P. 1
analisa putusan

analisa putusan

|Views: 1,885|Likes:
Published by oktaglory

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: oktaglory on May 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2013

pdf

text

original

A. Identitas Obyek Putusan dan Hakim yang Memutus 1. No. Perkara 2. Pengadilan tempat putusan ditetapkan 4.

Susunan Majelis hakim : : Purwokerto Selasa, 24 Nopember 2009 a. b. c. 5. Nama Penggugat : Wahyuni,S.H Sohe,S.H.,M.H. Harto Pancono,S.H Penggugat-1 Penggugat-2 Penggugat-4 Penggugat-5 Tergugat Turut Tergugat-1 Turut Tergugat-2 3. Tanggal putusan ditetapkan : : 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt

Ely Suprihatiningsih Dwi Hendra Wijaya Wahyu Widodo Hari Setiawan

Michael Salyo Purwoko Penggugat-3

6. Nama Tergugat

:

Aji Budi Prasetya Drs.Soekamto Siti Marina

B. Kasus Posisi Aji Budi Prasetya (Tergugat) yang sedang mendirikan/membuka usaha/dagang/bisnis bermaksud meminjam uang kepada Ely Suprihatiningsih sebagai modal tambahan atas usahanya sebanyak tiga kali, dengan total Rp. 68.000.000,- dengan perincian yaitu :Pertama pada tanggal 14 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 28 Januari 2009 sebesar Rp. 55.000.000,- (lima puluh lima juta rupiah) dari 2 kuitansi. Kedua pada tanggal 20 Januari 2009 dengan Jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 3 Pebruari 2009 sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Ketiga pada tanggal 24 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 7 Pebruari 2009 sebesar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) selain kepada Ely, Aji juga meminjam uang kepada Dwi Hendra Wijaya sebanyak tiga kali dengan perincian sebagai berikut : Pertama pada tanggal 9 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 23 Januari 2009 sebesar Rp.

1

20.000.000,- (dua puluh juta rupiah). Kedua pada tanggal 27 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 10 Pebruari 2009 sebesar Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah). Ketiga pada tanggal 3 Pebruari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua minggu) yaitu sampai tanggl 17 Pebruari 2009 sebesar Rp 26.000.000,- (dua puluh enam juta rupiah) tidak hanya kepada Ely dan Dwi, Aji juga meminjam kepada 3 orang lainnya yaitu Michael Salyo Purwoko, Wahyu Widodo dan Hari Setiawan, dengan perincian sebagai berikut : kepada Michael, Pertama pada tanggal 16 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 30 Januari 2009 sebesar Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah). Selanjutnya pada tanggal 21 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 5 Pebruari 2009 sebesar Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah). Sedangkan kepada Wahyu Pertama pada tanggal 14 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 28 Januari 2009 yaitu tetulis dalam kuitansi adalah Rp. 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah). Selanjutnya pada tanggal 21 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 5 Pebruari 2009 sebesar Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah). Dan terakhir kepada Hari Pada tanggal 13 februari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 28 februari 2009 sebesar Rp 35.000.000,-(tiga puluh lima juta rupiah). Terhadap para pemberi pinjaman (Penggugat) Aji menjanjikan profit share sebesar 15% dalam jangka waktu 2 minggu, kecuali kepada Ely. Kemudian dapat dibuat kesepakatan baru lagi dan begitulah seterusnya. Untuk menarik hati kepada para pemberi pinjaman yang mana Aji berjanji akan memberikan hasil keuntungan 15 % dari modal yang ditanamkan, dengan demikian Aji seharusnya memberikan hasil keuntungan, namun dalam kenyataannya tidak demikian sehingga jika dihitung-hitung para pemberi pinjaman menderita total kerugian sebesar Rp. Rp 329.850.000,- (tiga ratus dua puluh sembilan juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah). Sebelum adanya perjanjian hutang piutang ini, Aji dan para pemberi pinjaman pernah melakukan perjanjian serupa dengan nilai jumlah uang yang

2

lebih kecil, selain itu pada perjanjian sebelumnya Aji juga memberikan profit sharing sebagaimana mestinya. Setelah perjanjian hutang-piutang yang pertama selesai dan Aji telah melunasi semua hutangnya kepada para pemberi pinjaman, Aji kemudian meminjam uang kembali kepada pemberi pinjaman diatas dengan nominal yang lebih besar dari sebelumnya. Namun setelah waktu yang diperjanjikan telah habis Aji tak kunjung melunasi hutangnya tersebut. Untuk meyakinkan para pemberi pinjaman Aji memberikan jaminan berupa dua bidang tanah dengan sertifikat hak milik tanah atas nama kedua orangtuanya yaitu : Sertifikat HM No.212 a.n DRS.SOEKAMTO luas + 625 m2 (SU. No. 1269/D/1984 tgl 31-1-1984) dan sertifikat HM No.2350 a.n Hj. SITI MARIANA SOEKAMTO luas + 596 m2, (SU. No. 86/Teluk/2003 tgl 28-8-2008). Hal tersebut kemudian dibuat dalam surat perjanjian dan penyerahan sebagai benda jaminan dari perjanjian hutang piutang. Oleh karena perbuatannya tersebut maka Aji dianggap tidak memiliki i’tikad baik untuk segera melunasi kewajibannya hingga batas waktu yang telah disepakati habis atau jatuh tempo dan para pemberi pinjamanpun sudah berkalikali menagih hutangnya tersebut. Maka para pemberi pinjaman bermaksud untuk mengajukan gugatan atas perbuatan yang dilakukan oleh Aji dengan dasar gugatan wanprestasi. C. Pertimbangan Hukum dan Amar Putusan TENTANG HUKUMNYA DALAM KONPENSI Menimbang bahwa maksud dan tujuan gugatan Penggugat adalah seperti tersebut di atas. DALAM EKSEPSI : Menimbang bahwa terhadap surat gugatan Para Penggugat tersebut Turut Tergugat I dan Tuur Tergugat II di dalam jawabannya telah mengajukan eksepsi pada pokoknya sebagai berikut: 1. Bahwa gugatan Penggugat bertentangan satu sama lain (kontradiksi), hal ini terlihat dalam posita angka 8 menyatakan “...Penggugat awal-awalnya

3

sudah pernah menerima hasil keuntungan atas kerjasama..” , namun posita angka 11 menyatakan “…Tergugat sampai hari ini belum mengembalikan modal usaha dan hasil keuntungan…” sehingga substansi dalam posita 8 bertentangan dengan posita angka 11; 2. Bahwa Panggugat dalam posita angka 11 maupun petitum angka 3 telah menggabungkan tuntutan wanprestasi dengan tuntutan melawan hukum, hal demikian tidak dapat dibenarkan menurut hukum, dan masing-masing tuntutan harus diajukan dalam gugatan tersendiri. Selanjutnya berdasarkan hukum acara perdata sebagaimana diatur dalam pasal 102 RV sebagai dasar hukum yang dapat dijadikan alasan untuk mengajukan gugatan dikelompokan sebagai berikut : a. Ingkar janji / wanprestatie, yakni tuntutan tentang pelaksanaan suatu perikatan perorangan yang timbul karena persetujuan; b. Perbuatan melawan hukum / onrechtmatige Daad, yakni tuntutan tentang pelaksanaan suatu perikatan perorangan yang timbul karena undang-undang; oleh karenanya tidak dapat dibenarkan menurut hukum mencampur / menggabungkan perbuatan melawan hukum / onrechtmatige Daad dengan ingkar janji / wanprestatie, hal ini sesuai dengan doktrin hukum dan sejalan dengan pendapat Mahkamah Agung RI, mohon periksa Yurisprudensi tetap MARI dalam putusan nomor 879K/Pdt/1999 tanggal 22 Januari 2001, yang pada pokoknya nenyatakan ‘penggabungan tuntutan perbuatan melawan hukum dengan tuntutan wanprestasi di dalam satu surat gugatan, tidak dapat dibenarkan menurut tertib beracara perdata, masing-masing tuntutan harus diselesaikan dalam gugatan tersendiri; Berdasarkan alasan tersebut di atas gugatan Para Penggugat digolongkan tidak jelas (obscuur libelle) oleh karenanya maka gugatan Para Penggugat harus dinyatakan tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijk Verklaard);

4

Menimbang bahwa terhadap eksepsi-eksepsi Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II tersebut, Para Penggugat dalam repliknya telah mengajukan tanggapan yang pada pokoknya sebagai berikut: 1. Bahwa pemahaman dalam membaca isi gugatan (posita) tidak teliti, tidak cermat dan cara bacanya dipenggal-penggal. Sesungguhnya sebelum Para Penggugat jadi korban Tergugat, pernah Penggugat III sepakat dengan Tergugat dalam perjanjian kerja sama ssemacam. Namun dengan nominal uang lebih kecil dan sekali beres tepat waktu pembayaran per 2 minggu. Kemudian atas bujukan Tergugat lagi dari tanggal 9 Januari sampai dengan 13 Pebruari 2009 kelima orang (Para Penggugat) menyerahkan uang seluruhnya sebesar Rp. 215.000.000,sampai sekarang tidak dikembalikan. Sedangkan keuntungan yang dijanjikan Tergugat sewaktu menerima uang tersebut yang diberi istilah prfit share 15% untuk setiap 2 minggu sekalipun belum dibayar. Dengan demikian uraian tersebut dalam posita gugatan adalah cukup jelas dan lengkap dimana memuat kronologi latar belakang sebelum kejadian tindak melawan hukum yang diperbuat oleh Tergugat terhadap Para Penggugat; 2. Bahwa dalam perkara ini yang diuraikan adalah tantang kerjasama untuk usaha yang disepakati oleh dua pihak melalui suatu perjanjian baik lisan maupun tertulis. Sehingga adanya suatu perjanjian yang telah disepakati oleh para pihak berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuat kesepakatan itu. Oleh karenanya perjanjian yang telah dibuat diingkari sendiri, maka pihak yang mengingkari tersebut telah melakukan apa yang disebut merupakan perbuatan melawan hukum, sebab perjanjian berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuat perjanjian tersebut. Secara hukum karena Tergugat telah ingkar janji sehingga hal itu dianggap sebagai perbuatan melawan hukum dengan melakukan ingkar janji. Bahwa

5

kedua haltersebut adalah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan baik perbuatan melawan hukum maupun ingkar janji; Menimbang bahwa eksepsi-eksepsi Para Turut Tergugat tersebut diatas, bukan tentang eksepsi kewenagan mengadili dari pengadilan, baik kompetensi absolute maupun kompetensi relatif, maka secara yuridis eksepsi-eksepsi Para Turut Tergugat tersebut harus diputuskan bersama-sama dengan pokok perkara, atau dengan kata lain tidak diputuskan dengan putusan tersediri yaitu putusan sela ( vide pasal 136 HIR, dan yuris prudensi/putusan mahkamah agung repulik Indonesia nomor 935k/Sip/1985); Menimbang bahwa selanjutnya majelis hakim akan mempertimbangkan terhadap eksepsi-eksepsi Para Turut Tergugat sebagai berikut; Menimbang bahwa terhadap eksepsi poin ke satu tentang “ gugatan Para Penggugat bertentang satu sama lain(kontradiksi), hal ini terlhat dalam posita angka 8 menyatakan “….. Penggugat awal-awalnya sudah pernah menerima hasil keuntungan atas kerjasama…..”, namun posita angka 11 menyatakan “…Tergugat sampai hari ini belum mengembalikan modal usaha dan hasil keuntungan…” sehingga substansi dalam posita 8 bertentangan dengan posita 11; Menimbang bahwa setelah majelis hakim memperhatikan posita gugatan Para Penggugat angka ke- 8, dan ke-11 dihubungkan dengan posita ke-1 sampai dengan poisita ke-6, dapat disimpulakan bahwa pokok permasalahan dalam perkara a quo adalah Tergugat meminjam uang /berhutang kepada Para Penggugat, dimana pada posita angka ke-1 sampai dengan posita ke-6 telah menjelaskan tentang tanggal terjadinya pinjam uang/hutang serta waktu jatuh tempo hutang/ pinjaman, bahkan besarnya profit share yang akan diterima masing-masing Penggugat; Menimbang bahwa berdasarkan pertiombangan tersebut tidak ada kontradiktif/pertentangan diantara posita surat gugatan, dengan demikian eksepsi Para Turut Tergugat tidak beralasan hukum dan karenanya haruslah ditolak; Menimbang bahwa terhadap eksepsi poin ke-2 yaitu tentang “bahwa gugatan Para Penggugat dalam posita angka 11 maupun petitum angka 3 telah menggabungkan

6

tuntutan wanprestasi dengan tuntutan perbuatan melawan hukum, hal demikian tidak dapat dibenarkan menurut hukum, dan masing-masing tuntutan harus diajukan dalam gugatan tersendiri, sehingga gugatan Penggugat digolongkan tidak jelas (obscuur libelle), karenanya gugatan Para Penggugat harus dinyatakan tidak dapat diterima ( Niet Ontvankelijk verklaard); Menimbang bahwa maksud dari eksepsi Para Turut Tergugat ini adalah tentang penggabungan tuntutan yaitu antara ingkar janji/ wanprestasi dengan perbuatan melawan hukum/ Onrechtmatige Daad, akan tetapi dalil gugatan Para Penggugat tentang peristiwa konkritnya adalah sama yaitu tentang adanya hutang/pinjaman Tergugat kepada Para Penggugat. Penggabungan dari beberapa tuntutan ini seperti ini dalam ilmu hukum acara perdata dikenal dengan komulasi objektif. Menimbang bahwa menurut hukum acara perdata positif HIR tidak mengatur penggabungan gugatan ( samen voeging van vordering), namun berdasarkan doktrin hukum acara perdata penggabungan tuntutan/ komulasi objektif dibenarkan, kecuali: 1. Kalau untuk sesuatu (gugatan) tertentu diperlukan suatu acara khusus ( perceraian ), sedangkan tuntutan yang lain harus diperiksa menurut acara biasa (gugatan utnuk memenuhi perjanjian ), maka tuntutan itu tidak boleh digabungkan dalam satu gugatan; 2. Apabila hakim tidak berwenang (secara relatif) utnuk memeriksa salah satu tuntutan yang diajukan bersama-sama dalam satu gugatan dengan tuntutan lain, maka kedua tuntutan itu tidak boleh diajukan bersama-sama dalam satu gugatan; 3. Tuntutan tentang “Bezit” tidak boleh diajukan bersama-sama dengan tuntutan tentang “Eigendom” dalam satu gugatan ( vide pasal 103 Reglement Op Verordering); Menimbang bahwa sejalan dengan Yurisprudensi bahwa penggabungan gugatan pada prinsipnya diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan hukum acara, hanya saja agar penggabungan itu sah dan memenuhi syarat harus terdapat

7

hubungan erat (innerlicke samenhangen) atau terdapat hubungan hukum sebagai mana Yurisprudensi No. 575K/Pdt/1983 tanggal 20 Juni 1984; Menimbang bahwa dalam perkara a quo penggabungan tuntutan/ komulasi obyektif berpedoman pada uraian perbuatan materiil yang sama dalam dalil gugatan Para Penggugat, sehingga jelas tidak ada pertentangan antara dalil gugatan dan tidak menyulitkan dalam proses pemeriksaan perkara; Menimbang berdasarkan pertimbangan yuridis diatas, eksepsi para Turut Tergugat ini tidak beralasan hukum dan karenanya harus ditolak; Menimbang bahwa gugatan Para Penggugat pada pokoknya sebagai berikut: -Bahwa Tergugat telah pinjam uang pada Penggugat 1 sebesar Rp. 68.000.000,(enam puluh delapan juta rupiah) dengan perincian sebagai berikut: -Pertama, tanggal 14 januari 2009 sebesar Rp. 55.000.000,- ( lima puluh lima juta rupiah ) dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 28 januari 2009 dari 2 (dua) kuitansi; -Kedua, tanggal 20 januari 2009 sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 3 pebruari 2009; -Ketiga, tanggal 24 januari 2009 sebesar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah)dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 7 pebruari 2009; - Bahwa Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat II sebesar Rp. 68.000.000,- (enam puluh satu juta rupiah) dalam jangka waktu 2 (dua) minggu dengan profit share 15 % dengan perincian yaitu: -Pertama, tanggal 9 januari 2009 sebesar Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 23 januari 2009; -Kedua, tanggal 27 januari 2009 sebesar Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah) dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 10 pebruari 2009; -Ketiga, tanggal 3 pebruari 2009 sebesar Rp. 26.000.000,- ( dua puluh enam juta rupiah) dengan jatuh tempo 2 ( dua) minggu yaitu tanggal 17 pebruari 2009;

8

- Bahwa Tergugat telah pinjam uang dengan Penggugat III sebesar Rp.13.000.000,- ( tiga belas juta rupiah) akan diberi keuntungan 15 % untuk jangka waktu 2 (dua) minggu yaitu: -Pertama, tanggal 16 januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai dengan 30 januari 2009 sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah); -Kedua tanggal 21 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu, yaitu sampai denag tanggal 5 Februari 2009 sebesar Rp.8.000.000,- ( delapan juta rupia); - Bahwa Tergugat telah pinjam uang denganPenggugat IV sebesar Rp. 38.000.000.- ( tiga puluh delapan juta rupiah) dengan keuntungan profit shere 15% untuk jangka waktu 2 minggu denag perincia : - Pertama , tanggal 14 Januari 2009 denagn jatuh tempo 2(dua) minggu yaitu sampai dengan 28 Januari 2009 yangtertulis dalam kuitansi adalah Rp. 30.000.000.- ( tiga puluh juta rupiah) ; - Kedua, tanggal 21 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 5 Febuari 2009 sebesar Rp. 8.000.000.- (daelapan juta rupiah); - Bahwa Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat V sebesar Rp. 35.000.000.- (tiga puluh lima juta rupiah) denag kuitansi yang mencantum profit shere per 14 hari, sebagai berikit pada tanggal 13 Febuari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 28 Februari 2009; Meninbang bahwa Tergugat dalam jawabannya pada pokoknya membenarkan gugatan Para Penggugat, yaitu Tergugat telah berhutang kepada Para Penggugat, tapi Tergugat menyangkat nbesar hutangnya terhadap Penggugat I dan Pengguagt II, dan Penggugat V yaitu, masing-masing hutang terhadap Penggugat I sebesar Rp. 58.000.000 ( lima puluh delapan juta rupiah) bukan sebesar Rp. 68.000.000.- ( enam puluh delapan juta rupiah) sedangkan terhadap Penggugat II sebesar Rp. 31.000.000.- ( tiga puluh satu juta rupiah), buakan sebesar Rp. 61.000.000.( enam puluh satu juta rupiah) dan Penggugat V sebesar Rp. 30.000.000.- ( tiga

9

puluh juta rupiah) bukan Rp. 35.000.000.- ( tiga puluh lima juta rupiah) dengan jatuh tempo 2 (sua) inggu dan dengan janji buanga atau profit shere sebesar 15%; Meninbang bahwa para Turut Terguguat tidak menyangkal dalit pokok gugatan Para Penggugat, tetapi menyangkat posita ke-7 dan ke-12 “tentang tanah dan bangunan sesuain Sertifikat Hak Milik ( SHM) No.212 atasnama SOEKAMTO dan tanah sawah Sertifikat Hak Milik (SHM) No.2350 atasnama Hj. SITI MARIANA SOEKAMTO yang oleh Tergugat sebagai benda jaminan atas pinjaman / hutang kepada Para Penggugat sehingga menolak sita jaminan yang diajukan Para Penggugat atas tanah-tanah tersebut”, Menimbang bahwa berdasarkan jawab-jinawab antara para pergugat dengan Tergugat dan para Turut Tergugat, ada dalil-dalil Penggugat yang dibenarkan atau tidak dibantah oleh terguagat dan para Turut Tergugat, sehingga dalil-dalil Penggugat tersebut merupakan dalil tetap yang tidak perlu dibuktikan lagi oleh Para Penggugat, yaitu: Bahwa Tergugat berhutang kepada Penggugat 3 sebesar Rp. 13.000.000,(tiga belas juta rupiah); Bahwa Tergugat berhutang kepada Penggugat 4 sebesar Rp. 38.000.000,(tiga puluh delapan juta rupiah); Bahwa jatuh tempo hutang atau pinjaman tersebut selama 2 (dua) minggu atau 14 (empat belas) hari dengan profit share atau bagi hasil sebesar 15%; Bahwa hutang Tergugat kepada Para Penggugat (Penggugat1,2,3,4 dan 5) belum pernah dibayar oleh Tergugat; Menimbang bahwa sedangkan terhadap dalil Para Penggugat yang disangkal oleh Tergugat dan para Turut Tergugat, sehingga belum merupakan dalil tetap dan harus dibuktikan oleh Para Penggugat adalah: Bahwa hutang Tergugat kepada Penggugat 1 sebesar Rp. 58.000.000,bukan Rp. 68.000.000 (enam puluh delapan juta rupiah);

10

-

Bahwa hutang Tergugat kepada Penggugat 2 sebesar Rp. 31.000.000,bukan sebesar Rp 61.000.000,- (enam puluh satu juta rupiah);

-

Bahwa hutang Tergugat kepada Penggugat 3 sebesar Rp. 30.000.000,bukan Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah);

Menimbang, bahwa menurut pasal 163 HIR dan pasal 1865 BW menyatakan “ barang siapa yang mengatakan mempuanyai suatu hak atau menyebutkan suatu kejadian untuk meneguhkan haknya atau untuk membantah hak orang lain, haruslah membuktikan adanya hak atau kejadian itu”; menimbang bahwa untuk membuktikan dalil-dalil gugatannya, Para Penggugat telah mengajukan alat bukti surat yang diberi tanda bukti P-1 sampai dengan P-9, dan 3 (tiga) orang saksi yaitu saksi TRI WAHYUNI yang disumpah di persidangan, sedangkan saksi SRI YANTI dan DESI INDAH ARISANTI tidak disumpah, SRI YANTI adalah adik kandung Penggugat 1 dan saksi DESI INDAH ARISANTI adakah istri dari Penggugat III, dan pihak Tergugat untuk membuktikan dalil-dalil sangkalannya tersebut tidak mengajukan alat bukti surat maupun saksi, sedangkan Para Turut Tergugat untuk mempertahankan dalil-dalil sangkalannya telah mengajukan alat bukti surat diberi tanda bukti T.T-1 dan 2 (dua) orang saksi dibawah sumpah yaitu SOEMARNO BIN ARSADIWIRYA dan saksi ACHMAD MUHADJI BIN SANRADI; Mmenimbang bahwa apakah berdasarkan alat-alat bukti yang telah diajuakan oleh Para Penggugat tersebut, Para Penggugat dapat membuktikan dalildalil gugatannya; Menimbang Penggugat; Menimbang bahwa berdasarkan tanda bukti P-1 terdiri dari 4 (empat) lembar kwitansi, yaitu 2 (dua) lembar tertanggal 14 Januari 2009 masing-masing tertulis senilai Rp. 15.000.000,- dan Rp. 40.000.000,-, tertanggal 20 Januari 2009 berjumlah sebesar Rp. 10.000.000,-, dan kwitansi Rp. Tertanggal 24 Januari 2009 berjumlah Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah); bahwa terlebih dahulu Majelis Hakim akan mempertimbangkan tentang berapa besarnya jumlah hutang Tergugat kepada Para

11

Menimbang bahwa pada 4 (empat) kwitansi tersebut tertulis, yakni telah diterima uang dari ELY SUPRIHARTININGSIH untuk pembayaran pinjaman atas nama AJI BUDI PRASETYA yang diberi materai Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah) dan diberi stempel/cap serta ditandatangani atas nama AJIE untuk kwitansi 1 sampai dengan 3, sedangkan kwitansi ke-4 ditandatangani atas nama AJIE BUDI P; Menimbang bahwa di depan persidangan Tergugat telah mengakui nama yang tertulis “AJIE” dan “AJIE BUDI P” dan tandatangan di dalam kwitansi adalah nama dan tandatangan Tergugat, begitu pula stempel/cap diakui sebagai milik Tergugat; Menimbang bahwa dengan diakui oleh Tergugat terhadap tanda tangan yang ada di kwitansi tersebut adalah tandatangan Tergugat, maka tanda bukti P-1 berupa kwitansi tersebut merupakan alat bukti yang sah menurut hukum, sehingga secara yuridis telah terbukti bahwa hutang Tergugat kepada Penggugat I sebesar Rp. 68.000.000,- (enam puluh juta rupiah); Menimbang bahwa berdasarkan tanda bukti P-2 yaitu berupa 3 (tiga) lembar kwitansi, masing-masing tertanggal 09 Januari 2009 tertulis sejumlah uang Rp. 20.000.00,-(dua puluh juta rupiah), tertanggal 09 Januari 2009 tertulis sejumlah uang Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah), dan kwitansi tertanggal 3 Februari 2009 tertulis sejumlah uang Rp. 26.000.000,- (dua puluh enam juta rupiah); Menimbang bahwa di dalam 3 (tiga) kwitansi tersebut tertulis yaitu telah diterima uang dari DWI HENDRA WIJAYA untuk membeli modal usaha yang diberi materai Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah) dan diberi stempel/cap serta ditandatangani atas nama AJI BUDI P untuk kwitansi 1, sedangkan untuk kwitansi ke-2 dan ke-3 tidak dicantum nama; Menimbang bahwa di persidangan Tergugat mengakui tertulis di kwitansi nama “AJI BUDI P” dan tandatangan adalah nama Tergugat, begitu pula stempel/cap diakui milik dan dilakukan Tergugat; Menimbang bahwa dengan diakui oleh Tergugat bahwa tanda tangan di kwitansi tersebut adalah tanda tangan Tergugat, maka tanda bukti P-II berupa

12

kwitansi tersebut merupakan alat bukti yang sah menurut hukum, sehingga secara yuridis telah terbukti bahwa hutang Tergugat kepada Penggugat II adalah sebesar Rp. 61.000.000,- (enam puluh satu juta rupiah); Menimbang bahwa berdasarkan tanda bukti P-V berupa 1 (satu) lembar kwitansi tertanggal 13 Februari 2009 di dalam tertulis : telah diterima dari MS. HARI SETIAWAN uang sebesar Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah) untuk modal bisnis /kerja sama bermaterai Rp.6.000, (enam ribu rupiah) dan ditandatangani, tetapi tanpa tercantum nama jelas/terang; Menimbang bahwa di depan persidangan Tergugat menngakui bahwa tandatangan yang tercantum di kwitansi adalah tandatangan Tergugat; Menimbang bahwa dengan diakui Tergugat bahwa tanda tangan di kwitansi tersebut adalah tanda tangan Tergugat, maka tanda bukti P-V berupa kwitansi tersebut merupakan alat bukti yang sah menurut hukum, sehingga secara yuridis telah terbukti bahwa hutang Tergugat kepada Penggugat V sebesar Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah), hal ini juga dikuatkan oleh keterangan saksi TRI WAHYUNI; Menimbang bahwa berdasarkan alat bukti surat yang diberi tanda bukti P-I sampai dengan P-V dan pengakuan Tergugat( dalil-dalil tetap), maka telah terbukti bahwa Tergugat berhutang kepada Para Penggugat, yaitu kepada PenggugatI sebesar Rp.68.000.000,-, kepada Penggugat II sebesar Rp. 61.000.000,-,(enam puluh satu juta rupiah), kepada Penggugat III sebesar Rp.13.000.000,- (tiga belas juta rupiah), kepada Penggugat IV sebesar Rp. 38.000.000,- (tiga puluh delapan juta rupiah). Kepada Penggugat V sebesar Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah); Menimbang bahwa selanjutnya perlu dipertimbangkan apakah pinjaman/hutang Tergugat kepada Para Penggugat telah dibayar/dilunasi oleh Tergugat sebelum jatuh tempo yang telah diperjanjikan; Menimbang bahwa berdasarkan tanda bukti P-I sampai dengan P-V yaitu berupa kwitansi, yang didalamnya mencantumkan tentang jatuh tempo hutang atau pinjaman Tergugat Para Penggugat , yaitu ;

