P. 1
24004638 Pengaruh Negatif Pemanasan Global Bagi Kelangsungan Hidup Ekosistem Terumbu Karang

24004638 Pengaruh Negatif Pemanasan Global Bagi Kelangsungan Hidup Ekosistem Terumbu Karang

|Views: 220|Likes:

More info:

Published by: Reza Selak Selak Paret on May 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2014

pdf

text

original

PENGARUH NEGATIF PEMANASAN GLOBAL BAGI KELANGSUNGAN HIDUP EKOSISTEM TERUMBU KARANG

Diajukan sebagai tugas mata kuliah Bahasa Indonesia

Oleh: Muhammad Bakhtiar 230210070048

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2007

ABSTRAK Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat bermanfaat bagi kehidupan berbagai organisme laut lainnya. Banyak ikan maupun biota laut lainnya yang mencari makan dan hidup pada ekosistem ini. Tidak hanya itu, terumbu karang pun mampu memberikan manfaat bagi manusia, di antaranya sebagai sumber mata pencaharaian para nelayan dan juga sebagai objek wisata. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa terumbu karang dan beberapa biota laut lainnya, seperti plankton, rumput laut, padang lamun, dan sebagainya, mampu mengurangi emisi gas rumah kaca, dikarenakan biota laut tersebut memiliki kemampuan untuk menyerap karbon yang sebagian besar digunakan untuk proses fotosintesis. Namun di tengah-tengah ancaman pemanasan global yang kian meningkat, banyak pakar yang menyatakan bahwa proses ini akan memberikan pengaruh yang sangat buruk bagi kelangsungan hidup ekosistem terumbu karang. Dan secara tidak langsung hal ini akan memengaruhi kehidupan organisme laut lainnya yang menggantungkan hidupnya pada terumbu karang. Pemanasan global bisa mendorong proses bleaching (pemutihan) pada terumbu karang. Selain itu, efek dari pemanasan global pun dapat merusak dan menghancurkan fisik dari terumbu karang itu sendiri. Walau demikian, belum terlambat bagi kita dan seluruh negara yang ada di dunia ini untuk menyelamatkan ekosistem terumbu karang dan biota laut lainnya, bahkan bumi ini sekali pun, dari dampak negatif yang dapat terjadi ekibat pemanasan global. Masih banyak upaya yang bisa kita lakukan bersama untuk mengurangi emisi karbon penyebab pemanasan global.

KATA PENGANTAR Segala puji serta syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengaruh Negatif Pemanasan Global Bagi Kelangsungan Hidup Ekosistem Terumbu Karang”. Terumbu karang yang seyogyanya dapat mengurangi efek pemanasan global ternyata tak akan berarti lagi apabila pemanasan global telah mencapai tingkat yang tinggi. Bahkan sebaliknya, pemanasan global tersebut bisa merusak dan mematikan terumbu karang. Melalui makalah ini penulis berharap untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai dampak buruk yang dapat diakibatkan oleh pemanasan global bagi kehidupan terumbu karang beserta solusi untuk pencegahannya. Penulis sadar bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam penulisan makalah ini terdapat berbagai kekurangan dan kekhilafan. Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.

Jatinangor, Desember 2007

Penulis

DAFTAR ISI Halaman Judul....................................................................................................... i Abstrak................................................................................................................... ii Kata Pengantar...................................................................................................... iii Daftar Isi................................................................................................................. iv Daftar Gambar....................................................................................................... v Daftar Grafik.......................................................................................................... vi Bab I Pendahuluan............................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 1 1.3 Tujuan Penulisan................................................................................. 1 1.4 Manfaat Penulisan............................................................................... 1 1.5 Metode Penulisan................................................................................ 2 Bab II Tinjauan Pustaka..................................................................................... 3 2.1 Klasifikasi Karang............................................................................... 3 2.2 Biologi Karang.................................................................................... 3 2.3 Reproduksi Karang.............................................................................. 4 2.4 Fungsi Terumbu Karang...................................................................... 6 2.5 Faktor-Faktor Pembatas Hidup Terumbu Karang............................... 6 2.6 Penyebab Pemanasan Global............................................................... 8 Bab III Hasil dan Pembahasan............................................................................ 13 3.1 Dampak Pemanasan Global................................................................. 13 3.2 Pengaruh Negatif Pemanasan Global Bagi Kehidupan Terumbu Karang.................................................................................................. ............................................................................................................... 16 3.3 Upaya Mengurangi Kerusakan Terumbu Karang Akibat Pemanasan Global................................................................................................... ............................................................................................................... 20

