P. 1
KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN

KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN

|Views: 3,606|Likes:
Published by Suyadi Mbs
kepemimpinan pembelajaran sebagai pemimpin komunitas pembelajar, yang di dalam komunitas pembelajar itu guru-guru bertemu secara teratur untuk membahas pekerjaan mereka, berkolaborasi untuk memecahkan masalah, merefleksikan pekerjaan, dan bertanggung-jawab terhadap apa yang dipelajari siswa
kepemimpinan pembelajaran sebagai pemimpin komunitas pembelajar, yang di dalam komunitas pembelajar itu guru-guru bertemu secara teratur untuk membahas pekerjaan mereka, berkolaborasi untuk memecahkan masalah, merefleksikan pekerjaan, dan bertanggung-jawab terhadap apa yang dipelajari siswa

More info:

Published by: Suyadi Mbs on May 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2013

pdf

text

original

KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN

Oleh: Suyadi

Pendahuluan
UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 51 mengamanatkan bahwa Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah atau madrasah. Sedangkan pengertian Manajemen Berbasis Sekolah dijelaskan pada bagian penjelasan ayat 51 tersebut yaitu, “manajemen berbasis sekolah atau madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini kepala sekolah atau madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah atau madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan”. Definisi MBS diuraikan lebih rinci sebagai suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk melakukan redesain terhadap pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan pada kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru, siswa, kepala sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat (Fattah, 2004). MBS atau school based management sendiri merupakan sebuah upaya adaptasi dari paradigma pendidikan baru yang berasaskan desentralisasi. MBS memberikan otoritas pada sekolah untuk mengembangkan prakarsa yang positif untuk kepentingan sekolah. Dalam pelaksanaannya di lapangan, konsep MBS memiliki instrumen kunci yang dikenal dengan nama Komite Sekolah. Tidak hanya itu, menurut Dr JC Tukiman Taruna, seorang pakar pendidikan, implementasi MBS secara ideal mensyaratkan beberapa hal yaitu (1) peningkatan kualitas manajemen sekolah yang terlihat melalui transparansi keuangan, perencanaan partisipatif, dan tanggung-gugat (akuntabilitas), (2) peningkatan pembelajaran melalui PAKEM (pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan), dan (3) peningkatan peran serta masyarakat melalui intensitas kepedulian masyarakat terhadap sekolah (Kusmanto, 2004). Ada lima prinsip yang mendasari program MBS yaitu (1) suitable—program cocok dengan sistem dan kultur di Indonesia; (2) workable—dapat dilaksanakan, program lebih bersifat praktis dan “membumi”; (3) affordable—terjangkau, program dapat dilaksanakan oleh sekolah dengan inisiatif sendiri secara mandiri, bila perlu tanpa harus ada bantuan dari luar; (4) replicable—program dapat

direplikasi kepada sekolah lain; dan (5) sustainable—program dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan karena didesain sesuai dengan dan diimplementasikan ke dalam sistem dan struktur yang ada. Jadi program MBS tidak memproduksi “barang baru”. Tiga pilar MBS (Hallinger, Murphy, & Hausman, 1992) adalah (i) manajemen sekolah, (ii) proses pembelajaran, dan (iii) peranserta masyarakat. Dalam manajemen sekolah, kepala sekolah dan stafnya (para guru dan pegawai administrasi sekolah) didorong untuk berinovasi dan berimprovisasi dari dalam diri sekolah, yang kemudian akan menumbuhkan daya kreativitas dan prakarsa sekolah, dan membuat sekolah sebagai pusat perubahan. Pengambilan keputusan melibatkan warga sekolah, sesuai dengan relevansi, keahlian, yurisdiksi, dan kompatibilitas keputusan dengan kepentingan partisipan. Dengan cara ini, pengetahuan, informasi dan keahlian terbagi di antara kepala sekolah, guru dan warga sekolah lain terutama komite sekolah. Dalam mentrasformasi proses pembelajaran, kepala sekolah memfasilitasi setiap upaya guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Inti dari pilar kedua ini adalah digalakkannya pembelajaran berpusat pada siswa (student-centered learning), yang diakronimkan dengan Pembelajaan yang Aktif, Kreatif sehingga menjadi Efektif, namun tetap Menyengankan (PAKEM). Dalam PAKEM, guru: (i) fleksibel dalam mengelola proses belajar-mengajar sehingga anak dapat mengungkapkan pendapat dan dirinya, baik secara lisan maupun tertulis, dan mengungkapkan hasil pekerjaan serta memajangkan hasil karyanya di sekolah; (ii) menggunakan berbagai jenis penilaian untuk ”menangkap” kemajuan dan prestasi siswa; (iii) memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada di lingkungan untuk menunjuang pembelajaran di dalam kelas, termasuk memanfaatkan keahlian dan partisipasi masyarakat. Oleh karenanya pola kepemimpinan yang dikembangkan dalam MBS adalah pola kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimilikinya, yaitu: (1) memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman, percaya diri, dan saling percaya dalam bekerja, (2) memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya dan (3) memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru.

Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah
Kepemimpinan merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang kepala sekolah harus dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah yang dipimpinnya melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Secara sederhana kepemimpinan transformasional dapat diartikan sebagai proses untuk merubah dan mentransformasikan individu agar mau berubah dan meningkatkan dirinya, yang didalamnya melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan serta penghargaan terhadap para bawahan. Terdapat empat faktor untuk menuju kepemimpinan tranformasional, yang dikenal sebutan 4 I, yaitu : idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual consideration. 1. Idealized influence: kepala sekolah merupakan sosok ideal yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi guru dan karyawannya, dipercaya, dihormati dan mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan sekolah. 2. Inspirational motivation: kepala sekolah dapat memotivasi seluruh guru dan karyawannnya untuk memiliki komitmen terhadap visi organisasi dan mendukung semangat team dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan di sekolah. 3. Intellectual Stimulation: kepala sekolah dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi di kalangan guru dan stafnya dengan mengembangkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah untuk menjadikan sekolah ke arah yang lebih baik. 4. Individual consideration: kepala sekolah dapat bertindak sebagai pelatih dan penasihat bagi guru dan stafnya. Berdasarkan hasil kajian literatur yang dilakukan, Northouse (2001) menyimpulkan bahwa seseorang yang dapat menampilkan kepemimpinan transformasional ternyata dapat lebih menunjukkan sebagai seorang pemimpin yang efektif dengan hasil kerja yang lebih baik. Oleh karena itu, merupakan hal yang amat menguntungkan jika para kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan transformasional di sekolahnya. Karena kepemimpinan transformasional merupakan sebuah rentang yang luas tentang aspek-aspek kepemimpinan, maka untuk bisa menjadi seorang pemimpin transformasional yang efektif membutuhkan suatu proses dan memerlukan usaha sadar dan sunggug-sungguh dari yang bersangkutan.

Northouse (2001) memberikan beberapa tips untuk menerapkan kepemimpinan transformasional, yakni sebagai berikut: 1. Berdayakan seluruh bawahan untuk melakukan hal yang terbaik untuk organisasi; 2. Berusaha menjadi pemimpin yang bisa diteladani yang didasari nilai yang tinggi; 3. Dengarkan semua pemikiran bawahan untuk mengembangkan semangat kerja sama; 4. Ciptakan visi yang dapat diyakini oleh semua orang dalam organisasi; 5. Bertindak sebagai agen perubahan dalam organisasi dengan memberikan contoh bagaimana menggagas dan melaksanakan suatu perubahan; 6. Menolong organisasi dengan cara menolong orang lain untuk berkontribusi terhadap organisasi.

