P. 1
Makalah Ulumul Hadis Rijal

Makalah Ulumul Hadis Rijal

|Views: 1,988|Likes:
Published by zain37

More info:

Published by: zain37 on May 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2012

pdf

text

original

METODOLOGI PENELITIAN HADIS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri Mata Kuliah Ulumul Hadits Dosen :

Disusun oleh : m. zainal muttaqin (07320)

SYARI’AH / MEPI - 3 / Smt V

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON 2009

METODOLOGI PENELITIAN HADIS
A.Pendahuluan Al Qur’an dan Hadits mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari hari bagi umat Islam. Walaupun terdapat perbedaan dari segi penafsiran dan aplikasi, namun setidaknya ulama sepakat bahwa keduanya dijadikan sebagai rujukan Islam dalam mengambil dan menjadikan pedoman utama dari keduanya. Dalam struktur hirarki sumber hukum Islam, hadits (sunnah) bagi ummat Islam menempati urutan kedua sesudah al-Qur’an karena, disamping sebagai ajaran Islam yang secara langsung terkait dengan keharusan menaati Rasulullah SAW, juga karena fungsinya sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan al-Qur’an yang mujmal, muthlaq, ‘amm dan sebagainya. Kebanyakan orang sudah mengetahui mengenai hadits. Aka tepai, belkum mnegetahui darimana hadits tersebut dan apakah hadits tersebut. Untuk mengetahui semua itu, kita perlu mempelajari takhrij hadits. Yaitu suatu metode untuk mengetahui asal dari hadits yang ingin ditakhrij. Oleh karena itu, dalam makalh ini, akan dibahas mengenai takhrij hadits dan stui sanad hadits. B.Pengertian Takhrij Hadis Takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna. Yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata kharaja yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan. Demikian juga kata alikhraj yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan al-makhraj artinya artinya tempat keluar; dan akhrajal-hadits wa kharrajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.1 Takhrij menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan.2 1 http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/16/ilmu-takhrij-dan-studi-sanad/, Ilmu Takhrij dan
Study Sanad Hadis, (Sumber: Taysîr Mushthalah al-Hadîts).

2 Abu Al Jauzaa, http://salamkms.blogspot.com/2008/08/ilmu-takhrij-hadits-cara-mentakhrij.html,
Ilmu Takhrij Hadits, Cara Mentakhrij Hadist dan Ilmu Sanad, Kamis, Agustus 14, 2008

2

C.Tujuan dan Manfaat Takhrij Adapun tujuan utama dilakukan tahrij al-hadits diantaranya adalah:3 a. Mengetahui sumber asli asal hadits yang di takhrij. b. Mengetahui keadaan/kualitas hadits yang berkaitan dengan maqbul/diterima maupun mardudnya/ditolaknya. Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi dalam kitabnya Thuruq Takhrij Hadits Rasulillah SAW, yang penulis kutip dari buku terjemahan kitab tersebut, “Metode Takhrij Hadits”, (1994: 5-6) menjelaskan beberapa manfaat takhrij hadits diantaranya4 : 1.Takhrij memperkenalkan sumber-sumber hadits, kitab-kitab asal dimana suatu hadits berada, beserta ulama yang meriwayatkannya. 2.Takhrij dapat menambah perbendaharaan sanad hadits-hadits melalui kitab-kitab yang ditunjukinya. Semakin banyak kitab-kitab asal yang memuat suatu hadits, semakin banyak pula perbendaharaan sanad yang dimiliki. 3.Takhrij dapat memperjelas keadaan sanad. Dengan membandingkan riwayat-riwayat hadits yang banyak itu maka dapat diketahui apakah riwayat itu munqathi’, mu’dal dan lain-lain. Demikian pula dapat diketahui apakah status riwayat tersebut shahih, dha’if dan sebagainya. 4.Takhrij dapat memperjelas hukum hadits dengan banyaknya riwayatnya. Terkadang kita dapatkan hadits yang dha’if melalui suatu riwayat, namun dengan takhrij kemungkinan kita akan mendapatkan riwayat lain yang shahih. Hadits yang shahih itu akan mengangkat derajat hukum hadits yang dha’if tersebut ke derajat yang lebih tinggi. 3 http://aswanshow.blogspot.com/2009/04/takhrij-hadits.html, TAKHRIJ HADITS, Rabu, 01 April
2009

4 Budi Santosa, KAJIAN ILMU HADITS,
http://budiatturats.wordpress.com/2009/12/03/takhrij-hadits/, Desember 3, 2009 pada 4:07 pm

