P. 1
Pengukuran Dan Analisa Saluran Transmisi Balance Dan Unbalace Dalam Bentuk Visualisasi

Pengukuran Dan Analisa Saluran Transmisi Balance Dan Unbalace Dalam Bentuk Visualisasi

|Views: 2,280|Likes:
Published by Subuh Kurniawan
Pengukuran Dan Analisa Saluran Transmisi Balance Dan Unbalace Dalam Bentuk Visualisasi
Pengukuran Dan Analisa Saluran Transmisi Balance Dan Unbalace Dalam Bentuk Visualisasi

More info:

Published by: Subuh Kurniawan on May 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

1

PENGUKURAN DAN ANALISA SALURAN
TRANSMISI BALANCE DAN UNBALACE
DALAM BENTUK VISUALISASI
PROYEK AKHIR
Oleh :
ACHMAD MUSA
NRP : 7204030052
JURUSAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI
POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA
INSTITIUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
AGUSTUS 2007
2
PENGUKURAN DAN ANALISA SALURAN TRANSMISI
BALANCE DAN UNBALACE DALAM BENTUK VISUALISASI
Oleh :
ACHMAD MUSA
7204030052
Proposal Tugas akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat
untuk di lanjutkan sebagai Proyek Akhir
di
Jurusan Telekomunikasi – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Disetujui Oleh :
Tim Penguji Proyek Akhir Dosen Pembimbing
1. Ir. Budi Aswoyo, MT
NIP. 131.843.379
1. Ir. Nur Adi Siswandari, MT
NIP. 132.093.220
3. Ir. Prima Kristalina, MT
NIP. 131.843.904
2. Okkie Puspitorini, ST, MT
NIP. 132.134.723
4. Ari Wijayanti, ST
NIP. 132.303.877
Mengetahui
Ketua Jurusan Teknik Telekomunikasi
Miftahul Huda, ST, MT
NIP. 132.055.257
3
ABSTRAK
Dalam sistem komunikasi, saluran transmisi merupakan
faktor yang tidak bisa di abaikan karena melalui saluran transmisi
inilah informasi dilewatkan. Berdasarkan rangkaian ekuivalennya
maka impedansi kabel sangat penting untuk diketahui, karena
melalui impedansi inilah karakteristik kabel dapat diketahui. Pada
tugas akhir ini akan dilakukan pengukuran dan analisa saluran
komunikasi balance dan unbalance. Sehingga didapatkan nilai
impedansi Zo melalui hasil perhitungan nilai parameter Ro, Lo,
Go, dan Co dengan metode short-open. Hasil yang diharapkan dari
tugas akhir ini adalah visualisasi karakteristik saluran transmisi
balance dan unbalance.
Kata kunci : Balance dan Unbalance, short circuit, open circuit,
dan terbeban.
4
ABSTRACTION
In the communications lines system, represent factor which
cannot disregarding, because through of this transmission lines is
information overcome. Pursuant for its circuit equivalent hence
impedance of cables of vital importance in order to be known because
through of this impedance the cable characterization could be known.
For this finalist project will be conducted a measurement and analyze of
communications line of balance and unbalance cables, to know the values
of its impedance in condition of short circuit, open circuit, and loaded.
From The result of measurement will be used to calculate the significant
parameters of Ro, Lo, Go, and Co. The result expected from this finalist
project is a visualization of transmission lines characterization of balance
and unbalance and then with impedance comparison between datasheet
and calculation.
Keyword: balance, unbalance, short circuit, open circuit, and load
termination.
5
Pengantar
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Dengan memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah SWT
yang telah banyak mencurahkan nikmat, taufik serta hidayah-Nya
sehingga sampai saat ini kami masih diberi keimanan dan dapat
menyelesaikan proyek akhir yang berjudul
PENGUKURAN DAN ANALISA SALURAN TRANSMISI
BALANCE DAN UNBALANCE
Pembuatan dan penyusunan proyek akhir ini diajukan sebagai
syarat untuk menyelesaikan studi di jurusan Teknik Telekomunikasi,
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya.
Kami berharap dapat memberikan yang terbaik bagi semuanya
dan dapat menjadikan proyek akhir kami sebagai tambahan literature dan
dapat bermanfaat bagi pembaca. Akhir kata semoga buku ini dapat
berguna di masa sekarang dan masa mendatang. Sebagai manusia yang
tidak luput dari kesalahan, maka kami mohon maaf apabila ada
kekeliruan yang sengaja maupun yang tidak sengaja.
Wassalamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Surabaya, Juli 2007
Penyusun
6
UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdullillah, atas segala limpahan rahmat, taufik, hidayah
yang diberikan oleh Allah SWT sehingga Proyek akhir ini dapat
terselesaikan. Dan tanpa menghilangkan rasa hormat yang mendalam
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-
pihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan Proyek akhir
ini, terutama kepada :
1. Allah SWT, yang atas izin dan kuasa-Nya kami masih diberi
kesempatan untuk dapat menyelesaikan Proyek akhir ini.
2. Bapak Dr. Ir. Titon Dutono M.Eng. selaku direktur Politeknik
Elektronika Negeri Surabaya.
3. Bapak Drs. Miftahul Huda, MT. selaku kepala jurusan Teknik
Telekomunikasi, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
4. Ibu Ir. Nur Adi Siswandari, Ibu Okkie Puspitorini, ST, MT dan
seluruh dosen Lab EMC. Sebagai ibu sekaligus pembimbing yang
banyak mencurahkan kasih sayang dan memberi ilmu pengetahuan,
pengarahan, dan bimbingan kepada kami untuk menyelesaikan
proyek akhir ini. Semoga Allah swt membalas kebaikan mereka
semua.
5. Bapak, Ibu, yang telah menguji Proyek Akhir ini.
6. Seluruh Dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
7. Seluruh Asisten Dosen dan teknisi PENS-ITS, termasuk Bapak Agus,
atas nasehat-nasehatnya.
8. Bapak, Ibu, amiku, amatiku beserta seluruh keluarga, kakakku, dan
adik-adikku serta keluarga besarku tercinta yang telah memberi restu,
nasehat, do’a dan dorongan semangat dalam setiap langkahku,
semoga Allah selalu melindungi mereka semua.
9. Partner bimbinganku yang telah memberikan banyak motifasi
kepadaku.
10. Buat teman-teman di Lab EMC “Terima Kasih atas segala perhatian,
kerjasama, dan dorongan untuk sama-sama menyelesaikan proyek
akhir ini”.
11. Buat teman-teman D3 TeBe yang tersebar di penjuru Lab Telkom,
DSP, Goodle, Mikro dan Komdig yang selalu menyemangati kita-
kita untuk menyelesaikan proyek akhir ini tepat waktu.
7
12. Seluruh teman-temanku yang selalu membawa masalah bagiku,
terimakasih telah mendewasakanku.
13. Buat beberapa teman yang telah membuat hidup ini lebih hidup
dibawah tekanan, terima kasih karena anda telah membuat
seperempat otak saya bekerja lebih baik dari biasanya.
8
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................. ii
ABSTRAK........................................................................................... iii
ABSTRACT......................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ......................................................................... v
UCAPAN TERIMA KASIH................................................................ vi
DAFTAR ISI........................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR........................................................................... x
DAFTAR TABEL................................................................................ xii
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................ 1
1.1 RUANG LINGKUP...................................................................... 1
1.2 TUJUAN DAN MANFAAT......................................................... 1
1.3 LATAR BELAKANG .................................................................. 1
1.4 PERUMUSAN MASALAH ......................................................... 2
1.5 BATASAN MASALAH............................................................... 2
1.6 METODOLOGI ............................................................................ 2
1.6.1 Studi pustaka........................................................................ 2
1.6.2 Pengukuran .......................................................................... 2
1.6.3 Visualisasi ............................................................................ 3
1.6.4 Analisa dan kesimpulan ....................................................... 3
1.6.5 Buku..................................................................................... 3
1.7 SISTEMATIKA PEMBAHASAN ............................................... 4
BAB 2 TEORI DASAR ..................................................................... 5
2.1 SALURAN TRANSMISI BALANCE DAN UNBALANCE ......
5
2.1.1 Saluran balance .................................................................. 6
2.1.2 Saluran unbalance .............................................................. 9
9
2.2 PARAMETER SALURAN TRANSMISI .................................... 10
2.2.1 Parameter Primer................................................................ 11
a. Reaktansi ........................................................................ 11
b. Induktansi....................................................................... 11
c. Konduktansi ................................................................... 11
d. Kapasitansi ..................................................................... 11
2.2.2 Parameter sekunder ............................................................ 12
2.3 IMPEDANSI KARAKTERISTIK SALURAN TRANSMISI...... 13
2.3.1 Nilai impedansi pada kondisi short circuit ......................... 14
2.3.2 Nilai impedansi pada kondisi open circuit.......................... 15
2.4 KONSTANTA PROPAGASI SALURAN TRANSMISI............. 15
2.5 VISUAL BASIC Versi 6.0 ........................................................... 16
2.5.1 Istilah-istilah penting dalam Visual Basic 6.0.................... 16
A. Variable ......................................................................... 17
B. Konstanta....................................................................... 17
C. Tipe Data (Type Data)................................................... 17
D. Operator......................................................................... 18
2.5.2 Istilah-istilah penting dalam Visual Basic 6.0.................... 19
2.6 Data Base (Microsoft Access 2003).............................................. 20
2.6.1 Tujuan basis data.................................................................. 21
2.6.2 Tampilan Database Micrososft Access 2003 ....................... 22
BAB 3 PENGUKURAN DAN DATA HASIL PENGUKURAN ..... 23
3.1 PENDAHULUAN ....................................................................... 23
3.2 PERALATAN YANG DIGUNAKAN ....................................... 23
3.2.1 Impedance Meter................................................................. 23
3.2.2 Kabel balance dan unbalance ............................................. 24
3.3 SETUP PENGUKURAN............................................................. 26
3.3.1 Inisialisasi........................................................................... 26
3.3.2 Setup pengukuran kabel (Unshielded Twisted Pairs) UTP 27
3.3.3 Setup pengukuran kabel koaksial ....................................... 30
3.4 DATA HASILPENGUKURAN .................................................. 31
10
3.4.1 Data hasil pengukuran kabel balance ................................ 31
3.4.2 Data hasil pengukuran kabel unbalance ..................... 32
3.5 PEMBUATAN BASIS DATA..................................................... 32
3.6 PEMBUATAN VISUALISASI ................................................... 35
3.6.1 Tampilan awal .................................................................... 35
3.6.2 Tampilan menu utama........................................................ 39
BAB 4 PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA............................ 41
4.1 PENGOLAHAN DATA.............................................................. 41
4.1.1 Nilai magnitude dan fase terhadap frekuensi ....................... 42
4.1.2 Melihat grafik perbedaan nilai magnitude dan fase terhadap
frekuensi antara kabel UTP dan koaksial...................................... 44
4.1.3 Melihat serta menganalisa nilai parameter R, L, G, dan C
melalui grafik......................................................................... 45
4.1.4 Menghitung nilai parameter R, L, C, dan G......................... 53
4.2 TAMPILAN DATABASE........................................................... 56
4.3 HASIL TAMPILAN VISUAL BASIC 6.0................................... 57
4.3.1Tampilan awal ...................................................................... 57
4.3.2 Pilihan perhitungan parameter saluran................................. 58
4.3.3 Menu utama kabel UTP ....................................................... 58
4.3.4 Menu utama kabel koaksial.................................................. 59
BAB 5 PENUTUP ............................................................................. 61
5.1 KESIMPULAN....................................................................... 61
5.2 SARAN................................................................................... 62
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 63
LAMPIRAN......................................................................................... 65
11
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Paralell wire lines .............................................................. 7
Gambar 2.2. Kabel UTP......................................................................... 9
Gambar 2.3. Penampang kabel koaksial (coaxial cable) ........ 10
Gambar 2.4. Grafik redaman suatu kabel koaksial RG-58.................... 10
Gambar 2.5. Rangkaian ekuivalen saluran transmisi ............................ 11
Gambar 2.6. Tampilan fungsi dan menu dari program Visual Basic .... 19
Gambar 2.7. Tampilan Database Microsoft Access 2003 .................... 22
Gambar 3.1. Vector Impedance meter 4193A...................................... 24
Gambar 3.2. Gambar Kabel pengukuran balance (a) dan unbalance (b)25
Gambar 3.3. Gambar SMA Konektor RG-58 jenis male ................... 25
Gambar 3.4. SMA Konektor RG-58 jenis female .............................. 25
Gambar 3.5. Tampilan software interface pada Komputer ................ 26
Gambar 3.6. Tampilan error device pada layar Komputer ................ 27
Gambar 3.7. Setup pengukuran kabel UTP........................................ 28
Gambar 3.8. Setup pengukuran kabel UTP rangkaian terminal diberi
beban............................................................................ 28
Gambar3.9. Setup pengukuran kabel UTP terminal terhubung singkat29
Gambar3.10. Setup pengukuran kabel UTP rangkaian terminal terbuka29
Gambar 3.11. Setup pengukuran kabel koaksial RG-58A/U .............. 30
Gambar 3.12. Pengukuran penampang kabel koaksial RG-58A/U..... 31
Gambar 3.13. Rangkaian ekuivalen saluran transmisi ......................... 32
Gambar 3.14. Data hasil pengukuran yang akan dimasukkan kedalam
tabel database............................................................... 33
Gambar 3.15 Pembuatan posisi baris dan kolompada
Microsoft Access ......................................................... 34
Gambar 3.16. Import data telah selesai dilakukan .............................. 35
Gambar 3.17. Tampilan awal form begin visualisasi ........................... 36
Gambar 4.1. Nilai fase dan magnitude dari 2panjang saluran yang
berbeda terhadap frekuensi .......................................... 43
Gambar 4.2. a). Besar magnitude terhadap frekuensi antara kabel UTP
dan koaksial, b). Besar nilai fase terhadap frekuensi antara
kabel UTP dan koaksial ............................................... 45
Gambar 4.3. Nilai parameter R, L, G, dan C terhadap frekuensi untuk
UTP.............................................................................. 46
12
Gambar 4.4. Nilai parameter R, L, G, dan C terhadap perubahan
frekuensi untuk kabel koaksial..................................... 46
Gambar 4.5. Nilai parameter Lo terhadap perubahan panjang, b). Nilai
parameter Co terhadap perubahan panjang, c). Nilai
parameter Go terhadap perubahan panjang, d). Nilai
parameter R terhadap perubahan panjang untuk kabel
UTP.............................................................................. 49
Gambar 4.6. Nilai parameter Lo terhadap perubahan panjang, b). Nilai
parameter Co terhadap perubahan panjang, c). Nilai
parameter Go terhadap perubahan panjang, d). Nilai
parameter R terhadap perubahan panjang untuk kabel
Koaksial ....................................................................... 52
Gambar 4.7 Gambar tabel database ................................................. 56
Gambar 4.8. Tampilan awal .......................................................... 57
Gambar 4.9. Tampilan pilihan perhitungan ....................................... 58
Gambar 4.10. Menu utama perhitungan UTP ...................................... 58
Gambar 4.11. Tampilan Message Box................................................. 59
Gambar 4.12. Menu utama perhitungan Koaksial................................ 59
13
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kategori Kabel UTP ............................................................... 7
Tabel 2.2 Tipe data dan karakter yang dipakai ..................................... 17
Tabel 2.3 Tipe Data dan Range nilai (Jangkauan) ............................... 18
Tabel 4.1 Data hasil pengukuran short circuit panjang 30 meter.......... 53
14
Bab I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Di era informasi saat ini, manusia memerlukan komunikasi untuk
saling bertukar informasi di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.
Saluran transmisi merupakan media untuk mentransmisikan sinyal
informasi. Saluran transmisi adalah sebuah saluran yang menghubungkan
secara langsung antara sumber sinyal dan load (beban), baik berupa
kawat penghantar, kabel dan lain-lain. Melalui sebuah saluran transmisi
balance ataupun unbalance yang konstanta propagsi nya mempengaruhi
nilai dari suatu karakteristik impedansi saluran sehingga dapat melihat
pengaruh nilai parameter-parameter penting dalam saluran seperti nilai
Ro, Lo, Go, Co, konstanta propagasi, konstanta fase pada panjang saluran
yang berbeda dan disetiap perubahan pemakaian nilai frekuensi. Oleh
karena itu, untuk mempelajari saluran transmisi di atas, perlu dilakukan
analisa rangkaian dengan menggunakan hukum Kirchoff tentang
tegangan dan arus, guna mendapatkan persamaan gelombang.
1.2. TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan dari proyek akhir ini yaitu mengamati nilai parameter-
parameter saluran transmisi berupa nilai Resistansi (R), Induktansi (L),
Konduktansi (G), Kapasitansi (C), konstanta propagasi (α ), dan konstanta
fase (β ) dari saluran kabel transmisi (kabel balance dan unbalance)
melalui pengukuran impedansi dalam kondisi short circuit, open circuit,
beban, dengan berbagai perubahan frekuensi. Dan juga untuk
memvisualisasikan rangkaian ekuivalen saluran transmisi balance dan
unbalance.
1.3. PERUMUSAN MASALAH
Untuk mengetahui nilai karakteristik suatu saluran transmisi perlu
menganalisanya berdasarkan frekuensi dan panjang kabel. Perngukuran
dilakukan menggunakan dua jenis kabel yaitu balance dan unbalance.
15
Masalah yang ditangani dari proyek akhir ini adalah mengamati
nilai parameter-parameter resistansi (R), Induktansi (L), Konduktansi (G),
Kapasitansi (C), konstanta propagasi (α ), dan konstanta fase (β ) dari
saluran kabel transmisi (balance dan unbalance) melalui pengukuran
impedansi dalam kondisi short circuit, open circuit, beban, dengan
berbagai perubahan frekuensi.
1.4. BATASAN MASALAH
Permasalah yang harus diselesaikan pada proyek akhir ini akan
dibatasi pada beberapa hal sebagai berikut:
 Melakukan pengukuran dalam 3 kondisi yaitu : short circuit, open
circuit, dan beban.
 Pemakaian frekuensi yang dibatasi mulai 0.4 MHz sampai dengan
100 MHz dan panjang kabel yang telah diukur minimal 30 meter.
Dengan impedansi kabel sebesar 50 Ω .
 Membuat visualisasi dari rangkaian ekuivalen saluran transmisi
tersebut, dengan menggunakan software Visual basic 6, dengan
pengambilan data dari database menggunakan Microsoft Access
2003.
1.5. METODOLOGI
Untuk menyelesaikan proyek akhir ini, maka dilakukan langkah-
langkah yang meliputi :
 Studi Pustaka
Pada tahap ini penulis mencari tahu serta mempelajari segala
bentuk literatur yang berhubungan dengan proyek akhir ini, seperti halnya
pengukuran pada setiap saluran balance dan unbalance beserta
strukturnya untuk mencari nilai impedansinya menggunakan impedansi
meter dengan frekuensi yang berbeda-beda.
 Pengukuran
Pengukuran dilakukan menggunakan Impedance meter yang mana
nilai perubahan range frekuensinya mulai dari 10 MHz sampai dengan
110 MHz. Pengukuran impedansi kabel sepanjang l dapat dilakukan
dengan pengukuran short-open pada ujung kabel ( pada posisi x = l ).
16
 Visualisasi
Membuat program visualisasi dengan menggunakan Microsoft
access 2003 dan visual basic 0.6 daripada saluran transmisi untuk
melakukan perhitungan dan pengolahan data dari hasil pengukuran
parameter-parameter saluran transmisi, dengan menggunakan software
interface impedansi meter sehingga diperoleh nilai magnitude dan fase
dari setiap perubahan frekuensi dengan range 10MHz sampai dengan
110MHz.
 Analisa dan Kesimpulan
Menganalisa dan menyimpulkan hasil tugas akhir, serta memberi
saran bila proyek akhir ini di aplikasikan ke sistim yang nyata.
 Menyusun buku proyek akhir.
1.7. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Buku laporan proyek akhir ini terdiri dari 5 (lima) bab, dimana
pada masing-masing bab saling berkaitan satu sama lain, yaitu :
BAB 2 : Memaparkan ruang lingkup yang berkaitan tentang teori
dari saluran transmisi, serta memberikan latar belakang
tentang permasalahan, tujuan, masalah, dan batasan masalah
yang dibahas dalam proyek akhir ini.
BAB 3 : Memberikan dasar teori yang menunjang penyelesaian
masalah dalam proyek akhir ini. Teori dasar yang diberikan
meliputi : saluran transmisi yang didefinisikan sebagai
sebuah saluran yang menghubungkan secara langsung
antara sumber sinyal dan load (beban), baik berupa kawat
penghantar, kabel dan lain-lain. Mengetahui nilai parameter-
parameter penting dalam suatu saluran transmisi.