Bab IV Penutup..................................................................................................... ................................................................................................................... 24 3.1 Kesimpulan.......................................................................................... ................................................................................................................... 24 3.2 Saran.................................................................................................... ................................................................................................................... 24 Daftar Pustaka....................................................................................................... ................................................................................................................... 25

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Terumbu karang sebagai tempat hidup organisme laut lainnya........... 6

Gambar 2. Terumbu karang yang mengalami pemutihan...................................... 20

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Variasi karbon dioksida selama 500 tahun terakhir................................ 9

Grafik 2. Variasi matahari selama 30 tahun........................................................... 12

Grafik 3. Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi..................................................................... 15

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut perkiraan yang didasarkan oleh berbagai hasil penelitian dari para ilmuwan dan peneliti di seluruh belahan dunia, saat ini bumi kita berada dalam bayang-bayang sebuah bencana alam yang sangat dahsyat, yaitu suatu proses yang dinamakan pemanasan global. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apa saja dampak yang dapat ditimbulkan oleh pemanasan global (secara

umum)? 2. Apa pengaruh negatif pemanasan global bagi kehidupan ekosistem terumbu karang? 3. Bagaimana cara mengurangi dampak negatif pemanasan global bagi kehidupan ekosistem terumbu karang? 1.1 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh (negatif) yang ditimbulkan oleh pemanasan global bagi kelangsungan hidup ekosistem terumbu karang sekaligus solusi pencegahannya. 1.2 Manfaat Penulisan Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa saja pengaruh negatif dari pemanasan global terhadap kehidupan ekosistem terumbu karang serta cara pencegahan yang harus segera dilakukan. 1.3 Metode Penulisan
1

Metode penulisan makalah ini menggunakan metode penelitian yang dilakukan melalui penelusuran dan pengumpulan telaah pustaka yang sesuai dengan masalah yang dikaji. Bahan kajian tersebut adalah data-data sekunder berupa hasil penelitian dan informasi yang diperoleh dari berbagai media cetak maupun media elektronik (internet).

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Karang Karang keras merupakan istilah untuk kelompok karang yang memiliki kerangka luar (eksoskeleton). Karang keras berdasarkan skeleton(kerangka karang) menurut Veron (1986) diklasifikasikan sebagai berikut: Filum: Cnidaria Kelas : Anthozoa Subkelas: Hexacorallia Ordo: Sclerectinia Coenothecalia Kelas : Hydrozoa Ordo : Milleoporina Styllasterina Karang lunak atau Alcyonaria merupakan jenis coelenterata yang tidak kalah penting peranannya dalam pembentukan terumbu karang. Jika ditinjau dari jumlah jenis dan ukuran koloninya menempati urutan kedua setelah karang keras. 2.2 Biologi Karang Menurut Suharsono (1996) karang termasuk binatang yang mempunyai sengat atau lebih dikenal sebagai cnida (cnida=jelata) yang dapat menghasilkan kerangka kapur didalam jaringan tubuhnya. Karang hidup berkoloni atau sendiri, tetapi hampir semua karang hermatipik hidup berkoloni dengan berbagai individu hewan karang atau polip (Nybakken, 1992). Terbentuknya terumbu karang merupakan proses yang lama dan kompleks. Proses diawali dengan terbentuknya endapan masif kalsium karbonat yang terutama dihasilkan oleh oleh hewan karang dari filum Cnidaria, kelas anthozoa, ordo Sclerectinia dengan sedikit tambahan alga berkapur dan organisme lain yang juga
1

