hal ini bisa saja terjadi karena perhitungan pajak sampai saat
ini masih menggunakan self-assesment system. Sistem ini memungkinkan
seorang wajib pajak dapat menghitung dan menentukan sendiri besarnya
pendapatan yang akan dilaporkan sebagai pendapatan kena pajak. Dampaknya
bisa terjadi informasi asimetris antara lembaga pajak dan wajib pajak dan dapat
memunculkan adanya moral hazard.

Strategi Audit

Beberapa riset awal yang berkaitan dengan kepatuhan pajak pada
dasarnya menggambarkan model kepatuhan pajak sebagai suatu permainan
(simulasi) antara wajib pajak dan insititusi pajak, karena di satu sisi kepatuhan
pajak diperhadapkan dengan maksimisasi kesejahteraan wajib pajak dan di
pihak lain institusi berupaya untuk memaksimisasi penerimaan pemerintah
melalui strategi audit yang tepat (Beck; 1989, Reiganum; 1985).
Alm dkk. (1993) mengemukakan bahwa terdapat beberapa cara atau
strategi untuk seleksi audit pajak yaitu dengan random audit rule dan fixed audit
rule.
Beberapa riset membuktikan bahwa strategi audit yang bersifat random
akan meningkatkan kepatuhan pajak karena wajib pajak yang berada pada
kondisi ketidakpastian akan cenderung untuk menghindari risiko pinalti (Ghosh
dan Terry;1996, Beck;1991, Jackson;1986).
Untuk lebih memahami strategi audit dengan pendekatan random. Alm
dkk. (1993) menggunakan economics-of-crime methodology yang pertama kali
dikembangkan oleh Allingham dan Sandmo (1972). Mereka menemukan bahwa
individu yang diasumsikan menerima pendapatan tetap akan menggunakan
kewenangan pajak untuk melakukan underreported income dengan cara
memaksimisasi fungsi utilitasnya dan menanggung akibatnya jika
penghindaran pajaknya terdeteksi dan dikenakan pinalti.
Berbagai hasil riset di atas memperjelas bahwa asumsi informasi
assimetris yang terjadi dalam konteks hubungan antara Dirjen Pajak sebagai
prinsipal dan wajib pajak sebagai agen seperti yang dijelaskan dalam teori
keagenan memungkinkan perlu adanya monitoring. Tujuan dilakukan
monitoring adalah untuk melihat dengan lebih akurat apakah wajib pajak
melakukan kepatuhan ataukah sebaliknya.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

9

Monitoring dalam konteks pajak identik dengan pemeriksaan yang
dilakukan oleh Dirjen pajak terhadap wajib pajak. Tujuan dilakukan
pemeriksaan adalah untuk menghindari kemungkinan terjadinya moral hazard
atau adverse selection yang bisa saja dilakukan oleh wajib pajak dalam
pengisian SPT. Dengan demikian strategi pemeriksaan yang tepat menjadi hal
yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kapan dan mengapa seorang
WP perlu diperiksa.

Beberapa hasil riset di atas juga menyimpulkan bahwa strategi audit
yang digunakan adalah untuk meningkatkan probabilitas terdeteksi melalui
audit yang dilakukan secara random dan meningkatkan level audit merupakan
faktor penting untuk memprediksi perilaku individu terhadap peningkatan
kepatuhan pajak.
Dari berbagai penjelasan di atas maka hipotesis yang akan diuji adalah:
H1a. Strategi audit random berpengaruh terhadap peningkatan keputusan
kepatuhan pajak
H1b. Strategi audit fixed berpengaruh terhadap peningkatan keputusan
kepatuhan pajak
H1c. Strategy audit random lebih berpengaruh terhadap peningkatan keputusan
kepatuhan pajak dibandingkan dengan strategi audit fixed

Level Audit

Teori standar tentang kepatuhan pajak banyak didasarkan pada hasil
riset Allingham dan Sandmo (1972). Individu diasumsikan memiliki jumlah
yang telah ditetapkan terhadap pendapatannya dan memiliki kewenangan untuk
memutuskan besarnya pendapatan yang akan dilaporkan sebagai pendapatn
kena pajak dengan tujuan untuk maksimisasi utilitasnya.
Laporan pendapatan tidak kena pajak akan semakin berkurang jika
individu (taxpayer) diperhadapkan dengan level audit yang tinggi atau dengan
kata lain kepatuhan pajak meningkat jika level audit meningkat. Karena dengan
semakin tinggi level audit maka semakin besar pula kemungkinan bagi WP
tersebut di periksa sehingga tingkat kepastian untuk diperiksa semakin tinggi
pula dan berdampak pada sikap WP yang akan menjadi semakin konservatif.
Friedland dan Rutenberg (1978) menemukan bahwa setiap penurunan
level audit pada saat strategi audit random akan berdampak pada probabilita
terjadi peningkatan under reporting dalam laporan pendapatan kena pajak. Riset

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

10

lainnya yang juga menemukan hasil yang sama yaitu semakin tinggi level audit
pada saat strategi audit random akan mengarah pada peningkatan kepatuhan
pajak dilakukan oleh Beck (1991), Alm (1991), Alm dkk. (1992a) dan Alm
dkk. (1993).

Temuan lain dari Alm dkk. (1992b) berbeda dengan riset sebelumnya.
Mereka menemukan bahwa dampak dari level audit sangat kecil dan tidak
linear, sehingga efek penghindaran pajak dari level audit yang tinggi secara
perlahan-lahan dapat hilang. Namun mereka juga menegaskan bahwa pembayar
pajak akan lebih patuh pada saat terdapat adanya kecenderungan diaudit
(perasaan akan diaudit). Dengan kata lain kepatuhan pajak lebih dapat
diprediksi melalui perceived probability of audit dibandingkan dengan yang
dijelaskan oleh teori utilitas.

Hasil temuan Alm dkk. (1992b) memperkuat temuan Spicer dan Hero
(1985) dan Robben (1987) yang menyimpulkan bahwa individu yang
laporannya diaudit akan melaporkan pendapatannya dengan lebih jujur setelah
diaudit dibandingkan dengan individual yang tidak diaudit. Riset yang
dilakukan oleh Dubin dkk.(1990) mencoba mengestimasi dampak level audit
yang tinggi terhadap perilaku kepatuhan pajak menyimpulkan bahwa penurunan
level audit secara signifikan berdampak pada penurunan pengumpulan pajak
pendapatan.

Hasil riset Dubin (2004) memperkuat hasil temuan sebelumnya bahwa
penurunan level audit akan berdampak pada penurunan keputusan kepatuhan
pajak. Upaya untuk menguji secara langsung efek deterrence dari audit juga
dilakukan oleh Slemrod dkk. (2001) dengan menggunakan 2000 pembayar
pajak sebagai sampel. Tetapi hasilnya tidak memberikan informasi aktual
tentang kepatuhan pajak individu karena dalam eksperimen yang dilakukan
hanya menggunakan data pajak yang dilaporkan dan bukan data pajak yang
sebenarnya.

Simpulan dari hasil riset Dubin (2004) dan Slemrod dkk. (2001)
meyatakan bahwa investigasi terhadap pelaporan pendapatan kena pajak oleh
pembayar pajak merupakan pengukuran tidak langsung terhadap kepatuhan
pajak karena dapat diprediksi melalui tingginya probabilitas level audit yang
akan dikenakan.
Dari berbagai penjelasan di atas maka hipotesis yang akan diuji dalam riset ini
adalah:

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

11

H2a Level audit berpengaruh dalam peningkatan keputusan kepatuhan pajak
H2b Semakin tinggi level audit berpengaruh pada peningkatan keputusan
kepatuhan pajak

Perceived probability of audit (Probabilitas audit cerapan)

Sistem self assessment yang diterapkan dalam perhitungan pajak
individu maupun badan memungkinkan terjadinya ketidakpatuhan pajak.
Seseorang dapat melaporkan lebih rendah atau tidak melaporkan pendapatan
kena pajaknya yang seharusnya dilaporkan apalagi jika individu tersebut merasa
bahwa laporan pen-dapatan yang diajukan tidak akan diaudit karena telah
memenuhi standar pelaporan pajak yang ditetapkan.
Beberapa bukti riset menjelaskan bahwa pengaruh probabilita audit
yang diterima dengan kepatuhan pajak. Milliron dan Toy (1988)
menginvestigasi tujuh faktor kepatuhan pajak yang terdiri dari deduction
permitted, IRS information services, withholding and information reporting, the
probability of audit, preparer responsibilities, tax rates and taxpayer penalties.

Variabel-variabel di atas kemudian dikelompokkan dalam dua pendekatan yaitu
economic deterrence model and psychology paradigm. Hasil riset mereka
menyimpulkan bahwa probability of audit merupakan salah faktor penentu
keputusan kepatuhan pajak.

