P. 1
Peran Sahabat Bagi Keberadaan Hadits

Peran Sahabat Bagi Keberadaan Hadits

|Views: 1,156|Likes:
Published by abumeisha

More info:

Published by: abumeisha on May 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2013

Peran Sahabat bagi Keberadaan Hadits

I. Pendahuluan Keberadaan Hadits yang kita temui saat ini sebagai salah satu sumber hukum Islam setelah Al Qur‟an tidak lepas dari peran serta masyarakat di sekitar Nabi pada masa awal perkembangan Islam, kegigihan dan kesungguhan mereka dalam menuntut dan menerima hadits merupakan suatu keharusan dalam memahami Islam terutama sejak turunnya ayat-ayat Al Qur‟an yang bersifat mujmal (umum, membutuhkan perincian) seperti ayat-ayat yang berkaitan tentang shalat, zakat, puasa, haji dan masih banyak lagi ayat-ayat Al Qur‟an yang memerlukan penjelasan secara detail dalam teknis

pengamalannya, maka dari itu Rasulullah SAW., adalah orang yang paling tepat dan pantas menjelaskannya sebagaimana Firman Allah SWT:

)44 : ‫وأَِّزَىَْْب إِىَُِل اىزٔمشَي ىُٔجَِِّ ىٔيٓبسِ ٍَبّ ِّه إِىَُِهٌِِ وَىَعَّ ٌُِ َتَ َن ُوَُ (اىْــحو‬ ِ ‫َيه ف َّش‬ َ ‫ُز‬ ْ َُ‫َ ْ ت‬ َ
“ Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu menerangkannya kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka berpikir (Q.S : AnNahl 44)” Masyarakat disekitar Nabi atau disebut juga sebagai Sahabat yakin bahwa Hadits adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Islam, mereka menganggap Hadits merupakan sumber ajaran Islam karena disamping menjelaskan hukum yang telah ditetapkan di dalam Al Qur‟an Hadits juga menetapkan hukum secara independen, maka dari itu untuk memelihara Hadits itu sendiri para Sahabat menghafal, meriwayatkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

1

Antusias para sahabat dalam menuntut ajaran Agama Islam dari Rasulullah SAW merupakan langkah pertama terbentuknya hadits-hadits yang kita temui saat ini, perhatian mereka terhadap Hadits dapat dilihat dari:1 1. Semangat yang tinggi dalam mendengar Hadits dengan mendatangi majlismajlis yang diadakan oleh Rasulullah SAW. 2. Tidak pernah jenuh mendengar Hadits dari Rasulullah SAW. Bahkan sebagian sahabat berpendapat bahwa seseorang tidak boleh meriwayatkan hadits kecuali telah mendengarnya lebih dari tiga kali. 3. Sangat Berhati-hati dalam mendengar dan menghafal Hadits, Hal ini dalam rangka menjaga kemurnian hadits dan keaslian riwayatnya dengan tidak melebihkan dan menguranginya.

II. Sahabat (Masyarakat di Sekitar Nabi) Rasulullah SAW. hidup di tengah-tengah para sahabatnya, mereka bergaul secara bebas dan mudah, tidak ada peraturan atau larangan yang memepersulit para sahabat untuk bergaul dengan beliau. Segala perbuatan, ucapan, dan sifat Rasulullah SAW. bisa menjadi contoh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa tersebut. Para Sahabat menjadikan Rasulullah SAW. sebagai panutan dan pedoman dalam kehidupan mereka, Jika ada permasalahan baik dalam Ibadah maupun dalam kehidupan duniawi, maka mereka akan bisa langsung bertanya pada Rasulullah SAW., Kabilahkabilah yang tinggal jauh di luar kota Madinah pun juga selalu berkonsultasi pada Rasulullah SAW. dalam segala permasalahan mereka, Adakalanya mereka mengirim anggota mereka untuk pergi mendatangi Rasulullah SAW. dan mempelajari hukum-

1

Daud Rasyid, Dr., MA., Sunnah dibawah Ancaman :Dari Snouck Hurgronje Hingga Harun Nasution, (Bandung: Syaamil 2006.)

