P. 1
31119366 Fathul Baari 2 Syarah Hadits Bukhari 2

31119366 Fathul Baari 2 Syarah Hadits Bukhari 2

|Views: 1,420|Likes:

More info:

Published by: Abdullah Khairul Azzam on May 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2012

pdf

text

original

2

•>
(

IBNU HAJAR AL ASQALANI

C

Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari
Peneliti: Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz

Perpustakaan Nasional RI: Data Katalog Terbitan (KDT) Ibnu Hajar Al Asqaiani, Al Imam Al Hafizh Fathul Baari syarah : Shahih Bukhari / Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani; penerjemah, Amiruddin, Lc. - Jakarta: Pustaka Azzam, 2002. 644 hlm.; 23.5 cm Judul asli: Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari. ISBN 979-3002-03-4 ISBN 979-3002-05-0 1. Hadis I. Judul II. Amiruddin, Lc. 297 .132 Judul Asli Pengarang Penerbit Tahun Terbit Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani Maktabah Darussalam, Riyadh Cetakan I, tahun 1418 H./1997M Edisi Indonesia:

FATHUL BAARI
Syarah S h a h i h Al Bukhari Buku 2

Penerjemah Editor Desain Cover Cetakan Penerbit Alamat Telp Fax

Amiruddin, Lc. Abu Rania, Lc. Titi Tartilah, S. Ag. DEA Grafis Pertama, Juli 2002 M PUSTAKA AZZAM
Anggota IKAPI DKI

Jl. Kampung Melayu Kecil III/15 Jak-Sel 12840 (021)8309105/8311510 (021)8309105 E-Mail:pustaka_azzam@telkom.net

VI

— FATHUL BAARI

DAFTAR ISI

Daftar Isi KITABUL WUDHU WUDHU Tentang Wudhu Tidak Diterima Shalat tanpa Bersuci Keutamaan Wudhu, Cahaya di Wajah, Tangan dan Kaki karena Bekas Wudhu Tidak Berwudhu karena Syak (Ragu) hingga Benar-benar Yakin Berlaku Ringan dalam Berwudhu Menyempurnakan Wudhu Membasuh Muka dan Tangan Lebih dari Satu Cidukan Membaca Basmalah dalam Setiap Keadaan dan Saat Melakukan Hubungan Suami Istri Apa yang Diucapkan saat Buang Hajat Bab Menyiapkan Air di Tempat Buang Hajat Tidak Boleh Menghadap Kiblat Saat Membuang Air Besar atau Kecil, Kecuali Bila Berada dalam Suatu Bangunan atau Terhalang Tembok Maupun yang Sepertinya Buang Hajat di Atas Dua Batu Bata Keluarnya Wanita ke tempat Buang Hajat Buang Hajat di Rumah Istinja' Dengan Air Orang yang Dibawakan Air Untuk Dipakai Bersuci FATHUL BAARI —

VII

2 2 10 13 17 22 26 29 32 34 41

42 48 53 56 58 61 VII

Membawa Tombak dan Air Waktu Istinja' 63 Larangan Istinja' dengan Tangan Kanan 66 Tidak Boleh Memegang Kemaluan dengan Tangan Kanan waktu Kencing 69 Istinja' dengan Batu 72 Tidak Boleh Istinja" dengan Menggunakan Kotoran Binatang 75 Berwudhu Satu Kali Satu Kali 80 Berwudhu Dua Kali Dua Kali 0 Berwudhu Tiga Kali Tiga Kali .. > 1 Memasukkan Air ke Dalam Hidung Saat Wudhu 9U Bersuci dengan Batu dalam jumlah yang Ganjil 95 Mencuci Kedua Kaki dan Tidak Menyapun>a .''l Berkumur-Kumur Saat Berwudhu '. '-'4 Membasuh Mata Kaki 1 ».'" Membasuh Kedua Kaki Sambil Memakai SaadaJ &ML TJOM. V n ^ - s a r Bagian Atas Sandal . '. 0 9 Mendahulukan yang Kanan Saat Berwudhu dan Man-d: .114 Mencari Air Ketika Waktu Shalat Tiba 119 Air yang Dipakai Mencuci Rambut Manusia 122 Orang yang Berpendapat tidak Ada Wudhu Kecuali Karer.a Sesuaru yang Keluar dari Dua Jalan, (Qubul & Dubur) 149 Mewudhukan Orang Lain 164 Membaca Al Qur'an Setelah Hadats dan Selainnya 168 Tidak Berwudhu Kecuali Karena Hilangnya Kesadaran yang Cukup Berat 174 Mengusap Kepala Secara Keseluruhan 177 Membasuh Kedua Kaki hingga Mata Kaki 193 Mempergunakan Sisa Air Wudhu Orang Lain 195 Orang yang Berkumur-kumur dan Mengeluarkan Air dan Hidung dengan Satu Cidukan 202 Membasuh Kepala Satu Kali 204 Seorang Laki-laki Berwudhu Bersama Istrinya, Air Sisa Wudhu Wanita, Umar Pernah Berwudhu dengan Air Panas di Rumah Seorang Wanita Nasrani 208 Nabi SAW Menyiramkan Air Wudhunya Kepada orang yang Pingsan 216 Mandi dan Air Wudhu di Mikhdhab, Qadah, Kayu dan Batu 217 Berwudhu dari Taur 222 Berwudhu dengan Satu Mud 226 Mengusap Bagian Atas Sepasang Sepatu 228 Seseorang yang Memakai Sepatu sedang Kedua Kakinya dalam Keadaan Suci 239
V

VIII — F A T H U L B A A R I

Tidak Berwudhu karena Makan Daging Kambing dan Sawiq 243 Berkumur-Kumur karena Makan Sawiq dan Tidak Berwudhu 248 Haruskah Berkumur-Kumur karena Minum Susu? 251 Berwudhu karena Bangun Tidur, dan Pendapat Tidak Ada Wudhu karena Rasa Kantuk Ringan 253 Berwudhu Bukan karena Hadats 259 Termasuk Dosa Besar Tidak Menutup Diri Saat Buang Air Kecil 262 Membersihkan Kencing 275 Nabi SAW dan Orang-orang Membiarkan Seorang Arab Badui Menyelesaikan Kencingnya di Masjid 278 Menyiram Kencing Di Masjid dengan Air 280 Kencing Bayi Laki-Laki 286 Kencing Sambil Berdiri dan Duduk 293 Kencing di samping Seorang Sahabat dan Berlindung di Balik Tembok 297 Kencing di Tempat Pembuangan Sampah Suatu Kaum 299 Mencuci Darah 303 Mencuci dan Mengerik Mani serta Mencuci Apa yang Menyentuh Wanita 308 Membersihkan Bekas Junub (mani) dan Lainnya Namun Bekasnya tidak Hilang 313 Kencing Unta, Binatang Ternak, Kambing dan Tentang Kandangnya... 314 Najis yang Jatuh ke dalam Minyak Samin atau Air 335 Kencing di Air yang Tergenang 346 Apabila Di Letakkan Kotoran atau Bangkai di Punggung Orang yang Shalat, Maka Shalatnya tidak Batal 354 Air Liur, Ingus dan Sepertinya di Pakaian 368 Tidak Boleh Berwudhu dengan An-Nabidz dan Sesuatu yang Memabukkan 370 Seorang Wanita Mencuci Darah di Wajah Bapaknya 373 Siwak 375 Menyerahkan Siwak kepada yang Lebih Tua 377 Keutamaan Orang yang Tidur Malam dalam Keadaan Berwudhu 380 KITABUL GUSHLI MANDI Wudhu Sebelum Mandi Suami Istri Mandi Bersama Mandi dengan Satu Sha' dan Sepertinya Orang yang Menyiram Kepalanya Tiga Kali Mandi Satu Kali FATHUL BAARI — 386 389 399 401 406 410 IX

Orang yang Memulai dengan Hilab atau Harum-haruman Ketika Mandi 411 Berkumur-Kumur dan Memasukkan Air Ke Dalam Hidung ketika Junub 418 Menggosok Tangan dengan Debu supaya Lebih Bersih 420 Apakah Orang yang Junub Boleh Memasukkan Tangannya ke Dalam Bejana sebelum Mencucinya Jika Tidak ada Kotoran selain Junub di Tanganya 421 Memisahkan Mandi dengan Wudhu 426 Orang yang Menuangkan (Air) dengan Tangan Kanan ke Tangan Kiri Ketika Mandi 428 Orang yang Menggauli (Istrinya) Kemudian Mengulanginya dan Orang yang Mendatangi Istri-istrinya dengan Sekali Mandi 430 Membersihkan Madzi dan Berwudhu Karenanya 438 Orang yang Memakai Harum-Haruman Lalu Mandi dan Aroma Wanginya Masih Ada 443 Menyela-nyela Rambut dan Menyiramnya ketika Kulit Kepala Terasa Basah 444 Orang yang Berwudhu dalam Keadaan Junub Lalu Membasuh Bagian Tubuh Lainnya dan Tidak membasuh Anggota Wudhu lagi 446 Jika Seseorang Teringat dalam Masjid bahwa Ia Sedang Junub Lalu Keluar Tidak Bertayamum 449 Mengibaskan atau Membersihkan (Air) dengan Tangan setelah Mandi Junub 451 Memulai Mandi dengan Bagian Kanan Kepala 452 Mandi Telanjang Sendirian di Tempat Sepi, dan bagi yang Menutup Diri adalah Lebih Baik 453 Menutup Diri Ketika Mandi Jika Ada Orang Lain 459 Apabila Wanita Mimpi Bersenggama 461 Keringat Orang yang Junub dan Seorang Muslim Tidak Najis 466 Orang yang Junub Keluar dan Berjalan di Pasar atau (tempat) Lainnya 469 Orang Junub yang Berdiam Di Rumah Jika Berwudhu Sebelum Mandi (Wajib) 471 Tidurnya Orang yang Junub 473 Orang yang Junub Berwudhu lalu Tidur 474 Bertemunya Dua Khitan 478 Mencuci Apa yang Menyentuh Kemaluan Wanita 481 KITABUL HAID HAID Bagaimana Permulaan Haid X — FATHUL BAARI 490 491

Masalah yang Berkenaan dengan Wanita Nifas (Haid) Wanita Haid Mencuci Kepala Suaminya serta Menyisir Rambutnya Seorang Suami Membaca Al Qur'an Sambil Berbaring di Pangkuan Istrinya yang sedang Haid Orang yang Menamakan Nifas dengan Haid Bercumbu dengan Istri yang sedang Haid Wanita Haid tidak Berpuasa Wanita Haid Melakukan Seluruh Manasik Haji kecuali Thawaf di Baitullah Istihadhah Mencuci Darah Haid I'tikaf bagi Wanita Mustahadhah Bolehkah Wanita Shalat dengan Menggunakan Kain yang Dipakainya Saat Haid? Harum-Haruman Bagi Wanita Saat Bersuci dari Haid Wanita Menggosok Badannya Saat Bersuci dari Haid. Bagaimana Ia Mandi dan Mengambil Kapas yang Diberi Minyak Wangi Untuk Membersihkan Bekas Darah Mandi (Suci) dari Haid Wanita Menyisir Rambutnya Setelah Mandi (suci) dari Haid Wanita Mengurai Rambutnya Saat Mandi Haid Yang Sempurna Kejadiannya dan Yang tidak Sempurna Bagaimana Wanita Haid Melaksanakan Ikhram Haji dan Umrah Awal dan Akhir Masa Haid Wanita Haid Tidak Mengqadha' Shalat Tidur Bersama Wanita yang sedang Haid dan Dia Memakai Pakaiannya Memakai Pakaian Haid Selain Pakaian Pada Waktu Suci Wanita Haid Turut Hadir Pada Shalat Dua Hari Raya dan Da'wah Kaum Muslimin, tapi Mereka Tidak Mendekati Mushalla Jika Wanita Mengalami Tiga Kali Haid dalam Sebulan. Apa yang Dibenarkan bagi Wanita Selama Haid atau Hamil dan Apa yang Mungkin dari Haid Cairan Kuning dan Coklat selain Masa Haid Penyakit Istihadhah Wanita Mengalami Haid setelah Ifadhah Apabila Wanita Mustahadhah Melihat Tanda Suci Menshalati Wanita yang Meninggal Saat Nifas dan Sunnahnya Bab

493 495 497 499 502 506 512 518 521 523 528 530

532 537 538 540 543 546 547 551 554 555 556

559 563 564 567 568 570 572

FATHUL BAARI —

XI

KITABUT TAYAMUM TAYAMUM 576 Bab 576 Jika Tidak Didapatkan Air dan Debu (Tanah) 603 Tayamum Saat Mukim (Tidak Berpergian) Jika Tidak Menemukan Air dan Khawatir Waktu Shalat Habis 605 Apakah Orang yang Bertayamum Meniup (Debu) Pada Kedua Tangannya? 610 Tayamum Untuk Muka Dan Kedua Telapak Tangan 614 Tanah (Debu) Yang Baik Cukup Untuk Wudhu Orang Muslim Jika Tidak Ada Air 618 Orang yang Junub Melakukan Tayamum karena Khawatir dirinya Akan Sakit, Mati dan Kehausan 635 Tayamum Dengan Satu Kali Pukulan (Tepukan) 638 Bab 643

YA mMPUMG$UM9Uk

XII

— FATHUL BAARI

WUDHU

1. Tentang Wudhu
Allah SWT berfirman,

J\

'^fn

Sj^^\

3

jii^Ji

''Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka dan tangan kamu sampai siku. Dan sapulah kepala kamu serta (basuh) kedua kaki kamu sampai dengan kedua mata kaki." <Qs. Al Maa'idah (5): 6>

I*.

"f

f*.

'

;

O >.

>

I.

»

.

. f

S

l .

'

4

'

\

>

O'

t

>

l._

cA_!i ( - J l ^ l ^ l p-M
* *

J-*'

0

J ^ J .o%'
' ^

^

JJJ 1 5 j
s

jlf^
ss

M

Jty

&

IjjJ^o

Olj

Artinya, Abu Abdullah (Imam Bukhari) berkata, "Nabi SAW telah menjelaskan bahwa fardhu wudhu itu adalah satu kali-satu kali, namun beliau SA W juga pernah berwudhu (membasuh setiap anggota wudhu) dua kali-dua kali dan tiga kali. Tapi beliau SAW tidak pernah melakukan

2

— FATHUL BAARI

lebih dari tiga kali. Di samping itu para ulama tidak menyukai berlebihan dalam wudhu dan melebihi apa yang dilakukan Nabi S A W"

Keterangan: Maksud wudhu di sini adalah penjelasan tentang hukum-hukum wudhu, syarat-syarat, sifat-sifat (cara-cara) dan persiapan untuk mengerjakannya. Kata wudhu (sj-Ji>^)i) berasal dari akar kata Al Wadha 'ah (5«.L_js}li) yang berarti bersih dan cerah. Hal itu, karena seorang yang shalat terlebih dahulu membersihkan dirinya dengan jalan melakukan wudhu sehingga ia menjadi bersih dan cerah. Lalu beliau (Imam Bukhari) mengisyaratkan mereka dengan perkataannya, "tentang wudhu" akan adanya bahwa sebagian makna ayat tersebut tidak shalat perselisihan para ulama salaf mengenai makna ayat di atas. Mayoritas berpendapat, 5*)L<a3i disebutkan secara tekstual (dihilangkan), sehingga makna ayat tersebut adalah, j—iJ^i sedangkan lil (Jika kamu hendak mengerjakan berhadats). secara umum (baik yang

kamu dalam keadaan

Akan tetapi ulama yang lain berpendapat, "Sesungguhnya perintah untuk berwudhu dalam ayat itu berlaku berhadats maupun tidak -Penerj.) tanpa ada bagian yang dihilangkan. Hanya saja perintah itu hukumnya wajib bagi mereka yang berhadats, sedangkan bagi mereka yang tidak berhadats hukumnya sunah." Lalu sebagian ulama juga mengatakan, "Dahulunya wudhu itu wajib pula dilakukan oleh mereka yang tidak berhadats, namun kemudian hukumnya dihapus sehingga menjadi sunah." Pendapat terakhir ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari jalur periwayatan Abdullah bin Abdullah bin Umar bin Al Khaththab, bahwa Asma' binti Zaid bin Al Khaththab bercerita kepada bapaknya -yakni Abdullah bin Umar- bahwa Abdullah setiap maupun bin Hanzhalah Al Anshari menceritakan kepadanya, "Sesungguhnya Rasulullah SAW telah diperintah untuk berwudhu pada kali hendak shalat baik dalam keadaan suci (tidak berhadats) dalam keadaan tidak suci (berhadats). Ketika hal itu

FATHUL BAARI —

3

memberatkan beliau, maka kewajiban itu dihapus kecuali dalam keadaan berhadats." Sementara dalam riwayat Muslim dari hadits Abu Buraidah disebutkan, "Dahulunya Nabi SAW berwudhu setiap kali hendak shalat, namun pada saat penaklukan kota Makkah, beliau melakukan beberapa kali shalat dengan saru kali wudhu. Maka umar berkata kepadanya, engkau lakukan." Beliau Yaitu untuk SAW menjawab, "Aku sengaja "Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah melakukannya." menjelaskan bahwa hal itu diperbolehkan.

Dalam pembahasan selanjutnya akan disebutkan hadits Anas mengenai hal itu pada bab "Berwudhu bukan karena hadats". Selanjutnya para ulama berbeda pendapat mengenai faktor yang mewajibkan wudhu. Sebagian mereka mengatakan, "Wudhu itu wajib bila sedang berhadats, sebagai suatu kewajiban muwassa"Ada dan pula yang mengatakan bahwa wudhu itu menjadi wajib sebab seperti di atas, apabila hendak melakukan shalat. Pandangan ini dikuatkan oleh ulama pengikut madzhab Syafi'i. Tapi ada pula yang bahwa wudhu diwajibkan apabila hendak melaksanakan Sunan, dari hadits Ibnu Abbas dari Nabi SAW, diperintah berwudhu jika hendak melaksanakan sejumlah

berpendapat

shalat saja. Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh para penulis kitab "Sesungguhnya shalat." Sebagian ulama telah mengambil istinbath (kesimpulan hukum) akan wajibnya niat dalam berwudhu berdasarkan firman Allah SWT, iHLai\ jU*9 lij (Apabila kamu hendak mengerjakan shalat) sebab makna tii (Jika kamu hendak aku

lengkap ayat ini adalah, l ^ r S l ' j j ^ j ^ 5*>CaJi J\ dengan arti perkataan

mengerjakan shalat, hendaklah kamu berwudhu karenanya). Hal ini sama orang Arab, "Jika engkau melihat pemimpin hendaklah engkau berdiri." Maksudnya, berdirilah karenanya.

Yakni waktu untuk melakukan kewajiban seperti ini dapat pula dipergunakan untuk melakukan kewajiban lain -Penerj.

4

— FATHUL BAARI

Ayat ini juga telah dijadikan landasan oleh mereka yang mengatakan bahwa wudhu itu pertama kali diwajibkan di kota Madinah. Adapun sebelumnya telah dinukil oleh Ibnu Abdil Barr mengenai kesepakatan ahli sejarah, bahwa mandi junub telah diwajibkan kepada Nabi SAW saat masih berada di Makkah sebagaimana diwajibkannya shalat. Sesungguhnya beliau SAW tidak pernah shalat melainkan dalam keadaan berwudhu. Lalu Ibnu Abdil Barr menambahkan, "Ini telah diketahui oleh para ulama." Kemudian Al Hakim berkata dalam kitab Al Mustadrak, "Ahlu

Sunnah membutuhkan dalil untuk membantah mereka yang berpandangan bahwa wudhu itu tidak ada sebelum turunnya ayat (tentang wudhu) dalam surah Al Maa'idah." Selanjutnya beliau (Al Hakim) menyitir hadits Ibnu Abbas yang berbunyi, "Fathimah masuk menemui Nabi SAW dalam keadaan menangis lalu berkata, 'Orang-orang Quraisy telah kepadaku sepakat untuk membunuhmu.' Nabi SAW bersabda, 'Bawalah tempat wudhu.' Maka beliaupun berwudhu..." (Al Hadits). Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Hadits ini dapat menjadi dalil untuk membantah mereka yang mengingkari adanya (syariat) wudhu sebelum hijrah, dan tidak dapat menjadi dalil untuk membantah mereka yang mengingkari kewajiban wudhu pada masa itu." Sementara Ibnu Al J a h m
2)

Al Maliki telah menetapkan bahwa

hukum wudhu sebelum hijrah adalah sunah, dan Ibnu Hazm menegaskan bahwa wudhu hanya disyariatkan di Madinah. Adapun bantahan untuk pandangan kedua imam ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Lahi'ah dalam bab Al Maghazi, dimana hadits itu beliau nukil dari Abu Al Aswad (anak yatim Urwah) dari Urwah, "Sesungguhnya Jibril mengajari Nabi SAW tentang wudhu pada saat Jibril datang kepada beliau dengan membawa wahyu." Hanya saja hadits ini mursal (disandarkan langsung oleh tabi'in kepada Nabi SAW). Kemudian Imam Ahmad meriwayatkan pula hadits ini secara bersambung sampai kepada Nabi SAW melalui jalur periwayatan Ibnu

Pada catatan kaki cetakan Bulaq disebutkan, "Pada salah satu naskah Fathul Baari' tertulis Ibnu Al Hakam."

FATHUL BAARI —

5

Lahi'ah

juga, akan tetapi disebutkan, "Diriyawatkan dari Zuhri, dari

Urwah, dari Usamah bin Zaid dari bapaknya." Ibnu Majah meriwayatkannya melalui jalur Risydin bin Sa'ad, dari Uqail, dari Zuhri sama seperti di atas, hanya saja Zaid bin Haritsah tidak disebutkan dalam sanadnya. Ath-Thabrani telah meriwayatkan dalam kitab Mu jam Al Ausath dari jalur periwayatan Al-Laits dari Uqail secara bersambung sampai kepada Nabi SAW. Andaikata jalur yang terakhir ini terbukti kebenarannya, niscaya ia memenuhi syarat hadits shahih sesuai ketentuan Imam Bukhari. Akan tetapi yang terkenal adalah riwayat Ibnu Lahi'ah. iy> a'jA iyfi'£\

d'\

jl'j

(Dan

Nabi SA W telah

menjelaskan

bahwa fardhu wudhu itu adalah satu kali-satu kali), maksudnya sesungguhnya fardhu atau kewajiban dalam berwudhu adalah mencuci anggota wudhu sebanyak satu kali. Beliau mengulangi perkataannya "Satu kali-satu kali" adalah untuk memberi perincian, yakni untuk muka satu kali, tangan satu kali dan seterusnya. Adapun keterangan beliau (Imam Bukhari) "Nabi SAW telah rahimahullah menjelaskan fardhu w u d h u . . . " ada kemungkinan beliau pembahasan mendatang,

mengisyaratkan kepada hadits yang akan diriwayatkannya sendiri pada yakni hadits Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Nabi SAW berwudhu satu kali-satu kali. Ini adalah penjelasan ayat (tentang wudhu) secara global. Sebab suatu perintah pada dasarnya hanya berkonsekuensi pada perwujudan hakikat (yang terkandung dalam perintah itu sendiri), dan tidak ada sangkut pautnya dengan jumlah sedangkan selebihnya adalah sunah. Hadits-hadits pelaksanaannya. Maka, Rasulullah telah menjelaskan bahwa satu kali hukumnya wajib mengenai hal itu akan disebutkan pada penjelasan selanjutnya. Adapun hadits Ubay bin Ka'ab, bahwa Nabi SAW minta dibawakan tempat berisi air lalu berwudhu satu kali-satu kali kemudian bersabda, "Ini adalah wudhu, dimana Allah tidak akan menerima shalat tanpa wudhu", dalam hadits ini terdapat penjelasan Rasulullah melalui perbuatan dan perkataan sekaligus. Tetapi hadits ini dhai 'if (lemah). Hadits ini juga memiliki jalur-jalur periwayatan yang lain namun semuanya lemah.

6

— FATHUL BAARI

J^TJ*

COJJ

Ce'Jj (Dan beliau juga berwudhu dua kali-dua

kali)

Demikian juga lafazh hadits yang diriwayatkan Abu Dzarr, dan ada juga yang meriwayatkan tanpa mengulang kata j—°/y>. Pada pembahasan selanjutnya beliau akan menyebutkannya secara bersambung hingga kepada Nabi SAW dalam satu bab khusus disertai pembahasan mengenai hadits tersebut. \—^JJ (Tiga kali), maksudnya bahwa Nabi SAW pernah pula

membasuh anggota wudhunya sebanyak tiga kali-tiga kali. Pernyataan ini juga merupakan lafazh hadits yang nanti akan beliau sebutkan dalam bab tersendiri. d)*5i_J ^Js- iy_ ^Jj (Dan beliau tidak melebihkan tidak disebutkan beliau SAW atau adanya dari tiga kali), yakni SAW pernah

dalam satu haditspun yang membahas sifat wudhu keterangan bahwa beliau

membasuh anggota wudhu melebihi tiga kali. Bahkan, telah dinukil dari beliau SAW celaan bagi mereka yang melakukan wudhu melebihi jumlah tersebut. Keterangan ini dapat ditemukan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya dari jalur periwayatan Amru bin Syu'aib, dari bapaknya, dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW berwudhu seraya membasuh anggota wudhunya sebanyak tiga kali-tiga kali, kemudian beliau bersabda, "Barangsiapa ataupun menguranginya, yang melebihkan dari yang seperti ini perbuatan maka sungguh ia telah melakukan

buruk atau berlaku zhalim." Hadits ini memiliki sanad jayyid (baik). Akan tetapi Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam klasifikasi riwayat munkar yang dinukil dari Amru bin Syu'aib, sebab secara lahiriah makna hadits ini mencela wudhu yang dilakukan kurang dari tiga kali. Namun pernyataan Imam Muslim ini dijawab bahwa ini adalah persoalan yang tidak baik, sedangkan hal yang tidak baik itu sendiri berhubungan dengan upaya untuk mengurangi, sementara kezhaliman berhubungan dengan upaya untuk menambah. Ada pula pendapat lain yang mengatakan, bahwa sebagian makna hadits ini tidak disebutkan secara tekstual, adapun makna lengkapnya adalah, "Barangsiapa yang mengurangi dari satu kali." Pendapat terakhir ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu N u ' a i m bin

FATHUL BAARI —

7

Hammad dari jalur riwayat Al Muthalib bin Hanthab dari Nabi SAW, "Wudhu tiga mursal para yang itu dapat dilakukan yang mengurangi sebanyak satu kali, dua kali dan tiga kali. atau melebihkan di atas kesalahan." Derajat hadits ini Barangsiapa dari satu kali

kali sungguh perawinya mereka lafazh

ia telah melakukan adalah

(langsung disandarkan oleh tabi'in kepada Nabi SAW), namun orang-orang tsiqah (terpercaya). Akan tetapi sebagai pijakan tersebut tidak yang seluruhnya melebihkan",

pendapat ini dapat dijawab dengan mengatakan bahwa para perawi hadits jadikan yang menyebutkan kurang menukil lainnya. Di antara sesuatu yang ganjil, adalah apa yang dinukil oleh Syaikh Abu Hamid Al Isfirayini dari sebagian ulama, bahwa tidak boleh membasuh anggota wudhu kurang dari tiga kali. Seakan-akan beliau dari satu kali, bahkan kebanyakan mereka hanya mengatakan, "Barangsiapa

seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya dan

berpijak pada makna lahir hadits terdahulu. Pendapat beliau ini disangkal oleh ijma' (yang membolehkan hal tersebut). Adapun perkataan Imam Malik dalam kitab Al Mudawwanah, sekali tidak mengindikasikan "Aku tidak menyukai membasuh untuk membasuh anggota wudhu satu kali kecuali jika hal itu dilakukan oleh ulama", sama adanya kewajiban anggota wudhu lebih dari satu kali. A—'j Jt\j—Li^fl p—UJl J—AI a j berlebihan dalam wudhu)

f j (Dan para ulama tidak

menyukai

ini adalah suatu isyarat terhadap hadits yang

diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah dari jalur periwayatan Hilal bin Yasaf (salah seorang tabi'in). Beliau berkata, "Telah dikatakan bahwa, termasuk meskipun dinukil perbuatan dari tidak disukai dalam wudhu adalah berlebihan engkau berada hadits di tepi sungai." Hadits yang serupa telah

diriwayatkan

Abu Darda' dan Ibnu Mas'ud, sebagaimana telah yang semakna dengannya secara bersambung oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah

sebuah

kepada Nabi SAW, seperti dikutip

dengan sanad layyin (lemah) dari riwayat Abdullah bin Amru bin Ash. u — ^ J** hJJ^H &h (Dan melebihi apa yang dilakukan oleh Nabi) juga merupakan isyarat terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas'ud. Ia berkata, "Tidak ada membasuh (anggota

8

— FATHUL BAARI

tubuh) melebihi tiga kali." Imam Ahmad dan Ishaq maupun selain keduanya berkata, "Tidak diperbolehkan (membasuh) melebihi tiga kali." Lalu Ibnu Mubarak mengatakan, "Aku tidak menjamin (jika melebihi tiga kali) pelakunya akan berdosa." Sementara Imam Syafi'i menegaskan, "Aku tidak menyukai orang yang membasuh lebih dari tiga kali. Namun jika ia melakukannya lebih dari itu, maka aku tidak memakruhkannya." Beliau tidak mengharamkannya, sebab perkataannya "tidak menyukai" berindikasi pada kemakruhan. Inilah pandangan yang benar dalam madzhab Syafi'i, yakni membasuh anggota wudhu lebih dari tiga kali adalah makruh hukumnya. Kemudian Ad-Darimi telah meriwayatkan dari ulama-ulama

tersebut, bahwa membasuh anggota wudhu lebih dari tiga kali dapat membatalkan wudhu sebagaimana tambahan dalam shalat. Namun ini adalah qiyas (analogi) yang tidak dapat diterima, sebab perkataan yang mengharamkan anggota wudhu ataupun memakruhkan untuk melebihkan membasuh tidak disukainya di atas tiga kali berkonsekuensi

memperbaharui wudhu secara mutlak. Selanjutnya ulama madzhab Syafi'i telah berbeda pendapat mengenai batasan wudhu yang dilarang tersebut. Yang benar dari madzhab mereka adalah jika wudhu itu dilakukan untuk menunaikan shalat fardhu ataupun sunah, namun ada yang mengkhususkan untuk shalat fardhu saja. Pendapat lain dari madzhab ini mengatakan, "Jika wudhu itu dilakukan untuk menunaikan ibadah yang seperti itu, hingga sujud tilawah, sujud syukur atau menyentuh mushhaf. "Bahkan dikatakan pula berlaku untuk semua amalan yang mana wudhu dilakukan karenanya, ini merupakan pandangan yang lebih luas cakupannya. Masih dalam madzhab Syafi'i, dinukil pula suatu pendapat yang mengatakan bahwa larangan membasuh lebih dari tiga kali tersebut berlaku jika wudhu pertama telah berlangsung dalam jarak waktu -menurut kebiasaan- yang membatalkan wudhu. Adapun dalam madzhab Hanafi dikatakan, bahwa batasan wudhu yang dilarang berkeyakinan membasuh anggotanya wudhu lebih dari tiga kali itu bahwa membasuh anggota wudhu lebih dari tiga kali kembali kepada keyakinan masing-masing. Jika orang yang berwudhu adalah sunah, maka ia telah melakukan kesalahan dan masuk dalam

FATHUL BAARI —

9

ancaman seperti dalam hadits. Sedangkan jika ia tidak berkeyakinan seperti itu, maka tidak disyaratkan batasan jumlah tertentu. Bahkan jika ia melebihkan hingga empat kali juga tidak mengapa, terutaman jika pelakunya bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini berdasarkan hadits adalah cahaya."

Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Hadits ini dha 'if (lemah), dan ada kemungkinan penulis (Imam Bukhari) telah mengisyaratkan pula akan riwayat ini. Pembahasan secara luas mengenai hal ini akan diterangkan pada awal pembahasan tentang tafsir surah Al Maa'idah, insya Allah." Ada pengecualian dalam larangan membasuh anggota wudhu lebih dari tiga kali, yaitu jika mengetahui bahwa ada sebagian anggota wudhu yang belum terkena air setelah membasuhnya tiga kali, maka dalam kondisi seperti ini diperbolehkan membasuh tempat yang belum terkena air. Adapun jika membasuh lebih dari tiga kali itu dilakukan karena adanya perasaan ragu-ragu setelah wudhu, maka hal itu tidak diperbolehkan supaya tidak menimbulkan perasaan was-was.

2. Tidak Diterima Shalat tanpa Bersuci

135. Telah diriwayatkan dari Hammam bin Munabbih bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats hingga ia

10

— FATHUL BAARI

berwudhu.'

Seseorang laki-laki dari Hadramaut

bertanya, keras.'"

'Apakah (kentut)

hadats itu wahai Abu Hurairah?' Beliau menjawab, 'Angin yang mendesis maupun yang keluar dengan suara

Keterangan Hadits: (Tidak diterima shalat tanpa bersuci), maksudnya adalah sesuatu yang lebih umum dari wudhu dan mandi wajib. Judul bab ini sendiri adalah lafazh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya dari hadits Ibnu Umar. Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya dari jalur Abu Mulaih bin Usamah dari bapaknya. Riwayat ini memiliki jalur yang sangat banyak, namun tidak ada satupun yang memenuhi menempatkannya persyaratan Bukhari. Oleh karena itu, beliau hanya sebagai salah satu judul bab, lalu menyebutkan di

bawah bab itu hadits lain yang dapat menggantikan kedudukannya. J dan Ahmad H (Tidak diterima) telah diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dari Abdurrazzaq, "Allah tidak menerima.'" Maksud

"menerima" di sini adalah sesuatu yang sinonim dengan kata sah atau mencukupi. beban yang Adapun hakikat penerimaan itu sendiri adalah hasil dari yang dianggap mencukupi dan dapat menghilangkan (dzimmah). Oleh karena ada dalam tanggung jawab diterimanya dalam shalat, maka hal kiasan. suatu ketaatan memenuhi menentukan "penerimaan" dinafikan mendatangi

segala persyaratan shalat merupakan perkara yang sangat itu diungkapkan dengan penerimaan yang yang bentuk Sedangkan

(ditiadakan) tukang

seperti sabda Nabi SAW, "Barangsiapa

tenung maka tidak diterima shalatnya",

adalah tidak

diterima secara hakikatnya. Sebab, terkadang suatu amalan dinyatakan sah namun tidak diterima karena adanya sebab yang menghalanginya. Atas dasar ini maka seorang ulama salaf -yakni Ibnu Umar- mengatakan, "Sesungguhnya diterimanya satu shalat yang aku lakukan lebih aku sukai daripada menerima dunia dan (amalan) seisinya." Lalu beliau melanjutkan, dari orang-orang yang bertakwa.'" "Karena hanya (Qs. Al sesungguhnya Allah SWT telah berfirman, 'Sesungguhnya Maa idah(5): 27) Allah

FATHUL BAARI —

11

*^>J—(Berhadats) maksudnya adalah sesuatu yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur). Hanya saja Abu Hurairah menafsirkan makna hadats dengan makna yang lebih khusus, untuk memberi peringatan akan hadats ringan (mukhaffafah) dari yang berat (mughallazhah). Di samping itu, kedua perkara yang disebutkan oleh Abu Hurairah ini lebih banyak terjadi pada orang yang sedang shalat daripada hadats-hadats lainnya. Adapun macam-macam hadats yang masih diperselisihkan oleh para ulama seperti menyentuh kemaluan, menyentuh wanita, muntah dalam kadar yang banyak serta berbekam, ada kemungkinan beliau (Abu Hurairah) berpandangan bahwa wudhu tidak batal karena hal-hal tersebut. Pandangan ini pula yang diikuti oleh penulis (Imam Bukhari) sebagaimana akan dijelaskan dalam bab, "Pandangan yang mengatakan bahwa wudhu tidak batal kecuali oleh sesuatu yang keluar dari dua jalan". Kemudian ada yang mengatakan bahwa Abu Hurairah sengaja mencukupkan jawabannya pada kedua hal itu, karena ia mengetahui bahwa sang penanya telah mengetahui macam-macam hadats selain kedua macam ini. Akan tetapi penafsiran ini terlalu jauh menyimpang. Hadits ini dijadikan sebagai dalil batalnya shalat seseorang yang berhadats, baik hadats itu keluar atas kehendaknya maupun karena terpaksa. Demikian pula hadits ini dijadikan dalil bahwa wudhu tidaklah wajib dilakukan setiap kali hendak melaksanakan shalat, karena tidak diterimanya shalat berakhir hingga seseorang telah berwudhu, sementara hukum setelah berwudhu itu berbeda dengan hukum sebelumnya. Dari sini timbul suatu konsekuensi bahwa shalat itu tetap diterima setelah seseorang berwudhu. i sesuatu yang (Berwudhu), maksudnya dengan menggunakan air ataupun

dapat menggantikannya. Diriwayatkan oleh Imam Anwudhu seorang muslim." Di sini

Nasa'i dengan sanad (jalur periwayatan) yang kuat dari Abu Dzarr, dari Nabi SAW, "Debu yang baik adalah syariat telah menamakan tayamum sebagai wudhu, karena tayamum itu dapat menggantikan kedudukan wudhu. Maka yang dimaksud diterimanya shalat seseorang yang berhadats bila ia telah berwudhu, adalah jika ia menyempurnakan pula syarat-syarat shalat yang lainnya. Wallahu A Jam.

12

— FATHUL BAARI

3. Keutamaan Wudhu, Cahaya di Wajah, Tangan dan Kaki Karena Bekas Wudhu

-

'

- i *

'

'

,

-

-

. JJLaJi 4J

136. Telah diriwayatkan dari Nu'aim Al Mujmir, ia berkata, "Aku pernah naik bersama Abu Hurairah bersabda, dengan panjang Barangsiapa lakukannya.'''''' 'Sesungguhnya di wajah, ke atap masjid, lalu ia berwudhu kemudian berkata, 'Aku pernah mendengar Nabi SAW umatku akan dipanggil pada hari kiamat tangan dan kaki karena bekas mampu untuk cahayanya, maka hendaklah wudhu. memperia mecahaya

di antara kamu ada yang

(memperbesar)

Keterangan Hadits: (Keutamaan wudhu dan cahaya di wajah, tangan dan kaki). Hal ini memiliki beberapa kemungkinan; pertama, beliau menukil lafazh yang disebutkan pada sebagian jalur periwayatan hadits ini dimana dikatakan, "Kamu adalah orang-orang yang memiliki cahaya di wajah, tangan dan kaki." Lafazh sengaja dan seperti ini dinukil oleh Imam Muslim. Kedua, sebagian teks beliau meninggalkan pernyataannya, adapun makna dalam riwayat Al Bukhari -

lengkapnya adalah, "Orang-orang yang memiliki cahaya di wajah, tangan kaki, maka bagi mereka keutamaan." Ketiga, dikatakan bahwa Mustamili (salah seorang yang meriwayatkan kitab Shahih penerj.)

maknanya, "Keutamaan orang-orang yang

FATHUL BAARI —

13

memiliki cahaya di wajah, tangan dan kaki", sebagaimana dikatakan oleh Al Ashili dalam riwayatnya. Adapun temukan Bukhari. perkataan Nu'aim, "Aku pernah naik bersama Abu Shahih oleh Al Hurairah ke atap masjid, Akan lalu ia berwudhu", demikianlah yang kami naskah perawi yang menukil diriwayatkan

dalam kebanyakan

tetapi dalam naskah yang

Kasymihani lafazh i

Jsjrf (lalu ia berwudhu) diganti dengan lafazh vijj

(hari), yakni "Pada suatu hari aku pernah naik bersama Abu Hurairah ke atap masjid." Namun penggantian ini adalah kesalahan dalam penyalinan, karena telah diriwayatkan pula oleh Al Isma'ili dan lainnya -melalui jalur periwayatan yang sama dengan jalur yang dipakai oleh Imam Bukharidengan menggunakan lafazh t — B a h k a n , dalam riwayat Isma'ili ini terdapat betis." Lafazh seperti ini dinukil pula oleh Imam Muslim melalui dua jalur periwayatan; Pertama, dari Amru bin Al Harits dari Sa'id bin Abu Hilal. Kedua, dari Umarah bin Ghaziyah dari Nu'aim. Lalu pada jalur ini terdapat tambahan yang lain, dimana disebutkan bahwa Abu Hurairah berkata, "Demikianlah aku telah melihat Rasulullah SAW berwudhu." Lafazh dalam riwayat terakhir ini memberi keterangan bahwa hadits ini marfu' (disandarkan langsung kepada Nabi SAW). Hal ini membantah pendapat yang mengatakan bahwa perbuatan seperti ini adalah pendapat Abu Hurairah semata, yang benar perbuatan ini adalah riwayat yang beliau nukil dari Nabi dan sekaligus pendapatnya. ^—jit (Umatku). Maksudnya adalah umat yang menyambut dakwah beliau SAW, yakni kaum muslimin, sebab terkadang lafazh umat itu dimaksudkan pula umat yang menjadi obyek dakwah (manusia secara umum). Akan tetapi, pengertian seperti ini tidak dimaksudkan dalam konteks hadits ini. Al Hulaimi menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa wudhu merupakan kekhususan (keistimewaan) umat ini. Namun pernyataan tambahan, "Maka beliau membasuh mukanya dan kedua tangannya hingga pangkal lengan, lalu beliau membasuh kakinya hingga

14

— FATHUL BAARI

seperti itu masih perlu ditinjau kembali. Karena telah disebutkan oleh penulis (Imam Bukhari) pada kisah Sarah RA bersama sang raja, dimana pada saat raja tersebut hendak mendekatinya maka ia berwudhu lalu shalat. Demikian pula dalam kisah Juraij, dimana beliau berwudhu dan shalat lalu setelah itu terjadi dialog antara beliau dengan bayi. Yang lebih kuat, sesungguhnya yang menjadi kekhususan umat ini hanyalah cahaya di wajah, tangan dan kaki saja, dan bukan wudhu itu sendiri. Pernyataan kami ini telah dinyatakan secara tegas dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, "Tanda seperti ini bukan untuk seorang pun selain kamu.'''' Hadits seperti ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari Abu Huzhaifah. Sebagian hadits, -Lj* ^
tS

ulama
1

membantah pendapat Al Hulaimi berdasarkan (Ini adalah wudhuku dan wudhu para

* «-j^jj j^'j^J

nabi sebelumku). Akan tetapi, hadits ini lemah (dha'if) dan tidak dapat dijadikan dalil seperti yang telah dijelaskan. Di samping itu, hadits ini mungkin untuk diberi pengertian bahwa wudhu adalah kekhususan para nabi tapi tidak berlaku bagi umat-umat mereka, kecuali umat Islam.

J — *
yang mampu Dalam hendaklah kakinya. jadikan

JJsu j(
untuk memperpanjang

(Barangsiapa cahaya di

di antara wajahnya,

kamu maka

ia melakukannya).

Termasuk pula cahaya di tangan dan disebutkan salah satunya untuk

hadits ini sengaja

menunjukkan yang

lainnya. Sebagaimana firman Allah SWT, "Dan Dia

bagi kamu pakaian yang melindungi kamu dari panas." (Qs. An-

Nahl(16): 81) Maka disebutkannya cahaya di wajah tanpa menyebutkan cahaya di tangan dan kaki, karena wajah merupakan anggota wudhu paling mulia dan yang pertama kali dilihat pada diri seseorang. Hanya saja dalam riwayat Imam Muslim dari Umarah bin Ghaziyah disebutkan wajah dan yang lainnya. Adapun lafazhnya,

'^j*-

J44^ (Hendaklah

ia memperpanjang cahaya di wajah, tangan dan kakinya). Ibnu Baththal berkata, "Abu Hurairah hanya menyebutkan wajah tanpa menyebutkan tangan dan kaki. Hal itu adalah merupakan bentuk kiasan, karena dalam membasuh wajah tidak mungkin untuk diperpanjang atau dilebihkan." Akan tetapi perkataan Ibnu Baththal ini perlu

FATHUL BAARI —

15

untuk

dicermati, karena perkataan

tersebut

dapat memutarbalikkan

bahasa. Apa yang ia anggap tidak mungkin itu bisa saja terjadi, sebab memanjangkan membasuh muka bisa saja dilakukan, seperti membasuh sebagian leher. Telah dinukil oleh Ar-Rafi'i dari sebagian ulama, bahwa lafazh Al Ghurrah tangan dan kaki. Secara lahiriah, perkataan "Barangsiapa yang ingin memanjangkan cahayanya..." masih merupakan sambungan hadits. Akan tetapi diriwayatkan oleh Ahmad dari Fulaih dari Nu'aim, dimana di bagian akhirnya disebutkan, "Nu'aim berkata, 'Aku tidak tahu perkataan barangsiapa...dan seterusnya, apakah termasuk perkataan Nabi SAW ataukah perkataan Abu Hurairah." Saya (Ibnu Hajar) tidak menemukan lafazh, "Barangsiapa yang ingin memanjangkan...dst." dalam riwayat siapa pun yang menukil hadits ini dari para sahabat yang berjumlah sepuluh orang. Demikian pula saya tidak menemukan lafazh seperti itu dalam riwayat mereka yang menerima hadits ini dari Abu Hurairah kecuali dalam riwayat Abu N u ' a i m saja, wallahu a 'lam. Selanjutnya para ulama berbeda pendapat tentang batasan yang disukai untuk dilebihkan dalam membasuh tangan dan kaki. Pendapat pertama, batasannya adalah sampai bahu dan lutut. Batasan seperti ini telah disebutkan dari Abu Hurairah baik dalam bentuk riwayat maupun pendapat, dan dinukil pula dari Ibnu Umar tentang praktek seperti itu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abu Ubaid dengan sanad hasan. Pendapat kedua, batasan yang disukai adalah sampai pertengahan lengan dan betis. Pendapat ketiga, dilebihkan sedikit dari batasan pendapat kedua. Ibnu Baththal dan sebagian ulama madzhab Maliki mengatakan, "Tidak disukai membasuh kaki dan tangan melebihi mata kaki dan melebihkan perbuatan disanggah terdahulu) buruk dari siku berdasarkan dan zhalim.'" sabda Nabi SAW, ia telah 'Barangsiapa melakukan (yang dari yang seperti berbagai ini, maka sungguh (cahaya di wajah) dapat diartikan juga cahaya di

Namun perkataan mereka ini dapat riwayat Muslim

segi. Sementara

demikian

tegas menyatakan bahwa perbuatan itu disukai,

maka tentu saja riwayat ini lebih kuat daripada pandangan mereka yang masih terbuka untuk dikritik.

16

— FATHUL BAARI

Adapun klaim mereka bahwa ulama telah sepakat memilih pendapat yang berbeda dengan pandangan Abu Hurairah dalam masalah ini, tidak dapat diterima berdasarkan riwayat yang telah kami nukil dari Ibnu Umar. Di samping itu sejumlah kaum salaf telah menegaskan bahwa hal tersebut disenangi, demikian pula mayoritas ulama madzhab Syafi'i dan Hanafi. Sedangkan penakwilan mereka bahwa yang dimaksud dengan memperpanjang di sini adalah "senantiasa melakukan wudhu " juga harus ditolak, karena seorang perawi lebih paham apa yang diriwayatkannya. Apalagi dalam hal ini beliau telah menisbatkan langsung kepada Nabi SAW. Dalam hadits ini terdapat makna yang sesuai dengan bab yang ada berupa keutamaan wudhu, melebihi dari yang wajib. sebab keutamaan yang diperoleh berupa Lalu bagaimana dengan prasangka yang cahaya di wajah, tangan dan kaki adalah pengaruh dari perbuatan yang mengatakan bahwa hal itu diperoleh dengan melakukan yang wajib saja? Sehubungan dengan ini telah diriwayatkan sejumlah hadits shahih dan tegas seperti dinukil oleh Imam Muslim dan lainnya. Dalam hadits ini juga terdapat keterangan bolehnya wudhu di atas masjid, namun hal itu bila tidak membawa efek buruk bagi masjid ataupun bagi orang-orang yang berada di dalamnya, Wallahu a 'lam.

4. Tidak Berwudhu karena Syak (Ragu) hingga Benarbenar Yakin

O

s

9

y

O

/

O

s

s

y

s

s

FATHUL BAARI —

17

137. Diriwayatkan SAW perihal Nabi bau."

dari

Sa'id

bin Musayyab, dari Abbad bin

Tamim dari pamannya, bahwasanya ia mengadu kepada Rasulullah seorang laki-laki yang merasakan sesuatu dalam SAW menjawab, hingga "Janganlah ia mendengar ia berpaling atau shalatnya) bunyi shalat?" mencium

(menghentikan

Keterangan Hadits: p-gj iC* J P J (Dan dari Abbad bin Tamim), maksudnya hadits ini

diriwayatkan oleh dua orang; yakni Sa'id bin Musayyab dan Abbad bin Tamim. Dalam riwayat yang dinukil oleh Karimah terjadi kesalahan, dimana tidak tercantum kata sambung 'dan'. Jelas ini merupakan kekeliruan, karena Sa'id bin Musayyab tidak pernah meriwayatkan hadits dari Abbad bin Tamim. Kemudian ada kemungkinan bahwa syaikh (guru) Sa'id bin Musayyab adalah paman Abbad, sehingga seakan-akan beliau (Imam Bukhari) berkata, "Keduanya meriwayatkan dari paman Abbad." Ada pula kemungkinan syaikh Sa'id tidak disebutkan di tempat ini, dan hadits ini termasuk riwayat mursal Sa'id bin Musayyab (yakni beliau langsung menyandarkan kepada Nabi tanpa menyebutkan sahabat -Penerj.) Kemungkinan yang pertama dipilih oleh penulis kitab Al Athraaf, sedangkan kemungkinan yang kedua diperkuat oleh riwayat M a ' m a r terhadap hadits ini, dimana ia meriwayatkan dari Az-Zuhri dari Sa'id bin Musayyab dari Abu Sa'id Al Khudri. Hadits Ma'mar dinukil oleh Ibnu Majah, dan para perawinya adalah tsiqah (terpercaya), hanya saja ketika hadits ini ditanyakan kepada Imam Ahmad, beliau berkata, "hadits ini adalah hadits munkar." f-** j * (Dari pamannya), maksudnya adalah Abdullah bin Zaid bin

Ashim Al Mazini Al Anshari. Namanya disebutkan oleh Muslim dan selainnya dalam riwayat mereka terhadap hadits tersebut melalui jalur Ibnu Uyainah. Lalu para ulama berbeda pendapat, apakah ia paman Abbad dari pihak bapaknya atau dari pihak ibunya?

18

— FATHUL BAARI

l£—i> *—"f (Bahwasanya

ia mengadu),

yang mengadu di sini adalah

perawi hadits (paman Abbad). Hal ini lebih dipertegas lagi oleh Ibnu Khuzaimah melalui riwayat Abdul Jabbar bin Alla' dari Sufyan (dan lafazh ini adalah versi beliau) dari pamanya yakni Abdullah bin Zaid. Ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang seseorang yang.. .dan seterusnya." Lalu dalam sebagian riwayat disebutkan dengan lafazh, "Telah diadukan..." yakni dalam bentuk pasif. Demikian pula "Dan yang tidak terdapat dalam riwayat Imam Muslim sebagaimana diterangkan oleh An-Nawawi. Kemudian Imam An-Nawawi berkata, disebutkan siapa sebenarnya yang mengadukan hal ini."

Beliau menambahkan, "Disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari bahwa yang mengadu adalah perawi hadits itu sendiri." 4—lll J — J K J maksudnya adalah dzan (menduga). Makna dzan di sini jauh lebih luas daripada pengertiannya yang terkenal, yakni adanya dua kemungkinan yang mana tidak ada satupun yang lebih kuat. Bahkan, maksud dzan (dugaan) dalam hadits ini adalah segala sesuatu yang menyelisihi keyakinan. J *A (Mendapatkan atau merasakan sesuatu) maksudnya

adalah hadats yang keluar darinya. Pengertian ini dapat kita temukan dalam riwayat Al Isma'ili, i[g—'S» 4—L» ^ j — « J «Jl * T shalat untuk nya. ^aJi berpegang (Dalam shalat). Sebagian ulama madzhab Maliki bahwa tidak menyebutkan

*0&> J>

^ ! J ^ v (Dikhayalkan sesuatu).

kepadanya

saat

telah keluar darinya

Di sini terdapat petunjuk

langsung sesuatu yang tidak baik dengan

namanya kecuali dalam situasi yang mengharuskan atau membutuhkan-

dengan makna lahir lafazh ini, sehingga mereka mengkhusus-

kan hukum ini bagi mereka yang sedang shalat saja dan mewajibkan wudhu bagi orang yang ragu di luar shalat. Perbedaan ini mereka dasari dengan alasan bahwa seseorang dilarang untuk membatalkan ibadah, ibadah sangat tergantung dengan padahal larangan untuk membatalkan

keabsahan ibadah itu sendiri. Maka, alasan yang mereka kemukakan itu

FATHUL BAARI —

19

tidaklah tepat. Di samping itu, sesuatu yang membatalkan wudhu di luar shalat juga dapat membatalkan wudhu di dalamnya, sebagaimana hal-hal lain yang membatalkan wudhu.

<jj—r<4ftj' (jangan terbalik atau jangan membatalkan

shalat), ini

adalah keraguan dari perawi hadits. Ia ragu apakah Nabi S A W mengatakan jangan berpaling ataukah jangan berbalik. Nampaknya keraguan ini timbul dari salah seorang perawi yang bernama Ali, sebab perawi lainnya yang meriwayatkan dari Sufyan dengan tegas mengatakan, "Janganlah berbalik" tanpa ada keraguan. J—*4 j ' (atau ia menemukan {merasakan}). Di sini beliau SAW

menggunakan kata "menemukan" dan bukan mencium, agar mencakup pula seseorang yang menyentuh bagian tersebut lalu mencium tangannya. Akan tetapi pernyataan ini tidak boleh dijadikan dalil oleh mereka yang berpendapat bahwa menyentuh dubur tidak membatalkan wudhu, sebab bisa saja yang disentuh hanyalah daerah sekitarnya dan bukan tempat keluarnya secara langsung. Hadits ini memberi keterangan sahnya shalat selama seseorang belum yakin kalau ia telah berhadats. Hadits ini tidak bermaksud untuk mengkhususkan keyakinan bagi kedua hal ini. Karena jika makna suatu teks dalil lebih luas daripada lafazhnya, maka yang menjadi pedoman hukum adalah maknanya, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Khaththabi. Imam An-Nawawi berkata, "Hadits ini merupakan dasar kaidah yang mengatakan, bahwa hukum segala sesuatu sebagaimana asalnya sampai ada keyakinan yang menunjukkan sebaliknya; dan keraguan yang timbul tersebut tidak dapat mendatangkan mudharat Jumhur ulama (bahaya)." berpendapat sebagaimana kandungan hadits ini.

Diriwayatkan dari Malik, beliau berpendapat bahwa wudhu tetap batal bila seseorang ragu apakah telah keluar sesuatu darinya atau belum. Lalu diriwayatkan dari Imam Malik bahwa wudhu orang seperti itu batal jika berada di luar shalat dan tidak batal bila dalam shalat. Perincian seperti ini dinukil pula dari Al Hasan Al Bashri. Namun pendapat pertama merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Malik seperti

20

— FATHUL BAARI

dikatakan oleh Al Khaththabi, yang diriwayatkan Ibnu Al Qasim darinya. Kemudian diriwayatkan pula oleh Ibnu Nafi' dari Imam Malik, beliau berpendapat bahwa wudhu orang yang ragu tersebut tidak batal, sama seperti pendapat jumhur ulama. Sedangkan Ibnu Wahab meriwayatkan bahwa Imam Malik berkata, "Yang lebih aku sukai jika ia berwudhu." Adapun riwayat yang membedakan antara di dalam dan di luar shalat tidak terbukti berasal dari pendapat Imam Malik, tapi berasal dari para pengikutnya. Kemudian sebagian ulama memahami hadits ini untuk mereka ada kecuali adanya sebab tertentu. Sebagaimana

yang memiliki sikap was-was. Alasan mereka adalah, bahwa pengaduan itu tidak mungkin diterangkan dalam hadits yang lebih umum, yaitu hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, "Apabila salah seorang di antara kamu merasakan dalam perutnya sesuatu lalu ia ragu apakah telah keluar darinya sesuatu atau belum, maka janganlah hingga mendengar bunyi atau menemukan SAW, "Janganlah ia keluar dari masjid

(mencium) bau.'" Sabda beliau

ia keluar dari masjid", maksudnya adalah shalat,

sebagaimana ditegaskan oleh Abu Dawud dalam riwayatnya. Al Iraqi berkata, "Pandangan yang dikemukakan oleh Imam Malik adalah pendapat yang lebih kuat, sebab beliau lebih menjaga shalat yang merupakan tujuan utama sehingga beliau tidak memperhitungkan keraguraguan dalam membatalkan shalat tersebut. Sementara selain beliau lebih menjaga hitungkan wudhu yang merupakan sarana, lalu mereka tidak memperkeragu-raguan dalam hal hadats yang dapat membatalkan

wudhu tersebut. Padahal, menjaga sesuatu yang menjadi tujuan utama adalah lebih diutamakan daripada menjaga sesuatu yang hanya berfungsi sebagai sarana." Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Pandangan ini cukup kuat menurut logika, tetapi tidak sesuai dengan indikasi hadits, dimana seseorang diperintahkan untuk tidak berbalik (membatalkan shalat) hingga benarbenar yakin (keluar angin)." Al Khaththabi berkata, "Hadits ini dijadikan dalil oleh mereka yang mewajibkan dijatuhkannya hukuman dera bagi seseorang yang tercium dari mulutnya bau khamer, sebab dalam hadits ini beliau SAW telah

FATHUL BAARI —

21

menjadikan

bau itu sebagai sesuatu yang dapat dijadikan pedoman untuk (hukum pidana) dalam Islam harus

menetapkan hukum." Akan tetapi ada kemungkinan untuk dibedakan antara dua perkara ini, sebab hadd digugurkan bila ada syubhat (kesamaran) yang mengiringinya. Sementara masalah bau khamer adalah hal yang syubhat, berbeda dengan persoalan pertama (bau kentut) yang tidak mengandung syubhat.

5. Berlaku Ringan Dalam Berwudhu
' ' si'' ^ s Z ^ s ' s Z s ' s - ^ ' i ' i

Jl_»
y

\
J Oy

J^>
* . y

^iJ ^
'y
s *

f\J
* '

% "J£\ j !
y ' . > y ,

* s

*

^
5

t

y

o

<M

\ l "

I **''

0

1

^

Oy

O

y

o

y

O

y

•J"**

^

^
y

<j"W* JJL ^
f s s ?

^

_J^P
f

%

c

ii j i i
-y*

j i r d i jiii ^

S

^

r

£ '

^Ui2j ^^-5 J AILIJj J^r*-^ 4-2-*^!

* y ' " y**' y'

y** y *
4

L^"- U-J-^J
1

* y * * yt

o «S (jj^*-* (j-»^ ^y* W ' ^ *

y * ' y 4
&

*

Z *

o

'

'

'

s

'

o

*

9

y z*
j»J
'
'

''''^
m> s

y'' ^
*

% *t
0

i

^

i

' '
^u »*
31

'
' &
'

0

^Lai

o^C^llj «uili (_^iLuJl

olJl
0

^tij
" <ulp

^ar)?./»!

yy yy
^y
O

* 2^

'

-y ''y?'*
' '

' *

J15 <ui5
<*
' y *

' ' yM *
Vj
g O

' ^ ' f' ^ll? ^ 4JJL J y* j f- f * j
9

o^
- 1 > '.F

138. Diriwayatkan hingga mendengkur,

dari Ibnu Abbas bahwasanya

Nabi SAW tidur barangkali

kemudian beliau SAW shalat -dan

22

— FATHUL BAARI

ia mengatakan, bangun Sufyan lalu

"Beliau shalat"

berbaring hingga mendengkur (Ali bin Abdullah berkata), dari

kemudian "Setelah Ibnu aku itu Cerita Abbas, pernah malam

menceritakan beliau

kejadian ini kepada kami berkali-kali. dari Amru dari Kuraib berkata, 'Pada suatu malam

itu beliau riwayatkan bahwasanya menginap berdiri nabi SAW tergantung betapa berdiri beliau,

di rumah bibiku yang

bernama Maimunah,

Nabi SA W

(bangun) dengan

di malam itu, maka ketika pada sebagian wudhu yang Akupun ringan -Amru berwudhu

berdiri (bangun) lalu berwudhu dari suatu bejana yang menggambarkan wudhu sebelah Allah, Akhirnya kepadabersama kepada 'Aku nabi aku Rasulullah para wudhu tersebut- setelah itu beliau sebagaimana dan berdiri di

ringan dan sedikitnya untuk shalat. kemudian

aku menghampirinya

kirinya. Lalu Nabi memindahkanku kanannya. setelah datanglah orang Amru, itu beliau kepadanya SAW juru tidur

dan menempatkanku hingga mendengkur.

di sebelah

Nabi SA W shalat sebagaimana

yang dikehendaki

adzan untuk memberitahukan

nya (waktu)

shalat (telah masuk). Maka Nabi SAW pergi manusia mengatakan bahwa

itu lalu shalat tanpa berwudhu lagi.' Kami bertanya 'Sesungguhnya tapi tidak tidur hatinya.' Amru berkata, bahwa Mimpi beliau membaca, 'Sesungguhnya aku menyembelihmu."'

SAW tidur matanya mendengar adalah melihat wahyu.'

Ubaid bin Umair berkata, Kemudian

dalam mimpi bahwa

^ Q s . Ash-

Shaffaat (37): 102>

Keterangan Hadits: (Berlaku ringan dalam berwudhu) maksudnya boleh berlaku ringan dalam wudhu. £_'^eLfi\ Jl berbaring...) i UJjj (Dan barangkali ia mengatakan, "Beliau SAW

Maksudnya bahwa Sufyan terkadang mengatakan, "Beliau

SAW tidur" dan kadang ia mengatakan, "Beliau SAW berbaring." Kedua lafazh ini bukan kata sinonim. Bahkan, antara keduanya mempunyai pengertian umum dan khusus dilihat dari satu segi. Beliau (Sufyan) tidak memaksudkan dalam hal ini untuk menggunakan salah satu dari lafazh

FATHUL BAARI —

23

tersebut untuk menggantikan fungsi atau makna lafazh yang lainnya. Bahkan, apabila beliau meriwayatkan hadits ini dengan panjang lebar maka dikatakannya, "Beliau SAW berbaring lalu tidur" seperti yang akan disebutkan. Sedangkan jika beliau menceritakan hadits ini secara ringkas maka ia mengatakan, "Beliau SAW tidur" maksudnya dalam keadaan berbaring, tidur. ^\—ai AD (Pada suatu malam, maka Nabi SAW bangun...) demikian atau "Beliau SAW berbaring" maksudnya dalam keadaan

lafazh yang dinukil sebagian besar perawi. Tetapi dalam riwayat Ibnu AsSakan dikatakan,

^—J (maka Nabi SAW tidur). Riwayat ini dibenarkan
—s JlUt jaZo J> olS' Uii

oleh Al Qadhi Iyadh sesuai teks selanjutnya,

(Maka ketika pada sebagian malam Nabi SAW bangun). Akan tetapi tidak boleh untuk menetapkan bahwa lafazh yang W* (maka ketika) adalah penjelasan dari yang

dinukil oleh sebagian besar perawi tersebut salah, sebab masih dapat dipadukan. Karena, kata

sebelumnya. Sehingga kalimat kedua ini meskipun kandungannya sama dengan kalimat pertama, namun keduanya berbeda maknanya. i—Uijj sedikitnya /j—^i- *—«~ wudhu (Amru menggambarkan Ibnu Munir betapa ringan dan

tersebut).

berkata,

"Meringankan,

maksudnya tidak banyak menggosok; dan maksud menyedikitkan adalah tidak membasuh lebih dari satu kali." Ibnu Munir menambahkan, "Dalam hadits akan ini terdapat dalil akan kewajiban menggosok anggota wudhu. ditinggalkannya. Namun, ternyata beliau tetap melakukannya." Sebab jika hal itu boleh ditinggalkan, maka dalam kondisi demikian tentu Akan tetapi ini adalah pernyataan yang tidak dapat diterima, sebab tidak ada dalam riwayat itu yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah menggosok anggota sedikit. L-^'ji i — t j k * (sebagaimana beliau wudhu). Al Karmani berkata, anggota wudhu, lebih karena cukup mengalirkan air di atas wudhu adalah ringan daripada menggosok meskipun

"Ibnu Abbas tidak mengatakan berwudhu sama seperti wudhu beliau, karena kesamaan tersebut tidak akan dapat dicapai oleh orang lain."

24

— FATHUL BAARI

Hanya saja telah disebutkan dalam hadits ini sebagaimana akan diterangkan kemudian, bahwa Ibnu Abbas berkata, "Akupun berdiri dan melakukan seperti apa yang beliau lakukan." Penggunaan kata mitsl (seperti) tidaklah berkonsekuensi pada musawat (persamaan) dari segala segi.
UPJ^J J^IJ

^Uai (shalat tanpa berwudhu lagi) merupakan dalil bahwa

tidur tidak

termasuk hadats (perkara yang membatalkan wudhu). Ia

hanyalah suatu keadaan dimana sering menyebabkan hadats. Sebab mata beliau SAW tertidur namun hatinya terjaga. Jika terjadi sesuatu yang membatalkan wudhu pada diri beliau, maka beliau akan mengetahuinya. Oleh karena itu, apabila beliau SAW bangun tidur kadang beliau berwudhu dan kadang tidak mengulanginya lagi. Al Khaththabi berkata, "Hati beliau tidak tidur untuk memahami wahyu yang datang kepadanya pada saat beliau tidur."
\—iJi

(Kami bertanya).

Yang bertanya adalah sufyan, dan hadits

tentang ini adalah shahih sebagaimana akan disebutkan dari jalur periwayatan yang lain. Adapun Ubaid bin Umair adalah salah seorang pemuka di kalangan tabi'in. ^ - j *CJ*jlUjj (Mimpipara nabi adalah wahyu). Telah diriwayatkan

oleh Imam Muslim dengan silsilah periwayatan yang bersambung kepada Nabi SAW, demikian pula hadits ini akan disebutkan kembali oleh Imam Bukhari pada kitab Tauhid dari riwayat Syuraik dari Anas. Adapun konteks ayat yang dibacakan dengan perkataannya bahwa mimpi para nabi termasuk wahyu adalah, apabila mimpi tidak termasuk wahyu maka tidak boleh bagi nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya demi melaksanakan mimpinya. Sementara Ad-Dawudi (salah seorang pensyarah hadits Bukhari) merasa heran korelasinya dan berkata, "Perkataan Ubaid bin Umair tidak ada dengan persoalan yang dibahas dalam bab ini." Hal itu

karena Ad-Dawudi telah membuat komitmen tersendiri terhadap Imam Bukhari untuk tidak menukil suatu hadits kecuali yang ada hubungannya dengan pembahasan yang ada. Namun tidak ada seorang pun selain beliau yang membuat persyaratan seperti ini. Adapun jika yang beliau

FATHUL BAARI —

25

(Ad-Dawudi) maksudkan

dengan perkataannya, bahwa perkataan Ubaid

ini tidak ada sangkut pautnya dengan hadits yang dinukil dalam bab ini, maka hal itu tidak dapat diterima. Pembahasan selanjutnya tentang hadits ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian Witir dalam kitab Shalat, insya Allah.

6. Menyempurnakan Wudhu

Ibnu Umar berkata, "Menyempurnakan membersihkan dengan sebersih-bersihnya."

wudhu

artinya

139. Telah diriwayatkan Usamah "Rasulullah suatu jalan kemudian Aku SA W bergerak berwudhu,

dari Kur aib (budak Ibnu Abbas) beliau mendengar meninggalkan Usamah Arafah.

dari

bin Zaid bahwasanya

berkata,

Ketika tiba di buang air kecil wudhunya. Rasulullah?"

pada suatu bukit, beliau turun dan namun

tidak menyempurnakan

pun berkata,

Apakah engkau akan shalat wahai

26

— FATHUL BAARI

Beliau SAW

menjawab, kembali

'Nanti di tempat perhentian menaiki (kendaraannya). itu dikumandangkan maghrib. kendaraannya

di depan.'

Beliau di

Ketika

sampai

Muzdalifah, maka Nabi

beliau SA W turun lalu berwudhu dan Setelah SAW hewan shalat Selanjutnya di tempat

menyempurnashalat, orang nabipun setiap

kan wudhunya. menambatkan Kemudian shalat. Beliau

iqamat untuk

masing-masing.

dikumandangkan isya')."

igamat untuk shalat isya dan

SA W tidak shalat (sunah) di antara kedua shalat itu

(maghrib dan

Keterangan Hadits: j - » * '{/) J ^ j (Ibnu Umar berkata). Hadits tanpa silsilah periwayatan ini (hadits mu'allaq) adalah shahih. menjadi telah dinukil oleh Abdurrazzaq berikut para sesuatu dengan hal yang oleh Ibnu periwayatnya dalam kitab Al Mushannaf, dimana silsilah periwayatnya Hal ini termasuk menafsirkan konsekuensinya. Karena menyempurnakan wudhu berkonsebahwa Ibnu Umar

kuensi pada bersihnya anggota wudhu. Telah diriwayatkan Mundzir melalui silsilah periwayatan yang shahih, beliau benar-benar dengan mencuci anggota

mencuci kedua kakinya saat berwudhu sebanyak tujuh kali. Seakan-akan wudhu ini melebihi dari yang lainnya karena kaki pada umumnya merupakan bagian yang bersentuhan kotoran. Hal itu karena disebabkan kebiasaan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, wallahu a 'lam. s-j—^jJi maksudnya — Jt—Ij (Namun W tidak menyempurnakan wudhunya)

berlaku ringan dalam melakukan wudhu atau sekedarnya

saja. Hal ini seperti pembahasan pada bab terdahulu. W—lai\ c—U» (Akupun berkata, dibaca fathah pertanyaan, "Apakah kita akan shalatT'). Kata

yang mempunyai dua kemungkinan;

Pertama,

sebagai suatu anjuran, yakni alangkah baiknya kita shalat. Kedua, sebagai yakni "Apakah engkau hendak melakukan shalat wahai
Vtft

Rasulullah?" Kemungkinan kedua ini diperkuat oleh perkataan Usamah sendiri dalam salah satu riwayat, laJi >Xij\ cJii (Akupun berkata,

FATHUL BAARI —

27

''Apakah engkau (Rasulullah) hendak melakukan shalat?"). Kata itu bisa juga dibaca dhammah, (telah tiba waktu shalat). iX»L_»l 9">CaJl Jlii {Beliau menjawab, depan"). shalat Hal apapun ini merupakan wudhu "Nanti di tempat perhentian wudhu mereka di agar yang yakni, S^CaJi yang berarti «*>CaJl c i j cJl?-

dalil disyari'atkannya tersebut. Sedangkan

senantiasa dalam keadaan suci, karena beliau SAW tidak melakukan dengan mengatakan bahwa maksud wudhu di sini adalah istinja' (cebok), adalah pendapat yang salah berdasarkan perkataan Usamah riwayat lain, \—'j—»j berwudhu) £Xt o ^ i {Maka akupun menuangkan Juga berdasarkan hadits di atas, wudhunya). seraya

cJjvzi

air sedang beliau SA W {Namun

sj—!>jJi ^ - J

beliau tidak menyempurnakan i j—is^il menyempurnakan Khaththabi

lt\i '£e'j£ Jjf {Beliau SAW turun lalu berwudhu wudhunya) Di sini

terdapat dalil disyariatkannya

mengulangi wudhu tanpa harus

diselingi dengan shalat. Akan tetapi Al

berkata, "Perkataan ini masih perlu dipertanyakan, sebab

mungkin Nabi SAW melakukan wudhu untuk yang kedua kalinya karena beliau SAW berhadats."

Catatan: Air yang Keterangan dipakai berwudhu pada saat itu adalah air zamzam. ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin tentang

Hambal dalam tambahan-tambahan beliau terhadap musnad bapaknya, dimana silsilah periwayatan yang beliau sebutkan mempunyai derajat hasan, dan riwayat itu berasal dari hadits Ali bin Abu Thalib. Hal ini sanggahan bagi mereka yang melarang menggunakan air merupakan

zamzam selain untuk minum. Pembahasan selanjutnya tentang hadits ini akan dijelaskan pada bab Haji.

28

— FATHUL BAARI

7. Membasuh Muka dan Tangan Lebih dari Satu Cidukan

^

S
' '

S
O'O

f
. ' '

s
' O

s
'

i'

l'

'

'

t '

0

* • • * ^ f " J. • *
0

.
£ S S

^0

&

S

S

S

£ j, }

^

*

S

S

£ 0

S

S

J'

--

f

g

^ J

f

*

'

'

0

0 > r

l

0

t''"'*

^ i *• • • T * u \ ' \' • f -*
0 0 f

'° \i

140. Diriwayatkan berwudhu tangannya

dari Atha' bin Yasar dari Ibnu Abbas, bahwa ia air dengan air ke satu berkumur-kumur dan memasukkan

lalu membasuh mukanya. Beliau mengambil kemudian

hidung serta mengeluarkannya. dituangkannya mukanya mengambil mengambil Selanjutnya mengambil kaki kanannya beliau berkata,

Setelah itu beliau mengambil

ciduk air lagi dengan tangannya lalu menjadikannya di atas tangannya yang lain- dan beliau kedua lagi lalu tangannya membasuh kemudian itu. dengan air

seperti ini membasuh beliau dan kirinya. beliau ke satu SAW

Seterusnya kanannya, tangan Kemudian

tangan membasuh

satu ciduk lagi beliau seciduk hingga

mengusap air dengan

kepalanya. tangannya -yakni

dan memercikkan yang

membasuhnya, kakinya aku

dan beliau mengambil melihat Rasulullah

ciduk lagi lalu membasuh berwudhu."

kiri- setelah itu

'Demikianlah

FATHUL BAARI —

29

Keterangan Hadits: "Bab membasuh muka dan tangan dengan satu cidukan". Imam Bukhari memaksudkan perkataan ini untuk memberi penegasan tentang tidak disyaratkannya sekaligus menciduk sebagai air dengan kedua tangan secara bersamaan, mengatakan itu. Beliau tangan isyarat akan kelemahan hadits yang

bahwasanya mengatakan, dipakai

Nabi SAW biasa membasuh muka dengan "Mengambil air dengan satu tangan dapat

tangan kanannya. Lalu Al Hulaimi mencoba memadukan kedua riwayat dipraktekkan pada saat seseorang berwudhu dari suatu bejana dimana kirinya untuk menuangkan air ke tangan kanannya, air dengan menggunakan kedua tangan dapat sedangkan mengambil

dilakukan pada saat menciduk air dari bejana secara langsung." Akan tetapi konteks lafazh hadits ini tidak sejalan dengan keterangan beliau, karena di sini disebutkan bahwa setelah menciduk air dengan satu tangannya, beliau menuangkan ke tangannya yang lain lalu membasuh mukanya dengan kedua tangan tersebut. i i?j3 tis (Bahwasanya ia bei~wudhu), dalam riwayat yang dinukil

oleh Abu Dawud terdapat tambahan sebelum lafazh ini. Abu Dawud meriwayatkannya dari jalur Hisyam bin Sa'id dari Zaid bin Aslam, dimana dikatakan,
# " ^

(Apakah SAW berwudhu? Sementara

kamu mau

untuk aku perlihatkan satu

bagaimana

Rasulullah air...)

Dia minta dibawakan

bejana yang berisi

dalam riwayat An-Nasa'i dari Muhammad bin Ajian dari

Zaid, pada bagian awal hadits dikatakan, "Rasulullah SAW berwudhu lalu mengambil air dengan satu kali cidukan."
"ii'jf- JbM (Beliau mengambil

satu ciduk air). Secara lahiriah, bahwa

berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung serta mengeluarkannya termasuk dalam lingkup membasuh muka. Akan tetapi yang dimaksud dengan membasuh muka pada kali pertama seperti tersebut dalam hadits ini lebih umum daripada makna yang wajib (membasuhnya) maupun sunah, karena beliau kembali membasuh muka untuk kedua kalinya setelah berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung serta

30

— FATHUL BAARI

mengeluarkannya; antara

dan

kali

ini

dilakukan memasukkan

dengan air

satu cidukan air ke hidung serta

tersendiri. Pada hadits ini terdapat pula keterangan untuk menyatukan berkumur-kumur dengan dengan muka dan satu kedua mengeluarkannya membasuh kali cidukan. Demikian pula dengan tangan sekaligus apabila dilakukan

dengan satu kali cidukan, sebab satu tangan kadang tidak dapat meliputi semua bagian muka.
8.

i (Selanjutnya

beliau mengusap

kepalanya)

Tidak

disebutkan bahwa mengusap kepala di sini menggunakan air tersendiri, maka keterangan ini dijadikan pegangan oleh mereka yang mengatakan bahwa air musta 'mal (bekas dipakai) hukumnya adalah suci. Akan tetapi dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, "Kemudian beliau mengambil air dengan tangannya lalu mengibaskan tangannya, setelah itu ia mengusap kepalanya." Ditambahkan oleh Imam An-Nasa'i dari riwayat Abdul Aziz Ad-Darawardi dari Zaid, "Dan kedua telinganya sebanyak satu kali." Dari riwayat Ibnu Ajian dikatakan, "Bagian dalamnya dengan telunjuk dan bagian luarnya dengan ibu jari." Sedangkan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, "Beliau memasukkan kedua jari telunjuknya pada kedua telingannya." 4Jjrj ^Js- J>'j (memerciki kakinya), maksudnya membasahi kakinya sedikit demi sedikit sampai dapat dikatakan membasuh. U j i — J » - (Hingga beliau membasuhnya) menegaskan bahwa adalah penjelasan yang

beliau tidak hanya sekedar memercikkan air ke

kakinya. Adapun hadits yang disebutkan dalam riwayat Abu Dawud dan Hakim, "Beliau memerciki kaki kanannya, dan saat itu beliau sedang memakai sandal. Kemudian beliau mengusap kaki tersebut dengan kedua tangannya, satu tangan di bagian atas kaki dan satu lagi di bagian bawah sandal." shahih Sesungguhnya yang dimaksud "mengusap" di sini adalah meratakan air ke seluruh bagian (kaki). Sementara telah dinukil riwayat yang menyatakan bahwa beliau SAW pernah berwudhu sambil memakai sandal, sebagaimana akan disebutkan oleh Imam Bukhari dalam pembahasan selanjutnya dari hadits Ibnu Umar. Sedangkan pernyataan dalam hadits ini "Di bawah sandal" jika tidak pahami sebagai kata kiasan

FATHUL BAARI —

31

dari kaki, maka termasuk riwayat syadz (menyelisihi riwayat yang lebih kuat). Perawinya adalah Hisyam bin Sa'ad, seorang yang tidak diterima bila meriwayatkan hadits secara sendirian, lalu bagaimana lagi jika riwayatnya itu menyelisihi riwayat yang lebih kuat? iUrj J_~*i (Dan beliau mengambil lagi satu ciduk air

dengan tangannya lalu membasuh kakinya -yakni yang kiri) yang mengucapkan kata "yakni" adalah Zaid bin Aslam (perawi yang menerima hadits ini dari Atha") ataupun para perawi sesudahnya. Hadits ini telah dijadikan dalil oleh Ibnu Baththal untuk menunjukkan bahwa air musta 'mal (yang telah dipakai bersuci) adalah suci hukumnya. Karena satu anggota wudhu bila dibasuh satu kali, maka air bekas membasuh yang masih tersisa di tangan akan menyentuh anggota wudhu berikutnya. Demikian pula cidukan air yang berada di tangan bila dibasuhkan kepada anggota wudhu, maka dianggap sebagai air musta 'mal bagi anggota wudhu yang dibasuh (karena sebelumnya ia telah tersentuh oleh tangan). Namun perkataan ini dapat dijawab dengan mengatakan, "Selama air itu belum berpisah dengan tangan tidak dapat dikatakan air musta 'mal. Akan tetapi, jawaban ini butuh analisa yang lebih mendalam lagi."

8. Membaca Basmalah dalam Setiap Keadaan dan Saat Melakukan Hubungan Suami Isteri

141. dan

Diriwayatkan mengucapkan,

dari Ibnu Abbas kamu 'Dengan

dari Nabi SAW, istrinya Ya Allah, dari apa yang

"Apabila (bersetubuh) jauhkanlah Engkau

salah seorang

di antara

mendatangi syetan

nama Allah,

kami dari syetan

dan jauhkanlah

32

— FATHUL BAARI

anugerahkan sebagai rezeki bagi kami', mereka berdua seorang anak, maka membahayakannya^

lalu ditetapkan syetan tidak

bagi akan

Keterangan Hadits: "Bab membaca basmalah dalam setiap keadaan dan saat melakukan jima' (hubungan suami isteri)." Kata ( j i ' ) telah dianeksasikan (athaf)
m a

dengan kata sebelumnya (hal). Hal ini tergolong aneksasi makna yang khusus terhadap makna yang umum, untuk memberi penekanan agar lebih diperhatikan. Sementara keumuman itu tidak kita dapatkan dari makna lahiriah hadits tersebut, melainkan dapat kita pahami dari metode Al Aula (lebih utama). Karena (hubungan apabila basmalah disyariatkan saat sementara pada kondisi melakukan jima' suami isteri),

demikian lebih dianjurkan untuk diam, maka tentu pada kondisi selain itu lebih utama lagi untuk mengucapkan basmalah. Dalam bab ini terdapat pula isyarat mengenai bantahan terhadap riwayat yang tidak menyukai menyebut nama Allah dalam keadaan Meskipun kebenaran hadits ini buang air besar dan melakukan jima'.

dapat diterima, tetapi hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari dalam bab ini. Sebab riwayat yang menyatakan tidak disukai menyebut basmalah saat hubungan suami isteri dibatasi pada kondisi saat menginginkan hubungan biologis, sebagaimana akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya dari jalur periwayatan yang lain. Adapun hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari di sini pengertiannya dibatasi oleh riwayat yang dinukil oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dari jalur Al Qamah dari Ibnu Mas'ud, "Biasanya Rasulullah SAW bila melakukan hubungan dengan isterinya, maka beliau mengucapkan, i—'-LOJ ii\ia^ii JjwjJ (Ya Allah, janganlah

Engkau jadikan bagian bagi syetan terhadap rezeki yang Engkau berikan kepadaku). Selanjutnya pernah dibacakan hadits ini akan dibahas dalam bab nikah. Lalu Al di hadapan Al Firabri, "Ditanyakan kepada Abu Karmani menyebutkan bahwa dia pernah membaca pada naskah yang Abdullah ( I m a m Bukhari), 'Apakah boleh bagi mereka yang tidak dapat

FATHUL BAARI —

33

berbahasa Arab mengucapkan doa itu dalam menjawab, 'Ya, boleh.'

bahasa Persia?' Beliau

9. Apa yang Diucapkan Saat Buang Hajat

LISI

W?

*^S\

O L I '

Jyu

L~JL

C J T ^

J L I

J>.

'J*

(cJC^>\J
V'O y y y ,

^iJiJl ^> d L J
s ^ ^
0

i_^F
% « . y T,-

Jl
yy y

^

1

)

: J L I

F

*>LKJL

Jio
% y y y

y 0 ^ „ ' ' O ' > 0 ^ J L X ' ''

,

I,

>JI ^Jl
"'I ^-

f
$

B L ) ' %

;4_;jiu^ ^ P J - U P
$ % y ' " '

J I I J ' '
y

^P
O

*J&J&

L_£b- J—; j J x ^ Jli

(Jio lil) :jLU.(J>-JU
0 1 JLJL LISI)

Jli j
'.jJjiilJLP

142. Diriwayatkan mendengar memasuki Hadits seorang berkata,

dari Abdul Aziz bin Shuhaib, ia berkata, bahwa, 'Biasanya apabila Nabi

"Aku SAW

Anas berkata

tempat buang hajat, maka beliau berdoa, 'Ya Allah, Aku dari Al Khubuts dan Al Khaba 'its. juga dari Ibnu Ar'arah dari Syu'bah. salah
1

berlindung kepada-Mu Ghundar berkata,

ini diriwayatkan

"Telah diriwayatkan dari Syu'bah, 'Apabila tempat buang hajat..."'

di antara kamu mendatangi

Lalu Musa

"Telah diriwayatkan dari Hammad, 'Apabila masuk..."'

telah masuk.' ''''

Sementara Sa'id bin Zaid berkata, "Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, 'Apabila hendak

Keterangan Hadits: "Bab apa yang diucapkan saat buang hajat", yakni saat hendak masuk ke tempat buang hajat jika tempat tersebut dipersiapkan untuk buang hajat, memang khusus sedangkan jika ia bukan tempat yang

34

— FATHUL BAARI

dikhususkan untuk buang hajat, maka perkataan Imam Bukhari di atas dipahami sebagaimana makna tekstualnya. Penyebutan bab ini dan beberapa bab sesudahnya (yakni sampai pada bab wudhu satu kali) telah menimbulkan kemusykilan tersendiri, sebab beliau (Imam Bukhari) memulai kitab wudhu ini dengan menyebutkan bab-bab yang berhubungan dengan wudhu. Di antaranya beliau menyebutkan wajib wudhu, syarat dan keutamaannya. Demikian pula beliau menyebutkan bolehnya meringankan pelaksanaan wudhu, keutamaan untuk menyempurnakannya, mencuci muka dan membaca basmalah. Meski bab yang membahas tentang basmalah disebutkan lebih akhir daripada membasuh muka, namun hal itu tidak memberi pengaruh yang berarti. Sebab, penyebutan basmalah beriringan dengan awal mula membasuh muka. Untuk itu, masalahnya tidak berbeda apakah basmalah disebutkan sebelum masalah membasuh muka atau sebaliknya. Akan tetapi yang menjadi permasalahan bahwa setelah menyebutkan persoalan yang berhubungan dengan basmalah, beliau menerangkan mengenai apa yang diucapkan Selanjutnya dengan istinja'. oleh seseorang saat mau ke tempat buang hajat. beliau menyebutkan dengan bab-bab yang berhubungan

Setelah itu beliau kembali lagi ke masalah wudhu yang

dilakukan dengan membasuh -anggota wudhu- satu kali. Nampaknya hubungan antara bab yang satu dan bab lainnya di tempat ini tidaklah diketahui dengan baik oleh Al Karmani, sehingga beliau berkata, "Dalam konteks apa sehingga bab tentang 'basmalah' disebutkan sesungguhnya Kemudian disisipkan menjawab, lebih akhir daripada diucapkan sehingga bahwa bab-bab sebelum sebelumnya, membasuh Selanjutnya tidak padahal muka? beliau terlalu 'basmalah'

apa hubungannya "Aku katakan

bab-bab tentang buang hajat Bukhari

di antara bab-bab tentang wudhu?" Imam

memperhatikan urutan bab-bab yang beliau sebutkan, karena maksud utama beliau adalah menukil hadits-hadits dan apa yang berkaitan dengan kitab shahih beliau, tidak ada maksud lain." Akan tetapi jawaban yang beliau paparkan di tempat ini beliau bantah sendiri dalam kitab tafsir, dimana setelah beliau (Al Karmani) mendiskusikan perbuatan Imam Bukhari yang telah menukil beberapa masalah yang berhubungan dengan penafsiran beberapa lafazh, maka

FATHUL BAARI —

35

beliau berkata, "Andaikata Bukhari tidak menyebutkan masalah ini niscaya hal ini lebih utama, sebab semua itu tidak masuk dalam lingkup pembahasan kitab beliau." Demikian juga yang beliau katakan di berbagai tempat pada saat ia tidak menemukan kesesuaian antara apa yang dikatakan oleh Imam Bukhari dengan bahasan kitabnya. Padahal segala apa yang disebutkan oleh Imam Bukhari dalam menafsirkan lafazh-lafazh yang rumit beliau nukil dari para pakar di bidang itu; seperti Abu Ubaidah, An-Nadhr bin Syamuel dan Al Farra' serta selain mereka. Adapun dalam masalahmasalah fikih, umumnya beliau berpedoman dengan pendapat Syafi'i dan Abu Ubaid serta lainnya. Sedangkan seluk beluk ilmu kalam dinukil dari Al Karabisi, Ibnu Kilah dan lainnya. Yang lebih aneh lagi, Al Karmani mengatakan bahwa Imam Bukhari tidak bermaksud untuk menyusun secara baik urutan bab-bab dalam kitab ini. Padahal tidak ada di antara sekian banyak penulis yang dikenal memperhatikan persoalan ini dengan baik selain Imam Bukhari. Hingga sejumlah ulama berkata, "Sungguh Imam Bukhari memiliki pemahaman yang benar-benar mendalam dalam menyusun urutan babbab dalam kitab ini." Dalam syarah ini saya telah menyebutkan dengan jelas ketelitian Imam Bukhari. Setelah melakukan penelitian dalam masalah ini, sekilas saya mendapatkan apa yang diduga oleh orang-orang yang beranggapan bahwa Imam Bukhari tidak memperhatikan penyusunan bab-bab dengan urutan yang baik seperti yang dikatakan oleh Al Karmani. Akan tetapi dalam masalah Adapun benak saya shalat, beliau telah memperhatikan urutan-urutan bab dalam pembahasan tentang wudhu ini, terbersit dalam bahwa syarat Imam Bukhari terlebih shalat. Setelah dahulu menyebutkan menyebutkan sebagaimana yang telah saya sebutkan, karena wudhu sahnya itu beliau secara sempurna sebagaimana yang akan saya jelaskan.

kewajiban wudhu merupakan

keutamaan wudhu serta keterangan bahwa wudhu tidak wajib melainkan benar-benar yakin berhadats. Ia juga menyebutkan bahwa membasuh anggota wudhu melebihi dari batasan yang ditetapkan adalah bukan menjadi syarat, tetapi jika hal

36

— FATHUL BAARI

itu dilakukan maka lebih utama. Di samping itu beliau menyebutkan pula keterangan untuk membasuh sebagian anggota wudhu dengan sekali cidukan tangan. Demikian pula membaca basmalah saat akan wudhu, disyariatkan sebagaimana hal ini disyariatkan bagi mereka yang akan buang hajat. Lalu dari sini beliau menyebutkan adab istinja' dan syaratsyaratnya. Setelah itu beliau kembali menerangkan bahwa yang wajib dalam berwudhu adalah membasuh anggota wudhu satu kali-satu kali, sedangkan membasuhnya dua atau tiga kali adalah sunah. Selanjutnya beliau menyebutkan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) sebagai isyarat untuk membersihkan anggota yang tersembunyi sebelum yang biasa nampak. Oleh karena dalam hadits tentang istinsyaq terdapat perintah untuk istinja* (cebok) dengan menggunakan batu dalam jumlah yang ganjil, maka beliau memuatnya dalam judul bab tersendiri karena masih dalam lingkup kebersihan. Lalu beliau kembali membahas hukum berlaku ringan dalam

berwudhu. Beliau menulis satu bab dengan judul membasuh kaki dan bukan mengusap sepatu, dimana hal ini sebagai isyarat bahwa berlaku ringan saat berwudhu tidak cukup dengan sekedar mengusap dalam artian tidak mencapai kategori membasuh. Kemudian beliau membahas masalah berkumur-kumur, karenanya merupakan bagian yang mengiringi istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung). Setelah itu beliau menyebutkan masalah "membasuh kedua mata kaki", agar tidak timbul dugaan bahwa keduanya bukan termasuk kaki. Beliau menyebutkan pula "membasuh kedua kaki yang memakai sandal", sebagai bantahan bagi mereka yang mencukupkan membasuh sandal bagi yang memakainya. Setelah itu beliau menyebutkan keutamaan memulai anggota wudhu bagian kanan, kapan seseorang wajib mencari air wudhu, hukum air yang dipakai berwudhu, hal-hal yang mewajibkan wudhu dan meminta bantuan saat berwudhu. Kemudian beliau menyebutkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang tidak dalam keadaan berwudhu. Setiap kali beliau menyebutkan salah satu anggota selalu diiringinya dengan hal-hal yang ada hubungannya dengan hal itu bagi mereka yang memperhatikannya

FATHUL BAARI —

37

dengan cermat, hingga akhirnya beliau mengakhiri kitab wudhu dengan metode seperti ini. Namun pada bagian shalat, beliau (Imam Bukhari) menempuh metode yang lebih mudah, dimana beliau menyebutkan urutan bab dengan kesesuaian yang sangat jelas. Seakan-akan beliau begitu mendalami persoalan tersebut, wallahu a 'lam. Lafazh C £Ji adalah bentuk jamak dari
KLSJT. u-L^ ,
1

sedangkan tij£*Ji

adalah bentuk jamak dari

Adapun maksudnya adalah syetan jenis

laki-laki dan perempuan, demikian yang dikatakan oleh Al Khaththabi dan Ibnu Hibban serta lainnya. Disebutkan dalam Naskah Ibnu Asakir, "Abu Abdullah (Imam yang berarti dikatakan oleh Ibnu Al

Bukhari) berkata, iafazh

— k a d a n g pula dibaca

sesuatu yang tidak disukai, sebagaimana yang

Arabi. Jika dalam bentuk perkataan, maka berarti caci maki. Apabila dalam bentuk ideologi, maka berarti kekufuran. Jika berupa makanan, maka ia adalah makanan yang haram. Apabila berbentuk minuman, maka ia adalah minuman yang berbahaya. Atas dasar ini, maka yang dimaksud dengan Al Khaba 'its adalah maksiat ataupun perbuatan-perbuatan tercela secara umum. Oleh karena itu, maka dalam riwayat Tirmidzi dan yang lainnya disebutkan, "Aku berlindung kepada Allah dari Al Khubts dan Al Khabiits" atau "Al Khubuts dan Al Khaba 'its" yakni dari segala sesuatu tercela, ataupun syetan laki-laki dan yang tidak perempuan. Nabi SAW memohon perlindungan tersebut untuk menampakkan sikap penghambaan. Di samping itu, Nabi juga mengeraskan suaranya saat membacanya, hal itu untuk mengajari para sahabatnya. Hadits ini telah diriwayatkan oleh Al Umari melalui jalur periwayatan Abdul Aziz bin Al Mukhtar dari Abdul Aziz bin Shuhaib dalam bentuk perintah, beliau bersabda, "Apabila ucapkanlah, Khubuts dan 'Dengan Al kamu masuk ke tempat buang hajat maka nama Allah, aku berlindung kepada Allah dari Al Silsilah periwayatan hadits ini sesuai disukai dan yang

Khaba 'its."'

klasifikasi hadits shahih yang dimuat dalam kitab Imam Muslim. Dalam riwayat ini terdapat tambahan untuk mengucapkan basmalah, dan aku tidak menemukannya kecuali dalam riwayat ini.

38

— FATHUL BAARI

\'j—£-°f- J—>)

iij'li (Hadits ini diriwayatkan

pula dari Ibnu Ar 'arah).

Nama beliau adalah Muhammad, dan hadits yang beliau riwayatkan dinukil oleh Imam Bukhari dalam bab doa. y musnad &J
1

5j (Dan

Ghundar

berkata).

Hadits tanpa silsilah

periwayatan ini disebutkan oleh Al Bazzar berikut para perawinya dalam beliau dari Muhammad bin Basysyar Bandar, dari Ghundar dengan redaksi beliau. Hadits ini dinukil pula oleh Ahmad bin Hambal dari Ghundar dengan lafazh, J — t i j (Apabila salah seorang di antara kamu masuk). J l i j (Musa berkata) maksudnya adalah Musa bin Isma'il AtTabudzaki. Sedangkan Hammad adalah Ibnu Salamah, yakni Abdul Aziz bin Shuhaib. Hadits melalui jalur periwayatan ini, para perawinya disebutkan secara lengkap oleh Al Baihaqi dengan lafazh seperti di atas. j—ij 'J IJU* JV9J (Sementara Sa 'id bin Zaid berkata). Beliau adalah saudara Hammad bin Zaid, dan riwayat beliau ini disebutkan oleh Imam Bukhari berikut silsilah periwayatannya dalam kitab Al Adab Al Mufrad, dimana beliau berkata, "Abu N u ' m a n telah menceritakan kepada kami dari Sa'id bin Zaid, dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas. Ia berkata, 'Biasanya Nabi SAW jika ingin memasuki tempat buang hajat, beliau mengucapkan..." seperti hadits dalam bab ini." Riwayat ini memberi penjelasan mengenai maksud dari lafazh hadits di atas yang berbunyi, "Biasanya apabila Nabi SAW memasuki tempat buang hajat." Yakni beliau mengucapkan doa pada saat akan masuk, bukan setelah masuk. Ini khusus tempat yang telah disiapkan untuk buang hajat, hal itu dapat dipahami dari kata "masuk ". Maka Ibnu Baththal berkata, "Apabila salah seorang di antara kamu mendatangi tempat buang hajat..." jauh lebih umum karena cakupannya cukup luas. Dalam Pertama, hal ini ada dua pembahasan yang perlu diperhatikan; apakah dzikir ini khusus pada tempat-tempat yang khusus

disiapkan untuk buang hajat dikarenakan tempat-tempat tersebut didiami syetan sebagaimana disebutkan dalam hadits Zaid bin Arqam dalam kitab As-Sunan, ataukah dzikir ini diucapkan secara umum, bahkan seseorang

FATHUL BAARI —

39

yang kencing di samping rumah? Yang lebih benar adalah pandangan kedua, selama seseorang belum memulai buang hajat. Pembahasan kedua, kapankah dzikir itu diucapkan? Barangsiapa yang memandang makruh untuk menyebut nama Allah dalam kondisi seperti ini, maka ia memberi perincian sebagai berikut; apabila di tempat yang disiapkan khusus untuk buang hajat maka diucapkan pada saat sebelum masuk. Adapun pada tempat selain itu, maka diucapkan pada awal mula melakukan pekerjaan buang hajat seperti saat hendak menyingkap pakaian. Demikian pendapat jumhur ulama. Mereka mengatakan pula bahwa bagi orang yang lupa, maka ia mengucapkannya dalam hati, bukan dengan lisannya. Sedangkan mereka yang membolehkan seperti dinukil dari Malik, tidak membutuhkan perincian seperti di atas. Perlu tempat diperhatikan bahwa Sa'id bin Zaid yang meriwayatkan Nabi SAW masuk

keterangan tentang makna dari perkataan, "Apabila buang hajat",

adalah orang yang shaduq, sebagian ulama telah

memperbincangkan tentang hafalannya. Riwayat beliau tidak disebutkan oleh Imam Bukhari kecuali di tempat ini, dan itupun hanya dalam bentuk ta 'liq (tanpa menyebutkan silsilah periwayatannya). Akan tetapi yang meriwayatkan Abdul lafazh seperti ini bukan hanya beliau sendiri, dimana pula oleh Al Bukhari. Baihaqi dari jalur lafazh serupa telah diriwayatkan oleh Musaddad dari Abdul Warits dari Aziz. Lalu diriwayatkan periwayatan Abdul Aziz, dimana kedudukannya sama seperti klasifikasi hadits shahih yang dimuat dalam Shahih

KAMHJMGSUMMAH

40

— FATHUL BAARI

10. Bab Menyiapkan Air di Tempat Buang Hajat

143. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi SA W masuk ke tempat buang hajat, dan aku menyiapkan air wudhu untuknya. Maka Nabi SA W bertanya, "Siapakah yang menyiapkan air ini? " Lalu diberitahukan kepadanya bahwa aku yang meletakkannya, lalu beliau berdoa, "Ya Allah, berilah dia pemahaman yang mendalam tentang agama."

Keterangan Hadits: i*j *<>j & c-*i>jj (aku menyiapkan air wudhu untuknya), yakni air

untuk beliau pakai berwudhu. Lalu ada pula yang mengatakan bahwa ada kemungkinan air tersebut diberikan oleh Ibnu Abbas kepada Nabi untuk dipakai beristinja' (cebok). Akan tetapi, pandangan ini perlu dicermati lebih lanjut.

j^—»

(Lalu diberitahukan)

telah disebutkan dalam kitab "Ilmu"

bahwa yang memberitahukan hal itu adalah Maimunah binti Al Harits (bibi Ibnu Abbas). At-Taimi berkata, "Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa membalas suatu kebaikan dengan doa adalah sangat dianjurkan." Lalu Ibnu Al Munir berkata, "Kesesuaian doa untuk Ibnu Abbas agar diberi pemahaman tentang agama setelah beliau menyiapkan air tersebut, adalah karena Ibnu Abbas merasa ragu apa yang harus dilakukan antara tiga hal berikut ini; yaitu masuk ke tempat Nabi sambil membawa air, meletakkan air di dekat tempat tersebut agar mudah didapat, atau tidak melakukan apa-apa. Kemudian Nabi melihat bahwa apa yang telah dilakukan oleh Ibnu Abbas itu lebih tepat. Karena jika ia masuk dengan membawa air, maka hal itu dapat menyingkap aurat beliau SAW. Sementara jika ia tidak berbuat apa-apa, maka akan menyulitkan beliau SAW untuk mendapatkan air. Perbuatan Ibnu Abbas ini

FATHUL BAARI —

41

menunjukkan kecerdasannya, maka Nabi mendoakannya untuk diberi pemahaman tentang agama agar ia dapat memperoleh manfaat. Sementara sebagian pembahasan hadits ini telah diterangkan terdahulu dalam bab Ilmu.

1 1 . Tidak Boleh Menghadap Kiblat Saat Buang Air Besar atau Kecil, Kecuali Bila Berada Dalam Suatu Bangunan atau Terhalang Tembok Maupun yang Sepertinya

J\ b l : s | | aUI J j ^ j J l i : J l i ^JC^S\ ^~>y\ J\°^
y

O y

.1

y'j> j l

t
1

%

^

y

'i* ^

y

y

yy

O

O

y

y

y

O

o'J$±z>ty'jj,V j

SilaJl

J~alLj

*>^i JaiUvJl

144. Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al Anshari bahwa ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, Apabila salah seorang di antara kamu mendatangi tempat buang air besar, maka janganlah ia menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Akan tetapi, menghadaplah ke timur atau ke barat."

Keterangan Hadits: Pengertian "Kecuali bila berada di suatu bangunan, terhadang tembok maupun yang sepertinya" adalah seperti batu besar, pagar, pohon dan pembatas-pembatas lain. Al Isma'ili berkata, "Dalam hadits yang disebutkan pada bab ini tidak ada keterangan yang mengindikasikan pengecualian seperti itu." Perkataan ini aku jawab dengan tiga jawaban: Pertama, bahwa pengecualian itu didasarkan pada hakikat lafazh Al Gha'ith (tempat buang air besar) di mana menurut hakikat bahasa, Al Gha'ith adalah suatu tempat datar di muka bumi yang terdapat di lapangan terbuka. Meskipun setelah itu lafazh Al Gha Jth dipakai untuk nama semua yang dikhususkan sebagai tempat buang air besar dalam arti

42

— FATHUL BAARI

majaz (kiasan). Maka, larangan dalam hadits di atas khusus untuk tempat yang terbuka. Sebab suatu lafazh bila tidak dibatasi dengan sesuatu, maka maknanya kembali kepada hakikat lafazh tersebut. Jawaban ini dikemukakan oleh Al Isma'ili yang merupakan jawaban yang terkuat. Kedua, menghadap ke arah kiblat dapat terealisasi bila seseorang berada di lapangan terbuka, sementara bila terhalang tembok atau bangunan, maka secara adat kebiasaan dinamakan menghadap kepada hal-hal tersebut. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Al Munir. Pendapat ini menjadi kuat bila dikatakan bahwa tempat-tempat untuk buang air besar tidak dapat digunakan untuk shalat, sehingga tidak ada istilah kiblat pada tempat-tempat tersebut. Akan tetapi jawaban ini dikritisi, karena hal itu mengakibatkan tidak sahnya shalat seseorang yang antara ia dengan Ka'bah ada tempat yang tidak sah untuk dipergunakan shalat, dan ini adalah batil. Ketiga, pengecualin di atas adalah berdasarkan hadits Ibnu Umar yang disebutkan setelah bab ini, sebab hadits-hadits Nabi SAW adalah merupakan satu kesatuan. Jawaban ini diutarakan oleh Ibnu Baththal serta disetujui oleh Ibnu Tin dan lainnya. Apabila dikatakan, "Mengapa kamu memberi m a k n a - / Ghalth sebagaimana arti hakikinya dan tidak mengartikannya dengan arti yang lebih luas, sehingga dapat mencakup tempat terbuka maupun bangunan tertutup. Terlebih lagi sahabat yang meriwayatkan hadits ini telah memberi makna hadits tadi dalam arti yang luas dan umum, dimana beliau -sebagaimana yang akan disebutkan oleh Imam Bukhari dalam bab Kiblat penduduk Madinah pada awal mula disyariatkannya shalatberkata, "Kami mendatangi negeri Syam, lalu kami temui tempat-tempat untuk buang hajat telah dibangun menghadap kiblat, maka kami pun berpaling (mengambil arah berlawanan) dari arah bangunan itu seraya memohon ampun." Pertanyaan ini dapat dijawab dengan mengatakan, "Abu Ayyub Al Anshari (perawi hadits yang dimaksud) telah memberi makna lafazh Al Gha 'Uh dari segi hakikat dan majaz sekaligus, dan itulah yang seharusnya dilakukan. Seakan-akan hadits yang mengkhususkan makna itu hanya pada tempat terbuka belum sampai kepada beliau. Adaikata tidak ada hadits Ibnu Umar yang mengindikasikan bahwa yang dimaksud dengan larangan menghadap kiblat saat buang air besar tidak berlaku pada tempat tertutup seperti bangunan, niscaya kami akan berpendapat

FATHUL BAARI —

43

pula bahwa larangan itu berlaku umum baik di tempat terbuka maupun tertutup. Sementara mengamalkan kedua dalil yang ada lebih utama daripada mengabaikan salah satunya. Disebutkan dalam hadits Jabir, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dan lainnya- sebuah keterangan yang menguatkan pandangan ini. Adapun lafazh hadits tersebut versi Imam Ahmad, adalah:

«Juli J-Jk*« < J J J

^LII

AJ^i

JJ

{Rasulullah SA W melarang kami membelakangi atau menghadap kiblat dengan kemaluan-kemaluan kami saat kami menumpahkan air (kencing). Jabir menambahkan, "Kemudian aku pernah melihat beliau SAW setahun sebelum wafat kencing dengan menghadap kiblat") Sebenarnya hadits ini bukan sebagai penghapus hukum larangan menghadap kiblat sebagaimana anggapan sebagian orang, akan tetapi hadits ini harus dipahami bahwa kejadian tersebut berlangsung di tempat tertutup (bangunan) mengingat kebiasaan Nabi SAW yang senantiasa menutup diri bila melakukan hal-hal seperti itu. Adapun ketika Ibnu Umar melihat beliau sedang kencing adalah tanpa sengaja -sebagaimana disebutkan kemudian- demikian pula dengan kejadian yang dialami oleh Jabir. Pandangan yang mengatakan bahwa perbuatan itu hanyalah khusus dibolehkan bagi Nabi tidak dapat dibenarkan, karena perkara yang khusus bagi Nabi SAW tidak ditetapkan dengan dalil yang masih memiliki kemungkinan lain. Sementara hadits Ibnu Umar yang akan disebutkan kemudian memberi keterangan bolehnya buang hajat sambil membelakangi kiblat apabila berada di tempat tertutup (bangunan), sementara hadits Jabir menunjukkan kebolehan menghadap kiblat. Andaikata bukan karena hadits Jabir ini, tentu hadits Abu Ayyub (tentang larangan menghadap kiblat saat buang hajat) tidak dikhususkan dengan hadits Ibnu Umar selain kebolehan untuk membelakanginya saja, dan tidak boleh dikatakan bahwa kebolehan untuk menghadap kiblat dianalogikan dengan keterangan yang membolehkan membelakanginya. Analogi dalam hal ini tidak diperbolehkan, karena menghadap kiblat jauh lebih berat kadarnya dibandingkan dengan membelakanginya. Lalu sebagian ulama ada yang berpedoman dengan hadits ini sehingga membolehkan untuk membelakangi kiblat saat buang hajat dan

44

— FATHUL BAARI

tidak boleh untuk menghadapnya, pendapat ini dinukil dari Abu Hanifah serta Ahmad. Di samping itu ada pula pendapat yang membedakan antara tempat terbuka dan tempat tertutup (dalam bangunan tertentu), dimana mereka memperbolehkannya di tempat tertutup dan melarangnya di tempat terbuka, baik menghadap maupun membelakangi-nya. Jumhur ulama berkata, "Pendapat terakhir ini adalah pendapat madzhab Imam Malik, Imam Syafi'i dan Ishaq. Ini merupakan pendapat yang paling netral, karena ia telah mengamalkan seluruh dalil yang ada. Pendapat ini diperkuat pula dari sisi logika -seperti yang telah disebutkan terdahulu dari Ibnu Munir- bahwa menghadap kiblat dalam ruangan (bangunan) menurut kebiasaan dikatakan menghadap ke dinding (bukan ke kiblat), dan di samping tempat-tempat khusus untuk buang hajat adalah tempat syetan, sehingga tidak pantas dikatakan bahwa tempat itu memiliki kiblat, berbeda dengan tempat yang terbuka atau tanah lapang." Ulama yang lain berpendapat bahwa menghadap dan membelakangi kiblat adalah haram mutlak. Ini adalah pendapat yang masyhur dari Abu Hanifah serta Ahmad. Demikian pula pendapat Abu Tsaur (salah seorang ulama mazhab Syafi'i). Adapun yang mendukung pendapat ini dari madzhab Maliki adalah Ibnu Al Arabi, sementara dari madzhab Azh-Zhahiriyah adalah Ibnu Hazm. Hujjah (alasan) yang mereka kemukakan adalah sesungguhnya larangan harus didahulukan daripada pembolehan, sementara mereka menganggap hadits Jabir yang telah kami isyaratkan terdahulu sebagai hadits yang tidak shahih. Di sisi lain ada pula ulama yang membolehkan secara mutlak, dan ini adalah pandangan Aisyah, Urwah, Rabi'ah dan Dawud. Mereka beralasan bahwa hadits-hadits dalam masalah ini saling bertentangan, maka dari itu kita harus kembali kepada hukum asal yaitu ibahah (boleh). Demikianlah empat madzhab yang masyhur di kalangan ulama, dimana Imam Nawawi tidak menukil dalam kitabnya Syarh Al Muhadzdzab selain keempat pendapat tersebut. Namun dalam persoalan ini masih ada lagi tiga pendapat lain, yaitu; pertama, boleh menghadap kiblat saat berada dalam bangunan saja dengan berpegang pada makna lahir (zhahir) hadits Ibnu Umar. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Yusuf. Kedua, Haram secara mutlak meskipun sekedar menghadap kiblat yang telah dihapus, yakni Baitul Maqdis. Pendapat ini dinukil dari Ibrahim dan Ibnu Sirin. Mereka berpedoman dengan hadits Ma'qil Al Asadi,

FATHUL BAARI —

45

(Rasulullah SA W melarang kita untuk menghadap dua kiblat pada saat kencing dan buang air besar). (HR. Abu Dawud dan lainnya. Hadits ini dha 'if (lemah) karena dalam silsilah periwayatannya terdapat seorang perawi yang majhul (tidak dikenal). Seandainya hadits ini shahih, mesti dipahami bahwa yang dimaksud adalah penduduk Madinah dan daerah yang searah, sebab bila mereka menghadap ke Baitul Maqdis berarti telah membelakangi Ka'bah. Sesungguhnya yang menjadi sebab larangan itu adalah membelakangi Ka'bah, bukan menghadap Baitul Maqdis. Lalu Imam Al Khaththabi mengklaim adanya ijma' (kesepakatan ulama) yang mengatakan tidak haram menghadap Baitul Maqdis jika menghadapnya tidak membelakangi Ka'bah. Akan tetapi apa yang beliau katakan ini masih dipertanyakan berdasarkan keterangan yang telah kami sebutkan, yaitu pendapat Ibrahim dan Ibnu Sirin dimana pendapat ini juga disetujui oleh sebagian ulama madzhab Syafi'i, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abi AdDamm. Ketiga, pengharaman tersebut hanya berlaku bagi penduduk Madinah dan daerah yang searah dengannya. Adapun negeri-negeri yang kiblatnya berada di bagian timur dan barat diperbolehkan menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat, baik berada dalam bangunan maupun di tempat terbuka. Pendapat ini berdasarkan pada keumuman lafazh dalam sabda beliau SAW, i j—(/• j i i (Akan tetapi hendaklah kamu menghadap ke timur atau ke barat). Abu Awanah -salah seorang sahabat Imam Al Muzani- berkata, "Imam Bukhari justeru memahami sebaliknya, dimana beliau menjadikan hadits ini untuk menunjukkan bahwa kiblat tidaklah berada di timur maupun barat." Keterangan ini akan dipaparkan pada bab tentang kiblat penduduk Madinah dalam kitab shalat, insya Allah Ta 'ala. J-as—1~J i (Janganlah ia menghadap ke arah kiblat) maksudnya

adalah Ka'bah. Sedangkan perkataan beliau, "dan jangan pula membelakanginya..." dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan, Jafl—(• j i J j J (Saat kencing dan buang air besar). Secara lahir (zhahir)

lafazh Jj—'-> (kencing) merupakan larangan khusus bagi sesuatu yang

46

— FATHUL BAARI

keluar dari aurat, dimana tujuan larangan tersebut adalah memuliakan kiblat agar tidak dicemari dengan mengarahkan najis kepadanya. 'i* Kesimpulan ini diperkuat oleh riwayat Jabir yang mengatakan, s-UJl (apabila kami menumpahkan air [kencing]). Ada pula yang mengatakan bahwa tujuan larangan tersebut adalah terbukanya aurat (dalam menghadap kiblat), sehingga atas dasar ini larangan untuk menghadap kiblat tersebut berlaku secara umum dalam semua yang dapat menyebabkan terbukanya aurat, seperti saat melakukan hubungan suami isteri. Ibnu Syasy Al Maliki telah menukil bahwa pendapat di atas merupakan salah satu pandangan dalam madzhab mereka (Maliki), seakan-akan orang yang mengemukakan pendapat ini berpegang pada riwayat dalam kitab Al Muwatha' dengan lafazh, j ^ S c r j ^ iilaJi \'jLJL\.J ^ (Janganlah kamu menghadap kiblat dengan kemaluan kamu (dalam keadaan terbuka)). Akan tetapi makna hadits ini dipahami sebagaimana hadits sebelumnya, yakni saat seseorang buang hajat. Hal itu sebagai langkah untuk memadukan antara dua riwayat yang ada, wallahu a 'lam. Adapun perkataan Abu Ayyub, >-* J^i (maka kami pun berpaling (mengambil arah berlawanan) daripada arah bangunan itu seraya memohon ampun) akan kami jelaskan kemudian, dimana hadits itu disebutkan oleh Imam Bukhari pada permulaan pembahasan tentang shalat.

FATHUL BAARI —

47

12. Buang Hajat di Atas Dua Batu Bata

*

*

*

'

'

}

*

'

s

'

01 J J I J
0 0

OLI" Aj\
S s' B O

AJJI J L P ^
s' s' s'

j\Z^
s' s' ss'
f ^

s- s'

^-wLsJaJl O ^ J

SILIJL

^JJiL-J

JJL>-L>- ^ L P O J J J

LIL

JY'yu
JUII
^ S'

O
; JL

JIY'

lU C ~ J
j
$

^^JIP L«JJ O ^ A J J ! J l a J ^ P
0 0

4J WLP JI
S'
&

S' S'

S'

S'

I

<o-L>J
s'
0 s

^JuiU!
sj
0

*>LAIL~» Y^TTJ ^ J I P
J s

|j§|

«DLL J J ^ - J
5>
S

s-

9 s

s

s-

£

^

s'

.4lil j

lijilN
^ J ^ L

^FLJJL

J £

O Y ^ A J Y.JJL I^JU

^

j—ftj J J * — L O

Js-

^^Caj (^JJL

d\X»

JLI

145. Diriwayatkan dari W asi' bin Habban dari Abdullah bin Umar bahwasanya dia berkata, "Sesungguhnya manusia mengatakan, 'Apabila engkau duduk untuk buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat dan jangan pula menghadap Baitul Maqdis. Maka Abdullah bin Umar berkata, "Sungguh aku telah naik ke atap rumah milik kami, maka aku melihat Rasulullah SA W (duduk) di atas dua batu bata seraya menghadap Baitul Maqdis untuk buang hajat." Beliau berkata, "Barangkali engkau termasuk orang-orang yang shalat di atas pangkal paha. " Akupun menjawab, "Aku tidak tahu, demi Allah." Malik berkata, "Yakni orang yang shalat namun tidak terangkat badannya dari bumi, sujud dengan kondisi badan menempel ke tanah."

Keterangan hadits: Yang dimaksud dalam kalimat, "bahwasanya dia berkata..." adalah Ibnu Umar, sebagaimana telah dinyatakan secara tegas oleh Imam Muslim dalam riwayatnya, dan lafazh hadits ini akan disebutkan kemudian. Adapun mereka yang mengatakan bahwa yang berkata di sini

48

— FATHUL BAARI

adalah Wasi' bin Habban, maka mereka telah salah. Sedang perkataan, "Maka Abdullah bin Umar berkata..." bukanlah sebagai jawaban atas perkataan Wasi' bin Habban. Tetapi untuk menjelaskan sebab, dimana pada perkataan sebelumnya beliau mengingkari pendapat Wasi'. Maka, pada perkataan selanjutnya beliau menjelaskan sebab pengingkaran tersebut berdasarkan apa yang dia riwayatkan dari Nabi SAW. Untuk itu dia bisa saja mengatakan "Sungguh aku telah melihat Rasulullah SAW ..." akan tetapi orang yang meriwayatkan hadits ini dari beliau (yakni Wasi') ingin memberi penekanan dengan mengulangi perkataannya, "Ibnu Umar berkata... dan seterusnya." j j (Sesungguhnya manusia) menunjukkan pendapat sebagian

orang yang mengatakan bahwa larangan menghadap kiblat saat buang hajat adalah bersifat umum. Pendapat ini dinukil dari Abu Ayyub, Abu Hurairah, Ma'qil Al Asadi dan lainnya. oli ii \i\ (Apabila engkau duduk). Disebutkannya lafazh "duduk"

dalam hadits ini adalah karena umumnya orang yang buang hajat adalah duduk, tetapi pada dasarnya berdiri juga memiliki hukum yang sama seperti itu. \ — c - j Jfe ^s- (Ke atap rumah milik kami). Dalam riwayat Yazid pada pembahasan berikut disebutkan, 1%j f& ^Ji- (Ke atap rumah kami).

Dalam riwayat Ubaidillah bin Umar yang juga akan disebutkan pada pembahasan selanjutnya, diriwayatkan (Ke atap rumah hal Hafshah), yakni sebagaimana itu ditegaskan dengan lafazh,'Los»-c J j Jfe Jsl

saudara

perempuan Ibnu Umar, dalam riwayatnya.

oleh Muslim

Sedangkan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dikatakan, c«L"Coso-Js- c i £ o c—131'Ji—)i>CJ'SMS J»S> (Aku masuk menemui Hafshah, lalu aku naik ke atas atap rumah). Untuk menyatukan lafazh-lafazh hadits ini dapat dikatakan: Pada saat beliau mengatakan "rumah milik kami" adalah sebagai kata kiasan, sebab Hafshah, adalah saudara perempuan beliau sendiri. Sedangkan pada saat beliau menisbatkan kepemilikan rumah itu kepada Hafshah dikarenakan rumah itu adalah tempat dimana Nabi SAW menempatkan Hafshah, dan kepemilikannya tetap berada di tangannya hingga beliau wafat dan menjadi salah satu harta peninggalannya. Dalam bab Al Khumus (seperlima dari harta rampasan perang), Imam Bukhari

FATHUL BAARI —

49

akan menerangkan faidah hadits ini lebih lanjut. Pada saat Ibnu Umar menisbatkan kepemilikan rumah itu kepada dirinya sendiri, hal itu didasarkan pada keadaan yang akan datang dimana beliau adalah ahli waris dari saudara perempuannya (Hafshah), sebab Hafshah tidak meninggalkan ahli waris lain yang dapat menghalangi Ibnu Umar untuk memiliki rumah itu sepenuhnya.

j — t ^ * (di atas dua batu bata). Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah
dikatakan, "Aku memandangi Rasulullah SAW dari ketinggian, sementara beliau berada di tempat buang hajat." Dalam riwayat lain oleh Ibnu Khuzaimah dikatakan, "Aku melihat beliau sedang buang hajat dengan ditutupi atau dibatasi batu bata." Sementara dalam riwayat Al Hakim dan Tirmidzi melalui silsilah periwayatan yang shahih disebutkan, "Aku melihat beliau SAW berada di tempat tertutup." Berdasarkan riwayat-riwayat ini maka gugurlah alasan orang yang membolehkan menghadap kiblat secara mutlak saat buang hajat, dimana mereka mengatakan bahwa ada kemungkinan Ibnu Umar melihat beliau SAW di tempat terbuka. Demikian pula perkataan mereka bahwa adanya batu bata seperti disebutkan dalam lafazh hadits tidaklah menunjukkan bahwa beliau menggunakannya sebagai pembatas, sebab bisa saja batu bata itu digunakannya sebagai tempat untuk berpijak agar berada dalam posisi sedikit lebih tinggi. Akan tetapi kemungkinan yang mereka katakan ini terbantah dengan sikap Ibnu Umar sendiri yang tidak membolehkan seseorang menghadap kiblat saat buang hajat apabila berada di tempat terbuka kecuali bila ada pembatas, sebagaimana disebutkan oleh Abu Dawud dan Al Hakim dengan sanad tidak apa-apa (laa ba sa bihi). Perbuatan Ibnu Umar yang naik ke atap bukanlah bermaksud mengintip Nabi dalam kondisi demikian, akan tetapi beliau naik ke atap karena suatu keperluan seperti diterangkan dalam riwayat berikut ini. Namun tiba-tiba ia sempat melihat Nabi sebagaimana yang disebutkan oleh Al Baihaqi melalui jalur periwayatan Nafi' dari Ibnu Umar. Nasihat tanpa sengaja ini tidak disia-siakan oleh Ibnu Umar, dari sini beliau sempat memetik satu hukum syariat. Seakan-akan beliau melihat Nabi SAW dari bagian belakangnya sehingga memungkinkan baginya untuk memperhatikan posisi Nabi tanpa melanggar larangan tertentu. Kejadian ini juga memberi keterangan tentang antusias yang demikian tinggi dari

50

— FATHUL BAARI

para sahabat untuk mengetahui kondisi Nabi agar dapat diikuti, demikian pula dengan Abdullah bin Umar. Jl—Jj (Dia berkata), maksudnya adalah Ibnu Umar. Sedangkan

perkataan, illAJ (Barangkali engkau termasuk...) ditujukan kepada Wasi'. Orang yang mengatakan bahwa perkataan ini berasal langsung dari Nabi SAW telah melakukan kekeliruan. Lalu Imam Malik menafsirkan perkataan Ibnu Umar, "Orang-orang yang shalat di atas pangkal p a h a . . . " maksudnya adalah orang-orang yang sujud dengan menempelkan perutnya ke pangkal paha. Posisi seperti ini menyalahi sifat sujud yang disyariatkan, yakni merenggangkan badan dari paha sebagaimana akan dijelaskan. Sementara dalam kitab AnNihayah, "Perkataan Ibnu Umar itu ditafsirkan pula dengan posisi merenggangkan kedua lutut, seakan-akan beliau bertumpu pada kedua pangkal paha." Lalu terjadi kesulitan mengenai kesesuaian antara perkataan Ibnu Umar, "Orang-orang yang shalat di atas pangkal p a h a . . . " dengan persoalan sebelumnya. Sebagian mengatakan, "Ada kemungkinan beliau menyebutkan perkataannya ini karena orang yang sedang diajak berbicara tidak mengerti tentang Sunnah. Sebab andaikata ia memahami Sunnah niscaya dengan sendirinya ia akan mengerti perbedaan antara buang hajat di tempat terbuka dan di tempat selain itu, atau perbedaan antara Ka'bah dan Baitul Maqdis. Hanya saja Ibnu Umar memakai kata kiasan bagi seseorang yang tidak mengetahui Sunnah sebagai orang yang shalat di atas pangkal paha, karena yang melakukan hal seperti itu tidak lain pasti tidak mengerti tentang Sunnah." Jawaban ini dikemukakan oleh Al Karmani. Akan tetapi jawaban ini terlalu dipaksakan. Karena tidak ada dalam konteks hadits keterangan yang menyebutkan bahwa Wasi' bertanya tentang hukum buang hajat, sehingga dapat dikatakan ia tidak mengerti persoalan tersebut. Lalu pada bagian akhir jawaban ini juga tidak dapat diterima, karena tidak tertutup kemungkinan orang yang mengerti Sunnah saat buang hajat namun sujudnya tidak benar. Menurut pandangan saya bahwa kesesuaian yang tampak dari perkataan Ibnu Umar ini adalah apa yang diindikasikan pada bagian awal teks hadits ini dalam riwayat Imam Muslim, dimana disebutkan "Telah diriwayatkan dari Wasi', ia berkata, 'Aku pernah shalat di masjid sementara Abdullah bin Umar sedang duduk. Setelah aku menyelesaikan

FATHUL BAARI —

51

shalat akupun mendatanginya dari arah samping. Maka Abdullah bin Umar mengatakan, sesungguhnya manusia mengatakan....'" dan seterusnya hingga akhir hadits seperti di atas. Ada kemungkinan Ibnu Umar melihat adanya kekeliruan cara sujud Wasi' sehingga beliau bertanya kepadanya sebagaimana tertera dalam hadits pada bab ini. Lalu Ibnu Umar memulai dengan kisah pertama tersebut, karena hal itu adalah sesuatu yang benar-benar beliau riwayatkan dari Nabi SAW. Oleh sebab itu, cerita ini lebih didahulukannya daripada persoalan yang masih dalam dugaan. Tidak tertutup pula kemungkinan bahwa peristiwa ini terjadi di masa orang-orang yang berpendapat seperti apa yang beliau nukil, sehingga beliau ingin menjelaskan hukum ini kepada tabi'in agar mereka menukil darinya hukum dalam masalah itu. Di samping itu, tidak ada halangan bila dikatakan antara dua perkara ini terdapat hubungan secara khusus, yakni perkara yang satu memiliki kaitan dengan perkara lainnya, misalnya dikatakan, "Kemungkinan orang yang sujud dengan kondisi perut menempel di paha memiliki dugaan tidak boleh menghadap kiblat dengan kemaluan terbuka dalam situasi seperti yang telah kami jelaskan terdahulu saat membahas perkara yang menjadi inti larangan dimaksud." Sementara kondisi dalam shalat dapat digolongkan menjadi empat bagian: Berdiri, ruku', sujud dan duduk. Menghimpit dalam kondisi-kondisi seperti itu adalah hal yang mungkin kecuali jika seseorang merenggangkan antara kedua pangkal pahanya saat sujud. Maka dari sini Wasi' merasa perlu merapatkan kedua pahanya demi untuk menghimpit kemaluannya. Akhirnya, hal ini dipraktekkannya sehingga menjadi suatu fenomena bid'ah dan sikap berlebihan dalam agama. Padahal Sunnah berbeda dengan yang seperti itu. Sebab menutup (aurat) dengan kain telah mencukupi, sebagaimana halnya tembok telah dianggap cukup sebagai pembatas antara aurat yang terbuka dengan kiblat, seandainya kita sependapat dengan mereka yang mengatakan bahwa inti larangan itu adalah menghadapkan kemaluan dalam keadaan terbuka ke kiblat. Setelah Ibnu Umar menceritakan kepada tabi'in mengenai hukum perkara yang pertama, beliau mengisyaratkan pula pada hukum kedua untuk memberi teguran secara halus atas kekeliruan yang ia duga dilakukan oleh sang tabi'in dalam shalatnya. Adapun perkataan Wasi', "Aku tidak tahu.." memberi petunjuk bahwa tidak ada padanya

52

— FATHUL BAARI

sedikitpun perkara yang diduga oleh Ibnu Umar, maka Ibnu Umar tidak bersikap keras saat mengemukakan larangan tersebut.

13. Keluarnya Wanita ke tempat Buang Hajat

O

.J&BLLJ

4L j\s

"o\y>\ c J l S " j
0

.«.LLISP

^OJl
**

y? ^
O

^
^

R~

jj

o

y

J

r-

s

% y
0

y
0

s

y

°

'

• f

[ ' i *

° '

l'

\\'•

' '

-

%. U

f ' *

y

1 Jl

^Js-

U»j>-

.

y

y

u

1)U3y
0

Si
' s~

}l

:
' s

oi'

146. Te/a/; diriwayatkan dari Aisyah, bahwasanya para isteri Nabi SA W apabila hendak buang hajat pada malam hari, mereka pergi ke tanah lapang. Maka Umar bin Khaththab berkata kepada Nabi, "Hijablah isteri-isterimu. "Akan tetapi Nabi SA W tidak melakukan hal itu. Suatu malam menjelang isya' Saudah binti Zam 'ah -salah seorang isteri Nabi SA W, dan beliau adalah wanita dengan postur tubuh yang agak tinggi- keluar, maka Umar menyapanya, "Ketahuilah, sungguh kami telah mengenalmu wahai Saudah? " Beliau sangat mengharapkan diturunkan ayat hijab, akhirnya Allah menurunkan ayat hijab."

Keterangan hadits: L ^ - 1 (Hijablah) maksudnya, cegahlah istri-istrimu untuk keluar

dari rumah mereka. Buktinya bahwa setelah ayat tentang hijab turun, maka Umar mengatakan kepada Saudah seperti yang akan diterangkan.

FATHUL BAARI —

53

Namun, ada pula kemungkinan yang beliau maksudkan adalah memerintahkan untuk menutup wajah mereka. Lalu setelah turun perintah sebagaimana yang diharapkannya, maka beliau menginginkan pula agar para isteri Nabi SAW menutup diri pula (dalam rumah). Akan tetapi, hal ini tidak diwajibkan karena adanya sebab yang mengharus-kan mereka keluar. Kemungkinan kedua ini jauh lebih kuat daripada kemungkinan pertama. Umar bin Khaththab menganggap turunnya ayat hijab merupakan salah satu peristiwa, dimana kehendaknya bertepatan dengan perintah Allah, sebagaimana akan disebutkan pada tafsir Surah Al Ahzaab. Atas dasar ini maka menutup diri bagi para isteri Nabi terjadi dalam beberapa keadaan, diantaranya, menutup diri dengan kegelapan malam, sebab mereka hanya keluar di waktu malam dan tidak mau menampakkan diri di waktu siang. Hal ini digambarkan oleh Aisyah dalam hadits ini, "Bahwasanya para isteri Nabi biasa keluar di waktu malam." Lalu akan diterangkan pula keterangan serupa dalam hadits Aisyah berkenaan dengan berita dusta yang dituduhkan kepada dirinya, dimana dikatakan, "Ummu Misthah keluar bersamaku ke tanah lapang tempat kami buang hajat. Saat itu kami tidak keluar melainkan di waktu malam saja." Kemudian turunlah ayat hijab, maka mereka menutup diri dengan pakaian. Akan tetapi penampilan mereka kadang masih saja nampak, oleh sebab itu maka Umar berkata kepada Saudah pada kali kedua setelah turunnya ayat hijab, "Ketahuilah, demi Allah engkau tidak tersembunyi bagi kami." Setelah itu dibuatlah tempat tertutup dalam rumah dan mereka pun senantiasa berada di tempat tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah yang berhubungan dengan kabar dusta yang dituduhkan kepada dirinya, dimana dalam hadits itu dikatakan, "Yang demikian itu terjadi sebelum dibuat tempat tertutup dalam rumah." Kisah mengenai berita dusta atas diri Aisyah ini terjadi sebelum turunnya ayat hijab, sebagaimana yang akan dijelaskan insya Allah. —svJi <dJl JjSis (Akhirnya Allah menurunkan hijab) dalam naskah

Al Mustamli tertulis, <~A*?Ji AJT (ayat hijab), lalu ditambahkan oleh Abu Awanah dalam kitab Shahih-nya dari riwayat Az-Zubaidi dari Ibnu Syihab, "Maka Allah menurunkan hijab, 'Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu masuk ke rumah-rumah nabi. "' (Qs. Al Ahzaab (33): 53) yang akan disebutkan dalam tafsir surah Al Ahzaab bahwa sebab turunnya ayat itu berhubungan dengan kisah Zainab binti Jahsy

54

— FATHUL BAARI

ketika melangsungkan walimah, kemudian ada tiga orang di antara undangan yang tidak segera pamitan, sementara Nabi SAW merasa malu untuk memerintahkan agar mereka pulang. Maka, turunlah ayat tentang hijab ini. Demikian pula akan disebutkan hadits Umar yang berbunyi, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteri-isterimu masuk menemui mereka; orang yang baik-baik maupun orang yang berbuat dosa. Maka alangkah baiknya jika anda memerintahkan mereka untuk berhijab.' Akhirnya, turunlah ayat hijab." Disebutkan oleh Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya dari riwayat Mujahid, "Ketika Nabi SAW sedang makan bersama sebagian sahabatnya, sementara Aisyah makan bersama mereka, tiba-tiba tangan salah seorang di antara mereka menyentuh tangan Aisyah. Nabi tidak menyenangi kejadian tersebut, akhirnya turunlah ayat hijab." Cara untuk mengompromikan riwayat-riwayat yang ada adalah dengan mengatakan bahwa sebab-sebab turunnya ayat hijab cukup banyak dan beragam. Namun kisah Zainab merupakan sebab yang terakhir, karena ia disebutkan secara transparan dalam ayat. Adapun yang dimaksud dengan ayat hijab pada sebagian riwayat itu adalah firman Allah SWT, "Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." (Qs. Al Ahzaab (33): 59)

t,

-

i '

.

s

o t o

s

*

. f

o

,

.

11

'

\ "

0

'

JL_J

(

J>J>-B-

j^-j>x3

oi

OIL

-B

JLI

2GL ^ J I L I jf-

AJJIP

JS-

147. Diriwayatkan dari Aisyah, dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, "Telah diizinkan bagi kamu keluar untuk keperluan kamu. " Hisyam berkata, "Yakni buang hajat."

Keterangan Hadits: Ringkasan kandungan hadits ke-147 ini adalah bahwasanya Saudah -beliau adalah seorang yang memiliki postur tubuh besar- keluar rumah untuk keperluannya setelah turun kewajiban berhijab. Maka Umar bin Khaththab melihatnya lalu berkata, "Wahai Saudah, ketahuilah demi

FATHUL BAARI —

55

Allah engkau tidaklah tersembunyi bagi kami, perhatikanlah bagaimana engkau sampai keluar (rumah)?" Saudah kembali dan mengadukan hal itu kepada Nabi SAW pada saat beliau sedang makan malam, maka turunlah wahyu kepadanya. Kemudian beliau bersabda, "Sungguh telah diizinkan bagi kalian keluar untuk keperluan kalian." Ibnu Baththal berkata, "Hukum fikih yang terdapat dalam hadits ini adalah dibolehkan bagi wanita untuk melakukan hal-hal yang memiliki kemaslahatan bagi mereka. Dalam hadits ini terdapat pula keterangan bolehnya seorang yang lebih rendah kedudukannya menanggapi pendapat seorang yang lebih tinggi kedudukannya, apabila ia berkeyakinan berada di jalan yang benar dan tidak ada maksud untuk membangkang." Faidah hadits yang lain; adalah keterangan mengenai kedudukan Umar bin Khaththab, bolehnya berbicara antara laki-laki dan wanita di jalan karena suatu keperluan yang mendesak, bolehnya berbicara dengan keras bagi yang menghendaki kebaikan, dibolehkan bagi seseorang menasihati ibunya dalam persoalan agama karena Saudah adalah ibu kaum mukminin, dan terdapat pula keterangan bahwa Nabi senantiasa menunggu turunnya wahyu dalam perkara-perkara syar'i. Karena beliau S A W tidak memerintahkan isteri-isterinya berhijab padahal kondisi telah menghendaki hal itu, hingga akhirnya turun ayat hijab. Demikian pula dengan izin beliau kepada mereka untuk keluar (rumah).

14. Buang Hajat di Rumah

'a

*J

3

v^jb-

o~u

jp?

L J O - . * I j l

Jli

JAS-

^ji

4U J L p J1

i

jf-

s

s

"

"

56

— FATHUL BAARI

148. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata, "Aku naik ke atap rumah Hafshah untuk suatu keperluan, tiba-tiba aku melihat Rasulullah SAW sedang buang hajat dengan membelakangi kiblat dan menghadap ke Syam."

Maksud Imam Bukhari menyebutkan bab "Buang hajat di rumah" setelah bab sebelumnya, adalah untuk memberi penjelasan bahwa keluarnya wanita untuk buang hajat tidaklah berlangsung terus-menerus. Bahkan, tak lama kemudian dibuatlah tempat-tempat khusus untuk buang hajat di dalam rumah sehingga para wanita tidak perlu lagi keluar rumah hanya untuk buang hajat, kecuali karena hal-hal lain yang sangat mendesak.

149. Diriwayatkan dari Muhammad bin Yahya bin Habban bahwasanya pamannya -Wasi' bin Habban- telah mengabarkan kepadanya bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menceritakan kepadanya, "Pada suatu hari aku naik ke atap rumah kami, tibatiba aku melihat Rasulullah SA W duduk di atas dua batu bata dengan menghadap Baitul Maqdis."

Dalam riwayat-riwayat ini kadang dikatakan menghadap ke Syam dan kadang pula dikatakan menghadap ke Baitul Maqdis. Hal itu karena para perawi telah meriwayatkan hadits tersebut dengan maknanya, bukan dengan lafazhnya. Hal ini karena kedua tempat itu berada pada satu arah.

FATHUL BAARI —

57

15. Istinja' Dengan Air

150. Telah diriwayatkan dari Abu Mu 'adz -namanya adalah Atha' bin Abu Maimunah- ia berkata, 'Aku mendengar Anas bin Malik berkata, 'Biasa Nabi SAW jika keluar untuk buang hajat, maka aku bersama seorang anak membawakan untuknya bejana berisi air. Yakni, untuk beliau pakai beristinja''".

Keterangan Hadits: Maksud Imam Bukhari memberi judul "Beristinja dengan air", adalah untuk membantah mereka yang memakruhkan (tidak menyukai) beristinja' (cebok) dengan menggunakan air, sekaligus bantahan untuk mereka yang beranggapan bahwa hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW.
1

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah dengan sanad (silsilah periwayatan) shahih dari Hudzaifah bin Al Yaman bahwa beliau ditanya tentang istinja' (cebok) dengan menggunakan air, maka beliau berkata, "Jika demikian, maka kotoran tidak akan hilang dari tanganku." Diriwayatkan pula dari Nafi' bahwasanya Ibnu Umar tidak menggunakan air saat istinja". Sementara dari Ibnu Zubair diriwayatkan, "Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu." Kemudian Ibnu At-Tin menukil riwayat dari Imam Malik bahwa beliau mengingkari jika Nabi SAW pernah istinja' (cebok) dengan menggunakan air. Lalu dinukil pula riwayat dari Ibnu Habib (salah seorang ulama madzhab Maliki) bahwa beliau melarang menggunakan air saat istinja', karena air termasuk sesuatu yang dikonsumsi.

