P. 1
b6 neutransmiter PBL

b6 neutransmiter PBL

|Views: 474|Likes:
Published by CalistaParamitha

More info:

Published by: CalistaParamitha on May 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya setiap manusia dapat melakukan aktivitas, bernafas, mencerna, bergerak, melihat, mendenggar suara, menanggapi suatu rangsangan dan lainnya. Semua gerakan dan juga respon yang dtimbulkan ini bergantung dari penggolahan di otak. Tanpa adanya system penggolahan di otak baik sinaps maupun impuls yang disalurkan ke otak, manusia tidak akan mampu bereaksi atau menanggapi suatu rangsangan, baik yang berasal dari dalam tubuh maupun yang berasal dari luar tubuh. Mekanisme kerja otak di penggaruhi oleh system saraf pusat ( SSP ) dan juga bagian organ otak lainnya yang saling bekerja sama untuk memerintahkan anggota tubuh agar dapat memberi respon untuk suatu rangsangan. Semua ini terkoordinasi dengan baik dan juga sangat kompleks, sehingga apabila bagian kepala kita ada yang terkena benturan atau pun trauma baik ringan ataupun berat dapat menyebabkan terganggunya system koordinasi otak kita sehingga dapat menggangu fungsi fisiologis dari tubuh kita baik secara sensorik maupun motorik. Sebagian perbedaan SSP ditentukan secara genetis. Namun sisanya disebabkan oleh pengalaman atupun pengaruh lingkungan.

1.2 Tujuan Dalam makalah ini akan dibahas mengenai struktur system saraf otonom secara makroskopis, mikroskopis, fungsinya secara motorik dan sensorik, mekanisme kerja.

BAB II
1

PEMBAHASAN
2.1 SISTEM SARAF OTONOM

Serat saraf simpatis dan parasimpatis mensekresikan salah satu dari kedua bahan transmiter sinap yaitu asetilkolin dan norepinefrin. Serat-serat yang mensekresi asetilkolin disebut serat kolinergik, serat-serat yang mensekresi norepinefrin disebut serat adrenergik. Didalam sistem saraf simpatis dan parasimpatis semua neuron preganglionik bersifat kolinergik. Oleh karena itu, bila bahan asetelkolin atau bahan seperti asetilkolin diberikan pada ganglia, maka akan merangsang neuron postganglionik simpatis dan parasimpatis. Semua atau hampir semua neuron postganglionik parasimpatis bersifat kolinergik, sebaliknya sebagian besar neuron postganglionik simpaits bersifat adrenergik, walaupun tidak seluruhnya demikian sebab serat-serat saraf postganglionik simpatis yang kekelenjar keringat, otot-oto piloerektor dan beberapa pembuluh darah yang bersifat koligernik Sebelum transmiter asetilkolin, norefinefrin atau epinefrin disekresi pada ujung saraf otonom untuk dapat merangsang organ efektor,transmiter ini mula-mula harus berikatan dulu dengan reseptor yang sangat spesifik pada sel-sel efektor. Asetilkolin mengaktifkan dua macam reseptor yakni reseptor muskarinik dan reseptor nikotinik. Reseptor muskarinik (M) dijumpai disemua sel efektor yang dirangsang oleh neuron postganglionik dari sistem saraf parasimpatis. Reseptor nikotinik dijumpai disinap antara neuron preganglionik dan postganglionik dari sistem simpatis dan parasimpatis, reseptor ini juga terdapat pada ujung saraf otonom di dalam membran otot skeletal. Norepinefrin mengaktifkan reseptor alfa dan reseptor beta. Selanjutnya reseptor beta dibagi menjadi reseptor beta1 dan reseptor beta2. Norepinefrin dan epinefrin, keduanya disekresikan kedalam darah oleh medulla adrenal, mempunyai pengaruh perangsangan yang berbeda pada reseptor alfa dan beta. Norepinefrin terutama merangsang reseptor alfa dan kurang kuat merangsang reseptor beta. Epinefrin merangsang kedua reseptor ini hampir sama kuatnya.1 Sistem saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan dari reseptor untuk di deteksi dan direspon oleh tubuh. System saraf memungkinkan mahkluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam. Sistem saraf di bagi menjadi :

1. Sistem Saraf Pusat (SSP)
2

terdiri cerebrum dan medulla spinalis. a.cerebrum Merupakan daerah integrasi utama sistem saraf, yaitu sebagai tempat penyimpanan memori, terjadinya pemikiran, pengaturan emosi, dan fungsi lain yang dikaitkan dengan kejiwaan dan ngendalian tubuh. b. Medula spinalis Berfungsi sebagai tempat transfer ke dan dari otak, daerah integrasi untuk koordinasi banyak kegiatan saraf di bawah sadar, seperti refleks menarik bagian tubuh menjauhi perangsangan yang menyakitkan, dan lain-lain. 2. Sistem Saraf Tepi (SST) terdiri nervi cranialis & nervi spinalis. Fungsinya sebagai serat aferen untuk mengantarkan informasi sensorik ke sistem saraf pusat dan serat eferen untuk menghantarkan sinyal motorik yang berasal dari sistem saraf pusat. 3. Sistem Saraf Otonom (SSO) terdiri nervi simpatis & nervi parasimpatis  SISTEM SARAF OTONOM
• •

