P. 1
Contoh Isi Buku: Menanti pahlawan kembali 30 pemenang lomba CERPEN SIFIC

Contoh Isi Buku: Menanti pahlawan kembali 30 pemenang lomba CERPEN SIFIC

|Views: 206|Likes:
Published by bisnis2030
Buku ini berisi 30 kumpulan cerpen dari pemenang lomba CERPEN fiksi ilmiah dengan tema leading our fiuture with imajination
Buku ini berisi 30 kumpulan cerpen dari pemenang lomba CERPEN fiksi ilmiah dengan tema leading our fiuture with imajination

More info:

Published by: bisnis2030 on May 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

10/26/2013

Menanti Pahlawan Kembali

30 Cerpen Pemenang Lomba Cerpen Science Fiction (SIFIC) 2009

Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFIS) Fakultas MIPA Universitas Brawijaya

www.bisnis2030.com 2009

Judul Buku Ditulis oleh

: Menanti Pahlawan Kembali : 30 Pemenang Lomba Cerpen SIFIC 2009

Copyright © 2009 www.Bisnis2030.com ---------------------------------------------------Editor Desain Sampul ISBN : Eviwidi : Bastian Wirawan : 978-602-8543-20-0

Diterbitkan pertama kali oleh Bisnis2030, www.Bisnis2030.com Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.
UU RI No.19/2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta Pasal 2: Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaanya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Sanksi Pelanggaran Pasal 72 : 1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). 1.

2.

ii

Kata Pengantar

uji Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena karya-karya anak bangsa, yang berupa penyelenggaraan penulisan Science Fiction telah bisa dilaksanakan oleh mahasiswa Jurusan Fisika Universitas Brawijaya, tahun 2009 ini. Banyak sekali karya karya di dunia yang saat ini telah bisa dibumikan, pada saat lampau hanyalah angan-angan yang masih ada dalam cerita. Dahulu atau bahkan sampai saat ini, hanya ada di cerita fiksi bahwa petir bisa ditangkap. Namun pada suatu saat, ketika teknologi sudah memungkinkan, maka akan sangat mungkin sekali menangkap sebagian tenaga dari petir tersebut untuk kepentingan manusia. Tulisan Fiksi Ilmiah ini dilatarbelakangi oleh imajinasi masyarakat baik karena pangaruh sains dan teknologi maupun ide murni dari masyarakat yang justru untuk memberi inspirasi terhadap munculnya suatu sains dan teknologi ke depan. Dengan dirasakannya kehadiran teknologi di sekitar kita, maka muncullah ide baru yang bisa jadi menjadi penggerak ke depan fenomena ataupun materi di alam yang belum termanfaatkan. Nah, tulisan di dalam buku ini diharapkan untuk bisa lebih menggalakkan ide-ide kreatif. Manusia tidak akan menggapai apa yang diharapkan, kalau tidak pernah punya mimpi atau cita-cita pada dirinya.

P

iii

Lomba penulisan ini diharapkan makin bisa menyuburkan ide-ide yang tidak linier di kalangan penulis. Maksud dari ide tidak linier adalah, “nampaknya ide tersebut dalam skala sains maupun teknologi masih tidak mungkin“ untuk saat ini. Atau juga ide yang dilontarkan oleh orang yang justru bukan ahli dalam bidang tersebut, namun ternyata bisa jadi ide tersebut menjadi ide brillian bagi para ahli pada bidang yang dilontarkan oleh penulis. Sehingga, di sini tidak akan ada istilah ide bukan dari ahlinya, karena masih dalam tataran fiksi. Semoga ke depan, banyak muncul cerita “Science Fiction” yang ditulis oleh masyarakat Indonesia, yang juga bisa dipublikasikan, baik buku maupun media lain. Sehingga cerita tersebut bisa menjadi pendorong untuk bisa mewujudkan cerita tersebut secara nyata, yang mana di balik keinginan tersebut akan muncul sains maupun teknologi yang mendasarinya. Mudah-mudahan buku ini bisa bermanfaat bagi semua kalangan, dan bisa menimbulkan ide-ide selanjutnya, atau kalau boleh saya istilahkan “idea generating” Malang, Agustus 2009

Adi Susilo, PhD Ketua Jurusan Fisika, Universitas Brawijaya, Malang

iv

Kata Pengantar Dari Panitia
"Fiksi ilmiah akan memungkinkan kita semua untuk mengupas realitas dan menemukan kebenaran di dalamnya." (Arthur C. Clarke)

F
sains dan

iksi ilmiah adalah suatu bentuk fiksi

spekulatif yang terutama membahas tentang pengaruh teknologi yang diimajinasikan terhadap

masyarakat dan para individual. Letak keindahan sebuah fiksi-sains yaitu bercerita melebihi jamannya. Yang patut digaris bawahi adalah pandangan pengarang tentang masa depan tidak hanya berpijak pada imajinasi semata, melainkan juga dari kaca mata ilmu pengetahuan. Berdasarkan kalkulasi akurat tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan di masa sekarang. Sesungguhnya, unsur-unsur fundamental yang ditawarkan fiksi ilmiah adalah sastra dan sains. Dengan timbulnya persinggungan kedua unsur tersebut fiksi dan sains dapat
v

mengharmoniskan hidup umat manusia. Kemudian timbul pula pertanyaan, mengapa di Indonesia masih sedikit penulis fiksi ilmiah? Di dunia sastra Indonesia, genre yang satu ini agak jarang disentuh. Menjawab pertanyaan ini maka Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFIS) Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang bekerjasama dengan Penerbit Bisnis2030 telah menerbitkan buku Kumpulan cerpen dari 30 Pemenang Lomba Cerpen Science Fiction dengan tema “Leading our future with imagination”. Kegiatan ini dapat dilaksanakan atas dukungan dan bantuan yang sangat berharga dari berbagai pihak. Oleh karena dari panitia mengucapkan terima kasih kepada : 1. Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat menerbitkan buku ini. 2. Ketua Jurusan Fisika, Adi Susilo PhD yang selalu memberikan dukungan sehingga kami tidak pernah patah semangat untuk

memberikan yang terbaik. 3. Ir. D.J. Djoko H. S. M.Phil. Ph.D selaku dewan juri 4. Evi Widi dari Bisnis2030 selaku dewan juri

vi

5. Ketua Himpunan Mahasiswa Fisika, Dany Suprayogi 6. Seluruh Panitia Science Fiction : Sekretaris Bendahara Sie Acara • • • • Irwan (Co) Rijka Nurlailyga Imam Sholihuddin Haris aydin Y : Liska Ulva Agustyan

