P. 1
Mineral Bijih

Mineral Bijih

|Views: 2,874|Likes:
Published by Marwan Zam Mili

More info:

Published by: Marwan Zam Mili on May 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2013

pdf

text

original

TUGAS MATA KULIAH : MINERAGRAFI DOSEN : ULVA RIA IRFAN, ST.

, MT HIMPUNAN MINERAL BIJIH PADA BATUAN BEKU

OLEH MARWAN ZAM MILI D621 07 015

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2010 PENDAHULUAN a. Latar Belakang Mineragrafi adalah salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari mengenai pros es-proses pembentukan mineral atau bahan galian baik yang bernilai ekonomis maup un non-ekonomis, keterdapatan mineral, serta pemanfaatan dari mineral-mineral te rsebut. Dalam pembentukan suatu endapan mineral didalam kerak bumi dikontrol dengan bany aknya distribusi unsur-unsur kimia, sehingga proses pembentukan dari mineral-min eral ini sebagian besar terbentuk oleh reaksi kimia dengan tidak mengesampingkan proses fisika dan biologis. Dalam penyelidukan mineral, selain identifikasi mineral, penyelidikan terhadap tekstur dan struktur bijih sangat penting karena merupakan petunjuk mengenai kon disi, proses dan urut-urutan pembentukan bijih Pengolahan bijih juga membutuhkan informasi yang detail mengenai komposi si, tekstur dan kondisi mineral yang akan diolah dan dalam penyelidikan mengenai cara serta hasil pengolahan bijih tersebut. Inventarisasi sumber daya mineral khususnya logam merupakan upaya untuk menghimp un data potensi mineral logam di seluruh Indonesia untuk meningkatkan ketersedia an data yang terbaru dan akurat. Hal ini juga terkait dengan peningkatan investa si di bidang eksplorasi mineral logam. Sesuai dengan tugas Kelompok Himpunan Min eral Bijih pada Batuan. b. Adapun : • • • Maksud Dan Tujuan maksud diadakannya Tugas Himpunan mineral bijih pada batuan beku adalah Untuk mengetahui genetik mineral bijih Untuk mengetahui potensi yang terdapat pada batuan beku Untuk mengetahui proses-proses pembawa fluida endapan bijih

Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dari pelaksaan tugas Himpunan mineral bijih pada batuan beku ini, yaitu : a. Untuk mengetahui tekstur mineral bijih b. Untuk mengetahui fluida pembawa bijih. c. Untuk mengetahui proses-proses yang mempengaruhi pembentukan endapan bi jih. d. Untuk mengetahui himpunan mineral bijih pada suatu daerah.

MINERALOGI DAN TEKSTUR a. MINERALOGI Mayor Mineralogi mayor adalah proses fraksional kristalisasi dimana dimana kri stalnya terjadi peleburan sehingga fluida keluar membentuk partisi logam dan bia sanya terdapat sangat banyak dalam suatu batuan. Contoh mineral Utama pada : • Meteorit : Mineral utama adalah kamacite (alfa-Fe), taenite (gamma-Fe), troilite, kromit dan spinel. • Kimberlit : ilmenite-geikielite, dan chromian spinel kromit; mereka dit emukan baik di dalam groundmass dan sebagai megacrysts. Ilmenite adalah khas mag nesium-kaya, dengan komponen geikielite tinggi, dan terjadi sebagai xenocrysts a tau intergrown dengan magnetit atau Rutile ± armalcolite • Gabbro, pyroxenite, peridotite : oleh spinel bersama-sama dengan kromit, magnetit, ilmenite, hematit dan pyrrhotite • Gabbro, dolerite dan basalt : adalah chrome spinel, magnetit-ulvöspinel (titanomagnetite) dan ilmenite-hematit mineral larutan padat Minor Mineralogi minor adalah sekumpulan mineral yang mengalami proses-proses sepanjan g differensiasi magma sehingga mineral yang terdapat pada batuan tidak sepenuhny a hadir . Contoh mineral minor pada : • Meteorit : schreibersice, magnetit, ilmenite, daubreelite, grafit, oldha mite, cohenite, niningerite, alabandite, pentlandite, mackinawite, sfalerit, asl i chalcopyrite dan tembaga. • Kimberlit : Fase minor meliputi Rutile, magnetit, perovskite, armalcolit e, pirit, chalcopyrite, asli heazlewoodite dan logam. Magnesium-ilmenites kaya r eflectances lebih rendah daripada yang kaya akan zat besi

