P. 1
883019-Mari-Kita-Garap-TKI-

883019-Mari-Kita-Garap-TKI-

|Views: 385|Likes:
Published by Afrian Poneng

More info:

Published by: Afrian Poneng on May 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2012

pdf

text

original

Haery & Andi-Draft

MARI KITA “GARAP” PARA TKI !
(Produk dan Layanan Terhadap Pasar TKI dan “Remittance” dalam Perspektif Potensi Bisnis dan Sosial)
Oleh: Haery Sihombing Mochamad Safarudin

Abstrak:
Lebih dari 3 juta orang TKI di sektor formal maupun informal yang bekerja di Luar Negeri menghasilkan “remittance” paling tidak Rp.24 Trilium per-tahun dengan kontribusi terhadap GDP berkisar 11% Potensi keuangan yang masuk dalam perekonomian negara dari devisa tersebut, bukanlah tanpa masalah. Masalah perlindungan, kesehatan, perlakuan hukum, praktekpraktek percaloan, TKI ilegal, dan masih banyak sederatan “kisah- kisah memilukan”, seakan- akan tak lepas dari isu- isu “bisnis kotor” bila kita membicarakan mengenai TKI. Seiring dengan kenaikan jumlah devisa yang semakin meningkat dari ‘remittance’ para TKI, memberikan sinyal kepada pelaku bisnis untuk menggarap pasar tersebut. Namun demikian, upaya dan strategi bisnis yang dilakukan oleh sektor perbankan bersama penyedia layanan telekomunikasi tersebut belumlah menggarap pasar yang menjanjikan ini dengan baik. Sehingga pasar yang harus disentuh tersebut masih jauh dari apa yang dikatakan sebagai pengelolaan pasar sebagai keuntungan persaingan yang dewasa ini berpijak kepada pola kemitraan terhadap konsumen. Oleh karenanya, kesempatan dalam penggarapan pasar sebagai sebuah bisnis, maka penyedia layanan jasa perbankan dan jasa telekomunikasi haruslah dengan segera di dalam inisiatif dan kreatifnya untuk melakukan strategi- strategi bisnisnya yang betulbetul menyentuh kepada pasar di mana TKI menangkapnya sebagai sebuah keuntungan terhadap kebutuhan mereka. Kata Kunci: TKI, Remitans, Pasar, Strategi Bisnis Kemitraan, Proaktif.

1.0 PENDAHULUAN
“TKI itu kan pahlawan devisa, jadi harus mendapat perlindungan,” Begitulah ucapan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparmo seusai membuka seminar tentang Perlindingan TKI pada tanggal 20 Maret 2006 di Jakarta (1). Namun demikian, ketika ditanya mengenai pengelolaan dari potensi devisa terhadap uang kiriman KI, jawabnya adalah adalah,”Belum ada how to manage remisan. Masih saya wacanakan utuk mengurusi hal ini dengan baik, akan saya bicarakan dengan perbankan.” Tentunya kitapun semua orang Indonesia merasa tahu dengan yakin, melalui berbagai media elektronik dan suratkabar, bahwa para TKI kita di luar negeri sangat banyak mengirimkan uangnya ke Indonesia. Namun demikian, karena sanking seringnya julukan sebagai ‘pahlawan devisa’ tersebut diucapkan, maka keuntungan dari pengiriman uang tersebut menjadi kehilangan makna. Seperti hanya memaknai bahwa kepesertaan mereka di dalam pembangunan negara masihlah dalam wacana, opini, polemik, diskusi, dialog, dan penulisanpenulisan kertas kerja atau jurnal- jurnal. Belum terealisasi dengan nyata. Mungkin karena kita tidak merasakan langsung uang yang mereka kirimkan, sehingga penggelaran tersebut jauh dari kesadaran masyarakat sebagai sebuah keuntungan. Terkecuali untuk daerah- daerah

1

Haery & Andi-Draft

di mana TKI tersebut berasal, di mana kiriman uang tersebut langsung terjun di dalam roda ekonomi asal TKI. Bukti ini tampak dari keterlibatan pemerintah di dalam menangani masalah TKI yang seakan- akan ‘tidak serius’ di dalam menyelesaikan masalah- masalah yang berkenaan dengan TKI di luar negeri maupun di dalam negeri, dari mulai perekrutan hingga persiapan pengirimannya. Hal ini tampak jelas dari bagaimana peran serta pemerintah daerah, mulai dari provinsi hingga kabupaten, seperti terlihat dari benar- benar tidak akuratnya jumlah warga mereka yang bekerja di luar negeri sebagai TKI. Sehingga kemudian, untuk tingkatan pemerintah pusat, data yang ada pun adalah data yang tercatat saja. Mungkin jumlahnya lebih kepada hanya perkiraan semata, bukan angka pasti. (2) Dengan realita yang demikian, maka faktor daya tarik yang muncul kepada pelaku bisnis sebagai salah satu penentu keterlibatan mereka dalam kepesertaan untuk memberikan jasa layanan di dalam menggarap dan menggali potensi pasar terhadap TKI, adalah hampir dikatakan ‘terlambat’ untuk merespons. Buktinya, seperti komentar Menakertrans di atas, “Masih saya wacanakan.” Ini artinya, bahwa pelaku bisnis di jasa perbankan, menunggu ‘disadarkan’ untuk merespons terhadap potensi keuangan yang dikirimkan TKI. Bukan dalam posisi mengambil tindakan proaktif dengan inisiatif program dan tawaran layanan dalam melihat potensi tersebut sebagai suatu keuntungan. Sebagaimana kenyataan yang ada, uang kiriman yang merupakan bagian dari pendapatan yang diperoleh pekerja asing untuk dikirimkan kepada keluarga di negara asal adalah menjadi sesuatu yang kritikal untuk mendukung keuangan terhadap pembangunan. Sekalipun sebagian besar aliran dana tersebut secara historis ‘tersembunyi dari pandangan’ dan seringkali tak terhitung dan bahkan terabaikan pemanfaatannya dengan baik. Padahal dewasa ini, dampak dari uang kiriman di semua regional yang sedang berkembang di dunia, merupakan satu aliran dari mata uang asing terpenting terhadap banyak negara dan secara langsung menjangkau jutaan rumahtangga dengan jumlah total kira- kira 10% dari populasi dunia (3) 1.1 Definisi Pengertian remitans secara umum berasal dari transfer, baik dalam bentuk cash atau sejenisnya, dari seorang asing kepada sanak keluarga di negara asalnya. IMF mendefinisikannya ke dalam 3 kategori, yaitu: (i) remitans pekerja atau transfer dalam bentuk cash atau sejenisnya dari pekerja asing kepada kelurganya di kampung halaman (ii) kompensasi terhadap pekerjaan atau pendapatan, gaji atau renumerasi dalam bentuk cash atau sejenisnya yang dibayarkan kepada individu yang bekeja di satu negara lain di mana keberadaan mereka adalah resmi, dan (iii) transfer uang seorang asing yang merujuk kepada transfer kapital dari aset keuangan yang dibuat orang asing tersebut sebagai perpindahan dia dari satu negara ke lainnya dan tinggal lebih dari satu tahun. (4) Sedangkan menurut wikipedia, remitans (remittance) adalah transfer uang oleh pekerja asing ke negara dan tempat mereka berasal. Menurut pengertian lain, diartikan sebagai satu pembayaran untuk pembelian barang- barang atau jasa yang ditansferkan terhadap seseorang pada jarak jauh. Remitans merupakan sebagian dari pendapatan pekerja asing internasional yang dikirimkan ke negara dan tempat pekerja berasal.(5) Oleh World Bank, ‘remittance’ dikatakan sebagai ‘transfer remittance, dan. boleh saja berlaku secara domestik maupun internasional. 2

Haery & Andi-Draft

Sedangkan untuk ‘domestik remittance’, sebagai contoh, adalah dikenakan pada saat di mana migrasi dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan di dalam satu negara. Namun demikian, remitans (remittance) yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah dalam hal antar negara. Yaitu didefinisikan sebagai pembayaran lintas batas dari orang ke orang dengan besaran nilai yang secara relatif kecil, yang dalam prakteknya, transfer uang kiiman tersebut dilakukan oleh para pekerja asing secara berulang kali. Misal: pengiriman uang setiap bulan kepada keluarga pekerja asing ke negara asal tempat pekerja asing tersebut berasal. 1.2 Data Penerimaan Devisa dan Jumlah TKI di Luar Negeri Internasionalisasi dari ekonomi dan budaya secara samar menjamin migrasi akan terus berkembang pada tahun- tahun mendatang. (6) Menurut laporan terakhir Bank Dunia pada tahun 2006, jumlah uang yang dikirimkan pekerja asing merupakan aliran dana terbesar ke-2 di dunia. Melebihi jumlah uang bantuan internasional untuk berbagai negara berkembang yang berjumlah US $250 juta. Selain itu, remitans tahunan dari para pekerja asing menurut Bank Dunia diperkirakan sebesar US $ 67 milyar (6). Di mana menurut IFAD, yaitu salah satu badan PBB dalam masalah keuangan dunia untuk pembangunan agrikultur, dilaporkan bahwa pada tahun 2006 tercatat sebesar US $ 3,939 juta remitans dari pekerja asing asal Indonesia (TKI) di luar negeri yang besarannya adalah menyamai 1.1% nilai GDP.(3) Sekalipun untuk mengukur remitan tetaplah menjadi sebuah tantangan terhadap sistem pembayaran seimbang (balanced payment system), namun pada tahun 2006 tercatat sebanyak 59 buah negara- negara yang sedang berkembang menerima lebih dari US$1miliar dalam bentuk remitans. Laporan Asian Development Bank mengenai studi remitans pekerja asing dari Asia Tenggara menyebutkan, bahwa remitans dari mereka para pekerja asing di luar negeri telah membantu memperkuat keseimbangan pembayaran dan anggota keluarga pekerja yang kebanyakan adalah berada dalam garis kemiskinan untuk diuntungkan dengan cara aliran dana seperti demikian. (7)

Sumber: Laporan IFAD: Sending Money Home – Worldwide Remittance Flows to Developing Countries (3)

3

Haery & Andi-Draft

Sumber: Global Economic Prospects 2006: Economic Implications of Remittances and Migration, World Bank.
(http://siteresources.worldbank.org/EXTGEP2006/Resources/RemittancesDataGEP2006.xls)

Gambar 1.

Besarnya Remitans Pekerja Asing Asal Negara- Negara Asia Tenggara

Dikarenakan kebanyakan data mengenai remitans bertumpu pada laporan dari institusi formal saja, sementara pada kenyataannya di beberapa negara saluran- saluran informal menjadi sesuatu yang umum, maka remitans yang tercatat paling hanya setengahnya saja.(8) Sebagai contoh, di negera- negara Timur Tengah. Sebagian besar dari remitans ditransferkan melalui jaringan broker informal. Dan oleh karenanya, maka remitans tersebut tidak tercatat oleh sistem pelaporan resmi.(3) Sama halnya dengan di Indonesia. Kebanyakan dilakukan dengan menitipkan pada teman sekampung yang pulang ke tanah air atau dibawa sendiri ketika pekerja tersebut (TKI) pulang karena habis masa kontrak kerjanya.(9) Oleh karena itu, remitans tadi adalah juga tidak tercatat di daerah pedesaan dikarenakan saluran- saluran informalnya mendominasi pola sistem penyediaan remitans, yang secara relatif disebabkan oleh karena ketidak-tersediaannya bank atau institusi keuangan formal lainnya, selain faktor karena mahal dan awamnya jasa ini dipergunakan. 1.2.1 Data Resmi Mengenai Jumlah TKI dan Devisa yang Dihasilkan (Akurasi dan Kekinian) Bank Indonesia melaporkan, bahwa penerimaan terbesar dari remitansi TKI adalah sebesar US$ 1,5 miliar, sehingga surplus transfer berjalan tahun 2007 mencapai US $ 4,9 miliar.(10) Pada tahun 2005 saja, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengatakan, bahwa devisa yang diperoleh dari TKI sebesar US$ 2,9 miliar.(11) Jumlah ini lebih besar dari perkiraan Bank Dunia sebesar US$ 2,5 miliar(12) dan harapan pemerintah sebesar US$ 1.9 miliar.(13) Sedangkan M Jumhur Hidayat sebagai Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengatakan, bahwa remitans menembus angka Rp 100 triliun.(14) Angka ini lebih mendekati apa yang dituntut oleh Anggota Komisi VIII DPR RI yang mempertanyakan mengenai Rp. 81 Triliun yang diperoleh dari devisa TKI.(15) Menurut data terakhir dari Depnakertrans (per 26 November 2007) mengenai jumlah TKI yang diberangkat ke luar negeri dan devisa yang diperoleh oleh negara adalah sebagai berikut:

4

Haery & Andi-Draft

Tabel 1 Jumlah TKI dan Devisa Tahun 2001 - 2004

Tabel 2 Jumlah TKI Sektor Formal dan Informal (Per Negara Tujuan/Penempatan) Tahun 2001 ~ 2006

Tabel 3 Jumlah TKI Per Negara Tujuan/Penempatan Tahun 1974 ~ 1997

Sumber: Data dari Departemen Tenaga Kerja, dikutip oleh Tirtosudarmo dan Romidiati (8)

1.2.2 Data dan Pendapatan Asli Daerah Kantong- Kantong TKI Permasalahan akuratnya data antara jumlah TKI yang berkerja di luar negeri (TKI resmi dan gelap atau ilegal), maupun jumlah rutin dan/atau temporer dari uang yang dikirimkan ke

5

Haery & Andi-Draft

tanah air (misalnya seperti ketika tahun ajaran baru dan masuk sekolah, hari raya, dsb), serta dengan bervariasinya di antara data tersebut, adalah memberikan dampak psikologis bagi pelaku bisnis yang secara langsung terhadap TKI Indonesia untuk melakukan tindakan ‘menunggu’ dalam berekspansi terhadap sektor yang potensial ini. Padahal di beberapa daerah ‘kantong’ pengirim TKI ke luar negeri, jumlah remitans yang diperoleh sebagai devisa bahkan melebihi jumlah APBD-nya. Tabel di bawah ini menunjukkan jumlah APBD dari daerah- daerah ‘kantong’ asal TKI, seperti: Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Tabel 4. APBD Daerah Asal TKI

Sementara ini secara nasional, pemasukan yang diperoleh dari remitans TKI di luar negeri dari tahun ke tahun bertambah (Gambar 2). (Sebagai catatan: bandingkan dengan Tabel 1 di mana untuk tahun 2003 menurut data dari Depnakertrans, penerimaan devisa adalah menurun dibanding tahun 2002) Oleh karena banyaknya remitans TKI yang tidak tercatat dan tertelusuri, sementara di sisi lain, aliran dana tadi lebih banyak digunakan sebagai kosumsi (bukan untuk investasi produksi),(15)(7) maka pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi dari mana asal pekerja asing tersebut masihlah terbatas, (8) sekalipun cukup positif terhadap peningkatan roda ekonomi daerah.(16) Hal ini disebabkan penggunaannya adalah untuk membayar hutang, pemenuhan kebutuhan sehari- hari, membeli sawah, membiayai sekolah anak atau saudara di kampung, dan membangun rumah. Jarang dipergunakan untuk yang berkenaan dengan kesehatan dan mendapatkan layanan pendidikan yang lebih baik, (9)(17)(18) bahkan uangnya habis karena dipakai suami kawin lagi.(15) Sangat sedikit yang berhasil mengivestasikan remitans tadi dalam satu bidang usaha dan mengelolanya dengan cara yang berkesinambungan. Remitans yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut

6

Haery & Andi-Draft

biasanya habis dalam 2 hingga 7 bulan. Sehingga kemudian mereka menjual aset- asetnya dan kembali ke kondisi semula atau kembali bekerja ke luar negeri (9)

Sumber: IMF Balance of Payments Statistics Yearbooks, Soeprobo 2006, p.8; Asian Migration News, 15-31 January 2006; Migration News, July 2006.