58

— FATHUL BAARI

f$—f-j IJI
ditambahkan,LJL»

(Aku bersama seorang anak). Dalam riwayat berikut
^*Apj

Ul t^A (Seorang anak dari kami), maksudnya dari

golongan Anshar. Hal ini dinyatakan secara tegas oleh Al Isma'ili dalam riwayatnya. Sedangkan dalam riwayat Imam Muslim di katakan, ijy*j (Seorang anak sepertiku), yakni sebaya denganku. Adapun kata fj adalah anak yang sedang dalam usia ftej

pertumbuhan, demikian yang dikatakan oleh Abu Ubaid. Sementara dalam kitab Al Muhkam dikatakan, "Ghulam adalah sebutan bagi seorang anak sejak disapih hingga usia tujuh tahun." Lalu diriwayatkan oleh Zamakhsyari dalam kitab Asas Al Balaghah bahwa yang disebut ghulam itu adalah sejak usia kecil hingga tumbuh jenggotnya. Apabila telah tumbuh jenggotnya dan masih dikatakan ghulam, maka sebutan itu hanya dalam bentuk majaz (kiasan). 4 — ; ^ . l - . , ° . t ^—Ju (Yakni mengucapkan kata "yakni" untuk beliau pakai beristinja') Yang

ini adalah Hisyam, sebab hadits ini telah

diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab selanjutnya melalui jalur periwayatan Sulaiman bin Harb tanpa menyebut kata tersebut. Tetapi telah diriwayatkan oleh Uqbah melalui jalur periwayatan Muhammad bin Ja'far dari Syu'bah disebutkan, «UU Dalam riwayat (Beliau beristinja' dengan air). j&stt' j? ^ Anshar Isma'ili melalui jalur periwayatan Ibnu Marzuq dari

Syu'bah disebutkan, lg—L» j*£~>. ^ ^ ? « j ^ !

^—3\ (Maka aku berangkat bersama seorang anak dari kalangan dengan membawa bejana berisi air untuk dipakai Nabi Imam Bukhari meriwayatkan pula hadits

beristinja'). ini melalui jalur

periwayatan Ruh bin Qasim dari Atha' bin Abu Maimunah,~**r&lj'Jf i-i J — i j untuknya
frUi

isJl (Apabila beliau buang hajat, maka aku membawakan pakai untuk membersihkannya).

air

lalu beliau

Sedangkan dalam kami

riwayat Imam Muslim dari jalur periwayatan Khalid Al Hidza' dari Atha' dari Anas, sLll* sedangkan Q* ^'j^ (Maka beliau keluar menemui dengan menggunakan air). beliau telah beristinja'

F A T H U L BAARI —

59

Berdasarkan riwayat-riwayat ini jelaslah bahwa lafazh istinja (cebok) adalah perkataan Anas, perawi hadits tersebut. Dari sini diperoleh bantahan terhadap Al Ashili dimana beliau mengkritik pandangan Imam Bukhari yang berdalil dengan lafazh ini untuk menunjukkan istinja' dengan menggunakan air. Beliau berkata, "Karena sesungguhnya lafazh dalam hadits, 'Beristinja' dengan air' bukanlah perkataan Anas bin Malik, akan tetapi itu adalah perkataan Abu Walid, yakni salah seorang yang meriwayatkan hadits ini dari Syu'bah di mana hadits ini telah diriwayatkan oleh Sulaiman bin Harb dari Syu'bah tanpa menyebut lafazh tersebut." Beliau melanjutkan, "Ada pula kemungkinan air tersebut adalah untuk beliau SAW pakai berwudhu." Namun semua kemungkinan yang beliau paparkan ini tidak dapat diterima berdasarkan riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan di atas.

s

Demikian pula riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan bahwa lafazh, "Beristinja dengan air" adalah perkataan perawi yang disisipkan dalam hadits, yakni perkataan Atha' (salah seorang yang menukil hadits ini dari Anas bin Malik). Dengan demikian lafazh tersebut berstatus mursal (disandarkan oleh seorang tabi'in langsung kepada Nabi SAW), sehingga tidak dapat dijadikan sebagai hujjah (landasan argumentasi). Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Tin dari Abu Abdul Malik Al Buni. Sedangkan riwayat Khalid seperti yang telah kami sebutkan di atas memberi ketegasan bahwa lafazh tersebut adalah perkataan Anas, dimana beliau mengatakan, "Maka beliau keluar menemui k a m i . . . " Lalu dalam tulisan Al Badr Az-Zarkasyi terjadi kesalahan penulisan, dimana dia menisbatkan kritik di atas kepada Al Isma'ili, padahal yang benar itu berasal dari Al Ashili. Di samping itu, Al Badr mengakui perkataan tersebut sehingga menimbulkan kesan bahwa beliau menyetujuinya, padahal pendapat itu tidak patut untuk disetujui sebagaimana yang telah kami jelaskan. Demikian pula Al Karmani telah menisbatkan kritik tersebut kepada Ibnu Baththal dan mengakuinya, padahal Ibnu Baththal hanya menukil dari Al Ashili.

60

— FATHUL BAARI

16. Orang yang Dibawakan Air untuk Dipakai Bersuci

Abu Darda' berkata, "Bukankah di antara kamu ada pemilik sepasang sandal, alat untuk bersuci serta bantal."

j

* o j b l liat*

\1A ^ * > ^ - J UI o t J

<o-li>J ^ y - ISI is-p AJJ) J J » - J

..c

1 5 1 . D a n y46/ Mw 'a<iz -v4i7ia' bin Abi Maimunah, ia berkata, "Aku mendengar Anas berkata, 'Biasanya apabila Rasulullah SAW keluar untuk buang hajat, maka aku bersama seorang anak dari kami mengikutinya dengan membawa bejana berisi air.'"''

Keterangan Hadits:

j,

£ls jJJi frbji y\

Jt3j

(Abu Darda berkata,

"Bukankah di antara

kamu...) Pembicaraan ini ditujukan kepada Al Qamah bin Qais. Yang dimaksud dengan pemilik sepasang sandal, alat untuk bersuci serta bantal adalah Abdullah bin Mas'ud, karena beliau adalah orang yang bertugas untuk melayani keperluan Nabi sehubungan dengan hal-hal tersebut. Akan tetapi pada dasarnya pemilik sepasang sandal itu adalah Nabi SAW sendiri, namun hal ini dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas'ud dalam bentuk majaz, karena dia yang selalu membawa sandal beliau. Penggalan hadits ini akan disebutkan secara lengkap oleh Imam Bukhari berikut silsilah periwayatannya dalam bab Al Manaqib (keutamaan-keutamaan), insya Allah.

FATHUL BAARI —

61

Dengan disebutkannya hadits Anas oleh Imam Bukhari bersamaan dengan penggalan hadits tersebut dari riwayat Abu Darda', telah memberi kesan sangat kuat bahwa yang dimaksud dengan ghulam (seorang anakj dalam hadits Anas adalah Abdullah bin Mas'ud, dimana pada pembahasan terdahulu telah kami ketengahkan bahwa lafazh ghulam (anak) dapat pula digunakan selain anak kecil dalam arti kiasan. Sementara Nabi SAW pernah bersabda kepada Ibnu Mas'ud saat ia masih berada di Makkah sebagai penggembala kambing, "Sesungguhnya engkau adalah seorang anak (ghulam) yang terdidik." Jika demikian maka makna perkataan Anas, "Seorang anak dari kami.." maksudnya dari kalangan sahabat atau di antara para pembantu Nabi SAW. Adapun mengenai riwayat Al Isma'ili yang disebutkan lafazh, "Dari kalangan Anshar.." ada kemungkinan hanyalah perkataan sebagian perawi hadits ini, dimana setelah ia melihat dalam lafazh hadits ini ucapan Anas, "seorang anak dari k a m i . . . " maka perawi tersebut menganggap bahwa yang dimaksud oleh Anas adalah kabilahnya. Akhirnya, ia meriwayatkan hadits tersebut dari segi maknanya dengan mengatakan dari kalangan Anshar. Atau kemungkinan lain bahwa lafazh "Anshar" itu dipergunakan bagi seluruh sahabat, meskipun secara kebiasaan (urf) hanya dikhususkan bagi suku Aus dan Khazraj. Kemudian dalam riwayat Abu Dawud dari hadits Abu Hurairah, ia berkata, "Biasanya jika Nabi SAW mendatangi tempat buang hajat, maka aku membawakan kepadanya air dalam bejana untuk beliau pakai beristinjaV Berdasarkan riwayat ini, tidak tertutup kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan ghulam dalam hadits Anas adalah Abu Hurairah. Kemungkinan ini lebih diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sendiri pada pembahasan tentang jin, dimana beliau menyebutkan hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa beliau (Abu Hurairah) biasa membawakan bejana (berisi air) buat Nabi untuk dipakai berwudhu serta keperluan lainnya." Di samping itu, dalam riwayat lain oleh Imam Muslim disebutkan bahwa Anas menyebutkan sifat orang yang pergi bersamanya sebagai seorang yang termuda, sehingga sangat jauh kemungkinan jika yang dimaksud adalah Ibnu Mas'ud, wallahu alam. Sedangkan jika orang yang bersama Anas tersebut adalah Abu Hurairah, maka yang dimaksud dengan "yang termuda " dalam riwayat Anas ditinjau dari segi kondisi, yakni paling muda (belum lama) dalam memeluk Islam.

62

— F A T H U L BAARI

Sementara dalam riwayat Imam Muslim dari hadits panjang yang dinukil dari Jabir disebutkan bahwa Nabi SAW pergi untuk buang hajat, maka Anas mengikutinya seraya membawa bejana (berisi air). Dengan demikian ada pula kemungkinan orang yang tidak disebutkan namanya dalam riwayat Anas adalah Jabir, terlebih lagi beliau adalah seorang yang berasal dari kalangan Anshar. Lalu dalam riwayat Al Isma'ili dari jalur periwayatan Ashim bin Ali dari Syu'bah disebutkan, sementara lafazh, aku masih anak-anak). — i *3ls (Maka aku mengikutinya Akan tetapi riwayat ini dikomentari

oleh Al Isma'ili dengan perkataannya, "Sesungguhnya yang benar adalah & (Aku dan seorang anak).

17. Membawa Tombak dan Air Waktu Istinja"

2

%

^

y

y

y

%

%

s

'

J

o

i

'

0

JJ^J

JLS" Jj-flJ
# y

Cf- U~**
<• y
y

^J*^*
y

^
yy

0^
O % ^

\* --

%

s

f

yy

aj^Pj

a j b l ,»*>IPj lil

J^-LJ

f-^AiJl J-^^i

ii§l

<U!P

L-aP ajl*Jl i o u i ^ p

oliLij

152. Diriwayatkan dari Atha' bin Abi Maimunah bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata, "Biasanya Nabi SAW masuk tempat buang hajat, maka aku bersama seorang anak membawakan bejana yang berisi air serta tongkat pendek dan runcing, kemudian beristinja' dengan air itu" Hadits ini diriwayatkan pula dari Syu'bah oleh An-Nadhr dan Syadzan, bahwa Anazah adalah tongkat yang bagian bawahnya ada besi runcing (tombak).

FATHUL BAARI —

63

Keterangan Hadits: «."AyJl J>lu 4ii J j l i j olT (Biasanya buang adalah tempat yang terbuka Nabi SAW masuk tempat

hajat). Yang dimaksud dengan tempat buang air di sini (bukan bangunan) berdasarkan ii| olST (Biasanya

perkataan Anas pada riwayat lain, j—«*-£J ^f-

Nabi SAW jika keluar untuk buang hajat). Di samping itu penafsiran ini dapat pula diperkuat oleh pernyataan dalam hadits "Dibawakan untuk beliau SAW tongkat pendek lagi runcing (tombak) serta air", sebab shalat menghadap tongkat dan yang sepertinya hanya dilakukan pada tempat yang tidak ada pembatasnya (sutrah) selain tongkat itu. Kemudian jika yang dimaksud adalah tempat khusus buang hajat yang terdapat dalam rumah, maka pelayanan kepada beliau SAW dilakukan oleh isteriisterinya. Sebagian ulama memahami dari judul bab yang disebutkan oleh Imam Bukhari ini, bahwa tombak tersebut sengaja dibawakan buat Nabi SAW untuk dipakai sebagai penutup dirinya untuk menghindari menghadap kiblat secara langsung. Akan tetapi pemahaman ini butuh analisa lebih jauh lagi, karena yang dapat dikategorikan sebagai pembatas dalam kaitannya dengan buang hajat adalah sesuatu yang dapat menutupi tubuh bagian bawah sementara tongkat tidaklah demikian. Meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa tombak tersebut ditancapkan di depannya lalu beliau SAW meletakkan pakaian di atasnya sebagai pembatas agar tidak menghadap kiblat secara langsung. Kemungkinan lain, tongkat tersebut sengaja dibawakan untuk ditancapkan di samping beliau SAW sebagai isyarat larangan bagi orangorang untuk lewat di dekatnya. Kemungkinan pula tombak itu dipergunakan untuk menggali tanah yang keras, atau untuk menjaga diri dari gangguan binatang disebabkan beliau bila buang hajat memilih tempat yang sangat jauh dari pemukiman. Selain itu, ada pula kemungkinan bahwa tombak itu sengaja dibawakan karena kebiasaan beliau jika istinja' (cebok) maka diiringi dengan wudhu; dan apabila telah wudhu maka beliau SAW melakukan shalat (dan tombak itu dipakai sebagai pembatas- penerj.). Inilah kemungkinan yang lebih dapat diterima. Hal ini akan disebutkan dalam bab tersendiri tentang tombak yang dipakai sebagai pembatas (sutrah) dalam shalat.

64

— FATHUL BAARI

Hadits ini dijadikan dalil oleh Imam Bukhari untuk membersihkan kencing, sebagaimana akan diterangkan kemudian. Dalam hadits ini terdapat pula keterangan bolehnya mengambil para pembantu dari kalangan orang-orang merdeka -khususnya bagi yang telah mempersembahkan diri mereka untuk hal itu- agar terbina untuk bersikap rendah hati. Demikian juga hadits ini terdapat keterangan bahwa berkhidmat kepada orang berilmu merupakan kemuliaan tersendiri, karena Abu Darda" memuji Ibnu Mas'ud yang telah melakukan hal itu. Hadits ini merupakan dalil yang membantah pendapat Ibnu Habib, yang melarang seseorang beristinja" dengan menggunakan air dengan alasan bahwa air adalah sesuatu yang dikonsumsi, dan karena air di Madinah rasanya tawar. Selanjutnya hadits ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama untuk menyatakan disukainya wudhu dari bejana daripada berwudhu dari sungai ataupun kolam. Akan tetapi hadits ini tidak dapat mendukung pendapat tersebut kecuali bila ada keterangan bahwa saat itu Nabi SAW menemukan sungai atau kolam, namun beliau SAW lebih memilih untuk berwudhu dengan air dalam bejana. 'j—!jal)i t—«ili (Hadits ini diriwayatkan pula dari Syu 'bah oleh An-

Nadhr), yakni An-Nadhr bin Syumail. Beliau meriwayatkan hadits tersebut dari Syu'bah sebagaimana halnya Muhammad bin Ja'far. Adapun hadits An-Nadhr ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i berikut silsilah periwayatannya. olil_iij (Syadzan) Dia adalah Al Aswad bin Amir, dan hadits beliau disebutkan oleh Imam Bukhari dalam bagian shalat dengan lafazh, "Kami membawa Ukazah (tongkat yang dipakai untuk bertumpu), Asha (tongkat biasa) atau Anazah (tombak)." Nampaknya perkataan "atau " dalam riwayat ini adalah keragu-raguan dari sebagian perawinya, sebab riwayatriwayat lain menyebutkan yang dibawa saat itu adalah Anazah (tombak). Semua perawi hadits yang disebutkan pada ketiga bab terakhir ini berasal dari Bashrah.

FATHUL BAARI —

65

18. Larangan Istinja' dengan Tangan Kanan
b l : £j& 4
^

Ul
s s s s 0

JlS JIS 4_J
s

iblis
" y

J
y

4U1 _Lp
^ %

f

s

s

s

s

s

s

0

3>

^

^

S-

'

153. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Qatadah dari bapaknya, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, Apabila salah seorang di antara kamu minum maka janganlah menghembuskan nafasnya di wadah tempat minum, dan apabila salah seorang di antara kamu mendatangi tempat buang hajat maka jangan menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya dan jangan pula membasuhnya dengan tangan kanan."

Keterangan Hadits: (Larangan istinja' dengan tangan kanan) Imam Bukhari memberi judul bab ini dengan kata "larangan" sebagai isyarat bahwa hal itu belum jelas bagi beliau, apakah larangan ini bersifat haram atau sekedar untuk kesucian (tanzih). Di samping itu, ada pula kemungkinan bahwa faktor (qarinah) yang memalingkan larangan tersebut dari makna haram kepada makna yang lain belum jelas bagi beliau. Yang mana faktor (qarinah) yang dimaksud dalam hal ini adalah karena perbuatan itu termasuk bagian dari adab (etika). Mayoritas ulama mengatakan bahwa larangan di atas hanyalah sekedar untuk kesucian (tanzih). Sementara di sisi lain, golongan zhahiriyah berpandangan bahwa indikasi larangan tersebut adalah haram. Dalam perkataan sejumlah ulama madzhab Syafi'i dapat ditangkap pengertian yang mengarah kepada perkataan golongan zhahiriyah, hanya saja Imam An-Nawawi berkata, "Perkataan mereka (ulama madzhab Syafi'i) yang tidak membolehkan istinja' dengan menggunakan tangan kanan, maksudnya adalah perbuatan itu bukanlah hal yang mubah, dalam

66

— FATHUL BAARI

artian sama saja apakah dilakukan atau ditinggalkan. Bahkan makruh dan sangat tepat bila ditinggalkan." Apabila seseorang beristinja' dengan tangan kanan, maka menurut mereka yang berpendapat bahwa perbuatan itu hukumnya haram berarti pelakunya telah mengerjakan perbuatan tidak terpuji, namun istinja' yang dilakukannya tetap dianggap telah mencukupi. Sementara golongan zhahiriyah dan sebagian ulama madzhab Hambali berkata, "Istinja' yang dilakukan oleh orang itu dianggap tidak mencukupi." Sesungguhnya perselisihan itu timbul apabila tangan menyentuh tempat yang akan dibersihkan disertai alat bersuci lain seperti air. Adapun jika tangan langsung menyentuh tempat yang akan dibersihkan tanpa disertai alat bersuci lain, maka terjadi kesepakatan di antara ulama bahwa hukumnya adalah haram dan istinja' tidak dianggap mencukupi, dan tangan kiri dalam hal ini hukumnya sama dengan tangan kanan. (Dari bapaknya) dia adalah Abu Qatadah Al Harits. Ada yang mengatakan namanya Al Amr, dan ada pula yang mengatakan namanya adalah An-Nu'man Al Anshari sang pahlawan pendamping Rasulullah SAW. Pertempuran yang pertama kali diikutinya adalah perang Uhud. Beliau wafat pada tahun 54 H menurut pendapat yang paling akurat. *L_5)|l ^J> 'JJ&J (Jangganlah menghembuskan nafasnya di wadah) maksudnya di dalam wadah. Adapun jika ia menjauhkan wadah itu lalu bernafas di luarnya, maka ini adalah sunnah sebagaimana akan dijelaskan dalam hadits Anas pada pembahasan tentang minuman, insya Allah. Larangan ini bertujuan memberi pelajaran etika dalam mencapai kebersihan yang sempurna. Sebab bisa saja bersamaan dengan hembusan nafas keluar ludah atau ingus maupun uap yang busuk sehingga menjadikan bau tak sedap, sehingga menjadikan orang yang minum tersebut ataupun selainnya merasa jijik untuk minum di wadah yang dimaksud. «•^—?Ji \ (Jika mendatangi tempat buang hajat) lalu ia buang

air kecil (kencing), sebagaimana yang disebutkan pada hadits selanjutnya.

FATHUL BAARI —

67

i — ^

V«j ^—9 (Jangan

dengan

tangan kanan),

yakni jangan

beristinja' dengan tangan kanan. Al Khaththabi telah menulis pembahasan panjang lebar mengenai persoalan ini. Telah diriwayatkan dari Abu Ali bin Abu Hurairah, bahwasanya beliau pernah berdialog dengan seorang ulama dari Khurasan. Lalu Abu Ali bertanya tentang perkara ini, maka ulama tersebut tidak mampu untuk menjawabnya. Kemudian Al Khaththabi memberikan jawaban terhadap pertanyaan tersebut, namun jawaban yang ia berikan masih perlu dikritisi. Inti persoalan tersebut adalah bahwa apabila seseorang yang beristinja" dengan menggunakan batu atau sepertinya, lalu ia memegang batu tersebut dengan tangan kirinya, maka tidak dapat dihindari ia harus memegang kemaluannya dengan tangan kanannya. Sedangkan jika ia memegang kemaluannya dengan tangan kirinya, berarti ia harus memegang batu dengan tangan kanannya. Padahal kedua keadaan ini masuk dalam cakupan larangan yang tersebut dalam hadits di atas. Adapun kesimpulan dari jawaban yang diberikan adalah, bahwa dalam keadaan demikian seseorang yang hendak beristinja' mendatangi sesuatu yang kokoh yang tidak dapat bergeser dengan gerakan apapun, seperti tembok atau yang serupa dengannya. Lalu orang itu menggosokkan tempat keluarnya kencing pada benda tersebut. Sedangkan jika ia tidak menemukan benda seperti itu, maka yang harus dilakukannya adalah duduk di atas tanah lalu menjepit batu dengan kedua mata kakinya ataupun menahannya dengan ibu jari kaki, setelah itu ia memegang kemaluannya dengan tangan kirinya untuk digosokkan pada batu tersebut. Dengan demikian, pada dua keadaan ini ia tidak menggunakan tangan kanannya. Gerakan seperti ini sangatlah sulit dan bahkan tidak mungkin untuk dilakukan, sehingga Ath-Thaibi mengomentari persoalan ini dengan perkataannya, "Sesungguhnya larangan untuk istinja' dengan menggunakan tangan kanan hanyalah khusus dubur (bagian belakang), sedangkan larangan untuk menyentuh hanyalah khusus qubul (kemaluan). Artinya, jawaban seperti di atas sejak awalnya sudah tidak berdasarkan dalil yang kuat." Akan tetapi, klaim beliau bahwa larangan istinja' dengan menggunakan tangan kanan hanya berlaku khusus dubur tidak dapat diterima. Adapun larangan menyentuh meskipun khusus qubul (kemaluan) namun

68

— FATHUL BAARI

diikutkan juga dubur berdasarkan analogi (qiyas). Karena penyebutan kata dzakar (kemaluan laki-laki) tidaklah berarti hukum hanya berlaku padanya, sebab kemaluan wanita memiliki hukum yang sama. Adapun kata dzakar disebutkan secara tekstual dalam hadits itu karena umumnya teks-teks dalil ditujukan kepada laki-laki, sementara wanita adalah saudara kaum laki-laki dalam perkara hukum, kecuali hal-hal tertentu yang memang dikhususkan bagi kaum laki-laki. Jawaban yang benar sehubungan dengan perkara yang dijawab oleh Al Khaththabi adalah apa yang dikatakan oleh Imam Al Haramain dan ulama sesudahnya, seperti Al Ghazali dalam kitab Al Wasith dan Al Baghawi dalam kitab At-Tahdzib, yaitu; orang yang hendak beristinja' dengan menggunakan batu atau yang sepertinya, hendaklah memegang batu itu dengan tangan kanannya tanpa menggerak-gerakkannya. Lalu ia memegang kemaluannya dengan tangan kirinya kemudian menggosokkan di batu tersebut. Dengan demikian, ia tidak dikatakan beristinja' dengan tangan kanannya dan tidak pula menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. Barangsiapa yang mengatakan bahwa dalam keadaan seperti ini seseorang tetap dikatakan telah beristinja' menggunakan batu dengan tangan kanannya, maka sungguh ia telah keliru. Bahkan, sesungguhnya orang itu sama seperti seseorang yang menuangkan air dengan tangan kanannya lalu menggosok kemaluan dengan tangan kirinya pada saat istinja'.

19. Tidak Boleh Memegang Kemaluan dengan Tangan Kanan Waktu Kencing
Jl—> b l : J l

1

^1)1 Jf- AJ\ Vp

~ }\si
0

^\

«Jjl JUP

FATHUL BAARI —

69

154. Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Qatadah dari bapaknya, dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda, 'Apabila salah seorang di antara kamu buang air kecil (kencing) maka janganlah menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya, jangan pula istinja' dengan tangan kanannya, dan jangan pula menghembuskan nafas di wadah (tempat minum) waktu minum.''''

Keterangan Hadits: Judul bab ini menunjukkan, bahwa larangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan secara mutlak seperti bab terdahulu hanya berlaku pada saat buang air kecil (kencing). Dengan demikian, maka selain keadaan ini diperbolehkan. Akan tetapi sebagian ulama berpendapat, "Larangan untuk memegang kemaluan tetap saja berlaku pada saat seseorang tidak sedang kencing, karena seseorang dilarang memegang kemaluannya saat kencing, padahal dalam keadaan demikian ia perlu melakukannya." Kemudian pendapat ini dikomentari oleh Abu Muhammad bin Abu Jamrah, ia mengatakan bahwa kondisi seseorang perlu memegang kemaluannya bukan hanya pada waktu istinja'. Akan tetapi larangan itu dikhususkan pada saat seseorang buang air kecil (kencing), karena ditinjau dari segi "berdampingan dengan sesuatu menghasilkan kesamaan hukum. " Dalam artian ketika dilarang untuk istinja' dengan tangan kanan, maka dilarang pula untuk menyentuh kemaluan. Lalu Abu Muhammad bin Abu Jamrah berdalil tentang bolehnya menyentuh kemaluan (selain pada waktu kencing) dengan sabda Nabi SAW kepada Thalq bin Ali ketika ia bertanya tentang hukum menyentuh
s *

't,

' t ' '

kemaluan, iJ—i» *—«I&J y» UJJ (Sesungguhnya ia adalah bagian darimu). Hadits ini mengindikasikan bolehnya menyentuh kemaluan dalam semua keadaan. Kemudian hukum tersebut dikecualikan pada waktu buang air kecil berdasarkan hadits shahih yang disebutkan pada bab ini. Hadits yang dikutip oleh Abu Muhammad tersebut derajatnya shahih, atau minimal memiliki derajat hasan. Untuk membantah pendapat seperti yang dikemukakan oleh Muhammad bin Abu Jamrah dapat dikatakan, "Sesungguhnya menarik dalil yang bersifat mutlak kepada dalil muqayyad (terbatas) tidaklah disepakati oleh seluruh ulama, sedangkan orang yang memperbolehkan-

70

— FATHUL BAARI

nya membuat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi." Hanya saja Ibnu Daqiq Al 'Id memberi catatan penting bahwa titik perbedaan pendapat sehubungan dengan menarik dalil mutlaq kepada dalil muqayyad (terbatas), adalah jika sumber kedua hadits itu berbeda hingga dapat dikatakan bahwa keduanya adalah hadits yang berbeda. Adapun jika sumber keduanya satu, lalu perbedaannya berasal dari sebagian perawi hadits itu, maka menjadi keharusan untuk membawa dalil mutlaq kepada dalil muqayyad (terbatas) tanpa ada perselisihan di antara ulama. Sebab, pembatasan pada saat seperti ini masuk kategori penambahan riwayat yang dilakukan oleh orang yang 'adil (tidak fasik), maka harus diterima. oi£-G*A3 (Maka janganlah menyentuh). Lafazh ini sesuai dengan

judul bab, yakni d L J J "i (tidak boleh memegang). Demikian pula dalam riwayat Imam Muslim melalui jalur Al Hammam dari Yahya, diungkapkan dengan lafazh, Isma'ili disebutkan, —1~*J' (memegang) sementara dalam riwayat Al *i (tidak menyentuh).

Riwayat Al Isma'ili ini dijadikan sebagai bahan untuk mengkritik Imam Bukhari sehubungan dengan judul bab ini, sebab lafazh menyentuh lebih umum daripada lafazh memegang. Lalu bagaimana hingga beliau berdalil dengan makna yang lebih umum terhadap masalah yang bersifat khusus? Akan tetapi kritik ini tidak memberi pengaruh berarti berdasarkan apa yang telah kami jelaskan terdahulu. Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama telah menetapkan hukum mengenai larangan istinja' dengan tangan yang memakai cincin bertuliskan nama Allah. Karena yang menjadi sebab larangan dalam hadits ini adalah kemuliaan tangan kanan, maka tentu tangan yang memakai cincin bertuliskan nama Allah lebih pantas untuk dimuliakan. Sedangkan riwayat yang dinukil dari Imam Malik yang menyatakan perbuatan tersebut tidak makruh, telah diingkari oleh para ulama terkemuka dalam madzhab Maliki. Sebagian ulama ada yang mengatakan, sesungguhnya hikmah larangan itu adalah karena tangan kanan dipakai untuk makan. Andaikata seseorang menggunakan tangan kanannya untuk istinja", maka sangat mungkin ia mengingatnya saat makan dan hal itu bisa menimbulkan rasa jijik.

FATHUL BAARI —

71

\Jt Ir^i

(Dan jangan pula menghembuskan

nafas di wadah

tempat minum). Ada kemungkinan hikmah disebutkannya hal ini mengiringi persoalan-persoalan terdahulu, karena telah menjadi akhlak kaum mukminin untuk mengikuti perbuatan Nabi SAW. Sementara beliau SAW apabila buang air kecil maka diiringinya dengan wudhu, bahkan telah dinukil riwayat yang mengatakan bahwa beliau SAW pernah meminum sisa air wudhunya. Oleh karena itu, seorang muslim berada dalam kondisi siap untuk mengikuti perbuatan tersebut. Untuk itu Nabi SAW mengajari mereka adab minum, yaitu larangan bernafas di wadah tempat minum ketika minum, sebagaimana yang diindikasikan oleh konteks riwayat sebelumnya. Telah diriwayatkan oleh Al Hakim dari hadits Abu Hurairah, *——~> oL_f lij fti J, ^ J b - i '^J&ri (Janganlah salah seorang diantara kamu menghembuskan nafasnya di suatu wadah (tempat minum) jika ia sedang minum dari wadah tersebut.) Wallahu a 'lam.

20. Istinja" dengan Batu

155. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa ia berkata, "Aku mengikuti Nabi SAW saat beliau keluar untuk buang hajat, maka beliau tidak menoleh ke belakang. Akupun mendekatinya lalu beliau bersabda, 'Carilah untukku batu-batu kecil agar aku pakai untuk beristinja \ dan jangan engkau bawakan kepadaku tulang dan jangan pula kotoran binatang (yang telah mengeras).' Akupun

72

— FATHUL BAARI

membawakan untuknya batu-batu dengan ujung pakaianku lalu aku letakkan di dekatnya, kemudian aku menjauh darinya. Ketika selesai, beliau pun beristinja' dengan batu-batu tersebut."

Keterangan Hadits: Imam Bukhari memaksudkan bab ini sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa istinja' hanya menggunakan air. Adapun dalil yang mengindikasikan hal itu dapat kita pahami dari perkataan beliau, l# °jni£r°J (Agar aku pakai untuk beristinja'). *—i? « ^ j — ( A k u p u n ditambahkan, j . mendekatinya). Dalam riwayat Al Isma'ili

'j-j\Lt\

(Dengan perlahan seraya aku batuk-batuk bertanya, "Siapa itu?" Aku menjawab, "Abu

kecil). Maka beliau SAW Hurairah."
i

,'

'

—; (Dan jangan engkau bawakan kepadaku) seakan-akan beliau SAW merasa khawatir jika Abu Hurairah memahami sabdanya, "Agar aku pakai untuk beristinja'..." yaitu semua yang dapat menghilangkan bekas najis serta membersihkan tempat keluarnya juga dapat mencukupi (untuk dipakai beristinja'), dan bukan hanya batu. Beliau SAW hanya menyebutkan tulang dan kotoran adalah sebagai isyarat bahwa selain keduanya dapat dipakai untuk beristinja". Andaikata yang dipakai beristinja' selain air hanyalah batu sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama madzhab Hambali dan golongan zhahiriyah- niscaya penyebutan tulang dan kotoran pada teks hadits akan kehilangan maknanya. Hanya saja batu disebutkan secara khusus dalam teks hadits, karena batu merupakan benda yang banyak ditemukan dan mudah didapat di mana-mana. Lalu Imam Bukhari menambahkan lafazh hadits ini dengan mengatakan bahwa Abu Hurairah bertanya kepada Nabi SAW setelah beliau selesai beristinja', "Ada apa dengan tulang dan kotoran?" Nabi SAW menjawab, ^r^
1

j?

(Keduanya adalah makanan jin). Sebab,

yang disebutkan dalam riwayat ini secara lahir memberi indikasi bahwa larangan itu hanya berlaku khusus bagi kedua benda tersebut. Kemudian kedua hal itu dianalogikan dengan semua makanan manusia, karena

FATHUL BAARI —

73

makanan manusia lebih pantas untuk tidak dipakai beristinja' dibandingkan makanan jin. Demikian pula dengan hal-hal yang dimuliakan seperti kertas yang bertuliskan ilmu. Adapun mereka yang berpandangan bahwa yang menjadi sebab larangan beristinja' dengan kotoran adalah karena kotoran tersebut termasuk najis, maka mereka memperluas larangan tersebut pada seluruh benda yang tergolong najis. Demikian pula dengan pandangan yang mengatakan bahwa sebab larangan menggunakan tulang untuk beristinja', adalah karena sifatnya yang licin sehingga tidak dapat menghilangkan najis secara baik, maka hukum ini diberlakukan pula bagi seluruh benda yang memiliki sifat serupa; misalnya kaca dan sebagainya. Pendapat ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh AdDaruquthni (seraya beliau menshahihkannya) dari hadits Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW melarang seseorang untuk istinja' dengan kotoran atau tulang, dan beliau SAW bersabda,
01^
S=JV

U^—'l

(Sesungguhnya keduanya tidak dapat mensucikan). Riwayat Ad-Daruquthni ini merupakan bantahan bagi pendapat yang mengatakan bahwa beristinja' dengan menggunakan tulang dan kotoran dianggap mencukupi, meskipun hal itu terlarang. Pada pembahasan mendatang akan disebutkan kisah utusan jin serta kapan peristiwa itu terjadi.
i S

- ^ u l i (Ketika telah selesai) yakni selesai buang hajat, beliaupun

beristinja'. Dalam hadits ini terdapat keterangan bolehnya untuk mengikuti orang-orang terhormat, meski tanpa diperintah. Juga diperkenankan bagi seorang imam (pemimpin) memperbantukan sebagian masyarakatnya untuk memenuhi keperluannya. Faidah lain adalah; keharusan memalingkan muka dari orang yang sedang buang hajat, membantu menghadirkan hal-hal yang dapat dipakai beristinja' dan menyiapkannya di dekatnya agar orang yang sedang buang hajat itu tidak perlu lagi mencari apa yang dia gunakan untuk beristinja' setelah selesai buang hajat, sehingga tidak mengakibatkan bau yang tidak enak.

74

— FATHUL BAARI

21. Tidak Boleh Istinja" dengan Menggunakan Kotoran Binatang
s*
t „ ' * j — O— •

y

-

>

t o s

Jl ' . j y u

<uJi j l p

4j| T^
0

• 0 ' . JO S O Z ^ p : > j ^ ^ l ^yi y*^~_yl
i

.

f

Os

O

y

Jlp

^

as ' y

a s y,

f

-W I

* ' 'T

f

^ ^ f • I I ^ T , d 3 * "'T q*

.[jSj
% Oy
4

l - i i J l i j 3jj^3\
s s % % > O > l'l
J 0

J&j
^ I1

-J*

y

m

s

O

f

°

^

*

0

J

_

s

^ J o - < j b ^ » l ^ 1 ^ J P Ajrfl J p (Jl— J J ^jJ

JJI J U J

156. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Al Aswad dari bapaknya bahwa ia mendengar Abdullah berkata, "Nabi mendatangi tempat buang hajat, lalu beliau memerintahkan kepadaku untuk membawakan tiga batu, akupun mendapatkan dua batu lalu mencari yang ketiga namun tidak kutemukan. Akhirnya aku mengambil kotoran binatang (yang mengeras) dan membawanya kepada Rasulullah. Beliau mengambil kedua batu itu dan membuang kotoran binatang tersebut seraya bersabda, 'Ini adalah kotor (najis). Ibrahim bin Yusuf berkata dari bapaknya menceritakan kepadaku Abdurrahman. dari Ishaq, telah

Keterangan Hadits: ^L?ii-i i5*)ta iiT (Membawakan untuknya tiga batu) ini merupakan

pengamalan terhadap larangan pada hadits Salman dari nabi SAW, j l — j — f t t f j * J i b '^•i^A glsLJ (Dan janganlah kamu beristinja" dengan menggunakan tiga). (HR. Muslim) salah seorang di antara kurang dari

batu yang jumlahnya

FATHUL BAARI —

75

Demikianlah yang menjadi pendapat Imam Syafi'i, Imam Ahmad serta para pakar hadits, dimana mereka mensyaratkan jumlah batu yang dipakai untuk beristinja' tidak kurang dari tiga, di samping harus tetap diperhatikan kebersihannya. Apabila menggunakan tiga batu belum juga bersih, maka ditambahkan lebih dari tiga batu hingga benar-benar bersih. Hendaknya batu yang digunakan jumlahnya ganjil, berdasarkan sabda beliau SAW, "Barangsiapa yang istinja' dengan menggunakan batu hendaklah ia mengganjilkannya" Namun hal ini tidaklah wajib berdasarkan riwayat yang dinukil oleh Abu Dawud dimana disebutkan tambahan, "Barangsiapa yang tidak meng-ganjilkannya maka tidak mengapa." Dengan demikian, riwayat-riwayat dalam persoalan ini dapat dikompromikan satu sama lain. Al Khaththabi berkata, "Andaikata maksud istinja' itu semata-mata untuk membersihkan najis, niscaya hilanglah faidah disyaratkannya jumlah tertentu. Maka setelah teks hadits mensyaratkan jumlah tertentu dan maknanya mengisyaratkan maksud yang hendak dicapai adalah kebersihan, maka kedua hal itu menjadi wajib. Sama halnya dengan iddah (masa menunggu wanita setelah dicerai), dimana jumlah masa haid disyaratkan meskipun sebenarnya kosongnya rahim dari janin dapat diketahui dengan satu kali haid. l—Jjj oJJM—i (Akhirnya
*

se

s

%

o

s

s

aku mengambil

kotoran binatang).

Ibnu

Khuzaimah menambahkan dalam riwayatnya, yaitu kotoran himar (keledai). Lalu At-Taimi menukil bahwa lafazh rauts (kotoran binatang) adalah khusus kotoran kuda, bighal (hewan hasil perkawinan antara keledai yang kuda) dan himar (keledai). i—~j'J\ ^jfll'j (Dan membuang kotoran binatang tersebut). Lafazh ini

dipergunakan oleh Ath-Thahawi sebagai dalil bahwa batu yang digunakan beristinja' tidak disyaratkan berjumlah tiga buah. Beliau berkata, "Sebab jika yang demikian itu merupakan suatu syarat, maka beliau SAW akan minta dibawakan batu yang ketiga." Tapi dengan sikapnya ini, beliau telah mengabaikan hadits yang dinukil oleh imam Ahmad dalam Musnad-nya dari jalur Abu Ishaq dari Al Qamah dari Ibnu Mas'ud, dimana disebutkan, "Maka beliau membuang kotoran binatang lalu bersabda, 'Sesungguhnya ia adalah najis, bawakanlah untukku satu batu yang lain.'"

76

— FATHUL BAARI

Para perawi hadits ini tergolong tsiqah (terpercaya) lagi (sabit (teliti). Hadits yang diriwayatkan dari Ma'mar ini dinukil pula oleh AdDaruquthni melalui jalur Abu Syu'bah Al Wasithi, namun ia dikenal lemah dalam bidang periwayatan. Selanjutnya, yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Ishaq selain Ma'mar dan Abu Syu'bah, juga diriwayatkan oleh Ammar bin Raziq yang dikenal sebagai salah seorang perawi yang tsiqah (terpercaya) di antara para perawi yang menerima hadits dari Abu Ishaq. Lalu ada yang mengatakan bahwa Abu Ishaq tidak mendengar hadits ini secara langsung dari Al Qamah, akan tetapi Al Karabisi justeru telah menegaskan bahwa hadits ini telah didengar langsung oleh Abu Ishaq dari Al Qamah. Kalaupun hadits ini mursal (yakni Abu Ishaq tidak menyebutkan perawi antara ia dengan Al Qamah) tetap menjadi hujjah, sebab ulama yang tidak mempersyaratkan jumlah batu tidak boleh kurang daripada tiga (yakni golongan Hanafi- Penerj.) berpandangan bahwa hadits mursal dapat dijadikan sebagai hujjah (landasan dalam menetapkan hukum). Sebagaimana kami juga berhujjah dengan hadits mursal apabila ada faktor-faktor tertentu yang menguatkannya. Di samping jawaban yang telah kami sebutkan di atas, sesungguhnya cara penetapan hukum yang ditempuh oleh Imam Ath-Thahawi tidak luput dari kritik. Sebab ada kemungkinan beliau SAW tidak lagi memerintahkan untuk dibawakan batu ketiga, karena beliau telah mencukupkan dengan perintah pertama kali yang mengharuskan untuk dibawakan tiga buah batu. Sehingga beliau SAW merasa tidak perlu lagi mengulangi perintah tersebut dengan perintah yang baru. Kemungkinan lain, beliau SAW mencukupkan jumlah batu yang ketiga dengan cara menggunakan kedua sisi salah satu dari dua batu tersebut, sebab maksud daripada jumlah tiga biji batu itu adalah agar disapukan ke tempat keluar najis sebanyak tiga kali, dan ini dianggap telah tercapai apabila satu batu telah disapukan sebanyak tiga kali. Dalil yang menunjukkan keterangan ini adalah jika seseorang beristinja' dengan menggunakan satu sisi batu lalu datang orang lain beristinja' dengan menggunakan sisi lain dari batu tersebut maka dianggap mencukupi keduanya, tanpa ada ulama yang menyelisihi hal itu. Abu Hasan bin Qishar Al Maliki berkata, "Telah diriwayatkan bahwa beliau (Abdullah) kembali membawakan kepada Nabi SAW batu yang ketiga." Namun riwayat ini tidak shahih. Andaikata hadits ini

FATHUL BAARI —

77

shahih, maka ia merupakan salah satu alasan cukup kuat bagi golongan yang mensyaratkan jumlah batu tidak boleh kurang dari tiga buah. Sebab dengan demikian, beliau SAW telah beristinja' untuk dua tempat (kemaluan depan dan belakang) hanya menggunakan tiga batu. Artinya, beliau SAW menggunakan batu yang kurang dari tiga buah pada kedua tempat keluar najis tersebut (kemaluan depan dan dubur). Demikian perkataan Abu Hasan Al Qishar. Pendapat yang dikatakan oleh Abu Hasan Al Qishar ini masih dapat dipertanyakan, sebab hadits yang menyatakan adanya penambahan batu yang ketiga merupakan riwayat yang shahih seperti telah kami sebutkan. Seakan-akan Abu Hasan hanya meneliti silsilah periwayatan hadits ini yang dinukil oleh Ad-Daruquthni. Di samping itu, ada kemungkinan bahwa beliau SAW saat itu hanya buang hajat melalui satu jalan saja. Kalaupun benar bahwa beliau SAW telah buang hajat melalui dua jalan (buang air besar dan kencing), tetap ada kemungkinan bahwa beliau SAW mencukupkan dengan menyapukan kemaluan bagian depannya ke tanah lalu menggunakan ketiga batu yang ada untuk menyapu tempat keluar najis bagian belakang. Atau dapat pula beliau telah menggunakan dua sisi dari masing-masing ketiga batu tersebut. Adapun dalil yang mereka kemukakan untuk menyatakan bahwa tidak ada persyaratan yang tidak membolehkan beristinja" kurang dari tiga batu, dimana mereka menganalogikan hal ini dengan menyapu kepala saat wudhu, adalah suatu pendapat yang memiliki pijakan pemikiran yang rusak. Sebab analogi seperti itu menyalahi nash (teks dalil) yang sangat tegas, sebagaimana telah kami sebutkan pada hadits Abu Hurairah dan Salman. i—j i j—'t- U—Ljl j—J ^—jbl^i J l i j (Ibrahim bin Yusuf berkata dari

bapaknya) yakni Yusuf bin Ishaq bin Abu Ishaq As-Subai'i dari Abu Ishaq, yakni kakek Ibrahim bin Yusuf. Beliau berkata, "Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman, yakni Ibnu Al Aswad bin Yazid." Sama seperti silsilah yang disebutkan pada permulaan hadits. Maksud Imam Bukhari menyebutkan catatan tambahan ini adalah untuk membantah mereka yang mengatakan bahwa Abu Ishaq melakukan tadlis (penyamaran riwayat) terhadap hadits ini. Anggapan seperti ini telah dinukil dari Sulaiman Asy-Syadzakuni, dimana dia berkata, "Tidak didengar dalam perkara tadlis (penyamaran riwayat) yang lebih

78

— FATHUL BAARI

tersembunyi daripada periwayatan hadits ini." Lalu Al Isma'ili mengatakan bahwa dalil yang menunjukkan Abu Ishaq telah mendengar hadits ini langsung dari Abdurrahman, dimana Yahya Al Qaththan telah meriwayatkan hadits tersebut melalui Zuhair, yaitu "Al Cjaththan tidak mau meriwayatkan hadits Zuhair yang ia terima dari Abu Ishaq kecuali hadits-hadits yang didengarkan secara langsung oleh Abu Ishaq dari guru-gurunya." Seakan-akan Al Isma'ili mengetahui hal itu dari hasil penelitiannya yang mendalam terhadap sikap Al Cjaththan dalam meriwayatkan hadits, atau bisa juga karena pernyataan langsung dari Al Cjaththan sendiri. Maka dengan alasan ini beliau (Al Isma'ili) menafikan adanya tadlis dalam periwayatan hadits yang dimaksud. Sebagian ulama ada pula yang sangsi terhadap keshahihan hadits ini dengan alasan bahwa hadits tersebut adalah hadits mudhtharib, artinya jalur-jalur periwayatan hadits ini memberikan versi yang berbeda-beda. Sementara Ad-Daruquthni menyebutkan bahwa perbedaan itu sendiri terjadi pada Abu Ishaq sebagaimana dinukil dalam kitab Hal, dan saya telah membahasnya secara panjang lebar pada mukaddimah Asy-Syarh Al Kabir. Akan tetapi jalur periwayatan Zuhair (yakni hadits yang disebutkan dalam bab ini) menurut Imam Bukhari jauh lebih akurat dibandingkan dengan jalur periwayatan lainnya, sebab jalur periwayatan Zuhair dari Abu Ishaq telah diperkuat oleh riwayat Ibrahim bin Yusuf yang menerima hadits itu dari bapaknya (Yusuf bin Abu Ishaq) dari kakeknya (Abu Ishaq). Lalu riwayat Zuhair dan Ibrahim bin Yusuf lebih diperkuat lagi oleh riwayat yang dinukil melalui Syuraik Al Qadhi serta Zakaria bin Abu Yahya dan lainnya. Yang meriwayatkan hadits ini dari Abdurrahman di samping Abu Ishaq adalah Laits bin Abu Sulaim, seperti dinukil oleh Ibnu Abi Syaibah. Sementara riwayat Laits bin Abu Sulaim dapat dijadikan sebagai pendukung bagi riwayat lain. Bukti lain yang mendukung keakuratan jalur periwayatan Zuhair adalah keterangan dimana Abu Ishaq menyebutkan dua jalur kontroversi itu sekaligus, yakni selain menyebutkan riwayat Abdurrahman bin Al Aswad beliau mengutip pula riwayat melalui jalur Abu Ubaidah. Namun kemudian beliau (Zuhair) lebih memilih riwayat melalui jalur Abdurrahman. Hal ini berbeda dengan riwayat Isra'il dari Abu Ishaq dari Abu Ubaidah, dimana riwayat Abdurrahman tidak disebutkan sama

FATHUL BAARI —

79

>ekali. Kenyataan ini membuktikan bahwa Zuhair mengetahui kedua jalur periwayatan yang ada, namun beliau lebih menguatkan riwayat Abu Ishaq dari Abdurrahman, wallahu a 'lam.

22. Berwudhu Satu Kali Satu Kali

» /

« /

#

L>JJ" J l i

^Is-

JJ\

j&

157. Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, pernah berwudhu satu kali-satu kali.''''

"Nabi SAW

"Berwudhu satu kali-satu kali", yakni membasuh setiap anggota wudhu satu kali. Penjelasan ini telah disebutkan pada bab membasuh muka dan tangan dari satu cidukan.

23. Berwudhu Dua Kali Dua Kali

j * s J*'y

J l

\HJ

CJ-

^

c/Nabi

158. Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid, bahwasanya SAW pernah berwudhu dua kali-dua kali.

Keterangan Hadits: "Berwudhu dua kali-dua kali", maksudnya membasuh setiap anggota wudhu dua kali. Hadits ini adalah ringkasan dari hadits masyhur yang membahas tentang sifat wudhu Nabi SAW sebagaimana akan disebutkan dari riwayat Malik dan lainnya. Akan tetapi, tidak disebutkan dalam riwayat tersebut membasuh dua kali selain pada saat membasuh kedua tangan sampai siku. Hanya saja tidak dapat diingkari bahwa AnNasa'i telah meriwayatkan Hadits Abdullah bin Zaid ini dari jalur Sufyan bin Uyainah, dimana disebutkan tentang membasuh tangan dan kaki dua

80

— FATHUL BAARI

kali, menyapu kepala serta membasuh muka tiga kali. Akan tetapi hadits yang kami sebutkan ini perlu dianalisa kembali, dan itu akan kami paparkan pada pembahasan selanjutnya, insya Allah. Maka atas dasar ini, tepatnya hadits Zaid di atas disebutkan di bawah bab yang memberi keterangan tentang membasuh sebagian anggota wudhu satu kali, sebagian lagi dua kali dan sebagian yang lain tiga kali. Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi SAW berwudhu dua kali-dua kali. Ini menjadi pendukung terkuat bagi riwayat Fulaih seperti disebutkan oleh Imam Bukhari dalam bab ini. Dengan demikian ada kemungkinan hadits Zaid dalam bab ini merupakan hadits tersendiri selain hadits Malik, dimana keduanya memiliki jalur periwayatan yang berbeda, wallahu a 'lam.

24. Berwudhu Tiga Kali Tiga Kali

159. Humran (hamba sahaya Utsman yang telah dimerdekakan), mengabarkan bahwa dia telah melihat Utsman bin Affan meminta dibawakan sebuah bejana, lalu ia menuangkan air ke telapak

FATHUL BAARI —

81

tangannya seraya membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana lalu berkumur-kumur seraya memasukkan air ke hidung serta mengeluarkannya, setelah itu ia membasuh mukanya tiga kali dan kedua tangannya hingga siku tiga kali. Selanjutnya ia menyapu kepalanya lalu membasuh kakinya tiga kali hingga ke mata kaki. Kemudian ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa yang berwudhu sebagaimana wudhuku ini lalu ia shalat dua rakaat tanpa menyibukkan dirinya (dengan perkara-perkara lain) dalam melakukan dua rakaat tersebut, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Keterangan Hadits: "Berwudhu tiga kali-tiga kali", maksudnya anggota wudhu tiga kali. frUb IP i (Meminta membasuh setiap

di bawakan sebuah bejana) Dalam riwayat Al-

Laitsi yang akan disebutkan setelah ini disebutkan, "Memohon dibawakan air wudhu." Demikian pula yang dinukil oleh Imam Muslim dari riwayat Yunus. Di sini terdapat keterangan bolehnya meminta bantuan pada orang lain untuk menghadirkan sesuatu yang akan dipakai untuk berwudhu. j'j—f ^ (Ke telapak tangannya seraya membasuh kedua

telapak tangannya tiga kali). Ini merupakan keterangan mencuci kedua tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana, meskipun bukan karena bangun tidur sebagai tindakan hati-hati. Dalam naskah Amiriyah disebutkan
^—'JIUZZL**

sedangkan

dalam riwayat Al Kasymihani disebutkan J—il£-tj sebagai ganti j i ^ ' j Saya tidak mendapatkan satu pun jalur periwayatan hadits ini yang menjelaskan bahwa berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya dilakukan dalam jumlah tertentu. Ketentuan jumlah itu hanya disebutkan oleh Ibnu Mundzir melalui jalur periwayatan Yunus dari Zuhri, sebagaimana hal itu juga dinukil oleh Abu Dawud melalui dua jalur periwayatan yang berbeda dari Utsman. Namun,

82

— FATHUL BAARI

semua

riwayat

itu tidak

berbeda dalam menyebutkan kata Ja—'<UOJ>

(berkumur-kumur).
' '

'

s

*

*—<prj

J—'->•*•'<*—*(Setelah

itu ia membasuh

mukanya)

Kalimat ini

menjelaskan bahwa membasuh muka dilakukan setelah berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu para ulama menyebutkan bahwa hikmah perbuatan ini adalah untuk mengetahui sifat air yang akan digunakan untuk berwudhu. Sebab warna dapat diketahui dengan penglihatan, rasa dapat diketahui melalui lidah (mulut) dan bau dapat diketahui melalui penciuman. Maka didahulukanlah berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung -yang mana keduanya merupakan perbuatan sunah- daripada membasuh muka yang merupakan kewajiban, adalah untuk kehati-hatian dalam beribadah. Adapun hikmah memasukkan air ke dalam hidung ini akan dijelaskan dalam bab berikutnya.

j
Yakni

lii^Ji J J AJAJJ (Dan (membasuh) setiap salah satunya

kedua tangannya

hingga

siku)

dibasuh tiga kali. Hal ini sebagaimana

dijelaskan oleh Imam Bukhari dalam riwayat M a ' m a r dari Zuhri pada pembahasan tentang puasa. Demikian pula yang disebutkan oleh Imam Muslim melalui jalur periwayatan Yunus. Dalam hadits ini terdapat keterangan mendahulukan yang kanan dari yang kiri, dimana keduanya dipisahkan dengan kata ^—J (kemudian). Begitu pula dengan membasuh kedua kaki. * «ilj £—-*» p—J (Selanjutnya ia mengusap kepalanya). Tidak

ditemukan satupun riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan pengulangan dalam menyapu kepala, dan ini menjadi pendapat mayoritas ulama. Namun Imam Syafi'i berkata, "Mengusap anggota wudhu sebanyak tiga kali adalah disukai sebagaimana halnya membasuh." Lalu beliau melandasi pendapatnya ini dengan makna lahiriah yang terkandung dalam riwayat Imam Muslim, dimana disebutkan bahwa Nabi SAW berwudhu tiga kali-tiga kali. Akan tetapi alasan beliau dapat dijawab dengan mengatakan, "Riwayat Imam Muslim tersebut masih bersifat global, sementara dalam riwayat-riwayat shahih yang menerangkan praktek wudhu secara terperinci disebutkan bahwa menyapu kepala hanya dilakukan sekali saja. Dengan demikian, makna

FATHUL BAARI —

83

riwayat Muslim yang menyatakan Nabi SAW berwudhu tiga kali-tiga kali adalah berlaku untuk sebagian besar anggota dan bukan untuk keseluruhannya, atau berwudhu tiga kali-tiga kali tersebut hanya berlaku pada anggota wudhu yang dibasuh dan bukan pada yang diusap." Abu Dawud berkata dalam kitab Sunan-nya, "Hadits-hadits Utsman (tentang wudhu) yang diriwayatkan melalui silsilah periwayatan yang shahih semuanya memberi keterangan, bahwa menyapu kepala hanya dilakukan sekali saja." Senada dengan itu perkataan Ibnu Mundzir, "Riwayat yang akurat berasal dari Nabi SAW semuanya menunjukkan bahwa menyapu kepala hanya satu kali, dan menyapu itu untuk tujuan memberi keringanan, maka tidak boleh disamakan dengan membasuh dalam artian meratakan air ke seluruh bagian anggota wudhu yang dibasuh. Di samping itu, apabila jumlah tertentu diberlakukan pula pada saat mengusap, maka akan sama dengan membasuh. Sebab hakikat membasuh adalah meratakan air ke seluruh bagian anggota wudhu, sedangkan menggosok bukanlah suatu persyaratan sesuai pendapat yang shahih menurut sebagian besar ulama." Abu Ubaid berlebihan dalam hal ini, dia berkata, "Kami tidak mengenal seorang pun di kalangan salaf yang berpendapat disukainya menyapu kepala tiga kali kecuali Ibrahim At-Taimi." Namun apa yang dikatakan oleh beliau masih perlu disangsikan karena pendapat disukainya menyapu kepala tiga kali telah dinukil oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Mundzir dari Anas dan Atha' serta lainnya. Hadits Utsman telah diriwayatkan oleh Abu Dawud melalui dua jalur periwayatan yang mana salah satunya dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan lainnya, yang menyebutkan menyapu kepala tiga kali. Sementara tambahan keterangan yang dinukil oleh para perawi yang dapat dipercaya (tsiqah) dapat diterima (dijadikan hujjah).
(3)

i j—» ^—\ye>i j — * j (Sebagaimana

wudhuku ini) Imam An-Nawawi (Seperti

berkata, "Di sini beliau tidak mengatakan, U—a ^— \yj> j Ji?

Akan tetapi riwayat yang dimaksud oleh penulis (Ibnu Hajar) tergolong riwayat5)Wz, maksudnya ia merupakan riwayat orang-orang yang tsiqah (terpercaya) namun menyelisihi riwayat orang-orang yang lebih tsiqah daripada mereka. Riwayat yang syadz tidak dapat dijadikan hujjah, sebagaimana perkataan Abu Dawud yang telah disebutkan sebelumnya.

84

— FATHUL BAARI

wudhuku ini), karena hakikat persamaan yang sesungguhnya tidak dapat dilakukan oleh selainnya." Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Akan tetapi lafazh seperti itu telah disebutkan dalam riwayat yang dinukil oleh Imam Bukhari dalam pembahasan Ar-Riqaq (kelembutan hati) melalui riwayat Mu'adz bin Abdurrahman dari Humran dari Utsman. Adapun lafazhnya, j i ? &sj3 °J>
*^_je>jJi

\ jj> (Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhu ini), lalu pada bab

"puasa" beliau menyebutkan hadits Ma'mar dengan lafazh, J>,j~ej '&>y 'J UJ* (Barangsiapa berwudhu dengan wudhuku ini). Dalam riwayat Muslim melalui jalur periwayatan Zaid bin Aslam dari Humran dengan lafazh, f.°j—\j—a sesungguhnya O»}; (Berwudhu seperti wudhuku ini). Dengan demikian lafazh, t J—» ^-jjo^ (Sebagaimana wudhuku ini)

bersumber dari sebagian perawi, karena kata 'yu (sebagaimana) dipakai juga untuk mengungkapkan J*? (persamaan) meski hanya dalam bentuk majaz (kiasan). Kata Ji» (Seperti) sendiri menunjukkan persamaan secara lahiriah, namun dapat pula dipakai untuk mengungkap-kan persamaan secara global. Dengan demikian kedua versi riwayat itu dapat diarahkan pada satu titik temu, dan boleh meninggalkan salah satunya selama tidak mempengaruhi maksudnya.

j

j ^—Uc 'p—" (Lalu ia shalat dua rakaat). Hal ini menjelaskan

bahwa shalat dua rakaat setelah wudhu adalah disukai, dan hal ini akan disebutkan dalam pembahasan shalat tahiyatul masjid.
« i

-jjj U^J

<JJJJXJ

V (Tanpa menyibukkan

dirinya (dengan

perkara-

perkara

lain)) dalam melakukan dua rakaat tersebut), maksudnya adalah

perkara-perkara yang biasa mengganggu pikiran seseorang dan mungkin untuk menghilangkannya. Karena perkataannya olbW (menyibukkan diri) mengindikasikan bahwa hal itu adalah perbuatannya sendiri. Adapun gangguan berupa bisikan-bisikan hati dan rasa was-was yang tidak ada kemampun bagi seseorang untuk menghilangkannya, maka hal itu dimaafkan.

FATHUL BAARI —

85

Al Qadhi Iyadh menukil perkataan sebagian ulama, bahwa yang dimaksud dengan mereka yang tidak menyibukkan diri dengan perkara selain shalat adalah mereka yang tidak terbetik sedikit pun sesuatu dalam hati dan pikirannya. Pendapat ini didukung oleh riwayat yang dikutip oleh Ibnu Mubarak dalam kitab Zuhud dimana dikatakan, "Tidak terbetik sesuatu pada saat melakukan kedua rakaat tersebut." Namun pendapat ini dibantah oleh An-Nawawi dengan perkataannya, "Yang benar, sesungguhnya keutamaan seperti tersebut dalam hadits itu dapat dicapai oleh mereka yang shalat disertai bisikan-bisikan jiwa yang tidak membuatnya larut." Meskipun demikian, tetap diakui bahwa mereka yang shalat tanpa terbetik sedikit pun gangguan dalam hati dan pikiran memiliki derajat lebih utama. Kemudian di antara bisikan-bisikan itu ada yang berhubungan dengan perkara-perkara dunia, dan jika bisikan seperti ini yang timbul, maka harus ditolak. Telah disebutkan dalam riwayat Hakim dan Tirmidzi dalam hadits ini, Cih j * i^j. '**~J>J CJ'^U 'i (Tidak menyibukkan dirinya dengan perkara keduniaan). Hadits ini disebutkan pula oleh Ibnu Mubarak dalam kitab Zuhud dan Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab Al Mushannaf. Ada pula di antara bisikan tersebut yang berhubungan dengan perkara akhirat. Maka jika ia tidak ada hubungannya dengan shalat, kedudukannya sama dengan perkara keduniaan. Sedangkan jika berkaitan dengan shalat yang sedang dilakukan, maka tidaklah mengapa. Pembahasan lebih lanjut tentang hal ini akan dipaparkan pada pembahasan tentang shalat, insya Allah. j—j—» (dari dosa-dosanya). Secara lahiriah diampuni semua

dosanya, baik yang besar maupun yang kecil. Akan tetapi para ulama mengkhususkan maknanya dengan dosa-dosa kecil, sebab dalam riwayatriwayat lain disebutkan pengecualian. Hal itu bagi mereka yang mempunyai dosa besar dan kecil. Namun barangsiapa yang hanya memiliki dosa-dosa kecil, maka ia dapat diampuni. Sedangkan mereka yang hanya memiliki dosa besar, maka diringankan untuknya sebagaimana kadar dosa-dosa kecil yang diampuni. Adapun mereka yang tidak memiliki baik dosa besar maupun dosa kecil, maka ditambahkan kebaikannya sama dengan kadar dosa-dosa kecil yang diampuni. Hadits ini memberi pelajaran tentang perlunya mengajarkan sesuatu melalui praktek, sebab ia lebih mudah diresapi oleh orang yang

86

— FATHUL BAARI

sedang belajar. Di samping itu, terdapat pula keterangan membasuh anggota wudhu secara berurutan sebagaimana urutan yang disebutkan dalam hadits, karena setiap anggota wudhu tersebut dipisahkan dengan kata p yang berarti "kemudian" atau "setelah itu". Faidah lain dari hadits di atas adalah; anjuran berlaku ikhlas, ancaman bagi mereka yang shalat sambil memikirkan perkara keduniaan yaitu shalatnya tidak diterima, terlebih lagi jika yang dipikirkan itu adalah hal-hal yang bernilai maksiat. Sebab, terkadang seseorang memikirkan suatu persoalan dalam shalat lebih mendalam dibandingkan jika ia memikirkannya di luar shalat. Telah disebutkan oleh Imam Bukhari pada bagian Ar-Raqa'iq (kelembutan hati) suatu tambahan di akhir hadits ini dengan lafazh, V i j / — ~ (Dan janganlah kamu terpedaya). Yakni janganlah kamu banyak

melakukan amalan-amalan buruk karena beranggapan bahwa shalat dapat menghapuskannya, sebab shalat yang dapat menghapus dosa hanyalah shalat yang diterima oleh Allah SWT. Lalu bagaimana seseorang dapat mengetahui bahwa shalatnya diterima atau tidak?

UjJL^-

LisJ-b-1 ^1

J l i j U i P U=>y l i l i

jlJ+^-

°j£-

ejy

160. Urwah telah meriwayatkan dari Humran, 'Setelah Utsman menyelesaikan wudhunya, beliau berkata, 'Maukah kamu aku ceritakan suatu hadits yang andaikata bukan karena satu ayat, niscaya aku tidak akan menceritakannya?' Aku mendengar Rasulullah SA W bersabda, 'Tidaklah seseorang yang berwudhu

FATHUL BAARI —

87

dengan memperbaiki wudhunya lalu melakukan shalat melainkan akan diampuni dosa yang ada antara wudhu dengan shalat sampai ia melaksanakan shalat. "' Urwah berkata, "Ayat yang dimaksud adalah firman Allah SWT, 'Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yangjelas).'" (Qs. Al Baqarah (2): 159)

Keterangan Hadits:
3—JT

(Andaikata bukan karena satu ayat...) dalam riwayat Imam

Muslim terdapat tambahan, -iiii yjUf J> (Dalam kitab Allah). W—Uli ^
Ufljj

(Lalu melakukan shalat), maksudnya shalat wajib.
^-Ja^Ji

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, ia melakukan shalat lima waktu ini). W—««Jl

olji-oJl

SAA

J^OJJ

(Lalu

'j

(Antara wudhu dengan shalat) maksudnya shalat

yang berikutnya, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Muslim melalui riwayat Hisyam bin Urwah. \\ \V,fli J*- (Hingga ia melakukan shalat tersebut) artinya hingga ia mulai melakukan shalat yang kedua (yang berikutnya).
(OlO

J UI jJi U JyJ&i jiJJi jl)

ij'jf- J J (Urwah berkata, "Ayat

yang dimaksud adalah firman Allah SWT, 'Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan.'") yakni ayat yang terdapat dalam surah Al Baqarah sampai pada firman-Nya, Oj—'s-W (Orang-orang yang melaknat), seperti ditegaskan oleh Imam Muslim. Maksud Utsman, bahwa ayat ini menganjurkan bagi seseorang untuk menyampaikan (apa yang diketahui). Meskipun ayat itu turun berhubungan dengan Ahli Kitab, akan tetapi yang menjadi pedoman dalam menetapkan hukum adalah keumuman lafazh tersebut. Hal yang serupa dengan ini telah dibahas dari perkataan Abu Hurairah dalam bab ilmu. Hanya saja Utsman lebih memilih untuk tidak menyampaikan hadits tersebut -kalau bukan karena satu ayat dalam kitab Allah- sebab beliau khawatir orang-orang akan terpedaya karenanya, wallahu a 'lam.

88

— FATHUL BAARI

Hadits ini telah diriwayatkan pula oleh Imam Malik dalam kitab Al Muwaththa' dari Hisyam bin Urwah, namun tidak disebutkan ayat yang dimaksud. Lalu ia berkata atas dasar pandangannya sendiri, dan saya melihat bahwa yang dia maksud adalah firman Allah,
O U l l J l J - ? * ^ O l i - J J l j l JllJl 'j» LiJjj jUj3l j>'Je

"Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatanperbuatan yang buruk" (Qs. Huud (11): 114) Akan tetapi apa yang dikatakan dengan pasti (tanpa ragu-ragu) oleh Urwah dan ia adalah perawi hadits tersebut, lebih pantas untuk diterima, wallahu a 'lam.

WHGWMMiUt

FATHUL BAARI —

89

25. Memasukkan Air Ke dalam Hidung Saat Wudhu

Hal ini disebutkan oleh Utsman, Abdullah bin Zaid dan Ibnu Abbas radhiyallahu "anhum dari Nabi SAW.

1 6 1 . Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa yang berwudhu hendaklah ia memasukkan air ke hidung, dan barangsiapa yang menggunakan batu hendaklah ia mengganjilkannya."

Keterangan Hadits: "Memasukkan air ke hidung", maksudnya menghirup air ke hidung saat berwudhu, baik menggunakan tangan atau tidak. Namun telah dinukil dari Imam Malik mengenai keterangan tidak disukainya memasukkan air ke hidung tanpa menggunakan tangan, sebab hal itu menurut beliau menyerupai hewan. Akan tetapi pandangan yang masyhur dari beliau adalah, bahwa perbuatan itu bukan suatu hal yang tidak disukai. Apabila seseorang mengeluarkan air dari hidung dengan tangan, maka sangat disukai apabila menggunakan tangan kiri. Keterangan ini dijadikan judul tersendiri oleh Imam An-Nasa'i dengan menyebutkan hadits Ali RA. »j—fi (Hal ini disebutkan) maksudnya masalah memasukkan air ke

hidung dan mengeluarkannya telah diriwayatkan dalam hadits Utsman yang telah disebutkan - serta diriwayatkan pula dari Abdullah bin Zaid. Adapun perkataan beliau, "Dan Ibnu A b b a s . . . " haditsnya telah disebutkan pada bab "Membasuh muka dan tangan dari satu cidukan". Seakan-akan penulis (Imam Bukhari) mengisyaratkan dengan perkataannya ini akan hadits Ibnu Abbas yang dinukil oleh Imam Ahmad

90

— FATHUL BAARI

dan Abu Dawud serta Hakim dari Nabi SAW, iftU ji js=*i^' jlf^ ^jr*-»' (Masukkanlah air ke hidung hingga ke bagian dalamnya, dua atau tiga LJi>y lij kamu kali). Dalam riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi disebutkan,

l—J*AJ ji o — i i A J i J * ^ * j ^ ' j ^"-*^*' (7//:« sa/a/z seorang di antara

berwudhu lalu ia memasukkan air ke hidung serta mengeluarkannya, hendaklah ia melakukan dua atau tiga kali). Silsilah periwayatan hadits ini adalah hasan (baik). °j£—1~JJ (Hendaklah ia memasukkan air ke hidung) secara lahiriah

perintah ini adalah suatu kewajiban. Maka menjadi konsekuensi mereka yang berpandangan wajibnya mengeluarkan air dari hidung dengan sebab adanya perintah dalam hal itu (seperti Imam Ahmad, Ishaq, Abu Ubaid, Abu Tsaur dan Ibnu Mundzir) untuk mewajibkan pula memasukkan air ke dalam hidung, karena dalam hadits ini terdapat perintah untuk melakukannya. Di samping itu, disyariatkannya mengeluarkan air dari hidung (istinsyaa) tidak dapat terlaksana tanpa disyariatkannya memasukkan air ke dalam hidung (istintsar). Maka Ibnu Baththal menjelaskan, bahwa sebagian ulama menegaskan wajibnya memasukkan air ke dalam hidung. Ini merupakan tanggapan bagi mereka yang telah menukil adanya ijma' yang menyatakan bahwa memasukkan air ke dalam hidung tidak wajib. Adapun jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa indikasi perintah dalam ayat ini adalah sunah (bukan wajib) berdasarkan riwayat yang dinukil oleh Imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Hakim, yakni sabda beliau kepada seorang Arab badui, *»i £j>\ UT C?jJ (Berwudhulah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepadamu). Lalu beliau SAW mengalihkannya kepada ayat yang tidak menyebutkan istinsyaq. Akan tetapi alasan ini dapat dijawab dengan mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan perintah itu lebih umum daripada sekedar ayat wudhu, karena Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti NabiNya dimana beliau adalah pemberi penjelasan terhadap perintah-perintahNya. Tidak seorang pun di antara mereka yang meriwayatkan sifat wudhu beliau SAW secara rinci tanpa menyebutkan masalah istinsyaq atau berkumur-kumur, maka ini menjadi bantahan pula bagi mereka yang tidak mewajibkan berkumur-kumur saat wudhu. Padahal telah disebutkan juga perintah berkumur-kumur dalam satu hadits yang terdapat dalam

FATHUL BAARI —

91

Sunan Abu Dawud dengan silsilah periwayatan yang shahih. Lalu disebutkan oleh Ibnu Mundzir, bahwa Imam Syafi'i tidak mengeluarkan suatu hujjah (alasan) untuk mendukung pendapatnya yang tidak mewajibkan memasukkan air ke dalam hidung -meskipun perintah tentang itu sangat akurat- karena beliau tidak mendapati adanya perbedaan di antara ulama bahwa orang yang meninggalkannya tidak perlu mengulangi wudhu. Ini merupakan alasan yang sangat kuat, karena hal itu tidak dikenal dari kalangan sahabat maupun tabi'in kecuali Atha'. Namun telah terbukti bahwa Atha' telah meralat pendapat tentang wajibnya mengulang wudhu bagi yang tidak melakukan istinsyaq, sebagaimana disebutkan secara keseluruhan oleh Ibnu Mundzir. Dalam riwayat Imam Bukhari ini tidak disebutkan keterangan Penjelasan tentang itu disebutkan pada riwayat 'j—jj jils ia

tentang jumlahnya. seseorang

Sufyan dari Abu Zinad dengan lafazh, memasukkan

'—2\b'^L>\bi {Jika
mengganjilkannya). dan sumbernya

air ke hidung hendaklah

Riwayat ini dikutip oleh Al Humaidi dalam Musnad-nya,

terdapat dalam riwayat Imam Muslim. Lalu dalam riwayat yang dinukil dari Isa bin Thalhah dari Abu Hurairah seperti disebutkan oleh Imam Bukhari pada bagian permulaan penciptaan, dengan lafazh
4 ^ _ i ^ Js. c l i o l k i l i J\i ,l£>\) ^ L J l i 'Ce'yi
'JA

ha'" ..i lij salah

^'^A (Apabila

seorang di antara kamu bangun dari tidurnya lalu ia berwudhu maka hendaklah ia memasukkan air ke hidung sebanyak tiga kali, karena sesungguhnya syetan tidur dalam rongga hidungnya). Berdasarkan keterangan ini maka maksud memasukkan air ke dalam hidung adalah untuk kebersihan, karena yang demikian itu dapat membantu seseorang dalam membaca. Sebab dengan membersihkan hidung, menjadikan seseorang mampu untuk mengeluarkan huruf dengan tepat. Adapun maksud memasukkan air ke hidung bagi yang bangun tidur adalah untuk mengusir syetan. Pembahasan selanjutnya tentang hadits ini akan kami sebutkan, insya Allah. y&c. maksudnya L-i j beristinja' i j (Dan barangsiapa dengan yang menggunakan Ada batu),

menggunakan

batu.

pula yang

memahami hadits ini dengan membakar dan sebagainya, sebab dalam hadits

wewangian seperti kemenyan

itu disebutkan lafazh 'y#£~>\ yang

mengandung dua pengertian; menggunakan batu dan membakar wangian.

92

— FATHUL BAARI

Pengertian hadits dengan makna yang kedua ini diriwayatkan oleh Ibnu Habib dari Ibnu Umar namun penukilan dari beliau tidak akurat. Lalu keterangan yang sama dinukil pula oleh Ibnu Abdil Barr dari Malik, namun telah diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya keterangan yang menyalahi apa yang dinukil Ibnu Abdil Barr. Kemudian Abdurrazzaq menukil riwayat dari Ma'mar yang sesuai dengan pandangan jumhur (yakni memahami hadits tersebut dengan makna yang pertama). Adapun pembahasan tentang makna perkataan beliau, "Hendaklah ia menggantikannya" telah diterangkan dalam membahas hadits Ibnu Mas'ud. Sementara itu sebagian ulama berdalil dengan hadits ini untuk menunjukkan tidak wajibnya istinja", sebab perintah dalam hadits ini disebutkan dalam bentuk syarat, yakni bagi yang berkeinginan. Namun tidak ada indikasi hadits tersebut terhadap apa yang mereka katakan, sebab yang dapat dipahami dari hadits itu adalah pemberian pilihan bagi seseorang antara istinja" dengan menggunakan batu atau menggunakan air, wallahu a 'lam.

26. Bersuci dengan Batu dalam jumlah yang Ganjil

J

«JU
f
. -

L%y
s

bl
s s

:Jli

£ § | AUI J yy J j l
0 ' >

'oy°y*

^jl
,

'j*

f

t^y cy
s

r

5

^
s } s

bij
3*
s

yy^

3

y ^ /

1

csi
0 s

J^,
s s }

r' ^
9

^
O y

y

...

162. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SA W bersabda, 'Apabila salah seorang di antara kamu berwudhu, hendaklah ia memasukkan ke dalam hidungnya lalu hendaklah ia mengeluarkannya. Barangsiapa yang menggunakan batu,
(4>

Dalam dua naskah yang lain tertulis tambahan kata: Air.

FATHUL BAARI —

93

hendaklah ia mengganjilkannya. Apabila salah seorang di antara kamu bangun dari tidurnya hendaklah ia mencuci kedua tangannya terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke dalam tempat wudhu, karena sesungguhnya salah seorang di antara kamu tidak tahu dimana tangannya waktu dia tidur."

Keterangan Hadits: "Bersuci dengan batu dalam jumlah yang ganjil", maksud disebutkannya bab ini di sela-sela pembahasan wudhu merupakan perkara yang menjadi obyek pertanyaan. Adapun jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dikatakan bahwa bukan hanya bab ini saja yang perlu untuk dicermati, sebab bab-bab tentang membersihkan najis dalam kitab ini tidaklah dipisahkan dari bab-bab yang menjelaskan sifat wudhu, karena keduanya merupakan masalah yang memiliki keterkaitan. Ada pula kemungkinan pemuatan bab ini dilakukan oleh orang-orang yang menukil kitab ini setelah Imam Bukhari, sebagaimana yang telah kami isyaratkan pada mukaddimah kitab ini, wallahu a 'lam. Saya telah menjelaskan hal itu di bagian awal kitab "wudhu".
\

i>jJ

\}\ (Apabila

salah seorang

di antara

kamu

berwudhu)

maksudnya saat mulai melakukan wudhu. t.\—i A—oJl ^j) J — ( H e n d a k l a h
t

ia memasukkan

air ke dalam

hidungnya)

demikianlah yang tertulis dalam riwayat Abu Dzar, namun

lafazh frl—• (Air) tidak dimuat dalam riwayat selain beliau. Demikian pula para perawi dalam kitab Al Muwaththa' telah berbeda-beda, di antara mereka ada yang menyebutkan dan ada pula yang tidak menyebutkannya. Adapun dalam riwayat Muslim dari Sufyan dari Abu Zinad telah mencantumkan lafazh tersebut. Ja£s—LII lijj (Dan apabila salah seorang di antara kamu bangun),

demikian Imam Bukhari menyambung lafazh ini dengan yang sebelumnya, sehingga memberi kesan bahwa ini adalah satu hadits, akan tetapi kenyataannya tidak demikian seperti dalam kitab AlMuwaththa\ Telah diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Mustakhraj dari Al Muwaththa' Yahya bin Bukair melalui jalur periwayatan Abdullah bin Yusuf (guru Imam Bukhari) yang mana masing-masing disebutkan

94

— FATHUL BAARI

sebagai hadits tersendiri. Demikian pula yang terdapat dalam kitab Muwaththa' Yahya bin Bukair serta selain beliau, sebagaimana Al Isma'ili membedakan antara kedua hadits itu melalui riwayat Imam Malik. Sementara Imam Muslim meriwayatkan bagian pertama hadits ini melalui Ibnu Uyainah dari Abu Zinad, sedangkan bagian kedua beliau riwayatkan melalui Al Mughirah bin Abdurrahman dari Abu Zinad. Atas dasar ini maka seakan-akan Imam Bukhari berpandangan bolehnya mengumpulkan dua hadits yang memiliki satu silsilah periwayatan, sebagaimana beliau membolehkan untuk memisahkan satu hadits bila memuat dua hukum yang berbeda. j »y 'j » (Dari tidurnya) Imam Syafi'i dan jumhur ulama

berpedoman dengan keumuman lafazh ini, yakni disukainya perbuatan tersebut setiap kali seseorang bangun tidur. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat bahwa hal itu disukai bagi mereka yang bangun tidur malam saja berdasarkan sabda Nabi SAW di akhir hadits tersebut, yakni lafazh "Dimana tangannya waktu ia tidur malam". Sebab, lafazh seperti itu menunjukkan tidur malam saja. Dalam riwayat Abu Dawud yang mana silsilah periwayatannya disebutkan oleh Imam Muslim disebutkan, J—lAJi j ? malam). bj

(Apabila salah seorang di antara kamu bangun dari tidur Demikian pula yang diriwayatkan oleh Tirmidzi melalui silsilah

periwayatan yang lain dengan derajat shahih. Lalu dalam riwayat Abu Awanah yang jalur periwayatannya juga disebutkan oleh Imam Muslim disebutkan, j l f «. J\ f i» \i\ (Jika salah seorang di antara shubuh). kamu bangun untuk berwudhu di waktu

Akan tetapi alasan tersebut, mencakup pula tidur siang. Hanya saja, disebutkannya tidur malam di sini karena pada umumnya malam hari adalah waktu untuk tidur. Ar-Rafi'i berkata dalam Syarh Al Musnad, "Tidak tertutup kemungkinan untuk dikatakan bahwa memasukkan tangan ke dalam bejana yang berisi air bagi mereka yang bangun tidur malam jauh lebih dimakruhkan daripada mereka yang melakukan hal itu setelah bangun tidur siang. Sebab pada tidur malam kemungkinan melakukan perbuatan seperti disebutkan dalam hadits jauh lebih dekat (mungkin), karena umumnya tidur malam adalah lebih lama."

FATHUL BAARI —

95

Kemudian indikasi perintah ini menurut jumhur (mayoritas) ulama adalah sunah. Sementara Imam Ahmad memahami indikasi perintah tersebut sebagai suatu kewajiban bagi mereka yang bangun tidur malam tanpa ada sangkut pautnya dengan mereka yang bangun tidur siang. Namun dalam salah satu riwayat dari beliau menyatakan, bahwa perbuatan itu disukai pula bagi mereka yang bangun tidur siang. Selanjutnya ulama yang disebutkan terdahulu sepakat bahwa bila orang yang bangun tidur tersebut memasukkan tangannya ke dalam air tanpa mencucinya lebih dahulu, maka hal itu tidak mempengaruhi kesucian air. Diriwayatkan dari Ishaq, Dawud serta Thabari bahwa air tersebut berubah menjadi najis. Mereka melandasi pandangan ini dengan riwayat yang memerintahkan agar air tersebut ditumpahkan, akan tetapi hadits tersebut adalah hadits lemah yang diriwayatkan oleh Ibnu Addi. Adapun faktor yang telah mengalihkan perintah itu dari indikasi wajib kepada sunah adalah alasan yang disebutkan dalam hadits itu sendiri, yaitu adanya keraguan. Sementara keraguan dalam masalah ini tidak menunjukkan kewajiban, karena hukum asal tangan itu adalah suci. Lalu Abu Awanah beralasan tentang tidak wajibnya perbuatan itu dengan hadits yang menyatakan bahwa beliau SAW berwudhu dari bejana yang tergantung saat beliau bangun tidur tanpa mencuci tangan lebih dulu, sebagaimana akan disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas. Hanya saja alasan yang dikemukakan oleh Abu Awanah ini dapat dibantah dengan mengatakan bahwa sabda beliau yang berbunyi, (Salah seorang di

antara kamu) menunjukkan bahwa hukum ini hanya berlaku bagi selain beliau SAW. Tapi bantahan ini dapat dijawab dengan mengatakan, "Telah disebutkan dalam riwayat yang shahih bahwa Nabi telah mencuci kedua tangannya sebelum memasukkannya ke dalam bejana, dan hal itu beliau lakukan bukan setelah bangun tidur. Maka, jika hal itu dilakukan setelah bangun tidur tentu lebih disukai. Hanya saja beliau SAW sengaja tidak melakukan hal itu, untuk menjelaskan bahwa hukum meninggalkannya adalah boleh (jawaz)" Di samping itu telah disebutkan dalam hadits ini, pada riwayat Imam Muslim dan Abu Dawud serta selain keduanya dengan lafazh, l btf u $ J — ( H e n d a k l a h ia mencuci kedua tangannya tiga kali). Sedangkan telah diketahui bahwa pembatasan dengan jumlah tertentu

96

— FATHUL BAARI

selain najis yang nyata menunjukkan bahwa perbuatan itu adalah sesuatu yang disukai. Dalam riwayat Hammam dari Abu Hurairah seperti dikutip oleh Imam Ahmad disebutkan,
Uji—~«J

ije'^ J »x>_ '^OJ *>l3 (Janganlah

ia

memasukkan tangannya ke dalam tempat wudhu hingga ia mencucinya). Indikasi larangan dalam hadits ini bernilai tanzih (kebersihan) seperti telah kami sebutkan. Jika seseorang melakukannya maka hal itu disukai, dan bila tidak maka hukumnya menjadi makruh (tidak disukai). Imam Syafi'i mengatakan, bahwa makruhnya seseorang untuk memasukkan tangan ke dalam bejana saat bangun tidur tidaklah hilang hingga ia mencuci tangannya sebanyak tiga kali. Maksud "tangan" dalam hadits ini adalah telapak tangan secara khusus, menurut kesepakatan seluruh ulama. Semua pembahasan terdahulu berhubungan dengan mereka yang bangun tidur, sedangkan bagi mereka yang terjaga disukai juga melakukannya berdasar-kan hadits Utsman dan Abdullah bin Zaid. Namun tidak melakukannya (meninggalkan) tidak makruh hukumnya, karena tidak ada hadits yang melarang hal itu. Telah diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur dengan silsilah periwayatan yang shahih dari Abu Hurairah bahwasanya beliau melakukan hal itu dan berpendapat tidak apa-apa dalam meninggalkannya. Pada pembahasan selanjutnya akan disebutkan riwayat yang senada dengan itu dari Ibnu Umar dan Barra'.
U^—[?-JJ

oi J—'J (Sebelum

memasukkannya).

Dalam riwayat Imam

Muslim dan Ibnu Khuzaimah serta selain keduanya disebutkan,
Uji—~*J

J~**>.

^—*lJ)H hingga

J OJJ (Janganlah

ia mencelupkan

tangannya ke dalam

bejana kan

ia mencucinya).

Riwayat ini lebih jelas dalam menerang-

maksud riwayat dengan lafazh, ^—1> i» oi (memasukkan). Sebab

sekedar memasukkan tangan ke dalam bejana tidaklah berarti harus berakibat makruh, seperti seseorang yang memasukkan tangannya ke dalam bejana yang besar lalu ia mengambil air bejana itu dengan timba yang kecil, dan tangannya tidak menyentuh air.

4—\Je >i ^—i (Ke dalam tempat wudhu) maksudnya bejana yang
disiapkan sebagai tempat wudhu. Dalam riwayat Al Kasymihani

FATHUL BAARI —

97

disebutkan, «-t—'V 1/—?
1

(Ke dalam bejana), lafazh ini juga merupakan Bukhari. Sementara riwayat Ibnu Khuzaimah

riwayat Imam Muslim melalui jalur periwayatan selain yang tercantum pada riwayat Imam menyebutkan, /—\y^5 j ' *—^-J (Ke dalam bejananya atau tempat

wudhunya), yakni ada keraguan dalam menentukannya. Makna zhahir riwayat ini mengindikasikan bahwa yang demikian itu berlaku khusus bagi bejana tempat wudhu, namun diikutkan pula padanya hukum bejana tempat mandi, sebab bejana tempat mandi adalah bejana tempat wudhu juga selain juga digunakan untuk keperluan lainnya. Lalu dianalogikan pula dengannya bejana-bejana yang lainnya, akan tetapi untuk bejanabejana yang lain ini hukumnya hanya disukai bila dilakukan dan tidak makruh bila ditinggalkan, sebab tidak ada keterangan yang melarang untuk memasukkan tangan sebelum dicuci ke dalam bejana-bejana ini, wallahu a 'lam. Dengan disebutkannya kata, "bejana" pada hadits ini, maka tidak termasuk di dalamnya kolam maupun danau yang airnya tidak menjadi rusak (najis) apabila tangan yang belum dicuci dicelupkan ke dalamnya, meskipun kita anggap tangan itu najis. jt-T^i o\s (Karena sesungguhnya salah seorang di antara kamu) Al

Baidhawi berkata, "Di sini terdapat isyarat bahwa yang menyebabkan diperintahkannya hal itu adalah adanya kemungkinan bahwa tangan tersebut najis. Sebab syariat ini bila menyebutkan suatu hukum lalu mengiringinya dengan Ulat (penyebabnya), maka hal itu menunjukkan bahwa hukum ditetapkan berdasarkan sebab tersebut." Sama seperti ini sabda beliau SAW tentang seorang yang sedang ihram lalu terjatuh kemudian mati, dimana beliau SAW mengatakan sesungguhnya orang itu akan dibangkitkan sambil mengucapkan talbiyah (yakni Labbaik Allahumma Labbaik). Ini disebutkan setelah beliau melarang para sahabat untuk memandikan orang yang mati tersebut. Di sini beliau mengisyaratkan bahwa Ulat (sebab) larangan adalah karena orang itu sedang ihram. ijj'-i—; *i (Tidak tahu) Di sini terdapat keterangan bahwa sebab larangan itu adalah karena adanya kemungkinan apakah tangannya bersentuhan dengan sesuatu yang dapat merusak kesucian air atau tidak. Kemudian dimasukkan pula dalam hukum tersebut, orang yang ragu akan

98

— FATHUL BAARI

kesucian tangannya meskipun dalam keadaan terjaga (tidak bangun tidur). Makna implisit lafazh ini menyatakan bahwa orang yang mengetahui dimana tangannya berada pada waktu ia tidur malam, seperti orang yang menggulung tangannya dengan kain lalu bangun sementara tangannya masih tetap terbungkus, maka tidak makruh baginya memasukkan tangan ke dalam air tanpa mencuci terlebih dahulu. Hanya saja tetap disukai baginya untuk mencucinya sebelum dimasukkan ke dalam bejana menurut pendapat yang lebih utama, sebagaimana halnya orang yang dalam kondisi terjaga. Bagi mereka yang mengatakan bahwa Ulat (sebab) larangan dalam hadits ini adalah untuk tujuan ibadah -seperti Imam Malik- maka ia tidak membedakan antara orang yang ragu akan kesucian tangannya dengan orang yang yakin. Hadits ini dijadikan pula sebagai dalil untuk membedakan antara air yang kemasukan najis dan najis yang masuk ke dalam air, dimana masalah ini cukup jelas dalam hadits. Di samping itu ia menjadi dalil bahwa najis sangat mempengaruhi (kesucian) air, dan ini merupakan pendapat yang benar. Akan tetapi keberadaan najis dapat merubah status air menjadi najis meski tidak berubah salah satu sifatnya adalah pendapat yang masih perlu ditinjau kembali. Sebab, pengaruh tersebut masih bersifat umum tidak khusus karena najis. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa hukum makruh dengan sesuatu yang diyakini lebih keras daripada sesuatu yang masih dalam dugaan, demikian yang dikatakan oleh Ibnu Daqiq Al Id. Adapun maksud beliau adalah, tidak ada dalil qath 'l (pasti) yang mendukung pendapat mereka bahwa air tidak berubah menjadi najis kecuali salah satu sifatnya berubah.
aJ__i c i l i 'J) (Dimana tangannya

berada pada waktu tidur

malam),

yakni di bagian badan yang mana. Imam Syafi'i berkata, "Kebiasaan mereka adalah beristinja' dengan menggunakan batu, sementara daerah mereka beriklim panas. Sehingga bila mereka tidur terkadang berkeringat, maka ada kemungkinan tangannya memegang tempat keluarnya najis, memegang bisul atau darah hewan maupun kotoran lainnya". Kemudian pendapat ini dikomentari oleh Abu Al Walid Al Baji, bahwa pandangan seperti itu berkonsekuensi perintah untuk mencuci pakaian orang yang bangun tidur, sebab hal-hal yang terkena tangan dapat pula terkena pakaian. Namun komentar ini dijawab dengan mengatakan, "Pandangan Imam Syafi'i tersebut dipahami apabila

FATHUL BAARI —

99

keringat tersebut pada tangan dan bukan pada tempat yang dipegang" atau dikatakan, "Orang yang bangun tidur tidak menghendaki mencelupkan tangannya ke dalam air kecuali jika diperintahkan untuk melakukannya, berbeda dengan tangan dimana seseorang sangat butuh untuk mencelupkannya ke dalam air." Jawaban kedua adalah yang terkuat di antara dua jawaban yang ada. Adapun dalil bahwa hal itu tidak khusus bagi tempat keluarnya najis adalah riwayat yang dinukil oleh Ibnu Khuzaimah serta selain beliau melalui jalur periwayatan Muhammad bin Al Walid dari Muhammad bin Ja'far dari Syu'bah dari Khalid Al Hadza dari Abdullah bin Syaqiq dari Abu Hurairah, yang mana disebutkan pada bagian akhirnya, "dimana tangannya bermalam di bagian badannya". Sumber riwayat ini sendiri terdapat dalam Shahih Muslim, tanpa lafazh "pada badannya". Ad-Daruquthni berkata, "Yang meriwayatkan lafazh seperti itu hanya Syu'bah." Adapun Al Baihaqi berkata, "Bahkan yang meriwayatkannya hanyalah Muhammad bin Al Walid." Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Jika yang dimaksud oleh Al Baihaqi bahwa yang meriwayatkan lafazh tersebut dari Muhammad bin Ja'far hanyalah Muhammad bin Al Walid, maka perkataannya dapat diterima. Namun jika yang beliau maksudkan bahwa tak ada yang meriwayatkan lafazh "Pada badannya" selain Muhammad bin Al Walid saja, maka perlu dipertanyakan. Karena AdDaruquthni mengatakan, 'Lafazh "Pada badannya" selain diriwayatkan oleh Muhammad bin Al Walid, juga telah diriwayatkan oleh Abd. Shamad dari Syu'bah. Riwayat ini telah dinukil pula oleh Ibnu Mandah dari jalur Abd. Shamad.'" Pada hadits yang disebutkan dalam bab ini terdapat keterangan untuk mengamalkan yang lebih meyakinkan serta berhati-hati dalam beribadah. Juga kebolehan untuk memakai kata kiasan pada hal-hal yang kurang pantas diucapkan secara terus terang, asalkan maksud dari pembicaraan dapat dipahami. Di samping itu, pada hadits terdapat keterangan disukainya mencuci najis sebanyak tiga kali. Sebab ketika kita diperintah untuk mencucinya sebanyak jumlah tersebut sementara najisnya belum pasti ada, maka setelah najis itu diyakini keberadaannya tentu lebih baik lagi untuk dicuci sebanyak tiga kali.

1 0 0 — FATHUL BAARI

Sebagian ulama telah menyimpulkan beberapa faidah lain dari hadits tersebut, di antaranya: Pertama, tempat keluarnya najis mendapatkan keringanan dalam kebolehan melakukan shalat meski bekas najis di tempat keluarnya masih ada, ini dikatakan oleh Al Khaththabi. Kedua, kewajiban berwudhu ketika bangun tidur, ini dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr. Ketiga, sebagai dalil yang menguatkan pandangan mereka yang mewajibkan wudhu karena menyentuh kemaluan, ini dinukil oleh Abu Awanah dalam Shahih-nya. dari Ibnu Uyainah. Keempat, air yang sedikit tidak berubah menjadi air musta 'mal (bekas dipakai) apabila seorang yang berwudhu memasukkan tangan ke dalamnya, demikian dikatakan oleh Al Khaththabi sebagai salah seorang pemuka ulama Syafi'iyah.

27. Mencuci Kedua Kaki dan Tidak Menyapunya
i. V'

l

Z

,

*s

,

'

'

0

^

0

*

0 '

O

'

o jl
S -"
5

y ^
s
Q

j l
s
y

'syj
^

^ l ! l j d s J : J l i J J I P J>\ AUI J I P J P
(w

Ld*ati
s

l l i i j l J i j llS'j^li L&liyll*
y^
y

y

y

y

y

}

^

£

.C*>IJ

jl ^ y

jllJl

I_JL5P!>U J J J

4jj^9 ^ ^ I J

ti^ll»

^r^J

163. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, ia berkata, "Nabi SAW sengaja tertinggal di belakang kami dalam suatu perjalanan yang pernah kami lakukan. Lalu beliau pun menyusul kami sementara waktu ashar mendapati kami (telah tiba). Saat itu kami berwudhu seraya menyapu kaki-kaki kami. Maka beliau berseru dengan suara keras, 'Wail bagi tumit-tumit dari api neraka. ' la mengatakannya dua atau tiga kali. "

Keterangan hadits: iji—-> ^ — » ( D a l a m suatu perjalanan). tambahan kalimat
LaUyL—i.

Dalam riwayat Karimah ada

Lafazh ini seakan memberi pengertian bahwa

Abdullah bin Amru turut pula dalam perjalanan tersebut. Lalu disebutkan

FATHUL BAARI —

101

dalam riwayat Imam Muslim bahwa perjalanan yang dimaksud berlangsung dari Makkah ke Madinah, sementara Abdullah bin Amru tidak pernah menyertai Nabi SAW dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah kecuali pada saat haji Wada'. Adapun pada saat penaklukan kota Makkah, Abdullah bin Amru turut pula bersama Nabi SAW. Namun beliau tidak berangkat dari Makkah ke Madinah, melainkan dari Ji'ranah. Ada kemungkinan perjalanan yang dimaksud adalah saat umrah qadha' (umrah pengganti), sebab hijrahnya Abdullah bin Amru ke Madinah pada masa-masa tersebut. a i » j i (Telah mendapati kami). Ibnu Baththal berkata, "Para sahabat

saat itu sengaja mengakhirkan shalat, karena berharap Nabi SAW akan dapat menyusul agar mereka dapat shalat bersamanya. Ketika waktu shalat hampir masuk mereka segera wudhu; dan karena terburu-buru, maka mereka tidak sempat menyempurnakan wudhu. Lalu Nabi SAW mendapati mereka dalam kondisi demikian, maka beliau mengingkarinya. Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Apa yang beliau katakan bahwa para sahabat sengaja mengakhirkan shalat dapat diterima sebagai satu kemungkinan. Kemungkinan lainnya, mereka mengakhirkannya karena tidak dalam keadaan bersuci atau karena mereka berharap sampai ke tempat air. Kemungkinan ini diindikasikan oleh riwayat yang dinukil oleh Imam Muslim, J~e*b\ fji J.j^V uT lij Js- (Hingga tibatiba kami mendapatkan buru pada saat ashar). air di samping jalan, maka kami pun terburu-

Yakni hampir masuk waktu ashar, lalu mereka

berwudhu dengan terburu-buru." \—DJrji Js£~LVJ

(Seraya menyapu kaki-kaki kami). Dari lafazh ini

Imam Bukhari berkesimpulan bahwa yang mendorong Nabi SAW mengingkari para sahabat adalah karena perbuatan mereka yang mengusap kaki, dan bukan karena mereka hanya membasuh sebagian kaki saja. Oleh sebab itu beliau memberi judul bab ini, "Dan tidak mengusap keduanya". Kesimpulan beliau ini merupakan makna zhahir dari riwayat yang dinukil oleh beliau dan Imam Muslim. Sementara dalam riwayat yang hanya dinukil oleh Imam Muslim disebutkan, "Maka kami menyusul mereka sementara mata kaki mereka nampak kering belum tersentuh air". Lafazh ini dijadikan landasan oleh mereka yang membolehkan mengusap kaki tanpa dibasuh. Adapun adanya pengingkaran disebabkan mereka tidak mengusapnya secara merata. Akan tetapi

1 0 2 — FATHUL BAARI

riwayat Imam Bukhari dan Muslim lebih kuat, sehingga hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim maknanya perlu disesuaikan dengan riwayat di atas. Sehingga kemungkinan yang dimaksud dengan perkataannya, "Belum disentuh air" artinya tidak meratakan air saat membasuh kaki. Pengertian ini ditempuh untuk menyatukan antara dua riwayat yang ada. Keterangan yang lebih tegas dari apa yang kami katakan, adalah riwayat yang juga dinukil oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW melihat seorang laki-laki yang belum membasahi mata kakinya, maka beliau mengatakan seperti sabda di atas. Di samping itu, mereka yang mengatakan bahwa kaki cukup hanya diusap, tidak memasukkan mata kaki sebagai bagian yang wajib untuk diusap. Sementara hadits ini merupakan bantahan terhadap mereka. Ath-Thahawi berkata, "Oleh karena beliau memerintahkan para sahabatnya untuk meratakan air saat membasuh kaki hingga tidak tersisa sedikitpun yang belum tersentuh air, maka hal itu menunjukkan wajibnya membasuh kaki saat wudhu." Namun pandangan ini dikomentari oleh Ibnu Munir dengan perkataannya, "Sesungguhnya perintah untuk meratakan air tidaklah berarti harus dibasuh. Sebab kepala juga diusap secara merata, padahal ia tidak wajib dibasuh." Para ulama berbeda pendapat dalam memahami makna kata J J J . Yang paling menonjol di antaranya adalah pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dari hadits Abu Sa'id, dari Nabi SAW, "Wail adalah sebuah lembah di neraka jahanam." Ibnu Khuzaimah berkata, "Andaikata orang yang hanya menyapu kaki dianggap telah menunaikan kewajiban, tentu ia tidak akan diancam dengan neraka." Beliau mengisyaratkan dengan perkataannya ini akan pendapat yang terdapat dalam kitab Perbedaan tentang Kaum Syi 'ah, yang disebutkan bahwa yang wajib adalah mengusap kaki (bukan membasuh). Pendapat ini berdasarkan makna firman Allah dalam surah Al Maa'idah ayat 6, yakni apabila lafazh j*&*-j' dibaca j t ^ r j ' . Sementara berita-berita tentang sifat dan praktek wudhu Nabi telah dinukil secara mutawatir (dalam jumlah banyak dan tidak dibantah kebenarannya), yang mana semuanya menyatakan bahwa beliau membasuh kedua kakinya, dan ini merupakan penjelasan terhadap

FATHUL BAARI —

103

perintah

Allah.

Telah

disebutkan bin

dalam

hadits

yang

panjang, oleh Ibnu

diriwayatkan

oleh Amru

Anbasah

seperti

dikutip

Khuzaimah dan lainnya tentang keutamaan wudhu dimana dikatakan, j»i
«j—»1 \—<£ i—~»Ai J
*j

(Kemudian beliau membasuh kedua oleh Allah).

kakinya

sebagaimana

yang diperintahkan

Tidak dinukil dari para sahabat keterangan yang menyelisihi pendapat tersebut kecuali dari Ali, Ibnu Abbas dan Anas, sementara telah dinukil melalui riwayat yang dapat dibuktikan kebenarannya bahwa mereka bertiga telah meralat pendapat yang hanya mewajibkan mengusap kaki saat wudhu. Abdurrahman bin Abu Laila berkata, "Para sahabat Nabi telah sepakat untuk membasuh kedua kaki." Perkataan ini diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur. Lalu Ath-Thahawi dan Ibnu Hazm mengklaim bahwa kebolehan untuk mengusap kaki hukumnya telah dihapus (mansukh). 5PSU (Bagi tumit-tumit). Yakni tumit yang Nabi lihat pada saat

itu, lalu disamakan pula hukumnya bagi tumit yang keadaannya seperti itu. Al Baghawi berkata, "Wail bagi para pemilik tumit yang tidak membasuhnya dengan sempurna." Ada pula yang mengatakan bahwa siksaan itu hanya khusus pada tumit yang tidak dibasuh dengan sempurna.

Pelajaran yang dapat diambil 1. 2. 3. Mengajari orang yang bodoh atau tidak tahu. Mengeraskan suara untuk mengingkari suatu kemungkaran. Mengulang-ulang suatu persoalan agar dapat dipahami. Masalah ini telah dibahas pada bab ilmu.

28. Berkumur-Kumur Saat Berwudhu
I,
" y y
y * Oy \ y '

a

>

^
y

A

Oy

.Zs
?

*

. -'t,-

-

1 0 4 — FATHUL BAARI

Masalah ini telah dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhum dari Nabi SAW.

jLaP ^ 1 J
.
^

jCkiP
^ y

AJ\ j U p jjj
I ^

j C j i P Jy>
y
0-'--

jlj^>- JJ^
.

0 / f

, \ "* *

I

'

y y ». I -

y l '

y
' '

1
y

''t

°

y I ^

Osy ^ . f .

-*

SOI
y y y

^
^ ^

OjAj
y y

1 -o fll .,.««3 4 J U | ^JA

AJJJ ^ i p
, J

C * £ j ^ P
0

ji

J
#


y

& f

y

P
1

y

/ S

g

P ^ cjX^
L
y y

&y

y

y y

0

!

Jl
y

y

y

b

^
fiy

y

°

' ^ \ \- \ ' '
J =

>* y $ s
' ' v r °"

y yy "J^) ^ ^11 " ° f *
t
l ' " " - l ' '

^ 1 l * ^ i itltt *
I J*-* (*-> l" ^
, J

J

* J l i j I- -* i 5 'j-^'J
' • ' i ' ' • •

U ^ j v i 2 © ? ^^jH' O J ' J

' " ' f * " . ' -

o'

o

'

S'^ ,

f', f*.

s'

'.

164. Telah diriwayatkan dari Humran (mantan budak Utsman), bahwasanya ia melihat Utsman bin Affan minta dibawakan sebuah bejana, lalu ia menuangkan air dari bejananya itu ke telapak tangannya dan mencuci keduanya tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam tempat wudhu itu lalu berkumur-kumur seraya memasukkan air ke hidung serta mengeluarkannya. Setelah itu ia membasuh mukanya tiga kali dan kedua tangannya hingga siku tiga kali. Selanjutnya ia mengusap kepalanya lalu membasuh setiap salah satu dari kedua kakinya tiga kali. Kemudian ia berkata, "Aku melihat Rasulullah berwudhu sebagaimana wudhuku ini, lalu beliau bersabda, 'Barangsiapa yang berwudhu sebagaimana wudhuku ini lalu ia shalat dua rakaat tanpa menyibukkan dirinya (dengan perkara-perkara lain) dalam melakukan dua rakaat tersebut, maka Allah akan mengampuni baginya dosa-dosanya yang telah terdahulu"

FATHUL BAARI —

105

Keterangan Hadits: "Berkumur-kumur saat berwudhu". Asal kata berkumur-kumur 'ja '*^a* yang artinya secara bahasa adalah f-L*
J>

dalam bahasa Arab adalah

menggerak-gerakkan. Misalnya dikatakan,

yliJi

'ja^a*

artinya

kedua matanya bergerak karena rasa kantuk. Kemudian kata tersebut menjadi masyhur dipakai untuk menamakan perbuatan seseorang yang memasukkan air ke dalam mulutnya lalu menggerak-gerakkannya. Adapun makna berkumur itu dalam pengertian syariat adalah, seseorang memasukkan air ke dalam mulutnya kemudian memutar-mutarnya dalam mulut lalu menyemprotkannya keluar. Namun pendapat yang masyhur dari golongan Syafi'i tidak mensyaratkannya untuk menggerak-gerakkan air dan tidak pula menyemprotkannya, akan tetapi ini adalah pandangan yang cukup aneh. Barangkali yang mereka maksudkan bahwa air yang ada dalam mulut itu tidak harus disemprotkan. Bahkan andaikata seseorang menelan air tersebut atau membiarkannya hingga mengalir keluar dengan sendirinya, maka hal itu telah mencukupi baginya. y — ^ j—>}'i—lii (Masalah ini telah dikatakan oleh Ibnu Abbas),

haditsnya telah disebutkan pada permulaan bab wudhu. oJj 'j» < l J I P J (dan Abdullah bin Zaid) Haditnya akan disebutkan. &
J—J—S' J

(Lalu membasuh setiap salah satu dari kedua riwayat yang dinukil oleh Al Ashili dan Al

kakinya)

demikian

Kasymihani. Adapun riwayat yang dinukil oleh Ibnu Asakir disebutkan, jl&rj lilf J~~P ~p> (Lalu membasuh kedua kakinya), dan lafazh inilah yang dijadikan riwayat kakinya), pedoman oleh penulis kitab Al Umdah. Sementara dalam

Al Mustamli dan Al Hamawi disebutkan, *—i/rj J—S' (setiap dan ini memberi makna meratakan air kepada kedua kaki

dengan cara membasuhnya. Dalam salah satu naskah disebutkan, &*rj (kedua kakinya), hal ini sama seperti pengertian hadits di atas. OJ PXJ V (Tanpa menyibukkan dirinya), hal ini telah dibahas

sebelumnya. Sebagian ulama mengatakan, "Ada kemungkinan yang dimaksud adalah keikhlasan atau meninggalkan rasa takjub terhadap diri

1 0 6 — FATHUL BAARI

sendiri, karena dikhawatirkan karenanya." i—! 'i—131 j
«p

akan berubah menjadi angkuh dan binasa baginya), demikian

(Maka Allah akan mengampuni

riwayat yang dinukil oleh Al Mustamli. Sedangkan pada riwayat yang disebutkan oleh selain beliau disebutkan, *—1'YIE-(Diampuni baginya). Pembahasan mengenai hal ini juga telah dibahas, hanya saja di sini terdapat tambahan yakni penyandaran sifat wudhu yang beliau lakukan kepada Nabi SAW. Lalu Imam Muslim memberi tambahan, "Zuhri berkata, 'Para ulama mengatakan, ini adalah sifat wudhu yang paling sempurna dilakukan oleh seseorang untuk shalat.'" Hadits ini telah dijadikan dalil oleh mereka yang berpendapat bahwa mengusap kepala hanya dilakukan sekali saja, sebagaimana akan dijelaskan pada bab mengusap kepala satu kali, insya Allah.

29. Membasuh Mata Kaki W j»_il?xJl
Cf^ '-jlS'j

U<3Y

£-v2Y* J""°M 0-^ "
R

W

*'

Ibnu Sirin biasa membasuh tempat cincin saat wudhu.

%

^

y

a

s

s

s

s
0

y

y y
3

,

y y, * + ' * . y^ y

.•"t,
y y

1'
'

* ^ • 1 f" *
y 3 y

' - . 'f * *
O

'
y y

tI1

•'
9 0

*

O

yy

y

y

}y

; Jli

S

^Uil

Ll Oli

TY^'Y\\

\Y\S\

IJ l i
0

0

Y>

JY^PYJ

iiii

-j,

$;

3

165. Diriwayatkan dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata, 'Aku mendengar Abu Hurairah -yang pada saat itu bersama kami melewati orang-orang yang sedang berwudhu dari satu bejana-

FATHUL BAARI —

107

mengatakan, 'sempurnakanlah wudhu, karena sesungguh-nya Qasim (Rasulullah) bersabda, 'Wail bagi tumit-tumit neraka."'

Abu dari

Keterangan Hadits: Nukilan dari Ibnu Sirin ini disebutkan beserta silsilah periwayatannya oleh Imam Bukhari dalam kitabnya At-Tarikh, melalui riwayat Musa bin Isma'il dari Mahdi bin Maimun dari Ibnu Sirin. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dari Husyaim dari Khalid dari Ibnu Sirin bahwa Nabi ketika berwudhu, beliau menggerakkan cincinnya. Kedua silsilah periwayatan ini adalah shahih. Ada kemungkinan cincin beliau cukup longgar sehingga air sampai ke kulit bagian bawahnya hanya dengan menggesernya. Kemudian dalam riwayat Ibnu Majah dari riwayat Rafi' dari Nabi SAW disebutkan bahwa beliau melakukan perbuatan seperti itu, namun silsilah periwayatannya lemah. t.^jfi'^S \ jLL>'\ (Sempurnakanlah wudhu), seakan-akan beliau melihat

mereka tidak sempurna dalam berwudhu sehingga beliau mengkhawatirkannya. ^—~>j i—11P
AJJI

Ui uu (Karena sesungguhnya Abu Qasim

SAW). Di sini Rasulullah disebut dengan gelarnya, dan itu adalah suatu hal yang baik. Namun menyifati beliau sebagai Rasul adalah lebih baik. Dalam hadits ini terdapat pula keterangan agar seorang yang berilmu hendaknya mengemukakan dalil atas fatwa yang disampaikannya, agar dapat meresap di hati orang yang mendengarnya. Disebutkannya "mata kaki" secara khusus karena ia merupakan penyebab ditetapkannya hukum seperti itu, sebagaimana penjelasan pada hadits Abdullah bin Amru yang terdahulu. Maka, diikutkan dalam hukum segala yang semakna dengannya di antara seluruh anggota wudhu yang kadang diremehkan untuk dibasuh secara sempurna. Dalam riwayat Hakim dan selain beliau dari hadits Abdullah bin Al Harits d i s e b u t k a n j j j
j>

l_3i

J

j-JiS ' O'J^.J
1

^liiS'J

"Wail bagi tumit-tumit dan telapak

kaki-telapak

kaki dari neraka". Atas dasar inilah sehingga dalam judul bab ini disebutkan perbuatan Ibnu Sirin yang membasuh kulit di bawah cincin,

1 0 8 — FATHUL BAARI

sebab terkadang tempat tersebut tidak cincinnya agak sempit. Wallahu a 'lam.

tersentuh oleh air apabila

30. Membasuh Kedua Kaki Sambil Memakai Sandal dan Tidak Mengusap Bagian atas Sandal
' O

i ,

O'

A

,

, , >•

o

.,

t, . ' . ' >$i

o, t

o

O'/

O '

J
' '

- ^~ J\
'

J - P bl b y>S- jj
11 - 1 ' '° ' ' l i '
0

4l)l JLJO J l i
f
a

4JI £ C J y 0

J l ^ P j^P
0

t

#

' f ^ f

f i

#

' ° f ' ' '

''l'

1

0

f'

b ^yi» L»j JL» 1 g»:•/? j viX;b>t^'l y

lJb>-l j l

L*jjl

*j<JJSJ\j

JLJ ^
0

1 vi
* "

^

JlfT S

oJ( Jji j
& s

^

J*«Jl l ^

'M ^

> '

Si
(

^ ^1 | J J i i o i r ^ i £f :AJJi
y

y

0

yy

^

y

J

^

J

^

yy

_ 3
r

Jllil

AJJI 1} y y j O-jfj ^Jl* A ^ l J l J l i l i l
O

yy

*' f

f

y sy

Oy

o

y

t

J

yy

> ,

y

c u j I J ^ j l i o^fl./?)l L»lj l-^-w^JI j l 1 p~\ Lili L ^ J U i j y j j

L^i

u y y - yy y b t yy J & y y 166. f7e/aA Odiriwayatkany dari s UbaidJ bin Juraij, bahwasanya ia ^ L s J*x** I L» IAbdullah bin l Umar, Uli Lgj £-~^2j Abdurrahman, j k_^-l "Wahai Abu AJJI J berkata kepada J Lgj aku melihat engkau- u i ^ l j 4j o ^ j empat perkara dimana ^aku j llihat . melakukan " j& '0> AJJi J _ , j p tidak seorang pun di antara sahabatmu yang melakukannya. "Ibnu Umar berkata, "Apakah itu wahai Ibnu Juraij? " Ibnu Juraij berkata, "Aku lihat engkau tidak menyentuh semua sudut Ka 'bah kecuali dua sudut yang menghadap ke Yaman, aku lihat engkau memakai sandal sibtiyah (sandal kulit yang tidak berbulu), aku

FATHUL BAARI —

109

melihat engkau mencelup pakaian dengan warna kuning dan aku lihat jika engkau di Makkah, orang-orang telah berihram sejak melihat hilal sedangkan engkau tidak berihram hingga hari tarwiyah (8 Dzulhijjah). " Abdullah berkata, "Adapun mengenai sisi-sisi Ka 'bah itu, sesungguhnya aku tidak pernah melihat Rasulullah menyentuh kecuali dua sudut yang menghadap ke Yaman. Adapun sandal sibtiyah, karena sesungguhnya aku melihat Rasulullah memakai sandal yang tidak berbulu lalu berwudhu dengan memakai sandal itu, maka aku suka memakainya. Mengenai mencelup pakaian dengan warna kuning, karena aku melihat Rasulullah mencelup dengan warna tersebut, maka aku suka untuk mencelup dengan warna itu. Sedangkan mengenai ihram, karena sesungguhnya aku tidak pernah melihat Rasulullah berihram hingga kendaraannya siap berangkat."

Keterangan Hadits: "Membasuh kedua kaki sambil memakai sandal". Tidak ada dalam hadits keterangan tegas mengenai hal ini, akan tetapi keterangan seperti itu hanya diambil dari kalimat 1$—J (Berwudhu dengan memakai

sandal itu) sebab hadits tersebut memakai kata l$J. Jika yang dimaksud adalah mengusap, niscaya akan dikatakan Ujll* (atasnya). (Dan tidak mengusap bagian atas sandal), yakni tidak cukup hanya dengan mengusap keduanya sebagaimana khuf (sepatu). Imam Bukhari mengisyaratkan dengan perkataannya ini akan apa yang diriwayatkan dari Ali serta selain beliau di antara sahabat, bahwa mereka mengusap sandal saat berwudhu lalu melaksanakan shalat. Diri .vayatkan pula sehubungan dengan itu sebuah hadits yang langsung disandarkan kepada Nabi SAW, sebagaimana dikutip oleh Abu Dawud dan lainnya dari hadits Al Mughirah bin Syu'bah, akan tetapi hadits ini digolongkan sebagai hadits lemah oleh Abdurrahman bin Mahdi serta para imam yang lain. Imam Ath-Thahawi mendasari argumentasi yang menyatakan bahwa tidak cukup bagi seseorang sekedar mengusap kedua sandal dengan adanya ijma" (kesepakatan) jika sepatu itu sobek dan kedua kaki menjadi kelihatan, maka saat itu membasuh kaki tidak dianggap cukup bila hanya diusap atasnya saja. Beliau mengatakan, "Demikian pula

1 1 0 — FATHUL BAARI

halnya dengan kedua sandal, karena keduanya tidak dapat menggantikan kedudukan kedua kaki." Demikian nukilan dari Imam Ath-Thahawi. Ini adalah cara penetapan dalil yang benar, hanya saja pernyataan beliau mengenai adanya ijma dalam persoalan itu perlu dibahas lebih jauh. Selanjutnya, di sini bukanlah secara tempat untuk membahas masalah membasuh kaki atau mengusapnya, namun kami akan menyebutkannya singkat. Mereka yang berpendapat bahwa kaki cukup diusap, adalah berdasarkan firman Allah, ^SJJrj'j (dan kaki kamu sekalian) yang menurut mereka kalimat ini diathafkan (dianeksasikan) dengan kalimat sebelumnya, yakni firman-Nya, kepala kamu). sebelumnya, '^-r'jjy. ij*—J>lj (Dan usaplah kepalaSementara satu kata yang digandengkan dengan kata maka hukum keduanya adalah sama. Maka jika kepala

diusap, kaki pun harus diusap. Makna seperti ini telah dipegang oleh sejumlah sahabat dan tabi'in. Pendapat yang menganggap mengusap kaki telah mencukupi dinukil dari Ibnu Abbas, namun riwayatnya lemah. Sementara riwayat yang akurat berasal dari beliau justeru sebaliknya. Pendapat ini diriwayatkan pula dari Ikrimah, Sya'bi serta Qatadah yang merupakan pandangan madzhab Syi'ah. Sementara Hasan Al Bashri berkata, "Wajib bagi kaki untuk dibasuh atau diusap." Sementara golongan ahli zhahir mengatakan wajib untuk menyatukan antara keduanya (membasuh dan mengusap). Adapun hujjah (landasan argumentasi) jumhur ulama adalah hadits-hadits shahih yang diriwayatkan tentang sifat wudhu Nabi SAW, karena sesungguhnya hal itu merupakan penjelasan maksud ayat. Lalu mereka menjawab argumentasi lawan (orang yang mengatakan wajibnya mengusap) sehubungan dengan ayat di atas dengan berbagai jawaban, di antaranya bahwa kata tersebut tidak dibaca, J » ^ r j 5 akan tetapi ia dibaca jt—S^jJrjl yakni dengan fathah. dengan kata yakni Dengan demikian ia tidak dianeksasikan

j*£—^jj^f namun dianeksasikan dengan kata sebelum itu,

j»—Ss^'j (membasuh kedua tangan). Dengan demikian, maka yang

wajib adalah membasuh kaki saat berwudhu.

FATHUL BAARI —

111

Jawaban yang lain dikatakan bahwa kata tersebut dibaca j^isr j karena disamakan dengan kedudukan kata j j dan bukan disamakan

dari segi lafazhnya sebagaimana firman Allah j^—kJij 4 % ^>j\ J C»- G —» ' dimana kata ^—JaJ'j dibaca fathah. Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah

meski ayat itu bermakna "mengusap", namun mengusap sepatu bukan mengusap kaki.

Abu Bakar bin Al Arabi telah membahas persoalan ini dengan baik, dan secara ringkasnya dapat dikatakan sebagai berikut, "Yang jelas, antara kedua bacaan itu, yakni ^ _ i j J r d a n jU^rji terdapat perbedaan yang nyata. Sementara telah menjadi ketentuan jika terdapat dua dalil yang tampak kontradiksi, apabila memungkinkan untuk diamalkan sekaligus maka cara ini wajib ditempuh. Sedangkan jika tidak mungkin demikian, maka kedua dalil itu diusahakan untuk diamalkan semaksimal mungkin. Adapun dalam persoalan yang sedang dibahas kedua dalil yang nampak kontradiksi tidak mungkin untuk diamalkan secara bersamaan, sebab mengusap dan membasuh tidak dapat dipraktekkan sekaligus pada satu kesempatan terhadap anggota wudhu yang sama karena hal itu berakibat terulangnya mengusap, dimana diketahui bahwa membasuh satu anggota wudhu juga telah mencakup mengusap anggota wudhu tersebut. Padahal, suatu perbuatan yang diperintahkan secara mutlak (tanpa dibatasi oleh jumlah tertentu) tidak berkonsekuensi pada terulangnya perbuatan yang dimaksud. Akhirnya, tidak ada jalan yang dapat ditempuh kecuali mempraktekkan kedua perbuatan itu (yakni membasuh dan mengusap) pada dua kondisi yang berbeda (maksudnya sekali waktu dibasuh dan sekali waktu diusap- Penerj). Hal ini ditempuh untuk memadukan dua bacaan yang berbeda terhadap ayat di atas, sekaligus mengamalkan secara maksimal kedua dalil yang ada". Adapula ulama yang mengatakan bahwa membasuh kaki sengaja dikaitkan dengan anggota yang diusap (kepala), sebab membasuh kaki merupakan tempat dimana seseorang menggunakan air yang banyak. Sehingga untuk mencegah pemborosan air, maka membasuh kaki dikaitkan dengan mengusap kepala, tapi bukan berarti kaki harus diusap. Bukti yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah dalam surah Al Maa'idah, j — l ^ ^—!j (Hingga mata kaki). Karena menyapu anggota wudhu merupakan satu bentuk keringanan (rukhsah), oleh sebab itu tidak
1

1 1 2 — FATHUL BAARI

boleh ditetapkan batasan tertentu. Di samping itu, sesungguhnya menyapu juga dipergunakan untuk menamakan membasuh yang ringan, seperti disebutkan oleh Abu Zaid -sang ahli bahasa- dan Ibnu Qutaibah serta selain keduanya. Ubaidillah bin Juraij adalah Ubaidillah bin Juraij Al Madani, mantan budak bani Taim. Antara beliau dengan Ibnu Juraij Al Faqih Al Makki (mantan budak bani Umayah) tidak mempunyai hubungan nasab, sebab Ibnu Juraij Al Faqih namanya adalah Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Al Juraij. Terkadang seseorang menyangka bahwa Ibnu Juraij yang meriwayatkan hadits di atas adalah paman Ibnu Juraij Al Faqih, akan tetapi yang sebenarnya tidaklah demikian. ilji—?w>i j — • 'J ji j*J (Aku tidak melihat seorangpun di antara

sahabatmu) Yakni para sahabat Nabi SAW, dan yang dimaksud adalah sebagian mereka. Konteks hadits ini memberi gambaran, bahwa Ibnu Umar adalah satu-satunya sahabat yang melakukan perbuatan tersebut yang dilihat oleh Ubaid. Al Maziri berkata, "Ada kemungkinan yang dimaksud bahwa selain Ibnu Umar tidak melakukan perkara-perkara tersebut secara keseluruhan, meskipun mereka melakukannya sebagian." o\—fj^i (Sudut-sudut), maksudnya adalah keempat sudut Ka'bah.

Secara lahiriah, para sahabat Nabi -selain Ibnu Umar- yang dilihat oleh Ubaid menyentuh seluruh sudut Ka'bah. Perbuatan seperti ini telah terbukti diriwayatkan dari Mu'awiyah dan Ibnu Zubair. Pembahasan selanjutnya mengenai masalah ini akan dibahas pada bab haji, insya Allah. 4 J £ — U i (Sandalyang tak berbulu). Asal katanya adalah o l t J i yang At-Tahdzib.

artinya j l s J i (mencukur), demikian yang dinukil dalam kitab

Ada pula yang mengatakan bahwa c.L-'.Ji adalah nama kulit sapi yang telah disamak. Pendapat lain mengatakan bahwa
A^ILJi

berasal dari kata

c 4 - J i , yaitu sejenis tanaman yang dipakai untuk menyamak, sebagaimana dikatakan oleh penulis kitab Al Muntaha. Sementara Al Harawi mengatakan, "Dinamakan sibtiyah karena sifatnya yang menjadi lunak karena disamak."

FATHUL BAARI —

113

(Engkau mencelup).

Apakah yang dimaksud adalah mencelup

baju ataukah menyemir rambut? Penjelasan mengenai hal itu akan disebutkan pada kitab tentang pakaian, insya Allah. j"l H' J*i (Orang-orang berihram), artinya mereka mengeraskan

hingga hari Tarwiyah), yakni tanggal 8 Zhulhijjah. Dari jawaban Ibnu Umar mengenai hal ini menjadi jelas, bahwa beliau tidak mengucapkan talbiyah kecuali setelah kendaraannya siap berangkat ke Mina. Pembahasan selanjutnya tentang hal ini akan diterangkan pada kitab haji, insya Allah.
*—JJi J — J ' — i

(Abdullah berkata), maksudnya Abdullah bin Umar

berkata dalam rangka menjawab pertanyaan Ubaid. Dalam riwayat Imam Bukhari bab pakaian dikatakan, "Maka Abdullah bin Umar berkata kepadanya (Ubaid)". jllil—*J| (Dua sudut yang menghadap ke Yaman), yang dimaksud

adalah sudut Al Aswad dan sudut yang menghadap ke arah Shafa.

31. Mendahulukan yang Kanan Saat Bewudhu dan Mandi

167. Diriwayatkan dari Ummu Athiyah, ia berkata, "NabiSAW bersabda kepada mereka saat memandikan puterinya, 'Dahulukanlah oleh kamu bagian kanan dan tempat-tempat wudhunya.'"

1 1 4 — FATHUL BAARI

4

U-Jj

4jJcJ

^J) J<J~>\

^-H* ^
0

«f^
O ,

v^Jli
^
a

>

s

^

jj4^j

168. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, "Telah menjadi kebiasaan Nabi SA W memulai dengan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam segala urusannya"

Keterangan Hadits: 4—»l jLs- J (Saat memandikan puterinya) yakni puteri Nabi SAW

yang bernama Zainab RA. Keterangan mengenai hal ini akan dijelaskan dalam pembahasan tentang Al Jana'iz (Jenazah), insya Allah. Imam Bukhari sengaja menyebutkan penggalan hadits Ummu Athiyah untuk menjelaskan maksud perkataan Aisyah dalam hadits berikutnya, yaitu "Telah menjadi kebiasaan Nabi SAW menyukai bagian kanan", sebab lafazh bagian kanan dalam bahasa Arab disebut "Tayammun". Lafazh ini merupakan lafazh musytarak (memiliki makna lebih dari satu). Kata tersebut dapat berarti memulai dari bagian kanan, melakukan sesuatu disertai sumpah, tabarruk (memohon berkah) dan mengambil arah kanan. Maka, dengan adanya hadits Ummu Athiyah menjadi jelas bahwa yang dimaksud adalah makna yang pertama. fljj^—y j 4 bersuci). Dalam
,

''

&rjj d*Z j> (Saat memakai sandal, menyisir rabut dan riwayat Abu Dawud dari Muslim bin Ibrahim dari

i.

/

>,,,

Syu'bah terdapat tambahan, *f'jr'J (Serta saat menyikat gigi). j—*3 4 jrii; CSs- 4lJi ^JJi OlT (Telah menjadi kebiasaan

Nabi SA W menyukai bagian kanan). Sebagian ulama mengatakan bahwa penyebab disukainya perbuatan ini karena beliau SAW menyukai sikap optimis, dimana golongan kanan adalah penghuni surga. Lalu dalam kitab Shalat, Imam Bukhari memberi tambahan riwayat ini dengan lafazh t» ^tkLJLal (selama ia mampu). Adanya tambahan riwayat ini merupakan

FATHUL BAARI —

115

pemberitahuan bahwa mendahulukan yang kanan dilakukan selama tidak ada penghalang. *
"

15"

i'

J ) j (dalam segala urusannya). Demikianlah lafazh yang

dinukil dari sebagian besar para perawi, yakni tanpa menggunakan kata sambung (jij). Sementara dalam riwayat Abu Al Waqt tercantum kata sambung yang dimaksud. Syaikh Taqiyuddin berkata, "Ini adalah lafazh yang bersifat umum, namun cakupannya terbatas. Karena masuk tempat buang hajat dan keluar masjid atau yang seperti keduanya, hendaknya
i,

dimulai dengan bagian kiri." Sehingga kalimat <uti dengan * ^ (Secara keseluruhan), adalah

yang dipertegas menunjukkan

untuk

keumumam, artinya mendahulukan yang kanan berlaku untuk semua perbuatan. Dengan adanya penegasan tersebut menutup kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah makna majaz (kiasan). Sehingga mungkin dikatakan, bahwa hakikat "urusan" adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, sementara perbuatan yang disukai dengan mendahulukan yang kiri bukanlah perbuatan yang dilakukan secara sengaja. Bahkan, mungkin merupakan perbuatan yang harus ditinggalkan atau perbuatan yang tidak ada unsur kesengajaan. Semua pembicaraan ini dikemukakan atas dasar bahwa riwayat tersebut menggunakan kata sambung (waw). Sedangkan jika yang menjadi dasar pembahasan adalah riwayat yang tidak menggunakan kata sambung, maka perkataannya "Dalam segala urusannya secara keseluruhan" berkaitan dengan kata *—J**» (menyukai), dan bukan berkaitan dengan kata j — * 3 (bagian kanan). Artinya, beliau menyukai dalam segala keadaannya untuk mendahulukan bagian kanan saat memakai sandal...dan seterusnya. Beliau tidak pernah meninggalkan perbuatan seperti itu baik saat berada dalam perjalanan maupun tidak, pada waktu luang maupun di tengah kesibukan. Ath-Thaibi berkata, kalimat ^ — \ (dalam segala urusannya)

merupakan penjelas kalimat * — ^ — \ (Saat memakai sandal). Lalu dia menambahkan, "Seakan-akan beliau menyebutkan memakai sandal karena perbuatan ini berhubungan dengan kaki, beliau menyebutkan

1 1 6 — FATHUL BAARI

menyisir karena perbuatan ini berhubungan dengan kepala dan beliau menyebutkan bersuci karena perbuatan ini merupakan kunci ibadah. Dengan demikian, seakan-akan beliau telah menyebutkan semua anggota badan." Aku katakan, "Dalam riwayat Muslim lafazh "Dalam segala urusannya secara keseluruhan' disebutkan lebih dahulu daripada kata 'saat memakai sandal... dst'. Inilah yang menjadi landasan penjelasan Ath-Thaibi." Semua pembahasan yang kami kemukakan di atas berdasarkan makna lahir dari konteks kalimat hadits yang disebutkan di tempat ini. Akan tetapi telah dijelaskan oleh Imam Bukhari pada kitab Ath 'imah (tentang makanan) melalui riwayat Abdullah bin Mubarak dari Syu'bah, bahwa Asy'ats menceritakan hadits ini kepada Syu'bah dimana beliau terkadang hanya menyebutkan lafazh "Dalam segala urusannya secara keseluruhan", dan terkadang pula hanya menyebutkan lafazh "Saat memakai sandal....dan seterusnya." Al Isma'ili menambahkan bahwa Aisyah RA terkadang menceritakan hadits ini secara global, dan terkadang pula menceritakannya secara terperinci. Atas dasar ini, timbul kesan bahwa yang menjadi dasar riwayat ini adalah lafazh "Saat memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci". Hal ini diperkuat oleh riwayat Imam Muslim dari jalur Abu Al Ahwash serta Ibnu Majah dari jalur periwayatan Amru bin Ubaid, yang mana keduanya (Abu Al Ahwash dan Amru bin Ubaid) meriwayatkan hadits ini dari Asy'ats. Dalam riwayat ini, lafazh *—IT 4j& ji (Dalam segala urusannya secara keseluruhan) tidak dicantumkan. Sedangkan riwayat yang hanya menyebutkan lafazh tersebut, adalah riwayat yang dinukil dengan makna (riwayat bil ma 'na). Hadits ini merupakan keterangan yang menjelaskan disukainya memulai rambut kepala bagian kanan saat menyisir, mandi maupun mencukur. Tidak boleh dikatakan bahwa perbuatan-perbuatan ini masuk kategori menghilangkan sesuatu, sehingga harus dimulai dengan bagian kiri. Bahkan, semua perbuatan tersebut termasuk ibadah dan berhias. Pada pembahasan selanjutnya akan dinukil riwayat yang memberi keterangan untuk memulai bagian kanan saat mencukur rambut. Hadits ini juga merupakan keterangan disukainya mendahulukan kaki kanan saat memakai sandal, dan mendahulukan yang kiri saat melepaskannya. Disukai pula untuk mendahulukan tangan kanan saat

FATHUL BAARI —

117

berwudhu, demikian juga dengan kaki serta disukai mendahulukan badan bagian kanan saat mandi. Hadits ini juga dijadikan dalil untuk mendukung pendapat yang mengatakan disukainya shalat di shaf bagian kanan imam atau bagian kanan masjid, serta menggunakan tangan kanan ketika makan dan minum. Imam Bukhari telah menyebutkan hadits ini sehubungan dengan perbuatan-perbuatan tersebut. Imam An-Nawawi berkata, "Kaidah syara' senantiasa menyukai mendahulukan yang kanan dalam hal-hal yang bersifat penghormatan dan berhias, sementara kebalikan dari yang demikian maka disukai memulai dengan yang kiri." Beliau berkata pula, "Para ulama telah sepakat bahwa mendahulukan bagian kanan saat berwudhu adalah sunah. Adapun orang yang menyelisihinya tidak mendapat keutamaan, meskipun wudhunya dianggap sempurna." Maksud beliau adalah ulama Ahli Sunnah, karena ulama madzhab Syi'ah mewajibkan hal tersebut. Dari sini diketahui kesalahan yang dilakukan oleh Al Murtadha saat menisbatkan pendapat yang mewajibkan mendahulukan bagian kanan saat wudhu kepada Imam Syafi'i. Seakan beliau (Al Murtadha) beranggapan bahwa pendapat seperti ini merupakan konsekuensi pandangan Imam Syafi'i yang mewajibkan pelaksanaan wudhu secara berurutan (tertib). Akan tetapi sesungguhnya Imam Syafi'i tidak mewajibkan hal itu pada saat membasuh tangan dan kaki, sebab kedua tangan maupun kaki dianggap sebagai satu anggota wudhu, disamping keduanya disebutkan dengan lafazh jamak (plural) dalam Al Qur'an. Hanya saja yang menjadi pertanyaan tersendiri bagi para ulama pengikut madzhab Syafi'i, yaitu pernyataan mereka bahwa air dianggap musta 'mal (bekas dipakai) apabila berpindah dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Sementara di sisi lain mereka mengatakan, bahwa air tidaklah dianggap musta 'mal (bekas dipakai) selama belum berpisah dari satu anggota wudhu. Adapun dalil yang mereka pergunakan untuk mendukung pendapat wajibnya melakukan perbuatan wudhu secara berurutan (tertib), karena tidak seorang pun perawi tentang sifat wudhu Nabi S A W yang menyebutkan bahwa beliau pernah berwudhu dengan tidak berurutan (tertib), sebagaimana tidak seorang pun yang meriwayatkan bahwa beliau pernah mendahulukan yang kiri atas yang kanan (dalam berwudhu). Dalam kitab Al Bayan oleh Al Umrani serta kitab At-Tajrid oleh Al Bandaniji disebutkan, bahwa pendapat yang mewajibkan pelaksanaan wudhu secara

1 1 8 — FATHUL BAARI

berurutan (tertib) merupakan pandangan para ahli fikih yang tujuh (fuqaha sab'ah). Namun pada dasarnya pernyataan ini adalah suatu kekeliruan dalam penyalinan naskah, sebab sesungguhnya yang dimaksud adalah ahli fikih Syi'ah bukan sab'ah. Pada perkataan Ar-Rafi'i terdapat keterangan yang mengindikasikan bahwa Ahmad mewajibkan pula hal tersebut, akan tetapi pendapat demikian tidak dikenal dari beliau. Bahkan Syaikh Al Muwaffiq (Ibnu Qudamah) berkata dalam kitab Al Mughni, "Kami tidak mengetahui adanya perbedaan mengenai tidak wajibnya perbuatan ini."

32. Mencari Air Ketika Waktu Shalat Tiba
f i 'i " / a f a " * '
3

f* '

J

*

3

'

"

JJ-i-jj

tuJl

^r..*,ZaJl

oj^&>-

AJLSIP

cJlij

Aisyah berkata, "ketika waktu shubuh telah tiba, maka airpun dicari namun tidak ditemukan. Akhirnya, turunlah syariat tayammum."

a*>Co C J I

0

fiil Jj~*j c J l j i Jli iii d J » j ! ^jS\ JC

Jl •

^«.1

Jl y>lj aib j.b y I liJJi
rs S

AJJI J J ^ - J
.1 ' i ' •» ° .

j.J-^JJ.
i ' "

*. ' i

'

i '

f

o a
;

< ^ ' , ° .

— o o •r*^' ^ J ^ 169. Telah diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwasanya ia berkata, 'Aku pernah melihat Rasulullah SAW, saat itu waktu shalat ashar telah masuk, maka orang-orang mencari air wudhu namun mereka tidak menemukannya. Lalu didatangkan kepada Rasulullah SAW satu wadah, maka Rasulullah SAW meletakkan tangannya di bejana tersebut seraya memerintahkan kepada

o

FATHUL BAARI —

119

manusia untuk berwudhu dari bejana itu. Anas berkata, 'Aku melihat air memancar dari bawah jari-jari tangannya, hingga orang yang paling akhir di antara mereka berwudhu dengan air itu.