Secondary Mineralogi secondary adalah Pelindian (leaching)elemen-elemen tertentu dari bagi an atas suatu endapan mineral dan kemudian presipitasi pada kedalaman menghasilk an endapandengan konsentrasi yang lebih tinggi. b. TEKSTUR

Tekstur Bijih adalah hubungan antar mineral dalam suatu endapan bijih. Dengan m engetahuitekstur bijih maka dapat diperoleh gambaran tentang pembentukan awal b ijih, metamorfosa,lingkungan pengendapan, kemungkinan pengolahannya, deformasi d an pelapukan dari bijih.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengamatan tekstur bijih adalah banyak tekstur yang mempunyai kemiripan penampakan tapi proses pembentukannya mungkin s aja berbeda Secara umum PAUL RAMDOHR memberikan klasifikasi tekstur bijh menurut : I. Tinjauan Geometris II. Genesa Tinjauan Geometris 1. Butiran tunggal a. Zoning Kenampakan struktur yang berlapis-lapis mengelilingi suatu inti. Zoning menunjuk kan suatu pertumbuhan yang cepat, temperatur yang rendah dan impure solution. Di akibatkan oleh : Deposisi yang ridak menerus, ditandai oleh diskointinitas dalam struktur butiran mineral Perubahan dalam kecepatan pertumbuhan berhuungan dengan inklusi Variasi dalam komposisi lapisan yang terendap b. Twinning Jenis-jenis kembaran : akibat pertumbuhan (growth/primary twinning), kem bar inversi dan akibat deformasi (mechanical twinning :glide twinning, translati on twinning). Kembar inversi umumnya terbentuk lurus-lurus, tidak pararel diseti ap butir dan membentuk jaringan intergrowth. Kembar akibat deformasi biasanya di tandai oleh parting, blending, rekahnya butiran mineral dan pemadaman bergelomba ng. c. Pertumbuhan radial Pertumbuhan yang bebas dari kristal-kristal terbentuk kolom atau prismat ik sering akan mengkristal dalam bentuk radial. d. Struktur Mozaik Terjadi jika bidang sisi kristalnya sedikit tergeser dari posisinya akib at tekanan yang kecil, tapi tidak sampai menghambat pertumbuhannya. Hal ini dipe ngaruhi oleh adanya bagian dengan defective orientation, inklusi yang tidak pas dengan kisi kristal atau gangguan struktur lainnya. e. Inklusi Karateristik dari inklusi bergantung pada keadaan pembentukan inklusi da n mineral induknya (mineral yang membungkus inklusi tersebut ), inklusi dapat be rupa butiran mineral yang terperangkap selama pertumbuhan mineral induk atau be rupa sisa dari mineral yang sudah terbentuk lebih dahulu kemudian digantikan ole h mineral induk. Tinjauan Geometris 2. Intergrowth a. Intergrowth dengan orientasi Yaitu intergrowth yang menunjukkan adanya kecocokan antara bidang-bidang kristal dan mineral-mineral tersebut bergantung pada keselarasan sederhana dari kisi-kisi dalam satu, dua, atau semua arah sebagai contoh sumbu enam dan bentuk heksagonal kristal pentlandtit. b. Tekstur emulsi Distribusi merata dari butiran equigranular yang kecil dalam massa miner al yang lebih besar, umumnya berbentuk bundar. c. Mimerkitik / Graphic Menunjukkan pertumbuhan yang saling memotong (inter-penetrating) oleh ad anya butiran-butiran dua atau lebih mineral yang berbeda dalam jumlah yang seimb ang. 3. Bentuk-bentuk Agregat a. Oreintasi acak Jenis-jenis orientasi dapat berupa akibat dari : Bentuk butiran (misalnya bentuk oval dengan sumbu panjangnya yang terlet ak pararel satu dengan lainnya.

