HUBUNGAN ANTARA PANJANG TUNGKAI, KEKUATAN OTOT KAKI DENGAN PRESTASI LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA

KELAS V DAN VI SDN NGUJUNG 01 KECAMATAN MAOSPATI KABUPATEN MAGETAN TAHUN PELAJARAN 2006/2007

SKRIPSI

Oleh BAMBANG SANTOSO NIM. 215263251240

FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN IKIP BUDI UTOMO MALANG TAHUN 2007
14

15

HUBUNGAN ANTARA PANJANG TUNGKAI, KEKUATAN OTOT KAKI DENGAN PRESTASI LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA KELAS V DAN VI DI SDN NGUJUNG I KECAMATAN MAOSPATI KABUPATEN MAGETAN TAHUN PELAJARAN 2007/2008

SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat dalam mencapai gelar Sarjana Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

Oleh BAMBANG SANTOSO NIM. 215263251240

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU EKSAKTA DAN KEOLAHRAGAAN INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN IKIP BUDI UTOMO MALANG

16

TAHUN 2007

17

TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI

Nama NPM Jenis Judul

: Bambang Santoso : 215263251240 : Hubungan antara panjang tungkai, kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V dan V Di SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2007/2008

Skripsi ini telah diperiksa dan disetujui oleh Dosen Pembimbing untuk dipertahankan.

Disetujui, ………… Nopember 2007

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Drs. H. Zainul Arifin, M.Si.

Drs. Subandono, M.Or.

18

Panitia ujian skripsi Fakultas Pendidikan Ilmu Eksakta IKIP Budi Utomo Malang, setelah meneliti dan mengetahui cara penyusunan yang dapat

dipertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan, maka atas nama Panitia Ujian Skripsi Fakultas Pendidikan Ilmu Eksakta IKIP Budi Utomo Malang mengesahkan.

Malang,

Nopember 2007

Panitia Uji Skripsi Ketua,

_____________________ Tim Penguji, 1. Drs. H. Zainul Arifin, M.Si. 1. ..............................................

2. Drs. Budiyanto, M.Kes.

2. ..............................................

3. Drs. H. Mustofa, M.M.

3. .............................................

19

MOTTO

Menurut Ki Hajar Dewantoro bahwa seorang pemimpin itu harus mempunyai tiga prinsip, yaitu : 1. Ing Ngarso Sung Tuladha 2. Ing Madya Mangun Karsa 3. Tut Wuri Handayani Yang artinya : 1. Di depan seorang pemimpin harus dapat menjadi contoh 2. Di tengah-tengah kita membangun 3. Di belakang harus dapat memberikan dorongan atau semangat

20

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya, skripsi ini bisa selesai sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Tujuan penyusunan skripsi ini adalah untuk melatih mahasiswa memecahkan masalah-masalah sesuai dengan profesinya secara ilmiah dan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Pendidikan Ilmu Eksakta Kesehatan dan Rekreasi IKIP Budi Utomo Malang. Penulis menyadari bahwa terselesainya penyusunan skripsi ini berkat bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Drs. Sofyan Aman, S.H., selaku Rektor IKIP BUDI UTOMO MALANG 2. Bapak Drs. Zainal Arifin, M.Si., selaku Dosen Pembimbing I 3. Bapak Drs. Subandono, M.Or., selaku Dosen Pembimbing II 4. Ibu Kasmiati, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SDN Ngujung 01 Kec. Maospati Kabupaten Magetan 5. Bapak-bapak Dosen Program Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP BUDI UTOMO MALANG 6. Rekan-rekan Mahasiswa IKIP BUDI UTOMO MALANG 7. Para siswa kelas V dan VI SDN Ngujung I Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun 2007/2008

21

8. Dan semua pihak yang telah membantu terselesainya penyusunan skripsi ini Semoga amal baik Bapak dan Ibu serta saudara-saudara mendapat imbalan yang setimpa dari Allah SWT. Penyusun menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi, bahasa serta dalam teknik penyusunannya. Akhirnya penyusun berharap semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi para atlit, guru dan pelatih pada khususnya, serta masyarakat pada umumnya.

Madiun, Nopember 2007

Penyusun

22

ABSTRAK

Bambang S, 2007. Hubungan Antara Panjang Tungkai, Kekuatan Otot Kaki, dengan Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok pada siswa kelas V dan VI Di SDN Ngujung I Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2007-2008. Skripsi, Jurusan Olahraga dan Kesehatan FPOK IKIP Budi Utomo Malang. Pembimbing : (I) Drs. Zainal Arifin, M.Si., (II) Drs. Subandono, M.Or. Kata Kunci : Panjang tungkai, Kekuatan Otot Kaki, Hubungan Penelitian tentang Hubungan antara Panjang Tungkai, dan Kekuatan Otot kaki dengan Prestasi Lompat Jauh Gaya jongkok, ini sangat berguna sekali bagi para pelatih, guru olah raga, dan para atlet sendiri yaitu untuk memillih calon atlet dan sekaligus mengarahkannya ke cabang olah ragayang sesuai dengan kemampuan dan postur tubuhnya. Terutama bagi atlet yang mau menekuni nomor lompat jauh khususnya dan atletik umumnya, karena atletik memerlukan postur tubuh dan fisik yang baik. Permasalahannya adalah apakah ada hubungannya antara Panjang tungkai, dan kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung I Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan antara panjang tungkai, kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok. Yang dimaksud dengan dengan panjang tungkai adalah ukuran yang didapatkan dari telapak kaki sampai pangkal paha (tranchanter mayor) dengan satuan sentimeter. Kekuatan otot kaki adalah kekuatan otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi dalam satu gerakan yang utuh. Dan Prestasi Lompat Jauh gaya jongkok adalah hasil yang telah dicapai dari tes lompat yang menggunakan gaya jongkok. Jenis penelitian ini tergolong penelitian korelasi dengan metode pengumpulan datanya adalah test dan pengukuran. Populasi dalan penelitian ini adalah siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung I Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan sebanyak 30 siswa. Dari keseluruhan populasi diambil 30 siswa atau 100% sebagai sampel. Pengolahan data yang dipergunakan adalah menggunakan rumus : T-skort, teknik korelasi Product Moment dari Pearson dan untuk mencari korelasi dari ketiga variabel mempergunakan Analisa Regresi. Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisa diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Data pengukuran panjang tungkai, diperoleh hasil r hitung = 0.929 taraf signifikan 5%, N = 30 r tabel menunjukkan angka = 0,361 dengan demikian r

23

hitung lebih besar dari r tabel maka hipotesa nol ditolak dan hipotesa alternatif diterima. Berarti ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok. 2. Sedangkan berdasarkan hasil pengolahan data kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok, diperoleh hasil r hitung = 0.909. Pada taraf signifikan 5% dan N = 30, tabel menunjukkan angka 0.361. Karena r hitung hitung lebih besar dari r tabel. 3. Ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai, kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati tahun ajaran 2007/2008. Karena koefisien korelasi antara panjang tungkai, kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh dengan hasil Fh = 117.355 dan Ft = 3.35, pada taraf signifikan 5% dengan derajat kebebasan (db) untuk menguji F itu adalah m lawan N – m – 1. Atau 2 lawan 27 dengan demikian Fh > Ft.

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. ZAINAL ARIFIN, M.Si.

Drs. SUBANDONO, M.Or

Purek I

Drs. NURCHOLIS SUNUYEKO, M.Si.

24

25

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL .............................................................................. HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................... HALAMAN PENGESAHAN ................................................................ MOTTO ................................................................................................. KATA PENGANTAR ........................................................................... ABSTRAK .............................................................................................. DAFTAR ISI .......................................................................................... DAFTAR TABEL ................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... BAB I PENDAHULUAN ............................................................... A. Latar Belakang ............................................................... B. Rumusan Masalah .......................................................... C. Tujuan Penelitian ........................................................... D. Hipotesa........................................................................... E. Pentingnya Penelitian ..................................................... 1. Bagi Peneliti ............................................................. 2. Bagi Lembaga/Perguruan Tinggi ............................. 3. Bagi Guru ................................................................. F. Asumsi dan Hipotesa ...................................................... i ii iii iv v vii ix x xi 1 1 8 9 9 10 10 10 11 11

26

G. Ruang Lingkup ............................................................... 1. Variabel ...................................................................

11 11 13 14 14 16 20 22 24 26 28 28 29

2. Batas Operasional ..................................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................ A. Gerak .............................................................................. B. Kekuatan Otot ................................................................ C. Panjang Tungkai ............................................................. D. Vertical Jump dan Kekuatan Otot Kaki ......................... E. Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok .............................. 1. Awalan ..................................................................... 2. Tolakan/Tumpulan .................................................... 3. Sikap Badan Saat di Udara........................................ 4. Pendaratan ................................................................. F. Hubungan Antara Panjang Tungkai, Kekuataan Otot Kaki Dengan Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok ....... BAB III METODE PENELITIAN ..................................................... A. Rancangan Penelitian ..................................................... 1. Prosedur Penelitian ................................................... 2. Tempat Penelitian ..................................................... 3. Waktu Penelitian ...................................................... B. Populasi dan Sampel ...................................................... 1. Pengertian Populasi ..................................................

30 31 31 32 32 32 33 33

27

2. Pengertian Sampel .................................................... 3. Teknik Pengambilan Sampel .................................... C. Metode Pengumpulan Data ............................................ 1. Pengukuran Panjang Tungkai .................................. 2. Pengukuran Kekuatan Otot Kaki ............................. 3. Test Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok ................ D. Teknik Analisa Data ....................................................... 1. Menyusun data mentah ............................................. 2. Menyusun data mentah menjadi nilai standart .......... 3. Menguji Normalitas Row Skor ................................ 4. Menghitung Korelasi dua variabel dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment ....... 5. Menghitung Korelasi Ganda .................................... E. Uji Signifikasi ................................................................ BAB IV ANALISA DATA ................................................................ A. Penyajian Hasil Penghitungan dan Uji Hipotesa ............ 1. Hasil Uji Normalitas ................................................ 2. Hasil Perhitungan Korelasi Antara Variabel Bebas dan Terikat ..................................................... 3. Analisa Korelasi Product Moment ........................... 4. Analisa Regresi ........................................................