Saraf Simpatis: terdiri T1 s/d T12 ditambah L1 dan L2 Saraf Parasimpatis: terdiri Saraf cranialis: 3, 7, 9, 10/11 ditambah Saraf spinalis: S 2, 3, 4

 SARAF SIMPATIS
• • • • •

SSO yg berasal dari saraf spinal T1 – L2 Saraf simpatis memulai reaksi “melawan/kabur” S.simpatis bersinap di trunkus simpatis Serabut preganglionik Serabut postganglionik

 SARAF PARASIMPATIS
3

• • • • •

SSO yg berasal dari s.cranial 3,7,9,10/11 dan s.spinal S 2,3,4 Saraf parasimpatis mengendalikan tubuh dlm keadaan yg lebih santai S.parasimpatis bersinap di viscera (ganglion mikroskopis) N.3 mengurus m. konstriktor pupil dan m.siliaris, sinap ganglion siliaris N.7 mengurus glandula.submandibularis dan glandula.sublingualis, sinap ganglion.submandibularis N.7 mengurus glandula. lakrimalis, sinap ganglion.sfenopalatina N.9 mengurus glandula.parotis, sinap di ganglion.otikum N.10/11 mengurus viscera thorax, abdomen dan colon (kecuali: colon.descenden, sigmoid, rectum, dan anus).2

• • •

2.2 SISTEM DAN FUNGSINYA Jalur saraf otonom terdiri dari suatu rantai 2 neuron, dengan neurotransmitter terakhir yang berbeda antara saraf simpatis dan parasimpatis. Sistem saraf otonom terdiri dari system saraf simpatis dan parasimpatis.Serat-serat saraf simpatis berasal dari daerah torakal dan lumbal korda spinalis.Sebagian serat praganglion simpatis berukuran sangat pendek,bersinaps dengan badan sel neuron pascaganglion didalam ganglion yang terdapat di rantai ganglion simpatis yang terletak di kedua sisi korda spinalis.Serat pascgangliion panjang yang berasal dari rantai ganglion itu berakhir pada organ-organ efektor.Sebagian serat praganglion melewati rantai ganglion tanpa membentuk sinaps dan kemudian berakhir di ganglion kolateral simpatis yang terletak sekitar separuh jalan antara SSP dan organ-organ yang dipersarafi,dengan saraf pascaganglion menjalani jarak sisanya. Serat-serat praganglion parasimpatis berasal dari daerah cranial dan sacral (sebagian saraf kranialis mengandung seratparasimpatis). Serat-serat ini nerukuran lebih panjang dibandingkan dengan serat praganglion simpatis karena serat-serat itu tidak terputus sampai mencapai ganglion terminal yang terletak didalam atau dekat organ efektor.Seratserat pascaganglion yang sangat pendek berakhir di sel-sel organ yang bersangkutan itu sendiri.

4

Serat-serat praganglion simpatis dan parasimpatis mengeluarkan neurotransmitter yang sama,yaitu asetilkolin,tetapi ujung-ujung pascaganglion kedua system ini mengeluarkan neurotransmitter yang berlainan (neurotransmitter yang mempengaruhi organ efektor).Serat-serat pascaganglion parasimpatis mengeluarkan asetilkolin. Dengan demikian, serat-serat itu bersama dengan semua serat praganglion otonom disebut sebagai kolinergik. Sebaliknya, sebagian serat pascaganglion simpatis disebut serat adrenergic karena mengeluarkan noreadrenalin (norepinefrin).Baik asetilkolin maupun norepinefrin juga berfungsi sebagai zat perantara kimiawi di bagian tubuh lainnaya. Serat-serat otonom pascaganglion tidak berakhir pada sebuah tonjolan seperti kepala sinaps (synaptic knob),namun cabang-cabang terminal dari serat otonom mengandung banyak tonjolan (varicosities) yang secara simultan mengeluarkan neurotransmitter ke daerah luas pada organ yang dipersarafi dan bukan ke sebuah sel. Pelepasan neurotransmitter yang bersifat difus ini,disertai kenyataan bahwa di otot polos atau jantung setiap perubahan aktivitas listrik akan disebarkan melalui gap junction,memiliki arti bahwa keseluruhan organ biasanya dipengaruhi aktivitas otonom bukan sel satu per satu.3 a) Sistem saraf otonom mengontrol aktivitas organ visceral involunter Sistem saraf otonom mengatur aktivitas alat-alat dalam (visceral) yang dalam keadaan normal di luar kesadaran dan control volunteer misalnya sirkulasi, pencernaan, berkeringat dan ukuran pupil. Dengan demikian, sistem ini dianggap sebagai cabang involunter divisi eferen, berbeda dengan cabang volunteer somatic, yang mempersarafi otot rangka dan dapat dikontrol secara volunteer. Namun,tidak seluruhnya benar bahwa individu tidak memiliki kontrol terhadap aktivitas yang diatur oleh system otonom.Informasi aferen visceral biasanya tidakmencapai tingkat kesadaran,sehingga individu tidak mungkin secara sadar mengontrol keluaran eferen yang timbul.Namun,dengan teknik-teknik biofeedback individu dapat diberi suatu sinyal sadar mengenai informasi aferen visceral misalnya dalam bentuk suara, cahaya, atau tampilan grafik pada latar computer. b) Sistem saraf simpatis dan parasimpatis bersama-sama mempersarafi sebagian besar organ visceral
5