,

3

5.Dengan takhrij kita dapat memperoleh pendapat-pendapat para ulama sekitar hukum hadits. 6.Takhrij dapat memperjelas perawi hadits yang samar. Karena terkadang kita dapati perawi yang belum ada kejelasan namanya, seperti Muhammad, Khalid dan lain-lain. Dengan adanya takhrij kemungkinan kita akan dapat mengetahui nama perawi yang sebenarnya secara lengkap. 7.Takhrij dapat memperjelas perawi hadits yang tidak diketahui namanya melalui perbandingan diantara sanad-sanad. 8.Takhrij dapat menafikan pemakaian “AN” dalam periwayatan hadits oleh seorang perawi mudallis. Dengan didapatinya sanad yang lain yang memakai kata yang jelas ketersambungan sanadnya, maka periwayatan yang memakai “AN” tadi akan tampak pula ketersambungan sanadnya. 9.Takhrij dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat. 10.Takhrij dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. Hal ini karenan kemungkinan saja ada perawi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar. Dengan adanya sanad yang lain maka nama perawi itu akan menjadi jelas. 11.Takhrij dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam satu sanad. 12.Takhrij dapat memperjelas arti kalimat yang asing yang terdapat dalam satu sanad. 13.Takhrij dapat menghilangkan suatu “syadz” (kesendirian riwayat yang menyalahi riwayat tsiqat) yang terdapat dalam suatu hadits melalui perbandingan suatu riwayat. 14.Takhrij dapat membedakan hadits yang mudraj (yang mengalami penyusupan sesuatu) dari yang lainnya. 15.Takhrij dapat mengungkapkan keragu-raguan dan kekeliruan yang dialami

4

oleh seorang perawi. 16.Takhrij dapat mengungkapkan hal-hal yang terlupakan atau diringkas oleh seorang perawi. 17.Takhrij dapat membedakan proses periwayatan yang dilakukan dengan lafal dan yang dilakukan dengan ma’na (pengertian) saja. 18.Takhrij dapat menjelaskan waktu dan tempat kejadian timbulnya suatu hadits. 19.Takhrij dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadits. Diantara hadits – hadits ada yang timbul karena perilaku seseorang atau kelompok orang melalui perbandingan sanad-sanad yang ada maka “asbab al-wurud” dalam hadits tersebut akan dapat diketahui dengan jelas. 20.Takhrij dapat mengungkapkan kemungkinan terjadinya percetakan dengan melalui perbandingan-perbandingan sanand yang ada. D.Metode Takhrij Hadis Dalam mentakhrij hadits, bisa menggunkan sedikitnya lima metode takhrij sesuai dengan kebutuhan ataun kemampuan serta metode termuda yang dapat kita tempuh. Menurut ath-Thahhan, kitab yang paling baik adalah kitab karya al-Zailai yang berjudul Nash bar Rayah li Ahadits al-Hidayah, yang didalam kitab itu dijelaskan cara men-takhrij hadits yaitu5 :
•Disebutkannya

nash hadits yang terdapat dalaam kitab al-Hidayah (kitab

yang di-takhrij-nya,karya al-Marginani)
•Disebutkan

siapa saja dari penyusun kitab-kitab hadits yang dinilai sebagai dari hadist yang telah diriwayatkannya, dengan

sumber

utama

menyebutkan sanad-nya secara lengkap
•Disebutkan

hadits-hadits yang memperkuat hadits dimaksud, disertai

dengan menyebutkan pe-rawi-nya

5 Rudi Arlan Al-Farisi, Ilmu Takhrij Hadits, http://rud1.cybermq.com/post/detail/2223/ilmutakhrij-hadits, 02 Mei 2009.

5

•Jika

terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama, dikemukakannya

hadits-hadits yang dapat dijadikan pegangan bagi pihak yang berselisih Dalam takhrij terdapat beberapa macam metode yang diringkas dengan mengambil pokok-pokoknya sebagai berikut : 1.Metode Pertama, takhrij dengan cara mengetahui perawi hadits dari shahabat Metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama shahabat yang meriwayatkan hadits, lalu kita mencari bantuan dari tiga macam karya hadits :
•Al-Masaanid

(musnad-musnad) : Dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits

yang diriwayatkan oleh setiap shahabat secara tersendiri. Selama kita telah mengetahui nama shahabat yang meriwayatkan hadits, maka kita mencari hadits tersebut dalam kitab al-masaanid hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dari kumpulan musnad tersebut.
•Al-Ma’aajim