Gambar 2 . Remitans ke Indonesia, 1983 hingga 2005

Oleh karena itu, IFAD menyatakan bahwa pengumpulan data terhadap remitans perlu diperbaiki untuk meningkatkan aliran remitans yang berakibat terhadap dampak pembangunan yang lebih besar. Caranya adalah dengan mengurangi biaya transaksi, menggeser saluran- saluran tidak resmi atau informal kepada saluran- saluran resmi/ formal untuk mengurangi resiko pencucian uang, serta mengarahkannya langsung kepada investasi produktif yang berkesinambungan dan penggunaan yang efektif,(3)(7) di mana tentunya adalah diperlukan keterlibatan investor lokal dan pemerintah untuk membangun kebijakankebijakan dan program- program yang efektif untuk memaksimalkan keuntungan dari pengiriman uang TKI terhadap negara.(8)(12)(13)(19) Apalagi karena TKI yang bekerja di sektor informal dan formal masing- masing mengirimkan sebesar 80% dan 60~70% gajinya ke tanah air.(2) Ini belum termasuk dari sejumlah TKI ilegal yang juga turut menyumbang terhadap besarnya remitans,(14)(17)(20)(21) selain kontribusi mereka dalam mengatasi angkatan kerja yang membludak.(1)(2)(22) Sekalipun demikian, ini bukan berarti bahwa kita dan pemerintah membenarkan praktek- praktek sebagai pekerja ilegal di luar negeri.

2.0 RAMAI- RAMAI BERBISNIS UNTUK DAN DENGAN TKI
Sejalan pergerakan (mobilitas) manusia lintas negara yang semakin tinggi, seperti halnya dalam pengiriman TKI ke luar negeri, maka lapangan usaha atau bisnis yang terkait dengan mobilitas tersebut berkembang dan ‘gempita’. Untuk Jasa penyediaan dan pengiriman TKI hingga September 2007, tercatat sejumlah 474 buah perusahaan pengerah TKI Swasta (PPTKIS d/h PJTKI) telah memperoleh Surat Izin Pelaksanaan Penempatan TKI (SIPPTKI) yang terdaftar di Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) dan BNP2TKI. Selain itu, terdapat 4 asosiasi pengusaha penempatan TKI ke luar negeri. Yaitu: Asosiasi PJTKI (Apjati), Himpunan Pengusaha Jasa TKI (Himsataki), Asosiasi Jasa TKI untuk Asia Pasific (Ajaspac), dan Indonesia 7

Haery & Andi-Draft

Employment Agency (Idea). Sedangkan lapangan usaha dalam penyediaan jasa seperti kesehatan atau medis yang terdaftar resmi dan diakui pemerintah sebagai pusat layanan medis hingga 18 November 2005 tercatat 119 institusi. Untuk bisnis asuransi, Konsorsium Asuransi Tenaga Kerja Indonesia Jasindo yang ditunjuk melayani program asuransi perlindungan TKI mulai bulan Agustus 2006 hingga 20 Juni 2007 telah meraup premi sebesar Rp 129,1 miliar (23) . Sekalipun demikian, dalam mengajukan klaim sangat sulit. Padahal aliran dana asuransi sangat besar. (15) Sedangkan premi yang berhasil dikumpulkan hingga akhir tahun 2005 mencapai Rp 104 miliar. Sementara dana yang dikembalikan kepada TKI hanya sebesar Rp 29 miliar. Perlu dicatat, pencapaian selama dua tahun itu baru mencerminkan 20% dari total TKI yang ada. Jadi jelas, dengan dilansirnya Kepmen No. 280/MEN/2006, tentu akan lebih banyak lagi keuntungan yang bakal didulang. Tinggal dihitung saja, jumlah TKI yang diberangkatkan dikalikan Rp 400 ribu.(24) Tujuh perusahaan asuransi yang termasuk dalam konsorsium itu adalah PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero), PT Asuransi Jiwa Askrida, PT Asuransi Tripakarta, PT Asuransi Bosowa Periskop, PT Asuransi Bumiputera Muda 1967, PT Asuransi Bumi Asih Jaya dan PT Asuransi Parolamas. Sedangkan PT Grasia Media Utama ditunjuk sebagai pialang konsorsium asuransi TKI.(25) Dengan penempatan TKI ke luar negeri, bisnis pengecekan kesehatan atau medis, perhubungan: darat, udara, laut, dan balai latihan kerja dan semacamnya semakin terbuka.(26) Selain itu, juga jasa percaloan (broker) di dalam perekrutan untuk mencari calon- calon TKI hingga ke pelosok- pelosok desa. Terbukti dengan kebijakan penghentian penempatan TKI informal ke luar negeri yang dilakukan pada tahun 2004, telah menimbulkan kerugian sebesar Rp. 158,8 miliar per bulan untuk PJTKI saja. Kerugian itu meliputi sektor penerbangan, poliklinik penyedia layanan kesehatan atau medis, asosiasi perlindungan TKI, pembuatan paspor, biaya operasional PJTKI, dan pendapatan pemerintah bukan pajak.(18) Bila Kartu Kuning dianggap sebagai salah satu pendapatan pemerintah tanpa pajak, tercatat misal di Kabupaten Kebumen (tahun 2007) dan Bandung (tahun 2005), rata- rata setiap hari jumlah pemohon kartu kuning masing- masing mencapai 250 orang dan 280,(27)(49) padahal kegunaan kartu kuning di dalam mencari pekerjaan bagi masyarakat perkotaan menjadi sesuatu yang ‘mengherankan’: untuk apa? (Kartu kuning tersebut berfungsi untuk melakukan pendataan dan monitoring tenaga kerja. Otomatis kalau kita mau melamar ke instansi pemerintah, maka kita harus memiliki kartu kuning).(27) Mungkin, sebagai sekedar melengkapi admnistrasi, apalagi untuk di luar negeri. Mengutip Ir. Sri Hadi Purwanti, MM sebagai Kepala Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lamongan yang mengatakan, bahwa kerja di luar negeri selain dapat memperoleh penghasilan yang relatif lebih besar, tetapi juga ada resiko- resiko yang tidak terduga(28) Sekalipun diakui, bahwa persoalan perlindungan keselamatan kerja bagi TKI, baik oleh pemerintah maupun instansi terkait sampai saat ini masih minim.(29) Contohnya Pemerintah Ponorogo, padahal pemerintah Ponorogo adalah peraih Devisa Award. Dengan kenaikan komponen biaya mulai untuk medis dari Rp 125 ribu menjadi Rp 200 ribu, uji kompetensi dari Rp 75 ribu menjadi Rp 100 ribu, pelatihan di balai latihan kerja (BLK) dari Rp 170 ribu menjadi Rp 350 ribu, biaya penerbangan dari 320 dolar AS menjadi 450 dolar AS, (30) dan biaya rekuritmen calon TKI dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 4,5 juta, serta ketidakjelasan hukum dan penerapan kebijakan di lapangan, telah membuat rantai birokrasi pengiriman TKI menjadi panjang dan mahal.(67) Sehingga akhirnya membebani calon TKI, yang pada akhirnya membuat jalur resmi TKI tidak diminati dan calon TKI lebih memilih

8

Haery & Andi-Draft

jalur illegal.(30) Sebagai contoh, untuk TKI ke Korea struktur biayanya Rp. 8 ~ 9 juta. Namun TKI yang melalui calo membayar Rp. 25~30 juta.(13) Sementara di bisnis keuangan, selain ‘rentenir’, juga institusi perbankan seperti Bank BRI(31)(32), BCA(21)(32) dan Bank Niaga (21), Bank Mandiri (11)(32)(33), BNI (32)(34) ,Bank Jatim (35) , BPR Kanjuruhan di Jawa Timur (36) dan penyedia jasa pengiriman uang seperti Western Union (37)(66) dan bahkan Kantor Pos (37)(38) turut merasakan keuntungan dari TKI kita di luar negeri. Tercatat beberapa pebisnis perbankan nasional telah menjalin aliansi dengan institusi perbankan asing.(21) Malah baru- baru ini perbankan asing di dalam negeri, seperti Citi Bank pun ikut serta (36)(66) Ragam tawaran layanan yang dilakukan oleh institusi tadi kepada TKI, dari mulai menyediakan jasa untuk mengirimkan uang hingga memberikan pinjaman kredit atau modal untuk pengurusan paspor dan administrasi keberangkatan TKI Di bidang telekomunikasi, PT. Excelcomindo Pratama (XL) sejak Mei 2006 meluncurkan JIMAT untuk TKI dalam bundle produk layanannya bersama Xpac dengan menawarkan harga layanan telekomunikasi murah bagi TKI dan keluarganya di tanah air. Begitu pula Indosat melalui produk Mentari Hongkong.(40)(41) Sementara Telkomsel bekerjasama dengan Bank Mandiri melalui m–commerce untuk ATM mobile, di mana konsumennya dapat melakukan pembelian dan pengambilan tunai, serta remitan atau pengiriman uang untuk lokal maupun internasional.(42) Sedangkan di pihak lain, perbankan seperti Citi Bank melakukan kerjasama dengan DiGi Telecommunications Sdn Bhd untuk mengaktifkan layanan DiGiREMIT di Malaysia untuk memfasilitasi transfer uang dari Malaysia ke Indonesia melalui SMS. Selain itu, City Bank bekerja dengan PT.Pos Indonesia dan semua bank yang berada di bawah Bank Indonesia dalam pilihan pembayaran dan sistem pengambilan uang.(39) Kedua strategi bisnis yang dilakukan badan usaha tadi mirip usaha pengiriman uang seperti yang dilakukan melalui hasil kerjasama antara Maxis Communications Berhad (“Maxis”) dan Globe Telecom (“Globe”) untuk program m-money di Filipina(43) dan G-Cash dari Globe Telecom terhadap para pekerja Filipina di luar negeri.
(44)

2.1 Keuntungan dari Peran, Layanan, dan Praktek Bisnis dari Institusi Bisnis dan Institusi Pemerintah Terhadap TKI
a. Asuransi Depnaker sudah menunjuk dua konsorsium asuransi TKI, yakni Konsorsium Asuransi Jasindo dengan broker Grasia dan Konsorsium Asuransi Bangun Askrida dengan broker Jadvisindo(45). Jika kabar tentang komisi sebesar 40% itu benar adanya, maka yang diperoleh Grasia jelas hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibanding ‘broker’ sebelumnya (Dana Mitra) yang hanya menerima ‘fee’ sebesar 15%.(24) Menurut informasi dari kalangan PJTKI yang enggan disebut jati dirinya di Jakarta, dikatakan bahwa satu broker konsorsium asuransi memberikan diskon 5% dari Rp. 400 ribu nilai premi kepada organisasi PJTKI.(45) Padahal dalam SK Penunjukan Menakertrans No.279/MEN/2006 telah ditetapkan, bahwa premi asuransi TKI adalah sebesar Rp. 400 ribu.(45) Dengan diskon tadi, maka diperoleh sekitar Rp. 12,9 milyar dari jumlah TKI sebanyak 646.548 orang pada tahun 2006. Bandingkan dengan ‘Cost Structure’ Depnakertrans untuk TKI dengan tujuan Taiwan di mana asuransi perlindungannya adalah sebesar NT$ 1538 atau dengan kurs NT$1 = Rp. 310, sehingga jumlahnya adalah Rp. 9