2

hukum syari'at agama, dan ketika mereka kembali ke kabilahnya mereka segera menceritakan pelajaran (hadits Nabi) yang baru mereka terima. dan berikut adalah beberapa definisi Sahabat:2 1. Sahabat menurut Imam bin Hanbal (Imam Hanbali) adalah : “Orang yang pernah hidup bersama beliau, baik sehari, sebulan atau hanya melihat beliau sesaat ketika beliau masih hidup”. 2. Menurut Sa‟id bin Musayyab : “Sahabat adalah Orang yang pernah hidup bersama beliau satu, dua tahun atau pernah ikut berperang bersama beliau satu, dua peperangan”. 3. Menurut Imam Bukhari : “Sahabat adalah orang yang pernah hidup bersama beliau meskipun sesaat dan dalam keadaan Islam”. 4. Menurut Mayoritas (Jumhur) Ulama Hadits : “Sahabat adalah Orang yang pernah hidup bersama Nabi meskipun sesaat dan ia beriman hingga akhir hayatnya” Dari beberapa definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa Sahabat adalah “Orang yang pernah bertemu dengan Rasulullah meskipun sesaat dan ia beriman hingga akhir hayatnya”. Dan tidak bisa dikatakan Sahabat orang yang beriman setelah wafatnya Nabi atau orang yang bertemu Nabi dan beriman dan selanjutnya meninggal dalam keadaan murtad. III. Peran Sahabat dalam Pembentukan Hadits a. Cara Sahabat Menuntut dan Menerima Hadits Implementasi dari perhatian para sahabat dalam menuntut dan menerima hadits langsung dari Rasulullah SAW. dilaksanakan dengan beberapa cara sebagai berikut: 1. Menghadiri majlis-majlis pengajian yang diadakan oleh Rasulullah SAW. Untuk mendengar sabda dan menyaksikan seluruh perbuatannya, jika salah satu dari
2

Dewan Redaksi Jakarta, Ensiklopedi Islam, (PT. Iktiar Baru Van Hoeve, Cet. 10. 2002)

3

mereka sibuk dan tidak bisa hadir mereka datang bergantian dengan harapan sebagian yang hadir akan menyampaikan kepada yang tidak hadir. Contoh:

ِ‫حذحْب حمَذ ثِ َىصف حذحْب اثِ عُُْخ عِ اىزٕشٌ عِ أيب إدسَش اخلىالين عِ عجبدح ث‬ ‫اىصبٍت سضٍ اهلل عْٔ قبه: ُْب عِْٔذ ٍَِّ صيً اهلل عئُ و صيٌ ٍٔ ٍجِئشٍ فَقَبهَ :ثَبَِعُىين‬ َ ‫ف‬ ‫م َّ َ اىْج‬ )‫عَيًَ َأُْ الَ ُششِ ُىا ثِبهلل شَـُِئًب وَالَ تَضشُِىا وَالَ َتزِّىا. (سوآ اىجخبسي‬ ‫ِق‬ ِ ‫تِم‬
Muhammad bin Yusuf bin Uyaynah memberitahu kami dari Az Zuhri dari Abu Idris bin Al Khaulany dari Ibadah bin Shamit RA dengan dia berkata: "Kami bersama Rasulullah SAW dalam Suatu Majlis dan berkata: Berbai’atlah kepadaku bahwa kalian tidak akan meneykutukan Allah dengan suatu apapun, dan tidak mencuri, dan tidak berzina. (HR Bukhari)3

2. Rasulullah SAW. menghadapi persoalan dan menyampaikan persoalan itu kepada para sahabat, jika sahabat yang hadir jumlahnya banyak maka apa yang disampaikan Rasulullah akan cepat tersebar dan bila sedikit Rasulullah SAW. sendiri memerintahkan para sahabat untuk menyampaikannya kepada sahabat yang lain. Contoh:

ًَ‫عِ أىب ٕشَشح سضٍ اهلل عْٔ أ َّ سصىه اهلل صيً اهلل عئُ وصيٌ َّ ِثشَ ُوٍ ُـجُِِع َّعَب‬ ‫ٍش ج َ ُ اىط‬ ُ َ‫فَضَأىَ ُ: مَُِفَ ُجُِ ُ؟ فَأخَِجش ُ , فَأوِحًَ إِىَُِٔ َادِخٔوْ َذكَ فُِٔ ٔ , فَأدِخَوَ َذ ُ فَإرَا ُىَ ٍَجُِى ٌ فَقَبه‬ ‫َٓ ٕ ي ه‬ َ َٓ ‫تع‬ ٔ )‫سصىه اهلل صيً اهلل عئُ وصيٌ : ىَُِشَ ٍَّب ٍَِ غ َّ. (سوآ أمحذ‬ ‫ْٔ ِ َش‬
Dari Abu Hurairah RA. sesungguhnya Rasulullah SAW melewati seseorang yang sedang menjual makanan dan beliau bertanya: “Bagaimana engkau berjualan?”
3

Abu Abdullah Al Bukhari, Al Jami’ Al Shahih Al Mukhtashar, (Beirut: Daru Ibnu Katsir, 1987)

4

Dan ia memberitahunya, kemudian beliau menyuruhnya “masukkanlah tanganmu di dalamnya”, dan ia memasukkan tangannya dan seketika itu tangannya basah (karena makanan tersebut basi), maka Rasulullah bersabda “Bukan dari golongan kami orang yang curang”. (HR. Ahmad)4

3. Sahabat menghadapi persoalan dan menanyakan langsung hukum dari persoalan tersebut kepada Rasulullah SAW. maka Rasulullah SAW. akan langsung memberikan fatwa terhadap persoalan tersebut dihadapan sahabat yang lain atau hanya pada sahabat yang sedang menghadapi persoalan. Contoh:

ٍ‫حذحْب عَشو ثِ خبىذ قبه حذحْب اىيُج عِ َزَذ عِ أيب اخلري عِ عجذ اهلل ثِ عَشو سض‬ ًَ‫اهلل عْهَب أَُّ سَ ُال صَأه ٍَِّ صيً اهلل عئُ و صيٌ أٌ اإلصِالًَِ خَُِش ؟ قبه : ُطْعٌٔ َّعَب‬ ‫ت ُ اىط‬ ْ ُّ ‫ج ً َ اىْج‬ )‫وَتَقشُأ َّيَبً عًََ ٍَِ عشَفتَ وٍََِِ ىٌَِ تَعشِفِ (سوآ اىجخبسي‬ ِ ْ َ ِ ‫ْ َ اىض َ ي‬
Amru bin Khalid menceritakan kami Laits berkata dari Yazid dari Abu Khair dari Abdullah bin Amru RA. seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW “Apa kebaikan dalam Islam?”, beliau berkata “Memberi makan, dan mengucap salam kepada siapa saja yang engkau kenal maupun tidak”. (HR. Bukhari) 5

4. Melihat secara langsung apa yang dilakukan Rasulullah SAW.

biasanya

perbuatan yang terkait dengan ibadah seperti shalat, puasa, haji serta ibadahibadah lainnya. Para Sahabat yang menyaksikan hal tersebut akan

menyampaikannya kepada sahabat yang lain atau generasi sesudahnya. Contoh:

4

Ibnu Abdil Barri, Jami’ Bayan Al Ilmi Wa Fadhlihi, Maktabah Syamilah Abu Abdullah Al Bukhari, Al Jami’ Al Shahih Al Mukhtashar, (Beirut: Daru Ibnu Katsir, 1987)

5

5

‫حذحْب آدً قبه حذحْب شعجخ عِ األعَش قبه مسعت إثشإٌُ حيذث عِ مهبً ثِ احلبسث قبه‬ ‫ت‬ ُ َِ‫: َأَِ ُ جشَِِشَ ثِ عَجِذٔ اهللِ ثبه حِ تَى َّأ وٍََضَح عَيًَ خ َُِّ ٔ ح َّ قَبًَ فَصًَّ فَ ُئٔوَ فَقَبهَ سَأ‬ ‫َي ض‬ ٌُ ‫ُف‬ َ ‫َض‬ َ ‫ست‬ ‫َّج َّ صيً اهلل عئُ و صيٌ صََْعَ ٍٔخْو َٕ َا فَقَبه إِِثشَإُِٔ ُ َنبَُ ُعجُِهٌُِ أل َّ َشَِ ّا مَبُ آخش‬ َ ‫ٌ ف َ َ ِ ج َُ ج ش‬ َ ‫َ ز‬ ٍِْ‫اى‬
Adam berkata bahwa Syu’bah berkata dari A’masy berkata Aku mendengar Ibrahim berkata dari Hammam bin harits berkata: Aku melihat Jarir bin Abdullah Wudhu’ dan menghapus kedua sepatunya dan selanjutnya menunaikan shalat, dan ditanya dan ia berkata “Aku telah melihat Rasulullah melakukannya” dan berkatalah Ibrahim itu telah mengagetkan mereka karena Jarir adalah orang terakhir yang masuk Islam. (HR Bukhari)6

