P. 1
Lubang Resapan Biopori, tepat guna, pelestarian air, banjir, kompos, sampah organik

Lubang Resapan Biopori, tepat guna, pelestarian air, banjir, kompos, sampah organik

|Views: 3,382|Likes:
Published by astri anindya sari
Air bersih merupakan salah satu sumberdaya alam terbarukan yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Namun pesatnya perkembangan kota dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya lahan terbuka sebagai fasilitas resapan air berakibat terganggunya siklus air yang menyebabkan isu kelangkaan air dewasa ini, terutama di musim kemarau. Disisi lain, keterbatasan lahan resapan ditambah lagi dengan buruknya system drainase permukiman dan kota menyebabkan terjadinya banjir terutama di daerah hilir sungai pada setiap musim hujan.
Tulisan ini membahas karakteristik lubang resapan biopori dan sumur resapan yang dikenal sebagai teknologi untuk pelestarian air tanah. Lebih lanjut dilakukan perbandingan antara karakteristik kedua model tersebut untuk mencari model teknologi peresapan air yang paling sesuai untuk kondisi permukiman kota saat ini.
Ditemukan bahwa lubang resapan biopori merupakan teknologi tepat guna, dan ramah lingkungan yang lebih sesuai diterapkan pada kondisi perumahan kota dewasa ini. Selain manfaatnya tidak terbatas hanya sebagai resapan dan pencegah banjir, kesederhanaan teknologi lubang resapan biopori dengan fleksibilitas ruangnya serta biaya pembuatan yang murah merupakan keunggulan teknologi ini. Segala kelebihan tersebut membuat teknologi lubang resapan biopori dapat dengan mudah diaplikasikan dimanapun dan oleh siapapun.
Air bersih merupakan salah satu sumberdaya alam terbarukan yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Namun pesatnya perkembangan kota dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya lahan terbuka sebagai fasilitas resapan air berakibat terganggunya siklus air yang menyebabkan isu kelangkaan air dewasa ini, terutama di musim kemarau. Disisi lain, keterbatasan lahan resapan ditambah lagi dengan buruknya system drainase permukiman dan kota menyebabkan terjadinya banjir terutama di daerah hilir sungai pada setiap musim hujan.
Tulisan ini membahas karakteristik lubang resapan biopori dan sumur resapan yang dikenal sebagai teknologi untuk pelestarian air tanah. Lebih lanjut dilakukan perbandingan antara karakteristik kedua model tersebut untuk mencari model teknologi peresapan air yang paling sesuai untuk kondisi permukiman kota saat ini.
Ditemukan bahwa lubang resapan biopori merupakan teknologi tepat guna, dan ramah lingkungan yang lebih sesuai diterapkan pada kondisi perumahan kota dewasa ini. Selain manfaatnya tidak terbatas hanya sebagai resapan dan pencegah banjir, kesederhanaan teknologi lubang resapan biopori dengan fleksibilitas ruangnya serta biaya pembuatan yang murah merupakan keunggulan teknologi ini. Segala kelebihan tersebut membuat teknologi lubang resapan biopori dapat dengan mudah diaplikasikan dimanapun dan oleh siapapun.

More info:

Published by: astri anindya sari on May 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2013

pdf

text

original

AR 5221 arsitektur dan teknologi

LUBANG RESAPAN BIOPORI SEBAGAI TEKNOLOGI TEPAT GUNA DAN RAMAH LINGKUNGAN UNTUK PELESTARIAN AIR DAN PENCEGAHAN BANJIR
Menjaga Keberlangsungan Siklus Air Ditengah Semakin Terbatasnya Lahan Terbuka Kota Astri Anindya Sari (25209026)