Sebagian besar organ visceral dipersarafi oleh serat saraf simpatis dan parasimpatis.Sistem jantung, sementara saraf simpatis dan parasimpatis menimbulkan efek yang bertentangan pada organ tertentu.Stimulasi simpatis meningkatkan kecepatan denyut stimulasi parasimpatis pencernaan, menurunkannya. sedangkan Stimulasi simpatis memperlambat gerakan saluran stimulasi parasimpatis

meningkatkan motilitas saluran pencernaan.Perhatikan bahwa satu sistem tidak selalu bersifat eksitatorik dan yang lain inhibitorik.Kedua sistem meningkatkan aktivitas beberapa organ dan menurunkan aktivitas organ-organ yang lain. Sistem saraf simpatis meningkatkan respons-respons yang mempersiapkan tubuh untuk melakukan aktivitas fisik yang berat dalam menghadapi situasi penuh stress atau darurat,misalnya ancaman fisik dari lingkungan luar. Respons semacam ini biasanya disebut sebagai fight or flight response, karena system simpatis mempersiapkan tubuh untuk melawan atau melarikan diri dari ancaman. Pikirkan tentang sumber-sumber pada tubuh yang diperlukan pada keadaan seperti ini. Jantung berdenyut lebih cepat dan lebiuh kuat, tekanan darah meningkat karena konstriksi umum pembuluh darah saluran pernafasan terbuka lebar untuk memungkinkan aliran udara maksimal, glikogen dan simpanan lemak dipecahkan untuk menghasilkan bahan baker tambahan dalam darah, dan pembuluh-pembuluh darah yang mendarahi otot-otot rangka berdilatasi.Semua respons ini ditujukan untuk meningkatkan aliran darah yang kaya oksigen dan nutrisi ke otot-otot rangka sebagai antisipasi terhadap aktivitas fisik yang berat.Selanjutnya pu[il berdilatasi dan mata menyesuaikan diri untuk melihat jauh,yang menungkinkan individu membuat penilaian visual yang cepat mengenai situasi keseluruhan yang mengancam.Terjadi peningkatan berkeringat sebagai antisipasi terhadap peningkatan produksi panas yang berlebihan akibat aktivitas fisik. Karena aktivitas pencernaan dan berkemih kurang penting dalam menghadapi ancaman,system simpatis menghambat aktivitas-aktivitas ini. Sistem parasimpatis,di pihak lain mendominasi pada situasi yang tenang dan rileks.Pada keadaan-keadaan yang tidak mengancam,tubuh dapat memusatkan diri pada aktivitas “rumah tangga umumnya sendiri,misalnya pencernaan dan pengosongan kandung kemih.Sistem parasimpatis mendorong fungsi-fungsi tubuh seperti ini,sementara memperlambat aktivitas-aktivitas yang ditingkatkan oleh system simpatis. Sebagai contoh, tatkala seseorang sedang dalam keadaan tenang,jantung tidak perlu berdenyut dengan cepat dan kuat.
6

Inhibisi sistem saraf parasimpatis oleh kokain mungkin merupakan factor utama dalam kematian mendadak yang disebabkan oleh kelebihan dosis kokain. Apabila kokain menghambat rem parasimpatis yang bersifat protektif, sistem simpatis dapat meningkatkan kecepatan denyut jantung tanpa kendali.Kematian mendadak timbul jika denyut jantung menjadi terlalu cepat dan tidak teratur,sehingga daya pompa jantung tidak adekuat. Terdapat beberapa pengecualian terhadap sifat umum persarafan timbale balik ganda oleh kedua cabang system saraf otonom tersebut,yang paling menonjol adalah sebagai berikut:  Pembuluh darah yang dipersarafi (sebagian besar arteriol dan vena dipersarafi,arteri dan kapiler tidak) hanya menerima serat saraf simpatis.Pengaturan dilakukan dengan meningkatkan atau menurunkan kecepatan pembentukan potensial aksi diatas atau dibawah tingkat tonik serat simpatis tersebut.Satu-satunga pembulh darah yang mendapat persarafan parasimpatis adalah pembuliuh darah yang mendarahi klitoris dan penis.Kontrol vaskuler yang akurat di kedua organ ini oleh persarafan ganda penting untuk menimbulkan ereksi.  Kelenjar keringat hanya dipersarafi oleh saraf simpatis  Kelenjar liur dipersarafi oleh kedua divisi otonom,tetapi tidak seperti di tempat lain,aktivitas simpatis dan parasimpatis tidak antagonistik.Keduanya merangsang sekresi air liur,tetapi komposisi dan volume air liur yang terbentuk berbeda,bergantung dari cabang otonom mana yang dominan. Efek system saraf otonom pada berbagai organ Organ Jantung Efek stimulasi simpatis Peningkatan denyut jantung Peningkatan kontraksi Efek stimilasi parasimpatis Penurunan denyut jantung

kekuatanPenurunan kekuatan kontraksi Dilatasi pembuluh darah yang mendarahi klitoris dan penis saja

Konstriksi (sebagian besar) Pembuluh darah Dilatasi (pembuluh jantung dan otot rangka)

7

Dilatasi bronkiolus Inhibisi sekresi mucus Paru Penurunan motilitas Penurunan motilitas

Konstriksi bronkiolus Stimulasi sekresi mucus Peningkatan motilitas Peningkatan motilitas

