P. 1
Indal Housing

Indal Housing

|Views: 239|Likes:
Published by dirgantara dirgent
mengatasi masalah dengan identitas kawasan
mengatasi masalah dengan identitas kawasan

More info:

Published by: dirgantara dirgent on May 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2010

pdf

text

original

2010

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

KELOMPOK V
Analisa rancang kota I urban designer

Fahmi Alhaqqi /25609004
Desain dan konsep bangunan II architect

IKetut Dirgantara/25209038 Tika Novis Putri/25209037
Desain dan konsep landscape III Landscape designer

Sofie chaeriyah/25209018

[KAWASAN HUNIAN DI INDUTRI DALAM BANDUNG]
The Sundanese tribe formed the majority of the original community in the area of West Java, Indonesia. Generally, the Sundanese community is known to practice the culture of communality with strong family values. These are due to the common cultural practice of communality, which is locally known as ‘guyub’ and ‘rereongan’. ‘Guyub’ is a traditioanl Sundanese social practice of gathering around to socialize within the community of an area. ‘Rereongan’ is the culture of sharing within the community that strengthen and compliment the social practice of ‘guyub’. The common gathering activity that is being practice usually involves creative activities such as producing arts and crafts, gardening and farming, fishing (balong) or simply by just hanging out together for recreational purposes or playing traditional games, and all these are usually being done at a common open space of the village.

2

TABLE OF CONTENTS

abstract
The Sundanese tribe formed the majority of the original community in the area of West Java, Indonesia. Generally, the Sundanese community is known to practice the culture of communality with strong family values. These are due to the common cultural practice of communality, which is locally known as ‘guyub’ and ‘rereongan’. ‘Guyub’ is a traditioanl Sundanese social practice of gathering around to socialize within the community of an area. ‘Rereongan’ is the culture of sharing within the community that strengthen and compliment the social practice of ‘guyub’. The common gathering activity that is being practice usually involves creative activities such as producing arts and crafts, gardening and farming, fishing (balong) or simply by just hanging out together for recreational purposes or playing traditional games, and all these are usually being done at a common open space of the village. However lately, these precious cultural practice of the Sundanese people seems to be left out and forgotten in the current hectic and high density city life. The issues of urbanization that caused high density living, shortage of land to live in, as well as the problem of increasing jobbless rate due to shortage of working opportunities contributes to the existence of slum area in the city side of West Java, which our site, the area of Industri Dalam is. The area of Industri Dalam is located at the Developing District of Bojonegara, West Java, Indonesia. Industri Dalam is startegically located at the area of Bandung Main Station, as well as the station and terminal of Ciroyom. It can be easily accessed from its surounding area, which consist of industrial zones, trading and business area and hotel. With the potential of being surrounded by these industrial and business zones, we see that this potential shall be developed and included in the design startegy of the new dwelling area for Industri Dalam, thus benefiting and contributing to its surrounding. This strategy is hoped to increase the capacity building of the dwellers as well as the natural resources locally available. In addition to that, the common practice of farming also leads us to include the concept of urban farming in our design strategy. The development of flats as solution for the wide myriad of problems that occurred to the site shall be addressed both in terms of design solution, coupled with management strategies. We proposed three types of dwelling units. Type 1, with the total area of 72 m2 shall be offered to the dwellers or end users that have the capital and whom that shall ran the whole business of the creative industry. The operators and trainers of workshops from these creative industry development shall be offered with they Type 2 dwelling, which sized 45 m2. The smallest type, being offered to the workers and production line community will be designed with the size of 36 m2. The planning of the flats of Industri Dalam is being based from the local tradition of the Sundanese village, which generally consists of sequence of housing units (known as Imah), orientated towards the North-South orientation. This component is being configured to surround the open space (alun-alun) and a volleyball court that also function as a public open space for communal and sporting activities. Situated at the middle part of the planning is a traditioanal Sundanese pond, known as Balong that is designed to be multi-functioned. It will act as retention pond, pond for macrophytes – the main resource to produce handmade crafts as well as for water recreation purposes. To encourage and support other communal activities, a public space is provided at the pilotis level, which haoused some eateries and other public ammenities and facilities, while at the podium level and fifth floor level is where the green open space is being located for the purpose of urban farming and community recreation.