menghasilkan kalsium karbonat yang disebut terumbu (Nybakken, 1992). Binatang karang memperoleh nutrien utama dari alga yang bersimbiosis di dalamnya (endosimbiotic algae) yaitu algae dari genus Gymnodium yang dikenal dengan sebutan zooxanthellae. Algae ini hidup di dalam polip karang dan membutuhkan cahaya matahari untuk berfotosintesis (Suharsono,1996). Zooxanthellae memegang peranan penting dalam menjaga dan mendaur ulang nutrien yang dihasilkan sebagai sisa metabolisme karang. Selama proses fotosintesis oleh zooxanthellae, karang hermatipik mensekresikan dan mendepositkan karang dua sampai tiga kali lebih cepat pada daerah terang dari pada daerah gelap (Veron,1986). Karang lunak dalam ekosistem terumbu karang menempai urutan kedua setelah karang keras. Peranannya selain sebagai salah satu hewan penyusun ekosistem terumbu karang, juga sebagai pemasok senyawa karbonat yang berguna bagi pembentukan terumbu. (Konishi in Manuputty,1990). Tubuh Alcyonaria lunak, tetapi disokong oleh sejumlah besar duri-duri berukuran kecil, kokoh, dan tersusun sedemikian rupa hingga tubuh Alcyonaria lentur dan tidak mudah putus. Duri-duri ini mengandung kalsium karbonat dan disebut spikula. Sepintas hewan ini tampak seperti tumbuhan karena bentuk koloninya yang bercabang-cabangseperti pohon dan melekat pada substrat yang lunak. Karang lunak dapat melumpuhkan hewan-hewan di sekitarnya yang terutama karang keras dalam berkompetisi mempertahankan ruang lingkupnya. Mekanisme mematikan dilakukan dengan cara mengeluarkan zat beracun yang terdiri dari senyawa terpen. Belakangan senyawa ini dapat digunakan dalam bidang farmasi sebagai antibiotik, anti jamur, dan senyawa anti tumor, sedang bagi karang lunak itu sendiri sebagi penangkal serangan predator, dan berperan dalam proses reproduksi (Coll dan Sammarco in Mannuputty,1986). 2.3 Reproduksi Karang Reproduksi hewan karang dapat terjadi secara seksual maupun nonseksual. Proses reproduksi seksual dimulai dengan pembentukan klon gamet sampai terbentuknya gamet masak, proses ini disebut sebagai gametogenesis. Gamet yang
2

masak kemudian akan dilepaskan dalam bentuk planula. Planula yang telah lepas akan berenang bebas dalam perairan. Dan bila mendapati tempat yang cocok, ia akan menetap di dasar/substrat dan berkembang menjadi koloni baru. Karang dalam melakukan pembuahan ada yang di luar tubuh induknya (pembuahan eksternal) dan ada yang di dalam tubuh induknya (pembuahan internal) (Nybakken, 1992). Reproduksi aseksual karang dilakukan dengan cara membentuk tunas. Tunas ini biasanya akan tumbuh di permukaan bagian bawah atau pada bagian pinggir koloni karang. Tunas baru akan tetap melekat hingga ukuran tertentu sampai dapat melepaskan diri dan menjadi individu baru. Pembentukan tunas ini dapat terjadi dapat dilakukan dengan cara pertunasan intratentakular, yaitu pembentukan individu baru dalam didalam individu lama, sedangkan pertunasan ekstratentakuler merupakan pembentukan individu baru di luar individu lama (Suharsono, 1987). Reproduksi karang lunak dapat secara seksual maupun aseksual. Reproduksi seksual karang lunak dilakukan dengan cara kawin. Seabagian besar karang lunak bersifat dioceous (kelamin jantan dan betina letaknya terpisah). Sel-sel kelamin berasal dari lapisan endodermis, terdapat di rongga gastrovaskulaer berupa gelembung-gelembung kecil bertangkai dan melekat pada septa. Alat kelamin terdapat pada septa sulkal yang berjumlah 6 buah, sedang dua septa lainnya steril. Telur yang telah matang melekat pada septa dan dilapisi gastrodermis yang tipis. Fertilisasi dapat terjadi secara internal ataupun eksternal. (Manuputty,1986) Reproduksi aseksual pada karang lunak dapat dilakukan dengan dengan membentuk tunas. Polip karang lunak berhubungan satu sama lainnya melalui saluran yang disebut jarring-jaring solenia yang terdapat di bagian basal tubuhnya. Polip baru muncul dalam jaringan solenia ini sebagi polip sekunder yang bentuk dan ukurannya berbeda dengan polip primer.

2.4 Fungsi Terumbu Karang

2

Ekosistem terumbu karang mempunyai nilai penting bukan hanya dari sisi biologi, kimia, dan fungsi fisik saja, namun juga dari sisi sosial dan ekonomi.

