P. 1
Alat

Alat

|Views: 302|Likes:

More info:

Published by: Muhamad Milzam Muharam on May 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2013

pdf

text

original

Disusun oleh

:
1.Adammilyara Aqil 2.M. Milzam Muharam 3.Aprilio 4.Ryan WD 5.Rizal Azmi DJ X-C KELOMPOK 1

Prasejarah
Prasejarah atau nirleka (nir: tidak ada, leka: tulisan) adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di mana catatan sejarah yang tertulis belum tersedia. Zaman prasejarah dapat dikatakan bermula pada saat terbentuknya alam semesta, namun umumnya digunakan untuk mengacu kepada masa di mana terdapat kehidupan di muka Bumi dimana manusia mulai hidup. Batas antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah adalah mulai adanya tulisan. Hal ini menimbulkan suatu pengertian bahwa prasejarah adalah zaman sebelum ditemukannya tulisan, sedangkan sejarah adalah zaman setelah adanya tulisan. Berakhirnya zaman prasejarah atau dimulainya zaman sejarah untuk setiap bangsa di dunia tidak sama tergantung dari peradaban bangsa tersebut. Salah satu contoh yaitu bangsa Mesir sekitar tahun 4000 SM masyarakatnya sudah mengenal tulisan, sehingga pada saat itu, bangsa Mesir sudah memasuki zaman sejarah. Zaman prasejarah di Indonesia diperkirakan berakhir pada masa berdirinya Kerajaan Kutai, sekitar abad ke-5; dibuktikan dengan adanya prasasti yang berbentuk yupa yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur baru memasuki era sejarah. Karena tidak terdapat peninggalan catatan tertulis dari zaman prasejarah, keterangan mengenai zaman ini diperoleh melalui bidang-bidang seperti paleontologi, astronomi, biologi, geologi, antropologi, arkeologi. Dalam artian bahwa bukti-bukti pra-sejarah hanya didapat dari barang-barang dan tulang-tulang di daerah penggalian situs sejarah.

] Periodisasi
Geologi
Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut merupakan periodisasi atau pembabakan prasejarah yang terdiri dari: Arkaezoikum Zaman ini berlangsung kira-kira 2500 juta tahun, pada saat itu kulit bumi masih panas, sehingga tidak ada kehidupan. Dapat diartikan sebagai masa tanpa kehidupan. Bumi masih dalam keadaan membara dan jarak bumi dan bulan masih sangat dekat, berbagai benda ruang angkasa seperti meteor atau meteirit ( berukuran kecil) dengan mudah jatuh ke bumi yang belum terlindung udara. Meskipun demikian semua benda tersebut diatas langsung terbakar, pada saat bumi yang masih dalam keadaan membara dengan suhu yang amat tinggi. Kejadian bumi dan pembentukan yang terjadi sekitar satu milyar tahun yang lalu dan beberapa ratus juta tahun kemudian bumi kerak bumi suhu semakin menyusut bagian bumi dalam keadaan cair diangkasa bumi badai magnetic menyelimuti

bumi petir dan Guntur meteor dan meteorit membentur bumi suhu bumi makin menyusut bumi membeku penyusutan suhu gas mengembun uap air hujan lebat yang abadi membentuk lautan pembentukan air, udara makin sempurna terlindung dari benturan berbagai benda luar angkasa (meteorit). Ada dua macam meteorit, yaitu meteorit logam (mengandung besi nikel dan meteorit baju), beberapa contoh batuan kerak bumi dapat disaksikan di museum geologi. Paleozoikum Paleozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman primer atau zaman hidup tua berlangsung selama 340 juta tahun. Makhluk hidup yang muncul pada zaman ini seperti mikro organisme, ikan, ampibi, reptil dan binatang yang tidak bertulang punggung. Mesozoikum Mesozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung selama kira-kira 140 juta tahun, antara 251 hingga 65 juta tahun yang lalu. Pada zaman pertengahan ini, reptil besar berkembang dan menyebar ke seluruh dunia sehingga pada zaman ini sering pula disebut sebagai zaman reptil. Neozoikum Neozoikum atau zaman hidup pertengahan dibagi menjadi menjadi dua zaman, yaitu zaman Tersier dan zaman Kuartier. Zaman Tersier berlangsung sekitar 60 juta tahun. Zaman ini ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui. Sementara itu, Zaman Kuartier ditandai dengan munculnya manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Zaman ini kemudian dibagi lagi menjadi dua zaman, yaitu zaman Pleitosen dan Holosin. Zaman Pleitosen (Dilluvium) berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang ditandai dengan adanya manusia purba. Zaman pleistosen ditandai dengan meluasnya lapisan es di kedua kutub Bumi (zaman glacial) dan diseling dengan zaman ketika es kembali mencair (zaman interglacial). Keadaan ini silih berganti selama zaman pleistosin sampai empat kali. Di daerah tropika zaman glacial ini berupa zaman hujan (zaman pluvial) yang diseling dengan zaman kering (interpluvial). Pada zaman glacial permukaan air laut telah menurun dengan drastis sehingga hanyak dasar laut yang kering menjadi daratan. Di Indonesia bagian barat dasar laut yang mengering itu disebut Dataran Sunda, sedangkan di Indonesia bagian timur disebut Dataran Sahul. Dataran Sunda telah menyebabkan kepulauan Indonesia bagian barat menjadi satu dengan Benua Asia, sedangkan Dataran Sahul telah pula menghubungkan kepulauan Indonesia bagian timur dengan Benua Australia. Itulah sebabnya fauna dan flora Indonesia barat mirip dengan fauna dan flora Asia dan sebaliknya fauna dan flora Indonesia timur mirip dengan Australia. Manusia yang hidup zaman pleistosin adalah spesies homo erectus, yang menjadi pendukung kebudayaan batu tua (Palaeolithicum).

