P. 1
Sistem Kendali Keran Wudhuk Menggunakan Sensor Pir Berbasis Mikrokontroler At89c2051

Sistem Kendali Keran Wudhuk Menggunakan Sensor Pir Berbasis Mikrokontroler At89c2051

|Views: 1,818|Likes:
Published by Subuh Kurniawan
Sistem Kendali Keran Wudhuk Menggunakan Sensor Pir Berbasis Mikrokontroler At89c2051
Sistem Kendali Keran Wudhuk Menggunakan Sensor Pir Berbasis Mikrokontroler At89c2051

More info:

Published by: Subuh Kurniawan on May 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

Volume 6 No.

1 Tahun 2007

SISTEM KENDALI KERAN WUDHUK MENGGUNAKAN SENSOR PIR BERBASIS MIKROKONTROLER AT89C2051

Mohd. Syaryadhi, Agus Adria, dan Syukurullah
Laboratorium Elektronika Teknik Elektro Universitas Syiah Kuala

ABSTRAK Sistem keran ini digerakkan secara manual oleh manusia dengan cara memutar atau menggerakkan keran ke atas atau ke bawah. Namun sistem keran secara manual ini memiliki kelemahannya yaitu keran yang mudah rusak dan pemborosan air dikarenakan kelalaian menutup keran. Dengan memanfaatkan sensor Passive Infrared (PIR) sebagai pendeteksi objek berupa anggota tubuh manusia dan mengirimkan sinyal tersebut ke Mikrokontroler AT89C52051 sebagai pusat pengendalinya. Mikrokontroler ini akan mengirimkan instruksi untuk menggerakkan solenoid valve yang berfungsi sebagai katup aliran air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensor PIR ini dapat mendeteksi objek dalam jarak maksimum 3 meter. Ketika sensor PIR menerima radiasi panas dari objek, maka solenoide valve membuka katub untuk mengalirkan air. Di samping itu dibutuhkan debit air tertentu untuk dapat mengaktifkan solenoide valve. Kata Kunci : Keran, PIR, dan Mikrokontroler AT89C51

1. 2. 3. 4. 5.

Sensor Proximity Sensor Sinar Sensor Ultrasonik Sensor Tekanan Sensor Suhu

Dengan memanfaatkan suatu mikrokontroler sebagai pusat pengendalinya, maka dapat diperoleh suatu sistem pengendalian keran yang lebih efektif dan efisisen dalam pengoperasiannya.

2.

SENSOR PASSIVE INFRARED (PIR)

Cahaya merupakan suatu bentuk radiasi dari gelombang elektromagnetik yang pada prinsipnya sama dengan gelombang radio, misalnya infrared, ultraviolet, dan sinar-X. Pada dasarnya yang membedakannya adalah panjang gelombang dan frekuensinya. Panjang gelombang dari cahaya tampak yakni 400 nm hingga 800 nm, dan ultraviolet memiliki panjang gelombang lebih pendek dari 400 nm [2]. Hubungan antara frekuensi dan panjang gelombang dapat dirumuskan dengan persamaan 1.

1.

PENDAHULUAN

λ=

Keran merupakan salah satu katup yang digunakan sebagai saklar untuk menutup dan membuka aliran air. Namun peralatan ini sangat mudah mengalami kerusakan dikarenakan kurang bijak dalam mengoperasikannya. Di samping itu kerusakan dan kelalaian dalam penggunaan keran tersebut akan berdampak kepada pemborosan air. Transduser adalah piranti atau alat yang berfungsi mengubah parameter fisis seperti suhu, tekanan, berat, magnetik, optik, kimia kedalam isyarat listrik yaitu tegangan dan arus. Bentuk Transduser sangat bergantung kepada penomena fisis yang ada. Parameter yang sama dapat ditentukan dengan berbagai tipe transduser yang berbeda.[1]. Sensor adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi dan sering berfungsi untuk mengukur magnitude sesuatu. Sensor adalah jenis tranduser yang digunakan untuk mengubah variasi mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia menjadi tegangan dan arus listrik. Sensor biasanya dikategorikan melalui pengukur, diantaranya adalah :