Karakteristik impedansi yang biasanya di sebut dengan
surge impedance di definisikan sebagai gangguan yang
nampak terlihat didalam sepanjang saluran yang tidak
terbatas atau gangguan yang nampak terlihat di dalam
sebuah saluran yang terbatas yang berakhir dalam sebuah
beban, dan di lambangkan (Z
0
). Besar fase dengan
perubahan frekuensi yang juga dapat menghasilkan nilai
magnetudo yang berubah-ubah. Konstanta propagasi yang
17
biasanya juga di sebut dengan Koefisien Propagasi yang di
gunakan untuk menyatakan attenuasi (rugi-rugi sinyal) dan
pergeseran phase persatuan panjang pada suatu saluran
transmisi.
BAB 4 : Berisi tentang langkah-langkah pengukuran sampai
mendapatkan data hasil pengukuran, peralatan pengukuran.
BAB 5 : Berisi tentang hasil perhitungan dan pengolahan data dalam
visualisasi, serta analisa hasil pengukuran saluran transmisi.
BAB 6 : Memberikan kesimpulan tentang hasil yang telah diperoleh
dan saran yang layak dilakukan bila proyek akhir ini
dilanjutkan.
18
19
Bab II
TEORI PENUNJANG
2.1 SALURAN TRANSMISI BALANCE DAN UNBALANCE
Penyampaian informasi dari sumber informasi (komunikator) ke
penerima informasi (komunikan) hanya dapat terlaksana bila ada semacam
sistem alat penghubung (media) di antara keduanya. Sistem tersebut
dinamakan sistem transmisi. Saluran transmisi ini merupakan media yang
digunakan untuk mentransmisikan sinyal listrik yang menyatakan data, atau
dengan kata lain didefinisikan sebagai penyalur energi elektro magnetik dari
suatu titik ke titik lain. Saluran ini bisa merupakan transmisi satelit, sinyal
radio, atau jaringan telepon, atau dengan kata lain adalah merupakan
penyalur energi elektro magnetik dari suatu titik ke titik lain. Media
transmisi dibedakan menjadi 2 (dua) bagian, yaitu: media fisik, dan media
non-fisik. Media fisik disini adalah media yang dapat diindra oleh indra
manusia, contohnya adalah media kabel (wire). Media ini dikenal sebagai
saluran transmisi (transmission lines). Sedangkan media non-fisik disini
adalah media udara (yang lebih dikenal dengan near cable atau wireless).
Dan yang menjadi pembahasan pada tugas akhir ini adalah tentang saluran
transmisi fisik yang secara jenis nya juga dibedakan menjadi 2 (dua)
kategori wire yaitu saluran balance dan saluran unbalance. Ada beberapa
jenis kabel yang dapat digunakan pada saluran transmisi misalnya: two
balance cable, Unshielded Twisted Pair (UTP), Shielded Twist Pair (STP),
Coaxial cable, dan Microstrip. Dari beberapa macam kabel tersebut hanya
dipilih kabel jenis Unshielded Twisted Pair (UTP) dan koaksial kabel
(coaxial cable), karena kabel inilah yang banyak digunakan pada instalasi
telekomunikasi dalam ruang.
Saluran transmisi umumnya ditentukan dari daerah frekuensi operasi
yang dipakai biasanya merupakan fungsi dari diameter saluran. Sebagai
contoh dalam AM, FM, dan TV, saluran transmisi yang dipakai umum
dipakai (baik semi-flexible maupun rigid ) mempunyai diameter 15/8
sampai 83/16 inchi. Kapasitas daya yang disalurkan, Penanganan daya
dalam saluran transmisi, biasanya terbatas pada besarnya panas yang akan
dihasilkan ketika arus mengalir yang diakibatkan resistivitas dari konduktor.
Panas yang ada dalm konduktor dalam harus dikeluarkan melalui proses
20
konduksi, konveksi, ataupun radiasi ke keonduktor luar, yang kemudian
akan disalurkan lagi ke lingkungan melalui proses radiasi atau konveksi.
Dalam aplikasi broadcast, pada umumnya, besarnya panas yang dihasilkan
dibatasi oleh kemampuan suatu konduktor untuk menyerapnya sebelum
konduktor itu menjadi rusak, dan jika hal ini terjadi, maka dalam konduktor
terjadi perubahan posisi, yang dapat menyebabkan perubahan karakteristik
impedansi sebuah saluran transmisi. Hal ini dapat menurunkan kinerja dari
saluran transmisi itu sendiri. Berikutnya adalah redaman saluran per meter,
jenis saluran transmisi yang mempunyai attenuasi yang paling kecil ialah
jenis waveguide karena jenis ini tidak mempunyai konduktor tengah dan
bahan dielektrik. Pada sesi ini didiskusikan dua jenis saluran transmisi
berdasarkan bentuk karakteristik fisiknya yaitu balance dan unbalance.
Dr. Wipawee Usaha[1], mengemukakan bahwa saluran transmisi
sangatlah penting dipelajari karena saluran transmisi digunakan untuk
mentransmisikan sinyal atau gelombang pada frekuensi radio. Ada dua
jenis saluran yang diambil sebagai refrensi yaitu saluran paralel atau dikenal
sebagai saluran balance dan saluran koaksial yang dikenal sebagai saluran
unbalance.
2.1.1. Saluran balance.
Saluran balance (disebut juga parallel-wire line sebagai contoh kabel
twisted pairs cable) adalah saluran transmisi yang mempunyai jenis yang
paling sederhana dari dua konduktor untuk mentransferkan sinyal secara
efektif dari titik ke titik, yang memiliki ukuran yang sama dan sebuah jarak
yang terpisahkan oleh suatu konstanta pemisah, sehingga nilai
impedansinya besar (tinggi) dan noise bisa diminimalkan. Saluran balance
ini memperkecil terjadinya radiasi pada saluran dan juga efek kopling yang
tidak diinginkan[1]. Ketika suatu arus mengalir dalam konduktor didalam
sebuah saluran transmisi, sebuah flux magnetik ada di sekitar konduktor
tersebut. Induktansi dari sebuah saluran transmisi terbagi-bagi secara merata
di sepanjang saluran, satuan untuk induktansi (L) adalah Henries/meter
(H/m). Tegangan yang melewati dua konduktor mengakibatkan
terbentuknya sebuah saluran gelombang listrik yang di wakili oleh sebuah
kapasitansi shunt dan satuan untuk kapasitansi (C) adalah Farade/meter
(F/m). Medan listrik dan medan magnet dari saluran balance bersifat
simetris (seimbang) dengan respek ke ground. dan impedansi dari wire
(kabel) ke ground adalah sama. Twisted pair terdiri dari dua kawat yang
dipilin untuk mengurangi pengaruh interferensi dan cross talk, karena dua
21
kawat dibungkus bersama dalam sebuah kabel,maka besarnya cross talk
masih sangat significant terutama bila dipakai pada frekuensi tinggi. Ada
dua jenis kabel twisted pair cable yaitu shielded twisted pairs (stp) dan
unshielded twisted pairs (utp). Shielded adalah jenis yang memiliki
selubung pembungkus sedangkan unshielded tidak mempunyai selubung
pembungkus. Untuk koneksi kabel jenis ini menggunakan konektor RJ-11
atau RJ-45 (pada jaringan komputer).
Gambar 2. 1 parallel-wire lines
Kabel UTP memiliki impendansi kira-kira 100 Ohm dan tersedia
dalam beberapa kategori yang ditentukan dari kemampuan transmisi data
yang dimilikinya seperti tertulis dalam tabel berikut.
Tabel 2. 1 Kategori Kabel UTP
Kategori Kegunaan
Category 1 (Cat1) Kualitas suara analog
Category 2 (Cat2)
Transmisi suara digital hingga 4
megabit per detik
Category 3 (Cat3)
Transmisi data digital hingga 10
megabit per detik
Category 4 (Cat4)
Transmisi data digital hingga 16
megabit per detik
Category 5 (Cat5)
Transmisi data digital hingga 100
megabit per detik
Enhanced Category 5
(Cat5e)
Transmisi data digital hingga 250
megabit per detik
Category 6 (Cat6)
Category 7 (Cat7)
Di antara semua kabel di atas, kabel Enhanced Category 5 (Cat5e)
dan Category 5 (Cat5) merupakan kabel UTP yang paling populer yang
banyak digunakan dalam jaringan berbasis teknologi Ethernet.
22
Penjelasan untuk masing-masing Kategori adalah sebagai berikut:
a) Category 1:
Kabel UTP Category 1 (Cat1) adalah kabel UTP dengan kualitas
transmisi terendah, yang didesain untuk mendukung komunikasi suara
analog saja. Kabel Cat1 digunakan sebelum tahun 1983 untuk
menghubungkan telefon analog Plain Old Telephone Service (POTS).
Karakteristik kelistrikan dari kabel Cat1 membuatnya kurang sesuai untuk
digunakan sebagai kabel untuk mentransmisikan data digital di dalam
jaringan komputer, dan karena itulah tidak pernah digunakan untuk tujuan
tersebut.
b) Category2:
Kabel UTP Category 2 (Cat2) adalah kabel UTP dengan kualitas
transmisi yang lebih baik dibandingkan dengan kabel UTP Category 1
(Cat1), yang didesain untuk mendukung komunikasi data dan suara digital.
Kabel ini dapat mentransmisikan data hingga 4 megabit per detik.
Seringnya, kabel ini digunakan untuk menghubungkan node-node dalam
jaringan dengan teknologi Token Ring dari IBM. Karakteristik kelistrikan
dari kabel Cat2 kurang cocok jika digunakan sebagai kabel jaringan masa
kini. Gunakanlah kabel yang memiliki kinerja tinggi seperti Category 3,
Category 4, atau Category 5.
c) Category3:
Kabel UTP Category 3 (Cat3) adalah kabel UTP dengan kualitas
transmisi yang lebih baik dibandingkan dengan kabel UTP Category 2
(Cat2), yang didesain untuk mendukung komunikasi data dan suara pada
kecepatan hingga 10 megabit per detik. Kabel UTP Cat3 menggunakan
kawat-kawat tembaga 24-gauge dalam konfigurasi 4 pasang kawat yang
dipilin (twisted-pair) yang dilindungi oleh insulasi. Cat3 merupakan kabel
yang memiliki kemampuan terendah (jika dilihat dari perkembangan
teknologi Ethernet), karena memang hanya mendukung jaringan 10BaseT
saja. Seringnya, kabel jenis ini digunakan oleh jaringan IBM Token Ring
yang berkecepatan 4 megabit per detik, sebagai pengganti Cat2.
d) Category 4:
Kabel UTP Category 4 (Cat4) adalah kabel UTP dengan kualitas
transmisi yang lebih baik dibandingkan dengan kabel UTP Category 3
(Cat3), yang didesain untuk mendukung komunikasi data dan suara hingga
kecepatan 16 megabit per detik. Kabel ini menggunakan kawat tembaga 22-
23
gauge atau 24-gauge dalam konfigurasi empat pasang kawat yang dipilin
(twisted pair) yang dilindungi oleh insulasi. Kabel ini dapat mendukung
jaringan Ethernet 10BaseT, tapi seringnya digunakan pada jaringan IBM
Token Ring 16 megabit per detik.
e) Category 5:
Kabel UTP Category 5 (Cat5) adalah kabel dengan kualitas transmisi
yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kabel UTP Category 4 (Cat4),
yang didesain untuk mendukung komunikasi data serta suara pada
kecepatan hingga 100 megabit per detik. Kabel ini menggunakan kawat
tembaga dalam konfigurasi empat pasang kawat yang dipilin (twisted pair)
yang dilindungi oleh insulasi. Kabel ini telah distandardisasi oleh Electronic
Industries Alliance (EIA) dan Telecommunication Industry Association
(TIA).
Gambar 2. 2 Kabel UTP.
Kabel Cat5 dapat mendukung jaringan Ethernet (10BaseT), Fast
Ethernet (100BaseT), hingga Gigabit Etheret (1000BaseT). Kabel ini adalah
kabel paling populer, mengingat kabel serat optik yang lebih baik harganya
hampir dua kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan kabel Cat5. Karena
memiliki karakteristik kelistrikan yang lebih baik, kabel Cat5 adalah kabel
yang disarankan untuk semua instalasi jaringan.
2.1.2. Saluran unbalance.
Saluran unbalance (disebut juga coaxial cables) adalah saluran
transmisi yang memiliki suatu konduktor pusat yang solid, dan sebuah
bahan konduktor pelindung (shield), keduanya dipisahkan oleh suatu bahan
insulator (solid dielektrik). Kabel koaksial mampu menyediakan bandwidth
yang lebih tinggi (sampai ratusan MHz) dibanding dengan twisted pair
(sampai beberapa MHz). Aplikasi kabel koaksial ini biasanya sering
24
digunakan untuk penyebaran sinyal televisi pada sistem tv kabel,
pengembangan jaringan CATV, yaitu HFC, juga menggunakan kabel
koaksial dari fiber node ke rumah pelanggan (lihat gambar). Frequency
range 5 MHz s.d. 750 MHz, bit rate downstream sekitar 36 Mbps, dan
sistem transmisi gelombang mikro.
Gambar 2. 3 Penampang kabel koaksial (coaxial cable).
Gambar 2. 4. grafik redaman suatu kabel koaksial RG-58 terhadap frekuensi
2.2. PARAMETER SALURAN TRANSMISI
Disepanjang saluraan terdapat nilai dari parameter-parameter saluran
transmisi sebagaimana diberikan pada Gambar 3 rangkaian ekuivalen
dibawah ini, yaitu nilai R, G, L, dan C yang biasa dinyatakan dalam per-
satuan panjang.
Gambar 2. 5 Rangkaian ekuivalen saluran transmisi.
25
L = series inductance per unit length
R = series resistance per unit length
C = shunt capacitance per unit length
G = shunt conductance per unit length
Parameter pada saluran transmisi ini dibedakan menjadi parameter
primer dan parameter sekunder.
2.2.1. Parameter Primer.
Parameter primer dalam saluran transmisi adalah nilai dari L, R, C,
dan, G dalam satuan panjang. Dimana perhitungan untuk masing-masing
nilai yaitu menggunakan rumus sebagai berikut [2] :
a. Resistansi (Ro) =
( ) c | c o sin cos ÷
f
s
Y
Z
O/m (2-1)
b. Induktansi (Lo) =
( ) c | c o
e
sin cos
1
÷
f
s
Y
Z
H/m (2-2)
c. Konduktansi (Go) =
( ) c | c o sin cos +
s
f
Z
Y
S/m (2-3)
d. Kapasitansi (Co) =
( ) c | c o cos sin + ÷
s
f
Z
Y
F/m (2-4)
Dimana,
c =
2
f s
u u ÷
, dan m =
2
f s
u u +
,
Maka didapatkan nilai konstanta attenuasi α (attenuation constant), dimana
didalam telekomunikasi istilah konstanta attenuasi memiliki arti, yaitu satu
bagian yang riil dari suatu konstanta propagasi, didalam media
elektromagnetik manapun[2]. Konstata attenuasi pada umumnya dinyatakan
sebagai suatu bilangan numerik persatuan panjang dan dapat dihitung
26
besarnya, atau secara eksperimen telah ditentukan untuk masing-masing
medium dan diukur dalam neper persatuan panjang:
o =
f s
f s
Y Z
Y Z
+
÷
1
cos
tanh
2
1
2
1
m
ì
(2-5)
Sehingga nilai konstanta fasenya (phase constant) seperti terlihat pada
persamaan (2.6), dimana didalam teori elektromagnetik, konstanta fase
adalah komponen imajiner dari suatu konstanta propagasi pada sebuah
gelombang datar. dan diberi simbol β dihitung dalam radian per satuan
panjang.
| =
f s
f s
Y Z
Y Z
÷
÷
1
sin
tanh
2
1
2
1
m
ì
(2-6)
2.2.2. Parameter Sekunder.
Parameter sekunder pada saluran transmisi ini meliputi nilai
karakteristik impedansi (Zo) yang memiliki pembahasan khusus, namun
akan dipapar terlebih dahulu bentuk persamaannya. Selain nilai
karakteristik impedansi, sebagai parameter sekunder saluran transmisi juga
ada persamaan konstanta propagasi (γ ). Baik ¸ maupun
c
Z kedua-duanya
merupakan besarana kompleks. Jika nilai-nilai dari persamaan primer telah
diketahui maka nilai parameter sekunder saluran transmisi dapat dihitung
sebagai berikut:
Z
0
=
C j G
L j R
e
e
+
+
( O) (2-7)
Dimana nilai | = 2π / λ ,
,
f
c
= ì
sehingga,
γ = | o j + = ) )( ( C j G L j R e e + + (2-8)
ini merupakan nilai konstanta propagasi pada saluran transmisi balance
maupun unbalance, dimana R adalah resistansi persatuan panjang dalam
(Ohm/m), L adalah induktansi persatuan panjang dalam (Henry/m), G
adalah konduktansi persatuan panjang dalam (Siemens/m), dan C adalah
Kapasitansi persatuan panjang dalam (Farads/m).
27
2.3. IMPEDANSI KARAKTERISTIK SALURAN TRANSMISI.
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, telah dinyatakan bahwa suatu
saluran transmisi dikarakeristikkan dengan 2 sifat dasar, yaitu ¸ konstanta
propagasi dan impedansi karakteristik
0
Z , yang keduannya ditentukan oleh
frekuensi operasi gelombange dan parameter R, L, G, dan C.
Karakteristik impedansi di lambangkan (Zo) dan didefinisikan
sebagai nilai perbandingan spontan antara tegangan (V) pada alat dengan
arus (I) yang merambat sepanjang saluran tersebut, Impedansi dipengaruhi
oleh konduktor luar dan konduktor dalam serta bahan dielektrik yang
digunakan antara keduanya. Satuan dari impedansi karakteristik adalah
Ohm yang dilambangkan dengan Ω , sebagaimana terlihat pada persamaan
berikut:
Z
0
=
value ve current wa
value wave voltage
Z
0
dapat berupa bilangan kompleks. Namun bagaimanapun, ketika
mempertimbangkan nilai suatu saluran transmisi tanpa rugi-rugi, maka niali
Z
0
selalu berupa bilangan riil. Secara matematis impedansi karakteristik
dinyatakan sebagai berikut:
Z
o
=
C j G
L j R
e
e
+
+
(Ω ) (2-9)
Dimana[2],
R adalah resistansi persatuan panjang,
L adalah induktansi persatuan panjang,
G adalah konduktansi persatuan panjang, dan
C adalah kapasitansi persatuan panjang.
j adalah bilangan imajiner,
ω adalah frekuensi anguler yang mempunyai nilai (2π f).
Bilangan imajiner merupakan suatu bilangan yang berada pada absis
vertikal dalam bidang bilangan kompleks merupakan bilangan dalam
bentuk ai dimana a adalah bilangan riel dan i adalah imajiner yang
bernilai 1 - .
28
Pengukuran impedansi kabel sepanjang l dapat di lakukan dengan
pengukuran short open pada ujung kabel (pada posisi x = l ). Untuk
persamaan gelombang pada umumnya, menggunakan rumus seperti
persamaan (2-10) dan (2-11).
x x
Z
Be Ae V
¸ ¸
+ =
) (
(2-10)
( )
x x
O Z
Be Ae Z I
¸ ¸
÷ = * 1
) (
(2-11)
Konstanta A dan B pada kedua persamaan di atas adalah besaran yang
belum diketahui nilainya, untuk menghitungnya diperlukan syarat batas.
Jika di ambil syarat batas x=l, maka persamaan (2-10) dapat di tulis sebagai
persamaan (2-12).
( )
x x
l
Be Ae V
¸ ¸
+ = (2-12)
Dari persamaan (4-3) dapat dikatakan bahwa A=B, sehingga persamaan (2-
10) dan (2-11) dapat ditulis kembali menjadi persamaan (2-13) dan (2-14).
) (
) 2 (
) (
l x x
x
e e A V
÷
÷ =
¸ ¸
(2-13)
) ( *
) 2 (
) (
l x x
o x
e e Z A I
÷
÷ =
¸ ¸
(2-14)
2.3.1. Nilai impedansi pada kondisi short circuit.
jika x = 0, maka impedansi input (Z
s
) ketika output dihubung singkat,
berdasarkan persamaan (2-13) dan (2-14) dapat di tulis menjadi persamaan
(2-15).
( )
( )
l
l
e
¸
¸
2
O
2
(0) (0)
1 * Z A
e - 1 A
I / V Zs
÷
÷
+
= =
l l Z
O
¸ ¸ cosh sinh =
l Z
O
¸ tanh =
Sehingga menjadi,
S S
j
S S
L j R e Z Z e + = =
0
(2-15)
2.3.2. Nilai impedansi pada kondisi open circuit.
Masih dengan prosedur yang sama, jika I
(l)
= 0 (terminal output
terbuka) pada x=l, kemudian admittance Y
f
dapat ditentukan dengan
persamaan (2.16).