33 34 35 36 36 38 40 40 40 40

42 43 45 46 46 47

48 49 49

28

5. Bobot Sumbangan Relatif Predikator Terhadap Prediksi ..................................................................... 6. Sumbangan Efektif ................................................... B. Diskusi Hasil .................................................................. 1. Hasil Korelasi Product Moment ............................... 2. Hasil Regresi ............................................................ 50 50 51 52 52

29

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ............................................ A. Kesimpulan .................................................................... B. Saran-saran .....................................................................

54 54 55 56 57

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ LAMPIRAN-LAMPIRAN .....................................................................

30

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Tabel I Variabel Bebas Dan Variabel Terikat ................................. 2. Tabel II Korelasi Antara Variabel Bebas dan Variabel Terikat ...... 3. Tabel III Hasil Ringkasan Analisis Regresi .................................... 4. Tabel IV Sumbangan Prediktor ....................................................... 5. Tabel V Nilai-nilai r Product Moment ............................................ 6. Tabel VI Nilai F Dengan Taraf Signifikan 5% (Deretan Atas) dan 1 % (Deretan Bawah)................................................................. 7. Tabel VII Nilai Chi Kwadrat ........................................................... 12 48 49 50

31

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Daftar Peserta dan Hasil Penelitian Hubungan Antara Panjang Tungkai, Kekuatan Otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok ............................................................................................. 2. Daftar Peserta dan hasil pengukuran panjang tungkai ..................... 3. Daftar peserta dan hasil tes kekuatan otot kaki ............................... 4. Daftar peserta dan hasil prestasi lompat jauh gaya jongkok ............ 5. Hasil uji normalitas data panjang tungkai ........................................ 6. Hasil uji normalitas data kekuatan otot kaki ................................... 7. Hasil uji normalitas data prestasi lompat jauh gaya jongkok ........... 8. Grafik hasil uji normalitas ............................................................... 9. Rekapitulasi row skor menjadi T skor ............................................. 10. Hasil perubahan Row skor menjadi T skor ...................................... 11. Hasil pengolahan data panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok ............................................................................ 12. Hasil pengolahan data tentang kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok .................................................. 13. Mencari skor deviasi ........................................................................ 14. Rumus mencari dan menemukan a1 dan a2 ..................................... 15. Analisis regresi ................................................................................. 68 69 70 71 67 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66

32

16. Sumbangan Prediktor X1 dan X2 .................................................... BAB I PENDAHULUAN

72

A. Latar Belakang Pada dasarnya setiap pergantian jaman selalu diiringi oleh perubahan dan perkembangan. Perkembangan teknologi mempengaruhi segala aktivitas manusia, tidak terkecuali perkembangan di bidang olah raga, dengan teknologi manusia bisa mencapai prestasi yang diharapkan dibidang olahraga. Atletik adalah salah satu cabang olahraga yang telah mengalami banyak perubahan, karena adanya semakin majunya teknologi, semakin banyak rekor dunia terpecahkan. Di atas telah peneliti sampiakan bahwa olahraga atletik banyak mengalami perubahan karena dilihat dari sejarah, atletik paling tua dari pada cabang olahraga lainnya. Berdasarkan sejarah, atletik disebut sebagai induk dari semua cabang olahraga, hal ini dapat dipahami, sebab sebagian gerakan-gerakan yang terdapat dalam cabang atletik seperti : jalan, lari, lempar, dan lompat merupakan gerakangerakan yang dilakukan manusia sehari-hari. Gerakan tersebut sudah dilakukan sejak manusia pertama yaitu Adam dan Hawa turun ke bumi. Untuk mempertahankan hidupnya manusia purba harus melakukan berburu yang tidak terlepas dari gerakan-gerakan berjalan, berlari, melompat dan melempar. Kata atletik berasal dari bahasa Yunani atletha artinya perlombaan. Di dalam cabang Atletik terdapat bermacam-macam latihan fisik yang lengkap dan menyeluruh

33

yang mampu memberikan kepuasan kepada manusia atas terpenuhinya dorongan naluri untuk bergerak tetapi harus tetap mematuhi disiplin gerak dan aturan lainnya. Atletik dipelajari, dilakukan dan dikembangkan karena mengandung nilai pendidikan yang tinggi dan penting. Hal ini seperti dikemukakan Engkos Kosasih dalam buku pendidikan jasmani teori dan praktek sebagai berikut : Atletik memegang peranan penting dalam mengembangkan kondisi fisik, sering pula menjadi dasar pokok pengembangan, peningkatan prestasi yang optimal bagi cabang olahraga lain bahkan diperhitungkan sebagai ukuran kemajuan suatu bangsa (Engkos Kosasih : 1993 : 17) Olaharaga atletik pada masa sekarang merupakan olahraga yang telah dikenal dan dipelajari dari seluruh bangsa-bangsa yang ada di dunia ini, karena olahraga atletik merupakan salah satu olahraga yang dipertandingkan pada eveneven dunia. Namun begitu di Cabang olahraga ini Indonesia masih sangat ketinggalan jika dibandingkan dengan negara-negara sesama Asia Misalnya, Cina, Jepang, dan Thailand. Hal ini terbukti dengan adanya perolehan medali di Olypiade Kemarin di Athena, Indonesia belum bisa bicara di Cabang Olahraga. Di bawah pemerintahan baru, yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono sebetulnya olahraga mendapatkan perhatian yang baik hal ini dibuktikan dengan adanya pembentukan kembali kementrian di bidang olahraga dan di usulkannya undang-undang pada tahun 2005 ini, yang mengatur tentang olahraga di tanah air dengan demikian sebetulnya ada kesempatan bagi para olahragawan untuk lebih meningkatkan dibidang prestasi olahraga. Semoga

34

dengan prestasi yang meningkat dapat mendongkrak kehormatan bangsa seperti yang disampaikan presiden ketika hendak membentuk kabinet gotong-royong. "Saya lihat selama masa transisi ini, bidang olahraga ini tidak lagi diperhatikan, padahal Bidang olahraga sangat penting untuk mendongkrak kehormatan dan martabat bangsa Indonesia di mata Dunia Internasional". Dengan di bentuknya kembali Kementrian Olahraga ini, ada kesempatan yang luas bagi masyarakat umumnya dan kalangan Olahragawan khususnya untuk ikut berpartisipasi dalam meningkatkan prestasi Olahraga di Indonesia. Dan yang tak kalah penting lagi adalah, sudah waktunya keolahragaan di Indonesia dikelola secara Propesionalisme sehingga akan menimbulkan motivasi bagi para atlet dan Coad dalam menekuni bidang Olahraga masing-masing. Pengelolaan Olahraga secara Proposionalisme ini juga diungkapkan oleh Engkos Kosasih sebagai berikut : " Era baru perkembangan Olahraga menuntut adanya kepemimpinan yang mempunyai ketrampilan manajerial, kemampuan teknis, serta kejelian dalam memanfaatkan potensi masyarakat ". (Engkos Kosasih: 1992 : 17) Di atas telah peneliti sampaikan bahwa Olahraga di cabang Atletik belum banyak bicara di dunia Internasional, padahal Bangsa Indonesia ini memiliki kesempatan yang luas untuk mendapatkan medali dari olahraga ini, karena Indonesia memiliki warga negara yang terdiri dari banyak suku yang masingmasing memiliki kemampuan yang lebih, asalkan di bina dengan baik. Saudarasaudara kita dari Irian memiliki postur tubuh yang besar-besar dan tinggi alamiah miliki kekuatan yang lebih baik dibandingkan dengna suku yang lainnya. Peneliti

35

berkeyakinan jika mereka di bina dengan cara Profesional maka Peningkatan Prestasi Olahraga Cabang Atletik di Indonesia akan maju pesat. Pembinaan dan pembibitan Olahraga Atletik bisa dimulai dari sejak dini yaitu sejak anak berada dalam lingkungan sekolah, oleh sebab itu kurikulum baik yang lama (1999) maupun kurikulum berbasis Kompetensi (2004) mencantumkan Olahraga cabang Atletik ini merupakan Olahraga yang wajib di ajarkan baik dari tingkat sekolah dasar sampai dengan Sekolah menengah. Dengan harapan selain menciptakan Generasi yang sehat dan kuat juga mendapatkan atlit berprestasi, yang di kemudian hari Indonesia tidak akan kesulitan untuk mendapatkan para olahragawan-olahragawan di bidang Olahraga, seperti yang disampingkan oleh Tim Penyusun Penataran Pendidikan Dasar Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Timur sebagai berikut : Olahraga yang ditanamkan pada anak-anak sekolah akan dapat menghasilkan bibit-bibit olahragawan yang baik. Sebab anak sekolah akan lebih tahan dalam memasuki masa-masa perkembangan berikutnya sehingga diharapkan pembinaan guru olahraga dalam memberikan dasardasar pada anak didiknya, agar kelak dalam peningkatan prestasinya tidak mengalami kesulitan. (Tim penyusun bahan penataran bidang Pendidikan Dasar Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Timur, hal ; 9). Hal demikian juga sesuai dengan pokok pikiran pemerintah yang dituangkan dalam GBHN tentang Pemuda dan Olahraga poin a dan b yaitu: 1. Menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga memiliki tingkat kesehatan dan kebugaran yang cukup, yang hams dimulai sejak usia dini melalui pendidikan olahraga di sekolah dan Masyarakat. 2. Meningkatkan usaha Pembibitan dan Pembinaan Olahraga prestasi hams dilakukan secara sistematis dan komprehensif melalui lembaga 1 lembaga Pendidikan sebagai pusat pembinaan di bawah koordinasi masing-masing