Haery & Andi-Draft

476.780.(46) Jumlah ini beberapa puluh ribu lebih besar dari premi asuransi TKI sebesar Rp. 400 ribu. Sehingga dengan demikian, bila kita kalikan antara jumlah TKI yang dikirimkan terhadap kelebihan biaya tersebut maka angka perolehannya menjadi lebih dari Rp.12,9 milyar bagi anggota- anggota organisasi PJTKI. b. Pungutan dan Perekrutan Ketua APJATI Husein Alaydrus menyarankan agar Pemda bisa menggerakkan Lurah maupun RT/RW untuk melakukan perekrutan bagi calon TKI untuk menghindarkan praktekpraktek percaloan dengan pungutan liar atau penipuan. Begitu direkrut oleh PJTKI, PJTKI membayar berapa administrasinya yang harus diselesaikan. “Kalau Pemda bisa mengadakan calon TKI buat kita, why not, dan kita merasa lebih secure, tidak lagi dihujat bahwa PJTKI memalsukan dokumen dan lain sebagainya.”(26) Sebagai contoh, kasus pungutan dan besar jasa calo di Indonesia yang dikeluhkan menurut pernyataan Menakertrans dalam menjawab Persatuan Agen Pembantu Rumah tangga Asing Malaysia adalah sebesar RM3500 ~ 3800 (Rp 8~9 juta) per orang (47) Untuk itu, maka dalam menghilangkan calo- calo pada proses rekrutment dan untuk memonitoring berbagai tindak kekerasan terhadap TKI dari mulai tempat penampungan sementara hingga pemulangannya, maka Pemerintah merencanakan untuk membangun dan menerapkan sistem SIM (sistem informasi manajemen) penempatan TKI secara komprehensif. Cara ini dimaksudkan untuk memecahkan kespangsiuran data, baik menyangkut jumlah dan kualifikasi TKI, asal daerah TKI, serta rata- rata biaya yang dikeluarkan TKI dan lainnya.(19) Sementara itu, Pemerintah melalui Undang - Undang No. 39 Tahun 2004 yang mengatur “Tentang Penempatan dan Perlindungan TKI Di Luar Negeri”, pada pasal 13 ayat (1) huruf c yang mengatakan bahwa dalam memperoleh SIPPTKI, maka PPTKIS (d/hPJTKI) diwajibkan “menyetor uang kepada bank sebagai jaminan dalam bentuk deposito sebesar Rp.15.000.000,00 (lima belas juta rupiah) pada bank pemerintah”.(48) Namun karena dalam ayat 2 dikatakan: “Sesuai dengan perkembangan keadaan, besarnya modal disetor dalam bentuk deposito sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dapat ditinjau kembali dan diubah dengan Peraturan Menteri”, di mana menurut KEP-104A/MEN/2002 pasal 8 ayat (d) adalah sebesar Rp. 250 juta dan dalam bentuk deposito atas nama Menteri. Maka, dengan 474 buah PPTIS yang terdaftar hingga September 2007, pemerintah memperoleh keuntungan terhadap ‘uang mengganggur’ dari Rp 7,11 milyar kepada Rp 118,5 milyar dari regulasi tersebut. Apalagi pada ayat (f) dikatakan : “Memberikan surat kuasa kepada Menteri untuk mencairkan deposito dana jaminan.” Bila rujukannya adalah seperti apa yang tertera di Badan Nasional Sertifikasi Profesi dengan jumlah Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta) atau Depnaker Pemkab Tanjung Barat yang tertulis Rp.5.000.000.000,00 (lima ratus juta), maka jumlah totalnya adalah Rp. 237 milyar. Sedangkan untuk Kartu Kuning, seperti misalnya di Bandung dengan ‘infak’ kepada petugas pada kisaran harga antara Rp. 5.000~10.000(49) atau di Kabupaten Gresik dengan tarif permintaan Rp.3000 (sekalipun Kepala Disnaker mengatakan tidak ada pungutan sepeserpun)(50), serta bila bila andaikan bahwa semu TKI legal adalah melalui Depnakertrans dan biaya kartu kuning adalah Rp. 3000, maka dengan jumah YKI sebanayak 700 ribu orang yang berangkat ke luar negeri pada tahun 2006(51) akan menghasilkan sebesar Rp.2,1 milyar. Di sisi lain, surat edaran bertanggal 9 Agustus 2007 dengan nomer SE.20/BNP2TKI/VIII/2007 mengenai GCC Approved Medical Center Association

10

Haery & Andi-Draft

(GAMCA) untuk mengkoordinir Sistem Komputerisasi Tenaga Kerja Luar Negeri (Sisko TKLN), mewajibkan TKI untuk membayar Rp 10 ribu dan Rp. 50 ribu.(52) Bila diasumsikan bahwa jumlah TKI yang akan dikirimkan pada tahun 2008 dengan proyeksi sama seperti tahun 2006 dengan berjumlah 646.548 (table 2), maka jumlah total uang yang terkumpul adalah lebih dari Rp. 38 milyar. Tidaklah heran, untuk itu Himpunan Pengusaha Jasa TKI (Himataki) merasa perlu melaporkan BNP2TKI ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena Sisko TKLN dibentuk berdasarkan APBN dengan biaya Rp.6 milyar dan operasionalnya ditangani pemerintah,(52) serta biaya pembuatan KTKLN sebesar Rp 60.000 tersebut belum memiliki dasar hukum, kata Halomoan Hutapea sebagai Ketua Bidang Hukum dan Organisasi Asosiasi Perusahaan Jasa TKI Asia Pasifik (Ajaspac). Sedangkan uang yang didapat untuk biaya pengecekan kesehatan atau medis, pelatihan, uji kompetensi, pelatihan di balai latihan kerja tidak tercatat dengan resmi. Namun dapat diperkirakan dengan mengalikan antara jumlah TKI yang dikirim ke luar negeri dengan biaya per-layanan tersebut, di mana jumlah totalnya adalah sebesar Rp. 380 milyar untuk tahun 2006. Selain itu, bila dkatakan bahwa rekrutmen calon TKI berbiaya Rp.1,5 juta hingga Rp.4,5 juta(30), maka total rupiah yang didapat dari rekrutment calon TKI adalah sekitar Rp. 900 milyar hingga Rp 3 triliun. c. Perbankan dan Jasa Keuangan Di sisi layanan jasa dan saluran perbankan dalam meraup keuntungan dari devisa yang dihasilkan para TKI, mendorong pemerintah saat ini berusaha untuk menegosiasikan kontrak gaji dengan pemerintah negara tujuan, menyediakan skim pembiayaan bagi TKI untuk persiapan pemberangkatan, serta menyediakan outlet perbankan di negara tujuan untuk mempermudah akses pegiriman devisa.(10) Terbukti dengan besarnya penerimaan devisa pada tahun 2005 yang mencapai US$2,9 miliar dan melihat pencapaiannya pada tahun 2006 sebesar US$ 4,5 miliar (sekitar Rp. 40,6 triliun), serta proyeksi tahun 2009 sebesar US$ 20,9 miliar (sekitar Rp. 186 triliun) di mana dengan rata- rata keberangkatan TKI tiap tahun mencapai 450 ribu orang,(11) maka pembuatan nota kesepahaman antara Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mewajibkan para calon TKI untuk membuka rekening di Bank BNI (pada Mei 2004) dengan maksud untuk memangkas praktek pemotongan ilegal gaji TKI yang selama ini berlangsung sekaligus ‘janji’ Bank BNI yang akan memberikan kredit kepada calon TKI agar tidak perlu menjual tanah, sapi, dan aset lainnya untuk biaya pemberangkatan ke luar negeri,(34) menjadi sesuatu yang dipertanyakan sebagai praktek sistem monopoli oleh Ketua Himpunan Pengusaha Jasa TKI.(34) Dengan biaya setidaknya Rp.10.000 untuk pembukaan nomer rekening di BNI tersebut, maka perolehan uang bagi BNI dipastikan setidaknya sebesar RP. 4,5 milyar dari pembukaan nomer rekening saja. Pihak Bank Mandiri sendiri dalam usaha meraup keuntungan tersebut adalah dengan melakukan penawaran kredit TKI, di mana setiap TKI akan mendapat Rp 15 juta dengan bunga komersil 19% pada tahun 2007. Oleh karena itu mereka siap mengelontorkan Rp 200 miliar untuk kredit TKI.(11) Sekalipun pada kenyataannya, upaya yang dilakukan ini belumlah berjalan dengan baik. “Mungkin persyaratan yang berbelit- belit dari Bank Mandiri.”(33) Sedangkan Bank Prekreditan Rakyat Kanjuruhan milik Pemerintahan Daerah Malang menyiapkan Rp 2 miliar untuk diberikan kepada 500 calon TKI ke Malaysia yang masingmasing mendapatkan Rp 4 juta dengan bunga sebesar 1%.(36) Minat Bank Rakyat Indonesia untuk ambil bagian dalam bisnis ini, adalah dengan menyediakan skim kredit untuk membiayai pengiriman TKI melalui hasil jaminan pembayaran dari perusahan pemberi kerja

11

Haery & Andi-Draft

di luar negeri. Plafon yang disediakan adalah Rp. 8 juta per orang dengan tingkat bunga 16% pertahun.(11)(31) BRI sendiri siap mengucurkan dana dengan total Rp. 8 triliun kepada TKI.(11) Untuk Jawa Timur, menurut Gubernur Imam Utomo, tercatat sekitar Rp. 3,5 triliun devisa pada tahun 2004 yang dihasilkan oleh TKI asal Jawa Timur. Misalnya di Kabupaten Tulungagung, perolehan devisa dari TKI asal daerah tersebut adalah hingga mencapai Rp 300 miliar, padahal jumlahnya tersebut melebihi besar PAD-nya senilai Rp 45 miliar. Sehingga terhadap hal ini mendorong Bank Jatim untuk memberikan fasilitas pinjaman dengan bunga lunak sama seperti bunga untuk UKM.(35) dengan potensi keuntungan dari bunga pinjaman sebesar 1% per bulan terhadap kredit masing- masing sebesar Rp. 8 juta, maka dengan besar anggaran sebesar 2 milyar dari BPR Kanjuruhan akan menghasilkan setidaknya Rp 500 juta dalam 2 tahun masa kontrak TKI. Atau bila plafon skim kredit sebesar Rp. 8 juta dengan tingkat bunga 16% per tahun sebagaimana tawaran BRI, maka dalam waktu setidaknya 2 tahun masa kontrak kerja seorang TKI, paling tidak sekitar Rp. 450 ribu per bulan sebagai cicilan kredit harus ditanggung oleh seorang TKI. Dengan jumlah dana sebesar Rp 8 triliun yang dipersiapkan, bila tersalurkan dengan lancar maka dalam 2 tahun BRI setidaknya memperoleh sebesar Rp.10,7 triliun lebih Setidaknya hingga kini sudah ada 4 buah bank nasional yang menggarap pasar TKI, yakni BNI, Bank Mandiri, BRI, dan BCA. Misal, BNI yang mempromosikan tabungan BNI TKI dengan pembukaan rekening BNI di tanah air untuk memudahkan transfer dari luar negeri, dan Bank Mandiri dengan program Tabungan TKI Mandiri yang menawarkan kemudahan transfer gaji serta menawarkan kredit modal untuk pembiayaan pengurusan paspor dan administrasi keberangkatan.(11) Namun demikian, menurut Ketua BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat, “Bunga tinggi dan banyaknya syarat yang diajukan perbankan memang menjadi evaluasi.”(38) Selain itu, masalahnya adalah yang berkenaan dengan biaya transaksi yang tinggi.(21) Seperti yang juga menjadi perhatian IFAD,(3) di mana jika studi dan penelitian mereka terhadap pengurangan dari biaya remitans tersebut diaplikasikan di negara- negara yang sedang bekembang, maka dengan pengurangan biaya remitan dari 12% kepada 6% akan menghasilkan 11% peningkatan aliran remitans per-tahun ke negara- negara yang sedang berkembang tadi.(54) Misal, dewasa ini biaya pengiriman uang / remitans dari Malaysia ke Indonesia dengan CashLaju-CIMB di Malaysia dan Bank Niaga di Indonesia adalah sebesar RM8 (11), DiGiREMIT-CityBank RM8 (39), Maybank-BNI sebesar RM12, dan BMMB yang mengklaim diri sebagai yang termurah adalah sebesar RM10.(53) Namun apakah biaya yang dianggap ‘murah’ tersebut dapat dipastikan akan melonjakkan jumlah remitans melalui saluran dan penggunaan jasa perbankan? Berdasarkan data pada tahun 2003, biaya pengiriman remitans ke Indonesia dari Malaysia adalah sebesar Rp.25.00, Saudi Arabia sebesar Rp.12.500-20.000, Brunei sebesar Rp.100.000, Taiwan sebesar Rp. 62.500-75.000, Hongkong sebesar Rp.20.000-35.000. Sedangkan bila dilakukan dengan cara informal, dari Malaysia sebesar Rp.5.000-12.000, dan Hongkong sebesar Rp.20.000-40.000.(9) Dikarenakan nilai tukar yang terlalu ‘jauh’ bila dengan ditukarkan di tempat- tempat penukaran uang swasta di Indonesia (money changer), selain itu karena keawaman para TKI kita terhadap jasa dan fasilitas perbankan, serta jumlah mereka yang lebih banyak bekerja di sektor informal (seperti PRT), maka mereka lebih memilih untuk ‘menyembunyikan’ sendiri uangnya (di lemari, bantal dll)(55) untuk kemudian dibawa ke tanah air pada saat pulang di akhir masa kontrak kerja mereka. Sedangkan cara lainnya adalah dengan jalan dititipkan