Keterangan Hadits:

i—ij'tp cJl—Sj (Aisyah

berkata).

Ini adalah penggalan dari hadits

beliau sehubungan dengan kisah turunnya ayat tayammum seperti yang akan disebutkan pada kitab Tayammum, insya Allah. Lafazh yang beliau (Imam Bukhari) sebutkan di sini adalah riwayat Amru bin Al Harits dari Abdurrahman bin Al Qasim dari bapaknya dari Aisyah, dan riwayat ini beliau sebutkan berikut silsilah periwayatannya saat menafsirkan surah Al Maa' idah. Ibnu Munir berkata, "Maksud Imam Bukhari menyebutkan bab ini adalah untuk memberi keterangan sekaligus mengemukakan dalil tentang tidak wajibnya mencari air untuk bersuci sebelum waktu shalat tiba. Sebab Nabi SAW tidak mengingkari perbuatan para sahabat yang mengakhirkan mencari air hingga waktu shalat tiba, dan ini menunjukkan bahwa hal itu diperbolehkan."
* y

,

*

»

9

* f '

t'

j»J—J j 4—llp 4—Ul u» 4 Ut J ^Jli (Lalu didatangkan kepada Rasulullah SA W). Pada riwayat yang dinukil melalui Qatadah dijelaskan oleh Imam Bukhari bahwa peristiwa ini terjadi di Az-Zaura', yakni di pasar kota Madinah. t j—'•*>'}>. (Satu wadah), maksudnya sebuah bejana yang berisi air

untuk dipakai berwudhu. Dalam riwayat Ibnu Al Mubarak disebutkan, "Maka seorang laki-laki datang sambil membawa ember berisi sedikit air, ember tersebut terlalu sempit bagi Nabi untuk merenggangkan tangannya. Akhirnya, beliau menggenggam jari-jarinya". Sama seperti ini riwayat yang dinukil oleh Humaid seperti yang akan disebutkan pada bab "Berwudhu dari bejana yang biasa dipakai untuk mencuci pakaian".

fwCoi

cJ*i 'j»

(Air memancar dari bawah jari-jari

tangannya).

Pembahasan selengkapnya mengenai masalah ini akan disebutkan pada bab Tanda-tanda Kenabian, insya Allah Ta 'ala.

1 2 0 — FATHUL BAARI

^_»yT xs. j» \j£e'J

(Hingga orang yang paling akhir di antara

mereka pun berwudhu). Al Karmani berkata yang maksudnya adalah sebagai berikut, "Orang-orang pun berwudhu hingga orang yang terakhir di antara mereka. Artinya mereka semua berwudhu." Sementara Al Taimi mengatakan, "Maksudnya bahwa orang-orang tersebut telah berwudhu hingga sampailah giliran yang terakhir di antara mereka." Dalam hadits di atas terdapat keterangan bahwa memberi bantuan berupa air termasuk hal yang disyariatkan saat kondisi mendesak (darurat), yakni bagi mereka yang memiliki kelebihan air wudhu. Hadits ini juga merupakan dalil bahwa seseorang yang berwudhu bila menciduk air dalam jumlah sedikit dengan tangannya tidak mengubah status air tersebut menjadi musta'mal (bekas dipakai). Selanjutnya Imam Syafi'i berpegang dengan hadits ini untuk menguatkan pendapatnya yang mengatakan bahwa perintah mencuci tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana hanyalah memiliki indikasi sunah bukan wajib.

Catatan penting: Ibnu Baththal berkata, "Hadits ini -yakni tentang memancarnya air dari jari-jari beliau- telah disaksikan oleh sekelompok besar sahabat Nabi. Akan tetapi peristiwa tersebut tidaklah diriwayatkan kecuali melalui Anas. Hal ini karena usia beliau yang panjang serta adanya usaha manusia agar mendapatkan silsilah periwayatan yang lebih dekat kepada sumber utamanya." Akan tetapi Qadhi Iyadh mengatakan, "Hadits ini telah diriwayatkan oleh para perawi dalam jumlah yang banyak, dimana mereka adalah para perawi tsiqah (terpercaya) yang telah menerima hadits ini dari sejumlah sahabat. Bahkan, tidak dinukil satu berita bahwa ada salah seorang di antara sahabat yang mengingkari peristiwa ini. Dengan demikian, tidak diragukan lagi jika hal ini termasuk salah satu di antara mukjizat beliau SAW." Perhatikanlah, bagaimana perbedaan antara kedua perkataan di atas, dan kami akan membahas secara mendetail mengenai masalah ini pada bab Tanda-tanda Kenabian, insya Allah.

FATHUL BAARI —

121

33. Air yang Dipakai Mencuci Rambut Manusia

Jl
'

J^lj

b j
y yy y ' l O'

jsJl
i }

Js^JL
y yy ' ' ' ' ' ' t

j l L-l;

4J
O

V
+

f-UaP

jlT
'

J
^ 0

'

J j ^ I ) frU'l ^
9

^Jj \ i [ :<J y \ " y \ J l i j . J b s J L U l ^
f' ' "
J
'

I A ^ J . J t_^!AxJI
1$ 1 11 * t »'

' '' ,

*

* f '

j,

L»)
. „ t i '"

^

J > * i

* ~ s * * •* .

\
t '

jLil' *

Jli
'

.4j
'

U t f ^ l i . ' '

a

jJr f. yj> J
*

l' ti'"

o '

x

to

i.

.

.'

f i ",

'

f

c

Atha' berpendapat bahwa rambut yang dijadikan benang atau tali adalah tidak mengapa hukumnya. Begitu juga air sisa jilatan anjing serta tempat lewat anjing-anjing tersebut dalam masjid. Zuhri berkata, "Jika anjing menjilat air di suatu bejana lalu tidak ada air selain yang ada dalam bejana tersebut, maka air tersebut boleh dipakai berwudhu." Sementara Sufyan berkata, "Ini adalah fikih (pemahaman) yang sebenarnya, Allah telah berfirman, 'dan kamu tidak menemukan air maka bertayamumlah.''" (Qs. Al Maa'idah (5): 6) sementara ini adalah air. Namun masih ada ganjalan dalam hatiku mengenai hal itu. Hendaklah orang itu berwudhu dengan air tersebut lalu bertayammum."

Keterangan Hadits: "Air..." Yakni bab tentang hukum air bekas mencuci rambut manusia. Di sini Imam Bukhari memberi isyarat bahwa hukum air tersebut adalah suci, karena rambut seseorang yang sedang mandi terkadang jatuh ke dalam air yang ia pakai. Andaikata rambut itu najis, niscaya air tersebut akan berubah menjadi najis setelah bersentuhan dengan rambut. Sementara tidak dinukil bahwa Nabi SAW berusaha untuk menghindari yang demikian itu saat beliau mandi (wajib). Bahkan, menjadi kebiasaan beliau untuk menyela-nyela rambut kepala dengan jari-jari tangannya sebagaimana yang akan diterangkan. Padahal umumnya perbuatan ini dapat menyebabkan jatuhnya beberapa helai rambut ke dalam tempat mandi, maka hal ini merupakan bukti kesuciannya. Pendapat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

1 2 2 — FATHUL BAARI

Demikian pula pendapat Imam Syafi'i yang lama, dan beliau sebutkan pula secara mendalam pendapatnya yang baru. Lalu pendapat tersebut disetujui oleh sejumlah pengikutnya, yakni mereka yang mengikuti cara yang ditempuh oleh ulama Khurasan. Di pihak lain terdapat juga sejumlah ulama yang lebih memilih pendapat yang mengatakan bahwa air yang kejatuhan rambut adalah najis hukumnya, mereka ini mengikuti cara yang ditempuh oleh ulama Irak. Imam Bukhari mendasari pendapatnya tentang sucinya air yang kejatuhan rambut manusia dengan hadits yang dinukil langsung dari Nabi SAW. Namun pendapat beliau itu dikritik dari sisi bahwa rambut Nabi SAW adalah mulia, maka tidak boleh dianalogikan dengan rambut manusia selain beliau. Akan tetapi kritikan ini dibantah oleh Ibnu Mundzir dan Al Khaththabi serta lainnya, dimana mereka mengatakan bahwa suatu hukum yang khusus bagi Nabi tidak dapat ditetapkan melainkan bila ada dalil yang menunjukkan hal itu, sebab pada dasarnya semua hukum berlaku bagi Nabi dan selainnya. Mereka mengatakan pula, "Menjadi konsekuensi orang yang berpendapat seperti di atas untuk tidak menjadikan perbuatan Aisyah RA yang menghilangkan air mani dari pakaian nabi, sebagai alasan akan sucinya air mani. Karena bisa saja dikatakan bahwa air mani beliau suci dan tidak dapat dianalogikan dengan air mani orang lain." Adapun yang benar adalah, hukum yang berlaku bagi beliau juga berlaku bagi semua umatnya yang telah memenuhi syarat dibebani kewajiban syariat, kecuali perkara-perkara yang dinyatakan dalam dalil berlaku khusus bagi beliau SAW. Telah dinukil sejumlah riwayat yang menyatakan bahwa kotoran beliau adalah suci, namun para imam memasukkan hal ini dalam klasifikasi hukum yang berlaku khusus bagi Nabi. Untuk itu tidak boleh menggubris pernyataan-pernyataan yang tertuang dalam kitab-kitab ulama madzhab Syafi'i yang menyelisihi pandangan para imam di atas, sebab telah menjadi ketetapan di kalangan para pemuka madzhab mereka akan sucinya air yang kejatuhan rambut manusia. Adapun mengenai rambut hewan yang tidak dimakan dagingnya telah diperselisihkan oleh para ulama. Perselisihan ini sendiri kembali kepada perbedaan pandangan mereka mengenai rambut hewan tersebut,

FATHUL BAARI —

123

apakah merupakan bagian yang hidup sehingga berubah menjadi najis bila telah mati atau tidak? Madzhab Syafi'i, berpendapat bahwa rambut berubah menjadi najis setelah hewan tersebut mati. Sementara mayoritas ulama lainnya memilih pendapat yang berbeda. Sehubungan dengan ini, Ibnu Mundzir melegitimasi pendapat yang menyatakan bahwa rambut tidak termasuk bagian yang hidup sehingga tidak berubah menjadi najis karena proses kematian dan tidak pula karena terpisah dari hewan itu sendiri di saat ia masih hidup. Legitimasi ini dinukil dengan adanya kesepakatan di kalangan ulama, bahwa bulu hewan hidup yang terpisah darinya maka hukumnya adalah suci. Sedangkan jika yang terpisah itu adalah bagian-bagian badannya yang lain, maka hukumnya najis. Kesepakatan ulama ini menunjukkan adanya perbedaan hukum antara bulu hewan dengan bagian-bagian badannya yang lain, serta mengindikasikan adanya persamaan antara bulu hewan yang telah mati dengan bulu yang terpisah dari hewan yang masih hidup, wallahu a 'lam. Al Baghawi berkata dalam kitab Syarh Sunnah saat membahas sabda Nabi SAW mengenai kambing milik Maimunah, "Sesungguhnya yang diharamkan adalah memakannya", bahwa sabda Nabi SAW ini menjadi dalil (landasan argumentasi) bahwa selain yang dimakan dari bagian-bagian bangkai tidaklah diharamkan untuk dimanfaatkan." Adapun mengenai pembahasan hukum bulu bangkai dan tulangnya akan dijelaskan pada bab tersendiri, insya Allah. «I • Sap ol—S"j (Atha' berpendapat). Berita yang tanpa silsilah

periwayatan ini telah dinukil oleh Muhammad bin Ishaq Al Fakihi dalam kitab Akhbar Makkah, dengan silsilah periwayatan yang shahih sampai kepada Atha' bin Abu Rabah, dimana dikatakan bahwa beliau berpendapat tidak mengapa untuk memanfaatkan rambut manusia yang dicukur saat di Mina. jj—'j (Air sisa jilatan anjing) Maksudnya adalah bab

tentang air sisa jilatan anjing, yakni apakah hukumnya? Yang dapat dipahami dari kebiasaan Imam Bukhari jika mengeluarkan pernyataan seperti ini, berarti beliau berpendapat air tersebut adalah suci. Lalu pada sebagian naskah setelah perkataannya "Dalam masjid", terdapat tambahan "Dan (sisa) makanannya".

1 2 4 — FATHUL BAARI

S j—ajJ'J'—*j

(Zuhri berkata,

"Jika anjing menjilat air di suatu

bejana. "). Dalam bab ini Imam Bukhari telah mengumpulkan dua persoalan sekaligus, yaitu hukum rambut manusia dan hukum air sisa jilatan anjing. Beliau menyebutkan judul bab persoalan pertama disertai berita dari generasi terdahulu mengenai hal itu, lalu diiringi dengan persoalan berikutnya disertai pula kutipan berita dari generasi terdahulu dalam masalah yang dimaksud. Setelah itu beliau kembali lagi kepada persoalan pertama dengan menyebutkan hadits yang diriwayatkan langsung dari Nabi SAW, dan seterusnya beliau menuturkan dalil-dalil persoalan kedua. Adapun perkataan Zuhri yang beliau (Imam Bukhari) kutip di tempat ini telah diriwayatkan oleh Al Walid bin Muslim dalam kitabnya Al Mushannaf dari Al Auza'i dan lainnya, yang dikatakan, "Aku mendengar Zuhri (ditanya) tentang bejana yang dijilat anjing lalu tidak ditemukan air selain yang ada di bejana tersebut, maka beliau berkata, 'Boleh berwudhu dengan air tersebut."' Riwayat ini disebutkan pula oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab At-Tamhid dengan silsilah periwayatan yang shahih. oCa—1* Jl—s (Sufyan berkata). Pertama kali dipahami bahwa yang

dimaksud adalah Sufyan bin Uyainah, karena beliau yang terkenal banyak meriwayatkan hadits dari Zuhri. Namun, kenyataannya yang dimaksud adalah Sufyan Ats-Tsauri. Hal itu diketahui dari perkataan Al Walid bin Muslim setelah menyebutkan pernyataan Az-Zuhri di atas, "Maka aku menceritakan perkataan Az-Zuhri kepada Sufyan Ats-Tsauri, dan ia pun berkata, 'Demi Allah, ini adalah fikih (pemahaman) yang sebenarnya... dst.'" Lalu setelah menyebutkan perkataan Sufyan 'Namun masih ada ganjalan dalam hatiku mengenai hal itu,' beliau menambahkan, "Aku berpendapat agar orang itu berwudhu dengan air tersebut lalu bertayammum." Di sini Ats-Tsauri menyebut cara menetapkan hukum berdasarkan keumuman suatu dalil sebagai fikih, dan ini tercakup dalam firman-Nya, "Dan kamu tidak menemukan air". Sebab kata (Air) dalam firman Allah tersebut adalah nakirah (indefinit) dalam bentuk kalimat nafyi (negatif), yang mana konteks kalimat seperti ini dalam bahasa Arab memiliki kandungan makna yang bersifat umum dan tidak terbatas, kecuali ada dalil yang menunjukkan pembatasan tersebut. Padahal,

FATHUL BAARI —

125

najisnya air karena jilatan anjing bukanlah perkara yang disepakati ulama. Kemudian dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa beliau (AzZuhri) menambahkan agar orang yang menggunakan air sisa jilatan anjing melakukan tayamum sebagai sikap hati-hati. Al Isma'ili berkata dalam menanggapi perkataan Az-Zuhri di atas, "Sesungguhnya pernyataan beliau yang mensyaratkan bahwa air tersebut baru dapat dipakai jika tidak ada lagi air yang lain, justeru merupakan bukti akan najisnya air sisa jilatan anjing. Karena pada dasarnya apabila air itu suci, tentu bisa saja dipakai berwudhu meskipun ada air yang lain." Sebagai jawaban atas tanggapan ini saya katakan, "Maksud persyaratan tersebut adalah mempergunakan air yang tidak diperselisihkan lagi mengenai kesuciannya jauh lebih utama daripada mempergunakan air sisa jilatan anjing. Sedangkan jika tidak ada lagi air yang lain, maka tidak boleh bagi seseorang bertayammum selama air sisa jilatan anjing itu masih ada. Hal itu apabila ia meyakini kesucian air tersebut." Adapun fatwa Sufyan Ats-Tsauri agar seseorang bertayammum setelah selesai berwudhu dengan menggunakan air sisa jilatan anjing, adalah karena beliau beranggapan bahwa air sisa jilatan anjing diragukan statusnya dan diperselisihkan kesuciannya, maka iapun menempuh langkah lebih berhati-hati untuk ibadah. Lalu perkataan Sufyan ditanggapi dengan mengatakan, "Setelah memakai air sisa jilatan anjing, maka badan seseorang menjadi suci tanpa diragukan lagi. Lalu dengan adanya anjuran untuk tayammum menunjukkan keraguan dalam kesuciannya." Oleh sebab itu, sebagian ulama mengatakan langkah yang paling utama adalah membuang air sisa jilatan anjing, kemudian bertayammum, wallahu a'lam.

Catatan Penting Dalam riwayat Abu Al Hasan Al Qabisi dari Abu Zaid Al Marwazi disebutkan bahwa Sufyan berkata, Allah berfirman, t & \y*J apabila Bukhari. kamu tidak menemukan air) Demikian diriwayatkan oleh Abu N u ' a i m dalam kitab Al Mustakhraj Oi» (Maka yang pula lafazh

'ala Shahih Al

Sementara pada jalur-jalur periwayatan yang lain dicantum-

kan, *l—i ijisJ jU» (Dan kamu tidak menemukan air) Inilah lafazh yang sesuai dengan yang termaktub dalam Al Qur"an.

1 2 6 — FATHUL BAARI

Al Qabisi berkata, "Lafazh (Maka apabila kamu tidak menemukan air) termaktub dalam kitab Al Ahkam oleh Al Isma'ili Al Qadhi dari Sufyan Ats-Tsauri. Hanya saja Al Isma'ili berkata, 'Aku tidak mengenal seorang pun yang membaca ayat tersebut demikian.'" Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Ada kemungkinan Ats-Tsauri meriwayatkan makna ayat tersebut dan beliau memiliki pandangan bolehnya perbuatan seperti itu." Seakan-akan hal ini yang menjadi landasan Imam Bukhari sehingga beliau memberi judul dengan lafazh seperti itu pada salah satu bab dalam kitab At-Tayammum, seperti yang akan disebutkan.

FATHUL BAARI —

127

4.

t

J o^
1

-f
1

J*

1 7 0 . Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, ia berkata, "Aku berkata kepada Abidah, 'Kami memiliki rambut Nabi SAW yang kami dapatkan dari Anas -atau dari keluarga Anas'Abidah berkata, 'Sesungguhnya memiliki sehelai rambut beliau lebih aku sukai daripada dunia dan segala isinya.'"

171. Diriwayatkan dari Ibnu Sirin dari Anas bahwa Nabi SAW ketika mencukur rambutnya, maka saat itu Abu Thalhah pertama kali mengambil rambut beliau.

Keterangan Hadits: Ibnu Sirin namanya adalah Muhammad, sedangkan Abidah adalah Ibnu Umar As-Salmani salah seorang pemuka tabi'in yang memeluk Islam di masa Nabi, namun tidak sempat bertemu beliau. Abidah masuk Islam dua tahun sebelum wafatnya Nabi.
«t—'±~e>\

(Yang kami dapatkan),

maksudnya mereka memperoleh

rambut tersebut dari Anas bin Malik. Adapun maksud Imam Bukhari menyebutkan riwayat ini adalah untuk memberi keterangan bahwa rambut Nabi yang didapatkan Thalhah -seperti disebutkan pada hadits no. 171 di atas- tetap disimpan oleh keluarganya hingga sampai ke tangan para mantan budak keluarga tersebut, sebab Ibnu Sirin adalah mantan budak Anas bin Malik, sementara Anas adalah anak tiri Abu Thalhah.

128

FATHUL BAARI

Adapun konteks riwayat ini dengan judul bab adalah, bahwa hukum rambut adalah suci. Sebab jika tidak demikian, tentu mereka tidak akan menyimpannya dan Abidah tidak akan berharap untuk memiliki rambut beliau meski hanya sehelai. Apabila hukum rambut suci, maka air yang bersentuhan dengannya juga suci hukumnya. j—^-'—«J (Ketika mencukur rambutnya), maksudnya beliau SAW

memerintahkan tukang cukur untuk melakukan hal itu. Adapun penyandaran perbuatan itu kepada diri beliau hanyalah sebagai bentuk majaz saja. Peristiwa ini terjadi pada saat pelaksanaan haji Wada', sebagaimana yang akan kami terangkan. i j j j ? jf\ olT (Maka saat itu Abu Thalhah), maksudnya Abu Thalhah Al Anshari, suami Ummu Sulaim (ibu Anas bin Malik). Hadits ini telah diriwayatkan oleh Abu Awanah dalam kitab Shahih-nya melalui riwayat Sa'id bin Sulaiman, dimana riwayat beliau lebih jelas daripada riwayat yang diketengahkan oleh Muhammad bin Abdurrahim. Berikut ini riwayat Sa'id bin Sulaiman, "Sesungguhnya Rasulullah memerintahkan tukang cukur untuk mencukur rambutnya, lalu beliau memberikan rambut kepalanya bagian kanan kepada Abu Thalhah, sedangkan rambut kepala bagian kiri beliau SAW perintahkan untuk dibagi-bagikan di antara manusia." Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari Ibnu Uyainah dari Hisyam bin Hisan dari Ibnu Sirin dengan lafazh, "Ketika (beliau SAW) selesai melontar jumrah dan menyembelih hewan, maka tukang cukur mencukur rambut kepalanya bagian kanan. Lalu beliau SAW memanggil Abu Thalhah kemudian memberikan rambut tersebut kepadanya. Setelah itu tukang cukur kembali mencukur rambut kepala bagian kiri, lalu beliau memberikan rambut tersebut kepada Thalhah untuk dibagi-bagikan di antara manusia." Masih dalam riwayat Muslim disebutkan pula dari Hafsh bin Ghiyats dari Hisyam, bahwasanya beliau SAW membagikan rambut kepala bagian kanan kepada orang-orang yang ada di dekatnya. Sementara dalam salah satu lafazh disebutkan, "Beliau membagikan rambutnya kepada manusia, dimana salah seorang di antara mereka ada yang mendapat sehelai atau dua helai rambut. Lalu beliau memberikan rambut kepala bagian kiri kepada Ummu Sulaim." Dalam lafazh yang lain lagi dikatakan, "kepada Abu Thalhah."

FATHUL BAARI —

129

Riwayat-riwayat di atas tidak saling kontradiksi, bahkan semua riwayat tersebut mungkin untuk dikompromikan, yakni dengan mengatakan bahwa beliau SAW memberikan seluruh rambut kepalanya (baik bagian yang kanan maupun yang kiri) kepada Thalhah. Adapun rambut bagian kanannya, dibagi-bagikan oleh Abu Thalhah kepada manusia atas perintah langsung dari beliau SAW. Sementara rambut bagian kiri diberikan oleh Abu Thalhah kepada isterinya Ummu Sulaim, juga atas perintah Nabi. Pada salah satu riwayat Imam Ahmad ditemukan tambahan keterangan, "Agar ia (Ummu Sulaim) menyimpan rambut tersebut di tempat harum-haruman." Atas dasar ini, maka kata ganti " n y a " y a n g disebutkan dalam riwayat Abu Awanah, "Dia membagikannya" yaitu rambut kepala bagian kanan. Demikian pula dengan kata ganti " i a " p a d a sabda beliau dalam riwayat Ibnu Uyainah yang berbunyi, "Bagikanlah ia di antara manusia." Imam An-Nawawi berkata. "Dalam hadits ini terdapat keterangan disukainya mendahulukan mencukur rambut kepala bagian kanan menurut jumhur ulama, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Hadits ini juga merupakan dalil tentang sucinya rambut manusia seperti yang dikatakan oleh jumhur ulama, dan itu pula pendapat yang benar dalam madzhab kami (Syafi'iyah). Terdapat pula penjelasan kebolehan tabarruk (mencari berkah) dengan rambut beliau dan menyimpannya. Di samping itu, hadits ini menunjukkan disukainya memberi santunan kepada sesama teman dalam bentuk pemberian maupun hadiah. Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Hadits ini menjelaskan bahwa santunan yang diberikan kepada teman-teman tidak mesti sama ukurannya" Selanjutnya hadits ini memuat pula keterangan bolehnya melebihkan bagian seseorang yang melakukan tugas tertentu atas orang lain." Beliau (Imam An-Nawawi) menambahkan, "Para ulama berbeda pendapat mengenai nama orang yang mencukur beliau SAW saat itu, dan yang benar orang itu adalah Ma'mar bin Abdullah, sebagaimana yang dikatakan oleh Bukhari. Pendapat lain mengatakan, orang itu adalah Kharasy bin Umayyah." Demikian kutipan dari An-Nawawi. Tapi yang tepat, Kharasy adalah orang yang mencukur rambut beliau SAW saat berada di Hudaibiyah, wallahu a 'lam.

1 3 0 — FATHUL BAARI

Dalam naskah Imam Bukhari yang dinukil dari Ibnu Asakir, sebelum menyebutkan hadits berikut, tercantum satu bab dengan judul "Apabila anjing minum dalam bejana".
S

^

Q

O

y

y

y

y

*_JL^Jl u j - i ISI : J l i

H *M J y j

01

: Jl»

^

o*

. u l i - AJLJLJJ ^ « . L * !

172. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, Apabila anjing minum di bejana salah seorang di antara kamu, hendaklah ia mencucinya tujuh kali."'

Keterangan Hadits: v>jli lit (apabila kitab Al Muwaththa\ anjing minum) demikian yang terdapat dalam

sementara yang masyhur dari Abu Hurairah melalui

riwayat mayoritas perawi adalah dengan lafazh £Jj bj (Apabila anjing menjilat). Inilah lafazh yang masyhur dari segi bahasa. Apabila dikatakan
£_JJ-£!J

berarti anjing minum air dengan ujung

lidahnya, atau memasukkan

lidahnya ke dalam air dan menggerak-

gerakkannya. Tsa'lab berkata, "Makna kata jJj adalah memasukkan lidah ke dalam air ataupun zat cair lainnya, lalu lidah tersebut digerakgerakkan." Ibnu Darastawaih menambahkan, "Baik ia minum atau tidak." Ibnu Makki berkata, "Jika menjilat pada selain zat cair, maka dinamakan J «J." Kemudian Al Mathrazi mengatakan, bahwa jika jilatan itu dilakukan pada wadah yang kosong maka dinamakan J-^i. Ibnu Abdul Barr mengklaim bahwa lafazh o_pi (meminum) tidak diriwayatkan selain Malik, dan perawi-perawi lain menukil hadits ini dengan lafazh jJj (Menjilat). Akan tetapi kenyataan tidaklah seperti yang beliau katakan, sebab telah diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Mundzir melalui dua jalur periwayatan dari Hisyam bin Hisan dari Ibnu

FATHUL BAARI —

131

Sirin dari Abu Hurairah, dengan lafazh, ^ p > iij (Apabila anjing minum). Akan tetapi yang masyhur dinukil dari Hisyam bin Hisan adalah dengan lafazh, £—!j lii (Apabila anjing menjilat) sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya melalui berbagai jalur periwayatan dari beliau (Hisyam). Telah diriwayatkan oleh Abu Zinad (salah seorang guru Imam Malik) dengan lafazh, <->j—i lij (Apabila anjing minum), demikian pula Warqa' bin Umar sebagaimana yang dikutip oleh Al Jawazqi. Begitu juga yang diriwayatkan melalui Al Mughirah bin Abdurrahman, seperti dikutip oleh Abu Ya'la. Perlu diketahui, bahwa £_!j Imam Malik meriwayatkandengan lafazh, (Apabila anjing menjilat) sebagaimana yang dikutip oleh Abu

Ubaid dalam kitab beliau yang berjudul Ath-Thaharah melalui jalur periwayatan Isma'il bin Umar, dan dari jalur ini pula hadits ini dinukil oleh Al Isma'ili. Demikian pula yang diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam kitabnya Al Muwathaat melalui jalur periwayatan Abu Ali Al Hanafi dari Malik, terdapat dalam Naskah Sunan Ibnu Majah yang otentik (shahih) melalui riwayat Ruh bin Ubadah dari Malik. Dari sini diketahui bahwa seakan-akan Abu Zinad meriwayatkan dengan dua lafazh tersebut, karena makna keduanya sangatlah mirip. Hanya saja «-r'r* (meminum) memiliki makna yang lebih khusus daripada j l j (menjilat), oleh sebab itu kata "meminum" tidak dapat menggantikan fungsi kata "menjilat." Makna implisit (tersirat) dari kata

j—lj memberi

indikasi, bahwa

hukum ini hanya terbatas apabila anjing itu memasukkan lidahnya ke dalam bejana berisi air dan menggerak-gerakkannya. Namun apabila dikatakan bahwa perintah untuk mencuci bejana tersebut karena tercemari najis, maka tentu hukum pun berlaku apabila anjing menjilat tempat kering (j—*J) maupun menjilat bejana dalam keadaan kosong

Cj-—?<J).

Sehingga, penggunaan kata

j—Jj

hanyalah karena lafazh ini

merupakan fenomena yang umum. Adapun mengenai masalah apakah bagian badan anjing yang lainnya memiliki hukum yang sama dengan mulutnya? Menurut pendapat yang tertera dalam teks madzhab menyatakan, bahwa hukumnya adalah

1 3 2 — FATHUL BAARI

sama. Alasannya karena mulut adalah sesuatu yang paling mulia pada dirinya, maka tentu bagian-bagian badannya selain mulut kedudukannya di bawah derajat mulut. Namun dalam madzhab Imam Syafi'i yang lama disebutkan, bahwa hukum seperti itu hanya berlaku bagi mulut anjing dan tidak mencakup bagian-bagian badannya yang lain. Maka sehubungan dengan itu Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Ar-Raudhah, "Ini adalah pandangan yang ganjil (syadz)" Sementara dalam Syarh Al Muhadzab dikatakan, "Pandangan tersebut sangat kuat dari segi dalil. Sementara alasan yang dikemukakan bahwa mulut merupakan bagian paling mulia pada anjing tidak dapat diterapkan sepenuhnya, sebab mulut ini kadang dipergunakan untuk memakan najis." j,—To^-l t\—i] ^—i (Di bejana salah seorang di antara kamu) Secara lahiriah hal ini berlaku umum pada semua bejana, dan secara implisit ia tidak mencakup air yang tergenang. Kesimpulan ini berlaku mutlak (tanpa batasan) menurut Al Auza'i. Namun sekali lagi jika dikatakan bahwa perintah untuk mencuci bejana disebabkan tercemar najis, maka hukum tersebut berlaku pada air yang sedikit dan tidak mencakup air yang banyak. Sedangkan penyandaran bejana itu kepada seseorang tidak berpengaruh dalam menetapkan hukum, sebab hukum itu tetap berlaku meski bejana itu tidak ada pemiliknya. Demikian pula sabda beliau, "Hendaklah ia mencucinya", tidak berarti bahwa yang mesti mencuci adalah pemilik bejana itu sendiri. Kemudian ditambahkan oleh Imam Muslim dan An-Nasa'i dari jalur periwayatan Ali bin Mushir dari Al A'masy dari Abu Shalih dan Abu Razin, dari Abu Hurairah sehubungan dengan hadits ini, "Hendaklah ia menumpahkan air tersebut". Ini memperkuat pendapat bahwa perintah untuk mencuci adalah karena bejana tersebut telah tercemar oleh najis, dimana sesuatu yang ditumpahkan bisa saja berupa makanan ataupun minuman. Maka seandainya bekas jilatan anjing itu suci, tentu tidak diperintahkan untuk ditumpahkan karena adanya larangan untuk tidak menyia-nyiakan harta. Hanya saja Imam An-Nasa'i berkata, "Aku tidak tahu ada perawi lain yang menukil lafazh 'Hendaklah ia tumpahkan' kecuali Ali bin Mushir." Lalu Hamzah Al Kannani berkata, "Sesungguhnya riwayat Ali ini menyelisihi riwayat orang-orang yang lebih tsiqah (terpercaya)

FATHUL BAARI —

133

darinya."' Ibnu Abdul Barr menambahkan, "Para perawi terkemuka di antara murid-murid A'masy seperti Mu'awiyah dan Syu'bah tidak pernah menukil lafazh seperti itu." Demikian pula Ibnu Mandah berkata, "Lafazh seperti itu tidak dikenal diriwayatkan dari Nabi SAW kecuali melalui jalur periwayatan Ali bin Mushir." Aku Katakan, "Perintah untuk menumpahkan sisa jilatan anjing telah dinukil pula melalui riwayat Atho' dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, seperti dikutip oleh Ibnu Adji. Akan tetapi penisbatan riwayat tersebut langsung kepada Nabi masih perlu dianalisa lebih lanjut, bahkan yang benar silsilah periwayatannya hanya sampai kepada Abu Hurairah. Demikian pula perintah untuk menumpahkan sisa jilatan anjing telah disebutkan oleh Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah, dimana silsilah periwayatannya menduduki derajat shahih. Riwayat ini disebutkan oleh Ad-Daruquthni serta para pakar hadits lainnya." «d ~«-AJ (Hendaklah ia mencucinya) perintah ini berindikasi untuk

dilaksanakan secepatnya, namun mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu hanyalah berstatus disukai (mustahab). £—-> (Tujuh kali). Dalam riwayat Imam Malik tidak disebutkan

masalah mencampur air dengan tanah pada salah satu di antara ketujuh pencucian tersebut. Masalah ini juga tidak diriwayatkan oleh para perawi yang menerima hadits ini dari Abu Hurairah kecuali riwayat yang dinukil melalui jalur Ibnu Sirin, bahkan sebagian perawi yang menerima hadits ini dari beliau juga tidak mencantumkan masalah yang dimaksud. Selanjutnya para perawi yang menerima hadits tersebut dari Ibnu Sirin berbeda dalam menentukan manakah di antara ketujuh pencucian itu yang dicampur dengan tanah. Imam Muslim dan selain beliau meriwayatkan dari jalur Hisyam bin Hisan dari Ibnu Sirin bahwa pada pencucian pertamalah yang dicampur dengan tanah. Inilah versi yang paling banyak dinukil oleh para perawi dari Ibnu Sirin, yang juga dinukil oleh Abu Rafi'. Kemudian terjadi kontroversi di antara para perawi yang menerima hadits tersebut melalui jalur Qatadah dari Ibnu Sirin. Sa'id bin Basyir menyebutkan dalam riwayatnya dari Qatadah dari Ibnu Sirin, bahwa pencucian yang dicampur dengan tanah adalah pada kali yang pertama,

1 3 4 — FATHUL BAARI

sebagaimana dikutip oleh Ad-Daruquthni. Sementara Abban menyebutkan dalam riwayatnya dari Qatadah dari Ibnu Sirin bahwa yang dicampur dengan tanah adalah yang ketujuh, seperti dinukil oleh Abu Dawud. Sedangkan Imam Syafi'i menyebutkan dalam riwayatnya dari Sufyan dari Ayyub dari Ibnu Sirin dengan lafazh, "Pada kali yang pertama atau pada salah satu di antara (ketujuh) pencucian tersebut." Namun dalam riwayat As-Sudi dari Al Bazzar hanya mencantumkan lafazh, "pada salah satu di antara (ketujuh) pencucian tersebut", sebagaimana lafazh ini juga disebutkan oleh Hisyam bin Urwah dari Abu Zinad dari Ibnu Sirin. Adapun cara yang ditempuh untuk mengkompromikan riwayatriwayat yang saling kontroversi tersebut adalah dengan mengatakan, "Riwayat dengan lafazh, 'Salah satu di antara (ketujuh) pencucian tersebut' belum memberi penjelasan rinci. Sementara riwayat dengan lafazh 'Pada kali yang pertama" dan "Pada kali yang ketujuh" sama-sama memberi keterangan secara rinci. Adapun riwayat dengan lafazh, "Pada kali yang pertama atau pada salah satu di antara (ketujuh) pencucian tersebut' jika kata 'atau' pada riwayat ini memberi makna pilihan, yakni boleh memilih salah satu di antaranya, maka lafazh ini harus dikembalikan kepada salah satu di antara dua riwayat yang ada (yakni riwayat yang menyatakan pada kali yang pertama dan riwayat yang menyatakan pada kali yang ketujuh) berdasarkan kaidah 'lafazh mutlaq (tanpa menyebutkan batasan) harus dikembalikan kepada lafazh muqayyad (yang menyebutkan batasan tertentu)." Demikianlah yang dicantumkan oleh Imam Syafi'i secara tekstual dalam kitabnya Al Umm, dan ini pula pendapat yang dinyatakan secara tegas oleh Al Mur'isyi serta selain beliau di antara ulama madzhab Syafi'i. Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnu Daqiq Al 'Id dan As-Subki dalam pembahasan tersendiri. Sedangkan jika kata "atau" pada riwayat di atas hanya timbul dari keraguan perawi, maka riwayat mereka yang menyebutkan tanpa ragu-ragu lebih pantas untuk diterima. Dengan demikian langkah selanjutnya adalah menentukan manakah yang lebih akurat di antara dua riwayat yang ada, apakah riwayat dengan lafazh "pada kali pertama" ataukah riwayat dengan lafazh "pada kali ketujuh?" Apabila dicermati dengan teliti dapat disimpulkan bahwa riwayat dengan lafazh "Pada kali yang pertama" jauh lebih akurat ditinjau dari segi jumlah periwayat, ketelitian maupun logika. Sebab bila pencucian yang terakhir dicampur dengan tanah, maka seseorang butuh

FATHUL BAARI —

135

kepada pencucian yang lain untuk membersihkan bejana yang ia cuci. Imam Syafi'i telah menyebutkan secara tekstual dalam kitab Harmalah bahwa riwayat pertama lebih tepat, wallahu A 'lam. Hadits ini memberi keterangan tentang beberapa persoalan, di antaranya najis ditinjau dari segi hukum dapat menyebar ke tempat sekitarnya dengan syarat tempat tersebut berupa zat cair. Zat cair dapat berubah menjadi najis bila pada salah satu bagiannya terkena najis, dan bejana yang berisi air seperti itu dihukumi tercemar najis. Air yang sedikit dapat berubah menjadi najis bila kejatuhan najis meskipun tidak berubah salah satu sifatnya, sebab jilatan anjing umumnya tidak dapat merubah sifat-sifat dasar air. Adanya perbedaan hukum air yang kejatuhannya dan air yang ditumpahkan ke dalam najis, karena Rasulullah memerintahkan untuk menumpahkan air yang kejatuhan najis, dan hakekat perintah ini adalah untuk menumpahkan air seluaihnya. Setelah itu diperintahkan pula agar bejana tersebut dicuci, dan tentu saja hakikat perintah ini mengacu pada suatu perbuatan yang dapat dinamakan mencuci, meskipun air yang dipakai mencuci tersebut lebih sedikit daripada yang dibuang.

Pelajaran yang dapat diambil Ulama madzhab Maliki dan Hanafi memilih pendapat yang berbeda dengan makna zhahir hadits tersebut. Ulama Maliki mengatakan bahwa tidak ada di antara ketujuh pencucian yang dicampur dengan tanah, meskipun menurut riwayat yang masyhur dari mereka mengatakan wajib untuk mencuci bejana yang berisi air bekas jilatan anjing sebanyak tujuh kali. Hal ini karena keterangan untuk mencampur salah satu pencucian tersebut dengan tanah tidak dinukil dalam riwayat Imam Malik. Al Qarafi (salah seorang ulama madzhab Maliki) berkata, "Terdapat sejumlah hadits Shahih mengenai hal itu, maka sangat mengherankan mengapa mereka tidak berpendapat sebagaimana kandungan hadits-hadits tersebut." Lalu diriwayatkan pula pendapat dari Imam Malik yang menyatakan bahwa mencuci bejana sebanyak 7 kali adalah sunah hukumnya. Akan tetapi pendapat yang terkenal di kalangan sahabatnya menyatakan bahwa perintah untuk mencuci sebanyak 7 kali hukumnya wajib, namun tujuannya hanyalah bersifat ibadah semata bukan karena

1 3 6 — FATHUL BAARI

bejana tersebut tercemar najis. Sebab, menurut pandangan mereka anjing adalah suci. Kemudian ulama-ulama generasi berikutnya dalam madzhab Maliki menyebutkan hikmah yang terkandung dalam perintah untuk mencuci bejana tersebut, bukan karena bejana itu tercemar najis, seperti akan kami terangkan pada pembahasan selanjutnya. Ada satu riwayat dari Imam Malik yang mengatakan bahwa bejana tersebut hukumnya tercemar najis, namun kaidah dasar beliau mengatakan, "Air tidak berubah menjadi najis kecuali bila berubah salah satu sifatnya." Oleh sebab itu kewajiban mencuci bejana berisi air bekas jilatan anjing sebanyak tujuh kali bukan karena bejana itu tercemar najis, melainkan demi tujuan ibadah semata. Akan tetapi pendapat ini tidak sejalan dengan sabda Nabi di bagian awal hadits dalam masalah ini, yakni riwayat yang dinukil oleh Imam Muslim serta ahli hadits lainnya dari Muhammad bin Sirin dan Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah, dimana dikatakan, "Sucinya bejana salah seorang di antara kamu apabila dijilat anjing adalah dengan dicuci sebanyak tujuh kali." Letak kontradiksi antara hadits ini dengan pendapat Imam Malik adalah pada kata, "Sucinya". Hal itu karena kata "suci" biasanya hanya dipergunakan untuk menyatakan sesuatu apabila bersih dari hadats (junub) ataupun najis, sementara mengenai perintah untuk mencuci bejana yang berisi air bekas jilatan anjing tentu bukan untuk membersihkan hadats. Dengan demikian, dapat dipastikan tujuan mencuci di sini adalah untuk menghilangkan najis. Namun argumentasi ini dapat pula dijawab dengan mengatakan bahwa kata "suci" penggunaannya tidak hanya terbatas pada bersihnya sesuatu dari hadats (junub) ataupun najis. Sebab telah diketahui bahwa tayammum tidak dapat menghilangkan hadats (junub), namun Nabi SAW menamakannya sebagai perkara yang mensucikan seorang muslim. Di samping itu, kesucian juga dipergunakan pada selain makna di atas, seperti firman Allah, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (Qs. AtTaubah(9): 103) Demikian pula dengan sabda Nabi, "Siwak (menggosok gigi) merupakan kesucian bagi mulut." Adapun jawaban untuk bantahan pertama dikatakan, "Sesungguhnya tayammum dilaksanakan karena hadats (junub). Oleh karena tayammum itu menggantikan fungsi sesuatu yang dapat mensucikan hadats, maka ia pun dinamakan sebagai sesuatu yang mensucikan."

FATHUL BAARI —

137

Namun bagi mereka yang berpandangan bahwa tayammum dapat pula menghilangkan hadats (junub), maka kritik yang dikemukakan tidak mempunyai landasan yang kuat." '
5

Sedangkan jawaban untuk bantahan kedua dikatakan, "Sesungguhnya lafazh-lafazh yang telah menjadi istilah syariat jika indikasi maknanya menunjukkan pengertiannya secara bahasa dan sekaligus menunjukkan pengertiannya secara syariat, maka lafazh seperti ini mesti diartikan sebagaimana pengertiannya syariat, kecuali bila ada keterangan yang menunjukkan makna yang lain. Adapun klaim sebagian ulama madzhab Maliki bahwa perintah untuk mencuci tersebut hanya berlaku bagi anjing yang dilarang untuk dipelihara, perlu dibuktikan terlebih dahulu bahwa larangan untuk memelihara anjing lebih dahulu ditetapkan daripada perintah untuk mencuci bejana yang berisi air bekas jilatan anjing. Di samping itu, perlu pula faktor penjelas yang menyatakan bahwa perintah tersebut hanya berlaku bagi jilatan anjing yang dilarang untuk dipelihara, sebab kata anjing pada dasarnya mencakup semua jenis anjing (baik yang boleh dipelihara maupun yang dilarang). Oleh sebab itu, klaim seperti di atas perlu pembuktian." Sama seperti itu, pernyataan mereka yang membedakan antara anjing dari dusun dan anjing perkotaan. Demikian pula dengan klaim mereka bahwa anjing yang dimaksud adalah anjing gila, dan sesungguhnya hikmah perintah mencuci bejana tersebut karena atas pertimbangan medis. Hal ini karena syariat telah memberi perhatian tersendiri terhadap angka tujuh ini sehubungan dengan masalah-masalah medis, seperti sabda beliau, "Siramilah aku sebanyak tujuh timba", dan sabdanya, "Barangsiapa di pagi hari makan tujuh biji kurma ajwah..." Kemudian argumentasi ini dibantah dengan mengatakan bahwa anjing gila sama sekali tidak mau mendekati air, lalu bagaimana mungkin diperintahkan mencuci bejana berisi air bekas jilatannya? Selanjutnya pertanyaan ini dijawab oleh Hafizh Ibnu Rusyd, "Anjing gila tidak mendekati air pada saat penyakitnya parah, namun pada awal penyakit itu menjalar ia tetapi minum air."

Inilah pendapat yang benar berdasarkan indikasi Al Qur'an serta hadits, dan tidak ada suatu dalil yang dapat dijadikan pegangan tayammum tidak menghilangkan hadats. oleh mereka yang mengatakan bahwa

1 3 8 — FATHUL BAARI

Alasan yang dikemukakan oleh ulama madzhab Maliki meskipun memiliki kesesuaian dengan perintah yang ada, namun pengkhususan ini tidak berdasarkan dalil. Adapun alasan perintah mencuci bejana tersebut disebabkan tercemar najis jauh lebih kuat, karena makna tersebut tertera dalam hadits secara tekstual. Sementara telah dinukil riwayat yang akurat dari Ibnu Abbas, bahwa sebab perintah mencuci bejana tersebut adalah karena tercemar najis. Riwayat ini dinukil oleh Muhammad bin Al Marwazi melalui silsilah periwayatan yang shahih dan tidak ada satupun riwayat dari para sahabat lain yang menyelisihinya. Di antara pendapat madzhab Maliki yang masyhur adalah membedakan hukum antara bejana berisi air dengan bejana berisi makanan jika dijilat anjing. Bila bejana tersebut berisi air, maka airnya ditumpahkan. Sedangkan bila berisi makanan, maka makanan itu dimakan lalu bejananya dicuci sebagai wujud ibadah. Alasan mereka bahwasa perintah untuk membuang isi bejana yang dijilat anjing masih bersifat umum, maka ada pengecualian dalam hal ini makanan disebabkan ada larangan menyia-nyiakan harta. Namun dikatakan kepada mereka, "Justeru larangan menyianyiakan harta telah dibatasi dengan perintah menumpahkan air bekas jilatan anjing. Pandangan ini diperkuat adanya kesepakatan ulama yang mengharuskan membuang zat cair -dalam ukuran yang sedikit- apabila dijilat anjing, meskipun harganya mahal. Dari sini terbukti bahwa larangan menyia-nyiakan harta telah dibatasi oleh perintah untuk menumpahkan air bekas jilatan anjing." Setelah jelas bahwa air sisa jilatan anjing hukumnya najis, maka ada kemungkinan hal itu disebabkan air liur anjing itu sendiri adalah najis. Ada pula kemungkinan bahwa air liur anjing pada dasarnya adalah suci, namun ia menjadi najis karena faktor-faktor dari luar, seperti karena kebiasaan anjing memakan bangkai. Akan tetapi kemungkinan pertama lebih beralasan, sebab inilah yang menjadi dasar. Di samping itu jika dikatakan najisnya air bekas jilatan itu karena kemungkinan kedua, maka konsekuensinya hukum ini berlaku pula pada binatang yang lain, misalnya kucing. Setelah jelas bahwa yang menyebabkan najisnya air sisa jilatan anjing adalah karena memang air liurnya adalah najis, maka hal itu tidak langsung menjadi alasan untuk menetapkan najisnya bagian-bagian anjing yang lain, kecuali bila ditetapkan melalui giyas (analogi). Seperti

FATHUL BAARI —

139

dikatakan, "Apabila air liur anjing adalah najis, maka mulutnya juga najis. Sebab air liur diproses melalui mulut dan air liur berkedudukan sebagai keringat mulutnya, sementara mulut adalah bagian termulia darinya, maka dengan demikian keringat badannya juga najis. Lalu apabila keringat badannya najis, maka seluruh badannya termasuk najis pula sebab keringat diproses dari badan. Hanya saja apakah bagianbagian badan anjing yang lain disamakan dengan air liurnya, dalam artian bekasnya mesti dicuci pula sebanyak tujuh kali dimana salah satunya dicampur dengan tanah ataukah tidak demikian? Isyarat mengenai hal ini telah disebutkan dalam perkataan Imam An-Nawawi pada pembahasan terdahulu. Di lain pihak, ulama madzhab Hanafi disamping tidak mewajibkan mencampur salah satu air cucian dengan tanah, mereka tidak pula mewajibkan untuk mencuci sebanyak tujuh kali. Lalu Imam Ath-Thahawi serta ulama-ulama yang lain mengemukakan sejumlah alasan untuk memperkuat pendapat tersebut, di antaranya karena Abu Hurairah sebagai perawi hadits dalam masalah ini justeru berfatwa untuk mencuci bejana bekas jilatan anjing sebanyak tiga kali. Hal ini menurut mereka sebagai bukti bahwa kewajiban mencuci sebanyak tujuh kali telah dihapus (mansukh). Lalu alasan ini dibantah dengan mengatakan bahwa ada kemungkinan Abu Hurairah berpandangan mencuci tujuh kali hukumnya hanyalah sunah bukan wajib, atau ada pula kemungkinan beliau lupa akan apa yang diriwayatkannya. Dengan adanya kemungkinan seperti ini, penghapusan hukum tersebut tidak dapat dipastikan. Di samping itu, telah diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah pernah berfatwa untuk mencuci bejana bekas jilatan anjing sebanyak tujuh kali. Sementara riwayat tentang fatwa beliau yang sesuai dengan apa yang ia riwayatkan jauh lebih akurat dibanding riwayat tentang fatwa beliau yang menyelisihi apa yang ia riwayatkan, baik ditinjau dari segi silsilah periwayatan maupun dari sisi logika. Adapun dari sisi logika nampak jelas, sedangkan dari segi silsilah periwayatan sesungguhnya riwayat tentang fatwa beliau yang sesuai dengan apa yang ia riwayatkan telah dinukil dari Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah, yang mana ini adalah sanad paling shahih. Sedangkan riwayat tentang fatwa beliau yang menyelisihi apa yang ia riwayatkan telah dinukil dari jalur Abdul Malik bin Abu

1 4 0 — FATHUL BAARI

Sulaiman dari Atha' dari Abu Hurairah, dimana silsilah periwayatannya jauh di bawah derajat silsilah periwayatan yang pertama. Alasan lain yang mereka kemukakan adalah, sesungguhnya tingkat kenajisan kotoran (tahi) jauh lebih berat daripada air sisa jilatan anjing, namun untuk membersihkan kotoran tersebut tidak disyaratkan untuk dicuci sebanyak tujuh kali. Dari sini maka tentu mencuci bejana bekas jilatan anjing lebih pantas lagi untuk tidak dibatasi dengan jumlah tertentu. Jawaban untuk argumentasi ini saya (Ibnu Hajar) katakan, "Tidak ada kemestian bahwa sesuatu yang lebih tinggi tingkat kenajisannya akan lebih berat pula dalam tinjauan hukumnya. Di samping itu perkataan tersebut merupakan analogi yang menyalahi nash (teks hadits), maka dianggap rusak." Mereka mengklaim pula bahwa perintah untuk mencuci bejana bekas jilatan anjing sebanyak tujuh kali ditetapkan pada saat diperintahkan untuk membunuh anjing. Maka ketika dilarang untuk membunuh anjing, perintah untuk mencuci bejana sebanyak tujuh kali ikut terhapus. Klaim ini dibantah berdasarkan bukti bahwa perintah untuk membunuh anjing dikeluarkan pada permulaan hijrah, sedangkan mencuci bejana bekas jilatan anjing sebanyak tujuh kali diperintahkan pada masa akhir kehidupan Rasulullah. Sebab, hadits ini adalah riwayat Abu Hurairah dan Abdullah bin Mughaffal. Sementara telah disebutkan oleh Abdullah bin Mughaffal, bahwa beliau mendengar Nabi memerintahkan mencuci bejana di saat ia masuk Islam. Padahal beliau masuk Islam pada tahun ketujuh hijrah, sama seperti Abu Hurairah. Bahkan, konteks riwayat Imam muslim sangat jelas menyatakan bahwa perintah mencuci bejana yang dijilat anjing dikeluarkan setelah perintah membunuh anjing. Ulama madzhab Hanafi memperkuat pendapat mereka yang tidak sejalan dengan hadits tersebut, seraya berdalih bahwa ulama madzhab Syafi'i juga tidak komitmen mengamalkan hadits yang dimaksud. Sebab bila mereka komitmen mengamalkan hadits itu niscaya mereka menetapkan bahwa mencuci bejana bukan hanya tujuh kali tapi delapan kali, berdasarkan kandungan hadits Abdullah bin Mughaffal yang diriwayat-kan
L-JIJ-JI

oleh Imam Muslim, dengan lafazh, sjj&j

^y>

«jL~z\b

j,

(Cucilah bejana itu tujuh kali, lalu campurkanlah yang

FATHUL BAARI —

141

kedelapan

dalam

tanah). Dalam riwayat Ahmad disebutkan,

^O^ —>
1

(dengan tanah). Jawaban pernyataan ini aku (Ibnu Hajar) katakan, "Sikap ulama madzhab Syafi'i yang tidak mengamalkan makna lahiriah hadits Abdullah bin Mughaffal tidaklah menjadi dalih bagi mereka (ulama madzhab Hanafi) untuk meninggalkan hadits dalam persoalan ini. Sebab jika tepat alasan yang dikemukakan oleh ulama madzhab Syafi'i untuk tidak mengamalkan makna lahir yang terkandung dalam hadits Abdullah bin Mughaffal, maka gugurlah dalih yang di-kemukakan oleh ulama madzhab Hanafi. Sedangkan jika tidak, maka kedua madzhab ini samasama tidak mengamalkan hadits, demikian dikatakan oleh Ibnu Daqiq Al •Id." Adapun mengenai alasan ulama madzhab Syafi'i sehingga tidak mengamalkan kandungan hadits Abdullah bin Mughaffal terdiri dari beberapa hal. Sebagian mereka ada yang beralasan karena hadits tersebut menyalahi ijma ' (kesepakatan) untuk mencuci bejana yang dijilat anjing sebanyak tujuh kali saja. Namun perkataan ini perlu ditinjau lebih jauh, sebab pendapat seperti itu telah dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri, dan ini pula yang menjadi pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat dari beliau seperti dinukil oleh Harb Al Karmani. Lalu diriwayatkan dari Imam Syafi'i, ia berkata, "Ini adalah hadits yang tidak aku ketahui keshahihannya." Akan tetapi, perkataan beliau ini tidaklah menjadi alasan untuk tidak mengamalkan hadits tersebut bagi mereka yang telah mengetahui keshahihannya. Sebagian ulama madzhab Syafi'i lebih cenderung menguatkan hadits Abu Hurairah daripada hadits Abdullah bin Mughaffal, padahal menguatkan salah satu dari dua riwayat yang ada tidak boleh ditempuh selama kedua riwayat itu masih dapat dipadukan. Dengan mengamalkan hadits Abdullah bin Mughaffal berarti telah mengamalkan pula hadits Abu Hurairah, namun tidak sebaliknya. Lalu tambahan keterangan dari perawi tsiqah (terpercaya) dapat diterima. Andaikata kita lebih memilih cara menguatkan salah satu dari dua riwayat yang ada, maka kita tidak akan berpendapat untuk mencampur salah satu pencucian tersebut dengan tanah. Sebab, riwayat Imam Malik yang tidak menyebutkan hal ini jauh lebih kuat daripada riwayat yang menyebutkannya. Meskipun demikian, kita tetap berpendapat untuk

1 4 2 — FATHUL BAARI

mencampur salah satu pencucian dengan tanah untuk pengamalan tambahan keterangan yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya). Sebagian ulama berusaha mengompromikan antara hadits Abu Hurairah (yang menyatakan mencuci tujuh kali) dengan hadits Abdullah bin Mughaffal (yang menyatakan mencuci delapan kali) dari segi majaz (kiasan). Mereka mengatakan, "Karena tanah merupakan jenis lain dari air, maka percampuran keduanya (antara air dan tanah) pada satu kali cucian dihitung dua kali." Akan tetapi pendapat ini dibantah oleh Ibnu Daqiq Al Id dengan mengatakan bahwa sabda beliau, ^^ili
ijf&j

(dan campurlah

yang

kedelapan dengan tanah) sangat jelas memberi keterangan adanya pencucian tersendiri di samping tujuh kali cucian yang lain. Akan tetapi apabila sebelum dicuci dengan air tujuh kali, bejana tersebut terlebih dahulu digosok dengan tanah, maka bisa saja dikatakan menggosok dengan menggunakan tanah ini dianggap pula mencuci, meski hanya dalam pengertian majaz (kiasan). Cara terakhir ini juga merupakan faktor yang lebih menguatkan bahwa mencampur tanah dilakukan pada awal mencuci. Pembicaraan mengenai persoalan ini dan apa yang berhubungan dengannya sangatlah luas sehingga dapat dijadikan satu tulisan tersendiri, namun apa yang telah kami sebutkan dalam tulisan singkat ini telah mencukupi, wallahu a lam.

173. Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, "Bahwasanya seorang laki-laki melihat seekor anjing memakan pasir karena sangat haus, maka laki-laki tersebut mengambil sepatunya

FATHUL BAARI —

143

lalu digunakannya menimba air untuk memberi minum anjing itu hingga hilang hausnya. Maka Allah mensyukuri orang itu dan memasukkannya ke dalam surga."

Keterangan hadits: VJrj ui (Bahwa seorang laki-laki). Tidak disebutkan nama laki-laki yang dimaksud, yang jelas ia berasal dari bani Isra'il sebagaimana akan diterangkan pada pembahasan berikut.

» ''l,
J' J^U (Memakan pasir), maksudnya menjilati tanah yang agak basah. * < *—J <-9j—*i Jj«r<i (Lalu digunakannya — menimba air). Lafazh ini

dijadikan sebagai dalil oleh Imam Bukhari bahwa air bekas jilatan anjing adalah suci, karena secara lahir orang tersebut memberi minum anjing di sepatunya. Namun pendapat ini dikritik, karena argumentasi demikian dibangun di atas dasar yang mengatakan bahwa syariat umat sebelum Muhammad termasuk syariat bagi umatnya, padahal keabsahan asas ini masih diperselisihkan. Andaikata asas ini diterima sebagai salah satu sumber dalam menetapkan hukum, maka ruang lingkupnya berada pada hal-hal yang belum dihapuskan oleh syariat Muhammad. Meskipun kita menerima bahwa hukum tersebut belum dihapus, maka tetap saja belum dapat dijadikan sebagai dalil yang kuat. Sebab masih ada kemungkinan laki-laki itu memberi minum anjing dengan menumpahkan air di suatu wadah, atau kemungkinan lain ia mencuci sepatunya setelah memberi minum anjing itu dan ia tidak langsung memakainya. J—1 J—Ui 'f.—lii (Maka Allah mensyukuri orang itu), yakni Allah dengan cara Pembahasan "Keutamaan Allah.

memujinya lalu memberi pahala atas perbuatannya itu menerima amalannya lalu memasukkannya ke dalam surga. selanjutnya mengenai hadits ini akan diterangkan pada bab Memberi Minum" dalam kitab Asy-Syurbu (minuman), insya

1 4 4 — FATHUL BAARI

174. Diriwayatkan dari Hamzah bin Abdullah dari bapaknya, ia berkata, "Biasanya anjing-anjing kencing dan ke sana ke mari melewati masjid pada zaman Rasulullah, namun mereka tidak memerciki tempat itu dengan air sedikitpun."

Keterangan Hadits: * - r » * ^ — C J \ £ " (Biasanya anjing-anjing) Dalam riwayat Abu N u ' a i m

dan Al Baihaqi melalui jalur periwayatan Ahmad bin Syabib terdapat tambahan, J j J (kencing). Demikian pula disebutkan oleh Al Ashili dalam riwayat Ibrahim bin Ma'qil dari Imam Bukhari. Lalu diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan Isma'ili melalui jalur periwayatan Abdullah bin Wahab dari Yunus bin Yazid (guru Syabib bin Sa'id). Berdasarkan riwayat-riwayat ini tidak ditemukan suatu hujjah (alasan) untuk menyatakan bahwa anjing adalah suci, sebab ulama sepakat bahwa kencing anjing sadalah najis. Demikian perkataan Ibnu Munir. Namun perkataan beliau dapat dijawab dengan mengatakan, "Adanya pandangan yang menyatakan anjing termasuk hewan yang dimakan, dan kencing hewan yang dimakan dagingnya hukumnya suci dapat membatalkan kesepakatan yang beliau sebutkan." Terlebih lagi telah ada pendapat dari sejumlah ulama yang menyatakan bahwa kencing semua hewan hukumnya suci, kecuali air kencing manusia. Di antara mereka yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Wahab sebagaimana yang dinukil oleh Al Isma'ili dan lainnya seperti akan dibahas lebih lanjut pada bab "Membersihkan Kencing". Al Mundziri berkata, "Maksudnya anjing-anjing itu kencing di luar masjid dan di tempat tertentu lalu masuk dan berjalan melewati masjid, sebab saat itu masjid tidak memiliki pintu yang tertutup." Beliau mengatakan pula, "Sangat jauh kemungkinannya jika anjing dibiarkan

FATHUL BAARI —

145

begitu saja di dalam masjid dan menghinakannya dengan kencing di dalamnya." Tetapi pendapat ini dibantah pula dengan mengatakan jika anjing dianggap suci, niscaya perbuatan seperti itu tidaklah terlarang sebagaimana kucing. Adapun yang lebih tepat, bahwa yang demikian itu terjadi pada awal-awal Islam, sebab hukum asal sesuatu adalah mubah. Kemudian datang perintah untuk memuliakan masjid dan mensucikannya, sekaligus membuat pintu-pintu tertutup. Pandangan ini disinyalir oleh keterangan tambahan yang terdapat pada riwayat Al Isma'ili yang beliau nukil dari jalur Ibnu Wahab sehubungan dengan hadits di atas dari Ibnu Umar, "Umar pernah berkata dengan suara yang lantang, 'Jauhilah oleh kamu perkataan yang sia-sia dalam masjid.'" Lalu Ibnu Umar berkata, "Dahulu aku biasa tidur di masjid pada masa Rasulullah sementara anjinganjing.. .dst." Di sini Ibnu Umar mengisyaratkan bahwa peristiwa masuknya anjing ke dalam masjid terjadi pada masa-masa awal dibangunnya masjid, setelah itu diperintahkan untuk memuliakan masjid meskipun hanya sekedar perkataan yang sia-sia. Maka, dengan keterangan ini tertolaklah pandangan yang menjadikan hadits ini sebagai dalil yang menyatakan anjing adalah suci. o j—'i'y. 'j—fjSo j«—u (Namun mereka tidak memerciki tempat itu

(dengan air) sedikitpuri), mengindikasikan tidak dilakukannya pencucian. Lafazh ini telah dijadikan alasan oleh Ibnu Baththal untuk menyatakan sucinya air sisa jilatan anjing, sebab kebiasaan anjing adalah mencari tempat bekas makanan. Padahal tak ada rumah bagi para sahabat saat itu selain masjid, sehingga tidak tertutup kemungkinan jika air liur anjing ini mengenai bagian-bagian tertentu di dalam masjid. Kemudian pandangan Ibnu Baththal ini dibantah dengan mengatakan bahwa sucinya masjid dari najis merupakan perkara yang telah diyakini, sementara apa yang beliau sebutkan hanyalah perkara yang diragukan. Padahal, sesuatu yang telah diyakini tidak dapat dihilangkan oleh perkara yang masih diragukan. Kemudian indikasi hadits ini tidak pula kontradiksi dengan hadits yang memerintahkan untuk mencuci bejana yang berisi air bekas jilatan anjing. Abu Dawud dalam kitabnya As-Sunan menggunakan lafazh hadits ini sebagai keterangan, bahwa tanah yang terkena najis dapat kembali suci bila najis tersebut telah mengering. Yakni bahwasanya perkataan dalam hadits itu "Namun mereka tidak memerciki tempat itu sedikitpun", lebih tegas lagi menunjukkan bahwa tempat itu tidak disiram air.

1 4 6 — FATHUL BAARI

Andaikata mengeringnya najis tersebut tidak berarti tempat itu telah suci, niscaya para sahabat tidak akan membiarkan tempat yang terkena najis tanpa menyiramnya. Namun, cukup jelas bagi kita akan kelemahan yang terdapat dalam riwayat ini.

Catatan Penting Telah diriwayatkan oleh Ibnu At-Tin dari Ad-Dawudi (salah seorang pensyarah Shahih Bukhari), bahwasanya beliau mengganti lafazh
'c

i')

' ,

> 'O ,

ijj (memerciki) dengan <> 1J J&j>_ (mengawasi), lalu beliau menafsirkannya dengan makna tidak takut. Namun tentu saja tafsiran ini cukup jauh dari makna yang seharusnya, sebab kata mengawasi di sini
Oj

diungkapkan dengan lafazh i_~a^j, dimana lafazh ini sinonim dengan kata

'j

yakni menunggu. Adapun meniadakan

rasa takut dengan sebab

tidak adanya pengawasan atau perhatian terhadap hal tersebut, merupakan penafsiran sesuatu dengan sebagian daripada konsekuensinya, wallahu a 'lam.

wy

w v£

y

y

y y

y

^

^

i.

di |K cX.jl bl : JUi % "J^S\ cJll- : Jli ^Jl^ J <s^ "J
j O %

9

y

y

^

y

O

/

0^

y

y

y

y

y

y y

O

s*

y

y

yy

$

^ O

• r 1»

L«Jli jTli *^i J5"l blj jTi Jiii p-L«-dl

^ J P ^41^ ulu jri; ^ jii > t dsr £ . Wii J i r j~.jf

: y \u s '

iur

175. 7e/a/i diriwayatkan dari Adi bin Hatim, ia berkata, 'Aku pernah bertanya kepada Nabi SA W, maka beliau bersabda, 'Jika engkau melepas anjingmu yang telah dilatih lalu ia membunuh binatang buruan, maka makanlah buruan itu. Namun jika ia memakannya, maka janganlah kamu makan buruan tersebut, sebab ia menangkapnya hanyalah untuk dirinya sendiri.' Aku (Adi) berkata, 'Aku melepas anjingku lalu aku dapati bersamanya anjing yang lain.' Beliau bersabda, 'Janganlah engkau makan, sebab

FATHUL BAARI —

147

engkau hanya mengucapkan basmalah atas anjingmu mengucapkan basmalah atas anjing yang lain.''"

dan tidak

Keterangan Hadits: cJl '«> (Aku pernah bertanya), maksudnya mengenai hukum

binatang hasil buruan anjing. Sengaja kalimat pertanyaan itu tidak disebutkan karena mencukupkan dengan indikasi jawaban. Imam Bukhari mencantumkan lafazh pertanyaan yang dimaksud secara tekstual dalam hadits yang diriwayatkan melalui silsilah periwayatan yang lain pada bab "berburu", sebagaimana pembahasan lebih mendetail tentang hadits ini akan disebutkan pula di tempat tersebut. Adapun maksud Imam Bukhari menyebutkan hadits dalam pembahasan ini adalah untuk menguatkan pandangannya akan sucinya air bekas jilatan anjing. Adapun kesesuaian hadits ini dengan judul bab terdapat pada perkataan beliau (Imam Bukhari) pada bagian awal bab ini, yakni pernyataannya, "Dan air sisa jilatan anjing." Indikasi hadits ini yang mendukung apa yang dikatakan oleh Imam Bukhari adalah, bahwa Nabi SAW telah mengizinkan kepada Adi untuk memakan buruan yang ditangkap oleh anjing tanpa ada keterangan untuk mencuci bagian yang tersentuh oleh mulut anjing. Atas dasar inilah sehingga Imam Malik berkata, "Bagaimana mungkin binatang buruan yang ditangkap anjing boleh dimakan jikalau air liurnya adalah najis?" Pertanyaan ini dijawab oleh Al Isma'ili dengan menyatakan, bahwa hadits ini hanyalah memberi keterangan bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh anjing pemburu dianggap sebagai penyembelihan terhadap buruan tersebut, namun tidak ada keterangan apakah anjing itu najis atau tidak. Yang menguatkan pendapat ini, bahwa beliau SAW tidak memerintahkan pula untuk mencuci darah yang keluar karena gigitan anjing tersebut, namun beliau menyerahkan hal itu kepada ilmu yang telah diketahui oleh Adi, yakni adanya kewajiban untuk mencuci darah. Maka tidak tertutup kemungkinan pula beliau tidak memerintahkan mencuci bagian yang tersentuh mulut anjing, karena hal itu telah diketahui oleh Adi. Ibnu Munir berkata, "Dalam madzhab Syafi'i disebutkan bahwa jika pisau dicuci dengan air yang najis lalu digunakan menyembelih hewan, maka sembelihan tersebut menjadi najis. Sementara gigi anjing

1 4 8 — FATHUL BAARI

menurut mereka adalah najis. Lalu mereka (ulama madzhab Syafi'i) telah sepakat dengan kami bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh anjing buruan merupakan sembelihan secara syar'i, dimana ia tidak menjadikan binatang sembelihan sebagai najis." Perkataan Ibnu Munir dijawab pula bahwa adanya kesepakatan yang menyatakan sembelihan tidak menjadi najis bila digigit oleh anjing, tidaklah berkonsekuensi adanya kesepakatan bahwa sembelihan tersebut tidak tercemar oleh najis. Oleh sebab itu, kontradiksi yang menurut mereka terdapat pada madzhab Syafi'i tidaklah sebagaimana yang mereka katakan. Di samping dalam persoalan ini terdapat pula perbedaan pendapat, tapi pendapat yang masyhur adalah wajibnya mencuci tempat yang digigit oleh anjing tersebut. Namun, di sini bukanlah tempat untuk memaparkan persoalan ini.

34. Orang yang Berpendapat tidak Ada Wudhu Kecuali Karena Sesuatu yang Keluar dari Dua Jalan, (Qubul & Dubur)
Serta Firman Allah, Jafl *Jt j * j*£L» t&r ji "Atau kembali dari

tempat buang hajat." (Qs. Al Maa'idah(5): 6)

'o

f

o

s

' ' o

" i

*

i

f*

o

*

f

o

o
t

* '

'

"

~A

L-iil y>zj a Jii

^

j l i j j J l a jii

r- y > 0 y*-^ &UaP J l i j

'

a

f

0

' ^ '

0

y

0

'

''

'

J

y

0

t o "

''z
0

o

*
•*

J
i.J^J

*

-

' s

%

£

'

"

0

' s

'

%

*

'

'

'y

j

V|

V Ojjy» j j I

J l i j .AJS{

f-I
' "

i^il o l i aj^P J* cS£$£§°
' , ' , ' s

( . ^ k i *JL>jl * J$\ O? ^JU- ^ J b j . o J b ' ' * '

c

f'

'

o

*

f

'

f'

Jli j

.;OG

J,

^

3

l b ^ - j {f'j

fiil

(4—^

J ^ j

J»>

FATHUL BAARI —

149

yy

b J l i j .p_gJU>-ly- ^

JJUOJ

j j U L w < J I J l j L» : ^ l ^ J l
(

^
L

'"i'

i'.
O*
1

'

' S - '

s

"

s ? *
S j


O,s s

J'
0

U > o j j j f-Ul
t

i ^ p j.1
, ' ' ,
t^J* ^
3 3

t *

s O s O s

J s s ° .

s s J JMS-

J o

t

s

.4_iP

(J^-J j ^ - J I j

y\ J l i J
1 ^

^*

JLP VI

/ ^ / w ' berkata tentang seseorang yang keluar cacing dari duburnya atau keluar sesuatu dari kemaluannya seperti kutu, "Hendaklah orang itu mengulangi wudhunya. " Jabir bin Abdullah berkata, "Apabila seseorang tertawa saat shalat, ia mesti mengulangi shalatnya namun tidak mengulang wudhu. " Al Hasan berkata, "Jika ia memotong rambutnya atau kukunya maupun melepaskan sepatunya, maka tidak ada wudhu baginya. " Abu Hurairah berkata, "Tidak ada wudhu kecuali karena hadats. " Disebutkan dari Jabir bahwasanya Nabi pada perang Dzat Ar-Riqa\ saat itu ada seseorang yang dipanah hingga darah keluar dari tubuhnya namun beliau tetap ruku', sujud dan meneruskan shalatnya. Al Hasan berkata, "Kaum muslimin senantiasa shalat dalam keadaan luka-luka. " Thawus, Muhammad bin Ali, Atha ' serta ulama Hijaz, berkata "Darah tidak menyebabkan wudhu. " Ibnu Umar pernah memecahkan bisulnya hingga keluar darah namun beliau tak mengulangi wudhunya. Sementara Ibnu Abu Aufa pernah mengeluarkan ludah yang bercampur darah namun beliau tetap meneruskan shalatnya. Ibnu Umar dan Al Hasan berkata tentang seseorang yang berbekam, "Tidak ada baginya kecuali mencuci tempat yang dibekam"

(Orang yang berpendapat tidak ada wudhu kecuali karena sesuatu yang keluar dari dua jalan). Maksudnya tidak wajib berwudhu sebab keluarnya sesuatu dari tempat-tempat tertentu di badan, kecuali yang keluar dari dua jalan. Imam Bukhari mengisyaratkan dengan perkataannya ini akan perbedaan pendapatnya dengan mereka yang

1 5 0 — FATHUL BAARI

mengatakan wajib berwudhu sebab keluarnya sesuatu dari tempat-tempat di bagian badan, seperti muntah, bekam dan selain keduanya. Mungkin pula dikatakan, "Sesungguhnya hal-hal yang membatalkan wudhu dapat dikembalikan kepada dua tempat keluar tersebut. Misalnya, tidur adalah waktu yang rawan untuk menyebabkan keluarnya angin (kentut), sementara menyentuh wanita atau menyentuh kemaluan sangat memungkinkan untuk menyebabkan keluarnya madzi. Firman Allah, Jail—*i' j ? ^ tbr ji (Atau kembali dari tempat

buang hajat) Di sini kewajiban berwudhu -atau bertayammum pada saat air tidak ada- dikaitkan dengan kembalinya seseorang dari tempat buang hajat. Maka, ini merupakan dalil wajibnya wudhu apabila keluar sesuatu dari dua jalan tersebut. Sedangkan firman-Nya, * d J i j (Atau kamu menyentuh wanita) merupakan dalil wajibnya wudhu karena bersentuhan dengan wanita. Masuk dalam makna ini pula, menyentuh kemaluan disamping telah ada hadits shahih mengenai hal ini. Hanya saja, hadits ini tidak memenuhi syarat hadits shahih yang terdapat pada kitab Shahih Bukhari Muslim. Namun hadits tersebut telah diklasifikasikan sebagai hadits shahih oleh Malik dan para ahli hadits yang menulis kitab-kitab hadits shahih selain Bukhari dan Muslim. tilas- JtSj (Atha' berkata), maksudnya adalah Atha' bin Abu Rabah. Riwayat tentang perkataan Atha' ini telah dinukil lengkap dengan silsilah periwayatannya oleh Ibnu Abi Syaibah serta selain beliau, dan redaksinya sama dengan yang disebutkan di sini. Sedangkan silsilah periwayatannya adalah shahih. Adapun ulama yang berbeda dengan pandangan ini adalah Ibrahim An-Nakha'i, Qatadah dan Hammad bin Abu Sulaiman, dimana mereka mengatakan, "Wudhu tidak batal bila yang keluar itu hanya dalam jumlah kecil." Ini merupakan pandangan Imam Malik, dimana beliau mengatakan, "Kecuali jika yang keluar itu bercampur dengan najis." *—M' ^ 'c?<J^J (Jabir bin Abdullah berkata), riwayat mengenai

perkataan Jabir ini disebutkan oleh Sa'id bin Manshur dan AdDaruquthni serta selain keduanya berikut silsilah periwayatannya. Ini benar perkataan Jabir. Lalu perkataan seperti ini telah diriwayatkan pula oleh Ad-Daruquthni dengan silsilah periwayatan yang sampai langsung kepada Nabi SAW, namun beliau melemahkannya. Adapun yang

FATHUL BAARI —

151

menyelisihi perkataan Jabir ini adalah Ibrahim, Al Auza'i, Ats-Tsauri serta Abu Hanifah dan para pengikutnya, mereka mengatakan, "Tertawa dapat membatalkan wudhu pada saat seseorang sedang shalat dan tidak membatalkan bila di luar shalat." Ibnu Mundzir berkata, "Para ulama sepakat bahwa tertawa di luar shalat tidak membatalkan wudhu, lalu mereka berselisih apabila terjadi pada saat melakukan shalat. Orang yang mengatakan bahwa tertawa saat shalat dapat membatalkan wudhu, adalah menyalahi qiyas (analogi) yang memiliki Ulat (sebab penetapan hukum) yang sangat jelas, lalu mereka berpedoman dengan hadits yang tidak shahih. Sangat jauh sekali jika para sahabat Rasulullah yang merupakan figur-figur terbaik umat ini tertawa di saat menghadap Allah, dengan diimami oleh Rasulullah." Demikian nukilan dari Ibnu Mundzir. Di samping itu, mereka yang berpendapat seperti ini tidak mengambil keumuman riwayat tersebut. Bahkan mereka mengatakan bahwa tertawa yang membatalkan shalat adalah tertawa yang terbahak-bahak, bukan semua tertawa. berkata), ia adalah Al Hasan bin Abu Al Hasan Al Bashri. Perkataan beliau pada persoalan pertama telah disebutkan oleh Sa'id bin Manshur dan Ibnu Mundzir berikut para perawinya dengan silsilah periwayatan yang shahih. Adapun ulama yang menyelisihi perkataan beliau dalam hal itu adalah Mujahid dan Al Hakam bin Utbah serta Hammad, mereka mengatakan, "Barangsiapa yang memotong kukunya atau jambangnya maka wudhunya batal." Telah dinukil oleh Ibnu Mundzir bahwa ijma' (konsensus) ulama telah menyelisihi perkataan mereka. Adapun perkataan beliau pada permasalahan kedua (yakni tentang membuka sepatu, penerj.) telah disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah berikut para perawinya, dengan silsilah periwayatan yang shahih. Dalam hal ini beliau disetujui oleh Ibrahim An-Nakha'i, Thawus, Qatadah dan A t h a \ Demikian pula yang difatwakan oleh Sulaiman bin Harb dan Dawud. Namun mayoritas ulama menyelisihi pendapat mereka berdasarkan dua pendapat tentang wajibnya berwudhu secara berkesinambungan atau tidak. Mereka yang mewajibkan hal itu berkata, "Wajib memulai wudhu lagi bila jarak antara membuka sepatu itu dengan wudhu telah dipisahkan oleh waktu yang lama." Sedangkan mereka yang tidak mewajibkan hal itu berkata, "Cukuplah baginya mencuci kakinya saja." Pendapat inilah yang paling menonjol di antara pendapat-pendapat yang dinukil dari

1 5 2 — FATHUL BAARI

Imam Syafi'i. Dikatakan dalam kitab Al Muwaththa , "Aku senang orang seperti itu memulai lagi wudhunya (memperbarui)." Sebagian ulama dari madzhab Syafi'i serta selain mereka mengatakan, "Wajib mengulangi wudhu dari awal, meskipun dikatakan berkesinam-bungan dalam berwudhu bukanlah perkara yang diwajibkan." Sementara dari Laits dinukil pendapat yang menentang pendapat ini. ~*j—JJ! Jlsj (Abu Hurairah berkata). Perkataan beliau ini dinukil dari jalur Mujahid dari Abu

oleh Isma'il Al Qadhi berikut para perawinya dalam kitab Al Ahkam dengan silsilah periwayatan yang shahih Hurairah. Lalu diriwayatkan pula oleh Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi dari jalur Syu'bah dari Sahal bin Abu Shalih, dari bapaknya, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW. Lalu ditambahkan padanya lafazh, ^4_> jl (Atau angin).
y)—j—'t-

'j—S"iij

(Dan disebutkan

dari Jabir). Riwayat mengenai

perkataan Jabir ini disebutkan oleh Ibnu Ishaq berikut para perawinya dalam kitab Al Maghazi, beliau berkata, "Telah menceritakan kepadaku Shadaqah bin Yasar dari Uqail bin Jabir dari bapaknya..." Lalu disebutkan sebuah hadits yang cukup panjang. Hadits itu dinukil pula oleh Ahmad, Abu Dawud dan Ad-Daruquthni, serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban serta Al Hakim, semuanya dari jalur Ibnu Ishaq. Adapun guru beliau (Shadaqah) adalah seorang yang tsiqah (terpercaya). Sementara itu aku tidak mengenal ada perawi yang menerima riwayat dari Uqail ini selain Shadaqah, oleh sebab itu sehingga di tempat ini Imam Bukhari tidak menggunakan kata-kata yang menunjukkan secara tegas bahwa perkataan itu benar-benar berasal dari Jabir. Tapi ada pula kemungkinan hal ini beliau (Imam Bukhari) lakukan karena beliau telah meringkas riwayat tersebut, atau karena adanya perselisihan pada Ibnu Ishaq. £ j — o l i »j j—i- ^ — ? (Pada perang Dzat Ar-Riqa') mengenai hal ini akan diterangkan pada bab perang, insya
|t

Pembicaraan Allah.

'(j

J*- j l^'ji (Saat itu ada seseorang yang dipanah) Dari konteks

kalimatnya menjadi jelas latar belakang kisah ini. Secara ringkas kisah itu adalah sebagai berikut; Nabi SAW singgah di suatu lembah, lalu beliau bertanya, "Siapa yang bersedia menjaga kita pada malam ini?" Berdirilah

FATHUL BAARI —

153

seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin serta seorang laki-laki dari kalangan Anshar. Maka keduanya berjaga malam di pinggiran lembah seraya membagi tugas jaga. Laki-laki dari kalangan Muhajirin tidur lebih dahulu, sementara laki-laki dari kalangan Anshar berdiri melakukan shalat. Saat itu, seorang laki-laki dari pihak musuh datang dan melihat laki-laki Anshar sedang shalat. Tanpa pikir panjang ia pun langsung memanah laki-laki Anshar itu, dan anak panah tersebut tepat menancap di tubuhnya. Laki-laki Anshar itu mencabut anak panah dan terus melakukan shalat, lalu laki-laki dari pihak musuh kembali memanah untuk yang kedua kalinya dan laki-laki Anshar kembali mengulangi perbuatannya seperti pertama. Seterusnya ia dipanah lagi untuk yang ketiga kalinya, ia kembali mencabut anak panah dari tubuhnya lalu ruku' kemudian sujud hingga shalatnya selesai. Setelah itu ia membangunkan sahabatnya. Ketika sahabatnya melihat darah yang mengucur dari badannya, ia berkata, "Mengapa engkau tidak membangunkanku pada kali pertama engkau dipanah?" Laki-laki Anshar menjawab, "Aku sedang membaca satu surah dan aku tidak ingin memutuskannya." Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi melalui jalur periwayatan yang lain seraya menyebutkan nama laki-laki dari kalangan Anshar tersebut, yakni Abbad bin Bisyr, sedangkan laki-laki dari kalangan Muhajirin adalah Ammar bin Yasir. Adapun surah Al Qur'an yang dibaca adalah surah Al Kahfi. —li A—b'yi (Hingga darah keluar dari tubuhnya). Imam Bukhari

memaksudkan riwayat ini sebagai bantahan bagi ulama madzhab Hanafi yang menyatakan bahwa darah dapat membatalkan wudhu. Apabila dikatakan, "Mengapa ia melangsungkan shalatnya padahal darah telah mengenai badan dan pakaiannya, sementara menjauhi najis pada waktu shalat adalah wajib?" Pertanyaan ini dijawab oleh Al Khaththabi, "Kemungkinan darah yang keluar dari badannya saat itu memancar sekaligus sehingga tidak mengenai badan dan pakaiannya." Namun jawaban ini sulit untuk diterima. Kemungkinan lain dapat dikatakan bahwasanya darah hanya mengenai pakaian lalu dilepaskannya, sehingga darah tidak mengalir di badannya kecuali sedikit dan dimaafkan. Kemudian riwayat ini menjadi hujjah (alasan) bahwa wudhu tidak batal dengan keluarnya darah dari badan, meskipun belum ada kejelasan jawaban mengenai pertanyaan di atas. Nampaknya Imam Bukhari

1 5 4 — FATHUL BAARI

berpendapat bahwa keluarnya darah saat seseorang melakukan shalat tidaklah membatalkan shalat. Buktinya setelah kisah ini beliau menyebutkan riwayat dari Al Hasan Al Bashri, dimana dikatakan, "Kaum muslimin senantiasa shalat dalam keadaan luka-luka." Telah dinukil melalui riwayat yang shahih bahwa Umar bin Khaththab shalat sementara lukanya mengeluarkan darah. j>j\—]t> Jl—J j (Thawus berkata), yakni Thawus bin Kaisan seorang tabi'in yang cukup masyhur. Riwayat mengenai perkataannya ini telah disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah berikut para perawinya dengan silsilah periwayatan yang shahih.
il—LJj^J ^JJI

Adapun lafazhnya, Wjisj f JJI Ji s'ji 1 olS' AJ\

ilp J__i' (Beliau tidak menganggap pada darah itu keharusan

untuk berwudhu, darah itu dicuci darinya dan itu telah mencukupinya) ^_Lc 'j—° JJUWJ (Muhammad bin Ali), yakni putera Husain bin Ali Abu Ja'far Al Baqir. Riwayat mengenai perkataan beliau ini telah kami sebutkan berikut para perawinya dalam kitab Fawa'id Al HajidzAbu Bisyr yang terkenal dengan nama Basmawaih, melalui jalur periwayatan Al A'masy, dimana ia berkata, "Aku bertanya kepada Abu Ja'far Al Baqir tentang darah yang keluar dari hidung. Maka beliau berkata, 'Andaikata sungai darah mengalir (dari badan), aku tidak akan mengulangi wudhu karenanya.'" Adapun A t h a ' a d a l a h Ibnu Abi Rabah, sedangkan riwayat mengenai perkataannya ini telah disebutkan oleh Abdurrazzaq dari Ibnu Juraij dari beliau (Atha). jl s v J i J i i j (Serta ulama Hijaz). Kalimat ini merupakan aneksasi

(athaf) sesuatu yang bersifat umum kepada sesuatu yang bersifat khsusus, sebab ketiga ulama yang telah disebutkan terdahulu juga termasuk ulama Hijaz. Keterangan seperti ini telah diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Abu Hurairah dan Sa'id bin Jubair. Telah disebutkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dari tujuh ahli fikih Madinah. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Malik dan Syafi'i. t'ji—' j — j _ _ ° > \ j~a*j- (Ibnu Umar memecahkan bisulnya). Riwayat

mengenai perbuatan Ibnu Umar ini telah disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah berikut para perawinya dengan silsilah periwayatan yang shahih,

FATHUL BAARI —

155

lalu ditambahkan kalimat ^-Le> (lalu shalat) sebelum kalimat (tanpa mengulangi berwudhu). _Lo Jy ^»i jJt cJj-jj (Sementara Ibnu Abi Aufa pernah mengeluarkan

ludah yang bercampur darah). Dia adalah Abdullah, seorang sahabat Nabi dan anak sahabat nabi SAW. Riwayat mengenai perbuatan beliau ini telah disebutkan oleh Sufyan Ats-Tsauri dalam kitab beliau yang berjudul Al Jami', melalui jalur riwayat Atha' bin As-Sa'ib bahwasanya ia melihat Ibnu Abu Aufa melakukan hal tersebut. Sufyan mendengar berita ini dari Atha' sebelum hafalannya bercampur baur, maka silsilah periwayatan hadits ini shahih. j—** j — ! ' J i i j (Ibnu Umar berkata). Riwayat mengenai perkataan

beliau ini disebutkan oleh Imam Syafi'i dan Ibnu Abi Syaibah dengan lafazh i*^-iixi J—p j»*u?-t lii ^ ( B i a s a n y a jika ia berbekam cukup dengan mencuci tempat-tempat bekam tersebut). 'j L^Jij (dan Al Hasan) yakni Al Bashri. Riwayat mengenai

perkataannya ini telah disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan lafazh, *—**r\*u> j—Ji J—ii Jli ?<Q* lili Jjt^I j * J-H *ji (Bahwasanya beliau ditanya tentang orang yang berbekam, apakah yang harus dia Beliau berkata, "Mencuci bekas tempat bekamnya)" lakukan?

Catatan Penting Disebutkan dalam riwayat Al Ashili serta selainnya, "Tidak ada keharusan mencuci bekas-bekas tempat bekamnya." Ini pula yang dikatakan oleh Al Isma'ili. Lalu Ibnu Baththal berkata, "Dalam riwayat Al Mustamli yang tertulis adalah, 'Tidak ada baginya keharusan kecuali mencuci bekas-bekas tempat bekam.'" Riwayat seperti ini juga ditemukan dalam naskah yang ada pada kami dari riwayat Abu Dzar melalui ketiga perawi tersebut. Penyebutan riwayat-riwayat tanpa sanad seperti di atas menguatkan keakuratan berita tersebut. Telah diriwayatkan dari Laits bahwasanya ia berkata, "Cukuplah bagi orang yang berbekam untuk menyapu tempat bekam lalu shalat tanpa mencucinya."

1 5 6 — FATHUL BAARI

jlS"

C iyC^

J> JUJI

JljJ V : S
tt s *
J

^

J l i : J l i Vjij»

^

O*

"oi
Sio ^iaJl

tt Z
2

'

'

'

s tts J

si

s '

s s

°

'— J - ^ - ^

IJli

jA

I

L

oJi>Jl

176. 7e/a/z diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, "Seorang hamba akan senantiasa dianggap seperti dalam shalat selama berada di dalam masjid menunggu shalat selama ia tidak berhadats." Seseorang laki-laki ajam bertanya, "Apakah hadats itu wahai Abu Hurairah? " Beliau menjawab, "Bunyi (yakni kentut)."

Keterangan Hadits: J*—LJl ^J> j l T U (Selama berada dalam masjid), maksudnya orang

itu diberi pahala seperti orang yang shalat selama ia menunggu shalat. Sebab jika tidak dipahami demikian maka tentu dilarang bagi seseorang untuk berbicara atau melakukan aktivitas lainnya. Al Karmani berkata, "Dengan disebutkannya kata shalat dalam bentuk nakirah (indefinit), memberi indikasi bahwa shalat yang sedang ditunggunya itu adalah satu jenis dengan shalat yang telah dilakukannya." Pembahasan lebih mendetail tentang hadits ini akan disebutkan pada bab shalat, insya Allah.
i

'O*

j ^ — ( S e s e o r a n g laki-laki

ajam),

yakni orang yang tidak fasih

berbahasa Arab baik ia keturunan Arab atau dari bangsa lain. Ada kemungkinan orang ajam ini adalah Al Hadhrami yang telah disebutkan pada permulaan kitab wudhu. oj : Jli (Beliau menjawab, "Suara. '). Demikianlah beliau di

tempat ini menafsirkan Al Hadats dengan "suara", dan penafsiran ini diperkuat oleh keterangan tambahan dalam riwayat Abu Dawud serta ahli hadits lainnya, dimana dikatakan,
#

g-Jj j l cSy\e JA *i\ ij^>j V (Tidak ada
*

wudhu kecuali karena suara, atau bau). Seakan-akan beliau mengatakan, "Tidak ada wudhu kecuali karena kentut dengan suara keras ataupun

FATHUL BAARI —

157

yang sekedar mendesis." Adapun rahasia kedua hal ini disebutkan secara khusus, karena selain kedua hal ini umumnya tidak keluar dari seseorang pada saat berada di masjid. Maka nampaknya yang dipertanyakan di sini adalah hadats yang biasa terjadi dalam shalat, sebagaimana telah dijelaskan pada permulaan pembahasan tentang wudhu.

<J j

UL' V Jli 0 y
- -

I

jt- <C^°y£?

J,_ jlfp 'Jey Uy£>
£x>_^0

U ^ j wL>CJ

1 7 7 . Diriwayatkan dari Abbad bin Tamim, dari pamannya dari Nabi SA W, "Janganlah ia berpaling hingga mendengar suara atau mencium bau."

Keterangan Hadits: A—«i 'j* (Dari pamannya) adalah Abdullah bin Zaid Al Mazini, dan

hadits beliau telah dibahas pada bab "Tidak Berwudhu karena Ragu hingga Yakin". Adapun maksud disebutkannya di sini adalah, karena hadits tersebut menunjukkan bahwa batalnya wudhu hanya disebabkan keluarnya sesuatu dari dua jalan. Di awal pembahasan wudhu telah kami sebutkan hal-hal lain yang membatalkan wudhu.

~"li «JIJU
y

j cJ^T
y

J s - Jli Jli 2.JL>J| J
0
0

J u i ^ » j^p
y y y y

's

yy

y

0

y

J

yy

S

y

O

y

\

04

4_)L~4

i y* V I ^

.SIJJLJI o

^li

AJJI

J J — J JLvl
3

jl

. ji»^P^/l
(

<U*— * l j j j f J W J ^ l 4 J

178. Diriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah, ia berkata, "Ali berkata, Aku adalah seorang laki-laki yang selalu me-

1 5 8 — FATHUL BAARI

ngeluarkan madzi, dan aku pun malu menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Maka aku memerintahkan Miqdad bin Al Aswad.' Lalu beliau menanyakannya. Nabi SA W bersabda, 'Baginya wudhu.' Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Syu 'bah dari A 'masy.

K e t e r a n g a n Hadits:
y 0

f

>

s ' s

jLiiSl' j * ilkii o i j j j (Diriwayatkan

pula oleh Syu 'bah dari A 'masy),

yakni melalui jalur periwayatan yang sama seperti silsilah periwayatan hadits di atas. Hadits Syu'bah ini telah disebutkan oleh Abu Dawud AthThayalisi dalam musnadnya, berikut para perawinya.
' % y y<* y y &
t

y

) s sO

y * y y y O

s

s , y

&

s

s ^ s

s , y

y £ O y

}
4

«f " Jl
yy

f

t.

s

y

O

y

o

*
O

_ f
S'

0 J J L > y

^jj JUJ j l
yy y
^

Qj^>~\
J ^
£^ s

j L m J ^jj ^#
y y

£,IJ2_P
y

j l <U*JL*
y O^ y y 0^

^
,-

li

^>

£a\ 7t ybl
y y

Os IjI J y

c-Ji

<up

« J (^i'j UI
%^
L k 5 "

O I at p

j l l i yP y

J -^^
1

Jl

s

Oj

S^i

J^*Juj

a*>\y?H

W?^i)

OL^iP

JU

'{fH

179. Diriwayatkan dari Abu Salamah bahwasanya Atha' bin Yasar mengabarkan kepadanya Zaid bin Khalid mengabarkan kepadanya, bahwa ia telah bertanya kepada Utsman bin Affan RA. Aku berkata, "Bagaimana pendapatmu jika seseorang melakukan hubungan dengan isterinya namun tidak sampai mengeluarkan mani? " Utsman menjawab, "Hendaklah ia berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat dan mencuci kemaluannya. " Utsman menambahkan, "Aku mendengarnya dari Rasulullah SAW. " Akupun bertanya tentang hal itu kepada Ali, Zubair, Thalhah dan Ubay bin Ka 'ab RA dan semuanya memerintahkan seperti itu.

FATHUL BAARI —

159

Keterangan Hadits : cJijl (Bagaimana pendapatmu) ~»y—laii
\ — \ — ' A S \—iuji

yakni beritahukan kepadaku. (Hendaklah ia berwudhu sebagaimana

berwudhu untuk shalat) Ini penjelasan bahwa yang dimaksud dengan wudhu di sini adalah wudhu dalam pengertian syariat, dan bukan dalam pengertian bahasa. Hukum persoalan ini akan dibahas pada akhir kitab Mandi, yang mana di sana akan kami jelaskan bahwa masalah ini telah dihapus (mansukh). Tidak boleh dikatakan, jika benar ia telah dihapus mengapa masih dipakai sebagai dalil? Sebab kami katakan, bahwa yang dihapus dari dalil tersebut adalah tidak adanya kewajiban untuk mandi setelah berhubungan dengan isteri tanpa mengeluarkan mani. Adapun dalil yang menghapusnya adalah perintah untuk mandi. Sedangkan perintah untuk wudhu tetap sebagaimana adanya, sebab wudhu masuk dalam mandi. Hikmah diperintahkannya berwudhu sebelum ada kewajiban mandi, adalah mungkin karena hubungan suami isteri merupakan waktu paling rawan untuk keluarnya madzi, atau karena menyentuh wanita. Maka, dari sini nampaklah korelasi hadits ini dengan judul bab.

180. Telah diriwayatkan dari Abu Sa'id Al Khudri bahwasanya Rasulullah SAW menyuruh untuk memanggil seorang laki-laki dari kalangan Anshar, laki-laki itupun datang sedang air menetes dari kepalanya. Maka Nabi bersabda, "Barangkali kami telah membuatmu terburu-buru." Orang itu menjawab, "Benar." Rasulullah SA W bersabda, "Jika engkau terburu-buru atau bersetubuh tanpa keluar mani, cukuplah engkau berwudhu saja."

1 6 0 — FATHUL BAARI

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Wahab, ia berkata, "Telah menceritakan kepadaku Syu'bah." Abu Abdullah (Imam Bukhari) berkata, "Yahya dan Ghundar tidak menukil kata "wudhu" dari Syu'bah."

Keterangan Hadits: j< ^flj'Vi 'j» J?-J J j (Mengutus untuk memanggil seorang laki-

laki dari kalangan Anshar) dalam riwayat Imam Muslim serta ahli hadits lainnya disebutkan, J*-j 'J* 'j* "Beliau SAW melewati seorang laki-laki.'" Namun kedua riwayat ini dapat disatukan dengan mengatakan bahwa Nabi SAW melewati seorang laki-laki lalu beliau mengutus seseorang untuk memanggil laki-laki tersebut. Laki-laki Anshar yang dimaksud di sini telah disebutkan namanya oleh Imam Muslim dalam riwayatnya dari jalur yang lain dari Abu sa'id, yaitu Itban. Adapun lafazh hadits ini seperti yang dinukil dari Syarik bin Abi Namr dari Abdurrahman bin Abu Sa'id dari bapaknya, ia berkata, "Aku pernah keluar bersama Rasulullah ke Kuba. Hingga ketika kami berada di tempat bani Salim, Rasulullah berhenti di depan pintu rumah Itban, dan beliau pun keluar seraya menjulurkan pakainnya ke lantai. Maka Rasulullah bersabda, "Kita telah membuat laki-laki ini terburu-buru." Lalu beliau menyebutkan hadits dengan makna yang sama seperti di atas. Itban yang disebutkan dalam hadits riwayat Muslim ini adalah Itban bin Malik Al Anshari, sebagaimana nasabnya telah disebutkan oleh Baqi bin Makhlad saat beliau meriwayatkan hadits di atas. Namun dalam riwayat Abu Awanah disebutkan bahwa yang dimaksud adalah putera Itban, akan tetapi riwayat yang pertama lebih shahih. Lalu diriwayatkan pula oleh Ibnu Ishaq dalam kitab Al Maghazi dari Sa'id bin Abdurrahman bin Abu Sa'id dari bapaknya dari kakeknya, akan tetapi disebutkan dalam riwayat ini, "Maka beliau memanggil salah seorang sahabatnya yang bernama Shalih." Bila riwayat-riwayat ini dikatakan terjadi dalam waktu yang berbeda-beda, maka persoalan dianggap tuntas, namun jika tidak demikian, maka jalur periwayatan imam Muslim jauh lebih tepat. Kisah yang serupa telah terjadi pula pada diri Rafi' bin Khudaij serta selain beliau, seperti dikutip oleh Imam Ahmad dan para ahli hadits lainnya. Akan tetapi yang paling tepat bahwa yang dimaksud dengan laki-laki dalam riwayat Imam Bukhari adalah Itban, wallahu a 'lam.

FATHUL BAARI —

161

'j—iaii (menetes), mandi. »OL_il£t£l I

yakni air menetes dari kepalanya karena selesai

LU) (Barangkali tergesa-gesa

kami telah membuatmu dalam menyelesaikan

terburu-buru), hubunganmu

yakni membuatmu dengan isterimu.

Dalam hadits ini terdapat keterangan bolehnya menarik kesimpulan suatu persoalan berdasarkan faktor-faktor tertentu yang mendukung. Karena ketika sahabat tersebut agak lama menemui Nabi - y a n g mana masa tersebut cukup bagi seseorang untuk mandi- dan ini bukan merupakan kebiasaan dia yang selalu cepat menyambut panggilan Nabi SAW, dan ketika beliau melihat tetesan-tetesan air jatuh dari kepalanya, maka hal ini memberi petunjuk bahwa sahabat tersebut selesai melakukan hubungan dengan isterinya. Di samping itu, dalam hadits ini terdapat pula keterangan disukainya untuk senantiasa berada dalam keadaan suci, karena di sini Nabi SAW tidak mengingkari perbuatan sahabat tersebut yang mandi lebih dahulu meskipun terlambat menyambut panggilan beliau. Seakanakan peristiwa ini terjadi sebelum diwajibkannya menyambut panggilan Nabi, sebab suatu kewajiban tidak boleh diakhirkan hanya karena melakukan perkara yang sunah. Saat itu Itban telah memohon kepada Nabi agar berkunjung kepadanya sekaligus shalat di rumahnya, agar tempat tersebut dijadikannya sebagai mushalla (tempat shalat), maka Nabi pun memenuhi permohonannya sebagaimana akan diterangkan lebih lanjut. Ada kemungkinan peristiwa ini terjadi pada saat itu. Maksud beliau lebih dahulu mandi agar siap untuk shalat bersama Nabi, wallahu a 'lam. s fay a f r'c—lafsi jl 'c bx*i \}\ (Jika engkau terburu-buru -atau bersetubuh
* s

'

a

i

tanpa mengeluarkan

mani) Penulis kitab Al Afal

berkata, bj yr~J\

jy—i ^Jj ^ib> (Dikatakan seorang laki-laki telah ditimpa musim kemarau, apabila tidak mengeluarkan air mani dalam hubungan suami-isteri). Arti dasar kata Ja—*3 adalah tidak turun hujan dalam waktu lama, lalu kata tersebut digunakan dalam arti seseorang yang tidak mengeluarkan air mani saat melakukan hubungan suami-isteri.

1 6 2 — FATHUL BAARI

Al Karmani berkata, lafazh "atau" pada hadits di atas bukan menunjukkan keraguan dari para perawi, namun untuk menjelaskan bahwa apakah air mani itu tidak keluar karena sebab dari luar dirinya atau dari dirinya sendiri adalah sama hukumnya. 1 aj iiJl; (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Wahab), yakni Ibnu

Jarir bin Hazim. Maksudnya di samping diriwayatkan oleh An-Nadhr (salah seorang perawi hadits di atas), hadits ini diriwayatkan pula oleh Wahab. Adapun riwayat Wahab ini telah disebutkan oleh Abu Al Abbas As-Siraj dalam Musnad-nya dari Ziyad bin Ayyub dan sebagainya. Perkataan beliau, (Yahya dan Ghundar tidak menukil kata "wudhu" dari Syu'bah) yakni ghundar (Muhammad bin Ja'far) dan Yahya bin Sa'id Al Qaththan telah meriwayatkan pula hadits ini dari Syu'bah dengan silsilah periwayatan serta kandungan hadits yang sama seperti di atas, akan tetapi keduanya tidak menukil lafazh, S-^JJI iOi- (Hendaklah engkau berwudhu). Adapun Yahya, sebagaimana yang beliau katakan. Riwayat beliau telah dinukil oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dengan lafazh J—'-~* c\—llc J.—1J (Tidak ada bagimu keharusan mandi). Sedangkan riwayat Ghundar telah dinukil pula oleh Imam Ahmad dengan menyebutkan "wudhu". Adapun lafazhnya, «j—i»jJi liille- dllLc- jLs- 'i (Tidak ada bagimu keharusan mandi dan hendaklah engkau berwudhu). Demikian pula yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Majah, Al Isma'ili serta Abu Nu'aim dari berbagai jalur periwayatan dari beliau. Seperti itu pula yang dinukil oleh mayoritas murid Syu'bah, seperti Abu Dawud Ath-Thayalisi dan lain-lain. Seakan-akan sebagian guru Imam Bukhari telah menceritakan kepadanya dari Yahya dan Ghundar secara bersamaan, namun mereka hanya menyebutkan lafazh yang diriwayatkan oleh Yahya, wallahu a lam. Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan sahabat, sebagaimana yang akan kami sebutkan pada akhir pembahasan tentang "Mandi", insya Allah.

FATHUL BAARI —

163

35. Mewudhukan Orang Lain ^^Jl Jlp 4i^p J
A
J L P STFL

^?Ls! uli * H
l - B J ^

Jjl J j !
4_«L*I J L I

jjj

<UO ^
I__~JCJUJI

C—LjonJ

<U>-L>-

181. Telah diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, bahwasanya Rasulullah SAW ketika kembali dari Arafah, beliau SAW mengambil jalan setapak di suatu bukit lalu menunaikan hajatnya. Usamah bin Zaid berkata, "Maka aku pun menuangkan air untuk beliau ketika berwudhu. Lalu aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah engkau akan shalat?'" Beliau bersabda, "Nanti di tempat perhentian di depan."

Katerangan Hadits: Maksud judul tersebut? bab tersebut adalah, apakah hukum perbuatan

\—i»jsjj A—li* "L—[Akupun

menuangkan

air untuk beliau

pakai

berwudhu), lafazh ini telah dijadikan dalil oleh Imam Bukhari untuk membolehkan minta bantuan orang lain dalam berwudhu. Akan tetapi mereka yang mengatakan bahwa hal tersebut makruh hukumnya -berlaku pada saat tidak ada kesulitan atau kebutuhan mendesak- tidak dapat berdalil dengan hadits Usamah, sebab peristiwa ini terjadi pada saat safar (bepergian). Demikian pula hadits Mughirah yang telah disebutkan. Ibnu Munir berkata, "Imam Bukhari menganalogikan persoalan mewudhukan orang lain dengan perbuatan Usamah yang menuangkan air wudhu untuk Nabi SAW karena adanya kesamaan, yaitu keduanya samasama meminta bantuan." Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Akan tetapi perbedaan antara kedua persoalan tersebut sangat jelas." Dalam persoalan ini Imam Bukhari tidak menegaskan apakah perbuatan ini boleh atau tidak, sebagaimana yang biasa ia lakukan dalam masalah-masalah yang tidak memiliki dasar yang jelas.

1 6 4 — FATHUL BAARI

Imam An-Nawawi berkata, "Meminta bantuan dapat di kelompokkan dalam tiga bagian; p e r t a m a , minta bantuan untuk dibawakan air, dan ini tidaklah dimakruhkan sama sekali. Aku katakan, "Akan tetapi yang lebih utama adalah tidak meminta bantuan." K e d u a , diwudhukan oleh orang lain, dan ini hukumnya makruh kecuali bila ada kebutuhan yang mendesak. Ketiga, minta bantuan untuk menuangkan air, dan ini memiliki dua sisi; yaitu dimakruhkan dan menyalahi yang lebih utama. Namun perkataan Imam An-Nawawi ini dibantah dengan mengatakan, jika telah jelas bahwa Nabi SAW melakukan hal itu, maka tidak boleh dikatakan hal itu menyelisihi perbuatan yang lebih utama. Bantahan ini saya (Ibnu Hajar) jawab dengan mengatakan, "Terkadang Nabi SAW melakukan hal itu untuk menjelaskan kebolehannya, maka bagi beliau perbuatan itu tidaklah menyelisihi yang lebih utama, berbeda dengan selain beliau." Al Karmani mengatakan, "Jika memang lebih utama untuk ditinggalkan, maka mengapa diperselisihkan tentang kemakruhannya?" Pertanyaan beliau ini saya jawab, "Semua yang makruh dilakukan, maka perbuatan itu pasti menyalahi yang lebih utama. Namun hal ini tidak berlaku sebaliknya, sebab makruh kadang dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang haram, berbeda dengan yang lain."

A
l

jlj

y}
j

y
f' &J

jj je «UJl pf Alif- {.LaJl
o ' ,
0

J

y j
'y

4jl

<U*^i

ji

Ojji-«j!

jf-

\

v 3 yj

i

'

y

i, t , ' •_ -,y>l J j t ? r

t * i' f' , y y «Jl*-* 0 1 J A] 4J*-L>*J I

ab

y'

J*

c~*->

cr^J

182. Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu 'bah bahwa dia bersama Nabi SA W dalam suatu perjalanan dan Nabi SA W pergi untuk buang hajat. Mughirah bin Syu 'bah menuangkan air untuk beliau ketika berwudhu. Beliau membasuh mukanya dan kedua tangannya lalu mengusap sepatunya.

FATHUL BAARI —

165

Keterangan Hadits:
A15I ^ L > AJJI
(

JjLj

JVS' AJ(

(Bahwasanya

dia bersama

Nabi

SA W), di sini Urwah (yang meriwayatkan hadits ini dari Mughirah) telah meriwayatkan hadits ini sebagaimana teks yang diucapkan oleh bapaknya sendiri (Mughirah). Sebab, jika tidak demikian maka konteks kalimat itu harusnya berbunyi, "Sesungguhnya aku". Sama dengan perkataannya, "Dan bahwasanya Mughirah bin Syu'bah menuangkan air." Pembahasan secara mendetail tentang hadits ini akan dijelaskan pada pembahasan mengusap sepatu. Adapun maksud Imam Bukhari menyebutkannya di tempat ini adalah sebagai dalil bolehnya minta bantuan dalam wudhu. Ibnu Baththal berkata, "Ini termasuk perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah namun boleh diwakili orang lain, berbeda dengan shalat." Beliau menambahkan pula, "Imam Bukhari berdalil dengan perbuatan seseorang yang membantu menuangkan air untuk saudaranya yang sedang wudhu sebagai bukti bolehnya mewudhukan orang lain. Karena seseorang yang berwudhu tidak mungkin menghindar dari menciduk air dengan tangannya sendiri, maka perbuatan ini boleh diwakilkan kepada orang lain dengan cara menuangkan air tersebut kepadanya. Demikian pula dengan amalan wudhu yang lain." Perkataan Ibnu Baththal ini dibantah oleh Ibnu Munir, "Menciduk air hanyalah sarana dan bukan tujuan yang sebenarnya. Sebab jika seseorang menciduk air lalu berniat wudhu, maka hal ini diperbolehkan. Sedangkan apabila menciduk air itu suatu amalan tersendiri, niscaya tidak diperkenankan untuk mengakhirkan niat." Kesimpulannya, ada perbedaan antara meminta bantuan untuk menuangkan air dengan meminta bantuan untuk diwudhukan orang lain. Inilah perbedaan yang telah kami isyaratkan sebelumnya. Kedua hadits yang telah disebutkan oleh Imam Bukhari memberi keterangan bahwa meminta bantuan kepada orang lain untuk menuangkan air wudhu adalah tidak makruh hukumnya, dan tentu lebih tidak dimakruhkan lagi jika meminta bantuan untuk dibawakan air. Adapun minta bantuan diwudhukan orang lain, tidak ada dalam kandungan hadits tersebut yang mengindikasikan akan hal itu, hanya saja sangat disukai bila tidak meminta bantuan sama sekali dalam wudhu.

1 6 6 — FATHUL BAARI

Adapun yang diriwayatkan oleh Ja'far Ath-Thabari dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, "Aku tidak perduli siapa yang membantuku dalam bersuci, ruku' maupun sujud." Dapat dipahami, bahwa yang dimaksudkan adalah meminta bantuan dalam menuangkan air berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ath-Thabari serta ulama lainnya dari Mujahid, bahwa beliau biasa menuangkan air untuk Ibnu Umar pada saat beliau mencuci kedua kakinya. Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak dari hadits Ar-Rubai' binti Mu'awwadz bahwa ia berkata, "Aku membawakan Nabi SAW air wudhu, maka beliau bersabda, 'Tuangkanlah air itu untukku,' aku pun menuangkan air untuknya." Riwayat ini sangat tegas menyatakan tidak adanya hukum makruh dibanding dua hadits terdahulu, sebab peristiwa ini terjadi saat tidak dalam bepergian (safar), disamping itu riwayat tersebut disampaikan dengan lafazh perintah. Akan tetapi hadits ini tidak memenuhi persyaratan hadits shahih yang dimuat dalam kitab Bukhari maupun Muslim.

FATHUL BAARI —

167

36. Membaca Al Qur"an setelah Hadats dan Selainnya

Manshur berkata dari Ibrahim, "Tidak mengapa membaca dalam kamar mandi, serta menulis risalah tanpa berwudhu. "Hammad berkata dari Ibrahim, "Jika mereka memakai sarung maka berilah salam, dan jika tidak maka janganlah engkau memberi salam.''''

Keterangan Hadits: (Membaca Al Qur'an setelah hadats), yakni hadats kecil. Sedang perkataan beliau (dan selainnya), maksudnya kondisi-kondisi yang diduga adanya hadats. Al Karmani berkata, "Kata ganti pada 'selainnya' kembali kepada Al Qur'an. Maksudnya, bab membaca Al Qur'an dan selainnya berupa dzikir, salam atau yang seperti keduanya setelah berhadats." Namun konsekuensi perkataan ini, berarti telah terjadi pemisahan antara dua kata yang saling berkaitan. Di samping itu, apabila membaca Al Qur'an dalam keadaan hadats diperbolehkan, maka perbuatan lain seperti dzikir lebih dibolehkan lagi. Oleh karena itu, tidak perlu penafsiran seperti yang beliau (Al Karmani) katakan. Berbeda dengan hal-hal yang membatalkan wudhu selain hadats. Pada pembahasan terdahulu telah diterangkan apa yang dimaksud dengan hadats, dan ini mendukung apa yang telah saya jelaskan. j\—lj (dan Manshur berkata), maksudnya Manshur bin Al

Mu'tamir. Sedangkan Ibrahim adalah Ibrahim An-Nakha'i. Perkataan An-Nakha'i ini telah disebutkan oleh Sa'id bin Manshur dari Abu Awanah dari Manshur (bin Al Mu'tamir) dari beliau (Ibrahim AnNakha'i). Diriwayatkan pula oleh Abdurrazzaq dari Ats-Tsauri dari Manshur, ia berkata, "Aku bertanya kepada Ibrahim tentang membaca Al

1 6 8 — FATHUL BAARI

Q u f an saat berada di kamar mandi, maka beliau menjawab, 'Tidak ada keterangan mengenai hal itu.'" Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Tidak ada kontradiksi antara riwayat ini dengan yang diriwayatkan oleh Abu Awanah, sebab riwayat yang dinukil oleh Abu Awanah sekedar memberi keterangan tentang bolehnya perbuatan itu secara mutlak." Telah diriwayatkan juga oleh Sa'id bin Manshur dari Muhammad bin Abban dari Hammad bin Abu Sulaiman, ia berkata, "Aku bertanya kepada Ibrahim tentang membaca di dalam kamar mandi, maka beliau menjawab, 'Hal itu tidak disukai (makruh).' Akan tetapi silsilah periwayatan yang pertama lebih shahih." Telah diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dari Ali, ia berkata, "Seburuk-buruk rumah adalah kamar mandi, dicabut padanya rasa malu, dan tidak dibaca di dalamnya Kitabullah." Namun perkataan ini tidak menunjukkan bahwa membaca Al Cjur'an di dalam kamar mandi hukumnya makruh, bahkan ia hanya menceritakan kenyataan dimana umumnya kamar mandi bukanlah tempat untuk membaca Al Q u f a n . Pendapat tentang makruhnya membaca Al Qur'an di dalam kamar mandi telah dinukil dari Abu Hanifah, akan tetapi sahabat beliau, -yakni Muhammad bin Al Hasan dan Malik- mengatakan hal itu tidaklah makruh, sebab tidak ada dalil khusus mengenai hal ini. Pendapat yang mengatakan tidak makruh membaca Al Qur'an di kamar mandi telah ditegaskan oleh dua ulama mazhab Syafi'i, masing-masing penulis kitab Al Uddah serta penulis kitab Al Bayan. Imam An-Nawawi berkata dalam kitabnya At-Tibyan, "Diriwayatkan dari para ulama madzhab kami (Syafi'i), bahwa hal ini tidaklah makruh." Perkataan ini tanpa perincian sama sekali. Akan tetapi dalam kitab Syarh Al Kifayah disebutkan, "Tidak sepantasnya membaca Al Qur'an dalam kamar mandi." Lalu Al Hulaimi menyamakan hukum membaca Al Qur'an di kamar mandi dengan membacanya saat sedang buang hajat. Adapun As-Subki cenderung memilih pendapat yang menganggap tidak makruh, dan beliau menguatkan pilihannya ini dengan alasan bahwa membaca Al Qur'an merupakan perkara yang disukai serta memperbanyak membacanya adalah hal yang dianjurkan. Sementara hadats kadang seringkah terjadi, maka apabila makruh membaca saat seperti itu niscaya akan luput kebaikan yang sangat banyak." Kemudian beliau menambahkan, "Hukum membaca dalam kamar mandi adalah,

FATHUL BAARI —

169

apabila berada di tempat yang bersih tanpa membuka aurat maka tidak makruh, sedangkan jika tidak demikian maka makruh hukumnya." Demikian yang banyak diriwayatkan, yaitu menggunakan kata kerja mudhari' (present tense). diathafkan Adapun riwayat Karimah menggunakan lafazh s — = £ J yang (dianeksasikan) kepada kalimat 3«.I^53L> Riwayat ini juga disebutkan oleh Abdurrazzaq dari Ats-Tsauri dari Manshur, ia berkata, "Aku bertanya kepada Ibrahim, 'Apakah aku boleh menulis risalah tanpa berwudhu?' Beliau menjawab, "Ya." Dari riwayat ini menjadi jelas, bahwa perkataan beliau "tanpa wudhu" berhubungan dengan "menulis", bukan berkaitan dengan masalah "membaca Al Qur'an" di kamar mandi. Karena telah menjadi kebiasaan dalam menulis risalah dimulai dengan ucapan basmalah, maka sang penanya mengira bahwa menulis risalah makruh hukumnya bagi orang yang tidak berwudhu. Akan tetapi ada kemungkinan bahwa penulis risalah tidak bermaksud untuk membaca basmalah, sehingga hukumnya tidak dapat disamakan dengan orang yang membacanya. Hammad dalam riwayat tersebut adalah Hammad bin Abu Sulaiman, salah seorang ahli fikih di Kufah. Sedangkan Ibrahim, yakni Ibrahim An-Nakha'i. [«, i °Xt- jlS" jl (Jika mereka memakai), maksudnya orang-orang yang berada dalam kamar mandi. Perkataan beliau j ' j ! (sarung), maksudnya setiap salah seorang di antara mereka yang mengenakannya. Riwayat mengenai perkataan Ibrahim ini telah disebutkan oleh AtsTsauri dalam kitabnya/4/ Jami'. Adapun larangan memberi salam kepada mereka bisa saja sebagai sikap meremehkan, karena mereka sedang melakukan bid'ah. Bisa pula karena dengan diberi salam, maka mengharuskan mereka untuk menjawabnya. Sementara dalam salam itu ada unsur dzikir kepada Allah, karena salam adalah salah satu di antara nama-nama-Nya. Di samping itu, ucapan q£4s- j»'AUl termasuk lafazh Al Qur'an. Adapun orang yang tidak mengenakan pakaian sama seperti orang yang berada di tempat buang hajat. Berdasarkan penjelasan ini, dapat dimengerti maksud dicantumkannya riwayat dari Ibrahim AnNakha'i di bawah judul bab ini.

1 7 0 — FATHUL BAARI

* ^ J'
3 /

.
^ t

-'O J.
0 s

s

s s

s

s

t

0

s $

I
s

/

0
% 0

t

}

Os

s

^

>

0

S

> £

s

ss

f
} s
st

J

r

1

^
s s
s

J
f ' / *
u

^ f e
ass

c / ^
0^^

1

J^
y " s
y

^
s

3
O s

s

&s

s s , 0 < H ^ s s t j ,

3

s- } W j_ «

0

W^ .

}

O .-X

183. Telah diriwayatkan dari Kur aib -mantan budak Ibnu Abbassesungguhnya Abdullah bin Abbas mengabarkan kepadanya, bahwasanya suatu malam dia pernah menginap di rumah Maimunah salah seorang istri Nabi -dan ia adalah bibi Ibnu Abbasmaka aku pun berbaring melintang di atas bantal sementara Rasulullah SAW dan istrinya tidur dengan posisi membujur. Lalu Rasulullah tidur hingga pertengahan malam -atau sedikit lebih kurang- Rasulullah bangun, beliau duduk seraya mengusap matanya dengan tangan untuk menghilangkan rasa kantuk. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat yang terakhir dalam surah Aali Imraan. Setelah itu beliau berdiri menuju bejana yang tergantung lalu berwudhu dari bejana tersebut seraya memperbaiki wudhunya. Kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat. Ibnu Abbas berkata, 'Akupun berdiri dan melakukan

FATHUL BAARI —

171

seperti apa yang ia lakukan, kemudian aku menghampirinya dan berdiri di dekatnya. Maka Rasulullah meletakkan tangannya di atas kepalaku lalu memegang telinga kananku seraya menjewernya. Beliau SAW shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, lalu beliau shalat witir. Setelah itu beliau berbaring hingga datang Mu'adzdzin kepadanya, maka beliau shalat dua rakaat dengan ringkas kemudian keluar untuk shalat shubuhr

Keterangan Hadits: l^M^aluLi (Maka aku pun berbaring) Yang mengucapkan perkataan ini adalah Ibnu Abbas, dan di sini terdapat pergantian cara penyajian dari orang ketiga menjadi orang pertama. Sebab seharusnya dikatakan, "Maka ia pun berbaring.." karena sebelumnya telah dikatakan, "Bahwasanya suatu malam dia nginap..." o t f t l 'JiJA\ j^j (Kemudian
« i '

beliau membaca sepuluh ayat) yakni
, i *

dimulai dari firman Allah, J ^ j ^ j o f ^ i l J i j l > J> j j "Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi... " ^Qs. Aali Imraan : 190-200^

pada

Ibnu Baththal dengan orang-orang yang sependapat dengannya berkata, "Dalam hadits ini terdapat bantahan bagi mereka yang tidak menyukai membaca Al Qur'an tanpa berwudhu, sebab beliau membaca ayat-ayat tersebut bangun tidur tanpa berwudhu terlebih dahulu." Akan tetapi perkataan ini dibantah oleh Ibnu Munir dan lainnya, dimana mereka mengatakan, "Pendapat di atas berdasarkan bahwa tidur Nabi juga membatalkan wudhu, padahal kenyataannya tidak demikian. Karena beliau SAW bersabda, ^ ^ ^ (Kedua mataku tertidur namun hatiku senantiasa terjaga). Adapun tindakan beliau berwudhu setelah bangun tidur, ada kemungkinan hal itu hanyalah untuk memperbaharui wudhu saja atau karena beliau berhadats." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Ini merupakan bantahan yang baik bila dihadapkan kepada perkataan Ibnu Baththal yang beralasan dengan perbuatan Nabi SAW yang tidak berwudhu setelah bangun tidur, sebab tidak ada kejelasan dalam hal ini apakah terjadi hadats pada diri beliau

1 7 2 — FATHUL BAARI

saat tidur. Tetapi karena beliau berwudhu saat bangun tidur, maka indikasi terkuat yang dapat kita pahami dari perbuatan ini adalah beliau berhadats. Tidak adanya kemestian bahwa tidurnya Rasulullah tidak membatalkan wudhu, maka tidak terjadi pula hal-hal yang membatalkan wudhu pada saat beliau tidur. Hanya saja yang menjadi keistimewaan beliau, bahwa bila terjadi pada dirinya sesuatu yang membatalkan wudhu niscaya beliau menyadarinya, berbeda dengan manusia pada umumnya. Adapun klaim yang mereka kemukakan bahwa perbuatan Nabi tersebut hanyalah untuk memperbaharui wudhu ataupun karena sebab-sebab lain, pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak ada." Pada pembahasan terdahulu telah dikemukakan pandangan Al Isma'ili yang mirip dengan apa yang dikatakan Ibnu Munir. Kemungkinan terkuat mengenai hubungan hadits ini dengan judul bab adalah apabila seseorang berbaring bersama istrinya di tempat tidur, maka sudah dapat dipastikan akan bersentuhan dengan kulit istrinya. Kesimpulan ini mungkin dapat ditarik dari perkataan Ibnu Abbas, "Akupun berdiri dan melakukan seperti apa yang beliau lakukan..." Imam Bukhari tidak memaksudkan bahwa tidur Nabi dapat membatalkan wudhu, sebab di akhir hadits ini, seperti yang beliau nukil di bab "Berlaku ringan dalam berwudhu", beliau menyebutkan perkataan Ibnu Abbas, "Kemudian beliau berbaring dan tidur hingga mendengkur, setelah itu beliau shalat." Dalam Al Halabiyat oleh As-Subki -setelah mencantumkan bantahan Al Isma'ili- disebutkan, "Ada kemungkinan Imam Bukhari beralasan dengan perbuatan Ibnu Abbas yang beliau lakukan di hadapan nabi, atau berbaringnya nabi dengan istrinya serta persentuhan diantara keduanya dapat membatalkan wudhu." Saya (katakan), "Dari hadits ini dapat dipahami makna hadats pada judul bab ini, yakni khusus hadats kecil. Sebab jika yang dimaksud adalah hadats besar, tentu beliau tidak hanya berwudhu, tapi beliau akan mandi sebelum melakukan shalat." j—^» U Ji» c*:Vtf c~*i3 (Akupun berdiri dan melakukan seperti apa

yang beliau lakukan), dalam bab 'berlaku ringan dalam berwudhu' telah disebutkan isyarat mengenai pembahasan ini. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang hadits di atas akan diterangkan pada kitab Witir, insya Allah.

FATHUL BAARI —

173

Catatan Penting Imam Muslim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar tentang makruhnya berdzikir kepada Allah setelah berhadats. Tetapi hadits tersebut tidak memenuhi pensyaratan hadits shahih yang dijadikan standar oleh Imam Bukhari.

37. Tidak Berwudhu kecuali karena Hilangnya Kesadaran yang Cukup Berat

D

, y O

&

y

Z

y

O

y

„ " " ( i '

f'*

0

0

"

O f

O

y

O

y

y

o

z

'

.

*

s

s

V

s

S

^

y

y y

O

IlJ I
1* ^

* :olii
O } s 3>

LS

w i J 2^Jli ^
^ / yy

li^j JJLUJ J»Lj ^l-Jt bLi
O

y

y

yy

4
y

jl : o
y % f.

lii 4
't. }
3

U jL>J— : c J l i j {.UJLJl j^<J liJLu O j L i l i l
" ' j
9

^

^

jl

-*

0

^

0

^-

£ •

(3ji iw—s^l C-ljOr j J~*^ J*^^
^ % y
0 / / #

J^
y ^

0-«-A3 Cj*JU
y
y ^ yy ?

OjLili
g^-

&

J <ulp

J^

^

^1

j

Uii .^.l*

j

y

s

Z £ s
1

0

^ 0

^

^ 0

J

s—i/ j
0 1

j ^
>-0 >

1

J
yO f O
x^-^

>/ i £ ; C r^
5 1

l

Z,

'

" ' Z ' ' Zs °

lstj

1

j ^ j
L.^^fi ^O.O

> ^ y* * - ' f

J

ti-'lf.

s

&

s

f

3 y y

fvt

-•/t'
::

y
S , * *
(

s
^ ^ ' * ^
0

'

j

w

C O

' * C

• "^1 •• ll; IjVli- 4jjl J j — j »L»i»T_4 'y\ J ^ i j
0

cJli dJJi l $ 1
Z ~'
a s i '

O

O

'

'

O

y ' ^

' f'

9 Z'

s y*'

d\ I

TA"& J

ai l^JCa jt-> ; * J lili u*Jl j ll«l j <J

liorli

(< JL^Jl j _j

1 7 4 — FATHUL BAARI

184. D a n Hisyam bin Urwah, dari istrinya (Fathimah), dari neneknya (Asma' binti Abu Bakar) bahwasanya ia berkata, "Aku mendatangi Aisyah -istri Nabi SAW- ketika terjadi gerhana matahari, dan ternyata saat itu manusia sedang berdiri melakukan shalat, demikian pula Aisyah sedang berdiri melakukan shalat. Aku berkata, Apa gerangan yang terjadi dengan manusia?' Aisyah mengisyaratkan dengan tangannya ke arah langit seraya berkata, 'Subhanallah (Maha Suci Allah).' Aku berkata lagi, 'Bukti kekuasaan Allah? 'Aisyah mengiyakan dengan isyarat. Maka aku pun berdiri hingga hilang kesadaran, lalu aku menyiramkan air ke atas kepalaku. Ketika Rasulullah selesai, beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda, 'Tidak ada sesuatupun yang belum aku lihat melainkan telah aku lihat di tempat ini, hingga surga dan neraka. Telah diwahyukan kepadaku bahwa kamu akan ditimpa fitnah (ujian) di kubur -sama atau hampir sama- dengan fitnah Dajjal (Fathimah berkata, "Aku tidak tahu mana di antara kedua perkataan itu yang diucapkan oleh Asma'). Salah seorang di antara kamu akan didatangi lalu dikatakan kepadanya, 'apakah yang engkau ketahui tentang laki-laki ini? " Adapun orang yang beriman atau orang yang yakin (Fathimah berkata, "Aku tidak tahu mana di antara kedua perkataan itu yang diucapkan oleh Asma ) akan menjawab, "Dia adalah Muhammad Rasulullah. Dia telah datang kepada kami dengan membawa penjelasan-penjelasan yang nyata serta petunjuk. Kami pun menyambut ajakannya, beriman dan mengikutinya. " Maka dikatakan kepadanya, tidurlah dengan tenang. Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau adalah seorang yang beriman. Adapun orang munafik atau orang yang ragu (Fathimah berkata, "Aku tidak tahu mana di antara kedua perkataan itu yang diucapkan oleh Asma) akan menjawab, "Aku tidak tahu, aku hanya mendengar manusia mengatakan sesuatu maka akupun mengata kan seperti itu.'"

FATHUL BAARI —

175

Keterangan Hadits: (Tidak berwudhu kecuali hilang kesadaran) maksud Imam Bukhari menyebutkan bab ini adalah sebagai isyarat akan sikap beliau yang tidak sependapat dengan orang yang mewajibkan wudhu akibat hilangnya kesadaran, tanpa membedakan antara yang ringan maupun berat. Adapun makna selengkapnya judul bab ini adalah, "Bab yang menerangkan seseorang tidak berwudhu karena hilangnya kesadaran kecuali kesadaran yang cukup berat." ^—(Hingga hilang kesadaran). Ibnu Baththal berkata, "Hilang

kesadaran (yang dalam bahasa Arab disebut Al Ghasyyu- Penerj.) adalah sejenis penyakit yang biasa dialami manusia karena lelah atau lama berdiri. ' Hal seperti ini termasuk dalam kategori pingsan atau lebih ringan darinya, hanya saja Asma menyiramkan air ke kepalanya untuk menolak perasaan tersebut. Andaikata hilangnya kesadaran ini cukup berat maka tentu akan sama dengan pingsan, dimana kondisi seperti ini akan membatalkan wudhu menurut ijma' ulama."
6

Keterangan bahwa beliau sendiri yang menyiramkan air ke atas kepalanya memberi indikasi kalau indranya masih aktif, oleh sebab itu hal ini tidak membatalkan wudhu. Adapun yang menjadi dasar mengapa kejadian ini dijadikan sebagai dalil, adalah karena Asma' melakukan itu saat shalat menjadi makmum kepada Nabi SAW, padahal diketahui bahwa Nabi SAW melihat apa yang terjadi di belakangnya pada saat shalat. Sementara tidak dinukil keterangan bahwa beliau SAW mengingkari perbuatan Asma". Sebagian pembahasan hadits ini telah dijelaskan pada kitab Ilmu. Pembahasan selanjutnya akan diterangkan pada kitab Shalat Al Kusuf (gerhana), insya Allah.

6 )

Terkadang pula kejadian seperti ini dialami manusia di saat melihat atau mendengar halhal yang luar biasa (Takjub), seperti kejadian dalam hadits ini.

1 7 6 — FATHUL BAARI

38. Mengusap Kepala Secara Keseluruhan
Berdasarkan firman Allah SWT, 'pZ—^jjjt kepala-kepala kamu." (Qs. Al Maa'idah (5): 6) ljkU>lj "Dan Sapulah

O

* l(i

°''

^

s^

^

i .

$s l'" t l

^

Q s

s

/

O

s

O J- f _
c

J-

s

*

H

^

I (l ^

J-

I

Ibnu Musayyab berkata, "Wanita sama dengan laki-laki, dimana ia harus mengusap kepalanya." Imam Malik pernah ditanya, "Apakah mencukupi jika mengusap sebagian kepala saja?" Maka beliau berhujjah dengan hadits Abdullah bin Zaid.

/

&

J-

^

^

}

'

c

c

<f

0

Ojj
&

y
%

4J JI
^ / s /

Jli
s

Jl
j
0

o I ^p
£ Jt

^yjUjl
i

l

5

^ J

j^A-f* ) '

A

Ul J yy j jlS"

y

jl
i^JU

^Jil^jl
:Jjj
J' J'

^gP*<-l Ji

3

4_JJj ^Jlp
^

^ y l i «.Uj LPJJ
>• J-

4 J J L P JUi JI
j' , }
.

^
S

j'

/

. f

j,

1

\
J-

I*>\J < p r
, O J- J-

j \y^Si ' ' '

p_i
^
*

b*>\j ^ i ^ l j
f
\. s J' 0 , 0

( J
J'

^ ^ 2 - * jvJ jjy>
y O j-iji J' y O StM s

J-~*4
' ' I J' ,

Jj»l
.

j-

0 J'

0
.

i.

0 J- J'

i AJOJJ -U-I J ^
^ 5* s ^. } % / /
J-

4

^

^^Jl
s ^

^l

j^'y g - >^

^"y>
•* Jl * £

AJUJ J ~ P o £^

I

* J O j j*J OLA5 ^Jj

<w-JO c_5^

(Jb j J - ^ J

.A!L>-J JI~P ^" AL. IUJ c^iJl j l T U l ^1

FATHUL BAARI —

177

185. Telah diriwayatkan dari Amru bin Yahya Al Mazini, dari bapaknya bahwa seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Zaid -dan beliau adalah kakek Amru bin Yahya, 'Apakah engkau dapat memperlihatkan kepadaku bagaimana caranya Rasulullah berwudhu? " Abdullah bin Zaid berkata, "Ya. "Maka beliau minta dibawakan air wudhu, lalu dia menuangkan air ke tangannya dan mencucinya dua kali. Kemudian beliau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali, lalu membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian beliau membasuh kedua tangannya dua kali-dua kali sampai siku, lalu mengusap kepalanya dengan kedua tangannya. Beliau menarik kedua tangannya ke arah depan lalu menariknya ke arah belakang. Beliau memulai dari bagian depan kepalanya lalu menariknya hingga ke tengkuknya, kemudian mengembalikan keduanya ke tempat ia memulai. Kemudian beliau membasuh kedua kakinya."

Keterangan Hadits: (Mengusap kepala secara keseluruhan) Demikianlah yang disebutkan oleh mayoritas perawi, namun dalam riwayat Al Mustamli tidak disertakan lafazh, "Secara keseluruhan." V e — J ^ Sa'id bin
1

J ^ J (Dan Ibnu Musayyab berkata), maksudnya adalah Riwayat ini disebutkan lengkap dengan jalur
fs
a -

Musayyab.

f

periwayatannya oleh Ibnu Abi Syaibah dengan lafazh, ^j—\ «i^i'j s.lj_—i £ — L J l (Laki-laki dan perempuan sama). Akan tetapi diriwayatkan dari dalam mengusap kepala

J-^

1

adalah

Imam Ahmad bahwa beliau mengusap

berkata, l ^ ' j ^ J i i bagian depan

jUJ J&i (Cukuplah bagi wanita untuk

kepalanya).

H 1 J~1JJ (dan Imam Malik pernah ditanya). Yang bertanya adalah UU Ishak bin Isa bin Ath-Thiba' sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya melalui jalur periwayatan Ishak bin Isa, "Aku bertanya kepada Malik mengenai seorang laki-laki yang mengusap bagian depan kepalanya saat berwudhu, apakah hal itu telah mencukupi?" Maka Imam Malik berkata, "Telah menceritakan kepadaku Amru bin Yahya dari bapaknya dari Abdullah bin Zaid, ia berkata,

1 7 8 — FATHUL BAARI

(Rasulullah SA W saat berwudhu mengusap bagian ubun-ubunnya hingga tengkuknya, kemudian beliau mengembalikan tangannya ke ubunubunnya hingga beliau mengusap kepalanya secara keseluruhan). Riwayat dengan lafazh seperti ini lebih sesuai dengan judul bab di atas daripada apa yang dinukil oleh penulis (Imam Bukhari) terdahulu. Adapun sisi penekanan dalil ayat dan hadits adalah bahwa lafazh ayat berbicara secara global (mujmal), karena makna menyapu kepala seperti tersebut dalam ayat bisa saja berarti menyapu kepala secara keseluruhan. Hal itu berdasarkan bahwa huruf " b a " ' pada firman-Nya, fii'y. berkedudukan sebagai tambahan (za'idah) sehingga tidak mempengaruhi mengusap maknanya. Namun bisa juga yang dimaksud dengan itu adalah mengusap atau menyapu kepala dalam ayat

sebagiannya, berdasarkan bahwa huruf " b a " ' pada firman-Nya, ^iL>jj^j yang menyatakan sebagian (tab'idh). Maka apa yang dilakukan Rasulullah SAW telah menjelaskan, bahwa maksud ayat tersebut adalah makna yang pertama (menyapu seluruh kepala). Tidak pernah dinukil bahwa beliau SAW hanya menyapu sebagian kepala saja saat berwudhu, kecuali dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mughirah, yang dinyatakan bahwa Nabi SAW mengusap ubun-ubunnya dan sorbannya. Keterangan dalam hadits Mughirah ini memberi indikasi sesungguhnya menyapu kepala seluruhnya bukanlah fardhu (wajib). ' Dengan demikian, perselisihan yang terjadi adalah berkisar pada kadar kepala yang disapu, bukan pada perbuatan mengusap itu sendiri.
7

j — ^ 'j—e- (Dari bapaknya)

yakni bapak Utsman bin Yahya bin

Ammarah, yaitu anak dari Abu Hasan yang bernama Tamim bin Abdu Amru. Kakek beliau yang bernama Abu Hasan termasuk seorang sahabat, demikian pula halnya dengan Umarah sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu
Tidak ada dalam hadits Mughirah keterangan yang menyatakan bahwa menyapu kepala secara keseluruhan saat berwudhu bukanlah fardhu apabila seseorang tidak memakai sorban. Akan tetapi sesungguhnya hadits itu hanya memberi keterangan bolehnya menyapu bagian kepala yang nampak dan melanjutkan dengan menyapu sorban di saat seseorang memakainya. Adapun di saat seseorang tidak memakai sorban, maka yang wajib dilakukannya adalah mengusap kepala secara keseluruhan sebagai pengamalan hadits Abdullah bin Zaid. Dari sini menjadi jelas bahwa di antara kedua hadits ini tidak ada pertentangan. Adapun huruf ba' pada ayat di atas bermakna menempelkan (Al Ilshaq) dan bukan bermakna sebagian (tab'idh) maupun tambahan (za'idah).