)‫ٍَِ َأصِيٌََ (سوآ اىجخبسي‬ ِ

b.

Pengumpulan Hadits di Masa Sahabat Ada beberapa cara Sahabat mengumpulkan Hadits yang datang dari Rasulullah

SAW, yaitu:7 1. Penulisan Hadits. Berbeda dengan Al Qur‟an yang penulisannya sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW. kepada semua kalangan sahabat, Rasulullah SAW. sangat berhati-hati dalam perintah untuk penulisan Hadits, ini beliau lakukan agar penulisan hadits tidak tercampur dengan penulisan Al Qur‟an. Oleh karena itu Rasulullah SAW hanya memberikan izin kepada sahabat tertentu dalam menulis hadits dengan melihat kecermatan mereka dalam penulisan hadits. Salah satu sahabat yang terkenal dalam meriwayatkan hadits dengan menuliskannya adalah Abdullah bin Amru RA. bahkan Abu Hurairah RA. sendiri mengakui

6

7

Abu Abdullah Al Bukhari, Al Jami’ Al Shahih Al Mukhtashar, (Beirut: Daru Ibnu Katsir, 1987) „Ajjaj Al Khatib, Al Sunnah Qabla Al Tadwin,(Beirut: Dar Al Fikri 1981)

6

beliau lebih banyak meriwatkan Hadits daripada dirinya seperti yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari sesungguhnya Abu Hurairah berkata:

‫ت َ ت‬ ُ ‫أَحَذ أَمَْخشَ حَذَٔخًب عَِْ ُ ًٍِّ ، إ َّ ٍَب مَبَُ ٍِٔ عَجِذ َّ ٔ ثِِ عََ ُو فَإَّ ُ مَبَُ َنُْت ُ وَال أَمُْت‬ ِّٔ ‫ِ ٔ اىي ِ ِش‬ ‫ٔ ْٔ ِال‬ ْ
“Tidak ada sahabat yang lebih banyak meriwayatkan Hadits dariku kecuali Abdullah bin Amr, Sesungguhnya ia menulis dan aku tidak”

)‫(سوآ اىجخبسي‬

2. Penghafalan Hadits Masyarakat Arab pada umumnya telah terbiasa menghafal sya‟ir dan qasidah, kekuatan hafalan bangsa Arab saat itu terlihat dari pengakuan seorang sahabat Ibnu Syihab RA.

ٍُِ ‫إٍِّ ىَأٍ ُّ ثِبىْجَقٔـُعِ فَأ ُذ ُأ ُاٍِ ٍخَبفَخ َأُْ َذِ ُوَ فُِٔهَب شٍِ ٌ ٍِٔ اْىـخََْب فَىَاهللِ ٍَب دَخَو ُأ‬ ّ‫َ ر‬ َ ‫َ ء‬ ‫خ‬ ً ُ ّ ‫َص ُّ ر‬ ‫ِّ ُش‬ ٔ‫َ ء ٌ ت‬ ُ ُُِِ‫شٍِ ٌ قَ ٌّ فََْض‬ ‫ط‬
“Sesungguhnya apabila aku lewat di daerah Baqi’, maka aku terpaksa menutup telingaku karena khawatir mendengar kata-kata yang tidak sopan, Demi Allah apabila aku mendengar sesuatu aku tidak akan pernah melupakannya”

Pola kehidupan ini membuat mereka lebih banyak menghafal Hadits daripada menulisnya kecuali dalam situasi tertentu, bahkan beberapa sahabat tidak mau menulis Hadits yang ia dapatkan dari Rasulullah SAW karena beberapa alasan, salah satunya adalah larangan dari Rasulullah SAW sendiri sebagaimna diriwayatkan oleh Imam Muslim.

