P. 1
PELANGGARAN ETIKA PROFESI

PELANGGARAN ETIKA PROFESI

|Views: 1,836|Likes:
Published by Ryan Wiguna
Tugas Pak Gede
Tugas Pak Gede

More info:

Published by: Ryan Wiguna on May 24, 2010
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/06/2012

pdf

text

original

PELANGGARAN ETIKA PROFESI DALAM BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI ( CYBER CRIME

)

Oleh : Ryan Wiguna (0517032081)

Program Studi Ilmu Komputer Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung 2009

Etika Profesi

1

Cybercrime
A. Seputar Cyber Crime Dalam kesempatan ini Saya mencoba menyikapi pelanggaran dalam etika sebagai profesi pada teknologi informasi (TI) yaitu kejahatan dunia maya(Cyber Crime). Hal ini dilatarbelakangi oleh semakin pesatnya perkembangan teknologi yang berpadu dengan media dan komputer. Sampai saat ini perkembangan itu membuat kemudahan dalam hal pertukaran informasi maupun komunikasi yang berbasis nirkabel (wireless). Oleh sebab itu setiap orang akan selalu membutuhkan teknologi ini dalam berinteraksi atau memperoleh kebutuhan informasi yang cepat dan relevan. Internet sebagai media baru dalam dunia maya (tidak nyata) merupakan tolok ukur perkembangan teknologi informasi yang semakin banyak dibutuhkan. Dengan banyak layanan yang dapat ditawarkan dengan pemanfaatan internet, hal ini semakin memudahkan bagi setiap orang untuk melaksanakan aktivitasnya seharihari. Namun dengan kemudahan tersebut juga membawa dampak buruk yang tidak kalah banyaknya dari dampak baik pemanfaatan internet. Semakin lama tampaknya semakin banyak kasus kejahatan yang timbul dari pemanfaatan teknologi ini, misalnya saja pencurian rekening nasabah bank atau nomor kartu kredit. Meskipun hal ini sudah mulai diwaspadai oleh sebagian nasbah bank, namun tetap saja masih ada yang kecolongan. Dan yang mencuri pun sulit untuk dideteksi keberadaannya dan ditangkap bak tuyul dalam rumor masyarakat Kita. Hal inilah yang sering dalam unsur negatif pemanfaatan internet sebagai kejahatan dunia maya. Kejahatan dunia maya atau biasa disebut dengan Cyber Crime adalah kejahatan yang melanggar hukum yang berlaku pada suatu negara dan hanya dapat

dilakukan di dalam dunia virtual (maya) dengan memanfaatkan komputer sebagai alat dan jaringan internet sebagai media terhubungnya dengan dunia maya. Maka tidak banyak hal yang dapat dilakukan oleh pelakunya tanpa teknologi ini.

Etika Profesi

2

B. Jenis Jenis Cyber Crime Cyber Crime dibedakan atas beberapa jenis, yaitu :
1. Cyberpiracy

Penggunaan teknologi komputer untuk :
mencetak ulang software atau informasi mendistribusikan informasi atau software tersebut melalui jaringan komputer

2. Cybertrespass Penggunaan teknologi komputer untuk meningkatkan akses pada: Sistem komputer sebuah organisasi atau individu Web site yang di-protect dengan password

3. Cybervandalism Penggunaan teknologi komputer untuk membuat program yang : Mengganggu proses transmisi informasi elektronik Menghancurkan data di komputer (http://www2.kompas.com/kompascetak/0404/27/humaniora/994814.htm)

C. Motif Cyber Crime 1. Motif Intelektual, Kejahatan yang dilakukan untuk kepuasan diri pribadi pelaku, sekaligus membuktikan kemampuan yang telah dimiliki bahwa telah dapat merekayasa dan mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam bidang teknologi informasi. 2. Motif Ekonomi Kejahatan dengan motif ini semata-mata dilakukan untuk memperoleh keuntungan secara finansial sebanyak-banyaknya.

Etika Profesi

3

3. Motif Politik Kejahatan yang dilakukan oleh suruhan suatu organisasi politik sehingga mendapatkan pamor dan kredibilitas yang meningkat daripada pesaingnya. 4. Motif Kriminal Untuk motif ini adalah murni tindakan kejahatan yang ditujukan terhadap pihak lain yang menjadi sasaran dalam aksi yang dilakukan. D. Faktor penyebab Cyber Crime 1. Segi Teknis Adanya teknologi internet akan menghilangkan batas wilayah negara yang menjadikan dunia ini menjadi begitu dekat dan sempit. Saling terhubungnya antara jaringan yang satu dengan jaringan yang lain memudahkan pelaku kejahatan untuk melakukan aksinya. Kemudian, tidak meratanya penyebaran teknologi menjadikan yang satu lebih kuat daripada yang lain. 2. Segi sosioekonomi Adanya cybercrime merupakan produk ekonomi. Isu global yang kemudian dihubungkan dengan kejahatan tersebut adalah keamanan jaringan (security network) keamanan jaringan merupakan isu global yang muncul bersamaan dengan internet. Sebagai komoditi ekonomi, banyak negara yang tentunya sangat membutuhkan perangkat keamanan jaringan. Cybercrime berada dalam skenerio besar dari kegiatan ekonomi dunia. Sebagai contoh saat ini, memasuki tahun 2000 akan terjadi berupa isu virus Y2K yang akan menghilangkan atau merusak data atau informasi. Hal tersebut tentu saja membuat kekhawatiran terhadap usaha perbankan, penerbangan, pasar modal, dan sebagainya, yang pada akhirnya mereka sibuk mencari solusi cara menghindarinya. Sehingga hal tersebut menjadi ladang para penyedia jasa teknologi informasi untuk membuat perangkat atau program untuk menanggulanginya, yang pada akhirnya kenyataannya ancaman tersebut tidak pernah terjadi.