Layout sayembara Analisa rancang kota I
urban designer Fahmi Alhaqqi /25609004

01 03

Desain dan konsep bangunan II
architect IKetut Dirgantara/25209038 Tika Novis Putri/25209037

11

Desain dan konsep landscape III
Landscape designer Sofie chaeriyah/25209018

19

3

4

5

DESAIN DAN KONSEP BANGUNAN II
KONSEP DASAR

Isu pertama yang kita ambil sebagai permasalahan utama adalah dengan memperhatikan bahwa di tapak berada di tengah kota, daerah padat penduduk , dengan kondisi eksisting yang merupakan perumahan padat semi kumuh dengan sebagian besar penghuni merupakan golongan ekonomi menengah kebawah. Tapak yang merupakan lahan milik pemerintah telah lama ditinggali secara non formal oleh masyarakat setempat. Hal ini dengan sangat jelas memperlihatkan bahwa kebutuhan hunian yang dapat dipenuhi oleh pemerintah bagi masyarakat kelas menengah kebawah sangatlah kurang. Dari perhitungan jumlah kepala keluarga dan jumlah unit hunian yang harus diakomodasi, dibutuhkan paling tidak 19788 unit rumah pada kawasan tersebut dan sekitarnya. Dengan menyediakan perumahan vertical pada kawasan ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan akan hunian pada area berkepadatan cukup tinggi ini. Isu kedua adalah kita mengangkat dari pertambahan populasi masyarakat bandung dari tahun ke tahun. Pertambahan tersebut dapat terus meningkat pada beberapa tahun mendatang. Perancangan hunian vertical yang merespon pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang merupakan jawaban penting atas isu peningkatan densitas ini. Ruang-ruang yang fleksibel, pemanfaatan lahan yang efisien, serta perancangan ruang komunal yang dapat mengakomodasi jumlah populasi besar dapat diterapkan dalam perancangan hunian vertical pada kawasan ini. Isu ketiga dan juga merupakan isu yang sangat penting dalam menentukan konsep perancangan yaitu isu pengangguran. Menurut data kependudukan yang kami dapatkan, lebih dari 45% jiwa pada kawasan ini merupakan pengangguran, sehingga, kami berpendapat bahwa permasalahan utama tapak ini tidak saja pada kebutuhan akan hunian, namun juga kebutuhan akan adanya generator ekonomi yang dapat menggerakan perekonomian dan meningkatkan taraf hidup masyarakat pada kawasan tersebut. Mengurangi angka pengangguran, memberdayakan masyarakat melalui unit usaha kecil menengah (UKM), serta menciptakan system ekonomi lokal yang dapat meningkatkan interaksi penghuni dari seluruh lapisan social dan ekonomi setempat. Unit usaha kecil menengah yang dimaksudkan adalah unit usaha yang masih belum banyak dikembangkan secara luas untuk membuka peluang lebih banyak sebagai komoditi terbatas, sehingga tingkat persaingan belum begitu besar. Permasalahan pada Tapak