Kepemimpinan dan Manajemen Sekolah
Manajemen/pengelolaan sekolah merupakan upaya penyelesaian tugastugas kelembagaan yang membuat sekolah dapat berjalan dengan baik. Kepemimpinan berarti kiat pengembangan sekolah yang memprioritaskan peningkatan pembelajaran, kesejahteraan dan kemampuan para siswa, guru, dan masyarakat. Peran Kepala Sekolah yang berkisar antara manajemen dan kepemimpinan dan keduanya penting. Manajemen yang penting bagi efektifitas operasional sekolah. Kepemimpinan yang baik dapat meningkatkan keselarasan, hasil belajar siswa, dan mutu pengajaran. Kepala sekolah perlu mengembangkan dan menggunakan berbagai gaya kepemimpinan sesuai keadaan dan kebutuhan tertentu. Manajemen adalah segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan dan program yang ada secara baik. Manajemen berkaitan dengan efektifitas dan efisiensi. Sedangkan kepemimpinan adalahh segala hal berkaitan dengan identifikasi dan pengembangan kebijakan dan program. Jadi kepemimpinan berkaitan dengan perubahan. Manajemen menuntut pemenuhan, sehingga biasanya dapat diprediksi. Kepemimpinan bersifat berubah dan menuntut kesempurnaan. Pemimpin yang baik seharusnya merupakan manajer yang ahli. Pemimpin membawa staf keluar dari daerah kenyamanannya karena kepemimpinan berkaitan dengan perubahan. Perubahan ini sering menyebabkan

ketidaknyamanan dan penolakan terhadap perubahan tersebut, olehh sebab itu perubahan harus dikelola secara sistematis dan hati-hati. Perilaku pemimpin adalah satu-satunya faktor yang memberikan pengaruh terbesar terhadap budaya di tempat kerja. Apa yang dilakukan pemimpin mengirim pesan lebih kuat daripada apa yang dikatakan. Pemimpin harus berperilaku yang mendemonstrasikan kekuatan, ketegasan, keajegan, kebijaksanaan dan sifat saling percaya. Dalam mengelola perubahan sebuah organisasi harus dipandu dengan Rencana Penjaminan Mutu. Dengan kata lain, perjalanan perubahan harus direncanakan dengan baik dan dengan arah yang jelas. Tujuan dan tindakan harus jelas. Proses perubahan ini harus melibatkan dan menghargai semua pihak terkait, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil yang diperoleh dan hambatan-hambatan dikomunikasikan ke semua pihak. Pemimpin yang efektif memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Visioner: mengkomunikasikan visinya, mengkomunikasikan visinya menjadi kenyataan; 2. Memegang nilai: peduli, hormat, empati, integritas, percaya, bijak; 3. Menjadi model; 4. Fokus: memilikii target dan berusaha mencapainya; 5. Dinamis: percaya diri dan berkeinginan mencoba hal baru; 6. Memiliki pengetahuan luas. Inti dari perubahan adalah keterlibatan dan komunikasi. Agar terjalin keterlibatan dan komunikasi maka pendekatan berikut perlu digunakan: 1. Visi bersama dengan tujuan dan indikator keberhasilan yang jelas. 2. Mewakili, pendekatan berbasis tim, dan menggunakan rencana kerja/aksi. 3. Melaporkan kemajuan, pemantauan, intervensi. 4. Memastikan perubahan kebijakan dan pemenuhan terus-menerus. Kepemimpinan dan kemampuan manajerial memerlukan kecakapan yang sama, kecakapan berorganisasi, penguasaan budaya setempat serta memahami kebutuhan-kebutuhan orang yang terlibat di dalamnya. Pemimpin mengikuti proses yang disepakati serta terlibat dan ikut berkomunikasi. Pemimpin dan manajer yang baik sangat sadar dan menerima hal berikut: 1. Kebutuhan staf sehari-hari; 2. Kebutuhan untuk mengetahui dan menghargai setiap staf, baik sebagai pribadi maupun sebagai orang yang memberikan sumbangan terhadap organisasi;

3. Kebutuhan untuk mendengarkan secara aktif dan seksama, dengan pikiran dan perasaan, terhadap dua hal: kadar semangat dan energi di tempat kerja, apa yang sebenarnya dikatakan oleh tiap staf dan konsumen; 4. Kebutuhan organisasi jangka pendek dan panjang; 5. Gagasan yang baik; 6. Kritik dan saran yang membangun; 7. Kebenaran; 8. Kebijaksanaan dan nasihat bagi orang lain; 9. Apa yang dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu.

