P. 1
Makalah Implementasi Kebijakan PP Penyiaran

Makalah Implementasi Kebijakan PP Penyiaran

|Views: 1,639|Likes:
Published by hexaluna
Makalah ini berisi tentang pembahasan mengenai Implementasi Kebijakan PP Penyiaran
Penting sekali buat dibaca, supaya teman2 tahu apa sebenarnya penyebab kemunduran bangsa ini...
Makalah ini berisi tentang pembahasan mengenai Implementasi Kebijakan PP Penyiaran
Penting sekali buat dibaca, supaya teman2 tahu apa sebenarnya penyebab kemunduran bangsa ini...

More info:

Published by: hexaluna on May 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Sudah lebih dari satu dekade televisi swasta hadir di Indonesia. Dan dalam perjalanan waktu tersebut, industri televisi tumbuh berkembang dengan sangat pesat. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, jika sebelumnya lebih banyak aturan datang dari pemerintah, maka saat ini peranan pemerintah semakin mengecil dalam pengawasan siaran televisi. Periklanan sebagai salah satu sarana penerangan dan sarana pemasaran, memegang peranan penting di dalam pembangunan yang dilaksanakan bangsa Indonesia. Sebagai sarana penerangan dan pemasaran, periklanan merupakan bagian dari kehidupan media komunikasi yang vital perkembangan dunia usaha serta harus berfungsi menunjang pembangunan. Oleh karena itu, kami dari kelompok 5 akan membahas mengenai Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 50 tahun 2005 tentang ”Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta”. Pentingnya Mengatur Media Penyiaran Sebelum masuk membahas kebijakan tentang penyiaran ini, kami ingin memaparkan beberapa fakta penting yang perlu diketahui tentang media penyiaran ini –khususnya televisi- dalam hal pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat, agar kita semua menjadi paham mengapa kita perlu untuk memberi perhatian khusus terhadap isi siaran dari “kotak ajaib” ini, fakta-fakta tersebut adalah :
1. Sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh American Psichological

Association (APA) pada tahun 1995 mengungkapkan bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berperilaku baik.

1

Sedangkan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berperilaku buruk.
2. Dalam sebuah penelitian terhadap anak dari kelas lima SD (Sekolah

Dasar) di Jakarta dan Bandung menunjukkan bahwa rata-rata anak menonton TV selama 3,5 jam dan mencapai 5 jam pada hari libur. Artinya, anak menonton TV selama 1.600 jam dalam setahun, dan ini tidak sebanding dgn waktu belajar dlm kelas yg dlm setahun 740 jam
3. Radiasi televisi berpotensi menurunkan frekuensi otak, terlebih karena

pada saat menonton televisi otak lebih sering berada dalam keadaan pasif.
4. Di amerika dan beberapa Negara lain, televisi sering dijadikan sebagai

sarana propaganda politis.
5. “Kidia” mencatat bahwa pada 2004 acara untuk anak yang aman hanya

sekitar 15% saja. Oleh karena itu harus betul-betul diseleksi. 6. Saat ini jumlah acara TV untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar perminggu sekitar 80 judul ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Padahal dalam seminggu ada 24 jam x 7 = 168 jam! Jadi, selain sudah sangat berlebihan, acara untuk anak juga banyak yang tidak aman.
7. Dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia menyebutkan bahwa dampak

negative televisi adalah berpengaruh terhadap perkembangan otak, mendorong anak menjadi konsumtif, berpengaruh terhadap Sikap, mengurangi semangat belajar, membentuk pola pikir sederhana, mengurangi konsentrasi, mengurangi kreativitas, meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan), merenggangkan hubungan antar anggota keluarga, matang secara seksual lebih cepat. bahkan situs ini mengusulkan kehidupan tanpa TV.

Dari fakta tersebut dapat dilihat –utamanya pada poin 1- bahwa televisi pada dasarnya memiliki potensi pemanfaatan yang sangat besar, utamanya dalam membentuk karakter masyarakat. Jika yang disiarkan di televisi adalah kebaikan, maka masyarakatpun akan baik insya ALLAH. Namun jika yang ditampilkan adalah hal negatif, maka masyarakat pun akan cenderung berkarakter negatif. Oleh karena itu kami mencoba “melihat” apa yang telah pemerintah –sebagai

2

pelindung masyarakat- lakukan dalam menyikapi hal ini dengan mengkaji kebijakan yang telah mereka tetapkan serta implementasinya.

3

BAB II PEMBAHASAN

I.