(mu’jam-mu’jam) : Susunan hadits di dalamnya berdasarkan

urutan musnad para shahabat atau syuyukh (guru-guru) atau bangsa (tempat asal) sesuai huruf kamus (hijaiyyah). Dengan mengetahui nama shahabat dapat memudahkan untuk merujuk haditsnya.
•Kitab-kitab

Al-Athraf : Kebanyakan kitab-kitab al-athraf disusun

berdasarkan musnad-musnad para shahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. Jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadits itu, maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab al-athraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap. 2. Metode Kedua, takhrij dengan mengetahui permulaan lafadh dari hadits Cara ini dapat dibantu dengan :
•Kitab-kitab

yang berisi tentang hadits-hadits yang dikenal oleh orang

banyak, misalnya : Ad-Durarul-Muntatsirah fil-Ahaaditsil-Musytaharah karya As-Suyuthi; Al-Laali Al-Mantsuurah fil-Ahaaditsl-Masyhurah karya Ibnu Hajar; Al-Maqashidul-Hasanah fii Bayaani Katsiirin minalAhaaditsil-Musytahirah ‘alal-Alsinah karya As-Sakhawi; Tamyiizuth-

6

Thayyibminal-Khabits fiimaa Yaduru ‘ala Alsinatin-Naas minal-Hadiits karya Ibnu Ad-Dabi’ Asy-Syaibani; Kasyful-Khafa wa Muziilul-Ilbas ‘amma Isytahara minal-Ahaadits ‘ala Alsinatin-Naas karya Al-‘Ajluni.
•Kitab-kitab

hadits yang disusun berdasarkan urutan huruf kamus, misalnya

: Al-Jami’ush-Shaghiir minal-Ahaaditsil-Basyir An-Nadzir karya AsSuyuthi.
•Petunjuk-petunjuk

dan indeks yang disusun para ulama untuk kitab-kitab

tertentu, misalnya : Miftah Ash-Shahihain karya At-Tauqadi; Miftah AtTartiibi li Ahaaditsi Tarikh Al-Khathib karya Sayyid Ahmad Al-Ghumari; Al-Bughiyyah fii Tartibi Ahaaditsi Shahih Muslim karya Muhammad Fuad Abdul-Baqi; Miftah Muwaththa’ Malik karya Muhammad Fuad AbdulBaqi. 3. Metode Ketiga, takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagian mana saja dari matan hadits Metode ini dapat dibantu dengan kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfaadzil-Hadits An-Nabawi, berisi sembilan kitab yang paling terkenal diantara kitab-kitab hadits, yaitu : Kutubus-Sittah, Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Ahmad, dan Musnad Ad-Darimi. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis, yaitu Dr. Vensink (meninggal 1939 M), seorang guru bahasa Arab di Universitas Leiden Belanda; dan ikut dalam menyebarkan dan mengedarkannya kitab ini adalah Muhammad Fuad Abdul-Baqi. 4. Metode Keempat, takhrij dengan cara mengetahui tema pembahasan hadits Jika telah diketahui tema dan objek pembahasan hadits, maka bisa dibantu dalam takhrij-nya dengan karya-karya hadits yang disusun berdasarkan bab-bab dan judul-judul. Cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz As-Sunnah yang berisi daftar isi hadits yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis berkebangsaan Belanda yang bernama Dr. Arinjan Vensink juga. Kitab ini mencakup daftar isi untuk 14 kitab hadits yang terkenal, yaitu :
•Shahih

Bukhari

7

•Shahih •Sunan •Jami’

Muslim

Abu Dawud

At-Tirmidzi An-Nasa’i Ibnu Majah Malik

•Sunan •Sunan

•Muwaththa’ •Musnad •Musnad •Sunan

Ahmad Abu Dawud Ath-Thayalisi

Ad-Darimi Zaid bin ‘Ali

•Musnad •Sirah

Ibnu Hisyam Al-Waqidi Ibnu Sa’ad

•Maghazi •Thabaqat

5. Metode Kelima, takhrij dengan cara melalui pengamatan terhadap ciri-ciri tertentu pada matan atau sanad Metode ini dilihat dari ciri-ciri tertentu dalam matan maupun sanad-nya (klasifikasi) maka akan ditemukan hadits itu berasal. Ciri-ciri yang dimaksud adalah ciri-ciri maudhu, ciri-ciri hadits qudsi, ciri-ciri dalam periwayatan dengan silsilah sanad tertentu, dll. E.Kelebihan dan Kelemahan Metode – Metode takhrij Hadits Masing-masing metode dalam takhrij hadits memiliki kelebihan dan kelemahan, berikut ini penulis mencoba menjelaskan kelebihan dan kelemahan ke lima metode takhrij hadits tersebut6 :