Peran Kepala Sekolah
Manajemen yang efektif diperlukan untuk menyelenggarakansekolah yang baik, tetapi itu belum cukup untuk menciptakan sekolah yang ideal. Manajemen yang baik membutuhkan pimpinan yang baik. Berikut adalah daftar peran kepala sekolah sebagai manajer maupun pimpinan sekolah:
Peran Kepala Sekolah Kelembagaan Manajemen Sekolah ➢ ➢ ➢ Anggaran sekolah Perawatan sekolah Inventarisasi sumberdaya materi sekolah ➢ Penyelesaian semua format dan laporan ➢ Pengumpulan data. Kepemimpinan di Sekolah  Membahas  Mengkaji dan apa dari adanya menentukan yang data dapat untuk

prioritas sekolah dimanfaatkan  Memastikan yang

menyusun strategi. pendekatan terhadap transparan

manajemen sekolah  Sarana dan tujuan penilaian siswa  Pengembangan berbagai kebijakan dan praktik manajemen sekolah.  Penentuan metode pengajaran  Pengembangan berbagai kebijakan dan praktik kurikulum  Kehadiran  Perbaikan kurikulum ekstra dan untuk  Kebutuhan akan kurikulum lokal  Menentukan nilai-nilai sekolah  Menjaga perilaku agar sesuai

Kurikulum

➢ ➢ ➢ ➢

Pengaturan kelas Pembelaian materimateri untuk kelas Jam pelajaran di sekolah Kegiatan kurikuler Materi peralatan

Sumberdaya Manusia

Peran Kepala Sekolah guru ➢ ➢ ➢ Akomodasii guru Pemilihan sekolah Pemilihan pemimpin kalangan siswa ➢ ➢ Pengorganisasian siswa Beban tanggung mengajar dan jawab di komite dengan nilai-nilai sekolah  Mengembangkan kebijakan dan dan praktik manajemen perilaku siswa Manajemen Sekolah Kepemimpinan di Sekolah

 Mendampingi
baik

guru

berbagi

(sharing) metode mengajar yang  Guru saling berbagi dalam bidangbidang yang ingin didukung demi perbaikan  Diskusi mengenai kebutuhan siswa  Berhadapan dengan isu gender dan hak-hak anak  Memanfaatkan anggota masyarakat yang berhasil dalam pendidikan anggota sebagai teladan untuk

Budaya

dan

➢ ➢

Mengatur Mengelesaikan Rencana Sekolah

rapat

masyarakat yang lain.  Visi dan misi  Bertanggung masyarakat jawab terhadap

Masyarakat

komite sekolah Kerja komite

 Mencari masukan dari masyarakat  Memanfaatkan kearifan lokal dan lingkungan sebagai sumber belajar  Membangun hubungan yang baik

Melatih sekolah

menyelenggarakan rapat yang efektif ➢ Melatih pengurus sekolah menjalankan perannya badan komite dalam

 Mendampingi
masyarakat

staf dalam

sekolah

dan

menentukan

kriteria pengajaran yang baik  Menjaga kerahasiaan.

Kepemimpinan sekolah/madrasah
Dalam penyelenggaraan sekolah/madrasah, kepemimpinan sekolah/madrasah menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 adalah sebagai berikut: 1. Setiap sekolah/madrasah dipimpin oleh seorang kepala sekolah/madrasah;

2. Kriteria

untuk

menjadi

kepala

dan

wakil

kepala

sekolah/madrasah

berdasarkan ketentuan dalam Standar Pendidik dan tenaga Kependidikan; 3. Kepala Sekolah/madrasah: a. Menjabarkan visi ke dalam misi target mutu; b. Merumuskan tujuan dan target mutu yang kan dicapai; c. Menganalisis tantangan, peluang, kekuatan dan kelemahan sekolah/madrasah; d. Membuat rencana kerja strategis dan rencana kerja tahunan untuk pelaksanaan peningkatan mutu; e. Bertanggung jawab dalam membuat keputusan anggaran sekolah/madrasah; f. Melibatkan guru, komite sekolah/madrasah dalam pengambilan keputusan penting sekolah/madrasah. keputusan Dalam hal harus sekolah/madrasah melibatkan swasta, pengambilan tersebut penyelenggara