29
l Z Y
O f
¸ tanh 1 =
0 j
f
e Y =
1 1
C j G e + = (2-16)
Berdasarkan persamaan (2.15) dan (2.16), karakteristik impedansi dapat
ditentukan dengan persamaan berikut:
f
S
O
Y
Z
Z =
(2-17)
Jika : R
0
, L
0,
G
0,
dan C
0
adalah nilai konstanta propagasi, maka Z
0
dapat
ditentukan persamaan nya :
C j G
L j R
Z
e
e
+
+
=
0
(2-18)
Untuk pemakaian pada frekuensi yang sangat rendah, nilai
resistansinya mendominasi.
f
S
Y
Z
Zo =
(2-19)
Maka, untuk frequency yang sangat tinggi, mendominasi
induktansi dan kapasitansi, persamaan sederhana nya adalah:
C
L
C j
L j
Z
O
= =
e
e
(2-20)
2.4. KONSTANTA PROPAGASI SALURAN TRANSMISI.
Biasanya juga di sebut dengan Koefisien Propagasi yang di gunakan
untuk menyatakan attenuasi (rugi-rugi sinyal) dan pergeseran fase persatuan
panjang pada suatu saluran transmisi. Dengan demikian, γ terdiri dari
bagian riil o , yang lebih dikenal sebagai konstanta redaman (satuan neper
per meter, disingkat Np/m), dan bagian imajiner | yang disebut dengan
konstanta fasa (satuan radian per meter, disingkat rad/m), sehingga dengan
demikian nilai persamaan untuk sebuah konstanta propagasi adalah sebagai
berikut:
| o ¸ j + = (2-21)
Dimana :
30
¸ = konstanta propagasi
α = koefisien attenuasi (nepers per unit length)
β = pergeseran koefisien phase (radians per unit length)
Maka konstanta propagasi dapat di hitung menggunakan persamaan (2.15)
sampai dengan (2.19), jika saling disubstitusikan maka diperoleh persamaan
(2.22) berikut:
( )( )
0 0 0 0
C j G L j R e e ¸ + + = (2-22)
2.5. VISUAL BASIC Versi 6.0
Lingkungan pemrograman visual basic mengandung semua sarana
yang dibutuhkan untuk membangun program-program dengan cepat dan
efisien. Menu dan perintah sama artinya seperti pada program-program
berbasis windows lainnya, dan juga bisa mengaksesnya menggunakan
keybord atau mouse.
2.5.1. Istilah-istilah penting dalam Visual Basic 6.0.
a. Variabel
Peran variable sangat menentukan dalam pembuatan program, sehingga
programer dapat memanipulasi data. Variabel biasanya digunakan
untuk menyimpan data sementara, sebelum disimpan ke penyimpanan
permanen. Konstanta merupakan suatu tetapan yang sifatnya seperti
variabel tetapi nilainya tidak dapat diubah. Contoh variable dapat
dilihat dari potongan program berikut ini.
Const p = 5
Dim x As Integer
Dim y As Integer
Dim z As Integer
x = 10
y = 20
z = x + y * p
Keterangan:
X, y, dan z merupakan variabel yang dideklarasikan berupa data
bilangan bulat (integer).
b. Konstanta
31
Pada waktu mendeklarasikan konstanta, tidak dapat menggunakan
karakter tipe data. Konstanta tidak dapat diubah nilainya. Contoh
konstanta dapat dilihat dibawah ini:
Const p = 5
Const Logo$=”PT, Moesez”
Berikut ini adalah aturan dalam pemberian nama variabel dan
konstanta.
 Karakter pertama berupa huruf
 Tidak boleh menggunakan spasi (blank)
 Panjang nama maksimal 40 karakter
 Tidak menggunakan kunci kata (keyword/reserved words)
yang dipakai oleh Visual Basic.
c. Tipe Data (Type Data)
Setiap variabel yang dideklarasikan memiliki tipe data. Tipe data
sangat erat hubungannya dengan variabel, karena tipe data
menentukan range data yang dapat melayani dan memori yang
digunakannya.
Tabel 2. 2 Tipe data dan Karakter yang dipakai
Tipe Memory yang dipakai Karakter
Integer 2 Byte %
Long 4 Byte &
Single 4 Byte !
Double 8 Byte #
Currency 8 Byte @
String 1 Byte per karakter $
Byte 1 Byte
Boolean 2 Byte
Date 8 Byte
32
Object 4 Byte
Variant 16 Byte+ 1 Byte per karakter
Tabel 2. 3 Tipe Data dan Range nilai (Jangkauan)
Tipe Range
Integer -32768 s/d 32767
Long -2147483648 s/d 2147483647
Single
Negatif: -3.402823E38 s/d -1.401298E-45
Positif: 1.401298E s/d 3.402823E38
Double
Negatif: -1.79769313486232E308 s/d -
4.94065645841247E324
Positif: 4.94065645841247E324 s/d
1.79769313486232E308
Currency -922337203685477.5808 s/d 922337203685477.5807
String
0 s/d 2 Milyar karakter (95/97 & NT) dan
0 s/d sekitar 65535 karakter (versi 3.1)
Byte 0 s/d 255
Boolean True (Benar) atau False (Salah)
Date 1 Januari 100 s/d 31 Desember 9999
Object Referensi Obejek
D. Operator.
Operator adalah simbol yang sering dipakai dalam ekspresi yang
berguna untuk menghubungkan variabel. Ada beberapa jenis
operator, yaitu:
 Operator Penugasan
 Operator Pembanding
 Operator Aritmetika
 Operator Logika.
2.5.2 Istilah-istilah penting dalam Visual Basic 6.0
Dibawah baris menu terdapat toolbar, yaitu sekumpulan tombol yang
berfungsi sebagai tombol cepat untuk menjalankan perintah dan
mengendalikan lingkungan pemrograman visual basic. Bisa juga
33
menggunakan taskbar ini untuk berpindah antara berbagai komponen Visual
Basic dan untuk mengaktifkan program Windows lainnya [4].
Gambar 2. 6 Tampilan fungsi dan menu dari program Visual Basic.
2.6. Data Base (Microsoft Access 2003).
Database yang digunakan dalam proyek akhir ini adalah Microsoft
Access. Berdasarkan arti katanya, basis adalah: markas/gudang, tempat
bersarang/berkumpul. Sedangkan data adalah: representasi fakta dunia nyata
yang mewakili suatu obyek, seperti: manusia (pegawai, siswa, pelanggan,
dll.), barang, peristiwa, konsep, dsb. Yang direkam dalam bentuk angka,
huruf, teks, gambar, atau suara-suara. Maka bila dijabarkan definisi basis
data adalah kumpulan data yang saling berhubungan yang disimpan secara
bersama tanpa adanya pengulangan (redudansi) data. Atau juga dapat
berupa kumpulan file/arsip/tabel yang saling berhubungan yang disimpan
dalam media penyimpan elektronik [3]. Database hanya bersifat sebagai
penyimpan data ( *.txt) yang nantinya dioutputkan berupa hasil dari nilai-
nilai parameter saluran transmisi dengan menggunakan program Visual
Toolbar
Baris Menu
Jendela Form
Jendela Project Container
Jendela
Properties
Jendela
Form Layout
Toolbox
Jendela Project
Form program
saat ini
Properties
34
Basic. Database yang dibuat terdiri dari enam field yaitu f sebagai nilai
frekuensi, zs sebagai nilai magnitude dalam kondisi short, zf sebagai nilai
magnitude dalam kondisi open, ts sebagai nilai fase dalam kondisi short, tf
sebagai nilai fase dalam kondisi open. Elemen-elemen penyusun database
antara lain :
 Tabel, merupakan kumpulan record dengan format field yang
sama. Satu tabel biasanya mempresentasikan data satu objek
maupun kolom satu kejadian dalam sebuah sistem.
 Field /kolom, merupakan bagian terkecil dari tabel yang digunakan
untuk menyimpan item informasi.
 Record/baris, merupakan sekumpulan field yang berhubungan erat,
yang menggambarkan satu informasi.
 Primary key/kunci primer adalah suatu field yang nilainya unik dan
digunakan sebagai kunci yang membedakan record satu dengan
lainnya.
 Relationship/hubungan, merupakan hubungan antara satu tabel
dengan tabel yang lain.
 Query, digunakan untuk menyaring dan menampilkan data yang
mmenuhi criteria tertentu dari satu tabel atau lebih. Query
dapat dibuat dengan bahasa SQL maupun dengan desain
query.
 DBMS (Database Manajemen Sistem), merupakan kumpulan
program untuk membuat dan merawat/mengelola database.
 Sistem Database, merupakan gabungan database dengan manajemen
database[3].
Pembuatan database ini untuk menampung dan menyimpan data-data
yang diinputkan maupun data yang disajikan kepada penelpon. Dari
database yang telah didesain, administrator dapat mengubah data awal
dengan memasukkan data secara langsung pada sel-sel yang tersedia sesuai
field sehingga secara otomatis tabel tersebut telah memiliki data.
Pembuatan sistem informasi ini melibatkan objek database berupa
tabel untuk menyimpan data yang tersusun berdasarkan record dan field [3]
. Dalam pembuatan tabel dibutuhkan pengaturan property pada setiap field
yang nantinya pengaturan tersebut akan menentukan proses pengolahan
database lebih lanjut. Beberapa property yang mungkin terdapat pada tiap
tipe data (text, memo, number, date time, currency, autonumber, yes no,
OLE Object, hyperlink, dan lookup wizard) field adalah :
1. Field Size (Text/Number)
35
2. Format
3. Input Max
4. Desimal Place
5. Caption
6. Default Value
7. Validation Rule
8. Validation Text
9. Required
10. Allow Zero Length
11. Indexed.
Untuk mengkoneksikan database dengan program aplikasi digunakan
ODBC (Open Database Connectivity). ODBC adalah Application
Programming Interface (API) yang dikembangkan Microsoft untuk
konektivitas data[ .. ].
2.6.1. Tujuan basis data
1) Yaitu agar mendapat kemudahan dan kecepatan dalam pengambilan
data (speed).
2) Efisiensi ruang penyimpanan (space) mengurangi / menghilangkan
redudansi data.
3) Pembentukan kode dan relasi antar data berdasar aturan / batasan
(constraint) tipe data, domain data, keunikan data, untuk menekankan
ketidak akuratan saat entry / penyimpanan data.
4) Ketersediaan (avaibility), yaitu pemilahan data yang sifatnya pasif dari
database yang aktif.
5) Kelengkapan (completeness), yaitu kompleksnya data menyebabkan
perubahan data base.
6) Keamanan (security), yaitu memberikan keamanan atas hak akses data.
7) Kebersamaan pemakaian (sharability) yang bersifat multiuser.
2.6.2. Tampilan Database Micrososft Access 2003.
36
Gambar 2. 7 Tampilan fungsi dan menu dari program Database Microsoft Access 2003.
37
Bab III
PENGUKURAN DAN DATA HASIL PENGUKURAN
3.1 PENDAHULUAN
Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas,
biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak
hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk
mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat
ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.
3.2. PERALATAN YANG DIGUNAKAN
Pada saat pengambilan data (pengukuran) ada beberapa peralatan
yang digunakan diantarannya adalah Impedance meter, dua jenis kabel
(balance dan unbalance) yaitu UTP dan coaksial, 3 jenis terminal konektor
kabel, konektor kabel koaksial, dan komputer sebagai interface
pengambilan data dari impedance meter.
3.2.1. Impedance Meter
Impedance meter yang digunakan bertipe HP 4193A Vector
Impedance Meter yang dapat menghitung nilai impedansi, magnitude, dan
fase [5]. Didalamnya terdapat internal osilator yang dapat menyediakan
sinyal frekuensi antara 400kHz sampai 110 MHz. Sinyal-sinyal yang
diberikan adalah nilai arus konstan antara 10μ A dan 100μ A, yang
bergantung pada range |Z|.
Keakuratan pengukuran impedance ini yaitu sebatas dapat
menghitung dan menampilkan impedansi magnitude dari 10mΩ sampai
120kΩ . Impedansi fase yang ditampilkan dari +180.0
o
sampai -180
o
.
Ketelitiannya boleh dikatakan 3.0 persen dalam membaca (nilai magnitude)
dan 3,2
o
(nilai fasenya).
Sapuan frekuensi untuk mengukur bilangan kompleks dan
mengidentifikasi nilai kritis dari impedansi. HP 4193A dapat juga dirubah
berapapun nilai frekuensi dari 400kHz sampai 110MHz dengan suatu
resolusi maksimum sebesar 1kHz.
38
Gambar 3. 1 Vector Impedance meter 4193A.
Impedance meter 4193A memiliki spesifikasi sebagai berikut:
 Pengujian sinyal keluaran dari perlengkapan probe low-ground.
 Batas frekuensinya: 400kHz sampai dengan 110MHz.
 Resolusi frekuensi:
400kHz sampai 9,999 MHz: 1kHz resolusi
10,00 MHz sampai 99.99 MHz: 10kHz resolusi
100,0 MHz sampai 110 MHz: 100kHz resolusi
Spesifikasi perhitungan impedansi adalah sebagai berikut:
 Konfigurasi input: dilengkapi dengan low-ground probe.
 Display digital dari impedansi:
2
1
3 digit
 |Z|:0 sampai 1999 hitungan (0 sampai 120 hitungan dalam batas
100kΩ )
θ :-1800 sampai +1800 hitungan (-180 sampai +180 hitungan dalam
batas 100kΩ )
Trigger pengukuran: secara internal, eksternal, dan manual
Kontrol batas pengukuran: auto, hold, dan manual.
 Batas pengambilan data pengukuran:
|Z|: lima batas: 10Ω , 100Ω , 1 kΩ , 10 kΩ , 100 kΩ
Sensitivitas minimum |Z|: 10 mΩ
Sensitivitas maksimum |Z|: 120 kΩ .
θ : satu batasan: -180
O
sampai +180
O
.
3.2.2. Kabel balance dan unbalance
Menggunakan kabel UTP (balance) dengan kategori 5e yang sering
dipakai pada jaringan LAN, atau instalasi telekomunikasi, dengan besar
39
impedansi dalam kabel sebesar 75Ω . Dan kabel koaksial dengan tipe RG
58A/U -8259 dengan besar redaman pada 100MHz yaitu: 4,9dB, pada
400MHz : 11,5dB, dan pada 1000MHz : 20dB, dengan besar impedansi
dalam kabel sebesar 50Ω .
a Kabel UTP Kategori 5E b. Kabel koaksial RG58A/U
Gambar 3. 2 Gambar Kabel pengukuran balance (a) dan unbalance (b).
Dan konektor yang digunakan untuk kabel koaksial adalah SMA
konektor jenis female yang dapat dilihat pada gambar3.4 dibawah, sehingga
dapat dihubungkan dengan SMA konektor jenis male yang dihubungkan
pada alat.
Gambar 3. 3 Gambar SMA Konektor RG-58 jenis male.
Gambar 3. 4 SMA Konektor RG-58 jenis female.
40
3.3. SETUP PENGUKURAN
Pada proyek akhir ini, dalam melakukan pengukuran menggunakan
impedance meter, dengan menggunakan dua jenis kabel yaitu balance cable
dan unbalance cable. Dipicu dari maraknya penggunaan media fisik dari
saluran transmisi didalam dunia informasi dan telekomunikasi, merupakan
satu pertimabangan khusus untuk mulai menentukan kinerja dari saluran
transmisi pada jarak tertentu, dan gangguan-gangguan yang dapat terjadi
disaat sedang melakukan pengiriman sinyal informasi.
3.3.1. Inisialisasi
Inisialisasi dapat dilakukan melalui software interface pada komputer
agar dapat sesuai dengan alat yang telah dikalibrasi pada tahap sebelumnya
dan agar alat dapat dioperasikan melalui komputer, hal-hal yang perlu
diperhatikan saat melakukan inisialisasi adalah sebagai berikut:
 Frekuensi start : 10 MHz
 Frekuensi stop : 110 MHz
 Frekuensi step : 1 MHz
 Nama file : “*.TXT”
Berikut juga nama folder yang harus dibuat untuk menampung data
hasil pengukuran. Dibawah ini adalah gambar tampilan software interface
yang tampak pada layar monitor, seperti yang terlihat pada gambar 3.5.
Gambar 3. 5 Tampilan software interface pada Komputer.
Perlu diperhatikan bila muncul peringatan yang ditampilakan kelayar
monitor seperti pada gambar3.6 berikut:
41
Gambar 3. 6 Tampilan error device pada layar Komputer.
Itu menandakan bahwa sambungan GPIB card ke PC belum betul-
betul sempurna. Dan apabila pada saat melakukan pengukuran display nilai
fase pada alat impedance meter bernilai semua positif (+) atau semua
negatif (-) pada setiap perubahan frekuensinya, itu berarti koneksi kabel
pada probe alat belum benar. Sehingga perlu diperhatikan lagi.
3.3.2. Setup pengukuran kabel (Unshielded Twisted Pairs) UTP
Pengukuran impedansi kabel sepanjang l dapat dilakukan dengan
pengukuran short- open pada ujung kabel (pada posisi x = l). Untuk
pengukuran kabel UTP, dikarenakan memiliki 4 pairs (pasang) maka dua
pairs nya (dalam pengukuran ini adalah warna hijau/hijau-putih dan
orange/orange-putih) disetiap ujung saluran transmisi tersebut diberikan tiga
jenis kondisi terminal yaitu: dalam keadaan rangkaian terminal terbeban
(load circuit) dengan nilai beban sebesar 100Ω (seratus ohm), keadaan
rangkaian terminal tertutup (short circuit), dan keadaan rangkaian terminal
terbuka (open circuit). Sebagaimana tampak pada gambar setup pengukuran
dibawah ini.
42
Gambar 3. 7 Setup pengukuran kabel UTP.
Keterangan:
1) Sepasang kabel diberikan 3 kondisi terminal yaitu: load-short-
open secara bergantian.
2) Sepasang kabel diberikan 3 kondisi terminal yaitu: load-short-
open secara bergantian.
3) Satu pasang kabel dishort lalu diberikan dua kondisi terminal
yaitu short-open pada pasangan kabel nomor 1
4) Satu pasang kabel dishort lalu diberikan dua kondisi terminal
Untuk memperjelas keterangan pada gambar3.2 diatas maka dapat
diperhatikan gambar dibawah ini.
100Ω
100Ω
100Ω
100Ω
Open
Circuit
Short
Circuit
Impedance
Meter
Gambar 3. 8 Setup pengukuran kabel UTP rangkaian terminal diberi beban.
43
Open
Circuit
Short
Circuit
Impedance
Meter
Short
Circuit
Short
Circuit
Gambar 3. 9 Setup pengukuran kabel UTP rangkaian terminal terhubung singkat.
Open
Circuit
Short
Circuit
Impedance
Meter
Open
Circuit
Open
Circuit
Gambar 3. 10 Setup pengukuran kabel UTP rangkaian terminal terbuka.
Untuk pengambilan datanya pada Gambar 3. 8 pasangan kabel hijau –
hijau/putih dan orange – orange/putih diberikan terminal beban pada kedua
ujungnya sebesar 100Ω , sedangkan pasangan kabel biru – biru/putih dan
coklat – coklat/putih akan diambil nilai magnetudo dan fasenya pada saat
salah satu ujungnya di berikan terminal tertutup dan terminal terbuka,
sehingga dapat diperoleh dua data yaitu nilai magnitude disaat terminal
terhubung singkat (Z
S
), sekaligus beserta nilai fasenya disaat terminal
terhubung singkat (θ
s
) dan nilai magnitude disaat terminal terbuka (Z
f
)
beserta nilai fasenya (θ
f
), ketika diberikan sinyal frekuensi mulai 10MHz
sampai dengan 110MHz yaitu berupa data “*.txt”. Dengan cara yang sama
dengan Gambar 3.8, tetapi pada Gambar 3.9 kondisi terminal pada pasangan
kabel berwarna hijau – hijau/putih dan orange – orange/putih diberikan
terminal terhubung singkat. Pengukuran selanjutnya menggunakan gambar
3.10 dengan prosuder yang sama seperti pengukuran sebelumnya untuk
mendapatkan data nilai magnitude disaat terminal terhubung singkat (Z
S
),
sekaligus beserta nilai fasenya disaat terminal terhubung singkat (θ
s
) dan
nilai magnitude disaat terminal terbuka (Z
f
) beserta nilai fasenya (θ
f
),
namun disini pasangan kabel hijau – hijau/putih dan orange – orange/putih
44
rangkaian dalam keadaan terbuka. Sehingga dari hasil pengukuran
semuanya telah diperoleh enam tabel data, Z
f
dan Z
S
. Pengambilan data ini
dilakukan setiap satu meternya untuk panjang kabel 30 meter. Sehingga
jumlah seluruh datanya adalah 180 tabel data yang akan dimasukkan
kedalam sebuah database dengan menggunakan microsoft access 2003.