Kontraksi sfingter (mencegahRelaksasi sfingter gerakan maju isi saluran) Saluran pencernaan Inhibisi sekresi pencernaan

Stimulasi sekresi pencernaan Relaksasi Kontraksi (pengosongan) Relaksasi Kontraksi (pengosongan) Dilatasi pupil Penyesuaian melihat jauh Kandung empedu Konstriksi pupil Kandung kemih Mata Glikogenolisis Tidak ada Lipolisis Pentesuaian untukmelihat dekat Tidak ada mata mata untuk

Stimulasi Inhibisi sekresi Hati Stimulasi Sel adipose Stimulasi Kelenjar eksokrin Pancreas eksokrin Kelenjar keringat Stimulasi sekresi dan norepinefrin Inhibisi Tidak ada epinefrin Stimulasi Tidak ada

sekresiStimulasi sekresi insulin dan
8

-

Kelenjar liur

insulin,stimulasi glukagon Ejakulasi orgasme dan

sekresiglukagon

Kelenjar endokrin medulla adrenal kontraksi Ereksi

Peningkatan kewaspadaan pancreas endokrin Tidak ada

Genital

Aktivitas otak

Atau

dapat

dilihat

seperti

pada

gambar disamping Gambar1 Sumber : www.google.com

2.3 JARINGAN SARAF Elemen seluler dasar dari sistem saraf adalah sel saraf (neuron) dengan struktur yang sangat bervariasi. Fungsi jaringan saraf adalah

9

menghantar impuls saraf. Selain itu terdapat pula beberapa jenis sel glia (neuroglia) yang berfungsi menyokong dan melindungi neuron dan juga memberi nutrisi. 4 sebagaimana terlihat pada Gambar 2

Sumber : www.google.com Tiga tipe neuron: neuron sensoris, neuron motoris, neuron asosiasi
c) Sel saraf

Sel saraf merupakan saluran anatomis dan fungsional yang terdiri dari badan sel (perikaryon) dan juluran-juluran sel yang disebut akson dan dendrit. Akson biasanya tunggal, sedang dendrit banyak jumlahnya. Dendrit berfungsi menerima impuls dan menghantarkannya ke badan sel, sedang akson berfungsi menghantar impuls dari badan sel ke sel lain (sel saraf, otot, dan kelenjar).Bagian distal akson biasanya bercabang-cabang membentuk pohon akhir (terminal arboration). d) Badan neuron. Badan neuron mengandung nukleus dan sitoplasma. Pada badan neuron juga terdapat RE kasar, ribosom bebas, mitokondria yang sangat banyak jumlahnya, alat golgi,
10

neurofilamen, dan mikrotubul. RE kasar dan ribosom bebas dapat membentuk kelompokkelompok yang terwarna kuat oleh pewarna basa, yang dengan perantaraan mikroskop cahaya disebut badan Nissl. Dendrit tidak mengandung alat golgi, mengandung RE kasar, ribosom, badan Nissl, mitokondria, neurofilamen, dan mikrotubul yang lebih banyak ditemukan daripada di akson. e) Akson Akson diawali oleh suatu bagian berbentuk piramid yang disebut axon hillock. RE kasar dan ribosom yang ditemukan di badan sel dan dendrit, tidak terdapat dalam akson Hillock. Mikrotubul terdapat dalam berkas-berkas. Aksoplasma (sitoplasma akson) terutama mengandung mitokondria, neurofilamen, dan mikrotubul. Akson diselaputi oleh mielin. Di dalam sistem saraf pusat, mielin dihasilkan oleh oligodendrosit, sedang di sistem saraf periferi dihasilkan oleh sel Schwann. Gambar 2.

Sumber : www.Pustekkodepdiknas@yahoo.com

11

2.4 PENGHANTAR IMPULS MELALUI SARAF Penghantaran impuls berupa rangsangan ataupun tanggapan melalui serabut saraf (akson) dapat terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam sel. Pada waktu sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat di bagian luar dan kutub negatif terdapat di bagian dalam sel saraf. Rangsangan (stimulus) pada indra menyebabkan terjadinya pembalikan perbedaan potensial listrik sesaat. Perubahan potensial ini (depolarisasi) terjadi berurutan sepanjang serabut saraf. Pada tahap depolarisasi membran menjadi permeabel terhadap ion natrium (Na+) sehingga sejumlah besar ion natrium berdifusi ke dalam akson sehingga cairan di dalam menjadi lebih positif dan potensial meningkat. Na masuk terus ke dalam sel sampai +30Mv. Tahap repolarisasi kanal natrium tertutup dan kanal kalium terbuka, selanjutnyan difusi ion kalium berlangsung cepat ke bagian luar untuk membentuk kembali potensial membran istirahat negatif yang normal. Kecepatan perjalanan gelombang perbedaan potensial bervariasi antara, tergantung pada diameter akson dan ada atau tidaknya selubung mielin. Bila impuls telah lewat maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial istirahat). Untuk dapat berfungsi kembali diperlukan waktu 1/500 sampai 1/1000 detik. Energi yang digunakan berasal dari hasil pemapasan sel yang dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf.