Berbeda dengan Milliron dkk. (1988), riset Alm (1988) terkait dengan
perceived probability of audit didasarkan pada model hubungan antara principal
(institusi pajak) dan agent (pembayar pajak). Hubungan ini menghasilkan suatu
aturan yang berkaitan dengan seleksi audit. Jika individu melaporkan
pendapatan yang diterima lebih rendah dari batas minimum atau ”cutoff level”
maka akan memiliki kemungkinan diaudit lebih besar dan sebaliknya.
Penjelasan di atas mengasumsikan bahwa pembayar pajak (agent) dan
prinsipal akan berinteraksi dalam suatu permainan dimana insititusi pajak akan
mempelajari bagaimana para pembayar pajak menentukan besarnya pajak yang
akan dibayarkan melalui self-assesment pelaporan pajak dan dipihak lain para
pembayar pajak melihat kecenderungan probabilitas audit yang akan diterima
sebagai kebijakan pembayar pajak untuk memilih diaudit atau tidak atas laporan
yang dibuat oleh mereka.

Untuk memberikan pemahaman bagaimana cara individu menerima
suatu probabilita dijelaskan dengan rinci oleh Kahneman dan Tversky (1979).

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

12

Mereka membuktikan secara psikologi bahwa individu telah menyadari bahwa
probabilita mereka untuk diaudit adalah rendah sehingga secara sistimatis
individu bisa saja merasa bahwa probabilita audit mereka lebih tinggi
dibandingkan probabilita aktualnya.
Penjelasan di atas membuktikan bahwa individu akan membuat
pelaporan pendapatan yang memungkinkannya untuk tidak di audit dengan
mempertimbangkan berapa besar kemungkinan mereka akan diaudit. Namun hal
ini akan berbeda jika individu tidak mengetahui dengan pasti kapan atau
mengapa mereka diaudit. Dengan metode random WP akan lebih bersikap
konservatif dalam membuat keputusan pajaknya.
Hasil temuan ini sejalan dengan temuan Ghosh dan Terry (1996) yang
membuktikan bahwa semakin tinggi perceived probability of audit semakin
rendah tingkat ketidakpatuhan pajak. Analisis yang dilakukan Beck dan Jung
(1991) juga membuktikan bahwa pendapatan yang dilaporkan mengalami
peningkatan pada saat adanya peningkatan probabilita yang diterima dan tarif
pinalti.

Jackson dan Milliron (1986) dan Beck dkk. (1989) juga menemukan
hasil yang sama. Mereka menemukan bahwa pembayar pajak yang berada di
bawah kondisi ketidapastian atas probabilitas audit yang diterima akan lebih
cenderung konservatis dan menjauhi ketidakpatuhan.
Dari berbagai penjelasan di atas maka hipotesis yang akan diuji dalam

riset ini adalah:
H3a Perceived probability of audit berhubungan positif dengan perilaku
keputusan kepatuhan pajak
H3b Melalui perceived probability of audit strategi audit random berpengaruh
positif dalam meningkatkan keputusan kepatuhan pajak
H3c Melalui perceived probability of audit strategi audit fixed berpengaruh
positif dalam meningkatkan keputusan kepatuhan pajak
H3d Melalui perceived probability of audit peningkatan level audit berpengaruh
positif dalam meningkatkan keputusan kepatuhan pajak

Pemahaman Etika Pajak

Secara umum pemahaman terhadap etika dapat diartikan sebagai suatu
refleksi dari suatu kumpulan kepercayaan yang terdapat dalam diri individu
tentang benar dan salah. Sedangkan pengertian secara kontekstual, pemahaman

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

13

etika merupakan kepercayaan yang ada dalam diri individu yang merefleksikan
kepercayaan etika yang lebih spesifik tentang dan dalam konteks perilaku
kepatuhan pajak (Henderson; 2005).
Riset awal yang menguji peran etika dalam kepatuhan pajak diteliti oleh
Schwartz dan Orleans (1967) yang berfokus pada aspek komitmen sosial
terhadap kepatuhan pajak. Jackson dan Milliron (1986) selanjutnya
mengembangkan riset ini dengan mencoba mendefenisikan etika dalam dua
pengukuran yaitu orientasi etika dan evaluasi etika.
Orientasi etika mengarah pada pengertian etika secara umum atau lebih
dikaitkan dengan teori–teori psikologi tentang konsistensi antara tindakan dan
kepercayaan yang dimiliki (Lindzey; 1985). Sedangkan pengertian evaluasi
etika lebih terfokus pada pengertian etika secara kontekstual yaitu
menghubungkan sikap individu dan kepercayaan yang bisa saja berbeda
tergantung dari situasi yang dihadapi (misalnya ketidakpatuhan pajak dapat
dibedakan dengan bentuk kriminal lainnya).
Grasmick dan Green (1980), Grasmick dan Scott (1982), Kaplan dan
Reckers (1985) serta Reckers dkk. (1994), mendefinisikan etika dalam konteks
perilaku ketidakpatuhan pajak sebagai sesuatu yang secara moral adalah salah
atau tidak bermoral. Hasil riset mereka menunjukkan bahwa terdapat hubungan
positif antara etika dan kepatuhan pajak, sedangkan riset yang menunjukkan
hasil negatif ditunjukkan oleh Webley dan Eidjar (2001).
Riset yang dilakukan oleh Ghosh and Terry (1996) mendefinisikan
etika sebagai perasaan apakah seseorang akan melakukan manipulasi untuk
mencapai tujuannya yang dalam hal ini dikontekskan sebagai ketidakpatuhan
pajak yang disengaja membuktikan bahwa seseorang yang memiliki standar
etika yang tinggi serta memiliki kemungkinan diaudit akan memiliki
ketidakpatuhan yang rendah dan sebaliknya.
Riset yang menggunakan etika untuk memprediksi kepatuhan pajak
secara spesifik dilakukan oleh Henderson (2005) yang menginvestigasi effek
dari orientasi etika dan evaluasi etika membuktikan bahwa orientasi etika
mempengaruhi etika evaluasi dan selanjutnya secara positif mempengaruhi
kepatuhan pajak. Riset ini mencoba membangun suatu model yang
menggambarkan hubungan langsung maupun tidak langsung antara orientasi
etika, evaluasi etika dan kepatuhan pajak. Dari penjelasan di atas menunjukkan

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

14

bahwa pada dasarnya perilaku individu berperan dalam menentukan keputusan
yang akan diambil berkaitan dengan kepatuhan pajak.
Lembaga pajak secara sistimatik dapat mempengaruhi moral atau etika
pajak sehingga para pembayar pajak secara sukarela bersedia membayar pajak.
Pada dasarnya terdapat kontrak psikologis antara pembayar pajak dan lembaga
pajak dalam hal menetapkan perubahan fiskal tercakup didalamnya loyalti dan
etika antara pihak-pihak yang melakukan kontrak Feld dan Frey (2005).
Teori etika seperti teori teological memberikan pemahaman mendasar
tentang bagaimana individu membuat keputusan dan menyadari dengan
sepenuhnya atas setiap konsekuensi yang akan diterima dari setiap keputusan
yang dibuatnya. Dengan demikian pemahaman ini sesuai dengan keputusan
individu yang berkaitan dengan keputusan kepatuhan pajak, karena setiap
keputusan yang akan diambilnya baik patuh atau tidak memiliki konsekuensi
yang harus diterima.

Walaupun terdapat bukti-bukti tentang hubungan antara pemahaman
etika dan perilaku kepatuhan pajak namun masih diperlukan suatu investigasi
yang lebih mendalam antara hubungan antara evaluasi etika atau pemahaman
etika dengan keputusan kepatuhan pajak. Dalam konteks kepatuhan pajak, etika
evaluasi di bagi dalam tiga dimensi yaitu moral equity, relativism,
contractualism, atau yang disebut dengan multi-dimensional ethics scale (MES).
Pengukuran MES pada awalnya digunakan oleh Reidenbach (1988)
dengan setting riset pemasaran. Perkembangan selanjutnya, Flory (1992)
menggunakan MES dalam setting akuntansi, risetnya menguji judgment dari
para akuntan manajemen dan membuktikan bahwa dimensi MES secara
signifikan positif dihubungkan dengan intensions behavioral.
MES juga digunakan oleh Henderson (2005) dan membuktikan bahwa MES
memiliki potensi untuk memberikan bukti terhadap keputusan kepatuhan pajak.
Hal ini ditunjukkan dalam hasil risetnya yang membuktikan adanya hubungan
positif dan signifikan antara evaluasi etika dan kepatuhan pajak.
Shaub (1994) mengungkapkan bahwa penggunaan pengukuran MES
dalam mengukur variabel etika lebih baik dibandingkan pengukuran lainnya
(seperti defining issues test atau ethics general) karena MES secara speseifik
dapat mengidentifikasi rasionalitas dibalik alasan moral dan memberikan
pemahaman mengapa responden meyakini tindakan tertentu sebagai tindakan
etis. Selain itu MES dianggap mampu menguji orientasi etika dari dari

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

15

beberapa konstruk moral seperti justice, deontologi, relativism, dan egoism.
(Cohen 1998).

