P. 1
nitrogen, fosfor, dan nutrien di perairan darat

nitrogen, fosfor, dan nutrien di perairan darat

|Views: 5,960|Likes:
Published by Wiwik Septiani

More info:

Published by: Wiwik Septiani on May 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2013

pdf

text

original

DOSEN PENGASUH Dr.Saleh Hidayat, M.Si.

NIP : 132048333

DISUSUN OLEH: Kelompok 4
1. 2. 3. 4.

Yupika Aprianti Wiwik Septiani Elmiyati Muslim

(342007033) (342007055)

(342007031) (342007071) (342007020) (342007005)

5. 6. 7.

Desi Winarti Yunika Septini

Liki Antoni (342007124)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 2009 / 2010

1

NITROGEN, FOSFOR, DAN NUTRIEN LAIN “Jaga Ekosistem Akuatik Kita” 1. Bibliografi Warmanboy. 2009. Jaga Ekosistem Akuatik Kita. (http://Warmanboy.wordprees.com/2009/12/14/Jaga-Ekosistem-AkuatikKita,diakses tanggal 18 Maret 2010). (Online)

Hudiyanti, Dewi. 2009. Pengaruh Faktor Nutrien. (online). (http//www. Hum. Usm. Mt/w3svc2/geo/course/hgm 340/pgtuhfktr. Html, diakses 18 Maret 2010). Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Penerbit: Kanisius halaman 157161.

2. Tujuan Penulis Menyampaikan informasi : a. Pencemaran adalah masuk atau dimasukannya mahluk hidup, zat, energi dan komponen lain kedalam air berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau proses alam sehingga kualias turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air kurang atau air tidak dapat lagi berfungsi sesuai dengan peruntukannya. b. Penyumbang kontaminan yang menimbulkan ancaman besar pada lingkungan akuatik adalah air kotor, nutrient berlebih, senyawa organik sintesis, sampah, plastik, logam, hidrokarbon/minyak, dan hidrokarbon polisiklik aromatik. c. Selain nitrogen dan sulfur, organik yang terdapat dalam air buangan terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. d. Beberapa badan Negara telah mengembangkan panduan untuk melindungi kehidupan akuatik. Contoh, The Canada Water Quality Guidelines, berisi rekombinasi tentang konsentrasi zat kimia dalam air untuk melindungi kehidupan akuatik lingkungan air tawar. Sedangkan di Indonesia, pada tahun 1986 dibentuk suatu lembaga khusus dengan nama Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslit)

2

Limnologi-LIPI adalah Bidang Dinamika Perairan Darat, Bidang Produktivitas Perairan Darat, dan Bidang Sistem Komputasi Perairan Darat. e. Nitrogen organik merupakan bentuk nitrogen yang terikat senyawa organik, terutama nitrogen bervalensi tiga yang biasanya berupa pertkulat yang tidak larut dalam air. Nitrogen organik biasa disebut amino atau albuminoid nitrogen. f. Berdasarkan kadar ortofosfat, perairan diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:  Perairan oligotrofik, yang memiliki kadar ortofosfat 0,003-0,01 mg/liter.  Perairan mesotrofik, yang memiliki kadar ortofosfat 0,011-0,03 mg/liter.  Perairan eutrofik, yang memiliki kadar ortofosfat 0,031-0,1 mg/liter. g. Di alam, Fosfor terdapat dalam 2 bentuk yaitu senyawa Fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa Fosfat anorganik (pada air dan tanah). h. Nutrien adalah dirujukkan kepada elemen-elemen, atom-atom, dan ion-ion yang terdapat dalam tanah diserap oleh tumbuh-tumbuhan. 3. Fakta Unik dan Menarik a. Sumber nitrogen organik di perairan berasal dari proses pembusukan makhluk hidup yang telah mati, karena protein dan polipeptida terdapat pada semua organisme hidup. b. Nitrogen bebas dapat ditambat/difiksasi terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis polongan) dan beberapa jenis ganggang. c. Diantara beberapa siklus biogeokimia lainnya, seperti siklus fosfor dan sulfur, siklus nitrogen adalah siklus biokimia yang sangat kompleks. d.

Di

perairan, unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen,

melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat. e. Konsentrasi fosfat yang tinggi dapat mendorong terjadinya Bloming algae dan tumbuhan air. f. Nutrient berlebih dalam badan-badan air terutama nitrogen dan sulfur, dapat menyebabkan eurofikasi danau dan reservoir air karena memicu pertumbuhan tanaman yang berlebih, seperti perkembangan alga. g. Lemak sukar di uraikan oleh bakteri tetapi dapat dihidrolisis Alkali sehingga membentuk sabun yang mudah larut.

3

4. Konsep a. Air b. Nitrogen c. Fosfor d. Nutrien e. Eutrofikasi f. Pencemaran g. Oligotrofik, Mesotrofik dan Eutrofik. 5. Pertanyaan a. Apa fungsi Nitrogen, Fosfor, dan dan Nutrien lain dalam ekosistem air tawar?. b. Apa dampak dari dekomposisi limbah organik?. c. Apa penyebab adanya Bloming algae pada perairan? 6. Refleksi Kelompok Setelah kami membaca dan membuat Analisis Kritis tentang “Nitrogen, Fosfor dan Nutrien Lain”. Kami mendapatkan informasi tentang keberadaan unsur organik dan anorganik dalam perairan dan pengaruhnya terhadap ekosistem akuatik, diantaranya: di perairan, unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen, melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat. Kandungan Nitrogen dan Fosfor yang berlebihan pada badan-badan air mengakibatkan eutrofikasi. Konsentrasi Fosfat yang berlebihan akan mendorong pertumbuhan alga atau Bloming alga. Perkembangan alga tersebut kemudian akan mengurangi kandungan oksigen dalam air dan akan terjadi dekomposisi/pembusukan. Pengaruh pertama proses dekomposisi limbah organik di badan air aerobik adalah terjadinya penurunan oksigen terlarut dalam badan air. Fenomena ini akan mengganggu pernafasan fauna air seperti ikan dan udang-udangan; dengan tingkat gangguan tergantung pada tingkat penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan jenis serta fase fauna. Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas manusia seperti rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian dan perikanan yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Polprasert, 1989). Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut.