13

Bahwa tanda bukti P-I terdiri dari 4 (empat) lembar kwitansi, menerangkan jatuh tempo hutang Tergugat kepada Penggugat I masing-masing tertanggal 28 Januari 2009, tanggal 3 Februari 2009, dan 7 Februari 2009; Bahwa tanda bukti P-II berupa 3 (tiga) lembar, menerangkan Tergugat berhutang/minjam uang kepada Penggugat II sebanyak 3 (tiga) kali dengan masa jatuh temponya masing-masing adalah tanggal 23 Januari 2009, 10 Februari 2009 dan tanggal 17 Februari 2009; Bahwa tanda bukti P-III berupa 2 (dua) lembar kwitansi, menerangkan Tergugat berhutang/minjam uang kepada Penggugat III sebanyak 2 (dua) kali dengan masa jatuh temponya masing-masing adalah tanggal 30 Januari 2009, dan tanggal 5 Februari 2009; Bahwa tanda bukti P-IV berupa 1 (satu) lembar kwitansi tertanggal 14 Januari 2009 dan 1 (satu) lembar bukti transfer uang di bank BCA ke rek. 3580194949 atas nama AJI BUDI PRASETYA tertanggal 21 Januari 2009, jatuh tempo pinjaman/hutang Tergugat kepada Penggugat IV sesuai dengan kwitansi tertulis setengah bulan, sehingga jatuh temponya pada tanggal 29 Januari 2009, sedangkan untuk pinjaman transfer melalui bank BCA karena berdasarkan kesepakatan jatuh tempo selama setengah bulan, maka jatuh temponya tanggal 5 Februari 2009; Bahwa tanda bukti P-V berupa 1 (satu) lembar kwitansi tertanggal 13 februari 2009 menerangkan hutang / pinjaman Tergugat kepada Penggugat V untuk modal bisnis / kerjasama dengan masa jatuh tempo 14 hari, berarti tanggal 27 Februari 2009; Menimbang bahwa berdsarkan pengakuan Tergugat atas gugatan Penggugat yang berupa dalil tetap, bahwa Tergugat belum membayar hutangnya kepada Para Penggugat hingga jatuh tempo sebagaimana telah diperjanjikan pada tanda bukti P-I sampai dengan P-V, sehingga perbuatan Tergugat tidak membayar hutang kepada Para Penggugat tersebut adalah merupakan ingkar janji (wanprestasi); Menimbang bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan bahwa Tergugat telah terbukti melakukan perbuatan ingkar janji (wanprestasi)

14

seperti tersebut di atas, apakah hal tersebut dapat diklasifikasikan juga sebagai atau merupakan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad); Menimbang bahwa dasar gugatan Para Penggugat dalam perkara a quo adalah mengenai pinjaman / hutang piutang untuk modal usaha dengan perjanjian profit sharing 15 %, dan sebagai mana telah dibertimbangkan di atas Tergugat tidak dapat membayar pinjaman pokok serta profit sharing sebesar 15% kepada Penggugat sesuai waktu jatuh tempo yang telah diperjanjikan, maka Majelis hakim berpendapat tidak memenuhi seluruh unsure perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad)sebagaimana putusan Hoge Raad Nederland 1919; Menimbang bahwa berdasarkan tanda bukti P-I, P-II, P-III, P-IV, P-V, PVI, P-VII, dan P-VIII serta keterangan saksi TRI WAHYUNI, Para Penggugat telah berhasil membuktikan dalil gugatan, dengan menyatakan bahwa sikap Tergugat tidak membayar hutang / pinjamannya kepada Para Penggugat yang telah melewati jatuh tempo yang telah diperjanjikan adalah perbuatan ingkar janji (wanprestasi); Menimbang bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan petitum Para Penggugat poin ke-2 tentang “ Menyatakan sah dan berharga sita jaminan ( conservatoir beslaag) atas benda tetap berupa tanah yaitu pekarangan dan sawah ( atas nama Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II) sebagaimana tersebut dalam posita 12 yang diletakkan oleh Pengadilan Negeri Purwokerto; Menimbang bahwa berdasarkan tanda bukti P-VI dan P-VIII menerangkan dua bidang tanah yaitu : 1 (satu) bidang tanah Sertifikat Hak Milik No. 212 Desa Teluk Kecamatan Purwokerto Selatan atas nama Drs. SOEKAMTO, dan 1 (satu) bidang tanah Sertifikat Hak Milik No. 02350 Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas Jawa Tengah atas nama Hajjah SITI MARIANA SOEKAMTO, hal ini juga dikuatkan oleh saksi SOEMARNO bin ARSADIWIRYA dan saksi ACHMAD MUHADJI bin SANRADJI yang diajukan oleh para Turut Tergugat; Menimbang bahwa Para Penggugat juga telah mengajukan alat bukti surat tanda bukti P-VII berupa tanda terima yang isinya menyatakan bahwa 1 (satu)

15

bidang tanah SHM No. 212 atas nama Drs. SOEKAMTO (tanda bukti P-VI) adalah sebagai agunan / jaminan pinjaman uang Tergugat kepada Penggugat I; Menimbang bahwa surat bukti P-VII tersebut tidak didukung dengan alat bukti lain berupa perjanjian antara para Turut Tergugat dengan Tergugat / Kuasa dari Turut Tergugat I kepada Tergugat terhadap 2 (dua) bidang tanah SHM No. 212 (tanda bukti P-VI) dan SHM 2350 (bukti VIII) untuk dijadikan sebagai jaminan hutang Tergugat kepada pihak lain bahkan dalam hal ini pemilik tanah yaitu Turut Tergugat I tidak mengetahui sama sekali sebidang tanah tanda bukti PVI digunakan oleh Tergugat sebagai jaminan seperti tersebut di atas, sehingga Turut Tergugat mengira hilang dan telah melaporkan kepada pihak Kepolisian atas kehilangan SHM 2 (dua) bidang tanah tersebut di atas sesuai tanda bukti T.T1 yang diajukan oleh Turut Tergugat I; Menimbang bahwa dari surat bukti P-IX berupa surat kuasa tertanggal 7 Pebruari 2009, dari Hj. SITI MARINA (pemberi kuasa) kepada AJI BUDI PRASETYA (penerima kuasa) yang isinya memberikan kuasa pada Tergugat untuk menjual atau memindah-namakan tanah SHM no. 229 dan SHM No. 2350 ( tanda bukti P-VIII) apabila diperlukan kepada Sdr. MICHAEL SALYO PURWOKO ( Penggugat III) sesuai dengan perjanjian tertanda 25 Oktober 2008; Menimbang bahwa karena alat bukti surat tanda bukti P-IX tersebut bukan berisi kuasa untuk menjamin hutang Tergugat kepada pihak ketiga, dan bukti P-IX tersebut hanya di ajukan foto copy dan aslinya tidak dapat diperlihatkan oleh Para Penggugat di depan persidangan, maka tanda bukti P-IX tidak memenuhi syarat Yuridis sebagai alat bukti surat, karenanya haruslah dikesampingkan; Menimbang bahwa karena 2 (dua) bidang tanah sebagai obyek sita jaminan (conservatoir beslaag) yang diajukan Para Penggugat adalah bukan hak milik Tergugat, akan tetpai berdasarkan bukti P-VI dan P-VIII atas nama dan milik Para Turut Tergugat maka secara yuridis tidak dapat dilakkukan sita jamina (conservatoir beslaag) sesuai dengan yurisprudensi / Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 476K/Sip/1974 tertanggal 3 Desember 1974, oleh karena itu petitum point ke-2 ini tidak beralasan hukum dan haruslah ditolak;

16

Menimbang bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan petitum point ke-4 tentang menyatakan hukumnya kerugian materiil berupa modal pokok melik Para Tergugat yang dipinjam Tergugat harus dikembalikan oleh Tergugat sebesar: Penggugat I sebesar Rp. 68.000.000,Penggugat II sebesar Rp. 61.000.000,Penggugat III sebesar Rp. 13.000.000,Penggugat IV sebesar Rp. 38.000.000,Pengguagat V sebesar Rp. 35.000.000,Jumlah.........................Rp. 215.000.000,- (dua ratus lima belas juta rupiah) Menimbang bahwa sesuai dengan pertimbangan hukum di atas dan alat bukti surat tanda bukti P-I sampai dengan P-V, telah terbukti bahwa hutang Tergugat kepada Para Penggugat sebesar Rp. 215.000.000,- (dua ratus lima belas juta rupiah), maka petitum point ke-4 ini beralasan hukum dan patut dikabulkan; Menimbang bahwa terhadap petitum Para Penggugat point ke-5 tentang “menyatakan hukumnya kerugian materiil berupa kerugian yang diderita tidak mendapatkan keuntungan dari uang modalnya Para Penggugat, Profit share yang dijanjikan Tergugat, amsing-masing asebagai berikut: a. Kerugian yang diderita oleh Penggugat I adalah : Sejak tanggal 14 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (11 kali) = 11 x 15% x Rp. 55.000.000,- = Rp. 90.750.000,Sejak tanggal 20 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (10 kali) = 10 x 15% x Rp. 10.000.000,- = Rp. 15.000.000 Seajak tanggal 24 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (10 kali) = 10 x 15% x Rp. 3.000.000,- = Rp. 4.000.000 Jumlah Rp. 4.000.000,-

17

b. Kerugian yang diderita oleh Penggugat II adalah : Sejak tanggal 19 Januari 2009 s/d Juni 2009 (11 kali) = 11 x 15% x Rp. 20.000.000,- = Rp.33.000.000,Sejak tanggal 27 Januari 2009 s/d Juni 2009 (10 kali) = 10 x 15% x Rp. 15.000.000,- = Rp. 22.500.000,Sejak tanggal 3 Februari 2009 s/d Juni 2009 (9 kali) = 9 x 15% x Rp. 35.000.000,- = Rp. 35.100.000,Jumlah c. Kerugian yang diderita Penggugat III adalah : Sejak tanggal 16 januari 2009 s/d Juni 2009 (11 kali) = 11 x 15% x 5.000.000,- = Rp. 8.250.000,Sejak tanggal 21 Januari 2009 s/d Juni 2009 (10 kali) = 10 x 15% x 12.000.000,- = Rp. 12.000.000 Jumlah Rp. 20.250.000,d. Kerugian yang diderita Penggugat IV adalah : Sejak tanggal 14 Januari 2009 s/d Juni 2009 (11 Kali) = 11 x 15% x 30.000.000,- = Rp. 49.500.000,Sejak tanggal 21 Januari 2009 s/d Juni 2009 (10 kali) = 10 x 15% x 8.000.000,- = Rp. 12.000.000,Jumlah Rp. 61.500.000,e. Kerugian yang diderita Penggugat V adalah : Sejak tanggal 13 Februari 2009 s/d Juni 2009 (9 kali) = 9 x 15% x 35.000.000,- = Rp. 47.250.000,Menimbang bahwa adapun tuntutan Para Penggugat tentang kerugian yang diderita tidak mendapat keuntungan dari uang modalnya Para Penggugat, Profit

18

share sesuai dengan yang telah diperjanjikan sebagaimana bukti P-I s/d P-V, yaitu profit sharing 15% untuk jangka waktu 14 hari (empat belas hari) terhitung sejak tanggal pinjaman - hutang sampai dengan bulan Juni 2009; Menimbang bahwa karena profit sharing ini sudah diperjanjikan oleh Para Penggugat dan Tergugat, maka Majelis Hakim dapat mengabulkan petitum Para Penggugat ini dengan berpedoman pada kebiasaan praktek perbankan, bahwa untuk pembayaran profit sharing / bagi hasil atau bunga berpedoman pada hitungan bulanan yaitu selama 6 (enam) bulan, sesuai tuntutan para pirak dengan besarnya bunga perbulan 2% (dua) persen sesuai dengan rasa keadilan, keputusan dan kelayakan dengan perincian sebagai berikut : a. Untuk Penggugat I : Sejak tanggal 14 Januari 2009 s/d Juni 2009 = 6 x 2% x Rp. 55.000.000,- = Rp. 6.600.000,Sejak tanggal 20 Januari 2009 s/d Juni 2009 = 6 x 2% x Rp. 10.000.000,- = Rp. 61.200.000,Sejak tanggal 24 Januari 2009 s/d Juni 2009 = 6 x 2% x Rp. 3.000.000,- = Rp. 360.000,Semuanya berjumlah Rp. 8.160.000,b. Untuk Penggugat II : Sejak tanggal 9 Januari 2009 s/d Juni 2009 = 6 x 2% x Rp. Sejak tanggal 27 Januari 2009 s/d Juni 2009 = 6 x 2% x Rp. Sejak tanggal 3 februari 2009 s/d Juni 2009 = 5 x 2% x Rp. 20.000.000,- = Rp. 2.400.000,15.000.000,- = Rp. 1.800.000,35.000.000,- = Rp. 3.500.000,Semuanya berjumlah Rp. 7.700.000,- (tujuh juta tujuh ratus ribu rupiah); c. Kerugian yang diderita Penggugat III adalah : Sejak tanggal 16 Januari 2009 s/d Juni 2009 = 6 x 2% x Rp. 5.000.000,- = Rp. 600.000,-

19

-

Sejak tanggal 21 Januari 2009 s/d Juni 2009 = 6 x 2% x Rp.

12.000.000,- = Rp. 1.440.000,Semuanya berjumlah Rp. 2.040.000,d. Kerugian yang diderita Penggugat IV adalah : Sejak tanggal 14 Januari 2009 s/d Juni 2009 = 6 x 2% x Rp. Sejak tanggal 21 Januari 2009 s/d Juni 2009 = 6 x 2% x Rp. 30.000.000,- = Rp. 2.600.000,8.000.000,- = Rp. 960.000,Semuanya berjumlah Rp. 4.560.000,e. Kerugian yang diderita Penggugat V adalah : Sejak tanggal 13 Februari 2009 s/d Juni 2009 = 5 x 2% x Rp. 35.000.000,- = Rp. 3.500.000,Menimbang bahwa selanjutnya terhadap petitum point ke-6 tentang “kerugian immaterial berupa kerugian moral dan tekanan psikis Para Penggugat karena mendapat malu, tekanan karena dibohongi Tergugat adalah secara patut sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah); Menimbang bahwa karena Para Penggugat tidak dapat menguraikan secara rinci terhadap kerugian-kerugian yang dialaminya seperti kerugian moral, tekanan psikis dan mendapat malu, tertekan karena dibohongi, maka petitum Para Penggugat point ke-6 ini tidak beralasan hukum dan haruslah ditolak; Menimbang bahwa selanjutnya terhadap petitum Para Penggugat point ke7 tentang “menghukum Tergugat untuk membayar kepada Para Penggugat berupa : Kerugian materiil modal pokok Rp. 215.000.000,Kerugian materiil profit share Rp. 329.850.000,Kerugian immaterial Rp. 5000.000.000,Menimbang bahwa petitum Para Penggugat point ketujuh ini sudah dituntut pada petitum point keempat, kelima dan keenam, sehingga hal ini dinilai berlebihan, maka petitum point ketujuh ini haruslah ditolak; Menimbang bahwa terhadap point kedelapan tentang “menetapkan hukumannya tanah-tanah BENDA JAMINAN yang telah diserahkan Tergugat

20

kepada Para Penggugat merupakan harta benda bernilai pengganti untuk penggantian kerugian materiil dan immaterial yang diderita Para Penggutat dan tanah tersebut dapat dijual lelang untuk pengganti kerugian; Menimbang bahwa yang yang dimaksud benda yang diserahkan oleh Tergugat kepada Para Penggugat adalah tanah sebagaimana tanda bukti P-VI dan P-VIII yaitu SHM No. 212 dan SHM No. 2350; Menimbang bahwa sebagaimana telah dipertimbangkan pada petitum point ke 2 tersebut di atas, bahwa 2 (dua) bidang tanah sebagaimana surat bukti P-VI adalah SHM No.212 atas nama Drs. Soekamto dan surat bukti P-VIII adalah SHM No.2350 atas nama Hajjah Mariana Soekamto bukan atas nama Tergugat, dari alat bukti surat yang diajukan oleh Para Penggugat tidak ada satu surat bukti yang membuktikan adanya surat kuasa dari para Turut Tergugat kepada Tergugat untuk menjaminkan tanah-tanah pihak Penggugat kepada Tergugat terhadap pihak ke 3, dengan demikian secara hukum Tergugat tidak berhak menjamninkan 2(dua) bidang tanah SHM No 212 atas nama dan milik Drs. Soekamto dan SHM No.2350 atas nama dan milik Hajjah Mariana Soekamto; Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka petitum Para Penggugat poin ke 8 ini tidak beralasan hukum dan kerenanya haruslah ditolak; Menimbang bahwa tentang petitum poin ke 9 tentang “menghukum tergugugat untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp 100.000,- perhari keterlambatan melaksanakan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap “; Menimbang bahwa karena perkara a quo adalah merupakan gugatan / tuntutan tentang tidnakan untuk membayar sejumlah uang, maka dwangsom tidak berlaku terhadap tidakan pembayaran sejumlah uang sesuai dengan yurisprudensi tetap nomor 791 K/SIP/1972 tanggal 26 Februari 1973, dengan demikian maka petitum poin ke 9 ini tidak beralasan hukum dan karenanya haruslah ditolak; Menibang bahwa beredasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka gugatan Penggugat dapat dikabulkan untuk sebagian;

21

Menimbang bahwa karena gugatan Para Penggugat dikabulkan sebagaian, maka Tergugatbarada di pihak yang kalah dan menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini; DALAM REKONPENSI: Menimbang bahwa isi gugatan para pengguagat rekonpensi pada pokoknya adalah bahwa Para Penggugat rekonpensi/para Turut Tergugat rekonpensi telah melakukan perbuatan yang tidak berdasarkan hukum dengan cara menguasai sertifikat hak milik atas tanah nomor 212 atas nama Drs. SOEKAMTO dan sertifikat hak milik atas tanah Nomo2530 atas nama Hajjah SITI MARIANA SOEKAMTO yang nsenyatanya merupakan hakmilik yang sah dari Para Penggugat rekonpensi/ Turut Tergugat konpensi sebgai benda jaminan atas perikatan yang dibuat oleh Tergugat rekonpensi yang brakibat Penggugat rekonpensi/ para Tergugat rekonpensi mengalami kerugian secara moril yang juka dihitung tidak kurang Rp. 1000.000.000.- (satu miliar rupiah); Menimbang bahwa untuk membuktikan dalil-dalil gugatannya, Para Penggugat rekonpensi/ para Turut Tergugat rekonpensi telah mengajukan alat bukti surat diberi tanda bukti T. T-I, dan dua orang saksi di bawah sumpah yaitu saksi SOEMARNO BIN ARSADIWIRYA dan saksi ACHMAD MUHADJI BIN SANRADJI, sedangkan para Tergugat rekonpensi/ Para Penggugat konpensi untuk mempertahankan dalil sangakalan telah mengajukan alat bukti surat diberi tanda bukti P-I sampai dengan P-IX dan 3 (tiga) orang saksi yaitu saksi TRI WAHYUNI yang disumpah di persidangan, sedangkan saksi SRI YANTI dan DESI INDAH ARISANTI tidak disumpah, SRI YANTI adalah adik kandung Penggugat1 dan saksiDESI INDAH ARISANTI adalah istri dari Penggugat III; Menimbang bahwa berdasarkan bukti surat T.T-1 berupa laporan kehilangan surat-surat dan barang yaitu menjelaskan bahwa Para Penggugat rekonpensi/ para Turut Tergugat konpensi kehilangan diantaranya SHM No.2350 tahun 2003 atas nama Hj. Siti Mariana Soekamto dan SHM No. 212 atas nama Drs. Soekamto; Menimbang berdasarkan bukti P- VI, P-VIII terbukti 2(dua) bidang tanah SHM No.2350 tahun 2003 atas nama Hj. Siti Mariana Soekamto dan SHM No.

22

212 atas nama Drs. Soekamto, dan pemilik dua bidang tanah tersebut dilihat dari bukti tersebut adalah Hj. Siti Mariana Soekamto dan SHM No. 212 atas nama Drs. Soekamto, karena belum pernah dialihkan pemiliknay kepada pihak lain, hal ini juga dikuatkan oleh keteranagan saksi SOEMARNO BIN ARSADIWIRYA dan saksi ACHMAD MUHADJI BIN SANRADJI; Menimbang bahwa berdasarkan surat bukti P-VII bahwa SHM No.212 atas nama Drs. Soekamto berada pada Penggugat I konpensi/ Tergugat I rekonpensi karena dijadikan oleh Tergugatkonpensi untuk agunan/ jaminan pinjaman uang Tergugat konpensi kepada para Tergugat rekonpensi/ Para Penggugat konpensi sebagaiman surat bukti P-I sampai P-V; Menimbang bahwa beralihnya SHM no 212 tersebut kepada para Tergugat rekonpensi/ Para Penggugat konpensi karena adanya perjanjian antara para Tergugat rekonpensi/ Para Penggugat konpensi dengan Tergugat I konpensi yang tidak lain anak kandung dari Para Penggugat rekonpensi / para Turut Tergugat konpensi, dan perjanjian Para Penggugat rekonpensi / Penggugat konpensi tersebut sah, hanya saja penyerahan SHM No. 212 untuk jaminan / agunan hutang / pinjaman kepada para Tergugat rekonpensi / Para Penggugat konpensi oleh Tergugat konpensi tidak disertai / tidak ada kuasa dari kuasa Para Penggugat rekonpensi kepada Tergugat, jadi masih ada kurang persyaratan hukum yang diamanatkan undang-undang di bidang agraria; Menimbang bahwa berdasarkan alat bukti yang diajukan oleh Para Penggugat rekonpensi / para Turut Tergugat konpensi tersebut, maka Para Penggugat rekonpensi / para Turut Tergugat konpensi tidak dapat membuktikan dalil gugatanya; Menimbang bahwa karena Para Penggugat rekonpensi / para Turut Tergugat konpensi tidak dapat membuktikan dalil gugatanya, oleh karenanya dihukum untuk membayar biaya yang timbul dalam gugatan rekonpensi ini yang akan ditentukan dalam amar putusan; Memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berhubungan dengan perkara ini : MENGADILI

23

DALAM KONPENSI : DALAM EKSEPSI : Menolak eksepsi para Turut Tergugat; DALAM POKOK PERKARA : Mengabulkan gugatan Para Penggugat untuk sebagian; Menyatakan Tergugat tidak membayar pinjaman / hutangnya yang telah jatuh tempo kepada Para Penggugat adalah merupakan perbuatan ingkar janji / wanprestasi; Menghukum Tergugat untuk mengembalikan / membayar kerugian materiil berupa modal pokok milik Para Penggugat yang oleh Tergugat sebesar Rp 215.000.000,- (dua ratus lima belas juta rupiah), dengan perincian, kepada : - Penggugat I sebesar Rp 68.000.000,- (enam puluh delapan juta rupiah) - Penggugat II sebesar Rp 61.000.000,- (enam puluh satu juta rupiah) - Penggugat III sebesar Rp 13.000.000,- (tiga belas juta rupiah) - Penggugat IV sebesar Rp 38.000.000,- (tiga puluh delapan juta rupiah) - Penggugat V sebesar Rp 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah) Menghukum Tergugat untuk membayar kerugian yang diderita Para Penggugat karena tidak mendapat keuntungan dari uang modalnya Para Penggugat, profit sharing yang dijanjikan yaitu sebesar Rp 25.960.000,(dua puluh lima juta sembilan ratus enam puluh rupiah) dengan perincian, untuk : - Penggugat I sebesar Rp 8.160.000,- (delapan juta seratus enam puluh ribu rupiah) - Penggugat II sebesar Rp 7.700.000,- (tujuh juta tujuh ratus ribu rupiah)

24

- Penggugat III sebesar Rp 2.040.000,- (dua juta empat puluh ribu rupiah) - Penggugat IV sebesar Rp 4.560.000,- (empat juta lima ratus enam puluh ribu rupiah) - Penggugat V sebesar Rp 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) ; Menghukum Tergugat untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini sebesar Rp 780.900,- (tujuh ratus delapan puluh ribu sembilan ratus rupiah); Menolak gugatan Para Penggugat untuk selebihnya; DALAM REKONPENSI Menolak gugatan Para Penggugat rekonpensi / para Turut Tergugat konpensi untuk seluruhnya; Menghukum Turut Tergugat konpensi / Para Penggugat rekonpensi untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini yang dinilai nihil; Demikianlah diputuskan dalam rapat musyawarah majelis hakim pengadilan negeri purwokerto pada hari : KAMIS, tanggal 12 NOPEMBER 2009, oleh kami : WAHYUNI, S.H., selaku hakim ketua majelis, dengan SOHE, S.H. M.H., dan HARTO PANCONO, S.H., masing-masing sebagai hakim anggota, putusan mana diucapkan pada hari : SELASA, tanggal 24 NOPEMBER 2009 dalam sidang yang terbuka untuk umum oleh hakim ketua majelis tersebut dengan didampingi hakimhakim anggota, dibantu oleh SRI PRAMULATSIH, S.H., panitera pengganti pada pengadilan negeri tersebut, serta dihadiri oleh ERRY MOESTADJAB, S.H., kuasa Para Penggugat konpensi / para Tergugat rekonpensi, dan Tergugat, serta HAPPY SUNARYANTO, S.H. Mhum, kuasa para Turut Tergugat konpensi / Para Penggugat rekonpensi.

25

D. Analisis Wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan debitur. Dalam restatement of the law of contacts (Amerika Serikat), Wanprestasi atau breach of contracts dibedakan menjadi dua macam, yaitu 1. Total breachts Artinya pelaksanaan kontrak tidak mungkin dilaksanakan, sedangkan. 2. Partial breachts Artinya pelaksanaan perjanjian masih mungkin untuk dilaksanakan. Suatu perbuatan dikatakan wanprestasi jika debitur tidak memenuhi janjinya atau tidak memenuhi sebagimana mestinya dan semuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya. Wujud wanprestasi bisa debitur sama sekali tidak berprestasi; debitur keliru berprestasi; dan debitur terlambat berprestasi.1 Menurut pasal 1234 KUH Perdata yang dimaksud dengan prestasi adalah seseorang yang menyerahkan sesuatu, melakukan sesuatu, dan tidak melakukan sesuatu, sebaiknya dianggap wanprestasi bila seseorang : 1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya; 2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan; 3. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat; atau 4. Melakukan dilakukannya. Akibat dari wanprestasi itu biasanya dapat dikenakan sanksi berupa ganti rugi, pembatalan kontrak, peralihan risiko, maupun membayar biaya perkara. Sebagai contoh seorang debitur (si berutang) dituduh melakukan perbuatan melawan hukum, lalai atau secara sengaja tidak melaksanakan sesuai bunyi yang telah disepakati dalam kontrak, jika terbukti, maka debitor harus mengganti sesuatu yang menurut kontrak tidak boleh

1

J Satrio, 1993, Hukum Perikatan Perikatan Pada Umumnya, Bandung : Alumni, hlm.122

26

kerugian (termasuk ganti rugi + bunga + biaya perkaranya). Meskipun demikian, debitur bisa saja membela diri dengan alasan : 1. Keadaan memaksa (overmacht/force majure); 2. Kelalaian kreditur sendiri; 3. Kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut ganti rugi. Menurut kamus Hukum, Wanprestasi berarti kelalaian, kealpaan, cidera janji, tidak menepati kewajibannya dalam perjanjian.2 Dengan demikian, Wanprestasi adalah suatu keadaan dimana seorang debitur (berutang) tidak memenuhi atau melaksanakan prestasi sebagaimana telah ditetapkan dalam suatu perjanjian. Wanprestasi (lalai/alpa) dapat timbul karena; 1. Kesengajaan atau kelalaian debitur itu sendiri. 2. Adanya keadaan memaksa (overmacht). Macam-macam Wanprestasi Adapun seorang debitur yang dapat dikatakan telah melakukan wanprestasi ada 4 macam, yaitu : 1. Debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali. 2. Debitur memenuhi prestasi, tetapi tidak sebagaimana mestinya. 3. Debitur memenuhi prestasi, tetapi tidak tepat pada waktunya. 4. Debitur memenuhi prestasi, tetapi melakukan yang dilarang dalam perjanjian.