Isi Kebijakan Dari total 73 pasal yang termaktub dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 50 tahun 2005 tentang ”Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta”, kami hanya akan menampilkan beberapa pasal yang dianggap relevan dan yang paling perlu untuk diketahui (huruf yang dicetak tebal sangat perlu untuk diperhatikan), yaitu :

A.

Pasal 14 mengenai Isi Siaran

1) Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat

untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilainilai agama dan budaya Indonesia.
2) Isi siaran jasa penyiaran televisi, yang diselenggarakan oleh Lembaga

Penyiaran Swasta wajib memuat sekurang-kurangnya 60% (enam puluh perseratus) mata acara yang berasal dari dalam negeri dari seluruh jumlah waktu siaran setiap hari.
3) Isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada

khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan Lembaga Penyiaran Swasta wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran.
4) Isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mengutamakan

kepentingan golongan tertentu. 5) Isi siaran dilarang:

4

a. bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau bohong;
b. menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan

narkotika dan obat terlarang; atau c. mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan.
6) Isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan, dan/atau

mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional.
7) Isi siaran wajib mengikuti Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar

Program Siaran yang ditetapkan oleh KPI. B. Pasal 15 mengenai Klasifikasi Acara Siaran Lembaga Penyiaran Swasta wajib membuat klasifikasi acara siaran dengan mematuhi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran yang ditetapkan oleh KPI. C. Pasal 21 mengenai Siaran Iklan

1) Materi siaran iklan harus sesuai dengan kode etik periklanan, persyaratan yang dikeluarkan oleh KPI, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2) Siaran iklan niaga yang disiarkan pada mata acara siaran untuk anak-

anak wajib mengikuti standar siaran untuk anak-anak.
3) Iklan rokok pada lembaga penyelenggara penyiaran radio dan televisi hanya

dapat disiarkan pada pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat di mana lembaga penyiaran tersebut berada.
4) Lembaga Penyiaran Swasta wajib menyediakan waktu untuk siaran

iklan layanan masyarakat yang dilakukan dalam waktu yang tersebar mulai dari pukul 05.00 sampai dengan pukul 22.00 waktu setempat dengan harga khusus, atau jika dalam keadaan darurat ditetapkan oleh Pemerintah sesuai dengan keperluan.

5

5) Waktu siaran iklan niaga Lembaga Penyiaran Swasta paling banyak 20%

(dua puluh perseratus) dari seluruh waktu siaran setiap hari.
6) Waktu siaran iklan layanan masyarakat paling sedikit 10% (sepuluh

perseratus) dari siaran iklan niaga setiap hari. 7) Materi siaran iklan wajib menggunakan sumber daya dalam negeri. Jika melihat beberapa pasal di atas dan isi PP secara keseluruhan kemudian menilainya dengan teori yang ada, kami berkesimpulan bahwa Kebijakan ini sangat baik dan sangat diperlukan pengimplementasiannya bagi masyarakat, dikarenakan potensi media penyiaran yang sangat besar dalam hal mempengaruhi opini serta tingkah laku publik.

II. Implementasi Kebijakan

Setelah berjalan hampir 5 tahun, terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menilai implementasi Peraturan Pemerintah ini, halhal tersebut menyangkut: 1) Isi Siaran

KPI Pusat menetapkan 6 (enam) program bermasalah yang ditayangkan oleh 5 (lima) stasiun televisi pada bulan Oktober 2009. Terhadap stasiunstasiun tersebut, kami menjatuhkan sanksi sesuai dengan tingkat pelanggarannya terhadap UU Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) Pemantauan dilakukan terhadap 26 Program yang terdiri dari 509 episode. Berikut adalah program bulan Oktober yang mendapatkan teguran: 1. Sinetron Safa dan Marwah yang ditayangkan RCTI mendapat Teguran Pertama karena menampilkan adegan kekerasan yang menggunakan senjata dan disertai umpatan-umpatan.

6

2.

Sinetron Doa dan Karunia yang juga ditayangkan RCTI mendapat Teguran Pertama karena menampilkan adegan kekerasan menggunakan senjata secara close up dan disertai umpatan-umpatan. Sinetron ini sudah tidak tayang lagi, untuk itu, RCTI harus memperbaiki isi programnya jika ingin menayangkannya kembali.

3.