6 Budi Santosa, KAJIAN ILMU HADITS,
http://budiatturats.wordpress.com/2009/12/03/takhrij-hadits/, Desember 3, 2009 pada 4:07 pm

8

1.Metode Pertama, takhrij dengan cara mengetahui perawi hadits dari shahabat Kelebihan : Dengan menggunakan metode ini akan lebih mudah dan cepat dalam melakukan proses penelusuran atau mentakhrij hadis yang diinginkan. Kelemahan : Jika terdapat persamaan makna pada awal matan hadits dan awal kata hadits yang ingin ditakhrij berbeda maka akan mengalami kesulitan, misalnya matan hadits yang diawali dengan kata “idza ataakum” yang akan ditakhrij, kemudian kita lupa dan hanya mengingat kata-kata “lau ja’akum”, maka hal ini akan menyulitkan dalam melakukan proses takhrij hadits, jadi harus sesuai dengan lafal yang akan ditakhrij. 2.Metode Kedua, takhrij dengan mengetahui permulaan lafadh dari hadits Kelebihan : 1.Metode ini memperpendek masa proses takhrij dengan diperkenalkannya ulama hadits yang meriwayatkannya beserta kitab-kitabnya. 2.Metode ini memberikan manfaat yang tidak sedikit, diantaranya memberikan kesempatan melakukan persanad. Dan juga faedah-faedah lainnya yang disebutkan oleh para penyusun kitab-kitab takhrij dengan metode ini. Kelemahan : 1.Metode ini tidak dapat dipergunakan dengan baik tanpa mengetahui terlebih dahulu perawi pertama hadits yang dimaksud. 2.Terdapat kesulitan-kesulitan mencari hadits diantara yang tertera dibawah setiap perawi pertamanya. Hal ini karena penyusunan hadits-haditsnya diantaranya didasarkan perawi-perawinya yang dapat menyulitkan maksud tujuan. 3.Metode Ketiga, takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagian mana saja dari

9

matan hadits Kelebihan : 1.Metode ini mempercepat pencarian hadits-hadits. 2.Penyusun kitab-kitab takhrij dengan metode ini membatasi haditshaditsnya dalam beberapa kitab induk dengan menyebutkan nama kitab, juz, bab dan halaman. 3.Memungkinkan pencarian hadits melalui kata-kata apa saja yang terdapat dalam matan hadits. Kelemahan : 1.Keharusan mempunyai kemampuan bahasa arab beserta perangkat ilmuilmunya yang memadai. Karena metode ini menuntut untuk mengembalikan setiap kata-kata kuncinya kepada kata dasarnya. 2.Metode ini tidak menyebutkan perawi dari kalangan sahabat. Untuk mengetahui nama sahabat yang menerima hadits Nabi SAW, mengharuskan kembali kepada kitab-kitab aslinya setelah mentakhrijnya dengan kitab ini. 3.Terkadang suatu hadits tidak didapatkan dengan satu kata sehingga orang yang mencarinya harus menggunakan kata-kata yang lain. 4.Metode Keempat, takhrij dengan cara mengetahui tema pembahasan hadits Kelebihan : 1.Metode dengan mengetahui tema hadits tidak membutuhkan pengetahuanpengetahuan lain di luar hadits, seperti keabsahan metode pertamanya, sebagaimana metode-metode sebelumnya, pengetahuan bahasa arab dengan perubahan-perubahan kata dan pengenalan perawi teratas sebagaimana metode sebelumnya. Yang menjadi inti dari metode ini adalah diharuskan kemampuan untuk menentukan tema dalam hadits yang akan ditakhrij. 2.Metode ini mendidik ketajaman pemahaman hadits pada para peneliti hadits.