FATHUL BAARI —

179

Abdil Barr. Namun Abu N u ' a i m berkata, "Pernyataan Ibnu Abdil Barr ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut." Para perawi hadits di atas adalah ulama Madinah kecuali Abdullah bin Yusuf, namun beliau pernah juga tinggal di Madinah. ^ — T j i>\ (Bahwasanya seorang laki-laki), beliau adalah Amru bin

Abu Hasan sebagaimana yang disebutkan oleh penulis (Imam Bukhari) dalam hadits yang akan beliau sebutkan melalui jalur Wuhaib dari Amru bin Yahya. Dari sini dapat dipahami bahwa perkataan Imam Bukhari, "Dan beliau adalah kakek Amru bin Yahya" bukanlah kakek dalam artian yang sebenarnya, sebab yang dimaksud adalah paman dari bapak Amru bin Yahya. Adapun sebab dinamakan kakek dari Amru bin Yahya adalah karena kedudukannya yang sama dengan kakeknya. Untuk itu, nampak jelas kekeliruan sebagian orang yang beranggapan bahwa yang dimaksud Imam Bukhari dengan perkataannya, "Dan beliau adalah kakek Amru bin Yahya" adalah Abdullah bin Zaid. Karena Abdullah bin Zaid tidak termasuk kakek Amru bin Yahya, baik dalam arti sesungguhnya maupun makna majaz. Adapun perkataan penulis kitab Al Kamal serta orang-orang yang sependapat dengannya mengenai biografi Amru bin Yahya, dimana mereka mengatakan bahwa ia termasuk salah seorang putra dari anak perempuan Abdullah bin Zaid, jelas merupakan suatu kesalahan. Pendapat ini mereka simpulkan dari riwayat di atas. Sementara telah disebutkan oleh Ibnu Sa'ad bahwa ibu Amru bin Yahya adalah Hamidah binti Muhammad bin Iyas bin Al Bukair. Namun dia mengatakan bahwa ibu Amru bin Yahya adalah Ummu Nu'man binti Abu Hayyah, wallahu a lam. Kemudian para perawi dalam kitab Al Muwaththa' berbeda pendapat dalam menentukan siapa orang yang bertanya kepada Rasulullah dalam konteks riwayat di atas, sebagian besar mereka tidak menyebutkan namanya secara jelas. Ma'nun bin Isa berkata dalam riwayatnya dari Amru bin Yahya dari bapaknya, "Sesungguhnya ia mendengar Abu Hasan -dan beliau adalah kakek Amru bin Yahyaberkata kepada Abdullah bin Zaid (salah seorang sahabat), lalu Ma'nun menyebutkan hadits sebagaimana di atas." Muhammad bin Hasan AsySyaibani berkata dari Malik, 'Telah menceritakan kepada kami Amru dari bapaknya (Yahya), bahwasanya ia mendengar kakeknya Abu Hasan

1 8 0 — FATHUL BAARI

bertanya kepada Abdullah bin Zaid.'" Demikian pula yang disebutkan oleh Sahnun dalam kitab Al Mudawwanah. Imam Syafi'i dalam kitab Al Umm berkata, 'Telah diriwayatkan dari Malik dari Amru dari bapaknya bahwa ia berkata kepada Abdullah bin Zaid." Sama seperti ini, riwayat Al Isma'ili dari Abu Khalifah dari Al Qa'nabi dari Malik dari Amru dari bapaknya, ia berkata, "Aku berkata kepada Abdullah bin Zaid...." Cara yang ditempuh untuk memadukan antara riwayat-riwayat yang saling berbeda ini, adalah dengan mengatakan, "Hadir di hadapan Abdullah bin Zaid saat itu Abu Hasan Al Anshari dan anaknya yang bernama Amru bin Yahya serta anak dari Amru, yakni Yahya bin Ammarah bin Abu Hasan. Lalu mereka bertanya kepada Abdullah bin Zaid mengenai sifat wudhu Nabi SAW, dimana yang menjadi juru bicara mereka pada saat itu adalah Amru bin Abu Hasan. Untuk itu apabila dalam riwayat dikatakan bahwa yang bertanya adalah Amru bin Hasan, maka ini dalam artian yang sesungguhnya." Keterangan ini diperkuat oleh riwayat Sulaiman bin Bilal yang disebutkan oleh penulis (Imam Bukhari) dalam bab "Berwudhu dari AtTaur," dimana beliau berkata, "Telah menceritakan kepadaku Amru bin Yahya dan bapaknya, ia berkata, 'Telah menjadi kebiasaan pamanku yakni Amru bin Abu Hasan- memperbanyak berwudhu, maka beliau berkata kepada Abdullah bin Zaid, beritahukan k e p a d a k u . . . . ' " Lalu beliau menyebutkan hadits di atas. Adapun jika disebutkan dalam riwayat bahwa yang bertanya adalah Abu Hasan, maka ini hanya sekedar kiasan, karena beliau adalah yang paling tua serta hadir pula di tempat tersebut. Sedangkan jika disebutkan dalam riwayat bahwa yang bertanya adalah Yahya bin Ammarah, maka ini juga kiasan, karena beliau yang menukil riwayat ini hadir pada saat pertanyaan diajukan. Telah disebutkan dalam riwayat Imam Muslim dari Muhammad bin Shabah dari Khalid Al Wasithi dari Amru bin Yahya dari bapaknya dari Abdullah bin Zaid, dikatakan kepadanya, "Berwudhulah untuk (mengajari) kami." Di sini tidak disebutkan siapa orang yang bertanya. Lalu dalam riwayat Al Isma'ili dari jalur Wahb bin Baqiyah dari Khalid Al Wasithi disebutkan, "Kami berkata kepadanya..." Riwayat-riwayat ini memperkuat kesimpulan yang telah kami sebutkan terdahulu, yakni

FATHUL BAARI —

181

sesungguhnya mereka bertiga telah sepakat untuk bertanya kepada Abdullah bin Zaid, hanya saja yang bertindak sebagai juru bicara di antara mereka saat itu adalah Amru bin Abu Hasan. Hal ini semakin diperjelas oleh riwayat Ad-Darawardi dari Amru bin Yahya dari bapaknya dari pamannya dari Amru bin Abu Hasan, ia berkata, "Aku seorang yang seringkah berwudhu, maka aku pun berkata kepada Abdullah bin Z a i d . . . " beliau pun menyebutkan hadits seperti di atas. Hadits Ad-Darawardi ini dinukil oleh Abu N u ' a i m dalam kitab Al Mustakhraj, wallahu a'lam. '^Jrr'A (Apakah engkau mampu). Ini merupakan keterangan tentang

keharusan bagi seorang pelajar untuk berlaku santun di hadapan gurunya. Seakan-akan orang yang bertanya ini menginginkan dari Abdullah bin Zaid untuk mempraktekkan wudhu secara langsung agar lebih berkesan dan mudah dipahami. Adapun sebab yang mendorong beliau untuk bertanya adalah karena terbetik dalam pikirannya kemungkinan Abdullah bin Zaid sudah lupa karena dipisahkan waktu yang cukup lama. f.\—'v le-lu (Maka beliau minta dibawakan air). Dalam riwayat yang

dinukil melalui jalur Wahab pada bab berikut disebutkan, "Maka beliau minta dibawakan sebuah bejana kecil yang berisi air...." Ad-Darawardi berkata, "Yang dimaksud dengan taur (bejana kecil) adalah sejenis tempayan." Sementara Al Jauhari mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bejana yang dipakai untuk minum. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bejana yang agak lebar. Lalu sebagian mengatakan bahwa taur (bejana kecil) adalah sejenis dengan At-Thisth (bejana yang agak lebar). Dikatakan pula bahwa yang dimaksud dengan taur (bejana kecil) adalah semacam periuk yang terbuat dari kuningan atau batu. Dalam riwayat Abdul Aziz bin Abu Salamah yang disebutkan oleh penulis (Imam Bukhari) pada bab "Mandi di Mikhdhab (bejana yang digunakan untuk mencuci pakaian, Penerj.)" di bagian awalnya disebutkan, "Rasulullah mendatangi kami lalu kami mengeluarkan untuknya AtTaur (bejana kecil) yang terbuat dari kuningan.'''' fjj>\

'i

(lalu menuangkan).

Dalam riwayat Musa dari Wuhaib

disebutkan, "Lalu beliau memiringkan bejana tersebut untuk menuangkan air ke tangannya."

1 8 2 — FATHUL BAARI

j—«J—e J

(Seraya mencuci tangannya sebanyak dua kali)

demikian lafazh yang dinukil dari imam Malik, yaitu menyebut tangan dengan lafazh tunggal. Sementara dalam riwayat Wuhaib dan Sulaiman bin Bilal seperti yang dikutip oleh Imam Bukhari sendiri, begitu juga riwayat Ad-Darawardi seperti dikutip oleh Abu N u ' a i m menggunakan lafazh ganda, yakni, "kedua tangannya." Untuk itu, lafazh tunggal yang ada pada riwayat Imam Malik ini dipahami bahwa yang dimaksud adalah jenisnya. Persoalan lain, dalam riwayat Imam Malik disebutkan membasuh tersebut dilakukan sebanyak dua kali, sementara pada riwayat selain beliau disebutkan sebanyak tiga kali. Begitu pula dengan yang diriwayatkan dari Khalid bin Abdullah sebagaimana dikutip oleh Imam Muslim. Mereka yang meriwayatkan dengan lafazh tiga kali tergolong sebagai pakar hadits, oleh sebab itu riwayat mereka harus lebih dikedepankan dibandingkan dengan lafazh yang hanya diriwayatkan oleh satu orang meski ia tergolong pakar pula (hafizh). Telah disebutkan oleh Imam Muslim dari jalur periwayatan Bahz, dari Wuhaib bahwa ia mendengar hadits ini dua kali dari Amru bin Yahya. Keterangan ini semakin memantapkan riwayat beliau daripada riwayat Imam Malik. Tidak ada kemungkinan jika peristiwa ini terjadi dua kali, sebab sumber riwayat ini hanya satu dan umumnya suatu kejadian tidaklah terulang. Dalam hadits ini terdapat keterangan untuk mencuci tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana meskipun tidak karena bangun tidur, sebagaimana telah diterangkan dalam hadits Utsman. Adapun yang dimaksud dengan kedua tangan di sini adalah telapak tangan.
'jA*liu>
"»J

(Kemudian

berkumur-kumur

dan mengeluarkan
J^HLJIJ

air

dari hidung).

Dalam riwayat Al Kasymihani disebutkan,

'jnV.fi'*

(Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung). Mengeluarkan air dari hidung berkonsekuensi memasukkan air ke dalamnya, tapi memasukkan air ke dalam hidung tidak berkonsekuensi mengeluarkannya dari hidung, lalu dalam riwayat Wuhaib terdapat tambahan keterangan bahwa hal itu dilakukan dengan tiga kali cidukan. Hadits ini dijadikan sebagai dalil disukainya menyatukan antara berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung sekaligus pada

FATHUL BAARI —

183

setiap cidukan. Dalam riwayat Khalid bin Abdullah berikut ini disebutkan, t—5%* i L J i Jia o^-ij *JS J j i i s ^ i j ja^&> (Beliau berkumurkumur dan memasukkan air ke dalam hidung dari satu telapak tangan (satu kali cidukan), beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali). Riwayat Khalid ini sangat tegas menyatakan bahwa berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung dilakukan dengan satu kali cidukan. Berbeda dengan riwayat Wuhaib yang masih mengandung kemungkinan pemisahan antara berkumur-kumur dengan memasukkan air ke dalam hidung, yaitu satu cidukan untuk berkumur-kumur sedang satu cidukan lagi untuk dimasukkan ke dalam hidung, sebagaimana telah disinyalir oleh Ibnu Daqiq Al Id. Kemudian dalam riwayat Sulaiman bin Bilal yang dikutip oleh

Imam Bukhari pada bab berwudhu dari bejana kecil disebutkan, Ja«.W«i »->—r'j 'i—J—f
o l

j

*

j ^ ' j (Maka beliau berkumur-kumur dan

mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali dengan satu kali cidukan). Lalu riwayat ini pun dijadikan sebagai dalil untuk menyatukan antara berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung dengan satu kali cidukan. Akan tetapi, riwayat ini masih perlu diteliti berdasarkan apa yang telah kami jelaskan yaitu kesatuan sumber riwayat, sehingga riwayat yang menyatakan bahwa perbuatan itu dilakukan sebanyak tiga kali harus lebih didahulukan.
J
, o , >

Dalam riwayat Imam Muslim dari Khalid disebutkan, «-U J*oi 'ja '«'^ntfi \&r'j*£*>\j (Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana setelah itu dikeluarkannya lalu beliau berkumur-kumur). Riwayat Imam Muslim ini dijadikan sebagai dalil bahwa berkumur-kumur lebih didahulukan daripada memasukkan air ke dalam hidung, namun persoalan ini perlu pembahasan lebih mendalam.
\ — A ^ - J

JJc-

jiJ (Kemudian

beliau membasuh

wajahnya tiga kali)

Tidak ada perbedaan riwayat mengenai hal ini. Lalu menjadi konsekuensi mereka yang menjadikan hadits ini sebagai dalil wajibnya mengusap seluruh kepala untuk mewajibkan wudhu secara berurutan, sebab dalam hadits ini disebutkan kata sambung j« S (kemudian) dalam setiap kali perpindahan dari satu anggota wudhu kepada anggota yang lain. Karena, mengusap atau menyapu seluruh kepala dan membasuh anggota wudhu

1 8 4 — FATHUL BAARI

secara berurutan yang dijelaskan secara global (mujmal) dalam ayat telah diterangkan oleh Sunnah dalam bentuk perbuatan Rasulullah. u—J^'J* kali-dua kali). t**i J-"* 'f {Kemudian membasuh kedua lengannya dua

Demikianlah riwayat ini dinukil dengan pengulangan

lafazh, JJ'J* (dua kali), akan tetapi dalam riwayat Imam Muslim dari jalur periwayatan Habban bin Wasi' dari Abdullah bin Zaid disebutkan bahwa beliau melihat Nabi SAW berwudhu. Dalam riwayat itu disebutkan, "Lalu beliau membasuh lengan kanannya tiga kali dan lengan kirinya tiga kali." Hadits ini harus dipahami sebagai kejadian yang lain, sebab sumber keduanya berbeda.
C T - ^ J ^
1

ij\ (Hingga

kedua siku), demikian lafazh yang dinukil oleh

sebagian besar penulis naskah Shahih Bukhari. Sedangkan dalam naskah Al Mustamli dan Al Hamawi disebutkan dengan lafazh tunggal, yakni JJ^> (siku) dan maksudnya adalah jenis. Lalu para ulama berbeda pendapat mengenai apakah kedua siku masuk pula dalam bagian yang harus dibasuh atau tidak? Mayoritas mereka mengatakan "Ya", sementara Zufar menyatakan sebaliknya. Pendapat yang berbeda dengan mayoritas juga dinukil oleh sebagian ulama dari Imam Malik. Sebagian pendukung pendapat golongan mayoritas memperkuat

pendapat mereka dengan mengatakan bahwa makna huruf J\ (sampai) pada ayat tentang wudhu diartikan dengan makna
1

(bersama) sebagaiArtinya, bersama

mana halnya pada firman Allah SWT, p ^ j ^ ^ 1 j ^ ' j * ' i jATl; "Dan janganlah harta kamu" kamu memakan harta mereka (anak yatim)

(Qs. An-Nisaa' (4): 2) Akan tetapi pendapat ini dibantah

bahwa makna seperti itu menyelisihi makna lahir (zhahir) huruf Namun bantahan ini dapat kami jawab dengan mengatakan bahwa ada faktor yang mengindikasikan
1

bahwa makna huruf J\ pada firman Allah

SWT j—Ifii^J u—!j adalah "bersama", bukan "sampai" atau "sebatas" meskipun kedua makna ini adalah makna lahir (zhahir) huruf J\.

FATHUL BAARI —

185

Adapun faktor yang dimaksud adalah, apa yang disebutkan setelah huruf ^ — 1 ' masih merupakan jenis dari apa yang disebutkan sebelumnya. Ibnu Al Qishar berkata, "Tangan dalam bahasa Arab mencakup hingga ketiak berdasarkan hadits Ammar bahwa beliau bertayammum hingga ketiaknya. Sementara beliau (Ammar) seorang yang sangat memahami bahasa Arab. Maka ketika turun firman Allah SWT, j»'jih J\ (sampai ke siku-siku kamu), siku mesti dibasuh bersama dengan lengan karena ia masuk dalam cakupan lafazh tangan." Demikian perkataan Ibnu Al Qishar. Atas dasar ini, maka sesungguhnya huruf ^—!j dalam ayat wudhu adalah batasan bagi sesuatu yang tidak dibasuh, bukan batasan yang mesti dibasuh. Namun untuk menyatakan bahwa kesimpulan ini merupakan makna lahiriyah ayat, masih perlu pembahasan tersendiri, wallahu a 'lam. Zamakhsyari berkata, "Huruf —!i hanya memberi makna batasan
L5

secara mutlak. Adapun mengenai apakah batasan itu masuk dalam bagian yang disebutkan ataukah tidak, merupakan perkara yang tergantung pada keterangan yang lain. Maka firman Allah SWT, JM\ J\ ^CaJi \ya) ^> (dan sempurnakanlah puasa-puasa kamu hingga malam) merupakan dalil tidak masuknya puasa pada malam hari atau merupakan larangan melakukan puasa wishal (yakni menyambung puasa hingga malam). Sedangkan perkataan seseorang, «j—*T ^—![ *Jji j * oT^aJl 'cJai*- (aku menghafal Al Q u f a n dari awal hingga akhir) memberi indikasi bahwa batasan masuk dalam bagian yang dimaksud, sebab konteksnya adalah menyatakan hafalan Al Q u f a n secara keseluruhan." Lalu firman Allah SWT, j - J V ^ J i ^ — ! j (Sampai siku-siku) tidak ditemukan indikasi yang menyatakan apakah batasan itu (dalam hal ini adalah siku) masuk dalam bagian yang disebutkan sebelumnya (dalam hal ini adalah lengan) ataukah tidak. Beliau menambahkan, "Maka para ulama mengambil pandangan yang lebih berhati-hati, sementara Zufar mengambil pendapat yang sudah diyakini." Mungkin saja perbuatan beliau SAW dijadikan dalil yang menunjukkan bahwa kedua siku masuk dalam bagian yang harus dibasuh bersama lengan. Dalam riwayat Ad-Daruquthni dengan silsilah peri-

1 8 6 — FATHUL BAARI

wayatan yang baik (hasan) dari hadits Utsman sehubungan dengan sifat wudhu disebutkan, j membasuh bagian Jabir RA, * SAW apabila kedua 'J* berwudhu, ujung pangkal

].»Vi*lt

k' ^r-* ^ sampai

jlai^Jt beliau

JUtf (Beliau menyentuh Rasulullah air).

lengannya «-UJl j b i beliau

siku hingga

lengan). Dalam kaitan ini, diriwayatkan pula dari tij h\ Sy~>j OlST (Biasanya membasahi
8

kedua sikunya dengan

Akan tetapi silsilah periwayatan hadits ini lemah. ' Dalam riwayat Imam Bazzar dan Imam Thabrani, diriwayatkan dari hadits Wa'il bin Hujr sehubungan dengan sifat wudhu Nabi SAW, j i j ^ JJ^ J*~ t&i*
1

S~*J

(Beliau

membasuh

kedua lengannya

hingga

melewati siku). Sementara

dalam riwayat Imam Thahawi dan Thabrani dari hadits Tsa'labah bin Ibad dari bapaknya dari Nabi SAW, J* s-Ui J l ~ j Js- ^Ipiji J—* jij (Kemudian beliau membasuh kedua lengannya hingga air mengalir di kedua sikunya). Riwayat-riwayat ini saling menguatkan satu sama lain. Ishaq bin Rahawaih berkata, "Lafazh —!' dalam ayat wudhu ada
lS

kemungkinan bermakna batasan (sehingga makna ayat, basuhlah lenganlengan kamu sebatas siku-siku kamu. Artinya, siku tidak masuk bagian yang mesti dibasuh-penerj.) dan ada pula kemungkinan bermakna bersama (sehingga makna ayat, basuhlah lengan-lengan kamu bersama sikusiku kamu. Artinya, siku masuk bagian yang mesti dibasuh -Penerj.) Lalu hadits tersebut telah menerangkan bahwa lafazh J dalam ayat di atas bermakna £* (bersama). " Sementara Imam Syafi'i telah berkata dalam kitab Al Umm, "Aku tidak mengetahui adanya orang yang menyelisihi pandangan tentang wajibnya membasuh kedua siku dalam berwudhu." Dari sini, maka sesungguhnya pendapat Zufar tertolak oleh ijma' ulama. Demikian pula halnya dengan orang-orang sesudahnya yang berpendapat seperti beliau di kalangan pengikut madzhab Azh- Zhahiriyah.
Hadits yang lebih shahih dari hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah RA sehubungan dengan sifat wudhu Nabi SAW yang mana dikatakan dalam riwayat tersebut, "Kemudian beliau (Abu Hurairah) membasuh tangannya hingga sampai ke pangkal lengan..." Sampai akhirnya disebutkan, "Kemudian beliau (Abu Hurairah) membasuh kakinya hingga sampai ke betis." Hadits ini merupakan hadits yang shahih lagi tegas menyatakan bahwa kedua siku masuk dalam bagian yang harus dibasuh.

FATHUL BAARI —

187

Sementara riwayat yang menyatakan bahwa siku tidak masuk bagian yang harus dibasuh, tidak dapat dipastikan berasal dari Imam Malik secara tegas, akan tetapi sesungguhnya hal itu hanya diriwayatkan melalui Asyhab dalam bentuk perkataan yang mengandung kemungkinan untuk diartikan demikian. Adapun yang dimaksud dengan siku adalah tulang yang agak menonjol diujung lengan bagian atas. A—g~j> J^J (Kemudian beliau menyapu kepalanya) dalam riwayat

Ibnu Ath-Thiba' diberi tambahan "secara keseluruhan", sebagaimana disebutkan terdahulu dari riwayat Ibnu Khuzaimah. Dalam riwayat Khalid bin Abdullah diberi tambahan huruf ba * sehingga lafazh hadits menurut versi beliau berbunyi, ^S'y beliau hanya disebutkan Qurthubi berkata, "Huruf j ba' »j , sementara pada riwayat selain (beliau membasuh kepalanya). Imam maksudnya adalah untuk ta 'diyah pengaruh pada obyek). Ia boleh

(membantu kata kerja dalam memberi

disebutkan dalam kalimat dan boleh pula tidak disebutkan (karena tidak memberi pengaruh pada makna,-Penerj.) seperti dikatakan ^ ' j c/a-V» l«—l^ii (aku mengusap kepala anak yatim) dan dikatakan pula, j>\'y cJ*-~»
(

«

IJi

(aku

mengusap

kepala anak yatim). Namun ada pula yang

mengatakan bahwa huruf ba" ( v ) pada firman Allah SWT, —r'JJS- memberi makna tersendiri, yaitu bahwasanya lafazh membasuh dalam bahasa Arab mengharuskan adanya sesuatu yang dipakai membasuh. Sedangkan lafazh menyapu
1

atau mengusap

tidak berkon-

sekuensi adanya sesuatu yang dipakai untuk mengusap. Oleh karena itu jika dikatakan air. Imam Syafi'i berkata, "Firman Allah SWT, pS^jjy _>?*-~»ij , maka boleh menyapu kepala tangan tanpa

\y*L*\j (dan

sapulah kepala-kepala kamu) dapat bermakna menyapu seluruh kepala dan dapat pula bermakna menyapu sebagiannya. Namun Sunnah menjelaskan bahwa membasuh sebagian kepala sudah dianggap mencukupi. Perbedaan ayat di atas dengan firman Allah SWT ij?xU>ij

°p—£j*yr'y. (dan sapulah wajah-wajah kamu) dalam tayammum, adalah
bahwa di sini diharuskan menyapu seluruh wajah saat tayammum dan

1 8 8 — FATHUL BAARI

tidak diperkenankan hanya menyapu sebagiannya, karena tayammum hanya sebagai pengganti membasuh muka. Sementara menyapu kepala adalah perbuatan asasi dan bukan sebagai pengganti. Dari sini dapat dipahami perbedaan makna huruf ba" pada kedua firman Allah SWT tersebut. Keterangan ini tidak dapat dikritik dengan mengatakan bahwa kedua sepatu tidak mesti disapu secara keseluruhan padahal perbuatan ini merupakan ganti daripada membasuh kedua kaki, karena dalam hal ini telah ada ijma' yang menyatakan adanya keringanan dalam mengusap sepatu. Apabila dikatakan, "Barangkali Nabi SAW sengaja mencukupkan dengan mengusap ubun-ubunnya karena safar (bepergian), dimana safar adalah saat yang banyak diberi keringanan. Maka beliau SAW mengusap bagian atas sorbannya setelah mengusap ubun-ubunnya, sebagaimana yang dapat dipahami dari makna hadits riwayat Imam Muslim dari Mughiran bin Syu'bah." Kami katakan, "Telah diriwayatkan, bahwa beliau SAW pernah menyapu bagian depan kepalanya (ubun-ubun) tanpa meneruskannya dengan menyapu sorban dan tidak dalam keadaan safar." Riwayat yang dimaksud adalah hadits yang dinukil oleh Imam Syafi'i dari Atha', bahwa Rasulullah berwudhu lalu melepas sorban dari kepalanya kemudian menyapu bagian depan kepala. Meskipun dalam meriwayatkan hadits ini tabi'in -dalam hal ini Atha'-tidak menyebutkan nama sahabat yang meriwayatkannya sehingga dikategorikan sebagai hadits mursal, namun kedudukannya diperkuat oleh jalur periwayatan lain yang bersambung langsung kepada Nabi SAW (maushul). Riwayat tersebut adalah hadits yang dinukil oleh Abu Dawud dari Anas, dan dalam sanadnya terdapat Abu Ma'qil, seorang perawi yang tidak dikenal kepribadiannya. Kedua riwayat ini saling menguatkan satu sama lain, sehingga diperoleh kekuatan yang layak dijadikan sebagai dalil. Riwayat ini pula yang dijadikan sebagai contoh oleh Imam Syafi'i ketika menyebutkan syarat hadits mursal yang dapat diterima. Beliau mengatakan, "Hendaklah hadits mursal tersebut didukung oleh hadits mursal yang lain, atau diriwayatkan pula dari jalur lain yang bersambung sampai kepada Nabi SAW (maushul)."

FATHUL BAARI —

189

Dari sini terjawab kritikan yang ditujukan kepada perkataan Imam Syafi'i di atas, yakni mereka yang mengatakan, "Jika demikian, maka yang menjadi hujjah (dalil) adalah hadits yang silsilah periwayatannya bersambung kepada Nabi SAW (maushul), sehingga hadits yang mursal itu tidak berfungsi." Jawaban kritikan ini telah saya tegaskan dalam tulisan saya dalam kitab Ulumul Hadits, karangan Ibnu Shalah. Sehubungan dengan persoalan ini, telah diriwayatkan pula dari Utsman mengenai sifat j (Lalu beliau wudhu Nabi SAW dimana dikatakan, f J i i menyapu bagian depan kepalanya). Hadits ini

diriwayat-kan oleh Sa'id bin Manshur. Namun dalam silsilah periwayatannya ter-dapat Khalid bin Yazid bin Abu Malik, salah seorang perawi yang diperselisihkan keakuratan riwayatnya. Sementara itu telah terbukti dalam riwayat bahwa Ibnu Umar pernah mencukupkan dengan menyapu sebagian kepala saat berwudhu, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mundzir dan selain beliau. Lalu tidak ada riwayat shahih dinukil dari para sahabat Nabi SAW yang mengingkari perbuatan Ibnu Umar tersebut, seperti dikatakan oleh Ibnu Hazm. Riwayat-riwayat mengenai perbuatan sahabat ini termasuk di antara hal-hal yang menguatkan hadits mursal yang telah disebutkan. _4_.ilj ^Jiuj tjj (Beliau memulai dari bagian depan kepalanya), secara

lahiriah, lafazh ini termasuk hadits dan bukan kalimat yang disisipkan oleh Imam Malik. Oleh karena itu, lafazh ini menjadi bantahan terhadap mereka yang mengatakan bahwa termasuk sunah memulai menyapu dari bagian belakang kepala atas dasar makna lahir (zhahir) hadits, "Dia (Abdullah bin Zaid -penerj.) menyapu kepalanya yang ke arah depan dan yang ke arah belakang." Untuk alasan yang mereka kemukakan ini dapat dijawab, "Kata sambung yang digunakan dalam teks hadits tersebut adalah huruf waw (yang diartikan dengan "dan" atau "lalu" -penerj.), sementara kata sambung dengan menggunakan huruf waw tidak memberi makna berurutan (tertib)." Akan disebutkan oleh penulis (Imam Bukhari) sebuah riwayat dari Sulaiman bin Bilal, dimana dikatakan, "Beliau (Abdullah bin Zaid) menyapukan kedua tangannya ke arah belakang lalu ke arah depan." Dengan demikian makna lahir (zhahir) riwayat yang mereka sebutkan tidak dapat dijadikan hujjah, karena menarik tangan ke depan dan ke

1 9 0 — FATHUL BAARI

belakang adalah perkara yang relatif. Sementara dalam hadits tidak dijelaskan mana yang dimaksud dengan arah depan dan arah belakang. Padahal sumber penukilan kedua riwayat tersebut adalah sama. Oleh karena itu, keduanya memiliki makna yang sama pula. Lalu dalam riwayat Imam Malik dijelaskan bahwa beliau SAW mulai menyapu bagian depan kepala. Dengan demikian lafazh hadits yang berbunyi, JJtf (menarik ke depan) harus dipahami sebagai salah satu bentuk gaya bahasa yang menamakan suatu perbuatan dengan permulaan perbuatan itu sendiri. Sehingga makna hadits tersebut menurut pemahaman ini adalah, "Beliau mulai bagian depan kepalanya." Namun ada pandangan yang mengartikan lain. Hikmah mengarahkan tangan ke bagian depan dan bagian belakang adalah untuk meratakan sapuan ke seluruh kepala Maka atas dasar ini, perbuatan tersebut berlaku khusus bagi mereka yang memiliki rambut. Akan tetapi, pandangan yang masyhur dari mereka yang mewajibkan menyapu seluruh kepala bagi mereka yang memiliki rambut adalah wajib hukumnya. Sedangkan bagi mereka yang tidak memiliki rambut hukumnya sunah. Dari sini menjadi jelas kelemahan pendapat yang menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk mengharuskan menyapu seluruh kepala, wallahu a 'lam. *—j J—^ j*J (Kemudian beliau membasuh kedua kakinya). Dalam

riwayat Wuhaib yang akan disebutkan diberi tambahan, Jj&>\ J\ (hingga kedua mata kaki). Pembahasan masalah ini sama seperti pembahasan membasuh lengan hingga ke siku. Menurut pendapat yang masyhur bahwa mata kaki adalah tulang menonjol di pergelangan kaki. Namun diriwayatkan oleh Muhammad bin Al Hasan dari Abu Hanifah, bahwa mata kaki adalah tulang agak menonjol di punggung kaki yang bersentuhan dengan tali sandal. Lalu diriwayatkan pula oleh Ibnu Qasim dari Imam Malik pendapat seperti itu. Namun pendapat pertama adalah pendapat yang shahih dan masyhur di kalangan ahli bahasa. Dalil paling jelas yang mendukung pendapat pertama adalah hadits shahih dari An-Nu'man bin Basyir sehubungan dengan sifat shaf (barisan) dalam shalat, yang mana beliau mengatakan, "Aku melihat setiap orang di antara kami mendekatkan mata kakinya dengan mata kaki sahabatnya." Lalu dikatakan bahwa Muhammad (mungkin yang di-

FATHUL BAARI —

191

maksud adalah Imam Bukhari-penerj) berpendapat, sesungguhnya dalil yang menguatkan pendapat pertama adalah hadits tentang seorang yang memotong kedua sepatunya hingga mata kaki apabila tidak menemukan sandal pada waktu ihram.

Pelajaran yang dapat diambil: 1. 2. 3. Menuangkan air saat memulai wudhu pada kedua tangan sekaligus. Boleh membasuh sebagian anggota wudhu satu kali, dua kali, atau tiga kali. Keterangan kedatangan imam ke sebagian rumah rakyatnya lalu mereka menawarkan apa yang mereka duga menjadi maksud kedatangan imam tersebut. Boleh minta kebencian. bantuan untuk menghadirkan air tanpa ada unsur

4. 5. 6.

Mengajar dengan perbuatan (praktek). Menciduk air yang sedikit dengan tangan tidak menjadikan air tersebut musta 'mal berdasarkan lafazh hadits yang diriwayatkan oleh Wuhaib, "Kemudian beliau memasukkan tangannya lalu membasuh mukanya..."

Adapun persyaratan niat saat menciduk air, tidak ditemukan dalam hadits ini keterangan yang menyetujui maupun yang menolaknya. Lalu Abu Awanah dalam kitab Shahih-nya berdalil dengan hadits ini mengenai bolehnya bersuci dengan air musta 'mal, karena niat tidak disebutkan dalam hadits tersebut. Sementara beliau telah memasukkan air ke dalam bejana setelah membasuh muka, dimana saat itu merupakan waktu membasuh tangan. Kemudian Imam Al Ghazali berkata, "Sekedar memasukkan tangan untuk menciduk air tidaklah menjadikan air tersebut musta 'mal, karena air yang musta 'mal terjadi pada air yang sudah diciduk." Demikian pula pendapat yang ditegaskan oleh Imam Al Baghawi. Imam Bukhari telah menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk membasuh kepala secara keseluruhan. Sementara kami telah menjelaskan bahwa hadits ini mengindikasikan makna tersebut, namun hanya sampai

1 9 2 — FATHUL BAARI

pada tingkat disukai dan bukan wajib. Sebagaimana beliau berdalil pula dengan hadits ini untuk menyatakan tidak perlu mengulang mengusap kepala dan mengumpulkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, seperti yang akan dibahas dalam bab tersendiri. Terakhir beliau menjadikan hadits ini sebagai dalil yang membolehkan bersuci dari bejana yang terbuat dari tembaga dan lainnya.

39. Membasuh Kedua Kaki hingga Mata Kaki

186. Diriwayatkan oleh Wuhaib dari Amru dari bapaknya, ia berkata, "Aku pernah menyaksikan Amru bin Abu Hasan bertanya kepada Abdullah bin Zaid tentang sifat (cara) wudhu Nabi SAW, maka beliau minta dibawakan sebuah bejana kecil berisi air lalu mempraktekkan kepada mereka wudhu Nabi SAW. Beliau menuangkan air ke tangannya dari bejana tersebut dan membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali, kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam bejana lalu berkumur-kumur serta memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya. Hal itu dia lakukan sebanyak tiga kali cidukan. Kemudian dia memasukkan tangannya (ke dalam bejana), lalu membasuh mukanya se-

FATHUL BAARI —

193

banyak tiga kali. Selanjutnya dia membasuh kedua lengannya dua kali hingga siku, lalu memasukkan tangannya dan menyapu kepalanya. Dia mengarahkan keduanya ke depan dan ke belakang sebanyak satu kali, kemudian membasuh kedua kaki hingga mata kaki."

Keterangan Hadits: (Membasuh kedua kaki hingga mata kaki), pembahasan ini telah dijelaskan dalam bab sebelumnya. Adapun Amru yang disebutkan dalam silsilah periwayatan hadits ini adalah Amru bin Yahya bin Ammarah (guru Imam Malik seperti dijelaskan dalam riwayat terdahulu). Sedangkan Amru bin Abu Hasan adalah paman bapak beliau (yakni Amru bin Yahya bin Ammarah), seperti kami jelaskan di atas. Di sini Amru bin Abu hasan dinamakan sebagai kakek Amru bin Yahya bin Ammarah bukan dalam arti yang sebenarnya. Yang sangat mengherankan, Al Karmani -mengikuti pendapat penulis kitab Al Kamal- berkata, "Amru bin Abu Hasan adalah kakek Amru bin Yahya dari pihak ibu." Sementara di atas telah kami jelaskan bahwa ibu Amru bin Yahya bukan anak perempuan Amru bin Abu Hasan, sehingga apa yang ia katakan tidak ada kemungkinan untuk dibenarkan. i—(pr) J — a J j J>-> 'pi (Kemudian beliau memasukkan tangannya

lalu membasuh mukanya). Dalam riwayat ini dijelaskan tentang memperbaharui menciduk air untuk setiap anggota wudhu, dan hal itu dilakukan dengan satu tangan. Demikian pula keterangan yang terdapat dalam riwayat-riwayat lain dan riwayat Imam Muslim serta lainnya. Akan tetapi dalam riwayat Ibnu Asakir dari Abu Al Waqt dari jalur Sulaiman bin Bilal -seperti yang akan disebutkan nanti- dikatakan, "Kemudian dia memasukkan kedua tangannya." Namun kalimat itu tidak ada dalam riwayat Abu Dzar dan Al Ashili serta diriwayat-riwayat selain Bukhari, demikian dikatakan oleh Imam Nawawi. Namun saya mengira bahwa bejana yang dipakai saat itu cukup kecil, maka beliau menciduk dengan satu tangan lalu menuangkan air ke tangan yang satunya, sebagaimana perbuatan seperti ini disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas yang terdahulu. Karena kalau bukan sebab ini, maka menciduk air dengan kedua tangan lebih mudah dan lebih banyak memperoleh air, seperti dikatakan Imam Syafi'i.

1 9 4 — FATHUL BAARI

.JJJ»

aJoJ

J — p jii

(Kemudian

beliau membasuh kedua tangannya

dua

kali) yang dimaksud adalah membasuh masing-masing dari dua tangan sebanyak dua kali seperti yang telah disebutkan dari jalur periwayatan Malik, dimana dikatakan, "Kemudian beliau membasuh kedua tangannya dua kali-dua kali." Lafazh hadits di atas tidak dimaksudkan mencuci dua kali untuk kedua tangan, sehingga setiap tangan hanya dicuci satu kali.

40. Mempergunakan Sisa Air Wudhu Orang Lain

^

s

, 0

'

"

I

I " f

Itl

°'

°

'

'

'

a 5 I yy

i ./t a.; 1 jy^yj

Jl

< _ > <Ujl _LP ual

y«r

J

Jarir bin Abdullah memerintahkan keluarganya untuk berwudhu dengan sisa air yang ia pakai bersiwak.

*

*

S

'
'

o'
* f

' t *

* •* '

*

''o ' i'

J

i % '
^3
f.

' ' y '

°

''

'

y

l'
-^t-

0

J

^23

^y»

(jo'LJl Jjt^t-S

y}> y fj>^ & j

L^Jl_> ;£§l

o

o '

a

°

'

187. Diriwayatkan oleh Al Hakam, ia berkata, 'Aku mendengar Abu Juhaifah berkata, 'Rasulullah SAW keluar menemui kami waktu tengah hari, lalu dibawakan air kepada beliau untuk berwudhu. Maka manusia mengambil sisa air wudhunya, kemudian menyapukannya ke badan mereka. Lalu Nabi shalat zhuhur dua rakaat dan ashar dua rakaat, sementara di hadapannya terdapat tombak (sebagai tanda atau batas tempat beliau shalat)"

FATHUL BAARI —

195

Keterangan Hadits: (Mempergunakan sisa air wudhu orang lain), yakni untuk bersuci. Yang dimaksud dengan sisa air adalah yang tertinggal di wadah setelah dipergunakan orang lain. 'j >Jr 'j—«iJ (Jarir bin Abdullah memerintahkan) riwayat dan

silsilahnya disebutkan oleh Ibnu Abu Syaibah dan Ad-Daruquthni serta lainnya dari jalur Qais bin Abu Hazim dari Jarir bin Abdullah. Dalam sebagian jalur periwayatannya disebutkan, "Biasanya Jarir bersiwak (menggosok gigi) lalu membenamkan ujung siwaknya di dalam air kemudian beliau berkata kepada keluarganya, 'Berwudhulah dengan sisa air ini.'" Beliau berpendapat bahwa hal seperti itu tidaklah mengapa. Riwayat ini memberi penjelasan akan apa yang dimaksud. Sementara Ibnu At-Tin dan lainnya menduga bahwa yang dimaksud dengan sisa siwak tersebut adalah air yang dipakai merendam batang siwak untuk melembutkannya, oleh sebab itu mereka mengatakan, "Hal ini mesti dipahami bahwa siwak tersebut tidak merubah sifat air." Padahal sesungguhnya yang dimaksud oleh Imam Bukhari adalah menjelaskan bahwa perbuatan seperti itu tidak merubah sifat air, sebagaimana sekedar menggunakan air tidak lantas merubah sifat air sehingga boleh untuk dipakai bersuci. Lalu Ad-Daruquthni telah menshahihkan riwayat ini yang dinukil dengan lafazh, "Lalu beliau berkata kepada keluarganya, 'Berwudhulah dengan air yang telah dipakai untuk memasukkan siwak ini.'" Keterangan seperti ini telah dinukil langsung dari Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dari hadits Anas, bahwa Nabi SAW biasa berwudhu dengan sisa air yang beliau gunakan untuk siwak. Tapi silsilah periwayatan hadits ini lemah. Disebutkan oleh Abu Thalib dalam rangkuman pertanyaanpertanyaannya kepada Imam Ahmad, bahwa ia bertanya kepada Imam Ahmad mengenai makna hadits ini, maka beliau berkata, "Biasanya beliau SAW mencelupkan siwak ke dalam bejana lalu bersiwak dengannya. Apabila selesai, maka dia berwudhu dengan menggunakan air tersebut." Kemudian timbul pertanyaan mengenai maksud Imam Bukhari menyebutkan riwayat Jarir bin Abdullah di bawah bab tentang sucinya air

1 9 6 — FATHUL BAARI

musta'mal. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya katakan, "Sesungguhnya telah dinukil dalam riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, bahwa siwak dapat membersihkan atau mensucikan mulut. Maka apabila ia bercampur dengan air lalu air tersebut dipakai berwudhu, dalam hal ini terjadi pemakaian air musta 'mal untuk bersuci."
s
t

a.

4—\yfi$ J—'^ai 'j—» jji^-U (Manusia mengambil sisa air wudhunya). Seakan-akan mereka saling berbagi air yang tersisa, namun ada pula kemungkinan mereka mengambil air yang mengalir di anggota wudhu Nabi SAW. Di sini terdapat keterangan sangat jelas mengenai sucinya air musta 'mal (air bekas yang digunakan untuk bersuci).

f"

-

' y

188. Abu Musa berkata, "Nabi SA W minta dibawakan satu bejana kecil (mirip tempayan) yang berisi air, beliau membasuh kedua tangannya dan mukanya di bejana tersebut serta mengeluarkan air dari mulutnya ke dalamnya. Kemudian beliau SAW bersabda kepada keduanya, 'Minumlah sebagian air itu, lalu usapkanlah ke muka dan leher kalian berdua.''"

Keterangan Hadits: Abu Musa yang dimaksud adalah Abu Musa Al Asy'ari. Hadits ini adalah penggalan dari hadits panjang yang disebutkan oleh penulis dalam kitab Al Maghazi. Adapun permulaannya, "Telah diriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata, "Aku pernah bersama Nabi SAW di Ji'ranah dan beliau ditemani oleh Bilal, lalu beliau SAW didatangi oleh seorang Arab badui...." Selanjutnya Abu Musa menceritakan kisah selengkapnya. Maka dari keterangan ini diketahuilah dua orang yang dimaksud oleh Nabi SAW dalam sabdanya, "Oleh kalian berdua...", yakni Abu Musa Al

FATHUL BAARI —

197

Asy'ari dan Bilal. Demikian pula Imam Bukhari telah menyebutkan penggalan lain dari hadits ini pada bab "Mandi dan berwudhu di Mikhdhab (suatu bejana yang biasa dipakai mencuci pakaian dan yang lainnya, -penerj.)" sebagaimana akan dijelaskan. 4—J ( v j (Dan mengeluarkan air dari mulutnya ke dalamnya), yakni

beliau menumpahkan kembali air yang telah dipakainya itu ke dalam bejana. Adapun maksud dari perbuatan ini adalah untuk keberkahan air tersebut, sebab air liur beliau SAW penuh berkah.

189. Diriwayatkan dari Shalih dari Ibnu Syihab, ia berkata, "Telah mengabarkan kepadaku Mahmud bin Rabi', dan dialah orang yang disemprot mukanya oleh Rasulullah SAW dengan air dari mulutnya pada saat ia masih kanak-kanak, dimana air tersebut berasal dari sumur milik mereka. " Urwah berkata dari Al Miswar dan selainnya, yang mana setiap salah satu dari mereka membenarkan yang lainnya, "Apabila Nabi SAW berwudhu, mereka hampir saling membunuh untuk memperebutkan air sisa wudhu beliau SAW r

Keterangan Hadits: Urwah yang dimaksud adalah Urwah bin Az-Zubair, sedangkan Miswar adalah Miswar bin Makhramah. o J . — ( d a n selainnya) seperti akan disebutkan maksudnya adalah Marwan bin Al Hakam, selengkapnya beserta silsilah peri-

riwayat

1 9 8 — FATHUL BAARI

wayatannya secara bersambung hingga kepada nabi SAW dalam bab AsySyuruth. Al Karmani berkata, "Riwayat ini meskipun dinukil dari seorang yang tidak diketahui (majhul), namun kedudukannya di sini hanyalah sebagai penguat, sehingga posisinya tidaklah sama dengan riwayat yang menjadi dasar atau bukan menjadi penguat." Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Perkataan Al Karmani benar adanya. Akan tetapi di tempat ini tidak perlu dijadikan sebagai alasan, sebab perawi yang tidak disebutkan namanya dalam hadits itu telah diketahui. Hanya saja beliau tidak menyebutkan namanya di sini untuk meringkas, sebagaimana beliau meringkas silsilah periwayatannya hingga menghapus sebagian besar para perawinya." Lalu Al Karmani mengatakan bahwa perkataan beliau, "Urwah berkata..." dikaitkan dengan perkataan dalam silsilah periwayatan terdahulu, yakni perkataannya "Mahmud telah mengabarkan kepadaku." Dengan demikian, Shalih bin Kaisan menukil hadits ini dari Ibnu Syihab (Zuhri) dan hadits Mahmud. Lalu beliau menyambungnya dengan hadits Urwah, sehingga hadits Urwah tidak dianggap disebutkan tanpa silsilah periwayatan. Bahkan sesungguhnya jalur periwayatannya telah disebutkan secara lengkap, yakni jalur periwayatan Shalih dan orang-orang sesudahnya. Akan tetapi karakter para imam hadits menyalahi apa yang beliau (Al Karmani) katakan. Al Karmani tetap dalam pendiriannya seperti ini hingga beliau mengklaim bahwa perkataan dalam hadits, "Setiap salah satu dari mereka membenarkan yang lainnya.." maksudnya adalah Miswar dan Mahmud. Padahal kenyataan bukan seperti apa yang beliau klaim, bahkan yang dimaksud di sini adalah Miswar dan Marwan. Pandangan Al Karmani di atas berdasarkan pertimbangan akal semata, sementara kembali kepada kaidah periwayatan dalam masalah itu sendiri merupakan langkah yang lebih baik untuk ditempuh. d j—Ls* ijAT (Mereka hampir saling membunuh). Demikian riwayat

Abu Dzar, sedangkan yang lainnya menyebutkan 'jalS' (hampir-hampir mereka) dan inilah yang benar, karena tidak pernah terjadi mereka saling membunuh dengan sebab memperebutkan air wudhu Nabi SAW. Hanya saja keterangan seperti itu diriwayatkan oleh Urwah bin Mas'ud Ats-

FATHUL BAARI —

199

Tsaqafi ketika kembali menemui kaum Quraisy untuk memberitahukan kepada mereka kehebatan para sahabat dalam mengagungkan Nabi SAW. Adapula kemungkinan perkataan, "Saling membunuh..." hanyalah untuk memberi gambaran penyangatan.

190. Diriwayatkan dari Ja'd, ia berkata, "Aku mendengar Sa'ib bin Yazid berkata, 'Bibiku membawaku kepada Nabi SA W.' Lalu ia berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak saudara perempuanku ini terkena penyakit di kakinya. ' Maka Nabi SA W menyapu kepalaku kemudian mendoakan berkah bagiku. Kemudian Nabi SAW berwudhu dan aku pun minum air wudhu beliau SAW. Kemudian aku berdiri di belakangnya dan aku melihat cap kenabian di antara dua pundaknya, sama seperti Zirrul Hajalah. "

Keterangan Hadits: (Bab) demikian yang diriwayatkan oleh Al Mustamli, seakan-akan perkataan ini hanyalah sebagai pembatas antara pembahasan sebelum dengan pembahasan sesudahnya. Adapun perawi Shahih Bukhari selain Al Mustamli tidak menyebutkan lafazh bab di tempat ini. J naskah v ^ j * {Diriwayatkan
1

dari Ja 'd), demikian yang tertulis dalam Bukhari

ini. Namun dalam nukilan mayoritas perawi Shahih
1

tertulis ^ - s * ^ (Al Ju'aid) dan inilah yang masyhur. Adapun As-Sa'ib bin

2 0 0 — FATHUL BAARI

Yazid tergolong sahabat yang berumur muda, dan haditsnya akan dijelaskan nanti pada pembahasan tentang "Tanda-tanda Kenabian," insya Allah.
*—IsvJi berasal dari kata JL_*_»JI, maksudnya rumah yang dihiasi

dengan kain, permadani serta gorden terbuat dari tali-tali yang dihiasi dengan butiran-butiran (seperti kalung,-Penerj.) Adapula yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan SLvJi adalah sejenis burung, dimana jenis betinanya dinamakan Hajalah. Atas dasar makna kedua ini, maka yang dimaksud dengan Zirr adalah telurnya. Pengertian kedua ini diperkuat oleh hadits lain yang berbunyi, "(Cap kenabian itu) seperti telur burung merpati." Pembahasan secara lengkap akan dijelaskan pada sifat Nabi SAW. Maksud Imam Bukhari berdalil dengan hadits-hadits di atas adalah untuk membantah pendapat yang mengatakan najisnya air musta 'mal, yaitu pendapat Abu Yusuf. Telah diriwayatkan oleh Imam Syafi'i dalam kitab Al Umm dari Muhammad bin Al Hasan, bahwa Abu Yusuf telah meralat pendapatnya. Namun setelah dua bulan kemudian beliau kembali kepada pendapatnya semula. Adapun dari Abu Hanifah dinukil tiga riwayat; p e r t a m a , air musta 'mal suci dan tidak dapat dipakai bersuci. Ini merupakan riwayat Muhammad bin Al Hasan dari Abu Hanifah, sekaligus pendapat Muhammad bin Al Hasan sendiri serta Imam Syafi'i dalam fatwanya yang baru dan merupakan pendapat yang difatwakan dalam madzhab Abu Hanifah. K e d u a , air musta'mal hukumnya najis yang ringan (mukhaffafah), ini adalah riwayat Abu Yusuf dari Abu Hanifah. Ketiga, air musta 'mal adalah najis berat (mughalladhah), pendapat ini diriwayatkan oleh Al Hasan Al Lu'lu'ai dari Abu Hanifah. Hadits-hadits di atas membantah pendapat yang menyatakan bahwa air musta'mal, adalah najis karena najis tidak dapat dipakai untuk mendapatkan berkah. Sementara hadits tentang Nabi SAW menyemprotkan air dari mulutnya ke muka As-Sa'ib bin Yazid meski tidak ada keterangan tegas mengenai wudhu, akan tetapi dapat diterangkan dengan mengatakan, "Jika orang yang berpendapat bahwa air musta 'mal hukumnya najis dengan alasan bahwa air tersebut dinisbatkan atau ditambahkan kepada sesuatu yang lain, maka dapat dijawab bahwa air tersebut

FATHUL BAARI —

201

dinisbatkan atau ditambahkan kepada sesuatu yang suci dan tidak berubah salah satu sifatnya, sehingga hukumnya tetap suci. Demikian pula halnya dengan air yang bercampur dengan air liur, hukumnya tetap suci sebagaimana diterangkan dalam hadits As-Sa'ib di atas. Adapun mereka yang beralasan bahwa air musta 'mal dianggap najis, karena dianggap sebagai air dosa (dipakai membersihkan dosa,-Penerj) sehingga harus dihindari." Mereka memperkuat pendapatnya dengan hadits-hadits yang menjelaskan tentang hal itu seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya. Namun hadits-hadits dalam bab ini telah membantah alasan mereka, sebab sesuatu yang wajib dihindari tidak boleh dijadikan sarana mendapatkan berkah dan juga tidak bisa diminum. Ibnu Mundzir berkata, "Dalam ijma' (kesepakatan) ulama disebutkan bahwa bekas air yang tersisa di anggota wudhu seseorang yang berwudhu serta tetesan-tetesan air yang jatuh dan mengenai pakaiannya, maka hukumnya adalah suci." Perkataan Ibnu Mundzir ini menjadi dalil sangat kuat tentang sucinya air musta 'mal. Adapun masalah bahwa air tersebut tidak dapat dipakai untuk bersuci, akan dibahas dalam pembahasan tentang "Mandi", insya Allah.

41. Orang yang Berkumur-kumur dan Mengeluarkan Air dari Hidung dengan Satu Cidukan

2 0 2 — FATHUL BAARI

191. Diriwayatkan dari Amru bin Yahya dari bapaknya, dari Abdullah bin Zaid bahwa dia (Abdullah bin Zaid) menuangkan air dari bejana kepada kedua tangannya lalu membasuh keduanya. Kemudian membasuh atau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung dari satu telapak tangan, dia lakukan hal itu sebanyak tiga kali. Kemudian dia membasuh kedua tangannya hingga ke siku sebanyak dua kali-dua kali, dan menyapu kepalanya yang ke arah depan dan yang ke arah belakang. Kemudian membasuh kedua kakinya hingga kedua mata kaki, lalu berkata, 'Demikianlah wudhu Rasulullah SA W."

Keterangan Hadits: (Orang yang berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung dengan satu cidukan). Pembahasan ini telah dibahas pada bab mengusap kepala, dan diterangkan pada hadits Ibnu Abbas di awal pembahasan wudhu. J—(Kemudian beliau membasuh) yakni membasuh mulutnya,

'ja—*Iiv» ji (atau berkumur-kumur).

Demikian yang disebutkan dalam

riwayat Malik, yakni dengan lafazh yang mengindikasikan keraguan. Telah diriwayatkan juga oleh Muslim dari Muhammad bin Shabah dari Khalid dengan silsilah periwayatan yang sama seperti di atas, namun tidak ada lafazh yang menunjukkan keraguan. Adapun lafazh riwayat yang dimaksud, J X-r°„<\^ 'ja'<.'&j> L$pr^x£LilJ «aJ J > i i (Kemudian beliau memasukkan tangannya dan mengeluarkannya lalu berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung). Diriwayatkan pula oleh Al Isma'ili dari jalur Wuhaib bin Baqiyah dari Khalid dengan lafazh yang sama seperti riwayat Imam Muslim. Dengan demikian, nampaknya lafazh yang menunjukkan keragu-raguan dalam hadits ini bersumber dari Al Musaddad, guru Imam Bukhari. Lalu Al Karmani mengemukakan pendapat yang agak ganjil, dimana beliau berkata, "Secara lahiriah, keragu-raguan dalam hadits ini berasal dari tabi'in yang meriwayatkannya." "^ f i
J s

'j*

[Dari satu telapak tangan) Demikian yang disebutakan salah satu teks disebutkan, j ?

dalam riwayat Abu Dzar, sedang dalam

FATHUL BAARI —

203

«J—H j f — ( D a r i

saru kali cidukan). Ibnu Baththal berkata, "Yang

dimaksud dengan telapak tangan di sini adalah cidukan. Pengertian tersebut diambil karena lafazh telapak tangan merupakan ungkapan yang dapat mewakili makna menciduk air."
4—Uji J_~P

(Kemudian beliau membasuh kedua tangannya)

di sini

secara ringkas tanpa menyebutkan "membasuh muka". Sebagaimana hal itu disebutkan dalam riwayat Imam Muslim dan selainnya.

42. Membasuh Kepala Satu Kali

O

s^

t

*- Q

y

y9

y

t

O

) O

y

. •';.>»' *'

\

^

O'

. •''.•t* y

S
y

^—J*
" ^ y y y ^y

frj—Ij
y y

5^ ^
y^y y y ^y

J^
? y^^, y

l^
" y

1

o*
y

y

o}l_Jb L—T^J y;:. . J j j J L i - l j ^ ^ ^ j
y O y ^ t & y y ^ y y y O ^ y

.

y

fiy ,

y , •

s

y

Qy

O

y

y

OyO

y

y

s

O

s

y
M

y

9 ,

,

}

j>
O y ^ ^

oJb Jiol
y y

y y

y

, y

Q

f
y

Jiol JJ lj*ylj
J
1 0

j U i jlj^l
,
Q y s *

aib Ji-.il JJ «.d
O y y y O

oli^p
%

£ ^*
y

^
O yy

y y

%

y

O y^y

J

^-

O

^

i

^

oJu JJ-^l jt-J U-g-,' ^-^Ij 4jJ_j J*»1J 4—1 7T-~~»i «.U^l ^ i ;Jli J i J j i - ;Jli y Uj-lJj .4^1>rj J J J T S {.Ij^I : ^ J f

192. Diriwayatkan dari Wuhaib, "Telah menceritakan kepada kami Amru bin Yahya dari bapaknya, ia berkata, 'Aku menyaksikan Amru bin Abu Hasan bertanya kepada Abdullah bin Zaid tentang wudhu Nabi SAW, maka beliau minta dibawakan bejana

2 0 4 — FATHUL BAARI

kecil berisi air lalu berwudhu untuk mereka. Dia menuangkan air kepada dua tangannya seraya mencuci keduanya tiga kali, kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana lalu berkumur-kumur dan memasukkan serta mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali dengan tiga cidukan. Kemudian memasukkan tangannya di bejana lalu membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian memasukkan tangannya di bejana lalu membasuh kedua lengannya hingga kedua siku dua kali-dua kali. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana dan menyapu kepalanya seraya mengarahkan tangannya ke depan dan ke belakang. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana lalu membasuh kedua kakinya.'" Musa telah menceritakan kepada kami, ia berkata, "Telah menceritakan kepada kami Wuhaib, ia berkata, "Beliau menyapu kepalanya satu kali."

K e t e r a n g a n Hadits: (Membasuh kepala satu kali) dalam riwayat Al Ashili, disebutkan "Satu kali sapuan."
t-—_»'j»

j'yj Uvjj (Maka beliau minta dibawakan lafazh

bejana kecil berisi Shahih
IpoS

air)

Demikian

yang dinukil oleh kebanyakan perawi

Bukhari,

sedangkan dalam riwayat Al Kasymihani disebutkan,

(Beliau minta dibawakan air) tanpa menyebut bejana. Ui£_ (Menuangkan), maksudnya memiringkan bejana. tangannya ke depan) demikian kata

aJ_j J J l i (Seraya mengarahkan

"tangan" disebutkan di sini dalam bentuk tunggal, sementara dalam riwayat Al Kasymihani disebutkan dalam bentuk ganda. (Telah menceritakan kepada kami Wuhaib), yakni

melalui silsilah tersebut di atas beserta hadits dari lafazh beliau. Sementara jalur periwayatan Musa yang disebutkan di sini telah dijelaskan terdahulu pada bab membasuh kedua kaki hingga mata kaki, dimana disebutkan mengenai menyapu kepala satu kali. Disebutkan pula tentang perselisihan mengenai disukainya menyapu kepala lebih dari satu kali dalam bab "Berwudhu tiga kali-tiga kali" saat membahas hadits

FATHUL BAARI —

205

Utsman. Kami telah menyebutkan perkataan Abu Dawud, "Sesungguhnya riwayat-riwayat yang shahih dari Utsman tidak disebutkan menyapu kepala lebih dari satu kali." Lalu kami telah jelaskan bahwa riwayat tentang menyapu kepala lebih dari satu kali dinukil dari dua jalur periwayatan, salah satu di antara kedua jalur itu dianggap shahih oleh pakar hadits selain Abu Dawud. Sementara tambahan keterangan dari perawi tsiqah (terpercaya) mesti diterima ' sehingga perkataan Abu Dawud dipahami dengan mengecualikan dua jalur periwayatan yang beliau sebutkan. Seakan-akan beliau mengatakan, "Kecuali dua jalur periwayatan ini."
9

Ibnu Sam'ani dalam kitab Al Isthilam mengatakan, "Adanya perbedaan dalam riwayat harus dipahami bahwa kejadian tersebut berulang, maka dalam hal ini beliau SAW kadang menyapu kepalanya satu kali dan kadang pula tiga kali. Tidak ada hujjah dalam riwayat yang menyebutkan menyapu kepala satu kali yang melarang menyapu lebih dari satu kali. Pendapat bolehnya menyapu kepala lebih dari satu kali diperkuat dengan pendapat yang menganalogikan menyapu dengan anggota wudhu lain yang dibasuh. Sebab wudhu adalah thaharah hukmiyah (bersuci yang bersifat maknawi), dimana antara membasuh dan menyapu tidak ada perbedaan."
]0)

Pendapat ini aku jawab dengan apa yang telah disebutkan terdahulu, yaitu bahwa dasar mengusap atau menyapu adalah keringanan, berbeda dengan membasuh. Andaikata disyariatkan mengulang anggota wudhu yang disapu, maka gambarannya akan sama dengan anggota wudhu yang dibasuh. Sementara telah disepakati bahwa membasuh kepala adalah makruh meskipun wudhunya dianggap sah. Kemudian perkataan kami dijawab lagi dengan mengatakan, "Jika dikatakan menyapu adalah untuk memberi keringanan, maka sebagai konsekuensinya seharusnya sapuan itu tidak diratakan ke seluruh kepala. Padahal kenyataannya hal ini disyariatkan. Maka, seharusnya demikian pula mengenai menyapu lebih dari satu kali." Kami katakan, "Jawaban untuk pernyataan ini cukup jelas."

Telah disebutkan terdahulu bahwa ini adalah tambahan yang menyalahi riwayat orang yang lebih tsiqah (dan riwayat seperti ini dinamakan syadz) sehingga tidak dapat dijadikan pegangan. Wallahu A 'lam. Kitab yang beliau tulis dalam rangka membantah Abu Zaid Ad-Dabusi.

2 0 6 — FATHUL BAARI

Dalil terkuat yang menunjukkan tidak adanya pengulangan dalam menyapu kepala adalah hadits masyhur yang dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari selainnya dari jalur periwayatan Abdullah bin Amru bin Al Ash mengenai sifat wudhu Nabi SAW, dimana beliau bersabda setelah selesai berwudhu, "Barangsiapa yang menambahkan dari yang demikian ini, sungguh ia telah berlaku buruk lagi zhalim." Sementara dalam riwayat Sa'id bin Manshur terhadap hadits di atas terdapat ketegasan, bahwa beliau SAW menyapu kepalanya satu kali. Hal ini mengindikasikan bahwa menyapu kepala lebih dari satu kali tidaklah disukai. Adapun riwayat-riwayat yang menerangkan adanya pengulangan dalam menyapu kepala -apabila terbukti kebenarannya- maka harus dipahami bahwa maksudnya adalah untuk meratakan sapuan, dimana pemahaman seperti itu untuk mengompromikannya dengan riwayatriwayat yang menyatakan tidak adanya pengulangan dalam menyapu kepala.

Catatan Penting Dalam hadits sebelumnya tidak disebutkan "membasuh muka". Al Karmani mengatakan bahwa sebenarnya membasuh muka inilah yang dimaksud dengan perkataan perawi, "kemudian beliau membasuh atau berkumur-kumur..." sehingga -menurut beliau- bunyi lengkap hadits itu adalah, "Beliau membasuh mukanya atau berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung." Aku (Ibnu Hajar) berkata, "Tidak tersembunyi lagi betapa jauhnya pernyataan ini dari yang sebenarnya." Sebab, hadits yang dimaksud telah diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dan Al Isma'ili. Dalam riwayat keduanya -setelah menyebutkan mengenai berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung- dikatakan, "Kemudian beliau membasuh mukanya tiga kali." Dari sini dapat diketahui bahwa Musaddad telah meringkas hadits ini sebagaimana telah dijelaskan bahwa lafazh yang mengindikasikan keraguan dalam hadits itu bersumber darinya. Al Karmani berkata, "Diperkenankan untuk tidak menyebutkan "membasuh muka" dalam hadits tersebut karena tidak adanya perselisihan. Berbeda dengan selainnya, seperti berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Yang diperselisihkan adalah, apakah dilakukan dengan satu cidukan sekaligus atau masing-masing satu

FATHUL BAARI —

207

cidukan. Adapun dalam membasuh tangan yang diperselisihkan adalah, apakah siku termasuk bagian yang wajib dibasuh atau tidak. Demikian pula dengan menyapu kaki bahwa yang diperselisihkan adalah apakah mesti disapu secara keseluruhan atau boleh sebagiannya, serta apakah harus sampai ke mata kaki atau tidak." Demikian perkataan Al Karmani.

43. Seorang Laki-Laki Berwudhu Bersama Istrinya, Air Sisa Wudhu Wanita Umar Pernah Berwudhu dengan Air Panas di Rumah Seorang Wanita Nasrani
'
0

)

'

"*

*

'

*

J-

'

'

'

'

^s'

j

*

^

't

jjy^>yj

j Jli-^Jl j - T Jli <-( ^ o - p y * )
.l*t~>- 0

«J JLP j i dl
jCj

aLI J ^ - j

193. Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya dia berkata, "Biasanya laki-laki dan wanita pada zaman Rasulullah SA W berwudhu bersama-sama.'"

Keterangan Hadits: (Umar berwudhu dengan air panas), maksudnya air yang hangat. Dalam riwayat ini disebutkan secara bersambung kepada Umar oleh Lafazhnya adalah, < * — O l T 01 Sa'id bin Manshur dan Abdurrazzaq dan selain keduanya dengan silsilah periwayatan yang shahih. \ L J—JJUJ » (hangat) (Sesungguhnya

Umar pernah berwudhu dengan air panas air tersebut). Lalu diriwayatkan oleh

dan mandi

menggunakan

Ibnu Syaibah dan Ad-Daruquthni dengan lafazh, p p&i J> *U < d «VT l _ 5 t XI» J—sJJ (Biasa dihangatkan untuknya air di periuk lalu beliau berwudhu

2 0 8 — FATHUL BAARI

darinya). Ad-Daruquthni hadits tersebut shahih.

menambahkan

bahwa silsilah peri-wayatan

Adapun kesesuaian riwayat Umar dengan judul bab adalah bahwa umumnya istri seseorang mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya, maka dari sini Imam Bukhari memberi isyarat sebagai bantahan terhadap mereka yang berpendapat tidak boleh bagi seorang wanita berwudhu menggunakan sisa air yang dipakai oleh laki-laki. Sebab, secara lahiriah hadits itu mengindikasikan bahwa istri Umar berwudhu dengan sisa air yang beliau pakai atau berwudhu bersamanya. Dari sini didapatkan kesesuaian riwayat Umar dengan perkataan Imam Bukhari pada judul bab, "Seorang laki-laki berwudhu bersama isterinya..." yakni dari satu bejana. Adapun masalah bersuci dengan air yang hangat (yang dipanaskan), para ulama sepakat membolehkannya kecuali satu riwayat yang dinukil dari Mujahid. (Di rumah seorang wanita Nasrani). Lafazh ini berkaitan dengan perkataannya (Dengan air panas), maksudnya Umar pernah pula berwudhu di rumah seorang wanita Nasrani. Riwayat tentang hal ini dinukil dengan silsilah periwayatan yang bersambung dan sampai kepada Umar oleh Imam Syafi'i dan Abdurrazzaq serta selain keduanya dari Ibnu Uyainah dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Umar. Adapun lafazhnya menurut versi Imam Syafi'i, "Beliau berwudhu dari satu tempat air di rumah seorang wanita Nasrani." Akan tetapi Ibnu Uyainah tidak mendengar riwayat ini secara langsung dari Zaid bin Aslam. Sebab telah diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari jalur Sa'dan bin Nashr dari Ibnu Uyainah, ia berkata, "Mereka telah menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam..." lalu beliau menyebutkan hadits selengkapnya. Diriwayatkan pula oleh Al Isma'ili melalui jalur yang lain dari Ibnu Uyainah seraya menyebutkan perantara antara beliau dan Zaid bin Aslam, yang mana dikatakan, "Dari anak Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Umar." Sedangkan anak-anak Zaid bin Aslam adalah Abdullah, Usamah dan Abdurrahman. Yang paling tsigah serta tertua di antara mereka adalah Abdullah, dan aku kira Ibnu Uyainah mendengar riwayat di atas dari Abdullah dari bapaknya. Atas dasar ini sehingga Imam Bukhari menyebutkan riwayat yang dimaksud dengan lafazh yang mengisyaratkan akan keshahihannya.

FATHUL BAARI —

209

Dalam riwayat Karimah disebutkan tanpa menyertakan kata "dan" diantara perkataan "Air panas" dengan perkataannya "Rumah seorang wanita Nasrani". Hal inilah yang membuat Al Karmani berani mengatakan, "Sesungguhnya yang dimaksud adalah untuk menjelaskan hukum berwudhu menggunakan sisa air yang dipakai oleh wanita. Adapun masalah air panas hanyalah karena kebetulan yang dipakai oleh beliau saat itu adalah air hangat. Padahal anda telah mengetahui bahwa keduanya merupakan dua riwayat yang berbeda." Riwayat kedua ini (yakni bahwa Umar berwudhu di rumah seorang wanita Nasrani, -penerj) sesuai dengan perkataan Imam Bukhari pada judul bab "Air sisa wudhu wanita", karena Umar berwudhu dengan air milik wanita tersebut tanpa penjelasan secara rinci. Sebab ada kemungkinan wanita Nasrani tersebut adalah istri seorang laki-laki muslim, lalu air yang dipakai oleh Umar adalah sisa air yang ia gunakan untuk mandi junub. Telah menjadi kebiasaan Imam Bukhari berdalil dengan riwayat seperti ini jika tidak disertai perincian lebih lanjut. Walaupun selain beliau tidak menggunakannya sebagai dalil, namun dalam riwayat itu terdapat dalil tentang bolehnya bersuci dengan menggunakan sisa air wudhu wanita muslimah, karena seorang muslimah keadaannya tidak mungkin lebih buruk daripada wanita Nasrani. Dalam riwayat ini terdapat pula keterangan bolehnya memakai air milik orang-orang ahli kitab tanpa minta penjelasan sebelumnya. Imam Syafi'i dalam kitabnya Al Umm berkata, "Tidak mengapa berwudhu dengan air seorang musyrik atau menggunakan sisa air yang ia pakai selama tidak diketahui adanya najis." Ibnu Mundzir berkata, "Ibrahim An-Nakha'i menyendiri dalam pendapatnya mengenai makruhnya menggunakan air sisa wanita yang junub." «.I—Ulj J t — r ) \ 01 s (Biasanya laki-laki dan wanita) secara lahir

maknanya adalah kejadian yang umum, dan bukan keseluruhan. j
aIIp aJUI JLP aJJI

Jj~.j JUj J> (Di zaman Rasulullah

SA W). Dari

sini dapat kita ambil pelajaran bahwa Imam Bukhari berpendapat jika sahabat menisbatkan suatu perbuatan ke zaman Nabi SAW, maka perbuatan itu dihukumi sama seperti yang langsung berasal dari Nabi SAW. Ini merupakan pendapat yang benar. Namun, telah dinukil dari

2 1 0 — FATHUL BAARI

sebagian orang pendapat yang menyelisihinya dengan alasan ada kemungkinan Nabi SAW tidak mengetahui perbuatan tersebut. Tapi pendapat ini lemah, karena adanya berbagai kemudahan bagi para sahabat untuk bertanya langsung kepada Nabi SAW mengenai perkaraperkara yang terjadi dan belum mereka ketahui hukumnya. Seandainya mereka tidak bertanya, tentu mereka tidak akan dibiarkan melakukan perbuatan yang menyalahi syariat di saat wahyu masih turun. Bahkan, Abu Sa'id dan Jabir telah berdalil tentang bolehnya seseorang melakukan azal (mengeluarkan air mani di luar rahim istrinya -Penerj) sementara Al Qur'an masih diturunkan. Seandainya perbuatan itu di-larang, tentu Al Qur'an melarangnya. Ibnu Majah memberi tambahan dari jalur Hisyam bin Ammar dari Malik pada riwayat ini, J f i j
'y»

(Dari satu bejana). Abu Dawud juga tangan-tangan kami ke dalamnya).

menambahkan dari jalur Ubaidillah bin Umar dari Nafi' dari Ibnu Umar, \—Zx>\ 4—li ^ — l U (Kami memasukkan Dalam riwayat ini terdapat keterangan bahwa menciduk air sedikit tidak menjadikan air tersebut menjadi air musta 'mal, sebab bentuk bejana mereka umumnya kecil seperti yang ditegaskan oleh Imam Syafi'i dalam kitab Al Umm. Hadits ini juga merupakan dalil sucinya wanita kafir yang tunduk dalam kekuasaan islam (dzimmiyah) serta sucinya sisa air yang dia pakai bersuci, karena menikah dengannya diperbolehkan serta tidak ada pembedaan dalam hadits antara muslimah dan selainnya. i — ( b e r s a m a - s a m a ) , makna lahiriah hadits ini bahwa mereka menciduk air bersama dalam satu waktu. Diriwayatkan oleh Ibnu At-Tin, bahwa makna hadits ini adalah kaum laki-laki dan kaum wanita dahulunya berwudhu secara bersama-sama di satu tempat, dimana kaum laki-laki berada di tempat tersendiri dan kaum wanita berada di tempat tersendiri pula. Akan tetapi tambahan pada riwayat sebelumnya yang berbunyi, "dari satu bejana" membantah pendapat ini. Seakan-akan orang yang berpendapat seperti itu hanya ingin menghindar untuk mengatakan bahwa laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya telah berkumpul di satu tempat. Ibnu At-Tin memberi jawaban mengenai hal ini dengan mengatakan, bahwa kaum laki-laki berwudhu lebih dahulu kemudian pergi. Lalu kaum wanita datang kemudian berwudhu di tempat yang sama. Hanya saja perkataan Ibnu Tin juga menyelisihi makna lahir yang dapat

FATHUL BAARI —

211

dipahami dari teks hadits yang berbunyi, "bersama-sama". Para pakar bahasa berkata, "Al JamV (bersama-sama) adalah lawan dari "Al Mutafarriq " (berpisah-pisah). Sementara telah disebutkan secara tegas bahwa mereka berwudhu bersama dari satu bejana. Dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dari jalur Ma'mar dari Ubaidillah dari Nafi' dari Ibnu Umar dikatakan, bahwa beliau melihat Nabi SAW bersama para sahabatnya bersuci pada satu bejana dan wanita-wanita bersama mereka. Semuanya bersuci dari bejana tersebut. Pandangan paling baik dalam hal ini adalah, "Tidak ada halangan berkumpulnya laki-laki dan wanita sebelum turun ayat tentang hijab. Adapun setelah ayat itu turun, maka kebolehan tersebut hanya khusus antara laki-laki dan istri-istrinya maupun wanita-wanita yang menjadi mahram." Dinukil oleh Ath-Thahawi kemudian Al Qurthubi serta AnNawawi akan adanya kesepakatan para ulama yang membolehkan seorang laki-laki mandi bersama istrinya dari satu bejana. Akan tetapi perkataan mereka ini masih perlu dianalisa kembali, karena riwayat Ibnu Mundzir mengatakan bahwa Abu Hurairah melarang perbuatan seperti itu. Demikian pula yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdul Barr dari beberapa ulama. Namun hadits di atas menjadi hujjah untuk menolak pandangan seperti ini. Kemudian Imam An-Nawawi menukil pula adanya kesepakatan ulama mengenai bolehnya wanita menggunakan air sisa laki-laki, sebaliknya laki-laki tidak boleh menggunakan air sisa perempuan. Perkataan ini masih perlu dipertanyakan lagi, sebab Ath-Thahawi telah menegaskan adanya perselisihan ulama mengenai hal itu. Telah dinukil dari Ibnu Umar, Sya'bi dan Al Auza'i mengenai larangan seorang wanita menggunakan sisa air yang dipakai laki-laki, dengan syarat jika wanita itu dalam keadaan haid. Adapun kebalikannya, telah terbukti diriwayatkan dari Abdullah bin Sarjis (salah seorang sahabat), Sa'id bin Musayyab dan Al Hasan Al Bashri, bahwasanya mereka melarang seorang laki-laki bersuci dengan sisa air yang dipakai oleh wanita. Demikian pula pendapat Imam Ahmad dan Ishaq, akan tetapi keduanya memberi persyaratan jika air itu telah dipakai terlebih dahulu oleh wanita. Pandangan ini mereka kemukakan karena hadits-hadits yang berhubungan dengan persoalan tersebut secara lahiriah membolehkan seorang

2 1 2 — FATHUL BAARI

laki-laki menggunakan sisa air yang dipakai oleh wanita secara bersamasama. Telah dinukil oleh Al Maimuni dari Imam Ahmad, bahwasanya hadits-hadits yang melarang seorang laki-laki bersuci dengan sisa air yang digunakan oleh wanita serta yang membolehkannya adalah haditshadits yang goncang (mudhtharib). Beliau berkata, "Akan tetapi, telah dinukil melalui riwayat shahih dari sejumlah sahabat tentang keterangan yang melarang laki-laki menggunakan sisa air yang dipakai wanita apabila sang wanita sendirian dalam menggunakan air tersebut. Namun keterangan ini bertentangan dengan pandangan yang membolehkan hal itu sebagaimana dinukil dari sejumlah sahabat, di antaranya Ibnu Abbas." Wallahu a 'lam. Hadits yang paling masyhur mengenai kedua pendapat itu adalah hadits Al Hakam bin Amru Al Ghifari yang berindikasi larangan, dan hadits Maimunah yang membolehkannya. Adapun Hadits Al Hakam bin Amru telah diriwayatkan oleh para penulis kitab Sunan dan digolongkan sebagai hadits hasan oleh Imam Tirmidzi, serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Oleh sebab itu, Imam An-Nawawi mengemukakan pendapat yang ganjil ketika beliau berkata, "Para ahli hadits telah sepakat melemahkannya (yakni hadits Al Hakam -Penerj)." Sedangkan hadits Maimunah diriwayatkan oleh Imam Muslim, akan tetapi hadits ini dianggap cacat oleh sebagian ulama karena adanya lafazh dalam hadits itu yang mengindikasikan keraguan. Lafazh yang dimaksud terdapat dalam jalur periwayatan Amru bin Dinar, dimana beliau mengatakan, "Yang aku ketahui dan yang terbetik dalam ingatanku bahwa Abu Sya'tsa mengabarkan kepadaku..." Sementara hadits ini telah dinukil pula dari jalur periwayatan yang lain, namun para periwayatnya tidak memenuhi syarat ketelitian (dhabth) di samping menyelisihi riwayat yang lebih kuat. Adapun riwayat lebih kuat yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dengan lafazh, "Sesungguhnya Nabi SAW bersama Maimunah, keduanya mandi dari satu bejana." Riwayat yang berindikasi larangan telah dinukil pula oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i dari jalur Humaid bin Abdurrahman dari Al Humairi, ia berkata, "Aku pernah bertemu seorang laki-laki yang pernah bersahabat dengan Nabi SAW selama empat tahun, laki-laki tersebut berkata, 'Rasulullah melarang wanita mandi dengan sisa air yang

FATHUL BAARI —

213

digunakan oleh laki-laki atau seorang laki-laki mandi dengan sisa air yang digunakan oleh wanita, kecuali jika mereka menciduk air secara bersamaan.'" Para perawi hadits ini tergolong tsiqah (terpercaya), dan aku tidak mengetahui alasan yang kuat dari orang-orang yang melemahkannya. Adapun perkataan Al Baihaqi bahwa hadits ini dihukumi sebagai hadits mursal tidak dapat diterima. Sebab apabila yang tidak disebutkan adalah sahabat, maka tidaklah mengurangi nilai suatu hadits, sementara dalam riwayat ini sang tabi'in (Humaid bin Abdurrahman) telah menegaskan bahwa ia bertemu dengan sahabat tersebut. Sedangkan klaim Ibnu Hazm bahwa yang dimaksud dengan Dawud - y a n g meriwayatkan hadits itu dari Humaid bin Abdurrahman- adalah Dawud bin Yazid yang dikenal sebagai perawi lemah, juga tidak dapat diterima. Karena yang benar adalah Dawud bin Abdullah Al Audi, seorang yang tsiqah (terpercaya), dimana nama bapak Dawud yang dimaksud telah disebutkan dengan tegas oleh Abu Dawud dan selainnya. Kemudian di antara hadits-hadits yang membolehkan seorang lakilaki bersuci dengan sisa air yang digunakan oleh wanita adalah hadits yang diriwayatkan oleh para penulis kitab Sunan dan Ad-Daruquthni, yang dishahihkan oleh Imam Tirmidzi serta Ibnu Khuzaimah dan selain keduanya dari hadits Ibnu Abbas dari Maimunah. Ia berkata, "Aku junub, maka aku pun mandi dari bak air, lalu air tersisa dalam bak tersebut. Kemudian Nabi SAW datang untuk berwudhu, maka akupun memberitahukan hal itu kepadanya, beliau bersabda, 'Air tidak mengenal junub.'" Lafazh ini menurut versi Ad-Daruquthni. Namun hadits ini telah dianggap cacat oleh sebagian ulama, karena dalam silsilah periwayatannya terdapat seorang yang bernama Samak bin Harb - y a n g meriwayatkan hadits itu dari Ikrimah- yang biasa menerima riwayat dengan sistim talqin. Akan tetapi hadits yang dimaksud telah diriwayatkan oleh Syu'bah, seorang yang dikenal tidak mau meriwayatkan hadits dari para gurunya kecuali hadits shahih. Mengenai perkataan Imam Ahmad bahwasanya hadits-hadits mengenai hal ini baik yang membolehkan maupun yang melarang adalah hadits-hadits yang goncang (mudhtharib), hanya dapat dibenarkan jika tidak ada jalan lagi untuk mengompromikannya. Sementara dalam hal ini riwayat-riwayat tersebut masih ada kemungkinan untuk dipadukan, yaitu dengan memahami hadits-hadits larangan khusus bagi air yang menetes

2 1 4 — FATHUL BAARI

dari badan. Sedangkan hadits-hadits yang membolehkan, berlaku bagi air yang tersisa di tempat penampungan air. Demikian yang dilakukan oleh Al Khaththabi. Mungkin dikatakan bahwa riwayat-riwayat tentang larangan hanya berindikasi tanzih (lebih baik jika tidak dilakukan) demi untuk menyatukan antara dalil-dalil yang ada, wallahu a 'lam.

\PUMGWNNAM

FATHUL BAARI

215

44. Nabi SAW Menyiramkan Air Wudhunya kepada orang yang Pingsan

4

Ul J J—'J f-^

-

• Jj^d 1J^^"

• J L j-^JL«Jl *
L

^jJ

WUOTL^

?

'A J O?
A^yS" ^ y , UJI
t

J*?*' ^ u** J* '*J
o l j ^ l y J AJJ| J b ' o l a i cJjUi

cJy—'i

194. Diriwayatkan dari Muhammad bin Al Munkadir, ia berkata, 'Aku mendengar Jabir berkata, ' Rasulullah SAW pernah datang menjengukku di saat aku sakit dan tak mengerti (pingsan), lalu beliau berwudhu kemudian menyiramkan kepadaku dari air wudhunya. Maka akupun kembali mengerti (sadar). ' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, untuk siapakah harta warisan? Sesungguhnya aku tidak memiliki ahli waris baik dari keturunan maupun dari arah atas (bapak dan seterusnya), maka turunlah ayat tentang harta waris.'"

Keterangan Hadits:

^

Myu (Rasulullah

SAW pernah

datang

menjengukku)

dalam

pembahasan tentang "pengobatan" ditambahkan oleh Imam bukhari, Q>^> (Sambil berjalan kaki).
*

i'

J—5pi 'i (Aku tak mengerti), maksudnya tak dapat memahami apa yang terjadi. Sengaja obyek di sini tidak disebutkan untuk menggambarkan dahsyatnya kondisi saat itu. Seakan-akan dia ingin mengatakan, "Aku tidak mengerti sesuatu" sebagaimana dia tegaskan dalam riwayat yang dinukil oleh Imam Bukhari dalam kitab Tafsir. Dalam riwayat beliau dalam pembahasan tentang "pengobatan" disebutkan, "Maka

2 1 6 — FATHUL BAARI

beliau SAW mendapatiku dalam keadaan pingsan". Lafazh inilah yang sesuai dengan judul bab di atas. j—ly>j 'y (Dari air wudhunya) ada kemungkinan yang dimaksud di

sini adalah beliau SAW menyiramkan kepadaku sebagian dari air wudhunya, atau air yang tersisa di tempat wudhunya. Makna sebenarnya di sini a d a b h pengertian pertama, sebab telah disebutkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Al Tthisham, "Kemudian beliau menumpahkan air di tempat wudhunya kepadaku." Sementara dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, "Maka beliau berwudhu lalu menyiramkannya kepadaku." •iitj^Ji j J (Untuk siapakah harta warisan?) maksudnya warisanku. Hal ini diperkuat oleh riwayat yang terdapat dalam kitab Ali'thisham, bahwa beliau berkata, "Apa yang harus aku lakukan terhadap hartaku?" Yang dimaksud dengan ayat tentang pembagian harta warisan di sini adalah firman Allah SWT, "Mereka meminta fatwa kepadamu tentang seseorang yang mati tidak meninggalkan ayah (dan seterusnya ke atas) maupun anak dan seterusnya ke bawah." ^ Q s . An-Nisaa'(4): 176^ sebagaimana akan dijelaskan dalam kitab Tafsir.

45. Mandi dan Wudhu Di Mikhdhab, Qadah, Kayu dan Batu

195. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata, "Waktu shalat telah masuk, maka berdirilah seseorang yang rumahnya dekat, lalu ia pergi menuju keluarganya sementara orang-orang tetap di tempat-

FATHUL BAARI —

217

nya masing-masing. Lalu didatangkan kepada Rasulullah SAW sebuah mikhdhab terbuat dari batu yang berisi air. Ternyata mikhdhab cukup kecil bagi Rasulullah SAW untuk membuka telapak tangannya di dalamnya. Maka orang-orang pun berwudhu semuanya. " Kami bertanya, "Berapakah jumlah kamu saat itu? " Anas menjawab, "Delapan puluh orang lebih."

Keterangan Hadits: (Mandi dan wudhu di mikhdhab), maksudnya adalah jenis bejana yang biasa dipakai untuk mencuci pakaian atau selainnya baik yang terbuat dari batu maupun kayu. Terkadang lafazh mikhdhab dipergunakan sebagai nama bagi bejana baik yang besar maupun kecil. Adapun Qadah umumnya terbuat dari kayu dengan model agak mengecil di bagian atasnya (mirip tempayan). Adapun disambungkannya kata kayu dan batu setelah kata mikhdhab dan qadah bukan sekedar untuk menyambung kata yang umum setelah kata yang khusus, bahkan hal ini untuk menjelaskan bahwa antara mikhdhab dan Qadah terdapat kesamaan dari satu segi dan kekhususan dari segi yang lain. 1*^—CJ'JOP(Waktu shalat telah masuk), maksudnya shalat ashar.

Perkataan beliau, *—1*' ^—ll (menuju keluarganya) untuk mengambil air wudhu. Sedangkan Perkataan beliau, f tempatnya masing-masing), Rasulullah SAW. ^ ' j (dan orang-orang tetap pada tetap berada di hadapan

maksudnya

i (Ternyata mikhdhab

cukup kecil), yakni bejana

tersebut tidak muat jika Rasulullah SAW membuka telapak tangan di dalamnya. Dalam riwayat Al Isma'ili disebutkan, "Maka beliau SAW tidak mampu untuk membuka telapak tangannya dikarenakan mikhdhab (bejana) yang cukup kecil." Keterangan ini memberi indikasi atas apa yang telah kami sebutkan terdahulu, yaitu bahwasanya kata mikhdhab dipergunakan pula untuk nama bejana yang berukuran kecil. Pembahasan mengenai hadits ini telah dibahas pada bab mencari air wudhu. Sedangkan pembahasannya yang masih tersisa akan diterangkan pada penjelasan tentang tanda-tanda kenabian, insya Allah T a 'ala.

2 1 8 — FATHUL BAARI

196. Diriwayatkan dari Abu Musa bahwasanya Nabi SAW minta dibawakan satu qadah (bejana mirip tempayan) yang berisi air, lalu beliau membasuh kedua tangannya dan mukanya di qadah tersebut serta menyemprotkan air di mulutnya ke dalam tempat tersebut.'"

Materi (matan) hadits ini sebagiannya telah disebutkan pada bab mempergunakan sisa air wudhu manusia, dan akan disebutkan secara lengkap dalam pembahasan tentang Al Maghazi (peperangan). Adapun maksud disebutkannya hadits tersebut di tempat ini adalah untuk menyebutkan qadah, dan hal itu telah kami sebutkan.

^
' yy

iftC.A J
'

S
s O/iC y

A J J yy j J|
y s

J\ Jli oJj Ji AJJ| JIP
y

c? y cjis
-

s Qy*M s

u-^j

Qy

^

.j,

,

s
4

^ / O

y

J-**

I

' •* .

^y* y*
t

-Z * f «**

^

'

0

. •*

9

o?
*

*

jy"
i'

o '

' s ' ' * s* i'

''i'

197. Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid, ia berkata, "Rasulullah SA W datang, maka kami mengeluarkan untuknya air dalam taur (bejana kecil) yang terbuat dari kuningan. Lalu beliau berwudhu; membasuh mukanya tiga kali, kedua tangannya dua kali-dua kali serta menyapu kepalanya. Beliau mengarahkannya ke depan dan ke belakang, kemudian mencuci kedua kakinya."

FATHUL BAARI —

219

Keterangan Hadits:
» , » a s> f s

'^—^3

A—^* *

J

jLj J\ (Rasulullah

SAW datang), dalam
i— iit
r

riwayat Al Kasymihani dan Abu Waqt disebutkan, kami). '*—J"* **
-

(mendatangi

(Membasuh

mukanya), lafazh ini merupakan perincian

kata "berwudhu". Dalam riwayat ini sebagian lafazh tidak disebutkan, yang mana selengkapnya adalah, "Lalu beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, membasuh mukanya.... dan seterusnya" sebagaimana yang diindikasikan oleh riwayat-riwayat yang lain. Sementara sumber riwayat ini dengan riwayat-riwayat yang dimaksud adalah satu. Pembahasan mengenai hadits ini telah disebutkan pada bab-bab sebelumnya, hanya saja di sini Abdul Aziz menambahkan dalam riwayatnya bahwa taur yang dimaksud terbuat dari kuningan yang baik.

y O y

s

' i

y

.

s

I

,

y

y y

,

y

y

y

y

V

y

I.

s*

y

y y 0, >

y

Oy

,~J^n

i

j <*t,

y

'

'

y .

y * t

$

yy . f

0

y

.

y

y

}

0

y *

,

*
% ' ' ' }
9

*
i
y

'
""
1

"
'
1

'
*

*

%

* % '

j Q

» Jli V o l i
*
! p 4JLSI

J ^
^y

1

Cr
y

4

J -^ o " ^ ^- ^
y

^

'

iiolp cJ"l^j <up
y * ' y . .

' '

Oy

f

*

' ^

«T^a-J^

aJUI

Cf. y

.

0 y

0

y

y

y

y

"

y

y~ y

" y 9

O'

T >
y ,#\.

° '
' i,

S
' 's y *

# S
" y y — * u y ,
a

0 y

y

0

O
m '
,t

L'
0

f '
0

' -

^

<
i i * '
0

'
I i

t

y -J'y y

'l ** • *

ii

•cf^

J \

^

^

^

J

l

-

^

^

^

2 2 0 — FATHUL BAARI

198. Sesungguhnya Aisyah berkata, "Ketika sakit Nabi bertambah parah, beliau minta izin kepada semua istrinya untuk dirawat di rumahku, dan mereka pun mengizinkannya. Lalu Rasulullah SA W keluar dipapah oleh dua orang laki-laki dan kaki beliau membuat garis di atas tanah. Beliau diapit oleh Abbas dan seorang laki-laki yang lain. " Ubaidillah berkata, "Aku mengabarkan hal itu kepada Abdullah bin Abbas, maka beliau berkata, 'Tahukah engkau siapa laki-laki yang lain itu?' Aku menjawab, "Tidak." Ibnu Abbas berkata, 'Dia adalah Ali.'" Selanjutnya Aisyah menceritakan bahwa Nabi SAW setelah masuk ke dalam rumahnya dan sakitnya semakin parah, beliau bersabda, "Siramlah aku dengan air yang masih belum bercampur dengan sesuatu (masih murni) sebanyak tujuh timba. Mudah-mudahan aku dapat membuat perjanjian (wasiat) dengan manusia. " Lalu beliau didudukkan di mikhdhab (bejana) milik Hafshah (salah seorang istri beliau), kemudian kami mulai menyiramnya dengan air dari tujuh timba tersebut hingga beliau mengisyaratkan kepada kami "sudah cukup". Kemudian beliau keluar (pergi ke masjid) menemui manusia (jamaah).

Keterangan Hadits: J-aJ W (Ketika semakin berat), maksudnya sakit beliau SAW. t-jj—i £—J 'j» (Sebanyak tujuh timba) Al Khaththabi berkata, "Ada kemungkinan beliau mencukupkan dengan tujuh timba untuk mencari berkah dari angka tujuh. Sebab bilangan ini sangat banyak kaitannya dengan perkara-perkara syariat dan asal penciptaan. Dalam riwayat Thabrani sehubungan dengan hadits disebutkan, Ji> jtf 'J (dari sumur yang berbeda-beda). Secara lahiriah, hal itu adalah untuk pengobatan berdasarkan sabda beliau SAW dalam riwayat yang lain, "Semoga aku merasa lebih ringan hingga dapat membuat perjanjian dengan manusia." Maksudnya, memberi wasiat kepada mereka.
l—1oa*J c — l i s y ^ — i

J^r^j

(Lalu beliau didudukkan

di

mikhdhab

(bejana) milik Hafshah). Ibnu Khuzaimah melalui jalur Urwah dari Aisyah menambahkan, bahwa bejana tersebut terbuat dari tembaga. Maka dari sini diperoleh bantahan terhadap mereka yang memakruhkan mandi di bejana yang terbuat dari tembaga, sebagaimana pendapat ini

FATHUL BAARI —

221

diriwayatkan dari Ibnu Umar. Atha' berkata, "Sesungguhnya yang tidak disukai dari tembaga adalah baunya." *• fj (Kemudian beliau keluar (ke masjid) menemui

jamaah). Imam Bukhari dari jalur Uqail dari Zuhri menambahkan, "Lalu beliau shalat mengimami mereka kemudian berkhutbah, setelah itu beliau keluar." Riwayat ini beliau sebutkan pada bab "Wafatnya Nabi S A W " dalam kitab tentang Al Maghazi. Pembahasan selanjutnya mengenai hadits ini akan diterangkan dalam kitab tersebut. Demikian pula dengan kandungannya tentang hukum-hukum yang berkenaan dengan imam, akan dibahas pada bab "Batasan orang yang sakit menghadiri shalat jamaah," insya Allah.

46. Berwudhu dari Taur

199. Telah diriwayatkan dari Amru bin Yahya, dari bapaknya, ia berkata, "Pamanku senang memperbanyak wudhu, maka ia berkata kepada Abdullah bin Zaid, 'Beritahukan kepadaku bagaimana engkau melihat Nabi SAW berwudhu.'Maka Abdullah bin Zaid minta dibawakan air wudhu. Beliau menuangkan air

2 2 2 — FATHUL BAARI

kepada kedua tangannya dari bejana tersebut lalu membasuh keduanya sebanyak tiga kali, kemudian memasukkan tangannya ke dalam taur lalu berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali dari satu cidukan. Kemudian memasukkan tangannya dan menciduk air dengannya lalu membasuh mukanya tiga kali. Kemudian membasuh kedua lengannya hingga siku dua kali-dua kali, kemudian mengambil air dengan tangannya lalu menyapu kepalanya sambil mengarahkan ke depan dan ke belakang, kemudian membasuh kedua kakinya, setelah itu berkata, 'Seperti inilah aku melihat Nabi SAW berwudhu.''"

Keterangan Hadits: (Berwudhu dari Taur) pembahasan mengenai hadits ini telah disebutkan sebelumnya. Adapun yang dimaksud dengan taur adalah bejana yang serupa dengan thist (bejana bundar yang terbuat dari tembaga atau sejenisnya dan dipakai untuk mencuci). Adapula yang mengatakan bahwa taur adalah thist. Namun disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas mengenai Mi'raj Nabi SAW, "Lalu didatangkan sebuah thist yang terbuat dari emas, di dalamnya ada taur. " Makna hadits ini secara lahiriah, bahwa kedua bejana ini memiliki perbedaan. Namun adapula kemungkinan keduanya sama, hanya saja thist lebih besar dari taur.
'jo.—jj—~i

j^—i SJ—j J — y - i i j^i (Kemudian

beliau

memasukkan

tangannya ke dalam taur lalu berkumur-kumur). Dalam lafazh ini terdapat kalimat yang tidak disebutkan, dan kalimat yang dimaksud disebutkan oleh Imam Muslim dalam riwayatnya.

—)—'j—*(Dari

satu cidukan). Lafazh ini berkaitan dengan

perkataannya, "lalu berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari h i d u n g . . . " Adapun maknanya adalah beliau mengumpulkan antara kedua hal itu sekaligus sebanyak tiga kali, setiap kalinya dilakukan dengan satu kali cidukan. Ada pula kemungkinan lafazh, "dari satu cidukan..." berkaitan dengan perkataannya, "tiga k a l i . . . " dan maknanya bahwa beliau mengumpulkan kedua hal itu (yakni berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung) sebanyak tiga kali dengan hanya satu kali

FATHUL BAARI —

223

cidukan. Akan tetapi kemungkinan pertama sesuai dengan riwayatriwayat lain yang berhubungan dengan hal ini, oleh sebab itu kemungkinan ini lebih tepat.

s

£

y

A_i

R\j

U j
' f ^

RJJI> J \ j
£ j
0

*C
i?.

£o
' ' f

0
*

'

y

"

£

"

I jl
'

°y£.
ja

j.1
-

«Jl J l
'
' , y

o

'

J$SJ\ C-JJtStJ
- ,

^-Jl J l i
y
O ,

£

4*JCSI «_si>JI
y y . y y
fi

S-^J*
"

J

y t

O*
J

.

y

Oy

y

* *
4

y

y

0

y

y y

.

if

yt

t)y

O

}

%0 y

\ Oi*r- >

I-

w^
9

J-* ^ ( _ / ~ J l JI-* 4AJU=>I

^

jA-^J

200. Diriwayatkan dari Anas bahwasanya Nabi SAW minta dibawakan satu bejana berisi air. Lalu dibawakan kepadanya sebuah bejana yang luas bagian atasnya, di dalamnya terdapat sedikit air. Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam air tersebut. Anas berkata, "Akupun melihat air keluar dari sela-sela jari-jarinya." Anas berkata, "Akupun memperkirakan jumlah orang yang wudhu saat itu sekitar tujuh puluh sampai delapan puluh orang."

Keterangan Hadits: pij—'F j (Bejana yang luas bagian atasnya). Al Khaththabi berkata, "Yakni bejana yang luas bagian dalamnya namun ukurannya pendek sehingga tidak dapat menampung air yang banyak. Hal ini lebih memberi gambaran akan kehebatan mukjizat Nabi SAW." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Sifat bejana yang disebutkan oleh Al Khaththabi ini sama seperti sifat thist, dan dari sini dapat diketahui hubungan disebutkannya hadits ini di bawah judul bab seperti di atas." Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari / '.imad bin Abdah dari Hammad bin Zaid. Tidak disebutkan bahwa bejana itu besar di bagian atasnya, namun dikatakan bahwa bejana tersebut terbuat dari kaca. Lalu beliau (Ibnu Khuzaimah) membuat bab tersendiri bagi hadits

2 2 4 — FATHUL BAARI

yang diriwayatkannya dengan judul bab "Berwudhu dari bejana kaca", sebagai lawan perkataan golongan tasawuf yang mengatakan perbuatan seperti itu termasuk berlebih-lebihan karena bejana yang demikian cepat pecah. Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Lafazh seperti yang dinukil oleh Ibnu Khuzaimah hanya diriwayatkan dari jalur Ahmad bin Abdah, sementara para perawi yang lain dari Hammad bin Zaid menyalahi beliau. Mereka mengatakan, 'bejana yang bagian atasnya'. Sebagian dari mereka mengatakan, 'Luas bagian mulutnya.''" Lafazh terakhir ini adalah riwayat Al Isma'ili dari Abdullah bin Najiyah dari Muhammad bin Musa dan Ishaq bin Abu Isra'il dan Ahmad bin Abdah yang mana semuanya meriwayatkan dari Hammad bin Zaid. Seakan-akan Al Isma'ili menyebutkan riwayat menurut versi Muhammad bin Musa. Kemudian sejumlah ahli ilmu menegaskan bahwa Ahmad bin Abdah mengalami kesalahan dalam menulis hadits tersebut. Pandangan para ulama ini diperkuat oleh keterangan bahwa Ahmad bin Abdah berkata dalam riwayatnya, 'Aku kira...'' Hal ini menunjukkan bahwa lafazh tersebut belum diyakini secara pasti. Namun apabila lafazh beliau ini akurat, tidaklah bertentangan dengan lafazh yang dinukil oleh mayoritas perawi hadits itu dari Hammad bin Zaid. Sebab, bisa saja mayoritas perawi menyebutkan model bejana sementara beliau menyebutkan jenisnya. Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan bahwa raja Al Muqauqis pernah menghadiahkan kepada Nabi SAW sebuah bejana kaca, akan tetapi jalur periwayatan hadits ini masih diperbincang-kan."

o

,

&jj—(Akupun

memperkirakan).

Telah disebutkan dari riwayat

Humaid bahwa jumlah mereka saat itu delapan puluh orang lebih, sementara di sini dia mengatakan antara tujuh puluh sampai delapan puluh. Untuk mengompromikan antara kedua riwayat itu dikatakan, "Sesungguhnya Anas tidak mengetahui secara pasti jumlah orang-orang yang wudhu saat itu, bahkan dia memastikan jumlah mereka lebih dari tujuh puluh orang. Kemudian beliau agak ragu apakah lebihnya itu mencapai delapan puluh atau malah lebih banyak lagi, dari sini terkadang dia mengatakan dengan tegas bahwa jumlah mereka lebih dari delapan puluh orang karena dugaannya yang kuat mengenai jumlah itu." Imam Syafi'i menggunakan hadits ini sebagai dalil untuk membantah ahli ra'yu (rasionalis) yang mengatakan bahwa wudhu ditentukan

FATHUL BAARI —

225

dengan ukuran atau kadar air tertentu. Penetapan dalil oleh imam Syafi'i dari hadits itu adalah; para sahabat menciduk air dari bejana tersebut tanpa mengukurnya lebih dahulu, sebab air yang keluar itu tentu belum mereka ketahui ukurannya, sehingga hal ini menunjukkan tidak adanya penetapan ukuran. Dari sini dapat dipahami mengapa Imam Bukhari menyebutkan setelah hadits ini, bab dengan judul "Berwudhu dengan satu mud". Mud adalah bejana yang dapat menampung 1 1/3 rithl Irak, demikian yang dikatakan oleh mayoritas ulama. Namun sebagian ulama madzhab Hanafi mengatakan bahwa satu mud mampu menampang dua rithl. (1 rithl = 12 uqiyah / 2564 gram, kamus Al Munjid)

47. Berwudhu dengan Satu Mud

201. Diriwayatkan dari Ibnu Jabr, ia berkata, "Aku mendengar Anas berkata, 'Nabi SAW pernah mencuci-atau mandi-dengan air sebanyak satu sha' hingga lima mud, dan beliau berwudhu dengan satu mud.'"

K e t e r a n g a n Hadits: r j — ° \ (Ibnu Jabr). Barangsiapa yang mengatakan Ibnu Jubair, maka ia telah mengalami kekeliruan, sebab Ibnu Jubair (yaitu Sa'id) tidak disebutkan riwayatnya dari Anas dalam kitab Shahih Bukhari. Adapun yang dimaksud dengan Ibnu Jabr di sini adalah Abdullah bin \bdullah bin Jabr bin Atiq Al Anshari. Diriwayatkan oleh Al Isma'ili dari jalur periwayatan Abu Nu'aim (guru Imam Bukhari), ia berkata, "Telah menceritakan kepada kami Mis'ar, telah menceritakan kepadaku seorang

2 2 6 — FATHUL BAARI

syaikh dari kalangan Anshar yang biasa dipanggil Ibnu Jabr. Dengan demikian dalam riwayat hadits ini terdapat dua orang ulama Kufah, yaitu Abu Nu'aim dan gurunya serta dua orang ulama Bashrah, yaitu Anas dan yang meriwayatkan darinya.
J—~*J

(Mencuci),

maksudnya mencuci badannya. Adapun lafazh

yang menunjukkan keraguan dalam hadits ini mungkin bersumber dari Imam Bukhari dan bisa juga bersumber dari Abu Nu'aim saat beliau menceritakan hadits ini kepada Imam Bukhari. Hadits ini telah diriwayatkan oleh Al Isma'ili melalui jalur Abu Nu'aim, dimana disebutkan dengan lafazh, "beliau mandi..." tanpa ragu. ^L_^aJb (Sebanyak satu sha *) Sha' adalah suatu wadah yang mampu menampung 5 1/3 rithl ukuran Baghdad. Menurut sebagian ulama madzhab Hanafi, ia dapat menampung 8 rithl. iiJ ii jj ^j—l] (Hingga lima mud) yakni kadang beliau

mencukupkan dengan 1 sha' (4 mud) dan kadang pula melebihkan hingga 5 mud. Seakan-akan Anas tidak pernah melihat Nabi SAW memakai air lebih banyak dari itu, sehingga di sini beliau menjadikan 5 mud sebagai batasan air terbanyak yang pernah dipakai oleh Nabi SAW. Sementara telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Aisyah RA bahwa dia pernah mandi bersama Nabi SAW dari satu bejana yang berisi air sebanyak Al Faraq. Lalu ibnu Uyainah dan Imam Syafi'i serta lainnya berkata bahwa Al Faraq sama dengan 3 sha'. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari Aisyah bahwa beliau pernah mandi bersama Nabi SAW dari bejana yang menampung air sebanyak 3 mud. Riwayat-riwayat ini memberi keterangan adanya perbedaan ukuran air yang dipakai berwudhu sesuai kebutuhan. Dalam hadits Aisyah terdapat pula bantahan bagi mereka yang menetapkan kadar air untuk wudhu dan mandi dalam hadits bab ini, seperti pendapat Ibnu Sya'ban dari madzhab Maliki. Demikian pula ulama-ulama madzhab Hanafi yang berpendapat seperti itu, meski mereka tidak sependapat dengan Ibnu Sya'ban dalam menetapkan isi sha' dan mud. Adapun jumhur (mayoritas) ulama memahami bahwa jumlah kadar air yang tersebut pada hadits ini hanyalah sebagai sesuatu yang disukai, sebab kebanyakan riwayat yang menyebutkan kadar air wudhu Nabi SAW sama dengan jumlah di atas. Dalam riwayat imam Muslim

FATHUL BAARI —

227

dari Safinah disebutkan kadar yang sama seperti hadits Anas. Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan silsilah periwayatan yang shahih dari Jabir, juga menyebutkan kadar yang sama. Sehubungan dengan pembahasan ini telah diriwayatkan pula dari Aisyah, Ummu Salamah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan selain mereka. Namun perlu diingat, kadar seperti itu hanya disukai bila tidak ada faktor yang mengharuskan untuk dilebihkan. Masalah inilah yang diisyaratkan oleh Imam Bukhari di awal kitab wudhu dengan perkataannya, "Para ahli ilmu tidak menyukai berlebihan dalam wudhu melebihi perbuatan nabi SAW."

48. Mengusap Bagian Atas Sepasang Sepatu
S'
& O
J I

S

.S

j.

-

&s

i-

^3
S*

u—>

J*
i'

rr^
i'

A j l

^

^
i'

u* u^3
^

^
j' ^

u'- ^
&

u*

i' ^

i' i'

i'

bt,
is
0

i diJj_>- b l p_«J : J U i CtJJi JS- J*S- J d J»S- j j aUI XSi} }
0

s s

%

Q

s
I
0

s

s
i *

-•

i*

'O.

['A

j
°- t > - >
J

1
I , _ .

^
f;i

y
-

Jli j

Si i i
. f

0jS'

f ^ <UP J L . J
f O'
'O

-

t^Ss * "t l " " ' JJp ^ ^ 1 jSf ».

'f

9

'

Aju.--'f
'•

y
_ ' . '

-LJO j-o-f-

^

, ' f .

, *|,

*f

-

4j_L>- I J b w j l e ^ > - i <U^L* b l j l ^, •/?;)) ^jjl
' o

^JIy*-<
*

202. Diriwayatkan dari Sa'ad bin Abi Waqqas dari Nabi SAW, bahwasanya beliau menyapu bagian atas sepasang sepatunya dan Abdullah bin Umar bertanya tentang hal itu kepada Umar, maka Umar menjawab, "Benar. Apabila Sa 'ad menceritakan kepadamu sesuatu yang berasal dari Nabi SA W, maka jangan tanya mengenai hal itu kepada orang lain. " Musa bin Uqbah berkata, "Telah menceritakan kepadaku Abu An-Nadhr bahwasanya Abu Salamah mengabarkan kepadanya, sesungguhnya Sa'ad menceritakan

2 2 8 — FATHUL BAARI

kepadanya... maka seperti di atas."

Umar berkata

kepada Abdullah

perkataan

Keterangan Hadits: (Mengusap bagian atas sepasang sepatu) Telah dinukil oleh Ibnu Mundzir dari Ibnu Mubarak, ia berkata, "Tidak ada perselisihan di antara sahabat Nabi SAW mengenai mengusap sepasang sepatu. Sebab setiap individu di antara meraka yang diriwayatkan darinya keterangan yang mengingkari hal itu, telah diriwayatkan pula dari mereka keterangan lain yang menyatakan sebaliknya." Ibnu Abdul Barr berkata, "Aku tidak mengetahui adanya riwayat dari seorang pun di kalangan salaf yang mengingkari perbuatan ini kecuali apa yang dinukil dari Imam Malik, sementara riwayat-riwayat yang shahih dari beliau menyatakan sebaliknya." Demikian pula Imam Syafi'i telah mengisyaratkan dalam kitabnya Al Umm tentang pengingkaran terhadap perkataan penganut madzhab Maliki. Sementara ada dua pendapat yang dikenal dalam madzhab mereka saat ini mengenai mengusap sepatu; Pertama, membolehkan secara mutlak (tanpa batasan). Kedua, boleh bagi musafir dan tidak boleh bagi orang yang mukim (tidak bepergian). Pendapat kedua ini merupakan indikasi pernyataan dalam kitab Al Mudawwanah, dan pendapat yang dipegang teguh oleh Ibnu Hajib. Adapun pendapat pertama dishahihkan oleh Al Baji, dimana beliau menukilnya dari Ibnu Wahab. Demikian pula diriwayatkan dari Ibnu Nafi' dalam kitab Al Mabsuthah. Sesungguhnya Imam Malik tidak mengambil sikap dalam hal ini bagi diri pribadinya secara khusus, meski beliau memfatwakan kebolehannya. Sikap Imam Malik ini sama seperti riwayat shahih yang dinukil dari Abu Ayyub (salah seorang sahabat Nabi). Ibnu Mundzir berkata, "Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan manakah kedua perbuatan itu yang lebih utama, apakah menyapu bagian atas kedua sepatu atau melepaskan keduanya lalu membasuh kedua kaki." Dia berkata pula, "Pendapat yang aku pilih bahwa menyapu di atas sepatu lebih utama, karena ada sebagian ahli bid'ah yang memandang perkara ini secara miring, seperti golongan Khawarij dan Syi'ah Rafidhah." Ibnu Mundzir menambahkan, "Menghidupkan Sunnah yang dilecehkan oleh orang-orang yang menyimpang

FATHUL BAARI —

229

lebih utama daripada meninggalkannya." Demikian nukilan dari Ibnu Mundzir. Muhyiddin berkata, "Sejumlah ulama madzhab kami telah menegaskan bahwa membasuh kaki lebih utama dengan syarat orang itu tidak meninggalkan menyapu bagian atas sepatu karena didorong kebencian terhadap Sunnah, sebagaimana pandangan mereka ketika mengutamakan meringkas shalat (qashar) daripada melakukannya secara lengkap (tanpa qashar). Sementara itu sejumlah ahli hadits telah menegaskan bahwa perbuatan menyapu di atas sepatu dinukil melalui jalur mutawatir. Sebagian mereka mengumpulkan para perawi hadits tersebut hingga melebihi jumlah delapan puluh orang, di antaranya sepuluh orang yang dijamin masuk surga." Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan lainnya dari Al Hasan Al Bashri disebutkan, "Telah menceritakan kepadaku tujuh puluh orang sahabat tentang menyapu di atas kedua sepatu." Seakan-akan Imam Bukhari sengaja mengutip hadits ini dari jalur Asbagh dikarenakan pernyataan Al Asbagh, "Menyapu di atas kedua sepatu, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi SAW dan para pemuka sahabat baik dalam keadaan mukim (tidak bepergian), jauh lebih akurat bagi kami serta lebih kuat daripada harus mengikuti pendapat Imam Malik yang menyelisihi hal itu." xs- oij (Dan bahwasanya Abdullah) lafazh ini dikaitkan dengan

perkataan sebelumnya, yaitu "Dari Abdullah bin U m a r . . . " Dengan demikian, silsilah periwayatannya bersambung sampai kepada Nabi SAW apabila kita mengatakan Abu Salamah mendengar hal itu dari Abdullah bin Umar. Jika tidak demikian, berarti Abu Salamah tidak menyaksikan langsung kejadian ini. Sementara telah diriwayatkan dari jalur periwayatan yang lain, dari Abu An-Nadhr, dari Abu Salamah dari Ibnu Umar, ia berkata, "Aku pernah melihat Sa'ad bin Abi Waqqas menyapu di atas kedua sepatunya di Irak pada saat berwudhu, maka aku pun mengingkari perbuatannya itu. Ketika kami berkumpul di hadapan Umar, Sa'ad berkata kepadaku, 'Tanyalah bapakmu.' Lalu Ibnu Umar menyebutkan kisah selanjutnya." Diriwayatkan pula oleh Ibnu Khuzaimah dari jalur Ayyub dari Nafi' dari Ibnu Umar riwayat seperti ini yang disebutkan bahwa Umar berkata, "Kami dahulu bersama Nabi biasa menyapu bagian atas kedua sepatu, dan kami menganggap perbuatan itu tidak mengapa."

2 3 0 — FATHUL BAARI

&JJ- ils- j L i Vi (Maka jangan tanya mengenai hal itu kepada

orang

lain). Hal ini karena kepercayaan yang demikian tinggi terhadap apa yang diriwayatkan Sa'ad. Dalam pernyataan ini terdapat dalil bahwa sifat-sifat yang menjadi faktor pendukung kebenaran suatu riwayat apabila berkumpul dan menyertai khabar ahad (hadits yang diriwayatkan oleh satu orang), maka sifat-sifat tersebut dapat menggantikan fungsi keberadaan periwayat-periwayat lain. Bahkan menurut sebagian ulama, hal tersebut dapat menghasilkan ilmu (keyakinan), namun menurut yang lainnya tidaklah demikian. Demikian pula perkataan Umar mengindikasikan bahwa beliau menerima khabar ahad. Adapun keterangan yang menyatakan bahwa beliau tawaqquf (tidak menentukan sikap apakah menerima atau menolak) terhadap khabar ahad hanya apabila terjadi halhal tertentu yang mengundang keraguan, dan ini hanya terjadi pada sebagian keadaan. Lalu riwayat ini dijadikan dalil pula oleh sebagian orang yang berpendapat adanya perbedaan tingkatan 'adalah (komitmen agama seseorang dalam tinjauan ilmu periwayatan -Penerj). Serta merupakan dalil dibolehkannya menguatkan salah satu riwayat dari dua riwayat yang saling kontradiksi. Perbedaan mengenai 'adalah dapat dilihat dalam masalah periwayatan dan persaksian. Hadits di atas menerangkan juga penghormatan yang besar dari Umar bin Khaththab kepada Sa'ad. Di samping itu, hadits ini mengindikasikan bahwa seorang sahabat yang lama bersama Nabi SAW bisa saja tidak mengetahui perkara-perkara yang lumrah dalam syariat, sementara sahabat lainnya mengetahui. Sebab, Ibnu Umar mengingkari perkara mengusap bagian atas kedua kaki padahal beliau tergolong sahabat senior dan banyak meriwayatkan hadits dari Nabi SAW. Kisah Ibnu Umar ini disebutkan oleh Imam Malik dalam kitab Al Muwaththa' dari nafi' dan Abdullah bin Dinar, bahwa keduanya memberitahukan kepadanya, "Sesungguhnya Ibnu Umar datang ke Kufah menemui Sa'ad yang saat itu sebagai pemimpin di Kufah. Ibnu Umar melihat Sa'ad menyapu di atas kedua sepatu dan ia pun mengingkari perbuatan Sa'ad. Maka Sa'ad berkata kepadanya, 'Tanyakan kepada bapakmu.' Lalu disebutkan seperti di atas." Namun ada kemungkinan bahwa yang diingkari oleh Ibnu Umar hanyalah perkara menyapu sepatu pada saat mukim (berdomisili) dan bukan ketika dalam keadaan safar (bepergian), berdasarkan makna lahiriah kisah ini.

FATHUL BAARI —

231

*—'J.

JL»J (Musa bin Uqbah berkata) riwayat tanpa silsilah

periwayatan ini disebutkan oleh Al Isma'ili dan selainnya dengan jalur periwayatan yang lengkap. ijfe- 10*1« i>\ (Sesungguhnya Sa ad menceritakan kepadanya), yakni

menceritakan kepada Abu salamah. Adapun yang menjadi sumber cerita di sini tidak dijelaskan. Namun hal itu dapat diketahui dari riwayat yang dinukil melalui jalur periwayatan yang lengkap, dimana dikatakan, "Bahwasanya Rasulullah SAW menyapu di atas kedua sepatu." «j—*J (Seperti di atas). Dari keterangan di atas nampak bahwa

perkataan Ibnu Umar dalam riwayat tanpa jalur periwayatan ini semakna dengan lafazh riwayat yang disebutkan oleh Imam Bukhari beserta silsilah periwayatannya, meskipun tidak sama dari segi lafazhnya. Lalu riwayat itu telah disebutkan pula silsilah periwayatannya oleh Al Isma'ili dari jalur yang lain dari Musa bin Uqbah, "Umar berkata kepada Abdullah -yakni anaknya dengan nada mencelanya- apabila Sa'ad menceritakan kepadamu sesuatu dari Nabi SAW, maka janganlah engkau mencari sesuatu lagi setelah cerita itu."

0 * J °

'

s

s'

i$

'

O

'

y

'

•Cx^

]

J*

£~~*-5

9 ^

'u?

&

203. Diriwayatkan dari Urwah bin Al Mughirah dari bapaknya Al Mughirah bin Syu'bah dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau keluar untuk buang hajat, maka Al Mughirah mengikutinya sambil membawakan bejana berisi air. Ia menuangkan kepada beliau SAW setelah selesai buang hajat, lalu beliau SAW berwudhu dan menyapu bagian atas sepatunya."

2 3 2 — FATHUL BAARI

K e t e r a n g a n Hadits: 4—yrUnJ — ( B e l i a u keluar untuk buang hajat). Pada bab berikut

diterangkan bahwa peristiwa itu terjadi pada saat safar. Dalam kitab 'Al MaghazC diterangkan bahwa peristiwa itu terjadi pada perang Tabuk, meski para perawinya masih meragukan keakuratannya. Se-mentara dalam riwayat Imam Malik, Ahmad dan Abu Dawud dari jalur Abbad bin Ziyad dari Urwah bin Al Mughirah disebutkan dengan tegas bahwa peristiwa itu terjadi pada perang Tabuk, dan itu terjadi menjelang shalat fajar (shalat shubuh). 4—(Dia Mengikutinya) dalam riwayat Imam Bukhari melalui

jalur Masruq dari Al Mughirah pada pembahasan tentang "Jihad" diterangkan, bahwa sesungguhnya Nabi SAW yang memerintahkan Al Mughirah agar mengikutinya dengan membawa bejana. Dalam riwayat itu ditambahkan pula, "Maka, beliau SAW berjalan hingga tidak kelihatan olehku. Lalu beliau SAW membuang hajatnya, kemudian beliau SAW kembali dan berwudhu." Sementara dalam riwayat Imam Ahmad dari jalur periwayat-an lain dari Al Mughirah disebutkan, bahwa air yang dipakai berwudhu oleh Nabi SAW diambil oleh Al Mughirah dari seorang wanita badui, dimana wanita itu menuangkan air untuk Al Mughirah dari satu bejana yang terbuat dari kulit bangkai. Nabi SAW berkata kepada Al Mughirah, "Tanyalah wanita itu, apabila ia telah menyamaknya maka air itu dapat mensucikan." Lalu disebutkan bahwa wanita itu berkata, "Demi Allah, sungguh aku telah menyamaknya." (Lalu beliau SA W berwudhu) Dalam pembahasan tentang "Jihad" ditambahkan, 4-*l_i buatan Syam).
AJS-J

(Dan saat itu beliau memakai

jubah

Sementara dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, J—«*i Dari

f j j j j i ^ - j (Maka beliau membasuh mukanya dan kedua tangannya).

riwayat-riwayat ini menjadi jelas bahwa yang dimaksud dengan perkataan dalam hadits, "Lalu beliau SAW berwudhu..." adalah wudhu sebagaimana yang telah diketahui, bukan hanya sekedar membasuh kaki. Imam Al Qurthubi berdalil dengan hadits ini tentang bolehnya berwudhu dengan membasuh anggota yang fardhu saja tanpa menyertakan apa yang menjadi sunah wudhu. Khususnya pada saat jarang air, seperti sedang safar. Selanjutnya Al Qurthubi mengatakan, "Namun

FATHUL BAARI —

233

ada kemungkinan Nabi SAW mengerjakan pula sunah-sunah wudhu, tetapi tidak diterangkan oleh Al Mughirah." Lalu dia menegaskan, "Namun melihat lahiriah hadits, beliau SAW tidak melakukannya." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Bahkan beliau SAW telah melakukannya dan hal itu telah disebutkan oleh Al Mughirah." Dalam riwayat Imam Ahmad dari jalur Ibad bin Ziyad (seperti tersebut) dikatakan, "Beliau SAW membasuh kedua tangannya." Menurut riwayat Imam Ahmad dari jalur lain yang lebih kuat disebutkan, "Beliau SAW membasuh kedua tangannya dengan sebaik-baiknya." Lalu dia menambahkan, "Aku ragu apakah ia (Al Mughirah) mengatakan Nabi SAW menggosok kedua tangannya dengan tanah ataukah tidak." Demikian pula telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam pembahasan tentang "Jihad", "Beliau SAW berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dan membasuh mukanya." Kemudian ditambahkan oleh Imam Ahmad, "Sebanyak tiga kali, lalu beliau berusaha untuk mengeluarkan lengannya dari pergelangan bajunya. Namun ternyata pergelangan baju tersebut cukup sempit, akhirnya beliau mengeluarkan keduanya dari bawah jubahnya." Sementara dalam riwayat imam Muslim melalui jalur lain disebutkan, "lalu beliau menyelimpangkan jubah di atas kedua pundaknya." Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan, "Lalu beliau membasuh tangan kanannya sebanyak tiga kali dan tangan kirinya sebanyak tiga kali pula." Kemudian dalam riwayat Imam Bukhari dikatakan, "Beliau mengusap kepalanya." Dalam riwayat Imam Muslim, "Beliau mengusap ubun-ubunnya serta sorbannya dan kedua sepatunya." Selanjutnya nanti akan dijelaskan mengenai sabdanya, "Sesungguhnya aku memasukkan keduanya dalam keadaan suci." Hadits Al Mughirah seperti tersebut dalam bab ini diriwayatkan pula oleh Al Bazzar, seraya mengatakan bahwa dia telah meriwayatkannya dari sekitar tujuh puluh orang. Aku telah meringkas jalur-jalur periwayat-an yang shahih dari hadits ini pada pembahasan di atas.

Pelajaran yang dapat diambil 1. Mencari tempat yang jauh saat buang hajat dan mengambil posisi yang tidak terlihat oleh manusia.

2 3 4 — FATHUL BAARI

2.

Disukainya untuk senantiasa berada dalam keadaan suci berdasarkan perintah beliau SAW kepada Al Mughirah agar mengikutinya dengan membawa bejana berisi air, padahal air itu tidak beliau pergunakan untuk istinja' namun hanya dipergunakan untuk berwudhu saat kembali dari buang hajat. Boleh minta bantuan kepada orang lain saat berwudhu, seperti dijelaskan pada bab terdahulu. Mencuci tangan yang bersentuhan dengan kotoran saat istinja' (cebok) menggunakan batu. Kotoran itu tidak dianggap hilang tanpa dicuci dengan air, dan menggunakan debu atau tanah untuk menghilangkan bau yang tidak enak.

3. 4. 5.

Dari hadits ini dapat ditarik kesimpulan hukum, bahwa kotoran yang telah menyebar melebihi kebiasaan maka harus dihilangkan dengan air. Dalam hadits itu terdapat pula keterangan bolehnya menggunakan kulit bangkai yang telah disamak, dan boleh memakai pakaian orang kafir sampai diketahui secara pasti bahwa pakaian tersebut mengandung najis. Hal ini karena Nabi SAW pernah memakai pakaian buatan orang Romawi tanpa mengecek terlebih dahulu. Hadits ini dijadikan pula sebagai dalil oleh Imam Qurthubi untuk menyatakan bahwa bulu binatang tidak lantas menjadi najis setelah binatang itu mati, sebab jubah yang dikenakan Nabi SAW saat itu adalah buatan Syam. Sementara negeri Syam saat itu masih tergolong negeri kafir, dimana makanan penduduknya umumnya adalah bangkai. Kemudian hadits ini menjadi bantahan bagi mereka yang mengatakan, bahwa hukum bolehnya menyapu di atas kedua sepatu telah dihapus oleh ayat tentang wudhu yang tersebut dalam surah Al Maa'idah, karena ayat ini turun pada saat perang Al Marisi'. Sementara kisah di atas terjadi pada saat perang Tabuk, dan telah disepakati bahwa perang Tabuk terjadi setelah perang Al Marisi'. Hadits Jarir Al Bajli yang semakna dengan ini akan disebutkan pada pembahasan tentang "Shalat", insya Allah. Faidah lain dari hadits ini adalah; bersungguh-sungguh dan cekatan dalam melakukan safar (berpergian), boleh memakai pakaian yang tidak terlalu longgar saat safar karena hal itu lebih memudahkan perjalanan, senantiasa melakukan sunah-sunah wudhu meskipun dalam perjalanan, diterimanya khabar ahad meskipun berasal dari seorang wanita, baik

FATHUL BAARI —

235

dalam perkara yang lumrah dan umum maupun pada perkara-peraka selain itu. Hal ini berdasarkan perbuatan nabi SAW yang menerima berita dari seorang wanita badui seperti disebutkan. Hadits ini menerangkan pula, bahwa membasuh sebagian besar pada salah satu anggota wudhu yang fardhu tidak dianggap mencukupi, sebab beliau SAW mengeluarkan tangannya dari bawah jubah dan tidak mencukupkan sekedar menyapu pada bagian yang tidak sempat dibasuh. Selain itu, hadits ini bisa saja dijadikan dalil oleh mereka yang berpendapat "wajib" menyapu kepala secara keseluruhan, dimana Nabi SAW menyempurnakan dengan mengusap sorbannya dan tidak cukup hanya sekedar mengusap apa yang tersisa dari kedua lengannya.

204. Diriwayatkan dari Ja'far bin Amru bin Umayyah AdhDhamri, bahwa bapaknya mengabarkan kepadanya sesungguhnya ia melihat Nabi SAW menyapu di atas kedua sepatunya." Hadits ini diriwayatkan pula oleh Harb bin Syaddad dan Aban dari Yahya.

£j

—*± 18» ^

^~>Jj

<ju ^

J*

V>> Ji

3J~*

<J>. J***"

U*

205. Diriwayatkan dari Ja 'far bin Amru dari bapaknya, ia berkata, "Aku pernah melihat Nabi SAWmengusap di atas surbannya dan kedua sepatunya. " Hadits ini diriwayatkan pula melalui jalur

2 3 6 — FATHUL BAARI

Ma 'mar dari Yahya dari Abu Salamah dari Amru. Ia berkata, melihat nabi...."

'Aku

Keterangan Hadits:
4_J_>-j

As»Uf Js> (Di atas sorbannya

dan kedua sepatunya)

demikian

yang diriwayatkan oleh Al Auza'i yang merupakan lafazh yang masyhur darinya. Lalu sebagian perawi yang menerima hadits ini dari Al Auza'i tidak menyebutkan Ja'far dalam jalur periwayatannya. Ini merupakan suatu kesalahan seperti yang dikatakan oleh Abu Hatim Ar-Razi. Hadits ini diriwayatkan pula melalui jalur M a ' m a r ( M a ' m a r bin Rasyid). Al Auza'i juga meriwayatkan matan (materi) hadits ini, meski jalur periwayatan keduanya berbeda. Inilah yang menjadi sebab mengapa Imam Bukhari menyebutkan lagi silsilah periwayatan ini di akhir hadits tersebut, yaitu menunjukkan bahwa pada jalur periwayatan M a ' m a r tidak dicantumkan perawi yang bernama Ja'far. Matan (materi) hadits yang diriwayatkan melalui jalur M a ' m a r disebutkan oleh Abu Dzar dalam riwayatnya, yaitu dengan perkataannya, "Beliau menyapu bagian atas sorbannya." Kemudian ditambahkan oleh Al Kasymihani dengan lafazh, "dan kedua sepatunya." Matan (materi) hadits M a ' m a r ini tidak disebutkan dalam seluruh riwayat yang ada dalam kitab Shahih Bukhari. Riwayat M a ' m a r yang dimaksud disebutkan oleh Abdurrazzaq dalam kitabnya Al Musannaf dari M a ' m a r tanpa menyebutkan kata "surban". Akan tetapi riwayat yang sama disebutkan oleh Ibnu Mandah dalam kitab Ath-Thaharah dari jalur M a ' m a r dengan mencantumkan kata tersebut. Di sini Al Ashili mengambil sikap yang cukup ganjil sebagaimana dinukil oleh Ibnu Baththal, dimana beliau berkata, "Penyebutan kata "surban" dalam hadits ini merupakan kesalahan Al Auza'i, sebab Syaiban dan selainnya telah meriwayatkan pula hadits tersebut dari Yahya tanpa menyebutkan "surban". Sementara kita harus mengedepankan riwayat yang dinukil oleh orang banyak daripada yang dinukil oleh satu orang." Al Ashili menambahkan, "Demikian juga lafazh hadits tersebut yang dinukil melalui jalur Ma'mar, tidak disebutkan kata "surban". Di samping itu hadits Al Auza'i tergolong mursal (tidak disebut nama salah seorang

FATHUL BAARI —

237

perawinya, baik sahabat atau tabi'in), sebab Abu Salamah tidak mendengar hadits itu langsung dari Amru." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Tidak tertutup kemungkinan jika Abu Salamah telah mendengar hadits tersebut langsung dari Amru, sebab Amru meninggal di Madinah pada tahun 60 H sedangkan Abu Salamah termasuk ulama Madinah dan tidak dikenal sebagai pelaku tadlis (mengaburkan riwayat). Di samping itu, dia telah mendengar sejumlah hadits dari orang-orang yang meninggal jauh sebelum Amru." Telah diriwayatkan oleh Bukair bin Al Asyaj dari Abu Salamah bahwa dia mengirim Ja'far bin Amru bin Umayah kepada bapaknya untuk menanyakan hadits ini, lalu utusan itu kembali dan mengabarkan kepadanya tentang hadits itu. Tidak tertutup kemungkinan jika setelah itu Abu Salamah sempat bertemu Amru dan mendengar langsung darinya. Analisa ini diperkuat oleh besarnya kemungkinan mereka bertemu di Masjid Nabawi. Di atas telah kami sebutkan bahwa Ibnu Mandah meriwayatkan hadits ini melalui jalur Ma'mar dengan menyebutkan kata "surban". Andaikata benar kata "surban" hanya diriwayatkan melalui jalur Al Auza'i, namun tetap tidak layak untuk menyalahkannya. Sebab dalam kondisi demikian, kata tersebut merupakan tambahan dari seorang perawi tsiqah (terpercaya) serta tidak pula bertentangan dengan kata yang dinukil oleh para perawi yang lebih tsiqah darinya sehingga mesti diterima dan tidak tergolong syadz (cacat). Tidak ada alasan menolak riwayat-riwayat shahih hanya dengan argumentasi-argumentasi yang tidak ada landasannya seperti di atas. Selanjutnya ulama salaf berbeda pendapat mengenai makna mengusap di atas surban, sebagian mengatakan perbuatan itu dilakukan dengan tujuan menyempurnakan mengusap di atas ubun-ubun. Pendapat ini diisyaratkan oleh riwayat Muslim terdahulu. Adapun pendapat yang tidak memperkenankan seseorang hanya menyapu ubun-ubun saat berwudhu merupakan pendapat mayoritas ulama. Al Khaththabi berkata, "Allah SWT telah memfardhukan mengusap kepala, sementara hadits mengusap sorban berindikasi sejumlah kemungkinan. Untuk itu, tidak boleh ditinggalkan perkara yang telah diyakini demi mengamalkan sesuatu yang masih diragukan. Beliau menambahkan, "Menganalogikan membasuh surban dengan membasuh

2 3 8 — FATHUL BAARI

sepatu tidak dapat diterima, karena melepas sepatu telah menimbulkan kesulitan berbeda dengan melepas surban." Pandangan Al Khaththabi ini dibantah dengan mengatakan, bahwa mereka yang membolehkan menyapu surban mensyaratkan jika mengalami kesulitan dalam melepaskannya sebagaimana melepaskan sepatu. Mereka mengatakan pula sesungguhnya kewajiban membasuh anggota wudhu ini (kepala) gugur waktu melakukan tayammum, maka boleh mengusap sesuatu yang menutupinya sebagaimana sepatu. Mereka menambahkan, bahwa ayat di atas tidak menafikan hal ini khususnya bagi mereka yang mengartikan lafazh muhtamal (mengandung beberapa kemungkinan) dengan makna hakikat dan majaz (kiasan). Sebab seseorang yang mengatakan, "Aku mencium kepala si fulan" dapat dibenarkan meski ia hanya mencium sesuatu yang menutupi kepala orang itu. Inilah pendapat Al Auza'i, Ats-Tsauri (dalam salah satu riwayat dari beliau), Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Thabari, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Mundzir dan selain mereka. Ibnu Mundzir berkata, "Pendapat seperti itu telah dinukil pula dari Abu Bakar dan Umar, sementara telah diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, 'Jika manusia mengikuti Abu Bakar dan Umar niscaya mereka mendapat petunjuk,'' wallahu a 'lam."

49. Seseorang yang Memakai Sepatu sedang Kedua Kakinya dalam Keadaan Suci
y ,
(

"jZy*

'

J
^Jl

>"i,

yy

>

* 0 ^y

y

.

y

s f-

a

y

_ y

'

O ti

0

-

yy

0

'

0

y

jA
y

^

S
y

£ .
0 /

C^S

Jli
^ y

ol
y

Jfy y

bjJ>yA\
& ^ s

j,

OJjS-

jf.
C'

^ 0

^S

I

}

206. Diriwayatkan dari Urwah bin Mughirah dari bapaknya, ia berkata, "Aku pernah bersama Nabi SAW dalam suatu perjalan

FATHUL BAARI —

239

jauh (safar). Akupun bermaksud melepas kedua sepatunya, maka beliau SAW bersabda, 'Biarkanlah keduanya, karena aku memasukkan keduanya dalam keadaan suci.'"

Keterangan Hadits: (Seseorang yang memakai sepatu sedang kedua kakinya dalam keadaan suci). Ini adalah lafazh riwayat Abu Dawud melalui jalur Yunus bin Abu Ishaq dari Sya'bi, dan kami akan menjelaskan perbedaan antara riwayat beliau dengan hadits tersebut dalam bab ini pada pembahasan selanjutnya. c J j i l — i (Akupun A s h m u ' i berkata, bermaksud), yakni menjulurkan tanganku. Al

— i - ' c J j i i artinya aku melirik atau mengisyaratkan

kepadanya. Sedangkan yang lainnya mengatakan, bahwa c J j i i berarti aku bermaksud duduk melakukan perbuatan dari berdiri ke duduk."
1

Dikatakan pula, bahwa s - } ^ artinya illi)!' (condong). Ibnu Baththal berkata, "Dalam hadits ini terdapat keterangan disukainya berkhidmat kepada seorang yang berilmu, dan hendaklah seorang pelayan melakukan apa yang telah menjadi kebiasaan tuannya sebelum diperintahkan. Di samping itu, terdapat pula keterangan memahami suatu isyarat serta merespon apa yang dipahami dari isyarat tersebut berdasarkan sabda beliau SAW, U 4 * i (Biarkanlah keduanya).

—J>\—s

(Sesungguhnya

aku telah memasukkan

keduanya),

maksudnya kedua kaki.
j J ^ a U » (Keduanya

dalam

keadaan

suci).

Demikian

lafazh yang

dinukil oleh mayoritas perawi, sementara dalam riwayat Al Kasymahani disebutkan, ^\—f^Us \ — ( S e d a n g kedua kaki itu dalam keadaan suci).

