P. 1
Hubungan Antara Panjang Tungkai, Kekuatan Otot Kaki Dengan Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok

Hubungan Antara Panjang Tungkai, Kekuatan Otot Kaki Dengan Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok

|Views: 5,339|Likes:
Published by Beny_Madiun
HUBUNGAN ANTARA PANJANG TUNGKAI, KEKUATAN OTOT KAKI DENGAN PRESTASI LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA KELAS V DAN VI SDN NGUJUNG 01 KECAMATAN MAOSPATI KABUPATEN MAGETAN TAHUN PELAJARAN 2006/2007

SKRIPSI

Oleh BAMBANG SANTOSO NIM. 215263251240

FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN IKIP BUDI UTOMO MALANG TAHUN 2007
14

15

HUBUNGAN ANTARA PANJANG TUNGKAI, KEKUATAN OTOT KAKI DENGAN PRESTASI LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA KELAS V DAN VI DI SDN NGU
HUBUNGAN ANTARA PANJANG TUNGKAI, KEKUATAN OTOT KAKI DENGAN PRESTASI LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA KELAS V DAN VI SDN NGUJUNG 01 KECAMATAN MAOSPATI KABUPATEN MAGETAN TAHUN PELAJARAN 2006/2007

SKRIPSI

Oleh BAMBANG SANTOSO NIM. 215263251240

FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN IKIP BUDI UTOMO MALANG TAHUN 2007
14

15

HUBUNGAN ANTARA PANJANG TUNGKAI, KEKUATAN OTOT KAKI DENGAN PRESTASI LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA KELAS V DAN VI DI SDN NGU

More info:

Published by: Beny_Madiun on May 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/02/2013

pdf

text

original

Sections

1. Bagi Peneliti

a. Mendapatkan pengalamatan yang praktis dan pengetahuan dalam

melaksanakan penelitian.

b. Sebagai pertimbangan untuk penelitian berikutnya.

c. Sebagai bahan penyusunan skripsi

d. Ikut mengembangkan olahraga atletik, khususnya lompat jauh gaya

jongkok.

2. Bagi Lembaga

a. Hasil penelitian dapat dijadikan sumber informasi dan bahan kepustakaan

apabila mengadakan penelitian sejenis.

42

b. Dapat dijadikan pedoman dan bahan pertimbangan dalam melakukan

penelitian sejenis.

3. Bagi Guru Pendidikan Jasmani

a. Membantu memecahkan masalah yang dihadapi siswanya/atletnya.

b. Membantu mendeteksi lebih dini kemampuan skill dan cabang olahraga

yang ditekuni para peserta didik dan calon atlitnya.

F. Asumsi

Dalam rangka penelitian ini pelaksanaannya berpijak pada asumsi sebagai

berikut :

1. Siswa yang dijadikan sebagai subjek penelitian telah mendapatkan materi baik

teori maupun praktek olahraga lompat jauh gaya jongkok sesuai dengan

kurikulum Pendidikan Jasmani untuk Sekolah Dasar tahun 2004.

2. Sarana dan prasarana yang digunakan untuk penelitian juga memenuhi

persyaratan.

G. Ruang Lingkup Penelitian

1. Variabel Penelitian

Untuk menghindari permasalahan yang luas dan timbul pada

penelitian ini, maka di bawah ini peneliti membatasi dari ruang lingkup

penelitian dengan harapan tidak menyimpang dari apa yang telah peneliti

tetapkan. Pada penelitian ini variabel yang kami teliti adalah :

43

a. Variabel bebas

: Panjang tungkai, kekuatan otot tungkai

b. Variabel terikat

: Prestasi lompat jauh gaya jongkok

Tabel 1

Konsep Variabel Indikator Instrument

Konsep

Variabel

Indikator

Instrument

Hubungan

antara Panjang

Tungkai dan

Kekuatan Otot

Kami dengan

Prestasi Lompat

Jauh Gaya

Jongkok pada

Siswa Putra

Kelas V dan VI

SDN Ngujung

01 Kecamatan

Maospati

Kabupaten

Magetan Tahun

Pelajaran

2007/2008

Variabel bebas:

Panjang tungkai Hasil yang

dicapai dengan

satuan cm

Pengukuran

Kekuatan otot

tungkai

Hasil yang

dicapai dengan

vertikal jump

sebanyak 3 kali

lompatan

Test vertikal

jump

Variabel terikat

Prestasi lompat

jauh gaya

jongkok

Hasil yang

dicapai

Test lompat

jauh

44

2. Batasan Operasional

Sesuai dengan judul yang diangkat dalam penelitian ini, maka

pembatasan istilah-istilah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Hubungan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya sangkut paut.

Jadi hubungan adalah sangkut paut atau keterkaitan antara panjang tungkai

dan kekuatan otot tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok.

b. Panjang tungkai adalah diukur dari mulai titik tempat pijakan kaki/telapak

kaki sampai dengan pangkal paha.

c. Kekuatan otot tungkai dengan test vertikal jump yang bertujuan untuk

mengetaui kemampuan sebuah otot atau segerombolan otot yang ada pada

tungkai dalam mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi dalam

satu gerakan utuh yang diberikannya.

d. Prestasi lompat jauh gaya jongkok adalah hasil yang telah dicapai dari

hasil tes serangkaian gerakan lompat jauh yang terdiri dari start (awalan),

tumpuan, saat badan di udara dan melakukan pendaratan yang sesuai

dengan peraturan yang berlaku.

45

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditentukan, yaitu untuk

mengetahui hubungan antara panjang tungkai dan Kekuatan Otot tungkai dengan

prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01,

Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan tahun ajaran 2007/2008, maka perlu

adanya tinjauan pustaka yang akan digunakan sebagai landasan berfikir dalam

penelitian ini. Oleh karena itu dalam uraian ini akan dijelaskan tentang :

A. Gerak

B. Panjang Tungkai

C. Kekuatan Otot tungkai

D. Vertical Jump dan Kekuatan Otot tungkai

E. Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok

A. Gerak

Dalam setiap kegiatan olahraga, gerak merupakan unsur yang sangat

penting. Gerak dalam olahraga bisa berupa gerak anggota badan itu sendiri atau

gerak suatu benda yang sengaja digerakkan oleh anggota badan itu sendiri.

Gerakan dalam olahraga teIjadi oleh adanya perubahan sikap badan yang

disebabkan oleh pembatalan keseimbangan. "Keseimbangan adalah suatu keadaan

tenang dan tidak bergerak dari suatu benda. Gerak dan kaitannya dengan

46

keseimbangan, terdapat hubungan yang erat sekali. Maka sebagai seorang pelatih

atau guru olahraga hendaknya memahami dan mengerti azas-azas yang mengatur

hubungan antara gerak dan keseimbangan. (Depdikbud, 1983 : 13).

Untuk mengembangkan suatu gerakan dari setiap gerakan pada setiap

cabang olahraga, seorang guru olahraga, Pembina, atau pelatih hendaknya

mengetahui sebab-sebab suatu gerakan dan mengetahui bagaimana gerak tersebut

seharusnya dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip yang benar. Dengan bekal

pengetahuan ini maka akan lebih mudah dalam mengajarkan suatu tehnik

gerakan. Dengan gerakan yang benar, yang didemontrasikan oleh pelatih atau

guru olahraga, akan menjadikan siswa atau atlit lebih mudah dalam mempelajari

dan memahami gerak tersebut, sehingga lebih mudah untuk mencapai prestasi

sesuai dengan apa yang diharapkan. (Depdikbud, 1983 : 13).

Pada dasarnya ada dua jenis gerak yaitu :

1. Gerak Lurus (Linier Mation)

"Gerak lurus adalah suatu gerak dalam garis lurus dari satu titik ketitik

yang lain. Ciri-ciri dari gerak lurus adalah semua bagian dari benda bergerak

dalam jarak yang sama dan dengan kecepatan sama".