Sinetron Tangisan Isabela yang ditayangkan Indosiar mendapat teguran pertama karena menampilkan adegan kekerasan fisik dan verbal. Sinetron ini juga sudah tidak tayang lagi, untuk itu, Indosiar harus memperbaiki isi programnya jika ingin menayangkan kembali. Selain itu, ada 3 (tiga) program yang mendapat himbauan, yaitu: program Awas Ada Sule (Global TV) dihimbau untuk memindahkan jam tayang sesuai dengan klasifikasinya yaitu D (Dewasa). Sinetron Cinta Fitri Season Ramadhan (SCTV) dan program Rumah Susun Banyak Tawa (ANTV) dihimbau untuk memperbaiki isi siarannya karena masih mengandung muatan kekerasan dan seks. Meskipun kedua program tersebut sudah tidak tayang lagi, himbauan ini harus dipatuhi terutama jika program tersebut akan disiarkan kembali. Terhitung mulai tanggal 9 Oktober 2009, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Menghentikan Sementara tayangan “Makin Malam Makin Mantap” (4M) yang ditayangkan ANTV setiap Senin sampai Jumat Pkl. 21.30-23.00 WIB. Penghentian Sementara ini maksimum selama dua bulan. Pada episode 2 Oktober 2009, sepanjang program tersebut terus menerus membicarakan payudara dan alat kelamin secara vulgar. Selain itu, pembawa acara wanita yang berperan sebagai suster cenderung menampilkan perilaku dan tutur kata yang seronok. Bahkan sempat menyebut alat kelamin laki-laki dalam bahasa yang kasar dan tidak sopan.

7

Program tersebut kami nilai telah melanggar UU Penyiaran pasal 36 ayat 5 huruf (b) serta Standar Program Siaran (SPS) Pasal 11, Pasal 13, Pasal 17, Pasal 65, Pasal 19 ayat 3, serta Pasal 23 ayat 1 dan 3. Keputusan Penghentian Sementara ini diterima oleh pihak ANTV dalam forum klarifikasi yang dihadiri oleh Ketua KPI Pusat Sasa Djuarsa Sendjaja, Koordinator Bidang Isi Siaran Yazirwan Uyun dan Koordinator Bidang Kelembagaan Sinansari ecip. Dari pihak ANTV hadir Direktur Utama ANTV Dudi Hendrakusuma didampingi unsur pimpinan lainnya. KPI juga menghimbau program Opera Van Java (Trans 7) agar mengurangi muatan kekerasan dan penggunaan kata-kata kasar. Yang terakhir yang menurut kami paling meresahkan adalah sebuah program pencarian jodoh/pasangan yang jauh dari nilai-nilai agama dan budaya luhur Indonesia, program seronok yang diadaptasi dari luar ini masuk ke Indonesia tanpa ada filter dan terkesan menelan mentah-mentah budaya dari “negeri asal”nya tanpa ada penghormatan terhadap budaya Indonesia. 2) Periklanan Persaingan bisnis yang begitu ketat kerap memicu perang iklan antar pengiklan. Sayangnya, cara-cara yang dilakukan kerap mengabaikan etika pariwara. Ketatnya kompetisi bisnis memicu para pelaku usaha untuk menerapkan cara-cara pemasaran yang kreatif. Hal itu dilakukan demi mencuri hati konsumen sehingga mereka menjadi pelanggan loyal dari produk atau jasa yang dihasilkan produsen. Salah satu cara pemasaran yang dianggap efektif ialah melalui pemasangan iklan, baik di media cetak, online, maupun elektronik. Perang iklan menjadi tak terelakkan karena masing-masing produsen berlombalomba menonjolkan segala keunggulan produk atau jasa mereka. Tak terkecuali di bidang telekomunikasi. Seiring bertambahnya jumlah para

8

pengguna layanan telekomunikasi, para operator semakin gencar beriklan menawarkan paket-paket layanan yang menggiurkan pelanggan Contohnya saja salah satu operator telekomunikasi yang mengklaim mempunyai pelanggan terbesar di Indonesia menampilkan iklan yang dibintangi seorang artis yang tengah naik daun. Yang disisakan hanya adegan ketika dia tengah mengamati produk operator yang dibintanginya. Dengan mengusung tagline iklan "buka bukaan, blak-blakan" operator itu tampaknya ingin menggugah kesadaran publik untuk membuktikan mana sebenarnya operator yang menawarkan layanan dan produk termurah. Pada iklan yang dibintangi seorang host acara musik itu, operator lain yang disimbolkan dengan warna khas merek mereka diberi tanda silang seolah-olah produkproduk itu tidak layak dipilih. Sebenarnya berdasarkan kode etik periklanan yang dikeluarkan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), iklaniklan yang menyindir dan mendiskreditkan produk atau layanan dari produsen lain menyalahi aturan. Iklan yang tidak menjelaskan maksud dan isi yang sebenarnya serta tidak mencantumkan kalimat "syarat dan ketentuan berlaku" bisa menjebak masyarakat. Selain iklan yang mengandung diskreditasi serta “pembodohan”, juga ada beberapa iklan menampilkan adegan-adegan yang tidak pantas diperlihatkan secara umum ke masyarakat, misalnya iklan sabun yang bintangnya terlalu “terbuka” atau iklan makanan anak yang menampilkan adegan yang tidak semestinya diperlihatkan kepada anak. Jika dihubungkan dengan teori Edward III (1980) dalam Yousa (2007), yang berkata ada 4 (empat) variable yang sangat mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan, yaitu ; Komunikasi, Sumberdaya, Disposisi atau Sikap dan Struktur Birokrasi, maka kami berpendapat bahwa implementasi kebijakan ini belum terlaksana dengan maksimal. Terutama dalam hal komunikasi ke masyarakat serta disposisi/sikap implementor sendiri (stasiun tv).

