P. 1
Doc

Doc

|Views: 3,433|Likes:
Published by Dedy Harianto

More info:

Published by: Dedy Harianto on May 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

Untuk memperoleh data yang akurat, maka penelitian ini akan melakukan

teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi atau pengamatan dilakukan untuk mengamati dengan membuat

catatan selektif terhadap pemanfaatan buku-buku perpustakaan sekolah SMA

Negeri 3 Pemalang. Menurut Suharsimi Arikunto (2002), metode observasi adalah

pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan terhadap objek atau gejala

yang diselidiki di lapangan. Dalam melaksanakan observasi, hendaknya observer

mencatat apa adanya, observer tidak boleh mempengaruhi hal-hal yang

diobservasi sesuai dengan kehendak observer.

Ada beberapa alasan mengapa dalam penelitian kualitatif pengamatan

dimanfaatkan sebesar-besarnya seperti yang dikemukakan oleh Guba dan Lincoln

dalam Moleong (2002:125) berikut ini: Pertama, pengamatan didasarkan atas

pengalaman langsung. Kedua, teknik pengamatan memungkinkan melihat dan

50

mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang

terjadi pada keadaan sebenarnya. Ketiga, pengamatan memungkinkan peneliti

mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan. Keempat, dapat membuktikan

adanya keraguan terhadap data. Kelima, memungkinkan peneliti mampu

memahami situasi-situasi yang rumit. Keenam, dapat dimanfaatkan dalam situasi

yang tidak memungkinkan komunikasi lain.

Adapun sasaran observasi atau pengamatan dalam penelitian ini adalah

keadaan buku-buku perpustakaan, siswa selaku pengguna buku-buku

perpustakaan dalam hal kehadiran dan cara memanfaatkan buku-buku

perpustakaan sekolah, siswa selaku pengguna buku-buku perpustakaan sebagai

sumber belajar dalam pembelajaran serta administrasi dan layanan perpustakaan

sekolah.

2. Dokumentasi

Menurut Arikunto (2002), dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang

artinya barang-barang tertulis. Sedangkan menurut Moleong (2002), ialah setiap

bahan tertulis ataupun film. Dokumen sebagai sumber data dalam penelitian dapat

dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan.

Di dalam melakukan metode dokumentasi dalam penelitian ini, peneliti

menyelidiki benda-benda tertulis yang ada dalam lokasi penelitian. Di antaranya

adalah seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat

(Arikunto 2002:125).

Metode dokumentasi di dalam penelitian digunakan dengan alasan: (1)

selalu tersedia dikantor, (2) Dokumen merupakan sumber data yang stabil, (3) In

51

formasi pada dokumen bersifat realita, (4) Sumber data yang kaya berkaitan

dengan subjek penelitian.

Adapun yang dapat dijadikan objek dalam metode dokumentasi adalah:

koleksi buku-buku perpustakaan, daftar kunjungan siswa ke perpustakaan sekolah

dan administrasi perpustakaan sekolah.

3. Wawancara

Menurut Arikunto (2002:132), wawancara atau interviu atau kuesioner

lisan adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk

memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer). Sedangkan menurut

Moleong (2002:135), wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.

Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang

mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewer) yang memberikan

jawaban atas pertanyaan itu. Dalam wawancara ini, dimaksudkan untuk mengorek

kedalaman peristiwa maupun setting sosial yang menjadi latar belakang terjadinya

peristiwa tersebut. Dalam penelitian ini, digunakan teknik wawancara terpimpin

atau guided interviw dan wawancara bebas atau inguided interview.

Menurut Arikunto (2002:132), wawancara terpimpin atau guided interviw

adalah bentuk wawancara yang dilakukan pewawancara dengan melakukan

sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci. Sedangkan wawancara bebas atau

inguided interview adalah suatu bentuk wawancara di mana pewawancara bebas

menanyakan apa saja, tetapi tentu saja mengingat akan data apa yang akan

dikumpulkan. Dalam penelitian ini wawancara ini digunakan sebagai pelengkap

52

apabila pewawancara merasa bahwa data yang diperoleh dari teknik lain belum

memadai.

Sebagai pedoman dalam melakukan wawancara, peneliti menggunakan

pedoman wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Menurut Arikunto

(2002:202) pedoman wawancara terstrukur yaitu pedoman wawancara yang

disusun secara terperinci sehingga menyerupai chek list sedangkan menurut

Moleong (2002:138), wawancara terstruktur adalah wawancara yang

pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang

akan diajukan. Adapun wawancara tidak terstruktur yaitu pedoman wawancara

yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan (Arikunto 2002:202).

Dalam penelitian ini, yang menjadi sasaran wawancara adalah: kepala

sekolah selaku penanggungjawab perpustakaan sekolah, petugas perpustakaan dan

siswa yang berkaitan langsung terhadap pemanfaatan buku-buku perpustakaan

sekolah sebagai sumber belajar dalam pembelajaran.

Adapun jenis/sifat wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara baku

terbuka. Wawancara baku terbuka adalah wawancara yang menggunakan

seperangkat pertanyaan baku (Moleong 2002:136). Maksud pelaksanaannya

adalah untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya “kemencengan” atau bias.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->