Zaman pleistosin berakhir 10.000 tahun Sebelum Masehi kemudian diikuti oleh datangnya zaman Alluvium atau zaman Holosin yang masih berlangsung sampai sekarang. Dari zaman ini muncullah nenek moyang manusia sekarang, yaitu spesies homo sapiens atau makhluk cerdas.

Arkeologi
[[==== Zaman Batu ==== Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini dapat dibagi lagi atas: Zaman batu tua (Paleolitikum) Zaman batu tua (palaeolitikum), Disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana. Pendukung kebudayaan ini adalah Homo Erectus Zaman batu tengah (mesolitikum) Pada Zaman batu tengah (mesolitikum), alat-alat batu zaman ini sebagian sudah dihaluskan terutama bagian yang dipergunakan. Tembikar juga sudah dikenal. Periode ini juga disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat lanjut. Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens (manusia sekarang), yaitu ras Austromelanosoide (mayoritas) dan Mongoloide (minoritas). Zaman batu baru (Neolitikum) Alat-alat batu buatan manusia Zaman batu baru (Neolithicum) sudah diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. Di samping tembikar tenun dan batik juga sudah dikenal. Periode ini disebut masa bercocok tanam. Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens dengan ras Mongoloide (mayoritas) dan ras Austromelanosoide (minoritas)]]Judul pranala. Zaman Logam Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkannya. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut acire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam ini dibagi atas: Zaman tembaga Orang menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. Alat kebudayaan ini hanya dikenal di beberapa bagian dunia saja. Di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) tidak dikenal istilah zaman tembaga. Zaman perunggu Pada zaman ini orang sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.

Zaman besi Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C. Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan pada zaman sejarah. Antara zaman neolithicum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalithicum, yaitu kebudayaan yang menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalithicum justru pada zaman logam. Tahapan Perkembangan Masyarakat Prasejarah Dalam perkembangannya, masyarakat prasejarah mengalami beberapa tahapan kehidupan, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, masa bercocok tanam, dan masa bercocok tanam tingkat lanjut. Masa Berburu dan Mengumpulkan Bahan Makanan Sebagaimana manusia purba hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan bahan makanan. Saat itu kondisi alam masih sangat labil dan bumi masih dalam proses pendinginan. Perubahan alam yang sangat ekstrem, gunung meletus dimna-mana, dan aliran sungai selalu berpindah tempat menjadikan perkembangan kebudayaan pada saat itu masih sangat lambat. Manusia pendukung kebudayaan ini adalah Pithecabthropus soloensis, dan homo wajakensis. Kehidapan manusia masih sangat tergantung pada alam sekitarnya. Manusia dalam mempertahankan hidupnya antara lain : a. b. c. d. Hidup secara berkelompok Bertempat tinggal disekitar sumber air Menciptakan berbagai peralatan dari tulang dan batu Menemukan api yang digunakan untuk memasak

Masa Berburu dan mengumpulkan bahan makanan tingkat lanjut Oleh karena kehidupannya yang sudah mulai menetap, maka mereka mempunyai banyak waktu luang yang dimanfaatkan untuk berbagai macam kerajinan dan mengadakan upacara persembahan kepada Roh leluhurnya. Masa bercocok tanam