4

Demikianlah analisis yang kami buat, semoga apa yang kami sampaikan dapat bermanfaat bagi kita, dan menjadikan kita semua manusia yang sadar lingkungan.

☺mari kita jaga lingkungan akuatik kita☺

5

Jaga Ekosistem Akuatik Kita
Pencemaran air adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain kedalam air dan atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau proses alam sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air kurang atau tidak dapat lagi berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Pencemaran dapat pula diklasifikasikan dalam bermacam-macam bentuk pola pengelompokannya. Pengelompokan menurut jenis bahan pencemar menghasilkan pencemaran biologis, kimiawi, fisik dan budaya. Pengelompokan menurut medium lingkungannya dapat menghasilkan pencemaran udara, air, tanah, makanan dan sosial sedangkan pengelompokan menurut sifat sumber bisa menghasilkan pencemaran primer dan pencemaran sekunder. Pencemaran kimiawi menurut medium lingkungannya dapat di sebabkan oleh salah satunya zat kimia. Zat kimia berbahaya tidak saja memberikan pengaruh yang merugikan kesehatan manusia tetapi juga dapat mengacaukan sistem ekologi yang ada di sungai, danau, lautan, muara, dan daratan. Misalnya, penemuan hujan asam yang merusak danau, sungai dan hutan, mendesak kita untuk mengakui bahwa kontaminasi dan pencemaran bukan sekedar menjadi masalah regional tetapi sudah menjadi masalah seluruh dunia. Organisme akuatik mungkin sensitif terhadap efek hujan asam. Asidifikasi danau merupakan satu masalah yang dihadapi di daerah yang mengandung batu granit. Kandungan asam di danau akan meningkat pada musim panas saat salju mulai mencair. Beberapa wilayah di Amerika Utara dan Eropa memiliki danau yang pHnya begitu rendah sehingga tidak dapat lagi menopang kehidupan ikan dan kehidupan akuatik lainnya. Penyumbang kontaminan yang menimbulkan ancaman besar pada lingkungan akuatik adalah air kotor, nutrient berlebih, senyawa organik sintesis, sampah, plastik, logam, hidrokarbon/minyak, dan hidrokarbon polisiklik aromatik. Air kotor yang tidak diolah, limbah toksik pabrik kimia atau pembuangan sampah dapat merusak ekosistem akuatik dan mengancam sumber air tawar. Nutrisi yang penting untuk mempertahankan ekosistem laut. Namun, ketika gizi yang hadir pada tingkat berlebihan ("eutrofikasi") akibat aktivitas manusia, mereka dapat merusak sebuah muara. Ketika gizi, terutama nitrogen, yang diperkenalkan pada muara yang lebih tinggi daripada harga normal, mereka merangsang pertumbuhan tanaman air, termasuk

6

ganggang dan "rumput laut". Dalam kondisi tertentu, ganggang mekar dapat membunuh atau melukai ikan dan hewan air lainnya dengan menggunakan atas oksigen yang larut dalam air yang mereka butuhkan untuk bernapas. Ketika sinar matahari tersedia, ganggang dan tumbuhan melepaskan oksigen melalui fotosintesis, meningkatkan tingkat oksigen terlarut (DO) dalam air. Namun, karena ganggang menggunakan oksigen terlarut di malam hari ketika fotosintesis tidak terjadi ("kolom air respirasi"), tingkat DO dapat menjadi sangat rendah pada awal pagi hari. Kelebihan pertumbuhan tanaman air juga dapat menimbulkan masalah seperti yang mengendap ke dasar dan membusuk oleh bakteri. Bukan hanya bakteri menggunakan oksigen untuk memecah bahan tanaman ("oksigen sedimen permintaan") , tetapi mereka sekali lagi melepaskan tanaman 'nitrogen kembali ke kolom air ("hara sedimen fluks"). Jika tidak cukup oksigen terlarut dalam air untuk mempertahankan semua proses ini, ikan dan kehidupan air lainnya akan dipaksa untuk meninggalkan daerah, menjadi stres atau mati. Kondisi ini oksigen terlarut rendah dikenal sebagai hipoksia. Walaupun kadar zat gizi yang tinggi dapat menyebabkan kondisi oksigen terlarut rendah, dampak dari zat gizi lain yang juga menjadi perhatian. Berlebihan juga ganggang awan air, secara efektif menghalangi sinar matahari dari terendam air vegetasi (SAV). SAV terutama eelgrass, menyediakan kamar bayi dan pemijahan utama habitat untuk remaja finfish dan kerang. Hilangnya SAV dapat mempengaruhi seluruh jaringan makanan muara. jangka panjang dampak dari tingkat gizi yang tinggi sulit untuk diukur, tetapi mungkin termasuk perubahan pada jumlah dan jenis kehidupan air yang ada di muara. Pada umumnya efek buruk pencemaran air diakibatkan oleh kegiatan manusia. Besar kecilnya pencemaran akan tergantung dari jumlah dan kualitas limbah yang dibuang ke sungai atau perairan lain, baik limbah padat maupun cair. Manusia melakukan berbagai kegiatan, seperti industri pengolahan, pembuangan limbah rumah tangga yang langsung ke dalam badan air dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat merusak lingkungan ekosistem akuatik. Meskipun demikian, para ahli berusaha menciptakan panduan untuk menangani masalah kerusakan lingkungan ini.