Dari berbagai hasil riset di atas maka hipotesis yang akan diuji adalah:
H4a. Pemahaman Etika Pajak berpengaruh terhadap peningkatan keputusan
kepatuhan pajak
H4b. Pemahaman etika pajak memoderasi hubungan antara perceived
probability of audit
dan keputusan kepatuhan pajak sebagai akibat adanya
strategi audit random
H4c. Pemahaman etika pajak memoderasi hubungan antara perceived
probability of audit
dan keputusan kepatuhan pajak sebagai akibat adanya
strategi audit fixed

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian tentang kepatuhan pajak dapat dilihat dari dua pendekatan
yaitu pendekatan ekonomi dan pendekatan non-ekonomi (psikologi). Riset ini
mencoba untuk mengungkapkan pengaruh kedua pendekatan tersebut terhadap
kebijakan kepatuhan pajak. Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi kembali
atau memperkuat beberapa teori keputusan yang telah ada serta memberikan
bukti empiris untuk memperjelas temuan riset sebelumnya.

Definisi Variabel

Untuk mempermudah pemahaman tentang berbagai faktor yang
berpengaruh terhadap keputusan kepatuhan pajak yang digunakan dalam riset
ini, maka berikut ini diberikan definisi yang berhubungan dengan variabel-
variabel riset tersebut:
1. Keputusan kepatuhan pajak, yaitu keputusan etis yang dibuat oleh
pembayar pajak (wajib pajak/fiskus) untuk taat pada peraturan-peraturan
pajak yang berlaku dan yang dikenakan terhadap pendapatan fiskus
sehubungan dengan pelaporan pendapatan kena pajak yang dilaporkan di
mana fiskus berdomisili.
2. Perceived probability of audit yaitu perasaan pembayar pajak (fiskus)
bahwa pelaporan pendapatan kena pajak yang dilaporkan memiliki
kemungkinan untuk diaudit.
3. Strategi audit pajak yaitu strategi audit pajak yang dapat berbentuk random
atau tetap (fixed) yang ditentukan oleh institusi pajak untuk memeriksa

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

16

kebenaran dari setiap laporan pendapatan kena pajak yang dilaporkan oleh
individu pembayar pajak.
- Strategi audit random dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk
pemeriksaan wajib pajak dengan kemungkinan semua wajib pajak
individu akan diaudit.
- Strategi audit tetap dapat didefinisikan sebagai bahwa wajib pajak
memiliki kemungkinan di audit jika membayar pajak di bawah standar
minimal pajak (sesuai UU pajak penghasilan individu) yang seharusnya
dibayarkan.
4. Tingkat/level audit didefinisikan sebagai besarnya presentasi pemeriksaan
terhadap wajib pajak.
5. Pemahaman etika pajak didefinisikan dalam bentuk pemahaman terhadap
etika pajak yang merefleksikan perilaku kepatuhan pajak dari individu
terhadap peraturan-peraturan dan undang-undang perpajakan yang berlaku
atau dengan kata lain merepresentasikan etika individu yang spesifik
berkaitan dengan kepatuhan pajak.

Pengukuran Variabel
1. Strategi audit merupakan tritmen dalam bentuk random dan fixed yang
diberikan kepada partisipan. Untuk strategi random partisipan akan
diberitahu bahwa mereka memiliki kemungkinan yang sama untuk dipilih
(random) dalam pemeriksaan (diaudit) laporan pajak mereka. Sedangkan
untuk strategi fixed, partisipan yang melaporkan jumlah pendapatan kena
pajak di bawah standar atau “cut off” yang telah ditetapkan akan diaudit.
Selanjutnya partisipan akan diukur dengan menggunakan item pertanyaan
yang telah diuji validitasnya pada riset sebelumnya.
2. Level audit merupakan perlakuan yang diberikan dalam bentuk peningkatan
level audit (level kemungkinan diperiksa) di mulai dari 10% sampai dengan
30%.

3. Pemahaman Etika Pajak, merupakan gambaran tentang etika pajak yang
dibuat dalam bentuk video dengan memberi gambaran tentang bagaimana
seharusnya mengisi SPT, menetapkan penghasilan tidak kena pajak dan
manfaat pajak serta pemeriksaan pajak. Gambaran tentang etika pajak
disesuaikan dengan instrumen Multi Ethical Scale (MES) yang

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

17

dikembangkan oleh Reidenbach (1988) dan kemudian dikembangkan dalam
riset-riset akuntansi oleh Flory (1992) dan Henderson (2005).
4. Perceived Probability of Audit (probabilitas audit cerapan) merupakan suatu
kondisi yang menggambarkan perasaan partisipan untuk diperiksa.
Instrumen yang digunakan dalam riset ini dikembangkan dari instrumen
yang digunakan oleh Milliron dan Toy (1988) dengan skala pilihan 1 – 7.
5. Keputusan Kepatuhan Pajak dikembangkan menggunakan ratio
perbandingan antara jumlah pendapatan yang dilaporkan dengan
pendapatan kena pajak yang sebenarnya serta beberapa item instrumen yang
dikembangkan dari Alm (1998).

Tahapan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mengunakan metode riset eksperimen.
Tujuannya adalah untuk lebih memperjelas arah hubungan dari model
keputusan kepatuhan pajak. Riset-riset keperilakuan dengan menggunakan data
sekunder telah banyak dilakukan namun memiliki kelemahaan karena mengukur
kepatuhan pajak dari rasio pembayaran pajak dan jumlah pajak. Penggunaan
data sekunder tersebut tidak dapat menggambarkan kondisi riil mengapa
seseorang atau individu tidak mau membayar pajak.
Pengujian dengan eksperimen untuk riset keperilakuan memiliki
beberapa kelebihan antara lain, peneliti dapat melakukan manipulasi terhadap
variabel independen sehingga kemungkinan adanya perubahan pada variabel
dependen benar-benar merupakan fungsi adanya peningkatan perlakuan
(treatment) manipulasi. Selain itu dengan riset eksperimen, variabel-variabel
yang dapat menimbulkan bias terhadap hasil dapat dikontrol sehingga lebih
effektif dibandingkan dengan desain riset lainnya. Keuntungan lainnya adalah
memiliki kemampuan replikasi yang tinggi dengan setting partisipan, waktu dan
situasi yang berbeda.

Selain memiliki keunggulan, riset eksperimen juga memiliki
kelemahan terutama masalah generalisasi hasil, kelemahan lainnya dalam riset
manajemen dan akuntansi atau bidang sosial lainnya terdapat keterbatasan
dalam masalah manipulasi dan kontrol, dengan demikian riset-riset eksperimen
tidak dapat dilakukan untuk riset-riset yang berkaitan dengan prediksi dan
tujuan-tujuan tertentu (Cooper dan Schindler; 2006)

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

18

Riset Eksperimen

Untuk meningkatkan kemampuan validitas internal dan eksternal
dalam riset eksperimen, maka desain eksperimen harus didesain dengan
memper-imbangkan berbagai faktor yang tujuannya adalah meningkatkan
kemampuan kedua jenis validitas tersebut.
Menurut Cooper dan Schindler (2006) untuk meningkatkan
kemampuan validitas internal sebaiknya desain eksperimen perlu
memperhatikan: history, maturity, testing, instrumentation, selection, statistical
regression dan experimental mortality
. Untuk memperjelas upaya yang
dikerjakan untuk memperkuat validitas internal, berikut ini dikemukakan
beberapa hal yang dilakukan untuk menjaga validitas internal :
- History, merupakan suatu kejadian diluar lingkungan eksperimen yang
terbawa dan dapat mempengaruhi partisipan pada saat eksperimen
berlangsung. Untuk menjaga agar kondisi dan situasi tetap sama pada setiap
pelaksanaan eksperimen maka waktu dan tempat dan adalah sama. Selain
itu sebelum eksperimen berlangsung partisipan diberikan semacam
penyegaran agar pada saat eksperimen berlangsung, partisipan telah berada
kondisi tidak terpengaruh pada kejadian-kejadian sebelum eksperimen
berlangsung.
- Maturity, Unsur kebosanan yang kemungkinan muncul dalam riset akan
dihindari dengan membuat desain eksperimen yang menarik seperti selain
menggunakan komputer juga menggunakan media video untuk memberikan
gambaran tentang etika pajak. selain itu waktu pelaksanaan eksperimen
didesain tidak terlalu lama.
- Testing, untuk menghindari terjadi pengaruh pengujian awal pada saat
eksperimen berlangsung maka riset eksperimen ini tidak melakukan
pengujian awal sehingga proses pembelajaran yang diperoleh pada saat
pengujian awal berlangsung tidak akan terjadi.
- Instrumen, masalah pengukuran yang digunakan telah diuji coba dengan
menggunakan pilot test sehingga masalah pengukuran sudah dapat
diantisipasi sejak awal.
- Selection, seleksi random yang digunakan untuk seleksi partisipan dalam
eksperimen ini diharapkan dapat mengurangi bias dalam perlakuan.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