Dalam riwayat Abu Dawud dikatakan, J U ^ a - » U i j ^ ^ J i J-»^ (Karena sedang sesungguhnya keduanya dalam aku memasukkan keadaan suci).
q

c J > - i ^t» sepatu

kedua

kaki ke dalam

Adapun riwayat Al Humaidi

dalam Musnad-nya

disebutkan, J»*J : JlS .£&>- j * -J>i ^ - J J i «ui J j l i j li c J i

2 4 0 — FATHUL BAARI

J L J j A i t i — i i j U ^ - a i 'i! (Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami (boleh) menyapu di atas dua sepatunya?" Beliau SAW menjawab, "Benar, apabila ia memasukkan kedua kakinya sedang keduanya dalam keadaan suci") Lalu diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari hadits Shafwan bin Asal, "Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk menyapu bagian atas sepatu apabila kami memasukkan keduanya dalam keadaan suci; selama tiga hari apabila kami melakukan safar, dan sehari semalam apabila kami mukim (tidak safar)." Ibnu Khuzaimah berkata, "Aku menyebutkan hadits ini kepada Al Muzanni, maka beliau berkata kepadaku, "Ulama-ulama madzhab kami meriwayatkan pula yang seperti ini, dan ini merupakan dalil kuat yang mendukung madzhab Syafi'i." Hadits Shafwan bin Asal meskipun shahih, namun tidak memenuhi persyaratan Imam Bukhari. Tetapi hadits di bab ini sejalan dengan hadits tersebut mengenai keharusan memakai sepatu dalam keadaan suci. Sedangkan Al Muzanni mengisyaratkan dengan perkataannya terhadap perselisihan yang terjadi sehubungan dengan masalah ini. Secara ringkas, Imam Syafi'i dan mayoritas ulama lainnya memahami bahwa suci di sini adalah dalam pengertian syariat, yakni dalam keadaan berwudhu. Di sisi lain, Dawud mengatakan, "Apabila tidak terdapat najis pada kaki saat memakai sepatu, maka boleh mengusap sepatu tersebut saat berwudhu." Sedangkan apabila melakukan tayammum dan memakai kedua sepatu, maka tidak boleh mengusap bagian atasnya, karena tayammum menurut mereka hanya dapat membolehkan perbuatan-perbuatan yang mesti dilakukan dalam keadaan suci tapi tidak mengangkat hadats (kotoran maknawi). Hanya saja, dalam hal ini Al Asbagh menyelisihi pendapat mereka. Apabila seseorang membasuh kedua kakinya dengan niat wudhu kemudian memakai kedua sepatu lalu orang itu menyempurnakan membasuh anggota wudhu yang lain, maka ia tidak boleh mengusap sepatu menurut Imam Syafi'i dan orang-orang yang sependapat dengannya dalam hal mewajibkan pelaksanaan wudhu secara tertib (berurutan sebagaimana yang tersebut dalam ayat -Penerj). Demikian pula menurut mereka yang tidak mewajibkan tertib karena berpandangan bahwa thaharah (bersuci) tidak dapat dipisah-pisahkan.

FATHUL BAARI —

241

Penulis kitab Al Hidayah (salah seorang ulama Hanafi) berkata, "Syarat dibolehkannya bagi seseorang untuk menyapu kedua sepatu adalah hendaknya keduanya dipakai dalam keadaan suci secara sempurna." Kemudian beliau menjelaskan, "Adapun yang dimaksud dengan keadaan suci secara sempurna adalah pada waktu hadats dan bukan saat memakai. Artinya, apabila seseorang telah selesai berwudhu secara sempurna lalu ia berhadats, maka boleh menyapu bagian atas sepatu. Karena pada saat terjadinya hadats, ia berada dalam keadaan suci secara sempurna." Namun hadits di atas merupakan bantahan bagi pendapat beliau, sebab dalam hadits itu beliau SAW menjadikan kesucian sebelum memakai sepatu sebagai syarat bolehnya mengusap sepatu. Sesuatu yang dikaitkan dengan syarat tertentu tidak sah kecuali bila syarat yang dimaksud terpenuhi. Padahal beliau telah mengakui, bahwa yang dimaksud hadits adalah kesucian secara sempurna. Apabila seseorang berwudhu secara tertib dan tinggal membasuh satu kaki lagi, saat itu ia memakai sepatu lalu meneruskan membasuh kaki yang satunya lagi, dan setelah itu ia memakai sepatu yang satunya, maka dalam kondisi demikian tidak diperkenankan mengusap atas sepatu (jika berwudhu di kesempatan lain -Penerj) menurut mayoritas ulama. Akan tetapi menurut Ats-Tsauri, para ulama kufah, Al Muzanni (ulama madzhab Syafi'i), Al Mutharrif (ulama madzhab Maliki), Ibnu Mundzir dan selainnya boleh menyapu bagian atas sepatu, karena pada kondisi demikian boleh dikatakan ia telah memasukkan kedua kakinya ke dalam sepatu dalam keadaan suci. Kemudian pendapat mereka ini dibantah dengan mengatakan, sesungguhnya hukum yang menjadi konsekuensi membasuh dua kaki tidaklah sama dengan hanya membasuh satu kaki. Demikian pula Ibnu Daqiq Al Id melemahkan pendapat tersebut karena masih mengandung kemungkinan. Dia berkomentar, "Akan tetapi bila pendapat tersebut didukung oleh dalil yang menunjukkan bahwa thaharah (bersuci) tidak dapat dipisah-pisahkan, maka pendapat itu setidaknya memiliki landasan." Adapun faidah hadits ini adalah, menyapu sepatu khusus pada saat wudhu dan tidak boleh pada saat mandi junub menurut kesepakatan ulama. Faidah lain; apabila seseorang melepaskan kedua sepatunya sebelum habis waktu diperbolehkan mengusap sepatu (yakni tiga hari

2 4 2 — FATHUL BAARI

bagi musafir dan satu hari bagi yang mukim), maka mereka yang menetapkan batasan waktu mengatakan bahwa orang itu harus mengulangi wudhunya. Demikian pandangan Imam Ahmad, Ishaq dan selain keduanya. Namun ulama Kufah, Al Muzanni dan Abu Tsaur berpendapat bahwa orang itu hanya diharuskan membasuh kembali kedua kakinya. Demikian pula yang dikatakan oleh Imam Malik, kecuali jika dipisahkan dengan selang waktu yang cukup lama. Al Hasan, Ibnu Abu Laila dan sejumlah ulama lain berkata, "Orang tadi tidak perlu membasuh kedua kakinya." Kelompok ini mendasari pendapat mereka dengan menganalogikan kejadian ini dengan orang yang menyapu kepala lalu ia mencukur rambut, dimana ia tidak wajib mengulang menyapu kepalanya. Hanya saja analogi yang mereka kemukakan perlu dianalisa lebih lanjut. Faidah lainnya, Imam Bukhari tidak meriwayatkan hadits yang menunjukkan batasan waktu diperbolehkannya seseorang menyapu sepatunya. Sementara mayoritas ulama menyatakan adanya batasan waktu. Adapun Imam Malik dalam riwayat yang masyhur dari beliau menyelisihi pendapat mayoritas, beliau berkata, "Seseorang boleh tetap menyapu kedua sepatunya selama belum melepaskannya." Pendapat seperti ini diriwayatkan pula dari Ibnu Umar. Hadits yang memberi keterangan batasan waktu diperbolehkan menyapu sepatu telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Shafwan bin Asal sebagaimana telah disebutkan. Mengenai hal ini telah diriwayatkan pula dari Abu Bakrah yang dishahihkan oleh Imam Syafi'i dan lainnya.

50. Tidak Berwudhu karena Makan Daging Kambing dan Sawiq
11}

ijjisj*

'p£z

«UJI

JUiP j's**) j*i y)

jTfj

Abu Bakar, Umar dan Utsman RA memakannya lalu mereka tidak (mengulangi) wudhu.

Makna sawiq akan dijelaskan pada bab "Berkumur-kumur karena makan sawiq",penerj.

FATHUL BAARI —

243

207. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW makan paha kambing kemudian shalat tanpa (mengulang) wudhu."

Keterangan Hadits: (Tidak berwudhu karena makan daging kambing). Maksud disebutkannya daging kambing secara tekstual agar masuk di dalamnya semua yang sepertinya, terutama yang di bawah derajatnya. Barangkali di sini Imam Bukhari sengaja mengisyaratkan adanya pengecualian hukum daging unta, sebab mereka yang mengkhususkan daging unta dan membolehkan memakan daging secara umum tanpa mengulangi wudhu beralasan dengan banyaknya lemak yang dikandung oleh daging unta tersebut sehingga Imam Bukhari tidak membatasi apakah daging tersebut telah dimasak atau belum. Dalam masalah ini terdapat dua hadits riwayat Imam Muslim yang merupakan pendapat Imam Ahmad serta dipilih oleh Ibnu Khuzaimah dan selainnya di antara para ahli hadits madzhab Syafi'i. Ibnu At-Tin berkata, "Tidak ada dalam hadits-hadits mengenai hal ini disebutkan lafazh As-Sawiq." Untuk itu aku jawab, "Sesungguhnya perkara As-Sawiq dimasukkan dengan pertimbangan 'lebihpantas lagi'. Sebab jika tidak berwudhu karena makan daging kambing padahal ia mengandung lemak tinggi, tentu lebih dibolehkan lagi tidak berwudhu karena makan Sawiq. Barangkali beliau mengisyaratkan dengan hal itu kepada hadits yang ada pada bab selanjutnya. j $ J ^ ' j (Abu Bakar makan). Lafazh, liJJ (daging) tidak

disebutkan dalam riwayat Abu Dzar kecuali dari Al Kasymihani. Riwayat itu sendiri telah disebutkan oleh Thabrani lengkap dengan silsilah periwayatannya dalam kitab Musnad Asy-Syamiyyin dengan jalur periwayatan yang shahih melalui Sulaim bin Amir. Ia berkata, "Aku melihat Abu Bakar, Umar dan Utsman makan (daging) yang telah disentuh oleh api (dibakar), kemudian mereka tidak (mengulangi) wudhu." Riwayat ini

2 4 4 — FATHUL BAARI

telah kami nukil melalui jalur periwayatan yang sangat banyak dari Jabir hingga nabi SAW. Sebagian jalurnya hanya sampai pada tiga orang, baik sendiri-sendiri maupun secara keseluruhan. SL_i 'J.—\€ J kambing. 1"\ (Makan paha kambing) maksudnya daging paha (makanan), Imam yakni makan daging

Dalam pembahasan tentang Al Ath'imah

Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan lafazh, yang menempel pada tulang.

Al Qadhi Isma'il memberi keterangan bahwa peristiwa itu terjadi di rumah Dhiba'ah binti Az-Zubair bin Abdul Muthalib, yakni putri paman Nabi SAW. Namun ada juga kemungkinan peristiwa ini terjadi di rumah Maimunah sebagaimana yang akan dijelaskan. Maimunah yang dimaksud adalah bibi Ibnu Abbas, dan Dhiba'ah adalah anak perempuan pamannya. Kemudian An-Nasa'i menjelaskan melalui hadits U m m u Salamah, bahwa yang menyeru beliau SAW shalat adalah Bilal.
/f
' "
0

J'

f

\ 'f

y-

Z> s / , % • f f

0

0

"

0

«

s
0

'

' '°

f

s

\ \ -

s

s
I

o j»—>-\ obi j l \j>\ jj

JJAS-

JJ JWST J

jj>-\

Jli

i-yt^i (jji

'

O

s

J&

o> a S ^ *C i

S i

JJ «Li ^jcf J» y>J ^
ii y yy o "

4J J ^ j J1
*y ' y

AJI
y°yy

208. Dari Ibnu Syihab, ia berkata "Ja'far bin Amru bin Umayah telah mengabarkan kepadaku, sesungguhnya bapaknya mengabarkan kepadanya, bahwa ia melihat Rasulullah SA W memotong bahu atau paha kambing. Lalu seorang muadzin menyerunya shalat, maka beliau meletakkan pisau dan shalat tanpa (mengulangi) wudhu."

Keterangan Hadits: js « J (Memotong). Dalam pembahasan tentang "Makanan"

' * ly
diriwayatkan dari jalur Ma'mar dari Zuhri dengan tambahan lafazh, J - ' I J l$—U (makan darinya), sedangkan dalam kitab Shalat dari jalur Shalih dari

FATHUL BAARI —

245

Zuhri disebutkan, memotongnya). ^ diriwayatkan tambahan ~Ji dari

l{—i* jssv

£ 1 j i JiTU (Beliau makan paha kambing

dan

9 (Meletakkan Abu Al Yaman

pisau).

Dalam bab "Makanan"

dari Syu'aib dari Zuhri dengan melepaskan paha kambing

lafazh,

\—aliJls (Beliau

tersebut bersama pisau). Kemudian ditambahkan oleh Baihaqi dari jalur Abdul Karim bin Al Haitsam dari Abu Al Yaman di akhir hadits, "Zuhri berkata, 'Akupun menyebarkan kisah tersebut diantara manusia.' Kemudian sejumlah laki-laki di antara sahabat Nabi SAW serta beberapa istri beliau SAW mengabarkan bahwa beliau bersabda,' Wudhulah kalian (karena makan) dari apa-apa (maksudnya daging) yang disentuh oleh api."'' Adapun pendapat Imam Zuhri dalam masalah ini adalah, bahwa perintah untuk berwudhu karena makan daging yang disentuh oleh api telah menghapus hukum yang dikandung oleh riwayat-riwayat yang membolehkan hal itu, sebab riwayat-riwayat yang membolehkannya lebih dahulu." Pendapat Imam Zuhri dibantah dengan hadits Jabir, dimana pada bagian akhir disebutkan, jUii cJ*w» \X* typ^ *>>i Sjr'j 'o* J O ^
1

'ff~

s

(Persoalan paling akhir dari Rasulullah SA W mengenai kedua hal itu adalah tidak berwudhu karena makan sesuatu yang disentuh oleh api). Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i serta selain keduanya, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan lainnya. Hanya saja Abu Dawud dan lainnya berkata, "Yang dimaksud dengan Al Amr (perintah) dalam ayat ini adalah dalam konteks berita, dan bukan Al Amr yang menjadi lawan dari kata An-Nahyu (larangan)." Lafazh yang dinukil di sini merupakan penggalan dari hadits Jabir yang masyhur mengenai kisah seorang wanita yang menyajikan hidangan daging kambing kepada Rasulullah SAW, lalu beliau SAW makan hidangan tersebut kemudian berwudhu dan shalat zhuhur. Setelah itu makan lagi, kemudian melaksanakan shalat ashar tanpa (mengulangi) wudhu. Dengan demikian, ada kemungkinan kisah ini terjadi sebelum ada perintah untuk benvudhu karena makan daging yang disentuh oleh api. Tujuan beliau berwudhu ketika shalat zhuhur disebabkan oleh hadats, bukan sebab makan daging kambing.

2 4 6 — FATHUL BAARI

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Utsman Ad-Darimi bahwa ia berkata, "Oleh karena hadits-hadits mengenai hal ini saling bertentangan, dan tidak dapat dipastikan mana yang lebih kuat, maka kami melihat dengan apa yang dipraktekkan oleh khulafaurrasyidin sepeninggal Nabi SAW. Dengan dasar inilah kami menguatkan salah satu dari dua versi yang saling bertentangan tersebut." hal ini disetujui oleh An-Nawawi dalam kitabnya Al Muhadzdzab. Untuk itu jelaslah hikmah mengapa Imam Bukhari memulai bab ini dengan nukilan dari tiga orang khalifah tersebut. Imam An-Nawawi berkata, "Perbedaan mengenai hal ini sangat terkenal di kalangan sahabat maupun tabi'in, kemudian terjadi kesepakatan bahwa tidak perlu berwudhu karena makan daging yang disentuh oleh api (dibakar) kecuali daging unta. Sementara Imam Al Khaththabi menempuh cara lain dalam memadukannya, yaitu bahwa hadits-hadits dalam konteks perintah berindikasi istihbab (disukai) bukan kewajiban." Dalam bab "Shalat", Imam Bukhari menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa perintah mendahulukan makan malam daripada shalat isya hanya berlaku bagi selain imam tetap. Hadits itu juga menjelaskan bolehnya memotong daging dengan pisau. Sehubungan dengan larangan mengenai hal ini telah diriwayatkan satu hadits lemah dalam kitab Sunan Abu Dawud. Apabila hadits itu terbukti keakuratannya, maka indikasinya dikhususkan bagi mereka yang memakainya tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Hal itu karena perbuatan tersebut merupakan praktek meniru-niru orang ajam (non Arab) serta mereka yang hidup dalam kemegahan.

Catatan: Imam Bukhari tidak meriwayatkan hadits dari Amru bin Umayyah dalam kitabnya selain riwayat ini dan hadits yang lalu dalam masalah mengusap sepatu.

FATHUL BAARI —

247

51. Berkumur-Kumur karena Makan Sawiq dan Tidak Berwudhu

209. Diriwayatkan dari Busyair bin Yasar -budak bani Haritsah yang telah dimerdekakanbahwasanya Suwaid bin An-Nu'man mengabarkan kepadanya. Sesungguhnya ia pernah keluar bersama Rasulullah SAW pada tahun perang Khaibar, hingga setelah mereka berada di suatu tempat yang bernama Shahba" -sebelum Khaibarbeliau SAW shalat ashar. Kemudian Nabi menyuruh untuk diambilkan bekal (makanan). Saat itu tidak ada yang dihadirkan ke hadapan beliau SAW selain sawiq, maka beliaupun memerintahkan agar sawiq tersebut dibasahi. Lalu Nabi SAW makan dan kami pun makan. Kemudian beliau SAW berdiri untuk shalat maghrib seraya berkumur-kumur dan kamipun turut berkumur-kumur. Setelah itu beliau shalat tanpa (mengulangi) wudhu."

210. Diriwayatkan dari Maimunah, bahwasanya Nabi SA W makan paha kambing di rumahnya, kemudian beliau SAW shalat tanpa (mengulangi) wudhu."

2 4 8 — FATHUL BAARI

Keterangan Hadits: (Berkumur-kumur karena sawiq) Ad-Dawudi berkata, "Sawiq adalah tepung sya'ir (salah satu jenis gandum) atau sejenis makanan yang digoreng." Selain beliau berkata, "Sawiq terbuat dari qamh (jenis gandum yang lain)." Seorang Arab badui menerangkan sifat sawiq ini dengan perkataannya, "Sawiq adalah bekal bagi musafir, makanan instan dan bubur bagi orang sakit." (Terletak sebelum Khaibar) yakni ujung arah

Madinah. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab "Makanan", bahwa jarak tempat tersebut adalah satu kali peristirahatan dari Khaibar. Abu Ubaid Al Bakri dalam kitab Mu jam Al Buldan berkata, "Jarak Shahba' dengan Khaibar sekitar tiga mil." Kemudian Imam Bukhari di tempat lain dalam bab "Makanan" dari hadits Ibnu Uyainah menyebutkan, bahwa lafazh ini adalah perkataan Yahya bin Sa'id yang disisipkan ke dalam hadits. Berikut akan disebutkan hadits yang dimaksud tanpa tambahan lafazh yang disisipkan, dari jalur Sulaiman bin Bilal dari Yahya. -IjjSl—i \ — | « — J (Kemudian beliau minta dibawakan bekal). Ini

merupakan keterangan bahwa bekal mereka dalam perjalanan dikumpulkan menjadi satu, meskipun sebagian mereka lebih banyak jatah makannya. Di samping itu, hadits ini memberi penjelasan untuk membawa bekal saat melakukan safar (perjalanan jauh) dan yang demikian itu tidak bertentangan dengan prinsip tawakkal. Lalu dari hadits ini sebagian ulama menetapkan kesimpulan hukum, bahwa pemimpin (imam) boleh menghukum orang-orang yang menimbun barang, agar mengeluarkan makanan yang mereka timbun dan menjualnya kepada orang-orang yang membutuhkannya. Hadits ini juga menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus memperhatikan kondisi prajurit atau rakyatnya, untuk itu ia mengumpulkan makanan agar orangorang yang tidak membawa bekal turut makan bersama. uirfj (Dan kami pun makan) dalam riwayat Sulaiman disebutkan,

C j — i j (dan kami minum). Sementara dalam bab "Jihad" melalui riwayat Abdul Wahhab disebutkan, £J2>J Uflj makan dan minum). -^Ji (Kami pun mengaduknya lalu

FATHUL BAARI —

249

'JOXAJI

_jj*Jl

>>\i 'pi (Kemudian beliau SAW berdiri untuk

shalat

maghrib seraya berkumur-kumur), maksudnya berkumur-kumur sebelum melaksanakan shalat. Adapun faidah berkumur-kumur karena makan Sawiq padahal tidak mengandung lemak, adalah karena sisanya bisa menyelip di celah-celah gigi dan mulut, dan hal ini bisa mengganggu konsentrasi seseorang saat melakukan shalat. LZeji JUj (Tanpa wudhu), yakni tidak mengulangi wudhunya hanya karena makan sawiq. Al Khaththabi berkata, "Di sini terdapat dalil bahwa perintah berwudhu karena makan sesuatu yang disentuh api (dibakar) telah dihapus hukumnya, sebab perintah itu ada terlebih dahulu, sementara peristiwa Khaibar terjadi pada tahun ketujuh setelah hijrah." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Tidak ada indikasi seperti itu dalam hadits ini, sebab Abu Hurairah RA hadir bersama Rasulullah SAW setelah penaklukan Khaibar. Sementara Abu Hurairah turut meriwayatkan hadits perintah berwudhu karena makan sesuatu yang disentuh oleh api (dibakar), seperti dalam riwayat Imam Muslim. Di samping itu, beliau berfatwa seperti itu setelah Nabi SAW wafat." Hadits ini dijadikan dalil oleh Imam Bukhari untuk membolehkan shalat dua kali atau lebih dengan satu kali wudhu, dan dalil disukainya berkumur-kumur setelah makan. Sementara itu, dalam hadits Maimunah tidak ditemukan keterangan berkumur-kumur sebagaimana judul bab. Untuk itu sebagian ulama berkata, "Di sini Imam Bukhari ingin memberi isyarat bahwa berkumurkumur tidak wajib hukumnya. Dalilnya adalah perbuatan Nabi SAW yang tidak berkumur-kumur dalam hadits Maimunah ini, padahal makanan yang beliau makan saat itu mengandung lemak dan perlu bagi orang yang memakannya untuk berkumur-kumur. Sikap beliau SAW yang meninggalkan perbuatan tersebut merupakan isyarat akan kebolehannya." Al Karmani mengatakan, bahwa dalam naskah Al Firabri yang ditulis tangan, hadits maimunah lebih dahulu disebutkan daripada bab sebelumnya. Hal itu merupakan perbuatan penyalin naskah.

2 5 0 — FATHUL BAARI

52. Haruskah Berkumur-Kumur karena Minum Susu?
S
^ 0

'

? '

'

l'

"*

'

}

'

^ (.

"

'
*

' •

^
D'

*

*

L$JL"*-*^*

A I

"

t

O

^JLs^J (_^Jji

f

' t

A

f f

' ' Ajui! L t _ w O

211. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SA W minum susu kemudian berkumur-kumur seraya bersabda, "Sesungguhnya ia berlemak. " Hadits ini diriwayatkan pula oleh Yunus dan Shalih bin Kaisan dari Az-Zuhri.

Keterangan Hadits: (Haruskah berkumur-kumur karena minum susu) Hadits yang disebutkan dalam bab ini adalah salah satu hadits yang diriwayatkan oleh imam yang lima; yaitu Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa i dan Tirmidzi. Semuanya dari satu syaikh, yakni Qutaibah.
x

L_13 <-»Jii (Minum susu). Dalam riwayat muslim ditambahkan, £ a j»i tUj (Kemudian minta dibawakan air). C — l o AJ 0J (Sesungguhnya ia berlemak). Ibnu Baththal berkata dari

Muhallab, "Ini merupakan penjelasan sebab (illat) diperintahkannya seseorang untuk berwudhu karena memakan sesuatu yang disentuh api (dibakar). Hal itu karena mereka pada masa jahiliyah telah terbiasa tidak memperhatikan kebersihan, maka diperintahkan untuk berwudhu. Ketika masalah kebersihan telah menjadi kebiasaan masyarakat Islam, perintah tersebut dihapus." Demikian perkataan beliau. Akan tetapi hadits yang disebutkan dalam bab ini tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang beliau sebutkan. Sesungguhnya hadits ini hanya menjelaskan sebab berkumur-kumur setelah minum susu, dan hal ini merupakan keterangan disukainya berkumur-kumur setelah memakan makanan yang berlemak. Dari sini juga dapat diambil ketetapan hukum akan disukainya mencuci tangan demi kebersihan.

FATHUL BAARI —

251

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Yunus, yakni Yunus bin Yazid. Hadits beliau telah disebutkan oleh Muslim beserta silsilah periwayatannya. Sedangkan hadits Shalih disebutkan silsilah periwayatannya secara bersambung oleh Abu Abbas As-Siraj dalam Musnad-nya. Demikian pula hadits ini telah diriwayatkan melalui jalur Al Auza'i seperti dikutip oleh Imam Bukhari dalam bab "Makanan" dari Abu Ashim dengan lafazh yang sama seperti hadits pada bab ini. Akan tetapi diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui jalur Al Walid bin Muslim, ia berkata, "Telah menceritakan kepada kami Al Auza'i, dimana disebutkan di sini dalam bentuk perintah, 'Berkumur-kumurlah kalian karena minum susu.'" Demikian pula yang diriwayatkan oleh AthThabari melalui jalur lain dari Laits, sama seperti jalur periwayatan di atas. Kemudian diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Ummu Salamah dan Sahal bin Sa'ad sama seperti itu, adapun silsilah periwayatan kedua riwayat ini derajatnya hasan. Dalil yang menunjukkan bahwa perintah dalam hadits ini istihbab (disukai), adalah riwayat yang dinukil oleh Imam Syafi'i dari Ibnu Abbas (perawi hadits yang dimaksud) bahwa beliau minum susu lalu berkumurkumur kemudian berkata, "Seandainya aku tidak berkumur-kumur, hal itu tidak berbahaya bagiku." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan silsilah periwayatan yang hasan (baik) dari Anas, "Bahwasanya Nabi S A W minum susu, kemudian beliau tidak berkumur-kumur dan tidak pula (mengulang) wudhu." Di sini kita melihat suatu keganjilan sikap Ibnu Syahin, dimana beliau memahami hadits Anas sebagai nasikh (penghapus) hukum yang ada dalam hadits Ibnu Abbas. Padahal tidak disebutkan adanya seseorang yang mewajibkan hal ini, sehingga harus menempuh metode nasakh (penghapusan hukum).

2 5 2 — FATHUL BAARI

53. Berwudhu karena Bangun Tidur, dan Pendapat Tidak Ada Wudhu karena Rasa Kantuk Ringan

l 5

C_J
' ,

y>j j U ' ^ - t
r-'-' i'

^ J J
i • i
0

b! : Jli
y ' f • i •

^

AJJI

Jjl-j jl
' . '

s j u 5 l p [^p
>' o _ » ' | .

\ ^ 1

i y & j ^^L^ b ] ^.5 JLs-i J l i »^Jl <up ^__j!>Jj
t
y

o ^ i ^ o ' '

SijJi
O '

°

t

'

i J
i,

s'

t

O 'O

s

,

. <U-_flj

.-j') jAJCS,-j

<U*J <_£J-*J

212. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Apabila salah seorang di antara kamu ngantukpada saat shalat, maka hendaklah ia tidur hingga rasa kantuknya hilang. Karena sesungguhnya jika salah seorang di antara kamu shalat dalam keadaan ngantuk, ia tidak tahu mungkin memohon ampunan tapi ternyata mencaci dirinya sendiri."

Keterangan Hadits: (Berwudhu karena bangun tidur), maksudnya apakah hal itu wajib atau mustahab (disukai). Secara lahiriah perkataan beliau, yakni ngantuk (nu'as) dapat juga dinamakan tidur (naum). Sementara pendapat yang masyhur adalah, bahwa keduanya itu berbeda; yakni barangsiapa yang fungsi inderanya berkurang, dimana ia mendengar perkataan teman duduknya namun tidak mengerti maknanya maka orang seperti ini dinamakan ngantuk. Apabila lebih dari kondisi tersebut, maka dinamakan tidur. Di antara tanda-tanda tidur adalah mimpi baik yang singkat ataupun yang berlangsung lama. Sementara dalam kitab Al Ain wal Muhkam disebutkan, nu 'as (ngantuk) sama dengan naum (tidur), atau kondisi yang mendekati tidur. (Pendapat tidak ada wudhu karena rasa kantuk ringan) ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Dari pendapat yang mengatakan lafazh nu 'as (ngantuk) semakna dengan naum (tidur) akan lahir konsekuensi bagi mereka yang mengatakan bahwa tidur merupakan sebab yang

FATHUL BAARI —

253

membatalkan wudhu, maka juga menjadi konsekuensi mereka untuk mewajibkan wudhu karena ngantuk. Telah riwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya sehubungan dengan kisah Ibnu Abbas yang shalat bersama Nabi SAW di suatu malam, dimana ia berkata, "Maka jika aku lalai, beliau menarik kupingku." Hal ini menunjukkan bahwa wudhu tidak wajib bagi orang yang tidak nyenyak. Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Wajib wudhu bagi setiap orang yang tidur, kecuali jika sekedar anggukan kepala." Ibnu At-Tin berkata, "Khafaqah (anggukan kepala) adalah nu 'as (ngantuk). Imam Bukhari dalam judul bab ini kembali menyebut lafazh khafaqah setelah lafazh nu 'as, karena kedua lafadz tersebut berbeda." Akan tetapi secara lahiriah hal tersebut merupakan penyebutan lafazh khusus setelah menyebutkan lafazh umum. Para ahli bahasa berkata, j i ^

*—'^j apabila seseorang menganggukkan kepalanya saat ngantuk. Abu
Zaid berkata, y\—*3i
'j* *-?\'j> j&

(Ia menganggukkan kepalanya karena Sedangkan Al

ngantuk) apabila orang itu mencondongkan kepalanya. Harawi berkata, "Apabila dikatakan
' '
f

^
' ' ' y

-jj_>
"
0

, maksudnya dagu
^
j , ' '

mereka menempel ke dada." Hal ini mengisyaratkan kepada hadits Anas,
* * t J * ' * *

'

'

t

f

i " '

3"^—^aJi (Biasanya

para

sahabat

Nabi SAW menunggu

shalat

hingga

ngantuk, sampai kepala mereka terangguk-angguk kemudian mereka berdiri melakukan shalat). Hadits ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Nahsr dalam bab "Qiyamul lail" dengan silsilah periwayatan yang shahih, dan sumbernya ada pada riwayat Imam Muslim.
t a *

'ji'J.

li (Hendaklah

ia tidur). Dalam riwayat Imam An-Nasa'i
J>J-ALIlJ

melalui jalur Ayyub dari Hisyam disebutkan,

(Hendaklah ia

berbalik), maksudnya salam untuk mengakhiri shalat. Kemudian Al Muhallab memahami hadits ini sebagaimana lahirnya, dia berkata, "Sesungguhnya yang diperintahkan beliau SAW untuk memutuskan shalat adalah karena rasa kantuk yang sangat, maka apabila kantuk ringan masih dapat ditolerir (dimaafkan)." Dia menambahkan, "Para ulama telah sepakat bahwa tidur sedikit tidak membatalkan

2 5 4 — FATHUL BAARI

wudhu." Namun Al Muzanni menyelisihi dengan perkataannya, "Tidur dapat membatalkan wudhu baik sebentar maupun banyak." Beliau dalam hal ini telah menyalahi ijma' (kesepakatan ulama). Demikian yang dikatakan Al Muhallab. Begitu pula yang dinukil dari Ibnu Baththal, Ibnu At-Tin dan lainnya. Namun tanggapan mereka terhadap Al Muzanni dalam hal ini kurang obyektif, sebab Ibnu Mundzir dan selainnya telah menukil dari sebagian sahabat dan tabi'in suatu pandangan yang menyatakan bahwa tidur dapat membatalkan wudhu, baik lama maupun sebentar. Pandangan ini juga merupakan pendapat Abu Ubaid dan Ishaq bin Rahawaih. Selanjutnya Ibnu Mundzir menegaskan, "Ini pula yang menjadi pendapatku berdasarkan keumuman hadits Shafwan bin Asal yang dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan lainnya yang disebutkan di dalamnya, 'Kecuali karena buang air besar atau kencing atau tidur.' Di sini hukum tidur disamakan dengan kencing serta buang air besar. Maksud tidur yang sedikit atau banyak adalah panjang pendeknya waktu tidur tersebut, bukan kualitasnya." Adapun orang-orang yang berpendapat tidur merupakan waktu yang banyak mengakibatkan terjadinya hadats (hal-hal yang membatalkan wudhu) maka dalam menentukan tidur yang membatalkan wudhu, mereka berselisih pendapat; Pertama, membedakan antara tidur yang sedikit dan banyak, ini adalah pendapat Az-Zuhri dan Malik. Kedua, membedakan antara posisi berbaring dan posisi lainnya, ini pendapat AtsTsauri. Ketiga, membedakan antara posisi berbaring dan bersandar serta selain keduanya, ini pendapat ulama ahli ra'yu. Keempat, membedakan antara posisi berbaring, bersandar dan sujud yang dimaksudkan untuk tidur serta posisi selain itu, ini adalah pendapat Abu Yusuf. Kelima, tidur pada posisi selain duduk tidak membatalkan wudhu, ini pendapat Imam Syafi'i dalam fatwa lamanya. Lalu diriwayatkan pula dari beliau suatu perincian bahwa apabila posisi tersebut dalam shalat maka tidak membatalkan wudhu, sedangkan jika berada di luar shalat dapat membatalkan wudhu. Dalam fatwa beliau yang baru, Imam Syafi'i memberi perincian tersendiri; apabila seseorang duduk dalam posisi yang stabil maka wudhunya tidak batal, namun apabila posisinya tidak demikian maka wudhunya menjadi batal. Kemudian dalam kitab Al Muhadzdzab dikatakan, "Apabila seseorang mendapati dirinya tertidur sementara ia dalam posisi duduk,

FATHUL BAARI —

255

dan tempat keluarnya hadats menempel ke tanah (lantai), maka yang tersebut secara tekstual dalam madzhab kami bahwa wudhunya tidak batal. Namun dikatakan dalam kitab Al Buwaithi, "Wudhunya menjadi batal." Pendapat ini yang dipilih oleh Al Muzanni. Demikian nukilan dari Al Muhadzdzab. Lalu perkataan penulis kitab Al Muhadzdzab dibantah dengan mengatakan, sesungguhnya lafazh yang ada pada Al Buwaithi tidaklah tegas memberi keterangan seperti itu, sebab beliau hanya mengatakan, "Barangsiapa yang tidur dengan posisi duduk atau berdiri lalu bermimpi, maka ia wajib wudhu." Imam An-Nawawi berkomentar, "Perkataan ini dapat ditakwilkan (dialihkan maknanya)." '
12

^—S"lb-l 019 (Karena sesungguhnya

salah seorang di antara

kamu).

Di sini terdapat isyarat akan Ulat (sebab) yang mengharuskan seseorang memutuskan shalatnya. Barangsiapa yang berada dalam kondisi demikian, maka wudhunya batal berdasarkan kesepakatan ulama. Demikian perkataannya, namun hal itu masih perlu dianalisa kembali. Sebab, isyarat dalam hadits adalah bolehnya memutuskan shalat atau meninggalkan shalat setelah selesai salam. Adapun persoalan batal tidaknya wudhu tidak dapat dipahami dari penuturan hadits tersebut, sebab memfungsikan lisan untuk menyebutkan apa yang ada dalam ingatan bisa saja dilakukan oleh orang yang dalam keadaan ngantuk. Di sisi lain, Muhallab termasuk salah seorang yang berpandangan bahwa tidur yang ringan tidak membatalkan wudhu, lalu bagaimana dengan sekedar rasa kantuk. Perkataan Muhallab tentang kesepakatan dalam hal itu tidak dapat diterima, karena telah diriwayatkan melalui jalur yang shahih dari Abu Musa Al Asy'ari, Ibnu Umar dan Sa'id bin Musayyab bahwa tidur tidak membatalkan wudhu secara mutlak. Dalam Shahih Muslim dan Shahih Abu Dawud disebutkan, "Biasanya para sahabat Nabi menunggu shalat bersama beliau SAW, lalu mereka tertidur kemudian shalat tanpa (mengulangi) wudhu." Maka hadits ini dipahami bahwa mereka melakukan hal itu dalam posisi duduk. Akan tetapi dalam Musnad Al Bazzar diriwayatkan melalui silsilah yang shahih sehubungan dengan hadits ini, —-a)' ^g—i\ d j — « j * j»i f & 'J p&S*r ^ (Mereka pun
Pendapat yang benar dalam masalah ini bahwa tidur merupakan saat yang umum mengakibatkan hadats, maka rasa kantuk dan tidur ringan tidaklah membatalkan wudhu. Akan tetapi tidur yang membatalkan wudhu adalah yang dapat menghilangkan rasa (indera) secara sempurna. Dengan demikian, hadits-hadits yang disebutkan mengenai hal ini dapat dipadukan. Wallahu A'Iam.

2 5 6 — FATHUL BAARI

membaringkan badan, diantara mereka ada yang tidur kemudian berdiri melakukan shalat). i * /. t~ J (Mencaci), maksudnya memohon celaka atas dirinya. Keterangan ini dipertegas oleh An-Nasa'i dalam riwayatnya melalui jalur Ayyub dari Hisyam. Ada kemungkinan sebab larangan ini adalah dikhawatirkan akan bertepatan dengan saat-saat dikabulkannya doa, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Abu Jamrah. Di sini terdapat anjuran untuk mengambil pilihan yang mengedepankan sikap hati-hati, sebab Nabi SAW mengaitkan anjurannya dengan sebab dalam bentuk kemungkinan. Sebagaimana hadits ini juga merupakan dorongan untuk berlaku khusyu' serta menghadirkan hati dalam beribadah, menjauhi hal-hal makruh dalam ketaatan serta bolehnya berdoa dalam shalat tanpa ada batasan tertentu.

Catatan: Hadits ini dikeluarkan berdasarkan suatu sebab, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr melalui jalur Ibnu Ishaq dari Hisyam sehubungan dengan kisah Al Haula binti Tuwait seperti diterangkan terdahulu dalam bab "Agama (amalan) yang paling disukai oleh Allah adalah yang berkesinambungan".

S

0

'

'

S

*

J

£

'

'

'

..

ji

S

£

JUIU ~*%^\ J> ^i"-b-f [jSS ISI : J l i 0

^j3l

j* . 1 yij L* - J J « »Lp j

213. Diriwayatkan dari Anas dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Apabila salah seorang di antara kamu mengantuk ketika shalat, maka hendaklah ia tidur hingga mengetahui apa yang ia baca."

FATHUL BAARI —

257

Keterangan Hadits: ^—'QA (Hendaklah ia tidur). Al Muhallab berkata, "Hal ini khusus

berlaku pada shalat malam, sebab shalat fardhu tidaklah berlangsung pada waktu-waktu tidur. Tidak pula membutuhkan waktu lama sehingga melahirkan kondisi demikian." Telah kami jelaskan bahwa hadits ini dilatarbelakangi oleh kejadian tertentu, akan tetapi yang menjadi pedoman adalah keumuman lafazh dan bukan khususnya sebab. Untuk itu, anjuran dalam hadits ini tetap berlaku pada shalat-shalat fardhu.

Catatan: Al Isma'ili mengisyaratkan bahwa dalam hadits ini terjadi kesimpangsiuran (idhthirab). Dia berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh Hammad bin Zaid dari Ayyub secara mauquf (tidak bersambung kepada Nabi SAW). Dalam riwayat itu disebutkan, 'Dari Ayyub telah dibacakan kepadaku dari Abu Qilabah, maka akupun mengenalnya.' Kemudian hadits ini diriwayatkan pula oleh Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dari Ayyub tanpa mencantumkan Anas di dalam jalur periwayatannya." Demikian perkataan Al Isma'ili. Akan tetapi apa yang beliau sebutkan tidaklah menjadikan hadits ini sebagai riwayat yang simpang siur (mudhtharib), sebab jalur Abdul Warits lebih akurat karena didukung oleh riwayat Wuhaib dan Ath-Thawi dari Ayyub. Adapun perkataan Hammad dari Ayyub, "Telah dibacakan kepadaku..." tidaklah menunjukkan bahwa beliau tidak mendengar langsung dari Abu Qilabah, bahkan mesti dipahami bahwa ia mengenal hadits itu sebagai salah satu riwayat yang didengarnya langsung dari Abu Qilabah, wallahu a 'lam.

2 5 8 — FATHUL BAARI

54. Berwudhu Bukan karena Hadats
i

+

'

"*

*

• \ f**"

11 -

I 11 '

9

'i

9

'

i '

0

'

0

'

\ bjj m ^ JLT : JL* d U > cf.^^^cf.
I iJb-l lSj

s j** c/-

->xi . Jl» 'OjjtuaJ *_u5 <_JL5 C J J a%^> 15 J U P

214. Diriwayatkan dari Amru bin Amir dari Anas, ia berkata, "Biasanya Nabi SAW berwudhu setiap kali akan shalat. " Aku bertanya, "Bagaimanakah yang biasa kalian lakukan? "Dia menjawab, "Cukuplah bagi salah seorang di antara kami satu kali wudhu selama ia belum berhadats."

Keterangan Hadits: (Berwudhu bukan karena hadats) yakni tentang bagaimana hukumnya, dan yang dimaksud adalah memperbaharui wudhu. Perselisihan mengenai hal ini telah kami jelaskan pada awal bab "Wudhu" ketika yang beriman, Mayoritas Imam Maa'idah (5): 6> ulama mengatakan bahwa makna ayat itu adalah, "Apabila kamu hendak mengerjakan shalat sementara kamu berhadats." Ad-Darimi dalam kitab Musnad-nya memperkuat pendapat itu y j* % «• H {Tidak ada dengan sebuah hadits yang berbunyi, i » J menyebutkan firman Allah SWT, "Wahai kamu hendak mengerjakan shalat..." orang-orang ^ Q s . Al apabila

wudhu kecuali karena hadats). Kemudian dinukil oleh Imam Syafi'i dari sejumlah ulama bahwa makna ayat di atas adalah, "Apabila kamu bangun dari tidur lalu hendak mengerjakan shalat." Telah dijelaskan pula bahwa sebagian ulama ada yang memahami ayat itu sebagaimana makna tekstualnya. Mereka berkata, "Wudhu diwajibkan bagi orang setiap kali hendak melakukan shalat." Namun mereka berbeda pendapat dalam menentukan apakah kewajiban itu masih terus berlangsung atau telah dihapus (mansukh). Adapun dalil yang

FATHUL BAARI —

259

menunjukkan dihapusnya kewajiban itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya -dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah- dari hadits Abdullah bin Hanzhalah bahwa Nabi SAW diperintahkan untuk berwudhu setiap kali akan shalat. Maka setelah hal itu memberatkannya, beliau diperintahkan untuk bersiwak. Ulama lain berpendapat bahwa kewajiban itu masih berlangsung, pendapat ini diketengahkan oleh Ath-Thahawi serta dinukil oleh Ibnu Abdul Barr dari Ikrimah dan Ibnu Sirin serta lainnya. Namun Imam An-Nawawi meragukan bila pendapat seperti ini benar-benar berasal dari mereka, dan beliau condong untuk menakwilkan maknanya apabila terbukti pendapat itu telah dikatakan oleh para ulama tersebut. Bahkan, dengan yakin beliau menegaskan bahwa telah terjadi kesepakatan mengenai tidak wajibnya berwudhu setiap kali akan shalat." (apabila wudhunya belum batal -penerj). Ayat di atas bisa saja dipahami sebagaimana makna tekstualnya tanpa harus mengatakan hukumnya telah dihapus (mansukh). Akan tetapi bagi orang yang berhadats indikasinya adalah wajib, sedangkan bagi yang tidak berhadats indikasinya hanyalah mustahab (disukai). Penjelasan mengenai hal itu diperoleh melalui Sunnah sebagaimana hadits di bab ini. i^C* JS" j i f (setiap kali shalat), yakni shalat fardhu. Imam Tirmidzi menambahkan dari jalur Humaid dari Anas, y}\—L> 'Js- ji \'yy&> (dalam keadaan suci atau tidak). Secara lahiriah bahwa hal itu merupakan kebiasaan Nabi, namun hadits yang diriwayatkan Suwaid dalam bab ini telah menjelaskan bahwa hal itu merupakan perbuatan yang sering dilakukan Nabi. Imam Thahawi mengatakan, "Kemungkinan hal itu merupakan kewajiban yang khusus bagi Nabi, kemudian dihapus pada hari penaklukan kota Makkah berdasarkan hadits Buraidah yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa Nabi Shallallah alaihi wasallam shalat pada hari penaklukan kota Makkah dengan sekali wudhu." Kemudian umar bertanya kepada beliau, lalu Nabi menjawab, "Hal itu sengaja aku lakukan." Ath-Thahawi mengatakan, "Mungkin hal itu dilakukan Nabi sebagai hal yang disukai (istihbab). Kemudian Nabi khawatir akan dianggap sebagai hal yang wajib, maka beliau meninggalkannya untuk menunjukkan jawaz (kebolehan)." Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Itulah pendapat yang mendekati, dengan mengatakan untuk

2 6 0 — FATHUL BAARI

pendapat pertama bahwa nasakh (penghapusan) itu terjadi sebelum penaklukan kota Makkah berdasarkan hadits Suwaid bin N u ' m a n . Tepatnya pada peristiwa Khaibar, yaitu sebelum penaklukkan kota Makkah." (Bagaimanakah kamu). Yang bertanya di sini adalah

Amru bin Amir, dan yang beliau maksud adalah para sahabat. Dalam riwayat An-Nasa'i dari jalur Syu'bah dari Amru bahwasanya ia bertanya kepada Anas, "Apakah Nabi SAW berwudhu setiap kali akan shalat?" Beliau menjawab, "Ya." Sementara dalam riwayat Ibnu Khuzaimah disebutkan, "Dahulu kami biasa melakukan bebarapa kali shalat hanya dengan satu kali wudhu."

\'}\ JJ>{

^lp is§l AJJI J y* j £A L>- y>- J l i jLaJcJl ^y_ J J yy

215. Diriwayatkan dari Suwaid bin Nu'man, ia berkata, "Kami pernah keluar bersama Rasulullah SAW pada peristiwa Khaibar. Ketika sampai di Shahba' kami shalat ashar bersama Rasul, dan setelah selesai shalat, beliau minta dibawakan bekal. Saat itu tidak ada yang dihadirkan ke hadapan beliau SAW selain sawiq, lalu kami makan dan minum. Kemudian beliau berdiri untuk shalat maghrib tanpa (mengulangi) wudhu, dan kami pun turut shalat."

FATHUL BAARI —

261

55. Termasuk Dosa Besar Tidak Menutup Diri Saat Buang Air Kecil

216. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Nabi SAW melewati suatu kebun di antara kebun-kebun Madinah -atau Makkah- maka beliau mendengar suara dua manusia yang disiksa di alam kubur. Nabi SAW bersabda, 'Keduanya disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa karena dosa besar. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya. 'Salah seorang di antara keduanya disiksa karena tidak menjaga diri saat kencing, sedangkan yang lainnya senantiasa membat fitnah agar orang bermusuh-musuhan (tukang adu domba).' Kemudian beliau minta dibawakan satu pelepah kurma lalu dipatahkan menjadi dua, beliau meletakkan di setiap kuburan satu potong. Seorang bertanya kepadanya, 'Wahai Rasulullah, mengapa anda melakukan hal ini?' Beliau menjawab, 'Mudah-mudahan keduanya mendapat keringanan selama kedua pelepah ini belum kering. Atau hingga kedua pelepah ini kering."

Keterangan Hadits:
Jajl

9%i («J—IJ

^

J**

'j*

(Nabi SAW melewati suatu

kebun)

diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab "Al Adab", "Nabi SAW keluar dari salah satu kebun Madinah." Dari hadits ini dipahami bahwa

262

FATHUL BAARI

kebun tempat beliau SAW keluar bukanlah kebun yang beliau lewati. Sementara dalam kitab Al Afrad oleh Ad-Daruquthni dari hadits Jabir disebutkan, kebun yang dimaksud adalah milik Ummu Mubasysyir Al Anshariyah. Keterangan ini menguatkan riwayat yang ada dalam bab "Al Adab", dimana secara tegas disebutkan bahwa kejadian ini terjadi di Madinah. Adapun lafazh yang menunjukkan keraguan, yaitu perkataannya, "atau di Makkah" bersumber dari Jarir (salah seorang perawi hadits ini).
*

Ol—jjiu (Keduanya disiksa) dalam riwayat Al A'masy disebutkan, 'j» j i j l - i (Beliau SAW melewati dua kuburan). Lalu ditambahkan oleh Ibnu Hibban dengan lafazh, Jt-k-^r (yang baru). u k' jiy j <jkA*i (Keduanya disiksa dan tidaklah karena dosa besar. Kemudian beliau bersabda, "Benar ".). Maksudnya, bahkan itu adalah dosa besar. Keterangan seperti ini dinyatakan dengan tegas dalam riwayat yang beliau (Imam Bukhari) sebutkan pada bab "Al Adab" melalui jalur Abdu bin Humaid dari Manshur, beliau bersabda, oUiij Uj j l — & ijjj JS J) (Tidaklah keduanya disiksa karena dosa besar, bahkan sungguh ia adalah dosa besar). Lafazh ini merupakan tambahan riwayat Manshur terhadap Al A'masy dan tidak diriwayatkan oleh Imam Muslim. Riwayat Al A'masy ini dijadikan dalil oleh Ibnu Baththal untuk menunjukkan bahwa siksaan tidak hanya berlaku pada dosa-dosa besar, akan tetapi juga terhadap dosa-dosa kecil. Dia mengatakan, "Karena tidak ada riwayat yang mengindikasikan ancamam dalam hal berhati-hati saat kencing" yakni sebelum kejadian ini. Namun pandangan ini terbantah oleh tambahan lafazh yang diriwayatkan oleh Manshur. Telah disebutkan pula riwayat seperti itu dari hadits Abu Bakrah dalam riwayat Imam Ahmad dan Thabrani dengan lafazh, ^ k jS J> JUJ* lij (Tidaklah keduanya disiksa karena dosa besar, bahkan...." (yakni itu adalah dosa besar -penerj). Para ulama berbeda pendapat dalam memahami makna sabda beliau SAW, "Sungguh ia adalah dosa besar". Abu Abdul Malik Al Bunni berkata, "Ada kemungkinan Nabi SAW mengira perkara itu bukan dosa besar, lalu diwahyukan kepadanya saat itu juga bahwa perbuatan itu

FATHUL BAARI —

263

termasuk dosa besar, maka beliau pun segera meralat ucapannya." Pendapat ini dibantah, karena konsekuensinya berarti terjadi penghapusan hukum (nasakh), sementara penghapusan hukum (nasakh) tidak masuk dalam lingkup khabar (berita). Tapi bantahan ini dapat pula dijawab bahwa berita yang bermuatan hukum dapat juga dihapus (mansukh). Sabda beliau, "Tidaklah keduanya disiksa karena dosa besar" merupakan berita mengenai hukum. Apabila diwahyukan kepada beliau SAW bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar, maka hal itu merupakan penghapusan hukum sebelumnya. Pendapat lain mengatakan, adanya kemungkinan kata ganti

(dhamir) pada sabda beliau & (sesungguhnya ia) kembali kepada siksaan itu sendiri. Pandangan ini didasarkan pada riwayat yang dinukil dalam kitab Shahih Ibnu Hibban dari hadits Abu Hurairah RA, laju-i (Keduanya
U J I * oUJJu

j—s—'^
yang

J)

disiksa dengan siksaan yang pedih karena dosa

remeh).

Ada pula yang mengatakan, kata ganti tersebut kembali kepada salah satu dari dua dosa yang disebutkan sebelumnya, yaitu dosa mengadu domba. Karena perbuatan ini termasuk dosa besar menurut kesepakatan, berbeda halnya dengan membuka aurat. Pendapat ini di samping sangat lemah juga tidak berbobot, sebab menutup diri saat kencing bukan dimaksudkan hanya membuka aurat saja seperti akan dijelaskan. Ad-Dawudi dan Ibnu Al Arabi berkata, "Dosa besar (J~£) yang dinafikan (ditiadakan) adalah bermakna yang terbesar G-S"'), sedangkan dosa besar yang beliau tetapkan adalah salah satu di antara dosa-dosa besar lainnya. Yakni, perbuatan itu bukanlah dosa terbesar seperti membunuh, meskipun pada dasarnya ia termasuk dosa besar pula." Pendapat lain mengatakan perbuatan itu tidaklah besar ditinjau dari bentuknya, sebab melakukan perbuatan seperti itu dianggap remeh dan rendah, sementara ia merupakan perbuatan dosa besar. Ada pula yang mengatakan bahwa makna sabda beliau SAW adalah kedua perbuatan itu tidak termasuk dosa besar dalam keyakinan keduanya atau dalam keyakinan manusia pada umumnya, sementara ia dalam pandangan Allah SWT keduanya termasuk dosa besar. Hal ini

2 6 4 — FATHUL BAARI

sama dengan firman-Nya, "Kamu mengira hal itu adalah remeh dia di hadapan Allah sangatlah besar." ^ Q s . An-Nuur (24): 15^

padahal

Dikatakan pula kedua perbuatan itu tidaklah besar ditinjau dari segi kesulitan menghindarinya, yakni tidaklah berat untuk menghindari perbuatan tersebut. Pendapat ini didukung dengan tegas oleh Al Baghawi dan selain beliau serta dinyatakan sebagai pendapat terkuat oleh Ibnu Daqiq Al Id bersama sejumlah ulama lainnya. Pendapat lain mengatakan ia tidaklah besar ditinjau dari perbuatan itu sendiri, akan tetapi ia menjadi besar karena dilakukan secara terus menerus. Pandangan ini diindikasikan secara langsung oleh susunan gaya bahasa hadits tersebut, dimana konteks hadits mengindikasikan bahwa kedua orang itu senantiasa melakukan perbuatan yang dimaksud secara terus menerus, karena lafazh hadits disampaikan dalam bentuk kata kerja mudhari (present tense) 'y£~>. setelah lafazh iL>lT. 'yj.—*i (Tidak menutup diri), dalam riwayat Ibnu Asakir disebut-

kan, 1$y—1«J (Tidak menjauhkan diri). Sementara dalam riwayat Muslim dan Abu Dawud dari hadits Al A'masy disebutkan, « j ^ - i ^ (tidak mensucikan diri). Berdasarkan riwayat mayoritas, makna ^=I~J *i (tidak menutup diri) adalah tidak membuat pembatas antara dirinya dengan kencingnya, yakni tidak menjaga percikannya. Dengan demikian, maknanya sesuai dengan lafazh tjj£~i *i (tidak menjauhkan diri). Abu Nu 'aim melalui Waki'

Lalu tersebut dalam kitab Mustakhraj dari Al A'masy dengan lafazh ^— Vyi menafsirkan makna yang dimaksud.

^ (tidak menjaga diri), lafazh ini

Namun sebagian ulama memahami hadits ini sebagaimana makna lahiriahnya. Mereka berkata, "Makna hadits itu, adalah tidak menutup auratnya." Akan tetapi pendapat ini dianggap lemah, sebab bila yang menjadi sebab adalah menyingkap aurat tentu ancaman akan diarahkan kepadanya tanpa mengaitkannya dengan sebab. Artinya, siksaan seperti itu akan menimpa orang yang tidak menutup auratnya baik saat ia kencing ataupun tidak kencing. Kelemahan perkataan ini cukup jelas, dan

FATHUL BAARI —

265

pada pembahasan mendatang akan kami sebutkan perkataan Ibnu Daqiq Al Id. Adapun riwayat dengan lafazh, isJ^-i

t (tidak menjauhkan diri)

lebih tegas dalam menganjurkan seseorang agar menjaga dirinya. Lalu Ibnu Daqiq Al Id memberi tanggapan terhadap riwayat dengan lafazh, V namun jawaban untuk tanggapan beliau ini sama seperti yang telah kami sebutkan. Ibnu Daqiq Al Id berkata, "Apabila lafazh 'JSLJ 'i dipahami secara tekstual, maka timbul konsekuensi bahwa sekedar membuka aurat dapat menyebabkan siksa kubur. Sementara dari susunan gaya penyajian hadits memberi indikasi bahwa kencing memiliki kaitan tersendiri dengan siksa kubur. Hal ini lebih dipertegas oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, Jj-J' J s-jia* (Kebanyakan siksa kubur disebabkan oleh kencing). menghindarkan atau menjaga diri dari kencing." Beliau menambahkan, "Pendapat ini Yakni tidak

semakin

diperkuat

bahwasanya lafazh j — » dalam hadits ini ketika dinisbatkan kepada kata Jj—Jl (kencing) memberi pengertian bahwa tidak menutup diri yang menjadi sebab siksa kubur dilatarbelakangi oleh kencing. Artinya, permulaan penyebab siksa kubur adalah kencing. Apabila dipahami penyebab siksa kubur adalah membuka aurat, niscaya konteks hadits tersebut kehilangan makna. Dengan demikian, menjadi suatu keharusan untuk memahami hadits ini dalam arti majaz (kiasan) disebabkan lafazhlafazh hadits menyatu pada satu makna dan juga sumber semuanya hanyalah satu." Hal ini diperkuat lagi oleh hadits Abu Bakrah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah, J jJi J> U*Ji-i lii (Adapun salah satu dari keduanya di siksa lantaran kencing). Seperti ini juga diriwayatkan pula dari Thabrani dari Anas.
*—yj J—» (Dari

kencingnya),

pembahasan mengenai hal ini akan

dijelaskan pada bab berikutnya. i Ibnu Daqiq ^ Al r-*i (Membuat fitnah agar orang Id berkata, "Maksudnya bermusuh-musuhari).

menyampaikan perkataan

2 6 6 — FATHUL BAARI

manusia yang satu kepada yang lainnya. Perbuatan ini dimaksudkan untuk menimbulkan mudharat. Adapun jika perbuatan itu menimbulkan maslahat (kebaikan) ataupun menghindarkan suatu kerusakan, maka menukil perkataan orang kepada orang lain termasuk sesuatu yang diharuskan." Demikian perkataan Ibnu Daqiq Id. Perkataan Ibnu Daqiq Id di atas merupakan penafsiran makna "namimah" secara umum, sementara perkataan ulama selain beliau berbeda dengan pandangannya sebagaimana akan kami sebutkan secara rinci pada pembahasan tentang Al Adab. Imam An-Nawawi berkata, "Namimah adalah memindahkan perkataan satu orang kepada orang lain dengan maksud membuat kerusakan, dimana hal ini termasuk perbuatan paling buruk." Tapi perkataan Imam An-Nawawi ditanggapi oleh Al Karmani dengan perkataannya, "Pendapat ini tidak dapat dibenarkan ditinjau dari segi kaidah yang berlaku di kalangan fuqaha (ahli fikih). Mereka menetapkan bahwa dosa besar harus mendapat had (hukuman fisik). Sementara namimah tidak mengharuskan pelakunya dijatuhi hukuman fisik. Kecuali jika dikatakan sesungguhnya yang menyebabkan namimah masuk kategori dosa besar apabila dilakukan terus-menerus, sebab dosa-dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi dosa besar. Atau yang dimaksud dengan dosa besar di sini adalah makna lain selain makna yang dikenal dalam istilah syariat." demikian tanggapan Al Karmani. Pendapat ini bukanlah pendapat semua fuqaha. Akan tetapi seakanakan perkataan Ar-Rafi'i lebih mendukung pendapat ini, dimana dia menyebutkan dua definisi dosa besar; salah satunya seperti di atas dan yang satunya lagi adalah perbuatan yang diancam dengan ancaman yang keras. Kemudian dia berkata, "Namun mereka (para ulama) lebih condong kepada pengertian pertama, sementara pengertian kedua lebih sesuai dengan perincian yang mereka sebutkan mengenai dosa besar." Demikian perkataan Ar-Rafi'i. Namun menjadi kemestian untuk memahami pengertian pertama dalam lingkup perbuatan yang tidak disebutkan secara tekstual dalam hadits Nabi SAW, sebab jika tidak demikian maka durhaka kepada kedua orang tua serta sumpah palsu tidak dapat digolongkan sebagai dosa besar, padahal Nabi SAW telah menggolongkannya sebagai dosa yang paling besar.

FATHUL BAARI —

267

Pembahasan selanjutnya mengenai ha) ini akan diterangkan pada bab "Hukuman (Al Hudud)". Maka dari penjelasan ini dapatlah diketahui jawaban bagi tanggapan Al Karmani terhadap Imam An-Nawawi, yaitu namimah telah dinyatakan sebagai dosa besar dalam hadits shahih seperti dijelaskan. •i jiy (Kemudian beliau minta dibawakan satu pelepah).

Dalam riwayat A ' m a s y disebutkan, ^—t»j y-1—~*< ' — ( b e l i a u minta masy disebutkan, dibawakan asih yang masih basah). Yang dimaksud dengan asih adalah pelepah yang belum ditumbuhi dedaunan, sebab jika ditumbuhi dedaunan dinamakan sa 'i/ah. Ada yang mengatakan bahwa Nabi sengaja mengkhususkan pelepah kurma, karena keringnya lama. Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dari hadits Abu Rafi' dengan silsilah periwayatan yang lemah, bahwa orang yang membawa pelepah ke hadapan Nabi saat itu adalah Bilal. Lafazh riwayat ini, J>—as J.—s j> Uli '^L> i) ajU?- j> ^L»^ A!JS- &\ JJ> J]\ LT

fiij—lit^ a J—ly>yj,

:J}U

(Kami pernah bersama Nabi SAW

menghantar Maka masih

jenazah, tiba-tiba beliau SAW mendengar sesuatu di kuburan. beliau bersabda kepada bilal, "Bawalah kepadaku pelapah yang hijau:') (Al Hadits). U»j '.*s3 (Lalu beliau membelahnya),

yakni beliau dibawakan

pelepah kurma dan kemudian membelahnya. Dalam hadits Abu Bakrah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani bahwa Abu Bakrahlah yang membawakan pelepah itu kepada Nabi SAW. Adapun yang, disebutkan oleh Imam Muslim dalam hadits Jabir yang panjang di bagian akhir kitab bahwa Jabirlah yang membelah pelepah, adalah kisah lain bukan dalam konteks kisah yang ada dalam hadits di bab ini. Perbedaan di antara keduanya dapat ditinjau dari berbagai segi, di antaranya kejadian dalam hadits pada bab ini berlangsung di Madinah dan beliau SAW bersama-sama dengan sejumlah sahabatnya, sedangkan kisah Jabir terjadi saat safar dimana Nabi SAW berangkat untuk buang hajat yang lalu diikuti oleh Jabir seorang diri. Perbedaan lain, pada kisah tersebut dinyatakan bahwa Nabi SAW sendirilah yang menancapkan pelepah tersebut setelah dibelah seperti akan diterangkan pada hadits di bab setelah ini dari riwayat Al A'masy. Sedangkan pada hadits Jabir disebutkan bahwa beliau SAW memerintahkan Jabir untuk memotong

2 6 8 — FATHUL BAARI

jalur Abdul Wahid bin Ziyad dari Al A'masy, "Kemudian beliau menancapkan di bagian kepala setiap kuburan satu potong." * " 1 J—^ (Ditanyakan kepadanya) dalam riwayat Al A'masy

disebutkan, "Lalu mereka bertanya" maksudnya para sahabat. Akan tetapi, kami belum menemukan keterangan secara pasti siapa diantara mereka yang menanyakan hal itu. (Diringankan), ada dalam kuburan tersebut. - l ' - 'i< U (Selama kedua pelepah ini belum kering), demikian lafazh yang disebutkan dalam kebanyakan riwayat. Dalam riwayat Al KasymiJl Si! (Kecuali setelah kedua pelepah ini kering). hani disebutkan, \—'-2 maksudnya diringankan siksa dua orang yang

Sementara dalam riwayat Al Mustamli dikatakan, i—~1> Jl j ! (Sampai keduanya kering). Al Maziri berkata, "Ada kemungkinan diwahyukan kepada beliau SAW bahwa siksaan kedua orang itu akan diringankan selama waktu tersebut." Atas dasar ini, maka lafazh J—«3 (semoga) dalam hadits ini berfungsi sebagai ta 'lil (sebab dilakukannya perbuatan). Lalu Al Maziri menambahkan, "Tidak ada pengertian lain terhadap hadits tersebut selain pengertian ini." Menanggapi pendapat di atas Al Qurthubi berkata, "Andaikata wahyu telah turun kepada beliau SAW, tentu beliau tidak akan menggunakan lafazh yang menunjukkan harapan." Akan tetapi perkataan Qurthubi ini tidak dapat dijadikan sebagai bantahan bagi pendapat Al
#

Marizi jika lafazh J*J (semoga) dikatakan berfungsi sebagai ta lil (sebab dilakukannya perbuatan). Imam Al Qurthubi juga berkata, "Ada pandangan yang mengatakan bahwa beliau SAW memberi syafaat kepada kedua orang itu selama waktu tersebut sebagaimana disebutkan secara tegas dalam riwayat Jabir, karena secara lahiriah kisah-kisah ini hanyalah satu kejadian saja." Demikian pula pendapat yang dianggap kuat oleh Imam An-Nawawi, yakni kisah-kisah ini merupakan satu kejadian. Namun pendapat ini perlu dianalisa kembali perbedaan-perbedaan yang ada di antara keduanya berdasarkan apa yang telah kami jelaskan.

2 7 0 — FATHUL BAARI

dua dahan dari dua pohon yang dipakai oleh Nabi S A W untuk melindungi dirinya dari pandangan orang saat buang hajat. Kemudian Jabir diperintah untuk melemparkan salah satu dahan tersebut ke arah kanan dan yang satunya ke arah kiri tempat Nabi SAW duduk saat buang hajat. Kemudian jabir bertanya kepadanya mengenai hal itu, maka beliau bersabda, "Aku melewati dua kuburan yang (kedua penghuninya) disiksa. Maka aku ingin agar siksaan keduanya diangkat selama kedua dahan itu masih basah." Dalam kisah Jabir juga tidak disebutkan sebab keduanya disiksa, dan tidak pula disebutkan harapan Nabi SAW mengenai hal itu seperti tercermin dari sabdanya, "Semoga..." Untuk itu jelaslah bahwa kisah ini dan kisah yang dialami oleh Jabir adalah dua kejadian yang berbeda, dan berulangnya peristiwa seperti itu bukan hal yang mustahil. Sementara, telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya
j—liSr j J

dari hadits Abu Hurairah, 41* 'Jt&yS JJb. 'j» jJUj *11* <&I 1* ijjrh\j

AJI

vl>

UiQi-i

Jjuni t jylb^u

^iji'i : JUsi (Nabi SA W

lewat di suatu kuburan kemudian berhenti di sampingnya, lalu beliau bersabda, "Bawalah untukku dua pelepah." Kemudian beliau menaruh salah satunya di bagian kepalanya dan satunya lagi dibagian kakinya). Tidak tertutup kemungkinan jika kisah ini adalah peristiwa ketiga. Pandangan ini diperkuat oleh keterangan bahwa pada hadits Abu Rafi' terdahulu disebutkan, "Maka beliau mendengar sesuatu di kuburan." Disebutkan pula, "Lalu beliau membelahnya dua bagian seraya meletakkan satu bagian di arah kepala dan satu bagian di arah kakinya." Sedangkan dalam kisah mengenai satu orang dikatakan, "Beliau menempatkan setengahnya di bagian kepalanya dan setengahnya di bagian kakinya." Kemudian dalam kisah yang berhubungan dengan dua orang dikatakan, "Beliau meletakkan pada setiap kuburan satu pelepah." £—(Beliau disebutkan, meletakkan^ dalam riwayat Al A ' m a s y berikut ini

}j—*s (Beliau menancapkannya). Lafazh ini lebih khusus

daripada lafazh pertama. a j-l~S" tersebut J$ ^ LS^ t ^ J * (Beliau meletakkan pada setiap Tersebut dalam Musnad kuburan dari

satu potong).

Abdu bin Humaid

FATHUL BAARI —

269

Al Khaththabi mengatakan, "Dari hadits ini dipahami bahwa beliau SAW berdoa agar siksaan kedua orang itu diringankan selama pelepah itu belum kering. Hal itu bukan berarti ada makna atau kelebihan tersendiri bagi pelepah yang basah di banding pelepah kering." Kemudian beliau mengatakan, "Ada pula pendapat mengatakan bahwa hal itu berarti tasbih selama masih basah, sehingga dapat meringankan mereka dengan berkah tasbih tersebut." Kemudian hal ini dipahami secara umum untuk semua jenis pohon atau lainnya selama belum kering, terutama sesuatu yang mendatangkan berkah seperti dzikir dan bacaan Al Qur'an. Sementara Ath-Thaibi mengatakan, "Hikmah mengapa kedua pelepah itu dapat memberikan nikmat selama masih basah, mungkin saja hal itu tidak dapat kita ketahui, seperti kita tidak mengetahui jumlah malaikat adzab." Lalu Imam Al Khaththabi beserta orang-orang yang sepaham dengannya mengingkari perbuatan manusia yang sengaja meletakkan pelepah atau yang sepertinya di kuburan untuk mengamalkan hadits ini. Ath-Thurthusyi berkata, "Karena yang demikian itu atas berkah tangan beliau SAW." Sedangkan Al Qadhi Iyadh berkata, "Karena beliau SAW mengaitkan perbuatannya menancapkan kedua pelepah itu dengan perkara yang gaib, yaitu sabda beliau, 'Keduanya sedang disiksa.'" Aku (Ibnu Hajar) berkata, "Ketidaktahuan kita apakah orang itu disiksa atau tidak, bukan berarti kita tidak boleh melakukan suatu sebab yang dapat meringankan siksaan yang dialaminya seandainya ia berada dalam siksaan. Sebagaimana ketidaktahuan kita apakah seseorang berada dalam rahmat atau tidak, bukanlah menjadi halangan bagi kita untuk mendoakannya supaya mendapat rahmat. Tidak ditemukan dalam Konteks hadits ini keterangan tegas bahwa beliau SAW langsung menancapkan kedua pelepah itu dengan tangannya yang mulia, bahkan ada kemungkinan beliau SAW memerintahkan orang lain untuk menancapkannya. Sementara itu, Buraidah bin Hushaib -salah seorang sahabat- telah mempraktekkan perbuatan ini, dimana dia berwasiat agar diletakkan di atas kuburnya dua pelepah sebagaimana akan dijelaskan pada bab "Jenazah (Jana'iz)". Buraidah lebih pantas untuk diikuti daripada selainnya. '*
Yang benar dalam masalah ini adalah apa yang dikatakan oleh Al Khaththabi berupa pengingkaran untuk meletakkan pelepah atau yang sepertinya di atas kuburan, karena Rasulullah SAW tidak melakukan hal itu kecuali pada kuburan tertentu yang beliau

FATHUL BAARI —

271

Catatan penting Tidak diketahui nama kedua orang yang disiksa dalam kuburan tersebut. Nampaknya ini merupakan kesengajaan perawi hadits demi untuk menutup aib keduanya, dimana hal ini adalah perbuatan yang baik. Telah menjadi keharusan untuk tidak meneliti guna mengetahui nama orang yang mendapatkan celaan. Adapun riwayat yang disebutkan oleh Al Qurthubi dalam kitab AtTadzkirah - y a n g dilemahkan oleh sebagian ulama- bahwa salah seorang yang dikubur itu adalah Sa'ad bin Mu'adz, merupakan riwayat batil tidak pantas untuk disebutkan kecuali bila disertai penjelasan mengenai kebatilannya. Di antara hal yang menunjukkan kebatilan riwayat yang dinukil oleh Al Qurthubi adalah bahwa Nabi SAW menghadiri pemakaman Sa'ad bin Mu'adz, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari Muslim. Adapun kisah kedua orang yang disiksa dalam kuburan telah disebutkan dalam hadits Umamah seperti dinukil oleh Imam Ahmad, bahwa beliau SAW bertanya kepada para sahabat, "Siapakah yang kamu kuburkan hari ini di tempat ini?" Sabdanya ini mengindikasikan bahwa beliau SAW tidak menghadiri pemakaman keduanya. Hanya saja aku sengaja menyebutkan hal ini untuk membela nama baik seorang yang telah dinamakan langsung oleh Nabi SAW sebagai sayyid. Beliau SAW bersabda kepada para sahabatnya, "Berdirilah untuk sayyid kalian" Beliau bersabda pula, "Sesungguhnya keputusannya sama seperti keputusan Allah" Sabdanya lagi, "Sesungguhnya Arsy sang Rahman bergoncang karena kematian Sa 'ad" Aku khawatir sebagian orang yang dangkal ilmunya terpedaya oleh riwayat yang dinukil oleh Imam Qurthubi, lalu ia pun meyakini kebenarannya padahal sesungguhnya adalah batil. Selanjutnya para ulama berselisih pendapat mengenai orang-orang yang dikubur tersebut. Satu pendapat mengatakan, mereka adalah orangorang kafir. Pendapat ini diyakini kebenarannya oleh Abu Musa Al Madini berdasarkan hadits yang beliau riwayatkan dari Jabir dengan silsilah periwayatan yang di dalamnya terdapat Abu Lahi'ah,
ketahui penghuninya sedang diazab. Andaikata hal ini sesuatu yang disyari'atkan tentu beliau SAW akan melakukan hal serupa pada setiap kuburan. Disamping itu para pemuka sahabat -seperti para khalifah- tidaklah melakukan hal itu, padahal mereka lebih mengerti tentang sunnah dibandingkan Buraidah, semoga Allah meridhai mereka semuanya.

2 7 2 — FATHUL BAARI

"Bahwasanya Nabi SAW melewati dua kuburan bani Najjar yang keduanya meninggal di masa jahiliyah. lalu beliau SAW mendengar keduanya sedang disiksa lantaran kencing dan namimah (mengadu domba)." Abu Musa menegaskan, "Hadits ini meskipun tidak akurat namun maknanya dapat dibenarkan, sebab jika keduanya adalah muslim tentu syafaat beliau selama kedua pelepah belum kering akan kehilangan makna. Akan tetapi ketika beliau SAW melihat kedua orang kafir itu sedang disiksa, rasa kasih sayang dan rahmatnya mendorongnya untuk berlaku baik kepada keduanya. Maka, beliaupun memberi syafaat pada keduanya selama waktu yang disebutkan." Namun Ibnu Athar dalam kitab Syar Al Umdah menegaskan bahwa kedua orang itu adalah muslim. Beliau berkata, "Tidak boleh mengatakan bahwa keduanya adalah kafir, sebab kalau keduanya kafir tentu beliau SAW tidak akan mendoakan keduanya dan tidak pula mengharapkan diringankan siksa keduanya. Begitu juga apabila hal itu termasuk kekhususan baginya, tentu telah beliau jelaskan. Seperti pada kisah Abu Thalib." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Apa yang beliau katakan di bagian akhir merupakan jawaban bagi pendapatnya sendiri. Penjelasan yang beliau pertanyakan sesungguhnya telah ada, karena perkataan yang khusus tidak mesti disebutkan secara tekstual. Akan tetapi, hadits yang dijadikan hujjah oleh Abu Musa derajatnya lemah sebagai-mana pengakuan beliau sendiri. Lalu hadits itu diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan silsilah periwayatan yang memenuhi syarat Imam Muslim, namun tidak disebutkan sebab penyiksaan. Lafazh mengenai hal itu termasuk di antara kesalahan periwayatan Abu Lahi'ah. Riwayat Imam Ahmad ini sejalan dengan hadits Jabir yang panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim seperti yang telah kami sebutkan. Kemungkinan keduanya adalah kafir pada riwayat tersebut cukup jelas." Adapun yang nampak dari seluruh jalur periwayatan Imam Bukhari di bab ini, bahwa keduanya adalah muslim. Dalam riwayat Ibnu Majah dikatakan, "Beliau melewati dua kuburan yang baru", sehingga tidak mungkin kedua orang itu mati pada masa jahiliyah. Sementara dalam riwayat Abu Umamah yang dinukil oleh Imam Ahmad disebutkan, "Bahwa Nabi SAW melewati Al Baqi' maka beliau bersabda, 'Siapakah yang kamu kuburkan hari ini di tempat iniV" Hal ini mengindikasikan bahwa keduanya adalah muslim, sebab Al Baqi' adalah pekuburan orang-

FATHUL BAARI —

273

orang Islam. Pertanyaan ini juga ditujukan kepada orang-orang muslim, sementara menjadi kebiasaan bahwa suatu jenazah diurus oleh mereka yang seagama dengannya. Pendapat yang mengatakan keduanya adalah muslim diperkuat lagi oleh riwayat Abu Bakrah yang juga dinukil oleh Imam Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang shahih, "Keduanya disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa karena dosa besar" Lalu beliau SAW melanjutkan, "Bahkan (itu adalah dosa besar), dan tidaklah keduanya disiksa melainkan karena membicarakan aib orang lain dan masalah kencing" Lafazh yang membatasi bahwa keduanya hanya disiksa karena kedua hal itu, menghapus kemungkinan bahwa kedua orang itu adalah kafir. Sebab seorang kafir meskipun disiksa karena meninggalkan hukum-hukum Islam, ia juga disiksa karena kekafirannya. Dalam hadits ini terdapat faidah-faidah selain yang telah disebutkan, di antaranya; pertama, menetapkan adanya adzab (siksa) kubur yang akan dibahas pada bab "Al Jana'iz". Kedua, peringatan agar waspada terhadap percikan kencing dan seluruh jenis najis supaya tidak mengenai badan atau pakaian. Ketiga, hadits ini dijadikan dalil wajibnya menghilangkan najis, berbeda dengan pandangan sebagian orang yang mengkhususkan kewajiban tersebut pada saat seseorang hendak melakukan shalat, wallahu a'lam.

KAMMJNGWHMUN

2 7 4 — FATHUL BAARI

56. Membersihkan Kencing

.(j-LuI J ^ L^JT'

Nabi SAW bersabda tentang penghuni kubur, "/a tidak menutup diri dari kencing," dan beliau tidak menyebutkan selain kencing manusia.

; 1

^ ' 4JLJ I 4.

j^liJ

bl 2§? ^

1

jLST J l i dJUC

^.Jl
. 4j

j &

J^JtJ

217. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, "Biasanya Nabi SA W apabila buang hajat, aku membawakan air untuknya, maka beliau bersuci dengan air itu."

Keterangan Hadits: *—'y. j — ?'yj-—~>'i Ci\—T (Ia tidak menutup merupakan isyarat hadits sebelumnya. diri dari kencing) ini

iy\—31 J j — ' ij'j—-y

°j—j»Jj

(Dan beliau tidak menyebutkan

selain

kencing manusia) Ibnu Baththal berkata, "Maksud Imam Bukhari, bahwa yang dimaksud dengan sabda beliau, "Ia tidak menutup diri dari kencing," adalah kencing manusia dan bukan kencing hewan. Maka hadits ini tidak menjadi hujjah bagi mereka yang memahaminya secara umum, yaitu (kencing) seluruh jenis hewan. Seakan-akan Imam Bukhari membantah Al Khaththabi yang mengatakan, 'Ini merupakan dalil bahwa

FATHUL BAARI —

275

seluruh

kencing adalah najis.' Adapun inti bantahan tersebut adalah,

sesungguhnya ungkapan umum yang terdapat dalam kalimat, J j-P> 'j» (dari kencing) memiliki makna khusus berdasarkan sabda beliau SAW,

*—'y 'o* (dari kencingnya). Yakni, kencing orang yang disiksa itu sendiri.
Namun hukum ini mencakup juga air kencing lain, yaitu manusia secara keseluruhan, karena tidak ada perbedaan antara orang itu dengan manusia lainnya." Lalu beliau menambahkan, "Demikian pula halnya dengan hewan yang tidak dimakan. Adapun hewan yang dimakan dagingnya maka tidak ada hujjah dalam hadits ini bagi mereka yang menganggap kencingnya adalah najis. Sementara bagi mereka yang mengatakan air kencing hewan yang dimakan dagingnya, adalah suci memiliki sejumlah dalil yang lain." Sementara Imam Al Qurthubi berkata, "Perkataan Imam Bukhari, Jjji j? (Dari kencing), adalah lafazh tunggal yang tidak mengandung makna umum. Andaikata tetap dikatakan bahwa lafazh tersebut mengandung makna umum, maka makna tersebut telah dibatasi oleh dalil-dalil yang menyatakan sucinya air kencing hewan yang dimakan dagingnya." Pembahasan mengenai hadits ini telah dijelaskan pada bab "Istinja" dengan air". Sementara di sini Imam Bukhari menggunakan hadits ini sebagai dalil untuk membersihkan kencing, lebih umum daripada istinja", sehingga tidak dianggap sebagai suatu pengulangan.

Bab

&

y'

^

,

S

S S

Q

»j jb'JJTJ Ll^jl : J l i i

-l'£ Z 5 " jJu_ i$fb ^ J l y> J l i
I)"
S '

Z

y

s

&

s

•?

9

s

4

'

£

s

*

£

'

'

^jii^o AJJ«J : J l i iJuk cJLo jiJ AUI J _ J ^ - J IJ :ljJli olb>-lJ

JS"

2 7 6 — FATHUL BAARI

218. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Nabi SAW melewati dua kuburan, maka beliau bersabda, 'Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa karena dosa besar. Adapun salah satunya karena terbiasa tidak menutup diri dari kencing, sedangkan yang lainnya karena selalu menjadi tukang adu domba.' Kemudian beliau SA W mengambil pelepah yang masih basah lalu dibelah menjadi dua. Lalu beliau menancapkan pada setiap kuburan satu pelepah. Para sahabat bertanya, 'Mengapa engkau melakukan hal ini wahai Rasulullah?' Beliau SAW bersabda, 'Semoga siksa keduanya diringankan selama pelepah ini belum kering:" Ibnu Al Mutsanna berkata, "Telah menceritakan kepada kami W aki'." Ia berkata, 'Telah menceritakan kepada kami Al A 'masy. " Ia berkata, "Aku mendengar Mujahid... "dan seterusnya seperti hadits di atas.

Keterangan Hadits (Bab), demikian yang tercantum dalam riwayat Abu Dzar. Kami telah menjelaskan bahwa fungsi bab tanpa judul seperti ini adalah untuk memisahkan antara pembahasan sebelumnya dengan pembahasan selanjutnya, namun keduanya masih mempunyai hubungan yang sangat erat. Penetapan dalil dari hadits ini nampak jelas untuk menunjukkan wajibnya membersihkan kencing. Akan tetapi telah disebutkan pula keringanan bagi seseorang yang istijmar (cebok dengan menggunakan batu), sehingga hadits ini juga menjadi dalil wajibnya membersihkan air kencing di sekitar tempat keluarnya.
j'j—*& (Beliau

tancapkan).

Dalam riwayat W a k i '

dalam bab "Al

A d a b " disebutkan dengan lafazh, Jj—i» dan keduanya memiliki makna

FATHUL BAARI —

277

yang sama. Lalu disebutkan oleh Sa'duddin Al Haritsi, bahwa pelepah itu ditancapkan di bagian kepala orang yang dikubur, dan beliau mengatakan sesungguhnya keterangan ini disebutkan melalui silsilah periwayatan yang shahih. Seakan-akan beliau mengisyaratkan kepada hadits Abu Hurairah yang dinukil oleh Ibnu Hibban sebagaimana lafazhnya telah kami sebutkan. Kemudian aku menemukan lafazh demikian secara tegas dalam Musnad Abdu bin Humaid melalui jalur Abdul Wahid bin Ziyad dari Al A'masy dalam hadits Ibnu Abbas. £—:f j >—U-i-j ^J&i^'J>)Jtfj {Ibnu AlMutsanna berkata, "Dan telah

menceritakan kepada kami Waki. ") Maksud Imam Bukhari menyebutkan silsilah periwayatan ini, karena dalam jalur ini disebutkan secara tegas bahwa Al A'masy telah mendengar hadits ini secara langsung, berbeda dengan jalur yang lain. Adapun pembahasan materi (matan) hadits ini telah disebutkan pada bab sebelumnya.

57. Nabi SAW dan Orang-orang Membiarkan Seorang Arab Badui Menyelesaikan Kencingnya di Masjid

o's

lis

'

s

s '

'

s '

'

'

> '

'

' '

.AIIP

tC>j lio

r j*

b[

i

jy-

ey>2

: JUi

219. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya Nabi SAW melihat seorang Arab badui kencing di masjid, maka beliau bersabda, "Biarkanlah dia. "Hingga setelah selesai kencing beliau SAW minta dibawakan air lalu disiramkan ke tempat kencing tersebut"

2 7 8 — FATHUL BAARI

K e t e r a n g a n Hadits: (Nabi ^s—>yjf-^ SAW dan orang-orang membiarkan orang Arab Badui), adalah bentuk jamak (plural) dari kata ^—(jt- sementara yang adalah orang yang tinggal di tempat terpencil

dimaksud dengan ^—(f

seperti pedusunan, baik bangsa Arab maupun non-Arab. Hanya saja mereka membiarkan Arab badui itu kencing di masjid, sebab ia telah mulai melakukan suatu perkara yang tidak benar. Andaikata dicegah saat itu juga, maka dampak buruk akibat perbuatan itu akan semakin bertambah. Sementara bila dibiarkan, hanya akan mengotori satu bagian tertentu dari masjid. Seandainya dicegah, maka hanya ada dua kemungkinan; ia menghentikan kencingnya sehingga menimbulkan efek tidak baik baginya, atau ia tidak menghentikannya sehingga tidak dijamin bahwa kencing tersebut tidak akan mengenai badan dan pakaiannya ataupun tempat-tempat lain di masjid. \ lijii
CJS'J

{Melihat seorang Arab badui). Diriwayatkan oleh Abu

Bakar At-Tarikhi dari Abdullah bin Nafi' Al Mazini, bahwa orang tersebut bernama Al Aqra' bin Habis At-Tamimi sebagaimana yang akan dijelaskan. ^ ^ (Hingga), yakni mereka membiarkan orang itu hingga selesai, Nabi SAW minta

menyelesaikan kencingnya. Maka ketika dibawakan air (yakni di ember besar). i-JLai (Disiramkannya).

Beliau memerintahkan untuk menyiramkan

air tersebut ke tempat kencing orang tersebut, dan hal ini akan dijelaskan. Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini melalui jalur Ikrimah bin Ammar dari Ishaq, dimana beliau menyebutkannya secara panjang lebar dengan kandungan yang sama seperti yang telah kami terangkan. Hanya saja beliau menambahkan dalam riwayatnya, "Kemudian Nabi SAW memanggilnya dan bersabda kepadanya, 'Sesungguhnya masjidmasjid ini tidak pantas untuk tempat kencing dan buang kotoran. Sesungguhnya ia hanyalah sebagai tempat dzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur'an.''" Adapun faidah hadits ini akan kami sebutkan pada bab berikutnya, insya Allah.

FATHUL BAARI —

279

58. Menyiram Kencing Di Masjid dengan Air

y

y

y

y

y ^ y

^

y

i

-

t I -

.*L__» : J U 0 jl j* \J\ J l ^ yu~s ^ <U1P
* '

3y

i' y
*

y

& ^ yof O . .

$

•*

AO

y

9

9y

>

9

>. A

OyJ-

O

y

'

4jJ| JL^P

4JUI J t ~ P

^

' j *

j! * ' > o

'

^ - U V » iyxJi

-J J ^ j — w »

r

/

* '>

220. Telah diriwayatkan dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas 'ud, bahwasanya Abu Hurairah RA berkata, "Seorang Arab badui berdiri lalu kencing di masjid, orang-orang pun mencegahnya. Maka Nabi SAW bersabda kepada mereka, 'Biarkanlah dia, dan siramlah kencingnya dengan satu timba air atau satu ember air- karena sesungguhnya kamu diutus untuk memberi kemudahan dan tidaklah kamu diutus untuk membuat kesulitan:''''

Keterangan Hadits: ^—Ajb-\ ^1—J (Seorang Arab badui berdiri). Ditambahkan oleh Ibnu Uyainah dalam riwayat Imam Tirmidzi dan selainnya di bagian awalnya dengan mengatakan, "Bahwasanya orang itu shalat kemudian berdoa, 'Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau memberi rahmat seorang pun bersama kami.' Maka Nabi SAW bersabda kepadanya, 'Sungguh engkau telah menutup sesuatu yang sangat luas: Lalu tidak lama setelah itu orang tersebut kencing di masjid." Tambahan seperti ini akan disebutkan pula oleh Imam Bukhari secara tersendiri dalam bab "Al Adab" melalui jalur Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. Telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban secara lengkap melalui jalur Muhammad bin Amr dari

2 8 0 — FATHUL BAARI

Abu Salamah dari Abu Hurairah RA. Demikian pula halnya dengan riwayat Ibnu Majah dari hadits Watsilah bin Al Asqa'. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Musa Al Madini dalam kitab Ash-Shahabah melalui jalur Muhammad bin Amru bin Atha' dari Sulaiman bin Yasar. Ia berkata, "Datang dzul Khuwaisharah Al Yamani, seorang yang tidak mengenal sopan santun." Lalu beliau menyebutkan kisah yang dimaksud secara lengkap, namun hanya dari segi maknanya disertai tambahan keterangan. Akan tetapi, derajat riwayat itu sendiri adalah mursal (tidak disebutkan nama sahabat yang meriwayatkannya). Di samping itu dalam silsilah periwayatannya terdapat seorang perawi yang tidak disebutkan secara transparan, yaitu perawi yang berada di antara Muhammad bin Ishaq dan Muhammad bin Amru bin Atha". Lalu Abu Musa meriwayatkan pula hadits ini melalui jalur Al Asham dari Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi dari Ahmad bin Khalid AdzDzahabi dari Sulaiman bin Yasar. Kemudian hadits ini disebutkan pula dalam kitab Kumpulan Musnad Ibnu Ishaq oleh Abu Zur'ah AdDimasyqi dari jalur para ulama Syam dari Ibnu lshaq, selanjutnya sama seperti jalur periwayatan tersebut di atas. Akan tetapi dikatakan di bagian awalnya, "Datang Dzul Khuwaisharah At-Tamimi, seorang yang tidak mengenal sopan santun." Sementara At-Tamimi adalah Harqus bin Zuhair yang kelak menjadi pemimpin golongan Khawarij. Untuk itu sebagian ulama membedakan antara At-Tamimi dengan Al Yamani, akan tetapi kisah ini memiliki sumber yang akurat. Dari riwayat ini dapat diketahui nama orang badui yang dimaksud, sementara telah disebutkan perkataan At-Tarikhi bahwa namanya adalah Al Aqra'. Kemudian dinukil dari Abu Al Husain bin Faris bahwa nama orang tersebut adalah Uyainah bin Hishn, wallahu a 'lam.

y\

3i <djl3 (Orang-orangpun

mencegahnya),

yakni dengan lisan

(ucapan) mereka. Sementara dalam riwayat Imam Bukhari dalam bab "Al Adab" disebutkan, "Maka orang-orang bergerak mendekatinya." Lalu beliau menyebutkan pula dari hadits Anas, "Maka mereka berdiri menuju kepadanya." Dalam riwayat Al Isma'ili dikatakan, "Maka para sahabatnya hendak mencegahnya." Kemudian dalam riwayat Anas disebutkan, "Maka orang-orang melarangnya." Diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi dari jalur Abdan -salah seorang guru Imam Bukhari- dengan lafazh, "Maka orang-orang dengan suara

FATHUL BAARI —

281

lantang menegurnya." Demikian pula yang dinukil oleh An-Nasa'i dari jalur Ibnu Mubarak. Dari riwayat-riwayat ini menjadi jelas bahwa pencegahan yang dilakukan oleh para sahabat adalah dengan lisan mereka dan bukan dengan menggunakan tangan (kekerasan). Sementara itu dalam riwayat Imam Muslim dari jalur Ishaq dari Anas disebutkan, "Maka para sahabat berkata kepadanya, 'berhenti... berhenti...!"' J,—suJ (—iJ^s (Karena sesungguhnya kamu diutus) Penisbatan kata

"diutus" kepada para sahabat hanyalah dalam bentuk majaz (kiasan), karena sesungguhnya beliau SAW yang diutus mengemban misi seperti itu. Akan tetapi oleh karena para sahabat merupakan penyambung lidah beliau SAW baik di saat masih hidup maupun setelah wafatnya, maka apa yang menjadi misi beliau dinisbatkan pula kepada para sahabatnya. Sebab para sahabat dibebani misi demikian oleh beliau SAW. Demikianlah yang selalu beliau SAW lakukan setiap kali mengutus seseorang ke setiap pelosok, dimana beliau SAW senantiasa bersabda, "Permudahlah dan jangan mempersulit."

; Jl

» JL*~>
9

JJ
' y °

L5

r** .
J

J^*
F

^
T

-4^
I J y y y y

Jli

Jl-UP

UJJJ>F O

(j^_ji
y y

j *
~Ul

'

J

^) m
F
y

*

y

-I

y i
y,

±sx* J.
y
4

o i j y,

j ^
Jb* ^> Jjo
^

j * . i>H
LS

'J-

jLoli—

12J^-J

Jli J ^ -

,jj

LuJoC J I W

«LAJUS»

J) J l i » jCJsA «-li- J l i yJLHI» j *
4?J
J^AI

£§l ^J!5l
" y

Y>\

l l i i %i

" J}\
LI

j^fcl^I» (_/-l^l o
y y

"

y

0

l'

221. Abdan Telah menceritakan kepada kami, telah mengabarkan kepada kami Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Sa 'id, ia berkata, "Aku mendengar Anas bin Malik menceritakan hadits dari Nabi SAW... (Bab Menyiram Kencing Dengan Air)." Telah menceritakan kepada kami Khalid, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Yahya bin Sa 'id, ia berkata, "Aku

2 8 2 — FATHUL BAARI

mendengar Anas bin Malik berkata, 'Seorang Arab badui datang dan kencing di salah satu bagian masjid, maka orang-orang melarang dan mncelanya, lalu Nabi SAW melarang mereka (melakukan hal itu). Ketika orang itu selesai kencing, Nabi SA W memerintahkan untuk dibawakan satu timba air lalu disiramkan ke tempat kencing tersebut:"

Keterangan Hadits: * Ui J—1P I — ( A b d u l l a h Telah mengabarkan kepada kami)

maksudnya adalah Abdullah bin Mubarak. Sedangkan yang dimaksud dengan Yahya di sini adalah Yahya bin Sa'id Al Anshari. jJi—'f i — ( K h a l i d telah menceritakan kepada kami) lafazh ini

dikaitkan dengan lafazh, "Abdan telah menceritakan kepada kami." Sementara Sulaiman yang disebutkan dalam silsilah periwayatan ini adalah Sulaiman bin Bilal. Tampak bahwa teks hadits ini adalah menurut versi Sulaiman bin Bilal, sebab lafazh versi Abdan sedikit berbeda dengan versi beliau sebagaimana telah kami isyaratkan sebelumnya, yakni lafazh menurut riwayat Abdan dinukil oleh Imam An-Nasa'i. * (Maka Nabi SAW melarang mereka) dalam riwayat Abdan disebutkan, "Nabi SAW bersabda, 'Biarkanlah pun membiarkannya." dia,' maka orang-orang

Pelajaran yang dapat diambil Pertama, menjaga diri dari najis telah mendapatkan tempat tersendiri dalam jiwa para sahabat, sehingga mereka dengan segera mengingkari perbuatan orang Arab badui tersebut di hadapan Nabi SAW sebelum diizinkan oleh beliau SAW. Di samping itu, perkara amar ma 'rufnahi munkar telah demikian mendarah daging dalam jiwa mereka. Kedua, hadits ini dijadikan pula sebagai landasan bolehnya berpegang (berpedoman) dengan dalil-dalil yang bersifat umum sebelum ditemukan dalil-dalil bersifat khusus. Ibnu Daqiq Al Id berkata, "Pandangan yang lebih kuat menyatakan bahwa berpegang (berpedoman) dengan dalil-dalil yang bersifat umum menjadi kemestian bagi seorang

FATHUL BAARI —

283

mujtahid meskipun ada kemungkinan adanya dalil-dalil yang bersifat khusus dalam perkara yang dimaksud, dan tidak wajib bagi seseorang untuk menahan diri untuk mengamalkan hadits-hadits yang bersifat umum karena alasan kemungkinan tersebut. Hal ini karena para ulama di berbagai pelosok senantiasa berfatwa berlandaskan dalil-dalil yang bersifat umum tanpa menahan diri untuk mengamalkannya demi meneliti dan mencari terlebih dahulu dalil-dalil yang bersifat khusus. Pandangan demikian diperkuat oleh kisah dalam hadits ini, dimana Nabi SAW tidak mengingkari perbuatan para sahabat dengan mengatakan, 'Mengapa kalian mengingkari perbuatan orang Arab badui iniV Bahkan beliau SAW memerintahkan para sahabat untuk menahan diri demi tercapainya suatu maslahat yang jauh lebih besar, yaitu menghindari salah satu dari dua mafsadat (kerusakan) dengan jalan melakukan yang paling ringan resikonya di antara kedua kerusakan tersebut, atau mendapatkan kemaslahatan (kebaikan) terbanyak dengan jalan meninggalkan kemaslahatan yang sedikit." Ketiga, keharusan bersegera menghilangkan mafsadat (kerusakan) apabila halangan untuk itu sudah tidak ada. Hal ini didasarkan pada perintah beliau SAW untuk menyiram bekas kencing orang Arab badui setelah selesai. Keempat, menentukan air sebagai alat untuk menghilangkan Sebab jika tiupan angin atau pancaran sinar matahari yang mengeringkan tempat tersebut bisa mensucikannya, tentu beliau tidak perlu membebani para sahabatnya agar membawakan air menyiramnya. najis. dapat SAW untuk

Kelima, air yang digunakan untuk membersihkan najis yang ada di tanah hukumnya suci, lalu diikutkan juga hukum najis yang tidak terletak di tanah. Sebab tanah yang basah bekas disiram air tersebut termasuk air yang digunakan membersihkan najis, apabila tidak ada keterangan bahwa mereka mengangkat tanah yang dikencingi itu. Sementara telah diketahui bahwa maksud disiramnya tempat tersebut adalah untuk mensucikannya, maka menjadi jelas bahwa tanah basah tersebut hukumnya adalah suci. Jika hukumnya suci, maka air yang terpisah dari air yang digunakan membersihkan najis tersebut hukumnya suci pula karena tidak adanya perbedaan di antara keduanya. Al Muwaffiq (Ibnu Qudamah -penerj) berkata dalam kitab Al Mughni setelah menukil perselisihan dalam hal itu, "Yang paling tepat adalah pendapat yang mengatakan air yang

2 8 4 — FATHUL BAARI

digunakan membersihkan najis adalah suci secara mutlak (tanpa batasan tertentu), sebab Nabi SAW tidak mensyaratkan sesuatupun saat menyiram kencing orang Arab badui tersebut." Keenam, berlaku lembut terhadap orang yang tidak tahu dan mengajarinya mengenai perkara yang mesti dilakukannya tanpa diiringi kekerasan jika perbuatan tersebut tidak dilakukannya dalam rangka pembangkangan. Perlakuan lembut seperti ini lebih dianjurkan untuk dilakukan terhadap mereka yang perlu dilunakkan hatinya. Ketujuh, penjelasan tentang kasih sayang dan kelembutan Nabi SAW serta kebaikan akhlaknya. Disebutkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam hadits Abu Hurairah RA, "Setelah orang Arab badui tersebut memahami ajaran Islam, dia berdiri menghampiri Nabi SAW seraya berkata, 'Demi bapak dan ibuku, sungguh engkau tidak berlaku kasar dan tidak mencela.'" Kedelapan, mengagungkan masjid serta membersihkannya dari kotoran. Sementara itu menurut konteks hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh Imam Muslim memberi indikasi tidak boleh melakukan sesuatu di masjid selain apa-apa yang telah disebutkan, yaitu shalat, membaca Al Qur~an dan dzikir. Tidak diragukan lagi bahwa melakukan hal-hal selain yang disebutkan atau yang tidak semakna dengannya, termasuk perbuatan mengesampingkan perkara yang lebih utama, wallahu a 'lam. Kesembilan, tanah menjadi suci apabila telah disiram air tanpa harus digali. Berbeda dengan pandangan ulama Hanafi yang mengatakan, "Tanah tersebut tetap tidak dianggap suci kecuali bila digali." Demikian Imam Nawawi dan selainnya menyebutkan pendapat madzhab Hanafi tanpa perincian lebih lanjut. Sementara pendapat yang disebutkan dalam kitab-kitab madzhab Hanafi terdapat perincian; apabila tanah tersebut gembur, dimana air dapat meresap ke dalamnya maka tidak perlu digali. Sedangkan jika tanahnya keras dan air sulit meresap, maka harus digali dan membuang tanah galian tersebut. Sebab dalam kondisi demikian, air tidak mampu membasahi bagian atas dan bawah-nya. Mereka mendasari pendapat ini dengan hadits yang dinukil melalui tiga jalur periwayatan; salah satunya diriwayatkan melalui Ibnu Mas'ud dengan silsilah yang bersambung sampai kepada Nabi SAW, sebagai-mana dinukil oleh AtThahawi. Akan tetapi jalur periwayatannya lemah, seperti dikatakan oleh Imam Ahmad dan lainnya. Adapun dua jalur yang lain, masuk dalam

FATHUL BAARI —

285

kategori riwayat mursal (yakni suatu riwayat yang tidak disebutkan nama sahabat yang meriwayatkan dari Nabi SAW ataupun periwayat sebelum sahabat -penerj). Salah satunya dikutip oleh Abu Dawud melalui jalur Abdullah bin Ma'qil bin Muqrin, sementara satunya lagi diriwayatkan melalui jalur Sa'id bin Manshur melalui Thawus, dimana para perawi kedua jalur ini termasuk orang-orang tsiqah (terpercaya). Ketiga riwayat ini mengharuskan mereka yang berpandangan bahwa riwayat-riwayat mursal dapat dijadikan hujjah (landasan argumentasi) untuk mengatakan seperti pendapat ulama Hanafi, demikian pula bagi mereka yang berpendapat bahwa riwayat mursal dapat menjadi hujjah apabila didukung oleh jalur periwayatan lain yang bersambung kepada Nabi SAW. Adapun Imam Syafi'i berpandangan bahwa riwayatriwayat mursal tidak dapat dijadikan hujjah meski didukung oleh jalur lain yang bersambung sampai kepada Nabi, kecuali bila perawi yang langsung menisbatkan hadits tersebut kepada nabi SAW tergolong pembesar tabi'in. Di samping itu, apabila ia menjelaskan perawi yang sengaja tidak disebutkan dalam jalur periwayatannya, maka yang ia sebut hanyalah para perawi yang tsiqah. Semua persyaratan ini tidak ditemukan dalam kedua hadits mursal tersebut, sebagaimana yang dapat dipahami dari kedua jalur periwayatan tersebut, wallahu a'lam. Pembahasan selanjut nya mengenai faidah hadits ini akan dijelaskan pada bab "Adab", insya Allah.

59. Kencing Bayi Laki-Laki

2 8 6 — FATHUL BAARI

222. Diriwayatkan dari Aisyah -ummul mukminin- bahwa ia berkata, 'Dibawakan kepada Nabi SAW seorang bayi laki-laki, lalu ia kencing di baju Nabi SAW, maka Nabi SAW minta dibawakan air lalu beliau memercikinya dengan air tersebut."

Keterangan Hadits: (Kencing bayi laki-laki) Yakni apakah hukumnya, dan apakah termasuk juga kencing bayi perempuan atau tidak? Telah diri-wayatkan sejumlah hadits yang membedakan hukum keduanya, namun haditshadits tersebut tidak memenuhi syarat hadits shahih yang disebut-kan dalam kitab Shahih Bukhari. Di antara hadits tersebut adalah hadits Ali RA dari Nabi SAW tentang air kencing anak yang masih menyusui, "Air kencing bayi laki-laki disiram dan air kencing bayi perempuan dicuci." Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan para penulis kitab Sunan kecuali Nasa'i- melalui jalur periwayatan Hisyam dari Qatadah dari Abu Harb bin Abu Al Aswad dari bapaknya dari Ali RA. Lalu Qatadah menjelaskan, "Hal seperti ini berlaku selama keduanya belum makan makanan." Silsilah periwayatan hadits ini tergolong shahih. Kemudian hadits ini diriwayatkan pula oleh Sa'id dari Qatadah, namun silsilah periwayatannya hanya sampai kepada Ali RA (mauquj). Akan tetapi, hal ini tidak menyebabkan cacat yang mengurangi keakuratan hadits tersebut. Riwayat lain adalah hadits Lubabah binti Al Harits dari Nabi SAW, "Sesungguhnya air kencing bayi perempuan dicuci dan air kencing bayi laki-laki disiram." Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan lainya. Senada dengan itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Samah dengan lafazh "Diperciki", sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan AnNasa'i serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah. | j - r 4 (Seorang bayi laki-laki) Nampak bagiku bahwa bayi laki-laki yang dimaksud adalah putra Ummu Qais seperti akan disebutkan nanti, namun ada pula kemungkinan bayi laki-laki yang dimaksud di sini adalah Hasan bin Ali atau Husein bin Ali. Karena telah diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Al Ausath dari hadits Ummu Salamah dengan silsilah periwayatan hasan (baik), beliau berkata, "Hasan -atau Huseinkencing di perut Nabi SAW, maka beliau membiarkannya hingga selesai. Kemudian beliau minta dibawakan air lalu disiramkannya ke tempat

FATHUL BAARI —

287

kencing tersebut." hadits yang serupa diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan selainnya. Lalu diriwayatkan oleh Thahawi melalui jalur ini dimana dikatakan, "Didatangkan Hasan... " dan seterusnya tanpa ada lafazh yang menunjukkan unsur keragu-raguan. Demikian pula yang dinukil oleh Ath-Thabrani dari jalur Abu Umamah. Hanya saja aku lebih cenderung mengatakan bahwa bayi laki-laki yang disebutkan pada hadits di bab ini adalah selain Hasan, karena Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab Aqiqah melalui jalur Yahya Al Qaththan dari Hisyam bin Urwah, "Didatangkan kepada Nabi SAW seorang bayi untuk beliau tahnik. " Dalam riwayat lain dikatakan, bayi tersebut kencing di pakaian beliau SAW. Sementara kisah Hasan dalam hadits Abu Laila dan Ummu Salamah disebutkan bahwa Hasan kencing di perut nabi SAW. Demikian pula dalam hadits Zainab binti Jahsy yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani disebutkan, "Bahwasanya Hasan datang dengan merangkak sementara nabi SAW sedang tidur. Lalu Hasan menaikinya seraya meletakkan kemaluannya di atas pusar beliau SAW kemudian ia kencing." Dari sini nampak jelas perbedaan antara kisah Hasan dengan hadits di atas.
!>

*—ivfti (Lalu beliau

memercikinya),

yakni beliau SAW menelusuri

bekas kencing yang ada di kainnya lalu menyiramnya dengan air. Imam Muslim melalui jalur Abdullah bin Namir dari Hisyam menambahkan, "Beliau memercikinya namun tidak mencucinya." Sementara dalam riwayat Ibnu Mundzir dari jalur Ats-Tsauri dari Hisyam disebutkan, "lalu beliau menuangkan air ke atasnya" Dalam riwayat Thahawi melalui jalur Za'idah Ats-Tsaqafi dari Hisyam, "Lalu beliau menyiram di atasnya"

Tahnik adalah mengoles langit-langit (dalam mulut) bayi yang baru lahir dengan kurma yang telah dihaluskan, penerj.

2 8 8 — FATHUL BAARI

223. Telah diriwayatkan dari Ummu Qais binti Mihshan, bahwa beliau datang sambil membawa anaknya yang masih kecil yang belum makan makanan menemui Rasulullah SAW. Maka Rasulullah mendudukkan anak itu di pangkuannya, lalu anak kecil tersebut kencing di pakaian beliau. Akhirnya nabi SAW minta dibawakan air, kemudian disiramkan tanpa mencucinya:''

K e t e r a n g a n Hadits: j-—=* f' J * {Dari Ummu Qais). Ibnu Abdil Barr berkata, "Namanya adalah Jadzamah." Namun menurut As-Suhaili namanya adalah Aminah, saudara perempuan Ukasyah bin Mihshan Al Asadi, yang termasuk golongan para wanita yang pertama melakukan hijrah, sebagai-mana disebutkan dalam Shahih Muslim melalui jalur Yunus dari Ibnu Syihab sehubungan dengan hadits ini. Hadits yang beliau riwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari Muslim hanyalah hadits ini dan satu lagi dalam kitab Thibb (ilmu medis), akan tetapi pada kedua riwayat itu hanya berkenaan dengan kisah anaknya. Sedangkan anaknya sendiri meninggal pada masa Nabi SAW dalam usia yang masih kecil seperti disebutkan oleh AnNasa'i, dan aku tidak menemukan nama anak itu. ft—«i»Ji JS"i j (J (Belum makan makanan) Maksud makanan di sini

adalah segala sesuatu selain air susu ibu dan kurma yang dioleskan di langit-langit mulutnya dan madu yang diberikan kepadanya dalam rangka pengobatan. Maka maksud hadits itu adalah, bahwa anak itu belum makan makanan yang mengenyangkannya selain air susu ibunya. Demikianlah konsekuensi perkataan Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Muslim dan Syarh Al Muhadzdzab. Namun dalam kitab ArRaudhah, beliau memahaminya secara mutlak (sama seperti pendapat penulis matan kitab tersebut), dimana beliau berpandangan bahwa maksudnya adalah anak kecil yang belum makan dan minum (apa-apa) kecuali air susu ibunya. Lalu disebutkan dalam kitab Naktut-Tanbih, "Maksudnya, anak kecil tersebut belum makan selain air susu serta kurma yang dioleskan di langit-langitnya mulut maupun yang seperti itu." Kemudian Al Hamawi dalam kitab Syarh At-Tanbih memahami perkataan penulis, "Belum makan" sebagaimana makna tekstualnya, maka beliau berkata, "Artinya

FATHUL BAARI —

289

anak itu belum mampu menyuap makanan sendiri." Adapun menurut pendapat kami makna pertama lebih sesuai, sebagaimana pendapat ini ditegaskan oleh Ibnu Qudamah serta selain beliau. Ibnu At-Tin berkata, "Ada kemungkinan yang dimaksud adalah anak itu belum menjadikan makanan sebagai kebutuhan primernya dan belum merasa cukup dengan makanan tersebut tanpa air susu ibunya. Akan tetapi, ada pula kemungkinan bahwa Ummu Qais datang membawa anaknya ke hadapan Nabi SAW sesaat setelah dilahirkan, sehingga penafian (peniadaan) memakan makanan di sini dipahami sebagaimana cakupannya yang bersifat umum. Pendapat ini diperkuat oleh penjelasan sebelumnya, yaitu bahwa dalam riwayat Imam Bukhari dikatakan kejadian itu berlangsung pada saat aqiqah. *—~JJr-li (Maka Nabi mendudukkan anak itu) yakni beliau SAW

meletakkannya, jika kita mengatakan anak itu baru saja dilahirkan. Ada pula kemungkinan anak itu duduk dengan sendirinya, jika kita mengatakan bahwa ia dalam usia merangkak seperti halnya Hasan saat itu. j—>°y J* (Di pakaiannya), yakni pakaian nabi SAW. Sementara itu

Ibnu Sya'ban -ulama madzhab Maliki- mengemukakan pendapat yang ganjil, dimana beliau berkata, "Yang dimaksud di sini adalah pakaian anak itu sendiri." Yang paling tepat adalah pendapat pertama.
*—^-jaJ

(Disiramnya

dengan

kadar yang

ringan) Dalam riwayat

Muslim dari jalur Laits dari Ibnu Syihab disebutkan, "Beliau tidak menambahkan kecuali sekedar menyiramnya dengan kadar yang ringan." Kemudian masih dalam riwayat Muslim melalui jalur Ibnu Uyainah dari Ibnu Syihab disebutkan, "Beliau memercikinya." Kemudian ditambahkan oleh Abu Awanah dalam kitab Shahih-nya, "Di atasnya." hanya saja tidak ada perselisihan di antara dua versi riwayat yang ada, sebab awalnya beliau SAW memerciki tempat tersebut kemudian berakhir dengan menyiramnya atau menuangkan air ke atasnya. Keterangan ini diperkuat oleh riwayat Muslim dalam hadits Aisyah melalui jalur Jarir dari Hisyam, "Maka beliau minta dibawakan air lalu dituangkannya ke atasnya." Dalam riwayat Abu Awanah disebutkan, "Beliau menuangkan air ke atas kencing seraya mengikuti bekas kencing tersebut."

2 9 0 — FATHUL BAARI

il

~*J <—Ij (Tidak mencucinya).

Menurut Al Ashili, lafazh ini

bersumber dari Ibnu Syihab (salah seorang perawi hadits ini), sementara lafazh yang memiliki jalur sampai kepada Nabi SAW hanya sampai pada perkataan, "Maka beliau menyiraminya.'" Lalu dia menambahkan, "Lafazh terakhir ini diriwayatkan pula oleh M a ' m a r dari Ibnu Syihab, sebagaimana riwayat serupa dinukil oleh Ibnu Abi Syaibah, 'Maka beliau memercikinya', tanpa ada tambahan apa-apa." Demikian perkataan Al Ashili. Akan tetapi dalam konteks lafazh riwayat M a ' m a r tidak ada keterangan yang mengindikasikan bahwa lafazh "Tanpa mencucinya " adalah perkataan Ibnu Syihab yang diselipkannya dalam hadits. Sementara telah diriwayatkan pula oleh Abdurrazzaq dari Ma'mar sama seperti konteks riwayat Malik tanpa disebutkan, "Tanpa mencucinya ". lafazh seperti ini di samping disebutkan oleh Imam Malik, juga telah dinukil oleh Laits, Amr bin Harits serta Yunus bin Yazid. Semuanya dari Ibnu Syihab, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Khuzaimah, Al Isma'ili dan selain keduanya melalui jalur Ibnu Wahb dari para perawi tersebut. Adapun Imam Muslim hanya menukil riwayat Yunus. Benar, bahwa Ma'mar telah menambahkan dalam riwayatnya, "Ibnu Syihab berkata, 'Telah disunahkan untuk memerciki kencing bayi laki-laki dan mencuci kencing bayi perempuan.'" Andaikata lafazh ini yang ditambahkan oleh Imam Malik dan selainnya ke dalam riwayat mereka, niscaya ada alasan untuk mengatakan bahwa dalam riwayat mereka telah disisipi perkataan perawi hadits. Padahal yang ada bukan lafazh ini, sehingga tidak ada perkataan perawi yang disisipkan pada lafazh hadits di atas. Adapun keterangan yang disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah tidak ada kekhususan dalam hal itu, sebab yang demikian itu adalah lafazh Ibnu Uyainah dari Ibnu Syihab. Sementara kami telah menyebutkan bahwa riwayat tersebut juga dinukil oleh Imam Muslim dan selainnya, disertai penjelasan bahwa ia tidak bertentangan dengan riwayat Imam Malik, wallahu a 'lam. Adapun faidah hadits ini, di antaranya; anjuran untuk bergaul sesama manusia dengan baik serta bersikap rendah hati, berlaku lembut dengan anak kecil, mengoles langit-langit mulut anak yang baru lahir dengan kurma, mencari berkah dari orang-orang yang memiliki ke-

FATHUL BAARI —

291

utamaan dan membawa anak kecil ke hadapan mereka baik saat dilahirkan maupun setelahnya, serta hukum kencing bayi laki-laki serta bayi perempuan, dimana hal ini merupakan maksud bab di atas. Adapun mengenai masalah terakhir, para ulama berbeda menjadi tiga pendapat yang semuanya dapat ditemukan dalam madzhab Imam Syafi'i. Pendapat paling tepat adalah cukup menyiramkan air pada kencing bayi laki-laki dan tidak demikian dengan bayi perempuan. Ini merupakan perkataan Atha', Al Hasan, Az-Zuhri, Ahmad, Ishaq, Ibnu Wahb dan selain mereka, serta diriwayatkan oleh Al Walid bin Muslim dari Imam Malik. Namun para pengikut beliau mengatakan bahwa riwayat ini menyalahi pendapat yang lebih kuat dari beliau. Pendapat kedua mengatakan, cukup menyiram keduanya (baik kencing bayi laki-laki maupun perempuan). Ini merupakan madzhab Al Auza'i dan dinukil dari Imam Malik dan Syafi'i. Namun Ibnu Al Arabi mengkhususkan hal ini apabila belum ada apa-apa yang masuk dalam rongga perut keduanya. Adapun pendapat ketiga mengatakan, kencing keduanya hukumnya wajib dicuci. Demikianlah pen-dapat dalam madzhab Hanafi dan Maliki. Ibnu Daqiq Al Id berkata, "Kedua madzhab ini melandasi pendapat mereka dengan qiyas (analogi) seraya memahami sabda beliau SAW. "Tanpa mencucinya", dalam arti tidak mencuci secara berlebihan. Akan tetapi pandangan ini menyalahi makna lahiriah lafazh hadits. Pandangan ini semakin tipis kebenarannya apabila memperhatikan keteranganketerang-an yang terdapat dalam riwayat-riwayat lain -seperti yang telah kami sebutkan- yang membedakan antara kencing bayi laki-laki dan bayi perempuan, sementara pendapat kedua madzhab ini tidak membedakan antara dua jenis kencing tersebut." Kemudian beliau menambahkan, "Sehubungan dengan perbedaan antara air kencing bayi laki-laki dan perempuan, telah disebutkan sejumlah alasan yang di antaranya ada yang kurang argumentatif. Alasan terkuat yang pernah dikemukakan adalah bahwa jiwa manusia lebih terpikat dengan bayi laki-laki ketimbang bayi perempuan, sehingga diberi keringanan pada bayi laki-laki karena adanya kesulitan." Lalu ulama madzhab Maliki menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa mencuci harus dalam bentuk perintah tersendiri dan tidak tercakup dalam perintah mengalirkan air pada sesuatu yang dimaksudkan. Akan

2 9 2 — FATHUL BAARI

tetapi menurutku, pandangan mereka cukup rumit diterapkan dalam madzhab mereka sendiri, sebab pada dasarnya mereka mengatakan sesungguhnya yang dimaksud dengan menyiram dalam hadits di atas maknanya adalah mencuci.

Catatan

penting

Al Khatluhabi berkata, "Orang yang membolehkan kencing bayi laki-laki sekedar dicuci tidaklah berarti mereka berpendapat kencing tersebut bukan najis, akan tetapi hal itu karena kadar najis ini sangatlah ringan." Demikian perkataan beliau. Namun Ath-Thahawi menegaskan adanya perselisihan dalam masalah ini, dimana beliau berkata, "Sebagian kaum mengatakan bahwa air kencing bayi laki-laki hukumnya suci sebelum makan makanan, seperti yang ditegaskan oleh Ibnu Abdul Barr, Ibnu Baththal, ulama-ulama madzhab Syafi'i dan madzhab Ahmad serta lainnya yang sependapat dengan keduanya. Akan tetapi pendapat itu sendiri tidak dikenal, baik dalam madzhab Syafi'i maupun madzhab Ahmad. Untuk itu Imam An-Nawawi berkata, "Nukilan ini merupakan sesuatu yang batil." Seakan-akan mereka yang menisbatkan pandangan seperti itu kepada madzhab Syafi'i dan madzhab Ahmad hanya berpedoman pada konsekuensi pandangan kedua madzhab ini. Sementara pengikut suatu madzhab lebih mengerti apa yang menjadi maksud pendangan mereka daripada orang lain, wallahu a 'lam.

60. Kencing Sambil Berdiri dan Duduk

cI
f

«J l i o 'J> LJli J l i i
4

AIPCL
'

^Jl J l i SiJJbf*. "
r

r "*

:

224. Telah diriwayatkan mendatangi pembuangan

dari Hudzaifah, ia berkata, "Nabi SAW sampah suatu kaum lalu beliau kencing

FATHUL BAARI —

293

sambil berdiri, kemudian minta dibawakan air maka akupun mendatanginya seraya membawa air, lalu beliau SAW berwudhu:''

Keterangan Hadits: (Kencing sambil berdiri dan duduk) Ibnu Baththal berkata, "Keterangan kencing sambil duduk dari hadits ini ditetapkan berdasarkan bahwa kencing sambil duduk lebih pantas dibanding kencing sambil berdiri. Sebab apabila kencing sambil berdiri saja diperbolehkan, tentu kencing sambil duduk lebih diperbolehkan lagi." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Ada kemungkinan bahwa Imam Bukhari memaksudkan perkataannya ini sebagai isyarat terhadap hadits Abdurrahman bin Hasanah yang dinukil oleh An-Nasa'i dan Ibnu Majah serta selain keduanya, dimana di dalamnya disebutkan, "Nabi SAW kencing sambil duduk, maka kamipun berkata, "Perhatikanlah dia, kencing sebagaimana (cara) kencingnya wanitaDiriwayatkan dari sebagian ulama bahwasanya ia berkata, "Telah menjadi kebiasaan bangsa Arab kencing sambil berdiri, tidakkah kalian memperhatikan bagaimana mereka berkata dalam hadits Abdurrahman bin Hasanah, 'Beliau SA W kencing sambil duduk sebagaimana halnya wanita kencing:" Dalam hadits Hudzaifah dikatakan, "Maka beliau-pun berdiri sebagaimana salah seorang di antara kamu berdiri" Hadits Abdurrahman bin Hasanah memberi keterangan bahwa Nabi SAW menyelisihi para sahabatnya dalam hal buang air kecil, dimana beliau sengaja mengambil posisi duduk karena kondisi seperti ini lebih dapat menutup diri serta lebih terhindar dari percikan air kencing. Hadits tersebut derajatnya shahih sebagaimana dinyatakan oleh AdDaruquthni dan lainnya. Kesimpulan seperti ini didukung pula oleh hadits Aisyah, dimana beliau berkata, "Rasulullah SAW tidak pernah kencing sambil berdiri sejak Al Qur'an diturunkan kepadanya." Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Awanah dalam kitab Shahih-nya serta Al Hakim. s»j—i iie'CL (Tempatpembuangan sampah suatu kaum). Maksudnya

adalah sampah atau tumpukan sampah-sampah kecil karena disapu, yang mana hal seperti ini banyak ditemukan di halaman-halaman setiap rumah. Umumnya tempat ini gembur sehingga air tidak terpercik kembali kepada orang yang kencing. Adapun penisbatan pembuangan sampah kepada

2 9 4 — FATHUL BAARI

suatu kaum memberi makna pengkhususan dan bukan kepemilikan, sebab tempat seperti ini umumnya tidak luput dari najis. Dari sini terjawab pertanyaan orang-orang yang mempertanyakan masalah ini, karena kencing dapat mengotori tembok sehingga dapat memberi mudharat bagi orang lain. Atau dapat pula dikatakan,'sesungguhnya beliau SAW hanya kencing di atas pembuangan sampah dan tidak kencing sambil berdiri menghadap tembok. Ini ditegaskan oleh Abu Awanah dalam kitab Shahih-nya. Ada pula yang mengatakan, kemungkinan beliau SAW telah mengetahui sebelumnya jika kaum tersebut mengizinkannya kencing di tembok mereka; baik melalui perkataan yang nyata maupun selainnya. Kemungkinan lain dikatakan, beliau SAW sengaja kencing di tempat tersebut karena hal itu merupakan perkara yang direlakan di antara manusia. Atau perbuatan beliau itu berdasarkan adanya pembolehan bagi beliau SAW untuk memanfaatkan harta umatnya, karena beliau SAW lebih berhak terhadap kaum mukminin baik dalam jiwa maupun harta benda. Namun meski kemungkinan terakhir ditinjau dari segi makna, akan tetapi hal seperti ini tidak pernah dikenal dalam perjalanan hidup dan kemuliaan akhlak beliau SAW. i\—*J \ * i 'pj (Kemudian minta dibawakan air). Dalam riwayat Imam

Muslim dan selainnya dari jalur Al A ' M a s y diberi tambahan, : Jli» C J J ^ A
> , *

<3—ILip J—1P 'C—*i bersabda,

J^- cj'ysi

(Aku pun menjauh darinya, maka beliau Akhirnya aku mendekat hingga berdiri di ^ifols il» CUPUSS f£
J'\

"Mendekatlah)"

belakangnya). Dalam riwayat Imam Ahmad dari Yahya bin Qaththan disebutkan, \—«JI» JU» «Cip 'j» C J CS^P
j ]&+ — £ £ l~»j U u j r f tUj t p i j

(Beliau SAW mendatangi

pembuangan

sampah suatu kaum, akupun menjauh darinya. Maka beliau SAWmendekatkanku hingga berada di belakangnya, lalu beliau SAW kencing sambil berdiri. Kemudian beliau minta dibawakan air lalu berwudhu seraya menyapu di atas kedua sepatunya). Demikian pula tambahan keterangan yang disebutkan oleh Imam Muslim dari selainnya, dimana disebutkan perihal menyapu sepatu. Tambahan ini juga tercantum dalam riwayat Al Isma'ili dan selainnya melalui jalur Syu'bah dari Al A'masy. Selanjutnya ditambahkan oleh Isa bin Yunus dari Al A ' m a s y bahwa peristiwa tersebut terjadi di Madinah. Riwayat ini dikutip oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab At-Tamhid dengan silsilah periwayatan yang

FATHUL BAARI —

295

shahih. Namun dalam kitab Al Istidzkar dikatakan bahwa tambahan keterangan ini hanya diriwayatkan oleh Isa bin Yunus, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Tambahan keterangan seperti itu telah diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi melalui jalur Muhammad bin Thalhah bin Musharraf dari Al A'masy. Di samping itu terdapat pula hadits lain yang mendukungnya, yaitu hadits Ishmah bin Malik seperti yang akan kami sebutkan. Para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bolehnya membasuh sepatu pada saat tidak sedang bepergian, dan penetapan kesimpulan ini dari hadits tersebut cukup jelas. Hanya saja ada kemungkinan Imam Bukhari sengaja meringkas hadits di atas (yakni tanpa menyebutkan lafazh tentang menyapu sepatu -penerj), karena tambahan tersebut diriwayatkan oleh Al A'masy seorang diri. Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Syu'bah bahwa Ashim meriwayatkan kepadanya dari Abu Wa'il dari Al Mughirah, "Rasulullah SAW mendatangi pembuangan sampah suatu kaum lalu kencing sambil berdiri." Ashim berkata, "Sementara Al A ' m a s y meriwayatkan pula hadits tersebut dari Abu Wa'il dari Abu Hudzaifah, namun ia tidak menghafalnya dengan baik." Maksud Ashim, bahwa yang benar adalah riwayat yang dinukilnya. Kemudian Syu'bah berkata, "Aku pun menanyakan hal itu kepada Manshur, maka beliau menceritakan kepadaku dari Abu Wa'il dari Hudzaifah sama seperti yang dikatakan oleh Al A'masy tanpa menyebutkan perihal menyapu sepatu." Di sini kita lihat Al Manshur menyetujui riwayat Al A ' m a s y tanpa tambahan lafazh "menyapu sepatu." Akan tetapi Imam Muslim tidak memperhitungkan ketimpangan ini, bahkan beliau memasukkan hal tersebut dalam golongan hadits Al A'masy dengan dasar lafazh ini merupakan tambahan dari seorang yang kuat hafalannya (hafidz). Imam Tirmidzi berkata, "Hadits Abu Wa'il dari Hudzaifah lebih akurat." Maksudnya lebih shahih dibanding dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa'il dari Mughirah, dan memang demikian yang sebenarnya. Sementara Ibnu Khuzaimah cenderung untuk menshahihkan kedua riwayat tersebut disebabkan Hammad bin Abu Sulaiman telah menyetujui riwayat Ashim dari Al Mughirah, sehingga tidak tertutup kemungkinan Abu Wa'il mendengar hadits itu dari kedua orang tersebut sekaligus, dan kedua riwayat itu dapat dibenarkan. Akan tetapi ditinjau

2 9 6 — FATHUL BAARI

dari segi tarjih (mengunggulkan salah satu dari dua riwayat yang kontroversi) sesungguhnya riwayat Al A'masy dan Manshur dalam batas yang mereka sepakati lebih shahih dibanding riwayat Ashim dan Hammad, karena hafalan kedua orang ini masih dipermasalahkan.

61. Kencing di samping Seorang Sahabat dan Berlindung di Balik Tembok

225. Diriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata, "Aku pernah mengalami bersama Nabi SAW sedang berjalan, lalu beliau mendatangi pembuangan sampah suatu kaum di belakang tembok, kemudian berdiri sebagaimana salah seorang di antara kamu berdiri, lalu beliau kencing. Aku pun menjauh darinya, maka beliau memberi isyarat kepadaku sehingga aku mendatanginya. Aku berdiri di belakangnya sampai beliau SAW selesai."

Keterangan Hadits: (Kencing di samping seorang sahabat), yakni di samping sahabat orang yang kencing. J—i| y—iis (Beliau mengisyaratkan kepadaku). Hal ini memberi

keterangan bahwa Hudzaifah belum berada dalam jarak yang jauh dari Nabi SAW sehingga masih dapat dilihat. Beliau SAW melakukan hal ini dalam rangka mengumpulkan dua kemaslahatan sekaligus; agar tidak dilihat dalam kondisi demikian, dan pembicaraannya dapat didengar bila

FATHUL BAARI —

297

memerlukan sesuatu atau isyaratnya dapat dilihat oleh orang yang sedang membelakanginya. Dari sini dapat diketahui bahwa dalam hadits ini tidak terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya berbicara saat kencing, sebab riwayat ini memberi keterangan sesungguhnya makna lafazh *—'ai (mendekatlah), seperti yang dinukil oleh Imam Muslim, adalah dengan isyarat bukan dengan kata-kata. Adapun sikap beliau SAW dalam riwayat ini yang menyelisihi kebiasaannya untuk menjauh dari jalan yang biasa dilalui ataupun pandangan manusia saat buang hajat, maka dapat dikatakan bahwa saat itu beliau SAW sedang sibuk mengurus kepentingan kaum muslimin. Kemungkinan juga beliau akan duduk lama dalam majlis sehingga butuh untuk buang air kecil secepatnya, dan jika beliau mencari tempat yang jauh akan memberi dampak tidak baik bagi dirinya. Kemudian beliau SAW menyuruh Hudzaifah agar mendekat kepadanya untuk melindungi dirinya agar tidak terlihat oleh orang-orang yang mungkin saja lewat di sekitarnya saat itu, sementara di depannya tertutup oleh tembok. Namun ada pula kemungkinan perbuatan beliau SAW kali ini untuk memberi keterangan bolehnya melakukan perbuatan tersebut. Di samping itu, kejadian ini berhubungan dengan buang air kecil, yang telah diketahui bahwa hal itu lebih ringan daripada buang air besar, karena buang air besar memerlukan penghalang untuk lebih menutup diri, disertai bau tak enak yang biasa mengiringinya. Sementara maksud menjauh dan menutup diri dapat tercapai dengan menurunkan pakaian dan mendekatkan diri kepada sesuatu yang dapat menghalanginya. Telah diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari hadits Ishmah bin Malik, ia berkata, "Rasulullah SAW keluar menemui kami di suatu jalan di Madinah, hingga akhirnya beliau sampai ke tempat pembuangan sampah suatu kaum, maka beliau SAW bersabda, 'WahaiHudzaifah, tutuplah diriku."' Lalu beliau menyebutkan hadits selengkapnya seperti di atas.
1

Pada riwayat Ath-Thabrani ini, menjadi nampak jelas hikmah diperintahkannya Hudzaifah untuk mendekat kepadanya pada kondisi seperti itu. Adapun Hudzaifah ketika mendekat maka ia membelakangi Nabi SAW. Di samping itu -dalam riwayat ini pula- menjadi jelas bahwa

2 9 8 — FATHUL BAARI

memahami bahwa makna "menggunting" di sini adalah mencuci dengan air. l~ii i—=1) (Semoga disebutkan, ajJL-iiii l i i a-Cij V ia berhenti). Dalam riwayat Al Isma'ili

j l o ^ i j J (Aku sangat berharap jika

sahabat kamu itu tidak bersikap berlebihan seperti itu). Hanya saja Hudzaifah berhujjah dengan hadits di atas, karena seorang yang kencing sambil berdiri bisa saja terkena percikan air kencingnya. Padahal Nabi SAW tidak memperhitungkan kemungkinan tersebut, maka dapat diketahui sesungguhnya sikap ekstrim (berlebihan) dalam perkara ini telah menyalahi Sunnah. Kemudian Imam Malik menjadikan hadits ini sebagai dalil adanya keringanan apabila air kencing tersebut mengenai badan dalam kadar sebesar ujung jarum. Namun pandangan Imam Malik perlu dianalisa kembali, sebab tidak sedikitpun air kencing itu mengenai badan Rasulullah SAW. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Hibban ketika menyebutkan sebab beliau SAW kencing sambil berdiri. Ibnu Hibban berkata, "Beliau SAW tidak menemukan tempat yang layak untuk kencing sambil duduk, maka beliau kencing sambil berdiri karena gundukan pembuangan sampah tersebut lebih tinggi. Dengan demikian, beliau SAW telah mengamankan diri dari percikan air kencing." Lalu dikatakan bahwa air kencing mudah meresap di tempat pembuangan sampah yang gembur, sehingga percikannya tidak mengenai orang yang sedang kencing. Sebagian yang lain mengatakan bahwa Nabi SAW sengaja kencing sambil berdiri, karena kondisi seperti ini lebih menjamin untuk tidak kentut. Hal itu beliau lakukan sebab lokasinya yang cukup dekat dari rumah penduduk. Pandangan ini diperkuat oleh riwayat Abdurrazzaq dari Umar RA, j — o i J Ja*-\ IAJIS J j J i (Kencing sambil berdiri lebih menjaga dubur). Dikatakan pula bahwa sebab hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Syafi'i dan Imam Ahmad, yaitu kebiasaan bangsa Arab untuk menyembuhkan sakit pinggang dengan cara kencing berdiri, dan kemungkinan Nabi SAW merasakan hal itu.

FATHUL BAARI —

301

Lalu diriwayatkan pula oleh Al Hakim dan Al Baihaqi dari hadits Abu Hurairah, ^ — l j *—11* 41 J1
*Jii

J

j JU Uji

AJaiU» ^

JIS"

pj*4

(Rasulullah kencing sambil berdiri disebabkan luka di bagian belakang persendian lututnya). Seakan-akan beliau SAW tidak mampu duduk karena luka tersebut. Andaikata hadits ini shahih, maka sudah cukup dan tidak butuh pandangan-pandangan terdahulu. Akan tetapi hadits yang dimaksud telah dianggap lemah oleh Ad-Daruquthni dan Al Baihaqi. Makna yang paling kuat adalah beliau SAW melakukan hal itu dengan tujuan menjelaskan kebolehannya, sementara perbuatan yang paling sering dilakukannya adalah kencing sambil duduk, wallahu a lam. Kemudian Abu Awanah dalam kitab Shahih-nya dan Ibnu Syahin mengemukakan pandangan lain yang berbeda dengan pandangan sebelumnya. Keduanya mengatakan, bahwa hadits yang menyatakan Nabi SAW kencing sambil berdiri telah dihapus hukumnya (mansukh). Lalu keduanya memperkuat pendapat mereka dengan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah di atas, yaitu o~\'J&\ AII* JJJI J l i & l » JU U» (Nabi SAW tidak pernah kepadanya),
IJ*I—"i

kencing

sambil

berdiri

sejak diturunkan Al

Qur'an

dan hadits Aisyah yang lain dengan lafazh dVz ill '^J*- 'J
^ U sjij^aj »

^! J j — U

*Ai UJli J °JJ (Barangsiapa

yang

menceritakan

kepada kamu bahwa beliau SAW kencing sambil berdiri, maka janganlah kamu mempercayainya. Tidaklah beliau SA W kencing melainkan dalam keadaan duduk). Akan tetapi yang benar, bahwa hadits tentang Nabi SAW kencing sambil berdiri hukumnya tidak dihapus (mansukh). Adapun jawaban hadits Aisyah RA, bahwa hal itu berdasarkan pengetahuannya saja. Sehingga dapat dipahami apa yang dikatakan oleh Aisyah adalah perbuatan Nabi SAW saat berada di rumah, sementara di luar rumah Aisyah tidak mengetahui bagaimana cara Nabi SAW buang air kecil. Adapun perbuatan Nabi SAW kencing sambil berdiri telah dihafal oleh Hudzaifah, salah seorang sahabat senior. Di atas telah kami jelaskan bahwa peristiwa ini berlangsung di Madinah, sehingga mencakup bantahan bagi mereka yang rr r Ratakan bahwa perbuatan seperti itu terjadi sebelum turunnya Al Qur'an kepada Nabi SAW. Di samping itu telah dinukil melalui sumber yang dapat dipercaya sesungguhnya Umar, Ali, Zaid bin Tsabit dan yang lainnya

3 0 2 — FATHUL BAARI

pernah kencing sambil berdiri. Perbuatan mereka ini menunjuk-kan kebolehan hal itu tanpa ada unsur makruh (tidak disukai) selama dijamin tidak terkena percikan air kencing, wallahu a 'lam. Tidak juga ditemukan keterangan yang kuat bahwa Nabi SAW melarang kencing sambil berdiri, seperti telah saya jelaskan di bagian awal Syarah At-Tirmidzi.

63. Mencuci Darah

227. Diriwayatkan dari Asma, ia berkata, 'Seorang wanita datang kepada Nabi SA W lalu berkata, 'Bagaimana pendapatmu apabila salah seorang di antara kami haid di kain, apakah yang mesti ia lakukan?' Nabi SAW bersabda, 'Hendaklah ia mengeriknya kemudian menggosoknya dengan air dan memercikinya, lalu shalat dengan menggunakan kain tersebut."

Keterangan Hadits: atj-Jii c - t l — r (Seorang wanita datang). Dalam riwayat Syafi'i dari Sufyan bin Uyainah dari Hisyam disebutkan, bahwa yang bertanya adalah Asma' sendiri. Lalu Imam An-Nawawi mengeluarkan pandangan yang ganjil, dimana beliau melemahkan riwayat Syafi'i tanpa dalil. Padahal silsilah periwayatan hadits tersebut shahih dan tidak cacat. Tidak tertutup kemungkinan jika seorang perawi menyembunyikan dirinya sendiri seperti yang akan disebutkan dalam hadits Abu Sa'id dalam kisah menjampi dengan menggunakan surah Al Fatihah.

FATHUL BAARI —

303

V^—^ 1^—?
1

C —?* (W<z^ R s"
3

&a/«), yakni darah haid mengenai kain. melalui jalur Malik dari Hisyam kainnya

Dalam

riwayat

Imam

Bukhari

disebutkan dengan lafazh, ja—!^\ 'j» ^Ul l^JJ uO>i lij (Apabila terkena darah haid).

i—»>j (Mengeriknya),

maskudnya adalah menghilangkan dzatnya

(wujudnya). Sementara dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dinukil dengan lafazh i£inJ, namun kedua lafazh ini memiliki makna yang sama.