12

Haery & Andi-Draft

kepada teman yang pulang ke tanah air. Selain itu, contohnya untuk beberapa TKI yang bekerja di Malaysia, mereka dapat melakukan semacam ‘sum’ (pengumpulan) uang diantara mereka (teman- teman sekampung) yang besarnya jauh lebih kecil dari biaya transfer uang secara resmi. Dari uang yang dikumpulkan tersebut, bahkan jumlahnya dapat melebihi biaya ongkos pulang dengan pesawat yang sekarang ini tersedia dengan biaya murah (sekitar RM250 ~ RM400), memungkinkan mereka untuk membawanya langsung melalui salah seorang di antara mereka ketika hendak pulang ke tanah air karena berlibur, kepentingan keluarga, atau habis masa kontrak kerja. Selain di antara mereka saling diuntungkan, karena ‘tepat’ sampai kepada yang dituju, juga sekaligus mengikat ‘tali kekentalan persahabatan atau perkerabatan’ di antara keluarga mereka. Dengan cara ini, di antara sanak keluarga atau orang dari kampung mereka menjemput TKI yang membawa ‘titipan’ tadi di Bandara. Cara ini juga sekaligus mengantisipasi praktek- parktek pemerasan yang dilakukan oleh para penyedia layanan transportasi yang membawanya ke kampung halaman. Pada kasus lain, untuk beberapa komunitas TKI (biasanya berdasarkan suku atau daerah) seperti di Malaysia, mereka melakukannya dengan cara mempergunakan jasa di antara individu di dalam komunitas tersebut dengan menjual jasanya melalui cara mengirimkan SMS terhadap sanak/sahabatnya di tanah air untuk mentransferkan uang ke rekening yang dituju. Sementara individu tadi menerima uang dari orang yang bermaksud mengirimkan uang tadi setelah transaksi terjadi. Dalam kasus ini, diperlukan paling sedikit 4 orang yang terlibat dan sistem transfer uang dalam bank yang sama melalui fasilitas ATM. Sedangkan biaya yang dibebankan biasanya “harga teman” dan besar nilai tukarnya dapat didiskusikan (ditawar) dan disepakati bersama dengan nilai tukar yang ‘cukup’ menguntungkan, sebab di antara mereka saling berusaha mengetahui informasi terkini mengenai nilai tukar uang yang ada. Perbedaan nilai tukar uangnya adalah lebih besar daripada nilai tukar uang di bank atau bahkan money changer yaitu kurang dari Rp.150 per Ringgit, serta biaya pengiriman ratarata yang dibebankan adalah sebesar RM5. Selain cara ini memudahkan mereka untuk tidak harus ‘repot’ menjangkau lokasi fasilitas layanan pengiriman uang dari tempat mereka berada, serta relatif mudah, karena tiap- tiap bulan ‘teman’ tersebut berkumpul di dalam pergaulan dan di acara- acara yang dibuat di antara komunitas mereka. Beberapa perusahaan ‘money changer’ melakukan pendekatan ini setelah konsumennya (TKI) mempergunakan jasa ‘money changer’ di tempat/kota lain berhubung perbedaan nilai tukar. Misal: melakukan pengiriman dari ‘money changer’ di Kuala Lumpur yang memiliki usaha sejenis/mitra di Indonesia. Padahal TKI tadi bertempat tinggal di Melaka. Sehingga bila banyak TKI dengan jumlah yang sangat besar tersebut bermaksud mengirimkan uangnya pada saat bersamaan, maka agen dari Kuala Lumpur tersebut mendatangi mereka. Pemandangan seperti ini banyak terjadi saat para pekerja bermaksud mengirimkan uang untuk Hari Raya sanak keluarganya di daerah asal mereka.. d. Telekomunikasi Excelcomindo menawarkan program telekomunikasi melalui produk Jimat dengan harga Rp. 1000 per-menit ke Malaysia, Singapura, Hongkong, Tawan, dan China. Padahal dengan VoIP saja harganya adalah Rp. 2500. Untuk melakukan SLI ke Indonesia, tarifnya adalah RM 0,45/menit. Hal ini dilakukan melalui kerjasama dengan Celcom Malaysia dan M1 Singapura.(41) Agar semakin banyak dipakai, produk Jimat dari Excelcomindo ditawarkan bersama Xpac untuk memungkinkan orang asing di Malaysia (TKI, pelajar) mempergunakan Xpac, sementara sanak keluarga atau kerabat di tanah air menggunakan Jimat. Targetnya adalah 400 ribu pelanggan. Dalam hal ini Excelcomindo lebih membidik pasar ‘keluarga di kampung halaman’.

13

Haery & Andi-Draft

Tidak mau ketinggalan, Indosat juga turut serta dengan menggarap pasar TKI di Hongkong melalui produk Mentari Hongkong sebagai hasil kerjasama dengan CSL . Produknya lebih dibidik untuk pasar TKI, yaitu dengan cara memberikan harga diskon untuk sesama grup Indosat sebesar HK$ 0.68 per-menit, sedangkan tarif bagi pengguna di luar Indosat adalah HK$ 0.86 per-menit. Jumlah pelanggan Mentari Hongkong saat kini sudah mencapai 15 ribu orang, sedangkan jumlah TKI di Hongkong sendiri adalah sebanyak 112 ribu orang. Untuk Telkomsel, perusahaan telekomunikasi ini mengawali pengarapan ini melalui kerjasama dengan Bank Mandiri dengan produk m-commerce (m-ATM). Yaitu layanan mATM sebagai layanan ATM pada ponsel pertama di Indonesia yang dapat melakukan transaksi pembayaran, pembelian dan pengambilan tunai, serta remitan atau pengiriman uang baik lokal maupun internasional.(42) Namun, m-ATM ini belum dikabarkan dapat dilakukan di dan/atau dari luar negeri. Sementara itu, Citibank Berhad bekerjasama dengan DiGi Telecommunications Sdn Bhd melakukan ekspansi terhadap TKI dengan memberikan fasilitas transfer uang dari Malaysia ke Indonesia melalui SMS dari manapun di Malaysia ke manapun di Indonesia(39) (termasuk ke Bangladesh dan Filipina)(66), melalui PT. POS Indonesia dan juga langsung ke nomer rekening bank di Indonesia sepanjang bank tersebut adalah anggota dari sistem ‘clearing’ Bank Indonesia. Sekalipun biaya yang dikenakan adalah RM 8 (lebih murah dibanding dengan apa yang dikenakan antara Maxis dan Globe Telecom dalam pengiriman uang ke Filipina yang tarifnya adalah RM 10), namun tidak dikatakan apakah ada atau tidaknya biaya tambahan dari bank penerima atau PT. POS, serta dalam mata uang apa atau besaran kurs/ nilai tukar yang berlaku. Sekalipun konsumen DiGiREMIT secara otomatis dapat menikmati tanggungan biaya asuransi kecelakaan sebesar RM10.000,-. Dengan semakin banyaknya TKI yang bekerja di Malaysia, tidak ketinggalan juga orangperorangan berbisnis untuk menjual ‘isi ulang pulsa’ bagi operator- operator selular di Indonesia. Ini dilakukan karena ‘keluarga di kampung halaman’ mengalami kendala keuangan atau lokasi dalam membeli pulsa untuk melakukan telekomunikasi ke luar negeri. Oleh karenanya, TKI di luar negeri tadi dapat membelikan pulsa ‘isi ulang’ selular di Indonesia bagi sanak keluarga/ kerabat dari tempatnya bekerja dan mengirimkan ‘code pin’ untuk isi ulang pulsa tersebut ke tanah air. Sekalipun bisnis orang per-orangan ini kecil, namun dapat memberikan penghasilan tambahan bagi TKI itu sendiri terhadap temantemannya. Malah sekarang isi ulang pulsa tersebut sekarang sudah dijual di kedai- kedai yang berdekatan dengan lokasi para TKI berkumpul atau dekat tempat kerja mereka. Dalam kasus ini, pasar yang dibidik adalah TKI, namun penggunanya adalah sanak keluarga TKI di Indonesia.

2.2 Inovasi Bisnis dan Layanan Terhadap TKI yang Masih Terbuka Luas
a. Kriteria dan Jenis TKI Maupun Pekerjaan dan Mobilitasnya (kasus di Malaysia) Berdasarkan Tabel 2, pada tahun 2001-2006 untuk misalnya negara tujuan Malaysia, jumlah TKI di sektor formal adalah lebih banyak daripada di sektor informal. Ini bukan berarti bahwa masalah yang dijumpai TKI seperti yang kita dengar dan lihat dari televisi dan suratsurat kabar, seperti misal: gaji tidak dibayar atau terlambat, adalah terbatas hanya kepada perlakuan majikan terhadap TKI di sektor informal saja (misal: pembaantu rumah tangga). Sebab dalam masalah tidak dibayarkan gaji, ini juga terjadi pada sektor perkebunan/ ladang, maupun infrastruktur/konstruksi yang dimasukan ke dalam kategori sektor formal. Sedikit dan bahkan tidak ada data yang menyebutkan bahwa gaji yang tidak dibayarkan adalah

14

Haery & Andi-Draft

terjadi di sektor formal, seperti kilang atau pabrik. Untuk beberapa kasus, paling- paling hanya terjadi keterlambatan pembayaran gaji yang dilakukan oleh agen ‘outsourcing’. Itupun jumlahnya sangat kecil. Untuk kasus terlambat atau tidak dibayarkan gaji di sektor formal, seperti konstruksi atau infrastruktur, lebih dikarenakan karakteristik majikan dan jenis usahanya. Misal, bila majikan adalah kontraktor utama, maka pembayaran gaji selalu tepat waktu. Namun jika kontraktornya adalah agen pemborong untuk kerja ‘borongan’ terhadap satu atau dua jenis pekerjaan dari satu konstruksi/infrastruktur, maka akan sangat berpengaruh terhadap lancarnya pengucuran dana dari kontraktor yang memborongkan pekerjaan tersebut. Demikian juga terhadap kesinambungan dari pekerjaan terhadap pekerja yang tergantung dari majikan yang mencari dan mendapatkan proyek di tempat- tempat lain. Untuk kasus borongan pekerjaan terhadap unit- unit kecil suatu pekerjaan dari sub-kontaktor yang mendapat borongan pekerjaan dari kontraktor, biasanya dilakukan oleh TKI senior yang sudah berpengalaman dan lama bekerja. Sekalipun upah yang ditawarkan adalah besar, namun cukup berat dan dibutuhkan keahlian khusus. Selain itu, kesinambungan ada tidaknya pekerjaan adalah relatif tidak terjamin dibanding pekerja di bawah sub-kontraktor atau kontraktor utama. Misal: pekerjaan ‘plester’ dinding, tukang tembok/susun bata dapat mencapai RM65~80 per-hari). Sehingga dengan demikian, mobilitas keberadaan pekerja adalah sangat dinamis dan tergantung di mana proyek pekerjaan infrastruktur/kontruksi berada. Begitu juga upah yang dibayarkan adalah berdasarkan kerja harian dan dibayarkan (gajian) 2X dalam sebulan, demikian pula dengan ada atau tidaknya jenis/spesifikasi pekerjaan yang dibutuhkan. Sehingga mereka bahkan sering ‘dipinjamkan’ ke majikan lainnya yang membutuhkan pekerja terhadap suatu proyek konstruksi/infrastruktur. Dengan demikian, upah yang diterima menjadi relatif lebih rentan terhadap situasi lingkungan dan sistem pekerjaan, walaupun upah harian pekerja di bidang ini adaah lebih besar dibanding di sektor yang sama, misal: perkebunan (sawit) yang berkisar antara RM18~29 per hari, pekerja kilang sebesar RM 450 hngga 600 per bulan. Memasukkan jenis dan kriteria pekerjaan, seperti konstruksi/infrastruktur dan perkebunan ke dalam sektor formal, dapat berarti lain ketika data terhadap jumlah tersebut diproyeksikan terhadap bisnis jasa perbankan dan telekomunikasi. Demikian pula kriteria umur dan status perkawinan. Sedangkan untuk sektor formal, seperti di kilang atau manufaktur, kriteria jenis kelamin akan sangat berpengaruh terhadap perilaku pengiriman atau penyimpan uang, maupun kosumsi layanan telekomunikasi. Untuk sektor formal seperti kilang, jumlah TKI pria sangat kecil. Hal ini karena upahnya relatif kecil dibanding pekerja di sektor formal seperti bidang konstruksi/infrastruktur. Dengan demikian, posisi pekerja pria di bidang kilang adalah lebih banyak diisi oleh pekerja asing dari Nepal, Vietnam, dan beberapa di antaranya dari Banglades. Untuk kasus TKI yang bekerja di Malaysia, adalah jarang atau hampir dikatakan tidak ada seorang TKI wanita yang bekerja di sektor informal (seperti pembantu rumah tangga atau PRT) dalam menggunakan jasa layanan telekomunikasi seluler. Berbeda sangat terbalik bila di banding TKI wanita di sektor formal yang bekerja di kilang. Demikian pula jika dibandingkan dengan TKI di sektor yang sama di Hongkong. Hal ini dikarenakan TKI wanita di sektor informal di Malaysia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tidak memiliki waktu libur/ istirahat bekerja seperti TKI wanita di sektor formal tadi, maupun TKI wanita di Hongkong yang memiliki waktu libur di akhir pekan (hari sabtu/ minggu atau hari libur nasional). Sehingga dengan demikian, TKI wanita di sektor formal di Malaysia maupun TKI wanita di sektor informal di Hongkong memiliki kesempatan untuk berkumpul bersamasama rekannya, yang dampaknya dapat dilihat dari ‘update’-nya cara hidup mereka terhadap

15

Haery & Andi-Draft

layanan jasa keuangan (money changer, memiliki ATM atau nomer rekening bank), gaya berpakaian dan potongan rambut, serta memiliki handphone sebagai sarana telekomunikasi yang mereka butuhkan. Paling sedikit 99% TKI wanita disektor formal sebagai pekerja kilang di Malaysia, dalam jangka waktu sekurang- kurang 6 bulan telah memiliki handphone. Begitu juga TKI wanita di sektor informal di Hongkong. Pemilahan ini secara relatif dapat didasarkan juga pada faktor pendidikan dan umur, selain jenis pekerjaannya. Namun, untuk TKI wanita yang memiliki jenis pekerjaan dengan waktu libur, maka paling tidak 1x dalam sebulan. Mereka akan ‘pergi’ ke tempat keramaian untuk ‘hiburan’ sekaligus berbelanja, mengambil uang di ATM atau mengirimkan uang ke tanah air, dan bersosialisasi dengan rekan- rekan maupun komunitas mereka. Sekalipun demikian, masih jarang di antara mereka menggunakan jasa dari institusi perbankan dalam mengirimkan uang. Ini karena di pusat keramaian atau tempat mereka berkumpul, tidak tersedia atau kurangnya kantor- kantor jasa layanan perbankan. Jika ada, itupun tutup dan libur beroperasi. Yang buka untuk memberikan layanan hanyalah ‘money changer’. Selain itu, mereka terkendalakan dengan cara pengisian form sebagai tata cara untuk mengirimkan uang yang membuat mereka merasa tidak praktis (‘repot’) dan terasing karena keawaman mereka. Maka tidaklah heran, sekalipun jika mereka menggunakan jasa perbankan, mereka sering terlihat ‘kaku’ dan meminta bantuan petugas untuk mengisikan ‘form’ pengiriman uang bagi mereka. Bedasarkan laporan Asian Development Bank, kebanyakan para pekerja asing mengirimkan uangnya ke kampung halaman adalah ditujukan untuk orangtuanya, namun untuk pengiriman uang dari pekerja asing Indonesia dari Malaysia merupakan perkecualian. Delapan puluh satu persen pekerja asing dari Indonesia di Malaysia mengirimkan uangnya adalah kepada suami/istri daripada kepada orangtuanya (68) (lihat Tabel 5)
Tabel 5 Penerima Remitans yang Dikirim