7

Beberapa badan Negara telah mengembangkan panduan untuk melindungi kehidupan akuatik. Contoh, the Canadia Water Quality Guidelines, berisi rekomendasi tentang konsentrasi zat kimia dalam air untuk melindungi kehidupan akuatik lingkungan air tawar. Dalam banyak hal, kehidupan lingkungan akuatik air tawar ternyata lebih rentan terhadap efek buruk yang di timbulkan zat kimia dibandingkan pada manusia. Sama halnya di Indonesia, pada tahun 1986 dibentuk suatu lembaga khusus dengan nama Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslit) Limnologi-LIPI yang menangani masalah Limnologi. Bidang-bidang yang dimiliki Puslit Limnologi LIPI adalah Bidang Dinamika Perairan Darat, Bidang Produktivitas Perairan Darat, dan Bidang Sistem Komputasi Perairan Darat. Bidang Dinamika Perairan Darat bertugas melaksanakan penelitian dalam bidang proses interaksi fisika, kimia, dan biologi mengenai siklus hara, struktur perairan, kualitas air, serta mengembangkan rumusan ilmiah (model) dinamika unsur hara dan bahan pencemar di perairan darat. Fungsi bidang ini adalah penyelenggaraan persiapan dan pelaksanaan penelitian sumber daya perairan darat yang meliputi identifikasi dan evaluasi proses interaksi antar komponen biologi, fisika, dan kimia perairan darat. Pengkajian dan perumusan interaksi antarkomponen biologi, fisika, dan kimia perairan darat. Pengkajian dampak perubahan lingkungan (iklim, aktivitas manusia) terhadap perairan darat. Kemudian Bidang Produktivitas Perairan Darat dengan tugas menyiapkan dan melaksanakan penelitian di bidang produktivitas sumber daya perairan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Fungsi bidang ini adalah penyelenggaraan penyelenggaraan inventarisasi pengkajian dan evaluasi sumber daya daya perairan darat, darat, dan produktivitas sumber perairan

penyelenggaraan pelestarian sumber daya perairan darat. Bidang Sistem Komputasi Perairan Darat bertugas melaksanakan kajian yang holistik berdasarkan data dan informasi limnologi untuk dijadikan dasar kebijaksanaan bidang perairan darat ataupun menjadi masukan bagi pengembangan kebijakan sektor terkait lainnya. Fungsi Bidang informasi terkait lainnya maupun kecenderungan-kecenderungan baru yang dapat memperkuat pengembangan keilmuan dan pemanfaatannya, mengembangkan teknikteknik komputasi limnologi dan model-model alternatif limnologi, peningkatan nilai tambah data dan informasi limnologi yang mudah diakses para pengguna,

8

mengembangkan sistem informasi limnologi untuk mendukung penelitian dan pengembangan di bidang perairan darat serta pemanfaatannya.

NITROGEN
Nitrogen organik merupakan bentuk nitrogen yang terikat senyawa organik, terutama nitrogen bervalensi tiga yang biasanya berupa pertkulat yang tidak larut dalam
air. Nitrogen organik biasa disebut aminoatau albuminoid nitrogen. Senyawa ini mencakup protein, polipeptida, asam amino, urea (H2NCONH2), dan senyawa lainnya. Kadar nitrogen organik pada perairan alami dan air tanah biasanya rendah, yakni sekitar 0,01 mg/liter.

Sumber nitrogen organik di perairan berasal dari proses pembusukan makhluk hidup yang telah mati, karena protein dan polipeptida terdapat pada semua organisme hidup. Sumber antropogenik nitrogen organik adalah limbah industri dan limpasan dari daerah pertanian, terutama urea. Urea juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan plastik dan obat-obatan, serta sebagai pelarut selulosa pada industri kertas. Rumah pemotongan hewan memberikan kontribusi yang besar terhadap keberadaan nitrogen organik di perairan.

Siklus Nitrogen
Gas nitrogen banyak terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen bebas dapat ditambat/difiksasi terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis polongan) dan beberapa jenis ganggang. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/ petir. Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ion nitrit (N02- ), dan ion nitrat (N03- ). Gas nitrogen tidak dapat digunakan secara langsung oleh sebagian besar organisme sebelum ditransformasi yang melibatkan menjadi senyawa NH3, NH4, dan NO3 sebelum digunakan dalam siklus. Pada tumbuhan dan hewan, senyawa nitrogen ditemukan sebagai penyusun protein dan klorofil. Dalam ekosistem terdapat suatu daur antara organisme dan lingkungan fisiknya. Beberapa bakteri yang dapat menambat nitrogen terdapat pada akar Legum dan akar tumbuhan lain, misalnya Marsiella crenata. Selain itu, terdapat bakteri dalam tanah yang dapat mengikat nitrogen secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp. (ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen. Di dalam setiap daur, terdapat gudang cadangan utama unsur yang secara terus menerus bergerak masuk dan keluar melewati organisme. Selain itu, terdapat pula tempat pembuangan sejumlah

9

unsur kimia tertentu yang tidak dapat didaur ulang melalui proses biasa. Dalam waktu yang lama, kehilangan bahan kimia tersebut menjadi faktor pembatas, kecuali apabila tempat pembuangan itu dimanfaatkan kembali. Pada akhirnya, daur bolak balik ini cenderung mempunyai mekanisme umpan balik yang dapat mengatur dirinya sendiri (self regulating) yang menjaga siklus tersebut agar tetap seimbang. Diantara beberapa siklus biogeokimia lainnya, seperti siklus fosfor dan sulfur, siklus nitrogen adalah siklus biokimia yang sangat kompleks. Gambar berikut memperlihatkan tiga diagram siklus nitrogen yang sangat kompleks tersebut. Nitrogen di perairan sebagai molekul N2 terlarut, amonium (NH4),

Nitrit (NO2-), Nitrat (NO3) dan sebagai bentuk organik seperti urea, asam amino, serta range berbeda. Gambar 2. Siklus Nitrogen di Alam 1. Amonia (NH3) Amonia (NH3) dan garam-garamnya bersifat mudah larut dalam air. Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air, yang berasal dari dekomposisi bahan organic oleh mikroba dan jamur (amonifikasi). Sumber amonia adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi udara atmosfer, limbah industri dan domestik. Amonia yang terdapat dalam mineral masuk ke badan air melalui erosi tanah. Selain terdapat dalam bentuk gas, amonia membentuk senyawa kompleks dengan beberapa ion