19

- Statistical Regresion, proses uji awal melalui pilot test merupakan salah
satu cara untuk menghindari terjadinya ekstrim skor untuk variabel yang
digunakan dalam riset.
- Experimental Mortality, merupakan suatu kejadian yang memungkinkan
seorang partisipan tidak dapat menyelesaikan tahapan eksperimen (misalnya
ada janji dengan pihak lain, dll). Untuk mencegah subjek keluar pada saat
eksperimen berlangsung maka sejak awal partisipan yang diminta untuk
mengikuti eksperimen adalah partisipan yang dengan sukarela menyediakan
waktu untuk mengikuti eksperimen hingga selesai.
Untuk validitas eksternal perlu memperhatikan faktor reaktivitas dari
pengujian, interaksi dari seleksi dan faktor-faktor yang dapat menimbulkan
reaksi yang lain dari perlakuan yang diberikan dari variabel yang dimanipulasi.
Berikut ini akan dijelaskan berbagai prosedur yang akan digunakan dalam riset
ini dengan tujuan untuk meningkatkan validitas internal dan eksternal.

Seleksi Partisipan

Riset ini akan menggunakan partisipan yang diambil dari mahasiswa
S2 dan S3 baik dilingkungan UGM maupun beberapa universitas swasta yang
ada di Yogyakarta dengan jumlah partisipan direncanakan sebanyak 210
partisipan. Sedangkan untuk pengujian software eksperimen (pilot test) dan
videp pemahaman etika pajak akan digunakan partisipan dari mahasiswa S1
dengan latar pendidikan ekonomi. Beberapa riset sebelumnya yang
menggunakan mahasiswa sebagai partisipan dengan desain riset eksperimen
perpajakan antara lain dilakukan oleh Alm (1998), Milliron (1985), serta
Jackson dan Milliron (1986).

Pengumpulan Data

Pengumpulan data melalui eksperimen terutama untuk riset-riset
keperilakuan telah banyak dilakukan, pengumpulan data melalui eksperimen
biasanya melibatkan peneliti sebagai individu yang bertugas dalam penyusunan
skenario dengan berbagai perlakuan untuk melihat respon dari variabel yang
diteliti.

Teknik pengumpulan data ini memiliki beberapa kelebihan antara lain
memperkuat validitas internal dan memperjelas serta membuktikan analisis
hubungan kausalitas antara variabel dependen dan independen. Selain itu dalam

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

20

teknik ini peneliti dapat melakukan kontrol variabel dengan lebih mudah
sehingga dapat mencegah adanya pengaruh di luar variabel yang diteliti. Teknik
ini memiliki beberapa kelemahan antara lain memiliki keterbatasan pada objek
eksperimen. Artinya setting skenario yang dilakukan dengan objek keputusan
kepatuhan pajak tidak dapat digunakan untuk menguji perilaku individu untuk
jenis keputusan lainnya seperti keputusan membeli dll.

Tahapan Eksperimen.

Eksperimen dalam riset ini terbagi dalam empat (4) tahap, tujuan
untuk menggunakan empat tahap/sesi dalam eksperimen ini adalah untuk
memudahkan partisipan dalam memahami desain eksperimen yang digunakan
dalam riset ini.

Tahap pertama:

Pada sesi ini setelah mengisi daftar hadir partisipan akan mendapatkan
buku petunjuk yang didalamnya tersedia informasi nomor pasword, nomor
komputer, berbagai petunjuk dalam pelaksanaan eksperimen serta hadiah dan
sanksi.

Tahap Kedua:

Sesi ini merupakan sesi utama eksperimen, setelah partisipan
menduduki tempat masing-masing, partisipan akan diberikan penjelasan
mengenai eksperimen yang dilakukan dengan tujuan agar pada saat eksperimen
berlangsung partisipan telah memahami setiap tugas dan langkah yang harus
ditempuh. Setiap partisipan akan berhadapan dengan 1 unit komputer yang telah
berisi program yang dibuat khusus untuk eksperimen ini.
Partisipan akan diminta untuk menjawab beberapa item pertanyaan
yang berkaitan dengan pengujian variabel penelitian setelah partisipan
mendapatkan tritmen. Untuk mengetahui perubahan perilaku partisipan, maka di
setiap tahapan tritmen, partisipan akan diminta untuk menjawab beberapa item
pertanyaan yang berkaitan dengan cek manipulasi. Tujuannya adalah untuk
mengetahui keberhasilan dari tritmen yang dilakukan apakah dapat merubah
perilaku partisipan ataukah tidak.

Skenario eksperimen yang dibuat bertujuan untuk mengamati respon
atas besarnya laporan pendapatan kena pajak atas pendapatan yang sebenarnya
diterima dihubungkan dengan berbagai perlakuan (treatment) yang diberikan.
Agar partisipan bersungguh-sungguh dalam mengikuti eksperimen, maka semua

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

21

partisipan akan mendapatkan 5 tiket (vouchers) dan bagi partisipan yang terpilih
untuk diaudit dan kedapatan melakukan ketidakpatuhan pajak maka yang
bersangkutan akan dikenakan sanksi yaitu pengambilan 1 tiket untuk setiap
ketidakpatuhan yang dilakukan.

Dengan demikian pada akhir sesi eksperimen jika seorang partisipan
tidak lagi memiliki tiket maka yang bersangkutan tidak akan diikutsertakan
dalam proses pengundian untuk mendapatkan insentif menarik berupa 4 GB dan
2 GB serta buku riset eksperimen. Sebagai ucapan terima kasih tetap
mendapatkan soufenir lain yang disediakan yaitu 1 cd berisi 11 buku
eksperimen bidang ekonomi, manajemen dan akuntansi serta buku penunjang
riset lainnya, Semua partisipan akan mendapatkan fasilitas snack dan makan
siang.

Tahap Ketiga:

Tahap ketiga merupakan tahap post test eksperimen dimana partisipan
diminta untuk menjawab dan mengisi kuesioner yang berkaitan demografi
partisipan seperti umur, jenis kelamin dan pendidikan. Selain itu partisipan juga
akan mengisi kuesioner yang berhubungan dengan kegiatan eksperimen yang
telah berlangsung seperti perlakuan yang diberikan, cek manipulasi untuk
prosedur eksperimen, sikap yang berhubungan dengan kepatuhan pajak dan
kompensasi yang dijanjikan. Pada kesempatan ini akan dipilih secara acak
beberapa partisipan untuk mendapatkan insentif yang disediakan.

Tahap keempat:

Tahap terakhir dari riset ini merupakan tahap penyegaran partisipan,
yaitu tahap dimana partisipan akan diberikan penjelasan tentang mengapa
mereka diberikan berbagai perlakuan eksperimen. Selain itu partisipan juga
diminta untuk tidak membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan
eksperimen ini kepada pihak lain. Tujuan dari diberikan penjelasan ini adalah
untuk mengembalikan situasi dan emosi partisipan pada kondisi semula seperti
sebelum mendapatkan perlakuan. Akhir dari tahapan eksperimen ini adalah
penyerahan cindera mata dan hadiah sebagai ucapan terima kasih.