c ……………(1) f

Dimana : c adalah kecepatan cahaya 3.108 m/s λ adalah panjang gelombang dalam meter ƒ adalah frekuensi dalam Hertz LED (Light Emiting Dioda) infrared adalah suatu komponen yang tersusun dari sambungan P–N yang akan memancarkan cahaya bila dialiri arus dengan bias maju. Proses pancaran cahaya berdasarkan perubahan tingkat energi ketika elektron dan lubang bergabung atau berekombinasi di daerah N pada saat LED dibias maju. Selama perubahan energi ini, proton akan dibangkitkan, sebagian akan diserap oleh bahan semi konduktor dan sebagian lagi akan dipancarkan sebagai energi cahaya. Tingkatan energi dari proton dinyatakan dengan persamaan 2.

E=

hc

λ

…………….(2)

Dimana : E adalah energi dalam elektron volt c adalah kecepatan cahaya λ panjang gelombang Jurnal Rekayasa Elektrika

14

Volume 6 No.1 Tahun 2007 h konstanta plank ( 6,62.10-34 Js) Infra merah dapat digunakan baik untuk memancarkan data maupun sinyal suara. Keduanya membutuhkan sinyal carier untuk membawa sinyal data maupun sinyal suara hingga sampai pada receiver. Untuk transmisi sinyal suara biasanya digunakan rangkaian voltage to frekwensi converter yang berfungsi untuk mengubah tegangan sinyal suara menjadi frekuensi. Infra merah merupakan radiasi yang tidak tampak pada daerah spektrum elektromagnetik yang mempunyai panjang gelombang antara 750 nm sampai 1000 µ m. Detektor panas memiliki respon terhadap sumber panas yang timbul dari suatu radiasi tertentu dan hasilnya diukur dengan peralatan temperatur. Tiga jenis detektor panas yang paling banyak dipakai adalah bolometer, thermocouple dan pyroelectric. Untuk masing – masing detektor yang telah disebutkan, penyerapan radiasi menimbulkan perubahan suhu pada detektor yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik dari bahan penyusunnya. Untuk bolometer misalnya, akan terjadi perubahan resistansi (tahanan) listrik. Radiasi infra merah berada pada spektrum elektromagnetik dengan panjang gelombang lebih besar daripada cahaya tampak. Radiasi infra merah tidak dapat dilihat tapi dapat dideteksi. Benda yang dapat memancarkan panas berarti memancarkan radiasi infra merah. Benda – benda ini termasuk makhluk hidup seperti binatang dan tubuh manusia. Tubuh manusia dan binatang dapat memancarkan radiasi infra merah terkuat yaitu pada panjang gelombang 9,4 µ m. Radiasi infra merah yang dipancarkan inilah yang menjadi sumber pendeteksian bagi detektor panas yang memanfaatkan radiasi infra merah.

3.

METODOLOGI

1 +-+ IR -+ +RG 3
Gambar 1 Diagram internal rangkaian sensor PIR PIR sensor mempunyai dua elemen sensing yang terhubungkan dengan masukan dengan susunan seperti yang terdapat dalam Gambar 1 Jika ada sumber panas yang lewat di depan sensor tersebut, maka sensor akan mengaktifkan sel pertama dan sel kedua sehingga akan menghasilkan bentuk gelombang seperti ditunjukkan dalam Gambar 2 Sinyal yang dihasilkan sensor PIR mempunyai frekuensi yang rendah yaitu 0,2 – 5 Hz. [3]