6

Kepadatan penduduk di Kota Bandung juga diakibatkan oleh tingginya arus urbanisasi dari area disekitar Bandung mengingat Bandung yang merupakan Ibukota Propinsi tentu menawarkan fasilitas ekonomi, social, dan pendidikan yang lebih baik. Dengan demikian, kaum pendatang kalangan ekonomi menengah kebawah yang tidak mampu membeli rumah secara formal, mulai menduduki kawasan-kawasan non formal seperti lahanlahan pemerintah di bantaran sungai, di sekitar rel kereta api, dan kawasan lain yang akhirnya menciptakan setting kawasan sendiri yang biasa kita sebut “kampong kota”, sebuah tatanan kehidupan kampong yang berada di tengah kota, baik dilihat secara fisik hunian maupun perilaku penghuninya. Setting kehidupan seperti ini juga yang kami lihat pada tapak Industri Dalam, sebuah kawasan yang terkesan seperti kampong karena perilaku menghuninya, namun sangat dekat dengan fasilitas-fasilitas strategis kota seperti terminal, stasiun, pasar, sekolah, dan lain-lain. Bandung yang merupakan tatar Parahyangan, dengan masyarakat Sundanya yang terkenal ramah, suka berkumpul, dan guyub terasa begitu kuat di kawasan Indal. Sebagian penduduknya yang memang merupakan penduduk setempat serta pendatang yang umumnya masih berasal dari sekitar Jawa Barat memperkuat kesan kawasan ini sebagai kampong sunda di tengah kota. Perancangan rumah susun di kawasan ini juga seharusnya mempertimbangkan hal tersebut, mempertimbangkan bahwa ada unsure lokalitas yang kuat yang dapat diakomodasi dalam tapak. Lokalitas penghuni, perilaku, budaya, serta kebiasaan. terlebih masyarakat pendatang yang memang berasal dari desa, sulit untuk semerta-merta beradaptasi dengan baik dengan kondisi hunian vertikal. Kebiasaan tinggal di kampong dengan landed house dengan ruang-ruang lebih untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti bercocok tanam, memelihara ikan, serta membuka warung, sedikit banyak masih terbawa Menggabungkan dua isu besar dalam sebuah konsep besar Dari kedua isu besar tersebut, kami berusaha mengangkat konsep dimana sebuah hunian vertical tidak hanya mengakomodasi kebutuhan akan papan pada daerah berkepadatan tinggi saja, namun juga hunian yang mampu menjadi generator ekonomi melalui kegiatan usaha kecil menengah kreatif. Konteks kawasan yang berada di Bandung dengan konteks masyarakat sunda diperkuat dengan menghadirkan elemenelemen kampong tradisional sunda pada perancangan tapak. Imah, balong, dan pasar Dengan mengangkat elemen penting dari sebuah kampong tradisional sunda, kita dapat mengintegrasikannya dengan perilaku menghuni di rumah susun menyesuaikan dengan perilaku masyarakat di rumah susun. Menurut buku menelusuri arsitektur masyarakat sunda karangan Purnama Salura. Elemen sunda yang tersedia di masing-masing perkampungan tradisional sunda diantaranya adalah imah (rumah) sebagai hunian, sawah/balong (sawah/kolam) sebagai daerah mata pencaharian, pasar (pasar) sebagai transaksi jual beli dan pusat orientasi desa, dan makam(kuburan) sebagai tempat kuburan masyarakat desa. Khusus untuk komponen makam tidak kita pakai mengingat keperluan dari suatu rumah susun tidak menjangkau hal tersebut. Dengan mengambil analogi 3 elemen tersebut, kami berupaya menghadirkan imah, balong, dan pasar dalam konteks kawasan. Imah dalam hal ini sebagai hunian atau rumah susun, balong sebagai sumber mata pencaharian kawasan yang diajukan yaitu tempat menghasilkan eceng

7

gondok sebagai komoditi utama industry kecil dan menengah yang diusulkan, dan pasar sebagai tempat memasarkan hasil industry keatif eceng gondok. Selain itu, elemen arsitektur vernacular seperti saung, “sawah”, dan bambu juga turut diaplikasikan dalam tapak. Creative industries Untuk mengangkat ekonomi masyarakat, diperlukan adanya generator ekonomi. Melihat potensi kawasan yang dekat dengan jalur kereta api, terminal, dan stasiun, maka potensi-potensi yang dapat memanfaatkan akses jalur transportasi tersebut perlu dikembangkan. Adanya waduk jatiluhur yang menghabiskan dana jutaan rupiah untuk membersihkan tanaman eceng gondok yang merupakan gulma bisa menjadi potensi. Untuk memulai industry dengan skala kecil, maka media tumbuh eceng gondok dapat dibuat dalam skala yang lebih kecil di dalam tapak. Dengan jumlah yang dapat diakomodasi oleh balong, diprediksikan balong dapat memenuhi kebutuhan komoditi eceng gondok untuk 5 tahun pertama. Selanjutnya, ketika industri ini semakin berkembang, peluang mensuplai kebutuhan eceng gondok dari waduk jatiluhur sangat memungkinkan. Kesimpulan Selanjutnya, konsep perancangan dapat dirumuskan sebagai berikut : “ Mengangkat Industri Kreatif Pada Kompleks Hunian Vertikal Dalam Konteks Masyarakat Sunda”

disewakan, fasilitas umum dan sosial seperti mushalla, sekolah dasar, balai warga, klinik, area bermain, serta kantor pengelola.

