P. 1
Tugas Public Relations

Tugas Public Relations

|Views: 585|Likes:
Published by Indry As Indie

More info:

Published by: Indry As Indie on May 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/20/2010

pdf

text

original

PENDAHULUAN Kita tidak habis mengerti atas tragedi yang terjadi di Tanjung Priok.

Bentrokan antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dengan masyarakat sampai menyebabkan beberapa korban tewas dan sedikitnya 80 orang lainnya luka-luka. Bagaimana sebuah upaya pembebasan lahan bisa berakibat fatal seperti itu. Bukan hanya bentrokan yang brutal kita saksikan, tetapi peristiwa kekerasan yang yang dipertontonkan Satpol PP. sungguh sama sangat sekali tidak tidak berperikemanusiaan. Kita ingin mengritik secara keras perilaku diperlihatkan Mereka memperlihatkan dirinya sebagai aparat pemerintah daerah yang seharusnya mengayomi warganya. Perilaku kekerasan sepertinya menjadi bagian keseharian mereka. Bukan di Koja saja mereka memperlihatkan sikap pamer kekuasaannya, tetapi dalam tindak tanduk sehari-hari mereka selalu mempertontonkan sikapnya yang menyakiti hati warga.Tidak ada hari dari tindakan mereka yang tidak diwarnai aksi kekerasan. Kita lihat sikap yang mereka pertontonkan sehari sebelumnya ketika mengusir secara kasar warga China Benteng di Tangerang.Tindakan brutal yang dilakukan Satpol PP di Koja sungguh tidak bisa kita benarkan. Mereka boleh kesal dan marah atas tindakan warga yang melawan dan bahkan melukai mereka. Namun ketika mereka menyeret warga apalagi yang usianya masih muda tanpa henti-hentinya mereka pukuli, merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan. Apa yang terjadi di Koja merupakan cerminan dari kegagalan Gubernur DKI Jakarta untuk membina aparat Satpol PP. Bagaimana aparat Pemda itu bisa terus menerus menunjukkan perilaku yang sarat dengan kekerasan.Ketika hal itu terjadi di zaman Orde Baru, kita bisa memahami karena sistem politik yang berlaku adalah sistem otoriter yang cenderung represif. Ketika kemudian kita melakukan reformasi dan mengubah sistem politik menjadi demokrasi, maka sikap dan perilaku kita haruslah berubah.Sistem

demokrasi sangatlah mengharamkan adanya kekerasan. Segala macam persoalan harus dilakukan dengan cara negosiasi dan hukum. Tidak boleh lagi ada kekerasan yang dipakai untuk menyelesaikan perbedaan.Cara negosiasi dan persuasi itulah yang seharusnya dipakai ketika hendak membebaskan lahan milik PT Pelindo di Koja. Kalau pun tahu bahwa pembebasan itu menjadi sensitif karena ada makam Mbak Priok, seharusnya dicari cara untuk bernegosiasi dengan pemuka masyarakat. Satpol PP terlalu biasa untuk memaksakan kehendak. Mereka terlalu terbiasa untuk menggunakan kekuasaan dalam menjalankan tugasnya. Mereka selalu merasa bahwa dengan kekuatannya tidak ada yang pernah menghalangi mereka.Apa yang dipertontonkan Satpol PP di Koja harus dimintai pertanggungjawabannya. Gubernur DKI Jakarta merupakan pihak yang paling harus bertanggung jawab, karena membiarkan kekerasan terjadi begitu telanjang.Satu yang kita khawatirkan, kekerasan yang dipertontonkan begitu telanjang akan memancing kemarahan masyarakat. Kejadian di Koja akan mudah menjadi pemicu pelampiasan kekecewaan atas kehidupan yang semakin mengimpit. Kita pernah mengalami pengalaman pahit seperti ini di tahun 1998. Kita tentunya tidak ingin peristiwa kecil sampai merusak seluruh Jakarta.Kita sudah melihat bagaimana warga kemudian kehilangan rasa hormatnya kepada aparat. Mereka berani untuk melawan dan bahkan merebut peralatan yang dipegang kendaraan aparat. milik Mereka Satpol bahkan merusak yang dan membakari di Koja PP.Kerusuhan terjadi