2

Metodelogi yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Studi literatur Tahapan ini mempelajari teori-teori dasar yang menunjang, yaitu tentang gelombang infra merah, teori mikrokontroler AT89C2051, relai, katup solenoid, bahasa assembly MCS-51. 2. Perancangan sistem Pada tahap perancangan ini terdiri dari perancangan perangkat keras dan perancangan perangkat lunak. Perangkat keras dirancang sesuai diagram blok yang dibuat, serta pengujian pada papan PCB (Printed Circuit Board). Perangkat lunak dirancang dengan menggunakan assembly MCS-51. 3. Pembuatan perangkat keras Tahapan ini meliputi tata letak komponen, pembuatan PCB dan penyolderan komponen pada PCB. 4. Pembuatan perangkat lunak Pada tahapan perancangan perangkat lunak dirancang sebuah program yang akan diinputkan pada mikrokontroler dengan menggunakan bahasa pemrograman assembly MCS-51, yaitu program untuk mengolah hasil sinyal yang diterima mikrokontroller. 5. Pengujian alat Pada tahapan ini dilakukan pengujian terhadap masing-masing blok dan keseluruhan sistem yang diperoleh pada penelitian, yang meliputi: pengujian rangkaian sensor passife infrared, pengujian sistem minimum AT89C2051, catu daya, penggerak relai, serta pengujian keran solenoid.

4.

PERANCANGAN SISTEM

4. 1 Gambaran Umum Sistem Perancangan alat ini meliputi perangkat keras dan perangkat lunak. Gambar 3 di bawah ini menunjukkan diagram blok dari sistem yang dirancang. Sistem tersebut terdiri dari sensor PIR, Mikrokontroler AT89C2051, rangkaian driver dan solenoide valve.

Gambar 2. Arah jangkauan gelombang sensor PIR

Jurnal Rekayasa Elektrika 15

Volume 6 No.1 Tahun 2007 sebagai penerima informasi sinyal gelombang infra merah yang dapat dihubungkan ke mikrokontroler.

Sensor PIR

M ikrokontroler AT89C 2051

D river

Solenoid Valve

Gambar 3. Blok diagram umum sistem 4.2 Sensor PIR Gambar 6. Blok rangkaian penerima infra merah Sensor PIR merupakan komponen produksi COMedia Ltd., Sensor tersebut sudah dipabrikasi dan dikemas dengan baik, sehingga dapat mengurangi inteferensi sinyal yang diterima. Pada perancangan ini dibatasi area atau daerah yang dapat di deteksi oleh sensor PIR dengan cara memberikan pelindung pada masing-masing sisi kiri dan kanan sensor PIR. Hal dilakukan agar tidak terjadi gangguan terhadap sensor untuk keran yang lain karena arah jangkauan sensor PIR dapat mencapai sudut 60o seperti terlihat pada Gambar 4 di bawah ini :
P IR S e n s o r

Gambar 6 di atas menunjukkan blok rangkaian penerima cahaya infra merah. Pada PIR sensor ditambahkan fresnel lens yang berfungsi untuk mengumpulkan radiasi infra red tepat ke sensor PIR

4.3 Sistem Minimum AT89C2051 Dalam perancangan ini digunakan mikrokontroler AT89C2051, karena mikrokontroler tersebut memiliki 15 bit I/O (port 1 dan 3), Hal ini cukup mewakili kebutuhan dari perancangan sistem yang akan dibuat, yaitu hanya memerlukan 2 bit input dan 2 bit output. Dan untuk aplikasi pada banyak keran cukup hanya membutuhkan satu mikrokontroler untuk mengontrol sejumlah keran Tabel 1. Hubungan antara PIR sensor dengan mikrokontroler Mikrokontroler Sensor PIR AT89C2051 O/P Pin 12 Vcc Pin 20 GND Pin 10 Sistem minimum AT89C2051 sebagai basis pengontrol untuk keran solenoid. Rangkaian ini hanya terdiri atas single chip mikrokontroler AT89C2051, sebuah osilator dan dua buah kapasitor yang berfungsi untuk menstabilkan frekuensi. Gambar 7 menunjukkan skema dari rangkaian tersebut.
2 3 6 7 8 9 11 5 4 1 11 MHz 1uF 1k
P30 (RX) P31 (TX) P32 (INT0) P33 (INT1) P34 (T0) P35 (T1) P37 XTAL-1 XTAL-2 RST Vcc P1 0 P1 1 P1 2 P1 3 P1 4 P1 5 P1 6 P1 7