ABSTRAK Air bersih merupakan salah satu sumberdaya alam terbarukan yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Namun pesatnya perkembangan kota dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya lahan terbuka sebagai fasilitas resapan air berakibat terganggunya siklus air yang menyebabkan isu kelangkaan air dewasa ini, terutama di musim kemarau. Disisi lain, keterbatasan lahan resapan ditambah lagi dengan buruknya system drainase permukiman dan kota menyebabkan terjadinya banjir terutama di daerah hilir sungai pada setiap musim hujan. Tulisan ini membahas karakteristik lubang resapan biopori dan sumur resapan yang dikenal sebagai teknologi untuk pelestarian air tanah. Lebih lanjut dilakukan perbandingan antara karakteristik kedua model tersebut untuk mencari model teknologi peresapan air yang paling sesuai untuk kondisi permukiman kota saat ini. Ditemukan bahwa lubang resapan biopori merupakan teknologi tepat guna, dan ramah lingkungan yang lebih sesuai diterapkan pada kondisi perumahan kota dewasa ini. Selain manfaatnya tidak terbatas hanya sebagai resapan dan pencegah banjir, kesederhanaan teknologi lubang resapan biopori dengan fleksibilitas ruangnya serta biaya pembuatan yang murah merupakan keunggulan teknologi ini. Segala kelebihan tersebut membuat teknologi lubang resapan biopori dapat dengan mudah diaplikasikan dimanapun dan oleh siapapun. Kata kunci: Lubang Resapan Biopori, tepat guna, pelestarian air, banjir, kompos, sampah organik PENDAHULUAN Salah satu sumberdaya alam yang menjadi kebutuhan dasar manusia adalah air bersih. Air sendiri sesungguhnya digolongkan sebagai sumber daya alam terbarukan yang siklusnya berputar sehingga ketersediaannya selalu terjaga. Namun bersamaan dengan tinggginya pertambahan penduduk dan cepatnya pertumbuhan kota kebutuhan manusia akan lahan untuk hunian dan tempat beraktivitas semakin meningkat, dengan sendirinya luas lahan terbuka akan semakin berkurang. Padahal lahan terbuka merupakan salah satu sarana peresapan air hujan yang akan menjaga siklus air tetap berlangsung. Perancangan hunian rumah tinggal maupun bangunan-bangunan lain seharusnya memperhatikan fungsi peresapan air. Idealnya pada setiap bangunan yang didirikan harus terdapat lahan yang dibiarkan terbuka tanpa perkerasan, sehingga akan menjadi tempat bagi peresapan air hujan. Namun kecenderungan di kota-kota besar saat ini, ditengah harga tanah yang semakin tinggi dan kebutuhan akan hunian terus bertambah keberadaan lahan terbuka tanpa perkerasan sudah semakin jarang ditemukan. Fenomena tersebut terutama terjadi pada permukiman menengah kebawah padat penduduk, dimana sirkulasi jalan hanya berupa gang sempit, tak ada saluran air apalagi lahan terbuka untuk resapan. Hunian yang berdiripun dengan ukuran lahan yang terbatas. Hampir dapat dikatakan tak ada lahan tak

1

AR 5221 arsitektur dan teknologi terbangun yang tersisa, kalaupun ada dapat dipastikan sebagian besar telah ditutup dengan perkerasan. Pada musim kemarau, eksploitasi air yang terus meningkat tanpa diiringi usaha pelestariannya, berakibat pada kelangkaan air bersih. Namun disisi lain pada musim hujan, keterbatasan lahan resapan ditambah buruknya sistem drainase menyebabkan banjir pada daerah dataran rendah di kota. Dari seluruh fenomena yang telah dikemukakan, diketahui bahwa untuk mengatasi permasalahan kelangkaan air bersih dan banjir di Indonesia dibutuhkan teknologi tepat guna yang dapat diterapkan oleh seluruh anggota masyarakat ditengah semakin berkurangnya luas lahan terbuka untuk resapan air. Tulisan ini membahas karakteristik dari dua teknologi pelestarian air tanah yang telah dikenal masyarakat yaitu lubang resapan biopori dan sumur resapan. Lebih lanjut dilakukan perbandingan antara karakteristik kedua teknologi tersebut untuk mencari model teknologi peresapan air yang paling sesuai untuk kondisi permukiman kota saat ini METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah dengan studi kepustakaan tentang kondisi pemanfaatan air, serta kondisi fisik lingkungan permukiman saat ini yang menyebabkan kelangkaan air pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan. Studi pustaka juga dilakukan untuk mengkaji karakteristik teknologi peresapan air yang dikenal masyarakat yakni lubang resapan biopori (LRB) dan sumur resapan. Dari hasil studi kepustakaan, dilakukan analisis perbandingan antara karekteristik LRB dangan sumur resapan, sehingga dapat diketahui teknologi peresapan air yang lebih dapat diterapkan oleh masyarakat dan sesuai dengan kondisi fisik permukiman saat ini. Hasil studi akan disajikan dalam bentuk deskripsi KAJIAN PUSTAKA Gambaran Kondisi Pemanfaatan Air dan Fisik Ruang Lingkungan Pesatnya pertumbuhan kota berakibat langsung pada makin terbatasnya ruang terbuka yang sedianya digunakan sebagai lahan resapan air hujan sebagai usaha untuk menyeimbangkan siklus air dan menjaga kelestariannya. Selain itu laju pertambahan jumlah penduduk dan ekspansi ekonomi menyebabkan semakin tingginya eksploitasi terhadap sumber daya air. Eksploitasi air tanpa diikuti usaha-usaha pelestarian sumber daya alam ini membuat kelangkaan terhadap air dialami oleh sebagian masyarakat terutama di daerah hilir sungai terutama pada musim kemarau (Salim et al, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Salim et al, 2009 pada permukiman di daerah riparian sungai Cikapundung di kota Bandung menunjukkan kekurang pedulian masyarakat terhadap pelestarian air. perkerasan. Hal tersebut antara lain ditunjukkan dari preferensi masyarakat dalam memperlakukan lahan tak terbangun pada rumah mereka, serta material yang dipilih sebagai