36

organisasi Olahraga penyandang cacat bersama-sama dengan masyarakat demi tercapainya sasaran prestasi yang membanggakan di tingkat Intemasional. (GBHN No IV/MPR/2004: 36). Atletik selain berisikan latihan fisik atau jasmani, juga merupakan sarana untuk mendapatkan kepuasan dan memupuk sportivitas clan disiplin tinggi. Jose Manuel Bellesteros seorang pelatih dari Spayol mengatakan Atletik adalah Induk dari semua cabang olahraga, berisikan latihan fisik yang lengkap menyeluruh dan mampu memberikan kepuasan kepada manusia atas terpenuhinya dorongan nalurinya untuk bergerak, namun tetap mematuhi suatu disiplin dan aturan main (Jose Manuel Bellesteros : 2004: 2.) Olahraga At1etik terdiri dari nomor lintasan dan lapangan (Track and fild). Sedangkan nomor-nomor yang termasuk dalam Olaharaga Atletik dapat dilihat di bawah ini: Nomor-nomor lintasan (track) meliputi : 1. Lari jarak pendek, menengah dan jauh. 2. Jalan cepat Nomor-nomor lapangan (fild) meliputi : 1. Lempar cakram 2. Lontar martil 3. Tolak peluru 4. Lompat tinggi 5. Lompat jauh 6. Lompat galah

37

Sedangkan nomor-nomor yang diperlombakan dalam even-even regional, nasional, maupun international adalah : 1. Lari a. Jarak pendek (sprint) : 100 m, 200 m, dan 400 m. b. Jarak sedang/menengah : 800 m, 1500 m, dan 3000 m. c. Jarak jauh : 5000 m, 10.000 m dan Marathon 142,195 m. d. Gawang e. Sambung/estafet : 4 x 100 m dan 4 x 400 m. 2. Lompat a. Lompat tinggi/lompat tinggi galah b. Lompat jangkit/jingkit c. Lompat jauh 3. Lempar a. Lempar lembing b. Lempar cakram c. Tolak peluru d. Lontar martil 4. Jalan cepat 5. Nomor khusus a. Lari lintas alam b. Panca lomba c. Sapta lomba

38

d. Dasa lomba Proses pemilihan atlet dan peningkatan prestasi cabang olahraga Atletik khususnya Lompat Jauh hendaknya memperlihatkan faktor-faktor biologis atau postur tubuhnya sehingga di kemudian hari dapat dijadikan atlet yang handal. Yang dapat membawa nama baik Indonesia di Dunia Intemasional. Ada terobosan baru yang dikembangkan oleh Pengda PASI Jawa Timur untuk mendapatkan atlit Lompat Jauh yang handal. Olahraga Atletik perlu di teliti dan dikembangkan karena menurut peneliti, Olahraga ini masih banyak memberikan kesempatan bagi para Atlit Indonesia untuk mendapatkan prestasi dalam even-even Regional, Nasional maupun Intemasional, baik tingkat remaja maupun dewasa mengingat warga negara Indonesia ada yang memiliki postur tubuh yang baik serta kemampuan meloncat tegak yang merupakan namisfestasi dari kekuatan otot kaki. Seperti yang sudah di uraikan di atas. Lompat jauh adalah merupakan salah satu nomor cabang atletik yang tercantum di dalam setiap perlombaan. Sedangkan dasar-dasar Gerakan Lompat Jauh tak lepas dari gerakan awalan lari, tumpuan, saat badan melayang diudara dan pendaratan/landing. Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut di atas peneliti mempunyai anggapan bahwa :

39

1. Atletik merupakan salah satu olahraga yang perlu dikembangkan karena dari cabang ini kesempatan untuk mengharurnkan nama bangsa Indonesia terbuka lebar. 2. Panjang Tungkai dan Kekuatan Otot Kaki merupakan unsur-unsur penentu Hasil Prestasi akhir bagi pelompat jauh. Dari latar belakang, tersebut di atas maka peneliti dalam penyusunan skripsinya mengangkat sebuah judul tentang : ”Hubungan antara Panjang Tungkai dan Kekuatan Otot Tungkai dengan Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putra Kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2007/2008”.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya sebagai berikut : 1. Adakah hubungan antara panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008? 2. Adakah hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008? 3. Adakah hubungan antara panjang tungkai dan kekuatan otot tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN

40

Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008?

C. Tujuan Penelitian Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui hubungan antara panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008. 2. Untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008. 3. Untuk mengetahui hubungan antara panjang tungkai dan kekuatan otot tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008.

D. Hipotesa Berdasarkan judul, rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka hipotesa yang dapat peneliti sampaikan sebagai berikut :

41

1. Ada hubungan antara panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008. 2. Ada hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008. 3. Ada hubungan antara panjang tungkai dan kekuatan otot tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008.

E. Pentingnya Penelitian 1. Bagi Peneliti a. Mendapatkan pengalamatan yang praktis dan pengetahuan dalam melaksanakan penelitian. b. Sebagai pertimbangan untuk penelitian berikutnya. c. Sebagai bahan penyusunan skripsi d. Ikut mengembangkan olahraga atletik, khususnya lompat jauh gaya jongkok. 2. Bagi Lembaga a. Hasil penelitian dapat dijadikan sumber informasi dan bahan kepustakaan apabila mengadakan penelitian sejenis.

42

b. Dapat dijadikan pedoman dan bahan pertimbangan dalam melakukan penelitian sejenis. 3. Bagi Guru Pendidikan Jasmani a. Membantu memecahkan masalah yang dihadapi siswanya/atletnya. b. Membantu mendeteksi lebih dini kemampuan skill dan cabang olahraga yang ditekuni para peserta didik dan calon atlitnya.

F. Asumsi Dalam rangka penelitian ini pelaksanaannya berpijak pada asumsi sebagai berikut : 1. Siswa yang dijadikan sebagai subjek penelitian telah mendapatkan materi baik teori maupun praktek olahraga lompat jauh gaya jongkok sesuai dengan kurikulum Pendidikan Jasmani untuk Sekolah Dasar tahun 2004. 2. Sarana dan prasarana yang digunakan untuk penelitian juga memenuhi persyaratan.

G. Ruang Lingkup Penelitian 1. Variabel Penelitian Untuk menghindari permasalahan yang luas dan timbul pada penelitian ini, maka di bawah ini peneliti membatasi dari ruang lingkup penelitian dengan harapan tidak menyimpang dari apa yang telah peneliti tetapkan. Pada penelitian ini variabel yang kami teliti adalah :

43

a. Variabel bebas b. Variabel terikat

: Panjang tungkai, kekuatan otot tungkai : Prestasi lompat jauh gaya jongkok Tabel 1 Konsep Variabel Indikator Instrument

Konsep Hubungan antara Panjang Tungkai dan Kekuatan Otot Kami dengan

Variabel Variabel bebas:

Indikator

Instrument

Panjang tungkai Hasil yang dicapai dengan satuan cm

Pengukuran

Prestasi Lompat Kekuatan otot Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putra Kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2007/2008 Variabel terikat Prestasi lompat jauh gaya jongkok tungkai

Hasil yang dicapai dengan vertikal jump sebanyak 3 kali lompatan

Test vertikal jump

Hasil yang dicapai

Test lompat jauh

44

2. Batasan Operasional Sesuai dengan judul yang diangkat dalam penelitian ini, maka pembatasan istilah-istilah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Hubungan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya sangkut paut. Jadi hubungan adalah sangkut paut atau keterkaitan antara panjang tungkai dan kekuatan otot tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok. b. Panjang tungkai adalah diukur dari mulai titik tempat pijakan kaki/telapak kaki sampai dengan pangkal paha. c. Kekuatan otot tungkai dengan test vertikal jump yang bertujuan untuk mengetaui kemampuan sebuah otot atau segerombolan otot yang ada pada tungkai dalam mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi dalam satu gerakan utuh yang diberikannya. d. Prestasi lompat jauh gaya jongkok adalah hasil yang telah dicapai dari hasil tes serangkaian gerakan lompat jauh yang terdiri dari start (awalan), tumpuan, saat badan di udara dan melakukan pendaratan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

45

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditentukan, yaitu untuk mengetahui hubungan antara panjang tungkai dan Kekuatan Otot tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan tahun ajaran 2007/2008, maka perlu adanya tinjauan pustaka yang akan digunakan sebagai landasan berfikir dalam penelitian ini. Oleh karena itu dalam uraian ini akan dijelaskan tentang : A. Gerak B. Panjang Tungkai C. Kekuatan Otot tungkai D. Vertical Jump dan Kekuatan Otot tungkai E. Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok

A. Gerak Dalam setiap kegiatan olahraga, gerak merupakan unsur yang sangat penting. Gerak dalam olahraga bisa berupa gerak anggota badan itu sendiri atau gerak suatu benda yang sengaja digerakkan oleh anggota badan itu sendiri. Gerakan dalam olahraga teIjadi oleh adanya perubahan sikap badan yang disebabkan oleh pembatalan keseimbangan. "Keseimbangan adalah suatu keadaan tenang dan tidak bergerak dari suatu benda. Gerak dan kaitannya dengan

46

keseimbangan, terdapat hubungan yang erat sekali. Maka sebagai seorang pelatih atau guru olahraga hendaknya memahami dan mengerti azas-azas yang mengatur hubungan antara gerak dan keseimbangan. (Depdikbud, 1983 : 13). Untuk mengembangkan suatu gerakan dari setiap gerakan pada setiap cabang olahraga, seorang guru olahraga, Pembina, atau pelatih hendaknya mengetahui sebab-sebab suatu gerakan dan mengetahui bagaimana gerak tersebut seharusnya dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip yang benar. Dengan bekal pengetahuan ini maka akan lebih mudah dalam mengajarkan suatu tehnik gerakan. Dengan gerakan yang benar, yang didemontrasikan oleh pelatih atau guru olahraga, akan menjadikan siswa atau atlit lebih mudah dalam mempelajari dan memahami gerak tersebut, sehingga lebih mudah untuk mencapai prestasi sesuai dengan apa yang diharapkan. (Depdikbud, 1983 : 13). Pada dasarnya ada dua jenis gerak yaitu : 1. Gerak Lurus (Linier Mation) "Gerak lurus adalah suatu gerak dalam garis lurus dari satu titik ketitik yang lain. Ciri-ciri dari gerak lurus adalah semua bagian dari benda bergerak dalam jarak yang sama dan dengan kecepatan sama". Dalam suatu perlombaan lempar, lompat dan lari, jarang kita temukan gerak lurus murui, tetapi gerak lurus ini tidak dapat begitu saja diabaikan peranannya dalam olahraga. Contoh yang sederhana adalah gerak pada seorang pelari, yaitu gerak badan menuju ke garis finish.