sepantasnya membuat pimpinan nasional untuk turun tangan. Kekerasan yang dipertontonkan tidak bisa lagi ditolerir. Tindakan brutal dari Satpol PP sungguh merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan.Jangan salah bahwa kejadian itu terjadi di ibu kota negara. Di depan mata para petinggi Republik ini. Aneh apabila itu tidak memantik rasa prihatin. Ini sungguh-sungguh merupakan pelanggaran kemanusiaan yang sangat bertentangan

dengan sistem demokrasi yang sedang kita bangun.Satpol PP telah mencoreng demokrasi yang sudah susah payah kita tegakkan. Mereka jauh dari sikap menghormati nilai kemanusiaan dan sepantasnya mereka untuk dihukum. Tanpa itu mereka akan terus memperlihatkan sikap brutal yang hanya menyakiti hati warga.

SEJARAH Nama Tanjung Priok disebut berasal dari Mbah Priok atau Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad. Beliau lahir di Ulu Palembang tahun 1727. Habin Hasan disertai para pengikutnya kemudian berlayar ke Jawa tahun 1756 untuk menyebarkan dakwah Islam. Menurut catatan, dalam perjalanannya, perahu layar Habib Hasan lalu dibom oleh Belanda. Bom itu meleset, tapi kemudian ombak besar menggulung kapal yang ditumpangi sang Habib. Akibat ombak besar, perahu tersebut tenggelam, mengakibatkan wafatnya Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad yang dijuluki Mbah Priok. Nama lengkapnya Al Imam Al`Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad RA.Jasadnya kemudian ditemukan penduduk. Di samping jasadnya ditemukan periuk nasi. Setelah dimakamkan, periuk nasi itu serta dayung perahu kemudian diletakkan di makamnya, sekaligus sebagai nisan yang menandai makamnya. Mitos berbau mistik yang dihubungkan dengan periuk nasi itu, kemudian berkembang menjadi kisah turun temurun. Misalnya periuk nasi itu seakan mengeluarkan cahaya, atau nampak seakan-akan membesar, dan mitos lainnya. Mitos tentang periuk ini begitu melekat, sehingga penduduk menamakannya Mbah Priok.

Terilhami dari kata periuk nasi. Dari kata ini, daerah di sekitarnya kemudian dinamakan Tanjung Priok.Di balik segala mitos itu, satu hal yang tidak dilupakan masyarakat, yaitu Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad atau Mbah Priok kemudian dihormati sebagai tokoh yang gugur karena tujuan mulia, yaitu ingin menyiarkan dakwah kebenaran dan kebaikan melalui Islam. Hal ini pula yang menimbulkan kemarahan masyarakat, yang menilai Pemda kurang menghargai jejak historis yang turun-temurun sudah hidup menjadi legenda sekaligus peninggalan sejarah yang sangat berarti bagi masyarakat. Bagaimanapun juga ketokohan seorang pendakwah syiar Islam seperti Mbah Priok, selalu mendapat tempat khusus dan terhormat di hati umatnya. Penggusuran makam bernilai sejarah dengan dalih apapun, sepantasnya didasari pertimbangan dan kesediaan memahami kondisi sosial-kultur masyarakat, demi menghindari pertumpahan darah.Kerusuhan makam Mbah Priok terpicu akibat kepentingan pembangunan terminal peti kemas, sayang sekali membuat rakyat harus menyaksikan korban-korban di dalam peti mati, tercatat 3 korban jiwa, 134 korban luka-luka dan puluhan mobil rusak dibakar massa.Azas legalitas yang menjadi pegangan pemerintah kota, ternyata menjadi tak bermakna jika itu sudah memakan beberapa korban jiwa yang tak perlu. PEMBAHASAN Kejadian diatas tentu saja menciptakan citra negatif

masyarakat terhadap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Aparat, dalam hal ini polisi dan khususnya Satpol PP, terlanjur dibenci banyak orang. Akumulasi kemuakan masyarakat melihat tindakan sewenang-wenang mereka sulit dibendung. Rumah, kios dan toko warga dihancurkan dan diobrak-abrik. Rakyat kecil dipukuli. Pernah, warga melihat oknum Satpol PP menendang pengemis wanita yang sedang hamil, tanpa sebab yang jelas. Tak heran ketika ada kesempatan, akumulasi itu dilampiaskan-dan akibatnya mengerikan.