<^t>'ji> (Kemudian menggosoknya),

demikian lafazh yang terdapat

dalam riwayat kami. Sementara itu telah dinukil oleh Al Qadhi Iyadh serta selainnya dengan lafazh 'i-Lp'js jii yakni hendaklah wanita tersebut menggosok tempat yang terkena darah dengan ujung-ujung jarinya agar air dapat meresap sehingga darah yang telah masuk ke sela-sela kain dapat keluar kembali.
I ^ I A J J

(Dan memercikinya),

maksudnya adalah mencucinya seperti

yang dikatakan oleh Al Khaththabi. Al Cjurthubi berkata, "Yang dimaksud adalah memercikinya, sebab mencuci darah itu sendiri telah tercakup dalam lafazh 'Hendaklah ia menggosoknya dengan air:" Adapun memerciki di sini hanyalah khusus pada bagian kain yang diragukan telah terkena percikan darah. Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Atas dasar keterangan Al Khaththabi, maka kata ganti yang terdapat pada lafazh A ^ V W (memercikinya) kembali kepada pakaian itu sendiri. Berbeda dengan kata ganti pada lafazh <to*J (menggosoknya), dimana kata ganti di sini kembali kepada darah. Kemudian memerciki bagian kain yang diragukan apakah terkena darah atau tidak, sama sekali tak memberi faidah apa-apa. Sebab jika bagian tersebut suci, maka tidak ada gunanya untuk diperciki. Sementara apabila najis, maka ia tidak akan suci hanya sekedar diperciki. Maka pandangan paling tepat adalah apa yang dikatakan oleh Al Khaththabi." Al Khaththabi berkata, "Dalam hadits ini terdapat ' 'il yang menunjukkan bahwa najis hanya dapat dihilangkan dengan menggunakan air, bukan dengan zat cair lainnya. Sebab seluruh jenis najis sama kedudukannya dengan darah, dimana tidak ada perbedaan di antaranya

3 0 4 — FATHUL BAARI

menurut kesepakatan ulama. Pendapat bahwa air sebagai satu-satunya alat yang dapat menghilangkan najis merupakan perkataan mayoritas ulama (jumhur)." Sementara itu telah dinukil suatu pendapat dari Abu Hanifah dan Abu Yusuf yang membolehkan membersihkan najis dengan menggunakan semua zat cair yang suci. Dasar yang menjadi landasan pandangan keduanya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah dengan lafazh, U >

J_iytioi (Tidaklah salah seorang di antara kami melainkan

hanya

memiliki

satu sarung dimana ia haid sambil menggunakannya. Apabila kain tersebut terkena darah haid, maka ia pun menghilangkannya dengan air ludahnya lalu menggosok dengan kukunya). Dalam riwayat Abu Dawud dikatakan, "Ia membasahi dengan air ludahnya." Sisi pengambilan hukum dari hadits ini adalah, apabila ludah tidak dapat menghilangkan najis, niscaya najis hanya akan semakin bertambah di tempat tersebut. Tapi pendapat ini dapat dijawab dengan mengatakan, tidak tertutup kemungkinan bahwa yang beliau maksud dengan hal itu adalah mengerik tempat darah, setelah itu diiringi dengan mencucinya. Hal ini akan dijelaskan kemudian dalam kitab Haid pada bab "Apakah wanita shalat dengan menggunakan kain yang ia gunakan saat haid."

Pelajaran yang dapat diambil Sebagian ulama membantah pandangan yang menetapkan air sebagai satu-satunya alat yang dapat membersihkan najis di antara zat cair lainnya. Mereka mengatakan bahwa kesimpulan tersebut hanya berdasarkan kenyataan dimana air disebutkan secara khusus, dan hal itu tidak menjadi dalil bagi mayoritas ulama. Di samping itu, kenyataan ini hanya didasarkan pada kejadian yang umum bukan dalam bentuk persyaratan. Bantahan ini dapat ditanggapi dengan mengatakan, bahwa hadits tersebut telah menyebutkan "air" secara tekstual, maka untuk menyamakannya dengan zat cair lainnya mesti dengan cara analogi (qiyas). Padahal termasuk syarat dalam hal ini adalah bahwa hukum cabang (furu') tidak menyalahi Ulat (dasar penetapan hukum) yang ada pada masalah pokok (yakni masalah yang dijadikan pedoman dalam menetap-

FATHUL BAARI —

305

kan hukum cabang). Sementara pada zat cair selain air tidak ditemukan unsur-unsur seperti yang ada pada air, seperti kelembutan dan daya serapnya yang cepat. Dari sini maka zat cair selain air tidak dapat disamakan hukumnya dengan air dalam membersihkan najis. Faidah-faidah selanjutnya mengenai hadits ini akan dibahas pada bab "Mencuci darah haid", insya Allah.

m
''
^

^5-4 j ^ -*
' gyy j j

J
s

l

i Jitu
c
0

^
«w &

iLiii i i s >
Jj s ^ s s

^
s

o g

s

W — ! U 3 l ^olil

y\s>xZy\ i\'J*\ J>\
J Syf
9

«J UI

JJ-J

\j

:cJU

C — L i l lili ^ / 4 ^
S
& s ^

d^}
j'
9

LJ\ V : &§l A J J JI
j9 S J'
S
s S

J
r'
^

Jlli

f
' s

s

^

La

j»J f-AJI dilp ^^L^pli o

. o i j i l dlJi

<j^*J

«> ? *C

J}\ lil j a^CaJl ^ Si dJi^su^
j £ J (^jf^jJ p ^1 JL»j : Jli

^

228. Telah diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata bahwa Fathimah binti Abi Hubaisy datang kepada Nabi SA W lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku seorang wanita yang menderita istihadhah maka aku senantiasa tidak suci. Apakah aku boleh meninggalkan shalat? " Rasulullah bersabda, "Tidak! Sesungguhnya yang demikian itu hanyalah kotoran dan bukan haid. Apabila haidmu telah datang, maka tinggalkanlah shalat; dan apabila haidmu telah pergi, maka cucilah darimu darah kemudian hendaklah engkau shalat. " Dia berkata, "Bapakku berkata, 'Kemudian hendaklah engkau berwudhu untuk setiap kali shalat hingga datang waktu tersebut?''

Keterangan Hadits:
J
t

JL???-

J

CJU

<wt>ii Nama Abu Hubaisy adalah Qais bin Mutlialib bin

Asad, dan Fathimah yang dimaksud di sini adalah selain Fathimah binti Qais yang pernah dithalak tiga.

3 0 6 — FATHUL BAARI

jp\*tL-Li\

(Saya menderita

istihadhah). Dikatakan seorang wanita

menderita istihadhah, yakni apabila darah terus keluar darinya setelah masa haid atau nifas berlalu. Adapun yang dimaksud dengan istihadhah adalah keluarnya darah dari kemaluan wanita pada masa-masa yang tidak biasanya darah keluar. 'i (Tidak), maksudnya jangan tinggalkan shalat. £ l — ( M a s a haidmu), boleh pula dibaca dc'ftV. Yang dimaksud dengan "datang" dan "pergi" di sini adalah permulaan dan akhir masa haid. ^ J J (Maka tinggalkanlah shalat). Lafazh ini berimplikasi larangan bagi seorang wanita yang sedang haid untuk melakukan shalat, dan shalat wanita yang sedang haid adalah tidak sah, sebagaimana ijma' (kesepakatan) ulama. J»J—ll dJ—'s- L~pli (Cucilah darah darimu). Maksudnya, setelah itu
l)?

hendaklah kamu mandi. Adapun perintah untuk mandi sendiri didapatkan dari dalil-dalil lain sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci pada kitab Haid, insya Allah. JV3 (dia berkata), yang dimaksud adalah Hisyam bin Urwah. ^—»i J l i j (Dan bapakku berkata), yang dimaksud adalah Urwah bin Zubair. Sebagian ulama mengatakan bahwa riwayat ini disebutkan tanpa silsilah periwayatan (mu 'allaq), padahal sebenarnya tidaklah demikian. Bahkan silsilah riwayat ini telah disebutkan sebelumnya melalui jalur Muhammad dari Abu Mu'awiyah dari Hisyam. Hal ini telah dijelaskan oleh Imam Tirmidzi dalam riwayatnya. Ada juga yang menyatakan bahwa lafazh, ^—r^'J pandangan (Kemudian

hendaklah engkau berwudhu) termasuk perkataan Urwah. Akan tetapi, ini masih perlu dipertanyakan lagi. Sebab jika itu adalah perkataan Urwah, tentu ia akan m e n g a t a k a n ' — — 5 (Kemudian dia berwudhu), yakni dalam bentuk berita. Namun, karena dia menyampaikannya dalam bentuk perintah, maka sesuai dengan bentuk perintah pada

FATHUL BAARI —

307

lafazh yang

diyakini berasal dari Nabi SAW, yaitu sabdanya d£* JL*.S>\j

fi—!i (Cucilah darah darimu). Adapun hukum persoalan ini akan kami jelaskan pada kitab Haid.

64. Mencuci dan Mengerik Mani serta Mencuci Apa yang Menyentuh Wanita
) 3 /Jj^*- ' **! 3 . 0

s. ss

0

i

A,

3

*

A

O,

O

.

s

s

0 s

^ J i ^_->JJ y» 4JL>JI J-—^'

o J l i 4-ioLp

229. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, 'Akupernah mencuci junub (mani) dari kain Nabi SA W, lalu beliau SA W keluar untuk shalat sedang bercak air di pakaiannya (masih kelihatan)"

s

S'

j

0

'

3

y y

y

y

°

I1

^ ' -*

^ ' ^ '

" II '

' - ' ' . l ' ' '
S

(f' '

t1-

l ' ' '

3

• I'

° I '

3

• ' s

^

'

J ' ^ ' f j l ' '

'

'

o> lail ^jl *4

^ ^ p ^ J ii^l «JJl J * _ J J J

^

4JL^PI o - L S "

:cJlii

.frLJi ^

^J

j

jlili

^

230. Diriwayatkan dari Sulaiman bin Yasar, ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang mani yang mengenai kain (pakaian). Aisyah mengatakan. Aku pernah mencucinya dari pakaian Nabi SAW. Kemudian beliau keluar untuk shalat, sementara bekas cucian itu kelihatan membasahi kain beliau.''"

Keterangan Hadits: (Mencuci mani dan mengeriknya). Imam Bukhari tidak meriwayatkan hadits tentang mengerik mani, bahkan beliau hanya memberi isyarat pada judul bab sebagaimana yang dilakukannya. Sebab, riwayat tentang

3 0 8 — FATHUL BAARI

mengerik mani juga dinukil melalui hadits Aisyah seperti yang akan kami sebutkan. Tidak ada pertentangan antara hadits tentang mencuci mani dengan mengeriknya, karena untuk memadukan kedua riwayat itu sangat jelas bagi mereka yang berpandangan bahwa mani adalah suci. Yaitu dengan memahami bahwa mencuci mani merupakan sesuatu yang disukai dan bukan hal yang wajib. Demikianlah cara yang ditempuh oleh Imam Syafi'i, Imam Ahmad dan para ahli hadits. Begitu pula memadukan kedua riwayat yang dimaksud bisa saja dilakukan oleh mereka yang berpendapat mani adalah najis, yakni dengan mengatakan sesungguhnya perintah untuk mencuci dilakukan bila mani dalam keadaan basah. Sedangkan keterangan tentang mengerik dikhususkan apabila mani telah mengering, sebagaimana cara yang ditempuh oleh ulama madzhab Hanafi. Akan tetapi cara pertama jauh lebih tepat, sebab yang demikian itu merupakan upaya untuk mengamalkan riwayat dan melakukan qiyas (analogi) sekaligus. Karena apabila mani itu najis, maka secara logika untuk menghilangkannya harus dicuci dan tidak boleh hanya dikerik seperti darah dan najis-najis yang lain. Sementara mereka (golongan Hanafi) dalam membersihkan darah dalam kadar yang banyak tidak mencukupkan dengan mengerik saja. Cara kedua tertolak dengan apa yang dinukil oleh Ibnu Khuzaimah melalui jalur lain dari Aisyah, bahwasanya ia pernah menghilangkan mani dari pakaian Nabi SAW dengan akar idzkhir (salah satu jenis tumbuhan) kemudian beliau shalat menggunakan pakaian itu. Ia pernah pula mengerik mani yang telah kering di kain Nabi SAW kemudian beliau shalat dengan menggunakan kain tersebut. Riwayat ini memberi keterangan bahwa Aisyah RA tidak mencuci air mani baik dalam keadaan basah maupun setelah mengering. Adapun Imam Malik tidak mengenal adanya mengerik, beliau mengatakan, "Sesungguhnya praktek yang berlangsung dalam madzhab ini (Maliki) adalah mencuci air mani sebagaimana halnya najis-najis yang lain." Namun hadits tentang mengerik mani merupakan bantahan kuat bagi pendapat mereka, hanya saja sebagian ulama madzhab Maliki memahami makna mengerik dalam hadits tersebut dalam arti menggosok dengan menggunakan air. Akan tetapi pemahaman seperti ini juga tertolak oleh keterangan yang terdapat dalam salah satu riwayat Imam Muslim dari Aisyah,

FATHUL BAARI —

309

dimana dikatakan, "Sungguh aku pernah mengalami dimana aku mengerik mani yang telah mengering di pakaian Rasulullah dengan menggunakan kukuku." Demikian juga dengan keterangan salah satu riwayat yang dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dari hadits Hammam bin Harits, dimana dikatakan bahwa Aisyah RA pernah mengingkari perbuatan tamunya ketika ia mencuci mani. Aisyah berkata, "Mengapa ia telah merusak pakaian kami? Sesungguhnya cukuplah baginya mengerik dengan menggunakan jari-jari tangannya. Karena betapa banyak aku telah mengerik mani di pakaian Nabi SAW dengan menggunakan jari-jari tanganku." Sebagian ulama mengatakan, "Pakaian yang beliau (Aisyah) kerik saat menghilangkan air mani adalah pakaian tidur, sedangkan pakaian yang beliau cuci adalah pakaian untuk shalat." Tapi pendapat ini tertolak oleh keterangan pada salah satu riwayat Imam Muslim dari hadits Aisyah, dimana disebutkan, "Sungguh aku pernah mengerik mani di pakaian Nabi SA W, maka beliau shalat menggunakan pakaian tersebut." Lafazh hadits yang berbunyi "Maka beliau shalat menggunakan pakaian tersebut," menolak kemungkinan antara mengerik dan shalat setelah dicuci. Keterangan lebih tegas lagi mengenai hal ini adalah riwayat Ibnu Khuzaimah yang berbunyi, "Bahwasanya ia (Aisyah)pernah mengerik mani di pakaian Nabi SAW pada saat beliau SAW sedang melakukan shalat." Kemudian seandainya riwayat-riwayat di atas tidak pernah dinukil, maka hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari tidak pula mengindikasikan najisnya air mani. Sebab tindakan Aisyah mencuci mani termasuk kategori perbuatan, sementara perbuatan itu sendiri tidak berkonsekuensi kepada kewajiban, wallahu a 'lam. Lalu pandangan yang berdalil dengan hadits-hadits di atas untuk menyatakan bahwa air mani itu tidak najis, dibantah oleh sebagian ulama dengan alasan bahwa mani Nabi SAW hukumnya suci sebagaimana yang keluar dari tubuhnya. Jawaban untuk pandangan ini dikatakan, "Kalaupun kita setuju hal ini termasuk kekhususan bagi beliau SAW, namun mani beliau SAW keluar sebagai hasil melakukan hubungan biologis yang tentu saja bercampur dengan mani istrinya. Seandainya mani istrinya hukumnya najis, maka tidak cukup meng-hilangkannya hanya dikerik." Pandangan seperti ini telah dipergunakan oleh Syaikh Al Muwaffiq dan ulama selain beliau untuk menyatakan sucinya cairan yang

3 1 0 — FATHUL BAARI

membasahi kemaluan wanita. Beliau berkata, "Barangsiapa yang mengatakan bahwa mani sangat rawan tercampur oleh madzi, maka orang ini telah keliru. Karena apabila syahwat telah memuncak, niscaya air mani akan keluar tanpa diiringi oleh madzi atau kencing sebagaimana keadaan saat bermimpi." (Dan mencuci apa-apa yang menyentuh), seperti pakaian dan halhal lain dari wanita saat melakukan hubungan suami-istri. Dalam masalah ini terdapat sebuah hadits yang memberi keterangan cukup tegas, yaitu riwayat yang nanti akan disebutkan oleh Imam Bukhari di bagian akhir kitab Mandi dari hadits Utsman. Akan tetapi beliau (Imam Bukhari) tidak menukil hadits tersebut di tempat ini, seakan-akan keterangan untuk mencuci apa-apa yang menyentuh dari wanita, beliau tarik dari kesimpulan yang telah kami kemukakan, yaitu bahwa mani yang terdapat di pakaian tidak terlepas dari percampuran antara mani wanita dan cairan yang biasa membasahi kemaluannya.
«UUsriJ! J—i-\

(Aku mencuci junub),

yakni bekas junub (mani). kepada Aisyah). Lafazh ini

i—liJlp c J l — i (Aku pernah

bertanya

merupakan bantahan atas perkataan Al Bazzar yang menyatakan, bahwa Sulaiman bin Yasar tidak mendengar hadits ini langsung dari Aisyah RA. Al Bazzaar sendiri telah didahului oleh ulama lain mengenai pernyataan itu, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Syafi'i dalam kitab Al Umm dari beliau. Beliau menambahkan bahwa para ahli hadits mengatakan, sesungguhnya Amru bin Maimun telah keliru dalam menisbatkan hadits ini kepada Aisyah, padahal itu hanyalah fatwa Sulaiman bin Yasar. Akan tetapi dari pandangan Imam Bukhari yang telah menshahihkannya dan Imam Muslim yang menyetujui hal itu, maka jelaslah bahwa riwayat Sulaiman bin Yasar sangatlah akurat, dan penisbatan hadits ini langsung kepada Aisyah RA adalah benar. Tidak ada pertentangan antara fatwa dan riwayat Sulaiman bin Yasar. Demikian juga perbedaan versi riwayat yang ada tidak berpengaruh, dimana dikatakan pada salah satunya bahwa Amru bin Maimun bertanya kepada Sulaiman, sedangkan pada versi lain dikatakan Sulaiman bin Yasar bertanya langsung kepada Aisyah. Hal itu karena masing-masing perawi mendengar pernyataan gurunya. Sebagian mereka menghapal apa yang tidak dihapal oleh perawi lainnya, sementara mereka semua tergolong tsiqah (terpercaya).

FATHUL BAARI —

311

lf-^

s

j—*•

(Tentang

mani) Yakni mengenai hukum mani, apakah

disyariatkan untuk dicuci atau tidak? Jawaban yang diberikan adalah beliau biasa mencucinya. Akan tetapi dalam pernyataan tersebut tidak ditemukan indikasi yang menyatakan bahwa hal itu wajib dilakukan. ^3-*r* (Kemudian beliau keluar), maksudnya keluar dari kamarnya

menuju masjid. Dalam hadits ini terdapat sejumlah faidah, di antaranya; keterangan wanita menanyakan perkara-perkara yang dianggap tabu demi kemaslahatan mempelajari hukum dan khidmat isteri terhadap suaminya. Lalu hadits ini dijadikan oleh Imam Bukhari sebagai dalil, bahwa bekas najis yang tersisa tidaklah mengapa selama ujudnya sudah hilang. Atas dasar ini Imam Bukhari memberi judul hadits ini dengan perkataannya, "Bab apabila junub dan selainnya dicuci namun bekasnya tidak hilang." Kemudian beliau menyebutkan dalam bab ini sebuah hadits tentang junub seraya mengikutkan yang lainnya dengan cara analogi (disamakan) dengannya. Atau beliau memaksudkan dengan hal ini sebagai isyarat terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya dari Abu Hurairah bahwa Khaulah binti Yasar berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki kecuali satu pakaian dan aku mengalami haid, maka apakah yang mesti aku lakukan?" Beliau SAW bersabda, "Apabila engkau telah suci, maka cucilah pakaianmu itu lalu shalatlah dengan menggunakannya." Beliau bertanya lagi, "Bagaimana jika darah tidak keluar? " Beliau SAW bersabda, "Cukuplah bagimu air dan tidak mudharat (bahaya) bagimu bekasnya.'''' Pada jalur periwayatan hadits ini terdapat kelemahan. Ia memiliki pula penguat dengan silsilah periwayatan mursal (tanpa menyebut perawi langsung dari Nabi), seperti dikutip oleh Al Baihaqi. Adapun yang dimaksud dengan bekas adalah sesuatu yang sulit dihilangkan, demi untuk memadukan antara riwayat ini dengan hadits Ummu Qais, "Keriklah dengan tulang dan cucilah dengan menggunakan air serta Sidr (sejenis tumbuhan yang harum)." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan silsilah periwayatan yang hasan. Oleh karena hadits ini tidak sesuai dengan syarat Imam Bukhari, maka makna yang dikandung oleh hadits ini beliau gali dari hadits yang sesuai dengan syaratnya, sebagaimana yang biasa dilakukannya.

3 1 2 — FATHUL BAARI

Abu Musa shalat di Darul Barid dan tempat pembuangan sampah, sementara gurun terbentang di hadapannya, lalu dia berkata, "Di sini atau di sana sama saja."
s £
5 jjl 1
^ £ *

9

' 'O

'

'

'O'

0

i

'y t f,

o

y'

' '

' ^ '
^ LS^'
i

^
j\ j

o

A
^'i
i' '
-Z*^*

o

'

ljy^l_J a
9

L ; >j \J £ P y
9

^ l i l >si Jli JJJU J
i'
jl j

y
9

i'*
j

" ' '

Uj
'

iGl
'

^
'O '

I y.j^i
.1^

^I^-*^

^

^ i

' /

Z "

'"o'

s\
,

iti ^
0

> J I jiliL-i j JS§| ^^Jl cl t-^r j0\ l i l i ^*jUT J>
^0 i O ) ) * «'O [ ' .< O

I j^» I
« ' O .* , .< f ° ,

UJi I jiUajli ^ 1
s- S
_ .

jLpl J y ^
S
' ° f ' l

S

r' s'
' ' f .

^

s s

&

. 4j yy j J 4JJI \y j b - J

f' ^ '

a

s

J»-f>Ui

o

233. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata, "Suatu ketika datang sekelompok manusia dari suku Ukl -atau Urainah- namun mereka tidak cocok dengan hawa kota Madinah (yang menyebabkan mereka selalu sakit-sakitan). Maka beliau SAW memerintahkan mereka untuk mencari unta betina yang sedang menyusui, dan menyuruh mereka supaya minum air kencing dan susu unta itu. Orang-orang itu pun berangkat dan melakukan apa yang dianjurkan oleh Nabi. Setelah sehat kembali, mereka membunuh penggembala milik Nabi SA W lalu mereka pergi dengan membawa unta. Berita mengenai hal itu sampai kepada Nabi di pagi hari, maka Nabi SA W mengirim utusan untuk mengikuti jejak mereka. Ketika matahari telah meninggi orang-orang tersebut dapat ditangkap. Maka beliau memerintahkan untuk memotong tangan dan kaki mereka dan mata mereka, ditusuk kemudian dijemur di tempat panas. Mereka minta minum namun tidak diberi minum. " Abu Qilabah berkata, "Orang-orang itu telah mencuri, membunuh dan kafir setelah beriman serta menantang Allah dan Rasul-Nya"

FATHUL BAARI —

315

K e t e r a n g a n Hadits: (Kencing unta, binatang ternak dan kambing) Yang dimaksud dengan binatang ternak di sini adalah hewan yang memiliki tapak, seperti kuda, bighal (hewan hasil perkawinan silang antara keledai dan kuda.ed.) dan keledai. Ada pula kemungkinan penyajian di sini adalah mengaitkan kata yang bersifat umum kepada sesuatu yang bersifat khusus, kemudian mengaitkan kata bersifat khusus kepada sesuatu yang bersifat umum. Akan tetapi, kemungkinan pertama jauh lebih tepat. Untuk itu Imam Bukhari menukil perbuatan Abu Musa ketika shalat di DaruI Barid, karena tempat itu adalah tempat tambatan hewan yang ditunggangi. Demikian pula disebutkannya hadits kaum Urainah secara khusus adalah untuk menyatakan bahwa air kencing unta adalah suci, sebagaimana beliau mengutip hadits tentang kandang kambing untuk mendukung pandangannya tersebut. (Kandangnya). Di sini Imam Bukhari tidak memberi keterangan secara tegas mengenai hukumnya, sama seperti kebiasaan beliau dalam perkara-perkara lain yang diperselisihkan. Akan tetapi dari sikap beliau yang sengaja menukil hadits kaum Urainah memberi indikasi kuat bahwa ia lebih cenderung memilih pendapat yang menyatakan air kencing hewan hukumnya suci. Kesimpulan seperti ini diindikasikan pula oleh pernyataan beliau saat membahas hadits orang yang disiksa dalam kuburnya, dimana ia berkata, "Tidak disebutkan selain kencing manusia." Pandangan yang mengatakan bahwa air kencing hewan hukumnya suci, juga merupakan pendapat Asy-Sya'bi, Ibnu Aliyah, Dawud dan selain mereka. Kenyataan ini menolak pula mereka yang menyatakan adanya ijma' tentang najisnya air kencing hewan yang tidak dimakan dagingnya. Pembahasan tentang itu telah kami jelaskan. >J y) J^>j (Dan Abu Musa shalat), yang dimaksud adalah Abu Musa Al Asy'ari. Riwayat mengenai perbuatan Abu Musa ini disebutkan lengkap dengan silsilah periwayatannya oleh Abu Nu'aim (guru Imam Bukhari) dalam kitabnya yang berjudul Shalat, dimana beliau berkata, "Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Malik bin Harits yakni As-Sulami Al Kufi- dari bapaknya, ia berkata, "Abu Musa shalat mengimami kami di DaruI Barid, sementara di tempat itu ada pembuangan sampah dan gurun di hadapannya. Maka orang-orang
» -

3 1 6 — FATHUL BAARI

berkata, 'Alangkah baiknya jika anda shalat mengimami kami di gurun itu.'" Kemudian disebutkan seperti hadits di atas. Adapun maksud DaruI Barid yang disebut-sebut dalam riwayat ini adalah tempat yang terletak di Kufah (salah satu kota di Irak), dimana para utusan biasa singgah di tempat itu apabila mereka hendak menyampaikan perintah dari khalifah kepada para pembantunya (gubernur). Sementara Abu Musa adalah gubernur di Kufah pada masa pemerintahan khalifah Umar dan beberapa waktu pada masa pemerintahan khalifah Utsman. DaruI Barid ini terletak di pinggiran, oleh karena itu ia berhubungan langsung dengan gurun. Al Mathrazi berkata, "Al Barid pada dasarnya adalah hewan yang disiapkan untuk berjaga-jaga. Lalu lafazh tersebut dipergunakan bagi para utusan yang menunggang hewan yang dimaksud. Setelah itu, lafazh ini dipergunakan untuk nama jarak tertentu yang sudah dikenal." s-lj—i (Sama saja), maksudnya kedua tempat itu tak ada bedanya ditinjau dari segi sah tidaknya shalat. Kemudian ada yang mengatakan bahwa dalam riwayat ini tidak terdapat indikasi bahwa Abu Musa berpendapat hukum kotoran binatang adalah suci, sebab ada kemungkinan beliau shalat di tempat itu sambil memakai alas kain. Sebagai jawabannya dikatakan, bahwa hukum asal kain yang dimaksud tidak ada. Telah diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsauri dalam kitab Jami' pada bagian Musnad AIA 'masy, dimana disebutkan, "Abu Musa shalat mengimami kami di suatu tempat yang ada sampahnya." Riwayat Ats-Tsauri ini sangat jelas menunjukkan beliau shalat tanpa alas. Telah diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur dari Sa'id bin Musayyab dan selain beliau, bahwa shalat dengan menggunakan alas merupakan hal baru. Silsilah periwayatan hadits ini memiliki derajat shahih. Adapun tanggapan yang berbobot adalah dengan mengatakan, sesungguhnya perbuatan seperti itu hanyalah bersumber dari Abu Musa, sementara sahabat-sahabat lain seperti Ibnu Umar dan lainnya menyalahi Abu Musa dalam masalah ini. Dengan demikian, pandangan Abu Musa tidak dapat menjadi hujjah. Atau dikatakan kemungkinan Abu Musa berpandangan bahwa kesucian tidak termasuk syarat sahnya shalat, tapi kesucian merupakan kewajiban yang berdiri sendiri menurut pendapat yang masyhur.

FATHUL BAARI —

317

Keterangan seperti ini telah disebutkan dalam kisah seorang sahabat yang shalat meskipun darah mengucur dari tubuhnya. Perbuatan Abu Musa ini tidak dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa kotoran binatang tergolong suci, sebagaimana perbuatan sahabat yang shalat berlumuran darah tidak menjadi alasan untuk menyatakan bahwa darah itu suci hukumnya. Adapun upaya untuk menyamakan atau menganalogikan hukum antara hewan yang dimakan dagingnya dengan hewan yang tidak dimakan dagingnya, adalah tidak jelas atau rancu sebab perbedaan keduanya cukup jelas apabila terbukti kotoran hewan yang dimakan dagingnya hukumnya suci, seperti yang akan kami bahas. Sementara berpegang dengan makna umum dari hadits Abu Hurairah RA yang dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan lainnya dari Nabi SAW dengan lafazh, JAs o l i p ailp jli J J J I J \'ytj]£*>\ (Jauhilah atau berhati-hatilah kalian dari kencing, karena sesungguhnya kebanyakan adzab kubur itu bersumber darinya) jauh lebih tepat dan pantas. Sebab secara lahiriah hadits ini mencakup seluruh jenis air kencing, maka wajib dijauhi berdasarkan hadits Abu Hurairah tersebut. y J — ^ * 'j—» (Dari suku
i *

Ukl atau Urainah).

Unsur yang Muharibin

menunjukkan keraguan pada lafazh ini bersumber dari Hammad. Imam Bukhari telah menyebutkan pula hadits ini dalam bab Al sekelompok melalui jalur Qutaibah dari Hammad, *ij i—ijf-'j*Jli jl JJs* 'JA Jli *i\ «uJii (Sesungguhnya

'j*

llaij 01 dari

manusia yang berasal

suku Ukl atau ia mengatakan berasal dari Urainah. Akan tetapi aku tidak mengetahui kecuali ia mengatakan berasal dari Ukl). Demikian pula Imam Bukhari menyebutkan kembali hadits ini dalam kitab Jihad melalui jalur Wuhaib dari Ayyub, j £ * 'j* Uaij ji (Bahwasanya sekelompok orang dari Ukf), tanpa menggunakan lafazh yang mengindikasikan sikap raguragu. Begitu pula yang disebutkan dalam bab "Al Muharibin" melalui jalur Yahya bin Abi Katsir, dalam kitab Diyat (denda) melalu jalur Abu R a j a \ dan keduanya meriwayatkannya dari Abu Cjilabah. Lalu Imam Bukhari meriwayatkan pula dalam kitab Zakat melalui Qatadah dari Anas, i ^ j * 'j? ^OAj O' (Bahwasanya berasal dari Urainah), sekelompok orang yang juga tanpa menggunakan lafazh yang mengindi-

3 1 8 — FATHUL BAARI

kasikan keraguan. Begitu pula yang dikutip oleh Imam Muslim dari Mu'awiyah bin Cjurrah dari Anas. Dalam kitab Al Maghazi disebutkan melalui Sa'id bin Abi Arubah dari Qatadah, j-Z'j* j j £ £ 'j* tfaij 01 (Bahwasanya orang-orang yang berasal dari

Ukl dan Urainah). Yakni dengan menggunakan kata penghubung "dan" yang merupakan riwayat yang benar. Kebenaran didukung riwayat yang menggunakan kata penghubung "dan" oleh riwayat yang dinukil oleh Abu Awanah dan Thabari ZZ'jf- °JA Sijjt (Mereka terdiri dari empat orang yang berasal

melalui jalur Sa'id bin Basyir dari Qatadah dari Anas. Ia berkata, tyif
J _ j £ p JA AJMJJ

dari

Urainah

dan tiga orang dari Ukl). Lalu riwayat ini tidak pula

menyalahi riwayat yang dinukil oleh Imam Bukhari dalam kitab "Jihad" melalui jalur Wuhaib dari Ayyub, dan dalam kitab "Diyat" (denda)
S—JUJ 'JA

melalui jalur Hajjaj Ash-Shawwaf dari Abu Raja", keduanya berasal dari Abu Qilabah dari Anas, ia berkata, sekolompok tfaij oi (Bahwasanya manusia dari Ukl yang terdiri dari delapan orang).

Dikatakan bahwa riwayat ini tidak bertentangan dengan hadits sebelumnya, karena ada kemungkinan kedelapan orang yang dimaksud tidak berasal dari salah satu di antara kedua kabilah tersebut sehingga ia tidak pula dinisbatkan kepada salah satunya. Adapun mereka yang menisbatkan kedepalan orang ini pada salah satu dari dua suku di atas, sungguh ia telah bersikap ceroboh berdasarkan riwayat Abu Ya'la yang juga dikutip oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Selanjutnya, Ibnu At-Tin melakukan kesalahan saat mengatakan suku Urainah adalah suku Ukl itu sendiri. Bahkan keduanya adalah dua suku yang berbeda, Ukl berasal dari Aden sedangkan Urainah berasal dari Qahthan. Yang dimaksud dengan suku Ukl adalah suku yang berasal dari Qabilah Taim Ar-Rabbab. Sedangkan Urainah adalah nama dua suku yang menempati dua pemukiman, yaitu pemukiman Qudha'ah dan pemukiman Bujailah. Adapun yang dimaksud di sini adalah suku Urainah yang menempati pemukiman Bujailah, sebagaimana disebutkan oleh

FATHUL BAARI —

319

Musa bin Uqbah dalam kitab Al Maghazi dan dikutip oleh Ath-Thabari melalui jalur lain dari Anas. Kemudian tersebut dalam riwayat Abdurrazzaq dari hadits Abu Hurairah dengan silsilah periwayatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, bahwasanya rombongan tersebut berasal dari suku Fazarah. Ini jelas merupakan suatu kekeliruan, sebab suku Fazarah berasal dari Qabilah Mudhar, dimana mereka tidak pernah bertemu dengan Ukl maupun Urainah. Disebutkan oleh Ibnu lshaq dalam Al Maghazi bahwa kedatangan rombongan tersebut setelah perang Dzi Qard, sementara perang ini sendiri terjadi pada bulan Jumadil Akhir tahun keenam Hijrah. Namun Imam Bukhari menyebutkan, bahwa kedatangan rombongan tersebut berlangsung setelah perjanjian Hudaibiyah di bulan Dzulqa'dah pada tahun yang sama. Sementara Al Waqidi menyebutkan, bahwa mereka datang pada bulan Syawwal tahun Hudaibiyah. Pendapat Al Waqidi diikuti pula oleh Ibnu Sa'ad, Ibnu Hibban dan lainnya, wallahu a 'lam. Dalam bab "Al Muharibin ", Imam Bukhari menyebutkan bahwa orang-orang tersebut tinggal di masjid sebagai ahli shuffah sebelum mereka disuruh pergi ke tempat onta.

ii>xj\ \jf*.\£ (Mereka

tidak

cocok

dengan

Madinah).

Dalam

riwayat Yahya bin Abu Katsir sebelum lafazh ini terdapat tambahan, i j l l — ( d a n mereka masuk Islam). Sementara dalam riwayat Abu Raja' disebutkan, ^ — J * (Maka mereka berjanji setia kepada Rasul

untuk membela Islam). Ibnu Faris berkata, "Dikatakan
J—Ut

c

jjslri

(Aku tidak cocok

dengan suatu negeri) apabila aku tidak senang tinggal di negeri itu, meskipun aku dalam kenikmatan." Akan tetapi Al Khaththabi mengkhususkan lafazh tersebut bagi mereka yang mendapatkan mudharat karena tinggal di negeri yang dimaksud. Hal ini sesuai dengan kisah di atas. Al Qazzaz berkata, "Dikatakan ' j j s r (mereka tidak cocok
1

dengan adalah

suatu

negeri)

apabila makanan penduduk negeri itu tidak sesuai dengan

selera mereka." Menurut Ibnu Al Arabi bahwa lafazh Sy—^

3 2 0 — FATHUL BAARI

penyakit. Lalu dalam riwayat lain dari Abu Raja'

disebutkan dengan

lafazh, \'j^-'y—L>\. Ibnu Al Arabi mengatakan, bahwa kedua lafazh itu memiliki makna yang sama. Sementara ulama yang lain mengatakan bahwa lafazh ijtawa adalah sejenis penyakit yang biasa menyerang perut. Dalam riwayat Imam Bukhari melalui jalur Sa'id dari Qatadah, sehubungan dengan kisah ini dikatakan, "Mereka berkata, 'Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami ini adalah orang-orang yang biasa beternak dan tidak terbiasa bertani.'" Kemudian dalam bab tentang pengobatan, Imam Bukhari menyebutkan pula riwayat yang senada melalui Tsabit dari Anas. Ia berkata, "Sesungguhnya dahulu ada sekelompok manusia yang menderita suatu penyakit, maka mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, berilah kami tempat tinggal dan makanan.'" Setelah sembuh mereka berkata, 'Sesungguhnya Madinah negeri yang membahayakan kesehatan.'" Secara lahiriah, orang-orang tersebut masuk Madinah dalam keadaan sakit dan ketika sehat mereka merasa tidak senang tinggal di Madinah karena merupakan daerah penyakit. Adapun penyakit yang mereka bawa saat masuk Madinah adalah kondisi tubuh yang kurus dan kelelahan karena rasa lapar. Dalam riwayat Abu Awanah melalui jalur Ghailan dari Anas, "Orang-orang itu kurus kering." Lalu beliau meriwayatkan pula dari jalur Abu Sa'id dari Anas dengan lafazh, "Warna mereka pucat pasi." Adapun penyakit yang mereka keluhkan setelah sembuh dari penyakit lama adalah penyakit demam yang biasa menimpa penduduk Madinah, sebagaimana hal ini disebutkan oleh Imam Ahmad melalui jalur Humaid dari Anas. Pada pembahasan selanjutnya akan dijelaskan penyakit demam di Madinah dari hadits Aisyah dalam bab "Thibb" (ilmu medis), dimana disebutkan bahwa Nabi SAW berdoa kepada Allah agar memindahkan penyakit tersebut ke Juhfah. Lalu disebutkan dalam riwayat Imam Muslim melalui Mu'awiyah bin Qurrah dari Anas dengan lafazh, "Di Madinah saat itu menyebar penyakit radang selaput dada." Sedangkan dalam riwayat Abu Awanah melalui riwayat Hammam dari Qatadah dari Anas sehubungan dengan kisah ini disebutkan, "Maka perut-perut mereka membesar"

FATHUL BAARI —

321

—«JJ

—»

(Maka

beliau SAW memerintahkan

mereka

untuk

mencari unta betina yang sedang menyusui), yakni mereka diperintah untuk mendatangi tempat pemeliharaan atau penggembalaan unta. Dalam riwayat Imam Bukhari melalui Hammam dari Cjatadah disebutkan, "Beliau SAW memerintahkan mereka mendatangi penggembalanya." Sementara dalam riwayat Abu Awanah melalui jalur Mu'awiyah bin Qurrah -dimana silsilah periwayatannya dinukil oleh Imam Muslim- dengan lafazh, "Bahwasanya mereka memulai memohon untuk mendatangi tempat peternakan unta seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, sungguh penyakit ini telah terjadi, maka alangkah baiknya jika engkau berkenan mengizinkan kami pergi ke tempat peternakan unta.'" Kemudian dalam riwayat Imam Bukhari melalui jalur Wuhaib dari Ayyub bahwa mereka berkata, "Wahai Rasulullah, carilah untuk kami air susu." Nabi Menjawab, "Aku tidak mendapatkan air susu untuk kalian, kecuali jika kamu pergi sendiri ke tempat peternakan unta" Dalam riwayat Abu Raja' dikatakan, "Ini adalah unta-unta kami yang sedang keluar, maka keluarlah kamu karenanya." Makna lahiriah riwayat-riwayat ini memberi kesimpulan bahwa unta tersebut adalah milik Nabi SAW. Bahkan kesimpulan ini telah ditegaskan secara transparan dalam riwayat Imam Bukhari pada bab "Al Muharibin (Pemberontak)" melalui jalur Musa dari Wuhaib, dimana disebutkan, "Kecuali jika kamu datang ke tempat unta Rasulullah SA W." Dalam kitab yang sama beliau menukil riwayat melalui jalur Al Auza'i dari Yahya bin Abi Katsir, "Maka beliau SAW memerintahkan kepada mereka agar datang ke tempat unta sedekah (zakat)." Demikian juga yang terdapat dalam kitab Zakat melalui jalur Syu'bah dari Qatadah. Untuk memadukan riwayat-riwayat tersebut dapat dikatakan, "Sesungguhnya unta sedekah digembalakan di luar kota Madinah. Pada saat Nabi SAW mengirim unta miliknya ke tempat penggembalaan, orang-orang tersebut juga memohon kepada beliau SAW agar diizinkan keluar kota untuk minum air susu unta. Maka Nabi SAW memerintahkan mereka untuk keluar bersama penggembala untanya, dan mereka pun keluar bersama penggembala tersebut lalu mereka melakukan perbuatan seperti di atas.

3 2 2 — FATHUL BAARI

Dari kejadian ini terbuktilah kebenaran sabda beliau SAW, iiLuJi JJ ^—& ^ (Sesungguhnya Madinah akan membuang sesuatu yang buruk

padanya). Keterangan selengkapnya mengenai hal ini akan disebutkan. Sementara itu Ibnu Sa'ad mengatakan, bahwa unta milik nabi SAW berjumlah 15 ekor. Lalu orang-orang tersebut menyembelih salah satunya yang bernama Al Hanna. Keterangan ini beliau kutip dari Al Waqidi, padahal Al Waqidi sendiri telah menyebutkan riwayat yang dimaksud dalam kitab Al Maghazi dengan jalur periwayatan yang lemah lagi mursal (tanpa menyebut nama perawi dari Rasulullah SAW). lJJ'J^J olj (Agar mereka kan mereka minum), yakni beliau SAW memerintah-

agar meminum air kencing unta. Dalam riwayat Imam

Bukhari melalui jalur Abu Raja' dikatakan, "Hendaklah kalian keluar dan meminum air susu dan kencingnya", yakni dalam bentuk perintah. Kemudian dalam riwayat Syu'bah dari Qatadah disebutkan, "Maka diberi keringanan bagi mereka untuk datang ke tempat unta sedekah dan meminum air susunya." Landasan yang melegitimasi perbuatan mereka untuk minum air susu unta sedekah adalah karena mereka tergolong ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan). Sedangkan landasan yang membenarkan mereka minum air susu unta milik Nabi SAW adalah izin dari beliau SAW sendiri. Perbuatan mereka meminum air kencing unta telah dijadikan dalil oleh golongan yang menyatakan air kencing hewan adalah suci. Adapun tentang air kencing unta adalah berdasarkan hadits di atas, sedang kesucian air kencing hewan yang dimakan dagingnya adalah berdasarkan qiyas (analogi). Inilah pendapat Imam Malik, Ahmad dan beberapa ulama salaf. Pandangan itu disetujui oleh ulama madzhab Syafi'i, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Mundzir, Ibnu Hibban, Al Istukhari serta Ar-Rauyani. Adapun Imam Syafi'i serta mayoritas ulama berpandangan, bahwa air kencing dan kotoran hewan hukumnya najis, baik yang dimakan dagingnya ataupun tidak dimakan. Lalu Ibnu Mundzir memperkuat pendapatnya dengan mengatakan, sesungguhnya hukum asal sesuatu adalah suci hingga jelas keterangan yang menggolongkannya sebagai sesuatu yang najis. Beliau menambahkan, "Barangsiapa yang mengatakan bahwa kebolehan minum air kencing unta khusus bagi kaum tersebut sungguh ia telah keliru, sebab hukum-hukum yang berlaku secara khusus tidak dapat ditetapkan melainkan berdasarkan dalil." Dia juga berkata,

FATHUL BAARI —

323

"Sikap ulama yang membiarkan manusia memperjualbelikan kotoran kambing di pasar-pasar dari dahulu hingga sekarang tanpa ada yang mengingkarinya merupakan bukti bahwa ia adalah suci." Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Akan tetapi penetapan dalil seperti ini sangatlah lemah, sebab suatu perkara yang diperselisihkan tidak wajib diingkari. Maka tidak adanya pengingkaran bukan menjadi bukti kebolehannya, apalagi menjadi dalil kesuciannya. Sementara indikasi akan najisnya seluruh jenis air kencing telah disebutkan dalam hadits Abu Hurairah RA seperti yang kami sebutkan di atas." Ibnu Al Arabi berkata, "Hadits yang tersebut di bab ini dijadikan sebagai dalil oleh mereka yang menyatakan air kencing unta adalah suci. Namun pandangan mereka dibantah dengan mengatakan bahwa mereka diizinkan untuk minum kencing unta dengan tujuan pengobatan. Akan tetapi bantahan ini dapat pula dijawab bahwa tujuan pengobatan tidak termasuk dalam kondisi darurat, sebab berobat itu sendiri tidaklah wajib. Lalu bagaimana sehingga perkara haram dibolehkan demi sesuatu yang tidak wajib? Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Pernyataan bahwa berobat tidak termasuk kondisi darurat adalah tidak dapat dibenarkan, bahkan ia termasuk dalam kategori darurat berdasarkan berita yang dinukil oleh orang-orang terpercaya. Sesuatu yang dibolehkan karena kondisi darurat tidak dinamakan sebagai hal yang haram pada saat menggunakannya berdasarkan firman Allah SWT, " padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya" (Qs. Al A n ' a a m (6): 119) Segala yang terpaksa digunakan oleh seseorang maka hal itu tidaklah haram baginya, sebagaimana halnya makan bangkai bagi seseorang yang terpaksa harus memakannya, wallahu a 'lam. Substansi perkataan beliau (Ibnu Al Arabi) yang menyatakan, bahwa perkara haram dibolehkan hanya demi tujuan-tujuan yang wajib juga tidak dapat diterima, karena sesungguhnya tidak berpuasa di siang hari bulan Ramadhan hukumnya haram. Namun demikian, ia tetap diperbolehkan hanya karena perkara yang mubah seperti safar. Adapun perkataan ulama lain yang menyatakan air kencing unta adalah najis, maka ia tentu tidak boleh
1

dijadikan —<4? JA

sebagai

obat,

berdasarkan sabda Nabi SAW, 'g y * fj—f

J**4 ^ *»' ^!

3 2 4 — FATHUL BAARI

(Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan bagi umatku pada apa-apa yang diharamkan atas mereka). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Ummu Salamah (Adapun jalur lain hadits ini akan disebutkan dalam pembahasan tentang minuman). Sementara najis adalah haram hukumnya, maka tidak boleh dijadikan sebagai obat karena tidak dapat menyembuhkan. Perkataan ini dapat pula dijawab dengan mengatakan, "Hadits yang dijadikan dalil berlaku dalam kondisi normal. Adapun pada kondisi darurat (terpaksa) tidaklah dianggap sebagai hal yang haram, sebagaimana bangkai (boleh dimakan) oleh orang dalam kondisi terpaksa. Hal ini tidak pula bertentangan dengan sabda beliau SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ketika menjawab pertanyaan tentang berobat dengan menggunakan khamer, s-b 1$ obat, tapi ia adalah penyakit). >\ t ' j j j c — J (Sesungguhnya ia bukan

Hadits ini khusus berhubungan dengan khamer dan masuk pula dalam cakupannya semua yang memabukkan. Perbedaan antara hal-hal yang memabukkan dengan hal-hal yang najis lainnya bahwa, seseorang dapat dijatuhi hukuman fisik (had) jika meminum khamer dalam kondisi normal, sedangkan hal-hal yang najis lainnya tidak demikian. Di samping itu, meminum khamer dapat mendatangkan banyak kerusakan. Pada masa jahiliyah mereka berkeyakinan bahwa khamer dapat menyembuhkan penyakit, maka syariat datang menyalahi keyakinan mereka. Demikian yang dikatakan oleh At-Thahawi. Adapun mengenai air kencing unta, telah diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW, Jt^jW « - ^ J-i? J ^ j , J !
1 1

(Sesungguhnya pada air kencing unta terdapat kesembuhan bagi orang yang menderita penyakit di perutnya). Maka, tidak boleh menyamakan hukum antara sesuatu yang telah dinyatakan tidak mengandung unsur kesembuhan dengan sesuatu yang telah dinyatakan secara tegas mengandung kesembuhan, wallahu a 'lam. Dengan cara ini kita dapat memadukan antara dalil-dalil yang ada ' dan mengamalkan indikasinya.
1

Tidak ada kontradiksi antara dalil-dalil yang disebutkan pada bab ini-segala puji bagi Allah- dan yang benar adalah air kencing hewan yang dimakan baik unta ataupun lainnya hukumnya adalah suci, seperti telah diterangkan pada halaman sebelumnya. Telah disebutkan pula jawaban atas pernyataan Ibnu Hajar di tempat ini. Andaikata air kencing unta dan yang sepertinya adalah najis, maka tentu Nabi SAW memerintahkan mereka mencuci mulut karena minum air air kencing tersebut, seraya menerangkan hukumnya.

FATHUL BAARI —

325

l j _ ? w

L_Ui (Setelah

sehat).

Di sini ada kalimat yang tidak

disebutkan, dimana kalimat selengkapnya adalah &ii l^iUtj l$h};i j * 'j/r^* ij_iw5 (Maka setelah mereka mereka pun minum sembuh). air kencing dan susu unta tersebut,

Lafazh seperti ini disebutkan langsung dalam (dan mereka telah gemuk). Dalam riwayat Al c - « r j j (Dan warna kulit mereka kembali

hadits di atas melalui jalur Abu Raja\ Sementara dalam riwayat Wuhaib ditambahkan,

\'y+—ij

Isma'ili disebutkan, j^'ijif seperti sediakala).

^LJOl «.L_irJ (Maka datanglah berita). Dalam riwayat Wuhaib dari Abu Ayyub disebutkan, £ « — i — ( D a t a n g l a h seseorang penyeru),

yakni ia berseru dengan suara lantang mengabarkan apa yang telah terjadi. Orang yang berseru ini adalah salah seorang penggembala, seperti disebutkan dalam Shahih Abu Awanah melalui riwayat Mu'awiyah bin Qurrah dari Anas. Sementara itu, Imam Muslim telah meriwayatkan pula hadits ini dengan lafazh, i j—13 lu :JU» ^'yr -u Jf-t\ J^\'J\ J*-\ iji3 Jj)!t_j l j — ^ > ~ \ — . e (Maka mereka membunuh salah satu dari dua

pengembala, dan penggembala yang satunya datang dengan ketakutan lalu berseru, "Mereka telah membunuh saudaraku dan pergi membawa unta. "). Nama penggembala Nabi SAW yang terbunuh adalah Yasar, seperti disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam Al Maghazi. Lalu diriwayatkan pula oleh Imam Ath-Thabrani dengan silsilah periwayatan yang bersambung sampai kepada Nabi SAW melalui hadits Salamah bin Al A k w a ' dimana sisilah periwayatannya tergolong baik, "Nabi SAW memiliki seorang budak yang bernama Yasar." Ibnu Ishaq menambahkan, "Dia dapatkan pada saat perang bani Tsa'labah." Salamah berkata, "Nabi SAW melihat orang itu melakukan shalat dengan baik, maka beliau membebaskannya kemudian mengirimnya untuk menggembala untanya di suatu tempat bernama Hurrah, lalu orang itu menetap di tempat tersebut." Kemudian ia menyebutkan kisah orang-orang Urainah dan perbuatan mereka yang membunuhnya. Adapun nama penggembala

Sementara mengakhirkan penjelasan dari waktu dibutuhkannya penjelasan itu tidaklah diperbolehkan sebagaimana ditetapkan dalam ilmu ushul fikih, wallahu a 'lam.

3 2 6 — FATHUL BAARI

yang datang membawa berita belum aku dapatkan keterangan tentang itu, hanya saja nampaknya ia adalah penggembala unta sedekah (zakat). Riwayat Imam Bukhari tidak berbeda dalam menyebutkan, bahwa yang terbunuh hanyalah salah seorang penggembala. Demikian pula dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Namun pada riwayat yang beliau nukil melalui Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas disebutkan, "Kemudian mereka menuju para penggembala dan membunuh mereka." Senada dengan ini, diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban melalui jalur Yahya bin Sa'id dari Anas. Dari sini ada kemungkinan bahwa unta sedekah itu digembalakan oleh sejumlah orang, lalu sebagian mereka terbunuh bersama-sama penggembala unta milik Nabi SAW. Kemudian sebagian perawi mencukupkan dengan menyebut penggembala milik Nabi SAW, sedangkan perawi yang lain menyebutkan pula pengem-bala yang lainnya. Ada pula kemungkinan bahwa sebagian perawi menukil hadits ini dari segi maknanya saja, sehingga menuturkan hadits ini dengan lafazh jamak (plural). Kemungkinan terakhir ini jauh lebih kuat, sebab para penulis kitab Al Maghazi tidak menyebutkan adanya yang terbunuh dalam kejadian itu selain penggembala yang bernama Yasar, wallahu a 'lam. °p*>y—'T 1 (Maka beliau mengirim utusan untuk menelusuri

jejak mereka). Dalam riwayat Al Auza'i ditambahkan "Untuk mencari", sementara dalam hadits Salamah bin Al Akwa' disebutkan "Beliau mengutus satu pasukan berkuda di bawah pimpinan Kurz bin Jabir Al Fihri". Demikian disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan sebagian besar ahli sejarah. Dalam riwayat An-Nasa'i dari Al Auza'i dikatakan, p+jb Jt i—sli (Maka beliau mengutus untuk mencari mereka orang-orang ahli

dalam melihat jejak kaki). Kemudian dalam riwayat Imam Muslim dari Mu'awiyah bin Qurrah dari Anas dikatakan, bahwa pasukan tersebut terdiri dari para pemuda Anshar yang jumlahnya sekitar 21 orang. Tapi dalam kitab Al Maghazi oleh Al Waqidi disebutkan, bahwa pasukan tersebut berjumlah 20 orang tanpa menyebutkan bahwa mereka berasal dari kalangan Anshar. Bahkan disebutkan di antaranya sejumlah sahabat dari kalangan Muhajirin, di antaranya Buraidah bin Al Hushaib, Salamah bin Al Akwa' Al Aslami, Jundub dan Rafi' (dua putra Makits Al Juhnayan), Abu Dzar Al Ghifari, Abu Rahm Al Ghifari, Bilal bin Harits

FATHUL BAARI —

327

Al Mazni, Abdullah bin Amru bin Auf Al Mazni serta selain mereka. Sementara berita Al Waqidi tidak layak dipercaya apabila berita itu tidak dinukil juga dari sumber lain, maka bagaimana jika berita yang beliau nukil bertentangan dengan riwayat dari sumber yang lain? Ada kemungkinan jika mereka yang tidak disebutkan namanya oleh Al Waqidi semuanya berasal dari golongan Anshar, sehingga dikatakan bahwa pasukan itu terdiri dari para pemuda Anshar melihat jumlah mereka yang mayoritas. Atau seluruh yang tergabung dalam pasukan itu dinamakan Anshar menurut pengertian yang lebih luas (yakni para penolong-penerj). Dalam kitab Al Maghazi oleh Musa bin Uqbah dikatakan, bahwa pemimpin pasukan tersebut bemama Sa'id bin Zaid. Namun menurut sumber lain. nama pemimpin pasukan tersebut adalah Sa'ad bin Zaid Al Asyhaii yang juga berasa! dari kalangan Anshar. Dari sini dapat ditarik suatu kemungkinan bahwa beliau adalah pemimpin golongan Anshar yang bergabung dalam pasukan khusus, sedangkan Kurz adalah sebagai pimpinan umum. Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan lainnya dan hadits Jarir bin Abdullah Al Bajli bahwa Nabi SAW telah mengutusnya untuk menelusuri jejak orang-orang Urainah tersebut, akan tetapi silsilah periwayatan hadits ini cukup lemah. Berita yang masyhur menyatakan bahwa Jarir masuk Islam jauh setelah kejadian ini, wallahu a 'lam. £—«jjl Cji (Ketika matahari telah meninggi) Dalam riwayat ini ada bagian yang tidak disebutkan secara tekstual, dan lafazh selengkapnya adalah sebagai berikut, '• 'J* j ^ ' ^ j ' ^ iJJi J> tersebut di hari itu, para tawanan itu Demikian (Maka mereka berhasil mendapatkan orang-orang dan ketika matahari telah meninggi, mereka dihadapkan kepada Nabi SA W). £_ki 'y>\i (Maka beliau memerintahkan

untuk memotong).

riwayat yang dikutip oleh Al Ashili, Al Mustamli dan As-Sarakhsi. Sementara dalam riwayat selain mereka dikatakan, "Maka tangan dan kaki mereka dipotong." Ad-Dawudi berkata, "Maksudnya dipotong kedua tangan dan kaki setiap salah seorang di antara mereka." Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Perkataan ini tertolak oleh riwayat Imam Tirmidzi yang menyatakan dipotong secara menyilang, sebagaimana hal ini disebutkan pula oleh Al Isma'ili dari Al Faryabi, dari Al Auza'i. Sementara dalam riwayat Imam

3 2 8 — FATHUL BAARI

Bukhari melalui riwayat Al Auza'i disebutkan, 'Beliau tidak menahan darah.' Maksudnya beliau SAW membakar tangan yang telah dipotong atau melakukan hal-hal tertentu untuk menahan keluarnya darah, bahkan beliau membiarkan darah mereka mengalir."

Bukhari semuanya menyebutkan dengan menggunakan huruf ra'. Namun dalam riwayat Imam Muslim dari Abdul Aziz menyebutkan dengan menggunakan huruf lam, yakni J * - >
i

Al Khaththabi berkata, bahwa arti J'i

adalah menusuk mata

dengan apa saja. Sehubungan dengan makna tersebut Abu Dzu'aib Al Hadzali berkata: Mata sesudah kepergian mereka

Bagaikan ditusuk dengan duri Sebelah mata menjadi Sambil meneteskan Dia juga berkata buta

air mata bahwa'y.—~>merupakan salah satu bentuk

pengucapan kata Ji—> dimana tempat keluar huruf bagi keduanya sangat berdekatan. Beliau mengatakan, "Ada pula kemungkinan kata'y>~>berasal dari kata (paku), maksudnya paku yang telah dipanasi ditempelkan

ke mata mereka." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Maksud lafazh ini telah disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari melalui jalur Wuhaib dari Ayyub dan riwayat Al Auza'i dari Yahya, keduanya menukil dari Abu Cjilabah dengan lafazh, memerintahkan ditusukkan —> ^—L>^3 c4**-'—' untuk dibawakan
t'

— J — ^

f (Kemudian

t'*

beliau

paku lalu dipanaskan,

dan setelah itu

ke mata mereka).

Riwayat ini memperjelas apa yang telah

disebutkan sebelumnya. Namun ia tidak kontradiksi dengan riwayat yang menggunakan lafazh Ji—> sebab makna lafazh ini adalah mencungkil mata dengan cara apa saja seperti yang telah disebutkan.

FATHUL BAARI —

329

« j — ^ ^j—\ ' j ^ b {Lalu dijemur di harrah atau tempat panas),

yakni

suatu tempat yang berbatu hitam yang terletak di dekat kota madinah. Mereka sengaja dilemparkan ke tempat tersebut, sebab lokasi itu dekat dengan tempat dimana mereka melakukan perbuatannya.

bji—-~i "t—i iiji—(Mereka
minum).

minta minum

namun tidak

diberi

Dalam riwayat Wuhaib diberi tambahan lafazh, ijft» J»- (hingga
( r

mati). Sedangkan dalam riwayat Abu Raja' disebutkan, _ uuiJl J>°pkX3^
IJJI—"

(Kemudian

mereka

dijemur di bawah terik matahari
OJLJVJI

hingga
OjiaiJ

mati). (mereka

Dalam riwayat Syu'bah dari Cjatadah dikatakan, menggigit batu).

Sementara dalam kitab At-Thibb (ilmu medis) jVJ' tanah

diriwayatkan dari Tsabit bahwa Anas berkata, ^CJu j>ji\

—J -J&- (Aku melihat
lS

seseorang mati).

di antara

mereka menjilat

dengan

lidahnya

hingga

Sedangkan dalam riwayat Abu Awanah

dari jalur yang sama disebutkan, oilsJlj'J*}\J 1 * J \W* \jt>ij

Je}i\ 'ja*J

(la menggigit tanah untuk mendapatkan kelembabannya karena panas yang menimpanya). Lalu Al Waqidi menyatakan bahwa mereka disalib, akan tetapi riwayat-riwayat yang shahih menyalahinya. Hanya saja dalam riwayat Abu Uqail dari Anas disebutkan, "Dua orang disalib, dua orang di potong tangan dan kaki dan dua orang ditusuk mata." Demikianlah, ia hanya menyebutkan 6 orang saja. Apabila riwayat ini dapat dipertanggungjawabkan, maka dapat dipahami bahwa siksaan yang mereka terima terbagi-bagi. Kemudian sejumlah ulama -di antaranya Ibnu Al Jauzi- cenderung menyatakan bahwa hukuman yang mereka terima adalah sebagai qishas (yakni hukuman yang dijatuhkan sama dengan perbuatan yang dilakukan -penerj) berdasarkan riwayat Imam Muslim dari hadits Sulaiman AtTaimi dari Anas, "Nabi SAW mencungkil mata mereka karena mereka telah mencungkil mata para penggembala." Mereka yang hanya menisbatkan riwayat ini kepada Tirmidzi dan Nasa'i sungguh telah melakukan tindakan kurang tepat. Lalu Ibnu Daqiq Al Id menanggapi, "Sebenarnya yang terjadi dengan orang-orang Urainah, bahwa tubuh mereka dipotong-potong, sementara dalam hadits ini hanya disebutkan mengenai pencungkilan

3 3 0 — FATHUL BAARI

mata mereka lainnya."

saja. Untuk itu perlu dibuktikan untuk anggota badan

Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Seakan-akan para ulama berpegang pada berita yang dinukil oleh para penulis kitab Al Maghazi (peperangan), dimana mereka mengatakan bahwa orang-orang Urainah dijatuhi hukuman berupa pemotongan anggota badan disebabkan mereka telah memotong-motong anggota badan para penggembala." Namun sebagian ulama menyatakan bahwa hukuman dengan memotong anggota badan pelaku kejahatan telah mansukh (dihapus). Ibnu Syahin berkata setelah menyebutkan hadits Imran bin Hushain sehubungan dengan larangan memotong anggota badan, "Hadits ini menghapuskan segala jenis tindakan yang mengarah kepada pemotongan anggota badan." Lalu perkataan ini ditanggapi oleh Ibnu Al Jauzi dengan mengatakan, bahwa klaim hukuman tersebut telah mansukh (dihapus) harus dibuktikan dengan sejarah, yakni manakah yang terdahulu antara peristiwa ini atau larangan menghukum dengan cara memotong anggota badan. Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Keterangan bahwa riwayat mengenai larangan memotong-motong anggota badan ditetapkan lebih akhir, hal itu diisyaratkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Al Jihad dari hadits Abu Hurairah RA sehubungan dengan larangan menghukum dengan menggunakan api setelah sebelumnya diperbolehkan. Sedangkan kisah orang-orang Urainah terjadi sebelum Abu Hurairah masuk Islam. Meskipun demikian, Abu Hurairah RA telah menyaksikan waktu pembolehan dan saat terjadinya larangan. Diriwayatkan oleh Qatadah dari Ibnu Sirin, bahwa kisah orangorang Urainah terjadi sebelum turunnya ayat-ayat tentang hudud (hukuman fisik). Kemudian Musa bin Uqbah menyebutkan dalam kitab Al Maghazi, "Para perawi menyebutkan bahwa setelah kejadian itu Nabi SAW melarang untuk menjatuhi hukuman memotong-motong anggota badan, karena ayat yang ada di surah Al Maa'idah." Imam Bukhari lebih cenderung kepada pandangan ini, sebagaimana dinukil juga oleh Imam Al Haramain dari Imam Syafi'i. Selanjutnya Al Qadhi Iyadh mempertanyakan apa sebabnya sehingga orang-orang tersebut tidak diberi minum di saat mereka memintanya, sementara ulama telah bersepakat bahwa mereka yang telah

FATHUL BAARI —

331

dijatuhi hukuman mati lalu meminta minum maka tidak boleh dicegah? Untuk menjawab pernyataan ini dapat dikatakan, sesungguhnya hal itu terjadi bukan atas perintah Nabi dan tidak disebutkan pula suatu riwayat yang menyatakan beliau SAW melarang mereka untuk diberi minum. Demikian perkataan Al Qadhi. Namun ini merupakan jawaban yang sangat lemah, sebab tatkala Nabi SAW melihat kejadian itu beliau diam, maka hal itu cukup menjadi dalil (petunjuk) dalam mengukuhkan hukum yang dimaksud. Kemudian Imam An-Nawawi memberi jawaban bahwa seorang pemberontak lagi murtad tidak harus dihormati baik diberi minum atau yang lainnya. Hal ini dapat dijadikan pegangan bahwa seseorang yang tidak memiliki air kecuali sekedar untuk dipakai bersuci, maka tidak boleh memberikan air tersebut untuk diminum orang kafir sementara ia sendiri terpaksa bertayammum. Bahkan, ia harus menggunakan air tersebut untuk bersuci meskipun orang yang murtad itu mati kehausan. Al Khaththabi berkata, "Nabi SAW melakukan hal itu terhadap mereka, karena beliau menginginkan agar mereka mati dalam kondisi seperti itu." Adapula yang mengatakan bahwa hikmah mereka dibiarkan kehausan adalah sebagai balasan atas sikap mereka yang kufur terhadap nikmat minuman air susu unta yang telah menghilangkan rasa lapar dan menyembuhkan penyakit yang mereka derita. Di samping itu Nabi SAW pernah berdoa agar Allah SWT membuat haus orang-orang yang sengaja membuat keluarganya kehausan, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam suatu kisah yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i. Maka ada kemungkinan bahwa keluarga beliau pada malam itu tidak mendapatkan jatah minuman air susu dari unta milik beliau SAW, yang biasa dikirimkan setiap hari, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sa'ad, wallahu a 'lam.

\ fj—*'

t-^'y]—J

y)

Jli (Abu

Qilabah berkata,

"Orang-orang

itu

telah mencuri), yakni mereka telah mengambil unta tersebut dari tempatnya. Perkataan ini diucapkan oleh Abu Cjilabah atas dasar istinbath (pengambilan kesimpulan hukum). i «Tj (dan mereka kafir) Keterangan seperti ini terdapat dalam

riwayat Sa'id dari Qatadah dari Anas seperti tercantum dalam kitab Al Maghazi. Demikian pula yang disebutkan dalam riwayat Wuhaib dari Ayyub dalam kitab Al Jihad sehubungan dengan inti hadits ini. Silsilah periwayatan pernyataan itu sendiri tidaklah hanya sampai pada Abu

3 3 2 — FATHUL BAARI

Cjilabah, sebagaimana yang diduga oleh sebagian ulama. Begitu pula dengan lafazh, ij/jl (dan pemberontakan atau (dan mereka merekapun lari memberontak) dalam dimana telah melakukan disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad melalui jalur Humaid dari Anas, rangka pembangkangan).

Pada pembahasan mendatang akan dijelaskan kisah Abu Qilabah bersama Umar bin Abdul Aziz sehubungan dengan masalah Al Qasamah (sumpah akibat tuduhan melakukan pembunuhan) dalam kitab Diyat (hukuman denda), insya Allah.

Pelajaran yang dapat diambil Dalam hadits ini terdapat sejumlah faidah yang dapat diambil selain apa yang telah disebutkan, di antaranya: 1. 2. 3. 4. Kedatangan para utusan kepada imam (pemimpin). Keharusan seorang imam untuk memperhatikan kemaslahatan (kesejahteraan) mereka (para utusan yang datang). Disyariatkannya berobat dan mengobati penyakit dengan susu atau air kencing unta. Bolehnya membunuh suatu kelompok karena mereka telah membunuh satu orang, baik karena tipu daya atau pemberontakan, jika kita berpendapat bahwa membunuh mereka adalah untuk menegakkan hukum qishash. Bolehnya memotong anggota badan dalam rangka menegakkan hukum qishash, dan ini tidak termasuk perbuatan memotong anggota badan yang dilarang. Tetapnya hukum muharabah (pemberontakan) di gurun (luar pemukiman), adapun di desa (tempat pemukiman) masih diperselisihkan. Ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan) boleh memanfaatkan unta sedekah (zakat) untuk diminum susunya atau keperluan lainnya atas izin sang imam.

5.

6.

7.

FATHUL BAARI —

333

8.

Bolehnya mengikuti perkataan ahli dalam mengetahui jejak kaki, karena bangsa Arab telah memiliki pengetahuan yang mendalam tentang hal itu.

o

l
t5

^

t

'

'

^

}

/

y

y

y

y

y

l^Ji _JL jl Jl»

JUi

S

Jl»

°Js>

234. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata, "Sebelum masjid selesai dibangun, Nabi pernah shalat di tempat-tempat kambing bermalam (kandang)"

Keterangan Hadits: Hadits tentang shalat di tempat-tempat berkumpulnya kambing telah dijadikan dalil oleh mereka yang berpandangan bahwa air kencing dan kotoran kambing adalah suci. Mereka berkata, "Sebab tempat-tempat seperti itu tidak luput dari hal-hal tersebut, sehingga menjadi bukti bahwa mereka bersentuhan langsung ketika shalat, dan itu menunjukkan bahwa kencing dan kotoran tersebut tidak najis." Orang-orang yang berdalil seperti ini dibantah dengan mengemukakan adanya kemungkinan bahwa mereka memakai alas. Namun bantahan ini dapat dijawab dengan mengatakan, bahwa bukan menjadi kebiasaan mereka shalat dengan menggunakan alas yang membatasi mereka dengan tanah. Hanya saja pernyataan inipun masih perlu dipertanyakan, sebab ia hanya merupakan persaksian atas tidak adanya sesuatu (sementara tidak adanya pengetahun tentang sesutu tidak dapat dijadikan bukti bahwa sesuatu itu tidak ada). Akan tetapi, dapat dikatakan bahwa pernyataan tersebut disandarkan kepada dalil pokok. Adapun jawaban yang paling baik adalah riwayat yang dinukil dalam kitab Shahih Bukhari Muslim dari Anas, bahwa Nabi SAW pernah shalat di atas tikar di rumah mereka. Telah terbukti pula kebenaran riwayat yang berasal dari Aisyah, dimana dikatakan bahwa beliau SAW pernah shalat dengan menggunakan alas selendang.

334

FATHUL BAARI

Ibnu Hazm berkata, "Hadits di atas telah dihapus hukumnya, sebab di dalamnya disebutkan bahwa perbuatan itu dilakukan sebelum didirikan masjid yang barang tentu hal itu terjadi pada permulaan hijrah. Sementara telah diriwayatkan melalui jalur yang shahih dari Aisyah bahwa beliau SAW memerintahkan mereka membangun masjid di rumah-rumah lalu diberi wewangian serta selalu dibersihkan, (diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud serta selain keduanya dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah maupun ulama-ulama yang lain). Senada dengan ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dari hadits Samurah, lalu beliau menambahkan, "Dan hendaklah kami selalu membersihkannya." Ibnu Hazm berkata, "Hal ini terjadi setelah dibangunnya masjid." Perkataan beliau tentang penghapusan hukum menandakan bahwa hal itu pada awalnya dibolehkan kemudian dilarang, tapi hal ini perlu ditinjau kembali. Sebab, restu dari beliau SAW untuk shalat di tempattempat berkumpulnya kambing dicantumkan dalam riwayat Imam Muslim dari hadits Jabir bin Samurah. Hanya saja diakui bahwa dalam riwayat tersebut terdapat indikasi sucinya tempat-tempat berkumpulnya kambing, akan tetapi dalam riwayat itu pula terdapat larangan untuk shalat di tempat-tempat berkumpulnya unta. Andaikata izin untuk shalat di tempat-tempat berkumpulnya kambing berkonsekuensi pada sucinya tempat-tempat tersebut, maka tentu larangan untuk shalat di tempattempat berkumpulnya unta berkonsekuensi pula pada najisnya tempattempat yang dimaksud. Padahal tidak seorang ulama pun yang membedakan hukum kedua tempat itu, karena sesungguhnya makna yang terkandung dalam izin serta larangan tersebut adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan masalah suci atau najis. Bahkan makna tersebut adalah bahwa kambing termasuk hewan surga sedangkan unta diciptakan dari syetan, wallahu a 'lam.

67. Najis yang Jatuh ke dalam Minyak Samin atau Air

0

s

£

f

s

O

'i'

'

FATHUL BAARI —

335

Artinya, Az-Zuhri berkata, "Tidak apa-apa dengan air selama rasa, bau atau warnanya tidak berubah." Al Hammad berkata, "Tidak apa-apa dengan bulu bangkai." Az-Zuhri berkata sehubungan dengan tulang bangkai -seperti gajah dan sepertinya, "Aku mendapatkan para ulama dahulu menggunakannya sebagai sisir dan menjadikannya sebagai minyak rambut tanpa mempermasalahkannya." Ibnu Sirin dan Ibrahim berkata, "Tidak mengapa memperdagangkan gading."

Keterangan (Najis yang jatuh ke dalam minyak samin atau air) Maksudnya, apakah najis tersebut dapat menjadikan kedua zat cair tersebut najis atau tidak? Atau apakah air tidak berubah menjadi najis kecuali apabila berubah, sementara zat cair lainnya tidak demikian? Inilah maksud yang dapat dipahami dari apa yang disebutkan oleh Imam Bukhari, baik berupa hadits maupun perkataan para sahabat dan generasi sesudahnya di bab ini.

LSJ—»jh

J u j (dan Az-Zuhri berkata) Silsilah periwayatan mengenai

hal ini disebutkan secara lengkap (maushul) oleh Ibnu Wuhaib dalam kitabnya Al Jami' dari Yunus dari Az-Zuhri. Lalu Al Baihaqi meriwayatkan pula yang semakna dengannya dari jalur Abu Amru -yakni Al Auza'i- dari Az-Zuhri. frl J* *il (Tidak apa-apa dengan air), yakni tidak ada masalah

dalam menggunakannya dalam segala keadaan. Air tetap dianggap suci selama najis tidak merubah rasa, bau atau warnanya. Sementara dalam lafazh yang dinukil oleh Yunus dari Az-Zuhri menjelaskan, bahwa segala sesuatu yang mampu mengalahkan kotoran apa saja yang terjatuh ke dalamnya sehingga tidak merubah rasa, bau atau warnanya, maka ia tetap dianggap suci. Artinya, tidak ada perbedaan antara air yang sedikit

3 3 6 — FATHUL BAARI

maupun banyak kecuali kemampuannya untuk mempertahankan wujud aslinya dari pengaruh kotoran (najis). Yang menjadi pedoman bagi beliau adalah terjadinya perubahan atau tidak (dalam tiga sifat; yaitu rasa, bau dan warna). Madzhab Imam Zuhri ini dijadikan dasar oleh sejumlah ulama. Lalu Abu Ubaid menanggapi pendapat itu dalam kitab Ath-Thahur dengan menyatakan, bahwa konsekuensi pandangan tersebut adalah apabila seseorang kencing di suatu bejana lalu air kencing tidak merubah salah satu sifat air itu, maka orang itu boleh menggunakan air tersebut, padahal perbuatan ini sangatlah menjijikkan. Oleh sebab inilah beliau lebih mendukung pendapat yang membedakan hukum air yang telah cukup dua qullah dengan air yang kurang dari dua qullah. Hanya saja Imam Bukhari tidak menyebutkan hadits tersebut dalam kitabnya, karena adanya pembahasan tersendiri dari segi silsilah periwayatannya. Akan tetapi para perawi hadits tersebut adalah orang-orang yang terpercaya (tsiqah) dan dishahihkan oleh sejumlah imam. Hanya saja tidak ada kesepakatan di antara mereka mengenai ukuran dua qullah. Imam Syafi'i menyatakan bahwa standar untuk mengetahui jumlah dua qullah adalah sebanyak lima qirbah (salah satu wadah penyimpanan air yang terbuat dari kulit -penerj) milik penduduk Hijaz, penetapan ini sendiri berdasarkan perkiraan yang mendekati dan lebih hati-hati. Riwayat tentang dua qullah itu dijadikan oleh Imam Syafi'i sebagai dalil yang membatasi keumuman hadits Ibnu Abbas yang berbunyi, t-'^ il~*cu *. tUJi (Air itu tidak dapat dirubah menjadi najis oleh sesuatu). Hadits ini derajatnya shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan selain mereka. Kemudian pembahasan ini akan diberi tambahan pada bab berikutnya.
N

Perkataan Imam Az-Zuhri di atas tercantum pula dalam salah satu hadits yang dinisbatkan langsung kepada Nabi SAW. Akan tetapi Imam Syafi'i berkata mengenai hadits itu, "Para ahli hadits tidak pernah menyatakan hadits seperti ini sebagai riwayat yang dapat dibuktikan kebenarannya, namun aku tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini." Yakni, mengenai najisnya air yang kejatuhan najis lalu berubah salah satu sifatnya. Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Umamah dengan silsilah periwayatan yang lemah, dimana pada jalur periwayatan tersebut terjadi pula berbagai ketimpangan.

FATHUL BAARI —

337

iLft*- J l i j (dan Hammad berkata). Beliau adalah Hammad bin Abu Sulaiman, seorang ahli fikih dari Kufah. j - C» J' J^ty. j>^>. t (Tidak apa-apa dengan bulu bangkai) Maksudnya

tidak najis; dan air yang bersentuhan dengannya juga tidak najis, baik itu bulu hewan yang dimakan dagingnya maupun yang tidak dimakan dagingnya. Silsilah periwayatan hadits ini sendiri telah disebutkan secara lengkap oleh Abdurrazzaq dari M a ' m a r dari Hammad. s j ! — * } J—=aJ' j—** ts-^^ sehubungan sepertinya),
.

''

-

*

~ , •

f —k?
1

-

—?

. *

y ^ J ^ J (Az-Zuhri

. t

-

i'

berkata

dengan tulang hewan yang mati, seperti gajah dan yakni hewan -seperti gajah- yang tidak dimakan dagingnya. iaOjj (Serta menjadikannya sebagai minyak). Hal ini

mengindikasikan bahwa mereka berpandangan hal-hal tersebut hukumnya suci, dan kami akan menyebutkan perselisihan mengenai hal ini pada pembahasan berikutnya. 'f 5?'j5!j 'c?) d^J (Dan Ibnu Sirin serta Ibrahim berkata). As-

Sarakhsi tidak menyebutkan Ibrahim dalam riwayatnya, demikian pula kebanyakan perawi yang menukil keterangan ini dari Al Firabri. Silsilah periwayatan perkataan Ibnu Sirin ini telah disebutkan secara lengkap oleh Abdurrazzaq dengan lafazh, t—'J* £_'—«Jl J> « j ^ U ij.'y. Si OiST iff (Beliau beranggapan bahwa perdagangan gading adalah tidak apa-apa). Pernyataan ini memberi indikasi, bahwa beliau beranggapan gading adalah suci hukumnya, sebab beliau termasuk salah seorang yang berpandangan tidak boleh menjual najis ataupun sesuatu yang bercampur dengan najis apabila tidak mungkin untuk disucikan berdasarkan kisah beliau yang mashyur dalam masalah minyak. Sementara gading yang dalam bahasa Arab disebut £_lih adalah taring gajah. Ibnu Sayyidih berkata, "Taring selain gajah tidaklah dinamakan sebagai r\ «Jl (gading)." Al Qazzaz berkata, "Al Khalil

mengingkari jika selain taring gajah dinamakan pula sebagai <r'—«J'." Sedangkan Ibnu Faris dan Al Jauhari mengatakan b a h w a - / 'Aj adalah tulang gajah, tanpa mengkhususkannya dengan taring. Selanjutnya Al Khaththabi menyetujui Ibnu Cjutaibah yang mengatakan bahwa ^l—«Jl

3 3 8 — FATHUL BAARI

adalah tulang punggung penyu laut. Akan tetapi pandangan ini perlu diteliti kembali, sebab dalam kitab Ash-Shihah disebutkan, "Al Misk adalah gelang yang terbuat dari Al 'Aj atau tulang punggung penyu". Di sini nampak sang penulis kitab tersebut membedakan keduanya. Hanya saja Al Qali berkata, "Bangsa Arab menamakan semua tulang dengan Al 'Aj. " Apabila pernyataan ini benar, maka semua riwayat tersebut di atas mengatakan bahwa tulang atau gading gajah adalah suci. Akan tetapi sikap Imam Bukhari yang menyebutkan perkataan Ibnu Sirin setelah perkataan Az-Zuhri memberi indikasi untuk berpegang dengan perkataan Al Khalil. Para ulama telah berbeda pendapat mengenai tulang gajah, dimana perbedaan ini berdasarkan pada persoalan lain, yaitu apakah tulang termasuk bagian yang dimasuki oleh kehidupan atau tidak? Imam Syafi'i memilih pendapat yang pertama seraya berdalil dengan firman Allah SWT, tj-» Jjf UL_2J{ ^jJi i ^ J j i . j ^ j j ) flk.lt ^ 'J* Jli "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh. Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang telah menciptakannya kali yang pertama:" ^ Q s . Yaasiin (36): 18-19} Makna lahiriah ayat ini sangat jelas menunjukkan, bahwa tulang telah dimasuki oleh kehidupan. Adapun pandangan kedua -yang merupakan pendapat Abu Hanifahdinyatakan, bahwa seluruh jenis tulang hukumnya suci. Sementara Imam Malik berkata, "Tulang menjadi suci apabila hewan tersebut disembelih secara syar'i." Pendapat ini berdasarkan pandangannya yang menyatakan, bahwa hewan yang tidak dimakan dagingnya menjadi suci apabila disembelih secara syar'i, dan ini juga merupakan pendapat Abu Hanifah.

cJ&U* 8 j l i

Ji*» | § l 4-Ul J yyj
IJ!S"j

j l Aj y^j»

y

yCJ

J*

.pSCU*

8y-jJs>\J L^Jy- C»j l i y S \ J l i i

J

235. Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Maimunah bahwa Rasulullah SAW ditanya mengenai tikus yang jatuh ke dalam minyak samin. Maka beliau bersabda, "Buanglah tikus itu dan

FATHUL BAARI — 3 3 9

minyak yang tinggal."

ada di sekitarnya,

lalu pakailah

sisa minyak

yang

Keterangan Hadits: lUy^A 'J* (Dari Maimunah). Harits, bibi Ibnu Abbas RA.
iy—i
'Jjrr*

Maksudnya adalah Maimunah binti Al

(Ditanya mengenai tikus) Orang yang bertanya di sini

adalah Maimunah sendiri. Sementara disebutkan dalam riwayat Al Qaththan dan Juwairiyah dari Malik sehubungan dengan hadits ini, "Bahwa Maimunah meminta fatwa." (diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan selainnya).

J

c V»a'.» (Jatuh ke dalam minyak samin) Dalam riwayat Imam Malik terdapat Kemudian (Di minyak samin yang membeku).

A n - N a s a i melalui jalur Abdurrahman bin Mahdi dari tambahan, ^—'T
J*—-J

J>

dalam kitab tentang sembelihan, Imam Bukhari menambahkan lafazh
CJUS

(Lalu tikus itu mati). ^—Vjr~ (Dan apa yang ada di sekitarnya), yakni minyak samin

yang ada di sekitar tikus tersebut.

L

S

—»

C-4a^ ''''

ojb

^

Ji^ '
r 4

aj£

^ J l O

' ^ )

y

Jl
s

4

J
s

j

P

^ L PJ J I

\ A ,jJJL«

!<_*- Jli sy>-J&Ks LjJy>~ C»j
' s >
0,

A

£
^ s

'
s s

'

Jlii
' s

»
O l '

O, J P

i,

0

s

*

,4jyo^A

^llp J|l J P Jjij

<tyO>-\

V '

236. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Maimunah bahwa Nabi SAW ditanya mengenai tikus yang jatuh ke dalam minyak samin, maka beliau bersabda, "Buanglah tikus itu dan minyak yang ada di sekitarnya. " Ma 'nun berkata, "Imam Malik telah menceritakan kepada kami tanpa terhitung berapa jumlahnya, beliau mengatakan, 'Dari Ibnu Abbas dari Maimunah.'

3 4 0 — FATHUL BAARI

Keterangan Hadits: ty-'JeL-i ty'yUj U » j j >

(Buanglah tikus itu dan minyak yang ada di

sekitarnya) Maksudnya buanglah tikus tersebut dan semua minyak samin yang berada di dekatnya, lalu makanlah (pakailah) minyak yang tersisa sebagaimana diindikasikan oleh riwayat terdahulu. j — i » J l* (Ma 'nun berkata). Ungkapan ini adalah perkataan Ali bin Abdullah, sehingga silsilah periwayatannya bersambung sampai kepada Imam Bukhari. Hanya saja Imam Bukhari menyebutkan perkataan Ma'nun di samping menyebutkan hadits yang diriwayatkannya, meski silsilah periwayatan di sini jauh lebih panjang daripada riwayat yang pertama, padahal lafazhnya tidak jauh berbeda. Hal itu untuk memberi isyarat adanya perselisihan mengenai Imam Malik dalam jalur periwayatan ini, dimana para penukil kitab Al Muwaththa" telah meriwayatkan hadits tersebut dari Imam Malik, lalu mereka berbeda penuturan. Di antara mereka ada yang menukil dari Imam Malik dengan silsilah periwayatan sebagaimana di atas, seperti Yahya bin Yahya dan lain-lain. Di antara mereka ada pula yang tidak menyebutkan Maimunah dalam jalur periwayatannya, seperti Al Cja'nabi dan lainnya. Adapula yang tidak menyebutkan Ibnu Abbas dalam jalur periwayatannya, seperti Asyhab. Ada pula di antara mereka yang tidak menyebutkan Ibnu Abbas atau Maimunah dalam jalur periwayatannya, seperti Yahya b i n B u k a i r d a n Abu Mush'ab. Kemudian tidak ada di antara mereka yang menyebutkan lafazh
jUl-sr

(yang membeku) kecuali Abdurrahman bin Mahdi, sebagaimana hal

ini disebutkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya dari Sufyan bin Uyainah dari Ibnu Syihab. Telah diriwayatkan oleh Al Humaidi dan para ahli hadits lainnya dari murid-murid Ibnu Uyainah tanpa menyebut lafazh tersebut -seraya menuturkan silsilah periwayatan yang sangat baik- dimana mereka menyebutkan Ibnu Abbas serta Maimunah, dan ini adalah shahih. Lalu diriwayatkan pula oleh Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Ibnu Syihab dengan silsilah periwayatan yang baik, di samping itu beliau menukil juga dari Ibnu Syihab melalui jalur periwayatan lain dari Sa'id bin Musayyab dari Abu Hurairah RA dengan lafazh, "Rasulullah SAW ditanya tentang tikus yang jatuh ke

FATHUL BAARI —

341

dalam minyak samin, maka beliau bersabda, ty'y4

U>j

Ujiits

iJUb>

^

J—'J** y—

i

^

"Apabila minyak samin itu telah membeku,

maka

buanglah tikus itu dan minyak yang ada di sekitarnya. minyak samin tersebut cair maka janganlah kamu (buanglah semua)"

Tapi apabila mendekatinya

Imam Tirmidzi menceritakan dari Imam Bukhari bahwa beliau berkata sehubungan dengan riwayat Ma'mar, "Riwayat ini keliru." Sementara Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari bapaknya, "Riwayat ini salah." Kemudian Imam Tirmidzi mengisyaratkan bahwa riwayat tersebut termasuk syadz (ganjil/cacat). Lalu Adz-Dzuhli berkata dalam kitab Az-Zuhriyat, "Kedua jalur periwayatan itu bagi kami sama-sama akurat, akan tetapi jalur Ibnu Abbas dari Maimunah jauh lebih masyhur." wallahu a 'lam. Lalu Ibnu At-Tin mempertanyakan sikap Imam Bukhari yang menyebutkan perkataan Ma'nun di atas, padahal pernyataan itu sendiri tidak menyalahi riwayat Isma'il. Untuk itu dikatakan, bahwa maksud Imam Bukhari adalah untuk menjelaskan sesungguhnya Isma'il tidaklah menyendiri dalam menuturkan hadits tersebut dengan jalur yang baik. Hanya saja saya melihat ada kesesuaian yang lain, yaitu bahwa riwayat Ma'nun disebutkan pada kitab selain Al Muwaththa' dengan jalur periwayatan seperti di atas, sementara riwayat beliau yang tercantum dalam kitab Al Muwaththa' tidak menyebutkan Ibnu Abbas serta Maimunah. Demikianlah yang dikutip oleh Al Isma'ili dan selainnya. Maka dari sini Imam Bukhari ingin mengisyaratkan bahwa perbedaan versi tersebut tidaklah mengurangi nilai keakuratan hadits ini, sebab Imam Malik terkadang meriwayatkannya dengan silsilah periwayatan yang lengkap dan pada kali yang lain beliau sengaja tidak menyebutkan sebagian perawinya. Riwayat yang disebutkan dengan silsilah periwayatan yang lengkap lebih didahulukan daripada yang lain, karena riwayat ini telah didengar oleh Ma'nun bin Isa berkali-kali dari Imam Malik serta diperkuat pula oleh sejumlah ahli hadits lainnya, wallahu a lam.

Pelajaran yang dapat diambil Mayoritas ulama berpegang dengan hadits M a ' m a r yang membedakan antara minyak yang telah membeku dengan minyak yang cair. Telah

3 4 2 — FATHUL BAARI

dinukil oleh Ibnu Abdil Barr adanya kesepakatan bahwa zat cair yang membeku dan kejatuhan najis, maka yang dibuang adalah apa yang ada di sekitarnya, jika telah diketahui secara pasti bahwa bagian-bagian najis tersebut hanya tidak mengenai apa yang ada di sekitarnya. Adapun zat yang masih cair maka para ulama berbeda pendapat, mayoritas mereka mengatakan bahwa zat cair itu berubah menjadi najis secara keseluruhan apabila najis itu jatuh ke dalamnya. Lalu segolongan yang lain, di antaranya Az-Zuhri dan Al Auza'i, menyalahi pandangan mayoritas tersebut. Penjelasan lebih rinci mengenai hal ini akan diterangkan pada bab "Sembelihan", demikian juga dengan masalah memanfaatkan minyak yang tercampur najis. Ibnu Munir berkata, "Kesesuaian hadits tentang minyak samin dengan perkataan para ulama yang disebutkan terdahulu adalah untuk menjelaskan pendapat penulis secara pribadi, bahwa yang menjadi pedoman najis tidaknya sesuatu adalah perubahan sifat (rasa, bau dan warna). Adapun bulu dan tulang bangkai dianggap suci, karena bulu dan tulang tidak berubah setelah hewan tersebut mati. Demikian pula seharusnya hukum yang berlaku pada minyak samin yang terletak jauh dari tempat jatuhnya bangkai apabila tidak terjadi perubahan apa-apa. Menjadi konsekuensi pemikiran ini, adalah apabila ada air yang kejatuhan najis dan tidak berubah salah satu sifatnya, maka air tersebut tidak berubah menjadi najis.

237. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Setiap luka yang diderita oleh seorang muslim dijalan Allah (ji sabilillah) maka pada hari kiamat nanti keadaannya akan seperti semula waktu ia terluka, darahnya memancar dengan warna merah tapi baunya seperti minyak kasturi"

F A T H U L BAARI —

343

Keterangan Hadits: f-^ J » - ' J> (Dijalan
1

Allah), kalimat ini berfungsi untuk membatasi

semua luka yang menimpa muslim bukan karena berjuang di jalan Allah. Dalam bab tentang "Jihad" diberi tambahan lafazh, J) (Uiy j-»-) *J1—1J (Dan Allah lebih mengetahui siapa yang terluka dijalan-Nya). Di

sini terdapat isyarat bahwa yang demikian itu hanya didapat oleh mereka niatnya benar dan tulus. •Jj «J!j (Dan aroma) Adapun hikmah datangnya darah pada hari

kiamat seperti keadaannya saat terluka, adalah untuk menjadi saksi akan keutaman orang yang terluka serta menjadi bukti atas perbuatan orang yang menzhaliminya. Adapun aromanya yang wangi adalah berfungsi agar aroma tersebut menyebar di kalangan mereka yang berada di padang mahsyar demi untuk menampakkan keutamaannya. Dari sini, maka tidak disyariatkan memandikan orang yang mati syahid dalam peperangan. Kemudian sebagian ulama mempertanyakan maksud Imam Bukhari menyebutkan hadits di atas dalam bab ini. Al Isma'ili berkata, "Hadits ini tidak ada sangkut pautnya dengan suci atau najisnya darah, namun disebutkannya di sini untuk menjelaskan keutamaan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah." Untuk menjawab pertanyaan ini, dapat dikatakan bahwa maksud Imam Bukhari menyebutkan hadits ini adalah untuk menguatkan pandangannya yang menyatakan air tidak berubah menjadi najis sekedar bersentuhan dengan najis, selama tidak terjadi perubahan. Beliau berdalil dengan hadits ini untuk menunjukkan bahwa perubahan sifat memberi pengaruh pada hukum yang disifati, sebagaimana perubahan sifat darah menjadi aroma wangi telah mengeluarkannya dari lingkup celaan kepada pujian. Demikian pula perubahan sifat air bila berubah karena najis, maka perubahan itu akan mengeluarkannya dari sifat kesuciannya kepada najis. Pernyataan ini dibantah dengan mengatakan, bahwa yang menjadi tujuan utama adalah membatasi najisnya zat cair karena adanya per-ubahan. Sementara apa yang disebutkan hanyalah memberi keterangan bahwa sesuatu dapat dihukumi najis bila terjadi perubahan (salah satu sifatnya) dan ini merupakan masalah yang disepakati- bukan untuk menyatakan bahwa zat cair tidak dihukumi najis kecuali berubah salah satu sifatnya, karena masalah ini masih diperselisihkan.

3 4 4 — FATHUL BAARI

Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa Imam Bukhari bermaksud menjelaskan kesucian minyak wangi, hal itu sebagai bantahan bagi mereka yang berpendapat bahwa minyak wangi (misk) adalah najis karena terdiri dari darah. Ketika darah tersebut berubah dari bau yang tak sedap dan tidak disenangi menjadi aroma minyak wangi yang disenangi, maka statusnya berubah menjadi halal atau berubah dari najis menjadi suci, sebagaimana halnya khamer apabila berubah menjadi cuka. Ibnu Rasyid berkata, "Maksudnya perubahan darah menjadi aroma wangi, itulah yang telah mengubah status hal-hal tersebut dari sesuatu yang tercela menjadi sesuatu yang disenangi atau terpuji." Dari sini dapat dipahami bolehnya mengunggulkan satu sifat (bau) dari dua sifat lainnya, yaitu rasa dan warna. Berdasarkan hal ini dapat ditarik suatu kesimpulan, jika salah satu sifat zat cair mengalami perubahan yang baik atau yang buruk (rusak), maka akan diikuti oleh dua sifat yang lain. Seakan-akan hal ini sengaja dikemukakan oleh Imam Bukhari sebagai bantahan atas pendapat yang dinukil dari Rabi'ah dan lainnya yang menyatakan, bahwa perubahan satu sifat dasar tidaklah memberi pengaruh hingga berkumpulnya dua sifat.' Beliau menambahkan, "Ada kemungkinan hadits tersebut dijadikan dalil bahwa air apabila berubah aromanya menjadi wangi (baik), maka tidak dapat dikatakan bahwa ia bukan lagi dinamakan air. Sebagaimana darah meskipun baunya telah berubah menjadi aroma minyak wangi, namun kita tidak dapat menamakan bahwa ia bukan darah lagi, sebab beliau SAW tetap menamakannya sebagai darah padahal aromanya telah berubah. Selama nama berhubungan erat dengan sesuatu yang dinamai, maka hukum akan terus mengikuti penamaan tersebut." demikian perkataan Ibnu Rasyid. Adapun pandangan beliau yang pertama dijawab dengan mengatakan, bahwa menjadi keharusan pendapat ini jika ketiga sifat air telah rusak (tercemar) kemudian salah satu dari sifat tersebut kembali kepada bentuk aslinya, maka seluruhnya dianggap suci, padahal yang demikian ini tidaklah benar. Sedangkan pandangan beliau yang kedua ditanggapi dengan mengatakan, meskipun tetap dinamakan air, tapi tidak mesti untuk tidak disifati dengan sifat yang melarang untuk mempergunakan air tersebut, wallahu a 'lam.

FATHUL BAARI —

345

Setelah menukil perkataan mereka yang berpandangan, "Darah setelah berubah dari sesuatu yang najis menjadi suci -dari kotoran menjadi minyak wangi- hanya karena perubahan aromanya, hingga dihukumi sebagai minyak kasturi dan minyak wangi bagi seorang yang mati syahid. Demikian pula dengan hukum air, dapat berubah karena baunya dari sesuatu yang suci menjadi najis", maka Ibnu Daqiqi Al Id berkata, "Pandangan ini sangat lemah dan terkesan mencari-cari alasan."

68. Kencing di Air yang Tergenang

238. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Kita adalah orang-orang terakhir yang akan mendahului."

t^^J

N

^IJLIi

ftlUl J> j U ^ l

V : Jli a^lH-Lj

239. Melalui silsilah periwayatan yang sama, beliau bersabda, "Janganlah salah seorang di antara kamu kencing di air yang tergenang yang tidak mengalir, kemudian mandi (pula) di situ."

Keterangan Hadits: (Kencing di air yang tergenang), yakni yang tidak mengalir. Sementara dalam riwayat Al Ashili disebutkan, "Bab Jangan kencing di air tergenang", dan kedua makna tersebut sama.

3 4 6 — FATHUL BAARI

CijiL)—UJi o/yf-y 'Ju (Kita adalah orang-orang

terakhir yang

akan

mendahului). Para ulama berbeda pendapat dalam memahami maksud Imam Bukhari mendahulukan kalimat ini sebelum hadits yang menjadi pokok bahasan dalam bab ini. Ibnu Baththal berkata, "Ada kemungkinan Abu Hurairah mendengar yang demikian itu dari Nabi S A W serta hadits sesudahnya dalam satu konteks, maka dia menceritakan kedua kalimat itu. Adapula kemungkinan bahwa hal ini dilakukan oleh perawi yang bernama Hammam, karena ia mendengarnya dari Abu Hurairah dengan konteks demikian. Pada dasarnya tidak ada kesesuaian antara lafazh yang dimaksud dengan judul bab." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Kemungkinan pertama dinyatakan sebagai kemungkinan terkuat oleh Ibnu At-Tin, akan tetapi pernyataan ini tidak lepas dari kritikan. Sebab jika benar kedua kalimat itu merupakan satu hadits, tentu Imam Bukhari tidak akan memisahkan antara keduanya dengan ucapannya, "Melalui silsilah periwayatan yang sama." Di samping itu, sabda beliau SAW, o O j ^ - ^ i js«J (Kita adalah orangorang terakhir yang akan mendahului) merupakan penggalan dari hadits masyhur saat membahas tentang hari Jum'at sebagaimana akan dibahas, insya Allah. Andaikata Imam Bukhari memperhatikan apa yang dikatakan oleh Ibnu At-Tin, tentu beliau akan menyebutkan materi hadits ini secara keseluruhan. Kemudian hadits yang menjadi pokok pembahasan dalam bab ini telah dinukil dari sejumlah jalur periwayatan dari Abu Hurairah, seperti tercantum dalam kitab-kitab para imam ahli hadits. Tidak ada pada salah satu jalur periwayatan tersebut yang menyebutkan lafazh, O j i l - J l

t>jjf-*iM

(Kita adalah orang-orang

terakhir yang

akan

mendahului), sebagaimana telah dinukil pula oleh Abu N u ' a i m dalam kitab Al Mustakhraj tanpa menyebutkan lafazh terakhir ini. Adapun perkataan Ibnu Baththal, "Ada pula kemungkinan yang melakukan hal ini adalah perawi yang bernama Hammam, karena ia mendengarnya dari Abu Hurairah dengan konteks demikian", merupakan suatu kekeliruan yang ternyata diikuti oleh sejumlah ulama, sebab perawi yang bernama Hammam tidak disebut-sebut dalam silsilah periwayatan hadits ini. Sedangkan perkataannya, bahwa tidak ada pada hadits ini kesesuaian dengan judul bab adalah pernyataan yang benar, meski sebagian ulama memaksakan diri untuk mencari-cari kesesuaian di antara keduanya seperti yang akan kami sebutkan.

FATHUL BAARI —

347

Pandangan paling tepat mengenai hal ini, adalah bahwa Imam Bukhari terkadang menyebutkan sesuatu sebagaimana yang ia dengar secara keseluruhan, karena pada yang demikian itu terkandung sisi penetapan dalil yang diperlukan meskipun yang lainnya tidak dibutuhkan pada persoalan tersebut. Hal ini sebagaimana yang beliau lakukan sehubungan dengan hadits Urwah Al Bariqi mengenai pembelian kambing, seperti akan dijelaskan pada bab "Jihad". Contoh semacam itu sangat banyak ditemukan dalam kitab ini. Sikap seperti ini dilakukan pula oleh Imam Malik dalam kitab Al Muwaththa' dimana beliau menyebutkan dalam bab "Shalat shubuh dan (materi) hadits dengan satu silsilah periwayatan, JaL JrJ 'J (Seorang laki-laki isya " beberapa matan

yang mana bagian awalnya berbunyi, melewati dahan pohon berduri)

dan di bagian akhirnya, J} U d'JJju jJ » mereka mengetahui apa yang

> j — ' J — I j U i j f t f ^ ' j ^ a J ! (Seandainya

terdapat pada shalat shubuh dan isya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya meski dengan merangkak). Padahal yang menjadi pokok pembahasan beliau tidak lain hanyalah bagian akhir hadits, akan tetapi beliau menyebutkannya sebagaimana yang beliau dengar. Ibnu Al Arabi berkata dalam kitab Al Qabs, "Kami melihat orangorang yang bodoh bersusah payah untuk menakwilkan (mencari kesesuaian) antara hadits dengan judul bab di atas. Padahal antara judul bab dengan hadits yang disebutkan di bawahnya tidak memiliki keterkaitan sama sekali." Ulama selain beliau berkata, "Sisi kesesuaian di antara keduanya, bahwa umat ini merupakan umat terakhir yang dimakamkan di muka bumi namun yang pertama kali keluar darinya. Sebab sesuatu yang paling akhir diletakkan dalam sebuah wadah, itu pula yang pertama kali dikeluarkan darinya. Demikian halnya dengan air tergenang yang dikencingi, sesungguhnya kencing tersebut adalah yang pertama kali menyentuh badan orang yang ingin bersuci dengan air tergenang yang dimaksud, maka harus untuk dijauhi." Namun, kelemahan perkata an ini cukup jelas. Dikatakan pula, sisi kesesuaian antara keduanya adalah bahwa bani Isra'il meskipun lebih dahulu dari segi masa akan tetapi umat Islam lebih dahulu dalam hal menjauhi air tergenang apabila tercemar kencing. Kemungkinan bani Isra'il tidak menghindari hal ini. Perkataan ini dibantah dengan kenyataan bahwa bani Isra'il jauh lebih teliti dalam

3 4 8 — FATHUL BAARI

menjauhi najis hingga bila mengenai pakaian salah seorang di antara mereka, maka ia pun menggunting kain tersebut. Lalu bagaimana mungkin dugaan seperti ini ditujukan kepada mereka? Hanya saja, anggapan kemustahilan ini tidak menghapus adanya kemungkinan mengenai hal itu. Namun apa yang telah kami kemukakan jauh lebih tepat. Pada riwayat Imam Bukhari dalam pembahasan ta'bir mimpi, dia

menukil hadits seperti ini dari jalur Hammam dari Abu Hurairah dimana hadits tersebut diawali pula dengan lafazh, 0 j i l — - J i o / j ? ^ j»"u (Kita adalah orang-orang yang terakhir dan yang akan mendahului).

Kesimpulan paling kuat adalah, naskah riwayat Abu Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah seperti naskah riwayat M a ' m a r dari Hammam dari Abu Hurairah. Oleh sebab itu, sedikit sekali hadits yang tercantum dalam salah satu dari kedua naskah itu yang tidak terdapat pada naskah yang satunya. Kedua naskah tersebut memuat sejumlah besar hadits yang umumnya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Lalu kedua naskah tersebut dimulai dengan hadits yang berbunyi, Jyli.£J\ O j ^ - ^ i jk». Oleh sebab itulah Imam Bukhari mengawali dengan lafazh hadits yang beliau nukil dari kedua naskah tersebut, sementara Imam Muslim menempuh cara lain dalam menukil hadits yang berasal dari naskah riwayat Hammam, dimana beliau berkata pada setiap hadits yang beliau kutip dari naskah tersebut, "Rasulullah SAW bersabda . . . " Lalu beliau berkata lagi,... "dan Rasulullah SAW bersabda..." Maksudnya untuk menjelaskan bahwa hadits yang disebutkannya berada di tengah naskah bukan di awalnya, wallahu a 'lam.

tergenang). Dikatakan pula bahwa lafazh ini berfungsi untuk membatasi makna, yakni untuk mengeluarkan dari pengertian ini "air tergenang yang sebagiannya mengalir" seperti kolam atau danau. Sebagian lagi mengatakan kalimat ini berfungsi untuk mengeluarkan dari pengertian ini "air tergenang yang banyak", sebab air tersebut dari segi bentuk dianggap mengalir sedangkan dari segi makna tidaklah demikian. Abu Atas dasar itu, maka batasan ini tidak disebutkan dalam riwayat Utsman dari Abu Hurairah yang telah diisyaratkan terdahulu,

FATHUL BAARI —

349

dimana ia hanya menyebutkan lafazh

if'^Ji (tenang) sebagai ganti dari

lafazh jijiki (tergenang). Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Hadits Jabir. J — ' < % — J (Kemudian ia mandi). Menurut riwayat yang masyhur, Namun Ibnu

kata ini dibaca J—i*j (huruf akhir diberi harakat dhammah). Malik berkata, "Boleh dibaca J

(huruf akhir diberi harakat sukun)

berdasarkan lafazh sebelumnya yakni, j — ! J J V (janganlah ia kencing) dimana lafazh ini pada dasarnya berharakat sukun karena didahului oleh huruf lam yang berfungsi sebagai larangan. Hanya saja di sini huruf akhirnya diberi harakat fathah, karena bersambung dengan huruf nun yang berfungsi untuk mempertegas suatu perkataan. Namun, Imam Al Qurthubi tidak memperbolehkan lafazh ini untuk dibaca sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Malik. Dengan alasan jika lafazh ini berfungsi sebagai larangan, tentu akan dikatakan j l — » 'i J»J (Kemudian janganlah ia mandi). Sehingga kedudukan kedua larangan ini menjadi sama, sebab yang menjadi obyek keduanya hanya-lah satu yaitu air." Beliau menambahkan, "Karena beliau SAW tidak menuturkannya dalam bentuk demikian, maka dapat diambil kesimpulan bahwa beliau SAW tidak bermaksud mengaitkan lafazh kedua kepada lafazh pertama. Bahkan beliau SAW hanya memberi perhatian akan akibat yang timbul saja. Dimana terkadang seseorang yang kencing di air tergenang butuh untuk menggunakan air tersebut, sementara air itu tidak dapat lagi digunakannya. Sama seperti ini sabda beliau SAW, j»i X*H\ ~£Je lj—«rCaj "Janganlah salah seorang di antara

'&'y>\ '^'^ jjjlia Si
istrinya

kamu memukul

sebagaimana ia memukul budak wanita, kemudian ia menggauli istrinya:'' Maksud hadits ini adalah larangan bagi suami untuk memukul istri secara berlebihan, karena ia akan butuh untuk bergaul dengan istrinya. Jika hal itu terjadi, sang istri akan menolak disebabkan perbuatan suaminya yang tidak baik terhadapnya."

3 5 0 — FATHUL BAARI

Akan tetapi perkataan ini dibantah dengan mengatakan, bahwa suatu larangan yang diberi penekanan tertentu (menggunakan huruf taukid) tidak dilarang untuk dikaitkan dengannya lafazh larangan lain yang tidak disertai penekanan apa-apa (tanpa huruf taukid). Sebab, boleh jadi pada salah satu dari kedua hal terlarang itu terdapat makna tertentu yang tidak didapatkan pada yang lainnya. Selanjutnya Imam Al Qurthubi berkata, "Tidak boleh pula dibaca J—-&t 'f—i (huruf akhir diberi harakat fathah), sebab tidak ada kata ganti setelah lafazh jU " N a m u n hal itu diperbolehkan oleh Ibnu Malik, karena kata 'f—i (kemudian) di sini diartikan sebagaimana makna huruf sambung waw (dan). Kemudian Imam An-Nawawi menolak pendapat Ibnu Malik

dengan alasan bila lafazh huruf

ji-J (kemudian) diartikan sebagaimana makna

j (dan), maka larangan tersebut hanya berlaku apabila dikumpul-

kan antara kencing dan mandi di air tersebut, sehingga apabila hanya kencing saja di tempat itu maka tidak dilarang. Selanjutnya Ibnu Daqiq kencing perkataan Imam An-Nawawi dianggap lemah oleh tidak harus satu lafazh Al Id, sebab menurut beliau

mengandung beberapa macam hukum. Larangan mengumpulkan antara di air tergenang sekaligus mandi didasarkan pada hadits ini (dengan catatan apabila riwayat yang memberi harakat fathah pada lafazh J—«=*i terbukti kebenarannya). Sedangkan larangan untuk kedua perbuatan itu secara sendiri-sendiri didasarkan pada dalil yang lain. Aku (Ibnu Hajar) katakan, (Nabi SAW melarang "Dalil yang dimaksud adalah riwayat
1

Imam Muslim dari Jabir yang berbunyi, & ' ) \ *UJi J>, J j ^ J- &\ J j - ' j J$ untuk kencing di air yang tergenang). Dalam salah riwayat beliau melalui jalur Abu Sa'ib dari Abu Hurairah RA disebutkan pula dengan lafazh, L^r seorang di antara keadaan junub). ^'loJl *CJl J> J—-=*d 'i (Janganlah sementara kamu mandi di air tergenang ia dalam

Lalu Abu Dawud meriwayatkan akan larangan keduanya

dalam satu hadits, dengan lafazh J

& J — * i j plf^ «-UJi Jt jii'iM "J'yk 'i

FATHUL BAARI —

351

i

jUkll (Janganlah

salah seorang

di antara

kamu kencing

di air

tergenang dan jangan pula ia mandi junub di

dalamnya)"

Riwayat-riwayat ini telah dijadikan dalil oleh ulama madzhab Hanafi untuk menunjukkan bahwa air musta 'mal (bekas pakai) adalah najis hukumnya. Sebab kencing dapat mengubah air menjadi najis, demikian pula dengan mandi junub. Sementara beliau SAW telah melarang kedua perbuatan tersebut, dimana larangan ini berindikasi haram, maka hal ini menunjukkan bahwa air menjadi najis karena dua hal tersebut. Namun pandangan ini dibantah dengan mengatakan, bahwa kesimpulan itu hanya berdasarkan penyesuaian antara dua hal yang ada, sementara dasar hukum seperti ini sangat lemah. Kalau pernyataan itu diterima, maka tidak berkonsekuensi pada persamaan keduanya dari segi hukum dimana dapat dikatakan bahwa indikasi larangan kencing di air tergenang adalah agar air tersebut tidak tercemar oleh najis, sedangkan larangan mandi di air tersebut adalah agar air itu tidak kehilangan sifatnya sebagai alat untuk bersuci. Keterangan ini semakin diperjelas oleh lafazh dalam riwayat Imam Muslim, "Bagaimana yang beliau lakukan wahai Abu Hurairah?" ia menjawab, "Ia menimbanya." Riwayat ini memberi keterangan maksud dari larangan menyeburkan diri ke dalam air tergenang agar jangan sampai air itu berubah menjadi air musta'mal, sehingga tertutup kemungkinan bagi orang lain memakainya untuk bersuci. Sementara sahabat lebih mengetahui maksud suatu lafazh dibanding generasi sesudah mereka. Riwayat ini merupakan dalil terkuat untuk menyatakan air musta'mal (bekas pakai) tidak dapat digunakan bersuci (wudhu atau mandi junub -penerj), sementara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa air musta 'mal hukumnya suci telah disebutkan terdahulu. Tidak ada perbedaan mengenai hukum air yang tercampur air kencing dengan air yang kejatuhan najis yang lain, berbeda dengan pandangan sebagaian ulama madzhab Hambali. Demikian pula tidak ada perbedaan antara seseorang yang langsung kencing di air atau ia kencing di suatu bejana lalu menumpahkannya ke dalam air yang tergenang, berbeda dengan pandangan ulama madzhab Zhahiriyah. Semua pembahasan ini khusus berlaku pada air yang sedikit menurut mayoritas ulama, sesuai dengan perbedaan pendapat mereka

3 5 2 — FATHUL BAARI

dalam menentukan batasan air yang sedikit. Telah disebutkan pula pandangan orang yang hanya berpedoman pada berubah tidaknya salah satu sifat air, yang mana ini merupakan pendapat yang sangat kuat. Akan tetapi untuk membedakan antara hukum air dua qullah dengan air yang tak cukup dua qullah jauh lebih kuat, disebabkan adanya hadits shahih yang dinukil mengenai hal itu. Keakuratan hadits ini telah diakui sendiri oleh Thahavvi -salah seorang ulama madzhab Hanafi. Hanya saja beliau tidak mengamalkan indikasinya, dengan alasan bahwa lafazh qullah menurut pengertian umum adalah nama wadah (tempat) tertentu baik besar maupun kecil. Sementara tidak ada keterangan dalam hadits yang membatasi ukurannya, sehingga indikasinya menjadi global (mujmal) dan tidak dapat diamalkan. Pendapat beliau ini didukung oleh Ibnu Daqiq Al Id. Akan tetapi para ulama selain keduanya berusaha mencari dalil untuk menentukan ukuran qullah. Abu Ubaid Al Qasim bin salam berkata, "Qullah yang dimaksud di sini adalah yang berukuran besar, sebab jika yang dimaksud adalah yang berukuran kecil tidak diperlukan menyebutkan jumlah qullah. Dua qullah dalam ukuran yang kecil sama dengan satu qullah dalam ukuran besar. Adapun isi qullah yang berukuran besar dikembalikan kepada kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat Hijaz. Secara lahiriah, Nabi SAW tidak menetapkan batasan demi untuk keluasan. Hal itu dapat diketahui karena beliau SAW tidak berbicara dengan para sahabatnya kecuali apa yang mereka pahami, sehingga dugaan bahwa ukuran qullah bersifat global hilang dengan sendirinya." Dengan demikian, karena tidak adanya ketetapan yang tegas mengenai batasannya mengakibatkan timbul perselisihan di kalangan ulama hingga sampai kepada sembilan pendapat seperti dinukil oleh Ibnu Mundzir. Lalu pada masa-masa selanjutnya isi qullah diukur dengan menggunakan rithl (satuan ukuran timbangan, kamus Al Ashri -ed), disertai perselisihan mengenai jumlah atau berapa rithl banyaknya. Kemudian dinukil dari Imam Malik, bahwa beliau memahami indikasi larangan di atas adalah larangan dalam bentuk tanzih (lebih utama bila ditinggalkan -penerj), yakni apabila air tersebut tidak berubah salah satu sifatnya. Pendapat Imam Malik tersebut merupakan pandangan ulama selain beliau.

FATHUL BAARI —

353

Imam Al Cmrthubi berkata, "Mungkin juga untuk memahami indikasi larangan tersebut adalah haram secara mutlak atas dasar kaidah saddu adz-dzari'ah (menghindari persoalan yang menyebabkan kerusakan), sebab kencing di air tergenang dapat merubah air tersebut menjadi najis."
i—i y*£o '{j

(Kemudian

ia mandi di dalamnya).

Dalam riwayat Ibnu

Uyainah

dari

Abu Zinad disebutkan dengan lafazh, < — ? J — ? — J > 1

(Kemudian ia mandi darinya). Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalur Ibnu Sirin. Masing-masing kedua lafazh tersebut memberi hukum secara tekstual dan secara implisit, seperti dikatakan oleh Ibnu Daqiq Al Id. Adapun keterangan mengenai hal itu adalah, bahwa kata ^ J (padanya) berindikasi slarangan menyeburkan diri berdasarkan makna tekstualnya dan mencakup larangan menggunakan air tersebut meski harus menimba. Sedangkan riwayat dengan menggunakan lafazh ^ L memiliki indikasi berbeda dengan makna sebelumnya. Semua —» pembahasan ini berdasarkan bahwa air dapat berubah menjadi najis apabila bersentuhan dengan najis, wallahu a 'lam.

69. Apabila Diletakkan Kotoran atau Bangkai di Punggung Orang yang Shalat, Maka Shalatnya tidak Batal

L T ^ J
•S
o

y*3
s
' y

1

0

9. y
£>
a

L*?
'

3

)ll?r

jl
y

g -

i*

Si

'

Z

<J JJ *

J j Jl^> \i\
's°'' Z$,*
0

i

J*JLS\Jf

i cf- ^ i (_Jjl~«Jl ^jjl J15 J O w
b
Z

s

0

% o

'

' '

'

9

f '

°'

'

Z s,

a

t

'a °

O-- ° *

Jika Ibnu Umar melihat darah di kainnya, sementara ia sedang shalat, maka ia menghilangkannya lalu terus melaksanakan

3 5 4 — FATHUL BAARI

shalatnya. Ibnu Musayyab dan Sya 'bi berkata, "Apabila seseorang shalat sementara di pakaiannya ada darah atau bekas junub (mani), tidak menghadap ke arah kiblat, atau bertayamum lalu shalat, kemudian ia mendapatkan air sebelum waktu shalat habis, maka ia tidak mengulang shalatnya"

Keterangan (Apabila diletakkan kotoran atau bangkai dipunggung orang yang shalat), maksudnya sesuatu yang dihukumi najis. (Atau bangkai), maksudnya adalah bangkai yang busuk. (Tidak batal). Hukum seperti ini berlaku pada saat seseorang tidak mengetahui adanya najis, atau ia mengetahui dan segera menghilangkannya. Akan tetapi ada pula kemungkinan shalat orang tersebut tetap sah meski ia telah mengetahui najis tersebut dan membiarkannya menempel di badannya, berdasarkan pandangan mereka yang mengatakan bahwa menjauhi najis saat shalat bukan perkara yang wajib. Juga berdasarkan pandangan mereka yang mengatakan, bahwa najis tersebut hanya membatalkan shalat bila telah diketahui ketika hendak memulai shalat. Adapun bila diketahui atau ada pada saat shalat berlangsung, maka shalatnya tidak batal. Nampaknya, Imam Bukhari cenderung memilih pendapat terakhir ini. Berdasarkan pandangan ini, dapat dipahami perbuatan seorang sahabat yang tetap melangsungkan shalatnya meski darah mengucur dari badannya akibat tertusuk anak panah saat melakukan shalat. Hadits mengenai hal itu - y a n g diriwayatkan dari Jabirtelah disebutkan pada bab "Orang yang berpendapat tidak ada wudhu kecuali karena sesuatu yang keluar dari dua jalan". j — ' j — ? ' O L j f j (Dan biasanya Ibnu umar). Riwayat mengenai

perbuatan Ibnu Umar ini silsilah periwayatannya telah disebutkan secara bersambung oleh Ibnu Abi Syaibah melalui jalur Bard bin Sinan dari Nafi' dari Ibnu Umar. Apabila dia sedang shalat lalu melihat darah di pakaiannya dan ia mampu menghilangkannya, maka ia segera menghilangkannya. Namun apabila tidak mampu, maka ia keluar kemudian mencucinya lalu kembali dan meneruskan shalat yang telah dilakukannya." (silsilah periwayatannya tergolong shahih). Riwayat ini mengindikasikan, bahwa Ibnu Umar membedakan antara hukum melihat najis di pakaian sebelum memulai shalat dan

FATHUL BAARI —

355

hukum terus melakukan shalat setelah melihat najis. Perbedaan hukum kedua kondisi ini merupakan pendapat sejumlah ulama yang terdiri dari para sahabat serta tabi'in, Al Auza'i, Ishaq dan Abu Tsaur. Sedangkan Imam Syafi'i dan Ahmad berkata, "Orang itu harus mengulangi shalatnya." Adapun Imam Malik mengaitkannya dengan waktu shalat, yakni apabila waktu shalat telah keluar maka ia tidak wajib mengulangi shalatnya. Masalah ini mempunyai pembahasan yang sangat panjang. Abu Golongan pertama memperkuat pendapat mereka dengan hadits Sa'id Al Khudri yang menyatakan, bahwa Rasulullah pernah
s

melepas sandalnya saat melakukan shalat, kemudian beliau bersabda, Ji ijj—* U g j 01 JjL-ji-\ JJJ.—f (Sesungguhnya Jibril telah mengabarkan k —* ' kepadaku bahwa pada keduanya ada kotoran). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah. Di samping itu ia memiliki penguat dari hadits Ibnu Mas'ud yang diriwayatkan oleh Al Hakim, dimana tidak disebutkan dalam hadits tersebut perintah untuk mengulangi shalat. Pendapat ini adalah pendapat yang dipilih oleh sejumlah ulama madzhab Syafi'i. Adapun mengenai perkara meneruskan kembali shalat yang telah dilakukan akan dibahas secara tersendiri pada pembahasan shalat, insya Allah. "t,Jlj <,,L-'.,..all j _ j l Jl—\% (Ibnu Musayyab dan Sya 'bi berkata) Demikian lafazh yang dinukil oleh mayoritas perawi, dan inilah yang benar. Namun dalam riwayat Al Mustamli dan As-Sarakhsi disebutkan, ^-i—ItJij k_Jl~»Ji jji j (Biasanya Ibnu Musayyab dan Sya'bi). Apabila lafazh ini akurat, maka lafazh selanjutnya yang berbunyi, Jie tii (apabila ia shalat) bermakna, "Masing-masing dari keduanya apabila shalat
JU-JJ

"

'i *—s» j Jt «.UJi i5jil j S JLe '^4 ji iDiJt JJi ji iiUsr y\ p a*'y Jij *

(Sementara di pakaiannya ada darah atau bekas junub (mani), tidak menghadap kiblat, atau bertayammum lalu shalat, kemudian ia mendapatkan air sebelum waktu shalat habis, maka ia tidak mengulang shalatnya). Maksud darah di sini, adalah apabila darah tersebut tidak diketahui oleh orang yang shalat. Demikian pula dengan bekas junub (mani) bagi mereka yang berpendapat air mani adalah najis. Sedangkan yang dimaksud dengan masalah kiblat adalah apabila seseorang telah melakukan usaha sungguh-sungguh untuk menentukan arah kiblat,

3 5 6 — FATHUL BAARI

namun ternyata ia mengalami kesalahan. Begitu juga dengan tayammum, yaitu apabila seseorang tidak menemukan air. Semua maksud ini dapat ditangkap dengan jelas dari konteks keempat atsar (riwayat) yang disebutkan dari keempat tabi'in itu. Silsilah periwayatan keempat atsar tersebut telah disebutkan secara bersambung oleh Abdurrazzaq, Sa'id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah dengan jalur-jalur yang shahih serta terpisah, dimana aku telah menjelaskannya dalam kitab Ta 'liq At-Ta 'liq. Adapun masalah darah telah dijelaskan. Sedangkan tayamum, maka tidak adanya kewajiban mengulangi shalat merupakan pendapat keempat imam dan mayoritas ulama salaf (terdahulu). Sementara itu sejumlah tabi'in, di antaranya Atha', Ibnu Sirin dan Makhul berpandangan, bahwa orang yang melakukan tayamum lalu shalat kemudian mendapat air, maka ia wajib mengulangi shalatnya. Sedangkan mengenai shalat yang diketahui tidak menghadap kiblat, maka tiga imam (Abu Hanifah, Malik dan Ahmad) serta Imam Syafi'i dalam pendapatnya yang lama mengatakan, bahwa orang tersebut tidak wajib mengulang shalatnya. Inilah pendapat mayoritas ulama. Akan tetapi dalam pendapatnya yang baru Imam Syafi'i mengatakan, bahwa orang itu wajib mengulang shalatnya. Golongan pertama memperkuat pendapat mereka dengan sebuah hadits yang dinukil oleh Imam Tirmidzi melalui jalur Abdullah bin Amir bin Rabi'ah, dari bapaknya. Ia berkata bahwa hadits ini derajatnya hasan (baik), akan tetapi ulama-ulama yang lain menganggapnya sebagai hadits dha 'if (lemah). Al Uqaili berkata, "Hadits tersebut tidak dinukil melalui jalur yang dapat dipertanggungjawabkan keotentikannya." Ibnu Al Arabi berkata, "Landasan pendapat Imam Syafi'i yang baru (jadid) adalah, bahwa kesalahan seorang mujtahid menjadi batal bila ditemukan nash (ayat atau hadits) yang menyalahinya." Kemudian dia berkomentar, "Namun masalah seperti ini tidak dapat diterapkan kecuali bila berada di Makkah. Adapun di tempat-tempat lain, maka suatu ijtihad tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain." Pernyataan terakhir Ibnu Al Arabi dapat dijawab dengan mengatakan, "Masalah ini dapat dibatasi, yaitu apabila telah diyakini adanya kesalahan, sehingga hal itu merupakan perpindahan dari kesalahan yang diyakini kepada dugaan

FATHUL BAARI —

357

yang kuat. Maka, dalam hal ini tidak ada proses pembatalan ijtihad dengan ijtihad." wallahu a 'lam.

C

iJl wUP

j l S " &§l ^J3l j l 4 j l b -

iy\LS
'
.

4JJI I L P

jl

'

'0

(

' ,

'

'

'

'

,

y

» <M '

}

'
0

'

I.

.

.

.

'

'

'

I

^ *

^

' l''

'

'

"

'

y

'

^

'

'

^

'

Y*.

^

$t

'

'

'

'

'

*• o.

*•

^

0j$
*-

l > Jss Jl

Ajt^aj

JS§|
"'

J^'*^
'

fj-iil
'

1j
' l »

l aju^
*

j l S " j} U l i - ^ p - l *y ^lijl LMj j l i i S "
X j''
' j j

^

X
' s

^' ' X
^ £'

'

'

O "

0

0

4_Ul J o o'' S ' '

yu*j

y\ 0 j^li» ^
i i " " "

' ' X

'

^

j|

C-?0 '

j i a i C l s l i «J • * o ' ' £ Ji *

f.\j>r
'
:

jX>- < U * l j ^ i ^ J ' ' • * 2' *
L

j ^ I l p j l i i o f ^ o * A J (cr4^

p

^

5j'L>-il^ jJLJl i l l i ^ * a^p-Ol j l j j ^ J I j j L T j : J l i ^ 3!,lp Lp^ i l
' S ' S ' S S

&

'
1

'

f

c

i

-^J U
£" ' '

i^
9

'J^
& ' ' y

-

^
' "

JI-^ )
' ' y
3

p
^
0

ji

^0

C o l j -Li! asli yJiJ
' '
**'

c^wUlji : J l i o s*° ^

iJi «jllJl JlPj (j -^'

o .jJb

' '° <_-^ii * - - ~ ^ ' cs?

*

'

f '

£

*

J^"J ^

<j^^'

240. Abdullah bin Mas'ud menceritakan kepadanya (Amru bin Maimun), bahwa Nabi SA W pernah shalat di sekitar Ka 'bah sementara Abu Jahal dan para sahabatnya sedang duduk-duduk. Tiba-tiba salah seorang berkata kepada yang lain, "Siapakah di antara kamu yang mau mendatangkan usus unta banifulan lalu meletakkannya di atas punggung Muhammad ketika dia sujud. "

3 5 8 — FATHUL BAARI

Maka, bangkitlah orang yang paling jahat di antara mereka (Uqbah bin Abi Mu'aith) lalu pergi untuk kemudian kembali membawa usus unta tersebut. Kemudian ia menunggu sebentar. Ketika Nabi SA W sujud, ia meletakkan usus unta di atas tengkuk beliau SAW, sementara aku melihat, namun aku tidak dapat melakukan apa-apa. Andai aku memiliki kemampuan mencegahnya. Maka mereka pun tertawa seraya sebagian mereka menunjuk sebagian yang lain, sedang Rasulullah SAW tetap sujud tidak mengangkat kepalanya hingga datang kepadanya Fathimah lalu membuang kotoran itu dari punggung beliau. Maka Nabi SA W mengangkat kepalanya kemudian berdoa, "Ya Allah, hukumlah kaum Quraisy, " sebanyak tiga kali. Mereka ketakutan ketika Nabi mendoakan kebinasaan atas mereka, karena mereka tahu bahwa permohonan beliau di negeri itu dikabulkan. Kemudian beliau SAW menyebut nama mereka satu-satu, "Ya Allah binasakanlah Abu Jahal, Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Al Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abi Mu 'aith. " Beliau menyebut yang ketujuh namun kami tidak mengingatnya." Abdullah bin Mas'ud berkata, "Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah melihat orang-orang yang disebut oleh Rasulullah SA W mati terkubur dalam lubang bekas sumur, (waktu perang) Badar.'"''

Keterangan Hadits: y$ 'W*> i\ (Tiba-tiba salah satu dari mereka berkata) maksudnya jjj—^yy

adalah Abu Jahal, seperti disebutkan oleh Imam Muslim melalui riwayat Zakariya. Kemudian ditambahkan dalam riwayat itu, j-^S/U (Dan telah disembelih unta itu sejak kemarin).

*—*^aJ
j * — J * -

(Lalu meletakkannya)
A4*J U*>CPJ U J O J bjj^j J \

Dalam riwayat Isra'il ditambahkan, iukj (Dan dia sengaja ia menunggu mengambil hingga

kotoran, darah beliau sujud).

dan ususnya,

kemudian

sesaat

^gfl—ISi' £ J V ' — ' i (Maka bangkitlah

orang yang paling jahat di

antara

mereka),

yang dimaksud adalah Utbah bin Abi Mu'aith. Dalam

FATHUL BAARI —

359

riwayat Imam Bukhari ini nampak disebutkan secara ringkas, sementara dalam riwayat Abu Dawud Ath-Thayalisi dari Syu'bah, disebutkan, "Maka datanglah Uqbah bin Abi Mu'aith lalu melempar usus tersebut ke punggung beliau S A W . "
f

9 Js

l4—i

'i (Aku tidak dapat melakukan)

Demikianlah yang dinukil

oleh mayoritas perawi, sementara dalam riwayat Al Kasymihani dan Al Mustamli disebutkan, "Aku tidak mengubah." Makna keduanya adalah shahih, yakni aku tidak dapat mencegah kejahatan mereka, atau aku tidak mampu merubah perbuatan mereka sedikit pun. J c i l f JJ (Andai aku memiliki kemampuan mencegahnya) An-

Nawawi berkata, " A*i*Ji dengan fathah pada huruf nun, maknanya adalah 8j__aJl (kekuatan)." Imam An-Nawawi juga berkata, "Ada juga riwayat yang memberi harakat sukun pada huruf nun, namun riwayat ini lemah." Tetapi Imam Al Qurthubi menegaskan bahwa huruf nun pada lafazh tersebut diberi harakat sukun (*£»), lalu beliau berkata, "Boleh pula diberi harakat fathah dari kata JJ' atas dasar bahwa kata tersebut merupakan bentuk jamak i, sebagaimana halnya kata X£ merupakan bentuk jamak S'. " A l Qazzaz dan Al Harawi lebih mendukung berbeda

(plural) dari kata L J )

pendapat yang memberi harakat sukun huruf nun pada kata

dengan penulis kitab Al Ishlah yang cenderung menyatakan bahwa huruf nun kata tersebut diberi harakat fathah sumber pendapat Imam An-Nawawi. Dia berkata, "Ia mengatakan demikian, karena ia tidak memiliki keluarga di kota Makkah. Sebab Ibnu Mas'ud berasal dari suku Hudzail, sekutu suku Arab, sementara sekutu-sekutu sukunya saat itu masih dalam keadaan kafir." Sementara dalam perkataan ini ada bagian yang tidak disebutkan dalam teks kalimat, dimana makna selengkapnya adalah, "Seandainya aku memiliki kemampuan mencegahnya, niscaya aku akan menghilangkannya dari Rasulullah SAW." Pernyataan seperti ini disebutkan langsung dalam teks hadits Imam Muslim melalui jalur periwayatan (i-*Z>), dan inilah yang menjadi

3 6 0 — FATHUL BAARI

Zakariya. Sedangkan dalam riwayat Al Bazzar disebutkan, "Aku merasa takut kepada mereka." |»4—- * ' J — { S e b a g i a n
a J

mereka

tertawa terbahak-bahak

sambil

menunjuk),

maksudnya mereka saling menisbatkan perbuatan tersebut

kepada yang lain untuk memperolok-olok Nabi. Ada pula kemungkinan lafazh ini berasal dari kata J—°~y. - J£- yang berarti melompat ke atas punggung hewan tunggangannya, yakni mereka saling berlompatan karena kegirangan. Sementara dalam riwayat Imam Muslim disebutkan dengan lafazh, J—1*JJ (dan mencondongkan badan) karena banyaknya tertawa. Isra'il. Demikian pula yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari

Adapun yang dimaksud Fathimah di sini adalah Fathimah putri Rasulullah SAW. Isra'il menambahkan, "Sementara waktu itu dia masih belia, datang berjalan tergesa-gesa sementara Nabi SAW tetap saja bersujud." A—iv-'jai {Lalu menghilangkan usus unta itu). Demikian lafazh yang menambahkan, ^$ll* °cJ2\j mencaci maki). Dalam (Mereka tidak

dinukil oleh mayoritas perawi, sementara dalam riwayat Al Kasymihani tidak menyebutkan obyeknya. Lalu Isra'il ^4*^——JJ (Lalu ia menghadap mereka

seraya

riwayat Al Bazzar ditambahkan pula, %—i W^A* ^jiji ^ menanggapi caciannya sedikitpun). kepalanya)

4 — i i j «Jy (Maka Nabi SAW mengangkat

Dalam riwayat

Al Bazzar melalui Zaid bin Abi Anisah dari Abu Ishaq terdapat tambahan, "Maka beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya kemudian berkata, 'Amma ba'du... Ya A l l a h . . . ' " Al Bazzar mengatakan, bahwa yang menukil lafazh amma ba 'du hanyalah Zaid.
' s
f

Jl—1 p—*• (Kemudian berdoa). Kata kemudian ini memberi indikasi adanya senggang waktu antara mengangkat kepala dari sujud dengan berdoa itu sendiri, dan memang demikianlah kenyataannya. Sebab dalam riwayat Al Ajlah seperti dikutip oleh Al Bazzar dikatakan, "Maka beliau SAW mengangkat kepalanya setelah menyempurnakan sujud sebagaimana biasanya, dan ketika selesai shalat beliau berdoa, 'Fa Allah...'"

FATHUL BAARI —

361

Secara lahiriah doa tersebut diucapkan selesai shalat, dan beliau SAW menghadap ke Ka'bah sebagaimana disebutkan dalam riwayat Zuhair dari Abu Ishaq dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Jr—Xjh (Binasakanlah kaum Quraisy), maksudnya orang kafir

di antara mereka. Ini merupakan lafazh umum, tapi yang dimaksud adalah khusus. (sebanyak tiga kali). Dalam riwayat Isra'il, lafazh yang dimaksud diulang sebanyak tiga kali, bukan sekedar menyebut angka. Ditambahkan oleh Imam Muslim dalam riwayat Zakariya, \ £ a tij J ^ j

J d JL> lijj \j% (Dan biasanya apabila beliau berdoa diulang tiga

kali, dan apabila beliau memohon juga diulang tiga kali). —11* jmii (Maka terasa berat bagi mereka). Dalam riwayat Imam Muslim melalui jalur Zakariya disebutkan, ^4—•* s — * *0-* *j**l- Wi
J

A—'t'ji-i

—'^j di—?xlaJl (Ketika

mereka

mendengar

suara

beliau SAW,

hilanglah tawa mereka dan timbul rasa takut akibat doa Jjj—l

beliau).

5 (mereka melihat), maksudnya meyakini. Adapun yang

dimaksud dengan negeri dalam hadits ini adalah Makkah. Kemudian disebutkan dalam kitab Mustakhraj Abu Nu'aim melalui jalur yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, "Pada yang ketiga" sebagai ganti kata, "di negeri tersebut" Ini sesuai dengan lafazh, "Sebanyak tiga kali." Mungkin keyakinan itu sebagai pengaruh syariat nabi Ibrahim yang masih tersisa di antara mereka. j*J (Kemudian beliau menyebut nama), maksudnya menyebutkan secara rinci satu persatu nama-nama mereka.

Si—

r

(Abu jahal).