Orientasi struktur. Struktur yang berserat (fibrous). b. Rhythmic Growth Dapat diakibatkan oleh perubahan komposis mineral, perubahan komposisi k imia mineral penyusunannya, perbedaan ukuran butir, perubahan porositas, perubah an karakter kristalografis c. Contact rims/Synantetic/intergranular film Intergrowth dalam jumlah banyak yang terbatas hanya sebagai pengisi bata s-batas butiran (boundary filling) dan umumnya mempunyai komposisi yang berkaita n dengan butiran mineral didekatnya. d. Reaction rims Perbedaannya dengan contact rims adalah tekstur ini terbentuk akibat pro ses replacement. Contoh Mineral A yang berbatasan dengan mineral B dapat dipisa hkan oleh suatu lapisan tipis AxBy. Genesa 1. Tekstur presipitasi primer a. Growth Tekstur hasil peleburan dan solutions dibagi menjadi tekstur granular, s pheroidal, porfiritik, grafik, poikilitik, zonal, oolitik, dll. b. Koloidal Akibat presipitasi yang terdipersi secara intensif dalam massa batuan da pat diklasifikasikan sebagai berikut : • Botryodal - reniform / colloform. • Spheroids / buble-like / vesicular. • Concentrycally banded / spherulitic. • Gelatinous. • Reticulate / knitted. • Feattherly - flowery form. c. Sedimenter Tekstur akibat proses sedimentasi termasuk juga alterasi yang dialami se lama proses tersebut. Umumnya terdapat keseragaman dalam arah lateral. 2. Tekstur transformasi a. Paramorph Transorfmasi suatu senyawa yag tidak stabil/meta stabil ke dalam senyawa dalam b entuk yang stabil misalnya markasit ke pirit. b. Eksolusi Terjadi pada solid solution yang mencapai keadaan supersaturasi. Faktor yang men dukung eksolusi ini antara lain pendinginan perlahan,campuran yang tidak merata, inklusi, tektonik, dll. c. Dekomposisi Struktur berkaitan erat dengan proses eksolusi yang mengakibatkan perubahan kom posisi kimianya d. Replacement – metasomatisme Tekstur yang diakibatkan oleh suatu mineral yang menempai/menggantikan t emapt dari mineral lain yang sudah ada terlebih dahulu. Proses yang menyebabkann ya dapat berupa proses hidrotermal, metamorfosis dan pelapukan. Secara geometris tekstur ini oleh GRIGORIEFF dibagi sebagai berikut : • Filiform : Penggantian dalam bentuk jaring-jaring veinlets halus • Cellular : Hanya terdapat sedikit sisa dari penggantian • Shredded : Sisa penggantian dalam bentuk potongan angular, kadang sisin ya cekung • Skeleton shapped : Bagian dari pinggiran mineral terlihat dalam jumlah y ang banyak • Lattice shapped : Penggantian yang mengikuti orientasi kristalografis. • Zonal : umumnya sebagai hasil dari proses eksolusi • Dendritic : Mineral tergantikan sepanjang bidang belahan. • Cement shapped : Semen intergranular telah tergantikan secara selektif,