2

AR 5221 arsitektur dan teknologi
Diagram 1. Prosentase Lahan Tertutup Perkerasan Pada Halaman Rumah Masyarakat di 7 Kecamatan Kota Bandung Diagram 2. Pemilihan Material Perkerasan Pada Halaman Rumah Masyarakat di 7 Kecamatan Kota Bandung

sumber: Salim,et al, 2009

Hasil penelitian Salim et al, 2009 pada permukiman formal dan informal daerah riparian Cikapundung, termasuk didalamnya 7 kecamatan di kota Bandung yaitu kecamatan Regol, Sumur Bandung, Coblong, Bandung Wetan, Bandung Kidul, Cikawao, dan Dayeuh Kolot ditunjukkan pada diagram 1 dan 2. Dari diagram 1 diketahui bahwa sebagian besar responden (63%) menutup 80-100% lahan tak terbangun pada rumahnya, sedang yang membiarkan >50% tetap terbuka tanpa perkerasan hanya sebagian kecil dari responden (24%). Banyaknya masyarakat yang memilih memberikan perkerasan pada sisa lahan terbangun di rumahnya dilatarbelakangi berbagai alasan, diantaranya alasan fungsional, seperti fungsi sirkulasi maupun tempat parkir, selain juga alasan kebersihan dan kerapihan. Diagram 2 menunjukkan material yang dipilih oleh responden untuk perkerasan halaman rumah mereka. Terlihat bahwa sebagian besar responden (62%) memilih menggunakan semen dan beton sebagai material perkerasan. Sebesar 24% memilih keramik, dan hanya 14% dari keseluruhan responden yang memilih menggunakan paving. Pemilihan material semen lebih didasarkan karena kepraktisan dan harganya yang murah, sedangkan keramik dipilih karena alasan keindahan, sebaliknya paving jarang digunakan karena harganya yang mahal. Padahal sebagaimana diketahui semen, beton, dan keramik merupakan material Selain itu menurut Salim et al, 2009 fakta di permukiman non formal saluran drainase kadang kala tidak ada, kalaupun ada kemampuan daya tampungnya minim, belum lagi kebiasaan masyarakat yang menyatukan saluran drainase dengan saluran buangan limbah menimbulkan masalah lingkungan yang lain saat terjadi kerusakan yang harus diperbaiki. Sedangkan pada permukiman formal saluran drainase penampungan air hujan disedikan dan dialirkan menuju sungai. Dapat dikatakan bahwa hampir semua penduduk membiarkan air hujan sebagai limpasan air yang terbuang dan sedikit sekali menampungnya untuk pemanfaatan kebutuhan air sehari-hari. Disisi lain, buruknya sistem drainase ditambah penggunaan material perkerasan yang tak mampu menyerap air akan membuat limpasan air hujan meluap ke jalanan dan menyebabkan banjir. Salim et al, 2009 menyatakan bahwa pelestarian air meski telah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat namun belum menjadi kesadaran untuk diaplikasikan dalam tindakan nyata, misalnya dengan membuat sumur resapan. Masalah dana dan pengetahuan teknis tentang pengaliran air limbah dan air hujan menjadi kendala bagi penduduk yang sebagian besar pendidikannya rendah serta pendatang yang profesinya sebagai pekerja pabrik sepertinya tidak memiliki waktu yang cukup untuk peduli terhadap lingkungan. perkerasan yang tidak memungkinkan air meresap kedalam tanah melalui sela-selanya.