Stimulasi yang kurang kuat atau di bawah ambang (threshold) tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik. Tetapi bila kekuatannya di atas ambang maka impuls akan dihantarkan sampai ke ujung akson. Stimulasi yang kuat dapat menimbulkan jumlah impuls yang lebih besar pada periode waktu tertentu daripada impuls yang lemah. b. Penghantaran Impuls Melalui Sinapsis Pertemuan satu neuron dengan neuron lain dinamakan sinapsis. Setiap terminal akson membengkak membentuk tonjolan sinapsis. Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi neurotransmitter yang disebut vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut neuron pra-sinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang membentuk sinapsis disebut post-sinapsis. Bila impuls sampai pada ujung neuron, maka vesikula bergerak dan melebur dengan membran prasinapsis. Kemudian vesikula akan melepaskan neurotransmitter berupa asetilkolin. Neurontransmitter adalah suatu zat kimia yang dapat menyeberangkan impuls dari neuron pra-sinapsis ke post-sinapsis. Asetilkolin kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel pada reseptor yang terdapat pada membran post-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada reseptor menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Bila asetilkolin sudah

12

melaksanakan tugasnya maka akan diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran post-sinapsis. 2.5 FUNGSI OTAK DALAM SISTEM PERILAKU Tingkah laku merupakan fungsi seluruh sistem saraf. Tingkah laku khusus yang berhubungan dengan emosi, dorongan motorik dan sensoris bawah sadar, dan perasaan intrinsik mengenai rasa nyeri dan kesenangan diatur oleh fungsi sistem saraf yang dilakukan oleh struktur subkortikal yang terletak di daerah basal otak yang disebut dengan sistem limbik. Struktur sentral serebrum basal dikelilingi korteks serebri yang disebut korteks limbik. Korteks limbik diduga berfungsi sebagai daerah asosiasi untuk pengendalian fungsi tingkah laku tubuh dan sebagai gudang informasi yang menyimpan informasi mengenai pengalaman yang lalu seperti rasa nyeri, senang, nafsu makan, bau, dan sebagainya. Gudang informasi selanjutnya disalurkan ke daerah limbik. Asosiasi informasi ini diduga merupakan perangsangan untuk mencetuskan jawaban tingkah laku yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi seperti marah dan lain-lain. Posisi sistem limbik merupakan batas antara diensefalon dan serebrum. Bagian sistem limbik adalah hipokampus, amigdala, dan talamus yang menghantarkan bagian terbesar sinyalnya ke hipokampus dan menyebabkan efek seperti perasaan senang, perasaan yang dihubungkan dengan makan, marah, dan sebagainya. Amigdala bekerja sama dengan hipotalamus juga berperan penting dalam mengendalikan pola tingkah laku. Amigdala memainkan peranan utama dalam mengendalikan pola tingkah laku tubuh secara menyeluruh. Beberapa fungsi otak dalam mengatur perilaku antara lain dalam menjalankan fungsi intelektual, fungsi bahasa, fungsi komunikasi, dan lain-lain. Berikut ini fungsi otak dan gangguan pada bagian otak yang berpengaruh terhadap tingkah laku dan proses berpikir.

13

1. Fungsi Intelektual Yang berperan dalam kemampuan intelektual adalah prefrontal korteks serebri yang merupakan bagian anterior otak. Jika bagian tersebut rusak, kemampuan intelektual akan menghilang, terutama kemampuan untuk berpikir secara abstrak. Kerusakan daerah Wernicke pada orang dewasa dapat merusak fungsi intelektualnya, sebab daerah Wernicke sangat penting untuk fungsi intelektual otak. Jika hubungan neuronal rusak, bagian lain otak tidak dapat berfungsi secara optimal. Area Wernicke juga disebut daerah integrasi umum, daerah gnostik yang berarti “daerah tahu” (knowing area). Semua pemikiran dan informasi dari daerah sensorik yang berbeda-beda dihubungkan dan dipertimbangkan dalam area Wernicke, untuk mengambil keputusan lebih matang. Pada umumnya, semua informasi yang sampai di otak akhirnya disalurkan melalui area Wernicke. Oleh karena itu, kerusakan di daerah ini dapat membuat seseorang bermental aneh dan menjadi sangat bingung. Berpikir secara kompleks menjadi sangat kacau jika daerah Wernicke rusak. Selain berfungsi dalam proses intelektual dan berpikir, area Wernicke juga berperan penting dalam proses berbicara dan berkomunikasi. 2. Fungsi Bahasa dan Pusat Bicara

Sumber : www.google.com
14

Keterampilan berbicara terletak di bagian otak sebelah kiri. Bagian otak kiri yang mengatur keterampilan berbicara berkaitan dengan 3 area pada bagian korteks, yaitu :
1.

AreaBroca Terletak pada bagian motor korteks yang mengontrol bibir, lidah, dan vokal serta mengontrol keluarnya kata-kata dari otak ke mulut. Gangguan pada area Broca menimbulkan aphasia, yaitu kehilangan kemampuan menggunakan atau memahami katakata. Kerusakan yang lebih parah pada area Broca parah, dapat mengakibatkan seseorang mengalami gangguan bicara (bisu) atau setidaknya bisa berbicara tetapi terpatah-patah, di samping penguasaan kosa kata yang amat minim/terbatas dan sering mengulangi katakata tertentu.

2.