Dalam suatu perlombaan lempar, lompat dan lari, jarang kita temukan

gerak lurus murui, tetapi gerak lurus ini tidak dapat begitu saja diabaikan

peranannya dalam olahraga. Contoh yang sederhana adalah gerak pada

seorang pelari, yaitu gerak badan menuju ke garis finish.

47

2. Gerak berputar

Gerak berputar merupakan gerak dasar sebagai penggerak dalam

semua gerakan manusia. Tubuh manusia dapat membuat gerak lurus dan

gerak berputar sekaligus.

Gerak berputar adalah gerak sebuah benda mengelilingi sebuah pusat

putaran. Perbedaannya dengan gerak lurus adalah pada gerak berputar, suatu

bagian dari obyek sumbunya tetap tidak berubah terhadap bagian yang lain,

sedangkan pada bagian gerak lurus setiap bagian dari obyek bergerak serentak

pada jarak yang sama, bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain.

Prestasi pada suatu cabang atletik selalu memadukan kedua gerakan

ini. Demikian halnya dengan suatu gerakan lompat jauh gaya jongkok selalu

memadukan gerakan lurus dan gerakan berputar pada saat mengambil awalan

dan saat mengambil tumpuan. Sedang gerak berputar lainnya adalah gerak

ayunan lengan pada saat badan sedang melayang di udara.

B. Panjang Tungkai

Perkembangan materi tehnik prasarana pertandingan, seperti dengan

ditemukannya lintasan sintetis : mondo, rekortan, tartan dan akust, menyebabkan

perkembangan pesat pada tehnik lompat tinggi dan juga mengakibatkan kemajuan

prestasi.

Pada garis besaruya perkembangan tehnik lompat jauh memang terarah

pada perbaikan awalan dan tolakan, dengan pengertian bagaimana merubah

gerakan dari kecepatan horizontal dan membelokkan membentuk gerakan menuju

48

ke gerakan melompat ke depan. Dewasa ini para atlit berusaha melakukan awalan

dengan kecepatan yang lebih besar, mengatur struktur awalan terutama pada tiga

langkah terakhir sebelum lepas landas.

Selain perbaikan pada awalan dan tolakan, juga arah perbaikan ditujukan

kepada cara melayang di udara, dengan pengertian memanfaatkan gerak parabola

pada titik berat badan melalui gerakan-gerakan di udara secara maksimal.

Faktor-faktor prestasi lompat jauh.

Faktor-faktor yang secara langsung menunjang prestasi lompat jauh

adalah :

1. Tinggi badan/panjang tungkai (hi)

2. Power dan kekuatan maksimal tungkai (hz)

3. Efisiensi tehnik lompatan kesempurnaan tehnik (HL).

Diusahakan agar pemindahan kecepatan/momentum horizontal ke

momentum vertikal dapat dilakukan lebih baik dengan menyempurnakan gerak

pengalihan momentum-momentum tersebut. Selain itu berusaha memanfaatkan

elemen-elemen ayunan secara maksimal. Hal itu terlihat dengan adanya pelompat

tinggi yang menggunakan ayunan lengan ganda pada waktu lepas landas.

49

Tinggi badan/panjang tungkai sebagai faktor prestasi.

Dari data yang tercatat, rata-rata tinggi badan peserta lompat jauh untuk

putra ialah 1,86 meter dan putri 1,70 meter. Sedangkan enam pelompat dengan

urutan teratas mempunyai tinggi badan rata-rata 1,90 meter, putrid 1,76 meter.

Demikian data yang dikumpulkan oleh Bauersfeld dan Schoeter kepada para

peserta lompat jauh yang turut serta dalam pesta Olimpiade di Mexico City 1968,

Muenchen 1972 dan Montreal 1976.