Dalam riwayat Isra'il disebutkan, "Umar bin

Hisyam." Ini adalah nama Abu Jahal. Barangkali beliau SAW menyebut nama dan julukannya sekaligus. Jt—£• JJ v j (Dan Umayyah bin Khalaf). Dalam riwayat Syu'bah
(

" ' i"

disebutkan, "Atau Ubay bin Khalaf." Keragu-raguan ini berasal dari Syu'bah. Imam Bukhari telah menyebutkan perselisihan mengenai hal ini

3 6 2 — FATHUL BAARI

setelah riwayat Ats-Tsauri dalam bab tentang jihad, lalu beliau berkata, "Yang benar adalah Umayyah." Akan tetapi dalam kitab itu beliau mencantumkan nama Ubay bin Khalaf. Ini merupakan kekeliruan beliau atau kekeliruan guru beliau yang bernama Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Syaibah saat menceritakan hadits ini kepada Imam Bukhari, karena guru beliau (Abu Bakar) telah menukil dalam kitab Musnad-nya dengan lafazh "Umayyah." Demikian pula yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalur Abu Bakar, serta Al Isma'ili dan Abu N u ' a i m melalui jalur Abu Bakar dengan lafazh "Umayyah" pula, dan inilah yang benar. Di samping itu para penulis kitab Al Maghazi (peperangan) telah sepakat, bahwa yang terbunuh dalam perang Badar adalah Umayyah, sedangkan saudaranya yang bernama Ubay bin Khalaf terbunuh pada perang Uhud. Terbunuhnya Umayyah ini akan diterangkan dalam pembahasan perang Badar, insya Allah. ihflks °p±i
£iCJl

JS-J (Dan beliau menyebut yang ketujuh namun

kami

tidak mengingatnya). Al Karmani berkata, "Yang dimaksud dengan "beliau" dalam lafazh, "Beliau menyebutkan..." adalah Rasulullah SAW. Sedangkan yang dimaksud dengan "kami" dalam lafazh, "namun kami tidak mengingatnya" adalah Abdullah bin M a s ' u d atau Amru bin Maimun (perawi yang menerima dari Ibnu Mas'ud -penerj). Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Aku tidak tahu dari mana Al Karmani mendapatkan keterangan seperti ini. Padahal dalam riwayat Ats-Tsauri seperti dikutip oleh Imam Muslim terdapat indikasi, bahwa orang yang lupa adalah Abu Ishaq. Lafazh riwayat tersebut, adalah Abu Ishaq berkata, 'Dan aku lupa yang ketujuh.'" Maka atas dasar ini, yang dimaksud dengan "beliau" dalam lafazh, "Beliau menyebutkan..." adalah Amru bin Maimun. Bahkan terkadang Abu Ishaq pada kesempatan lain mengingat nama orang ke tujuh itu, seraya menyebutkan bahwa namanya adalah Umarah bin Al Walid, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Bukhari dalam pembahasan shalat melalui riwayat Isra'il dari Abu Ishaq. Sementara riwayat Isra'il dari Abu Ishaq sangat akurat, karena ia senantiasa mendampingi Abu Ishaq yang juga termasuk kakeknya." Abdurrahman Al Mahdi berkata, "Apa-apa yang luput dari haditshadits Ats-Tsauri dari Abu Ishaq melainkan aku berharap pada Isra'il, sebab beliau selalu menukil hadits dari Abu Ishaq dengan lengkap." Sementara Isra'il sendiri berkata, "Aku menghafal hadits-hadits yang

FATHUL BAARI —

363

diriwayatkan oleh Muhammad."

Abu

Ishaq

sama

seperti

aku

menghafal

surah

Kemudian sebagian ulama mempertanyakan mengapa Umarah bin Al Walid dimasukkan di antara orang-orang yang didoakan Nabi SAW agar dibinasakan. Sebab orang ini tidak terbunuh di perang Badar, bahkan sebagian ahli sejarah peperangan menyebutkan bahwa Umarah bin Al Walid meninggal di negeri Habasyah. Di negeri ini beliau mencatat cerita tersendiri bersama raja Najasyi, dimana ia sempat mengganggu istri raja tersebut, maka raja Najasyi memerintahkan seorang penyihir untuk menyihir Umarah sebagai hukuman atas perbuatannya. Akhirnya Umarah menjadi liar dan hidup bersama hewan ternak hingga mati pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Kisah ini sangat terkenal. Jawaban mengenai hal ini dikatakan, "Maksud perkataan Ibnu Mas'ud, A k u telah melihat mereka dicampakkan di sumur Badar', adalah sebagian besar mereka dan bukan keseluruhannya. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Uqbah bin Abu Mu'aith tidak dimasukkan ke dalam sumur Badar, bahkan beliau terbunuh sebagai tawanan perang beberapa mil setelah kaum muslimin meninggalkan Badar. Sedangkan Umayyah bin Khalaf dimasukkan sumur dalam keadaan terpotong-potong, sebagaimana akan dijelaskan kemudian." Dalam kitab Al Maghazi (peperangan) akan diterangkan kronologi tewasnya mereka pada perang Badar serta keterangan yang lebih jelas mengenai keadaan mereka, insya Allah. J l i (dia berkata), maksudnya Abdullah bin Mas'ud. Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, j^Jl—> ' J — ^ mengutus =£)l Muhammad
AIIP J

« <jJl\j- (Demi Dzat yang Dalam riwayat An-Nasa'i, kepadanya Al Kitab

dengan

kebenaran).

JSI ^ jjlj (Demi Dzat yang menurunkan

(Al Qur'an). Seakan-akan Abdullah bin Mas'ud mengucapkan semua lafazh tersebut untuk memberi ketegasan. lili
^—'i ^—t-'Je

(Tewas di dalam sumur). Dalam riwayat Isra'il '<** S^- f J'- jFr" °<*&>h (Sungguh aku

dikatakan, j J - i telah

v 4 ^ ' J\

melihat mereka tewas pada peperangan

Badar kemudian diseret ke

3 6 4 — FATHUL BAARI

sumur Badar). Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Timpakan kepada para penghuni sumur ini"

laknat

Ada kemungkinan lafazh terakhir ini merupakan bagian dari doa beliau terdahulu, sehingga merupakan salah satu tanda kenabian. Ada pula kemungkinan beliau SAW mengucapkannya setelah mereka dimasukkan ke dalam sumur. Ditambahkan oleh Syu'bah dalam riwayatnya, "Kecuali Umayyah, karena sesungguhnya ia telah terpotongpotong." Ditambahkan pula, "Karena ia sangat gemuk." Para ulama berkata, "Hanya saja beliau SAW memerintahkan agar mereka dicampakkan ke dalam sumur agar manusia tidak terganggu oleh bau busuk mereka, karena pada dasarnya orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya tidak wajib dimakamkan. Secara lahiriah sumur tersebut tidak ada airnya."

Faidah Hadits ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam kitab Al Maghazi, dia berkata, "Telah menceritakan kepadaku Al Ajlah dari Abu Ishaq, lalu dia menyebutkan hadits." Di bagian akhir hadits tersebut dia menambah dengan kisah Abu Al Bakhtari bersama Nabi SAW sehubungan dengan pertanyaannya kepada Nabi SAW mengenai kisah ini. Abu Bakhtari memukul Abu Jahal hingga melukainya. Kisah ini sangat masyhur dalam sejarah. Kemudian diriwayatkan pula oleh Al Bazzar melalui jalur Abu Ishaq, bahwa Al Ajlah telah menyendiri dalam menukil kisah itu dari Abu Ishaq. Dalam hadits di atas terdapat keterangan betapa orang kafir sangat mengagungkan doa di Makkah, dan yang demikian itu bagi kaum muslimin lebih agung lagi. Di samping itu ada pula keterangan akan pengetahuan kaum kafir tentang kebenaran Nabi SAW, dimana mereka merasa takut saat didoakan agar mereka binasa. Akan tetapi, rasa dengki telah mendorong mereka untuk tidak mau mengikuti ajakan beliau SAW. Hadits tersebut menjelaskan pula tentang sikap santun Nabi SAW terhadap mereka yang selalu menyakitinya. Dalam riwayat Ath-Thayalisi dari Syu'bah -sehubungan dengan hadits ini- disebutkan bahwa Ibnu Mas'ud berkata, "Aku tidak pernah melihat beliau S A W mendoakan mereka celaka kecuali pada hari itu." Mereka berhak didoakan demikian,

FATHUL BAARI —

365

karena sikap mereka yang terlalu meremehkan beliau SAW saat melakukan ibadah. Faidah lain dari hadits ini adalah disukainya mengulang doa sebanyak tiga kali. Telah dijelaskan pada bab ilmu mengenai disukainya memberi salam dan selainnya sebanyak tiga kali, serta dibolehkan mendo'akan kebinasaan bagi orang zhalim. Hanya saja sebagian ulama mengatakan, "Hal itu hanya dapat dilakukan apabila orang zhalim tersebut adalah kafir. Namun apabila ia muslim, maka disukai agar dimohonkan ampunan serta taubat baginya." Bahkan tidak tertutup kemungkinan untuk dikatakan bahwa tidak ada pada hadits tersebut dalil yang membolehkan mendoakan kecelakaan bagi orang kafir, sebab mungkin saja Nabi SAW melakukan hal itu disebabkan beliau telah mengetahui bahwa orang-orang yang disebutkan itu tidak akan beriman. Maka, yang paling utama adalah mendoakan hidayah bagi semua yang hidup. Faidah selanjutnya, bahwa hadits tersebut menunjukkan kekuatan jiwa Fathimah Az-Zahra sejak kecil. Hal itu disebabkan kemuliaannya di tengah kaumnya serta kemuliaan dirinya, dimana beliau dengan lantang mencaci maki para pemuka Quraisy dan mereka tidak membalas caciannya. Di samping itu, hadits ini memberi keterangan bahwa pelaku langsung lebih berat daripada sekedar penyebab yang memberi bantuan semata, berdasarkan perkataannya tentang Uqbah sebagai orang yang paling celaka di antara mereka. Padahal di antara mereka itu ada Abu Jahal yang jelas lebih hebat kekafiran dan permusuhannya terhadap Nabi SAW. Akan tetapi kondisi paling celaka ini hanya ditinjau dari segi kisah tersebut, sebab mereka semua bersekutu dalam perbuatan tersebut. Namun Uqbah menyendiri dalam melaksanakan perbuatan tersebut, maka jadilah ia orang yang paling celaka di antara mereka. Oleh sebab itu, orang-orang tersebut dibunuh di medan perang sementara Uqbah dibunuh sebagai tawanan dengan kaki dan tangan terikat. Hadits ini dijadikan dalil, bahwa seseorang yang mengalami sesuatu dalam shalatnya -dimana hal seperti itu bila terjadi di awal shalat dapat menghalangi shalatnya- maka hal itu tidak membatalkan shalatnya meskipun berlangsung dalam waktu lama. Inilah yang menjadi pandangan Imam Bukhari. Apabila sesuatu yang terjadi itu berupa najis lalu orang yang shalat menghilangkannya dengan segera tanpa

3 6 6 — FATHUL BAARI

meninggalkan ulama.

bekas, maka shalatnya dianggap sah menurut kesepakatan

Di samping itu, hadits ini dijadikan pula sebagai dalil yang menunjukkan sucinya kotoran binatang yang dimakan dagingnya dan menghilangkan najis bukan suatu kewajiban, namun pendapat ini sangat lemah. Bahkan, memahami hadits ini sebagaimana indikasinya yang telah diterangkan terdahulu adalah lebih tepat. Hanya saja ada yang menanggapi, "Sesungguhnya yang diletakkan di punggung beliau SAW bukanlah kotoran saja, bahkan kotoran tersebut bercampur darah sementara darah telah disepakati sebagai sesuatu yang najis." Tanggapan ini saya jawab dengan mengatakan, "Kotoran dan darah yang dimaksud berada dalam perut besar, sedangkan kulit perut besar itu sendiri hukumnya suci, sehingga di sini hampir sama dengan seseorang yang membawa botol berisi kotoran." Lalu ada pula yang mengatakan unta tersebut merupakan hasil sembelihan para penyembah berhala, maka seluruh bagiannya adalah najis karena ia adalah bangkai. Untuk itu saya katakan, "Hal ini terjadi sebelum ada ketetapan hukum yang mengharamkan sembelihan mereka." Kemudian jawaban ini dibantah lagi dengan menyatakan, jika demikian maka butuh kepada kepastian sejarah dan tidak boleh sekedar kemungkinan semata. Imam An-Nawawi berkata, "Jawaban yang paling baik adalah, bahwa beliau SAW tidak mengetahui apa yang diletakkan di atas punggungnya. Maka beliau tetap melangsungkan sujudnya atas dasar istishab (yakni sesuatu dianggap sebagaimana adanya selama tidak ada kejelasan telah terjadi perubahan -penerj), dimana pada awalnya beliau SAW berada dalam keadaan suci maka hal itu tetap sebagaimana adanya selama belum ada kejelasan bahwa kesucian tersebut telah rusak." Namun bisa saja dikatakan, bahwa mereka yang mewajibkan mengulang shalat dalam kondisi demikian, maka perkataan Imam AnNawawi tidak luput dari kritikan. Akan tetapi hal itu dapat dijawab dengan mengatakan, bahwa kewajiban mengulang shalat itu hanya berlaku pada shalat-shalat fardhu. Sedangkan apabila ternyata shalat yang beliau SAW lakukan saat itu adalah shalat fardhu maka waktunya masih luas dan tidak tertutup kemungkinan beliau SAW mengulanginya.

FATHUL BAARI —

367

Hanya saja hal itu masih dapat ditanggapi dengan mengatakan, "Apabila beliau SAW mengulangi shalatnya tentu akan dinukil kepada kita, padahal kenyataannya berita mengenai hal itu tidak ada. Di samping itu, Allah SWT tidak akan membiarkan beliau SAW berlama-lama dalam melakukan shalat yang rusak. Sementara telah dijelaskan bahwa beliau SAW melepas sandalnya pada saat shalat, karena Jibril memberitahukan bahwa pada kedua sandal itu terdapat kotoran. Hal lain yang menunjukkan bahwa beliau SAW mengetahui apa yang diletakkan di atas punggungnya adalah sikap Fathimah yang langsung membawa usus unta tersebut sebelum beliau mengangkat kepalanya, kemudian setelah shalat beliau SAW mendoakan kebinasaan atas mereka." Wallahu a 'lam.

70. Air Liur, Ingus dan yang Sepertinya di Pakaian

Urwah berkata dari Al Miswar dan Marwan, "Nabi SAW keluar pada masa Hudaibiyah, lalu beliau menyebutkan hadits yang berbunyi, 'Tidaklah Nabi SAW mengeluarkan dahak melainkan jatuh di telapak tangan salah seorang di antara mereka lalu ia menggosok muka dan kulitnya dengannya"

3 6 8 — FATHUL BAARI

l f

Oy

f

i

O *

'[-'j,*

*M

Z t

s S

1

i f

-**

O

yf

O

y

4—UI _ U P j j l J l i 4jy ^

J

„ -y o- y

-.i •.Z s

'

£f

> o
s

*p ^_J|
O 'O

y

s-

^0

f

; Jli diiU ^
i . „

- -o -

f

^.Jt
y
o

y ti> •

^

241. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata, "Nabi SAW meludah di pakaiannya. " Ibnu Abi Maryam menyebutkannya dengan panjang, ia berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub, telah menceritakan kepadaku Humaid, ia berkata, Aku mendengar Anas dari Nabi SAW'.'"

Keterangan Hadits: (Di pakaian) atau badan dan lainnya. Masuknya bab ini dalam pembahasan thaharah (bersuci), karena hal-hal ini tidak merusak air (kesuciannya) jika bercampur dengannya. «jj—* J ' i (Urwah berkata), yakni Urwah bin Zubair. Sedangkan

Marwan adalah Ibnu Al Hakam. Riwayat tanpa silsilah periwayatan ini sengaja disebutkan oleh Imam Bukhari sebagai isyarat kepada hadits panjang tentang kisah perjanjian Hudaibiyah. Nanti akan dijelaskan selengkapnya pada bab Asy-Syuruth (syarat-syarat) melalui jalur Zuhri dari Urwah. Penggalan lain dari hadits panjang tersebut telah disebutkan pula oleh Imam Bukhari tanpa silsilah periwayatan sebagaimana pada bab "Mempergunakan sisa air wudhu orang lain". d—jJ^di "jfSi (Beliau menyebutkan hadits), maksudnya dalam hadits

itu disebutkan, "Tidaklah Nabi SAW mengeluarkan dahak..." Di sini Al Karmani kurang teliti sehingga beliau mengira bahwa lafazh, "Tidaklah Nabi SAW mengeluarkan dahak..." adalah hadits lain, sehingga beliau beranggapan boleh bagi seorang perawi menyebutkan dua hadits dalam satu penyampaian, atau mungkin persoalan ini terjadi pada masa Hudaibiyah. Demikian perkataan Al Karmani. Andai beliau meneliti kembali tempat dimana Imam Bukhari menyebutkan hadits ini, niscaya akan tampak kebenarannya.

FATHUL BAARI —

369

Maksud disebutkannya riwayat ini adalah untuk menunjukkan sucinya air liur dan yang sepertinya. Sebagian ulama menukil adanya kesepakatan mengenai hal itu. Tetapi telah disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan silsilah periwayatan yang shahih dari Ibrahim AnNakha'i bahwa air liur tidaklah suci. Ibnu Hazm berkata, "Telah terbukti kebenaran riwayat dari Salman Al Farisi dan Ibrahim An-Nakha'i, bahwa air liur adalah najis apabila telah terpisah dari mulut."

71. Tidak Boleh Berwudhu dengan An-Nabidz Sesuatu yang Memabukkan
f %
8

1}

dan

y

Z '
A

&

Z A & yi>

'

^

*

yy

^

^ »

%

s

s

*

% y

'

'

*s ji\ j

"J\ L~>-l

."*UaP Jli j 3-^*^

J Cr~*^

* -

^'r''i
..

Hal itu tidak disukai oleh Al Hasan dan Abu Al Aliyah. Atha' berkata, "Tayammum lebih aku sukai daripada berwudhu dengan menggunakan An-Nabidz dan susu."

242. Diriwayatkan dari Aisyah R.A bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Setiap minuman yang memabukkan maka ia adalah haram y

n

Yang dimaksud dengan An-Nabidz adalah kurma atau anggur yang direndam dengan air sampai menjadi minuman keras, penerj.

3 7 0 — FATHUL BAARI

Keterangan Hadits: ^_L»Jt i* JTJ (Dan hal itu tidak disukai oleh Al Hasan), maksudnya

adalah Hasan Al Bashri. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrazzaq melalui dua jalur periwayatan dari Al Hasan, "Janganlah berwudhu dengan An-Nabidz." Lalu diriwayatkan pula oleh Abu Ubaid melalui jalur yang lain dari Al Hasan bahwa hal tersebut tidaklah mengapa. Maka atas dasar ini, sikapnya yang tidak menyukai itu hanya bersifat makruh tanzih (meninggalkannya adalah lebih utama). 2—2\H\ j—Jij (Dan Abu Al Aliyah). Telah diriwayatkan oleh Abu

Dawud dan Abu Ubaid melalui jalur Abu Khaldah, ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Abu Al Aliyah tentang seseorang yang junub sementara tidak ada air, maka bolehkah ia mandi dengan menggunakan An-Nabidz?" Beliau menjawab, "Tidak!" Sementara dalam riwayat Abu Ubaid disebutkan, "Beliau tidak menyukainya."
•t%
s s

ss

s.\—lap J l — j j (Dan Atha' berkata), dia adalah Atha' bin Abi Rabah. Telah diriwayatkan pula oleh Abu Dawud melalui jalur Ibnu Juraij dari Atha' bahwa dia tidak menyukai berwudhu dengan menggunakan AnNabidz dan susu. Dia berkata, "Sesungguhnya tayamum lebih aku sukai daripada hal-hal itu." sementara itu Al Auza'i berpendapat boleh berwudhu dengan menggunakan segala jenis An-Nabidz. Ini juga merupakan pendapat Ikrimah (mantan budak Ibnu Abbas). Pandangan serupa diriwayatkan pula dari Ali dan Ibnu Abbas, namun riwayat tersebut tidak shahih.
Adapun Abu Hanifah mengecualikan di antara yang boleh tersebut, yaitu An-Nabidz yang terbuat dari kurma. Di samping beliau mensyaratkan tidak adanya air, serta orang yang akan berwudhu dengan An-Nabidz tersebut berada di luar pemukiman. Akan tetapi kedua sahabat beliau menyelisihinya dalam masalah itu, Muhammad (salah seorang di antara dua sahabat Abu Hanifah) berkata, bahwa "Dikumpulkannya antara wudhu dengan An-Nabidz dan tayamum, ada yang mengatakan bahwa hal itu wajib dan apa pula yang mengatakan sekedar disukai. Ini adalah pendapat Ishaq. Sedangkan Abu Yusuf (sahabat Abu Hanifah yang lain) berpen dapat sama seperti mayoritas ulama, yaitu tidak boleh berwudhu dengan An-Nabidz dalam segala keadaan. Demikian pula pendapat yang dipilih oleh Ath-Thahawi.

FATHUL BAARI —

371

Disebutkan oleh Al Qadhikhan, bahwa Abu Hanifah telah meralat pendapatnya dan menyetujui pandangan jumhur. Akan tetapi dalam kitab Al Mufid (salah satu kitab madzhab Hanafi) dikatakan, bahwa apabila dimasukkan ke dalam air beberapa biji kurma lalu melebur namun tidak mengakibatkan air tersebut berubah namanya, maka boleh dipakai berwudhu tanpa diperselisihkan, (yakni menurut madzhab Hanafi). Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Mas'ud, dimana Nabi SAW bertanya kepadanya pada malam yang gelap, "Apakah yang ada dalam bejanamu!" Ibnu Mas'ud menjawab, "An-Nabidz." Maka Nabi SAW bersabda, "Buah yang halal dan air yang suci." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dengan tambahan, "Maka Nabi SAW berwudhu dengannya"). Akan tetapi hadits ini lemah menurut kesepakatan ulama salaf. Andaikata hadits ini shahih, maka hukum yang dikandungnya juga telah dihapus (mansukh). Sebab peristiwa tersebut terjadi di Makkah dan turunnya firman Allah, "Dan kamu tidak menemukan air maka hendaklah kamu bertayamum." (Qs. Al Maa'idah (5): 6) terjadi di Madinah tanpa ada pendapat yang menyalahinya. Atau dipahami bahwa yang dimaksud oleh Ibnu Mas'ud adalah air yang dimasukkan ke dalamnya kurma kering, sehingga tidak menabah sifat air. Hal itu biasa mereka lakukan, sebab umumnya air yang ada bukan air tawar. 'jSs—lt\ JS" (Semua minuman yang memabukkan). Yakni telah

menjadi karakter minuman tersebut membuat orang mabuk, baik ketika meminumnya menyebabkan seseorang mabuk atau tidak. Al Khaththabi berkata, "Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa minuman yang memabukkan hukumnya haram, apapun jenisnya baik sedikit atau banyak, sebab lafazh umum ini dimaksudkan jenis minuman yang dapat memabukkan. Hal ini sama seperti jika ia mengatakan, 'Segala makanan yang mengenyangkan maka hukumnya halal' perkataan ini memberi petunjuk bahwa segala makanan yang untuk mengenyangkan maka hukumnya halal, meskipun pada sebagian orang tidak dapat kenyang hanya dengan makan makanan tersebut." Sisi penetapan dalil oleh Imam Bukhari dari hadits ini sehubungan dengan bab di atas adalah, bahwa sesuatu yang memabukkan tidak halal diminum. Segala sesuatu yang tidak halal diminum, maka tidak boleh pula dipakai berwudhu menurut kesepakatan para ulama, wallahu a lam. Pembahasan tentang hukum minum An-Nabidz ini akan dibahas pada kitab tentang minuman, insya Allah.

3 7 2 — FATHUL BAARI

72. Seorang Wanita Mencuci Darah di Wajah Bapaknya

Abu Al Aliyah berkata, "Usaplah kakiku karena sakit.

243. Diriwayatkan dari Abu Hazim bahwasanya ia mendengar Sahal bin Sa 'ad As-Sa 'idi, dimana ia ditanya oleh orang-orang sementara tidak ada antara aku dan dia seorang pun, "Dengan apakah diobati luka Nabi SAW? " Sahal berkata, "Tidak ada lagi seorang pun yang lebih tahu dariku mengenai hal itu. Ali datang membawa tamengnya berisi air, dan Fathimah membersihkan darah dari wajah beliau SA W. Lalu dia mengambil tikar kemudian dibakar, setelah itu ditaburkan ke luka beliau SA W."

Keterangan Hadits: j—j (Dari wajah beliau SAW) Bab ini menjelaskan bahwa

menghilangkan najis atau yang sepertinya boleh meminta bantuan orang lain, seperti diterangkan dalam masalah wudhu. Dari sini nampak kesesuaian berita yang dinukil dari Abu Al Aliyah dengan hadits Sahal bin Sa'ad. O i h JJI j i j {Dan Abu Al Aliyah berkata) Beliau adalah Ar-Riyahi, dan silsilah periwayatan perkataan beliau telah disebutkan secara bersambung oleh Abdurrazzaq dari Ma'mar dari Ashim bin Sulaiman. Ia

FATHUL BAARI —

373

berkata, "Kami pernah masuk menemui Abu Al Aliyah pada saat beliau sedang sakit, maka mereka pun membantunya berwudhu. Ketika tinggal satu kakinya lagi, beliau berkata, 'Usaplah kakiku ini karena sakit.' Kakinya tersebut nampak kemerah-merahan." Ditambahkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa kakinya telah dibalut. • * — ^ {Tidak ada seorang pun). Sahal mengucapkan perkataan

ini karena dia adalah sahabat yang paling akhir meninggal di Madinah, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Bukhari dalam pembahasan nikah dalam riwayat beliau melalui Qutaibah dari Sufyan. Tersebut dalam riwayat Al Humaidi dari Sufyan, "Telah terjadi perselisihan di antara manusia mengenai apa yang dipakai mengobati luka Nabi SAW." Pembahasan mengenai sebab luka yang diderita Nabi SAW akan disebutkan di dalam kitab Al Maghazi pada bagian perang uhud, demikian pula dengan orang yang melakukan perbuatan tersebut terhadap beliau SAW. Adapun jarak antara kejadian dengan penyampaian cerita tersebut oleh Sahal bin Sa'ad sekitar 80 tahun lebih. j>l— i (Maka diambil). Sementara dalam riwayat Imam Bukhari

dalam pembahsan tentang thibb (ilmu medis) disebutkan, "Ketika Fathimah melihat darah terus bertambah di air, maka ia mengambil tikar kemudian dibakarnya lalu ditaburkan di atas luka tersebut, dan darah pun akhirnya berhenti." Dalam hadits ini terdapat keterangan disyariatkannya seseorang untuk berobat serta mengobati luka dan bolehnya memakai tameng dalam peperangan, karena semua itu tidak mengurangi nilai tawakal, dan hal itu telah dilakukan oleh Rasulullah. Demikian juga dalam hadits tersebut terdapat keterangan bolehnya seorang wanita menyentuh bapaknya dan mahramnya, mengobati penyakit laki-laki di antara mahramnya dan faidah yang lain sebagaimana akan disebutkan dalam kitab Al Maghazi (peperangan), insya Allah.

3 7 4 — FATHUL BAARI

73. Siwak

Ibnu Abbas berkata, "Aku pernah bermalam di rumah Nabi SAW, maka beliau pun menggosok gigi."

244. Diriwayatkan dari Abu Burdah, dari bapaknya, ia berkata, 'Aku mendatangi Nabi SAW dan aku dapati beliau menggosok gigi dengan siwak yang ada di tangannya. Beliau SAW mengeluarkan suara, 'u'... u'..' sementara siwak berada di mulutnya, seakanakan beliau hendak muntah"

Keterangan Hadits: J—"sj—°>) Jl—ij {Ibnu Abbas berkata). Riwayat tanpa silsilah

periwayatan ini tidak disebutkan dalam naskah Imam Bukhari yang dinukil oleh Al Mustamli. Ia merupakan penggalan hadits panjang tentang kisah bermalamnya Ibnu Abbas di rumah bibinya -Maimunahdengan tujuan melihat shalat Nabi SAW di waktu malam. Silsilah periwayatannya telah disebutkan secara bersambung oleh Imam Bukhari sendiri melalui berbagai jalur periwayatan, di antaranya dengan lafazh seperti di atas dalam kitab Tafsir Surah Aali Imraan. Secara implisit perkataan Abdul Haq menyatakan, bahwa riwayat dengan lafazh seperti tersebut di sini hanya dinukil oleh Imam Muslim, tapi pandangan ini kurang tepat. «aj—» J Asy'ari. j p (Dari Abu Burdah), beliau adalah putra Abu Musa Al

FATHUL BAARI —

375

AJIS*

(Seakan-akan beliau hendak muntah), yakni beliau SAW

mengeluarkan suara sebagaimana suara seseorang yang muntah. Dari sini dapat diambil faidah disyariatkannya bersiwak (menggosok) lidah dengan memanjang. Adapun gigi digosok dengan posisi melintang. Sehubungan dengan itu disebutkan sebuah hadits mursal (tanpa menyebut perawi dari Nabi SAW) dalam kitab Abu Dawud. Hadits ini memiliki penguat yang diriwayatkan dengan silsilah peri-wayatan yang bersambung sampai kepada Nabi SAW, seperti dikutip oleh Al Uqaili dalam kitab AdhDhu 'afa. Dalam hadits ini terdapat keterangan akan pentingnya siwak, dan hal itu tidak khusus gigi saja. Adapun fungsi siwak adalah untuk kebersihan bukan untuk menghilangkan kotoran, karena beliau SAW tidak menutup diri saat melakukannya. Lalu sebagian ahli hadits menyebutkannya pada suatu bab dengan judul "Seorang imam bersiwak di hadapan rakyatnya".

ol—i

— £ J J—IDI ^rrf f*^

b

i $ P *{J^ ^

: <

-^ 4^-^-

'j*

.iiljljb.

245. Diriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata, "Biasanya Nabi SA W apabila bangun di waktu malam, beliau menggosok mulutnya dengan siwak."

Keterangan Hadits: j?j ''l (Menggosok). Ibnu Daqiq Al Id berkata, "Dalam hadits ini

terdapat keterangan disukainya bersiwak pada saat bangun tidur, sebab umumnya tidur merupakan saat dimana bau mulut berubah disebabkan uap yang keluar dari rongga perut. Yang dimaksud dengan siwak adalah alat yang digunakan untuk membersihkan gigi, maka ia disukai sesuai dengan fungsinya." Beliau berkata pula, "Adapun makna lahiriah dari kata J—lil i 'j—» (di waktu malam) berlaku umum dalam setiap keadaan, namun ada pula kemungkinan hal ini dikhususkan pada saat hendak

3 7 6 — FATHUL BAARI

melakukan shalat." Aku katakan, "Keterangan mengenai hal itu disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari dalam pembahasan shalat dengan ungkapan, "Apabila beliau bangun untuk tahajjud". Demikian pula yang dinukil oleh Imam Muslim. Di samping itu hadits Ibnu Abbas turut menguatkannya. Seakan-akan inilah yang menjadi rahasia sehingga disebutkan dalam judul bab ini. Lalu Imam Bukhari banyak menyebutkan hukum-hukum siwak pada pembahasan shalat dan puasa sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah.

74. Menyerahkan Siwak kepada yang Lebih Tua

246. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Diperlihatkan kepadaku bahwa aku sedang menggosok gigi dengan siwak, lalu datang kepadaku dua orang laki-laki, salah satu di antara keduanya lebih tua dari yang satunya lagi, maka aku memberikan siwak kepada yang lebih muda di antara keduanya. Maka dikatakan kepadaku, 'Serahkan kepada yang lebih tua.' Akupun menyerahkan kepada yang lebih tua di antara keduanya. " Abu Abdillah berkata, "Riwayat ini diringkas oleh Nu 'aim dari Ibnu Al Mubarak dari Usamah dari Nafi' dari Ibnu Umar T

FATHUL BAARI —

377

Keterangan Hadits: m »'j' (Diperlihatkan kepadaku) Dalam riwayat Al Mustamli

disebutkan dengan lafazh, Jj

(Aku telah melihat diriku), namun lafazh

pertama lebih masyhur. Dalam riwayat Imam Muslim melalui jalur Ali bin Nashr Al Juhdhami dari Shakhar disebutkan "Diperlihatkan kepadaku dalam mimpi." Lalu dalam riwayat Al Isma'ili disebutkan, "Aku melihat dalam mimpi." Atas dasar riwayat-riwayat ini, maka makna J J adalah
*

berasal dari kata
i(

o t

(mimpi).

s—I J — ( M a k a dikatakan kepadaku). Yang berkata di sini adalah

Jibril AS, sebagaimana akan disebutkan dari riwayat Ibnu Mubarak. j_Ui -LP y\ Jli (Abu Abdullah berkata) Beliau adalah Imam Bukhari. Adapun Nu'aim adalah N u ' a i m bin Hammad. Sedangkan Usamah yang dimaksud adalah Usamah bin Zaid Al-Laitsi Al Madani. Riwayat Nu'aim yang tersebut di sini, silsilah periwayatannya telah disebutkan secara lengkap oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al Ausath melalui jalur Bakr bin Sahal dari Nu'aim dengan lafazh, "Jibril memerintahkan kepadaku untuk menyerahkan kepada yang lebih tua." Kami telah meriwayatkannya pula dalam kitab Al Ghailaniyat melalui riwayat Abu Bakar Asy-Syafi'i dari Umar bin Musa dari N u ' a i m dengan lafazh, "Untuk aku dahulukan yang lebih tua." Lalu telah diriwayatkan oleh sejumlah sahabat Ibnu Mubarak dari N u ' a i m tanpa diringkas, seperti dikutip oleh Ahmad, Al Isma'ili dan Al Baihaqi dengan lafazh, "Aku melihat Rasulullah SAW menggosok gigi lalu beliau menyerahkan siwak tersebut kepada orang paling tua di antara yang hadir, kemudian beliau bersabda, ''Sesungguhnya Jibril memerintahkan kepadaku untuk menyerahkan kepada yang lebih tua:'''' Riwayat terakhir ini memberi indikasi, bahwa kisah tersebut terjadi pada saat terjaga (bukan mimpi). Namun riwayat ini dapat dipadukan dengan riwayat Shakhar, dimana ketika peristiwa itu terjadi maka beliau SAW memberitahukan pula kepada para sahabatnya apa yang dilihat dalam mimpinya. Hal ini sebagai suatu pemberitahuan bahwa perbuatannya itu adalah atas petunjuk wahyu, maka sebagian perawi menghapal apa yang tidak dihapal oleh perawi yang lain.

3 7 8 — FATHUL BAARI

Riwayat Ibnu Mubarak diperkuat oleh riwayat yang dinukil oleh Abu Dawud melalui silsilah periwayatan yang hasan dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah SAW pernah menggosok gigi, sedang di sampingnya dua orang laki-laki. Maka diwahyukan kepadanya, 'Hendaklah engkau menyerahkan siwak kepada yang lebih tua.'" Ibnu Baththal berkata, "Dalam hadits ini terdapat keterangan untuk lebih mendahulukan orang yang lebih tua dalam hal siwak, dan disamakan pula dengannya makanan, minuman, berjalan dan berbicara." Al Muhallab berkata, "Hal demikian berlaku apabila orang-orang belum duduk secara teratur, adapun jika mereka telah duduk secara teratur maka sunah untuk mendahulukan yang kanan." Ini merupakan pendapat yang shahih. Hadits mengenai hal ini akan disebutkan dalam pembahasan tentang minuman. Dalam hadits ini terdapat keterangan bolehnya menggunakan siwak orang lain tanpa ada unsur makruh (tidak disukai). Hanya saja disukai bila orang itu mencuci sebelum memakainya. Sehubungan dengan ini telah diriwayatkan sebuah hadits dari Aisyah dalam Sunan Abu Dawud,
* * "

't.

i'

'

" t

'

*

*

F

S ' '

dimana Aisyah berkata, ^—i -)£->ls 4_Ih

AJ IJJU>

iL-pV

J!a*j

*»i

J j w j

oli"

jii il—PI (Biasanya Rasulullah

memberikan

siwak kepadaku

untuk

aku cuci, lalu aku mulai bersiwak kemudian mencucinya dan menyerahkan kembali siwak itu kepadanya). Kejadian ini menunjukkan keagungan akhlak Rasulullah serta kecerdasan Aisyah RA, sebab beliau tidak mencuci siwak tersebut di saat mulai bersiwak agar tidak luput darinya untuk menjadikan air liur beliau SAW sebagai obat. Kemudian di bagian akhir beliau mencucinya untuk menunjukkan adab beliau serta mengamalkan sunah. Ada kemungkinan yang dimaksud dengan diperintahkannya Aisyah mencuci siwak tersebut adalah untuk melembutkannya dengan air sebelum dipakai oleh beliau SAW, wallahu a 'lam.

FATHUL BAARI —

379

75. Keutamaan Orang yang Tidur Malam dalam Keadaan Berwudhu
s
i

y y

0

y

y

s O/'

s

, " * M

y

y ^*

y

t

y

y

»

y

y

0

o y y>

y

d}-^±>

C

J L B L:

^ 1

J U : J L S ^ >

^

, G I

^

y

y

y

"y

^4-Jui
J

5i ^i itu IU. ^ Lu. ^ a i i

% cuii

*C-< O L* (CJLUJI ^JJI ILLL J CJJIL ^JJL DJBU^J C-JUT

(c

i>1 <£JL—ft dLi^ ci^T ^ i i ) LiL; illi s y j i

247. Diriwayatkan dari Al Barr a' bin Azib, ia berkata bahwa "Nabi SAW bersabda, "Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu (hendak tidur) maka berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat, setelah itu berbaring ke kanan, kemudian bacalah, 'Ya Allah aku menyerahkan wajahku (diriku) kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, aku berlindung kepada-Mu dengan pengharapan (memperoleh kebaikan) dan takut (memperoleh siksa) kepadaMu. Tidak ada tempat perlindungan dan keselamatan kecuali kepada-Mu. Ya Allah aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan nabi-Mu yang telah Engkau utus.' Apabila engkau mati pada malam itu, maka engkau berada di atas fithrah. Jadikanlah kalimat tersebut akhir yang engkau ucapkan. " Beliau berkata, "Akupun mengulanginya di hadapan nabi SAW. Ketika aku sampai pada perkataan, 'Ya Allah aku beriman dengan kitab-Mu yang telah engkau turunkan', akupun berkata,

3 8 0 — FATHUL BAARI

'dan rasul-Mu.' Maka Nabi SA W bersabda, yang telah engkau utus:"

"Tidak, dan

nabi-Mu

Keterangan Hadits: i 'fifi (Berwudhulah). Secara lahiriah anjuran ini menjelaskan

disukainya memperbaharui wudhu bagi setiap orang yang hendak tidur, meskipun ia dalam keadaan suci. Ada pula kemungkinan hal ini khusus bagi mereka yang berhadats. Adapun sisi kesesuaian hadits ini dengan judul bab adalah pada perkataannya, "Apabila engkau mati pada malam tersebut maka engkau berada di atas fithrah." Yang dimaksud dengan fithrah di sini adalah Sunnah. Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim serta ahli hadits lainnya melalui berbagai jalur yang semuanya bersumber dari Al B a r r a \ Semua jalur itu tidak menyebutkan wudhu, kecuali melalui riwayat ini saja. Demikian juga yang dikatakan oleh Imam Tirmidzi. Telah diriwayatkan juga tentang hal ini dari M u ' a d z bin Jabal seperti dinukil oleh Abu Dawud, demikian juga hadits Ali yang diriwayatkan oleh Al Bazzar. Akan tetapi, tidak satupun di antara dua riwayat itu yang sesuai dengan persyaratan Imam Bukhari. Pembahasan faidah kandungan hadits ini akan dijelaskan pada bab doa, insya Allah. J j—"a \—i 'jf \ j ^ - v - i j (Dan jadikanlah engkau ucapkan)^ kalimat tersebut akhir yang

Dalam riwayat Al Kasymahani disebutkan dengan

lafazh, j—f-T j — » j ^ r ' j (Dan jadikanlah kalimat tersebut di antara yang terakhir). Riwayat ini menjelaskan bahwa sesorang tidak dilarang untuk megucapkan dzikir-dzikir yang disyariatkan setelah membaca doa tersebut ketika hendak tidur. • .*,*/' c cJ—'~>j\ t^iJi £l«Jj ^ (Maka beliau bersabda, "Tidak, dan nabiMu yang telah Engkau utus). Al Khaththabi berkata, "Di sini terdapat hujjah bagi mereka yang tidak memperbolehkan untuk meriwayatkan hadits dengan maknanya." Dia juga berkata, "Ada kemungkinan sabda beliau, 'dan nabi-Mu' merupakan isyarat dari Rasulullah bahwa beliau
" Riwayat yang telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar menggunakan kalimatjU^o" L 'jf\ j$li*-lj *

FATHUL BAARI —

381

adalah seorang nabi sebelum diangkat menjadi rasul. Atau mungkin karena pada lafazh, 'dan rasul-Mu yang telah Engkau utus' tidak mempunyai kelebihan sifat sebagaimana yang terkandung dalam lafazh, 'dan nabi-Mu yang telah Engkau utus.'" Ulama selain Al Khaththabi mengatakan, "Tidak ada dalam hadits ini suatu hujjah (alasan) untuk tidak memperbolehkan meriwayatkan hadits dengan maknanya, sebab kata 'rasul' tidak sama dengan makna kata 'nabi'. Tidak ada perselisihan tentang tidak bolehnya meriwayatkan secara makna bila terjadi perbedaan makna lafazh." Seakan-akan beliau SAW hendak mengumpulkan dua sifat sekaligus, meskipun pada dasarnya sifat kerasulan berkonsekuensi adanya sifat kenabian. Atau mungkin pula disebabkan karena lafazhlafazh dzikir hukumnya tauqifi (berdasarkan teks dalil) dalam menentukan lafazh dan pahalanya. Mungkin saja pada salah satu lafazh terdapat rahasia tertentu yang tidak terkandung pada lafazh yang lain, meskipun maknanya sama dari segi lahiriahnya. Kemungkinan pula telah diwahyukan kepadanya lafazh ini, sehingga beliau SAW hanya ingin mengamalkan lafazh tersebut. Tidak tertutup kemungkinan bahwa Nabi SAW melarang merubah lafazh tersebut adalah untuk menghindari pengaburan makna, dimana lafazh rasul mencakup pula mereka yang telah diutus tanpa mengemban misi kenabian, seperti Jibril dan selainnya di antara para malaikat yang mana mereka adalah para rasul dan bukan para nabi. Maka, mungkin beliau SAW ingin memberikan suatu perkataan ringkas yang dapat menghindari pengaburan maksud. Demikian juga dapat dikatakan, bahwa mungkin larangan perubahan lafazh (kata) yang dimaksud karena kata "nabi" jauh lebih mengandung nilai pujian dibandingkan kata "rasul" sebab kata-kata rasul mencakup semua yang diutus, berbeda dengan kata "nabi". Atas dasar ini maka pendapat orang yang mengatakan, "Semua rasul adalah nabi dan tidak sebaliknya" tidak boleh dimutlakkan seperti itu. Adapun orang berpegang dengan hadits ini untuk menunjukkan tidak bolehnya mengganti kalimat, "Nabi SAW bersabda" dengan kalimat, "Rasulullah SAW bersabda". Demikian pula sebaliknya seandainya kita membolehkan riwayat secara makna- dan indikasi seperti itu tidak ada dalam hadits ini. Demikian pula tidak ada hujjah dalam

3 8 2 — FATHUL BAARI

hadits itu bagi yang membolehkan bagian pertama (yakni menukar kata "nabi" dengan kata "rasul") dan tidak memperbolehkan bagian kedua (yakni sebaliknya -penerj), karena kata "nabi" lebih spesifik daripada kata "rasul". Di samping itu kita mengatakan, "Dzat yang menjadi obyek pemberitaan dalam riwayat tersebut hanyalah dzat yang satu. Jika disifati dengan sifat apa saja yang sesuai dengan dzat dan kedudukannya, maka dapat diketahui dengan langsung maksud dari apa yang diberitakan meskipun makna sifat-sifatnya berbeda. Sama halnya dengan nama yang diganti dengan panggilan atau panggilan yang diganti dengan nama. Tidak ada perbedaan apabila seorang perawi mengatakan, 'Dari Abu Abdullah Al Bukhari' atau 'Dari Muhammad bin Isma'il Al Bukhari'. Hal ini berbeda dengan apa yang disebutkan dalam hadits pada bab ini. Karenanya mengandung kemungkinan seperti yang telah kami jelaskan, yaitu masalah tauqifi dan yang lainnya." Wallahu a 'lam.

Catatan Penting Imam Bukhari menutup bab wudhu dengan hadits ini, dikarenakan wudhu ini adalah wudhu terakhir yang dianjurkan kepada seorang mukallaf (yang dibebani kewajiban syariat) di saat terjaga berdasarkan sabda beliau dalam hadits yang sama, "Dan jadikanlah kalimat tersebut yang terakhir engkau ucapkan." Maka lafazh ini mengisyaratkan untuk dijadikan pula sebagai penutup pembahasan ini, dan hanya Allah yang memberi petunjuk kepada kebenaran.

Penutup Kitab tentang wudhu dan segala yang berhubungan dengannya, yaitu hukum-hukum air dan tata cara istinja' terdiri dari hadits-hadits marfu' (sampai kepada Nabi SAW) yang berjumlah 150 hadits. Silsilah periwayatan yang disebutkan secara bersambung berjumlah 116 hadits, sedangkan yang disebutkan sebagai pendukung (mutaba 'ah) dan yang disebutkan tanpa silsilah periwayatan (ta'liq) berjumlah 38 hadits. Adapun yang terulang dalam bab ini dan bab-bab sebelumnya berjumlah 73 hadits. Yang tidak terulang berjumlah 81 hadits, tiga di antaranya disebutkan tanpa silsilah periwayatan sedangkan sisanya disebutkan melalui jalur periwayatan yang bersambung sampai kepada Nabi SAW.

FATHUL BAARI —

383

Semua hadits yang telah beliau sebutkan di sini telah diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, kecuali 16 hadits; tiga di antaranya disebutkan tanpa sanad, hadits Ibnu Abbas tentang sifat wudhu, hadits Ibnu Abbas tentang berwudhu satu kali-satu kali, hadits Abu Hurairah yang menyatakan, "Carikan untukku batu-batu", hadits Abdullah bin Mas'ud tentang dua batu dan kotoran binatang, hadits Abdullah bin Zaid tentang berwudhu dua kali-dua kali, hadits Anas tentang menyimpan rambut Nabi SAW, hadits Abu Hurairah tentang seorang laki-laki yang memberi minum anjing, hadits As-Sa'ib bin Yazid tentang cap kenabian, hadits Sa'ad dan Umar tentang membasuh di atas dua sepatu, hadits Amru bin Umayyah mengenai hal tadi, hadits Suwaid bin N u ' m a n tentang berkumur-kumur karena sawiq, hadits Anas yang menyatakan apabila seseorang ngantuk saat shalat maka hendaklah ia tidur, hadits Abu Hurairah tentang kisah Arab badui yang kencing di masjid, hadits Maimunah tentang tikus jatuh di minyak samin dan hadits Anas tentang meludah di pakaian. Dalam bab ini, disebutkan riwayat dari sahabat dan sesudahnya yang berjumlah 48. Yang disebutkan secara bersambung di antaranya ada tiga, sedangkan sisanya disebutkan secara mu 'allaq. Wallahu a 'lam.

A

KfiMPtfNGUJitNAM

3 8 4 — FATHUL BAARI

5. MANDI

^b)
O X y'O -fisi y y y

^ Sy3 J ^
O y * y ,y y ,y

1
0 y t

^
y

r r ^ J^'J ^
1
O y
Q y 0 y to^

y & I

' 1*

I

JA I

P_XLJ J J - I ^ \* wi? I J J ' ' L IJ *

j \
#

Js-

jl

^
#

JLJ

I j ^ l i

• * "' L' * ' C '{• ' L ' LI • ^ ' M ° f I «L'TL * - " > S\~* 1 jSs>XJ JT-JLS {.L^JJI J ^ l ^ A ^ j l JajLAjI
% I, > -

j

4

( J J ^ J ADI

Jby

L» 4^« JT->S^JI j

J»-^-* yr

y.

I

y*~~«li

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kitab (mandi) dan Firman Allah SWT, "Dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu tetapi Dia hendak membersihkan kamu, dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." ^ Q s . Al Maa'idah (5): 6^

Firman Allah SWT,

I
O y

* IJ^JJJ
^ y O y X

pSJ\j
^ ^

«^ al "CJ
yy

IJJy£

^
&

IyS\ IJJ^Jl
' %% y y y

UJJI IJ
% s

jl
yy

y> ^ZS" j]j IjL~I*J ^s- J^R^ <Sy.^
y y ^ ' y
9

^ J &J^J^
y i '
0

yy

i

0

£

*

'

p li f.\ Ul'{jL^'ijl Jajl*Jl
3 8 6 — FATHUL BAARI

(*-^f

«^ --

J^

.Ijjip Ijjtp JIS" 4JJI

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." ^ Q s . An-Nisaa* (4): 43 )

Keterangan

JliJi

J ^ - J J I *»'

p~~> (Dengan menyebut

nama Allah

Yang

Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kitab mandi). Demikian yang terdapat dalam riwayat kami dengan mendahulukan Basmalah, sedangkan riwayat lain sebaliknya. Kemudian dalam riwayat Al Ashili Basmalah tersebut dihilangkan dan ditulis "Bab Al GhusF\ Hakikat mandi adalah mengalirkan air ke seluruh anggota tubuh, sedangkan mengenai kewajiban menggosok badan para ulama masih berbeda pendapat. Sebagian besar mereka tidak mewajibkannya, sementara Imam Malik dan Muzanni berpendapat sebaliknya. Lalu Ibnu Baththal memperkuat pendapat ini berdasarkan ijma' (kesepakatan) para ulama yang mewajibkan menggosokkan tangan ke seluruh anggota wudhu ketika membasuhnya, ia mengatakan, "Dengan demikian wajib juga menggosok seluruh tubuh ketika mandi sebagaimana halnya wudhu, sebab antara keduanya tidak ada perbedaan." Akan tetapi perkataan Ibnu Baththal tersebut dibantah dengan mengatakan, bahwa para ulama yang tidak mewajibkan menggosok badan (ketika mandi) telah membolehkan bagi seseorang yang berwudhu untuk memasukkan tangannya ke dalam air tanpa menggosoknya.

FATHUL BAARI —

387

Dengan demikian ijma' tersebut menjadi batal, dan hilanglah konsekuensi di antara keduanya. l t _ J £ b|j :J\ia <UJl jjs) (Firman Allah SWT, "Dan jika

kamu junub maka mandilah). Al Karmani mengatakan, "Tujuan Imam Bukhari dengan perkataannya ini adalah untuk menjelaskan kewajiban mandi bagi orang yang junub berdasarkan firman Allah dalam Al Qur'an." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Sikap beliau yang lebih dulu menyebutkan ayat dalam surah Al Maa'idah daripada ayat dalam surah An-Nisaa' adalah karena lafazh dalam surah Al Maa'idah I j ^ k ^ masih bersifat global (mujmal), sedangkan lafazh dalam surah An-Nisaa' J*\j\ 3s secara tegas menyebutkan mandi, dimana lafazh tersebut
9

merupakan penjelasan dari lafazh 'jj^ ** yang masih bersifat global. Ayat lain yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT — b l i adalah mandi, yaitu firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat: 222 tentang wanita yang haidh, oj^ai l i l i oj^aj
'y*y'j£
Vj

(Dan suci.

janganlah kamu mendekati mereka (para istri) hingga mereka Apabila mereka suci). Artinya kalau mereka sudah mandi."

Ayat dalam surah An-Nisaa' tersebut juga menunjukkan bahwa boleh atau tidaknya seseorang yang sedang junub untuk melaksanakan shalat -demikian juga berdiam di masjid- adalah tergantung kepada mandi. Adapun hakikat mandi adalah membasuh semua anggota tubuh disertai dengan niat, dimana niat itulah yang membedakan antara mandi untuk ibadah atau hanya sekedar kebiasaan.

3 8 8 — FATHUL BAARI

1. Wudhu Sebelum Mandi

fJUiJl y Jl*IPI

bl j l T

Hl ^ l i l

jl |§|

j^-Jl ^ j j A I O L P ^ P

.AU

OJI>- ^ I P f.LUl (j^'tfj pj

^i-^l

248. Dar/ Aisyah -istri Nabi SAW- bahwa apabila beliau mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua tangannya. Kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam air, setelah itu menggosokkannya di sela-sela rambutnya. Kemudian ia menyiram kepalanya sebanyak tiga kali cidukan, setelah itu meratakan (menyiramkan) air ke seluruh tubuhnya.

Keterangan Hadits: (Wudhu sebelum mandi), maksudnya disukai berwudhu sebelum mandi wajib. Imam Syafi'i mengatakan dalam kitabnya, Al Umm, "Allah S W T mewajibkan mandi secara mutlak (tanpa batas) dengan tidak menyebutkan satu perbuatan pun yang harus dilakukan sebelumnya. Bagaimanapun cara seseorang mandi, maka itu sudah cukup dengan syarat ia membasuh (mengalirkan air) ke seluruh tubuhnya. Adapun cara yang paling baik adalah sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah." Hadits yang disebutkan dalam bab ini juga dikutip dari Imam Malik dengan silsilah periwayatannya, sebagaimana dalam kitab Al Muwaththa \ Ibnu Abdil Barr mengatakan, bahwa hadits tersebut adalah hadits yang paling baik yang diriwayatkan dalam bab ini. Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Hadits ini juga diriwayatkan dari Hisyam Ibnu Urwah

FATHUL BAARI —

389

oleh beberapa dijelaskan."

orang

ahli hadits

selain

Malik

seperti

yang

akan

J-~i*l lij DlT (Apabila beliau mandi), yakni memulai mandi. Lafazh

'j

«

pada kalimat i—'l^Ji J—* berfungsi sebagai keterangan sebab

(sababiyah). 4 tangannya) °lo J—J*j (J—' (Beliau memulainya dengan mencuci kedua

Kemungkinan maksudnya adalah membersihkan tangannya

dari kotoran, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam hadits Maimunah. Ada kemungkinan juga bahwa mencuci kedua tangan ini termasuk hal yang disyariatkan sebagaimana ketika bangun tidur. Kemungkinan memasukkan terakhir ini dikuatkan dengan
LS

riwayat Ibnu Uyainah dari Hisyam, yang Jli (Sebelum ia Demikian diriwayatkan oleh Imam Syafi'i (Kemudian ia mencuci

menambahkan lafazh, « • ! — — i U ^ ^ i keduanya ke dalam bejana).

dan Tirmidzi. Ia juga menambahkan, &r J J—*J

kemaluannya). Demikian juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Mu'awiyah seperti dikutip oleh Abu Dawud dari Hammad bin Zaid, keduanya dari Hisyam. Tambahan keterangan ini merupakan hal yang sangat berharga, karena dengan mencuci kemaluan terlebih dahulu dapat lebih memberi rasa aman bagi seseorang untuk tidak menyentuhnya saat mandi. 5^_tflA3 tz?'JJ UT (Sebagaimana wudhu untuk shalat). Pernyataan ini

sebagai langkah untuk menghindari timbulnya pemahaman, bahwa yang dimaksud wudhu di sini adalah berdasarkan makna secara bahasa (yaitu sekedar membersihkan anggota badan). Tidak tertutup kemungkinan bahwa berwudhu sebelum mandi merupakan sunah tersendiri, dimana anggota wudhu wajib pula dibasuh bersama seluruh badan ketika mandi. Ada pula kemungkinan anggota badan yang telah dibasuh saat wudhu tidak perlu dibasuh kembali saat mandi, maka seseorang harus berniat mandi wajib ketika mencuci anggota wudhu yang pertama. Didahulukannya membasuh anggota wudhu adalah sebagai bentuk penghormatan. Dengan demikian, dapat diperoleh dua bentuk thaharah (bersuci) sekaligus; thaharah shugra (bersuci kecil) dan thaharah kubra

3 9 0 — FATHUL BAARI

(bersuci besar). Pandangan seperti ini menjadi kecenderungan AdDawudi -pensyarah Al Mukhtashar dari madzhab Syafi'i- dimana ia mengatakan, "Lebih dahulu membasuh anggota wudhu sesuai dengan urutannya, tetapi dengan niat mandi junub." Kemudian Ibnu Baththal menukil adanya kesepakatan para ulama yang mengatakan, "Apabila seseorang telah mandi wajib, maka ia tidak wajib berwudhu." Tetapi klaim adanya ijma' mengenai perkara ini tidak dapat diterima, karena sejumlah ulama di antaranya; Abu Tsaur, Daud, dan lainnya berpendapat bahwa mandi tidak bisa menggantikan wudhu bagi orang yang berhadats. '',>'. l^j J i k J {Setelah itu menggosokkannya), yakni menggosokkan jarijari tangannya yang sudah dimasukkan ke dalam air. Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Kemudian beliau mengambil air, setelah itu memasukkan jari-jari tangannya ke akar-akar rambut." Dalam riwayat Tirmidzi dan Nasa'i dari Ibnu Uyainah dikatakan, "Kemudian beliau memercikkan air ke rambutnya."

«j*—5> J j — ^ (Di sela-sela rambutnya),

maksudnya rambut kepala

beliau SAW. Hal ini didukung oleh riwayat Hammad bin Salamah dari Hisyam sebagaimana dinukil oleh Baihaqi dengan lafazh, "Beliau menyela-nyela kepalanya yang sebelah kanan dengan jari tersebut sampai ke akar rambut, kemudian ia melakukan hal yang sama pada bagian kepala sebelah kiri." Al Qadhi Iyadh mengatakan, "Sebagian ulama menjadikan lafazh ini sebagai hujjah (alasan) untuk mengharuskan mencuci (menyela-nyela) bulu badan ketika mandi, baik berpedoman dengan keumuman lafazh "ushulu sya'r" (akar-akar rambut) ataupun dengan menganalogi kannya dengan rambut kepala." Adapun faidah menyela-nyela rambut tersebut adalah untuk meratakan air ke rambut dan kulit. Menyentuh rambut dengan menggunakan tangan secara langsung adalah untuk meratakan air ke seluruh rambut. Kemudian para ulama sepakat bahwa menyela-nyela rambut kepala dengan tangan saat mandi junub hukumnya tidak wajib, kecuali apabila pada rambut itu ada sesuatu yang menghalangi sampainya air ke akarakarnya, wallahu a 'lam.

FATHUL BAARI —

391

'-jj—f-

— J {Tiga kali cidukan). Lafazh ^'jt- adalah bentuk plural (cidukan) itu sendiri adalah

(jamak) dari kata i-i'jf-, dan ukuran satu

sama dengan banyaknya air yang dapat ditampung oleh telapak tangan manusia. Lafazh ini menerangkan disukainya menyiram air ke badan ketika mandi sebanyak tiga kali-tiga kali. Imam Nawawi mengatakan, "Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini kecuali pendapat yang dikemukakan oleh Al Mawardi, dimana beliau berkata, "Tidak dianjurkan mengulang-ulang (siraman) ketika mandi.'" Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Pendapat ini dikemukakan pula oleh Syaikh Abu Ali As-Sanji dalam kitab Syarhul furu' serta Imam Al Qurthubi. Adapun lafazh tiga kali dalam riwayat ini mereka memahaminya, bahwa setiap cidukan digosokkan pada salah satu bagian kepala. Di akhir pembahasan tentang hadits Maimunah akan disebutkan tambahan mengenai masalah ini. 'ja—(Setelah itu ia meratakan), maksudnya mengalirkan air ke

seluruh tubuh. Lafazh ini dijadikan dalil oleh orang yang tidak mewajibkan menggosok badan saat mandi, dan konteks kesimpulan ini dengan hadits tersebut cukup jelas. Namun Al Maziri mengatakan, "Lafazh ini tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan tidak wajibnya menggosok badan saat mandi, karena lafazh je\i\ artinya J—* (mencuci). Sementara mencuci itu sendiri menjadi obyek perselisihan." Aku katakan, "Kelemahan perkataan ini cukup jelas." Wallahu a 'lam. Al Qadhi Iyadh berkata, "Tidak ditemukan dalam riwayat-riwayat yang berkenaan dengan wudhu ketika hendak mandi junub lafazh yang menyebutkan pengulangan dalam mencuci anggota wudhu." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Ada riwayat yang shahih menyebutkan hal tersebut, yakni hadits yang dinukil oleh Imam Nasa'i dan Baihaqi dari riwayat Abu Salamah dari Aisyah bahwa ia menggambarkan cara Nabi SAW mandi junub, dimana disebutkan dalam hadits tersebut, 'Kemudian ia berkumur-kumur tiga kali, memasukkan air ke hidung tiga kali, mencuci muka tiga kali, tangan tiga kali dan kemudian menyiram kepalanya tiga kali.

3 9 2 — FATHUL BAARI

*—«oLr

(Keseluruh tubuhnya) Penegasan ini memberi makna,

bahwa beliau SAW meratakan (air) ke seluruh bagian tubuhnya ketika mandi setelah melakukan hal-hal di atas. Ini menguatkan kemungkinan pertama bahwa wudhu merupakan sunah yang tersendiri sebelum mandi. Oleh karena itu orang yang mandi (junub) harus berniat untuk wudhu jika ia berhadats, sedangkan bila tidak berhadats maka ia berniat sunah mandi. Hadits ini juga dijadikan dalil disunahkannya menyempurnakan wudhu sebelum mandi, dan mencuci kaki tidak diakhirkan sampai selesai mandi. Kesimpulan seperti itu dapat ditarik dari makna lahiriah perkataan Aisyah RA, "Sebagaimana beliau berwudhu untuk shalat." Lafazh inilah yang diriwayatkan secara akurat dari Aisyah melalui jalur periwayatan ini. Akan tetapi telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Muawiyah dari Hisyam, ia berkata di bagian akhir, "Kemudian ia mengalirkan air ke seluruh tubuh, kemudian mencuci kedua kakinya." Adapun lafazh yang menjadi tambahan tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Muawiyah saja tanpa ada murid-murid Hisyam lain yang turut menukilnya. Oleh sebab itu Imam Baihaqi mengatakan, "Tambahan ini gharib (ganjil) namun shahih." Aku katakan, "Tetapi riwayat Abu Muawiyah dari Hisyam menjadi bahan perbincangan." Namun diakui bahwa hadits tersebut memiliki penguat yang dinukil melalui riwayat Abu Salamah dari Aisyah sebagaimana dikutip oleh Abu Daud AtThayalisi, dimana ia menyebutkan hadits mandi yang terdapat dalam riwayat Nasa'i. Lalu beliau menambahkan, "Tatkala beliau telah selesai mandi, beliau mencuci kedua kakinya." Dengan demikian bisa jadi yang dimaksudkan riwayat-riwayat Aisyah -dengan perkataannya- "Wudhu sebagaimana wudhu untuk shalat" adalah membasuh sebagian besar anggota wudhu, yakni selain kedua kaki. Atau hadits tersebut dapat pula dipahami menurut makna lahiriahnya. Hadits riwayat Abu Muawiyah ini juga dapat dijadikan dalil bolehnya memisah-misahkan wudhu. Ada kemungkinan yang dimaksud dalam riwayat Abu Muawiyah "Kemudian beliau mencuci kedua kakinya", adalah beliau mengulangi mencuci keduanya untuk menyempurnakan mandi setelah sebelumnya beliau mencuci kedua kaki tersebut ketika berwudhu. Sehingga perkataan ini sesuai dengan lafazh

FATHUL BAARI —

393

hadits di bab ini yaitu, *—li" «J—br ^—l* ja—1* <—J (Kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya).

beliau

o s.j
y y

s ^ j Sgjfe 4
s-'
y A y s

Ul J y j
0 ^

W 3 j J o J l i aHl
x"

^-^^
yy
y

4jj^_*» ^jjp
y y ^

y

^

yy

° -

>'a *

-

-j'--'

o'o

S - S• ' - ° *
*J tlUl

.5jUs«Jl ^ y 4j_L^p aJL& !.•> g L.J»3 4lL?rj

249 - Dari Maimunah istri Nabi SAW, ia berkata, "Rasulullah SA W berwudhu seperti wudhu untuk shalat tetapi tidak membasuh kedua kakinya, dan beliau mencuci kemaluannya serta kotorankotoran yang melekat padanya, setelah itu beliau menyiramkan air ke badannya. Kemudian beliau memindahkan kedua kakinya (dari tempat semula) lalu mencucinya. Demikianlah cara beliau mandi junub"

Keterangan Hadits:
y ty f 4 4 ^ V j 'J* 3">CaJJ t * Jz>j (Berwudhu seperti wudhu untuk shalat tetapi tidak membasuh kedua kakinya) Di sini dijelaskan secara tegas tentang mengakhirkan mencuci kedua kaki ketika wudhu untuk mandi wajib. Jadi hadits ini bertentangan dengan makna lahiriah riwayat Aisyah. Tetapi keduanya dapat dipadukan dengan cara memahami hadits Aisyah dalam pengertian majaz (kiasan) seperti yang telah dijelaskan, atau dikatakan bahwa hadits itu menceritakan peristiwa pada kesempatan lain.

Karena kedua riwayat tersebut berbeda, maka para ulama berbeda pula dalam menentukan pendapat mengenai persoalan tersebut. Mayoritas (jumhur) ulama berpendapat bahwa mengakhirkan mencuci kaki ketika mandi wajib adalah sunah. Adapun Imam Malik berpendapat jika tempat mandi tidak bersih, maka disukai untuk mengakhirkan mencuci kaki. Tetapi kalau tempatnya bersih maka sebaliknya. Sementara dalam mazhab Syafi'i terdapat dua pandangan dalam menentukan mana yang lebih utama. An-Nawawi mengatakan, "Yang paling masyhur

3 9 4 — FATHUL BAARI

diantara keduanya adalah menyempurnakan wudhunya (yakni sekaligus membasuh kedua kaki -penerj.) karena kebanyakan riwayat Aisyah dan maimunah menyatakan demikian." Demikian pernyataan beliau. Tetapi pada dasarnya tidak ada satu riwayatpun dari keduanya yang jelas-jelas menyatakan demikian, yang ada hanyalah kemungkinan seperti riwayat "Beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat" atau riwayat yang secara lahiriahnya menyatakan bahwa beliau mengakhirkan membasuh kedua kaki sebagaimana riwayat Abu Mu'awiyah terdahulu, yang dikuatkan oleh riwayat yang dinukil melalui Abu Salamah. Sebagian besar riwayat dari Maimunah sesuai dengan riwayat-riwayat ini, atau riwayat yang secara tegas mengatakan bahwa membasuh kaki dilakukan setelah mandi seperti hadits dalam bab ini. Kemudian para perawi hadits dalam bab ini lebih diutamakan dari segi hafalan dan pemahaman dibanding para perawi yang menukil riwayat seperti ini dari Al A ' m a s y . Adapula pendapat yang mengatakan, "Sesungguhnya Nabi sesekali melakukan yang demikian untuk menjelaskan b a h w a hal itu boleh dilakukan." Pendapat ini tidak seluruhnya benar, karena riwayat A h m a d dari A b u Salamah dari Al A ' m a s y ada yang mengindikasikan bahwa nabi melakukan hal tersebut secara berkesinambungan, dimana lafazhnya adalah, <6r°j J - J t i AlU-i Js^Jk j**
AJJU

J—-««i 'J-rf

'JA

J _ i p l lil !SS

(Biasanya Nabi apabila mandi junub beliau memulainya dengan mencuci kedua tangannya, kemudian menyiramkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri dan mencuci kemaluannya) dan di akhir hadits disebutkan,

<£&rj J~~*^ J*^>. (Kemudian

ia berpindah

(tempat)

dan

mencuci kedua kakinya). I m a m Al Cjurtubi mengatakan, " H i k m a h diakhirkannya m e m b a s u h kedua kaki tersebut, supaya mandi tersebut dimulai dan diakhiri dengan m e m b a s u h anggota w u d h u . " i—r'j J-~*j (Dan beliau mencuci kemaluannya). Di sini ada taqdim

dan ta 'khir (perubahan susunan lafazh), karena membasuh kemaluan dilakukan sebelum wudhu. Kesimpulan ini dapat dibenarkan, karena kata sambung waw (dan) tidak memberi makna urutan perbuatan (tertib). Ibnu Mubarak telah menjelaskan hal tersebut dari Tsauri sebagaimana disebutkan oleh Imam Bukhari di bab "Menutup diri saat mandi", dimana disebutkan bahwa pertama-tama beliau mencuci kedua tangan, kemaluan,

FATHUL BAARI —

395

kemudian mengusapkan tangannya ke dinding, setelah itu berwudhu tanpa mencuci kedua kakinya." Lafazh hadits ini menggunakan kata sambung *—(kemudian) yang mengandung makna urutan peristiwa atau perbuatan. «d ~P «j—a (Demikianlah cara beliau mandi). Imam Bukhari

menggunakan hadits Maimunah ini sebagai dalil bolehnya memisahmisahkan anggota wudhu, dan disukainya menuangkan air ke tangan kiri dengan menggunakan tangan kanan berdasarkan riwayat Abu Awanah dan Hafsh serta selain keduanya dimana dikatakan, "Kemudian beliau menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri." Juga sebagai dalil disyariatkannya berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung saat mandi wajib berdasarkan lafazh dalam hadits tersebut yang menyatakan, "Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung." Keterangan ini pula yang dijadikan pegangan oleh ulama mazhab Hanafi untuk mewajibkan kedua hal tersebut. Tetapi pendapat ini dibantah, karena suatu perbuatan tidak mengindikasikan kewajiban kecuali perbuatan itu merupakan penjelasan bagi suatu yang bersifat global (mujmal) dan berkaitan dengan hukum wajib. Sementara hal ini tidak ditemukan dalam pembahasan yang dimaksud, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiq Al 'Id. Hadits tersebut juga menjadi dalil disukainya menyapukan tangan dengan debu di dinding atau tanah berdasarkan lafazh dalam riwayatriwayat yang telah disebutkan, yaitu "Kemudian ia menyapukan tangannya dengan tanah atau debu di dinding." Ibnu Daqiq Al 'Id mengatakan, "Dari hadits tersebut dapat disimpulkan, bahwa menghilangkan najis cukup dengan mencucinya sekali saja. Demikian juga dengan mandi junub, karena hukum dasarnya adalah tidak ada pengulangan." Namun dalam masalah ini ada perbedaan pandangan. An-Nawawi dan ulama lainnya cenderung membenarkan bahwa mencuci sekali sudah mencukupi, tetapi hadits ini tidak secara pasti mengatakan bahwa perbuatan itu adalah untuk menghilangkan najis. Bahkan ada kemungkinan perbuatan itu dilakukan hanya untuk membersihkan tangan saja, sehingga tidak mengindikasikan bahwa hal itu sudah mencukupi. Adapun menggosokkan tangan dengan tanah tujuannya adalah untuk mencapai hasil yang bersih, sebagaimana dikatakan oleh Imam Bukhari. Orang yang berhujjah dengan hadits ini untuk mendukung

3 9 6 — FATHUL BAARI

pendapat yang menyatakan bahwa mani dan sekitar kemaluan yang lembab adalah najis, sungguh telah jauh menyimpang dari indikasi hadits tersebut, karena mandi tidak terbatas hanya untuk menghilangkan najis. Sedangkan kalimat dalam hadits pada bab ini yang berbunyi, "Serta (mencuci) kotoran-kotoran yang melekat padanya" juga tidak secara tegas mengindikasikan bahwa mani serta kelembaban di sekitar kemaluan adalah najis. Selanjutnya Imam Bukhari beralasan dengan hadits ini bahwa yang wajib dalam mandi junub adalah menyiram satu kali saja. Orang yang berwudhu dengan niat mandi (wajib), kemudian ia menyempurnakan (menyiram) anggota badannya, maka tidak diharuskan mengulang wudhunya jika ia tidak berhadats. Hadits tersebut juga memberi atau membersihkan air wudhu keterangan bolehnya mengibaskan dengan tangan. Dalam hal ini ada hadits

dha 'if yang dikemu-kakan oleh Rafi'i dan yang lainnya dengan lafazh, V otial—IsJl ^ j ' y
i'Jp'J J> j*i>>Jjl \°ya£i (Janganlah

kalian

mengibaskan

tangan kalian ketika berwudhu karena itu adalah kipasan syetan). Ibnu Shalah me-ngatakan, "Saya menemukan (sumber) hadits ini, dan AnNawawi menyetujuinya." Ibnu Hibban meriwayatkannya dalam kitab Adh-Dhu 'afa dan Ibnu Abi Hatim dalam kitab Al 'Hal dari hadits Abu Hurairah. Meskipun hadits ini tidak bertentangan dengan hadits shahih, namun tetap tidak bisa dijadikan hujjah. Hadits (di atas) juga dijadikan dalil disukainya menutup diri ketika mandi walaupun dalam rumah. Imam Bukhari telah membuat bab-bab khusus untuk setiap permasalahan di atas dan ia menyebutkan hadits ini pada setiap bab tersebut, namun melalui jalur periwayatan yang berbedabeda. Akan tetapi, semua jalur periwayatan tersebut kembali kepada Al A'masy, dan sebagian perawi menukil dari Al A ' m a s y apa yang tidak dinukil oleh perawi yang lain. Saya telah mengumpulkan faidah-faidah yang diambil dalam bab ini. Dalam riwayat Hafsh bin Ghiyyats dari Al A ' m a s y secara jelas dikatakan, bahwa Al A ' m a s y telah mendengar langsung hadits tersebut dari Salim, dengan demikian riwayat tersebut aman dari tadlis (penyamaran riwayat). Faidah lain dari hadits tersebut adalah, bolehnya meminta tolong dibawakan air untuk mandi dan berwudhu berdasarkan perkataannya dalam riwayat Hafsh dan lainnya, "Aku meletakkan untuk Rasulullah air

FATHUL BAARI —

397

untuk mandi" dan dalam riwayat Abdul Wahid dikatakan, "Airyang digunakan untuk mandi." Hal ini menunjukkan pula khidmat (pelayanan) para istri untuk suaminya. Faidah lain hadits di atas adalah keterangan tentang menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri untuk mencuci kemaluan dan mencuci kedua telapak tangan sebelum mencuci kemaluan bagi orang yang hendak menciduk air dengan tangannya, supaya ia tidak memasukkan kedua tangannya ke dalam air karena ada kemungkinan di tangan itu ada kotoran. Kalau airnya dalam bejana (guci) misalnya, maka yang lebih utama adalah mencuci kemaluan terlebih dahulu supaya dapat membersihkan anggota tubuh secara berurutan. Dalam hadits ini -dengan semua jalur periwayatannya- tidak ada yang menyatakan secara jelas bahwa beliau menyapu kepalanya ketika berwudhu. Kenyataan ini dijadikan pegangan oleh ulama madzhab Maliki, dimana mereka berpendapat, "Wudhu yang dilakukan ketika hendak mandi junub tidak perlu menyapu kepala, tetapi cukup dengan mandi saja." Sebagian ulama beralasan dengan perkataan Maimunah dalam riwayat Abu Hamzah dan lainnya yang berbunyi, "Aku memberikan kepadanya kain, tetapi beliau tidak mengambilnya" untuk menyatakan makruhnya mengelap badan setelah mandi. Tetapi tidak ada penjelasan dalam hadits ini yang mendukung pendapat tersebut, karena kejadian ini masih memiliki kemungkinan-kemungkinan. Di antaranya mungkin beliau tidak mengambil (kain tersebut) karena sebab lain yang tidak ada hubungannya dengan persoalan mengelap (badan) tetapi karena khawatir bila kain itu sobek, atau karena beliau sedang terburu-buru atau lain sebagainya. Al Muhallab berkata, "Ada kemungkinan beliau tidak mengambil kain tersebut karena ingin membiarkan keberkahan air (tetap melekat di badannya), karena tawadhu' (kerendahan hati), atau karena di kain itu ada sutra atau ada kotorannya. Lalu dalam riwayat Ahmad dan Ismaili dari Abu Awanah, sehubungan dengan hadits ini dari Al A'masy, ia berkata, "Aku menanyakan hal tersebut kepada Ibrahim An-Nakha'i, maka ia berkata,'Tidak apa-apa mengelap badan dengan handuk kecil, hanya saja beliau menggunakannya karena takut hal ini menjadi sebuah kebiasaan.'"

3 9 8 — FATHUL BAARI

At-Taimi mengatakan dalam syarahnya, "Hadits ini justeru merupakan dalil yang menunjukkan bahwa Nabi mengelap badannya. Karena kalau tidak, tentu ia (Maimunah) tidak akan membawakan kain tersebut." Sementara Ibnu Daqiq Al Id mengatakan, "Beliau mengelap air dengan tangannya (dari badan) menunjukkan bahwa mengelap (badan) tidak makruh, karena kedua-duanya (mengelap dengan kain ataupun tangan -penerj) tujuannya sama, yaitu untuk menghilangkan atau mengeringkan badan." Imam An-Nawawi berkata, "Ulama-ulama madzhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi lima golongan, dan yang paling masyhur adalah disukai {mustahab) untuk tidak mengelap badan dengan kain. Ada yang mengatakan makruh di musim panas dan mubah di musim dingin. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa tetesan air yang berjatuhan dari anggota tubuh adalah suci, tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang berlebihan (fanatik) dalam mazhab Hanafi dimana mereka mengatakan tetesan air tersebut adalah najis.

2. Suami Istri Mandi Bersama
'i ° * i 'f ''f °

°

i

l

"'l I

1

C-*"*

°

I I **

'

\ '

°

'

•*

'

a

).' *

' }

'

250. Dari Aisyah ia berkata, 'Aku mandi bersama Nabi SAW dari satu bejana, dari sebuah bejana yang disebut faraq."

Keterangan Hadits: 3j—d\ AJ JUL' (Yang disebutfaraq) Dalam riwayat Imam Malik dari

Az-Zuhri terdapat tambahan lafazh i—'l^Jl J "dari junub", yakni sebab

FATHUL BAARI —

399

junub. Ibnu Atsir berkata, "Apabila dibaca Al Faraq, maka yang dimaksud adalah suatu bejana dengan isi sebanyak enam belas rithl. Apabila dibaca Al Farq, maka yang dimaksud adalah suatu bejana dengan sebanyak dua puluh rithl. Namun perkataan Ibnu Atsir ini tidak terkenal (gharib). Adapun ukurannya menurut riwayat Muslim dari Ibnu Uyainah dari Zuhri disebutkan, bahwa Sufyan (bin Uyainah) berkata, "Alfaraq sama dengan 3 sha'." Imam Nawawi menambahkan, "Demikianlah yang dikatakan oleh mayoritas (jumhur) ulama." Ada juga yang berpendapat, bahwa 1 faraq sama dengan 2 sha'. Hanya saja telah dinukil dari Abu Ubaid tentang kesepakatan (ulama) bahwa 1 faraq sama dengan 3 sha' atau sama dengan 16 rithl. Tapi kemungkinan yang dimaksud oleh beliau adalah kesepakatan di kalangan ahli bahasa, sebab sebagian ahli fikih madzhab Hanafi dan yang lainnya mengatakan bahwa 1 sha' adalah 8 rithl. Dalam hal ini mereka berpegang dengan hadits yang diriwayatkan dari mujahid -hadits berikutnya- dari Aisyah bahwa ia memperkirakan isi bejana tersebut sebanyak 8 rithl. Namun yang shahih adalah pendapat pertama, karena perkiraan tersebut tidak bisa mengalahkan ukuran yang ditetapkan dengan pasti. Di samping itu mujahid tidak secara jelas menyatakan bahwa isi bejana tersebut diperkirakan berdasarkan ukuran sha', sehingga perbedaan ini lebih dipengaruhi oleh perbedaan tipis dari bejana itu sendiri. Pendapat yang mengatakan bahwa 1 faraq adalah 3 sha' dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Atha dari Aisyah dengan lafazh, "dengan ukuran 6 qisth". 1 qisth adalah 1/2 sha' berdasarkan kesepakatan pakar bahasa. Tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka, bahwa 1 Faraq sama dengan 16 rithl, jadi benar bahwa 1 sha' adalah 5/3 rithl. Lalu sebagian ulama madzhab Syafi'i mengambil jalan tengah dengan mengatakan, bahwa 1 sha' untuk air mandi adalah 8 rithl dan 1 sha' untuk zakat fitrah atau lain-lainnya adalah 5 1/3 rithl, tetapi pendapat ini lemah. Pembahasan tentang matan hadits ini telah dijelaskan pada bab seorang suami wudhu bersama istrinya. Ad-Dawudi berargumentasi dengan hadits ini untuk memboleh kan seorang suami melihat aurat istrinya, demikian juga sebaliknya. Ini

4 0 0 — FATHUL BAARI

diperkuat lagi dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban melalui Sulaiman bin Musa ketika ditanya tentang seorang suami melihat kemaluan istrinya, maka ia berkata, 'Aku menanyakan hal ini kepada Atha' kemudian ia berkata, "Aku pernah menanyakan hal ini kepada Aisyah, kemudian ia (Aisyah) menyebutkan hadits ini dengan maknanya.' Ini merupakan nash dalam masalah tersebut." Wallahu a 'lam.

3. Mandi dengan Satu Sha' dan Sepertinya

y
(,\ !B O - P - T *

J~~P

jf-

Lay>-\ LgJL-3

<LIJLP

(

-1P

A-IIUP

^

^

J

°

'

^

o

'

'

'

'

J

o

J

^

-

-

-

a

p ( _ 5 _ u J i j J ^ J J ^ j j ^ t>! -^Ji

5 ^

y }

s-'^f"

251. Bakar bin Hafsh berkata, "Saya mendengar Abu Salamah berkata, "Aku dan saudara Aisyah berkunjung ke rumah Aisyah, kemudian saudaranya itu bertanya tentang cara mandi Rasulullah. Maka ia (Aisyah) minta dibawakan bejana (berisi air) sekitar satu sha' kemudian ia mandi dan menyiram kepalanya, sementara di antara kami ada hijab (pembatas). Abu Abdullah berkata, "Yazid bin Harun dan Bahz Al Juddi mengatakan dari Syu 'bah, seukuran satu sha'."

Keterangan Hadits: (Mandi dengan 1 sha' dan sepertinya), maksudnya mandi dengan ukuran air sebanyak satu sha' atau kurang lebih demikian. Satu sha' sebagaimana yang telah dijelaskan adalah 5 1 / 3 rithl Baghdad, seperti dikatakan oleh Rafi'i. Sementara menurut yang lainnya

FATHUL BAARI —

401

adalah 130 dirham. Sedangkan An-Nawawi cenderung berpendapat bahwa 1 sha" adalah 128, 4/7 dirham. Lalu Syaikh Al Muwaffiq menjelaskan sebab perbedaan dalam masalah ini dengan mengatakan, "Pada awalnya adalah 128 ditambah 4/7 dirham, kemudian mereka menambahnya satu mitsqal untuk menghilangkan bilangan pecahannya sehingga menjadi 130." Selanjutnya ia mengatakan bahwa yang mesti dijadikan pedoman adalah pendapat pertama, karena kadar demikianlah yang ada ketika para ulama menjadikan sha' sebagai standar ukuran pada waktu itu. 3 — J — ^ ' j (Saudara Aisyah). Ad-Dawudi mengatakan bahwa ia adalah Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah saudara Aisyah seibu, yaitu Thufail bin Abdullah. Tetapi kedua pendapat ini tidak tepat, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui riwayat Mu'adz, Nasa'i melalui riwayat Khalid bin Harits, Abu Awanah melalui riwayat Yazid bin Harun, dimana mereka semua meriwayatkan dari Syu'bah -sehubungan dengan hadits ini- bahwa yang dimaksud adalah saudaranya sesusuan. Kemudian An-Nawawi beserta sejumlah ulama lainnya mengatakan bahwa ia adalah Abdullah bin Yazid berdasarkan riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim pada bab Janalz (jenazah) dari Abu OJlabah dari Abdullah bin Yazid -saudara sepersusuan Aisyah- dari Aisyah. Kemudian ia menyebutkan sebuah hadits selain hadits ini. Namun saya tidak bisa memutuskan bahwa beliaulah yang dimaksud dalam hadits ini, karena Aisyah memiliki saudara sesusuan yang lain, yaitu Katsir bin Ubaid dimana ia juga meriwayatkan dari Aisyah. Haditsnya terdapat dalam kitab Al Adab Al Mufrad karangan Imam Bukhari, dan dalam Sunan Abu Daud melalui jalur periwayatan anaknya Said bin Katsir. Abdullah bin Yazid berasal dari Bashrah, dan Katsir bin Ubaid berasal dari Kufah. Maka, ada kemungkinan bahwa yang dimaksud saudara Aisyah dalam riwayat ini adalah salah satu di antara keduanya dan ada pula kemungkinan selain keduanya, wallahu a lam.

y y

Uj£ij mengatakan, kan mereka nya dengan mahramnya.

UXJJ

(Di antara kami dan dia ada hijab) Al Qadhi Iyadh

bahwa secara lahiriah makna hadits tersebut mengindikasiberdua melihat perbuatan Aisyah (ketika menyiram) kepalaair, karena bagian atas tubuhnya boleh (halal) dilihat oleh Yakni karena Aisyah adalah bibi (saudari ibu) Abu Salamah

4 0 2 — FATHUL BAARI

dari persusuan, dimana Abu Salamah disusui oleh saudara perempuan Aisyah, yakni Ummu Kultsum. Di samping itu, Aisyah telah menutup bagian bawah badannya yang tidak boleh dilihat oleh mahramnya. Sebab bila penutup tersebut menghalangi seluruh badan Aisyah, niscaya apa yang dilakukan Aisyah untuk mengajari mereka ini tidak ada faidahnya. Perbuatan Aisyah tersebut merupakan keterangan disukainya mengajar melalui perbuatan (praktek langsung) agar lebih melekat dalam jiwa. Oleh karena pertanyaan di atas mencakup cara mandi dan kadar air, maka dengan cara (mandi tersebut) keduanya telah terjawab. Adapun cara mandi diketahui dari perbuatan beliau yang cukup menyiramkan air ke badan, dan kadar air diketahui dari perbuatan beliau yang mandi dengan satu sha' saja.

'

- f ' - *

| 11

° '

0

l

'

'

0

I ,

'

oJ
0

-s>j oJJ\j
i>
^

jj&
y y

AJUI
yy*}

J L P JJ

JJU0

JLP
y

JLS
y s o

AJI

•* ' f y i > o r JJI
*

i ' i

-

'

u>-b>'

*t

^ Q

'

^ y y#*

^ *

y
u

y

.0

y
^

' 1 °

/ D <• f'*

9

'

0 • <^'
J

y y 1 ^ *

**

I

'

y

II

yy - *

u»l p-> dJLf j ^ - j ij*J- dJ-~f ( ^ J ' j - * jr*

'^
• ^ y

^
ci

252. Diriwayatkan dari Abu Ja 'far bahwasanya ia dan bapaknya berada di dekat Jabir bin Abdullah, sementara di hadapan Jabir terdapat sekelompok orang. Mereka bertanya tentang mandi, maka Jabir menjawab, "Cukup dengan satu sha.'" Seorang laki-laki berkata, "Untuk aku tidak cukup (sebanyak itu)." Jabir berkata, "(Air yang banyak itu) cukup untuk (mandi) bagi orang yang lebih lebat dan lebih baik rambutnya dari rambut kamu. " Kemudian ia (Jabir) mengimami kami shalat dengan mengenakan satu baju (kain).

FATHUL BAARI —

403

Keterangan Hadits: J — j — *
9

J——J (Mereka

bertanya

tentang mandi). Ishaq bin

Rahawaih dalam Musnad-nya menyatakan, bahwa yang bertanya tersebut adalah Abu Ja'far yang juga perawi hadits ini karena telah dinukil dari Ja'far bin Muhammad dari bapaknya, "Aku bertanya kepada Jabir tentang mandi junub." Lalu Imam An-Nasa'i menjelaskan dalam riwayatnya sebab timbulnya pertanyaan ini. Beliau meriwayatkan melalui jalur Abu Al Ahwash dari Abu Ishaq dari Abu Ja'far, "Kami berdebat tentang mandi (wajib) di dekat Jabir, maka Abu Ja'far pun bertanya kepadanya." Penisbatan bahwa mengajukan pertanyaan ini kepada semua orang yang hadir adalah majaz (kiasan), karena semuanya bermaksud menanyakan hal tersebut. Oleh karena itu jawaban Jabir hanya ditujukan kepada satu orang, dimana beliau mengatakan, "Cukup bagimu." Penjelasan selanjutnya tentang masalah ini akan disebutkan pada bab berikutnya. J—srj JUi (Maka seorang laki-laki berkata) Al Isma'ili menambahkan dengan lafazh j- ? (di antara mereka), yakni salah seorang di antara t^ kelompok tersebut. Hal ini menguatkan keterangan yang ada dalam riwayat kami, karena yang bertanya adalah Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abu Thalib yang bapaknya dikenal dengan Ibnu Al Hanafiyah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh pengarang kitab Al 'Umdah. Dia (lakilaki tersebut) bukan termasuk golongan Jabir, karena ia berasal dari suku Hasyim, sedangkan Jabir berasal dari golongan Anshar.
\—J»J

(Kemudian

ia mengimami

kami). Orang yang mengimami di

sini adalah Jabir, sebagaimana akan dijelaskan dalam kitab shalat; dan tidak perlu terpengaruh dengan pendapat yang menyatakan bahwa lafazh ini termasuk ucapan Jabir, sehingga yang dimaksud mengimami di sini adalah Rasulullah SAW. Dalam hadits ini terdapat penjelasan mengenai perilaku para salaf yang berdalil dengan perbuatan-perbuatan Nabi SAW dan tunduk kepada perbuatan-perbuatan tersebut. Hadits ini juga membolehkan menjawab dengan keras kepada orang yang berdebat tanpa ilmu, dengan tujuan jawaban tersebut adalah untuk menjelaskan kebenaran dan mengingatkan pendengar supaya tidak melakukan hal-hal tersebut. Dalam hadits

4 0 4 — FATHUL BAARI

tersebut juga menerangkan bahwa menggunakan air secara berlebihlebihan adalah makruh hukumnya.

253. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi SAW dan Maimunah mandi dari satu bejana. Abu Abdillah mengatakan, "Ibnu Uyainah di akhir masanya mengatakan, 'Dari Ibnu Abbas dari Maimunah', namun yang benar adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Nu 'aim"

Keterangan Hadits: l il£ jji oli" (Ibnu Uyainah) Sebagian besar perawi menyebutkan

seperti lafazh ini, yaitu dari Ibnu Abbas dari Maimunah. Hanya saja Imam Bukhari memilih riwayat Nu'aim, karena berdasarkan kaidah para ahli hadits bahwa di antara penyebab yang menguatkan suatu riwayat adalah masa penerimaan riwayat yang lebih dahulu, sebab kemungkinan besar hafalan syaikhnya saat itu masih sangat kuat. Sedangkan untuk riwayat kedua ada beberapa faktor yang menguatkannya, di antaranya banyaknya jumlah perawi dan lamanya waktu mereka belajar kepada Sufyan. Sementara Isma'ili mendukung riwayat kedua ini dengan sebab lain, yaitu dari sisi maknanya, dimana Ibnu Abbas tidak melihat Nabi mandi bersama Maimunah. Ini menunjukkan bahwa ia menerima riwayat tersebut dari Maimunah. Riwayat yang dimaksud dikutip oleh Imam Syafi'i, Humaidi, Ibnu Abu Umar, Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain dalam Musnad mereka dari Sufyan. Demikian pula halnya dengan Imam Muslim, Nasa'i dan lainnya meriwayatkan dari jalur yang sama. Sebagian ulama yang menerangkan kandungan hadits ini mengata-

FATHUL BAARI —

405

kan, bahwa hadits tersebut tidak ada hubungannya dengan judul bab di atas, karena dalam hadits itu tidak disebutkan kadar (isi) bejana. Namun pernyataan ini dapat dijawab dengan mengatakan bahwa umumnya bejana-bejana mereka berukuran kecil sebagaimana dinyatakan oleh Imam Syafi'i di beberapa tempat dalam kitabnya. Dengan demikian hadits ini masuk dalam cakupan judul bab, yaitu perkataannya "Dan yang sepertinya", yakni mendekati satu sha'. Atau dikatakan bahwa lafazh yang bersifat muthlaq (tanpa batasan) dalam hadits ini dibatasi oleh lafazh muqayyad (memiliki batasan tertentu) yang terdapat pada hadits Aisyah, yaitu perkataannya Al Faraq, karena keduanya adalah istri-istri Nabi SAW, yang sama-sama pernah mandi bersama beliau SAW. Jadi jatah masing-masing mereka dipastikan ada yang lebih dari satu sha\ dengan demikian hadits ini masuk dalam lingkup judul bab. Wallahu a 'lam.

4. Orang yang Menyiram Kepalanya Tiga Kali
j j A—Ul J j - ^ j J l i : J l i p-d ^* ji jy^5*
% ^ y y s

y

y

O

^

^

y

y

y

^

^

%

y ^

2

y

0y-

i*-

J^* *j*? (y. j U l L , y > , *" ,

Oy

y

y

*

, •

y*-

•**

fc

254. Sulaiman bin Shurad berkata, "Zubair bin Muth 'im bercerita kepadaku, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, Adapun aku, maka aku menyiram kepalaku sebanyak tiga kali.' Beliau memberi isyarat dengan kedua tangannya."

Keterangan Hadits: 'ja£\—s l—1 i—ii (Adapun aku maka aku menyiram). Abu N u ' a i m

menyebutkan sebabnya dalam kitab Al Mustakhraj, dimana di bagian awal haditsnya disebutkan "Mereka menyebut-nyebut tentang mandi junub di dekat Rasulullah" maka beliau SAW mengucapkan sabdanya seperti di atas. Sementara dalam riwayat Imam Muslim melalui riwayat

4 0 6 — FATHUL BAARI

Abu Al Ahwash dari Abu Ishaq dikatakan, "Mereka berdebat tentang mandi (junub) di dekat Nabi SAW. Sebagian mereka berkata, 'Adapun aku, maka aku menyiram kepalaku dengan cara begini dan begini.'" Kemudian ia menyebutkan hadits di atas, dan bagian inilah yang tidak dicantumkan dalam hadits tadi. Lafazh ini memberi keterangan bahwa yang dimaksud dengan lafazh, "begini dan begini" adalah bahwa perbuatan tersebut dilakukan lebih dari tiga kali. Lalu diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalur periwayatan lain, bahwa yang bertanya adalah utusan dari Tsaqif. Susunan hadits di atas mengisyaratkan bahwa Nabi SAW tidak menyiram (badannya) kecuali tiga kali. Hal ini mengandung kemungkinan bahwa ketiga siraman itu adalah sebagai pengulangan, dan dimungkinkan juga bahwa setiap siraman tersebut untuk bagian badan tertentu. Akan tetapi, hadits Jabir di akhir bab menguatkan kemungkinan pertama.

255. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdulah ia berkata, Nabi SAW menyiram kepalanya tiga (kali)"

"Biasanya

Keterangan Hadits: "-ftU (Tiga kali), maksudnya tiga cidukan (gayung). Lalu Al Isma'ili menambahkan, "Syu'bah berkata, 'Aku kira yang demikian ini pada saat mandi j u n u b . ' " Dalam riwayat tersebut dikatakan pula, "Seorang laki-laki dari bani Hasyim berkata, 'Rambutku lebat.' Maka Jabir menjawab, 'Rambut Rasulullah SAW lebih lebat dan lebih bagus dari rambut kamu.'"

FATHUL BAARI —

407

256. Diriwayatkan dari Abu Ja'far, ia berkata, 'Jabir berkata kepadaku, 'Anak pamanmu -maksudnya Hasan bin Ali Al Hanafiyahdatang kepadaku dan bertanya tentang bagaimana mandi junub? Maka aku menjawab, "Rasulullah mengambil (air) tiga cidukan tangan dan menyiramkan ke kepalanya, setelah itu ia menyiram keseluruh tubuhnya.' Hasan berkata kepadaku, 'Aku memiliki rambut yang lebat.' Maka aku katakan, 'Nabi SA W memiliki rambut yang lebih lebat daripada rambutmu:"

Keterangan Hadits: dJ *p jJi (Anakpamanmu). Lafazh ini dalam bentuk kiasan (tidak

memiliki makna yang sesungguhnya), sebab yang dimaksud di sini adalah anak paman (sepupu) bapaknya Abu Ja'far yaitu Ali bin Husen bin Ali bin Abu Thalib. Yang dimaksud dengan Al Hanafiah adalah istri Ali bin Abu Thalib yang dinikahinya setelah Fatimah RA. Kemudian ia melahirkan seorang anak yang diberi nama Muhammad, lalu anak tersebut dinisbatkan kepada ibunya. ^ L i i j (Datang kepadaku) Mengisyaratkan bahwa pertanyaan Hasan bin Muhammad adalah tanpa kehadiran Abu Ja'far, jadi pertanyaan tersebut bukan pertanyaan Abu Ja'far dalam bab terdahulu. Karena, pertanyaan tersebut mengenai jumlah (air) sebagaimana dipahami dari jawaban Jabir yang mengatakan, "Cukup bagimu satu sha' saja." Pertanyaan di sini tentang cara mandi, seperti terungkap dalam perkataannya, "Bagaimana cara mandi?"

4 0 8 — FATHUL BAARI

Walaupun demikian, yang membantah Jabir dalam kedua peristiwa itu adalah Hasan bin Muhammad. Maka sehubungan dengan persoalan air ia berkata, "1 sha' tidak cukup bagiku," tanpa menyebutkan alasannya. Sementara dalam persoalan mengenai cara mandi ia mengatakan, "Aku memiliki rambut yang lebat, jadi aku butuh lebih dari tiga cidukan (gayung)." Jabir menjawab dalam persoalan mengenai kadar (jumlah) air, "Rasulullah memiliki rambut yang lebih lebat dan lebih bagus dibanding kamu." Yakni beliau SAW mencukupkan mandi dengan menggunakan tiga cidukan air, yang mana hal itu menunjukkan bahwa beliau SAW sudah bersih meski hanya menggunakan air sebanyak itu. Jawaban mengenai cara mandi adalah sebagaimana di atas. Penyebutan kata "lebih baik" sangat cocok di sini, karena menunjukkan kehati-hatian dalam meratakan air ke seluruh tubuh bagi orang yang ingin menggunakan air lebih banyak lagi. Padahal orang yang lebih wara', lebih takwa dan lebih mengenal Allah sudah merasa cukup dengan 1 sha'. Maka Jabir mengisyaratkan bahwa melebihkan dari yang dipergunakan Nabi merupakan sifat berlebih-lebihan yang boleh jadi disebabkan oleh rasa was-was, jadi hal tersebut tidak perlu diperhatikan.

JLS\ AftU (Tiga cidukan tangan). Maksudnya setiap kali mengambil
(air), beliau mengambilnya dengan dua tangannya. Ini berdasarkan riwayat Ishaq bin Rahawaih melalui jalur Hasan bin Shalih dari Ja'far bin Muhammad dari bapaknya. Ia berkata di akhir hadits, "Beliau SAW membuka kedua telapak tangannya." Ini diperkuat lagi oleh hadits Jubair bin Muth'im di awal bab. Ada kemungkinan (pengambilan air) yang tiga kali ini dimaksudkan untuk mengulang menyiram badan, namun ada pula kemungkinan bahwa setiap salah satu bagian kepala disiram sebanyak satu kali sebagaimana dalam hadits Qasim bin Muhammad dari Aisyah yang akan datang.

FATHUL BAARI —

409

5. Mandi Satu Kali

257'. Diriwayatkan dari Kuraib dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Maimunah berkata, 'Aku meletakkan air untuk mandi Rasulullah, maka beliau mencuci tangannya dua kali atau tiga kali. Kemudian beliau menuangkannya ke tangan kiri dan mencuci kemaluannya. Kemudian beliau menggosok tangannya dengan tanah, lalu berkumur-berkumur dan memasukkan air ke hidung seraya mencuci muka serta kedua tangannya. Setelah itu beliau menyiram seluruh tubuhnya, kemudian beliau berpindah tempat dan mencuci kedua kakinya:"

Keterangan Hadits: (Mandi satu kali). Ibnu Baththal mengatakan, "Pernyataan 'mandi
'i
s *

satu kali' dipahami dari lafazh; «J—~ir — * j>lsi p (Kemudian beliau menyiram seluruh tubuhnya). Lafazh tersebut tidak dibatasi oleh jumlah tertentu, sehingga mesti dipahami sebagai kadar (jumlah) paling minimal, karena hukum asalnya adalah tidak lebih dari satu kali.
L 5

l — j l j—°Sj> (Dua kali atau tiga

kali) Lafazh yang berindikasi

keraguan ini bersumber dari Al A'masy, sebagaimana akan dijelaskan dalam riwayat Abu Awanah. Di sini Al Karmani melakukan kekeliruan, dimana ia mengatakan bahwa keraguan tersebut berasal dari Maimunah.

4 1 0 — FATHUL BAARI

6. Orang yang Memulai dengan Hilab atau Harumharuman Ketika Mandi
y

o

s

*

s

)

s

'

*

y

y

s

s.^j

Jiu l i o 2J'U>«JI J

J - ~ ^ 'M

Oli' c J l i AJUJIP

258. Diriwayatkan dari Aisyah ia berkata, "Nabi SAW kalau mandi junub meminta sesuatu seperti hilab. Lalu beliau mengambilnya dengan telapak tangan dan memulainya dengan kepala sebelah kanan, kemudian sebelah kiri. Kemudian menyiram air di atas kepalanya dengan kedua tangan."

Keterangan Hadits: (Orang yang memulai dengan hilab atau harum-haruman ketika mandi) kesesuaian hadits ini dengan judul bab di atas menimbulkan masalah di kalangan sejumlah ulama dari dahulu sampai sekarang. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa hal ini merupakan kekeliruan Imam Bukhari. Ada juga yang mengubah baris lafazh o * ^ ' dengan tujuan peyesuaian walaupun bacaan seperti itu tidak dikenal dalam riwayat, dan ada lagi yang memaksakan diri untuk mencari jalan keluarnya tanpa mengubah lafazh hilab tersebut. Kelompok pertama dipimpin oleh Al Isma'ili, dimana beliau mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Al Mustakhraj, "Semoga Allah merahmati Abu Abdillah - yakni Imam Bukhari- dan siapa yang terjamin selamat dari kesalahan. Beliau memahami bahwa hilab adalah harum-haruman, padahal apa fungsinya menggunakan harum-haruman sebelum mandi. Yang benar "hilab" adalah bejana, dan apa yang diperah di dalamnya disebut hilab atau mihlab." Kemudian ia menambahkan, "Dengan mencermati jalur-jalur periwayatan hadits di atas akan didapati penjelasan mengenai hal ini, yang mana di antara jalur-jalur periwayatan

FATHUL BAARI —

411

itu disebutkan, 'Beliau mandi dari hilab (bejana).'" Ini juga merupakan riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Imam Al Khaththabi dalam Syarak Abu Daud mengatakan, "Hilab adalah bejana yang isinya dapat menampung air susu perahan dari satu ekor unta." Kemudian ia mengatakan, "Imam Bukhari menyebutkan dan memahami bahwa yang dimaksud dengan hilab adalah harum-haruman yang biasa dipakai ketika bersuci. Aku kira itu adalah kekeliruan. Mungkin yang dimaksudnya adalah L—£*i yaitu, sesuatu yang biasa digunakan ketika mencuci tangan itu tidak ada hubungan dengan

harum-haruman, karena ia adalah bejana sebagaimana yang telah saya jelaskan." Pendapat Al Khathabi ini diikuti pula oleh Ibnu Qurqul dalam kitab Al MathalV dan Ibnu Al Jauzi serta sejumlah ulama lainnya. Kelompok kedua dalam kitab At-Tahdzib, dipimpin oleh Azhari, yang mana ia berkata "Sebagian ulama keliru dalam menukil lafazh
* s &

ini, karena yang benar adalah v*>bVdan bukan U^h-. Adapun <~>%r adalah bahasa Persia yang disadur ke dalam bahasa Arab dan maknanya adalah air bunga. Namun pendapat ini mendapat kritikan dari sejumlah ulama, baik ditinjau dari segi riwayat dimana yang terkenal adalah lafazh hilab, maupun dari segi maknanya. Sehubungan dengan itu Ibnu Atsir berkata, "Harum-haruman lebih cocok dipakai setelah mandi dibanding sebelumnya. Sebab bila digunakan sebelum mandi, niscaya aromanya akan hilang oleh air." Al Humaidi berkomentar ketika berbicara tentang "Keanehankeanehan dalam kitab Shahihain", "Muslim menyatukan hadits ini dengan hadits faraq (lihat makna faraq pada pembahasan terdahulu) dan hadits satu sha' dalam satu judul, seolah-olah Imam Muslim memahami bahwa makna hilab adalah bejana. Adapun Imam Bukhari mungkin saja seseorang menduga bahwa beliau memahami makna hilab adalah sejenis harum-haruman yang dipakai sebelum mandi, karena ia tidak menyebutkan di bawah judul bab tentang menggunakan harum-haruman ketika mandi selain hadits ini." Demikianlah Al Humaidi menempatkan makna tersebut sebagai salah satu kemungkinan, artinya ada kemungkinan lain yang diinginkan oleh Imam Bukhari tetapi tidak diterangkannya secara jelas. Al Qadhi Iyadh berkata, "Hilab atau mihlab adalah bejana yang

4 1 2 — FATHUL BAARI

bisa menampung air susu yang diperah dari satu ekor unta, dan ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hilab dalam hadits ini adalah sejenis harum-haruman." Kemudian Al Qadhi Iyadh menambahkan, "Judul bab yang disebutkan oleh Imam Bukhari mengindikasikan bahwa beliau mengambil kedua makna tersebut. Dia (Cjadhi Iyadh) juga berkata, "Sebagian ulama meriwayatkan selain dalam kitab Shahihain dengan lafazh —sr. " Maksudnya, ingin mengisyaratkan apa yang

dikatakan oleh Al Azhari. Imam An-Nawawi berkata, "Abu Ubaid Al Harawi mengingkari apa yang dikatakan oleh Al Azhari." Sedangkan Al Cjurthubi mengatakan, "Lafazh ini dibaca selainnya. —T dan tidak ada bacaan lain yang benar Orang yang menganggap bahwa maknanya adalah harum-

haruman atau orang yang mengatakan bahwa lafazh tersebut dibaca ^ " ^ r , maka mereka telah keliru." Kelompok ketiga adalah seperti yang dikatakan oleh Al Muhib Atadalah sesuatu yang adalah

Thabari, "Imam Bukhari tidak memaksudkan

memiliki aroma harum, tetapi beliau memaksudkan bahwa sesuatu yang dapat menyegarkan badan

akibat kotoran, debu dan najis

yang melekat. Di samping itu beliau memaksudkan kata o*>bJi adalah bejana tempat ia mengambil air ketika mandi, jadi ia memulai mandi dengan memasukkan air ke dalam bejana tersebut. Kemudian ia melanjutkan, bahwa kata sambung j? (atau) dalam kalimat v foil j\

berarti j (dan)." Sebagaimana tercantum dalam beberapa riwayat yang disebutkan Humaidi. Kesimpulan pendapat ini adalah bahwa pengertian
>-J >UJI
,

adalah

menyiapkan air untuk mandi, lalu memulai membersihkan anggota badan sebelum mandi. Dalam hadits disebutkan tentang memulai bagian kepala, hal itu dikarenakan rambut lebih banyak menyerap kotoran daripada anggota badan yang lain. Ada juga yang mengatakan bahwa mungkin Imam Bukhari ingin memberi isyarat kepada hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, dimana dalam hadits itu disebutkan bahwa Nabi SAW

FATHUL BAARI —

413

membersihkan kepalanya dengan khatmiy (sejenis tumbuhan untuk membersihkan kepala) ketika mandi. Lalu beliau melakukan hal itu ketika mandi junub, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abi Syaibah dan lainnya. Riwayat ini dinukil pula oleh Abu Daud dengan jalur periwayatan yang bersambung sampai kepada nabi SAW dari Aisyah dengan sanad dha'if (lemah) seolah-olah ia berkata, "Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi SAW biasa menggunakan air untuk mandi junub, dan tidak dinukil bahwa beliau SAW menggunakan sesuatu sebelumnya untuk membersihkan badan seperti daun bidara dan sebagainya." Pendapat mengatakan, jl (atau) ini dikuatkan dengan sebagian besar riwayat yang

j ' v ' " ^ ^ (dengan hilab atau harum-haruman). Lafazh hilab,

menunjukkan bahwa harum-haruman sejenis dengan

artinya harum-haruman tidak termasuk jenis hilab. Orang-orang yang mempertanyakan judul bab yang disebutkan Imam Bukhari memahami bahwa harum-haruman termasuk jenis hilab, sehingga mereka salah dalam memahami makna yang dimaksudkan oleh Imam bukhari. Adapun yang dimaksud dengan hilab dalam konteks judul bab di atas adalah air yang ada dalam hilab itu sendiri. Dalam hal ini berarti menyebutkan nama tempat, namun yang dimaksud adalah apa yang ada dalam tempat itu. Al Karmani berkata, "Mungkin yang dimaksud dengan hilab adalah bejana yang di dalamnya ada harum-haruman. Maka makna hadits tersebut, adakalanya beliau memulai (mandi) dengan meminta tempat harum-haruman, atau meminta harum-haruman langsung. Hadits bab ini cocok untuk makna pertama, dan tidak (cocok) untuk makna yang kedua. Pendapat itu diambil dari perkataan Ibnu Baththal, dimana ia mengatakan setelah menukil perkataan Al Khaththabi, "Dalam judul bab di atas saya mengira bahwa Imam Bukhari memaksudkan makna hilab sejenis harum-haruman. Jika benar demikian berarti ia telah keliru, karena hilab adalah bejana yang di dalamnya terdapat harum-haruman milik Rasulullah yang beliau pakai ketika mandi." Ia menambahkan, "Hadits ini memotivasi kita untuk memakai harum-haruman ketika mandi sebagai upaya untuk mencontoh atau meneladani Nabi SAW." Seakan-akan ia memahami hadits * «Sy (Beliau mengambil

4 1 4 — FATHUL BAARI

dengan

telapak

tangannya)

adalah harum-haruman yang ada di dalam tersebut dengan

bejana. Sedangkan lafazh hadits kepalanya bagian kanan), artinya menggosok tempat harum-haruman dan seterusnya.

Kesimpulannya, sifat perbuatan yang disebutkan dalam hadits menggambarkan cara memakai harum-haruman, bukan menggambarkan bagaimana cara mandi. Pemahaman seperti ini cukup baik berdasarkan makna tekstual lafazh hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari. Tetapi bagi orang yang mencermati jalur hadits -sebagai mana dikatakan oleh Ismaili- niscaya akan mengetahui, bahwa sifat (pekerjaan) yang disebutkan itu adalah cara mandi bukan cara memakai harum-haruman. Al Isma'ili meriwayatkan dari jalur Makki bin Ibrahim dari Hanzhalah dalam hadits tersebut (disebutkan), p^a» J-~s*j OlT (Beliau mandi dengan menggunakan bejana (qadah). Lalu dalam riwayat itu ditambahkan, "Beliau mencuci kedua tangannya, kemudian mencuci mukanya, kemudian menyiram dengan tangannya tiga kali." (Al Hadits) Dalam riwayat Al Jauzaqi dari hadits Hamdan As-Sulami dari Abu Ashim dikatakan, "Beliau (Nabi SAW) mandi, maka dibawakan hilab, lalu belia pun membasuh kepalanya bagian kanan." (Al Hadits) Adapun kalimat hadits, "Beliau mandi" menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah bejana air dan bukan bejana harum-haruman. Adapun riwayat Al Ismaili dari jalur Bandar dari Abu Ashim, "Apabila beliau SAW ingin mandi junub, beliau meminta sesuatu selain hilab. Kemudian diambilnya dengan telapak tangannya, dan mulai (membasuh) bagian kanan lalu bagian kiri. Kemudian beliau mengambil air dengan telapak tangannya dan menyiram kepalanya." Kalau tidak ada kata-kata "air", maka bisa saja dipahami bahwa yang dimaksud adalah harum-haruman sebelum mandi. Tetapi Abu Awanah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Yazid bin Sinan dari Abu Ashim, "Beliau mandi dari hilab, maka beliau mengambil satu cidukan dengan kedua tangannya kemudian menyiramkan ke (kepala) bagian kanan terus ke bagian kiri." Kata "mandi" dan "cidukan" semakin menguatkan bahwa yang dimaksud adalah bejana air. Dalam riwayat Ibnu Hibban dan Al Baihaqi dikatakan, Js, ,i S' j—»/Slt * -»lj (Kemudian beliau menyiram kepalanya bagian kanan). Di

'. i >

- s '

FATHUL BAARI —

415

samping memakai harum-haruman (LffvJt) tidaklah diungkapkan dengan kata menyiram (t—toh). Semua ini menghapus anggapan bahwa yang

dimaksud adalah harum-haruman. Saya melihat dari sebagian mereka - yang tidak saya ingat

sekarang - bahwa yang dimaksud dengan lafazh t_Jaji dalam judul bab di atas adalah sebagai isyarat akan hadits Aisyah, dimana ia biasa memakaikan harum-haruman kepada Nabi SAW ketika ihram. Lalu mereka mengatakan, "Mandi termasuk sunah ihram," seolah-olah pemakaian harum-haruman ini dilakukan saat mandi. Maka, Imam Bukhari bermaksud mengisyaratkan bahwa yang demikian itu tidak selalu menjadi kebiasaan Rasulullah. Pendapat terakhir ini diperkuat oleh tujuh judul bab berikutnya yang disebutkan oleh Imam Bukhari, dimana beliau mengatakan, "Bab orang yang memakai harum-haruman (parfum) kemudian mandi lalu meninggalkan sisa harum-haruman itu." Lalu beliau menyebutkan hadits Aisyah yang berbunyi, "Aku memakaikan harum-haruman kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau mendatangi istri-istrinya, dan di pagi harinya beliau sudah berihram." Dalam riwayat selanjutnya dikatakan, "Sepertinya aku melihat bekas harum-haruman -yakni kilapannya- di celah rambut sementara beliau dalam keadaan ihram." Dalam riwayat lain sebelum bab ini juga dikatakan, "Kemudian di pagi hari beliau telah berada dalam keadaan ihram sementara harum-haruman masih mengeluarkan aromanya." Maka pernyataan bahwa mandi dilakukan setelah memakai harumharuman dapat dipahami dari perkataan Aisyah, *l)—~~< ^g—£ —fc> (Kemudian beliau mendatangi istri-istrinya). Sebab lafazh ini merupakan bentuk kiasan jima' (senggama), dimana setelah itu seseorang diharuskan mandi wajib. Dari sini diketahui pula bahwa beliau SAW mandi setelah menggunakan harum-haruman dan bekas harum-haruman ini masih tercium (dari badannya), karena beliau SAW senang memakai harumharuman dan sering menggunakannya. Oleh karena itu perkataan Imam Bukhari, "Orang yang memulai dengan hilab" maksudnya memulai dengan air yang dipakai untuk mandi, dimana ia minta dibawakan air tersebut untuk dipakai mandi; atau, "Orang itu memulai dengan harumharuman" ketika ingin mandi. Dengan demikian, judul bab di atas berada

4 1 6 — FATHUL BAARI

di antara kedua pemahaman ini. Adapun hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari di bab ini memberi keterangan bahwa beliau senantiasa memulainya dengan mandi. Adapun memakai harum-haruman setelah mandi merupakan kebiasannya yang lumrah. Sedangkan mendahulukan memakai harum-haruman sebelum mandi, keterangannya dapat dipahami dari isyarat hadits yang telah disebutkan di atas. Inilah jawaban yang paling baik dan paling layak menurut pandangan saya serta sesuai dengan metode-metode yang dipakai Imam Bukhari, Wallahu a 'lam. Dari sini jelaslah bahwa perkataan Al Isma'ili, "Apa gunanya memakai harum-haruman ketika mandi" jelas tidak dapat diterima, demikian juga perkataan Ibnu Atsir yang terdahulu. Adapun perkataan-perkataan selain keduanya juga tidak luput dari kekeliruan, namun kami tidak mengungkapnya di sini. Sesungguhnya Allah-lah yang memberi petunjuk ke jalan yang benar.

Catatan Abu Ashim yang disebutkan dalam jalur periwayatan ini, namanya adalah An-Nabil. Ia adalah guru besar Imam Bukhari, dimana Imam Bukhari banyak mengutip hadits darinya dalam kitab ini. Tetapi dalam silsilah periwayatan hadits ini, Imam Bukhari menempatkan satu perawi lagi yang memisahkan antara ia dengan gurunya tersebut. Hanzhalah adalah Ibnu Abu Sufyan Al Jumahi, dan Qasim adalah Ibnu Muhammad bin Abu Bakar. "Ketika ia mandi" maksudnya ketika ingin mandi, sebagaimana hal tersebut jelas dalam riwayat Isma'ili. Perkataannya "seperti hilab", maksudnya bejana yang hampir sama dengan bejana yang disebut orang dengan hilab. Abu Ashim menggambarkan ukurannya lebih kecil dari satu jengkal, ini dikeluarkan oleh Abu Awanah dalam kitab Shahih-nya. Dalam riwayat Ibnu Hibban dikatakan, "Abu Ashim mengisyaratkan dengan kedua telapak tangannya", seolah-olah ia membuat lingkaran dengan kedua jengkalnya untuk menggambarkan lingkaran bejana bagian atas. Dalam riwayat Al Baihaqi disebutkan seperti gayung penimba yang bisa memuat 8 rithl. Muslim menambahkan dalam riwayatnya dari Muhammad bin Al

FATHUL BAARI —

417

Mutsanna dengan jalur periwayatan yang sama -setelah perkataannya bagian kiri, "Kemudian ia mengambil dengan kedua telapak tangannya dan menyiramkannya di atas kepalanya." Dia memberi isyarat dengan perkataannya, "Ia mengambil dengan kedua telapak tangannya", pada cidukan yang ketiga sebagaimana dijelaskan oleh riwayat Abu Awanah. Dari hadits ini dapat diambil faidah, bahwa mendahulukan anggota badan sebelah kanan ketika bersuci adalah sunah hukumnya, sebagaimana judul bab yang dibuat oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Baihaqi. Di samping itu mandi dengan 3 siraman sudah mencukupi, sebagaimana hal itu dijadikan judul bab oleh Ibnu Hibban.

7. Berkumur-Kumur dan Memasukkan Air ke Dalam Hidung ketika Junub

259. Dari Ibnu Abbas ia berkata, Maimunah menceritakan kepada kami, ia berkata, 'Aku menuangkan air untuk Nabi SAW, kemudian beliau menuangkan (air) dengan tangan kanannya ke tangan kiri dan mencuci keduanya. Kemudian beliau mencuci kemaluannya, lalu meletakkan tangannya di tanah dan mengusapkan tangan tersebut dengan debu kemudian mencucinya. Setelah itu beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung serta mengeluarkannya, kemudian membasuh wajahnya dan me-

4 1 8 — FATHUL BAARI

nyiram dari atas kepalanya. Setelah itu beliau berpindah tempat dan mencuci kedua kakinya. Kemudian diberikan kepadanya sapu tangan (handuk), namun beliau tidak mengelap dengannya"

Keterangan Hadits: (Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung ketika junub), maksudnya ketika mandi junub. Yang menjadi persoalan di sini adalah apakah kedua hal ini wajib dilakukan atau tidak ketika mandi junub? Ibnu Baththal dan ulama lainnya mengisyaratkan bahwa Imam Bukhari mengambil kesimpulan hukum (istimbath) dari hadits ini tentang tidak wajibnya melakukan kedua hal tersebut, karena dalam riwayat bab berikutnya disebutkan, "Kemudian ia berwudhu dengan wudhu untuk shalat". Ini menunjukkan bahwa kedua pekerjaannya di atas adalah untuk wudhu. Ulama telah sepakat bahwa berwudhu ketika mandi junub hukumnya tidak wajib. Berkumur-kumur, memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya masuk dalam bagian hukum wudhu. Kalau wudhu itu sendiri tidak wajib dilakukan saat mandi junub, tentu perbuatan yang masuk dalam bagian wudhu tidak wajib pula. Sementara riwayat-riwayat tentang sifat mandi beliau SAW yang menyebutkan adanya wudhu, dapat dipahami sebagai mandi yang sempurna dan utama. JejU
«J—H

J'—»(•—> {Kemudian

meletakkan

tangannya di tanah) Jl—1 J»J

Demikian lafazh yang terdapat dalam riwayat kami, sementara dalam riwayat mayoritas disebutkan dengan lafazh, Jeji
i
^ — £ «J—J

(Kemudian meletakkan tangannya di atas tanah). Penggunakan lafazh Jli (berkata) dalam hal ini adalah untuk mengungkapkan perbuatan. Adapun perbuatan yang
{J

diungkapkan dengan perkataan adalah seperti dalam (Tidak ada dengki kecuali pada dua hal).

hadits <>—^3' —\ % J — * i

Kemudian ia berkata tentang yang membaca Al Qur'an, ^ J j i U Ji? cJiji °J> j - * * U j!» cikal li* (Kalau aku diberi seperti yang diberikan kepadanya,

niscaya aku akan melakukan sebagaimana yang telah dia lakukan). Dalam bab "Mengelap dengan kedua tangan" akan disebutkan riwayat Abu Hamzah dari A'masy sehubungan dengan persoalan ini, dimana

FATHUL BAARI —

419

dikatakan, jpyH i «J—'*>. ^'j^i (Beliau memukul tanah dengan tangannya). Dengan demikian, lafazh J l — i dalam hadits ini ditafsirkan dengan

"memukul". — j Jaili j^Ji (Beliau tidak mengelap dengannya) sementara dalam

riwayat Karimah dikatakan, "Abu Abdillah berkata, 'Maknanya, ia tidak mengeringkan badan dengan menggunakan handuk tersebut.'"

8. Menggosok Tangan dengan Debu supaya Lebih Bersih

•*»,!

'

It

f*\

' ' - i ' l '

-

!

i'

ti i '

'

W

»

'

'

0

260. Dari Ibnu Abbas dari Maimunah bahwasanya Nabi SAW mandi junub, maka beliau mencuci kemaluannya dengan tangannya lalu menggosokkan (tangan tersebut) ke dinding dan mencucinya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, dan setelah selesai mandi ia mencuci kedua kakinya."

Keterangan Hadits: (Menggosok tangan dengan debu supaya lebih bersih), maksudnya supaya tangan lebih bersih. A—>r°ji J—l~*i (Beliau mencuci kemaluannya). Huruf 'fa" di sini

berfungsi untuk memberi penjelasan dan tidak memiliki makna urutan, sebab mencuci kemaluan tidak dilakukan setelah mandi.

4 2 0 — FATHUL BAARI

Adapun

pembahasan

tentang

hadits ini sudah diterangkan. Di

antara faidah dalam penggunaan kata sambung (i—S (kemudian) adalah untuk memberi keterangan tentang urutan perbuatan saat mandi wajib sebagaimana yang disebutkan dalam hadits.

9. Apakah Orang yang Junub Boleh Memasukkan Tangannya ke Dalam Bejana sebelum Mencucinya Jika tidak ada Kotoran selain Junub di Tangannya

Ibnu Umar dan Barra' bin Azib memasukkan tangannya ke dalam air untuk bersuci dan tidak mencuci keduanya, kemudian berwudhu. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menganggap tidak masalah dengan bekas-bekas (percikan) mandi junub. Maksud judul bab (apakah seorang yang junub boleh memasukkan tangannya ke bejana) adalah bejana yang berisi air untuk mandi, sebelum ia mencucinya di luar bejana tersebut. (Jika di tangan tersebut tidak ada kotoran) baik itu najis atau yang lainnya. Selain junub, maksudnya selain hukum junub. Karena bekasbekas junub masih diperselisihkan, maka ia masuk dalam kategori kotoran. Adapun hukumnya, maka Al Muhallab berkata, "Bukhari mengisyaratkan bahwa jika tangan orang yang junub tersebut bersih, maka boleh dimasukkan ke dalam bejana sebelum dicuci, karena tidak satupun anggota (badannya) najis hanya disebabkan junub. (Air untuk bersuci), maksudnya air yang sengaja disiapkan untuk mandi. Riwayat dari Ibnu Umar dinukil melalui silsilah periwayatan

FATHUL BAARI —

421

bersambung oleh Said bin Manshur dengan makna yang mirip seperti di atas. Abdurrazzaq meriwayatkan pula dari Ibnu Umar bahwasanya beliau biasa mencuci tangannya sebelum bersuci (mandi). Namun, kedua riwayat yang kontroversi ini mungkin dapat dipadukan dengan cara menempatkan keduanya pada kondisi yang berbeda. Apabila ia tidak mencucinya berarti ia yakin tidak ada kotoran di tangannya, sedangkan apabila ia mencuci tangannya berarti ia ragu ataupun yakin bahwa di tangannya ada kotoran. Atau jika ia mencucinya, maka hal itu adalah sunah. Sedangkan jika ia meninggalkannya, maka hal itu memberi penjelasan bahwa yang demikian itu diperbolehkan. Riwayat dari Barra' dinukil melalui silsilah periwayatan yang bersambung oleh Ibnu Abu Syaibah dengan lafazh, "Ia memasukkan tangannya ke dalam air untuk bersuci sebelum mencucinya." Lalu beliau meriwayatkan pula dari Sya'bi, "Sahabat-sahabat Rasulullah memasukkan tangan mereka ke dalam air sebelum mereka mencucinya padahal mereka dalam keadaan junub."
y\—!P
J—°Aj j—'*i-

j—°A 'j—J j,—Sj (Ibnu Umar dan Ibnu Abbas

tidak

menganggap

masalah).

Riwayat dari Ibnu Umar dinukil melalui silsilah periwayatan yang bersambung oleh Abdurrazzaq dengan makna yang mirip seperti di atas. Sedangkan riwayat dari Ibnu Abbas dinukil melalui silsilah periwayatan yang bersambung oleh Abu Syaibah, dan dari jalur periwayatan lain oleh Abdurrazzaq. Adapun kesesuaian disebutkannya riwayat dari sahabat ini dengan judul bab di atas adalah; apabila junub berpengaruh pada air, maka tentu tidak boleh mandi dari bejana yang dijatuhi oleh tetesan-tetesan (air) yang sudah mengenai badan orang yang junub ketika mandi. Namun mungkin juga dikatakan, "Hanya saja sahabat menganggap hal tersebut tidaklah mengapa, karena sangat sulit menghindarinya. Jadi ia termasuk yang dimaafkan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah dari Hasan Al Bashri. Ia berkata, "Siapa yang bisa menjaga percikan air? Kita mengaharapkan Rahmat Allah yang sangat luas."

4 2 2 — FATHUL BAARI

ijai^j

j f.\j\ y

JJS\J

Ul J—^PI

cJli aliJLp
.<us LJJUI

261. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, 'Aku mandi bersama Nabi SAW dari satu bejana, dan tangan kami bergantian di dalamnya"

Keterangan Hadits: Pembahasan mengenai kandungan hadits ini sudah dibahas pada bab, "seorang suami mandi bersama istrinya", dengan sedikit perubahan di bagian akhirnya. Muslim menambahkan di akhirnya "dari junub", maksudnya karena junub. Dalam riwayat Abu Awanah dan Ibnu Hibban dari jalur Ibnu Wahab dari Aflah, ia mendengar Qasim berkata, "Aku mendengar Aisyah, kemudian ia menyebutkan hadits dan menambahkan kata-kata 'dan saling bertemu' setelah lafazh 'dan tangan kami bergantian di dalamnya'." Diriwayatkan oleh Al Isma'ili dari jalan Ishaq bin Sulaiman dari Aflah, "Tangan kami bergantian di dalamnya" yakni sampai bertemu. Al Baihaqi meriwayatkan pula melalui jalur yang sama, dimana dikatakan, "Tangan kami bergantian di dalamnya", yakni saling bertemu (bersentuhan). Ini mengisyaratkan bahwa perkataannya "Bertemu (bersentuhan)" adalah kata yang disisipkan oleh para perawi. Kemudian akan disebutkan versi lain dalam bab "Menyela-nyela rambut" dengan lafazh, "kami mandi dari satu bejana dan kami menimba airnya bersama-sama." Kemungkinan perawi berkata, ".. .dan saling bertemu" yakni ia meriwayatkan lafazh tersebut dari segi maknanya. Adapun makna,

u>—liki (bergantian) adalah adakalanya Nabi

menimba sebelum Aisyah dan adakalanya Aisyah menimba sebelum beliau. Diriwayatkan Muslim dari jalur Mu'adz dari Aisyah, "Maka ia (Nabi) mendahuluiku sehingga aku katakan, sisakan untukku." Hadits ini memberi keterangan bolehnya seorang yang junub menimba air yang sedikit dengan tangannya, dan ini tidak menghalangi untuk bersuci dengan air tersebut, demikian pula dengan air yang tersisa.

FATHUL BAARI —

423

Hadits ini juga memberi keterangan bahwa larangan bagi orang junub untuk menceburkan diri ke dalam air yang tenang adalah untuk menjaga kebersihan, supaya air tersebut tidak tercemar. Jadi larangan tersebut bukan untuk menghindari agar air tidak berubah menjadi najis hanya karena adanya orang junub menceburkan diri ke dalamnya, sebab tidak ada bedanya badan orang yang junub dengan anggota tubuhnya yang lain. Adapun penetapan dalil dari hadits ini demi kesesuaiannya dengan judul bab tatkala seorang yang junub boleh memasukkan tangannya ke dalam bejana untuk menimba air sebelum hadatsnya hilang agar mandinya sempurna sebagaimana yang ditunjukkan hadits bab ini, maka hal ini memberi keterangan bahwa perintah untuk mencuci tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana, adalah tidak ada hubungannya dengan junub, tetapi karena hal lain seperti najis yang menempel di tangan; baik keberadaannya sudah diyakini atau masih diragukan.

J__l~p 2j'l>Jl

'j»

Jlipl lil UI

4JJI

J j l f T

: c J l i aliJLp- 'J-

262. Dari Aisyah ia berkata, "Rasulullah junub maka beliau mencuci tangannya."

SAW apabila

mandi

Keterangan Hadits: s J—l J—L* (Beliau mencuci tangannya). Demikianlah di tempat ini

diriwayatkan secara ringkas. Sementara itu, Abu Daud telah mengutipnya secara lengkap dari Musaddad dengan jalur periwayatan yang sama seperti di tempat ini. hanya saja dalam riwayat Abu Dawud terdapat tambahan lafazh, j—XA. (Dua tangannya) dan lafazh, Jy£\ Js- IL-lflj (Beliau menuangkan ke tangan kanannya) -dari bejana- lalu beliau mencuci kemaluannya dengan menuangkan (air) ke tangan kirinya, kemudian ia berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Demikian juga dinukil oleh Al Isma'ili melalui riwayat Hammad bin Zaid. Pada pembahasan selanjutnya akan disebutkan hadits seperti ini dari jalur lain

4 2 4 — FATHUL BAARI

dari Hisyam pada bab "Menyela-nyela rambut". Muhallab berkata, "Imam Bukhari menempatkan hadits-hadits mengenai masalah ini- yang tidak menyebutkan mencuci tangan sebelum memasukkannya (ke bejana) untuk keadaan yang diyakini bahwa tangan saat itu dalam keadaan bersih, sedangkan hadits Hisyam -yakni yang disebutkan padanya mencuci tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana- adalah pada saat seseorang khawatir kalau ada kotoran yang menempel pada tangan tersebut. Nampaknya Imam Bukhari menemukan titik temu dari kedua hadits yang nampak kontroversi ini, sekaligus meniadakan pertentangan yang ada di antara keduanya. Mungkin juga (dipahami) bahwa mencuci (tangan) tersebut adalah sunah, dan meninggalkannya adalah boleh, atau dikatakan bahwa hadits yang tidak menyebutkan lafazh, "mencuci tangan", bersifat muthlaq (tanpa batasan), sedangkan hadits yang menyebutkan lafazh, "beliau mencucinya", bersifat muqayyad (terbatas). Maka lafazh yang muthlaq harus dipahami dalam konteks lafazh muqayyad. Karena dalam hadits yang menyebutkan lafazh 'mencuci tangan' terdapat tambahan keterangan yang tidak disebutkan dalam riwayat yang satunya.

263. Driwayatkan dari Aisyah ia berkata, 'Aku mandi bersama Nabi dari satu bejana karena junub. " Dan diriwayatkan dari Abdurrahman bin Qasim dari ayahnya dari Aisyah riwayat seperti ini.

Keterangan Hadits:

FATHUL BAARI —

425

0*>L~-SJu
- 'L "

y t
(J-OL "J' I ' | °

4JL*J JA
11 ' -'"•'.

t>\J
0

JLS" J J ^ J DIJU»
' J
1

'

» . »

O

'

'

,

»

.

O

*

'

'

264. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, "Nabi SAW mandi dengan salah seorang istrinya dari satu bejana bersamasama. " Muslim dan Wahab menambahkan melalui riwayat Syu 'bah, "Karena junub."

10. Memisahkan Mandi dan Wudhu
0(.i_A?r

L » Jb«J A ^ J j J - ~ P

AJI J - O - P ^ 1

^ j P ^ 5 Jb

Disebutkan dari Ibnu Umar, bahwa ia mencuci kedua kakinya setelah air wudhunya kering.

— ^ §§L a—L)L JJ^,^J C J W ' J a j ^ _ J . CJLI : JLI (J-L^- ^
y y 0 ^ ^ -* yy s H y ^ ^ ^ y y ^ AJJJ y y y. O y y y y

(JIy ^

— U * > U JL ^ y > jJy
O s S
f

L_GAL~II
i
* ' y

JS- ^ Y L I

AJ

J-~I*J

° i
(

* s

"

J/S o .'a » p~l
y y O y

J/'JVLJ 0-^>
, % ^y y ^ Sy y

jt->FIJ^L-L»(J**»** AJLW< ^ 1 P AJL>^_J
y y y y y • ' y - ' * *

LS

^t.f

^

J

J****-?
' '
.A^JJ

jCSi

'

-

LT^
JA

J>^j

-

J ^ ^ ' J
>
« J L I R

j,J

265. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, "Maimunah berkata, 'Aku meletakkan air untuk mandi Rasulullah SA W, maka ia menuangkannya ke kedua tangannya kemudian mencucinya dua

4 2 6 — FATHUL BAARI

atau tiga kali. Kemudian beliau menuangkan (air) dengan tangan kanan ke tangan kiri, lalu membasuh kemaluannya. Kemudian beliau menggosokkan tangannya ke tanah, lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung serta mengeluarkannya. Kemudian beliau membasuh wajah dan kedua tangannya, dan membasuh kepalanya tiga kali. Kemudian ia menyiram seluruh tubuhnya, setelah itu ia berpindah tempat dan mencuci kedua kakinya:''

Keterangan Hadits: (Memisahkan mandi dan wudhu) maksudnya tentang kebolehannya. Ini merupakan pendapat Imam Syafi'i yang baru. Ia berhujjah bahwasanya Allah SWT mewajibkan membasuh semua anggota (badan), maka siapa saja yang sudah membasuhnya berarti ia telah melaksanakan kewajibannya (tanpa memperdulikan) apakah ia (membasuhnya) dengan cara terpisah atau berurutan. Ini diperkuat lagi dengan perbuatan Ibnu Umar. Ini juga merupakan pendapat Ibnu Musayyab, Atha' dan sejumlah ulama lain. Malik dan Rabi'ah berpendapat, "Orang yang sengaja melakukannya maka ia harus mengulanginya, dan orang yang lupa maka tidak apaapa." Diriwayatkan pula dari Malik bahwa kalau pemisahan itu dalam waktu yang singkat (tidak terlalu lama) maka ia lanjutkan (pekerjaannya), tetapi kalau sudah lama ia harus mengulanginya." Qatadah dan Auza'i mengatakan, "Seseorang tidak mengulanginya kecuali kalau sudah kering." An-Nakha'i membolehkan pemisahan tersebut pada saat mandi dan tidak membolehkannya di saat berwudhu. Semua riwayat di atas disebutkan oleh Ibnu Mundzir, seraya berkata, "Orang yang membatasi kebolehan pemisahan tersebut hingga air mengering, tidak memiliki argumentasi (hujjah)." Ath-Thahawi mengatakan, "Keringnya bekas air di badan bukanlah hadats yang menyebabkan batalnya mandi, sebagaimana keringnya anggota wudhu tidak membatalkan thaharah (kesucian)."
'j—**

J — j l J* 'j£±ii {Dan disebutkan

dari Ibnu Umar). Riwayat ini

dinukil dalam kitab Al Umm dari Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar. Hanya saja dalam riwayat yang dimaksud terdapat tambahan, J j f j i J> tV*i AJ?

FATHUL BAARI —

427

*

„ f

^—L>

p

*

f

y

s

a

y

y

_ t

y

y e f

ALOT JS-

JJ>V~JI J

£JTJ

, Alir j J j 3

(Ia berwudhu di pasar

tanpa mencuci kedua kakinya, kemudian ia kembali ke masjid dan menyapu kedua sepatunya kemudian beliau shalat). Silsilah periwayatan hadits ini adalah shahih. Imam Syafi'i berkata, "Mungkin air bekas wudhunya itu sudah kering, karena keringnya bekas air dari badan bisa terjadi pada jarak yang lebih dekat dari jarak antara pasar dengan masjid."

11. Orang yang Menuangkan (Air) dengan Tangan Kanan ke Tangan Kiri ketika Mandi

" y
i

' 0 y

. ' Oy 0 y

y . <*>y 0 y

S *ty 0

* i0 y Qy

'
-y 0

y

jjUJI

JLP t ~Ui Aj'jiyj
r

A J ^ W . jf-

^ L P ji\

*>C~p £§l
M

j*

^ L P JJ! J AJJI J yyjl J l i JSJA

r

cJw= j cJli
J\ ay>

y

J *y ^»1 Ai]lt)t y T i l
0 y y

jlllL*

tyUii

oy o
y y y

A
y

J - * * ^ J AJ Jo j
y y y y oy

A_^-?r j J J ^ J P j J ^ J J U * 1 j ^j,^? o *,h *" jty yy y ,
1

5

-IfiJV^«JL>
y y f

/

y

a-Lj J L a i < J y -

A i j j u s A~*JJ J ~ ~ * * t ^ ^

(*-* a - l ~ o r ^ i P

iww» j %>

266. Diriwayatkan dari Kuraib -mantan budak Ibnu Abbas- dari Ibnu Abbas dari Maimunah binti Harits ia berkata, 'Aku meletakkan air mandi untuk Rasulullah SAW dan aku menutupinya, maka beliau menuangkannya ke tangannya dan mencucinya sekali atau dua kali -Sulaiman berkata, "Aku tidak tahu apakah beliau menyebutkan yang ketiga atau tidak. "Kemudian beliau menuangkan-

4 2 8 — FATHUL BAARI

nya dengan tangan kanan ke tangan kiri dan mencuci kemaluannya. Kemudian beliau menggosokkan tangannya dengan tanah atau dinding, setelah itu berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung serta mengeluarkannya. Kemudian beliau mencuci mukanya dan kedua tangannya dan mencuci kepalanya. Setelah itu beliau menyiram tubuhnya, kemudian berpindah tempat dan membasuh kedua kakinya. Aku pun memberikan kepadanya sepotong kain tetapi beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yakni beliau menolaknya:''

Keterangan Hadits: (Orang yang menuangkan (air) dengan tangan kanan ke tangan kiri ketika mandi). Berkenaan dengan masalah ini, Imam Bukhari dikritik dengan mengatakan bahwa pernyataannya lebih umum daripada dalil yang dikemukakan. Namun kritikan ini dapat dijawab, bahwa yang demikian itu disebutkan secara tegas dalam mencuci kemaluan. Sedangkan perbuatan lainnya diketahui dari kebiasaan beliau yang suka mendahulukan yang kanan, seperti yang telah dijelaskan, dan yang seperti ini terjadi apabila orang itu menimba (menciduk) air dari bejana, seperti dikatakan oleh Al Khaththabi. Lalu Al Khaththabi berkata, "Kalau tempatnya sempit seperti botol tempat minyak wangi, maka ia meletakkannya di tangan sebelah kiri kemudian menuangkan air dengan tangan kiri ke tangan kanan. L—iai (Maka beliau menuangkan), maksudnya ketika beliau hendak

mandi, maka beliau membuka tutup kepalanya dan mengambil air kemudian menuangkan ke tangannya. Demikian yang dikatakan oleh Karmani. Akan Tetapi apa yang dikatakannya itu tidak pasti, karena ada kemungkinan beliau membuka tutup kepalanya bersamaan dengan menyiramkan air, sebagaimana indikasi makna lahiriah hadits tersebut. Demikian juga dengan membuka tutup kepala, mungkin saja hal itu dilakukan sebelum menyiramkan air ke badan. Maka makna hadits tersebut adalah, "Aku meletakkan air untuknya, lalu beliau SAW langsung mandi." Kemudian ia (Maimunah) menerangkan cara mandi tersebut.