Fungsi biologis terumbu karang adalah sebagai tempat bersarang, mencari makan, memijah, dan tempat pembesaran bagi berbagai biota laut. Fungsi kimia terumbu adalah sebagai pendaur ulang unsur hara yang paling efektif dan efisien. Terumbu karang juga potensial sebagai sumber nutfah bahan obat-obatan.

Fungsi fisik terumbu adalah sebagai pelindung daerah pantai, utamanya dari proses abrasi akibat adanya hantaman gelombang. Berdasarkan fungsi sosialnya terumbu merupakan sumber mata pencaharian bagi nelayan dan juga memberikan kesenangan sebagai objek ekotourism.

Gambar 1. Terumbu karang sebagai tempat hidup organisme laut lainnya

2.5 Faktor-Faktor Pembatas Hidup Terumbu Karang Pertumbuhan terumbu karang dibatasi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah suhu, salinitas, cahaya, arus, dan gelombang.

➢ Suhu

3

Sacara geografis, suhu membatasi sebaran karang. Suhu optimum untuk terumbu adalah 25°C – 30°C (Soekarno et al, 1983). Suhu memengaruhi tingkah laku makan karang. Kebanyakan karang akan kehilangan kemampuan untuk menangkap makanan pada suhu diatas 33,5°C dan dibawah 16°C (Mayor, 1918 in Supriyono,2000). Pengaruh suhu terhadap karang tidak saja yang ekstrim maksimum dan minimum saja, namun perubahan mendadak dari suhu alami sekitar 4°C – 6°C di bawah atau di atas ambient dapat mengurangi pertumbuhan karang bahkan mematikannya.

➢ Salinitas
Salinitas merupakan faktor pembatas kehidupan karang. Daya setiap jenis karang berbeda-beda tergantung pada kondisi laut setempat. Karang hermatipik adalah organisme laut sejati yang sangat sensitif terhadap perubahan salinitas yang jelas menyimpang terhadap salinitas air laut, yaitu 320/oo - 350/oo. Binatang karang hidup subur pada salinitas air laut 340/oo 360/oo. Karang yang hidup di laut dalam jarang atau hampir tidak pernah mengalami perubahan salinitas yang cukup besar sedang yang hidup di tempat-tempat dangkal sering dipengaruhi oleh masukan air tawar dari pantai maupun hujan sehingga terjadi penurunan salinitas perairan.

➢ Cahaya
Cahaya diperlukan oleh alga simbiotik zooxanthellae dalam proses fotosintesis guna memenuhi kebutuhan oksigen biota terumbu karang (Nybakken, 1992). Tanpa cahaya yang cukup, laju fotosintesis akan berkurang dan kemampuan karang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu akan berkurang pula. Kedalaman penetrasi cahaya matahari memengaruhi pertumbuhan karang hermatipik, sehingga dapat memengaruhi penyebarannya (Sukarno,1977 in Jimmi, 1991). Jumlah spesies berkurang secara nyata pada kedalaman penetrasi cahaya sebesar 15-20% dari penetrasi cahaya permukaan yang secara cepat menurun mulai dari kedalaman 10m (Stoddart in Endean, 1976 in D’elia et al.,1991).

➢ Sedimentasi
3

Pengaruh sedimentasi terhadap hewan karang dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Sedimen akan mematikan langsung karang bila ukuran sedimen cukup besar atau banyak sehingga menutup polip karang. Pengaruh tidak langsung adalah menurunnya penetrasi cahaya matahri yang penting untuk proses fotosintesis zooxanthellae. Selain itu banyaknya energi yang dikeluarkan oleh binatang karang tersebut untuk menghalau sedimen mengakibatkan turunnya laju pertumbuhan karang.

Arus dan Gelombang. Pertumbuhan karang di daerah berarus lebih baik bila dibandingkan dengan perairan yang tenang (Nontji, 1987). Umumnya terumbu karang lebih berkembang pada daerah yang bergelombang besar. Selain memberikan pasokan oksigen bagi karang, gelombang juga memberi plankton yang baru untuk koloni karang. Selain itu gelombang sangat membantu dalam menghalangi pengendapan pada koloni karang. Sebaliknya, gelombang yang sangat kuat, seperti halnya gelombang tsunami, dapat menghancurkan karang secara fisik.