Mulai terjadinya Wanprestasi Pada umumnya, suatu wanprestasi baru terjadi jika debitur dinyatakan telah lalai untuk memenuhi prestasinya, atau dengan kata lain, wanprestasi ada kalau debitur tidak dapat membuktikan bahwa ia telah melakukan wanprestasi itu di luar kesalahannya atau karena keadaan memaksa. Apabila dalam pelaksanaan
2

Simanjuntak, Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia, (Jakarta, Djambatan, 2009)

27

pemenuhan prestasi tidak ditentukan tenggang waktunya, maka seorang kreditur dipandang perlu untuk memperingatkan/menegur debitur agar ia memenuhi kewajibannya. Teguran ini disebut dengan sommatie (Somasi). Akibat adanya Wanprestasi Ada empat akibat adanya wanprestasi, yaitu sebagai berikut. 1. Perikatan tetap ada. 2. Debitur harus membayar ganti rugi kepada kreditur (Pasal 1243 KUH Perdata). 3. Beban resiko beralih untuk kerugian debitur, jika halangan itu timbul setelah debitur wanprestasi, kecuali bila ada kesenjangan atau kesalahan besar dari pihak kreditur. Oleh karena itu, debitur tidak dibenarkan untuk berpegang pada keadaan memaksa. Jika perikatan lahir dari perjanjian timbal balik, kreditur dapat membebaskan diri dari kewajibannya memberikan kontra prestasi dengan menggunakan pasal 1266 KUH Perdata. Akibat wanprestasi yang dilakukan debitur, dapat menimbulkan kerugian bagi kreditur, sanksi atau akibat-akibat hukum bagi debitur yang wanprestasi ada 4 macam, yaitu: 1. Debitur diharuskan membayar ganti-kerugian yang diderita oleh kreditur (pasal 1243 KUH Perdata). 2. Pembatalan perjanjian disertai dengan pembayaran ganti-kerugian (pasal 1267 KUH Perdata). 3. Peralihan risiko kepada debitur sejak saat terjadinya wanprestasi (pasal 1237 ayat 2 KUH Perdata). 4. Pembayaran biaya perkara apabila diperkarakan di muka hakim (pasal 181 ayat 1 HIR). Dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya atau tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana mestinya dan tidak dipenuhinya kewajiban itiu karena

28

ada unsure salah padanya, maka seperti telah dikatakan bahwa ada akibat-akibat hukum yang atas tuntutan dari kreditur bisa menimpa dirinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 1236 dan 1243 dalam hal debitur lalai untuk memenuhi kewajiban perikatannya kreditur berhak untuk menuntut penggantian kerugian, yang berupa ongkos-ongkos, kerugian dan bunga. Selanjutnya pasal 1237 mengatakan, bahwa sejak debitur lalai, maka resiko atas objek perikatan menjadi tanggungan debitur. Yang ketiga adalah bahwa kalau perjanjian itu berupa perjanjian timbale balik, maka berdasarkan pasal 1266 sekarang kreditur berhak untuk menuntut pembatalan perjanjian, dengan atau tanpa disertai dengan tuntutan ganti rugi. Pembelaan Debitur yang Wanprestasi Seorang debitur yang dituduh lalai dan dimintakan supaya kepadanya diberikan hukuman atas kelalaiannya, ia dapat membela dirinya dengan mengajukan beberapa macam alas an untuk membebaskan dirinya dari hukumanhukuman itu. Pembelaan tersebut ada 3 macam, yaitu: 1. Menyatakan adanya keadaan memaksa (overmacht). 2. Menyatakan bahwa kreditur lalai. 3. Menyatakan bahwa kreditur telah melepaskan haknya. Ganti Kerugian dalam Wanprestasi 1. Pengertian ganti-kerugian Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tidak dipenuhinya suatu perjanjian, barulah mulai diwajibkan apabila debitur setelah dinyatakan lalai memenuhi perjanjiannya tetap melalaikannya, atau sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya (Pasal 1243 KUH Perdata). Dengan demikian pada dasarnya, ganti-kerugian itu adalah ganti-kerugian yang timbul karena debitur melakukan wanprestasi.

29

2. Unsur-unsur ganti-kerugian Menurut ketentuan Pasal 1246 KUH Perdata, ganti-kerugian itu terdiri atas 3 unsur, yaitu : 1. Biaya, yaitu segala pengeluaran atau ongkos-ongkos yang nyatanyata telah dikeluarkan. 2. Rugi, yaitu kerugian karena kerusakan barang-barang kepunyaan kreditur yang diakibatkan oleh kelalaian debitur. 3. Bunga, yaitu keuntungan yang seharusnya diperoleh atau diharapkan oleh kreditur apabila debitur tidak lalai. 3. Batasan-batasan mengenai ganti-kerugian Undang-undang menentukan, bahwa kerugian yang harus dibayarkan oleh debitur kepada kreditur sebagai akibat dari wanprestasi adalah sebagai berikut : 1. Kerugian yang dapat diduga ketika perjanjian dibuat. Menurut pasal 1247 KUH Perdata, debitur hanya diwajibkan membayar ganti-kerugian yang nyata telah atau sedianya harus dapat diduganya sewaktu perjanjian dibuat, kecuali jika hal tidak dipenuhinya perjanjian itu disebabkan oleh tipu daya yang dilakukan olehnya. 2. Kerugian sebagai akibat langsung dari wanprestasi. Menurut Pasal 1248 KUH Perdata, jika tidak dipenuhinya perjanjian itu disebabkan oleh tipu daya debitur, pembayaran ganti-kerugian sekedar mengenai kerugian yang diderita oleh kreditur dan keuntungan yang hilang baginya, hanyalah terdiri atas apa yang merupakan akibat langsung dari tidak dipenuhinya perjanjian. Tuntutan Atas Dasar Wanprestasi Kreditur dapat menuntut kepada debitur yang telah melakukan wanprestasi hal-hal sebagai berikut :

30

1. Kreditur dapat meminta pemenuhan prestasi saja dari debitur. 2. Kreditur dapat menuntut prestasi disertai ganti rugi kepada debitur (Pasal 1267 KUH Perdata). 3. Kreditur dapat menuntut dan meminta ganti rugi, hanya mungkin kerugian karena keterlambatan (HR 1 November 1918). 4. Kreditur dapat menuntut pembatalan perjanjian. 5. Kreditur dapat menuntut pembatalan disertai ganti rugi kepada debitur. Ganti rugi itu berupa pembayaran uang denda. Wujud Wanprestasi Kalau debitur tidak memenuhi janjinya atau tidak memenuhi sebagaimana mestinya dan kesemuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya, maka dikatakan bahwa debitur wanprestasi. Wujud wanprestasi bisa : a. Debitur sama sekali tidak berprestasi Dalam hal ini debitur sama sekali tidak memberikan prestasi. Hal itu bisa disebabkan karena debitur memang tidak mau berprestasi atau bisa juga disebabkan karena memang debitur objektif tidak mungkin berprestasi lagi atau secara subjektif tidak ada gunanya lagi untuk berprestasi. b. Debitur keliru berprestasi Di sini debitur memang dalam fikirannya telah memberikan prestasinya, tetapi dalam kenyataannya, yang diterima kreditur lain daripada yang diperjanjikan. c. Debitur terlambat berprestasi Di sini debitur berprestasi, objek prestasinya betul, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan. 3

3

J.Satrio, Hukum perikatan, (Bandung, PT. Alumni, 1999) cet. Ke. 3 h. 122

31

Wanprestasi dan Pernyataan Lalai Kalau debitur menunutut debitur agar ia memenuhi kewajiban prestasinya, maka kreditur menuntut debitur berdasarkan perikatan yang ada antara mereka. Karena dasar tuntutannya adalah perikatan yang memang sudah ada antara mereka, maka untuk menuntut pemenuhan perikatan, kreditur tidak perlu untuk mendahuluinya dengan suatu somasi. Memperbaiki Kelalaian Dalam hal seorang debitur telah disomir dan dia telah melewatkan tenggang waktu yang diberikan kepadanya, tanpa memberikan prestasi yang menjadi kewajiban perikatannya, maka ia ada dalam keadaan lalai. Ganti Rugi 1. Sebab timbulnya ganti rugi Ada dua sebab timbulnya ganti rugi, yaitu : a. Ganti rugi karena wanprestasi. Ganti rugi karena wanprestasi adalah suatu bentuk ganti rugi yang dibebankan kepada debitur yang tidak memenuhi isi perjanjian yang telah dibuat antara kreditur dengan debitur. Ganti rugi karena wanprestasi ini diatur dalam Buku III KUH Perdata, yang dimulai dari Pasal 124 KUH Perdata s.d. Pasal 1252 KUH Perdata. b. Perbuatan melawan hukum Ganti rugi karena perbuatan melawan hukum adalah suatu bentuk ganti rugi yang dibebankan kepada orang yang telah menimbulkan kesalahan kepada pihak yang dirugikannya. Ganti rugi itu timbul karena adanya kesalahan, bukan karena adanya perjanjian. Ganti rugi karena perbuatan melawan hukum ini diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata. Ganti kerugian yang dapat dituntut oleh kreditur kepada debitur adalah sebagai berikut:

32

1. Kerugian yang telah dideritanya, yaitu berupa penggantian biayabiaya dan kerugian. 2. Keuntungan yang sedianya akan diperoleh (Pasal 1246 KUH Perdata), ini ditujukan kepada bunga-bunga. Yang diartikan sebagai biaya-biaya (ongkos-ongkos), yaitu ongkos yang telah dikeluarkan oleh kreditur untuk mengurus objek perjanjian. Sedangkan bunga-bunga adalah keuntungan yang akan dinikmati oleh kreditur. Tuntutan Ganti Rugi Selanjutnya pasal-pasal 1243-1252 mengatur lebih lanjut mengenai ganti rugi. Prinsip dasarnya adalah bahwa wanprestasi mewajibkan penggantian kerugian; yang diganti meliputi ongkos, kerugian dan bunga. Dalam peristiwaperistiwa tertentu disamping tuntutan ganti rugi ada kemungkinan tuntutan pembatalan perjanjian, pelaksanaan hak retensi dan hak reklame. Karena tuntutatn ganti rugi dalam peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas diakui, bahkan diatur oleh undang-undang, maka untuk pelaksanaan tuntutan itu, kreditur dapat minta bantuan untuk pelaksanaan menurut cara-cara yang ditentukan dalam Hukum acara perdata, yaitu melalui sarana eksekusi yang tersedia dan diatur disana, atas harta benda milik debitur. Prinsip bahwa debitur bertanggung jawab atas kewajiban perikatannya dengan seluruh harta bendanmya telah diletakkan dalam pasal 1131 KUH Perdata.

1. Penerapan Prosedur Beracara Agar tercapai putusan yang adil bagi kedua belah pihak maka dalam beracara harus dipatuhi asas-asa yang berlaku dalam hukum acara perdata, yaitu: 1. Asas Hakim Bersifat Pasif

33

Mempunyai makna bukan hanya sekedar menerima dan memeriksa apa yang akan diajukan para pihak, tetapi tetap berperan dan berwenang menilai kebenaran fakta yang diajukan dipersidangan ,dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Hakim tak dibenarkan mengambil prakarsa aktif meminta para pihak mengajukan atau menambah pembuktian yang diperlukan, semua itu menjadi hak dan kewajiban para pihak, cukup atau tidak alat bukti yang diajukan terserah para pihak. Hakim tidak dibenarkan membantu para pihak manapun melakukan sesuatu, kecuali yang ditentukan para pihak, misalnya pada pasal 139 HIR yaitu salah satu pihak minta bantuan kepada hakim untuk memanggil dan menghadirkan seorang saksi melalui juru sita, apabila relevan sedangkan dia tak dapat menghadirkan seorang saksi melalui juru sita, apabila relevan sedangkan dia tidak dapat menghadirkan saksi tersebut secara sukarela. 2. Menerima setiap pengakuan dan pengingkaran yang diajukan para pihak di persidangan, untuk selanjutnya dinilai kebenarannya oleh hakim. 3. Pemeriksaan dan putusan hakim, terbatas pada tuntutan dalam gugatan. 4

Dalam putusan tersebut asas hakim bersifat pasif sudah diterapkan dengan benar dalam proses persidangan hal ini dibuktikan pada : 1. Proses pembuktian hakim tidak menentukan alat bukti yang harus diajukan para pihak. Para pihak mengajukan alat bukti sendiri yang dianggap dapat memperkuatnya dalil-dalilnya. Dalam perkara ini, Peenggugat mengajukan beberapa alat bukti surat dan 3 orang saksi yaitu, saksi TRI WAHYUNI, saksi SRI YANTI, dan saksi DESI INDAH ARISANTI. Sedangkan Tergugat untuk mempekuat dalil bantahannya Tergugat tidak mengajukan alat bukti surat maupun saksi, sedangkan Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II mengajukan alat bukti surat BIN SANRADJI
4

dan 2 saksi, yaitu saksi

SOEMARNO BIN ARSADIWIRYA, BcHK, saksi AHMAD MUHADJI
Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata. Hal.500

34

2. Dalam memutus, hakim hanya memutus apa yang dimintakan Para Penggugat yang dimintakan dalam gugatan

2. Asas hakim bersifat menunggu Artinya hakim tidak boleh mengadili perkara tanpa adanya tuntutan, karena dalam hukum acara perdata insiatif untuk mengajukan tuntutan hak diserahkan sepenuhnya kepada pihak yang berkepentingan, sedang hakim bersikap menunggu datangnya tuntutan hak diajukan kepadanya : index ne procedur ex officio., hanya yang menyelenggarakan proses adalah Negara. Akan tetapi sekali perkara yang diajukan kepadanya, hakim tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadilinya, sekalipun dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas berdasarkan pasal 14 ayat 1 UU Nomor 14/1970. Sehingga k.alau tidak ada penuntutan maka tidak ada hakim.5 Dalam putusan tersebut asas hakim bersifat menunggu sudah diterapkan dengan benar karena hakim mulai bertindak untuk memeriksa dan mengadili perkara tersebut setelah adanya pangajuan gugatan dari Para Penggugat terhadap Tergugat dan Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II. 3. Asas terbuka untuk umum Sidang pemeriksaan pengadilan pada asasnya adalah terbuka untuk umum, yang berarti bahwa setiap orang diperbolehkan hadir dan mendengarkan pemeriksaan di persidangan. Tujuan dari asas ini adalah untuk memberikan perlindungan hak-hak asasi manusia dalam bidang peradilan serta untuk lebih menjamin obyektifitas peradilan dengan mempertanggungjawabkan pemeriksaan yang fair, tidak memihak serta putusan yang adil pada masyarakat. Hal ini dapat dilihat dalam pasal 17 dan 18 UU No. 14 Tahun 1970. Apabila putusan diucapkan dalam sidang yang tidak dinyatakan terbuka untuk umum berarti putusan itu tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum serta mengakibatkan batalnya putusan itu menurut hukum. Kecuali apabila
5

Sudikno Mertokusumo, Hukum dan Peradilan, Hal.7

35

ditentukan lain oleh UU atau apabila berdasarkan alasan-alasan yang penting yang dimuat di dalam berita acara yang diperintahkan oleh hakim, maka persidangan dilakukan dengan pintu tertutup. 6 Dalam putusan ini asas terbuka untuk umum telah diterapkan dengan benar hal ini dapat dilihat dari berita acara persidangan, dimana persidangan dinyatakan terbuka untuk umum dan dalam putusan hukum dinyatakan terbuka untuk umum. 4. Asas mendengarkan kedua belah pihak Di dalam hukum acara perdata semua pihak harus di perlakukan sama, tidak memihak dan di dengar bersama-sama. Jadi disini hakim tidak boleh membeda-bedakan orang, hal ini termuat dalam pasal 5 ayat 1 UU Nomor 14 Tahun 1970 yang menyatakan bahwa dalam hukum acara perdata yang berperkara harus sama-sama di perhatikan, berhak atas perlakuan yang sama dan adil seta masing-masing harus diberi kesempatan untuk memberi pendapatnya. Dan dalam hal pengajuan alat bukti harus dilakukan di muka persidangan yang dihadiri kedua belah pihak (pasal 132a, pasal 121 ayat 2 HIR, pasal 145 ayat 2, pasal 157 RBG, pasal 47 RV).7 Kaitannya dengan putusan, asas mendengarkan kedua belah pihak ini telah diterapkan hakim dalam persidangan, hal ini dapat dilihat pada proses pembuktian hakim mendengarkan keterangan-keterangan saksi yang diajukan oleh para pihak. Dalam pengajuan alat bukti saksi dilakukan di muka persidangan yang dihadiri oleh kedua belah pihak. 5. Asas beracara dikenakan biaya Terdapat dalam pasal 181, 182,183 HIR yang mengatur ongkos perkara yang harus dibayar. Pada umumnya dikenakan kepada pihak yang dikalahkan. Apabila terdapat putusan sela, biaya perkara dapat ditangguhkan sampai putusan akhir (pasal 181 ayat 2 HIR) . Biaya perakara dalam putusan verstek Harus
6 7

Ibid, Hal.12 Ibid, Hal.13

36

dibayar pada pihak yang kalah meskipun dalam perlawanan atau setelah banding ia dimenangkan kecuali dalam putusan verstek itu dia dia tidak dipanggil dengan patut. Pengertian biaya perkara terdapat dalam pasal 182 HIR: 1. Biaya kepaniteraan pengadilan dan biaya meterai yang perlu untuk perkara itu. 2. Biaya saksi, ahli, juru bahasa. Tapi pihak yang menyuruh memeriksa lebih dari lima saksi tidak boleh memperhitungkan biaya. 3. Biaya pemeriksaan setempat dan pekerjaan hakim yang lain. 4. Gaji pejabat yang di pertanggungkan melakukan panggilan pemberitahuan dan surat sita yang lain. 5. Biaya dalam pasal 138 ayat 6 6. Gaji yang haraus dibayar panitera pengadilan atau pejabat lain. Pembayaran dana-dana tidak termasuk dalam biaya perkara termasuk honor advokat atau pengacara. Menurt pasal 183 HIR mengatur banyaknya biaya perkara yabg menurut putusan hakim harus dibayar oleh salah satu pihak yang kalah dan harus disebutkan dalam putusan begitu juga besarnya ganti rugi dan bunga. Dalam pasal 327 HIR disebutkan kalau ada pihak yang kalah dan tidak mampu maka dapat mengajukan prodeo yang diajukan kepada kepolisian, tetapi dalam praktek bias pada camat untuk meminta surat tidak mampu tersebut. Tetapi kalau hakim mengetahui pihak yang kalah tersebut adalah orang yang mampu maka permintaan prodeo bias tidak dikabulkan oleh hakim.8 Dalam putusan ini pihak Tergugat yang ternyata kalah dan harus membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini sebesar Rp. 780.900, yang mana disebutkan dalam putusan. Berarti dalam kasus ini hakim telah menerapkan asas ini dengan benar. Tetapi dalam putusan rekonvensinya, hakim salah dalam menerapkan azas ini karena turut tergugat juga dikenakan biaya perkara yang
8

Ibid, Hal.15

37

timbul karena gugatannya dinilai nihil oleh hakim. Dalam putusan hakim pada poin ke dua yaitu “Menghukum turut tergugat konpensi / para penggugat rekonpensi untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini yang dinilai nihil;” sehingga sangat jelas kalau hakim tidak memperhatikan kedudukan para pihak dalam perkara ini, karena pada dasarnya turut tergugat tidak boleh dimasukan di dalam putusan. Sehingga tidak bisa dituntut biaya perkara kalau dia kalah. Hal ini sesuai dengan pasal….

6. Asas putusan harus disertai alasan Semua putusan pengadilan pada asasnya harus alasan-alasan putusan yang dijadikan dasar untuk mengadili (pasal 23 UU no. 14 Tahun 1970, 184 ayat 1, 319 HIR, 195 dan 618 Rbg ). Alasan-alasan atau argumentasi itu dimaksudkan sebagai pertanggungjawaban hukum dari pada putusannnya terhadap masyarakat, sehingga dapat memiliki nilai yang obyektif. Dan karena alasan-alasan hukum itulah maka putusan mempunyai wibawa dan bukan karena hakim tertentu yang menjatuhkannya. Betapa pentingnya alasan-alasan sebagai dasar putusan dapat kita lihat dari putusan MA yang menetapkan bahwa putusan yang tidak lengkap atau kurang cukup dipertimbangkan merupakan alasan untuk kasasi dan dapat dibatalkan.9 Dalam putusan ini bahwa : 1. Tergugat dalam jawabannya pada pokoknya membenarkan gugatan Para Penggugat yaitu Tergugat telah berhutang kepada Penggugat hanya saja Tergugat menyangkal besarnya hutang dari salah satu Penggugat. 2. Ada dalil-dalil Penggugat yang dibenarkan atau tidak dibantah oleh Tergugat sehingga dalil tersebut merupakan dalil tetap yang tidak perlu dibuktikan lagi.

9

Ibid, Hal.13

38

3. Penggugat juga mengajukan alat bukti surat dan saksi unutk membuktikan dalil gugatanna. 4. Tergugat juga membenarkan tanda tangannya dalam kwitansi atas nama Tergugat, sehingga alat bukti tersebut sah menurut hukum. Berdasarkan fakta-fakta tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hakim telah menerapkan asas putusan harus disertai alasan. 7. Asas Mancari Kebenaran Formil Dalam hukum acara perdata salah satu tugas hakim adalah menyelidiki apakah suatu hubungan ukum yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atau tidak. Tidak semua dalil yang menjadi dasar dari gugatan harus dibuktikan kebenarannya, sebab dalil-dalil yang tidak disangkal, apalagi diakui sepenuhnya oleh pihak lawan, tidak perlu dibuktikan lagi. Dalam hukum acara perdata untuk memutus suatu perkara, tidak diperlukan adanya keyakinan hakim. Yang penting adalah adanya alat-alat bukti yang sah dan berdasarkan alat-alat bukti tersebut hakim akan menjatuhkan putusan “siapa yang menang dan siapa yang kalah. Inilah yang dinamakan hukum acara perdata mencari kebenaran formil.10 Dalam pertimbangan hukum putusan ini dikatakan bahwa dengan mendasarkan jawab jinawab antara Para Penggugat dengan Tergugat dan Para Tergugat, ada dalil-dalil Penggugat yang dibenarkan/ tidak dibantah oleh Tergugat dan Para Turut Tergugat, sehingga dalil-dalil tersebut merupakan dalil tetap yang tidak perlu dibuktikan lagi oleh Para Penggugat, antara lain: Bahwa Tergugat berhutang kepada Penggugat 3 sebesar Rp. 13.000.000,(tiga belas juta rupiah); Bahwa Tergugat berhutang kepada Penggugat 4 sebesar Rp. 38.000.000,-

(tiga puluh delapan juta rupiah);

10

Retno Wulan Sutantio, Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek, Hal.60

39

-

Bahwa jatuh tempo hutang atau pinjaman tersebut selama 2 (dua) minggu

atau 14 (empat belas) hari dengan profit share atau bagi hasil sebesar 15%; Bahwa hutang Tergugat kepada Para Penggugat (Penggugat1,2,3,4 dan 5)

belum pernah dibayar oleh Tergugat; Dengan melihat hal tersebut, maka putusan ini sudah menerapkan asas dalam hukum acara perdata yaitu mencari kebenaran formil. 8. Asas tidak ada keharusan mewakilkan HIR tidak mewajibkan para pihak untuk mewakili kepada orang lain, sejingga pemeriksaa persidangan terjadi secara langsung terhadap para pihak yang langsung berkepentingan. Akan tetapi para pihak dapat dibantu atau diwakili oleh kuasanya kaau dikehendaki (pasal 123 HIR, 147 RBG). Dengan demikian hakim tetap wajib memeriksa sengketa yang diajukan kepadanya, meskipun para pihak tidak mewakilkan kepada seorang kuasa. Asas ini diterapkan dengan benar dalam putusan ini, hal ini dapat dilihat di persidangan Tergugat tidak mewakilkan diri baik dengan kuasa atau dengan penasihat hukum selama mengikuti persidangan di pengadilan.11 Dalam menjatuhkan putusannya, hakim telah mendasarkan pada dua alat bukti yang sah ditambah dengan keyakinan hakim dan alat-alat bukti tersebut diperoleh tanpa melawan hukum. Sementara itu, penerapan hukum pembuktian telah sesuai dengan undang-undang, sekalipun dalam hal ini, hakim sama sekali tidak menggunakan doktrin maupun yurisprudensi dan argumen jaksa serta Terdakwa, Wr, telah dianalisis secara proporsional. Selain itu, dalam perkara aquo, Terdakwa, Wr, telah didampingi oleh kuasa hukum. putusan diucapkan. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan sementara, bahwa dengan dipenuhinya asas-asas dalam hukum acara perdata, maka
11

Hari/ tanggal

dilakukannya musyawarah mejelis hakim pun telah berbeda dengan hari/ tanggal

Opcit, Sidikno Mertokusumo. Hal.15

40

prosedur dalam hukum acara perdata telah diterapkan oleh hakim dalam memeriksa dan mengadili Perkara Pa No. 11/Pdt.G/2009/PN.Pwt.

2.

Penalaran

Hukum

dalam

Perkara

Perdata

Nomor:

No.

11/Pdt.G/2009/PN.Pwt Penalaran hukum (legal reasoning) menurut Neil Mac Cormick adalah, “… one branch of practical reasoning, which is the application by humans of their reason to deciding how it is right to conduct themselves in situations of choice.”12 Jika mengikuti batasan tersebut, secara umum penalaran hukum adalah jenis berpikir praktis (untuk mengubah keadaan), bukan sekadar berpikir teoritis (untuk menambah pengetahuan). Penalaran hukum sangat dipengaruhi oleh sudut pandang dari subjeksubjek yang melakukan penalaran. Sudut pandang tersebut antara lain dilatarbelakangi oleh keluarga sistem hukum (parent legal system) dan posisi si penalar sebagai partisipan (medespeler) dan/atau pengamat (toeschouwer). Berdasarkan ulasan tersebut, dapat diderivasi sejumlah rumusan kalimat untuk menggambarkan karakteristik penalaran hukum itu. a. Penalaran hukum adalah kegiatan berpikir problematis tersistematisasi (gesystematiseerd probleemdenken) dari subjek hukum (manusia) sebagai mahluk individu dan sosial di dalam lingkaran kebudayaannya. Problematis karena penalaran hukum merupakan penalaran praktis sebagai konsekuensi atas karakter keilmuan ilmu hukum itu sendiri (sebagai ilmu praktis) yang diabdikan untuk mencari putusan bagi penyelesaian kasus-kasus konkret. Dikatakan tersistematisasi karena argumentasi dan putusan yang dihasilkan harus ditempatkan dalam kerangka berpikir hukum sebagai suatu sistem (tatanan). b. Penalaran hukum adalah kegiatan berpikir yang bersinggungan dengan pemaknaan hukum yang multiaspek (multidimensional dan multifaset). Oleh
12

Neil MacCormick, 1994, Legal Reasoning and Legal Theory Oxford: Oxford University Press, hlm. ix

41

karena itu, karakteristik penalaran hukum mempunyai dimensi tersendiri tatkala ia muncul sebagai aktivitas ilmu hukum dogmatis (dogmatika hukum), teori hukum, filsafat hukum, dan ilmu-ilmu empiris yang berobjekkan hukum (dalam tulisan ini digunakan istilah “ilmu-ilmu empiris hukum” sebagai pengganti terminologi “ilmu-ilmu hukum empiris”).
Penafsiran merupakan salah satu mekanisme untuk mencari penjelasan dari

setiap istilah dalam suatu peraturan perundang-undangan, yang dilakukan apabila terdapat pengertian ganda atau tidak jelas dalam rumusan pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan. Tujuan utama dari penafsiran adalah menjelaskan maksud sebenarnya rumusan pasal-pasal. Dengan demikian arti penafsiran dapat disimpulkan sebagai suatu kegiatan dalam usaha memberikan penjelasan atau pengertian atas kata atau istilah yang kurang jelas maksudnya sehingga orang lain dapat memahaminya. Tujuannya tidak lain adalah mencari serta menemukan sesuatu hal yang menjadi maksud para pembuatnya. Sistem hukum Indonesia yang cenderung menganut civil law yaitu bentuk hukum yang tertulis dan kodifikasi, sudah barang tentu kodifikasi hukum itu tidak akan mampu menampung semua aspirasi masyarakat, lebih-lebih di era reformasi dan transformasi ini, dimana perubahan dan perkembangan begitu cepat, sehingga betapapun cepatnya pembuat undang-undang bekerja, persoalan yang timbul dalam masyarakat yang membutuhkan pengaturan yang lebih cepat lagi. Oleh karena itu dalam masyarakat kadangkala terdapat sesuatu persoalan belum ada peraturannya atau dengan istilah lain adalah kekosongan hukum. Pengisian kekosongan hukum ini adalah sesuatu yang harus dilakukan, sehingga apabila terjadi hal yang baru dalam kehidupan masyarakat yang tidak ada peraturannya. Oleh karena itu, kekosongan hukum harus diisi oleh hakim yang nota bene memeriksa dan memutus peristiwa konrit yang ada dalam kehidupan masyarakat. Pengisian kekosongan hukum dalam sistem formal dilakukan oleh hakim, manakala diajukan kepadanya suatu perkara yang tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, atau peraturan perundang-undangan yang ada dan berlaku tidaklah mungkin diterapkan walau ditafsirkan sekalipun.