9

Selain itu, di luar teori yang telah disebutkan sebelumnya, kami juga mengidentifikasi beberapa hal yang dianggap menjadi penyebab kurang maksimalnya implementasi kebijakan ini, antara lain :
1. Masyarakat secara umum masih bersikap Permisif terhadap pelanggaran

yang dilakukan oleh stasiun televisi swasta, ini juga berhubungan dengan masih kurangnya sosialisasi aturan dan prosedur pengaturan dari pemerintah. 2. Pemerintah kurang tegas dalam menegakkan aturan dan menindaki pelanggaran yang ada, terbukti dari adanya beberapa tayangan yang melanggar aturan yang masih disiarkan sampai sekarang. 3. Pemikiran Materialisme telah mengikis nilai-nilai ideal masyarakat secara umum, sehingga masyarakat (khususnya yang terlibat langsung dalam penyiaran) hanya mementingkan keuntungan tapi melupakan aspek-aspek normatif.
4. Lemahnya pengawasan dalam keluarga, dalam hal ini pengawasan orang

tua ke anak saat menonton televisi.

10

11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Menurut kami implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2005 tentang pedoman penyiaran lembaga swasta, ada beberapa alasan yang menyebabkan implementasi PP Penyiaran ini belum maksimal, antara lain :
1. Masyarakat

secara

umum

masih

bersikap

Permisif

terhadap

pelanggaran yang dilakukan oleh stasiun televise swasta, ini juga berhubungan dengan masih kurangnya sosialisasi aturan dan prosedur pengaturan dari pemerintah.
2. Pemerintah kurang tegas dalam menegakkan aturan dan menindaki

pelanggaran yang ada, terbukti dari adanya beberapa tayangan yang melanggar aturan yang masih disiarkan sampai sekarang. 3. Pemikiran Materialisme telah mengikis nilai-nilai ideal masyarakat secara umum, sehingga masyarakat (khususnya yang terlibat langsung dalam penyiaran) hanya mementingkan keuntungan tapi melupakan aspek-aspek normatif.
4. Lemahnya

pengawasan dalam keluarga, dalam hal ini pengawasan

orang tua ke anak saat menonton televisi B. Saran 1. Melihat potensi besar yang dimiliki oleh media penyiaran, saran pertama yang kami sarankan adalah mengubah paradigma dan fungsi pokok media penyiaran (khususnya televisi) sebagai media hiburan, menjadi media pendidikan dan pembinaan.
12

2. Metode

internalisasi

nilai

dalam

masyarakat

harus

diperbaiki,

Pengangkatan nilai-nilai keagamaan dengan memanfaatkan berbagai media harus digencarkan, ini penting untuk meningkatkan self awareness (sikap mawas diri) masyarakat.
3. Masih berhubungan dengan perbaikan metode internalisasi nilai, kami

megusulkan dibuatnya sebuah konsep mentoring untuk semua institusi baik pemerintah maupun swasta.
4. Sosialisasi peran KPI melalui media-media 5. Jika memungkinkan kami menyarankan kebijakan satu channel satu tema

siaran, untuk memudahkan pengawasan.
6. Penguatan Struktur dan pendidikan dalam keluarga, karena keluarga

merupakan institusi informal yang sangat vital dan berperan dalam pembentukan karakter bangsa. Sudah seharusnya tiap anggota keluarga menyadari tugas dan perannya masing-masing dalam keluarga agar tak terjadi ketimpangan, contohnya seorang ayah menjadi seorang imam dan teladan dalam keluarga serta ibu menjadi pembina bagi keluarga.

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->