AreaWernicke Area Wernicke memungkinkan seseorang dapat memahami pembicaraan. Ketika kata-kata terdengar, suara akan melintasi area auditori pada korteks yang selanjutnya diteruskan menjadi impuls ke area Wernicke untuk diuraikan dan dipahami. Selanjutnya, ditransmisikan ke area Broca jika ingin berbicara. Area Wernicke yang terletak di atas temporal bagian belakang merupakan tempat yang mengubah pikiran menjadi bahasa. Bagi mayoritas orang yang biasa menggunakan tangan kanan, area Wernicke terletak di otak kiri, sedangkan pada orang kidal, area wernicke terletak di temporal kiri.

3.

AngularGyrus Angular gyrus terletak di antara area Wernicke dan korteks visual pada bagian belakang lobus occipital. Bagian ini menghubungkan antara pembicaraan yang terdengar dengan bahasa yang dibaca atau ditulis. Bagian ini juga berperan penting dalam menginterpretasikan informasi visual.

Proses Berbahasa dan Berbicara : 1. Dorongan bahasa bermula dari area Wernicke dan ditransmisi ke area Broca di frontal. Di daerah Broca, program yang sudah familiar menyusun bahasa, distimulasi menjadi aktif lalu daerah Broca mentransmisi ke serebrum. 2. Bahasa yang sempurna memerlukan gerakan otot yang mahir. Aktivitas bahasa diselesaikan oleh area motorik serebrum yang berkaitan dengan motorik kortek depan. Kortek memberikan pengaruh pada pusat pernapasan dan mengambil alih kontrol
15

terhadap diafragma dan otot interkostal. Dengan demikian, udara yang digunakan untuk pernapasan dipaksa untuk mengeluarkan suara melalui pita suara. 3. Area motorik serebrum otak mengatur pita suara hingga menimbulkan getaran suara. Akhirnya, kortek motorik mengendalikan otot bibir, lidah, dan tenggorokan untuk menciptakan suara bicara. 4. Ketika berbicara, dorongan perasaan yang multikompleks mempengaruhi informasi ke otak. Mereka membawa perasaan sentuh dan posisi bibir, lidah, dan tenggorokan agar otak memahami bagaimana kemajuan daya, ruang, dan sudut (ketika mulut penuh dengan makanan dan masih berbicara merupakan koordinasi sistem saraf).
5. Saat mendengar suara dari sendiri, dorongan pendengaran akan feedback ke daerah

pendengaran pertama yang terletak di temporal. Daerah pendengaran yang bersebelahan dengan area Wernicke dapat membantu area wernicke untuk mengetahui bagaimana setiap intonasi, dan jika perlu membantu melakukan koreksi yang diperlukan. 6. Otak kecil dan basal neuroglia membantu korteks motorik untuk mengkoordinir gerakan otot untuk berbicara. 3. Fungsi Komunikasi Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain juga diatur oleh otak. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan untuk menginterpretasi bahasa dan kemampuan menerjemahkannya ke dalam bentuk bicara. Fungsi komunikatif diatur dan terintegrasi di semua bagian serebrum. Berikut ini urutan dalam proses komunikasi: 1. Interpretasi gagasan Gagasan biasanya dikomunikasikan dari seseorang ke orang lain melalui suara atau kata-kata tertulis .

16

2. Fungsi motorik berbicara Area Wernicke juga mengembangkan pikiran-pikiran yang ingin disampaikan kepada orang lain. Area Wernicke bekerjasama dengan area Broca dan bagian otak lain dalam memformulasikan pikiran dan perasaan ke dalam bahasa (Lihat proses berbicara dan berbahasa yang telah diuraikan di atas). 3. Kemampuan untuk memperhatikan Dalam sebuah komunikasi juga diperlukan kemampuan untuk memperhatikan lawan bicara sehingga terjadi komunikasi timbal balik yang berjalan lancar. Hipokampus yang merupakan bagian sistem limbik, memegang peranan dalam menentukan perhatian.  Gangguan Komunikasi Gangguan komunikasi seperti halnya yang terjadi pada anak autisme dapat terjadi karena adanya gangguan dan kerusakan pada area Wernicke, area Broca, dan yang berhubungan dengan bagian otak yang mengatur komunikasi. Gangguan pada hipokampus juga dapat berpengaruh terhadap komunikasi. Salah satu dari efek perangsangan hipokampus adalah segera hilangnya hubungan dengan orang lain dengan siapa ia sedang berbicara. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan komunikasi. 3. Fungsi Konsentrasi Dalam kondisi sadar, seseorang mempunyai kemampuan untuk mengarahkan perhatian atau konsentrasinya pada aspek-aspek spesifik dari lingkungan mentalnya. Ada beberapa macam tingkat konsentrasi/perhatian, yaitu :
• • •

Tidak ada perhatian/konsentrasi Perhatian yang luas terhadap segala sesuatu Perhatian yang sangat besar terhadap sesuatu yang kecil sekalipun.

17

Tingkat perhatian terhadap sesuatu diatur oleh otak sebagai berikut, yaitu : Pengaturan sistem pengaktivasi retikularis terhadap seluruh tingkat perhatian. 1. Pengaturan sistem pengaktivasi retikularis terhadap seluruh tingkat perhatian. Pengaturan tingkat umum perhatian diduga dilakukan oleh pusat pengaturan yang terletak di bagian mesensefalon dan bagian atas pons.
2. Fungsi talamus dalam perhatian.