42

Kegiatan hakim untuk mengisi kekosongan hukum dalam sistem hukum ini adalah dengan melakukan kreasi hukum. Upaya melakukan kreasi hukum tersebut hakim dapat mempergunakan bermacam cara, antara lain penemuan hukum (rechtsvinding) dan penciptaan hukum (rechtsschepping), sehingga tidak ada satu perkarapun yang tidak terselesaikan dan tidak ada persoalan yang tidak ada hukumnya. Penemuan hukum dan penciptaan hukum mempunyai fungsi yang sama, yaitu sebuah proses yang ditempuh oleh peradilan di dalam rangka memperoleh kepastian mengenai arti dari suat u hukum yang dibuat dalam bentuk peraturan perundang-undangan dan bentuk formal lainnya. Sedangkan perbedaannya bahwa penemuan hukum itu adalah suatu metode untuk mendapatkan hukum dalam hal peraturannya sudah ada akan tetapi tidak jelas bagaimana penerapannya pada suatu kasus yang konkret. Sedangkan penciptaan hukum adalah merupakan suatu metode untuk mendapatkan hukum dalam hal tidak ada peraturannya yang secara khusus unt uk memeriksa dan mengadili suatu kasus konkret.13 Penemuan hukum (rechtsvinding) adalah proses pembentukan hukum oleh hakim, atau aparat hukum lainnya yang ditugaskan untuk penerapan peraturan hukum umum pada peristiwa hukum konkret. Lebih lanjut dapat dikatakan, bahwa penemuan hukum itu adalah proses konkretisasi atau individualisasi peraturan hukum (das Sollen) yang bersifat umum dengan mengingat akan peristiwa konkret (Das Sain) tertentu.14 Hakim selalu dihadapkan pada peristiwa konkret, konflik atau kasus yang harus diselesaikan atau dipecahkannya dan untuk itu perlu dicarikan hukumnya. Jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana mencarikan atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkret. Menurut ajaran hukum fungsional dari Ter Heide yang penting adalah pertanyaan bagaimana dalam situasi tertentu dapat diketemukan pemecahannya yang paling baik yang sesuai dengan kebutuhan kehidupan bersama dan dengan harapan yang
13

14

Abd. Halim Syahran, 08 July 2008, Peranan Hakim Agung dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) pada Era Reformasi dan Transformasi, http://saksi-buletin.com/index.php?option=com_content&task=view&id=13& Itemid=27, diakses pada tanggal 12 Maret 2009 Sudikno Mertokusumo, 1996, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Yogyakarta : Libety, hlm. 37

43

hidup diantara para warga masyarakat terhadap “permainan kemasyarakatan” yang dikuasai oleh “aturan mainan”. Disini bukan hasil penemuan hukum yang merupakan titik sentral, walaupun tujuannya adalah menghasilkan putusan, melainkan metode yang digunakan.15 Adapun pengertian penciptaan hukum adalah hukumnya itu sama sekali tidak ada, kemudian diciptakan, dari tidak ada menjadi ada. Hukum bukanlah selalu berupa kaedah baik tertulis maupun tidak, tetapi dapat juga berupa perilaku atau peristiwa. Di dalam perilaku itulah terdapat hukumnya. Dari perilaku itulah harus diketemukan atau digali kaedah atau hukumnya.16 Melakukan penciptaan hukum untuk mengisi kekosongan hukum adalah suatu hal yang tepat dalam hal menyelesaikan perkara yang tidak ada hukumnya (peraturan perundangundangan). Hal ini adalah suatu kenyataan, bahwa pembuat undang-undang hanya menetapkan peraturan hukum yang bersifat umum, sehingga pertimbangan untuk hal-hal yang konkret diserahkan kepada hakim. Selain itu pembuat undangundang senantiasa tertinggal di belakang perkembangan masyarakat, sehingga terjadi suatu keadaan sedemikian rupa, adanya hal-hal baru dalam kehidupan masyarakat yang tidak ada peraturan hukumnya. Ini artinya ada kekosongan hukum dalam sistem hukum yang harus disi oleh hakim. Metode penemuan hukum dilakukan dengan metode interpretasi yaitu penafsiran. Menurut Fitzgerald,17 interpretasi hukum itu secara umum ada 2 (dua) macam yaitu : Pertama interpretasi yang bersifat harfiah, sepertinya semata-mata merujuk pada kalimat-kalimat di dalam peraturan. Kalimat menjadi inti dan sekaligus pegangan di dalam memutuskan perkara. Kalimat yang merupakan litera legis menjadi patokan dasar untuk memutuskan perkara. Hal ini pada umumnya dilakukan karena memang di dalam kalimat tersebut sudah mengandung pesan yang jelas. Karena kejelasan itu tidak perlu ada interpretasi lain lagi. Bahkan kalau dilakukan interpretasi lain akan menyebabkan kesalahan di dalam penerapan hukumnya.

15 16

Ibid. Ibid. 17 Abd. Halim Syahran, op.cit.

44

Kedua interpretasi yang bersifat fungsional, artinya tidak semata-mata mengikatkan diri pada kalimat yang menjadi acuan. Interpretasi fungsional lebih jauh mengusahakan pemahaman terhadap maksud yang sebenarnya dari dibuatnya peraturan tertentu. Teknisnya adalah dengan menggali, menghubungkan dan mensistematisasikan dengan sumber-sumber lain yang dinilai relevan dalam arti dapat memberikan kejelasan lebih sempurna. Pemahaman terhadap apa yang terkandung di dalam klausula tentu tidak bisa hanya didasarkan kepada kalimat yang tersirat semata-mata, tetapi juga mesti dilakukan penggalian sehingga ditemukan apa yang tersirat di baliknya. Para pakar hukum pada umumnya memilah-milah interpretasi itu sekurang-kurangnya ada 8 (delapan) macam, yaitu, interpretasi formal, interpretasi gramatikal, interpretasi sistemaris, interpretasi teleologis atau sosiologis, interpretasi historis, interpretasi komparatif, interpretasi futuristis dan interpretasi restriktif serta ekstensif. Adapun untuk melakukan penciptaan hukum, metode yang dipergunakan adalah metode analogi, disamping itu ada yang menambahkannya dengan metode penghalusan hukum dan argumentum a contrario. Analogi adalah suatu cara penerapan suatu peraturan hukum sedemikian rupa, dimana peraturan hukum tersebut menyebut dengan tegas kejadian yang di atur, kemudian peraturan hukum itu dipergunakan juga oleh hakim terhadap kejadian yang lain yang tidak disebut dalam peraturan hukum itu, tetapi di dalam kejadian ini ada anasir yang mengandung kesamaan dengan anasir di dalam kejadian yang secara tegas diatur oleh peraturan hukum yang dimaksud. Suatu hal yang menarik dan sangat penting untuk dipertanyakan adalah siapakah yang pantas untuk melakukan penemuan hukum dan penciptaan hukum tersebut. Walaupun dalam kajian akademis yang berhak melakukan penemuan hukum dan penciptaan hukum itu adalah banyak komponen, seperti ahli hukum, Pengacara, Dosen, jaksa dan lainnya, akan tetapi apabila dilihat dari pengertian hukum itu sendiri, yaitu hukum adalah hakim (dalam arti senpit) karena hakimlah yang membuat hukum (judge made law) dan peradilan (dalam arti luas) karena peradilan adalah sarana penegak hukum, maka jelaslah bahwa yang berkompeten untuk melakukan penemuan hukum dan penciptaan hukum tersebut adalah hakim.

45

Hakim dianggap urgent dalam penemuan hukum dan penciptaan hukum karena hakim itu mempunyai wibawa. Selebihnya penemuan hukum dan penciptaan hukum yang digali oleh hakim adalah hukum, sedangkan hasil penggalian dari Ilmuan hukum, dosen, peneliti dan lainnya bukanlah hukum, melainkan ilmu atau doktrin. Doktrin bukanlah hukum, tetapi adalah sumber hukum, namun apabila doktrin hukum itu dipergunakan oleh hakim, barulah doktrin itu menjadi hukum. Persyaratan lainnya untuk melakukan penggalian penemuan hukum dan penciptaan hukum, yaitu penguasaan terhadap ilmu hukum, berpikir secara yuridis, dan berkemampuan memecahkan masalah hukum yang meliputi : ketrampilan merumuskan masalah hukum (legal problem identification), keterampilan memecahkan masalah hukum (legal problem solving) dan keterampilan untuk mengambil putusan (Decission making).18 Landasan yuridis bagi hakim untuk melakukan penemuan hukum dan penciptaan hukum terdapat pada pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 tahun l970 yang menyatakan bahwa pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. Penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa hakim sebagai organ pengadilan dianggap memahami hukum. Pencari keadilan datang kepadanya untuk mohon keadilan. Andaikata ia tidak menemukan hukum tertulis, ia wajib menggali hukum tidak tertulis untuk memutus berdasarkan hukum sebagai seorang yang bijaksana dan bertanggung jawab penuh kepada Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan landasan yuridis bagi hakim untuk menggali penemuan hukum dan penciptaan hukum sebagai suatu kewajibannya adalah sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 yang merumuskan : “Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.” A. GUGATAN
18

Ibid.

46

Tergugat dan Para Turut Tergugat diajukan kepersidangan oleh Para Penggugat dengan Gugatan sebagaimana tercantum dalam Surat Gugatan Para Penggugat Nomor Reg. : 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt tertanggal 5 Mei 2009 sebagai berikut : Adapun duduk perkaranya adalah sebagai berikut:--------------------------------1. Bahwa Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat-1 sebesar Rp. 68.000.000,00 (enam puluh delapan juta rupiah). Dengan perincian sebagai berikut:-----------------------------------------------------------------------------------a. Pertama pada tanggal 14 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 28 Januari 2009 sebesar Rp. 55.000.000,- (lima puluh lima juta rupiah) dari 2 kuitansi.----------------------------------b. Kedua pada tanggal 20 Januari 2009 dengan Jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 3 Pebruari 2009 sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah).------------------------------------------------------------------------c. Ketiga pada tanggal 24 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 7 Pebruari 2009 sebesar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah).------------------------------------------------------------------------------2. bahwa Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat-2 sebesar Rp. 61.000.000,- (enam puluh satu juta rupiah) dalam jangka 2 minggu akan diberi profit share 15% dengan perincian sebagai berikut:------------------------a. Pertama pada tanggal 9 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 23 Januari 2009 sebesar Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).-----------------------------------------------------------------b. Kedua pada tanggal 27 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 10 Pebruari 2009 sebesar Rp. 15.000.000,- (lima belas rupiah).------------------------------------------------------------------juta

47

c. Ketiga pada tanggal 3 Pebruari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua minggu) yaitu sampai tanggl 17 Pebruari 2009 sebesar Rp 26.000.000,- (dua puluh enam juta rupiah).-----------------------------------------------------------------3. Bahwa Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat-3 sebesar Rp. 13.000.000,- (tiga belas juta rupiah), dan akan diberi keuntungan 15% untuk jangka waktu tempo 2 minggu dengan ketentuan sebagai berikut:--------------a. Pertama pada tanggal 16 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 30 Januari 2009 sebesar Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah).-----------------------------------------------------------------b. Selanjutnya pada tanggal 21 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 5 Pebruari 2009 sebesar Rp. 8.000.000,(delapan juta rupiah).-------------------------------------------------------------4. Bahwa Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat-4 sebesar Rp. 38.000.000,- (tiga puluh delapan juta rupiah) dan akan diberi profit share 15% per setengah bulan dengan perincian sebagai berikut:----------------------------a. Pertama pada tanggal 14 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 28 Januari 2009 yaitu tetulis dalam kuitansi adalah Rp. 30.000.000,(tiga puluh juta rupiah).-------------------------------------------------------------------------b. Selanjutnya pada tanggal 21 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 5 Pebruari 2009 sebesar Rp. 8.000.000,(delapan juta rupiah).--------5. Bahwa Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat-5 sebesar Rp 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah) dengan kwitansi yang mencantumkan profit share per 14 hari adalah sebagai berikut:-------------------------------------------------------------------------------Pada tanggal 13 februari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai tanggal 28 februari 2009 sebesar Rp 35.000.000,-(tiga puluh lima juta rupiah).-----------------------

48

6.

Bahwa Tergugat pinjam uang tersebut dengan alas an akan diguankan untuk modal usaha / dagang/ bisnis dengan share profit yang di janjikan kepada Para Penggugat untuk setiap jangka waktu jatuh tempo (per 2 mingguan) selesai. Kemudian dapat dibuat kesepakatan baru lagi dan begitulah seterusnya. Untuk menarik hati kepada Para Penggugat yang mana Tergugat berjanji akan memberikan hasil keuntungan 15 % dari modal yang ditanamkan, dengan demikian Tergugat seharusnya memberikan hasil keuntungan sebagai:------------------------------------------------------------------------------------------------a. Kerugian yang diderita oleh Penggugat-1 adalah: sejak 14 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (11 kali) sejak 20 Januari 2009 sampai dengan juni 2009 (10 kali) sejak 24 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (10 kali).--------------------------------• 11 x 15% x Rp 55.000.000,• 10 x 15% x Rp 10.000.000,• 10 x 15% x Rp 3.000.000,Jumlah = Rp 90.750.000,= Rp 15.000.000,= Rp 4.500.000,-

Rp 110.250.000,-

b. Kerugian yang diderita oleh Penggugat-2 adalah : sejak 9 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (11 kali) sejak 27 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (10 kali) sejak 3 Februari 2009 sampai dengan Juni 2009 (9 kali).----------------------------------• 11 x 15% x Rp 20.000.000 • 10 x 15% x Rp 15.000.000 • 9 x 15% x Rp 26.000.000 Jumlah = Rp 33.000.000,= Rp 22.500.000,= Rp 35.100.000,Rp 90.600.000,-

c. Kerugian yang diderita oleh Penggugat-3 adalah: sejak 16 Januari 2009 samapi dengan Juni 2009 (11 kali) sejak 21 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (10 kali). • 11 x 15% x Rp 5.000.000,= Rp 8.250.000,-

49

• 10 x 15% x Rp 8.000.000,Jumlah

= Rp 12.000.000,Rp 20.250.000,-

d. Kerugian yang diderita oleh Penggugat-4 adalah: sejak 14 januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (11 kali) sejak 21 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (10 kali). • 11 x 15% x Rp 30.000.000,• 10 x 15% x Rp 8.000.000,Jumlah sampai dengan Juni = Rp 49.500.000,= Rp 12.000.000,Rp 61.500.000,2009 = Rp 47.250.000,(9

e. Kerugian yang diderita oleh Penggugat-5 adalah: sejak 13 Februari 2009 kali).----------------------------------------------------------------------• 9 x 15% x Rp 35.000.000,-

TOTAL KERUGIAN Para Penggugat menjadi : ( Rp 110.205.000,- + Rp 90.600.000,- + Rp 20.250.000,- + Rp 61.500.000,- + Rp 47.250.000,-) adalah sama denga Rp 329.850.000,- (tiga ratus dua puluh sembilan juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah).-7. Bahwa disamping menyerahkan kuitansi tanda terima uang yang ditanda tangani oleh Tergugat kepada Para Penggugat juga surat “perjanjian dan penyarahan” benda jaminan tanah. Tanah mana yang sebagai jaminan dalam perejanjian adalah Tergugat menyerahkan dua bidang tanah bersertipikat masing-masing a/n. Turut Tergugat-1 yang tanah pekarangan tempat tinggal dan a/n. Turut Tergugat dua yang tanah sawah. Keduanya ayah dan ibu kandung Tergugat. Data tanah adalah di posita no. 12. Untuk selanjutnya tanah-tanh tersebut dapat disebut sebagai benda jaminan.------------------------8. Bahwa Penggugat awal-awalnya sudah pernah menerima hasil keuntungan atas kerjasama semacam tersebut dari Tergugat, tetapi nilai pinjamannya belum sebesar sekarang sehingga keuntungannya juga relative sedikit yang sudah diterima. Rupanya cara tersebut adalah suatu “trik” Tergugat untuk meraup uang Para Penggugat agar makin tertarik menanamkan uangnya lagi

50

kepada Tergugat dengan jumlah yang makin besar dan gila. Karena pancingan keuntungan –keuntungan yang dijanjikan awal-awalnya menyakinkan dengan profit share yang dibanyarkan tepat waktu dan nilainya, dengan pembatasan waktu jatuh tempo tidak lebih dari per dua minggu saja.----------------------------------------9. Bahwa sesuai dengan janji yang tertuang dalam kuitansi, masing-masing pinjaman Tergugat telah jatuh tempo.-------------------------------------------------------------------------10. Bahwa Para Penggugat sudah berusaha mengingatkan dan menagih secara lisan pada Tergugat, namun Tergugat hanya janji-janji dan sampai sekarang hutang --------------11. Bahwa karena Tergugat sampai hari ini belum mengembalikan modal usaha dan keuntungan yang seharusnya diperoleh Para Penggugat, maka perbuatan tersebut merupakan perbuatan melarang hukum berupa ingkar janji (wanprestasi) yang jelas-jelas menimbulkan kerugian bagi Para Penggugat baik materiil maupun immateriil, yaitu:------a. Kerugian Materiil berupa: 1. Modal poko sebesar Rp. 215.000.000,- (dua ratus lima belas juta rupiah); 2. Keuntungan yang disepakati Rp. 32.250.000,- ( tiga puluh dua juta dua ratus lima puluh ribu rupiah) (15% x Rp 215.000.000,-) share yang pertama; belum dibayarkan.-------------------------------------------------------------------------------

51

3. Profit share berikutnya

Rp. 297.600.000,- (dua ratus Sembilan puluh tujuh juta enam ratus ribu rupiah);

Atau jumlah profit share

Rp. 329.850.000,- (tiga ratus dua puluh Sembilan juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah);

Jumlah sampai dengan perkara diajukan ke Pengadilan Negeri Purwokerto sebesar Rp. 544.850.000,(lima ratus empat puluh empat juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah) b. Kerugian Immateriil berupa: Penggugat merasa dipermainkan oleh Tergugat dan merasa malu tertekan psikis karena Para Penggugat berkali-kali menagih tidak berhasil dan selalu di bohongi, sehingga Para Penggugat menuntut kerugian immaterial sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah). 12. Bahwa Penggugat khawatir Tergugat tidak akan mau memenuhi putusan ini, oleh karenanya untuk menjamin dilaksanakannya putusan ini Penggugat mohon kepada Pengadilan Negeri Purwokerto agar meletakan Sita Jaminan (Conservatoir Beslag) atas harta benda milik Para Turut Tergugat yaitu :----------------------------------------------------a. Berupa tanah dan bangunan atas nama Turut Tergugat-1 Terletak di RT.02 RW.14 Desa/Kel. Teluk Kec.Purwokerto Selatan, Kab. Banyumas Blok Persil 188 014, Klas D-I, Sertifikat HM No.212 a.n DRS.SOEKAMTO luas + 625 m2 (SU. No. 1269/D/1984 tgl 31-1-1984), dengan batas-batas sebagai berikut:-------------------------• • Sebelah Utara Sebelah Timur : : Tanah milik Selokan/saluran Madirwan.-----------------------------------------------irigasi.------------------------------------------------

52

• •

Sebelah Selatan : Sebelah Barat : Jalan

Tanah Raya

milik SMP Negeri

Karto 7

Hardjo.-------------------------------------------Purwokerto.----------------------------b. Berupa tanah sawah atas nama Turut Tergugat-2 terletak di Desa/Kel. Teluk, Kec. Purwokerto Selatan, Kab. Banyumas. Leter C No.153 Blok Persil No.190, Klas S-II, sertifikat HM No.2350 a.n Hj. SITI MARIANA SOEKAMTO luas + 596 m2, (SU. No. 86/Teluk/2003 tgl 28-8-2008), dengan batas-batas sebagai berikut:------------------• • • • Sebelah Utara Sebelah Timur : : Tanah Jalan Achmad Tanah Tanah Desa.-------------------------------------------------------------Suwarno.--------------------------------------------Sebelah Selatan : Katam.----------------------------------------------------------Sebelah Barat : Katam.----------------------------------------------------------13. Bahwa Penggugat juga Khawatir Tergugat akan mengulur-ulur

waktu dalam melaksanakan putusan ini setelah berkekuatan hukum tetap, oleh karenanya Penggugat mohon agar Tergugat dikenakan uang paksa (dwangsom) sebesar Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) per hari keterlambatan melaksanakan putusan ini.--------------------------------14. Bahwa Penggugat sudah berkali-kali menempuh jalur musyawarah

kekeluargaan untuk menyelesaikan perkara hutang-piutang ini, namun tidak pernah berhasil dan Tergugat menghilang untuk sulit ditemui oleh karenanya Para Penggugat mengajukan gugatan kepada Ketua Pengadilan Negeri Purwokerto.-----------------------------------------------------

53

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka Para Penggugat mohon agar Ketua Pengadilan Negeri Purwokerto berkenan kiranya memanggil Para Pihak, memeriksa dan mengadili perkara ini, selanjutnya menjatuhkan putusan sebagai berikut :-----------1. Menerima dan mengabulkan gugatan Para Penggugat untuk

seluruhnya.---------------------2. Menyatakan sah dan berharga Sita Jaminan (Conservatoir beslag) atas benda tetap berupa tanah yaitu Pekarangan dan Sawah (atas nama Turut Tergugat-1 dan 2 sebagaimana tersebut dalam posita 12) yang diletakkan oleh Pengadilan Negeri Purwokerto.-------------3. Menyatakan Tergugat telah melakukan ingkar janji (wanprestasi) kepada Para Penggugat adalah merupakan perbuatan melawan hukum.----------------------------------------------------4. Menyatakan hukumnya, kerugian materiil berupa modal pokok milik Para Penggugat yang dipinjam Tergugat harus dikembalikan oleh Tergugat sebesar:--------------------------a. Penggugat-1 sebesar rupiah). b. Penggugat-2 sebesar rupiah). c. Penggugat-3 sebesar d. Penggugat-4 sebesar rupiah). e. Penggugat-5 sebesar Jumlah rupiah). Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah). Rp. 215.000.000,- (dua ratus lima belas juta Rp. 13.000.000,- (tiga belas juta rupiah). Rp. 38.000.000,- (tiga puluh delapan juta Rp. 61.000.000,- (enam puluh satu juta Rp. 68.000.000,- (enam puluh delapan juta

54

5. Menyatakan hukumnya kerugian materiil berupa kerugian yang diderita tidak mendapatkan keuntungan modalnya Para Penggugat, Profit Share yang dijanjikan Tergugat, sampai dengan perkara diajukan ke Pengadilan Negeri Purwokerto masing-masing adalah sebagai berikut:----------------------------------------------------------------------a. Kerugian yang diderita oleh Penggugat-1 adalah : sejak 14 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (11 kali) sejak 20 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (10 kali) sejak 24 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009(10 kali).-----------------------------------• • • 11 x 15% x Rp. 55.000.000,10 x 15% x Rp. 10.000.000,10 x 15% x Rp. 3.000.000,Jumlah = Rp. 90.750.000,= Rp. 15.000.000,= Rp. 4.500.000,-

Rp. 110.250.000,-

b. Kerugian yang diderita oleh Penggugat-2 adalah : sejak 9 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (11 kali) sejak 27 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (10 kali) sejak 3 Pebruari 2009 sampai dengan Juni 2009 (9 kali).---------------------------------------------• • • 11 x 15% x Rp. 20.000.000,10 x 15% x Rp. 15.000.000,9 x 15% x Rp. 26.000.000,Jumlah = Rp. 33.000.000,= Rp. 22.500.000,= Rp. Rp. 35.100.000,90.600.000,-

c. Kerugian yang diderita oleh Penggugat-3 adalah : sejak 16 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (11 kali) sejak 21 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (10 kali).-• • Jumlah 11 x 15% x Rp. 5.000.000,= Rp. 8.250.000,10 x 15% x Rp. 8.000.000,= Rp. 12.000.000,Rp. 20.250.000,-

55

d. Kerugian yang diderita oleh Penggugat-4 adalah : sejak 14 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (11 kali) sejak 21 Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 (10 kali).-• • Jumlah sampai • dengan Juni 11 x 15% x Rp. 30.000.000,= Rp. 49.500.000,10 x 15% x Rp. 8.000.000,= Rp. 12.000.000,Rp. 61.500.000,2009 (9 e. Kerugian yang diderita oleh Penggugat-5 adalah : sejak 13 Pebruari 2009 kali).------------------------------------------------------------------------9 x 15% x Rp. 35.000.000,= Rp. 47.250.000,Total Jumlah Rp. 329.850.000,- (tiga ratus dua puluh sembilan juta delapan ratus 6. Menyatakan hukumnya kerugian immateriil berupa kerugian moral dan tekanan psikis Para Penggugat karena mendapat malu, tertekan karena dibohongi Tergugat adalah secara patut sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).----------------------------------------7. Menghukum Tergugat untuk membayar kepada Para Penggugat berupa kerugian materiil Modal Pokok Rp. 215.000.000,- (dua ratus lima belas juta rupiah) kerugian materiil Profit Share Rp. 329.850.000,- (tiga ratus dua puluh sembilan ribu delapan ratus lima puluh ribu rupiah), kerugian immateriil sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).------------8. Menetapkan hukumnya tanah-tanah BENDA PENJAMIN yang telah diserahkan Tergugat kepada Penggugat merupakan harta benda bernilai pengganti untuk penggantian kerugian materiil dan immateriil yang diderita lima puluh ribu rupiah.-------------------------------------------------------------------------------------

56

Para Penggugat dan tanah tersebut dapat dijual lelang untuk pengganti kerugian.--------------------------------------------------------------------9. Menghukum Tergugat untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) per hari keterlambatan melaksanakan putusan yang ----10. Menghukum kepada Tergugat untuk membayar sejumlah biaya perkara yang timbul dalam perkara ini.------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------A T A U-------------------------------------------------Apabila Pengadilan Negeri Purwokerto berpendapat lain, mohon untuk memberikan putusan yang seadiladilnya.----------------------------------------------------------------------------------------telah berkekuatan hukum tetap.----------------------------------------------------------------------------------------

Berdasarkan gugatan tersebut, suatu perbuatan dikualifikasikan sebagai wanprestasi , yaitu dengan mendasarkan pada pasal 1234 KUH Perdata. Menurut pasal 1234 KUH Perdata yang dimaksud dengan prestasi adalah seseorang yang menyerahkan sesuatu, melakukan sesuatu, dan tidak melakukan sesuatu, sebaliknya (jika ditafsirkan secara acontrario) dianggap wanprestasi bila seseorang : a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;

57

b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan; c. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat; atau d. Melakukan sesuatu yang menurut kontrak tidak boleh dilakukannya. Point a dan poin b dalam persidangan terbukti. Menurut peneliti, pertimbangan hakim dalam membutikan unsur-unsur wanprestasi dalam poin a dan b sudah tepat. Fakta hukum (judex facti) yang diungkapkan dalam putusan a quo sudah disusun secara sistematis dan runtut, sehingga mudah dipahami. Namun demikian, hakim telah melakukan proses berpikir silogistis, sehingga semua unsur-unsur wanprestasi yang ada dalam gugatan terhubung dengan fakta dan konklusinya. Dalam putusan hakim a quo, terdapat penalaran yang mengarah kepada cara berfikir Silogistik, sebagaimana terdapat dalam pertimbangan hukum hakim berikut : ” Menimbang bahwa berdasarkan pengakuan Tergugat atas gugatan Penggugat yang berupa dalil tetap, bahwa Tergugat belum membayar hutangnya kepada Para Penggugat hingga jatuh tempo sebagaimana telah diperjanjikan pada tanda bukti P-I sampai dengan P-V, sehingga perbuatan Tergugat tidak membayar hutang kepada Para Penggugat tersebut adalah merupakan ingkar janji (wanprestasi); Menimbang bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan bahwa Tergugat telah terbukti melakukan perbuatan ingkar janji (wanprestasi) seperti tersebut di atas, apakah hal tersebut dapat diklasifikasikan juga sebagai atau merupakan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad); Menimbang bahwa dasar gugatan Para Penggugat dalam perkara a quo adalah mengenai pinjaman / hutang piutang untuk modal usaha dengan perjanjian profit sharing 15 %, dan sebagai mana telah dibertimbangkan di atas Tergugat tidak dapat membayar pinjaman pokok serta profit sharing sebesar 15% kepada Penggugat sesuai waktu jatuh tempo yang telah diperjanjikan, maka Majelis

58

hakim berpendapat tidak memenuhi seluruh unsur perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) sebagaimana putusan Hoge Raad Nederland 1919;” Pertimbangan hukum hakim tersebut, berkaitan dengan tidak diklasifikasikannya perbuatan Tergugat sebagai perbuatan melawan hukum, menurut hemat peneliti sudah disertai dengan alasan-alasan yang cukup. Hal ini dapat terlihat, dalam pertimbangan hakim yang berpendapat bahwa perbuatan Tergugat tidak memenuhi unsur perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) sebagaimana putusan Hoge Raad Nederland 1919. Gugatan perdata ada 2 yaitu gugatan voluntair dan gugatan contentiosa. Dalam kasus ini termasuk dalam gugatan contentiosa, karena gugatan contentiosa adalah gugatan yang mengandung sengketa diantara pihak yang berpekara yang pemeriksan penyelesaiannya diberikan dan diajukan kepada pengadian dengan posisi para pihak 19 : • Yang mengajukan penyelesaian sengketa disebut dan bertindak sebagai penggugat ( plaintiff=planctus, dparty whoinstitutes a legal action or claim) • Sedangkan yang ditarik sebagai pihak lawan dalam penyelesaian, disebut dan berkedudukan sebagai tergugat ( defendant, dethe party aganst whoma cifil action is brought) Dalam Sengketa ini, pihak yang mengajukan penyelesaian sengketa atau yang bertindak sebagai penggugat yaitu ELY SUPRIHATININGSIH, DWI HENDRA WIJAYA, MICHAEL SALYO PURWOKO, WAHYU WIDODO, HARI SETIAWAN, yang kemeudian disebut sebagai Para Penggugat. Sedangkan yangtidarik sebagai pihak lawan dalam penyelesaian sengketa tersebut yaitu AJI BUDI PRASETYA bin SOEKAMTO yang selanjutnya disebut Tergugat, dan DRS. SOEKAMTO, SITI MARINA al. MARIANA SOEKAMTO sebagai Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II. Formulasi surat gugatan

19

Yahya Harahap. Hukum Acara Perdata. Hal 47

59

Yang dimaksud dengan formuasi surat gugatan adalah perumusan surat gugatan yang dianggap memenuhi syarat formil menurut ketentuan hukum dan perturan perundang-undangan yang berlaku. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam uraian ini akan dikemukakan berbagai ketentuan formil yang wajib terdapat dan tercantum dalam surat gugatan. Syarat-syarat tersebut akan ditampilkan secara berurutan sesuai dengan sistematika yang lazim dan standar dalam praktek peradilan. 1. Ditujukan/dialamatkan kepada PN sesuai dengan kompetensi relatif Surat gugatan harus secara tegas dan jelas tertulis PN yang dituju sesuai dengan patokan kompetensi relatif yang diatur dalam Pasal 118 HIR (gugatan harus diajukan kepada PN ditempat tergugat tinggal)20 Komentar : dalam surat gugatan yang diajukan oleh para penggugat telah sesuai dengan kompetensi relatif yaitu PN Purwokerto, dimana tergugat berdomsili di Jalan Sudagaran 11/22 RT.01 RW.02, Kel. Purwokerto Kulon, Kec. Purwokerto Selatan, Kab. Banyumas. Atau Jl.Pertabatan II 86-A Purwokerto. Dalam hal ini sudah sangta jelas bahwa PN Purwokerto berwenang mengadili pada tingkat pertama kasus wanprestasi tersebut. 2. Diberi tanggal Ketentuan undang-undang tidak menyebutkan surat gugatan harus mencantumkan tanggal, oleh karena itu ditinjau dari segi hukum : Pencantuman tanggal tidak imperative dan bahkan tidak merupakan syarat formil surat gugatan Dengan demikian, kelalaian atas pencantuman tanggal, tidak mengakibatkan surat gugatan mengandung cacat formil. Surat gugatan yang tidak mencantumkan tanggal, sah menurut hukum, sehingga tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan gugatan tidak dapat diterima.
20

Ibid., Hal 51

60

-

Namun demikian sebaiknya dicantumkan guna menjamin kepastian hukum atas pembuatan dan penandatanganan surat gugatan, sehingga apabila timbul masalah penandatanganan surat gugatan berhadapan dengan tanggal gugatan dan penandatanganan surat kuasa segera dapat diselesaikan.21

Komentar : dalam surat gugatan yang diajukan tidak mencantumkan tanggal pembuatan gugata, hal ini tdak bertentangan dengan syarat ormil dari sebuah gugatan akan tetapi tidak adanya kepastian hukum terhadap pembuatan dan penandatanganan. 3. Ditandatangani penggugat dan kuasa. Menegnai tanda tangan dengan tegas disebut sebagai syarat formil surat gugatan. Pasal 118 ayat 1 HIR menyatakan : Gugatan perdata harus dimasukan ke PN sesuai dengan kompetensi relatif. Dibuat dalam bentuk surat permohonan (surat permintaan) yang ditandatangani oleh penggugat atau wakilnya (kuasa)22 Komentar : dalam surat gugatan yang diajukan oleh kuasa hukum para penggugat mencantumkan tanda tangan dan nama jelas kuasa hukumnya tersebut sehingga surat gugatan ini memenuhi syarat formil pencantuman tanda tangan penggugat atau kuasanya. 4. Identitas Para Pihak/ Penyebutan identitas dalam surat gugatan, merupakan syarat formil keabsahan gugatan. Surat gugatan yang tidak menyebut identitas para pihak, apalagi tidak menyebut identitas tergugat, menyebabkan gugatan tidak sah dan diangap tidak ada. Dengan demikian, oleh karena tujuan utama pencantuman identitas agar dapat disampaikan panggilan dan pemberitahuan, identitas yg wajib disebut, cukup meliputi : a. Nama lengkap

21 22

Ibid., Hal 52 Ibid hal 52-52

61

-

Nama terang dan gelar termasuk nama alias, dimaksudkan untuk membedakan orang tersebut dengan orang lain yang kebetulan nama dan tempat tinggalnya sama.