3

AR 5221 arsitektur dan teknologi Dalam hal pemanfaatan air dan usaha penghematan terhadap sumber daya ini, tidak ada yang responden yang menyetujui penggunakan kembali air bekas pakai atau cuci di unit rumah tangga karena persepsi mereka yang menyatakan air bekas adalah air kotor yang perlu dibuang dan pesepsi bahwa air bersih lebih baik untuk digunakan daripada menggunakan air bekas cuci (Salim et al, 2009). Dari gambaran mengenai kondisi pemanfaatan dan fisik di ruang lingkungan tersebut, dapat diketahui rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian dan keberlangsungan siklus air. golongan masyarakat pada huniannya masing-masing. Lubang Resapan Biopori, Karakteristik dan Manfaatnya Lubang Resapan Biopori (LRB) merupakan metode alternatif untuk meningkatkan daya resap air hujan ke dalam tanah. Metode ini pertama kali dicetuskan oleh Dr. Kamir R. Brata, seorang peneliti seorang peneliti dan dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Institut Pertanian Bogor (IPB). Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. (Tim Biopori IPB, 2007). Apabila lubang-lubang seperti ini dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air akan diharapkan semakin meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah, dan dengan sendirinya genangan-genangan air di permukaan tanah pada musim hujan dapat dihindari. Lubang Resapan Biopori dibuat dengan membuat lubang pada tanah dengan diameter 10-30 cm, dan kedalaman 80-100 cm, atau dalam kasus tanah dengan permukaan air tanah dangkal tidak sampai melebihi kedalaman muka air tanah. Selanjutnya kedalam lubang tersebut dimasukkan sampah organik setingggi 2/3 lubang, dapat berupa sampah dapur maupun daun-daunan kering (Tim Biopori IPB,2007).
Gb.1 Lubang Resapan Biopori
sumber: Almendah (2009)

Kondisi tersebut menuntut adanya

suatu teknologi tepat guna yang fleksibel dan dapat dengan mudah diaplikasikan oleh seluruh

Sampah organik tersebut

berfungsi sebagai makanan bagi cacing dan mikro organisma tanah lainnya, yang akan beraktifitas dan membuat lubang-lubang kecil (biopori) pada dinding LRB

yang dibuat. Keberadaan lubang-lubang inilah yang akan meningkatkan dan mempercepat daya resap tanah terhadap air. Untuk mencegah masuknya tikus atau hewan lain kedalam lubang atau agar anak kecil tidak terperosok, maka dapat diberikan alternatif dengan menutup lubang biopori dengan loster yang sebelumnya diberi penutup kasa.

4

AR 5221 arsitektur dan teknologi

Gb 2. Lubang Resapan Biopori Pada Hunian Dengan Penutup Loster dan Kasa
sumber: Hasan, 2008