P e lin d u n g

P e lin d u n g

J a n g k a u a n P IR s e n s o r d e n g a n P e lin d u n g

J a n g k a u a n P I R s e n s o r t a n p a P e lin d u n g

Gambar 4. Ilustrasi pembatasan area sensor Rangkaian sensor PIR sudah merupakan suatu kesatuan dari hasil pabrifikasi. Konfigurasi pin sensor PIR seperti terlihat pada Gambar 5 Sensor ini memiliki 3 pin, yang masing-masingnya dihubungkan ke Ground, Vcc (5V) dan pin ketiga merupakan pin I/O.

12 13 14 15 16 17 18 19 20 10 VCC GND

AT89C2051

Gambar 5. Konfigurasi Pin Sensor PIR [3] Selain itu sensor tersebut juga sangat mudah digunakan, karena hanya menggunakan 1 pin I/O 16

30pF 30pF

Gambar 7. Rangkaian Sistem Minimum AT89C2051[4] Jurnal Rekayasa Elektrika

Volume 6 No.1 Tahun 2007 diberi energi, inti besi akan ditarik ke dalam kumparan solenoid untuk membukakan keran. Pegas atau per yang terdapat pada pangkal inti besi akan mengembalikan keran pada posisi semula, yaitu tertutup apabila arus berhenti. Keran solenoid dapat mengontrol hidrolis (cairan minyak), pneumatic (udara) atau aliran air.

Mikrokontroler AT89C2051 memiliki dua buah port I/O dua arah. Pin reset terhubung ke rangkaian reset sistem. Rangkaian sistem minimum ini menggunakan osilator kristal 11 MHz yang berfungsi membangkitkan sinyal clock internal. Jadi setiap satu instruksi MCS-51 akan dilaksanakan dalam waktu 1 mikro detik. 4.4 Driver Relai Rangkaian driver relay (penggerak relai) yang dirancang terdiri dari dua buah transistor, transistortransistor difungsikan sebagai swicth yang bekerja untuk mengaktifkan relai
12 V 12 V