3.3.3. Setup pengukuran kabel koaksial
Untuk pengambilan data pengukuran kabel koaksial jenis RG-58 ini,
dilakukan dengan cara short – open pada ujung terminal kabel koaksial,
dimana pada gambar setup pengukuran dibawah terlihat bahwa setelah
mengkoneksikan alat impedansi meter dengan PC keduan terhubung dengan
menggunakan GPIB card, lalu menghubungkan ujung kabel koaksial yang
akan diukur pada probe impedance meter menggunakan sambungan SMA
konektor, sehingga ujung yang lain diberikan BNC konektor, BNC (British
Naval Connector atau Bayonet Nut Connector atau Bayonet Neill
Concelman) adalah jenis konektor 'laki-laki' yang digunakan untuk
menghubungkan ujung kabel agar dapat diberikan terminal rangkaian
terbuka dan terhubung singkat. Nilai magnitude dan fase akan diperoleh
dengan dua kali pengukuran. Rangkaian kabel yang akan diukur
parameternya, pada range frekuensi 10 MHz sampai dengan 110 MHz
dengan panjang kabel koaksial yang akan diukur sepanjang 30 meter.
Gambar 3. 11 Setup pengukuran kabel koaksial RG-58A/U.
Pengukuran untuk unbalance cable (pada kabel koaksial), yang perlu
dilakukan adalah mengukur nilai impedansi kabel Z
f
dengan impedansi
45
meter, pada waktu pengukuran termination dalam keadaan terbuka (dengan
menggunakan konektor terminal terbuka), dengan menggunakan software
interface pada PC sehingga didapatkan data hasil pengukuran sebagai
besaran vektor (magnitude dan fase) dalam bentuk format “ *.txt”.
Pemilihan jenis dan tipe kabel yang digunakan adalah prioritas utama dalam
pengukuran ini agar didapatkan nilai data yang baik sehingga dapat
dianalisa. Kemudian setelah itu mengukur nilai Z
S
impedansi pada waktu
pengukuran rangkaian tertutup termination dalam keadaan terhubung
singkat (dengan menggunakan konektor terminal tertutup) sehingga
didapatkan nilai magnitude dan fase sebagai besaran vektor pada saat
rangkaian terhubung singkat.
Untuk lebih jelasnya, setup pengukuran kabel unbalance jenis
koaksial dapat dilihat pada gambar 3.12 berikut.
Gambar 3. 12 pengukuran penampang kabel koaksial RG-58A/U.
Keterang pada gambar3.12 yaitu, pada nomor 1 adalah konduktor tengah
pada kabel koaksial, nomor 2 adalah konduktor terluar (ground) yang
berbentuk seperti anyaman untuk mengurangi pengaruh radiasi. Sedangkan
untuk mendapatkan data nilai impedansi pada saat terminal terhubung
singkat (short) yaitu dengan memberikan konektor short pada kedua ujung
konduktor, begitupula ketika akan melakukan pengambilan data nilai
impedansi pada saat terminal terbuka yaitu dengan memberikan konektor
(free) dikedua ujung konduktor tersebut. Sehingga didapatkan empat data
hasil pengukuran dengan nilai frekuensi mulai 10 MHz sampai dengan 110
MHz.
3.4. DATA HASIL PENGUKURAN
Berdasarkan data dari hasil pengukuran akan diperoleh nilai
parameter sekuder dari saluran transmisi balance dan unbalance setelah dari
data hasil pengukuran yang berupa nilai magnitude, fase dengan frekuensi
yang telah ditentukan diketahui besar dan nilainya, maka sekarang sudah
dapat dilakukan perhitungan terhadap nilai resistansi, konduktansi,
46
induktansi, dan kapasitansi disepanjang saluran transmisi dengan
menggunakan persamaan (2-1 sampai dengan persamaan 2-4), dan bila telah
dilewati arus dan tegangan maka dalam saluran transmisi juga akan
didapatkan hasil nilai dari parameter primer yang berupa nilai impedansi
secara keseluruhan (totality impedace) (Zt) beserta nilai konstanta propagasi
gelombang dengan menggunakan persamaan (2-8) diatas. Dan berdasarkan
gambar rangkaian ekuivalen saluran transmisi berikut ini:
Gambar 3. 13 Rangkaian ekuivalen saluran transmisi.
3.4.1. Data hasil pengukuran kabel balance
Data hasil pengukuran kabel balance dalam hal ini adalah kabel UTP
kategori 5e. Diperoleh 6 hasil data pengukuran pada kondisi open circuit
(rangkaian terbuka), short circuit (rangkaian tehubung singkat), dan load
circuit (rangkaian terhubung dengan beban 100 ohm). Dan pada setiap
kondisi tersebut memiliki nilai impedansi short dan impedansi open,
sebagai parameter pengukuran disetiap perubahan nilai frekuensi.
3.4.2. Data hasil pengukuran kabel unbalance.
Data hasil pengukuran kabel unbalance dalam hal ini adalah kabel
koaksial RG-58A/U. Diperoleh dua data hasil pengukuran yaitu pada
kondisi short dan open, dalam bentuk file “ *.txt”.
3.5. PEMBUATAN BASIS DATA
Pada Microsoft Access Database ada 3 (tiga) cara untuk membuat
database:
1) Membuat database baru
Membuat database sendiri, mengisinya dengan tabel-tabel, dan
komponen lain yang didefinisikan sendiri. Pilihan yang digunakan
adalah: Blank Access database.
47
2) Menggunakan database wizard
Artinya menggunakan database yang sudah dirancang oleh Access. Dan
hanya tinggal memakai dan memodifikasinya.
3) Menggunakan database yang sudah pernah dibuat
Pilihan yang digunakan adalah: Open an existing file.
Dalam menyelesaikan tugas akhir ini, untuk pembuatan databasenya
adalah dengan meng-import (memasukkan) data hasil pengukuran yang
bertipe (*.txt) lalu mengkonversi kedalam bentuk tabel. Langkah-
langkahnya adalah sebagai berikut:
 Dari main menu, pilih File > New > Blank Database (membuat
database kosong, lalu disimpan dengan nama ta.mdb). Kemudian pilih
File > Get external Data (pilih format data *.txt yang akan dimasukkan
kedalam database). Sehingga akan muncul pilihan sebagaimana pada
gambar berikut.
Gambar 3. 14 Data hasil pengukuran yang akan dimasukkan kedalam tabel
database.
Setelah memasukkan data text hasil pengukuran, akan muncul
informasi tentang data, apakah data tersebut akan dibuat pemisahan setiap
field nya atau penggabungan dalam setiap field nya, untuk pemisahannya
tinggal klik next. Kemudian akan muncul gambar 3.15
48
Gambar 3. 15 Pembuatan posisi baris dan kolom pada Microsoft Access.
Klik next, sehingga akan muncul pilihan untuk membuat tabel baru,
atau mengganti tabel yang telah dibuat sebelumnya, disini menggunakan
pembuatan tabel baru. Klik next untuk penamaan setiap field-nya, yaitu field
pertama adalah frekuensi, field kedua adalah magnitude, dan field ketiga
adalah nilai fase. Setelah menamai field yang dibuat tinggal memilih field
terdepan yang akan diletakkan pada tabel disebut primary key, pilihlah nilai
frekuensi sebagai primary key-nya, lalu klik next dan finish sampai muncul
gambar 3.16 yang menunjukkan bahwa data yang dimasukkan kedalam
tabel telah selesai.
.
Gambar 3. 16 import data telah selesai dilakukan.
Dengan begitu nilai satu tabel untuk satu data hasil pengukuran telah
selesai, selanjutnya adalah memasukkan seluruh data hasil pengukuran
kedalam database untuk data pengukuran kabel UTP maupun data
pengukuran untuk kabel koaksial. Tentunya dengan prosedur yang sama
seperti diatas.
49
3.6. PEMBUATAN VISUALISASI
Dalam pembuatan visualisasi dengan software Visual Basic 6 ini ada
beberapa peralatan dalam Visual Basic yang digunakan[4], yaitu.
3.6.1. Tampilan awal
Komponen dan peralatan dasar yang digunakan untuk membuat
tampilan awal visualisasi ini adalah antara lain.
a) Jendela Form
Form adalah jendela antarmuka yang bisa diubah-ubah untuk
membuat antarmuka program. Form adalah jendela yang dibuat pada saat
program pertama dijalankan. Form dalam tugas akhir ini mengandung
menu, tombol, kotak daftar, label, picture, OLEDB untuk database, dan
item-item lain yang digunakan pada program berbasis windows lainnya.
 Klik icon program Microsoft Visual Basic 6.0
Kotak dialog New Project muncul. Kotak dialog ini meminta untuk
mengetikkan proyek pemrograman yang ingin dibuat. (Tampilan
kotak dialog ini bergantung edisi Visual Basic yang digunakan).
 Membuat tiga form yang dibernama begin.vbp; milih.vbp; utp.vbp
dan parameter.vbp, yaitu dengan cara meng-klik tab File lalu New
project.
 Bigin.vbp digunakan untuk tampilan awal pada program yaitu berisi
judul proyek akhir, nama dosen pembimbing, nama mahasiswa, nrp,
nama fakultas, dan jurusan. Seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
50
Gambar 3. 17 Tampilan awal form begin visualisasi.
 Didalam tampilan awal tersebut terdapat item – item picture,
command button text, dan menu editor.
b) Komponen Label
Label ini digunakan untuk menulis label (text) dan menampilkannya
pada jendela form. Pada tampilan awal, digunakan label (text), yaitu untuk
menulis ucapan selamat datang, judul proyek akhir, nama fakultas serta
jurusan, nama dosen pembimbing, nama mahasiswa, jenis setup
pengukuran, dan lain-lain. Untuk merancang komponen label, langkah-
langkahnya adalah:
 Klik label (text) yang terdapat pada Toolbox, untuk membuka
toolbox, klik tombol Toolbox pada toolbar. Toolbox biasanya
terletak disisi sebelah kiri layar.
 Pada jendela properties > caption, mengedit text sesuai pada form
yang ditampilkan pada form yang digunakan.
 Komponen label merupakan komponen visual sehingga dapat diatur
property Visibel-nya untuk ditampilkan atau tidak pada form sesuai
dengan kebutuhan yang diinginkan.
 Komponen TextBox
Untuk merancang komponen TextBox, langkah-langkahnya adalah:
 Mengambil komponen TextBox dari ToolBox dan memasangkannya
pada Form yang digunakan.
51
 Ada property text tidak diisikan tulisan atau dikosongkan karena
akan dijadikan sebagai inputan nilai.
 Komponen TextBox merupakan komponen visual sehingga dapat
diatur property Visible-nya untuk ditampilkan atau tidak pada Form
sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
TextBox dalam tampilan digunakan untuk menuliskan nilai frekuensi
yang diinginkan dengan batasan 10 MHz sampai dengan 110 MHz. Selai itu
visualisasi interaktif ini menggunakan tujuh komponen TextBox dimana
enam diantaranya digunakan untuk menampilkan nilai Zo beserta sudut
Tethanya, Lo, Ro, Go, dan Co.
c) ComboBox
untuk merancang komponen ComboBox, langkah-langkahnya
adalah:
 Mengambil komponen ComboBox dari ToolBox dan
memasangkannya pada Form yang digunakan.
 Pada property text tidak diisikan tulisan atau dikosongkan karena
akan dijadikan sebagai inputan nilai.
 Pada property List isikan data yang digunakan sebagai pilihan pada
ComboBox.
 Komponen ComboBox merupakan komponen visual sehingga dapat
diatur property Visible-nya untuk ditampilkan atau tidak pada Form
sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
ComboBox dalam tampilan digunakan untuk memberikan pilihan
data untuk ditentukan sebagai inputan. Pada visualisasi manual ini
menggunakan satu buah komponen ComboBox sebagai menu untuk
melakukan penginputan nilai panjang kabel baik untuk kabel balance
maupun unbalance dalam satuan meter. Dimana pada kabel balance (kabel
UTP –peny.) ComboBox terisi nilai: {A1,A2, A3, A4, ..., A30} artinya
adalah, huruf A menunjukkan bahwa kondisi pengukurannya adalah pada
rangkaian terbeban (load circuit), bila B menunjukkan kondisi pengukuran
pada rangkaian tertutup (short circuit), dan bila C menunjukkan kondisi
pengukuran pada rangkain terbuka (open circuit), semua kondisi diisikan
pada properti > list sesuai dengan nilai field yang ada didalam Database.
Kemudian nilai ComboBox pada kabel unbalance (kabel koaksial –peny.)
berisikan nilai panjang saja.
d) Komponen CommandButton
Adalah merupakan tombol yang digunakan untuk melihat hasil
eksekusi program yang akan dijalankan dan tergantung pada tombol
52
perintah. Untuk merancang komponen CommandButton, langkah-
langkahnya adalah:
 Mengambil komponen CommandButton dari Toolbox dan
memasangkannya pada Form yang digunakan.
 Para property Caption diisikan dengan tulisan (nama Button) yang
ingin ditampilkan pada Form yang digunakan.
 Komponen CommandButton merupakan komponen visual sehingga
dapat diatur property Visible-nya untuk ditampilkan atau tidak pada
Form sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
Komponen Command Button dapat digunakan untuk memberikan
suatu perintah dengan menambahkan program sesuai dengan kebutuhan.
Pada tampilan awal tombol perintah begine digunakan untuk memanggil
jendela form ke dua yang berisi tentang pilihan pengukuran.
Private Sub Command1_Click()
milih.Show
End Sub
Untuk perintah tombol end adalah mengakhiri semua form yang
sedang berjalan. Dengan perintah:
Private Sub Command2_Click()
Unload Me
End Sub
Pada form pengukuran kabel UTP terdapat command button “Hasil”
yang berisikan perintah kode program dan rumus-rumus yang digunakan
untuk menghasilkan nilai-nialai parameter Ro, Lo, Co, Go, dan Zo dengan
sudut tetha, baik pada saat open, source dan load.
Private Sub Command4_Click()
Dim i As Integer
Dim zs, zf, yf, co, ro, lo, g0, Fs, x, Y, g, lamda, propagasi, rad, cs,
csn, ZY, AbsZY, alph, beth, absbeth, bagi1, absbagi1, bagi2,
absbagi2, rad1, e, ome, j, z1, z2, teta1, teta2, zo, teta0
Untuk mengeluarkan nilai Ro, Lo, Co, Go, dan Zo dengan sudut
tetha pada tempatnya yaitu menggunakan perintah:
LblRo.Text = ro
LblGo.Text = g0
LblLo.Text = lo
LblCo.Text = co
LblZo.Text = zo
53
Txt_Sudut.Text = teta0
End Sub
3.6.2. Tampilan menu utama
Komponen dan peralatan dasar terpenting yang digunakan untuk
membuat tampilan menu utama visualisasi ini adalah antara lain.
a) Komponen DataGrid
DataGrid adalah komponen Toolbox yang digunakan untuk
menampilkan tabel atau isi dari database (Microsoft Access). Komponen ini
biasanya merupakan satu paket dengan komponen ADODC. Untuk
merancang komponen DataGrid ini adalah dengan cara sebagai berikut:
 Mengambil komponen DataGrid dari Toolbox. Bila pada Toolbox
belum tersedia, klik kanan Toolbox lalu pilih components dan
aktifkan “Microsoft DataGrid Control 6.0(OLEDB)”.
 Untuk mengaktifkan link ke Microsoft Access dan ke ADODC maka
DataGrid perlu diset terlebih dahulu yaitu dengan cara mengubah
Data Source pada properties sesuai dengan ADODC lalu klik kanan
komponen DataGrid dan pilih Retieve Fields.
 Komponen DataGrid merupakan komponen visual sehingga dapat
diatur property Visible-nya untuk ditampilkan atau tidak pada Form
sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
b) Komponen ADODC
ADODC adalah komponen Toolbox yang digunakan untuk link ke
database (Microsoft Access). Untuk merancang komponen ADODC ini
adalah dengan cara sebagai berikut.
 Mengambil komponen ADODC dari Toolbox. Bila pada Toolbox
belum tersedia, klik kanan Toolbox lalu pilih components dan
aktifkan “Microsoft ADO Data Control 6.0 (OLEDB)”.
 Untuk mengaktifkan link ke Microsoft Acces maka ADODC perlu
diset terlebih dahulu yaitu dengan cara klik kanan komponen
ADODC lalu pilih ADODC properties. Pilih option Connection
String dan pilih command Build. Selanjutnya tentukan database yang
telah dibuat sebelumnya sebagai database untuk inutan level daya.
Atur Record Source sesuai nama tabel database visualisasi.
 Komponen ADODC merupakan komponen visual sehingga dapat
diatur property Visible-nya untuk ditampilkan atau tidak pada Form
sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
54
Pada visualisasi interaktif manual komponen ADODC dikoneksikan
dengan file Access dengan nama “copy of thesis.mdb” dimana pada pada
Record Source diset “select*from ... ”.
Pada proyek akhir ini komponen ADODC yang digunakan ada empat
buah. Dimana dua buah komponen ADODC digunakan pada pengukuran
kabel balance, pertama digunakan untuk penampilan databasenya dan salah
satunya digunakan untuk menentukan nilai maksimum dari frekuensi yang
diambil. Dan dua komponen lagi digunakan untuk pengukuran kabel
unbalance. Komponen ADODC sangat berpengaruh pada proses pengerjaan
visualisasi perhitungan saluran transmisi pada proyek akhir ini. Sebaiknya
selalu memeriksa koneksi database bila menyimpan database berbeda Drive
atau folder maka akan terjadi error, karena itu sebaiknya database disimpan
dala drive C:\Program Files\Microsoft Visual Studio\VB98.
55
BAB IV
PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA
4.1. PENGOLAHAN DATA
Data hasil pengukuran ini berupa nilai frekuensi, magnitude dan fase
kemudian dapat dilihat bentuk grafik sebagai fungsi dari parameter R, L, G,
dan C disepanjang saluran transmisi terhadap nilai frekuensi. Data hasil
pengukuran tersebut diberi nama dan disimpan dalam file berekstensi “
*.txt”. contoh penulisan nama untuk data hasil pengukuran adalah.
Untuk kabel UTP data hasil pengukurannya diberi nama:
Azs30_110.txt
Azf30_110.txt
Bzs30_110.txt
Bzf30_110.txt
Czs30_110.txt
Czf30_110.txt
Dimana:
A adalah kondisi rangkaian pada saat kabel terbeban sebesar 100 ohm.
B adalah kondisi rangkaian pada saat kabel terhubung singkat sebesar 100
ohm.
C adalah kondisi rangkaian pada saat kabel terbuka sebesar 100 ohm.
Zs adalah ujung terminal dalam kondisi short saat dilakukan pengukuran
Zf adalah ujung terminal dalam kondisi free saat dilakukan pengukuran
30 adalah nilai panjang dari saluran transmisi
110 adalah nilai frekuensi tertinggi yaitu 110 MHz. Sehingga didapatkan 6
(enam) data hasil pengukuran dari tiga jenis kondisi rangkaian pada saat
melakukan pengukuran.
Sedangkan untuk data hasil pengukuran unbalance cable (kabel
koaksial), hanya didapatkan dua jenis data pengukuran disetiap panjang 30
m(meter), 25m, 20m, 15m, 10m, 5m, 4m. Pada kabel koaksial, data hasil
pengukuran diberi nama
Zs30_110.txt
Zf30_110.txt
Untuk mendapatkan perbandingan antara nilai-nilai parameter pada 2
jenis saluran transmisi tersebut, maka harus membandingkan nilai panjang
56
kabel yang sama, dan kondisi pengukuran yang sama serta pada nilai
frekuensi yang sama untuk kemudial di-load dengan menggunakan bahasa
pemrograman Matlab 7.0.4. sehingga menghasilkan gambar grafik yang
dapat dianalisa.
4.1.1. Nilai magnitude dan fase terhadap frekuensi
Berikut adalah grafik hasil plot antara nilai fase dan nilai magnitude
terhadap frekuensi pada panjang 8meter dan 12 meter diwaktu kondisi
rangkaian terbuka pada saluran transmisi balance.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
-100
-80
-60
-40
-20
0
20
40
60
80
100
Frekuensi
F
a
s
e
Nilai Fase Terhadap Frekuensi
azs -4m
bzs -4m
czs -4m
azf-4m
bzf-4m
czf-4m
0-1). Grafik fase terhadap frekuensi pada 3 kondisi dengan metode short-open.
57
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
1800
2000
Frekuensi
M
a
g
n
i
t
u
d
e
Nilai Magnitude Terhadap Frekuensi
azs-4m
bzs-4m
czs-4m
azf-4m
bzf-4m
czf-4m
0-2). Grafik magnitude terhadap frekuensi pada 3 kondisi dengan metode short-open.