APLIKASI KONSEP
Selanjutnya konsep diaplikasikan dalam perancangan pemintakatan tapak, dimana tapak dibagi menjadi 3 kompleks besar, yaitu hunian untuk tipe 1,3, dan 6. Kelompok tipe 1 dalam hal ini merupakan hunian kelas menengah ke atas dengan peruntukkan seluruh lantai dasar sebagai toko untuk memasarkan produk industry kreatif, toko ini dapat disewakan bagi pemilik hunian tipe 1 (70 m2). Kelompok tipe 3 yaitu hunian kelas menengah dengan peruntukan lantai dasar seluruhnya sebagai workshop / bengkel industri kreatif eceng gondok. Dan kelompok 6 yaitu hunian kelas menengah kebawah (tipe 36) dengan peruntukkan seluruh lantai dasar sebagai warung komunitas untuk

8

ke dalam rumah yang berarti mengurangi beban listrik untuk pengkondisian udara dan lain-lain. Ruang terbuka bagi kawasan selain ditempatkan pada masing-masing kelompok hunian juga dipusatkan ditengah yaitu disekitar balong. Balong dalam hal ini sebagai media tumbuh eceng gondok sekaligus tempat budidaya ikan serta area rekreasi penghuni. Balong ditempatkan berada ditengah tapak sebagai representasi kawasan sebagai kawasan hunian sekaligus “kampung” pengrajin eceng gondok yang seluruh prosesnya dari membudidayakan eceng gondok di balong, penjemuran, penjalinan, hingga pengerjaannya menjadi produk kreatif dapat disaksikan langsung di tempat. Selain itu, balong juga bermanfaat dalam hal ekologi sebagai penampung air hujan untuk akhirnya dimanfaatkan untuk kebutuhan utilitas serta penyiraman tanaman.

Dalam perancangan orientasi massa bangunan, kosmologi kampung tradisional sunda yang berorientasi utara-selatan diterapkan dalam perancangan. Orientasi seperti ini dirasa paling sesuai dengan kondisi Indonesia khususnya Bandung yang tropis. Sehingga peletakan massa bangunan seperti itu diharapkan mengurangi radiasi langsung matahari

Kebiasaan guyub masyarakat sunda diakomodasi secara luas pada tapak. Selain ruang terbuka besar pada lantai dasar, ruang komunal juga dirancang di roofgarden pada lantai 1 serta pada rooftop bangunan. Elemen saung diterapkan sebagai ruang komunal kecil terbatas yang biasa digunakan oleh masyarakat sunda tradisional untuk berkumpul atau mengkonsumsi hasil kebun sendiri. Sama halnya dengan itu, saung pada perancangan ini juga dirancang sebagai ruang komunal terbatas sebagai tempat berkumpul 4-6 orang dengan menggunakan material bambu khas sunda dengan bangunan saung dirancang berbentuk panggung.