10

logam. Amonia juga dapat terserap kedalam bahan-bahan tersuspensi dan koloid sehingga mengendap di dasar perairan. Amonia di perairan dapat menghilang melalui proses volatilisasi karena tekanan parsial amonia dalam larutan meningkat dengan semakin meningkatnya pH. Ikan tidak bisa bertoleransi terhadap kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu proses pengikatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya dapat meningkatkan sifokasi. Pada budidaya intensif, yang padat penebaran tinggi dan pemberian pakan sangat intensif, penimbunan limbah kotoran terjadi sangat cepat. 2. Nitrit (NO2-) Sumber nitrit dapat berupa limbah industri dan limbah domestik. Kadar nitrit pada perairan relatif karena segera dioksidasi menjadi nitrat. Perairan alami mengandung nitrit sekitar 0,001 mg/liter. Di perairan, nitrit ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit, lebih sedikit daripada nitrat, karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat (nitrifikasi) dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi) yang terbentuk dalam kondisi anaerob. 3. Nitrat (NO3) Nitrat adalah sumber utama nitrogen di perairan, namun amonium lebih disukai oleh tumbuhan. Kadar nitrat di perairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi daripada kadar amonium. Kadar nitrat lebih dari 5 mg/liter menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Kadar nitrogen yang lebih dari 0,2 mg/liter menggambarkan terjadinya eutrofikasi perairan. Nitrat adalah bentuk nitrogen sebagai nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga. Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna di perairan. Secara umum siklus nitrogen dilaut dapat dilihat pada Gambar 2.

11

FOSFOR Di perairan, unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen,
melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat. Senyawa fosfor anorganik yang biasa terdapat di perairan ditunjukkan tabel. Fosfor membentuk kompleks dengan ion besi dan kalsium pada kondisi aerob, bersifat tidak larut, dan mengendap pada sedimen sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh algae akuatik (Jeffries dan Mills, 1996). Tabel senyawa fosfor anorganik yang biasa terdapat di perairan Nama senyawa fosfor Ortofosfat: 1. Trinatrium fosfat 2. Dinatrium fosfot 3. Monoatrium fosfot 4. Diamonium fosfat Polifosfat: 1. Natrium heksametafosfat 2. Natrium tripolifosfat Na3(PO3)6 Na5P3O10 Rumus kimia Na3PO4 Na2HPO4 NaH2PO4 (NH3)2HPO4

3. Tetranatrium pirofosfat Na4P2O7 Fosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan (Dugan, 1972). Karakteristik fosfor sangat berbeda dengan unsur-unsur utama lain yang merupakan penyusun biosfer karena unsur ini tidak terdapat di atmosfer. Pada kerak bumi, keberadaan fosfor relatif sedikit dan mudah mengendap. Fosfor juga merupakan unsur yang esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi dan algae, sehingga unsur ini menjadi faktor pembatas bagi tumbuhan dan alga akuatik serta sangat mempengaruhi tingkat produktivitas perairan. Konsentrasi fosfat yang tinggi dapat mendorong terjadinya Bloming
alga dan tumbuhan air. Jones dan Bacnmann (1976) dalam Davis dan Cornwell (1991)

mengemukakan korelasi positif antara kadar fosfat total dengan klorofil a. Berdasarkan kadar ortofosfat, perairan diklasifikasikan menjadi 3, yaitu: 1. Perairan oligotrofik, yang memiliki kadar ortofosfat 0,003-0,01 mg/liter. 2. Perairan mesotrofik, yang memiliki kadar ortofosfat 0,011-0,03 mg/liter. 3. Perairan eutrofik, yang memiliki kadar ortofosfat 0,031-0,1 mg/liter.

12

Siklus Fosfor
Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh decomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus.

Gambar 3. Siklus Fosfor di alam

NUTRIEN LAIN
Nutrien adalah dirujukkan kepada elemen-elemen, atom-atom, dan ion-ion yang terdapat dalam tanah diserap oleh tumbuh-tumbuhan. Elemen ialah bahan yang tidak dapat di pecah lagi kepada bahan kimia yang ringkas. Gula glokosa (C6H12O6) bukan

13

elemen karena badan kita boleh memecahnya kepada karbon dioksida dan air dengan menghasilkan tenaga. Nutrient berlebih dalam badan-badan air terutama nitrogen dan sulfur, dapat menyebabkan eurofikasi danau dan reservoir air karena memicu pertumbuhan tanaman yang berlebih, seperti perkembangan alga. Perkembangan alga tersebut kemudian mengurangi kandungan oksigen dalam air karena akan terjadi dekomposisi/pembusukan. Selain nitrogen dan sulfur, zat organik yang terdapat dalam air buangan terdiri dari unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Dimana unsur-unsur tersebut cenderung menyerap oksigen. Oksigen itu dibutuhkan bagi mikroba untuk kehidupannya dan untuk menguraikan senyawaan organik tersebut sehingga kadar oksigen akan menurun yang menyebabkan air menjadi keruh dan berbau. Selanjutnya lemak dan minyak yang tidak jarang ditemukan mengapung diatas permukaan air meskipun sebagian terdapat dibawah permukaan air. Lemak dan minyak merupakan senyawa ester dari turunan alkohol yang tersusun dari atom karbon, hidrogen dan oksigen. Lemak sukar diuraikan oleh bakteri tetapi dapat dihidrolisa oleh alkali sehingga membentuk senyawa sabun yang mudah larut. Adanya minyak dan lemak dipermukaan air akan menghambat proses biologis dalam air sehingga tidak terjadi proses fotosintesa oleh tumbuhan air. Hal ini berefek buruk yang bukan hanya saja pada biota akuatik, tetapi juga pada lingkungan tempat habitat dimana biota itu hidup serta kelangsungan kehidupan biota-biota yang lain. Siklus Karbon Di atmosfer terdapat kandungan COZ sebanyak 0.03%. Sumber-sumber CO2 di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik. Karbon dioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk berespirasi. Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara. Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah

14

sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 di air. Gambar 1. Siklus Karbon di alam, angka dengan warna hitam menyatakan berapa banyak karbon tersimpan dalam berbagai reservoir, dalam milyar ton ("GtC" berarti Giga Ton Karbon). Angka dengan warna biru menyatakan berapa banyak karbon berpindah antar reservoir setiap tahun. Sedimen, sebagaimana yang diberikan dalam diagram, tidak termasuk ~70 juta GtC batuan karbonat dan kerogen. (Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/siklus_karbon)

Diagram dari siklus karbon. Angka dengan warna hitam menyatakan berapa banyak karbon tersimpan dalam berbagai reservoir, dalam milyar ton ("GtC" berarti Giga Ton Karbon). Angka dengan warna biru menyatakan berapa banyak karbon berpindah antar reservoir setiap tahun. Sedimen, sebagaimana yang diberikan dalam diagram, tidak termasuk ~70 juta GtC batuan karbonat dan kerogen. Di Indonesia sendiri, informasi-informasi mengenai diamika fisik pantai berlumpur, siklus karbon dan rantai makanan masih sangat kurang. Walaupun demikian makalah ini mencoba melengkapi kekurangan informasi tersebut, akan tetapi bukan

15

bertujuan dijadikan sebagai bahan referensi ilmiah. Makalah ini di harapkan bisa menambah wawasan sesama peneliti untuk didiskusikan lebih lanjut dengan melakukan berbagai kajian dan pendekatan untuk menjawab semua pernyataan-pernyataan di atas yang adalah merupakan hasil penelusuran waktu yang terbatas. Gas nitrogen tidak dapat digunakan secara langsung oleh sebagian besar organisme sebelum ditransformasi yang melibatkan menjadi senyawa NH3, NH4, dan NO3 sebelum digunakan dalam siklus. Pada tumbuhan dan hewan, senyawa nitrogen ditemukan sebagai penyusun protein dan klorofil. Dalam ekosistem terdapat suatu daur antara organisme dan lingkungan fisiknya. Dekomposisi Zat Organik Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian dari binatang atau tumbuh tumbuhan dengan komponen utamanya adalah karbon, protein, dan lemak lipid. Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut. Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas manusia seperti rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian dan perikanan yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Polprasert, 1989). Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya, yang dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan; sedangkan bentuk lainnya berada di badan air, baik di bagian yang aerob maupun anaerob. Dimanapun limbah organik berada, jika tidak dimanfaatkan oleh fauna perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya; maka akan segera dimanfaatkan oleh mikroba; baik mikroba aerobik (mikroba yang hidupnya memerlukan oksigen); mikroba anaerobik (mikroba yang hudupnya tidak memerlukan oksigen) dan mikroba .fakultatif (mikroba yang dapat hidup pada perairan aerobik dan anaerobik). Limbah organik yang ada di badan air aerob akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba aerobik (BAR); dengan proses seperti pada reaksi (1) dan (2):

16

BAR + O2 + BAR è CO2 + NH3 + prod lain + enerji .. (1) (COHNS) COHNS + O2 + BAR + enerji è C5H7O2N (sel MO baru)…(2) Kedua reaksi tersebut diatas dengan jelas mengisaratkan bahwa makin banyak limbah organik yang masuk dan tinggal pada lapisan aerobik akan makin besar pula kebutuhan oksigen bagi mikroba yang mendekomposisi, bahkan jika keperluan oksigen bagi mikroba yang ada melebihi konsentrasi oksigen terlarut maka oksigen terlarut bisa menjadi nol dan mikroba aerobpun akan musnah digantikan oleh mikroba anaerob dan fakultatif yang untuk aktifitas hidupnya tidak memerlukan oksigen. Dekomposisi di Badan Air Anaerob Limbah organik yang masuk ke badan air yang anaerob akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba anaerobik atau fakultatif (BAN); dengan proses seperti pada reaksi (3) dan (4): COHNS + BAN è CO2 + H2S + NH3 + CH4+ produk lain + energi ……….(3) COHNS + BAN + energi C5H7O2 N (sel MO baru)….…..(4) Kedua proses tersebut diatas mengungkapkan bahwa aktifitas mikroba yang hidup di bagian badan air yang anaerob selain menghasilkan sel-sel mikroba baru juga menghasilkan senyawa-senyawa CO2, NH3, H2S, dan CH4 serta senyawa lainnya seperti amin, PH3 dan komponen fosfor. Asam sulfide (H2S), amin dan komponen fosfor adalah senyawa yang mengeluarkan bau menyengat yang tidak sedap, misalnya H2S berbau busuk dan amin berbau anyir. Selain itu telah disinyalir bahwa NH3 dan H2S hasil dekomposisi anaerob pada tingkat konsentrasi tertentu adalah beracun dan dapat membahayakan organisme lain, termasuk ikan. Selain menghasilkan senyawa yang tidak bersahabat bagi lingkungan seperti tersebut diatas, hasil dekomposisi di semua bagian badan air menghasilkan CO2 dan NH3 yang siap dipakai oleh organisme perairan berklorofil (fitoplankton) untuk aktifitas fotosintesa; yang dapat digambarkan sebagai reaksi (5).