: Eka Rahmawati

Sie Humas • • • • • Amiruddin (Co) Dina Asmaul Chusniyah Ike S Risalatul Latifah Sukri Arjuna

Sie Publikasi dan dokumentasi • Wahyu Setiawan (Co)
vii

• • •

Nike Fitayatul K Lalu Ahmad Dimasani Dessy

Sie Perlengkapan • • • Lalu Suhaimi (Co) Bachtiar Syamlan Sefty

Sie Konsumsi dan Logistik • • Fatimatus Zahra (Co) Dista Aris Tamalia

Sie Kesekretariatan • • • • Wardhatul Jannah ( Co) Nissa Kharisma Qurina Inggita 7. Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus dan staf magang Himpunan

Mahasiswa Fisika periode 2008 – 2009 yang telah

viii

membantu menyukseskan acara ini : Sekretaris Umum, Bendahara Umum, Div penelitian dan pengembangan, Div Workshop & IT, Div Ekonomi dan Fasilitas, Div Seni dan Olah Raga,dan Div Hubungan Luar. 8. Dan semua pihak yang belum disebutkan di atas tetapi telah terlibat dalam Kegiatan Science Fiction ini Dengan terbitnya buku ini harapan kami dapat menumbuhkan pola pikir ilmiah di lingkungan pelajar, mahasiswa dam masyarakat sebagai sarana untuk menghasilkan karya-karya yang kreatif dan inovatif dalam bidang penulisan fiksi ilmiah. Dalam hubungannya dengan keberadaan Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang memasuki era teknologi, bacaan fiksi ilmiah memainkan peranan vital dan strategis sebagai jembatan atau wahana untuk menyiapkan generasi masa depan. Malang, Agustus 2009 Ketua Pelaksana Selvya Mulyani

ix

SAMBUTAN

erita fiksi sains banyak kita tonton dari film-film impor. Kegiatan lomba cerpen fiksi sains yang diadakan oleh mahasiswa fisika Universitas Brawijaya dimaksudkan untuk merangsang penulis dalam negeri untuk mengarang cerita-cerita fiksi sains. Dengan demikian cerita-cerita tersebut dapat menjadi alternatif bagi dunia perfilman di tanah air. Fiksi ilmiah banyak ragamnya. Ada kategori seperti hard science fiction, soft science fiction dan social science fiction. Ada pula yang menggolongkan berdasarkan era seperti Cyberpunk atau New Wave, berdasarkan karakteristik, kombinasi dan pergerakan. Sangat menggembirakan bahwa ternyata lomba yang diadakan kali ini menarik minat yang besar dari penulispenulis di daerah jawa timur dan sekitarnya. Kandungan sains bervariasi dari yang hanya menyangkut sains, mengandung sains sampai yang berdasarkan sains. Mayoritas tulisan mengandung sains dan menyangkut sains. Oleh karena itu, kriteria penilaian dalam lomba ini pada dasarnya dihubungkan dengan kandungan unsur sains. Selain kandungan sains, kriteria lain adalah kesesuaian tema, unsur-unsur intrinsik dan pesan moral. Beberapa hal yang perlu dikembangkan oleh para penulis adalah peningkatan pemahaman konsep-konsep sains dan
x

C

konteks-konteksnya seperti sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Pemahaman konsep sains yang benar akan membawa imaginasi dan logika pembaca dalam suatu yang seakan-akan riil tanpa dibuat-buat. Selain itu penggarapan yang unik, kontroversi atau menantang juga lebih diperhatikan agar dapat “mencuri” perhatian publik terhadap karya fiksi sains ini. Semoga awal yang baik ini bisa berlanjut dengan kegiatankegiatan yang memacu kreatifitas penulis untuk lebih mendalami dan mengembangkan penulisan fiksi. Penulisan fiksi membangun pola pemikiran positif yang diperlukan bangsa ini untuk berkembang dan lebih maju. D.J. Djoko H. Santjojo, Ir., MPhil., PhD. Dewan Juri SIFIC 2009

xi

xii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Kata Pengantar Dari Panitia Sambutan Daftar Isi Tentang Indonesia Menanti Pahlawan Kembali Kekuatan Tak Terlihat Anting Swarovski Biru Lompatan Quantum Memori Besar Menuju Samudera Es Europa Pria yang Menikmati Sepi Menjaring Keganasan Petir Heart’s Plants Detector Kebangkitan Digital Knight The Destruction of the Night in 2030 Bumi Untuk Bumi D’Green Indonesiaku 2030
xiii

iii v x xii 1 27 38 52 65 79 88 101 110 124 143 149 163 175 188 201

Pucuk-Pucuk Ranting Yang Kering Pikiran Dalam Sirkuit Digital Wasiat Khatulistiwa Laila Dan Jatropha Uban Dan Robot Mati The Secret Virtual of Arkaz The Theory of Everything Dunia Tanpa Suara Venus Anton Plankton Rahasia Moksha Six Days Around The Java Somber (Air Mata di Atas Debu)

217 225 237 242 254 261 272 289 299 312 323 350 364 377

xiv

TENTANG INDONESIA Aldila Sakinah Putri
Pemenang I Lomba Cerpen SIFIC 2009

“ pakah kau benar-benar orang Indonesia?”, tanya seorang anak bertubuh besar di depanku mewakili pertanyaan empat orang di belakangnya. Kelima anak itu memiliki kulit pucat dengan kornea mata berwarna-warni. Sungguh indah bagaikan pelangi. Aku mengangguk untuk kesepuluh kalinya menjawab pertanyaan itu. Mereka tampak heran dan malah asyik berdiskusi sendiri. Mereka masih tak percaya. Apa yang salah dengan diriku? Apa yang salah dengan Indonesiaku? Mereka kan juga seorang Indonesia. Mengapa mereka tak berhenti menanyakan pertanyaan yang sama padaku. Bahkan mereka sama sekali tidak menanyakan namaku. Hampir saja mereka menanyakan hal itu untuk kesebelas kalinya, namun kelima anak itu menjauh ketika sepasang manusia dewasa berkulit pucat menghampiriku. “Apakah kau yang bernama Awan?” tanya pria pucat itu. Mereka mengenakan kemeja putih dengan setelan jas yang serasi dengan kacamata hitamnya.