sekolah/madrasah; g. Berkomunikasi untuk menciptakan dukungan intensif dari orangtua peserta didik dan masyarakat; h. Menjaga dan meningkatkan motivasi kerja pendidik dan tenaga kependidikan dengan menggunakan sistem pemberian penghargaan atas prestasi dan sanksi atas pelanggaran peraturan dan kode etik; i. j. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif bagi peserta didik; Bertanggung jawab atas perencanaan partisipatif mengenai pelaksanaan kurikulum; k. Melaksanakan dan merumuskan program supervisi, serta pemanfaatan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja sekolah/madrasah; l. Meningkatkan mutu pendidikan; kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya; n. Memfasilitasi pengembangan, penyebarluasan, dan pelaksanaan visi pembelajaran yang dikomunikasikan denga baik dan didukung oleh komunitas sekolah/madrasah; o. Membantu, membina, dan mempertahankan lingkungan sekolah/madrasah dan program pembelajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan tenaga kependidikan; m. Memberii teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan

p. Menjamin

manajemen

organisasi

dan

pengoperasian

sumberdaya

sekolah/madrasah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, efisien, dan efektif; q. Menjalin kerjasama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat, dan komite sekolah/madrasah menanggapi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam, dan memobilisasi sumberdaya masyarakat; r. Memberi contoh/teladan/tindakan yang bertanggung jawab. 1. Kepala sekolah/madrasah kepada dapat mendelegasikan sebagian tugas dan kewenangan bidangnya. waklil kepala sekolah/madrasah sesuai dengan

Standar Kompetensi Kepala Sekolah
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah telah menetapkan standar kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah sebagai berikut:
No 1. DIMENSI KOMPETENSI Kepribadian KOMPETENSI 1.1. Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak bagi 1.2 Memiliki 1.3 Memiliki komunitas integritas keinginan diri di sekolah/ madrasah. kepribadian yang kuat sebagai sebagai pemimpin. dalam kepala mulia

pengembangan sekolah/madrasah.

1.4 Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi. 1.5 Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah/ madrasah. 1.6 Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin 2. Manajerial pendidikan. 2.1 Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk

berbagai tingkatan perencanaan. 2.2 Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan. 2.3 Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal. 2.4 Mengelola perubahan dan pengembangan organisasi pembelajar sekolah/madrasah menuju sumber daya sekolah/ madrasah

No

DIMENSI KOMPETENSI yang efektif. 2.5. Menciptakan didik. 2.6 Mengelola 2.7 Mengelola dalam guru sarana

KOMPETENSI budaya dan iklim sekolah/ madrasah

yang kondusif dan inovatif dan dan staf

bagi pembelajaran peserta dalam rangka sekolah/madrasah

pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal. prasarana rangka pendayagunaan secara optimal.

2.8 Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/ madrasah. 2.9 Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik. 2.10 Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional. 2.11 Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien. 2.12 Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/ madrasah. 2.13 Mengelola unit layanan khusus sekolah/ madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah. 2.14 Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan. 2.15 Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah. 2.16 Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/ madrasah dengan 3. Kewirausahaan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya. 3.1 Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah. 3.2 Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.

No

DIMENSI KOMPETENSI

KOMPETENSI 3.3 Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah. 3.4 Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah. 3.5 Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik. 4.1 Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. 4.2 Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat. 4.3 Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. 5.1 Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah 5.2 Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. 5.3 Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.

4.

Supervisi

5.

Sosial

Kepemimpinan Kurikulum
Kepala Sekolah berperan penting dalam kepemimpinan di bidang kurikulum. Kepemimpinan kurikulum dii sekolah antara lain: 1. Melaksanakan kurikulum nasional dalam hal penguasaan kompetensi, pencapaian hasil dan penentuan indikator; 2. Menggunakan unsur-unsur budaya setempat dalam proses belajar mengajar dengan memadukannya pada mata pelajaran atau berdiri sendiri; 3. Mengembangkan keterampilan mengajar para guru; 4. Memastikan bahwa guru menggunakan metode mengajar untuk memenuhi kebutuhan individual siswa; 5. Memastikan adanya pertemuan berkala para guru untuk merencanakan pengajaran, berbagi pengalaman dan sumberdaya, serta membahas upaya peningkatan metode pengajaran dan penilaian siswa; 6. Mendukung guru untuk menghimpun dan menggunakan data siswa sebagai fokus pengajaran yang berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa; 7. Mengembangkan manajemen perilaku siswa;