2.6 Penyebab Pemanasan Global 1. Efek Rumah Kaca Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
3

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin (mencapai -180 C) sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.

Grafik 1. Variasi karbon dioksida selama 500 tahun terakhir

2. Efek Umpan Balik Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik

3

ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan. Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif. Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona

2

mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah. 3. Variasi Matahari Terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa variasi dari matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an). Fenomena variasi matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa praindustri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950. Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 2535% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh matahari, mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca. Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus matahari hanya
3

memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 32 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemanasan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.

Grafik 2. Variasi matahari selama 30 tahun

2

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Dampak Pemanasan Global Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia. 1. Cuaca Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara ratarata, sekitar 1% untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh

1

dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim. 2. Tinggi Muka Laut Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21. Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai. Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

2

Grafik 3. Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.

3. Pertanian Orang mungkin beranggapan bahwa bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gununggunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat. 4. Hewan dan Tumbuhan Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

2

5. Kesehatan Manusia Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah. 3.2 Pengaruh Negatif Pemanasan Global Bagi Kehidupan Terumbu Karang Seperti telah kita ketahui bersama dari penjelasan pada bab sebelumnya bahwa kelangsungan hidup ekosistem terumbu karang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut: • • • • • Suhu Salinitas Cahaya Sedimentasi Arus dan Gelombang Sedangkan apabila pemanasan global ini terus berlangsung, maka akan menimbulkan berbagai dampak, salah satunya adalah perubahan tinggi permukaan lautan sebagaimana telah disebutkan di atas. Hal ini berarti akan mengubah formasi lautan beserta seluruh biota laut yang hidup di dalamnya. Dengan demikian, secara tidak langsung pemanasan global akan memengaruhi proses kehidupan terumbu karang. Dan dapat dipastikan bahwa hal tersebut menimbulkan akibat yang buruk bagi kelangsungan hidup terumbu karang. Pemanasan global yang mengubah tinggi permukaan laut (menjadi semakin naik/tinggi) akan memengaruhi segala faktor yang merupakan pembatas kehidupan
3

ekosistem terumbu karang. Adapaun penjelasan mengenai pengaruh-pengaruh tersebut adalah sebagai berikut. 1. Suhu Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Sementara itu, suhu yang optimum bagi terumbu karang untuk dapat melangsungkan hidupnya berkisar antara 25°C-30°C. Dengan naiknya suhu air maka akan mengurangi bahkan menghilangkan kemampuan sebagian besar terumbu karang untuk memeroleh makanan. Di sisi lain, pemanasan global diperkirakan akan mengakibatkan mencairnya es yang berada di kutub, terutama di daerah Greenland. Bila hal ini terjadi, maka volume laut pun akan bertambah dan bisa mendinginkan air laut di daerah sekitarnya. Peristiwa ini pun akan memengaruhi kehidupan ekosistem terumbu karang di daerah tersebut. Ini disebabkan terumbu karang akan kehilangan kemampuan menangkap makanan bila suhu lautan berada pada angka kurang dari 16°C. Perkiraan di atas didasarkan pada suatu penelitian yang menyebutkan bahwa perubahan suhu alami, baik yang ekstrim (maksimum dan minimum) maupun secara mendadak, di bawah atau di atas suhu optimumnya dapat mengurangi pertumbuhan karang bahkan mematikannya. 2. Salinitas Dengan adanya pemanasan global, lapisan permukaan lautan akan menjadi hangat, sealin itu es yang berada di kutub, terutama bagian utara (Greenland) akan mencair, sehingga volume air di lautan akan meningkat (bertambah). Dengan bertambahnya volume air laut, maka tentunya akan terjadi perubahan salinitas (kadar garam) di laut tersebut. Perubahan yang terjadi yaitu menurunnya salinitas lautan karena volume airnya yang besar sedangkan volume senyawa penyususn garam yang terlarut dalam air laut tersebut tidak mengalami penambahan, khususnya di daerah perairan dangkal yang merupakan habitat bagi sebagian besar
2