Diameter LRB yang relatif kecil (10 cm) memungkinkan lubang resapan ini dibuat dengan fleksibel pada daerah dengan luas lahan terbuka yang sempit, bahkan pada daerah yang telah diberi perkerasan 100% sekalipun, Brata (2007). Untuk mempermudah pembuatan lubang dapat digunakan bor khusus yang telah banyak tersedia di pasaran dengan harga tak terlalu mahal. Karena itu LRB memperkecil ruang alasan bagi masyarakat siapapun dan dimanapun untuk tidak mengambil peran bagi upaya pelestarian lingkungan, dengan cara meresapkan air hujan sebanyak-banyaknya ke dalam tanah, sekaligus memproses sampah yang mereka hasilkan masing-masing dengan memilahnya menjadi sampah organik dan anorganik. Daya resap air akan tergantung dari jenis tanah pada lokasi dimana LRB dibuat. Karenanya menurut Tim Biopori, IPB (2007) untuk menambah efektifitasnya, jumlah LRB yang diperlukan untuk luasan lahan tertentu pada daerah tertentu dapat dihitung dengan persamaan: Jumlah LRB = intensitas hujan(mm/jam) x luas bidang kedap (m2) / Laju Peresapan Air per Lubang (liter/jam). Namun untuk kemudahan, yang biasa dilakukan adalah pembuatan LRB setiap jarak ± 1 m pada daerah-daerah yang dilalui air hujan maupun didasar selokan.

Gb 3. Lubang Resapan Biopori Pada Jalan dan Dasar Selokan, Dengan 100% Perkerasan
sumber: Parantri, (2010) dan Johnherf, (2008)

Untuk perawatannya, LRB harus terus menerus dijaga agar tetap terisi sampah organik sebagai makanan mikro organisme tanah. Sampah organik yang dimasukkan kedalam LRB dalam jangka 2-4 minggu akan membusuk dan berubah menjadi kompos. Kompos yang diproduksi dapat diambil dan dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman. Apabila tidak diambil maka kompos tersebut akan terurai dalam tanah, oleh karenanya lubang harus diperiksa dan diisi dengan sampah organik kembali secara teratur. Apabila diameter lubang resapan biopori berukuran 10 cm dan dalamnya 100 cm, maka satu lubang dapat

5

AR 5221 arsitektur dan teknologi menampung sampai dengan 7,8 liter sampah organik. Dengan demikian salah satu manfaat lain LRB adalah sebagai alat pengolahan sampah organik. Selain manfaat yang telah disebutkan, manfaat lain lubang resapan biopori menurut Johnherf, (2008) adalah memelihara cadangan air tanah, mencegah terjadi keamblesan (subsidence) dan keretakan tanah, menghambat intrusi air laut, mengubah sampah organik menjadi kompos, meningkatkan kesuburan tanah, menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah, mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh adanya genangan air seperti demam berdarah, malaria, kaki gajah, mengurangi masalah pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran udara dan perairan, mengurang emisi gas rumah kaca (CO 2 dan metan), serta mengurangi banjir, longsor, dan kekeringan. Karena karakteristiknya yang sederhana, mudah, dan murah, serta manfaatnya tidak hanya mencakup satu aspek saja, maka tidaklah berlebihan apabila LRB disebut sebagai teknologi tepat guna dan multi fungsi yang dapat diterapkan untuk menjaga keseimbangan alam di era pemanasan global dewasa ini. Karakteristik Sumur Resapan Sebagai Alternatif Teknologi Penyimpan Air Tanah Sumur resapan telah lama dikenal sebagai rekayasa teknik konservasi air yang berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan diatas atap rumah dan meresapkannya ke dalam tanah (Dephut,1994 dalam Mulyana, 2007). Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaaan Umum menetapkan data teknis sumur resapan air yaitu sebagai berikut : (1) Ukuran maksimum diameter 1,4 meter, (2) Ukuran pipa masuk diameter 110 mm, (3) Ukuran pipa pelimpah diameter 110 mm, (4) Ukuran kedalaman 1,5 sampai dengan 3 meter, (5) Dinding dibuat dari pasangan bata atau batako dari campuran 1 semen : 4 pasir tanpa plester, (6) Rongga sumur resapan diisi dengan batu kosong 20/20 setebal 40 cm, (7) Penutup sumur resapan dari plat beton tebal 10 cm dengan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil. Sedangkan keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 115 tahun 2001, memberikan ilustrasi gambar desain sumur resapan seperti terlihat pada gambar 4, (Wardoyo, 2004).