-

Kekeliruan penyebutan nama Tergugat yang serius sehingga benarbenar mengubah identitas, dan dianggap melanggar syarat formil yang mengakibatkan surat gugatan cacat formil. Sehingga timbul ketidakpastian mengenai orang atau pihak yang berperkara. Oleh karena itu dasar alasan untuk menyatakan gugatan error in persona dan gugatan dinyatakan tidak dapat diterima.

-

Penulisan nama tidak boleh didekati secara sempit atau kaku tetapi harus dengan lentur. Apabila kekeliruan sangat kecil dan tidak berarti dapat atau harus ditolerir contohnya : salah menulis A menjadi O, kekeliruan ini dikategorikan sebagai kesalahan pengetikan, oleh karena itu, kesalahan yang dimaksud dapat diperbaiki oleh penggugatdalam persidangan melalui surat perbaikan atau perbaikan dilakukan dalam replik (balasan atas jawaban Tergugat). Bahkan hakim sendiri dapat memperbaiki dalam berita acara persidangan maupun dalam putusan.

-

Penulisan nama perseroan harus lengkap dan jelas seperti halnya penulisan nama orang, penulisan korporasi atau badan hukum, harus lengkap dan jelas sesuai dengan nama yang sesungguhnya berdasarkan nama yang disebut dalam anggaran dasar atau yang tercantum pada papan nama maupun yang tertulis pada surat-surat resmi perusahaan, sewlain ditulis nama lengkap perseroan, ditulis juga nama singkatan sebagaimana yang disebut dalam anggaran dasar atau papan nama.23

Komentar : Nama Para Pihak yang berperkara dalam kasus ini sudah sesuai dengan apa yang di syaratkan dan tidak terdapat celah didalamnya. b. Alamat atau tempat tinggal Yang dimaksud dengan alamat meliputi : alamat kediaman pokok, bisa juga lamat kediaman tambahan, atau tempat tinggal riil
23

Ibid., hal 54057

62

-

Sumber keabsahan alamat, terdapat beberapa smber dokumen atau akta yang dapat dijadikan sumber alamat yang legal, bagi perorangan, dapat diambil dari KTP, NPWP dan kartu rumah tangga. Sedangkan bagi perseroan dapat diambil dari NPWP, anggaran dasar, izin usaha atau dari papan nama.

-

Perubahan alamat tergugata sesudah gugatan diajukan,

tidak

mengakibatkan gugatan cacat formil, sehingga perubahan dan perbedaan alamat tersebut tidak mempengaruhi keabsahan gugatan, oleh karena itu, tergugat tidak dapat menjadikan hal itu sebagai dasar bantahan agar gugatan dinyatakan salah alamat, atau untuk dijadikan dasaralasana gugatan tidak dapat diterima. Tidak diketahui alamat tempat tinggal Tergugat, tidak menjadi hambatan bagi penggugat untuk mengajukan gugatan karena dalam Pasal 30 ayat 3 HIR telah mengantisipasi kemungkinan tersebut dalam bentuk pemangilan umum oleh walikota atau bupati oleh karena itu apabila penggugat dihadapkan dengan permasalahan hukum yang seperti itu dapat ditempuh cara perumusan identitas alamat, mencantumkan alamat atau tempat tingal terakhir dan dengan tegas menyebutkan tidak diketahui alamat atau tempat tinggalnya. Komentar : berdasarkan teori diatas, mengenai alamat dalam surata gugatan yang diajukan sudah sesuai dengan syarat gugatan formil seperti tercantum dalam teori. c. Penyebutan identitas lain tidak imperatif, tidak dilarang

mencantumkan identitas Tergugat yang lengkap akan tetapi hal itu dan diterapkan secara sempit, yang menjadikan pencantuman identitas secara lengkap sebagai syarat formil. Karena sulit bagi penggugat untuk mengetahui dan memperoleh data umur dan tanggal lahir. Oleh karena itu pencantuman identitas cukup menyebutkan nama lengkap dengan jelas, alamat tempat tinggal, jabatan yang mewakili perseroan.

63

Komentar : dalam surat gugatan yang diajukan hanya mencantumkan nama lengkap dan alamat dari para pihak yang berperkara. Akan tetapi tidak menyebabkan cacat formil. 5. Fundamentum Petendi Maksudnya adalah dasar gugatan atau dasar dibuatnya tuntutan.24 a. Unsur fundamentum petendi ada dua, yaitu : 1. dasar hukum memuat penegasan atau penjelasan mengenai hubungan hukum antara penggugat dengan materi atau objek yang disengketakan dan antara penggugat dengan tergugat berkaitan dengan obyek sengketa; 2. Dasar Fakta memuat fakta peristiwa yang berkaitan langsung dengan atau disekitar hubungan hukum yang terjadi antara penggugat dengan obyek perkara maupun dengan pihak tergugat. Atau penjelasan faktafakta yang langsung berkaitan dengan dasar hukum atau hubungan hukum yang didalilkan penggugat. Komentar : berdasarkan surat gugatna yang dibuat oelh kuasa hukumpara penggugat dapat disimpulkan bahwa dasar hukum dan dasar fakta dalam posita telah terpenuhi, adapun dengan penjelasan yaitu : dasar hukum tercantum dalam Posita angka 11, sedangkan dasar fakta tercantum dalam posita angka 1-5 dan 7-9. b. Dalil gugat yang dianggap tidak mempunyai dasar hukum : 1. Pembebasan pemidanaan atas laporan tergugat tidak dapat dijadikan dasar hukum menuntut ganti rugi. 2. Dalil gugatan berdasarkan perjanjian tidak halal. 3. Gugatan tuntutan ganti rugi atas perbuatan melawan hukum berdasarkan pasal 1365 KUH Perdata mengenal kesalahan hakim dalam melaksanakan fungsi peradilan, dianggap tidak mempunyai dasar hukum. 4. Dalil gugatan yang tidak berdasarkan sengketa dianggap tidak mempunyai dasar hukum.
24

Ibid., Hal 57-62

64

5. Tuntutan ganti rugi atas sesuatu hasil yang tidak dirinci berdasarkan fakta, dianggap gugatan yang tidak mempunyai dasar hukum. 6. Dalil gugatan yang mengandung saling pertentangan. 7. Hak atas objek gugatan tidak jelas. Komentar : berdasarkan surat gugatan yang dibuat oleh para penggugat tidak terdapat poin-poin yang tercantum dalam 7 poin tersebut. Sehingga gugatan mempunyai dasar hukum yang jelas. 6. Petitum gugatan Supaya gugatan sah, dalam arti tidak mengandung cacat formil, harus mencantumkan petitum gugatan yang berisi pokok tuntutan penggugat, berupa deskripsi yang jelas menyebut satu persatu dalam akhir gugatan tentang hal-hal apa saja yang menjadi pokok tuntutan penggugat yang harus dinyatakan dan dibebankan kepada tergugat. a. Bentuk petitum 1. Bentuk tunggal, apabila deskripsi yang menyebut satu persatu pokok tuntutan, tidak diikuti dengan susunan deskripsi petitum lain yang bersifat alternative. Bentuk petitum tunggal tidak hanya boleh berbentuk ex aequo at bono. Petitum yang hanya mencantumkan ex aequo at bono tidak memenuhi syarat formil dan materil petitum, akibat hukumnya gugatan dianggap mengandung cacat formil sehingga harus dinyatakan gugatan tidak dapat diterima25 Komentar: 2. Bentuk alternative, dibagi menjadi dua petitum primer dan subsidair sama-sama dirinci, penerapan yang ditegakkan mengahadapi petitum primer dan subsidair yang masingmasing dirinci satu persatu, mutlak diterapkan secara alternative, oleh karena itu hakim dalam mengambil dan menjatuhkan putusan harus memilih apakah petitum primer atau subsidair yang hendak
25

Ibid., hal 63

65

dikabulkan. Dengan demikian hakim dalam mengahadpi gugatan yang mengandung petitum primer dan subsidair tidak boleh mencampur adukkan dengan cara mengambil sebagian dari petitum primer dan sebagian dari petitum subsidair. petitum primer dirinci, diikuti dengan petitum subsidair berbentuk compositor atau ex aequo at bono. Dalam hal ini sifat alternative tidak mutlak, hakim bebas untuk mengambil seuruh dan sebagian petitum primer dan mengesampingkan petitum ex aequo at bono ( subsidair), bahkan hakim bebas dan berwenang menetapkan lain berdasarkan petitum ex aequo at bono dengan syarat harus berdasarkan kepatutan yang masih berada dalam kerangka jiwa petitum primer dan dalil gugatan.26 Komentar: b. berbagai petitum yang tidak memenuhi syarat, 1. tidak menyebutkan secara tegas apa yang diminta atau petitum bersifat umum. 2. Petitum tuntutan ganti rugi tetapi tidak dirinci dalam gugatan tidak memenuhi syarat. 3. Petitum yang bersifat negative tidak dapat dikabulkan 4. Petitum tidak sejalan dengan dalil gugatan27 Komentar: c. Sepintas penerapan petitum, tata cara dan tata tertib penerapan petitum yang harus ditegakkan oleh pengadilan: 1. Petitum primer dikaitkan dengan ex aequo at bono, penerapan mengacu pada sistem pada satu segi hakim tidak boleh melebihi matei pokok petitum primer sehingga putusan yang dijatuhkan tidak melanggar ultra petitum partium dan pada segi lain tidak boleh sampai berakibat merugikan tergugat malakukan pembelaan kepentingan.
26 27

Ibid., hal 64 Ibid., hal 64-66

66

2. Berwenang mengurangi petitum, hakim atau pengadilan tidak diwajibkan mengabulkan semua yang diminta dalam petitum secara utuh dan menyeluruh. 3. Tidak dapat mengabulkan yang tidak diminta dalam petitum, pengadilan hanya terbatas mengabulkan hal-hal yang diminta secara tegas dalam petitum gugatan28 Komentar: 7. Permusan gugatan asecor, adalah merupakan gugatan tambahan terhadap gugatan pokok. a. Syarat gugatan asecor Gugatan tambahan merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisah dengan gugatan pokok, dan sifat gugatan tambahan tidak dapat berdiri sendiri diluar gugatan pokok. Antara gugatan pokok dengan gugatan tambahan harus saling mendukung, tidak boleh saling bertentangan. Gugatan tambahan sangat erat kaitannya dengan gugatan pokok maupun dengan kepentingan penggugat29 Komentar: b. Jenis gugatan asecor 1. Gugatan provisi, berdasarkan pasal 180 ayat 1 HIR, gugatan tambahan berupa permintaan agar PN menjatuhkan putusan provisi yang diambil sebelum pokok perkara diperiksa. 2. Gugatan tambahan penyitaan, berdasarkan pasal 226-227 HIR, penyitaan merupakan tindakan yang dilakukan pengadilan menempatkan kekayaan tergugat atau barang obyek sengketa berada dalam keadaan penyitaan untuk menjaga kemungkinan barang-barang itu dihilangkan atau diasingkan tergugat selama proses perkara berlangsung.

28 29

Ibid., hal 66-67 Ibid., hal 67

67

3. Gugatan tambahan permintaan nafkah berdasarkan pasal 24 ayat 2 huruf a PP No. 9 tahun 197530

B. EKSEPSI Eksepsi adalah suatu tangkisan atau sanggahan yang tidak menyangkut pokok perkara. Eksepsi disusun dan diajukan berdasarkan isi gugatan yang dibuat penggugat dengan cara mencari kelemahan-kelemahan ataupun hal lain diluar gugatan yang dapat menjadi alasan menolak/menerima gugatan. Eksepsi dibagi menjadi 2 : 1. Eksepsi Absolut ( menyangkut kompetensi pengadilan ) yakni : a.Kompentensi Kompentensi absolut absolut (pasal dari 134 HIR/Pasal adalah 160 RBG) pengadilan menyangkut

kewenangan dari jenis pengadilan (Pengadilan Negeri, Pengadilan Militer, Pengadilan Agama, Pengadilan Tata Usaha Negara) termasuk juga Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuan Daerah (P4D)/ Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuan Pusat (P4P) & wewenang Kantor Urusan Perumahan (KUP) b. relatif Kompentensi Relatif ( Psl. 133 HIR/Psl59 RBG/Putusan adalah menyangkut wewenang pengadilan. Eksepsi MA-RI tgl 13-9-1972 Reg. NO. 1340/K/Sip/1971 ) Kompentensi kompentensi relatif diajukan sebagi keberatan pada saat kesempatan pertama tegugat ketika mengajukan JAWABAN. Eksepsi Absolut yang menyatakan Pengadilan tidak berwenang memeriksa perkara ( Eksepsi van onbevoegdheid ) 2. Eksepsi Relatif : adalah suatu eksepsi yang tidak mengenai pokok perkara yang harus diajukan pada jawaban pertama tergugat memberikan jawaban meliputi : a.Declinatoire Exceptie : Adalah eksepsi yang menyatakan bahwa pengadilan
30

tidak

berwewang

memeriksa

perkara

/gugatan

Ibid., hal 68

68

batal/perkara yang pada hakikatnya sama dan/atau masih dalam proses dan putusan belum mempunyai kekuatan hukum yang pasti. b.
c.

Dilatoire Exceptie : Adalah eksepsi yang tidak menyangkut Premtoire Exceptie : Adalah eksepsi menyangkut gugatan

gugatan pokok sama sekali atau gugatan premature. pokok atau meskipun mengakui kebenaran dalil gugatan, tetapi mengemukan tambahan yang sangat prinsipal dan karenanya gugatan itu gagal. d. Disqualification Exceptie : Adalah eksepsi yang menyatakan bukan pengugat yang seharusnya mengugat, atau orang yang mengajukan gugatan itu dinyatakan tidak berhak.
e.

Exceptie Obscuri Libelli : Adalah eksepsi yang menyatakan

bahwa gugatan Penggugat kabur ( Psl 125 ayat (1) HIR/Ps 149 ayat (1) RBG. f. Exceptie Plurium Litis Consortium : Adalah eksepsi yang menyatakan bahwa seharusnya digugat yang lain juga digugat. Hal ini karena ada keharusan para pihak dalam gugatan harus lengkap. g. Exeptie Non–Adimpleti Contractus : Adalah eksepsi yang menyatakan saya tidak memenuhi prestasi saya, karena pihak lawan juga wanpresetasi. Keadaan ini dapat terjadi dalam hal persetujuan imbal balik. h. Exceptie : yang menyatakan bahwa perkara sudah pernah diputus dan telah mempunyai hukum tetap (azas ne bis in idem atau tidak dapat diadili lagi) Psl. 1917 BW ne bis in idem terjadi bila tututan berdasarkan alasan yang sama, dimajukan oleh dan terhadap orang yang sama dalam hubungan yang sama. i. Exceptie Van Litispendentie : Adalah Eksepsi yang menyatakan bahwa perkara yang sama masih tergantung/masih dalam proses keadilan (belum ada kepastian hukum)

69

j. Exceptie Van Connexteit : Adalah eksepsi yang menyatakan bahwa perkara itu ada hubungannya dengan perkara yang masih ditangani oleh pengadilan/Instansi lain dan belum ada putusan. k. Exceptie Van Beraad : Adalah Eksepsi yang menyatakan bahwa gugatan belum waktunya diajukan l. Eksepsi relatif tidak hanya terbatas pada alasan–alasan seperti diatas. Dalam praktek dapat juga menjadi alasan mengajukan eksepsi relatif sebagai berikut : a) Posita dan Petitum berbeda, misalkan terdapat hal–hal yang dimintakan dalam pentitum padahal sebelumnya hal itu tidak pernah disinggung dalam posita, Petitum tidak boleh lebih dari posita. b) Kerugian tidak dirinci : dalam hal timbulnya kerugian harus dirinci maka kerugian mana harus dirinci satu persatu. Jika tidak dirinci dalam gugatan juga menjadi alasan mengajukan eksepsi. c) Daluwarsa : suatu gugatan yang diajukan telah melebihi tenggang waktu Daluwarsa , maka hal tersebut menjadi alasan eksepsi. d) Kualifikasi perbuatan Tergugat tidak jelas : Perumusan perbuatan/kesalahan tergugat yang tidak jelas akan menjadi alasan tergugat untuk mengajukan eksepsi. e) Obyek gugatan tidak jelas : Obyek gugatan harus jelas, dapat dengan mudah dimengerti dan dirinci ciri–cirinya. Ketidakjelasan obyek gugatan akan menjadi alasan bagi Tergugat mengajukan eksepsi. f) Dan lain-lain eksepsi : eksepsi tersebut berbeda dengan jawaban (sangkalan) yang ditujukan terhadap pokok perkara. Sebaliknya eksepsi adalah eksepsi yang tiudak menyangkut perkara. Eksepsi yang diajukan tergugat kecuali mengenai tidak berwenangnya hakim (eksepsi absolut) tidak boleh diusulkan dan dipertimbangkan secara terpisah–pisah tetapi harus bersama–

70

sama diperiksa dan diputuskan dengan pokok perkara (Pasal 136 HIR/Psl 162 RBG). Intisari dari isi eksepsi adalah agar Pengadilan menyatakan tidak dapat menerima atau tidak berwenang memeriksa perkara ( Psl 1454,Psl 1930,Psl 1941 BW, Psl 125/Psl 149 RBG, Ps 133 HIR/Psl 159 RBG dan Psl 136/Psl 162 RBG). Menurut Peneliti, eksepsi yang diajukan oleh Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II adalah kurang tepat karena berdasarkan teori, arti dari eksepsi adalah suatu sanggahan atau bantahan dari pihak Tergugat Terghadap Gugatan Penggugat yang tidak langsung mengenai pokok perkara , yang berisi tuntutan batalnya gugatan.31 Sedangkan sanggahan yang berhubungan dengan pokok perkara disebut dengan sangkalan (veerwer ten principale). Dalam hal ini eksepsi yang di ajukan oleh Para Turut Tergugat adalah masuk dalam pengertian sangkalan. Hal tersebut dapat terlihat dalam dalil-dalil yang dikemukakan Para Turut Tergugat di bawah ini: Bahwa posita gugatan para Peggugat bertentangan satu sama lain (kontradiksi), hal ini terlihat dalam posita angka 8 yang menyatakan ”...Penggugat awal-awalnya sudah pernah menerima hasil keuntungan atas kerja sama...”, namun dalam posita angka 11 menyatakan ” Tergugat sampai akhir ini belum mengembalikan modal usaha dan hasil keuntungan...”, sehingga subtansi dalam posita angka 8 bertentangan dengan posita angka 11. Oleh karenya patut kiranya Majelis Hakim perkara a quo menolak dan mengesampingkan dalil gugat pada angka 8, 11 pada posita dan petitum gugat pada angka 4, 5 dan 7 dalam pokok perkara a quo. Dengan demikian gugatan Penggugat menjadi kabur dan atau tidak jelas ( obscuur lebelle), yang selanjutnya karena gugatan a quo tidak jelas maka

31

Sudikno mertokusumo, hukum acara perdata Indonesia,hal.97

71

terhadapnya harus dinyatakan tidak dapat diterima (vide: Yurisprudensi MARI Nomor 582k/Sip/1973 tanggal 18-12-1975) Bahwa Para Penggugat dalam posita angka 11 maupun petitum angka 3 telah menggabungkan tuntutan Wanprestasi dengan tuntutan Perbuatan Melawan Hukum, hal demikian tidak dapat dibenarkan menurut hukum dan masing-masing tuntutan harus diajukan dalam gugatan tersendiri, selanjutnya berdasarkan hukum acara perdata sebagaimana yang diatur dalam pasal 102 Rv sebagai dasar hukum yang dapat dijadikan alasan untuk mengajukan gugatan dikelompokkan sebagai berikut: 1. Ingkar Janji/ Wanprestatie, yakni tuntutan tentang pelaksanaan suatu perikatan perorangan yang timbul karena persetujuan 2. Perbuatan Melawan Hukum Onrechmatige Daad, yakni tuntutan tentang pelaksanaan suatu perikatan perorangan yang timbul karena Undang-undang. Oleh karenanya tidak dapat dibenarkan menurut hukum mencampur menggabungkan perbuatan melawan hukum Onrechmatige Daad dengan ingkar janji/wanprestatie, hak ini sesuai dengan doktrin ilmu hukum dan sejalan dengan pendapat Mahkamah Agung republik Indonesia, mohon periksa yurisprudensi tetap MARI dalam putusan Nomor 879k/Pdt/1999 tanggal 29 Januari 2001, yang pada pokoknya menyatakan bahwa ” penggabungan tuntutan’perbuatan melawan hukum’ dengan ’wanprestasi’ di dalam satu surat gugatan, tidak dapat dibenarkan menurut tertib beracara perdata, masing-masing tuntutan harus diselesaikan dalam gugatan tersendiri” Dengan demikian karena gugatan a qou tidak jelas ( obscuur lebelle), maka terhadapnya harus dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). Maka berdasarkan atas segala apa yang terurai tersebut di atas, sekiranya majelis hakim yang memeriksa perkara ini berkenan dengan tanpa pokok perkaranya, menjatuhkan putusan yang menyatakan: 1. Menerima eksepsi Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II

72

2. Meniolak atau setidak-tidaknya menyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). 3. Menghukum Para Penggugat untuk membayar seluruh biaya yang timbul dalam perkara ini. Dari dalil-dalil tersebut diatas terlihat jelas bahwa yang dikemukakan oleh Para Turut Tergugat adalah sebagai sangkalan, karena semua dalil yang dikemukannya sudah masuk kedalam materi pokok perkara. Setelah mengamati dengan seksama pertimbangan-pertimbangan hakim terhadap eksepsi Para Turut Tergugat, Peneliti berpendapat bahwa hakim sudah benar dalam menerapkan hukum acara perdata karena hakim sudah menerapkan aturan pasal 136 HIR, penyelesaian eksepsi lain diluar eksepsi kompetensi: 1. diperiksa dan diputus bersama-sama dengan pokok perkara; 2. dengan demikian pertimbangan dan amar putusan mengenai eksepsi dan pokok perkara, dituangkan bersamaan secara keseluruhan dalam putusan akhir.32 hal tersebut terlihat dalam pertimbangan hakim terhadap eksepsi Para Turut Tergugat dibawah ini: Menimbang bahwa eksepsi-eksepsi Para Turut Tergugat tersebut diatas, bukan tentang eksepsi kewenagan mengadili dari pengadilan, baik kompetensi absolute maupun kompetensi relatif, maka secara yuridis eksepsi-eksepsi Para Turut Tergugat tersebut harus diputuskan bersama-sama dengan pokok perkara, atau dengan kata lain tidak diputuskan dengan putusan tersediri yaitu putusan sela ( vide pasal 136 HIR, dan yuris prudensi/putusan mahkamah agung republik Indonesia nomor 935k/Sip/1985); Majelis hakim juga cermat dalam memberikan pertimbangan terhadap eksepsi Para Turut Tergugat, dalam menganalisis dalil – dalil eksepsi Para Turut Tergugat majelis hakim menggunakan teori kumulasi obyektif, kemudian dihubungkan dengan fakta-fakta yang terungkap dari dalil-dalil yang dikemukakan oleh Penggugat, sehingga jelas tidak ada pertentangan antara dalil
32

Yahya Harahap, hukum acara perdata, hal.428

73

gugatan dan tidak menyulitkan dalam proses pemeriksaan perkara. Hal tersebut terlihat jelas dalam pertimbangan-pertimbangan majelis hakim berikut ini: Menimbang bahwa selanjutnya majelis hakim akan mempertimbangkan terhadap eksepsi-eksepsi Para Turut Tergugat sebagai berikut; Menimbang bahwa terhadap eksepsi poin ke satu tentang “ gugatan Para Penggugat bertentang satu sama lain(kontradiksi), hal ini terlhat dalam posita angka 8 menyatakan “….. Penggugat awal-awalnya sudah pernah menerima hasil keuntungan atas kerjasama…..”, namun posita angka 11 menyatakan “…Tergugat sampai hari ini belum mengembalikan modal usaha dan hasil keuntungan…” sehingga substansi dalam posita 8 bertentangan dengan posita 11; Menimbang bahwa setelah majelis hakim memperhatikan posita gugatan Para Penggugat angka ke- 8, dan ke-11 dihubungkan dengan posita ke-1 sampai dengan poisita ke-6, dapat disimpulakan bahwa pokok permasalahan dalam perkara a quo adalah Tergugat meminjam uang /berhutang kepada Para Penggugat, dimana pada posita angka ke-1 sampai dengan posita ke-6 telah menjelaskan tentang tanggal terjadinya pinjam uang/hutang serta waktu jatuh tempo hutang/ pinjaman, bahkan besarnya profit share yang akan diterima masing-masing Penggugat; Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut tidak ada kontradiktif/pertentangan diantara posita surat gugatan, dengan demikian eksepsi Para Turut Tergugat tidak beralasan hukum dan karenanya haruslah ditolak; Menimbang bahwa terhadap eksepsi poin ke-2 yaitu tentang “bahwa gugatan Para Penggugat dalam posita angka 11 maupun petitum angka 3 telah menggabungkan tuntutan wanprestasi dengan tuntutan perbuatan melawan hukum, hal demikian tidak dapat dibenarkan menurut hukum, dan masing-masing tuntutan harus diajukan dalam gugatan tersendiri, sehingga gugatan tidak dapat diterima ( Niet Ontvankelijk verklaard); Menimbang bahwa maksud dari eksepsi Para Turut Tergugat ini adalah tentang penggabungan tuntutan yaitu antara ingkar janji/ wanprestasi dengan perbuatan melawan hukum/ Onrechtmatige Daad, akan tetapi dalil gugatan Para Penggugat digolongkan tidak jelas (obscuur libelle), karenanya gugatan Para Penggugat harus dinyatakan

74

Penggugat tentang peristiwa konkritnya adalah sama yaitu tentang adanya hutang/pinjaman Tergugat kepada Para Penggugat. Penggabungan dari beberapa tuntutan ini seperti ini dalam ilmu hukum acara perdata dikenal dengan komulasi objektif. Menimbang bahwa menurut hukum acara perdata positif HIR tidak mengatur penggabungan gugatan ( samen voeging van vordering), namun berdasarkan doktrin hukum acara perdata penggabungan tuntutan/ komulasi objektif dibenarkan, kecuali: 1. Kalau untuk sesuatu (gugatan) tertentu diperlukan suatu acara khusus ( perceraian ), sedangkan tuntutan yang lain harus diperiksa menurut acara biasa (gugatan utnuk memenuhi perjanjian ), maka tuntutan itu tidak boleh digabungkan dalam satu gugatan; 2. Apabila hakim tidak berwenang (secara relatif) utnuk memeriksa salah satu tuntutan yang diajukan bersama-sama dalam satu gugatan dengan tuntutan lain, maka kedua tuntutan itu tidak boleh diajukan bersama-sama dalam satu gugatan; 3. Tuntutan tentang “Bezit” tidak boleh diajukan bersama-sama dengan tuntutan tentang “Eigendom” dalam satu gugatan ( vide pasal 103 Reglement Op Verordering); Menimbang bahwa sejalan dengan Yurisprudensi bahwa penggabungan gugatan pada prinsipnya diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan hukum acara, hanya saja agar penggabungan itu sah dan memenuhi syarat harus terdapat hubungan erat (innerlicke samenhangen) atau terdapat hubungan hukum sebagai mana Yurisprudensi No. 575K/Pdt/1983 tanggal 20 Juni 1984; Menimbang bahwa dalam perkara a quo penggabungan tuntutan/ komulasi obyektif berpedoman pada uraian perbuatan materiil yang sama dalam dalil gugatan Para Penggugat, sehingga jelas tidak ada pertentangan antara dalil gugatan dan tidak menyulitkan dalam proses pemeriksaan perkara;

75

Menimbang berdasarkan pertimbangan yuridis diatas, eksepsi para Turut Tergugat ini tidak beralasan hukum dan karenanya harus ditolak; Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan sementara, bahwa majelis hakim dalam memberikan pertimbangan-pertimbangan hukumnya terhadap eksepsi yang diajukan oleh Para Turut Tergugat sudah sesuai dengan Prosedur Hukum Acara Perdata dan juga selalu menggunakan Teori-teori yang ada, atau dengan kata lain 11/Pdt.G/2009/PN.Pwt. C. Dalam Pokok Perkara prosedur dalam hukum acara perdata telah diterapkan oleh hakim dalam memeriksa dan mengadili Perkara Pa No.