ekosistem terumbu karang. Adanya penurunan salinitas tersebut akan mengakibatkan terumbu karang (yang hidup subur pada salinitas 340/oo-360/oo) mengalami kesulitan dalam proses pertumbuhannya sehingga dalam jangka waktu tertentu terumbu karang tersebut akan mati. 3. Cahaya Bertambahnya volume dan meningkatnya tinggi permukaan air laut akan memengaruhi kedalaman penetrasi cahaya matahari menjadi semakin berkurang. Cahaya diperlukan oelh alga simbiotik zooxanthallae dalam proses fotosintesis guna memenuhi kebutuhan oksigen terumbu karang. Dengan berkurangnya kedalaman penetrasi cahaya, maka laju fotosintesis akan menurun dan kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu akan menurun pula. Sehingga ekosistem terumbu karang (pada kedalaman 10 meter atau lebih) akan mengalami penurunan produktifitas dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian. 4. Arus dan Gelombang Pada dasarnya pertumbuhan terumbu karang yang berada di daerah berarus akan lebih baik apabila dibandingkan dengan pertumbuhan terumbu karang yang hidup di perairan tenang. Ini disebabkan selain gelombang air laut dapat memberikan pasokan oksigen yang banyak, gelombang juga membawa plankton yang baru untuk koloni karang, serta dapat menghalangi pengendapan pada koloni karang. Namun apabila pemanasan global terus berlanjut, keadaan yang menguntungkan tersebut akan berbalik 180 derajat menjadi kerugian yang sangat besar bagi ekosistem terumbu karang. Sebab dengan bertambahnya volume lautan, akan mengakibatkan air laut meluap sehingga terjadilah gelombang pasang yang sangat dahsyat. Selain itu potensi untuk terjadinya badai akan semakin meningkat. Badai berkekuatan tinggi ditambah dengan faktor lainnya yang dapat timbul akibat

2

pemanasan global (semisal pergeseran lempeng bumi) akan mengakibatkan terjadinya tsunami dengan kekuatan penghancur yang tak dapat dibayangkan. Munculnya gelombang pasang maupun tsunami akan merusak kondisi fisik terumbu karang, bahkan bukan tidak mungkin terumbu karang tersebut akan hancur dan ikut terseret gelombang. Dengan adanya peristiwa tersebut, sudah tentu ekosistem terumbu karang akan semakin berkurang bahkan musnah. 5. Sedimentasi Gelombang pasang ataupun tsunami yang diakibatkan oleh pemanasan global tentu akan mengakibatkan terangkutnya sedimen dari lautan ke daratan. Peristiwa ini nampaknya membawa sedikit keuntungan bagi terumbu karang yang masih mampu bertahan hidup setelah diterpa oleh gelombang dahsyat tersebut. Namun hal terssebut tak akan berlangsung lama sebab gelombang gelombang pasang tersebut dalam beberapa waktu kemudian akan kembali ditarik ke laut. Dan kekuatan gelombang yang dahsyat tersebut akan membawa berbagai macam materi dari daratan bersamanya. Sehingga pada saat kembali ke laut, sebagian materi-materi dari daratan tersebut ada yang terhenti di daerah pesisir dan lautan dangkal, yang kemudian meningkatkan jumlah sedimen di daerah tersebut. Jumlah sedimen yang sangat banyak tersebut akan mengakibatkan tertutupnya polip karang yang masih hidup sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis ataupun menghasilkan kalsium karbonat sebagai pembentuk terumbu. Dalam jangka waktu tertentu, ekosistem terumbu karang di daerah tersebut pun akan segera musnah. Dari kelima penjelasan mengenai pengaruh pemanasan global terhadap ekosistem terumbu karang di atas, kita dapat melihat adanya hubungan antara setiap kemungkinan yang bisa terjadi. Dengan demikian, apabila terumbu karang tersebut dapat terhindar dari bahaya yang pertama, masih ada bahaya-bahaya atau kemungkinan-kemungkinan buruk lain yang mengancam kelangsungan hidupnya. Dan secara umum, pemanasan global dapat mengakibatkan bleaching (pemutihan) pada terumbu karang, yang berarti karang tersebut kehilangan
2

kemampuan untuk menangkap makanan dan melakukan fotosintesis. Dengan kata lain terumbu karang tersebut telah mati.