Power dan kekuatan maksimal tungkai sebagai faktor prestasi.

Kalau power pada tungkai itu besar dan disertai koordinasi yang baik

untuk menghimpun semua elemen ayunan secara menguntungkan, maka titik

berat badan (center of gravity atau koerperschwerpunkt) dapat diangkat setinggi

mungkin (h2) kalau kekuatan maksimal tungkai juga besar, maka kecepatan lepas

landas secara vertikal juga besar. Kecepatan lepas landas vertikal yang besar juga

akan mengantar titik berat badan lebih tinggi ke atas (h2).

Anggota badan yang paling dominan dalam menunjang olahraga adalah

tungkai, karena tungkai merupakan alat gerak tubuh bagian bawah. Yang

dimaksud panjang tungkai adalah : "Jarak antara lantai dengan coxae yang diukur

pada saat testee berdiri tegak". (Moeloek dan Tjokronegoro, 1976: 72).

Tungkai selain bagian menumpu dan penggerak anggota bawah

pengaruhnya besar pada prestasi lompat jauh. Dengan demikian orang yang

mempunyai tungkai lebih panjang diharapkan mampu melompat lebih jauh

dibanding mereka yang tungkai kakinya lebih pendek karena jangkauan

melangkah sudah barang tentu lebih panjang. Dilihat dari anatomi, tungkai

50

penggerak tubuh bagian bawah (extremitas inferior) terdiri dari :

1 Tulang Coxae

- tulang pangkal paha.

1 Tulang Femur

- tulang paha

1 Tibia

- tulang kering

1 Fibula

- tulang betis

1 Patela

- tulang tempurung lutut

1 Tarsal

- tulang pangkal kaki

5 Metatarsal

- tulang telapak kaki

14 Palank

- tulang ruas jari kaki

(Evelyn C Pearce, 1988 : 75).

Dalam hal ini tulang mempunyai peranan yang besar pada kaki walaupun

yang menggerakkan adalah otot. Namun tulang berfungsi sebagai pengungkit.

Jadi lebih jelasnya prestasi lompat jauh gaya jongkok akan berhasil baik jika

didukung oleh tulang otot yang kuat. Berdasar tehnik lompat jauh, maka gerak

bagian bawah harus kuat karena harus menahan berat badan. Akan lebih efisien

apabila pelompat jauh mempunyai berat badan yang ringan sehingga beban

tungkai di sini tidak terlalu berat.

Tenaga yang menahan beban badan dapat digunakan kaki untuk

mempercepat langkah, sehingga tenaga yang tersedia sebagian besar untuk

mempercepat konteraksi otot kaki untuk melangkah. Untuk melatih tehnik

tersebut harus dianalisa dari gerakan itu dengan ilmu "Biologi mekanika". Yaitu

analisa tehnik dalam olahraga atas dasar hukum mekanika, untuk

mengembangkan metode latihan dan pengajaran serta penelitian untuk

51

meningkatkan hasil belajar dan prestasi olahraga.

C. Kekuatan Otot Tungkai

Kekuatan menurut Suharno H.P adalah kemampuan otot untuk mengatasi

tekanan atau beban dalam menjalankan aktifitas untuk mencapai prestasi

maksimal. Hal ini berarti kemampuan untuk mengatasi tahanan atau beban dalam

menjalankan aktifitas, sangat ditentukan oleh seberapa besar kekuatan otot.

Semakin besar kekuatan otot akan semakin besar dan ringan kerja otot dalam

mengatasi tahanan dan beban, semakin kurang kekuatan otot akan semakin kecil

kemampuan otot dalam mengatasi tahanan dan beban.