Tentu tuntutan pembubaran Satpol PP, atau setidaknya perombakan, menjadi wacana yang perlu dibahas dengan serius. Harus dipikirkan bagaimana aparat tegas dalam bekerja, namun tidak sewenang-wenang. Sulit, namun harus dikerjakan. Begitu juga dengan hukum. Sudah bukan rahasia lagi, hukum di Indonesia, tidak berpihak pada rakyat kecil. Dalam masalah lahan Makam Priok, pihak Pelindo II seakan alpha, bahwa ini adalah hal sensitif, karena menyangkut solidaritas sejarah, sosial budaya, dan agama. Bagi orang-orang disana, makam ini dianggap keramat-jauh lebih keramat daripada keputusan pengadilan. Tidak heran massa mudah terprovokasi. Perlu dilakukan pendekatan lebih persuasif, apalagi jika benar makam bukan mau digusur, tapi justru diperluas, dibersihkan, bahkan diperbaiki. Dialog dengan tokoh masyarakat wajib diutamakan. Agama memiliki peran yang penting disini. Tidak bisa dipungkiri, isu telah menjadi masalah agama. Hans Kung, seperti dikutip Benyamin Intan dalam buku Public Religion-nya, berbicara mengenai dua sisi agama. Pertama, peran pasif dan negatif: agama harus berjuang agar tidak menjadi sumber konflik. Agama harus menahan diri dan waspada, untuk menghindar dari kemungkinan memicu konflik yang bisa merusak kedamaian. Sejarah menunjukkan bagaimana agama, dibalik wajah damainya, kapanpun bisa berubah menjadi sesuatu yang mengerikan dan menakutkan. Bagaimanapun, wajah mengerikan dari agama bukanlah wajah sejatinya. Motivasi dan keinginan rekonsiliasi antara berbagai kelompok agama, mencerminkan sisi lain agama, peran aktif dan positif agama. Kung sangat optimis bahwa agama memiliki kontribusi signifikan dalam perdamaian dunia. Disinilah peran penting pemuka agama, terutama dari arus utama yang moderat. Karena hakikinya, agama tidak pernah mengajarkan umatnya untuk membunuh, membakar, apalagi menjarah.

Kekerasan agama biasa hanya diajarkan dan dilakukan sekelompok kecil ekstrimis agama. Namun disinilah ironinya, entah kenapa kelompok kecil ini bisa memiliki pengaruh yang cukup besar dan terkesan lebih mewakili ketimbang kelompok arus utama. Satu PR penting bagi kelompok arus utama untuk menunjukkan bahwa agama mereka tidaklah identik dengan kekerasan. Dan upaya ini harus bisa menjangkau kalangan akar rumput jika tidak ingin siasia. Media massa, khususnya televisi harus menyadari besarnya pengaruh mereka. Bias, opini pribadi, dan tidak mengindahkan azas praduga tak bersalah harus dihindari. Dalam kasus ini, setidaknya ada tiga kelemahan televisi-kemungkinan terjadi demi eksklusivitas dan memenangi persaingan-kesalahan informasi mengenai eksekusi makam, penayangan gambar yang tidak pantas, dan pengulangan gambar-gambar yang bisa menimbulkan bias. Televisi menulis bahwa makam akan digusur, sedangkan pihak pemerintah mengatakan hanya akan membongkar gapura dan pendapa, bukan makam. Dan re-chek ke pemerintah dilakukan terlambat-setelah kerusuhan pecah. Kedua, gambar-gambar manusia dinjak-injak, terkapat bersimbah darah, dan teriakan “bunuh!bunuh!” bukan tidak mungkin membuat pihak yang menonton marah, tanpa dengan tepat mengatahui duduk persoalanya menuding salah benar. Tambahkan dengan pengulangan terus menerus gambargambar ini, apa yang kita dapat? Puluhan kilometer dari Tanjung Priok, sekelompok orang, mungkin ratusan, menyerbu kantor dan mengancam membakar kantor walikota di Jakarta Pusat, membuat wakil gubernur harus dievakuasi. Bukan tidak mungkin peristiwa anarkis yang sama dilakukan ditempat lain dengan alasan solidaritas. Beruntung sebagian televisi cepat tanggap, mengundang pemuka-pemuka agama yang terpandang untuk menghimbau massa. Hal yang seharusnya dilakukan dalam situasi konflik, bukan memancing