Kemampuan daerah talamus untuk merangsang daerah spesifik korteks diduga merupakan salah satu mekanisme dalam mengarahkan perhatian pada aspek spesifik lingkungan mentalnya. Bagian lain yang juga mengatur “perhatian/konsentrasi” adalah daerah prefrontal yang merupakan bagian lobus frontalis yang terletak anterior terhadap daerah motorik. Salah satu sifat yang paling menonjol dari orang yang kehilangan daerah prefrontalnya adalah pikiran dan konsentrasinya sangat mudah dialihkan serta tidak mampu berpikir mengenai sesuatu yang rumit dan dalam jangka panjang. 5. Fungsi Memori/Daya Ingat Setiap pikiran dan daya ingat melibatkan isyarat secara serentak di dalam bagianbagian korteks serebri, sistem limbik (terutama hipokampus), talamus dan bagian atas formasio retikularis batang otak. Daya ingat terdapat dalam berbagai tingkatan, beberapa ingatan hanya bertahan beberapa detik dan lainnya bertahan beberapa menit, berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Suatu ingatan harus ‘terkonsolidasikan’ di dalam sirkuit neuron agar dapat bertahan di dalam otak sehingga dapat diingat kembali berhari-hari kemudian. Salah satu tahap dalam proses konsolidasi adalah ingatan harus disusun ke dalam berbagai golongan informasi. Proses konsolidasi tersebut dapat diperkuat dengan fenomena pengulangan. Adanya kelainan pada bagian otak yang berperan dalam proses ingatan seperti korteks serebri, talamus, sistem limbik, atau formasio retiularis batang otak dapat mengakibatkan adanya gangguan atau kelemahan dalam daya ingat. Kerusakan pada area talamus dan hipokampus dapat menimbulkan gangguan pada penyusunan, penyimpanan dan pengingatan kembali ingatan/memori.
18

6. Fungsi Pengendalian Gerakan Otak akan menentukan koordinasi dan pengendalian gerakan yang tepat terhadap rangsangan. Bagian otak yang mengendalikan kegiatan motorik tubuh adalah korteks serebri, ganglia basalis, dan serebelum. Serebelum mempunyai peranan penting dalam fungsi motorik, mengatur pergerakan otot secara terkoordinasi dan seimbang. Kerusakan pada daerah serebelum dapat menyebabkan gerakan menjadi tidak terkoordinasi dan tidak bertujuan. Bagian lain yang mengendalikan gerakan motorik adalah ganglia basalis yang terdiri atas massa besar neuron yang terletak jauh di dalam substansi serebrum dan di bagian atas mesensefalon. Kerusakan pada bagian ganglia basalis dapat menyebabkan suatu pola gerakan berulang-ulang, misalnya tangan atau lengan melakukan gerakan memutar, mengulang pola yang sama berulang-ulang. Selain itu, kerusakan pada bagian ini juga dapat menimbulkan gerakan kuat berurutan dan tak terkendali. Kondisi ini sama dengan pola perilaku stereotip anak autisme. Bagian korteks serebri yang mengatur fungsi motorik adalah korteks premotorik, yaitu area 1-3 cm di depan korteks motorik. Korteks premotorik berfungsi mengatur gerakangerakan terkoordinasi yang meliputi banyak otot secara serentak. Kerusakan pada daerah korteks premotorik menyebabkan kehilangan kemampuan untuk mengkoordinasikan gerakan. Bagian korteks premotorik juga mengatur keterampilan tangan dan jari. Kerusakan daerah ini menyebabkan gerakan-gerakan tangan menjadi tidak terkoordinasi dan tidak bertujuan (apraksia motorik). 7. Tantrum/Agresif/Hiperaktif Tantrum merupakan kondisi anak autisme yang mengamuk karena keinginannya tidak dipenuhi. Menurut sebuah teori, jika daerah prefrontal korteks serebri (bagian paling anterior otak yang terletak 5-7 cm di depan lobus frontalis) rusak karena suatu penyakit, trauma, atau penyebab lain, akan muncul reaksi-reaksi ekstrem seperti suka mengamuk, respons yang sangat cepat dan mungkin cenderung berbahaya, atau emosi tinggi yang
19

sulit dipadamkan seketika, tetapi akan mereda kemudian. Kondisi ini merupakan kondisi yang terjadi pada anak autisme saat mengalami tantrum 8. Gangguan Emosi Emosi umumnya mengacu ke suasana hati yang disertai ekspresi aktif. Dalam konteks ini emosi menggabungkan perasaan subjektif (seperti rasa kosong, defresi, gelisah, senang, ketidaksenangan, kemarahan, kesiagaan dan gembira) dengan tandatanda objektif. Tingkah laku yang berhubungan dengan emosi diatur oleh sistem limbik. Bagian sistem limbik antara lain meliputi hipotalamus, hipokampus dan amigdala..5
2.6 MEKANISME TIMBULNYA EMOSI

Tahap-tahap proses terjadinya emosi yang melatari pengalaman dan perilaku emosional.6 1. Stimulus : stimulus diterima dan dikodekan. 2.Komparator: terjadi penilaian relevansi stimulus, yang dinamakan penilaian primer dan merupakan hasil perbandingan antara peristiwa sebagaimana dipersepsi oleh individu dengan kepedulian individu. 3.Pendiagnosis: melakukan evaluasi selanjutnya dari stimulus sebagai keseluruhan dalam kaitannya dengan apa yang dapat atau tidak dapat dilakukan individu, yang disebut evaluasi konteks atau penilaian sekunder. 4.Evaluator: melakukan evaluasi atas semua masukan dibandingkan dengan informasi yang telah ada sebelumnya. Perbandingan tersebut menjadi isyarat untuk terjadinya interupsi perilaku yang sedang berlangsung atau terpecahnyaperhatian individu dari perilaku tersebut, yang disebut juga control precedence. 5.Perubahan Kesiapan Aksi: merupakan ciri utama dari control precedence, yang dapat terjadi suatu rencana tindakan atau terjadi modus aktivasi tertentu. 6.Timbulnya Perubahan Faali: masukan dari tahap perubahan kesiapan aksi menimbulkan perubahan faal dan seleksi aksi yang dapat dilakukan, yang ditentukan oleh modus aktivasi dan regulasi.