Bantahan terhadap pokok perkara disebut jug aver weer ten principale atau material verweer, yaitu tangkisan atau pembelaan yang diajukan tergugat terhadap pokok perkara. Dapat juga berarti: • • Jawaban tergugat mengenai pokok perkara, atau Bantahan yang langsung ditujukan tergugat terhadap pokok perkara.

Esensi bantahan terhadap pokok perkara, berisi alas an dan penegasan yang sengaja dibuat dan dikemukakan tergugat, baik dengan lisan atau tulisan dengan maksud untuk melumpuhkan kebenaran dalil gugatan yang dituangkan tergugat dalam jawaban. 1. Bantahan Disampaikan dalam Jawaban Bertitik tolak dari ketentuan Pasal 121 ayat (2) HIR, jawaban yang berisi bantahan, dapat diajukan tergugat dengan lisan atau tulisan. Pada saat sekarang para pihak umumnya diwakili oleh kuasa professional, dan semua jawaban diajukan dalam bentuk tertulis, jarang dilakukan dengan lisan. a. Proses Jawaban

76

Secara teknis pemeriksaan perkara di siding pengadilan menjalani proses jawab-menjawab. Aturan main mengenai proses jawabmenjawab, tidak dijumpai dalam HIR dan RBG. Ketentuannya digariskan dalam Pasal 142 Rv yang menegaskan para pihak dapat saling menyampaikan surat jawaban serta replik dan duplik. 1) Tergugat Berhak Mengajukan Jawaban Menurut Pasal 121 ayat (2) HIR, pada saat juru sita menyampaikan surat panggilan siding, dalam surat itu harus tercantum penegasan memberi hak kepada tergugat untuk mengajukan jawaban secara tertulis. Biasanya jawaban disampaikan pada saat sidang pertama. Berdasarkan hak ini,

tergugat menyusun jawaban yang berisi tanggapan menyeluruh terhadap gugatan. Jawaban yang seperti itu dalam praktik, disebut jawaban pertama. Dalam sistem Common Law disebut dengan counterclaim, yaitu tangkisan atau bantahan tergugat atau disebut defence sebagai crossclaim against the plaintiff. Hakikatnya pemberian hak bagi tergugat mengajukan jawaban, sesuai dengan asas audi alteram partem atau auditur et altera pars, yaitu pemberian hak yang sama kepada tergugat untuk mengajukan pembelaan kepentingannya. 2) Hak Penggugat Mengajukan Replik Sejalan dnegan asa audi alteram partem, kepada penggugat diberi hak untuk menanggapi jawaban yang diajukan tergugat, dan secara teknis disebut replik. Dengan demikian, replik merupakan jawaban atas jawaban tergugat. Dalam sistem Common Law, disebut dengan counter plea atau reply sebagai defence terhadap counterclaim. 3) Hak Tergugat Mengajukan Duplik

77

Secara teknis, duplik dapat diartikan jawaban kedua. Dalam Common Law disebut rejoinder, berupa jawaban balik dari tergugat terhadap replik penggugat. Sama halnya dalam sistem peradilan Indonesia, duplik merupakan jawaban terhadap replik penggugat. Hal itu ditegaskan Pasal 142 Rv, yang memberi hak kepada penggugat mengajukan replik atas jawaban tergugat dan selanjutnya memberi hak kepada tergugat mengajukan duplik terhadap replik penggugat. Ketentuan Pasal 142 Rv tersebut, telah dijadikan pedoman teknis yustisial berdasarkan prinsis kepentingan beracara (process doelmatigheid). 4) Proses Jawab-Menjawab Sebatas Replik dan Duplik Sesuai dengan prinsis peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan, sedapat mungkin proses pemeriksaan berjalan dengan efektif. Tidak bertele-tele serta tidak boleh memberi kesempatan kepada para pihak melakukan tindakan yang menjerumus kepada anarki. Apabila prinsisp tersebut dikaitkan dengan tahap proses jawab-menjawab yang digariskan Pasal 117 Rv, hakim cukup memberi kesempatan kepada para pihak untuk menyampaikan replik dan duplik, hanya satu kali saja. Memang tidak ada larangan yang tegas menyampaikan replik dan duplik berkali-kali. Akan tetati, kebolehan itu hanya membuang waktu. Tidak efektif dan efisien memberi hak mengajukan replik dan duplik berkali-kali. Jika hak mengajukan replik dan duplik telah dipergunakan para pihak, proses pemeriksaan tahap jawab-menjawab , mesti ditutup untuk selanjtnya ditingkatkan pada tahap pembuktian, dan pengajuan konklusi (conclusion) setelah tahap pembuktian selesai. Tahap berikutnya setelah penyampaian konklusi adalah pengucapan putusan.

78

Dapat dijelaskan, HIR dan RGB tidak mengatur secara jelas mengenai keharusan para pihak menyampaikan konklusi atau kesimpulan. Bentuk prosesual itu, diadopsi dari ketentuan Pasal 28 Rv yang mnegaskan para pihak diwajibkan membuat dan menyampaikan kesimpulan (konklusi) yang mereka tanda tangani. Ternyata ketentuan ini telah dikembangkan dalam praktik dan dikadikan salah satu tahap proses pemeriksaan yang disebut penyampaian konklusi. b. Isi Jawaban Seperti yang dijelaskan, penyampaian jawaban, replik dan duplik adalah hak, bukan kewajiban. Ditinjau dari teori dan praktik, pada dasarnya jawaban berisi penjelasan tentang kebenaran atau ketidakbenaran dalil gugatan penggugat. 1) Jawaban Disertai Alasan HIR dan RGB tidak menegaskan hal itu, tetapi dalam praktik dipedomani Pasal 113 Rv yang menyatakan, jawaban yang disampaikan : • • Disertai alasan-alasan, dan Turunannya (salinananya) disampaikan kepada penggugat (kuasa penggugat). Jawaban berisi bantahan yang tidak disertai alasan yang

rasional dan objektif, tidak bermanfaat. Sia-sia dan percuma menyampaikannya. Jawaban yang demikian dianggap tidak serius, sehingga tidak layak diperhatikan hakim. 2. Klasifikasi Isi Jawaban

79

Pada garis besarnya, ada beberapa hal yang dapat dikemukakan tergugat dalam jawaban pertama maupun dalam duplik. Sepenuhnya terserah kepada tergugat, apa saja yang akan dicantumkan di dalamnya. Ditinjau dari segi hukum, isi jawaban dapat diklasifikasi, antara lain : a) Pengakuan (bekentenis) Tergugat boleh dan dibenarkan memberi jawaban yang berisi pengakuan (confession), terhadap : • • Sebagian dalil gugatan tergugat; Seluruh dalil gugatan.

Tergugat harus sadar. Pengakuan terhadap dalil gugatan yang disampaikan dalam jawaban maupun duplik, erat kaitannya dengan sistem pembuktian. Sampai sekarang, Pasal 164 HIR dan Pasal 1866 KUH Perdata, masih menempatkan pengakuan sebagai alat bukti, dengan penerapan : (1) Ditegakkan asas onsplitbaar aveau Apabila pengakuan diberikan terhadap sebagian dalil gugatan yang disebut pengakuan berklausul atau pengakuan bersyarat, hakim dituntu untuk menegakkan asa pengakuan tidak boleh dipisah (onsplitbaar aveau) atau undevidable confession. Pengakuan tidak boleh dipisah-pisah. Hakim dilarang hanya mengambil pengakuan yang menguntungkan saja, dan menyingkirkan pengakuan yang merugikan. Prinsip tersebut ditegaskan dalam Pasal 176 HIR dan Pasal 1942 KUH Perdata. (2) Pengakuan murni merupakan bukti sempurna Pengakuan yang bulat dan murni atas seluruh dalil gugatan, merupakan alat bukti yang sempurna (volleding). Nilai kekuatan

80

pembuktian yang demikan ditegaskan dalam PAsal 1952 KUH Perdata dan Pasal 174 HIR, bahwa pengakuan yang diucapkan di hadapan hakim, cukup menjadi bukti untuk memberatkan orang yang memberi pengakuan itu. (3) Pengakuan tidak dapat dicabut kembali Menurut PAsal 1926 KUH Perdata, pengakuan tidak dapat dicabut kembali (irrevocable), kecuali dapat dibuktikan, pengakuan itu sebagai akibat kekhilafan mengenai hal-hal yang terjadi. Sedang kekhilafan mengenai hukum, tidak dibenarkan dijadikan sebagai alasan untuk menarik kembali pengakuan. Memperhatikan penjelasan di atas, tergugat harus berhati-hati dalam membuat jawaban dan duplik. Jangan sampai terperosok memberi pengakuan yang merugikan, jika hal itu diakui tidak benar. Akan tetapi, jika dalil gugatan memang benar, meskipun secara hukum tergugat dibenarkan atau boleh membantah dan mengingkarinya, namun dari segi moral beralasan bagi tergugat untuk mengakuinya. b) Membantah dalil gugatan Disebut juga bantahan terhadap pokok perkara (verweer ten principale). Semua dalil gugatan dibantah keberadaan dan kebenarannya. Hal itu merupakan hak tergugat. Namun, pada hak itu, sekaligus melekat kewajiban untuk mengemukakan alasan-alasan tentang bantahan sesuai dengan ketentuan Pasal 113 Rv. Sasaran bantahan, secara teori dan praktik ditujukan kepada : (1) Kebenaran dalil gugatan Menurut hukum, kebenaran dalil guagtan hanya dapat dilumpuhkan dengan pembuktian berdasarkan alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang. Itu sebabnya, pada tahap pengajuan jawaban dan duplik, proses penyelesaian perkara sudah dilengkapi dengan alat bukti, terutama alat bukti surat (dokumen).

81

Bantahan yang menyimpang atau melenceng dari dalil gugatan percuma saja, tidak ada artinya. Hal yang seperti itu, berlaku kepada penggugat. Jika penggugat bermaksud melumpuhkan bantahan tergugat, ia harus mengingkari dalil bantahan tersebut. (2) Bantahan ditujukan ke arah kejadian atau fakta Untuk melumpuhkan dalil gugatan, bantahan ditujukan ke arah kejadian yang menopang dasar hubungan hukum yang didalilkan dalam gugatan. Dengan menampik dan mengingkari kejadian yang didalilkan, berdasarkan alasan rasional dan objektif, tergugat dapat meruntuhkan eksistensi kebenaran hubungan hukum yang didalilkan dalam gugatan. (3) Melumpuhkan kekuatan pembuktian Tergugat bewijs). Pada gilirannya, pada tahap pemeriksaan pembuktian, tergugat harus mampu melumpuhkan kekuatan pembuktian yang diajukan penggugat dengan alat bukti lawan, jika tergugat ingin kebenaran dalil bantahan yang dikemukakannya diterima hakim. Memang masalah pelumpuhak dalil bantahan gugatan melalui bantahan terhadap pokok perkara, merupakan permasalahan yang tidak terpisah dari sistem dan hukum pembuktian. Oleh karena itu, bantahan yang diajukan tanpa didukung alat bukti yang kuat, akan disingkirkan oleh hakim, karena bantahan yang demikan tidak diakui hukum kebenarannya. c) Tidak memberi pengakuan, maupun bantahan harus mampu melumpuhkan kekuatan

pembuktian yang diajukan penggugat dengan bukti lawan (tegen

82

Sikap lain yang dapat dipilih tergugat, tidak mengakui dan tidak membantah. Jawaban hanya berisi pernyataan sepenuhnya kebenaran gugatan kepada hakim (referte aan het oordel des rechters). Jadi, tergugat menyerahkan sepenuhnya penilaian kebenaran dalil gugatan kepada hakim. Menghadapi sikap tergugat yang demikan, perlu diperhatikan patokan berikut. (1) Sikap itu dinyatan dengan tegas dalam jawaban Tergugat dalam jawaban harus dengan tegas menyertakan kepada hakim utnuk menilai kebenaran dalil gugatan. Tanpa ada pernyataan yang tegas, jawaban dianggap berisi pengakuan. Oleh karena itu, sikap penyerahan sepenuhnya kepada kebijaksanaan hakim untuk menilai dalil gugatan, tidak dapat diterapkan secara diam-diam. Apabila tergugat dengan tegas menyampaikan pernyataan menyerahkan sepenuhnya kepada hakim, pernyataan itu, tidak boleh dianggap sebagai pengakuan. Hakim dilarang menilai, sikap tergugat yang seperti itu sebagai pengakuan, karena itu sikap tergugat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti menguatkan dalil gugatan. (2) Tidak mematikan hak tergugat mengajukan bantahan pada tingkat banding Sepintas lalu, sikap tergugat yang menyerahkan penilaian kebenaran dalil gugatan kepada hakim, kurang layak. Seolah-olah tergugat menyerah tanpa pembelaan diri yang wajar. Oelh karena itu, sikap ini tidak proporsional. Memang benar, akibat hukum atas sikap itu tidak mematikan hak tergugat mengajukan bantahan pada tingkat banding, namun hal itu dianggap agak terlambat. Kebolehan itu, sesuai dengan kedudukan pengadilan tingkat banding sebagai judex facti.

83

1. Bahwa benar Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat-1 tetapi bukan sebesar Rp.68.000.000,- (enam puluh delapan juta rupiah) melainkan sebesar Rp. 58.000.000,- (lima puluh delapan juta rupiah), berdasarkan kwitansi yang ada pada Penggugat-1. 2. Bahwa benar Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat-2 tetapi bukan sebesar Rp.61.000.000,- (enam puluh satu juta rupiah) karena Tergugat sudah mengembalikan sebagian uang yang dipinjam kepada Penggugat-2 dengan cara transfer dan memberikan secara tunai kepada Penggugat II. 3. Bahwa benar Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat-3 sebesar Rp. 13.000.000,- (tiga belas juta rupiah) 4. Bahwa benar Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat-4 sebesar Rp. 38.000.000,- (tiga puluh delapan juta rupiah) 5. Bahwa benar Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat-5 tetapi bukan sebesar Rp.35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah) melainkan sebesar Rp. 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah), berdasarkan kwitansi yang ada pada Penggugat-5 6. Bahwa benar Tergugat pinjam uang tersebut di gunakan untuk modal usaha/ dagang/bisnis dengan share profit 15% per 2 minggu, dengan asumsi kondisi bisnis Tergugat pada saat itu dapat memberikan sharing profit sebesar tersebut diatas kepada para penggugat. Karena Para Penggugat sudah merasakan keuntungan dari kerjasama bisnis ini, sehingga para penggugat menghendaki agar terus melanjutkan kerja sama yang sudah terjalin anatara Para Penggugat dengan Tergugat. 7. Bahwa tidak benar Tergugat menyerahkan kwitansi kepada Para Penggugat melainkan Para Penggugat yang menyediakan kwitansi dengan materai. Tergugat hanya menerima uang kemudian menanda tangani dan memeberikan cap stempel pada kwitansi dan sampai saat ini Tergugat tidak mempunyai maupun diberi rangkap/copy kwitansi dari Para Penggugat. Pada awal kerjasama hanya di dasari kepercayaan tanpa adanya benda jaminan, tetapi seirirng berjalannya waktu Para Penggugat

84

meminta kepada Tergugat untuk memberikan benda ataupun barang yang bisa dipegang Para Penggugat tetapi bukan digunakan sebagai benda jaminan melainkan hanya dititipkan kepada Para Penggugat karena Para Penggugat memberikan alasan hanya untuk ayem2 Para Penggugat (agar para penggugat tenang dalam menjalani kerjasama dengan Tergugat). Karena Tergugat tidak memiliki benda yang bisa dititipkan kepada Para Penggugat maka Tergugat tanpa sepengetahuan orang tua Tergugat (Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II) telah menitipkan 2 sertifikat tanah milik orang tua Tergugat (Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II), setelah Penggugat menerima Sertifikat tersebut Penggugat mengecek kepada orang tua Tergugat (Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II) mengenai kepemilikan sertifikat yang ada pada Penggugat dan orang tua Tergugat mengakui dan menyatakan bahwa sertifikat tersebut adalah milik orang tua Tergugat (Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II) dan orang tua Tergugat (Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II) tidak pernah memberikan/menitipkan maupun menjaminkan sertifikat tersebut pada Penggugat dan orang tua Tergugat sudah mencoba meminta sertifikat tersebut kepada Penggugat untuk dikembalikan Kepada orang tua Tergugat, tetapi Penggugat tidak mau menyerahkan dengan alasan untuk pegangan Penggugat saja. 8. Bahwa benar Para Penggugat telah menerima keuntungan atas kerjasama dengan Tergugat, dengan keuntungan sebesar 15% per minggu menurut Tergugat adalah keuntungan yang sangat besar yang sudah diterima Para Penggugat. Dari awal kerjasama Tergugat sudah memberikan keuntungan dan mengembalikan modal, tetapi karena Para Penggugat merasakan memperoleh keuntungan yang besar dari kerja sama dengan Tergugat, Para Penggugat menawarkan kembali untuk memberikan modal kepada Tergugat dengan alasan bisnis ini saling menguntungkan. 9. Bahwa benar sesuai dengan janji yang tertuang dalam kwitansi,masingmasing pinjaman telah jatuh tempo.

85

10. Bahwa benar Para Penggugat sudah berusaha mengingatkan dan menagih secara lisan kepada Tergugat, tetapi karena bisnis Tergugat mengalami kerugian maka Tergugat sampai saat ini belum bisa mengembalikan modal yang terakhir diberikan oleh Para Penggugat. 11. Bahwa Tergugat sudah pernah memberikan keuntungan dan mengembalikan modal kepada Para Penggugat . Tergugat belum bisa mengembalikan modal yang terakhir kali diberikan Para Penggugat karena bisnis /usaha Tergugat mengalami kerugian.

Dalam pertimbangan hukum, hakim telah menerapkan teori-teori yang ada seperti yang dikemukakan diatas dalam bantahan pokok perkara. Disini sudah jelas bahwa hakim sudah memberikan kesempatan pada tergugat untuk memberikan jawaban gugatan dari penggugat. Secara teknis hakim juga sudah menerapkan proses jawab menjawab antar kedua belah pihak dalam persidangan seperti yang diatur dalam pasal 142 Rv yang menegaskan bahwa para pihak dapat saling menyampaikan surat jawaban serta replik dan dupliknya. Tetapi hanya sebatas replik dan duplik saja. Dan disini para pihak tidak diwajibkan menyampaikan konklusi atau kesimpulanya yang mana dalam putusan ini para pihak tidak menyampaikan kesimpulanya. Dalam isi jawaban tergugat dalam pokok perkara sudah sesuai dengan pasal 113 Rv yang mana dalam pasal ini menegaskan bahwa isi jawaban disertai dengan alasan. Isi jawaban tersebut berisi bantahan yang disertai alasan yang rasional dan obyektif sehingga layak diperhatikan hakim. Dalam jawaban tersebut tergugat memberi pengakuan terhadap sebagian dalil gugatan yang terdapat dalam poin 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, dan poin 11. Dalam isi jawaban tergugat juga membantah dalil gugatan yang dapat dilihat pada poin 7. Pada bantahan tersebut tergugat telah menjalankan kewajiban untuk mengemukakan alasan-alasan tentang bantahan sesuai dengan ketentuan pasal 113 Rv. Namun bantahan tersebut tidak disertai alat bukti yang dapat melumpuhkan kekuatan pembuktian yang diajukan penggugat.

86

Secara keseluruhan peneliti menyimpulkan bahwa jawaban tergugat dalam pokok perkara telah sesuai dengan teori-teori seperti yang dikemukakan di atas dan dasar hukum yang berlaku dalam hukum acara perdata.

D.

Rekonpensi Gugat balik atau gugat dalam rekonpensi diatur dalam Pasal. 132 (a) dan

Pasal 132 (b) HIR. Kedua pasal tersebut memberi kemungkinan bagi tergugat atau para tergugat untuk mengajukan gugatan balik kepada penggugat. Gugat rekonpensi adalah gugatan balasan yang diajukan oleh tergugat asli (penggugat dalam rekonpensi) yang digugat adalah penggugat asli (tergugat dalam rekonpensi) dalam sengketa yang sedang berjalan antara mereka. Penggugat rekonpensi dapat juga menempuh jalan lain yakni dengan mengajukan gugatan baru dan tersendiri, lepas dari gugat asal. Perlu adanya gugat balik, mengenai pokok persoalan yang sama adalah dikarenakan jangkauan isi putusan hanyalah untuk pihak tergugat pribadi - sebab di dalam haper dalilnya “ siapa yang mengemukakan dalil, maka dia yang berkewajiban membuktikan dalilnya tersebut apabila dalil tersebut disangkal olehnya. Komposisi para pihak dihubungkan dengan gugat rekonpensi : a. Komposisi gugatan : gugatan penggugat disebut gugatan konvensi (gugatan asal), sedangkan gugatan tergugat disebut gugatan rekonpensi (gugatan balik). b. Komposisi para pihak : Penggugat Asal sebagai Penggugat Konvensi pada saat yang bersamaan berkedudukan menjadi Tergugat Rekonpensi. Sedangkan Tergugat Asal sebagai Penggugat Rekonpensi pada saat yang bersamaan berkedudukan sebagai Tergugat Konvensi. Gugat balasan diajukan bersama-sama dengan jawaban, baik itu berupa jawaban lisan atau tertulis, dalam praktik gugat balasan dapat diajukan selama belum dimulai dengan pemeriksaan bukti, artinya belum sampai pada pendengaran keterangan saksi. Tujuan diperbolehkan mengajukan gugatan balasan atas gugatan penggugat adalah:

87

1. Menegakan asas peradilan sederhana. 2. Mempercepat penyelesaian sengketa. 3. Mempermudah pemeriksaan. 4. Menghindarkan putusan-putusan yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. 5. Menetralisir tuntutan konvensi. 6. Acara pembuktian dapat disederhanakan. 7. Menghemat biaya perkara. Gugatan rekonpensi hendaknya berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan hukum kebendaan, bukan yang berhubungan dengan hukum perorangan atau berkaitan dengan status seseorang. Persyaratan untuk kemungkinan mengajukan gugatan rekonpensi : 1. Pihak penggugat rekonpensi adalah pihak yang berwenang untuk bertindak dalam dalam hukum 2. Para pihaknya sama, tidak boleh menarik orang yang tidak bersangkut paut dengan gugatan konvensinya. Pembatasan waktu mengajukan syarat gugat rekonveksi : Peraturan HIR psl 132 ( b) : harus diajukan bersama-sama dengan surat jawaban 1 Batasan waktu gugatan rekonveksi : - hanya boleh dalam tingkat 1 - harus bersama sama dengan gugat asal Ketentuan gugat rekonpensi : 1. Gugatan rekonpensi harus diajukan bersama-sama dengan jawaban pertama oleh tergugat baik tertulis maupun dengan lisan.239. (namun menurut Wiryono Projodikoro, gugatan rekonpensi masih dapat diajukan dalam acara jawab menjawab dan sebelum acara pembuktian). 2. Tidak dapat diajukan dalam tingkat banding, bila dalam tingkat pertama tidak diajukan.240. 3. Penyusunan gugatan rekonpensi sama dengan gugatan konvensi. Baik gugat asal (konvensi) maupun gugatan balik (rekonpensi) pada umumnya diselesaikan secara sekaligus dengan satu putusan, dan pertimbangan

88

hukumnya memuat dua hal, yakni pertimbangan hukum dalam konvensi dan pertimbangan hukum dalam rekonpensi. Menurut ketentuan pasal 132 (a) HIR dan pasal 157 R.Bg dalam setiap gugatan, tergugat dapat mengajukan rekonpensi terhadap penggugat, kecuali dalam tiga hal, yaitu: 241. 1. Penggugat dalam kualitas berbeda. Rekonpensi tidak boleh diajukan apabila penggugat bertindak dalam suatu kualitas (sebagai kuasa hukum), sedangkan rekonpensinya ditujukan kepada diri sendiri pribadi penggugat (pribadi kuasa hukum tersebut). 2. Pengadilan yang memeriksa konvensi tidak berwenang memeriksa gugatan rekonpensi. 3. Perkara mengenai pelaksanaan putusan. Dalam perkara perselisihan yang berhubungan dengan pelaksanaan putusan ( eksepsi ) Gugatan rekonpensi tidak boleh dilakukan dalam hal pelaksanaan putusan hakim. Seperti hakim memerintahkan tergugat untuk melaksanakan putusan, yaitu menyerahkan satu unit mobil Daihatsu Taruna kepada penggugat, kemudian tergugat mengajukan rekonpensi supaya penggugat membayar hutangnya yang dijamin dengan mobil tersebut kepada pihak ketiga, rekonpensi seperti ini harus ditolak. • Apakah gugatan Rekonpensi telah sesuai dengan teorinya? DALAM REKONPENSI : 1. Bahwa dari segala apa yang terpapar dalam konvensi tersebut diatas untuk dianggap terulang kembali dalam rekonveksi ini, sebagai dalil posita gugatan dalam rekonveksi. 2. Bahwa Tergugat Rekonveksi telah melakukan perbuatan tidak berdasar hukum dengan cara menguasai sertifikat tanah SHM No. 212 atas nama Dr. Soekamto dan SHM No. 2350 atas nama Hj. Siti Mariana Soekamto yang senyatanya merupakan hal milik yang sah dari Penggugat Rekonpensi sebagai benda jaminan atas perikatan/perjanjian yang dibuat Tergugat Rekonpensi.