Masa ini merupakan perkembangan yang sangat penting bagi kemajuan peradaban manusia. Beberapa penemuan baru dalam rangka penguasaan sumber daya alam bertambah cepat. Masyarakat sudah mulai memelihara berbagai macam hewan ternak dan mulai becocok tanam. Pada masa ini juga mengenal adanya pengairan atau irigasi yang digunakan untuk mengairi makanan. Dari Food Gathering ke Food Producting Kehidupan berburu dari masyarakat Nomaden Salah satu ciri masdyarakat prasejarah zaman paleolitikum dan Mesolitikum adalah nomaden(hidup berpindah-pindah). Tujuannya adalah untuk berburu dan mencari makanan langsung dari alam (Food Gathering). Masyarakat zaman ini belum mengenal tradisi memasak. Konsep perkawinan dan keluarga Pada zaman prasejarah belum ada konsep perkawinan dan konsep keluarga seperti ayah, ibu, dan anak. Pimpinan kelompok yang memiliki mengawini banyak perempuan anggota kelompoknya. Ketika anak lahir, wanita yang melahirkan berperan sebagai penjaga bayi berdasarkan naluri kewanitannya. Ketika jumlah anggota kelompok semakin banyak, nkepala kelomok harus melindungi anggota kelompoknya Organisasi social Pada masyarakat yang menetap dan bercocok tanam diperlukan sebuah organisasi social yang lebih jelasdan teratur. Secara umum, ketua kelompok tidak lebih dari sekedar primus interpares atau orang pertama diantara kelompoknya dan tidak memiliki kedudukan istimewa, ktua kelompok juga bekerja sama dengan anggota kelompoknya, yang disebut gotong royong. Anak lelaki berperan membantu di ladang dan berburu serta memelihara binatang. Adapun wanita dewasa bekerja di rumah, dan bekerja di ladang. Aspek Religi dan kepercayaan Manusia purba meyakini adanya kekuatan yang berada di luar jangkauan manusia. Mereka percaya adanya roh (animisme) dan mempercayi bahwa roh tersebut memiliki kekuatan gaib dan bias berwujud dalam bentuk benda-benda (dinamisme). Konsep animisme dan dinamisme, pada dasarnya sama, yaitu kepercayaan kepada roh. Bangunan seperti Menhir, dolmen, arca batu, sarkofagos, dan punden berundak adalah bentiuk fisik kepercayaan animisme dan dinamisme zaman prasejarah.

Dari proses Migrasi hingga Bangsa Bahari Bangsa bahari Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan campuran Bangsa pendatang dari Yunan (Tonkin,Vietnam) dan bangsa yang sudah menetap dari bangsa Indonesia selama ribuan tahun. Bangsa Agraris Selain sbagai bangsa bahari, nenk moyang bangsa Indonesia juga merupakan bangsa Agraris. Mereka mengolah tanah yang mereka alami menjadi lahan pertanian, peternakan, dan perkebunan. Bangsa yang hidup bergotong royong Nenek moyang bangsa Indonesia bangsa yang hidup bergotong royong. Corak hidup ini masih dipertahankan sampai sekarang dalam berbagai bentuk dan tingkatkan yang berbeda. Hidup bergotong royong pada manusia prasejarah terutama dilakukan ketika menghadapi tantangan alam, membuka hutan untuk ladang dan sawah, serta membuat rumah. Alat-alat yang dihasilkan Peralatan pada masa bercocok tanam masuk pada zaman mesolithikum (zaman batu pertengahan) dan neolithikum ( zaman batu muda ). Namun demikian alat-alat yang dihasilkan pada masa berburu dan mengumpulkan makanan atau zaman palaeolithkum tidak ditinggalkan . Berikut ini alat-alat atau benda-benda yang dihasilkan apada masa bercocok tanam adalah : 1. Kjokkenmoddinger Istilah ini berasala dari bahasa Denmark (Kjokken= dapur,Modding= sampah). 2.Abris Sous Rosche Yaitu tempat berupa gua yang menyerupai ceru-ceruk didalam batu karang 3.Gerabah Gerabah merupakan suatu alat yang terbuat dari tanah liat dan dibakar. 4. kapak persegi

Pemberian nama kapak persegi didasrkan pada bentuknya. Orang pertama yang memberikan nama kapak persegi yaitu von Heine Geldern 5.Kapak Lojong Bentuk alat ini yaitu garis penampang memperlihatkan sebuah bidang yang berbentuk lonjong. Ada dua ukuran kapak lonjong yaitu, walzeinbeil yaitu kapak berukuran besar dan kleinbel untuk yang berukuran kecil.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->