Gb 4. Penampang Sumur Resapan Berdasarkan keputusan Gubernur DKI Jakarta No.115 tahun 2001.
sumber: Waryono, (2004)

6

AR 5221 arsitektur dan teknologi Arahan umur resapan di DKI Jakarta, memberikan gambaran besaran volume air tersedia berdasarkan luas kanopi bangunan. Kelemahan dari teknologi sumur resapan tersebut,sulit diimplementasikan pada permukiman-permukiman padat bangunan. Atas dasar itulah pentingnya alternatif pembuatan sumur resapan secara komunal berdasarkan diameter sumur per satuan luas (m2/ha), Wardoyo (2004). Pembuatan sumur resapan secara komunal untuk lingkungan permukiman salah satunya berfungsi untuk menekan biaya, karena pada sistem ini satu sumur resapan dengan ukuran tertentu dapat digunakan untuk beberapa unit hunian sekaligus. Sumur resapan untuk komunal, dapat dibuat pada bahu jalan seperti tampak pada gambar 5.

Gb.5 Pembuatan Sumur Resapan Secara Komunal Pada Permukiman Dengan Memanfaatkan Bahu Jalan
sumber: Said et,al

Namun kelemahan pembuatan sumur resapan secara komunal ini kurang fleksibel dilakukan pada perumahan informal, atau hanya dapat dilakukan pada perumahan yang direncanakan skala besar (perumahan oleh pengembang). Hal tersebut terjadi karena pembuatan sumur resapan dibawah bahu jalan harus direncanakan sejak awal sebelum dibangunnya jalan. Begitupun dengan pemasangan pipa-pipa saluran dari setiap unit rumah harus direncanakan ketika tahap pembangunan rumah masih dalam batas pondasi. Dengan demikian, perumahan informal dimana perencanaan pembangunannya tidak serentak tidak dimungkinkan memakai sumur resapan dengan sistem komunal ini. Untuk rumah-rumah informal, sumur resapan yang biasa digunakan adalah pada halaman atau pekarangan. Standar Nasional Indonesia No: 03-2453-2002 menetapkan cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan termasuk persyaratan umum dan teknis mengenai batas muka air tanah, nilai permeabilitas tanah, jarak terhadap bangunan, perhitungan dan penentuan sumur resapan air hujan (Mulyana,2007). Persyaratan umum yang harus dipenuhi untuk sumur resapan di halaman atau pekarangan antara lain sebagai berikut: 1. Sumur resapan air hujan ditempatkan pada lahan yang relatif datar; 2. Air yang masuk ke dalam sumur resapan adalah air hujan tidak tercemar; 3. Penetapan sumur resapan air hujan harus mempertimbangkan keamanan bangunan sekitarnya; 4. Harus memperhatikan peraturan daerah setempat; 5. Hal-hal yang tidak memenuhi ketentuan ini harus disetujui Instansi yang berwenang. Sedangkan manfaat sumur resapan sendiri menurut Said, et al adalah menambah jumlah air yang masuk kedalam tanah sehingga dapat menjaga kesetimbangan hidrologi air