89

3. Bahwa

sebagai akibat perbuatan

Tergugat Rekonpensi tersebut

Penggugat Rekonpensi sangat dirugikan secara moril dan jika kerugian itu dihitung dengan uang tidak kurang dari Rp. 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) 4. Bahwa untuk menjamin agar tuntutan ganti rugi tersebut dipenuhi oleh Tergugat Rekonpensi dan terdapat tanda-tanda Tergugat Rekonpensi akan mengalihkan barang miliknya, maka berdasarkan ketentuan Pasal 277 HIR kiranya Pengadilan Negeri Purwokerto berkenan untuk meletakkan sita jaminan (yang rinciannya akan kami susulkan kemudian) ataupun sita perbandingan atas barang-barang milik Tergugat Rekonpensi. 5. Bahwa gugatan Rekonpensi dalam perkara a qou didasarkan pada kekuatan bukti yang sempurna, karenanya berdasarkan ketentuan Pasal 180 HIR putusan dalam perkara Rekonpensi ini dapat dijalankan terlebih dahulu (serta merta) meskipun Tergugat Rekonpensi menyatakan banding, verzet maupun kasasi. Maka berdasarkan atas segala apa yang terpapar diatas, sekiranya majelis hakim yang memeriksa perkara ini dalam Rekonpensi berkenan untuk menjatuhkan putusan yang menyatakan : 1. Mengabulkan seluruh gugatan Rekonpensi. 2. Menyatakan perbuatan Tergugat Rekonpensi tersebut adalah merupakan suatu perbuatan yang tidak berdasar hukum 3. Menghukum Tergugat Rekonpensi secata tanggung renteng untuk membayar ganti rugi sebesar Rp. 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) kepada Penggugat Rekonpensi secara tunai dan sekaligus dengan tanpa syarat apapun, apabila perlu dengan bantuan alat negara/Polri. 4. Menyatakan perikatan/perjanjian yang dibuat oleh Tergugat Rekonpensi batal demi hukum 5. Menghukum Tergugat Rekonpensi untuk menyerahkan sertifikat tanah SHM No. 212 atas nama Dr. Soekamto dan SHM No. 2350 atas nama Hj.

90

Siti Mariana Soekamto kepada Penggugat Rekonpensi seketika dan tanpa syarat apapun, apabila perlu dengan bantuan alat negara/Polri 6. Menghukum Tergugat Rekonpensi untuk membuat pengumuman pernyataan akan kesalahannya dan permohonan maaf melalui media cetak Suara Merdeka dan Radar Banyumas sebesar Va (setengah) halaman selama 3 (tiga) hari berturut-turut. 7. Menghukum Tergugat Rekonpensi untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) setiap harinya terhitung sejak putusan ini dijatuhkan oleh Pengadilan Negri Purwokerto, manakala Tergugat Rekonpensi tidak mentaati diktum putusan pada angka 3 di atas. 8. Menyatakan sah, berharga dan irenguatkan sita jaminan ataupun sita perbandingan yang diletakkan oleh juru sita Pengadilan Negeri Purwokerto 9. Menghukum Tergugat Rekonpensi untuk membayar seluruh biaya yang timbul dalam perkara ini 10. Menyatakan keputusan dalam Rekonpensi a quo dapat dijalankan terlebih dahulu(serta merta), meskipun Tergugat Rekonpensi menyatakan banding, verzet dan kasasi Dalam gugatan Rekonpensi ini, pihak yang melakukan/ mengajukan gugatan Rekonpensi telah sesuai dengan apa yang disebutkan dalam teori, dimana gugatan rekonpensi ini dilakukan oleh Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II yang keduanya merupakan pihak yang berwenang dan bertindak dalam hukum, dan yang digugat dalam gugatan Rekonpensi pun ditujukan dengan benar yaitu ditujukan kepada Penggugat dalam gugatan Konvensi yang dalam gugatan Rekonpensi menjadi Tergugat Rekonpensi dan tidak melibatkan pihak lain di luar pihak yang disebutkan dalam gugatan Konvensi, seperti yang disebutkan dalam buku Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek “… gugat balasan harus ditujukan kepada penggugat atau para penggugat, atau

91

salah satu dari penggugat saja oleh tergugat/ para tergugat atau turut tergugat”.33 Letak gugatan Rekonpensi ini juga telah sesuai dengan teori dalam mengajukan gugatan Rekonpensi, yaitu letaknya diajukan bersama-sama dengan jawaban dari Turut Tergugat I dan Turut Tergugat II, sehingga tidak membuat perkara berlarut-larut dan merugikan bagi Penggugat Konvensi dan gugatan ini dilakukan masih dalam acara jawab-jinawab diantara para pihak. Gugatan Rekonpensi ini diselesaikan secara sekaligus dengan satu putusan, yaitu pertimbangan hukum dalam Konvensi maupun pertimbangan hukum dalam Rekonpensi. Apa yang digugat dalam gugatan rekonpensi ini memang seharusnya yang digugat adalah perihal yang mengenai kebendaan, dan dalam kasus ini gugatan rekonpensi memang menggugat mengenai sertifkat tanah yang menjadi jaminan atas perikatan antara Penggugat dengan Tergugat Konvensi, meskipun ada bebrapa gugatan yang tidak berkaitan dengan hukum kebendaan, dan apa yang digugat bukan merupakan hal-hal yang dikecualikan untuk digugat Konvensi oleh pasal 132 a HIR, yaitu mengenai: 1. Penggugat dalam kualitas berbeda. Rekonpensi tidak boleh diajukan apabila penggugat bertindak dalam suatu kualitas (sebagai kuasa hukum), sedangkan rekonpensinya ditujukan kepada diri sendiri pribadi penggugat (pribadi kuasa hukum tersebut). 2. Pengadilan yang memeriksa konvensi tidak berwenang memeriksa gugatan rekonpensi. 3. Perkara mengenai pelaksanaan putusan. Dalam perkara perselisihan yang berhubungan dengan pelaksanaan putusan (eksepsi) Gugatan rekonpensi tidak boleh dilakukan dalam hal pelaksanaan putusan hakim. Seperti hakim memerintahkan tergugat untuk melaksanakan putusan, yaitu menyerahkan satu unit mobil Daihatsu Taruna kepada penggugat, kemudian tergugat
33

. Retnowulan sutanto dan iskadar oeripkartawinata, 1997, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, CV. Mandar maju, Bandung . hal 41

92

mengajukan rekonpensi supaya penggugat membayar hutangnya yang dijamin dengan mobil tersebut kepada pihak ketiga, rekonpensi seperti ini harus ditolak. • Apakah putusan hakim dalam menolak gugatan Rekonpensi telah sesuai dengan teorinya? DALAM REKONPENSI: Menimbang bahwa isi gugatan para pengguagat rekonpensi pada pokoknya adalah bahwa para penggugat rekonpensi/para turut tergugat rekonpensi telah melakukan perbuatan yang tidak berdasarkan hukum dengan cara menguasai sertifikat hak milik atas tanah nomor 212 atas nama Drs. SOEKAMTO dan sertifikat hak milik atas tanah Nomo2530 atas nama Hajjah SITI MARIANA SOEKAMTO yang senyatanya merupakan hak milik yang sah dari para penggugat rekonpensi/ turut tergugat konpensi sebagai benda jaminan atas perikatan yang dibuat oleh tergugat rekonpensi yang brakibat penggugat rekonpensi/ para tergugat rekonpensi mengalami kerugian secara moril yang juka dihitung tidak kurang Rp. 1000.000.000.(satu miliar rupiah); Menimbang bahwa untuk membuktikan dalil-dalil gugatannya, para penggugat rekonpensi/ para turut tergugat rekonpensi telah mengajukan alat bukti surat diberi tanda bukti T. T-I, dan dua orang saksi di bawah sumpah yaitu saksi SOEMARNO BIN ARSADIWIRYA dan saksi ACHMAD MUHADJI BIN SANRADJI, sedangkan para tergugat rekonpensi/ para penggugat konpensi untuk mempertahankan dalil sangakalan telah mengajukan alat bukti surat diberi tanda bukti P-I sampai dengan P-IX dan 3 (tiga) orang saksi yaitu saksi TRI WAHYUNI yang disumpah di persidangan, sedangkan saksi SRI YANTI dan DESI INDAH ARISANTI tidak disumpah, SRI YANTI adalah adik kandung penggugat1 dan saksiDESI INDAH ARISANTI adalah istri dari penggugat III;

93

-

Menimbang bahwa berdasarkan bukti surat T.T-1 berupa laporan kehilangan surat-surat dan barang yaitu menjelaskan bahwa para penggugat rekonpensi/ para turut tergugat konpensi kehilangan diantaranya SHM No.2350 tahun 2003 atas nama Hj. Siti Mariana Soekamto dan SHM No. 212 atas nama Drs. Soekamto;

-

Menimbang berdasarkan bukti P- VI, P-VIII terbukti 2(dua) bidang tanah SHM No.2350 tahun 2003 atas nama Hj. Siti Mariana Soekamto dan SHM No. 212 atas nama Drs. Soekamto, dan pemilik dua bidang tanah tersebut dilihat dari bukti tersebut adalah Hj. Siti Mariana Soekamto dan SHM No. 212 atas nama Drs. Soekamto, karena belum pernah dialihkan pemiliknay kepada pihak lain, hal ini juga dikuatkan oleh keteranagan saksi SOEMARNO BIN ARSADIWIRYA dan saksi ACHMAD MUHADJI BIN SANRADJI;

-

Menimbang bahwa berdasarkan surat bukti P-VII bahwa SHM No.212 atas nama Drs. Soekamto berada pada penggugat I konpensi/ tergugat I rekonpensi karena dijadikan oleh tergugat konpensi untuk agunan/ jaminan pinjaman uang tergugat konpensi kepada para tergugat rekonpensi/ para penggugat konpensi sebagaiman surat bukti P-I sampai P-V;

-

Menimbang bahwa beralihnya SHM no 212 tersebut kepada para tergugat rekonpensi/ para penggugat konpensi karena adanya perjanjian antara para tergugat rekonpensi/ para penggugat konpensi dengan tergugat I konpensi yang tidak lain anak kandung dari para penggugat rekonpensi / para turut tergugat konpensi, dan perjanjian para penggugat rekonpensi / penggugat konpensi tersebut sah, hanya saja penyerahan SHM No. 212 untuk jaminan / agunan hutang / pinjaman kepada para tergugat rekonpensi / para penggugat konpensi oleh tergugat konpensi tidak disertai / tidak ada kuasa dari kuasa para penggugat rekonpensi kepada tergugat, jadi masih ada kurang persyaratan hukum yang diamanatkan undang-undang di bidang agraria;

94

-

Menimbang bahwa berdasarkan alat bukti yang diajukan oleh para penggugat rekonpensi / para turut tergugat konpensi tersebut, maka para penggugat rekonpensi / para turut tergugat konpensi tidak dapat membuktikan dalil gugatanya;

-

Menimbang bahwa

karena para penggugat rekonpensi / para turut

tergugat konpensi tidak dapat membuktikan dalil gugatanya, oleh karenanya dihukum untuk membayar biaya yang timbul dalam gugatan rekonpensi ini yang akan ditentukan dalam amar putusan; Mengadili : DALAM REKONPENSI - Menolak gugatan para penggugat rekonpensi / para turut tergugat konpensi untuk seluruhnya; - Menghukum turut tergugat konpensi / para penggugat rekonpensi untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini yang dinilai nihil; Dalam memutus gugatan Rekonpensi ini, majelis hakim telah sesuai dengan teori-teori yang ada sistem atau proses pemeriksaan penyelesaia gugatan konvensi dan rekonpensi diatur dalam Pasal 132 b ayat (3) HIR. Jika ketentuan ini dihubungkan dengan ayat (5), terdapat dua sistem penyelesaian yang dapat ditempuh PN atau Majelis Hakim yang memeriksa gugatan rekonpensi tersebut. 1. Konvensi dan Rekonpensi Diperiksa serta Diputus Sekaligus dalam Satu Putusan Sistem ini merupakan aturan umum yang menggariskan proses pemeriksaan dan penyelesaian gugatan konvensi dan rekonvesi: • Dilakukan secara bersama dan serentak dalam satu proses pemeriksaan, sesuai dengan tata tertib beracara yang digariskan oleh Undang-Undang. Oleh karena itu :

95

Terbuka hak pengajuan eksepsi pada konvensi maupun rekonpensi. Mengajukan replik dan duplik pada konvesi dan rekonpensi. Mengajukan pmbuktian baik untuk konvensi dan rekonpensi. Menyampaikan konklusi dalam konvensi atau rekonpensi, dan Proses pemeriksaan dituangkan dalam satu berita acara yang sama.

Selanjutnya, hasil pemeriksaan diselesaikan secara bersamaan dan a) Menempatkan uraian putusan konvensi pada bagian awal, - Dalil gugatan konvensi - Petitum gugatan konvensi - Uraian pertimbangan konvensi, dan - Kesimpulan hukum gugatan konvensi. b) c) : - Dalam konvensi, dan - Dalam rekonpensi. Menyusul kemudian, uraian gugatan rekonpensi, meliputi Amar putusan sebagai bagian terakhir, hal-hal yang sama dengan substansi gugatan konvensi, Amar putusan merupakan bagian terakhir, terdiri dari amar putusan

serentak dalam satu putusan, dengan sistematika: meliputi

Penerapan sistem yang demikian, sesuai dengan penyelesaian setiap perkara kumulasi. Bukankah gugatan rekonpensi merupakan kumulasi dengan gugatan konvensi? Oleh karena itu, harus diselesaikan serentak dalam satu proses pemeriksaan yang sama dan dituangkan pula dalam satu putusan yang sama di bawah nomor register yang sama pula. 2. Boleh Dilakukan Proses Pemeriksaan secara Terpisah a) Diperiksa secara terpisah tetapi dijatuhkan dalam satu putusan dengan syarat pemeriksaan gugatan konvensi dahulu diselesaikan baru gugatan rekonpensinya.

96

b) Diperiksa secara terpisah dan diputus dalam putusan yang berbeda. Hal ini dapat terjadi apabila antara kedua belah pihak tidak terdapat koneksitas yang erat, sehingga penyelesaian memerlukan penanganan yan terpisah. Maka dalam memutus gugatan rekonpensi ini PN dalam hal ini Majelis Hakim telah memutus sesuai dengan teori yang ada, yaitu: Konvensi dan rekonvesi dilakukan secara bersama dan serentak dalam satu proses pemeriksaan. Hasil pemeriksaan diselesaikan secara bersamaan dan serentak dalam satu putusan. • Kesimpulan Berdasarkan teori-teori yang telah dijabarkan diatas tadi, maka dapat disimpulakan bahwa dalam menyusun Gugatan Rekonpensi para pihak turut tergugat telah sesuai dalam penyusunannya, begitu pula dengan PN atau Majelis Hakim yang memeriksa Gugatan Rekonpensi telah memutus sesuai dengan teori yang ada. Dengan perincian sebagai berikut : Apa yang digugat dalam gugatan rekonpensi ini memang seharusnya yang digugat adalah perihal yang mengenai kebendaan, dan dalam kasus ini gugatan rekonpensi memang menggugat mengenai sertifkat tanah yang menjadi jaminan atas perikatan antara Penggugat dengan Tergugat Konvensi dan apa yang digugat bukan merupakan hal-hal yang dikecualikan untuk digugat Konvensi oleh pasal 132 a HIR, yaitu mengenai: 1. Penggugat dalam kualitas berbeda. Rekonpensi tidak boleh diajukan apabila penggugat bertindak dalam suatu kualitas (sebagai kuasa hukum), sedangkan rekonpensinya ditujukan kepada diri sendiri pribadi penggugat (pribadi kuasa hukum tersebut). 2. Pengadilan yang memeriksa konvensi tidak berwenang memeriksa gugatan rekonpensi. 3. Perkara mengenai pelaksanaan putusan.

97

Dalam perkara perselisihan yang berhubungan dengan pelaksanaan putusan (eksepsi) Gugatan rekonpensi tidak boleh dilakukan dalam hal pelaksanaan putusan hakim. Seperti hakim memerintahkan tergugat untuk melaksanakan putusan, yaitu menyerahkan satu unit mobil Daihatsu Taruna kepada penggugat, kemudian tergugat mengajukan rekonpensi supaya penggugat membayar hutangnya yang dijamin dengan mobil tersebut kepada pihak ketiga, rekonpensi seperti ini harus ditolak. Serta dalam memutus gugatan rekonpensi ini PN dalam hal ini Majelis Hakim telah memutus sesuai dengan teori yang ada, yaitu: Konvensi dan rekonvesi dilakukan secara bersama dan serentak dalam satu proses pemeriksaan. Hasil pemeriksaan diselesaikan secara bersamaan dan serentak dalam satu putusan.

3.

Keadilan dan Kemanfaatan Keadilan telah sejak zaman Yunani merupakan cita hukum tertinggi.

Apakah Keadilan itu, sampai saat ini tampaknya belum ada satu definisi yang diakui tentang keadilan tersebut, bahkan relativitas keadilan memunculkan pendapat, bahwa “keadilan tertinggi itu adalah ketidak-adilan tertinggi”. Jika berpijak kepada pendapat ini, jelas kiranya kita sangat skeptis terhadap apa yang sedang dikerjakan oleh seluruh pengadilan di semua negara, termasuk Indonesia. Begitu tingginya cita hukum yang ingin dicapai, maka pengadilan sering disebut sebagai “satu-satunya benteng terakhir keadilan”. Bahkan dalam sistem hukum acara di Indonesia, putusan majelis hakim secara eksplisit mencantumkan irahirah, “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Irah-irah tsb mencerminkan betapa luhur dan mulia kedudukan dan peranan seorang hakim di Indonesia, sehingga kepadanya dibentangkan dan ditegaskan bahwa ia bertanggung jawab sepenuhnya atas putusan yang diambil yang bersangkutan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

98

Dengan perkataan lain, setiap ucapan seorang Hakim dalam memutus perkara seharusnya diidentikan dengan keadilan karena putusan yang diucapkannya merupakan jaminan terciptanya keadilan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas dasar pemikiran tsb, jelas bahwa, seorang Hakim di Indonesia, adalah satu-satunya “perwakilan” Tuhan Yang Maha Esa dalam menciptakan keadilan; sungguh betapa beratnya beban moralitas seorang hakim, bukan saja pertanggungjawaban teknis hukum dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara. Di dalam perkara pidana termasuk korupsi sudah tentu termasuk pertanggungjawaban hakim menempatkan seseorang terdakwa di dalam penjara untuk beberapa waktu lamanya, terlebih penjatuhan hukuman mati. Masalah pemidanaan merupakan masalah yang penting, disamping sebagai salah satu pokok permasalahan dalam hukum pidana, masalah pidana dan pemidanaan baik dalam bentuk teori-teori pembenaran pidana maupun dalam bentuk kebijakan dipandang sangat penting, sebab melalui pemidanaan akan tercermin sistem nilai-nilia sosial budaya suatu bangsa, khususnya menyangkut persepsi suatu bangsa terhadap hak-hak asasi manusia.34 Dalam hal ini maka hakim sangat berperan dalam menjatuhkan pemidanaan. Peran dan tugas hakim bukan hanya sebagai pembaca deretan huruf dalam undang-undang yang dibuat oleh badan legislatif. Tetapi dalam putusannya memikul tanggung jawab menjadi suara akal sehat dan mengartikulasikan sukma keadilan dalam kompleksitas dan dinamika kehidupan masyarakat. Hakim progresif akan mempergunakan hukum yang terbaik dalam keadaan yang paling buruk. 35 Dalam hubungan ini, pekerjaan hakim menjadi lebih kompleks. Seorang hakim bukan teknisi undang-undang, tetapi juga mahluk sosial. Karena itu, pekerjaaan hakim sungguh mulia karena ia bukan hanya memeras otak, tetapi juga nuraninya. Apabila hakim hanya melihat aspek kepastian hukum, tanpa melihat ekses negatif yang timbul yang diakibatkan perbuatan tersebut, maka hal ini akan menciptakan suatu permasalahan mekanisme dalam pengambilan putusan.
34

35

Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1998, Teori-Teorii dan Kebijakan Pidana, Bandung : Alumni. Hlm. V Satjipto Rahardjo, 2006, Membedah Hukum Progresif, Jakarta : Kompas, hlm. 56

99

Menurut Satjipto Rahardjo, pengadilan progresif mengikuti maksim. “hukum adalah untuk rakyat, bukan sebaliknya”. Bila rakyat adalah untuk hukum, apa pun yang dipikirkan dan dirasakan rakyat akan ditepis karena yang dibaca adalah katakata UU.
36

Berdasarkan hal tersebut, maka seyogyanya hakim dapat melihat

aspek-aspek lain selain kepastian hukum guna menciptakan keadilan dan kemanfaatan hukum. Kualitas hakim terlihat dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan untuk menjatuhkan keputusan dan keputusannya itu sendiri. Penilaian terhadap cara kerja hakim ini akan mempengaruhi kewibawaan hakim dan peradilan, serta kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan sebagai tempat untuk mencari keadilan. Untuk mengetahui suatu putusan mempunyai nilai keadilan dan kemanfaatan, maka peneliti akan menganalisis Putusan Nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt dengan menggunakan konsep dari Day. Day mengatakan bahwa diperlukan 3 (tiga) aspek penting untuk menguji keabsahan suatu putusan yang meliputi : 1. Principle Based Argumentation; meliputi asas-asas yang dipergunakan hakim dalam memutus. 2. Rule Based argumentation; dan meliputi peraturan perundang-undangan yang dipergunakan hakim dalam memutus. 3. Theoritical Based Argumentation; meliputi teori-teori yang dipergunakan hakim dalam memutus.37

a. Principle Based Argumentation Bilamana dilihat dari Principle Based Argumentation yang mengajarkan bahwa hakim dalam memutus sustu perkara haruslah memperhatikan asas-asas yang menjadi dasar untuk mengambil keputusan. Di
36 37

Ibid Pernyataan ini disampaikan oleh A. Day dalam Workshop Evaluasi Kinerja Jejaring Investigasi dan Hasil Pernelitian Putusan Hakim yang diselenggarakan oleh Komisi Yudisial di Yogyakarta pada tanggal 13 Desember 2007.

100

dalam proses peradilan perdata dikenal beberapa asas-asas persidangan dan asas-asas putusan hakim yang secara umum terdiri dari : a) Asas hakim mencari kebenaran formil; b) Hakim bersifat menunggu; c) Hakim bersifat pasif; d) Asas sidang terbuka untuk umum; e) Asas mendengar kedua belah pihak; f) Asas putusan harus disertai alasan-alasan; g) Asas beracara dikenakan biaya; h) Asas tidak ada keharusan mewakilkan; Berkaitan dengan asas persidangan terbuka untuk umum, dan asas mendengar kedua belah pihak, telah dianalisis oleh peneliti sebagaimana dianalisis dalam poin 1 berkenaan dengan Penerapan Prosedur hukum Acara Perdata dan telah terbukti bahwa hakim yang memeriksa Perkara Nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt telah memenuhi asas-asas terbuka untuk umum, pemeriksaan secara langsung dan asas pembelaan. Peneliti akan menganalisis lebih lanjut mengenai asas keadilan, kepastian hukum dan asas kemanfaatan sebagai berikut : Berkaitan dengan asas hakim mencari kebenaran formil dalam penjatuhan putusan hakim, maka terdapat norma yang termaktub dalam Undang-undang No.4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, antara lain terdapat dalam pasal berikut : a) Pasal 4 ayat (1) : ”Peradilan dilakukan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan YME” b) Pasal 26 ”Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.

101

c) Penjelasan ”Agar putusan hakim sesuai dengan hukum dan mencerminkan rasa keadilan masyarakat”. Rawls berpendapat bahwa dalam keadilan, terdapat rangkaian secara intrinsik prinsip-prinsip moral dan prinsip-prinsip hukum. Manusia sebagai person moral terutama dituntun oleh norma-norma yang dianutnya sendiri secara internal, yakni norma-norma moral. Akan tetapi, perlu diakui bahwa norma-norma moral tidak dengan sendirinya efektif mengatur tata hubungan serta pola sikap antarmanusia. Dalam hal ini, yang dibutuhkan adalah prinsipprinsip hukum yang mampu menjamin stabilitas serta kebaikan bersama dalam di dalam masyarakat sebagai keseluruhan. Dengan memperlihatkan relasi mendasar antara prinsip-prinsip moral dan prinsip hukum, Rawls menegaskan bahwa tujuan akhir dari prinsip-prinsip moral yakni menghasilkan manusia yang baik. Dengan demikian, isi dari aturan hukum harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Dalam arti itu, norma-norma legal harus merupakan determinasi yang lebih jauh serta penerapan lebih kongkret dari prinsip-prinsip moral dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain, prinsipprinsip hukum harus merupakan refleksi dari prinsip-prinsip moral. Secara lebih khusus, sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Rawls bahwa hukum harus dibentuk demi memelihara dan mendukung keadilan.38 Soejono Koesoemo menyarankan agar hakim dalam melakukan penemuan hukum yaitu proses dan karya hakim yang menetapkan benar dan tidak menurut hukum dalam suatu situasi konflik yang diujikan kepada hati nurani. Karya tersebut bersifat intelektual, rasional, logis, intuitif dan etis. Intelektual rasional berarti hakim harus mengenal dan memahami kenyataan kejadian dan peraturan hukum yang berlaku dan akan diperlakukan berikut ilmunya. Intelektual logis berarti penerapan hukum nomatif terhadap kasus posisinya, hakim seharusnya mengindahkan hukum logika baik formil maupun materiil. Aspek intuitif menghendaki adanya perasaan halus murni
38

John Rawls, 1971, Cambridge, hlm. 367

A Theory of Justrice, Massachussetts : Harvard University Press.

102

yang mendampingi rasio dan logika sehingga bersama-sama mewujudkan rasa keadilan yang pada akhirnya harus senantiasa diujikan dan dibimbing oleh hati nurani sehingga mengejawantahkan keadilan.39 Putusan hakim dikatakan rasional, apabila dengan putusan tersebut tercapai/ mengarah pada pencapaian tujuan. Jika dikaitkan dengan keadilan, maka putusan tersebut mengarah kepada tercapainya keadilan bagi para pihak yang berperkara. Jika dikaitkan dengan hak-hak para pihak yang berperkara, maka putusan tersebut harus mengarah kepada tercapainya keadilan bagi para pihak. Dalam Putusan Hakim Perkara Nomor : 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt., terdapat fakta-fakta hukum sebagai berikut : 4. Bahwa : ELY SUPRIHATININGSIH------- bertempat tinggal di Jl. Jatiwinangun Gang Arjuna 12 kel. Purwokerto Lor RT.02 RW.09 kec. Purwokerto Timur Kab. Banyumas, selanjutnya disebut sebagai: PENGGUGAT1;---------------------------------------------DWI HENDRA WIJAYA----------- bertempat tinggal di Jl. Dr.Cipto Mangunkusumo RT.06 RW.01, Desa Gandasuli, Kec. Brebes, Kab. Brebes, selanjutnya disebut sebagai: PENGGUGAT2;----------MICHAEL SALYO PURWOKO- bertempat tinggal di Jl. Raden Patah RT.02 RW.01 Desa Dukuh Waluh, Kec. Kembaran, Kab. Banyumas, selanjutnya disebut sebagai: PENGGUGAT-3;----------WAHYU WIDODO------------------ bertempat tinggal di Jl. Gunung Muria No.861 RT.01 RW.08 Kel. Grendeng, Kec. Purwokerto Utara, Kab. Banyumas, selanjutnya disebut sebagai: PENGGUGAT4;----------------------------------------------------------------HARI SETIAWAN------------------- bertempat tinggal di Desa Karangsoka RT.04 RW.01, Kec. Kembaran, Kab. Banyumas, selanjutnya disebut sebagai: PENGGUGAT5.----------------------------------39

Gregorius Aryadi, 1995, Putusan Hakim Dalam Perkara Pidana; (Studi Kasus Tentang Pencurian dan Korupsi di Daerah Istimewa Yogyakarta), Yogyakarta : Universitas Atma Jaya Yogyakarta, hlm. 64

103

Telah mengajukan gugatan wanprestasi terhadap: AJI BUDI PRASETYA bin SOEKAMTO bertempat tinggal di Jl. Sudagaran 11/22 RT.01 RW.02, Kel. Purwokerto Kulon, Kec. Purwokerto Selatan, Kab. Banyumas. Atau Jl.Pertabatan II 86-A Purwokerto, selanjutnya disebut sebagai: TERGUGAT;DRS. SOEKAMTO-------------------bertempat tinggal di Jl. HOS Notosuwiryo Desa/Kel. Teluk RT.02 RW.14 Kec. Purwokerto Selatan, Kab.Banyumas, selanjutnya disebut sebagai: TURUT TERGUGAT1;-----------------------------------------------SITI MARINA al. MARIANA SOEKAMTO bertempat tinggal di Jl. HOS Notosuwiryo Desa/Kel. Teluk RT.02 RW.14 Kec. Purwokerto Selatan, Kab.Banyumas, selanjutnya disebut sebagai: TURUT TERGUGAT2;------------------------------------------------

2. Bahwa gugatan Para Penggugat pada pokoknya sebagai berikut: -Bahwa Tergugat telah pinjam uang pada Penggugat 1 sebesar Rp. 68.000.000,(enam puluh delapan juta rupiah) dengan perincian sebagai berikut: -Pertama, tanggal 14 januari 2009 sebesar Rp. 55.000.000,- ( lima puluh lima juta rupiah ) dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 28 januari 2009 dari 2 (dua) kuitansi; -Kedua, tanggal 20 januari 2009 sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 3 pebruari 2009; -Ketiga, tanggal 24 januari 2009 sebesar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah)dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 7 pebruari 2009; - Bahwa Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat II sebesar Rp. 68.000.000,- (enam puluh satu juta rupiah) dalam jangka waktu 2 (dua) minggu dengan profit share 15 % dengan perincian yaitu: -Pertama, tanggal 9 januari 2009 sebesar Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 23 januari 2009; -Kedua, tanggal 27 januari 2009 sebesar Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah) dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 10 pebruari 2009;