Gambar 4. 1. a)Grafik fase terhadap frekuensi pada 3 kondisi dengan metode short-open.
b)Grafik magnitude terhadap frekuensi pada 3 kondisi dengan metode short-open Nilai
fase dan magnitude dari 2 panjang saluran yang berbeda terhadap frekuensi.
Panjang kabel transmisi sangat berpengaruh terhadap nilai fase dan
magnitude. Berdasarkan persamaan cepat rambat gelombang (λ ) yaitu:
f
c
= ì
(4- 1)
Dimana konstanta c adalah kecepatan rambat cahaya yang bernilai 3x10
8
dan hubungan dengan nilai periode dalam setiap gelombang fase dan
magnitude pada gambar diatas adalah.
T c× = ì (4- 2)
Yaitu nilai periode (T) dianggaplah dalam 1 periode tersebut mewakili nilai
dari periode gelombang yang lain disepanjang saluran transmisi baik
balance maupun unbalance. Dimana ketika nilai c = 3x10
8
dikalikan dengan
nilai periode(T), maka akan ada banyak nilai periode pada gelombang yang
lain yang bernilai besar dan bernilai kecil, nilai periode yang tidak sama
disepanjang saluran tersebut, disebabkan oleh banyaknya nilai fase yang
loss.
58
4.1.2. Melihat grafik perbedaan nilai magnitude dan fase terhadap
frekuensi antara kabel UTP dan koaksial.
Pada grafik dibawah ini adalah perbandingan nilai magnitude dan
fase antara kabel UTP dan koaksial dengan panjang 30meter dalam kondisi
rangkaian terminal terhubung singkat. Dapat dilihat bahwa beda fase antara
keduanya jauh menunjukkan bahwa kabel koaksial lebih unggul, dikatakan
demikian karena nilai fase pada panjang 30meter-pun belum menunjukkan
ketinggian yang maksimum, sehingga nilai attenuasinya belum terlalu
berpengaruh, terhadap nilai panjangnya. Begitu juga dengan besar
magnitudenya, karena besar dan kecilnya nilai magnitude mempengaruhi
redaman satu saluran, apabila nilai magnitude besar, maka nilai redamannya
kecil, begitupula sebaliknya. Karena nilai besar fase dan attenuasi redaman
berbanding terbalik terhadap magnitudenya.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
0
50
100
150
200
250
300
350
400
450
500
Frekuensi
M
a
g
n
i
t
u
d
e
Nilai Magnitude Terhadap Frekuensi
Koaksial
UTP
Gambar. (a)
59
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
-80
-60
-40
-20
0
20
40
60
80
Frekuensi
F
a
s
e
Nilai Fase Terhadap Frekuensi
Koaksial
UTP
Gambar. (b)
Gambar 4. 2. a). Besar magnitude terhadap frekuensi antara kabel UTP dan koaksial, b).
Besar nilai fase terhadap frekuensi antara kabel UTP dan koaksial.
4.1.3. Melihat serta menganalisa nilai parameter R, L, G, dan C
melalui grafik
Nilai parameter R, L, G, dan C pada panjang 4 meter kondisi
rangkaian seperti pada gambar 3.9 sebelumnya. Dihasilkan bentuk grafik
seperti dibawah ini.
60
0 2 4 6 8 10 12
x 10
7
-10
-5
0
5
10
15
20
25
Frekuensi
R
o
(
R
e
s
i
s
t
a
n
s
i
)
Nilai Ro Terhadap Frekuensi
0 2 4 6 8 10 12
x 10
7
0
1
2
3
4
5
6
7
8
x 10
-8
Frekuensi
L
o
(
I
n
d
u
k
t
a
n
s
i
)
Nilai Lo Terhadap Frekuensi
0 2 4 6 8 10 12
x 10
7
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
x 10
-3
Frekuensi
G
o
(
K
o
n
d
u
k
t
a
n
s
i
)
Nilai Go Terhadap Frekuensi
0 2 4 6 8 10 12
x 10
7
0
1
2
3
4
5
6
7
x 10
-12
Frekuensi
C
o
(
C
a
p
a
s
i
t
a
n
s
i
)
Nilai Co Terhadap Frekuensi
Gambar 4. 3 Nilai parameter R, L, G, dan C terhadap frekuensi untuk kabel UTP.
0 2 4 6 8 10 12
x 10
7
-2
0
2
4
6
8
10
12
Frekuensi
R
o
(
R
e
s
i
s
t
a
n
s
i
)
Nilai Ro Terhadap Frekuensi
0 2 4 6 8 10 12
x 10
7
0
0.5
1
1.5
2
2.5
x 10
-8
Frekuensi
L
o
(
I
n
d
u
k
t
a
n
s
i
)
Nilai Lo Terhadap Frekuensi
0 2 4 6 8 10 12
x 10
7
-7
-6
-5
-4
-3
-2
-1
0
1
x 10
-3
Frekuensi
G
o
(
K
o
n
d
u
k
t
a
n
s
i
)
Nilai Go Terhadap Frekuensi
0 2 4 6 8 10 12
x 10
7
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
x 10
-11
Frekuensi
C
o
(
C
a
p
a
s
i
t
a
n
s
i
)
Nilai Co Terhadap Frekuensi
Gambar 4. 4 Nilai parameter R, L, G, dan C terhadap perubahan frekuensi
untuk kabel koaksial.
61
Gambar grafik diatas adalah bentuk nilai konstanta pada saluran
transmisi yang seharus nya memiliki nilai fase yang simetris, namun dalam
kenyataannya konfigurasi nilai fase disetiap konstanta tersebut tidak
simetris, agar simetris dilakukan transposisi tiap sepertiga panjang
saluran[8].
Berdasarkan persamaan rumusnya nilai Ro dengan nilai Go. Seperti
pada persamaan berikut ini,
) sin cos ( c | c o ÷ × =
f
S
Y
Z
Ro (4- 3)
( ) c o c o sin cos + ÷ × =
S
f
Z
Y
Go (4- 4)
Ini terbukti bahwa, nilai keduanya berbanding terbalik sehingga
dapat dilihat pada grafik nilai Ro grafik cenderung keatas (positif) dan pada
saat nilai Go grafik cenderung bernilai kebawah (minus). Untuk besar
konduktansi (Go) terlihat ketika diberikan nilai frekuensi yang tinggi, maka
impedansi konduktansinya (Go) bernilai sangat kecil. Meski sebenarnya
bukanlah nilai frekuensi yang mempengaruhi besar kecilnya gelombang
yang muncul, namun nilai magnitude dan fase pada saluran sendirilah yang
menyebabkan terjadinya perubahan nilai impedansi parameter.
Begitupula dengan nilai Lo dan Co, tidak pernah sejajar lantaran
dipengaruhi oleh nilai impedansi dalam saluran dan nilai dari besar
konstanta propagasi gelombang yang berada disepanjang saluran transmisi
tersebut dan pergeseran fase. Berdasarkan persamaan
c
l
Z
O
=
impedansi tersebut, maka dapat diperoleh nilai impedansi karakterisitik
saluran, tanpa dilewati sebuah frekuensi. Bila telah dilewati oleh besar
frekuensi yang diberikan, dapat mempengaruhi nilai magnitude, dan
fasenya, sehingga besar impedansi tidak lagi seperti persamaan diatas,
melainkan
( )
( )
Co j go
Lo j ro
Z
f
f
O
e
e +
= , sehingga bila ingin dihitung nilai C, dan
L nya, nilai persamaannya adalah:
( ) c | c o
e
cos sin
1
÷ - =
f
S
Y
Z
Lo (4- 5)
62
( ) c | c o
e
cos sin *
1
+ ÷ =
S
f
Z
Y
Co (4- 6)
Membandingkan nilai R, L, G, dan C terhadap perubahan panjang
kabel yaitu pada 4 meter, 10 meter, 20 meter, dan 30 meter pada kabel UTP.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
0
1
2
3
4
5
6
x 10
-7
Frekuensi (Hz)

L
o

(
I
n
d
u
k
t
a
n
s
i
)

H
/
m
Nilai Lo Terhadap Frekuensi
30meter
20meter
10meter
4meter
Gambar 4.5. a
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
0
1
2
3
4
5
6
7
8
x 10
-11
Frekuensi
C
o
(
C
a
p
a
s
i
t
a
n
s
i
)
Nilai Co Terhadap Frekuensi
30meter
20meter
10meter
4meter
Gambar 4.5. b
63
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
-5
-4.5
-4
-3.5
-3
-2.5
-2
-1.5
-1
-0.5
0
x 10
-3
Frekuensi
G
o
(
K
o
n
d
u
k
t
a
n
s
i
)
Nilai Go Terhadap Frekuensi
30meter
20meter
10meter
4meter
Gambar 4.5. c
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
Frekuensi(Hz)
R
o
(
R
e
s
i
s
t
a
n
s
i
)
Nilai Ro Terhadap Frekuensi
4meter
10meter
20meter
30meter
Gambar 4.5. d
Gambar 4. 5 a). Nilai parameter Lo terhadap perubahan panjang, b). Nilai parameter Co
terhadap perubahan panjang, c). Nilai parameter Go terhadap perubahan panjang, d).
Nilai parameter R terhadap perubahan panjang untuk kabel UTP.
Bila gambar 4.4 menunjukkan gambar grafik nilai R, L, G, dan C
terhadap perubahan panjang kabel yaitu pada 4 meter, 10 meter, 20 meter,
dan 30 meter pada kabel UTP, sehingga untuk kabel UTP, nilai induktansi
64
(Lo) dengan panjang kabel 4m pada frekuensi 100 MHz nilainya sebesar
1,392*10
-7
H/m, pada panjang 10m nilai Lo = 6,432*10
-8
H/m, panjang 20m
Lo = 5,601*10
-8
H/m, dan untuk panjang 30m nilai Lo = 4,628*10
-9
H/m.
Nilai kapasitansi (Co) dengan menggunakan frekuensi 100 MHz terhadap
panjang saluran yaitu ketika panjang 4m nilai Co = 1,208*10
-12
F/m, pada
panjang 10m nilai Co = 2,599*10
-12
F/m, pada panjang 20m nilai Co =
3,01*10
-12
F/m, dan pada panjang 30m nilai Co = 3,96*10
-12
F/m. Untuk
nilai resistansi (Ro) dengan frekuensi 100MHz. terhadap panjang saluran
yaitu ketika panjang 4m nilai Ro = 21,69 Ω /m, untuk panjang 10m nilai Ro
= 2,54 Ω /m, untuk panjang 20m nilai Ro = 8,701 Ω /m, dan untuk panjang
30m nilai Ro = 6,614 Ω /m. Sedangkan nilai untuk konduktansi (Go) dengan
menggunakan frekuensi 100 MHz terhadap fungsi panjang saluran yaitu
ketika panjang 4m besar Go = -0,19*10
-3
S/m, untuk panjang 10m nilai Go
= -0,48*10
-3
S/m, untuk panjang kabel 20m nilai Go = -0,471*10
-3
S/m dan
untuk panjang kabel 30m nilai Go = -0,87*10
-3
S/m..
Namun sekarang dapat dilihat nilai perubahan nilai tersebut pada
kabel koaksial (unbalance line) berikut.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
0
0.5
1
1.5
2
2.5
x 10
-7
Frekuensi (Hz)

L
o

(
I
n
d
u
k
t
a
n
s
i
)

H
/
m
Nilai Lo Terhadap Frekuensi
Gambar 4.6. a
65
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
x 10
-10
Frekuensi
C
o
(
C
a
p
a
s
i
t
a
n
s
i
)
Nilai Co Terhadap Frekuensi
30meter
20meter
10meter
4meter
Gambar 4.6. b
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
-0.01
-0.009
-0.008
-0.007
-0.006
-0.005
-0.004
-0.003
-0.002
-0.001
0
Frekuensi
G
o
(
K
o
n
d
u
k
t
a
n
s
i
)
Nilai Go Terhadap Frekuensi
30meter
20meter
10meter
4meter
Gambar 4.6. c
66
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
x 10
7
0
5
10
15
20
25
30
Frekuensi(Hz)
R
o
(
R
e
s
i
s
t
a
n
s
i
)
Nilai Ro Terhadap Frekuensi
4meter
10meter
20meter
30meter
Gambar 4.6. d
Gambar 4. 6 a). Nilai parameter Lo terhadap perubahan panjang, b). Nilai parameter Co
terhadap perubahan panjang, c). Nilai parameter Go terhadap perubahan panjang, d).
Nilai parameter R terhadap perubahan panjang untuk kabel Koaksial.
Untuk kabel koaksial, nilai Induktansi (Lo) pada range frekuensi 100
MHz, yaitu ketika panjang 4m nilai Lo = 1.384*10
-12
H/m, untuk panjang
10m niai Lo = 1,398*10
-11
H/m, untuk panjang 20m nilai Lo = 3,388*10
-12
H/m, dan untuk panjang 30m nilai Lo = 6,391*10
-12
H/m. Untuk nilai
kapasitansi (Co) dengan range frekuensi 100 MHz untuk panjang 4m nilai
Co = 1,384*10
-12
F/m, untuk panjang 10m nilai Co = 1,398*10
-11
F/m,
untuk pajang 20m nilai Co = 3,388*10
-12
F/m, dan untuk panjang 30m nilai
Co = 6,391*10
-12
F/m. Untuk nilai resistansi (Ro) dengan range frekuensi
100MHz yaitu ketika panjang 4m nilai Ro = 26,77 Ω /m, untuk panjang 10m
nilai Ro = 2,65 Ω /m, untuk panjang 20m nilai Ro = 10,94 Ω /m, dan untuk
panjang 30m nilai Ro = 5,799 Ω /m. Dan untuk nilai konduktansi (Go)
dengan range frekuensi 100 MHz yaitu untuk panjang 4m nilai Go = -
0.00030 S/m, untuk panjang 10m nilai Go = -0,0016 S/m, untuk panjang
20m nilai Go = -0,00074 S/m, dan untuk panjang 30m nilai Go = -0,001293
S/m.
67
Perubahan garafik parameter-parameter saluran yang ditunujukkan
sangat presisi dibandingkan dengan kabel UTP, hal ini dikarenakan kabel
koaksial biasanya digunakan untuk frekuensi-frekuensi tinggi.
4.1.4. Menghitung nilai parameter R, L, C, dan G
Untuk menghitung nilai parameter R, L, C, dan G setelah diketahui
nilai dari suatu besaran vektor yang berupa magnitude disaat shrort dan
open, fase disaat shrort dan open, dan frekuensi. Sebaiknya menggunakan
hasil pengukuran untuk mendapatkan nilai – nilai besaran tersebut, pada
data hasil pengukuran waktu kondisi short pada kabel UTP dengan panjang
30 meter bila diberikan sinyal frekuensi sebesar 100 MHz.
Tabel 4. 1 Data hasil pengukuran short circuit dengan panjang 30 meter.
A30
f Magnitude s Magnitude f ts tf
100000000 53.2 71.8 3.8 30.3
Tabel data diatas adalah data dari hasil pengukuran yang diletakkan
kedalam database Microsoft Access. Pertama-tama yang harus dicari adalah
nilai
c =
2
f s
u u ÷
=
2
3 , 30 8 , 3 ÷
=-13.2 , dan m =
2
f s
u u +
=
2
3 . 30 8 . 3 +
=
17,05
Nilai panjang gelombang adalah :
f
c
= ì
, sehingga
3
10 * 100
10 * 3
6
8
= = ì
z
s
adalah nilai impedansi disaat short yaitu Zs=Mag*cos θ s +
j*Mag*sin θ s;
sehingga nilainya adalah Zs=53.2*cos 3.8 + j(53.2*sin3.8) = 53.0830 +
3.5258i;
68
Y
f
=
f
Z
1
dimana Z
f
=71.8*cos 30.3 + j(71.8*sin 30.3) = 6.1992 e
+
001 +
2.6010e
+
003i. Sehingga nilai Y
f
= 9.1584e
-
006 – (3.8425e
-
004)i, sehingga
dapat dicari nilai sudut α dan β dengan.
o =
f s
f s
Y Z
Y Z
+
÷
1
cos
tanh
2
1
2
1
m
ì
dan | =
f s
f s
Y Z
Y Z
÷
÷
1
sin
tanh
2
1
2
1
m
ì
o =
004i) - 3.8425e - 006 - (9.1584e * 3.5258i) (53.0830 1
05 . 17 cos 004i) - 3.8425e - 006 - (9.1584e * 3.5258i) (53.0830
tanh
3 * 2
1
2
1
+ +
+
÷
Sehingga menjadi o = 0.0965943, dan nilai | :
| =
004i) - 3.8425e - 006 - (9.1584e * 3.5258i) (53.0830 1
05 . 17 sin 004i) - 3.8425e - 006 - (9.1584e * 3.5258i) (53.0830
tanh
3 * 2
1
2
1
+ ÷
+
÷
Sehingga menjadi | = 0.00342422
Setelah mendapatkan nilai itu semua sekarang sudah dapat menghitung
semua nilai parameter R, L, G, dan C disepanjang saluran bila bekerja pada
frekuensi 100 MHz dan panjang kabel 30 meter.
Untuk nilai parameter
×
+
=
004i) - 3.8425e - 006 - (9.1584e
3.5258i) (53.0830
Ro
)) 2 . 13 sin( 00342422 . 0 ) 2 . 13 cos( 0965943 . 0 ( ÷ ÷ ÷
Ro = 352.297586 Ohm/m.
Untuk nilai parameter Lo =
004i) - 3.8425e - 006 - (9.1584e
3.5258i) (53.0830
* * 2
1 +
-
f t
x
)) 2 . 13 cos( * 003424228 . 0 ) 2 . 13 sin( * 0965943 . 0 ( ÷ ÷ ÷
Lo = -2.267194 E-07 H/m.
Untuk nilai parameter
69
3.5258i) (53.0830
004i) - (3.8425e - ) 006 - (9.1584e
+
= Go
( ) ) 2 . 13 sin( 0.0965943 ) 2 . 13 cos( * 0.0965943) ( ÷ + ÷ ÷ ×
Go = 2.8287E-04 S/m.
Untuk nilai parameter
3.5258i) (53.0830
004i) - (3.8425e - ) 006 - (9.1584e
* * 2
1
+
- =
f
Co
t
( ) ) 2 . 13 cos( ) 0.00342422 ( ) 2 . 13 sin( * 0.0965943 ÷ + ÷ ÷ ×
Co = 6.95681E-04 H/m.
Bila dilihat hubungan fase dan magnitude terhadap pentransmisian
sinyal kedalam saluran transmisi adalah perubahan fase mengakibatkan
perubahan dari redaman yang berada disepanjang saluran transmisi tersebut
hubungan dengan magnitude adalah didalam perubahan nilai redaman
tersebut terdapat nilai magnitude, ketika impdensinya berubah nilai
attenuasi juga akan berubah. Agar sinyal yang dikirmkan bernilai sama
dengan nilai sinyal yang akan diterima ke sumber, karena itu diperlukan
perhitungan nilai parameter tegangan, selain untuk melihat berapa fase yang
loss didalam satu lamda. Maksud dari kalimat tersebut diatas dapat
diperhatikan persamaan sebagai berikut:
o =
f s
f s
Y Z
Y Z
+
÷
1
cos
tanh
2
1
2
1
m
ì
(4- 7)
Nilai m cos adalah nilai tetha berupa besaran vektor dikalikan dengan besar
impedansi yang mempengaruhi nilai redaman saluran transmisi, nilai
redaman dan fase ini digunakan untuk mencari nilai parameter saluran
transmisi R, L, C, G, dan nilai impedansi saluran transmisi.
70
4.2. TAMPILAN DATABASE
Gambar 4. 7 Table database untuk kabel koaksial dengan panjang 30 meter.
Tampilan database ini adalah seperti pada gambar tabel diatas,
dimana f adala nilai frekuensi dari 10 MHz sampai 110 MHz, nilai zs
adalah magnitude pada saat short (rangkaian tertutup), nilai zf adalah
magnitude pada saat free (rangkaian terbuka), nilai ts adalah nilai fase pada
saat short, nilai tf adalah nilai fase pada saat free.
71
4.3. HASIL TAMPILAN VISUAL BASIC 6.0
4.3.1. Tampilan awal
Gambar 4. 8 Tampilan awal.
Pada saat awal melakukan simulasi proyek akhir dengan
menggunakan bahasa pemrograman visual basic versi 6.0, tampilan yang
pertama kali muncul adalah seperti pada gambar 4.4. Terdapat dua
CommandButton, dimana tombol “Begine” digunakan untuk memulai
pilihan pengukuran yaitu antara pemilihan pengukuran kabel balance atau
unbalance. Dan tombol “Exit” digunakan untuk menutup tampilan dan
keluar dari visualisasi.