7

AR 5221 arsitektur dan teknologi tanah dan dapat mencegah intrusi air laut, mereduksi dimensi jaringan drainase dapat sampai nol jika diperlukan, menurunkan konsentrasi pencemaran air tanah, mempertahankan tinggi muka air tanah, mengurangi limpasan permukaan sehingga dapat mencegah banjir, mencegah terjadinya penurunan tanah, dan melestarikan teknologi tradisional. PEMBAHASAN Analisis Perbandingan Teknologi Lubang Resapan Biopori Dengan Sumur Resapan Analisis perbandingan ini dilakukan untuk mencari teknologi pelestarian air tanah yang paling sesuai dan dapat diaplikasikan pada kondisi permukiman saat ini. Analisis dilakukan dengan membandingkan karakteristik LRB dan sumur resapan, selanjutnya dilihat kesesuaian karakteristik tersebut dengan kondisi fisik pemukiman dewasa ini.
Tabel 1. Perbedaan Karakteristik Lubang Resapan Biopori dan Sumur Resapan Aspek Fleksibilitas ukuran Lubang Resapan Biopori - Ø 10 cm, kecil dan fleksibel dalam penempatannya, tidak membutuhkan lahan yang luas, dapat dibuat pada lahan 100% telah tertutup perkerasan. - Dapat dibuat kapan saja dan dimana saja, tidak harus direncanakan terlebih dahulu sebelum pembangunan rumah. Sumur Resapan - Ø 1-1,5 m, membutuhkan lahan yang relative lebih luas daripada LRB, tidak dapat diterapkan pada permukiman informal padat penduduk tanpa perencanaan dahulu sebelumnya. - Sumur resapan komunal tidak dapat digunakan untuk permukiman informal - Perletakannya kurang fleksibel disbanding LRB Kesulitan - Teknologinya sangat sederhana, mudah dimengerti oleh siapapun. - Pembuatannya cepat, dipermudah dengan alat bor maka satu lubang dapat diselesaikan ± 10 menit Harga - Relatif murah, yang dibutuhkan hanya alat bor seharga Rp 150.000-200.000 yang dapat digunakan berkali-kali. Akan menjadi jauh lebih murah apabila satu alat bor dimiliki oleh beberapa orang, misalkan dibeli oleh RT untuk warganya. - Mudah dikerjakan sendiri, sehingga tidak perlu membayar tenaga kerja. Daya Tampung - Satu lubang dengan diameter 10 cm dapat menampung sampah organik ± 7,8 liter. - Karena ukurannya yang lebih kecil, dan fungsinya bukan untuk menampung air tentu daya tampung - Daya tampung air lebih besar daripada LRB, namun tidak berfungsi meningkatkan daya resap tanah terhadap air, sehingga tidak dapat mengatasi permasalahan genangan air, Membutuhkan keterampilan khusus untuk konstruksinya (lebih rumit dari LRB sehingga untuk pembuatannya membutuhkan tenaga kerja, yang akhirnya juga menelan biaya - Harga material dalam pembuatan sumur resapan, seperti bata, pipa, ijuk, dan lain sebagainya tentunya lebih mahal daripada biaya pembuatan LRB. - Membutuhkan biaya untuk tenaga pekerja

8

AR 5221 arsitektur dan teknologi
air pada LRB lebih kecil daripada sumur resapan. Namun keberadaan biopori yang terbentuk dari aktivitas organisma tanah didalamnya mampu meningkatkan daya serap tanah terhadap air, sehingga yang terjadi adalah penambahan luas penampang tanah. Makin berkali-lipat luas penampang tanah, makin besar pula potensi meresapkan air ke dalam tanah. - Karena berfungsi meningkatkan daya serap tanah terhadap air, maka dapat juga mengatasi masalah genangan air akibat hujan yang ada disekitar LRB, Brata (2007) dalam Tunggal, (2008) Manfaat - Selain bermanfaat dalam pelestarian air juga sebagai pengolah sampah organik menjadi kompos yang menyuburkan tanah.
sumber: analisis pribadi, 2010

kecuali jika secara langsung diarahkan melalui pipa masuk ke sumur resapan.

- Hanya berfungsi sebagai penyimpan air tanah, tidak untuk mengolah sampah.

Dari analisis perbandingan karakteristik antara LRB dan sumur resapan diatas, terlihat bahwa yang lebih efektif untuk diterapkan pada kondisi permukiman kota saat ini dimana lahan terbuka sudah semakin sempit adalah LRB. LRB dengan fleksibilitas ukurannya yang jauh lebih kecil dan sederhana dibandingkan sumur resapan dapat diterapkan pada permukiman padat penduduk yang bahkan terlanjur tidak menyisakan lahan terbuka tanpa perkerasan. Sementara sumur resapan kurang efektif untuk diterapkan karena pembuatan sumur resapan terutama pipanisasinya menuntut perencanaan sejak awal pembangunan rumah. Kesederhanaan lubang resapan biopori membuat teknologi ini dapat dengan mudah dimengerti dan diterapkan oleh siapapun. Terlebih pembiayaannya yang murah, terutama jika dibandingkan dengan biaya pembuatan satu sumur resapan memungkinkan LRB dibuat oleh masyarakat dari segala tingkat ekonomi. Daya tampung sumur resapan terhadapair memang lebih besar daripada LRB, namun LRB berfungsi meningkatkan daya serap tanah terhadap air, dan lubang-lubang biopori yang dibentuk oleh mikroorganisma didalam tanah akan meningkatkan luas penampang tanah yang mampu menyerap air. Keuntungan itulah yang tidak terdapat pada sumur resapan. Dilihat dari sisi manfaat, teknologi LRB dapat memberikan beberapa manfaat sekaligus pada aspek yang berbeda (tidak hanya dari aspek air dan tanah saja) namun juga sebagai salah satu cara pengelolaan sampah organik, dan menghasilkan kompos. Dengan membuat LRB dalam huniannya, maka masyarakat akan dituntut untuk membiasakan diri memisahkan sampah rumah tangganya menjadi sampah organik dan anorganik. Sehingga