Asal Negara
Indonesia Filipina Malaysia

PERUNTUKAN KIRIMAN UANG DARI PEKERJA ASING DI HONGKONG JEPANG MALAYSIA SINGAPURA
50% 49% 61% 53% 87% 81% (*) 50% 66% 50% 74%

(*) kepada/ untuk suami atau istri dan anak

Dengan rata- rata jumlah dan frekuensi kiriman rutin sebagai berikut:
Tabel 6 . Jumlah Rata- Rata Uang Yang Dikirimkan NEGARA ASAL Indonesia Malaysia Flipina HONGKONG
Terendah Rata-Rata

JEPANG
Terendah 40% Rata-Rata

MALAYSIA
Terendah 40% Rata-Rata

SINGAPURA
RataRata Terendah 40%

332 268

830 961 567

467 280 374

284 385 294

181 241 181

176 192

151 132

70 70

Negara Asal
Indonesia Malaysia Filipina

Hongkong
11 15

Negara Tempat Bekerja Jepang Malaysia
5 4 11 6 10

Singapura
3 6 14

Sumber: Survey dari Kiriman Pekerja Asing, Regional Technical Assistance No.6212: SoutEst Asia Workers Remittance Study, Asian Development Bank (68)

16

Haery & Andi-Draft

Dengan masing- masing peruntukkan sebagai berikut:
Tabel 8 . Proporsi Peruntukan Uang Kiriman

Negara Asal
INDONESIA

Hongkong
1 Tabungan (39%) 2. Pendidikan (36%) 3. Bisnis (30%) 1 Makanan (78%) 2. Pendidikan (73%) 3. Pakaian (45%)

Jepang
1. Pendidikan (43%) 2. Tabungan (40%) 3. Makanan (34%) 1. Pendidikan (35%) 2. Makanan (30%) 3. Tabungan (26%) 1. Makanan (74%) 2.Pendidikan (57%) 3. Pakaian (56%)

Malaysia
1. Makanan (99%) 2. Pakaian (98%) 3. Pendidikan (93%) 1. Makanan (92%) 2. Pendidikan (80%) 3. Pakaian (753%)

Singapura
1. Makanan (87%) 2. Pakaian (66%) 3. Pendidikan (47%) 1. Makanan (90%) 2. Baju (66%) 3.Rumah (49%) 1. Pendidikan (77%) 2. Makanan (75%) 3.Rumah (50%)

MALAYSIA

FILIPINA

Rangking 1 2 3

INDONESIA
Makanan (72%) Rumah (55%) Pendidikan (53%)

MALAYSIA
Tabungan (81%) Pendidikan (63%) Makanan (62%)

FILIPINA
Makanan (60%) Pendidikan (57%) Tabungan (49%)

Sumber: Survey dari Kiriman Pekerja Asing, Regional Technical Assistance No.6212: SoutEst Asia Workers Remittance Study, Asian Development Bank (68)

Tabel 7 . Frekuensi Rata- Rata dan Jumlah Pengiriman Tiap Tahun

Tabel 8 . Jumlah Rata- Rata Pekerja Asing Wanita Terhadap Pekerja Pria

Asal Negara
Indonesia Filipina Malaysia

% JUMLAH PEKERJA ASING WANITA vs. PRIA HONGKONG JEPANG MALAYSIA SINGAPURA
94% 97% 18% 68% 50% 29% 58% 100% 88% 26%

Sumber: Survey dari Kiriman Pekerja Asing, Regional Technical Assistance No.6212: SoutEst Asia Workers Remittance Study, Asian Development Bank (68)

TKI pria disektor formal (infrastruktur/ konstruksi) termasuk paling aktif untuk keluar dari lokasi penampungan mereka atau ‘tangsi’ ke tempat keramaian untuk mencari hiburan. Selain untuk bersosialisasi (bergaul, ‘ngeceng cw-TKI, ‘nongkrong-nongkrong’), juga untuk berbelanja pakaian. TKI pria di sektor formal di bidang infrastruktur atau konstruksi ini ratarata berumur antara 18 hingga 35 tahun dengan jumlah antara 70% hingga 85% dari TKI pria di sektor formal yang sama. Dalam beberapa kasus, kedatangan mereka ke tempat keramaian untuk menghiburkan diri lebih kerap daripada TKI wanita di sektor formal. TKI di sektor formal lainnya, seperti perkebunan, cukup mengalami kendala untuk pergi ke keramaian dan 17

Haery & Andi-Draft

mencari hiburan disebabkan lokasi penampungan mereka cukup jauh dari kota, jalan raya dan minimnya akses transportasi. Maka, terkadang hanya 1x dalam sebulan mereka keluar ke tempat keramaian saja belum tentu. Itupun biasanya dilakukan oleh TKI dengan rata- rata golongan umur muda dan statusnya legal. TKI gelap atau ilegal cenderung menghindarkan diri dari keramaian demi keamanan mereka. Jasa keuangan dan layanan telekomunikasi yang tersedia adalah lebih menyentuh TKI dengan karakteristik TKI di sektor formal di bidang infrastrukutur/ konstruksi dengan jenis kelamin pria dan TKI wanita di sektor formal, seperti kilang. Sekalipun besaran untuk kelompok TKI pria di sektor formal (infrastruktur/konstruksi) masih lebih kecil dibanding TKI wanita di sektor formal dalam mempergunakan jasa layanan perbankan, namun TKI pria di sektor formal antara bidang infrastruktur/ konstruksi dan perkebunan adalah hampir sama jumlahnya dalam mempergunakan jasa layanan telekomunikasi. Yang menarik adalah, penggunaan layanan telekomunikasi untuk TKI pria formal (infrastruktur/konstruksi) lebih besar dikosumsi untuk telekomunikasi dengan bukan sanak keluarga/kerabat di tanah air dibandingkan TKI wanita sektor formal, yang proporsi kosumsi layanan jasa telekomunikasinya tersebut hampir sama antara ke tanah air dan ke rekan- rekan sesama TKI. Menurut Asian Development Bank, hanya 8% pekerja asing Indonesia di Malaysia menghubungi/ bertelepon keluarganya 1x seminggu. Sementara 92% melakukan perjalanan pulang ke Indonesia setidaknya 1x pada tahun 2005 atau 2004. Dari perjalanan pulang ke kampung halaman tersebut, lebih dari tiga per-empatnya diperkirakan rata- rata membawa sekitar US$ 3000. Sedangkan dari pekerja asing Indonesia di Singapura hanya 21% saja. (68) Gambaran kasar akan mobilitas TKI dan kosumsi uang yang mereka pergunakan dapat dilihat sekilas dari ‘hiburan’ yang mereka dapatkan dari ‘manggungnya’ artis- artis ‘band’ dari Indonesia. Sama halnya dengan TKI formal di Hongkong, Taiwan, Korea, Jepang dan juga TKI wanita di sektor informal di Hongkong. Kehadiran kelompok ‘band’ yang konser di negara- negara tersebut bukan berarti bahwa jumlah masyarakat negara- negara tersebut menjadi proporsi terbesar sebagai penonton hiburan tersebut. Yang ‘gempar’ adalah sambutan dari TKI itu sendiri. Di sisi lain, (untuk kasus di Malaysia) dapat pula diamati dari tersedianya layanan penjualan jenis makanan dan masakan, serta rokok merk Indonesia. Sehingga bila di suatu tempat ada layanan penjualan makanan dan masakan Indonesia, maka dapat diartikan bahwa konsumen terhadap usaha tersebut terbentuk atau dibentuk untuk menampung atau berkumpulnya orang- orang Indonesia sebagai sebuah bisnis yang menguntungkan. Secara kebetulan pula, pemilik atau penjualnya pun adalah orang Indonesia yang sudah menjadi warga atau penduduk tetap negara tersebut. Bila kita kaitkan dengan jasa layanan keuangan dan telekomunikasi, maka bisnis yang aktif terhadap pasar TKI adalah bisnis jasa perbankan dan telekomunikasi di area tersebut. Mengambil kasus untuk rokok dengan merk buatan Indonesia, terbukti di mana TKI tinggal atau sering berkumpul, bila di daerah tersebut ada rokok ‘gelap’ (seludupan) dengan merk dari Indonesia langsung dengan cukai harga rupiah yang tertera, maka usaha kelontong di daerah atau tempat tersebut juga menjual produk- produk dari Indonesia lainnya atau setidaknya perputaran barang kosumsi di ‘kedai’ atau toko tersebut begitu diuntungkan dengan konsumennya yang kebanyakan adalah orang Indonesia (TKI). Tidaklah heran, jika interaksi dari pendatang dengan budaya dan gaya yang dibawanya terhadap orang lokal, maka budaya dan gaya tadi kemudian saling berbaur dan

18

Haery & Andi-Draft

mempengaruhi. Dengan demikian, mobilitas tersebut merupakan transformasi dari masyarakat dan budaya, menciptakan ‘diaspora’, dan membentuk identitas antar bangsa dengan perasaan memiliki dari 2 atau lebih masyarakat pada saat bersamaan.(6) Misalnya di Korea dan Jepang, TKI pria lebih banyak mengadaptasi potongan rambut orang lokal dengan cara dicat merah. Namun di Malaysia, beberapa waktu setelah potongan rambut ‘gondrong’ dan kaus hitam bergambar ‘gothic’ atau ‘band rock’ yang menjadi ciri khas TKI pria (khususnya banyak dipakai oleh TKI di bidang konstruksi/infrastruktur) menjadi trend, maka trend ini kemudian beralih meniru gaya berpakaian dan potongan rambut kelompokkelompok band dari Indonesia yang ‘manggung’ di Malaysia. Sekalipun potongan ini mengikuti trend kelompok- kelompok band asing yang baru muncul dengan pangkas rambut assymetris (acak- acakan, seperti bangun tidur) , celana jeans, kaos oblong, sepatu ‘sketch’, serta jaket hijau dengan emblem ‘pangkat’ tentara. Namun gaya dan potongan penampilan diri ini menjadi pembeda terhadap pria muda lokal, yang kemudian menirunya setelah para TKI meniru dari kelompok- kelompok band dari Indonesia. Apalagi lagu- lagu dari kelompok band Indonesia yang pernah tampil di Malaysia dan dapat dilihat dari televisi lokal cukup dapat disambut, diterima, dan menjadi lagu favorit ‘anak- anak’ muda lokal. Sekalipun siklusnya tertinggal 1 periode waktu, di mana di Indonesia telah bermunculan kelompok- kelompok band dengan lagu- lagu yang baru. Kelompok band seperti Sheila on 7, Peterpan, Raja, Samsons, dan lainnya, bahkan Dewa sangat diketahui oleh penduduk lokal dan lagunya tidak asing bagi ‘anak- anak’ muda lokal. Semua itu dapat diketahui dari lagulagu yang diputar di radio- radio di Malaysia. Fantastisnya, lagu “My Heart” dari Acha dan Irwansyah, “Pencinta Wanita” dan “Berdua Lebih Baik” jadi favorit setiap radio- radio di Malaysia dalam menghibur pendengarnya. Hingga kini, hampir setiap hari dapat didengar, sekalipun di kota- kota besar di pulau Jawa hanya sebatas tahun 2006. Mungkin kalau di Jakarta atau di Bandung sudah disebut lagu “Jadul”. b. Jumlah dan Kriteria/ Jenis TKI Sebagai Informasi terhadap Bisnis b.1 TKI sektor fomal-informal, jenis kelamin, dan area penempatan TKI yang bekerja di sektor informal mengirimkan gajinya sebesar 80%, sedangkan TKI formal sekitar 70%(17) Pada 2004 jumlah TKW adalah 77.1% dari Total TKI (3) Tahun 2007 jumlah TKI sebanyak 2,7 juta., dengan 70% bekerja di sektor informal dan 80% diantaranya adalah perempuan(15) Pekerja yang ‘unskilled’ dan mayoritas adalah perempuan (8) Perbandingan remitan TKI Timur Tengah dan Asia Pasifik 7:4 (17) b.2 TKI – Potensi Keuangan/ Remitans Dana yang dikirim oleh TKI illegal yang bekerja di luar negeri bisa tiga kali lipat jumlahnya hingga mencapai 3,5 juta. Dari 1,28 juta orang pada 1999-2001 kirimannya sekitar Rp 31,45 triliun (US$3,145) (18) Untuk mempermudah akses pengiriman devisa dibutuhkan tersedianya outlet perbankan di negara tujuan (10) b.3 TKI di Malaysia Pada tahun 1988, TKI di Malaysia 70% bekerja di perkebunan dan sektor infrastruktur. Upah untuk TKI yang bekerja di pabrik adalah 400RM , perkebunan sebesar 350RM dan pembantu rumah tangga adalah sebesar 300RM(56) Tahun 2003, 29% TKI yang bekerja di sektor formal, seperti: perkebunan/ladang, 19% (industri/kilang), 18% infrastruktur, 7% di bidang jasa, dan. 73 % di sektor informal sebagai PRT (57) 19