Koil solenoid

AC

Per
10 K
AC

220 V

1K AT89C2051 Transistor C9013 1K Transistor C9013

inti besi yg dapat digerakk an

masukan air

keluaran air

Gambar 8. Penggerak relai Gambar 9. Keran solenoid Alasan penggunaan dua buah transistor pada rangkaian penggerak relai yaitu untuk mengatasi ketidak mampuan mikrokontroler membuat transistor saturasi karena mikrokontroler tergolong aktif low. Ketika logika high diberikan pada salah satu pin mikrokontroler maka impedansinya akan tinggi sehingga arus yang dihasilkan oleh pin mikrokontroler tidak mampu membuat transistor saturasi disebabkan I B < I BSat jika rangkaian penggerak menggunakan satu transistor, oleh karena itu dirangkai rangkaian swicthing transistor seperti pada Gambar 8. Pada perancangan ini, kita menggunakan dua buah relai untuk mengaktifkan dua buah keran solenoid. 4.5 Keran Solenoid Keran ini akan dihubungkan ke sumber arus AC dengan besar tegangan 220V. Pada perancangan sistem ini kita memakai Normally Closed (NC Valve) yaitu katup pada posisi tertutup pada saat solenoid tidak bertegangan (deenergized), dan katup akan terbuka pada saat solenoid diberikan tegangan (solenoid energized). Pada solenoid terdapat dua buah terminal yang disambungkan ke sumber tegangan dan relai. Gambar 9 menunjukkan skema rangkaian keran solenoid. Keran solenoid adalah kombinasi dari dua dasar unit fungsional : 1) Solenoid (elektromagnet) dengan inti atau plungernya. 2) Badan keran yang berisi lubang mulut pada tempat piringan atau stop-kontak ditempatkan untuk menghalangi atau mengizinkan aliran. Aliran melalui lubang mulut keran akan terbuka atau tertutup tergantung pada apakah solenoid diberi energi atau dihilangkan energinya. Apabila kumparan Aplikasi standar dari keran solenoid biasanya menghendaki bahwa keran dipasang langsung pada saluran pipa atau pada pertengahan pipa yang menghubungkan air masuk dengan air keluar (Gambar 9). Badan keran biasanya kuningan yang ditempa. Dianjurkan menggunakan saringan untuk mencegah pasir halus atau kotoran dari rumah pada lubang mulut dan menyebabkan kebocoran. Keran harus dipasang dengan arah aliran sesuai dengan anak panah yang tercetak pada sisi bodi keran, atau tanda “IN” dan “OUT” pada hubungan pipa. Keran solenoid cocok untuk menangani aliran pada satu arah saja. Dengan tekanan yang diberikan pada bagian atas dari piringan keran. 4.6 Perangkat Lunak Program yang akan diinputkan pada mikrokontroler, guna mengontrol kondisi keran solenoid untuk membuka atau menutup sesuai dengan output dari sensor. Program ini dibuat dengan bahasa assembly MCS-51 dan dimasukkan ke dalam Flash PEROM mikrokontroler. Diagram Alir Program MCS-51 yang diinputkan pada Mikrokontroler AT89C2051 dapat dilihat pada Gambar 10. Program tersebut diinputkan ke dalam memori flash PEROM mikrokontroler dengan menggunakan downloader. Tetapi sebelumnya harus dilakukan pengkonversian ke dalam bahasa mesin (hexadecimal) agar dimengerti oleh mikrokontroler.

Jurnal Rekayasa Elektrika 17

Volume 6 No.1 Tahun 2007 dari sumber panas serta luas area yang dapat dijangkau. Multimeter dihubungkan ke rangkaian seperti pada Gambar 11. Panas tubuh manusia yang digunakan dalam pengujian ini mempunyai suhu normal sebesar 27 – 32 o C. Jarak sumber panas terhadap sensor di ubah sampai jarak tertentu sampai multimeter tidak menunjukkan respon tegangan yang dihasilkan oleh sensor. Ketika tidak ada objek yang di deteksi, maka keluaran tegangan menunjukkan angka 0,1 mV. Ini menunjukkan bahwa keluaran sensor PIR adalah logika 0 (rendah) ketika tidak mendeteksi objek.

Start

reset semua port

Input = logika 1? Y Output = 1 (keran terbuka)

N

Output = 0

Delay 3 detik

END

Gambar 10. Flowchart

5. PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengujian Sistem Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian sensor PIR sebagai rangkaian penerima gelombang infra merah, sistem minimum AT89C2051, keran solenoid dan pengujian sistem secara keseluruhan. Hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan hasil perencanaan. Hasil perbandingan ini selanjutnya dianalisa. Gambar 12. Tegangan sensor PIR tanpa objek Ketika ada objek berupa sumber panas dideteksi sensor PIR, maka tegangan keluaran sensor menunjukkan 4,95 Volt. Ini menunjukkan sensor akan berlogika 1 (tinggi) ketika mendeteksi mendeteksi panas tubuh. Pengujian juga dilakukan dengan melihat respon sensor PIR terhadap sumber panas tubuh manusia pada jarak tertentu. Hasil pengujian sensor PIR dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

5.1.1 Pengujian Sensor PIR Gambar di bawah ini menunjukkan rangkaian sensor PIR.

Gambar 11. Rangkaian sensor PIR Pengujian sensor PIR bertujuan untuk mengetahui jarak maksimal yang dapat dideteksi oleh sensor PIR 18