Etika Profesi

4

E. Modus Kejahatan Cyber Crime di Indonesia Menurut RM Roy Suryo(2007), kasus-kasus cybercrime yang banyak terjadi di Indonesia setidaknya ada tiga jenis berdasarkan modusnya, yaitu :
1. Pencurian Nomor Kredit. 2. Memasuki, Memodifikasi, atau merusak Homepage (Hacking) 3. Penyerangan situs atau e-mail melalui virus atau spamming

F. Kasus Cyber Crime di Indonesia 1. Pencurian nomor kartu kredit 2. Pembajakan terhadap situs web 3. Kejahatan yang berhubungan dengan nama domain 4. Denial of Service (DoS) dan Distributed DoS (DDos) attack 5. Pencurian akses internet yang sering dialami oleh ISP

G. Penanggulangan Cyber Crime 1. Mengamankan Sistem Sistem perlu diamankan untuk mencegah kemungkinan adanya perusakan bagian dalam sistem karena telah dimasuki oleh pemakai lain yang tidak diharapkan(hacker). Seorang Admin(System Administrator) adalah orang yang dipercaya untuk dapat melakukan pencegahan sekaligus perwatan terhadap suatu sistem yang dibangun maupun dikembangkan. 2. Penanggulangan Global Menurut The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) Usaha yang dilakukan oleh setiap negara untuk dapat menanggulangi Cyber Crime pada masing-masing negara dan saling berhubungan satu sama lain antar negara.

Etika Profesi

5

3. Perlunya Dukungan Lembaga Khusus Lembaga-lembaga Goverment pemerintah (Cyber sangat Police) diperlukan maupun NGO(Non upaya

Organization)

sebagai

penanggulangan terhadap kejahatan pemanfaatan internet. Sebagai contoh Negara Amerika Serikat yang memiliki CCIPS(Computer Crime and Intellectual Property Section) Sebagai sebuah divisi khusus dari U.S. Department of Justice. 4. Perlunya Cyber Law Optimalisasi membutuhkan peranan hukum dalam perkembangan yang teknologi berkualitas.

kelengkapan

perundang-undangan

Misalnya memperluas pengertian “barang” secara konvensional sehingga mencakup data, program, atau jasa komputer dan telekomunikasi, pengertian “surat” yang selama ini hanya dibedakan atas surat akta dan bukan akta diperluas mencakup data yang tersimpan dalam pita magnetik, disket dan lain sebagainya.

H. Tinjauan Hukum Saat ini di Indonesia belum memiliki UU khusus/Cyber Law yang mengatur mengenai Cybercrime, walaupun UU tersebut sudah ada sejak tahun 2000 namun belum disahkan oleh Pemerintah. Dalam Upaya Menangani kasus-kasus yg terjadi khususnya yang ada kaitannya dengan cyber crime, para Penyidik ( khususnya Polri ) melakukan analogi atau perumpamaan dan persamaan terhadap pasal-pasal yg ada dalam KUHP. Pasal yang dapat dikenakan dalam KUHP pada Cybercrime antara lain: 1. KUHP ( Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ) Pasal 362 KUHP Tentang pencurian ( Kasus carding ) Pasal 378 KUHP tentang Penipuan ( Penipuan melalui website seolaholah menjual barang) Pasal 311 KUHP Pencemaran nama Baik ( memalui media internet dengan mengirim email kepada korban maupun teman-teman korban)

Etika Profesi

6

Pasal 303 KUHP Perjudian (permainan judi online) Pasal 282 KUHP Pornografi ( penyebaran pornografi melalui media internet). Pasal 282 dan 311 KUHP ( tentang kasus penyebaran foto atau film pribadi seseorang yang vulgar di Internet). Pasal 378 dan 362 (Tentang kasus Carding karena pelaku melakukan penipuan seolah-olah ingin membayar, dengan kartu kredit hasil curian ) 2. Undang-Undang No.19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta, Khususnya tentang Program Komputer atau software 3. Undang-Undang No.36 Tahun 1999 Tentang Telekomukasi, ( penyalahgunaan Internet yang menggangu ketertiban umum atau pribadi). 4. Undang-undang No.25 Tahun 2003 Tentang Perubahan atas UndangUndang No.15 Tahun 2002 Tentang Pencucian Uang. 5. Undang-Undang No.15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

I. Kesimpulan Dari uraian diatas sedikitnya dapat ditarik beberapa kesimpulan, diantaranya : 1. Perlu adanya kesadaran dari masing-masing pihak agar dapat memegang kode etik saat memanfaatkan teknologi informasi. 2. Perlu adanya kerjasama dari pemerintah dengan warga untuk mencegah dan menanggulangi kejahatan dunia maya yang menjadi momok baru dalam kehidupan modern saat ini. 3. Dengan dibentuknya hukum yang menjerat seberat-beratnya pelaku kejahatan dalam dunia maya, maka kegelisahan dalam hal pemanfaatan teknologi informasi akan berkurang dan bahkan hilang. Para pelaku kejahatan juga dirasa akan semakin takut dan jera untuk melakukan pelanggaran tersebut.

Etika Profesi

7

Referensi
Syamsuryadi.2006.Bahan presentasi - Kriminalitas di Internet (Cybercrime).
http://www2.kompas.com/kompascetak/0404/27/humaniora/994814.htm http://www.channel-11.net/event/12.htm

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->