P. 1
Penginderaan Jauh (bab 2 LAPORAN APLIKASI CITRA LANDSAT UNTUK KAJIAN PENGGUNAAN LAHAN)

Penginderaan Jauh (bab 2 LAPORAN APLIKASI CITRA LANDSAT UNTUK KAJIAN PENGGUNAAN LAHAN)

|Views: 2,815|Likes:
Published by Anggita

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Anggita on May 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2015

pdf

text

original

Sections

a. Pengertian dan Jenis-Jenis Citra

Berikut ini merupakan pengertian dari citra :
•Citra merupakan gambaran yang terekam oleh kamera atau
sensor lainnya (Hornby).
•Citra adalah gambaran objek yang dibuahkan oleh pantulan
atau pembiasan sinar yang difokuskan dari sebuah lensa
atau cermin (Simonett, 1983).
Jenis-jenis citra antara lain adalah :
1.

Citra foto
Citra foto gambaran yang dihasilkan dengan menggunakan
sensor kamera. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa dasar,
yaitu berdasarkan atas spektrum elektromagnetik yang digunakan,
sumbu kamera, sudut liputan kamera, jenis kamera, warna yang
digunakan, dan sistem wahana dan penginderaannya.
Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, citra
foto dapat dibedakan menjadi :
•Foto ultraviolet, yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan
spektrum ultraviolet. Spektrum ultraviolet yang dapat

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 6

digunakan untuk pemotretan hingga saat ini ialah spektrum
ultraviolet dekat hingga panjang gelombang 0,29µm.
•Foto ortokromatik, yaitu foto yang dibuat dengan
menggunakan spektrum tampak dari saluran biru hingga
sebagian hijau (0,4µm-0,56µm).
•Foto pankromatik, yaitu foto yang dibuat dengan
menggunakan seluruh spektrum tampak.
•Foto inframerah asli (true infrared photo), yaitu foto yang

dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah dekat
hingga panjang gelombang 0,9µm dan hingga 1,2µm bagi
film inframerah dekat yang dibuat secara khusus.
•Foto inframerah modifikasi, yaitu foto yang dibuat dengan
spektrum inframerah dekat dan sebagian spektrum tampak
pada saluran merah dan sebagian saluran hijau.
Hingga sekarang, foto pankromatik masih merupakan foto yang
paling banyak digunakan di dalam penginderaan jauh sistem
fotografik. Citra ini telah dikembangkan paling lama, harganya
lebih murah bila dibandingkan dengan foto yang lain, dan lebih
banyak orang yang telah terbiasa dengan foto jenis ini.
Berdasarkan sumbu kamera, foto udara dibedakan menjadi :
•Foto vertikal, yakni foto yang dibuat dengan sumbu kamera
tegak lurus terhadap permukaan bumi.
• Foto condong, yakni foto yang dibuat dengan sumbu kamera

menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi.
Sudut ini umumnya sebesar 10º atau lebih besar. Apabila
sudut condongnya berkisar antara 1º-4º, foto yang
dihasilkannya masih dapat digolongkan sebagai foto vertikal.
Foto condong dibedakan lagi menjadi (a) foto sangat condong
(high oblique photograph), yakni bila pada foto tampak
cakrawalanya, dan (b) foto agak condong (low oblique
photograph)
, yakni bila cakrawala tidak tergambar dalam
foto.

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 4

Berdasarkan sudut liputan kamera (angular coverage), foto
dibedakan menjadi empat jenis yaitu seperti pada gambar berikut :

Gambar 2.11. BENTUK LIPUTAN FOTO UDARA
A = foto vertikal, B = foto agak condong, C = foto sangat condong.

Berdasarkan kamera yang digunakan dalam penginderaan, citra
foto dapat dibedakan menjadi :
•Foto tunggal, yaitu foto yang dibuat dengan kamera tunggal.
Tiap daerah liputan foto hanya tergambar oleh satu lembar
foto.

•Foto jamak, yaitu beberapa foto yang dibuat pada saat yang
sama dan menggambarkan daerah liputan yang sama. Foto
jamak dapat dibuat dengan tiga cara, yaitu dengan
multikamera atau beberapa kamera yang masing-masing
diarahkan ke satu daerah sasaran, kamera multilensa atau satu
kamera dengan beberapa lensa, dan kamera tunggal berlensa
tunggal dengan pengurai warna.
Berdasarkan warna yang digunakan, foto udara dibedakan
menjadi :
•Foto berwarna semu (false color) atau foto inframerah

berwarna. Pada foto berwarna semu, warna objek tidak sama
dengan warna foto. Objek seperti vegetasi yang berwarna
hijau dan banyak memantulkan spektrum inframerah, tampak
merah pada foto.
•Foto warna asli (true color), yaitu foto pankromatik

berwarna.

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 4

Berdasarkan wahana yang digunakan, foto udara dibedakan
menjadi :
•Foto udara, yakni foto yang dibuat dari pesawat udara atau
dari balon, helicopter, dll.
•Foto satelit atau foto orbital, yakni foto yang dibuat dari

satelit.

1.

Citra Nonfoto

Citra nonfoto dibedakan berdasarkan spektrum elektromagnetik
yang digunakan, sensor yang digunakan, dan wahana yang
digunakan.

Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan dalam
penginderaan, citra nonfoto dibedakan menjadi :
•Citra inframerah termal, yaitu citra yang dibuat dengan

spektrum inframerah termal. Jendela atmosfer yang
digunakan adalah saluran dengan panjang gelombang 3,5µm-
5,5µm, 8µm-14µm, dan sekitar 18µm. Penginderaan pada
spektrum ini mendasarkan atas beda suhu objek dan daya
pancarnya yang pada citra tercermin dengan beda rona atau
beda warnanya.
•Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat

dengan spektrum gelombang mikro. Citra radar merupakan
hasil penginderaan dengan sistem aktif yaitu dengan sumber
tenaga buatan, sedang citra gelombang mikro dihasilkan
dengan sistem pasif yaitu dengan menggunakan sumber
tenaga alamiah. Citra radar dibedakan lebih jauh atas dasar
saluran yang digunakan, yaitu pada tabel 2.6.

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 3

Tabel 2.6. Jenis Citra Radar Berdasarkan Salurannya (Lillesand dan Kiefer,
1979 : dengan perubahan)

Meskipun citra nonfoto juga ada yang menggunakan spektrum
tampak, citranya tidak disebut citra tampak. Citra tersebut lebih
sering disebut berdasarkan sensornya atau wahananya, seperti
misalnya citra RBV, citra MSS, dan citra lainnya.
Berdasarkan sensor yang digunakan, citra nonfoto dibedakan

menjadi :

•Citra tunggal, yaitu citra yang dibuat dengan sensor tunggal.

•Citra multispektral, yaitu citra yang dibuat dengan saluran

jamak. Berbeda dengan citra tunggal yang umumnya dibuat
dengan saluran lebar, citra multispektral pada umumnya
dibuat dengan saluran sempit.
Berdasarkan wahananya, citra foto dibedakan menjadi :
•Citra dirgantara (airborne image), yaitu citra yang dibuat

dengan wahana yang beroperasi di udara atau dirgantara.
•Citra satelit (satellite/spaceborne image), yaitu citra yang

dibuat dari antariksa atau angkasa luar.

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 3

Gambar 2.12. Wahana Penginderaan Jauh (Lindgren, 1985)

b. Teknik Interpretasi Citra

Faktor-faktor alam yang terbentuk menjadi suatu objek di
permukaan bumi pada kenyataannya mempunyai keterkaitan antara
satu faktor dengan faktor lainnya, dimana faktor-faktor tersebut saling
berinteraksi dan berinterdependensi. Oleh karena itu objek-objek yang
tidak nampak dapat dilakukan interpretasi. Dalam interpretasi citra,
maka teknik diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :
•Teknik langsung. Teknik ini dilakukan dengan cara
menginterpretasi citra maupun digitasi secara langsung
terhadap objek-objek yang Nampak, seperti vegetasi dan
penggunaan lahan, pola aliran sungai, jaringan jalan, dan
sebagainya.
•Teknik tidak langsung. Teknik ini dilakukan dengan cara
menginterpretasi objek-objek yang tidak nampak pada citra,
karena tertutup oleh vegetasi dan penggunaan lahan, tetapi

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 3

objek tersebut dapat diinterpretasi dengan menggunakan
asosiasi suatu objek. Artinya, harus dicari keterkaitan objek
yang tidak nampak dengan yang nampak di citra.

c. Unsur Interpretasi Citra

Dalam analisis diperlukan langkah-langkah tertentu, sehingga
dapat memberikan suatu data dan informasi yang berguna. Analisis
citra diwujudkan dengan cara interpretasi, maka untuk interpretasi
diperlukan unsur-unsur interpretasi, sehingga gambar citra dapat
menjadi suatu data dan informasi. Unsur-unsur interpretasi citra
ditujukan pada gambar berikut :

Gambar 2.13. Susunan Hierarki Unsur Interpretasi Citra (Sutanto, 1986)

Rona/Warna. Rona/warna merupakan karakteristik spektral,

karena rona/warna termasuk akibat besar kecilnya tenaga
pantulan maupun pancaran. Unsur ini nampak pada citra
dengan tingkat cerah dan gelapnya suatu objek. Umumnya
rona/warna diklasifikasikan menjadi cerah, agak cerah, sedang,
agak kelabu, dan kelabu. Tingkatan rona/warna ini diukur
secara kualitatif.
Ukuran. Unsur ini menunjukkan ukuran dari suatu objek

kualitatif maupun kuantitatif. Ukuran kualitatif ditunjukkan
dengan besar, sedang, dan kecil. Sedangkan ukuran dapat
diukur secara kuantitatif yang ditunjukkan dengan ukuran objek

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 4

di lapangan, karena itu skala harus diperhitungkan sebelum
dilakukan interpretasi citra.
Bentuk. Unsur ini ditunjukkan denga bentuk dari objek, karena

setiap objek mempunyai bentuk. Sebagai contoh : jalan
berbentuk memanjang, lapangan bola berbentuk lonjong, dsb.
Tekstur. Tekstur suatu objek ditunjukkan dengan kehalusan

suatu rona, dimana perbedaan rona tidak terlalu mencolok.
Sebagai contoh : rona air kotor bertekstur halus, tetapi bila
objek bervariasi seperti objek hutan belukar, pantulan tenaga
dari pohon bervariasi ditunjukkan dengan tekstur kasar.
Pola. Pola merupakan unsur keteraturan dari suatu objek di

lapangan yang nampak pada citra. Objek buatan manusia
umumnya memiliki suatu pola tertentu yang diklasifikasikan
menjadi : teratur, kurang teratur, dan tidak teratur.
Tinggi. Unsur ini akan nampak bila objek mempunyai nilai

ketinggian. Untuk citra skala kecil tinggi objek tidak nampak.
Tinggi objek dapat diukur bila skalanya memungkinkan,
terutama citra foto yang menunjukkan bentuk 3 dimensi.
Bayangan. Objek yang mempunyai tinggi akan mempunyai

bayangan yang dapat digunakan untuk mengukur ketinggian
suatu objek. Bayangan ditunjukkan dengan ukuran yang
nampak pada citra. Dengan pengukuran panjang bayangan dan
mengetahui jam terbang dapat diketahui tinggi suatu objek.
Situs. Unsur ini merupakan cirri khusus yang dimiliki suatu

objek dan setiap objek mempunyai situs, seperti lapangan bola
mempunyai gawang.
Asosiasi. Unsur ini digunakan untuk menghubungkan suatu

objek dengan objek lain, karena kenyataan suatu objek akan
berasosiasi dengan objek lain dan berkaitan seperti sawah
berasosiasi dengan aliran air, permukiman, dsb.
Pantulan dari suatu tenaga dan sebagai unsur primer. Artinya,
sebelum unsur yang lain, unsur ini nampak terlebih dulu dan rona atau

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 4

warna dalam interpretasi digunakan lebih dulu sebelum unsur lainnya.
Rona/warna merupakan akibat interaksi antara tenaga dan objek dan
rona/warna menunjukkan gambaran spektrum yang digunakan, karena
itu rona/warna disebut unsur spektral.
Unsur-unsur interpretasi seperti rona/warna merupakan unsur
primer. Rona/warna merupakan unsur spektral karena menunjukkan
tingkat kecerahan objek, sebab jika objek belum dapat diperkirakan,
maka unsur selanjutnya digunakan unsur sekunder. Unsur ini
merupakan unsur spasial, tetapi dalam interpretasi sebelum
menggunakan unsur tersier lebih dulu digunakan unsur sekunder,
sedangkan situs dan asosiasi merupakan unsur spasial yang digunakan
jika objek yang nampak belum dapat diperkirakan. Oleh karena itu
unsur ini unsur yang mempunyai tingkat kerumitan tinggi, karena
menyangkut interelasi dan interdependensi objek.
Dalam interpretasi citra tidak harus semua unsur digunakan,
meskipun hanya beberapa unsur yang digunakan, tetapi objek dapat
diperkirakan maka unsur lain diabaikan. Sebaliknya, jika objek belum
diketahui dengan semua unsur tersebut, seharusnya objek tersebut
dilakukan cheking lapangan.

1.2.Citra Landsat

Landsat merupakan satelit sumber daya bumi yang dikembangkan oleh
NASA dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat. Landsat I, II, dan
III termasuk ke dalam satelit sumber daya bumi pertama yang merupakan
hasil modifikasi dari Nimbus, itupun masih merupakan eksperimen. Satelit
Landsat generasi pertama ini berukuran 1,5 x 3 meter, dengan berat 959 kg
(Paine, 1981) dan mengorbit bumi pada ketinggian 917 km dari permukaan
bumi. Arah orbit (perputaran mengelilingi bumi dari utara ke selatan. Orbit
satelit Landsat tidak tepat melewati kutub tapi membentuk sudut 9º dari
kutub utara ke arah timur dan 9º dari kutub selatan ke arah barat. Orbit yang
diukur dari ekuator pada 9º dari garis ekuator sebelah timur. Orbit satelit
Landsat ditunjukkan pada gambar 2.14.

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 4

Gambar 2.14. Kedudukan Relatif Satelit Generasi Pertama dan Orbitnya (Tatanik, 1985 ;
Sutanto, 1986)

Sensor yang digunakan adalah Returm Beam Vidicon (RBV) yaitu sistem
kamera yang menyimpan pola sinar pada foto konduktor dan sensor multi
spektral yaitu penyiam yang menggunakan beberapa spektral. Kamera RBV
mempunyai resolusi 80 meter dan meningkat lagi menjadi 30 meter dengan
sekali perekaman meliputi daerah seluas 98 km x 98 km.
Sutanto (1986), menyatakan bahwa sensor penyiam multi spektral
menggunakan 4 saluran, yaitu :

a.Saluran 4 : 0,5 µm – 0,6 µm (hijau)
b.Saluran 5 : 0,6 µm – 0,7 µm (merah)
c.Saluran 6 : 0,7 µm – 0,8 µm (inframerah)
d.Saluran 7 : 0,8 µm – 1,1 µm (inframerah)
Sensor ini mempunyai resolusi medan 79 m x 79 m, dapat mengubah nilai
pantulan pada tiap pixel, kecepatan perubahannya tidak sama dengan
kecepatan penyiamannya. Sebagai akibatnya, pixel yang terbentuk bukan
berbentuk bujur sangkar tetapi berbentuk persegi panjang dengan sisi 56 m x
79 m (Curran, 1985). Objek yang diliputi dengan batas objek yang direkam
membentuk sudut 11,5º, sedangkan satu kali perekaman meliputi daerah
seluas 185 km x 185 km. ukuran pixel pada Landsat ditunjukkan pada
gambar 2.15.

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 3

Gambar 2.15. Ukuran Pixel pada Landsat Multispektral Scanner
(Curran, 1985; Short, 1982; Sutanto, 1986)

Kelanjutan dari satelit Landsat generasi pertama adalah Landsat generasi
kedua, yaitu Landsat IV dan V. Satelit ini merupakan satelit semi
operasional, karena bukan eksperimen. Perbedaan dengan satelit sebelumnya
terletak pada resolusi spasial 30 meter, sedangkan sensor diganti dari RBV
menjadi sensor Thematic Mapper (TM), sehingga ketelitian radiometric
bertambah tinggi.

Kelebihan sensor TM adalah menggunakan tujuh saluran. Enam saluran
terutama dititikberatkan untuk studi vegetasi dan satu saluran untuk studi
geologi. Terakhir kalinya akhir era 2000-an NASA menambahkan
penajaman sensor band pankromatik yang ditingkatkan resolusi spasialnya
menjadi 15 m x 15 m sehingga dengan kombinasi didapatkan citra komposit
dengan resolusi 15 m x 15 m.
Perbaikan pada resolusi spektral melalui perubahan radiometric dengan
cara memperbesar penilaian nilai spektral dari 0 – 63 menjadi 0 – 255
(Lindgren, 1985). Satelit ini dilengkapi dengan sensor MSS dan produknya
berupa data visual (citra) dan data digit (numerik) yang disimpan pada CCT.
Satelit Landsat generasi terbaru memiliki karakteristik seperti berikut :
•Resolusi spasial menengah, band 1, 2,3,4,5,7 adalah 30 meter per
pixel. Band 6 (thermal) adalah 60 meter.
•Resolusi temporalnya, 16 hari

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 3

•Untuk mengidentifikasi objek diperlukan pengetahuan tentang
pantulan objek yang ada di permukaan bumi.
•Ketinggiannya 705 km
•Satelit mengorbit sebanyak 14 kali sehari
•Orbitnya sun synchronous (polar)

Adapun karakteristik sensor Landsat ditunjukkan pada tabel 2.7.

Band

Panjang
Gelombang

Keterangan

1

0,45-0,52 µm

(Biru)

Dapat menembus air dengan baik, memberikan analisis
karakteristik tanah dan air. Baik untuk memetakan atau
memantau daerah pesisir

2

0,52-0,64 µm

(Hijau)

Dapat digunakan untuk membedakan tanaman sehat dan
tanaman sakit

3

0,63-0,69 m

(merah)

Dapat membedakan vegetasi dan bukan vegetasi

4

0,76-0,9 µm

(IM dekat)

Membedakan tanah dengan vegetasi, tanah dengan air,
menggambarkan badan air, membantu mengidentifikasi
tanaman pertanian.

5

1,55-1,75 m

(IM tengah)Untuk menentukan jenis tanaman, kandungan air pada
tanaman, kelembapan tanah.

6

10,4-12,50 Formasi batuan serta pemetaan hidrothermal

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 3

µm

(IM Thermal)

7

2,08-2,35 µm

(IM jauh)

Mengidentifikasi tipe-tipe vegetasi, kelembapan tanah,
mengidentifikasi batuan

1.2.Kajian Penggunaan Lahan
1.2.1.Pengertian Lahan

Ada beberapa pendapat mengenai definisi dari lahan, diantaranya

adalah :

1)Istilah lahan digunakan berkenaan dengan permukaan bumi
beserta segenap karakteristik-karakteristik yang ada padanya dan
penting bagi perikehidupan manusia (Christian dan Stewart,
1968).
2)Lahan atau land dapat didefinisikan sebagai suatu wilayah di
permukaan bumi, mencakup semua komponen biosfer yang dapat
dianggap tetap atau bersifat siklis yang berada di atas dan di
bawah wilayah tersebut, termasuk atmosfer, tanah, batuan induk,
relief, hidrologi, tumbuhan dan hewan, serta segala akibat yang
ditimbulkan oleh aktivitas manusia di masa lalu dan sekarang;
yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap penggunaan lahan
oleh manusia pada saat sekarang dan di masa mendatang
(Brinkman dan Smyth, 1973; dan FAO, 1976).
3)Lahan menurut adalah suatu daerah permukaan bumi yang ciri-
cirinya (chracteristics) mencakup semua pengenal (atributes)
yang bersifat cukup mantap atau yang dapat diduga bersifat
mendaur dari biosfer, atmosfer, tanah, geologi, hidrologi,
populasi tumbuhan dan hewan, serta hasil kegiatan manusia pada
masa lampau dan masa kini, sepanjang pengenal-pengenal tadi
berpengaruh murad (significant) atas penggunaan lahan pada
waktu sekarang dan pada waktu mendatang (FAO, 1977).

1.2.1.Klasifikasi Lahan

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 3

Lahan dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelas, diantaranya

sebagai berikut:

1)Kelas I, merupakan lahan untuk segala jenis penggunaan tanpa
memerlukan tindakan pengawetan tanah yang spesifik. Lahan ini
dicirikan dengan lereng yang datar, bahaya erosi yang sangat
kecil, solum tanah dalam, drainase baik, mudah untuk diolah,
dapat menahan air dengan baik, responsif terhadap pemupukkan,
tidak terancam banjir, iklim mikro yang sesuai dengan
pertumbuhan tanaman.
2)Kelas II, merupakan lahan yang sesuai untuk segala jenis
penggunaan pertanian dengan sedikit hambatan dan ancaman
kerusakan. Ciri-ciri dari lahan kelas ini adalah lereng landai,
kepekaan erosi sedang, tekstur tanah halus, solum tanah agak
dalam, struktur tanah kurang baik, salinitas ringan sampai
sedang, kadang terjadi banjir, drainase sedang, iklim mikro agak
kurang untuk tanaman.
3)Kelas III, merupakan lahan yang dapat digunakan untuk berbagai
jenis usaha pertanian dengan hambatan dan ancaman yang lebih
besar dari pada lahan kelas II. Ciri-ciri lahan kelas ini adalah
lereng bergelombang atau miring, drainase buruk, solum tanah
sedang, permeabilitas tanah bagian bawah lambat, peka terhadap
erosi, kapasitas menahan air rendah, kesuburan tanah rendah,
sering terjadi banjir, lapisan cadas dangkal, salinitas sedang,
hambatan iklim agak besar.
4)Kelas IV, merupakan lahan yang memiliki faktor penghambat
lebih besar dibandingkan dengan lahan kelas III. Faktor
penghambat pada lahan kelas ini adalah lereng yang miring atau
berbukit (15%-30%), kepekaan erosi besar, solum tanah dangkal,
kapasitas menahan air rendah, drainase jelek, salinitas tinggi,
iklim kurang menguntungkan.bila lahan ini akan digunakan
untuk tanaman semusim, maka perlu dibuatkan teras-teras,
saluran drainase, crop rotation dengan penutup tanah.

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 4

5)Kelas V, merupakan lahan yang tidak sesuai untuk tanaman
semusim. Ciri-ciri lahan ini adalah lereng datar atau cekung,
sering tergenang dan banjir, berbatu-batu, pada sistem perakaran
tumbuhan sering ditemui catclay, berawa-rawa. Lahan ini
cocoknya untuk hutan produksi, hutan lindung, padang
penggembalaan, atau suaka alam.
6)Kelas VI, merupakan lahan yang tidak sesuai untuk pertanian.
Penggunaannya terbatas untuk padang penggembalaan, hutan
produksi, hutan lindung, atau cagar alam. Ciri-ciri lahan kelas ini
adalah lereng agak curam (30%-45%), ancaman erosi berat,
solum tanah sangat dangkal, berbatu-batu, iklim tidak sesuai.
Pengelolaan lahan ini dapat dapat diusahakan dengan cara
pembuatan teras bangku, strip cropping, penutupan tanah dengan
rumput perlu selalu diusahakan.

7)Kelas VII, merupakan lahan yang tidak sesuai untuk pertanian.
Jika ingin dipaksakan harus digunakan teras bangku yang
ditunjang dengan cara-cara vegetatif untuk konservasi. Ciri-ciri
lahan kelas ini adalah lereng curam (45%-65%), tererosi berat,
solum tanah sangat dangkal, dan berbatu-batu.

8)Kelas VIII, merupakan lahan yang sangat tidak cocok untuk
pertanian. Lahan ini harus senantiasa didiamkan dalam keadaann
alami. Lahan kelas ini sangat berguna untuk hutan lindung, cagar
alam, atau tempat rekreasi. Ciri-ciri lahan kelas ini adalah lereng
yang sangat curam (>65%), berbatu-batu, kapasitas menahan air
sangat rendah, solum tanah sangat dangkal, sering terlihat adanya
singkapan batuan, kadang-kadang seperti padang pasir berbatu
(Jamulya dan Sunarto, 1991).

1.2.1.Tipe Penggunaan Lahan

Terdapat beberapa tipe penggunaan lahan yang ada di Indonesia,
diantaranya adalah:

1)Sawah, adalah lahan usaha tani yang secara fisik dicirikan oleh
permukaan tanahnya yang rata, dibatasi oleh pematang, dan dapat

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 3

ditanami padi, palawija, atau tanaman pangan lainnya. Ada
beberapa macam sawah, yaitu :
•Sawah tadah hujan, adalah sawah yang sumber air
utamanya berasal dari curah hujan. Biasanya terletak di
daerah yang memiliki curah hujan tinggi.
•Sawah irigasi, adalah sawah yang sumber air utamanya

berasal dari air irigasi. Sawah irigasi terbagi lagi menjadi
sawah irigasi teknis, sawah irigasi setengah teknis dan
sawah irigasi sederhana.
•Sawah lainnya seperti sawah sistem surjan, sawah pasang

surut, sawah reklamasi rawa pasang surut, sawah lebak,
polder, dan lain-lain. Jenis-jenis sawah ini tidak umum dan
hanya terdapat di tempat-tempat tertentu.
1)Tegalan. Ada dua pemahaman mengenai tegalan, yaitu :
•Tegalan (tanah darat ringan), adalah sebidang tanah yang
diusahakan/dimanfaatkan untuk pertanian lahan kering,
seperi padi gogo dan palawija.
•Tegalan (tanah darat berat), adalah sebidang tanah yang
ditumbuhi oleh tumbuhan perdu atau nipah, termasuk
pohon-pohon.
1)Ladang, adalah lahan kering yang ditanami tanaman musiman
seperti padi ladang, palawija, dan tanaman holtikultura. Ladang
biasanya terletak jauh dari rumah.
2)Perkebunan, adalah lahan yang luas yang ditanami oleh satu
maupun beberapa jenis tanaman. Biasanya dicirikan dengan
adanya tanaman keras seperti kelapa, bambu, dll, juga tanaman
buah-buahan.
3)Permukiman, adalah lahan yang digunakan sebagai tempat
tinggal manusia. Ada beberapa macam pola permukiman
diantaranya memusat, memanjang, berpencar, radial,
berkelompok, dll

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 4

4)Semak/belukar, adalah pertumbuhan tahap pertama ke arah
pembentukan hutan kembali. Cirri-cirinya terdapat banyak
tumbuhan kayu-kayuan muda, bercampur dengan semak dan
rumput-rumput. Banyak dijumpai pada lahan bekas perladangan
atau tegalan.
5)Hutan, adalah satuan lahan yang ditumbuhi oleh berbagai macam
pepohonan. Dicirikan dengan vegetasinya yang rapat dan tanah
yang relatif subur.

B a b I I K a j i a n P u s t a k a | 3

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->