Gambar 13. Keluaran tegangan sensor PIR ketika mendeteksi objek berupa panas tuibuh

Jurnal Rekayasa Elektrika

Volume 6 No.1 Tahun 2007 Tabel 2. Respon sensor PIR terhadap jarak Jarak ukur Tegangan Keterangan (cm) (Volt) 30 4,95 Akurat 60 4,95 Akurat 90 4,94 Akurat 120 4,94 Akurat 160 4,94 Akurat 210 4,94 Akurat 270 4,94 Akurat 300 4,94 Akurat 310 4,94 Tidak Akurat 350 4 Tidak Akurat 400 4 Tidak Akurat 450 4 Tidak Akurat 500 0 Tidak Akurat 550 0 Tidak Akurat 600 0 Tidak ada respon sensor), sedangkan output yang digunakan adalah pin P3.0 dan P3.1 yang dihubungkan ke penggerak relai.

Vcc
100

2 3 6 7 8 9 11 5 4 1 11 MHz 30pF 30pF 1k 1uF

P30 (RX) P31 (TX) P32 (INT0) P33 (INT1) P34 (T0) P35 (T1) P37 XTAL-1 XTAL-2 RST Vcc

P1 0 P1 1 P1 2 P1 3 P1 4 P1 5 P1 6 P1 7

12 13 14 15 16 17 18 19 20 10 VCC GND

AT89C2051

5.1.2 Pengujian Sistem Minimum AT89C2051 Listing program pengujian sistem minimum adalah sebagai berikut : ORG 0H MULAI: MOV P1,#00000000B CALL DELAY MOV P1,#00000001B CALL DELAY MOV P1,#00000011B CALL DELAY MOV P1,#00000111B CALL DELAY MOV P1,#00001111B CALL DELAY MOV P1,#00011111B CALL DELAY MOV P1,#00111111B CALL DELAY MOV P1,#01111111B CALL DELAY AJMP MULAI DELAY : MOV R0,#2 DELAY2: MOV R1,#FFH DELAY3: MOV R2,#0 DJNZ R2,$ DJNZ R1,DELAY3 DJNZ R0,DELAY2 RET END Sebagai indikator output digunakan LED seperti terlihat pada Gambar 14. Pada perancangan ini pin yang digunakan sebagai input adalah P1.2, P1.3 (sebagai input Gambar 14. Rangkaian Pengujian Sistem Minimum Instruksi yang dimasukkan tersebut akan memberikan keluaran yang ditampilkan oleh LED dengan kombinasi yang yang berbeda seperti terlihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Pengujian Sistem Minimum AT89C2051 Input Desimal 0 1 3 7 15 31 63 127 Biner 00000000 00000001 00000011 00000111 00001111 00011111 00111111 01111111 Output Kombinasi LED 11111111 11111110 11111100 11111000 11110000 11100000 11000000 10000000

5.1.3

PENGUJIAN DRIVER RELAI

Relai berfungsi sebagai penggerak aktuator berupa solenoide valve. Pengujian relai tampak seperti pada gambar di bawah ini.

Jurnal Rekayasa Elektrika 19

Volume 6 No.1 Tahun 2007 penggerak relai yang menyebabkan transistor berada pada keadaan saturasi. sehingga untuk kaki basis transistor yang kedua akan mendapatkan tegangan 0 Volt. Tegangan Vcc sebesar 12 volt pada transistor yang kedua akan menggerakkan relai, sehingga relai bekerja dan menghubungkan beban dengan sumber tegangan 220 volt. Tegangan 220 V AC yang mengalir ke kumparan lilitan kawat akan menimbulkan medan magnet sehingga akan menarik inti besi yang ditempatkan bebas bergerak antara dua buah kumparan. Sehingga air yang berada pada pangkal keran bisa mengalir keluar.