biasanya pada batuan sedimen. e. Transformasi Thermal Perubahan struktur pada daerah kontak dengan larutan bersuhu tinggi. Umu mnya dinding bijih yang kontak ini akan memberikan penampakan yan khusus. f. Tekstur Oksidasi Secara umum oksidasi akan menghilangkan senyawa sulfida, selenida, arsen ik, antimony dan Sulfosalt. Bertambahnya volume akibat penambahan oksigen biasan ya diimbangai pengurangan atau penghilangan bagian lain dari mineral seperti sen yawa sulfida di atas. Hal inilah yang memberikan ciri untuk tekstur ini. Klasifikasi SCHNEIDERHOHN Klasisikasi ini dibedakan atas : • Bentuk komponennya. • Ukuran Butir. • Pengisian Ruang (spatial arrangement). • Packing. Bentuk Komponennya 1. Tekstur butir sederhana • Xenomorfic : Allotriomorfik/anhedral. • Xenoblast : Butiran kristal yang tumbuh menjadi besar tapi bidang krista lnya tidak jelas. • Hipidiomorfik : Subhedral. • Paniodiomorfick : Euhedral pada sebagian atau seluruh besar butir. • Porfiritik : akibat presipitasi langsung dan kecendrungan mineral terten tu untuk membentuk kristal euhedral mengakibatkan adanya butiran mineral yang be sar pada massa dasar mineral lain 2.Tekstur akibat penetrasi • Ofitik / intersertal : Khas untuk jenis bijih pneumatolitik dan subvolka nik • Mimerkitik-grafik : Menunjukkan pertumbuhan yang saling memotong (interpenetrating) oleh adanya butiran-butiran dua atau lebih mineral yang berbeda dal am jumlah yang seimbang. • Eksolusi : Terjadi pada solid solution yang mencapai keadaan supersatur asi. Faktor yang mendukung eksolusi ini antara lain pendinginan perlahan,campura n yang tidak merata, inklusi, tektonik. • Poikilitik : Akibat kristalisasi simultan dari dua komponen, salah satun ya mempunyai kelurusan / orientasi sehingga berbentuk jaring-jaring dan yang lai n tertanam dalam mineral yang pertama disebut. • Arteririk : Akibat penetrasi dari suatu mineral menembus mineral lainnya . • Diablastik-dialitik : Bentuk gabungan dari beberapa mineral fibrous tanp a orientasi yang jelas Ukuran Butir 1. Ukuran butir relatif terdiri dari : i. Equigranular : Besar butir seragam. ii. Inequigranular : Besar butir bervariasi. 2. Ukuran butir absolut Pengisian Ruang (spatial arrangement) I. Granular acak. II. Struktur terorientasi secara sederhana. • Fibrous : akibat komponen yang menyerat pada arah tertentu. • Foliasi : adanya orientasi yang dapat diakibatkan oleh proses me kanis. • Butiran terorientasi. • Struktur radial. • Konsentris : termasuk golongan tekstur koloidal. III. Struktur pita dan rhymic layer. • Evenly layered : Lapisan yang terjadi secara merata dan lurus. • Bent Layered : Lapisan yang menekuk. • Konsentris : Lapisan yang berkeliling. • Oolitik dan konkresi : Berbentuk bulat. terutama pada hasil sedimentas