9

AR 5221 arsitektur dan teknologi dengan teknologi ini masyarakat akan dapat berpartisipasi untuk menjaga keseimbangan lingkungan. KESIMPULAN Dalam kondisi pesatnya pertumbuhan kota saat ini, dimana ketersediaan lahan terbuka untuk resapan semakin terbatas dan digantikan oleh perkerasan, dibutuhkan satu teknologi tepat guna untuk menjaga kelestarian air tanah sehingga siklusnya akan selalu berputar dan ketersediaannya selalu terjaga. Teknologi tepat guna yang dimaksud disini adalah bahwa teknologi itu harus sederhana, dan murah. Selain itu perencanaannya juga fleksibel dan dapat diterapkan dengan mudah. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya lahan untuk resapan lebih banyak pada

perumahan informal padat penduduk, dimana rumah-rumah terbangun secara incremental tanpa perencanaan dan berdiri pada lahan seadanya sehingga perencanaan lahan resapan seringkali diabaikan. Masyarakat pada daerah inipun umumnya berada pada tingkat ekonomi bawah sehingga perencanaan teknologi penyimpanan air tanah seperti sumur resapan cenderung ditinggalkan karena akan memakan biaya. Teknologi lubang resapan biopori dinilai dapat menjawab tantangan tersebut. Cara pembuatannya yang mudah, dan murah, serta ukrannya menyebabkan teknologi ini dapat diterapkan dengan mudah oleh siapapun. Ditambah lagi teknologi ramah lingkungan ini selain berfungsi menjaga kelestarian air tanah, dan mencegah banjir, juga mampu mengatasi masalah sampah organik dengan merubahnya menjadi kompos yang menyuburkan tanaman,

DAFTAR PUSTAKA Alamendah, (2009), Lubang Resapan Biopori, Sederhana Tepat Guna, http://alamendah.wordpress.com Hasan, (2008), Biopori di Rumah, http://hasant.wordpress.com Johnherf, (2008), Biopori Sebagai Peresap Air yang Mengatasi Banjir dan Sampah, http://johnherf.wordpress.com/2008/02/21 Mulyana, Rachmat, Solusi Mengatasi Banjir dan Menurunnya Permukaan Air Tanah Pada Kawasan Perumahan, http://bebasbanjir2015.wordpress.com Parantri, Galuh,(2010), Biopori adalah Solusi, http://kompasiana.com/supergal Said, Nusa Idaman, Haryoto Indriatmoko, Nugro Raharjo, Arie Herlambang, Teknologi Konservasi Air dengan Sumur Resapan, http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Sumur/sumur.html Salim, Suparti Amir, Wanda Yovita, Yuni Sri Wahyuni, (2009), Revitalisasi Permukiman Kota: Pengembangan Pola-pola Baru Penataan Permukiman Kota Berbasis Penyediaan dan Penggunaan Air Secara Berkelanjutan, Bandung; ITB Tim Biopori IPB, (2007), Jumlah LRB yang Disarankan, http://www.biopori.com/jumlah.php. Tim Biopori IPB, (2007), Lubang Resapan Biopori (LBR), http://www.biopori.com/resapan_biopori.php Tunggal, Nawa, (2008), Kamir Raziudin Brata, Pencetus Lubang Resapan Biopori, Kompas 8 Maret 2008, www.kompas.com Waryono, Tarsoen, (2004), Aplikasi Teknologi Sumur Resapan Ramah Lingkungan Dalam Kancah Revitalisasi Air Tanah, Kumpulan Makalah periode 1987-2008, Jakarta; UI

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->