Gambar 15. Rangkaian pengujian relai Ketika keluaran dari mikrokontroler high atau bertegangan 5 Volt maka ini akan menjadi input untuk kaki basis transistor pertama, yang menyebabkan transistor pertama mengalami saturasi, sehingga untuk kaki basis transistor yang kedua akan mendapatkan tegangan 0 Volt. Tegangan Vcc pada transistor yang kedua akan menggerakkan relai, sehingga relai dalam keadaan close, hal ini akan menghubungkan antara beban dengan sumber tegangan 220 volt dari PLN 5.1.4 Pengujian Keran Solenoid

6. KESIMPULAN Dari pembahasan di atas maka ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Sistem kendali keran menggunakan sensor PIR yang dikendalikan oleh mikrokontroler AT89C2051 dapat menjadi alternatif untuk keran air wudhuk yang lebih efektif dalam operasionalnya. 2. Sistem ini bekerja dengan cara mendeteksi panas dengan memanfaatkan radiasi infra merah yang dipancarkan oleh tubuh manusia dengan radiasi infra merah terkuat dengan panjang gelombang 9,4 µ m. 3. Sistem ini memakai sensor Passive Infrared (PIR) sebagai detektor suhu yang bekerja pada -20oC 50oC, dengan jangkauan efektif sejauh 3 meter pada sudut 0o. 7. REFERENSI [1] Carr, JJ, 1993, Sensor and Circuits: Sensors, transducers, and supporting circuits for electronic instrumentation, measurement, and control, PTR Prentice Hall, New Jersey. [2] Carr, JJ, 1979, Elements of Electronic Instrumentation and Measurement, Prentice Hall, New Jersey. [3] COMedia Ltd, “Data Sheet Passive Infrared KC7783R”. Tersedia : http://www. alldatasheet.com, 11 Januari 2007. [4] Christanto, D & Pusporini, K, Panduan Dasar Mikrokontroller Keluarga MCS-51, Innovative Electronics, Surabaya, , 2004.

Keran solenoid diberikan tegangan 220 V maka inti besi di antara kumparan akan bergerak ke atas membuka jalur keluar masuk air dengan sedikit mengeluarkan bunyi hentakan. Hal ini juga bisa di uji dengan melakukan peniupan pada salah satu pangkal keran, maka maka angin akan mengalir ke ujung keran Tapi akan berbeda ketika tidak diberikan tegangan 220 V, saat dilakukan uji coba dengan meniupkan angin dari pangkal maka gerak angin di batasi oleh inti besi sehingga tidak bisa mengalir ke ujung keran.

5.2 Pembahasan Objek berupa tangan didekatkan ke arah sensor maka PIR mendeteksi radiasi infra merah yang dipancarkan dari tangan. Besarnya pancaran radiasi infra merah terkuat dari tangan manusia maksimum pada panjang gelombang 9,4 µ m. Sedangkan sensor PIR sangat sensitif terhadap radiasi infra merah sehingga di tambahkan fresnel lens untuk membatasi radiasi yang masuk sehingga sensor hanya akan menerima radiasi infra merah pada range panjang gelombang 8 - 14 µ m. Radiasi infra merah tersebut diubah menjadi bentuk tegangan pada 5 Volt. Output dari sensor ini digunakan mikrokontroler sebagai sinyal high atau logika 1. Mikrokontroler melakukan proses manipulasi operasi untuk mendapatkan output yang di kehendaki. Pada pembuatan sistem ini dirancang dua buah keran otomatis dengan masing-masing sensor. Sehingga input yang digunakan pada mikrokontroler adalah dua buah port. Ketika input logika 1 diterima oleh mikrokontroler, mikrokontroler mendelay atau menunda pembacaan selama 3 detik untuk pengkondisian. Keluaran tinggi (5 Volt) mikrokontroler sebagai input kaki basis transistor pertama pada rangkaian 20

Jurnal Rekayasa Elektrika

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->