FATHUL BAARI —

429

12. Orang yang Menggauli (Istrinya) Kemudian Mengulanginya dan Orang yang Mendatangi Istriistrinya dengan Sekali Mandi

ll

«•

-

cl '

t

-

y -

l l -

I

.

ti

0

*

'

'

'

i '

°i

0

'

C-JLai

Js-

4^A*J jj^.j

4j^5 ^
$§|

Jli o l AJJI jyj

^ilJI

^

J^")\Xs-

JUj>^

f-£\J\
\J\
AJJI

p-*-°J.

jP

267. Diriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad bin Al Muntasyir dari bapaknya, ia berkata, 'Aku menyebutkannya kepada Aisyah, maka beliau berkata, 'Semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman. Aku (pernah) memberikan harum-haruman kepada Rasulullah SAW, kemudian ia mendatangi istri-istrinya. Ketika pagi ia sudah berihram, sementara harum-haruman masih tercium darinya'."

Keterangan Hadits: (Orang yang manggauli istrinya kemudian mengulanginya) Para ulama telah sepakat bahwa mandi ketika hendak mengulangi bergaul dengan istri tidaklah wajib, namun keterangan tentang disukai-nya perbuatan tersebut dinukil oleh Abu Daud dan Nasa'i dari Abu Rafi':
s U /

/

/

>

s

>

s

s

y

s

Jj /-'j

U

icJlii Jli toJU* ilf J ~ ^ y J j eJUt lup J-~i3J
o ss a
ss
s o s s

ajCj ^Ip ^jj oli
s s f >

y
i
s

si

uilt 0
y

(Beliau SAW mendatangi istri-istrinya pada suatu hari, beliau mandi di tempat istrinya yang ini., dan di tempat istrinya yang ini... Kemudian ia berkata, "Aku berkata, 'Ya Rasulullah, kenapa anda tidak mandi satu kali saja?' Beliau bersabda, 'Ini lebih suci, lebih baik dan lebih bersih.'') Kemudian para ulama berbeda pendapat tentang wudhu seseorang yang ingin mengulangi bergaul dengan istrinya. Abu Yusuf berkata, "Hal

4 3 0 — FATHUL BAARI

itu tidak dianjurkan." Sementara Mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu adalah sunah. Sedangkan Ibnu Habib Al Maliki dan Ahli Zhahir mengatakan, bahwa hukumnya adalah wajib. Mereka beralasan dengan hadits Abu Said, dimana ia berkata, "Rasulullah bersabda, j t i ^ - i W j — P j U $ - £ Cpj^IS 01 ilji 'pS Al*i (Jika salah seorang di antara iii kalian

mendatangi istrinya kemudian hendak mengulanginya, maka hendaklah ia berwudhu di antara kedua waktu itu). Diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Abu Hafsh dari Ashim dari Abu Mutawakkil. Ibnu Khuzaimah mengisyaratkan, "Maksudnya bahwa sebagian ulama memahami wudhu di sini dalam konteks pengertian secara bahasa, maka mereka mengatakan, adalah membersihkan kemaluan." Kemudian Ibnu Khuzaimah membantah pendapat itu dengan berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari jalur Ibnu Uyainah dari Ashim, dimana dikatakan, W — I a j J a» J wudhu untuk shalat). lir»j b>jiii (maka hendaklah ia berwudhu seperti

Aku kira yang beliau maksudkan adalah Ishaq bin Rahawaih, dimana Ibnu Mundzir menukil pendapat tersebut darinya. Ia berkata, "Kalau seseorang ingin mengulangi menggauli istrinya, maka ia harus membersihkan kemaluannya." Kemudian Ibnu Khuzaimah berdalil, bahwa perintah untuk berwudhu adalah sunah (bukan wajib) dengan hadits yang diriwayatkan dari jalur Syu'bah dari Ashim dalam hadits Abu Said yang telah disebutkan seperti riwayat Ibnu Uyainah. Ia menambahkan, 3!*_*JJ Ja-tJi (Yang demikian itu akan lebih menambah gairah). Ini menunjukkan bahwa perintah di sini bersifat petunjuk atau bimbingan serta sunah, dan bukan suatu kewajiban. Riwayat lain yang juga memberi keterangan bahwa perbuatan itu tidaklah wajib, adalah riwayat yang dinukil oleh Thahawi melalui jalur Musa bin Uqbah dari Al Aswad dari Aisyah. Ia berkata, I — * i j 3j—ii j —" * ' > 'g&H aJIp «ii JLp ^ i olS" (Biasanya Nabi SAW menggauli tanpa berwudhu). istrinya kemudian ia mengulanginya

(aku menyebutkannya), maksudnya adalah perkataan Ibnu Umar yang disebutkan setelah bab ini, yaitu ucapannya, "Aku tidak suka ketika pagi berihram masih tersisa bekas-bekas harum-haruman." Imam Muslim telah menjelaskan dalam riwayatnya dari Muhammad bin

FATHUL BAARI —

431

Muntasyir, ia berkata, "Aku bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang seorang laki-laki yang memakai harum-haruman kemudian pagi-pagi ia sudah berihram", lalu ia menyebutkan perkataan di atas, seraya menambahkan, "Ibnu Umar berkata, 'Aku lebih suka ditempeli aspal yang mendidih daripada melakukan hal tersebut'." Demikian juga yang diriwayatkan oleh Al Isma'ili dengan lengkap dari Hasan bin Sufyan dari Muhammad bin Basysyar. Sepertinya Imam Bukhari meringkas hadits ini, karena apa yang tidak dicantumkannya itu sudah cukup terkenal di kalangan ahli hadits. j — x s -

K») (Abu Abdurrahman),

maksudnya Ibnu Umar. Aisyah

mengucapkan demikian karena ia merasa, bahwa Ibnu Umar lupa akan apa yang ia katakan. Sebab kalau ia ingat apa yang dilakukan Rasulullah, tentu ia tidak berpendapat seperti itu.

> i j k ? (Lalu mendatangi).

Ini adalah kiasan dari bersenggama. Dari

sini menjadi jelas hubungan antara hadits dengan judul bab di atas. Al Isma'ili berkata, "Ada kemungkinan maksudnya adalah jima' (senggama) dan ada kemungkinan juga maksudnya adalah memperbaharui perjanjian (akad) dengan mereka. Saya katakan, kemungkinan pertama dikuatkan oleh hadits yang mengatakan bahwa beliau SAW diberi kekuatan 30 orang laki-laki."

C5

—LF- JJJU I JLI i y^S' ' ' i * ' ' ' s 0

sljjfe
O

^JJI
i > '

JLFF :JLI DISC»
s i '

jS\ L2JI>s ° s i s y ' ' ' i

JLI

js4JL*J
" s

(JJ^\
s

jJ> j j\-fS\J
s s i yii
f

JLLIL
i*
R

O*

s

JA

OJB-L JJL 4PLUL J
i y

o

£

' ' t *

°*

. J\
^ s

AJI
o y

O.BO
o ^ o y

: JLI
i s si

A I J A J JLS"jl ( j - o ^
^

CJI
' \\'-'

^

'„'.'los'*

s

268. Diriwayatkan dari Qatadah, ia berkata, "Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik, 'Nabi SAW mengelilingi (mendatangi) istri-istrinya pada waktu malam dan siang hari, jumlah mereka sebelas orang.' Aku bertanya kepada Anas, 'Apakah Nabi SA W mampu melakukan hal itu?' Anas menjawab, 'Kami memper-

4 3 2 — FATHUL BAARI

bincangkannya bahwa ia diberi kekuatan setara dengan 30 (orang).' Sa 'ad mengatakan dari Qatadah bahwasanya Anas menceritakan kepada mereka, 'Jumlah istri Nabi saat itu 9 orang"

Keterangan Hadits: a J — S P I — « J l (suatu waktu) maksudnya adalah rentang waktu

tertentu, bukan waktu yang dikenal dalam istilah biasa.

i j—ij'-i—H

j * (Jumlah mereka sebelas orang). Ibnu khuzaimah

mengatakan, "(Lafaz) ini hanya diriwayatkan oleh M u ' a d z bin Hisyam dari ayahnya, sedangkan Said bin Abu Arubah dan lainnya meriwayatkan dengan lafazh "Mereka sembilan orang." Imam tempat ini setelah ini wayatannya Bukhari menyebutkan riwayat Said bin Abu Arubah di tanpa menyebutkan silsilah periwayatannya, dan 12 bab beliau riwayatkan kembali lengkap dengan silsilah peridengan lafazh, ilj toi»-IJJI i O l J> A * C J J* Ci'JaJ oli" istri-istrinya dalam satu malam,

e j—1*J (Nabi SA W biasa mengelilingi ketika itu ia mempunyai 9 istri).

Ibnu Hibban menggabungkan kedua riwayat ini dalam Shahih-nya dengan menjadikannya dalam dua keadaan, tetapi ia keliru dalam perkataannya, "Yang pertama adalah ketika beliau baru datang di Madinah, dimana ia mempunyai 9 istri; dan yang kedua adalah ketika masa-masa akhir, dimana di sisi beliau ada 11 wanita." Letak kekeliruannya adalah ketika datang di Madinah beliau tidak punya (istri) selain Saudah, dan ketika sampai di Madinah barulah beliau hidup bersama Aisyah. Kemudian beliau menikahi Ummu Salamah, Hafsah dan Zainab binti Khuzaimah pada tahun ketiga dan keempat. Kemudian beliau menikahi Zainab binti Jahsy, lalu pada tahun kelima dengan Juwairiyah dan pada keenam dengan Shafiyah. Sementara Ummu Habibah dan Maimunah pada tahun ke tujuh. Mereka itulah yang diketahui telah digauli oleh Nabi setelah hijrah, sedangkan Raihanah (tawanan bani Quraizhah) masih diperselisihkan oleh para ulama. Ibnu Ishaq menyatakan bahwa Nabi SAW menawarkan kepadanya untuk dinikahi dan dipakaikan hijab, tetapi ia tetap memilih menjadi budak. Sebagian besar ulama mengatakan bahwa ia meninggal sebelum-

FATHUL BAARI —

433

nya pada tahun kesepuluh. Demikian juga Zainab binti Khuzaimah, ia meninggal tidak lama setelah bergaul dengan Nabi SAW. Ibnu Abdil Barr mengatakan, "Ia mendampingi Nabi SAW selama dua atau tiga bulan. Berdasarkan fakta ini, maka istri-istri yang berkumpul bersamanya tidak lebih dari sembilan orang, ditambah lagi bahwa Saudah menghibahkan hari (giliran)nya kepada Aisyah sebagaimana akan dijelaskan. Oleh karena itu, aku lebih menguatkan riwayat Said. Tetapi riwayat Hisyam mengandung kemungkinan bahwa ia memasukkan Mariah dan Raihanah ke dalam kelompok istri-istrinya, dan ia memakai kata-kata "istri-istrinya" karena kebanyakan dari wanita tersebut berstatus sebagai istri beliau SAW. Ad-Dimyathi mengungkapkan dalam kitab Sirah (perjalanan hidup) yang dikumpulkannya, "Orang yang meneliti perihal istri-istri Nabi SAW, baik yang digaulinya, diakadkan saja, dithalak sebelum digauli atau hanya sekedar dipinang tanpa akad, maka jumlahnya sampai 30 orang." Dalam Al Mukhtarah dari jalan lain dari Anas dikatakan, "Nabi SAW menikahi 15 wanita, yang digauli 11 orang dan ketika beliau meninggal jumlah istrinya sembilan orang." Abu Fatah Al Yamiri juga menyebutkan nama-nama mereka. Kemudian Al Maghlathi juga menyebutkannya dengan jumlah melebihi apa yang disebutkan AdDimyathi, namun Ibnu Qayyim mengingkarinya. Yang benar adalah bahwa jumlah banyak yang disebutkan adalah karena perbedaan beberapa nama, Wallahu 'alam.

d\

f j l (Apakah

beliau),

ini adalah perkataan Qatadah. Dalam

riwayat Al Ismaili dari jalur Abu Musa dari Mu'adz bin Hisyam tertulis "empat puluh" sebagai ganti dari "tiga puluh", tetapi riwayat ini syadz (cacat). Hal seperti ini juga ada di Marasil Thawus, dengan tambahan J> ^l_J>Jl (dalam bersenggama). Demikian juga yang disebutkan dalam kitab Sifat Jannah (surga) oleh Abu Nu'aim dari jalur Mujahid dengan

tambahan * — J — a i Jl—srj J—* (Dari penduduk surga), dan dari hadits Abdullah
^L_*JJ|J

bin Amru dengan jalur yang sampai kepada Nabi SAW, c4k* i «j* (Aku diberi kekuatan 40 orang untuk bertarung

^rSa-l* J Jpj

dan

jima'). Diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa'i dan dishahihkan oleh Hakim

4 3 4 — FATHUL BAARI

dari

hadits Zaid bin Arqam -dengan jalur periwayatan yang sampai Jit j * JJr^l oi 100

kepada Nabi SAW, o > J i J i j J—YH\ J «U 5y Jai£ —2sJlj£j—**Jlj (Seorang lelaki

penduduk surga diberi kekuatan

orang dalam makan, minum, jima' dan syahwat). Berdasarkan (hadits) ini berarti kekuatan Nabi kita adalah 4000 (kekuatan lelaki biasa). X*—y Jl—i j (Dan Sa 'id berkata) Ia adalah anak Abu Arubah,

demikianlah yang terdapat dalam riwayat. Tetapi Ashili mengatakan, dalam salah satu naskah disebutkan Syu 'bah sebagai ganti daripada Sa 'id. Ia berkata, "Saat kami mengajukan riwayat ini kepada Abu Zaid di Makkah, maka yang disebutkan adalah Said." Lalu Abu Ali Al Jayyani mengatakan, bahwa itulah yang benar. Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa Imam Bukhari telah menyebutkan riwayat Sa'id terhadap hadits ini lengkap dengan silsilah periwayatannya, sedangkan riwayat Syu'bah terhadap hadits ini dinukil oleh Imam Ahmad." Ibnu Munir berkata, "Dalam hadits tentang berkelilingnya Nabi kepada istri-istrinya ini tidak ada keterangan yang sesuai dengan judul bab di atas, karena ada kemungkinan beliau mengelilingi istri-istri tersebut dan setiap beliau melakukan senggama maka beliau mandi." Kemudian ia mengatakan, "Kemungkinan yang demikian itu terjadi pada malam hari lebih dekat." Aku (Ibnu Hajar) katakan, "Pengaitan (taqyid) dengan malam tidak tegas dalam riwayat Aisyah, adapun dalam riwayat Anas disebutkan dengan tegas lafazh "malam" dan mandi satu kali. Demikian juga dalam riwayat Nasa'i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Mandi satu kali tanpa menyebutkan malam terdapat dalam riwayat mereka yang lain dan dalam riwayat Muslim." Karena dalam hadits Anas tidak ada pembatasan dengan "suatu waktu", maka tidak dikaitkan lagi dengan satu kali mandi, karena hal itu susah untuk dilakukan dan juga karena di sana terjadi pengulangan senggama dan mandi sekaligus. Dari sini diketahui bahwa perkataannya dalam judul "dengan mandi satu kali" mengisyaratkan kepada hadits yang ada di beberapa jalur periwayatan hadits ini, walaupun tidak disebutkan dalam teks riwayat-riwayat yang beliau cantumkan dalam kitab Shahih, sebagaimana yang telah menjadi kebiasaannya. Kata-kata muthlaq (tanpa batasan) yang ada dalam hadits Aisyah

FATHUL BAARI —

435

digabungkan dengan hadits Anas yang muqayyad (terbatas) supaya ada keserasian, karena bergaulnya beliau dengan istrinya dalam suatu waktu atau satu malam sama dengan seseorang yang ingin mengulangi bergaul dengan istrinya sebagaimana yang disebutkan dalam judul bab, wallahu a Jam. Imam Bukhari menjadikan hadits ini sebagai alasan dalam pembahasan nikah untuk mengatakan bahwa memperbanyak istri adalah sunah hukumnya. Ia mengisyaratkan juga bahwa pembagian (waktu) tidak wajib bagi Nabi, ini merupakan perkataan sebagian ulama. Al Istukhari dari madzhab Syafi'i juga menyatakan demikian, padahal yang masyhur dalam madzhab mereka dan madzhab sebagian besar ulama adalah wajib hukumnya. Orang yang mengatakan ini (wajib) harus menjawab hadits ini. Di antara jawaban yang mereka kemukakan adalah, "Hal itu diperkenankan apabila yang punya giliran sudah merelakannya, seperti ketika beliau minta izin untuk dirawat di rumah Aisyah, atau yang demikian itu ketika jatah masing-masing mereka sudah terpenuhi dan ia memulai pembagian jatah yang baru lagi." Ada juga yang mengatakan bahwa itu terjadi ketika beliau baru kembali dari safar (perjalanan jauh). Karena jika beliau ingin safar (bepergian), maka beliau mengundi istri-istri yang akan berangkat bersamanya. Siapa yang keluar undiannya, maka ia yang akan berangkat bersama beliau. Kalau beliau SAW kembali, maka pembagian giliran diulangi dari awal. Kemungkinan ini lebih khusus dari kemungkinan kedua. Kemungkinan kedua lebih cocok dengan hadits Aisyah. Demikian juga dengan kemungkinan kedua, mungkin juga itu terjadi sebelum ada kewajiban untuk membagi (waktu) sama rata kemudian ia tinggalkan. Lalu Ibnu Al Arabi mengatakan suatu hal yang agak janggal, yaitu "Sesungguhnya Allah mengkhususkan Nabi-Nya dengan beberapa hal, di antaranya beliau diberi waktu setiap hari yang tidak ada hak bagi istriistrinya (pada waktu tersebut). Beliau masuk (mengunjungi) mereka semua, melakukan apa saja yang dikehendakinya, kemudian menetap di tempat (istrinya) yang dapat giliran. Waktu tersebut adalah setelah ashar, kalau ia sibuk maka sesudah maghrib." Namun apa yang dikatakannya ini perlu dalil yang rinci. Dalam hadits ini ada beberapa faidah lain selain yang telah disebutkan, dimana Nabi diberi kekuatan untuk menggauli istri-istrinya. Ini merupakan kesempurnaan fisik dan kesehatan beliau. Sementara itu,

4 3 6 — FATHUL BAARI

hikmah dari banyaknya istri beliau adalah bahwa banyak hukum yang tidak tampak (oleh orang banyak) bisa diketahui oleh istri-istri beliau tersebut yang kemudian mereka nukil. Banyak hukum yang datang dari Aisyah, sehingga ada sebagian orang lebih mengutamakannya daripada dibanding istri-istri beliau yang lain. Ibnu At-Tin berhujjah dengan hadits ini untuk memperkuat perkataan Malik, yaitu harus menzhihar para budak. Hal ini berdasarkan pemahaman, bahwa yang dimaksud dengan dua orang lagi sebagai tambahan dari yang sembilan adalah Mariah dan Raihanah. Hadits ini memakai lafazh "perempuan-perempuannya" (istri-istrinya) untuk keseluruhan mereka. Tetapi ini dibantah, karena lafazh yang muthlaq tersebut dipakai untuk taghlib (dengan memperhatikan jumlah yang banyak). Oleh karena itu, hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk pendapat tersebut. Ibnu Munir berargumen dengan hadits ini, bahwa seorang laki-laki boleh menggauli istrinya (yang bukan budak) setelah ia menggauli budaknya tanpa harus mandi di antara keduanya. Adapun yang dinukil dari Imam Malik adalah, bahwa hal seperti ini tidak dianjurkan. Jadi mungkin itu terjadi untuk menjelaskan bahwa hal tersebut boleh dilakukan, karena tidak ada dalil yang mengatakan hal tersebut tidak dianjurkan.

#AMPtfNGWitNAM

FATHUL BAARI —

437

13. Membersihkan Madzi dan Berwudhu Karenanya
j L f C j | § l J t l J j i "Mij cJy\i

y^rj CL^S" : J l i Js- j P

. l i j S ' i J - ~ P 1 j C= y : J l i i Jll~i <uLi

269. Diriwayatkan dari Ali RA ia berkata, 'Aku adalah seorang yang sering keluar madzi, maka aku menyuruh seseorang untuk bertanya kepada Nabi SA W, mengingat kedudukan puteri beliau, maka orang itu menanyakannya, maka Rasulullah bersabda, 'Berwudhulah dan cuci kemaluanmu. "'

Keterangan Hadits: (Mencuci madzi dan berwudhu karenanya). Madzi
I£JJ>

diucapkan Adapun

dengan beberapa dialek, yang paling fasih adalah

dan

yang dimaksud dengan madzi adalah air putih kental dan lengket yang keluar (dari kemaluan) ketika bercumbu atau mengkhayalkan persetubuhan atau ketika ingin melakukannya, dan terkadang keluarnya tidak disadari. *>*—?-j £j°j>\i (Maka aku menyuruh seseorang). Namanya Al Miqdad

bin Al Aswad, sebagaimana telah disebut dalam bab "Wudhu karena sesuatu yang keluar dari dua jalan". Dari penukilan yang lain dalam riwayat tersebut ditambahkan, Ji—'-J bertanya). A—»1 0 1 — £ J (Mengingat kedudukan putri beliau). Dalam riwayat 'cJ^LA (Maka aku malu untuk

muslim dari Ibnu Al Hanafiyah dari Ali dikatakan, i i t l i j M j ? (Karena Fatimah) radhiallahu 'anhuma. Kata perintah untuk orang kedua tunggal ini

\—i»jJ (Berwudhulah).

memberi kesan bahwa Al Miqdad bertanya untuk pribadinya, untuk seseorang atau juga untuk Ali. Lalu Nabi SAW mengarahkan perintah

4 3 8 — FATHUL BAARI

kepada Al Miqdad sendiri. Secara implisit Ali hadir ketika itu, karena para penulis kitab Masanid dan Athraf memuat hadits ini dalam deretan riwayat Ali. Seandainya mereka berkesimpulan Ali tidak ada ketika itu, tentu mereka memuatnya dalam Musnad Al Miqdad. Ini dikuatkan oleh riwayat An-Nasa'i dari Abu Bakar bin 'Iyasy dari Abu Husein dalam hadits ini, dimana Ali berkata, "Maka aku berkata kepada seseorang yang duduk di sampingku, 'Tanyakanlah kepada beliau!' Maka ia pun bertanya." Dalam riwayat Muslim Rasulullah berkata, "Hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu", dengan menggunakan lafazh untuk orang ketiga. Maka, kemungkinan besar pertanyaan Miqdad adalah untuk seseorang yang tidak disebut namanya. Lalu dalam riwayat Muslim disebutkan, "Maka ia bertanya kepadanya tentang madzi yang keluar dari seseorang", demikian juga dalam kitab Al Muwaththa '. Dalam sebuah riwayat Abu Daud, An-Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah disebutkan sebab pertanyaan tersebut dari Husein bin Qabisah dari Ali, ia berkata, "Aku adalah orang yang sering keluar madzi maka aku mandi karenanya pada musim dingin hingga punggungku terasa ngilu, maka Nabi SAW berkata, 'Jangan lakukan!'" Dalam riwayat Abu daud dan Ibnu Khuzaimah dari Sahal bin Hanif, riwayatnya juga seperti itu, dan beliau (Ali) langsung bertanya tentang hal itu. Disebutkan dalam riwayat An-Nasa'i, Ali berkata, "Aku memerintahkan Ammar untuk bertanya." Dalam riwayat Ibnu Hibban dan Al Isma'ili bahwasanya Ali berkata, "Aku bertanya." Lalu Ibnu Hibban memadukan antara hadits-hadits yang berbeda ini dengan mengatakan bahwa Ali pertama kali menyuruh Ammar, kemudian menyuruh Miqdad lalu bertanya sendiri. Kesimpulan ini cukup bagus, hanya saja tidak sesuai dengan akhir kalimat bahwa Ali malu untuk bertanya karena keberadaan Fatimah (putri Rasulullah adalah istrinya). Maka hanya ada satu kemungkinan bahwa sebagian perawi mengatakan Ali-lah yang bertanya (dalam arti kiasan), karena beliaulah yang menyuruh untuk bertanya. Pernyataan ini ditegaskan oleh Al Ismaili kemudian An-Nawawi. Adapun bahwa Ali menyuruh Al Miqdad dan Ammar untuk bertanya dikuatkan oleh riwayat Abdurrazzaq dari 'Aisy bin Anas, ia berkata, "Ali, Al Miqdad dan Ammar berbincang-bincang tentang madzi,

FATHUL BAARI —

439

maka Ali berkata, 'Aku sering keluar madzi, tanyakanlah hal ini kepada Nabi!' Lalu salah satu di antara keduanya pun bertanya." Ibnu Basykawal membenarkan bahwa yang mewakili adalah Al Miqdad, dengan demikian pernyataan bahwa Ammar yang bertanya adalah dalam arti kiasan karena dihubungkan dengan maksudnya. Perkataan \ &y~ (berwudhulah) dijadikan dalil untuk mengatakan

tidak wajib mandi karena keluarnya madzi, dan ini dengan jelas disebutkan dalam sebuah riwayat Abu Daud dan lainnya. Hal ini merupakan ijma' dan juga dalil bahwa perintah berwudhu karena keluar madzi seperti perintah berwudhu karena keluarnya air seni, sebagaimana telah disebutkan Imam Bukhari dalam bab "Orang yang tidak diwajibkan wudhu kecuali karena sesuatu yang keluar dari dua jalan". At-Thahawi meriwayatkan dari sekelompok orang bahwa mereka berkata, "Wajib berwudhu karena keluar madzi." Lalu ia membantahnya dengan hadits yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali, "Nabi SAW ditanya tentang madzi, lalu beliau bersabda, "jika keluar madzi maka harus wudhu, dan jika keluar mani maka harus mandi." Dari hadits ini dapat dipahami bahwa hukum madzi sama dengan hukum air seni dan lainnya yang membatalkan wudhu, bukan sematamata keluarnya madzi mewajibkan wudhu. iJj—Ti
J—J*\j

(Dan cucilah

kemaluanmu)

Demikian disebutkan

dalam Shahih Bukhari, bahwa perintah berwudhu lebih awal daripada mencuci kemaluan. Sedang dalam kitab Al 'Umdah sebaliknya, hanya saja huruf sambung waw (dan) tidak berkonotasi urutan, jadi maknanya adalah sama. Ini adalah riwayat Al Isma'ili: boleh mendahulukan membersihkan kemaluan daripada wudhu, dan hal itu lebih baik. Boleh juga mendahulu-kan wudhu daripada membersihkan kemaluan, tetapi orang yang bermadzhab bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu meng-haruskan menggunakan penghalang (antara tangan dan kemaluan). Ibnu Daqiq Al Id berdalil dengan hadits ini, bahwa yang digunakan bersuci adalah air bukan batu, kayu atau yang lainnya, karena teks hadits menjelaskan "mencuci". Pendapat ini dibenarkan oleh An-Nawawi dalam Syarah Muslim, namun dalam kitab-kitabnya yang lain ia membolehkan menggunakan selain air karena diqiyaskan (dianalogikan) dengan

4 4 0 — FATHUL BAARI

kencing.

1

Alasannya bahwa perintah mencuci pada hadits ini hukumnya

sunah, atau karena hal tersebut lebih umum dilakukan. Sebagian pengikut madzhab Maliki dan Hambali berdalil dengan hadits ini atas wajibnya membasuh seluruh kemaluan berdasarkan hakikat membasuh. Akan tetapi jumhur ulama lebih memandang makna atau eksistensinya, bahwa yang mewajibkannya adalah keluarnya sesuatu, maka tidaklah wajib membasuh selain tempat keluarnya madzi. Ini dikuatkan oleh sebuah riwayat Al Isma'ili, bahwa Rasulullah bersabda, i l — M j Lj&y (Berwudhulah dan cucilah ia). Kata ganti "ia" kembali kepada kemaluan, seperti hadits L>j£3li s'J* J?» 'J (Siapa yang menyentuh kemaluannya hendaklah berwudhu), maka yang membatalkan wudhu itu tidak harus menyentuh seluruh kemaluan. Golongan yang mengatakan wajib membasuh seluruh kemaluan, mereka berselisih dalam menentukan apakah hal ini termasuk sesuatu yang logis atau karena ibadah semata? Dengan berpegang pada pendapat kedua, maka niat menjadi wajib. At-Thahawi berkata, "Perintah mencuci tersebut bukan semata karena wajib mencucinya secara keseluruhan, tetapi untuk menghentikan keluarnya madzi sebagaimana susu hewan jika kantung susunya dicuci dengan air dingin susunya tertahan dan berhenti menetes.'" Hadits ini juga menjadi dalil bahwa madzi adalah najis. Ibnu Aqil Al Hambali meriwayatkan dari sebagian mereka bahwa madzi adalah bagian dari mani, maka riwayat ini menyatakan bahwa madzi adalah suci. Pendapat ini tidak benar. Sebab jika madzi adalah bagian dari mani, maka keluarnya madzi telah mewajibkan mandi. Hadits tersebut juga menjadi dalil bahwa orang yang madzi-nya tidak terkontrol harus berwudhu setiap kali keluar, karena dalam hadits ini dipergunakan shigah mubalaghah yang berkonotasi sering atau banyak. Ibnu Daqiq Al Id mengomentari, bahwa sebab banyaknya madzi yang keluar di sini adalah karena dorongan syahwat yang kuat dan tubuh
1

Yang benar adalah pendapat Ibnu Daqiq Al 'Id berdasarkan teks hadits, dan dikuatkan oleh sebuah riwayat dalam Musnad Ahmad dan Sunan Abi Daud dari Ali bahwa Nabi SAW menyuruhnya untuk mencuci kemaluannya dan kedua buah zakarnya. Ini adalah hukum yang khusus untuk madzi bukan air kencing, wallahu a 'lam.

FATHUL BAARI —

441

yang sehat, sedangkan madzi yang tidak terkontrol disebabkan oleh suatu penyakit. Di samping itu, mungkin dapat dikatakan bahwa perintah syariat untuk melakukan wudhu karena keluarnya madzi tanpa menjelaskan secara rinci adalah menunjukkan hukum yang bersifat umum, dan merupakan dalil bolehnya menerima khabar ahad atau bolehnya berpegang pada riwayat (berita) yang kebenarannya masih dalam sangkaan meskipun ada kesanggupan untuk memperoleh yang lebih pasti. Dua hal ini perlu ditinjau berdasarkan apa yang telah kami sampaikan, bahwa pertanyaan ini dihadiri oleh Ali sendiri. Jika benar Ali tidak ada di sana, tidak bisa juga dijadikan dalil karena mungkin saja ada tanda-tanda yang mem benarkannya sehingga sangkaan tadi menjadi sebuah keyakinan. Demikian dikatakan oleh Qadhi Iyadh. Ibnu Daqiq Al 'Id berkata, "Maksud berdalil dengan hadits atas bolehnya menerima khabar ahad adalah bahwa ini merupakan sebuah contoh kejadian dari berbagai bentuk yang secara keseluruhan merupakan dalil." Hadits ini juga menunjukkan bolehnya mewakilkan kepada orang lain dalam meminta fatwa, dari hadits ini juga didapati hukum tentang fungsinya wakil bersamaan dengan hadirnya orang yang diwakili. Juga menunjukkan penghormatan sahabat terhadap Nabi SAW, adab menghindari sesuatu yang tabu menurut adat, pergaulan yang baik dengan menantu atau mertua, menghindari pembicaraan tentang hubungan seks dengan istri dan yang berkaitan dengannya di depan kerabat istri. Imam Bukhari dalam pembahasan Ilmu berdalil dengan hadits ini bagi orang yang malu kemudian menyuruh orang lain untuk bertanya, karena dalam hal ini ada dua kemaslahatan; yaitu mempergunakan rasa malu dan tidak berlebihan atau melampaui batas dalam mengetahui hukum.

4 4 2 — FATHUL BAARI

14. Orang yang Memakai Harum-Haruman Lalu Mandi dan Aroma Wanginya Masih Ada

y

. y

>

,*

y

i

*• 0

y

yOX

.

0

£> y

y

0

y

yO

0

y

i

*

i

>

?F

, *

°

•*

-

8

F

• F *

I

I'

'

'I

T

0

— • " T

° ^

" •

J,

J

AJI

J

I_iuW

J»J

AJJI J J ^ - J

Ul 4 - J J I P
r
* 0

cJUi
>
-O

«

270. Diriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad bin Al Muntasyir dari ayahnya, ia (ayahnya) berkata, 'Aku bertanya kepada Aisyah, lalu aku menyebutkan perkataan Ibnu Umar, 'Aku tidak menyukai melakukan ihram dengan aroma wewangian yang masih tersisa.' Maka Aisyah pun berkata, 'Aku memakaikan harum-haruman kepada Rasulullah, lalu beliau mendatangi istri-istrinya, kemudian melakukan ihram'."

%

jyL* J

I^kJl ^ j

Jl > l
?

c J l i illlp

'j*

271. Dari Aisyah, ia berkata, "Seakan-akan aku sedang melihat kilauan wewangian (minyak rambut) di belahan rambut Rasulullah sedang beliau tengah berihram"

FATHUL BAARI —

443

Keterangan Hadits: (Orang yang memakai harum-haruman kemudian mandi), hadits ini telah dijelaskan sebelum bab ini. Adapun letak pengambilan dalil dari hadits tersebut adalah kalimat
AJCJ

J>

(mendatangi para istri beliau)

yang merupakan kiasan hubungan suami isteri, dan masalah orang yang wajib mandi. Aisyah telah menyebutkan, bahwa ia telah memberi Rasulullah wangi-wangian kemudian melakukan ihram. Adapun faidah lain yang dapat dimbil dari hadits di atas adalah, sebagian sahabat menolak perkataan sahabat yang lain dengan dalil pengetahuan para istri Nabi tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh pemuka-pemuka sahabat, pelayanan para istri untuk suami-suami mereka, dan memakai wewangian ketika berihram yang akan diterangkan dalam pembahasan haji. Ibnu Baththal berkata, "Hadits tersebut merupakan dalil sunahnya memakai parfum bagi suami dan istri ketika berhubungan intim." Hubungan kandungan teks hadits ini dengan judul bab, bisa jadi karena ia merupakan satu rangkaian kejadian atau karena mandi adalah sunah ihram dan Nabi SAW tidak pernah meninggalkannya. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa sisa parfum yang ada di tubuh orang yang melakukan ihram tidak menjadi masalah, lain halnya jika memakainya setelah ihram.

15. Menyela-nyela Rambut dan Menyiramnya ketika Kulit Kepala terasa Basah

y

y

O

s

O

y

f

J

^

^

y

y

y

y

y

y

^

J
...

.-c. 2lu>Jl J
'

J~-LP1 lil UI
. ! ' • ' * ! .

AISI J yy J j l i " c J l i A l i o l i J P
' II *. f *. ' i °" "

l ' ' . . ' ! .

4 4 4 — FATHUL BAARI

272. Dari Aisyah ia berkata, "Rasulullah SAW jika mandi junub, beliau mencuci kedua tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, Lalu mandi. Kemudian menyela-nyela rambutnya dengan tangan hingga ketika terasa telah membasahi kulit kepalanya, beliau menyiramnya tiga kali. Setelah itu, beliau menyiram seluruh tubuhnya"

Keterangan Hadits: (Menyela-nyela rambut), maksudnya ketika mandi wajib. alLi(Menyiramnya), J-~P maksudnya menyiram rambutnya. tubuhnya),

«J—yy*

(Setelah itu beliau menyiram seluruh

maksudnya bagian tubuh lainnya. Telah disebutkan dari riwayat Malik dari Hisyam di awal pembahasan mandi, di sini disebutkan fLS' «Jir (seluruh kulitnya). Maka bisa dikatakan bahwa lafazh yy* berarti sebagai langkah untuk memadukan kedua riwayat tersebut.

J*

4

L« i_i yu

JL>-\J

y

'£$k AL \ J yy j j bl J—ZPl O I S ' c J l i J JS

273. Aisyah berkata, "Aku dan Rasulullah mandi dari satu kami sama-sama menciduk air dari bejana itu"

bejana,

FATHUL BAARI —

445

Keterangan Hadits: >-*j—«J (Menciduk
t

air). Dalam kitab Al I'tisham

dari Imam Bukhari

disebutkan, i — A — I * {Jj—*^ (Kami masuk

ke dalamnya bersamaan).

Pembahasan hadits ini telah disebutkan pada bab "Apakah orang yang junub memasukkan tangannya ke dalam air suci".

16. Orang yang Berwudhu dalam Keadaan Junub lalu Membasuh Bagian Tubuh Lainnya dan tidak Membasuh Anggota Wudhu lagi
S S 0
y S

y

^

y

S>

}

^

y

y

y y

y

0 y

O

%

y

$

*

}

Q '

'

'

£

*

*'

'

° i

'

'

Ji\
>
4

> oJu
y y ,

(_Jj^>
y yy , yy
J

JTJ O/O ^ U . L

y 9

y

J Jl^p
y y O y
^

Lj*>\j j l
. J>*
u

?y .
B > \ J

y
u

0 y t
J !

, O / i /
J ^ J Y .

^.ULi
. l ' ' *

^^LP
0 t i

y f

J

J

JAJ'UJIjI ' **

y

'

a

y

^

^

'

'

£

*

*

°

g'

'

'

'i.

' . 0 - L J

'

,

^, '
9

^YG

A

U J^zS

' l ' '

-

i'* L*OJJ

^ ° T * « A3

a

y>r_>

* > 0 ' « '

C~)U) 4j-?rj

o

^

'

o'Ta

274. Dari Maimunah ia berkata, "Rasulullah menaruh air untuk mandi janabah, lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air ke tangan kirinya dua atau tiga kali, kemudian membersihkan kemaluannya dan memukulkan tangannya ke lantai atau dinding dua atau tiga kali. Lalu beliau berkumur-kumur dan menghisap air dengan hidung dan membasuh wajah dan kedua tangannya. Kemudian beliau menyiram kepalanya dengan air dan membersihkan badannya, lalu berpindah tempat dan mencuci kedua kakinya. " Maimunah berkata, "Lalu aku memberinya sepotong kain (handuk), tapi beliau tidak mengingin-kannya dan mengibaskan (membersihkan) air dengan tangannya."

4 4 6 — FATHUL BAARI

Keterangan Hadits: SJl^Ji frJi>j j»JU-j AIIP untuk mandi janabah)
4JJ1

JLe

4jJt

J j~4j ^jej (Rasulullah

menaruh

air

Kebanyakan kalimat yang diriwayatkan adalah (jj—'t£*h * J—^>J). Sedangkan riwayat

seperti ini, yaitu dengan idhafah Karimah (U>a»j) dengan tanwin

dengan satu lam. Adapun riwayat

Al Kasymihani menggunakan lafazh (i—JUr-U) dengan dua lam. Dalam riwayat Rafi'ah menggunakan bentuk majhul (pasif) «ii Jj—^'J,

dengan menambah huruf lam yang berarti untuknya (// ajlihi). (menuangkan). Dalam riwayat selain Abu Dzar disebutkan

artinya membalikkan atau membolakbalikkan. Kebanyakan riwayat menyebutkan

«j'—-~e J^* sedang riwayat

Al

Mustamli dan Karimah menyebutkan, *JU-i> J*. Jpji\—! «J—t —(Memukulkan tangannya ke tanah). Demikian

lafazh yang dinukil oleh kebanyakan perawi, sedangkan dalam riwayat Al Kasymihani dikatakan, jeyH\ tangannya). «J—--r J—"f>—J (Lalu mencuci badannya).
'

«J—J

W »J

-P

(Memukul tanah dengan

Ibnu Baththal berkata,
' s *

"Hadits Aisyah pada bab sebelum ini lebih pantas sebagai penjelasan bab ini, sebab di sana disebutkan »•) 'JS*> J-~* membersihkan
* ' ' s *

(Lalu ia mencuci atau

seluruh bagian tubuhnya yang lain) sedangkan hadits

dalam baba ini «J umum yang mencakup

pi (Lalu mencuci badannya) masih bersifat
wudhu, maka tidak sesuai dengan (Dan tidak mengulang

anggota

perkataan pada judul bab s - j ^ j i i

membasuh anggota wudhu). Ibnu Al Munir menjawab, bahwa kondisi dan pemahaman umum tentang susunan kalimat tersebut telah mengecualikan anggota wudhu, karena mendahulukan (kalimat) membasuh anggota wudhu dan pemahaman u m u m tentang penggunaan kata tubuh secara gamblang

FATHUL BAARI —

447

setelah itu memberi makna pengecualian tersebut. Jawaban ini terkesan dipaksakan. Adapun Ibnu At-Tin menjawab, "Imam Bukhari bermaksud menjelaskan, bahwa maksud perkataan beliau ax~>- J~s- '^i (Kemudian mencuci badannya) pada riwayat ini adalah mencuci bagian tubuh lainnya (selain anggota wudhu) dengan dalil riwayat yang lain." Pendapat ini juga perlu ditinjau, karena kisah ini bukan kisah yang telah kita sebutkan pada awal pembahasan ghusl (mandi), dan Al Karmani berkata, "lafazh «luJr (tubuhnya) mencakup seluruh anggota badan. Pengertian ini kita pakai pada hadits sebelumnya, atau yang dimaksud dengan (seluruh anggota tubuh lainnya) bukan selain anggota wudhu." hadits bahwa yC>

adalah anggota tubuh selain kepala,

(Ibnu Hajar) katakan, dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa ini tidak sesuai dengan judul bab. Namun yang nampak bagi saya, Imam Bukhari memakai kalimat a J — J — — S (kemudian

membasuh tubuhnya) adalah sebagai bentuk majaz (kiasan) yang maksudnya adalah bagian tubuh yang belum disebutkan. Dalil yang mengatakan hal itu adalah perkataan beliau setelah itu *&rj J~~*i (lalu mencuci kedua kakinya). Karena apabila kalimat sa.'_Jr J~~t (membasuh

tubuhnya) diartikan secara umum, maka tidak perlu lagi mencuci kaki. Sebab kaki masuk dalam keumuman makna "tubuh". Ini lebih menyerupai metode Imam Bukhari, sebab di antara kebiasaannya adalah lebih banyak mengedepankan makna yang tersirat daripada yang tersurat. Tindakan Nabi yang tidak mengulang mencuci anggota wudhu, dijadikan Ibnu Baththal sebagai landasan bahwa hukum mandi sunah Jum'at telah memadai sebagai mandi wajib. Begitu juga orang yang memperbarui wudhunya karena hadats, tidak harus mengulang wudhu ketika hendak shalat. Dasar beliau dalam istimbath ini adalah bahwa wudhu yang terjadi saat mandi junub adalah sunah, namun sudah dianggap memadai untuk tidak membasuh anggota wudhu setelah itu. Dakwaan ini tidak bisa diterima, karena masalah ini berbeda dengan adanya perbedaan niat. Seseorang berniat mandi janabah dan mendahulukan mencuci anggota wudhu karena keutamaannya, maka mandinya dianggap sempurna. Jika tidak demikian, tidak benarlah

4 4 8 — FATHUL BAARI

kalimat yang disebutkan, wallahu a 'lam. « J — J «-lil (Mengibaskan 'ja£>. air dengan tangannya). Kata s-^ tidak dengan

disebutkan dalam riwayat selain Abi Dzar. Dalam riwayat Al Ashili disebutkan dengan lafazh, J * * j (Maka ia mengibaskan

tangannya). Pembahasan lain tentang matan (materi hadits) telah disebutkan di awal kitab ghusl (mandi).

17. Jika Seseorang Teringat dalam Masjid bahwa Ia Sedang Junub Lalu Keluar dan Tidak Bertayamum

y

y

&

y

S*

*

•y }

>

.

y

*

i

y Oy }

*

O

y

1

D

J L I I

,y>

<JL

J

^»LI

LILI

^

AJLJI

J

yy

j

\sJ\

I

\\,/Si

4~-ljJ lIJl

J^J

J L ~ L P L I

(^•J

JI-J

JT-^JL^-*

.AJU»

275. Dari Abu Hurairah ia berkata, "Telah dikumandangkan iqamah untuk shalat. Shaf telah disamakan dalam keadaan berdiri, maka Rasulullah pun keluar menuju kami. Ketika beliau berdiri di tempat shalatnya, beliau teringat sedang junub, lalu beliau berkata kepada kami, 'Tetaplah di tempat kalian.'Lalu Nabi pulang dan mandi, kemudian keluar menuju kami sedang kepalanya masih basah, maka beliau takbir dan kami shalat mengikuti beliau. " Abdul A'la meriwayatkan pula hadits seperti ini dari M a ' m a r dari Az-Zuhri dan Al Auza'i meriwayatkan dari Az-Zuhri.

FATHUL BAARI —

449

Keterangan Hadits: (Jika seseorang teringat) dalam masjid bahwa ia dalam keadaan junub, maka ia langsung keluar dalam keadaan junub seperti semula. (Dan tidak bertayamum) merupakan bantahan terhadap orang yang mewajibkan tayamum dalam keadaan seperti ini, dimana pendapat mereka telah dinukil dari Ats-Tsauri dan Ishaq. Begitu juga pendapat sebagian pengikut madzhab Maliki yang mengatakan, bahwa orang yang tidur di mesjid lalu "mimpi" maka hendaknya ia bertayamum terlebih dahulu sebelum keluar. c—(disamakan), maksudnya diluruskan. Hal ini menunjukkan

bahwa Nabi tidak mulai takbir sebelum shaf diluruskan. i M—iai ^—i ^ts uii (Ketika berdiri di tempat shalatnya beliau

teringat) bukan berarti beliau mengatakan perkataan demikian. Hal itu dapat diketahui oleh perawi dari faktor-faktor atau tanda-tanda yang dapat dipahami setelah itu. Imam Bukhari menjelaskan dalam pembahasan shalat dari riwayat Shalih bin Kaisan dari Az-Zuhri bahwa hal itu terjadi sebelum Nabi takbir untuk shalat. — l — I ! Jlis (Beliau berkata kepada kami, "Tetaplah di tempat kalian") dalam hal ini Rasulullah telah menggunakan perkataan untuk menunjukkan suatu perbuatan. Karena dalam riwayat Al Isma'ili dikatakan, "maka beliau memberi isyarat dengan tangan untuk tetap di tempat", atau boleh jadi Rasulullah telah melakukan keduanya (berkata dan memberi isyarat). 'JOJU i l i j j (Kepalanya ^—-Cs (Beliau takbir). meneteskan air) sisa mandi.

Secara lahiriah, bahwa beliau melakukan

shalat dengan iqamah yang pertama tanpa mengulangi lagi dan hal itu dianggap telah mencukupi, maka dapat diambil kesimpulan boleh adanya tenggang waktu yang cukup lama antara iqamah dan shalat. Penjelasan selanjutnya mengenai hal ini akan disebutkan pada bab tentang shalat jamaah setelah bab adzan, insya Allah.

4 5 0 — FATHUL BAARI

18. Mengibaskan atau Membersihkan (Air) dengan Tangan setelah Mandi Junub
AJ j: « J *>CLp jsfl ^^It! c j ^ j :~AJ y>^A c J l i : J l i

<y)

^

S

s

s

s

^

'

'

0

<

5

'

a
0

'

/

y

a'O

y

'O

' • i

' \' •
''c''

ui'
%'
'

'

'

' *

£fi
' ^ ' '

'

' ' • '' *

J
S

JU^lwoij Ja o
%

< 3 L^-L^P j,-) L§^»t_^»«J ^ / ' j ^ ' >
'
'

J^ ^
2

j'
S f

S

r'

'

o - b J ^ - Jsj JJ L w = ^ ^ j i j 4 j j j JsJi^J j jjJJajLJ «J>-b «Jj b j j < J j L i U

J"-"-*

-5

iS*^

276. D a n /6«« Abbas, dari Maimunah, ia berkata, 'Aku menaruh air mandi untuk Rasulullah SAW lalu aku menutupi beliau dengan kain, dan beliau pun menuangkan air ke kedua tangannya dan mencucinya. Kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya. Kemudian memukulmukul kedua tangannya di atas tanah lalu mengusap dan mencucinya. Kemudian berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya. Lalu membasuh mukanya, dan lengannya, kemudian menuangkan air ke kapalanya lalu ke tubuhnya. Kemudian berpindah tempat dan mencuci kedua kakinya. Lalu aku mengulurkan pakaian, tetapi beliau tidak mengambilnya. Lalu beliau pergi sambil mengibaskan air dengan kedua tangannya".

Keterangan Hadits: A—Jlu JO£J'JAJjUaili (Beliau pergi sambil mengibaskan air dengan

kedua tangannya). Lafazh ini dijadikan dalil bolehnya mengibaskan (membersihkan) air wudhu dan mandi dengan tangan sebagaimana telah dijelaskan di awal bab mandi.

FATHUL BAARI — 4 5 1

19. Memulai Mandi dengan Bagian Kanan Kepala

277. Dari Shafiyah binti Syaibah dari Aisyah RA, ia berkata, "Jika salah seorang dari kami mengalami junub, ia mengambil (air) dengan kedua tangannya tiga kali ke atas kepalanya, lalu membasahi bagian kanannya dengan salah satu tangan dan bagian kiri dengan tangan yang lain. "

Keterangan Hadits: l—fijj-j (Salah seorang di antara kami), maksudnya salah seorang di antara istri-istri Nabi SAW. Hadits ini digolongkan sebagai hadits yang langsung dari Nabi SAW (marfu'), karena secara lahiriah Nabi telah menyaksikannya. Ini adalah metode Al Bukhari. Perkataan sahabat, "Kami melakukan ini" mengandung hukum langsung dari Nabi SAW; baik disebutkan bahwa kejadiannya di zaman Nabi atau tidak. Ini juga merupakan pendapat Al Hakim. —31u o J — ( D i a riwayat Karimah mengambil l dengan kedua tangannya). »s-> (dengan Dalam

disebutkan,

sebelah tangannya),

maksudnya mengambil air sebagaimana yang ditegaskan oleh Al Isma'ili dalam riwayatnya.
t' '
o '

—*>\j j j — t (Di atas kepalanya),

maksudnya menyiram kepalanya

sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al Isma'ili. tSj-j^l (Dan dengan tangannya yang lain). Dalam riwayat Al

4 5 2 — FATHUL BAARI

Isma'ili,

-LaAl» o i ^ - l

j^i (Kemudian ia mengambil dengan tangannya) yang

menunjukkan

urutan tertib. Sementara kata cSy-^i (yang lain) menunjuk-

kan ada yang mendahuluinya. Jika dikatakan, bahwa hadits ini menunjukkan mendahulukan badan bagian kanan dan bukan bagian kanan kepala, maka bagaimana hadits ini bisa sesuai dengan judul bab ini? Al Karamani menjawab, "Maksud bagian kanan seseorang, adalah bagian kanan mulai dari kepala hingga kaki. Maka, nampaklah kesesuaian antara hadits dengan judul bab di atas." Yang nampak dari maksud Imam Bukhari adalah, beliau memahami bahwa tiga kali siraman tersebut masing-masing adalah untuk bagian kepala, sebagaimana disebutkan dalam bab "Orang yang memulai dengan hilab ". Di situ jelas disebutkan "ia memulai dari bagian kanan kepalanya," wallahu a 'lam.

20. Mandi Telanjang Sendirian di Tempat Sepi, dan bagi yang Menutup Diri adalah Lebih Baik
5

jl j

i

i

U\ A U I S ^ 1 ) 1

aoi- J P AJ ^ P
«LU I

y.*y\>Jlij
Al*

Bahz berkata, dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi SAW, "Allah lebih berhak untuk dimalui daripada manusia"

-i'

*

.

i

'

i

i'

0

*'

0

'l

\,-

iJ^A

*\\

'

~'

°'

*

f CS*- CJ^ .*

olj, , P
>

OjJ^lkj
' *

J-Jlj^t^
>' . '

OJIS

<jli

(_5^ . .

. ' • * '

FATHUL BAARI —

453

*

'

j.$i

^

'

0

i

j

JI

* /

f

s s

j i T Aji ^1 LJ^« ^ L - i L 01 J » j >
, s r s * "
/ , / O ^ J / y O s ' ' . „ v ^ ,

b» <dllj I j i l a i
s f s O *

s

s

' .

'
t

s s s ,

' f

.

/0

/

*

'

'

s

f

i

'

'

s

O

fs

°

'

i>

f.

o

'

*

*

°

IjJbJi ^
jl*

j

^ Jl
s

JJI^I
s
*
{

j^j O ^ i a l J ^ ' ' f ' '
>

y * ^ - b' ^ j J
"s
S J'

Jji'

oyl
s s
& s

s

' ' * * - '

i'

j__jl J b i i b'j^js ^st«j>Jb j&h > 4jjj - i > - l j . y * t - > J b bj-^? A J C ^ j l

j^»

j^>j C «dJlj « A U I j s^J^Jfc

j A i > J b (_)JUJ

278. D a n Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda, "Telah menjadi kebiasaan bani Israil mandi telanjang, satu sama lain saling lihat melihat. Namun Musa mandi seorang diri. Mereka mengatakan, 'Demi Allah tidak ada yang menghalanginya mandi bersama kita, kecuali karena penyakit yang dideritanya'. Maka pada suatu ketika Musa pergi mandi, ia menaruh pakaiannya di atas batu. Lalu batu itu (dengan izin Allah) melarikan pakaiannya. Musa keluar mengejarnya sambil berkata, "Pakaianku wahai batu ", sehingga bani Isra 'U melihat kepadanya. Mereka berkata, "Demi Allah, Musa tidak apa-apa (tidak berpenyakit) ". Maka Musa mengambil pakaiannya dan memukuli batu tersebut. "Abu Hurairah berkata, "Demi Allah, pukulannya meninggalkan bekas di batu itu sejumlah enam atau tujuh pukulan."

Keterangan Hadits: (Mandi manusia. telanjang sendirian di tempat sepi), yakni sepi dari

Kalimat (lebih baik) menunjukkan bolehnya hal itu menurut kebanyakan ulama. Ibnu Abi Laila tidak sependapat, sepertinya ia
O' t ' '

9

'

berpegang pada hadits dari Ya'la bin Umayyah, j^fiM J—ipi iii (Jika salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia menutup auratnya). Nabi berkata demikian kepada seorang laki-laki yang dilihatnya mandi sendirian dengan telanjang. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud. Al Bazzar juga meriwayatkannya dengan hadits yang panjang dari Ibnu Abbas. 4 5 4 — FATHUL BAARI

j>>\ Demikianlah

3\ J _ »'A—L»U>«—LJ d'\ (Untuk

dimalui

daripada

manusia).

lafazh yang dinukil mayoritas perawi, sementara dalam (Lebih berhak untuk kita Namun, kedua lafazh ini mempunyai makna

riwayat As-Sarakhsi disebutkan, iL» /sLJ jl menutup aurat dari-Nya). yang sama.

Para penulis kitab Sunan dan lainnya telah meriwatkan pula hadits ini dari berbagai jalur periwayatan yang semuanya bersumber dari Bahz, dimana riwayat tersebut dianggap hasan (baik) oleh Imam Tirmidzi dan digolongkan sebagai hadits hasan oleh Al Hakim. Ibnu Abi Syaibah berkata, bahwa Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami dari Bahz, dari ayahnya dari kakeknya. Ia berkata, "Aku berkata, 'Wahai Nabi Allah, apa yang boleh dan apa yang harus kami tinggalkan berkenaan dengan aurat kami?' Nabi SAW bersabda, 'Peliharalah auratmu kecuali terhadap istri-istri atau budakmu.'' Aku berkata, 'Ya Rasulullah bagaimana kalau kami seorang diri saja?' Nabi SAW bersabda, 'Allah lebih berhak untuk kita malui daripada manusia.'" Jalur periwayatan hadits ini sampai kepada Bahz dan derajatnya adalah shahih. Oleh karena itu, Imam Bukhari menyebutkannya dengan menggunakan lafazh yang berindikasi bahwa ia adalah hadits shahih. Akan tetapi sesungguhnya Bahz dan ayahnya tidak memenuhi persyaratan hadits shahih yang dimuat oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih ini. Oleh karena itu ketika beliau menyebutkan penggalan hadits kakek Bahz dalam kitab An-Nikah, beliau (Imam Bukhari) tidak menggunakan lafazh yang menunjukkan bahwa riwayat tersebut adalah hadits shahih. Bahkan beliau hanya berkata, "Telah disebutkan dari Muawiyah bin Haidah". Dari sini dapat diketahui, apabila Imam Bukhari menggunakan lafazh yang menunjukkan bahwa riwayat tersebut adalah shahih sehubungan dengan hadits-hadits yang beliau sebutkan tanpa menyertakan jalur periwayatannya- maka hal itu tidak berarti riwayat yang dimaksud memiliki derajat shahih, bahkan semuanya tergantung pada status perawi hadits tersebut. Masalah ini telah saya bahas secara rinci dalam catatan-catatan saya terhadap kitab Ibnu Shalah disertai contohcontoh dan penguat yang tidak dapat saya terangkan di sini.

FATHUL BAARI —

455

Dari redaksi hadits ini dapat diketahui bahwa konteksnya adalah menerangkan mandi dengan aurat terbuka, tidak seperti perkataan Ibnu Abdul Malik yang menyatakan bahwa tafsiran sabda Nabi, "Lebih pantas untuk kita malu terhadapnya", yakni jangan berbuat maksiat kepada-Nya. Adapun sabda Nabi SAW, "Kecuali terhadap istri-istri kamu" merupakan dalil bolehnya bagi istri melihat aurat suaminya, lalu dianalogikan bahwa suami juga boleh melihat aurat istrinya. Lafazh hadits ini juga menjadi dalil tidak bolehnya melihat aurat orang lain selain yang dikecualikan dalam ayat, termasuk antara laki-laki dengan laki-laki dan wanita dengan wanita. Secara lahiriah, hadits Bahz di atas menunjukkan bahwa telanjang dalam keadaan sendiri meski di tempat yang jauh dari orang lain adalah dilarang. Akan tetapi Imam Bukhari menyatakan bolehnya seseorang mandi dalam keadaan telanjang berdasarkan kisah nabi Musa dan Ayyub AS. Sisi penetapan dalil dari kisah tersebut adalah seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Baththal, bahwa keduanya termasuk orang yang kita diperintahkan untuk meneladaninya. Hal ini tentu berdasarkan pendapat syariat umat terdahulu adalah syariat untuk kita juga. Namun yang lebih kuat bahwa sisi penetapan dalil dari kisah di atas adalah, Nabi SAW mengisahkannya tanpa memberi komentar apaapa. Ini menunjukkan bahwa hal tersebut sesuai dengan syariat Islam. Sebab jika tidak demikian, tentu Nabi SAW telah menjelaskannya. Berdasarkan pemahaman seperti ini, kedua hadits di atas dapat dipadukan. Yakni dengan mengatakan bahwa konteks hadits Bahz bin Hakim adalah menjelaskan perbuatan yang lebih utama. Makna inilah yang telah diisyaratkan oleh Imam Bukhari dalam judul bab. Akan tetapi, sebagian ulama madzhab Syafi'i lebih menguatkan pendapat yang mengharamkan bagi seseorang telanjang meski sendirian. Namun pendapat yang masyhur di kalangan ulama salaf madzhab syafi'i adalah bahwa itu hukumnya makruh (tidak disukai). JJl^_l)J £ cJlS' (Telah menjadi kebiasaan bani Israil). Maksudnya kebanyakan mereka, seperti firman Allah SWT, "Berkatalah orangorang Arab badui (dusun), 'kami telah beriman. "' ^ Q s . Al Hujuraat (49): 14^ (yakni sebagian besar mereka dan bukan keseluruhannya -penerj.) «lj—£ OjJ—~au (Mandi bersama-sama dalam keadaan telanjang)

4 5 6 — FATHUL BAARI

Secara lahiriah, perbuatan tersebut diperbolehkan menurut syariat mereka. Karena jika tidak demikian, tentu Musa AS tidak akan membiarkan mereka dalam kondisi seperti itu. Adapun nabi Musa memilih untuk mandi seorang diri, karena hal itu lebih utama. Sehubungan dengan ini, Ibnu Baththal memberi keterangan yang agak janggal dimana beliau berkata, "Hal ini menunjukkan bahwa mereka durhaka terhadap nabi Musa A S . " Lalu pernyataan ini disetujui oleh Al Qurthubi, dimana ia membahasnya secara panjang. j v \—J ^—{y (Pakaianku wahai batu), maksudnya, berikan

pakaianku. Hanya saja Musa berbicara kepada batu itu karena ia mensejajarkannya dengan manusia, disebabkan batu itu dapat membawa lari pakaiannya. Dengan demikian, dalam pandangan Musa AS batu tersebut telah berpindah kedudukannya dari yang semula hanya benda mati menjadi makhluk hidup, maka beliaupun memanggilnya. Tatkala batu itu tidak juga mengembalikannya, maka beliau memukulnya. Ada juga yang mengatakan, "Bisa jadi Musa memukulnya untuk memperlihatkan mukjizat -bekas pukulannya ada di batu itu-dan mungkin juga ia melakukannya berdasarkan wahyu. Oj Sai J*- (Sehingga mereka melihat) Secara lahiriahnya, mereka

melihat seluruh tubuhnya. Dengan demikian kejadian ini dapat dijadikan dalil bolehnya melihat (aurat) dalam keadaan darurat, misalnya untuk pengobatan dan sepertinya. Ibnu Al Jauzi mengemukakan kemungkinan lain, yaitu bahwasanya Musa AS saat itu masih mengenakan sarung, namun karena kain tersebut basah maka tergambarlah apa yang ada di baliknya. Ibnu Al Jauzi menganggap kemungkinan ini lebih baik seraya mengatakan, bahwa pandangan seperti itu telah beliau nukil dari para gurunya. Namun, pendapat ini perlu dianalisa kembali. l — ) V > y r ^ J b jalai (Dan Musa memukul batu tersebut), demikianlah

lafazh yang dikutip oleh kebanyakan perawi hadits ini. Sementara dalam riwayat Al Kasymihani dan Al Hamawi dikatakan, yv*Jt jiiai (Maka batu pun dipukul). Pembahasan selanjutnya mengenai hadits ini akan dijelaskan pada cerita-cerita para nabi, insya Allah.

FATHUL BAARI —

457

j

u

^

J~»»i V Ji

1

< r : J^ ~f

^

j*
5

s y. y» ^ J? ^ j *

J^J t-**'

l — J «Uj obL3 < U J J ^

V j i ' J * ^ V*"

^Js. Sf j f i j i i : > j ^ jii c^y

^

^ J jS

M H J — » S y I j*
1

J \ 'j* <y. ^*
o

'j*
o ' ii

> '

279. Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Ketika nabi Ayyub sedang mandi dalam keadaan telanjang, tiba-tiba di hadapannya jatuh seekor belalang dari emas. Maka beliau memungut dan menaruhnya di pakaiannya. Saat itu Tuhannya menyerunya, 'Wahai Ayyub, bukankah Aku telah menjadikanmu berkecukupan dan tidak butuh terhadap apa yang engkau lihat itu?' Ayyub berkata, 'Benar, demi keagungan-Mu, tetapi tidak ada bagiku perasaan untuk tidak butuh kepada berkah-Mu'." Diriwayatkan pula oleh Ibrahim dari Musa Bin Uqbah dari Sufyan bin Sulaim dari Atha" bin Yasar dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Ketika Ayyub sedang mandi dalam keadaan telanjang...."

Keterangan Hadits: Ibnu Baththal berkata, "Sisi penetapan dalil dari hadits Ayyub adalah bahwa Allah SWT menegurnya karena ia mengambil belalang tersebut, dan tidak menegurnya saat beliau mandi dalam keadaan telanjang. Kenyataan ini memberi keterangan bahwa mandi dalam keadaan telanjang tidaklah dilarang." Pembahasan selanjutnya tentang hadits ini akan diterangkan pada cerita para nabi.

4 5 8 — FATHUL BAARI

21. Menutup Diri Ketika Mandi Jika Ada Orang Lain
's*

> '

'

f

i

*

J>

-

i

a

*

t

S

4—Ul

J\

o^i

:JyL"

^

«^li l
f

•y

280. Ummu Hanik binti Abi Thalib berkata, 'Aku pergi menemui Rasulullah SAW pada saat penaklukan kota Makkah. Aku mendapatkan beliau sedang mandi sementara Fatimah menutupinya. Maka beliau bertanya, 'Siapakah wanita ini?' Aku berkata, 'Aku, Ummu Hani:"

Keterangan Hadits: Setelah selesai menyebutkan dalil yang berkenaan dengan mandi dalam keadaan telanjang seorang diri, Imam Bukhari menyebutkan dalam bab selanjutnya, yaitu menutup diri waktu mandi jika ada orang lain. ?s j — A 'J» (Siapakah wanita ini), lafazh ini menunjukkan bahwa tirai yang menjadi pembatas cukup tebal. Adapun Nabi SAW mengetahui bahwa yang datang itu wanita, adalah karena tempat tersebut hanya boleh dimasuki laki-laki. Pembahasan mengenai hal ini akan diterangkan pada bagian akhir kitab jihad, dimana Imam Bukhari kembali mengutip hadits ini secara lengkap.

s

* i

sO s

s >

^

^

9 ss

a

f.

"„'stosOs

$s

9

s

j—*

J ^ i
9

y*}

si?

c J b

4 j j ^ > jf.

^-LP

JJ! °

' ' ,

,
.

'„
VLI

^ S ,.
AJLJ^-O
^ . . . / >

S'*
I'

as s ' s s' 4jjJ s

\

«J A>rJi JlwJtJ <ULa_i Js• F

Jl»Jt4 SjlIiJl
s s ' Z .„ > s*

F I E " L L L

FATHUL BAARI —

459

2 8 1 . Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Maimunah, ia berkata, "Aku menutupi Nabi SAW ketika sedang mandi junub; beliau mencuci kedua tangannya, kemudian menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri lalu mencuci kemaluannya dan apaapa yang tertimpa (kotoran). Kemudian beliau mengusapkan tangannya ke dinding atau lantai, lalu berwudhu seperti wudhu hendak shalat kecuali (tidak membasuh) kakinya. Setelah itu beliau menyiram tubuhnya dengan air, kemudian berpindah tempat lalu mencuci kedua kakinya. " Abu Awanah "menutup diri". dan Ibnu Fudhail juga meriwayatkan tentang

Keterangan Hadits: 5—''\'J j—Ji (Abu Awanah juga meriwayatkan), maksudnya Abu

Awanah juga menukil hadits ini dari Al A'masy melalui jalur periwayatan yang sama. Riwayat Abu Awanah ini telah disebutkan pada bab "Orang yang menuangkan air dengan tangan kanannya. J—'j—')j (Dan Ibnu Fudhail). Demikian pula Ibnu Fudhail, dia

meriwayatkan hadits di atas dari Al A'masy yang juga melalui jalur periwayatan seperti di atas. Riwayat yang dimaksud disebutkan secara lengkap beserta jalur periwayatannya dalam kitab Shahih Abu Awanah Al Asfarayini, seperti riwayat Abu Awanah Al Bashri. Hadits di atas yang mencantumkan lafazh "menutup diri" telah diriwayatkan pula dari jalur periwayatan Abu Hamzah yang dikutip oleh Imam Bukhari, serta dalam riwayat Za'idah yang dikutip oleh Al Isma'ili. Adapun pembahasan mengenai hadits ini telah diterangkan pada permulaan bab mandi, wallahu a 'lam.

4 6 0 — FATHUL BAARI

22. Apabila Wanita Mimpi Bersenggama
o ' '
y

'

ii

a f °

l

'

'

*'i

o
oy

' '
i *i

«

o
^^

o'
OJJ

O '

: O J L — i l g — I L y±*yj\
1 i cJl
s s& ^

, » 1
s

AUL.
y y

^ 1 ^p CJL- ^ 1
/
;S

V - ^ J jr^

43 j | | A1S| J J ^ , J J l A>di? ^ 1 o f ^ l
/

C-S-li-

.«.UJl o l j lil c^Ju :

AUI J

J Jl-43 ?oJ*i£?-l J * lil

282. Diriwayatkan Zainab binti Abi Salamah dari Ummu Salamah Ummul Mukminin, ia berkata, "Telah datang Ummu Sulaim -istri Abu Thalhah- kepada Nabi SAW, seraya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran, Apakah wanita harus mandi jika bermimpi (senggama)? Maka Rasulullah bersabda, "Ya jika ia melihat air (mani). "

Keterangan Hadits: Dalam bab ini Imam Bukhari hanya mengkhususkan wanita, padahal hukum ini juga berlaku bagi kaum laki-laki. Hal itu dia lakukan untuk menyesuaikan dengan konteks pertanyaan yang ada dalam hadits. sekaligus menunjukkan bantahan terhadap mereka yang beranggapan bahwa hal seperti itu hanya dialami oleh laki-laki dan tidak dialami oleh wanita, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Mundzir dan selain beliau dari Ibrahim An-Nakha'i. Hanya saja, Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Al Muhadzdzab menolak kebenaran nukilan tersebut dari Ibrahim AnNakha'i. Akan tetapi Ibnu Abi Syaibah telah menukil perkataan tersebut dari Ibrahim An-Nakha'i melalui jalur periwayatan yang akurat. L CJJ LiJj J P (Dari Zainab binti Abu Salamah). Hadits ini

telah disebutkan dalam bab "Malu dalam (menuntut) ilmu" melalui jalur periwayatan yang lain, dimana disebutkan Zainab binti Ummi Salamah. Dengan demikian, dalam bab tersebut dia dinisbatkan kepada ibunya, sedangkan di bab ini dinisbatkan kepada bapaknya (Abu Salamah).

FATHUL BAARI —

461

Sementara itu, Imam Bukhari dan Imam Muslim telah menukil hadits ini melalui beberapa jalur periwayatan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Zainab binti Abu Salamah. Lalu Imam Muslim meriwayatkan pula dari jalur Az-Zuhri dari Urwah, tapi dikatakan. "Dari Aisyah*'. Maka, yang menjadi sumber dalam kisah ini adalah antara Ummu Sulaim dan Aisyah. Kemudian Al Qadhi Iyadh mengutip dari para ahli hadits bahwa yang menjadi objek kisah ini adalah Ummu Sulaim, bukan Aisyah. Artinya mereka lebih mengedepankan riwayat Hisyam daripada riwayat Az-Zuhri, dan inilah yang nampak dari sikap Imam Bukhari. Akan tetapi, Ibnu Abdil Barr telah menukil dari Az-Dzahili bahwa Imam Bukhari menganggap kedua jalur riwayat ini sama-sama shahih. Sementara Abu Daud mengisyaratkan bahwa ia cenderung mengedepankan riwayat AzZuhri, karena Nafi' bin Abdullah juga menukil hadits itu dari Urwah dari Aisyah, dimana riwayat Nafi' juga dikutip oleh Imam Muslim. Di samping itu, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits Anas dengan lafazh, "Ummu Sulaim datang menemui Rasulullah SAW seraya bertanya, sementara Aisyah saat itu ada di dekat beliau S A W . . . " Lalu disebutkan hadits yang serupa dengan hadits di atas. Lalu Imam Ahmad meriwayatkan dari jalur Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah dari neneknya -Ummu Sulaim- dimana ia tinggal bertetangga dengan Ummu Salamah. Ummu Sulaim berkata, "Wahai Rasulullah..." Lalu disebutkan kelanjutan haditsnya di dalamnya bahwa Ummu Salamah telah mengisahkan Ummu Sulaim. Hal ini telah menguatkan riwayat Hisyam. An-Nawawi berkata dalam kitab Syarah Muslim, 'Ada kemungkinan Aisyah dan Ummu Salamah sama-sama tidak menyetujui sikap Ummu Sulaim, dan ini merupakan langkah yang sangat baik dalam memadukan kedua jalur riwayat tersebut, sebab bukan perkara yang mustahil bila Aisyah dan Ummu Salamah sama-sama hadir di majelis beliau SAW. Selanjutnya An-Nawawi berkata dalam Syarah Al Muhadzdzab, "Riwayat-riwayat yang ada dipadukan dengan mengatakan bahwa Anas, Aisyah dan Ummu Salamah semuanya hadir saat kejadian itu berlangsung." Akan tetapi yang lebih kuat adalah Anas tidak hadir saat peristiwa berlangsung, ia hanya mendapat berita itu dari ibunya (Ummu Sulaim). Indikasi ke arah ini dapat kita temukan dalam kitab Shahih Muslim dari

4 6 2 — FATHUL BAARI

hadits Anas. Lalu Imam Ahmad meriwayatkan juga hadits seperti ini dari Ibnu Umar, hanya saja Ibnu Umar memperoleh riwayat itu dari Ummu Sulaim atau yang lain. Masalah ini juga ditanyakan oleh Khaulah binti Hakim sebagaimana dinukil oleh Imam Ahmad, An-Nasa'i dan Ibnu Majah. Di akhirnya terdapat lafazh, "Sebagaimana tidak ada kewajiban mandi bagi laki-laki bila bermimpi senggama selama belum keluar air (mani)". Demikian juga masalah itu pernah ditanyakan oleh Sahlah binti Suhail seperti dalam riwayat Ath-Thabrani dan Bisrah binti Shafwan seperti dikutip oleh Ibnu Abi Syaibah. j — k h j * J?^~i ^ J! (Sesungguhnya Allah tidak malu terhadap

kebenaran). Ummu Sulaim sengaja mendahulukan kalimat ini sebagai alasan atas sikapnya yang akan menyebutkan sesuatu yang tabu dibicarakan. Malu yang dimaksud ditinjau dari segi bahasa, karena malu dalam pengertian agama adalah baik. Sementara disebutkan dalam pembahasan iman bahwasanya malu dari segi bahasa adalah perubahan dan perpecahan, dan hal tersebut mustahil bagi Allah Ta'ala. Maka perkataan Ummu Sulaim dapat dipahami bahwa Allah tidak menyuruh bersikap malu dalam kebenaran atau tidak melarang untuk menyatakan kebenaran. Ada pula yang mengatakan bahwa takwil hanya diperlukan dalam masalah itsbat (menetapkan), ' bukan pada masalah penafian (peniadaan). Tetapi karena dipahami dari kalimat tersebut bahwa Allah malu terhadap yang bukan hak, maka ini kembali pada masalah itsbat (penetapan) sehingga harus ditakwilkan. Demikian dikatakan oleh Ibnu Daqiq Al 'Id.
1

°c—U»-1 (Dia bermimpi).

Mimpi adalah sesuatu yang dilihat oleh

seseorang saat tidur, dan yang dimaksud mimpi di sini adalah mimpi yang bersifat khusus, yaitu melakukan hubungan intim. Dalam riwayat Ahmad dari Ummu Sulaim disebutkan bahwa ia berkata, "Wahai
Yang benar adalah tidak butuh penakwilan dalam masalah ini, sebab Allah SWT disifati dengan sifat malu yang sesuai dengan Dzat-Nya tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya seperti sifat-sifat-Nya yang lain. Keterangan yang menyatakan bahwa Allah SWT memiliki sifat malu telah disebutkan dalam sejumlah nash, maka sifat tersebut wajib ditetapkan sesuai dengan Dzat-Nya. Inilah pendapat Ahli Sunnah mengenai sifat yang disebutkan dalam Al Qur'an dan Sunnah yang shahih. Wallahu A 'lam.

FATHUL BAARI —

463

Rasulullah, apabila seorang wanita bermimpi melihat suaminya bersenggama dengannya, apakah ia harus mandi?" $.1—Ji o l j lil (Jika ia melihat air), maksudnya ia melihat air mani setelah terbangun. Dalam riwayat Al Humaidi dari Sufyan dari Hisyam disebutkan, "Jika salah seorang wanita di antara kamu melihat air, maka hendaklah ia mandi". Ia menambahkan, "Ummu Salamah berkata, 'Apakah wanita (juga) bermimpi (senggama)?'" Demikian pula para murid Hisyam, mereka telah meriwayatkan tambahan ini dari beliau (Hisyam) kecuali Imam Malik. Dalam riwayat Abu Muawiyah dari Hisyam pada bab "malu dalam menuntut ilmu" disebutkan, "Apakah wanita (juga) bermimpi senggama?" Dalam riwayat tersebut disebutkan pula, "Maka Ummu Salamah menutup wajahnya". Namun akan disebutkan dalam pembahasan Al Adab dari riwayat Yahya Al Qaththan dari Hisyam, "Maka Ummu Salamah tertawa". Kedua riwayat ini dapat disatukan dengan mengatakan, bahwa Ummu Salamah tersenyum karena heran dan menutup wajahnya karena malu. Dalam riwayat Muslim dari Waqi' dari Hisyam dikatakan, "Umu Salamah berkata, 'Wahai Ummu Sulaim, engkau telah membuka rahasia wanita.'" Lafazh seperti ini disebutkan pula dalam riwayat Imam Ahmad dari Ummu Sulaim. Ini menunjukan bahwa menyembunyikan hal-hal seperti itu sudah menjadi tabiat kaum wanita, dan hal itu menunjukkan besarnya syahwat mereka terhadap laki-laki. Ibnu Baththal berkata, "Ini merupakan dalil bahwa setiap wanita mengalami mimpi (senggama)." Sementara selain beliau justeru memahami sebaliknya, seraya mengatakan, "Ini merupakan dalil bahwa sebagian wanita tidak mengalami mimpi (senggama)". Makna lahiriah ucapan Ibnu Baththal adalah, bahwa hal seperti itu bisa saja terjadi dan bukan harus terjadi. Artinya, pada diri wanita ada kecenderungan ke arah itu. Kita mendapatkan dalam hadits ini dalil wajibnya mandi bagi wanita jika mengeluarkan mani. Ibnu Baththal menafikan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini, sementara telah kami sebutkan sebelumnya adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini dari AnNakha'i. Seolah-olah Ummu Sulaim belum mendengar hadits Nabi SAW

4 6 4 — FATHUL BAARI

yang berbunyi, t\—Jl j — * s-UJi "Air (mandi wajib) dikarenakan

oleh air

(keluarnya mani)". Atau ia telah mendengar sabda itu, namun timbul dalam pikirannya perkara yang menurutnya dapat menyebabkan wanita tidak termasuk dalam hadits tersebut, karena keluarnya mani jarang dialami wanita. Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Ummu Sulaim dalam kisah ini, bahwa Ummu Salamah berkata, "Wahai Rasulullah, apakah wanita juga punya air (mani)?" Rasulullah SAW bersabda, "Mereka adalah saudara kandung laki-laki (mereka sama)" Dalam riwayat Abdurrazzak tentang kisah ini dikatakan, "Jika salah seorang wanita di antara kalian telah melihat air (mani) sebagaimana laki-laki melihatnya" Demikian pula Imam Ahmad meriwayatkan dari Khaulah binti Hakim, "Tidak wajib atasnya mandi hingga keluar air (mani) sebagai mana laki-laki" Lafazh ini merupakan bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa mani wanita tidak keluar, namun keluarnya mani wanita itu dapat diketahui dari syahwatnya. Lalu mereka memahami sabda Nabi SAW, "Jika ia melihat air", yakni apabila ia mengetahuinya. Namun pandangan ini kurang tepat, karena untuk mengetahui keluarnya mani dalam kondisi ini sangat sulit. Sebab kalau ia mengetahui hal tersebut dalam mimpi saja, maka tidak memiliki konsekuensi hukum. Karena jika laki-laki mimpi bersetubuh dan ia melihat mengeluarkan mani dalam mimpi itu, lalu terbangun dan tidak melihat tanda bahwa air maninya telah keluar, maka tidak wajib baginya untuk mandi menurut kesepakatan ulama, demikian juga halnya dengan wanita. Apabila yang dimaksud "mengetahui " d i sini adalah setelah wanita itu terbangun, maka tidak dapat dibenarkan sebab yang terjadi dalam mimpi tidak berkelanjutan setelah bangun kecuali jika terlihat (tanda keluarnya mani tersebut). Untuk itu, memahami kata bermimpi di sini sebagaimana maknanya secara lahiriah merupakan pandangan yang benar. Dalam hadits ini juga terdapat dalil bahwa wanita boleh langsung meminta fatwa, dan menjelaskan gambaran keadaan yang berhubungan dengan kejadian syar'i karena adanya faidah yang bisa diambil dari hal tersebut.

FATHUL BAARI —

465

Di samping itu, hadits ini merupakan dalil bolehnya tersenyum dalam hal-hal yang menakjubkan. Adapun pembahasan mengenai sabda beliau, "Lalu dengan sebab apa anaknya memiliki kemiripan dengannya" akan diterangkan pada pembahasan mengenai awal mula penciptaan, insya Allah,

23. Keringat Orang yang Junub dan Seorang Muslim Tidak Najis

283. Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW berjumpa dengannya di sebuah jalan Madinah dan dia (Abu Hurairah) dalam keadaan junub, (Ia berkata), "Maka aku menghindar lalu pergi dan mandi, kemudian datang (menemui Rasulullah). Maka beliau bertanya, "Kemana kamu tadi wahai Abu Hurairah?" Abu Hurairah menjawab, "Aku dalam keadaan junub, maka aku tidak mau duduk bersama anda sedang aku tidak dalam keadaan suci." Maka Rasulullah SAW bersabda, "Maha suci Allah, orang Islam itu tidak najis."

Ketarangan Hadits: (Keringat orang yang junub, dan seorang muslim tidak najis). Imam bukhari seolah memberi isyarat mengenai perbedaan pendapat tentang keringat orang kafir. Ada yang mengatakan bahwa keringatnya najis karena tubuhnya adalah najis, sebagaimana yang akan diterangkan.

466

FATHUL BAARI

Pada judul bab di atas terdapat kata-kata yang tidak disebutkan secara tekstual, yang mana kalimat yang seharusnya adalah "Penjelasan mengenai hukum keringat orang yang junub. Jika orang Islam tidak najis, maka keringatnya juga tidak najis." Kemudian dapat dipahami dari ungkapan tersebut, bahwa orang kafir adalah najis dan keringatnya juga najis. c. Qazzaz (Maka aku menghindar) Demikianlah lafazh yang terdapat

dalam riwayat Al Kasymihani dan Hamawi serta Karimah. Sementara A! berkata, "Dalam salah satu jalur periwayatan hadits tersebut 'c—(maka aku memperdaya), tapi ini tidak tepat. seperti di atas." tercantum lafazh

Bahkan yang benar adalah lafazh,

Sebagian mengatakan bahwa makna c. °.;>Jli adalah pergi secara sembunyi-sembunyi, dan ini dikuatkan oleh riwayat lain yang berbunyi c i i - J l s (maka aku beranjak dengan perlahan). Ibnu Baththal berkata, "Telah dinukil riwayat dengan lafazh

'c—L~i?uli yakni seperti lafazh terdahulu. Pada riwayat Ibnu Sakan dinukil dengan lafazh, c SWT, I'JIL* £}t

lS<2\i. Mungkin lafazh ini diambil dari firman Allah
c-Lr-jli (Maka bersemburanlah dari padanya dua

belas mata air), yakni mata air itu mengalir dan menyembur dengan cepat. Lafazh seperti ini dinukil pula dalam riwayat Al Ashili, Abu

Waqi' dan Ibnu Asakir. Sementara dalam riwayat Al Mustamli disebutkan, cJLJ-iSis (aku yakin jika seraya tubuhku najis). Akan tetapi Al Qazzaz mengingkari lafazh ini bahwa asal lafazh tersebut adalah J—yang mengatakan

memiliki makna kurang, yakni ia merasa rendah diri untuk duduk bersama Nabi SAW disebabkan dirinya sedang junub. Telah disebutkan dalam riwayat Imam Tirmidzi, sama seperti

riwayat Ibnu Sakan, "Arti dari kata c-l~s?J^ adalah aku menjauh darinya, dan tidak ada riwayat yang kuat yang sampai kepadaku selain yang telah disebutkan di atas. Sementara yang pertama lebih mendekati kebenaran, kemudian pendapat yang terakhir ini."

FATHUL BAARI —

467

j

j

l

(Sesungguhnya

seorang

mukmin

tidak najis)

Sebagian pengikut madzhab Zhahiriyah berpegang dengan makna implisit (mafhum) hadits ini, untuk menyatakan bahwa tubuh orang kafir adalah najis. Mereka menguatkan pandangan tersebut dengan firman Allah, fj^u <j£yi-Ji 01 (Sesungguhnya orang musyrik adalah najis). Golongan mayoritas (jumhur) menjawab argumentasi ahli zhahir dengan mengatakan bahwa maksud hadits adalah orang-orang muslim anggota tubuhnya suci karena kebiasaan mereka memelihara diri dari najis. Berbeda dengan orang-orang musyrik yang tidak menjaga dirinya dari najis. Adapun maksud ayat tersebut adalah, orang musyrik najis dalam hal keyakinan dan juga menjijikkan. Jumhur ulama berasalan bahwa Allah telah menghalalkan untuk menikahi wanita Ahli Kitab, dan orang yang melakukan hubungan intim dengannya tidak akan dapat menghindari keringatnya (ahli kitab). Walaupun demikian, Allah SWT tidak mewajibkan mandi bagi mereka yang selesai bersenggama dengan wanita kitabiyah, kecuali seperti apa yang diwajibkan kepada wanita muslimah. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh manusia yang hidup tidak najis, karena tidak ada perbedaan antara wanita dan laki-laki. Sementara Imam Al Qurthubi melakukan suatu kejanggalan, dimana pada pembahasan tentang "jenazah" dalam Syarah Muslim dia menisbatkan pendapat yang menggolongkan bahwa orang kafir adalah najis kepada madzhab Imam Syafi'i. Masalah ini akan dibahas secara tersendiri dalam pembahasan Al Jana 'iz (jenazah), insya Allah. Pada hadits ini terdapat dalil disunahkannya bersuci ketika melakukan hal-hal yang mulia, dan sunah memuliakan orang yang mempunyai keutamaan dengan menghormati dan mendampinginya sebaik mungkin. Sebab perginya Abu Hurairah adalah, bahwa Nabi SAW jika bertemu dengan salah seorang sahabat beliau menyentuh dan mendoakannya. Demikian yang diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Ibnu Hibban dari hadits Hudzaifah. Maka ketika Abu Hurairah mengira bahwa orang yang junub adalah najis karena hadats, ia khawatir bahwa Rasulullah akan menyentuhnya seperti biasa, maka ia bergegas pergi mandi. Hanya saja yang diingkari oleh Nabi adalah perkataannya, "Dan aku sedang tidak suci". Adapun sabda beliau SAW, "Maha suci Allah" adalah ungkapan takjub atas keyakinan Abu Hurairah yang menganggap dirinya najis karena junub. Bagaimana mungkin perkara seperti ini tidak

4 6 8 — FATHUL BAARI

diketahui oleh Abu Hurairah? Dalam hadits (juga) terdapat dalil, bahwa seseorang yang mengikuti orang lain dianjurkan untuk meminta izin orang yang diikuti jika hendak meninggalkannya. Berdasarkan sabda beliau SAW, "Dimanakah engkau?" Hal ini mengisyaratkan, bahwa seharusnya Abu Hurairah tidak meninggalkan beliau S A W sebelum memberitahu. Demikian juga disukai bagi orang yang diikuti untuk menegur pengikutnya kepada kebenaran meskipun ia (pengikut) tidak memintanya. Hadits itu juga menerangkan bolehnya mengakhirkan mandi wajib. Ibnu Hiban menyebutkan hal itu dalam satu bab tersendiri dalam kitabnya, sebagai bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa orang yang junub dan berniat mandi wajib, lalu air bekas mandi wajibnya itu jatuh ke dalam sumur maka airnya menjadi najis. Imam Bukhari berdalil dengan hadits ini bahwa keringat orang yang junub hukumnya suci, sebab badannya tidak menjadi najis dengan junub. Demikian juga dengan apa yang mengalir dari badannya seperti keringat dan susu. Dalil bolehnya seorang yang junub melakukan aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhannya sebelum mandi, maka Imam Bukhari berkata:

24. Orang yang Junub Keluar dan Berjalan di Pasar atau (tempat) Lainnya

°ii

i'

f

a

' * ' ' ° i f * ' f ' t

t Jl

0

f

o

^ '

"

"

Atha' berkata, "Orang yang junub boleh berbekam, memotong kuku, dan mencukur rambut meski belum berwudhu."

Jal jlfT 0 A1)1 J j j ! ^ J b - diiC.'J>J J l jl a-slii Jff— i
/ 0 / ^ |
„ z i ' d i
0

111

t '

l '

FATHUL BAARI — 4 6 9

284. Dari Qatadah, sesungguhnya Anas bin Malik memberitahu mereka bahwa Nabi Allah mendatangi (menggauli) istri-istrinya dalam satu malam, dan ketika itu beliau mempunyai sembilan istri.

Keterangan Hadits: *l—la* Jl—s j (dan Atha ' berkata) Penggalan riwayat dari Atha' ini

disebutkan secara lengkap beserta jalur periwayatanya oleh AbdurRazzaq dari Ibnu Juraij dari Atha", lalu ditambahkan, "Dan mengecat". Barangkali pekerjaan inilah yang dimaksud dalam ucapannya, "dan selainnya". ^—(3i 01 (Bahwasanya Nabi), dalam riwayat Al Ashili dan Karimah
s
s s »

disebutkan dengan lafazh, j»JLij fli*

JL* *lh

*

*

s

* i

01 (Bahwasanya Nabi

Allah SAW). Hadits ini telah dibahas pada bab "Apabila seseorang selesai menggauli istrinya lalu ia mengulanginya. " A d a p u n disebutkannya kembali hadits tersebut dalam bab ini adalah untuk mendukung perkataan beliau dalam judul bab, "dan selainnya. " Sebab kamar istriistri Nabi jaraknya saling berdekatan, sehingga beliau S A W perlu berjalan kaki untuk keluar dari kamar yang satu dan masuk ke kamar yang lainnya. Dengan demikian, maksud disebutkannya riwayat dari Atha' adalah menjelaskan bolehnya orang yang junub menyibukkan diri tanpa harus mandi terlebih dahulu. Pendapat Atha' berbeda dengan pendapat yang lainnya, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Al Hasan Al Bashri dan lainnya. Mereka berpendapat bahwa orang yang junub dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas. Hadits Anas dalam bab ini menguatkan pendapat Atha', karena dalam hadits tersebut tidak disebutkan bahwa Rasululaah SAW berwudhu sebelum melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Seakan-akan Imam Bukhari menyebutkan hadits Anas sebagai penguat perkataan Atha' dan bukan untuk dijadikan dalil tersendiri dalam masalah ini.

4 7 0 — FATHUL BAARI

285. Dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah, ia berkata, 'Rasulullah bertemu denganku, sedang aku dalam keadaan junub. Lalu beliau mengambil tanganku, dan aku pun berjalan bersama beliau sampai beliau duduk (di tempatnya), lalu aku pergi diam-diam ke tempatku kemudian mandi, setelah itu kembali mendatangi beliau yang sedang duduk. Beliau bertanya, 'Di mana engkau tadi wahai Abu Hurairah?' Aku pun mengatakan kepadanya, lalu beliau berkata, 'Subhanallah (Maha Suci Allah), wahai Abu Hurairah, sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis."''

25. Orang Junub yang Berdiam Di Rumah Jika Berwudhu Sebelum Mandi (Wajib)
* '
s'

* ~° '

J%

*

>l.

,

s'

s'

-*-f

s' s'

s-

s'

J

0 s'

.'^

s'

s'

s*

S

s'

s'

s'

f °

'

286. Dari Abu Salamah ia berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah, adakah Rasulullah tidur dalam keadaan junub? Aisyah berkata, 'Ya, dan beliau berwudhu.'"

FATHUL BAARI —

471

Keterangan Hadits: Dikatakan bahwa Imam Bukhari mengisyaratkan dengan judul bab ini akan lemahnya apa yang diriwayatkan dari Ali dari Nabi SAW yang
i- s
' '
es

f

i

s i

-

o*

berbunyi, L — I V V j »J'J^> 1j LiS' *J l-y' J ^ - ^ l d\ (Sesungguhnya malaikat tidak memasuki rumah yang ada anjing, gambar dan orang yang junub). Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan lainnya. Namun dalam jalur periwayatannya terdapat seorang yang bernama Nujja Al Hadhrami, dimana tidak ada orang yang meriwayatkan darinya selain anaknya, yaitu Abdullah, sementara ia adalah seorang perawi yang tidak dikenal (majhul). Tetapi Al Ajali menganggapnya sebagai perawi yang tsiqah (dipercaya), begitu juga Ibnu Hibban dan Al Hakim yang telah mensahihkan haditsnya. Kemungkinan orang yang dimaksud dengan orang yang junub dalam hadits Ali, adalah orang yang meremehkan urusan mandi dan suka meninggalkannya, bukan orang yang mengakhirkannya sebagaimana dikatakan oleh Al Khaththabi. Dia berkata pula, "Pandangan ini dikuatkan oleh makna hadits sebelumnya, dimana yang dimaksudkan dengan anjing dalam hadits ini adalah anjing yang terlarang untuk dipelihara, sedangkan yang dimaksud dengan gambar adalah gambar sesuatu yang bernyawa dan apa yang diagungkan. An-Nawawi berkata, "Pengertian anjing yang ia (Al Khaththabi) kemukakan sehubungan dengan hadits ini perlu ditinjau kembali." Ada pula kemungkinan yang dimaksud orang yang junub dalam hadits Ali adalah orang yang hadatsnya belum terangkat sedikitpun (belum berwudhu). Dengan demikian tidak ada pertentangan antara hadits Ali dan hadits bab ini karena jika orang yang junub berwudhu, maka sebagian hadatsnya terangkat sebagaimana yang akan dijelaskan. ( j»—« c i l — i (Aisyah berkata, "Ya, dan beliau wudhu),

maksudnya beliau tidur dan wudhu. Namun kata sambung waw tidak berkonotasi bahwa pekerjaan tersebut dilakukan secara berurutan, maka makna yang sebenarnya adalah beliau berwudhu kemudian tidur. Dalam riwayat Muslim dari Az-Zuhri dari Abu Salamah disebutkan dengan lafazh, 5">CaiJ w>jJ <L--r y>j f £ 01 i\J lij OlT (Biasanya Nabi

jika hendak tidur sedang beliau junub, beliau berwudhu seperti wudhu ketika hendak shalat). Imam Bukhari juga menukil riwayat seperti itu

4 7 2 — FATHUL BAARI

pada bab setelah ini dari riwayat Urwah dari Aisyah dengan tambahan, £_L-Ji J_~£ (mencuci kemaluan). Abu Nu'aim dalam kitab Al Mustakhraj" dari Abu N u ' a i m - s a l a h satu guru Imam Bukhari-menambahkan lafazh, Vj\—LaU is.ji?j Csjiij (dan beliau berwudhu seperti wudhu hendak shalat), seperti disebutkan pada hadits di bagian akhir bab ini. lalu Al Ismaili dari jalur yang lain dari Hisyam menukil seperti itu. Semua ini merupakan bantahan terhadap mereka yang mengartikan wudhu di sini dengan arti sekedar membersihkan badan.

26. Tidurnya Orang yang Junub

l_J-b-? Ss y\ iHl AUI J J
* ' * ' o t° A'
J ^ J

Jli- c-jlkidl j> Js0

jf Js'

jA

J& yAj

y* ' F F S

^ ^ i ' i

0

' '

11

jAi

-_S Jb~l

W 3 y

B |

^ju

- o* *' ' * '
1

J L S

287. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Umar bin Khaththab bertanya kepada Rasulullah, 'Apakah salah seorang dari kami (boleh) tidur dalam keadaan junub? " Beliau berkata, "Ya, jika ia telah berwudhu, maka hendaklah ia tidur (meski) dalam keadaan junub"

Ketarangan Hadits: Jl—> olk^Jt J 'ys- ol (Bahwasanya Umar Bin Khaththab bertanya)

Secara lahiriah Ibnu Umar hadir pada saat umar bertanya kepada Rasulullah, oleh sebab itu hadits ini masuk dalam deretan riwayat beliau. Yang masyhur meriwayatkannya dari beliau adalah Nafi'. Diriwayatkan dari Ayub dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Umar bahwa ia berkata, "Wahai Rasulullah". (HR. An-Nasa'i) Berdasarkan hal ini, maka hadits di atas masuk dalam deretan riwayat Umar, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari jalur Yahya Al Qaththan dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Umar. Namun perbedaan ini tidak berpengaruh pada

FATHUL BAARI — 4 7 3

keshahihan hadits yang dimaksud. Adapun kesesuaian hadits dengan judul bab dapat dilihat dari sisi; apabila seorang yang junub boleh tidur di rumah, maka boleh juga tinggal di dalamnya meski tidak tidur, karena dua hal tersebut tidak berbeda. Atau dapat juga dikatakan bahwa tidurnya orang yang junub berkonsekuensi terhadap bolehnya orang yang terjaga untuk menetap di rumah meski dalam keadaan junub, sebab orang yang tidur dalam keadaan junub pasti pernah terjaga, minimal saat ia berwudhu sebelum tidur. Tidak ada perbedaan dalam masalah ini. Bab tentang tidurnya orang yang junub hanya ada dalam naskah Karimah dan tidak ditemukan pada naskah-naskah yang lain. Adapun selain naskah Karimah, hadits Ibnu Umar ini disebutkan langsung setelah bab sesudahnya, yaitu bab "Orang junub berwudhu kemudian tidur".

27. Orang yang Junub Berwudhu lalu Tidur

s

j

ss

*-

>

^

i'ilii
LS

j ,

O

s

s

O s

0 J'

O s

j

a>j ^>UJ j l :>!j! 131 J J I JJ\ JG

jli

: c J l i «LSUIP

ejy<

jf-

. 0 *j\ ./?11 Utf JJ J 4j>r j i

'•*">?

288. Diriwayatkan dari Urwah dari Aisyah ia berkata, "Biasanya Nabi SAW jika mau tidur sedang ia dalam keadaan junub, maka beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu seperti wudhu hendak shalat"

Keterangan Hadits: 5^—LAU L_t& j ; j (Seperti wudhu hendak shalat), artinya berwudhu

sebagaimana wudhu yang dilakukan oleh seseorang yang akan malaksanakan shalat, bukan berarti ia berwudhu karena hendak mengerjakan shalat. Hanya saja yang dimaksud adalah wudhu dalam pengertian syariat bukan ditinjau dari segi bahasa.

4 7 4 — FATHUL BAARI

289. Diriwayatkan dari Nafi dari Abdullah ia berkata, "Umar meminta fatwa kepada Nabi SA W, 'Apakah salah seorang dari kami (boleh) tidur dalam keadaan junub?' Maka beliau bersabda, 'Ya, jika ia telah berwudhu. "'

Keterangan Hadits:
ilp'y

lil

JlS (Maka beliau bersabda,

'Ya, jika telah berwudhu.

')

Dalam riwayat Muslim dari jalur Ibnu Juraij dari Nafi' disebutkan, (Hendaklah ia berwudhu kemudian tidur).

4
I

Ul Jyy J t-yUa^Jl J y\s- yTi : J l i ifl jJ> y <dll JuP Jf% y
:

JiH A

Ul J yy

j

AJ

J U* jlUl JA

AjllssJl
^ > y s

4JI
O O

^
l

290. Dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, "Umar Bin Khaththab menyebutkan kepada Rasulullah bahwa ia mengalami junub pada malam hari, maka Rasulullah bersabda kepadanya, 'Berwudhulah, cucilah kemaluanmu dan tidurlah'."

Keterangan Hadits: »-jl—i*^' J', 'j** (Umar bin Khaththab menyebutkan), Lafazh ini

berkonsekuensi bahwa hadits yang dimaksud masuk dalam kategori riwayat Ibnu Umar sebagaimana yang ada pada kebanyakan perawi. Namun Abu Nuh meriwayatkan dari Malik seraya menambahkan dalam

FATHUL BAARI —

475

riwayat tersebut lafazh, "dari Umar". An-Nasa'i telah menerangkan sebabnya dalam riwayatnya dari jalur Ibnu Aun dari Nafi', ia berkata, "Ibnu Umar sedang junub lalu ia datang kepada Umar dan mengatakannya. Lalu Umar datang kepada Rasulullah dan bertanya. Maka beliau bersabda, 'Hendaklah ia berwudhu dan tidur'." Berdasarkan keterangan ini, maka maksud kata ganti pada lafazh "Bahwa ia mengalami j u n u b " adalah Ibnu Umar dan bukan Umar. Sedangkan sabda beliau, "Berwudhulah" ada kemungkinan Ibnu Umar ada di sana lalu pembicaraan diajukan langsung kepadanya. i*j—J—Pij U>jJ (Berwudhulah dan cucilah kemaluanmu). Dalam

riwayat Abi Nuh disebutkan, j«—' * — J l—i>jJ *—5 i3j—$"i J—*i (Cucilah kemaluanmu, kemudian berwudhu lalu tidurlah). Lafazh ini merupakan bantahan bagi mereka yang memahami hadits bab ini secara lahiriah saja, yaitu bolehnya mendahulukan wudhu daripada mencuci kemaluan karena maksud wudhu bukan untuk mengangkat hadats tetapi semata bernilai ibadah. Karena junub itu lebih berat dari sekedar menyentuh kemaluan, dan dengan berdasarkan riwayat Abu Nuh jelaslah bahwa mencuci kemaluan lebih didahulukan daripada wudhu. Namun boleh diakhirkan dengan tidak menyentuh kemaluan menurut yang berpendapat bahwa menyentuhnya membatalkan wudhu. Ibnu Daqiq Al 'Id berkata, "Teks hadits ini ada yang berupa perintah dan ada yang berupa syarat. Hal ini menjadi pegangan bagi orang yang mewajibkan perbuatan tersebut." Sementara Ibnu Abdil Barr berkata, "Jumhur ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah sunah. Sementara pengikut madzhab zhahiriyah mengatakan wajib, namun pandangan ini dianggap ganjil." Ibnu Al Arabi berkata, "Imam Malik dan Imam Syafi'i berkata, "Bagi orang yang junub tidak boleh tidur sebelum berwudhu." Namun sebagian generasi belakangan mengingkari penukilan ini. Mereka berkata bahwa Imam Syafi'i tidak mengatakannya wajib, dan tidak seorang pun sahabatnya yang mengetahuinya. Tetapi perkataan Ibnu Al Arabi bisa diartikan bahwa maksudnya adalah menafikan hukum mubah, bukan untuk menetapkan hukum wajib. Atau wajib di sini adalah wajib sunah, artinya sunah muakkad (yang sangat dianjurkan). Hal itu karena Ibnu Arabi menempatkan pandangan ini sebagai lawan pendapat Ibnu Habib yang mengatakan bahwa hukumnya adalah wajib, yakni wajib dalam

4 7 6 — FATHUL BAARI

artian fardhu. Istilah seperti ini banyak kita temukan dalam madzhab Maliki. Selanjutnya Ibnu Arabi mengisyaratkan dukungannya terhadap pendapat Ibnu Habib, sedangkan Abu Awanah dalam Shahih-nya menempatkan hal ini dalam satu bab khusus, yaitu bab wajib berwudhu bagi yang berjunub jika ingin tidur. Kemudian ia dan Ibnu Khuzaimah berdalil bahwa hukumnya tidak wajib berdasarkan hadits Ibnu Abbas dari Nabi SAW, "Hanya saja aku disuruh berwudhu jika mau melakukan shalat". Hadits ini telah disebutkan dalam bab "Jika bersetubuh kemudian mengulanginya." Akan tetapi Ibnu Rusyd Al Maliki mengkritik tajam cara penetapan hukum dari hadits ini, dan apa yang beliau katakan cukup jelas. Imam Ath-Thahawi menukil dari Abu Yusuf yang berpandangan bahwa perbuatan tersebut tidak termasuk sunah. Dalam hal itu beliau berpegang kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ishaq dari Al Aswad dari Aisyah RA, "Rasulullah junub lalu tidur dan tidak menyentuh air." Riwayat ini dikutip oleh Abu Daud dan ahli hadits lainnya. Akan tetapi pandangan ini dikoreksi dengan mengatakan bahwa para penghafal (hadits) berkata, "Sungguh Ibnu Ishaq telah mengalami kekeliruan dalam hal ini." Jika dikatakan ia tidak keliru, maka riwayatnya dapat diartikan bahwa beliau SAW sengaja meninggalkan wudhu untuk menjelaskan bahwa hal tersebut boleh (ditinggalkan) supaya tidak diyakini sebagai suatu yang wajib, atau perkataannya "Tidak menyentuh air" ditafsirkan bahwa beliau tidak menyentuh air untuk mandi. Ath-Thahawi cenderung mengartikan wudhu dalam hadits ini, yaitu membersihkan (menurut bahasa). Dia beralasan bahwa Ibnu Umar sebagai pelaku kisah ini berwudhu dalam keadaan junub dan tidak mencuci kakinya sebagaimana diriwayatkan Imam Malik dalam kitab Al Muwaththa dari Nafi'. Akan tetapi pendapat beliau dijawab dengan mengatakan, bahwa pengertian wudhu telah dikaitkan dengan shalat dalam riwayat dari Nafi' dan Aisyah seperti yang telah dikemukakan, dan inilah yang dijadikan pegangan. Bisa jadi Umar tidak membasuh kakinya karena ada udzur. Jumhur ulama berpendapat, "Wudhu di sini adalah wudhu secara syar'i. Adapun hikmahnya adalah meringankan hadats apalagi berdasarkan pendapat atau madzhab yang membolehkan mandi secara terpisahpisah. Sehingga, seseorang yang berniat mandi saat berwudhu akan

FATHUL BAARI —

477

mengangkat hadats dari anggota wudhu berdasarkan pendapat yang shahih." Keterangan ini dikuatkan pula oleh riwayat Ibnu Abi Syaibah yang dinukil oleh orang-orang tsiqah dari Syaddad bin Aus. Ia berkata, "Jika seseorang di antara kalian junub pada waktu malam kemudian ingin tidur hendaklah ia berwudhu, sesungguhnya berwudhu itu setengah mandi junub." Ada pula yang berpendapat, bahwa hikmahnya adalah karena wudhu merupakan salah satu bentuk dari dua thaharah yang dapat digantikan dengan tayamum. Al Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad hasan dari Aisyah bahwa Nabi SAW jika sedang junub dan ingin tidur, maka beliau wudhu atau tayamum. Kemungkinan tayamum di sini adalah ketika sulit mendapatkan air. Ada yang mengatakan hikmahnya (wudhu) di sini adalah membangkitkan gairah untuk mengulang_/Yma' atau mendorong untuk mandi. Ibnu Daqiq Al 'Id berkata, "Imam Syafi'i menetapkan bahwa perbuatan demikian tidak berlaku bagi wanita yang sedang haid. Sebab jika ia mandi (sebelum haidnya berhenti) hadatsnya tidak terangkat, berbeda dengan orang yang junub. Tetapi jika haidnya berhenti, maka hal itu dianjurkan." Dari hadits ini kita dapat mengambil pelajaran diantaranya; 1. 2. 3. Tidak harus menyegerakan mandi wajib, hanya saja hal itu akan menyulitkan ketika ingin melaksanakan shalat. Anjuran untuk membersihkan diri ketika hendak tidur. Ibnu Al Jauzi berkata, "Hikmah dari itu semua adalah, karena malaikat akan menjauh dari sesuatu yang kotor dan bau yang tidak enak. Lain halnya dengan syetan yang akan mendekati sesuatu yang kotor dan bau yang tidak enak, wallahu a lam."

28. Bertemunya Dua Khitan

{

^ [jli Ir^r bj Jli S y I

5 ^ J\°Jc>0\j J 'J.

4 7 8 — FATHUL BAARI

2 9 1 . Dari Abu Rafi dari Abu Hurairah dari Nabi SAW beliau berkata, "Jika seseorang duduk di antara kedua paha (istrinya) kemudian mengarahkan semua kemampuan kepadanya (jima'), maka wajib mandi:''

Keterangan Hadits: (Bertemunya dua khitan). Maksud dua khitan di sini adalah kemaluan laki-laki dan kemaluan perempuan. Khitan adalah memotong kulit yang menutup ujung kemaluan laki-laki dan memotong daging tipis di atas fagina wanita yang menyerupai jengger ayam. [r-^r 'i! (Jika ia telah duduk) Kata ganti yang terdapat pada kalimat J^-r (dia mengerahkan kemampuannya), adalah kata ganti untuk orang ke tiga laki-laki. Kata ganti pada kata i f c * — d a n kata adalah untuk

wanita. Pemakaian kata tersebut secara jelas ada pada riwayat Ibnu Al Mundzir dari sanad yang lain dari Abu Hurairah. Ia berkata, Jr'J l^-i—i>
J__J

\f~* 'i)

&\'y\\ {Jika seorang

laki-laki menggauli

istrinya dan telah

duduk di antara bagian tubuhnya). (Al Hadits) Kata v * -> adalah bentuk plural dari kata artinya bagian dari

sesuatu. Maksudnya -menurut sebagaian pendapat- adalah kedua tangannya dan kedua kakinya, kedua kakinya dan kedua pahanya, atau kedua betis dan pahanya, atau kedua paha dan iskah-nya. Yang lain mengatakan kedua paha dan kedua syafrahnya, atau bagian tubuh yang lain. Al Azhari berkata, bahwa Iskah adalah bibir kemaluan dan syafrah adalah tepi bibir kemaluan. Al Qadhi Iyadh menguatkan pendapat yang terakhir, sedang Ibnu Daqiq Al 'Id memilih yang pertama, karena lebih dekat dengan pengertian duduk. Ungkapan di atas merupakan kiasan halus dari bersenggama. J^J (Kemudian itu). Jahada-ajhada mengerahkan kemampuannya terhadap wanita

berarti mencapai tingkat paling berat. Ada yang

mengatakan bahwa artinya adalah bekerja keras dengan menggerakannya, atau memforsir usahanya dalam melakukan hubungan intim.

FATHUL BAARI —

479

Dalam riwayat Muslim dari jalur Syu'bah dari Qatadah dengan lafazh, lafazh, —Sri j»i (Kemudian
ol

ia bersungguh-sungguh

hingga

kepayahan).

Abu Daud meriwayatkan dari Syu'bah dan Hisyam
=*j"b o L ^ J t

sekaligus dengan

Hj "Jika ia melekatkan khitan ke khitan merupakan kiasan memeriwayatkan dari

(perempuan)." Ini menunjukkan bahwa jahada

masukkan kemaluan ke dalam vagina. Al Baihaqi
f a y

Ibnu Abi Urwah dari Qatadah dengan lafazh yang ringkas, ob'l%Ji ^ i lil
yy

J—°~JA\ L

srj

(Jika telah bertemu dua khitan maka wajib mandi). Ini

sesuai dengan judul bab, seolah-olah penulis (Al Bukhari) memberi isyarat pada riwayat ini sebagaimana kebiasaannya membuat bab sesuai dengan salah satu lafazh riwayat hadits dalam bab tersebut. Diriwayatkan juga dengan lafazh ini dari Aisyah seperti disebutkan oleh Imam Syafi'i melalui Said bin Musayyab darinya (Aisyah). Di dalam sanadnya ada Ali bin Zaid, seorang perawi yang lemah. Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits ini dari Al Qasim bin Muhammad dari Aisyah, dimana semua sanadnya adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al Asy'ari dari Aisyah dengan lafazh, ol =?Ji ob>Jl j^J»j (Dan khitan telah menyentuh khitan). oleh Maksud menyentuh di sini adalah bertemu, seperti diindikasikan At-Tirmidzi dengan lafazh, jjl k lil (Apabila telah

riwayat

melampaui batas (masuk ke dalam))'" Menyentuh dalam hal ini tidak dapat dipahami secara hakikat "sentuhan", karena kita tidak dapat mengatakan "sentuhan" jika kepala kemaluan laki-laki masuk ke dalam kemaluan perempuan. Apabila terjadi sentuhan saja antara kemaluan lakilaki dan perempuan tanpa memasukkan kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan, maka menurut konsensus ulama (ijma') tidak wajib mandi. Imam An-Nawawi mengatakan, "Pengertian hadits dia atas adalah, bahwa wajibnya mandi tidak harus dengan keluarnya mani." Pendapat ini dikritik, karena bisa jadi yang dimaksud dengan kata jahada adalah mengeluarkan mani sebab itulah yang menjadi klimaks dalam bersenggama. Namun hal ini dapat dijawab, bahwa dalil yang mengatakan wajib mandi meskipun tidak keluar mani telah disebutkan dengan jelas pada sebagian riwayat, maka kemungkinan yang dikatakan di atas menjadi hilang dan tidak dapat diterima. Dalam riwayat Muslim dari jalur

4 8 0 — FATHUL BAARI

Mathar Al Warraq dari Al Hasan pada akhir hadits ini disebutkan, jJ Ojj J J 1 _ J (Meskipun Qatadah yang tidak mengeluarkan diriwayatkan oleh mani). Demikian juga dalam riwayat Abu Khaitsumah dalam (kitab)

tarikhnya dari Affan, ia berkata, "Hamam dan Aban berkata kepada kami, "Qatadah berkata kepada kami dengan hadits ini dan menambahkan, Jj5i Jji—J j, S ji (mengeluarkan mani atau tidak) begitu juga Ad-Daruquthni

meriwayatkan dan mensahihkannya dari Ali bin Sahal dan Affan, dan seperti itu juga Abu Daud Ath-Thayalisi menyebutkan dari Hammad bin Salamah dari Qatadah.

29. Mencuci Apa yang Menyentuh Kemaluan Wanita

y
"
0

&
- f

y

%
""O

y
f . "

s ' ' <>

s , y

$

s

s
- '

s
t" 'f

y "°

yy \
"° "

y

y

'

9

• f

11 -

y

yy y

y

y y

y

5>

y

O

yy

'

-*

'

s

0

li} c-

JI

j l : Jl

ei

jUp

j L - i p J L-

AJI

o jpt-\

j4=*-h

JuU>-

^

Oy

y

#

JL

t

}

^

y

y

}

y

s

%

"

*

y

O

' y

*'

'

'

^

Q

y Oy£

'

'

£

y

0

£>

y

y

'

J' - ^ ' j ^
' ' *

y y

^
o <

'

y

L S ^ j' %

^

y \\~

^A - >- ^ 'JS
li i 5> i
*f i-f . f

'

y \\ ' 1

*

'

yy f *

S>
0

^

y

*y

°"'

ITI

O

<s*"->
} i t .-

*•
Si s i
o •»

cf- y J
i i
-'f

O *< *

i i

11°

i

11'

f

" *

i.

'

»

-

. f _ ' | '

^

AUI J J ^ - J ^ iiJi

292. Faftya berkata, "Abu Salamah bercerita kepadaku bahwa Atha' bin Yasar mengatakan Zaid bin Khalid Al Juhani mem-

FATHUL BAARI —

481

beritahukan kepadanya bahwa ia bertanya kepada Utsman bin Affan, 'Apa pendapatmu jika seseorang menggauli istrinya dan tidak (sampai) mengeluarkan mani?' Utsman berkata, 'Ia berwudhu seperti wudhu untuk shalat dan mencuci kemaluannya. " Utsman berkata, "Aku mendengarnya dari Rasulullah SA W. " Maka aku menanya-kannya kepada Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair bin Al Awwam, Thalhah bin Ubaidillah dan Ubai bin Ka'ab, mereka memerintahkan melakukan hal itu. " Yahya berkata, "Abu Salamah memberitahuku bahwa Urwah bin Az-Zubair memberitahu kepadanya bahwa Abu Ayub memberitahukan bahwa ia mendengar demikian dari Rasulullah SA W."

Keterangan Hadits: (Mencuci apa yang menyentuh), maksudnya bagian badan lakilaki. (Kemaluan wanita), baik berupa cairan ataupun lainnya.
s >

ss

il—!I JJ «jy-ii {Mereka memerintahkannya kalimat berkata, kalimat menjadi

melakukan

hal itu). Dalam

ini terdapat pemalingan arah pembicaraan, sebab seharusnya ia "Maka mereka memerintahkan aku". Atau ada kemungkinan itu adalah perkataan Atha" bin Yasar, maka hukum riwayat ini mursal. —'r bj adalah

Al Karmami berkata, bahwa kata ganti kalimat

untuk orang yang menggauli istrinya. Beliau (Al Karmani) juga menegaskan bahwa yang dinukil dari Utsman dalam hal ini adalah riwayat sekaligus fatwa, sedangkan dari sahabat-sahabat lain yang disebutkan di atas hanya dinukil fatwa tanpa riwayat. Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Secara lahiriah, mereka menyuruh melakukan apa yang dikatakan Utsman, maka tidak ada keterangan tegas yang menyatakan bahwa perkataan mereka tidak bersumber dari Rasulullah SAW." Dalam riwayat Al Ismaili disebutkan, "maka mereka berkata seperti itu". Secara lahiriah menunjukkan bahwa perkataan mereka juga bersumber dari Rasulullah SAW, sebab Utsman berfatwa dan sekaligus menukil riwayat dari Nabi dalam masalah tersebut, maka kata "seperti" menunjukkan persamaan dalam segala segi. Al Isma'ili secara jelas menyebutkan, bahwa perkataan sahabat yang lain itu
s s

o

f

s -

bersumber langsung dari Nabi SAW, lafazh tersebut adalah, i U i j£? ijlli»

4 8 2 — FATHUL BAARI

—L.j

AIIP *«'

j * (Maka mereka mengatakan seperti itu dari Nabi

SAW). Al Isma'ili berkata, "Tidak ada yang berkata demikian kecuali Yahya Al Hamawi, dan ia tidak memenuhi kriteria kitab ini."
* * * * * * ' ^

4J1 {Bahwa ia dari Rasulullah SAW).

mendengarnya

Imam Ad-Daruquthni berkata, "Ini adalah dugaan saja, karena Abu Ayub hanya mendengarnya dari Ubai bin Ka'ab sebagaimana yang dikatakan oleh Hisyam bin Urwah dari ayahnya." Saya katakan, "Secara lahiriah Abu Ayyub mendengar dari keduanya, karena redaksi riwayat berbeda. Pada riwayat Hisyam dari Ubai bin K a ' a b ada kisah yang tidak (disebutkan) dari Nabi SAW." Hadits ini juga telah diriwayatkan dari sanad yang lain dari Ayub dari Nabi seperti dinukil oleh Ad-Darimi dan Ibnu Majah. Al Atsram menceritakan dari Ahmad bahwa hadits Zaid bin Khalid yang disebutkan pada bab ini mempunyai cacat, karena telah tetap fatwa dari mereka berlima yang berlawanan dengan hadits ini. Ya'qub bin Syaibah meriwayatkan dari Ali bin Al Madini, bahwa hadits ini adalah syadz (cacat). Namun pernyataan ini dapat dijawab, bahwa hadits ini kuat dilihat dari periwayatannya yang tidak terputus dan hafalan para perawinya. Ibnu Uyainah juga meriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari Atha' bin Yasar seperti riwayat Abu Salamah dari Atha' yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan yang lain, maka (hadits ini) sanadnya tidak tunggal. Adapun keberadaan mereka yang berfatwa berlawanan dengan hadits ini tidaklah mengurangi kesahihan hadits, karena adanya kemungkinan bahwa telah sampai kepada mereka (hadits lain) yang menghapus hukum hadits ini yang mereka jadikan pegangan. Memang tidak sedikit hadits shahih yang dihapus hukumnya. Jumhur ulama berpendapat, bahwa hubungan badan yang tidak mengeluarkan air mani yang cukup berwudhu saja telah dihapus dengan hadits Abu Hurairah dan Aisyah yang telah disebutkan pada bab sebelumnya. Dalil penghapusannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dari Az-Zuhri dari Sahal bin Sa'ad. Ia berkata, "Ubai bin Ka'ab berkata kepadaku bahwa fatwa yang mereka katakan, yaitu air (mandi) karena sebab air (keluarnya mani) adalah keringanan yang

F A T H U L BAARI —

483

diberikan Rasulullah pada permulaan Islam, lalu beliau memerintahkan untuk mandi setelah itu. Riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Al Isma'ili berkata, "Riwayat ini shahih memenuhi persyaratan Imam Bukhari", demikian yang beliau katakan. Seakan-akan Al Isma'ili belum menemukan kelemahannya, dimana para ahli hadits telah berbeda pendapat bahwa Az-Zuhri telah mendengarnya dari Sahal. Benar, Abu Daud dan Khuzaimah juga meriwayatkan dari Abu Hazim dari Sahal, tapi jalur periwayatan ini juga memiliki kelemahan yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim. Akan tetapi secara umum jalur periwayatan tersebut bisa dijadikan dalil dan (riwayat tersebut) jelas-jelas untuk menghapuskan hukum yang ada dalam hadits Utsman. Di samping itu, hadits yang mewajibkan mandi meskipun tidak keluar mani adalah lebih kuat daripada hadits "Air (mandi) karena sebab air (keluar mani)", karena yang pertama adalah ucapan langsung sedang hadits yang tidak mewajibkan mandi meskipun tidak keluar mani adalah hasil pemahaman (interpretasi) terhadap hadits itu. Atau kemungkinan hadits kedua ini mengandung makna tekstual, namun konteks hadits yang pertama lebih tegas. Ibnu Abi Syaibah dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas,

bahwa hadits s-tJl J «.UJl "Air (mandi) kerena air (keluar mani)" khusus untuk orang yang mimpi bersetubuh. Ini adalah penafsiran yang mengompromikan antara kedua hadits tersebut tanpa ada pertentangan.

Catatan Penting Pada perkataan beliau, *Uli j ? s-UJi "air (mandi) karena air (keluar mani)" terdapat gaya bahasa jinas tam (kesamaan yang sempurna) dalam ilmu balaghah. Maksud air yang pertama adalah "air mandi", dan air yang kedua adalah "air mani". Imam Syafi'i menyebutkan, bahwa kata "junub" dalam bahasa Arab berarti jima' (bersetubuh) meskipun tidak keluar mani. Jika dikatakan si fulan junub karena Fulanah, berarti ia telah berhubungan badan dengannya walaupun tidak sampai keluar mani. Imam syafi'i juga berkata, "Para ulama tidak berbeda pendapat bahwa zina yang mendapat hukuman adalah hubungan badan walaupun tidak mengeluarkan mani." Ibnu Arabi berkata, "Kewajiban mandi karena hubungan dan keluarnya

4 8 4 — FATHUL BAARI

mani adalah seperti kewajiban berwudhu karena menyentuh kemaluan dan buang air kecil. Keduanya berada pada sisi yang saling berhadapan, baik dari segi dalil maupun Ulat (dasar argumentasi)." Wallahu a 'lam.

293. Diriwayatkan dari Abu Ayyub, ia berkata, "Aku diberitahu oleh Ubai bin Ka'ab bahwa ia berkata, 'WahaiRasulullah, (apa hukumnya) jika seorang laki-laki menggauli istrinya dan tidak (sampai) keluar mani?' Beliau berkata. 'Hendaknya mencuci apa yang menyentuh wanita itu kemudian berwudhu dan shalat'."

Abu Abdillah berkata, "Mandi lebih hati-hati dan lebih selamat. " Demikian (keputusan) terakhir, hanya saja kami jelaskan hal ini karena perselisihan yang terjadi di antara mereka.

Keterangan Hadits: Maksud judul bab adalah, hendaklah laki-laki itu mencuci anggota tubuhnya yang menyentuh kemaluan wanita. Yang disebut di sini adalah kemaluan, tetapi yang dimaksudkan adalah bagian yang basah. Ini sebuah konsekuensi dimana yang disebutkan adalah perkara lain, namun yang dimaksud adalah konsekuensi dari perkara tersebut. j»j=j (Berwudhu) Lafazh ini jelas sekali memberi keterangan

mengakhirkan wudhu daripada mencuci kemaluan. Lalu Abdur-Razzaq

FATHUL BAARI —

485

meriwayatkan dari Ats-Tsauri dari Hisyam dengan tambahan lafazh, "Seperti wudhu untuk shalat".
^-LPJJ

(dan shalat)

hal ini sebagai dalil yang lebih jelas untuk

meninggalkan mandi dibanding keterangan pada hadits sebelumnya. *—U' J £ y) Jli (Abu Abdillah berkata) Maksudnya adalah Imam

Bukhari, dan yang menukil perkataan itu adalah perawi yang meriwayatkan darinya. ie>'fj>-\ Jl~«Ji (Mandi lebih hati-hati serta lebih selamat). Maksudnya

jika dalil yang menafikan bolehnya berwudhu bagi mereka yang berhubungan intim dan tidak mengelurkan mani dianggap tidak kuat dan tidak bisa juga menentukan mana yang lebih kuat dari kedua riwayat tersebut, maka sebagai sikap yang lebih hati-hati adalah mandi. j—f-V' (Yang terakhir) Yakni keputusan akhir dari pembuat syariat, atau keputusan akhir ijtihad para imam. Ibnu At-Tin mengatakan bahwa lafazh tersebut adalah 'y>-^ (yang lain) dengan harakat fathah pada huruf ha\ l ^ — j ^ ? l _ £ UJ'! (Hanya saja kami terangkan karena yang terjadi di antara perselisihan

mereka) Dalam riwayat Karimah disebutkan, Uli

l^_WssM l£j (Hanya saja kami terangkan perselisihan yang terjadi di antara mereka). Dalam riwayat Al Ashili disebutkan, '^y^-H kami menerangkan meraka). hal ini karena perselisihan yang abt!i lil (Hanya saja

terjadi di antara Uy' UJI karena lebih

Sementara dalam naskah Ash-Shaghani, )—siJasJi

^—aJl tUJlj tjL$3*Ap-)! (Hanya saja kami terangkan hadits yang lain perselisihan bersih). yang terjadi di antara mereka dan air (mandi) adalah

Ibnu Arabi mengkritik perkataan Imam Bukhari, ia berkata, "Kewajiban mandi telah ditetapkan dan dipraktekkan oleh para sahabat dan generasi setelah mereka, dan tidak ada yang menyalahinya kecuali Daud. Apa yang dilakukan Daud ini tidak dapat dijadikan landasan (dalam menentukan hukum). Namun yang sulit lagi adalah pendapat

4 8 6 — FATHUL BAARI

Imam Bukhari dan fatwa hukumnya yang mengatakan bahwa hukum mandi tersebut adalah sunah, padahal dia adalah salah satu imam dalam agama dan ulama kaum muslimin." Lalu ia (Ibnu Arabi) mulai melemahkan hadits dalam bab ini dengan pernyataan-pernyataan yang tidak dapat diterima. Ia berkata, "Mungkin maksud Imam Bukhari dengan perkataan beliau, 'Mandi lebih hati-hati serta lebih selamat' adalah dalam agama." Ia juga berkata, "Ini mirip dengan masalah kepemimpinan seseorang dan ilmunya." Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Ini adalah cara yang biasa dilakukan Imam Bukhari, dia tidak memberi judul hadits ini tentang bolehnya meninggalkan mandi wajib, tapi hanya memberi judul dengan sebagian faidah yang ada dalam hadits seperti wajibnya wudhu sebagaimana yang telah disebutkan. Adapun pengingkaran terhadap perselisihan yang terjadi seperti yang dilakukan Ibnul Arabi adalah tindakan yang berlawanan, karena perselisihan tersebut telah dikenal di kalangan sahabat. Tetapi Ibnu Al Qishar mengklaim bahwa perselisihan tersebut telah selesai pada masa tabi'in, dan ini juga merupakan pendapat yang berlawanan dengan kenyataan." Al Khaththabi berkata, "Sekelompok sahabat telah berkata demikian (mandi tidak wajib jika tidak keluar mani)." Lalu ia (Al Khaththabi) menyebut sebagian nama-nama mereka dan berkata, "Dari generasi tabi'in adalah Al A'masy dan Iyadh mengikutinya." Ia melanjutkan, "Tidak seorang pun setelah sahabat berkata (demikian) selain dia." Pernyataan terakhir Al Khaththabi juga menyalahi kenyataan, karena telah diriwayatkan secara akurat bahwa Abu Salamah berpandangan demikian. Sebagaimana terdapat dalam Sunan Abu Daud melalui jalur periwayatan yang shahih. Dinukil pula dari Hisyam bin Urwah seperti dalam riwayat Abdurrazzaq. Demikian pula Abdurrazzaq meriwayatkan dari Juraij dari Atha' bahwa ia berkata, "Diriku tidak tenang jika tidak keluar mani dalam bersetubuh hingga aku mandi. Karena perbedaan pendapat yang ada, oleh sebab itu kami mengambil pandangan yang lebih kuat." Imam Syafi'i
0

berkata dalam kitab Ikhtilaf Al Hadits, bahwa hadits

f

9

«•1—*Ji JA *UJi "air (mandi) karena air (keluar mani)" adalah hadits shahih, tetapi hukumnya telah dihapus (mansukh). Hingga perkataan beliau,

FATHUL BAARI —

487

"Kita berbeda pendapat dengan sebagian penduduk negeri kita -maksudnya orang-orang Hijaz- dimana mereka berkata, 'Mandi tidak wajib kecuali bila telah keluar mani.'" Dari sini diketahui, bahwa perselisihan mengenai hal ini telah masyhur di kalangan tabi'in dan generasi sesudahnya. Tetapi jumhur berpendapat bahwa hukum mandi adalah wajib, dan inilah yang benar. Wallahu a 'lam.

Penutup Kitab mandi dan hukum-hukum yang berkenaan dengannya mencakup 63 hadits yang langsung kepada Nabi SAW (marfu'), yang terulang dalam bab ini serta pada bab-bab sebelumnya berjumlah 35 hadits. Hadits yang diriwayatkan secara bersambung diantaranya berjumlah 21 hadits, sedangkan sisanya hanya berupa penggalanpenggalan hadits yang disebutkan tanpa silsilah periwayatannya (mu 'allaq) ataupun sebagai penguat (mutaba 'ah). Yang tidak terulang dalam bab ini berjumlah 28 hadits, dan yang disebutkan tanpa jalur periwayatan di antaranya hanya satu riwayat, yaitu riwayat Bahz dari kakeknya. Hadits yang disebutkan dalam bab ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim kecuali riwayat Bahz tersebut dan hadits Jabir mengenai mencukupkan ketika mandi dengan satu sha' air, serta hadits Anas yang menceritakan bahwa Rasulullah mendatangi istri-istri beliau yang jumlahnya 11 orang pada satu malam. Demikian pula dengan hadits mandi dengan wanita atau istri dari satu bejana. Terakhir hadits Aisyah tentang sifat mandi junub wanita. Pada kitab mandi ini juga terdapat 10 riwayat yang hanya bersumber dari sahabat dan tabi'in, di antaranya 7 riwayat tanpa silsilah periwayatan dan 3 disebutkan lengkap dengan jalur periwayatannya, yaitu riwayat Zaid bin Khalid dari Ali dan riwayat Thalhah serta riwayat Az-Zubair yang disebutkan pada bab akhir. Seandainya riwayat-riwayat tersebut ternyata haditsnya juga langsung bersumber dari Nabi SAW, maka jumlah hadits yang tidak terulang dalam bab ini serta bersumber langsung dari Nabi SAW bertambah 3; dan ketiga riwayat ini juga merupakan riwayat yang hanya disebutkan oleh Imam Bukhari tanpa diriwayatkan oleh Imam Muslim. Wallahu a 'lam.

4 8 8 — FATHUL BAARI

6. KITAB HAID

4kLii L ^ j j oyiyji

A oi iLi jj">f 1 ;

Firman

Allah,

"Mereka diri dari mereka, Allah

bertanya

kepadamu

tentang

haid.

Katakanlah,

'Haid itu adalah kotoran.' sebelum

Oleh karena itu Apabila di

hendaklah janganlah mereka yang yang menyukai

kamu menjauhkan kamu mendekati telah suci, diperintahkan orang-orang mensucikan maka yang

wanita di waktu haid; dan mereka suci. mereka menyukai itu Sesungguhnya

campurilah kepadamu. taubat dan

tempat

Allah

orang-orang

diri" <(Qs. Al Baqarah (2): 2 2 2 )

Keterangan: Haid berarti sayalan (mengalir), sedangkan dalam pengertian umum, haid adalah darah yang keluar dari wanita pada tempat khusus di waktu-waktu tertentu. i^il (kotoran). Ath-Thaibi berkata, "Haid dinamakan kotoran,

karena baunya yang busuk, kotor lagi najis." Al Khaththabi berkata, "Yang dimaksud dengan <^if adalah sesuatu yang tidak disukai (makruh)
fi *
0 f J'JOJ °J>

namun tidak berlebihan, sebagaimana firman Allah SWT, *i\

4 9 0 — FATHUL BAARI

(J i I "Sekali-kali gangguan haid celaan

tidak saja

akan membahayakan (adzaa)"

kamu selain

gangguan-

^Qs. Aali Imraan (3): l i l ) Maknanya,

adalah kotoran yang harus dijauhi tempatnya pada diri wanita,

namun tidak mencakup bagian badannya yang lain. Ja—jffcJt menjauhkan Muslim dan Abu i t'—13 ljljspl—J (O/e/; karena itu hendaklah kamu

diri dari wanita di waktu

haid). Diriwayatkan oleh Imam

Dawud dari hadits Anas, bahwa kebiasaan kaum

Yahudi jika istri mereka sedang haid, maka mereka menyuruhnya keluar dari rumah. Maka Nabi SAW ditanya mengenai hal itu dan turunlah ayat di atas, lalu Nabi SAW bersabda, ^LS^\ segala sesuatu kecuali senggama). Kaum *i\ s.°J$t JS* \'JKLP\ (Lakukanlah

Yahudi mengingkari hal itu.

Akhirnya datanglah Usaid bin Hudhair dan Abbad bin Bisyr kepada Nabi SAW seraya berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kita tidak melakukan senggama dengan istri kita pada saat haid?" Maksudnya untuk meorang-orang Yahudi, namun Nabi SAW tidak nyelisihi perbuatan

mengizinkan hal itu. Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dari As-Sudi bahwa yang pertama kali memohon demikian kepada Rasulullah adalah Tsabit bin Ad-Dahdah.

1. Bagaimanakah Permulaan Haid
.(oT o l i ' J p

A!II

AIIS' t,

J*

IJL*

: ^S\ J y j
L$

:J J p JA^\ Jf}

L» Jjl jli" : ^ $„h*j J15j

Sabda Nabi SAW, "Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan SWT atas kaum perempuan dari keturunan Adam."

Allah

Sebagian

FATHUL BAARI —

491

mereka berkata, "Sesungguhnya haid pertama kali kepada bani Isra 'U," Hadits Nabi SAW lebih banyak.

dikirimkan

Keterangan Hadits:
t L - i \ JJ>
JJSJ

(Dan sabda Nabi SA W, "Ini adalah sesuatu)"

Di

sini Imam Bukhari ingin memberi isyarat kepada hadits Aisyah yang akan disebutkan berikut, hanya saja lafazhnya y>5 Lalu adalah (ini adalah perkara).

Imam Bukhari menyebutkan pula hadits dengan lafazh, iji> '-ii (Ini sesuatu) melalui jalur periwayatan secara bersambung sampai

kepada Nabi SAW setelah lima atau enam bab kemudian. J4i'j—^ oleh Abdurrazzaq shahih,
' A^L-UJI , , '
a

' j * (Atas bani Isra 'U), yakni atas wanita bani Isra'il. dari Ibnu Mas'ud melalui jalur periwayatan yang «s**- iiy-ju }*>)'J~>\ ^> J «-CJJlj JbVJl olT
{

Seakan-akan Imam Bukhari mengisyaratkan kepada riwayat yang dinukil dimana disebutkan ,l
• * K

"i'

, -

' .-

'i

'

>'

j g

j

AJS.

< l ^ l i Jir^iJ &

>-!>'jj£ 5i\Jl c i l S j
haid serta melarang

(Dahul

kaum wanita Allah

laki-laki dan wanita bani Isra 7/ shalat bersama-sama, merasa lebih mulia daripada kepada kaum laki-laki. SWT menurunkan mereka

maka kaum mereka

Oleh karena itu,

datang ke masjid). Hadits yang serupa juga dinukil oleh Abdurrazzaq dari Aisyah RA.
j 4 llp

&\ Jb>

cJ-^-j

(Dan hadits Nabi SA W lebih

banyak). Sebagian berpendapat bahwa maknanya adalah hadits Rasulullah SAW lebih luas cakupannya, karena berlaku umum bagi seluruh kaum wanita keturunan Adam baik wanita-wanita Isra' il maupun wanita-wanita sebelum mereka. Atau maksudnya bahwa hadits-hadits Rasulullah lebih banyak pendukungnya dan lebih kuat kedudukannya. Ad-Dawudi berkata, "Tidak ada kontradiksi antara sabda Nabi \SA (Ini adalah sesuatu kaum wanita dari Ja^^ yang

SAW yang berbunyi, fJi o u j Ji- Hi\ <u£" telah ditetapkan Adam) oleh Allah SWT kepada

keturunan

dengan perkataan sebagian mereka,

jVj' ^ J j ' ° ^

4 9 2 — FATHUL BAARI

JJJIJ-LI)

(Sesungguhnya

haid pertama kali dikirimkan

kepada bani Isra Jl),

karena wanita-wanita bani Isra' il juga termasuk wanita-wanita keturunan Adam. Dengan wanita keturunan demikian sabda beliau SAW, ^ Adam) adalah kalimat o £ Js> (Kepada kaum

yang

bersifat umum dan

mempunyai makna khusus. Saya (Ibnu Hajar) katakan, "Bisa saja antara keduanya dipadukan meski dimana awal sabda yang Nabi SAW tersebut tetap dipahami bermakna umum, kepada wanita-wanita Imam bani Isra'il adalah dikirimkan itu

masanya yang cukup lama sebagai hukuman bagi mereka, dan bukan mula haid sendiri. Karena Thabari dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan lainnya, bahwasanya firman Allah dalam surah Huud ayat 71 tentang kisah Ibrahim, "Dan

ci^OAI

utii

IIT^IJ

istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum"

atau mengalami

haid. Sementara tidak diragukan lagi bahwa kisah ini lebih dahulu terjadi daripada bani Isra'il. Telah diriwayatkan oleh Al Hakim dan Ibnu Al Mundzir melalui jalur periwayatan yang shahih dari Ibnu Abbas, S.ik?t CM l

ISJJL J

c i i j > L 01 J *

t \ ' y - Js-

O L T J I A L ^ J I (Sesungguhnya permulaan
dari surga). Jika demikian, maka

terjadi

pada Hawa setelah dikeluarkan

yang dimaksud dengan wanita-wanita keturunan Adam adalah wanitawanita keturunan Hawa, wallahu a lam.

Masalah yang Berkenaan dengan Wanita Nifas (Haid)
y

s*

,

yy

,

o

f