Terumbu karang yang mengalami pemutihan

3.1 Upaya Mengurangi Kerusakan Terumbu Karang Akibat Pemanasan Global Saat ini upaya yang paling tepat untuk mengurangi dampak negatif dari pemanasan global terhadap kelangsungan hidup terumbu karang ialah dengan melakukan tindakan-tendakan preventif guna memperkecil intensitas terjadinya pemanasan global itu sendiri. Banyak upaya yang tengah dilakukan untuk memperkecil dampak terjadinya pemanasan global bagi segala aspek kehidupan di bumi. Bahkan PBB telah membentuk suatu tim khusus yaitu UNFCCC yang bertugas untuk merundingkan dan melaksanakan upaya pencegahan pemanasan global berkelanjutan bersama-sama negara-negara yang ada di dunia ini. Ada berbagai macam cara yang saat ini tengah diupayakan oleh berbagai negara di dunia untuk mengurangi emisi karbon yang merupakan penyebab terjadinya pemanasan global. Upaya-upaya tersebut di antaranya sebagai berikut. 1. Penghijauan Hutan Hutan merupakan habitat bagi berbagai jenis tumbuhan. Tumbuhan merupakan salah satu organisme yang mampu menyerap karbondioksida guna

2

memenuhi kebutuhannya untuk melakukan fotosintesis. Dengan kemampuannya itu, tumbuhan dapat mengurangi emisi karbon yang bebas di udara. Namun, saat ini banyak hutan di berbagai belahan dunia yang mengalami kerusakan bahkan menjadi gundul, baik akibat ulah manusia maupun bencana alam. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan penghijauan sesegera mungkin terhadap ekosistem hutan yang telah mengalami kerusakan, karena betapa besarnya manfaat hutan untuk mengurangi dampak pemanasan global. 2. Perawatan dan Pemanfaatan Biota Laut Beberapa biota laut seperti ganggang (algae), terumbu karang, padang lamun, spora, rumput laut, hutan bakau (mangrove), dan plankton dapat membantu menurunkan gas rumah kaca. Berdasarkan hasil penelitian, ganggang memiliki kelebihan menyerap karbon, begitu pula dengan terumbu karang maupun plankton. Ini berarri negara-negara yang memiliki lautan luas, misalnya Indonesia, berpotensi besar dalam upaya mengurangi emisi karbon. Namun kondisi ekosistem hutan bakau maupun terumbu karang di Indonesia saat ini dalam kondisi yang kurang baik. Oleh karena itu, Indonesia dan negara-negara lainnya harus mengupayakan perawatan terhadap ekosistem-ekosistem tersebut sedini mungkin. 3. Mekanisme Penjualan Karbon Secara sederhana, pengertian dari mekanisme penjualan karbon ialah kegiatan menjual kemampuan pohon untuk menyerap sejumlah karbon yang dikandung di atmosfer agar disimpan dalam biomassa pohon, dalam waktu yang ditentukan (Media Indonesia, 8 Desember 2007). Ini merupakan upaya lanjutan dari penghijauan hutan. Bahkan dari aspek kelautan pun diusulkan agar biota laut ikut dimasukkan dalam mekanisme penjualan karbon ini. Namun mekanisme penjualan karbon ini sangatlah rumit. Aturan jual beli karbon harus dirundingkan dalam konferensi internasional dengan melibatkan banyak pihak.
2

4. Pengolahan Limbah Penumpukan sampah yang tidak diolah akan mengakibatkan gas metana yang ada di dalam sampah bisa berpotensi menyumbang gas rumah kaca. Metana merupakan salah satu zat kimia yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca. Selain metana, ada beberapa zat kimia lainnya yang bisa menambah emisi karbon, yakni karbondioksida, nitrogen oksida, hidrogen flour, nitrogen flour, dan SF6. Dari kajian penelitian, metana dapat diolah menjadi energi biomassa yang bisa dimanfaatkan untuk energi listrik. Dengan pengolahan gas metana menjadi energi biomassa, maka akan sangat membantu dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca. 5. Carbon Capture and Storage (CCS) Carbon Capture and Storage (CCS) adalah suatu metode pengurangan emisi karbon yang dilakukan dengan cara menyuntikkan karbondioksida (CO2) ke perut bumi (Media Indonesia, 10 Desember 2007). Teknologi CCS ini telah dipraktikkan oleh beberapa negara maju seperti Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. Namun teknologi CCS tergolong mahal dan tidak semua negara bisa melakukan transfer teknologi tersebut. Kelima cara yang tengah diupayakan oleh sejumlah negara di dunia tersebut hanyalah sebagian kecil dari berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca guna mengurangi dampak dari pemanasan global. Hingga saat ini UNFCCC bersama puluhan negara maju dan berkembang masih terus mencari solusi terbaik guna menurunkan emisi gas rumah kaca tersebut. Upaya untuk mengurangi emisi karbon tidak harus dilakukan dengan metodemetode yang rumit dan luas seperti di atas. Masyarakat pun bisa turut andil dalam hal ini, di antarany dengan menghemat pemakaian listrik maupun sarana dan prasarana lainnya yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca.