kemarahan yang lebih luas, tapi memberikan pesan perdamaian. Dan televisi, diatas semua medium lainnya, memiliki kemampuan untuk itu. Apa dan mengapa hal ini bisa terjadi? Masyarakat adalah manusia yang menganggap dirinya orang-orang yang harus dibela dan berkuasa atas apa yang ada ditengah-tengah negeri ini.Pemerintah adalah orang-orang yang menganggap dirinya memerintah dan berkuasa atas pemerintahan.Aparat Hukum adalah orang-orang yang menganggap dirinya berkuasa atas hukum. Lalu Siapa yang salah dan dimana letak kesalahan?Mari kita pandang dari mata yang berbeda. 1. Masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang hidup teratur dibawah Hukum dan pemerintahan di Negara Indonesia. Sudahkah Kita hidup sebagai masyarakat yang teratur dan mau diatur? Pada saat peraturan dibuat, masyarakat sangat sulit untuk mematuhi, saat dilakukan teguran secara langsung dan halus, maka masyarakat menganggap itu sebagai teguran yang biasa saja dan tidak perlu dipatuhi. Contoh : • • Memakai helm, meski sudah berjuta kali diingatkan dan diberi sanksi, ternyata, semua itu dianggap sebagai angin lalu saja Pedagang Kaki Lima, meski sudah disediakan tempat dan dilarang berjualan di daerah yang dianggap mengganggu, begitu banyak alasan, seperti di kaki lima lebih banyak pembeli, gratis, terkadang nurut sama aturan, tapi hanya sehari, besok akan di ulang lagi. dll contoh yang banyak sekali terjadi. Kalimat yang muncul apa? mengerti hukum dan

“Saya kan rakyat, yang membayar pajak, jadi hargai saya donk, bela saya donk !”

Seharusnya kalau anda merasa rakyat yang harus dibela, sadar donk untuk bisa menjadi masyarakat yang teratur.Lalu berdasarkan fakta dan kejadian di atas, berdasarkan sifat ketidakteraturan dan sifat tidak mau diatur, sifat mau menang sendiri pada masyarakat sendiri, apa masalah bisa terselesaikan? 2. PEMERINTAH Indonesia adalah orang-orang yang menjadi wakil rakyat untuk melakukan Negara pengaturan Tapi dan pemberdayaan Pemerintah di tengah-tengah sudah menjadi Indonesia. apakah

pemerintah yang adil, tanggap dan teratur? Ternyata tidak, Pemerintah tidak memiliki Manajemen yang baik ditengah-tengah pemerintahannya. Negara ini sudah terlanjur jatuh dan bobrok terlalu dalam. Sudah terlanjur berkarat penyakit KKN. Mementingkan diri sendiri.Pemerintah belum memiliki ketegasan Terhadap Masyarakat, pemerintah belum memiliki komunikasi yang baik dengan masyarakat.Contoh : • Jika saja pemerintah benar-benar bertindak tegas terhadap masyarakat dari awal peraturan dibuat, pastinya masyarakat tidak akan melakukan hal-hal berulang. Seperti penggunaan Helm di jalan raya. Jelas sekali, dari awal sudah terjadi kesalahan, Pengendara tidak mematuhi peraturan, Uang bisa bekerja. Sudah sulit untuk mengembalikan citra yang benar • Jika saja pemerintah sadar akan posisi dan tugasnya, Negara ini sejahtera. Sayangnya Korupsi terlalu tinggi, pemerintah yang mengaku pemerintah terlalu mementingkan dirinya sendiri, memperkaya dirinya sendiri, tidak sadar jika dia telah menelantarkan kepentingan rakyat.