Desain Eksperimen

Desain eksperimen dalam riset disesuaikan tahapan eksperimen yang
telah dijelaskan di atas. Partisipan akan dibagi dalam dua kelompok dan setiap

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

22

kelaompok akan menerima 5 kali tritmen. Tabel berikut ini merupakan
gambaran dari desain eksperimen yang akan digunakan dalam riset ini:

Tabel 3.1 Desain eksperimen

Kelompok Random
Subjek

75 Orang

Perlakuan
Strategi Audit

Random

Level Audit

10 %

20 %

30 %

Perceived Prob. of
audit

Partisipan akan mengisi kuesioner tentang berapa persen mereka
merasa akan diaudit/diperiksa

Pemahaman Etika
pajak

Partisipan akan diperlihatkan melalui video yang menjelaskan tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan peraturan maupun kecurangan
pajak yang dilakukan. setelah melihat video tersebut partisipan akan
mengisi kuesioner etika dan kemudian menentukan jumlah pendapatan
yang akan dilaporkan sebagai pendapatan kena pajak

Kelompok Fixed
Subjek

75 Orang

Perlakuan
Strategi Audit

Fixed

Level Audit

10 %

20 %

30 %

Perceived Prob. of
audit

Partisipan akan mengisi kuesioner tentang berapa persen mereka
merasa akan diaudit/diperiksa

Pemahaman Etika
pajak

Partisipan akan diperlihatkan melalui video yang menjelaskan tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan peraturan maupun kecurangan
pajak yang dilakukan. setelah melihat video tersebut partisipan akan
mengisi kuesioner etika dan kemudian menentukan jumlah pendapatan
yang akan dilaporkan sebagai pendapatan kena pajak

Tabel di atas menunjukkan bahwa setiap kelompok (between subject)
akan mendapat 4 (empat) kali tritmen level audit (tanpa diberitahukan level
audit, diberitahu level audit 10%, 20% dan 30%, selanjutnya tritmen level audit
akan menjadi stimuli untuk mengukur Perceived Probability of audit
(probabalitas audit cerapan). Selanjutnya partisipan atau subjek akan diberi
tritmen berupa informasi etika pajak yang disampaikan melalui video/film dan
selanjutnya partisipan diminta untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan
dengan etika pajak. Sebelum dan sesudah tritmen akan diberikan cek manipulasi

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

23

untuk melihat apakah tritmen yang diberikan dapat merubah perilaku partisipan
ataukah tidak, jika tidak berarti tritmen yang diberikan belum berhasil.
Untuk mengetahui validitas dari alat/fasilitas dan instrumen yang akan
digunakan dalam eksperimen sebelumnya telah dilakukan pilot test/uji coba
sehingga validitas dan realibilitasnya tetap terjaga.

Kontrol Variabel

Beberapa riset sebelumnya mengindentifikasi sejumlah variabel yang
memungkinkan mempengaruhi keputusan kepatuhan pajak (Jackson dan
Milliron; 1986, Long dan Swingen; 1991, Alm dan McKee; 1998, Reckers dkk;
1994) sehingga dalam riset ini terdapat beberapa variabel yang perlu dikontrol,
variabel- variabel tersebut adalah:
1. Tarif Pajak dan Tarif pinalti (denda)
Riset sebelumnya yang dilakukan oleh Jackson dan Milliron (1986)
dan Reckers dkk (1994) menunjukkan bahwa ketidakpatuhan pajak menurun
secara monotonik dengan meningkatkan tingkat penalti dan sebaliknya dengan
tarif pajak. dalam riset ini kedua variabel tersebut didesain dengan tingkat yang
sama baik untuk tingkat pinalti yaitu 200 % dan tarif pajak sesuai dengan pasal
17 UU PPh 2000 yang berlaku di Indonesia.
2. Pendapatan

Reckers dkk. (1994) dan Madeo (1987) menemukan bahwa semakin
tinggi pendapatan seseorang maka terdapat kemungkinan yang lebih besar untuk
berkeinginan memaksimilisasi utilitas individunya. Dengan demikian dalam
riset ini semua partisipan didesain memiliki jumlah pendapatan yang sama.
Tujuannya adalah agar partisipan memiliki kesempatan yang sama dalam
menentukan jumlah pendapatan yang akan dikenakan pajak sehingga bias
pendapatan dapat dihindari.

Analisa Data Eksperimen

Untuk menguji hubungan langsung dan tidak langsung dalam riset ini
akan menggunakan model untuk analisis path. Untuk mengestimasi hubungan
antara variabel-variabel yang diuji akan digunakan Partial Least Square (PLS)
dalam pengujian hipotesis. Alasan penggunaan PLS karena merupakan alat
yang handal untuk menguji model prediksi dan dapat menggunakan ukuran
sampel yang kecil dengan bentuk konstruk yang formatif dan reflektif

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

24

(Tenenhahaus M., 2005). Karena riset ini menggunakan konstruk yang formatif
dan reflektif dan model yang diajukan masih bersifat prediktif, maka
penggunaan PLS merupakan alasan adalah tepat.

RANCANGAN EKSPERIMEN
Rancangan Sistem

Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, maka rancangan perlakuan
dalam eksperimen dibuat berbasis web (web system). Sistem ini digunakan
karena lebih mempermudah peneliti untuk melihat perubahan perilaku
partisipan pada saat diberi perlakuan (treatment). Sistem web juga
memungkinkan data partisipan dapat langsung terhubung dengan server peneliti
dan mempermudah pengacakan atau penentuan partisipan yang akan diaudit.
Selain itu sistem ini juga memudahkan peneliti untuk mendapatkan dan
menyimpan data secara langsung (bank data) sehingga lebih mempermudah
proses pengolahan data. Selain itu penggunaan web system design dengan basis
intranet memberikan kelebihan tersendiri karena tidak terpengaruh pada
kesibukan jaringan internet sehingga partisipan dapat menjalani eksperimen
dengan baik tanpa gangguan jaringan.

Rancangan Software dan video Pajak

Pembuatan software dipercayakan kepada tenaga 2 (dua) teknis dari
Techno Gama. Nama Program yang digunakan adalah SQLyog, dengan
menggunakan bahasa pemograman php dan database mysql. Software tersebut
berisi perlakuan strategi audit, level audit perceived probability of audit dan
pemahaman etika pajak beserta item pengukuran dan item cek manipulasi, yang
dihubungkan dengan keputusan kepatuhan pajak. Sedangkan untuk mengukur
pemahaman etika pajak, partisipan akan diberikan stimuli dengan menonton
video yang berisi konsep dan manfaat pajak (lihat narasi video,hal.23). Selain
itu terdapat juga item pertanyaan yang berkaitan data demografi partisipan.

Rancangan Software

Rancangan software pajak dibagi dalam 6 bagian utama yaitu:
1. Umum. Software dibuka dengan ucapan selamat datang. Pada kesempatan
ini partisipan tidak bertindak sebagai dirinya sendiri tetapi menjadi
seseorang yang diperankan dalam skenario/kasus pajak. Partisipan akan
mendapat 5 buah voucher yang akan digunakan untuk pengundian hadiah

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

25

setelah eksperimen berakhir. Setiap peserta diharapkan dapat
mempertahankan voucher yang diperoleh karena setiap kesalahan atau
kekeliruan dalam penentuan besarnya penghasilan kena pajak dan akan
kehilangan 1 voucher.
2. Pelaksanaan Eksperimen. Pada bagian ini partisipan telah terbagai ke
dalam 2 kelompok audit, dan selanjutnya partisipan akan mendapatkan
treatmen/perlakuan untuk strategi audit, level audit dan perceived probability
of audit.
Partisipan akan diaudit untuk setiap level audit dan partisipan yang
ditemukan membuat kesalahan akan kehilangan 1 voucher.
3. Informasi Penghasilan Kena Pajak (PTKP). Bagian ini berisi informasi
tentang bagaimana cara menghitung dan menentukan PTKP. Informasi ini
tidak langsung muncul di komputer melainkan menggunakan sistem login,
artinya jika partisipan menginginkan informasi tersebut maka yang
bersangkutan dapat mengklik login untuk mendapatkan informasi PTKP dan
sebaliknya jika tidak memerlukan informasi PTKP maka tidak perlu
mengklik login.
4. Data. Bagian ini merupakan bank data dari berbagai hasil eksperimen yang
berisi data strategi audit, level audit dan perceived probability of audit serta
data pemahaman etika pajak dan keputusan kepatuhan pajak. Selain itu
terdapat pula data penghasilan kena pajak, data cek manipulasi, data
preferensi risiko partisipan dan data partisipan (data demografi partisipan).
5. Hadiah. Bagian ini berisi hasil randomisasi penentuan partisipan yang
mendapatkan hadiah. Penetuan partisipan yang mendapatkan hadiah
delakukan dengan sistem acak dari vouchers yang dimiliki.
6. Penutup. Pada bagian ini berisi ucapan terima kasih untuk partisipasi dan
pesan singkat mengenai pelaksanaan eksperimen ini.

Rancangan Video Pemahaman Etika Pajak

Rancangan untuk narasi bagi pembuatan video pemahaman etika pajak
didasarkan pada instrumen multidimensi etika yang digunakan oleh Henderson
(2005). Narasi digambarkan dalam 3 dimensi yaitu relativism, contranctual dan
moral equity ekuitas. Gambaran untuk relativism dibangun dengan memberikan
pemahaman pajak pada level pendidikan terendah yaitu SD, Hal ini
dimaksudkan untuk memberikan pemahaman dini tentang pajak sehingga

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

26

diharapkan akan memberi makna bahwa setiap warga negara memiliki
kewajiban untuk membayar pajak.
Dimensi kontraktual digambarkan tentang mengapa seseorang perlu
menjadi wajib pajak, mengapa harus membayar pajak dan bagaimana
seharusnya pajak dihitung dan dibayar. Dimensi equity ekuitas lebih ditekankan
pada manfaat pajak dari sudut pandang agama dan sosial masyarakat yang
dilihat dari sisi manfaat yang diperoleh dengan membayar pajak.
Atas dasar dimensi etika di atas, maka narasi dari video pemahaman
etika pajak dibuat seperti berikut:

“ Siswa/i SD mendapat pelajaran tentang sumber pendapatan negara, salah satunya
adalah mengenai pajak. Mereka kemudian mendapat tugas untuk membuat tulisan
pendek berkaitan dengan pajak. setelah selesai (bubaran) sekolah, mereka bercerita
kepada ibunya (yang datang menjemput) bahwa tadi mereka belajar tentang sumber
Pendapatan Negara, salah satunya dari pajak. Anak-anak kemudian menyampaikan
bahwa mereka ditugaskan untuk membuat semacam karya ilmiah yang berkaitan
dengan pajak, dimulai dari apa itu pajak, manfaat, perbedaannya dengan retribusi
sampai dengan bagaimana membayar pajak yang benar. Ibunya anak2 kemudian
mengajak anak-anak ke kantor kantor pajak untuk mendapatkan penjelasan yang lebih
banyak tentang pajak.