Haery & Andi-Draft

Dari laporan ekonomi 2004/2005 Pemerintah Malaysia-Kemterian Kewangan dikatakan, bahwa dari 1,36 juta pekerja asing di Malaysia, 66.5%-nya adalah dari Indonesia. Pekerja asing tersebut 30,5% bekerja di perkilangan, 25% servis, 24,7 pertanian (perkebunan), dan 19,8 pembinaan (infrastruktur/konstruksi).(58) TKI ilegal di Malaysia berjumlah +/- 700 ribu (17) Pada tahun 2000, jumlah TKI legal di Malaysa mencapai 517.766, jumlah ini hamper menyamai jumlah TKI ilegal. (21) Hingga bulan Agustus 2005, diperkirakan TKI ilegal yang bekerja di luar negeri berjumlah lebih dari 1 juta (400ribu di Malaysia, 400ribu di Saudi, 20ribu di Korea dan 8ribu di Jepang) (8) Tahun 2000 TKI ilegal di Malaysia diperkirakan berjumlah 1 juta. Pada tahun 1999 hingga 2001 jumlah TKI adalah 3,5juta (59) Dari 1,2 juta TKI di Malaysia, sekitar 60% (sebanyak 720ribu orang) adalah ilegal (20) c. Jasa Layanan Perbankan dan Telekomunikasi Terhadap Jenis/Kriteria Kosumsi TKI Dari data yang diperoleh berdasarkan pengamatan untuk TKI di sektor formal, penggunaan sistem dan jasa keuangan untuk pengiriman uang ‘bukan dengan bank’ adalah semakin lebih besar dikarenakan status ilegal mereka yang membuat mereka lebih ‘nyaman’ untuk mempergunakan jasa bukan bank. Ini karena dalam pengiriman uang melalui jasa layanan bank diperlukan surat keterangan, passport, atau kartu identitas. Selain pola ini sejalan dengan penggunaan jasa layanan bukan bank yang dilakukan oleh TKI legal di sektor formal, di mana dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan keawaman dalam pengisian ‘form kiriman’, juga dikarenakan lokasi layanan bukan bank seperti ‘money changer’ lebih dekat dengan aktifitas tempat mereka berkumpul. Namun demikian, pengiriman untuk ‘Hari Raya’ bagi keluarga di tanah air hampir semua dilakukan oleh TKI, baik legal maupun illegal, disektor formal maupun informal. Untuk TKI di sektor informal (yang bekerja sebagai PRT), pengiriman uang untuk ‘Hari Raya’ bahkan sebesar uang tabungan dari upah bulanan yang telah mereka kumpulkan. Untuk TKI wanita di sektor formal, adalah lebih besar dalam hal mengirimkan uang, baik dalam hal menggunakan jasa layanan keuangan (bank maupun bukan bank) dibanding TKI pria di sektor formal. Hal ini dikarenakan TKI wanita formal lebih ‘mampu’ mendisiplinkan dirinya dalam ‘menabung’ dan membantu sanak keluarga di tanah air. Keteraturan sistem penggajian mereka melalui sistem perbankan, memungkinkan mereka melakukan perencanaan keuangan dengan lebih pasti. Di sisi lain, pengiriman uang di antara sesama TKI pria formal adalah lebih banyak dilakukan oleh TKI pria yang telah berkeluarga, di mana kirimannya diperuntukkan untuk pembiayaan sekolah anak dan kebutuhan sehari- hari keluarga (istri & anak) di tanah air (lihat Tabel 5). Semakin seringnya TKI pria yang bekerja di sektor formal dalam mengirimkan uang, maka berkorelasi terhadap semakin kecilnya proporsi penggunaan biaya telekomunikasi, baik dilakukan terhadap keluarga ataupun teman. Kesadaran terhadap penggunaan uang di dalam kosumsi layanan telekomunikasi mempengaruhi besarnya tabungan yang lebih dimanfaatkan untuk dikirimkan. (bagi TKI formal yang berkeluarga, baik legal maupu illegal). Semakin muda umur dari TKI formal, maka perencanaan terhadap keuangan untuk tabungan atau pengiriman uang semakin tidak baik.

20

Haery & Andi-Draft

Industri/ Bidang

Jasa Perbankan/Keuangan (Kiriman Uang)
Hari Raya Dengan Bank atau Bukan Bank

Jasa Layanan Telekomunikasi
Handphone Telekomunikasi

PRIA
TKI Formal (Lega l& Ilegal) Konstruksi Kilang Perkebunan 50~70 % KRDB<TKU, KBDB>KUDB 55~70 % KRDB>TKU, KBDB>KUDB 60~75% KRDB TKU, KBDB>KUDB

MH>TH MH>TH MH>TH

KDT>KDK KDT>KDK KDT>KDK

WANITA
TKI Formal TKI Informal (Legal) TKI Formal/Informal (Ilegal) Kilang PRT 65~80% 75-90%

KRDB>TKU, KBDB>KUDB KRDB<TKU , TKS

MH>TH MH<TH

KDT>KDH KDT< KDH

Hiburan Pen-Makanan

75~90% 75~90%

KRDB>TKU, KRDB<TKU

KBDB>KUDB

MH>TH MH>TH

KDT>KDH KDT>KDH

catatan: untuk TKI pria di sektor formal setidaknya mengeluarkan RM.40 per-bulan untuk jasa layanan telekomunkasi Keterangan: (KRDB) Kiriman rutin per-bulan/ per-2bulan (KBDB) Kiriman bukan dengan Bank (KHR) Kiriman untuk hari raya (KDT) Telekomunikasi dengan teman (MH) Memiliki Handphone ( ) Preferensi meningkat/ membesar hingga 90%

(TKU) Tidak mengirim uang dengan rutin (TKS) Tidak mengirim uang tetapi disimpan (KUDB) Kiriman uang dengan Bank (KDK) Telekomunikasi dengan kerabat di tanah air (TH) Tidak memiliki Handphone ( ) Preferensi menurunmenurun hingga di bawah 10%

Gambar 3. Jenis TKI terhadap Layanan Pengiriman Uang dan Kosumsi Telekomunikasi

Secara rata- rata, TKI wanita, baik di sektor formal maupun informal lebih baik dalam rutinitas mengirimkan uang dan menabung daripada TKI pria. Namun demikian, di sisi lain, kosumsi penggunan biaya layanan telekomunikasi TKI pria lebih besar daripada TKI wanita di sektor formal dan informal. Terkecuali untuk TKI pria dan wanita di sektor formal yang telah berkeluarga. TKI pria yang telah berkeluarga adalah lebih besar mengeluarkan biaya untuk bertelekomunikasi SLI ke tanah air daripada TKI wanita yang telah berkeluarga, sekalipun masih lebih kecil daripada TKI wanita yang belum berkeluarga. Lebih besarnya TKI pria di sektor formal dalam menggunakan telekomunikasi, terutama TKI pria yang belum menikah, adalah dikarenakan mereka sering mengadakan hubungan telekomunikasi di antara sesama mereka yang jaraknya cukup berjauhan, dan bahkan digunakan untuk mencari ‘teman’ TKI wanita hingga antar negara (misal: ke Hongkong dan Taiwan). Selain itu, karena lokasi tempat TKI formal tadi berada (selain TKI pria di kilang) adalah pada kelompok- kelompok penampungan atau ‘tangsi’ yang berbeda, tergantung di mana proyek berada. d. Inovasi Bisnis Terhadap TKI dan Keluarganya Sebagai Usulan d.1 Besaran remitans melalui jasa perbankan sebagai suatu kebutuhan Melihat bagaimana bentuk distribusi dari remitans pekerja asing Filipina,(63) sebagai suatu perbandingan, di mana persentase pengiriman uang dan penggunaan jasa perbankan melalui bank adalah sekalipun lebih dari 50%, namun uang yang dibawa oleh pekerja asing dan penggunaan jasa selain institusi perbankan untuk pekerja asing Filipina adalah masih cukup tinggi. Dari 58% uang yang dikirimkan tersebut, ternyata hanya sebanyak 53% saja yang

21

Haery & Andi-Draft

menggunakan jasa layanan perbankan. Ini berarti, bahwa sekalipun pengiriman uang merupakan kebutuhan, namun penggunaan jasa perbankan masih merupakan kendala atau terbatas.
1. Bentuk Dari Remitans
a. Uang yang dikirim b. Ung yang dibawa c. Lain- lain

Remitans (%)
58.0 35.2 6.8

2. Distribusi Saluran dari Uang Kiriman
a. Bank b. Kurir Keuangan c. Teman atau Keluarga d. Ditabung/ Dibawa pulang e. Tidak menjawab/ tidak tahu 53 40 8 8 0

Sumber: Athukorala (1993) and Survey of Policymakers, POEA Functionaries (Philippines Overseas Employment Administration) and Overseas Filipino Workers, April 1998.

Gambar 4. Distribusi dari remittans melalui saluran formal di Filipina

Besaran uang yang dibawa ke rumah sebanyak 35.2% dan jumlah pengunaan saluran ‘bukan bank’ sebanyak 56%, membuktikan bahwa jasa layanan perbankan tidak seluruhnya tepat sasaran terhadap apa yang mereka butuhkan. Berdasarkan kasus ini, maka dapat diperkirakan bahwa ketersediaan jasa layanan bank adalah bukan salah satu faktor utama terhadap besarnya uang kiriman. Tetapi juga tergantung apa keuntungan bagi pekerja itu sendiri. Padahal jumlah remitans itu sendiri dari tahun ke tahun meningkat (gambar 5),64) demikian juga terhadap pekerja- pekerja asing dari negara- negara sedang berkembang (gambar 6), (65) misalnya Indonesia. Mengikuti jejak ‘penghibur’ tanah air melalui konser- konser ‘band’ di tempat TKI kita bekerja di luar negeri, pihak perbankan dan penyedia layanan telekomunikasi ramai- ramai menggali potensi pasar tersebut sebagai salah satu raihan keuntungan. Namun apa yang dilakukan masih sebatas untuk mendatangi mereka. Padahal, pihak perbankan atau penyedia layanan telekomunikasi bukan ‘penghibur’ seperti kelompok- kelompok ‘band’ tadi, dan mungkin kehadiran merekapun tidak terlalu dirasakan manfaatnya bila hanya sebatas tampil hadir di tengah- tengah mereka.

Gambar 5. Aliran Remitans dan Kapital Swasta ke Filipina, tahun 1978 – 2001

22

Haery & Andi-Draft

Gambar 6. Aliran Remitans dan Kapital ke Negara- Negara sedang Berkembang

Menyimak dari strategi Mentari Hongkong atau Jimat-Xpac, sekalipun klaim pelanggan mereka bertambah, namun tidak tercatat secara tangible maupun intangible seberapa besar keuntungan yang dapat diperoleh sebagai dampak dari kehadiran dan tawaran layanan mereka melalui sambutan yang baik sebagai ‘penolong’ dan mitra dari keberadaan para TKI, apalagi dalam memperbaiki dan meningkatkan hidup mereka. Hal ini juga berlaku terhadap jasa perbankan. Para TKI tahu, bahwa mereka tidak mendapatkan seberapa keuntungan dari pengiriman uang ketika mereka bekerja di luar negeri, terkecuali harus membayar biaya kirim dan nilai tukar yang seakan-akan ‘mengambil’ uang mereka. Belum lagi biaya korespondensi yang dikenakan oleh pihak bank di dalam negeri terhadap uang yang mereka kirimkan. Mereka merasa untung, karena mereka dapat bekerja di luar negeri untuk memperoleh kesempatan dalam mendapatkan uang dari upah kerja mereka. Calo, PJTKI, Depnakertrans, Imigrasi, Asuransi, apalagi sekarang pihak perbankan ataupun lainnya, dalam ‘kacamata’ mereka adalah datang dan hadir semata- mata dengan ‘biaya’. Sekalipun demikian, bagi mereka kehadiran Calo dan PJTKI adalah sebagai perkeculaian, karena memberikan mereka ‘peluang’ untuk ‘mengadu’ nasib di negeri orang dengan cara bekerja dan memperoleh upah. Untuk itu, sekalipun usaha dan tawaran yang dilakukan oleh perbankan dalam negeri dalam menawarkan ‘kredit’ bagi pemberangkatan TKI ke luar negeri adalah cukup baik, namun karena prosedurnya ‘cukup sulit’ diketahui dan dilaksanakan karena keawaman mereka terhadap layanan perbankan, maka sosialisasinya masih perlu ditingkatkan. Di sisi lain, cara pengiriman yang mudah dengan tawaran melalui ‘SMS’ akan membantu dan memudahkan mereka dalam mengirimkan uangnya.(66) Namun apakah kemudahan ini akan melonjakan jumlah pengiriman uang hanya karena kemudahan ini saja adalah masih perlu dikji lebih lanjut Sekalipun potensi kiriman uang dari TKI ilegal dapat ditangkap dengan cara ini, namun secara menyeluruh kebutuhan untuk mengirimkan uang sebenarnya hanya terbatas ketika keperluan atau kepentingan itu ada. Bukan ketika pada keadaan membutuhkan atau menjadi kebutuhan.

23

Haery & Andi-Draft

Hingga kini, belum ada jasa perbankan lokal yang menangkap suatu perspektif bahwa TKI yang bekerja di luar negeri memiliki keinginan yang berkenaan dengan keadaan mereka di dalam negeri, baik saat mereka tengah bekerja di luar negeri maupun nanti ketika mereka pulang dari luar negeri. Bekerja di luar negeri merupakan alternatif untuk mendapatkan uang dengan cara bekerja di tengah- tengah semakin sulitnya mencari pekerjaan di dalam negeri, yang kemudian upah dari hasil pekerjaan tersebut dikirimkan dan digunakan di dalam negeri.(Tabel 8, untuk makanan 72%, rumah 55% dan pendidikan 53%). Pihak perbankan dan penyedia layanan telekomunikasi masih berpikir bahwa TKI yang bekerja di luar negeri adalah bertahan untuk bekerja di luar negeri dan kembali pulang sebagai suatu siklus, untuk kemudian kembali ke luar negeri. Padahal pekerjan itu sendiri semakin hari menjadi lebih temporer.(6) Sekalipun hal ini tampaknya adalah benar untuk beberapa TKI dengan karakteristik daerah asal mereka (misal: warga di kabupaten- kabupaten di Jawa Timur), namun sebagian besar TKI lebih memilih untuk pulang dan berusaha di daerah asal mereka setelah tabungan yang mereka peroleh cukup, atau usaha yang dikembangkan dari tabungan tersebut dirasakan cukup untuk masa depan mereka. Perilaku dan pola kebijakan pemerintah daerah yang berbangga dengan devisa yang didapatkan dari hasil kiriman TKI yang bahkan lebih besar dari PAD-nya, ternyata hanya sebatas: Bangga! d.2 Potensi ekonomi daerah asal TKI sebagai lahan bisnis baru perbankan (i). Ternak atau Hasil Alam Pemerintah pusat dan daerah mengeyampingkan potensi kiriman TKI yang dapat menjadi roda penggerak ekonomi daerah. Sebagai misal, kebutuhan nasional akan daging yang selama ini diimpor dari luar negeri karena suplai dalam negeri tidak mencukupi, tidak disambut sebagai usaha yang sinkron untuk pengembangan di sektor ini. Daerah NTB misalnya, yang merupakan penghasil daging nasional dari ternak sapi, sekaligus juga penghasil TKI keluar negeri, dapat disinkronkran dengan pola pinjaman kredit yang dapat diberikan oleh jasa perbankan nasional bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam menyediakan bibit- bibit ternak dan ‘juru- juru’ penyuluh peternakan. Pemberian kredit kepada keluarga TKI dengan jaminan uang kiriman TKI dan sapi itu sendiri, merupakan suatu lahan bisnis bagi jasa perbankan nasional. Sementara di sisi lain, TKI akan berdisiplin dalam mengirimkan uangnya dengan harapan bahwa uangnya menjadi produktif karena sapi tadi dipelihara keluarganya untuk dikembangbiakkan. Sehingga TKI merasakan keuntungan sebagai sebuah kebutuhan daripada sekedar mengirimkan uang saja. Mengingat jumlah TKI yang dikirimkan ke luar negeri adalah sebagian besar wanita, ‘unskilled’ , dan berasal dari golongan tidak mampu, maka tawaran ini akan menarik bagi mereka maupun keluarganya dalam usaha untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Demikian juga terhadap TKI dengan rata- rata umur yang lebih muda. Sehingga mereka dapat memiliki ‘target’ untuk melakukan perencanaan keuangan dengan baik. Dengan cara ini, ketertarikan mereka terhadap jasa perbankan yang menawarkan layanan terhadap kredit di tanah air adalah semakin tinggi karena mereka merasakan suatu keuntungan di masa depan. (ii). Properti dan Transportasi Untuk beberapa wilayah kantong TKI di kabupaten- kabupaten di provinsi Jawa Timur, penggunaan uang kiriman atau yang di bawa ke tanah air seusai TKI habis masa kontrak atau ketika pulang adalah lebih banyak digunakan untuk membeli propety seperti: rumah, sawah, perabot rumah tangga, motor, dsb. Sangat kurang untuk dijadikan modal investasi usaha. Berbeda dengan beberapa daerah di Jawa Tengah, misalnya: Pati. Di daerah ini telah banyak UKM yang bergerak dalam pengolahan singkong menjadi tepung sebagai bahan dasar kerupuk. Di daerah ini rata- rata penduduknya sudah memiliki kendaraan (seperti: motor), demikian juga dengan lapangan pekerjaan yang tersedia, sekalipun upah yang ditawarkan

24

Haery & Andi-Draft

relatif kecil. Untuk itu, peran perbankan dalam memberikan kredit terhadap kedua daerah tadi adalah dapat dilakukan dalam konteks yan berbeda, namun tujuan yang sama. Misalnya, pemberian kredit cicilan motor. Pemberian kredit cicilan ini dapat diartikan hanya sebatas barang kosumsi saja ketika produk ini lebih diperuntukkan terhadap kebutuhan sehari- hari. Berbeda halnya, jika produk ini dipergunakan untuk mobilitas ke pasar atau sebagai angkutan barang, dan juga ojek. Karena di dalamnya unsur ekonomi dan produktif terlibat. Pelibatan jasa perbankan dapat didiversifikasikan kepada alat- alat transportasi atau pendukung ekonomi, misalnya dalam tehadap penyediaan alat- alat mesin pertanian seperti: traktor tangan, mesin pompa air, alat/mesin peranggas dan pengering padi, alat penggiling padi, alat pengolah singkong, alat angkutan seperti truk atau pick-up, dan lain sebagainya sehingga property para keluarga TKI lebih bermanfaat sebagai barang produksi. (iii). Industri Kerajinan Rumah Tangga atau UKM Untuk daerah TKI asal Jawa Barat, yang didominasi wanita dari daerah Sukabumi, Cianjur, Cirebon, dan Indramayu dapat digerakkan dengan pengembangan usaha sektor- sektor rill usaha rumah tangga seperti konveksi (kerudung, peci, dsb). Pemberian kredit pembiayaan terhadap alat jahit dan obras, serta bahan, maupun pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah daerah atau jasa perbankan terhadap keluarga TKI dengan jaminan peralatan tadi dan uang kiriman rutin, dapat diformulasikan untuk suatu pemberdayaan uang kiriman dari sekedar tabungan dan kosumsi saja. Mode pakaian yang berkembang di tempat/ negara TKI bekerja dapat ditransformasikan sebagai informasi pasar terhadap jenis produk pakaian yang akan diproduksi untuk pasar lokal atau di negara tempat TKI itu bekerja. Seperti misalnya dalam kasus produk seperti sarung, peci, atau kaus ‘ghotic’ dan jaket ‘hijau model tentara’ berbahan denim yang banyak dijual di Malaysia Dengan trend yang tercipta tanpa sengaja, para TKI dapat dijadikan ‘informan’ pasar untuk segera ditanggapi dengan suplai penyediaan produk- produk yang dapat dilakukan melalui usaha dari UKM di daerah asalnya sebagai komoditas ekspor. Untuk itu, peran pemerintah daerah dalam mendukung dan mengasah naluri bisnis para TKI dapat dijadikan salah satu program dalam peningkatan ekonomi daerah terhadap pertumbuhan UKM di daerah. Seperti misalnya di Malaysia, di mana produk- produk ‘furniture’ dari kayu jati yang didatangkan dari Indonesia adalah digemari kalangan atas dan berada. (iv). Pendidikan Formal dan Informal atau Kursus- Kursus Sejalan dengan banyaknya arus devisa yang masuk ke kantong- kantong daerah asal TKI, maka bidang pendidikan dapat diarahkan kepada penyediaan jenis- jenis keterampilan yang dibutuhkan oleh negara- negara yang membutuhkan. Misalnya dengan mendukung pemberian kredit terhadap penyediaan lembaga- lembaga pendidikan informal seperti kursuskursus bahasa asing atau lembaga keterampilan seperti menjahit, las, elektronik, atau bahkan keterampilan sebagai baby sitter. Demikian pula terhadap sektor pendidikan formal, di mana pihak perbankan dapat bekerjasama dengan pihak sekolah dalam memberikan kredit pinjaman terhadap siswa- siswanya dengan jaminan kriman uang dari keluarganya (bapak, ibu, paman, kaka, dsb) yang bekerja sebagai TKI. Namun tentunya hal ini tidak terlepas dari peran serta dan keterlibatan pemerintah di dalam mendukung usaha- usaha tersebut, baik sebagai fasilitator, mediator dan katalisator.

3.0 PENUTUP
Bidang bisnis terhadap TKI masih tebuka luas untuk digarap. Selain jenis dan kategori dari TKI menurut lapangan pekerjaan yang tersedia (60), juga jasa layanan, seperti: keuangan pendidikan, kesehatan, telekomunikasi, dan penempatan terhadap TKI itu sendiri. Misalnya, 25

Haery & Andi-Draft

jasa layanan untuk kepemilikan barang atau cicilan barang, rumah, atau kendaraan bermotor di tanah air dapat dilakukan dengan cara mendekatkan institusi perbankan dalam negeri dengan keberadaan TKI dan sekaligus menyediakan saluran melalui jaringan perbankannya di tanah air yang dekat dengan kampung halaman tempat TKI berasal, di mana sanak saudara mereka dapat merasakan keuntungan dari layanan dan fasilitas dengan kehadiran jasa perbankan tersebut. Dengan hal ini, akan mendisiplinkan TKI yang berkerja di luar negeri untuk menginvestasikan uangnya ke dalam bentuk setoran tabungan atau cicilan kredit, sehingga mereka dapat mentargetkan dirinya untuk kepemilikan sesuatu barang atau produk dengan uang jerih payah mereka setelah sekian lama bekerja. Dengan penyediaan layanan tersebut, maka usaha- usaha dari insitusi layanan perbankan makin dapat dimaksimalkan dan lalu lintas uang antar negaral semakin besar, termasuk pula untuk mengantisipasi lalu lintas pencucian uang. Di sisi lain, usaha- usaha di tanah air yang terkait dengan jasa perbankan akan semakin cepat berkembang sehingga laju pertumbuhan ekonomi di daerah semakin cepat bergerak, yang pada giirannya didorong untuk menumbuhkan dan mendukung UKM dan sektor informal lainnya Ini artinya adalah, bahwa jasa perbankan harus mampu memberikan tawaran yang menarik terhadap potensi keuangan yang para TKI dapat peroleh untuk dikirimkan sebagai tabungan di dalam negeri. Selain tawaran untuk kemudahan pengiriman uang maupun kemudahan untuk memperoleh kredit ‘ongkos’ ke luar negeri untuk bekerja sebagai TKI, juga untuk mendukung UKM di daerah asal TKI dalam mengekspor produk- produknya ke mana tempat TKI berada. Jasa layanan perbankan dalam meraup raihan yang menguntungkan dari para TKI dapat dilakukan dengan cara membuat TKI mengirimkan uang sebagai suatu ‘kebutuhan’ dan hal yang menguntungkan. Sebab mengirimkan uang bagi TKI selama ini adalah sebagai suatu ‘kewajiban’ bagi keluarga dan sekedar tabungan/simpanan untuk rencana dan bayangan hari esok terhadap hidupnya. Sehingga penyimpanan uang yang dikumpulkan sebagai tabungan dan membawanya sendiri ke tanah air ketika pulang, masih merupakan cara yang terbaik bagi mereka untuk memastikan bahwa tabungan dan uang mereka tidak ‘diambil’ oleh orang lain. Pengiriman TKI formal untuk bidang- bidang pekerjaan yang berpenghasilan lebih besar (misal: perawat)(2) akan terpicu dengan keberadaan pihak perbankan yang turut serta dalam memberikan kredit terhadap pendidikan atau latihan serta kemahiran terhadap bidang – bidang yang peluangnya masih terbuka luas. Bukan lagi TKI informal ‘stupid yet loyal’ yang bekerja sebagai pembantu(55) Dengan pengiriman TKI ke luar negeri, kesempatan ini harus ditangkap sebagai keuntungan ‘domino’ yang dapat diraih terhadap bidang perekonomian dan pendidikan di daerah. Dengan pengetahuan akan jenis pekerjaan di negara- negara tujuan, maka balai- balai latihan kerja dan kursus- kursus (seperti: bahasa, bengkel, menjahit, dsb.) dapat berkembang di masyarakat untuk menghasilkan standar ‘knowledge’ TKI yang diinginkan oleh negara- negara yang membutuhkan. Tenaga kerja ke luar negeri masih terbatas dari daerah tertentu dan baru dipasok dari 10% hingga 15% kabupaten di seluruh Indonesia (51) Kesemua itu tidak lepas dari peran dan perhatian pemerintah, terutama pemerintah daerah dalam mengkonsolidasikan dirinya terhadap upaya pengiriman warganya menjadi TKI di luar negeri. Bukan hanya sekedar berbangga dengan besar devisa yang diraih dikarenakan melebihi PAD saja, namun juga semakin bergeraknya lapangan usaha di daerah tersebut untuk menyerap jumlah tenaga kerja dan pengangguran yang dari tahun ke tahun semakin meningkat(1)(61). Pemerintah harus dapat bergerak secara aktif untuk melayani warganya

26

Haery & Andi-Draft

dalam mensejahterakan rakyatnya seperti apa yang dimaksud terhadap otonomi daerah yang digulirkan dalam kebijakan nasional. Sekalipun potensi daerah terhadap PAD dari sumber daya alamnya kurang, namun kemajuan suatu daerah dapat dinilai dari semakin kecilnya tingkat kemiskinan dan jumlah pengangguran, disamping meningkatnya tingkat rata- rata pendidikan dan kesehatan Sekalipun untuk itu dilakukan dengan cara mengirimkan banyak warganya menjadi TKI. Dengan cara ini, devisa yang masuk tersebut dapat dianggap sebagai sumber pemasukan daerah yang merupakan anggaran belanja daerah yang dilakukan oleh para TKI dan keluarganya. Sekalipun keberadaan TKI di luar negeri banyak bermasalah, yakni sekitar 10%,(19) di mana kira- kira 80% kontribusi masalahnya ada di dalam negeri (60) yang melibatkan Pemerintah Pusat dan Daerah, seperti: Bea Cukai, Imigrasi, Polisi, Pengelola Bandara, Depnakertrans, Depdagri, Depkes, Deplu, maupun PPTKIS d/h PJTKI dan Calo, serta hal tersebut bertentangan dengan penegasan Juru Bicara Presiden, Andi Alfa Mallarangeng yang mengatakan bahwa, proses pengurusan TKI saat ini ke luar negeri justru lebih murah dan lebih mudah (30), namun masalah tersebut harus dijadikan suatu peluang baru dan pendorong bagi pembentukan strategi dalam mensejahterkan rakyat dengan cara melakukan strategi dalam bidang pendidikan dan latihan untuk keahlian, jenis UKM untuk dibangun, peningkatan kesehatan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan pembenahan sistem dan keseriusan di dalam negeri (2)(12)(22)(29)(61)(62) melalui kerja keras, (16) dan transparasi, akuntabilitas publik, supremasi hukum, partisipasi masyarakat, efisiensi dan efektiftas, peduli stakeholder, kesetaraan, berorientasi konsensus, dan bervisi strategis. (8)(13)(8) terutama bagi TKI yang bekerja di sektor informal, (misal: pembantu), di mana mereka berpotensi dalam ‘double exploitation’.(55) Maka yang terpenting adalah bukan kebijakannya, tetapi pelaksanaan di lapangan.(2) Adalah suatu kenaifan dan kebodohan bila pemerintah membiarkan praktek tercela ini terus berlanjut
(12)

Penulis: Haery Sihombing dan Mochamad Syafarudin adalah TKI di Malaysia.