2

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dari berbagai uraian di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan, di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Pemanasan global dapat menimbulkan kerusakan dan kematian bagi ekosistem terumbu karang. 2. Kerusakan tersebut dapat terjadi dari berbagai aspek yang menjadi faktor pembatas hidup terumbu karang. 3. Dampak negatif pemanasan global bagi terumbu karang dapat dicegah dengan menurunkan intensitas pemanasan global itu sendiri. 4. Upaya mengurangi dampak pemanasan global dapat dilakukan dengan menurunkan emisi karbon melalui berbagai cara. 4.2 Saran Adapun saran yang dapat diberikan oleh penulis berkaitan dengan masalah ini adalah: 1. Setiap negara hendaknya memerhatikan segala aspek yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi dampak pemanasan global. 2. Biota laut yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hendaklah dirawat dan dipelihara sebaik-baiknya. 3. Pemerintah (setiap negara) harus memerhatikan upaya yang dilakukan untuk mengurangi emisi karbon agar tidak merugikan masyarakat. 4. Masyarakat sebaiknya ikut andil dalam upaya mengurangi dampak pemanasan global ini, salah satunya dengan melakukan penghematan energi.

3

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http://www.google.images.com. Anonim. http://id.wikipedia.org. IPCC. (2007) Climate change 2007: the physical science basis (summary for policy makers), IPCC. Jones, C. Climate Change: Facts and Impacts [online]. Available from: What effects are we seeing now and what is still to come? Manuputty, a.e.n. 1986. Marine Biologiy, Environment, Diversity and Ecology. Benjamin/Cumings Publishing Co. Miller, C. and Edwards, P. N. (ed.)(2001) Changing the Atmosphere: Expert Knowledge and Environmental Governance, MIT Press. Nontji,A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta. Nybakken,J,W. 1992. Biologi Laut satu Pendekatan Ekologis. (Terjemahan. Alih bahasa oleh H.M Eidman). PT. Gramedia. Jakarta. Ruddiman, W. F. (2003) The anthropogenic greenhouse era began thousands of years ago, Climate Change 61 (3): 261-293. Ruddiman, W. F. (2005) Plows, Plagues and Petroleum: How Humans Took Control of Climate, Princeton University Press. Ruddiman, W. F., Vavrus, S. J. and Kutzbach, J. E. (2005) A test of the overdueglaciation hypothesis, Quaternary Science Review, 24:11.

3

Schmidt, G. A., Shindel, D. T. and Harder, S. (2004) A note of the relationship between ice core methane concentrations and insolation GRL v31 L23206. Soekarno, Aziz, Darsono, Moosa, Hutomo, Martosewojo dan Romimohtarto. 1983. Terumbu karang di Indonesia: Sumberdaya, Permasalahan, dan Pengelolaannya. Proyek Studi Potensi Sumberdaya Alam Indonesia. Studi Potensi sumberdaya hayati Ikan. LON-LIPI. Jakarta. Suharsono, 1987, Jenis-jenis karang yang umum dijumpai di Perairan Indonesia. LIPI. Jakarta. Supriyono. 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Penerbit Djambatan. Jakarta. Tim Redaksi. “Jual Beli Karbon Harus Perhatikan Lingkungan”. Media Indonesia, 8 Desember 2007, hal. 6. Tim Redaksi. “Biota Laut Masuk Penjualan Karbon”. Media Indonesia, 9 Desember 2007, hal. 8. Tim Redaksi. “Menyuntikkan CO2 Terhadang Biaya”. Media Indonesia, 10 Desember 2007, hal. 7. Welbergen, J. A., Klose, S. M., Markus, N. & Eby, P. 2007 Climate change and the effects of temperature extremes on Australian flying-foxes. Proceedings of the Royal Society B, (in press) doi: 10/1098/rspb.2007/1385.

3

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->