104

-Ketiga, tanggal 3 pebruari 2009 sebesar Rp. 26.000.000,- ( dua puluh enam juta rupiah) dengan jatuh tempo 2 ( dua) minggu yaitu tanggal 17 pebruari 2009; - Bahwa Tergugat telah pinjam uang dengan Penggugat III sebesar Rp.13.000.000,- ( tiga belas juta rupiah) akan diberi keuntungan 15 % untuk jangka waktu 2 (dua) minggu yaitu: -Pertama, tanggal 16 januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu sampai dengan 30 januari 2009 sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah); -Kedua tanggal 21 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu, yaitu sampai denag tanggal 5 Februari 2009 sebesar Rp.8.000.000,- ( delapan juta rupia); - Bahwa Tergugat telah pinjam uang denganPenggugat IV sebesar Rp. 38.000.000.- ( tiga puluh delapan juta rupiah) dengan keuntungan profit shere 15% untuk jangka waktu 2 minggu denag perincia : - Pertama , tanggal 14 Januari 2009 denagn jatuh tempo 2(dua) minggu yaitu sampai dengan 28 Januari 2009 yangtertulis dalam kuitansi adalah Rp. 30.000.000.- ( tiga puluh juta rupiah) ; - Kedua, tanggal 21 Januari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 5 Febuari 2009 sebesar Rp. 8.000.000.- (daelapan juta rupiah); - Bahwa Tergugat telah pinjam uang kepada Penggugat V sebesar Rp. 35.000.000.- (tiga puluh lima juta rupiah) denag kuitansi yang mencantum profit shere per 14 hari, sebagai berikit pada tanggal 13 Febuari 2009 dengan jatuh tempo 2 (dua) minggu yaitu tanggal 28 Februari 2009; 3. Bahwa Tergugat dalam jawabannya pada pokoknya membenarkan gugatan Para Penggugat, yaitu Tergugat telah berhutang kepada Para Penggugat, tapi Tergugat menyangkal besar hutangnya terhadap Penggugat I dan Pengguagt II, dan Penggugat V yaitu, masing-masing hutang terhadap Penggugat I sebesar Rp. 58.000.000 ( lima puluh delapan juta rupiah) bukan sebesar Rp. 68.000.000.( enam puluh delapan juta rupiah) sedangkan terhadap Penggugat II sebesar Rp. 31.000.000.- ( tiga puluh satu juta rupiah), buakan sebesar Rp. 61.000.000.( enam puluh satu juta rupiah) dan Penggugat V sebesar Rp. 30.000.000.- ( tiga puluh juta rupiah) bukan Rp. 35.000.000.- ( tiga puluh lima juta rupiah) dengan jatuh tempo 2 (sua) inggu dan dengan janji buanga atau profit shere sebesar 15%; 4. Bahwa para Turut Terguguat tidak menyangkal dalit pokok gugatan Para Penggugat, tetapi menyangkat posita ke-7 dan ke-12 “tentang tanah dan bangunan sesuain Sertifikat Hak Milik ( SHM) No.212 atasnama SOEKAMTO dan tanah sawah Sertifikat Hak Milik (SHM) No.2350 atasnama Hj. SITI MARIANA SOEKAMTO yang oleh Tergugat sebagai benda jaminan atas pinjaman / hutang kepada Para Penggugat sehingga menolak sita jaminan yang diajukan Para Penggugat atas tanah-tanah tersebut”, 5. Bahwa berdasarkan jawab-jinawab antara para pergugat dengan Tergugat dan para Turut Tergugat, ada dalil-dalil Penggugat yang dibenarkan atau tidak

105

dibantah oleh terguagat dan para Turut Tergugat, sehingga dalil-dalil Penggugat tersebut merupakan dalil tetap yang tidak perlu dibuktikan lagi oleh Para Penggugat, yaitu: - Bahwa Tergugat berhutang kepada Penggugat 3 sebesar Rp. 13.000.000,(tiga belas juta rupiah); Bahwa Tergugat berhutang kepada Penggugat 4 sebesar Rp. 38.000.000,(tiga puluh delapan juta rupiah); Bahwa jatuh tempo hutang atau pinjaman tersebut selama 2 (dua) minggu atau 14 (empat belas) hari dengan profit share atau bagi hasil sebesar 15%; Bahwa hutang Tergugat kepada Para Penggugat (Penggugat1,2,3,4 dan 5) belum pernah dibayar oleh Tergugat;

6. Bahwa sedangkan terhadap dalil Para Penggugat yang disangkal oleh Tergugat dan para Turut Tergugat, sehingga belum merupakan dalil tetap dan harus dibuktikan oleh Para Penggugat adalah: - Bahwa hutang Tergugat kepada Penggugat 1 sebesar Rp. 58.000.000,bukan Rp. 68.000.000 (enam puluh delapan juta rupiah); 7. Bahwa hutang Tergugat kepada Penggugat 2 sebesar Rp. 31.000.000,bukan sebesar Rp 61.000.000,- (enam puluh satu juta rupiah); Bahwa hutang Tergugat kepada Penggugat 3 sebesar Rp. 30.000.000,bukan Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah); Bahwa untuk membuktikan dalil-dalil gugatannya, Para Penggugat telah

mengajukan alat bukti surat yang diberi tanda bukti P-1 sampai dengan P-9, dan 3 (tiga) orang saksi yaitu saksi TRI WAHYUNI yang disumpah di persidangan, sedangkan saksi SRI YANTI dan DESI INDAH ARISANTI tidak disumpah, SRI YANTI adalah adik kandung Penggugat 1 dan saksi DESI INDAH ARISANTI adakah istri dari Penggugat III, dan pihak Tergugat untuk membuktikan dalil-dalil sangkalannya tersebut tidak mengajukan alat bukti surat maupun saksi, sedangkan Para Turut Tergugat untuk mempertahankan dalil-dalil sangkalannya telah mengajukan alat bukti surat diberi tanda bukti T.T-1 dan 2 (dua) orang saksi dibawah sumpah yaitu SOEMARNO BIN ARSADIWIRYA dan saksi ACHMAD MUHADJI BIN SANRADI;

106

8.

Bahwa berdasarkan tanda bukti P-1 terdiri dari 4 (empat) lembar kwitansi, yaitu 2 (dua) lembar tertanggal 14 Januari 2009 masing-masing tertulis senilai Rp. 15.000.000,- dan Rp. 40.000.000,-, tertanggal 20 Januari 2009 berjumlah sebesar Rp. 10.000.000,-, dan kwitansi Rp. Tertanggal 24 Januari 2009 berjumlah Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah);

9.

Bahwa pada 4 (empat) kwitansi tersebut tertulis, yakni telah diterima uang dari ELY SUPRIHARTININGSIH untuk pembayaran pinjaman atas nama AJI BUDI PRASETYA yang diberi materai Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah) dan diberi stempel/cap serta ditandatangani atas nama AJIE untuk kwitansi 1 sampai dengan 3, sedangkan kwitansi ke-4 ditandatangani atas nama AJIE BUDI P;

10.

Bahwa di depan persidangan Tergugat telah mengakui nama yang tertulis “AJIE” dan “AJIE BUDI P” dan tandatangan di dalam kwitansi adalah nama dan tandatangan Tergugat, begitu pula stempel/cap diakui sebagai milik Tergugat;

11.

Bahwa berdasarkan tanda bukti P-2 yaitu berupa 3 (tiga) lembar kwitansi, masing-masing tertanggal 09 Januari 2009 tertulis sejumlah uang Rp. 20.000.00,-(dua puluh juta rupiah), tertanggal 09 Januari 2009 tertulis sejumlah uang Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah), dan kwitansi tertanggal 3 Februari 2009 tertulis sejumlah uang Rp. 26.000.000,- (dua puluh enam juta rupiah);

12.

Bahwa di dalam 3 (tiga) kwitansi tersebut tertulis yaitu telah diterima uang dari DWI HENDRA WIJAYA untuk membeli modal usaha yang diberi materai Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah) dan diberi stempel/cap serta ditandatangani atas nama AJI BUDI P untuk kwitansi 1, sedangkan untuk kwitansi ke-2 dan ke-3 tidak dicantum nama;

13.

Bahwa di persidangan Tergugat mengakui tertulis di kwitansi nama “AJI BUDI P” dan tandatangan adalah nama Tergugat, begitu pula stempel/cap diakui milik dan dilakukan Tergugat;

107

14. Bahwa berdasarkan tanda bukti P-V berupa 1 (satu) lembar kwitansi tertanggal 13 Februari 2009 di dalam tertulis : telah diterima dari MS. HARI SETIAWAN uang sebesar Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah) untuk modal bisnis /kerja sama bermaterai Rp.6.000, (enam ribu rupiah) dan ditandatangani, tetapi tanpa tercantum nama jelas/terang; 15. Bahwa di depan persidangan Tergugat mengakui bahwa tanda tangan yang tercantum di kwitansi adalah tandatangan Tergugat; 16. Bahwa berdasarkan alat bukti surat yang diberi tanda bukti P-I sampai dengan P-V dan pengakuan Tergugat( dalil-dalil tetap), maka telah terbukti bahwa Tergugat berhutang kepada Para Penggugat, yaitu kepada PenggugatI sebesar Rp.68.000.000,-, kepada Penggugat II sebesar Rp. 61.000.000,-,(enam puluh satu juta rupiah), kepada Penggugat III sebesar Rp.13.000.000,- (tiga belas juta rupiah), kepada Penggugat IV sebesar Rp. 38.000.000,- (tiga puluh delapan juta rupiah). Kepada Penggugat V sebesar Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah); 17. Bahwa tanda bukti P-I terdiri dari 4 (empat) lembar kwitansi, menerangkan jatuh tempo hutang Tergugat kepada Penggugat I masing-masing tertanggal 28 Januari 2009, tanggal 3 Februari 2009, dan 7 Februari 2009; 18. Bahwa tanda bukti P-II berupa 3 (tiga) lembar, menerangkan Tergugat berhutang/minjam uang kepada Penggugat II sebanyak 3 (tiga) kali dengan masa jatuh temponya masing-masing adalah tanggal 23 Januari 2009, 10 Februari 2009 dan tanggal 17 Februari 2009; 19. Bahwa tanda bukti P-III berupa 2 (dua) lembar kwitansi, menerangkan Tergugat berhutang/minjam uang kepada Penggugat III sebanyak 2 (dua) kali dengan masa jatuh temponya masing-masing adalah tanggal 30 Januari 2009, dan tanggal 5 Februari 2009; 20. Bahwa tanda bukti P-IV berupa 1 (satu) lembar kwitansi tertanggal 14 Januari 2009 dan 1 (satu) lembar bukti transfer uang di bank BCA ke rek. 3580194949

108

atas nama AJI BUDI PRASETYA tertanggal 21 Januari 2009, jatuh tempo pinjaman/hutang Tergugat kepada Penggugat IV sesuai dengan kwitansi tertulis setengah bulan, sehingga jatuh temponya pada tanggal 29 Januari 2009, sedangkan untuk pinjaman transfer melalui bank BCA karena berdasarkan kesepakatan jatuh tempo selama setengah bulan, maka jatuh temponya tanggal 5 Februari 2009; 21. Bahwa tanda bukti P-V berupa 1 (satu) lembar kwitansi tertanggal 13 februari 2009 menerangkan hutang / pinjaman Tergugat kepada Penggugat V untuk modal bisnis / kerjasama dengan masa jatuh tempo 14 hari, berarti tanggal 27 Februari 2009; Kemudian hakim mempertimbangkan pengakuan Tergugat terhadap dalildalil dalam gugatan Penggugat sebagai dalil tetap untuk mengklasifikasi perbuatan Tergugat sebagai Wanprestasi, sebagaimana dijelaskan dalam pertimbangan hakim sebagai berikut : “Menimbang bahwa berdsarkan pengakuan Tergugat atas gugatan Penggugat yang berupa dalil tetap, bahwa Tergugat belum membayar hutangnya kepada Para Penggugat hingga jatuh tempo sebagaimana telah diperjanjikan pada tanda bukti P-I sampai dengan P-V, sehingga perbuatan Tergugat tidak membayar hutang kepada Para Penggugat tersebut adalah merupakan ingkar janji (wanprestasi); Menimbang bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan bahwa Tergugat telah terbukti melakukan perbuatan ingkar janji (wanprestasi) seperti tersebut di atas, apakah hal tersebut dapat diklasifikasikan juga sebagai atau merupakan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad); Menimbang bahwa dasar gugatan Para Penggugat dalam perkara a quo adalah mengenai pinjaman / hutang piutang untuk modal usaha dengan perjanjian profit sharing 15 %, dan sebagai mana telah dibertimbangkan di atas Tergugat tidak dapat membayar pinjaman pokok serta profit sharing sebesar 15% kepada Penggugat sesuai waktu jatuh tempo yang telah diperjanjikan, maka Majelis hakim berpendapat tidak memenuhi seluruh unsure perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad)sebagaimana putusan Hoge Raad Nederland 1919; Menimbang bahwa berdasarkan tanda bukti P-I, P-II, P-III, P-IV, P-V, PVI, P-VII, dan P-VIII serta keterangan saksi TRI WAHYUNI, Para Penggugat telah berhasil membuktikan dalil gugatan, dengan menyatakan bahwa sikap Tergugat tidak membayar hutang / pinjamannya kepada Para Penggugat yang telah melewati jatuh tempo yang telah diperjanjikan adalah perbuatan ingkar janji (wanprestasi);”

109

Setelah melalui analisa terhadap fakta-fakta hukum yang terungkap selama persidangan, Hakim dapat mengambil kesimpulan bahwa perbuatan Tergugat diklasifikasi sebagai Wanprestasi. Untuk dapat mencapai kesimpulan tersebut, Hakim telah menggunakan alur berpikir silogistik dengan tetap berpedoman pada aturan hukum, asas-asas dan teori hukum yang ada. Jika hakim sudah menerapkan hal ini, maka putusan yang dihasilkan akan memenuhi rasa keadilan dan mendatangkan manfaat bagi para pihak.

2. Rule Based argumentation Selanjutnya bila putusan Putusan Nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt, dilihat dari rule based argumentation yang menekankan pada penerapan ketentuan-ketentuan dasar di dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perkara perdata yang bersangkutan, maka dalam hal ini, hakim harus mempertimbangkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam Perkara Perdata Nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt, yang diperiksa di Pengadilan Negeri Purwokerto, berdasar dari proses pemeriksaan persidangan, hakim telah memutus atas dasar ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai berikut : Bahwa menurut pasal 163 HIR dan pasal 1865 BW menyatakan “ barang siapa yang mengatakan mempunyai suatu hak atau menyebutkan suatu kejadian untuk meneguhkan haknya atau untuk membantah hak orang lain, haruslah membuktikan adanya hak atau kejadian itu”; yang berlaku. Hal ini terbukti dengan dipertimbangkannya berlakunya ketentuan peraturan perundang-undangan

110

Berdasarkan fakta hukum tersebut, maka dapat diinterpretasikan bahwa hakim dalam memutus Perkara Perdata Nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt sudah mempertimbangkan rule based agumentation. 3. Theoritical Based Argumentation Apabila dilihat dari aspek dasar Theoritical Based Argumentation, dimana aspek ini menekankan, bahwa hakim dalam menjatuhkan putusan hendaknya mendasarkan pada teori-teori hukum/ doktrin-doktrin hukum. Hakim dalam memeriksa perkara Perdata Nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt sudah menggunakan doktrin-doktrin ilmu hukum dalam memberikan pertimbangan hukumnya. Hal tersebut dapat dilihat dalam pertimbanganpertimbangan hakim yang mempertimbangkan fakta-fakta hukum yang disampaikan oleh kedua belah pihak. Hal ini menunjukan bahwa hakim mencari kebenaran formil. Oleh karena itu, apabila Putusan Perkara Perdata Nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt ditinjau dari aspek Theoritical Based Argumentation yang menekankan, bahwa hakim dalam menjatuhkan putusan hendaknya mendasarkan pada teori-teori hukum/ doktrin-doktrin hukum, maka Putusan Perkara Perdata Nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt memenuhi aspek Theoritical Based Argumentation. Hal ini terbukti dengan dipertimbangkannya berlakunya ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai berikut : a. Perbuatan melawan hukum / onrechtmatige Daad, yakni tuntutan tentang pelaksanaan suatu perikatan perorangan yang timbul karena undang-undang; oleh karenanya tidak dapat dibenarkan menurut hukum mencampur / menggabungkan perbuatan melawan hukum / onrechtmatige Daad dengan ingkar janji / wanprestatie, hal ini sesuai dengan doktrin hukum dan sejalan dengan pendapat Mahkamah Agung RI, mohon periksa Yurisprudensi tetap MARI dalam putusan nomor 879K/Pdt/1999 tanggal 22 Januari 2001, yang pada pokoknya nenyatakan ‘penggabungan tuntutan

111

perbuatan melawan hukum dengan tuntutan wanprestasi di dalam satu surat gugatan, tidak dapat dibenarkan menurut tertib beracara perdata, masing-masing tuntutan harus diselesaikan dalam gugatan tersendiri;

b. Menimbang

bahwa

sejalan

dengan

Yurisprudensi

bahwa

penggabungan gugatan pada prinsipnya diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan hukum acara, hanya saja agar penggabungan itu sah dan memenuhi syarat harus terdapat hubungan erat (innerlicke samenhangen) atau terdapat hubungan hukum sebagai mana Yurisprudensi No. 575K/Pdt/1983 tanggal 20 Juni 1984; Selain hal-hal tersebut di atas Majelis Hakim juga mempertimbangkan teori-teori hukum/ doktrin-doktrin hukum sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Hal tersebut terlihat dalam pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim sebagai berikut : Menimbang bahwa setelah majelis hakim memperhatikan posita gugatan Para Penggugat angka ke- 8, dan ke-11 dihubungkan dengan posita ke-1 sampai dengan poisita ke-6, dapat disimpulakan bahwa pokok permasalahan dalam perkara a quo adalah Tergugat meminjam uang /berhutang kepada Para Penggugat, dimana pada posita angka ke-1 sampai dengan posita ke-6 telah menjelaskan tentang tanggal terjadinya pinjam uang/hutang serta waktu jatuh tempo hutang/ pinjaman, bahkan besarnya profit share yang akan diterima masing-masing Penggugat; Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut tidak ada kontradiktif/pertentangan diantara posita surat gugatan, dengan demikian eksepsi Para Turut Tergugat tidak beralasan hukum dan karenanya haruslah ditolak;

112

Menimbang bahwa terhadap eksepsi poin ke-2 yaitu tentang “bahwa gugatan Para Penggugat dalam posita angka 11 maupun petitum angka 3 telah menggabungkan tuntutan wanprestasi dengan tuntutan perbuatan melawan hukum, hal demikian tidak dapat dibenarkan menurut hukum, dan masing-masing tuntutan harus diajukan dalam gugatan tersendiri, sehingga gugatan Penggugat digolongkan tidak jelas (obscuur libelle), karenanya gugatan Para Penggugat harus dinyatakan tidak dapat diterima ( Niet Ontvankelijk verklaard); Menimbang bahwa maksud dari eksepsi Para Turut Tergugat ini adalah tentang penggabungan tuntutan yaitu antara ingkar janji/ wanprestasi dengan perbuatan melawan hukum/ Onrechtmatige Daad, akan tetapi dalil gugatan Para Penggugat tentang peristiwa konkritnya adalah sama yaitu tentang adanya hutang/pinjaman Tergugat kepada Para Penggugat. Penggabungan dari beberapa tuntutan ini seperti ini dalam ilmu hukum acara perdata dikenal dengan komulasi objektif. Menimbang bahwa menurut hukum acara perdata positif HIR tidak mengatur penggabungan gugatan ( samen voeging van vordering), namun berdasarkan doktrin hukum acara perdata penggabungan tuntutan/ komulasi objektif dibenarkan, kecuali: Kalau untuk sesuatu (gugatan) tertentu diperlukan suatu acara khusus ( perceraian ), sedangkan tuntutan yang lain harus diperiksa menurut acara biasa (gugatan utnuk memenuhi perjanjian ), maka tuntutan itu tidak boleh digabungkan dalam satu gugatan; Apabila hakim tidak berwenang (secara relatif) untuk memeriksa salah satu tuntutan yang diajukan bersama-sama dalam satu gugatan dengan tuntutan lain, maka kedua tuntutan itu tidak boleh diajukan bersama-sama dalam satu gugatan; Tuntutan tentang “Bezit” tidak boleh diajukan bersama-sama dengan tuntutan tentang “Eigendom” dalam satu gugatan ( vide pasal 103 Reglement Op Verordering);

113

Serta Majelis Hakim dalam memutus sesuai dengan asas Ultra Petita/Ultra Petitum Partium adalah asas Hukum dalam Hukum Perdata, dimana dalam asas tersebut kewenangan hakim dalam memutus suatu perkara perdata di batasi hanya pada hal-hal yang dimohon oleh para pihak. Sehingga hakim tidak dapat memutus suatu perkara melebihi dari apa yang dimohon oleh para pihak. Hal tersebut dapat dilihat dalam amar putusan dimana Majelis Hakim hanya membebankan pembayaran ganti rugi kepada Tergugat tidak melebihi nominal yang diminta oleh Penggugat dalam gugatannya. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka Hakim dalam menjatuhkan Putusan Perkara Perdata Nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt telah menerapkan 3 (tiga) aspek yang harus terakomodir dalam suatu proses penjatuhan putusan terhadap suatu perkara, yaitu Principle Based Argumentation, Rule Based argumentation, dan Theoritical Based Argumentation. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa putusan hakim telah memuat nilai-nilai keadilan karena hakim turut mempertimbangkan fakta-fakta hukum yang dikemukakan oleh kedua belah pihak, sehingga hakim dalam memutus bersifat obyektif dan tidak memihak. Putusan pun pada akhirnya mendatangkan manfaat bagi kedua belah pihak, dimana Penggugat mendapat ganti kerugian materiil berupa modal pokok milik Para Penggugat sebesar Rp 215.000.000,- (dua ratus lima belas juta rupiah) dan mendapatkan profit sharing yang dijanjikan yaitu sebesar Rp 25.960.000,- (dua puluh lima juta sembilan ratus enam puluh rupiah). Sedangkan manfaat yang diperoleh oleh Tergugat adalah tidak dikabulkannya gugatan Para Penggugat secara keseluruhan sehingga Tergugat lebih ringan dalam membayar ganti kerugian kepada Penggugat. E. Kesimpulan dan Rekomendasi a. bahwa : Kesimpulan Berdasarkan analisis tersebut diatas, maka dapat ditarik kesimpulan

114

4. Dalam melaksanakan Prosedur Hukum Acara Perdata, hakim telah menerapkan asas-asas dalam hukum acara perdata antara lain Asas Hakim Bersifat Pasif, Asas hakim bersifat menunggu, Asas terbuka untuk umum, Asas mendengarkan kedua belah pihak, Asas beracara dikenakan biaya, Asas putusan harus disertai alasan, Asas Mancari Kebenaran Formil, Asas tidak ada keharusan mewakilkan. 5. Dengan melihat hasil analisis yang peneliti lakukan terhadap putusan nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt, maka peneliti dapat memberikan gambaran bahwa hakim dalam perkara a quo sudah secara maksimal menerapkan asas-asas beracara dan teori-teori hukum yang ada serta aturan hukum yang berlaku, sehingga putusan yang dihasilkan sudah mengakomodir hak-hak para pihak yang berperkara untuk mendapatkan keadilan. 6. Dalam penalaran hukum hakim dalam perkara inconcreto : Hakim sudah menggunakan pola berpikir silogistik. Dalam hal ini, hakim dalam memberikan putusan selalu mendasarkan pada sumber hukum baik berupa perundang-undangan, yurisprudensi maupun doktrin yang ada. Sehingga, putusan yang dihasilkan tersusun secara sistematis dan runtut, sehingga mudah dipahami. Namun demikian, hakim telah melakukan proses berpikir silogistik, sehingga semua unsur-unsur wanprestasi yang ada dalam gugatan terhubung dengan fakta dan konklusinya. 7. Putusan Perkara nomor 11 / Pdt.G / 2009 / PN.Pwt Pada dasarnya telah mengandung unsur keadilan dan kemanfaatan, karena hakim turut mempertimbangkan fakta-fakta hukum yang dikemukakan oleh kedua belah pihak, sehingga hakim dalam memutus bersifat obyektif dan tidak memihak. Putusan pun pada akhirnya mendatangkan manfaat bagi kedua belah pihak, dimana Penggugat mendapat ganti kerugian materiil berupa modal pokok milik Para Penggugat sebesar Rp 215.000.000,- (dua ratus lima belas juta

115

rupiah) dan mendapatkan profit sharing yang dijanjikan yaitu sebesar Rp 25.960.000,- (dua puluh lima juta sembilan ratus enam puluh rupiah). Sedangkan manfaat yang diperoleh oleh Tergugat adalah tidak dikabulkannya gugatan Para Penggugat secara keseluruhan sehingga Tergugat lebih ringan dalam membayar ganti kerugian kepada Penggugat. b. Rekomendasi Berdasarkan visi dan misi Komisi Yudisial, yaitu : a. Visi : Menjadikan hakim sebagai insan pengabdi dan penegak keadilan b. Misi : 1) 2) 3) Menyiapkan Hakim Agung yang berakhlak mulia, jujur, Melakukan pengawasan peradilan yang efektif, terbuka dan Mengembangkan sumber daya hakim menjadi insan yang berani dan kompeten ; dapat dipercaya ; mengabdi dan menegakkan keadilan. Dalam perkara a quo, dapat ditemukan adanya kepastian hukum, hal terebut tercermin dalam pertimbangan-pertimbangan hukum sebelum hakim menjatuhkan amar putusan. Dalam pertimbangannya, hakim menggunakan dasar aturan hukum yang ada secara tepat sehingga putusan tersebut mendatangkan keadilan dan kemanfaatan bagi kedua belah pihak yang berperkara. Walaupun kinerja hakim dalam perkara a quo ini sudah baik, namun tetap harus dilakukan pengawasan dan selanjutnya merekomendasikan kepada Mahkamah Agung agar dilakukan pembinaan kepada seluruh hakim. Pembinaan hakim diperlukan khususnya terhadap pengetahuan hakim dalam melakukan interpretasi dan kecermatan dalam memberikan pertimbangan hukum, karena putusan hakim harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan ilmu hukum. Hal ini dimaksudkan, agar menjadi perhatian bagi hakim-hakim lain untuk lebih menekankan keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan, serta lebih cermat lagi dalam memberikan pertimbangan

116

hukum terkait unsur-unsur dalam perkara yang diperiksanya dengan mempertimbangkan yurisprudensi. doktrin-doktrin ilmu hukum yang berlaku dan

DAFTAR PUSTAKA Buku Literatur yang digunakan :

117

Aryadi,Gregorius, 1995, Putusan Hakim Dalam Perkara Pidana; (Studi Kasus Tentang Pencurian dan Korupsi di Daerah Istimewa Yogyakarta), Yogyakarta : Universitas Atma Jaya Yogyakarta Cormick, Neil Mac 1994, Legal Reasoning and Legal Theory Oxford: Oxford University Press Karjadi dan Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana dengan Penjelasan Resmi dan Komentar, Bogor : Politeia Mertokusumo, Sudikno, 1996, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Yogyakarta : Libety Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1998, Teori-Teorii dan Kebijakan Pidana, Bandung : Alumni Mukantardjo, Rudy Satriyo, 7 July 2007, Harmonisasi Peran Aparat Penegak Hukum Dalam Memahami Peraturan Perundang-undangan Tentang Tindak Pidana Korupsi, http//www.legalitas.org, diakses tanggal 20 Agustus 2008 Poerwadarminta, W. J. S., 1991, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka Rahardjo, Satjipto, 2006, Membedah Hukum Progresif, Jakarta : Kompas Rawls, John, 1971, A Theory of Justrice, Massachussetts : Harvard University Press. Cambridge

118

Syahran, Abd. Halim, 08 July 2008, Peranan Hakim Agung dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) pada Era Reformasi dan Transformasi, http://saksi-buletin.com/index.php? option=comcontent&task =view&id=13& Itemid=27, diakses pada tanggal 12 Maret 2009 Syed H. Alatas dalam Yunus Hussein, 18 Maret 2008, Alasan Orang Banyak Korupsi, http//www.legalitas.org, diakses pada tanggal 20 Agustus 2008 Setiadi, Wicipto, 2006, Upaya Peningkatan Infrastruktur Hukum di Indonesia dalam Rangka Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi di Sektor Swasta, Materi Seminar Nasional ”Pelaksanaan Konvensi PBB Menentang Korupsi : Pemberantasan Korupsi di Sektor Swasta” yang diselenggarakan pada 4 Agustus 2006

Peraturan Perundang-undangan dan Putusan Hakim yang digunakan : Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Putusan Mahkamah Konstitusi No. 003/PUU-IV/2006 MA 22 Juli 1970 No. 638 K/Sip/1969, J.I. Pen III/70, hlm. 101, MA 16 Desember 1970 No. 492 K/Sip/1970, J.I. Pen 1/71

119

120

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->