Regulasi terjadi karena ada norma-norma yang sudah diinternalisasi individu, dan normanorma lain yang ada pada saat itu.
20

Emosi dapat disadari melalui dua cara. 1. Reflektif (Penilaian Sekunder) Pengalaman reflektif adalah hasil intropeksi dari suatu yang telah berlangsung, dimana yang menjadi pusat perhatian aedalah kesadaran itu sendiri dan obyek pengalaman direduksi menjadi penginderaan. 2. Irreflektif (Penilaian Primer) Dalam pengalaman irreflektif yang menjadi fokus adalah kegiatan kesadaran yang terarah pada obyek. Misalnya pada situasi yang menimbulkan emosi takut, subyek memandang situasi secara langsung atau intuitif sebagai sesuatu yang mengancam kesejahteraan dirinya tanpa melakukan penalaran sistematik. Dapat dikatakan bahwa pengalaman reflektif lebih disadari oleh subyek dibandingkan dengan pengalaman irreflektif. Terdapat tiga jenis komponen penilaian situasi yang berkaitan dengan jenis-jenis pengalaman emosi.6 1. Komponen Inti Merupakan komponen yang dapat menjelaskan apakah situasi merupakan situasi emosional atau tidak, yang menyangkut relevansi emosional dan menjadi bagian pengalaman emosi itu sendiri. 2. Komponen Konteks Komponen ini memberi ciri pada struktur arti situasi yang menentukan sifat emosi, yaitu emosi apa yang akan muncul dan seberapa kuat intensitasnya. Selain itu, komponen ini juga menyangkut apa yang menurut subyek dapat ia lakukan atau tidak dapat dilakukan terhadap situasi. 3. Komponen Obyek Komponen ini berkaitan dengan sifat obyek yang menimbulkan emosi. Contoh komponen antara lain. a. ego sebagai obyek Misalnya dalam emosi malu, yaitu subyek menilai dirinya sendiri dan bagaimana orang lain memandang dirinya. b. obyek fate vs subject fate

21

Yang dinilai adalah apakah emosi tersebut mempengaruhi kesejahteraan diri sendiri atau kesejahteraan orang lain

BAB III
22

PENUTUP
3.1 Kesimpulan System saraf adalah satu dari dua system control pada tubuh, yang lain adalah endokrin. Secara umum, system saraf mengkordinasi respon-respon cepat, sementara system endokrin mengatur aktivitas yang lebih memerlukan durasi daripada kecepatan. System saraf otonom terdiri dari 2 subdivisi system saraf simpatis dan parasimpatis. Serat praganglion berasal dari SSP dan bersinaps dengan badan sel serat pascaganglion disuatu ganglion diluar SSP. Serat ascaganglion berakhir di organ efektor. Semua serat praganglion dan pascaganglion parasimpatis mengeluarkan Asetilkolin. Serat pascaganglion simpatis mengeluarkan norefinefrin. Neurotransmitter yang sama menimbulkan respon yang berbeda-beda dijaringan yang berbeda. Dengan demikian, repson tergantung pada spesialisasi sel jaringan, bukan pada sifat zat perantara. Sistem simpatis mendominasi pada keadaan darurat atau penuh stress dan mendorong respon-respon yang mempersiapkan tubuh untuk aktivitas fisik. System parasimpatis mendominasi pada situasi-situasi yang tenang dna santai, dan mendorong aktivitas untuk memelihara tubuh, misalnya pencernaan.

DAFTAR PUSTAKA
23

1. Guyton.

Tex Book of Medical Physiology Philadelphia.edisi ke-11. Penerbit :

elesevier saunders.bab 6. Hal 755. 2. Watson, R., 2002, Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat, edisi 10, EGC, Jakarta 3. Sherwood lauralee.fisiologi manusia,dari sel ke system,ed 2.2001.EGC:Jakarta.bab 7.hal 197-201.
4. Staff

Universitas

Indonesia.

Neurotransmiter.

Di

unduh

dari

http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefoxa&hs=Kyc&rls=org.mozilla%3Aen-US %3Aofficial&q=neutransmiter+pada+sistem+saraf+otonom&meta=&cts =1272342319010&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai 5. Hembing Kusuma Wijaya. Fungsi otak dalam system perilaku. Di unduh dari

http://autishembingcenter.com/index.php? option=com_content&view=article&id=66:tinjauanneurofisiologis&catid=35:artikelautis&Itemid=29
6. Harif Muanim. Mekanisme timbulnya emosi. Di unduh dari http://www.warmasif.co.id/kesehatanonline/mod.php?mod=download&op=visit&lid=371. 2

24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->