Disepanjang perjalanan si ibu menjelaskan tentang mengapa harus membayar
pajak (sambil menunjukkan pembangunan yang sedang dilakukan seperti perbaikan
jalan, pembangunan sekolah rumah sakit dll, selain itu juga ditunjukkan manfaat pajak
melalui pembangunan non fisik seperti pembayaran biaya rumah sakit untuk
masyarakat miskin-askeskin, atau pemberian subsidi atau BLT, dll)
ditunjukkan
dengan gambar .

Untuk lebih lebih jelas tentang perpajakan, anak-anak kemudian di ajak
ibunya ke kantor pajak, di tempat ini mereka diperkenalkan dengan petugas pajak dan
kemudian mendapatkan penjelasan tambahan tentang bagaimana membayar pajak,
kenapa harus membayar pajak dan manfaat pajak. Pada kesempatan itu dijelaskan juga
tentang perbedaan antara pajak dan zakat atau pengeluaran sosial lainnya
anak2
kemudian mengajukan berbagai pertanyaan)
Manfaat pajak digambarkan dengan detail baik untuk kepentingan pembanguan
sarana dan prasarana maupun bagi Wajib Pajak itu sendiri. Gambaran dibuat
semenarik mungkin sehingga menyadarkan wajib pajak akan pentingnya membayar
pajak.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

27

Desain Buku Petunjuk Pelaksanaan Eksperimen

Buku petunjuk eksperimen berisi 5 bagian yaitu:
1. Halaman depan (cover), pada bagian ini berisi Judul buku, isi buku dan
nama program dan nama Fakultas serta nama Universitas.
2. Tata tertib. Pada bagian ini berisi hal-hal yang boleh dan tidak boleh
dilakukan oleh partisipan pada saat mengikuti eksperimen.
3. Pernyataan partisipan. Bagian ini berisi surat pernyataan dan partisipan
diharapkan menandatangani pernyataan untuk bersedia mengikuti
eksperimen hingga selesai.
4. Bagaimana menjalankan Program. Bagian ini berisi penjelasab tentang
pilihan tempat duduk (komputer), nomor user, password untuk membuka
program dan NPWP untuk partisipan.
5. Petunjuk pelaksanaan eksperimen. Bagian ini berisi langkah-langkah
memulai eksperimen hingga eksperimen berakhir.

DAFTAR PUSTAKA

Allingham, M. G., dan Sandmo, Agnar. 1972. Income Tax Evasion: A
Theoritical Analysis. Journal of Public Economics, 1: 323-338.
Alm, J., dan., Michael McKee. 1998. Extending the Lessons of Laboratory
Experiments on Tax Compliance to Managerial and Decision Economics.
Managerial dan decision Economics, 19(June-August): 259-275.
Alm James, B. R., Jackson, dan M.,McKee,. 1992. Estimating the Determinants
of Taxpayer Compliance With Experimental Data. National Tax Journal,
45: 107-114.
Alm James, M. B., Cronshaw, dan M.,McKee,. 1993. Tax Compliance With
Endogenous Selection Rules. KYKLOS, 46(1): 27-45.
Alm James., I., Sanchez., dan Ana De Juan,. 1995. Economic and Non-
economic Factors in Tax Compliance. KYKLOS, 48(1): 8-18.
Alm., J. 1988. Uncertain Tax Policies, Individual behavior and Welfare. The
American Economic Review
, 27: 237 - 245.
Alm., J. 1991. A Perspective on the Experimental Analysis of Taxpayer
Reporting. The Accounting Review, 66(3): 577-593.
Asnawi, Meinarni. 2006. Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan
pajak. Unpublished Article.
Beck, P., J dan., W. Jung. 1991. Experimental Evidence on Tax Payer
Reporting Under Uncertainty. The Accounting Review, 66: 535 - 558.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

28

Becker, W. H. B., dan S. Sleeking. 1987. The Impact of Public Transfer
Expenditures on Tax Evasion: An Experimental Approach. Journal of
Public Economics
, 34: 243-252.
Cohen, J., L. Pant, dan D. Sharp. 1991. An Empirical Investigation of
Attitudinal Factors Affecting Course Coverage of International Issues.
International Journal of Accounting: 286-301.
Cowell Frank, A., dan James P.Gordon. 1988. Unwillingness To Pay
Tax`Evasion and Public Good Provision. Journal of Public Economics:
305-321.
Dean, P., T. Keenan., dan F. Kenny. 1980. Taxpayer's Attitudes to Income Tax
Evasion : An Empirical Study. British Tax Review: 28 - 44.
Direktur Jenderal Pajak. 2000, Jakarta Post, Vol. July 31.
Elster, J. 1989. Social Norms and Economic Theory. The Journal of Economic
Perspectives
, 3: 99-117.
Fishbein, M., dan I. Ijzen. 1975. Beliefs, Attitudes, Intention and Behavior: An
Introduction To Theory and Research
: Reading, MA : Addison-Wesley.
Franzoni, L. A. 1999. Tax Evasion and Tax Compliance, In B.Boukaert and
DeGeest (Eds). Encyclopedia of Law and Economics, Cheltenham, UK:
Edward Elgar: 52-94.
Ghosh Dipankar dan Terry L., C. 1996. Experimental Investigation of Ethical
Standards and Perceived Probability of Audit on Intentional
Noncompliance. Behavioral Research in Accounting, 8(Supplement
1996): 219-244.
Glack, K., dan Ryan S. Burg. 2006. Social Norms of Taxation: Perceptions of
Cost and Duty, Department of Legal Studies and Business Ethics,
University of Pennsylvania
: 1-21. Philadelphia.
Gunadi. 2006. Pokok Pikiran Pembaharuan Perpajakan Menuju
Kesinambungan Penerimaan Negara
. Paper presented at the Seminar
Nasional Perpajakan Indoensia: Reformasi Perpajakan Menuju
Kesinambungan Fiskal Indonesia, Yogjakarta.
Hadibroto, A. 2000. Perubahan Undang-Undang Pajak Harus Adil dan
Berkepastian Hukum. Berita Pajak, 1418(XXXII): 6.
Hessing, D. J., H. Elffers, dan R.H. Weigel. 1988. Exploring The Limits of Self-
Reports and Reasoned Action : Investigation of the Psychology of Tax
Evasion Behavior. Journal of Personality and Social Psychology: 405-
413.

Hyman, D., N. 1993. Public Finance: A Contemporary Application of Theory
To Policy
(Fourth ed.): The Eryden Press.
Jackson, B. R., dan V.C. Milliron. 1986. Tax Compliance Research: Findings,
Problems and Prospect. Journal of Accounting Literature, 5: 125-157.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

29

Kahneman, D., dan A. Tversky. 1979. Prospect Theory: An Analysis of
Decision Under Risk. Econometrica, 47: 263-291.
Makhfatih, A. 2005. Penggelapan Pajak di Indonesia : Studi Pajak Hotel Non
Bintang
. Unpublished Disertasi, Universitas Gadjah Mada, Yogjakarta.
May J.Peter. 2005. Regulation and Compliance Motivations: Examining
Different Approaches. Public Administration Review, 65(1 Jan/Feb): 31-
44.