47

2. Gerak berputar Gerak berputar merupakan gerak dasar sebagai penggerak dalam semua gerakan manusia. Tubuh manusia dapat membuat gerak lurus dan gerak berputar sekaligus. Gerak berputar adalah gerak sebuah benda mengelilingi sebuah pusat putaran. Perbedaannya dengan gerak lurus adalah pada gerak berputar, suatu bagian dari obyek sumbunya tetap tidak berubah terhadap bagian yang lain, sedangkan pada bagian gerak lurus setiap bagian dari obyek bergerak serentak pada jarak yang sama, bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain. Prestasi pada suatu cabang atletik selalu memadukan kedua gerakan ini. Demikian halnya dengan suatu gerakan lompat jauh gaya jongkok selalu memadukan gerakan lurus dan gerakan berputar pada saat mengambil awalan dan saat mengambil tumpuan. Sedang gerak berputar lainnya adalah gerak ayunan lengan pada saat badan sedang melayang di udara.

B. Panjang Tungkai Perkembangan materi tehnik prasarana pertandingan, seperti dengan ditemukannya lintasan sintetis : mondo, rekortan, tartan dan akust, menyebabkan perkembangan pesat pada tehnik lompat tinggi dan juga mengakibatkan kemajuan prestasi. Pada garis besaruya perkembangan tehnik lompat jauh memang terarah pada perbaikan awalan dan tolakan, dengan pengertian bagaimana merubah gerakan dari kecepatan horizontal dan membelokkan membentuk gerakan menuju

48

ke gerakan melompat ke depan. Dewasa ini para atlit berusaha melakukan awalan dengan kecepatan yang lebih besar, mengatur struktur awalan terutama pada tiga langkah terakhir sebelum lepas landas. Selain perbaikan pada awalan dan tolakan, juga arah perbaikan ditujukan kepada cara melayang di udara, dengan pengertian memanfaatkan gerak parabola pada titik berat badan melalui gerakan-gerakan di udara secara maksimal. Faktor-faktor prestasi lompat jauh. Faktor-faktor yang secara langsung menunjang prestasi lompat jauh adalah : 1. Tinggi badan/panjang tungkai (hi) 2. Power dan kekuatan maksimal tungkai (hz) 3. Efisiensi tehnik lompatan kesempurnaan tehnik (HL). Diusahakan agar pemindahan kecepatan/momentum horizontal ke momentum vertikal dapat dilakukan lebih baik dengan menyempurnakan gerak pengalihan momentum-momentum tersebut. Selain itu berusaha memanfaatkan elemen-elemen ayunan secara maksimal. Hal itu terlihat dengan adanya pelompat tinggi yang menggunakan ayunan lengan ganda pada waktu lepas landas.

49

Tinggi badan/panjang tungkai sebagai faktor prestasi. Dari data yang tercatat, rata-rata tinggi badan peserta lompat jauh untuk putra ialah 1,86 meter dan putri 1,70 meter. Sedangkan enam pelompat dengan urutan teratas mempunyai tinggi badan rata-rata 1,90 meter, putrid 1,76 meter. Demikian data yang dikumpulkan oleh Bauersfeld dan Schoeter kepada para peserta lompat jauh yang turut serta dalam pesta Olimpiade di Mexico City 1968, Muenchen 1972 dan Montreal 1976. Power dan kekuatan maksimal tungkai sebagai faktor prestasi. Kalau power pada tungkai itu besar dan disertai koordinasi yang baik untuk menghimpun semua elemen ayunan secara menguntungkan, maka titik berat badan (center of gravity atau koerperschwerpunkt) dapat diangkat setinggi mungkin (h2) kalau kekuatan maksimal tungkai juga besar, maka kecepatan lepas landas secara vertikal juga besar. Kecepatan lepas landas vertikal yang besar juga akan mengantar titik berat badan lebih tinggi ke atas (h2). Anggota badan yang paling dominan dalam menunjang olahraga adalah tungkai, karena tungkai merupakan alat gerak tubuh bagian bawah. Yang dimaksud panjang tungkai adalah : "Jarak antara lantai dengan coxae yang diukur pada saat testee berdiri tegak". (Moeloek dan Tjokronegoro, 1976: 72). Tungkai selain bagian menumpu dan penggerak anggota bawah pengaruhnya besar pada prestasi lompat jauh. Dengan demikian orang yang mempunyai tungkai lebih panjang diharapkan mampu melompat lebih jauh dibanding mereka yang tungkai kakinya lebih pendek karena jangkauan melangkah sudah barang tentu lebih panjang. Dilihat dari anatomi, tungkai

50

penggerak tubuh bagian bawah (extremitas inferior) terdiri dari : 1 Tulang Coxae 1 Tulang Femur 1 Tibia 1 Fibula 1 Patela 1 Tarsal 5 Metatarsal 14 Palank (Evelyn C Pearce, 1988 : 75). Dalam hal ini tulang mempunyai peranan yang besar pada kaki walaupun yang menggerakkan adalah otot. Namun tulang berfungsi sebagai pengungkit. Jadi lebih jelasnya prestasi lompat jauh gaya jongkok akan berhasil baik jika didukung oleh tulang otot yang kuat. Berdasar tehnik lompat jauh, maka gerak bagian bawah harus kuat karena harus menahan berat badan. Akan lebih efisien apabila pelompat jauh mempunyai berat badan yang ringan sehingga beban tungkai di sini tidak terlalu berat. Tenaga yang menahan beban badan dapat digunakan kaki untuk mempercepat langkah, sehingga tenaga yang tersedia sebagian besar untuk mempercepat konteraksi otot kaki untuk melangkah. Untuk melatih tehnik tersebut harus dianalisa dari gerakan itu dengan ilmu "Biologi mekanika". Yaitu analisa tehnik dalam olahraga atas dasar hukum mekanika, untuk - tulang pangkal paha. - tulang paha - tulang kering - tulang betis - tulang tempurung lutut - tulang pangkal kaki - tulang telapak kaki - tulang ruas jari kaki

mengembangkan metode latihan dan pengajaran serta penelitian untuk

51

meningkatkan hasil belajar dan prestasi olahraga.

C. Kekuatan Otot Tungkai Kekuatan menurut Suharno H.P adalah kemampuan otot untuk mengatasi tekanan atau beban dalam menjalankan aktifitas untuk mencapai prestasi maksimal. Hal ini berarti kemampuan untuk mengatasi tahanan atau beban dalam menjalankan aktifitas, sangat ditentukan oleh seberapa besar kekuatan otot. Semakin besar kekuatan otot akan semakin besar dan ringan kerja otot dalam mengatasi tahanan dan beban, semakin kurang kekuatan otot akan semakin kecil kemampuan otot dalam mengatasi tahanan dan beban. Dalam setiap olahraga, kekuatan merupakan unsur yang sangat penting untuk dapat mempertinggi prestasi. Tanpa ada kekuatan yang maksimal tidak mungkin akan dapat mencapai prestasi yang baik. Seperti yang dikemukakan oleh Suharno H.P sebagai berikut : Strength dapat digunakan untuk mengatasi beban berat, gerakan meledak dalam suatu irama serta kekuatan yang tinggi dalam waktu yang lama. Berdasarkan kegunannya, strength dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: - Maksimum strength adalah kekuatan otot dalam kontraksi maksimal pula. - Explosif power adalah kemampuan otot atau segerombol otot untuk mengatasi tahanan atau beban dengan kecepatan tinggi dalam suatu gerakan. - Power endurance adalah kemampuan tahan lamanya kekukatan otot untuk melawan tahanan atau beban yang tinggi intensitasnya. (Suharno HP, 1987: 81) Dari pengertian di atas kita bisa menganalisa gerakan lompat jauh adalah gerakan explosive power. Dalam lompat jauh kekuatan otot akan sangat berpengaruh pada kemampuan seseorang di dalam mencapai prestasi yang

52

maksimal. Lebih lanjut Tamsir Riyadi mengatakan : “Sedangkan mengenai unsur-unsur yang berpengaruh terhadap kemampuan seseorang di dalam melakukan lompat jauh adalah : daya ledak, kecepatan, kekuatan, kelincahan, kelenturan, koordinasi, keseimbangan dan lain-lain" . (Riyadi T, 1985 : 36). Dari uraian di atas jelaslah bahwa unsur Kekuatan Otot tungkai mempunyai peranan yang besar terhadap pencapaian prestasi lompat jauh. Namun perlu dimengerti bahwa kekuatan otot yang digunakan untuk gerakan lompat jauh berupa kekuatan explosif power, dengan mengerahkan energi untuk menghasilkan suatu ledakan usaha. Seorang pakar ilmu yang bemama Dangsina Moeloek mengatakan bahwa "Kekuatan atau daya dipengaruhi oleh kekuatan dan kecepatan kontraksi otot. Lebih lanjut dikatakan bahwa karena kekuatan otot dipengaruhi kekuatan explosif otot" (Moeloek D, 1984 : 29) Kemampuan kerja otot tergantung pada pengerahan secara sadar sebagian besar unit otot dan volume otot, sedangkan kerja otot secara explosif ditentukan oleh hubungan antara otot dan sistem syaraf. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi gerak explosif adalah : 1. Kekuatan otot 2. Kecepatan kontraksi otot 3. Volume otot 4. Kerja sistem syaraf.