i tapi dapat juga terjadi akibat kristalisasi hidrotermal pada suhu renda h. Packing • Massive : Kenampakan yang sangat kompak dan tidak menunjukkan struktur tertentu • Porous granular : Butiran dengan lubang pori di atas batas butir • Amygdaloidal : Pengisian bekas lubang akibat gas oleh mineral lain. • Cellular • Staddled • Sacccharoidal • Drusy GAMBAR TEKSTUR • Euhedral Gambar 1 Arsenopyrite (putih, reflectance tinggi, bagian kanan) adalah fase utama, bebera pa secara ekstensif retak dan dipererat dengan chalcopyrite (kuning, tengah kiri ), yang diubah untuk covelline dan berbingkai oleh stannite cokelat. Dua Kristal euhedral cassiteritel. (Abu-abu, pusat) yang dikelilingi oleh stannite (cokela t-abu-abu, pusat) dan covelline (biru, tengah, kiri). Sfalerit (pucat abu-abu, k anan) adalah intergrown dengan arsenopyrite. Daerah hitam polishing lubang. Dipoles blok, pesawat terpolarisasi cahaya, x 80, udara Gambar 2 Euhedral belah ketupat arsenopyrite (putih, reflectance tinggi, pusat atas) adal ah sebagian intergrown dengan euhedral equant kristal cassiterite (abu-abu, pusa t bawah) yang menunjukkan samar bireflectance (bawah pusat). Sfalerit (menengah cokelat-abu-abu, pusat) telah sangat baik dan menunjukkan chalcopyrite inklusi r eflectance rendah daripada tennantite (biru-abu-abu, kanan), yang memiliki chalc opyrite kecil (kuning) kristal pada marjin. Kristal kecil chalcopyrite (kiri ata s) telah diubah untuk covelline (biru, kiri atas). Gangue utama adalah silikat ( abu-abu gelap) dengan polishing lubang (hitam). Aksesori mineral, zirkon, dengan reflectance lebih tinggi daripada silikat (kiri tengah), terletak dekat dengan salah satu lubang. Dipoles blok, Gambar 3 Euhedral arsenopyrite (putih, reflectance tinggi, kiri) adalah intergrown dengan Galena (putih-biru muda dengan belahan dada lubang segitiga, pusat), chalcopyri te (kuning, pusat) dan sfalerit (cahaya abu-abu, kanan tengah), dengan baik-baik saja chalcopyrite inklusi (kiri atas ) atau submicroscopic chalcopyrite (abu-ab u untuk cokelat-abu-abu, kanan tengah). Sebuah bilah yang kurang dipoles molybde nite (cahaya abu-abu, pusat) yang terlampir dalam chalcopyrite dan Galena dan ib u memiliki sebagian berbingkai arsenopyrite (kanan bawah). Minor jumlah Rutile ( abu-abu terang) acicular bentuk kristal dalam gangue (kanan tengah). Daerah hita m polishing lubang. Dipoles blok, pesawat terpolarisasi cahaya, x 160, minyak. Gambar 4 Euhedral kromit kristal (abu-abu) yang retak, beberapa fraktur adalah sepanjang perpecahan didefinisikan buruk (bawah pusat) dan disertai dengan perubahan yang baru jadi (reflectance tinggi daerah, kanan tengah). Silikat (abu-abu gelap) mem bentuk matriks ke kromit dan menggantikan itu (kanan bawah). Dipoles blok, pesaw at terpolarisasi cahaya, x 160, udara • Kubik Gambar 5 Euhedral, retak kristal kubik kromit (media abu-abu) adalah intergrown dengan si likat (abu-abu gelap). Satu bilah dari Rutile (cahaya abu-abu, pusat) merupakan sebagian ditutupi dengan kromit dan sebagian di silikat. Minor jumlah interstisi al chalcopyrite (kuning, kiri tengah) yang hadir. Daerah hitam polishing lubang. Dipoles blok, pesawat terpolarisasi cahaya, x 40, udara • Fracture Gambar 6 Sebuah euhedral kromit (hijau-abu-abu, pusat) adalah fraktur (hitam), yang frakt ur kurang berkembang dengan baik dalam magnetit (coklat muda) berlebih. Dunite h ost tetap randa olivin (abu-abu gelap, kanan bawah) dalam silikat sekunder (abu-

