P. 1
Haji Dan Umrah

Haji Dan Umrah

|Views: 1,886|Likes:
Published by Khairul Umami

More info:

Published by: Khairul Umami on May 26, 2010
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2013

Kelompok Terbang (Kloter) ketujuh pada musim haji tahun 1990—sebagai

kali kedua penulis melaksanakan ibadah haji setelah kali pertama tahun

1979—merupakan Kloter pertama untuk Daerah Istimewa Aceh. Dalam

Kloter ketujuh ini calon jamaah haji yang diberangkatkan merupakan

gabungan jamaah calon haji Banda Aceh dan Aceh Timur. Penulis sebagai

salah seorang yang tergabung dalam Kloter ini diberangkatkan dari

Bandara Polonia Medan menuju Jeddah pada tanggal 3 Juni 1990, dengan

pesawat Garuda yang pilotnya berbangsa Amerika Serikat. Penerbangan

yang memakan waktu lebih kurang 8 jam dari Bandara Polonia Medan

menuju Jeddah memang sedikit agak melelahkan. Namun penulis bersama

istri dan semua jamaah yang tergabung dalam Kloter ketujuh ini begitu tiba

di Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah semuanya dalam keadaan

sehat wal’afat.

Bandara King Abdul Aziz Jeddah adalah Bandara penerbangan terbesar

di dunia. Bandara yang dibangun dengan arsitektur yang sangat menarik ini

sanggup menampung sekitar 600.000 orang jamaah, karena Luas Bandara

ini mencapai 415.000 meter persegi, yang di dalamnya lengkap dengan

Menelusuri JeJak seJarah islaM Melalui ritual

Ibadah hajI dan Umrah

030

berbagai fasilitas, seperti telepon internasional, bank tempat penukaran

mata uang Rupiah dan lain-lainnya. Setelah 6 jam kami beristirahat di

Bandara Jeddah, kemudian rombongan kami yang dipimpin Drs.H.Anwar

Mizan diberangkatkan ke Madinah, dengan jarak tempuh dari Jeddah ke

Madinah sekitar 425 kilometer.

Madinah adalah kota bersejarah yang banyak diminati jamaah untuk

berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, seperti berziarah ke makam Nabi,

melaksanakan ibadah Shalat setiap waktu di Masjid Nabawi dan Masjid

Kuba, serta ibadah-ibadah sunat lainnya. Menurut sebuah Hadist, dengan

Shalat 40 kali (arba’in) di Madinah akan memperoleh keampunan dosa. Maka

selama 9 hari kami di Madinah selalu memanfaatkan kesempatan untuk

melaksanakan Shalat setiap waktu di Masjid Nabawi. Selama di Madinah

waktu itu suhu udara mencapai 45 sampai 50o

C. Tapi Alhamdulillah

meskipun suhunya agak terasa panas, penulis dan istri serta semua jamaah

rombongan kami dalam keadaan sehat. Meskipun demikian, bukan berarti

para jamaah tidak mengalami gangguan kesehatannya. Pertukaran udara

yang drastis tentu mempengaruhi para jamaah dari Aceh banyak yang sakit,

seperti batuk dan demam. Ini wajar, karena suhu udara di Arab Saudi jauh

berbeda dengan suhu udara di Indonesia.

Malah selama di Madinah waktu itu tahun 1990 yang sangat kami

rasakan adalah mahalnya harga makanan. Sekali makan dengan nasi

campur harganya 10 Riyal (Rp. 5.000). Ini baru kita makan nasi campur,

bayangkan kalau pingin makan menurut selera yang kita pesan, harganya

bisa tidak terjangkau oleh kebanyakan jamaah. Meskipun di Madinah ada

beberapa Restoran Indonesia, tapi yang jualan di Restoran itu bukan orang

Indonesia.

Selama 9 hari di Madinah, penulis bersama istri dan para jamaah

lainnya dari Aceh sempat mengunjungi berbagai tempat bersejarah di

Madinah, dan ternyata apa yang penulis lihat sebelas tahun lalu ketika

penulis melaksanakan ibadah haji tahun 1979 tidak jauh berbeda. Kecuali

yang paling terkesan perubahannya adalah di Bandara King Abdul

Aziz, Jeddah. Tahun 1979, penulis menyaksikan derap perkembangan

catatan PerJalanan haJi

TahUn 1990

031

pembangunan di Madinah maupun di Mekkah tidak beda dengan tahun

1990, kecuali di pinggir kedua kota tersebut kelihatan ada perubahan

penambahan pembangunan. Seperti pembangunan jalan, tahun 1990 sudah

banyak jalan-jalan baru yang dibangun. Seperti dari Mekkah ke Arafah dan

Mina telah banyak dibangun jalan yang sangat mulus dan luas.

Dulu salah satu jalan pintas dari Madinah ke Mekkah adalah melalui

terowongan, tapi pada waktu penulis menunaikan ibadah haji tahun 1990

kelihatan jalan-jalan tembus dari Madinah ke Mekkah atau sebaliknya telah

mulai dibangun di bawah gunung-gunung batu dan telah banyak siap, yang

dikerjakan oleh tenaga ahli dari Turki, sehingga jarak tempuh dari Madinah

ke Mekkah sudah lebih cepat dibandingkan sebelumnya ketika penulis

menunaikan ibadah haji tahun 1979.

Jadi, meskipun pembangunan jalan-jalan sudah menunjukkan

perkembangannya yang luar biasa saat itu, namun dari segi perkembangan

pembangunan lainnya di kota Mekkah dan Madinah masih belum

menunjukkan perubahan yang signifkan, hampir semua sudut kota

Mekkah dan Madinah masih belum berubah sebagaimana penulis saksikan

sebelas tahun silam. Bangunannya juga masih belum teratur, sehingga

terkesan master plan didua kota Madinah dan kota Mekkah tidak berfungsi,

atau mungkin kurang difungsikan. Jelasnya kota Mekkah dan Madinah

masih tidak jauh beda dari tahun 1979 dengan tahun 1990 saat penulis

menunaikan ibadah haji yang kedua setelah penulis melaksanakan ibadah

haji yang pertama sebelas tahun yang silam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->