27

Haery & Andi-Draft

4.0 RUJUKAN PUSTAKA
1. “Jumlah TKI di LN Capai 3 Juta,” detikcom indonet, 20/03/2006,
http://jkt1.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/20/time/164903/idnews/562202/idkanal/10

2. “Aturan Main Penempatan TKI Cuma di Atas Kertas…,” Kompas, 12/02/2005
http://kompas.com/kompas-cetak/0502/12/Fokus/1550771.htm

3. “Sending Money Home: Worldwide Remittance Flows to Developing Countries.” IFAD,
http://www.ifad.org/events/remittances/maps/brochure.pdf

4. Addy, D.N., Wijkstrom, B. and Thouez, C. “Migrant Remittances-Country of Origin Experiences: Developmental Impact and Future Prospect.” International Confrence on Migrant Remittance: London, 9~10 October 2003. 5. T.F Committee on Payment Settlement Systems, General Principles for International Remittance Services, The World Bank Consultative Report, March 2006, ISBN 92-9131-707-1. 6. Castles, S. and Brownlee, P, ‘’The Migration Boom.” Making The Most of Globalization, UNESCO sources, Vol..97, January 1998 7. “Technical Assistance For The SouthEast Asia Workers’ Remittance Study,” Asian Development Bank, TAR: STU 38233, December 2004. 8. Hugo, G. ,“Indonesia’s Labor Looks Abroad,” April 2007
http://www.migrationinformation.org/Profiles/display.cfm?ID=594

__________,”Imigration Responses to Global in Asia: a review.”Institute of ustralian Geograhers, Geographical Research. June 2006. 44(2) p.155-172 9. Sanusi, S.D. ,”The Problem of Indonesian Worker Report from Indonesia.”’ The Catholic Church in Asia Cares for the Migrants in Taiwan, March 16-19, 2007 atau Global Economic Prospect 2006: Economic Implications of Remittances and Migration, World Bank 2005. “Migration, Remittance, and Female Migrant Workers”
http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/fact_sheet-migrant_workers_en_jan06.pdf

10. “Surplus Transfer Berjalan Naik,” Tempointeraktif, 19/10/2007
http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/10/19/brk,20071019-109750,id.html

11. Wibisono, A. “Target Devisa TKI Capai US$4 Miliar Tahun 2006,” Detikinet, 23/11/2007
http://jkt.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/01/tgl/25/time/012056/idnews/525503/idkanal/10

12. “Hargailah Pahlawan Devisa Itu,” Majalah Human Capital, No.24, Maret 2006 13. “Devisa dari TKI Ditarget Rp. 30 T ,” Batam Pos, 06/07/2006 14. “Devisa TKI NTB Capai Rp. 209 Milyar,” Suara NTB, 05/11/2007
http://www.suarantb.com/2007/11/05/wilayah/Mataram/xdetil2.htm

15. “Dewan Pertanyakan Devisa TKI,” Tempointeraktif, 24/09/2007
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/09/24/brk,20070924-108273,id.html

“Dana Kiriman dari TKI Rp. 17 Miliar,” Kompas, 25/09/2007
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/25/Jabar/26965.htm

16. “Kiriman Uang TKI NTB Rp. 443 Miliar Setahun .” Tempointeraktif, 03/11/2007
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/nusatenggara/2007/11/03/brk,20071103-110692,id.html

17. Broto, R.D ,”Penerimaan Devisa Negara dan Remiten TKI Luar Negeri Tahun 2004.” Majalah Buletin Warta Naker, edisi 9
http://www.nakertrans.go.id/majalah_buletin/warta_naker/edisi_9/data_penerimaan_devisa.php

18. “Jasa TKI Luar Biasa,” Kompas, 30/10/2004
http://kompas.com/kompas-cetak/0410/30/Fokus/1353700.htm

19. Damanhuri, D.S, ”Good Governance dalam Penempatan TKI.”” Republika, 03/09/2007
http://els.bappenas.go.id/upload/kliping/Good%20Gover-Rep.pdf

20. “Pahlawan Devisa,” Majalah Trust/Teras/20/2005-14/02/05,
http://www.majalahtrust.com/indikator/teras/835.php

21. Juni, A ,”Potensi Bisnis Remittance dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Luar Negeri.” BEI News Edisi 5 Tahun II, Maret-April 2001
http://www.bexi.co.id/images/_res/exim-Bisnis%20Remittance.pdf

22. Aviliani ,”TKW, Pahlawan Devisa yang Merana.” Media Indonesia, 09/06/2005
http://indef.or.id/xplod/upload/arts/TKW,%20Pahlawan%20Devisa%20yang%20Merana.HTM

23. “Konsorsium Jasindo hentikan kegiatan ,” Kompas, 03/07/2007
http://kompas.com/ver1/Ekonomi/0707/03/093646.htm

24. Kolbi, N, Sanyoto, P, Hidayat, S, dan Iman, T.U. , “Mengincar Rezeki Para TKI,” Majalah Trust
http://www.majalahtrust.com/ekonomi/keuangan/981.php

25. Pravita, S. ,“Konsorsium Asuransi TKI Akan Ditambah ,” Bisnis Indonesia, 19/10/2006,
http://perpustakaan.bappenas.go.id/pls/kliping/data_access.show_file_clp?v_filename=F22890/Konsorsium%20asur ansi%20TKI-BI.htm

28

Haery & Andi-Draft

26. “Saatnya Ada Lembaga TKI di Bawah Presiden,” Majalah Nakertrans Edisi No.05, TH. XXIVDesember 2004
http://www.nakertrans.go.id/arsip_berita/naker/lembaga_tki.php

27. “Permintaan Calon Tenaga Kerja ke Jakarta Meningkat, Disnakertrans Dipadati Pencari Kerja ,” 25/10/2007
http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=11665&Itemid=47

“Kartu Kuning Dari Depnaker,”
http://www.dunia-ibu.org/sharing/index.php?id=449

28. “ Rp. 41.027.145.936,- Dari TKI Untuk Lamongan,” 03/10/2006,
http://www.lamongan.go.id

29. “Devisa TKI Asala Ponorogo Turun Hingga Rp. 750 Miliar ,” Media Indinesia (Ant/OL-1)
http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=144412

30. “Masalah TKI Makin Rumit.” Republika, 28/09/2007
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=305788&kat_id=3

31. “BRI Biayai Pengiriman TKI ke LN,” Suara Merdeka, 25/01/2006
http://www.suaramerdeka.com/harian/0601/25/eko05.htm

32. “Bank- Bank Berebut Dana TKI, Target 2009, Devisa Dipatok Rp. 186 T,” Surya Online, 07/05/2007
http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=8902

33. “Akibat Perubahan UU, Jumlah TKI Asal Sumut Ke Luar Negeri Menurun ,” no.16 Sinar Indonesia Baru, 16/11/2007
http://hariansib.com/2007/11/16/akibat-perubahan-uu-jumlah-tki-asal-sumut-ke-luar-negeri-menurun/

34. “Dipertanyakan, Kewajiban Calon TKI Buka Rekening di Bank BNI,” Kompas, 14/09/2004
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/14/ekonomi/1265534.htm

35. “Anggota Komisi V DPR RI Kunjungi Jatim,” 20/07/2004,
http://www.d-infokom-jatim.go.id/news.php?id=1395

36. “Kabupaten Malang Beri Kredit Calon TKI ,” Tempointeraktif, 06/04/2006
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2006/04/06/brk,20060406-75932,id.html

37. “Nominalnya hingga Rp. 10 juta ,” Kompas, 17/10/2006
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/17/Jabar/6864.htm

38. Tupani, D. ,“BNP2TKI Naikkan Upah TKI di 8 Negara,” Media-Indonesia, (CR-79/Ol-03)
http://www.bnsp.go.id/default.asp?go=news&id=51 atau http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=139895

39. “DiGi & Citi Ofer SMS Global Remit ,” 07/11/2007,
http://www.citigroup.com/citigroup/press/2007/071107b.htm

40. “TKI, Garapan Baru Operator Seluler ,” Majalah Swa, 11/12/2006
http://www.swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=5284

41. Mohammad, A ,“XL dan Celcom Sediakan Kartu Perdana untuk TKI,” Majalah Swa, 16/10/2007
http://www.swa.co.id/primer/pemasaran/strategi/details.php?cid=1&id=4989

42. Mohammad, A “Bank Mandiri dan Telkomsel Luncurkan m-ATM ,” Majalah Swa, 21/05/2005
http://www.swa.co.id/primer/manajemen/strategi/details.php?cid=1&id=2849

43. “The World’s First International Mobile to Mobile Remittance Service by Maxis and Globe,” 30/05/2007,
http://www.maxis.com.my/mmc/index.asp?fuseaction=press.view&recID=298

44. ”The Mobile Phone Revolution: Opportunities to Scale Up Microfinance,” Microfinance n South Asia, Today & Tomorrow,” the Consutative Group to Assist the Poor (CGAP), New Delh, 06/12/2005,
http://siteresources.worldbank.org/INTINDIA/Resources/MAMERTO_PRESENTATION.pdf

45. “Konsorsium Asuransi TKI Banting Harga,” Pikiran Rakyat, 24/01/2007
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/012007/24/0603.htm

46. Presentasi Skema Kerjasama PJTKI-Bank Mandiri untuk Kredit Penempatan TKI di Taiwan, Asoasi Jasa Penempatan Asia Pacific
www.ajaspac.com/images/PRESENTASI%20Kredit%20TKI-MANDIRI%201.pdf

47. “Biaya TKI Dipangkas,” Repubilka, 29/12/2006
http://www.republika.co.id/kirim_berita.asp?id=277118&kat_id=6&edisi=Cetak

48. Undang- Undang Republik Indonesia No. 39 tahun 2004 “Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.”
http://www.nakertrans.go.id/perundangan/undang-undang/uu_39_2004.php

49. “Pemohon Kartu Kuning Naik ,” Kompas-Jawa Barat, 30/07/2005
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/30/Jabar/1938421.htm

50. “Disnaker Gresik Pungut Biaya Kartu Kuning,” Kompas-Jawa Timur, 11/02/2003
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0302/11/jatim/125267.htm

51. “BNP2TKI Rintis Bursa Kerja Kecamatan ke Mancanegara,” Pikiran Rakyat, 21/04/2007

29

Haery & Andi-Draft

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/042007/21/0405.htm

52. “PJTKI Laporkan BNP2TKI ke KPK,” Antara News, 21/08/2007
http://www.antara.co.id/arc/2007/8/21/pjtki-laporkan-bnp2tki-ke-kpk/

53. “Bank Muamalat Indonesia Offers Teasury Remittance in Malaysia,” AsiaPulse News, 29/10/2007
http://www.zibb.com/article/2108920/BANK+MUAMALAT+INDONESIA+OFFERS+TREASURY+REMITTANCE+IN+MA LAYSIA

54. “Global Economic Prospet 2006: Economic Implication of Remittance and Migration 2006,” World Bank, p.143 55. Loveband . ,”Positioning he Product: Indonesian Migrant Women Workers in Contemporary Taiwan,” SEARC Working Paper Series, No. 43 April 2003,
http://www.cityu.edu.hk/searc/WP43_03_Loveband.pdf

56. Bandiyono, S. and Alhar, F. ,”A Review of Research Work on International Migration in Indonesia.”
http://www.unesco.org/most/apmrlabo5.doc

57. “Dubes Wayarabi: Meningkat Jumlah TKI di Malaysia,” Kompas, 27/05/2007.
http://kompas.com/kompas-cetak/0305/27/ekonomi/332971.htm

58. ”Polisi Jangka Sederhana dan Panjang Untuk Pekerja Asing Akan Digubal,” Bajet Malaysia 2005-harian Bernama, 10/09/2004
http://web5.bernama.com/budget2005/news.php?id=91723&lang=my

59. Firdausy, C.M.,”Support Systems to Assist Women in The Pocess of Migraton: The Case of Indonesia.” UNFPA-IO Expert Group Meeeting – Female Migrants: Bridging the Gaps Throughout the Life Cycle, New York, 2-3 May 2006, p.39-44 60. “Beda TKI di Asia Tmur dan timur Tengah,” Akses, Hukum Edisi VI, 2007,
http://www.aksesdeplu.com/beda%20TKI%20di%20asia%20timur.htm

61. “TKI ‘Pahlawan’ Keluarga dan Devisa yang Dirundung Masalah,” Republika, 22/10/2007
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=310928&kat_id=&kat_id1=&kat_id2=

62. “Pemerintah Didesak Lebih Melindungi TKI,” Bisnis Indonesia, 25/08/2007
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/umum/1id20045.html

63. Puri, S. and Ritzema, T. ,”Migrant Worker Remittances, Microfinance and The Informal Economy: Prospect and Issues,” ILO Working Paper No.21 64. Ratha,D. “Worker’s Remittances: An Important and Stable Source of External Development Finance.” World Bank, Global Development Finance: Striving for Stability in Development Finance, Volume 1; nalysisi and Statistical (157-175), Washington, D.C.: World Bank 65. Ratha, D., Mahopatra, S. , K.M Vijayalaksmi, Zhimer X ,”Remittance Trends 2007.” Migration and Development Brief 3 , Development Prospects Group, Migration and Remittances Team, Wold Bank Report, 29/11/2007 66. Orozco, M and Ferro, A. “More on Mobile Remittance Scheme.” Migrant Remittances. November 2007, Vol.4, No.5, p.3
http://www.sendmoneyhome.org/resources/Press/Migrant%20Remittances--NOV%202007.pdf

67. “Studi Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Ditinjau Dari Aspek Pembiayaan,”
http://202.78.200.96/hasil_penelitiannaker/perlindungan_tki.php

68. Workers’ Remittance Flows in Southeast Asia, Asian Development Bank Report 2006, Pubilication No. 011806 .

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->