53

D. Vertical Jump dan Kekuatan Otot Tungkai Dalam membina beberapa cabang olahraga sering kali kita menjumpai seorang pelatih, pembina maupun guru olahraga menggunakan vertical jump untuk meningkatkan kondisi fisik, meningkatkan Kekuatan Otot tungkai, dengan harapan agar kemampuan dan kondisi fisik para atlitnya tetap terjaga. Salah satu keuntungan dari vertical jump adalah kita tidak memerlukan alat sebagai sarana untuk membebani tubuh, sebab tubuh kita sendiri akan berfungsi sebagai beban. Apabila aktifitas ini kita lakukan dengan teratur berdasarkan tehnik yang benar, kita akan bisa merasakan peningkatan Kekuatan Otot tungkai, terutama bagian otot paha. Vertical jump merupakan bentuk aktifitas fisik yang harus dilakukan secara berkesinambungan, apabila seorang atlit lompat jauh ingin mendapatkan prestasi yang maksimal. Oleh sebab itu, perlu diketahui dan dipahami semua rangkaian gerakan vertical jump supaya kita mengerti dan bisa menyimpulkan, mengapa latihan vertical jump merupakan jenis latihan yang sangat baik untuk mengingkatkan Kekuatan Otot tungkai". (Sujoto, 1995 : 85). Berbicara mengenai kekuatan otot untuk melompat M. Sujoto menulis : Aktivitas pembebanan terhadap otot kaki mempunyai pengaruh terhadap hasil yang dicapai pada kemampuan gerak lain seperti dalam pengembangan daya lompat pada kaki, dan juga terhadap tleksibilitas pada otot dan persendian. Jenis latihan, jumlah set, dan banyak ulangan serta frekuensi latihan, adalah cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan melompat. (Sujoto, 1995 : 86). Dari uraian di atas peneliti berkesimpulan bahwa aktivitas untuk meningkatkan Kekuatan Otot tungkai dengan melakukan vertical jump, akan

54

mampu meningkatkan kemampuan kondisi fisik yang diperlukan untuk mencapai prestasi maksimal dalam lompat jauh. Gerakan vertical jump adalah berdiri tegak dengan kaki rapat dekat dengan tembok, yang di atasnya terdapat papan ukuran/metris dicat pada papan tulis. Dalam hal ini yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana arah kerja tenaga dapat digunakan agar pencapaian prestasi dapat diraih dengan baik, karena besaruya tenaga "power" berbanding dengan kekuatan dan kecepatan latihan. Pada waktu melakukan vertical jump, perlu diperhatikan cara-cara melakukan yang benar. Walaupun sampai semuanya telah dianggap bisa melakukan vertical jump. Namun penelitian menyajikan cara-cara melakukan vertical jump yang baik dan efisien, seperti di bawah ini : 1. Berdirilah secara wajar dengan kaki rapat dekat tembok lurus yang di atasnya terdapat papan ukuran/metris dicat pada papan tulis. 2. Dengan tumit tetap di tanah, angkat lengan ke atas dan beri tanda pada ketinggian yang dicapai di papan metris tersebut (bekas jari-jari yang tertinggi). 3. Bengkokkan kaki/lutut setengah ditekuk, kemudian melompatlah ke atas dan buatlah tanda setinggi-tingginya pada papan metris tersebut. 4. Usahakan pada setiap melompat jari tangan dapat menyentuh ketinggian yang maksimal. 5. Ulangi gerakan tersebut masing-masing anak mendapat kesempatan 3 kali

55

lompatan. Gerakan vertical jump akan memberikan manfaat kepada kita apabila dilaksanakan dengan sikap atau posisi yang benar. Sering kita menjumpai seseorang melakukan gerakan ini dengan posisi yang terlalu rendah sehingga kurang memberikan manfaat terhadap peningkatan Kekuatan Otot tungkai, khususnya kekuatan yang bersifat explosif power. Gerakan yang dilakukan dengan benar akan memberi pengaruh terhadap peningkatan kekuatan otot paha dan otot pinggang.

E. Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok Pengertian prestasi adalah "hasil yang telah dicapai". Sedangkan pengertian lompat adalah “gerakan melompat ke depan, ke atas, ke bawah dengan cepat”. Dalam lompat jauh faktor penting yang akan dijadikan perhatian adalah gerakan saat melompat dengan didahului dengan awalan lari kearah depan, dilanjutkan dengan mengubah kecepatan kearah depan atas. Dalam hal ini Rorimpanday mengatakan : “Kecepatan yang diperoleh dalam awalan harus dialihkan seefektif-efektifnya kepada lompatan dari kecepatan ke muka kepada kecepatan ke muka atas. Tumpuanlah yang menjadi impuls gerak yang sebenaruya, yang menyebabkan peralihan itu". (Rorimpanday, F.G.E, 1960: 123). Seorang atlit akan berprestasi maksimal, apabila faktor-faktor pendukung ketercapaian prestasi mendapat perhatian yang serius. Faktor-faktor tersebut menurut A. Anwar Pasau adalah : 1. Aspek biologis, terdiri dari : 1.1. Potensi/kemampuan dasar tubuh (fundamental motor skill). 1.2. Fungsi organ tubuh.

56

1.3. Struktur dan poster tubuh. 1.4. Gizi (sebagai penunjang aspek biologis). 2. Aspek psikologis, terdiri dari : 2.1. Intelektual (kecerdasan). 2.2. Motifasi. 2.3. Kepribadian. 2.4. Koordinasi ketja otot dan syaraf. 3. Aspek lingkungan (enveriment), terdiri dari : 3.1. Sosial : kehidupan sosial ekonomi, interaksi antar pelatih, atlit dan sesama. 3.2. Prasarana dan sarana yang tersedia. 3.3. Cuaca dan iklim di sekitar. 3.4. Orang tua, keluarga dan masyarakat. 4. Aspek penunjang, terdiri dari : 4.1. Pelatih yang berkualitas tingi. 4.2. Program latihan yang tersusun secara sistematis. 4.3. Penghargaan dari pemerintah dan masyarakat. 4.4. Dana yang memadai. 4.5. Organisasi yang tertib". (Sajoto M, 1995 : 2 sid 5). Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut dan diterapkan dalam kegiatan yang sesungguhnya akan diperoleh prestasi yang maksimal. Tinjauan secara teknis pada lompat jauh meliputi 4 bagian pokok, yaitu : 1. Awalan. 2. Tumpuan. 3. Gaya jongkok/melayang. 4. Pendaratan.

1. Awalan Untuk mencapai lompatan yang benar, maka harus menentukan letak kaki tumpu, sehingga pada waktu melakukan dari awalan 30-40 m, sudah melakukan lari dengan kecepatan dan ketepatan pelaksanaan lari semakin dekat dengan belok lompat sehingga makin cepat. Oleh karena itu unsur kecepatan dan gerak langkah yang benar di dalam menggunakan awalan ini

57

harus dikuasai benar. Sebagai akhir awalan pelompat harus memusatkan perhatian pada balok tumpuan agar tumpuannya dapat tepat. Beberapa hal yang perlu diketahui tentang cara melakukan awalan dalam lompat jauh, adalah: a. Jarak awalan tergantung dari kemampuan masing-masing atlit. Bagi pelompat yang dalam jarak relatif pendek sudah mampu mencapai kecepatan maksimal (full speed) maka jarak awalan cukup dekat/pendek saja (sekitar 30 - 40 m atau kurang dari itu). Sedangkan bagi atlit yang lain yang dalam jarak relatif jauh baru mencapai kecepatan maksimal, maka jarak awalan harus lebih jauh lagi (sekitar 40-50 m, atau lebih jauh dari itu). Bagi pemula sudah barang tentu jarak awalan lebih pendek dari ancar-ancar tersebut. b. Posisi permulaan pada saat berdiri pada titik awalan dapat seperti pada lompat tinggi (salah satu kaki di depan atau sejajar). Hal ini tergantung dari kebiasaan dan kemantapan masing-masing atlit. c. Cara mengambil awalan dari lari pelan semakin dipercepat (sprint). Kecepatan ini harus dipertahankan. Sampai menjelang bertumpu/menolak. Langkah-langkah kaki gerakan sprint sebaiknya jangan seperti lari cepat pada umumnya, tetapi pada awalan lompat jauh gerakan/langkah kaki harus lebih kuat, mantap dan menghentak (langkah yang dinamis/dinamis step). Hal itu harus dilakukan dengan maksud agar pada saat menolak/bertumpu dapat dilakukan dengan kuat dengan kuat dan

58

seeksplosif mungkin. d. Setelah mencapai kecepatan maksimal, maka kira-kira 3-4 langkah terakhir sebelum bertumpu (take off) gerakan lari dilepas begitu saja tanpa mengurangi kecepatan yang telah dicapai sebelumnya (free wheeling). Pada 3-4 langkah terakhir ini perhatian dan tenaga dicurahkan untuk melakukan tumpuan pada papan/balok tumpu. Namun ada sementara pendapat, bahwa "free wheeling" ini tidak harus/perlu dilakukan. Karena apabila hal itu tidak dilakukan dengan baik dan tepat justru akan menghambat kecepatan. Oleh sebab itu bagi pemula hal ini belum perlu dipaksakan. 2. Tolakan/Tumpuan a. Tolakan dilakukan dengan kaki yang terkuat (misalnya kiri). Bagian telapak kaki yang untuk bertumpu adalah cenderung pada bagian tumit terlebih dahulu dan berakhir pada bagian ujung kaki. Sikap akhir kaki kiri saat menolak harus lurus pada lutut. b. Sesaat akan bertumpu sikap badan agak condong ke belakang Gangan berlebihan). Hal ini untuk membantu timbulnya lambungan yang lebih baik (sekitar 45°). c. Bertumpu sebaiknya tepat pada papan tumpuan. Asal ujung kaki tidak melewati/menginjak tepi balok yang terdekat dengan baik di pasir. d. Saat bertumpu kedua lengan ikut serta diayunkan ke depan-atas. Pandangan ke depan-atas Gangan melihat ke bawah). e. Pada kaki ayun (kanan) diangkat cukup tinggi ke depan setinggi pinggul