4.3.2. Pilihan perhitungan parameter saluran
Selanjutnya adalah menu pilihan untuk menghitung data hasil
pengukuran dari kabel balance maupun unbalance, seperti tampak pada
gambar berikut ini:
72
Gambar 4. 9 Tampilan pilihan perhitungan.
4.3.3. Menu utama kabel UTP
Gambar 4. 10 Menu utama perhitungan UTP.
Gambar 4.6 ini adalah menu utama untuk menghitung parameter saluran
transmisi dari data hasil pengukuran kabel UTP (balance line), terdapat 3
buah Optionbutton yang gunanya adalah untuk memilih kondisi pengukuran
kabel UTP, dimana pada optionButton pertama adalah kondisi ujung
rangkaian terbeban (load circuit), optionButton kedua adalah kondisi ujung
73
rangkaian tertutup (short circuit), dan optionButton ketiga adalah kondisi
ujung rangkaian terbuka (open circuit). Pemilihan optionButton juga
disertai pergantian gambar yang sesuai dengan kondisi pengukuran.
Gambar 4. 11 Tampilan MessageBox.
Peringatan dari MessageBox akan muncul bila tidak memasukkan
nilai frekuensi dan panjang kabel yang telah ditentukan.
4.3.4. Menu utama kabel koaksial
Pada gambar 4.5 ketika menekan tombol “OK” pada setup
pengukuran kabel koaksial, maka akan terhubung langsung pada visual
perhitungan nilai parameter dari data hasil pengukuran kabel koaksial, yang
bentuk Form-nya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 4. 12 Menu utama perhitungan Koaksial.
Dengan prosedur pengisian yang sama dengan form pada
perhitungan kabel UTP, namun disini perhitungan dari hasil pengukuran
hanya dilakukan dalam satu metode yaitu, metode shortopen circuit.
Sehingga nantinya dapat diketahui nilai parameter dari masing-masing nilai.
74
75
Bab V
PENUTUP
5.1. KESIMPULAN
Dari hasil yang didapatkan, maka kami dapat mengambil kesimpulan
bahwa:
1. Untuk kabel, semakin pendek ukuran kabel UTP maka semakin kecil
nilai Induktansinya (Lo), juga nilai Kapasitansi (Co) saluran semakin
besar, perubahan panjang saluran tidak dapat menentukan perubahan
nilai Resistansi (Ro) saluran dan Konduktansi (Go) saluran.
2. Untuk kabel koaksial, nilai setiap parameter pada pengukuan ini
tidaklah sama dengan nilai parameter saluran UTP. Berdasarkan
persamaan ¸ t | 2 = nilai frekuensi mempengaruhi ¸ . Bila nilai
frekuensi kecil maka nilai panjang gelombang besar dan dilihat dari
persamaan nilai fasenya akan semakin kecil.
3. Hasil impedansi karakteristik untuk kabel UTP bila dibandingkan pada
datasheet dengan kriteria panjang saluran=100m, disetiap nilai
frekuensinya adalah sebesar Zo = 100 Ohm. Sedangkan pada hasil
pengukuran diperoleh hasil impedansi pada kriteria panjang = 30m
sepanjang perubahan frekuensinya adalah sebesar Zo = 185 Ohm.
4. Nilai resistansi dan konduktansi selalu berbanding terbalik sehingga
grafik untuk resistansi bernilai positif (+) dan untuk konduktansi
saluran bernilai negatif (-).
5. Kabel koaksial dapat dikatakan mempunyai karakteristik frekuensi
saluran yang lebih baik untuk mentransmisikan data dibanding dengan
kabel UTP karena kabel koaksial memiliki nilai attenuasi yang lebih
kecil dibanding dengan kabel UTP bila dilihat dengan menggunakan
range frekuensi yang sama. Untuk nilai frekuensi 20 MHz, 40 MHz, 60
MHz, 80 MHz, dan 100 MHz attenuasi koaksial berturut-turut sebesar
0.01 dB, 0.027 dB, 0.054 dB, 0.071 dB, dan 0.086 dB sedangkan untuk
nilai attenuasi kabel UTP berturut-turut sebesar 0.018 dB, 0.036 dB,
0.052 dB, 0.068 dB, dan 0.091 dB.
5.2. SARAN
Didalam proyek akhir ini banyak terdapat kekurangan, sehingga
diharapkan nantinya proyek akhir ini akan dapat dikembangkan lagi dengan
76
sistem yang lebih baik dan tipe kabel dari jenis balance maupun unbalance
yang berbeda pula, juga tentunya diharapkan agar dapat menghasilkan nilai
fase yang simetris disetiap perubahan frekuensinya. Untuk kedepan dapat
membuat visualisasi dengan bahasa pemrograman yang berbeda tentunya
yang memiliki library yang banyak sehingga dapat menerjemahkan nilai –
nilai besaran maupun bilangan dalam matematika, agar tidak perlu untuk
menginisialisasikan setiap bilangan untuk mendapatkan hasil yang dari
persamaan – persamaan matematika yang ada.
77
DAFTAR PUSTAKA
[1] Dr. Wipawee usaha, “427 322 Communication Networks and
Transmission Lines”, at http://www.sut.ac.th/engineering/telecom,
June 4, 2004.
[2] Ir.Nur Adi. S, MT; Okkie.P,ST,MT; And Ari. W, ST,
“Electromagnetic Compatibility (EMC) Guide Books”, October 05,
2005.
[3] Arif Basofi, S. Kom, “Sistem Basis Data”, Information Technology,
PENS – ITS.
[4] Michael Halvorson, “Microsoft Visual Basic 6.0 Profesional, Step By
Step.”, Microsoft Press, Elex Media Komputindo, Desember, 2003.
[5] http://www.valuetronics.com/vt/assets/pdfs/HP_4193A.PDF.
[6] TIA/EIA TELECOMMUNICATIONS SYSTEMS BULLETIN
TSB89, Application Guidelines for TIA/EIA-485-A,
Telecommunications Industry Association, June 1998.
[7] 'International Edition' Electronic Cimmunications Systems
"Fundamentals Through Advanced"-Third Edition- Wayne Tomasi.
[8] Http://www.educypedia.be/electronics/transmissionlinestopics.htm
[9] Http://www.valuetronics.com/vt/assets/pdfs/HP_4193A.PDF.
78
----- Halaman ini sengaja dikosongkan -----
79
LAMPIRAN
Coaxial Cable Data Sheet
Belden
Impedanc
e
Capacita
nce
Attenuation -
db/100 feet
Diameter
Part# (ohm)
(pf/feet
)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Veloc
ity
Facto
r
8208 44 46 - - 9 0.257 0.66
8214 50 26 1.8 4.2 6.7 0.405 0.78
8216 50 30.8 8.4 19 31 0.11 0.66
8238 75 20.5 2 4.2 6.8 0.405 0.66
8240 51.5 28.5 4.5 10 16 0.193 0.66
8241 75 20.4 3.4 7 11.1 0.242 0.66
8259 50 30.8 4.9 11.5 20 0.192 0.66
8267 50 30.8 1.9 4.1 7.6 0.405 0.66
8268 50 30.8 1.9 4.1 7.6 0.425 0.66
8281 75 20.5 - - 9.2 0.305 0.66
9228 93 13.5 2.7 5.3 8.2 0.242 0.84
9258 50 24.8 3.7 - 12.8 0.242 0.81
9259 75 17.3 3 - 10.1 0.241 0.78
9273 50 30.8 4.1 - 13.8 0.212 0.66
9880 50 25 1.3 2.7 4.5 0.375 0.78
9913 50 24.6 1.3 2.7 4.5 0.405 0.84
9914 50 24.8 1.6 3.5 5.9 0.403 0.82
80
RG-/U
Impeda
nce
Capacitanc
e
Attenuation - db/100 feet Diameter
# (ohm) (pf/feet)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Velocity
Factor
58A 52 29.6 4.9 11.5 20 0.195 0.66
5 52.5 28.5 - - - 0.332 -
5A 50 30.8 - - - 0.328 -
5B 50 30.8 - - - 0.328 0.66
6 75 20 2.1 5 6.9 0.332 0.78
6A 75 20.6 2.7 5.9 9.8 0.332 0.78
7 95 13.5 - - - 0.37 -
8 52 29.6 1.9 4.1 8 0.405 0.66
8A 52 29.6 1.9 4.1 8 0.405 0.66
8X 50 25.3 3.8 7.9 13 0.242 0.78
9 51 30.2 2.3 5 8.8 0.42 0.66
9A 51 30.2 - - - 0.42 -
9B 50 30.8 - - - 0.42 -
10 52 29.6 - - - 0.463 -
10A 52 29.6 1.9 4.1 8 0.463 0.66
11 75 20.6 2.3 4.8 7.8 0.405 0.78
11A 75 20.6 2.3 4.8 7.8 0.405 0.66
12 75 20.6 2.2 5.2 7.7 0.463 0.66
12A 75 20.6 2.3 4.8 7.8 0.463 0.66
13 74 20.8 - - - 0.42 0.66
13A 74 20.8 2.3 4.8 7.8 0.42 0.66
14 52 29.6 - - - 0.545 0.66
14A 52 29.6 1.4 3.1 5.5 0.545 0.66
15 76 20 - - - 0.545 -
16 52 29.6 - - - 0.63 -
17 52 29.6 - - - 0.87 0.66
81
RG-/U
Imped
ance
Capacita
nce
Attenuation - db/100 feet Diameter
# (ohm) (pf/feet)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Velocity
Factor
17A 52 29.6 0.95 2.4 4.4 0.87 0.66
18 52 29.6 0.95 2.4 4.4 0.925 0.66
18A 52 29.6 - - - 0.928 0.66
19 52 29.6 0.7 1.5 3.5 1.12 0.66
19A 52 29.6 - - - 1.12 0.66
20 52 29.6 0.7 1.5 3.5 1.178 0.66
20A 52 29.6 - - - 1.178 0.66
21 53 29 - - - 0.332 0.66
21A 53 29 - - - 0.332 0.66
22 95 16.3 2.3 4.8 - 0.405 0.66
22A 95 16.3 - - - 0.42 0.66
22B 95 16.3 3 9.5 - 0.42 0.66
23 125 12 1.3 3.5 6 0.945 -
23A 125 12 - - - 0.945 -
24 125 12 1.3 3.5 6 1.003 -
24A 125 12 - - - 1.003 -
25 48 50 - - - - -
25A 48 50 - - - 0.505 -
26 48 50 - - - - -
26A 48 50 - - - 0.483 -
27 48 50 - - - - -
27A 48 50 - - - 0.653 -
28 48 50 - - - - -
28A 50 50 - - - - -
28B 48 50 - - - 0.75 -
29 53.5 28.8 - - - 0.184 0.66
30 50 27 - - - 0.25 -
31 51 31 - - - 0.405 -
82
RG-/U
Imped
ance
Capacita
nce
Attenuation - db/100 feet Diameter
# (ohm) (pf/feet)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Velocity
Factor
34 71 21.7 1.4 3.1 5.4 0.625 0.66
34A 75 20.6 - - - 0.63 0.66
34B 75 20.6 - - - 0.63 0.66
35 71 21.7 1 2.5 4.5 0.928 0.66
35A 75 20.6 - - - 0.928 0.66
35B 75 20.6 - - - 0.928 0.66
36 69 22.3 - - - 1.18 -
37 52.5 38 - - - 0.21 -
38 52.5 38 - - - 0.312 -
39 72.5 28.6 - - - 0.312 -
40 72.5 28 - - - 0.42 -
41 67.5 27.6 - - - 0.425 -
42 78 19.7 - - - 0.342 -
43 95 17.6 - - - 0.617 -
44 50 - - - - - -
45 50 - - - - - -
46 50 - - - - - -
47 50 - - - - - -
48 53 - - - - - -
54 58 26.5 - - - 0.275 0.66
54A 58 26.5 4 8 12 0.245 0.66
55 53.5 28.8 - - - 0.2 0.66
55A 50 30.8 - - - 0.2 0.66
55B 53.5 28.8 4.8 10 16.5 0.2 0.66
56 48 50 - - - 0.535 -
57 95 16.3 - - - 0.625 0.66
57A 95 16.3 - - - 0.625 -
58 53.5 28.8 - - - 0.195 0.66
83
RG-/U
Imped
ance
Capacita
nce
Attenuation – db/100 feet Diameter
# (ohm) (pf/feet)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Velocity
Factor
58A 52 29.6 4.9 11.5 20 0.195 0.66
58B 53.5 28.8 - - - 0.195 0.66
58C 50 30.8 4.9 11.5 20 0.195 0.66
59 73 21.1 - - - 0.242 0.66
59A 73 21.1 - - - 0.242 0.66
59B 75 20.6 3.4 7 11.1 0.242 0.66
60 50 39 - - - 0.425 -
61 500 - - - - - -
62 93 13.5 2.8 5.8 9.5 0.242 -
62A 93 13.5 2.7 5.4 8.3 0.242 0.84
62B 93 13.5 - - - 0.242 0.84
63 125 10 1.9 4 6.5 0.405 0.84
63A 125 10 - - - 0.405 0.84
63B 125 10 - - - 0.405 -
64 48 60 - - - 0.495 -
64A 48 50 - - - 0.46 -
65 950 44 20 50 - 0.405 -
65A 950 44 - - - 0.405 -
66 69 - - - - - -
71 93 13.5 2.8 5.8 9.5 0.245 0.84
71A 93 13.5 - - - 0.245 0.84
71B 93 13.5 1.9 3.2 8.5 0.245 0.84
72 150 7.8 - - - 0.63 -
73 25 61.6 - - - 0.175 -
74 52 29.6 - - - 0.603 -
74A 52 29.6 - - - 0.603 -
76 50 - - - - - -
77 48 50 - - - - -
84
RG-/U
Imped
ance
Capacita
nce
Attenuation - db/100 feet Diameter
# (ohm) (pf/feet)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Velocity
Factor
77A 48 50 - - - 0.45 -
78 48 50 - - - - -
78A 48 50 - - - 0.42 -
79 125 10 1.9 4 6.5 0.463 0.84
79A 125 10 - - - 0.463 0.84
79B 125 10 - - - 0.463 0.84
80 51 - - - - - -
81 50 37 - - - 0.325 -
82 50 36 - - - 0.75 -
83 35 44 - - - 0.405 -
84 71 20.6 1 2.5 4.5 1 0.66
84A 75 20.6 - - - 1 0.66
85 71 20.6 1 2.5 4.5 1.565 0.66
85A 75 20.6 - - - 1.565 -
86 200 7.8 - - - 0.65 -
87A 50 29.4 - - - 0.425 -
88 48 50 - - - 0.515 -
88A 48 50 - - - 0.515 -
88B 48 50 - - - 0.565 -
RG-/U
Imped
ance
Capacita
nce
Attenuation - db/100 feet Diameter
# (ohm) (pf/feet)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Velocity
Factor
97 50 - - - - - -
98 50 - - - - - -
99 50 - - - - - -
100 35 44 - - - 0.242 0.66
101 75 - - - - 0.588 -
102 140 - - - - 1.088 -
85
RG-/U
Imped
ance
Capacita
nce
Attenuation - db/100 feet Diameter
# (ohm) (pf/feet)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Velocity
Factor
130 95 17 1.3 2.8 4.9 0.625 0.66
131 95 17 1.3 2.8 4.9 0.683 -
133 95 16.3 2.2 4.7 7.8 0.405 -
133A 95 16.3 - - - 0.405 -
140 75 19.5 - - 13 0.233 -
141 50 29.4 3.2 6.9 13 0.19 -
141A 50 29.4 - - - 0.19 -
142 50 29.4 3.8 8.8 12.8 0.195 -
142A 50 29.4 - - - 0.195 -
142B 50 29.4 - - - 0.195 -
143 50 29.4 - - - 0.325 -
143A 50 29.4 - - - 0.325 -
144 75 19.5 2 4.2 7.1 0.41 -
145 75 14.6 - - - 0.072 -
146 190 6 - - - 0.375 -
147 52 29.6 - - - 1.937 -
148 52 29.6 - - - 0.8 -
149 75 20.6 - - - 0.405 -
150 75 20.6 - - - 0.463 -
156 50 32.8 - - - 0.54 -
157 50 32.8 - - - 0.725 -
158 25 65.5 - - - 0.725 -
159 50 29 - - - 0.195 -
160 125 12 - - - 1.055 -
161 70 20.9 - - - 0.082 -
164 75 20.6 0.8 1.9 3.5 0.87 0.66
164A 75 20.6 - - - 0.87 0.66
165 50 29.4 1.9 4.1 7 0.41 -
86
RG-/U
Imped
ance
Capacita
nce
Attenuation - db/100 feet Diameter
# (ohm) (pf/feet)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Velocity
Factor
196A 50 29.4 9.8 15.8 25 0.072 0.66
197 50 22 - - - 0.875 -
198 70 16 - - - 0.6 -
199 70 16 - - - 1.015 -
200 70 16 - - - 1.765 -
209 50 25 - - - 0.725 -
210 93 13.5 2.8 5.8 9.5 0.242 -
211 50 29.4 0.8 1.9 3.5 0.73 -
211A 50 29.4 - - - 0.73 -
212 50 29.4 2.7 5.9 9.8 0.332 0.66
213 50 30.8 2 4.9 7.3 0.405 0.66
214 50 30.8 2 4.9 7.3 0.425 0.66
215 50 30.8 2.2 4.6 9 0.463 0.66
216 75 20.6 2.3 4.8 7.8 0.425 0.66
217 50 30.8 1.4 3.5 5.3 0.545 0.66
218 50 30.8 0.82 2.2 3.4 0.87 0.66
219 50 30.8 0.95 2.4 4.4 0.928 0.66
220 50 30.8 0.63 1.7 2.8 1.12 0.66
221 50 30.8 0.7 1.5 3.5 1.178 0.66
222 50 30.8 - - - 0.332 -
223 50 30.8 4 9.2 13.4 0.211 0.66
224 50 30.8 1.5 3 6 0.603 -
225 50 29.4 - - 7.5 0.43 -
226 50 29.4 - - - 0.5 -
227 50 29.4 - - - 0.488 -
228 50 29.4 - - - 0.788 -
228A 50 29.4 - - - 0.788 -
229 50 29.4 - - - 0.46 -
87
RG-/U
Imped
ance
Capacita
nce
Attenuation - db/100 feet Diameter
# (ohm) (pf/feet)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Velocity
Factor
230 25 100 - - - 0.74 -
231 50 25 - - - 0.45 -
231A 50 25 - - - 0.45 -
232 50 22 - - - 1.015 -
233 50 22 - - - 1.765 -
234 50 22 - - - 3.295 -
235 50 29.5 - - - 0.45 -
236 50 24 - - - 0.5 -
237 50 24 - - - 0.6 -
240 50 22 - - - 1.625 -
242 50 22 - - - 3.125 -
244 75 15.5 - - - 0.5 -
245 75 15.5 - - - 0.6 -
246 75 15.2 - - - 0.875 -
247 75 15.2 - - - 1.015 -
248 75 15 - - - 1.625 -
249 75 15 - - - 1.765 -
250 75 15 - - - 3.125 -
251 75 15 - - - 3.295 -
252 50 24 - - - 0.53 -
253 50 24 - - - 0.655 -
254 50 24 - - - 1.1 -
255 50 24 - - - 0.953 -
256 50 24 - - - 0.953 -
257 50 24 - - - 1.786 -
258 50 24 - - - 1.926 -
259 50 24 - - - 0.39 -
260 50 24 - - - 0.45 -
88
RG-/U
Imped
ance
Capacita
nce
Attenuation - db/100 feet Diameter
# (ohm) (pf/feet)
100
MHz
400
MHz
1000
MHz
(inch)
Velocity
Factor
263 50 21.5 - - - 0.5 -
264 36.8 41 - - - 0.75 -
264A 36.8 41 - - - 0.75 -
264C 40 38.4 - - - 0.765 -
265 50 22.3 - - - 2.07 -
266 1530 53 - - - 0.285 -
267 50 22.2 - - - 1.19 -
268 50 23 - - - 0.35 -
269 50 22.2 - - - 0.795 -
269A 50 22.2 - - - 0.795 -
270 50 22.3 - - - 1.83 -
270A 50 22.3 - - - 1.83 -
279 75 16.9 - - - 0.145 -
280 50 25.4 - - - 0.468 -
281 50 25.4 - - - 0.72 -
282 54.5 28.2 - - - 0.2 -
283 46 50 - - - 0.475 -
284A 75 15 - - - 1.005 -
285A 100 13 - - - 1.005 -
286 75 15.1 - - - 1.83 -
287 100 13.5 - - - 1.83 -
288 50 21.6 - - - 3.75 -
289 75 14.7 - - - 3.75 -
292 75 15.1 - - - 2 -
293 50 30.8 - - - 0.545 -
293A 50 30.8 - - - 0.545 -
294 95 16.3 - - - 0.63 -
294A 95 16.3 - - - 0.63 -
89
PEMROGRAMAN VISUAL BASIC
Tampilan Awal
Private Sub Command1_Click()
milih.Show
End Sub
Private Sub Command2_Click()
Unload Me
End Sub
Private Sub exit_Click()
Unload Me
End Sub
Private Sub mulai_Click(Index As Integer)
Commondialog1.Filter = "da vb\thesis (*.mdb)|*.mdb"
Commondialog1.ShowOpen
Image1.Picture = LoadPicture(Commondialog1.FileName)
'exit.Enabled=True
End Sub
Private Sub t_coaxial_Click()
Frm_Hasil_Coaxial.Show
End Sub
Private Sub t_UTP_Click()
Frm_Hasil_UTP.Show
End Sub
Tampilan Menu Pilihan
Private Sub Command1_Click()
Frm_Hasil_UTP.Show
End Sub
Private Sub coax_ok_Click()
Frm_Coaxial.Show
90
End Sub
Private Sub Command2_Click()
Frm_Hasil_Coaxial.Show
End Sub
Private Sub utp_ok_Click()
Frm_Parameter.Show
End Sub
Tampilan Menu Utama Pengukuran Kabel UTP.