8. Memantau data prestasi dan kehadiran siswa serta mengembangkan metode untuk mengatasi masalah di bidang tersebut melalui konsultasi dengan orang tua, guru, dan masyarakat; 9. Memanfaatkan anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tertentu yang diperlukan untuk mengajar; 10.Peka terhadap ketimpangan yang disebabkan oleh bias gender, agama, budaya, bahasa, fisik, dan kurikulum; Kepemimpinan di bidang kurikulum juga sangat terkait dengan strategi sekolah untuk menentukan bahan-bahan ajar bagi para siswa. Isi kurikulum nasional akan menjadi relevan dan bermakna jika dikaitkan dengan budaya, lingkungan, dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Misalnya, guru kelas awal mengajar sebagaimana membuat Buku Besar (buku yang merupakan hasil kerja guru bersama siswa dalam pembelajaran) yang cocok dengan budaya dan kondisi setempat. Contoh lainnya, guru Matematika dapat meminta siswa berkunjung ke kebun sekolah, dan menghitung jumlah jagung, ubi, tanaman tomat, dan sebagainya. Kemudian, ketika mereka kembali ke kelas, setiap siswa dapat menulis jumlah benda yang ditemukannya di kebun sekolah pada selembar kertas. Para siswa dapat belajar dari lingkungannya. Contoh lain bisa saja berupa jenis tumbuhan, sayuran, stasiun cuaca, dan sebagainya.

Tindak Kepemimpinan Kurikulum
1. Mengembangkan Kurikulum Sekolah (KTSP) secara akademik dan partisipatif; 2. Menggunakan unsur-unsur budaya setempat dalam pembelajaran dengan memadukannya pada mata pelajara atau berdiri sendiri; 3. Mengadakan kegiatan-kegiatan akademik untuk mengembangkan keterampilan mengajar guru; 4. Memonitor perkembangan keterampilan mengajar guru; 5. Memastikan sekolah; 6. Memasukkan kegiatan-kegiatan pengembangan keterampilan mengajar guru dalam rencana kerja sekolah (RKS); 7. Mengadakan pertemuan berkala dengaan dan antar para guru untuk merencanakan pembelajaran, berbagi pengalaman dan sumberdaya, serta membahas upaya peningkatan metode pembelajaran dan penilaian; bahwa guru-guru terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di

8. Mengadakan kegiatan mengkaji sumber-sumber belajar yang digunakan, misalnya buku paket; 9. Membimbing guru untuk menghimpun dan menggunakan data siswa sebagai fokus pengajaran yang berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa; 10.Mengadakan pertemuan berkala dengan dan antar para guru untuk mengevaluasi proses pembelajaran yang sedang atau telah berlangsung; 11.Mengembangkan manajemen perilaku siswa; 12.Memantau data prestasi dan kehadiran siswa serta mengembangkan cara mengatasi masalah tersebut melalui konsultasi dengan orang tua, guru dan masyarakat; 13.Memanfaatkan anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi sumber belajar.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2008.Modul Pelatihan Praktik yang baik 1. Jakarta: Depdiknas bekerjasama dengan Europan Union, Unicef, Unesco Departemen Pendidikan Nasional. 2008.Modul Pelatihan Praktik yang baik 4. Jakarta: Depdiknas bekerjasama dengan Europan Union, Unicef, Unesco Departemen Pendidikan Nasional. 2008.Modul Pelatihan Praktik yang baik 5. Jakarta: Depdiknas bekerjasama dengan Europan Union, Unicef, Unesco John Hall, et.al. 2002. Transformational Leadership: The Transformation of Managers and Associates. on line : www.edis.ifas.ufl.edu Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional

Pendidikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar kepala Sekolah/madrasah Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->