A

1

Aku mengangguk. Aku senang menanyakan hal lain di awal pertemuan ini. lagi.

mereka

“Mari ikut bersama kami”, ajak pria pucat yang satu Aku mengikuti mereka menyusuri lorong panjang. Kulihat di kanan-kiri lorong berwarna putih ini hanya terdapat pintu-pintu besi, tanpa jendela. Ketika sampai pada pintu dengan judul 45P di atasnya, kami bertiga memasuki ruangan itu. Ruangan kecil yang berukuran 3 x 3 meter ini seputih lorong yang kami lewati tadi. Seorang wanita berada di ujung ruangan memainkan sebuah layar berbentuk lingkaran. Aku duduk di kursi depan meja wanita itu. Wanita dengan rambut merah yang panjang sebahu seolah-olah tampak tidak sehat karena warna kulitnya yang pucat. Aku berusaha tersenyum padanya, namun ia hanya melihatku sekali saja. Ya, hanya sekali. Melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan aneh meremehkan. Aku jadi tak ingin menunjukkan senyuman pertamaku kepadanya. Setelah kuamati lebih dekat, ternyata layar berbentuk lingkaran itu mempunyai fungsi yang sama seperti komputer. Ia menekan-nekan layarnya. Tanpa keyboard dan mouse seperti komputer yang kuketahui. Ia seperti berkomunikasi dengan seseorang di tempat yang jauh di luar sana. Kami berada di ruangan itu dalam kebisuan. Tak ada yang memulai pembicaraan. Kedua pria di belakang, berdiri dengan sikap sempurna di depan pintu layaknya
2

penjaga sang presiden. Langit-langit terlihat terang walau tak ada satupun jendela di sana. Kulihat di sekitar tak ada rak-rak atau lemari-lemari penyimpan dokumen-dokumen, tidak seperti ruangan kepala asrama pada umumnya. Cuma ada meja, dua kursi yang kami duduki, layar berbentuk lingkaran yang kuanggap komputer itu, juga beberapa lukisan di dinding. Lukisan itu bergerak-gerak. Dari sembilan lukisan yang terpampang di sana, pandanganku tertuju pada lukisan yang paling tengah. Sebuah peta Indonesia dengan pulau-pulau uniknya beserta wilayah Asean yang ikut menjadi wilayah bagian dari Indonesia. Namun tak ada lambang ataupun bendera negara di sana. “Ehm …”, wanita itu mengawali pembicaraan kami. “Bawa Indonesia ini ke kamarnya”, ia menyerahkan sebuah benda , yang entah darimana asalnya, berbentuk bintang dengan pegangan seperti tutup poci kepada kedua pria itu. Aku makin tidak menyukai wanita itu. Selain karena tatapan matanya yang meremehkan, juga katakatanya yang tidak menyenangkan. Ia tak mengatakan kata “tolong” kepada pria pucat itu, padahal ia tengah meminta tolong. Sungguh tidak sopan. Aku meninggalkan ruangan dengan penuh emosi. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong lurus yang kurasa tanpa batas. Lorong putih yang mirip dengan lorong cerita horor rumah sakit, bulu romaku berdiri seketika. Lorong ini dipenuhi anak yang berlalu lalang. Setiap berpapasan, mereka selalu memandangku dengan tatapan penuh tanda tanya. Tanda tanya itu seperti akan keluar
3

dari mata warna-warninya. Menghujamku dengan banyak pertanyaan. Apakah aku memang aneh sehingga mereka begitu terkejut bertemu denganku? Aku baru menyadarinya. Hampir semua dari mereka memiliki kulit yang sama pucatnya seperti kepala asrama itu. Dan aku berbeda dari mereka. Pantas saja kelima anak tadi begitu terkejut dan tak percaya bahwa aku adalah orang Indonesia. Pria pucat itu memberikan benda berbentuk bintang kepadaku. Dan mereka meninggalkanku begitu saja di depan pintu yang bertuliskan 31081989. Pintu ini tak bergagang dan tak ada lubang kunci. Apakah ada alat sensor seperti sidik jari atau sidik pupil mata untuk membuka pintunya? Tapi tak ada apa-apa di sini, selain pintu besi bertuliskan nomor aneh yang entah apa artinya. Kupandangi benda pemberian pria pucat tadi. Apa yang harus aku lakukan dengan benda ini? Tiba-tiba seorang perempuan keluar dari pintu tepat di samping pintuku. Aku tak dapat melihat matanya ketika ia tersenyum padaku. Ia memiliki mata sipit dan ia juga berkulit pucat. “Kau tak bisa membuka pintunya? Sini, aku ajari”, ia meminta benda yang kuanggap kunci itu. Ia memasangnya dengan posisi ujung bintang berada tepat di angka pertama dari deretan angka di nomor pintuku. Kemudian ia memutar bintangnya sebanyak angka terakhir dalam deretan angka tersebut searah jarum jam. Dan pintu pun terbuka. Hebat. Sulap macam apa ini. “Oia, kenalkan aku Amy. Namamu siapa?”.
4

Aku tersenyum. Aku melepaskan jabatan tanganku darinya. Kukeluarkan sebuah benda mirip kalkulator yang kuanggap ajaib itu. Kuketikkan namaku, Awan. “Kau …”. Aku tau ia pasti kaget mengetahuiku tak bisa bicara. “Kau Indonesia?”, pertanyaan kesebelas yang ku dengar hari ini. Aku mengangguk asal-asalan. Aku bosan dengan pertanyaan itu. Mengapa semua orang menanyakannya? “Ehm… makan siang dimulai sepuluh menit lagi. Ruang makan berada di lantai dua, kau tahu kan? Dan sebaiknya kau jangan melewatkannya. Kabarnya menu siang ini sangat lezat. Hhmm yummy. Aku tunggu kau di sana ya. Bye Awan …”, Amy melambaikan tangannya padaku. Ia berjalan riang menelusuri lorong. Lantai dua dipenuhi dengan makanan. Hhmm… akan kuingat itu. Aku menutup pintu dengan perlahan. Kutekan gagang pintu. Klek. Tiba-tiba pintu terkunci. Gawat! Kunci bintang itu masih menempel di luar. Dan sebuah gagang pintu? Bagaimana bisa? Aku melongok keluar. Meskipun kunci masih menempel di pintu ini namun masih bisa dibuka dari dalam. Gagang pintu tidak berada di luar, namun berada di dalam. Aku tahu pintu ini terbuat dari besi, namun pintu itu tak terasa berat ketika ku dorong tadi. Pintu yang aneh. Ruangan ini juga. Seperti halnya ruangan kepala asrama. Ruangan yang begitu putih, lagi-lagi tanpa jendela. Tak ada ventilasi di sini, namun udaranya tetap sejuk
5

meski tak sedingin udara AC. Ranjang kecil berada di pojok ruangan. Dengan sebuah meja-kusi di sampingnya. Lemari merah itu menarik perhatianku. Aku ingin tahu apa isinya. Ternyata cuma dua stel pakaian. Kaos dan celana, dan semuanya berwarna putih. Untuk apa memiliki dua baju yang sama? Aku coba pakaian itu. Pas. Bagaimana bisa? Aku menemukan sebuah tombol yang mirip dengan kancing terletak di kaos bagian dalam dekat leher bagian belakang. Ketika kutekan tobol itu … wuuss … tiba-tiba kaos putih itu berubah menjadi kemeja kotak-kotak. Wow keren sekali benda ini. Tit tit tit tit tit tit. Sesuatu berbunyi di sini. Meja putih yang tadinya datar tiba-tiba muncul layar berbentuk segitiga. Wajah Amy terpampang disitu. “Awan, kemana saja kau. Cepat kesini … kau akan ketinggalan menu lezat”. Wajah Amy menghilang, layar segitiga menutup, meja kembali datar. Perutku berbunyi. Produksi asam lambungku meningkat. Aku membereskan pakaian itu. Dan segera menuju ruang makan. Ternyata di lorong yang kupikir tak berujung ini terdapat sebuah tangga menuju lantai dua. Terdengar sebuah nada ketika kakiku menginjak anak tangga pertama, begitu pula anak tangga selanjutnya, suaranya indah sekali mirip dentingan piano. Aku tak sabar untuk menghadapi keajaiban lainnya di lantai dua. Ruang makan yang begitu luas, dibangun dengan desain arsitektur minimalis dipenuhi dengan meja-meja panjang dengan banyak makanan di atasnya. Aku melihat
6

lautan manusia berkulit pucat disini. Mulai dari ujung sana sampai di tempat aku berdiri saat ini. Aku bingung. Mereka mempunyai wajah yang hampir sama. Dari kejauhan terlihat tangan melambai-lambai ke arahku, itu pasti Amy. Aku berjalan ke arahnya diiringi tatapan tatapan tajam ke arahku. Aku duduk di sebelahnya. Amy tersenyum. “Jangan kaget kalau memandangmu seperti itu”. banyak orang yang

Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. “Ini makananmu, cobalah…”, ia menyerahkan semangkuk penuh makanan berwarna oranye. Ough… wortel. Amy menyantap makanannya dengan sangat lahap. “Kau tidak mau mencobanya? Makanan ini sangat lezat loh”. Ia menyuap sesendok penuh ke mulutnya. Apa yang dipikirkan anak ini. Sebuah sayuran oranye yang disebut wortel ini adalah makanan lezat? Aku tidak kepikiran untuk mencobanya, walaupun hanya sekali. Kuperhatikan sekeliling, ternyata bukan Amy saja yang begitu menyukai makanan oranye ini, tetapi juga semuanya. Memang kandungan wortel sangat besar, entah karena apa, namun dari dulu aku tak pernah menyukai makanan ini. Aku melihat keluar ruangan di balik jendela sana. Di luar dipenuhi pohon-pohon besar dengan diameter yang melebihi rangkulan tanganku, pohon-pohon itu sepertinya berusia lebih dari 100 tahun. Ada bagian dari ruangan ini yang menjorok ke arah pepohonan rindang itu, sebuah halaman yang tidak terlalu luas dan ada satu-dua meja7

kursi panjang disana. Hanya ada seseorang yang berada di luar sana, ia sedang asyik menikmati hijaunya pepohonan. Alangkah terkejutnya aku begitu mengetahui bahwa ia berkulit cokelat sama denganku. Aku bangkit dari tempat dudukku, berjalan ke arahnya. “Kau mau ke mana?”, aku sama sekali tak merespon pertanyaan Amy. Begitu aku sampai di pintu keluar, kudorong pintu itu. kurasakan harumnya daun-daun disinari matahari. Dan ketika aku maju selangkah, terdengar teriakan dari belakang. Aku menoleh melihat tangan yang memegang pundakku, tangan itu berubah menjadi merah. Ia terhempas ke belakang. AMY! Amy menggosok-gosok tangannya yang kemerahan. Aku membantunya berdiri. Ia masih meringis kesakitan. “Aku… aku hanya ingin memperingatkanmu, pakailah kacamata ini. Sinar matahari tak baik untuk dirimu”, ia menyerahkah kacamata hitam besar padaku. Kemudian ia berjalan menjauhi sinar matahari yang menembus jendela-jendela besar di ruang makan itu, “Aku harus ke klinik untuk mengobatinya”. Aku tak mengerti mengapa kulitnya dapat berubah seperti itu. sebenarnya aku ingin menemui seseorang berkulit cokelat di luar sana, namun, lebih baik aku membantu Amy. *** Tak susah untuk mencarinya, klinik itu berada tepat di bawah ruang makan. Amy berada di sana, ia tengah
8

mengolesi tangannya yang merah dengan cairan kebirubiruan. “Awan?”, ia tersenyum melihatku datang. Kukeluarkan kalkulatorku, kutanyakan padanya apakah ia baik-baik saja. “Aku tidak apa-apa. Terima kasih kau mau menemaniku di sini”. Aku melihat rak-rak besar dipenuhi berbagai macam cairan yang berada di belakang Amy. Mencoba menelitinya satu-persatu, mengingat nama-nama yang tertera di dinding kaca, namun tak bisa. “Di ruang makan tadi sepertinya kau mau menuju ruang luar?” tanyanya, ia masih mengusapi tangannya dengan obat. Kuberikan kalkulatorku padanya. Ya, aku ingin menemui seseorang di luar sana. Aku sangat penasaran sekali dia di luar sana. “Siapapun orang yang akan kau temui, aku hanya menyarankan satu hal saja. Jika kau mau pergi keluar dengan matahari masih bersinar terik, pakailah kacamata hitam dan juga seperangkat pakaian silver untuk melindungimu dari bahaya sengatan matahari. Sekarang matahari sangat ganas, jika kau melihatnya secara langsung dengan mata telanjang, ia dapat membutakan matamu. Dan bisa membunuh seseorang hanya lewat pancaran sinarnya. Seperti yang kualami”. Ia menjelaskan panjang lebar. Aku tak menyangka sinar matahari sejahat itu

9

Aku melihat keadaan tangannya dan sekali-sekali melongok ke luar, siapa tahu aku akan bertemu dengan orang yang ingin ku temui tadi. Amy mengetahuinya. “Aku baik-baik saja, keluarlah, carilah orang itu. Aku tahu, kau sangat membutuhkannya”. Awalnya aku tidak mau, tetapi Amy terus memaksa. Akhirnya aku keluar dari klinik dan menuju ruang makan mencari orang itu. Namun ia tak berada lagi di sana. Mungkin lain kali aku akan bertemu lagi dengannya. ***

Aku berharap hari ini aku dapat bertemu dengannya, aku tak menyesal karena kemarin gagal bertemu dengannya. Karena aku yakin aku akan bertemu dengannya, entah kapan. Amy juga mau membantuku, ia mengajakku mengelilingi asrama. Ia menunjukkan berbagai hal yang baru padaku. Seperti obat-obatan, meja-meja di setiap kelas yang dipenuhi dengan layar segitiga seperti di kamarku, juga cara mandi. Aku sangat terkejut karena tak ada acara mandi dengan air disini. Air sangat langka, katanya. Oleh karena itu penggunaan air sangat dihemat. Hanya dipakai untuk kebutuhan-kebutuhan penting saja. Maka dari itu Amy memperkenalkanku pada Akuatik, robot jangkung yang mempunyai enam roda sebagai kakinya. Cukup berdiri di depannya, kau akan terkena sinaran laser darinya berulang
10

kali, dan kau akan bersih seketika. Dari baju, sepatu, rambut sampai kulit, bahkan gigi juga lubang hidung dan telinga. Ajaib. Bukan hanya penggunaan air saja yang dihemat di sini, namun juga listrik, api, penggunaan tisu, kertas, dan plastik. Amy bercerita padaku bahwa dampak global warming terhebat sepanjang sejarah adalah pada tahun 2013. Karena bencana itulah banyak negara lenyap karena kebakaran dan kekurangan air. Tak heran banyak manusia bermutasi menjadi manusia yang berpenyakit. Manusia yang dapat bertahan kemudian berkumpul menjadi satu membentuk negara baru. Dan mulai saat itu penggalakan reboisasi dilakukan besar-besaran. Aku merinding ketakutan. Aku tak tahu berita itu. Aku tak pernah mendengar sejarah seperti itu di Indonesia, baru kali ini aku mendengarnya. Lagi pula aku lahir tujuh tahun sesudahnya, pasti pembaharuan telah terjadi di mana-mana. Contoh yang nyata adalah seperti yang kulihat saat ini, disini. Semuanya penuh dengan teknologi. Bahkan makanan yang selama ini tak pernah ku sukai, sayuran segar, ternyata adalah makanan langka yang harganya mencapai ratusan juta. Tak heran, mereka sangat menyukai menu makan siang kemarin. Aku masuk ke dalam ruangan penuh buku, tempat ini pasti perpustakaan. “Aku senang sekali dengan tempat ini, karena aku dapat mengetahui sejarah yang tak kuketahui sebelumnya. Apakah kau suka berkunjung ke museum juga, Awan?”, Amy bertanya padaku.

11

Museum? Ruangan yang dipenuhi rak-rak buku segala jaman ini disebut museum. Apa tidak salah? Ku berikan kalkulatorku, katakan padanya bahwa ia salah mengatakan tempat ini adalah museum. Tempat ini adalah perpustakaan. Amy tertawa, “Kau yang salah. Tempat yang dipenuhi buku ini adalah museum. Buku-buku ini adalah peninggalan dari jaman lampau. Apalagi bahan sebagai pembuat kertas ini adalah pohon. Kini pohon menjadi barang yang amat langka di sini, kau tahu bukan? Dan aku tidak tahu apa yang di sebut dengan perpustakaan”. Kujelaskan padanya bahwa perpustakaan itu tempat untuk memperoleh pengetahuan tentang apapun yang kita cari. “Perpustakaan yang kau maksud untuk mencari pengetahuan, semua bisa kau dapatkan di sini”, ia menunjukkan sebuah layar segitiga. “ Kan ada internet!”. Aku manggut-manggut takjub. Aku melewati rak-rak buku penuh debu itu. Aku melihat seseorang sedang asyik membaca sebuah peta dunia. Padahal sudah jelas terpampang di sana tulisan dilarang memegang! Kudekati ia. Betapa terkejutnya aku begitu mengetahui bahwa orang itu adalah orang yang sama, yang ingin kutemui di ruang makan kemarin. Dan ia sangat terkejut bertemu denganku. “Sejak kapan kau berada di sini? Maksudku, bagaimana bisa kau berada di tempat ini?”, tanyanya tibatiba. Aku tak mengerti mengapa ia menanyakan hal itu.
12

Lewat kalkulator ajaibku, kuceritakan padanya bahwa sejak bencana terdahsyat melanda, aku pergi mengungsi dari Indonesia. Selama lima tahun di negeri antah berantah itulah aku menjadi gelandangan. Aku sangat merindukan kampung halamanku, maka ketika ada seseorang yang menawariku pulang akupun setuju. Dan sekarang aku telah pulang, pulang ke Indonesia. Ia mengernyitkan dahi, “Kau percaya bahwa tempat ini adalah Indonesia?”. Aku mengangguk tegas. “Bodoh!”. Ia pergi meninggalkanku. Aku berusaha mengejarnya, aku mempunyai banyak pertanyaan untuknya. Tentang tempat ini dan tentang semuanya. Aku setengah berlari mengikutinya dari belakang. Ketika sampai di pintu besi bertuliskan 23071989, ia berbalik memandangku, “Akan kutunjukkan semua hal yang tidak kau ketahui tentang tempat ini”. Aku merasakan suasana yang berbeda ketika memasuki ruangan ini. Ruangan ini empat kali luasnya dengan kamarku. Dan ia mempunyai jendela. Satu-satunya jendela yang kutemui di dalam kamar. Aku duduk di sofa hitamnya yang empuk. Sesekali memandang dirinya yang sibuk mencari sesuatu di lemari. Aku melihat secarik foto yang tertinggal di meja. Foto anak itu ketika kecil dan seorang pria dengan latar belakang pemandangan kawah gunung. Rupanya ia seorang pecinta alam. Kulihat terdapat sebaris kalimat di belakangnya, Lintang dan Ayah di puncak Mahameru, 17 Agustus 2024. Namanya Lintang.
13

Lintang marah ketika mengetahuiku melihat foto itu tanpa izinnya. Ia memasukkannya ke dalam sakunya. Ia memberikanku sebuah buku jadul dengan robekan di sana sini. Kubaca halaman yang ditunjukkan oleh Lintang. Tertulis disana, ,,, ketika bencana itu datang, tak ada yang dapat melawan. Kami semua terkena imbasnya, dampak serius yang belum ada obatnya. Kami tak tahan terkena paparan sinar matahari. Kulit kami menjadi rentan ditumbuhi segala macam penyakit. Namun kami masih dapat bertahan karena bantuan Indonesia itu, ia merelakan pigmen kulitnya diambil untuk bahan pengujian. Nyatanya pengujian itu tidak sukses dan ia meninggal, karena kami lalai melaksanakan prosedur. Tapi aku yakin ia meninggal dengan tenang, karena ia membawa kebaikan pada kami semua hingga kami bisa hidup sampai detik ini. Kami sangat penasaran mengapa eksperimen yang kami buat itu gagal. Menurut kawan yang telah berhasil melakukannya, kuncinya adalah kami memerlukan tiga Indonesia dengan perbandingan jenis kelamin pria : wanita = 2 : 1. Kami harus mencari sang Indonesia terakhir. Kalimat itu terputus. Halaman selanjutnya robek dimakan rayap. Jantungku berdetak cepat. Aku tidak mau menjadi kelinci percobaan para ilmuwan gila itu. Meskipun pigmen yang mengalir dalam kulit kami adalah penyembuh semua kaum di dunia. “Kita masih punya banyak waktu untuk memikirkan bagaimana cara kita keluar dari sini. Mereka membutuhkan tiga orang. Masih kurang satu lagi. Apakah kau satu-satunya Indonesia terakhir?”. Aku merinding ketakutan, kugelengkan kepalaku.

14

“Jangan bilang kalau orang itu adalah perempuan,” mata Lintang berkaca-kaca. *** “Kau tahu di mana ia berada?”, Lintang terus saja berlari, aku tak dapat menjawab pertanyaannya karena sangat susah memencet abjad di kalkulator itu dengan keadaan setengah berlari. Kami berkeliling ke seluruh asrama. Tidak mudah mencari kelinci hitam di tengah ribuan kelinci putih. Akhirnya ku temukan dia di tengah taman bunga. “Awan!”, ia begitu senang melihatku. Ia memelukku erat sekali. Seseorang yang selalu bersamaku hampir selama lima tahun, Airin. “Aku muak melihat adegan romantis ini. Cepatlah, kita tak punya banyak waktu”, Lintang selalu marah-marah dari tadi. “Siapa kau? Mengapa kau seenaknya menyuruhnyuruh kami”, Airin kesal padanya. Kuceritakan lewat kalkulatorku bahwa … “Ah… kelamaan. Berpura-puralah agar perempuan itu mengerti jalan cerita ini!”, Lintang mendengus kesal. Meski ada rasa tak percaya padanya, namun kami tetap mengikutinya berlari dari belakang. Karena tak ada siapapun di sini yang dapat dipercaya. “Bung. Apakah kau punya berapa rencana untuk keluar dari tempat ini?”, tanya Airin. “Aku tidak punya banyak rencana”. Kami melongo tak percaya.
15

“Namun aku punya rencana terbaik”, ia tersenyum. Senyuman khas Lintang sangat memukau sekali. Sebelum kami menuju hutan belakang, Lintang membelokkan arahnya ke klinik. Ia memasukkan banyak sekali obat-obatan, yang tidak kuketahui apa saja fungsinya, ke dalam tas ranselnya. Aku hampir saja terjatuh, tersandung akar pepohonan setingi enam meter itu. Kulihat langkah Lintang tegas sekali, ia benar-benar serius ingin kabur dari tempat yang kupikir sangat sempurna. Kulihat wajah Airin dari kejauhan. Selama lima tahun aku mengenalnya, aku tak pernah melihat wajahnya setegang ini. Apakah ia merasa ketakutan juga sama sepertiku? Ketika berada di pantai, kami menuju sebuah pondok yang hampir roboh. Dari dalam sana, Lintang mengeluarkan perahu motor yang kelihatannya sudah rusak. “Apakah kau yakin perahu motor ini dapat digunakan?”, Airin melihat banyak karat di permukaannya. “Lihat saja bagaimana aksinya!”, tantang Lintang. Lintang menaiki perahu motor itu. Disusul Airin. Ketika aku hendak naik, tiba-tiba terdengar suara seseorang di dalam hutan sana, “Awan …”, ia memanggilku. Amy! Ia terlihat menyolok dengan baju silver dan kacamata hitamnya. Aku tahu ia sangat protektif terhadap

16

kulitnya. Untuk apa ia kesini menemuiku? Apakah dari tadi ia mengikutiku? “Hati-hati. Aku tak yakin akan sikap polosnya itu”, Airin membisikiku. Aku mendekatinya berlahan. “Kau akan pergi, Awan? Ke mana?”, tanyanya sedih. Aku mengeluarkan kalkulator itu, kuketikkan di sana sebuah negara tercintaku, Indonesia. “Bawalah aku. Aku sangat ingin melihat Indonesia yang sebenarnya. Aku mohon”. Aku tidak yakin ia dapat bertahan jika bersamaku. “Aku janji aku akan bertahan”. Aku merasa kasihan sekali padanya. Aku bujuk kedua temanku itu agar Amy dapat ikut serta. Lintang menjawab acuh tak acuh. Airin sangat tidak setuju, ia berpikir bahwa Amy hanyalah seorang mata-mata yang dapat menghancurkan kami. Aku memohon pada mereka. Setelah kubujuk dengan susah payah, akhirnya mereka berdua setuju meskipun dengan setengah hati. “Jika ia berani macam-macam dengan kita, akan kubuka kacamata hitamnya. Akan kubiarkan ia mati dibunuh matahari”, sumpah Airin ketika aku mengajak Amy menaiki perahu motor Lintang yang butut. Dan kami pun pergi dari tempat ini. Ketika melewati zona ekonomi ekslusif sejauh 200 mil terdengar bunyi sirine. Dua perahu motor hitam

17

mengejar kami di belakang. Kedua mahkluk itu juga mengenakan pakaian yang sama dengan Amy. “Kita ketahuan! Bagaimana ini?!”, seru Amy. “Jangan panggil aku Lintang jika aku tidak dapat mengecoh mereka”, Lintang menjentikkan jarinya sombong. Lintang membelokkan perahu motornya ke utara. Perahu motor itu melaju secepat kilat. “Mau kau kemanakan perahu motor ini?”, tanya Airin dengan wajah ketakutan. “Antartika!”. “Kau jangan bodoh. Kita akan mati karena hipotermia!”, teriak Airin tidak setuju. “Hipotermia tidak akan membunuh kita, sejak pemanasan global di tahun 2013 efeknya tidak lagi berpengaruh kepada kita. Namun sangat berpengaruh kepada mereka”. Terang Lintang. Ide yang bagus untuk membunuh kedua makhluk di belakang yang mengejar kita. Namun, apa kalian tidak memikirkan nasib Amy?! “Aku yakin aku dapat bertahan, Awan. Aku sudah berjanji padamu”, Amy memaksakan senyumnya mengembang di kala ia harus melawan dinginnya Antartika. Aku memeluknya erat. Kuharap pelukan ini dapat memberikan sedikit kehangatan padanya. “Terima kasih, Awan”. Airin memandang Amy dengan penuh kebencian.
18

Ternyata benar apa yang dikatakan Lintang. Ia sungguh jenius. Kedua pria dibelakang kini tak tampak. Mereka seakan-akan menghilang dari muka bumi. Melaju hampir selama empat jam kami akhirnya tiba. Tiba disini, di 6’LU-11’LS dan 95’BT-141’BT. Namun, apa yang kami dapat, kawan? Hanya samudera luas tak berpenghuni. Indonesia yang mempunyai banyak pulau kini lenyap, hilang ditelan bumi. Indonesia, ke manakah dirimu? Lintang tertunduk lemas tak berdaya. Penantiannya selama tiga tahun di asrama yang ia benci terbuang sia-sia. Ia menunduk, melihat bayangannya di jernihnya air laut. Aku, Airin, dan Amy saling berpandangan. Kami tidak tega melihat kawan kami bersedih seperti itu. Kami memelukknya ramai-ramai. Aku merasakan pundakku basah oleh air matanya. Dulu tahun 2025 aku mengungsi dari sini sebelum bencana itu terjadi. Bencana alam hebat melanda bumi pertiwi. Pada waktu itu aku berusia lima tahun. Aku tak mengetahui apa-apa. Aku hanya mendengar kabar bahwa luapan lumpur Lapindo tidak dapat terbendung lagi. Dengan luapan dari dalam bumi yang begitu besar, menyebabkan amblesnya setengah provinsi Jawa Timur. Akibat pergeseran lempeng di bawah laut menyebabkan tsunami besar-besaran, sehingga berakibat juga pada aktifitas gunung berapi. Sebanyak gunung berapi yang terdapat di Indonesia, sebanyak itulah gunung se-Indonesia meletus. Menewaskan banyak korban, separuh jumlah penduduk di Indonesia. Dan inilah yang terjadi saat ini, di sini, Indonesia tahun 2030. Ia menghilang.