59

dalam posisi lutut ditekuk. Jadi pada saat mengaayunkan kaki bebas ke depan jangan dalam posisi lutut dikedangkanldiluruskana terlalu awal. Karena mengangkat kaki terlalu lurus akan lebih berat dan kurang cepat dibandingkan dengan mengangkat paha dalam posisi tungkai bawah dilipat/ditekuk dan sudut tolakan 45°. 3. Sikap Badan Saat di Udara Gaya ini pada waktu melayang di udara, kaki dalam keadaan berjalan. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah: a. Setelah kaki terkuat bertumpu, maka kaki ayun segera diangkat ke depan. Sewaktu melayang atau menjelang meneapai titik ketinggian maka kaki ayun segera digerakkan ke belakang dan kaki yang lain diayunkan ke depan. b. Setelah meneapai titik tertinggi, maka kaki ayun digerakkan lagi ke depan sehingga sejajar dengan kaki yang lain. Selanjutnya sewaktu badan mulai bergerak menurun, badan eondong ke depan kedua lengan diluruskan ke depan dan pandangan ke arah depan. 4. Pendaratan Pada waktu akan mendarat berat badan dibawa ke depan, begitu juga dengan kedua tangan dan mendarat harus dengan kedua kaki bersama-sama dan berusaha mendarat sejauh mungkin dan sikap badan jongkok. Walaupun demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: a. Berusaha mempertahankan skap melayang, dan hindarkan gerakan kontra. b. Pada waktu jatuh lebih baik kaki sejajar dan setengah jongkok kedua

60

tangan lurus ke depan. c. Untuk menghindari rasa sakit atau cidera, pendaratan sebaiknya dilakukan dengan kedua belah kaki dan padaa bagian tumit terlebih dahaulu. d. Sebelum tumit menyentuh pasir, kedua kaki harus benar-benar diluruskan/ dijulurkan ke depan. Usahakan agar jarak antara kedua kaki jangan terlampau jauh beIjauhan. Karena semakin besar jarak antara kedua kaki (terlalu lebar/kangkang) berarti akan semakin mengurangi jauhnya lompatan. e. Untuk menghindari agar tidakjatuh duduk pada pantat, maka setelah tumit berpijak di pasir, kedua lutut segera ditekuk dan dibiarkan badan condong terus jatuh terjerembab/terjerumus ke depan. f. Sesaat setelah melakukan pendaratan, jangan keluar atau kembali ke tempat awalan melewati/menginjak daerah pendaratan yang terletak antara bekas pendaratan dengan papan tumpuan.

F. HUBUNGAN ANTARA PANJANG TUNGKAI, KEKUATAN OTOT TUNGKAI DENGAN PREST ASI LOMP A T JAUH GAY A JONGKOK 1. Panjang tungkai yaitu untuk mengetahui hubungan antara panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok

61

2. Kekuatan Otot tungkai yaitu untuk mengetahui hubungan antara Kekuatan Otot tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok 3. Prestasi lompat jauh yaitu untuk mengetahui hubungan antara panJang tungkai dan Kekuatan Otot tungkai dengan prestasi lompat jauh.

62

BAB III METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai yaitu ada tidaknya hubungan antara panjang tungkai dan kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas putra V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008, dengan menggunakan pendekatan sample. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat hubungan antara variabel-variabel bebas dengan variabel terikat berdasarkan efisiensi korelasi. Agar dalam penelitian dapat dilaksanakan dengan cermat dan tepat, serta diharapkan memperoleh data yang lengkap maka digunakan metode analisis, karena selain bertujuan menggambarkan apa adanya, juga mencoba memberikan penyimpulan yang bersifat inferensial menggunakan teknik korelasi. Dengan demikian diharapkan dalam penelitian ini akan menghasilkan temuan yang bermanfaat bagi kita semua. Suatu penelitian haruslah dilaksanakan secermat mungkin dengan menetapkan langkah-langkah yang tersusun secara rapi, serta menggunakan teknik tertentu supaya dapat menemukan suatu kebenaran yang pasti. Dalam pengumpulan data hendaknya diusahakan subyektif mungkin serta tidak berat sebelah. 1. Prosedur Penelitian

63

Selama pelaksanaan ini, prosedur penelitian yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut : a. Membuat Proposal penelitian b. Mengajukan Proposal ke Lembaga Pendidikan Budi Utomo c. Mengajukan Ijin Penelitian ke sekolah yang dijadikan tempat penelitian. d. Mempersiapkan sarana dan prasarana untuk pengukuran panjang tungkai, kekuatan otot kaki serta pengukuran prestasi lompat jauh gaya jongkok. e. Menentukan sample penelitian. f. Mengadakan pengukuran panjang tungkai, kekuatan otot kaki dengan vertikal jump dan pengukuran prestasi lompat jauh gaya jongkok. g. Mengumpulkan data akhir dari hasil pengukuran dan test kekuatan otot kaki dan prestasi lompat jauh gaya jongkok. h. Menganalisa data. i. Menyusun Laporan Penelitian. 2. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan. 3. Waktu Penelitian Pelaksanaan Penelitian dilaksanakan pada hari Rabu tanggal

64

B. Populasi dan Sample 1. Pengertian Populasi Populasi adalah ”keseluruhan subjek penelitian” (Suharsimi Arikunto, 1998 : 115). Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa putra kelas V dan VI sebanyak 30 siswa. Dengan perincian sebagai berikut : No 1 2 Kelas Kelas V Kelas VI Jumlah Jumlah 13 17 30

2. Pengertian Sample Sample adalah ”sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (Suharsimi Arikunto : 1998 : 117). Suharsimi Arikunto berpendapat : ”Untuk sekedar ancar-ancar bila subjeknya kurang dari 100 maka lebih baik semua populasi diambil, sehingga penelitiannya merupakan penelitian pupulasi, selanjutnya jika jumlah subjek lebih dari 100 atau lebih besar lagi maka diambil 10-11% atau 20-21% atau lebih (1992:107). Dengan mengacu pada teori tersbut di atas, maka peneliti mengambil seluruh Populasi yang ada sejumlah 30 siswa. Sehingga penelitian ini disebut penelitian Populasi.

65

3. Teknik Pengambilan Sample Dalam bukunya yang berjudul Menyusun rencana Penelitian Drs. Tatang M Aminin membagi Teknik pengambilan sample menjadi dua: a. Teknik pengambilan secara adil / probabilitas. (Probability Sampling). Teknik ini ada 4 macam : 1) Sampling secara acak / random 2) Sampling secara sistematik. 3) Sampling berdasarkan pelapisan dan penggolongan. 4) Sampling berdasarkan pembagian wilayah. b. Teknik pengambilan sample secara tidak adil (non probability sampling). Yang termasuk cara ini adalah : 1) Sampling secara asal nemu (portunisic atau accidental sampling) 2) Sampling menurut quota (quota sampling) 3) Sampling secara bertujuan (porpusive sampling) Dalam pengambilan sample, karena populasi yang ada dijadikan sample semua maka teknik pengambilan sample ini dengan mengambil seluruh siswa putra kelas V dan VI yang ada sebanyak 30 anak untuk dijadikan sample. Oleh karena subyeknya meliputi semua yang terdapat di dalam populasi, maka juga disebut Sensus. ( Suharsini Arikunto : 1998 : 116)

66

C. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data adalah Teknik atau cara yang dipergunakan utnuk memperoleh penjelasan atau keterangan serta data yang diperlukan sebagai dasar dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh peneliti. Ada beberapa macam Teknik pengumpulan data tersebut dibawah ini : 1. Pengukuran 2. Test Sesuai judul penelitian yaitu Hubungan antara Panjang Tungkai, Kekuatan Otot Kaki dengan Pretasi Lompat Jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008, maka peneliti dalam pengumpulan datanya menggunakan Teknik. 1. Pengukuran langsung. Yaitu untuk pengumpulan data tentang Panjang tungkai 2. Test yaitu untuk pengumpulan data tentang Kekuatan otot kaki dengan vertical jump dan pre stasi lompat jauh gaya jongkok.

67

1. Pengukuran Panjang Tungkai Pengukuran panjang tungkai dilaksanakan dengan menggunakan cara test, anak-anak diminta untuk berdiri tegak dilantai tanpa menggunakan kaos kaki ataupun sepatu. Kemudian tester mengukur panjang tungkai dengan menggunakan meteran baja. Panjang tungkai testee di dapat dari beberapa jarak antara telapak kaki sampai dengan coxae. Peralatan yang digunakan : a. Metlin panjang 5 meter. b. Alat-alat tulis. c. Blangko hasil pengukuran. Teknik Pengukuran: Subyek Penelitian Berbaris dan Antri satu persatu untuk diadakan pengukuran panjang tungkai, yaitu diukur mulai dari telapak kaki paling bawah sampai dengan coxae.

2. Pengukuran Kekuatan Otot Kaki Pengukuran Kekuatan Otot Kaki ini dilakukan dengan cara testee disuruh melakukan vertical jump dengan gerakan yang benar. Tujuannya yaitu untuk mengukur kekuatan kaki siswa. Test ini dilaksanakan dalam tiga kali kesempatan melompat, serta testee dalam hitungan ketiga hams melakukan gerakan vertical jump sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing testee. Semua gerakan vertical jump dimulai dari sikap berdiri. Adapun urutan pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

68

a. Papan berskala digantung pada dinding setinggi raihan orang yang diperiksa. b. Selama melakukan test, tangan peserta ditaburi serbuk kapur. c. Peserta siap berdiri di bawah papan skala menghadap ke samping. d. Tangan yang akan dipakai ootuk menempuh papan skala diangkat tinggitinggi ke atas dan ditempelkan pada paapn skala. Sehingga bekas dari tangan fang telah diberi serbuk kapur dibaca ada skala yang ada pada berskala tersebut. (Titik A) e. Peserta mengambil sikap hendak meloncat tinggi tinggi ke atas. f. Peserta segera meloncat tinggi tinggi ke atas sambil menepuk papan skala pada saat berada di poocak loncatan bekas tangan adalah titik B. g. Selisih antara B-A adalah Prestasi peserta. Adapun peralatan yang dipergooakan adalah : a. Papan berskala. b. Penghapus papan tulis. c. Serbuk kapur. d. Alat -alat tulis e. Blanko daftar nama anak atau testee.