Dalam setiap olahraga, kekuatan merupakan unsur yang sangat penting

untuk dapat mempertinggi prestasi. Tanpa ada kekuatan yang maksimal tidak

mungkin akan dapat mencapai prestasi yang baik. Seperti yang dikemukakan oleh

Suharno H.P sebagai berikut :

Strength dapat digunakan untuk mengatasi beban berat, gerakan meledak
dalam suatu irama serta kekuatan yang tinggi dalam waktu yang lama.
Berdasarkan kegunannya, strength dapat dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu:
- Maksimum strength adalah kekuatan otot dalam kontraksi maksimal

pula.

- Explosif power adalah kemampuan otot atau segerombol otot untuk
mengatasi tahanan atau beban dengan kecepatan tinggi dalam suatu
gerakan.
- Power endurance adalah kemampuan tahan lamanya kekukatan otot
untuk melawan tahanan atau beban yang tinggi intensitasnya. (Suharno
HP, 1987: 81)

Dari pengertian di atas kita bisa menganalisa gerakan lompat jauh adalah

gerakan explosive power. Dalam lompat jauh kekuatan otot akan sangat

berpengaruh pada kemampuan seseorang di dalam mencapai prestasi yang

52

maksimal. Lebih lanjut Tamsir Riyadi mengatakan :

“Sedangkan mengenai unsur-unsur yang berpengaruh terhadap kemampuan

seseorang di dalam melakukan lompat jauh adalah : daya ledak, kecepatan,

kekuatan, kelincahan, kelenturan, koordinasi, keseimbangan dan lain-lain" .

(Riyadi T, 1985 : 36).

Dari uraian di atas jelaslah bahwa unsur Kekuatan Otot tungkai

mempunyai peranan yang besar terhadap pencapaian prestasi lompat jauh. Namun

perlu dimengerti bahwa kekuatan otot yang digunakan untuk gerakan lompat jauh

berupa kekuatan explosif power, dengan mengerahkan energi untuk menghasilkan

suatu ledakan usaha.

Seorang pakar ilmu yang bemama Dangsina Moeloek mengatakan bahwa

"Kekuatan atau daya dipengaruhi oleh kekuatan dan kecepatan kontraksi otot.

Lebih lanjut dikatakan bahwa karena kekuatan otot dipengaruhi kekuatan explosif

otot" (Moeloek D, 1984 : 29)

Kemampuan kerja otot tergantung pada pengerahan secara sadar sebagian besar

unit otot dan volume otot, sedangkan kerja otot secara explosif ditentukan oleh

hubungan antara otot dan sistem syaraf.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi gerak explosif adalah :

1. Kekuatan otot

2. Kecepatan kontraksi otot

3. Volume otot

4. Kerja sistem syaraf.

53

D. Vertical Jump dan Kekuatan Otot Tungkai

Dalam membina beberapa cabang olahraga sering kali kita menjumpai

seorang pelatih, pembina maupun guru olahraga menggunakan vertical jump

untuk meningkatkan kondisi fisik, meningkatkan Kekuatan Otot tungkai, dengan

harapan agar kemampuan dan kondisi fisik para atlitnya tetap terjaga.

Salah satu keuntungan dari vertical jump adalah kita tidak memerlukan

alat sebagai sarana untuk membebani tubuh, sebab tubuh kita sendiri akan

berfungsi sebagai beban. Apabila aktifitas ini kita lakukan dengan teratur

berdasarkan tehnik yang benar, kita akan bisa merasakan peningkatan Kekuatan

Otot tungkai, terutama bagian otot paha. Vertical jump merupakan bentuk

aktifitas fisik yang harus dilakukan secara berkesinambungan, apabila seorang

atlit lompat jauh ingin mendapatkan prestasi yang maksimal. Oleh sebab itu, perlu

diketahui dan dipahami semua rangkaian gerakan vertical jump supaya kita

mengerti dan bisa menyimpulkan, mengapa latihan vertical jump merupakan jenis

latihan yang sangat baik untuk mengingkatkan Kekuatan Otot tungkai". (Sujoto,

1995 : 85).