dan contoh lainnya masih sangat banyak

APARAT HUKUM Semau saya dan sesuka saya, saya tahu hukum, dan anda tidak tahu hukum. Pantaskah? Jika Anda aparat hukum tau dan mengerti hukum, berikan contoh pelaksanaan hukum yang benar di negeri ini. Masyarakat tak akan perduli hukum jika penegak hukum sendiri sudah busuk dari dalam. Apa rakyat akan percaya? Jangan menegakkan hukum dengan meninggalkan jejak kotor pada hukum yang sebenarnya sudah bersih.Contoh : • Hukum sudah disalah gunakan oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi, Sogok menyogok bagi yang memiliki Uang • Masyarakat tidak lagi percaya akan setiap hukum yang berlaku dan diberlakukan. Karena dalam pikiran masyarakat, bahwa hukum itu sudah merupakan sebuah permainan Akhirnya Kejadian berdarah Tanjung Priok, siapa yang disalahkan? • Masyarakat sudah terlalu anti terhadap Satpol PP yang selama ini dianggap “sewenang-wenang”, padahal masyarakat juga ikut berkontribusi terhadap ketidak “sewenang-wenang”an itu. Tapi tidak tersadari oleh mereka. • Satpol PP sudah menganggap masyarakat adalah orang yang tidak bisa diatur, termasuk mereka hanya menjalankan tugas dan perintah dari pengadilan. Bukankah Pemerintah ikut ambil harus

bagian dalam Kejadian ini? Maka mari kita bijak dalam menilai, mari kita bijak dalam mengambil keputusan, mari kita bijak dalam menggunakan emosi dan kata-kata, mari kita bijak dalam bertindak. Bijaklah sebagai masyarakat dalam bertindak, berpikir dan berbuat. Baikkah tindakan dan cara kita dalam menyikapi kondisi? Bijaklah sebagai pemerintah yang membuat peraturan , sudah pantaskah itu diterapkan, atau perlukan melakukan pendekatan emosional yang lebih baik.? Turunlah ke masyarakat dan berbicaralah dari hati ke hati. Jangan Hanya duduk di kursi empuk anda. Bijaklah sebagai pelaksana hukum, dalam mengambil keputusan dan memutuskan. Jangan Melihat kepada meareka yang punya uang dan berpaling dari mereka yang kecil. Emosi akan ditunggangi oleh pihak-pihak yang merasa berkepentingan demi mendapatkan kemauannya, sehingga emosi akan merusak diri dan milik kita sendiri. BAGAIMANA MEMPERBAIKI CITRA NEGATIF SATUAN PAMONG PRAJA MENJADI CITRA POSITIF DI MATA MASYARAKAT

Menurut Pasal 136, 137, 138, 139,140, 147, 148, dan 149 UndangUndang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Pemda), dan juga Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pedoman Satuan Polisi Pamong Praja, Satpol PP merupakan perangkat pemda dalam memelihara dan menyelenggarakan ketenteraman, ketertiban umum, serta menegakkan perda. Dalam hal ini, Satpol PP merupakan aparatur yang melaksanakan tugas kepala daerah dengan berbagai kebijakannya dalam memelihara dan menyelenggarakan ketenteraman, ketertiban

umum, menegakkan perda dan keputusan kepala daerah sekaligus membina masyarakat demi tegaknya perda. Tugas dari kepala daerah inilah yang terkadang melampaui batas.

Sangat tidak pas Satpol PP ditugaskan untuk mengamankan pelaksanaan eksekusi atau terlibat langsung dalam eksekusi. Apalagi untuk eksekusi tanah lain yang tidak ada urusannya dengan aset pemda. Pemberian tugas seperti itu sangat rawan menjadikan posisi Satpol PP terjepit dan kadang harus bentrok dengan masyarakat. Lebih ironis kalau tugas diberikan berdasarkan putusan pengadilan, kepentingan kapitalis, sedangkan tentang kebenaran sejarah tanah, perlindungan situs-situs sejarah, dan perlindungan hak-hak masyarakat, dikesampingkan.