Private Sub Command1_Click()
MsgBox "Good Bye Fucker ...!!"
End
End Sub
Private Sub Command2_Click()
milih.Show
End Sub
Private Sub Cmd_Simpan_Click()
Adodc3.RecordSource = "select *from utp"
Adodc3.Refresh
Adodc3.Recordset.AddNew
If Option1.Value = True Then
Adodc3.Recordset!Jenis_Kabel = "A"
Adodc3.Recordset!panjang_kabel = Cmb_A.Text
ElseIf Option2.Value = True Then
Adodc3.Recordset!Jenis_Kabel = "B"
Adodc3.Recordset!panjang_kabel = Cmb_B.Text
ElseIf Option3.Value = True Then
Adodc3.Recordset!Jenis_Kabel = "C"
Adodc3.Recordset!panjang_kabel = Cmb_C.Text
End If
Adodc3.Recordset!frekuensi = TxtFrek.Text
Adodc3.Recordset!R0 = LblRo.Text
Adodc3.Recordset!L0 = LblLo.Text
Adodc3.Recordset!g0 = LblGo.Text
91
Adodc3.Recordset!C0 = LblCo.Text
Adodc3.Recordset!Z0 = LblZo.Text
Adodc3.Recordset!sudut_theta = Txt_Sudut.Text
Adodc3.Recordset.Update
Cmd_Simpan.Enabled = False
End Sub
'Private Sub cmdOpen_Click()
'cboTables.Clear 'Mengosongkan Combolist nyo
'dlog.DefaultExt = "MDB" 'Extensi untuk MS Access databasenyo
'dlog.FileName = ""
'dlog.Filter = "access databases (*.MDB)|*.MDB|Any file (*.*)|*.*|"
'dlog.Action = 1 'membuka dialog file
'If dlog.FileName = " " Then Exit Sub
'opendatafile dlog.FileName
'End Sub
Private Sub Command4_Click()
Dim i As Integer
Dim zs, zf, yf, co, ro, lo, g0, Fs, x, Y, g, lamda, propagasi, rad, cs, csn, ZY,
AbsZY, alph, beth, absbeth, bagi1, absbagi1, bagi2, absbagi2, rad1, e, ome,
j, z1, z2, teta1, teta2, zo, teta0, L, Y1, Y2
'dim As TextBox
'dim As Label
Const pi = 3.14152
'Fs = Val(LblF.Caption)
Fs = Val(TxtFrek.Text) * 1000000
Ms = Val(LblZs.Caption)
Mo = Val(LblZf.Caption)
Ps = Val(LblTs.Caption)
Po = Val(LblTf.Caption)
x = Val(TxtFrek.Text)
'Y = Val(CmbPanjang.ComboBox)
propagasi = 300000000
'Y1 = Ps / Po
'j = Log((1 + Y1) / (1 - Y1)) / 2
j = Atn(Ps / Po)
g = (Ps + Po) / 2
92
lamda = propagasi / Fs
zs = Ms * Exp(j * Ps)
zf = Mo * Exp(j * Po)
yf = 1 / zf
rad = g / 180
cs = Cos(pi * rad) ' Nilai cos untuk sudut tetha
csn = Sin(pi * rad) ' Nilai sin untuk sudut tetha
ZY = zs * yf
AbsZY = Abs(ZY) ' Nilai absoloute ZY
'alph = 1 / (2 * lamda) * AtanH(((Sqr(AbsZY)) * cs) / (1 + AbsZY))
'beth = 1 / (2 * lamda) * AtanH(((Sqr(AbsZY)) * csn) / (1 + AbsZY))
X1 = (((Sqr(AbsZY)) * cs) / (1 + AbsZY))
X2 = (((Sqr(AbsZY)) * csn) / (1 - AbsZY))
alph = ((1 / (2 * lamda)) * (Log(((1 + X1) / (1 - X1)) / 2)))
beth = ((1 / (2 * lamda)) * (Log(((1 + X2) / (1 - X2)) / 2)))
absbeth = Abs(beth)
bagi1 = zs / yf
absbagi1 = Abs(bagi1)
e = (Ps - Po) / 2
rad1 = e / 180 ' Pengali untuk permitivitas
ro = (Sqr(absbagi1)) * (alph * Cos(pi * rad1) - beth * Sin(pi * rad1))
ome = 2 * pi * Fs ' Nilai Omega
lo = (1 / ome) * (Sqr(absbagi1)) * (alph * Sin(pi * rad1) - beth * Cos(pi *
rad1))
bagi2 = yf / zs ' Nilai Yf/Zs
absbagi2 = Abs(bagi2) ' Absolute Yf/Zs
co = (Sqr(absbagi2)) * (alph * Cos(pi * rad1) + beth * Sin(pi * rad1))
g0 = (Sqr(absbagi2)) * -(alph * Sin(pi * rad1) + beth * Cos(pi * rad1))
z1 = Sqr(ro ^ 2 + (ome * lo) ^ 2)
teta1 = Atn((ome * lo) / (ro))
z2 = Sqr(g0 ^ 2 + (ome * co) ^ 2)
teta2 = Atn((ome * co) / (g0))
zo = Sqr(Abs(z1 / z2))
teta0 = teta1 - teta2
'L = AtanH(30)
'zo = Sqr((ro + (j * ome * lo)) / (g0 + (j * ome * lo))) [NILAI ZO
DENGAN TANPA SUDUT]
93
LblRo.Text = ro
LblGo.Text = g0
LblLo.Text = lo
LblCo.Text = co
LblZo.Text = zo
Text1.Text = L
Txt_Sudut.Text = teta0
Cmd_Simpan.Enabled = True
End Sub
Private Static Sub aktif()
Option1.Enabled = True
Option2.Enabled = True
Combo1.Enabled = True
End Sub
Private Sub keluar_Click()
If MsgBox("Apakah anda ingin keluar dari aplikasi ini?", vbYesNo, ".::
Exit ::.") = vbYes Then
Unload Me
If MsgBox("Apakah anda ingin keluar dari Semua aplikasi?", vbYesNo, ".::
End All ::.") = vbYes Then
End
End If
End If
End Sub
Private Sub Option1_Click()
Cmb_A.Visible = True
Cmb_B.Visible = False
Cmb_C.Visible = False
Image1.Visible = True
Image2.Visible = False
Image3.Visible = False
End Sub
Private Sub Option2_Click()
Cmb_A.Visible = False
94
Cmb_B.Visible = True
Cmb_C.Visible = False
Image1.Visible = False
Image2.Visible = True
Image3.Visible = False
End Sub
Private Sub Option3_Click()
Cmb_A.Visible = False
Cmb_B.Visible = False
Cmb_C.Visible = True
Image1.Visible = False
Image2.Visible = False
Image3.Visible = True
End Sub
Private Sub pilihan_Click()
milih.Show
End Sub
Private Sub TxtFrek_LostFocus()
If Cmb_A.Visible = True Then
If Cmb_A.Text <> "" Then
If TxtFrek = "" Then
MsgBox "Masukkan nilai Frekuensi"
Else
Adodc2.RecordSource = "select f as [frekuensi(Hz)],zs as
[Magnitude(s)], ts as [Fase(s)],zf as [Magnitude(f)], tf as [Fase(f)] from " &
Cmb_A.Text & ""
Adodc2.Refresh
Adodc1.RecordSource = "select * from " & Cmb_A.Text & " where
f=" & (TxtFrek.Text * 1000000) & " "
Adodc1.Refresh
If Adodc1.Recordset.BOF = False And Adodc1.Recordset.EOF =
False Then
LblF.Caption = Adodc1.Recordset!f
LblZs.Caption = Adodc1.Recordset!zs
LblZf.Caption = Adodc1.Recordset!zf
LblTs.Caption = Adodc1.Recordset!ts
95
LblTf.Caption = Adodc1.Recordset!tf
End If
End If
End If
ElseIf Cmb_B.Visible = True Then
If Cmb_B.Text <> "" Then
If TxtFrek = "" Then
MsgBox "Masukkan nilai Frekuensi"
Else
Adodc2.RecordSource = "select f as [frekuensi(Hz)],zs as
[Magnitude(s)], ts as [Fase(s)],zf as [Magnitude(f)], tf as [Fase(f)] from " &
Cmb_B.Text & ""
Adodc2.Refresh
Adodc1.RecordSource = "select * from " & Cmb_B.Text & " where
f=" & (TxtFrek.Text * 1000000) & " "
Adodc1.Refresh
If Adodc1.Recordset.BOF = False And Adodc1.Recordset.EOF =
False Then
LblF.Caption = Adodc1.Recordset!f
LblZs.Caption = Adodc1.Recordset!zs
LblZf.Caption = Adodc1.Recordset!zf
LblTs.Caption = Adodc1.Recordset!ts
LblTf.Caption = Adodc1.Recordset!tf
End If
End If
End If
ElseIf Cmb_C.Visible = True Then
If Cmb_C.Text <> "" Then
If TxtFrek = "" Then
MsgBox "Masukkan nilai Frekuensi"
Else
Adodc2.RecordSource = "select f as [frekuensi(Hz)],zs as
[Magnitude(s)], ts as [Fase(s)],zf as [Magnitude(f)], tf as [Fase(f)] from " &
Cmb_C.Text & ""
Adodc2.Refresh
Adodc1.RecordSource = "select * from " & Cmb_C.Text & " where
f=" & (TxtFrek.Text * 1000000) & " "
Adodc1.Refresh
96
If Adodc1.Recordset.BOF = False And Adodc1.Recordset.EOF =
False Then
LblF.Caption = Adodc1.Recordset!f
LblZs.Caption = Adodc1.Recordset!zs
LblZf.Caption = Adodc1.Recordset!zf
LblTs.Caption = Adodc1.Recordset!ts
LblTf.Caption = Adodc1.Recordset!tf
End If
End If
End If
End If
End Sub
Tampilan Menu Utama Pengukuran Kabel Koaksial.
Private Sub Command2_Click()
milih.Show
End Sub
Private Sub Cmd_Simpan_Click()
Adodc3.RecordSource = "select *from coaxial "
Adodc3.Refresh
Adodc3.Recordset.AddNew
Adodc3.Recordset!frekuensi = TxtFrek.Text
Adodc3.Recordset!panjang_kabel = Cmb_kabel.Text
Adodc3.Recordset!R0 = LblRo.Text
Adodc3.Recordset!L0 = LblLo.Text
Adodc3.Recordset!g0 = LblGo.Text
Adodc3.Recordset!C0 = LblCo.Text
Adodc3.Recordset!Z0 = LblZo.Text
Adodc3.Recordset!sudut_theta = Txt_Sudut.Text
Adodc3.Recordset.Update
Cmd_Simpan.Enabled = False
End Sub
'Private Sub cmdOpen_Click()
'cboTables.Clear 'Mengosongkan Combolist nyo
'dlog.DefaultExt = "MDB" 'Extensi untuk MS Access databasenyo
'dlog.FileName = ""
97
'dlog.Filter = "access databases (*.MDB)|*.MDB|Any file (*.*)|*.*|"
'dlog.Action = 1 'membuka dialog file
'If dlog.FileName = " " Then Exit Sub
'opendatafile dlog.FileName
'End Sub
Private Sub Command4_Click()
Dim i As Integer
Dim zs, zf, yf, co, ro, lo, g0, Fs, x, Y, g, lamda, propagasi, rad, cs, csn, ZY,
AbsZY, alph, beth, absbeth, bagi1, absbagi1, bagi2, absbagi2, rad1, e, ome,
j, z1, z2, teta1, teta2, zo, teta0
'dim As TextBox
'dim As Label
Const pi = 3.14152
'Fs = Val(LblF.Caption)
Fs = Val(TxtFrek.Text) * 1000000
Ms = Val(LblZs.Caption)
Mo = Val(LblZf.Caption)
Ps = Val(LblTs.Caption)
Po = Val(LblTf.Caption)
x = Val(TxtFrek.Text)
'Y = Val(CmbPanjang.ComboBox)
propagasi = 300000000
j = Atn(Ps / Po)
g = (Ps + Po) / 2
lamda = propagasi / Fs
zs = Ms * Exp(j * Ps)
zf = Mo * Exp(j * Po)
yf = 1 / zf
rad = g / 180
cs = Cos(pi * rad) ' Nilai cos untuk sudut tetha
csn = Sin(pi * rad) ' Nilai sin untuk sudut tetha
ZY = zs * yf
AbsZY = Abs(ZY) ' Nilai absoloute ZY
'alph = 1 / (2 * lamda) * AtanH(((Sqr(AbsZY)) * cs) / (1 + AbsZY))
'beth = 1 / (2 * lamda) * Atn(((Sqr(AbsZY)) * csn) / (1 + AbsZY))
X1 = (((Sqr(AbsZY)) * cs) / (1 + AbsZY))
98
X2 = (((Sqr(AbsZY)) * csn) / (1 + AbsZY))
alph = ((1 / (2 * lamda)) * (Log(((1 + X1) / (1 - X1)) / 2) / Log(10)))
beth = ((1 / (2 * lamda)) * (Log(((1 + X2) / (1 - X2)) / 2) / Log(10)))
absbeth = Abs(beth)
bagi1 = zs / yf
absbagi1 = Abs(bagi1)
e = (Ps - Po) / 2
rad1 = e / 180 ' Pengali untuk permitivitas
ro = (Sqr(absbagi1)) * (alph * Cos(pi * rad1) - beth * Sin(pi * rad1))
ome = 2 * pi * Fs ' Nilai Omega
lo = (1 / ome) * (Sqr(absbagi1)) * (alph * Sin(pi * rad1) - beth * Cos(pi *
rad1))
bagi2 = yf / zs ' Nilai Yf/Zs
absbagi2 = Abs(bagi2) ' Absolute Yf/Zs
co = (Sqr(absbagi2)) * (alph * Cos(pi * rad1) + beth * Sin(pi * rad1))
g0 = (Sqr(absbagi2)) * (-alph * Sin(pi * rad1) + beth * Cos(pi * rad1))
z1 = Sqr(ro ^ 2 + (ome * lo) ^ 2)
teta1 = Atn((ome * lo) / (ro))
z2 = Sqr(g0 ^ 2 + (ome * co) ^ 2)
teta1 = Atn((ome * co) / (g0))
zo = Sqr(Abs(z1 / z2))
teta0 = teta1 - teta2
'zo = Sqr((ro + (j * ome * lo)) / (g0 + (j * ome * lo))) [NILAI ZO
DENGAN TNAPA SUDUT]
LblRo.Text = ro
LblGo.Text = g0
LblLo.Text = lo
LblCo.Text = co
LblZo.Text = zo
Txt_Sudut.Text = teta0
Cmd_Simpan.Enabled = True
End Sub
Private Static Sub aktif()
Option1.Enabled = True
Option2.Enabled = True
Combo1.Enabled = True
End Sub
99
Private Sub keluar_Click()
If MsgBox("Apakah anda ingin keluar dari aplikasi ini?", vbYesNo, ".::
Exit ::.") = vbYes Then
Unload Me
If MsgBox("Apakah anda ingin keluar dari Semua aplikasi?", vbYesNo, ".::
End All ::.") = vbYes Then
MsgBox ("Terima kasih banyak :)")
End
End If
End If
End Sub
Private Sub pilihan_Click()
milih.Show
End Sub
Private Sub TxtFrek_LostFocus()
If Cmb_kabel.Visible = True Then
If Cmb_kabel.Text <> "" Then
If TxtFrek = "" Then
MsgBox "Masukkan nilai Frekuensi"
Else
Adodc2.RecordSource = "select f as [frekuensi(Hz)],zs as
[Magnitude(s)], ts as [Fase(s)],zf as [Magnitude(f)], tf as [Fase(f)] from " &
Cmb_kabel.Text & ""
Adodc2.Refresh
Adodc1.RecordSource = "select * from " & Cmb_kabel.Text & "
where f=" & (TxtFrek.Text * 1000000) & " "
Adodc1.Refresh
If Adodc1.Recordset.BOF = False And Adodc1.Recordset.EOF =
False Then
LblF.Caption = Adodc1.Recordset!f
LblZs.Caption = Adodc1.Recordset!zs
LblZf.Caption = Adodc1.Recordset!zf
LblTs.Caption = Adodc1.Recordset!ts
LblTf.Caption = Adodc1.Recordset!tf
End If
End If
100
End If
End If
End Sub
Tampilan Koneksi ADODC
Private Sub TxtFrek_LostFocus()
If Cmb_A.Visible = True Then
If Cmb_A.Text <> "" Then
If TxtFrek = "" Then
MsgBox "Masukkan nilai Frekuensi"
Else
Adodc2.RecordSource = "select * from " & Cmb_A.Text & ""
Adodc2.Refresh
Adodc1.RecordSource = "select * from " & Cmb_A.Text & " where
f=" & (TxtFrek.Text * 1000000) & " "
Adodc1.Refresh
If Adodc1.Recordset.BOF = False And Adodc1.Recordset.EOF =
False Then
LblF.Caption = Adodc1.Recordset!f
LblZs.Caption = Adodc1.Recordset!zs
LblZf.Caption = Adodc1.Recordset!zf
LblTs.Caption = Adodc1.Recordset!ts
LblTf.Caption = Adodc1.Recordset!tf
End If
End If
End If
ElseIf Cmb_B.Visible = True Then
If Cmb_B.Text <> "" Then
If TxtFrek = "" Then
MsgBox "Masukkan nilai Frekuensi"
Else
Adodc2.RecordSource = "select * from " & Cmb_B.Text & ""
Adodc2.Refresh
Adodc1.RecordSource = "select * from " & Cmb_B.Text & " where
f=" & (TxtFrek.Text * 1000000) & " "
Adodc1.Refresh
If Adodc1.Recordset.BOF = False And Adodc1.Recordset.EOF =
False Then
101
LblF.Caption = Adodc1.Recordset!f
LblZs.Caption = Adodc1.Recordset!zs
LblZf.Caption = Adodc1.Recordset!zf
LblTs.Caption = Adodc1.Recordset!ts
LblTf.Caption = Adodc1.Recordset!tf
End If
End If
End If
ElseIf Cmb_C.Visible = True Then
If Cmb_C.Text <> "" Then
If TxtFrek = "" Then
MsgBox "Masukkan nilai Frekuensi"
Else
Adodc2.RecordSource = "select * from " & Cmb_C.Text & ""
Adodc2.Refresh
Adodc1.RecordSource = "select * from " & Cmb_C.Text & " where
f=" & (TxtFrek.Text * 1000000) & " "
Adodc1.Refresh
If Adodc1.Recordset.BOF = False And Adodc1.Recordset.EOF =
False Then
LblF.Caption = Adodc1.Recordset!f
LblZs.Caption = Adodc1.Recordset!zs
LblZf.Caption = Adodc1.Recordset!zf
LblTs.Caption = Adodc1.Recordset!ts
LblTf.Caption = Adodc1.Recordset!tf