10

3.Metode ini juga memperkenalkan kepada para peneliti hadits yang dicarinya dan hadits-hadits yang senada dengannya. Kelemahan : 1.Terkadang untuk menentukan tema hadits seringkali mengalami kesulitan oleh seorang pentakhrij, akibatnya metode ini justru akan mempersulit proses takhrij. 2.Seringkali terjadi pemahaman antara para penyusun kitan dengan metode ini tidak sepham dengan para pentakhrij yang menggunakan kitab-kitab takhrij dengan metode ini. sebagai akibatnya penyusun kitab meletakkan hadits pada posisi yang tidak diduga oleh pentakhrij hadits. Misalnya, hadits yang semula oleh pentakhrij disimpulkan sebagai hadits peperangan ternyata oleh penyusun kitab diletakkan pada hadits tafsir. 5.Metode Kelima, takhrij dengan cara melalui pengamatan terhadap ciri-ciri tertentu pada matan atau sanad Kelebihan : Dapat mempermudah proses takhrij. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar hadits-hadits yang dimuat dalam karya tulis berdasarkan sifat-sifat hadits sangat sedikit, sehingga tidak memerlukan pemikiran yang lebih rumid. Kelemahan : Wilayah cakupan metode ini sangat terbatas karena sedikitnya hadits-hadits yang dimuat tersebut. Hal ini akan tampak lebih jelas ketika melihat kitabkitab takhrij dengan menggunakan metode ini. F.Studi Sanad Hadits Yang dimaksudkan dengan studi sanad hadits adalah mempelajari mata rantai para perawi yang ada dalam sanad hadits. Yaitu dengan menitikberatkan pada mengetahui biografi, kuat lemahnya hafalan serta penyebabnya, mengetahui apakah mata rantai sanad antara seorang perawi dengan yang lain bersambung atau terputus, dengan mengetahui waktu lahir dan wafat mereka, dan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan Al-Jarh wat-Ta'dil. Setelah mempelajari semua unsur yang tersebut di atas, kemudian kita dapat memberikan hukum

11

kepada sanad hadits. Seperti mengatakan,"Sanad hadits ini shahih, Sanad hadits ini lemah, atau Sanad hadits ini dusta". Ini terkait dengan memberikan hukum kepada sanad hadits. Sedangkan dalam memberikan hukum kepada matan hadits, disamping melihat semua unsur yang tersebut di atas, kita harus melihat unsur-unsur yang lain. Seperti meneliti lebih jauh matannya untuk mengetahui apakah isinya bertentangan dengan riwayat perawi yang lebih terpercaya atau tidak. Dan apakah di dalamnya terdapat illat yang dapat menjadikannya tertolak atau tidak. Kemudian setelah itu kita memberikan hukum kepada matan tersebut. Seperti dengan mengatakan : "Hadits ini shahih" atau "Hadits ini dla'if". Memberikan hukum kepada matan hadits lebih sulit daripada memberikan hukum kepada sanad. Tidak ada yang mampu melakukannya kecuali yang ahli dalam bidang ini dan sudah menjalaninya dalam kurun waktu yang lama. Dalam studi sanad ini, buku-buku yang dapat digunakan untuk membantu adalah buku-buku yang membahas tentang Al-Jarh wat-Ta'dil serta biografi para perawi. Telah disebutkan beberapa buku terkenal yang membahas di bidang ini ketika dibicarakan tentang Ilmu Al-Jarh wat-Ta'dil serta biografi para perawi hadits. Ilmu tentang Takhrij Hadits ini merupakan muara dari ilmu-ilmu hadits yang dapat memberikan justifikasi tentang keshahihan atau kedla'ifan suatu hadits, sehingga hadits tersebut dapat diamalkan atau ditolak.7 G.Kesimpulan Takhrij hadits merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui asal dari hadits tersebut. Takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna. Yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata kharaja yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan. Sedangkan Takhrij menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan. 7 Ilmu Takhrij Dan Studi Sanad, http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/16/ilmu-takhrij-danstudi-sanad/, 20 Juni 2009

12

Terdapat beberapa tujuan dari takhrij hadits yaitu : Mengetahui sumber asli asal hadits yang di takhrij dan mengetahui keadaan/kualitas hadits yang berkaitan dengan maqbul/diterima maupun mardudnya/ditolaknya. Selain itu terdapat lima metode yang digunakan dalam mentakhrij hadist dan kelebihan serta kelemahan dari kelima metode tersebut. H.Daftar Pustaka Al-Farisi, Rudi Arlan. Ilmu Takhrij Hadits. http://rud1.cybermq.com/post/detail/2223/ilmu-takhrij-hadits. 02 Mei 2009. Al Jauzaa, Abu. Ilmu Takhrij Hadits, Cara Mentakhrij Hadist dan Ilmu Sanad. http://salamkms.blogspot.com/2008/08/ilmu-takhrij-hadits-caramentakhrij.html. Kamis, Agustus 14, 2008. Santosa, Budi. KAJIAN ILMU HADITS. http://budiatturats.wordpress.com/2009/12/03/takhrij-hadits/. Desember 3, 2009 pada 4:07 pm. Ilmu Takhrij dan Study Sanad Hadis. http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/16/ilmu-takhrij-dan-studi-sanad/. (Sumber: Taysîr Mushthalah al-Hadîts). TAKHRIJ HADITS. http://aswanshow.blogspot.com/2009/04/takhrij-hadits.html. Rabu, 01 April 2009.

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->