17

MATAHARI NH3 +7.62 CO2 + 2.53 H2O è C7.62 H8.06 O 2.53 N + 7.62 O2 …..(5) Dampak Dekomposisi Limbah Organik Uraian diatas mengungkapkan bahwa proses dekomposisi limbah organik di badan air bagian manapun cenderung selalu merugikan karena sebagian besar produknya (NH3 H2S dan CH4) dapat langsung mengganggu kehidupan fauna, sedang produk yang lain (nutrien) meskipun sampai pada konsentrasi tertentu menguntungkan namun jika limbah/nutrien terus bertambah (eutrofikasi) akan menjadi pencemar yang menurunkan kualitas perairan dan akhirnya mengganggu kehidupan fauna. Dampak Langsung. Pengaruh pertama proses dekomposisi limbah organik di badan air aerobik adalah terjadinya penurunan oksigen terlarut dalam badan air. Fenomena ini akan mengganggu pernafasan fauna air seperti ikan dan udang-udangan; dengan tingkat gangguan tergantung pada tingkat penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan jenis serta fase fauna. Secara umum diketahui bahwa kebutuhan oksigen jenis udang-udangan lebih tinggi daripada ikan dan kebutuhan oksigen fase larva/juvenil suatu jenis fauna lebih tinggi dari fase dewasanya. Dengan demikian maka dalam kondisi konsentrasi oksigen terlarut menurun akibat dekomposisi; larva udang-udangan akan lebih menderita ataupun mati lebih awal dari larva fauna lainnya. Fenomena seperti itulah yang diduga menjadi sebab kenapa akhir-akhir ini di sepanjang pantai utara P. Jawa yang padat penduduk dan tinggi pemasukan limbah organiknya tidak mudah lagi ditemukan bibit-bibit udang dan bandeng (nener); padahal pada masa lalu dengan mudahnya ditemukan.. Kesulitan fauna karena penurunan oksigen terlarut sebenarnya baru dampak permulaaan, sebab jika jumlah pencemar organik dalam badan air bertambah terus maka proses dekomposisi organik memerlukan oksigen lebih besar dan akibatnya badan air akan mengalami deplesi oksigen bahkan bisa habis sehingga badan air menjadi anaerob (Polprasert, 1989). Jika fenomena ini terjadi pada seluruh bagian badan air maka fauna air akan mati masal karena tidak bisa menghindar; namun jika hanya terjadi di bagian

18

bawah badan air maka fauna air, termasuk ikan masih bisa menghindar ke permukaan hingga terhindar dari kematian. Secara alamiah kejadian anaerob di semua lapisan badan air memang sangat sulit terjadi karena bagian atas air selalu berhubungan dengan udara bebas yang selalu mensuplainya, namun demikian kalau sebagian badan air anaerob sangatlan sering; misal di teluk-teluk waduk dan pantai yang relatip menggenang sering muncul gelembung-gelembung gas yang mengisaratkan bahwa bagian air yang anaerob dekat dengan permukaan air. Telah diuraikan bahwa pada badan air yang anaerob dekomposisi bahan organik menghasilkan gas-gas, seperti H2S, metan dan amoniak yang bersifat racun bagi fauna seperti ikan dan udang-udangan. Seperti penurunan oksigen terlarut; senyawa-senyawa beracun inipun dalam konsentrasi tertentu akan dapat membunuh fauna air yang ada. Selain menyebabkan penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan menghasilkan senyawa beracun yang selalu merugikan dan dapat menyebabkan kematian fauna; dekomposisi juga dapat menghasilkan kondisi perairan yang cocok bagi kehidupan mikroba fatogen yang terdiri dari mikroba, virus dan protozoa (Polprasert, 1989), yang setelah berkembang-biak, setiap saat dapat menyerang dan menjadi penyakit yang mematikan ikan, udang dan fauna lainnya. Dampak Tidak Langsung (Eutrofikasi) Selain menurunkan konsentrasi oksigen terlarut, menghasilkan senyawa beracun dan menjadi tempat hidup mikroba fatogen yang menyengsarakan fauna air; dekomposisi juga menghasilkan senyawa nutrien (nitrogen dan fosfor) yang menyuburkan perairan. Nutrien merupakan unsur kimia yang diperlukan alga (fitoplankton) untuk hidup dan pertumbuhannya (Hutchinson, 1944; Margalef, 1958 dan Frost, 1980). Sampai pada tingkat konsentrasi tertentu, peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air akan meningkatkan produktivitas perairan (Garno, 1995); karena nutrien yang larut dalam badan air langsung dimanfaatkan oleh fitoplankton (reaksi no 5) untuk pertumbuhannya sehingga populasi dan kelimpahannya meningkat (Garno, 1992). Peningkatan kelimpahan fitoplankton akan diikuti dengan peningkatan kelimpahan zooplankton, yang makanan utamanya adalah fitoplankton (Garno, 1998). Akhirnya karena fitoplankton dan zooplankton adalah makanan utama ikan; maka

19

kenaikan kelimpahan keduanya akan menaikan kelimpahan (produksi) ikan dalam badan air tersebut. Sangat disayangkan bahwa jika peningkatan nutrien terus berlanjut maka dampak positif seperti itu hanya bersifat sementara bahkan akan terjadi proses yang berdampak negatif bagi kualitas badan air (Anonim, 2001). Peningkatan konsentrasi nutrien yang berkelanjutan dalam badan air, apalagi dalam jumlah yang cukup besar akan menyebabkan badan air menjadi sangat subur atau eutrofik (Henderson, 1987). Proses peningkatan kesuburan air yang berlebihan yang disebabkan oleh masuknya nutrien dalam badan air, terutama fosfat inilah yang disebut eutrofikasi (Anonim, 2001). Sesungguhnya eutrofikasi adalah sebuah proses alamiah yang terjadi dengan pelahan-lahan dan memakan waktu berabad-abad bahkan ribuan tahun; di mana badan air yang relatif tergenang seperti danau dan pantai tertutup mengalami perubahan produktifitas secara bertahap. Namun demikian, sejalan dengan peningkatan populasi manusia yang diikuti dengan peningkatan jumlah limbah yang dihasilkannya, maka tanpa disadari fenomena ini telah dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade seperti yang umum terjadi pada berbagai danau dan pantai (Goldman dan Horne,1983); bahkan beberapa tahun saja seperti eutrofikasi yang terjadi pada perairan waduk kaskade Citarum (Garno, 2001a) dan beberapa minggu seperti eutrofikasi yang terjadi pada perairan tambak (Garno, 2001b). Fenomena tersebut menunjukkan bahwa eutrofikasi memang telah menjadi masalah perairan umum di seluruh di dunia.. Publikasi yang ada menyatakan bahwa kandungan fosfor > 0,010 mgP·l-1 dan nitrogen > 0,300 mgN·l-1 dalam badan air akan merangsang fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang-biak dengan pesat (Henderson dan Markland, 1987), sehingga terjadi blooming sebagai hasil fotosintesa yang maksimal dan menyebabkan peningkatan biomasa perairan tersebut (Garno, 1992). Sehubungan dengan peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air, setiap jenis fitoplankton mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memanfaatkannya sehingga kecepatan tumbuh setiap jenis fitoplankton berbeda (Henderson dan Markland 1987; Margalef, 1958;. Selain itu setiap jenis fitoplankton juga mempunyai respon yang berbeda terhadap perbandingan jenis nutrien yang terlarut dalam badan air (Kilham dan Kilham, 1978). Fenomena ini menyebabkan komunitas