9

SKENARIO PERANCANGAN Bagaimana cara merespon penduduk yang masih berada pada site ketika membangun?
Skenario tahapan pembangunan Kondisi eksisting tapak cukup memprihatinkan. Sebagian besar masyarakat merupakan kelas menengah kebawah, dengan persentase hampir 90 persen. Dengan fakta yang demikian muncul pertanyaan, bagaimana cara memasukkan masyarakat kelas menengah ke atas atas ke dalam site yang mayoritas adalah penduduk kelas bawah? Sedangkan aturan pemerintah, menyebutkan bahwa dalam suatu rumah susun harus terdapat unsur 1,3 dan 6. 1 merupakan persentase untuk masyarakat golongan atas 10%, 3 merupakan persentase untuk masyarakat golongan menengah (30%) dan 6 untuk masyarakat golongan kelas bawah (60%). Sekarang kondisi site 90% golongan 6 dan 10% golongan 3. Kita akan menciptakan peluang bisnis terhadap golongan 1 dan 3. Dengan menjanjikan bahwa pada site ada potensi dari masyarakat untuk bekerja dan mampu menciptakan industri, peluang bisnis ada dan hal tersebut sebagai pemancing golongan 1 dan 3. Jalannya adalah dengan membuat 6 menjadi tenaga terlatih. Untuk mengetahui kemampuan individu, kita sediakan pasar dalam site, dimana pasar tersebut sebagai penampung hasil kreatif dair masyarakat 6. Yang nantinya hasil dari pasar tersebut untuk membangun tahap awal untuk type rumah satu. Untuk pasar, dapat dipergunakan bangunan bekas pabrik, strukturnya masih bisa dipakai hanya memperbaiki atap. Area pembangunan tahap pertama dapat dilihat di gambar yang dulunya merupakan area rumah duka. Setelah selesai tahap satu dapat dipasarkan ke type 1dan hasil dari pemasaran tersebut untuk membangun type 2. Untuk type 2 dibangun rusun untuk masyarakat golongan bawah. Setelah selesai, masyarakat golongan bawah yang berada di area kumuh dapat berpindah ke bangunan baru ini. Pembangunan pada tahap tiga adalah pada rusun indal yang lama. Rusun tersebut masih bisa di pertahankan dari segi struktur. Untuk besaran ruangan bisa didesain ulang. Tentunya hal tersebut dapat menekan biaya pembangunan.

10

Setelah selesai, bangunan tersebut bisa dipasarkan ke golongan kelas 3. Hasil dari pemasaran dapat dipakai untuk renovasi keseluruhan bangunan dan untuk fasilitasfasilitas penunjang.

Dan peran tersebut diambil type 3 Type 1 tipe satu merupakan tipe yang paling tinggi. Berpendidikan dan memiliki jaringan konsumen yang luas. Dalam hal ini, peran yang cocok untuk tipe ini adalah distributor. Dengan memanfaatkan keahlian pemasaran dan jaringan yang luas peran ini sangatlah sesuai. Dan untuk pekerja dari toko yang dikelola adalah dari tipe 3. Tenaga kerja dekat, toko sekaligus tempat hunian. Lokasi untuk tipe 6 harus merespon kawasan tersebut, karena kawasan ini area ramai penduduk sekitar. Dengan memberikaan fasilitas warung dan parkir gerobak untuk pedagang kaki lima, mereka bisa memanfaatkan untuk berjualan, sasarannya adalah penduduk sekitar. Posisi tipe 3 merupakan ruang produksi yang membutuhkan akses khusus dalam pengiriman barang. Jalan industri dalam dapat dimanfaatkan sebagai akses tersebut. Posisi tipe 1 merupakan area display barang kerajinan. Dengan jalur KA diharapkan para penumpang akan dapat melirik display dari bangunan ini. Dan tentunya menarik minat untuk mengunjungi.

DASAR posisi
Posisi 1,3 dan 6 pada site dikarenakan oleh beberapa hal. Selaindari skenario seperti yang dijabarkan diatas, posisi tersebut dikarenakan pengaruh dari luar site. Hal yang paling berpengaruh adalah terdapatnya jalan industri dalam, terdapatnya sekolah bina bangsa dan perumahan penduduk, terdapatnya area kumuh dan terdapatnya jalur KA lintas bandung. Skil masing-masing individu Type 6 adalah merupakan type yang pendidikannya kurang tetapi mereka mempunyai skill yang bisa dilatih. Hal tersebut memberikan peran terhadap tipe enam yaitu sebagai pekerja. Dalam hal ini adalah pekerja industri eceng gondok. Timpal balik yang di dapat adalah berupa tambahan penghasilan dan kedekatan lokasi kerja yang tidak memerlukan biaya transportasi Type 3 memiliki karakter berpendidikan, hal tersebut bisa kita manfaatkan. Mereka yang mempunyai pendidikan standar diharapkan bisa memanage pekerjaan dari type 6. Type 6 yang tidak terlatih perlu adanya pengawas produksi.

11

DESAIN
Sirkulasi pengunjung hanya berlingkup di wilayah dalan bangunan. Sirkulasi servis hanya menuju blok bangunan type 3 sedangkan sirkulasi penghuni terdapat di blakang masing-masing blok. Pada top floor dari masing-masing blok dipakai sebagai ruang komunal dan gudang. Dengan memanfaatkan ruangan di bawah atap ruangan tersebut juga dapat berfungsi ketika hujan.