Berbicara mengenai kekuatan otot untuk melompat M. Sujoto menulis :

Aktivitas pembebanan terhadap otot kaki mempunyai pengaruh terhadap
hasil yang dicapai pada kemampuan gerak lain seperti dalam
pengembangan daya lompat pada kaki, dan juga terhadap tleksibilitas pada
otot dan persendian. Jenis latihan, jumlah set, dan banyak ulangan serta
frekuensi latihan, adalah cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan
melompat. (Sujoto, 1995 : 86).

Dari uraian di atas peneliti berkesimpulan bahwa aktivitas untuk

meningkatkan Kekuatan Otot tungkai dengan melakukan vertical jump, akan

54

mampu meningkatkan kemampuan kondisi fisik yang diperlukan untuk mencapai

prestasi maksimal dalam lompat jauh.

Gerakan vertical jump adalah berdiri tegak dengan kaki rapat dekat

dengan tembok, yang di atasnya terdapat papan ukuran/metris dicat pada papan

tulis.

Dalam hal ini yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana arah

kerja tenaga dapat digunakan agar pencapaian prestasi dapat diraih dengan baik,

karena besaruya tenaga "power" berbanding dengan kekuatan dan kecepatan

latihan.

Pada waktu melakukan vertical jump, perlu diperhatikan cara-cara

melakukan yang benar. Walaupun sampai semuanya telah dianggap bisa

melakukan vertical jump. Namun penelitian menyajikan cara-cara melakukan

vertical jump yang baik dan efisien, seperti di bawah ini :

1. Berdirilah secara wajar dengan kaki rapat dekat tembok lurus yang di atasnya

terdapat papan ukuran/metris dicat pada papan tulis.

2. Dengan tumit tetap di tanah, angkat lengan ke atas dan beri tanda pada

ketinggian yang dicapai di papan metris tersebut (bekas jari-jari yang

tertinggi).

3. Bengkokkan kaki/lutut setengah ditekuk, kemudian melompatlah ke atas dan

buatlah tanda setinggi-tingginya pada papan metris tersebut.

4. Usahakan pada setiap melompat jari tangan dapat menyentuh ketinggian yang

maksimal.

5. Ulangi gerakan tersebut masing-masing anak mendapat kesempatan 3 kali

55

lompatan.

Gerakan vertical jump akan memberikan manfaat kepada kita apabila

dilaksanakan dengan sikap atau posisi yang benar. Sering kita menjumpai

seseorang melakukan gerakan ini dengan posisi yang terlalu rendah sehingga

kurang memberikan manfaat terhadap peningkatan Kekuatan Otot tungkai,

khususnya kekuatan yang bersifat explosif power.

Gerakan yang dilakukan dengan benar akan memberi pengaruh terhadap

peningkatan kekuatan otot paha dan otot pinggang.

E. Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok

Pengertian prestasi adalah "hasil yang telah dicapai". Sedangkan

pengertian lompat adalah “gerakan melompat ke depan, ke atas, ke bawah

dengan cepat”. Dalam lompat jauh faktor penting yang akan dijadikan perhatian

adalah gerakan saat melompat dengan didahului dengan awalan lari kearah depan,

dilanjutkan dengan mengubah kecepatan kearah depan atas. Dalam hal ini

Rorimpanday mengatakan :

“Kecepatan yang diperoleh dalam awalan harus dialihkan seefektif-efektifnya
kepada lompatan dari kecepatan ke muka kepada kecepatan ke muka atas.
Tumpuanlah yang menjadi impuls gerak yang sebenaruya, yang menyebabkan
peralihan itu". (Rorimpanday, F.G.E, 1960: 123).