َ‫عِ أىب صعُذ اخلذسي أُ سصىه اهلل صيً اهلل عئُ وصيٌ قبه: ىَبَتنُُْىا عٍِّ وٍََِِ مََتت‬ َْ ‫تج‬ ٍَِٔ ُ ‫عٍِّ غَُِش اْىقشِآَُ فَيََُْ ُ ُ , وَح ُِّىا عًِّ وََب حشدَ وٍََِِ مَ ٌّة ع َّ ُت ِّ ّا فَيَُْتَجَىُ ٍَقْعَذ‬ َٓ ‫ٓأ‬ ‫زَ َ َيٍ ٍَعَذ‬ َ َ ‫ِحٔ َذح َْ ى‬ ُ َ َْ )ٌ‫َّبسِ. (سوآ ٍضي‬ ْ‫اى‬
7

Dari Abu Sa’id sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu menulis sesuatu dariku, dan barang siapa menulis dariku selain Al Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya, dan Riwayatkanlkah dariku tanpa keraguan dan barang siapa berbohong atas namaku hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka” (HR. Muslim) Salah seorang sahabat yang terkenal kuat ingatannya dan banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. adalah Abu Hurairah RA. ini juga berkat do‟a Rasulullah agar ia diberi daya ingat yang kuat.

3. Pembukuan Hadits Pembukuan Hadits sebenarnya telah berlangsung sejak zaman Rasulullah SAW. dan para sahabat menyebutnya sebagai Shahifah, namun ketika itu hanya beberapa sahabat saja yang melakukannya untuk kepentingan pribadi, dan ini berjalan hingga masa Khulafaurrasyidin. Pembukuan (Tadwin) Hadits secara resmi dimulai sejak pemerintahan Umar bin Abdul Aziz dengan memerintahkan langsung dari institusi pemerintahan pada saat itu dengan pertimbangan bahwa Al Qur‟an telah dibukukan dan tidak ada kemungkinan tercampurnya Hadits dan ayat-ayat Al Qur‟an. Diantara sahabat yang memiliki Shahifah adalah Abdullah bin Amru RA., Ali bin Abi Thalib RA., Abdullah bin Hazm RA.

c. Penyebaran Hadits di Masa Sahabat Sejarah penyebaran hadits melewati berbagai proses yang sangat panjang, penyebaran hadits dimulai sejak masa Rasulullah SAW., saat itu para sahabat saling bertukar Hadits dalam menyelesaikan persoalan-persoalan agama yang mereka hadapi masing-masing, mereka saling memberi dan menerima satu sama lain, hal ini mereka lakukan berdasarkan perintah Rasulullah untuk menyampaikan apa yang mereka dengar langsung dari Rasulullah SAW.
8

Pertukaran hadits di antara para sahabat berlangsung hingga wafatnya Rasulullah SAW. keadaan ini menuntut mereka untuk menyaring hadits-hadits yang mereka terima dari sumber yang memang terpercaya, hal ini dalam rangka menjaga kemurnian hadits dan keaslian riwayatnya dengan tidak melebihkan dan menguranginya. Sikap hati-hati para sahabat dalam menerima hadits dari sahabat yang lain cukup beralasan bukan berarti mereka menuduh sahabat yang lain berdusta atau meragukan kejujuran saudaranya akan tetapi yang mereka khawatirkan adalah kesalahan perawi dalam meriwayatkan hadits sehingga menyampaikan hadits tidak dengan semestinya. Pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab dilakukan pembatasan terhadap periwayatan hadits yang dimaksudkan agar tidak banyak dari sahabat yang mempermudah penggunaan nama Rasulullah SAW dalam berbagai urusan, meskipun jujur dan dalam permasalahan yang umum, sehingga masa tersebut dikenal sebagai masa sedikitnya periwayatan hadits, pada masa ini jarang sekali sahabat yang meriwayatkan hadits kecuali dengan mendatangkan saksi untuk meyakinkan keaslian hadits tersebut. Selanjutnya dengan semakin luasnya kekuasaan Islam di masa pemerintahan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib semakin banyak pula pemeluk agama Islam yang berakibat kepada sulitnya pemerintah dalam mengontrol periwayatan hadits, pada masa itu banyak dari sahabat yang dengan sengaja menyebarkan hadits namun tetap dengan dalil dan saksi yang kuat, bahkan jika diperlukan mereka rela melakukan perjalanan jauh hanya untuk mencari kebenaran hadits yang diriwayatkannya. Dan pada masa ini pula para sahabat tersebar di beberapa daerah pemerintahan Islam untuk meriwayatkan hadits yang mereka dapatkan dari Rasulullah SAW, diantara daerah tersebut adalah:8