Sama halnya ketika Satpol ditugaskan menertibkan pedagang kaki lima (PKL), sedangkan solusi tepat di balik penertibannya tidak ada sehingga memicu terjadinya bentrok. Ironisnya, instansi yang menangani PKL, justru banyak melemparkan tugas penertiban kepada Satpol PP, sedangkan mereka sebenarnya punya petugas penertiban dan ada biaya operasionalnya yang tidak kecil. Semua itu jelas sangat tidak menguntungkan Satpol PP yang cenderung dijadikan alat yang sering harus berbenturan dengan masyarakat secara langsung. Muncullah kemudian kesan buruk pada Satpol PP dan terkadang memunculkan kebencian. Oknum yang Nakal Lebih tidak menguntungkan ketika dalam tugas, banyak oknum Satpol PP nakal dan over acting, termasuk main pukul, dan keroyok. Malah ada pula yang memerintahkan melakukan penyerangan, penyerbuan, dan perusakan. Parahnya, ketika anggota Satpol terlibat bentrok dengan massa atau terdesak, pimpinan tidak ada dan tidak ada perintah mundur mencegah benturan.

Lebih parah ketika bentrok, ada perintah yang justru berbalikan dengan perintah sebelumnya. Muncullah kesan Satpol PP diadu dengan massa. Seperti di Tanjung Priok kali ini, atau penertiban PKL di kawasan Johar beberapa tahun lalu. Kalau sekarang ini ada tragedi berdarah Tanjung Priok II dan jatuh banyak korban di pihak Satpol, tentu keberadaan Satpol PP dan tugas pokok serta fungsinya perlu ditinjau ulang. Minimal soal tugas yang terkait pelaksanaan tugas kepala daerah dan berbagai kebijakannya harus diberi batasan yang jelas. Batasan ini penting agar tidak ada lagi Satpol PP ditugaskan melakukan kegiatan yang lebih pas sebenarnya menjadi tugas Polri, atau tugas yang berbenturan dengan aturan hukum yang sebenarnya harus lebih dihormati. Termasuk dalam eksekusi tanah, pembongkaran makam dan situs-situs yang dilindungi undangundang. Satpol PP dengan semua anggotanya sebagai perangkat pemda bukanlah robot. Jangan rusak hati nurani mereka, jangan rusak akal sehat mereka, dan jangan benturkan mereka dengan masyarakat melalui pemberian tugas yang melampaui batas kewenangannya. Jangan adalagi anggota Satpol PP yang jadi korban perintah, apalagi sampai luka dan meninggal dunia. Satpol PP sudah saatnya dipimpin oleh mereka yang memang mempunyai sikap cerdas, tegas, berani, bertanggung jawab, dan tahu yang dibutuhkan anggota. Jangan ada pimpinan Satpol PP hanya bisa ‘’siap’’ tanpa berani menyatakan ‘’tidak’’ ketika diperintahkan untuk mengerahkan anggota melaksanakan tugas yang melampaui kewenangan. Kalau personel Satpol PP punya risiko besar di tengah tugas yang

kadang tidak dapat diterima akal sehat dan nurani, sudah saatnya mereka mendapat perlindungan dan kesejahteraan secara baik. Termasuk asuransi kesehatan, jiwa, dan biaya perawatan serta jaminan hari tua atau bagi keluarga bila risiko buruk sampai terjadi dalam pelaksanaan tugas. Keberadaan satpol PP harus dipertahankan, hal itu adalah

konsekwensi otonomi daerah yang melembaga di struktural pemda. bayangkan kalo setiap Perda tak ada lagi yang mengawalnya. Kepolisian tidak bisa masuk dalam ranah kebijakan pemerintah daerah. Setiap peraturan dimanapun itu harus ada yang mengawalnya untuk kesejahteraan masyarakat. Sistematika fungsi Satpol PP yang harus direformasi, bukan malah membubarkannya. Ada evaluasi internal di Satpol PP. Bagaimana mereka menegakkan ketertiban dan keamanan, trantib kan keamanan dan ketertiban dengan cara-cara yang lebih persuasif. Itu paling penting, lebih persuasif mengutamakan dialog dengan masyarakat. 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->