Seorang atlit akan berprestasi maksimal, apabila faktor-faktor pendukung

ketercapaian prestasi mendapat perhatian yang serius. Faktor-faktor tersebut

menurut A. Anwar Pasau adalah :

1. Aspek biologis, terdiri dari :
1.1. Potensi/kemampuan dasar tubuh (fundamental motor skill).
1.2. Fungsi organ tubuh.

56

1.3. Struktur dan poster tubuh.
1.4. Gizi (sebagai penunjang aspek biologis).
2. Aspek psikologis, terdiri dari :
2.1. Intelektual (kecerdasan).
2.2. Motifasi.
2.3. Kepribadian.
2.4. Koordinasi ketja otot dan syaraf.
3. Aspek lingkungan (enveriment), terdiri dari :
3.1. Sosial : kehidupan sosial ekonomi, interaksi antar pelatih, atlit dan
sesama.
3.2. Prasarana dan sarana yang tersedia.
3.3. Cuaca dan iklim di sekitar.
3.4. Orang tua, keluarga dan masyarakat.
4. Aspek penunjang, terdiri dari :
4.1. Pelatih yang berkualitas tingi.
4.2. Program latihan yang tersusun secara sistematis.
4.3. Penghargaan dari pemerintah dan masyarakat.
4.4. Dana yang memadai.
4.5. Organisasi yang tertib". (Sajoto M, 1995 : 2 sid 5).

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut dan diterapkan dalam

kegiatan yang sesungguhnya akan diperoleh prestasi yang maksimal.

Tinjauan secara teknis pada lompat jauh meliputi 4 bagian pokok, yaitu :

1. Awalan.

2. Tumpuan.

3. Gaya jongkok/melayang.

4. Pendaratan.

1. Awalan

Untuk mencapai lompatan yang benar, maka harus menentukan letak

kaki tumpu, sehingga pada waktu melakukan dari awalan 30-40 m, sudah

melakukan lari dengan kecepatan dan ketepatan pelaksanaan lari semakin

dekat dengan belok lompat sehingga makin cepat. Oleh karena itu unsur

kecepatan dan gerak langkah yang benar di dalam menggunakan awalan ini

57

harus dikuasai benar.

Sebagai akhir awalan pelompat harus memusatkan perhatian pada

balok tumpuan agar tumpuannya dapat tepat.

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang cara melakukan awalan

dalam lompat jauh, adalah:

a. Jarak awalan tergantung dari kemampuan masing-masing atlit. Bagi

pelompat yang dalam jarak relatif pendek sudah mampu mencapai

kecepatan maksimal (full speed) maka jarak awalan cukup dekat/pendek

saja (sekitar 30 - 40 m atau kurang dari itu). Sedangkan bagi atlit yang lain

yang dalam jarak relatif jauh baru mencapai kecepatan maksimal, maka

jarak awalan harus lebih jauh lagi (sekitar 40-50 m, atau lebih jauh dari

itu). Bagi pemula sudah barang tentu jarak awalan lebih pendek dari

ancar-ancar tersebut.

b. Posisi permulaan pada saat berdiri pada titik awalan dapat seperti pada

lompat tinggi (salah satu kaki di depan atau sejajar). Hal ini tergantung

dari kebiasaan dan kemantapan masing-masing atlit.

c. Cara mengambil awalan dari lari pelan semakin dipercepat (sprint).

Kecepatan ini harus dipertahankan. Sampai menjelang bertumpu/menolak.

Langkah-langkah kaki gerakan sprint sebaiknya jangan seperti lari cepat

pada umumnya, tetapi pada awalan lompat jauh gerakan/langkah kaki

harus lebih kuat, mantap dan menghentak (langkah yang dinamis/dinamis

step). Hal itu harus dilakukan dengan maksud agar pada saat

menolak/bertumpu dapat dilakukan dengan kuat dengan kuat dan

58

seeksplosif mungkin.

d. Setelah mencapai kecepatan maksimal, maka kira-kira 3-4 langkah

terakhir sebelum bertumpu (take off) gerakan lari dilepas begitu saja tanpa

mengurangi kecepatan yang telah dicapai sebelumnya (free wheeling).