8

Daud Rasyid, Dr., MA., Sunnah dibawah Ancaman :Dari Snouck Hurgronje Hingga Harun Nasution, (Bandung: Syaamil 2006)

9

1. Kota Makkah Di Kota Makkah perkembangan Hadits mengalami kemajuan, disana ditunjuk Mu‟az bin Jabal RA. sebagai guru untuk mengajarkan penduduk setempat tentang halal dan haram, peranan kota Makkah dalam penyebaran hadits sangat signifikan terutama pada musim-musim haji dimana pada waktu itu para sahabat saling bertemu dan saling bertukar informasi tentang hadits dan pulang ke daerah masing-masing. 2. Kota Madinah Sebagai pusat pemerintahan Islam pada masa Khulafaurrasyidin Kota Madinah juga dipenuhi oleh sahabat-sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, diantaranya Abu Hurairah RA. yang tinggal di kota itu hingga akhir hayatnya, dan banyak sahabat-sahabat yang lain. Selain itu, para pedagang dari kota Madinah juga sangat berperan dalam penyebaran hadits, setiap mereka pergi berdagang sekaligus juga berdakwah untuk membagikan pengetahuan yang mereka peroleh dari Rasulullah SAW. kepada orang-orang yang mereka temui. 3. Kota Kufah dan Bashrah Setelah Iraq ditaklukkan pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab, tinggallah beberapa sahabat yang terkenal di kota Kufah diantaranya Ali bin Abi Thalib, begitu juga di Bashrah tinggal disana Anas bin Malik yang terkenal sebagai Imam fil Hadits di kota Bashrah.

10

IV. Penutup Para sahabat adalah masyarakat di sekitar Rasulullah yang selalu mempercayai dan mengimani apa yang diwahyukan Allah kepada beliau, mereka selalu mendampingi beliau sejak pertama kali beliau mendakwahkan Islam sebagai agama Allah yang terakhir diturunkan kepada seluruh ummat manusia hingga akhir hayat beliau. Keberadaan sahabat di sekitar nabi sangat berperan di dalam penyebaran agama Islam, hal ini terbukti dari keikutsertaan mereka di dalam beberapa peperangan untuk menegakkan agama Allah sampai kepada usaha mereka untuk menyebarkan nasihat dan pedoman yang telah mereka dapatkan dari junjungan mereka sendri yaitu Rasulullah SAW. Kesungguhan dan kegigihan para sahabat dalam menyampaikan dan

meriwayatkan Hadits tidak lepas dari sikap hati-hati sebagai rasa tanggung jawab dalam menjaga kemurnian dan keaslian riwayat Hadits itu sendiri hingga sampai kepada generasi selanjutnya. Dan pada akhirnya usaha dan upaya Sahabat dalam menyebarkan dan membumikan Hadits sebagai sumber hukum Islam setelah al Qur‟an berbuah manis dengan diwariskannya riwayat-riwayat Hadits kepada Tabi‟in selanjutnya kepada Tabi Attabi‟in dan ulama-ulama setelahnya.

11

DAFTAR PUSTAKA

„Ajjaj Al Khatib, Al Sunnah Qabla Al Tadwin,(Beirut: Dar Al Fikri 1981) Abu Abdullah Al Bukhari, Al Jami’ Al Shahih Al Mukhtashar, (Beirut: Daru Ibnu Katsir, 1987) Daud Rasyid, Dr., MA., Sunnah dibawah Ancaman :Dari Snouck Hurgronje Hingga Harun Nasution, (Bandung: Syaamil 2006.) Dewan Redaksi Jakarta, Ensiklopedi Islam, (PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Cet. 10. 2002) Ibnu Abdil Barri, Jami’ Bayan Al Ilmi Wa Fadhlihi, (Maktabah Syamilah)

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->