20

fitoplankton dalam suatu badan air mempunyai struktur dan dominasi jenis yang berbeda dengan badan air lainnya (Hutchinson, 1944; Margalef., 1958 Reynolds, 1989). Perbedaan struktur dan dominasi jenis fitoplankton tersebut diatas juga dipengaruhi oleh karakteristik fitoplankton dan zooplankton yang ada. Diketahui beberapa jenis fitoplankton tidak dapat dimakan oleh zooplankton karena bentuk morpologi, fisiologi (Horn, 1981; Garno, 1993; Geller, 1975, Downing dan Petter, 1980) komposisi fitoplankton; dan mekanisme makan zooplankton (DeMott, 1982; Frost, 1980; James &. Forsynth 1990) serta faktor abiotik lainnya. Selanjutnya dalam kondisi persediaan makanan (fitoplankton) banyak dan beragam; zooplankton melakukan pemilihan terhadap jenis, bentuk dan ukuran fitoplankton yang hendak dimakan atau selective feeding (Garno, 1993). Interaksi kompleks antara nutrien, fitoplankton dan zooplankton tersebut menyebabkan badan air yang mengalami eutrofikasi pada akhirnya akan didominasi oleh sejenis fitoplankton tertentu yang pada umumnya tidak bisa dimakan oleh fauna air terutama zooplankton dan ikan; termasuk karena beracun. Sebagai contoh yang nyata dari fenomena ini adalah dominasi Mycrocistis sp di waduk-waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur (Garno, 2001, 2002, 2003); dan dominasi Pyrodinium bahamense, lexandrium spp. dan Gymnodinium spp. di perairan pantai/pesisir waktu terjadi “red-tide Selain merugikan dan mengancam keberlanjutan fauna akibat dominasi fitoplankton yang tidak dapat dimakan dan beracun; blooming yang menghasilkan biomasa (organik) tinggi juga merugikan fauna; karena fenomena blooming selalu diikuti dengan penurunan oksigen terlarut secara drastis akibat pe-manfaatan oksigen yang ber lebihan untuk de-komposisi biomasa (organik) yang mati. Seperti pada analisis dampak langsung tersebut diatas maka rendahnya konsentrasi oksigen terlarut apalagi jika sampai batas nol akan menyebabkan ikan dan fauna lainnya tidak bisa hidup dengan baik dan mati. Selain menekan oksigen terlarut proses dekomposisi tersebut juga menghasilkan gas beracun seperti NH3 dan H2S yang pada konsentrasi tertentu dapat membahayakan fauna air, termasuk ikan. Selain badan air didominasi oleh fitoplankton yang tidak ramah lingkungan seperti tersebut diatas, eutrofikasi juga merangsang pertumbuhan tanaman air lainnya,

21

baik yang hidup di tepian (eceng gondok) maupun dalam badan air (hydrilla). Oleh karena itulah maka di rawa-rawa dan danau-danau yang telah mengalami eutrofikasi tepiannya ditumbuhi dengan subur oleh tanaman air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), Hydrilla dan rumput air lainnya. Akhirnya, yang harus dimengerti dan disadari adalah bahwa karena Indonesia merupakan negara tropis yang mendapatkan cahaya Matahari sepanjang tahun; maka blooming (dalam arti biomasa alga tinggi) dapat terjadi sepanjang tahun. Artinya kapan saja (asal tidak mendung/hujan) dan dari manapun asalnya kalau konsentrasi nutrien dalam badan air meningkat maka akan meningkat pula aktifitas fotosintesa fitoplankton yang ada; dan jika peningkatan nutrien cukup besar alau lama akan terjadi blooming. Fenomena itulah yang menyebabkan badan-badan air (waduk, danau dan pantai) di Indonesia yang telah menjadi hijau warnanya tidak pernah atau jarang sekali menjadi jernih kembali; tidak seperti di negeri 4 musim seperti Kanada dan Jepang yang blooming hanya terjadi di akhir musim semi dan panas. Suksesi Danau dan Struktur Komunitas Penyusunnya Pengertian Umum Suksesi Menurut Soemarwoto dkk. (1984) yang dimaksud dengan suksesi adalah suatu proses perubahan komunitas yang terjadi sedikit demi sedikit dalam suatu jangka waktu tertentu sampai terbentuk komunitas yang berbeda dari sebelumnya. Salah satu bentuk khusus dari suksesi adalah yang terjadi pada perairan danau dan disebut juga sebagai eutropikasi (Goldman dan Alexander, 1983). Eutrofikasi adalah suatu proses pengakumulasian perubahan komunitas pada suatu badan perairan tergenang seperti halnya danau. Suksesi danau pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli ekologi bernama Einar Naumann (Hutchinson, 1969 dan Goldman dan Alexander, 1983). Berdasarkan kandungan autriennya, Naumman mengklasifikasikan danau menjadi : danau Oligotrofik, danau Mesotrofik dan danau Eutrofik danau dengan dasar yang sama menjadi : danau oligotrofik, danau eutropik dan danau distropik (Goldman dan Alexander, 1983).