Pada 3-4 langkah terakhir ini perhatian dan tenaga dicurahkan untuk

melakukan tumpuan pada papan/balok tumpu. Namun ada sementara

pendapat, bahwa "free wheeling" ini tidak harus/perlu dilakukan. Karena

apabila hal itu tidak dilakukan dengan baik dan tepat justru akan

menghambat kecepatan. Oleh sebab itu bagi pemula hal ini belum perlu

dipaksakan.

2. Tolakan/Tumpuan

a. Tolakan dilakukan dengan kaki yang terkuat (misalnya kiri). Bagian

telapak kaki yang untuk bertumpu adalah cenderung pada bagian tumit

terlebih dahulu dan berakhir pada bagian ujung kaki. Sikap akhir kaki kiri

saat menolak harus lurus pada lutut.

b. Sesaat akan bertumpu sikap badan agak condong ke belakang Gangan

berlebihan). Hal ini untuk membantu timbulnya lambungan yang lebih

baik (sekitar 45°).

c. Bertumpu sebaiknya tepat pada papan tumpuan. Asal ujung kaki tidak

melewati/menginjak tepi balok yang terdekat dengan baik di pasir.

d. Saat bertumpu kedua lengan ikut serta diayunkan ke depan-atas.

Pandangan ke depan-atas Gangan melihat ke bawah).

e. Pada kaki ayun (kanan) diangkat cukup tinggi ke depan setinggi pinggul

59

dalam posisi lutut ditekuk. Jadi pada saat mengaayunkan kaki bebas ke

depan jangan dalam posisi lutut dikedangkanldiluruskana terlalu awal.

Karena mengangkat kaki terlalu lurus akan lebih berat dan kurang cepat

dibandingkan dengan mengangkat paha dalam posisi tungkai bawah

dilipat/ditekuk dan sudut tolakan 45°.

3. Sikap Badan Saat di Udara

Gaya ini pada waktu melayang di udara, kaki dalam keadaan berjalan.

Hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

a. Setelah kaki terkuat bertumpu, maka kaki ayun segera diangkat ke depan.

Sewaktu melayang atau menjelang meneapai titik ketinggian maka kaki

ayun segera digerakkan ke belakang dan kaki yang lain diayunkan ke

depan.

b. Setelah meneapai titik tertinggi, maka kaki ayun digerakkan lagi ke depan

sehingga sejajar dengan kaki yang lain. Selanjutnya sewaktu badan mulai

bergerak menurun, badan eondong ke depan kedua lengan diluruskan ke

depan dan pandangan ke arah depan.

4. Pendaratan

Pada waktu akan mendarat berat badan dibawa ke depan, begitu juga

dengan kedua tangan dan mendarat harus dengan kedua kaki bersama-sama

dan berusaha mendarat sejauh mungkin dan sikap badan jongkok.

Walaupun demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

a. Berusaha mempertahankan skap melayang, dan hindarkan gerakan kontra.

b. Pada waktu jatuh lebih baik kaki sejajar dan setengah jongkok kedua

60

tangan lurus ke depan.

c. Untuk menghindari rasa sakit atau cidera, pendaratan sebaiknya dilakukan

dengan kedua belah kaki dan padaa bagian tumit terlebih dahaulu.

d. Sebelum tumit menyentuh pasir, kedua kaki harus benar-benar diluruskan/

dijulurkan ke depan. Usahakan agar jarak antara kedua kaki jangan

terlampau jauh beIjauhan. Karena semakin besar jarak antara kedua kaki

(terlalu lebar/kangkang) berarti akan semakin mengurangi jauhnya

lompatan.

e. Untuk menghindari agar tidakjatuh duduk pada pantat, maka setelah tumit

berpijak di pasir, kedua lutut segera ditekuk dan dibiarkan badan condong

terus jatuh terjerembab/terjerumus ke depan.

f. Sesaat setelah melakukan pendaratan, jangan keluar atau kembali ke

tempat awalan melewati/menginjak daerah pendaratan yang terletak antara

bekas pendaratan dengan papan tumpuan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->