abu gelap, tanpa sifat). Daerah hitam polishing lubang. Perbedaan warna permukaa n antara chromites dalam hal ini dan piring sebelumnya disebabkan oleh variasi k omposisi. The kromit dalam bagian ini lebih dekat dengan komposisi ideal.Tipis d ipoles bagian, pesawat terpolarisasi cahaya, x 160, o Gambar 7 Euhedral pirit (cahaya kuning-putih, kanan tengah) kristal terjadi dalam chalcop yrite (kuning, kanan tengah) dan sfalerit (abu-abu terang). patah dalam chalcopy rite dan sfalerit adalah infilled dengan covelline (biru tua, pusat). Sfalerit m enunjukkan penyakit chalcopyrite luas, dengan berorientasi inklusi chalcopyrite kristal di sepanjang batas, kembar pesawat dan pertumbuhan zona (kanan atas). Sa ngat halus untuk submicroscopic chalcopyrite (tengah) menyampaikan kuning-coklat warna permukaan sfalerit. Daerah hitam polishing pits.Polished blok, pesawat te rpolarisasi cahaya, x 80, udara • Botroydal Gambar 8 Botryoidal sfalerit (abu-abu terang) pertumbuhan terdiri dari band-band yang ber beda ukuran butir; kristal yang kasar (kiri) dengan baik dan tumbuh terlalu cepa t sebelumnya dipoles halus kristal band (tengah kiri) dengan banyak polishing lu bang. Galena (putih) adalah baik kristalin dan euhedral (pusat), atau kurang bot ryoidal dan kristalin (tengah kiri). Wilayah hitam polishing lubang, wilayah abu -abu gelap karbonat (tengah kiri) butir. Dipoles blok, pesawat terpolarisasi cahaya, x 80, udara Gambar 9 Galena (biru-putih, kiri) adalah ditumbuhi oleh botryoidal sfalerit (abu-abu ter ang), yang pada gilirannya memiliki pirit botryoidal lingkaran (kuning-putih, pu sat). Tdk halus karbonat (abu-abu gelap, pusat) adalah gangue utama. Daerah hita m polishing lubang. Dipoles blok, pesawat terpolarisasi cahaya, x 80, udara • Belahan Gambar 10 Galena (putih, pusat) memiliki lubang berbentuk segitiga yang khas karena memeti k sepanjang (100) belahan dada. Sfalerit (abu-abu terang, pusat atas) adalah euh edral untuk intergrown dengan subhedral dan Galena. Minor jumlah covelline (biru , kanan tengah) yang terkait dengan perubahan Galena dan menunjukkan aslinya uku ran butir. Kristal kuarsa (abu-abu gelap, kiri, atas) telah euhedral pengakhiran . Kristal kuarsa euhedral lebih kecil (kanan tengah) dalam acara Galena refleksi internal yang kuat. Sebuah batu clast (abu-abu gelap, kanan bawah) terjadi di d alam mengadu baryte berbutir kasar (medium abu-abu, bawah). Daerah hitam busur p olishing lubang. • Kilap gambar 11 Inklusi-free magnetit (cokelat muda, bawah) adalah berbingkai dengan sangat buru k dipoles valleriite (cokelat-abu-abu, reflectance rendah, bawah kiri dan kanan atas) yang sulit untuk melihat. Bornite (oranye) dan chalcocite (biru) membentuk seperti symplectite-intergrowth (tengah atas). Perbedaan kecil pada warna permu kaan disebabkan chalcocite memoles. Wilayah abu-abu gelap gangue mineral • Inklusi Gambar 12 Magnetit (cahaya abu-abu, atas) membawa exsolved kecil, euhedral inklusi ulvöspi nel (abu-abu gelap, kiri atas). Bornite (pink cokelat, reflectance tinggi, bawah ) digantikan oleh chalcopyrite (kuning, kiri bawah) yang membentuk lamel laths d an tidak teratur. Valleriite (cokelat dan abu-abu menengah, reflectance rendah, tengah bawah) bentuk rims lengkap di sekitar tembaga-besi sulphides.

MINERALISASI BIJIH DAN ALTERASI ( MINERAL UBAHAN) a. Mineralisasi Bijih Mineralisasi bijih merupakan proses pembentukan mineral-mineral dalam en dapan bijih dalan suatu batuan. Dalam pembentukan mineral-mineral tersebut juga berasosiasi dengan mineral mineral lainnya. Pembentukan mineral-mineral tersebut memperlihatkan identitasnya seperti; bentuk, kenampakan belahan, twinning dan l ain-lain. Beberapa mineral membentuk kristal yang berkembang baik (euhedral) : pirit, hema tit, wolframite, arsenopirit, cobalt, magnetit . Standar bentuk kristal dalam mineralogi : Kubik, octahedral, tabular, accicular, columnar, bladed, fibrous, colloform, mic aceous, prismatik Kalkopirit Rutil Gambar 13 : Mineralisasi Kalkopirit, Asenopirit dan Rutil Magnetit

Gambar 14: Mineralisasi Magnetite Segar, berbentuk Subhedral, terdiseminasi p ada Batuan Beku Granitoid b. Alterasi (Mineral Ubahan) Alterasi mineral : merupakan proses perubahan komposisi mineral, kimia dan tekst ur batuan akibat hasil interaksi antara fluida dengan babtuan samping. Faktor-faktor yang mengendalikan proses alterasi adalah : • Karakter batuan samping • Kompisis fluida • Temperatur dan tekanan • Konsentrasi, aktivitas dan potensial kimia fluida Reaksi-Reaksi Kimia Hidrolisis Hidrasi dan Dehidrasi Metasomatisme Alkali-alkali tanah Dekarbonasi Silisifikasi Silikasi Oksidasi - reduksi Klasifikasi Mineral Ubahan Didasarkan atas : Komposisi Kimia Kumpulan mineral Lingkungan Pembentukan Klasifikasi Alterasi Oleh Thompson, 1995 Potassic : (biotit, K-feldspar, magnetit, kuarsa, klorit, epidot). Phyllic/Sericitic : sericit, kuarsa, pirit, klorit, hematit, anhidrit. Intermedit Argillic : Kaolinit/diktit, montmorilonit, ilite-smectit, kua rsa pirit. Advance Argillic : Kaolinit/diktit, alunit, pyrofilit, diaspore. Propylitic : Epidot, klorit, kalsit, sericit, clay, pirit.