69

3. Test Prestasi Lompat Jauh Gaya Jongkok Untuk mendapatkan data hasil prestasi lompat jauh gaya jongkok maka pelaksanaannya berpedoman pada buku Test Kesegaran Jasmani Indonesia. a. Tujuan : Mengukur prestasi lompatan dengan awalan lari b. Alat dan perlengkapan : 1) Bak lompat jauh 2) Pacul atau alat pengaduk pasir 3) Alat perata pasir 4) Meteran atau pengukur 5) Formulir test 6) Alat tulis sepert kapur, sapu, bolpoin, dan lain-lain. c. Tester 1) Dua orang pengukur lompatan 2) Satu orang pencatat hasil 3) Satu orang pemanggil siswa 4) Satu orang perata pasir d. Pelaksanaan Test 1) Sikap permulaan : peserta berdiri di belakang garis start 2) Gerakan

70

Murid yang akan di test diminta bersiap di tempat mereka melakukan awalan. Setelah ada panggilan dari pengetes, murid yang dipanggil tadi bersiap di tempat dia akan melakukan awalan. Setelan siap, dia segera berlari cepat, dan setelah sampai pada batas/papan tolakan dengan salah satu kakinya dioa menolak dan melaukan lompatan sejauh mungkin ke depan. Cara mengukur jarak lompatan : diukur dari sentuhan anggota badan pada pasir yang terdekat jaraknya dari batas/papan tolak bagian depan. Setiap murid diberi kesempatan melakukan lompatan tiga kali dengan catatan, mereka selalu gagal melakukan lompatan diberi kesempatan melakukan lompatan lagi sampai pada satu lompatan yang sah. Lompatan dianggap gagal, apabila ujung depan kaki tolaknya melewati batas/pinggir depan tolak. e. Pencatatan Hasil 1) Hasil ketiga lompata dicatat. Hasil lompatan terbaik itulah yang diambil atau dinilai. 2) Jarak lompatan dicatat dengan satuan ukuran sentimeter (cm) dan dicatat sampai bilangan lima perselupuh terdekat.

71

D. Teknik Analisis Data Dalam teknik analisa data berdasarkan variabel dan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan antara panjang tungkai, kekuatan otot tungkai, dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok. Maka teknik analisa data yang dipergunakan dengan penelitian ini adalah teknik analisa korelasi product moment dari pearson, dan analisa regresi. Adapun analisa statistiknya adalah sebagai berikut : 1. Menyusun Data Mentah (Row Skor) Guna memudahkan data perlu adanya penyusunan data-data dari hasil tes pengukuran. Sedangkan data yang tersusun dalam tahap ini masih berupa data mentah, artinya data tersebut belum bisa menggambarkan yang tepat mengenai hasil penelitian ini.

2. Menguji Normalitas Row Skor Dalam bukunya statistik jilid 2 Sutrisno Hadi mengatakan syarat-syarat pengetesan nilai r. Agar kesimpulan yang ditarik tidak menyimpang dari kebenaran yang seharusnya ditarik, maka syarat-syarat berikut ini perlu dipenuhi :

72

a. Sampel yang digunakan dalam penyelidikan harus sampel diambil secara random dari populasi terhadap nama kesimpulan penyelidikan yang hendak kita kenakan. b. Hubungan antara variabel X dan variabel Y merupakan hubungan garis lurus atau hubungan linier. c. Bentuk distribusi variabel X dan variabel Y dalam Populasi adalah atau mendekati distribusi Normal. Dari ketiga syarat itu, karena syarat yang ketiga sangat sukar diketahui, maka bilamana kedua syarat yang pertama telah dipenuhi biasanya orang dapat menarik kesimpulan-kesimpulan dari sampel untuk populasi tanpa kesalahankesalahan yang berarti. Sutrisno Hadi, Yogyakarta (1987:303). Untuk mengetahui apakah skor yang diperoleh dari hasil penelitian termasuk distribusi normal atau tidak maka diadakan uji Normalitas dengan menggunakan Chi Kwadrat dengan rumus sebagai berikut :
2

fo fh fh

Keterangan :
2

= Chi Kwadrat fo fh = Frekuensi yang di observasi = Frekuensi yang diharapkan dalam sampel

(Prof. Drs. Sutrisno Hadi, MA., 1987 : 317)

73

3. Menghitung Korelasi Dua Variabel Dengan Menggunakan Teknik Korelasi Product Moment dari Pearson Setelah data diubah menjadi T Skor maka selanjutnya data tersebut dicari korelasinya antara dua variabel, yaitu variabel bebas dengan variabel terikat. Adapun langkah-langkah dalam menghitung koefisien korelasi antara dua variabel adalah sebagai berikut : a. Menghitung jumlah kasusa b. Mennghitung jumlah skor dari masing-masing variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) c. Menghitung jumlah kwadrat dari masing-masing variabel bebas (X2) dan variabel terikat (Y2) d. Menghitung koefisien korelasi antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Untuk menghitungnya menggunakan rumus sebagai berikut :
XY X N X N
2

Y Y N
2

rxy =
X
2

Y

2

Keterangan : rxy = Koefisien korelasi antara variabel x dan y = Jumlah skor distribusi X = Jumlah skor distribusi Y = Jumlah perkalian skor X dan Y = Jumlah responden X dan Y yang mengisi kuesioner

X
Y

XY
N

74

X Y

2 2

= Jumlah kwadrat skor distribusi X = Jumlah kwadrat skor distribusi Y

4. Menghitung Korelasi Ganda dengan menggunakan Teknik Analisis Regresi Analisa terakhir dalam penelitian ini adalah menghitung koefisien korelasi ganda dengan menggunakan Teknik Analisa Regresi. Adapun langkah-langkahnya dalam menghitung adalah : a. Menghitung jumlah kwadrat dari masing-masing variabel (JK) b. Menghitung jumlah product dari masing-masing variabel. c. Menghitung koefisien garis regresi (Jpxy) d. Menghitung koefisien korelasi antara dua prediktor dengan satu kriteria (Ry 1,2) e. Menghitung jumlah kwadrat regresi (JK reg) f. Menghitung jumlah kwadrat residu (JK res) g. Menghitung jumlah prediktor regresi (db reg) h. Menghitung jumlah prediktor residu (db res) i. Menghitung jumlah koefisien rearata regresi (KR reg) j. Menghitung uji signifikansi F k. Menghitung tabel ringkasan analisa regresi. l. Menghitung bobot sumbangan efektif (SE %) dan bobot sumbangan relatif (SR %) m. Untuk menghitung koefisien ganda dengan menggunakan rumus analisis

75

regresi seperti rumus dibawah ini : Ry(1,2) =

a1.

x1. y a 2. y2

x. y

(Analisa Regresi, 1990, Andi Offset, Yogyakarta, Hal. 38) Keterangan : Ry(1,2) = Koefisien korelasi antara Y dan X1 dan X2 a1 a2 x1.y x2.y y2 = Koefisien prediktor X1 = Koefisien prediktor X2 = Jumlah produk antara X1 dan Y = Jumlah produk antara X2 dan Y = Jumlah kwadrat kriterium Y

Dengan nilai F dihitung dengan rumus : F reg =

R 2 ( N m 1) M (1 R 2 )

Untuk bobot sumbangan relatif menggunakan rumus sebagai berikut : 1) SR %X1 =
a1 x1. y

JK Re g a2 x 2. y

2) SR %X2 =

JK Re g

(Analisa Regresi, 1990, Andi Ofset, Yogykarta, Hal. 26)

E. Uji Signifikansi Dalam penelitian ini apabila hipotesa nol (Ho) ditolak maka hipotesa alternatif (Ha) diterima. Demikian sebaliknya hipotesa nol diterima maka hipotesa

76

alternatif ditolak. Hipotesa alternatif diterima dan hipotesa nol ditolak apabila r hitung lebih besar atau sama dengan r tabel. Hipotesa alternatif ditolak dan hipotesa nol diterima apabila r hitung lebih keeil atau sama dengan r tabel. Untuk pengetesan ini digunakan tabel nilai r dari produek moment dengan taraf signifikasi 1 %. Untuk korelasi antar dua variabel bebas terhadap vriabel terikat digunakan analisa regresi dengan taraf signifikan 1 %, hipotesa alternatif diterima dan hipotesa nol ditolak apabila f hitung lebih besar atau sama dengan F tabel. Demikian juga sebaliknya, hipotesa alternatif ditolak dan hipotesa nol diterima, apabila F hitung lebih kecil atau sama dengan F tabel. Taraf signifikan untuk koefisien korelasi antar dua variabel ditetapkan 1 % artinya apabila hipotesa alternatif diterima berarti 99 % ada hubungan yang signifikan antar masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat. Seangkan taraf signifikan untuk analisa regusi ditetapkan 1 % artinya apabila hipotesa alternatif diterima berarti 99 % ada hubungan yang signifikan antara keseluruhan dari variabel bebas dengan variabel terikat.

77

BAB IV PENYAJIAN DAN HASIL ANALISA DATA

F. Penyajian Hasil Perhitungan dan Uji Hipotesis 1. Hasil Uji Normalitas a. Panjang Tungkai Dari uji normalitas yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : Derajat kebebasan untuk tes signifikan ini adalah jumlah sel fh dikurangi satu, atau 6-41 = 5. Dengan db = 5 ini pada taraf signifikan 5% batas penolakan hipotesanya = 11,07. Sedangkan chi kwadrat yang penulis peroleh = 4,761. Ini ternyata jauh di bawah batas penolakan. Atau Chi Kwadrat hitung lebih kecil dari Chi Kwadrat tabel. Maka ini berarti data panjang tungkai berasal dari Distribusi Normal. b. Kekuatan Otot Kaki Dari uji normalitas yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : Derajat kebebasan untuk tes signifikan ini adalah jumlah sel fh dikurangi satu, atau 6 – 1 = 5. Dengan db = 5 ini pada taraf signifikan 5% batas penolakan hipotesanya = 11,07. Sedangkan Nilai Chi Kwadrat yang penulis peroleh = 8,459. Ini ternyata jauh di bawah batas penolakan. Atau Chi Kwadrat hitung lebih kecil dari Chi Kwadrat tabel. Maka ini berarti data kekuatan otot kaki berasal dari Distribusi Normal.

c. Data Prestasi Lompat jauh Gaya Jongkok

78

Dari uji normalitas yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : Derajat kebebasan untuk tes signifikan ini adalah jumlah sel fh dikurangi satu, atau 6 – 5 = 1. Dengan db = 5 ini pada taraf signifikan 5% batas penolakan hipotesanya = 11,07. Sedangkan Nilai Chi Kwadrat yang penulis peroleh = 2,184. Ini ternyata jauh di bawah batas penolakan. Atau Chi Kwadrat hitung lebih kecil dari Chi Kwadrat tabel. Maka ini berarti data prestasi lompat jauh gaya jongkok berasal dari Distribusi Normal.