Area hunian berorientasi utara selatan dan masingmasing lokasi terdapat ruang komunal, gudang dan tangga kebakaran.

Pada lantai satu, terdapat beberapa ruang komunal yang terdapat pada atap bangunan. Seperti di tipe 3 ruang komunal tersebut terdapat di atas parkir begitu juga dengan tipe 6.

Pada lantai dasar berfungsi sebagai fasilias umum seperti mushola, parkir, TK, SD dll, pada area ini juga terdapat toko dan area produksi eceng gondok.Ttidak ada hunian pada lantai dasar.

12

Concept by concept Pada dasarnya, setiap unit hunian diperuntukan untuk 4 anggota keluarga. Dua orang tua dan dua anak. Tapi kenyataanya, di setiap rumah susun terjadi penambahan anggota. Sepupu atau paman yang dari desa. Hal tersebut menyebabkan ruangan-ruang yang semestinya di pakai bersama seperti koridor menjadi sasaran tempat tinggal. Hal tersebut kami tanggulangi dengan membuat kamar yang fleksibel. Dindingnya dibuat partisi menggunakan material lokal agar lebih menekan biaya. Kapasitas maksimal yang mampu di tampung dalam rumah ini apabila terjadi penambahan anggota keluarga adalah sampai 8 orang. Walaupun hal ini sebernarnya tidak kita inginkan tapi desain ini masih mampu menjawab apabila kejadian seperti tersebut muncul sebelum ditemukannya solusi yang lebih pasti. Konsep bangunan tradisional sunda dengan menempatkan peralatan pada dasar bangunan kita aplikasikan pada rusun ini. Pada bagian dasar bangunan tidak diperuntukkan sebagai hunian melainkan fasilitas-fasilitas penunjang yang dapat diibaratkan sebagai peralatan pendukung hunian. Response to global warming Vertical urban farming mengurangi kadar panas dalam bangunan, begitu juga dengan roof garden. Bangunan tinggi diletakkan pada bagian barat bangunan sebagai penaung sinar matahari, kemudian di area teduh tersebut terdapat ruang-ruang komunal seperti lapangan voli dan arkade. Dengan menggunakan atap julang ngaplak, sirkulasi penghawaan dalam atap mampu mereduksi panas dari bangunan di bawahnya. Balong selain berfungsi sebagai mata pencaharian juga sebagai tempat penampungan air hujan yang kemudian di treatment sehingga dapat digunakan untuk keperluan seharihari.

13

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA Chalim, Abdul. 1998. Peran Vegetasi Dalam Iklim MIkroklimat. Jakarta. Chiara, Joseph. 1978. Standar Perencanaan Tapak (Terjemahan, Alih Bahasa : Ir. Januar Hakim). Jakarta. Erlangga. Cottom Winslow, Margaret. 1991. International Landscape Design. PBC Int. Inc. New York. Deasy, C. M. 1985. Design Places For People. Whitney Library of Design. USA. Hakim, Rustam. 1996. Penyajian dan Tahapan Perancangan Arsitektur Lansep. Unversitas Tisakti. Hakim, Rustam dkk. 2002. Komponen perancangan Arsitektur Lansekap Prinsip – Unsur dan Aplikasi Design. Jakarta. Bumi Aksara. Krier, Rob. 1991. Urban Space. Rizzoli Int. Publications. USA. Paumier, Cyril. 1988. Designing The Succesfull Downtown. ULI The Urban Land Institute. Washington D. C. Rabindra, Ida Bagus. 1977. Interpretasi Lansekap. Universitas Trisakti. Jakarta Reid, Grant. W. 1990. Grafik Lansekap (Terjemahan, Alih bahasa : Ir. Paulus Hanoto Adjie). Jakarta. Erlangga. Reid, Grant. W. 1993. From Concept to Form in Landscape Design. London. Van Hornstrand Reinhold. Simonds, J. O. 1978. Landscape Architecture. McGraw Hill Book Co. New York. White, Edward. T. 1985. Analisis Tapak (Terjemahan, alih Bahasa : Aris. K. Onggodiputro). Bandung. Intermata.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->