End If
End If
End If
End If
End Sub
102
PEMROGRAMAN MATLAB
Melihat grafik fungsi magnitude dan fase terhadap perubahan frekuensi
x=load('azs110_20.txt');
y=load('czf110_20.txt');
l=load('azf110_20.txt');
m=load('azf110_30.txt');
%cari data yang lengkap dengan perbandingan skala phase vs frekuensi
f1=x(:,1);
m1=x(:,2);
p1=x(:,3);
f2=y(:,1);
m2=y(:,2);
p2=y(:,3);
f3=l( :,1);
m3=l( :,2);
p3=l( :,3);
f4=m( :,1);
m4=m( :,2);
p4=m( :,3);
%figure(1);
subplot('2,1,1')
plot(f1,p1,'black',f2,p2,'g'); %f3,p3,'blue',f4,p4,'red');
xlabel('Frekuensi');
ylabel('Fase');
title('\it{Nilai Fase Terhadap Frekuensi}','FontSize',16)
%figure(2);
subplot('2,1,2')
plot(f1,m1,'black',f2,m2,'g');%,f3,m3,'blue',f4,m4,'red');
xlabel('Frekuensi');
ylabel('Magnitude');
title('\it{Nilai Magnitude Terhadap Frekuensi}','FontSize',16)
Melihat grafik parameter saluran transmisi terhadap perubahan panjang
kabel UTP
s=load('azs110_30.txt');
Fs=s(:,1);
Ms=s(:,2);
Ps=s(:,3);
sa=load('azs110_20.txt');
103
Fa=sa(:,1);
Ma=sa(:,2);
Pa=sa(:,3);
sc=load('azs110_10.txt');
Fc=sc(:,1);
Mc=sc(:,2);
Pc=sc(:,3);
se=load('azs110_4.txt'); %untuk panjang kabel s, dan t
Fe=se(:,1);
Me=se(:,2);
Pe=se(:,3);
t=load('azf110_30.txt'); %untuk panjang kabel se, dan tf
Fo=t(:,1);
Mo=t(:,2);
Po=t(:,3);
tb=load('azf110_20.txt'); %untuk panjang kabel sa, dan tb
Fb=tb(:,1);
Mb=tb(:,2);
Pb=tb(:,3);
td=load('azf110_10.txt'); %untuk panjang kabel sc, dan td
Fd=td(:,1);
Md=td(:,2);
Pd=td(:,3);
tf=load('azf110_4.txt'); %untuk panjang kabel se, dan tf
Ff=tf(:,1);
Mf=tf(:,2);
Pf=tf(:,3);
n=length(Fs);
propagasi=300000000;
for i=1:n
g(i)=(Ps(i)+Po(i))/2;
h(i)=(Pa(i)+Pb(i))/2;
k(i)=(Pc(i)+Pd(i))/2;
l(i)=(Pe(i)+Pf(i))/2;
104
lamda(i)=propagasi/Fs(i);
Zo(i)=Mo(i)*exp(j*Po(i));
Zs(i)=Ms(i)*exp(j*Ps(i));
Za(i)=Ma(i)*exp(j*Pa(i));
Zb(i)=Mb(i)*exp(j*Pb(i));
Zc(i)=Mc(i)*exp(j*Pc(i));
Zd(i)=Md(i)*exp(j*Pd(i));
Ze(i)=Me(i)*exp(j*Pe(i));
Zf(i)=Mf(i)*exp(j*Pf(i));
Yf(i)=1/(Zo(i));
Yfb(i)=1/(Za(i));
Yfd(i)=1/(Zc(i));
Yff(i)=1/(Ze(i));
rad(i)=g(i)/180;
rad0(i)=h(i)/180;
rada(i)=k(i)/180;
radb(i)=l(i)/180;
cs(i)=cos(pi*rad(i)); % Nilai cos untuk sudut tetha
csn(i)=sin(pi*rad(i)); % Nilai sin untuk sudut tetha
cs1(i)=cos(pi*rad0(i)); % Nilai cos untuk sudut tetha a/b
csn1(i)=sin(pi*rad0(i)); % Nilai sin untuk sudut tetha a/b
cs2(i)=cos(pi*rada(i)); % Nilai cos untuk sudut tetha c/d
csn2(i)=sin(pi*rada(i)); % Nilai sin untuk sudut tetha c/d
csa(i)=cos(pi*radb(i)); % Nilai cos untuk sudut tetha c/d
csna(i)=sin(pi*radb(i)); % Nilai sin untuk sudut tetha c/d
ZY(i)=Zs(i)*Yf(i); % Inisialisasi doang bt nilai alpha & betha
absZY(i)=abs(ZY(i)); % Nilai absoloute ZY
ZY1(i)=Za(i)*Yfb(i); % Inisialisasi doang bt nilai alpha & betha
25
absZY1(i)=abs(ZY1(i)); % Nilai absoloute ZY 25
ZY2(i)=Zc(i)*Yfd(i); % Inisialisasi doang bt nilai alpha & betha
25
absZY2(i)=abs(ZY2(i)); % Nilai absoloute ZY 25
105
ZY3(i)=Ze(i)*Yff(i); % Inisialisasi doang bt nilai alpha & betha
25
absZY3(i)=abs(ZY3(i)); % Nilai absoloute ZY 25
alph(i)=1/(2*lamda(i))*atanh (((sqrt(absZY(i)))*cs(i))/(1+absZY(i)));
beth(i)=1/(2*lamda(i))*atanh (((sqrt(absZY(i)))*csn(i))/(1-absZY(i)));
alph1(i)=1/(2*lamda(i))*atanh
(((sqrt(absZY1(i)))*cs1(i))/(1+absZY1(i)));
beth1(i)=1/(2*lamda(i))*atanh (((sqrt(absZY1(i)))*csn1(i))/(1-
absZY1(i)));
alph2(i)=1/(2*lamda(i))*atanh
(((sqrt(absZY2(i)))*cs2(i))/(1+absZY2(i)));
beth2(i)=1/(2*lamda(i))*atanh (((sqrt(absZY2(i)))*csn2(i))/(1-
absZY2(i)));
alph3(i)=1/(2*lamda(i))*atanh
(((sqrt(absZY3(i)))*csa(i))/(1+absZY3(i)));
beth3(i)=1/(2*lamda(i))*atanh (((sqrt(absZY3(i)))*csna(i))/(1-
absZY3(i)));
absbeth(i)=abs(beth(i));
bagi(i)=Zs(i)/Yf(i);
e(i)=(Ps(i)-Po(i))/2;
rad1(i)=e(i)/180;
absbagi(i)=abs(bagi(i));
ome(i)=2*pi*Fs(i); % Nilai Omega
absbeth1(i)=abs(beth1(i));
bagi1(i)=Za(i)/Yfb(i);
f(i)=(Pa(i)-Pb(i))/2;
rad2(i)=f(i)/180;
absbagi1(i)=abs(bagi1(i));
absbeth2(i)=abs(beth2(i));
bagi2(i)=Zc(i)/Yfd(i);
f1(i)=(Pc(i)-Pd(i))/2;
rad3(i)=f1(i)/180;
106
absbagi2(i)=abs(bagi2(i));
absbeth3(i)=abs(beth3(i));
bagi3(i)=Ze(i)/Yff(i);
f2(i)=(Pe(i)-Pf(i))/2;
rad4(i)=f2(i)/180;
absbagi3(i)=abs(bagi3(i));
Lo(i)=(1/ome(i))*(sqrt(absbagi(i)))*(alph(i)*sin(pi*rad1(i))-
beth(i)*cos(pi*rad1(i)));
Lo1(i)=(1/ome(i))*(sqrt(absbagi1(i)))*(alph1(i)*sin(pi*rad2(i))-
beth1(i)*cos(pi*rad2(i)));
Lo2(i)=(1/ome(i))*(sqrt(absbagi2(i)))*(alph2(i)*sin(pi*rad3(i))-
beth2(i)*cos(pi*rad3(i)));
Lo3(i)=(1/ome(i))*(sqrt(absbagi3(i)))*(alph3(i)*sin(pi*rad4(i))-
beth3(i)*cos(pi*rad4(i)));
end
%subplot(2,2,1);
plot(Fs,abs(Lo),'blue',Fa,abs(Lo1),'red',Fc,abs(Lo2),'green',Fe,abs(Lo3),'bla
ck');
xlabel('Frekuensi (Hz)','FontSize',12);
ylabel('\it Lo (Induktansi) H/m','FontSize',12);
title('\it{Nilai Lo Terhadap Frekuensi}','FontSize',16)
grid on;
%subplot(2,2,2);
%plot(Fa,abs(Lo1));
%xlabel('Frekuensi');
%ylabel('Lo1(Induktansi)');
%title('\it{Nilai Lo Terhadap Frekuensi}','FontSize',16)
%grid on;
Melihat grafik parameter kapasitansi terhadap perubahan panjang
kabel UTP
s=load('azs110_30.txt');
Fs=s(:,1);
Ms=s(:,2);
Ps=s(:,3);
sa=load('azs110_20.txt');
107
Fa=sa(:,1);
Ma=sa(:,2);
Pa=sa(:,3);
sc=load('azs110_10.txt');
Fc=sc(:,1);
Mc=sc(:,2);
Pc=sc(:,3);
se=load('azs110_4.txt');
Fe=se(:,1);
Me=se(:,2);
Pe=se(:,3);
t=load('azs110_30.txt');
Fo=t(:,1);
Mo=t(:,2);
Po=t(:,3);
tb=load('azs110_20.txt');
Fb=tb(:,1);
Mb=tb(:,2);
Pb=tb(:,3);
td=load('azs110_10.txt');
Fd=td(:,1);
Md=td(:,2);
Pd=td(:,3);
tf=load('azs110_4.txt');
Ff=tf(:,1);
Mf=tf(:,2);
Pf=tf(:,3);
n=length(Fs);
propagasi=300000000;
n=length(Fs);
propagasi=300000000;
for i=1:n
g(i)=(Ps(i)+Po(i))/2;
h(i)=(Pa(i)+Pb(i))/2;
k(i)=(Pc(i)+Pd(i))/2;
l(i)=(Pe(i)+Pf(i))/2;
108
lamda(i)=propagasi/Fs(i);
Zo(i)=Mo(i)*exp(j*Po(i));
Zs(i)=Ms(i)*exp(j*Ps(i));
Za(i)=Ma(i)*exp(j*Pa(i));
Zb(i)=Mb(i)*exp(j*Pb(i));
Zc(i)=Mc(i)*exp(j*Pc(i));
Zd(i)=Md(i)*exp(j*Pd(i));
Ze(i)=Me(i)*exp(j*Pe(i));
Zf(i)=Mf(i)*exp(j*Pf(i));
Yf(i)=1/(Zo(i));
Yfb(i)=1/(Zb(i));
Yfd(i)=1/(Zd(i));
Yff(i)=1/(Zf(i)); % Admitansi pada panjang kabel 4meter UTP
rad(i)=g(i)/180;
rad1(i)=h(i)/180;
rada(i)=k(i)/180;
radb(i)=l(i)/180;
cs(i)=cos(pi*rad(i)); % Nilai cos untuk sudut tetha
csn(i)=sin(pi*rad(i)); % Nilai sin untuk sudut tetha
cs1(i)=cos(pi*rad1(i));
csn1(i)=sin(pi*rad1(i));
cs2(i)=cos(pi*rada(i));
csn2(i)=sin(pi*rada(i));
csa(i)=cos(pi*radb(i));
csna(i)=sin(pi*radb(i));
ZY(i)=Zs(i)*Yf(i); % Inisialisasi doang bt nilai alpha & betha
absZY(i)=abs(ZY(i)); % Nilai absoloute ZY
ZY1(i)=Za(i)*Yfb(i); % Inisialisasi doang bt nilai alpha & betha
absZY1(i)=abs(ZY1(i)); % Nilai absoloute ZY
ZY2(i)=Zc(i)*Yfd(i); % Inisialisasi doang bt nilai alpha & betha
109
absZY2(i)=abs(ZY2(i)); % Nilai absoloute ZY
ZY3(i)=Ze(i)*Yff(i); % Inisialisasi doang bt nilai alpha & betha
absZY3(i)=abs(ZY3(i)); % Nilai absoloute ZY
alph(i)=1/(2*lamda(i))*atanh(((sqrt(absZY(i)))*cs(i))/(1+absZY(i)));
beth(i)=1/(2*lamda(i))*atanh(((sqrt(absZY(i)))*csn(i))/(1-absZY(i)));
alph1(i)=1/(2*lamda(i))*atanh(((sqrt(absZY1(i)))*cs1(i))/(1+absZY1(i)));
beth1(i)=1/(2*lamda(i))*atanh(((sqrt(absZY1(i)))*csn1(i))/(1-
absZY1(i)));
alph2(i)=1/(2*lamda(i))*atanh(((sqrt(absZY2(i)))*cs2(i))/(1+absZY2(i)));
beth2(i)=1/(2*lamda(i))*atanh(((sqrt(absZY2(i)))*csn2(i))/(1-
absZY2(i)));
alph3(i)=1/(2*lamda(i))*atanh(((sqrt(absZY3(i)))*cs1(i))/(1+absZY3(i)));
beth3(i)=1/(2*lamda(i))*atanh(((sqrt(absZY3(i)))*csn1(i))/(1-
absZY3(i)));
e(i)=(Ps(i)-Po(i))/2;
rad2(i)=e(i)/180;
q(i)=(Pa(i)-Pb(i))/2;
rad3(i)=q(i)/180;
r(i)=(Pa(i)-Pb(i))/2;
rad4(i)=r(i)/180;
s(i)=(Pe(i)-Pf(i))/2;
rad5(i)=s(i)/180;
ome(i)=2*pi*Fs(i);
%Yf(i)=1/(Zo(i));
%Yfb(i)=1/(Zb(i));
%Yfd(i)=1/(Zd(i));
%Yff(i)=1/(Zf(i));
bagi(i)=Yf(i)/Zs(i); % Nilai Yf/Zs
bagi1(i)=Yfb(i)/Zb(i);
bagi2(i)=Yfd(i)/Zd(i);
110
bagi3(i)=Yff(i)/Zf(i);
absbagi(i)=abs(bagi(i)); % Absolute Yf/Zs
absbagi1(i)=abs(bagi1(i));
absbagi2(i)=abs(bagi2(i));
absbagi3(i)=abs(bagi3(i));
Co(i)=(1/ome(i))*(sqrt(absbagi(i)))*(alph(i)*sin(pi*rad2(i))+beth(i)*cos(pi
*rad2(i)));
Co1(i)=(1/ome(i))*(sqrt(absbagi1(i)))*(alph1(i)*sin(pi*rad3(i))+beth1(i)*c
os(pi*rad3(i)));
Co2(i)=(1/ome(i))*(sqrt(absbagi2(i)))*(alph2(i)*sin(pi*rad4(i))+beth2(i)*c
os(pi*rad4(i)));
Co3(i)=(1/ome(i))*(sqrt(absbagi3(i)))*(alph3(i)*sin(pi*rad5(i))+beth3(i)*c
os(pi*rad5(i)));
end
plot(Fs,abs(Co),Fs,abs(Co1),Fs,abs(Co2),Fs,abs(Co3));
xlabel('Frekuensi');
ylabel('Co(Capasitansi)');
title('\it{Nilai Co Terhadap Frekuensi}','FontSize',16)
grid on;
Melihat grafik parameter kapasitansi terhadap perubahan panjang
kabel UTP
Hanya mengganti persamaannya dengan yang ini :
e(i)=(Ps(i)-Po(i))/2;
rad2(i)=e(i)/180;
q(i)=(Pa(i)-Pb(i))/2;
rad3(i)=q(i)/180;
r(i)=(Pa(i)-Pb(i))/2;
rad4(i)=r(i)/180;
s(i)=(Pe(i)-Pf(i))/2;
rad5(i)=s(i)/180;
111
Go(i)=(sqrt(absbagi(i)))*(-
(alph(i)*cos(pi*rad2(i)))+(beth(i)*sin(pi*rad2(i))));
Go1(i)=(sqrt(absbagi1(i)))*(-
(alph1(i)*cos(pi*rad3(i)))+(beth1(i)*sin(pi*rad3(i))));
Go2(i)=(sqrt(absbagi2(i)))*(-
(alph2(i)*cos(pi*rad4(i)))+(beth2(i)*sin(pi*rad4(i))));
Go3(i)=(sqrt(absbagi3(i)))*(-
(alph3(i)*cos(pi*rad5(i)))+(beth3(i)*sin(pi*rad5(i))));
end
plot(Fs,Go,'blue',Fa,Go1,'red',Fa,Go2,'black',Fa,Go3,'green');
xlabel('Frekuensi');
ylabel('Go(Konduktansi)');
title('\it{Nilai Go Terhadap Frekuensi}','FontSize',16)
grid on;
Melihat grafik parameter saluran transmisi terhadap frekuensi kabel UTP.
s=load('azs110_4.txt');
Fs=s(:,1);
Ms=s(:,2);
Ps=s(:,3);
t=load('azf110_4.txt');
Fo=t(:,1);
Mo=t(:,2);
Po=t(:,3);
n=length(Fs);
propagasi=300000000;
for i=1:n
g(i)=(Ps(i)+Po(i))/2;
lamda(i)=propagasi/Fs(i);
%Zs(i)=absZs(i);
% Zs(i)=Ms(i);
Zo(i)=Mo(i)*exp(j*Po(i));
Zs(i)=Ms(i)*exp(j*Ps(i));
Yf(i)=1/(Zo(i));
rad(i)=g(i)/180;
cs(i)=cos(pi*rad(i)); % Nilai cos untuk sudut tetha
csn(i)=sin(pi*rad(i)); % Nilai sin untuk sudut tetha
ZY(i)=Zs(i)*Yf(i); % Inisialisasi doang bt nilai alpha & betha
absZY(i)=abs(ZY(i)); % Nilai absoloute ZY
112
alph(i)=1/(2*lamda(i))*atanh (((sqrt(absZY(i)))*cs(i))/(1+absZY(i)));
beth(i)=1/(2*lamda(i))*atanh (((sqrt(absZY(i)))*csn(i))/(1-absZY(i)));
absbeth(i)=abs(beth(i));
bagi1(i)=Zs(i)/Yf(i);
absbagi1(i)=abs(bagi1(i));
e(i)=(Ps(i)-Po(i))/2;
rad1(i)=e(i)/180; % Pengali untuk permitivitas
Ro(i)=(sqrt(absbagi1(i)))*(alph(i)*cos(pi*rad1(i))-
beth(i)*sin(pi*rad1(i)));
ome(i)=2*pi*Fs(i); % Nilai Omega
Lo(i)=(1/ome(i))*(sqrt(absbagi1(i)))*(alph(i)*sin(pi*rad1(i))-
beth(i)*cos(pi*rad1(i)));
bagi2(i)=Yf(i)/Zs(i); % Nilai Yf/Zs
absbagi2(i)=abs(bagi2(i)); % Absolute Yf/Zs
Go(i)=(sqrt(absbagi2(i)))*(-
(alph(i)*cos(pi*rad1(i)))+(beth(i)*sin(pi*rad1(i))));
Co(i)=(1/ome(i))*(sqrt(absbagi2(i)))*(alph(i)*sin(pi*rad1(i))+beth(i)*cos(p
i*rad1(i)));
end
%dikeluarkan hasil plot masing2 fungsi frekuensinya dg hasil Ro, Lo,
Co,Go
subplot(2,2,1);
plot(Fs,Ro);
xlabel('Frekuensi');
ylabel('Ro(Resistansi)');
title('\it{Nilai Ro Terhadap Frekuensi}','FontSize',16)
grid on;
subplot(2,2,2);
plot(Fs,abs(Lo));
xlabel('Frekuensi');
ylabel('Lo(Induktansi)');
title('\it{Nilai Lo Terhadap Frekuensi}','FontSize',16)
grid on;
subplot(2,2,3);
plot(Fs,Go);
xlabel('Frekuensi');
ylabel('Go(Konduktansi)');
title('\it{Nilai Go Terhadap Frekuensi}','FontSize',16)
113
grid on;
subplot(2,2,4);
plot(Fs,abs(Co));
xlabel('Frekuensi');
ylabel('Co(Capasitansi)');
title('\it{Nilai Co Terhadap Frekuensi}','FontSize',16)
grid on;
%'String',{ 'plot(Fs,Ro)'; 'plot(Fs,Lo)'; 'plot(Fs,Go)'; 'plot(Fs,Co)';
%'plot(Fs,alpha)'; 'plot(Fs,betha)' },...
114
PROFILE PENULIS
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiyn, penuliis lahir disebuah desa
yang berada jauh disebelah timur pulau Jawa, penulis merantau kepulau
Jawa untuk belajar, khususnya menyangkut ilmu-ilmu teknologi di
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS - ITS). Dan dengan
penuh keikhlasan serta kesiapan dalam menempuh pendidikan dikota
Surabaya tercinta.
Nama : Achmad Musa al-Kaff
Tempat/Tanggal Lahir : Mataram, 17 – Maret – 1985.
Alamat Asal : Ampenan, Mataram – NTB
Telepon/HP : +62 31 60253112
Alamat Surabaya : Ampel Maghfur, 06
Hobi : Doing something interest
Cita-cita : Pengusaha
Email : ms_alkaff@yahoo.com
Pesan dan Kesan:
“Lindungilah keimanan Anda dengan sedekah; jaga kekayaan
Anda dengan membayarkan bagian Allah, dan jauhilah gelombang
bencana dengan berdoa. Terkadang kita (manusia) tidak lebih mengerti
dari pada Allah swt tentang urusan kita sendiri, maka serahkanlah
kepada Nya, dengan usaha yang maksimal.”

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->