2. Hasil Perhitungan Korelasi Antara Variabel Bebas Dan Terikat Untuk menguji hipotesis dalam suatu penelitian selalu berangkat dari hipotesis nihil (nol). Dalam penelitian ini hipotesis nihilnya adalah “Tidak ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dan kekuatan otot kaki dengan lompat jauh gaya jongkok, pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung 01 Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2007/2008. Dalam persiapan hipotesis diperlukan hasil perhitungan yang diperoleh dari suatu penilitian. Hasil perhitungan dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. a. Analisa Korelasi Product Moment

Tabel II Korelasi Antara

79

Variabel Bebas dan Variabel Terikat Variabel Y P X1 0,929 0,05 X2 0,909 0,05 rt 5 % 0,361 -

Interpretasi Analisis Product Moment Untuk melihat apakah ada hubungan yang signifikan atau tidak antara panjang tungkai kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok, maka dilakukan analisis dengan teknik analisis korelasi Product Moment dari Pearson. Hasil perhitungan untuk panjang tungkai menunjukkan bahwa rh = 0,929 dan rt = 0,361, pada taraf signifikasi 5%, N = 30. Dengan demikian rh > rt, maka hipotesa nihil ditolak dan hipotesis alternatif diterima berarti ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati Kabupaten Magetan tahun ajaran 2007/2008. Hasil perhitungan untuk kekuatan otot kaki menunjukkan bahwa rt = 0,909 dan rt = 0,361, dengan taraf signifikan 5%, N = 30. Dengan demikian rh > rt, maka hipotesis nihil (nol) ditolak dan hipotesis alternatif diterima berarti ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati tahun ajaran 2007/2008. b. Analisa Regresi Tabel III Hasil Ringkasan Analisis Regresi

80

Sumber Resresi Residu Total

JK 2690.497036 309.5029636 3000

db 2 27 29

RK 1345.248518 11.46307273 -

F 117.355 -

P 0,05 -

Keterangan : JK : Jumlah Kwadrat Db : Derajat Kebebasan RK : Rerata Kwadrat F : Hasil F hitung analisa Regresi P : Probabiliti atau kemungkinan kesalahan

Interpretasi Analisa Regresi Untuk menganalisa, apakah ada hubungan yang signifikan antara dua Predikator panjang tungkai dan kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok maka diperlukan rumus regresi dengan hasil F = 117.355 dan Ft = 3.35, pada taraf signifikan 5% N = 30, dengan derajat kebebasan (db) untuk menguji F itu adalah m lawan N-m-1. Atau 2 lawan 27. Dengan demikian Fh > Ft berarti ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai, kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati tahun ajaran 2007/2008.

c. Bobot Sumbangan Relatif Predikator Terhadap Prediksi Sumbangan relatif dalam persen, atau SE %, tiap Predikator adalah :

81

1) SR% X1 =

1610.406124 x100% 2690.497036 1080.090913 x100% 2690.497036

2) SR % X2 =

= 10.1% d. Sumbangan Efektif (SE%) Prediktor X1 dan X2 Sumbangan relatif (SR%) predikator X1 dan X2 1) SE X 1% = 59.9% x 0,896832345 = 53.68 % 2) SE X 2% = 10.1 % x 0,896832345 = 36% Tabel IV Bobot Sumbangan Prediktor Ubahan X Korelasi rxy Sumbangan Relatif SR % Sumbangan Efektif SE% 53,7 36,0 89,7%

1 0,929 59,9 2 0,900 40,1 Total 100 Interpretasi Sumbangan Predikator Dari bobot sumbangan relatif diketahui

panjang

tungkai

memberikan sumbangan sebesar 59,9% dan kekuatan otot kaki memberikan sumbangan sebesar 40.1%. Panjang tungkai mempunyai sumbangan yang paling besar terhadap prestasi lompat jauh gaya jongkok dibandingkan dengan kekuatan otot kaki. Pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati tahun ajaran 2007/2008. Sedangkan dari hasil bobot sumbangan totalnya sebesar 89.7%. Hal ini berarti variabel

82

bebas yaitu panjang tungkai dan kekuatan otot kaki menyumbang 89.7% terhadap peningkatan prestasi lompat jauh, sedangkan sumbangan lain sebesar 10.3% berasal dari variabel lain yang tidak diselidiki dalam penelitian ini. Dari data penelitian ini ternyata bobot sumbangan efektif panjang tungkai dan kekuatan otot kaki pengaruhnya lebih besar terhadap prestasi lompat jauh gaya jongkok dibandingkan dengan variabel lain yang tidak diteliti.

G. Diskusi Hasil Setelah diperoleh hasil pengolahan dan korelasi dari masing-masing data maka perlu ditindak lanjuti. Adapun tindakan selanjutnya adalah sebagai berikut:

83

1. Hasil Korelasi Product Moment Berdasarkan perhitungan maka diperoleh hasil korelasi antara panjang tungkai, kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SDN Ngujung I Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan tahun ajaran 2007/2008. a. Koefisien korelasi antara panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok menunjukkan bahwa rh = 0.929 dan rt = 0.361 dengan taraf signifikan 5%, N = 30. Dengan demikian rh > rt, maka hipotesis nihil (nol) ditolak dan hipotesa alternatif diterima. Berarti ada hubungan yang signifikan panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati tahun ajaran 2007/2008. b. Koefisien korelasi antara kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok menunjukkan bahwa rh = 0.909 dan rt = 0.361, dengan taraf signifikasi 5% = 30. Dengan demikian rh > rt, maka hipotesis nihil (nol) ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Berarti ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati tahun ajaran 2007/2008. 2. Hasil Regresi Sehubungan dengan hasil perhitungan regresi F hitung sebesar 117.355 sedangkan F tabel 3.35 untuk taraf signifikasi 5%, N = 30 dengan derajat kebebasan (db) untuk menguji F itu adalah M lawan N – m – 1 atau 2

84

lawan 27. Dengan demikian Fh > Ft berarti ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai, kekuatan otot kaki, dengan prestasi lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati tahun ajaran 2007/2008.

85

BAB V PENUTUP

H. Kesimpulan Berdasarkan pengumpulan data dan pengolahan data secara statistik oleh peneliti sendiri dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati tahun ajaran 2007/2008. Karena koefisien korelasi antara panjang tungkai dengan prestasi lompat jauh menunjukkan bahwa rh = 0.929 dan rt = 0.361, pada taraf signifikan 5%. Dengan demikian rh > rt, maka hipotesis nihil ditolak dan hipotesis alternatif diterima (periksa lampiran 12 halaman 72) 2. Ada hubungan yang signifikan antara kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati tahun ajaran 2007/2008. Karena koefisien korelasi antara kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh menunjukkan bahwa rh = 0.909 dan rt = 0.361, dengan taraf signifikan 5%. Dengan demikian rh > rt, maka hipotesis nihil (nol) ditolak dan hipotesis alternatif diterima. (periksa lampiran 13 halaman 73). 3. Ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai, kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh pada siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Ngujung I Maospati tahun ajaran 2007/2008. Karena koefisien korelasi antara panjang tungkai, kekuatan otot kaki dengan prestasi lompat jauh dengan hasil

86

Fh = 117.355 dan Ft = 3.35, pada taraf signifikan 5% dengan derajat kebebasan (db) untuk menguji F itu adalah m lawan N – m – 1. Atau 2 lawan 27 dengan demikian Fh > Ft (periksa lampiran 16. halaman 76)

I.

Saran-saran Pada akhir skripsi ini penulis memberi saran kepada : 1. Bagi Guru Hasil penelitian ini bisa dijadikan pertimbangan untuk mengarahkan anak didiknya atau muridnya untuk memilih cabang olah raga yang sesuai dengan bakat dan motivasi yang dimilikinya. 2. Bagi Pelatih Hasil penelitian ini bisa dijadikan pertimbangan untuk mengarahkan para atlitnya untuk memilih cabang olah raga yang sesuai dengan bakat dan motivasi yang dimilikinya. 3. Bagi Siswa Hendaknya siswa berperan aktif untuk menanyakan teknik yang baik dalam pelajaran olah raga, agar dapat meningkatkan prestasi yang diharapkan.

87

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Arma. Pembuatan Alat Evaluasi Keterampilan Olahraga. Depdikbud, P2LPTK, Jakarta, 1984:3. Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Bina Aksara, Jakarta, 1986:94. Depdikbud. Biomekanika Olahraga, Buku II Program Akta V-B Proyek Pengembangan Institusi Perguruan Tinggi Jakarta, 1983:13 Kosasih, Engkos. Pendidikan Jasmani Teori dan Praktek. Erlangga. Jakarta. 1973:17. Moeloek dan Tjokronegoro. Kesehatan Olahraga. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta. 1976:72 Pearce, C. Evelyn. Alat-alat Test dan Pengukuran Kesegaran Jasmani, dan Rekreasi, Depdikbud Dirjen Dikti, PT. Gramedia, 1975:75. Riyadi T. Atletik. IKIP Yogyakarta. 1985. Rorimpanday F.G.E. Lari, Lompat, dan Lempar. PT. Pembangunan. Jakarta. 1960:115 Sajoto M. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Dahara Prize. Semarang. 1995:22 Suharno HP. Coaching dalam Olahraga. Depdikbud Dirjend. Dikti. Jakarta. 1981:37 Suryatna Rofi’i. Metode Statistik Analisis. Bina Cipta. Bandung. 1983:6 Sutrisno, H. Analisis Regresi. Yayasan Penerbit Fakulas Psikologi. UGM. Yogyakarta. 1993:18. Sutrisno, H. Statistik Jilid II. Fakultas Psikologi UGM. Yogyakarta. 1980 Syarifudin Aip. Pengetahuan Umum Olahraga. CV. Baru. Jakarta. 1973:4

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful