P. 1
Paper Lisensi HAKI

Paper Lisensi HAKI

|Views: 1,431|Likes:
Published by vafranci

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: vafranci on May 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Masalah

Di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi internasional yang telah diratifikasi Indonesia, peranan Hak Atas Kekayaan Intelektual (“HAKI”) menjadi sangat penting, terutama dalam menjaga persaingan usaha yang sehat. Seiring dengan peningkatan ekonomi khususnya di bidang industri di Indonesia, maka perlindungan hukum terhadap HAKI sangatlah diperlukan. Hal itu dapat dimengerti karena HAKI pada hakikatnya dapat memberikan manfaat ekonomi kepada pencipta atau pemegang hak cipta dan juga negara.1 Macam-macam HAKI yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia adalah Paten, Merek, Hak Cipta, Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), Rahasia Dagang, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.

Dalam bidang HAKI, maksud dari Lisensi itu sendiri adalah untuk memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakan HAKI baik yang berupa Paten, Merek, Hak Cipta, Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), Rahasia Dagang, Desain Industri atau Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dari Pemegang/Pemilik HAKI tersebut berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menikmati manfaat ekonomi, menggunakan seluruh atau sebagian hak, mengumumkan dan/atau memperbanyak ciptaan dari suatu HAKI yang diberi perlindungan dalam jangka waktu dan syarat tertentu.
1

Dr. Eddy Damian, SH., Hukum Hak Cipta Menurut Beberapa Konvensi Internasional, Undangundang Hak Cipta 1997 Dan Perlindungannya Terhadap Buku Serta Perjanjian Penerbitannya, hlm.2.

1

Lisensi diperlukan oleh mereka yang karena kebutuhannya akan teknologi harus menggunakan ide atau hasil pemikiran orang lain dalam pelaksanaan kegiatannya. Dengan menggunakan lisensi ini diharapkan akan membantu industri dalam negeri untuk mencapai tujuannya. Untuk pengalihan teknologi yang baik maka diperlukan suatu Perjanjian Lisensi yang baik yang dengan jelas memberikan kebebasan maupun batasan yang diperlukan oleh pemilik ide maupun teknologi atas hal-hal apa saja yang dapat dan tidak dapat dilakukan sehubungan dengan alih teknologi tersebut.

Dengan memperhatikan arah dan sasaran pembangnunan di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan upaya untuk membangun kekuatan industri, faktor yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan akan teknologi. Faktor ini penting, karena pada dasarnya merupakan salah satu kunci yang sifatnya menentukan kehidupan industri. Bahkan lebih dari itu teknologi adalah faktor penentu dalam pertumbuhan dan perkembangan industri. Apakah teknologi itu berasal dari negara lain, ataukah hasil penemuan dan pengembangan bangsa Indonesia sendiri, memiliki arti yang sama pentingnya.2

Mengingat pentingnya Perjanjian Lisensi ini bagi pertumbuhan dan perkembangan industri secara khusus dan peningkatan ekonomi secara umum, maka Pemerintah RI telah mengatur hal-hal yang berkaitan dengan lisensi dan perjanjian lisensi dalam beberapa undang-undang, khususnya Undang-undang di bidang Hak Atas Kekayaan Intelektual. Namun dalam perkembangannya, dengan semakin berkembangnya teknologi, pengaturan mengenai lisensi dan perjanjian lisensi tersebut
2

Drs. C.S.T. Kansil, SH., Hak Milik Intelektual (Hak Milik Perindustrian dan Hak Cipta), hlm. 5.

2

ternyata masih belum dapat membantu proses alih teknologi sebagaimana yang diinginkan. Oleh karena itu, dapat dipahami jika saat ini ada tuntutan kebutuhan untuk pengaturan perjanjian lisensi dalam rangka menciptakan peraturan hukum yang lebih memadai.

Pengaturan mengenai perjanjian lisensi ini penting karena perjanjian lisensi yang selama ini dibuat dengan berlandaskan pada asas: konsensualisme, pacta sunt servanda dan kebebasan berkontrak sebagai asas hukum perjanjian, selalu menjadi ajang perebutan dominasi di antara para pihak dalam perjanjian tersebut, sehingga sering menimbulkan perselisihan di antara mereka. Oleh karena itulah perlu dibuat suatu pengaturan yang lebih baik lagi yang mengikutsertakan pihak di luar pemberi dan penerima lisensi dalam menentukan hal-hal lainnya sehingga dengan adanya pengaturan mengenai perjanjian lisensi ini, pembuatan perjanjian lisensi tidak hanya berdasarkan kesepakatan (consensus) kedua belah pihak tetapi juga berdasarkan Peraturan Pemerintah yang dibuat untuk itu.

Selain itu sehubungan dengan adanya ketentuan dalam undang-undang HAKI tentang perjanjian lisensi yang melarang memuat ketentuan yang dapat menimbulkan akibat merugikan perekonomian Indonesia atau perdagangan yang tidak sehat, perlu disusun suatu pedoman yang dapat dijadikan tolok ukur bagi instansi yang terkait untuk menilai perjanjian lisensi apakah sudah sesuai dengan ketentuan perundangundangan atau belum.

2.

Pokok Permasalahan

3

Dalam praktek ternyata belum ada kepastian mengenai apakah Perjanjian Lisensi yang sudah diatur oleh ketentuan perundang-undangan di bidang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) seperti Paten, Merek dan Hak Cipta sudah cukup memadai dalam menampung seluruh permasalahan yang ada khususnya dalam perindustrian.

4

BAB II PEMBAHASAN

1.

Pengertian Lisensi

Hak eksklusif yang diberikan oleh undang-undang kepada pemegang Hak Atas Kekayaan Intelektual (“HAKI”) adalah termasuk memberikan persetujuan atau izin kepada pihak lain untuk menggunakannya. Seperti misalnya di dalam undangundang tentang Merek mengatur bahwa pemilik merek terdaftar berhak memberikan lisensi kepada pihak lain dengan perjanjian bahwa penerima lisensi akan menggunakan merek tersebut untuk sebagian atau seluruh jenis barang atau jasa.3

Dalam beberapa definisi yang ada dalam ketentuan undang-undang di bidang HAKI diperoleh gambaran bahwa hakekat lisensi atau lisensi yang sebenarnya adalah Pemberian izin oleh Pemegang HAKI baik yang berupa Paten, Merek, Hak Cipta, Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), Rahasia Dagang, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu kepada pihak lain berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk: a. Paten “…menikmati manfaat ekonomi dari suatu Paten yang diberi perlindungan dalam jangka waktu dan syarat tertentu”. b. Merek “…menggunakan Merek tersebut, baik seluruh atau sebagian jenis barang dan/atau jasa yang didaftarkan dalam jangka waktu dan syarat tertentu”.
3

Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Buku Panduan Hak Kekayaan Intelektual, hlm. 46.

5

c.

Hak Cipta “…mengumumkan dan/atau memperbanyak Ciptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu”.

d.

Perlindungan Varietas Tanaman “…menggunakan seluruh atau sebagian hak Perlindungan Varietas Tanaman”.

e.

Rahasia Dagang “…menikmati manfaat ekonomi dari suatu Rahasia Dagang yang diberi perlindungan dalam jangka waktu tertentu dan syarat tertentu”.

f.

Desain Industri “…menikmati manfaat ekonomi dari suatu Desain Industri yang diberi perlindungan dalam jangka waktu tertentu dan syarat tertentu”.

g.

Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu “…menikmati manfaat ekonomi dari suatu Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu yang diberi perlindungan dalam jangka waktu tertentu dan syarat tertentu”.

2.

Pembatasan Terhadap Perjanjian Lisensi

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa lisensi pada dasarnya adalah perjanjian. Sebagai perjanjian menurut hukum Indonesia maka ia harus tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1320 jo. Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka suatu perjanjian

berlandaskan pada asas pacta sunt servanda yaitu bahwa tiap-tiap perjanjian mengikat atau berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak.

6

Di samping berlandaskan pada asas pacta sunt servanda, tiap-tiap perjanjian juga berlandaskan pada asas kebebasan berkontrak. Asas kebebasan berkontrak adalah salah satu asas yang sangat penting dalam Hukum Perjanjian. Kebebasan ini adalah perwujudan dari kehendak bebas, pancaran hak asasi manusia. 4 Ini berarti terdapat kebebasan penuh untuk mengatur apa yang menjadi isi dari perjanjian sejauh memenuhi ketentuan dalam Pasal 1320 KUHPerdata.

Oleh karena itu dapat dimengerti mengapa untuk Perjanjian Lisensi, undangundang di bidang HAKI, kecuali Undang-undang Perlindungan Varietas Tanaman (mengatur mengenai hal itu dalam Peraturan Pemerintah), mengatur pembatasan terhadap isi Perjanjian Lisensi sebagai berikut: a. Undang-undang RI No. 14 Tahun 2001Tentang Paten: “Perjanjian Lisensi tidak boleh memuat ketentuan, baik langsung maupun tidak langsung, yang dapat merugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya dan yang berkaitan dengan Invensi yang diberi Paten tersebut, pada khususnya…” (Pasal 71) b. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek: “Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan baik yang langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya”. (Pasal 47 ayat (1))
4

Prof. Dr. Mariam Darus Badrulzaman, SH, dkk, Kompilasi Hukum Perikatan, hlm. 84.

7

c.

Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta: “Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat

menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat…” (Pasal 47) d. Undang-Undang RI No. 30 Tahun 200 Tentang Rahasia Dagang: “Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat

menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat…” (Pasal 9 ayat (1)) e. Undang-Undang RI No. 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri: “Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat

menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat…” (Pasal 36 ayat (1)) f. Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu: “Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat

menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat…” (Pasal 28 ayat (1)).

3.

Kekosongan Hukum

8

Ketentuan mengenai Lisensi dan Perjanjian Lisensi di Indonesia diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang HAKI yaitu: a. b. c. d. Undang-undang No. 14 Tahun 2001 Tentang Paten; Undang-undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek; Undang-undang No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta; Undang-undang No. 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas Tanaman; e. f. g. Undang-undang No. 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang; Undang-undang No. 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri; Undang-undang No. 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.

Dari seluruh undang-undang tersebut di atas ada Undang-undang yang memuat ketentuan yang menyatakan bahwa pengaturan lebih lanjut mengenai Perjanjian Lisensi akan diatur dalam Peraturan Pemerintah sementara sebagian lainnya dalam Keputusan Presiden. Pengaturan lebih lanjut tersebut dapat dilihat dalam pasal-pasal sebagai berikut: a. Undang-undang No. 14 Tahun 2001 Tentang Paten; Pasal 73: “Ketentuan lebih lanjut mengenai Perjanjian Lisensi diatur dengan Peraturan Pemerintah”. b. Undang-undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek; Pasal 49:

9

“Syarat dan tata cara permohonan pencatatan Perjanjian Lisensi dan ketentuan mengenai Perjanjian Lisensi sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden”. c. Undang-undang No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta; Pasal 47 ayat (4): “Ketentuan lebih lanjut mengenai pencatatan Perjanjian Lisensi diatur dengan Keputusan Presiden”. d. Undang-undang No. 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas Tanaman; Pasal 43 ayat (3): “Ketentuan mengenai Perjanjian Lisensi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah”. e. Undang-undang No. 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang; Pasal 9 ayat (3): “Ketentuan mengenai pencatatan Perjanjian Lisensi diatur dengan Keputusan Presiden”. f. Undang-undang No. 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri; Pasal 36 ayat (3): “Ketentuan mengenai pencatatan Perjanjian Lisensi diatur dengan Keputusan Presiden”. g. Undang-undang No. 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu; Pasal 28 ayat (3): “Ketentuan mengenai pencatatan Perjanjian Lisensi diatur dengan Keputusan Presiden”.

10

Mengingat singkatnya pengaturan mengenai Perjanjian Lisensi dalam masingmasing undang-undang, maka dapat dimengerti bahwa masalah ini harus ditindaklanjuti dengan pengaturan lainnya sehingga akan lebih jelas lagi ketentuan di bidang Perjanjian Lisensi ini. Akan tetapi ternyata dalam prakteknya tidak semua UU tersebut telah ada peraturan pelaksanaannya. Dari semua undang-undang yang ada, hanya undang-undang di bidang Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) saja yang sudah memiliki pengaturan lebih lanjut dari undang-undang tersebut yaitu Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2004 Tentang Syarat dan Tata Cara Pengalihan Perlindungan Varietas Tanaman dan Penggunaan Varietas yang Dilindungi Oleh Pemerintah.

4.

Ketidakjelasan Aturan Hukum Mengenai Perjanjian Lisensi Dalam Undang-Undang Di Bidang HAKI

Sebagaimana diketahui dalam beberapa ketentuan di bidang HAKI tersebut terdapat pengaturan yang dianggap membatasi pelaksanaan Asas Kebebasan Berkontrak yaitu: a. Undang-undang No. 14 Tahun 2001 Tentang Paten; Pasal 71 ayat (1): “Perjanjian Lisensi tidak boleh memuat ketentuan, baik yang langsung maupun tidak langsung dapat merugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada

11

umumnya dan yang berkaitan dengan Invensi yang diberi Paten tersebut pada khususnya”. b. Undang-undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek; Pasal 47 ayat (1): “Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan baik yang langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan yang

menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya”. c. Undang-undang No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta ; Pasal 47 ayat (1): “Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat

menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku”. d. Undang-undang No. 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang; Pasal 9 ayat (1): “Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat

menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku”. e. Undang-undang No. 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri; Pasal 36 ayat (1):

12

“Perjanjian

Lisensi

dilarang

memuat

ketentuan

yang

dapat

menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku”. f. Undang-undang No. 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu; Pasal 28 ayat (1): “Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat

menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Pasal-pasal tersebut di atas mengatur adanya larangan Perjanjian Lisensi yang memuat ketentuan, baik langsung maupun tidak langsung, yang dapat menimbulkan akibat kerugian pada perekonomian Indonesia ataupun memuat pembatasan baik yang dapat menimbulkan persaingan usaha tidak sehat maupun yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya.

Namun, undang-undang ini tidak menjelaskan lebih lanjut ataupun memerintahkan untuk pengaturan lebih lanjut tentang batasan-batasan apa yang dapat dikategorikan sebagai ketentuan yang merugikan perekonomian Indonesia dan menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan

13

teknologi, sehingga menimbulkan ketidakjelasan di dalam aturan hukum mengenai Perjanjian Lisensi tersebut. Bahkan aturan yang ada tersebut dapat dijadikan dalih untuk penolakan permohonan pencatatan Perjanjian Lisensi yang merugikan para pihak. Sebaliknya, ketidakjelasan tersebut juga dapat menjadi semacam tabir yang menghalangi Direktorat Jenderal HKI untuk dapat menolak mencatatkan perjanjian lisensi yang sebenarnya mengandung ketentuan-ketentuan yang merugikan

perekonomian Indonesia dan menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi. Untuk itu sangat perlu adanya penyempurnaan atas sistem yang ada agar dapat meningkatkan perkembangan teknologi di dalam perindustrian di Indonesia.

Dengan tidak adanya pengaturan lebih lanjut mengenai hal-hal apa yang dianggap merugikan perekonomian Indonesia maupun yang dianggap menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi tersebut maka dikhawatirkan akan terjadi kesimpangsiuran dalam penentuan apakah suatu Perjanjian Lisensi itu telah melanggar peraturan-peraturan yang ada atau tidak.

14

BAB III Kesimpulan dan Saran

Sesuai dengan uraian tersebut di atas maka penulis melihat tidak adanya keseragaman dalam undang-undang mengenai pengaturan lebih lanjut dari ketentuan mengenai lisensi yang terdapat dalam undang-undang di bidang HAKI. Disamping itu masih terdapat kekosongan yang rawan yang dapat mengurangi keberanian dalam memasuki perjanjian lisensi dan yang pada gilirannya dapat merugikan kepentingan industri. Oleh karenanya untuk meningkatkan perkembangan teknologi di dalam perindustrian di Indonesia, diperlukannya penyempurnaan atas sistem yang ada yang dapat merangsang perkembangan tekonologi dalam rangka perlindungan terhadap HAKI.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka perlu segera dibuatkan peraturan pelaksana lebih lanjut mengenai ketentuan-ketentuan yang ada dalam undang-undang di bidang HAKI. Mengingat ketentuan dalam undang-undang memberikan pengaturan mengenai lisensi di bidang HAKI dalam berbagai bentuk peraturan perundang-undangan, maka penulis ini menyarankan agar dibuatkan satu Peraturan Pemerintah yang bersifat khusus yang akan menampung segala hal menyangkut lisensi di bidang HAKI ini.

15

Bahan Bacaan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Buku Panduan Hak Kekayaan Intelektual. Jakarta: 2003. Prof. Dr. Mariam Darus Badrulzaman, SH, dkk, Kompilasi Hukum Perikatan, Bandung, PT Citra Aditya Bakti, 2001. Dr. Eddy Damian, SH., Hukum Hak Cipta Menurut Beberapa Konvensi Internasional, Undang-undang Hak Cipta 1997 Dan Perlindungannya Terhadap Buku Serta Perjanjian Penerbitannya, Bandung, Alumni, 1999. Drs. C.S.T. Kansil, SH., Hak Milik Intelektual (Hak Milik Perindustrian dan Hak Cipta), Jakarta, Sinar Grafika, 1997. Maulana, Insan Budi, Lisensi Paten, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1996. Widjaja, Gunawan, Lisensi atau Waralaba: Suatu Panduan Praktis, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2002. Republik Indonesia. Undang-undang No. 6 Tahun 1989 Tentang Paten sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 13 Tahun 1997 Tentang Paten. Republik Indonesia. Undang-undang No. 14 Tahun 2001 Tentang Paten. Republik Indonesia. Undang-undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek. Republik Indonesia. Undang-undang No. 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan atas Undang-undang No. 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta, dan terakhir diubah dengan Undang-undang No.12 Tahun 1997 Tentang Perubahan atas Undang-undang No.6 tahun 1982 Tentang Hak Cipta. Republik Indonesia. Undang-undang No. 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas Tanaman. Republik Indonesia. Undang-undang No. 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang. Republik Indonesia. Undang-undang No. 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri. Republik Indonesia. Undang-undang No. 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Republik Indonesia. Undang-undang No. 7 Tahun 1994 Tentang Pengesahan Agreement Establishing the World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia). Republik Indonesia. Undang-undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. 16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->