Milliron Valerie C. 1985. A Behavioral Study of The Meaning and Influence of
Tax Complexity. Journal of Accounting Research, 23(2 Autumn).
Milliron Valerie C. dan Daniel R, T. 1988. Tax Compliance: An Investigation
of Key Features. The Journal of the American Taxation
Association
(Spring): 84-104.
Palfrey, T., dan Howard Rosenthal. 1984. Participation amd The Provision of
Discreate Public Goods. Journal of Public Economics, 24: 171-193.
Randall, D. M. 1989. Taking Stock: Can Theory of Reasoned action explain
unethical conduct ? Journal of Business Ethics, 8: 873-882.
Scotchmer, S., dan., J, Slemrod. 1989. Randomness in Tax Enforcement.
Journal of Public Economics, 38: 17 -32.
Song, Y., dan T.E. Yarbrough. 1978. Tax Ethics and Taxpayer Attitudes : A
Survey. Public Administration Review, 38: 442 - 457.
Tenenhahaus M., V. E.-M. (2005). PLS Path Modelling. Computational
Statistics and Data Analysis
, 48, 159-205.
Torgler Benno. 2003. Tax`Morale and Tax Compliance: A Cross Culture
Comparison
. Paper presented at the Tax Institute of America Proceedings,
America.
Trivedi, V. U., Mohamed, Shehata., dan Bernadette Lynn. 2003. Impact of
Personal and Situational Factors on Taxpayer Compliance : An
Experimental Analysis. Journal of Business Ethics, 47(3): 175-197.
Uppal, J. S. 2005. Kasus Penghindaran Pajak di Indonesia. Economic Review
Journal
, 201: 1 - 5.
Weigel, R. H., D.J. Hessing, dan H. Elffers. 1987. Tax Evasion Research: A
Critical Appraisal and Theoritical Model. Journal of Economic
Psychology
: 215-235.
Williamson, O. E. 2000. The New Institutional Economics: Taking Stock,
Looking Ahead. Journal of Economic Literature, 38(3).
Winter, S. C., dan Peter. J. May. 2001. Motivation for Compliance with
Environmental Regulations. Journal of Policy Analysis and Management,
20(4): 675-698.
Yithaki, S. 1974. A Note on Income Tax Evasion A Theoretical Analysis.
Journal of Public Economics, 36: 201-202.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

30

PENGARUH PERTIMBANGAN IDENTITAS TERHADAP
KEKENDURAN ANGGARAN: PERAN AKURASI DAN
PENGURANGAN BIAS

Monika Palupi Murniati∗
ABSTRAK

This research based on practice phenomenon that practitioner need
to improve budgeting. Identity theory explained individual behavior
from instrumental and non-instrumental perspectives. Identity draw
an interactive perspective for explaining the dynamics of identity
building and maintaining it through procedural justice fairness.
Group engagement explained for why procedural justice shapes
cooperation in group and reduces budgetary slack. Experiment
method was used to examine these hypothesises. This research
consist of a 2x2x2 between subject design with manipulations of bias
suppression on procedural justice judgment, outcome satisfaction
and respect. Each cell consisted of 30 participants that randomly
assignment in 8 cells.

Keywords: identity, procedural justice judgment, outcome satisfaction,
budgetary slack, accuracy, bias suppression
.

1.

Pendahuluan

Fenomena praktik yang disajikan (Hansen, Otley, & Stede, 2003)
mengenai anggaran membuat para praktisi merasa perlu melakukan banyak
perbaikan dalam proses penyusunan anggaran. Partisipasi anggaran sebagai
bentuk perbaikan dari proses penyusunan anggaran oleh atasan ternyata tidak
selalu mampu memberikan benefit bagi kelompok. Kenyataan ini didukung
oleh banyak temuan penelitian mengenai partisipasi anggaran yang tidak
konklusif (Brownell, 1982; Murrary, 1990 dan Lau & Eggleton, 2003).
Asimetri informasi antara informasi yang dimiliki bawahan dan atasan
menjadi argumentasi mengapa partisipasi dibutuhkan dalam proses penyusunan
anggaran. Partisipasi anggaran merupakan pemberian kesempatan bagi bawahan
untuk ikut serta dalam penetapan tujuan sehingga komitmen bawahan untuk
mencapai tujuan terbentuk. Chow & Waller (1988) menyatakan bahwa

Penulis adalah mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Ekonomi Program Studi
Akuntansi FEB UGM dan staf pengajar di UNIKA Soegijapranata Semarang

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

31

partisipasi merupakan cara manajer untuk mengkomunikasikan informasi yang
dimiliki subordinat sehingga asimetri informasi akan berkurang. Pandangan lain
menyatakan bahwa partisipasi dalam penyusunan anggaran dapat dipahami
sebagai bentuk internalisasi tujuan individu (bawahan) kedalam tujuan
kelompok yang dapat menimbulkan kekenduran anggaran.
Teori keagenan menjelaskan bahwa partisipasi hanya akan bermanfaat
ketika atasan mampu menggunakan informasi privat yang diperoleh untuk
memperbaiki perencanaan, koordinasi dan evaluasi kinerja. Asumsi self
interested behavior
menjelaskan mengapa dalam partisipasi penyusunan
anggaran, bawahan memiliki kecenderungan melakukan kekenduran anggaran
karena mereka memiliki informasi privat dan kesempatan untuk memperoleh
keuntungan (Eisenhart, 1989). Partisipasi oleh teori keperilakuan dipandang
sebagai bentuk motivasi kepada bawahan untuk memberikan informasi privat
dan memperoleh informasi relevan dari lingkungan eksternal, supervisor
anggaran, bawahan lain dan atasan.
Penelitian mengenai partisipasi anggaran banyak didominasi oleh
pengujian dan penjelasan dari model instrumental melalui teori keagenan.
Partisipasi dapat dipahami sebagai peluang bagi bawahan untuk mengatur
seberapa besar informasi privat yang akan diberikan kepada atasan untuk
menetapkan anggaran. Alasan instrumental, reward, menjadi penjelasan bagi
perilaku kekenduran anggaran. Beberapa penelitian kemudian menggunakan
beberapa teori motivasi untuk menjelaskan perilaku kekenduran anggaran
dengan banyak variabel kontijensi. Penelitian ini akan memberikan pengujian
dan penjelasan mengenai perilaku kekenduran anggaran dari model non
instrumental melalui kebutuhan individu akan identitas.
Banyak alasan bagi individu untuk memutuskan menjadi anggota dari
suatu kelompok dan alasan identitas akan menjadi fokus dalam penelitian ini.
Kelompok dipandang sebagai sumber identitas karena individu mempunyai
kecenderungan mengidentifikasi individu lain melalui keanggotaannya dalam
kelompok. Kebutuhan individu akan identitas menjadi argumen bagi individu
untuk bergabung dengan kelompok yang mampu membentuk dan menjaga
identitas anggotanya sehingga perilaku positif yang memberikan benefit bagi
kelompok terbentuk. Hal ini berarti pertimbangan individu akan identitas
menjadi faktor penting yang mempengaruhi perilaku individu dalam kelompok.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

32

Individu memberikan pertimbangan atas identitas yang akan diterima
dari kelompok melalui prosedur, distribusi pendapatan dan perilaku atasan yang
dalam penelitian ini disebut dengan keadilan prosedural, kepuasan atas
pendapatan dan respek. Group engagement menjelaskan bahwa model non
instrumental mampu membuat individu sebagai anggota kelompok untuk
bekerja sama mencapai tujuan kelompok (Tyler dan Blader, 2003). Keadilan
prosedural menjadi informasi bagi individu mengenai proses pembuatan
keputusan dan perlakuan yang akan diterima oleh individu sebagai anggota
kelompok. Lind dan Tyler (1988) menjelaskan bahwa keadilan prosedural
menunjukkan konsekuensi psikologis dari variasi prosedur yang mempunyai
pengaruh terhadap pertimbangan yang wajar. Pernyataan di atas memberikan
pemahaman bahwa kewajaran menjadi pertimbangan penting bagi individu
untuk membuat keputusan apakah kelompok mampu memberikan dan
memelihara identitas yang dibutuhkan.
Merchant (1985) menyatakan bahwa kecenderungan melakukan
kekenduran anggaran dipengaruhi oleh desain dan implementasi dari sistem
penyusunan anggaran yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Pendapat Merchant
didukung oleh Groake (1990) dalam Vermeulen dan Coetzee (2006) yang
menyatakan satu alasan penting terjadinya sikap dan perilaku negatif adalah
persepsi individu bahwa organisai tidak memiliki komitmen terhadap
kewajaran. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kewajaran menjadi penting bagi
keadilan prosedural untuk memberikan informasi mengenai identitas yang akan
diterima ketika menjadi anggota dalam suatu kelompok.
Penelitian ini utamanya akan menguji alasan identitas sebagai variabel
yang diduga mampu mengurangi perilaku kekenduran anggaran melalui
pertimbangan yang wajar terhadap keadilan prosedural, kepuasan atas
pendapatan dan respek sebagai bentuk interaksi atasan dan bawahan. Penelitian
ini menjadi penting karena beberapa alasan berikut: (1) Alasan identitas dalam
banyak penelitian psikologi digunakan untuk menjelaskan pembentukan
perilaku positif, tetapi dalam penelitian ini alasan identitas digunakan untuk
menjelaskan perilaku negatif (2) Group engagement banyak diterapkan dalam
penelitian psikologi dan penelitian ini dilakukan dalam kerangka partisipasi
anggaran (3) Dalam banyak penelitian, keadilan prosedural dievaluasi dengan
voice dan choice tetapi penelitian ini menggunakan 2 item Leventhal yaitu
akurasi dan pengurangan bias.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