Silicic : Kuarsa, kalsedon, opal, pirit, hematit. g

Gambar 15 : Kumpulan alterasi mineral pada batuan samping diplot pada diagram AC F dan AKF: A = Al2O3 ; C = CaO ; K = K2O + Na2O dan F = FeO + MgO + MnO. Chl = k lorit, (Meyer & Hemley, 1967) Klasifikasi alterasi mineral pada endapan hidrotermal (Hedenquist, dkk, 1987)

GAMBAR ALTERASI MINERAL BIJIH

Gambar 16: Magnetit memperlihatkan gejala Oksidasi menjadi Hematit pada tepi bu tir, zoning dan belahan Gambar 17 : Alterasi Epidote Gambar 18 : Altersi Biotite GENETIK MINERAL BIJIH Dengan mempelajari tekstur mineral bijih dan mineral gangue, dapat diten tukan apakah mineral terbentuk karena penggantian dari mineral yang telah ada (r eplacment textures) atau oleh pengendapan (pengisian) fluida pada rekahan atau p ori (open space filling textures). Hal yang perlu diperhatikan dalam pengamatan tekstur bijih adalah banyak tekstur yang mempunyai kemiripan penampakan tapi proses pembentukannya mungkin saja ber beda. Fluida Pembawa Bijih Sumber dan karakteristik fluida pembawa bijih, Sumber dari mineral bijih dan bagaimana mekanisme keterdapatannya dalam fluida atau larutan, Proses migrasi fluida pembawa bijih, Kontrol (penyebab) pengendapan mineral bijih dari fluida pembawa bijih. Pengelompokan fluida pembawa bijih

Silicate-dominated magma atau larutan magma yang kaya dengan oksida, kar bonat atau sulfida. Water-dominated fluida hidrothermal yang terpisah dari magma. Air meteorik (yang berasal dari atmosfir). Air laut. Air connate (terperangkap dalam pori batuan sedimen). Fluida-fluida yang berasosiasi dengan proses-proses. Open Space Filling Textures Open Space Filling Textures merupakan proses pengisian umumnya terbentuk pada b atuan yang bersifat getas, pada daerah tekanan relatif rendah sehingga rongga ce nderung bertahan. Tekstur ini mencerminkan bentuk asli dari pori serta daerah tempat pergerakan la rutan, serta dapat memberi tentang informasi struktur yang mengontrolnya Karakteristik tekstur pengisian yaitu : Vug & cavities sebagai rongga sisa karena pengisian yang tidak sempurna Kristal euhedral, mis : q, felds, fluorit, kasiterit, galena, sfalerit & kalkopirit Kristal zoning, mis : q dan garnet Mineral berdinding halus pada tepi rongga yang bergradasi menjadi minera l byang lebih besar pada rongga tengah

Karakteristik tekstur pengisian yakni : Tekstur berlapis, pengisian yang cepat dapat membentuk lapisan tipis ind ividu mineral yang halus sebagai crustiform & colloform. Lapisan crustiform yang menyelimuti fragmen yang telah ada sebelumnya me nghasilkan tekstur cockade Tekstur triangular : o Skala besar, dapat terbentuk apabila fluida mengendap pada ruangan antar fragmen batuan yang terbreksikan. o Skala kecil, pada awal pengendapan terbentuk kristal yang besar hingga m enutup rongga, pada pengendapan selanjutnya, fluida masuk rongga yang dibentuk o leh batas antara kristal yang cenderung membentuk segitiga. Comb structures & perlapisan simetris