19

*** Lintang tiba-tiba bangkit. Ia menuju bagasi perahu, mengambil alat-alat selam. “Apa yang kau lakukan?”, tanya Airin. “Aku yakin Indonesia masih berdiri dengan kokoh, sekokoh garuda pancasilanya”. “Kami tidak mengerti maksud ucapanmu”, Amy bertanya pada Lintang yang sedang sibuk memakai pakaian selamnya. “Aku akan mencari Indonesia. Aku yakin ia masih hidup di bawah laut sana”. Aku mengguncang-guncang badannya. Aku takut sekali hipotermia menjadi sebab kerusakan otaknya. Ia sudah tidak waras. Lintang sama sekali tak mendengar ceramahan Airin yang cerewet. Ia nekat terjun ke samudera dalam hanya untuk mencari tanah airnya yang tercinta. Gelembung-gelembung udara telah menghilang dari permukaan. Aku mencari alat selam lainnya yang mungkin masih ada di bagasi. Aku tak mau meninggalkannya Lintang sendirian dalam dinginnya lautan. Kutemukan tiga set peralatan selam. Pakaian selam yang ringan dengan tabung oksigen berukuran 500ml. Kuberikan dua di antaranya pada Airin dan Amy. Airin mengomel tak karuan, ia menolak ajakanku untuk masuk ke dalam laut. Namun, ketika ia melihat Amy sudah memakai pakaian itu lengkap akhirnya ia mau juga. Aku tahu Airin itu tipe orang yang tidak mau kalah.

20

Dalam hitungan ketiga kami menceburkan diri ke dalam lautan yang dingin. Tak ada tanda-tanda Lintang berada disana. Kami sepakat untuk berenang pelan-pelan agar tak kehilangan jejak. Aku mengikuti Airin yang berada di depan, Amy selalu saja ketinggalan di belakang. Nampaknya ia asyik menikmati keindahan laut yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya. Airin berhenti tibatiba, hampir saja aku menabraknya. Dengan bahasa isyarat ia melarang kami melangkah ke sana. Ada arus yang kuat di sana, katanya. Amy sedang asyik melihat berbagai terumbu karang karang yang indah. Ia terpesona pada ikan-ikan hias yang menyala berwarna-warni. Ia mencoba bermain dengan mereka, dikejarnya ikan-ikan itu yang seukuran kepalan tangan. Ia tak menyadari ketika ia tepat berada di samping aliran arus laut. Kulambaikan tanganku menyilang, menyarankan agar ia kembali. Aku segera berenang menghampirinya, mencoba menariknya. Dan … wuss … ia terbawa arus itu bersamaku dan kami berputarputar di dalam arus yang deras. Mencoba berteriak meminta tolong namun tak bisa. *** Aku tidak tahu di mana aku berada sekarang. Dimana Amy? Dimana Airin? Dimana Lintang? Dinginnya air laut menusuk tulangku. Aku terus berenang, mencari kawan juga mencari perlindungan. Semakin lama aku memasuki dalamnya lautan, suasana menjadi semakin gelap. Tuk.

21

Kepalaku membentur sesuatu yang amat keras. Kuraba pakaian selamku dan aku menemukan senter kecil yang berada di pergelangan tangan. Kunyalakan senter itu, kuamati sesuatu di depanku. Hanya sebuah benda berlumut. Ku singkap lumut-lumut yang menempel itu. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui aku berdiri tepat di depan kubah raksasa dengan manusia berlalu lalang di dalamnya. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Seseorang menembakkan sebutir peluru itu tepat di lengan kananku. Aku dapat merasakan biusnya merasuk ke dalam tubuhku. Suasana laut menjadi semakin dingin dan semakin gelap. Aku terpejam. *** Suasana menjadi terang sekali ketika aku mulai membuka mata. Kuraba lengan kananku yang masih kaku. Aku tak dapat merasakan apa-apa. Kulihat di sekitar, ruangan berwarna putih. Oh… apakah aku kembali ke asrama itu dan sekarang telah menjadi bahan percobaan? Mataku berkunang-kunang. Aku bangun dari tidurku dan aku keluar dari ruangan itu. Aku terkejut saat Airin datang dan tiba-tiba memelukku. “Kau sudah sadar?”. Aku mengangguk dengan semangat. “Kau takkan percaya akan hal ini, Awan”. Ia menuntunku berjalan.

22

Di luar sana, di tengah lapangan upacara, Lintang dengan bangga memandangi bendera kebangsaannya. Bendera merah putih. “Selamat datang di Indonesia 2030”. Aku tak percaya, sungguh tak percaya. Indonesia yang dikabarkan hilang ternyata berdiri kokoh di tengah dalamnya samudra. Tempat ini dikelilingi kubah dengan kaca setebal 1mil. Cukup untuk menahan ledakan bom nuklir. Dengan cahaya matahari yang masuk dari permukaan air laut diteruskan melewati lensa cembung yang berada di atas kubah. Sehingga cahaya menjadi terpusat pada satu titik, di titik itulah cahaya dipantulkan ke seluruh ruangan dalam kubah ini. Aliran listrik yang tak terputus didapatkan dari pergerakan aliran arus laut yang diubah menjadi tenaga listrik. Air jernih melimpah ruah yang dihasilkan dari penyaringan air laut. Udara bersih tak tercemar ditambah dengan jutaan pohon tumbuh di dalam kubah ini. Lalu kemanakan Amy berada? Kutanyakan pada Lintang. “Aku melihat ia berlari-lari di taman tadi, tapi sekarang aku tidak tahu ia berada di mana”. Aku lega ternyata Amy tidak apa-apa. Malah ia dapat berlari-lari dengan riang tanpa takut iritasi bahkan mati karena matahari. Sepertinya ia sangat cocok berada di sini. “Bukannya aku mencurigainya. Tetapi dengan membawanya kemari akan membawa dampak buruk bagi kita”, Airin menasehatiku. Aku tidak tahu mengapa ia berpikiran negatif terhadap Amy.

23

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->