33

2. Telaah Literatur dan Perumusan Hipotesis

Pengaruh penting keadilan terhadap perilaku individu atau kelompok
ditunjukkan oleh beberapa riset keadilan sosial. Folger dan Konovsky (1989),
Tyler dan Smith (1997), Tyler et al. (1997), Tyler (2000), Van den Bos (2001),
Colquitt et al. (2001) dan Van den Bos dan Lind (2002) menemukan bahwa
informasi mengenai keadilan mempunyai pengaruh terhadap pembentukan
pemikiran, rasa dan perilaku individu melalui pertimbangan terhadap keadilan.
Temuan tersebut mendukung tinjauan Tyler, Degoey dan Smith (1996) yang
menunjukkan bahwa, ketika individu merasa menerima perlakuan yang wajar
maka mereka bersedia menerima dan melaksanakan keputusan yang dibuat
dengan prosedur yang wajar (Greenberg, 1990 dan Lind et al., 1993), individu
merasa puas dengan prosedur yang wajar (Thibaut dan Walker, 1975), individu
akan mentaati aturan perusahaan (Tyler, 1990 dan Tyler dan Degoey, 1995),
bersedia untuk tetap tinggal dalam kelompok (Brocker, Tyler dan Cooper, 1992)
dan individu bersedia untuk membantu kelompok bahkan ketika hal itu menjadi
biaya bagi individu (Tyler dan Degoey, 1995).
Keadilan mempunyai dua tipe utama, yaitu keadilan distributif dan
keadilan prosedural. Keadilan distributif merupakan konsep proporsionalitas
yang mendasarkan pada teori ekuitas (Adam, 1965 dalam Hopkins dan
Weathington, 2006). Teori ekuitas dideskripsikan sebagai keyakinan bahwa
distribusi pendapatan harus didasarkan pada kontribusi individu kepada
kelompok. Kewajaran terjadi ketika pendapatan yang diterima mempunyai
proporsi yang sama dengan masukan yang diberikan oleh individu. Keadilan
prosedural berkaitan dengan persepsi bawahan mengenai kewajaran prosedur
yang digunakan oleh atasan untuk melakukan evaluasi kinerja, memberikan
umpan balik dan membuat keputusan mengenai pendapatan yang akan diterima
oleh bawahan (McFarlin dan Sweeny, 1992).
Keadilan distributif menjadi fokus awal studi keadilan dengan
argumentasi kebutuhan ekonomi. Pendapatan yang diterima menjadi dasar bagi
individu untuk memberikan pertimbangan yang wajar. Walster, Walster dan
Berscheid (1978) menemukan bahwa individu merasa puas ketika pendapatan
didistribusikan dengan wajar. Thibaut dan Walker (1975) menyatakan bahwa
reaksi individu terhadap atasan dan keputusan penyelesaian suatu masalah
dipengaruhi oleh kewajaran dari keputusan dan prosedur pembuatan keputusan.

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

34

Pernyataan Thibaut dan Walker ini menjadi awal perkembangan riset keadilan
prosedural yang mengusulkan model psikologikal. Model ini memberikan
argumentasi bahwa prosedur merupakan karakteristik utama dari kewajaran
meskipun studi Thibaut dan Walker masih terbatas pada prosedur alokasi
pendapatan (Tyler dan Blader, 2003). Model ini kemudian dikenal dengan
model instrumental keadilan prosedural.

2.1. Keadilan Prosedural

Tinjauan riset mengenai keadilan prosedural yang dilakukan oleh Lind dan
Tyler (1988) dan Van den Boss et al. (1997) menjelaskan bahwa efek proses
yang wajar (fair process effect) menjadi argumentasi penting dalam
perkembangan penelitian keadilan prosedural. Efek proses yang wajar
menjelaskan bahwa respon terhadap pendapatan dipengaruhi oleh pertimbangan
prosedural. Ketika sebuah prosedur dipersepsikan wajar, maka individu akan
bereaksi positif terhadap pendapatan meskipun pendapatan yang diterima tidak
memuaskan. Isu keadilan prosedural kemudian berkembang dengan melihat
prosedur dari sudut pandang relasional.
Keadilan prosedural dapat dijelaskan dengan dua model, yaitu model
instrumental dan model non-instrumental. Model instrumental berkaitan dengan
prosedur alokasi pendapatan yang telah dijelaskan oleh teori Thibaut dan
Walker (1975). Prosedur dipandang sebagai instrumen untuk memperoleh
pendapatan yang wajar melalui kontrol terhadap keputusan yang dibuat. Fokus
riset keadilan prosedural terletak pada pengaruh prosedur dan aturan terhadap
pertimbangan kewajaran dalam proses pembuatan keputusan. Dua aspek
penting dalam proses pembuatan keputusan adalah tersedianya peraturan dan
prosedur yang mengatur proses pembuatan keputusan dan aplikasi aturan dan
prosedur tersebut. Ketika suatu kelompok mempunyai aturan dan prosedur yang
menjadi dasar proses pembuatan keputusan, maka kelompok tersebut akan
dipersepsikan lebih wajar daripada kelompok yang tidak memiliki aturan dan
prosedur dalam proses pembuatan keputusan.
Temuan Lind, Lissak dan Conlon (1983) dan Tyler, Rasinski dan
Spodick (1985) menyatakan bahwa hubungan antar individu dan pembuat
keputusan dalam suatu kelompok memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap
pertimbangan keadilan prosedural daripada pertimbangan instrumental prosedur
kontrol dan alokasi pendapatan (Tyler, 1994). Hal ini berarti alasan non-

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

35

instrumental mempunyai pengaruh yang dominan (Tyler, 2000). Model non-
instrumental dapat dijelaskan dengan tiga model keadilan prosedural, yaitu
group value model, model relasional dan group engagement model (Tyler dan
Blader, 2003). Penelitian ini menggunakan group engagement dalam
mengembangkan hipotesis penelitian. Alasan penggunaan model ini akan
dijelaskan pada bagian di bawah ini.

2.1.1. Group Engagement

Group engagement merupakan model yang mengintegrasikan group value
model
dan model relasional dengan menjelaskan bagaimana keadilan prosedural
membentuk kerjasama dalam suatu kelompok (Tyler dan Blader, 2003). Tujuan
model ini adalah mengidentifikasi dan menguji anteseden dari sikap, nilai dan
perilaku kooperatif individu dalam suatu kelompok melalui kebutuhan identitas
sosial individu. Group engagement tidak hanya menjelaskan perilaku negatif
individu yang disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap pendapatan (Thibaut dan
Kelley, 1959) tetapi menjelaskan pula motivasi internal individu yang
mendorong perilaku positif dan mempunyai nilai bagi kelompok (Tyler dan
Blader, 2000). Kebutuhan individu untuk dihargai, merasa bahagia, produktif
dan kreatif menjadi dasar model ini untuk membangun perilaku positif dalam
kelompok.

Motivasi internal untuk memperoleh identitas sosial menjadi dasar
untuk menjelaskan keterlibatan individu dalam kelompok dan perilaku yang
memberikan benefit bagi kelompok. Fuller et al. (2006) menyatakan bahwa
kepercayaan atasan terhadap kontribusi bawahan, partisipasi dalam pembuatan
keputusan dan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan
ketrampilan merupakan bentuk dari respek yang diberikan atasan kepada
bawahan. Respek merupakan salah satu kebutuhan sosial individu untuk
dihargai, dan kebutuhan ini dapat dipenuhi ketika berada dalam suatu kelompok
dengan status tertentu. Hal ini berarti motivasi individu untuk bergabung dalam
suatu kelompok tidak semata-mata alasan ekonomis, tetapi juga alasan non-
ekonomis.

Motivasi non-ekonomi menjadi argumentasi bagi group engagement
untuk memahami hubungan individu dan kelompok dalam jangka panjang.
Kelompok dilihat sebagai sumber informasi mengenai anggota-anggota dalam
kelompok dan sarana untuk memelihara identitas individu. Ketika individu

Kolokium Nasional Program Doktor 2009

Yogyakarta, 11-12 Desember 2009

36

sebagai anggota mempunyai orientasi hubungan jangka panjang dengan
kelompok maka individu akan cenderung berperilaku positif. Model ini
memberikan pemahaman mengenai hubungan individu sebagai anggota dan
kelompoknya dengan dua aspek penting, yaitu identitas (Hogg dan Abrams,
1988) dan pendapatan (Thibaut dan Kelley, 1959) dalam Tyler dan Blader
(2003). Pernyataan di atas menjadi alasan mengapa group engagement
merupakan model yang tepat untuk digunakan dalam penelitian ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->