Replacement textures

Ciri dari tekstur ini adalah : Umumnya tidak ada atau hanya sedikit terjadi perubahan volume pada batua n yang terubah Tekstur ubahan selalu berpasangan dengan tekstur pengisian Tidak mengubah tekstur batuan asal, kecuali silifikasi yang cenderung me rusak

GAMBAR

s

HIMPUNAN MINERAL BIJIH DI INDONESIA. Tubuh-tubuh bijih Grasberg dan ESZ, terdapat pada batuan beku sebagai batuan ind uk, hadir dalam bentuk urat-urat (vein stockworks) dan diseminasi sulfida tembag a yang didominasi oleh mineral chalcopirit dan sejumlah kecil berupa bornit. Tub uh-tubuh bijih yang berinduk pada batuan sedimen terjadi pada batuan ubahan skar n yang kaya akan unsur magnetit dan magnesium serta kalsium, yang mana lokasi ke terdapatannya dan orientasinya sangat dikontrol oleh patahan-patahan besar (majo r faults) dan oleh komposisi kimia batuan-batuan karbonat di sekitar tubuh-tubuh instrusi tersebut. Mineralisasi tembaga pada batuan ubahan skarn tersebut didom inasi oleh mineral chalcopirit, akan tetapi konsentrasi setempat dari mineral su lfida bornit yang cukup banyak juga kadang terjadi. Mineral emas terdapat secara merata disemua tubuh bijih dalam jumlah yang beragam. Di beberapa tempat konsen trasinya cukup banyak, kehadirannya jarang bisa dilihat dengan mata telanjang. K onsentrasi emas tersebut lazim terjadi sebagai inklusi di dalam mineral sulfida tembaga, sedangkan pada beberapa tubuh bijih konsentrasi emas berkaitan erat den gan keterdapatan mineral pirit. Mineralisasi bijih besi di Kab. Lampung Selatan dan Lampung Timur, Bijih besi y ang terdiri dari magnetit dan hematit ditemukan di bagian tengah Lembar Tanjungk arang, terpusat di Pematang Burhan dan Pematang Kawat di sekitar kampung Lematan g (Andi Mangga S., dkk., 1994). Kemungkinan bijih besi tersebut terbentuk sebaga i endapan di dalam batuan malihan Kompleks Gunungkasih. Terobosan dasit Ranggal di dekatnya, merupakan sumber cairan panas yang mengandung mineral pembawa besi .

Mineralisasi Emas Berdasarkan Data Inklusi Fluida di Daerah Siulak Deras, Kabupa ten Kerinci, Propinsi Jambi Cebakan bijih besi di daerah Kusan Hulu terdiri dari dua jenis yaitu primer dan laterit. Proses pembentukan bijih besi primer berhubungan dengan proses magma tisme berupa gravity settling dari unsur besi dalam batuan dunit, kemudian diiku ti dengan proses metamorfosisma/metasomatsma yang diakhiri oleh proses hidrother mal akibat terobosan batuan beku dioritik. KESIMPULAN Kesimpulan Dari isi makalah ini yaitu : a. Setiap mineral pada endapan bijih memiliki tekstur yang berbeda-beda yan g diakibatkan karena proses pembentukannya b. Dapat mengetahui pengelompokkan fluida pembawa bijih. c. Dapat mengetahui proses-proses yang mempengaruhi pembentukan endapan bijih. d. Genesa pembentukan mineral dapat dilihat pola tekstur yang di perlihatka n e. Mengetahui himpunan mineral bijih pada suatu daerah.

DAFTAR PUSTAKA Irham, Muh., 2006, Petunjuk Praktikum Mikroskopi Bijih, Laboratorium Optik Jurus an Teknik Geologi, Universitas Hasanuddin, Makassar. http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en US:offi cial&channel=s&q=himpunan+mineral+bijih+pada+batuan+beku+terdapat+di+daerah&star t=40&sa=N Ulva Ria Irfan, Bahan Kuliah Mineragrafi. Unhas. Makassar Supriadin. Alterasi batuan. Unhas Makassar

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->