22

Danau Oligotrofik Oligotrofik, menurut etimologinya berasal dari bahasa Yunani yaitu 'oligo' yang berarti sedikit atau buruk, dan trofik yang berarti makanan, jadi danau oligotrofik merupakan danau yang memiliki kandungan makanan (nutrien) sedikit (Goldman dan Alexander, 1983). Menurut Odum (1971_ secara geologis danau oligotrofik termasuk golongan danau yang masih muda, sebab danau yang berada pada tahap awal suksesinya ini adalah danau danau yang baru terbentuk baik secara tektonis, glasier, vulkanis dan lain-lain. Secara fisik dan biologis, karakteristik danau oligotrofik menurut Thienemann (1925 dalam Brinkhust, 1974) dan Odum (1971) antara lain : kondisi perairannya dalam dengan zona hipolimnion yang lebih besar daripada zona epilimnion. Hal ini menurut Soeriatatmaja (1981) disebabkan karena kondisi perairan pada danau oligotrofik ini yang sangat jernih dengan kandungan oksigen yang terlarut dalam air tinggi akibat dai sedikitnya materi organik yang terlarut. Karena jernihnya perairan danau ini maka sinar matahari dapat menembus ke dalam air dan dipantulkan kembali sehingga airnya menjadi dingin. Menurut Soeriaatmaja (1981) rendahnya kandungan nutrien pada suatu peairan danau akan dapat mengakibatkan rendahnya produktivitas danau tersebut, seperti sangat jarangnya keberhasilan tanaman literal, dan rendahnya densitas plankton meskipin jumlah jenis yang ditemukannya besar. Burgis dan Morris (1987) menyatakan bahwa rendahnya kandungan autrien seperti nitrogen, fosfor, fosfat dan kalsium pada danau oligotrofik disebabkan karena masih mudanya danau tersebut sehingga jumlah nutrien yang terakumulasi dari masukan air sungai san lingkungannya masih sangat sedikit, dan umumnya organisme-organisme yang toleran terhadap kandungan nutrien yang rendah dan oksigen yang tinggi. Menurut Thienemann (1925 dalam Brinkhust, 1974) organisme akuatik yang paling khas ditemukan pada danau oligotrofik adalah organisme bentos dari marga Tanytarsus yang ditemukan dalam jumlah (kelimpahan) yang sangat besar yaitu berkisar antara 300 ' 1000 individu/m2. Namun menurutnya bila organisme ini dihitung berat keringnya hanya didapatkan nilai sebesar 2-4 gram/m2. Melimpahnya marga Tarnytarsus pada

23

perairan danau ini menurut Thenemann (1925, dalam Brinkhurst, 1971) maka dapat dikatakan bahwa danau ini sebagai danau Tanytarsus, sebab meskipun pada danau ini dapat pula ditemukan organisme bentos lainnya seperti Coregonus sp & Bathohylus sp tetapi hewan ini hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit dan bahkan tidak ditemukan organisme bentos dari jenis Chironomus sp dan Chooborus sp. Danau Mesotrofik Beberapa ahli Limnologi seperti Valif (1927 dalam Brinkhust, 1974) dan Soeriaatmaja (1981) menyatakan bahwa suatu danau oligotrofik sebelum memasuki tahapan eutrofik. Pada fase ini menurut Soeriaatmaja (1981) danau baru mengalami tahap awal pengkayaan nutrien. Dengan meningkatnya kandungan nutrisi seperti nitrogen, fosfor dan kalsium dalam perairan danau tersebut, maka akan terjadi juga peningkatan aktifitas biologi. Organisme seperti ganggang, fitoplankton, zooplankton dan sampah organik makin tertimbun di permukaan air sehingga kecerahan air semakin menurun dan semakin keruh. Laju penumpukan bahan organik ini kemudian relatif semakin cepat. Semakin keruhnya air danau ini mengakibatkan sinar matahari tidak dapat menembus ke dalam air seperti sebelumnya, sehingga proses fotosintesis dalam danau itu makin lama semakin terbatas pada permukaan air. Dengan meningkatnya total kegiatan biologi dalam danau maka jumlah sampah organik meningkat. Pada awalnya sampah ini mengapung di danau tetapi kemudian tenggelam ke dasar danau sehingga danau tersebut akan semakin dangkal oleh pengendapan. Proses pendangkalan ini biasanya terjadi pada bagian tepi danau sehingga danau oligotrofik berubah menjadi danau mesotrofik (Soeriatmaja, 1981). Soeriaatmaja (1981) menyatakan bahwa daya pengendapan pada danau mesotropik sangat bervariasi. Ada danau mesotropik yang sangat lama dari tingkat satu ke tingkat berikutnya yaitu danau eutropik tetapi ada juga yang sangat cepat. Danau Eutropik Danau eutropik merupakan tipe danau oligotrofik yang telah mengalami proses pengkayaan bahan organik (nutrien). Eu dalam bahasa Yunani berarti lebar, luas atau banyak, sehingga danau eutropik berarti danau yang kandungan makanannya banyak (Odum, 1971 : Brinkhurst, 1974, Soeriatmaja, 1981). Proses pengkayaan (Eutrofikasi)

24

danau sampai terbentuknya danau eutropik menurut Goldman dan Alexander (1983), Burgis dan Morris (1987) disebabkan oleh 2 faktor penyebab utama yaitu : fungsi kandungan nutrien, fosfor, dan nutrien lain dalam limnologi.

25

DAFTAR PUSTAKA
Warman. 2009. Jaga Ekosistem Akuatik kita. (Online) (http://warmanboy.wordpress.com/2009/12/14/jaga-ekosistem-akuatik-kita/, diakses kamis 18 maret 2010). SMK3. 2008. Apa Akibat Kekurangan Kandungan Nitrogen, Fosfor, dan Nutrien Lain di Danau. (Online) (http://smk3ae.wordpress.com/2008/11/12/, diakses kamis 18 maret 2010). Heryanto, Deni. 2010. SUKSESI DANAU dan STRUKTUR KOMUNITAS PENYUSUNNYA (Judul pencarian nitrogen, fosfor dan nutrien lain dalam lingkup limnologi). (Online) (http://thebloghub.com/pages/denclik/SUKSESIDANAU-DAN-STRUKTUR-KOMUNITASPENYUSUNNYAhttp://smk3ae.wordpress.com/2008/11/12/, diakses kamis 18 maret 2010).

26

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->